P. 1
Asesmen Pembelajaran SD

Asesmen Pembelajaran SD

5.0

|Views: 6,813|Likes:
Published by Taufik Agus Tanto
Asesmen PembelajaranSD
Asesmen PembelajaranSD

More info:

Published by: Taufik Agus Tanto on Aug 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2015

pdf

text

original

Penulis Endang Poerwanti Estu Widodo Masduki Yuni Pantiwati Ainur Rofieq Dwi Priyo Utomo Penelaah Materi

Aloysius Mering Penyunting Bahasa A.A. Ketut Budiastra Layout Arie Susanty

Tinjauan Mata kuliah
alam pembelajaran, ada tiga kemampuan pokok yang harus dimiliki guru sebagai pendidik yaitu: kemampuan merencanakan materi pembelajaran, melaksanakan dan mengelola pembelajaran serta menilai proses dan hasil belajar. Sebab itu, calon guru ataupun guru yang sudah mengajar perlu bekal pengetahuan dan keterampilan tentang asesmen pembelajaran. Mata kuliah Asesmen Pembelajaran Sekolah Dasar dengan bobot 3 SKS, merupakan pendukung standar kompetensi guru kelas SD/MI sebagai bekal guru agar mampu menilai proses dan hasil pembelajaran yang mengacu pada tujuan utuh pendidikan. Setelah menyelesaikan perkuliahan ini mahasiswa diharapkan memahami hakekat asesmen (assessment) pembelajaran, fungsi, jenis, tujuan, teknik-teknik pelaksanaannya, merencanakan dan menentukan aspek-aspek asesmen pada semua mata pelajaran dan kelas, serta mampu membuat laporan hasil asesmen dan menindaklanjuti hasil tersebut. Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan tatap muka dan belajar mandiri dengan menggunakan bahan ajar cetak, media audio visual maupun web. Dengan demikian secara utuh mahasiswa dapat mempelajari konsep-konsep dan contoh serta ilustrasi bagaimana melaksanakan asesmen, dan menerapkan langkah-langkah pelaksanaannya dalam pembelajaran mulai dari analisis tujuan pembelajaran, menetapkan indikator keberhasilan, menyusun instrumen, melakukan asesmen, menganalisis, melakukan refleksi, menyusun laporan sampai menindaklanjuti hasil asesmen. Dengan demikian, penilaian yang dilakukan dengan tes tertulis dan tugas diharapkan dapat mengungkap hasil belajar mahasiswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jika mata kuliah ini dikaitkan dengan pengembangan profil kompetensi lulusan dengan mengacu pada Standar Kompetensi Guru Kelas SD-MI, maka mata kuliah asesmen mendukung rumpun kompetensi penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik, meskipun tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan kompetensi guru kelas SD-MI. Kompetensi guru kelas SD/MI tersebut dikelompokkan ke dalam empat rumpun kompetensi (core-competencies), yang mencakup: (1) pengenalan peserta didik secara mendalam, (2) penguasaan bidang studi, (3) penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik, dan (4) pengembangan kemampuan profesional secara

D

vii

Tinjauan Mata Kuliah

berkelanjutan. Seperti telah dijelaskan, mata kuliah ini memiliki manfaat dan relevansi dalam mendukung keempat kompetensi tersebut. Dalam bahan ajar cetak ini kemampuan tersebut dijabarkan dalam sembilan kompetensi dasar yang terurai dalan sembilan unit. Masing-masing unit tertata dalam peta kompetensi yang disusun menurut urutan kemampuan yang harus dikuasai mahasiswa yaitu: Unit 1: membahas tentang konsep dasar asesmen yang berisikan: pengertian pengukuran, penilaian, dan tes, fungsi, tujuan, prinsip-prinsip asesmen, ruang lingkup, jenis, dan teknik asesmen pembelajaran serta taksonomi hasil belajar. Unit 2: membahas standar penilaian BSNP yang berisikan: latar belakang Standar Penilaian Pendidikan sebagai standar nasional penilaian pendidikan, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar menurut SNP, serta bagaimana pro kontra pelaksanaan standar penilaian menurut SNP. Unit 3: tentang prosedur asesmen pembelajaran di SD yang meliputi bagaimana prosedur dan langkah pokok asesmen pembelajaran di SD. Unit 4: membahas pengembangan tes sebagai instrumen asesmen, meliputi jenisjenis instrumen asesmen, pengertian, jenis, dan langkah-langkah menyusun tes, kriteria tes yang baik, serta bagaimana mengembangkan tes. Unit 5: membahas bagaimana mengembangkan instrumen non tes, yang meliputi instrumen asesmen autentik dan asesmen alternatif serta bagaimana mengembangkan dan melaksanakan instrumen non tes tersebut. Unit 6: membahas analisis hasil asesmen yang meliputi pengertian skor dan nilai, merubah skor menjadi nilai dengan berbagai skala, distribusi dan standardisasi nilai serta menginterpretasikan hasil asesmen. Unit 7: membahas refleksi terhadap proses dan hasil asesmen yang meliputi pencermatan terhadap kriteria keberhasilan proses dan hasil belajar, bagaimana melakukan self evaluation terhadap proses belajar yang telah dilakukan, faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan bersama pihak-pihak terkait dan langkah-langkah optimalisasi proses dan hasil belajar. Unit 8: membahas tentang tindak lanjut hasil asesmen yang berupa perbaikan rencana pembelajaran, upaya optimalisasi proses pembelajaran, serta pelaksanaan pembelajaran remidi. Unit 9: meliputi uraian tentang jenis dan model laporan asesmen proses dan hasil belajar, siapa saja pengguna laporan asesmen, dan bagaimana mengkomunikasikan berbagai jenis laporan asesmen proses dan hasil belajar. viii
Assesmen pembelajaran di SD

Bahan ajar cetak ini dapat bermanfaat secara maksimal dengan: (1) mengkaji uraian konseptual, (2) mencermati contoh dan ilustrasi yang tersedia, (3) mengerjakan evaluasi formatif yang ada pada setiap akhir unit, (4) melakukan latihan sesuai dengan petunjuk yang ada dan buku ini dilengkapi dengan web dan video. Untuk memperjelas hal di atas silakan Anda membaca silabus mata kuliah yang ada di bagian lain buku ini. Dalam buku ini ada tes formatif di setiap akhir subunit untuk melihat ketercapaian kompetensi yang diharapkan. Kunci dan rambu-rambu jawaban ada di akhir setiap unit, agar mahasiswa dapat membandingkan jawabannya dengan kunci dan rambu-rambu yang sudah disiapkan. Evaluasi materi banyak menggunakan portofolio untuk melihat perkembangan mahasiswa dengan tugas-tugas yang diberikan dalam buku cetak ini. Tugas yang sudah Anda kerjakan dapat dikirimkan lewat e-mail atau dikirim langsung ke dosen pembina mata kuliah.

ix

Tinjauan Mata Kuliah

Kata Pengantar
Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) memiliki ciri utama keterpisahan ruang dan waktu antara mahasiswa dengan dosennya. Dalam PJJ, keberadaan bahan ajar memiliki peran strategis. Melalui bahan ajar, mahasiswa secara mandiri mampu belajar, berefleksi, berinteraksi, dan bahkan menilai sendiri proses dan hasil belajarnya. Paket bahan ajar PJJ S1 PGSD ini tidak hanya berisi materi kajian, tetapi juga pengalaman belajar yang dirancang untuk dapat memicu mahasiswa untuk dapat belajar secara aktif, bermakna, dan mandiri. Paket bahan ajar ini dikemas secara khusus dalam bentuk bahan ajar hybrid yang meliputi: a. b. c. d. Bahan ajar cetak, Bahan ajar audio, Bahan ajar video, serta Bahan ajar berbasis web.

Seluruh paket bahan ajar ini dikembangkan oleh Konsorsium PJJ S1 PGSD yang terdiri dari 23 Perguruan Tinggi (PT), yaitu Universitas Sriwijaya, Universitas Katolik Atmajaya, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Tanjungpura, Universitas Nusa Cendana, Universitas Negeri Makassar, Universitas Cendrawasih, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Universitas Pattimura, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Negeri Jember, Universitas Lampung, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Mataram, Universitas Negeri Semarang, Universitas Kristen Satya Wacana, Universitas Negeri Solo, dan Universitas Haluoleo. Proses pengembangan bahan ajar ini difasilitasi oleh SEAMOLEC. Semoga paket bahan ajar ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program PJJ S1 PGSD di tanah air.

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktur Ketenagaan,

Muchlas Samani NIP. 0130516386

Unit

1

aldo

KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN
Endang Poerwanti Pendahuluan
ompetensi mengajar adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua tenaga pengajar. Berbagai konsep dikemukakan untuk mengungkap apa dan bagaimana kemampuan yang harus dikuasai oleh tenaga pengajar di berbagai tingkatan sekolah. Misalnya, Gagne (1974) mengemukakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, terdapat tiga kemampuan pokok yang dituntut dari seorang guru yakni: kemampuan dalam merencanakan materi dan kegiatan belajar mengajar, kemampuan melaksanakan dan mengelola kegiatan belajar mengajar, serta menilai hasil belajar siswa. Dalam buku yang disusun oleh Tim PPPG (Proyek Pengembangan Pendidikan Guru) dikemukakan 10 kompetensi mengajar yaitu: 1. Kemampuan menguasai landasan kependidikan, 2. Kemampuan menguasai bahan ajaran, 3. Kemampuan mengelola proses belajar mengajar, 4. Kemampuan mengelola kelas, 5. Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar, 6. Kemampuan menilai hasil belajar, 7. Kemampuan mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan. 8. Kemampuan menyelenggarakan Administrasi Pendidikan, 9. Kemampuan menggunakan media/sumber belajar, dan 10. Kemampuan menafsirkan hasil penelitian untuk kepentingan pengajaran. Sejalan dengan kompetensi yang diuraikan tersebut Stanford University mengembangkan kemampuan mengajar yang dikenal dengan STCAG (Stanford Teacher Competence Appraisal Guide). Kemampuan mengajar tersebut digolongkan ke dalam empat kelompok yang meliputi: (1) kelompok kemampuan merencanakan pengajaran, (2) kelompok kemampuan penampilan mengajar, (3) kemampuan mengevaluasi hasil belajar, dan (4) kemampuan profesionalitas dan kemasyarakatan.

K

Asesmen pembelajaran di SD

1-1

Demikian juga dalam Instrumen Penilaian Kemampuan Guru (IPKG) disebutkan 5 kemampuan pokok guru yaitu kemampuan untuk: (1) merumuskan indikator keberhasilan belajar, (2) memilih dan mengorganisasikan materi, (3) memilih sumber belajar, (4) memilih mengajar dan (5) melakukan penilaian. Masih banyak lagi model yang menggambarkan kemampuan dasar mengajar ini, namun demikian nampak dengan jelas bahwa pada semua profil kemampuan tersebut selalu mencantumkan dan mempersyaratkan kemampuan tenaga pengajar untuk mengevaluasi hasil belajar, sebab kemampuan mengevaluasi hasil belajar memang merupakan kemampuan dasar yang mutlak dimiliki oleh tenaga pengajar. Mengingat begitu pentingnya penguasaan pengetahuan dan keterampilan dalam mengevaluasi kegiatan dan hasil belajar, maka dalam buku ini secara berurutan akan dibahas prinsip-prinsip dasar serta langkah-langkah untuk mengantarkan para pendidik mendalami pengetahuan dan pedoman tentang bagaimana cara mempersiapkan dan melaksanakan evaluasi hasil belajar yang baik. Pada bagian pertama ini akan dibahas secara umum hal-hal yang berkenaan dengan prinsip dasar asesmen proses dan hasil belajar, yang meliputi: (1) pengertian asesmen hasil belajar, (2) tujuan dilakukannya asesmen, (3) dan pelaksanaan asesmen hasil belajar. Setelah membaca dan membahas uraian tersebut mahasiswa diharapkan dapat mencapai indikator-indikator keberhasilan yaitu dapat: 1. menjelaskan manfaat mempelajari evaluasi bagi guru; 2. menjelaskan dengan contoh pengertian pengukuran, penilaian dan tes dalam konteks asesmen; 3. menjelaskan fungsi asesmen; 4. menjelaskan tujuan asesmen; 5. menjelaskan prinsip-prinsip asesmen; 6. menjelaskan ruang lingkup asesmen; 7. menjelaskan jenis asesmen; dan 8. menjelaskan teknik asesmen pembelajaran. Unit 1 ini dapat dipahami secara optimal melalui kegiatan tatap muka dan kerja mandiri. Untuk keperluan tersebut unit ini dilengkapi dengan web. Setiap akhir unit disertai dengan tes formatif untuk melihat ketercapaian kompetensi yang diharapkan. Kunci dan rambu-rambu jawaban tes formatif ada di akhir setiap unit. Dengan demikian setiap pebelajar dapat mencocokkan jawabannya. Untuk melihat perkembangan mahasiswa atas tugas-tugas yang diberikan dalam buku ajar cetak ini, evaluasi mata kuliah banyak menggunakan portofolio. Tugas yang sudah Anda kerjakan dapat dikirimkan lewat e-mail dosen pengampu mata kuliah atau dikirim langsung ke dosen pengampu mata kuliah.
1-2
Unit 1

Subunit 1 Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Tes
Pengantar

P

roses pembelajaran di kelas diawali dengan merancang kegiatan pembelajaran. Salah satu aspek yang harus ada dalam perencanaan tersebut adalah tujuan pengajaran sebagai target yang diharapkan dari proses belajar mengajar dan cara bagaimana tujuan dan proses belajar mengajar tersebut dapat dicapai dengan efektif. Kemudian berdasarkan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan dilaksanakan kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran selalu muncul pertanyaan, apakah kegiatan pengajaran telah sesuai dengan tujuan, apakah siswa telah dapat menguasai materi yang disampaikan, dan apakah proses pembelajaran telah mampu membelajarkan siswa secara efektif dan efisien. Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dilakukan asesmen pembelajaran. Asesmen pembelajaran merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran, sehingga kegiatan asesmen harus dilakukan pengajar sepanjang rentang waktu berlangsungnya proses pembelajaran. Itulah sebabnya, kemampuan untuk melakukan asesmen merupakan kemampuan yang dipersyaratkan bagi setiap tenaga pengajar. Hal ini terbukti bahwa dalam semua referensi yang berkaitan dengan tugas pembelajaran, selalu ditekankan pentingnya kemampuan melakukan asesmen bagi guru dan kemampuan ini selalu menjadi salah satu indikator kualitas kompetensi guru. Untuk menghindari kesalahan persepsi dan agar guru dapat mempersipakan dan melakukan asesmen dengan benar perlu dijelaskan tentang apa sebenarnya pengertian dari asesmen pembelajaran dan bagaimana kesalahan pengertian tersebut biasa terjadi di sekolah.

Pengertian Asesmen Pembelajaran
Secara umum, asesmen dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. Keputusan tentang siswa ini termasuk bagaimana guru mengelola pembelajaran di kelas, bagaimana guru menempatkan siswa pada program- program pembelajaran yang
Asesmen pembelajaran di SD

1-3

berbeda, tingkatan tugas-tugas untuk siswa yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing, bimbingan dan penyuluhan, dan saran untuk studi lanjut. Keputusan tentang kurikulum dan program sekolah termasuk pengambilan keputusan tentang efektifitas program dan langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan siswa dengan pengajaran remidi (remidial teaching). Keputusan untuk kebijakan pendidikan meliputi; kebijakan di tingkat sekolah, kabupaten maupun nasional. Pembahasan tentang kompetensi untuk melakukan asesmen tentang siswa akan meliputi bagaimana guru mengkoleksi semua informasi untuk membantu siswa dalam mencapai target pembelajaran dengan berbagai teknik asesmen, baik teknik yang bersifat formal maupun nonformal, seperti teknik paper and pencil test, unjuk kerja siswa dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, tugas-tugas di laboratorium maupun keaktifan diskusi selama proses pembelajaran. Semua informasi tersebut dianalisis untuk kepentingan laporan kemajuan siswa. Asesmen secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pengukuran dan non pengukuran untuk memperoleh data karakteristik peserta didik dengan aturan tertentu. Dalam pelaksanaan asesmen pembelajaran, guru akan dihadapkan pada 3 (tiga) istilah yang sering dikacaukan pengertiannya, atau bahkan sering pula digunakan secara bersama yaitu istilah pengukuran, penilaian dan test. Untuk lebih jauh bisa memahami pelaksanaan asesmen pembelajaran secara keseluruhan, perlu dipahami dahulu perbedaan pengertian dan hubungan di antara ketiga istilah tersebut, dan bagaimana penggunaannya dalam asesmen pembelajaran.

Pengukuran
Secara sederhana pengukuran dapat diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Alat untuk melakukan pengukuran ini dapat berupa alat ukur standar seperti meter, kilogram, liter dan sebagainya, termasuk ukuran-ukuran subyektif yang bersifat relatif, seperti depa, jengkal, “sebentar lagi”, dan lain-lain. Dalam proses pembelajaran guru juga melakukan pengukuran terhadap proses dan hasil belajar yang hasilnya berupa angka-angka yang mencerminkan capaian dan proses dan hasil belajar tersebut. Angka 50, 75, atau 175 yang diperoleh dari hasil pengukuran proses dan hasil pembelajaran tersebut bersifat kuantitatif dan belum dapat memberikan makna apaapa, karena belum menyatakan tingkat kualitas dari apa yang diukur. Angka hasil pengukuran ini biasa disebut dengan skor mentah. Angka hasil pengukuran baru mempunyai makna bila dibandingkan dengan kriteria atau patokan tertentu.

1-4

Unit 1

Evaluasi
Evaluasi adalah proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula ditetapkan sesudah pelaksanaan pengukuran. Kriteria ini dapat berupa proses/kemampuan minimal yang dipersyaratkan, atau batas keberhasilan, dapat pula berupa kemampuan rata-rata unjuk kerja kelompok dan berbagai patokan yang lain. Kriteria yang berupa batas kriteria minimal yang telah ditetapkan sebelum pengukuran dan bersifat mutlak disebut dengan Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acua Kriteria (PAP/PAK), sedang kriteria yang ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan dan didasarkan pada keadaan kelompok dan bersifat relatif disebut dengan Penialain Acuan Norma/ Penilaian Acuan Relatif (PAN/PAR)

Tes
Adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan pengajaran tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tes merupakan alat ukur yang sering digunakan dalam asesmen pembelajaran disamping alat ukur yang lain. Dalam melaksanakan proses asesmen pembelajaran, guru selalu berhadapan dengan konsep-konsep evaluasi, pengukuran, dan tes yang dalam penerapannya sering dilakukan secara simultan. Sebab itu, dalam praktik ketiganya sering tidak dirasakan pemisahannya, karena melakukan asesmen berarti telah pula melakukan ketiganya. Waktu melaksanakan asesmen guru pasti telah menciptakan alat ukur berupa tes maupun nontes seperti soal-soal ujian, observasi proses pembelajaran dan sebagainya. Melakukan pengukuran, yaitu mengukur atau memberi angka terhadap proses pembelajaran ataupun pekerjaan siswa sebagai hasil belajar yang merupakan cerminan tingkat penguasaan terhadap materi yang dipersyaratkan, kemudian membandingkan angka tersebut dengan kriteria tertentu yang berupa batas penguasaan minimum ataupun berupa kemampuan umum kelompok, sehingga munculah nilai yang mencerminkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Akhirnya diambillah keputusan oleh guru tentang kualitas proses dan hasil belajar.

Asesmen pembelajaran di SD

1-5

Dengan uraian di atas, nampak jelas hubungan antara ketiga pengertian tersebut dalam kegiatan asesmen pembelajaran, meskipun sering dilakukan oleh guru secara simultan. Melakukan asesmen selalu diawali dengan menyusun tes atau nontes sebagai alat ukur, hasil pengukuran berupa angka bersifat kuantitatif belum bermakna bila tidak dilanjutkan dengan proses penilaian dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria tertentu sebagai landasan pengambilan keputusan dalam pembelajaran. Sebaliknya, penilaian (penentuan kualitas) tidak dapat dilakukan tanpa didahului dengan proses pengukuran. Jadi, dapat diartikan bahwa asesmen pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digunakan untuk landasan pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah. Keputusan tentang siswa ini termasuk bagaimana guru mengelola pembelajaran di kelas, bagaimana guru menempatkan siswa pada program-program pembelajaran yang berbeda, tingkatan tugas-tugas untuk siswa yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing, bimbingan dan penyuluhan, dan mengarahkan mereka pada studi lanjut. Keputusan tentang kurikulum dan program sekolah, termasuk pengambilan keputusan tentang efektifitas program ataupun langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan siswa dengan remidial teaching. Kemudian, keputusan untuk kebijakan pendidikan menyangkut kebijakan di tingkat sekolah, kabupaten, maupun nasional. Sehingga ketika pembahasan tentang kompetensi untuk melakukan asesmen tentang siswa akan meliputi bagaimana guru mengkoleksi semua informasi untuk membantu siswa dalam mencapai target pembelajaran, sehingga teknik-teknik asesmen yang digunakan untuk mengkoleksi informasi ini, baik teknik yang bersifat formal maupun non formal dengan mengamati perilaku siswa dengan menggunakan paper and pencil test, unjuk kerja siswa dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, tugas-tugas di laboratorium maupun keaktifan diskusi selama proses pembelajaran. Semua informasi tersebut dianalisis sebagai laporan kemajuan siswa. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa asesmen pembelajaran bermanfaat untuk: (1) memberi penjelasan secara lengkap tentang target pembelajaran yang dapat dijelaskan; sebelum pendidik melakukan asesmen terhadap siswanya terlebih dulu harus mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan siswa, informasi yang dibutuhkan tentang pengetahuan, keterampilan, dan performa siswa. Pengetahuan, keterampilan dan performa siswa yang dibutuhkan dalam pembelajaran disebut dengan target atau hasil pembelajaran; (2) memilih teknik asesmen untuk kebutuhan masing-masing siswa, bila mungkin guru dapat menggunakan beberapa indikator
1-6
Unit 1

keberhasilan untuk setiap taget pembelajaran; masing masing target pembelajaran memerlukan pemilihan teknik asesmen yang berbeda, misalnya untuk dapat melakukan asesmen kemampuan siswa dalam pemecahan masalah dalam matematika tentu akan sangat berbeda dengan kemampuan membaca atau mendengarkan, dan berbeda pula untuk pemecahan masalah IPS yang memerlukan diskusi; (3) memilih teknik asesmen untuk setiap target pembelajaran, pemilihan teknik asesmen harus didasarkan pada kebutuhan praktis di lapangan dan efisiensi. Teknik asesmen ini harus dapat mengungkapkan kemampuan khusus serta untuk mengembangkan kemampuan siswa, sehingga ketika memilih teknik asesmen harus pula dipertimbangkan manfaatnya untuk umpan balik bagi siswa. Sebab itu, ketika melakukan interpretasi dari hasil asesmen haruslah dengan cermat, dengan menghindari berbagai keterbatasan yang bersumber dari subyektifitas pelaksana asesmen. Dengan berlandaskan pada uraian di atas, Anda dapat membuat suatu pemahaman yang lebih pasti tentang asesmen pembelajaran yaitu: 1) Asesmen merupakan bagian integral dari proses pembelajaran, sehingga tujuan asesmen harus sejalan dengan tujuan pembelajaran; sebagai upaya utuk mengumpulkan berbagai informasi dengan berbagai teknik; sebagai bahan pertimbangan penentuan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran; oleh karenanya asesmen hendaknya dilakukan dengan perencanaan yang cermat. 2) Asesmen harus didasarkan pada tujuan pembelajaran secara utuh dan memiliki kepastian kriteria keberhasilan, baik kriteria dari keberhasilan proses belajar yang dilakukan siswa, ataupun kriteria keberhasilan dari kegiatan mengajar yang dilakukan oleh pendidik, serta keberhasilan program pembelajaran secara keseluruhan. 3) Untuk memperoleh hasil asesmen yang maksimal yang dapat menggambarkan proses dan hasil yang sesungguhnya, asesmen dilakukan sepanjang kegiatan pengajaran ditujukan untuk memotivasi dan mengembangkan kegiatan belajar anak, kemampuan mengajar guru dan untuk kepentingan penyempurnaan program pengajaran. 4) Terkait dengan evaluasi, asesmen pada dasarnya merupakan alat (the means) dan bukan merupakan tujuan (the end), sehingga asesmen merupakan sarana yang digunakan sebagai alat untuk melihat dan menganalisis apakah siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan serta untuk mengetahui apakah proses pembelajaran telah sesuai dengan tujuan atau masih memerlukan pengembangan dan perbaikan.
Asesmen pembelajaran di SD

1-7

Dalam pelaksanaannya, asesmen pembelajaran merupakan kegiatan yang berkaitan dengan mengukur dan menilai aspek psikis yang berupa proses dan hasil belajar yang bersifat abstrak, karena itu asesmen hendaknya dilakukan dengan cermat dan penuh perhitungan termasuk memperhatikan berbagai keterbatasan sebagai berikut. a. Untuk pengukuran suatu konstruk, khususnya konstruk psikologis yang bersifat abstrak tidak ada pendekatan tunggal yang dapat diberlakukan dan diterima secara universal, termasuk dalam kegiatan asesmen yang bertujuan untuk mengukur proses pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap seperangkat materi yang dipersyaratkan, maka dalam pelaksanaannya harus digunakan bermacam pendekatan untuk tujuan yang berbeda-beda dan dilakukan dalam berbagai kesempatan sepanjang rentang waktu berlangsungnya proses pembelajaran. b. Pengukuran aspek psikologis termasuk pengukuran proses dan hasil pembelajaran pada umumnya dikembangkan berdasar atas sampel tingkah laku yang terbatas, sehingga untuk dapat menjadi sumber informasi yang akurat, asesmen dilakukan dengan perencanaan yang matang dan dilakukan dengan cermat, dengan memperhatikan perolehan sampel yang memadai dari domain tingkah laku dalam pengembangan prosedur dan alat ukur yang baik. c. Perlu dipahami bahwa hasil pengukuran dan nilai yang diperoleh dalam asesmen proses dan hasil belajar mengandung kekeliruan. Angka yang diperoleh sebagai hasil pengukuran (dengan menggunakan tes ataupun nontes) berupa: Thrue score + Error, untuk itu kegiatan pengukuran dalam prosedur asesmen yang baik harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat memperkecil kekeliruan (error). Kesalahan dalam proses asesmen dapat bersumber dari alat ukur, dari gejala yang diukur, maupun interpretasi terhadap hasil pengukuran tersebut. d. Pendefinisian suatu satuan yang menyangkut kualitas/kemampuan psikologis pada skala pengukuran merupakan masalah yang cukup pelik, mengingat bahwa kenyataan hasil belajar merupakan suatu kualitas pemahaman siswa terhadap materi, sedang dalam pelaksanaan tes pengukuran hasil belajar, pengajar diharuskan memberikan kuantitas yang berupa angka-angka pada kualitas dari suatu gejala yang bersifat abstrak. e. Konstruk psikologis termasuk proses dan hasil pembelajaran tidak dapat didifinisikan secara tunggal atau berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan konstruk yang lain. Dengan demikian dalam pelaksanaan evaluasi diperlukan adanya kesungguhan dan kecermatan yang tinggi, sehingga berbagai keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat dikurangi.
1-8
Unit 1

Latihan
Setelah menelaah konsep-konsep di atas cobalah melakukan analisis kekurangan dan kelebihan dari kegiatan asesmen yang sudah Anda lakukan selama ini!

Rangkuman
Asesmen merupakan kegiatan untuk mengungkapkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Banyak yang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi (evaluation), penilaian (assessment), pengukuran (measurement), dan tes (test), padahal keempatnya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan mengidentifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa. Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif dan nilai kuantitatif. Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Hubungan antara berbagai istilah tersebut adalah sebagai berikut.

Asesmen pembelajaran di SD

1-9

ASSESSMENT

Teknik Tes

Teknik Non Tes

Skema Klasifikasi

Skala angka
Disebut proses Skala kuantitatif dan Kualitatif

Pengukuran
Skala Kualitatif Skor hasil pengukuran Dikombinasikan dengan menggunakan Berbagai pertimbangan untuk pengambilan Keputusan tentang prestasi peserta didik

EVALUASI
Hubungan antara evaluasi, asesmen, pengukuran, dan tes

Tes Formatif 1
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan dengan contoh pengertian pengukuran dalam konteks asesmen pembelajaran! 2. Jelaskan dengan contoh pengertian kriteria dalam konteks asesmen pembelajaran! 3. Jelaskan dengan contoh pengertian penilaian dalam konteks asesmen pembelajaran! 4. Bagaimanakah keterkaitan antara pengukuran, penilaian dan tes dalam konteks asesmen pembelajaran! 5. Jelaskan berbagai keterbatasan pelaksanaan asesmen pembelajaran!

1 - 10

Unit 1

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Jawablah pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda belum merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena kesepahaman tentang pengertian ini akan mendasari dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini.

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 11

Subunit 2 Fungsi, Tujuan, Dan Prinsip Asesmen
Pengantar
mplikasi dari pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penilaian adalah perlunya penyesuaian terhadap model dan teknik penilaian yang dilaksanakan di kelas. Penilaian kelas terdiri atas penilaian eksternal dan internal. Penilaian ekternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang tidak melaksanakan proses pembelajaran, yaitu suatu lembaga independen, yang di antaranya mempunyai tujuan sebagai pengendali mutu. Adapun penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan dilakukan oleh pengajar pada saat proses pembelajaran berlangsung. Pengembangan sistem penilaian berbasis kompetensi dasar mencakup beberapa hal, yaitu: (1) standar kompetensi, adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam setiap mata pelajaran yang memiliki implikasi yang sangat signifikan dalam perencanaan, metodologi dan pengelolaan penilaian, (2) kompetensi dasar, adalah kemampuan minimal dalam rangka mata pelajaran yang harus dimiliki lulusan; (3) rencana penilaian, jadwal kegiatan penilaian dalam satu semester dikembangkan bersamaan dengan pengembangan silabus; (4) proses penilaian, pemilihan dan pengembangan teknik penilaian, sistem pencatatan dan pengelolaan proses; dan (5) proses implementasi menggunakan berbagai teknik penilaian. Berdasarkan Pedoman Penilaian Kelas Untuk Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang dikeluarkan oleh Balitbang Depdiknas (2006), dinyatakan bahwa salah satu penilaian internal yang disyaratkan adalah penilaian kelas. Penilaian kelas merupakan bagian dari penilaian untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap penguasaan kompetensi yang diajarkan oleh pendidik, dan bertujuan untuk menilai tingkat pencapaian kompetensi peserta didik yang dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung dan akhir pembelajaran. Penilaian hasil belajar ini dilakukan oleh guru untuk memantau proses, kemajuan, perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran. Pada

I

1 - 12

Unit 1

bagian ini secara berturut-turut akan dibahas tentang pengertian, fungsi, tujuan dan prinsip penilaian berbasis kelas.

1. Penilaian Kelas
Penilaian kelas pada dasarnya merupakan rangkaian kegiatan pendidik yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran. Untuk kepentingan itu dilakukan pengumpulan data sebagai informasi akurat untuk pengambilan keputusan. Pengumpulan data dengan prosedur dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator yang akan dinilai yang dalam subunit terdahulu kita sebut dengan asesmen. Dari proses asesmen ini, pendidik akan memperoleh potret atau profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) masing-masing sekolah. Ketika Anda berdiri sebagai seorang guru, maka dalam melaksanakan penilaian kelas Anda harus paham bahwa penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti untuk menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai teknik, seperti penilaian unjuk kerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, penilaian produk, penilaian melalui kumpulan hasil kerja peserta didik (portfolio), dan penilaian diri (self assessment). Sebagai pendidik, Anda harus dapat mengupayakan agar proses penilaian hasil belajar yang Anda lakukan baik secara formal maupun informal dapat dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan. Hal ini penting diperhatikan sehingga memungkinkan peserta didik secara optimal dapat mengaktualisasikan apa saja yang sudah dipahami dan apa yang telah mampu dikerjakannya. Dalam pelaksanaan penilaian kelas ini pendidik akan membandingkan hasil belajar peserta didik dalam periode waktu tertentu dengan hasil yang dimiliki peserta didik tersebut sebelumnya atau dengan kriteria tertentu dan sebaiknya, hasil belajar siswa ini tidak dibandingkan dengan peserta didik lainnya. Pembandingan semacam ini disebut dengan penilaian acuan patokan atau penilaian acuan kriteria. Mungkin Anda bertanya, mengapa penilaian kelas atau asesmen berbasis kelas ini dianjurkan untuk digunakan. Alasannya adalah karena penilaian kelas mempunyai beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh model asesmen yang lain (sumber Balitbang Depdiknas, 2006), seperti berikut:
Asesmen pembelajaran di SD

1 - 13

a. Dalam asesmen berbasis kelas, pengumpulan data sebagai informasi kemajuan belajar baik formal maupun informal harus selalu dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan, hal ini memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. b. Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik tidak untuk dibandingkan dengan hasil belajar siswa lain ataupun prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya; atau dengan kompetensi yang dipersyaratkan, sehingga dengan demikian siswa tidak terdiskriminasi dalam klasifikasi lulus atau tidak lulus, pintar atau bodoh, bisa masuk ranking berapa, dan sebagainya, tetapi lebih diarahkan pada fungsi motivasi, dan bantuan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. c. Pengumpulan informasi dalam asesmen berbasis kelas ini harus dilakukan dengan menggunakan variasi cara, dilakukan secara berkesinambungan sehingga gambaran kemampuan siswa dapat lebih lengkap terdeteksi, dan terpotret secara akurat. d. Dalam pelaksanaannya siswa tidak sekedar dilatih memilih jawaban yang tersedia, tetapi lebih dituntut untuk dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan potensinya dalam menanggapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri dan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. e. Proses pengumpulan informasi untuk dapat menentukan ada tidaknya kemajuan belajar yang dicapai siswa dan perlu tidaknya siswa diberikan bantuan secara terencana, bertahap, dan berkesinambungan, sehingga dengan demikian siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya, dengan pemberian bantuan dan bimbingan yang sesuai. f. Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar (PBM) tetapi dapat dilaksanakan ketika PBM sedang berlangsung (penilaian proses). Hasil kerja atau karya siswa yang berbentuk 2 dimensi yang dapat dikumpulkan dalam portofolio dan yang berbentuk 3 dimensi (produk) terutama dihasilkan melalui PBM. Karya tersebut dapat juga bersumber atau berasal dari berbagai kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan sekolah, kegiatan OSIS, kegiatan lomba antar sekolah, bahkan kegiatan hobi pribadi. Dengan demikian, penilaian kelas mengurangi dikhotomi antara PBM dan kegiatan penilaian serta antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. g. Kriteria penilaian karya siswa dapat dibahas, dikompromikan antara guru dengan para siswa sebelum karya itu mulai dikerjakan; dengan demikian siswa mengetahui kriteria yang akan digunakan dalam penilaian, agar berusaha

1 - 14

Unit 1

mencapai harapan (expectations) (standar yang dituntut) guru, dan mendorong siswa untuk mengarahkan karya-karya nya sesuai dengan kriteria yang telah disepakati.

2. Tujuan Asesmen Berbasis kelas
Pertanyaan yang kemudian muncul untuk Anda adalah apakah Anda tahu secara persis apakah sebenarnya tujuan dari penilaian kelas. Secara rinci tujuan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Dengan melakukan asesmen berbasis kelas ini pendidik dapat mengetahui seberapa jauh siswa dapat mencapai tingkat pencapai kompetensi yang dipersyaratkan, baik selama mengikuti pembelajaran dan setelah proses pembelajaran berlangsung. b. Saat melaksanakan asesmen ini, Anda sebagai pendidik juga akan bisa langsung memberikan umpan balik kepada peserta didik, sehingga tidak pelu lagi menunda atau menunggu ulangan semester untuk bisa mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kompetensi. c. Dalam asesmen berbasis kelas ini, Anda juga secara terus menerus dapat melakukan pemantauan kemajuan belajar yang dicapai setiap peserta didik, sekaligus Anda dapat mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik sehingga secara tepat dapat menentukan siswa mana yang perlu pengayaan dan siswa yang perlu pembelajaran remedial untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. d. Hasil pemantauan kemajuan proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan terus menerus tersebut juga akan dapat dipakai sebagai umpan balik bagi Anda untuk memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, dan sumber belajar yang digunakan, sesuai dengan kebutuhan materi dan juga kebutuhan siswa. e. Hasil-hasil pemantauan tersebut, kemudian dapat Anda jadikan sebagai landasan untuk memilih alternatif jenis dan model penilaian mana yang tepat untuk digunakan pada materi tertentu dan pada mata pelajaran tertentu, yang sudah barang tentu akan berbeda. Anda sebagai pendidik yang tahu persis pertimbangan pemilihannya f. Hasil dari asesmen ini dapat pula memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan, tidak perlu menunggu akhir semester atau akhir tahun. Komunikasi antara pendidik, orang tua dan komite harus dijalin dan dilakukan terus menerus sesuai kebutuhan

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 15

3. Fungsi Asesmen Berbasis kelas
Kita semua telah tahu bahwa tugas pendidik adalah mendesain materi dan situasi di kelas agar siswa dapat belajar untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Setelah Anda mempelajari apa keunggulan dan tujuan dari asesmen khusunya asesmen berbasis kelas, maka perlu pula diketahui fungsi dari penilaian kelas tersebut. Secara rinci fungsi dari penilaian kelas dapat dijelaskan sebagai berikut (Diknas, 2006): a. Kalau tujuan pembelajaran adalah pencapaian standar kompetensi maupun kompetensi dasar, maka penilaian kelas ini dapat menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. b. Asesmen berbasis kelas dapat berfungsi pula sebagai landasan pelaksanaan evaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan, dalam hal ini terkait erat dengan peran guru sebagai pendidik sekaligus pembimbing. c. Sejalan dengan tujuan asesmen yang telah dikemukakan di atas maka salah satu fungsi asesmen berbasis kelas ini adalah menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sebagai alat diagnosis yang membantu pendidik menentukan apakah seorang siswa perlu mengikuti remedial atau justru memerlukan program pengayaan. d. Dengan demikian asesmen juga akan berfungsi sebagai upaya pendidik untuk dapat menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilakukan ataupun yang sedang berlangsung. Temuan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penentuan langkah perbaikan proses pembelajaran berikutnya, guna peningkatan capaian hasil belajar siswa . e. Kesemuanya dapat dipakai sebagai kontrol bagi guru sebagai pendidik dan semua stake holder pendidikan dalam lingkup sekolah tentang gambaran kemajuan perkembangan proses dan hasil belajar peserta didik.

1 - 16

Unit 1

Latihan
Lakukanlah analisis tentang penilaian yang sudah Anda lakukan di kelas, apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan tujuan dan fungsi tersebut! 1. Prinsip-prinsip Asesmen Berbasis kelas Prinsip adalah sesuatu yang harus dijadikan pedoman. Prinsip asesmen berbasis kelas adalah patokan yang harus dipedomani ketika Anda sebagai guru melakukan asesmen hasil dan proses belajar. Terdapat ada enam prinsip dasar asesmen hasil belajar yang harus dipedomani (Depdiknas, 2004 dan 2006) yaitu: a. Prinsip Validitas Validitas dalam asesmen mempunyai pengertian bahwa dalam melakukan penilaian harus ”menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi”. Sebagai contoh:
Kompetensi A : Kemampuan siswa berbicara untuk menceritakan dirinya dan keluarganya (dalam tema: Aku dan Keluargaku) B : Kemampuan menggunakan mikroskop Alat Penilaian X : Wawancara, observasi tes performa

Y : Tes perbuatan (performa), observasi

Jika guru menilai kompetensi A dan alat penilaian yang digunakan adalah X, penilaian ini valid. Jika yang hendak dinilai kompetensi A dengan alat penilaian X, dalam kenyataan yang dinilai bukan kompetensi A tetapi B, penilaian ini tidak valid. Jika yang hendak dinilai kompetensi A dengan alat penilaian X, dalam kenyataan yang dipakai justru alat penilaian Y, penilaian ini tidak valid. b. Prinsip Reliabilitas Pengertian Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang ajeg (reliable) memungkinkan perbandingan yang reliable, menjamin konsistensi, dan keterpercayaan. Misal, dalam menilai unjuk kerja, penilaian akan reliabel jika hasil yang diperoleh itu cenderung sama bila
Asesmen pembelajaran di SD

1 - 17

unjuk kerja itu dilakukan lagi dengan kondisi yang relatif sama. Untuk menjamin reliabilitas petunjuk pelaksanaan unjuk kerja dan penskorannya harus jelas. Contoh yang lain adalah dalam menguji kompetensi siswa dalam melakukan eksperimen di laboratorium. Sepuluh siswa melakukan eksperimen dan masingmasing menulis laporannya. Penilaian ini reliable jika guru dapat membandingkan taraf penguasaan 10 siswa itu dengan kompetensi eksperimen yang dituntut dalam kurikulum. Penilaian ini reliable jika 30 siswa yang sama mengulangi eksperimen yang sama dalam kondisi yang sama dan hasilnya ternyata sama. Kondisi yang sama misalnya: 1) tidak ada siswa yang sakit 2) penerangan/pencahayaan dalam laboratorium sama 3) suhu udara dalam lab sama 4) alat yang digunakan sama Penilaian tersebut tidak reliable jika ada kondisi yang berubah, misalnya ada 3 siswa yang sakit tetapi dipaksa melakukan eksperimen yang sama, dan ternyata hasilnya berbeda. c. Terfokus pada kompetensi Telah Anda pahami bahwa konsekuensi perubahan kurikulum juga akan menuntut perubahan dalam sistem penilaiannya. Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan pada penguasaan materi (pengetahuan). Untuk bisa mencapai itu penilaian harus dilakukan secara berkesinambungan, dimana penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran pencapaian kompetensi peserta didik dalam kurun waktu tertentu. d. Prinsip Komprehensif Dalam proses pembelajaran, Anda sebagai pendidik pasti telah menyusun rencana pembelajaran yang secara jelas menggambarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa serta indikator yang menggambarkan keberhasilannya. Untuk itu penilaian yang dilakukan harus menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan siswa sehingga tergambar profil kemampuan siswa.

1 - 18

Unit 1

e. Prinsip Objektivitas Obyektif dalam konteks penilaian di kelas adalah bahwa proses penilaian yang dilakukan harus meminimalkan pengaruh-pengaruh atau pertimbangan subyektif dari penilai. Dalam implementasinya penilaian harus dilaksanakan secara obyektif. Dalam hal tersebut, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, menggunakan bahasa yang dapat dipahami siswa, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pembuatan keputusan atau pemberian angka (skor). f. Prinsip Mendidik Prinsip ini sangat perlu Anda pahami bahwa penilaian dilakukan bukan untuk mendiskriminasi siswa (lulus atau tidak lulus) atau menghukum siswa, tetapi untuk mendiferensiasi siswa (sejauh mana seorang siswa membuat kemajuan atau posisi masing-masing siswa dalam rentang cakupan pencapaian suatu kompetensi). Berbagai aktivitas penilaian harus memberikan gambaran kemampuan siswa, bukan gambaran ketidakmampuannya. Jadi, penilaian yang mendidik artinya proses penilaian hasil belajar harus mampu memberikan sumbangan positif pada peningkatan pencapaian hasil belajar peserta didik, dimana hasil penilaian harus dapat memberikan umpan balik dan motivasi kepada peserta didik untuk lebih giat belajar. Pada akhirnya Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi, memperbaiki proses pembelajaran bagi guru, meningkatkan kualitas belajar dan membina peserta didik agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam asesmen berbasis kelas untuk pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi serta implementasi dari standar penilaian dari BSNP perlu ditambahkan pedoman penilaian pada setiap kelompok mata pelajaran yang secara rinci dirumuskan sebagai berikut (Depdiknas, 2006): a. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui: • • Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik.

Ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif siswa. b. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai.

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 19

c. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik. d. Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan dilakukan melalui: • • Pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan Ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

Rangkuman
Materi subunit ini bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan dilaksanakan untuk itu beberapa langkah yang dapat Anda pahami dan lakukan adalah: Lakukan tes/ulangan sebagai alat bantu mengajar. Tetapkan kompetensi dasar dan indikator pencapaiannya. Tumbuhkan sikap positif dari murid. Buat kalendar jadwal ulangan disertai: a) pengumuman tanggal ulangan/tes walaupun setiap murid telah memiliki kalendar jadwal ulangan, karena siswa membutuhkan waktu luang yang cukup banyak untuk belajar, b) tentukan lingkup topik yang akan di uji dan informasikan kepada murid format ulangan dan garis besar topik yang akan ditanyakan, c) bantu murid untuk menyusun jadwal belajar mereka. Rencanakan bersama jawal belajar harian di rumah dengan para murid, kemudian minta mereka untuk menyalinnya di buku tugas mereka. Dengan cara ini maka keahlian murid dalam belajar akan meningkat sekaligus sebagai panduan bagi orangtua dalam membantu anak mereka belajar. Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya: a. Memandang penilaian dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu. b. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. c. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. d. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.

1. 2. 3. 4.

5.

1 - 20

Unit 1

e. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. f. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. g. Mendidik dan meningkatkan mutu proses pembelajaran seefektif mungkin.

Tes Formatif 2
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan dengan contoh pengalaman saudara tentang tujuan asesmen berbasis kelas! 2. Jelaskan fungsi dari asesmen berbasis kelas! 3. Jelaskan prinsip-prinsip yang harus dipedomani dalam pelaksanaan asesmen berbasis kelas! 4. Jelaskan disertai contoh apa yang harus dilakukan pendidik untuk menjamin bahwa penilaian yang dilakukannya obyektif! 5. Bagaimanakah penilaian yang harus dilakukan pada setiap kelompok mata pelajaran!

Umpan Balik
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan, karena kesepahaman tentang pengertian dan penerapan asemen berbasis kelas menjadi dasar dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 21

Subunit 3 Cakupan, Jenis dan Teknik Asesmen Pembelajaran
Pengantar
etelah memahami pengertian, tujuan maupun fungsi dari asesmen, maka selanjutnya Anda perlu mencermati ruang lingkup, jenis dan teknik asesmen pembelajaran. Penilaian hasil belajar idealnya dapat mengungkap semua aspek pembelajaran, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, sebab siswa yang memiliki kemampuan kognitif baik saat diuji , misalnya dengan paper-and-pencil test belum tentu dapat menerapkan dengan baik pengetahuannya dalam mengatasi permasalahan kehidupan (Green, 1975). Penilaian hasil belajar sangat terkait dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran. Pada umumnya tujuan pembelajaran mengikuti pengklasifikasian hasil belajar yang dilakukan oleh Bloom pada tahun 1956, yaitu cognitive, affective dan psychomotor. Kognitif (cognitive) adalah ranah yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan ketrampilan intelektual. Afektif (affective) adalah ranah yang berkaitan dengan pengembangan pengembangan perasaan, sikap nilai dan emosi, sedangkan psikomotor (psychomotor) adalah ranah yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan atau keterampilan motorik. Anda perlu pula mempelajari jenis dan teknik asesmen ketiga ranah hasil belajar tersebut . Semua itu akan terjawab dengan membaca Uraian pada subunit 3 ini.

S

1. Cakupan Ranah Asesmen
Cakupan asesmen terkait dengan ranah hasil belajar dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan. Hal ini merupakan penjabaran dari stándar isi dan stándar kompetensi lulusan. Di dalamnya memuat kompetensi secara utuh yang merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masing-masing mata pelajaran. Muatan dari stándar isi pendidikan adalah stándar kompetensi dan kompetensi dasar. Satu stándar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar dan setiap kompetensi dasar

1 - 22

Unit 1

dijabarkan ke dalam indikator-indikator pencapaian hasil belajar yang dirumuskan atau dikembangkan oleh guru dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sekolah/daerah masing-masing. Indikator-indikator yang dikembangkan tersebut merupakan acuan yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi dasar bersangkutan. Teknik penilaian yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik indikator, standar kompetensi dasar dan kompetensi dasar yang diajarkan oleh guru. Tidak menutup kemungkinan bahwa satu indikator dapat diukur dengan beberapa teknik penilaian, hal ini karena memuat domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Seperti diuraikan di atas, umumnya tujuan pembelajaran mengikuti pengklasifikasian hasil belajar yang dilakukan oleh Bloom pada tahun 1956, yaitu cognitive, affective, dan psychomotor. Benjamin Bloom (1956) mengelompokkan kemampuan manusia ke dalam dua ranah (domain) utama yaitu ranah kognitif dan ranah non-kognitif. Ranah non-kognitif dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ranah afektif dan ranah psikomotor. Setiap ranah diklasifikasikan secara berjenjang mulai dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.

a. Ranah Kognitif
Dalam hubungannya dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang tempat utama, terutama dalam tujuan pengajaran di SD, SMTP, dan SMU. Aspek kognitif dibedakan atas enam jenjang, yaitu aspek pengetahuan, pemahanan, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian. 1) Pengetahuan (knowledge), dalam jenjang ini seseorang dituntut dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Kata-kata operasional yang digunakan, yaitu: mendefinisikan, mendeskripsikan, mengidentifikasikan, mendaftarkan, menjodohkan, menyebutkan, menyatakan dan mereproduksi. 2) Pemahaman (comprehension), kemampuan ini menuntut siswa memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain. Kemampuan ini dijabarkan menjadi tiga, yakni; (a) menterjemahkan, (b) menginterpretasikan, dan (c) mengekstrapolasi. Kata-kata operasional yang digunakan antara lain: memperhitungkan, memperkirakan, menduga, menyimpulkan, membedakan, menentukan, mengisi, dan menarik kesimpulan. 3) Penerapan (aplication), adalah jenjang kognitif yang menuntut kesanggupan menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsipAsesmen pembelajaran di SD

1 - 23

prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan konkret. Kata-kata operasional yang digunakan antara lain: mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, menemukan, memanipulasikan, menghubungkan, menunjukkan, memecahkan, dan menggunakan. 4) Analisis (analysis adalah tingkat kemampuan yang menuntut seseorang untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya. Kemampuan analisis diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu; (a) analisis unsur, (b) analisis hubungan, (c) analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi. Kata-kata operasional yang umumnya digunakan antara lain: memperinci, mengilustrasikan, menyimpulkan, menghubungkan, memilih, dan memisahkan. 5) Sintesis (synthesis), jenjang ini menuntut seseorang untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan berbagai faktor. Hasil yang diperoleh dapat berupa: tulisan, rencana atau mekanisme. Kata operasional yang digunakan terdiri dari: mengkatagorikan, memodifikasikan, merekonstruksikan, mengorganisasikan, menyusun, membuat design, menciptakan, menuliskan, dan menceritakan. 6) Evaluasi (evaluation) adalah jenjang yang menuntut seseorang untuk dapat menilai suatu situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu. Hal penting dalam evaluasi ialah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga siswa mampu mengembangkan kriteria, standar atau ukuran untuk mengevaluasi sesuatu. Kata-kata operasional yang dapat digunakan antara lain: menafsirkan, menentukan, menduga, mempertimbangkan, membenarkan, dan mengkritik.

b. Ranah Afektif
Secara umum ranah afektif diartikan sebagai internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah yang terjadi bila individu menjadi sadar tentang nilai yang diterima dan kemudian mengambil sikap sehingga kemudian menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah lakunya. Jenjang kemampuan dalam ranah afektif yaitu: 1) Menerima (Receiving), diharapkan siswa peka terhadap eksistensi fenomena atau rangsangan tertentu. Kepekaan ini diawali dengan penyadaran kemampuan untuk menerima dan memperhatikan. Kata-kata operasional yang digunakan antara lain: menanyakan, memilih, mendeskripsikan, memberikan, mengikuti, menyebutkan.

1 - 24

Unit 1

2) Menjawab (Responding), siswa tidak hanya peka pada suatu fenomena, tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara. Penekanannya pada kemauan siswa untuk menjawab secara sukarela, membaca tanpa ditugaskan. Kata-kata operasional yang digunakan antara lain: menjawab, membantu, melakukan, membaca, melaporkan, mendiskusikan, dan menceritakan. 3) Menilai (valuing), diharapkan siswa dapat menilai suatu obyek, fenomena atau tingkah laku tertentu dengan cukup konsisten. Kata-kata operasional yang digunakan antara lain; melengkapi, menerangkan, membentuk, mengusulkan, mengambil bagian, memilih, dan mengikuti. 4) Organisasi (organization), tingkat ini berhubungan dengan menyatukan nilainilai yang berbeda, menyelesaikan/memecahkan masalah, membentuk suatu sistem nilai. Kata-kata operasional yang digunakan antara lain: mengubah, mengatur, menggabungkan, membandingkan, mempertahankan, menggeneralisasikan, dan memodifikasikan.

c. Ranah Psikomotor
Berkaitan dengan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Perubahan pola gerakan memakan waktu sekurang-kurangnya 30 menit. Kata operasional untuk aspek psikomotor harus menunjuk pada aktualisasi kata-kata yang dapat diamati, yang meliputi: 1) Muscular or motor skill; mempertontonkan gerak, menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan, dan menampilkan. 2) Manipulations of materials or objects; mereparasi, menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan, dan membentuk. 3) Neuromuscular coordination; mengamati, menerapkan, menghubungkan, menggandeng, memadukan, memasang, memotong, menarik, dan menggunakan. (Poerwanti E., 2001) Evaluasi terhadap ranah-ranah yang dikemukakan Bloom melalui prosedur tes memiliki beberapa kelebihan, disamping juga memiliki banyak kekurangan, seperti; (1) setiap soal yang digunakan dalam suatu tes umumnya mempunyai jawaban tunggal, (2) tes hanya berfokus pada skor akhir dan tidak terfokus pada bagaimana siswa memperoleh jawaban, (3) tes mengendalikan pembelajaran di kelas, (4) tes kurang mampu mengungkapkan bagaimana siswa berpikir, (5) kadang-kadang tes tidak mampu menggambarkan prestasi sebenarnya dari siswa, dan (6) tes tidak mampu mengukur semua aspek belajar.
Asesmen pembelajaran di SD

1 - 25

Apabila dikaji kembali, hafalan merupakan kemampuan seseorang dalam tingkatan yang paling rendah dalam taksonomi Bloom. Orin A. dan David R. (2001), menyatakan, dalam taksonomi Bloom kemampuan seseorang diklasifikasikan menjadi tingkat tinggi dan tingkat rendah. Tingkat rendah terdiri dari; pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi, sedang kemampuan tingkat tinggi meliputi analisis, sintesis, evaluasi, dan kreativitas. Johnson dan Harris (2002) mengemukakan, berpikir tingkat tinggi terdiri dari berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kreatif adalah kemampuan melakukan generalisasi dengan menggabungkan, merubah, atau mengulang-ngulang kembali keberadaan ide-ide tersebut. Adapun kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan memberikan rasionalisasi terhadap sesuatu dan mampu memberikan penilaian terhadap sesuatu tersebut. Lemahnya keterampilan siswa dalam berpikir bahkan hanya terampil dalam menghafal tidak terlepas dari kebiasaan guru dalam melakukan evaluasi akhir siswa yang hanya mengukur tingkat kemampuan yang rendah saja melalui tes tertulis (paper and pencil test). Siswa yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi jika tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan dan tidak diarahkan maka kemampuannya tidak dapat berkembang. Berkaitan dengan kegiatan asesmen, perlu dipahami implikasi dari penerapan standar kompetensi pada proses penilaian yang dilakukan oleh guru, baik yang bersifat formatif maupun sumatif harus menggunakan acuan kriteria. Untuk itu dalam menerapkan standar kompetensi harus dikembangkan penilaian berkelanjutan (continous authentic assessment) yang menjamin pencapaian dan penguasaan kompetensi. Guru diberi kebebasan merancang pembelajarannya dan melakukan penilaian (assesment) terhadap prestasi siswa termasuk di dalamnya merancang sistem pengujiannya. Permasalahan ini akan dibahas tersendiri pada Unit 5. Paparan tersebut dapat dicermati dalam Tabel berikut yang menggambarkan pengertian dan cakupan dari ranah asesmen (Depdiknas, 2004).

1 - 26

Unit 1

Tingkatan Domain Kognitif
Tingkat I. Pengetahuan Deskripsi Arti: Pengetahuan terhadap fakta, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, dan kesimpulan. Contoh kegiatan belajar: mengemukakan arti, menamakan, membuat daftar, menentukan lokasi, mendeskripsikan sesuatu, menceritakan apa yang terjadi, menguraikan apa yang terjadi. II. Pemahaman Arti: Pengertian terhadap hubungan antar-faktor, antar konsep, dan antar-data, hubungan sebab-akibat, dan penarikan kesimpulan. Contoh kegiatan belajar: mengungkapkan gagasan/pendapat dengan kata-kata sendiri, membedakan, membandingkan, mengintepretasi data, mendiskripsikan dengan kata-kata sendiri, menjelaskan gagasan pokok, menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Arti: menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kegiatan belajar: menghitung kebutuhan, melakukan percobaan, membuat peta, membuat model, merancang strategi. Arti: Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah, penyelesaian, atau gagasan dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut. Contoh kegiatan belajar: mengidentifikasi faktor penyebab, merumuskan masalah, mengajukan pertanyaan untuk memperoleh informasi, membuat grafik, mengkaji ulang. Arti: menggabungkan berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau konsep atau meramu/merangkai berbagai gagasan menjadi suatu hal yang baru. Contoh kegiatan belajar: membuat desain, mengarang komposisi lagu, menemukan solusi masalah, memprediksi, merancang model mobil-mobilan, pesawat sederhana, menciptakan produk baru. VI. Evaluasi Arti: Mempertimbangkan dan menilai benar-salah, baik-buruk, bermanfaat-tak bermanfaat. Contoh kegiatan belajar: mempertahankan pendapat, beradu argumentasi, memilih solusi yang lebih baik, menyusun kriteria penilaian, menyarankan

III. Aplikasi

IV. Analisis

V. Sintesis

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 27

Tingkat

Deskripsi perubahan, menulis laporan, membahas suatu kasus, menyarankan strategi baru.

Tingkatan Domain Afektif
Tingkat I. Penerimaan (Receiving) Deskripsi Arti: Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena dan stimuli atau menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi. Contoh kegiatan belajar: sering mendengarkan musik, senang membaca puisi, senang mengerjakan soal matematika, ingin menonton sesuatu, senang membaca cerita, senang menyanyikan lagu. Arti: Menunjukkan perhatian aktif, melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena, setuju, ingin, puas meresponsi (menanggapi). Contoh kegiatan belajar: mentaati aturan, mengerjakan tugas, mengungkapkan perasaan, menanggapi pendapat, meminta maaf atas kesalahan, mendamaikan orang yang bertengkar, menunjukkan empati, menulis puisi, melakukan renungan, melakukan introspeksi. Arti: Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai, Termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti, Tingkatan: menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai. Contoh kegiatan belajar: mengapresiasi seni, menghargai peran, menunjukkan keprihatinan, menunjukkan alasan perasaan jengkel, mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik, melakukan upaya pelestarian lingkungan hidup, menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM, menjelaskan alasan senang membaca novel. Arti: Mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam satu sistem, Menentukan saling hubungan antar nilai, Memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana. Tingkatan: Konseptualisasi suatu nilai dan Organisasi suatu sistem nilai. Contoh kegiatan belajar: bertanggung jawab terhadap perilaku, menerima kelebihan dan kekurangan pribadi, membuat rancangan hidup masa depan, merefleksi pengalaman dalam hal tertentu, membahas cara melestarikan lingkungan hidup, merenungkan makna ayat kitab suci bagi kehidupan. Arti: Suatu nilai/sistem nilai telah menjadi karakter, Nilai-nilai tertentu telah mendapat tempat dalam hirarki nilai individu, diorganisasi secara konsisten, dan telah mampu mengontrol tingkah laku individu.

II. Responsi (Responding)

III. Acuan nilai (Valuing)

IV.

Organisasi

V.

Karakterisasi (menjadi karakter)

1 - 28

Unit 1

Tingkat

Deskripsi Contoh kegiatan belajar: rajin, tepat waktu, berdisiplin diri, mandiri dalam bekerja secara independen, objektif dalam memecahkan masalah, mempertahankan pola hidup sehat, menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan, menyarankan pemecahan masalah HAM, menilai kebiasaan konsumsi, dan mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar-teman.

Tingkatan Domain Psikomotor
I. Tingkat Gerakan refleks Deskripsi Arti: Gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak, Responsi terhadap stimulus tanpa sadar, misalnya: melompat, menunduk, berjalan, menggerakkan leher dan kepala, menggenggam, memegang. Contoh kegiatan belajar: mengupas mangga dengan pisau, memotong dahan bunga, menampilkan ekspresi yang berbeda, meniru gerakan polisi lalu lintas, juru parkir, meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin. II. Gerakan dasar (Basic fundamental movements) Arti: Gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik, Gerakan ini terpola dan dapat ditebak. Contoh kegiatan belajar: Contoh gerakan tak berpindah; bergoyang, membungkuk, merentang, mendorong, menarik, memeluk, berputar. Contoh gerakan berpindah: merangkak, maju perlahan-lahan, meluncur, berjalan, berlari, meloncat-loncat, berputar mengitari, memanjat. Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok, menggunting, menggambar dengan crayon, memegang dan melepas objek, blok, atau mainan. Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola, menggambar. Arti: Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual. Contoh kegiatan belajar: menangkap bola, mendrible bola, melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan, memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang ukurannya bervariasi, membaca, melihat terbangnya bola pingpong, melihat gerak pendulum, menggambar simbol geometri, menulis alfabet, mengulangi pola gerak tarian, memukul bola tenis, pingpong, membedakan bunyi beragam alat musik, membedakan suara berbagai binatang, mengulangi ritme lagu yang pernah didengar, membedakan berbagai tekstur dengan meraba.

III. Gerakan persepsi (Perceptual abilities)

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 29

Tingkat IV. Gerakan kemampuan fisik (Psysical abilities)

Deskripsi Arti: Gerak lebih efisien, Berkembang melalui kematangan dan belajar. Contoh kegiatan belajar: menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu, berlari jauh, mengangkat beban, menarik-mendorong, melakukan push-ups, kegiatan memperkuat lengan, kaki, dan perut, menari, melakukan senam, melakukan gerak pesenam, pemain biola, pemain bola. Arti: Dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak, terampil, tangkas, cekatan melalukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks). Contoh kegiatan belajar: melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga, menari, berdansa, membuat kerajinan tangan, menggergaji, mengetik, bermain piano, memanah, skating, melakukan gerak, akrobatik, melakukan koprol yang sulit. Arti: Mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan, Gerak estetik: gerakangerakan terampil yang efisien dan indah, Gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran. Contoh kegiatan belajar: kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis, menari balet, melakukan senam tingkat tinggi, bermain drama (acting), keterampilan olahraga tingkat tinggi.

V. Gerakan terampil (Skilled movements)

VI.Gerakan indah dan kreatif (Nondiscursive communication)

2. Asesmen sebagai dasar Evaluasi
Skor yang diperoleh sebagai hasil pengukuran hasil belajar dalam pelaksanaan asesmen seringkali belum bisa memberikan makna secara optimal, sebelum diberikan kualitas dengan membandingkan skor hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Kriteria atau pendekatan dalam evaluasi hasil belajar dapat berupa kriteria yang bersifat mutlak, kriteria relatif atau kriteria performance. Meskipun dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi ditegaskan penggunaan Acuan Kriteria, tidaklah salah bila Anda sebagai pendidik mengetahui juga kriteria yang lain.

a. Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acuan Kriteria (PAP/PAK)
Penilaian Acuan Patokan didasarkan pada kriteria baku/mutlak, yaitu kriteria yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan ujian dengan menetapkan

1 - 30

Unit 1

batas lulus atau minimum passing level. Dengan pendekatan ini begitu koreksi dilakukan, pengajar segera dapat mengambil keputusan lulus atau tidak lulus serta nilai diperoleh. Dalam pendekatan kriteria dituntut penanganan yang lebih detail dan terencana sebelum proses pengajaran berlangsung, pengajar harus telah mengkomunikasikan cakupan materi pengajaran dan kriteria keberhasilan serta kompetensi yang harus dikuasai peserta didik yang tercermin dalam tujuan pengajaran atau Indikator pencapaian.

b. Penilaian Acuan Norma atau Penilaian Acuan Relatif (PAN/PAR)
Penilaian Acuan Norma didasarkan pada kriteria relatif, yakni pada kemampuan kelompok pada umumnya. Sehingga lulus dan tidaknya peserta uji yang ditunjukkan dengan kategori nilai A, B, C bergerak dalam batas yang relatif. Pada prinsipnya pendekatan norma menggunakan hukum yang ada pada kurva normal, yang dibentuk dengan mengikutsertakan semua skor hasil pengukuran yang diperoleh. Penentuan prestasi dan kedudukan siswa didasarkan pada Mean (rerata) dan Standard Deviasi (simpangan baku) dari keseluruhan skor yang diperoleh sekelompok mahasiswa, sehingga penilaian dan penetapan kriteria baru dapat ditetapkan setelah koreksi selesai dilakukan.

c. Penilaian dengan Pendekatan Performa (Performance)
Pendekatan ini didasarkan pada performansi mahasiswa sebelumnya, sehingga lebih diarahkan pada pembinaan kemajuan belajar dari waktu ke waktu, untuk itu sangat diperlukan informasi tentang kemampuan awal siswa serta potensi dasar yang dimiliki. Pendekatan ini sangat cocok untuk pelaksanaan pengajaran remedial atau untuk latihan keterampilan tertentu dimana dalam kegiatan semacam ini kemajuan anak dari waktu ke waktu sangat perlu untuk diikuti dan dipantau secara teliti. Masing-masing acuan penilaian memiliki kekurangan dan kelebihan. Dalam pelaksanaan, pengajar dapat menentukan sendiri kriteria mana yang dipilih dengan mempertimbangkan berbagai faktor terutama kondisi kelompok peserta uji, sistem pendidikan yang ada, tingkat kemampuan yang diungkap, tujuan penilaian dan berbagai pertimbangan lain sesuai dengan situasi kondisi.

3. Jenis-jenis Evaluasi
Jenis evaluasi selalu dikaitkan dengan fungsi dan tujuan evaluasi. Ada bermacam jenis evaluasi yang secara garis besar setidaknya dapat dibagi menjadi 5 jenis yaitu :
Asesmen pembelajaran di SD

1 - 31

a. Evaluasi Formatif, yakni penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir pokok bahasan, tujuannya untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap pokok bahasan tertentu. Informasi dari evaluasi formatif dapat dipakai sebagai umpan balik bagi pengajar mengenai proses pengajaran. b. Evaluasi Sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan pada akhir satuan program tertentu, (catur wulan, semester atau tahun ajaran), tujuannya untuk melihat prestasi yang dicapai peserta didik selama satu program yang secara lebih khusus hasilnya akan merupakan nilai yang tertulis dalam raport dan penentuan kenaikan kelas. c. Evaluasi Diagnostik, yaitu penilaian yang dilakukan untuk melihat kelemahan siswa dan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebabnya, dilakukan untuk keperluan pemberian bimbingan belajar dan pengajaran remidial, sehingga aspek yang dinilai meliputi kemampuan belajar, aspek-aspek yang melatarbelakangi kesulitan belajar yang dialami anak serta berbagai kondisi khusus siswa. d. Evaluasi penempatan (placement), yaitu penilaian yang ditujukan untuk menempatkan siswa sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, misalnya dalam pemilihan jurusan atau menempatkan anak pada kerja kelompok dan pemilihan kegiatan tambahan. Aspek yang dinilai meliputi bakat, minat, kesanggupan, kondisi phisik, kemampuan dasar, keterampilan dan aspek khusus yang berhubungan dengan proses pengajaran. e. Evaluasi Seleksi, yakni penilaian yang ditujukan untuk menyaring atau memilih orang yang paling tepat pada kedudukan atau posisi tertentu. Evaluasi ini dilakukan kapan saja diperlukan. Aspek yang dinilai dapat beraneka ragam disesuaikan dengan tujuan seleksi, sebab tujuannya adalah memilih calon untuk posisi tertentu, karena itu analisis dari evaluasi ini biasanya menggunakan kriteria yang bersifat relatif atau berdasar norma kelompok.

4. Pelaksanaan Asesmen dan Penilaian Hasil Belajar
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19, Tahun 2005 (PP No. 19/2005), penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas; (1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (3) penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

a. Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, perbaikan hasil dalam

1 - 32

Unit 1

bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian oleh pendidik ini digunakan untuk (1) menilai pencapaian kompetensi peserta didik, (b) bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan (c) memperbaiki proses pembelajaran.

b. Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran. Penilaian hasil belajar ini berlaku untuk mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan merupakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Penilaian akhir mempertimbangkan hasil penilaian peserta didik oleh pendidik. Dilaksanakan untuk semua mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Untuk dapat mengikuti ujian sekolah/madrasah, peserta didik harus mendapatkan nilai yang sama atau lebih besar dari nilai batas ambang kompetensi yang dirumuskan oleh BSNP pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

c. Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah
Penilaian hasil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional. Ujian nasional dilakukan secara obyektif, berkeadilan, akuntabel, dan diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak-banyaknya dua kali dalam satu tahun pelajaran. Penyelenggaraannya oleh pemerintah diserahkan kepada BSNP (lebih jauh akan dibahas pada Unit 2). Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: a. pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; b. dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
Asesmen pembelajaran di SD

1 - 33

c. penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; d. pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

5. Teknik Asesmen
Dilihat dari tekniknya, asesmen proses dan hasil belajar dibedakan menjadi dua macam yaitu dengan Teknik Tes dan Non Tes namun pada umumnya pengajar lebih banyak menggunakan tes sebagai alat ukur dengan rasional bahwa tingkat obyektivitas evaluasi lebih terjamin, hal ini tidak sepenuhnya benar. Anda bisa lebih jauh mencermati pada unit-unit selanjutnya. a. Teknik tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang dites, dan berdasarkan hasil menunaikan tugas-tugas tersebut, akan dapat ditarik kesimpulan tentang aspek tertentu pada orang tersebut. Tes sebagai alat ukur sangat banyak macamnya dan luas penggunaannya. Uraian lebih jauh tentang teknik tes ini secara khusus dibahas pada Unit 4. b. Teknik nontes dapat dilakukan dengan observasi baik secara langsung ataupun tak langsung, angket ataupun wawancara. Dapat pula dilakukan dengan Sosiometri, teknik non tes digunakan sebagai pelengkap dan digunakan sebagai pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan penentuan kualitas hasil belajar, teknik ini dapat bersifat lebih menyeluruh pada semua aspek kehidupan anak. Dalam KBK teknik nontes disarankan untuk banyak digunakan. Uraian lebih jauh tentang teknik tes ini secara khusus dibahas pada Unit 5.

Rangkuman
1. Pada umumnya tujuan pembelajaran mengikuti pengklasifikasian hasil belajar yang dilakukan oleh Bloom pada tahun 1956, yaitu cognitive, affective dan psychomotor. Kognitif adalah ranah yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan ketrampilan intelektual. Afektif adalah ranah yang berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap nilai dan emosi dan ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan atau ketrampilan motorik. 2. Kriteria atau pendekatan dalam evaluasi hasil belajar dapat berupa kriteria yang bersifat mutlak, kriteria relatif atau kriteria performa.

1 - 34

Unit 1

3. Jenis evaluasi selalu dikaitkan dengan fungsi dan tujuan evaluasi, yang meliputi (1) Evaluasi Formatif (2) Evaluasi Sumatif (3) Evaluasi Diagnostik (4) Evaluasi penempatan, dan (5) Evaluasi Seleksi. 4. Menurut PP. 19 tahun 2005, penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (1) penilaian hasil belajar oleh pendidik; (2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan (3) penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. 5. Dilihat dari tekniknya, asesmen proses dan hasil belajar dibedakan menjadi dua macam yaitu dengan teknik tes dan nontes.

Tes Formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 3. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan dengan contoh asesmen pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. 2. Dalam melakukan evaluasi, hasil asesmen perlu dibandingkan dengan kriteria tertentu. Jelaskan dengan contoh, kriteria apa saja yang dapat digunakan! 3. Jelaskan dengan contoh jenis evaluasi yang digunakan dalam bidang pendidikan! 4. Jelaskan fungsi penilaian yang dilakukan oleh pendidik berdasarkan pengalaman saudara di lapangan! 5. Teknik apa saja yang dapat digunakan dalam asesmen pembelajaran!

Umpan Balik
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru Anda cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman terhadap Unit ini akan mendasari dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini.

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 35

Kunci Jawaban Tes Formatif
Jawaban Tes Formatif I
1. Pengukuran : adalah kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda, sehingga hasil pengukuran akan selalu berupa angka. Alat untuk melakukan pengukuran ini dapat berupa alat ukur standar seperti meter, kilogram, liter dan sebagainya, termasuk ukuran-ukuran subyektif yang bersifat relatif, seperti depa, jengkal, “sebentar lagi”, dan lain-lain. Di kelas guru juga melakukan pengukuran terhadap proses dan hasil belajar yang hasilnya berupa angka-angka yang mencerminkan capaian dan proses dan hasil belajar tersebut. Angka 50, 75, atau 175 yang diperoleh dari hasil pengukuran proses dan hasil pembelajaran tersebut bersifat kuantitatif dan belum dapat memberikan makna apa-apa, karena belum menyatakan tingkat kualitas dari apa yang diukur. 2. Kriteria : adalah pembanding yang dipergunakan sebagai alat untuk memberikan kualitas terhadap hasil pengukuran. Dalam proses pembelajaran, kriteria yang berupa batas kriteria minimal yang telah ditetapkan sebelum pengukuran dan bersifat mutlak atau dapat pula berupa kriteria yang ditentukan setelah kegiatan pengukuran dilakukan dan didasarkan pada keadaan kelompok dan bersifat relatif 3. Penilaian : mempunyai arti yang sama dengan evaluasi yaitu proses pemberian makna atau penetapan kualitas hasil pengukuran dengan cara membandingkan angka hasil pengukuran tersebut dengan kriteria tertentu. Kriteria sebagai pembanding dari proses dan hasil pembelajaran tersebut dapat ditentukan sebelum proses pengukuran atau dapat pula ditetapkan sesudah pelaksanaan pengukuran. Kriteria ini dapat berupa proses/kemampuan minimal yang dipersyaratkan, atau batas keberhasilan, dapat pula berupa kemampuan rata-rata unjuk kerja kelompok dan berbagai patokan yang lain. 4. Keterkaitan pengertian : Melakukan asesmen selalu diawali dengan menyusun tes atau nontes sebagai alat ukur, hasil pengukuran berupa angka bersifat kuantitatif belum bermakna bila tidak dilanjutkan dengan proses penilaian dengan membandingkan hasil pengukuran dengan kriteria tertentu sebagai landasan pengambilan keputusan dalam pembelajaran. Sebaliknya, penilaian

1 - 36

Unit 1

(penentuan kualitas) tidak dapat dilakukan tanpa didahului dengan proses pengukuran. 5. Keterbatasan Asesmen dalam pembelajaran : 5.1. Untuk pengukuran konstruk psikologis termasuk pembelajaran yang bersifat abstrak tidak ada pendekatan tunggal yang dapat diberlakukan dan diterima secara universal, sehingga harus digunakan bermacam pendekatan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang rentang waktu berlangsungnya proses pembelajaran. 5.2. Proses dan hasil pembelajaran pada umumnya dikembangkan berdasarkan atas sampel tingkah laku yang terbatas, sehingga untuk dapat menjadi sumber informasi yang akurat, asesmen dilakukan dengan perencanaan yang matang dan dilakukan dengan cermat, dengan memperhatikan perolehan sampel yang memadai dari domain tingkah laku dalam pengembangan prosedur dan alat ukur yang baik. 5.3. Pengukuran dan nilai yang diperoleh dalam asesmen proses dan hasil belajar mengandung kekeliruan. Angka yang diperoleh sebagai hasil pengukuran (dengan menggunakan tes ataupun nontes) berupa: Thrue score + Error, untuk itu kegiatan pengukuran dalam prosedur asesmen yang baik harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga dapat memperkecil kekeliruan (error). 5.4. Hasil belajar merupakan suatu kualitas pemahaman siswa terhadap materi, sedang tes pengukuran hasil belajar, pengajar diharuskan memberikan kuantitas yang berupa angka-angka pada kualitas dari suatu gejala yang bersifat abstrak. 5.5. Konstruk psikhologis termasuk proses dan hasil pembelajaran tidak dapat didifinisikan secara tunggal, tetapi selalu berhubungan dengan konstruk yang lain.

Jawaban Tes Formatif 2
1. Tujuan penilaian berbasis kelas adalah (berikan contoh sesuai pengalaman) a. Saat melaksanakan asesmen, pendidik bisa langsung memberikan umpan balik kepada peserta didik. b. Guru dapat melakukan pemantauan kemajuan belajar setiap peserta didik, sekaligus mendiagnosis kesulitan belajarnya sehingga secara tepat dapat menentukan siswa mana yang perlu pengayaan dan siswa yang perlu pembelajaran remedial.

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 37

c. Hasil pemantauan dapat dipakai sebagai umpan balik untuk memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan, sumber belajar yang digunakan, sesuai dengan kebutuhan materi dan juga kebutuhan siswa, dan landasan memilih alternatif jenis dan model penilaian mana yang tepat untuk digunakan pada materi tertentu. d. Memberikan informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan, tidak perlu menunggu akhir semester atau akhir tahun. 2. Fungsi Asesmen Berbasis kelas a. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu kompetensi. b. Membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah pemilihan program, pengembangan kepribadian dan penjurusan. c. Menemukan kesulitan belajar dan prestasi yang bisa dikembangkan serta sebagai alat diagnosis perlu tidak siswa mengikuti remedial atau program pengayaan. d. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilakukan ataupun yang sedang berlangsung. 3. Prinsip Asesmen Berbasis kelas a. Prinsip Validitas : ”menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi”. b. Prinsip Reliabilitas : dengan menjaga konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang ajeg (reliable) memungkinkan perbandingan yang reliable, menjamin konsistensi, dan keterpercayaan. c. Prinsip Komprehensif : penilaian yang dilakukan harus menyeluruh mencakup seluruh domain yang tertuang pada setiap kompetensi dasar dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi. d. Prinsip Objektivitas : proses penilaian yang dilakukan harus meminimalkan pengaruh-pengaruh atau pertimbangan subyektif dari penilai. e. Prinsip Mendidik : penilaian dilakukan bukan untuk mendiskriminasi siswa (lulus atau tidak lulus) atau menghukum siswa tetapi untuk mendiferensiasi siswa (sejauh mana seorang siswa membuat kemajuan atau posisi masingmasing siswa dalam rentang cakupan pencapaian suatu kompetensi).

1 - 38

Unit 1

4. Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya: a. Memandang penilaian dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu. b. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri. c. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik. d. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik. e. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik. f. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. g. Mendidik dan meningkatkan mutu proses pembelajaran seefektif mungkin. 5. Keunggulan Penilaian berbasis kelas a. Pengumpulan data kemajuan belajar baik formal maupun informal dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga ada kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya. b. Hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik tidak untuk dibandingkan dengan hasil belajar siswa lain ataupun prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya; atau dengan kompetensi yang dipersyaratkan. c. Pengumpulan informasi dilakukan dengan menggunakan variasi cara, dilakukan secara berkesinambungan sehingga gambaran kemampuan siswa dapat lebih lengkap terdeteksi, dan terpotret secara akurat. d. Siswa dituntut untuk mengeksplorasi dan memotivasi diri mengerahkan potensinya dalam menanggapi dan memecahkan masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri dan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. e. Siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya, dengan pemberian bantuan dan bimbingan yang sesuai. f. Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar (PBM) tetapi dapat dilaksanakan ketika PBM sedang berlangsung (penilaian proses).

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 39

Jawaban Tes Formatif 3
1. Ranah dalam Asesmen a. Ranah Kognititf : adalah daya pikir, yang dibedakan atas enam jenjang, yaitu aspek pengetahuan (mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya.), pemahanan (mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain), penerapan (kesanggupan menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metodemetode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan konkret), analisis (menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya), sintesis (dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan berbagai faktor) dan penilaian (dapat menilai suatu situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu). Ranah afektif diartikan sebagai internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah. Jenjang kemampuan dalam ranah afektif yaitu: menerima (peka terhadap eksistensi fenomena atau rangsangan tertentu), menjawab (bereaksi terhadap salah satu cara, menilai (dapat menilai suatu obyek, fenomena atau tingkah laku tertentu dengan cukup konsisten), oganisasi (menyatukan nilainilai yang berbeda, menyelesaikan/memecahkan masalah dan membentuk suatu sistem nilai).

b.

c. Ranah Psikomotor : Berkaitan dengan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks meliputi: Muscular or motor skill; mempertontonkan gerak, menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan & menampilkan, Manipulations of materials or objects; mereparasi, menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan, dan membentuk, Neuromuscular coordination; mengamati, menerapkan, menghubungkan, menggandeng, memadukan, memasang, memotong, menarik, dan menggunakan. 2. Kriteria dalam melakukan Asesmen a. Penilaian Acuan Patokan atau Penilaian Acuan Kriteria (PAP/PAK) : yaitu kriteria yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan ujian dengan menetapkan batas lulus atau minimum passing level, yang berupa kriteria keberhasilan atau kompetensi yang harus dikuasai peserta didik.

1 - 40

Unit 1

b.

c.

Penilaian Acuan Norma atau Penilaian Acuan Relatif (PAN/PAR) : adalah kriteria relatif, yakni pada kemampuan kelompok pada umumnya. Sehingga lulus dan tidaknya peserta didik bergerak dalam batas yang relatif. Penilaian Dengan Pendekatan Performa (Performance): diarahkan pada pembinaan kemajuan belajar dari waktu ke waktu. Pendekatan ini cocok untuk pelaksanaan pengajaran remedial atau untuk latihan keterampilan tertentu.

3. Jenis-jenis Evaluasi : a. Evaluasi Formatif, yakni penilaian yang dilaksanakan pada setiap akhir pokok bahasan, tujuannya untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap pokok bahasan tertentu. Evaluasi Sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan pada akhir satuan program tertentu, (catur wulan, semester atau tahun ajaran), tujuannya untuk melihat prestasi yang dicapai peserta didik selama satu program. Evaluasi Diagnostik, yaitu penilaian yang dilakukan untuk melihat kelemahan siswa dan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab, dilakukan untuk keperluan pemberian bimbingan belajar dan pengajaran remidial. Evaluasi penempatan (placement), yaitu penilaian yang ditujukan untuk menempatkan siswa sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, misalnya dalam pemilihan jurusan atau menempatkan anak pada kerja kelompok dan pemilihan kegiatan tambahan. Evaluasi Seleksi, yakni penilaian yang ditujukan untuk menyaring atau memilih orang yang paling tepat pada kedudukan atau posisi tertentu. Evaluasi ini dilakukan kapan saja diperlukan.

b.

c.

d.

e.

4. Fungsi penilaian : (contoh sesuai dengan pengalaman)
a. b. Menggambarkan sejauhmana seorang peserta didik telah menguasai suatu

c.

d.

kompetensi. Membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah pemilihan program, pengembangan kepribadian dan penjurusan. Menemukan kesulitan belajar dan prestasi yang bisa dikembangkan serta sebagai alat diagnosis perlu tidak siswa mengikuti remedial atau program pengayaan. Menemukan kelemahan dan kekurangan proses pembelajaran yang telah dilakukan ataupun yang sedang berlangsung.

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 41

5. Teknik apa saja yang dapat digunakan dalam asesmen pembelajaran. a. Teknik tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang dites, dan berdasar hasil menunaikan tugas-tugas tersebut, akan dapat ditarik kesimpulan tentang aspek tertentu pada orang tersebut. b. Teknik nontes : dapat berupa observasi baik secara langsung ataupun tak langsung, angket ataupun wawancara ataupun sosiometri.

1 - 42

Unit 1

Daftar Pustaka
Sudiyono, A. (1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Brookhart, Susan M. and Anthony, Nitko J.(2007). Educational Assesment of Student. Fifth edition. New Jersey: Meril Prentice Hall. Balitbang Depdiknas. (2006). Depdiknas. Panduan Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta:

Poerwanti, E. (2001). Evaluasi pembelajaran, Modul Akta mengajar. UMM Press. Koufman, R. and Thomas S. (1990). Evaluations Without Fear. New York: A. Division of Franklin Watts. Arikunto, S. (2002). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Silverius, S. (2001). Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Gramedia Widya Sarana.

Asesmen pembelajaran di SD

1 - 43

Glosarium
Afektif Asesmen : bagian dari ranah asesmen yang berkaitan dengan sikap. : merupakan proses mengumpulkan informasi tentang kemajuan siswa dengan menggunakan bermacammacam prosedur. : suatu bagian dari ranah asesmen yang berkaitan dengan daya pikir. : adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik. : bagian dari ranah asesmen yang berkaitan dengan gerakan tubuh atau keterampilan

Kognitif Kompetensi

Psikomotor

1 - 44

Unit 1

Unit

2

STANDAR PENILAIAN BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (BSNP)
Endang Poerwanti

Pendahuluan

A

pakah Anda telah melakukan pencermatan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan (PP-SNP)? PP ini disyahkan oleh Presiden, dan bersama dengan itu 15 orang anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang diberi tugas mengimplementasikan PP-SNP tersebut juga sudah dilantik oleh Menteri Pendidikan Nasional. Standar Nasional Pendidikan disusun agar dapat dijadikan Kriteria Minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Dalam Pasal 1 ayat (17) Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Yungto Pasal 1 Ayat (1) PP No. 19 2005 dinyatakan bahwa lingkup dari Standar Nasional Pendidikan meliputi 8 standar yaitu: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian. Bila dicermati, Anda akan paham bahwa standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Pada Peraturan Pemerintah tersebut diamanatkan tiga jenis penilaian yaitu; (1) penilaian oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil pembelajaran, (2) penilaian oleh satuan pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran sesuai programnya sebagai

Asesmen pembelajaran di SD

2-1

bentuk transparansi, profesional, dan akuntabel lembaga, (3) penilaian oleh pemerintah bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu. Penilaian oleh pemerintah, dalam pelaksanaannya diserahkan kepada BSNP. Hasil Ujian Nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu program, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik, pembinaan, dan pemberian bantuan kepada pihak sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Standar penilaian merupakan salah satu bagian dari Standar Nasional Pendidikan tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab itu, setiap pendidik harus memahami landasan yuridis maupun filosofis yang melatarbelakangi munculnya standar penilaian, mekanisme, dan prosedur evaluasi. Termasuk dalam hal tersebut, bagaimana pendidik menetapkan indikator keberhasilan pembelajaran dan merancang pengalaman belajar siswa. Setelah mempelajari Unit 2, Anda diharapkan dapat memahami berbagai hal yang terkait dengan standar penilaian menurut BSNP, dan dapat: 1. Menjelaskan latar belakang PP No. 19 Tahun 2005, khususnya tentang standar penilaian. 2. Menjelaskan Standar Penilaian Pendidikan sebagai standar nasional penilaian di bidang pendidikan. 3. Menjelaskan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik menurut BSNP. 4. Ujian Nasional Sebagai Standar Penilaian. Materi pada unit ini lebih banyak kemasan baru dari buku pedoman penilaian yang disusun oleh BSNP. Untuk memahami Unit 2 ini, akan bermanfaat secara optimal bila mempelajarinya melalui tatap muka dan kerja mandiri. Untuk keperluan tersebut unit ini dilengkapi dengan web. Selain itu, unit dilengkapi dengan tes formatif yang diletakkan pada setiap akhir subunit yang bertujuan untuk melihat ketercapaian kompetensi yang telah ditetapkan. Kunci dan rambu-rambu jawaban tes formatif ada di akhir setiap unit. Evaluasi banyak menggunakan portofolio yang berguna untuk melihat perkembangan mahasiswa atas tugas-tugas yang diberikan dalam buku ajar cetak ini. Tugas yang sudah Anda kerjakan dapat dikirimkan lewat e-mail dosen pengampu mata kuliah atau dikirim langsung ke dosen pengampu mata kuliah.

2-2

Unit 2

Subunit 1 Latar Belakang Standar Penilaian Pendidikan
Pengantar

K

ita semua telah mengetahui bahwa standar nasional pendidikan yang dirumuskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 pada dasarnya merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peraturan pemerintah ini lahir dalam rangka melaksanakan ketentuan yang diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada beberapa pasal dari Undangundang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas) diamanahkan perlunya standar nasional pendidikan, seperti pada Pasal 35 dijelaskan tentang standar nasional pendidikan yang terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Pada Pasal 35 juga dijelaskan bahwa standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan, selanjutnya ditegaskan bahwa pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan. Perlu pula Anda pahami bahwa untuk mengatur pelaksanaan standar penilaian pendidikan, BSNP menyusun Penduan penilaian yang terdiri atas: 1. Naskah akademik: berisi kajian teoritis dan hasil penelitian yang relevan dengan penilaian, baik penilaian oleh pendidik, satuan pendidikan atau pemerintah. 2. Panduan umum: berisi pedoman, panduan penilaian yang bersifat umum yang berupa rambu-rambu penilaian yang harus dilakukan oleh guru pada semua mata pelajaran, panduan ini juga berlaku untuk semua kelompok mata pelajaran. 3. Panduan khusus terdiri dari 5 seri, sesuai dengan kelompok mata pelajaran disusun untuk memberikan rambu-rambu penilaian yang seharusnya dilakukan oleh guru pada kelompok mata pelajaran tertentu. Marilah bersama-sama kita cermati uraian-uraian selanjutnya.

Asesmen pembelajaran di SD

2-3

1. Standar Penilaian dalam Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan merupakan Pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ditetapkannya PP No. 19 tersebut, mengisyaratkan betapa pentingnya standar yang terkait dengan masalah pendidikan yang dapat dijadikan rujukan bagi siapapun yang berkepentingan terhadap masalah pendidikan di Negara Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah ini juga mengatur dan menentukan berbagai standar dalam pendidikan yang dapat dijadikan panduan ataupun pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Standar Nasional Pendidikan disusun agar dapat dijadikan Kriteria Minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sedang tujuan Standar Nasional Pendidikan adalah untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Dalam Pasal 1 ayat (17) Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Yungto Pasal 1 Ayat (1) PP No. 19 Tahun 2005 dinyatakan bahwa lingkup dari Standar Nasional Pendidikan meliputi 8 standar yaitu: a. Standar isi: adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan. b. Standar proses: adalah standar berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan dan menantang. Untuk satuan pendidikan perlu melakukan perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya pembelajaran yang efektif dan efisien.

2-4

Unit 2

c. Standar kompetensi lulusan: adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, yang meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan: adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. e. Standar sarana dan prasarana: adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. f. Standar pengelolaan: adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. g. Standar pembiayaan: adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Dijelaskan bahwa pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. h. Standar penilaian pendidikan: adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Dari uraian tersebut nampak jelas bahwa standar penilaian merupakan salah satu dari 8 aspek standar nasional pendidikan, selanjutnya sesuai dengan orientasi dari buku ajar ini maka pembahasan selanjutnya akan lebih terfokus pada standar penilaian pendidikan.

Asesmen pembelajaran di SD

2-5

2. Landasan Filosofis dan Yuridis Standar Penilaian
Ketentuan dan pelaksanaan Standar Penilaian Pendidikan, menurut BSNP harus memiliki landasan yag kuat baik secara landasan filosofis maupun landasan Yuridis. Sebagaimana yang tertuang dalam naskah akademik Panduan Penilaian yang dikeluarkan oleh BSNP, uraian tentang dua landasan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. a. Landasan Filosofis. Proses pendidikan adalah proses untuk mengembangkan potensi siswa menjadi kemampuan dan keterampilan tertentu, hanya saja perlu dipahami bersama bahwa pada dasarnya tidaklah mudah untuk dapat mengakomodasikan kebutuhan setiap siswa secara tepat dalam proses pendidikan, namun harus pula menjadi pemahaman bahwa setiap siswa harus diperlakukan secara adil dalam proses pendidikan, termasuk di dalamnya proses penilaian. Untuk itu proses penilaian yang dilakukan harus memiliki asas keadilan, kesetaraan serta obyektifitas yang tinggi. Pernyataan tersebut mengandung pengertian bahwa setiap siswa harus diperlakukan sama dan meminimalkan semua bentuk prosedur ataupun tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu atau sekelompok siswa. Di samping itu penilaian yang adil harus tidak membedakan latar belakang sosial ekonomi, budaya, bahasa dan gender. b. Landasan Yuridis Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 57 Ayat (1), dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional, sebagai akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, kemudian pada Ayat (2) dijelaskan bahwa evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan non formal untuk semua jenjang, satuan dan jenis pendidikan. Selanjutnya pada pasal 58 ayat (1) dijelaskan bahwa evaluasi proses dan hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan, sedang pada ayat (2) menjelaskan secara lebih jauh bahwa evaluasi peserta didik, satuan pendidikan dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mendiri secara berkala, menyeluruh, transparan dan sistemik untuk mencapai standar nasional pendidikan. Hal ini kemudian dikembangkan aturan pelaksanaannya dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, Pasal 63 Ayat (1) dinyatakan bahwa penilaian pendidikan khususnya penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

2-6

Unit 2

a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik; b. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan c. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Dijelaskan lebih lanjut dalam pasal 64 ayat (1) bahwa penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester dan ulangan kenaikan kelas. Selanjutnya pada pasal 65 dijelaskan beberapa pokok pikiran mengenai penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok mata pelajaran, pada ayat (1) dikemukakan secara tegas bahwa penilaian pada satuan pendidikan sebagaimana dimaksudkan pada pasal 63 ayat (1) butir b; bertujuan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran, sedang ayat (2) menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar sebagaimana dijelaskan pada ayat (1) untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan, merupakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. Berikutnya pada ayat (3) dinyatakan bahwa penilaian akhir sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2) mempertimbangkan hasil penilaian hasil belajar peserta didik oleh pendidik, sebagaimana dimaksud pada ayat 64. Berikutnya pada ayat (4) dinyatakan bahwa penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran pada mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran ilmu dan teknologi dilakukan melalui Ujian Sekolah/Madrasah untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, yang dilanjutkan pada ayat (5) yang menjelaskan bahwa untuk dapat mengikuti ujian Sekolah/Madsarah sebagaimana dimaksud pada ayat (4), peserta didik harus mendapatkan nilai yang sama atau lebih besar dari nilai batas ambang kompetensi yang dirumuskan oleh BSNP, pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika serta kelompok mata pelajaran jasmani olahraga dan kesehatan. Sedangkan untuk memberikan penilaian pencapaian kompetensi lulusan secara Nasional pada kelompok mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu dan teknologi menurut menurut PP No. 19 Pasal 66, dinyatakan secara tegas; akan dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional yang dilakukan secara obyektif berkeadilan dan akuntabel serta diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak-banyaknya dua kali dalam satu tahun.

Asesmen pembelajaran di SD

2-7

3. Badan Standar Nasional Pendidikan
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 35 Ayat (3) dijelaskan bahwa pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan, yang kemudian eksistensi dari badan tersebut dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005, pada Pasal 73 sampai Pasal 77, badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan tersebut, disebut dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pada pasal-pasal tersebut dijelaskan secara tegas bahwa Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP adalah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan. BSNP berkedudukan di ibu kota wilayah Negara Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri. Dijelaskan lebih jauh bahwa dalam menjalankan tugas dan fungsinya BSNP bersifat mandiri dan profesional. Selanjutnya mengenai keanggotaan BSNP dijelaskan pada Pasal 74 yang menyatakan bahwa: Keanggotaan BSNP berjumlah gasal, paling sedikit 11 (sebelas) orang dan paling banyak 15 (lima belas) orang. Anggota BSNP ini terdiri atas ahli-ahli di bidang psikometri, evaluasi pendidikan, kurikulum, dan manajemen pendidikan yang memiliki wawasan, pengalaman, dan komitmen untuk peningkatan mutu pendidikan. Ditambahkan bahwa keanggotaan BSNP diangkat dan diberhentikan oleh Menteri untuk masa bakti 4 (empat) tahun. Dalam menjalankan fungsinya BSNP dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris yang dipilih oleh dan dari anggota atas dasar suara terbanyak, sedang untuk membantu kelancaran tugasnya BSNP didukung oleh sebuah sekretariat yang secara ex-officio diketuai oleh pejabat departemen yang ditunjuk oleh menteri, di samping itu BSNP dapat menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan. Pasal 76, PP No. 19 Tahun 2005 dinyatakan bahwa tugas utama BSNP adalah membantu Menteri dalam mengembangkan, memantau, dan mengendalikan standar nasional pendidikan. Ditegaskan pada ayat berikutnya bahwa standar yang dikembangkan oleh BSNP berlaku efektif dan mengikat semua satuan pendidikan secara nasional setelah ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Ketentuan tentang tugas dan wewenang BSNP tertuang pada ayat (3) yang menyatakan bahwa untuk melaksanakan tugas-tugasnya BSNP mempunyai wewenang untuk:

2-8

Unit 2

mengembangkan Standar Nasional Pendidikan; menyelenggarakan ujian nasional; memberikan rekomendasi kepada pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan; d. merumuskan kriteria kelulusan dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ditambahkan, pada Pasal 77 bahwa dalam menjalankan tugasnya, BSNP didukung dan berkoordinasi dengan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama, dan dinas yang menangani pendidikan di provinsi/kabupaten/kota.

a. b. c.

Latihan
Apakah Anda semua telah membaca Peraturan Pemerintah Nomor 19, Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan ini, khususnya tentang standar penilaian pendidikan. Kalau belum cobalah untuk segera membaca dan memahami isi dari standar evaluasi tersebut. Kemudian bersama teman-teman yang telah membaca cobalah analisis dan berikan komentar apa yang ada di sekolah Anda terkait dengan standar tersebut!

Tes Formatif 1
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan delapan jenis standar Nasioanl pendidikan yang diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 19, Tahun 2005! 2. Jelaskan dengan kata-kata Anda sendiri apa yang menjadi landasan filosofis Standar Penilaian Pendidikan! 3. Jelaskan dengan kata-kata Anda sendiri apa yang menjadi landasan Yuridis Standar Penilaian Pendidikan! 4. Apa dan siapakah BSNP itu? 5. Jelaskan tugas-tugas yang diamanatkan kepada BSNP!

Asesmen pembelajaran di SD

2-9

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru Anda cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang keberhasilan proses dan hasil belajar akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap konsep-konsep lain yang terkait dalam mata kuliah ini.

2 - 10

Unit 2

Subunit 2 Standar Penilaian Pendidikan menurut Badan Standar Nasional Pendidikan
Pengantar

U

ntuk mengatur pelaksanaan Standar Penilaian Pendidikan, BSNP menyusun Penduan penilaian yang terdiri atas: 1. Naskah Akademik; berisi berbagai kajian teoritis dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan penilaian, baik yang dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan ataupun pemerintah. 2. Panduan Umum; panduan umum berisi pedoman, panduan penilaian yang bersifat umum yang berupa rambu-rambu penilaian yang harus dilakukan oleh guru pada semua mata pelajaran, panduan ini juga berlaku untuk semua kelompok mata pelajaran. 3. Panduan khusus; terdiri dari 5 seri, sesuai dengan kelompok mata pelajaran; disusun untuk memberikan rambu-rambu penilaian yang seharusnya dilakukan oleh guru pada kelompok mata pelajaran tertentu, sehingga terdiri dari 5 seri panduan khusus yang terdiri dari: a. Panduan penilaian kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; b. Panduan penilaian kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, c. Panduan penilaian kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; d. Panduan penilaian kelompok mata pelajaran estetika; e. Panduan penilaian kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Pada setiap seri panduan khusus kelompok mata pelajaran ini berisikan ramburambu penilaian yang harus dilakukan oleh guru kelompok mata pelajaran dalam menyusun kisi-kisi penilaian yang menyatu dengan rencana pelaksanaan pembelajaran, kisi-kisi untuk ulangan akhir semester, cara menentukan skor akhir dan kriteria dari siswa yang dapat dikualifikasikan “baik” dan dapat dinyatakan lulus pada kelompok mata pelajaran tertentu.

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 11

Tahukah Anda bahwa menurut BSNP penilaian adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja peserta didik, hasil penilaian digunakan untuk melakukan evaluasi yaitu pengambilan keputusan terhadap ketuntasan belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran. Informasi tentang prestasi dan kinerja siswa tersebut merupakan proses pengolahan data yang diperoleh melalui kegiatan asesmen baik dengan pengukuran maupun non pengukuran. Dapat dikatakan bahwa proses pengukuran dan non pengukuran untuk memperoleh data karakteristik peserta didik dengan aturan tertentu ini disebut dengan asesmen. Hasil pengukuran akan selalu berupa angka-angka atau data numerik, sedang hasil non pengukuran akan berupa data kualitatif. Informasi tersebut dapat digunakan oleh pendidik untuk berbagai keperluan pembelajaran diantaranya adalah: (1) Menilai kompetensi peserta didik; (2) Bahan penyusunan laporan hasil belajar; dan (3) Landasan memperbaiki proses pembelajaran.

1. Prinsip Penilaian menurut BSNP
Pelaksanaan penilaian hasil belajar peserta didik didasarkan pada data sahih yang diperoleh melalui prosedur dan instrumen yang memenuhi persyaratan dengan mendasarkan diri pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Mendidik, artinya proses penilaian hasil belajar harus mampu memberikan sumbangan positif pada peningkatan pencapaian hasil belajar peserta didik, dimana hasil penilaian harus dapat memberikan umpan balik dan motivasi kepada peserta didik untuk lebih giat belajar. b. Terbuka atau transparan, artinya bahwa prosedur penilaian, kriteria penilaian ataupun dasar pengambilan keputusan harus disampaikan secara transparan dan diketahui oleh pihak-pihak terkait secara obyektif. c. Menyeluruh, artinya penilaian hasil belajar yang dilakukan harus meliputi berbagai aspek kompetensi yang akan dinilai yang terdiri dari ranah pengetahuan kognitif, keterampilan psikomotor, sikap, dan nilai afektif yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. d. Terpadu dengan pembelajaran, artinya bahwa dalam melakukan penilaian kegiatan pembelajaran harus mempertimbangkan kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga penilaian tidak hanya dilakukan setelah siswa menyelesaikan pokok bahasan tertentu, tetapi juga dalam proses pembelajaran. e. Obyektif, artinya proses penilaian yang dilakukan harus meminimalkan pengaruh-pengaruh atau pertimbangan subyektif dari penilai.

2 - 12

Unit 2

f.

Sistematis, yaitu penilaian harus dilakukan secara terencana dan bertahap serta berkelanjutan untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa. g. Berkesinambungan, yaitu evaluasi harus dilakukan secara terus menerus sepanjang rentang waktu pembelajaran. h. Adil, mengandung pengertian bahwa dalam proses penilaian tidak ada siswa yang diuntungkan atau dirugikan berdasarkan latar belakang sosial ekonomi, agama, budaya, bahasa, suku bangsa, warna kulit, dan gender. i. Pelaksanaan penilaian menggunakan acuan kriteria yaitu menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan yang telah ditetapkan sebelumnya.

2. Pedoman Penilaian oleh Pendidik
BSNP dalam pedoman umum penilaian mengemukakan adanya standar penilaian oleh pendidik dan standar penilaian oleh satuan pendidikan. Standar penilaian oleh pendidik merupakan standar yang mencakup standar umum, standar perencanaan, standar pelaksanaan penilaian, standar pengolahan dan penyajian hasil penilaian serta tindak lanjutnya, yang masing-masing bagian dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Standar umum penilaian. Standar umum penilaian adalah aturan main dari aspek-aspek umum dalam pelaksanaan penilaian, sehingga untuk melakukan penilaian pendidik harus selalu mengacu pada standar umum penilaian ini. BSNP menjabarkan standar umum penilaian ini dalam prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Pemilihan teknik penilaian yang disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran serta jenis informasi yang ingin diperoleh dari peserta didik; 2) Informasi yang dihimpun mencakup ranah-ranah yang sesuai dengan standar isi dan standar kompetansi lulusan; 3) Informasi mengenai perkembangan perilaku peserta didik dilakukan secara berkala pada kelompok mata pelajaran masing-masing; 4) Pendidik harus selalu mencatat perilaku siswa yang menonjol baik yang bersifat positif maupun negatif dalam buku catatan perilaku; 5) Melakukan sekurang-kurangnya tiga kali ulangan harian menjelang ulangan tengah semester dan tiga kali menjelang ulangan akhir semester; 6) Pendidik harus menggunakan teknik penilaian yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan;

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 13

7) Pendidik harus selalu memeriksa dan memberi balikan kepada peserta didik atas hasil kerjanya sebelum memberikan tugas lanjutan; 8) Pendidik harus memiliki catatan komulatif tentang hasil penilaian untuk setiap siswa yang berada di bawah tanggung jawabnya. Pendidik harus pula mencatat semua kinerja siswa, untuk menentukan pencapaian kompetensi siswa; 9) Pendidik melakukan ulangan tengah dan akhir semester untuk menilai penguasaan kompetensi sesuai dengan tuntutan dalam Standar kompetensi (SI) dan standar Lulusan (SL); 10) Pendidik yang diberi tugas menangani pengembangan diri harus melaporkan kegiatan siswa kepada wali kelas untuk dicantumkan jenis kegiatan pengembangan diri pada buku laporan pendidikan; 11) Pendidik menjaga kerahasiaan pribadi siswa dan tidak disampaikan pada pihak lain tanpa seijin yang bersangkutan meupun orang tua/ wali murid. b. Standar Perencanaan Penilaian oleh Pendidik Standar perencanaan penilaian oleh pendidik merupakan prinsip-prinsip yang harus dipedomani bagi pendidik dalam melakukan perancanaan penilaian. BSNP menjabarkannya menjadi tujuh point sebagai berikut: 1) Pendidik harus membuat rencana penilaian secara terpadu dengan silabus dan rencana pembelajarannya. Perencanaan penilaian setidak-tidaknya meliputi komponen yang akan dinilai, teknik yang akan digunakan serta kriteria pencapaian kompetensi; 2) Pendidik harus mengembangkan kriteria pencapaian kompetensi dasar (KD) sebagai dasar untuk penilaian; 3) Pendidik menentukan teknik penilaian dan instrumen penilaiannya sesuai indikator pencapaian KD; 4) Pendidik harus menginformasikan se awal mungkin kepada peserta didik tentang aspek-aspek yang dinilai dan kriteria pencapaiannya; 5) Pendidik menuangkan seluruh komponen penilaian ke dalam kisi-kisi penilaian; 6) Pendidik membuat instrumen berdasar kisi-kisi yang telah dibuat dan dilengkapi dengan pedoman penskoran sesuai dengan teknik penilaian yang digunakan; 7) Pendidik menggunakan acuan kriteria dalam menentukan nilai siswa.

2 - 14

Unit 2

c. Standar pelaksanaan penilaian oleh pendidik Menurut pedoman umum penilaian yang disusun oleh BSNP, standar pelaksanaan penilaian oleh pendidik meliputi: 1) Pendidik melakukan kegiatan penilaian sesuai dengan rencana penilaian yang telah disusun diawal kegiatan pembelajaran; 2) Pendidik menganalisis kualitas instrumen dengan mengacu pada persyaratan instrumen serta menggunakan acuan kriteria; 3) Pendidik menjamin pelaksanaan ulangan dan ujian yang bebas dari kemungkinan terjadi tindak kecurangan; 4) Pendidik memeriksa pekerjaan peserta didik dan memberikan umpan balik dan komentar yang bersifat mendidik. d. Standar pengolahan dan pelaporan hasil penilaian oleh pendidik. Standar pengolahan dan pelaporan hasil penilaia, yang ada dalam pedoman umum penilaian yang disusun oleh BSNP meliputi: 1) Pemberian skor untuk setiap komponen yang dinilai; 2) Penggabungan skor yang diperoleh dari berbagai teknik dengan bobot tertentu sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan; 3) Penentuan satu nilai dalam bentuk angka untuk setiap mata pelajaran, serta menyampaikan kepada wali kelas untuk ditulis dalam buku laporan pendidikan masing-masing siswa; 4) Pendidik menulis deskripsi naratif tentang akhlak mulia, kepribadian dan potensi peserta didik yang disampaikan kepada wali kelas; 5) Pendidik bersama walikelas menyampaikan hasil penilaiannya dalam rapat dewan guru untuk menentukan kenaikan kelas; 6) Pendidik bersama wali kelas menyampaikan hasil penilaian kepada rapat dewan guru untuk menentukan kelulusan peserta didik pada akhir satuan pendidikan dengan mengacu pada persyaratan kelulusan satuan pendidikan; 7) Pendidik bersama wali kelas menyampaikan hasil penilaiannya kepada orang tua/ wali murid. Standar Pemanfaatan Hasil Penilaian Berdasarkan pedoman umum penilaian yang dikeluarkan oleh BSNP, ada lima standar pemanfaatan hasil penilaian yaitu: 1) Pendidik mengklasifikasikan siswa berdasar tingkat ketuntasan pencapaian standar kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD); e.

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 15

2) Pendidik menyampaikan balikan kepada peserta didik tentang tingkat capaian hasil belajar pada setiap KD disertai dengan rekomendasi tindak lanjut yang harus dilakukan; 3) Bagi siswa yang belum mencapai standar ketuntasan, pendidik harus melakukan pembelajaran remidial, agar setiap siswa dapat mencapai standar ketuntasan yang dipersyaratkan; 4) Kepada siswa yang telah mencapai standar ketuntasan yang dipersyaratkan, dan dianggap memiliki keunggulan, pendidik dapat memberikan layanan pengayaan; 5) Pendidik menggunakan hasil penilaian untuk mengevaluasi efektifitas kegiatan pembelajaran dan merencanakan berbagai upaya tindak lanjut.

3. Standar Penilaian Oleh Satuan Pendidikan
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 PP 19, Tahun 2005, bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan merupakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, dengan mempertimbangkan hasil penilaian peserta didik oleh pendidik. Dalam memberi batasan standar penilaian hasil belajar yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan BSNP mengemukakan dua standar pokok, yaitu (a) standar penentuan kenaikan kelas dan (b) standar penentuan kelulusan. Penjelasan lebih jauh tentang kedua standar penilaian oleh satuan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut. a. Standar Penentuan Kenaikan kelas Standar penentuan kenaikan kelas yang dikeluarkan oleh BSNP dalam pedoman umum penilaian terdiri dari tiga hal pokok yaitu: 1) Pada akhir tahun pelajaran, satuan pendidikan menyelenggarakan ulangan kenaikan kelas; 2) Satuan pendidikan menetapkan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) pada setiap mata pelajaran, SKBM tersebut harus ditingkatkan secara berencana dan berkala; 3) Satuan pendidikan menyenggarakan rapat Dewan pendidik untuk menentukan kenikan kelas setiap siswa.

2 - 16

Unit 2

b. Standar Penentuan Kelulusan Dalam menetapkan standar Penetuan Kelulusan, BSNP membuat ketetapan yang meliputi: 1) Pada akhir jenjang pendidikan satuan pendidikan menyelenggarakan ujian sekolah pada kelompok mata pelajaran IPTEKS; 2) Satuan pendidikan menyelenggarakan rapat dewan pendidik untuk menentukan nilai akhir peserta didik pada (a) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia (b) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian (c) kelompok mata pelajaran estetika dan (d) kelompok mata pelajaran jasmani olehraga dan kesehatan untuk menentukan kelulusan; 3) Satuan pendidikan menentukan kelulusan peserta didik berdasarkan kriteria kelulusan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Pasal 72 ayat (1) yang menyatakan bahwa Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah; (a) menyelesaikan seluruh program pembelajaran, (b) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan, (c) lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (d) lulus ujian nasional.

Latihan
Apakah dalam melakukan penilaian di kelas, anda merasa telah menerapkan prinsip penilaian BSNP? Kaji dan diskusikan dengan teman hambatan yang ada di lapangan untuk menerapkan prinsip penilaian yang ditetapkan BSNP.

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 17

Tes Formatif 2
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Menurut BSNP siapa saja yang berhak melakukan evaluasi hasil belajar? 2. Standar apa sajakah yang perlu dipatuhi pendidik dalam melakukan evaluasi? 3. Standar apa sajakah yang perlu dipatuhi satuan pendidikan dalam melakukan evaluasi? 4. Jelaskan prinsip-prinsip umum evaluasi menurut BSNP? 5. Lakukan analisis kesenjangan antara evaluasi yang sudah anda lakukan di kelas dengan ketentuan BSNP!

Umpan Balik
Jawablah pertanyaan-pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai, cocokkanlah dengan kunci jawaban yang tersedia. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau jika masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang keberhasilan proses dan hasil belajar akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap konsep-konsep lain yang terkait dalam mata kuliah ini

2 - 18

Unit 2

Subunit 3 Mekanisme dan Prosedur Penilaian menurut BSNP
Pengantar
tandar penilaian pendidikan adalah standar nasional bidang pendidikan yang berkaitan dengan prosedur, mekanisme, dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar peserta didik. Selain itu, standar penilaian pendidikan sekaligus merupakan standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan penilaian oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Untuk itulah pembahasan berikut akan difokuskan pada penilaian pendidikan menurut BSNP. Secara umum BSNP mengemukakan bahwa penilaian pendidikan adalah proses rangkaian kegiatan untuk menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga hasil penilaian tersebut dapat menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

S

1. Mekanisme dan Prosedur Penilaian
Dalam pedoman penilaian yang dikeluarkan oleh BSNP ditegaskan bahwa dalam proses penilaian perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut: a. Penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi. Untuk itu harus dipahami bahwa proses penilaian merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik untuk mengetahui tingkat pencapaian standar kompetensi lulusan; b. Penilaian menggunakan acuan kriteria, yakni keputusan diambil berdasar apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Sesuai dengan penerapan dari kurikulum yang berbasis kompetensi, penilaian yang dilakukan harus didasarkan pada acuan kriterium, yaitu membandingkan hasil yang telah dicapai peserta didik dengan kriteria yang telah ditetapkan; c. Penilaian dilakukan secara keseluruhan dan berkelanjutan. Penilaian oleh pendidik, bukan merupakan bagian terpisah dari proses pembelajaran, sehingga proses penilaian dilakukan sepanjang rentang proses pembelajaran. Apabila peserta didik telah mencapai standar maka dapat dinyatakan lulus dalam mata pelajaran tertentu, tetapi bila belum mencapai

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 19

standar maka harus mengikuti pengajaran remidi sampai dapat mencapai standar kompetensi minimal yang dipersyaratkan; d. Hasil penilaian digunakan untuk menentukan tindak lanjut; tindakan lanjutan dari penilaian dapat berupa perbaikan proses pembelajaran, program remidi bagi peserta didik yang tingkat pencapaian hasil belajarnya berada di bawah kriteria ketuntasan dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah mencapai kriteria ketuntasan; dan e. Penilaian harus sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dengan proses pembalajaran. Hal ini terkait erat dengan pemahaman bahwa penilaian tidak dipisahkan dari kegiatan pembelajaran secara keseluruhan. Sesuai dengan amanat PP No. 19 Tahun 2005, penilaian dalam proses pendidikan terbagi menjadi 3 kelompok yaitu: penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Mekanisme dan prosedur dari masing-masing jenis penilaian dapat dijelaskan sebagai berikut:

2. Penilaian hasil belajar oleh pendidik
Sesuai dengan pedoman umum yang diterbitkan oleh BSNP, seperti telah diuraikan pada Unit 1 bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil pembelajaran, sehingga secara lebih terperinci dapat dijelaskan bawa penilaian oleh pendidik ini digunakan untuk: a. Menilai pencapaian kompetensi peserta didik, dimana penilaian yang dilakukan oleh pendidik ini harus berbasis kompetensi, terencana, terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan, sehingga dengan penilaian ini diharapkan pendidik dapat mengetahui tingkat kompetensi yang dicapai oleh setiap siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa, dan mampu menghantarkan siswa mencapai kompetensi minimal yang telah ditentukan; b. Sebagai bahan penyusunan laporan hasil belajar. Dengan melakukan penilaian secara menyeluruh dan berkesinambungan pendidik dapat memberikan skor untuk setiap komponen yang dinilai, menggabungkannya, dan menentukan satu nilai dalam bentuk angka untuk setiap mata pelajaran, kemudian bersama wali kelas menyampaikan hasil penilaian tersebut kepada dewan guru, maupun orang tua dan pihak-pihak lain yang berkepentingan; c. Memperbaiki proses pembelajaran. Dari hasil-hasil evaluasi proses dan hasil pembelajaran maka akan memberikan semangat kepada pendidik

2 - 20

Unit 2

untuk mengajar dan mendidik dengan lebih baik dan meningkatkan akuntabilitas sekolah. Sejalan dengan PP No. 19 Tahun 2005, pasal 64, yang menyatakan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik oleh pendidik diarahkan untuk memantau proses, kamajuan dan perbaikan hasil pembelajaran, maka dalam berbagai literature dikemukakan bahwa penilaian yang dilakukan pendidik dalam kegiatan pembelajaran disebut dengan asesmen kelas atau classroom assessment yang tujuan utamanya bersifat formatif untuk meningkatkan mutu pembelajaran; d. Sesuai dengan berbagai kajian teori yang telah dibahas pada Unit 1, jelas bahwa fungsi penilaian dalam kegiatan pembelajaran ataupun pendidikan diharapkan akan mampu menyediakan informasi yang membantu pendidik meningkatkan kemampuannya dalam mengajar, serta membantu siswa untuk mencapai perkembangan optimal dalam proses dan hasil pembelajaran. Untuk mencapai hal tersebut maka kegiatan penilaian harus dipandang dan digunakan sebagai cara atau teknik untuk menilai proses dan hasil pembelajaran, sehingga bukan hanya sekedar menilai keberhasilan siswa dalam penguasaan kompetensi. Untuk itu penilaian seharusnya terintegrasi dengan proses pembelajaran dan terencana sejak awal, bersamasama dengan kegiatan perencanaan pembelajaran secara utuh, dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen sesuai kebutuhan, baik yang di desain secara khusus maupun yang dilakukan secara informal. Penilaian proses dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan ulangan harian, ulangan tengah semester maupun ulangan kenaikan kelas, dengan menggunakan pendekatan penilaian berbasis kelas; e. Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus. Hal ini juga sesuai dengan pendapat para ahli yang mengemukakan bahwa keberhasilan dan efektifitas proses pembelajaran tergantung pada penilaian kelas yang dilakukan. Oleh karenanya kegiatan penilaian berbasis kelas harus didesain dan dilakukan secara sistematik dan berlangsung terus menerus sebagai

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 21

strategi pendukung dan peningkatan pembelajaran. Penilaian berbasis kelas yang baik akan mampu memberikan informasi yang bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan efektivitas mengajar guru dan meningkatkan mutu kegiatan proses dan hasil belajar siswa. Untuk dapat mencapai hasil optimal tersebut guru harus menyediakan dan mengkomunikasikan hasil penilaian kelas serta umpan baliknya secara periodik kepada orang tua/wali kelas untuk dapat meningkatkan ataupun mempertahankan proses dan hasil belajar yang sudah dicapai oleh peserta didik. Setiap upaya guru di dalam kelas harus diarahkan pada satu tujuan yaitu membantu siswa belajar agar terjadi perubahan perilaku yang signifikan ke arah pencapaian kompetensi setiap mata pelajaran. Sayangnya masih banyak pendidik di sekolah yang melakukan penilaian kelas hanya untuk menentukan nilai atau angka yang akan ditulis dalam laporan pendidikan atau buku rapor. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan dan pemahaman guru tentang asesmen, penilaian ataupun tes sebagai proses untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam menentukan tingkat pencapaian siswa terhadap kompetensi yang harus dikuasai sebagai tujuan pembelajaran. Sehingga manfaat penilaian lebih diarahkan pada tujuan administratif saja, padahal banyak sekali manfaat potensial dari kegiatan asesmen dan penilaian, termasuk kurangnya perhatian guru terhadap kemajuan belajar siswa dalam tataran kualitatif yang sebenarnya akan sangat membantu siswa maupun orang tua memahami kemajuan belajar siswa.

3. Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan
Dengan mendasarkan diri pada PP No. 19 Tahun 2005, Pasal 63 Ayat (1) yang menyatakan bahwa penilaian oleh satuan pendidikan bertujuan untuk menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran, dimana penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran ini merupakan penilaian akhir dalam menentukan kelulusan siswa dari satuan pendidikan tertentu. Dalam hal ini penilaian akhir harus menentukan penilaian hasil belajar peserta didik oleh pendidik maupun penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran. BSNP dalam naskah akademik pedoman penilaian juga mendasarkan diri pada peraturan tersebut. Dijelaskan lebih jauh bahwa ada dua sistem yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mempromosikan siswanya ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu: a. Sistem kredit atau beban belajar: yaitu sistem yang tidak mengenal kelas, dimana siswa dapat menyelesaikan program belajarnya sesuai dengan kemampuan individual. Dengan sistem ini setiap siswa dapat

2 - 22

Unit 2

menyelesaikan dan memilih program belajarnya dengan kecepatan masingmasing, dimana ada siswa yang dapat menyelesaikan beban belajar lebih cepat karena memiliki kemampuan dan kemauan yang tinggi, tetapi ada pula siswa yang membutuhkan waktu lebih lama dibanding teman yang lain. b. Sistem kenaikan kelas (grade) adalah sistem yang program belajar siswanya terstruktur dalam paket-paket kelas. Dalam sistem ini ada dua tradisi kenaikan kelas yang dikembangkan yaitu: (1) tradisi kenaikan kelas secara otomatis dan (2) sistem kenaikan kelas. Pada sistem persekolahan di Indonesia pada umumnya masih menggunakan sistem kenaikan kelas dengan kriteria tertentu. Secara konseptual kegiatan kenaikan kelas memegang peranan strategis untuk pengendalian kualitas pendidikan (quality control) dan sekaligus menjadi motivasi atau pressure to achieve bagi siswa dan pendidik dalam upaya peningkatan kualitas pembelajarannya. Dalam kenaikan kelas dengan kriteria tertentu ini akan dapat dibedakan antara siswa yang sudah menguasai kemampuan minimal yang dipersyarat kan dengan siswa yang harus tinggal kelas karena belum menguasai kompetensi minimum (acceptable performance) tersebut. Siswa yang belum memenuhi standar kemampuan minimal dapat diperlakukan dengan tiga model yaitu: (1) mengulang kelas, dan belajar bersama-sama dengan teman-teman yang baru naik kelas dari kelas di bawahnya, (2) bisa naik ke kelas yang lebih tinggi sambil mengulang mata pelajaran yang belum dikuasai, atau (c) mengikuti pengajaran remidial pada beberapa mata pelajaran sebelum siswa dinyatakan naik ke kelas yang lebih tinggi. Penentuan tingkat pencapaian minimal ini didasarkan pada hasil tes hasil belajar atau THB atau ulangan umum pada setiap akhir tahun pelajaran, nilai pada semester 1 dan 2 dan hasil ulangan harian yang dilakukan oleh masing masing guru. Dengan mendasarkan diri pada beberapa hasil asesmen dan penilaian secara konseptual, seharusnya penilaian semacam ini dapat menghasilkan informasi yang komprehensif tentang kemajuan belajar siswa sebagai dasar pengambilan keputusan, hanya saja ada beberapa permasalahan yang sering muncul di lapangan yaitu: (1) Rentang variasi tingkat kesulitan dan kedalaman soal soal yang dikembangkan dan digunakan dalam ulangan antar guru ataupun antar sekolah, dan (2) Masih banyak sekolah yang berusaha meminimalkan jumlah siswa yang tidak naik kelas dengan cara-cara yang tidak jujur dan berkeadilan (fair).

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 23

Dijelaskan lebih jauh dalam panduan penilaian BSNP tersebut bahwa secara teoritik sistem kenaikan kelas semacam ini dapat dilakukan dalam beberapa bentuk yaitu: 1) Menggunakan kriteria untuk dapat membedakan antara yang sudah dapat mencapai standar kemampuan minimal dengan siswa yang belum mencapai standar kompertensi minimal tersebut. Pada umumnya sekolah menggunakan pendekatan yang pertama, tetapi cara ini menyebabkan meningkatnya angka mengulang, dan mungkin juga angka putus sekolah, sehingga sebagian sekolah kemudian memilih cara dengan menaikkan nilai siswa agar memenuhi standar yang ditetapkan atau menempuh cara lain yaitu menurunkan indikator pencapaian kompetensi dasar dengan menurunkan tingkat kesulitan soal, sehingga semua siswa secara semu dianggap telah mencapai standar minimal. 2) Menerapkan prinsip kenaikan kelas secara otomatis, dimana setiap siswa dapat naik kelas secara otomatis pada setiap akhir tahun pelajaran, dengan predikat-predikat tertentu. Cara ini sangat riskan dalam pengendalian mutu pendidikan, apalagi bila satuan pendidikan belum menerapkan penjaminan mutu pada setiap tahap kegiatannya termasuk dalam proses pembelajaran. 3) Menggunakan bentuk perpaduan dari dua pendekatan tersebut, dimana siswa pada prinsipnya bisa naik kelas secara otomatis pada setiap akhir tahun pelajaran, tetapi harus mengulang atau memperbaiki sejumlah mata pelajaran yang dianggap belum memenuhi standar kemampuan minimal. Meskipun cukup bagus, tetapi hal ini sulit dilakukan dalam sistem tradisional karena keterbatasaan kuantitas dan kualitas guru. Di samping itu guru juga dituntut untuk bekerja ekstra baik dalam perubahan perencanaan, penjadwalan, kegiataan sekolah, pandanaan maupun managemennya. Untuk meminimalkan kelemahan dari sistem kenaikan kelas ini adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 22 dan 23 Tahun 2006, ditetapkan adanya standar isi dan standar kompetensi lulusan yang kemudian merupakan landasan strategis dalam mengendalikan penjaminan mutu pendidikan secara nasional, hal ini ditindaklanjuti dengan sistem ujian kenaikan kelas yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang dimaksudkan untuk meminimalkan keragaman mutu pendidikan antar sekolah. Sehingga diperlukan adanya pembentukan pusat pengujian pendidikan di tingkat kabupaten /kota yang bersifat independen. Kenaikan pada umumnya dilakukan pada akhir tahun pelajaran, kriteria untuk kenaikan kelas diatur oleh masing-masing direktorat teknis terkait,

2 - 24

Unit 2

namun secara umum siswa dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah setelah: (a) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran; (b) Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran pada 5 kelompok mata pelajaran, dengan kriteria untuk aspek kognitif dan psikomotor minimal 75, sedang untuk aspek afektif kriteria “baik” digunakan bila sebagian orang menyatakan bahwa siswa memang baik; (c) Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi; dan (d) Lulus Ujian nasional. Selanjutnya ketentuan mengenai penilaian akhir dan ujian sekolah/madrasah diatur lebih lanjut dengan peraturan menteri dengan usulan BSNP.

4. Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah
Dalam Ayat 1 Pasal 66 PP No. 19 Tahun 2005, dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional. Hal ini sejalan dengan Pasal 68, Ayat 2 dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang menjelaskan bahwa penyelenggara ujian nasional adalah lembaga independen. Sebagai wujud pelaksanaan dari ayat-ayat tersebut, pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan Ujian Nasional seperti yang dijelaskan pada Pasal 67, Ayat 1 PP No. 19, Tahun 2005 yang menyatakan bahwa pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan Ujian Nasional yang diikuti oleh Peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal. Pendidikan Dasar dan Menengah, serta jalur nonformal kesetaraan. Dalam menyelenggarakan ujian nasional ini BSNP akan bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan pemerintah, Pemerintah Propinsi, pemerintah kabupaten/kota serta satuan pendidikan. Pada Pasal 68 tersebut juga ditegaskan bahwa hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk: a. Pemetaan mutu program dan atau satuan pendidikan. b. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. c. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan. d. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meneningkatkan mutu pendidikan. Anda semua sebagai guru profesional sebaiknya juga tahu bahwa kebijakan pemerintah tentang ujian nasional ini juga dilakukan oleh berbagai negara, meskipun penekanan fungsinya mungkin berbeda-beda.

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 25

5. Teknik Penilaian menurut BSNP
Proses memperoleh data proses dan hasil belajara; pendidik dapat menggunakan berbagai teknik penilaian secara komplementer sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Menurut Pedoman umum BSNP, teknik penilaian yang dapat digunakan secara komplementer ataupun sendiri-sendiri sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai antara lain: a. Tes Kinerja Tes Kinerja dalam hal ini adalah berbagai jenis tes yang dapat berbentuk tes keterampilan tertulis, tes identifikasi, tes simulasi, uji petik kerja, dan sebagainya. Melalui tes kinerja ini peserta didik mendemonstrasikan unjuk kerja sebagai perwujudan kompetensi yang telah dikuasainya. b. Demonstrasi Teknik demonstrasi dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif sesuai kompetensi yang dinilai. c. Observasi Observasi terkait dengan kegiatan evaluasi proses dan hasil belajar dapat dilakukan secara formal yaitu observasi dengan menggunakan instrumen yang sengaja dirancang untuk mengamati unjuk kerja dan kemajuan belajar peserta didik, maupun observasi informal yang dapat dilakukan oleh pendidik tanpa menggunakan instrumen. d. Penugasan Penugasan adalah bentuk evaluasi yang dapat dilakukan dengan model proyek yang berupa sejumlah kegiatan yang dirancang, dilakukan dan diselesaikan oleh peserta didik di luar kegiatan kelas dan harus dilaporkan baik secara tertulis maupun lisan. Penugasan ini dapat pula berbentuk tugas rumah yang harus diselesaikan peserta didik. e. Portofolio Portofolio adalah kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam karya tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan belajar dan prestasi siswa. f. Tes tertulis Tes tertulis merupakan teknik penilaian yang paling banyak digunakan oleh pendidik, adalah tes yang bisa berupa tes dengan jawaban pilihan atau isian, baik pilihan ganda benar salah ataupun menjodohkan, serta tes yang jawabannya berupa isian ataupun uraian.

2 - 26

Unit 2

g. Tes Lisan Tes dapat pula berupa tes lisan, yaitu tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung tatap muka antara peserta didik dengan satu atau beberapa penguji. Pertanyaan ataupun jawabannya disampaikan secara langsung atau spontan. Tes jenis ini memerlukan daftar pertanyaan dan pedoman penskoran. h. Jurnal Jurnal pada dasarnya merupakan catatan siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran, sehingga jurnal berisi deskripsi proses pembelajaran dengan kekuatan dan kelemahan siswa terkait dengan kinerja ataupun sikap. i. Wawancara Wawancara adalah cara untuk memperoleh informasi mendalam yang diberikan secara lisan dan spontan, tentang wawasan, pandangan atau aspek kepribadian peserta didik. j. Inventori Inventori adalah skala psikologis yang digunakan untuk mengungkap sikap, minat dan persepsi peserta didik terhadap obyek psikologis, ataupun fenomena yang terjadi, antara lain berupa skala Likert dan sebagainya. k. Penilaian diri Penilaian diri merupakan teknik penilaian yang digunakan agar peserta didik dapat mengemukakan kelebihan dan kekurangan diri dalam berbagai hal. l. Penilaian antar Teman (penilaian sejawat) Penilaian antar teman ini dilakukan dengan meminta siswa mengemukakan kelebihan dan kekurangan teman dalam berbagai hal. Penilaian ini dapat pula berupa sosiometri untuk mendapat informasi anak-anak yang favorit dan anak-anak yang terisolasi dalam kelompoknya. Berbagai teknik penilaian tersebut dapat dilakukan secara kombinasi untuk bisa memperoleh informasi yang selengkap dan sedetail mungkin tentang proses, kemajuan dan hasil belajar peserta didik.

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 27

Latihan
Cobalah Anda lakukan refleksi, teknik apa sajakah yang pernah dan belum pernah Anda gunakan dalam melakukan penilaian di kelas? Analisis dan diskusikan dengan teman Anda tentang hambatan-hambatan yang ada di lapangan untuk menerapkan teknik teknik tersebut!

Tes Formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 3. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan manfaat evaluasi yang dilakukan oleh pendidik! 2. Jelaskan manfaat evaluasi yang dilakukan oleh satuan pendidikan! 3. Jelaskan manfaat evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah! 4. Jelaskan jenis penilaian yang dapat digunakan!

Umpan Balik
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman Anda tentang keberhasilan proses dan hasil belajar akan mempengaruhi pemahaman Anda terhadap konsep-konsep lain yang terkait dalam mata kuliah ini.

2 - 28

Unit 2

Subunit 4 Ujian Nasional Sebagai Standar Penilaian
Pengantar

A

nda semua telah memahami bahwa sebenarnya Ujian Nasional adalah wujud dari evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah melalui BSNP sebagai lembaga independen yang diserahi tugas untuk melaksanakan Ujian Nasional tersebut. Evaluasi yang dilakukan pemerintah ini dapat digunakan untuk: (1) Pemetaan mutu program dan atau satuan pendidikan; (2) Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan; dan (4) Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meneningkatkan mutu pendidikan. Sebenarnya bukan baru sekarang pemerintah melakukan evaluasi hasil belajar secara nasional, namun sebagai suatu kebijakan, sudah barang tentu implementasinya akan selalu dihadapkan pada sikap pro dan kontra dari berbagai kalangan atas dasar kepentingan yang berbeda. Pada bagian ini akan dikupas bagaimana perjalanan evaluasi hasil belajar yang dilakukan pemerintah ini dari tahun ke tahun dan bagaiman sikap pro dan kontra dalam pelaksanaannya.

1. Evaluasi Hasil Belajar oleh Pemerintah
Sampai dengan Tahun 2000 pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional telah menyelenggarakan evaluasi hasil Belajar yang diberlakukan secara Nasional yang disebut dengan EBTANAS. Pada sekitar tahun 2000, banyak sekali kritik dari berbagai lapisan masyarakat terhadap Evaluasi Belajar Tahap Akhir yang dilaksanakan secara nasional tersebut. Ada kelompok yang menilai bahwa banyak sekali kelemahan yang ada dalam penyelenggaraan EBTANAS tersebut, diantaranya adalah: (1) bentuk soal yang sebagian besar pilihan ganda dianggap kurang mendidik siswa untuk menggunakan penalarannya untuk menjawab soal, (2) seringkali terjadi kebocoran soal sehingga hasilnya kurang obyektif, (3) nilai EBTANAS murni merupakan satu-satunya alat seleksi untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang menimbulkan kesan pada masyarakat awam bahwa hasil belajar yang dilakukan siswa selama tiga tahun hanya diukur dengan satu kali penilaian saja, (4) penyelenggaraan memerlukan biaya yang sangat besar sehingga dirasa tidak sebanding dengan manfaat hasil ebtanas. Untuk merespon berbagai kritik
Asesmen pembelajaran di SD

2 - 29

yang muncul ini pemerintah mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai lapisan yang kemudian menjadi landasan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 011/U/2002, Tanggal 28 Januari 2002 yang isinya penghapusan EBTANAS untuk Sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa tingkat Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Meskipun tetap muncul pro dan kontra terhadap munculnya Surat Keputusan ini, namun keputusan pemerintah ini tetap dilaksanakan atas dasar pertimbangan dan logika kebijakan dengan pilihan yang paling menguntungkan dengan tingkat resiko yang paling kecil. Hal ini sejalan pula dengan program pemerintah, yaitu: (1) Program wajib belajar sembilan tahun, (2) Pertimbangan bahwa jumlah Sekolah Dasar sangat besar dan lokasinya tersebar sampai ke daerah pelosok dan terpencil sehingga penyelenggaraan EBTANAS untuk Sekolah Dasar menjadi sangat besar, dan (3) Mobilitas lulusan Sekolah Dasar belum begitu tinggi. Hal ini akan dapat dilihat perbedaannya dengan EBTANAS untuk Sekolah Lanjutan Pertama dan SLTA, sehingga hampir bersamaan dengan Surat Keputusan tersebut, juga dikeluarkan Surat Keputusan Mendiknas Nomor: 047/U/2002, Tanggal, 4 April 2002 yang berisi pernyataan bahwa Nama EBTANAS untuk tingkat SLTP, SLTPLB, SMU, SMLB, MA, dan SMK diganti dengan menjadi Ujian Akhir Nasional atau disebut dengan UAN. Dalam Surat Keputusan tersebut dijelaskan bahwa tujuan penyelenggaraan UAN adalah: a. Untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa; b. Mengukur tingkat pendidikan pada tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan sekolah; c. Mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan sekolah kepada masyarakat. Dijelaskan lebih lanjut tentang fungsi UAN yang dijabarkan dalam Pasal 3 Surat Keputusan tersebut, bahwa UAN dapat memiliki multi fungsi yang dirinci sebagai berikut: a. Alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, dengan diselenggarakannya UAN ini diharapkan mutu pendidikan secara nasional dapat dikendalikan, hanya saja UAN tidak digunakan untuk pengelompokan sekolah bermutu dan sekolah yang kurang bermutu, karena hal ini akan semakin memperlebar jurang pemisah dalam kualitas sekolah yang secara nasional memang rentang variasi kualitas sekolah ini sudah sangat panjang. b. Mendorong peningkatan mutu pendidikan, dengan penyelenggaraan UAN ini diharapkan memotivasi sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya dan berusaha untuk mencapai hasil UAN yang optimal.

2 - 30

Unit 2

c. Bahan pertimbangan untuk menentukan tamat belajar dan predikat prestasi siswa, UAN dijadikan bahan pertimbangan penentuan kelulusan dan penentuan predikat prestasi siswa, UAN menjadi kriteria yang akurat dan general (berlaku nasional) untuk menentukan predikat dan prestasi siswa. d. Pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, butir-butir soal UAN sudah disusun untuk mampu membedakan antara siswa yang telah memenuhi standar kompetensi dan siswa yang belum, maka akan sangat tepat bila digunakan juga untuk mengetahui potensi calon siswa untuk mengikuti pembelajaran di sekolah yang dipilihnya. Untuk bisa memenuhi fungsi tersebut, soal-soal dalam UAN harus mampu membedakan antara siswa yang sudah menguasai dan siswa yang belum menguasai materi yang diujikan. Butir soal untuk seleksi harus dapat memilah secara tepat siswa yang mampu diterima dan mengikuti pembelajaran di sekolah lanjutan. Dengan demikian idealnya soal UAN harus berbeda dengan soal seleksi. Perubahan fungsi UAN menjadi alat seleksi dan salah satu pertimbangan dalam penerimaan siswa baru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dianggap sebagai suatu keputusan yang tepat. Pada Tahun 2004 UAN juga banyak mendapat kecaman dari berbagai kalangan masyarakat bahkan ada sebagian besar anggota DPR tidak menyetujuinya, ketidak setujuan anggota Dewan ini terutama terhadap besarnya usulan anggaran peleksanaan UAN. Kecaman-kecaman dalam pelaksanaan UAN tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi permasalahan utama, yaitu: 1) UAN dianggap bertentangan dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 58. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Namun bila dicermati lebih jauh pada Ayat 2, dijelaskan lebih lanjut bahwa untuk menilai pencapaian standar nasional diperlukan evaluasi yang dilakukan oleh lembaga mandiri. Hal inilah yang digunakan sebagai landasan penyelenggaraan Ujian Nasional. 2) UAN dianggap tidak bermanfaat dan hanya menghambur-hamburkan biaya. Kecaman ini kemudian dijawab dengan hasil penelitian Mardapi, dkk. (2004) yang menunjukkan bahwa hasil UAN sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, meningkatkan motivasi mengajar guru,

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 31

perhatian kepala sekolah beserta semua staf sekolah, dan orang tua terhadap pembelajaran siswa. 3) Konversi skor yang digunakan dalam pelaksanaan UAN dianggap membodohi masyarakat, karena memotong skor anak pandai diberikan kepada siswa yang kurang. Menanggapi berbagai kritikan tersebut hasil penelitian Mardapi juga merekomendasikan perlunya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk penyempurnaan pelaksanaan UAN diantaranya adalah: a. Dalam Penyelenggaan UAN hendaknya: 1) Mengikutsertakan daerah dalam penyusunan soal, 2) Biaya ujian sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, 3) Peningkatan kualitas soal, 4) Peningkatan obyektivitas sistem skoring, 5) Peningkatan keamanan soal, 6) Pengamanan dan koreksi silang antar sekolah yang setingkat, 7) Pengiriman hasil UAN sesegera mungkin, 8) Pemenuhan fasilitas minimum dalam penyelenggaraan UAN. b. Diperlukan adanya pelatihan penyusunan soal bagi guru daerah, untuk meningkatkan kualitas soal ujian. c. Perlunya inovasi dalam pembelajaran dengan menggunakan berbagai media untuk meningkatkan motivasi dan minat siswa untuk mempelajari materi yang dianggap sulit. d. Analisis UAN secara rinci sesegera mungkin disampaikan ke sekolah agar informasi tentang pokok bahasan atau materi yang sulit dapat diketahui pihak sekolah dan para guru dapat mengambil strategi untuk mengatasinya. e. Sosialisasi dan informasi UAN perlu dilakukan seawal mungkin yang meliputi kisi-kisi ujian (standar kompetensi lulusan), bentuk soal ujian, proses penskoran, dan kriteria kelulusannya sehingga sekolah maupun siswa dapat lebih mempersiapkan diri menghadapi UAN. f. Pemerintah perlu membantu fasilitas dan peralatan yang memadai dalam pelaksanaan ujian sehingga mata pelajaran yang memerlukan media tertentu dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan UAN.

2 - 32

Unit 2

2. Pro dan Kontra pelaksanaan Ujian Nasional
Selanjutnya, upaya mengurangi berbagai kelemahan dan menjawab kritik terhadap pelaksanaan UAN, dan sebagai pelaksanaan dari apa yang diamanahkan oleh Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 58, Ayat (2) serta pelaksanaan dari Pasal 66 ayat (1), Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional. Hal ini sejalan dengan Undangundang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa penyelenggara Ujian Nasional adalah Lembaga Independen. Dalam pelaksanaannya BSNP menyelenggarakan Ujian Nasional yang harus diikuti oleh peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal. Pendidikan dasar dan menengah, serta jalur non formal kesetaraan. Dalam menyelenggarakan ujian nasional ini BSNP akan bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta satuan pendidikan. Pelaksanaan Ujian Nasional tahun pelajaran 2006/2007 didasarkan pada Peraturan Menteri Pandidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2006. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa standar kompetensi lulusan atau SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang disusun sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006. Adapun Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi. Dengan mempertimbangkan bahwa dalam pengembangan pembelajaran di berbagai sekolah di Indonesia masih menggunakan kurikulum yang bervariasi, di mana sebagian sekolah masih menggunakan Kurikulum 1994, ada sekolah yang secara bertahap menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada kelas tertentu dan kelas yang lain masih menggunakan kurikulum 1994, ada pula sekolah yang secara keseluruhan telah melaksanakan KBK, dan ada sekolah yang telah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan mulai diberlakukannya PP 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, maka dalam sosialisasi pelaksanaan Ujian Nasional telah pula dijelaskan bahwa; soal-soal ujian yang dikembangkan untuk Ujian Nasional Tahun 2007, didasarkan pada

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 33

irisan antara: (1) Kurikulum Berbasis Kompetensi, (2) Kurikulum 1994, dan (3) Standar Isi, yang secara visual dapat digambarkan berikut ini.

KURIKULUM 1994 KBK

KTSP/ STANDAR ISI

Dengan gambaran tersebut maka diharapkan bahwa tidak akan mencul kecaman terhadap soal UNAS dari sekolah-sekolah yang menggunakan berbagai kurikulum. Dalam penentuan kelulusan BSNP juga menetapkan nilai sebagai standar ketuntasan atau standar kelulusan yang akan dinaikkan secara bertahap setiap tahun. Sebagai suatu kebijakan yang ”baru” apapun isinya dan sebaik apapun dipersiapkan ”pasti” masih akan muncul pro dan kontra. Pihak yang pro akan mendukung dan ikut mensukseskan pelaksanaannya tetapi juga pasti akan muncul kritik dari pihak-pihak yang kontra dengan berbagai alasan. Perlu dipahami oleh semua pihak bahwa Ujian Nasional adalah penilaian hasil belajar oleh pemerintah yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu pada kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu program atau satuan pendidikan, sebagai dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan siswa dari program dan atau satuan pendidikan tertentu serta sebagai dasar pemberian bantuan pada satuan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan ujian nasional ini menjadi polemik berkepanjangan, sikap pro dan kontra muncul diberbagai media dengan berbagai alasan rasional maupun sekedar rasionalisasi. Kesenjangan kualitas dari satuan pendidikan yang demikian panjang rentangnya

2 - 34

Unit 2

selalu akan menjadi pusat perhatian, namun tetap selalu menjadi permasalahan yang tak kunjung terjembatani. Persoalan sebenarnya bukan ujian nasional itu sendiri, tetapi perlu kajian dari berbagai sudut pandang diantaranya, adalah: (1) ketidaksiapan siswa, guru ataupun sekolah menghadapi kenyataan dari “cermin prestasi diri” yang disebut ujian nasional tersebut, (2) proses pendidikan yang selama ini berlangsung banyak memberi kemudahan, termasuk dalam pembelajaran, yang menyebabkan banyak pihak baik siswa, guru maupun orang tua yang terbuai oleh keberhasilan semu yang berupa angka-angka yang bisa dibuat oleh siapa saja, (3) adanya kecenderungan umum bahwa evaluasi yang kehilangan makna, karena evaluasi yang seharusnya menjadi sarana atau cermin kemampuan diri, selama ini bukan lagi menjadi sarana tetapi menjadi tujuan. Proses pembelajaran di tahun akhir program satuan pendidikan lebih diarahkan pada persiapan menghadapi ujian dengan drill soal, bukan giat untuk pencapaian standar kompetensi yang dipersyaratkan dan bahkan mungkin dengan menghalalkan berbagai cara membocorkan soal, membantu siswa mengerjakan soal ujian. Yang paling utama adalah sikap mental mencari jalan pintas menjadi sebab dari semua persoalan di atas. Meskipun perlu pula mengakomodasi pendapat yang menyatakan bahwa ujian nasional belum merupakan langkah evaluasi yang terbaik dan perlu dikaji ulang dalam prosedur dan teknik pelaksanaan atau perubahan fungsinya yang demikian mutlak. Misalnya saja ujian nasional tetap dilaksanakan dengan kriteria ketuntasan yang terus ditingkatkan, tetapi fungsinya bukan penentu kelulusan, tetapi lebih diarahkan pada pemetaan kualitas sekolah. Hanya saja kriteria dan hasil pemetaan harus disosialisasikan secara transparan dan akuntabel agar masyarakat, dapat menentukan pilihan dan tidak terkecoh oleh nilai kelulusan yang bersifat lokal. Memang ada 1001 alasan untuk gagal, tetapi dibutuhkan hanya satu keputusan untuk sukses, yaitu kerja keras dan kesungguhan. Selanjtnya, yang perlu mendapat perhatian adalah upaya sosialisasi dan penyadaran kepada semua stakeholder tentang pemahaman fungsi UNAS dan Standar Kompetensi Lulusan kepada siswa, orang tua guru maupun semua staf sekolah. Agar semua termotivasi untuk mengarahkan pembelajaran ke pencapaian standar kompetensi minimal yang harus dikuasai siswa; orang tua akan memotivasi dan membimbing belajar anaknya, guru akan mengoptimalkan proses pembelajarannya untuk membelajarkan siswa mencapainya, demikian juga seluruh staf sekolah maupun berbagai pihak terkait. Bila secara nyata standar kompetensi ini telah tercapai, kapanpun di evaluasi, siapapun yang

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 35

melakukan evaluasi, bentuk soal manapun, termasuk penyelenggaraan UNAS bukan lagi menjadi permasalahan yang besar.

Tes Formatif 4
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 4. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! Pro dan kontra pelaksanaan evaluasi hasil belajar yang diselenggarakan pemerintah, terus bermunculan. a. Analisislah sikap pro dan kontra yang ada di lingkungan kabupaten daerah Anda dengan segala kelebihan dan kelemahan masin-masing! b. Analisislah juga kekurangan atau kecurangan yang saudara ketahui dalam pelaksanaan UNAS!

2 - 36

Unit 2

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1. Standar Nasional Pendidikan meliputi: a. Standar isi, yakni ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. b. Standar proses, yakni yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. c. Standar kompetensi lulusan, adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan, yaitu kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. e. Standar sarana dan prasarana, yaitu standar nasional pendidikan berkaitan dengan kriteria minimal tentang sarana dan prasarana pembelajaran. f. Standar pengelolaan, yakni standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. g. Standar pembiayaan, yakni standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. h. Standar penilaian pendidikan, yakni standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. 2. Landasan filisofisnya adalah proses pendidikan untuk mengembangkan potensi siswa menjadi kemampuan dan keterampilan tertentu, tetapi tidaklah mudah untuk dapat mengakomodasikan kebutuhan setiap siswa secara tepat dalam proses pendidikan, namun setiap siswa harus tetap diperlakukan secara adil, termasuk di dalamnya proses penilaian. Untuk itu proses penilaian yang dilakukan harus memiliki asas keadilan, kesetaraan serta obyektifitas yang tinggi. Sehingga setiap siswa harus diperlakukan sama dan meminimalkan semua bentuk prosedur ataupun tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu atau sekelompok siswa dan tidak membedakan latar belakang sosial ekonomi, budaya, bahasa dan gender.
Asesmen pembelajaran di SD

2 - 37

3. Landasan Yuridis Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 57 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 58 Ayat (1) dan Ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, Pasal 63, Ayat (1) yang menyatakan bahwa penilaian pendidikan khususnya penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (3) penilaian hasil belajar oleh pemerintah. 4. BSNP adalah lembaga independen yang diberi tugas pemerintah untuk mengawal pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan, anggotanya terdiri dari 15 orang pakar di bidangnya masing-masing. Anggota BSNP terdiri atas ahli-ahli di bidang psikometri, evaluasi pendidikan, kurikulum, dan manajemen pendidikan yang memiliki wawasan, pengalaman, dan komitmen untuk peningkatan mutu pendidikan.. BSNP dapat membentuk panitia ad hock sesuai dengan kebutuhan. 5. BSNP mempunyai kewenangan untuk: a. mengembangkan Standar Nasional Pendidikan; b. menyelenggarakan ujian nasional; c. memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan. d. merumuskan kriteria kelulusan dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Tes Formatif 2
1. Yang berhak melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar adalah pendidik, satuan pendidikan dan pemerintah 2. Standar umum penilaian, standar perencanaan penilaian, standar pelaksanaan, standar pengolahan dan pelaporan hasil penilaian, dan standar pemanfaatan hasil penilaian. 3. Dalam melakukan evaluasi proses dan hasil belajar, satuan pendidikan harus mematuhi dua jenis standar yaitu: standar penentuan kenaikan kelas dan standar kelulusan. 4. Prinsip-prinsip umum evaluasi menurut BSNP adalah: a. Penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi.

2 - 38

Unit 2

b. Penilaian menggunakan acuan kriteria, yakni keputusan diambil berdasar apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. c. Penilaian dilakukan secara keseluruhan dan berkelanjutan. d. Hasil penilaian digunakan untuk menentukan tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran, program remidi dan pengayaan. e. Penilaian harus sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dengan proses pembalajaran. 5. Menganalisis kesenjangan antara evaluasi yang sudah Anda lakukan di kelas dengan ketentuan BSNP sesuai dengan kondisi masing masing sekolah.

Tes Formatif 3
1. Manfaat Penilaian oleh pendidik. a. Menilai pencapaian kompetensi peserta didik. b. Sebagai bahan penyusunan laporan hasil belajar. c. Memperbaiki proses pembelajaran. 2. Manfaat Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan a. Menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran. b. Mempromosikan siswanya ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. c. Pengendalian kualitas pendidikan (quality control) dan sekaligus menjadi motivasi atau pressure to achieve bagi siswa dan pendidik bagi upaya peningkatan kualitas pembalajarannya. 3. Manfaat Penilaian hasil belajar oleh pemerintah a. Pemetaan mutu program dan atau satuan pendidikan. b. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya. c. Penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan. d. Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. 4. Jenis Penilaian yang dapat digunakan menurut BSNP meliputi: tes kinerja, demonstrasi, observasi, penugasan, portofolio, tes tertulis, tes lisan, jurnal, wawancara, inventori, penilaian diri, penilaian antar teman dan sebagainya

Tes Formatif 4
Berupa tugas untuk menganalisis pelaksanaan UNAS di daerah masing-masing.

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 39

DAFTAR PUSTAKA
-----------------------------. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, tentang Standar Nasioanal Pendidikan. Jakarta: Depdiknas. -----------------------------. 2003. Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. ----------------------------- Naskah akademik. Jakarta: BSNP. ----------------------------- Pedoman Umum Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: BSNP. Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian. Jakarta: BSNP. ____________________. 2006. Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia. Jakarta: BSNP. ____________________. 2006. Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika. Jakarta: BSNP. ____________________. 2006. Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta: BSNP. ____________________. 2006. Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Jasmani, Olah raga, dan kesehatan. Jakarta: BSNP. ____________________. 2006. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 Menuju Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang. Jakarta: Depdiknas.

2 - 40

Unit 2

Glosarium
Evaluasi-diri (self evaluation) : Indikator Kalender pendidikan : : adalah penilaian terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru itu sendiri adalah ciri-ciri atau tanda-tanda seseorang telah menguasai kompetensi standar. adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur. Adalah rambu-rambu yang ditetapkan berdasarkan Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan

Kerangka dasar kurikulum

:

Kompetensi

:

Kurikulum

:

KTSP atau Kurikulum : tingkat satuan pendidikan

Asesmen pembelajaran di SD

2 - 41

Learning journal

:

Standar nasional pendidikan

:

Standar isi

:

Standar Kompetensi Lulusan

:

Standar Kompetensi : Kelompok Mata Pelajaran Standar Kompetensi Mata : Pelajaran

Struktur kurikulum

:

atau jurnal belajar adalah prosedur self-report (laporan diri) dimana siswa membuat catatancatatan personal dan bersifat naratif terkait dengan aspek-aspek materi atau bidang studi yang dipelajarinya yang memiliki nilai dan relevansi khusus bagi dirinya. Catatan-catatan itu bisa hasil dari pengamatan, perasaan, dan pendapat pribadi dalam merespon apa yang dibaca, dilihat, dan dialaminya adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik pada setiap kelompok mata pelajaran. adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/atau semester untuk mata pelajaran tertentu adalah merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran.

2 - 42

Unit 2

Unit

3

STRATEGI DAN PROSEDUR PENILAIAN
Estu Widodo

Pendahuluan

S

ebagaimana telah Anda pelajari pada bab-bab sebelumnya, asesmen merupakan proses menghimpun atau mengumpulkan informasi yang akan dipergunakan untuk membuat keputusan tertentu di bidang pendidikan. Oleh karena itulah Anda pun harus memfokuskan kegiatan-kegiatan asesmen yang Anda lakukan pada informasi yang Anda perlukan terkait dengan keputusan-keputusan yang akan Anda buat. Hal ini juga berarti bahwa Anda harus memahami berbagai langkah yang harus dilakukan, mampu memilih dan menggunakan berbagai metode dan prosedur asesmen yang tepat. Topik-topik di atas akan disajikan dalam 2 Subunit, yaitu: Subunit 1: Langkahlangkah Pokok Asesmen Pembelajaran, dan Subunit 2: Teknik Tes dan Non Tes. Pembahasan topik-topik di atas diarahkan untuk mencapai indikator agar Anda dapat: 1. menjelaskan langkah-langkah pokok asesmen pembelajaran; 2. menjelaskan jenis instrumen asesmen proses dan hasil belajar yang berkembang dan dikembangkan di sekolah; 3. menjelaskan proses dan prosedur evaluasi yang ada dan dilakukan di lapangan; Latihan soal disiapkan baik di tengah uraian ataupun di akhir uraian yang dapat Anda kerjakan. Untuk mengetahui dan mengecek hasil pekerjaan Anda, disediakan rambu-rambu jawaban atau dijabarkan dalam uraian materi. Akan tetapi, diusahakan jangan melihat rambu-rambu jawaban sebelum menyelesaikan soal-soal latihan yang disediakan.

Asesmen pembelajaran di SD

3-1

Untuk mengetahui keberhasilan belajar Anda, dilaksanakan tes formatif pada akhir subunit dan untuk mengecek hasil jawaban Anda, disediakan kunci jawaban tes formatif di akhir unit ini. Akan tetapi, diupayakan jangan melihat kunci jawaban sebelum Anda menyelesaikan semua soal yang disediakan. Pada unit ini Anda juga disediakan bahan ajar non cetak melalui web yang bisa Anda akses, sedangkan video tidak diperlukan dalam unit ini. Semoga Anda berhasil menyelesaikan Unit 3 dengan baik.

Selamat Belajar

3-2

unit 3

Subunit 1 Langkah-Langkah Pokok Asesmen Pembelajaran
Pengantar

A

nda telah mempelajari bahwa proses asesmen tidak bisa dipisahkan dengan proses pembelajaran. Bahkan proses asesmen itu sendiri harus sesuai dengan tujuan pembelajaran sehingga hasil akhir dari asesmen akan mendorong lahirnya berbagai keputusan dan kebijakan yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itulah Anda harus benar-benar memahami sejumlah langkah pokok yang harus Anda lakukan agar tujuan dilakukannya asesmen bisa tercapai.

1. Langkah-Langkah Pokok dalam Melakukan Asesmen
Pada bab-bab sebelumnya Anda sudah mempelajari banyak hal terkait dengan asesmen pembelajaran, terutama berbagai konsep di dalam asesmen pembelajaran. Untuk mengawali pembicaraan pada unit 3 ini, alangkah baiknya jika Anda mencoba menjawab dua pertanyaan berikut. LATIHAN 3.1: 1. Menurut Anda apakah kegiatan asesmen pembelajaran perlu direncanakan? Mengapa? 2. Menurut pengalaman dan pengamatan Anda, apa yang perlu dipersiapkan seorang guru yang hendak melakukan asesmen pembelajaran? Tulis jawaban Anda di buku belajar, selanjutnya ikutilah uraian materi. Tulis jawaban Anda di buku belajar. Jangan lupa cocokkan jawaban Anda dengan materi bahasan. Mungkin sebagian dari jawaban Anda sama dengan bahasan berikut, dan sebagian yang lain berbeda. Bila itu yang terjadi, bisa jadi karena Anda mempunyai pengalaman yang berbeda, atau Anda melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Saudara, tentunya Anda setuju bahwa dalam melakukan asesmen proses dan hasil pembelajaran ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Dari berbagai
Asesmen pembelajaran di SD

3-3

pendapat yang disampaikan oleh sejumlah pakar, termasuk Anderson (2003) dan Sudijono (2005), secara garis besar terdapat 7 (tujuh) langkah pokok asesmen pembelajaran sebagai berikut.

Pertama: Menyusun Rencana Asesmen atau Evaluasi Hasil Belajar
Dalam merencanakan asesmen atau evaluasi hasil belajar, Anda perlu melakukan setidaknya enam hal, yaitu: (a). Merumuskan tujuan dilakukannya asesmen atau evaluasi, termasuk merumuskan tujuan terpenting dari diadakannya asesmen. Hal ini perlu dilakukan agar arah proses asesmen jelas. (b). Menetapkan aspek-aspek yang akan dinilai, apakah aspek kognitif, afektif, atau psikomotor. (c). Memilih dan menentukan teknik yang akan digunakan. Anda bisa menentukan apakah akan menggunakan teknik tes ataukah non tes. Dari sejumlah teknik tes atau non tes yang ada, Anda juga masih harus menentukan mana yang akan digunakan dengan memperhatikan ciri-ciri dari masing-masing teknik serta memahami beberapa kelebihan dan kekurangannya. (d). Menyusun instrumen yang akan dipergunakan untuk menilai proses dan hasil belajar para peserta didik. Sejumlah instrumen yang mungkin digunakan adalah butir-butir soal tes (test item), daftar cek (check list), rating scale, panduan wawancara, dan lain-lain. Tentunya di dalam memilih instrumen yang akan digunakan Anda harus menyesuaikan dengan satu atau lebih tujuan yang telah ditentukan. Termasuk di dalam langkah ini adalah membuat petunjuk yang akan dicantumkan pada lembar asesmen, yang meliputi: - tujuan diadakannya asesmen. - waktu yang disediakan untuk menyelesaikan. - dasar yang digunakan untuk memberikan jawaban (misalnya memilih jawaban yang benar ataukah yang terbaik?). - prosedur menulis jawaban (tanda silang, melingkari, dsb.). - akibat yang diterima jika guessing (menebak). (e). Menentukan metode penskoran jawaban siswa. Dengan kata lain Anda harus memutuskan tolok ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam menginterpretasi data hasil evaluasi. Misalnya saja, apakah Anda akan menggunakan Penilaian Beracuan Patokan (PAP) ataukah menggunakan Penilaian Beracuan Kelompok atau Norma (PAN).

3-4

unit 3

(f). Menentukan frekuensi dan durasi kegiatan asesmen atau evaluasi (kapan, berapa kali, dan berapa lama). (g) Mereviu tugas-tugas asesmen Setelah Anda menyusun tugas asesmen, seyogyanya Anda meminta bantuan pihak lain untuk mencermatinya sebelum mencantumkannya pada instrumen asesmen. Dengan meminta bantuan pihak lain, Anda akan mengetahui apakah kalimat Anda bisa dipahami orang lain, apakah struktur kalimat yang kita gunakan sudah tepat, apakah tidak terjadi pengulangan, dan seterusnya.

Kedua: Menghimpun Data
Dalam kegiatan ini Anda sebagai guru bisa memilih teknik tes dengan menggunakan tes atau memilih teknik non tes dengan melakukan pengamatan, wawancara atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide atau angket. Ketika melakukan asesmen prestasi peserta didik, para guru harus memahami situasi dan kondisi lingkungan fisik dan psikologis. Lingkungan fisik harus tenang dan nyaman. Selama proses asesmen berlangsung, guru juga harus memonitor jalannya asesmen dan membantu agar semuanya berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Ketiga: Melakukan Verifikasi Data
Verifikasi data perlu dilakukan agar kita dapat memisahkan data yang “baik” (yakni data yang akan memperjelas gambaran mengenai peserta didik yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang akan mengaburkan gambaran mengenai peserta didik).

Keempat: Mengolah dan Menganalisis Data
Tujuan dari langkah ini adalah memberikan makna terhadap data yang telah dihimpun. Agar data yang terhimpun tersebut bisa dimaknai, kita bisa menggunakan teknik statistik dan/atau teknik non statistik, berdasarkan pada mempertimbangkan jenis data.

Asesmen pembelajaran di SD

3-5

Kelima: Melakukan Penafsiran atau Interpretasi dan Menarik Kesimpulan
Kegiatan ini pada dasarnya merupakan proses verbalisasi terhadap makna yang terkandung pada data yang telah diolah dan dianalisis sehingga menghasilkan sejumlah kesimpulan. Kesimpulan-kesimpulan yang dibuat tentu saja harus mengacu pada sejumlah tujuan yang telah ditentukan di awal.

Keenam: Menyimpan Instrumen Asesmen dan Hasil Asesmen
Langkah keenam ini memang perlu disampaikan di sini untuk mengingatkan para guru, sebab dengan demikian mereka dapat menghemat sebagian waktunya untuk ha-hal yang lebih baik. Dengan disimpannya instrumen dan ringkasan dan jawaban siswa, termasuk berbagai catatan tentang upaya memperbaiki instrumen, sewaktu-waktu Anda membutuhkan untuk memperbaiki instrumen tes pada tahun berikutnya maka tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Tentu saja, perubahan disana-sini perlu dilakukan karena isi dan struktur unit pelajaran yang dipelajari siswa juga telah berubah.

Ketujuh: Menindaklanjuti Hasil Evaluasi
Berdasarkan data yang telah dihimpun, diolah, dianalisis, dan disimpulkan maka Anda sebagai guru atau evaluator bisa mengambil keputusan atau merumuskan kebijakan sebagai tindak lanjut konkret dari kegiatan penilaian. Dengan demikian, seluruh kegiatan penilaian yang telah dilakukan akan membawa banyak manfaat karena terjadi berbagai perubahan dan atau perbaikan. Sementara itu, senada dengan apa yang dijelaskan di atas, Badan Standar Nasional Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional (2006) menyatakan bahwa dalam prosedur penilaian, guru seharusnya menggunakan langkah-langkah sistematis sebagai berikut.

a. Perumusan Indikator Pencapaian Hasil Belajar
Rumusan indikator pencapaian tidak ada di dalam standar isi (SI). Oleh karena itu, pada saat mengembangkan silabus yang akan ditindaklanjuti dengan kegiatan penilaian, guru diharuskan merumuskan indikator pencapaian keberhasilan penguasaan kompetensi dasar (KD) dengan kriteria: - sesuai tingkat perkembangan berpikir peserta didik; - berkaitan dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD); - memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari (life skills); harus dapat menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik secara utuh

3-6

unit 3

(meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor); memperhatikan sumber-sumber belajar yang relevan; dapat diukur/dapat dikuantifikasikan/dapat diamati; menggunakan kata kerja operasional. Lalu, tahukah Anda dengan yang dimaksud indikator? Indikator pada hakekatnya adalah ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Oleh karena itu indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: mengidentifikasi, membedakan, menghitung, menyimpulkan, menceritakan kembali, mempraktekkan, mendemonstrasikan, dan mendeskripsikan. Tahukah Anda siapa yang mengembangkan indikator pencapaian hasil belajar? Ya, Anda lah sebagai guru yang mengembangkan dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap peserta didik, bahkan kondisi daerah dan sekolah masing-masing. Anda bisa mengembangkan setiap kompetensi dasar menjadi dua atau lebih indikator pencapaian hasil belajar. Hal ini sesuai dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar tersebut. Indikator-indikator yang Anda buat itulah pencapaian hasil belajar dari setiap kompetensi dasar yang digunakan untuk melakukan penilaian.

-

b. Penyusunan Kisi-kisi
Kisi-kisi penilaian adalah bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan perencanaan pembelajaran dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Di dalam silabus, harus jelas keterkaitan antara SK, KD, materi pokok/materi pembelajaran, alokasi waktu, sumber belajar di satu sisi, dengan indikator pencapaian KD yang bersangkutan beserta teknik penilaian dan bentuk instrumen yang digunakan. Di bawah ini ada beberapa contoh format kisi-kisi penilaian menurut Badan Standar Nasional Pendidikan.

Asesmen pembelajaran di SD

3-7

Format kisi-kisi penilaian yang menyatu dengan silabus. Contoh 1: Silabus Pembelajaran Standar Kompetensi : .......................................... Kompetensi Dasar
Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber Materi Pokok/ Pembelajaran Pencapaian Waktu Belajar Materi Pembelajaran

Contoh 2: Silabus Pembelajaran Sekolah : ............................... Mata Pelajaran : ............................... Kelas/Semester : ................................ Standar Kompetensi: .........................................
Kompetensi Materi Pokok/ Kegiatan Indikator Penilaian Alokasi Sumber Dasar Materi Pembelajaran Pencapaian Teknik Bentuk Waktu Belajar

Pembelajaran

Penilaia Instrume

Perencanaan penilaian yang sudah dilengkapi dengan contoh instrumen disajikan secara menyatu dengan RPP. Berikut ini adalah contoh kisi-kisi penilaian yang sudah menyatu dengan RPP. Format kisi-kisi penilaian yang menyatu dengan RPP Contoh 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah :.................................. Mata Pelajaran : .............................. Kelas/Semester : ............................. Alokasi Waktu : … jam pelajaran (.xpertemuan) A. SK: ............................................................................... B. KD: ................................................................................ C. Materi Pembelajaran : .................................. D. Model/Metode Pembelajaran : ...............................
3-8
unit 3

E. Skenario/Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1: ............................................. Pertemuan 2: ............................................. dst. F. Sumber Belajar G. Penilaian Indikator Pencapaian Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Contoh Instrumen

Seringkali terjadi para guru menggunakan pola asesmen tertentu, tanpa melakukan pertimbangan secara serius kenapa dia melakukan asesmen dan kenapa dia memilih pola asesmen tertentu. Umumnya guru menguji siswa agar dapat memperoleh skor yang diyakininya menunjukkan tingkat performa akademik siswa. Dan memang, kebutuhan untuk memberikan nilai terhadap siswa itulah yang menjadi pendorong utama bagi para guru untuk melakukan asesmen terhadap siswa. Sebenarnya ada sejumlah alasan yang cukup penting yang bisa mendorong seorang guru untuk menyusun dan menggunakan berbagai instrumen asesmen. Misalnya, guru dapat menggunakan hasil asesmen pada saat mengajar untuk mengidentifikasi aspek-aspek kesulitan siswa (misalnya materi atau kecakapan tertentu) di dalam pembelajaran sehingga guru tersebut bisa memberikan pembelajaran tambahan secara lebih efektif. Fungsi lain dari asesmen pembelajaran adalah membantu guru lebih memahami apa yang sebenarnya menjadi sasaran akhir pembelajaran, karena prosedur asesmen yang disusun dengan benar akan mengoperasionalkan sasaran pembelajaran secara konkrit.

2. Beberapa Prinsip dalam Menentukan Prosedur Asesmen
Jika Anda hendak menghimpun informasi mengenai kemajuan belajar yang telah dicapai peserta didik, Anda akan dihadapkan pada berbagai teknik baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar. Mengingat banyaknya strategi, teknik, maupun prosedur asesmen yang ada, maka Anda perlu mengetahui beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman dalam memilih dan menggunakan asesmen pembelajaran secara bermakna:

Asesmen pembelajaran di SD

3-9

a. Sasaran pembelajaran yang akan dinilai asesmen harus jelas.
Sebelum Anda dapat melakukan asesmen terhadap seorang siswa, Anda harus benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan pengetahuan (knowledge), kecakapan/keterampilan (skills), dan unjuk kerja (performance), karena informasi yang hendak Anda kumpulkan terkait dengan ketiga aspek tersebut. Pengetahuan, keterampilan/kecakapan, dan unjuk kerja yang akan dipelajari atau dilakukan peserta didik kadang-kadang disebut sebagai sasaran pembelajaran (learning targets) atau standar pembelajaran (learning standards). Oleh karena itu semakin jelas sasaran pembelajaran yang akan kita capai, maka akan semakin baik pula proses pemilihan teknik asesmen yang tepat.

b. Teknik-teknik asesmen yang Anda pilih harus benar-benar sesuai dengan masing-masing sasaran pembelajaran
Apakah Anda sebagai guru ingin menilai bagaimana siswa memecahkan masalah dalam pembelajaran bidang studi tertentu? Atau Anda hendak menilai bagaimana siswa menyampaikan pendapatnya dan bagaimana menanggapi pendapat temannya di dalam sebuah diskusi? Bila itu yang hendak Anda lakukan, berarti Anda akan melakukan asesmen terhadap suatu proses. Hal tersebut harus dipertimbangkan ketika Anda hendak melakukan proses asesmen, sehingga teknik asesmen yang dipilih bisa sepraktis dan seefisien mungkin, kendati aspek kepraktisan dan efisiensi tidak boleh menjadi pertimbangan utama dan mengalahkan aspek lainnya.

c. Teknik-teknik asesmen yang dipilih harus benar-benar memenuhi kebutuhan pembelajar
Pemilihan alat asesmen yang tepat tidak hanya mampu membantu kita untuk memperoleh data atau informasi mengenai suatu proses dan hasil belajar, namun juga akan sangat bermakna bagi peserta didik. Alat asesmen yang tepat akan memberikan petunjuk kepada peserta didik sehingga sejak awal mereka bisa mengetahui berbagai kegiatan konkrit yang harus mereka lakukan di dalam proses pembelajaran. Teknik-teknik asesmen yang dipilih juga harus memberi kesempatan kepada pembelajar untuk menentukan secara khusus apa yang telah dicapainya dan apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki unjuk kerja (performance) mereka. Oleh karena itu, Anda harus bisa memilih metode

3 - 10

unit 3

asesmen yang memungkinkan Anda dapat memberikan umpan balik yang bermakna terhadap pembelajar.

d. Jika memungkinkan, untuk masing-masing sasaran pembelajaran harus digunakan berbagai indikator prestasi pembelajar
Salah satu format asesmen (seperti pertanyaan dengan jawaban singkat atau latihan mencarikan pasangan atau matching exercises) memberikan gambaran yang tidak lengkap mengenai apa yang telah dipelajari oleh siswa. Karena suatu format asesmen cenderung memberi penekanan hanya pada satu aspek dari sasaran pembelajaran yang kompleks, maka yang terjadi biasanya format asesmen tersebut tidak bisa menjangkau sasaran pembelajaran yang hendak dicapai secara utuh. Oleh karena itulah, jika Anda dapat memperoleh informasi mengenai prestasi siswa dari beberapa metode atau prosedur, maka hal itu biasanya akan meningkatkan validitas asesmen yang Anda lakukan. Latihan-latihan yang meminta siswa untuk menjodohkan (matching exercises), misalnya, memberikan penekanan pada upaya mengingat kembali atau mengenali informasi yang bersifat faktual; pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam bentuk esai (essay) memberikan penekanan pada kemampuan siswa untuk mengorganisasi ide dan kecakapan menulis dengan batasan waktu tertentu (time limits); dan sebuah proyek yang lamanya sekitar satu bulan memberi penekanan pada penggunaan secara bebas terutama sumber daya (resources), penelitian, dan analisis yang lebih mendalam mengenai topik tertentu. Ketiga teknik asesmen tersebut bisa diperlukan untuk memastikan sejauh mana siswa telah mencapai sasaran pembelajaran tertentu.

e. Ketika Anda menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap hasil asesmen, Anda harus mempertimbangkan kelemahan kelemahannya
Meskipun kita menggunakan beberapa jenis asesmen, informasi yang kita peroleh sebenarnya hanyalah sebagian saja dari apa yang telah dicapai oleh pembelajar dari sasaran pembelajaran secara keseluruhan. Oleh karena itulah bisa dikatakan bahwa informasi yang diperoleh dari proses asesmen memiliki kesalahan atau sampling error. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah sejumlah faktor seperti kondisi fisik dan emosi siswa juga membatasi tingkat akurasi informasi yang kita peroleh. Oleh karena itulah ketika membuat

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 11

keputusan yang didasarkan pada informasi hasil asesmen, sejumlah kelemahan atau keterbatasan yang ada harus tetap diperhitungkan. Senada dengan penjelasan di atas, ada beberapa pakar menyebutkan beberapa karakteristik yang harus dimiliki prosedur asesmen dan penting untuk dipertimbangkan manakala Anda hendak menentukan desain asesmen dan pemilihan prosedur asesmen yang tepat adalah: - sesuai dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dan memberikan hasil yang berguna. - memiliki kualitas teknik yang baik, artinya secara statistik valid dan reliabel - komprehensif, mengukur seluruh skills yang terkait. - dipilih berdasarkan kebutuhan siswa secara individu. Asesmen yang tidak diperlukan harus dihindari. - efektif dan efisien (pelaksanaan, penskoran, dan interpretasi). - asesmen yang bersifat khusus dan lebih mendalam hanya dilakukan untuk permasalahan yang telah teridentifikasi. - mencakup asesmen tentang dimensi utama: siswa, tugas belajar, dan lingkungan belajar. - mengukur seberapa jauh siswa mengetahui dan bagaimana siswa mengerjakan tugas. - disusun dari yang umum ke yang khusus dan saling terkait. - prosedur tidak boleh membeda-bedakan atas dasar ras, jenis kelamin, bahasa, agama, dsb.

3. Fokus Asesmen di Sekolah Dasar
Anda semua pasti telah mengikuti pendidikan dengan jenjang yang berbeda, setidaknya mulai pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. Dari pengamatan dan pengalaman Anda selama mengikuti pendidikan di beberapa jenjang yang berbeda, cobalah menjawab pertanyaan berikut. LATIHAN 3.2: 1. Apakah ada perbedaan aspek-aspek yang dinilai antara pembelajaran di SD dan Sekolah Lanjutan? Berikan sebuah contoh! 2. Apakah yang menyebabkan perbedaan tersebut?

3 - 12

unit 3

Tulis jawaban Anda pada buku catatan, dan lanjutkan dengan membaca bahasan berikut sambil mencocokkan jawaban Anda. Setelah mengkaji beberapa bahasan terhadulu, tentunya Anda sudah paham bahwa asesmen yang Anda lakukan sangat tergantung dari tujuan pembelajaran itu sendiri. Oleh karena itu prosedur asesmen yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak akan berbeda dengan asesmen yang dilakukan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, hingga Perguruan Tinggi. Untuk siswa Sekolah Dasar, kegiatan asesmen sebagian besar dilakukan dengan cara: a. Melakukan observasi atau pengamatan terhadap berbagai kegiatan praktik dan memecahkan masalah yang dilakukan secara formal. b. Melakukan kegiatan lisan, yaitu melakukan tanya jawab secara langsung dengan anak. c. Melakukan kegiatan tertulis, baik dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung maupun menulis. d. Memberikan tes, baik sifatnya informal (disusun oleh guru) maupun yang formal (Black, et. al., 1989 dalam Conner, 1991) Sementara itu, menurut Duncan dan Dunn (1985), sebagaimana dikutip oleh Conner (1991), fokus asesmen yang dilakukan di sekolah dasar adalah: a. pemerolehan beraneka macam pengetahuan, konsep, dan prinsip. b. kemampuan mengaplikasikan konsep dan prinsip ke dalam situasi baru. c. kemampuan berkomunikasi. d. kemampuan memecahkan masalah. e. pengembangan sikap (Duncan dan Dunn, 1985). Beberapa bentuk asesmen yang biasa digunakan di sekolah dasar adalah sebagai berikut. Yang dilakukan oleh siswa: 1. kegiatan menulis (menguraikan secara mendalam, melengkapi kalimat, pilihan berganda - menggunakan huruf dan angka), 2. kegiatan menggambar (benda, diagram, peta), 3. kegiatan lisan dan aural (menggunakan indera pendengaran), 4. kegiatan fisik/perilaku/unjuk kerja (menunjukkan pemahaman dengan melakukan sesuatu), 5. kegiatan evaluasi diri (profil). Yang dilakukan oleh guru: 1. asesmen informal sebagai bagian dari rutinitas di kelas (menulis

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 13

uraian, mendengarkan, bercakap-cakap, melakukan diskusi) 2. asesmen formal melalui tes, kuis, kegiatan terstruktur, tes yang dipublikasikan, inventori, skala rating (rating scale) dan checklist, 3. observasi atau pengamatan. Dari berbagai penjelasan mengenai asesmen pembelajaran, jelas sekali bahwa asesmen tidak bisa dianggap sebagai kegiatan yang berdiri sendiri dan terpisah. Asesmen merupakan unsur penting dari proses belajar mengajar dan memberikan kontribusi terhadap efektivitas. Asesmen merupakan sebuah proses yang terus dilakukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman pendidikan secara keseluruhan bagi anak. Kemajuan akan terus terjadi jika pemilihan pengalaman belajar dan cara memonitor berbagai pengalaman siswa itu dilakukan dengan cermat dan tepat. Sebagaimana dikatakan oleh Ainscow (1988) bahwa asesmen harus merupakan proses yang berkelanjutan dalam mengumpulkan dan mereviu informasi untuk membantu siswa berhasil di kelas. Karena telah menjadi kegiatan yang terus dilakukan dan terintegrasi dengan proses belajar mengajar maka bentuk dan metode asesmen harus dibuat bervariasi sesuai dengan kegiatan siswa dan jenis informasi yang hendak diperoleh. Asesmen terhadap siswa bukanlah pernyataan tentang kemampuan absolute atau mutlak siswa, melainkan pernyataan mengenai prestasi siswa dalam kerangka kesempatan yang telah diterimanya. Oleh karena pada tingkat tertentu asesmen terhadap siswa juga merupakan asesmen terhadap guru dan asesmen terhadap sekolah (Calouste Gulbenkian Report, 1982).

Rangkuman
Proses asesmen tidak bisa dipisahkan dengan proses pembelajaran. Bahkan proses asesmen itu sendiri harus sesuai dengan tujuan pembelajaran sehingga hasil akhir dari asesmen akan mendorong lahirnya berbagai keputusan dan kebijakan yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itulah sejumlah langkah pokok yang harus benar-benar dipahami agar tujuan dilakukannya asesmen bisa tercapai. Indikator pada hakekatnya adalah ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Iindikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: mengidentifikasi, membedakan, menghitung, menyimpulkan, dst.

3 - 14

unit 3

Beberapa Prinsip dalam Menentukan Prosedur Asesmen a. Sasaran pembelajaran yang akan dinilai asesmen harus jelas. b. Teknik-teknik asesmen yang Anda pilih harus benar-benar sesuai dengan masing-masing sasaran pembelajaran. c. Teknik-teknik asesmen yang dipilih harus benar-benar memenuhi kebutuhan pembelajar. d.Jika memungkinkan, untuk masing-masing sasaran pembelajaran harus digunakan berbagai indikator prestasi pembelajar. e. Ketika Anda menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap hasil asesmen, Anda harus mempertimbangkan kelemahan-kelemahannya.

Tes Formatif
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Siapakah yang mengembangkan indikator pencapaian hasil belajar? Bagaimanakah caranya? 2. Ada lima aspek yang menjadi fokus asesmen pembelajaran di Sekolah Dasar. Sebutkan! 3. Benarkah ketika kita menginterpretasi atau melakukan penafsiran terhadap hasil asesmen kita juga harus mempertimbangkan kelemahan-kelemahannya? Jelaskan jawaban Anda!

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Jawablah pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda belum merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena kesepahaman tentang pengertian ini akan mendasari dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini.

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 15

Subunit 2 Teknik Tes dan Non Tes
Pengantar
erbicara tentang instrumen yang digunakan untuk melakukan asesmen atau evaluasi terhadap proses dan hasil belajar, secara umum ada dua macam yaitu tes dan non tes. Terkadang, orang-orang juga menggunakan istilah teknik, sehingga ada teknik tes dan teknik non tes. Dengan teknik tes, asesmen dilakukan dengan menguji peserta didik. Sementara dengan menggunakan teknik non tes asesmen dilakukan tanpa menguji peserta didik.

B

1. Teknik Tes Jenis-jenis Tes
Berbicara mengenai tes yang dapat dipergunakan di sekolah tentunya Anda semua mempunyai segudang pengalaman. Untuk menyegarkan kembali ingatan Anda, sebaiknya cobalah pertanyaan berikut. LATIHAN 3.3: 1. Jenis-jenis tes apakah yang pernah Anda kenal ketika Anda duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan? 2. Apa yang mendasari lahirnya berbagai jenis tes? Anda pasti setuju bahwa sesungguhnya ada banyak jenis tes baik yang dipergunakan di Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan maupun di Perguruan Tinggi. Ada beberapa jenis tes yang bisa dipergunakan untuk ketiga jenjang tersebut, namun ada juga beberapa jenis tes yang hanya dapat dipergunakan untuk jenjang tertentu. Oemar Hamalik (1989) menyebutkan beberapa jenis tes yang bisa digunakan di Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan, dan Perguruan Tinggi.

Tes yang digunakan di Sekolah Dasar a. Tes Membaca
Di Sekolah Dasar, tes membaca memperoleh tempat yang paling utama karena kecakapan membaca (reading skill) mempunyai peran kunci untuk

3 - 16

unit 3

memperoleh segala macam pengetahuan. Meskipun alat dan sumber belajar yang dapat digunakan peserta didik semakin beraneka ragam (seperti televisi, radio, situs bersejarah, dan sebagainya), namun buku dan berbagai macam sumber bacaan lainnya tetap menempati prioritas tertinggi di dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan. Kenyataan menunjukkan bahwa kecakapan membaca yang semakin baik untuk memahami berbagai sumber bacaan semakin diperlukan ketika seseorang menempuh pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Hal inilah yang mendasari pentingnya sedini mungkin mengidentifikasi kemampuan membaca peserta didik.

b. Tes Bakat Akademik Kelompok
Tes jenis ini digunakan untuk membantu menafsirkan hasil tes membaca dan aspek prestasi akademik lainnya. Sesuai dengan namanya tes ini dipersiapkan secara kelompok.

c. Batrai Tes Keterampilan Dasar
Agar memberikan hasil yang optimal, tes jenis ini sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan tes bakat akademik. Sebaiknya tes ini dilakukan setiap tahun. Namun demikian, jika dengan pertimbangan tertentu hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun, maka sebaiknya diberikan kepada peserta didik yang duduk di kelas tiga atau kelas empat, sehingga hasil dari tes tersebut bisa dijadikan dasar untuk merencanakan program pengajaran individual yang memerlukan pengajaran remedial.

d. Tes Kesiapan Membaca
Anda yang sedang mengajar di Sekolah Dasar kelas satu biasanya memerlukan panduan terutama ketika hendak membentuk kelompok belajar membaca dan menilai kemajuan siswa. Nah, tes kesiapan membaca ini merupakan bagian dari panduan tersebut.

e. Tes Intelegensi Individual
Upaya untuk mengetahui kecakapan intelektual secara umum seringkali dilakukan dengan melakukan tes kelompok. Namun demikian, tidak jarang hasil tes kecakapan intelektual yang dilakukan secara individual juga diperlukan, terutama jika ada peserta didik yang mengalami permasalahan terkait dengan kesulitan belajar atau hal-hal psikologis. Karena kesulitan dan permasalahan

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 17

yang dihadapi peserta didik sifatnya sangat pribadi, maka tes intelegensi individual menjadi sebuah pilihan yang tepat.

f. Tes Hasil Belajar dalam Mata Pelajaran
Kebanyakan dari tes jenis ini dibuat oleh guru sesuai dengan kurikulum sekolah, sehingga tes ini mendapat tempat yang pertama di antara berbagai jenis tes yang ada dan digunakan di sekolah-sekolah. Namun demikian, tes prestasi ini masih memiliki sejumlah keterbatasan khususnya terkait dengan kegunaannya untuk membantu guru membuat keputusan instruksional dalam menilai kurikulum sekolah. Oleh karena itulah penggunaan tes-tes lainnya sangat dianjurkan untuk melengkapi penggunaan tes hasil belajar ini.

g. Jenis Pengukuran lainnya
Tes diagnostik dan tes klistis adalah dua jenis alat pengukuran lain yang digunakan sebagai pelengkap. Dua jenis tes ini terutama digunakan untuk mempelajari peserta didik secara individual. Sebenarnya masih ada jenis tes lain yang kadang-kadang juga digunakan di sekolah, yakni tes kepribadian. Namun demikian, tes ini kurang memperoleh perhatian karena validitas informasi yang diperolehnya bersifat semu dan guru mengalami kesulitan dalam mengajukan pertanyaan inventori.

Tes untuk Sekolah Lanjutan
Di sekolah Lanjutan, ada sejumlah tes yang digunakan untuk membantu para peserta didik membuat berbagai macam keputusan terkait dengan pemilihan jurusan, program studi yang akan ditempuh, dan perencanaan studi. Tes-tes tersebut adalah tes bakat skolastik, tes membaca, tes bakat khusus, tes hasil belajar, pengukuran minat, tes prognostik, dan inventori kepribadian dan penyesuaian diri. Tes bakat skolastik diberikan untuk mendapatkan deskripsi menyeluruh mengenai kemampuan individu peserta didik, baik secara verbal maupun non verbal. Dari hasil yang diperoleh dari tes ini, guru dapat memutuskan kurikulum mana yang akan ditempuh oleh individu peserta didik. Tes prognostik digunakan untuk memprediksi seberapa jauh seorang peserta didik bisa berhasil di dalam studinya. Namun demikian tes ini jarang dipergunakan karena beberapa pertimbangan, antara lain sulitnya memastikan keberhasilan seseorang dan ada banyak data yang bisa digunakan untuk menentukan kesuksesan seseorang.
3 - 18
unit 3

Inventori kepribadian dan penyesuaian diri digunakan untuk kepentingan bimbingan dan penyuluhan individu siswa tertentu. Oleh karena itulah tes ini hanya.

2. Teknik Non Tes
Saudara, sebelum kita mengkaji bahasan mengenai teknik non tes lebih jauh, sebaiknya Anda menjawab pertanyaan berikut. LATIHAN 3.4: Berdasarkan pengamatan dan pengalaman Anda, adakah kegiatan asesmen pembelajaran yang dilakukan tanpa bermaksud “menguji” peserta didik?

Apapun jawaban Anda, marilah kita bersama-sama mengkaji beberapa teknik non tes yang ada. Dengan teknik non tes, asesmen atau evaluasi proses dan hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dengan melakukan observasi atau pengamatan, melakukan wawancara, menyebar angket, dan lain-lain.

a. Pengamatan atau Observasi
Ciri-ciri: - Dilakukan untuk mengkaji perilaku kelas, interaksi antara siswa dan guru, dan faktor-faktor yang dapat diamati (observable) lainnya, terutama keterampilan/kecakapan sosial (social skills). - Hasilnya biasanya berupa jumlah dan sifat dari masalah perilaku di kelas, yang sering disajikan dalam bentuk grafik. Tentunya Anda setuju bahwa bagaimanapun juga informasi yang kita peroleh mengenai proses belajar siswa tidak sempurna. Ada keterbatasan dari informasi yang diberikan siswa melalui tes, komposisi, proyek, maupun Portofolio yang dikerjakan siswa. Memang, jawaban yang diberikan siswa pada suatu tes maupun tugas-tugas lainnya dapat memberikan informasi kepada Anda sebagai guru apakah jawaban yang dibuat siswa benar atau tidak. Namun demikian, jawaban siswa tersebut tidak memberi informasi apa-apa mengenai sikap, bagaimana mereka melakukan penalaran, seperti apakah komitmen mereka terhadap keberhasilan teman sekelasnya atau sejauh mana mereka dapat bekerja secara efektif dengan teman-temannya. Oleh karena

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 19

itulah mengamati para siswa ketika mereka sedang beraktivitas atau menjawab soal-soal yang Anda berikan merupakan salah satu prosedur yang sangat penting. Jika Anda sebagai guru ingin menggunakan observasi sebagai alat asesmen, maka Anda harus benar-benar memahami tentang: - dasar-dasar observasi. - bagaimana mempersiapkan observasi. - bagaimana melakukan observasi. - bagaimana merangkum data sehingga bisa digunakan oleh para siswa dan para stakeholder lain. Yang termasuk di dalam kegiatan mempersiapkan observasi adalah: - menentukan kegiatan atau tindakan (actions) apa yang akan diobservasi. - menentukan siapa yang akan mengobservasi. - menentukan rencana sampling. - menyusun lembar observasi. - melatih pihak-pihak yang akan melakukan observasi atau observer dalam menggunakan lembar observasi. Observasi bisa dilakukan secara formal ataupun informal, terstruktur (structured) maupun tidak terstruktur (unstructured). Ketika meringkas hasil, Anda bisa menampilkan data dalam bentuk bar atau run charts. Kemudian umpan balik diberikan kepada para siswa atau pihak-pihak yang berkepentingan. Diharapkan pihak penerima umpan balik tersebut melakukan refleksi dan memberikan ide-ide untuk perbaikan. Salah satu tujuan utama dari sejumlah prosedur observasi adalah menilai penggunaan kecakapan sosial (social skills) yang memiliki beberapa langkah sebagai berikut: Pertama, Anda perlu mereviu asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran social skills yang hendak Anda ajarkan. Untuk itu Anda pun harus memahami social skills apa yang hendak diajarkan dan bagaimana pula mengajarkannya. Yang jelas social skills tersebut haruslah spesifik dan dimulai dari hal-hal yang kecil dan menekankan overlearning atau belajar tentang banyak hal.

3 - 20

unit 3

Kedua, Anda perlu mengajarkan setiap social skill kepada para siswa. Tunjukkan pentingnya keterampilan yang akan mereka pelajari dan perlunya memiliki keterampilan tersebut. Ciptakan situasi praktik di mana para siswa dapat menggunakan keterampilan itu. Jangan lupa memberi umpan balik (feedback). Ketiga, Anda perlu menstrukturkan situasi cooperative learning sehingga para siswa dapat menggunakan social skills dan Anda pun dapat mengobservasi saat mereka tengah menggunakannya. Keempat, Anda dapat ikut terlibat di dalam kelompok-kelompok cooperative learning groups untuk memastikan bahwa para anggota kelompok memang menggunakan social skills dengan tepat dan Anda pun dapat memberi penguatan kepada mereka untuk melakukannya. Kelima, Anda perlu memfasilitasi siswa untuk melakukan diagnosa terhadap dirinya sendiri (self-diagnosis) terkait dengan tingkat penguasaan (mastery) mereka terhadap social skills yang hendak dicapai. Untuk itu para siswa bisa diminta untuk mengisi checklist atau angket. Keenam, Anda bisa menugasi para siswa untuk meningkatkan kompetensi sosial mereka dengan meminta mereka membuat tujuan kegiatan peningkatan. Ketujuh, Anda melakukan asesmen terhadap pengetahuan siswa mengenai social skills. Akhirnya, Anda dapat melaporkan tingkat social skills siswa kepada para stakeholders yang berkepentingan seperti siswa, orang tua, dan atasan Anda. Sebagaimana telah banyak dibahas di bagian lain buku ini, asesmen bisa dilakukan terhadap proses maupun hasil belajar. Namun demikian, asesmen terhadap proses kurang begitu dipahami oleh sebagian dari mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Oleh karena unit ini memberi perhatian yang lebih besar mengenai prosedur asesmen proses belajar.

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 21

Sebenarnya observasi merupakan proses yang alami karena kita semua sering melakukannya baik secara sadar maupun tidak sadar di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam kelas, guru seringkali harus melihat, mengamati dan melakukan interpretasi. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun kita melakukan asesmen terhadap orang lain. Pentingnya kegiatan observasi di dalam kegiatan asesmen membuat guru harus belajar mempertanyakan judgement atau penilaian kita, bertindak secara reflektif dan menggunakan komentar orang lain sebagai informasi untuk membantu kita membuat judgement yang lebih reliabel, jadi bukan menggunakan komentar orang lain sebagai kritik yang sifatnya personal. Dalam kehidupan sehari-hari judgement yang kita buat tidak selalu akurat terutama jika informasi atau bukti yang kita miliki tidak cukup. Namun sebagai guru yang profesional Anda harus mempunyai cukup informasi sebagai dasar bagi Anda untuk membuat judgement. Oleh karena itu para guru harus terus mengembangkan praktik membuat judgement dalam kegiatan di kelas seharihari sehingga judgement yang dibuat bisa seabsah mungkin (Dean, 1990).

Observasi Haruslah Bertujuan
Observasi yang dilakukan guru di dalam kelas tidak cukup dengan hanya duduk dan mengamati. Observasi adalah mengamati dengan suatu tujuan, dengan menggunakan berbagai teknik untuk merekam atau memberi kode pada apa yang diamati. Kemampuan untuk mengamati tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus hal yang sederhana, dengan melakukan observasi terhadap seorang anak, sebuah perilaku khusus, dan sebagainya sehingga bisa mengembangkan cara yang lebih baik dan kompleks dalam mengidentifikasi dan merekam perilaku guru dan siswa. Peran sebagai pengamat harus ada pada diri setiap guru sehingga para guru pun harus mempunyai kecakapan untuk melakukannya. Sejumlah strategi di dalam observasi dapat digambarkan sebagai sebuah kontinum mulai dari situasi yang terbuka dan tidak terstruktur di mana tidak ada tujuan yang jelas hingga prosedur observasi yang sistematis dan sangat terstruktur berdasarkan kriteria yang jelas dan khusus.

3 - 22

unit 3

Jenis-jenis Observasi • Focused Observation (Observasi Terfokus)
Dalam hal ini tidak ada kategori-kategori yang harus diikuti. Misalnya saja mengamati seorang anak secara individu, atau interaksi anak di dalam kelompok terutama kegiatan 'on-task'. Menentukan Fokus Observasi Mungkin sebuah pertanyaan muncul di benak Anda. Apa yang harus diobservasi? Memang banyak sekali kejadian di dalam kelas yang membuat guru harus benar-benar selektif terkait dengan apa yang harus dicatat. Pada dasarnya observasi dalam hal ini bisa dikelompokkan menjadi dua: observasi yang terencana atau yang spontan. Observasi yang terencana harus difokuskan pada aspek pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Apa aspek yang akan dijadikan fokus, Anda sebagai guru bisa bertanya pada diri sendiri. Apa yang ingin saya ketahui tentang proses belajar siswa? Apa saja yang ingin diketahui para stakeholder? Kurikulum bisa dijadikan dasar untuk memilih sejumlah kata kunci yang dapat dijadikan fokus observasi. Untuk pengajaran bahasa, misalnya, salah satu tujuan pembelajaran adalah siswa bisa membaca secara mandiri dengan memilih beberapa strategi dan proses yang tepat. Dalam hal ini guru menggunakan mandiri sebagai kata kunci yang menjadi fokus observasinya.

Systematic Observation (Observasi Sistematik)

Sebelum proses observasi, sejumlah kategori telah diidentifikasi dan difokuskan pada perilaku tertentu. Mengumpulkan informasi atau data dengan melakukan observasi kelas bukanlah pekerjaan mudah. Apa yang terjadi di kelas sangatlah dinamis karena ada banyak siswa dengan berbagai kegiatannya, sehingga selain merekam apa yang terjadi di kelas, Anda sebagai guru juga mempunyai banyak tanggung jawab yang harus dilakukan. Oleh karena itulah ada dua hal yang harus diperhatikan dalam proses yaitu: Bagaimana cara melakukan observasi yang efisien? Faktor-faktor apa yang harus dijadikan fokus di dalam evaluasi?

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 23

• Open Observation (Observasi Terbuka dan Tidak Spesifik)
Banyak dari upaya untuk melakukan observasi di kelas termasuk dalam jenis ini. Observasi ini memberi kesempatan untuk melihat dan mengamati apa yang sedang terjadi. Contoh observasi terbuka adalah manakala seorang guru mengamati bagaimana anak-anak berpindah-pindah mengelilingi ruangan, bagaimana mereka menggunakan berbagai fasilitas yang ada, apa yang menyebabkan kesulitan bagi mereka dan mengganggu kelancaran belajar mereka. Kemudian guru tersebut membuat sebuah diagram skala dari ruang beserta perabotannya, dan bersama anak-anak membuat model penataan alternatif atau layout yang memungkinkan, sambil mencoba beberapa kemungkinan. Selanjutnya guru memusatkan perhatiannya pada beberapa efek dari sejumlah perubahan yang dilakukannya, termasuk keberhasilan dia melibatkan anak-anak dalam observasi tersebut. Ternyata hal tersebut memberi mereka banyak informasi. Dalam kesempatan ini kita akan mempelajari beberapa prosedur mengumpulkan bukti (evidence) dalam proses asesmen yang dapat digunakan untuk menentukan sejauh mana siswa dapat memperoleh nilai (value) dari proses pendidikan yang mereka terima. Masing-masing prosedur sifatnya eksploratif dan harus dimodifikasi agar sesuai dengan konteks.

Merekam Anekdot
Observasi kelas merupakan sumber informasi yang penting di dalam evaluasi. Agar mudah mengamati dan mencatat apa yang terjadi di dalam kelas guru bisa menggunakan selembar kertas yang cukup lebar dan selanjutnya menuliskan namanama siwa yang diletakkan dalam kotak-kotak yang telah dibuat sebelumnya. Lembar observasi seperti itu memiliki sejumlah kelebihan, antara lain membantu guru untuk mengetahui apakah yang terjadi di kelas untuk masing-masing siswa sudah tercatat dengan baik. Dengan demikian kotak yang berisi nama-nama siswa bisa terus diisi dengan catatan baru dan guru pun bisa membagi perhatiannya pada kotak-kotak yang belum terisi secara optimal yang berarti ada aspek-aspek dari kegiatan siswa tertentu yang belum tercatat. Selain itu, ruangan tempat mencatat yang terbatas harus menjadi pertimbangan sehingga catatan yang sifatnya ringkas dan teratur lebih diutamakan.

3 - 24

unit 3

b. Interviews (interviu)
Ciri-ciri: Dipergunakan untuk mengumpulkan informasi yang tidak mudah diakses dengan cara lain.

Melakukan asesmen dengan cara melakukan interviu tidak bisa lepas dari proses mengobservasi siswa yang sedang melakukan proses pembelajaran (in action). Bahkan keduanya terkait erat. Seperti halnya mengobservasi, dengan menginterviu siswa Anda dapat mengungkap apa yang tidak tampak. Oleh karena itu pertanyaan yang diajukan sebaiknya semakin lama semakin mendetil terkait dengan proses dan strategi penalaran yang digunakan. Memang kelebihan interviu adalah sifatnya yang personal dan fleksibel sehingga sangat memungkinkan Anda sebagai guru membangun hubungan yang positif, saling percaya, dan saling mendukung dengan setiap siswa tanpa terikat dengan waktu. Artinya, Anda dapat mengajukan sejumlah pertanyaan baik kepada seorang siswa ataupun sejumlah siswa sebelum, selama, dan setelah pelajaran baik untuk tujuan asesmen maupun untuk tujuan pembelajaran. Beberapa pedoman dan langkah ketika Anda ingin melakukan interview kepada siswa adalah sebagai berikut. - Rencanakan pertanyaan, baik dari sisi kata-kata yang dipilih maupun cara bertanya, sehingga hubungan Anda sebagai guru dengan peserta didik menjadi lebih baik. - Atur pertanyaan Anda sedemikian rupa sehingga tidak membuat siswa bersikap defensif dan Anda pun bisa memperoleh banyak informasi yang bermanfaat sesuai dengan tujuan dilakukannya interviu. - Mulailah interviu dengan pertanyaan yang sederhana dan santai. Simpan pertanyaan yang lebih kompleks dan bersifat ‘menyerang’ di akhir interviu. - Mulailah dari pertanyaan yang umum menuju pertanyaan yang khusus. - Buatlah isyarat non verbal yang sangat berguna untuk memancing siswa agar bersedia memberikan jawaban lengkap/tuntas. - Bersikaplah tenang. Siswa membutuhkan pendengar yang baik. - Berilah cukup waktu kepada siswa untuk merumuskan apa yang dipikirkannya dan apa yang akan dikatakannya.

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 25

c. Angket
Ciri-ciri: - Dipergunakan untuk mengumpulkan informasi yang tidak mudah diakses dengan cara lain. - Hasilnya berupa data deskriptif. - Biasanya berupa angket sikap (Attitude Questionnaires). Seluruh proses pembelajaran memiliki komponen afektif yang sangat penting perannya bagi anak. Mendapat nilai 100 untuk pelajaran tertentu bagi anak misalnya, tidak begitu bermakna bila dia membenci pelajaran tersebut atau bahkan tidak ingin lagi mempelajarinya. Oleh karena itu berbagai sikap anak perlu diketahui karena keberadaannya sangat menentukan di dalam proses pembelajaran. Beberapa langkah yang perlu Anda lakukan ketika melakukan asesmen terhadap sikap siswa adalah: - memutuskan sikap-sikap yang hendak diukur atau dinilai. - menyusun angket atau kuesioner. - memilih ukuran standar (standardized measure) yang sesuai. - memberikan angket kepada siswa untuk diisi mendekati awal atau akhir dari tiap-tiap unit pembelajaran, atau bisa juga di sekitar awal atau akhir semester/tahun. - menganalisis dan mengelola data untuk umpan balik bagi para stakeholder yang berkepentingan. - memberikan umpan balik tepat waktu. - menggunakan hasil untuk membuat keputusan terkait dengan upaya memperbaiki program pembelajaran. Dalam menyusun angket Anda bisa menggunakan pertanyaan yang memerlukan jawaban terbuka (seperti mengisi bagian yang kosong atau jawaban bebas) atau jawaban tertutup (pilihan berganda, skala, dichotomous, ranking, dsb).

d. Work Sample Analysis (Analisa Sampel Kerja)
Ciri-ciri: - Digunakan untuk mengkaji respon yang benar dan tidak benar yang dibuat siswa dalam pekerjaannya. - Hasilnya berupa informasi mengenai kesalahan atau jawaban benar yang sering dibuat siswa berdasarkan jumlah, tipe, pola, dsb.

3 - 26

unit 3

e. Task Analysis (Analisis Tugas)
Ciri-ciri: - Dipergunakan untuk menentukan komponen utama dari suatu tugas dan menyusun skills dengan urutan yang sesuai. - Hasilnya berupa daftar komponen tugas dan daftar skills yang diperlukan.

f. Checklists dan Rating Scales
Ciri-ciri: - Dilakukan untuk mengumpulkan informasi dalam bentuk semi terstruktur, yang sulit dilakukan dengan teknik lain. - Data yang dihasilkan bisa kuantitatif ataupun kualitatif, tergantung format yang dipergunakan. Checklists Setidaknya ada dua manfaat yang bisa Anda peroleh dengan adanya checklists. Pertama checklist dapat membantu Anda untuk mengingat-ingat apa yang harus diamati. Kedua, Anda juga dapat menggunakan checklist untuk memberi informasi kepada para stakeholder lainnya mengenai jenis-jenis perilaku yang diamati. Oleh karena itulah, membuat atau merumuskan sebuah checklist sebenarnya membantu Anda menentukan secara tepat perilaku apa saja yang menunjukkan pembelajaran yang berhasil untuk konteks tertentu. Namun demikian, yang harus diwaspadai adalah kemungkinan perilaku penting justru belum tercakup di dalam checklist yang Anda buat, sehingga Anda tidak boleh terbatasi oleh apa yang sudah tertulis pada checklist tersebut. Rating Scales Rating scales memiliki sejumlah kelebihan dan kelemahan seperti yang ada pada checklists. Metode ini dapat membuat guru semakin mudah dalam mencatat frekuensi atau kualitas perilaku tertentu. Namun sisi lain yang harus diwaspadai adalah bahwa rating dengan menggunakan angka mau tidak mau mengharuskan Anda melakukan penjumlahan antar perilaku, yang menghasilkan “skor” observasi. Hal semacam itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak bijak karena hal tersebut mensyaratkan bahwa daftar butir-butir pada skala itu bersifat menyeluruh dan masing-masing perilaku itu mempunyai nilai yang setara. Namun yang perlu dicatat bahwa checklists dan rating scales sangat baik

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 27

digunakan untuk membuat penilaian kualitatif. Kedua cara pengumpulan tersebut bisa dikembangkan bersama dengan anak-anak yang akan kita nilai.

g. Portofolio
Ciri-ciri: - Siswa menjabarkan tugas atau karyanya. - Memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari dan dicapai siswa Siswa akan merasakan bahwa dirinya benar-benar memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman jika mereka dapat menjabarkan tugas atau karya mereka ke dalam sebuah portofolio yang merepresentasikan kualitas belajar mereka. Melalui portofolio para siswa dapat menunjukkan gambaran yang komprehensif mengenai prestasi, perkembangan atau kemajuan yang telah diraih, karena dari portofolio akan tampak “pekerjaan terbaik” siswa atau “proses” yang diterapkan di dalam belajar. Salah satu tugas penting Anda sebagai guru adalah membantu mereka membuat atau menyusun portofolio. Pentingnya bantuan pihak lain ketika menyusun portofolio membuat portofolio lebih tepat digunakan di dalam pembelajaran yang menerapkan pendekatan cooperative learning.

Bagaimana menggunakan portofolio siswa?
Portofolio siswa merepresentasikan kualitas belajar siswa selama masa penilaian. Kendati Anda sebagai guru bisa saja memberikan kuis, tes, pekerjaan rumah, dan proyek selama pembelajaran, portofolio siswa merepresentasikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai apa yang telah dipelajari dan dicapai oleh siswa. Peran Anda sebagai guru yang sangat penting yaitu: (a) sebelum pembelajaran, (b) selama pembelajaran atau pada saat penskoran, dan (c) segera setelah unit pembelajaran atau masa penskoran. Sejumlah langkah yang perlu dilakukan ketika menggunakan portofolio sebagai prosedur asesmen adalah sebagai berikut. Langkah pertama: mempersiapkan penggunaan portofolio, yakni dengan cara: 1. Memutuskan jenis portofolio yang akan dipergunakan. Portofolio bisa:
3 - 28
unit 3

• • •

dibuat oleh siswa secara individu. bisa dibuat oleh siswa secara individu dengan masukan dan bantuan dari kelompok cooperative learning. atau dibuat oleh siswa di dalam kelompok, sehingga hasilnya ada yang sifatnya individual atau sebagai anggota kelompok dan ada pula yang kelompok (cooperative base groups).

2. Mengidentifikasi maksud dan tujuan portofolio. Karena terdapat banyak macam portofolio, Anda sebagai guru harus memikirkan apakah portofolio itu nantinya diserahkan ke pihak guru dan sekolah, ataukah akan dijadikan pokok pembicaraan dalam diskusi/rapat antara guru dan administrator, atau untuk disimpan siswa? Atau, masih ada tujuan lain? 3. Menentukan kategori sampel kerja (skills, kompetensi, dan pengetahuan) seperti apakah yang harus didemonstrasikan siswa? Dan bagaimanakah bentuk tugasnya? 4. Meminta siswa untuk menyeleksi hal-hal yang akan dimasukkan ke dalam portofolio berdasarkan kriteria yang telah disepakati. 5. Menentukan bagaimana mengevaluasi portofolio, termasuk yang akan mengembangkan rubrik yang akan dipergunakan dalam melakukan asesmen dan evaluasi. Perlu disampaikan juga apakah siswa akan dilibatkan dalam hal ini. Langkah kedua: mengatur portofolio selama satu semester atau selama suatu pelajaran disajikan dengan cara-cara berikut. 1. Proses Portofolio Guru menjelaskan kepada siswa kategori dari sampel kerja (work sample) yang akan ditulis atau dimasukkan ke dalam portofolio. 2. Rubrik Guru atau pihak sekolah mengembangkan rubrik untuk menilai sampel kerja (work sample) yang dilakukan atau dikerjakan siswa.

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 29

3. Tugas Siswa menyelesaikan tugas. Mereka diberitahu bahwa sebagian atau seluruh dari tugas itu akan dimasukkan ke dalam portofolio akhir. Semua tugas bisa disimpan di dalam sebuah “portofolio kerja” selama masa penskoran. 4. Evaluasi Diri Siswa melakukan refleksi dan evaluasi terhadap kualitas dan kuantitas kerja dan kemajuan dikaitkan dengan tujuan belajarnya. Langkah ketiga: mengatur dan menjalankan proses portofolio pada akhir masa penskoran. 1. Anda sebagai guru menentukan jumlah dan jenis produk yang akan dimasukkan ke dalam portofolio akhir. 2. Siswa memutuskan apa saja yang akan dimasukkan ke dalam portofolio mereka. 3. Siswa menggambarkan kemajuan yang telah dilakukan dalam mencapai tujuan belajar selama masa penskoran. 4. Kelompok cooperative learning menggambarkan kemajuan yang telah dicapainya selama masa penskoran. 5. Guru melakukan evaluasi sumatif. Dalam kesempatan ini guru memberikan nilai atau skor. 6. Konferensi, yang bisa dilakukan oleh: - siswa dan guru, - siswa dan kelompok cooperative learning, - siswa (dan kelompok cooperative learning) dan orang tua (disertai guru), - siswa dan pengunjung/tamu pada pameran portofolio.

h. Komposisi dan Presentasi
Ciri-ciri: - siswa menulis dan menyajikan karyanya. - sering dipakai dengan cooperative learning. Setiap orang yang terdidik harus mampu mempresentasikan apa yang mereka tahu baik secara tertulis maupun secara lisan. Kedua hal tersebut merupakan kompetensi yang sulit, dan para siswa perlu menulis dan melakukan presentasi setiap hari agar menjadi penulis dan penyaji yang cakap. Hal ini tentu saja

3 - 30

unit 3

menimbulkan permasalahan tersendiri di dalam proses asesmen terutama di sisi guru, karena Anda harus membaca komposisi satu per satu, selain juga mendengarkan semua presentasi satu demi satu disertai dengan memberikan umpan balik (feedback) yang bermanfaat bagi mereka. Untuk itulah penggunaan kelompok cooperative learning untuk melakukan asesmen performa anggota kelompok tersebut dapat mencapai empat tujuan sekaligus pada kesempatan yang sama. Kelompok cooperative learning memungkinkan para siswa sering terlibat di dalam unjuk kerja, menerima umpan balik secara langsung dan mendetil atas segala upaya yang dilakukan, mengamati dari dekat penampilan teman-temannya untuk mengetahui apa yang baik dan apa yang masih kurang. Langkah-langkah ketika menerapkan komposisi adalah: - Siswa diminta berpasangan atau mencari partner. - Mendiskusikan dan membuat kerangka komposisi yang dibuat di dalam kelompoknya. - Mencari topik. - Menulis paragraf pertama bersama-samak - Menulis paragraf-paragraf berikutnya sendiri. - Saling menyunting komposisi yang ditulis pasangannya. - Menulis kembali komposisi sendiri. - Saling menyunting kembali. - Melanjutkan sendiri. - Saling membubuhkan tanda tangan di lembar komposisi partner untuk menandai bahwa tugas komposisi telah siap untuk diserahkan. Langkah-langkah untuk presentasi sama seperti langkah-langkah yang dilakukan untuk model komposisi.

i. Proyek Individu dan Kelompok
Ciri-ciri: - mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan (skill). - sering digunakan dengan cooperative learning. - bisa untuk individu maupun kelompok. Salah satu aspek standar pada setiap bidang studi adalah membuat para siswa kreatif dan memiliki daya cipta dalam mengintegrasikan berbagai pengetahuan (knowledge) dan kecakapan (skills). Hal ini menjadi sangat

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 31

penting manakala Anda sebagai guru ingin menilai multiple intelligences siswa dan kemampuan mereka melakukan berbagai prosedur yang kompleks di dalam proses pembelajaran. Proyek memang memungkinkan siswa untuk menggunakan beraneka macam cara belajar. Dengan diterapkannya cooperative learning melalui kelompok-kelompok menjadikan proyek benar-benar lebih kompleks dibandingkan jika siswa melakukan kegiatan belajar sendiri. Secara umum proyek mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1. Tentukan berbagai jenis proyek untuk periode satu tahun. Buat struktur untuk proyek-proyek itu sehingga peserta didik: • • • mempunyai beberapa pilihan fokus atau topik. dapat menggunakan berbagai macam intelejensi (linguistik, interpersonal, intrapersonal, dsb.) di dalam menyelesaikannya. harus menggunakan keterampilan melakukan penalaran tingkat tinggi seperti induksi dan pemecahan masalah.

2.

3.

4.

5. 6. 7. 8.

• bisa kreatif dan divergen di dalam menghadapi tugas. Untuk masing-masing proyek, buat jadwal kapan proyek dimulai, kapan masing-masing bagian dari proyek harus diselesaikan, kapan draft awal dikumpulkan agar bisa disunting oleh teman-temannya, bagaimana reaksi awal dari guru, dan kapan produk akhir diharapkan selesai. Tunjukkan kepada para peserta didik beberapa sampel atau model proyek yang sudah selesai, mulai dari yang tergolong sangat bagus, kurang bagus agar mereka mempunyai bayangan terhadap tugas yang akan dilakukannya. Upayakan siswa dapat mengembangkan kriteria untuk menilai kualitas sejumlah proyek yang sudah selesai, bisa dari sisi penampilan, temuan atau informasi. Upayakan siswa belajar bagaimana menggunakan rubrik yang telah Anda berikan sebelumnya. Upayakan siswa dapat menyelesaikan proyek dengan bantuan pihak sekolah (guru, tenaga administrasi, dll). Upayakan siswa agar menyajikan proyek yang telah selesai. Siswa menyerahkan proyek mereka masing-masing untuk dinilai.

3 - 32

unit 3

Sejumlah langkah di atas diperuntukkan untuk proyek individu. Sedangkan untuk proyek kelompok ada sedikit penambahan langkah. Disamping melakukan langkah-langkah di atas, prosedur proyek kelompok juga mencakup: 1. Para siswa diberi tugas sebuah proyek awal dan ditempatkan dalam kelompok-kelompok cooperative learning untuk menyelesaikannya. 2. Kelompok mengerjakan dan menyelesaikan proyek. Pastikan seluruh anggota kelompok memberikan kontribusinya, membuat kesepakatan, dan dapat menjelaskan hasilnya. Anda sebagai guru secara sistematis mengamati masing-masing kelompok dan memberikan umpan balik serta arahan. 3. Kelompok menyerahkan laporan kepada guru; masing-masing menyajikan hasilnya kepada teman-teman di luar kelompoknya. Dalam kesempatan ini, masing-masing anggota bisa dites terkait dengan content proyek. 4. Tugas yang telah diberikan itu bisa Anda kembangkan lagi dengan menyajikan prosedur, konsep, atau teori yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Siswa bisa diminta untuk menerapkan apa yang baru saja dipelajarinya ke dalam sebuah proyek yang lebih kompleks. Langkah-langkah di atas tentunya bersifat umum, bisa dimodifikasi, yaitu disederhanakan atau sebaliknya dibuat lebih kompleks tergantung berbagai faktor seperti karakteristik bidang studi, kemampuan siswa, waktu yang tersedia, karakteristik siswa, dan sebagainya.

Rangkuman
Di Sekolah Dasar, tes membaca memperoleh tempat yang paling utama karena kecakapan membaca (reading skills) mempunyai peran kunci untuk memperoleh segala macam pengetahuan. Meskipun alat dan sumber belajar yang dapat digunakan peserta didik semakin beraneka ragam (seperti televisi, radio, situs bersejarah, dan sebagainya), namun buku dan berbagai macam sumber bacaan lainnya tetap menempati prioritas tertinggi di dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan. Jenis tes lain yang banyak digunakan di SD adalah tes bakat akademik, tes keterampilan dasar, tes kesiapan membaca, tes intelegensi individual, tes hasil belajar dalam mata pelajaran, dan sebagainya

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 33

Tes Formatif 2
Berikan tanda silang pada Huruf B, jika pernyataan berikut benar, atau pada Huruf S, jika pernyataan itu salah. 1) 2) 3) 4) B – S Suatu format asesmen cenderung memberi penekanan hanya pada satu aspek dari sasaran pembelajaran yang kompleks. B – S Portofolio tidak cocok diterapkan untuk asesmen kegiatan pembelajaran yang menerapkan pendekatan cooperative learning. B – S Rating scales menyulitkan guru dalam mencatat frekuensi atau kualitas perilaku tertentu dari peserta didik. B – S Menentukan hasil belajar (learning outcomes) yang dapat diukur adalah langkah terakhir dalam melakukan asesmen.

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang Anda anggap betul. 5) Peran guru sangat penting pada saat portofolio digunakan untuk asesmen, terutama ... A. sebelum pembelajaran. B. selama pembelajaran atau pada saat penskoran. C. segera setelah unit pembelajaran atau masa penskoran. D. jawaban A, B, dan C benar. 6) Yang tidak termasuk kegiatan mempersiapkan observasi adalah ... A. mewawancarai siswa yang hendak kita observasi. B. menentukan kegiatan atau tindakan yang akan diobservasi. C. menentukan siapa yang akan mengobservasi. D. menentukan rencana sampling. 7) Di antara pernyataan-pernyataan berikut yang tidak sesuai dengan proyek adalah … A. pengetahuan dan keterampilan peserta didik dapat diintegrasikan. B. bisa digunakan dengan cooperative learning. C. kurang dapat membangkitkan kreativitas dan daya cipta peserta didik. D. bisa digunakan untuk individu maupun kelompok. 8) Kegiatan asesmen untuk siswa SD sebagian besar dilakukan dengan cara …

A. Melakukan tanya jawab secara langsung dengan anak B. Memberikan tes, baik sifatnya informal maupun yang formal C. Mengamati kegiatan memecahkan masalah yang dilakukan siswa
D. Jawaban A, B, dan C benar.
3 - 34
unit 3

Kunci Jawaban
Kunci Jawaban Formatif 1
1. Yang mengembangkan indikator pencapaian hasil belajar adalah guru. Caranya, dengan cara mengembangkan setiap kompetensi dasar menjadi dua atau lebih indikator pencapaian hasil belajar. Fokus asesmen yang dilakukan di sekolah dasar adalah: • • • • pemerolehan beraneka macam pengetahuan, konsep, dan prinsip. kemampuan mengaplikasikan konsep dan prinsip ke dalam situasi baru. kemampuan berkomunikasi. kemampuan memecahkan masalah.

2.

• pengembangan sikap. 3. Benar. Pertama, hal tersebut disebabkan informasi yang kita peroleh hanyalah sebagian saja dari apa yang telah dicapai oleh pembelajar dari sasaran pembelajaran secara keseluruhan, diakibatkan oleh sampling error. Kedua, sejumlah faktor seperti kondisi fisik dan emosi siswa juga membatasi tingkat akurasi informasi yang kita peroleh.

Kunci Jawaban Formatif 2
1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) B S S S D A C D

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 35

Daftar Pustaka
Anthony, R.J., T.D. Johnson, N.I. Mickelson, A. Preece. (1991). Evaluating Literacy A Perspective Change. Heinemann: Portsmouth. Conner, Colin. (1991). Assessment and Testing in the Primary School. Hampshire: The Falmer Press. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta: BSN. Johnson, David W. (2002). Meaningful Assessment A Manageable and Cooperative Process. Boston: Allyn and Bacon. Nitko, A.J. and S.M. Brookhart. (2007). Educational Assessment of Students. Fifth Edition. New Jersey: Pearson.

3 - 36

unit 3

Glosarium
Action theory Anekdot Checklist : teori mengenai tindakan apa yang diperlukan untuk mencapai kondisi yang diinginkan pada situasi tertentu. : cerita singkat tentang sesuatu yang telah terjadi atau dialami seseorang. : serangkaian kriteria, yang masing-masing bisa dikatakan tercapai atau tidak tercapai melalui respon yang dilakukan oleh siswa terhadap tugas asesmen. : sekelompok siswa yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengoptimalkan prestasi masingmasing anggota kelompok dan prestasi kelompok secara keseluruhan. : fakta yang berupa proses maupun hasil yang menjadi obyek di dalam proses asesmen : pertemuan skala kecil untuk membahas hal tertentu yang sifatnya pribadi sehingga sangat mengutamakan privacy sejumlah pihak yang terlibat di dalamnya. : prosedur self-report (laporan diri) di mana siswa membuat catatan-catatan personal dan bersifat naratif terkait dengan aspek-aspek materi atau bidang studi yang dipelajarinya yang memiliki nilai dan relevansi khusus bagi dirinya. Catatancatatan itu bisa hasil dari pengamatan, perasaan, dan pendapat pribadi dalam merespon apa yang dibaca, dilihat, dan dialaminya. : prosedur self-report (laporan diri) di mana siswa membuat catatan-catatan singkat terkait dengan materi yang dipelajarinya. : tes yang diperuntukkan untuk menguji kinerja siswa, dibandingkan dengan kinerja siswa-siwa lainnya. : rubrik yang dipergunakan untuk melakukan penskoran yang membantu guru menilai sejauh mana siswa telah mencapai dimensi prestasi dari tugas kinerja (performance) yang diberikan : kartu laporan hasil asesmen.

Cooperative learning

Evidence Konferensi

Learning journal

Learning Log

Norm-referenced test Rating scale

Report card

Asesmen pembelajaran di SD

3 - 37

Rubrik Social skills Stakeholders

: indikator-indikator dari suatu kriteria dengan tingkatan yang berbeda-beda untuk menilai kinerja. : keterampilan interpersonal yang diperlukan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain. : orang-orang atau sekelompok orang yang berkepentingan dengan hasil asesmen, biasanya karena mereka akan terpengaruh oleh adanya keputusan yang dibuat berdasarkan hasil asesmen. Biasanya mereka memiliki keterlibatan atau investasi di dalam suatu organisasi.

3 - 38

unit 3

Unit

4

MENGEMBANGKAN TES SEBAGAI INSTRUMEN EVALUASI
Endang Poerwanti Masduki PENDAHULUAN

s

audara, Anda seharusnya sudah tahu bahwa pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetansi mengharuskan semua guru sebagai pendidik untuk pengembangan silabus dan merubah pula sistem penilaian yang digunakan dengan menerapkan sistem penilaian berbasis kompetensi. Sistem penilaian berbasis kompetensi lebih mengarah pada penilaian kelas, yaitu penilaian yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Penilaian ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan kognitif tetapi juga mencakup ranah psikomotor, dan afektif. Anda pasti juga masih ingat bahwa silabus merupakan acuan untuk merencanakan dan melaksanakan program pembelajaran, sedang sistem penilaian berbasis kompetensi mencakup jenis tagihan, dan bentuk soal. Jenis tagihan adalah berbagai bentuk ulangan dan tugas-tugas, tagihan, seperti ulangan atau tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta didik. Bentuk soal terkait dengan jawaban yang harus dilakukan oleh peserta didik, seperti bentuk isian singkat, pilihan ganda, uraian, objektif, uraian non objektif, dan sebagainya. Untuk itu sebaiknya dirancang secara tertulis dan rapi sistem penilaian yang akan dilakukan selama satu semester. Rancangan penilaian bersifat terbuka bagi siswa, guru lain, dan kepala sekolah. Dalam merancang penilaian, pendidik dapat melakukannya dengan cara, yakni: (1) mencermati silabus dan sistem penilaian yang sudah ada, (2) menyusun sistem penilaian dengan KBK berdasarkan silabus dan sistem penilaian yang telah disusun, (3) menentukan bobot masing-masing jenis tagihan, dan (4) menyusun rancangan sistem penilaian dengan KBK. Rancangan penilaian ini diinformasikan kepada siswa pada awal pertemuan (awal semester). Dengan demikian sistem penilaian yang dilakukan guru semakin sempurna atau semakin memenuhi prinsip– prinsip penilaian. Dalam melakukan asesmen atau penilaian Anda dapat menggunakan berbagai jenis pendekatan dan instrumen untuk dapat memperoleh data yang akurat tentang kemajuan belajar peserta didik, secara garis besar teknik tersebut dibagi menjadi dua,
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-1

yaitu teknik tes dan nontes. Dalam penilaian klasik, teknik tes merupakan teknik yang paling banyak digunakan, namun dalam penilaian KBK kedua teknik harus digunakan sesuai dengan kebutuhan di kelas. Anda sebagai pendidiklah yang tahu persis kapan harus menggunakan teknik tes dan kapan pula harus menggunakan teknik nontes, sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator keberhasilan belajar peserta didik yang akan diukur, karena tes merupakan alat ukur untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa terhadap kompetensi yang dipersyaratkan. Dalam kaitan dengan pembelajaran, aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi. Pada Unit 4 ini Anda akan dapat mencermati bagaimana mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen, sedangkan di Unit 5 akan dapat Anda pelajari secara tuntas bagaimana mengembangkan asesmen nontes. Jadi, setelah mempelajari Unit 4 ini diharapkan Anda dapat: 1. memahami pengertian dan jenis tes; 2. langkah-langkah menyusun tes; 3. kriteria tes yang baik; 4. mengembangkan Tes sebagai instrumen asesmen. Anda akan dapat memahami unit ini secara optimal dengan cara membaca dengan cermat semua uraian yang ada, mendiskusikan dengan teman-teman berdasarkan pengalaman di kelas, mengerjakan tugas-tugas latihan serta mengerjakan tes yang ada pada setiap subunit dengan bersungguh-sungguh. Selamat belajar, kesuksesan akan menyertai orang yang bersungguh-sungguh, kita akan mencapai kesuksesan tersebut karena kita bersungguh-sungguh.

4-2

Unit 4

Subunit 1 Pengertian dan Jenis Tes Sebagai Instrumen Asesmen
Pengantar
audara, setelah kita mengetahui hakekat tes, yaitu sebagai alat ukur, perlu kiranya kita membahas jenis-jenis tes. Perlu kita bersama mengetahui bahwa para ahli dalam bidang tes tidak semuanya seragam dalam mengklasifikasikan tes. Heaton (1988), misalnya, membagi jenis tes menjadi 4 bagian utama, yaitu: (1) tes hasil belajar (achievement test), (2) tes penguasaan (proficiency test), (3) tes bakat (aptitude test), dan (4) tes diagnostik (diagnostic test). Sementara itu, Brown (2004) melengkapi satu lagi jenis tes terhadap penggolongan yang telah dilakukan oleh Heaton, yaitu tes penempatan (placement test). Nampaknya, penggolongan jenis tes tersebut hanya mengacu kepada satu kriteria saja yaitu tujuan penyelenggaraan tes. Saudara diajak untuk mencermati pembagian jenis-jenis tes. Pembagian yang ia tawarkan nampak lebih luas dan rinci dengan mengacu pada sejumlah criteria. Kriteria yang dapat digunakan untuk membedakan jenis tes meliputi: 1) tujuan penyelenggaraan, 2) tahapan/waktu penyelenggaraan, 3) cara mengerjakan, 4) cara menyusun, 5) bentuk jawaban, 6) cara penilaian, dan 7) acuan penilaian. Uraian tentang jenis tes berikut dilengkapi dengan uraian mengenai arti, cakupan,ciri-ciri serta contohnya

s

1. Pengertian Tes
Tes secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Dalam kaitan dengan pembelajaran aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi. Tes berasal dari bahasa Perancis yaitu “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material lain seperti pasir, batu, tanah, dan sebagainya. Kemudian diadopsi dalam psikologi dan pendidikan untuk menjelaskan sebuah instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan mengukur dan menemukan peserta Tes yang memenuhi kriteria tertentu. Cronbach (dalam Azwar, 2005) mendefinisikan tes sebagai “a systematic procedure for
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-3

observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or category system”. Menurut Ebster’s Collegiate (dalam Arikunto, 1995), tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensia, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dari dua definisi tersebut dan uraian lebih jauh tentang itu dapat ditarik pengertian bahwa: (1) tes adalah prosedur pengukuran yang sengaja dirancang secara sistematis, untuk mengukur atribut tertentu, dilakukan dengan prosedur administrasi dan pemberian angka yang jelas dan spesifik, sehingga hasilnya relatif ajeg bila dilakukan dalam kondisi yang relatif sama; (2) tes pada umumnya berisi sampel perilaku, cakupan butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya, yang secara keseluruhan mungkin mustahil dapat tercakup dalam tes, sehingga tes harus dapat mewakili kawasan (domain) perilaku yang diukur, untuk itu perlu pembatasan yang jelas; (3) tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari dengan cara menjawab atau mengerjakan tugas dalam tes. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes, karena tes memang mengukur perilaku, sebagai manifestasi atribut psikologis yang mau diukur. Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu: (1) tes yang mengukur intelegensia umum yang dirancang untuk mengukur kemampuan umum seseorang dalam suatu tugas; (2) tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat yang dibuat untuk mengungkap kemampuan potensial dalam bidang tertentu; (3) tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan aktual sebagai hasil belajar; (4) tes yang mengungkap aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan mengungkap karakteristik individual subjek dalam aspek yang diukur. Dengan melihat penggolongan di atas, tes dalam pembelajaran di kelas yang menjadi pembahasan ini adalah tes prestasi atau hasil belajar. Tes sebagai alat ukur dapat menyediakan informasi-informasi obyektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar yang dilakukan siswa dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu: a. Keputusan yang diambil pada pemulaan proses pembelajaran Penggunaan tes sebagai dasar pengambilan keputusan pada permulaan proses pembelajaran bermuara pada dua pertanyaan yang harus dijawab oleh pendidik sebelum memulai proses pembelajaran yaitu; (1) sejauhmanakah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti
4-4
Unit 4

proses pembelajaran yang berupa kemampuan awal yang diperlukan untuk mengikuti proses pembelajaran, (2) sejauhmanakah kemampuan dan keterampilan yang telah dicapai peserta didik terhadap pembelajaran yang direncanakan. Keduanya akan menentukan keputusan guru dalam merancang materi dan metode pembelajaran yang direncanakan. b. Keputusan selama proses pembelajaran Tes dapat pula digunakan selama proses pembelajaran (tes formatif). Tes formatif dapat diberikan baik dalam bentuk tes tulis maupun tes lisan, baik dengan jawaban uraian maupun tes obyektif.

c. Keputusan-keputusan pada akhir pembelajaran Tes formatif yang diberikan guru pada akhir pembelajaran ditujukan untuk mengetahui apakah kompetensi dasar yang dirumuskan dalam program pembelajaran (satuan pembelajaran) telah tercapai atau belum. Jadi, fungsi tes pada akhir pembelajaran adalah untuk mengukur daya serap siswa pada materi pembelajaran. Sehingga guru dapat merencanakan tindak lanjut terhadap rencana, proses, media, metode, dan suasana pembelajaran. Seperti penilaian selama proses keputusan akhir pembelajaran dapat berasal dari informasi tes obyektif atau tes subyektif.

2. Jenis-jenis Tes
Bila kita membahas jenis-jenis tes, Anda akan dapat mencermati dalam lima jenis atau cara pembagian yaitu: a. Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan. b. Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan. c. Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan. d. Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan. e. Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban. Uraian selengkapnya adalah sebagai berikut. 1) Jenis Tes Berdasarkan Tujuan Penyelenggaraan Saudara, untuk mengawali pembahasan tentang jenis-jenis tes, Anda akan diminta untuk menjawab satu pertanyaan di bawah ini. Untuk apakah Anda menyelenggarakan tes? Saudara, cobalah berpikir sejenak untuk merenungkan jawaban atas pertanyaan tadi. Anda diminta untuk tidak tergesa-gesa melanjutkan membaca
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-5

penjelasan berikut ini sebelum Anda menentukan jawaban. Jika Anda sudah menemukan jawaban, barangkali jawaban Anda akan lebih dari satu jawaban, seperti yang tertera di bawah ini, tes diselenggarakan dengan tujuan: a) untuk keperluan seleksi, b) untuk menempatkan orang pada kelas-kelas tertentu, c) untuk mengetahui hasil belajar, d) untuk keperluan diagnostik, dan e) untuk keperluan uji coba Penjelasan secara rinci adalah sebagai berikut:

a) Tes Seleksi (Selection Test)
Saudara, Anda bisa memahami hakekat dari tes seleksi ini dari arti kata “seleksi” itu sendiri, yaitu memilih. sederhana bukan? Jadi, tes seleksi diselenggarakan untuk memilih peserta guna diikutsertakan dalam kegiatan yang menuntut kemampuan tertentu. Penentuan jenis kemampuan dan tingkat penguasaan pada tes seleksi, sepenuhnya tergantung pada kebutuhan akan kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat mengikuti kegiatan. Dengan demikian, berdasarkan hasil tes seleksi, seseorang dapat dinyatakan diterima atau berhasil dan tidak diterima atau tidak lolos untuk mengikuti program kegiatan yang direncanakan. Sebagai contoh, jika kita menyelenggarakan tes seleksi untuk pemandu wisata, maka akan lebih baik menitikberatkan kemampuan berbicara daripada kemampuan menulis.

Latihan
Sekarang cobalah Anda tentukan, kemampuan manakah yang lebih Anda pentingkan dalam tes seleksi untuk seorang yang akan melakukan tugas redaksional dalam sebuah media cetak? Kemampuan menulis, kemampuan berbicara atau kemampuan menyimak? Mengapa kemampuan yang Saudara tentukan itu penting?

4-6

Unit 4

b) Tes Penempatan (Placement Test)
Saudara, adalah suatu keniscayaan bahwa kemampuan seseorang tidaklah bisa sama. Sekelompok orang barangkali memiliki kemampuan lebih tinggi dari pada kelompok lainnya. Permasalahan yang muncul adalah, bagaimanakah jika kemampuan siswa dalam satu kelas relatif beragam? Hal ini akan bisa mempersulit jalannya proses pengajaran yang Anda lakukan. Untuk itu perlu dilakukan tes penempatan. Tes penempatan umumnya diselenggarakan menjelang dimulainya suatu program pengajaran, dengan maksud untuk menempatkan seseorang pada kelompok yang sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilikinya.

c) Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes hasil belajar tentu tidak lagi asing bagi Saudara. Brown (2004) memberikan pengertian tes hasil belajar merupakan “a test to see how far students achieve materials addressed in a curriculum within a particular time frame”. Hasil belajar yang diungkap lewat tes hasil belajar dapat mengacu pada hasil pengajaran secara keseluruhan pada akhir penyelenggaraan atau pada kurun waktu tertentu. Sebagai tes yang memfokuskan pada hasil yang telah dapat dicapai oleh suatu bentuk pengajaran, tes hasil belajar memiliki kaitan yang erat dengan apa yang telah diajarkan (kurikulum). Kaitan itu terutama dalam hal isi tes. Isi tes harus secara jelas mencerminkan isi pengajaran yang secara nyata telah diselenggarakan.

d) Tes Diagnostik (Diagnostic Test)
Secara etimologis, diagnostik diambil dari bahasa Inggris “diagnostic”. Bentuk kata kerjanya adalah “to diagnose”, yang artinya “to determine the nature of disease from observation of symptoms”. Mendiagnosis berarti melakukan observasi terhadap penyakit tertentu, sebagai dasar menentukan macam atau jenis penyakitnya. Jadi, tes diagnostik sengaja dirancang sebagai alat untuk menemukan kesulitan belajar yang sedang dihadapi siswa. Hasil tes diagnostik dapat digunakan sebagai dasar penyelenggaraan pengajaran yang lebih sesuai dengan kemampuan siswa sebenarnya, termasuk kesulitan-kesulitan belajarnya. Tes ini dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian besar peserta didik gagal dalam mengikuti proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu. Hasil tes diagnostik memberikan
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-7

informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami. Oleh karenanya, tes ini berisi materi yang dirasa sulit oleh siswa, namun tingkat kesulitan tes ini cenderung rendah.

e) Tes Uji Coba
Apabila Saudara sebagai seorang guru pasti pernah mengembangkan tes. Tes yang dikembangkan belum tentu memenuhi kualifikasi sebagai tes yang “baik” dalam arti luas. Untuk mengetahui apakah tes yang dikembangkan bagus, perlu serangkaian uji coba, untuk memperoleh informasi, tidak hanya tentang ciri-ciri tes yang penting, seperti validitas, reliabilitas, tingkat kesulitan, dan tingkat pembeda, melainkan juga segi-segi lain, seperti kecukupan waktu, kejelasan tulisan maupun perintah tes, dan lain sebagainya.

2) Jenis Tes Berdasarkan Tahapan/Waktu Penyelenggaraan
Saudara, selanjutnya Anda diajak untuk memperhatikan jenis tes berdasar waktu penyelenggaraan tes, yang terbagi menjadi 4 yaitu:

a) Tes Masuk (Entrance Test)
Tes masuk diselenggarakan sebelum dan menjelang suatu program pengajaran dimulai. Sama dengan tes seleksi, tes masuk diselenggarakan untuk menentukan apakah seorang calon dapat diterima sebagai peserta program pengajaran karena ia memiliki jenis dan kemampuan yang dipersyaratkan. Tes masuk dirancang secara khusus dan disesuaikan dengan tujuan program pengajaran. Semakin sesuai isi tes masuk itu dengan tujuan pokok program pengajaran, maka akan semakin tinggi tingkat relevansi serta efektivitas dari tes masuk tersebut.

b) Tes Formatif (Formative Test)
Tes formatif dilakukan pada saat program pengajaran sedang berlangsung (progress), tujuannya untuk memperoleh informasi tentang jalannya pengajaran sampai tahap tertentu. Informasi tersebut penting untuk mengetahui apakah program pengajaran berjalan sesuai dengan format yang ditentukan sehingga dipertahankan atau program pembelajaran memerlukan perubahan atau penyesuaian, hasilnya berguna untuk memperbaiki strategi mengajar. Tes ini dilakukan secara periodik sepanjang rentang proses pembelajaran, materi tes dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran tiap pokok bahasan atau sub pokok materi. Jadi tes untuk
Unit 4

4-8

menentukan keberhasilan belajar dan pembelajaran. c) Tes Sumatif (Summative Test)

untuk mengetahui keberhasilan proses

Kata dari “sumatif” adalah “sum” yang berarti “total obtained by adding together items, numbers or amounts”. Dengan demikian, tes sumatif diselenggarakan untuk mengetahui hasil pengajaran secara keseluruhan (total). Konsekuensi dari tes yang menekankan hasil pengajaran secara keseluruhan, maka item tes sumatif atau bahan cakupannya meliputi seluruh materi yang telah disampaikan. Tes sumatif
diberikan di akhir suatu pelajaran, atau akhir semester. Hasilnya untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Tingkat keberhasilan dinyatakan dengan skor atau nilai, pemberian sertifikat, dan sejenisnya.

d) Pra-tes dan Post-test
Untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki seorang siswa di awal program pengajaran, kadang-kadang diselenggarakan pra-tes. Hasil pra-tes digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa pada awal program pengajaran. Tingkat kemampuan awal ini penting untuk menentukan sejauhmana kemajuan seorang siswa. Kemajuan yang dicapai bisa dilihat dari perbandingan hasil pra-tes dengan hasil tes yang diselenggarakan di akhir program pengajaran (post-test).

3) Jenis Tes Berdasarkan Cara Mengerjakan
Saudara, secara umum, tes dapat dikerjakan secara tertulis dan secara lisan. Selanjutnya, Saudara dapat mencermati pembahasan berikut ini.

a) Tes Tertulis
Tes tertulis adalah tes yang dilakukan secara tertulis baik dalam hal soal maupun jawabannya, namun tes yang disampaikan secara lisan dan dikerjakan secara tertulis masih digolongkan ke dalam jenis tes tertulis. Sebaliknya, tes yang soalnya diberikan dalam bentuk tulisan sedangkan jawabannya berbentuk lisan tidak dapat dikategorikan ke dalam bentuk tes tertulis.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-9

b) Tes Lisan
Pada tes lisan, baik pertanyaan maupun jawaban (response) semuanya dalam bentuk lisan. Karenanya, tes lisan relatif tidak memiliki rambu-rambu penyelenggaraan tes yang baku, karena itu, hasil dari tes lisan biasanya tidak menjadi informasi pokok tetapi pelengkap dari instrumen asesmen yang lain.

c) Tes Unjuk Kerja
Pada Tes ini peserta didik diminta untuk melakukan sesuatu sebagai indikator pencapaian kompetensi yang berupa kemampuan psikomotor.

4) Jenis Tes Berdasarkan Cara Penyusunan
Berdasarkan kriteria ini, tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) tes buatan guru dan (2) ter terstandar.

a) Tes Buatan Guru (Teacher-made Test)
Saudara tentu mengetahui tugas-tugas utama yang harus diemban oleh seorang guru. Untuk melakukan tugas evaluasi itu, seorang guru harus mengembangkan alat ukur, salah satunya tes. Tes yang dikembangkan sendiri oleh guru disebut tes buatan guru (teacher-made test). Jadi tes buatan guru adalah tes yang dirancang dan dipersiapkan oleh guru, tetap dengan mengacu pada karakteristik tes yang baik dan dilakukan secara cermat, untuk tetap menjamin validitas maupun reliabilitasnya.

b) Tes Terstandar (Standardized Test)
Saudara, dari istilah yang digunakan saja, barangkali Anda sudah bisa memperkirakan apa yang dimaksud dengan tes terstandar. Benar, tes terstandar adalah tes yang dikembangkan dengan mengikuti prosedur serta prinsip pengembangan tes secara ketat. Semua prosedur pengembangan tes dikuti sehingga ciri-ciri tes sebagai alat ukur yang baik senantiasa dapat dipenuhi. Dengan demikian, tingkat validitas, reliabilitas, kepraktisan, maupun daya beda sudah bukan menjadi masalah lagi. Bagaimana cara mengembangkan tes sebagai alat ukur yang baik, Saudara bisa membaca bagian lain dari Bahan Ajar ini.

4-10

Unit 4

5) Jenis Tes Berdasarkan Bentuk Jawaban
Saudara, jika kita melihat bentuk jawaban yang diberikan oleh peserta tes, kita dapat membedakan tiga jenis tes, yaitu; (a) tes esei, (b) tes jawaban pendek, dan (c) tes obyektif. Untuk lebih jelasnya, cobalah perhatikan bahasan berikut ini.

a) Tes Esei (Essay-type Test)
Tes bentuk uraian adalah tes yang menuntut siswa mengorganisasikan gagasangagasan tentang apa yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakannya dalam bentuk tulisan. Keunggulan tes uraian, guru dapat mengukur kemampuan siswa dalam hal mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiri. Sedang keterbatasannya adalah cakupan materi pelajaran yang terbatas, waktu pemeriksaan jawaban yang lama, penskorannya cenderung subyektif dan umumnya kurang handal dalam pengukuran.

b) Tes Jawaban Pendek
Saudara, tes dapat digolongkan menjadi tes jawaban pendek jika peserta tes diminta menuangkan jawabannya bukan dalam bentuk esei, tetapi memberikan jawaban-jawaban pendek, dalam bentuk rangkaian kata-kata pendek, kata-kata lepas, maupun angka-angka. Termasuk ke dalam tes jenis ini adalah tes yang mewajibkan siswa untuk mengisi bagian yang kosong dari sebuah kalimat atau teks. Sehingga diharapkan dapat memberikan jawabannya sesingkat mungkin.

c) Tes Objektif
Tes objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah tersedia. Oleh karenanya sering pula disebut dengan istilah tes pilihan jawaban (selected response test). Butir soal telah mengandung kemungkinan
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-11

jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Menurut Subino (1987) perbedaan yang khas bentuk soal objektif dibanding dengan soal esei adalah tugas peserta tes (testee) dalam merespons tes. Pada tes objektif, tugas testee adalah memanipulasikan data yang telah ada dalam butir soal. Oleh karenanya, tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Karena sifatnya yang objektif maka penskorannya dapat dilakukan dengan bantuan mesin. Soal ini tidak memberi peluang untuk memberikan penilaian yang bergradasi karena dia hanya mengenal benar dan salah. Soal tes objektif sangat bermanfaat untuk mengukur hasil belajar kognitif tingkat rendah. Hasil-hasil belajar kompleks seperti menciptakan dan mengorganisasikan gagasan kurang cocok diukur menggunakan soal bentuk ini. Soal objektif sangat bervariasi bentuknya. Variasi yang bisa dibuat dari soal objektif adalah benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi dan jawaban singkat.

Rangkuman

Tes secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab, pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugastugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Jenis-jenis tes dapat dikelompokkan menjadi beberapa model klasifikasi yaitu: Pembagian jenis Tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan. Jenis Tes berdasarkan waktu penyelenggaraan. Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan. Pembagian jenis Tes berdasarkan cara Penyusunan. Pembagian jenis Tes berdasarkan bentuk jawaban.

4-12

Unit 4

Tes Formatif 1
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan pembagian jenis tes dilihat dari tujuan penyelenggaraannya! 2. Jelaskan pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawabannya! 3. Jelaskan dan berikan contoh tes yang melandasi pengambilan keputusan guru diawal proses pembelajaran! 4. Jelaskan dan berikan contoh jenis tes yang melandasi pengambilan keputusan guru selama proses pembelajaran berlangsung! 5. Jelaskan dengan contoh perbedaan antara tes obyektif dengan tes esei!

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Jawablah pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda belum merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena kesepahaman tentang pengertian ini akan mendasari dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-13

Subunit 2 Langkah-Langkah Menyusun Tes
Pengantar

T

elah Anda pahami dari penjelasan-penjelasan sebelumnya bahwa proses pengukuran merupakan proses kuantifikasi terhadap atribut, benda atau gejala tertentu. Proses pengukuran diharapkan dapat menghasilkan data yang valid dan akurat sehingga harus dilakukan secara terencana dan sistematis. Pengukuran berbagai atribut yang berupa benda ataupun aspek-aspek phisik seperti mengukur tinggi bangunan, mengukur tinggi bangunan imbang beras, mengukur tinggi badan, berat badan, luas tanah, suhu udara, ataupun kecepatan motor sangat mungkin dapat dilakukan dengan tepat karenanya dapat diterima secara universal karena validitasnya sangat mudah dibuktikan. Tinggi suatu bangunan dengan mudah dapat diukur dengan centimeter, meter, berat beras dengan cepat dapat diukur dengan timbangan dan sebagainya, dimana ketepatan (validitas) maupun keajegan hasil pengukurannya (reliabilitas) serta obyektivitas hasil pengukurannya tidak lagi perlu diragukan, karena dengan mudah akan dapat dilakukan pengukuran ulang dengan hasil yang sama persis. Bagi kita sebagai pendidik, yang menjadi persoalan kemudian adalah pengukuran hasil belajar yang termasuk bidang non phisik atau aspek yang bersifat abstrak. Dalam hal ini pendidik harus paham bahwa aspek yang bersifat abstrak seperti hasil belajar ini dalam melakukan pengukuran memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sistematis. Alat yang biasa digunakan sebagai alat ukur dari hasil belajar adalah tes. Sehingga dapat dikatakan bahwa tes merupakan salah satu alat ukur dalam melakukan asesmen proses dan hasil pembelajaran. Seperti halnya atribut psikologis yang lain ketika melakukan pengukuran terhadap hasil belajar, tes sebagai alat ukur mungkin tidak akan pernah dapat menggambarkan hasil dengan validitas dan reliabilitas ataupun obyektivitas yang sempurna. Untuk itu dalam menyusun tes sebagai alat ukur hasil belajar perlu dipertimbangkan beberapa permasalahan yang merupakan keterbatasan dari tes sebagai alat ukur psikologis (Saifuddin, 2005):

4-14

Unit 4

1. Atribut psikologis termasuk hasil belajar bersifat abstrak dan laten sehingga apa yang diukur adalah suatu kontrak yang memang tidak dapat diukur secara langsung, sehingga dilakukan berdasarkan indikator perilaku yang mungkin belum tentu mewakili domain yang tepat, karena batasan dari konstruk tersebut tidak mungkin dapat dijabarkan dalam akurasi yang sempurna. 2. Dalam atribut yang bersifat laten atau abstrak sering kali didasari pada indikator yang jumlahnya terbatas, keterbatasan dalam menjabarkan indikator perilaku ini menyebabkan hasil pengukuran menjadi kurang komprehansif, di samping itu penjabaran indikator perilaku tersebut masih mungkin terjadi tumpang tindih dengan indikator dari atribut psikologis yang lain. 3. Respon yang diberikan oleh siswa sebagai subyek sedikit banyak akan dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak relevan, baik yang bersumber dari dirinya sendiri maupun dari variabel dari luar dirinya, seperti misalnya suasana hati, sakit, kondisi dan situasi sekitar, cetakan yang tidak jelas, pengawasan waktu pengerjaan, sistem administrasi dan sebagainya. 4. Atribut psikologis termasuk hasil belajar yang terdapat pada diri siswa, sering kali bersifat tidak stabil dan mudah sekali berubah, seiring dengan perubahan situasi dan kondisi sesaat hingga interpretasi terhadap hasil tes sebagai alat ukur hanya dapat dilakukan secara normatif, dalam pengertian banyak sekali sumber bias yang harus diperhitungkan. Anda juga harus memahami bahwa keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan pengukuran hasil belajar dengan menggunakan tes ini menjadikan kita sebagai pendidik yang juga penyusun tes harus mempersiapkan semuanya secara lebih teliti, karena prosedur konstruksi psikologis lebih rumit sehingga harus dilakukan dengan perencanaan yang sangat teliti dan mengikuti langkah-langkah yang sitematis untuk meminimalkan berbagai sumber kesalahan yang mungkin terjadi.

1. Langkah Pokok Mengembangkan Tes
Anda sebagai pendidik seringkali kurang menyadari bahwa, mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen proses dan hasil belajar adalah menyusun alat ukur suatu gejala yang bersifat abstrak yaitu pemahaman dan penguasaan anak terhadap materi yang berupa seperangkat kompetensi dipersyaratkan, dan dalam kenyataan di lapangan sebagian besar tenaga pengajar memang menggunakan teknik tes sebagai upaya untuk mengukur hasil belajar tersebut. Karena demikian seringnya pengajar menyusun tes hasil belajar, justru sering menimbulkan kecerobohan, karena menganggap hal ini sebagai hal yang sudah biasa/umum dilakukan, dan kurang perlu
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-15

mempersiapkannya secara cermat. Padahal penyusunan tes, sangat besar pengaruhnya terhadap siswa yang akan mengikuti tes, untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran maka tes harus direncanakan secara cermat. Secara umum ada lima langkah pokok yang harus dilewati yaitu:

a) Perencanaan Tes
Dalam langkah perencanaan tes ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan guru sebagai pendidik yaitu: (1) Menentukan cakupan materi yang akan diukur yang menyangkut penetapan cakupan materi dan aspek (ranah) kemampuan yang akan diukur. Penetapan ini penting mengingat bahwa kemampuan belajar merupakan proses yg kompleks dan menyangkut pemahaman yang bersifat abstrak, sehingg harus jelas pada bagian mana cakupan materi yang akan diukur dan dikembangkan dalam soal tes, langkah ini biasanya dilakukan dengan menyusun kisi-kisi soal yaitu daftar spesifikasi, Ada tiga langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar, yaitu; (1) Menulis kompetensi dasar, (2) Menulis materi pokok, (3) Menentukan indikator, dan (4) Menentukan jumlah soal. Bentuk Tes: Pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes, jumlah peserta tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Misalnya, bentuk tes objektif pilihan ganda dan bentuk tes benar salah cocok digunakan bila jumlah peserta tes banyak, waktu koreksi singkat, dan cakupan materi yang diujikan banyak. Bentuk tes objektif lebih cocok digunakan pada mata pelajaran yang batasnya jelas, misalnya mata pelajaran Matematika, Biologi, dan sebagainya. Dalam memilih teknik tes mana yang akan digunakan Pendidik juga harus mempertimbangkan ciri indikator, contoh, apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu, maka teknik penilaiannya adalah tes unjuk kerja (performance), sedang bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, maka teknik penilaiannya adalah tes tertulis. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. Menetapkan panjang Tes: langkah menetapkan panjang tes, meliputi berapa waktu yang tersedia untuk melakukan tes, hal ini terkait erat dengan penetapan
Unit 4

(2)

(3)

4-16

jumlah item-item tes yang akan dikembangkan. Apabila oleh pendidik ada materi yang dinilai lebih penting dan mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi, guru bisa memberikan pembobotan yang berbeda dari setiap soal yang disusun. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal, yaitu bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi, keandalan yang diinginkan, dan waktu yang tersedia.

b) Menulis Butir Pertanyaan
Setelah selesai mencermati dan menjabarkan setiap indikator menjadi diskriptor-diskriptor, dan telah ditetapkan ukurannya, maka pendidik mulai dapat mengembangkan atau menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi yang telah ditetapkan. Ada 3 kegiatan pokok dalam menulis butir soal yaitu: (1) Menulis draft soal: Menulis soal bagi Anda pasti sudah menjadi pekerjaan rutin sebelum ulangan, tetapi seharusnya Anda perlu mencermatinya karena langkah ini juga memerlukan kecermatan dalam memilih kalimat-kalimat yang mudah dimengerti dan tidak menimbulkan interpretasi ganda. Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan butir pertanyaan yaitu format pertanyaan dan alternatif jawaban. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal yaitu, (1) apakah pertanyaan mudah dimengerti? (2) apakah sudah sesuai dengan indikator (3) apakah tata letak keseluruhan baik? (4) apakah perlu pembobotan (5) apakah kunci jawaban sudah benar? (2) Memantapkan Validitas Isi (Content Validity): Content validity atau validitas isi pada dasarnya merupakan koefisien yang menunjukkan kesesuaian antara draft tes yang telah disusun dengan isi dari konsep dan kisi-kisi yang telah disusun, apakah semua materi telah terjabar dalam item, dan apakah soal yang disusun telah pula sesuai ranah atau kawasan yang akan diukur. Langkah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya diskusi dengan sesama pendidik ataupun dengan cara mencermati kembali substansi dari konsep yang akan diukur. (3) Melakukan Uji Coba (try out): Mungkin Anda mengira bahwa try out hanya digunakan untuk tes standard dan tidak perlu dilakukan untuk tes buatan guru. Anggapan itu kurang benar karena uji coba tetap diperlukan dalam penyusunan tes buatan guru, try out tidak harus dilakukan secara formal dan dalam skala besar, yang perlu Anda perhatikan adalah bahwa try out dapat dilakukan untuk berbagai kepentingan diantaranya adalah untuk; (1) analisis item, (2) bagaimana
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-17

rencana pelaksanaan, (3) memperkirakan penggunaan waktu pengerjaan, (4) kejelasan format tes, (5) kejelasan petunjuk pengisian, dan (6) pemahaman bahasa yang digunakan dsbnya. (4) Revisi soal: Hasil dari uji coba kemudian dilakukan analisis untuk mencari tingkat kesulitan soal dan penggunaan bahasa yang kurang komunikatif, untuk kemudian dilakukan revisi sesuai dengan kebutuhan. Misalnya revisi dilakukan untuk; (1) eliminasi butir-butir yang jelek, (2) menambah butir-butir baru, (3) memperjelas petunjuk, dan (4) memodifikasi format dan urutan, dsbnya.

c) Melakukan pengukuran dengan tes
Sekarang tes sebagai instrumen sudah selesai disusun! Apa saja yang harus Anda lakukan selanjutnya? Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan pada saat menyelenggarakan tes untuk siswa yaitu: (1) Menjaga obyektivitas pelaksanaan tes: Kegiatan pengukuran yang berupa penyelenggaraan tes juga sudah menjadi kegiatan Anda sehari-hari, meskipun demikian pendidik tetap harus menjaga obyektifitas, baik dalam pengawasan, menjaga kerahasiaan soal, dan berbagai kode etik penyelenggaraan tes yang lain. Setelah ujian dilaksanakan maka langkah berikut adalah koreksi, dan interpretasi dari hasil ujian tersebut, untuk kemudian berdasar data hasil analisis tersebut akan diambil keputusan dalam berbagai kepentingan. (2) Memberikan skor pada hasil tes: Yaitu memeriksa hasil jawaban dari para siswa, untuk memberikan skor/angka sebagai penghargaan terhadap setiap poin soal yang dapat dikerjakan, hasilnya berupa angka yang disebut skor mentah, angka yang menunjukkan berapa soal yang bisa dijawab benar oleh siswa. Penentuan jumlah soal yang bisa dijawab benar ini tidak menjadi masalah untuk tes obyektif. Namun untuk bentuk soal tes uraian masalah ini akan menjadi persoalan, karena setiap siswa akan mengemukakan argumentasi yang berbedabeda untuk menjawab soal dan permasalahan tes. Sehingga dalam melakukan langkah ini harus pula dijaga obyektivitas dengan selalu menggunakan kunci jawaban dan indikator keberhasilan.

4-18

Unit 4

(3) Melakukan Analisis Hasil Tes Setelah semua pekerjaan siswa dikoreksi langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap skor hasil tes. Materi tentang ini akan secara khusus dibahas pada UNIT 6.

2. Mengembangkan Tes Sebagai Instrumen Asesmen di SD
Anda telah memahami langkah-langkah pokok yang seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan tes. Dengan tetap mengacu pada langkah-langkah pokok tersebut, berikut ini akan dikemukakan langkah-langkah detail yang diharapkan dapat menuntun Anda mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen di kelas.

a. Menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator Pencapaian Hasil Belajar
Kegiatan ini, dalam langkah kegiatan umum masuk dalam langkah “menentukan cakupan materi yang akan diukur”. Indikator merupakan ukuran, karakteristik, ciri-ciri, pembuatan atau proses yang berkontribusi/menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. Indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, seperti: menyebutkan, memberikan contoh, mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan, mempraktekkan, mendemonstrasikan. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka indikator pencapaian hasil belajar dikembangkan oleh pendidik dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap peserta didik, keluasan dan kedalaman kompetensi dasar, dan daya dukung sekolah, misalnya kemampuan guru dan sarana atau perasarana penunjang. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. Indikator-indikator pencapaian hasil belajar dari setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang digunakan untuk menyusun butir tes. Contoh 1 Mata pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan Kelas/Semester : IV/1
Standar Kompetensi Mempraktikkan gerak dasar ke dalam permainan sederhana dan olahraga serta nilaiKompetensi Dasar Mempraktikkan gerak dasar dalam permainan bola kecil sederhana dengan peraturan yang Indikator* Melakukan berbagai teknik dasar permainan kasti. Menerapkan kerjasama team dalam permainan kasti.
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-19

Standar Kompetensi nilai yang terkandung didalamnya

Kompetensi Dasar dimodifikasi, serta nilai kerjasama tim, sportivitas, dan kejujuran**)

Indikator* Menyebutkan manfaat permainan kasti terahadap kesehatan tubuh.

Contoh 2 Mata pelajaran : IPS Kelas/Semester : I/1
Standar Kompetensi Memahami identitas diri dan keluarga, serta sikap saling menghormati dalam kemajemukan keluarga. Kompetensi Dasar 1.1.Mengidentifikasi identitas diri, keluarga, dan kerabat. 1.2.Menceriterakan pengalaman diri. Indikator* Siswa dapat menyebutkan identitas diri secara lisan di depan temantemannya. Siswa dapat menceriterakan pengalamannya dalam bentuk karangan sederhana

Contoh 3 Mata pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : III/2
Standar Kompetensi Menulis Mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dalam karangan sederhana dan puisi. Kompetensi Dasar Menulis puisi berdasarkan gambar dengan pilihan kata yang menarik Indikator* Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri kalimat dalam puisi. Siswa dapat menulis puisi dengan benar .

Indikator*: dikembangkan oleh guru sekolah sesuai dengan kondisi daerah dan sekolah masingmasing. Satu KD dapat dikembangkan menjadi satu atau lebih indikator . Sumber: Pedoman Penilaian SD (Depdiknas, 2006).

d. Menetapkan Jenis Tes dan Penulisan Butir Soal
Setelah Anda menjabarkan standar kompetansi, kompetensi dasar, dan indikator keberhasilannya, maka Anda mulai dapat menetapkan indikator yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi tersebut sebaiknya dapat diukur dengan menggunakan alat ukur apa, bila ditetapkan tes, akan pula dapat ditetapkan jenis tes yang mana. Di samping itu pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes, cakupan materi tes, karakteristik mata pelajaran yang diukur pencapaiannya, jumlah peserta tes, termasuk waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu
4-20
Unit 4

dipertimbangkan; (1) materi, misalnya kesesuian soal dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum tingkat satuan pendidikan, (2) konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas, (3) bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda, dan (4) kaidah penulisan, harus berpedoman pada kaidah penulisan soal yang baku dari berbagai bentuk soal penilaian. Rancangan penilaian ini diinformasikan kepada siswa pada awal pertemuan (awal semester). Dengan demikian sistem penilaian yang dilakukan guru semakin sempurna atau semakin memenuhi prinsip-prinsip penilaian. Dalam pembelajaran di SD Anda dapat melihat beberapa contoh di bawah ini yang secara jelas memberikan paparan tentang keterkaitan hubungan antara pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Teknik Penilaian yang bersumber dari Model Penilaian Kelas SD (Depdiknas 2006).

Contoh 1 Mata Pelajaran: Matematika Kelas/Semester: II/1
No. Standar Kompetensi 1 Menggunakan pengukuran waktu, panjang, dan berat dalam pemecahan masalah. Kompetensi Dasar Indikator Aspek Tehnik penilaian Penilaian Kinerja Test tertulis Contoh alat penilaian terlampir

Geometri dan Mengguna• Siswa menyebutkan pengukuran kan alat ukur macam-macam alat ukur tidak baku panjang tidak baku dalam dan baku (cm, kehidupan sehari–hari m) yang (jengkal, depa, langkah kaki, sering dll). digunakan • Siswa dapat menggunakan alat ukur tidak baku (jengkal, depa, pecak (panjang telapak kaki, langkah kaki, dll) • Siswa menyebutkan alat ukur baku (cm, m) yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. • Siswa dapat menggunakan alat ukur baku . • Siswa dapat menarik kesimpulan bahwa pengukuran dengan alat ukur tidak baku hasilnya berbeda.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-21

Untuk standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator materi di atas dan dengan didasarkan kemampuan penalaran anak kelas 2 SD maka ditetapkan tes pilihan ganda dan isian berikut ini.

Bentuk Pilihan Ganda
Berilah tanda silang pada huruf di depan jawaban yang paling tepat! Skor: Setiap jawaban benar diberi nilai 1 . 1. Yang termasuk alat ukur tidak baku yaitu …. a. meter b. centimeter c. jengkal 2. Yang termasuk alat ukur baku ialah …. a. cm b. depa c. langkah kaki

Bentuk Isian
Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang singkat dan tepat ! Skor: Setiap jawaban benar diberi nilai 2. 1. Satuan panjang Centimeter dan Meter adalah contoh alat ukur ....... 2. Satuan panjang langkah kaki, depa dan jengkal termasuk alat ukur …. 3. Karena menggunakan alat ukur tidak baku, maka hasil pengukurannya ….

Pemberian Skor:
Banyak jawaban benar Nilai = Banyak soal Contoh 2 Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Kelas/Semester : IV / 2
No. 1 Standar Kompetensi Menunjukkan sikap terhadap globalisasi di lingkungannya. Kompetensi Dasar Memberi contoh sederhana pengaruh globalisasi di lingkungannya. Indikator • Siswa dapat menjelaskan pengertian globalisasi • Siswa dapat memberikan salah satu contoh pengaruh positif globalisasi bidang komunikasi • Siswa dapat Aspek Globalisa si Tehnik penilaian Test tertulis Pengamatan sikap Contoh alat penilaian terlampir

x 100

4-22

Unit 4

No.

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Indikator memberikan salah satu contoh pengaruh negatif globalisasi bidang kebudayaan

Aspek

Tehnik penilaian

Untuk Standar kompetensi , kompetensi dasar dan indikator materi diatas dan dengan didasarkan kemapuan penalaran anak kelas 4 SD maka ditetapkan tes isian dan jawaban uraian sebagai berikut:

Bentuk tes Isian
Isilah titik–titik pada soal di bawah ini dengan jawaban singkat dan tepat! 1. Pengaruh positif globalisasi di bidang komunikasi di lingkungan masyarakat misalnya …. 2. Kecenderungan masyarakat menyukai jenis musik jaz termasuk pengaruh negatif globalisasi bidang …. 3. Terhadap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia sikap kita seharusnya ….

Bentuk Soal tes Uraian
Jawablah pertanyaan di bawah ini! 1. Jelaskan yang dimaksud dengan istilah globalisasi! 2 Berikan tanggapan dan alasan terhadap pernyataan di bawah ini? a. Dengan globalisasi kita semakin mudah menikmati siaran televisi luar negeri. b. Karena pengaruh globalisasi masyarakat cenderung bersikap konsumtif.

Pemberian Skor:
Banyak jawaban benar Nilai = Banyak soal x 100

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-23

Contoh 3 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam Kelas/Semester : IV / 1
No. 1 Standar Kompetensi Memahami daur hidup beragam jenis makhluk hidup Kompetensi Dasar Indikator Aspek Mahluk hidup dan proses kehidupan Tehnik penilaian • Jenis: ulangan • Bentuk: tes tertulis, penugasan

Mendeskripsi• Mendeskripsikan urutan kan daur hidup daur hidup hewan, misalnya beberapa kupu-kupu, nyamuk dan hewan di kecoa secara sederhana. lingkungan • Menyimpulkan berdasarkan sekitar, pengamatan bahwa tidak misalnya kecoa, semua hewan berubah nyamuk, kupubentuk dengan cara yang kupu, kucing. sama. • Menyimpulkan bahwa berubahnya bentuk pada hewan menunjukkan adanya pertumbuhan. • Menyimpulkan hasil pengamatan daur hidup hewan yang dipeliharanya*)

Depdiknas 2006

Latihan
1. Buatlah contoh tes tertulis tentang penguasaan konsep dan tes unjuk kerja dari Standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator materi di atas dan dengan didasarkan kemampuan penalaran anak kelas 4 SD! 2. Setelah soal tersusun diskusikan dengan teman Anda, sebagai bentuk pemantapan internal validity dan uji-coba terbatas!

4. Mengembangkan tes pada Kawasan Kognitif, Afektif, dan Psikomotor
Mungkin masih ada anggapan termasuk mungkin juga anggapan Anda bahwa tes tertulis khususnya dalam bentuk tes obyektif hanya cocok untuk mengukur pencapaian hasil belajar pada kawasan kognitif saja. Anggapan itu tidak bisa dibenarkan karena dengan pemahaman yang tinggi terhadap cakupan materi maupun teknik evaluasi, pendidik akan dapat mengembangkan tes tertulis yang dapat meliput dua kawasan yang lain yaitu afektif maupun psikomotor. Marilah bersama-sama kita cermati penjelasan berikut.

4-24

Unit 4

a. Mengembangkan Tes pada Domain Kognitif
Pada dasarnya akan sangat mudah mengembangkan tes untuk mengukur indikator pencapaian hasil belajar pencapaian kawasan (domain) kognitif, hampir semua jenis tes dengan berbagai bentuk soal dapat digunakan untuk mengukur kawasan ini seperti misalnya:

1) Tes Lisan
Pertanyaan secara lisan masih sering digunakan untuk mengukur daya serap peserta didik pada kawasan kognitif. Yang perlu Anda ingat tes lisan harus disampaikan dengan jelas, dan semua peserta didik harus diberi kesempatan yang sama. Beberapa prinsip yang harus dipedomani adalah memberi waktu untuk berpikir, baru menunjuk peserta untuk menjawab pertanyaan. Tingkat berpikir untuk pertanyaan lisan di kelas cenderung rendah, seperti pengetahuan dan pemahaman. Jawaban salah satu siswa harus dikembalikan ke forum kelas untuk ditanggapi siswa yang lain.

2) Tes Pilihan Ganda
Ketika Anda mengembangkan tes pilihan ganda hendaknya memperhatikan sepuluh pedoman penulisannya yaitu: (1) soal harus jelas, (2) isi pilihan jawaban homogen dalam arti isi, (3) panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama, (4) tidak ada petunjuk jawaban benar, (4) hindari mengggunakan pilihan jawaban “semua benar “ atau “semua salah”, (6) pilihan jawaban angka diurutkan, (7) pilihan jawaban logis dan tidak menggunakan negatif ganda, (8) kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes, (9) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku, dan (10) letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak.

3) Bentuk Tes uraian Obyektif
Bentuk ini tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkahlangkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif disini dalam arti apabila diperiksa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penskorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat kesimpulan dsbnya.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-25

4) Bentuk Tes Uraian
Tes ini menuntut siswa menyampaikan, memilih, menyusun, dan memadukan gagasan dan ide-idenya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Keunggulan bentuk tes ini dapat mengukur tingkat berpikir dari yang rendah sampai yang tinggi, yaitu mulai dari hapalan sampai dengan evaluasi. Kelemahan bentuk tes ini adalah: (1) penskoran sering dipengaruhi oleh subjektivitas penilai, (2) memerlukan waktu yang lama untuk melakukan koreksi, (3) cakupan materi yang diujikan sangat terbatas, (4) dan adanya efek bluffing. Untuk menghindari kelemahan tersebut cara yang ditempuh adalah: (a) jawaban tidak panjang, sehingga bisa mencakup materi yang banyak, (b) tidak melihat nama peserta ujian, (c) memeriksa tiap butir secara keseluruhan, dan (d) menyiapkan pedoman penskoran.

5) Bentuk Tes jawaban Singkat
Tes ini mengharuskan siswa menuliskan jawaban singkatnya sesuai dengan petunjuk. Ada tiga jenis soal bentuk ini, yaitu: jenis pertanyaan, jenis melengkapi atau isian, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Ketika Anda menyusun tes bentuk ini perhatikan keharusannya yaitu; (1) soal mengacu pada indikator, (2) rumusan kalimat soal harus komunikatif, dan (3) tidak menimbulkan interpretasi ganda.

6) Bentuk Tes Menjodohkan
Pengerjaan tes ini dilakukan dengan menjodohkan atau memasangkan suatu premis dengan daftar kemungkinan jawaban, dan suatu petunjuk untuk menjodohkan masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Bila Anda menuliskan soal bentuk ini perhatikan bahwa: (1) soal harus sesuai dengan indikator, (2) jumlah alternatif jawaban lebih banyak dari pada premis, (3) alternatif jawaban berhubungan secara logis dengan premisnya, (4) rumusan kalimat soal harus komunikatif, dan (5) butir soal menggunakan Bahasa Indonesiayang baik dan benar.

7) Bentuk Tes Unjuk Kerja (Performance)
Tes bentuk ini sering pula diklasifikasikan dalam bentuk penilaian autentik atau penilaian alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah di kehidupan nyata. Yang dapat Anda cermati uraiannya pada Unit 5.

4-26

Unit 4

b. Mengembangkan Tes pada Domain Afektif
Anda dapat mengembangkan tes pada domain afektif ini, untuk beberapa fokus sikap diantaranya adalah:

1) Sikap terhadap mata pelajaran
Tes sikap terhadap mata pelajaran dapat diberikan pada awal atau akhir program agar siswa memiliki sikap yang lebih baik pada suatu mata pelajaran. Perlu dilakukan tindakan bila sebagian besar siswa bersikap negatif pada mata pelajaran tertentu

2) Sikap positif terhadap belajar
Siswa diharapkan memiliki sikap yang baik terhadap belajar. Siswa yang memiliki sikap positif terhadap belajar cenderung menjadi pembelajar pada masa depan.

3) Sikap terhadap diri sendiri
Meskipun harga diri siswa dipengaruhi oleh keluarga dan kejadian di luar sekolah, hal-hal yang terjadi di kelas diharapkan dapat meningkatkan harga diri siswa.

4) Sikap positif terhadap perbedaan
Siswa perlu mengembangkan sikap yang lebih toleran dan menerima perbedaan seperti etnik, jender, kebangsaan dan keagamaan.

5) Sikap terhadap permasalahan faktual yang ada di sekitarnya
Penilaian afektif juga dapat melihat fokus nilai semacam kejujuran, integritas, keadilan, dan nilai kebebasan. Fokus penilaian afektif dapat dikenakan terhadap permasalahan-permasalahan aktual di sekitar siswa. Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah “Bagaimanakah tes pada domain afektif dilaksanakan?” Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik antara lain: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Hasil observasi perilaku dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Perilaku adalah kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Pada tes ini biasanya digunakan dengan memanfaatkan skala likert. Langkahlangkah dalam menyusun skala likert antara lain adalah: (1) Memilih variabel afektif yang akan diukur; (2) Membuat beberapa pernyataan tentang variabel afektif yang
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-27

dimaksudkan; (3) Mengklasifikasikan pernyataan positif atau negatif; (4) Menentukan jumlah gradual dan frase atau angka yang dapat menjadi alternatif pilihan; (5) Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian; (6) Melakukan ujicoba; (7) Membuang butir-butir pernyataan yang kurang baik; dan (8) Melaksanakan penilaian. Di bawah ini adalah satu contoh tes afektif yang mengases sikap siswa terhadap pelajaran sains.

Sikap terhadap Pelajaran Sains
Petunjuk: 1. Pengisian skala ini tidak ada hubungannya dengan prestasi belajar, Anda tidak perlu mencantumkan nama dan nomor absen! 2. Pilihlah dengan melingkari jawaban yang paling sesuai dengan pernyataan di bawah ini!
No. 1 Pernyataan Sangat Setuju SS SS SS SS SS SS SS Setuju S S S S S S S Tidak Setuju TS TS TS TS TS TS TS Sangat Tidak Setuju STS STS STS STS STS STS STS

Saya mempersiapkan diri untuk menerima pelajaran sains di kelas 2 Saya berperan aktif dalam pembelajaran sains 3 Saya suka melakukan percobaan sains 4 Saya tertarik artikel yang berhubungan dengan sains 5 Saya memperkaya keterangan guru sains dengan membaca buku-buku penunjang 6 Saya mengulang pelajaran sains di rumah 7 ………………………………………. Depdiknas 2006

Latihan
Cobalah menyusun tes domain afektif yang berupa sikap siswa pada peristiwa factual yang ada di sekitar lingkungan sekolah!

c. Mengembangkan Tes pada Domain Psikomotor
Pada umumnya pelajaran yang termasuk kelompok psikomotor adalah mata pelajaran yang indikator keberhasilan yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi-reaksi fisik atau keterampilan tangan. Hasil belajar psikomotor dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: (1) specific responding, siswa baru mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik, yang dapat didengar, dilihat, atau

4-28

Unit 4

diraba, misalnya memegang raket, memegang bed untuk tenis meja dsb. dan (2) motor chaining, siswa sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar menjadi satu keterampilan gabungan, misal memukul bola, menggergaji, menggunakan jangka sorong. Pada tingkat rule using siswa sudah dapat menggunakan hukum-hukum dan atau pengalaman-pengalaman untuk melakukan keterampilan yang komplek, misal bagaimana memukul bola yang tepat agar dengan tenaga yang sama namun hasilnya lebih keras. Gagne (1977) berpendapat bahwa ada 2 kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan yaitu kondisi internal dan eksternal. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara, yakni (a) mengingatkan kembali sub-sub keterampilan yang sudah dipelajari dan (b) mengingatkan prosedur-prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasainya. Untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan: (a) instruksi verbal, (b) gambar, (c) demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik. Soal untuk ranah psikomotor juga harus mengacu pada standar kompetensi yang sudah dijabarkan menjadi kompetensi dasar. Setiap butir standar kompetensi dijabarkan menjadi 3 sampai dengan 6 butir kompetensi dasar. Selanjutnya setiap butir kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 3 sampai dengan 6 indikator dan setiap indikator harus dapat dibuat lebih dari satu butir soal. Namun, ada kalanya satu butir soal ranah psikomotor terdiri dari beberapa indikator. Instrumen psikomotor ini terdiri dari dua macam, yaitu (1) soal dan (2) lembar yang digunakan untuk mengamati dan menilai jawaban siswa terhadap soal tersebut.

1) Menyusun Soal
Menyusun soal dapat diawali dengan mencermati kisi-kisi instrumen psikomotor yang telah dibuat. Soal harus dijabarkan dari indikator dengan memperhatikan materi pokok dan pengalaman belajar. Namun adakalanya soal ranah psikomotor untuk ujian blok yang biasanya sudah mencapai tingkat psikomotor manipulasi, mencakup beberapa indikator.

2) Menyusun Lembar Observasi dan Lembar Penilaian
Lembar observasi dan lembar penilaian harus mengacu pada soal. Soal atau lembar tugas atau perintah kerja inilah yang selanjutnya dijabarkan menjadi aspekaspek keterampilan. Lembar observasi pada tes unjuk kerja dapat Anda cermati juga pada UNIT 5. Teknik asesmen, pendekatan, dan metode pembelajaran serta hasil belajar pada semua ranah merupakan hal yang tak terpisahkan satu dengan yang lain karena semua di desain untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan. Pertanyaan yang
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-29

kemudian muncul adalah: Sejauhmana pola pembelajaran mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Pedoman Penilaian Depdiknas (2006) memvisualkan gambaran tersebut dalam Tabel berikut untuk mempermudah Anda mencermati keterkaitan ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dalam Penilaian.
Tabel: Keterkaitan Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor dalam Penilaian Pola mengajar Cara penilaian

Tulis Objektif

KOGNITIF VI. Evaluasi V. Sintesis IV. Analisis III. Aplikasi II. Pemahaman I. Pengetahuan AFEKTIF V. Karakterisasi IV. Organisasi III. Acuan nilai II. Responsi I. Penerimaan PSIKOMOTOR VI. Gerakan indah dan kreatif V. Gerakan terampil IV. Gerakan kemampuan fisik III. Gerakan persepsi II. Gerakan dasar I. Gerakan refleks Jumlah Persentase

v v v v v v 6 35%

v v v v v v v v v v v v v v v v v 17 100%

v v 2 12%

v v v v v v 8 47%

v v v 3 18%

v v v v v v v v v v v v v v v v 16 94%

v v v v v v v v v v v v 12 71%

v v v v v v v v v v v v v v 14 82%

v 10 59%

(Depdiknas 2006)

4-30

Unit 4

Tingkah laku v v v v v v v v v -

Belajar aktif

Unjuk kerja

Tradisional

No

Portofolio

Produk

TINGKATAN DOMAIN

Tulis Subjektif

Lisan

Rangkuman

Mengembangkan Tes sebagai instrumen asesmen proses dan hasil belajar adalah menyusun alat ukur suatu gejala yang bersifat abstrak yaitu pemahaman dan penguasaan anak terhadap materi yang berupa seperangkat kompetensi dipersyaratkan. Untuk dapat mengembangkan tes yang baik perlu diperhatikan langkah pokok mengembangkan Tes yang meliputi:

1. Perencanaan Tes
a. Menentukan cakupan materi yang akan diukur b. Memilih bentuk tes c. Menetapkan panjang tes

2. Menulis Butir Pertanyaan
a. Menulis draft soal b. Memantapkan validitas isi (Content Validity) c. Melakukan uji-coba (try out) d. Revisi soal

3. Melakukan pengukuran dengan tes
a. Menjaga obyektivitas pelaksanaan b. Memberikan skor pada hasil tes c. Melakukan analisis hasil tes

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-31

Tes Formatif 2
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan langkah-langkah pokok penyusunan tes! 2. Buatlah matrik keterkaitan yang menggambarkan tata hubungan antara standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan penetapan jenis tes serta contoh soal yang dikembangkan! 3. Jelaskan dengan contoh bagaimana sebaiknya try out dilakukan untuk tes buatan guru! 4. Bagaimanakah langkah-langkah mengembangkan tes untuk mengukur domain afektif! 5. Bagaimanakah langkah-langkah mengembangkan tes untuk mengukur domain psikomotor!

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Jawablah pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda belum merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena kesepahaman tentang pengertian ini akan mendasari dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini.

4-32

Unit 4

Subunit 3 Kriteria Tes Yang Baik
Pengantar

D

alam proses pembelajaran, tes merupakan alat ukur dalam proses asesmen maupun evaluasi yang memiliki peranan sangat penting untuk mengetahui keberhasilan proses belajar-mengajar di sekolah. Dalam hal ini, tes memiliki fungsi ganda, yaitu mengukur tingkat pencapaian siswa pada kompetensi yang dipersyaratkan, yang terjabar dalam indikator pencapaian, dan mengukur keberhasilan program pengajaran sekaligus kualitas pendidik dalam mengelola proses pembelajaran. Untuk bisa memberikan data yang akurat, sesuai dengan fungsinya maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, untuk dapat dikatakan sebagai tes yang baik. Secara umum tes yang baik memiliki syarat-syarat antara lain (1) hanya mengukur satu aspek saja. Tes yang baik memiliki sebuah aspek saja yang akan di ukur, jadi tes matematika misalnya hanya menguji kemampuan matematika seseorang, (2) handal dalam pengukuran; kehandalan ini meliputi ketepatan hasil pengukuran dan keajegan hasil pengukuran. Dengan memahami betapa pentingnya tes dalam kegiatan asesmen pembelajaran di sekolah, pastilah Anda sebagai pendidik menjadi penasaran untuk lebih dalam mempelajari apa sebenarnya persyaratan atau kriteria dari tes yang baik. Rasa penasaran Anda akan terlunasi dengan mencermati uraian pada subunit ini. Pemahaman itu akan semakin sempurna bila Anda mengerjakan semua soal latihan dan tes formatif yang ada di akhir subunit ini. Anda juga disarankan untuk membaca referensi lain serta mendiskusikannya dengan teman-teman Anda .

1. Kriteria Tes yang Baik
Tes atau soal ujian merupakan alat ukur yang memiliki fungsi ganda yaitu untuk mengukur efektivitas belajar dan mengukur efektivitas guru dalam mengajar. Untuk dapat menjadi alat ukur yang baik dan dapat memberikan informasi yang akurat maka setiap soal sebagai bagian dari konstruksi tes harus dijaga kualitasnya. Ada beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menyusun butir-butir tes yang berkualitas yaitu:

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-33

a. Valid
Soal dikatakan valid bila dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, validitas soal dapat dilihat dari kesesuaian soal dengan tujuan instruksional khusus dan tujuan pengukuran yang telah ditetapkan. Validitas dapat pula dilihat dari kemampuannya memprediksi prestasi di masa yang akan datang,

b. Relevan
Tes yang relevan mengandung soal-soal yang dapat mengukur kemampuan belajar sesuai dengan tingkat kemampuan yang ditetapkan dalam indikator pencapaian hasil belajar (Ranah kognitif, afektif dan psikhomotor). Bila kompetansi dasar dan indikator bertujuan mengungkap ranah afektif, pertanyaan soal harus pula mengarah ke sikap dan seterusnya.

c. Spesifik
Soal harus direncanakan sedemikian rupa agar jawabannya pasti dan tidak menimbulkan ambivalensi atau spakulasi dalam memberikan jawaban. Kesulitan soal tidak saja kesulitan materi juga bisa ditambah kesulitan dalam memahami soal bila soal tidak disusun secara spesifik.

d. Representatif
Soal tes sebaiknya dikembangkan dari satuan materi yang jelas cakupannya, dan bersifat komprehensif dalam pengertian materi tes harus mencakup seluruh materi pengajaran, untuk itu seluruh pokok bahasan (sub pokok bahasan) idealnya harus terwakili dalam soal tes. Syarat ini akan dapat mengurangi error terhadap hasil pengukuran.

e. Seimbang
Dalam proses pengajaran dosen akan tahu persis, bahwa setiap pokok bahasan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, soal tes dikatakan seimbang bila pokok bahasan yang terpenting mendapat porsi terbanyak dalam soal. Kalau dalam keadaan terpaksa hal tersebut tidak dapat dilakukan maka keseimbangan dapat dicapai dengan memberikan bobot yang berbeda pada pokok bahasan yang memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.

4-34

Unit 4

f. Sensitif
Syarat ini berkait erat dengan taraf kesukaran soal, butir tes yang baik harus memiliki sensitivitas untuk membedakan siswa yang benar-benar menguasai materi dengan yang tidak, hal ini tidak akan tercapai bila soal terlalu sulit sehingga semua siswa tidak dapat mengerjakan, atau soal yang terlalu gampang sehingga semua siswa dapat mengerjakan dengan benar.

g. Fair
Tes hasil ujian hendaklah bersifat terbuka dalam pengertian tidak mengandung jebakan, jelas cakupan materinya, kejalasan norma yang dipakai serta kriteria keberhasilannya. Dalam pelaksanaannya obyektif, tidak merugikan kelompok tertentu.

h. Praktis
Dalam pengertian bahwa tes tidak sulit untuk dilaksanakan dilihat dari segi pembiayaan maupun pelaksanaanya. Tes yang baik harus efisien dan mudah untuk dilaksanakan. Kiteria yang dikemukakan di atas, tidak dimaksudkan untuk memberikan belenggu pada guru dalam menyelesaikan tugasnya di kelas khususnya dalam mengembangkan tes, tetapi lebih diarahkan pada pengenalan kondisi ideal yang seharusnya dipenuhi oleh soal-soal yang disusun oleh pendidik, atau paling tidak memberikan arah kepada perbaikan Anda dalam memperbaiki sistem penilaian yang telah Anda lakukan selama ini.

2. Validitas dan Reliabilitas
Kualitas instrumen sebagai alat ukur ataupun alat pengumpul data diukur dari kemampuan alat ukur tersebut untuk dapat mengungkapkan dengan secermat mungkin fenomena-fenomena ataupun gejala yang diukur. Kualitas yang menunjuk pada tingkat keajekan, kemantapan serta konsistensi dari data yang diperoleh itulah yang disebut dengan validitas dan reliabilitas.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-35

a. Validitas
Validitas alat ukur menunjukkan kualitas kesahihan suatu instrumen atau alat pengumpul data dapat dikatakan valid atau sahih apabila alat ukur tersebut mampu mengukur apa yang seharusnya diukur/diinginkan, sehingga alat ukur dikatakan sahih apabila dapat mengungkap secara cermat dan tepat data dari variabel yang diteliti. Tinggi rendahnya tingkat validitas instrumen menunjukkan sejauhmana data dari variabel yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Kerlinger (1986) menyatakan bahwa validitas alat ukur tidak cukup ditentukan oleh derajad ketepatan alat ukur dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, tetapi perlu pula dilihat dari tiga kriteria yang lain yaitu Appropriatness, Meaningfullness dan Usefullness. Bila dikaitkan dengan pengukuran aspek perilaku sebagai hasil belajar, penjelasan ketiga kriteria tersebut secara bebas dapat diterjemahkan sebagai berikut: (1) Appropriatness: Kriteria ini menunjuk pada kelayakan dari tes sebagai alat ukur tersebut, yaitu seberapa jauh alat ukur dapat menjangkau keragaman aspek perilaku tertentu; (2) Meaningfullness: Adalah kriteria yang didasarkan pada kemampuan alat ukur untuk dapat memberikan keseimbangan item-item pengukurannya berdasar tingkat kepentingan/urgensi dari setiap bagian gejala; dan (3) Usefullness to inferences: yakni kriteria ini menunjuk pada sensitif tidaknya alat ukur untuk dapat menangkap gejala perilaku, dan tingkat ketelitian yang ditunjukkan dalam pembuatan kesimpulan. Jenis-jenis validitas yang dapat dipakai sebagai kriterium, dalam menetapkan tingkat kehandalan tes, diantaranya adalah: 1) Validitas Permukaan (Face Validity): Validitas ini sering pula disebut sebagai validitas tampang. Validitas jenis ini menggunakan kriterium yang paling sederhana karena yang menjadi kriterianya hanya tampang atau penampakan dari instrumen itu sendiri. Apabila tes sebagai instrumen pengukuran, berdasar pengamatan sepintas telah dapat mengungkap fenomena yang akan dicari, bila secara sepintas sudah dianggap baik, maka alat tersebut sudah dapat dianggap memenuhi kriteria face validity, sehingga tidak diperlukan adanya pertimbangan mendalam. 2) Validitas konsep (Construct Validity): Validitas ini disebut juga sebagai validitas konstruksi teori. Dalam hal ini alat ukur dikatakan valid apabila item sebagai alat ukur telah mencerminkan konsep perilaku yang diukur, dan memiliki tingkat kesesuaian dengan konstruksi teoritiknya. Validitas konstruksi ini sering

4-36

Unit 4

pula disebut sebagai logical Validity. Penggunaan validitas logis terutama dalam pengukuran-pengukuran gejala perilaku yang abstrak misalnya ukuran tentang kesetiakawanan, kematangan emosi, sikap terhadap KB, motivasi dan sebagainya. 3) Validitas Isi (Content Validity): Sesuai dengan namanya validitas ini disebut pula sebagai validitas isi, pada validitas ini yang menjadi kriterium untuk menetapkan valid atau tidaknya alat ukur adalah isi/substansi dari variabel yang akan diukur, sehingga pada umumnya validitas ini hanya digunakan untuk mengukur variabel dengan cakupan materi yang jelas, misalnya saja dalam tes hasil belajar, alat ukur digunakan untuk dapat mengukur penguasaan siawa terhadap kompetensi bidang studi yang dipersyaratkan. Derajad validitas menunjuk pada kemampuan tes dalam menggambarkan topik-topik dan ruang lingkup cakupan materi yang akan diukur. Apabila alat ukur yang dikembangkan telah representatif, dalam arti mewakili semua cakupan materi, maka alat ukur tersebut telah memenuhi syarat content validity. Karena secara umum cakupan materi bidang studi biasanya berpedoman pada kurikulum yang telah ditetapkan maka content validity sering pula disebut sebagai “Curriculair Validity”. 4) Concurrent Validity: Validitas ini dikenal pula dengan nama validitas bandingan, karena dalam menetapkan tingkat validitas alat ukur diperlukan kriterium luar yang berupa alat ukur lain yang serupa dan sudah dibakukan validitasnya. Apabila hasil pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur baru, mempunyai tingkat kesesuaian dengan hasil yang pengukuran yang diperoleh dari alat ukur yang sudah dibakukan, maka tes sebagai alat ukur ini dianggap memenuhi concurrent validity. 5) Factorial Validity: Dalam kegiatan penelitian, tidak jarang terjadi sebuah skala pengukuran variabel terdiri dari beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diperoleh berdasar demensi/indikator dari variabel/gejala yang diukur, sesuai yang terungkap dalam konstruksi teoritisnya. Meskipun variabel terdiri dari beberapa faktor, prinsip homogenitas untuk keseluruhan faktor harus tetap dipertahankan. Disamping perlu dicegah adanya overlap antara satu faktor dengan faktor yang lain. Sehingga kriterium yang digunakan dalam factorial validity ini dapat dilihat dengan menghitung homogenitas skor setiap faktor dengan total skor, serta homogenitas antara skor dari faktor yang satu dengan skor dari faktor yang lain.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-37

Di samping pembagian validitas dengan jenis-jenis seperti telah diuraikan di atas, terdapat pula pembagian validitas yang hanya dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu validitas eksternal dan validitas internal.

b. Reliabilitas
Pengertian yang paling sederhana dari reliabilitas adalah kemantapan alat ukur dalam pengertian bahwa alat ukur tersebut dapat diandalkan atau memiliki keajegan hasil. Pada dasarnya hubungan antara validitas dan reliabilitas dapat dikemukakan bahwa alat ukur yang valid akan cenderung menghasilkan pengukuran yang reliabel, sebaliknya alat ukur yang reliabel sama sekali tidak menunjuk pada validitas alat ukur tersebut. Masalah validitas dan reliabilitas alat ukur nampak sangat jelas penggunaannya pada penelitian dengan pendekatan kauntitatif, karena penghitungan tingkat valititas dan reliabilitas pada umumnya juga menggunakan teknik statistik. Kerlinger (1986: 443) mengemukakan bahwa reliabilitas dapat ukur dari tiga kriteria yaitu: (1) Stability, adalah kriteria yang menunjuk pada keajegan (konsistensi) hasil yang ditunjukan alat ukur dalam mengukur gejala yang sama, pada waktu yang berbeda; (2) Dependability, yaitu kriteria yang mendasarkan diri pada kemantapan alat ukur atau seberapa jauh alat ukur dapat diandalkan; (3) Predictability, karena perilaku merupakan proses yang saling berkait dan berkesinambungan, maka kriteria ini mengidealkan alat ukur yang dapat diramalkan hasilnya dan meramalkan hasil pada pengukuran gejala selanjutnya. Dengan mencermati pendapat di atas, maka batas reliabilitas atau keajegan dapat diartikan sebagai konsistensi skor yang diperoleh dari orang yang sama, pada gejala yang sama. Untuk itu ada kemungkinan skor pembanding, mungkin berupa skor yang diperoleh dari alat ukur yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau skor yang diperoleh dari alat ukur lain yang seimbang. Kerlinger menyatakan bahwa reliabilitas instrumen dikatakan baik bila alat tersebut dikenakan pada obyek yang sama, akan mendapatkan hasil yang sama pada beberapa kesempatan yang berbeda. Hal yang menjadi permasalahan dalam reliabilitas adalah kesalahan dalam penggunaan suatu alat ukur, semakin kecil kemungkinan kesalahan terjadi, maka akan semakin reliabel alat ukur tersebut. Dijelaskan lebih jauh bahwa reliabilitas alat ukur dapat ditingkatkan dengan cara memperbanyak butir item, dengan alasan bahwa secara statistik jumlah item yang banyak akan meningkatkan reliabilitas alat ukur. Meningkatkan reliabilitas alat ukur dapat pula dilakukan dengan menggunakan petunjuk pengerjaan yang jelas dan dengan menggunakan istilah-istilah yang jelas,

4-38

Unit 4

sesuai dengan tingkat pengetahuan dan bahasa responden, sehingga tidak menimbulkan keraguan atau kesalahpahaman dalam pengisian. Pengukuran reliabilitas mendasarkan diri pada “measurement error” yaitu kesalahan yang bersumber dari proses pengukuran. Sehingga kesalahan dapat disebabkan oleh alat ukur ataupun dari perubahan-perubahan gejala yang diukur. Dalam penelitian sosial termasuk perilaku, sumber kesalahan pengukuran dapat ditengarai dari berbagai faktor diantaranya adalah (Kartono, 1996: 125): (1) hakekat dari gejala perilaku yang mudah sekali berubah, dan tidak dapat diulang dengan kondisi dan hasil yang sama, sebagai akibatnya hasil pengukuran perilaku juga akan selalu mengalami fluktuasi sejalan dengan perubahan waktu, dan kondisi-kondisi yang ada di sekitarnya; (2) kondisi pribadi yang ada pada diri seseorang bersifat tidak menetap, baik yang menyangkut tingkat kelelahan, suasana hati, dan sebagainya. Hal ini akan mempengaruhi perilaku, dan hasil pengukurannya; dan (3) ketidakmantapan hasil pengukuran juga dapat disebabkan oleh validitas alat ukur yang rendah, situasi pengukuran yang berubah-ubah, ketidakmantapan dalam pelaksanaan pengukuran maupun interpretasi terhadap hasil pengamatan serta kecermatan dalam pengadminstrasian perlu mendapat perhatian. Dengan mendasarkan diri pada keterbatasan penelitian sosial dan perilaku, maka dipahami bahwa angka yang diperoleh sebagai hasil pengukuran gejala sosial dan perilaku akan selalu berupa True score + error. Error yang terjadi bisa berarti skor yang diperoleh terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sumber error (kesalahan atau penyimpangan) dapat berasal dari alat ukur, kondisi responden, pelaksanaan pengukuran ataupun interpretasi dan pengadministrasian. Langkah-langkah untuk menguji reliabilitas alat ukur pada dasarnya merupakan upaya untuk dapat mengetahui seberapa besar “salah ukur” dalam upaya mengukur gejala perilaku sebagai variabel penelitian. Hasil yang diperoleh disebut dengan “Indeks Reliability”. Koefisien reliabilitas selalu berada dalam rentangan 0 sampai dengan 1 yang menunjuk pada persentase varian error dengan sumber variasi yang berbeda. Misalnya koefisien reliabilitas menunjukkan 0.74 berarti 74 % varian skor yang bersumber pada keadaan yang diukur, sedang 26 % adalah kesalahan atau varian error yang bersumber dari keadaan di luar variabel yang diukur. Cara mencari koefisien reliabilitas alat ukur, dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yang masing-masing mempunyai kekurangan dan keunggulan. Berbagai pilihan tentang cara menetapkan tingkat reliabilitas alat ukur tersebut adalah:

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-39

1) Teknik Pengulangan (Test and Re Test Reliability)
Cara ini disebut sebagai teknik ulangan, karena dilakukan dengan memberikan dua kali pengukuran dengan rentang waktu tertentu dengan menggunakan alat ukur yang sama. Skor yang diperoleh pada pengukuran pertama dikorelasikan dengan skor dari hasil pengukuran pada pengukuran yang kedua. Koefisien yang diperoleh dengan cara ini menunjuk pada derajad stabilitas alat ukur. Pada umumnya sumber error pada teknik pengulangan ini dapat bersumber dari berbagai faktor yang menyebabkan seseorang mempunyai skor berbeda pada saat dua kali mengerjakan tes yang sama. Sangat mungkin perubahan skor yang terjadi bukan karena perubahan hal yang diukur, tetapi karena situasi yang berbeda atau pengalaman dari responden pada saat mengerjakan soal yang pertama, sehingga dalam pengerjaan tes kedua lebih hati-hati dan lebih baik hasilnya. Kebaikan utama dari cara ini adalah: karena sobyek dan alat pengukuran yang digunakan sama, akan dapat memperkecil kemungkinan masuknya sumber error yang lain, tetapi perlu pula dipertimbangkan bahwa penggunaan sobyek dan alat ukur yang sama dalam dua kali pengukuran, sekaligus juga merupakan kelemahan yang disebabkan karena adanya pengalaman mengerjakan akan mempengaruhi hasil pada pengukuran yang kedua.

2) Teknik Bentuk Paralel (Alternate Form Reliability)
Mencari reliabilitas dengan teknik bentuk parallel dilakukan dengan cara pengukuran pada subyek yang sama tetapi menggunakan alat ukur berbeda yang mempunyai tingkat kesamaan. Dengan cara ini peneliti perlu mempersiapkan dua set alat ukur yang berbeda dengan mempertimbangkan keseimbangan di antara kedua alat ukur tersebut. Keseimbangan diperlukan karena alat ukur ini ditujukan untuk mengukur gejala yang sama. Teknik ini sering juga disebut sebagai Parallel Test Reliability. Penggunaan dua set alat ukur dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pengaruh ingatan terhadap pengukuran yang pertama. Teknik ini dapat dilakukan dengan mengadakan pengukuran dengan alat ukur yang pertama berturutan waktunya dengan pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang kedua pada subyek yang sama. Kemudian skor dari pengukuran alat ukur yang pertama dikorelasikan dengan skor hasil pengukuran yang kedua. Koefisien korelasi yang diperoleh akan mengungkap derajad ekuivalensi dan indeks stabilitas. Kemungkinan kesalahan pada cara ini dapat bersumber dari derajat keseimbangan antara dua alat ukur tersebut, serta kondisi yang mungkin berbeda pada saat pengukuran pertama dengan pengukuran kedua, meskipun dilakukan secara berturutan.

4-40

Unit 4

3) Teknik belah dua (Split Half reliability)
Teknik belah dua ini dikembangkan dengan menggunakan satu jenis alat ukur, dan hanya diberikan satu kali pada subyek, kemudian hasilnya diolah sedemikian rupa. Yaitu dengan cara mengelompokkan butir-butir itemnya menjadi dua bagian sama besar (belah dua). Pembagian item menjadi dua kelompok sama besar dapat dilakukan dengan cara acak atau pengelompokan berdasar nomor ganjil-genap, dapat pula dengan cara membagi menjadi separo kelompok bagian awal dan separo bagian akhir dalam jumlah yang sama. Setelah itu skor yang berasal dari belahan yang pertama dikorelasikan dengan skor pada belahan yang kedua. Koefisien korelasi yang diperoleh mencerminkan derajad ekuivalensi antara dua belahan tersebut. Teknik ini baru mencerminkan koefisien reliabilitas dari masing-masing belahan tersebut. Oleh karenanya untuk mendapatkan gambaran koefisien secara keseluruhan, koefisien antar belahan tersebut masih perlu dikoreksi dengan rumus sebagai berikut: N r x1 x2 Reliability = 1 + r x1 x2
Dimana x1 adalah skor dari belahan satu, x2 adalah skor dari belahan kedua, dan n adalah banyaknya subyek pada setia bagian (belahan). Rumus tersebut didasarkan pada asumsi bahwa kedua belahan mengukur hal yang sama, yang memiliki varian yang sama.

4) Kuder Richardson Reliability
Cara ini diberlakukan bila instrumen digunakan untuk mengukur satu gejala psikologis atau perilaku yang sama, artinya alat ukur tersebut dapat dikatakan reliabel bila terbukti ada konsistensi jawaban antar item yang satu dengan item yang lain. Sehingga apabila sifat dan tingkatan homogenitas antar item tidak terpenuhi, artinya alat tersebut dianggap mengukur lebih dari satu variabel. Bila dalam kenyataan dalam satu instrumen terdapat lebih dari satu skala pengukuran atau mengukur lebih dari satu variabel, dan setiap variabel memiliki beberapa dimensi, maka pengecekan reliabilitas dilakukan terhadap masing-masing skala pengukuran. Model Kuder Richardson Reliability ini menghasilkan koefisien konsistensi internal yang menunjuk pada derajad konsistensi antara item yang satu dengan item yang lain. Sehingga lebih cocok untuk alat ukur yang menggunakan item dua pilihan dengan salah satu jawaban benar.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-41

6) Cronbach Alpha Reliability
Cara ini juga dikembangkan untuk mengujir konsistensi internal dari suatu alat ukur, perbedaan pokok dengan model Kuder Richardson adalah bahwa teknik ini tidak hanya untuk instrumen dengan dua pilihan tetapi tidak terikat pada dua pilihan saja, sehingga penerapannya lebih luas. Misalnya untuk menguji reliabilitas skala pengukuran sikap dengan 3, 5 atau 7 pilihan. Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah indeks sensitivitas, yang merupakan perbedaan kemampuan peserta didik antara setelah mengikuti proses pembelajaran dengan sebelum mengikuti proses pembelajaran. Indeks ini menyatakan tingkat keberhasilan peserta didik dalam mengikuti porses pembelajaran dan keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Besarnya indek yang baik adalah positif dan besar. Indeks ini sering dinyatakan dalam bentuk formula seperti berikut ini: RA - RB Is = ⎯⎯⎯ T RA = Jumlah peserta didik yang menjawab benar setelah mengikuti proses pembelajaran RB = Jumlah peserta didik yang menjawab benar sebelum mengikuti proses pembelajaran T = Jumlah peserta didik yang mengikuti ujian

Rangkuman

Untuk dapat menjadi alat ukur yang baik dan dapat memberikan informasi yang akurat maka setiap soal sebagai bagian dari konstruksi tes harus dijaga kualitasnya. Ada beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menyusun butir-butir tes yang berkualitas yaitu; (1) valid, (2) relevan, (3) spesifik, (4) representatif, (5) seimbang (6) sensitif, (7) fair, dan (8) praktis Validitas sebagai kriteria mutlak tes sebagai instrument terbagi menjadi 5 jenis yaitu; (1) validitas permukaan (face validity), (2) validitas konsep (construct validity), (3) validitas isi (content validity), (4) concurrent validity, dan (5) factorial validity.

4-42

Unit 4

Tes Formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 3. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan dengan contoh kriteria tes yang baik! 2. Jelaskan dengan contoh jenis-jenis validitas tes sebagai alat ukur! 3. Jelaskan mengapa content validity sering pula disebut sebagai validitas kurikulum! 4. Jelaskan jenis-jenis ukuran reliabilitas! 5. Jelaskan dengan contoh ketekaitan antara validitas dan reliabilitas!

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Jawablah pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda belum merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena kesepahaman tentang pengertian ini akan mendasari dan mempengaruhi langkah dan kegiatan dalam menyelesaikan mata kuliah ini.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-43

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1. Jenis tes dilihat dari tujuan penyelenggaraannya, yaitu tes untuk keperluan seleksi, untuk menempatkan orang pada kelas-kelas tertentu, untuk mengetahui hasil belajar, untuk keperluan diagnostik, dan untuk keperluan uji coba. 2. Jenis tes berdasar bentuk jawabannya adalah : a. Tes Esei : Tes yang jawabannya berbentuk uraian yang menuntut siswa mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasannya dalam bentuk tulisan. b. Tes jawaban pendek peserta menuangkan jawabannya, dalam bentuk rangkaian kata-kata pendek, kata-kata lepas, maupun angka-angka. c. Tes objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah tersedia. 3. Tes melandasi pengambilan keputusan di awal proses pembelajaran, yaitu manfaat tes untuk mengetahui : a. Sejauhmanakah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti proses pembelajaran hal ini diperlukan untuk menetapkan perencanaan pembelajaran. b. Sejauhmanakah kemampuan dan keterampilan yang telah dicapai peserta didik terhadap pembelajaran yang direncanakan, untuk merancang materi dan metode pembelajaran yang direncanakan. 4. Tes melandasi pengambilan keputusan selama proses pembelajaran. Tes dapat pula digunakan selama proses pembelajaran (tes formatif). Tes formatif dapat diberikan baik dalam bentuk tes tulis maupun tes lisan, baik dengan jawaban uraian maupun tes obyektif. 5. Perbedaan antara tes obyektif dengan tes esei : Tes objektif adalah tes yang keseluruhan informasi yang diperlukan untuk menjawab tes telah tersedia. Oleh karenanya sering pula disebut dengan istilah tes pilihan jawaban (selected response test). Butir soal telah mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Menurut Subino (1987)
Unit 4

4-44

perbedaan yang khas bentuk soal objektif dibanding dengan soal esei adalah tugas peserta tes (testee) dalam merespons tes. Pada tes objektif, tugas testee adalah memanipulasikan data yang telah ada dalam butir soal. Oleh karenanya, tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Sedang Tes Esei (Essay-type Test) : Adalah tes bentuk uraian yang menghendaki siswa mengorganisasikan gagasan-gagasan atau hal yang telah dipelajarinya dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasannya dalam bentuk tulisan. Keunggulan tes uraian adalah dapat mengukur kemampuan siswa dalam hal mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan pendapatnya, dan mengekspresikan gagasan-gagasan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat sendiri. Sedang keterbatasannya adalah cakupan materi pelajaran yang terbatas, waktu pemeriksaan jawaban yang lama, penskorannya subyektif dan umumnya kurang handal dalam pengukuran.

Tes Formatif 2
1. Langkah-langkah pokok penyusunan tes : a. Langkah Perencanaan Tes: (1) Menentukan cakupan materi yang akan diukur, Menulis kompetensi dasar, Menulis materi pokok, Menentukan indikator, Menentukan jumlah soal, (2)Pemilihan bentuk tes (3)Menetapkan panjang tes. b. Menulis Butir Pertanyaan meliputi: (1) Menulis draf soal (2) Memantapkan Validitas Isi (Content Validity), (3)Melakukan Uji Coba (try out), (4) Revisi soal. 2. Membuat matrik keterkaitan yang menggambarkan tata hubungan antara standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan penetapan jenis tes serta contoh soal yang dikembangkan pada kelas saudara, dapat melihat contoh pada subunit 2 point 2.a. 3. Try out dilakukan untuk tes buatan guru harus dilakukan dengan memperhatikan (1) apakah item-item soal cukup valid dan sesuai dengan kompetensi, (2) bagaimana rencana pelaksanaan tes untuk siswa, (3) berapa lama memperkirakan penggunaan waktu pengerjaan, (4) apakah kejelasan format tes, sudah cukup baik, (5) kejelasan petunjuk pengisian, dan (6) pemahaman bahasa yang digunakan dan sebagainya. 4. Langkah mengembangkan tes untuk mengukur domain afektif. (1) Memilih variabel afektif yang akan diukur; (2) Membuat beberapa pernyataan tentang variabel afektif yang dimaksudkan; (3) Mengklasifikasikan pernyataan positif
Asesmen Pembelajjaran di SD

4-45

atau negatif; (4) Menentukan jumlah gradual dan frase atau angka yang dapat menjadi alternatif pilihan; (5) Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian; (6) Melakukan ujicoba; (7) Membuang butirbutir pernyataan yang kurang baik; dan (8) Melaksanakan penilaian. 5. Langkah mengembangkan tes psikomotor: (1) Menyusun soal dengan mencermati kisi-kisi instrumen psikomotor yang telah dibuat, menjabarkan indikator dengan memperhatikan materi pokok dan pengalaman belajar. (2) Menyusun Lembar Observasi dan Lembar Penilaian yang mengacu pada soal.

Tes Formatif 3
1. Kriteria tes yang baik : a. Valid : Soal dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. b. Relevan : dapat mengukur kemampuan belajar sesuai dengan tingkat kemampuan yang ditetapkan dalam indikator pencapaian hasil belajar. c. Spesifik : tidak menimbulkan ambivalensi/spekulasi dalam memberikan jawaban. d. Representatif : dikembangkan dari satuan materi yang jelas cakupannya, dan bersifat komprehensif. e. Seimbang : pokok bahasan yang terpenting mendapat porsi terbanyak dalam soal. f. Sensitif : dapat membedakan siswa yang menguasai materi dengan yang tidak. g. Fair : terbuka tidak mengandung jebakan, jelas cakupan materinya, kejelasan norma yang dipakai serta kriteria keberhasilannya. h. Praktis : tidak sulit dilaksanakan dari segi pembiayaan maupun pelaksanaanya. 2. Jenis-jenis validitas tes : Validitas adalah kriteria mutlak tes sebagai instrumen. Ada 5 jenis validitas yang dapat dipedomani yaitu yaitu; (1) validitas permukaan (face validity), (2) validitas konsep (construct validity), (3) validitas isi (content validity), (4) concurrent validity, dan (5) factorial validity. 3. Content validity sering pula disebut sebagai validitas kurikulum. Derajad validitas isi (content validity) menunjuk pada kemampuan tes dalam menggambarkan topik-topik dan ruang lingkup cakupan materi yang akan diukur. Apabila alat ukur yang dikembangkan telah representatif, dalam arti mewakili

4-46

Unit 4

semua cakupan materi, maka alat ukur tersebut telah memenuhi syarat Content validity. Karena secara umum cakupan materi bidang studi biasanya berpedoman pada kurikulum yang telah ditetapkan maka content validity sering pula disebut sebagai “Curriculair Validity”. 4. Jenis-jenis ukuran Reliabilitas a. Stability, adalah kriteria yang menunjuk pada keajegan (konsistensi) hasil yang ditunjukan alat ukur dalam mengukur gejala yang sama, pada waktu yang berbeda; b. Dependability, yaitu kriteria yang mendasarkan diri pada kemantapan alat ukur atau seberapa jauh alat ukur dapat diandalkan; c. Predictability, karena perilaku merupakan proses yang saling berkait dan berkesinambungan, maka kriteria ini mengidealkan alat ukur yang dapat diramalkan hasilnya dan meramalkan hasil pada pengukuran gejala selanjutnya. 5. Keterkaitan antara validitas dan reliabilitas. Validitas menyangkut ketepatan tes dalam mengukur gejala yang diukur, sedang reliabilitas menunjuk pada konsistensi hasil pengukuran dari waktu ke waktu maupun antar bagian dari tes tersebut, sehingga tes yang valid yang dapat mengukur apa yang seharusnya dapat diukur pasti akan menunjukkan hasil yang konsisten atau reliabel tetapi hasil pengukuran yang konsisten tidak dapat menunjukkan dukungannya terhadap validitas, misalnya mengukur tingkat kecerdasan siswa dengan mengukur lingkar kepala, hasilnya akan selalu konsisten dan reliabel, tetapi ukuran tersebut sama sekali tidak valid

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-47

Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2002). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Balitbang Depdiknas. (2006). Panduan Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Depdiknas. Brookhart Susan M, Nitko J. Anthony. (2007). Educational Assesment of Student. Fifth edition. New Jersey: Meril Prentice Hall. Johson David, W & Johson, Roger T. (2002). Meaningful Assessment. Arlington Street Boston: Ally & Dacon A Pearson Education Company. Koufman, R. and Thomas, S. (1990). Evaluations Without Fear. New York: A Division of Franklin Watts. Poerwanti E. (2001). Evaluasi Pembelajaran, Modul Akta mengajar. UMM Press. Subino. (1987). Konstruksi dan Analisis tes. Jakarta: Dit-Jen Dikti. Silverius, S. (2001). Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: Gramedia Widya Sarana. Stiggins, R. J. (1994). Student Centered Classroom Assessment. New York: Maxwell Macmillan International. Sudiyono, A. (1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Syaifuddin, A. (2002). Test Prestasi. Yogyakarta.

4-48

Unit 4

Glosarium _____________________________________________
Indikator adalah ciri-ciri atau tanda-tanda seseorang telah menguasai kompetensi standar. Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. KTSP atau Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik pada setiap kelompok mata pelajaran. Standar Kompetensi Mata Pelajaran adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan/atau semester untuk mata pelajaran tertentu. Struktur kurikulum adalah merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran.

Asesmen Pembelajjaran di SD

4-49

Unit

5

INSTRUMEN NON TES
Pendahuluan Yuni Pantiwati

audara, seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya bahwa asesmen merupakan proses mengumpulkan informasi dan membuat keputusan berdasarkan informasi itu (Blaustein, D. et al., 1999 dalam Ibrohim, 2002). Karena merupakan suatu proses, maka kita perlu mengikuti jalannya proses tersebut sebelum sampai pada pengambilan keputusan. Keputusan ini sangat berarti bagi peserta didik, oleh karena itu kita harus berhati-hati dan memberikan keputusan berdasarkan data yang akurat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Coba saudara ingat, selama ini keputusan hasil belajar peserta didik apakah sudah ditetapkan berdasarkan berbagai informasi tentang kemampuan yang dimiliki peserta didik? Benarkah kita sudah mengukur semua kemampuan siswa, baik kognitif, afektif, dan psikomotor? Jika kita kaji kembali alat ukur yang digunakan guru pada umumnya menggunakan tes tulis jenis obyektif dan sedikit esei. Alat ukur ini selalu kita gunakan untuk mengumpulkan informasi yang selanjutnya digunakan untuk memberikan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik. Dapatkah alat ini memberikan informasi secara menyeluruh tentang kemampuan siswa? Bukankah tes tulis hanya dapat memberikan informasi kemampuan kognitif semata. Nah, dengan demikian bagaimana kemampuan afektif dan psikomotor diukur? Apakah alat yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan secara menyeluruh? Bagaimana melakukan pengukurannya? Telah kita ketahui bersama bahwa tujuan pendidikan tidak hanya terbatas pada produk saja tetapi lebih dari itu juga menyangkut proses dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Untuk mengukur upaya siswa mencapai tujuan seperti yang tercantum dalam kurikulum, menghendaki pengembangan cara-cara penilaian baru. Asesmen ini diharapkan dapat melengkapi alat penilaian paper and pencil test yang umumnya hanya dapat mengungkapkan kemampuan kognitif siswa, yang dapat memberi bukti berapa banyak informasi yang telah dapat dikumpulkan siswa. Dengan demikian diharapkan penilaian yang dilakukan lebih komprehensif sehingga dapat digunakan untuk membuat kesimpulan tentang profil siswa secara utuh.

S

Asesmen Pembelajaran di SD

5-1

Dalam Unit 6 kita akan mempelajari berbagai asesmen yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik secara menyeluruh selain alat ukur yang selama ini digunakan oleh guru. Asesmen yang digunakan selain tes tertulis yang digunakan selama ini, itulah yang disebut asesmen alternatif. Cara-cara asesmen ini bertujuan melengkapi cara atau metoda tes (tradisional). Materi ini penting untuk dipelajari oleh seorang guru, karena di dalam materi ini, Anda akan menemukan apa, mengapa, dan bagaimana asesmen alternatif itu. Diharapkan dengan membaca materi pelatihan ini dan kemudian berlatih seperti yang disarankan, Anda akan mampu mengembangkan contoh-contoh sederhana asesmen alternatif dalam bidang yang Anda ajarkan. Setelah mempelajari materi pelatihan ini, diharapkan Anda dapat: 1. menjelaskan hakekat penilaian alternatif; 2. mengidentifikasi tipe-tipe penilaian alternatif; 3. mengembangkan penilaian kinerja; 4. mengembangkan penilaian portofolio; 5. mengembangkan penilaian diri. Untuk membantu mendalami materi bahan ajar ini, Anda disarankan untuk mempelajarinya secara cermat, baik secara mandiri maupun kelompok, menelaah sumber-sumber buku yang relevan untuk membantu pemahaman Anda. Setelah mengkaji secara saksama uraian materi pada unit ini, selanjutnya Anda diminta untuk mengerjakan soal-soal latihan yang terdapat di masing-masing subunit, membaca rangkuman, dan mengerjakan soal-soal tes formatif yang disediakan di bagian akhir tiaptiap subunit. Pedoman jawaban latihan telah tersedia pada masing-masing subunit, demikian halnya kunci jawaban tes formatif juga telah disediakan di bagian akhir unit ini. Namun demikian, Anda diminta untuk menjawab soal-soal latihan dan soal-soal tes formatif secara mandiri terlebih dahulu sebelum mencocokkannya dengan pedoman jawaban latihan ataupun kunci jawaban tes formatif yang telah disediakan. Selamat belajar, semoga sukses!

5-2

Unit 5

Subunit 1 Hakekat Asesmen Alternatif
Pengantar

T

elah kita ketahui bersama asesmen yang dilakukan guru di dalam kelas jelas bermaksud untuk memperbaiki proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Selama ini umumnya guru menggunakan tes tertulis (paper and pencil test) dalam melakukan penilaian walau diketahui paper and pencil test mempunyai banyak kelemahan disamping kelebihan-kelebihan. Ketika kita melakukan asesmen menggunakan paper and pencil test, kemampuan peserta didik yang kita ukur adalah kemampuan kognitif saja sedang kemampuan afektif dan psikomotor belum terukur, walau demikian guru sudah dapat menyimpulkan bagaimana kemampuan peserta didik tersebut. Dengan demikian sungguh kita tidak adil melakukan evaluasi dengan cara demikian. Asesmen alternatif merupakan upaya memperbaiki dan melengkapi tes, sehingga penilaian hasil belajar tidak hanya berhubungan dengan hasil akhir (end product) tetapi yang lebih penting merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Asesmen alternatif tidak dipersiapkan sebagai pengganti tes obyektif buatan guru tetapi diharapkan dapat membantu meningkatkan efektifitas proses pembelajaran. Jadi, asesmen alternatif harus mampu menghilangkan berbagai kelemahan tes, seperti menimbulkan rasa cemas yang berlebihan, mengkategori peserta didik secara permanen, menghukum peserta didik yang kreatif, atau mendeskriminasi peserta didik dari golongan minoritas .

1. Perlunya Penilaian Alternatif
Telah kita sadari bahwa kurikulum berkembang pesat mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman. Demikian juga pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dasar, sehingga sistem pembelajaran tentunya juga menuntut pula adanya perkembangan dalam pemilihan jenis strategi, metode, media maupun sistem penilaian. Sistem penilaian sangat terkait dengan strategi pembelajaran yang digunakan. Sebagai contoh dalam kurikulum IPA menghendaki pembelajaran secara kontekstual, mengkaitkan materi dengan dunia nyata atau sesuai dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru mengajarkan sains kepada siswa melalui pemecahan

Asesmen Pembelajaran di SD

5-3

masalah, inquiry, keterampilan proses, atau kooperatif. Startegi pembelajaran ini tentunya menuntut siswa aktif, kreatif, kritis sehingga mampu mengembangkan kemampuan nalar agar terjadi integrasi antar materi, pendekatan, dan obyek yang dipelajari. Pada saat siswa menunjukkan kompetensinya dengan berbagai sikap, perilaku, dan keterampilan yang mereka miliki, tentunya ini perlu dinilai sebagai sumber informasi yang sangat berharga untuk menentukan pencapaian kemajuan siswa, maka disinilah perlunya asesmen alternatif. Kompetensi yang ditunjukkan siswa sangat bervariasi, seperti dapat menjawab pertanyaan, menulis laporan, menanam dalam pot, mengukur volume air dan sebagainya, maka alat ukur yang digunakan juga berbeda-beda sesuai dengan apa tujuan yang akan diukur. Demikian juga dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, bila tujuannya adalah siswa dapat berpidato, berpuisi, mengarang, bercerita, atau bersyair maka ini juga memerlukan instrumen yang sesuai pula. Setelah Saudara memperhatikan uraian tadi, selanjutnya pikirkan kembali kemampuan apa yang dapat diukur dari peserta didik? Untuk menjawab permasalahan ini pikirkan juga strategi apa yang akan digunakan? Bagaimana melakukannya? Apa yang dapat dilakukan peserta didik? Dengan demikian Anda dapat mengembangkan sendiri jenis asesmen seperti apakah yang akan digunakan untuk mengases peserta didik kita? Selama ini mungkin kita sudah memperhatikan namun tidak mengases dengan benar, sistematis, dan belum memenuhui tuntutan administratif. Kita mengenal ada berbagai jenis asesmen seperti asesmen alternatif, asesmen tradisional, asesmen kinerja, maupun asesmen yang lainnya. Asesmen ini mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakan satu dengan lainnya. Menurut Karim (2004), ada beberapa karakteristik asesmen alternatif yaitu: (1) Meminta siswa untuk melakukan (perform), menciptakan, menghasilkan, atau mengerjakan sesuatu, (2) Menuntut siswa untuk berfikir tingkat tinggi, (3) Menuntut keterampilan dalam memecahkan masalah yang dihadapi atau diberikan kebebasan untuk memecahkan masalah, (4) Menuntut penerapan dalam kehidupan sehari-hari, (5) Dalam penyekoran dilakukan oleh manusia dan bukan mesin, (6) Menuntut peranan pembelajaran yang baru bagi guru, (7) Menuntut peranan asesmen yang baru bagi guru, (8) Menekankan pentingnya pengujian proses dan hasil belajar, (9) Mendorong guru untuk pindah dari tugas yang hanya membutuhkan satu jawaban benar ke tugastugas yang memiliki lebih dari satu jawaban benar, (10) Menantang siswa untuk menyelidiki beberapa kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, dan (11) Menantang siswa untuk menarik kesimpulan sendiri terhadap suatu tugas atau problem yang dihadapi.

5-4

Unit 5

Berdasarkan uraian di atas kita sadari bahwa asesmen alternatif menuntut guru untuk kreatif dan inovatif sehingga dapat mengembangkan instrumen untuk mengukur kemampuan siswa dengan cara yang lebih baik. Menurut Hart (1994) kalau guru mengubah cara mengases siswa, maka guru juga akan mengubah bagaimana dia mengajar dan bagaimana siswa belajar. Perubahan ini tidak hanya penting untuk peningkatan pendidikan, tetapi juga penting bagi siswa, guru, dan orang tua. Apabila Anda akan mengembangkan asesmen masih ada lagi arah pengembangan yang haruis Anda perhatikan agar pengembangan asesmen lebih terarah dan tujuan yang kita inginkan dapat tercapai. Berikut diuraikan arah pengembangan asesmen seperti tercantum dalam Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Arah Pengembangan Asesmen Kurang Menekankan pada 1. mengases apa yang mudah diukur 2. mengases sebagian pengetahuan diskrit 3. mengases pengetahuan ilmiah 4. mengases untuk mempelajari apa yang tidak diketahui siswa 5. mengases hanya hasil belajar 6. asesmen akhir unit atau bab oleh guru Lebih menekankan pada 1. mengases apa yang paling memiliki nilai tinggi 2. mengases pengetahuan yang terstruktur baik dan kaya 3. mengases pemahaman dan penalaran ilmiah 4. mengases untuk mempelajari apa yang dipahami siswa 5. mengases hasil belajar dan kesempatan untuk belajar 6. siswa terlibat dalam asesmen berkelanjutan tentang pekerjaannya dan pekerjaan temannya 7. Guru terlibat dalam pengembangan asesmen eksternal dan asesmen berbasis sekolah

7. mengembangkan asesmen eksternal hanya oleh ahli pengukuran

2. Tipe-tipe Penilaian Alternatif
Pada bagian terdahulu Anda telah mempelajari tentang hakekat asesmen alternatif, tujuan, perlunya, dan karakteristik asesmen alternatif. Ingatlah kembali pengertian dari asesmen alternatif. Asesmen alternatif adalah bentuk asesmen yang menggunakan berbagai cara untuk mengases siswa, selain menggunakan cara/asesmen tradisional (seperti tes objektif pilihan ganda, benar salah, dan

Asesmen Pembelajaran di SD

5-5

sebagainya). Menurut definisi yang dikembangkan oleh McGraw-Hill School Division (2000), asesmen alternatif adalah asesmen yang tidak melibatkan suatu tes baku (butir-butir tradisional). Selanjutnya dalam subunit ini Anda akan mempelajari tentang berbagai macam (tipe-tipe) asesmen alternatif. Kita telah memahami bahwa asesmen alternatif yaitu selain asesmen konvensional. Apabila paper and penci test merupakan asesmen yang biasa digunakan oleh guru dan tidak ada lagi asesmen lainnya, maka selain paper and pencil merupakan assmen alternatif. Telah kita pahami bahwa asesmen alternatif merupakan asesmen yang tidak lazim digunakan dalam penilaian siswa di kelas. Ada banyak jenis asesmen alternatif, menurut McGraw-Hill School Division (dalam Ibrahim, 2003), macam asesmen alternatif antara lain adalah: 1. Asesmen kinerja (Performance assessment). 2. Observasi dan pertanyaan (Observation and Questioning). 3. Presentasi dan Diskusi (Presentation and Discussion). 4. Proyek dan Investigasi. 5. Portofolio dan Jurnal. 6. Wawancara (interview) dan konferensi. 7. Evaluasi diri oleh siswa. 8. Tes buatan siswa. 9. Pekerjaan Rumah. Jika Anda melihat berbagai jenis asesmen alternatif tersebut nampak bahwa kita mempunyai banyak cara untuk mengases peserta didik. Anda bisa memilih jenis asesmen mana yang akan digunakan tergantung apa tujuan yang telah Anda tetapkan. Dari sejumlah asesmen alternatif di atas, asesmen kinerja dan portofolio akan dibahas lebih mendalam dalam subunit berikutnya, sedang jenis asesmen lainnya dapat dipelajari pada uraian di bawah ini.

1. Observasi dan mengajukan Pertanyaan
Bagi Anda tentunya teknik penilaian observasi dan mengajukan pertanyaán sebenarnya bukanlah hal baru. Di dalam kelas tingkah laku siswa dan kinerja dalam mengerjakan tugas-tugas ilmiah mungkin telah Anda observasi, dan kita juga sering bertanya pada siswa mengenai pekerjaannya. Anda tentunya juga melakukan kegiatan mengajukan pertanyaan selama membuka pelajaran dengan topik baru, demikian juga ketika mereviu materi yang telah diajarkan sebelumnya. Melalui pertanyaan kita dapat mengetahui bagaimana siswa berpikir dan sekaligus dapat mengetahui kemampuan siswa berkomunikasi. Dengan mengamati, mendengarkan, mengajukan pertanyaan yang benar dan mengevaluasi respon siswa, akan

5-6

Unit 5

memberikan informasi bagaimana siswa membuat hubungan dari apa yang mereka ketahui. Perlu Anda ketahui bahwa ada berbagai macam cara dalam mengajukan pertanyaan, tipe pertanyaan yang paling baik diajukan kepada siswa untuk mengases pengetahuan mereka adalah pertanyaan ujung terbuka. Hal tersebut akan memberikan siswa peluang untuk berfikir tentang mereka sendiri dan untuk mendemonstrasikan pemahaman mereka terhadap suatu masalah atau situasi yang lain. Melalui pengajuan pertanyaan semacam itu akan lebih banyak diperoleh informasi yang menarik tentang apa yang siswa ketahui dan pahami. Pertanyaan semacam ini juga memungkinkan siswa untuk menunjukkan originalitas (keaslian) dan kreativitasnya. Contoh-contoh pertanyaan ujung terbuka biasanya menggunakan kata-kata sebagai berikut jelaskan, bandingkan, katakan, analisislah, ujilah, tunjukkanlah, demonstrasikanlah, buatlah sketsa, selidikilah, buatlah ilustrasi, bedakanlah, selidikilah, ramalkanlah, buatlah definisi operasional (Hibbard, 2000). Saudara juga dapat mengajukan pertanyaan atau meminta kepada siswa seperti berikut ini: 1) Buatlah kesimpulan berdasarkan hasil pengamatanmu! 2) Selidikilah penyebab kerusakan........! 3) Bandingkan bagian 1 dan 2! Seperti halnya pengamatan, pertanyaan merupakan bagian integral dari proses pengajaran. Fakta menunjukkan bahwa pengamatan seringkali merupakan hasil dan pengajuan pertanyaan yang benar. Pertanyaan dapat diarahkan kepada siswa secara individual, kelompok kecil atau kepada seluruh kelas. Jawaban siswa dapat digunakan untuk tujuan asesmen, membimbing pengajaran atau untuk mengidentifikasi kesalahan. Agar Anda lebih memahami bagaimana cara menggunakan asesmen pertanyaan, berikut ini diberikan contoh pertanyaan yang berhubungan dengan pemecahan masalah, keterampilan laboratorium, penalaran, dan hubungan. Contoh pertanyaan untuk pemecahan masalah: 1) Jelaskan, masalah yang kamu hadapi! 2) Apakah masalah tersebut menarik bagimu? 3) Bagaimana cara kamu memecahkan masalah tersebut? 4) Apakah membuat gambar atau sketsa dapat membantumu memecahkan masalah tersebut? 5) Jelaskan tahap-tahap yang akan kamu ikuti dalam memecahkan masalah!

Asesmen Pembelajaran di SD

5-7

Contoh pertanyaan penalaran dalam pengamatan:

1) Dalam percobaan ini, bedakan pertumbuhan yang terjadi di tempat gelap dan
terang!

2) Bagaimana kamu menjelaskan pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan? 3) Mengapa pertumbuhan di tempat gelap lebih cepat dari pada di tempat terang?
Jelaskan jawabanmu dengan memberikan alasan!

4) Apa yang dapat kamu simpulkan dari pengamatan kecambah ini?
Apabila Saudara akan menggunakan pertanyaan dalam mengases apa yang siswa ketahui, ada beberapa petunjuk yang wajib Anda ketahui dan perhatikan. Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang perlu diikuti (Hibbard, 2000): 1. Buatlah daftar pertanyaan. 2. Berilah waktu yang cukup bagi siswa untuk menjawab pertanyaan Anda. 3. Beri kesempatan kepada siswa untuk membuat catatan, dan tanyakan pertanyaan Anda untuk mengklarifikasi permasalahan yang ditanyakan. 4. Catatlah jawaban siswa pada format yang terorganisasi. 5. Buatlah kesimpulan tentang jawaban siswa. Sekarang cobalah Anda praktikkan dalam pembelajaran dengan memulai halhal kecil dengan membuat pertanyaan-pertanyaan agar informasi tentang siswa terpenuhi. Cara mengases siswa melalui pertanyaan merupakan kegiatan secara lisan, sedang mengases melalui tulisan dapat Anda lakukan misalnya dengan menggunakan jurnal. Untuk lebih jelasnya mari kita pelajari tentang asesmen dengan menggunakan Jurnal.

2. Jurnal
Guru mempunyai banyak pilihan dalam mengases kemajuan belajar siswa. Salah satu cara yang dapat Anda gunakan yaitu menggunakan jurnal belajar. Menurut Susilo (2004) jurnal belajar adalah tulisan yang dibuat siswa untuk mencatat apa yang telah dipelajarinya. Pendapat lain menyatakan jurnal adalah rekaman tertulis tentang apa yang dibuat siswa terhadap apa yang telah dipelajari oleh siswa. Jurnal dapat digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipelajari, seperti misalnya perasaan siswa terhadap sains, kesulitan yang dialami, atau keberhasilan di dalam memecahkan masalah atau topik tertentu atau berbagai macam catatan lain, komentar yang dibuat oleh siswa. Membuat jurnal adalah cara yang paling baik untuk siswa berpraktik dan meningkatkan kemampuan menulis mereka karena jurnal membantu siswa memiliki sikap selalu memuliskan apa yang dikerjakan.

5-8

Unit 5

Keuntungan menggunakan Jurnal adalah manakala siswa belajar sains secara independen, maka jurnal sangat membantu dalam mengembangkan kemampuan refleksi dan introspeksi. Menggunakan jurnal sangat kondusif untuk melatih berpikir tentang mengapa sesuatu dilakukan. Di dalam jurnal dapat digunakan untuk menulis pernyataan, kesuksesan, pemikiran, maupun rasa frustasi. Menggunakan jurnal dapat memperoleh informasi tentang sejarah siswa ketika belajar secara independen. Anda mungkin mempertanyakan kegiatan apa saja yang dapat digunakan untuk membuat jurnal. Dalam kegiatan belajar mengajar banyak peristiwa yang dapat ditulis oleh siswa, berikut kegiatan-kegiatan yang dapat digunakan untuk mengisi jurnal menurut Moore (1994): 1. memulai pertemuan di kelas atau memulai diskusi, 2. meringkas pembelajaran, 3. interupsi/memfokuskan kembali diskusi kelas, 4. menanyakan persetujuan atas suatu pernyataan, 5. mendiskusikan bagaimana pembelajaran hari ini terkait dengan topik-topik lain, 6. merespon suatu tugas, 7. meningkatkan konsentrasi siswa, 8. mencek kesiapan/pendapat siswa, 9. mencatat hasil kerja laboratorium. Dalam menggunakan jurnal belajar awalnya memang tidak mudah karena siswa belum terbiasa, siswa mungkin tidak merespon, menulis sesukanya, enggan menulis atau bahkan tidak menuliskan apapun. Hal-hal seperti ini bisa terjadi pada kegiatan awal, tetapi Anda perlu mengatur strategi dengan mempertimbangkan waktu, kondisi siswa/kelas, materi pembelajaran, dan komponen-komponen pembelajaran lainnya. Perlu Saudara ketahui bahwa semakin sering kita menggunakan jurnal belajar maka siswa semakin berpengalaman, seperti diungkapkan Hibbard (1999) dengan semakin berpengalamannya siswa memikirkan proses dan gaya belajarnya, mereka akan menjadi pebelajar mandiri yang lebih baik. Selanjutnya Hibbard mengusulkan isian dalam jurnal belajar berupa hal-hal sebagai berikut: 1. gambar atau sketsa dengan komentar, 2. pertanyaan yang ingin ditanyakan siswa beserta upaya awal untuk menjawab pertanyaan tersebut, 3. hasil pengamatan secara rinci, 4. pertanyaan ”Andaikan......? yang ditanyakan siswa pada awal merencanakan suatu eksperimen, 5. sketsa dan catatan mengenai model-model dan temuan-temuan, 6. peta pikiran yang dibuat siswa,

Asesmen Pembelajaran di SD

5-9

7. pemikiran tentang apa yang menarik dan menyenangkan dalam kelas, 8. pemikiran mengenai apa masalah/topik yang sulit dan bagaimana memecahkan masalah/mengatasi kesulitan, 9. catatan mengenai materi sains yang menarik dalam berita di koran atau televisi. Selanjutnya, yang perlu Anda pikirkan, yaitu bagaimana cara menilai jurnal belajar siswa sesuai dengan daftar aspek-aspek jurnal yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru berdasarkan kesepakatan dengan siswa. Isi jurnal dapat dirancang guru bersama siswa, demikian juga dengan rubrik penilaiannya. Berikut contoh format penilaian proses belajar dengan menggunakan jurnal belajar.
Tabel 5.2. Format Penilaian Proses Belajar dengan Menggunakan Jurnal Belajar No. Elemen yang dinilai Skor Penilaian maksimal Siswa Guru 1 Semua aspek disampaikan/ditulis lengkap 10 2 Penulisan dengan kalimat yang jelas dan lengkap 10 3 Penyampaian ide secara jelas 10 4 Pertanyaan dikemukakan dengan rinci 10 5 Hasil pengamatan atau pemikiran diungkapkan 10 dengan jelas 6 Penyampaian refleksi menggambarkan pemikiran 10 kemajuan belajar 7 Mengomentari pembelajaran dengan benar 10 8 Penyimpulan materi pembelajaran dengan baik 10 dan benar 9 Ilustrasi penyampaian materi dengan menarik 10 10 Secara keseluruhan lengkap, sistematis dan 10 menarik Jumlah 100

3. Projek dan Investigasi
Setelah Anda mempelajari jurnal belajar sebagai instrumen untuk menilai kegiatan siswa, berikut akan diuraikan tentang proyek dan investigasi. Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Anda mungkin pernah bahkan sering meminta siswa melakukan suatu tugas secara berkelompok, dimana kegiatan tersebut dapat dirancang oleh siswa atau guru bahkan menghasilkan suatu produk. Sebenarnya kegiatan seperti ini dapat dikategorikan

5-10

Unit 5

sebagai proyek dan investigasi yang dilakukan siswa. Perlu Anda ketahui bahwa dalam melakukan kegiatan ini dapat melibatkan siswa secara individual atau kelompok kecil dua sampai empat anak dalam satu kelompok, sedang waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas dua sampai tiga minggu. Tetapi dapat juga projek yang bersifat lebih substansial dan dapat memakan waktu sampai dua bulan, waktu ideal untuk suatu projek adalah empat sampai lima minggu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Kegiatan projek adalah cara yang amat baik untuk melibatkan siswa dalam pemecahan masalah karena bersifat sangat ilmiah apalagi ditunjang dengan kegiatan yang berhubungan dengan dunia nyata. Projek dapat melibatkan siswa secara aktif dan menemukan situasi baru yang dapat mendorong siswa menemukan suatu masalah sehingga dapat menuntun mereka merumuskan hipotesis yang membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Untuk sekolah tingkat dasar melalui projek juga menyediakan peluang bagi siswa untuk mengeksplorasi ide-ide ilmiah dengan menggunakan materi fisik atau teknologi baru. Siswa dapat diarahkan untuk melakukan investigasi permasalahan yang ada di sekitar kehidupan siswa baik lingkungan sekolah maupun tempat tinggal siswa. Projek yang diberikan dalam konten (isi) pemecahan masalah, dapat digunakan siswa untuk melakukan eksplorasi belajar dan berpikir tantang ide yang mengembangkan pemahaman mereka dalam berbagai area isi kurikulum. Apabila Anda menggunakan proyek, seperti instrumen yang lain kita juga harus memikirkan sistem penilaiannya. Di kelas, Anda mungkin menekankan penilaian proyek pada prosesnya dan menggunakannya sebagai sarana untuk mengembangkan dan memonitor keterampilan siswa dalam merencanakan, menyelidiki, dan menganalisis proyek. Dalam konteks ini siswa dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan pada suatu topik, memformulasikan pertanyaan, dan menyelidiki topik tersebut melalui bacaan, wisata, dan wawancara. Kegiatan mereka kemudian dapat digunakan untuk menilai kemampuannya dalam hal bekerja independen atau kelompok. Anda dapat juga menggunakan produk suatu proyek untuk menilai kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan temuan-temuan dengan bentuk yang tepat dan mempresentasikannya. Apabila Anda akan mengambil nilai proyek pada penilaian sumatif, fokus biasanya terletak pada produknya. Dalam pembelajaran proyek dinilai pada berbagai konteks untuk berbagai tujuan, dari penilaian formatif dan diagnostik berupa tugas bersama hingga penilaian sumatif berupa penilaian individu. Disamping itu, melalui proyek juga dapat dilakukan penilaian terhadap keterampilan tertentu maupun pengetahuan di dalam

Asesmen Pembelajaran di SD

5-11

konteks yang memerlukan aplikasi dari keterampilan yang lebih umum (proses dari proyek dan produk akhir), seperti: perencanaan dan organisasi dari suatu investigasi, bekerja dalam kelompok, penyelesaian masalah, evaluasi terhadap temuan yang signifikan, dan arahan diri. Adapun manfaat dari kerja proyek adalah untuk menilai kemampuan siswa pada waktu melakukan kerja individu maupun kerja kelompok, kemampuan dalam mengatur/mengorganisasikan waktu dan kemampuan untuk merancang tugas secara berurutan. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan, dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: a. Kemampuan pengelolaan, kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. b. Relevansi, kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. c. Keaslian, proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. Teknik penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Beberapa contoh kegiatan peserta didik dalam penilaian proyek: a) penelitian sederhana tentang air di rumah; b) Penelitian sederhana tentang perkembangan harga sembako. Contoh Penilaian Proyek Mata Pelajaran : Sains Nama Proyek : Pertumbuhan Kecambah Alokasi Waktu : Satu Semester Nama Siswa : ______________________ Kelas : __________

5-12

Unit 5

Perencanaan a. Persiapan b. Rumusan Judul 2 Pelaksanaan a. Sistematika Penulisan b. Keakuratan Sumber Data/Informasi c. Kuantitas Sumber Data d. Analisis Data e. Penarikan Kesimpulan 3 Laporan Proyek a. Performa b. Presentasi / Penguasaan Total Skor * Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek dan kondisi siswa/sekolah ** Skor diberikan kepada peserta didik tergantung dari ketepatan dan kelengkapan jawaban yang diberikan. Semakin lengkap dan tepat jawaban, semakin tinggi perolehan skor.

No 1

Aspek *

Skor (1 – 5)**

4. Evaluasi Diri Siswa
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu didasarkan atas kriteria atau acuan yang telah disiapkan. Tujuan utama dari penilaian diri adalah untuk mendukung atau memperbaiki proses dan hasil belajar. Meskipun demikian, hasil penilaian diri dapat digunakan guru sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan nilai. Peran penilaian diri menjadi penting bersamaan dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru ke siswa yang didasarkan pada konsep belajar mandiri. Ada beberapa jenis penilaian diri, diantaranya: a. Penilaian Langsung dan Spesifik, yaitu penilaian secara langsung, pada saat atau setelah selesai melakukan tugas, untuk menilai aspek-aspek kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran. b. Penilaian Tidak Langsung dan Holistik, yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang, untuk memberikan penilaian secara keseluruhan. c. Penilaian Sosio-Afektif, yaitu penilaian terhadap unsur-unsur afektif atau emosional. Misalnya, peserta didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan perasaannya terhadap suatu objek tertentu. Penggunaan teknik ini dapat memberi dampak positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan penilaian diri di kelas antara lain:

Asesmen Pembelajaran di SD

5-13

a. dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri; b. peserta didik menyadari kekuatan dan kelemahan dirinya, karena ketika mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya; c. dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan penilaian. Ada kecenderungan peserta didik akan menilai diri terlalu tinggi dan subyektif. Karena itu, penilaian diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Untuk itu penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu dilakukan melalui langkahlangkah sebagai berikut. a) Menjelaskan kepada peserta didik tujuan penilaian diri. b) Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai. c) Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan. d) Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala penilaian. e) Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri. f) Guru mengkaji hasil penilaian, untuk mendorong peserta didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif. g) Lakukan tindakan lanjutan, antara lain guru memberikan balikan tertulis, guru dan siswa membahas bersama proses dan hasil penilaian.

Contoh Penilaian Diri
Mata Pelajaran Aspek Alokasi Waktu Nama Siswa
No.

: Matematika : Kognitif : 1 Semester : _________________

Kelas : X/1
Tanggapan 1 0 Keterangan 1 = Paham 0 = Tidak Paham

Standar Kompetensi/ Kompetensi Dasar Aljabar a. Menggunakan aturan pangkat b. Menggunakan aturan akar c. Menggunakan aturan logaritma d. Memanipulasi aljabar Dst.

2

5-14

Unit 5

Catatan: Guru menyarankan kepada peserta didik untuk menyatakan secara jujur sesuai kemampuan yang dimilikinya, karena tidak berpengaruh terhadap nilai akhir. Hanya bertujuan untuk perbaikan proses pembelajaran.

Evaluasi diri merupakan suatu model yang menghubungkan antara hakekat penilaian diri dengan hasil belajar siswa Apabila siswa merancang sendiri tujuan kemampuannya, maka ia memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikan kemampuannya. Keuntungan lainnya adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam proses asesmen. Bila asesmen dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran, maka fokus berpindah dari memberi tes menjadi membantu siswa memahami tujuan pengalaman belajar dan kriteria keberhasilan. Selain itu hasil studi mengatakan bahwa melalui penilaian diri memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi sosial dengan teman sejawat mulai dari siswa berkemampuan rendah sampai tinggi. Ada hubungan positif antara kebutuhan dan prestasi siswa dan hal ini sangat tampak apabila guru menggunakan teknik belajar kooperatif. Karena dalam pembelajaran kooperatif menuntut siswa dapat berinteraksi bersama teman sejawat. Oleh karena itu dalam penilaian diri terdapat tiga proses regulasi diri yaitu: 1. siswa melakukan observasi sendiri yang berfokus pada aspek kinerja yang relevan dengan tujuan dan standar kebrhasilan, 2. siswa mempertimbangkan sendiri dan menentukan tujuan khusus dan umum yang akan dicapai, 3. siswa melakukan reaksi diri, menafsirkan tingkat pencapaian tujuan, dan menghayati keberhasilan/kemajuan sebagai bahan refleksi diri. Setelah Saudara mempelajari ketiga proses regulasi tersebut nampak bahwa penilaian diri berkontribusi terhadap kepercayaan keberhasilan diri. Siswa yang mengetahui kemajuan dirinya, akan termotivasi untuk lebih giat lagi belajar dan mencapai target tugas belajar yang lebih baik. Sedang penilaian diri yang negatif terjadi bila siswa menemukan konflik belajar, menyeleksi tujuan personal yang tidak realistik, mengadopsi strategi belajar yang tidak efektif, dan menyesali upaya yang tidak maksimal. Penilaian diri tidak hanya sebatas meningkatkan keterampilan siswa tetapi juga menuntut guru terampil seperti terampil dalam membuat penilaian atas kinerja siswa. Berikut contoh lembar evaluasi diri siswa untuk mengakses kemampuan siswa dalam keterampilan mengevaluasi diri.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-15

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Tabel 5.3. Lembar Evaluasi Diri Siswa Aspek yang dinilai Maksimal Kemampuan siswa mengemukakan ide 15 Kejujuran mengemukakan fakta 20 Kemampuan merefleksi diri 10 Mengidentifikasi kemajuan diri 20 Mendeskripsikan hasil temuan 20

Skor Siswa

Guru

Penilaian konsep diri siswa dapat dilakukan melalui inventori.
Tabel 5.4. Contoh Format Penilaian Konsep Diri Siswa Pernyataan Saya tertarik waktu membahas tentang perkembangan penyusunan sistem periodik. Saya dapat merasakan manfaat belajar unsur dengan segala keunikan sifatnya. Saya yakin banyak unsur yang sangat bermanfaat yang belum saya ketahui. Belajar mengenal unsur-unsur menambah keyakinan saya terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Pencipta. Belajar mengenal unsur-unsur sangat menarik, karena langsung dapat saya amati. Saya tertarik membahas sifat-sifat unsur dan keteraturan sifat periodik unsur. Saya ..........dst

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Alternatif Ya Tidak

5. Wawancara dan Konferensi
Wawancara sebagai alat penilaian dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Wawancara adalah suatu proses tanya jawab lisan untuk memperoleh bahan atau informasi yang dilaksanakan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Melalui wawancara dan konferensi memberi peluang bagi guru dan siswa untuk bertemu bersama untuk mendiskusikan berbagai permasalahan dalam pembelajaran. Pertemuan pribadi dengan guru ini dapat merupakan pengalaman yang memiliki daya motivasi yang kuat bagi kebanyakan siswa. Hal ini juga menguntungkan bagi guru untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagaimana siswa berpikir dan bagaimana perubahan psikis siswa.
5-16
Unit 5

Berdasarkan cara melakukan wawancara, jenis wawancara dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Wawancara dengan pertanyaan terstruktur dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan satu topik tertentu yang telah disediakan pewawancara dan jawaban tinggal dikelompokkan kepada kemungkinan jawaban yang telah tersedia. Sebagai contoh, suatu wawancara pemecahan masalah, akan menghadapkan siswa pada masalah dan memintanya untuk memecahkannya. Sedang wawancara tidak terstruktur adalah wawancara dimana pertanyaan yang disediakan memberi kebebasan interviewee untuk menjawab atau mengemukakan pendapatnya. Kedua jenis wawancara ini tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, dalam menggunakannya Anda diharapkan dapat mempertimbangkan jenis mana yang akan digunakan dengan menyesuaikan tujuan Anda melakukan wawancara. Bahkan Anda dapat juga memadukan kedua jenis wawancara tersebut yaitu pertanyaan yang disediakan merupakan kombinasi antara pertanyaan terstruktur dengan pertanyaan tidak terstruktur. Selanjutnya tentang konferensi, bila dilinjau dari definisinya, konferensi adalah diskusi tidak formal yang melibatkan guru dengan seorang siswa. Beberapa saran yang bermanfaat untuk melaksanakan wawancara dan konferensi: 1) Siaplah dengan pertanyaan, 2) Tempatkan siswa dalam keadaan santai, 3) Jelaskan bahwa Anda akan mencari hasil berpikir kreatif, 4) Ajukan masalah, 5) Buatlah catatan, 6) Jadilah pendengar yang baik

Latihan
Coba Anda buat pedoman pertanyaan observasi untuk kegiatan siswa yang sedang melakukan pengamatan terhadap suatu percobaan

Rambu Pengerjaan
Pertanyaan diarahkan pada apa tujuan percobaan, permasalahan, jalannya percobaan, hasil yang diharpkan, bagaimana melakukannya!

Asesmen Pembelajaran di SD

5-17

Rangkuman
Menurut definisi yang dikembangkan oleh McGraw-Hill School Division (2000), asesmen alternatif adalah asesmen yang tidak melibatkan suatu tes baku (butir-butir tradisional). Selanjutnya dalam subunit ini Anda dapat mempelajari tentang berbagai macam (tipe-tipe) asesmen alternatif. Kita telah memahami bahwa asesmen alternatif yaitu selain asesmen konvensional. Apabila paper and penci test merupakan asesmen yang biasa digunakan oleh guru dan tidak ada lagi asesmen lainnya, maka selain paper and pencil merupakan assmen alternatif. Ada banyak jenis asesmen alternatif, menurut McGraw-Hill School Division (dalam Ibrahim, 2003), macam asesmen alternatif antara lain adalah: Asesmen kinerja (performance assessment), observasi dan pertanyaan (observation and questioning), Presentasi dan Diskusi (presentation and discussion), Proyek dan Investigasi, Portofolio dan Jurnal, Interview (wawancara) dan konferensi, Evaluasi diri oleh siswa, Tes buatan siswa, Pekerjaan Rumah. Karakteristik asesmen alternatif meliputi melakukan (perform), menciptakan, menghasilkan, atau mengerjakan sesuatu, berpikir tingkat tinggi, keterampilan dalam memecahkan masalah, penerapan dalam kehidupan sehari-hari, penyekoran dilakukan oleh manusia dan bukan mesin, peranan pembelajaran dan asesmen yang baru bagi guru, pentingnya pengujian proses dan hasil belajar, dan menarik kesimpulan sendiri.

Tes Formatif 1
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Sebutkan beberapa tipe asesmen alternatif! 2. Berikan penjelasan bagaimana cara menggunakan jurnal belajar! 3. Sebutkan jenis dari pertanyaan dalam wawancara! 4. Apakah manfaat yang didapatkan bagi guru maupun siswa jika menggunakan asesmen evaluasi diri? 5. Sebutkan 3 contoh topik kegiatan yang dapat digunakan untuk tugas proyek dan investigasi!

5-18

Unit 5

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Apakah Anda telah mencoba mengerjakan Tes Formatif 1 di atas? Jika sudah, terima kasih. Selanjutnya, bandingkalah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disiapkan pada akhir unit ini. Sangat mudah bukan? Jika Anda telah menjawab pertanyaan dengan benar (minimal 80%), Anda layak untuk mempelajari subunit selanjutnya. Sebaliknya, bila masih terdapat jawaban yang salah janganlah berkecil hati. Bacalah kembali uraian sebelumnya terutama bagian yang Anda belum pahami. Kemudian cobalah untuk menjawab kembali pertanyaan tersebut.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-19

Subunit 2 Asesmen Kinerja
Pengantar
etelah Anda mempelajari tentang asesmen alternatif, yaitu asesmen yang menawarkan berbagai jenis dan karakternya. Anda dapat menggunakan asesmen tersebut sesuai tujuan yang Anda tetapkan. Dari sejumlah asesmen alternatif ada dua asesmen alternatif yang belum dibahas dalam subunit 1 yaitu asesmen kinerja dan portofolio. Asesmen Kinerja (Performance assessment atau performance-based assessment) adalah suatu istilah yang lebih luas dari asesmen alternatif maupun asesmen otentik. Asesmen performa memadukan sitat-sitat yang ada baik pada asesmen alternatif maupun asesmen autentik. Di sini, asesmen performa merujuk pada jenis-jenis tugas dan situasi yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mendemonstrasikan pemahaman mereka dan menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan disposisi yang mereka miliki dalam berbagai konteks. Asesmen performa menuntut para siswa untuk menghasilkan sesuatu ketimbang memilih suatu respon atau jawaban. Asesmen performa ini sering timbul dan menghasilkan suatu produk yang dapat dipegang atau perfornmens yang dapat diamati. Asesmen performa ini juga mendorong terjadinya evaluasi diri dan revisi, menuntut keputusan untuk melakukan kegiatan penyekoran, mengungkapkan tingkat profisiensi yang didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan, dan mengumumkan kriteria penyekoran. Jadi asesmen performa menuntut para siswa untuk secara aktif melaksanakan tugas-tugas yang kompleks dan signifikan serta menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang relevan untuk menyelesaikan masalah-masalah realistik dan otentik. Beberapa contoh asesmen performa adalah ekshibisi, investigasi, matematik, demonstrasi, respons-respons tertulis atau lisan, open-ended questions, jurnal, dan portofolio.

S

5-20

Unit 5

Uraian
Saudara mungkin pernah mendengar atau mempelajari tentang asesmen autentik, nah asesmen kinerja pada hakekatnya adalah asesmen autentik karena dalam asesmen ini siswa dituntut untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan temuan mereka, melakukan penalaran dan keterampilan. Jika dibandingkan dengan asesmen konvensional, asesmen kinerja memiliki beberapa perbedaan.

1. Asesmen Konvensional dan Asesmen Kinerja
Asesmen kinerja disebut juga dengan asesmen perbuatan (unjuk kerja). Asesmen kinerja dilakukan untuk menilai tugas-tugas yang dilakukan oleh siswa, sehingga guru dapat memiliki informasi yang lengkap tentang siswa. Menurut Hibbard (1995) tugas-tugas kinerja menghendaki (1) penerapan konsep-konsep dan informasi penunjang penting lainnya, (2) budaya kerja yang penting bagi studi atau kerja ilmiah, (3) literasi sains (penampakan ketidakbutaan ilmiah). Asesmen kinerja (Performance) pada dasarnya adalah asesmen autentik karena dalam asesmen siswa dituntut untuk mendemonstrasikan inkuiri ilmiah mereka, melakukan penalaran dan keterampilan dalam menyelesaikan berbagai tugas menarik dan menantang dalam konteks kehidupan nyata (NSTA, 2002). Jika dibandingkan dengan tes konvensional, penilaian kinerja memiliki beberapa penekanan, yaitu: Tabel 5.4. Perbandingan antara Asesmen kinerja dengan tes konvensional
Asesmen Kinerja 1. Mementingkan kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuannya menjadi unjuk kerja yang dapat diamati atau produk yang dihasilkan 2. Membutuhkan waktu yang banyak untuk membuat dan melaksanakan tetapi menghasilkan format penilaian yng dapat digunakan berulang-ulang pada siswa yang sama atau siswa baru 3. Memungkinkan untuk mendiagnosis dan meremidiasi kinerja siswa dan memeta-kan kemajuan siswa sepanjang waktu 4. Memfokuskan pembelajaran pada unjuk kerja siswa Tes Konvensional 1. Lebih mengutamakan pemahaman konsep siswa

2. Membutuhkan waktu yang banyak untuk pelaksanaannya, lebih cepat dan dapat digunakan untuk siswa dengan jumlah banyak secara serentak, tetapi digunakan hanya sekali untuk sekelompok siswa 3. Memungkinkan untuk mendiagnosis dan meremidiasi kinerja siswa tetapi hanya untuk soal uraian terbuka (open ended) 4. Memfokuskan pembelajaran pada materi pelajaran

Asesmen Pembelajaran di SD

5-21

Agar mendapatkan alat evaluasi yang valid tugas-tugas kinerja harus memiliki kriteria berikut (Nur, 2001): (1) memusatkan pada elemen-elemen pengajaran yang penting, (2) sesuai dengan isi kurikulum yang diacu, (3) mengintegrasikan informasi, konsep, keterampilan, dan kebiasaan kerja, (4) melibatkan siswa, (5) mengaktifkan kemauan siswa untuk bekerja, (6) layak dan pantas untuk seluruh siswa, (7) ada keseimbangan antara kerja kelompok dan kerja individu, (8) terstruktur dengan baik untuk memudahkan pemahaman, (9) memiliki proses dan produk yang autentik, (10) memasukkan penilaian diri, (11) memungkinkan umpan balik dari orang lain.

2. Permasalahan dalam Merancang dan Menggunakan “Performance Assessment”
Permasalahan yang sering muncul dalam merancang dan menggunakan performance assessment adalah permasalahan tentang validity, reliability, dan fairness. Ketiga hal tersebut di atas akan dibahas berikut ini.

a. Validitas
Karakteristik dan kompleksitas (complexity) dari performance assessment biasanya menimbulkan masalah dalam pengumpulan data untuk membuktikan validatas (validity evidence) tidak seperti dalam pengembangan tes pilihan ganda. Kompleksnya tugas dan kemampuan yang akan diukur dalam performance assessment dapat menimbulkan masalah dalam penskoran dan keterwakilannya domain yang hendak diukur. Suatu tugas dalam performance assessment yang sepertinya terlihat lebih kompleks tidak memerlukan proses penilaian yang kompleks, juga sebaliknya, ada tugas yang memerlukan lebih dari satu kemampuan, seperti kompetensi bahasa dan kemampuan matematika. Persoalan dalam matematika memerlukan domain pengetahuan yang relevan dan keterampilan dalam menggunakan informasi tentang komponen-komponen kemampuan yang akan diukur. Selain penskorannya juga harus direviu untuk melihat sejauh mana penskoran tersebut sudah mencakup kemampuan yang kompleks.

b. Reliabilitas
Pertanyaan kunci tentang reliabilitas adalah sampai sejauh mana skor siswa dapat merefleksikan kemampuan siswa yang sebenarnya (true ability) dan bukan akibat dari kesalahan pengukuran. Tujuan dari pengembang tes adalah mendesain penulisan, membuat kondisi pelaksanaan tes dan penskorannya tidak terhambat pada

5-22

Unit 5

situasi yang tidak berkembang dengan kemampuan yang hendak diukur. Masalah pada penilaian performance biasanya adalah: 1. Penskoran (rating) dan pemberi skor performance assessment; 2. Siswa tidak mengenali alat-alat performance assessment yang dimanipulasi; 3. Siswa tidak mengenal topik yang dikembangkan dalam performance assessment. Tetapi dari beberapa penelitian ternyata kesalahan yang disebabkan penskor (rater) dapat diminimalkan apabila pedoman penskoran performance assessment dibuat dan didefinisikan sebaik mungkin dan juga sebelum dimulai penskoran diadakan pelatihan penskor (rater) terlebih dahulu. c. Fairness Tiga permasalahan dalam pelaksanaan performance assessment yang berhubungan dengan ‘fairness” yaitu (1) perbandingan dalam penulisan, (2) ketersediaan alat-alat yang diperlukan, dan (3) kesempatan untuk belajar dan berlatih. Apabila tugas dalam performance assessment ada beberapa pilihan, maka harus ada bukti validitas perbandingan dan tugas-tugas tersebut. Setiap tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa harus mempertimbangkan bahwa setiap siswa mempunyai akses yang sama dalam menggunakan alat-alat yang dibutuhkan dalam mengerjakan tugas dalam tes. Agar mendapatkan alat evaluasi yang valid tugas-tugas kinerja harus memiliki kriteria berikut (Nur, 2001): (1) memusatkan pada elemen-elemen pengajaran yang penting, (2) sesuai dengan isi kurikulum yang diacu, (3) mengintegrasikan informasi, konsep, keterampilan, dan kebiasaan kerja, (3) melibatkan siswa, (4) mengaktifkan kemauan siswa untuk bekerja, (5) layak dan pantas untuk seluruh siswa, (6) ada keseimbangan antara kerja kelompok dan kerja individu, (7) terstruktur dengan baik untuk memudahkan pemahaman, (8) memiliki proses dan produk yang autentik, (9) memasukkan penilaian diri, (10) memungkinkan umpan balik dari orang lain.

3. Implementasi Asesmen Kinerja
Komponen pertama asesmen kinerja adalah tersedianya tugas-tugas yang akan diberikan kepada siswa. Tugas itu menuntut siswa untuk menerapkan pengetahuan dan proses yang mereka pelajari. Agar mendapatkan alat evaluasi yang valid, tugas-tugas kinerja harus memiliki kriteria berikut: (1) Memusatkan pada elemen-elemen pengajaran yang penting; (2) Sesuai dengan isi kurikulum yang diacu; (3) Mengintegrasikan informasi, konsep, keterampilan, dan kebiasaan kerja; (4) Melibatkan siswa; (5) Mengaktifkan kemauan siswa untuk bekerja; (6) Layak dan pantas untuk seluruh siswa; (7) Ada keseimbangan antara kerja kelompok dan kerja individu; (8) Terstruktur dengan baik untuk memudahkan pemahaman; (9) Memiliki

Asesmen Pembelajaran di SD

5-23

produk yang autentik (dunia nyata); (10) Memiliki proses yang autentik; (11) Memasukkan penilaian diri; dan (12) Memungkinkan umpan balik dan orang lain (Nur dalam Ibrahim, 2002).

4. Langkah-langkah Implementasi Asesmen Kinerja
Dalam menerapkan asesmen kinerja Anda perlu memperhatikan beberapa tahapan. Berikut langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk membuat penilaian kinerja yang baik antara lain: a. Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir yang terbaik; b. Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik; c. Usahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas; d. Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan; e. Urutkan kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati; f. Kalau ada, periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan.

5. Metode dan Contoh Menilai “Penilaian Kinerja”
Apabila Anda menggunakan asesmen kinerja ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu cara mengamati dan menskor kemampuan keterampilan atau kemampuan kinerja siswa. Untuk meminimumkan faktor subjektifitas dan memaksimumkan faktor keadilan dalam menilai atau menskor kemampuan keterampilan dan kemampuan kinerja peserta tes, biasanya orang yang menilai atau menskor kemampuan keterampilan atau kemampuan kinerja jumlahnya lebih dari satu orang sehingga diharapkan hasil penilaian mereka menjadi lebih valid dan reliabel. Anda juga harus memperhatikan cara mengamati dan menskor kemampuan keterampilan atau kemampuan kinerja siswa. Dalam Bagan 5.1 berikut diuraikan langkah-langkah penerapan asesmen secara rinci menurut Hibbard (1995):

5-24

Unit 5

Memilih daftar tugas-tugas asesmen kinerja yang cocok dari produk atau proses yang dinilai di dalam tugas siswa

Tunjukkan dan diskusikan contoh-contoh atau model pekerjaan dengan kualitas tinggi yang serupa tapi tidak sama dengan tugas yang akan dikerjakan. Kaitkan elemen dari contoh atau model ini dengan elemen yang tercantum di dalam Daftar Asesmen Tugas Kinerja (DATK) Siswa diminta untuk melakukan penilaian diri atas produk atau proses dengan menggunakan DTAK

Siswa diminta menyelesaikan tugas itu dengan dibimbing oleh DTAK

Siswa diminta menggunakan hasil penilaian dirinya untuk merevisi pekerjaan mereka Diskusikan penilaian itu dengan siswa secara individual

Nilailah produk, proses, dan penilaian diri siswa dengan menggunakan daftar asesmen tugas-tugas kinerja. Secara periodik nilailah kualitas keseluruhan pekerjaan siswa dengan menggunakan rubrik. DTAK dapat digunakan dalam penentuan dan penjelasan skor rubrik

Bagan 5.1. Langkah-langkah Penerapan Asesmen Menurut Hibbard (1995)

Rubrik
Setelah Anda mempelajari langkah-langkah melakukan penilaian kinerja, selanjutnya perlu Anda pahami bagaimana cara membuat rubrik. Untuk menilai kualitas menyeluruh pekerjaan siswa digunakan rubrik. Setelah siswa menyelesaikan sejumlah produk, siswa diminta untuk melakukan penilaian diri sendiri bagaimana mereka secara menyeluruh menyelesaikan salah satu tugas produk tersebut, dengan acuan perangkat standar kualitas produk itu untuk tingkat kelas tertentu. Siswa dapat menentukan dimana tepatnya pekerjaan mereka pada suatu rentang kualitas (kontinum kualitas). Siswa diminta untuk menetapkan skor rubrik dan menjelaskan mengapa memilih skor itu. Daftar asesmen tugas kinerja (performance task assessment list) dapat digunakan untuk menjelaskan skor rubrik. Kriteria performa merupakan indikator dari performa unjuk kerja yang baik dan tepat dalam sebuah tugas, tentukan dahulu proses, produk atau keduanya karena ini

Asesmen Pembelajaran di SD

5-25

menentukan kriteria yang dibuat. Berikut contoh kriteria yang menunjukkan keterampilan siswa mengukur volume air menggunakan gelas ukur. 1) 2) 3) 4) 5) cara meletakkan gelas ukur cara menuang air cara menambahkan volume air cara membaca ukuran/volume air cara mencatat hasil pengukuran

Saudara, setelah dibuat kriteria seperti di atas, selanjutnya dibuat pensekoran dengan menggunakan rubrik. Rubrik adalah suatu pedoman pensekoran yang digunakan untuk menentukan tingkat kemahiran (proficiency) siswa dalam mengerjakan tugas. Rubrik juga digunakan untuk menilai pekerjaan siswa. Apabila dua orang guru atau lebih sedang menilai jenis pekerjaan yang sama, maka penggunaan rubrik yang sama membantu mereka memandang produk itu dengan cara yang sama. Guru dari tingkat kelas berbeda atau dari mata pelajaran berbeda dapat menggunakan rubrik yang sama. Hal ini akan menjaga kesinambungan pengajaran dan belajar dari tingkat ke tingkat dan dari mata pelajaran ke mata pelajaran. Cara melakukan penilaian dengan menggunakan rubrik. Ada beberapa cara untuk menilai tingkat kemahiran siswa, yaitu:

1) Rubrik dengan daftar cek (cheklist)
Berilah tanda √ untuk setiap penampilan yang benar dari setiap tindakan yang dilakukan siswa! (1) Meletakkan gelas ukur di atas tempat yang datar, skala menghadap pengamat ( ………) (2) Menuangkan air ke dalam gelas ukur sampai akhir mencapai 100 ml, penuangan dihentikan (……….) (3) Menambah volume air setetes demi setetes menggunakan pipet sampai mencapai 100 ml (……….) (4) Membaca air di dalam gelas ukur dengan posisi sejajar mata (……….) (5) Mencatat hasil pengukuran dengan benar (……….) Total skor = ………

5-26

Unit 5

2) Rubrik dengan skala penilaian (rating scale)
Jika guru mengembangkan rubrik skala penilaian, maka guru menunjukkan beberapa derajat standar yang telah dicapai. Pada Halaman berikut diberikan contoh penggunaan skala penilaian untuk menilai keterampilan siswa dengan menggunakan rubrik.

Tugas:
Ukurlah volume air sebanyak 100 ml menggunakan gelas ukur! Panduan untuk melatih siswa dan penilaian kinerja mengukur volume air menggunakan gelas ukur.
No. 1. 2. 3. 4. 5. Aspek yang dinilai 4 Gelas ukur diletakkan di atas tempat yang datar, skala menghadap pengamat Menuang air ke dalam gelas ukur sampai hampir mencapai 100 ml, penuangan dihentikan Volume air ditambah setetes demi setetes menggunakan pipet sampai mencapai 100 ml Permukaan air didalam gelas dibaca dengan posisi sejajar mata Hasil pengukuran dicatat dengan benar Skor 3 2

1

Berilah skor: 4 bila aspek tersebut dilakukan dengan benar dan cepat 3 bila aspek tersebut dilakukan dengan benar tapi lama 2 bila aspek tersebut dilakukan selesai tapi salah 1 bila dilakukan tapi tidak selesai (0 bila tidak ada usaha sama sekali) Penilaian dengan “rating scale” dikenal ada tiga jenis, yaitu: (1) numerical rating scale; (2) graphic rating scale; dan (3) descriptive rating scale. Contoh ketiga “rating scale” diatas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-27

Tabel 5.5. Instrumen Penilaian Berpidato dengan Menggunakan Numerical Rating Scale
Nama: .................................................. Petunjuk: Untuk setiap kemampuan berilah lingkaran pada nomor 1. bila siswa selalu melakukan 2. bila kadang-kadang 3. bila jarang, dan 4. bila tidak pernah 1. Ekspresi Fisik (Physical Expression) A. Berdiri tegak melihat pada penonton 1 2 3 4 B. Merubah ekspresi wajah sesuai dengan perubahan pernyataan 1 2 3 4

Tabel 5.6. Instrumen Penilaian Berpidato dengan menggunakan Graphic Rating Scale
Nama: ............................................... Petunjuk: Tulislah X pada garis dimana kemampuan siswa teramati pada waktu berpidato! 1. Ekspresi Fisik (Physical Expression) A. Berdiri tegak melihat pada penonton

Selalu B.

Kadang-kadang jarang

tidak pernah

Merubah ekspresi wajah sesuai dengan pembahasan pernyataan yang disajikan

Selalu

Kadang-kadang jarang

tidak pernah

Latihan
1. Bagaimana kedudukan asesmen autentik, asesmen alternatif, dan asesmen kinerja? 2. Bagaimana cara menilai kemampuan kinerja siswa?

5-28

Unit 5

Pedoman Jawaban Latihan
1. Asesmen autentik adalah asesmen yang bermakna, kontekstual, holistik dan mengukur secara langsung, asesmen alternatif yaitu asesmen selain asesmen konvensional, asesmen kinerja salah satu jenis dari asesmen alternatif dan autentik. Asesmen alternatif merupakan bagian dari asesmen autentik. 2. Penilaian kemampuan kinerja dilakukan dengan menggunakan rubrik, dengan menggunakan checklist atau rating scale.

Rangkuman

Permasalahan yang sering muncul dalam merancang dan menggunakan performance assessment adalah permasalahan tentang validity, reliability, dan fairness. Dalam menerapkan asesmen kinerja perlu memperhatikan beberapa tahapan penilaian kinerja yang baik antara lain: (1) Identifikasi semua langkahlangkah, (2) Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik, (3) Usahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur, (4) Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan yang akan diukur, (5) Urutkan kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati, (6) Kalau ada, periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan. Beberapa cara menilai atau menskor keterampilan atau kemampuan kinerja (performance assessment) peserta tes dengan metode analitik antara lain dengan cara menggunakan (1) checklist dan (2) rating scale. Penilaian dengan “rating scale” dikenal ada tiga jenis, yaitu: (1) numerical rating scale; (2) graphic rating scale; dan (3) descriptive rating scale.

Tes Formatif
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Apakah masalah yang muncul jika menggunakan asesmen kinerja dan bagaimana mengatasi masalah tersebut?

Asesmen Pembelajaran di SD

5-29

2. 3. 4. 5.

Apa perbedaan asesmen kinerja dan konvensional? Jelaskan kriteria tuga kinerja yang valid! Buatlah rubrik untuk menilai kegiatan siswa dalam melakukan percobaan erosi! Bagaimanakah langkah-langkah dalam membuat asesmen kinerja!

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Latihan dan tes formatif yang Anda kerjakan ditujukan untuk melatih pemahaman dan keterampilan Anda. Jika telah menjawab pertanyaan dengan benar (minimal 80%), Anda layak untuk mempelajari subunit selanjutnya. Berlatihlah mengembangkan rubrik untuk tugas-tugas dalam mata pelajaran yang Anda bina.

5-30

Unit 5

Subunit 3 Portofolio
Pengantar

P

ortofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang representatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu. Portofolio dapat berceritera tentang aktivitas siswa dalam sains atau mata pelajaran lainnya. Fokus portofolio adalah pemecahan masalah, berpikir, dan pemahaman, komunikasi tertulis, hubungan sains, dan pandangan siswa sendiri terhadap dirinya sebagai orang yang belajar sains. Portofolio tidak sekedar file untuk mengarsipkan pekerjaan siswa. Lembaran-lembaran tentang pekerjaan siswa yang dimasukkan ke dalam portofolio harus memiliki tingkat kebermaknaan yang tinggi dibandingkan dengan pekerjaan lain yang pernah dilakukan siswa. Paulson (1991: 60) mendefinisikan portofolio sebagai kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian dan bukti refleksi diri. Menurut Gronlund (1998: 159), portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang tergantung pada keluasan tujuan. Apa yang harus tersurat, tergantung pada subjek dan tujuan penggunaan portofolio. Contoh pekerjaan siswa ini memberikan dasar bagi pertimbangan kemajuan belajarnya dan dapat dikomunikasikan kepada siswa, orang tua serta pihak lain yang berkepentingan. Protofolio dapat digunakan untuk mendokumentasikan perkembangan siswa. Kerena menyadari proses belajar sangat penting untuk keberhasilan hidup, portofolio dapat digunakan oleh siswa untuk melihat kemajuan mereka sendiri terutama dalam hal perkembangan, sikap, keterampilan, dan ekspresinya terhadap sesuatu.

1. Pengertian Portofolio
Secara umum, portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa atau catatan mengenai siswa yang didokumentasikan secara baik dan teratur. Portofolio dapat berbentuk tugas-tugas yang dikerjakan siswa, jawaban siswa atas pertanyaan guru, catatan hasil observasi guru, catatan hasil wawancara guru dengan siswa, laporan

Asesmen Pembelajaran di SD

5-31

kegiatan siswa dan karangan atau jurnal yang dibuat siswa. Mengingat begitu beragamnya jenis protofolio, guru dapat mengumpulkannya melalui cara. Cara yang akan dipakai disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, tingkatan siswa dan jenis kegiatan yang dilakukan. Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, lembar jawaban tes yang menunjukkan soal yang mampu dan tidak mampu dijawab (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuannya dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/literatur, laporan penelitian, sinopsis, dsbnya.

2. Keuntungan menggunakan portofolio
Anda dapat menggunakan portofolio untuk menilai kompetensi siswa dan banyak keuntungan yang kita peroleh bila menggunakan penilaian portofolio. Beberapa keuntungan penggunaan portofolio sebagai alat asesmen adalah sebagai berikut. a. Membantu memberikan potret yang lengkap tentang kemampuan ilmiah dan pertumbuhan siswa. b. Meliputi asesmen terhadap proses dan mencakup juga evaluasi diri. c. Melibatkan siswa dalam tugas-tugas autentik. d. Memotivasi siswa belajar sains atau pelajaran lainnya. e. Merupakan alat yang efektif untuk guru dan orangtua untuk mengkomunikasikan apa yang dikerjakan siswa. Sedangkan menurut Gronlund (1998: 158), portofolio memiliki beberapa keuntungan, antara lain sebagai berikut. a. Kemajuan belajar siswa dapat terlihat dengan jelas. b. Penekanan pada hasil pekerjaan terbaik siswa memberikan pengaruh positif dalam belajar.

5-32

Unit 5

c. Membandingkan pekerjaan sekarang dengan yang lalu memberikan motivasi yang lebih besar dari pada membandingkan dengan milik orang lain. d. Keterampilan asesmen sendiri dikembangkan mengarah pada seleksi contoh pekerjaan dan menentukan pilihan terbaik. e. Memberikan kesempatan siswa bekerja sesuai dengan perbedaan individu (misalnya siswa menulis sesuai dengan tingkat atau level kemampuan mereka tetapi sama-sama menuju tujuan umum). f. Dapat menjadi alat komunikasi yang jelas tentang kemajuan belajar siswa bagi siswa itu sendiri, orang tua, dan yang lainnya. Penilaian portofolio dapat digunakan untuk berbagai keperluan lainnya seperti yang dikemukakan oleh Berenson dan Certer (1995: 184) berikut ini. a. Mendomentasikan kemajuan siswa selama kurun waktu tertentu. b. Mengetahui bagian-bagian yang perlu diperbaiki. c. Membangkitkan kepercayaan diri dan motivasi untuk belajar. d. Mendorong tanggungjawab siswa untuk belajar. Banyak keuntungan yang kita peroleh jika menggunakan portofolio. Namun perlu kita ketahui perbedaan luaran menggunakan tes standar dan portofolio, seperti yang dikemukakan oleh Popham (1995) yaitu: Tabel 5.7. Perbedaan Luaran Asesmen antara Portofolio dengan Tes Standar
No 1 Portofolio Menggambarkan hubungan antara membaca dan menulis siswa. Meminta siswa untuk menilai progres atau kemajuan dan atau kecakapan dan menentukan tujuan pembelajaran yang terus menerus. Mengukur prestasi setiap siswa dengan memperhitungkan perbedaan individu siswa. Mengembangkan pendekatan kolaboratif dalam penilaian Mempunyai tujuan ‘student selfassessment’ Perkembangan, usaha dan prestasi siswa Tes Standar Menilai siswa terbatas pada tugas menulis dan membaca yang mungkin siswa tidak mempunyai hubungan. Secara mekanis diskor atau dinilai oleh guru yang mempunyai sedikit informasi (input).

2

3

Menilai siswa pada dimensi yang sama.

4 5 6

Penilaian bukanlah proses yang kolaboratif Penilaian siswa bukanlah tujuan. Menekankan pada prestasi saja.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-33

No 7

Portofolio Keterpaduan antara asesmen dan pembelajaran

Tes Standar Asesmen dan pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang terpisah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain: a. Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu sendiri Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri. b. Saling percaya antara guru dan peserta didik Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik. c. Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif pada proses pendidikan. d. Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya. e. Kepuasan Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri. f. Kesesuaian Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum. g. Penilaian proses dan hasil Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik. h. Penilaian dan pembelajaran Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.

5-34

Unit 5

3. Bentuk-bentuk Portofolio
Saudara, telah banyak informasi dan uraian mengenai portolio beserta prinsipprinsip yang harus diperhatikan. Sekarang kita akan berinovasi membuat tagihan portofolio yang baik. Untuk lebih jelasnya Anda dapat mempelajari beberapa bentuk portofolio berikut ini. Portofolio dapat berupa artefak (produk nyata karya siswa), artikel, jurnal, dan refleksi yang mewakili apa yang telah dilakukan oleh siswa dalam mata pelajaran. Portofolio dapat digunakan untuk mengases kinerja siswa selama sekolah. Asesmen portofolio dapat dibuat bersama oleh guru dan siswa. Pertama siswa mengumpulkan semua hasil pekerjaannya selama dua sampai tiga minggu. Selanjutnya direviu untuk menentukan dasar seleksi contoh-contoh pekerjaan siswa yang akan dijadikan asesmen. Portofolio digunakan selain sebagai asesmen, juga dapat dipakai untuk membantu siswa merefleksikan apa yang telah mereka pelajari. Ada tiga macam portofolio, yaitu portofolio perkembangan, portofolio pamer, dan portofolio komprehensif. Portofolio perkembangan adalah portofolio yang sengaja dikumpulkan untuk melihat perkembangan siswa dalam area tertentu. Misalnya perkembangan kemampuan siswa membuat laporan praktikum. Maka portofolio ini terdiri dan sejumlah laporan praktikum siswa semenjak awal sampai akhir. Untuk mengases portofolio ini, siswa dapat memilih sendiri portofolionya yang terbaik sesuai kriteria yang ditentukan dan diberikan kepada guru. Portofolio perkembangan adalah hasil kerja terbaik siswa yang bertujuan untuk dipamerkan pada saat tertentu seperti misalnya saat sekolah melakukan pertemuan dengan orang tua, pameran dan sebagainya. Portofolio komprehensif adalah portofolio keseluruhan dan hasil karya siswa yang didokumentasikan menurut tujuan tertentu. Beberapa contoh portofolio: 1) Laporan tertulis projek atau penyelidikan individual. 2) Contoh masalah atau penyelidikan yang dirumuskan oleh siswa. 3) Jawaban terhadap pertanyaan ujung terbuka. 4) Kontribusi siswa kepada laporan kelompok. 5) Daftar cek yang telah dibuat guru yang menunjukkan pertumbuhan ilmiah siswa. 6) Autobiografi ilmiah. 7) Penerapan sains pada disiplin lain. 8) Penjelasan siswa terhadap setiap item pada portofolio.

4. Penilaian Portofolio
Penggunaan portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah berikut. a. Jelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk
Asesmen Pembelajaran di SD

5-35

penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri; dengan melihat portofolionya, peserta didik dapat mengetahi kemampuan, keterampilan, dan minatnya; proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri. b. Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda; misalnya, untuk kemampuan menulis peserta didik mengumpulkan karangan-karangannya, sedangkan untuk kemampuan menggambar, peserta didik mengumpulkan gambar-gambar buatannya. c. Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing-masing atau loker masing-masing di sekolah. d. Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu. e. Sebaiknya tentukan aspek-aspek yang akan dinilai dari sampel portofolio beserta pembobotannya bersama para peserta didik sebelum mereka membuat karyanya. f. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. Contoh, untuk kemampuan menulis karangan, aspek yang akan dinilai misalnya: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosakata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Dengan demikian, peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut. g. Minta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan; guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio. h. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki; namun, antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru. i. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio; jika perlu, undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio, sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya. Kriteria untuk mengevaluasi portofolio seyogyanya juga didiskusikan dengan siswa, sehingga baik guru maupun siswa dapat mengetahui kriteria ini. Bagi guru kriteria dapat digunakan untuk memberi balikan, sedangkan bagi siswa dapat menggunakan kriteria itu untuk melakukan tugasnya. Kriteria yang telah disepakati akan membantu untuk memandu guru membuat keputusan yang menyeluruh tentang kerja siswa.

5-36

Unit 5

Kriteria pemecahan masalah dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja siswa dalam area berikut. Contoh kriteria mengevaluasi Portofolio untuk pemecahan masalah

Pendekatan kreatif untuk masalah kompleks. Contoh Kriteria Mengevaluasi Portofolio untuk Penalaran

1) 2) 3) 4) 1) 2) 3) 4) 5) 1) 2) 3) 4) 5) 6)

Pemahaman masalah. Menggunakan berbagai strategi untuk membuat rencana pemecahan masalah. Dapat melaksanakan rencana menggunakan model atau teknologi.

Melaksanakan inkuiri. Mendokumentasikan hasil. Menganalisis hasil. Mengkritisi ide dan prosedur.

Membangun, memperluas, dan menerapkan ide. Contoh Kriteria Mengevaluasi Portofolio yang lain Pengembangan sikap positif. Menggunakan evaluasi diri dan koreksi diri tentang kerjanya. Interpretasi ide. Teknologi. Konsep dan prosedur. Kelompok kerja..

Berikut ini adalah contoh format untuk menulis komentar fortofolio siswa. Format berikut ini, dapat digunakan untuk menulis komentar portofolio siswa. Asesmen portofolio Siswa : Guru : Tanggal :

Konsep, prosedur, keterampilan proses yang dieksplorasi

Pertumbuhan Pemahaman: Kerja tidak selesai, atau pekerjaan perlu perbaikan:

Asesmen Pembelajaran di SD

5-37

Asesmen dari: Kerja pemecahan masalah: Penalaran dan berpikir kritis: Penggunaan bahasa: Lain-lain: Contoh Penilaian Portofolio Mata Pelajaran Alokasi Waktu Sampel yang dikumpulkan Nama Siswa
No SK/KD Periode Tata bahasa 1 Menulis karangan deskriptif Membuat resensi buku

: Bahasa Indonesia : 1 Semester : Karangan : _________________ Kelas : X/1
Aspek yang Dinilai Kosa Kelengkapan kata gagasan

Sistematika penulisan

Ket

2

Catatan: karya siswa sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan aspek yang dinilai

Kompetensi/Kompetensi Dasar yang masuk dalam daftar portofolio dikumpulkan dalam satu file (tempat) untuk setiap peserta didik sebagai bukti pekerjaannya. Skor untuk setiap kriteria menggunakan skala penilaian 0 - 10 atau 0 100. Semakin baik hasil yang terlihat dari tulisan peserta didik, semakin tinggi skor yang diberikan. Kolom keterangan diisi dengan catatan guru tentang kelemahan dan kekuatan tulisan yang dinilai. Standar Portofolio dapat digunakan sepanjang tahun. Jika Anda belum pernah menggunakan sebelumnya dan berkeinginan untuk menggunakannya, tidaklah terlalu terlambat untuk memperkenalkan siswa dengan portofolio. Anda dapat memulai mendiskusikan dengan siswa tentang portofolio ini. Ide-ide yang dicantumkan disini dapat digunakan sebagai titik awal.

5-38

Unit 5

(1) Gunakan folder siswa untuk mengumpulkan semua pekerjaan mereka dalam suatu portofolio kerja. (2) Tanyakan kepada siswa apa yang menurut mereka perlu ditambahkan ke dalam portofolio ini. (3) Diskusikan tentang format portofolio yang bagus, diketik atau ditulis dengan tinta, ada daftar isinya, pengantar yang menjelaskan mengapa setiap lembar portofolio ini disertakan di dalam folder ini. (4) Buatlah beragam asesmen sehingga portofolio itu dapat merefleksikan variasi itu. Misalnya kerja kelompok, proyek, penyelidikan, jurnal dan sebagainya. (5) Tugaskan siswa untuk mereviu portofolio temannya, sehingga siswa diharapkan mendapat ide tentang apa yang dikerjakan oleh teman sekelasnya. (6) Diskusikan bagaimana cara portofolio itu dievaluasi. Mengevaluasi portofolio akan memberi peluang kepada guru dan siswa untuk masuk ke dalam dialog tentang apa yang telah dipelajari siswa. Harus selalu diingat bahwa setiap lembar yang ada di dalam portofolio itu adalah hasil pilihan siswa sebagai wakil dan pekerjaan terbaiknya. Jadi portofolio sesungguhnya adalah evaluasi diri oleh siswa yang telah membuatnya. Tujuan guru melakukan asesmen menggunakan portofolio adalah untuk membantu siswa meningkatkan pemahamannya terhadap kinerja ilmiah atas tugas yang dipamerkan di dalam portofolio.

Latihan
1. Apakah hakekat dari portofolio? 2. Apakah bahan-bahan yang dapat digunakan untuk portofolio?

Pedoman Jawaban Latihan
1. Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang representatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu. 2. Portofolio dapat berupa artefak (produk nyata karya siswa), artikel/jurnal, dan refleksi yang mewakili apa yang telah dilakukan oleh siswa dalam mata pelajarannya.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-39

Rangkuman
Portofolio adalah kumpulan pekerjaan siswa yang representatif menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu. Paulson (1991: 60) mendefinisikan portofolio sebagai kumpulan pekerjaan siswa yang menunjukkan usaha, perkembangan dan kecakapan mereka dalam satu bidang atau lebih. Kumpulan ini harus mencakup partisipasi siswa dalam seleksi isi, kriteria seleksi, kriteria penilaian dan bukti refleksi diri. Menurut Gronlund (1998: 159) portofolio mencakup berbagai contoh pekerjaan siswa yang tergantung pada keluasan tujuan. Apa yang harus tersurat, tergantung pada subjek dan tujuan penggunaan portofolio. Ada tiga macam portofolio, yaitu portofolio perkembangan, portofolio pamer, dan portofolio komprehensif. Portofolio perkembangan adalah portofolio yang sengaja dikumpulkan untuk melihat perkembangan siswa dalam area tertentu. Portofolio perkembangan adalah hasil kerja terbaik siswa yang bertujuan untuk dipamerkan pada saat tertentu seperti misalnya saat sekolah melakukan pertemuan dengan orang tua, pameran dan sebagainya. Portofolio komprehensif adalah portofolio keseluruhan dan hasil karya siswa yang didokumentasi menurut tujuan tertentu.

Tes formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 3. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan keuntungan menggunakan asesmen portofolio? 2. Bagaimana cara menilai porofolio! 3. Sebutkan bahan-bahan informasi yang dapat digunakan untuk portofolio! 4. Jelaskan manfaat menggunakan portofolio! 5. Buatlah contoh cara menilai portofolio!

5-40

Unit 5

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Selamat! Karena Anda telah berusaha mengerjakan Tes Formatif 3. Bandingkan jawaban Anda dengan kunci jawaban pada akhir unit. Jika Anda menjawab semua pertanyaan dengan benar, Anda disarankan untuk mempelajari unit selanjutnya. Namun, bila ada jawaban yang salah, cobalah kembali membaca uraian yang belum Anda mengerti. Kemudian kerjakan soal dengan benar.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-41

Kunci Jawaban
____________________________________________________________________

Tes Formatif 1
1. Tipe asesmen alternatif yaitu asesmen kinerja (performance assessment), observasi dan pertanyaan (observation and questioning), presentasi dan diskusi (presentation and discussion), proyek dan investigasi, portofolio dan jurnal, interview (wawancara) dan konferensi, evaluasi diri oleh siswa, tes buatan siswa, dan pekerjaan rumah. 2. Cara menggunakan jurnal belajar, yaitu persiapkan tema, diskusikan dengan siswa untuk menentukan topik, isi jurnal, jenis kegiatan, teknik penulisan, alokasi waktu, dan sistem penilaian. 3. Pertanyaan dalam wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga dalam penggunaannya perlu mempertimbangkan aspek lainnya. 4. Manfaat yang didapatkan bagi guru maupun siswa jika menggunakan asesmen evaluasi diri, siswa mempunyai kesempatan untuk mendemonstrasikan kemampuannya dan terlibat dalam proses asesmen sedang bagi guru dapat menekankan pada penilaian secara obyektif, lebih mengenal karakter siswa, sebagai refleksi diri. 5. Tiga contoh topik kegiatan yang dapat digunakan untuk tugas proyek dan investigasi, seperti pengamatan peristiwa tumbuh dan berkembang, pengelolaan sampah, sistem transportasi darat

Tes Formatif 2
1. Masalah yang muncul jika menggunakan asesmen kinerja adalah validitas, reliabilitas, dan fairness. Permasalahan disebabkan kekomplekan dan kemampuan yang akan di ukur, kemampuan skor siswa dalam merefleksikan kemampuan siswa yang sebenarnya, dan penulisan, peralatan, dan kesempatan untuk belajar dan berlatih. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut memilih, menentukan, dan mendesain instrumen sesuai indikator dengan baik. Rubrik dapat merekam kemampuan semaksimal mungkin, observer secara kualitas dan kuantitas baik.

5-42

Unit 5

2. Asesmen kinerja pada prinsipnya menekankan tidak hanya kemampuan kognitif, tetapi juga produk, membutuhkan waktu lama tetapi dapat dipakai berulang, dapat mendiagnosis dan meremidi, dan fokus pada pembelajaran unjuk kerja. Sedang asesmen konvensional mengutamkan pemahaman konsep, waktu tidak efektif, diagnosis dan remidi hanya untuk soal uraian, fokus pembelajaran pada materi. 3. Kriteria tugas kinerja yang valid: aktivitas berpusat pada siswa dengan sistem penilaian autentik. 4. Contoh rubrik untuk menilai kegiatan siswa dalam melakukan percobaan erosi. Tentukan (1) komponen terjadinya erosi seperti air, tanah, tanaman (rumput); (2) kondisi terjadinya peristiwa erosi meliputi minimnya tanaman dengan debit air tinggi, (3) pembuatan laporan, (4) pelaksanaan diskusi.

Tes Formatif 3
1. Keuntungan menggunakan asesmen portofolio, yaitu dapat menilai proses dan produk secara autentik, mengaktifkan siswa, guru, dan orang tua, sebagai refleksi untuk perbaikan PBM. 2. Portofolio dapat dinilai dengan menggunakan rubrik dengan berbagai skala seperti check list, rating scale, atau deskriptif tergantung pada aspek yang dibutuhkan. Seperti yang digunakan pada asesmen kinerja. 3. Bahan-bahan informasi yang dapat digunakan untuk portofolio dapat dikaitkan dengan macam portofolio, seperti portofolio perkembangan (laporan observai, laporan kegiatan ilmiah), portofolio pamer dapat berupa segala sesuatu hasil karya siswa (puisi, kerajinan, gambar atau bentuk tulisan lainnya), portofolio komprehensif, seperti hasil kerja proyek 4. Manfaat menggunakan portofolio sebagai bahan refleksi bagi siswa, guru, orang tua dan lembaga dan media untuk kreatifitas siswa. 5. Contoh cara menilai portofolio: a. Topik: Reproduksi aseksual pada tumbuhan b. Kriteria yang dinilai: ketepatan bahan/tumbuhan, jumlah bahan, indikator teramati, laporan hasil, penampilan dokumen, dan alokasi waktu. c. Rubrik pengembangan dari kriteria pada butir (b) dengan menggunakan pedoman dari Hibbart dengan 4 atau 5 pilihan.

Asesmen Pembelajaran di SD

5-43

Daftar Pustaka
____________________________________________________________________ Bridges, Lois. (Tanpa tahun). Assessment. California: Stenhouse Publishers. Brown, Janet .H; Shavelson, Richard J. (1996). Assessing Hands-On Science. California: Corwin Press, Inc Depdiknas. (2003). Assesmen Autentik, Materi Pelatihan Terintegrasi Kompetensi Guru Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Dikdasmen. ------------. (2003). Assesmen Alternatif. Materi Pelatihan Terintegrasi Kompetensi Guru Mata Pelajaran Biologi. Jakarta: Dikdasmen. Doran R; Fred Chan; and Pinchas Tamir. (1998). Assessment. Virginia: United Book Press. Gronlund. N.E. (1998). Assessment of Student Achievement. Boston: Allyn and Bacon. Stiggins, R. J. (1994). Student Centered Classroom Assessment. New York: Maxwell Macmillan International Hibbard, M. (1995). Performance Assessment in the Science Classroom. New York: The McGraw-Hill Companies. Kulieke et al. (1990). Why Should Assessment be Based on a Vission of Learning? NCREL Oak Brook. Karim, Muchtar A. (2004). Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah. Makalah Seminar dan Workshop Calon Fasilitator Kolaborasi FMIPA UM-MGMP MIPA Kota Malang . 19-20 Maret 2004 Nieveen N. & Gustafson K. (1996). Characteristics of computer-based tools for education and training development: an introduction. In Akker at al. (Eds). Design Approach and Tools in Education and Training. Netherlands: Kluwer Academic Publisher. Susanto, P. (2004). Pembelajaran Konstruktivis dan Kontekstual sebagai Pendekatan dan Metodologi Pembelajaran Sains dalam KBK (Kurikulum 2004). Makalah Seminar dan Workshop Calon Fasilitator Kolaborasi FMIPA UMMGMP MIPA Kota Malang . 19-20 Maret 2004. Muller, Jon. (2006). Authentic assessment toolbox. North Central College, Naperville, IL.

5-44

Unit 5

Glosarium
____________________________________________________________________ Asesmen merupakan proses mengumpulkan informasi tentang kemajuan siswa dengan menggunakan bermacam-macam prosedur. Authentic Assesment : penilaian yang dilakukan melalui penyajian atau penampilan oleh siswa dalam bentuk pengerjaan tugas-tugas atau berbagai aktivitas tertentu yang secara langsung mempunyai makna pendidikan. Evaluasi adalah kegiatan menetapkan keberhasilan program pembelajaran dengan menimbang kelebihan dan kekurangan, saran terhadap kemajuan siswa. Cooperative learning - sekelompok siswa yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengoptimalkan prestasi masing-masing anggota kelompok dan prestasi kelompok secara keseluruhan. Evaluasi-diri (self evaluation) : penilaian terhadap proses pembelajaran yang dilaksana-kan guru oleh guru itu sendiri. Rating scale adalah rubrik yang dipergunakan untuk melakukan penskoran yang membantu guru menilai sejauh mana siswa telah mencapai dimensi prestasi dari tugas kinerja (performance) yang diberikan. Refleksi adalah perenungan kembali atas apa yang telah dilakukan untuk dijadikan cermin (pedoman) perbaikan bagi aktivitas selanjutnya

Asesmen Pembelajaran di SD

5-45

Unit

6

TEKNIK PEMBERIAN SKOR DAN NILAI HASIL TES
Ainur Rofieq Pendahuluan
ada unit ini Anda akan mempelajari teknik pemberian skor (penskoran) dan prosedur mengubah skor ke dalam nilai standar pada metode tes. Ada tiga bagian dalam unit ini, yaitu subunit 1 teknik pemberian skor, subunit 2 mengubah skor dengan penilaian acuan patokan, dan subunit 3 mengubah skor dengan penilaian acuan normatif. Pada setiap subunit disajikan uraian dan contoh yang berhubungan langsung dengan proses penskoran dan penilaian dalam pembelajaran. Pada akhir pembahasan setiap subunit disajikan tes formatif dan umpan balik untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda setelah mempelajari subunit tersebut. Untuk membantu Anda dalam menentukan skor pada setiap tes formatif, pada akhir pembahasan unit disajikan kunci jawaban setiap tes formatif. Adapun kompetensi yang harus Anda kuasai setelah mempelajari unit ini adalah Anda sebagai mahasiswa Program PJJ S1 PGSD mampu membuat pedoman penskoran dan melakukan analisis hasil penilaian proses dan hasil pembelajaran dengan metode tes. Oleh sebab itu, setelah mempelajari modul ini diharapkan Anda memiliki kemampuan untuk: 1. Memberi skor pada berbagai soal metode tes; 2. Mengubah skor menjadi nilai standar dengan berbagai skala dengan menggunakan pendekatan PAP; 3. Mengubah skor menjadi nilai standar dengan berbagai skala dengan menggunakan pendekatan PAN. Latihan soal disiapkan baik di tengah uraian ataupun di akhir uraian yang dapat Anda kerjakan. Untuk mengetahui dan mengecek hasil pekerjaan Anda,

P

Asesmen Pembelajaran di SD

6-1

disediakan rambu-rambu jawaban atau dijabarkan dalam uraian materi. Akan tetapi, diusahakan jangan melihat rambu-rambu jawaban sebelum menyelesaikan soal-soal latihan yang disediakan. Untuk mengetahui keberhasilan belajar Anda, dilaksanakan tes formatif pada akhir subunit dan untuk mengecek hasil jawaban Anda, disediakan kunci jawaban tes formatif di akhir unit ini. Akan tetapi, diupayakan jangan melihat kunci jawaban sebelum Anda menyelesaikan semua soal yang disediakan. Semoga Anda berhasil menyelesaikan Unit 6 dengan baik.

6-2

Unit 6

Subunit 1 Teknik Pemberian Skor
Pengantar

S

etelah Anda melakukan kegiatan tes terhadap siswa, kegiatan berikutnya adalah memberikan skor pada setiap lembar jawaban siswa. Kegiatan ini harus dilakukan dengan cermat karena menjadi dasar bagi kegiatan pengolahan hasil tes sampai menjadi nilai prestasi. Sebelum melakukan tes, sebaiknya Anda sudah menyusun teknik pemberian skor (penskoran). Bahkan sebaiknya Anda sudah berpikir strategi pemberian skor sejak perumusan kalimat pada setiap butir soal. Pada kegiatan belajar ini akan disajikan pemberian skor pada tes domain kognitif, afektif, dan psikomotor sesuai dengan pedoman yang telah dikeluarkan oleh Diknas (2004) yang telah dimodifikasi. Membuat pedoman penskoran sangat diperlukan, terutama untuk soal bentuk uraian dalam tes domain kognitif supaya subjektivitas Anda dalam memberikan skor dapat diperkecil. Pedoman menyusun skor juga akan sangat penting ketika Anda melakukan tes domain afektif dan psikomotor peserta didik. Karena sejak tes belum dimulai, Anda harus dapat menentukan ukuran-ukuran sikap dan pilihan tindakan dari peserta didik dalam menguasai kompetensi yang dipersyaratkan. 1. Pemberian Skor Tes pada Domain Kognitif a. Penskoran Soal Bentuk Pilihan Ganda Cara penskoran tes bentuk pilihan ganda ada tiga macam, yaitu: pertama penskoran tanpa ada koreksi jawaban, penskoran ada koreksi jawaban, dan penskoran dengan butir beda bobot. 1) Penskoran tanpa koreksi, yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar mendapat nilai satu (tergantung dari bobot butir soal), sehingga jumlah skor yang diperoleh peserta didik adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang dijawab benar. Rumusnya sebagai berikut. B Skor = x 100 (skala 0 – 100) N B = banyaknya butir yang dijawab benar N = adalah banyaknya butir soal

Asesmen Pembelajaran di SD

6-3

Contohnya adalah sebagai berikut : Pada suatu soal tes ada 50 butir, Budi menjawab benar 25 butir, maka skor yang dicapai Budi adalah: 25 Skor = x 100 50

= 50 2) Penskoran ada koreksi jawaban yaitu pemberian skor dengan memberikan pertimbangan pada butir soal yang dijawab salah dan tidak dijawab, adapun rumusnya sebagai berikut.
⎤ ⎡⎛ S ⎞ Skor = ⎢⎜ B − ⎟ N ⎥ x 100 P −1⎠ ⎦ ⎣⎝ B = banyaknya butir soal yang dijawab benar S = banyaknya butir yang dijawab salah P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir N = banyaknya butir soal Butir soal yang tidak dijawab diberi skor 0 Contoh : Pada soal bentuk pilihan ganda yang terdiri dari 40 butir soal dengan 4 pilihan tiap butir dan banyaknya 40 butir, Amir dapat menjawab benar 20 butir, mejawab salah 12 butir, dan tidak dijawab ada 8 butir, maka skor yang diperoleh Amir adalah:

⎡⎛ ⎤ 12 ⎞ Skor = ⎢⎜ 20 − ⎟ 40⎥ x 100 4 −1⎠ ⎣⎝ ⎦ = 40 3) Penskoran dengan butir beda bobot yaitu pemberian skor dengan memberikan bobot berbeda pada sekelompok butir soal. Biasanya bobot butir soal menyesuaikan dengan tingkatan kognitif (pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi) yang telah dikontrak guru. Anda juga dapat membedakan bobot butir soal dengan cara lain, misalnya ada sekelompok butir soal yang dikembangkan dari buku pegangan guru dan sekelompok yang lain dari luar buku pegangan diberi bobot berbeda, yang pertama satu, yang lain dua. Adapun rumusnya sebagai berikut.

6-4

Unit 6

Skor =

( Bi xbi ) x 100% St

Bi = banyaknya butir soal yang dijawab benar peserta tes bi = bobot setiap butir soal St = skor teoritis (skor bila menjawab benar semua butir soal) Contoh: Pada suatu soal tes matapelajaran IPA berjumlah 40 butir yang terdiri dari enam tingkat domain kognitif diberi bobot sebagai berikut: pengetahuan bobot 1, pemahaman 2, penerapan 3, analisis 4, sintesis 5, dan evaluasi 6. Yoyok dapat menjawab benar 8 butir soal domain pengetahuan dari 12 butir, 12 butir dari 20 butir soal pehamanan, 2 butir soal penerapan dari 4 butir, 1 butir soal analisis dari 2 butir, dan 1 butir soal sintesis dan evaluasi masing-masing 1 butir. Berapakah skor yang diperoleh Yoyok? Untuk mempermudah memberi skor disusun Tabel 6.1. sebagai berikut.
Tabel 6.1. Contoh Pemberian Skor
Domain butir soal Pengetahuan Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Evaluasi Jumlah = Jumlah butir 12 20 4 2 1 1 40 bi 1 2 3 4 5 6 Jml butir x bi 12 40 12 8 5 6 St = 83 Bi 8 12 2 1 1 1 25

Skor

=

(8 x1) + (12 x 2) + (2 x3) + (1x 4) + (1x5) + (1x6) x 100% 83

= 63,9 % Jadi skor yang diperoleh Yoyok adalah 63,9%, artinya Yoyok dapat menguasai tes matapelajaran IPA sebesar 63,9% Sebagai Latihan-1, Anda tentukan kembali berapakah skor yang diperoleh Yoyok apabila bobot pada setiap komponen dirubah menjadi sebagai berikut:

Asesmen Pembelajaran di SD

6-5

pengetahuan diberi bobot 0,5; pemahaman bobot 1, penerapan, analisis, dan sintesis masing-masing diberi bobot 2, serta evaluasi 3. Tentukan juga berapakah skor teoritis perangkat tes tersebut! Sebagai Latihan-2, tentukan berapakah skor yang diperoleh Yoyok apabila menggunakan penskoran tanpa ada koreksi.
b. Penskoran Soal Bentuk Uraian Objektif

Pada bentuk soal uraian objektif, biasanya langkah-langkah mengerjakan dianggap sebagai indikator kompetensi para peserta didik. Oleh sebab itu, sebagai pedoman penskoran dalam soal bentuk uraian objektif adalah bagaimana langkahlangkah mengerjakan dapat dimunculkan atau dikuasai oleh peserta didik dalam lembar jawabannya. Untuk membuat pedoman penskoran, sebaiknya Anda melihat kembali rencana kegiatan pembelajaran untuk mengidentifikasi indikator-indikator tersebut. Perhatikan contoh berikut. Indikator : peserta didik dapat menghitung isi bangun ruang (balok) dan mengubah satuan ukurannya. Butir soal: Sebuah bak mandi berbentuk balok berukuran panjang 150 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 75 cm. Berapa literkah isi bak mandi tersebut? (untuk menjawabnya tuliskan langkah-langkahnya!)
Tabel 6.2. Pedoman penskoran uraian objektif
Langkah 1 2 3 4 5 Kunci jawaban Isi balok = panjang x lebar x tinggi = 150 cm x 80 cm x 75 cm = 900.000 cm3 1 1 5 Isi bak mandi dalam liter: = Skor 1 1

900.000 liter 1000

= 900 liter Skor Maksimum

6-6

Unit 6

c. Penskoran Soal Bentuk Uraian Non-Objektif
Prinsip penskoran soal bentuk uraian non-objektif sama dengan bentuk uraian objektif yaitu menentukan indikator kompetensinya. Perhatikan contoh berikut. Indikator: peserta didik dapat mendeskripsikan alasan Warga Negara Indonesia bangga menjadi Bangsa Indonesia. Butir soal:tuliskan alasan-alasan yang membuat Anda berbangga sebagai Bangsa Indonesia! Pedoman penskoran: Jawaban boleh bermacam-macam namun pada pokok jawaban tadi dapat dikelompokkan sebagai berikut.

Tabel 6.3. Contoh Pedoman Penskoran
Kriteria jawaban Kebanggaan yang berkaitan dengan kekayaan alam Indonesia Kebanggaan yang berkaitan dengan keindahan tanah air Indonesia (pemandangan alamnya, geografisnya, dll) Kebanggan yang berkaitan dengan keanekaragaman budaya, suku, adat, istiadat tetapi tepat bersatu. Kebanggan yang berkaitan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia. Skor tertinggi Rentang skor 0–2 0–2 0–2 0–2 8

d. Pembobotan Soal Bentuk Campuran
Dalam beberapa situasi bisa digunakan soal bentuk campuran, yaitu bentuk pilihan dan bentuk uraian. Pembobotan soal bagian soal bentuk pilihan ganda dan bentuk uraian ditentukan oleh cakupan materi dan kompleksitas jawaban atau tingkat berpikir yang terlibat dalam mengerjakan soal. Pada umumnya cakupan materi soal bentuk pilihan ganda lebih banyak, sedang tingkat berpikir yang terlibat dalam mengerjakan soal bentuk uraian biasanya lebih banyak dan lebih tinggi. Suatu ulangan terdiri dari n1 soal pilihan ganda dan n2 soal uraian. Bobot untuk soal pilihan ganda adalah w1 dan bobot untuk soal uraian adalah w2. Jika seorang peserta didik menjawab benar n1 pilihan ganda, dan n2 soal uraian, maka peserta didik itu mendapat skor: Skor

⎡ ⎤ = b1 ⎢ n1 x100⎥ + b2 ⎢ n1 ⎥ ⎣ ⎦

⎡ n2 ⎤ ⎢ x100⎥ ⎢ n2 ⎥ ⎣ ⎦

Asesmen Pembelajaran di SD

6-7

b1 = bobot soal 1 b2 = bobot soal 2 Contoh: Suatu ulangan terdiri dari 20 bentuk pilihan ganda dengan 4 pilihan, dan 4 buah soal bentuk uraian. Titi dapat menjawab benar soal pilihan ganda 16 butir dan salah 4 butir, sedang bentuk uraian bisa dijawab benar 20 dari skor maksimum 40. Apabila bobot pilihan ganda adalah 0,40 dan bentuk uraian 0,60, maka skor yang diperoleh Titi dapat dihitung sebagai berikut. a. skor pilihan ganda tanpa koreksi jawaban dugaan : (16/20)x100 = 80 b. skor bentuk uraian adalah : (20/40)x100 = 50 c. skor akhir adalah : 0,4 x (80) + 0,6 x (50) = 62
2. Pemberian Skor Tes pada Domain Afektif

Domain afektif ikut menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Paling tidak ada dua komponen dalam domain afektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat terhadap suatu pelajaran. Sikap peserta didik terhadap pelajaran bisa positif bisa negatif atau netral. Tentu diharapkan sikap peserta didik terhadap semua mata pelajaran positif sehingga akan timbul minat untuk belajar atau mempelajarinya. Peserta didik yang memiliki minat pada pelajaran tertentu bisa diharapkan prestasi belajarnya akan meningkat secara optimal, bagi yang tidak berminat sulit untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Oleh karena itu, Anda memiliki tugas untuk membangkitkan minat kemudian meningkatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampunya. Dengan demikian akan terjadi usaha yang sinergi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Langkah pembuatan instrumen domain afektif termasuk sikap dan minat adalah sebagai berikut: a. Pilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap atau minat. b. Tentukan indikator minat: misalnya kehadiran di kelas, banyak bertanya, tepat waktu mengumpulkan tugas, catatan di buku rapi, dan sebagainya. Hal ini selanjutnya ditanyakan pada peserta didik. c. Pilih tipe skala yang digunakan, misalnya Likert dengan 5 skala: sangat berminat, berminat, sama saja, kurang berminat, dan tidak berminat. d. Telaah instrumen oleh sejawat. e. Perbaiki instrumen. f. Siapkan kuesioner atau inventori laporan diri. g. Skor inventori. h. Analisis hasil inventori skala minat dan skala sikap.

6-8

Unit 6

Contoh: Instrumen untuk mengukur minat peserta didik yang telah berhasil dibuat ada 10 butir. Jika rentangan yang dipakai adalah 1 sampai 5, maka skor terendah seorang peserta didik adalah 10, yakni dari 10 x 1 dan skor tertinggi sebesar 50, yakni dari 10 x 5. Dengan demikian, mediannya adalah (10 + 50)/2 atau sebesar 30. jika dibagi menjadi 4 kategori, maka skala 10-20 termasuk tidak berminat, 21 sampai 30 kurang berminat, 31 – 40 berminat, dan skala 41 – 50 sangat berminat.
3. Pemberian Skor Tes pada Domain Psikomotor a. Penyusunan Tes Psikomotor

Tes untuk mengukur ranah psikomotor adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai peserta didik. Tes tersebut menurut Lunetta dkk. (1981) dalam Majid (2007) dapat berupa tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja. Skala penilaian cocok untuk menghadapi subjek yang jumlahnya sedikit. Perbuatan yang diukur menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari sangat tidak sempurna sampai sangat sempurna. Jika dibuat skala 5, maka skala 1 paling tidak sempurna dan skala 5 paling sempurna. Misal dilakukan pengukuran terhadap keterampilan peserta didik menggunakan thermometer badan. Untuk itu dicari indikator-indikator apa saja yang menunjukkan peserta didik terampil menggunakan thermometer tersebut, misal indikator-indikator sebagai berikut: 1) Cara mengeluarkan termometer dari tempatnya. 2) Cara menurunkan posisi air raksa serendah-rendahnya. 3) Cara memasang termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya. 4) Lama waktu pemasangan termometer pada tubuh orang yang diukur suhunya. 5) Cara mengambil termometer dari tubuh orang yang diukur suhunya. 6) Cara membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler termometer. Dari contoh cara pengukuran suhu badan menggunakan skala penilaian, ada 6 butir soal yang dipakai untuk mengukur kemampuan seorang peserta didik jika untuk butir 1 peserta didik yang bersangkutan memperoleh skor 5 berarti sempurna/benar, butir 2 memperoleh skor 4 berarti benar tetapi kurang sempurna, butir 3 memperoleh skor 4 berarti juga benar tetapi kurang sempurna, butir 4 memperoleh skor 3 berarti kurang benar, butir 5 memperoleh skor 3 berarti kurang benar, dan butir 6 juga memperoleh skor 3 berarti kurang benar, maka total skor yang dicapai peserta didik

Asesmen Pembelajaran di SD

6-9

tersebut adalah (5 + 4 + 4 + 3 + 3 + 3) atau 22. Seorang peserta didik yang gagal akan memperoleh skor 6, dan yang berhasil melakukan dengan sempurna memperoleh skor 30; maka median skornya adalah (6 + 30)/2 = 18. Jika dibagi menjadi 4 kategori, maka yang memperoleh skor 6 – 12 dinyatakan gagal, skor 13 – 18 berarti kurang berhasil, skor 19 – 24 dinyatakan berhasil, dan skor 25 – 30 dinyatakan sangat berhasil. Dengan demikian peserta didik dengan skor 21 dapat dinyatakan sudah berhasil tetapi belum sempurna/belum sepenuhnya baik jika sifat keterampilannya adalah absolut, maka setiap butir harus dicapai dengan sempurna (skala 5). Dengan demikian hanya peserta didik yang memperoleh skor total 30 yang dinyatakan berhasil dan dengan kategori sempurna.

Tabel 6.4. Kisi-kisi soal ujian bisa sebagai berikut
No Standard Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pokok Indikator jenis Tagihan Bentuk Soal Nomor Soal

Rangkuman
Apabila Anda membuat penskoran dan pembobotan butir soal suatu tes, maka yang harus diperhatikan adalah tingkatan dalam setiap domain (kognitif, afektif, dan psikomotor). Bentuk perangkat tes yang baik adalah tes yang butir-butir soalnya disusun dengan memperhatikan komponen-komponen tingkatan dalam suatu domain dan tersusun lebih dari satu bentuk tes. Sebelum atau selama pembuatan soal tes, Anda harus merencanakan bentukbentuk penskoran yang akan diberlakukan. Hal ini akan dapat membantu Anda dalam melaksanakan prinsip objektif dan metodik dalam kegiatan penskoran sehingga tidak terkesan asal memberi skor. Hasil penskoran yang terencana akan memudahkan kegiatan berikutnya dalam penilaian, yaitu mengkonversi skor hasil belajar menjadi skor prestasi atau nilai standar

6-10 Unit 6

Tes Formatif 1
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Sebutkan tiga cara penskoran tes bentuk pilihan ganda! Jelaskan jawaban Anda! (bobot = 15) 2. Pada suatu soal tes berjumlah 50 butir yang terdiri dari tiga tingkat domain kognitif diberi bobot sebagai berikut: pengetahuan bobot 0,5; pemahaman 1, dan penerapan 1,5. Seorang peserta didik bernama Darso dapat menjawab benar 18 butir soal domain pengetahuan dari 20 butir, 12 butir dari 15 butir soal pemahaman, 9 butir soal penerapan dari 15 butir. Berapakah skor yang diperoleh Darso bila menggunakan metode penskoran dengan butir beda bobot? (bobot = 25) 3. Melalui soal item b di atas, Berapakah skor Darso apabila menggunakan metode penskoran tidak ada kriteria? (bobot = 10) 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah berikut: tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja! (bobot = 20)

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah anda mengerjakan tes formatif 1, cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terdapat pada bagian akhir pada unit ini. Perhatikan skor masing-masing item soal dan hitunglah berapakah skor jawaban Anda kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap subunit ini. Rumus: Tingkat penguasaan =
Jumlahskor * x100% 70 * Jumlah skor = penjumlahan skor jawaban benar pada setiap item soal Ketentuan: jumlah skor setiap item tidak melebihi bobot soalnya

Asesmen Pembelajaran di SD

6-11

Konversikan tingkat penguasaan Anda dengan pedoman berikut ini. 90% – 100% = Baik sekali 80% – 89% = Baik 70% – 79% = Cukup 69% kebawah = Kurang

Apabila tingkat penguasaan Anda 80% ke atas maka Anda dapat meneruskan pembelajaran pada subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan anda di bawah 80% maka Anda harus mengulang kegiatan belajar subunit ini terutama pada bagian yang belum Anda kuasai.

6-12 Unit 6

Subunit 2 Mengubah Skor dengan Penilaian Acuan Patokan
Pengantar

S

etelah Anda memahami dan menguasai konsep dan aplikasi pembuatan skor pada bagian sebelumnya maka diharapkan Anda dapat melangkah pada kegiatan berikutnya yaitu mengubah skor prestasi dengan nilai standar dengan menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) dan Penialian Acuan Normatif (PAN). Langkah ini bermanfaat untuk menentukan kualitas pembelajaran dan prestasi peserta didik secara objektif dan meningkatkan kebermaknaan hasil penilaian yang telah dilakukan baik dari sisi guru maupun peserta didik.

1. Konsep Pendekatan Penilaian

Setelah kegiatan penskoran dilakukan maka tugas Anda sebagai guru adalah mengolah skor-skor hasil tes menjadi skor standar atau nilai standar yang menggambarkan nilai prestasi para peserta didik mutu pembelajaran yang telah Anda lakukan selama waktu tertentu. Ada dua pendekatan yang umum dipakai oleh para guru, yaitu pendekatan: (1) Penilaian Acuan Norma atau disingkat PAN dan (2) Penilaian Acuan Patokan atau disingkat PAP. Anda sebagai guru harus menentukan sejak awal manakah pendekatan yang dipakai untuk mengubah skor-skor peserta didik menjadi nilai. PAP Anda pilih sebagai pendekatan apabila Anda berkeinginan membandingkan skor peserta didik dengan suatu nilai standar yang sudah ditentukan berdasarkan skor teoritisnya. Skor teoritis adalah skor maksimal apabila menjawab benar semua butir soal dalam suatu perangkat tes. Selain itu PAP dipilih dengan pertimbangan bahwa perangkat tes yang dipakai untuk mengukur prestasi peserta didik merupakan perangkat tes terstandar yang terjamin reliabilitas dan validitasnya. Melihat prinsip PAP sebagai pendekatan konversi skor-skor prestasi, maka pendekatan ini cocok digunakan untuk penilaian formatif, yaitu asesmen yang dilakukan pada setiap akhir satuan pelajaran yang berfungsi untuk perbaikan proses pembelajaran yang Anda lakukan. Sejak tes formatif belum Anda mulai, Anda sudah

Asesmen Pembelajaran di SD

6-13

dapat menentukan suatu kriteria keberhasilan pembelajaran yang Anda lakukan dengan memberikan patokan atau standar melalui skor teoritis. Pendekatan PAN dipilih apabila Anda berkeinginan membandingkan skor peserta didik dengan skor-skor dalam kelompoknya atau peserta didik lain dalam suatu kelas atau tingkat tertentu. Pendekatan ini sama sekali tidak terpengaruh dengan skor teoritis. Kualitas penilaian peserta didik sangat tergantung kepada distribusi skor para peserta tes. Skor-skor mereka akan saling berkompetisi secara internal sehingga menentukan pedoman konversi yang akan dibuat. Selain itu PAN dipilih dengan tidak harus mempertimbangan bahwa perangkat tes yang dipakai untuk mengukur prestasi peserta didik itu adalah perangkat tes terstandar. Pendekatan PAN cocok untuk penilaian sumatif atau penilaian lain yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana kompetensi sudah dikuasai oleh peserta didik. Sebelum penilaian sumatif dimulai, Anda belum dapat menentukan suatu kriteria keberhasilan peserta didik dalam menguasai kompetensi.
2. Pendekatan PAP

Pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP) disebut juga penilaian dengan norma absolut atau kriteria. Pendekatan PAP berarti membandingkan skor-skor hasil tes peserta didik dengan kriteria atau patokan yang secara absolut/mutlak telah ditetapkan oleh guru. Jadi skor peserta didik tidak dibandingkan dengan kelompoknya tetapi skor-skor itu akan dikonversi menjadi nilai-nilai berdasarkan skor teoritisnya. Umumnya seorang guru yang menggunakan PAP sudah dapat menyusun pedoman konversi skor-skor menjadi nilai standar sebelum tes dimulai. Oleh sebab itu, umumnya hasil pengukuran dari periode ke periode berikutnya dalam kelompok berbeda maupun yang sama akan dapat dipertahankan keajegannya atau konsistensinya. Hasil penerapan PAP dalam penilaian peserta didik akan dapat Anda ramalkan dengan terlebih dahulu melihat skor teoritis dan kualitas para peserta didik dalam kelompok atau kelas. Misal pada penilaian dengan skala-5, PAP Anda berlakukan pada kelompok/kelas yang kurang pandai maka diperkirakan banyak peserta didik mendapatkan nilai prestasi kurang, yaitu ditandai dengan banyaknya peserta didik dengan nilai E, D, serta C sedangkan nilai B dan A lebih sedikit seperti pada kurva-A berikut.

6-14 Unit 6

E

D

C

B A

E

D

C

B A

Kurva-A

Kurva-B

Apabila PAP diberlakukan kepada kelompok/kelas dengan rata-rata pandai maka diperkirakan distribusi nilai seperti pada kurva-B. Peserta didik yang mendapat nilai E, D, dan C lebih sedikit bila dibandingkan jumlah peserta didik dengan nilai B dan A. Secara ideal dalam sudut pandang produk penilaian maka kurva yang diharapkan terjadi dalam PAP adalah kurva-B, namun apabila memberikan hasil seperti kurva-A bukan berarti Anda gagal dalam pembelajaran, tetapi sebagai sebuah proses Anda diwajibkan mengidentifikasi proses pembelajaran yang telah berlangsung dan menemukan titik lemah pembelajaran kemudian melakukan perbaikan-perbaikan. Distribusi nilai suatu kelas/kelompok mungkin saja membentuk kurva-A apabila perangkat tes yang digunakan memiliki butir-butir soal yang terkategori ”sulit” meskipun prestasi mereka di atas rata-rata. Sebaliknya suatu kelas/kelompok dengan prestasi di bawah rata-rata, distribusi nilainya akan membentuk seperti kurva-B karena perangkat soalnya terlalu mudah. Sebab itu, sekali lagi PAP akan dapat menggambarkan prestasi siswa yang obyektif bila perangkat tes yang digunakan adalah perangkat tes terstandar.
a. Aplikasi Pendekatan PAP

Metode PAP digunakan pada sistem penilaian skala-100 dan skala-5. Skala-100 berangkat dari persentase yang mengartikan skor prestasi sebagai proporsi penguasaan peserta didik pada suatu perangkat tes dengan batas minimal angka 0 sampai 100 persen (%). Pada skala-5 berarti skor prestasi diwujudkan dalam nilai A, B, C, D, dan E atau berturutan mewakili nilai 4, 3, 2, 1, dan 0. Adapun langkahlangkah PAP sebagai berikut. 1) Menentukan skor berdasarkan proporsi Skor =
B x 100% St

(rumus bila menggunakan skala-100)

Asesmen Pembelajaran di SD

6-15

B = banyaknya butir yang dijawab benar (dalam bentuk pilihan ganda) atau jumlah skor jawaban benar pada setiap butir/item soal (pada tes bentuk menguraikan) St = Skor teoritis 2) Menentukan batas minimal nilai ketuntasan Nilai ketuntasan adalah nilai yang menggambarkan proporsi dan kualifikasi penguasaan peserta didik terhadap kompotensi yang telah dikontrakkan dalam pembelajaran. Untuk menentukan batas minimal nilai ketuntasan peserta tes dapat menggunakan pedoman yang ada. Depdiknas RI atau beberapa sekolah biasanya telah menentukan batas minimal siswa dikatakan tuntas menguasai kompetensi yang dikontrakkan misalnya 60%. Umumnya pada tingkat pendidikan dasar dan menengah di negara kita menggunakan skala-100 sedangkan skala-5 dipakai di perguran tinggi. Namun sekarang, ada perguruan tinggi yang mengembangkan skala-5 menjadi skala delapan, sembilan, atau tiga belas dengan memodifikasi ragam tingkatannya. Misal, semula ragam nilai skala-5 adalah A, B, C, D, dan E kemudian dimodifikasi dengan menambah ragam tingkatan nilai menjadi delapan sebagai berikut: A, B+, B, C+, C, D+, D, dan E. Pada beberapa perguruan tinggi ada yang mengembangkan lagi menjadi tiga belas variasi seperti berikut: A+, A, A-, B+, B, B-, C+, C, C -, D+, D, D-, dan E. Contoh 1: Suatu perangkat tes terdiri dari beberapa bentuk soal seperti pada tabel berikut.
Nomor 1 s/d 30 31 s/d 45 46 s/d 50 Tabel 6.5. Perangkat Tes dengan Beberapa Bentuk Soal Bentuk soal Bobot Bentuk pilihan ganda model asosiasi 1 Bentuk pilihan ganda model melengkapi 2 berganda Bentuk uraian 5 Jumlah St = St 30 30 25 85

Berdasarkan tabel di atas skor teoritis perangkat tes adalah 85. Peserta didik yang mengikuti ada 40 anak, setelah mereka mengerjakan perangkat tes dilakukan penskoran oleh guru. Hasil skor itu selanjutnya diolah dengan PAP, hasilnya sebagai berikut (yang ditampilkan hanya 10 peserta tes).

6-16 Unit 6

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Tabel 6.6. Skor Peserta Tes (Rekayasa) untuk Diolah dengan Pendekatan PAP Nama Peserta Skor Keterangan* Hadi 53 Suyono 68 Jamil 61 Fatma 75 Joko 82 Skor tertinggi Romlah 65 Imam 50 Yoyok 60 Nila 45 Skor terendah Tiyas 54 -

* Skor tertinggi dan terendah dari 40 peserta Coba Anda gunakan pendekatan PAP untuk melakukan penilaian dan mengkonversi skor-skor tersebut dengan skala-100 dan skala-5. Jawab (skala-100): untuk mengerjakan contoh tersebut, setiap skor peserta tes diubah menjadi persentase dari skor teoritis dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan. Adapun hasil perhitungannya ditampilkan dalam tabel berikut ini.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Peserta Hadi Suyono Jamil Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas Skor 53 68 61 75 82 65 50 60 45 54 Penghitungan 53/85 x 100% 68/85 x 100% 61/85 x 100% 75/85 x 100% 82/85 x 100% 65/85 x 100% 50/85 x 100% 60/85 x 100% 45/85 x 100% 54/85 x 100% Hasil Penilaian Nilai (%) Kualifikasi * 62 Tuntas 80 Tuntas 72 Tuntas 88 Tuntas 97 Tuntas 77 Tuntas 59 Tidak Tuntas 71 Tuntas 53 Tidak Tuntas 64 Tuntas

Catatan: batas minimal kualifikasi tuntas 60%

Melalui Tabel di atas berarti Anda tidak lagi menganggap nilai peserta tes pada kolom ”skor” tetapi Anda menggunakan kolom ”nilai (%)” dan ”kualifikasi” sebagai hasil dari PAP dengan skala-100. Jadi peserta didik dengan nama Hadi mendapat nilai 63 dengan kualifikasi tuntas, artinya Hadi mampu menguasai 63% kompetensi yang dikontrakkan dalam pembelajaran. Dari peserta dalam tabel di atas, ternyata Imam mendapat nilai 59 dengan kualifikasi tidak tuntas karena nilainya di bawah batas minimal kualifikasi (60%). Keadaan yang sama juga terjadi pada Nila dengan nilai 53 dan kualifikasi tidak tuntas. Bagaimanakah dengan peserta berkualifikasi tidak tuntas? Anda dapat

Asesmen Pembelajaran di SD

6-17

melakukan langkah berikutnya yaitu memberikan keputusan kepada Iman dan Nila untuk remedial atau melakukan tes ulang. Jawab (skala-5): untuk membuat skala-5 pada umumnya sekolah sudah punya pedoman konversi skala-5 untuk semua matapelajaran. Apabila di sekolah Anda belum memiliki maka Anda harus membuat sendiri pedoman itu dengan mempertimbangkan batas minimal kualifikasi tuntas yang telah disepakati. Berikut ini disusun pedoman konversi skala-5 dengan memperhatikan bahwa batas minimal kualifikasi tuntas adalah 60%.
Tabel 6.7. Contoh Pedoman Konversi Skala-5 Tingkat Penguasaan Hasil Penilaian (%) Nilai Kualifikasi 80 ke atas A Sangat memuaskan 70 – 79 B Memuaskan 60 – 69 C Cukup 50 – 59 D Kurang 49 ke bawah E Sangat kurang

Melalui tabel di atas berarti setiap skor peserta didik harus dikonversi menjadi nilai huruf dan kualifikasi, hasil konversinya sebagai berikut.
Tabel 6.8. Contoh Hasil Konversi Skala-5 Hasil Penilaian Skor Nilai (%) Nilai (huruf) Kualifikasi * 53 62 C Cukup 68 80 A Sangat memuaskan 61 72 B Memuaskan 75 88 A Sangat memuaskan 82 97 A Sangat memuaskan 65 77 B Memuaskan 50 59 D Kurang 60 71 B Memuaskan 45 53 D Kurang 54 64 C Cukup

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Nama Peserta Hadi Suyono Jamil Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas

Catatan: Batas minimal kualifikasi adalah nilai C atau nilai 60%

Melalui tabel hasil penilaian di atas, Anda jangan menganggap nilai peserta tes pada kolom ”skor” tetapi gunakanlah kolom ”nilai (%)”, ”nilai (huruf)” dan ”kualifikasi” sebagai hasil dari PAP dengan skala-5. Jadi peserta didik dengan nama Suyono mendapat nilai A dengan kualifikasi sangat memuaskan, artinya Suyono mampu menguasai 80% kompetensi yang dikontrakkan dalam pembelajaran. Dari peserta yang lain, misalnya; Imam mendapat nilai D dengan kualifikasi kurang
6-18 Unit 6

memuaskan karena nilainya di bawah batas minimal kualifikasi 60% atau nilai C. Keadaan yang sama juga terjadi pada Nila dengan nilai D dan kualifikasi kurang memuaskan. Bagaimanakah dengan peserta berkualifikasi kurang memuaskan? Anda dapat melakukan langkah berikutnya yaitu memberikan keputusan kepada Iman dan Nila untuk mengikuti remedial, mengulang pada semester berikutnya (kalau di perguruan tinggi) atau melakukan tes ulang. Apabila hasil PAP dengan pedoman konversi skala-100 dan skala-5 Anda gunakan untuk mengkonversi skor-skor hasil tes prestasi pada kelas/kelompok lain maka hasilnya akan tetap reliabel dengan catatan perangkat tes yang digunakan sama dengan kelompok/kelas sebelumnya.

Latihan
Untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi di atas, kerjakanlah latihan berikut ini! 1) Suatu perangkat tes mata pelajaran IPA terdiri dari beberapa bentuk soal seperti pada tabel berikut.
Nomor 1 s/d 40 41 s/d 65 66 s/d 75 St = Bentuk soal Bentuk pilihan ganda model asosiasi Bentuk pilihan ganda model melengkapi berganda Bentuk uraian 140 Bobot 1 2 5 Jumlah item x bobot 40 50 50

Peserta tes sebanyak 40 anak, tentukan berapakah nilai dan kualifikasi 10 orang peserta didik berikut apabila menggunakan pendekatan PAP skala-100.
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Peserta Hadi Suyono Jamil Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas Skor 125 135 98 60 67 66 107 118 100 82

Asesmen Pembelajaran di SD

6-19

2) Kerjakan seperti pada soal no. 1, tetapi untuk skala-5 3) Jelaskan perbedaan pendekatan PAP dan PAN dalam suatu proses penilaian! (minimal 2 perbedaan)
Petunjuk Menjawab Latihan

Untuk dapat menjawab soal di atas, silahkan anda simak kembali uraian materi dan contoh yang diberikan dalam subunit ini.

Rangkuman
Pendekatan PAP dan PAN adalah dua pendekatan penilaian yang digunakan untuk mengubah skor mentah menjadi nilai standar. Umumnya PAP digunakan untuk menilai kualifikasi prestasi siswa dengan tolok ukur pada skor teoritis perangkat tes dan batas minimal ketuntasan, sedangkan PAN digunakan untuk menilai kualifikasi siswa dengan membandingkan nilai prestasi mereka dengan sesama teman di kelas/kelompoknya. Pendekatan PAP sebaiknya digunakan pada pelaksanaan tes yang menggunakan perangkat tes terstandar secara reliabilitas dan validitas. Untuk menyusun pedoman konversi skor-skor kasar menjadi nilai dan kualifikasinya dapat dilakukan dengan model skala-100 dan skala-5

Tes Formatif 2
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2.
Petunjuk menjawab soal: Pilihlah satu jawaban yang benar!

1. Setelah kegiatan penskoran dilakukan pada suatu tes matapelajaran maka tugas Anda sebagai guru adalah ... A. mengolah skor-skor hasil tes menjadi nilai standar. B. menyusun rencana pembelajaran berikutnya. C. mengumumkan hasil tes. D. membagikan hasil tes kepada siswa.

6-20 Unit 6

2. Apa yang dimaksud dengan skor teoritis? A. skor yang diperoleh pada setiap butir/item soal. B. skor yang memperhatikan bobot. C. skor maksimal bila menjawab benar semua butir soal dalam suatu perangkat tes. D. semua jawaban di atas benar. 3. Memperhatikan konsep PAP, sebaiknya digunakan untuk mengolah skor pada penilaian ... A. sumatif. C. minat dan bakat. B. formatif . D. sumatif dan formatif. 4. Manakah pernyataan yang benar tentang PAP? A. menilai kualifikasi prestasi siswa dengan suatu tolok ukur. B. punya batas minimal ketuntasan. C. untuk menilai kualifikasi siswa dengan membandingkan nilai prestasi mereka dengan sesama teman di kelas/kelompoknya. D. jawaban A dan B benar. 5. Suatu perangkat tes matapelajaran IPS terdiri dari beberapa bentuk soal seperti pada tabel berikut.
Nomor 1 s/d 40 41 s/d 65 66 s/d 75 Bentuk soal Bentuk pilihan ganda model asosiasi Bentuk pilihan ganda model melengkapi berganda Bentuk uraian Jumlah St = Bobot 1 2 5 Jumlah item x bobot 40 50 50 140

Tentukan berapakah nilai Yono yang mendapat skor 70 apabila menggunakan pendekatan PAP skala-100. A. 70. B. 50. C. 60. d. 65.

6. Melalui hasil penilaian pada soal no. 5., apakah kuaifikasi nilai Yono? A. tidak tuntas. B. tuntas. C. memuaskan . E. semua benar.

Asesmen Pembelajaran di SD

6-21

7. Dengan menggunakan soal di atas berapakah nilai yang diperoleh Jamil apabila mendapat skor 105? A. 75. B. 60. C. 80. D. 90.

8. Melalui hasil penilaian pada soal no. 7., apakah kuaifikasi nilai Jamil? A. tidak tuntas. B. tuntas. C. memuaskan. E. semua benar.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah Anda mengerjakan tes formatif 2, cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 2 yang terdapat pada bagian akhir pada unit ini. Perhatikan skor masing-masing item soal dan hitunglah berapakah skor jawaban Anda kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap subunit ini. Rumus:
Jumlah jawaban benar Tingkat penguasaan = 8 x 100

Konversikan tingkat penguasaan Anda dengan pedoman berikut ini. 90% – 100% = Baik sekali 80% – 89% = Baik 70% – 79% = Cukup 69% ke bawah = Kurang Apabila tingkat penguasaan Anda 80% ke atas maka Anda dapat meneruskan pembelajaran pada subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda di bawah 80% maka Anda harus mengulangi kegiatan belajar subunit ini terutama pada bagian yang belum Anda kuasai.

6-22 Unit 6

Subunit 3 Mengubah Skor dengan Penilaian Acuan Normatif
Pengantar
Setelah Anda memahami dan menguasai konsep dan aplikasi penilaian PAP dengan model skala-100 dan skala-5 maka diharapkan Anda dapat melangkah pada kegiatan berikutnya yaitu mengubah skor prestasi dengan nilai standar dengan menggunakan pendekatan Penilaian Acuan Normatif (PAN). Seperti langkah pada PAP, cara penilaian PAN juga bermanfaat untuk menentukan kualitas pembelajaran dan prestasi peserta didik secara objektif dan meningkatkan kebermaknaan hasil penilaian yang telah dilakukan baik dari sisi guru maupun peserta didik.
1. Konsep Pendekatan PAN

Pada penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa salah satu beda PAN dari PAP terletak pada tolok ukur skor yang digunakan sebagai pembanding. Pendekatan ini menggunakan cara membandingkan prestasi atau skor mentah peserta didik dengan sesama peserta didik dalam kelompok/kelasnya sendiri. Makna nilai dalam bentuk angka maupun kualifikasi memiliki sifat relatif, artinya bila Anda sudah berhasil menyusun pedoman konversi skor berdasarkan tes yang sudah dilakukan pada suatu kelas/kelompok maka pedoman itu hanya berguna bagi kelompok/kelas itu dan kemungkinan besar pedoman itu tidak berguna bagi kelompok/kelas lain karena distribusi skor peserta tes sudah lain. Kecuali, pada saat pengolahan skor kelompok/kelas yang lain tadi disatukan dengan kelompok/kelas pertama. Misalnya, Anda ingin membandingkan kepandaian siswa dalam matapelajaran IPA di semester sepuluh antara Rudi dengan kakak kelasnya yaitu Bobi pada semester yang sama setahun yang lalu. Rudi pada semester sepuluh sekarang angka rapor matapelajaran IPA = 89 sedangkan Bobi pada semester sepuluh di tahun akademik yang lalu adalah 97. Benarkah bila Anda memutuskan bahwa Rudi lebih rendah prestasinya dibidang IPA dibandingkan Bobi? Membandingkan angkanya, maka benar angka Rudi lebih rendah dari Bobi tetapi kalau kedua angka itu adalah nilai standar dari pendekatan PAN, maka Anda harus melihat terlebih dahulu rerata dan standar deviasi skor pada kelompok/kelas masing-masing. Apabila statistik kelompok/kelas Rudi dan Bobi sebagai berikut.

Asesmen Pembelajaran di SD

6-23

Kelas Rudi → rerata ( x ) = 70 dan standar deviasi (s) = 5,6 Kelas Bobi → rerata ( x ) = 89 dan standar deviasi (s) = 2,5

Data statistik tersebut kita gunakan untuk menghitung nilai Zscore Rudi dan Bobi x − x . Melalui rumus itu dapat dihitung Zrudi = 3,4 dengan menggunakan Zscore = s dan Zbobi = 3,2 dengan demikian pernyataan bahwa Rudi tidak lebih unggul dalam bidang IPA daripada Bobi di kelas masing-masing adalah kurang berdasar. Demikian halnya dengan nilai suatu matapelajaran yang sama tetapi diperoleh dalam kurun waktu yang berbeda akan memiliki makna yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh variasi nilai, kondisi kelompok, dll. Melalui analogi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu nilai prestasi hasil pengolahan dengan pendekatan PAN memiliki sifat relatif, oleh sebab itu pendekatan PAN disebut juga pendekatan penilaian norma relatif atau norma empirik. Artinya secara statistika, pendekatan PAN menggunakan dasar asumsi normalitas. Apabila Anda memiliki kumpulan skor/nilai pada kelas/kelompok yang heterogen maka distribusinya akan membentuk kurva normal sebagai berikut (perhatikan gambar kurva normal di bawah ini)

Sedang Rendah Tinggi

Berdasarkan kurva normal tersebut maka sifat distribusi nilai/skor prestasi peserta didik akan menyebar membentuk kurva normal standar. Misalnya variasi nilai standar adalah rendah, sedang, dan tinggi, maka peserta didik yang memiliki prestasi ”sedang” jumlahnya lebih banyak daripada kelompok ”rendah” dan ”tinggi”, sedangkan peserta didik kelompok ”rendah” dan ”tinggi” jumlahnya kurang lebih sama.

6-24 Unit 6

2. Langkah pendekatan PAN

Seperti pada PAP, pendekatan penilaian PAN dapat digunakan juga pada sistem penilaian skala-100 dan skala-5. Bahkan pada PAN, Anda dapat mengembangkan menjadi skala-9 dan skala-11. Pada skala-100 berangkat dari persentase yang mengartikan skor prestasi sebagai proporsi penguasaan peserta didik pada suatu perangkat tes dengan batas minimal angka 0 sampai 100 persen (%). Pada skala-5 berarti skor prestasi diwujudkan dalam nilai A, B, C, D, dan E atau berturutan mewakili nilai 4, 3, 2, 1, dan 0. Adapun langkah-langkah pendekatan PAN sebagai berikut. 1) Menghitung rerata ( x ) skor prestasi Untuk data tidak berkelompok Rumus x =

∑ xi
n

xi = skor peserta tes ke-i n = jumlah peserta tes
Untuk data berkelompok Rumus x =

∑ fi.xi ∑ fi

xi = tanda kelas fi = frekuensi yang sesuai dengan xi
2) Menghitung standar deviasi ( s ) skor prestasi Untuk data tidak berkelompok Rumus s =
xi = nilai ke-i Untuk data berkelompok Rumus s = i n∑ xi 2 − (∑ xi ) n(n − 1)
2

∑ fixi
n

'2

⎛ ∑ fixi' ⎞ ⎟ −⎜ ⎜ n ⎟ ⎝ ⎠

2

xi = nilai ke-i fi = frekuensi ke-i

Asesmen Pembelajaran di SD

6-25

i = panjang kelas
xi ' = nilai sandi

3) Membuat pedoman konversi untuk mengubah skor menjadi nilai standar (berdasarkan skalanya, ada PAN dengan skala lima, skala sembilan, skala sebelas, dan dengan nilai Zscore atau Tscore) Pedoman konversi skala-5 Pedoman konversi skala-5 berarti membagi nilai standar menjadi lima skala, lima angka/huruf atau lima kualifikasi. Cara menyusun skala lima dengan membagi wilayah di bawah lengkung kurva normal menjadi lima daerah, perhatikan kurva normal berikut.

C E
x -1,5s

D
x -0,5s x

B

A

x +0,5s x +1,5s

Nb. s = standar deviasi

Kurva normal tersebut terbagi menjadi lima daerah dan setiap daerah menunjukkan kualifikasi atau nilai dari kanan ke kiri A, B, C, D dan E. Berdasarkan pembagian itu, pedoman konversi skala-5 disusun sebagai berikut. A
x +1,5s

B
x + 0,5s

C
x - 0,5s

D
x - 1,5s

E

6-26 Unit 6

Pedoman konversi skala-9 Pedoman konversi skala-9 berarti membagi nilai standar menjadi sembilan skala, sembilan angka/huruf atau sembilan kualifikasi. Cara menyusun skala sembilan sama dengan skala lima yaitu dengan membagi wilayah di bawah lengkung kurva normal menjadi sembilan daerah, perhatikan kurva normal berikut.

5 1 2 3 4
x

6 7

8

9

x –0,25s
x – 0,75s x – 1,25s

x – 1,75s

x +0,25s x + 0,75s x +1,25s x +1,75s

Kurva normal tersebut terbagi menjadi sembilan daerah dan setiap daerah menunjukkan kualifikasi atau nilai dari kanan ke kiri 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Berdasarkan pembagian itu, pedoman korversi skala-9 disusun sebagai berikut.
9

x +1,75s
8

x + 1,25s
7

x + 0,75s
6

x + 0,25s
5

x - 0,25s
4

x - 0,75s
3

x - 1,25s
2

x - 1,75s
1

Asesmen Pembelajaran di SD

6-27

Pedoman konversi skala-11 Pedoman konversi skala-11 berarti membagi nilai standar menjadi sebelas skala, sebelas angka/huruf atau sebelas kualifikasi. Cara menyusun skala sebelas sama dengan skala lima dan sembilan yaitu dengan membagi wilayah di bawah lengkung kurva normal menjadi sebelas daerah, perhatikan kurva normal berikut.

5 0 1 2 3 4
x

6

7

8

9 10

x –0,25s
x – 0,75s x – 1,25s

x – 1,75s
x – 2,25s

x +0,25s x + 0,75s x +1,25s x +1,75s x + 2,25s

Kurva normal tersebut terbagi menjadi sebelas daerah dan setiap daerah menunjukkan kualifikasi atau nilai dari kanan ke kiri 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 dan 10. Berdasarkan pembagian itu, pedoman korversi skala-11 disusun sebagai berikut.
10

x +2,25s
9

x +1,75s
8

x + 1,25s
7

x + 0,75s
6

x + 0,25s
5

x - 0,25s
4

x - 0,75s
3

x - 1,25s
2

x - 1,75s
1

x - 2,25s

6-28 Unit 6

0

Pedoman konversi dengan Zscore atau Tscore Dengan tidak menyusun pedoman konversi Anda dapat langsung menentukan atau mengkonversi skor menjadi nilai standar dengan menggunakan dua nilai yaitu nilai Zscore dan Tscore. Nilai Zscore berarti mengubah skor kasar menjadi nilai standar Z. Biasanya Zscore digunakan sebagai cara untuk membandingkan beberapa nilai matapelajaran seorang peserta tes dari berbagai jenis pengukuran yang berbeda (lihat kembali pembahasan 6.2.3.1). Konsep Tscore hampir sama dengan Zscore. Adapun rumus untuk menghitung nilai Zscore dan Tscore adalah sebagai berikut. x − x Zscore = S Keterangan: x = skor S = standar deviasi
x = rata-rata

Tscore = 50 + 10 × Z score

3. Aplikasi pendekatan PAN

Contoh-1 (untuk data tidak berkelompok): seorang guru Matematika membina sepuluh orang peserta didik, ia berencana mengolah dengan PAN skor akhir matematika menjadi nilai standar. Skornya seperti pada tabel berikut. Pertanyaan: susunlah pedoman konversi skala-5 dan konversikan sepuluh skor tersebut menjadi nilai standar. Jawab: 1) Menghitung x dan s
No 1. 2. 3. Nama Peserta Hadi Suyono Jamil xi 53 68 61 xi2 2809 4624 3721

Asesmen Pembelajaran di SD

6-29

No 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Nama Peserta Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas Jumlah =

xi 75 82 65 50 71 45 54 624

xi2 5625 6724 4225 2500 5041 2025 2916 40210

x

= =

∑ xi
n
624 10

= 62,4 (dibulatkan 62) s =

n∑ xi 2 − (∑ xi ) n(n − 1)

2

=

10 × 40210 − 624 2 10(10 − 1)

= 11,9 (dibulatkan 12) 2) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-5 Menentukan batas nilai:
A

x +1,5s x + 0,5s x - 0,5s x - 1,5s

62 + 1,5 . 12 = 80 B 62 + 0,5 . 12 = 68 C 62 – 0,5 . 12 = 56 D 62 – 1,5 . 12 = 44 E

Membuat pedoman konversi skala-5:
Interval Skor 80 keatas 68 – 79 56 – 67 44 – 55 43 ke bawah Nilai A B C D E

Mengkonversi skor menjadi nilai skala-5:
6-30 Unit 6

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Nama Peserta Hadi Suyono Jamil Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas

Prestasi Skor Nilai 53 D 68 B 61 C 75 B 82 A 65 C 50 D 71 B 45 D 54 D

3) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-9 Menentukan batas nilai:
9

x +1,75s = 62 + 1,75 . 12

83 8 77 7 71 6 65 5 59 4 53 3 47 2 41 1

x + 1,25s = 62 + 1,25 . 12

x + 0,75s = 62 + 0,75 . 12
x + 0,25s = 62 + 0,25 . 12 x - 0,25s = 62 - 0,25 . 12 x - 0,75s = 62 – 0,75 . 12

x - 1,25s = 62 – 1,25 . 12 x - 1,75s = 62 - 1,75 . 12

Membuat pedoman konversi skala-9:
Interval Skor 83 ke atas 77 – 82 71 – 76 65 – 70 59 – 64 53 – 58 47 – 52 41 – 46 40 ke bawah Nilai 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Asesmen Pembelajaran di SD

6-31

Mengkonversi skor menjadi nilai skala-9:
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Peserta Hadi Suyono Jamil Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas Prestasi Skor Nilai 53 4 68 6 61 5 75 7 82 8 65 5 50 3 71 7 45 2 54 4

4) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-11 Membuat batas nilai:
10

x +1,75s = 62 + 2,25 . 12 x +1,75s = 62 + 1,75 . 12
x + 1,25s = 62 + 1,25 . 12 x + 0,75s = 62 + 0,75 . 12 x + 0,25s = 62 + 0,25 . 12

89 9 83 8 77 7 71 6 65 5 59 4 53 3 47 2 41 1 35 0

x - 0,25s = 62 - 0,25 . 12 x - 0,75s = 62 – 0,75 . 12 x - 1,25s = 62 – 1,25 . 12
x - 1,75s = 62 - 1,75 . 12 x - 2,25s = 62 - 2,25 . 12

Memuat pedoman konversi skala-11
Interval Skor 89 ke atas 83 – 88 77 – 82 71 – 76 65 – 70 59 – 64 53 – 58 47 – 52 41 – 46 35 ke bawah Nilai 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1

6-32 Unit 6

Mengkonversi skor menjadi nilai skala-11:
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Nama Peserta Hadi Suyono Jamil Fatma Joko Romlah Imam Yoyok Nila Tiyas Prestasi Skor Nilai 53 4 68 6 61 5 75 7 82 8 65 6 50 3 71 7 45 2 54 4

Contoh-2 (untuk data berkelompok): seorang guru Bahasa Indonesia membina 80 orang peserta didik, ia berencana mengolah dengan PAN skor akhir matapelajaran Bahasa Indonesia menjadi nilai standar. Skornya seperti pada tabel berikut. Pertanyaan: susunlah pedoman konversi skala-5, 9, dan 11 dan konversikan sepuluh skor siswa pada kolom pertama menjadi nilai standar.

79 80 70 68 90 92 80 70 63 76

49 84 71 72 35 93 91 74 60 63

48 90 92 65 83 76 61 99 83 88

74 70 38 51 73 71 72 95 82 70

81 91 56 65 74 90 97 80 60 66

98 93 81 93 43 72 91 59 67 88

87 82 74 83 86 67 88 71 89 79

80 78 73 86 88 75 81 77 63 75

Jawab: 1) Menghitung x dan s a. Menentukan rentang Rentang (r) = data terbesar – data terkecil = 99 – 35 = 64 b. Menentukan banyak kelas interval Banyak kelas (k) = 1 + 3,3 . log n dimana n = banyak data

Asesmen Pembelajaran di SD

6-33

= 1 + 3,3 . log 80 = 1 + 3,3 . 1,9031 = 7,2802 Catatan: nilai “k” dibulatkan sehingga banyak kelas interval = 7 (pembulatan “k” harus mengikuti kaidah matematik) c. Menentukan panjang kelas Panjang kelas = =

i k
64 7

= 9,14 Catatan: khusus untuk panjang kelas pembulatan dapat Tidak mengikuti kaidah matematik, jadi kalau pembulatan ke atas (=10) atau ke bawah (=9). Alasan; supaya semua skor dapat masuk ke dalam setiap kelas interval. d. Membuat tabel distribusi frekuensi kelompok Mula-mula menentukan ujung bawah kelas interval pertama. Ujung bawah kelas interval pertama = 35 (diambil skor terkecil). Dengan banyak kelas interval 7 serta panjang kelas 9 dan 10 dapat disusun dua buah rencana kelas interval sebagai berikut. Panjang kelas = 9
Kelas Interval 35 – 43 44 – 52 53 – 61 62 – 70 71 – 79 80 – 88 89 – 97 Frekuensi

Panjang kelas = 10
Kelas Interval 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75 – 84 85 – 94 95 – 104 Frekuensi

Dengan panjang kelas = 9 memiliki kelas interval terakhir 89 – 97, dengan demikian data berat badan lebih dari 97 tidak dapat masuk ke dalam kelas interval terakhir.

6-34 Unit 6

Dengan pajang kelas = 10 memiliki kelas interval terakhir 95 – 104, dengan demikian semua data berat badan lebih dari 97 dapat masuk ke dalam kelas interval terakhir. Jadi sebaiknya menggunakan panjang kelas = 10. Selanjutnya disusun tabel distribusi frekuensi kelompok seperti pada tabel dibawah ini.
Kelas Interval 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75 – 84 85 – 94 95 – 104 Jumlah fi 3 3 8 22 20 20 4 80

e. Menentukan x dan s
Kelas Interval 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75 – 84 85 – 94 95 – 104 Jumlah fi 3 3 8 22 20 20 4 80 xi 39,5 49,5 59,5 69,5 79,5 89,5 99,5 fixi 118.5 148.5 476 1529 1590 1790 398 6050

xi '
+3 +2 +1 0 -1 -2 -3 0

fi xi ' +9 +6 +8 0 -20 -40 -12 -49

fi xi ' 2 27 12 8 0 20 80 36 183

Berdasarkan tabel di atas ditentukan nilai x dan s maka x =
=

∑ fi.xi ∑ fi

6050 80 = 75.6 (dibulatkan 76) maka s = i

∑ fixi
n

'2

⎛ ∑ fixi' ⎞ ⎟ −⎜ ⎜ n ⎟ ⎝ ⎠
2

2

= 10

183 ⎛ − 49 ⎞ −⎜ ⎟ 80 ⎝ 80 ⎠

= 10 (2,29 − 0,38) = 13,82 (dibulatkan 14)

Asesmen Pembelajaran di SD

6-35

2) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-5 Menentukan batas nilai:
A

x +1,5s x + 0,5s x - 0,5s x - 1,5s

76 + 1,5 . 14 = 97 B 76 + 0,5 . 14 = 83 C 76 – 0,5 . 14 = 69 D 76 – 1,5 . 14 = 55 E

Membuat pedoman konversi skala-5:
Interval Skor 97 keatas 83 – 96 69 – 82 55 – 68 54 ke bawah Nilai A B C D E

Mengkonversi skor menjadi nilai skala-5:
Peserta kolom 1 nomor urut ... 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Prestasi Skor 79 80 70 68 90 92 80 70 63 76 Nilai C C C D B B C C D C

3) Membuat dan mengkonversi nilai PAN skala-9 Menentukan batas nilai:
dibulatkan

9

x +1,75s = 76 + 1,75 . 14

101 8 94 7 87 6 80 5 73 4 66

x + 1,25s = 76 + 1,25 . 14 x + 0,75s = 76 + 0,75 . 14
x + 0,25s = 76 + 0,25 . 14 x - 0,25s = 76 - 0,25 . 14 x - 0,75s = 76 – 0,75 . 14
6-36 Unit 6

3

x - 1,25s = 76 – 1,25 . 14

59 2 52 1

x - 1,75s = 76 - 1,75 . 14

Membuat pedoman konversi skala-9:
Interval Skor 101 ke atas 94 – 100 87 – 93 80 – 86 73 – 79 66 – 72 59 – 65 52 – 58 51 ke bawah Nilai 9 8 7 6 5 4 3 2 1

Mengkonversi skor menjadi nilai skala-9:
Peserta kolom 1 nomor urut ... 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Prestasi Skor 79 80 70 68 90 92 80 70 63 76 Nilai 5 6 4 4 7 7 6 4 3 5

4) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-11 Menentukan batas nilai:
dibulatkan

10

x +2,25s = 76 + 2,25 . 14 x +1,75s = 76 + 1,75 . 14
x + 1,25s = 76 + 1,25 . 14 x + 0,75s = 76 + 0,75 . 14 x + 0,25s = 76 + 0,25 . 14

108 9 101 8 94 7 87 6 80 5 73

x - 0,25s = 76 - 0,25 . 14

Asesmen Pembelajaran di SD

6-37

4

x - 0,75s = 76 – 0,75 . 14

66 3 59 2 52 1 45 0

x - 1,25s = 76 – 1,25 . 14
x - 1,75s = 76 - 1,75 . 14 x - 2,25s = 76 + 2,25 . 14

Membuat pedoman konversi skala-11:
Interval Skor 108 ke atas 101 – 107 94 – 100 87 – 93 80 – 86 73 – 79 66 – 72 59 – 65 52 – 65 45 – 51 44 ke bawah Nilai 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0

Mengkonversi skor menjadi nilai skala-11:
Peserta kolom 1 nomor urut ... 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Prestasi Skor 79 80 70 68 90 92 80 70 63 76 Nilai 5 6 4 4 7 8 6 4 3 5

4) Membuat dan mengkonversi skor menjadi nilai dengan Zscore Berdasarkan pada contoh-2, bila Toni mendapat skor 82 berapakah nilai bila menggunakan Zscore? x − x Zscore = S 82 − 76 = 14 = 0,4

6-38 Unit 6

Berarti nilai Toni adalah 0,4 dari rata-rata 76, jadi nilai Toni adalah 76,4

Latihan
Bandingkan hasil penilaian skala-5 yang diolah dengan PAP pada contoh-1 subunit 6.2 dan PAN pada contoh-1 subunit 6.3. Apakah yang dapat Anda simpulkan dari perbandingan itu?

Rangkuman
Sebagai pendekatan PAN dapat digunakan pada perangkat tes terstandar maupun tidak terstandar. Unsur yang paling pokok dalam pemilihan PAN sebagai pengolahan skor menjadi nilai adalah pertimbangan bahwa karakteristik atau tingkat kepandaian peserta didik dalam suatu kelompok, identik dengan karakteristik populasinya, artinya distribusi tingkat kepandaian mereka kurang lebih bersifat seperti kurva normal. Maka nilai yang diperoleh peserta didik melalui PAN memiliki keragaman relatif, hal itu tergantung dari sudut pandang Anda sebagai guru. Nilai suatu matapelajaran seorang peserta didik hasil PAN memiliki makna berbeda kalau nilai itu Anda bandingkan dengan peserta didik atau kelompok lain meskipun dalam satu tingkat, satu sekolah maupun satu matapelajaran. PAN sebagai pendekatan penilaian dapat dilakukan dengan model skala-5, dan skala-9, skala-11 dan Zscore atau Tscore.

Tes Formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat! 1. Memperhatikan konsep PAN, sebaiknya digunakan untuk mengolah skor pada penilaian ... A. sumatif. B. formatif . C. minat dan bakat. D. sumatif dan formatif.

Asesmen Pembelajaran di SD

6-39

2. Manakah pernyataan yang benar tentang PAN? A. menilai kualifikasi prestasi siswa dengan suatu tolok ukur. B. punya batas minimal ketuntasan. C. untuk menilai kualifikasi siswa dengan membandingkan nilai prestasi mereka dengan sesama teman di kelas/kelompoknya. D. jawaban A dan B benar. 3. Dari rerata berbagai kompetensi yang telah dikontrakkan dalam matapelajaran IPA akan disusun daftar nilai setiap siswa dengan skala-5. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa rerata kelas = 75 dan standar deviasi = 10. Tentukan berapakah nilai yang diperoleh bila rerata Budi adalah 82! A. nilai A. B. nilai B. C. nilai C. D. nilai D. 4. Berdasarkan soal 3, tentukan berapakah nilai yang diperoleh bila rerata Hadi adalah 72? A. nilai A. B. nilai B. C. nilai C. D. nilai D. 5. Dari rerata berbagai kompetensi yang telah dikontrakkan dalam matapelajaran Bahasa Indonesia akan disusun daftar nilai setiap siswa dengan Zscore. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa rerata kelas = 50 dan standar deviasi = 2. Tentukan berapakah nilai yang diperoleh bila rerata Budi adalah 82? A. nilai 67. B. nilai 66. C. nilai 65. D. nilai 64.

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Setelah Anda mengerjakan tes formatif 3, cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 3 yang terdapat pada bagian akhir pada unit ini. Perhatikan skor masing-masing item soal dan hitunglah berapakah skor jawaban Anda kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap subunit ini. Rumus:
Jumlah jawaban benar Tingkat penguasaan = 5 x 100

6-40 Unit 6

Konversikan tingkat penguasaan Anda dengan pedoman berikut ini. 90% – 100% = Baik sekali 80% – 89% = Baik 70% – 79% = Cukup 69% kebawah = Kurang Apabila tingkat penguasaan Anda 80% ke atas maka Anda dapat meneruskan pembelajaran pada unit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda di bawah 80% maka Anda harus mengulang kegiatan belajar subunit ini terutama pada bagian yang belum Anda kuasai.

Asesmen Pembelajaran di SD

6-41

Kunci Jawaban
Tes Formatif
Kunci Jawaban Tes Formatif 1

Cocokkan jawaban Anda dengan kunci di bawah ini, kemudian gunakan bilangan di akhir jawaban (ditulis miring) sebagai panduan menentukan berapakah skor jawaban Anda. 1. Cara penskoran tes bentuk pilihan ganda ada tiga macam, yaitu: Penskoran tanpa ada koreksi yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar mendapat nilai satu (tergantung dari bobot butir soal), sehingga jumlah skor yang diperoleh peserta didik adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang dijawab benar.
....... skor 5

Penskoran ada koreksi jawaban yaitu pemberian skor dengan memberikan pertimbangan pada butir soal yang dijawab salah dan tidak dijawab.
....... skor 5

Penskoran dengan butir beda bobot yaitu

pemberian skor dengan

memberikan bobot berbeda pada sekelompok butir soal. Biasanya bobot butir soal menyesuaikan dengan tingkatan kognitif yang telah dikontrak dalam pembelajaran.
....... skor 5

2. Untuk mempermudah memberi skor disusun tabel sebagai berikut.
Domain butir soal Pengetahuan Pemahaman Penerapan Jumlah = Jumlah butir 20 15 15 50 bi 0,5 1 1,5 Jumlah butir x bi 10 15 22,5 St = 47,5 Bi 18 12 9 39

...... skor15

Skor

=

(18 x0,5) + (12 x1) + (9 x1,5) x100% 47,5

= 72,6% %

6-42 Unit 6

Jadi skor yang diperoleh Darso adalah 72,6%, artinya Darso dapat menguasai tes matapelajaran IPS sebesar 72,6% ...... skor10 3. Skor Darso apabila menggunakan metode penskoran tidak ada kriteria adalah: B x 100% Skor = N 39 = x100% 50 = 78% Jadi skor yang diperoleh Darso adalah 78%, artinya Darso dapat menguasai tes matapelajaran IPS sebesar 78% ...... skor10 4. Yang dimaksud: Tes paper and pencil adalah bentuk tes yang sasarannya adalah kemampuan peserta didik dalam menampilkan karya, misal berupa desain alat, desain grafis, dan sebagainya. ....... skor 5 Tes identifikasi adalah tes untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengindentifikasi sesuatu hal, misal menemukan bagian yang rusak atau yang tidak berfungsi dari suatu alat. ....... skor 5 Tes simulasi adalah tes yang dilakukan jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga dengan simulasi tetap dapat dinilai apakah seseorang sudah menguasai ketrampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat. ....... skor 5 Tes unjuk kerja (performance test) adalah tes yang dilakukan dengan alat yang sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. ....... skor 5

Tes Formatif 2
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. A. C. B. D. B. A. A.

8. B.

Tes Formatif 3
1. 2. 3. 4. 5. A. C. B. C. B.

Asesmen Pembelajaran di SD

6-43

Daftar Pustaka
Sudijono Anas. (2006). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Balitbang Depdiknas. (2006). Panduan Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. (2004). Panduan Analsis Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Depdiknas. Ibrahim Muslimin. (2003). Asesmen Alternatif. Bahan Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Biologi. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas. Majid, Abdul. (2007). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Poerwanti, Endang. (2001). Evaluasi Pembelajaran, Modul Akta Mengajar. UMM Press. Rofiq Ainur. (2002). Analisis Statistik. UMM Press Thoha, M. Chabib. (1991). Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press. Sudjana. (1996). Metode Statistika. Bandung: Penerbit Tarsito

Asesmen Pembelajaran di SD

6-45

Glosarium
Penskoran adalah pembuatan skor hasil tes prestasi peserta didik berdasarkan model tipe soal dan pembobotannya pada suatu perangkat tes, umumnya hasil penskoran dirupakan dalam bentuk angka. Pendekatan PAP adalah pendekatan penilaian melalui cara membandingkan skor peserta didik dengan suatu nilai standar yang sudah ditentukan berdasarkan skor teoritisnya atau yang sudah ditentukan. Pendekatan PAN adalah pendekatan penilaian melalui cara membandingkan prestasi atau skor mentah peserta didik dengan sesama peserta didik dalam kelompok/kelasnya sendiri. Hasil penilaian dirupakan dalam bentuk angka maupun kualifikasi yang memiliki sifat relatif. Norm-refernced test – adalah tes yang diperuntukkan untuk menguji kinerja siswa, dibandingkan dengan kinerja siswa-siwa lainnya. Strategi : cara untuk mencapai tujuan. Skor teoritis adalah skor maksimal apabila menjawab benar semua butir soal dalam suatu perangkat tes.

6-46 Unit 6

Unit

7

REFLEKSI PROSES DAN HASIL ASESMEN
Dwi Priyo Utomo Pendahuluan

S

etelah Anda mempelajari berbagai cara dalam melakukan asesmen, marilah sekarang kita lanjutkan materi tentang refleksi terhadap proses dan hasil asesmen tersebut. Asesmen yang kita lakukan akan tidak banyak gunanya tanpa adanya refleksi atas apa saja yang telah terjadi untuk memperbaiki langkah-langkah berikutnya. Melakukan refleksi berarti memikirkan dan merenungkan kembali aktivitas yang telah kita lakukan, kemudian menjadikan hasil perenungan tersebut sebagai cermin bagi aktivitas-aktivitas kita berikutnya. Dalam melaksanakan pembelajaran, selalu saja kita temukan berbagai kelemahan, baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaiannya. Sebaik apapun kita mengajar, selalu ada kelemahan disana-sini. Tentu saja, seiring dengan pengalaman yang kita miliki, hendaknya semakin sedikit kelemahan yang kita lakukan. Kita tidak ingin melakukan kesalahan serupa pada pembelajaran berikutnya. Kita tidak ingin terperosok pada lubang yang sama, bukan? Oleh karena itu, belajar dari kesalahan untuk menjadikannya sebagai bahan perbaikan adalah sebuah langkah yang bijaksana. Tanpa adanya refleksi, tidak mudah bagi kita untuk mengetahui bagian-bagian atau aspek-aspek mana dari pembelajaran yang kita lakukan masih salah atau lemah. Kadangkala kita menganggap atau bahkan meyakini bahwa apa yang telah kita lakukan selama ini merupakan aktivitas pembelajaran yang baik dan benar. Pembelajaran yang kita lakukan selama ini kita anggap sebagai ’ritual’ yang harus dilakukan. Sebuah ’pakem’ yang harus diikuti, sehingga tidak perlu dianalisa dan dikritisi. Seiring dengan meningkatnya pemahaman kita akan hakikat asesmen pembelajaran, kita menjadi semakin terbuka untuk menerima kritik, baik kritik dari diri sendiri (autocritic) maupun

Asesmen Pembelajaran di SD

7-1

kritik dari orang lain. Kita semakin terbuka untuk melakukan inovasi pembelajaran dan memperbaiki pembelajaran yang kita lakukan. Dalam hal perbaikan pembelajaran inilah, refleksi mempunyai arti penting dan strategis. Refleksi sebagai aktivitas untuk memperbaiki kualitas pembelajaran mempunyai rangkaian sub aktivitas. Refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran dimulai dari analisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar siswa, evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah kita dilakukan, identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan bersama pihak-pihak terkait, merancang upaya optimalisasi proses dan hasil belajar. Sub-aktivitas tersebut di atas disajikan dalam 4 subunit, yaitu: Subunit 1: Kriteria keberhasilan proses dan hasil belajar, Subunit 2: Evaluasi-diri terhadap proses belajar, Subunit 3: Faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan, dan Subunit 4: Optimalisasi proses dan hasil belajar. Pembahasan pada subunit- subunit di atas diarahkan untuk mencapai indikator agar Anda dapat: 1. menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar; 2. melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; 3. mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan bersama pihak-pihak terkait; 4. merancang upaya optimalisasi proses dan hasil belajar. Latihan soal akan disiapkan di akhir uraian materi di tiap-tiap subunit. Untuk mengetahui dan mengecek hasil pekerjaan Anda, disediakan rambu-rambu jawaban atau dijabarkan dalam uraian materi. Untuk mengetahui keberhasilan belajar Anda, dilaksanakan tes formatif pada akhir subunit. Untuk mengecek hasil jawaban Anda, disediakan kunci jawaban tes formatif di akhir unit ini. Akan tetapi, diupayakan jangan melihat kunci jawaban sebelum Anda menyelesaikan semua soal yang disediakan. Pada unit ini Anda juga disediakan bahan ajar non cetak melalui web yang bisa Anda akses dan video yang disediakan untuk lebih memahami unit ini. Semoga Anda berhasil menyelesaikan Unit 7 ini dengan memuaskan.

7-2

Unit 7

Subunit 1 Kriteria Keberhasilan Proses dan Hasil Belajar
Pengantar

D

alam pembelajaran, berbagai upaya kita lakukan agar siswa dapat berhasil dalam belajar. Kita perlu memahami bilamana siswa dikatakan berhasil dan bilamana belum berhasil. Apa kriteria yang digunakan untuk menilai keberhasilan belajar itu? Keberhasilan belajar siswa biasanya dapat diketahui dari hasil belajarnya. Apakah hasil belajar siswa kita sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan ataukah belum? Lalu, untuk apa proses belajar perlu juga diketahui keberhasilannya? Apa hubungan keberhasilan proses belajar dengan keberhasilan hasil belajar? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita perhatikan ilustrasi berikut. Untuk mengetahui keberhasilan seorang anak dalam belajar mengendarai sepeda, dapat kita ketahui apakah dia (dengan mengendarai sepeda) bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat (tanpa cedera sedikitpun). Kriteria ini mungkin dipandang cukup untuk mengetahui keberhasilan dia dalam mengendarai sepeda. Tetapi cobalah kita renungkan, apakah sebagai orangtua, kita tidak perlu mengetahui bagaimana cara ia naik sepeda, bagaimana ia memegang kendali setir, kapan ia harus mempercepat laju sepedanya, kapan ia harus mengerem, bagaimana cara menyeberang jalan, menyalip, menikung dan lain sebagainya. Pokoknya sebagai orang tua, kita ingin meyakinkan diri apakah anak kita memiliki keterampilan dalam mengendarai sepeda di jalan umum. Kita menjadi yakin bahwa keberhasilannya sehingga dia bisa sampai ke rumah dengan selamat bukan karena kebetulan, melainkan karena memang sudah berhasil/terampil dalam mengendarai sepeda. 1. Pengertian Keberhasilan Proses dan Hasil Belajar dan Cara Menganalisisnya Dalam pelaksanaan pembelajaran, kita perlu melakukan asesmen untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa, baik selama maupun setelah siswa mengikuti satuan pembelajaran tertentu. Untuk memahami pengertian keberhasilan proses belajar,

Asesmen Pembelajaran di SD

7-3

hasil belajar, dan keterkaitan antara proses dan hasil belajar, perlu dipahami dahulu perbedaan pengertian masing-masing istilah tersebut. 2. Keberhasilan Proses Belajar Secara sederhana pengertian keberhasilan proses belajar adalah keberhasilan siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran berlangsung, kita dapat mengetahui, apakah siswa cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran, apakah siswa kita dapat bekerjasama dengan teman lain, apakah siswa memiliki keberanian untuk bertanya atau mengungkapkan pendapatnya Keberhasilan-keberhasilan siswa sebagaimana disebutkan di atas merupakan keberhasilan proses belajar. Lazimnya, keberhasilan proses belajar siswa ditunjukkan oleh kinerja siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, keberhasilan proses belajar siswa dapat kita ketahui dari hasil asesmen kita terhadap kinerja siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Untuk memperoleh informasi mengenai keberhasilan proses belajar siswa, kita dapat menggunakan berbagai cara, misalnya mengamati keaktifan siswa dalam bekerjasama, atau wawancara tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa selama mengikuti pembelajaran. Sebagai guru, kita dapat menetapkan kriteria apa saja yang masuk akal untuk keberhasilan proses belajar siswa. Tentu saja, kita juga perlu memberikan penjelasan atau alasan mengapa kriteria tersebut kita tetapkan seperti itu. Tingkat keberhasilan seperti: sangat kurang, kurang, cukup, baik, sangat baik; atau kurang aktif, cukup aktif, aktif, sangat aktif adalah contoh tingkatan yang dapat kita gunakan untuk menilai kinerja siswa. Tentu saja, kita perlu membuat kriteria untuk mengelompokkan setiap siswa ada di tingkat mana. 3. Keberhasilan Hasil Belajar Di samping dari proses belajar, keberhasilan siswa juga dilihat dari hasil belajarnya. Keberhasilan siswa setelah mengikuti satuan pembelajaran tertentu kita sebut dengan keberhasilan hasil belajar. Setelah proses pembelajaran berlangsung, kita dapat mengetahui, apakah siswa telah memahami konsep tertentu, apakah siswa kita dapat melakukan sesuatu, apakah siswa kita memiliki keterampilan atau kemahiran

7-4

Unit 7

tertentu. Keberhasilan-keberhasilan siswa sebagaimana disebutkan di atas merupakan keberhasilan hasil belajar. Lazimnya, keberhasilan hasil belajar siswa ditunjukkan oleh kemampuan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, keberhasilan hasil belajar siswa dapat kita ketahui dari hasil penilaian kita terhadap hasil siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar siswa dapat diklasifikasi ke dalam tiga ranah (domain), yaitu (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika – matematika), (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antar pribadi dan kecerdasan intra pribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal). Dari hasil penilaian terhadap hasil belajar siswa, dapat diketahui keberhasilan dari hasil belajar siswa. Sebagai guru, kita dapat menetapkan kriteria apa saja yang masuk akal untuk keberhasilan hasil kinerja siswa. Tentu saja, kita juga perlu memberikan penjelasan atau alasan mengapa kriteria tersebut kita tetapkan seperti itu. Tingkat keberhasilan seperti: sangat kurang, kurang, cukup, baik, sangat baik; atau kurang terampil, cukup terampil, terampil, sangat terampil adalah contoh tingkatan yang dapat kita gunakan untuk menilai hasil kinerja siswa. Bahkan, tingkat keberhasilan dapat dibuat lebih sederhana, misalnya: menguasai, tidak menguasai atau terampil, tidak terampil. Tentu saja, kita perlu membuat kriteria untuk mengelompokkan setiap siswa ada di tingkat mana ia berada. Untuk mendapatkan informasi tentang keberhasilan siswa secara lebih lengkap (komprehensif), penilaian dari satu atau dua aspek keberhasilan saja tidaklah cukup. Kita dapat mengkombinasikan berbagai cara atau berbagai aspek yang dinilai sebagaimana ada pada bagan berikut.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-5

Kompetensi , Indikator & Kriteria Penilaian

Tentukan bentuk dan jumlah bukti/informasi yang harus
Melalui kombinasi cara berikut Bukti Kinerja dari: • Pengamatan di tempat kegiatan • Kumpulan contoh hasil • Simulasi (tes kompetensi, tes keterampilan, proyek/tugas Bukti tambahan, dari • Pertanyaan lisan • Tulisan terbuka (ringkas, panjang, esai, dsb.) • Tes pilihan ganda, dsb.

Bukti/informasi dari hasil belajar sebelumnya. (laporan, rancangan, hasil karya siswa, dokumen dari sumber lain.

4. Analisis Keberhasilan Belajar Berdasarkan tingkat keberhasilan (baik proses maupun hasil belajar) yang kita buat beserta kriterianya sekaligus, kita dapat menetapkan di tingkat mana siswa kita berada. Demikian pula, dengan menetapkan pada tingkat keberhasilan mana siswa kita dikatakan berhasil, maka kita dapat menetapkan berhasil tidaknya seseorang siswa. Misalnya kita tetapkan bahwa tingkat keberhasilan belajar siswa adalah: sangat kurang, kurang, cukup baik, baik, dan sangat baik. Kriteria yang kita tetapkan misalnya sebagai berikut. Tingkat ”sangat kurang” jika: skor hasil tes siswa < 20, tingkat ”kurang”, jika 20 < skor hasil tes siswa < 40, tingkat ”cukup”, jika 40 < skor hasil tes siswa < 60,. tingkat ”baik”, jika 60 <skor hasil tes siswa < 80, tingkat ”sangat baik”, jika skor hasil tes siswa > 80.

7-6

Unit 7

Kemudian kita tetapkan bahwa siswa dikatakan berhasil (dari aspek hasil belajarnya) jika skor hasil tes siswa tersebut berada pada tingkat baik. Siswa A dengan skor hasil belajar 65 adalah siswa yang berhasil dan siswa B dengan skor 55 tidak/belum berhasil. Setelah dilakukan pengukuran terhadap keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas, misalnya kita menetapkan tingkat keberhasilan proses belajar siswa adalah: kurang aktif, cukup aktif, aktif. Dengan skor keaktifan 0 – 100, misalkan kita tetapkan kriteria sebagai berikut. Tingkat kurang aktif, jika; skor keaktifan siswa < 35, tingkat cukup aktif, jika 35 < skor keaktifan < 70, tingkat aktif, jika skor keaktifan siswa > 70. Kemudian kita tetapkan bahwa siswa dikatakan berhasil (dari aspek proses belajarnya) jika skor keaktivan siswa tersebut berada pada cukup aktif. Siswa C dengan skor keaktifan 40 adalah siswa yang berhasil dan siswa B dengan skor 30 tidak/belum berhasil. Dari uraian di atas, perlu kita renungkan, apakah siswa yang berhasil dari aspek proses belajarnya juga berhasil pada aspek hasil belajarnya. Bagaimana kalau misalnya terjadi sebaliknya, seorang siswa berhasil dalam proses belajar tetapi tidak berhasil pada aspek hasil belajarnya. Atau, seorang siswa yang gagal pada proses belajarnya tetapi berhasil dalam aspek hasil belajarnya. Menurut pendapat Anda, mungkinkah pertanyaanpertanyaan di atas terjadi? Kalau mungkin, apakah ada yang salah dengan asesmen yang kita lakukan? Ataukah Anda mempunyai penjelasan yang lain tentang kedua kategori keberhasilan ini (keberhasilan proses dan keberhasilan hasil)? Misalkan kita ingin melakukan analisis terhadap proses dan hasil belajar siswa. Misalkan kita menggunakan skor hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa di kelas sebagai hasil kinerja siswa (proses belajar). Kita gunakan skor hasil tes formatif dan skor hasil tugas- praktek untuk menentukan hasil belajar siswa. Kemudian kita menggabungkan kedua informasi itu untuk memperoleh gambaran keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Contoh hasil kinerja dan hasil belajar serta gabungan keduanya disajikan dalam tabeltabel berikut ini.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-7

Tabel 7.1. Skor Keaktifan Siswa di Kelas Selama Pembelajaran Topik ”X” (Contoh) No. 1. 2. 3. 4. 5. dst. Nama Wulan Arifin Simon Wayan Tantri …….. Skor keaktifan di kelas 35 30 15 18 20 …….. Hasil Penilaian Sangat Aktif Aktif Kurang aktif Cukup Aktif Cukup Aktif ……………

Keterangan : Misalkan skor keaktifan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap keaktifan siswa dalam: a) mengerjakan tugas/LKS, b) mengajukan atau menjawab pertanyaan, dan c) menyimak penjelasan guru teman atau guru. Misalkan skor; 1 untuk keaktifan sangat kurang; 2. kurang aktif; 3 cukup aktif; 4 untuk aktif dan 5 untuk sangat aktif. Karena pengamatan dilakukan setiap pertemuan dan ada 8 kali pertemuan, maka skor maksimal adalah 8 x 5 = 40, dan skor minimal adalah 8 x 1 = 8. Kriteria yang digunkan adalah: ”Sangat aktif” bila: 32 < skor keaktifan siswa ≤ 40 ”Aktif” bila: 24 < skor keaktifan siswa ≤ 32 ”Cukup aktif” bila : 16 < skor keaktifan siswa ≤ 24 ”Kurang aktif bila : skor keaktifan siswa ≤ 16
Tabel 7.2. Skor Hasil Tes Fomatif Siswa Pada Topik “X” (Contoh) Nama Skor Hasil Tes Formatif Hasil Penilaian Wulan 90 Sangat baik Arifin 75 Baik Simon 40 Kurang Wayan 60 Cukup Tantri 75 Baik …….. …….. ……………

No. 1. 2. 3. 4. 5. dst

7-8

Unit 7

Keterangan : Misalkan skor hasil tes formatif di atas dimaksudkan sebagai hasil penguasaan siswa terhadap topik tertentu yang telah diajarkan oleh guru. Misalkan skor maksimal dari tes formatif tersebut adalah 100 dan skor minimal adalah 0. Kriteria yang digunakan adalah: ”Sangat baik”, bila: 85 < skor tes formatif siswa ≤ 100 ”Baik”, bila: 70 < skor tes formatif siswa ≤ 85 ”Cukup baik”, bila: 55 < skor tes formatif siswa ≤ 70 ”Kurang baik”, bila: 40 < skor tes formatif siswa ≤ 55 ”Sangat kurang”, bila: skor tes formatif siswa < 40
Tabel 7.3. Skor Hasil Tugas dan Praktek (Contoh) Skor Hasil Tugas & Praktek Hasil Penilaian 90 Sangat baik 80 Baik 60 Cukup 75 Baik 85 Baik …….. ……………

No. 1. 2. 3. 4. 5. dst

Nama Wulan Arifin Simon Wayan Tantri ……..

Keterangan : Misalkan skor hasil tugas dan praktek di atas dimaksudkan sebagai hasil rata-rata dari skor pemenuhan tugas dan skor praktek. Misalkan skor maksimal dari tes formatif tersebut adalah 100 dan skor minimal adalah 0. Kriteria yang digunakan adalah : ”Sangat baik”, bila: 85 < skor tes formatif siswa ≤ 100 ”Baik”, bila: 70 < skor tes formatif siswa ≤ 85 ”Cukup baik”, bila: 55 < skor tes formatif siswa ≤ 70 ”Kurang baik”, bila: 40 < skor tes formatif siswa ≤ 55 ”Sangat kurang”, bila: skor tes formatif siswa < 40

Asesmen Pembelajaran di SD

7-9

No.

1. 2. 3. 4. 5. dst

Tabel 7.4. Hasil Pengamatan terhadap Kinerja dan Hasil Belajar Siswa (Gabungan) Nama Skor keaktifan Hasil Skor Hasil Skor Hasil di kelas Penilaian Tes Formatif Tugas & Praktek Wulan 35 Aktif 90 90 Arifin 30 Aktif 75 80 Simon 15 Kurang aktif 40 60 Wayan 18 Cukup Aktif 60 75 Tantri 20 Cukup Aktif 75 85 …….. …….. … …….. ……..

Hasil Penilaian S. Baik Baik Kurang Cukup Baik ……

Dari hasil penilaian pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa Wulan dan Arifin (baik dari proses dan hasil belajar) termasuk siswa yang berhasil. Wayan cukup berhasil dari sisi proses dan hasil belajar. Tantri cukup berhasil dari sisi proses dan berhasil pada sisi hasil belajarnya. Simon kurang berhasil dari proses belajarnya, demikian pula hasil belajarnya. Dari hasil penilaian itu pula, kita dapat memberikan berbagai pemaknaan (interpretasi) yang masuk akal. Mungkinkah hasil belajar yang kurang dari Simon disebabkan oleh kurang aktifnya Simon selama mengikuti proses pembelajaran Mungkinkah hasil belajar Tantri dapat ditingkatkan (dari baik menjadi sangat baik) dengan jalan meningkatkan keaktifannya di kelas? Atau mungkin ada intepretasi yang lain?

Latihan
Dengan pamahaman konsep di atas cobalah memberikan contoh bagaimana Anda menetapkan tingkat keberhasilan proses belajar beserta kriterianya pada pembelajaran topik tertentu (bidang studi apa saja). Tetapkan pula bilamana seorang siswa dikatakan berhasil dalam proses belajarnya.

7-10 Unit 7

Rangkuman
Keberhasilan proses belajar siswa dapat kita ketahui dari hasil penilaian kita terhadap kinerja siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan keberhasilan hasil belajar siswa dapat kita ketahui dari hasil penilaian kita terhadap hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa tersebut, terlebih dahulu harus ditetapkan penilaian apa saja yang digunakan, menetapkan tingkat keberhasilan (baik proses maupun hasil belajar), kemudian menetapkan kriteria keberhasilan siswa. Untuk mempermudah mengingat pengertian masing-masing keberhasilan (proses dan hasil belajar) serta langklah-langkah analisis keberhasilan belajar siswa, kita gunakan skema berikut ini.
Keberhasilan siswa selama mengi-kuti proses pembelajaran

Proses

Keberhasilan

Hasil

Keberhasilan siswa setelah mengi-kuti satuan pembelajaran tertentu

Menetapkan penilaian (apa saja) yang digunakan

Menetapkan tingkat keberhasilan (proses maupun hasil belajar)

menetapkan kriteria keberhasilan siswa.

Bagan 7.1. Langkah-langkah Analisis Keberhasilan Belajar

Asesmen Pembelajaran di SD

7-11

Tes Formatif
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Apakah perbedaan antara keberhasilan proses dan keberhasilan hasil belajar? Apakah kaitan kedua keberhasilan itu? 2. Jelaskan dengan contoh bagaimana menetapkan tingkat keberhasilan proses belajar! Bagaimana menetapkan kriteria keberhasilan seorang siswa dalam proses belajarnya? 3. Jelaskan dengan contoh bagaimana menetapkan tingkat keberhasilan hasil belajar! Bagaimana menetapkan kriteria keberhasilan seorang siswa dalam hasil belajarnya?

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang keberhasilan proses dan hasil belajar akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap konsep-konsep lain yang terkait dalam mata kuliah ini.

7-12 Unit 7

Subunit 2 Evaluasi-Diri Terhadap Proses Pembelajaran Yang Telah Dilakukan
Pengantar
etelah melaksanakan pengajaran, maka kita perlu mengetahui hasil dari pengajaran yang telah kita lakukan. Apakah pengajaran yang kita lakukan berhasil ataukah gagal? Apakah skenario pembelajaran yang kita buat dapat kita laksanakan dengan baik atau tidak? Apakah tujuan pembelajaran yang ada dapat dicapai dengan baik atau tidak? Karena tugas mengajar sudah menjadi tanggungjawab kita, maka tugas menilai keberhasilan pengajaran yang kita lakukan, seyogyanya kita lakukan sendiri. Kita membiasakan diri untuk melakukan evaluasi diri untuk pengajaran yang kita lakukan. Hal ini penting, karena disamping untuk kepentingan supervisi yang dilakukan orang lain kita juga ingin selalu mengetahui kelemahan-kelemahan yang kita lakukan dan berupaya memperbaikinya. Proaktif dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran dari waktu ke waktu. 1. Pengertian dan Pentingnya Evaluasi diri terhadap Proses Pengajaran Mengetahui sesegera mungkin kelemahan-kelemahan yang kita lakukan dalam melaksanakan pembelajaran merupakan kebutuhan setiap guru dan seyogyanya menjadi sebuah tradisi untuk memperbaiki diri. Bagi kita yang belum terbiasa menilai hasil kerja (pengajaran) kita sendiri mungkin tidak mudah mengetahui kelemahan yang ada. Sekali waktu mungkin ada bantuan orang lain atau bahkan siswa kita sendiri untuk menilai hasil kerja kita itu, namun melatih diri untuk menilai sendiri hasil kerja merupakan upaya yang sangat bijaksana untuk memperoleh perbaikan dari waktu ke waktu. 2. Pengertian Evaluasi Diri Evaluasi diri adalah aktivitas menilai sendiri keberhasilan proses pengajaran yang kita lakukan. Sebagai guru, melakukan evaluasi diri merupakan aktivitas yang penting karena dua alasan. Pertama, kita ingin memperbaiki kualitas pengajaran kita.

S

Asesmen Pembelajaran di SD

7-13

Memperbaiki kualitas pengajaran berarti memperbaiki kelemahan-kelemahan yang kita lakukan. Kedua, kita tidak terlalu berharap banyak pada orang lain untuk mengamati proses pengajaran yang kita lakukan. Orang lain (guru lain) juga mempunyai kesibukan yang sama. Evaluasi diri merupakan bagian penting dalam aktivitas pembelajaran untuk memahami dan memberi makna terhadap proses dan hasil (perubahan) yang terjadi akibat adanya pengajaran yang kita lakukan. Hasil evaluasi diri digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan. Dalam melakukan evaluasi diri, prinsip-prinsip yang hendaknya kita gunakan adalah: kejujuran, kecermatan, dan kesungguhan. Kita hendaknya jujur kepada diri kita sendiri bahwa tidak ada guru yang memiliki kemampuan sempurna dalam melaksanakan tugas mengajar. Kita juga harus jujur mengakui bahwa masih banyak kelemahan yang kita lakukan dalam mengajar. Justru dengan mengetahui kelemahan yang kita lakukan, kita dapat memperbaiki diri. Orang bijak bilang, pengalaman adalah guru yang paling baik. Guru yang baik adalah guru yang banyak belajar dari pengalaman. Tidak mudah untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang kita lakukan. Kita perlu cermat dan jeli dalam melakukan evaluasi diri. Berdasarkan informasi yang dapat kita peroleh, kita perlu melakukan refleksi terhadap bagian demi bagian dari aktivitas mengajar kita. Hasil pencermatan kita mungkin masih keliru sehingga mengakibatkan hasil refleksi yang keliru pula. Sebagai akibat, sangat mungkin upaya-upaya perbaikan yang kita lakukan belum membawa hasil, dimana letak kelemahan atau bahkan kesalahan yang telah kita lakukan. Lebih dari semua itu, aktivitas evaluasi diri membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Melakukan pencermatan atas informasi yang ada dan kemudian melakukan refleksi dan refleksi lagi jelas membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Dengan membiasakan diri melakukan evaluasi diri, maka akan menjadi tradisi yang baik dalam proses memperbaiki kualitas pengajaran kita. 3. Melakukan Evaluasi Diri Dalam menilai sendiri keberhasilan pengajaran, kita membutuhkan informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan berhasil atau tidaknya pengajaran yang telah kita lakukan. Informasi dimaksud dapat berupa hasil penilaian terhadap proses belajar siswa, hasil belajar siswa, hasil angket yang kita berikan kepada siswa, atau hasil wawancara kita dengan siswa.

7-14 Unit 7

Informasi-informasi berupa hasil pengukuran tersebut di atas selanjutnya perlu dianalisis. Menilai hasil-hasil pengukuran merupakan aktivitas analisis dimaksud. Jadi proses analisis dimulai dari menilai hasil-hasil pengukuran (tes atau non tes), kemudian kita tetapkan tingkat keberhasilan dari masing-masing aspek penilaian, menentukan kriteria keberhasilan, dan selanjutnya menetapkan berhasil atau tidaknya aspek-aspek yang dinilai tersebut. Tentu saja dari proses analisis ini dapat diketahui aspek mana yang sudah berhasil dan aspek mana yang belum berhasil. Proses selanjutnya adalah memberi makna (pemaknaan) atas hasil analisis yang kita lakukan. Makna yang dapat diperoleh dari kegagalan proses belajar siswa dan makna yang dapat diperoleh dari kegagalan hasil belajar siswa. Makna yang didapat dari respon negatif yang diberikan siswa. Langkah selanjutnya adalah memberikan penjelasan mengapa kegagalan itu bisa terjadi. Mengapa siswa-siswa kita memberikan respon negatif atas pelaksanaan pembelajaran yang kita lakukan, mengapa proses belajar siswa berjalan tidak sesuai harapan, demikian pula mengapa hasil belajar siswa justru menurun dari periode sebelumnya, dan lain sebagainya. Dari penjelasan-penjelasan di atas, selanjutnya kita dapat memberikan kesimpulankesimpulan yang masuk akal. Kesimpulan dapat kita kemukakan dalam bentuk identifikasi faktor-kator penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Melakukan evaluasi diri terhadap pembelajaran yang kita lakukan tidaklah cukup bila hanya mendasarkan diri pada hasil belajar siswa. Diperlukan informasi lain yang lebih mendalam dan menyeluruh sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan evaluasi diri. Informasi-informasi tersebut kemudian dianalisis, dimaknai, dijelaskan dan kemudian disimpulkan untuk menemukan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan pembelajaran yang kita lakukan. Misalkan kita ingin melakukan evaluasi diri pada pembelajaran yang telah kita lakukan. Dalam mengevaluasi diri, disamping mendasarkan diri pada hasil belajar siswa (proses dan hasil) kita juga perlu melengkapinya dengan respon siswa terhadap pembelajaran yang telah mereka ikuti. Apabila ada pihak-pihak lain yang ikut membantu, pengamatan terhadap keterlaksanaan pembelajaran yang kita lakukan akan semakin melengkapi informasi yang kita perlukan. Tentu saja untuk tujuan pengamatan tersebut harus dipersiapkan terlebih dulu lembar pengamatannya. Pada contoh berikut hanya disajikan cara melakukan evaluasi diri berdasarkan hasil belajar siswa dan respon siswa terhadap pembelajaran yang mereka ikuti.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-15

Contoh hasil belajar (proses dan hasil), respon siswa, cara memberikan pemaknaan (interpretasi) serta pemberian penjelasannya adalah sebagai berikut.
Tabel 7.5. Hasil Pengamatan terhadap Kinerja dan Hasil Belajar Siswa (Gabungan) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. dst Nama Wulan Arifin Simon Wayan Tantri Yoga Made Rini Razak Marni ….. Rerata Skor Skor keaktifan di kelas 35 30 15 18 20 16 30 14 25 10 ………….. 18,5 Hasil Penilaian Sangat Aktif Aktif Kurang aktif Cukup Aktif Cukup Aktif Kurang aktif Aktif Kurang Aktif Aktif Kurang Aktif ………….. Cukup Aktif Skor Hasil Tes Formatif 90 75 40 60 75 35 70 80 65 40 ……… 51 Skor Hasil Tugas & Praktek 90 80 60 75 85 45 75 75 75 50 ……. 57 Hasil Penilaian S. Baik Baik Kurang Cukup Baik Kurang Baik Baik Cukup Kurang …….. Kurang Baik

Dari hasil penilaian pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata keaktifan siswa cukup baik. Hasil belajar siswa dari skor tes formatif kurang baik dan hasil belajar dari skor tugas dan praktek cukup baik. Secara umum, hasil belajar siswa masing tergolong kurang baik. Wulan dan Arifin (baik dari proses dan hasil belajar) termasuk siswa yang berhasil. Simon, Yoga, dan Marni tergolong siswa yang selain kurang aktif di kelas, mereka juga mendapatkan hasil belajar yang kurang baik. Yang menarik adalah fenomena skor yang diperoleh Rini dan Tantri. Tantri hanya cukup aktif dari sisi proses, namun berhasil pada sisi hasil belajar. Bahkan Rini yang kurang aktif dari proses belajarnya, namun baik pada sisi hasil belajarnya. Dari hasil penilaian itu pula, kita dapat memberikan berbagai pemaknaan (interpretasi) yang masuk akal. Dari informasi pada tabel di atas, dapat dimaknai bahwa walaupun keaktifan siswa sudah cukup baik (aktif), namun hasil belajar siswa, baik dari segi penguasaan materi maupun dari tugas praktek masih belum baik. Secara umum, juga dapat diketahui, bahwa hasil-hasil belajar siswa yang kurang baik dipengaruhi oleh proses belajar mereka yang kurang baik. Artinya, proses belajar yang kurang baik akan

7-16 Unit 7

menyebabkan hasil belajar yang kurang baik pula. Dengan demikian, hasil belajar dapat ditingkatkan dengan jalan meningkatkan kinerja (proses belajar) siswa. Demikian juga, hasil belajar Rini dan Tantri mungkin dapat didongkrak naik menjadi sangat baik bila keaktifan mereka di kelas (selama mengikuti pembelajaran) dapat ditingkatkan. Seperti telah diuraikan di atas, untuk mendapatkan gambaran yang baik tentang kinerja pembelajaran yang kita lakukan, kita memerlukan informasi hasil belajar siswa (proses dan hasil) dan respon siswa terhadap pembelajaran yang telah mereka ikuti. Contoh hasil rekapitulasi respon siswa diuraikan berikut ini. Guru dapat meminta siswa untuk merespon tentang: (1) sulit/tidaknya memahami perangkat pembelajaran yang ada (Buku Siswa dan LKS) dan penjelasan guru, (2) senang/tidaknya selama mengikuti pembelajaran, dan (3) termotivasi/tidaknya siswa selama mengikuti pembelajaran. Angket respon siswa dapat disusun sehingga bersifat setengah terbuka, artinya selain memberikan jawaban ya/tidak, siswa dapat memberikan penjelasan mengapa ya atau mengapa menjawab tidak. Dengan memberikan respon secara tertulis, kita dapat mengetahui secara lebih baik mengapa mereka senang atau mengapa mereka tidak senang atas aspek pembelajaran tertentu. Misalkan kita memberikan angket yang berisi 10 butir pertanyaan. Kita meminta setiap siswa untuk memberikan respon mereka terhadap berbagai aspek pembelajaran yang ingin kita ukur melalui 10 pertanyaan tersebut. Misalkan hasil rekapitulasi respon siswa adalah sebagai berikut.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-17

Tabel 7.6. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Jenis Respon (%) Netral/tak menjawab F % 1 4 0,14 1

Nomor Butir 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rerata

Positif F 23 10 24 21 16 12 21 28 20 26 21,26 % 76 34 80 70 53 40 70 93 76 86 60

Negatif F 6 20 6 9 14 18 9 2 10 4 8,60 % 20 66 20 30 47 60 30 7 34 14 39

Keterangan : Misalkan butir 1 adalah pertanyaan yang meminta respon siswa terhadap sulit/tidaknya Buku Siswa yang digunakan, butir 2 adalah pertanyaan yang meminta respon siswa terhadap sulit/tidaknya LKS yang digunakan, butir 3 tentang sulit/tidaknya guru menyampaikan materi. Butir 4 adalah pertanyaan yang meminta respon siswa terhadap suka/tidaknya terhadap kerja kelompok yang diberikan, butir 5 tentang suka/tidaknya terhadap bimbingan guru, butir 6 adalah pertanyaan yang meminta respon siswa terhadap suka/tidaknya terhadap suasana belajar di kelas. Sedangkan butir 7, 8, 9, dan 10 tentang termotivasi/tidaknya siswa terhadap berbagai aspek pembelajaran. Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa rerata persentase respon positif siswa sebesar 60%. Dapat pula diberi makna (interpretasi) bahwa sebanyak 60% siswa memberikan respon baik pada pembelajaran yang telah kita lakukan. Sementara itu, masih banyak siswa (39%) yang merespon kurang baik pada pembelajaran yang telah kita lakukan. Dari tabel di atas, kita temukan pula bahwa pada butir 2 dan 6, lebih banyak siswa yang memberikan respon negatif dibandingkan dengan yang memberikan respon positif. Demikian pula, pada butir 5, banyaknya siswa yang memberikan respon positif hampir sama dengan banyaknya siswa yang merespon negatif. Kita dapat mengecek kembali

7-18 Unit 7

aspek yang ingin kita ungkap dari butir 2, 5 dan 6 tersebut. Lebih jauh, kita dapat melacak alasan yang mereka kemukakan terkait dengan respon negatif yang mereka berikan. Berdasarkan informasi di atas, kita dapat memaknai bahwa ada yang kurang berhasil dari pembelajaran yang kita lakukan. Empat puluh persen adalah jumlah yang cukup banyak. Oleh karena itu tidak cukup alasan dan sulit diterima untuk mengatakan bahwa pembelajaran kita nilai berhasil. Di samping itu, kita juga dapat memberi makna bahwa ada kegagalan pada aspek tertentu pada pembelajaran kita. Hal ini dapat dicermati dari besarnya respon negatif yang diberikan siswa pada butir 2, 5 dan 6 di atas. Dari contoh di atas, kita dapat memberikan berbagai penjelasan sebagai berikut. Secara umum, pembelajaran yang kita lakukan masih belum berhasil. Hal ini terlihat dari rerata hasil belajar yang kurang baik dan respon negatif siswa yang tinggi. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya perbaikan. Tentu saja, ada aspek-aspek yang sudah berhasil dan ada aspek-aspek tertentu yang belum berhasil. Pada aspek yang sudah baik perlu tetap dipertahankan, bahkan kalau perlu dimantapkan. Sedangkan pada aspek-aspek yang belum baik perlu dicari penyebabnya dan dilakukan upaya untuk memperbaikinya (remidi). Secara umum, ada korelasi positif antara hasil belajar proses dan hasil belajar produk. Karena itu, dengan meningkatkan kualitas kinerja siswa (seperti misalnya peningkatan keaktifan siswa) kita harapkan akan meningkat pula hasil belajar siswa. Dari butir 2, 5, dan 6 pada tabel 2.2 di atas, nampak bahwa respon negatif siswa terhadap pembelajaran yang kita lakukan masih tinggi. Kita segera mengetahui bahwa siswa banyak yang merasa sulit memahami LKS yang digunakan, merasa tidak suka pada bimbingan yang dilakukan guru, dan tidak suka pula pada suasana belajar dalam kelas itu. Jika perlu kita lacak alasan mereka menolak (memberikan respon negatif) pada butir-butir itu. Hasil pelacakan kita berdasarkan respon-respon itu akan memandu kita pada penemuan aspek-aspek pembelajaran yang masih gagal kita laksanakan dan mengapa kegagalan itu terjadi. Informasi yang dipakai bahan pertimbangan dalam melakukan evaluasi diri sebagaimana dikemukakan di atas hanya terbatas pada informasi yang berasal dari siswa. Informasi lain yang berasal dari pengamat (mungkin guru serumpun) akan sangat membantu dalam mendapatkan evaluasi diri yang lebih tajam dan menyeluruh. Berikut ini adalah contoh lembar pengamatan terhadap keterlaksanaan pembelajaran yang kita lakukan.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-19

Tabel 7.7. Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Tanggal Kelas Pert keNama Guru Petunjuk :

:…………………… :…………………… :…………………… :……………………

Berilah tanda check (√) pada tempat yang disediakan sesuai dengan hasil pengamatan Bapak/Ibu. Berikan tanda chek pada kolom kurang bila guru kurang baik dalam melaksanakan komponen terkait, berikan tanda chek pada kolom cukup bila guru cukup baik dalam melaksanakan komponen terkait, demikian pula berikan tanda chek pada kolom baik bila guru baik dalam melaksanakan komponen terkait.

Komponen Pengamatan 1. Penyampaian tujuan pembelajaran 2. Pemberian motivasi belajar 3. Penyampaian materi 4. Pengorganisasian siswa dalam kelompok 5. Penciptaan suasana belajar 6. Pemberian bimbingan belajar 7. Pemberian Respon terhadap pertanyaan siswa 8. Evaluasi pemahaman materi

Hasil Pengamatan Kurang Cukup Baik

Pengamat, (.................................................)

7-20 Unit 7

Latihan
Dengan memahami pengertian dan prosedur evaluasi-diri di atas, cobalah memberikan contoh bagaimana Anda melakukan evaluasi diri atas pengajaran yang telah Anda lakukan. Untuk memberikan contoh bagaimana melakukan evaluasi diri, tentu saja Anda perlu melakukan berbagai pengukuran (tes maupun non tes) dan melakukan penilaian terlebih dahulu. Setelah melakukan penilaian, mulailah dengan menganalisis, memberikan pemaknaan, memberikan penjelasan dan terakhir menarik kesimpulan.

Pedoman Jawaban Latihan
Berdasarkan pertanyaan di atas, buatlah jawaban yang sesuai dengan pengalaman Anda dalam melakukan proses pembelajaran di kelas. Bila perlu diskusikan dengan teman-teman kelompok Anda.

Rangkuman
Evaluasi diri adalah aktivitas menilai sendiri keberhasilan proses pengajaran yang kita lakukan. Evaluasi diri merupakan bagian penting dalam aktivitas pembelajaran untuk memahami dan memberi makna terhadap proses dan hasil (perubahan) yang terjadi akibat adanya pengajaran yang kita lakukan. Hasil evaluasi diri digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan. Proses evaluasi diri dimulai dari kegiatan menganalisis hasil penilaian, kemudian memberi makna (pemaknaan) atas hasil analisis yang kita lakukan. Langkah selanjutnya adalah memberikan penjelasan mengapa kegagalan itu bisa terjadi. Dari penjelasanpenjelasan di atas, selanjutnya kita dapat memberikan kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal. Kesimpulan dapat kita kemukakan dalam bentuk identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Langkah-langkah evaluasi diri seperti diuraikan di atas dapat dibagankan sebagai berikut. Analisis Pemaknaan Penjelasan Penyimpulan

Asesmen Pembelajaran di SD

7-21

Tes Formatif 2
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemaknaan! Bagaimana Anda melakukan pemaknaan atas hasil analisis sebelumnya? 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan penjelasan! Bagaimana Anda melakukan penjelasan atas hasil pemaknaan? 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan menarik kesimpulan! Bagaimana Anda menarik kesimpulan atas hasil penjelasan?

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang keberhasilan proses dan hasil belajar akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap konsep-konsep lain yang terkait dalam mata kuliah ini

7-22 Unit 7

Subunit 3 Faktor Penyebab Kegagalan dan Pendukung Keberhasilan dalam Pembelajaran
Pengantar

B

erdasarkan hasil evaluasi diri terhadap pembelajaran yang telah kita lakukan, kita akan mengetahui apakah pembelajaran yang telah kita lakukan berhasil atau gagal. Biasanya, hasil evaluasi diri yang kita lakukan tidak menyimpulkan bahwa pembelajaran kia gagal total atau berhasil secara sempurna. Karena pembelajaran memiliki beberapa tahapan, maka mungkin ada tahap pembelajaran tertentu yang gagal, atau mungkin hanya bagian tertentu dari tahap itu yang gagal. Di samping kita dapatkan informasi pada tahap mana pembelajaran berhasil dan pada tahap mana gagal, evaluasi diri hendaknya juga memberikan informasi tentang faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan itu. 1. Faktor –Faktor Penyebab Kegagalan dan Pendukung Keberhasilan Memperbaiki kualitas pembelajaran akan sulit kita lakukan tanpa dapat kita ketahui penyebab kegagalan itu sendiri. Berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan yang berhasil kita identifikasi, kita merencanakan upaya-upaya perbaikan (remidi). Seorang dokter yang akan mengobati penyakit seseorang, dokter tersebut perlu mengetahui terlebih dahulu faktor penyebab penyakit orang itu, bukan? Demikian pula, dalam upaya memperbaiki kualitas pembelajaran, kita juga akan merencanakan upayaupaya untuk memantapkan faktor-faktor pendukung keberhasilan itu. Dengan kata lain, upaya-upaya pemantapan yang kita rencanakan perlu didasari faktor-faktor pendukung keberhasilan yang dapat kita simpulkan dari proses evaluasi diri. 2. Identifikasi Faktor –Faktor Penyebab Kegagalan dan Pendukung Keberhasilan Identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dapat dilakukan sendiri melalui evaluasi diri, tetapi akan lebih teliti dan tajam bilamana

Asesmen Pembelajaran di SD

7-23

dikerjakan secara bersama (kolaboratif) dengan guru lain yang mengajar bidang studi yang serumpun. Agar identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan akurat, maka informasi yang diperoleh dari penilaian, analisis hasil penilaian, pemaknaan, dan pemberian penjelasan haruslah akurat pula. Dengan kata lain, ketepatan dalam mengidentifikasi faktor penyebab kegagalan dan faktor pendukung keberhasilan ditentukan oleh ketepatan kita dalam melaksanakan proses evaluasi diri sebelumnya. Proses identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan oleh diri sendiri memiliki berbagai keterbatasan. Keterbatasan dimaksud antara lain adalah kurang cermat dalam menganalisa hasil penilaian, kurang tepat memaknai dan menjelaskan hasil-hasil penilaian itu. Oleh karena itu, kehadiran orang lain yang paham tentang pembelajaran akan sangat membantu dalam proses identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan faktor pendukung keberhasilan tersebut. Kehadiran pihak-pihak terkait, termasuk guru lain yang serumpun dengan mata pelajaran yang kita ajarkan, misalnya, akan sangat membantu dalam menemukan berbagai kegagalan dan juga keberhasilan yang telah kita lakukan. Kita memerlukan guru lain untuk mencermati proses pembelajaran yang kita lakukan, mendiskusikannya, menemukan makna dan menjelaskannya. Termasuk didalamnya menemukan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Misalkan kita ingin mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan berdasarkan informasi yang kita peroleh dari: (1) hasil belajar siswa (proses dan hasil), seperti pada Tabel 7.1, (2) respon siswa, seperti pada Tabel 7.2, dan (3) hasil pengamatan terhadap keterlaksanaan pembelajaran, seperti pada Tabel 7.8 berikut.

7-24 Unit 7

Tabel 7.8. Hasil Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Komponen Pengamatan Hasil Pengamatan Kurang 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penyampaian tujuan pembelajaran Pemberian motivasi belajar Penyampaian materi Pengorganisasian siswa dalam kelompok Penciptaan suasana belajar Pemberian bimbingan belajar Respon terhadap pertanyaan siswa Evaluasi pemahaman materi X X X X Cukup X X X X Baik

Berdasarkan informasi (1), (2), (3) di atas dan hasil pemaknaan (interpretasi) dan penjelasan pada uraian sebelumnya (pada uraian subunit 7.2), maka dapat kita daftar aspek-aspek kegagalan dan keberhasilan yang dapat kita temukan. Aspek-aspek pembelajaran yang gagal dilaksanakan dengan baik adalah: 1) Hasil belajar siswa masih kurang baik, terlihat dari rerata skor tes dan tugas-praktek kurang baik pada tabel 2.1 pada uraian subunit 7.2. 2) Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas, terlihat pada tabel 2.1 pada uraian subunit 7.2. 3) Aspek pembelajaran tertentu (keterbacaan LKS, pemberian bimbingan belajar, dan penciptaan suasana belajar yang kondusif) masih gagal dilaksanakan, terlihat dari tingginya respon negatif pada butir 2,5, dan 6 pada tabel 2.2. Hal ini didukung oleh hasil pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran pada tabel 3.1 di atas.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-25

Latihan
Dengan memahami betapa pentingnya identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan serta prinsip-prinsip dalam mengidentifikasi faktorfaktor tersebut, cobalah memberikan contoh bagaimana Anda melakukan identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Untuk memberikan contoh tersebut, tentu saja kita telah melalui proses penilaian, analisis hasil penilaian, pemaknaan, dan pemberian penjelasan sebagaimana telah diuraikan pada subunit sebelumnya.

Rangkuman
Identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran yang telah kita lakukan memiliki arti penting dalam melakukan upayaupaya perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan yang berhasil kita identifikasi, kita merencanakan upaya-upaya perbaikan (remidi). Berdasarkan faktor-faktor pendukung keberhasilan yang dapat kita identifikasi, kita merencanakan upaya-upaya untuk memantapkan faktor-faktor pendukung keberhasilan itu. Identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dapat dilakukan sendiri melalui evaluasi diri, tetapi akan lebih teliti dan tajam bilamana dikerjakan secara bersama (kolaboratif) dengan orang lain yang kompeten, misalnya guru lain yang mengajar bidang studi yang serumpun dengan mata pelajaran yang kita ampu. Kehadiran pihak-pihak terkait akan sangat membantu dalam menemukan berbagai kegagalan dan juga keberhasilan yang telah kita lakukan. Kita memerlukan guru lain untuk mencermati proses pembelajaran yang kita lakukan, mendiskusikannya, menemukan makna, menjelaskan makna itu dan menemukan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan secara tepat. Pada langkah-langkah evaluasi diri, identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan penyebab keberhasilan ini termasuk pada tahap akhir dari evaluasi diri, yaitu pada tahap penyimpulan. (Lihat bagan pada rangkuman pada subunit 2).

7-26 Unit 7

Tes Formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 3. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan arti penting dari identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran! 2. Jelaskan langkah-langkah dalam melakukan evaluasi diri! 3. Jelaskan siapa saja yang dimungkinkan untuk membantu melakukan evaluasi terhadap kegagalan dan keberhasilan kita dalam mengajar! 4. Jelaskan keuntungan dari kehadiran pihak terkait pada c) dalam meningkatkan kualitas evaluasi!

Umpan dan Tindak Lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang evaluasi diri mungkin ada kesalahan (miskonsepsi) atau bahkan berbeda yang dipahami oleh teman kita. Pemahaman kita tentang konsep evaluasi diri akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap konsep-konsep lain yang terkait dalam mata kuliah ini

Asesmen Pembelajaran di SD

7-27

Subunit 4 Upaya Optimalisasi Proses dan Hasil Belajar
Pengantar

S

ebagai guru, kita senantiasa berupaya agar siswa mencapai keberhasilan belajar sesuai yang kita harapkan. Keberhasilan proses belajar selalu kita kaitkan dengan hasil belajar. Artinya, proses dapat kita katakan optimal manakala hasil yang diperoleh (sebagai akibat dari proses) sesuai dengan yang kita harapkan. Bagaimana mengetahui apakah proses belajar siswa sudah optimal dan bagaimana caranya agar proses belajar siswa dapat berlangsung secara optimal adalah dua pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya. Dengan melakukan evaluasi secara cermat oleh diri kita sendiri, akan kita ketahui apakah proses belajar siswa sudah optimal atau belum. Dari evaluasi diri tersebut, akan dapat kita identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Upaya-upaya optimalisasi yang dapat kita lakukan mendasarkan diri pada hasil identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan yang kita temukan. Dari hasil identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan akan kita tindak lanjuti dengan upaya-upaya mengoptimalkan proses dan hasil belajar siswa. 1. Upaya Optimalisasi Proses dan Hasil Belajar Berangkat dari informasi tentang faktor-faktor penyebab kegagalan dan faktor-faktor pendukung keberhasilan yang dapat kita identifikasi, kita mencari alternatif pemecahannya. Dari berbagai alternatif itu kemudian kita pertimbangkan mana yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Alternatif yang kita pilih kita dasarkan atas kemampuan/kesiapan kita untuk melaksanakan pilihan itu, kesiapan siswa, ketersediaan sarana.dan prasarana, dan lain sebagainya. Upaya mengoptimalkan proses dan hasil belajar siswa tidak dapat dilepaskan dari upaya mengoptimalkan proses pembelajaran. Ketiganya saling terkait. Proses belajar yang

7-28 Unit 7

optimal akan mengakibatkan hasil belajar yang optimal pula. Proses belajar siswa yang optimal merupakan salah satu indikasi dari proses pembelajaran yang optimal pula. 2. Optimalisasi Proses dan Hasil Belajar Optimalisasi proses dan hasil belajar mengacu pada berbagai upaya agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik sehingga para siswa dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan yang kita harapkan. Dengan kata lain, optimalisasi proses dan hasil belajar adalah upaya memperbaiki proses pembelajaran sehingga para siswa mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar. Para siswa dapat belajar dengan penuh semangat, aktif dalam belajar, berani mengemukakan pendapatnya, mampu dan antusias dalam mengikuti pelajaran, terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah adalah beberapa indikasi dari proses belajar yang berlangsung secara optimal. Demikian pula, bila siswa tuntas dalam belajarnya, terampil melakukan suatu tugas, dan memiliki apresiasi yang baik terhadap pelajaran tertentu; maka siswa yang demikian telah mencapai hasil belajar yang optimal. Pencapaian hasil belajar yang optimal merupakan perolehan dari proses belajar yang optimal pula. Tentu saja, proses maupun hasil belajar yang baik akan diperoleh bilamana proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Oleh karena itu, agar proses dan hasil belajar siswa optimal, maka mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan sampai pada tahap penilaian haruslah dipersiapkan dan dilaksanakan secara baik pula. Dalam praktek, betapapun baik kualitas pembelajaran yang kita lakukan, selalu saja ada aspek-aspek yang masih belum sesuai harapan. Biasanya, masih ada siswa yang proses belajarnya masih belum optimal atau ada beberapa siswa yang hasil belajarnya masih belum tuntas. Oleh karena itulah, optimalisasi proses dan hasil belajar diarahkan agar seluruh siswa dapat mencapai keberhasilan, baik proses maupun hasil belajarnya. Dengan kata lain, optimalisasi proses dan hasil belajar bertujuan untuk meminimalkan atau meniadakan siswa yang tidak berhasil, baik proses maupun hasil belajarnya. 3. Mengidentifikasi Upaya Optimalisasi Proses dan Hasil Belajar Setelah faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan kita identifikasi, maka kegiatan kita selanjutnya adalah mengidentifikasi upaya-upaya apa saja yang dapat mengoptimalkan proses dan hasil belajar siswa. Kegiatan tindak lanjut dimulai dengan merancang dan mengajukan berbagai solusi alternatif berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Kita dapat menggunakan analogi kerja dokter dalam mengobati pasiennya. Dokter akan mulai dengan mengajukan

Asesmen Pembelajaran di SD

7-29

berbagai alternatif terapi atau obat untuk penyembuhan berdasarkan faktor penyebab sakit sang pasien. Semua alternatif solusi yang kita ajukan haruslah mengarah pada upaya menghilangkan penyebab kegagalan dan menguatkan pendukung keberhasilan belajar siswa. Upaya menghilangkan kegagalan dapat berupa perbaikan (remidi) atas kegagalan yang telah kita lakukan. Upaya menguatkan pendukung keberhasilan dapat berupa pemantapan atas keberhasilan yang telah kita capai. Dari berbagai alternatif solusi yang telah kita ajukan, selanjutnya kita pilih alternatif mana yang paling optimal. Alternatif solusi yang kita ajukan merupakan daftar upaya yang kita ajukan untuk menjawab atau memperbaiki penyebab kegagalan itu. Sebagai contoh, misalkan telah kita simpulkan bahwa salah satu faktor penyebab kegagalan belajar siswa adalah soalsoal pada lembar kerja siswa (LKS) yang sulit dimengerti siswa. Atas dasar faktor itu, maka kemudian kita ajukan beberapa upaya perbaikan berupa: a. Memperbaiki soal-soal yang sulit dipahami siswa (misalnya kalimat, salah cetak, dsb), atau b. Menyederhanakan soal. Dalam praktek, kita temukan beberapa faktor penyebab kegagalan proses dan hasil belajar. Penyebab kegagalan mungkin berasal dari strategi pembelajaran yang digunakan, perangkat pembelajaran, media, struktur rugas, menentukan pengetahuan prasyarat. Kita perlu memiliki beberapa alasan dan argumen bahwa alternatif yang kita ajukan secara logis dapat memperbaiki kegagalan itu. Tentu kita juga memiliki alasan dan argumen bahwa alternatif upaya optmalisasi yang kita ajukan mempunyai cukup peluang untuk mengkondisikan siswa lebih aktif dalam belajar dalam kelas, sehingga memperoleh hasil belajar yang baik. Dari pilihan-pilihan tersebut di atas, selanjutnya perlu kita pertimbangkan mana dari alternatif yang ada paling memungkinkan untuk dilaksanakan. Sederet pertanyaan perlu kita jawab untuk memberikan jaminan bahwa pilihan kita (mungkin strategi, metode, struktur tugas, perangkat yang diperlukan) dapat memperbaiki kegagalan pembelajaran yang telah kita lakukan sebelumnya. Penyusunan tabel atau matriks faktor penyebab kegagalan, alternatif yang kita ajukan, dan kemudian alternatif terpilih, beserta pertimbangan yang kita berikan nampaknya akan membantu kita dalam mengidentifikasi upaya optimalisasi proses pembelajaran. Sebagai contoh, misalkan beberapa faktor penyebab kegagalan proses dan hasil belajar yang berhasil kita identifikasi adalah : (a) kualitas LKS rendah (tingkat keterbacaan rendah), (b) media pembelajaran yang digunakan tidak memadai, dan (c) pengelolaan

7-30 Unit 7

kelas kurang baik. Berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan tersebut kemudian kita coba memberikan berbagai alternatif untuk memecahkan masalah (mengoptimalkan proses dan hasil belajar siswa) seperti pada tabel berikut.
Tabel 7.9. Contoh Identifikasi Optimalisasi Proses dan Hasil Belajar Faktor Penyebab Kegagalan Alternatif Optimalisasi Proses dan Hasil Kualitas LKS rendah (keterbacaan rendah), Media pembelajaran yang digunakan tidak memadai Pengelolaan kelas kurang baik 1. a. b. 2. Memperbaiki soal-soal yang sulit dipahami siswa (kalimat, salahcetak, dsb) Menyederhanakan soal

No. 1.

2. a. Menyiapkan media yang diperlukan b. Mengganti dengan media yg relevan c. Membuat media sendiri 3. a. Memberikan arahan agar menjaga ketenangan dalam kelas. b. Membuat kesepakatan-kesepakatan dengan siswa

3.

4.

Dan seterusnya

4. Dan seterusnya

Dengan mengajukan berbagai alternatif upaya optimalisasi proses dan hasil belajar melalui masing-masing faktor penyebab kegagalan akan membantu kita dalam memilih alternatif mana yang kita pilih. Kesiapan siswa, kesiapan guru, kondisi lingkungan, ketersediaan media adalah beberapa aspek yang perlu kita pertimbangkan untuk menetapkan pilihan. Pilihan itulah yang kita anggap optimal untuk saat itu. Sementara itu, kehadiran guru lain sebagai teman diskusi akan sangat membantu kita dalam mengotimalkan proses dan hasil belajar siswa.

Latihan
Dengan memahami kaitan antara : (a) informasi tentang faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan pada proses dan hasil belajar, dan (b) alternatif upaya optimalisasi yang kita ajukan, sebagaimana diuraikan di atas, cobalah memberikan contoh suatu faktor penyebab kegagalan pada proses atau hasil belajar siswa, kemudian Anda kemukakan alternatif upaya pemecahannya !

Asesmen Pembelajaran di SD

7-31

Rangkuman
Upaya-upaya optimalisasi yang dapat kita lakukan harus mendasarkan diri pada hasil identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan yang kita temukan. Dari hasil identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan akan kita tindak lanjuti dengan upaya-upaya memantapkan keberhasilan dan upaya-upaya memperbaiki kegagalan. Optimalisasi proses dan hasil belajar adalah upaya memperbaiki proses pembelajaran sehingga para siswa mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar. Optimalisasi proses pembelajaran dimaksudkan untuk memperbaiki aspek-aspek pembelajaran yang masih kurang optimal. Kegiatan tindak lanjut dimulai dengan merancang dan mengajukan berbagai upaya alternatif berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. Dari berbagai alternatif solusi yang telah kita ajukan, selanjutnya harus kita pilih alternatif mana yang paling optimal. Alterntif yang optimal adalah alternatif yang paling mungkin untuk dilaksanakan, ditinjau dari kesiapan siswa, kesiapan kita sebagai guru untuk melaksanakan alternatif itu, kemungkinan dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Bagan yang menggambarkan langkah-langkah dalam melakukan identifikasi optimalisasi proses pembelajaran digambarkan sebagai berikut ini.
Pemantapan keberhasilan

Identifikasi Faktor Penyebab Kegagalan dan Pendukung Keberhasilan

Alternatif Upaya Optimalisasi

Perbaikan dari kegagalan

7-32 Unit 7

Optimalisasi Proses Upaya Optimalisasi Proses dan Hasil Belajar

Upaya memperbaiki kegagalan proses belajar siswa

Optimalisasi Hasil

Upaya memperbaiki kegagalan hasil belajar siswa

Optimalisasi proses belajar siswa Optimalisasi Proses Pembelajaran Optimalisasi hasil belajar siswa

Bagan 7.2. Langkah-langkah Melakukan Identifikasi Optimalisasi Proses Pembelajaran

Tes Formatif 4
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 4. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan hubungan antara keberhasilan proses belajar dan keberhasilan hasil belajar! 2. Jelaskan keterkaitan antara proses pembelajaran yang optimal dengan keberhasilan proses dan hasil belajar ! 3. Bagaimana mengupayakan agar proses dan hasil belajar siswa menjadi optimal?

Asesmen Pembelajaran di SD

7-33

Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban Anda belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang identifikasi optimalisasi proses pembelajaran sangat diperlukan dalam memperbaiki proses pembelajaran kita selanjutnya.

7-34 Unit 7

Kunci Jawaban
Tes Formatif 1
1. Keberhasilan proses belajar adalah keberhasilan-keberhasilan yang dicapai siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Sedangkan keberhasilan hasil belajar adalah keberhasilan-keberhasilan yang didapat siswa setelah mengikuti satuan pembelajaran tertentu. Keberhasilan proses belajar akan memberikan sumbangan pada keberhasilan hasil belajar siswa. 2. Menetapkan tingkat keberhasilan proses belajar adalah memberikan keterangan yang bersifat berjenjang terhadap hasil pengukuran yang diperoleh (melalui tes maupun non tes) selama siswa mengikuti proses pembelajaran. Misalkan jenjang yang kita tetapkan adalah : Tingkat kurang aktif, jika skor keaktifan siswa < 35, tingkat cukup aktif, jika : 35 < skor keaktifan < 70, tingkat aktif, jika: skor keaktifan siswa > 70. Kriteria keberhasilan proses belajar adalah jenjang minimal yang dapat dilampaui siswa. Dalam hal ini, misalkan kriteria keberhasilan adalah bila skor siswa lebih besar atau sama dengan 35. 3. Menetapkan tingkat keberhasilan hasil belajar adalah memberikan keterangan yang bersifat berjenjang terhadap hasil pengukuran yang diperoleh (melalui tes maupun non tes) setelah siswa mengikuti pembelajaran. Misalkan jenjang yang kita tetapkan adalah: sangat baik, bila: 85 < skor hasil tes siswa ≤ 100, baik, bila: 70 < skor hasil tes siswa ≤ 85, cukup baik, bila: 55 < skor hasil tes siswa ≤ 70, kurang baik, bila: 40 < skor hasil tes siswa ≤ 55, dan sangat kurang, bila: skor hasil tes siswa < 40. Dalam hal ini, misalkan kriteria keberhasilan hasil belajar adalah bila skor siswa lebih besar atau sama dengan 55.

Tes Formatif 2
1. Pemaknaan adalah aktivitas memberi makna (interpretasi) atas hasil analisis yang kita lakukan. Pemaknaan (pemberian makna) kita berikan terhadap semua hasil penilaian yang telah kita lakukan, baik penilaian atas hasil pengukuran tes maupun non tes. 2. Penjelasan adalah aktivitas memberikan penjelasan (eksplanasi) dari hasil pemaknaan yang kita buat. Memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan

Asesmen Pembelajaran di SD

7-35

mengapa kegagalan terjadi. Pemberian penjelasan kita berikan terhadap hasil-hasil pemaknaan yang kita buat. 3. Penjelasan adalah aktivitas memberikan penjelasan (eksplanasi) dari hasil pemaknaan yang kita buat. Memberikan keterangan-keterangan yang diperlukan mengapa kegagalan terjadi. Pemberian penjelasan kita berikan terhadap hasil-hasil pemaknaan yang kita buat. 4. Penarikan kesimpulan adalah aktivitas menentukan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan pembelajaran. Kesimpulan kita berikan berdasarkan hasil dari langkah sebelumnya (penilaian, pemaknaan, dan penjelasan).

Tes Formatif 3
1. Berdasarkan identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan, kita dapat merancang berbagai alternatif pemecahan yang dapat memperbaiki kelemahan dan memantapkan aspek–aspek pembelajaran yang telah baik. 2. Langkah-langkah dalam melakukan evaluasi diri adalah dimulai dari kegiatan menganalisis hasil penilaian, kemudian memberi makna (pemaknaan) atas hasil analisis yang kita lakukan. Langkah selanjutnya adalah memberikan penjelasan mengapa kegagalan itu bisa terjadi. Selanjutnya memberikan kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal. Kesimpulan dapat kita kemukakan dalam bentuk identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan. 3. Yang dapat membantu melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang kita lakukan adalah guru mata pelajaran serumpun, supervisor, dan peneliti (ahli) bidang pembelajaran. 4. Keuntungan dari bantuan pihak terkait dalam evaluasi diri adalah dapat membantu dalam: a. menemukan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan, dan b. upaya untuk mengoptimalkan proses pembelajaran.

Tes Formatif 4
1. Keberhasilan proses belajar akan menentukan keberhasilan hasil belajar siswa. Agar siswa memperoleh hasil belajar yang baik, maka proses belajar siswa harus diupayakan optimal.

7-36 Unit 7

2. Optimalisasi proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Proses pembelajaran dikatakan optimal bila proses dan hasil belajar siswa optimal. 3. Berdasarkan hasil identifikasi faktor penyebab kegagalan proses dan hasil belajar, kemudian dirancang dan diajukan berbagai upaya alternatif pemecahannya, selanjutnya kita pilih alternatif mana yang paling optimal. Alterntif yang optimal adalah alternatif yang paling mungkin untuk dilaksanakan

Asesmen Pembelajaran di SD

7-37

Daftar Pustaka
Anas Sudiyono. (1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Balitbang Depdiknas. (2006). Model Penilaian Kelas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD / MI. Jakarta: Puskur, Depdiknas. Balitbang Depdiknas. (2004). Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Puskur, Depdiknas. Johnson, David W. (2002). Meaningful Assessment A Manageable and Cooperative Process. USA: Allyn and Bacon Mariana, Made Alit.(2003). Pembelajaran Remidial. BA-PGB-09. Depdiknas. Winarno dan Djuniarto, R. Eko. (2003). Perencanaan Pembelajaran. BA-PGB. Depdiknas. Kasbolah, Kasihani E.S. dan Sukaryana, I Wayan. (2001). Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Malang: Universitas Negeri Malang.

7-38 Unit 7

Glosarium
Miskonsepsi : pemahaman yang keliru terhadap suatu konsep. Optimal : paling baik dan menguntungkan. Refleksi : Perenungan kembali atas apa yang telah dilakukan untuk dijadikan cermin (pedoman) perbaikan bagi aktivitas selanjutnya.

Asesmen Pembelajaran di SD

7-39

Unit

8

TINDAK LANJUT HASIL ASESMEN
Dwi Priyo Utomo Pendahuluan

S

etelah Anda mempelajari cara melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar, selanjutnya marilah kita pikirkan apa yang dapat kita perbuat berdasarkan hasil refleksi itu. Hasil refleksi terhadap proses dan hasil belajar siswa sangat kita perlukan untuk mengetahui ‘letak’ kesalahan/kelemahan dan mengetahui penyebab kesalahan/kelemahan tersebut. Aktivitas berikutnya adalah mencari upaya-upaya yang seharusnya kita lakukan untuk mengoptimalkan pembelajaran kita. Kata pepatah: terperosok pada lubang yang sama adalah suatu kecerobohan. Berdasarkan hasil refleksi terhadap proses dan hasil asesmen, kita melakukan tindak lanjut. Tindak lanjut hasil asesmen kita arahkan untuk memantapkan aspekaspek pembelajaran yang sudah baik dan memperbaiki aspek-aspek pembelajaran yang kurang/lemah. Oleh karena itu, refleksi terhadap proses dan hasil asesmen haruslah sampai pada ditemukannya faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan pembelajaran. Berdasarkan identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan pembelajaran, akan dapat kita ketahui apakah kesalahan/kelemahan pembelajaran berada pada tahap perencanaan, pelaksanaan, atau penilaian. Karena pembelajaran merupakan suatu sistem, kesalahan salah satu tahap sangat mungkin terkait dengan kesalahan pada tahap yang lain. Dengan demikian, tindak lanjut hasil refleksi proses dan hasil asesmen haruslah memperhatikan setiap komponen sistem dan keterkaitan antar komponen sistem itu. Dengan kata lain, kelemahan pada sebagian aspek pelaksanaan pembelajaran sangat mungkin terkait dengan kesalahan pada aspek perencanaan. Ingat, pelaksanaan pembelajaran harus berpedoman pada rencana pembelajaran. Aktivitas tindak lanjut dapat kita mulai dari merancang perbaikan rencana pembelajaran, mengidentifikasi upaya-upaya mengoptimalkan proses pembelajaran, dan kemudian merancang pembelajaran remidi.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-1

Sub-aktivitas tersebut di atas disajikan dalam 3 Subunit, yaitu: Subunit 1: Perbaikan rencana pembelajaran, Subunit 2: Upaya optimalisasi proses pembelajaran, dan Subunit 3 : Pembelajaran remidi. Pembahasan pada subunit- subunit di atas diarahkan untuk mencapai indikator agar Anda dapat: 1. merancang perbaikan rencana pembelajaran; 2. mengidentifikasi upaya-upaya optimalisasi proses pembalajaran; dan 3. merancang pembelajaran remidi. Latihan disiapkan di akhir uraian setiap subunit. Untuk mengetahui dan mengecek hasil pekerjaan Anda, disediakan rambu-rambu jawaban atau dijabarkan dalam uraian materi. Untuk mengetahui keberhasilan belajar Anda, dilaksanakan tes formatif pada akhir subunit. Untuk mengecek hasil jawaban Anda, disediakan kunci jawaban tes formatif di akhir unit ini. Akan tetapi, diupayakan jangan melihat kunci jawaban sebelum Anda menyelesaikan semua soal yang disediakan. Pada unit ini Anda juga disediakan bahan ajar non cetak melalui web yang bisa Anda akses dan video yang disediakan untuk lebih memahami unit ini. Semoga Anda berhasil menyelesaikan Unit VIII ini dengan memuaskan.

8-2

Unit 8

Subunit 1 Perbaikan Rencana Pembelajaran
Pengantar

A

gar kegiatan yang kita lakukan mencapai hasil sesuai dengan yang kita harapkan, maka biasanya kita membuat perencanaan yang baik dan matang. Dalam aktivitas pembelajaran, sebagaimana aktivitas yang lain, perencanaan merupakan bagian yang penting yang akan menjadi pedoman dan panduan bagi pelaksanaan aktivitas itu. Tidak akan dicapai hasil yang memuaskan tanpa melalui perencanaan yang baik. Memang, perencanaan yang baik dan matang saja belumlah cukup. Masih diperlukan lagi kesungguhan dalam mengorganisasikan rencana itu, melaksanakan kegiatan sesuai rencana, dan mengadakan penilaian hasil kegiatan. Aspek perencanaan merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari pengelolaan (manajerial) setiap kegiatan. Dalam pembelajaran, kita tentu memahami fungsi dan peran dari rencana pembelajaran, komponen pembelajaran serta prinsip-prinsip dalam menyusun rencana pembelajaran. Kita juga hendaknya paham bagaimana cara menyusun rencana pembelajaran, menilai baik/tidaknya rencana pembelajaran. Apa yang dapat kita lakukan terhadap rencana pembelajaran bila hasil pembelajaran tidak sesuai dengan harapan. Bagaimana cara memperbaiki rencana pembelajaran itu? Sesungguhnya, kegiatan menyusun rencana pembelajaran merupakan kegiatan tak terpisahkan dari tugas guru sebagai pelaksana dan pengelola pembelajaran. Sebelum melaksanakan pembelajaran, maka seharusnya kita dahului dan kita biasakan dengan kegiatan menyusun rencana pembelajaran. Sebagai penyusun, seyogyanya, kita juga harus mampu menilai kualitas dari rencana yang kita susun. Rencana pembelajaran yang berkualitas baik akan menjadi pedoman yang baik pula dalam tataran pelaksanaannya. Di samping mengetahui kualitas dari rencana pembelajaran yang kita buat, seyogyanya kita juga mampu menganalisa pada bagian mana dari rencana pembelajaran yang masih perlu dilakukan perbaikan. Tentu saja, dengan perbaikan yang kita lakukan, kualitas proses pembelajaran juga akan menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-3

1. Perancangan Rencana Pembelajaran Sebelum melaksanakan pembelajaran, kita perlu menyusun rencana pembelajaran terlebih dahulu. Dengan membaca rencana pembelajaran, kita akan mengetahui arah, cara dan tujuan pembelajaran. Dengan kata lain, rencana pembelajaran berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh karena itu rencana pembelajaran yang kita susun hendaknya bersifat luwes dan membuka kemungkinan bagi kita untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada dalam proses pembelajaran. Sebagai guru, kita dituntut untuk terampil membuat rencana pembelajaran. Dengan membuat sendiri rencana pembelajaran, kita akan senantiasa sadar dan paham apa yang harus disampaikan kepada siswa, bagaimana materi pembelajaran disampaikan, logistik yang diperlukan, dan kemana siswa kita arahkan. Untuk merancang rencana pembelajaran, kita perlu memahami apa saja komponen rencana pembelajaran dan bagaimana langkah-langkah (sintaks) pembelajaran yang akan kita lakukan. 2. Komponen Rencana Pembelajaran Seperti dikemukakan sebelumnya, rencana pembelajaran yang kita rancang akan menjadi pedoman kita dalam melaksanakan pembelajaran. Rencana pembelajaran yang kita rancang hendaknya memuat komponen-komponen : (a) Identitas mata pelajaran, (b) Standar kompetensi dan kompetensi dasar, (b) Indikator hasil belajar, (d) Materi pembelajaran, (e) Strategi pembelajaran, (f) Media pembelajaran, (g) Penilaian dan tindak lanjut, (h) Kegiatan Pembelajaran yang direncanakan, dan (i) Sumber bacaan Identitas mata pelajaran berisi: nama mata pelajaran, kelas, semester, dan alokasi waktu. Standar kompetensi adalah kemampuan minimal yang harus dapat dilakukan siswa, yang meliputi : pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa setelah mengikuti mata pelajaran tertentu. Kompetensi dasar adalah jabaran dari standar kompetensi yang diharapkan dicapai siswa pada setiap pertemuan (atau satu rencana pembelajaran) tertentu. Baik standar kompetensi maupun kompetensi dasar dapat kita ambil dari silabus. Sedangkan indikator-indikator digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar tersebut. Materi pembelajaran yang akan disampaikan hendaknya diuraikan secara sistematis. Sebagai bagian rencana pembelajaran yang akan menjadi pedoman, uraian materi yang kita susun, disamping sistematis hendaknya juga ringkas dan

8-4

Unit 8

tidak terlalu bertele-tele. Sampaikan pula materi prasyarat yang diperlukan sebelum masuk pada materi pembelajaran. Strategi pembelajaran yang kita gunakan juga perlu dikemukakan. Strategi adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan (indikator). Sedangkan metode adalah cara yang lebih operasional untuk mencapai tujuan yang lebih spesifik. Lazimnya, strategi yang kita gunakan melibatkan berbagai metode. Demikian pula, metode tertentu melibatkan beberapa teknik. Jadi, biasanya, teknik merupakan cara yang lebih operasional dan digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih spesifik lagi dibandingkan tujuan yang ingin dicapai oleh metode. Media pembelajaran adalah sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan pada komponen penilaian, sampaikan semua instrumen dan prosedur penilaian yang digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar siswa. Sampaikan pula tindak lanjut yang ingin dilakukan setelah mengetahui pencapaian hasil belajar siswa. Pada kegiatan pembelajaran, sebaiknya kita sajikan langkah-langkah pembelajaran, kegiatan siswa dan kegiatan guru pada setiap langkah itu. Termasuk perkiraan/alokasi waktu yang kita rencanakan untuk masing-masing langkah. Berikut ini adalah contoh rencana pembelajaran untuk mata pelajaran matematika di SD dengan menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Jenjang Pendidikan Bidang Studi Kelas/Semester Alokasi Waktu : : : : Sekolah Dasar Matematika IV/I 2 x 45 menit (1 x pertemuan)

A. Standar Kompetensi Menentukan sifat-sifat operasi hitung, faktor, kelipatan bilangan bulat dan pecahan serta menggunakannya dalam pemecahan masalah B. Kompetensi Dasar : Melakukan dan menggunakan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-5

C. Indikator : 1.Menuliskan pengertian bilangan bulat negatif dengan kata-kata siswa sendiri. 2.Memasangkan lambang bilangan bulat negatif pada garis bilangan. 3.Menunjukkan bilangan bulat negatif yang bersesuaian dengan titik-titik pada garis bilangan yang diberikan. 4.Menentukan lawan dari beberapa bilangan bulat. D. Materi Pembelajaran : 1. Bilangan bulat negatif. 2. Lawan suatu bilangan. E. Pengetahuan prasyarat : bilangan bulat positif. F. Media Pembelajaran : Buku Siswa, model bendera, garis bilangan, LKS, dan Kuis. G. Strategi Pembelajaran : Kooperatif. H. Metode : Kombinasi ceramah disertai tanya jawab, demonstrasi dengan alat peraga (model) semi abstrak (gambar), pemberian tugas, diskusi kelompok, presentasi kelompok. I. Ringkasan Materi, Soal Latihan, dan Kuis Mengenal Bilangan Bulat Negatif Kegiatan 1. Berikan ilustrasi suhu air membeku atau suhu es di kutub untuk mengenalkan bilangan negatif. Misalkan di daerah dekat kutub, burung pinguin dapat bertahan hidup di bawah suhu 00 Celcius. Mintalah para siswa memperhatikan atau mengamati Thermometer yang beberapa waktu ada di dalam kulkas. Catat berapa suhu udara dalam kulkas tersebut.

8-6

Unit 8

Kegiatan 2. Gambarlah garis bilangan bulat yang sudah dibubuhkan beberapa bilangan bulat 0, 1, 2, 3, dst. Mintalah para siswa untuk meneruskan membubuhkan bilangan di sebelah kiri 0. Bimbinglah mereka untuk dapat mengisi bilangan -1, -2, -3, dan seterusnya pada tempat yang sesuai pada garis tadi. Mintalah siswa menunjukkan (menyebutkan) nama-nama dari bilangan itu (dengan bimbingan). Lawan Bilangan Gunakan perubahan suhu udara di suatu tempat (misalkan di dekat kutub) dari 10 0 Celcius kembali ke 00 Celcius untuk menjelaskan konsep lawan bilangan. Gunakan pula aturan „perimbangan“ pada garis bilangan bulat untuk menjelaskan konsep lawan bilangan. Dapat juga menggunakan model bendera dengan aturan bendera putih memodelkan bilangan positif dan bendera hitam memodelkan bilangan negatif. Bendera putih dan bendera hitam bersifat saling meniadakan. Soal Latihan 1. Tulislah lambang bilangan : negatif tiga ratus enam puluh lima ! 2. Sebutkan bilangan –125 ! 3. Nyatakan dengan lambang bilangan negatif “rugi dua ratus ribu rupiah” ! 4. a. Lawan dari -15 adalah …….. b. Lawan dari 100 adalah ……….. 5. Bilangan berapakah yang dimodelkan berikut ini !

Kuis 1. Seekor ubur-ubur berada di kedalaman 50 m di bawah permukaan laut. Sedangkan seekor kuda laut berada 25 m di bawah ubur-ubur tersebut. Nyatakan keberadaan ubur-ubur dan kuda laut tersebut dengan bilangan negatif!

Asesmen Pembelajaran di SD

8-7

2. Sebutkan bilangan-bilangan bulat di antara -7 dan 2! 3. Urutkan bilangan-bilangan berikut : 2, -6, -11, 15, 100, -75, 0, -1, -2, 6. 4. Pasangkan bilangan-bilangan bulat berikut (tercetak tebal) dengan lawan-nya!

12

0

(2+5) -12

-4 (3-3)

-7 (2x4)

-8 (7-3)

J. Kegiatan Pembelajaran

No. 1 2 3 4 5

Kegiatan Guru Kegiatan Siswa A. Pendahuluan Menyampaikan tujuan dan memo-tivasi Mendengarkan dan memperhatikan siswa penjelasan guru B. Kegiatan Inti Menjelaskan materi pembelajaran Mendengar, mencatat, bertanya, atau menjawab pertanyaan guru Mengorganisasi siswa (menempatkan siswa Menempati tempat duduk sesuai kelompok dalam kelompok masing-masing) masing-masing Pemberian latihan terbimbing Mengerjakan soal yang diberikan guru secara mandiri a. Membagi LKS dan mempersi-lahkan a. Menerima LKS, moderator mem-bagi tugas siswa mengerjakannya b.&c. Mengerjakan soal-soal LKS dalam b. Mengamati kerja kooperatif siswa. lembar kerja, moderator mengatur c. Membimbing keterampilan be-kerjasama mekanisme diskusi sampai dengan (kooperatif) dan mem-bimbing menarik kesimpul-an memecahkan masa-lah/soal d. Membimbing presentasi siswa d. Wakil kelompok mempresen-tasikan hasil kerja

6

C. Penutup Kuis individual

Karena rencana pembelajaran di atas sekedar contoh, maka kita dapat menyusun rencana pembelajaran yang mungkin berbeda, lebih sederhana, dan mungkin lebih rinci dan bervariasi dibandingkan dengan contoh di atas. Kita mungkin menyusun uraian materi lebih sederhana dengan hanya menunjuk pada uraian materi pada buku sumber tertentu di beberapa halaman tertentu, mungkin

8-8

Unit 8

juga menguraikan materi yang lebih lengkap dan rinci. Demikian pula, kita mungkin merasa cukup hanya menyusun urutan langkah pembelajaran saja, namun mungkin pula kita akan menguraikan langkah-langkah itu, kegiatan guru, kegiatan siswa, bahkan mengalokasikan waktu untuk masing-msing langkah tersebut. 3. Merancang Perbaikan Rencana Pembelajaran Keberhasilan pembelajaran yang kita lakukan dapat dilacak dari keberhasilan kita dalam melaksanakan pembelajaran. Itu semua tercermin dari proses pembelajaran yang kita lakukan dan kemudian hasil belajar yang dicapai siswa. Kalau misalnya hasil dari pekerjaan kita tidak sesuai dengan harapan apakah dapat kita katakan bahwa rencana kerja kita yang salah. Demikian pula, apakah rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh rendahnya kualitas rencana pembelajaran yang kita buat? Bukankah masih ada proses pembelajaran yang menjembatani antara rencana dan hasil pembelajaran. Mungkin rencana sudah baik, namun ada kesalahan yang kita lakukan dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk melacak di mana letak kesalahan sehingga hasil pembelajaran yang kita lakukan masih gagal, kita dapat menggunakan prinsip pengelolaan kegiatan (manajerial) : perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan penilaian/ pengendalian. Berdasarkan prinsip pengelolaan kegiatan seperti itu, mestinya kita dapat melacak letak kesalahan dari rangkaian pembelajaran yang kita lakukan, mulai dari perencanaannya (rencana pembelajaran), pengorganisasian dan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian. Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kesalahan dapat dimulai dari sejak perencanaan (rencana pembelajaran), atau pada proses pembelajaran, atau mungkin pada tahap penilaian. Kekeliruan pada rencana pembelajaran akan mengakibatkan kekeliruan pula dalam melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu, pelacakan untuk mengetahui letak kesalahan sehingga mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa merupakan kegiatan yang penting. Kegiatan ini dapat kita analogikan dengan kegiatan dokter dalam mendiagnosa penyakit pasiennya. Apabila kita sudah menemukan letak kesalahan, maka kegiatan kita selanjutnya adalah mencari solusi memperbaiki kesalahan itu. Demikian pula bila kita mengetahui bahwa kesalahannya terletak pada rencana pembelajaran, maka kegiatan kita selanjutnya adalah mencari solusi untuk memperbaiki kesalahan itu.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-9

Untuk mengetahui kualitas rencana pembelajaran yang kita buat atau yang disusun orang lain sesungguhnya tidak harus menunggu pelaksanaan pembelajaran atau penilaian terhadap hasil pembelajaran. Penilaian kualitas rencana pembelajaran dapat dilakukan sebelum pelaksanaan pembelajaran dengan jalan memeriksa kesesuaian komponen-komponennya dengan kompetensi dasar dan kondisi siswa (kesiapan siswa). Memperbaiki rencana pembelajaran dapat dilakukan dengan jalan memeriksa kelengkapan komponen-komponennya, kesesuaian antara komponen yang satu dengan komponen yang lain, kemungkinan melaksanakan rencana itu (misalnya ketersediaan media yang diperlukan), operasional/tidaknya indikator yang dibuat, kesesuaian indikator dengan kompetensi dasar yang ada, ketepatan dalam menentukan kemampuan prasyarat, ketepatan dalam memilih buku siswa, dan keterbacaan lembar kerja siswa (LKS) yang kita susun sebagai prasarana untuk mencapai kompetensi yang kita harapkan. Merancang perbaikan rencana pembelajaran berarti melakukan perbaikan dari rencana pembelajaran yang telah ada sebelumnya. Tentu saja, rencana pembelajaran yang ada tersebut masih memiliki beberapa kesalahan/kelemahan yang perlu diperbaiki. Kita dapat menganalisa (contoh) rencana pembelajaran yang dikemukakan di atas. Misalkan, kita memperoleh informasi --- berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran yang kita lakukan --- bahwa ada beberapa komponen, atau bagian dari rencana pembelajaran tersebut yang perlu kita perbaiki. Misalkan kita peroleh informasi bahwa: (a) ada kemampuan prasyarat yang belum disampaikan dalam rencana pembelajaran (RP), (b) ada media pembelajaran yang belum dicantumkan, (c) urutan tahap pada kegiatan pembelajaran yang perlu dirubah, dan (d) perlunya memberikan alokasi waktu untuk masing-masing langkah dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan informasi tersebut kita dapat melakukan berbagai perbaikan terhadap rencana pembelajaran pada bagian-bagian tertentu yang diperlukan. Pada contoh di atas kita dapat memperbaikinya dengan: (a) menambah materi prasyarat, (b) melengkapi media pembelajaran yang diperlukan, (c) mengganti urutan tahap pembelajaran, dan (d) mencantumkan alokasi waktu pada masingmasing tahap kegiatan pembelajaran. Hasil perbaikan rencana pembelajaran untuk contoh di atas adalah sebagai berikut.

8-10

Unit 8

Jenjang Pendidikan Bidang Studi Kelas/Semester Alokasi Waktu

: : : :

Sekolah Dasar Matematika IV/I 2 x 45 menit (1 x pertemuan)

A. Standar Kompetensi : (tetap) B. Kompetensi Dasar : (tetap) C. Indikator : (tetap) D. Materi Pembelajaran : (tetap) E. Pengetahuan prasyarat : bilangan bulat positif. F. Media Pembelajaran : Buku Siswa, model bendera, garis bilangan, LKS, dan Kuis, Thermometer. G. Strategi Pembelajaran : (tetap) H. Metode : (tetap) I. Ringkasan Materi, Soal Latihan, dan Kuis (tetap atau diuraikan lebih terinci) J. Soal Latihan (tetap) J. Kegiatan Pembelajaran
No. 1 2 3 4 5 Kegiatan Guru A. Pendahuluan Mengorganisasikan siswa (menempatkan siswa dalam kelompok masing-masing) Menyampaikan tujuan dan memoti-vasi siswa B. Kegiatan Inti Menjelaskan materi pembelajaran Kegiatan Siswa Menempati tempat duduk sesuai kelompok masing-masing Mendengarkan dan memperhati-kan penjelasan guru Waktu

bilangan bulat positif,

penjumlahan

5’

Mendengar, mencatat, bertanya, atau 20’ menjawab pertanyaan guru Pemberian latihan terbimbing Mengerjakan soal yang diberikan 10’ guru secara mandiri a. Membagi LKS dan memper-silahkan a. Menerima LKS, moderator membagi tugas siswa mengerjakannya b.&c. Mengerjakan soal-soal LKS b. Mengamati kerja kooperatif sis-wa. 40’ dalam lembar kerja, moderator c. Membimbing ketrampilan beker-jasama mengatur mekanis-me diskusi (kooperatif) dan membim-bing sampai dengan menarik memecahkan masalah/soal kesimpulan d. Membimbing presentasi siswa d. Wakil kelompok mempresen- 5’

Asesmen Pembelajaran di SD

8-11

No. 6

Kegiatan Guru C. Penutup Kuis individual Total Waktu

Kegiatan Siswa tasikan hasil kerja

Waktu 10’ 90’

Pada rencana pembelajaran yang telah diperbaiki, nampak bahwa pada komponen E, kemampuan prasyarat yang harus ditambahkan adalah penjumlahan bilangan bulat positif, sedangkan pada komponen F, adalah menambahkan Thermometer sebagai media pembelajaran, karena memang dalam ringkasan kegiatan (komponen I.) Thermometer digunakan untuk menjelaskan suhu di bawah nol untuk menerangkan bilangan bulat negatif. Pada komponen J. (Kegiatan pembelajaran), tahap pengelompokkan siswa diletakkan pada tahap pertama. Hal ini kita lakukan karena dalam praktek, pembelajaran tidak berlangsung secara efisien karena siswa gaduh dan perlu waktu lama untuk mengembalikan ketenangan siswa bila tahap ini (tahap pengelompokkan) diletakkan di ’tengah-tengah’ proses pembelajaran. Demikian pula, kita tambahkan perkiraan alokasi waktu untuk masing-masing tahap karena dari hasil pengamatan diketahui bahwa ada tahap tertentu dari kegiatan pembelajaran tidak berjalan optimal karena waktu yang tersedia tidak mencukupi, sementara ada tahap lain yang berlangsung terlalu lama.

Latihan
Dengan memahami fungsi, peran, dan komponen rencana pembelajaran sebagaimana diuraikan di atas, cobalah memberikan contoh rencana pembelajaran untuk mata pelajaran yang Anda ampu dan cobalah mengkritisi rencana pembelajaran yang dibuat orang lain untuk mata pelajaran yang sama, kemudian cobalah merancang perbaikannya (atas dasar kritik yang Anda berikan)!

Rangkuman
Rencana pembelajaran merupakan pedoman dalam melaksanakan pembelajaran. Rencana pembelajaran yang kita rancang hendaknya memuat komponen-komponen: (c) Identitas mata pelajaran, (b) Standar kompetensi dan kompetensi dasar, (d) Indikator hasil belajar, (d) Materi pembelajaran, (e) Strategi pembelajaran,

8-12

Unit 8

(f) Media pembelajaran, (g) Penilaian dan tindak lanjut, (h) Kegiatan Pembelajaran Berdasarkan prinsip pengelolaan kegiatan, kita dapat melacak letak kesalahan dari rangkaian pembelajaran yang kita lakukan, mulai dari perencanaannya (rencana pembelajaran), pengorganisasian dan pelaksanaan (pelaksanaan pembelajaran) dan penilaian. Memperbaiki rencana pembelajaran dapat dilakukan dengan jalan memeriksa kelengkapan komponen-komponennya, kesesuaian antara komponen yang satu dengan komponen yang lain, kemungkinan melaksanakan rencana itu, operasional/tidaknya indikator yang dibuat, kesesuaian indikator dengan kompetensi dasar yang ada.

Tes Formatif 1
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan komponen-komponen rencana pembelajaran yang seharusnya ada! 2. Jelaskan kesalahan-kesalahan atau kelemahan-kelemahan yang sering dilakukan dalam menyusun rencana pembelajaran! 3. Jelaskan keterkaitan antara rencana pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar siswa!

Umpan balik dan tindak lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban Anda belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang rencana pembelajaran dan cara memperbaikinya penting artinya bagi peningkatan keterampilan kita dalam membuat perencanaan dan sekaligus pelaksanaannya.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-13

Subunit 2 Upaya Optimalisasi Proses Pembelajaran
Pengantar

S

ebagai guru, kita senantiasa berupaya agar proses pembelajaran yang kita lakukan dapat berlangsung secara optimal. Proses yang optimal selalu kita

kaitkan dengan hasil. Artinya, proses dapat kita katakan optimal manakala hasil yang diperoleh dari proses tersebut sesuai dengan yang kita harapkan. Bagaimana caranya agar pembelajaran yang kita lakukan berlangsung secara optimal dan bagaimana mengetahui apakah proses pembelajaran tersebut sudah optimal adalah dua pertanyaan yang tidak mudah untuk menjawabnya. Dengan melakukan evaluasi diri secara jujur dan cermat oleh diri sendiri atau dibantu oleh orang lain (seperti telah dikemukakan pada unit sebelumnya) akan diketahui apakah proses pembelajaran yang kita laksanakan sudah optimal atau belum. Demikian pula, dengan mengetahui kegagalan dan keberhasilan pada aspekaspek pembelajaran tertentu akan dapat diidentifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan tersebut. Upaya-upaya optimalisasi yang dapat kita lakukan mendasarkan diri pada hasil identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan yang kita temukan. Dari hasil identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan akan kita tindaklanjuti dengan upaya-upaya memantapkan keberhasilan (pengayaan) dan upaya-upaya memperbaiki kegagalan (remidi). Dua jenis upaya (upaya pengayaan dan upaya remidi) inilah yang kemudian kita namakan dengan upaya optimalisasi proses pembelajaran. 1. Upaya Optimalisasi Proses Pembelajaran Berangkat dari informasi tentang faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan yang dapat kita identifikasi, kita mencari alternatif pemecahannya. Dari berbagai alternatif itu kemudian kita pertimbangkan mana yang paling mungkin untuk dilaksanakan. Alternatif yang kita pilih kita dasarkan atas kemampuan/kesiapan kita untuk melaksanakan pilihan itu, kesiapan siswa, ketersediaan sarana.dan prasarana, dan lain sebagainya.

8-14

Unit 8

A. Optimalisasi Proses Pembelajaran Optimalisasi proses pembelajaran mengacu pada berbagai upaya agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik sehingga para siswa dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan yang kita harapkan. Dengan kata lain, optimalisasi proses pembelajaran adalah upaya memperbaiki proses pembelajaran sehingga para siswa mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar. Para siswa dapat belajar dengan penuh semangat, aktif dalam belajar, berani mengemukakan pendapatnya, mampu dan antusias dalam mengikuti pelajaran, terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah adalah beberapa indikasi dari proses pembelajaran yang berlangsung secara optimal. Demikian pula, misalnya para siswa dapat mencapai hasil belajar yang baik dan tuntas dalam belajar untuk materi tertentu merupakan indikasi lain dari proses pembelajaran yang optimal. Dalam praktek, pembelajaran yang berhasil secara sempurna pada semua aspek nampaknya masih sangat ideal. Biasanya, betapapun baiknya pembelajaran yang kita lakukan selalu saja ada aspek-aspek yang masih belum sesuai harapan. Oleh karena itulah, optimalisasi proses pembelajaran dimaksudkan untuk memperbaiki aspekaspek pembelajaran yang masih kurang optimal. B. Mengidentifikasi Upaya Optimalisasi Proses Pembelajaran Setelah faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran kita identifikasi (sebagai tahap akhir evaluasi diri), maka kegiatan kita selanjutnya adalah melakukan tindak lanjut. Kegiatan tindak lanjut dimulai dengan merancang dan mengajukan berbagai solusi alternatif berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Kita dapat menggunakan analogi kerja dokter dalam mengobati pasiennya. Dokter akan mulai dengan mengajukan berbagai alternatif terapi penyembuhan atau berbagai alternatif obat penyembuhan berdasarkan faktor penyebab sakit sang pasien. Semua alternatif solusi yang kita ajukan haruslah mengarah pada upaya menghilangkan penyebab kegagalan dan menguatkan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Upaya menghilangkan kegagalan dapat berupa perbaikan (remidi) atas kegagalan yang telah kita lakukan. Upaya menguatkan pendukung keberhasilan dapat berupa pemantapan atas keberhasilan yang telah kita capai. Dari berbagai alternatif solusi yang telah kita ajukan, selanjutnya harus kita pilih alternatif mana yang paling optimal.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-15

Alternatif solusi yang kita ajukan merupakan daftar upaya yang kita ajukan untuk menjawab atau memperbaiki penyebab kegagalan itu. Sebagai contoh, telah kita simpulkan bahwa (salah satu hasil identifikasi) faktor penyebab kegagalan pembelajaran adalah keaktifan siswa yang rendah dalam kelas. Atas dasar faktor itu, maka kemudian kita ajukan beberapa alternatif perbaikan berupa: (a) merubah strategi pembelajaran, misalkan dari strategi pembelajaran langsung ke strategi pembelajaran kooperatif, (b) mengganti metode pembelajarannya, misalkan dari metode ekspositori-tugas ke metode diskusi-tugas, atau ekspositori-diskusi-tugas, atau lainnya, (c) menyesuaikan struktur tugas yang diberikan kepada siswa, misalkan dari kerja individual ke kerja kelompok. Perubahan strategi pembelajaran, penggantian metode, dan struktur tugas sebagaimana dikemukakan di atas kita maksudkan agar kegagalan dari aspek keaktifan siswa dapat kita perbaiki. Kita perlu memiliki beberapa alasan dan argumen bahwa alternatif yang kita ajukan secara logis dapat memperbaiki kegagalan itu. Tentu kita juga memiliki alasan dan argumen bahwa strategi kooperatif, metode diskusi-tugas, dan struktur tugas kelompok mempunyai cukup peluang untuk mengkondisikan siswa lebih aktif dalam belajar dalam kelas. Dari pilihan-pilihan tersebut di atas, selanjutnya perlu kita pertimbangkan mana dari alternatif yang ada paling memungkinkan untuk dilaksanakan. Apakah strategi pembelajaran kooperatif bisa dilaksanakan, apakah kita mampu melaksanakan strategi itu. Apakah siswa telah memiliki kemapuan untuk berdiskusi dan melaksanakan tugas, apakah waktu yang tersedia mencukupi untuk berdiskusi dan melaksanakan tugas. Apakah setiap siswa telah memiliki kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, apakah perangkat yang diperlukan untuk struktur tugas kelompok itu bisa kita persiapkan. Sederet pertanyaan perlu kita jawab untuk memberikan jaminan bahwa pilihan kita (mungkin strategi, metode, struktur tugas, perangkat yang diperlukan) dapat memperbaiki kegagalan pembelajaran yang telah kita lakukan sebelumnya. Penyusunan tabel atau matriks faktor penyebab kegagalan, alternatif yang kita ajukan, dan kemudian alternatif terpilih, beserta pertimbangan yang kita berikan nampaknya akan membantu kita dalam mengidentifikasi upaya optimalisasi proses pembelajaran.

8-16

Unit 8

Tabel : Identifikasi Optimalisasi Proses Pembelajaran No. 1. 2. 3. Dst Faktor Penyebab Kegagalan Berbagai Alternatif Solusi Solusi Terpilih Pertimbangan

Sebagai contoh, misalkan beberapa faktor penyebab kegagalan proses pembelajaran yang berhasil kita ketahui adalalah: (a) keaktifan belajar siswa di kelas rendah, (b) soal-soal dalam LKS sulit dimengerti siswa, (c) bimbingan belajar dalam kelas tidak merata, dan (d) pengelolaan kelas kurang baik. Berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan tersebut kemudian kita coba memberikan berbagai alternatif untuk memecahkan masalah (memperbaiki proses pembelajaran) seperti pada tabel berikut.
Tabel 2.2: Contoh Dalam Identifikasi Optimalisasi Proses Pembelajaran No. 1. Faktor Penyebab Kegagalan Keaktifan belajar siswa di kelas rendah Berbagai Alternatif Solusi 1. a. Pemberian motivasi kepada siswa untuk aktif dalam belajar di kelas (secara lisan) b. Merubah struktur tugas dari tugas individual ke tugas kelompok 2. a. Memperbaiki soal-soal yang sulit dipahami siswa (kalimat, salah cetak, dsbnya) b. Menyederhanakan soal 3. a. Membimbing siswa secara merata b. Memberikan bimbingan pada siswa/ kelompok yang betul-betul membutuh-kan bimbingan c. Meminta siswa mendiskusikan dulu persoalan yg dihadapi. 4. a. Memberikan arahan agar menjaga ke tenangan dalam kelas. b. Menciptakan kesepakatan-kesepakatan dengan siswa

Soal-soal dalam LKS sulit dipahami siswa 2. Bimbingan belajar yang diberikan guru tidak merata 3.

Pengelolaan kelas kurang baik 4.

Dengan mengajukan berbagai alternatif pemecahan untuk masing-masing faktor penyebab kegagalan akan membantu kita dalam memilih alternatif mana yang kita pilih. Kesiapan siswa, kesiapan kita, kondisi lingkungan, ketersediaan
Asesmen Pembelajaran di SD

8-17

media adalah beberapa aspek yang perlu kita pertimbangkan untuk menetapkan pilihan. Pilihan itulah yang kita anggap optimal untuk saat itu. Kehadiran orang lain, baik sebagai pengamat, pengkritik, pemberi saran, atapun teman diskusi akan sangat membantu kita dalam mengotimalisasikan proses pembelajaran yang kita lakukan.

Latihan
Dengan memahami kaitan antara: (a) informasi tentang faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran, (b) alternatif solusi yang kita ajukan, serta (c) alternatif yang kita pilih; sebagaimana diuraikan di atas, cobalah memberikan contoh faktor penyebab kegagalan dalam pembelajaran, kemudian Anda kemukakan alternatif pemecahannya, serta upaya optimalisasi proses pembelajaran yang dipilih untuk mata pelajaran yang Anda ampu. Tambahkan alasan yang logis mengapa pilihan itu yang Anda ambil!

Rangkuman
Upaya-upaya optimalisasi yang dapat kita lakukan harus mendasarkan diri pada hasil identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan yang kita temukan. Dari hasil identifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan akan kita tindaklanjuti dengan upaya-upaya memantapkan keberhasilan dan upaya-upaya memperbaiki kegagalan (remidi). Optimalisasi proses pembelajaran adalah upaya memperbaiki proses pembelajaran sehingga para siswa mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar. Optimalisasi proses pembelajaran dimaksudkan untuk memperbaiki aspek-aspek pembelajaran yang masih kurang optimal. Kegiatan tindak lanjut dimulai dengan merancang dan mengajukan berbagai solusi alternatif berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Upaya menghilangkan kegagalan dapat berupa perbaikan (remidi) atas kegagalan yang telah kita lakukan. Upaya menguatkan pendukung keberhasilan dapat berupa pemantapan atas keberhasilan yang telah kita capai. Dari berbagai alternatif solusi yang telah kita ajukan, selanjutnya harus kita pilih alternatif mana yang paling optimal. Alternatif yang optimal adalah alternatif yang paling mungkin untuk dilaksanakan, ditinjau dari kesiapan siswa, kesiapan kita sebagai guru untuk melaksanakan alternatif itu, kemungkinan dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Bagan yang menggambarkan
8-18
Unit 8

langkah-langkah dalam melakukan identifikasi optimalisasi proses pembelajaran adalah sebagai berikut.

Identifikasi Faktor Penyebab Kegagalan dan Pendukung Keberhasilan

Alternatif Solusi Yang Mungkin

Alternatif Terpilih

Pemberian pertimbangan

Remidi

Upaya memperbaiki kegagalan (remidi) pada aspek tertentu pembelajaran

Upaya Optimalisasi Proses Pembelajaran Pemantapan Upaya memantapkan keberhasilan pada aspek-aspek tertentu pembelajaran

Tes Formatif 2
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan kembali langkah-langkah dalam melakukan identifikasi dalam optimalisasi proses pembelajaran! 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tindak lanjut hasil evaluasi-diri pembelajaran! Apa saja kegiatan yang kita lakukan dalam tindak lanjut tersebut?

Asesmen Pembelajaran di SD

8-19

3. Apa perbedaan antara alternatif solusi (pemecahan) dengan alternatif terpilih? 4. Apa yang dimaksud dengan upaya yang optimal dalam konteks pembelajaran untuk perbaikan (remidi)? Mengapa perlu ada alasan/penjelasan bahwa upaya yang kita pilih merupakan upaya yang optimal?

Umpan balik dan tindak lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban Anda belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang identifikasi optimalisasi proses pembelajaran sangat diperlukan dalam memperbaiki proses pembelajaran kita selanjutnya.

8-20

Unit 8

Subunit 3 Pembelajaran Remidi

Pengantar

S

eringkali pembelajaran yang telah kita lakukan tidak berjalan sesuai harapan kita. Apa yang telah kita rencanakan tidak dapat kita laksanakan sepenuhnya.

Banyak diantara yang kita persiapkan tidak kita gunakan. Demikian pula, waktu yang tersedia tidak mencukupi untuk melaksanakan pembelajaran. Tujuan-tujuan pembelajaran (indikator) yang telah kita tuangkan dalam rencana tidak dapat diwujudkan oleh sebagian besar siswa kita. Dalam keadaan demikian tidak mungkin kita memaksakan untuk melanjutkan ke materi pembelajaran berikutnya. Kita tidak dapat mengabaikan kegagalan ini, karena bisa jadi kompetensi yang kita tuju adalah kompetensi prasyarat untuk memasuki materi berikutnya. Apabila sebagian besar

siswa kita belum mencapai kompetensi yang diharapkan seharusnya kita segera mengetahui dan mencari cara agar siswa-siswa tersebut dapat mencapai kompetensi yang diharapakan. Perlu diupayakan agar siswa memperoleh perlakuan tertentu agar memiliki kompetensi yang diharapkan. Sulit bagi siswa untuk dapat memahami materi berikutnya tanpa memiliki kompetensi prasyarat tersebut. Bagaimana cara

mengetahui siapa saja siswa kita yang membutuhkan bantuan (remidi) dan bagaimana melakukan perbaikan (remidi) terhadap siswa yang belum mencapai kompetensi yang diharapkan adalah penting untuk kita pahami bersama.

1. Pembelajaran Remidi Pembelajaran remidi dilakukan setelah kita mengetahui siapa saja siswa yang gagal mencapai kompetensi, dimana letak dan sifat kesulitan yang mereka alami. Apakah kesulitan tersebut bersumber pada aspek fisik atau psikis, dari lingkungan, perangkat atau pengelolaan pembelajaran. Identifikasi semacam ini penting untuk mencari solusi pemecahannya.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-21

Sebagai guru, kita dituntut untuk dapat mengetahui letak-letak dan sifatsifat kesulitan itu, mampu menemukan solusi, dan kemudian menjadi bagian dari solusi itu sendiri. Artinya, kita juga harus mampu melakukan perbaikan yang diperlukan. 2. Pembelajaran Remidi Pembelajaran remidi bertujuan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui perlakuan pengajaran. Pembelajaran remidi sebenarnya merupakan kelanjutan dari pembelajaran biasa di kelas. Hanya saja siwa-siswa yang masuk dalam kelompok ini adalah siswa-siswa yang memerlukan pelajaran tambahan. Siswa-siswa yang dimaksud adalah siswa yang belum tuntas belajar. Biasanya, setiap sekolah telah menetapkan batas minimal ketuntasan belajar untuk masing-masing mata pelajaran yang mungkin berbeda dengan sekolah lain. Hal ini bergantung kepada tingkat kesulitan mata pelajaran dan tingkat kemampuan siswa-siswa di sekolah itu. Pada periode tertentu, skor minimal ini harus ditinjau kembali berdasarkan tingkat kemampuan rata-rata siswa di sekolah itu dan standar dari pemerintah. Skor minimal ketuntasan belajar untuk suatu mata pelajaran telah kita tetapkan terlebih dahulu sebelum pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, setiap siswa yang mendapatkan skor sama atau di atas skor minimal itu, maka siswa tersebut kita katakan tuntas dalam belajarnya. Ia tuntas pada kompetensi dasar tertentu pada mata pelajaran tertentu. Siswa-siswa yang memperoleh skor di bawah skor minimal kita sebut dengan siswa yang belum tuntas belajar. Siswa-siswa terakhir inilah yang perlu kita berikan pembelajaran remidi. Faktor penyebab ketidaktuntasan belajar variatif. Mungkin berasal dari dalam diri siswa (fisik, psikis) atau dari luar diri siswa (lingkungan alam, lingkungan belajar, bahan pelajaran, dan kegiatan pembelajaran). Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sehingga mengakibatkan ketidaktuntasan dalam belajar pada umumnya beragam. Kesulitan-kesulitan dimaksud biasanya disebabkan oleh antara lain: (1) kemampuan mengingat kurang, (2) kurang dalam memotivasi diri, (3) lemah dalam memecahkan masalah, (4) kurang percaya diri, (5) sulit berkonstrasi pada belajarnya. Pembelajaran remidi dimulai dari identifikasi kebutuhan siswa yang menjadi sasaran remidi. Kebutuhan siswa ini dapat diketahui dari analisis kesulitan belajar siswa dalam memahami konsep-konsep tertentu. Berdasarkan analisis kesulitan belajar itu, kita memberikan remidi. Bantuan dapat diberikan kepada siswa berupa perbaikan metode mengajar, perbaikan modul, perbaikan LKS, menyederhanakan konsep, menjelaskan kembali konsep yang masih kabur, memperbaiki konsep yang disalah tafsirkan oleh siswa.

8-22

Unit 8

3. Melaksanakan Pembelajaran Remidial Pada dasarnya, pembelajaran remidi yang kita laksanakan hampir sama dengan pembelajaran reguler. Letak perbedaan antara keduanya adalah pada subjek pembelajaran dan konsep yang dipilih untuk disampaikan (dari analisis kebutuhan). Tabel berikut mungkin akan memperjelas kita bagaimana perbedaan antara kedua pembelajaran itu.
Tabel 3.1: Perbedaan Pembelajaran Remidi dengan Pembelajaran Reguler No. 1. 2. 3. Aspek-Aspek Pembelajaran Subjek Materi Pembelajaran Dasar Materi Pemilihan Rencana Pembelajaran Analisis Kebutuhan (Rencana Pembelajaran Remidi) Pembelajaran Reguler Seluruh siswa Topik Bahasan Pembelajaran Remidi Siswa yang belum tuntas Konsep terpilih

Langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pembelajaran remidi adalah : (1). melakukan analisis kebutuhan, (2) merancang pembelajaran, (3). mengkonstruksi/ menyiapkan perangkat pembelajaran, (4) melaksanakan pembelajaran, (5) melakukan penilaian. Penjelasan dari masing-masing langkah tersebut dapat kita sajikan sebagai berikut.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-23

Tabel 3.2: Langkah-langkah Dalam Melaksanakan Pembelajaran Remidi No. 1. 2. Langkah Analisis Kebutuhan Merancang Pembelajaran Kegiatan Yang dilakukan Identifikasi kesulitan dan kebutuhan siswa a. Merancang rencana pembelajaran b. Merancang berbagai kegiatan c. Merancang belajar bermakna d. Memilih pendekatan, metode dan teknik e. Merancang bahan pembelajaran 3. Menyusun belajaran 4. 5. Menyiapkan Perangkat Melaksanakan Pembelajaran Rencana Pem- Memperbaiki rencana pembelajaran yang telah ada, beberapa komponen perlu disesu-aikan dengan hasil analisis kebutuhan siswa Beberapa bagian dari perangkat perlu diperbaiki, misalkan beberapa soal LKS. Rumuskan gagasan utama, berikan arahan yang jelas, tingkatkan motivasi belajar siswa, Fokuskan pada proses belajar, mendorong partisipasi aktif. 6. Melakukan penilaian. Melakukan penilaian tes atau non tes, menilai apakah siswa mencapai ketuntasan belajar

Dalam melaksanakan pembelajaran remidi, ada beberapa model yang dapat digunakan bergantung pada kondisi sekolah. Model-model pembelajaran remidi yang dimaksud adalah : (a) Pembelajaran di luar jam pelajaran sekolah, (b) pengambilan siswa tertentu, dan (c) penggunaan team pengajar. Model pembelajaran remidi yang pertama dapat dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pelajaran sekolah dan digunakan untuk membantu kesulitan belajar terhadap beberapa subjek materi pembelajaran. Model kedua dilaksanakan dengan jalan mengambil beberapa siswa yang membutuhkan remidi dari kelas biasa (reguler) ke kelas remidial. Model ini biasanya hanya untuk topik-topik yang dianggap esensial sebagai fondasi pengetahuan lanjutan. Sedangkan model terakhir dilaksanakan dengan melibatkan beberapa guru (team). Team bekerjasama dalam menyiapkan bahan-bahan pelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan penilaian hasil belajar yang mengacu pada peningkatan efektifitas belajar. Dari ketiga model pembelajaran remidi tersebut, model pertama dan kedua adalah model yang paling sering diterapkan. Model pertama tidak

8-24

Unit 8

dipisahkan dari jam pembelajaran reguler. Pada model ini, pembelajaran remidi dilaksanakan pada saat sebelum dan sesudah jam pelajaran reguler. Model kedua dilaksanakan terpisah dari jam pembelajaran reguler. Pada model ini, pembelajaran remidi dilaksanakan di luar jam efektif, yaitu dengan membuat jadwal tersendiri. Contoh hasil evaluasi pada siswa yang mengalami kesulitan belajarnya adalah sebagai berikut.
Tabel : Siswa-siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar Nama Hasil Evaluasi 1 1. Anisa 2. Budiono 3. Chotimah 4. Darwati 5. Erina 6. Farid 7. Gatot 8. Hasna 9. Irina 10. Jazuli 11. Kirana Fokus Kesulitan Hasil Evaluasi 2 Skor

Berdasarkan hasil evaluasi di atas, kita melakukan pembelajaran remidi model kedua (pemisahan) terhadap 11 siswa yang belum mencapai standar kompetensi sebagaimana tersebut di atas. Sebelum melaksanakan pembelajaran remidi, kegiatan yang harus kita persiapkan terlebih dahulu adalah menyusun Rencana Pembelajaran Remidi. Contoh garis besar rencana pembelajaran remidi untuk kesebelas siswa tersebut adalah sebagai berikut. Rencana Pembelajaran Remidi Jenjang Pendidikan Bidang Studi Kelas/Semester Alokasi Waktu : : : : Sekolah Dasar Matematika IV/I 2 x 45 menit (1 pertemuan)

Asesmen Pembelajaran di SD

8-25

A. Standar Kompetensi (tetap) B. Kompetensi Dasar (tetap) C. Indikator : 1. Menuliskan proses penjumlahan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat positif 2. Memecahkan masalah yang melibatkan penjumlahan bilangan bulat positif atau negatif D. Materi Pembelajaran : 1. Penjumlahan bilangan bulat positif dan negatif 2. Penjumlahan bilangan bulat negatif dan negatif E. Pengetahuan prasyarat (tetap) F. Media Pembelajaran : Media yang lain tetap, tetapi ada beberapa perbaikan kalimat dan menghilangkan beberapa soal pada LKS 1 dan penyederhanaan pada LKS 2. G. Strategi Pembelajaran : (tetap) H. Metode : (tetap) I. Ringkasan Materi, Soal Latihan, dan Kuis Materi yang disampaikan menekankan pada konsep-konsep yang belum dikuasai secara baik oleh siswa. (tidak mengulang pembelajaran reguler sebelumnya). J. Kegiatan Pembelajaran Sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan sebelumnya (reguler), hanya ada perubahan pada lembar tugas yang dibahas. Mulai dari kesulitan yang dialami siswa (standar kompetensi yang belum dikuasai, gaya belajar siswa, tingkat kemampuan intelektualnya, dan pengetahuan prasyaratnya). Menyelesaikan LKS 1 (yang baru) dan LKS 2 (yang baru). Materi pembelajaran yang disiapkan hendaknya disesuaikan dengan kesulitan siswa dan gaya belajarnya.

8-26

Unit 8

K. Evaluasi Hasil Belajar Evaluasi dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi siswa. Bila standar kompetensi tercapai, pembelajaran dapat dilanjutkan ke topik berikutnya. Bila standar kompetensi belum tercapai, perlu diadakan adaptasi dan/atau perubahan pendekatan dalam pembelajaran. Soal Latihan (tetap) Kuis (tetap)

Latihan
Dengan memahami pengertian pembelajaran remidi, tujuan dan cara melakukan pembelajaran remidi, cobalah memberikan contoh bagaimana Anda melaksanakan pembelajaran remidi untuk mata pelajaran yang Anda ampu. Mulailah dengan memberikan identifikasi kebutuhan siswa (identifikasi kesulitan siswa).

Rangkuman
Pembelajaran remidi bertujuan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui perlakuan pengajaran. Kesulitan-kesulitan yang dialami siswa sehingga mengakibatkan ketidaktuntasan dalam belajar pada umumnya beragam. Kesulitan-kesulitan dimaksud biasanya disebabkan antara lain karena: (1) kemampuan mengingat kurang, (2) kurang dalam memotivasi diri, (3) lemah dalam memecahkan masalah, (4) kurang percaya diri, (5) sulit berkonsentrasi pada belajarnya. Pembelajaran reguler berbeda dengan pembelajaran remidi. Letak perbedaan diantara keduanya adalah pada siswa yang mengikuti pembelajaran dan konsep yang dipilih untuk disampaikan. Pada pembelajaran reguler, semua siswa mengikuti pembelajaran tersebut. Materi yang diajarkan adalah materi/topik bahasan yang tertera pada rencana pembelajaran. Sedangkan pada pembelajaran remidi, siswa yang mengikutinya adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar (belum tuntas belajar). Materi yang disampaikan adalah materi terpilih sesuai hasil analisis kebutuhan siswa. Langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pembelajaran remidi adalah: 1) melakukan analisis kebutuhan, 2) merancang pembelajaran, 3) mengkonstruksi/ menyiapkan perangkat pembelajaran, 4) melaksanakan pembelajaran, 5)

Asesmen Pembelajaran di SD

8-27

melakukan penilaian. Sedangkan beberapa model pembelajaran remidi yang dapat dilakukan adalah: a) Pembelajaran di luar jam pelajaran sekolah, b) pengambilan siswa tertentu, dan c) penggunaan team pengajar.

Tes Formatif 3
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 3. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Jelaskan kapan dan mengapa pembelajaran remidi dilakukan! 2. Apa saja penyebab sehingga para siswa mengalami kesulitan, sehingga 3. mengakibatkan mereka tidak tuntas belajar? 4. Jelaskan perbedaan pembelajaran remidi dengan pembelajaran reguler! 5. Mengapa pembelajaran remidi harus dimulai dari analisis kebutuhan siswa?

Umpan balik dan tindak lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban Anda belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang pembelajaran remidi membantu kita dalam memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas kita.

8-28

Unit 8

Kunci Jawaban
Tes Formatif 1
1. Komponen-komponen rencana pembelajaran : a. Identitas mata pelajaran, b. Standar kompetensi dan kompetensi dasar, c. Indikator hasil belajar, d. Materi pembelajaran, e. Strategi pembelajaran, f. Media pembelajaran, g. Penilaian dan tindak lanjut, h. Kegiatan Pembelajaran yang direncanakan, dan i. Sumber bacaan 2. Kesalahan dan kelemahan yang sering terjadi dalam menyusun rencana pembelajaran : a. Indikator hasil belajar kurang operasional, b. Indikator hasil belajar tidak/kurang sesuai dengan kompetensi dasar, c. Komponen yang satu tak sesuai dengan komponen yang lain, d. Media yang tertulis tak tersedia atau disediakan, e. Ketepatan dalam menentukan kemampuan prasyarat, f. Ketepatan dalam memilih buku siswa, dan g. Keterbacaan lembar kerja siswa (LKS). 3. Keterkaitan antara rencana pembelajaran, proses pembelajaran, dan hasil belajar. Rencana pembelajaran dibuat agar siswa mencapai keberhasilan belajar. Rencana pembelajaran disusun untuk dipedomani oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Tes Formatif 2
1. Langkah-langkah dalam mengidentifikasi optimalisasi proses pembelajaran adalah : a. Identifikasi faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan, b. Mengajukan beberapa alternatif pemecahan yang mungkin, c. Menetapkan pilihan disertai pemberian pertimbangan.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-29

2. Tindak lanjut hasil evaluasi diri adalah rangkaian kegiatan untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran (remidi) atau memantapkan pembelajaran.(pemantapan) berdasarkan hasil evaluasi diri yang telah kita lakukan. Kegiatan dalam tindak lanjut dimulai dari merancang dan mengajukan berbagai alternatif pemecahan berdasarkan faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Selanjutnya adalah melakukan upaya perbaikan (remidi) atas kegagalan yang telah kita lakukan atau memantapkan keberhasilan yang telah kita capai. 3. Alternatif pemecahan adalah beberapa pilihan kegiatan yang dapat memperbaiki kelemahan yang ada. Alternatif terpilih adalah kegiatan yang mungkin dan optimal. 4. Yang dimaksud upaya optimal dalam pembelajaran remidi adalah upaya yang paling mungkin untuk dilaksanakan, ditinjau dari kesiapan siswa, kesiapan kita sebagai guru untuk melaksanakan alternatif itu, kemungkinan dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.

Tes Formatif 3
1). Pembelajaran remidi dilakukan manakala sebagian siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pembelajaran yang tercermin dari hasil evaluasi belajarnya yang tidak tuntas. Pembelajaran remidi dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami para siswa. Ketuntasan belajar perlu dicapai agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam menguasai konsep berikutnya yang terkait secara hirarkhis dengan konsep yang diremidikan. 2). Kesulitan-kesulitan yang biasa dialami siswa disebabkan oleh: a. kemampuan mengingat kurang, b. kurang dalam memotivasi diri, c. lemah dalam memecahkan masalah, d. kurang percaya diri, dan e. sulit berkonstrasi pada belajarnya. 3). Pembelajaran remidi diberikan hanya pada konsep-konsep terpilih (peserta remidi belum menguasai konsep itu), dilaksanakan berdasarkan analisis kebutuhan dan subjeknya adalah siswa yang belum tuntas dalam belajarnya. Sedangkan pada pembelajaran reguler (biasa), konsep yang disampaikan adalah seluruh konsep yang ada dalam materi pembelajaran sesuai RP,

8-30

Unit 8

dilaksanakan berdasarkan rencana pembelajaran yang ada dan sasaran (subjek) pembelajarannya dalah seluruh siswa. 4). Analisis kebutuhan perlu dilakukan untuk menjamin pembelajaran remidi dapat dilaksanakan secara optimal.

Asesmen Pembelajaran di SD

8-31

Daftar Pustaka
Anas Sudiyono. (1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Balitbang Depdiknas. (2006). Model Penilaian Kelas, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD / MI. Jakarta: Puskur, Depdiknas. Balitbang Depdiknas. (2004). Penilaian Berbasis Kelas. Jakarta: Puskur, Depdiknas. David W. Johnson. (2002). Meaningful Assessment A Manageable and Cooperative Process. USA: Allyn and Bacon Headington, Rita. (2000). Monitoring, Assessment, Recording, Reporting and Accountability Meeting the Standards. London: David Pulton. Mariana, Made Alit. (2003). Pembelajaran Remidial. BA-PGB-09. Depdiknas. Winarno, dan R. Eko Djuniarto. (2003). Perencanaan Pembelajaran. BA-PGB. Depdiknas. Kasbolah, Kasihani E.S. dan Sukaryana, I Wayan. (2001). Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru. Malang : Universitas Negeri Malang.

8-32

Unit 8

Glosarium
Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan. Kolaboratif adalah kerjasama dengan orang lain dalam mengerjakan sesuatu. Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik. Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi. Metode : operasionalisasi strategi agar efektif. Remidi : memperbaiki kelemahan. Strategi : cara untuk mencapai tujuan. Sintaks (syntax) : tahap-tahap pembelajaran

Asesmen Pembelajaran di SD

8-33

Unit

9

PELAPORAN HASIL ASESMEN
Estu Widodo
Pendahuluan

K

etika Anda sebagai guru melakukan evaluasi terhadap anak didik, tentunya ada informasi yang dihasilkan dan ditunggu-tunggu oleh banyak pihak yang berkepentingan. Melaporkan hasil belajar merupakan salah satu bentuk tanggung jawab Anda sebagai guru kepada para pemangku kepentingan atau stakeholders untuk memberikan informasi tentang sejauhmana proses belajar berhasil mencapai tujuan yang diidam-idamkan. Oleh karena itulah, begitu informasi mengenai seorang siswa sudah terkumpul hingga akhirnya dianalisis dan diinterpretasi, maka implikasi dari informasi tersebut harus dikomunikasikan. Agar informasi yang disajikan dapat dipahami oleh berbagai pihak dengan baik, ada beberapa hal yang harus diikuti dengan baik khususnya terkait dengan format dan pengguna laporan. Topik-topik di atas akan disajikan dalam 2 Subunit, yaitu: Subunit 1: Jenis dan Model Laporan Hasil Asesmen, dan Subunit 2: Mengkomunikasikan Laporan Hasil Asesmen. Pembahasan topik-topik di atas untuk mencapai indikator agar Anda dapat: 1. menjelaskan jenis dan model laporan asesmen proses dan hasil belajar; 2. menjelaskan pihak-pihak yang menjadi pengguna laporan asesmen; 3. menjelaskan beberapa metode untuk mengkomunikasikan laporan hasil asesmen proses dan hasil belajar. Latihan akan disiapkan baik di tengah uraian ataupun di akhir subunit yang dapat Anda kerjakan. Untuk mengetahui dan mengecek hasil pekerjaan Anda, disediakan rambu-rambu jawaban atau dijabarkan dalam uraian materi. Akan tetapi, diusahakan jangan melihat rambu-rambu jawaban sebelum menyelesaikan soal-soal latihan yang disediakan. Untuk mengetahui keberhasilan belajar Anda, dilaksanakan tes formatif pada akhir subunit dan untuk mengecek hasil jawaban Anda, disediakan
Asesmen Pembelajaran di SD

9-1

kunci jawaban tes formatif di akhir unit ini. Akan tetapi, diupayakan jangan melihat kunci jawaban sebelum Anda menyelesaikan semua soal yang disediakan. Pada unit ini juga disediakan bahan ajar non cetak melalui web yang bisa Anda akses, sedangkan video tidak diperlukan dalam unit ini. Semoga Anda berhasil menyelesaikan Unit 9 ini dengan baik.

9-2

Unit 9

Subunit 1 Jenis dan Model Laporan Hasil Asesmen
Pengantar
audara, tentunya ada sudah sering mendengar istilah manajemen berbasis sekolah. Bahkan sebagian besar dari Anda telah memahami konsep manajemen berbasis sekolah dengan baik. Sekedar mengingatkan, unsur penting dalam manajemen berbasis sekolah adalah partisipasi masyarakat, transparansi dan akuntabilitas publik. Kesadaran yang semakin besar dari berbagai pihak termasuk mereka yang berada di dunia pendidikan untuk menerapkan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip akuntabilitas turut mempengaruhi kebutuhan untuk melaporkan hasil belajar di sekolah. Memang, akuntabilitas memungkinkan pihak-pihak lain mengevaluasi apa yang telah dilakukan oleh pihak sekolah dengan cara menganalisis berbagai hasil asesmen, karena asesmen sendiri merupakan upaya untuk melihat belajar siswa secara lebih dekat (Headington, 2000). Penerapan manajemen berbasis sekolah yang memberikan peran penting terhadap masyarakat terkait dengan dukungan dana dan aspek akademik, juga menjadikan laporan kemajuan hasil belajar sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban lembaga sekolah terhadap orangtua peserta didik, komite sekolah, masyarakat, dan instansi terkait lainnya. Pelaporan (reporting) hasil asesmen sendiri juga merupakan salah satu bagian penting dari proses asesmen terkait dengan upaya proses menginformasikan kepada pihak lain yang berkepentingan mengenai pembelajaran yang telah terjadi atau dilakukan. Pelaporan itu bisa formatif, yakni ketika pelaporan memberikan informasi mengenai pembelajaran yang dapat dikembangkan melalui proses belajar mengajar yang akan dilakukan, atau bisa juga sumatif, ketika pelaporan memberikan informasi mengenai belajar siswa pada saat tertentu. Oleh karena itulah pelaporan hasil belajar siswa bisa dilakukan setiap akhir semester, tiap tengah semester, bulanan, mingguan atau harian. Sementara itu pelaporan bisa dilakukan oleh guru bidang studi, guru wali kelas, dan kepala sekolah. Proses pelaporan sendiri bisa dilakukan secara lisan (oral) maupun tertulis (written), dalam bentuk kata-kata maupun angka. Lalu kapan pelaporan hasil belajar bisa dilakukan? Pelaporan bisa dilakukan pada berbagai kesempatan sesuai dengan

S

Asesmen Pembelajaran di SD

9-3

kesepakatan Anda dengan pihak-pihak yang akan menerima atau kreativitas Anda sendiri untuk merancang kegiatan yang didalamnya ada kegiatan pelaporan hasil belajar siswa. Oleh karena itulah kegiatan pelaporan itu bisa saja dilakukan dalam acara-acara biasa maupun pada saat kenaikan kelas, pameran, atau kegiatan lainnya.

Uraian
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2004), pelaporan hasil belajar peserta didik memiliki sejumlah asas, yaitu: memperkuat motivasi belajar siswa memperkuat daya ingat dan meningkatkan kemampuan transfer hasil belajarnya memperbesar pemahaman siswa terhadap dirinya memberikan umpan balik terhadap keefektifan pembelajaran. 1. Kriteria Pelaporan Laporan hasil belajar disusun untuk memberikan informasi yang bermanfaat mengenai kemampuan peserta didik kepada pihak-pihak tertentu yang berkepentingan agar mereka turut meningkatkan kemampuan peserta didik. Oleh karena itulah Departemen Pendidikan Nasional (2004) menentukan sejumlah kriteria penyusunan laporan hasil belajar yang harus diikuti agar tujuan dari pelaporan itu sendiri bisa tercapai dengan baik, yaitu: a. menggunakan format dan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami. Pelaporan hasil belajar haruslah mudah dibaca, dipahami, dan mudah diterapkan sesuai dengan maksud dan tujuan laporan. Pelaporan juga harus benar-benar komunikatif, artinya sajian laporan yang berupa naratif, tabel, dan grafik benar-benar bisa dipahami dengan mudah oleh si penerima atau pengguna laporan (siswa, orang tua, dan masyarakat luas) dan siapapun yang berkepentingan dengan laporan; Oleh karena itulah bentuk dan format laporan yang akan disampaikan harus disesuaikan dengan pihak-pihak yang akan menerima laporan (dan juga waktu pelaporan. b. berkaitan erat dengan hasil belajar yang ingin dicapai siswa; c. memuat hasil pengolahan data yang konsisten (ajeg); d. menitikberatkan pada hasil yang dicapai siswa;

9-4

Unit 9

e. berisi informasi tingkat pencapaian hasil belajar dalam kaitannya dengan standar kemampuan yang ditetapkan; f. memberikan informasi kemampuan akademik (penguasaan standar kemampuan mata pelajaran), sosial, emosional dan fisik yang dicapai siswa; g. konsisten dengan pelaksanaan penilaian; h. dapat memberikan informasi untuk melakukan diagnostik hasil belajar; i. memberikan informasi yang dapat membantu orang tua untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan kemampuan siswa; j. dapat memberikan informasi kemampuan siswa secara individu maupun kelas dalam mencapai kompetensi dasar; k. menarik dan memuat aspek-aspek yang berguna bagi peningkatan kemampuan siswa. Setelah mempelajari beberapa kriteria laporan penilaian hasil belajar siswa, tentunya Anda semakin menyadari pentingnya memiliki kemampuan menyusun laporan hasil belajar yang baik. Agar pemahaman Anda semakin baik tentang hal tersebut, cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut. Latihan 1

Mengapa bahasa yang digunakan di dalam laporan hasil belajar siswa harus komunikatif dan mudah dipahami?

2. Beberapa Jenis dan Model Laporan Asesmen Proses dan Hasil Belajar Sebelum membahas beberapa jenis dan model laporan asesmen pembelajaran siswa, tentunya Anda sudah tidak asing lagi pada berbagai jenis dan model laporan yang ada di lapangan. Untuk itulah, alangkah baiknya jika Anda mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut. Latihan 2 1.Menurut pengamatan dan pengalaman Anda, seperti apakah bentuk laporan penilaian hasil belajar? 2.Ada berapa macam laporan hasil belajar yang Anda ketahui? 3.Apakah laporan proses dan hasil belajar selalu ditulis dalam bentuk angka?

Asesmen Pembelajaran di SD

9-5

Anda dapat menulis jawaban Anda di buku belajar Anda. Selanjutnya Silakan mengikuti bahasan berikut. Jangan lupa cocokkan jawaban Anda dengan bahasan. Mungkin ada beberapa kesamaan antara jawaban Anda dengan bahasan berikut. Yang jelas, ada sejumlah bentuk laporan yang bisa Anda pilih ketika harus melaporkan hasil asesmen dengan mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Karena pelaporan hasil belajar merupakan tahap akhir dari hasil pengolahan data, maka bentuk pelaporannya pun bisa bermacam-macam. a. Menggunakan Angka Yaitu ketika kita menggunakan angka 1 s.d. 10 atau 1 s.d. 100. Angka memang banyak digunakan didalam melaporkan hasil asesmen belajar peserta didik karena sejumlah pertimbangan. Setidaknya ada lima kelebihan sehingga nilai angka banyak digunakan. Pertama, penggunaan angka cukup mudah dilakukan oleh siapa saja. Kedua, banyak pihak yang meyakini bahwa menginterpretasikan angka cukup mudah. Ketiga, angka dapat meringkas dan merepresentasikan kinerja secara keseluruhan. Keempat, nilai yang ditulis dengan angka lebih bersifat kontinyu dibandingkan dengan nilai yang dituliskan dengan menggunakan huruf. Kelima, nilai angka bisa dipergunakan bersama dengan nilai huruf. b. Menggunakan kategori Dalam hal ini hasil belajar peserta didik dinyatakan dalam bentuk kategori seperti: baik, cukup, kurang atau sudah memahami, cukup memahami, dan kurang memahami. Ada beberapa kelebihan sehingga beberapa pihak terkadang menggunakan kategori. Salah satu pertimbangannya adalah dampak dari kategori tidak terlalu buruk bagi siswa yang duduk di tahun-tahun awal jika dibandingkan dengan nilai angka, terutama jika hasil belajar mereka kurang sesuai dengan harapan. Namun demikian, cara ini juga mengandung kelemahan. Salah satu kelemahan yang cukup menonjol adalah bahwa kategori tidak mengkomunikasikan cukup informasi mengenai kinerja siswa bagi pihak lain untuk menilai kemajuan yang telah dicapai. c. Menggunakan Narasi Laporan naratif memuat secara rinci apa yang telah dipelajari oleh seorang siswa termasuk usaha yang telah dilakukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Diharapkan laporan naratif ini bisa mengatasi atau menutupi kekurangan yang ada pada nilai dalam bentuk huruf, mengingat nilai dalam bentuk huruf cenderung
9-6
Unit 9

menyederhanakan informasi yang sangat banyak menjadi sebuah simbol. Di samping itu, laporan naratif juga memungkinkan guru memasukkan berbagai informasi yang bersifat unik mengenai proses yang dilakukan seorang siswa atau sesuatu yang unik yang dilakukan oleh seorang guru. Kedua hal yang disebutkan terakhir itu rasanya tidak akan muncul pada bentuk laporan yang standardized (Power & Chandler, 1998). Kelebihan laporan naratif yang lain adalah terkait dengan konsep pemberian deskripsi yang komprehensif mengenai belajar dan perkembangan peserta didik. Dalam laporan naratif aspek ini mendapat tempat yang cukup istimewa. Oleh karena itu jika laporan naratif ini digarap dengan sangat baik, berbagai deskripsi yang tertulis disana akan sangat berarti bagi para orang tua dan peserta didik sendiri dibandingkan dengan ringkasan singkat seperti nilai. Namun demikian, laporan naratif juga memiliki sejumlah keterbatasan, terutama jika laporan tidak ditulis dengan baik dan mengabaikan aspek-aspek yang sensitif. Harus diakui memang tidak mudah bagi guru untuk menulis sebuah laporan naratif mengenai seorang siswa. Hal-hal yang sensitif itu biasanya terjadi manakala seorang guru harus menggambarkan kemampuan atau sikap siswa yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penulis laporan harus pandai-pandai memilih kata atau istilah yang tepat untuk menggambarkan kelemahan siswa sehingga apa yang disampaikan justru menjadi pendorong bagi siswa untuk berprestasi, bukan sebaliknya. Harus selalu diingat oleh semua pihak bahwa tujuan asesmen pada hakekatnya adalah melakukan perbaikan terkait dengan belajar siswa. Contoh laporan naratif: Penilaian hasil karya tulis siswa (tugas kliping pelajaran Sains) Gambar-gambar yang Anda kumpulkan sangat menarik karena selain berwarna warni juga bisa memperjelas fenomena alam yang terjadi di sekitar kita. Akan tetapi penjelasan dari beberapa gambar kurang bisa dipahami. Pada gambar 5, misalnya, seharusnya dijelaskan bahwa gambar tersebut menggambarkan fenomena alam tsunami dan dampak yang ditimbulkannya. Akan tetapi, secara umum saya sangat senang membaca kliping Anda. Selamat, dan teruslah berlatih.

Asesmen Pembelajaran di SD

9-7

Laporan Naratif yang Dimodifikasi Sebagaimana dijelaskan pada beberapa bagian pada buku ini, laporan naratif yang dibuat rinci dan bermakna memakan sangat banyak waktu bagi guru untuk mempersiapkannya. Berangkat dari kenyataan tersebut, Anda bisa memodifikasi proses pelaporan, salah satunya adalah dengan cara mengkombinasikan prosedur checklist atau rating scale dengan komentar tertulis yang singkat mengenai masingmasing peserta didik. d. Menggunakan Kombinasi seperti Angka, Kategori, dan Uraian atau Narasi Mengkombinasikan angka, kategori, dan uraian atau narasi cukup bagus karena bersifat saling melengkapi dan membuat laporan lebih jelas dan komprehensif. Kelemahan yang dimiliki angka, bisa ditutupi dengan kelebihan yang ada pada kategori dan uraian. Kelemahan yang ada pada narasi pun bisa diatasi dengan adanya angka dan kategori. e. Menggunakan Grafik Anda juga dapat menggunakan histogram untuk menampilkan skor nilai ujian harian. Anda bisa melakukan hal ini pada akhir semester. Angka-angka yang berada pada garis vertikal (lihat gambar), yaitu Frequency of scores (1, 2, 3, 4, dst.), memperlihatkan skor tertinggi yang pernah dicapai siswa. Sementara angka-angka yang berada pada garis horisontal menunjukkan ujian harian siswa. Dengan demikian, histogram tersebut bisa memperlihatkan pokok bahasan yang telah dikuasai siswa, dan pokok bahasan yang kurang dikuasai siswa. Di samping menggunakan angka, kategori, grafik, narasi, dll. sebagaimana tersebut di atas ada beberapa alternatif (lihat tabel 10.1) yang bisa Anda pilih yang menurut Anda lebih efektif dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi di lembaga tempat Anda bekerja. Histogram Selain histogram, ada juga bentuk pelaporan lain grafik radar juga bisa digunakan untuk melaporkan hasil belajar peserta didik terutama terkait kelemahan dan sekaligus kelebihan peserta

9-8

Unit 9

didik, tanpa melakukan penggabungan. Contoh bentuk laporan hasil belajar yang menonjolkan masing-masing aspek tanpa penggabungan nilai
Gambaran kondite 1 1. Keadaan motivasi belajar siswa 2. Bakat dan minat 3. Posisi anak dalam sosiogram 4. Budi pekerti (akhlak) 5. Prestasi siswa 2 Skor 3 X X X X 4 X 5

Sumber: Depdiknas (2004). Pada hakekatnya, seorang guru boleh saja berkreasi dalam menyajikan hasil belajar peserta didik dalam sebuah laporan. Bentuk laporan di atas misalnya, bisa merupakan kreativitas guru ketika dihadapkan pada situasi yang dilematis, yaitu ketika seorang anak disatu sisi memiliki informasi yang baik dan menyenangkan sementara di sisi lain dia juga mempunyai infomasi yang tidak menyenangkan atau memuaskan bagi orang-orang yang menerima ataua membacanya. Terlebih lagi, pada contoh di atas, tidak semua aspek saling berkaitan namun perlu untuk dilaporkan sehingga tidak perlu digabungkan. 1. Laporan Hasil Belajar Siswa oleh Guru Mata Pelajaran Sebelum melakukan pembahasan lebih jauh mengenai laporan hasil belajar siswa, ada baiknya Anda mencoba beberapa pertanyaan sebagai berikut.

Latihan 3

1. Apa keuntungan yang diperoleh orang tua siswa ketika memperoleh laporan hasil belajar yang diberikan oleh pihak sekolah? 2. Sebutkan beberapa fungsi laporan hasil belajar siswa bagi guru!

Sebagaimana telah Anda ketahui, orang tua sangat berkepentingan dengan laporan hasil belajar agar bisa mensikapi dan mengambil tindakan lebih lanjut terkait dengan apa yang terjadi dengan prestasi putra-putri mereka di sekolah. Oleh karena

Asesmen Pembelajaran di SD

9-9

itulah berbagai bentuk laporan yang ada harus menjamin orang tua peserta didik untuk mengetahui dan memahami sejauh mana putra-putri mereka telah menguasai kompetensi mata pelajaran di sekolah. Untuk itu para peserta didik pun harus bisa membaca dan memahami laporan hasil belajar mereka. Laporan hasil belajar siswa yang dibuat oleh guru mata pelajaran itu mempunyai sejumlah fungsi sebagai berikut. • • • • • • mempertimbangkan tingkat kompetensi siswa dalam mata pelajaran. mempertimbangkan pelaksanaan diagnostik kesulitan belajar siswa. pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan. sebagai sumber untuk wali kelas dalam kepentingan kenaikan kelas. melihat tingkat kemampuan siswa dalam kelasnya. sumber informasi bagi orang tua tentang perkembangan dan kemampuan anaknya (Depdiknas, 2006). tingkat

Lebih jauh, Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan sejumlah alternatif format laporan hasil belajar siswa yang lazim dibuat oleh guru: FORMAT 1 Format Laporan Prestasi Siswa dalam Mata Pelajaran
Nama Siswa Kelas Semester Mata pelajaran Sekolah Tahun Pelajaran : ………………………. : ………………………. : ………………..……… : ………………….…… : ……………….…….... : …………………….....
Nilai No 1 2 3 4 5 Dst Kompetensi Dasar A ≥ 75 B < 75 Deskripsi*)

............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ............................ Catatan: *) Indikator pencapaian kompetensi yang belum dicapai siswa **) Diisi oleh guru berkaitan dengan hal yang perlu mendapat perhatian khusus siswa/orang tua.

9-10

Unit 9

Dari format tersebut, diharapkan guru dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, sementara orang tua disisi lain juga dapat melihat apa yang telah dicapai putra-putrinya untuk turut membantu meningkatkan prestasi yang telah diraih.

FORMAT 2 Rekap Prestasi Siswa Dalam Mata Pelajaran
Mata Pelajaran : Semester/kelas : Sekolah : No Nama Siswa 1 2 3 Kompetensi dasar*) 4 5 6 7 8 9 Ket.

Keterangan *) jumlah kolom kompetensi dasar disesuaikan dengan kompetensi dasar setiap mata pelajaran, artinya setiap mata pelajaran akan berbeda. ............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ...........................................

Dengan menggunakan format 2 seperti di atas, guru atau siapapun bisa mengetahui posisi kemampuan siswa dalam kelas dengan mudah:

FORMAT 3 Laporan Perkembangan Kemajuan Hasil Belajar dari Ulangan Harian
Mata pelajaran Kelas Semester Sekolah No. : ………………………. :………………………. :……………………….. :…………………..…… Ke 1 Nilai ulangan harian Ke 2 Ke 3 Ke 4 Rata-rata Deskripsi

Nama siswa

Asesmen Pembelajaran di SD

9-11

............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ...........................................

FORMAT 4 Laporan Perkembangan Kemajuan Hasil Belajar dari Portofolio
Mata pelajaran Kelas Semester Sekolah No. : ………………………. :………………………. :……………………….. :…………………..…… Ke 1 Nilai portofolio Ke 2 Ke 3 Ke 4 Ratarata Deskripsi

Nama siswa

............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ..............................

FORMAT 5 Laporan Perkembangan Kemajuan Hasil Belajar dari praktik/proyek
Mata pelajaran Kelas Semester Sekolah No. : ………………………. :………………………. :……………………….. :…………………..…… Ke 1 Nilai praktik proyek Ke 2 Ke 3 Ke 4 Ratarata Deskripsi

Nama siswa

9-12

Unit 9

............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ...........................................

Format 3, 4, dan 5 di atas menyajikan perkembangan kemajuan hasil belajar dalam mata pelajaran, dengan memuat hasil dari setiap kegiatan ulangan harian, mengerjakan tugas/portofolio, dan praktik/proyek yang sudah dilakukan siswa. Data yang diperoleh berdasarkan hasil ulangan harian dan tugas portofolio dapat dimasukkan dalam kemampuan aspek kognitif, sedangkan data yang diperoleh dari praktik dan proyek dapat dimasukkan pada aspek psikomotor. FORMAT 6 Rekap Perkembangan Kemajuan Hasil Belajar Dalam Mata Pelajaran
Mata Pelajaran : Semester/ Kelas : Sekolah : Aspek yang dinilai Ulangan harian Tugas \portofolio Praktik \proyek Rata-rata No Nama Siswa Deskripsi

1 2 3 4 5 Dst ............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ...........................................

FORMAT 7 Laporan Hasil Kegiatan Pengayaan
Mata pelajaran : ………………………. Kelas :………………………. Semester :………………………. Sekolah :………………………. Kompetensi Dasar : ........................................ No Nama Nilai Pengayaan Deskripsi

Asesmen Pembelajaran di SD

9-13

Siswa 1 2 3 Dst

sebelum

Setelah Pengayaan 1

Setelah Pengayaan 2

............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran ..............................

FORMAT 8
Laporan Hasil Kegiatan Perbaikan
Mata pelajaran : ………………………. Kelas : ………………………. Semester : ………………………. Sekolah : ………………………. Kompetensi Dasar: ..................................... Nama Siswa Sebelum Perbaikan Nilai Perbaikan Sesudah Sesudah Perbaikan 1 Perbaikan 2

No 1 2 3 4 5 Dst

Deskripsi

............................, tahun............ Guru Mata Pelajaran

..................................

Laporan dengan format 7 dan format 8 di atas menyajikan informasi mengenai peningkatan kemampuan siswa setelah dilakukan kegiatan pengayaan atau perbaikan. Setelah mengikuti kegiatan pengayaan maupun remedial, kemampuan siswa diharapkan meningkat. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa agar lebih giat dan optimal dalam belajar sehingga siswa akan memperoleh hasil belajar yang tuntas sesuai dengan potensinya masing-masing. Oleh karena itulah para siswa yang mengikuti kegiatan pengayaan atau perbaikan perlu melihat dan memahami laporan ini agar mereka bisa melihat tingkat perkembangan hasil perbaikan atau pengayaan.

9-14

Unit 9

FORMAT 9 Format Laporan Aktivitas dan Potensi Siswa (Dalam Kegiatan Pembinaan)
Kelas Mata Pelajaran Semester Sekolah : ……..………………………….. :……..………………………….. :………………………………… :…………………………………

No. 1. 2. 3 4 5 Dst

Nama siswa

Sosial 4 3 2 1

Nilai Aktivitas Emosional 4 3 2 1 4

Fisik 3 2

Deskripsi 1

Keterangan : 4 : sangat baik, 3 : Baik, 2 : Cukup, 1 Kurang. ....................2007 Guru Mata Pelajaran ...............................

Format 9 di atas digunakan ketika Anda sebagai guru hendak membuat laporan hasil belajar siswa yang memuat informasi terkait dengan kepribadian secara umum dalam aspek sosial, emosional dan aktivitas fisik yang dibuat oleh guru mata pelajaran dalam kegiatan pembiasaan. Yang termasuk di dalam aspek sosial misalnya kemampuan kerjasama, berinteraksi dengan orang lain, gotong royong dan lain-lain. Yang ternasuk di dalam aspek emosional misalnya tenang menghadapi masalah, tekun, disiplin, dan lain-lain. Sementara aspek aktivitas fisik contohnya adalah tampil gesit, cekatan, terampil, dan lain-lain. Dalam format tersebut guru cukup membubuhkan tanda silang dalam kolom nilai yang sudah disediakan. Cara pengisiannya hanya memberikan tanda centang (V) pada masing-masing aktivitas (emosional, fisik dan sosial) dalam kolom yang telah disediakan. 4. Laporan Hasil Belajar Siswa oleh Wali Kelas Tidak seperti laporan yang dibuat oleh guru mata pelajaran, laporan hasil belajar siswa yang dibuat oleh wali kelas lebih menekankan pada ketercapaian

Asesmen Pembelajaran di SD

9-15

siswa dalam kemampuan yang ditetapkan dari seluruh mata pelajaran yang telah ditempuh siswa. Oleh karena itu laporan tersebut merupakan hasil belajar yang bersifat akademik (raport) serta hasil belajar non akademik yang berbentuk kualitatif. Karena laporan jenis ini merupakan laporan hasil belajar komulatif, maka dalam membuatnya wali kelas menggunakan laporan setiap guru mata pelajaran sebagai sumbernya (Lihat Format 10).

FORMAT 10 RAPOR HASIL BELAJAR SISWA Nama Sekolah : ……………………………………..Kelas : V Alamat : ……………………………………. Semester Ke : 1 ( satu) Nama Siswa : ……………………………………. Tahun Pelajaran : 2006/2007 Nomor Induk : …………………………………………….
No.
1.

Mata Pelajaran
Pendidikan Agama

Aspek Penilaian
Penguasaan Konsep dan nilainilai Penerapan Penguasaan Konsep dan nilainilai Penerapan Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis

Angka

Nilai Huruf

Catatan Guru

2.

Pendidikan Kewarganegaraan

3.

Bahasa Indonesia

4.

Matematika

Pemahaman Konsep Penalaran dan Komunikasi Pemecahan masalah Pemahaman dan penerapan konsep Kinerja Ilmiah Penguasaan Konsep Penerapan

5.

Ilmu Pengetahuan Alam

6

Ilmu Pengetahuan Sosial

9-16

Unit 9

No.
7 8

Mata Pelajaran
Seni Budaya dan Keterampilan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Aspek Penilaian
Apresiasi Kreasi Kemampuan gerak dasar Keterampilan cabang olahraga Kebugaran dan kesehatan Pilihan: Akuatik/Pend.Luar Sekolah

Angka

Nilai Huruf

Catatan Guru

9.

Muatan Lokal………

PERILAKU .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. PENGEMBANGAN DIRI .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. .................................................................................................. ..................................................................................................

Asesmen Pembelajaran di SD

9-17

Ketidakhadiran 1. Sakit 2. Izin 3. Tanpa Keterangan
Mengetahui Orang Tua/Wali

Hari

Diberikan di: Jakarta Tanggal : ................................... Wali Kelas

( …………………………)

( …………………………)

Fisik

LAPORAN HASIL BELAJAR SEMUA SISWA DALAM SELURUH MATA PELAJARAN KELAS ....... TAHUN AJARAN .......

Praktek Muatan Lokal Keterampilan/ Teknologi Informasi dan Komunikasi Pengetahuan Praktek Pengetahuan Pilihan ….. Pendidikan Jasmani Uji diri dan Senam Pengembangan Permainan & Olah Raga Kesenian Pengetahuan Sosial Pengetahuan Alam Kreasi Apresiasi Keterampilan Sosial Penguasaan Konsep Keterampilan Sains Penguasaan Konsep Peluang & Statistik Geometri & Pengukuran Matematika Aljabar Bilangan Menulis Bhs. Inggris Membaca Berbicara Mendengarkan Apresiasi Sastra Bhs. dan Sastra Indonesia Menulis Membaca Berbicara Mendengarkan Pend. Kewarga negaraan Pendi. Agama Praktek Penguasaan Konsep Praktek Pengetahuan Rata-Rata

Wali Kelas,

Sosial

…………….…, 2007

Emosional

FORMAT 11

Nama Siswa No Dst

1

2

3

4

5

6

7

9-18

Unit 9

8

…………………………..

Kepala Sekolah

Mengetahui,

…………………………..

Kegiatan Pembiasaan

Format 11 di atas digunakan ketika wali kelas hendak melaporkan hasil belajar seluruh siswa untuk semua mata pelajaran, bersumber dari nilai mata pelajaran yang diberikan masing-masing guru pelajaran. Namun yang perlu Anda ingat adalah bahwa laporan ini dibuat oleh wali kelas tidak untuk diperlihatkan pada siswa maupun pada orang tua siswa. Laporan ini berfungsi memberikan informasi mengenai kemampuan siswa secara menyeluruh dari mata pelajaran maupun seluruh siswa. Laporan ini biasanya digunakan oleh guru/petugas pembimbing atau wali kelas sebagai dasar untuk memberikan bimbingan pada siswa tertentu. Selain itu laporan ini juga bisa dijadikan laporan perkembangan hasil belajar siswa oleh wali kelas kepada pihak atasan. FORMAT 12 Format Laporan Aktivitas Sosial
Kelas Semester Sekolah : ……………………………….. : ………………………………… : ………………………………… Nilai aktivitas sosial dalam mata pelajaran 1 2 3 4 5 6 7 8*) 4 3 2 3 3 2 4 2 Ket/Catatan

No.

Siswa

1. Fatin 2. 3. 4. 5. dst Keterangan : *) mata pelajaran 1 sains, 2 IPS, 3 Agama, 4 Bahasa Indonesia, 5 bahasa Inggris, 6 Matematika, 7 KTK, 8 Kesenian. ...................2007 Wali kelas

......................

Asesmen Pembelajaran di SD

9-19

FORMAT 13 Format Laporan Aktivitas Emosional
Kelas Semester Sekolah : ……………………………….. : ………………………………… : ………………………………… Nilai aktivitas emosional dalam mata pelajaran 1 2 3 4 5 6 7 8*) 3 3 3 2 3 2 3 2 Ket/Catatan

No. 1. 2. 3 4 5 dst Ophik

Siswa

Keterangan : *) mata pelajaran 1 Sains, 2 IPS, 3 Agama, 4 Bahasa Indonesia, 5 Bahasa Ingris, 6 Matematika, 7 KTK, 8 Kesenian. ...................2007 Wali kelas

.................. FORMAT 14 Format Laporan Aktivitas Fisik Kelas Semester Sekolah : ……………………………….. : ………………………………… : ………………………………… Nilai aktivitas fisik dalam mata pelajaran 1 2 3 4 5 6 7 8*) 2 2 2 2 2 3 3 3 Ket/Catatan

No. 1. 2. 3 4 5 dst

Siswa Ahmad

Keterangan : *) mata pelajaran 1 Sains, 2 IPS, 3 Agama, 4 Bahasa Indonesia, 5 Bahasa Ingris, 6 Matematika, 7 KTK, 8 Kesenian. ...................2007 Wali kelas ......................

9-20

Unit 9

Format 12, 13, dan 14 di atas digunakan ketika wali kelas hendak membuat laporan mengenai aktivitas dan potensi siswa. Dalam laporan ini wali kelas dapat menyajikan informasi tentang kepribadian secara umum dalam: • aspek sosial (kemampuan kerjasama, berinteraksi dengan orang lain, gotong royong dll.) • aspek emosional (tenang menghadapi masalah, tekun disiplin, dll) • aktivitas fisik (tampil gesit, cekatan, trampil, dll.). Untuk memperkaya laporan ini, wali kelas bisa menggunakan berbagai informasi yang bersumber dari guru-guru mata pelajaran. Oleh karena itu wali kelas juga bisa merekap laporan dari guru setiap mata pelajaran (seperti pada format 9), selanjutnya diolah dan dirata-ratakan.

FORMAT 15 Contoh laporan dalam bentuk tabel Penilaian hasil karya keterampilan:
Aspek penilaian Tujuan dan manfaat barang Penggunaan bahan Teknik kerja Kerapihan Jumlah Rata-rata Nilai 6,5 7,8 8,0 6,5 28,8 7,2

Asesmen Pembelajaran di SD

9-21

Rangkuman
Kesadaran yang semakin besar dari berbagai pihak untuk menerapkan dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip akuntabilitas turut mempengaruhi kebutuhan untuk melaporkan proses dan hasil belajar di sekolah. Memang, akuntabilitas memungkinkan pihak-pihak lain mengevaluasi apa yang telah dilakukan oleh pihak sekolah dengan cara menganalisis berbagai hasil asesmen. Pelaporan itu bisa formatif, yakni ketika pelaporan memberikan informasi mengenai pembelajaran yang dapat dikembangkan melalui proses belajar mengajar yang akan dilakukan, atau bisa juga sumatif, ketika pelaporan memberikan informasi mengenai belajar siswa pada saat tertentu. Oleh karena itulah pelaporan hasil belajar siswa bisa dilakukan setiap akhir semester, tiap tengah semester, bulanan, mingguan atau harian. Sementara itu pelaporan bisa dilakukan oleh guru bidang studi, guru wali kelas, dan kepala sekolah. Proses pelaporan sendiri bisa dilakukan secara lisan (oral) maupun tertulis (written), dalam bentuk kata-kata maupun angka. Pelaporan bisa dilakukan pada berbagai kesempatan sesuai dengan kesepakatan Anda dengan pihak-pihak yang akan menerima atau kreativitas Anda sendiri untuk merancang kegiatan yang di dalamnya ada kegiatan pelaporan hasil belajar siswa. Oleh karena itulah kegiatan pelaporan itu bisa saja dilakukan dalam acara-acara biasa maupun pada saat kenaikan kelas, pameran, atau kegiatan lainnya.

9-22

Unit 9

Tes Formatif
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 1. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Apakah salah satu manfaat laporan hasil belajar bagi para orang tua siswa? 2. Bolehkah seorang guru membuat laporan hasil belajar siswa dengan mengkombinasikan angka, kategori, dan narasi? Jelaskan! 3. Buatlah contoh laporan hasil belajar dalam bentuk uraian atau narasi!

Umpan balik dan tindak lanjut
Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban Anda belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang rencana pembelajaran dan cara memperbaikinya penting artinya bagi peningkatan keterampilan kita dalam membuat perencanaan dan sekaligus pelaksanaannya.

Asesmen Pembelajaran di SD

9-23

Subunit 2 Mengkomunikasikan Laporan Hasil Asesmen
Pengantar

S

eperti telah Anda ketahui, laporan hasil asesmen proses dan hasil belajar sangat penting artinya bagi pihak-pihak tertentu karena akan dijadikan dasar

untuk membuat keputusan dan kebijakan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itulah, Anda harus benar-benar memahami dan mampu mengidentifikasi pihak-pihak mana saja yang merupakan pengguna laporan hasil asesmen. Yang tidak kalah pentingnya pula adalah bagaimana mengkomunikasikan laporan hasil asesmen kepada para pengguna tersebut dengan baik sehingga tujuan mulia diadakannya asesmen pembelajaran peserta didik bisa tercapai. Terlebih pada era sekarang ini dimana semakin banyak orang yang memiliki kesadaran mengenai pentingnya akuntabilitas di dunia pendidikan, sosialisasi hasil asesmen niscaya akan didukung oleh banyak pihak. Sebab semakin banyak pihak, terutama orang tua, yang dapat memperoleh informasi terkini terkait dengan perkembangan dan pengalaman belajar putra-putrinya.

Uraian
Tentunya Anda sudah memahami berbagai bentuk laporan penilaian proses dan hasil belajar. Jika demikian, coba kerjakan latihan berikut

Latihan 4.
Setelah mengetahui berbagai bentuk laporan asesmen, siapa sajakah yang seharusnya menerima laporan tersebut? 1.Mengapa mereka berkepentingan untuk mengetahui informasi yang terdapat di dalam laporan?

9-24

Unit 9

1. Pengguna Laporan Hasil Asesmen Proses dan Hasil belajar Kepada siapakah pihak sekolah melaporkan hasil asesmen? Ada tiga pihak utama yang merupakan pengguna laporan hasil asesmen pembelajaran. Yang pertama dan paling sering adalah peserta didik sendiri. Melaporkan hasil asesmen kepada peserta didik harus berlangsung setiap hari, baik secara lisan maupun tertulis. Dalam hal ini Anda sebagai guru harus melaporkan kemajuan, kelebihan dan kekurangan mereka disertai dengan penjelasan langkah-langkah yang harus diambil pada tahap berikutnya di dalam proses belajar. Oleh karena itulah dikatakan bahwa melaporkan hasil asesmen kepada peserta didik adalah yang paling utama di dalam proses asesmen formatif (Headington, 2000). Pihak pengguna laporan kedua adalah orang tua. Para orang tua perlu mengetahui bagaimana putra-putri mereka mengalami perkembangan di sekolah. Memang merupakan hak orang tua yang telah mengirim putra-putrinya ke suatu sekolah untuk meyakini bahwa sekolah yang dipilihnya benar-benar mendidik mereka. Telah diakui oleh semua pihak bahwa rumah dan sekolah sama-sama membuat anak-anak berkembang. Oleh karena itulah jika para orang tua dan guru memahami bagaimana anak bertindak dan melakukan reaksi dalam berbagai konteks yang berbeda, maka kedua pihak dapat secara bersama-sama mendukung perkembangan mereka. Pihak pengguna ketiga adalah para profesional lainnya (masyarakat luas). Mereka bisa seorang peneliti maupun seorang psikolog yang ingin mengetahui banyak hal terkait dengan pembelajaran ataupun penilaian. Atau bisa jadi guruguru dari sekolah lain yang ingin belajar atau melakukan studi banding dalam rangka mengembangkan belajar siswa di lingkungan mereka. Oleh karena itu, semakin tinggi kedudukan pelapor, semakin umum pula bentuk dan format laporan asesmen. Ketiga pihak tadi sama-sama membutuhkan informasi guru yang diperoleh melalui proses asesmen, bukan pandangan-pandangan pribadi ataupun spekulasi. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada para stakeholders, maka proses asesmen sendiri juga harus memberi peluang terjadinya proses komunikasi dengan para orang tua dan pihak-pihak lain di dalam upaya pembelajaran yang dapat membuat mereka mendukung pembelajaran. Terkait dengan komunikasi dengan orang tua, kesadaran akan pentingnya komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua peserta didik itu sendiri berangkat dari tiga keyakinan: a. Para orang tua memiliki hak untuk mengetahui apa yang berlangsung di sekolah tempat putra-putri mereka belajar.

Asesmen Pembelajaran di SD

9-25

b. Pengetahuan yang diperoleh dari laporan akan menciptakan hubungan yang baik antara orang tua dan guru. c. Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru akan menghasilkan perbaikan-perbaikan dalam belajar dan sikap (Gibson, 1986 dalam Conner, 1991). 2. Mempersiapkan Laporan Secara umum, beberapa hal yang perlu Anda lakukan ketika mempersiapkan pembuatan laporan asesmen adalah: a. Menentukan pihak yang akan menerima laporan tersebut. Pihak-pihak yang bisa menerima laporan tersebut adalah siswa, orang tua, dewan sekolah, atau pun masyarakat. b. Menentukan bagaimana hasil berbagai asesmen akan membantu sekolah memperbaiki proses belajar mengajar. c. Mengetahui kenapa hasil asesmen perlu dilaporkan. Pernyataan berupa rasionalisasi dalam hal ini cukup penting untuk dilakukan. d. Mengetahui dengan jelas informasi apa yang akan dikomunikasikan, untuk tujuan apa, dan menggunakan teknik pelaporan apa. Yang perlu Anda ingat, penggunaan berbagai strategi akan menjadikan pelaporan menjadi lebih efektif (Roeber et al., 1980). Terkait dengan bentuk-bentuk penyajian laporan hasil asesmen, ada beberapa pilihan yang harus dipertimbangkan pada saat Anda mempersiapkan laporan: a. Laporan bisa diberikan kepada seseorang secara langsung, secara tertulis, atau gabungan keduanya. b. Laporan bisa disajikan dalam bentuk teks, grafik, atau gabungan keduanya. c. Laporan bisa panjang dan rinci, atau ringkas dan jelas. 3. Beberapa Metode Alternatif untuk Mengkomunikasikan Laporan Hasil Asesmen Seperti yang telah Anda pelajari sebelumnya, ada pihak-pihak yang berhak untuk mengetahui dan membaca hasil asesmen pembelajaran peserta didik. Mereka itu merupakan pengguna laporan hasil asesmen yang akan menindaklanjuti hasil yang telah dilaporkan itu dengan berbagai langkah. Oleh karena itu dalam mengkomunikasikan laporan itu Anda harus benar-benar mampu

9-26

Unit 9

memilih strategi dan media yang tepat agar semua informasi yang ada di dalam laporan bisa dipahami dengan baik oleh siapa saja yang membutuhkan. a. Menggunakan Kartu Laporan (Report Card) Untuk jangka waktu yang cukup lama, kartu atau lembar laporan telah menjadi media utama untuk mensosialisasikan informasi hasil asesmen dan evaluasi oleh pihak sekolah kepada murid dan orang tua. Sayangnya kartu laporan yang telah lama dipakai banyak mendapat kritik, salah satunya adalah sulitnya membuat laporan dan kecenderungan komunikasi antara orang tua dan guru yang hanya satu arah, sehingga membuat banyak pihak berpikir tentang cara lain mengkomunikasikan hasil asesmen dan evaluasi terhadap peserta didik. b. Konferensi Guru-Orang Tua Sebagaimana report card konferensi orang tua-guru juga telah lama dijadikan sarana untuk mengkomunikasikan hasil asesmen oleh pihak sekolah kepada para orang tua peserta didik. Bahkan berdasarkan hasil sejumlah penelitian, para orang tua melaporkan bahwa konferensi orang tua guru dapat memberikan jauh lebih banyak informasi mengenai putra-putri mereka dan kemajuan putra-putri mereka dibandingkan dengan report card (Shephard & Bleim, 1995; Waltman & Friesbie, 1994, dalam Anderson, 2003) Yang juga sangat penting adalah bahwa kegiatan yang berupaya mempertemukan orang tua peserta didik dengan guru ini merupakan salah satu cara terbaik membangun hubungan yang kuat dengan orang tua, dalam rangka memberikan pemahaman mengenai putra-putri mereka dalam mengembangkan kelebihan yang dimiliki dan memenuhi apa yang mereka butuhkan. Metode ini juga membantu orang tua terlibat di dalam proses belajar anak. Namun upaya menyelenggarakan kegiatan semacam ini sehingga bisa berjalan dengan sukses tidaklah semudah yang dibayangkan. Anda harus melakukannya dengan sangat cermat. Berikut ini adalah beberapa langkah atau tahapan yang perlu dilakukan sebelum, pada saat, dan setelah pertemuan dilaksanakan agar semuanya bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. c. Newsletter (nawala) dan Web Site Berbagai macam informasi mengenai tugas asesmen, instrumen asesmen, dan hasil asesmen dapat disajikan di dalam newsletter dan web site. Misalnya saja, beberapa tugas asesmen sebagai sampel dapat dimunculkan secara teratur untuk memberikan gambaran konkrit apa yang menjadi harapan guru terhadap peserta

Asesmen Pembelajaran di SD

9-27

didik terkait dengan belajar mereka. Yang tak kalah pentingnya adalah upaya mengkomunikasikan tanggal-tanggal dilaksanakannya asesmen atau ujian yang dilaksanakan secara formal yang tentunya akan sangat bermanfaat baik untuk peserta didik maupun untuk orang tua. Disamping itu kita juga memperoleh informasi yang dapat membantu para orang tua (dan pihak-pihak lain) menginterpretasi hasil asesmen yang dilaksanakan secara formal termasuk melakukan tanya jawab dimana ada kolom bagi para orang tua untuk mengirimkan pertanyaan. 4. Langkah-langkah Melaporkan Hasil Asesmen Seperti telah kita ketahui bersama, terdapat banyak metode yang dapat dipergunakan untuk melaporkan kemajuan peserta didik kepada peserta didik sendiri maupun kepada para orang tua. Proses mengkomunikasikan hasil evaluasi ini tidak boleh dianggap remeh, bahkan merupakan komponen yang sangat mendasar dari sebuah model evaluasi yang baik. Bagaimana kita melaporkan hasil asesmen kepada berbagai pihak yang berbeda? Berikut ini akan kita lihat langkahlangkah melaporkan hasil asesmen kepada siswa, orang tua, dewan sekolah, dan masyarakat. a. Melaporkan hasil asesmen kepada siswa Ketika melaporkan hasil asesmen kepada siswa, Anda bisa menggunakan proses dengan dua langkah: Langkah pertama adalah melakukan briefing yang diberikan kepada seluruh kelompok siswa yang menerima hasil laporan asesmen secara individu. Langkah kedua adalah dengan melakukan pertemuan dengan siswa secara individu. b. Melaporkan Hasil Asesmen kepada Orang Tua Para orang tua tentunya ingin tahu perkembangan belajar putra-putri mereka dari waktu ke waktu dan bagaimana anak-anak mereka melakukan berbagai kegiatan di sekolah, sehingga informasi mengenai asesmen yang dihimpun oleh sekolah sangat menarik bagi mereka. Para orang tua juga ingin mengetahui apa yang dilakukan sekolah dimana anak mereka belajar dan membandingkannya dengan sekolah lain. Sebagai guru yang baik, Anda juga harus merasa senang dan terpanggil untuk bersikap terbuka dan membuat kesepakatan untuk bertemu dengan para orang tua guna membahas berbagai hal yang terjadi di sekolah terkait dengan

9-28

Unit 9

anak-anak mereka, termasuk kemajuan dan kesulitan belajar yang dihadapi anakanak mereka di kelas. Ada empat strategi yang bisa Anda lakukan dalam melaporkan hasil asesmen kepada orang tua, yaitu: (1) menyelenggarakan pertemuan antara guru dengan orang tua secara individu. (2) membuat laporan tertulis yang dibuat untuk masing-masing siswa dan dikirim ke rumah. (3) melakukan pertemuan dengan para orang tua secara bersama-sama. (4) menulis artikel pada newsletter yang diperuntukkan bagi orang tua siswa. Di antara berbagai alternatif yang ada, Anda bisa mempertimbangkan mana yang menurut Anda lebih memungkinkan dan efektif. Pertemuan yang dilakukan secara individu, misalnya, memang akan lebih bersifat personal dan efektif, namun hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena berbagai faktor, diantaranya keterbatasan waktu baik di pihak guru maupun orang tua karena kesibukan masing-masing sehingga sulit menentukan kesempatan yang tepat untuk kedua belah pihak. Terlebih lagi jika siswanya banyak, maka sangat tidak memungkinkan rasanya bagi guru untuk membuat pertemuan dengan masingmasing orang tua siswa dengan waktu cukup. c. Melaporkan Hasil Asesmen kepada Dewan Sekolah Sebagai pihak yang turut menentukan pembuatan kebijakan, maka dewan sekolah layak menerima laporan mengenai hasil asesmen. Strategi yang direkomendasikan untuk dilakukan membuat laporan kepada pihak dewan sekolah terdiri dari tiga bagian: Laporan pertama memberikan informasi mengenai upaya asesmen itu sendiri, yaitu dengan menjelaskan terhadap apakah/tujuan asesmen itu dilakukan, jenis-jenis asesmen apa yang dipergunakan, alasan mengapa jenis-jenis asesmen itu dipergunakan, dan bagaimana hasil asesmen akan diterapkan dan dilaporkan. Akan sangat baik jika laporan ini diberikan kepada pihak dewan sekolah ketika informasi asesmen sedang dikumpulkan, sebelum hasil asesmen ada di tangan. Hal ini dimaksudkan agar para anggota dewan sekolah lebih mencurahkan perhatiannya pada pesan yang ada dalam asesmen daripada angka-angka yang telah diperoleh. Laporan kedua memuat hasil asesmen pada tingkat sekolah dan tingkat wilayah (kecamatan/kabupaten/provinsi). Laporan ini diharapkan menjawab berbagai pertanyaan yang biasanya diajukan oleh para pembuat kebijakan.

Asesmen Pembelajaran di SD

9-29

Laporan ketiga menindaklanjuti status asesmen sebagai upaya untuk memperbaiki pembelajaran di sekolah dan efektifitas berbagai perubahan yang dilakukan. Kendati sifatnya optional, laporan ini efektif untuk mengkomunikasikan kepada Dewan Sekolah bahwa tujuan sebenarnya dari dilakukannya proses asesmen adalah membantu upaya memperbaiki proses belajar mengajar, bukan untuk menjadi scorecard kualitas sekolah. d. Melaporkan Hasil Asesmen kepada Masyarakat Barangkali secara umum di negara kita melaporkan hasil asesmen kepada masyarakat luas belum merupakan sesuatu yang bisa dianggap lazim. Kalaupun banyak masyarakat yang mengetahui hasil asesmen, maka justru bukan pihak sekolah lah yang melakukannya. Tak heran jika banyak pendidik yang merasa tidak nyaman atau bahkan marah manakala mengetahui bahwa masyarakat justru memperoleh laporan hasil asesmen dari media massa. Nampaknya masyarakat tidak banyak tahu hal lain mengenai sekolah selain hasil tes. Sehingga laporan asesmen kepada masyarakat sebenarnya dapat memberikan informasi yang benar mengenai siswa sekaligus mendidik dan menyadarkan masyarakat akan berbagai kegiatan asesmen. Mengingat besarnya manfaat melaporkan hasil asesmen kepada masyarakat luas disatu sisi, dan hal-hal yang tidak diinginkan disisi lain, maka perlu diperhatikan beberapa langkah yang perlu diambil ketika Anda hendak melaporkan hasil asesmen kepada publik dan berhasil. Pertama, Anda harus memutuskan pihak mana saja dari masyarakat yang akan menerima laporan asesmen. Publik sendiri terdiri dari berbagai kelompok masyarakat yang sangat bervariasi ditinjau dari tingkat pengetahuan dan kebutuhannya terhadap informasi. Kedua, maksud dan tujuan melaporkan hasil asesmen harus jelas. Ketiga, menentukan prosedur pelaporan hasil asesmen. Yang perlu Anda ingat adalah bahwa berita di media massa hanya lah salah satu sarana untuk bisa belajar mengenai sekolah bagi publik. Artinya, masih ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melaporkan hasil asesmen kepada masyarakat luas. Selain ketiga hal di atas, perlu selalu diingat bahwa informasi yang disajikan dengan pola penulisan yang sangat kompleks atau sangat buruk akan menimbulkan salah paham di pihak pembaca. Untuk menghindari terjadinya halhal semacam ini ada baiknya Anda melibatkan sejumlah pihak sekolah dengan berbagai latar belakang untuk menjamin bahwa informasi yang disajikan sangat jelas bagi berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.

9-30

Unit 9

Akhirnya satu hal penting yang harus selalu diingat adalah bahwa jika para guru, administrator sekolah, dan orang tua tidak belajar dari dan melakukan suatu tindakan berdasarkan informasi dari berbagai kegiatan asesmen yang telah dilakukan, maka seluruh proses yang telah dilalui itu hanya memberikan sedikit manfaat atau bahkan tidak bermanfaat sama sekali terhadap peserta didik. Sebab tujuan yang paling utama dari asesmen pada hakekatnya adalah mendidik anakanak dengan lebih baik. 5. Menjalin Komunikasi dengan Para Stakeholder Satu hal penting yang harus dipikirkan pada saat melaporkan hasil evaluasi adalah bagaimana menciptakan komunikasi yang baik di antara berbagai pihak yang terkait. Dengan demikian prosedur apapun yang dipilih jangan terjebak pada rutinitas dan formalitas. Oleh karena harus terus diupayakan berbagai prosedur yang sistematis yang dapat mendorong dan memfasilitasi terjadinya dialog atau komunikasi yang interaktif. Untuk itu alangkah baiknya jika pihak sekolah bisa berdiskusi dengan para stakeholder, orang tua misalnya, untuk membicarakan model laporan yang diinginkan. Jika Anda melaporkan hasil asesmen secara akurat maka hal itu akan membuat para orang tua, masyarakat dan Anda sendiri sebagai guru memahami alasan pemilihan berbagai instrumen asesmen. Secara khusus, pelaporan hasil asesmen juga membuat para siswa, orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat memahami: 1. Jenis kecakapan dan pengetahuan yang dinilai pada suatu tes. 2. Cara menskor suatu tes. 3. Jenis pertanyaan yang diberikan. 4. Makna hasil asesmen dan cara pemanfaatan hasil tersebut. Tabel 9.1 Beberapa cara melaporkan hasil asesmen peserta didik beserta kelebihan dan kekurangannya.
NAMA Nilai huruf JENIS KODE YANG DIGUNAKAN A, B, C, dll, dan bisa ditambah dengan “+” dan “-“ KELEBIHAN a. mudah dilakukan b. (diyakini) mudah diinterpretasi c.dapat meringkas kinerja secara keseluruhan KEKURANGAN a. Makna nilai menjadi sangat bervariasi pada subyek, guru, dan sekolah yang berbeda b. Tidak menggambarkan

Asesmen Pembelajaran di SD

9-31

NAMA

JENIS KODE YANG DIGUNAKAN

KELEBIHAN

KEKURANGAN kelebihan dan kekurangan c. Siswa TK dan SD mungkin merasa dikalahkan

Nilai angka atau prosentase

Integer (5, 4, 3…) a. sama seperti poin a, b, c atau prosentase (99, 98,…) di atas b. lebih bersifat kontinyu dibandingkan dengan nilai huruf c. bisa dipergunakan bersama dengan nilai huruf

a. sama seperti poin a, b, c di atas b. Maknanya tidak bisa langsung tampak jika tanpa penjelasan

Nilai dengan dua kategori

Berhasil-gagal, memuaskantidak memuaskan, credit-entry

a. Dampaknya tidak terlalu buruk bagi siswa yang duduk di tahun-tahun awal b. Dapat mendorong siswa yang duduk di tahuntahun atas tanpa takut IPK rendah

a. Kurang reliabel dibandingkan sistem yang lebih kontinyu b. Tidak mengkomunikasikan cukup informasi mengenai kinerja siswa bagi pihak lain untuk menilai kemajuan yang dicapai

Checklist dan rating scales

Tanda cek (√) di sebelah tujuan yang telah dikuasai atau rating numeric/angka tingkat penguasaan

a. memberikan rincian tentang apa yang dicapai siswa b.Bisa dikombinasikan dengan nilai huruf atau dengan data groupreferenced

a. Bisa menjadi sangat rinci sehingga orang tua kesulitan memahami b. Secara administratif sulit disimpan karena jumlahnya yang cukup banyak

9-32

Unit 9

NAMA Laporan naratif

JENIS KODE YANG DIGUNAKAN Tidak ada kode, namun bisa juga mengacu pada satu atau beberapa seperti di atas; namun biasanya tidak mengacu pada nilai

KELEBIHAN a. Memberikan kesempatan pada guru untuk menggambarkan kemajuan siswa b. Memperlihatkan kemajuan siswa dalam bentuk standar, indikator prestasi, sasaran belajar, atau kontinum perkembangan c. Memberikan kesempatan untuk membuka dialog dan jenis-jenis komunikasi lain dengan orang tua dan siswa

KEKURANGAN a. Memerlukan sangat banyak waktu b. memerlukan kecakapan menulis yang sangat baik dan kecakapan berkomu-nikasi efektif di pihak guru c. Mungkin perlu diterjemahkan agar bisa dipahami orang tua, bisa terjadi kehilangan makna d. Orang tua yang tidak cakap membaca bisa salah memahami atau tidak mau membaca a. Guru perlu memiliki skill untuk memberikan komentar positif maupun negatif b. Bisa memakan banyak waktu c. Bisa bersifat mengancam bagi siswa tertentu d. Tidak memberikan semacam catatan summary kepada lembaga

Pertemuan siswa-guru

Biasanya tanpa kode, namun bisa membahas kode seperti di atas

a. Membuka kesempatan untuk membahas kemajuan secara personal b. Bisa dilakukan sebagai proses yang berkelanjutan (ongoing process) yang terintegrasi dengan pembelajaran

Asesmen Pembelajaran di SD

9-33

NAMA Pertemuan orang tuaguru

JENIS KODE YANG DIGUNAKAN Tanpa kode, namun sering membahas (satu atau lebih) kode di atas

KELEBIHAN a. Memungkinkan pihak guru dan orang tua membahas berbagai isu dan mengklarifikasi kesalahpahaman

KEKURANGAN 1. Menghabiskan banyak waktu 2. Guru dituntut untuk membuat persiapan 3. Bisa menimbulkan kecemasan bagi beberapa guru dan orang tua 4. Tidak memadai jika informasi yang dilaporkan sangat banyak 5. Mungkin banyak orang tua tidak bisa hadir

Surat kepada orang tua

Tidak ada kode, namun bisa mengacu pada satu atau lebih kode di atas

a. merupakan suplemen yang sangat membantu metode-metode pelaporan yang lain

a. Surat yang singkat tidak bisa secara optimal mengkomu-nikasikan kemajuan siswa b. Memerlukan writing skill yang sangat bagus dan banyak waktu di pihak guru

Diadaptasi dari: Nitko & Brookhart (2007)

9-34

Unit 9

Rangkuman
Setidaknya ada tiga pengguna utama dari laporan hasil asesmen: peserta didik sendiri, orang tua, dan masyarakat luas. Peserta didik adalah yang paling utama di dalam proses asesmen formatif. Semakin tinggi kedudukan pelapor, semakin umum pula bentuk dan format laporan asesmen. Sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada para stakeholders, maka proses asesmen sendiri juga harus memberi peluang terjadinya proses komunikasi dengan para orang tua dan pihak-pihak lain di dalam upaya pembelajaran yang dapat membuat mereka mendukung pembelajaran.

Tes Formatif
Di bawah ini dicantumkan tes formatif yang bertujuan untuk mengukur pemahaman Anda mengenai uraian, contoh, dan rangkuman yang tercantum dalam subunit 2. Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan permintaan! 1. Ada beberapa pilihan terkait dengan bentuk penyajian laporan yang harus dipertimbangkan ketika mempersiapkan laporan. Tolong jelaskan! 2. Kartu laporan (report card) telah lama digunakan di berbagai negara sebagai media utama untuk mensosialisasikan informasi hasil asesmen dan evaluasi oleh pihak sekolah kepada murid dan orang tua. Namun kartu laporan ternyata memiliki sejumlah kelemahan. Tolong sebutkan kelemahan-kelemahan tersebut! Cobalah menjawab pertanyaan tes formatif di atas, setelah selesai baru cocokkan dengan kunci jawabannya. Diskusikan dengan teman bila jawaban Anda belum sesuai, atau Anda merasa masih ada hal-hal yang meragukan. Hal ini sangat diperlukan karena pemahaman kita tentang rencana pembelajaran dan cara memperbaikinya penting artinya bagi peningkatan keterampilan kita dalam membuat perencanaan dan sekaligus pelaksanaannya.

Asesmen Pembelajaran di SD

9-35

Kunci Jawaban
Tes Formatif 1
1. Salah satu manfaat laporan hasil belajar siswa bagi orang tua adalah bahwa orang tua bisa memperoleh informasi tentang perkembangan dan tingkat kemampuan putra-putrinya. 2. Boleh. Bahkan mengkombinasikan angka, kategori, dan uraian atau narasi cukup bagus karena bersifat saling melengkapi dan membuat laporan lebih jelas dan komprehensif. Kelemahan yang dimiliki angka, bisa ditutupi dengan kelebihan yang ada pada kategori dan uraian. Demikian pula sebaliknya.

Tes Formatif 2
1. Laporan bisa diberikan kepada seseorang secara langsung, secara tertulis, atau gabungan keduanya. Laporan bisa disajikan dalam bentuk teks, grafik, atau gabungan keduanya. Laporan bisa panjang dan rinci, atau ringkas dan jelas. 2. Kelemahan kartu laporan: (1) sulit membuatnya, (2) komunikasi antara pembuat dan pengguna laporan cenderung satu arah.

9-36

Unit 9

Daftar Pustaka
Anderson, L.W. (2003). Classroom Assessment Enhancing the Quality of Teacher Decision. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. Anthony, R. J., T. D. Johnson, N. I. Mickelson, A. Preece. (1991). Evaluating Literacy A Perspective for Change. Portsmouth: Heinenmann. Conner, Colin. (1991). Assessment and Testing in the Primary School. London: The Falmer Press. Davis, Anne. (2000). Making Classroom Assessment Work. Courtenay: Connection Publishing. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian. Jakarta: BSNP. _____________. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia. Jakarta: BSNP. _____________. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Estetika. Jakarta: BSNP. _____________. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Jakarta: BSNP. _____________. (2006). Panduan Penilaian Kelompok Mata Pelajaran Jasmani, Olah raga, dan kesehatan. Jakarta: BSNP. _____________. (2006). Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 Menuju Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang 20025. Jakarta. Headington, Rita. (2000). Monitoring, Assessment, Recording, Reporting and Accountability Meeting the Standards. London: David Pulton. Jalal, Fasli dan Dedi S. (Ed.). (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Bappenas-Depdiknas-Adicitra.

Asesmen Pembelajaran di SD

9-37

Johnson, D.W. and R.T. Johnson. (2002). Meaningful Assessment A Manageable and Cooperative Process. Boston: Allyn and Bacon. Nitko, A. J. and S. M. Brookhart. (2007). Educational Assessment of Students. Fifth Edition. New Jersey: Pearson.

9-38

Unit 9

Glosarium
Akuntabilitas – prinsip bahwa proses dan hasil pendidikan dapat dipertanggungjawabkan kepada semua stakeholder pendidikan. Anekdot – cerita singkat tentang sesuatu yang telah terjadi atau dialami seseorang Checklist – serangkaian kriteria, yang masing-masing bisa dikatakan tercapai atau tidak tercapai melalui respon yang dilakukan oleh siswa terhadap tugas asesmen. Evidence – fakta baik yang berupa proses maupun hasil yang menjadi obyek di dalam proses asesmen. Home page – halaman pertama yang kita lihat ketika kita membuka sebuah Web site di internet. Konferensi – pertemuan skala kecil untuk membahas hal tertentu yang sifatnya pribadi sehingga sangat mengutamakan privacy sejumlah pihak yang terlibat di dalamnya. Metode laporan naratif – laporan tertulis yang rinci untuk menggambarkan apa yang telah dipelajari oleh masing-masing siswa terkait dengan kerangka kurikulum dan berbagai upaya yang dilakukan siswa di sekolah. Multiple Marking System – penggunaan lebih dari satu metode untuk melaporkan kemajuan belajar siswa oleh pihak sekolah. Newsletter – laporan berkali, berisi tentang informasi tertentu. Personal interaction skills – keterampilan atau kecakapan masing-masing siswa untuk melakukan interaksi dengan orang lain seperti menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, menunjukkan reaksi positif dalam membantu orang lain, dsb. Privacy – suatu keadaan dimana orang lain tidak bisa mendengar dan atau melihat apa yang sedang kita lakukan. Proofread – membaca teks untuk menemukan dan menandai kesalahan yang perlu dibetulkan atau diperbaiki. Rating scale – rubrik yang dipergunakan untuk melakukan penskoran yang membantu guru menilai sejauh mana siswa telah mencapai dimensi prestasi dari tugas kinerja (performance) yang diberikan. Record keeping – sistem penyimpanan data yang baik sehingga jika sewaktuwaktu diperlukan kembali data tersebut mudah ditemukan. Report card – kartu laporan hasil asesmen. Scorecard – kartu/buku untuk menulis nilai (biasanya di dunia olah raga).

Asesmen Pembelajaran di SD

9-39

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->