P. 1
Kajian Bahasa Indonesia SD

Kajian Bahasa Indonesia SD

3.33

|Views: 3,396|Likes:
Published by Taufik Agus Tanto
Kajian Bahasa Indonesia SD
Kajian Bahasa Indonesia SD

More info:

Published by: Taufik Agus Tanto on Aug 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2014

pdf

text

original

Unit

1

HAKIKAT, FUNGSI, DAN RAGAM BAHASA INDONESIA
Muh. Faisal
akikat, Fungsi, dan Ragam Bahasa Indonesia ini merupakan unit 1 mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD. Unit ini terdiri atas 2 sub unit yaitu: (1) Hakikat Bahasa Indonesia dan Fungsi Bahasa Indonesia, dan (2) Ragam Bahasa Indonesia. Setelah memahami materi ini, diharapkan Anda mampu menjelaskan hakikat, fungsi, dan ragam bahasa Indonesia. Dengan demikian, secara lebih khusus setelah mempelajari unit ini diharapkan Anda dapat: 1. menjelaskan hakikat bahasa Indonesia, 2. menjelaskan fungsi bahasa Indonesia, 3. menjelaskan ragam bahasa Indonesia. 4. membedakan ragam baku dan tidak baku 5. membedakan ragam tulis dan lisan 6. membedakan bahasa Indonesia yang baik dan benar Materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya semakin terampil berbahasa. Selain itu, Anda akan semakin matang pengalaman berbahasanya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadap bahasa Indonesia. Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-berkelanjutan. Pelajari setiap bagian secara cermat dan seksama. Mulailah dengan membaca konsep, uraian, dan contoh-contoh yang terdapat di dalamnya. Untuk menambah pemahaman dan wawasan Anda, pelengkap materi unit ini juga terdapat di web-site. Bukalah web-site. Masih ingat kan, caranya? Jangan lupa mengerjakan latihan/tugas. Setiap latihan/tugas

H

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 1

disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Rambu-rambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Bila Anda mendapat kesulitan dalam memahami kata atau istilah yang terdapat pada unit ini, lihatlah glosarium dalam unit ini atau manfaatkanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Setelah melakukan kegiatan secara bertahap-berkelanjutan seperti disebutkan di atas, dan merasa telah menguasai materi unit ini, sekarang kerjakan soal-soal tes formatif. Setelah itu, cocokkan jawaban tes formati Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini sehingga dapat mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contoh-contoh, dan rangkuman yang ada. Selamat Belajar!

1 - 2 Unit 1

Subunit 1 Hakikat Dan Fungsi Bahasa Indonesia

S

audara, istilah bahasa tentu bukan merupakan hal yang baru bagi Anda. Istilah tersebut setiap saat selalu kita dengar, baca, atau bahkan menggunakan istilah tersebut dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Bukan hanya itu, hampir setiap saat dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan bahasa atau berbahasa. Begitu seringnya kita menggunakan istilah bahasa atau menggunakan bahasa maka terkadang kita lupa untuk memahami apa sesungguhnya hakikat bahasa itu dan apa fungsi bahasa. Untuk memperoleh pemahaman tentang apa sesungguhnya hakikat dan fungsi bahasa itu, baca baik-baik uraian berikut.

Hakikat Bahasa Indonesia Pengertian Bahasa
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, maka interaksi itu terasa semakin penting. Kegiatan berinteraksi ini membutuhkan alat, sarana atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana atau media. Terkadang kita berada di tengah-tengah suatu lingkungan masyarakat yang menggunakan suatu bahasa yang tidak kita pahami sama sekali, serta mendengar percakapan antar penutur-penutur bahasa itu, maka kita mendapat kesan bahwa apa yang merangsang alat pendengar kita itu merupakan suatu arus bunyi yang di sana-sini diselingi perhentian sebentar atau lama menurut kebutuhan dari penuturnya. Bila percakapan itu terjadi antara dua orang atau lebih, akan tampak pada kita bahwa sesudah seorang menyelesaikan arus-bunyinya itu, maka yang lain akan mengadakan reaksi. Reaksinya dapat berupa: mengeluarkan lagi arusbunyi yang tak dapat kita pahami itu, atau melakukan suatu tindakan tertentu. Dengan demikian, bentuk dasar bahasa adalah ujaran. Santoso, dkk. (2004:1.2) mengatakan bahwa ujaranlah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan ujaran inilah manusia mengungkapkan hal yang nyata atau tidak, yang berwujud maupun yang kasat mata, situasi dan kondisi yang

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 3

lampau, kini, maupun yang akan datang. Terkait dengan itu, Keraf (1986) mengatakan bahwa apa yang dalam pengertian kita sehari-hari disebut bahasa itu meliputi dua bidang yaitu: bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat ucap dan arti atau makna yang tersirat dalam arus bunyi tadi; bunyi itu merupakan getaran yang bersifat fisik yang merangsang alat pendengar kita, serta arti atau makna adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan adanya reaksi itu. Untuk selanjutnya arus bunyi itu kita namakan arus-ujaran. Namun perlu diingat bahwa tidak semua ujaran atau bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia itu dapat dikatakan bahasa. Ujaran manusia dapat dikatakan sebagai bahasa apabila ujaran tersebut mengandung makna, atau apabila dua orang manusia atau lebih menetapkan bahwa seperangkat bunyi itu memiliki arti yang serupa. Oleh karena itu, menurut Keraf (1986) bahwa apakah setiap ujaran itu mengandung makna atau tidak, haruslah ditilik dari konvensi suatu kelompok masyarakat tertentu. Setiap kelompok masyarakat bahasa, baik kecil maupun besar, secara konvensional telah sepakat bahwa setiap struktur bunyi ujaran tertentu akan mempunyai arti tertentu pula. Konvensi-konvensi masyarakat itu akhirnya menghasilkan bermacam-macam satuan struktur bunyi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Kesatuan-kesatuan arus-ujaran tadi yang mengandung suatu makna tertentu secara bersama-sama membentuk perbendaharaan kata dari suatu masyarakat bahasa. Perbendaharaan kata-kata itu belum berfungsi apa-apa bila belum ditempatkan dalam suatu arus ujaran untuk mengadakan inter-relasi antar anggota-anggota masyarakat. Jika tidak, perbendaharaan kata-kata itu masih merupakan barang mati. Belum hidup. Penyusunan kata itupun harus mengikuti suatu kaidah tertentu. Bila diucapkan atau dilisankan akan diiringi dengan gelombang ujaran yang temponya cepat atau lambat, tekanan keras atau lembut, tinggi rendah dan lafal yang tertentu.

Sifat-sifat Bahasa
Sebagai alat komunikasi, bahasa mengandung beberapa sifat, yaitu: (a) sistematik, (b) mana suka, (c) ujar, (d) manusiawi, dan (e) komunikatif. Bahasa dikatakan bersifat sistematik karena bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya. Bahasa diatur

1 - 4 Unit 1

oleh sistem. Seperti yang sudah disinggung di atas, setiap bahasa mengandung dua sistem yaitu sistem bunyi dan sistem makna. Mengapa bahasa dikatakan bersifat mana suka? Menurut Santoso, dkk. (2004), bahasa disebut mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar. Tidak ada hubungan logis antara bunyi dan makna yang disimbolkannya. Sebagai contoh, mengapa kursi bukan disebut meja. Mengapa anak-anak yang Anda ajar tidak disebut murid bukan guru. Kita tidak dapat memberi alasan pertimbangan apa kata itu disebut begitu, karena sudah begitu nyatanya. Itulah yang dimaksud dengan mana suka. Jadi pilihan suatu kata disebut kursi, meja, murid, guru dan lain-lainnya ditentukan bukan atas dasar kriteria atau standar tertentu, melainkan secara mana suka. Selanjutnya, bahasa disebut juga ujaran karena seperti yang sudah diuraikan sebelumnya bahwa bentuk dasar bahasa adalah ujaran karena media bahasa yang terpenting adalah bunyi. Bahasa disebut bersifat manusiawi karena bahasa menjadi berfungsi selama manusia yang memanfaatkannya, bukan makhluk lainnya. Terakhir, bahasa disebut bersifat komunikatif karena fungsi utama bahasa adalah sebagai alat berkomunikasi atau alat perhubungan antara anggota-anggota masyarakat.

Latihan
Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi ini cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Menurut Anda, apakah yang dimaksud bahasa? 2. Setiap ujaran atau bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia itu dapat dikatakan bahasa. Setujukah dengan pernyataan tersebut? Mengapa? 3. Salah satu sifat bahasa adalah mana suka. Oleh karena itu bahasa dapat dikatakan tidak sistematik. Benarkah?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
1. Untuk mengerjakan latihan nomor satu Anda perlu mengingat apa fungsi bahasa, bentuk dasar bahasa, dan alat yang menghasilkan bahasa. Setelah itu, rumuskan jawaban ke tiga hal itu dalam satu kalimat. Untuk latihan nomor dua, jika Anda menjawab setuju tentu Anda belum membaca dengan baik materi. Coba perhatikan, apakah semua bunyi yang
Kajian Bahasa Indonesia di SD

2.

1- 5

3.

dihasilkan alat ucap manusia termasuk bahasa? Misalnya bersiul, bersenandung. Jawaban soal nomor 3 sangat mudah. Ingat kembali ke lima sifat bahasa dan penjelasannya.

Fungsi Bahasa
Ada yang beranggapan bahwa penguasaan bahasa khususnya bahasa pertama tidak memerlukan usaha sama sekali. Bahasa yang dikuasai seseorang adalah sesuatu yang wajar, bukan prestasi yang luar biasa. Akibat anggapan yang keliru tersebut menyebabkan bahasa dianggap hal yang biasa sehingga tidak perlu mendapat perhatian. Padahal, bahasa merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan kita. Anda pasti memahami bahwa manusia telah ditakdirkan satu sama lain memerlukan pertolongan untuk memelihara, meningkatkan, dan mempertahankan kehidupannya. Pertolongan itu pertama-tama diperoleh dengan bantuan bahasa. Manusia tidak pernah hidup seorang diri, melainkan selalu hidup berkelompok karena manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, di dalam berinteraksi, manusia membutuhkan bahasa. Mengingat begitu vitalnya bahasa dalam kehidupan, maka tidaklah mengherankan jika Samsuri (1994) mengatakan “Dapatkah kita kira-kirakan bagaimana kebudayaan kita dapat kita terima dari nenek moyang kita dan kita teruskan kepada anak-cucu tanpa memakai bahasa? Apakah ada ilmu pengetahuan yang disampaikan dan dikembangkan tanpa penggunaan bahasa? Mungkinkah pendidikan seluruhnya dilakukan tanpa memakai bahasa?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu Anda dapat menjawabnya dengan mudah, bukan? Pasti Anda akan menjawab dengan kata tidak. Dari pertanyaan-pertanyaan itu pula, akan lebih menyadarkan kita bahwa ternyata bahasa itu memiliki fungsi yang sangat vital dalam kehidupan ini. Secara umum sudah jelas bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai wahana komunikasi bagi manusia, baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulis. Fungsi ini adalah fungsi dasar bahasa yang belum dikaitkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dalam kehidupan sehar-hari, bahasa tidak dapat dilepaskan dari kegiatan hidup masyarakat, yang di dalamnya sebenarnya terdapat status dan nilai-nilai sosial. Bahasa selalu mengikuti dan mewarnai kehidupan manusia sehari-hari, baik manusia sebagai anggota suku maupun bangsa. Terkait dengan
1 - 6 Unit 1

hal itu, Santoso, dkk. (2004) berpendapat bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut. (1) Fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal-balik antaranggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat. (2) Fungsi ekspresi diri, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembaca. Bahasa sebagai alat mengekspresikan diri ini dapat menjadi media untuk menyatakan eksistensi (keberadaan) diri, membebaskan diri dari tekanan emosi dan untuk menarik perhatian orang. (3) Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat, melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika masyarakatnya. Mereka menyesuaikan diri dengan semua ketentuan yang berlaku dalam masyarakat melalui bahasa. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang perlu berintegrasi dengan manusia di sekelilingnya. Dalam berintegrasi tersebut, manusia memerlukan bahasa sebagai alat. Dengan bahasa, manusia dapat bertukar pengalaman dan menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Mereka memanfaatkan pengalaman itu untuk kehidupannya. Dengan demikian mereka merasa saling terkait dengan kelompok sosial yang dimasukinya. (4) Fungsi kontrol sosial. Bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Bila fungsi ini berlaku dengan baik, maka semua kegiatan sosial akan berlangsung dengan baik pula. Dengan bahasa seseorang dapat mengembangkan kepribadian dan nilai-nilai sosial kepada tingkat yang lebih berkualitas. Sejalan dengan pendapat di atas, Hallyday (1992) mengemukakan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk berbagai keperluan sebagai berikut. (1) Fungsi instrumental, yakni bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu. (2) Fungsi regulatoris, yaitu bahasa digunakan untuk mengendalikan prilaku orang lain. (3) Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. (4) Fungsi personal, yaitu bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain. (5) Fungsi heuristik, yakni bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 7

Fungsi imajinatif, yakni bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi. (7) Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi. Apakah fungsi khusus bahasa Indonesia? Anda mungkin masih ingat bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus yang sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia. Fungsi itu adalah sebagai: (1) Bahasa resmi kenegaraan. Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalam adminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan, komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. (2) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. (3) Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah. Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi timbalbalik antara pemerintah dengan masyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama. (4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pada itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik dalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan, dilakukan dalam bahasa Indonesia. Telah diketahui bahwa bahasa Indonesia selain sebagai sebagai bahasa nasional juga sebagai bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut. (1) Bahasa resmi kenegaraan. Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalam adminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. Dokumendokumen dan keputusan-keputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badan-badan kenegaraan lain seperti DPR dan MPR

(6)

1 - 8 Unit 1

ditulis di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di dalam bahasa Indonesia. (2) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. (3) Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah. Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi timbalbalik antara pemerintah dengan masyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama. (4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pada itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik dalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan, dilakukan dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian masyarakat bangsa kita tidak tergantung sepenuhnya kepada bangsa-bangsa asing di dalam usahanya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta untuk ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saudara, Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga untuk itulah bahasa Indonesia perlu dibakukan atau distandarkan. Upaya pembakuan bahasa Indonesia telah dilakukan yaitu dengan dikeluarkannya Ejaan yang Disempunakan (EYD) pada tahun 1972. EYD ini adalah sebagai penyempurnaan ejaan-ejaan yang dipakai sebelumnya yaitu ejaan Van Ophuijen (tahun 1901) dan ejaan Soewandi (tahun 1947). Selanjutnya dikeluarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Istilah pada tahun 1975. Rintisan pembakuan bahasa Indonesia berikutnya adalah diterbitkannya kamus yang dianggap mendekati kelengkapan yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia pada tahun 1988 yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Selanjutnya, pada tahun itu pula diterbitkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Pembakuan-pembakuan ini dilakukan dengan harapan agar bahasa Indonesia semakin mantap. Dengan demikian, bahasa Indonesia juga memiliki fungsi-fungsi yang dimiliki oleh bahasa baku, yaitu sebagai berikut.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 9

(1) Fungsi pemersatu. (2) Fungsi pemberi kekhasan. (3) Fungsi penambah kewibawaan. (4) Fungsi sebagai kerangka acuan. Fungsi Pemersatu, artinya bahasa Indonesia mempersatukan suku bangsa yang berlatar budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Bahasa Indonesia sebagai bahasa baku menjadi alat untuk memperhubungkan semua penutur berbagai dialek bahasa yang tersebar di seluruh nusantara. Fungsi pemberi kekhasan, artinya bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan bahasa yang lain. Dengan demikian bahasa Indonesia sebagai bahasa baku dapat memperkuat kepribadian nasional masyarakat Indonesia. Fungsi penambah kewibawaan. Penggunaan bahasa baku akan menambah kewibawaan atau prestise. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehar-hari bahwa orang yang mahir berbahasa Indonesia “dengan baik dan benar” akan memperoleh wibawa di mata orang lain. Fungsi sebagai kerangka acuan. Fungsi ini mengandung maksud bahwa bahasa baku merupakan kerangka acuan pemakaian bahasa. Bahasa baku merupakan norma dan kaidah yang menjadi tolok ukur yang disepakati bersama untuk menilai ketepatan penggunaan bahasa atau ragam bahasa.

1 - 10 Unit 1

Latihan
Sudakah Anda mempelajari dengan baik materi Fungsi Bahasa? Kalau sudah, cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Mengapa bahasa perlu mendapat perhatian? 2. Salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Bagaimanakah wujud fungsi ini di kelas rendah SD pada daerah-daerah yang mempunyai bahasa ibu bahasa daerah?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
1. Soal nomor 1 akan mudah Anda jawab jika memahami dengan baik fungsi bahasa. Kalau belum fahami, bacalah kembali. Kemudian, rumuskanlah funsi bahasa dengan bahasa Anda sendiri. 2. Masih ingat fungsi khusus bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional? Sekarang, ingat kembali pengalaman Anda sewaktu mengajar di kelas rendah atau kalau belum pernah mengajar di kelas rendah, tanyakanlah kepada teman Anda yang pernah mengajar di kelas rendah. Apakah Anda atau teman Anda menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar selama pembelajaran berlangsung? Kalau tidak, tentu Anda tahu apa alasannya.

Rangkuman
Secara universal pengertian bahasa adalah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran. Selain pengertian tersebut, bahasa dapat pula dikatakan bahwa bahasa alat komunikasi antar anggota masyarakat, berupa lambang bunyisuara, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bentuk dasar bahasa adalah ujaran, namun tidak semua ujaran atau bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia itu dapat dikatakan bahasa. Ujaran manusia dapat dikatakan sebagai bahasa apabila ujaran tersebut mengandung makna. Bahasa merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat yakni: (1) sistematik, (2) mana suka, (3) ujar, (4) manusiawi, dan
Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 11

(5) komunikatif Secara umum fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Fungsi-fungsi tersebut adalah: (1) fungsi informasi (2) ekspresi diri, (3) fungsi adaptasi, (4) integrasi, dan (5) fungsi kontrol sosial. Fungsi khusus bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah sebagai: (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, (3) bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa baku adalah sebagai berikut. (1) Fungsi pemersatu. (2) Fungsi pemberi kekhasan. (3) Fungsi penambah kewibawaan. Fungsi sebagai kerangka acuan

1 - 12 Unit 1

Tes Formatif Subunit 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Bentuk dasar bahasa adalah..... A. ujaran B. kata C. kalimat D. makna 2. Pernyataan yang tepat mengenai bahasa adalah..... kecuali: A. komunikatif B. sistematik C. atraktif D. manusiawi 3. Ujaran manusia dapat dikatakan sebagai bahasa apabila ujaran tersebut mengandung..... A. nada B. intonasi C. jeda D. makna 4. Perbendaharaan kata baru berfungsi bila.....kecuali: A. ditempatkan dalam suatu arus ujaran B. bahasa sebagai alat berkomunikasi C. dimanfaatkan untuk berkomunikasi D. dipakai untuk mengadakan inter-relasi antar anggota-anggota masyarakat 5. Bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya, itu berarti bahwa bahasa bersifat..... A. interaktif B. komunikatif C. sistematik D. imajinatif

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 13

6. Bahasa disebut mana suka karena.....kecuali: A. unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar B. tidak ada hubungan logis antara bunyi dan makna yang disimbolkannya C. makna kata ditentukan bukan atas dasar kriteria atau standar tertentu D. setiap ujaran itu mengandung makna atau tidak, ditentukan dari konvensi suatu kelompok masyarakat tertentu 7. Bahasa disebut bersifat komunikatif karena..... A. bahasa sebagai alat berkomunikasi B. mudah dipahami C. memiliki pola dan kaidah D. mengandung makna 8. Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai alat.... A. informasi B. imajinasi C. integrasi D. adaptasi 9. Fungsi khusus bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah sebagai...kecuali: A. alat pemersatu berbagai suku bangsa B. bahasa resmi kenegaraan C. bahasa pengantar dalam dunia pendidikan D. bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah 10. Bahasa Indonesia baku sebagai kerangka acuan, artinya... A. Bahasa Indonesia harus mampu mengikat kebinekaan suku bangsa dan kebinekaan budaya di Indonesia. B. Bahasa Indonesia menjadi ciri identitas budaya Indonesia. C. Bahasa Indonesia baku merupakan tolok ukur yang disepakati bersama untuk menilai ketepatan penggunaan bahasa atau ragam bahasa. D. Bahasa Indonesia meningkatkan gengsi pembicara, karena bahasa itu dipakai dalam teknologi canggih.

1 - 14 Unit 1

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Bagaiamana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 15

Subunit 2 Ragam Bahasa Indonesia

S

audara, masih ingatkah paparan pada subunit 1 bahwa manusia telah ditakdirkan satu sama lain memerlukan pertolongan untuk memelihara, meningkatkan, dan mempertahankan kehidupannya. Pertolongan itu pertama-tama diperoleh dengan bantuan bahasa. Andaikata manusia hidup seorang diri, tidak berkeluarga, tidak mempunyai sahabat, kenalan, pendek kata tidak ada masyarakat, tidak akan ada bahasa. Karena masyarakat bersifat kompleks maka tidak ada satu bahasa pun di dunia yang seragam sifatnya. Demikian pula Indonesia, yang terdiri atas beribu-ribu pulau, yang dihuni oleh ratusan suku bangsa dengan pola kebudayaan sendiri-sendiri, pasti melahirkan berbagai ragam bahasa yang bermacam-macam. Apalagi, bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup dan terbuka. Terbuka terhadap segala masukan, baik dari unsur bahasa asing atau daerah, baik secara kolektif atau individu. Ditambah dengan latar daerah, sosial budaya, lingkungan serta keilmuan yang berbeda dari penuturnya, maka produk bahasa yang dihasilkan pun sangat bervariasi atau beragam. Namun perlu diingat, ragam bahasa yang beraneka macam itu masih disebut bahasa Indonesia.

Klasifikasi Ragam Bahasa Indonesia
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dikemukakan beberapa penggolongan ragam bahasa. Pertama, ragam menurut golongan penutur bahasa dan ragam menurut jenis pemakaian bahasa. Ragam yang ditinjau dari sudut pandangan penutur terdiri atas: (1) ragam daerah, (2) ragam pendidikan, dan (3) sikap penutur. Ragam daerah dikenal dengan nama logat atau dialek. Logat daerah kentara karena tata bunyinya. Ciri-ciri khas yang meliputi tekanan, intonasi, panjang-pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda-beda.

1 - 16 Unit 1

Ragam pendidikan dapat dibagi atas ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku (ragam bahasa baku dan ragam tidak baku akan diuraikan secara khusus). Ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing pada asasnya tersedia bagi tiap-tiap pemakai bahasa. Ragam ini biasa disebut langgam atau gaya. Langgam atau gaya yang dipakai oleh penutur bergantung pada sikap penutur terhadap orang yang diajak berbicara atau terhadap pembacanya. Sikap penutur dipengaruhi antara lain oleh umur dan kedudukan yang disapa, pokok persoalan yang hendak disampaikannya, dan tujuan penyampaian informasinya. Perbedaan berbagai gaya itu tercermin dalam kosakata dan tata bahasa (Depdikbud, 1988).

Latihan
Sebelum lanjut mempelajari materi, cobalah kerjakan latihan berikut! Bagaimana gaya bahasa Anda jika memberikan laporan kepada Kepala Sekolah. Apakah ada perbedaan gaya bahasa pada saat Anda berbicara dengan keluarga di rumah? Apa perbedaannya?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Ingatlah, saat memberi laporan dengan kepala sekolah, apakah kosakata dan kalimat yang dipergunakan berbeda dengan kosakata dan kalimat yang dipergunakan pada saat berbicara dengan keluaraga di rumah? Kalau berbeda, apa perbedaannya? Apakah Anda sudah menyelesaikan tugas di atas? Kalau sudah, baca baikbaik uraian berikut agar pemahaman Anda tentang ragam bahasa lebih kaya. Ragam bahasa menurut jenis pemakaiannya dapat diperinci atas: (1) ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan, (2) ragam menurut sarananya, dan (3) ragam yang mengalami gangguan pencampuran. Ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan mengandung maksud bahwa ragam bahasa antara bidang tertentu dengan bidang yang lain atau pokok persoalan tertentu dengan pokok persoalan yang adalah berbeda. Misalnya, ragam bahasa dalam bidang agama berbeda dengan bidang politik. Perbedaan tersebut terutama dalam hal istilah atau ungkapan khusus. Ragam bahasa menurut sarananya terdiri atas:
Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 17

(1) ragam lisan, dan (2) ragam tulisan. Makna ragam lisan diperjelas dengan intonasi yaitu: tekanan, nada, tempo suara, dan perhentian. Sedangkan penggunaan ragam tulisan dipengaruhi oleh bentuk, pola kalimat, dan tanda baca.

Latihan
Nah, sekarang kerjakan dulu tugas berikut! Menurut Anda, manakah yang lebih berat penggunaannya, apakah ragam lisan atau tulisan? Apa alasan Anda?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Anda pasti tidak kesulitan mengerjakan tugas tersebut. Untuk membuktikan mana di antara kedua ragam yang berat, Anda dapat mencoba/berlatih menyampaikan sebuah informasi. Pertama-tama sampaikanlah secara lisan kemudian sampaikan secara tertulis. Mana yang sulit? Selain klasifikasi di atas, ragam bahasa dapat pula diklasifikasikan berdasarkan bidang wacana. Dengan dasar ini ragam bahasa dapat dibedakan atas: (1) ragam ilmiah yaitu bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, ceramah, tulisan-tulisan ilmiah; (2) ragam populer yaitu bahasa yang digunakan dalam pergaulan seharihari dan dalam tulisan populer (Santoso dkk, 2004).

Ragam Bahasa Baku dan Tidak Baku
Ragam bahasa yang dianggap memiliki gengsi dan wibawa yang tinggi adalah ragam bahasa orang yang berpendidikan. Karena, ragam orang yang berpendidikan kaidah-kaidahnya paling lengkap diuraikan jika dibandingkan dengan ragam bahasa yang lain. Oleh karena itulah sehingga ragam tersebut dijadikan tolok ukur bagi pemakaian bahasa yang benar atau bahasa yang baku. Ragam bahasa baku menggunakan kaidah bahasa yang lebih lengkap dibandingkan dengan ragam tidak baku. Adapun ciri ragam baku adalah sebagai berikut.

1 - 18 Unit 1

(1) Memiliki sifat kemantapan dinamis. Bahasa baku harus memiliki kaidah dan aturan yang relatif tetap dan luwes. Bahasa baku tidak dapat berubah setiap saat. (2) Kecendekiaan. Kecendekiaan berarti bahwa bahasa baku sanggup mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di pelbagai ilmu dan teknologi, dan bahasa baku dapat mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal. (3) Keseragaman kaidah. Keseragaman kaidah adalah keseragaman aturan atau norma. Tetapi, keseragaman bukan berarti penyamaan ragam bahasa atau penyeragaman variasi bahasa (Depdikbud 1988). Proses pembakuan bahasa terjadi karena keperluan komunikasi. Dalam proses pembakuan atau standardisasi itu salah satu variasi pemakaian bahasa dibakukan untuk mendukung fungsi-fungsi tertentu yang variasi itu disebut bahasa baku atau bahasa standar. Namun perlu diingat, dengan adanya pembakuan bahasa atau bahasa Indonesia yang baku, bahasa Indonesia yang tidak baku tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya dalam komunikasi. Dengan demikian, pembakuan tidak bermaksud untuk mematikan variasi-variasi bahasa tidak baku. Saudara, pasti sudah mengetahui bahwa ragam tidak baku banyak mengandung unsur-unsur dialek dan bahasa daerah sehingga ragam bahasa tidak baku banyak sekali variasinya. Selain dialek, ragam bahasa tidak baku juga bervariasi dalam hal lafal atau pengucapan, kosa kata, struktur kalimat dan sebagainya. Untuk mengatasi keanekaragaman pemakaian bahasa yang merupakan variasi dari bahasa tidak baku maka diperlukan bahasa bahasa baku atau bahasa standar. Mengapa? Karena bahasa baku tidak hanya ditandai oleh kesergaman dan ketunggalan ciri-cirinya tetapi juga ditandai oleh keseragaman dan ketunggalan fungsi-fungsinya. Pada situasi komunikasi bagaimanakah kita harus menggunkan bahasa Indonesia baku? Kridalaksana (1978) mengatakan bahwa bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang dipergunakan dalam: (a) komunikasi resmi, yakni surat-menyurat resmi, pengumumanpengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, penamaan dan peristilahan resmi, perundang-undangan, dan sebagainya (ingat kembali fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi); (b) wacana teknis, yakni dalam laporan resmi dan karangan ilmiah; (c) pembicaraan di depan umum yakni dalam ceramah, kuliah, khotbah; dan

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 19

(d) pembicaraan dengan orang yang dihormati yakni orang yang lebih tua, lebih tinggi status sosialnya dan orang yang baru dikenal. Bagaimanakah ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia baku? Ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia baku diuraikan satu persatu seperti berikut. a. Pemakaian awalan me- dan ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten. Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku − Ahmad melempar mangga − Ahmad lempar mangga yang ada di depan yang ada di depan rumahnya. rumahnya. − Hama wereng menyerang padi petani yang sudah mulai menguning. − Anak itu sudah mampu berjalan walaupun masih tertatih-tatih. − Kuliah sudah dengan lancar. berjalan − Hama wereng serang padi petani yang sudah mulai menguning. − Anak itu sudah mampu jalan walaupun masih tertatih-tatih. − Kuliah sudah jalan dengan lancar.

b. Pemakaian fungsi gramatikal (subyek, predikat, dan sebagainya secara eksplisit dan konsisten. Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku − Direktur perusahaan itu − Direktur perusahaan itu ke pergi ke luar negeri. luar negeri. c. Pemakaian fungsi bahwa dan karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten (pemakaian kata penghubung secara tepat dan ajeg) Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku − Ia tahu bahwa anaknya − Ia tahu anaknya tidak lulus. tidak lulus. − Ia tidak percaya kepada semua orang, karena tidak − Ia tidak percaya kepada semua orang, tidak setiap

1 - 20 Unit 1

setiap orang jujur. orang jujur. d. Pemakaian pola frase verbal aspek + agen + verba (bila ada) secara konsisten (penggunaan urutan kata yang tepat) Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku − Maksud Anda sudah saya − Maksud Anda saya sudah pahami. pahami. − Kiriman terima. itu telah kami − Kiriman terima. itu kami telah

− Pot bunga itu akan kamu − Pot bunga itu kamu akan simpan di mana? simpan di mana? e. Pemakaian konstruksi sintesis (lawan analitis) Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku − Ia memberitahukan bahwa besok ada pertemuan di sekolah. − Istrinya sedang mengikuti Program PJJ S1 PGSD. − Ia selalu membantu siswa membersihkan kelas sebelum pembelajaran dimulai. − Menurut mereka, pendidikan itu penting. − Ia kasi tahu bahwa besok ada pertemuan di sekolah. − Dia punya istri sedang mengikuti Program PJJ S1 PGSD. − Ia selalu membantu siswa bikin bersih kelas sebelum pembelajaran dimulai. − Menurut dia orang, pendidikan itu penting. − Berapa dia punya harga?

− Berapa harganya? f. Pemakaian partikel kah, lah, dan pun secara konsisten Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku − Bagaimanakah memakai − Bagaimana cara pakai alat alat itu? itu? g. Pemakaian preposisi yang tepat Contoh: Bahasa Indonesia Baku

Bahasa Indonesia Tidak Baku

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 21

• • •

Ia mengirim surat ke pada saya. Buku itu ada pada saya. Anak itu pergi ke sekolah dengan temannya.

• • •

Ia mengirim surat ke saya. Buku itu ada di saya. Anak itu pergi ke sekolah sama temannya.

g. Pemakaian bentuk ulang yang tepat menurut fungsi dan tempatnya Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku • Semua siswa diharapkan • Semua siswa-siswa masuk ke kelas. diharap-kan masuk ke Atau Siswa-siswa kelas. diharapkan masuk ke kelas. • • • Mereka itu. Mereka menendang. tendang• • • Mereka-mereka itu. Mereka saling menendang. tendang-

Suatu titik pertemuan atau Titik pertemuan.

Suatu titik-titk pertemuan.

h. Pemakaian unsur-unsur leksikal berikut berbeda dari unsur-unsur yang menandai bahasa Indonesia baku Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku • • • • Hari ini saya tidak dapat mengikuti pertemuan. Anda dipanggil kepala sekolah. oleh • • • • Ini hari saya tidak dapat mengikuti pertemuan. Situ dipanggil oleh kepala sekolah. Dia bilang bahwa hari ini libur. Kepala sekolah kasih pengarahan kepada semua siswa. Ia berbuat gitu karena sangat sayang kepada

Dia mengatakan bahwa hari ini libur. Kepala sekolah memberi pengarahan kepada semua siswa. Ia berbuat begitu karena sangat sayang kepada

1 - 22 Unit 1

adiknya. • Bagaimana cara belajar yang baik? •

adiknya. Gimana cara belajar yang baik?

i. Pemakaian ejaan resmi yang sedang berlaku (EYD) Contoh: Bahasa Indonesia Baku Bahasa Indonesia Tidak Baku • • • • • • • • • • mesti mungkin panitia pihak asas teladan hewan dipukul tradisional universal • • • • • • • • • • musti mungking atau mumkin panitya fihak azas atau azaz tauladan khewan di pukul tradisionil universil

j. Pemakaian peristilahan resmi Contoh: Bahasa Indonesia Baku • • • • • • • • • acak sahih tataran perangkat masukan keluaran cendera mata peringkat kawasan

Bahasa Indonesia Tidak Baku • • • • • • • • • random valid level set input output tanda mata ranking area

j. Pemakaian kaidah yang baku Contoh: − Bahasa Indonesia Baku − Hal itu sudah kita pahami. − Bahasa Indonesia Tidak Baku − Hal itu sudah dipahami oleh kita. − Ibu membelikan buku adik.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 23

− Ibu membelikan buku. − Pengendara diharap turun

adik sepeda

− Naik sepeda harap turun!

Ragam Bahasa Tulis dan Bahasa Lisan
Saudara, sebagai seorang guru, Anda tentu tidak bisa lepas dari kegiatan menulis dan berbicara. Oleh karena itu, Anda perlu memahami dengan baik perbedaan ragam bahasa lisan dan tulis agar tulisannya tidak menggunakan ragam bahasa lisan atau sebaliknya, dalam berbicara menggunakan ragam bahasa tulis. Adalah suatu kecelakaan bagi penulis bila mengarang menggunakan bahasa lisan. Apakah yang membedakan antara ragam tulisan dengan ragam bahasa lisan. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan ada dua perbedaan yang mencolok mata yang dapat diamati antara ragam bahas tulis dengan ragam bahasa lisan, yaitu berhubungan dengan: (1) suasana peristiwanya, dan (2) dari segi intonasi. a. Dari segi suasana peristiwa Jika menggunakan bahasa tulisan tentu saja orang yang diajak berbahasa tidak ada dihadapan kita. Olehnya itu, bahasa yang digunakan perlu lebih jelas, karena ujaran kita tidak dapat disertai dengan isyarat, pandangan, atau anggukan, tanda penegasan di pihak kita atau pemahaman di pihak pendengar kita. Itulah sebabnya kalimat dalam ragam tulis harus lebih cermat. Fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, objek, dan hubungan antara setiap fungsi itu harus nyata dan erat. Sedangkan dalam bahasa lisan, karena pembicara berhadapan langsung dengan pendengar, unsur (subjek-predikat-objek) kadangkala dapat diabaikan. Maka, jika ingin menjadi orang yang cermat dalam berbahasa perlu menyadari bahwa kalimat yang Anda tulis berlainan dengan kalimat yang Anda ujarkan karena bahasa tulis dapat dikaji dan dibaca oleh pembaca secara berulang-ulang. Oleh sebab itu, dalam menulis, kalimat harus lebih lengkap, ringkas, jelas, dan elok. Jika diperlukan, tulisan perlu disunting beberapa kali agar dapat dihasilkan tulisan yang betul-betul komunikatif bagi pembaca. b. Dari segi intonasi Yang membedakan bahasa lisan dan tulisan adalah berkaitan dengan intonasi (panjang-pendek suara/tempo, tinggi-rendah suara/nada, keras-lembut suara/tekanan) yang sulit dilambangkan dalam ejaan dan tanda baca, serta tata
1 - 24 Unit 1

tulis yang dimiliki. Jadi, kadangkala bahasa tulisan perlu dirumuskan kembali jika ingin menyampaikan perasaan yang sama lengkapnya dengan ungkapan perasaan dalam bahasa lisan. Walaupun ragam bahasa tulis lebih rumit namun demikian ragam ini mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki bahasa lisan seperti dimungkinkannya digunakan huruf kapital, huruf miring, dan tanda kutip, paragraf atau tanda-tanda baca lainnya. Goeller (1980) mengemukakan bahwa ada tiga krakteristik bahasa tulisan yaitu acuracy, brevety, claryty (ABC). (a) Acuracy (akurat) adalah segala informasi atau gagasan yang dituliskan dapat memberi keyakinan bagi pembaca bahwa hal tersebut masuk akal atau logis. Pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengetahui keakuratan tulisan adalah sebagai berikut: A. Apakah tulisan saya tidak menyampaikan gagasan yang berlebihan? B. Apakah saya telah memikirkan secara cermat gagasan yang ada dalam tulisan ini? C. Apakah saya telah mencek keseluruhan tulisan ini sehingga tidak ada yang keliru? (b) Brevety (ringkas) yang berarti gagasan tertulis yang disampaikan bersifat singkat karena tidak menggunakan kata yang mubazir dan berulang, seluruh kata yang digunakan dalam kalimat ada fungsinya. Contoh: Tidak Ringkas Ringkas Untuk memenuhi kekurangan Untuk memenuhi kekurangan ikan, perlu peningkatan produksi ikan perlu ada peningkatan mela-lui penangkapan produksi dengan jalan meningkat-kan usaha penangkapan ikan agar supaya keku rangan sebut dapat dipenuhi. Pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengetahui keringkasan tulisan adalah sebagai berikut: - Apakah saya telah menggunakan cara tersingkat dalam menyampaikan gagasan dan pembaca dapat memahaminya dengan baik? - Apakah ada kata-kata yang bisa dibuang tanpa mempengaruhi keutuhan makna kalimat?

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 25

(c) Claryty (jelas) adalah tulisan itu mudah dipahami, alur pikirannya mudah diikuti oleh pembaca. Tidak menimbulkan salah tafsir bagi pembaca. Contoh: Tidak Ringkas Ringkas Siapa yang mengusutkan Persoalan itu diusut oleh siapa? persoalan itu? Pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengetahui kejelasan tulisan adalah: - Apakah saya sendiri mengerti dengan baik tulisan saya? - Apakah saya telah memilih kata dan menyusun kalimat dengan cermat? -

Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Hampir setiap saat kita sering mendengar anjuran “gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar.” Bahkan sebagai seorang guru, sering pula mengingatkan siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apakah istilah bahasa yang baik dan benar memang sudah dipahami maksudnya? Ataukah ada bahasa yang baik dan ada bahasa yang benar? Ataukah bahasa yang baik adalah bahasa yang benar? Berbahasa Indonesia yang baik adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan tempat tempat terjadinya kontak berbahasa, sesuai dengan siapa lawan bicara, dan sesuai dengan topik pembicaraan. Bahasa Indonesia yang baik tidak selalu perlu beragam baku. Yang perlu diperhatikan dalam berbahasa Indonesia yang baik adalah pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa. Ada pun berbahasa Indonesia yang benar adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar atau betul. Jadi, terkadang kita menggunakan bahasa bahasa yang baik, artinya tepat, tetapi tidak termasuk bahasa yang benar. Sebaliknya, terkadang pula mungkin kita menggunakan bahasa yang benar yang penerapannya tidak baik karena situasi mensyaratkan ragam bahasa yang baku. Maka anjuran agar kita “berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “ bahasa Indonesia yang baik dan benar”, sebaliknya, mengacu

1 - 26 Unit 1

ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran (Depdikbud, 1988). Di bawah ini disajikan sebuah kisah nyata yang dikutip dari Syafi’ie (1990): Seorang nakhoda kapal suatu ketika mengetahui bahwa di antara penumpangnya terdapat seorang ahli bahasa-bahasa Indonesia. Ia minta bantuan sang ahli bahasa itu untuk mengumumkan peraturan pengambilan makanan bagi para penumpangnya. Sang ahli bahasa yang bernama Prof. Dr. Van Ronkel kemudia berdiri di depan para penumpangnya: “Maka adalah nakhoda bahtera ini memberi maklumat kepada sekalian jemaah haji bahwasanya sekalipun tuan-tuan haji akan diberi makanan dan minuman bilamana warakah dari bahtera ini dipertunjukkan kepada tuan nakhoda.” Mendengar itu banyak jemaah haji yang terbengong-bengong dan tidak segera menukarkan tiketnya untuk mendapatkan makanan. Sang nakhoda pun bingungdan terheranheran. Segera saja ia memerintahkan seorang kelasi untuk mengumumkannya kembali. Sang kelasi dengan sedikit gemas mengucapkan: “Hee, apa kowe tidak mengerti, kalau mau makan, kasih lihat tiket? Ayo, lekas ambila makan!” Para jemaah haji yang semula terbengong-bengong segera saja beranjak dari duduknya dan turut pergi mengambil makanan. Melihat itu sang nakhoda kapal beserta kelasinya tak tahan menahan tawanya lagi. (G. D. Pasesa 1981: Enam Bulan Pasca Bulan Bahasa. Apa Kabar Pemakaian Bahasa?) Bagaimana? Ragam bahasa apakah yang digunakan oleh ahli bahasa dalam kutipan di atas? Apakah bahasanya komunikatif? Sebaliknya, ragam bahasa apa yang digunakan oleh sang kelasi? Kumunikatifkah ragam bahasanya atau tidak?

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 27

Rangkuman
Bahasa Indonesia memiliki berbagai macam ragam. Ragam bahasa Indonesia ditinjau dari sudut pandangan penutur terdiri atas: (1) ragam daerah, (2) ragam pendidikan, dan (3) sikap penutur. Ragam bahasa menurut jenis pemakaiannya dapat diperinci atas: (1) ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan, (2) ragam menurut sarananya, dan (3) ragam yang mengalami gangguan pencampuran. Ragam bahasa menurut sarananya terdiri atas: (1) ragam lisan dan (2) ragam tulisan. Sedangkan berdasarkan bidang wacana, ragam bahasa dapat dibedakan atas: (1) ragam ilmiah dan (2) ragam populer. Ragam bahasa baku menggunakan kaidah bahasa yang lebih lengkap dibandingkan dengan ragam tidak baku. Ciri ragam baku adalah sebagai berikut. (1) Memiliki sifat kemantapan dinamis. (2) Kecendekiaan. (3) Keseragaman kaidah. Adanya pembakuan bahasa atau bahasa Indonesia yang baku, bahasa Indonesia yang tidak baku tetap hidup dan berkembang sesuai dengan fungsinya dalam komunikasi. Dengan demikian, pembakuan tidak bermaksud untuk mematikan variasi-variasi bahasa tidak baku. Untuk mengatasi keanekaragaman pemakaian bahasa yang merupakan variasi dari bahasa tidak baku maka diperlukan bahasa bahasa baku atau bahasa standar, karena bahasa baku tidak hanya ditandai oleh kesergaman dan ketunggalan ciri-cirinya tetapi juga ditandai oleh keseragaman dan ketunggalan fungsi-fungsinya. Bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang dipergunakan dalam: (1) komunikasi resmi; (2) wacana teknis; (3) pembicaraan di depan umum; dan (4) pembicaraan dengan orang yang dihormati.

1 - 28 Unit 1

Ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia baku adalah seperti berikut. (1) Pemakaian awalan me- dan ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten. (2) Pemakaian fungsi gramatikal (subyek, predikat, dan sebagainya secara eksplisit dan konsisten. (3) Pemakaian fungsi bahwa dan karena (bila ada) secara eksplisit dan konsisten (pemakaian kata penghubung secara tepat dan ajeg) (4) Pemakaian pola frase verbal aspek + agen + verba (bila ada) secara konsisten (penggunaan urutan kata yang tepat) (5) Pemakaian konstruksi sintesis (lawan analitis) (6) Pemakaian partikel kah, lah, dan pun secara konsisten (7) Pemakaian preposisi yang tepat (8) Pemakaian bentuk ulang yang tepat menurut fungsi dan tempatnya (9) Pemakaian unsur-unsur leksikal berikut berbeda dari unsur-unsur yang menandai bahasa Indonesia baku (10) Pemakaian ejaan resmi yang sedang berlaku (EYD) (11) Pemakaian peristilahan resmi (12) Pemakaian kaidah yang baku Ada dua perbedaan antara ragam bahas tulis dengan ragam bahasa lisan, yaitu: (1) suasana peristiwanya, dan (2) dari segi intonasi. Bahasa tulis perlu lebih jelas. Fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, objek, dan hubungan antara setiap fungsi itu harus nyata dan erat. Kalimat harus lebih lengkap, ringkas, jelas, dan elok. Sedangkan dalam bahasa lisan, karena pembicara berhadapan langsung dengan pendengar, unsur (subjek-predikat-objek) kadangkala dapat diabaikan. Yang membedakan bahasa lisan dan tulisan adalah berkaitan dengan intonasi (panjang-pendek suara/tempo, tinggi-rendah suara/nada, keras-lembut suara/tekanan) yang sulit dilambangkan dalam ejaan dan tanda baca, serta tata tulis yang dimiliki. Jadi, kadangkala bahasa tulisan perlu dirumuskan kembali jika ingin menyampaikan perasaan yang sama lengkapnya dengan ungkapan perasaan dalam bahasa lisan. Tiga krakteristik bahasa tulisan yang perlu diperhatikan, yaitu acuracy, brevety, claryty (ABC). (a) Acuracy (akurat) adalah segala informasi atau gagasan yang dituliskan dapat memberi keyakinan bagi pembaca bahwa hal tersebut masuk akal atau logis.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 29

(b) Brevety (ringkas) yang berarti gagasan tertulis yang disampaikan bersifat singkat karena tidak menggunakan kata yang mubazir dan berulang, seluruh kata yang digunakan dalam kalimat ada fungsinya. (c) Claryty (jelas) adalah tulisan itu mudah dipahami, alur pikirannya mudah diikuti oleh pembaca. Tidak menimbulkan salah tafsir bagi pembaca. Berbahasa Indonesia yang baik adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan tempat tempat terjadinya kontak berbahasa, sesuai dengan siapa lawan bicara, dan sesuai dengan topik pembicaraan. Bahasa Indonesia yang baik tidak selalu perlu beragam baku. Berbahasa Indonesia yang benar adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Dengan kata lain, pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku.

1 - 30 Unit 1

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Ragam bahasa Indonesia ditinjau dari sudut pandangan penutur terdiri atas... A. ragam daerah B. ragam baku C. ragam pendidikan D. sikap penutur 2. Ciri khas ragam daerah dapat diketahui dari... A. aksen yang dipakai oleh penutur B. kata yang dipakai oleh penutur C. baku tidaknya bahasa yang dipakai oleh penutur D. ilmiah tidaknya bahasa yang dipakai oleh penutur 3. Ragam pendidikan dapat dibagi atas ragam... A. lisan dan tulisan. B. ragam ilmiah dan ragam populer. C. ragam resmi dan tidak resmi. D. bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku. 4. Ciri ragam baku adalah...kecuali: A. mudah dipahami. B. memiliki sifat kemantapan dinamis. C. kecendekiaan. D. mengungkapkan penalaran yang teratur, logis dan masuk akal. 5. Ragam bahasa menurut sikap penutur, biasa juaga disebut... A. logat. B. gaya. C. aksen. D. intonasi. 6. Ragam bahasa menurut jenis pemakaiannya dapat diperinci atas...kecuali: A. ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan. B. ragam menurut sarananya. C. ragam yang mengalami gangguan pencampuran. D. ragam dari sudut pandang pembicara atau penutur.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 31

7. Istilah strategi dalam ilmu pendidikan berbeda maknannya dengan istilah strategi dalam kalangan militer. Contoh teersebut adalah termasuk... A. ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan. B. ragam menurut sarananya. C. ragam yang mengalami gangguan pencampuran. D. ragam dari sudut pandang pembicara atau penutur. 8. Ragam bahasa menurut sarananya terdiri atas... A. lisan dan tulisan. B. ragam ilmiah dan ragam populer. C. ragam resmi dan tidak resmi. D. bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku. 9. Ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia yang baku berikut adalah.... A. Ia lempar anjing gila yang lewat di depan rumahnya. B. Dia punya anak sudah duduk di kelas II SD. C. Cuma dia yang selalu ada dalam pikirannya. D. Dia sudah mampu berjalan dengan sempurna setelah diopname di rumah sakit. 10. Karakteristik bahasa tulisan yang perlu diperhatikan dalam ragam bahasa tulis yaitu... kecuali: A. Acuracy B. Brevety C. Efektivity D. Claryty

1 - 32 Unit 1

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Bagaiamana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 2 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 2, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 33

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1 1. A: kata dan kalimat merupakan unsur bahasa tetapi bukan unsur dasar karena yang merupakan unsur dasar bahasa adalah ujaran 2. C: sifat-sifat bahasa yaitu: sistematik, mana suka, ujar, manusiawi, dan komunikatif. 3. D: Ujaran manusia dapat dikatakan sebagai bahasa apabila ujaran tersebut mengandung makna. 4. D: Perbendaharaan kata baru berfungsi bila ditempatkan dalam suatu arus ujaran, dimanfaatkan untuk berkomunikasi, dan dipakai untuk mengadakan inter-relasi antar anggota-anggota masyarakat 5. C: Bahasa dikatakan bersifat sistematis jika memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya 6. D: bahasa disebut mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar, tidak ada hubungan logis antara bunyi dan makna yang disimbolkannya, ditentukan bukan atas dasar kriteria atau standar tertentu 7. A: Bahasa disebut bersifat komunikatif karena bahasa adalah sebagai alat berkomunikasi 8. B: Fungsi-fungsi bahasa adalah: fungsi informasi ekspresi diri, adaptasi, integrasi, dan fungsi kontrol sosial 9. A: Fungsi khusus bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional (jelas) 10. C: Fungsi bahasa baku sebagai kerangka acuan mengandung maksud bahwa bahasa baku merupakan norma dan kaidah yang menjadi tolok ukur yang disepakati bersama untuk menilai ketepatan penggunaan bahasa atau ragam bahasa. Tes Formatif 2 1. B: Ragam bahasa Indonesia ditinjau dari sudut pandangan penutur terdiri atas ragam daerah, ragam pendidikan, dan sikap penutur. 2. C: Ciri khas ragam daerah dapat diketahui dari aksen yang dipakai oleh penutur 3. D: Ragam pendidikan dapat dibagi atas ragam bahasa baku dan ragam

1 - 34 Unit 1

4. A: 5. B: 6. D:

7. A:

8. A: 9. D:

10. C:

bahasa tidak baku Ciri ragam baku adalah memiliki sifat kemantapan dinamis. Kecendekiaan dan keseragaman kaidah. Ragam bahasa menurut sikap penutur, biasa juaga disebut langgam atau gaya Ragam bahasa menurut jenis pemakaiannya dapat diperinci atas ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan, ragam menurut sarananya, dan ragam yang mengalami gangguan pencampuran. Ragam dari sudut pandangan bidang atau pokok persoalan mengandung maksud bahwa ragam bahasa antara bidang tertentu dengan bidang yang lain atau pokok persoalan tertentu dengan pokok persoalan yang adalah berbeda. Ragam bahasa menurut sarananya terdiri atas: ragam lisan dan ragam tulisan. Ciri struktur (unsur-unsur) bahasa Indonesia yang baku antara lain Pemakaian awalan me- dan ber- (bila ada) secara eksplisit dan konsisten. Acuracy, brevety, dan claryty adalah karakteristik bahasa tulisan yang perlu diperhatikan dalam ragam bahasa tulis.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 35

Glosarium
interaksi hakikat kompetensi : bergaul, saling mempengaruhi : inti sari atau dasar, kenyataan sesungguhnya : Seperangkat kemampuan dan tindakan cerdas yang penuh dengan tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai prasyarat kecakapan untuk mengerjakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu : penyampaian dan penerimaan informasi di antara dua orang atau lebih dengan menggunakan simbol verbal dan non verbal : ide, gagasan, perasaan, atau informasi yang terkandung dalam peristiwa komunikasi, isi komunikasi

komunikasi pesan

1 - 36 Unit 1

Daftar Pustaka
Alwi, Hasan. Dkk. (1988). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia ed ke 3. Jakarta: Balai Pustaka Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Depdiknas. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Goeler, Carl. 1980. Writing to Communicate. London: A Mentor Books. Halliday, M.A.K. dan Ruqaya. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks. Terjemahan oleh Asraruddin B. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Keraf, Gorys. 1986. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah Kridalaksana, Harimurti. 1978. Fungsi dan Sikap Bahasa. Ende-Flores. Samsuri. 1985. Analisis Bahasa. Jakarta: Sastra Hudaya. Santoso, Puji. 2004. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Pusat Penerbitan UT

Kajian Bahasa Indonesia di SD

1- 37

Unit

2

TEORI PEMEROLEHAN DAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

Muh. Faisal Pendahuluan
nit 2 bahan ajar mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD ini di dalamnya dibahas Teori Pemerolehan dan Perkembangan Bahasa Anak . Unit ini terdiri atas 2 sub unit yaitu: (1) Pemerolehan Bahasa Anak dan (2) Perkembangan Bahasa Anak. Saudara, materi dalam unit ini sangat penting karena akan memberikan wawasan kepada Anda tentang bagaimana sesungguhnya cara anak-anak belajar bahasa dan sejak kapan anak-anak mulai belajar bahasa. Pemahaman yang baik mengenai hal itu, tentu akan memudahkan Anda untuk menciptakan suasana pembelajaran bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi, kebiasaan, dan strategi belajar bahasa anak yang memungkinkannya menguasai bahasa dengan baik dan benar. Untuk itulah, setelah mempelajari unit ini, diharapkan Anda mampu: 1. menjelaskan hakikat pemerolehan bahasa anak, 2. ragam pemerolehan bahasa anak, 3. strategi pemerolehan bahasa anak, 4. menjelaskan hakikat perkembangan bahasa anak, 5. menjelaskan tahap-tahap perkembangan bahasa anak. Namun perlu Anda perhatikan, untuk mencapai tujuan di atas, perhatikanlah hal-hal berikut ini!

U

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 1

Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-berkelanjutan. Pelajari setiap bagian secara cermat dan seksama. Mulailah dengan membaca konsep, uraian, dan contohcontoh yang terdapat di dalamnya. Jangan lupa mengaitkan materi yang Anda baca dengan pengalaman Anda sebagai guru atau orang tua yang bergaul dengan anak-anak. Untuk menambah pemahaman dan wawasan Anda, pelengkap materi unit ini juga terdapat di web-site. Bukalah web-site. Masih ingat kan, caranya? Jangan lupa pula mengerjakan latihan/tugas. Setiap latihan/tugas disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Rambu-rambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Bila Anda mendapat kesulitan dalam memahami kata atau istilah yang terdapat pada unit ini, lihatlah glosarium dalam unit ini atau manfaatkanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Setelah melakukan kegiatan secara bertahap-berkelanjutan seperti disebutkan di atas, dan merasa telah menguasai materi unit ini, sekarang kerjakan soal-soal tes formatif. Setelah itu, cocokkan jawaban tes formatif Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini sehingga dapat mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contohcontoh, dan rangkuman yang ada. Selamat Belajar!

2 - 2 Unit 2

Subunit 1 Pemerolehan Bahasa Anak

S

elama ini, kita masih sering mendengar keluhan atau pertanyaan dari para guru SD “Mengapa siswa sulit menguasai materi pembelajaran bahasa Indonesia?” “Mengapa siswa tidak tertarik dengan mata pelajaran bahasa Indonesia” “Mengapa nilai bahasa Indonesia siswa masih rendah?” dan berbagai keluhan lain yang terkait dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Padahal kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, pada saat anak-anak belajar bahasa di luara sekolah, mereka tampak belajar dengan mudah. Mereka belajar bahasa di rumah atau di lingkungan bermainnya dengan senang tanpa rasa bosan. Anda pun sering memperhatikan hal ini, bukan? Menurut Ken Goodman (Tarigan dkk., 1998), penyebab munculnya masalah seperti di atas adalah karena guru kurang memperhatikan: (1) pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan berbahasa yang telah dimiliki anak sebelum bersekolah; dan (2) situasi, kebiasaan, dan strategi belajar bahasa anak yang memungkinnya menguasai bahasa dengan baik di luar sekolah. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa memahami dengan baik teori-teori pemerolehan bahasa dan perkembangan bahasa anak teramat penting bagi seorang guru karena dapat Anda manfaatkan untuk menciptakan pembelajaran bahasa di sekolah yang dapat membantu anak mengalami dan memperoleh hasil belajar yang lebih optimal. Untuk itu, pelajari uraian berikut dengan baik!

Hakikat Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan denga hal itu, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk., 1998). Selain pendapat tersebut, Kiparsky dalam Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 3

hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa bersangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang sistem kaidah yang ada di dalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadar dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. Adapun karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan dkk. (1998) adalah: (a) berlangsung dalam situasi informal, anak-anak belajar bahasa tanpa beban, dan di luar sekolah; (b) pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal di lembagalembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus; (c) dilakukan tanpa sadar atau secara spontan; dan (c) dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak. Saudara, berhentilah dulu membaca. Sekarang, coba ingat kembali apa yang telah dibaca. Apa sudah dipahami? Baiklah, sekarang kerjakan latihan berikut!

Latihan
Menurut Anda, benarkah bahwa anak belajar bahasa kelihatannya mudah ketika di luar sekolah, dan sulit ketika belajar di sekolah?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Latihan akan mudah terjawab jika Anda mengadakan pengamatan terhadap perilaku anak yang sedang berbahasa di luar sekolah. Kalau perlu, tanyakan kepada mereka, apakah senang dan tidak sulit menggunkan bahasa. Kalau kita perhatikan, posisi bahasa Indonesia dalam pemerolehan bahasa bagi anak Indonesia akan ditemukan bahwa ada anak yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan ada pula menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Anak yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama, bahasa pertama yang dikenal dan dikuasai adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesialah yang pertama-tama dijadikan sebagai
2 - 4 Unit 2

sarana komunikasi verbal sejak dia bayi. Anak yang bahasa pertamanya bahasa Indonesia banyak dijumpai sekarang ini, terutama pada keluarga yang tinggal di kota. Penyebabnya sebagai berikut. (1) Perkawinan antarpenutur bahasa yang berbeda. Masing-masing pihak tidak saling memahami bahasa daerah pasangannya. (2) Perkawinan antarpenutur bahasa daerah yang sama dengan situasi berikut ini. - Lingkungan sosial sekitar keluarga menggunakan bahasa Indonesia sebagai media komunikasi. - Lingkungan masyarakat sekitar menggunkan bahasa daerah yang tidak dikuasai oleh keluaga itu. - Lingkungan menggunkan bahasa daerah yang sama dengan bahasa keluarga itu, tetapi karena pertimbangan praktis, bahasa yang digunakan dalam keluarga itu bahasa Indonesia (Tarigan dkk., 1998). Selanjutnya Tarigan dkk. (1998) mengungkapkan bahwa anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menggunkan bahasa daerah sebagai media komunikasi kesehariannya, kemungkinan besar anak itu bahasa pertamanya adalah bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya. Sekalipun anak itu telah mengenal bahasa Indonesia melalui berbagai media (misalanya radio dan televisi), tetapi bahasa Indonesia yang dikuasainya baru benar-benar digunakan ketika telah bersekolah.

Ragam Pemerolehan Bahasa Anak
Ragam atau jenis pemerolehan bahasa anak menurut Tarigan (1988) dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan, antara lain: (a) berdasarkan bentuk, (b) berdasarkan urutan, (c) berdasarkan jumlah, (d) berdasarkan media, (e) berdasarkan keaslian. Ditinjau dari segi bentuk, dikenal ragam: (a) pemerolehan bahasa pertama, (b) pemerolehan bahasa kedua, (c) pemerolehan-ulang. Ditinjau dari segi urutan, dikenal ragam: (a) pemerolehan bahasa pertama,

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 5

(b) pemerolehan bahasa kedua Ditinjau dari segi jumlah, dikenal ragam: (a) pemerolehan satu bahasa, (b) pemerolehan dua bahasa. Ditinjau dari segi media, dikenal ragam: (a) pemerolehan bahasa lisan, (b) pemerolehan bahasa tulis. Ditinjau dari segi keaslian atau keasingan, dikenal ragam: (a) pemerolehan bahasa asli, (b) pemerolehan bahasa asing. Anda perlu perhatikan bahwa memang terdapat beberapa istilah pemerolehan bahasa dari segi bentuk, urutan, dan keaslian, tetapi dalam pengertian hampir sama. Misalnya, istilah pemerolehan bahasa pertama dengan pemerolehan bahasa asli, dan antara pemerolehan bahasa kedua dengan pemerolehan bahasa asing tidak ada perbedaan pengertian. Apabila ditinjau dari segi keserentakan atau keberurutan, pada dasarnya pemerolehan dua bahasa oleh seorang anak dapat terjadi dalam dua cara, yaitu (a) pemerolehan bahasa secara serentak, dan (b) pemerolehan bahasa secara berurut. Pemerolehan serempak dua bahasa terjadi pada anak yang dibesarkan dalam masyarakat bilingual (menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi) atau dalam masyarakat multilingual (menggunakan lebih dari dua bahasa). Anak mengenal, mempelajari, dan menguasai kedua bahasa secara bersamaan. Sedangkan pemerolehan berurut dua bahasa terjadi bila anak menguasai dua bahasa dalam rentang waktu yang relatif berjauhan (Tarigan, 1988 dan Tarigan dkk., 1998).

Latihan
Sekarang, kerjakan tugas berikut! 1. Dari keseluruhan jumlah siswa Anda, berapa orang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan berapa orang yang menggunkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama. Jelaskan, mengapa demikian? 2. Adakah siswa Anda yang menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah, apakah pemerolehan kedua bahasa terjadi secara serempak atau berurutan? Apa alasan Anda!

2 - 6 Unit 2

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Gunakan tabel berikut untuk menjawab soal nomor 1 dan 2. Agar data yang diperlukan lebih lengkap, lakukan wawancara dengan orang tua siswa Anda.
No Nama Ayah Ayah Ibu Bahasa Bahasa Kependudukan Penjelasan B1 Pend Pek. B1 Pend Pek. Keluar- Masy. Asli Penda. ga Sekitar . tang

Sumber: Tarigan dkk. (1998: 1.7) Keterangan: - B1 : Bahasa pertama - Pend. : Pendidikan - Pek. : Pekerjaan - Masy. : Masyarakat

Strategi Pemerolehan Bahasa Anak
Saudara, pasti kalian bertanya-tanya, “Bagaimana caranya seorang anak memperoleh bahasanya?” “Apakah kemampuan berbahasa anak adalah pembawaan atau ada faktor-faktor lain yang memungkinkannya memiliki kemampuan tersebut?” Menurut Tarigan (1988), untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita harus mempertimbangkan masalah interaksi sang anak dengan konteksnya. Landasan atau dasar kognitif pemerolehan bahasa sangat mudah sekali terlihat dalam tiga hal, yaitu: (1) perkembangan semantik sang anak, (2) perkembangan sintaksis permulaan, dan (3) penggunaan aktif sang anak akan sejenis siasat belajar. Kalau kita amati, anak-anak pada umumnya cenderung lebih cepat belajar dan menguasai suatu bahasa, terutama bahasa ibunya. Sejak lahir seorang bayi sudah memperoduksi bunyi yaitu mengeram atau menangis. Bunyibunyi itu menggambarkan suasana kebutuhan dalam upaya merespon terhadap lingkungan internal dan eksternalnya. Sejalan dengan pertumbuhan usia bayi tersebut, maka bunyi-bunyi yang diproduksinya itu mulai ada kecenderungan mempunyai kemiripan dengan bahasa (kata-kata) orang dewasa, misalanya “mama”.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 7

Kata “ma-ma” (biasa diistilahkan dalam kajian bahasa sebagai “babling”) yang dituturkan oleh si bayi, diprediksikan sebagai langkah awal dari perkembangan fonologi anak untuk pemerolehan bahasa. Para behavioris berpandangan bahwa setiap orang terdorong (apakah dorongan positif atau negatif) untuk melakukan sesuatu. Bahasa itu merupakan ciri dan milik manusia, merupakan pembeda dari makhluk ciptaan lainnya. Bahasa itu bertemali dengan beraneka sistem pada akal manusia dan sekaligus dibentuk oleh sistem yang ada itu. Saudara, untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan sebuah ilustarsi hipotesis klasik berikut ini. Amatilah seorang bayi yang sedang tidur telentang di pembaringan. Saat ibunya menghampiri dan mengajaknya bermain, si bayi merasa senang dan mulai “membabling”. Dia merasa akan mendapatkan respon dari sang ibu. Si ibu pun memahami apa yang dikehendaki oleh sang bayi. Kemudian, si bayi digendong, didekap dan dipeluk dalam pangkuan, disendaguraui atau ditimang, atau barangkali diselingi pula dengan ungkapan suara-suara puji kasih sayang dari sang ibu. Semakin besar perhatian sang ibu curahkan ke pada si bayi, maka semakin berani pula sang bayi melahirkan ungkapan-ungkapan sebagai respon atas stimulus yang diberikan oleh si ibu kepadanya. Respon-respon yang diberikan kepada sang ibu tiada lain suatu pertanda telah terjalinnya proses interaksi pada tahap awal kemampuan berbahasa sang bayi. Kejadian semacam itu bagi si bayi dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan atau positif reinforsmen. Setiap dia menyuarakan “ma-ma”, dia akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, maka dia akan mengulanginya terus dan terus. Kondisi belajar bahasa semacam itu akan terus mempengaruhi seorang anak hingga ia menjadi tumbuh dewasa. Dorongan yang positif tadi terus mempengaruhinya sehingga timbul keinginan seorang anak untuk meniruniru orang dewasa berbahasa. Dari ilustrasi di atas, apakah Anda sudah memahami bagaimana strategi anak memperoleh bahasa? Ya, anak memperoleh kemampuan berbahasa lisan melalui peniruan dan pengalaman langsung. Apakah hanya itu? Menurut Tarigan dkk. (1998), selain meniru dan mengalami langsung, anak memperoleh kemampuan berbahasa dengan cara mengingat, bermain, dan penyederhanaan. Mengingat, memainkan peranan penting dalam belajar bahasa anak atau belajar apa pun. Setiap pengalaman indrawi yang dilalui anak, direkam dalam benaknya. Pada tahap awal belajar bahasa, anak mulai membangun pengetahuan

2 - 8 Unit 2

tentang kombinasi bunyi-bunyi tertentu yang menyertai dan merujuk pada sesuatu yang dia alami. Ingatan ini akan semakin kuat, terutama bila penyebutan akan benda atau peristiwa tertentu terjadi berulang-ulang. Dengan cara ini, anak akan mengingat kata-kata tentang sesuatu sekaligus mengingat pula cara mengucapnya. Kegiatan bermain pun memegang peran penting dalam pemerolehan bahasa anak. Dalam kegiatan bermain, anak-anak sering dan senang bermain peran yaitu memerankan perilaku orang dewasa atau perilaku orang lain di sekelilingnya. Tampa mereka sadari, dalam kegiatan bermain tersebut mereka berlatih berbicara dan menyimak. Selanjutnya, cara belajar dengan penyederhanaan, maksudnya adalah ketika berbicara anak-anak pada awalnya cenderung menyederhanakan model tuturan orang dewasa. Ada beberapa fonem dan bahkan kata yang dihilangkan pada saat bertutur. Walaupun dalam bertutur, anak-anak hanya menggunakan satu kata tetapi memiliki cakupan makna yang luas (Tarigan dkk., 1998). Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak? Ada dua persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimiliki sang anak, serta dukungan sosial yang diperolehnya. Selain itu, ada beberapa faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal di atas yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak. Faktor-faktor yang dimaksud adalah seperti berikut: (a) faktor biologis; (b) faktor lingkungan sosial; (c) faktor intelegensi; dan (d) faktor motivasi (Tarigan dkk., 1998) Noam Chomsky, tokoh behavioris, berpendapat bahwa semua manusia mempunyai kemampuan bawaan untuk berbahasa. Dari kegiatan berinteraksi dengan lingkungan, seseorang akan mampu belajar bahasa atau membentuk kemampuan berbahasa (Dworetzky, 1990). Perangkat biologis yang menentukan anak dapat memperoleh kemampuan bahasanya ada tiga, yaitu otak (sistem syaraf pusat), alat dengar, dan alat ucap. Dalam proses berbicara, sistem syaraf yang ada di otaklah sebagai pengendali. Semua isyarat tanggapan bahasa yang sudah diproses di otak selanjutnya dikirimkan ke daerah motor seperti alat ucap, untuk menghasilkan bahasa secara fisik (Tarigan dkk., 1998). Terkait dengan pandanga di atas, Slobin dalam (Nurhadi dan Roekhan, 1990) mengemukakan bahwa seorang anak itu lahir dengan seperangkat

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 9

prosedur dan aturan-aturan bahasa yang oleh Chomsky dinamakan Language Acquisition Device (LAD). Selanjutnya Slobin mengatakan bahwa yang dibawa lahir itu bukanlah pengetahuan seperangkat kategori linguistik yang semsta sepeerti yang dikatakan oleh Chomsky. Prosedur-prosedur dan aturan-aturan bahasa bahasa yang dibawa lahir itulah yang memungkinkan seorang anak untuk mengolah data linguistik. Tetapi perlu diketahui bahwa prosedur dan aturanaturan bahasa bawaan bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan bahasa anak selanjutnya, karena potensi ini harus ditunjang faktor kognitif dan situasi mental anak. Dengan demikian, anak yang tidak sehat mentalnya tidak dapat mengembangkan potensi bahasa itu dengan baik. Bahkan, mungkin sama sekali potensi itu tidak dapat difungsikan. Perkembangan umum kognitif dan mental anak adalah faktor penetu dalam proses pemerolehan bahasa. Seorang anak memperoleh atau belajar bahasa ibunya dengan jalan mengetahui struktur dan fungsi bahasa, dan secara aktif ia berusaha untuk mengembangkan keterampilan berbahasa menurut cara yang diperoleh dari lingkungannya. Oleh karena itu, bahasa yang diperoleh anak tidak diwariskan secara genetis atau keturunan, tetapi didapat dalam lingkungan yang menggunakan bahasa. Sehubungan dengan hal itu, maka anak memerlukan orang lain, anak memerlukan contoh atau model berbahasa, respon dan tanggapan, serta teman untuk berlatih dan beruji coba dalam belajar bahasa dalam konteks yang sesungguhnya. Dengan demikian, lingkungan sosial merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pemerolehan bahasa anak. Selain lingkungan sosial, intelegensi pun berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa anak. Anak yang berintelegensi tinggi, tingkat pencapaian bahasanya cenderung lebih cepat, lebih banyak, dan lebih variatif khasanah bahasanya daripada anak-anak yang berintelegensi rendah (Tarigan dkk., 1998). Bagaimana dengan faktor komunikasi? Pada ilustrasi sebelumnya sudah diuraikan bahwa semakin besar perhatian sang ibu curahkan ke pada si bayi, maka semakin berani pula sang bayi melahirkan ungkapan-ungkapan sebagai respon atas stimulus yang diberikan oleh si ibu kepadanya. Kejadian semacam itu bagi si bayi dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan atau positif reinforsmen. Setiap dia menyuarakan “ma-ma”, dia akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, maka dia akan mengulanginya lagi. Kondisi belajar bahasa semacam itu akan terus mempengaruhi seorang anak hingga ia menjadi tumbuh dewasa. Dorongan yang positif tadi terus mempengaruhinya sehingga timbul keinginan seorang anak untuk meniru-niru orang dewasa berbahasa. Dengan

2 - 10 Unit 2

demikian sudah jelas bahwa motivasi atau dorongan akan memacu anak untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi. Selain pendapat di atas, Ellies dkk. (1989) mengemukakan bahwa anak belajar berbicara sesuai dengan kebutuhannya. Sekiranya ia dapat memperoleh apa yang diinginkannya tampa bersusah payah untuk memintanya, maka ia tidak merasa perlu untuk berusaha belajar berbahasa. Jadi pada mulanya motif anak belajar bahasa ialah agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, keinginankeinginannya, dan menguasai lingkungannya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dengan demikian, kebutuhan utama anak-anak sehingga belajar berbahasa adalah: (a) keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, kemudian mengenai dirinya sendiri dan kawan-kawannya; (b) memberi perintah dan menyatakan kemauan; (c) pergaulan sosial dengan orang lain; dan (d) menyatakan pendapat dan ide-idenya.

Rangkuman
Pemerolehan bahasa adalah proses yang digunakan oleh anak-anak dalam memiliki kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, yang berlangsung secara alami, dalam situasi formal, spontan, dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak. Posisi bahasa Indonesia dalam pemerolehan bahasa bagi anak Indonesia akan ditemukan bahwa ada anak yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama dan ada pula menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Anak yang bahasa pertamanya bahasa Indonesia bila anak dibesarkan oleh orang tua yang hanya menguasai bahasa Indonesia, orang tua yang berasal dari bahasa daerah yang berlainan, lingkungan masyarakat sekitar menggunkan bahasa daerah yang tidak dikuasai, dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang berbahasa daerah. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menggunkan bahasa daerah sebagai media komunikasi kesehariannya, kemungkinan besar anak itu bahasa pertamanya adalah bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya. Pemerolehan bahasa juga dapat terjadi secara serempak dua bahasa dan secara berurutan. Pemerolehan secara serempak dua bahasa terjadi pada anak yang dibesarkan dalam masyarakat bilingual (menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi) atau dalam masyarakat multilingual (menggunakan lebih dari

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 11

dua bahasa). Sedangkan pemerolehan berurut dua bahasa terjadi bila anak menguasai dua bahasa dalam rentang waktu yang relatif berjauhan Ragam atau jenis pemerolehan bahasa anak dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan, antara lain: (a) berdasarkan bentuk - pemerolehan bahasa pertama - pemerolehan bahasa kedua - pemerolehan-ulang (b) berdasarkan urutan - pemerolehan bahasa pertama - pemerolehan bahasa kedua (c) berdasarkan jumlah - pemerolehan satu bahasa - pemerolehan dua bahasa (d) berdasarkan media - pemerolehan bahasa lisan - pemerolehan bahasa tulis (e) berdasarkan keaslian - pemerolehan bahasa asli - pemerolehan bahasa asing (3) Strategi anak memperoleh bahasa melalui: (a) peniruan, (b) pengalaman langsung (c) mengingat, (d) bermain, dan (e) penyederhanaan. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak, yaitu: (a) faktor biologis; (b) faktor lingkungan sosial; (c) faktor intelegensi; dan (d) faktor motivasi.

2 - 12 Unit 2

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Proses yang digunakan oleh anak-anak dalam memiliki kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, yang berlangsung secara alami, dalam situasi formal, spontan, dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak adalah hakikat... A. bahasa. B. perkembangan bahasa. C. pemerolehan bahasa. D. bahasa pertama. 2. Karakteristik pemerolehan bahasa adalah....kecuali: A. berlangsung dalam situasi informal. B. pemilikan bahasa melalui pembelajaran formal di lembaga-lembaga pendidikan. C. dilakukan tanpa sadar atau secara spontan. D. dialami langsung oleh anak. 3. Anak yang bahasa pertamanya bahasa Indonesia banyak dijumpai sekarang ini, penyebabnya... A. lingkungan sosial sekitar keluarga menggunakan bahasa daerah sebagai media komunikasi. B. lingkungan masyarakat sekitar menggunkan bahasa Indonesia yang tidak dikuasai oleh keluaga itu. C. Perkawinan antarpenutur bahasa yang berbeda dan masing-masing pihak saling memahami bahasa daerah pasangannya. D. Perkawinan antarpenutur bahasa yang berbeda dan masing-masing pihak tidak saling memahami bahasa daerah pasangannya. 4. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menggunkan bahasa daerah sebagai media komunikasi kesehariannya, kemungkinan besar anak itu bahasa pertamanya adalah ... A. bahasa Indonesia. B. bahasa daerah. C. bahasa asing. D. bahasa daerah dan bahasa Indonesia. 5. Ragam atau jenis pemerolehan bahasa anak dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan, antara lain...kecuali:

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 13

A. berdasarkan bentuk. B. berdasarkan urutan. C. berdasarkan sarana. D. berdasarkan media. 6. Jika anak dibesarkan dalam masyarakat bilingual atau dalam masyarakat multilingual, maka anak akan memperoleh bahasa.... A. secara serempak dua bahasa. B. secara berurutan dua bahasa. C. secara alamiah. D. secara simultan. 7. Anak memperoleh kemampuan berbahasa lisan melalui...kecuali: A. peniruan. B. pengalaman langsung. C. mengingat. D. pembelajaran. 8. Pada saat anak-anak belajar bertutur terkadang ada beberapa fonem dan bahkan kata yang dihilangkan pada saat bertutur, itu adalah salah satu strategi anak memperoleh bahasa dengan cara... A. peniruan. B. Penyederhanaan. C. pengalaman langsung. D. mengingat. 9. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak adalah...kecuali: A. faktor biologis. B. faktor lingkungan sosial. C. faktor genetis. D. faktor intelegensi. 10. Upaya yang dapat dilakukan agar anak terpacu untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi adalah...kecuali: A. menciptakan kondisi lingkungan yang menyenangkan. B. memberi motivasi. C. memberi hadiah. D. membenarkan kesalahan anak.

2 - 14 Unit 2

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Bagaiamana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 2 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai. x 100%

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 15

Subunit Perkembangan BAHASA ANAK

M

asih ingatkah materi subunit 1? Semoga! Anak-anak belajar berkomunikasi dengan orang lain lewat berbagai cara atau strategi. Meskipun cara anak yang satu dengan anak yang lain berbeda, ada hal-hal yang umum terjadi pada hampir setiap anak. Pengetahuan tentang hakikat perkembangan bahasa anak dan tahap-tahap perkembangan bahasa anak sangat penting bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa anak. Itulah sebabnya guru SD perlu menguasai berbagai konsep yang terkait dengan perkembangan bahasa anak.

Hakikat Perkembangan Bahasa Anak
Saudara, kita dapat berbahasa dengan lancar seperti sekarang ini tidak terjadi dengan tib-tiba. Ini memerlukan latihan yang intensif selama masa perkembangan dan melalui tahapan yang berangsur-angsur sempurna. Pada awalnya segala yang kita dengarkan dari lingkungan adalah sama. Kita dapat mengembangkan karena bakat bawaan, karena lingkungan atau karena faktor lain yang menunjang yaitu perkembangan fisik dan intelektual. (Masih ingat, kan? Uraian tentang hal ini pada subunit 1). Yang sangat menakjubkan ialah, pada masa kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat, kita sudah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar kita. Bahkan sebelum bersekolah, kita telah mampu betutur seperti orang dewasa untuk berbagai keperluan dan dalam bermacam situasi. Terkait dengan hal tersebut di atas, Darjowidjojo (Tarigan dkk., 1998) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa anak itu tidaklah tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan kemampuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Tangisan, bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan jembatan yang mefasilitasi alur perkembangan bahasa anak menuju kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak, celoteh merupakan semacam latihan
2 - 16 Unit 2

untuk menguasai gerak artikulatoris (alat ucap) yang lama kelamaan dikaitkan dengan kebermaknaan bentuk bunyi yang diujarkannya.

Tahap-tahap Perkembangan Bahasa Anak
Ada beberapa ahli yang membagi tahap-tahap perkembangan bahasa itu ke dalam tahap pralinguistik dan tahap linguistik. Akan tetapi ada ahli-ahli lain yang menyanggah pembagian ini, dan mengatakan bahwa tehap pralinguistik tidak dapat dikatakan bahasa permulaan karena bunyi-bunyi seperti: tangisan, rengekan, dan lain sebagainya dikendalikan oleh ransangan (stimulus) semata. Sudah diuraikan sebelumnya bahwa kemampuan berbahasa anak-anak tidaklah diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi berkembang secara bertahap. Tahapan perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas: (1) tahap pralingustik, (2) tahap satu-kata, (3) tahap dua-kata, dan (4) tahap banyak-kata. 1. Tahap Pralingustik (0 – 12 bulan) Sebelum mampu mengucapkan suatu kata, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun. Namun pada tahap ini, bunyibunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu berupa vokal atau konsonan tertentu tetapi tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Untuk itulah sehingga perkembangan bahasa anak pada masa ini disebut tahap pralinguistik (Tarigan, 1988; Tarigan dkk., 1998; Ellies dkk.,1989). Bahkan pada awalnya, bayi hanya mampu mengeluarkan suara yaitu tangisan. Pada umumnya orang mengatakan bahwa bila bayi yang baru lahir menangis, menandakan bahwa bayi tersebut merasa lapar, takut, atau bosan. Sebenarnya tidak hanya itu saja terjadi. Para peneliti perkembangan mengatakan bahwa lingkungan memberikan mereka halangan tentang apa yang dirasakan oleh bayi, bahkan tangisan itu sudah mempunyai nilai komunikatif. Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7 – 12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat. Sebagian bayi mulai mengucapkan suku kata dan menggandakan rangkaian kata seperti “dadada” atau “mamama”. Ini dekanal dengan masa connical.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 17

2. Tahap Satu-Kata (12 – 18 bulan) Pada masa ini, anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. Contoh: Ujaran anak Maksud - Mau memakai baju atau Ini - “Juju!” (sambil memegang baju) baju saya - Mau pergi atau keluar - “Gi!” (sambil menunjuk keluar) - “Bum-bum” (sambil menunjuk - Itu motor atau saya mau naik motor motor Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objekobjek nyata atau perbuatan. Kata-kata yang sering diucapkan orang tua sewaktu mengajak bayinya berbicara berpotensi lebih besar menjadi kata pertama yang diucapkan si bayi. Selain itu, kata tersebut mudah bagi dia. Misalnya kata “papa” itu kan konsonan bilabial yang mudah diucapkan. Selain itu, kata-kata tersebut mengandung fonem “a” yang secara artikulasi juga mudah diucapkan (tinggal membuka mulut saja). Memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah. Untuk menafsirkan maksud tuturan anak harus diperhatikan aktivitas anak itu dan unsur-unsur non-linguistik lainnya seperti gerak isyarat, ekspresi, dan benda yang ditunjuk si anak. Mengapa begitu? Menurut Tarigan dkk, (1998) ada dua penyebab, yaitu sebagai berikut. Pertama, bahasa anak masih terbatas sehingga belum memungkinkan mengekspresikan ide atau perasaannya secara lengkap. Keterbatasan berbahasanya diganti dengan ekspresi muka, gerak tubuh, atau unsur-unsur nonverbal lainnya. Kedua, apa yang diucapkan anak adalah sesuatu yang paling menarik perhatiannya saja. Sehingga, tampa mengerti konteks ucapan anak, kita akan kesulitan untuk memahami maksud tuturannya. Walaupun memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah, tetapi komunikasi aktif dengan si anak sangat penting dilakukan. Untuk dapat berbicara, anak perlu mengetahui perbendaharaan kata yang akan disimpan di otaknya dan ini bisa didapat ketika orang tua mengajak bicara. Kalau anak jaran diajak berbicara, kata-kata yang dia dapat sangat minim sehingga penguasaan kosa kata anak juga sangat minim. Selain itu, yang

2 - 18 Unit 2

perlu diperhatikan dalam menghadapi anak yang memasuki usia ini adalah “jangan memakai bahasa bayi untuk anak-anak, melainkan dengan orang dewasa.” Maksudnya, ucapkanlah dengan bahasa yang seharusnya didengar sehingga si anak juga terpacu untuk berkomunikasi dengan baik. 3. Tahap dua-kata (18 – 24 bulan) Pada masa ini, kebanyakan anak sudah mulai mencapai tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang diucapkan ketika masih tahap satu kata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang sseharusnya digunakan. Anak mulai dapat mengucapkan “Ma, pelgi”, maksudnya “Mama, saya mau pergi”. Pada tahap dua kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat menggunkan pronomina saya, aku, kamu, dia, mereka, dan sebaginya.

4. Tahap banyak-kata (3 – 5 tahun) Pada saat anak mencapai usia 3 tahun, anak semakin kaya dengan perbendaharaan kosakata. Mereka sudah mulai mampu membuat kalimat pertanyaan, penyataan negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Terkait dengan itu, Tompkins dan Hoskisson dalam Tarigan dkk. (1998) menyatakan bahwa pada usia 3 – 4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa. Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunkan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur. Selanjutnya, tidak berbeda jauh dengan tahapan perkembangan bahasa anak seperti yang telah diurakan, Piaget (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) membagi tahap perkembangan bahasa sebagai berikut. (1) Tahap meraban (pralinguistik) pertama pada usia 0,0 – 0,5 (2) Tahap meraban (pralinguistik) kedua: kata nonsens, pada usia 0,5 – 1,0. (3) Tahap linguistik I: holofrastik, kalimat satu kata, pada usia 1,0 – 2,0. (4) Tahap linguistik II: kalimat dua kata, pada usia 2,0 – 3,0.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 19

(5) Tahap linguistik III: pengembangan tata bahasa, pada usia 3,0 – 4,0. (6) Tahap linguistik IV: tata bahasa pradewasa, pada usia 4,0 – 5,0. (7) Tahap lingistik V: kompetensi penuh, pada usia 5,0. Selain tahapan perkembangan bahasa anak seperti yang telah dipaparkan, Ross dan Roe (Zuchdi dan Budiasih, 1997) membagi fase/tahap perkembangan bahasa anak seperti berikut.

Perkiraan Umur Lahir – 2 tahun 2 – 7 tahun

Tahap Perkembangan Bahasa Fase Fonologis

Kemampuan Anak Anak bermain dengan bunyi-bunyi bahasa mulai mengecoh sampai menyebutkan kata-kata sederhana Anak menunjukkan kesadaran gramatis; berbicara menggunakan kalimat Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata

Fase Sintaktik

7 – tahun

11 Fase Semantik

Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi ini cobalah kerjakan latihan berikut.

Latihan
1. Anak-anak belajar berkomunikasi dengan orang lain lewat berbagai cara atau strategi, sehingga cara anak yang satu dengan anak yang lain dalam memperoleh bahasa pasti berbeda. Setujukah Anda dengan pernyataan tersebut? 2. Berdasarkan pengalaman atau pengamatan Anda, pada usia berapakah, bahasa anak-anak sulit dipahami maknanya dan perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari orang tuanya atau orang dewasa? Apa alasan Anda?

2 - 20 Unit 2

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
1. Amati atau ingat kembali cara anak-anak berkomunikasi yang ada di sekitar Anda. Lingkungan anak yang satu dengan anak yang lain pasti berbeda sehingga bahasa yang digunakan dalam lingkungan itu kemungkinan berbeda pula. Perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosial antara anak yang satu dengan yang lain pasti berbeda. 2. Baca dan pahami baik-baik tahap-tahap perkembangan bahasa anak, selain itu coba ingat pengalaman Anda, pada usia berapakah anak-anak senang berbicara tetapi masih sulit dipahami maknanya. Seiring dengan perkembangan bahasa sebagaimana yang telah diuraikan, berkembang pula penguasaan anak-anak atas sistem bahasa yang dipelajarinya. Sistem bahasa itu terdiri atas subsistem, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik.

Perkembangan Fonologis
Sebelum masuk SD, anak telah menguasai sejumlah fonem/bunyi bahasa, tetapi masih ada beberapa fonem yang masih sulit diucapkan dengan tepat. Menurut Woolfolk (1990) sekitar 10 % anak umur 8 tahun masih mempunyai masalah dengan bunyi s, z, v. Hasil penelitian Budiasih dan Zuhdi (1997) menunjukkan bahwa anak kelas dua dan tiga melakukan kesalahan pengucapan f, sy, dan ks diucapkan p, s, k. Terkait dengan itu, Tompkins (1995) juga menyatakan bahwa ada sejumlah bunyi bahasa yang belum diperoleh anak sampai menginjak usia kelas awal SD, khususnya bunyi tengah dan akhir, misalnya v, zh, sh,ch. Bahkan pada umur 7 atau 8 tahun anak masih membuat bunyi pengganti pada bunyi konsonan kluster. Kaitannya dengan anak SD di Indonesia diduga pun mengalami kesulitan dalam pengucapan r, z, v, f, kh, sh, sy, x, dan bunyi kluster misalnya str, pr, pada kata struktur dan pragmatik. Di samping itu, anak SD bahkan orang dewasa kadangkala ada yang kesulitan mengucapkan bunyi kluster pada kata: kompleks, administrasi diucapkan komplek dan adminitrasi. Agar hal itu tidak terjadi, sejak di SD anak perlu dilatih mengucapkan kata-kata tersebut.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 21

Perkembangan Morfologis
Afiksasi bahasa Indonesia merupakan salah aspek morfologi yang kompleks. Hal ini terjadi karena satu kata dapat berubah makna karena proses afiksasinya (prefiks, sufiks, simulfiks) berubah-ubah. Misalnya kata satu dapat berubah menjadi: bersatu, menyatu, kesatu, satuan, satukan, disatukan, persatuan, kesa-tuan, kebersatuan, mempersatukan, dst. Zuhdi dan Budiasih (1997) menyatakan bahwa anak-anak mempelajari morfem mula-mula bersifat hapalan. Hal ini kemudian diikuti dengan membuat simpulan secara kasar tentang bentuk dan makna morfem. Akhirnya anak membentuk kaidah. Proses yang rumit ini dimulai pada priode prasekolah dan terus berlangsung sampai pada masa adolesen. Berdasarkan kerumitan afiksasi tersebut, perkembangan morfologis atau kemampuan menggunakan morfem/afiks anak SD dapat diduga sebagai berikut: a. Anak kelas awal SD telah dapat mengunakan kata berprefiks dan bersufiks seperti melempar dan makanan. b. Anak kelas menengah SD telah dapat mengunakan kata berimbuhan simulfiks/konfiks sederhana seperti menjauhi, disatukan. c. Anak kelas atas SD telah dapat menggunakan kata berimbuhan konfiks yang sudah kompleks misalnya diperdengarkan dan memberlakukan dalam bahasa lisan atau tulisan.

Perkembangan Sintaksis
Brown dan Harlon (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) berkesimpulan bahwa kalimat awal anak adalah kalimat sederhana, aktif, afirmatif, dan berorientasi berita. Setelah itu, anak baru menguasai kalimat tanya, dan ingkar. Berikutnya kalimat anak mulai diwarnai dengan kalimat elips, baik pada kalimat berita, tanya, maupun ingkar. Sedangkan menurut hasil pengamatan Brown dan Bellugi terhadap percakapan anak, memberi kesimpulan bahwa ada tiga macam cara yang biasa ditempuh dalam mengembangkan kalimat, yaitu: pengembangan, pengurangan, dan peniruan. Kedua peneliti ini sepakat bahwa peniruan merupakan cara pertama yang ditempuh anak, meskipun peniruan yang dilakukan terbatas pada prinsip kalimat yang paling pokok yaitu urutan kata. Cara yang kedua yang ditempuh anak untuk mengembangkan kalimat mereka adalah pengulangan dan pengembangan. Anak mengulang bagian kalimat yang memperoleh tekanan yaitu bagian kalimat kontentif, atau bagian kalimat yang berisi pesan pokok, sedangkan bagian lain dihilangkan secara
2 - 22 Unit 2

sistematis. Karena itu, bahasa anak disebut dengan istilah tuturan telegrafis, karena mengandung pengurangan bagian kalimat secara sistematis. Dilihat dari segi frase, menurut Budiasih dan Zuchdi (1997) bahwa frase verba lebih sulit dikuasai oleh anak SD dibanding dengan frase nomina dan frase lainnya. Kesulitan ini mungkin berkaitan dengan perbedaan bentuk kata kerja yang menyatakan arti berbeda. Misalnya ditulis, menuliskan, ditulisi, dan seterusnya. Dari segi pola kalimat lengkap, anak kelas awal cenderung menggunakan struktur sederhana bila berbicara. Mereka sudah mampu memahami bentuk yang lengkap namun belum dapat memahamai bentuk kompleks seperti kalimat pasif (Wood dalam Crown, 1992). Menurut Emingran siswa kelas atas SD menggunakan struktur yang lebih kompleks dalam menulis daripada dalam berbicara (Tompkins, 1989). Pada umumnya anak SD mengenal bentuk pasif daripada preposisi “oleh” misalnya “Buku itu dibeli oleh Ali.” Dengan demikian kalimat pasif yang tidak disertai kata oleh, mereka menganggapnya bukan kalimat pasif, misalnya “Saya melempar mangga (kalimat aktif) menjadi “Mangga saya lempar (kalimat pasif) bukan “Mangga dilempar oleh saya.” (Salah). Anak biasanya menggunakan kalimat pasif yang subjeknya dari kata ganti/tak dapat dibalik dan kalimat pasif yang subjeknya bukan kata ganti/dapat dibalik secara seimbang. Namun, anak sering mengalami kesulitan dalam membuat kalimat dan menafsirkan makna kalimat pasif yang dapat dibalik (subjeknya bukan kata ganti). Menjelang umur 8 tahun mereka mulai lebih banyak menggunakan kalimat pasif yang tidak dapat dibalik (subjeknya kata ganti). Pada umur 9 tahun, anak mulai banyak menggunakan bentuk pasif yang subjeknya dari kata ganti. Dan pada umur 11-13 tahun mereka banyak menggunakan kalimat yang subjeknya dari kata ganti. Penggunaan kata penghubung juga meningkat pada usia SD. Anak di bawah umur 11 tahun sering menggunakan kata “dan” pada awal kalimat. Pada umur 11-14 tahun, penggunaan “dan” pada awal kalimat mulai jarang muncul. Anak sering mengalami kesulitan penggunaan kata penghubung “karena”: dalam kalimat, seperti “Saya menghadiri pertemuan itu karena diundang”. Anak SD bingung membedakan kata hubung karena, dan, lalu dilihat dari segi urutan waktu kejadiannya. Yakni diundang dahulu baru pergi ke pertemuan. Oleh karena itu kadangkala ada anak TK yang mengucapkan “Saya sakit karena saya tidak masuk sekolah” padahal maksudnya “Saya tidak masuk sekolah karena sakit.”. Pemahaman kata penghubung “karena“ baru

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 23

mulai berkembang pada umur 7 tahun. Pemahaman yang benar dan konsisten baru terjadi pada umur skitar 10-11 tahun (Budiasih dan Zuchdi, 1997).

Perkembangan Semantik
Selama priode usia sekolah dan dewasa, ada dua jenis penambahan makna kata. Secara horisontal, anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatu kata dengan nuansa makna yang agak berbeda secara tepat. Penambahan vertikal berupa penambahan jumlah kata yang dapat dipahami dan digunakan dengan tepat (Owens dalam Budiasih dan Zuchdi, 1997). Menurut Lindfors, perkembangan semantik berlangsung dengan sangat pesat di SD. Kosa kata anak bertambah sekitar 3000 kata per tahun (Tompkins,1989). Sedang Berger menyatakan bahwa antara 2-6 rata-rata anak mempelajari 6 -10 kata per hari. Ini berarti bahwa rata-rata anak umur 6 tahun mempunyai kata 8.000 - 14.000 kata. Dan pada usia 9 - 10 thn. sekitar 5000 kata baru dalam perbendaharaan kosa katanya (Woolfolk, 1990). Merujuk apa yang tercantum dalam Kurikulum 1994, perbendaharaan kata siswa SD diharapkan lebih kurang 6000 kata. Dengan demikian pendapat Berger di atas sangat tinggi. Pendapat yang relatif mendekati harapan Kurikulum 1994 adalah hasil temuan penelitian Slegers bahwa rata-rata anak masuk kelas awal dengan pengetahuan makna sekitar 2500 kata dan meningkat rata-rata 1000 kata per tahun di kelas awal dan menengah SD dan 2000 kata di kelas atas sehingga perbendaharaan kosa kata siswa berjumlah 8500 di kelas VI (Harris dan Sipay, 1980). Kemampuan anak kelas rendah SD dalam mendefinisikan kata meningkat dengan dua cara. Pertama, secara konseptual yakni dari definisi berdasar pengalaman individu ke makna yang bersifat sosial atau makna yang dibentuk bersama. Kedua, anak bergerak secara sintaksis dari definisi kata-kata lepas ke kalimat yang menyatakan hubungan kompleks (Owens, 1992) Pengetahuan kosa kata mempunyai hubungan dengan kemampuan kebahasan secara umum. Anak yang menguasai banyak kosa lebih mudah memahami wacana dengan baik. Selama priode usia SD, anak menjadi semakin baik dalam menemukan makna kata berdasarkan konteksnya. Anak usia 5 thn. mendefinisikan kata secara sempit sedang anak berumur 11 tahun membentuk definisi dengan menggabungkan makna-makna yang telah diketahuinya. Dengan demikian definisinya menjadi lebih luas, misalnya kucing ialah binatang yang biasa dipelihara di rumah-rumah penduduk.

2 - 24 Unit 2

Menurut Budiasih dan Zuchdi (1997), anak usia SD sudah mampu mengembangkan bahasa figuratif yang memungkinkan penggunaan bahasa secara kreatif. Bahasa figuratif menggunakan kata secara imajinatif, tidak secara literal atau makna sebenarnya untuk menciptakan kesan emosional. Yang termasuk bahasa figuratif adalah (a) ungkapan misalnya kepala dingin, (b) metafora, misalnya “Suaranya membelah bumi”., (c) kiasan, misalnya “Wajahnya seperti bulan purnama.”, (d) pribahasa, misalnya “Menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri.”

Perkembangan Pragmatik
Perkembangan pragmatik atau penggunaan bahasa merupakan hal paling penting dibanding perkembangan aspek bahasa lainnya pada usia SD. Hal ini pada usia prasekolah anak belum dilatih menggunakan bahasa secara akurat, sistematis, dan menarik. Berbicara tentang pragmatik ada 7 faktor penentu yang perlu dipahami anak (1) kepada siapa berbicara (2) untuk tujuan apa, (3) dalam konteks apa, (4) dalam situasi apa, (5) dengan jalur apa, (6) melalui media apa, (7) dalam peristiwa apa (Tarigan, 1990). Ke-7 faktor penentu komunikasi tersebut berkaitan erat dengan fungsi (penggunaan) bahasa yang dikemukakan oleh M.A.K Halliday: instrumental, regulator, interaksional, personal, imajinatif, heuristik, dan informatif. Pinnel (1975) dalam penelitiannya tentang penggunaan fungsi bahasa di SD kelas awal menemukan bahwa umumnya anak menggunakan fungsi interaksional (untuk bekomunikasi) dan jarang menggunakan fungsi heuristik (mengunakan bahasa untuk mencari ilmu pengetahuan saat belajar dan berbicara dalam kelompok kecil). Dilihat dari segi perkembangan kemampuan bercerita, anak umur 6 th sudah dapat bercerita secara sederhana tentang acara televisi/film yang mereka lihat. Kemampuan ini selanjutnya berkembang secara teratur dan sedikit-demi sedikit. Mereka belajar menghubungkan kejadian tetapi bukan yang mengandung hubungan sebab akibat. Kata penghubung yang digunakan: dan, lalu. Pada usia 7 tahun anak mulai dapat membuat cerita yang ang agak padu. Mereka sudah mulai mengemukakan masalah, rencana mengatasi masalah dan penyelesaian masalah tersebut meskipun belum jelas siapa yang melakukannya.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 25

Pada umur 8 th anak menggunakan penanda awal dan akhir cerita, misalnya “Akhirnya mereka hidup rukun”. Kemampuan membuat alur cerita yang agak jelas baru mulai diperoleh oleh anak pada usia lebih dari delapan tahun. Pada umur tersebut barulah mereka dapat mengemukakan pelaku yang mengatasi masalah dalam cerita. Anak-anak mulai dapat menarik perhatian pendengar atau pembaca cerita yang mereka buat. Struktur cerita mereka semakin menjadi jelas. Kaitannya dengan gaya bercerita antara anak laki-laki dengan perempuan memiliki perbedaan. Anak perempuan menganggap bahwa peranannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator sehingga mereka menggunakan cara yang tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan , misalnya “Ibu tidak marah, kan?” . Sedangka anak laki-laki menganggap dirinya sebagai pemberi informasi sehingga cenderung memberitahu. Anak laki-laki biasanya kurang berbicara dan lebih banyak berbuat namun kadangkala bertindak keras dan percakapan digunakannya untuk berjuang agar tidak dikuasai oleh anak lain atau kelompok lain. Sedangkan nak perempuan cenderung banyak bicara dengan pasangan akrabnya, dan saling menceritakan rahasianya, masalah pribadinya dikemukakan kepada teman dan temannya biasanya menyetujui dan dapat memahami masalah tersebut (Owens,1992).

2 - 26 Unit 2

Rangkuman
Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Tahapan perkembangan bahasa anak dapat dibagi atas: (1) tahap pralingustik, (2) tahap satu-kata, (3) tahap dua-kata, dan (4) tahap banyak-kata. Fase/tahapan perkembangan bahasa menurut Ross dan Roe adalah: (1) fase fonologis, (2) fase sintaktik, dan (3) fase semantik. Seiring dengan perkembangan bahasa, berkembang pula penguasaan anak-anak atas sistem bahasa yang dipelajarinya. Sistem bahasa itu terdiri atas subsistem, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 27

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Perkembangan kemampuan berbahasa anak-anak diperoleh secara ... B. simultan C. serentak D. bertahap E. tiba-tiba 2. Perkembangan kemampuan berbahasa anak dipengaruhi oleh ... kecuali: A. faktor lingkungan B. faktor perkembangan fisik C. faktor intelektual D. faktor keturunan 3. Anak-anak sudah mampu menghasilkan bunyi-bunyi berupa vokal atau konsonan tertentu tetapi tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Kemampuan ini dicapai oleh anak yang telah berusia... A. 0 – 12 bulan B. 12 – 18 bulan C. 18 – 24 bulan D. 3 – 5 tahun 4. Pada masa ini, anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Masa tersebut dicapai saat anak telah berusia ... A. 0 – 12 bulan B. 12 – 18 bulan C. 18 – 24 bulan D. 3 – 5 tahun 5. Anak mulai mengenal berbagai makna kata tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Kemampuan ini dicapai pada saat anak telah memasuki tahap... A. pralinguistik B. satu-kata C. dua-kata D. banyak-kata

2 - 28 Unit 2

6. Menurut Ross dan Roe, pada tahap tertentu anak sudah dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata. Anak yang telah mempunyai kemampuan tersebut berarti telah mencapai tahap perkembangan bahasa ... A. fonologis B. morfologis C. sintaksis D. semantik 7. Sebelum masuk SD, anak telah menguasai sejumlah fonem, tetapi masih ada beberapa fonem yang sulit diucapkan dengan tepat, antara lain ... kecuali: A. s, z, v B. b, c, d C. sh, sy, x D. kluster 8. Pernyataan yang benar mengenai perkembangan morfologis anak SD sebagai berikut... kecuali: A. Anak kelas awal SD telah dapat mengunakan kata berprefiks dan berinfiks B. Anak SD kelas menengah telah dapat mengunakan kata berimbuhan simulfiks/konfiks sederhana. C. Anak SD kelas atas telah dapat menggunakan kata berimbuhan konfiks yang sudah kompleks. D. Anak kelas awal SD telah dapat mengunakan kata berprefiks dan besufiks. 9. Dilihat dari segi frase dalam perkembangan sintaksis, frase yang lebih sulit dikuasai oleh anak SD adalah ... A. frase verba B. frase nomina C. frase adjektiva D. pronomina 10. Fungsi bahasa yang digunakan oleh anak usia SD dalam berkomunikasi adalah... A. fungsi instrumental B. fungsi interaksional C. fungsi imajinatif D. fungsi heuristik

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 29

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1. C: Proses yang digunakan oleh anak-anak dalam memiliki kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, yang berlangsung secara alami, dalam situasi formal, spontan, dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak adalah hakikat pemerolehan bahasa 2. B: Pemilikan bahasa melalui pembelajaran formal di lembaga-lembaga pendidikan bukan karakteristik pemerolehan bahasa tetapi pembelajaran bahasa. 3. D: Anak yang bahasa pertamanya bahasa Indonesia banyak dijumpai sekarang ini, penyebabnya antara lain karena perkawinan antarpenutur bahasa yang berbeda dan masing-masing pihak tidak saling memahami bahasa daerah pasangannya 4. B: Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang menggunkan bahasa daerah sebagai media komunikasi kesehariannya, kemungkinan besar anak itu bahasa pertamanya adalah bahasa daerah. 5. C: Ragam atau jenis pemerolehan bahasa anak dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan antara lain: berdasarkan bentuk, berdasarkan urutan, berdasarkan jumlah, berdasarkan media, berdasarkan keaslian. 6. A: Anak yang dibesarkan dalam masyarakat bilingual atau dalam masyarakat multilingual, maka anak akan memperoleh bahasa secara serempak dua bahasa. 7. D: Strategi anak memperoleh bahasa melalui: (a) peniruan, (b) pengalaman langsung (c) mengingat, (d) bermain, dan (e) penyederhanaan. 8. B: Penyederhanaan penghilangan beberapa fonem dan bahkan kata yang pada saat anak bertutur. 9. C: Faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak, yaitu: faktor biologis; faktor lingkungan sosial; faktor intelegensi; dan faktor motivasi. 10. C: Upaya yang dapat dilakukan agar anak terpacu untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi antara lain dengan menciptakan kondisi lingkungan yang menyenangkan, memberi motivasi, membenarkan kesalahan anak.

2 - 30 Unit 2

Tes Formatif 2
1. C: Perkembangan kemampuan berbahasa anak-anak diperoleh secara bertahap 2. D: Perkembangan kemampuan berbahasa anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, faktor perkembangan fisik dan faktor intelektual 0 – 12 bulan atau masa pralinguistik 3. A: Tahap dua-kata (18 – 24 bulan) 4. B: Tahap Satu-Kata (12 – 18 bulan) 5. C: Pada fase semantik (7 – 11 tahun) tertentu anak sudah dapat 6. D: membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata Beberapa fonem yang masih sulit diucapkan dengan tepat, antara 7. B: lain r, z, v, f, kh, sh, sy, x, dan bunyi kluster misalnya str, pr. 8. D: Anak kelas awal SD telah dapat mengunakan kata berprefiks dan bersufiks seperti melempar dan makanan, telah dapat mengunakan kata berimbuhan simulfiks/konfiks sederhana seperti menjauhi, disatukan, telah dapat menggunakan kata berimbuhan konfiks yang sudah kompleks misalnya diperdengarkan dan memberlakukan dalam bahasa lisan atau tulisan. 9. A: Dilihat dari segi frase dalam perkembangan sintaksis, frase yang lebih sulit dikuasai oleh anak SD adalah frase verba lebih sulit dikuasai oleh anak SD dibanding dengan frase nomina dan frase lainnya. 10. B: Pada umumnya anak menggunakan fungsi interaksional (untuk bekomunikasi) dan jarang menggunakan fungsi heuristik (mengunakan bahasa untuk mencari ilmu pengetahuan saat belajar dan berbicara dalam kelompok kecil).

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 31

Glosarium

celoteh verbal imajinatif instrumental interaksi interaksionistik

informatif heuristis

: obrolan atau percakapan yang tidak keruan (seperti percakapan anak kecil); ocehan : secara lisan (bukan tertulis); bersifat kata kerja : mempunyai atau menggunakan imajinasi; penuh daya khayal : mengenai alat : saling melakukan aksi; berhubungan; antarhubungan : berhubungan dengan perkembangan pada anak yang memperhitumgkan saling pengaruh antara faktor pembawan dan faktor lingkungan : bersifat memberi informasi; bersifat menerangkan : bersangkutan dengan prosedur analitis yang dimulai dengan perkiraan yang tepat dan mengeceknya lagi sebelum memberi kepastian

2 - 32 Unit 2

Daftar Pustaka

Aminuddin. 1997. Isi dan Strategi Pengajaran Bahasa dan Sastra. Malang: PPS IKIP Malang Bunrn. Dkk. 1996. Teaching Reading in Today’s Elementary School. New Jersey. Hougton Mofflin Company. Dulay, Heidi dkk. 1982. Language Two. New York: Oxford University Press Dworwtzky, John P. 1990. Introduction to Child Development. New York: West Publishing Company Ellies, Arthur dkk. 1989. Elementary Arts Instructions. New Jersey: Prentice Hall. Harris, A.J. Sipay, E.R. 1980. How To Increase Reading Ability: A Giude to Development and Remedial Methods: New York: Longman Inc. Tarigan dkk., Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa Tarigan dkk., Djago dkk. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud. Tompkins, G.E. dan Hoskisson, K. 1995. Language Arts: Content and Teaching Strategies. Columbus, O.H.: Prentice Hall Inc. Zuchdi, Darmiati dan Budiasih. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud Owens, R.E. 1992. Language Development an Introduction. New York: Macmillan Publising Company.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

2- 33

Unit

3

SEJARAH PERKEMBANGAN DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA

Muh. Faisal

S

ejarah Perkembangan dan Kedudukan Bahasa Indonesia merupakan unit III mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD. Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia, dan (2) Kedudukan Bahasa Indonesia. Saudara, tak dapat dipungkiri bahwa masih banyak di antara kita yang sehari-hari memakai bahasa Indonesia sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengakui bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa nasional kita, tetapi tidak mengetahui bagaimana perkembangan bahasa Indonesia dan apa kedudukan bahasa Indonesia. Untuk itulah, materi unit sangat penting Anda pelajari, karena tentu sangat disayangkan jika Anda sebagai pemakai bahasa Indonesia tidak mengetahui sejarah perkembangan dan kedudukan bahasa Indonesia. Lebih dari itu, sebagai seorang guru, materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki wawasan yang lebih luas tentang bahasa Indonesia yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya semakin agar semakin matang pengalaman berbahasanya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadap bahasa Indonesia. Adapun tujuan khusus yang diharapkan Anda kuasai setelah mempelajari uni ini adalah agar Anda mampu: 1. menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diterima sebagai bahasa Nasional, 2. menjelaskan fase-fase penting dalam perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional,

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 1

3. menjelaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional, dan 4. menjelaskan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Materi unit ini sangat teoritis, oleh karena itu agar Anda tidak hanya memperoleh sesuatu yang bersifat hafalan maka sangat diharapkan Anda tidak hanya membaca apa yang tertulis dalam unit ini tetapi berusaha menghubungkannya dengan berbagai fenomena kebahasaan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui cara seperti itu, akan memberikan manfaat dalam memperluas wawasan Anda sebagai guru dan sebagai pemakai bahasa Indonesia. Di samping itu, dalam menjawab soal-soal latihan upayakanlah tidak hanya mengandalkan bahan ajar ini sebagai sumber utama. Tetapi, perkaya jawaban latihan dengan berbagai referensi atau sumber bacaan lain. Ingat, pelengkap materi unit ini juga terdapat di web-site.Bukalah web-site! Setiap latihan/tugas disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Rambu-rambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Jika Anda merasa telah menguasai materi unit ini, selanjutnya kerjakan soal-soal tes formatif. Untuk mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya, cocokkan jawaban tes formati Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini. Tetapi ingat, jangan pernah mencoba membuka kunci jawaban sebelum Anda mengerjakan soal-soal tes formatif. Mengapa? Anda akan terbiasa untuk tidak belajar dan akan sulit mengetahui kemampuannya yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contoh-contoh, dan rangkuman yang ada. Selamat Belajar!

3 - 2 Unit 3

Subunit 1 Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
audara, Anda pasti sudah mengetahui bahwa bahasa Indonesia yang kini dipergunakan sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Jauh sebelum diangkatnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, perjuangan untuk menjadikan bahasa Indonesia bahasa persatuan telah diusahakan oleh bangsa Indonesia. Pada awalnya, menurut Suhendar dan Supinah (1997) bahwa di daerahdaerah bahasa Melayu bukan bahasa induk pribumi, penyebaran bahasa ini diusahakan terutama oleh para guru bahasa Melayu. Di berbagai sekolah yang diadakan oleh pemerintah Hindia Belanda diberikan mata pelajaran bahasa Melayu. Pada umumnya guru-guru yang mengajar bahasa Melayu berasal dari daerah-daerah yang penduduk pribuminya berbahasa Melayu atau berbahasa yang dekat berhubungan dengan bahasa Melayu, seperti Sumatera Barat. Mereka tersebar di berbagai tempat di kepulauan Indonesia. Mereka mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda dan sekolah yang merupakan usaha swasta, seperti sekolah Muhammadiyah, Taman Siswa dan sekolah swasta lainnya. Dalam menyebarkan bahasa Melayu melalui pengajaran bahasa di sekolah-sekolah dan menulis buku-buku pelajaran bahasa dengan menggunakan bahasa Melayu, para guru berjuang berdampingan dengan wartawan. Melalui tulisannya para wartawan menyebarkan penggunaan bahasa ini. Akhirnya, makin banyak anggota-anggota masyarakat di kepulauan kita berkenalan dengan bahasa Melayu yang kemudian dikenal dan berkembang sebagai bahasa Indonesia seperti yang sekarang kita kenal dan pakai ini. Apakah bahasa Indonesia yang kita pergunakan sekarang ini sama dengan bahasa Melayu pada masa yang lalu? Bahasa Indonesia yang kita pergunakan sekarang ini tidak sama lagi dengan bahasa Melayu pada masa kerajaan Sriwijaya, masa kerajaan Malaka, masa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, masa Balai Pustaka, bahkan dengan bahasa Melayu di Malaysia kini. Bahasa Indonesia kini jauh berbeda dari bahasa asalnya, bahasa Melayu. Bahasa Melayu tumbuh dan berkembang menjadi bahasa Indonesia, yang karena

S

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 3

berbagai hal waktu, politik, sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi ia pun berkembang hingga dalam wujudnya kini (Supriyadi, dkk. 1992). Meskipun bahasa Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat, perjuangan belum berakhir. Masih banyak anggota masyarakat kita yang belum sungguh-sungguh menguasai bahasa nasioanl kita. Masih banyak yang harus kita usahakan; masih banyak yang harus kita perjuangkan dalam rangka pengembangan bahasa Indonesia.

Mengapa Bahasa Melayu?
Mungkin Anda bertanya-tanaya, mengapa bahasa Melayu yang diangkat sebagai bahasa Nasional? Mengapa bukan bahasa Jawa atau Sunda yang jumlah penuturnya lebih banyak daraipada bahasa Melayu? Ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa Nasional. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, bahasa melayu telah digunakan sebagai bahasa kebudayaan, yaitu sebagai bahasa yang digunakan dalam buku-buku yang dapat digolongkan sebagai hasil sastra. Selain itu, bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa resmi dalam masing-masing kerajaan nusantara yaitu sekitar abad ke 14. Selain itu harus diingat bahwa penyebaran bahasa Melayu bukan hanya terbatas pada daerah sekitar selat Malaka atau Sumatera saja, jauh lebih luas dari itu. Ini dapat dibuktikan dengan terdapatnya berbagai naskah cerita yang ditulis dalam bahasa Melayu pada belbagai tempat yang jauh dari Malaka. Dengan datangnya orang-orang Eropa ke Indonesia, fungsi bahasa Melayu sebagai bahasa perantara dalam perdagangan semakin intensif. Orangorang Eropa malah tidak sadar telah ikut memperluas penyebaran bahasa Melayu. Jadi, sejak lama, dari masa Sriwijaya juga Malaka yang saat itu merupakan pusat perdagangan, pusat agama, dan ilmu pengetahuan, bahasa Melayu telah digunakan sebagai Lingua Franca atau bahasa perhubungan dipelbagai wilayah Nusantara. Dengan bantuan para pedagang dan penyebar agama, bahasa Melayu menyebar ke seluruh pantai di nusantara, terutama di kota-kota pelabuhannya. Akhirnya, bahasa ini lebih dikenal oleh penduduk Nusantara dibandingkan dengan bahasa daerah lainnya. Telah ditemukan beberapa bukti tertulis mengenai bahasa Melayu tua pada berbagai prasasti dan inkripsi. Bukti-bukti berupa prasasti antara lain: prasasti Kedukan Bukit (tahun 683 M), di Talang Tuwo (dekat Palembang,

3 - 4 Unit 3

bertahun 684 M), di Kota Kapur (Bangka Barat, tahun 686 M), di Karang Brahi (antara Jambi dan Sungai Musi, berahun 688 M). Sedangkan dalam bentuk inskripsi diantaranya, Gandasuli di daerah Kedu, Jawa Tengah, bertahun 832 M. Adanya berbagai dialek bahasa Melayu yang tersebar di seluruh Nusantara adalah merupakan bukti lain dari pertumbuhan dan persebaran bahasa Melayu. Misalnya, dialek Melayu Minangkabau, Palembang, Jakarta (Betawi), Larantuka, Kupang, Ambon, Menado, dan sebagainya. Hasil kesusastraan Melayu Lama dalam bentuk cerita penglipur lara, hikayat, dongeng, pantun, syair, mantra, dan sebagainya juga merupakan bukti dari pertumbuhan dan persebaran bahasa Melayu. Di antara karya sastra lama yang terkenal adalah Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang gelar Bendahara Paduka Raja yang diperkirakan selesai ditulis pada tahun 1616. Selain itu juga ada Hikayat Hang Tuah, Hikayat Sri Rama, Tajus Salatin, dan sebagainya (Supriyadi dkk. 1992, Keraf, 1978). Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa ketika orang-orang Barat sampai ke Indonesia, yaitu sekitar abad XIV, mereka menemukan bahwa bahasa Melayu telah dipergunakan sebagai bahasa resmi dalam pergaulan, dan perdagangan. Menurut Supriyadi dkk. (1992) hal ini dikuatkan oleh kenyataan tentang seorang Portugis, Pigafetta, setelah mengunjungi Tidore, ia menyusun daftar kata Melayu-Italia, sekitar tahun 1522. Ini membuktikan ketersebaran bahasa Melayu yang sebelum itu sudah sampai ke kepulauan Maluku. Begitupun, dalam pendudukan Belanda, mereka menemukan kesulitan ketika bermaksud menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Akhirnya, sebagaimana sudah diuraikan pada bagaian awal subunit ini, Belanda menyatakan bahwa pengajaran di sekolah-sekolah bumi putra diberikan dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah lainnya. Hal itu tertuang dalam keputusan pemerintah kolonial yaitu K.B 1871 nomor 104 (Keraf, 1978). Kedua, sistem aturan bahasa Melayu, baik kosa kata, tata bahasa, atau cara berbahasa, mempunyai sistem yang lebih praktis dan sederhana sehingga lebih mudah dipelajari. Sementara itu bahasa Jawa atau bahasa Sunda mempunyai sistem bahasa yang lebih rumit. Dalam kedua bahasa itu dikenal aturan tingkat bahasa yang cukup ketat. Ada tingkat bahasa halus, sedang, kasar, bahkan sangat kasar, dengan kosa kata dan struktur yang berlainan. Ketiga, kebutuhan yang sangat mendesak yang dirasakan oleh para pemimpin dan tokoh pergerakan akan adanya bahasa pemersatu yang dapat mengatasi perbedaan bahasa dari masyarakat Nusantara yang memiliki sejumlah bahasa daerah. Bahasa itu harus sudah dikenal khalayak dan tidak terlalu sulit

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 5

dipelajari. Kriteria ini terpenuhi oleh bahasa Melayu sehingga akhirnya bahasa inilah yang dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa Indonesia atau bahasa Nasional.

Perkembangan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Nasional
Saudara, berikut ini diuraikan sejarah pertumbuhan dan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional hingga dalam bentuknya sekarang ini. Bahasa Indonesia Sebelum 1945 Masa permulaan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia adalah pada awal abad ke-20. Menurut Supriyadi dkk. (1992), banyak faktor yang mendorong hal itu terjadi. Diantaranya, dan yang paling utama adalah faktor politik. Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan bahasa yang beraneka pula, merasa sulit mencapai kemerdekaan jika tidak ada pemersatu. Dan alat itu adalah suatu bahasa guna menyatakan pikiran, perasaan, dan kehendak, yang dapat menjembatani ketergangguan serta kesenjangan komunikasi antara suku bangsa dengan bahasanya yang berbedabeda. Itulah sebabnya, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda berkumpul di gedung Indonesische Club, Jalan Kramat No. 108 Jakarta, lalu mereka mengikrarkan sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Isi sumpah tersebut yaitu: Berbangsa, satu bangsa Indonesia; bertanah air satu tanah air Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Walaupun demikian, bahasa Indonesia sebelum tahun 1945 boleh dikatakan tidak mengalami perubahan yang penting. Bahasa Indonesia masih tetap bergerak di luar organisasi pemerintahan jajahan Hindia Belanda, dan merupakan alat untuk mencapai kesatuan Indonesia dalam mendapatkan kembali kemerdekaannya. Karena lapangan pemakaian bahasa Indonesia masih terbatas kepada pemakaian bahasa yang mempunyai hubungan dengan gerakan kebangsaan dan sebagai bahasa pers dan bahasa sastra. Selain gerakan kebangsaan, muncul pula kelompok yang dinamakan sebagai Angkatan 33 atau Angkatan Pujangga Baru. Kelompok ini dengan tegas menggunanakan nama Indonesia dan bersemboyankan untuk mendapatkan atau mewujudkan suatu “kebudayaan baru” Indonesia. Keadaan seperti di atas berlanjut sampai datangnya Jepang. Dengan datangnya Jepang, terbuka perspektif yang menguntungkan bagi pengembangan

3 - 6 Unit 3

bahasa Indonesia. Pelarangan pemakaian bahasa Belanda dan tidak dikenalnya bahasa Jepang, menyebabkan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia harus dipergunakan sebagai bahasa pengantar untuk seluruh dinas mereka pada awal kedatangannya. Dengan demikian, bahasa Indonesia semakin dikenal di manamana. Bahasa Indonesia Sesudah 1945 Dengan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, berarti adanya suatu negara yang bernama Indonesia. Tentu saja, salah satu yang penting bagi negara pada saat itu adalah adanya bahasa yang dapat menghubungkan pemerintah dengan rakyat, yang biasa disebut sebagai bahasa resmi. Dengan memperhatikan faktor: (a) bahasa Indonesia telah dikenal oleh sebagian besar penduduk Indonesia, dan (b) bahasa Indonesia dapat diterima oleh seluruh penduduk Indonesia, sehingga sama sekali tidak akan menimbulkan konflik-konflik yang mungkin akan mengganggu kestabilan negara; dan faktor kesejarahan, maka ditentukanlah bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi Republik Indonesia, disamping tugasnya yang mula-mula sebagai bahasa nasional. Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, maka kedudukan bahasa Indonesia lebih tinggi lagi. Jika sebelumnya hanya sebagai salah satu alat untuk mempersatukan suku-suku bangsa Indonesia saja, maka sekarang harus memperkokoh persatuan bangsa yang telah ada. Berikut ini diuraikan berbagai peristiwa penting yang terkait dengan perkembangan bahasa Indonesia. 1. Penyusunan ejaan resmi bahasa Melayu pada tahun 1901 oleh Ch. A. Van Ophuysen yang termuat dalam Kitab Logat Melayu. Ejaan ini disebut Ejaan Van Ophuysen. 2. Pendirian Taman Bacaan Rakyat (Commisie voor de Volkslectuur) pada tahun 1908, untuk selanjtnya pada tahun 1917 diubah namanya menjadi Balai Pustaka. 3. Ketetapan Ratu Belanda pada tahun 1918 yang meberikan kebebasan kepada para anggota Dewan Rakyat (Volksraad) untuk menggunkan bahasa Melayu dalam forum. 4. Peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang diantaranya menetapkan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu sebagai bahasa Nasional.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 7

5.

Berdirinya Angkatan Pujangga Baru atau Angkatan ’33 pada tahun 1933 yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Angkatan Pujangga Baru yang sebenarnya nama suatu majalah sebagai wadah ekspresi budaya dan sastra ini besar peranannya dalam membantu perkembangan bahasa Indonesia. 6. Kongres Bahasa Indonesia I di Solo tahun 1938. Kongres ini diadakan sebagai tindak lanjut dari Kongres Pemuda tahun 1928. Di samping itu juga karena adanya kesan umum mengenai pemakaian bahasa Indonesia yang cukup kacau. Jadi Kongres ini diselenggrakan untuk mencari pegangan bagi para pemakai bahasa, mengatur bahasa serta mengusahakan agar bahasa Indonesia tersebar lebih luas lagi (Supriyadi dkk., 1992). Beberapa keputusan penting dalam kongres tersebut antara lain sebagai berikut a. Sudah ada pembaharuan yang timbul karena ada cara berpikir yang baru, sebab itu perlu diatur pembaharuan bahasa. b. Gramatika yang sekarang tidak memuaskan lagi dan tidak menurut wujud bahasa Indonesia, karena itu perlu disusun gramatika baru yang menurut wujud bahasa Indonesia. c. Para wartawan perlu berupaya memperbaiki bahasa Indonesia di dalam persuratkabaran. d. Mulai saat itu bahasa Indonesia diharapkan dipakai oleh semua badan perwakilan sebagai bahasa perantaraan (vertaal). Menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang sah dan bahasa undang-undang negara. e. Untuk kemajuan masyarakat Indonesia, penyelidikan bahasa dan kesusastraan dan kemajuan kebudayaan bangsa Indonesia, perlu didirikan Perguruan Tinggi Kesusastraan secepatnya. 7. Pendudukan Jepang di Indonesia (1942 s.d 1945). Pada masa ini bahasa Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Mengapa bisa seperti itu? Sebagaimana yang telah dikemukakan, di satu sisi pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa asing seperti Belanda dan Inggris, di sisi lain maksud mereka untuk menggunakan bahasa Jepang sebagai alat komunikasi pun tidak memungkinkan karena memang belum dikenal oleh rakyat Indonesia. Akhirnya, bahasa Indonesialah yang dijadikan alat perhubungan satu-satunya. Akhirnya, berbagai karya sastra, drama, puisi, cerpen banyak dihasilkan sehingga pertumbuhan bahasa Indonesia pun semakin cepat. 8. Penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara pada tanggal 18 Agustus 1945, dan dinyatakan dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36.

3 - 8 Unit 3

9.

Penetapan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi untuk memperbaiki Ejaan van Ophuysen, pada tanggal 19 Maret 1947. 10. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tahun 1954. Hasil kongres ini diantaranya: a. Saran pembentukan badan kompeten yang diakui oleh pemerintah untuk (1) dalam jangka pendek menyusun tata bahasa Indonesia yang normatif bagi SR, SLP, SLA, dsb., (2) dalam jangka panjang menyusun suatu tata bahasa deskriptif yang lengkap. b. Mengadakan pembetulan/penyempurnaan bahasa Indonesia di dalam undang-undang darurat, peraturan pemerintah, dan peraturan negara yang lain. c. Bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dengan masyarakat keilmuan sekarang. d. Mengadakan pembetulan/penyempurnaan yang dipandang perlu dalam bahasa Indonesia di dalam undang-undang, undang-undang darurat, peraturan pemerintah dan peraturan negara yang lain. e. Memeriksa bahasa rancangan undang-undang darurat, dan peraturan negara sebelum ditetapkan dan menjaga supaya istilah-istilah hukum bersifat tetap, terang. f. Dianjurkan agar istilah hukum senantiasa ditulis dalam bentuk yang sama. g. Untuk lebih menyempurnakan bahasa Indonesia menjadi bahasa ilmiah dan kebudayaan di dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalamdalamnya, perlu diciptakan iklim dan suasana sedemikian rupa sehingga bahasa tersebut dapat berkembang secara mulus sempurna. h. Dianjurkan agar dalam pergaulan sehari-hari hendaklah senantiasa menggunakan bahasa Indonesia, oleh karena itu perlu dibentuk lembaga bahasa yang dapat memberikan bimbingan nyata pada pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. i. Untuk menjamin pemakaian bahasa Indonesia yang baik di sekolahsekolah, mesti ada penelitian dan pengawasan yang seksama oleh Lembaga Bahasa Indonesia dan Pemerintah. j. Bahasa pers dan radio sedapat mungkin adalah bahasa yang resmi yaitu bahasa Indonesia.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 9

11. Penetapan pemakaian ejaan baru yaitu yang dikenal dengan nama Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) oleh Presiden Suharto pada tanggal 16 Agustus 1972. 12. Pengubahan nama Lembaga Bahasa Nasional yang selama itu menangani pelbagai hal yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Indonesia/daerah, menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada tanggal 1 Februari 1975. 13. Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta tahun 1978. Keputusan penting dalam kongres tersebut adalah perlunya upaya-upaya dalam: a. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan kebijaksanaan kebudayaan, keagamaan, sosial, politik, dan ketahanan nasional. b. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang pendidikan. c. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang komunikasi. d. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam bidang kesenian. e. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang lingustik. f. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bidang ilmu dan teknologi. 14. Penetapan Bulan Bahasa pada tanggal 28 Oktober 1980. Peristiwa ini dilaksanakan setiap tahun selama satu bulan yaitu pada bulan Oktober. 15. Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta pada tahun 1982. Keputusan penting dalam kongres ini adalah: a. Bidang bahasa. Bahasa Indonesia telah mengalami perubahan dan kemajuan yang sangat pesat dan fungsinya semakin mantap tidak hanya sebagai alat komunikasi sosial dan administrasi, tetapi juga sebagai alat komunikasi ilmu dan agama. Sebagai alat pengungkapan rasa dan ilmu yang tumbuh dan terus berkembang, bahasa Indonesia tentu saja tidak terhindar dari sentuhan dan pengaruh masyarakat yang memahaminya, baik berupa perubahan nilai dan struktur maupun berupa tingkah laku sosial lainnya. Di satu sisi, hal ini akan menambah kekayaan linguistik bahasa Indonesia. Tetapi, di sisi lain persentuhan ini akan menimbulakan keanekaragaman. Oleh karena itu, tampa pembinaan yang hati-hati dan seksama, tidak mustahil sebagian ragam-ragam itu menyimpang terlalu jauh dari poros antik bahasa kita. Selaras dengan

3 - 10 Unit 3

ragam yang menyimpang itu, terdapatlah cukup banyak pemakai bahasa Indonesia yang belum dapat mempergunakan bahasa itu dengan baik dan benar. Termasuk di antara mereka adalah para mahasiswa dan pengajar di perguruan tinggi, para cendekiawan, dan para pemimpin yang menduduki jabatan yang berpengaruh. b. Pengajaran Bahasa. Tujuan utama pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan adalah memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia. Namun, keadaan kebahasaan di Indonesia yang sangat majemuk dengan adanya bahasa-bahasa daerah yang banyak, yang tersebar di seluruh tanah air, belum dimanfaatkan dalam pendidikan dan pengajaran. Begitu pula, dalam pengajaran bahasa Indonesia belum diperhatikan sifat komunikatif bahasa dengan memanfaatkan berbagai komponen komunikasi, baik sebagai bahasa yang dipakai dalam proses pengajaran maupun sebagai hasil pengajaran itu sendiri. Sedangkan pengajaran sastra di sekolah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengajaran bahasa belum mempunyai tujuan yang sesuai dengan fungsinya sebagai pengembang wawasan nilai kehidupan dan kebudayaan. c. Pembinaan Bahasa. Pemakaian bahasa Indonesia di di dalam masyarakat khususnya di lembaga-lembaga, badan-badan, dan organisasi-organisasi yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan bangsa dan negara belum menggembirakan. Bahasa Indonesia yang digunakan dalam ilmu, seperti ilmu hukum dan ilmu administrasi, banyak yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Selain itu, pemakain bahasa Indonesia melalui media massa, baik secara tertulis maupun secara lisan, masih memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut diantaranya kecenderungan menghilangkan kata-kata dalam media cetak, atau masih ada pemakaian unsur-unsur bahasa daerah atau bahasa asing yang tidak perlu. Begitu pula, kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi seharihari dengan menggunkan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih perlu mendapat perhatian para pendidik dan pemakai bahasa Indonesia. 16. Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta tahun 1988. Pada kongres ini diperkenalkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memuat 62.100 butir masukan termasuk ungkapan dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia yang disusun di bawah koordinasi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Beberapa simpulan penting dalam kongres tersebut diantaranya sebagai berikut.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 11

a. Bahasa. Kedudukan bahasa Indonesia kini semakin mantap sebagai wahana komunikasi, baik dalam hubungan sosial maupun dalam hubungan formal. Namun masih banyak pemakai bahasa Nasional kita yang belum mempergunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, sesuai dengan konteks pemakaiannya. Karena itu pendidikan dan pengajaran bahasa Indonesia perlu terus ditingkatkan. Demikian pula penelitian bahasa Indonesia perlu digalakkan sehingga pengembangan bahasa Nasional akan terus berlandaskan penemuan penelitian yang terarah dan terpadu. b. Sastra. Sastra, jika ditinjau dari fungsinya, dapat memberikan kepuasan dan pendidikan bagi pembacanya. Sastra juga dapat mengembangkan imajinasi. Karena itu, sastra selain dapat dijadikan wahana pengembangan dan penyebaran bahasa Indonesia yang kreatif dan dinamis, dapat pula meningkatkan kecerdasan dan memanusiakan manusia. Sastra dapat juga dimanfaatkan dalam pendidikan bangsa. Jadi mutu karya sastra Indonesia perlu ditingkatkan. Penelitian dalam bidang sastra perlu digalakkan agar perkembangan, mutu, bahkan variasi sastra dapat tetap dipantau demi pembinaan dan pengembangan sastra pada umumnya. c. Pengajaran Bahasa. Tujuan pendidikan bahasa Indonesia adalah membina keterampilan peserta didik berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam upaya meningkatkan mutu manusia Indonesia sebagai bekal menghadapi kehidupan masa kini dan mendatang. Tujuan pendidikan bahasa Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan tujuan pendidikan nasional. Dalam mencapai tujuan pendidikan bahasa Indonesia, kurikulum bahasa, buku pelajaran bahasa, metode belajar mengajar bahasa, guru, lingkungan keluarga serta masyarakat dan perpustakaan sekolah memegang peranan penting. Bahasa daerah di wilayah tertentu dapat dijadikan mata pelajaran tanpa mengganggu pendidikan bahsa Indonesia. Karena itu, kurikulum, buku pelajaran, metode pengajaran, dan sarana lain pendidikan bahasa daerah prlu dikembangkan. d. Pengajaran Sastra. Diperlukan kesempatan yang lebih luas untuk mendorong kreativitas guru dan peserta didik di dalam pelaksanaan pengajaran sastra agar fungsi kurikulum pengajaran bahasa Indonesia sebagai pedoman pengajaran tidak menjadi kendali yang terlalu ketat yang menghilangkan ruang gerak dan inisiatif guru dan peserta didik.

3 - 12 Unit 3

Tujuan pengajaran sastra adalah menumbuhkan dan mengembangkan akal budi peserta didik melalui kegiatan pengalaman sastra. Bahan pengajaran sastra selaykanya mencapai hasil sastra berupa cerita rekaan, puisi, dan drama yang telah terpilih dari segi kualitas. Dalam pengajaran sastra diperlukan proses belajar-mengajar yang sekaligus melibatkan pengalaman, pengetahuan dan penilaian peserta didik terhadap sastra secara langsung, sehingga terjadi interaksi antara peserta didik, hasil sastra dan guru. Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi ini cobalah kerjakan latihan berikut.

Latihan
1. Pada masa pergerakan adalah masa permulaan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Faktor apakah yang menyebabkan? Mengapa demikian? 2. Salah satu keputusan penting dalam Kongres Bahasa Indonesia V adalah bahwa kedudukan bahasa Indonesia kini semakin mantap sebagai wahana komunikasi, baik dalam hubungan sosial maupun dalam hubungan formal. Tapi benarkah bahwa masih banyak pemakai bahasa Nasional kita yang belum mempergunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, sesuai dengan konteks pemakaiannya. Apa alasan Anda?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
1. Baca uraian Fase-fase Penting dalam Perkembangan Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Nasional dengan baik terutama pada bagian Fase Ketiga: Masa Pergerakan. 2. Untuk menjawab soal nomor 3, Anda perlu mengingat kembali pengalaman Anda dalam melihat dan menggunakan bahasa Indonesia baik lisan maupun lisan. Perhatikan/ingat bagaimana pemakaian bahasa Indonesia pada situasi resmi atau formal.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 13

Rangkuman
Bahasa Indonesia yang kini dipergunakan sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa Nasional. Faktor-faktor tersebut menurut adalah: (a) sejak lama, dari masa Sriwijaya juga Malaka bahasa Melayu telah digunakan sebagai Lingua Franca atau bahasa perhubungan dipelbagai wilayah Nusantara, (b) sistem aturan bahasa Melayu, baik kosa kata, tata bahasa, atau cara berbahasa, mempunyai sistem yang lebih praktis dan sederhana sehingga lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan bahasa daerah yang lainnya, dan (c) adanya kebutuhan yang sangat mendesak yang dirasakan oleh para pemimpin dan tokoh pergerakan akan adanya bahasa pemersatu yang dapat mengatasi perbedaan bahasa dari masyarakat Nusantara yang memiliki sejumlah bahasa daerah, yaitu bahasa yang harus sudah dikenal khalayak dan tidak terlalu sulit dipelajari. Adapun fase-fase penting dalam perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional terdiri atas: (a) bahasa Indonesia sebelum 1945, dan (b) bahasa Indonesia sesudah 1945. Sebelum masa kolonial telah ditemukan beberapa bukti pertumbuhan dan persebaran bahasa Melayu yaitu berupa prasasti dan inkripsi. Selain itu, adanya berbagai dialek bahasa Melayu yang tersebar di seluruh Nusantara adalah merupakan bukti lain dari pertumbuhan dan persebaran bahasa Melayu. Hasil kesusastraan Melayu Lama dalam bentuk cerita penglipur lara, hikayat, dongeng, pantun, syair, mantra, dan sebagainya juga merupakan bukti dari pertumbuhan dan persebaran bahasa Melayu. Pada masa kolonial (sekitar abad XIV), bahasa Melayu telah dipergunakan sebagai bahasa resmi dalam pergaulan, dan perdagangan. Pada masa pendudukan Belanda, pengajaran di sekolah-sekolah bumi putra diberikan dalam bahasa Melayu atau bahasa daerah lainnya. Hal itu tertuang dalam keputusan pemerintah kolonial yaitu K.B 1871 nomor 104. Masa permulaan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia adalah pada awal abad ke-20. Faktor pendorong utama sehingga hal itu terjadi adalah faktor politik. Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan bahasa yang beraneka pula, merasa sulit mencapai kemerdekaan jika tidak ada pemersatu, dan alat tersebut adalah bahasa. Pada tanggal 28 Oktober 1928 dikrarkan Sumpah Pemuda, yang salah satu isinya “menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.”

3 - 14 Unit 3

Tes Formatif 1
1. Jelaskanlah, faktor-faktor apa yang menyebabkan sehingga bahasa Melayu diterima sebagai bahasa Nasional! 2. Mengapa pada masa pergerakan dikatakan sebagai masa permulaan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia? 3. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia bahasa Indonesia mengalami kemajuan yang pesat. Mengapa demikian? 4. Apakah tujuan diselenggarakannya Kongres Bahasa Indonesia I di Solo? 5. Dalam Kongres Bahasa Indonesia IV dinyatakan bahwa kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi sehari-hari dengan menggunkan bahasa Indonesia yang baik dan benar masih perlu mendapat perhatian para pendidik dan pemakai bahasa Indonesia. Setujukah Anda dengan pernyataan tersebut? Apa alasan Anda? Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Bagaiamana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 5 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 15

Subunit 1 Kedudukan Bahasa Indonesia

S

audara, apakah yang dimaksud dengan kedudukan bahasa? Kedudukan bahasa adalah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan bahasa yang bersangkutan. Mengapa kedudukan bahasa Indonesia perlu dirumuskan? Perumusan kedudukan bahasa Indonesia diperlukan oleh karena perumusan itu memungkinkan kita mengadaan pembedaan antara kedudukan bahasa Indonesia pada satu pihak dan kedudukan bahasa-bahasa lain, baik bahasa daerah yang hidup sebagai unsur kebudayaan kita maupun bahasa-bahasa asing yang dipakai di Indonesia. Kekaburan yang yang terdapat di dalam pembedaan kedudukan antara bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain itu bukan saja merugikan bagi perkembangan dan pembakuan bahasa Indonesia, tetapi juga dapat menyebabkan terjadinya kekacauan di dalam cara berpikir pada ana-anak kita (Suhendar dan Supinah, 1997). Selanjutnya, Suhendar dan Supinah (1997) mengatakan bahwa salah satu akibat yang dapat ditimbulkan oleh kekaburan pembedaan kedudukan itu adalah mengalirnya unsur-unsur bahasa yang pada dasarnya tidak diperlukan. Sehingga, pembedaan kedudukan bahasa memungkinkan kita mengatur masuknya unsur-unsur baru dari bahasa-bahasa lain itu sedemikian rupa sehingga hanya unsur-unsur yang benar-benar dibutuhkan untuk memperkaya bahasa nasional kita sajalah yang kita terima. Namun, meniadakan sama sekali masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia tidak mungkin dilakukan karena suatu kenyataan bahwa apabila dua bahasa atau lebih dipergunakan di dalam masyarakat yang sama, maka terjadilah apa yang disebut kontak bahasa, yang mau tidak mau mengakibatkan hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Dengan demikian, yang perlu dilaksanakan adalah pengaturan hubungan timbal balik itu sedemikian rupa sehingga terjadi kepincangan di dalam perkembangan bahasa yang bersangkutan, dan sehingga masing-masing bahasa itu tetap mempertahankan identitasnya masing-masing.

3 - 16 Unit 3

Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Saudara pasti sudah menyadari bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di kawasan Republik Indonesia ini. Pentingnya peranan bahasa Indonesia itu, sebagaimana yang telah diuraikan pada subunit 1, antara lain bersumber pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Selain itu, ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara pada tanggal 18 Agustus 1945, dan dinyatakan dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1998) dinyatakan bahwa masih ada beberapa alasan lain (selain yang telah dikemukakan di atas) mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu. Pertama, jumlah penuturnya. Jumlah penutur bahasa Indonesia mungkin tidak sebanyak bahasa Jawa atau Sunda, tetapi jika pada jumlah itu ditambahkan penutur dwibahasawan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama atau bahasa kedua, maka kedudukannya dalam jumlah penutur berbagai bahasa di Indonesia ada di peringkat pertama. Lagi pula, jumlah penutur asli bahasa Indonesia lambat-laun pasti akan bertambah. Kedua, luas penyebarannya. Bahasa Indonesia jelas tidak ada yang menandingi penyebarannya di Indonesia. Sebagai bahasa setempat, bahasa Indonesia dipakai orang di daerah pantai timur Sumatera, daerah pantai Kalimantan. Jenis kreol bahasa Melayu-Indonesia didapati di Jakarta dan sekitarnya. Sebagai bahasa kedua, tersebar dari Sabang sampai Merauke atau dari ujung barat sampai ke timur; dari pucuk utara sampai ke batas selatan negeri kita. Sebagai bahasa asing, bahasa Indonesia dipelajari dan dipakai di anatara kalangan terbatas di beberapa negara misalnya di Australia, Filipina, jepang, Korea, Rusia, India dan sebagainya. Ketiga, peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai. Patokan yang ketiga ini mengingatkan kita akan seni kesusastraan yang mengagumkan yang dihasilkan dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Minangkabau, misalnya. Akan tetapi, di samping susastra Indonesia modern yang dikembangkan oleh sastrawan yang beraneka ragam latar bahasanya, bahasa Indonesia pada masa kini berperan juga sebagai sarana utama, di luar bahasa asing, di bidang ilmu, teknologi, dan peradaban modern bagi manusia Indonesia.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 17

Saudara, uraian di atas telah memberi gambaran betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kita. Menurut tiap-tiap patokan yang diajukan, bahasa Indonesia melebihi bahasa daerah yang lain. Untuk itulah, sudah sangat wajar jika bahasa Indonesia salah satu kedudukannya adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan sebagai bahasa nasional ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 1. lambang kebanggaan kebangsaan; 2. lambang identitas nasional; 3. alat memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia; dan 4. alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Sebagai lambang kebanggaan, bahasa Indonesia mencerminkan nilainilai sosial budaya yang mendasari rasa kebangsaan kita. Dengan melalui bahasa nasionalnya, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dijadikan pegangan hidup. Atas dasar kebanggaan ini, bahasa Indonesia perlu kita pelihara dan kita kembangkan pemakaiannya. Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia kita junjung di samping bendera dan negara kita. Di dalam melaksanakan fungsi ini bahasa Indonesia tentulah harus memiliki identitasnya sendiri pula, sehingga ia seraasi dengan lambang kebangsaan kita yang lain. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya sendiri hanya apabila masyarakat pemakainya membina dan mengembangkannya sedemikian rupa sehingga ia bersih dari unsur-unsur bahasa lain, terutama bahasa asing. Sebagai alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang bulat, bahasa Indonesia memungkinkan berbagai-bagai suku bangsa itu mencapai keserasian hidup sebagai bangsa yang bersatu dengan tidak perlu meninggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa daerah yang bersangkutan. Bahkan, dengan bahasa nasional kita, kita dapat meletakkan kepentingan nasional jauh di atas kepentingan daerah atau glongan. Fungsi keempat bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional adalah bahasa Indonesia sebagai alat perhubungan antar daerah dan

3 - 18 Unit 3

antar budaya. Berkat adanya bahasa nasional kita, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga kesalahfahaman sebagai akibat perbedaan latar belakang sosial budaya dan bahasa dapat dihindari. Dengan demikian, fungsi keempat ini, latar belakang sosial budaya dan latar belakang kebahasaan yang berbeda-beda tidak akan menghambat adanya perhubungan antar daerah dan antar budaya (Suhendar dan Supinah, 1997).

Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara
Dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, telah ditetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara. Dengan demikian, selain berkedudukan sebgai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan sebagai bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai berikut. 1. Bahasa resmi kenegaraan Dalam kaitannya dengan fungsi ini bahasa Indonesia dipergunakan dalam adminstrasi kenegaraan, upacara atau peristiwa kenegaraan baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. Dokumen-dokumen dan keputusankeputusan serta surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badanbadan kenegaraan lain seperti DPR dan MPR ditulis di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di dalam bahasa Indonesia. Demikian halnya dengan pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakat kita di dalam hubungannya dengan upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan. Suhendar dan Supinah (1997) menyatakan bahwa untuk melaksanakan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan dengan sebaikbaiknya, pemakaian bahasa Indonesia di dalam pelaksanaan adminstrasi pemerintahan perlu senantiasa dibina dan dikembangkan, penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan di dalam pengembangan ketenagaan seperti penerimaan karyawan baru, kenaikan pangkat baik sipil maupun militer, dan pemberian tugas-khusus baik di dalam maupun di luar negeri. 2. Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 19

Sebagai bahasa pengantar, bahasa Indonesia dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan baik formal atau nonformal, dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Masalah pemakaian bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa pengantar di segala jenis dan tingkat pendidikan di seluruh Indonesia, menurut Suhendar dan Supinah (1997), masih merupakan masalah yang meminta perhatian. 3. Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah Dalam hubungannya dengan fungsi ini, bahasa Indonesia tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat luas atau antar suku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang keadaan sosial budaya dan bahasanya sama. 4. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Dalam pada itu untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik dalam bentuk penyajian pelajaran, penulisan buku atau penerjemahan, dilakukan dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian masyarakat bangsa kita tidak tergantung sepenuhnya kepada bangsa-bangsa asing di dalam usahanya untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta untuk ikut serta dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terkait dengan hal itu, Suhendar dan Supinah (1997) mengemukakan bahwa bahasa Indonesia adalah atu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki ciri-ciri dan identitasnya sendiri, yang membedakannya dari kebudayaan daerah. Saudara, sebelum melanjutkan kegiatan membacanya. Kerjakanlah dahulu tugas berikut untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit ini.

3 - 20 Unit 3

Latihan
1. Masih sering ditemukan masyarakat kita yang merasa bangga menggunakan kata-kata atau istilah-istlah asing dalam berkomunikasi. Bagaimana pendapat Anda? 2. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Bagaimana penerapan fungsi ini di TK dan SD kelas rendah khususnya di daerah yang bahasa ibunya atau bahasa pertamanya adalah bahasa daerah. 3. Upaya apakah yang dapat dilakukan agar bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya sendiri?

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
1. Baca dan fahami baik-baik fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional. 2. Kalau Anda pernah mengajar di kelas rendah, pasti tidak akan kesulitan mengerjakan soal ini. Tetapi bagi yang belum pernah, tanyakan kepada guru-guru yang mengajar atau pernah mengajar di kelas rendah. 3. Baca dan fahami baik-baik fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara.

Rangkuman
Kedudukan bahasa adalah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan bahasa yang bersangkutan. Perumusan kedudukan bahasa Indonesia diperlukan oleh karena perumusan itu memungkinkan kita mengadaan pembedaan antara kedudukan bahasa Indonesia pada satu pihak dan kedudukan bahasa-bahasa lain, baik bahasa daerah yang hidup sebagai unsur kebudayaan kita maupun bahasabahasa asing yang dipakai di Indonesia. Jika ditinjau dari segi jumlah penuturnya, luas penyebarannya, peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai maka bahasa Indonesia Indonesia tidak tertandingi oleh bahasa daerah yang lain.Untuk itulah, wajar jika bahasa Indonesia salah satu kedudukannya adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan sebagai bahasa nasional ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 21

Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 1. lambang kebanggaan kebangsaan; 2. lambang identitas nasional; 3. alat memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia; dan 4. alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. Selain berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia, dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, ditetapkan pula sebagai bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 1. Bahasa resmi kenegaraan; 2. Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan; 3. Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah; 4. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan bahasa yang bersangkutan adalah pengertian... A. fungsi bahasa. B. kedudukan bahasa. C. status bahasa. D. hakikat bahasa. 2. Perumusan kedudukan bahasa Indonesia diperlukan oleh karena perumusan itu memungkinkan kita... A. mengadaan pembedaan antara kedudukan bahasa Indonesia dan kedudukan bahasa-bahasa lain. B. mengetahui dengan jelas kedudukan bahasa Indonesia. C. menghindari terjadinya kekaburan kedudukan bahasa Indonesia. D. memperoleh rumusan yang jelas mengenai kedudukan bahasa Indonesia.

3 - 22 Unit 3

3. Adapun alasan mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu adalah...kecuali: A. jumlah penuturnya. B. luas penyebarannya. C. peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai. D. sistem aturan bahasa Indonesia, baik kosa kata, tata bahasa, atau cara berbahasa, mempunyai sistem yang lebih praktis dan sederhana sehingga lebih mudah dipelajari. 4. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai...kecuali: A. Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi. B. lambang kebanggaan kebangsaan. C. lambang identitas nasional. D. alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. 5. Melalui bahasa nasionalnya, bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dijadikan pegangan hidup. Pernyataan tersebut adalah merupakan penjelasan dari fungsi bahasa sebagai... A. lambang kebanggaan kebangsaan. B. lambang identitas nasional. C. alat memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. D. alat perhubungan antar daerah dan antar budaya. 6. Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya sendiri hanya apabila masyarakat pemakainya... A. menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. B. menggunakan bahasa bahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi. C. membina dan mengembangkannya. D. merasa bangga jika menggunakan bahasa Indonesia. 7. Dalam UUD 1945 bab XV, pasal 36, telah ditetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa... A. nasional. B. negara. C. resmi.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 23

D. persatuan. 8. Dalam kaitannya dengan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, maka bahasa Indonesia perlu dipergunakan dalam... A. pidato anggota DPR pada perayaan ulang tahun anaknya. B. surat pemerintah kepada keluarganya. C. upacara pernikahan putra gubernur. D. komunikasi timbal-balik antara pemerintah dengan masyarakat. 9. Pemakaian bahasa Indonesia di dalam pelaksanaan adminstrasi pemerintahan perlu senantiasa dibina dan dikembangkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor yang menentukan di dalam pengembangan ketenagaan seperti... kecuali: A. penerimaan karyawan baru. B. kenaikan pangkat baik sipil maupun militer. C. surat-menyurat yang dikeluarkan oleh pemeritah dan badan-badan kenegaraan. D. pemberian tugas-khusus baik di dalam maupun di luar negeri. 10. Bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat yang memungkinkan kita membina serta mengembangkan kebudayaan nasional sedemikian rupa sehingga ia memiliki identitasnya sendiri, yang membedakannya dengan bahasa daerah. Pernyataan tersebut adalah merupakan penjelasan dari fungsi bahasa sebagai... A. bahasa resmi kenegaraan. B. bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. C. bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah. D. alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

3 - 24 Unit 3

Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau Anda telah mempelajari materi dengan baik, pasti tidak akan sukit menjawab soal-soal tes formatif subunit 2. Nah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 2 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 2 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2.

Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apakah tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari unit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 2, terutama bagian yang belum Anda kuasai. x 100%

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 25

Kunci Jawaban Tes Formatif 1
Tes Formatif 1
1. Faktor-faktor yang menyebabkan sehingga bahasa Melayu diterima sebagai bahasa Nasional adalah sebagai berikut: (a) sejak lama, dari masa Sriwijaya juga Malaka bahasa Melayu telah digunakan sebagai Lingua Franca atau bahasa perhubungan dipelbagai wilayah Nusantara, (b) sistem aturan bahasa Melayu, baik kosa kata, tata bahasa, atau cara berbahasa, mempunyai sistem yang lebih praktis dan sederhana sehingga lebih mudah dipelajari dibandingkan dengan bahasa daerah yang lainnya, dan (c) adanya kebutuhan yang sangat mendesak yang dirasakan oleh para pemimpin dan tokoh pergerakan akan adanya bahasa pemersatu yang dapat mengatasi perbedaan bahasa dari masyarakat Nusantara yang memiliki sejumlah bahasa daerah, yaitu bahasa yang harus sudah dikenal khalayak dan tidak terlalu sulit dipelajari. 2. Pada masa pergerakan dikatakan sebagai masa permulaan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia karena pada masa itu bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan bahasa yang beraneka pula, telah menyadari bahwa akan sulit mencapai kemerdekaan jika tidak ada pemersatu. Dan alat itu adalah suatu bahasa guna menyatakan pikiran, perasaan, dan kehendak, yang dapat menjembatani ketergangguan serta kesenjangan komunikasi antara suku bangsa dengan bahasanya yang berbeda-beda. Maka pada tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkanlah Sumpah Pemuda, yang salah satu isinya “menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.” 3. Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia bahasa Indonesia mengalami kemajuan yang pesat karena di satu sisi pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa asing seperti Belanda dan Inggris, di sisi lain maksud mereka untuk menggunakan bahasa Jepang sebagai alat komunikasi pun tidak memungkinkan karena memang belum dikenal oleh rakyat Indonesia. Akhirnya, bahasa Indonesialah yang dijadikan alat perhubungan satusatunya. Akhirnya, berbagai karya sastra, drama, puisi, cerpen banyak dihasilkan sehingga pertumbuhan bahasa Indonesia pun semakin cepat.

3 - 26 Unit 3

4. Tujuan diselenggarakannya Kongres Bahasa Indonesia I di Solo adalah kongres ini diadakan sebagai tindak lanjut dari Kongres Pemuda tahun 1928. Di samping itu, juga karena adanya kesan umum mengenai pemakaian bahasa Indonesia yang cukup kacau. Jadi Kongres ini diselenggrakan untuk mencari pegangan bagi para pemakai bahasa, mengatur bahasa serta mengusahakan agar bahasa Indonesia tersebar lebih luas lagi 5. Setuju, karena pemakaian bahasa Indonesia di dalam masyarakat khususnya di lembaga-lembaga, badan-badan, dan organisasi-organisasi yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan bangsa dan negara belum menggembirakan. Bahasa Indonesia yang digunakan dalam ilmu, seperti ilmu hukum dan ilmu administrasi, banyak yang menyimpang dari kaidahkaidah bahasa Indonesia. Selain itu, pemakain bahasa Indonesia melalui media massa, baik secara tertulis maupun secara lisan, masih memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut diantaranya kecenderungan menghilangkan kata-kata dalam media cetak, atau masih ada pemakaian unsur-unsur bahasa daerah atau bahasa asing yang tidak perlu.

Tes Formatif 2
1. B: Kedudukan bahasa adalah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial yang dihubungkan bahasa yang bersangkutan. 2. A: Perumusan kedudukan bahasa Indonesia diperlukan oleh karena perumusan itu memungkinkan kita mengadaan pembedaan antara kedudukan bahasa Indonesia dan kedudukan bahasa-bahasa lain. 3. D: Adapun alasan mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang 4. A: terkemuka di antara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masingmasing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu adalah karena jumlah penuturnya, luas penyebarannya dan peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai. 5. A: Sudah jelas (fungsi bahasa sebagai bahasa Nasional) 6. C: Bahasa Indonesia dapat memiliki identitasnya sendiri hanya apabila masyarakat pemakainya menggunakan bahasa bahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi. 7. B: Sudah jelas. 8. D: Sudah jelas (Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 27

kenegaraan) 9. C: Sudah jelas (Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan) 10. D: Sudah jelas (Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan)

3 - 28 Unit 3

Glosarium
teoritis fungsi resmi nasional negara identitas formal kongres : berdasar pada teori; menurut teori : peran sebuah unsur bahasa dalam satuan yang lebih luas : sah; yang ditetapkan oleh pemerintah : bersifat kebangsaan; berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa : organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh : rakyat : ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri sesuai dengan peraturan yang sah; menurut adat : kebiasaan yang berlaku pertemuan besar para wakil organisasi (politik, sosial, organisasi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai pelbagai masalah; rapat besar

Kajian Bahasa Indonesia di SD

3- 29

Daftar Pustaka

Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Keraf, Gorys. 1978. Tatabahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah Suhendar dan Supinah, Pien. 1997. Seri Materi Kuliah MKDU: Bahasa Indonesia (Kebahasaan). Bandung: Pionir Jaya Zuchdi, Darmiati dan Budiasih. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud

3 - 30 Unit 3

Unit

4

STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

Muh. Faisal

P

ada unit IV dalam bahan ajar cetak mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD ini dibahas mengenai Struktur Fonologi dan Morfologi Bahasa Indonesia. Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Struktur Fonologi Bahasa Indonesia, dan (2) Struktur Morfologi Bahasa Indonesia. Saudara, mungkin ada yang bertanya, untuk apa mempelajari struktur fonologi dan morfologi bahasa Indonesia. Pemahaman struktur fonologi dan morfologi bahasa Indonesia bagi guru, selain dapat menjadi bekal dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari juga dapat bermanfaat dalam pembinaan kemampuan berbahasa siswa. Dalam kaitannya dengan materi Kajian Bahasa Indonesia SD yang lain, pemahaman mengenai struktur fonologis dan morfologis akan bermanfaat untuk mempelajari materi sintaksis, semantik dan apresiasi bahasa dan sastra. Untuk itu, maka setelah mempelajari uni ini, Anda diharapkan mampu: 1. menjelaskan pengertian fonologi; 2. membedakan ilmu-ilmu bahasa yang tercakup dalam fonologi; 3. mengidentifikasi fonem-fonem bahasa Indonesia; 4. menjelaskan pengertian morfologi bahasa Indonesia; 5. mengidentifikasi morfem bahasa Indonesia. 6. mengidentifikasi jenis kata ulang bahasa Indonesia 7. menjelaskan makna kata ulang. Untuk mencapai kemampuan yang diharapkan di atas, maka pelajarilah dengan baik materi yang disajikan pada setiap subunit. Setiap subunit disertai dengan latihan/tugas. Kerjakanlah latihan/tugas itu dengan cermat, sehingga

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 1

Anda dapat mengukur sejauh mana pemahaman Anda terhadap materi yang baru Anda pelajari. Selanjutnya, ada rangkuman yang dapat membantu Anda memahami garis besar dari uraian yang telah Anda pelajari. Pada akhir unit, juga disediakan tes formatif. Silakan kerjakan. Periksa jawaban Anda dan cocokkan dengan kunci jawaban. Selamat belajar, semoga sukses.

4 - 2 Unit 4

Subunit 1 Struktur Fonologi Bahasa Indonesia

K

alau kita perhatikan dengan baik, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat kita yang memakai bahasa Indonesia tetapi tuturan/ucapan daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan lain sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi. Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah Dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah “huruf” walaupun yang dimaksud adalah “fonem”. Mengingat keduanya merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya pembelajaran, tentu perlu diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya. Oleh karena itu, untuk mencapai suatu ukuran lafal/fonem baku dalam bahasa Indonesia, sudah seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu dikurangi jika mungkin diusahakan dihilangkan; begitu pula pemakaian istilah “huruf dan fonem” perlu dibedakan, lebih-lebih bagi Anda karena akan memberikan pengaruh kepada siswa. Ingat, Anda adalah model dalam berbahasa bagi siswa.

Pengertian Fonologi
Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu apa yang dimasud dengan struktur. Yang dimaksud dengan struktur di sini adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola. Apakah yang dimaksud dengan fonologi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 3

Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni (a) fonetik dan (b) fonemik. Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Sedangkan menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan: bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Selanjutnya, fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1) bidang linguistik tentang sistem fonem; (2) sistem fonem suatu bahasa; (3) prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa. Selain pengertian fonetik dan fonemik, Anda perlu pula memahami apa yang dikasud dengan fonem. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan dalam penggunaan istilah “fonem” dan “huruf”. Supriyadi (1992) berpendapat bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan kebahasaan yang terkecil. Pendapat tersebut dibuktikan dengan dengan cara menganalisis struktur fonologis kata dasar baca dengan menggunakan diagram pohon seperti berikut. buku bu b atau kata dasar suku fonem fonem suku fonem fonem a ku c a

4 - 4 Unit 4

Selain pendapat di atas, Santoso (2004) menyatakan bahwa setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang membedakan arti ini disebut fonem. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti. Tidak berbeda dengan pendapat tadi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem: satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna, misalnya /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya. Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: mari, lari, dari, tari, sari jika satu unsur diganti dengan unsur lain, maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti. Hal ini dapat pula terjadi jika diucapkan dengan salah, maka akan mengakibatkan perubahan arti juga. Lalu, apa yang dimaksud dengan huruf? Dalam bidang linguistik, huruf sering diistilahkan dengan grafem. Untuk membantu Anda dalam memahami struktur fonem, dan perbedaan antara fonem dan huruf (grafem) perhatikan contoh yang tertera dalam tabel berikut.

Susunan Fonem /adik/ /iηat/ /Nani/ /pantay/

Jumlah Fonem 4 4 4 5

Susunan Huruf Adik Ingat Nyanyi Pantai

Jumlah Huruf 4 5 6 6

Kata yang Terbentuk Adik Ingat Nyanyi Pantai (Santoso, 2004)

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa antara fonem dan huruf (grafen) berbeda. Sudah dikemukakan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa yang terkecil yang dapat membedakan arti. Sedangkan huruf (grafem) adalah gambaran dari bunyi (fonem), dengan kata lain, huruf adalah lambang fonem. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) bahwa huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjaad yang melambangkan bunyi bahasa.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 5

Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda mengenai perbedaan fonem dengan huruf, perhatikan kata-kata yang tercetak miring pada kalimat berikut (Supriyadi, dkk, 1992). (1) Andi sedang belajar menyanyi. (2) Anak itu menganga di depan dokter gigi. (3) Dia sangat bersyukur atas prestasi yang diraihnya. (4) Orang itu sedang berkhotbah. Kata-kata yang dicetak miring pada kalimat di atas berkata dasar nyanyi, nganga, syukur, dan khotbah. Struktur fonologis keempat kata dasar itu sebagai berikut. (1) nya ny (2) nga ng a ng a nganga nga a ny nyanyi nyi i

(1) syu sy u

syukur kur k u r

(2) khot kh o

khotbah bah t b a h

4 - 6 Unit 4

Dari tabel di atas jelas bahwa a, i, u, k, r, o, t, b, h tidak dapat diuraikan lagi atas unsur-unsurnya yang lebih kecil. Karena itu, masing-masing adalah fonem. Bagaimana halnya dengan ny, ng, sy, dan kho? Dapatkah masing-masing diuraikan lagi atas unsur-unsurnya? Anda pasti tahu jawabannya, bukan? Kalau perlu, cobalah ucapkan atau dengarkan bunyi bahasanya. Bukankah ternyata ny, ng, sy, dan kho masing-masing terjadi dalam satu peristiwa ucapan? Karena itu, ny, ng, sy, dan kho tidak dapat diuraikan lagi atas peristiwa ucapan yang lebih kecil.

Sistem Fonologi dan Alat Ucap
Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas: (a) fonem vokal 6 buah, (b) fonem diftong 3 buah, dan fonem konsonan 23 buah. Sebelum lanjut membaca uraian selanjutnya, kerjakan dahulu tugas berikut:

Latihan
Tuliskanlah semua fonem resmi bahasa Indonesia!

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Tugas di atas akan mudah Anda kerjakan jika menghafal urutan abjad bahasa Indonesia. Tuliskan semua abjad tersebut, kemudian kelompokkan (dapat menggunakan tabel berikut.

Vokal Diftong Konsonan

................................................................................................... ... ................................................................................................... ... ................................................................................................... ...

Selanjutnya, pelajari baik-baik uraian mengenai fonetik berikut ini.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 7

Sebagaimana yang sudah dikemukakan pada bagian awal subunit ini bahwa bentuk-bentuk fonem suatu bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dibahas dalam bidang fonetik. Terkait dengan hal itu, Samsuri (1994) menyatakan bahwa secara fonetis bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan tiga cara atau jalan, yaitu: (a) bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia, (b) bagaiamana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan/atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombang-gelombang bunyi udara, dan (c) bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan syaraf si pendengar. Cara pertama disebut fisiologis atau artikuler, yang kedua disebut akustis, dan yang ketiga impresif atau auditoris (menurut pendengaran). Dalam bahasan struktur fonologis cara pertamalah yang paling mudah, praktis, dapat diberikan bukti-bukti datanya. Mengapa? Hampir semua gerakan alat-alat ucap itu dapat kita periksa, paru-paru, sekat rongga dada, tenggorokan, lidah, dan bibir. Alat ucap dibagi menjadi dua macam: (1) Artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan. (2) Titik Artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati.

4 - 8 Unit 4

Untuk mengetahui alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bahasa, perhatikan bagan berikut.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

paru-paru batang tenggorokan pangkal tenggorok pita-pita suara rongga kerongkongan akar lidah pangkal lidah tengah lidah daun lidah ujung lidah anak tekak langit-langit lunak, langit-langit tekak

13. langit-langit keras 14. lengkung gigi, gusi 15. gigi atas 16. gigi bawah 17. bibir atas 18. bibir bawah 19. mulut 20. rongga mulut 21. hidung 22. rongga hidung (Verhaar, dalam Supriyadi, dkk, 1992).

Fonem-fonem dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap aliran udara dari paru-paru sewaktu sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi
Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 9

atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal berikut. (a) Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi). (b) Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi. (c) Maju-mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan lengkung kaki gigi). Berdasarkan gerakan lidah ke depan dan ke belakang, vokal dibedakan atas: (a) vokal depan: /i/ dan /e/, (b) vokal tengah /a/ dan /ə/, (c) vokal belakang: /o/ dan /u/. Berdasarkan tinggi rendahnya gerakan lidah, vokal dibedakan atas: (a) vokal tinggi: /i/ dan /u/, (b) vokal madya: /e/, /ə/, dan /o/; (c) vokal rendah: /a/. Menurut bundar tidaknya bentuk bibir, vokal dibedakan atas: (a) vokal bundar: /a/, /o/, dan /u/; (b) vokal tak bundar: /e/, /ə/, dan /i/. Menurut renggang tidaknya ruang antara lidah dengan langit-langit, vokal dibedakan atas: (a) vokal sempit: /ə/, /i/, dan /u/; (b) vokal lapang: /a/, /e/, /o/. Jadi /a/ misalnya, adalah vokal tengah, rendah, bundar, dan lapang. Selanjutnya, jika bunyi ujaran ketika udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai bermacam-macam, ada halangan yang bersifat seluruhnya, dan ada pula yang sebagian yaitu dengan menggeser atau mengadukkan arus suara sehingga menghasilkan konsonan bermacam-macam pula. Karena itu, dikenal klasifikasi konsonan seperti berikut. (a) Konsonan bibir (bilabial): /p/, /b/, /m/. (b) Konsonan bibir gigi (labiodental): /f/, /v/, /w/. (c) Konsonan gigi (dental): /t/, /d/, /s/, /z/, /l/, /r/, /n/. (d) Konsonan langit-langit (palatal): /c/, /j/, /ŝ/, /y/, /ň/

4 - 10 Unit 4

(e) Konsonan langit-langit lembut (velar): /g/, /k/, /x/, /ŋ/ (f) Konsonan pangkal tenggorok (laringal): /h/. Selain di atas, berikut ini klsifikasi lain dari konsonan adalah: (a) Konsonan letupan atau eksplosif, apabila aliran udara tertutup rapat, konsonan yang dihasilkan adalah: /p/, /t/, /c/, /k/, /b/, /d/, /j/, /g/. (b) Konsonan geseran atau spiran, bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit, konsonan yang muncul adalah: /f/, /s/, /ŝ/, /z/, /x/. (c) Konsonan sengau atau nasal, jika udara keluar sebagian melalui hidung: /m/, /n/, / ň /, /ŋ/ (d) Konsonan lateral, kalau udara yang keluar melalui bagian kiri dan kanan lidah serta mengenai alur gigi: /l/. (e) Konsonan getar, bila terjadi letupan berturut-turut: /r/. Ada juga yang dinamakan konsonan bersuara dan konsonan tak bersuara. Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara: /b/, /m/, /w/, /d/, /n/, /z/, /j/, /ň/, /g/, /x/, /y/, /ŋ/. Sedangkan konsonan tak bersuara adalah konsonan yang terjadi tampa bergetarnya selaput suara: /p/, /t/, /s/, /c/, /k/, /h/, /r/, /l/ (Samsuri, 1994, Supriyadi, dkk. 1992, Santoso, 2004 dan Depdikbud, 1988). Berdasarkan klasifikasi di atas, /b/ misalnya, termasuk konsonan bibir, letupan, dan bersuara. Coba Anda sebutkan sifat konsonan lainnya berdasarkan klsifikasi di atas. Sekarang, coba perhatikan kata-kata berikut: pulau pantai amboi kicau belai sepoi lampau cerai sekoi Bagaimana pengucapan akhir kata-kata di atas? Fonem tersebut ditulis dengan dua buah huruf (grafem). Walaupun demikian, masing-masing dinyatakan sebagai sebuah fonem. Inilah yang disebut diftong. Diftong dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan sebagai vokal yang berubah kualitasnya. Dalam sistem tulisan, diftong dilambangkan oleh dua huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi /aw/ pada kata pulau adalah diftong, sehingga <au> pada suku kata –lau tidak dapat dipisahkan menjadi la-u seperti pada kata mau.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 11

Bagaimana? Anda sudah memahami uaraian di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi ini cobalah kerjakan latihan berikut.

Latihan
Jelaskan setiap vokal bahasa Indonesia menurut atau sifat fonetisnya.

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Latihan tersebut dapat Anda lakukan dengan langkah-langkah berikut. 1. Buat kolom berdasarkan klasifikasi vokal menurut gerak lidah ke depan dan ke belakang. 2. Buatlah baris tabel berdasarkan klasifikasi vokal menurut gerak lidah ke atas dan ke bawah. 3. Bagilah setiap kolom berdasarkan klasifikasi vokal menurut bentuk bibir. 4. Bagilah setiap baris berdasrkan klasifikasi vokal menurut segi kerenggangan lidah dengan langit-langit. 5. Bentuk tabel yang akan diperoleh seperti berikut. Sifat Vokal Tinggi Madya Rendah S L S L S L Depan B TB Tengah B TB Belakang B TB

/a/*

6. Masukkan setiap vokal bahasa Indonesia ke dalam baris dan kolom yang sesuai dengan sifat vokal. Contoh: /a/(*).

4 - 12 Unit 4

Rangkuman
Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola. Fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa. Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni (a) fonetik dan (b) fonemik. Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Selanjutnya, fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan yang dimaksud dengan fonem satuan kebahasaan yang terkecil yang dapat membedakan arti. Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas: (a) fonem vokal 6 buah, (b) fonem diftong 3 buah, dan fonem konsonan 23 buah. Secara fonetis, bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan tiga cara atau jalan, yaitu: (a) bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia (fisiologis atau artikuler), (b) bagaiamana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan/atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombanggelombang bunyi udara (akustis), dan (c) bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan syaraf si pendengar (impresif atau auditoris). Alat ucap dibagi menjadi dua macam: (1) artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan dan (2) titik artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati. Fonem-fonem dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap aliran udara dari paru-paru sewaktu sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Selanjutnya, jika bunyi ujaran ketika udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi konsonan. Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal yaitu: (a) posisi bibir, (b) tinggi rendahnya lidah, dan
4- 13

Kajian Bahasa Indonesia di SD

(c) maju-mundurnya lidah. Atas dasar itu dikenal istilah: vokal depan, vokal belakang, vokal tinggi, vokal rendah, vokal bundar, vokal tak bundar, vokal sempit dan vokal lapang. Vokal yang yang memiliki perubahan kualitas diklasifikasikan sebagai diftong; misalnya au, ai, dan oi pada kata harimau, pantai, dan amboi. Klasifikasi konsonan adalah: (a) konsonan bibir (bilabial), (b) konsonan bibir gigi (labiodental), (c) konsonan gigi (dental), (d) konsonan langit-langit (palatal), (e) konsonan langit-langit lembut (velar), (f) konsonan pangkal tenggorok (laringal). Selain itu, klsifikasi lain dari konsonan adalah: (a) konsonan letupan atau eksplosif, (b) konsonan geseran atau spiran, (c) konsonan sengau atau nasal, (d) konsonan lateral, dan (e) konsonan getar. Ada juga yang dinamakan konsonan bersuara dan konsonan tak bersuara. Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara. Sedangkan konsonan tak bersuara adalah konsonan yang terjadi tampa bergetarnya selaput suara.

4 - 14 Unit 4

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Satuan fonologis yang terkecil adalah ... A. suku. B. kata. C. fonem. D. huruf. 2. Ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia disebut ... A. fonem. B. fonetik. C. fonemik. D. fonologi. 3. Perbedaan bentuk-bentuk setiap fonem dapat dimati dengan cara bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Cara tersebut dipelajari dalam fonetik ... A. akustis B. auditoris C. artikuler D. impresif 4. Kata pantai pada kalimat “Mereka rekreasi di pantai Losari” terdiri atas ... fonem. A. 5 B. 6 C. 7 D. 8 5. Yang termasuk artikulator adalah... A. gigi atas B. bibir atas C. langit-langit lunak D. lidah 6. Bagian dari alat ucap manusia yang menjadi tujuan sentuh disebut ... A. titik artikulator B. artikulator C. titik artikulasi’ D. batang tenggorok
4- 15

Kajian Bahasa Indonesia di SD

7. Fonem vokal yang termasuk vokal atas dan depan adalah ... A. /e/ B. /u/ C. /o/ D. /i/ 8. Bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit, konsonan yang muncul adalah... A. konsonan letupan B. konsonan geseran atau spiran C. konsonan sengau atau D. konsonan lateral 9. Konsonan yang terjadi karena bergetarnya selaput suara disebut... A. konsonan tak bersura B. konsonan lateral C. konsonan spiran D. konsonan bersuara 10. Fonem pertama pada kata dasar tari, duduk, sukses, dan zakat, termasuk fonem ... A. dental B. labiodental C. palatal D. velar

4 - 16 Unit 4

Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau Anda telah mempelajari materi dengan baik, pasti tidak akan sukit menjawab soal-soal tes formatif sub unit 1. Nah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit IV ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apakah tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari unit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 17

Subunit 2 Struktur Morfologi Bahasa Indonesia

S

audara, pada subunit ini Anda akan mempelajari tataran bahasa yang setingkat lebih kompleks daripada fonem yakni morfologi. Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata. Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil yang kemudian dapat diceraikan menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperhalus, misalnya, dapat dipotong sebagai berikut. mem-perhalus per-halus Jika halus diceraikan lagi, maka ha- dan –lus secara terpisah tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per- dan halus disebut morfem. Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil. Sudah jelas? Kalau belum, perhatikan paparan Supriyadi (1992) berikut ini yang dapat lebih memudahkan Anda memahami morfem. Perhatikan katakata bergaris pada kalimat di bawah ini. (1) Bajunya putih. (2) Baju ini sudah memutih. (3) Putihkan baju itu. (4) Ia memutihkan baju itu. Kata putih, adalah unsur gramatis (telah mengandung makna tersendiri) yang sama yang terdapat pada setiap kalimat di atas. Unsur itu merupakan unsur gramatis yang terkecil. Artinya, unsur ini tidak dapat dibagi lagi menjadi unsurunsurnya yang bermakna. Unsur pu dan tih tidak bermakna. Karena itu, putih merupakan unsur gramatis yang terkecil, sedangkan pu dan tih bukan unsur gramatis terkecil. Berdasarkan perangkat satuannya, putih merupakan satuan morfologis, sedangkan pu dan tih adalah satuan fonologis. Selain terdapat pada kata-kata di atas, unsur atau satuan putih tentu sering dijumpai pula kata-kata

4 - 18 Unit 4

lainnya, misalnya: pemutih, diputihkan, memperputih, diperputih, keputihan, terputih, seputih, dan sebagainya. Unsur atau satuan morfologis seperti itu diklasifikasikan sebagai morfem. Bagaimana dengan me- atau –kan pada kata-kata di atas, apakah termasuk morfem juga? Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena itu, tidak dapat langsung membentuk kalimat. Satuan seperti ini menurut Santoso (2004) disebut satuan non-gramatis. Untuk membentuk kalimat, maka satuan nongramatis seperti me- dan –kan harus digabung dengan satuan gramatis lain. Kedua macam satuan itu yakni gramatis dan non-gramatis disebut morfem. Mengapa yang non-gramatis termasuk juga morfem? Karena, me- dan –kan mempunyai makna juga yang biasa disebut dengan istilah makna struktural. Morfem seperti ini berfungsi sebagai pembentuk kata dasar dan hanya akan berfungsi atau bermakna bila dimbuhkan kepada kata dasar. Karena itu, morfem semacam ini disebut: “tambahan”, “imbuhan”, atau “afiks”. Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam yaitu: (1) morfem bebas, dan (2) morfem terikat.

Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Menurut Santoso (2004), morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Dengan demikian, morfem bebas merupakan morfem yang diucapkan tersendiri; seperti: gelas, meja, pergi dan sebagainya. Morfem bebas sudah termasuk kata. Tetapi ingat, konsep kata tidak hanya morfem bebas, kata juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dengan morfem bebas, morfem dasar dengan morfem dasar. Jadi dapat dikatakan bahwa morfem bebas itu kata dasar. Morfem terikat merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Menurut Samsuri (1994), morfem terikat tidak pernah di dalam bahasa yang wajar diucapkan tersendiri. Morfem-morfem ini, selain contoh yang telah diuraikan pada bagian awal, umpanya: ter-, per-, -i, -an. Di samping itu ada juga bentuk-bentuk seperti – juang, -gurau, -tawa, yang tidak pernah juga diucapkan tersendiri, melainkan selalu dengan salah satu imbuhan atau lebih. Tetapi sebagai morfem terikat,
4- 19

Kajian Bahasa Indonesia di SD

yang berbeda dengan imbuhan, bisa mengadakan bentukan atau konstruksi dengan morfem terikat yang lain. Morfem terikat dalam bahasa Indonesia menurut Santoso (2004) ada dua macam, yakni morfem terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar, adalah sebagai berikut: (a) prefiks (awalan): per-, me-, ter-, di-, ber- dan lain-lain (b) infiks (sisipan): -el-, -em, -er(c) sufiks (akhiran): -an, kan, -i (d) konfiks (imbuhan gabungan senyawa) mempunyai fungsi macammacam sebagai berikut. (a) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-, per-, -kan, -i, dan ber-an. (b) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata benda, yaitu: pe-, ke-, -an, ke-an, per-an, -man, -wan, -wati. (c) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata sifat: ter-, -i, -wi, -iah. (d) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata bilangan: ke-, se-. (e) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata tugas: se-, dan se-nya. Dari contoh di atas menunjukkan bahwa setiap kata berimbuhan akan tergolong dalam satu jenis kata tertentu, tetapi hanya imbuhan yang merupakan unsur langsung yang dapat diidentifikasi fungsinya sebagai pembentuk jenis kata. Untuk lebih jelasnya unsur langsung pembentuk kata dapat dilihat pada diagram berikut. Pakaian Ber Berpakaian Berkemauan Kemauan Berke-an mau kerja benda kerja benda

keterangan (Santoso, 2004) Dari diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan imbuhan yang berbeda, morfem dasar yang sama, akan berbeda maknanya. Tetapi bagaimana jika imbuhannya sama, morfem dasarnya berbeda, apa yang dapat terjadi?

4 - 20 Unit 4

Contoh, akhiran –an pada morfem dasar tepi, darat, lapang; membentuk kata tepian, daratan, lapangan; ternyata menunjukkan persamaan makna imbuhan, yaitu tempat. Berarti dengan imbuhan yang sama, morfem dasarnya berbeda, dapat menghasilkan persamaan makna imbuhan yaitu menghasilkan jenis benda. Morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata. Perhatikan contoh berikut. Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku. Dari deretan morfem yang menjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah: anak, pintar, sabar, baca, buku, adalah morfem bebas. Mem- adalah morfem terikat morfologis. Sedangkan morfem yang, dan morfem dan dalam kalimat di atas belum dapat berdiri sendiri sebagai kata karena tidak mengandung makna tersendiri. Gejala inilah yang tergolong morfem terikat sintaksis (Santoso, 2004).

Latihan
Kerjakanlah latihan berikut! Lukiskan struktur morfologis kata-kata pada kalimat berikut. “Dia memperlakukan teman sepermainannya seperti saudaranya.”

Rambu-rambu pengerjaan latihan.
Latihan tersebut dapat Anda lakukan dengan langkah-langkah berikut. 1. Uraikan kata-kata menurut unsur langsungnya. 2. Bila salah satu di antaranya merupakan satuan yang dapat diuraikan atas unsur-unsur morfologisnya, lakukanlah sehingga ditemukan unsur morfologis terkecilnya. 3. Lukiskan struktur kata-kata yang ditemukan pada langkah 2 dengan jalan: a. menuliskan kata yang diuraikan b. menuliskan unsur-unsur morfologis terkecil kata itu dengan jarak yang diperhitungkan menurut banyaknya uraian yang Anda lakukan pada butir 1 dan 2 c. menghubungkan unsur-unsur dari bawah ke atas hingga akhirnya bertemu pada kata yang diuraikan dengan menggunakan diagram

Proses Perulangan Bahasa Indonesia
Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak.
Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 21

Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang merupakan bentuk dasar (Ramlan, 1980). Pengulangan merupakan pula suatu proses morfologis yang banyak terdapat pada bahasa Indonesia. Perhatikan pemakaian kata yang tercetak miring berikut. (1) Dia membeli rumah di Makassar. (2) Rumah-rumah di perkampungan itu akan digusur. (3) Anak itu membuat rumah-rumahan untuk adiknya. (4) Perumahan-perumahan yang dibangun oleh pengembang banyak yang tidak layak huni. Berpatokan pada pendapat Ramlan di atas, maka jelas bahwa kata ulang yang terdapat pada kalimat (2), (3), dan (4) semuanya dibentuk dari bentuk atau unsur dasar rumah. Makna kata pada kalimat (1) dengan kalimat berikutnya berbeda. Pada kalimat (1) kata rumah berarti satu. Kata rumah-rumah dan perumahan-perumahan pada kalimat (2) dan (4) berarti banyak atau jamak. Sedangkan kata rumah-rumahan pada kalimat (3) berarti menyerupai. Perbedaan makna ini disebabkan oleh adanya rumah dan perumahan sebagai morfem pertama dan rumah, rumahan, dan perumahan pada morfem kedua. Morfem rumah adalah morfem yang bermakna leksis, sedangkan morfem kedua merupakan morfem yang bermakna struktural. Berdasarkan fungsinya, morfem rumah dan perumahan merupakan unsur dasar atau morfem dasar kata rumah-rumah, rumah-rumahan, dan perumahanperumahan. Morfem kedua merupakan unsur pembentuk kata atau morfem pembentuk rumah-rumah, rumah-rumahan, dan perumahan-perumahan. Contoh yang disajikan di atas memang mudah untuk menetukan bentuk dasarnya, tetapi perlu diingat bahwa tidak semua kata ulang dapat dengan mudah ditentukan bentuk dasarnya. Beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam menentukan bentuk dasar kata ulang sebagai berikut. (1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata. Unsur dasar kata ulang sejenis dengan kata ulangnya. Dengan prinsip ini, dapat diketahui bahwa bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata benda berupa kata benda, bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata kerja berupa kata kerja, demikian pula bentuk dasar kata ulang kata sifat juga berupa kata sifat.

4 - 22 Unit 4

Contoh: − anak-anak benda) (kata − bentuk benda) dasarnya anak (kata

− perumahan-perumahan (kata benda) − melempar-lempar (kata kerja) − menari-nari (kata kerja) − cepat-cepat (kata sifat) − kecil-kesil (kata sifat)

− bentuk dasarnya (kata benda)

perumahan

− bentuk dasarnya melempar (kata kerja) − bentuk dasarnya menari (kata kerja) − bentuk sifat) dasarnya cepat (kata

− bentuk dasarnya sifat (kata sifat) (2) Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Contoh: − rumah-rumahan − mengatangatakan − berdesakdesakan − memegangmegang − bentuk dasarnya rumah bukan rumahan − bentuk dasarnya mengatakan mengata bukan ngatakan atau

− bentuk dasarnya berdesakan bukan berdesak − bentuk dasarnya megang memegang bukan

Kata-kata ulang yang dicontohkan di atas tidak sulit menentukan bentuk dasarnya, tetapi coba perhatikan contoh-contoh berikut. (1) tanam-tanaman lempar-melempar karang-mengarang tembak-menembak tulis-menulis (2) membagi-bagikan berkejar-kejaran bersalam-salaman dipanas-panasi

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 23

Pada contoh (1), bentuk dasar kata ulang tanam-tanaman bukan tanam tetapi tanaman, perulangan diucapkan di muka bentuk dasarnya. Dengan kata lain, bentuk dasarnya berada pada unsur kedua. Begitu pula dengan contoh kata ulang yang berikutnya Kata Ulang lempar-melempar karang-mengarang tembak-menembak tulis menulis Bentuk Dasar melempar mengarang menembak menulis

Sedangkan kata ulang pada contoh (2) bentuk dasarnya bukan pada unsur kedua tetapi pada unsur pertama ditambah akhiran (sufiks) yang terdapat pada unsur kedua, yaitu seperti berikut. Kata Ulang membagi-bagikan berkejar-kejaran bersalam-salaman dipanas-panasi Bentuk Dasar membagikan berkejaran bersalaman dipanasi

Macam-macam Kata Ulang Berdasarkan macamnya, menurut Keraf (1978) bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk seperti berikut. (1) Kata ulang suku kata awal. Dalam bentuk perulangan macam ini, vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan bergeser ke posisi tengah menjadi ê (pepet). Contoh: tangga tanaman pohon laki luhur tatangga tatanaman popohon lalaki luluhur tetangga tetanaman pepohonan lelaki leluhur

4 - 24 Unit 4

(2) Kata ulang seluruh kata dasar. Bentuk kata ulang terjadi dengan mengulang seluruh unsur dasar secara utuh. Kata ulang seperti ini biasa disebut kata ulang utuh. Contoh: buku bangku rumah pedagang rumah sakit pasangan buku-buku bangku-bangku rumah-rumah pedagang-pedagang rumah sakit-rumah sakit pasangan-pasangan

(3) Kata ulang yang terjadi atas seluruh suku kata, tetapi pada salah satu unsur kata ulang tersebut mengalami perubahan bunyi fonem. Kata ulang semacam ini biasa disebut kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi. Contoh: gerak-gerik gerak-gerak gerak sayur-mayur sayur-sayur sayur bolak-balik balik-balik balik porak-parik porak-porak porak (4) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan. Contoh: anak-anakan anak main-mainan main serajin-rajinnya rajin kuda-kudaan kuda tergila-gila gila Makna Kata Ulang Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna struktural kata ulang menurut Keraf (1978) adalah sebagai berikut. (1) Perulangan mengandung makna banyak yang tak tentu. Perhatikan contoh berikut: - Kuda-kuda itu berkejaran di padang rumput. - Buku-buku yang dibelikan kemarin telah dibaca.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 25

(2) Perulangan mengandung makna bermacam-macam. Contoh: - Pohon-pohonan perlu dijaga kelestariannya. (banyak dan bermacammacam pohon) - Daun-daunan yang ada dipekarangan sekolah sudah menumpuk. (banyak dan bermacam-macam daun) - Ibu membeli sayur-sayuran di pasar. (banyak dan bermacam-macam sayur) - Harga buah-buahan sekarang sangat murah. (banyak dan bermacammacam buah) (3) Makna lain yang dapat diturunkan dari suatu kata ulang adalah menyerupai atau tiruan dari sesuatu. Contoh: - Anak itu senang bermain kuda-kudaan. (menyerupai atau tiruan kuda) - Mereka sedang bermain pengantin-pengantinan di pekarangan rumah. (menyerupai atau tiruan pengantin) - Andi berteriak kegirangan setelah dibelikan ayam-ayaman. (menyerupai atau tiruan ayam) (4) Mengandung makna agak atau melemahkan ari. Contoh: - Perilakunya kebarat-baratan sehingga tidak disenangi oleh temantemanya. - Sifatnya masih kekanak-kanakan. - Mukanya kemerah-merahan. (5) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari: (a) intensitas kualitatif, contohnya: - Pukullah kuat-kuat. - Anak itu belajar sebaik-baiknya. - Burung itu terbang setinggi-tingginya. - Agar tidak terlambat, ia berjalan secepat-cepatnya. (b) intensitas kuantitatif, contohnya: - Kuda-kuda itu berlari kencang. - Anak-anak bermain bola di pekarangan sekolah. - Ayah membawa buah-buahan dari Malang. - Rumah-rumah di kampung itu tertata dengan rapi. (c) Intensitas frekuentatif. Contoh: - Ia mengeleng-gelengkan kepalanya.

4 - 26 Unit 4

- Ia mondar-mandir saja sejak tadi. - Anak itu menyanyi sambil memukul-mukul meja. (6) Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang berbalasan. Contoh: - Kita harus tolong-menolong. - Tentara sedang tembak-menembak dengan seru. - Mereka tendang-menendang dan tinju-meninju saat sedang berkelahi. - Saat pertama kali bertemu mereka bersalam-salaman lalu berpelukpelukan dengan eratnya. (7) Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif. Contoh: - Anak-anak berbaris dua-dua sebelum masuk kelas.

Rangkuman
Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata. Sedangkan morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil. Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya morfem yang disebut satuan non-gramatis. Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena itu, tidak dapat langsung membentuk kalimat. Untuk membentuk kalimat, maka satuan nongramatis seperti me- dan –kan harus digabung dengan satuan gramatis lain. Morfem semacam ini disebut: “tambahan”, “imbuhan”, atau “afiks”. Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam yaitu: (1) morfem bebas, dan (2) morfem terikat. Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Morfem terikat merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Morfem terikat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yakni morfem terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar. Morfem ini meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Sedangkan morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata, misalnya dan, yang, dari, di dan sebagainya.
4- 27

Kajian Bahasa Indonesia di SD

Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam menentukan bentuk dasar kata ulang adalah: (1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata. (2) Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Berdasarkan macamnya, bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk, yaitu: (1) Kata ulang suku kata awal. (2) Kata ulang seluruh kata dasar kata ulang utuh. (3) Kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi. (4) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan. Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna struktural kata ulang adalah: (1) Mengandung makna banyak yang tak tentu. (2) Mengandung makna bermacam-macam. (3) Mengandung makna menyerupai atau tiruan dari sesuatu. (4) Mengandung makna agak atau melemahkan arti. (5) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari: (a) intensitas kualitatif, (b) intensitas kuantitatif, dan (c) intensitas frekuentatif. (6) Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang berbalasan. (7) Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif.

4 - 28 Unit 4

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata adalah pengertian ... A. semantik B. sintaksis C. morfem D. morfologi 2. Satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil, pengertian dari ... A. semantik B. sintaksis C. morfem D. morfologi 3. Kata berikut yang di dalamnya terdapat satuan non-gramatis, adalah ... A. kemudian B. pengemudi C. perawan D. kelelawar 4. Morfem dasar yang bersifat terikat, terdapat pada kata ... A. perjuangan B. bertemu C. berlalu D. permintaan 5. Kata berimbuhan yang bermorfem dasar tua, terdapat pada kata ... A. tua-tua B. tertua C. ketua D. bantuan 6. Yang tidak termasuk morfem bebas adalah ...kecuali: A. pergi B. dia C. telah D. mandi 7. Contoh kalimat yang didalamnya terdapat morfem terikat sintaksis adalah ...
4- 29

Kajian Bahasa Indonesia di SD

A. Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku. B. Anak pintar senang membaca buku. C. Ani anak sabar. D. Ani membaca buku. 8. Konfiks di bawah ini yang berfungsi membentuk kata benda ... A. ke – an B. per – an C. ber – an D. se – nya 9. Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku. Morfem terikat morfologis yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah ... A. anak B. yang C. pintar D. mem10. Kata ulang berikut yang mengandung makna intensitas kualitatif... A. Belajarlah sebaik-baiknya sebelum mengikuti ujian. B. Buah-buahan sangat baik manfaatnya bagi tubuh. C. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah melihat perilaku anaknya yang nakal. D. Anak itu menangis saat kuda-kudaannya hilang.

4 - 30 Unit 4

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Bagaimana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 2 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 4 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 5 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 2, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 31

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1. C: 2. B: Fonem adalah satuan fonologis yang terkecil. Fonetik ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia Secara artikuler setiap fonem dapat diamati dengan cara bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Diftong ditulis dengan dua buah huruf (grafem tetapi dinyatakan sebagai sebuah fonem. Artikulator adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan. Titik artikulasi adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati. /i/ vokal yang termasuk vokal atas dan depan. Bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit, konsonan yang muncul adalah geseran atau spiran. Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara Konsonan gigi (dental): /t/, /d/, /s/, /z/, /l/, /r/, /n/.

3. C: 4. A: 5. D: 6. C: 7. D: 8. B: 9. D: 10.A:

Tes Formatif 2
1. D: Morfologi adalah bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata 2. C: Morfem merupakan satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil 3. B: Pengemudi mendapat imbuhan pe-, pe- belum mengandung makna tersendiri, karena itu, tidak dapat langsung membentuk kalimat (termasuk satuan non-gramatis). 4. A: Perjuangan di dalamnya terdapat morfem dasar yang bersifat terikat yaitu juang yang tidak dapat berdiri sendiri. 5. B: Tertua bermorfem dasar tua.

4 - 32 Unit 4

6. C: Yang tidak dapat berdiri sendiri hanya morfem telah. 7. A: Morfem yang, dan dan itu dalam kalimat tidak dapat berdiri sendiri 8. C: Konfiks yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-, per-, -kan, -i, dan ber-an. 9. D: mem- termasuk morfem terikat morfologis. 10. A: sebaik-baiknya: intensitas kualitatif buah-buahan: intensitas kuantitatif menggeleng-gelengkan: intensitas frekuentatif kuda-kudaan: menyerupai atau tiruan dari sesuatu

(8) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari: (d) intensitas kualitatif, contohnya: - Pukullah kuat-kuat. - Anak itu belajar sebaik-baiknya. - Burung itu terbang setinggi-tingginya. - Agar tidak terlambat, ia berjalan secepat-cepatnya. (e) intensitas kuantitatif, contohnya: - Kuda-kuda itu berlari kencang. - Anak-anak bermain bola di pekarangan sekolah. - Ayah membawa buah-buahan dari Malang. - Rumah-rumah di kampung itu tertata dengan rapi. (f) Intensitas frekuentatif. Contoh: - Ia mengeleng-gelengkan kepalanya. - Ia mondar-mandir saja sejak tadi. - Anak itu menyanyi sambil memukul-mukul meja.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 33

Glosarium

afiks

fonologi fonologi fisiologis gramatikal prefiks sufiks

: imbuhan; bentuk terikat yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar akan mengubah makna gramatikal : bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi bunyi bahasa menurut fungsinya : mengenai (berdasarkan, secara) fonologi : bersifat fisiologi; berkenaan dengan fisiologi : sesuai dengan tata bahasa; menurut tata bahasa : awalan; imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar : akhiran; afiks yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar

4 - 34 Unit 4

Daftar Pustaka

Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Depdiknas. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Samsuri. 1994. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga Santoso, Puji. 2004. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Pusat Penerbitan UT Supriyadi, dkk. 1992. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 4. Jakarta: Depdiknas

Kajian Bahasa Indonesia di SD

4- 35

Unit

5

SINTAKSIS DAN SEMANTIK BAHASA INDONESIA
Muh. Faisal Abd. Halik

B

ahan ajar cetak Unit 5 ini membahas Satuan Sintaksis dan Semantik Bahasa Indonesia. Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Sintaksis bahasa Indonesia, dan (2) Semantik bahasa Indonesia. Saudara, pemahaman satuan sintaksis dan semantik bahasa Indonesia bagi guru, selain dapat menjadi bekal dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari juga dapat bermanfaat dalam pembinaan kemampuan berbahasa siswa. Sehingga, materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya sehingga semakin mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam kaitannya dengan materi yang lain, pemahaman mengenai sintaksis dan semantik akan bermanfaat, karena dengan dipahaminya materi ini akan memudahkan Anda memahami kalimat dan makna materi bahan ajar cetak. Untuk itu, maka setelah mempelajari uni ini, Anda diharapkan mampu: 1. menjelaskan pengertian sintaksis; 2. menjelaskan pengertian frase, klausa dan kalimat; 3. mengklasifikasikan jenis frase, klausa,. dan kalimat; 4. menjelaskan pengertian semantik; 5. menjelaskan pengertian diksi; 6. menjelaskan perbedaan jenis-jenis makna; 7. membedakan perbedaan jenis-jenis perubahan makna. Untuk mencapai kemampuan yang diharapkan di atas, maka pelajarilah dengan baik materi yang disajikan pada setiap subunit. Setiap subunit disertai
Kajian Bahasa Indonesia di SD 5-

1

dengan latihan/tugas. Kerjakanlah latihan/tugas itu dengan cermat, sehingga Anda dapat mengukur sejauh mana pemahaman Anda terhadap materi yang baru Anda pelajari. Kalau perlu, diskusikan dengan rekan-rekan Anda yang lebih mengerti dalam memecahkan bagian-bagian yang Anda belum pahami. Bacalah sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan materi ini, sebagai bahan pembanding dan penambah wawasan bagi Anda. Ingat pula, pelengkap materi unit ini juga terdapat di internet. Bukalah internet. Selanjutnya, ada rangkuman yang dapat membantu Anda memahami garis besar dari uraian yang telah Anda pelajari. Pada akhir unit, juga disediakan tes formatif. Silakan kerjakan. Periksa jawaban Anda dan cocokkan dengan kunci jawaban. Terakhir, tanamkan dalam diri Anda bahwa Anda akan berhasil. Selamat belajar, semoga sukses.

5 - 2 Unit 5

Subunit 1 Sintaksis
audara, kajian sintaksis bahasa Indonesia merupakan kelanjutan dari kajian fonologi dan morfologi bahasa Indonesia yang telah Anda pelajari pada subunit 1 sebelumnya. Istilah sintaksis berasal dari bahasa Belanda syntaxis. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah syntax. Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001). Tidak berbeda dengan pendapat tersebut, Tarigan (1984) mengemukakan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang dari tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa, misalnya: Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng Contoh di atas dapat diklasifikasikan atas : satu kalimat : − Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng dua klausa : (1) Saya dan Ali sedang menggambar lukisan pemandangan; (2) ketika nenek Aminah sedang memasak nasik goreng enam frasa : (1) Saya dan Ali (2) sedang menggambar (3) lukisan pemandangan (4) nenek Aminah (5) sedang memasak (6) nasik goreng

S

Frase Bahasa Indonesia
Untuk memudahkan pemahaman Anda mengenai frase, perhatikan kalimat berikut yang dicontohkan oleh Ramlan (1988).

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

3

Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru di perpustakaan. Kalimat itu terdiri dari satu klausa, yaitu Dua orang mahasiswa sedang membaca buku baru diperpustakaan. Selanjutnya, klausa terdiri dari empat unsur yang lebih rendah tatarannya, yaitu dua orang mahasiswa, sedang membaca, buku baru, dan di perpustakaan. Unsur-unsur itu ada yang terdiri dari dua kata, yakni sedang membaca, buku baru, di perpustakaan, dan ada yang terdiri dari tiga kata, yaitu dua orang mahasiswa. Di samping itu, masingmasing unsur itu menduduki satu fungsi. Dua orang mahasiswa menduduki fungsi S, sedang membaca menduduki fungsi P, buku baru menempati fungsi O, dan di perpustakaan menempati fungsi KET. Demikianlah, unsur klausa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi itu merupakan satuan gramatik yang disebut frase. Jadi, frase ialah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Selain contoh di atas, Supriyadi, dkk. (1992) menguraikan cara mengenal frase bahasa Indonesia seperti berikut. Perhatikan unsur setiap fungsi yang terdapat kalimat-kalimat berikut: (1) Saya guru. (SP) (2) Ayah saya guru. (SP) (3) Adik teman saya guru bahasa Indonesia. (SP) Unsur manakah yang mempunyai fungsi S dan yang mempunyai fungsi P pada kalimat di atas? Selanjutnya, hitunglah jumlah kata yang terdapat pada setiap kalimat di atas. Sesuai dengan struktur fungsional ketiga kalimat itu, hasil kerja Anda dapat digambarkan dalam bentuk tabel berikut. Fungsi S Saya ayah saya ayah saya adik teman saya teman saya adik teman saya P guru guru guru bahasa Indonesia bahasa Indonesia bahasa Indonesia

No 1 2

3

guru

Berapakah jumlah kata pada masing-masing kalimat di atas? Jawabannya jelan, bukan? Setiap kata merupakan unsur terkecil satuan sintaktik. Artinya, dalam bidang sintaktik kata-kata tersebut tidak perlu diuraikan lagi atas unsur-

5 - 4 Unit 5

unsurnya yang lebih kecil. Mengapa? Ingat kembali struktur fonologi dan morfologi. Pada kalimat (2) dan (3) terdapat kelompok kata: ayah saya, adik teman saya, teman saya, guru bahasa Indonesia, bahasa Indonesia. Kelompok tersebut merupakan satuan gramatis, dan pembahasannya berada dalam bidang sintaksis. Karena itu, satuan gramatis semacam itu termasuk satuan sintaktik. Satuan sintaktik di atas ada yang menduduki fungsi S: ayah saya, adik teman saya; fungsi P: guru bahasa Indonesia. Ada pula yang hanya menduduki sebagian fungsi dari kalimat: teman saya (bagian S), bahasa Indonesia (bagian P). Masing-masing tidak melewati batas fungsi, baik S maupun P. Satuan sintaktik semacam ini disebut frase. Jadi, dapat disimpulkan bahwa frase adalah kelompok kata yang mendududuki suatu fungsi (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan) dan kesatuan makna dalam kalimat.

Jenis Frase
Ramlan (1981) membagi frase berdasarkan kesetaraan distribusi unsur unsurnya atas dua jenis, yakni frase endosentrik dan frase eksosentrik. (1) Frase endosentrik Frase endosentrik yang distribusi unsur-unsurnya setara dalam kalimat. Frase endosentrik terbagi atas tiga jenis: (a) frase endosentrik koordinatif yakni frase yang unsur-unsurnya setara, dapat dihubungkan dengan kata dan, atau, misalnya : - rumah pekarangan - kakek nenek - suami isteri (b) frase endosentrik atributif, yakni frase yang unsur-unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau, misalnya: - buku baru - sedang belajar - belum mengajar (c) Frase endosentrik apositif, yakni frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungan dengan kata dan dan atau Mmisalnya: - Almin, anak Pak Darto sedang membaca - ,anak Pak Darto sedang belajar
Kajian Bahasa Indonesia di SD 5-

5

- Ahmad, sedang belajar (2) Frase eksosentrik adalah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya, misalnya: - di pasar - ke sekolah - dari kampung Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frase terdiri atas: frase nominal, frase verbal, frase ajektival, frase, pronomina, frase numeralia. (Depdikbud, 1988). (1) Frase verbal adalah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya dan tidak merupakan klausa. Misalnya: - Kapal lauat itu sudah belabuh - Bapak saya belum pergi. - Ibu saya sedang mencuci (2) Frase nominal adalah dua buah kata atau lebih yang intinya dari dari nominal atau benda dan satuan itu tidak membentuk klausa. Misalnya: - Kakek membeli tiga buah layang-layang. - Amiruddin makan beberapa butir telur itik. - Syarifuddin menjual tigapuluh kodi kayu besi (3) Frase ajektival adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih sedang intinya adalah ajektival (sifat) dan satuan itu tidak membentuk klausa, misalnya: - Ibu bapakku sangat gembira - Baju itu sangat indah - Mobil ferozamu baru sekali (4) Frase pronomina adalah dua kata atau lebih yang intinya pronomina dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Misalnya : - Saya sendiri akan pergi ke pasar - Kami sekalian akan bekunjung ke Tator - Kamu semua akan pergi studi wisata di Tator (5) Frase numeralia adalah dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Misalnya: - Tiga buah rumah sedang terbakar

5 - 6 Unit 5

- Lima ekor ayam sedang terbang - Sepuluh bungkus kue akan dibeli

Klausa Bahasa Indonesia
Suatu ujaran yang terdiri atas subjek, predikat, objek, dan keterangan, misalnya Saya sedang makan kue di rumah merupakan sebuah klausa sekaligus sebuah kalimat, yakni kalimat tunggal. Akan tetapi, ujaran Ibu sedang mencuci piring ketika Ayah pulang dari pasar bukan sebuah klausa tetapi kalimat, yakni kalimat majemuk. Hal tersebut berdasar pada definisi yang dikemukakan oleh Kridalaksana (1982:85) bahwa “klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya tediri dari subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat.” Pengertian yang sama dikemukakan oleh Ramlan (1981:62) sebagai berikut “Klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri atas dari P, baik disertai S, O, PEL, dan KET atau tidak. Dengan ringkas klausa ialah (S) P (O), (PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa apa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada.” Berdasarkan pengertian di atas, klausa adalah satuan gramatik yang unsur-usurnya minimal terdiri atas Subjek-Predikat dan maksimal unsurnya terdiri atas Subjek-Predikat-Objek-Pelengkap-Keterangan Misalnya: - Saya makan - Saya sedang makan nasi - Saya sedang makan nasi kemarin - Saya sedang memasakkan nasi kakakku

Jenis Klausa
Klausa dilihat dari segi kategori kata atau frasa yang menduduki fungsi Predikat terdiri atas klausa: nominal, klausa verbal, klausa bilangan, dan klausa depan. ( Ramlan,1981). (1) Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau frasa golongan nomina. Misalnya: - Ia guru IPA - Yang dibeli pedagang itu kayu
Kajian Bahasa Indonesia di SD 5-

7

(2) Klausa verbal adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau frasa kategori verbal, dan klausa vebal terbagi atas empat jenis, yakni: (a) Klausa verbal yang ajektif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan verbal yang termasuk kategori sifat sebagai pusatnya. Misalnya: - Rumahnya sangat luas - Motornya sangat mahal - Rumahnya indah sekali (b) Klausa verbal intransitif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan kata kerja intransitif sebagai unsur intinya. Misalnya: - Burung merpati sedang terbang di angkasa - Adikku sedang bermain-main di lapangan - Pesawat Lion Air belum mendarat di Lanud Hasanuddin (c) Klausa verbal yang aktif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan verbal yang transitif sebagai unsur intinya. Misalnya: - Ibuku sedang mencuci piring - Pamanku sedang mengajarkan IPS - Guru-guruku sedang mengikuti pelatihan PIPS (d) Klausa verbal yang reflektif adalah klausa yang predikatnya dari kata verbal yang tergolong kata kerja reflektif. Misalnya: - Mereka sedang mendinginkan diri - Anak-anak itu sedang menyelamatkan diri - Kakek Ady telah mengobati peenyaakinya (e) Klausa verbal yang resiprok adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan verbal yang termasuk kata keja resiprok. Misalnya: - Mereka saling melempar batu karang. - Mereka tolong menolong di sungai - Anak-anak itu ejek-mengejek di sekolah (3) Klausa bilangan adalah klausa yang predikatnya dari kata atau frasa golongan bilangan. Misalnya: - Kaki meja itu empat buah - Mobil itu delapan rodanya.

5 - 8 Unit 5

- Rumah panggung itu duapuluh tiangnya (4) Klausa depan adalah klausa yang predikatnya dari kata atau frasa depan yang diawali kata depan sebagai penanda. Misalnya: - Baju dinas itu untuk pegawai pemda. - Mobil itu dari Amerika. - Makanan lezat itu buat adik-adikmu.

Kalimat Bahasa Indonesia
Ahli tatabahasa tradisional menyatakan bahwa kalimat adalah satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap. Misalnya, “Saya makan nasi.” Defenisi tersebut tidak universal karena kadangkala ada kalimat yang terdiri atas satu kata tetapi maknanya dapat dipahami secara lengkap, misalnya Pergi! (pergi dari sini sekarang juga). Keraf (1984:156) mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan*), sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap. Pengertian tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Kridalaksana (1982:72) bahwa “kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa. Misalnya: - Diam! - Amin membeli kue di pasar. Selain pendapat tersebut, dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi oleh alunan titinada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

9

Jenis Kalimat
Dari segi bentuk, kalimat dapat dikelompokkan atas dua jenis: (a) kalimat tunggal dan (b) kalimat majemuk. Kedua jenis kalimat tersebut masingmasing terbagi atas beberapa jenis. Agar lebih jelas, silakan perhatikan skema berikut.
K. Nominal

intransitif ekatransitif dwitransitif
semitransitif

Jenis kalimat bentuk Kalimat Tunggal makna
berita

K. Verbal K. Ajektival

K. preposisi

pasif
tanya perintah seru

Majemuk Setara : penambahan, berlawanan, pemilihan, sebab Kalimat Majemuk Kalimat Majemuk bertingkat Kalimat majemuk campuran

1. Kalimat Tunggal Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola (SP, SPO, SPOK) atau kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa. Contoh: - Dia pergi. - Dia melempar mangga. - Ahmad pergi ke pasar kemarin sore. 2. Jenis Kalimat tunggal Jenis kalimat tunggal terdiri atas lima macam, yakni kalimat nominal, kalimat ajektival, verbal, dan kalimat preposisional (Depdikbud, 1988). Kelima jenis kalimat tunggal tersebut adalah sebagai berikut. (1) Kalimat nominal yakni kalimat tunggal yang predikatnya dari kata benda. Misalnya: - Ibuku petani sawah

5 - 10 Unit 5

- Ayahku pegawai kantor pajak. - Kakakku tukang kayu. (2) Kalimat verbal yakni kalimat tunggal yang predikatnya dibentuk dari kata kerja/ verbal. Kalimat verbal terdiri atas lima macam yakni kalimat verbal intransitif, ekatransitif, dwitransitif, semitransitif, dan pasif (a) Kalimat intransitif adalah kalimat tunggal yang prediktnya tidak memerlukan objek, misalya: - Pak desa belum pergi ke kantor - Ibunya sedang berenang di kolam - Adik-adikku telah belajat matematika. (b) Kalimat ekatransitif, yakni kalimat tunggal yag predikatnya hanya memerlukan objek tanpa diikuti pelengkap.,misalnya - Saya makan nasi goreng - Ibu mencuci pakaian (c) Kalimat dwitransitif adalah kalimat tunggal yang predikatnya memerlukan objek dan pelengkap, misalnya: - Ali membelikan adiknya baju tadi malam - Nurhani memasakkan nasi suaminya kemarin. - Suwarni mendengakan neneknya bicara di kamar (d) Kalimat semitransitif adalah kalimat tunggal yang predikatnya dari semitransitif, misalnya - Alimuddin kehilangan uang milyaran kemarin - Rumah Pak Desa kemasukan pencuri. - Ibu Aminah kedatangan tamu dari Jakarta (e) Kalimat pasif adalah kalimat tunggal yang predikatnya biasanya dari kata kerja berawalan di- , misalnya - Rumah itu dibeli oleh Pak Alimin Syahid. - Motor itu dijual oleh Toko Mandala. - Persoalan itu telah diselesaikan oleh Camat Makassar (f) Kalimat ajektival yakni kalimat tunggal yang predikatnya dari kata sifat atau ajektival, misalnya: - Buku bahasa Inggrisku sangat tebal, - Rumahku besar sekali - Keluarga itu sangat sopan dan bijaksana (g) Kalimat preposisional yakni kalimat tunggal yang predikatnya dari kata depan atau preposisi, misalnya: - Tempat tinggalnya di Makasar

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

11

- Beras ciliwung itu dari Sidrap - Wesel pos ini untuk Miranda Di samping itu, Menurt (Keraf, 1982) kalimat tunggal dilihat dari segi maknanya dapat dikelompokkan atas empat macam, yakni: (1) kalimat berita, (2) kalimat tanya, (3) kalimat perintah, dan (4) kalimat seru.

Kalimat berita Kalimat berita adalah kalimat yang digunakan bila kita ingin mengutarakan suatu peristiwa atau kejadian yang kita alami dan atau yang dialami orang lain. Misalnya: Ali pergi ke Jakarta kemarin. Jalan itu sangat licin. Saya mau berangkat ke Jakarta besok pagi. Kalimat tanya. Kalimat tanya, kalimat yang maksudnya atau berfungsi untuk menanyakan sesuatu, yang di dalamnya terdapat tiga kemungkinan ciri: (1) mengunakan intonasi tanya, dan atau (2) menggunakan kata tanya, dan atau (3) menggunakan partikel -kah. Misalnya, seperti berikut. Ibu datang? Kapan Ibu datang? Akankah ibu datang? Jenis kata tanya yang biasa digunakan dalam kalimat tanya dapat dikelompokkan menurut sifatnya, sebagai berikut: (a) Untuk menanyakan benda/hal: apa, untuk apa, tentang apa. Misalnya: Apa yang kamu cari di sini? Untuk apa kamu bekerja siang dan malam? Tentang apa yang masih belum jelas bagimu? (b) Untuk menanyakan manusia: siapa, dengan siapa, untuk siapa.

5 - 12 Unit 5

Misalnya: - Siapa yang kaucari kemarin sore? - Dengan siapa Anda pergi ke Jakarta? - Untuk siapa Anda bekerja keras selama ini? (c) Untuk menanyakan jumlah: berapa, berapa banyak. Misalnya: - Berapa buku yang Anda perlukan bulandepan? - Berapa banyak uang yang akan kaupinjam sekarang? (d) Untuk menanyakan pilihan: mana, yang mana, Misalnya: - Mana yang kausenangi, membeli baju atau celana? - Yang mana kau pilih , belajar di Unhas atau di UNM? (e) Untuk menanyakan tempat: di mana, ke mana, dari mana. Misalnya: - Di mana engkau akan tiggal bulan depan? - Ke mana Dia akan pergi merantau? - Dari mana Amin pergi baru sekarang kelihatan? (f) Untuk menanyakan temporal: bila, kapan, bilamana, apabila. Misalnya: - Bila dia selesai studinya di UGM? - Kapan Kamarudin menjadi dosen IPS di UNJ? - Bilamana Hamid menyelesaikan pembangunan rumahnya? (g) Untuk menanyakan kausalitas: mengapa, apa sebab, akibat apa. Misalnya: - Mengapa Anda tidak mau menjadi guru? - Apa sebabanya Anda jarang pergi ke kampung halamannya? - Akibat apa yang ditimbulkan jika malas belajar di masa muda? Kalimat tanya terdiri atas tiga macam: (1) kalimat tanya biasa: kalimat yang benar-benar menanyakan sesuatu. (2) kalimat tanya retoris: kalimat yang menanyakan menggunakan ciri kalimat tanya tetapi tidak perlu dijawab. Kalimat ini biasa dipakai orang yang berpidato sebagai cara untuk menarik perhatian pendengar. (3) kalimat yang senilai perintah: bentuknya bertanya tetapi maksudnya menyuruh, misalnya “Apakah jendela itu bisa dibuka sekarang?” Kalimat Perintah Kalimat perintah adalah kalimat yang maksudnya menyuruh orang lain melakukan sesuatu.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

13

Misalnya: - Buatlah satu kalimat yang berpola SPOK! - Pergilah ke sekolah! - Carilah pekerjaan apa saja, yang penting halal. Kalimat perintah mempunyai beberapa jenis: (1) Suruhan Misalnya: - Pergi dari sini! - Makan obat dahulubaru ke sekolah! - Angkat segera barang itu! (2) Permintaan Misalnya: - Tolong bawa surat ini ke kantor pos! - Bisakah Anda buatkan lukisan pemandangan! - Mohon buatkan meja kayu! (3) Memperkenankan Misalnya : - Masuklah ke dalam kalau Anda perlu! - Silakan keluarlah jika ada yang mau dibeli! - Disilakan berangkat dahulu! (4) Ajakan Misalnya: - Marilah kita istirahat sejenak! - Mari kita bekerja sama-sama! - Ayo kita makan sama-sama! (5) Larangan Misalnya : - Jangan pergi hari ini! - Tidak boleh pergi pada tengah malam! - Jangan pergi ke pasar (6) Bujukan: Misalnya: - Tidurlah ibu menjagamu, sayang! - Makan bersama neneklah, nanti saya yang jaga di luar! (7) Harapan Misalnya: - Mudah-mudahan Anda selamat sampai di tujuan!

5 - 14 Unit 5

-

Semoga Anda sehat al afiat! Semoga Anda sukses selalu!

Kalimat seru Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan kagum. Karena rasa kagum berkaitan dengan sifat, maka kalimat seru hanya dapat dibuat dari kalimat berita yang predikatnya adjektiva (Depdikbud, 1988). Contoh: - Alangkah bebasnya pergaulan mereka! - Bukan main bodohnya anak itu! - Sungguh cerdas anak itu! 3. Kalimat majemuk Kalimat majemuk adalah kalimat yang di dalamnya terdapat lebih dari satu pola kalimat, misalnya: SP + SP, SPO + SPO; atau kalimat yang di dalamnya terdapat induk kalimat (diterangkan) dan anak kalimat (menerangkan). Contoh: - Saya minum teh dan bapak minum kopi. (majemuk setara) - Kami sedang makan ketika paman datang kemarin. (majemuk bertingkat) - Pak Bupati telah menyelenggarakan sebuah malam kesenian, yang dimeriahkan oleh para artis nasional, serta dihadiri para pejabat muspida. (majemuk campuran) Kalimat majemuk menurut Keraf (1982) terdiri atas atas tiga jenis yakni: (1) Kalimat majemuk setara (2) Kalimat majemuk bertingkat (3) Kalimat majemuk campuran Kalimat majemuk setara Kalimat majemuk setara terbagi atas empat jenis: yakni kalimat mejemuk setara penambahan, kalimat majemuk setara pemilihan, kalimat majemuk setara perlawanan, dan kalimat majemuk setara sebab. (a) Kalimat majemuk setara penambahan ádalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata-kata penghubung: dan, lagi pula, serta. Misalnya: - Adi belajar IPS dan Erni belajar IPA.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

15

- Tuti sangat pintar mejahit lagi pula sangat baik budi - Muhaimin pergi ke pasar serta pergi ke kebun pada hari ini (b) Kalimat majemuk setara pemilihan adalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata-kata pengubung atau, baik... maupun, Misalnya: - Engkau mau pergi ke Jakarta atau mau pergi ke Semarang? - Pemerintah perlu meningkatkan mutu pendidikan, baik mutu pendidikan dasar-menengah maupun mutu pendidikan tinggi. (c) Kalimat majemuk setara perlawanan adalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung: tetapi, namun, padahal. Misalnya: - Dia mau belajar tetapi diberi hadiah dulu. - Meskipun sakit jantung, Ali tetap bekerja di bengkel. - Dia kelihatan sehat padahal memiliki penyakit kronis. - Alimuddin sering marah kepada siswanya namun demikian tidak sampai dalam hatinya. (d) Kalimat majemuk setara sebab-akibat adalah kalimat majemuk setara yang menggunakan kata penghubung: sebab, karena, behubung, akiba., Misalnya - Saya tidak pergi karena sakit. - Kamaruddin tidak masuk bekerja sebab pergi ke kampungnya. - Hutan di hulu sungai Saddang sudah rusak total, akibatnya sering banjir di hilir Kalimat majemuk bertingkat Kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih, satu sebagai induk kalimat (diterangkan) dan satu sebagai anak kalimat (menerangkan). Atau, kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sehingga perluasan itu membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain pola pola yang sudah ada. Misalnya: - Rumah kami kosong waktu pencuri masuk. - Pak tani yang rajin itu memberantas hama padi. - Kebersamaan sangat penting bagi rakyat Indonesia agar negara ini semakin maju. Kalimat majemuk campuran

5 - 16 Unit 5

Kalimat majemuk campuran merupakan kalimat yang terdiri atas sebuah pola atasan dan sekurang-kurangnya dua pola bawahan, atau sekurangkurangnya dua pola atasan dan satu atau lebih pola bawahan (Keraf, 1981). Misalnya: - Universitas Negeri makassar telah melaksanakan seminar nasional tentang peningkatan mutu pendidikan, yang dihadiri Menteri Pendidikan Nasional, Gubernur Sulawesi Selatan, pejabat tinggi lainnya, serta pencinta pendidikan di kota Makassar dan sekitarnya. Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 1 ini cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Tentukanlah berapa frase yang terdapat dalam kalimat berikut dan yang manakah frase nominal, frase verbal ,frase numeralia, dan frase preposisional! Lima pejabat tinggi telah mengungjungi kantor PGSD di Parepare. 2. Perhatikan kalimat berikut, yang mana klausa nominal, klausa verbal, klausa bilangan, dan klausa depan? - Ayahku sedang membersihkan halaman. - Beras kepala itu dari Banywangi. - Kursi itu empat kakinya. - Ibuku guru sekolah dasar 3. Tuliskan masing-masing satu contoh jenis kalimat: verbal ekatransitif, kalimat verbal dwitransitif, kalimat verbal semitransitif, kalimat ajektival, dan kalimat nominal! Rambu-rambu pengerjaan latihan. 1. Untuk menyelesaikan tugas 1, akan mudah jika Anda mengikuti contoh cara menganalisis frase yang dikemukakan oleh Ramlan dan Supriyadi dkk. Baca kembali uraian tersebut dengan baik. 2. Tugas nomor 2 dapat Anda kerjakan jika memahami dengan baik defenisi kalimat secara umum. Begitu pula defenisi kalimat dalam wujud lisan dan dalam wujud tulisan. Masih ingat, bukan? Kalau belum, silakan baca kembali.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

17

Rangkuman
Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Frase adalah kelompok kata yang mendududuki fungsi tertentu (subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan) dalam kalimat. Frase dilihat dari segi hubungan distribusi unsurunsurnya terdiri atas frase endosentrik (atributif, koordinatif, apositif) dan eksosentrik; frase dilihat dari segi kategori katanya terdiri atas empat macam frase: nominal, verbal, ajektival, numeralia, fromina. Klausa adalah satuan gramatik yang minimal terdiri atas subjek-predikat dan maksimal terdiri atas subjek, predikat, objek, dan keterangan dan mempunyai potensi sebagai kalimat. Klausa dilihat dari kategori kata yang menduduki predikat terdiri atas klausa verbal (ajektif, intransitif, aktif, pasif, dan resiprokal), klausa nominal, klausa bilangan, dan klausa depan. Adapun kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa. Kalimat ditinjau dari segi jumlah pola struktur dikandungnya terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola. Sedangkan kalimat majemuk adalah kalimat yang g terdiri atas dua pola atau lebih. Kalimat tunggal terdiri atas beberapa jenis, yakni kalimat nominal, kalimat verbal (intransitif, ekatransitif, dwritransitif, semi transitif, pasif) kalimat ajektival, kalimat preposisional. Dan kalimat tunggal ditinjau dari segi maknanya terdiri atas kalimat berita, tanya, dankalimat seru. Adapun jenis kalimat majemuk terdiri atas dua majenis, yakni kalimat majemuk setara (penjumlahan pertentang, pemilihan, sebab), kalimat mejemuk bertingkat dan kalimat majemuk bertingkat.

5 - 18 Unit 5

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase adalah... A. semantik B. sintaksis ‘ C. fonetik D. morfologi 2. Pengertian ... adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. A. frase’ B. klausa C. alomorf D. kata 3. /Burung burung itu sedang terbang ke angkasa/ Satuan gamatik di atas adalah contoh klausa... A. Verbal yang intransitif B. Verbal yang replektif C. Klausa verbal aktif D. Verbal transitif 4. Suami isteri itu sedang berbelanja Kata-kata yang digaris bawahi pada kalimat di atas adalah .... A. frase endosentrik apositif B. frase eksosentrik C. frase edndosentrik atributif D. frase endosentrik koordinatif 5. Ali membelikan adiknya motor baru adalah jenis .... A. Kalimat dwitaransitif. B. Kalimat intransitif C. Kalimat semitransitif. D. Kalimat ekatransitif 6. Kalimat berikut yang di dalamnya terdapat frase depan adalah ... A. Mereka datang secara tiba-tiba. B. Mereka merupakan pasangan suami istri. “ C. Ibunya menjual kain di pasar. D. Dia menceritakan pengalamannya yang menarik.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

19

7. Yang mana berikut ini termasuk jenis klausa resiprokal adalah ... A. Mereka membeli baju hijau. B. Mahasiswa UNM sering tolong-menolong. C. Mereka menjadi pengedar narkoba. D. Rumah itu sangat bagus. 8. Contoh kalimat perintah yang mengandung permintaan, misalnya ... A. Pergi dari sini! B. Tolong bawa surat ini ke kantor pos! ’ C. Jangan pergi hari ini! D. Marilah kita istirahat sejenak! 9. Jenis kata tanya yang menanyakan kausalitas terdapat pada kalimat... A. Mengapa kemarin anak itu tidak hadir di sekolah? “ B. Siapa yang membawa makanan ini? C. Apa sebabnya sehingga dia terburu-buru pergi? D. Untuk apa mereka menanyakan persoalan itu? 10. Kalimat majemuk bertingkat terdapat pada kalimat ... A. Pak tani memberantas hama padi. B. Warga Indonesia banyak yang terserang virus flu burung. C. Kebersamaan sangat penting bagi rakyat Indonesia. D. Akibat virus SARS mewabah, kegiatan pariwisata terganggu.

5 - 20 Unit 5

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Bagaiamana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

21

Subunit 2 Semantik Bahasa Indonesia

S

audara, dalam proses berkomunikasi sehari-hari dengan orang lain tentu perlu menggunakan kalimat dengan makna yang tepat. Di samping itu, perlu pula memperhatikan pilihan kata atau diksi agar gasasan atau ide yang disampaikan kepada orang lain dapat terpahami secara efektif. Bagaimana supaya proses komunikasi tersebut dapat berjalan efektif, antara lain Anda perlu memiliki pemahaman yang berkaitan dengan semantik bahasa Indonesia, seperti diksi, jenis-jensi makna, dan jenis perubahan makna. Dengan memahami bagian-bagian semantik bahasa Indonesia tersebut, Anda dapat menciptakan komunikasi yang saling terpahami dengan jelas dan tepat. Untuk memahami apa sesungguhnya pengertian semantik, diksi, jenis makna, dan jenis perubahan makna, bacalah dengan saksama uraian berikut.

Semantik Bahasa Indonesia
Apa yang dimaksud dengan semantik? Keraf (1982) mengemukakan bahwa semantik adalah bahagian dari tatabahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan dari arti suatu kata. Sedangkan Harimurti (1982) mengemukakan bahwanya, semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang membahas makna suatu ungkapan atau kata atau cabang ilmu bahasa yang mengkaji antara lambang dan referennya, misalnya kata kata kursi bereferen dengan “sebuah benda yang fungsinya dipakai duduk dengan kaki terdiri atas empat” Berdasarkan pengertian di atas, semantik pada dasarnya merupakan salah satu cabang lingustik yang mengkaji terjadinya berbagai kemungkinan makna suatu kata dan pengembangannya seiring dengan terjadinya perubahan dalam masyarakat bahasa. Adapun aspek-aspek yang dibahas dalam bidang semantik bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

5 - 22 Unit 5

Diksi
Diksi ialah pilihan kata yang tepat untuk mengungkapakan gagasan sehingga memperoleh efek tertentu. (KBBI,1997:233.). Diksi menyangkut kecermatan dan ketelitian memilih sejumlah kata yang relatif sinonim dalam konteks tertentu sehingga dapat memberikan kesan yang khusus, estetis, dan tepat. Misalnya penggunaan kata mati, meninggal dunia, wafat, tewas, mangkat, pulang ke rahatullah, mampus, tutup usia, tutup mata. Kaitannya dengan diksi atau pilihan kata, perlu dipahami dengan baik tentang perbedaan antara : a. Kata baku dan nonbaku Kata baku ialah kata yang sesuai kaidah tatabahasa dan nonbaku ialah kata yang tidak sejalan standar kaidah bahasa yang tepat, misalnya BAKU TIDAK BAKU rapih rapi himbau imbau handal andal obyek objek isin izin tehnik teknik berhalangan beralangan praktek praktik kwitansi kuitansi kondite konduite persentase persentase apotik apotek kontinyu kontinu fikir pikir sistim sistem pirsawan pemirsa b. Kata abstrak dan konkret Kata abstrak adalah kata yang tidak mempunyai rujukan/objek yang jelas secara inderawi, sedang kata konkret ialah kata yang rujukannya berupa objek yang dapat diserap pancaindera, atau nyata, misalnya: Abstrak : kesehatan, keadilan, dan kecintaan, dan sebaganya. Konkret: berdiskusi, buku, pesawat terbang, dan sebagainya

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

23

c.

Sinonim, antonim, homonim, homofon, homograf Pengertian kelima istilah yang ada di atas menurut Keraf (1980) dan Tarigan (1986) adalah sebagai berikut (1) Sinonim terbagi atas sin ‘sama’ dan onim ‘nama’. Berdasar arti harfiah tersebut sinonim adalah kata yang tulisan dan lafalnya berbeda namun maknanya relatif mirip atau sama. Misalnya: − cerdas, − pintar, − cakap, − cerdik, − pandai, dan − mahir. (2) Antonim terdiri atas anti ‘lawan’ dan onim ‘nama’ . Berdasar dari arti harfiah antonim adalah kata yang tulisan dan ucapannya sama sedang maknanya berlawanan. Misalnya: − besar x kecil. − tinggi x rendah, − kurus x gemuk, − salah x benar, − dan sebagainya (3) Homograf terdiri atas homo ‘sama’ dan onim ‘nama’. Berdasar dari arti harfiah tersebut, homograf ialah kata yang sama tulisan tetapi berbeda ucapan dan maknanya. Misalnya: − mental (terpelanting) dengan mEntal (jiwa), − dekan (ulat) dengan dEkan (pimpinan fakultas), − tabel (keranda mayat) dengan tabEl (kolom) (4) Homofon terdiri atas homo ‘sama’ dan fon ‘bunyi. Berdasar pada arti harfiah tersebut, homofon adalah kata yang relatif sama bunyinya tetapi tulisan dan maknanya berbeda. Misalnya: - bang (mobil) dengan bank (BRI).

5 - 24 Unit 5

(5) Homonim terdiri atas homo ‘sama’ dan onim ‘nama’ . Berdasarkan arti harfiah tersebut homoinym adalah kata yang tulisan dan ucapan sama tetapi maknanya berbeda. Misalnya: - buku I (kitab) dengan buku II (sendi bambu), - bias (dapat) dengan bisa (racun)

Jenis-jenis Makna
Jenis makna yang dimaksud meliputi makna leksikal-gramatikal, makna lugas-kias, dan makna denotasi-konotatif. Ketiga jenis makna tersebut diuraikan satu per satu sebagai berikut. a. Makna leksikal dan makna gramatikal Makna leksikal adalah makna kata secara lepas tanpa ikatan dengan kata yang lainnya atau kata yang belum mengalami afiksasi, atau perulangan, misalnya makan, satu, mata, sedang makna gramatikal adalah makna baru yang timbul akibat terjadinya pristiwa gramatika (pengimbuhan, reduplikasi, atau pemajemukan), misalnya makanan, satusatu, matahari b. Makna lugas dan kana kias Makna lugas adalah makna yang acuannya (referen) cocok dengan makna dasar nya, misalnya kaki (alat berjalan), mata (alat melihat). Sedang makna kias adalah makna yang acuannya (referen) tidak sesuai dengan acuan dasarnya. Misalnya: - mata-mata (penyelidik) - kaki tangan (orang suruhan dalam hal negatif). c. Makna denotatif dan konotatif Makna denotatif adalah makna kata yang tidak mengandung nilai rasa (positif atau negatif), sedangkan makna konotasi adalah makna kata yang mengandung nilai rasa (positif atau negatif) misalnya kata pembantu, asisten dan babu. Kata pembantu bermakna denotasi tetapi asisten dan babu bermakna konotasi positif dan negatif. Tarigan (1986) membagi konotasi atas dua bagian, yakni konotasi individual dan konotasi kolektif. Konotasi kolektif dibagi atas:

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

25

(1) Konotasi baik terdiri atas konotasi tinggi dan konotasi ramah. Misal: - konotasi tinggi: ikhtiar, imajinasi cakrawala. - konotasi ramah: akur, besuk, cicil. (2) Konotasi tidak baik: - konotasi berbahaya Misalnya: − longsor − hantu - konotasi tidak pantas. Misalnya: - kencing - sundal - konotasi tidak enak misalnya: mata duitan, mata keranjang - knotasi kasar misalnya: buta huruf , bodoh - konotasi keras misalnya: bobrok, kacau-balau (3) Konotasi netral aau biasa - konotasi bentukan sekolah misalnya: agak lumayan, pegawai negeri - konotasi kanak-kanak, misalnya: bobo, mami, papi

Perubahan Makna
Kata tertentu biasanya mengalami perubahan makna tertentu karena adanya perkembangan kondisi masyarakat dalam situasi tertentu. Keraf (1982) mengemukakan perubahan makna terdiri atas enam jenis. Keenam jenis perubahan makna tersebut dapat dilihat secara utuh dan jelas pada skema berikut.

Jenis perubahan makna

meluas

menyempit

peyoratif

amelioratif

asosiasi

sinestasia

(1) Meluas ialah kata yang maknanya menjadi luas pemakaiannya. Contoh:
5 - 26 Unit 5

− ikan dahulu hanya menunjuk jenis binatang yang hidup di air tetapi sekarang meluas menjadi lauk pauk. − Ibu dahulu hanya menunjukkan ibu kandung tetapi digunakan untuk semua perempuan dewasa sekarang juga

− Bapak dahulu hanya menunjukkan ayah kandung tetapi sekarang juga digunakan untuk semua pria yang sudah dewasa (2) Menyempit ialah kata yang maknanya semakin dan pengalami proses penyempitan penggunaannya. Contoh: − berlayar dahulu hanya digunakan dalam konteks perahu yang menggunakan layar, tetapi sekarang juga digunakan untuk kapal besi yang menggunakan mesin atau motor. − Sarjana dahulu haanya digunakanuntk semua orang cedekiawan tetapi sekarang hanya utuk lulusan universitas (3) Amelioratif berasal dari bahasa Latin melior ‘semakin baik’. Dari kata tesebut dapat dikatakan bawah ameliorative ialah makna suatu kata yang semakin positif atau baik. Contoh: - kata gendut dan gemuk. Gemuk mengalami peninggian makna dibanding gendut. (4) Peyoratif berasal dari bahasa Latin peyor ‘jelek’. Maka peyoratif dapat dikatakan sebagai makna suatu kata yang mengalami penurunan nilai atau semakin jelek. Misalnya: − buta dianggap lebih jelek dibandingkan tunanetra − gelandangan dianggap lebih jelek dibandingkan tunawisma (5) Sinestasia ialah perubahan makna yang terjadi akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda. Misalnya: − kata “manis” (pengecap) tetapi dapat pula dipakai pada kalimat “Perkataannya sangat manis’ (pendengaran) (6) Asosiasi ialah perubahan makna yang terjadi akibat persamaan sifat antara makna yang lama dengan makna yang baru, misalnya kursi dapat pula dipakai dengan makna “jabatan”.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

27

Apakah Anda sudah mempelajari dengan baik materi subunit 2 di atas? Kalau sudah, silakan kerjakan latihan semantik berikut untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 2 ini. a. Kapan suatu kata dapat disebut sinomin, antonim, homofon, homograf dan homonim?, Jelaskan disertai contoh! b. Yang mana sajakah kata-kata berikut yang bermakna kias pada kalmat berikut dan bermakna kias? Tentukan lalu keukakan alasannya - Meja hijau sangat murah - Kaki tangan dia semakin lincah bergerak - Amrullah adalah kaki tangan Penjajah - Baru dua bulan di tempat basah sudah beli mobil. - Hati-hati berjalan di tempat basah c. Dari suatu waktu ke waktu berikutnya, suatu kata relatif mengalami perkembang-an atau perubahan makna. Ada sejumah kata yang mengalami proses perubahan: menyempit, meluas, peyoratif, amelioratif, sinetasia, dn asosiasi. Jelaskan jenis-jenis perubahan makna tersebut disertai contoh yang tepat. Rambu-rambu pengerjaan latihan. 1. Agar pekerjaan Anda bisa benar mengerjakan latihan bagian pertama, perhatikan arti harfiah dan karakteristik yang menandai sinonim, antonim, homofon, homograf, homofon secara tepat. 2. Sebelum Anda mengerjakan latihan bagian kedua, pahami da cermati dengan baik dasar-dasar yang melandasi terjadinya berbagi jenis makna leksikal-gramatikal, lugas-kias, denotatif-konotatif, baik secara internal maupun eksternal. 3. Jika Anda akan mengerjakan latihan bagian ketiga, jangan lupa memahami pengertian inti atau karakteristik yang membedakan setiap jenis perubahan makna yang Anda akan kerjakan.

Rangkuman
Semantik bahasa Indonesia merupakan bagian dari tatabahasa yang mengkaji makna suatu kata dan perubahan atau pengembangan makna kata yang mungkin terjadi. Bagian-bagian yang dibahas dalam bidang semantik meliputi diksi, jenis makna, dan perubahan makna. Diksi menyangkut: kata baku-nonbaku, kata konkret-abstrak, sinonim, antnim, homofon, homograf, dan

5 - 28 Unit 5

homonim. Jenis makna meliputi makna leksikal-gramatikal, makna lugas-kias, makna denotatif-konotatif. Sedang perubahan makna meliputi: menyempit, meluas, peyoratif, amelioratif, sinestasia, asosiasi.

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Kata-kata yang sama tulisan tetapi makna dan lafalnya berbeda adalah adalah... A. homonim B. homograf C. homofon D. sinonim 2. Kata –kata yang merupakan contoh homofon berikut adalah … A. Bang - bank B. Teras - TEras C. Tepat - benar D. Tinggi - Rendah 3. Kata yang mengalami perubahan makna yang semakin bagus atau positif disebut ... A. Sinestasia B. Peyoratif C. Asosiasi D. amelioratif 4. Bisa I (racun) bisa II (dapat) adalah contoh... A. Homofon B. Homograf C. Homonim D. Antonim 5. Kata yang maknanya yang tidak lagi merujuk kepada referen sebenarnya tetapi merujuk pada makna yang bersifat pengembangan dari makna dasarnya adalah kata yang ... A. bermakna lugas B. bermakna leksikal C. bermakna denotative D. bermakna kias

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

29

6. Yang termasuk contoh kata-kata yang baku berikut ini adalah… A. prosentase, apotek, sistem. B. alangan, sila, imbau C. tehnik, azaz, ijasah D. jaman, sakat, andal 7. Kata yang belum mengamali afiksasi, reduplikasi atau pemajemukan seperti lari, minum, duduk berkaian dengan... A. makna gramatikal B. makna leksikal C. makna lugas D. makna denotatif 8. Pilih memilih kata di antara beberapa kata yang sinonim untuk memperoleh kesan yang estetis atau tepat atau kesan tertentu adalah berkaitan dengan… A. Antonim B. gaya bahasa C. diksi D. asosiasi 9. Makna kata yang timbul sesudah mengalami penambahan awalan atau akhiran seperti makanan, memakan disebut... A. Makna gramatikal B. Makna leksikal C. Makna denotatif D. Makna lugas 10. Ucapanmu sungguh menyayat-nyayat hatiku Kata menyayat-nyayat pada kalimat di atas adalah contoh kaya yang berkaitan dengan…. A. sinestasi . B. amelioratif C. asosiasi D. peyoratif.

5 - 30 Unit 5

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Bagaiamana? Apakah semua soal sudah Anda kerjakan? Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif unit 5 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, lalu gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 2, terutama bagian yang belum Anda pahami.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

31

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1
1. B: Sintaksis adalah cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. 2. A: Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. 3. A: Verbal yang intransitif karena klausa verbal intransitif adalah klausa yang predikatnya dari kata golongan kata kerja intransitif sebagai unsur intinya (sedang terbang). 4. D: Frase endosentrik koordinatif karena frase suami isteri unsurunsurnya setara dan dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. 5. A: Kalimat dwitaransitif karena kalimta Ali membelikan adiknya motor baru adalah kalimat tunggal yang predikatnya memerlukan objek dan pelengkap. 6. C: Ibunya menjual kain di pasar kalimat yang di dalamnya terdapat frase depan yaitu di. 7. B: Mahasiswa UNM sering tolong-menolong termasuk jenis klausa resiprokal karena predikatnya dari kata golongan verbal yang termasuk kata keja resiprok. 8. B: Kalimat perintah yang mengandung permintaan (Tolong bawa surat ini ke kantor pos!) 9. A: Jenis kata tanya yang menanyakan kausalitas terdapat pada kalimat Mengapa kemarin anak itu tidak hadir di sekolah? Untuk menanyakan kausalitas digunakan kata mengapa, apa sebab, akibat apa. 10. D: Kalimat majemuk beringkat adalah kalimat yang terdiri atas dua pola kalimat atau lebih, satu sebagai induk kalimat (diterangkan) dan satu sebagai anak kalimat (menerangkan). Atau, kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sehingga perluasan itu membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain pola pola yang sudah ada.

5 - 32 Unit 5

Tes Formatif 2
1. 2. 3. 4. 5. B: A: D: C: D: Homograf: kata-kata yang sama tulisan tetapi makna dan lafalnya berbeda. Kata yang relatif sama bunyinya tetapi tulisan dan maknanya berbeda (homofon). Amelioratif, kata yang mengalami perubahan makna yang semakin bagus atau positif disebut ... Homonim: kata yang tulisan dan ucapan sama tetapi maknanya berbeda. Kata yang maknanya yang tidak lagi merujuk kepada referen sebenarnya tetapi merujuk pada makna yang bersifat pengembangan dari makna dasarnya adalah kata yang bermakna kias. Yang termasuk contoh kata-kata yang baku berikut ini adalah alangan, sila, imbau (sudah jelas). Makna leksikal adalah makna kata yang belum mengamali afiksasi, reduplikasi atau pemajemukan. Pilih memilih kata di antara beberapa kata yang sinonim untuk memperoleh kesan yang estetis atau tepat atau kesan tertentu adalah berkaitan dengan diksi. Makna kata yang timbul sesudah mengalami penambahan awalan atau akhiran disebut makna gramatikal (sebaliknya leksikal). Sinestasia ialah perubahan makna yang terjadi akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda.

6. 7. 8.

B: B: C:

9.

A:

10. A:

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

33

Glosarium

preposisi afiks verbal reduplikasi afiksasi inovatif sufiks morf prefiks linguistik internal afiksasi referen

: : : : : : : : : : : : :

: reduplikasi : eksternal pemajemukan : baku :

ikhtiar

:

kata depan tentang imbuhan kata yang tidak bisa diawali kata sangat /kata kerja pengulanga kata asal tertentu proses atau hasil penambahan afiks pada kata dasar bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru akhiran seperti -an, -kan anggota morfem yang belum ditentukan distribusnya awalan seperti meN-, berilmu bahasa; telahasa secara ilmiah masalah ke dalam proses pengimbuhan awalan, akhiran, konfiks unsur luar bahasa yang ditunuk oleh unsur bahasa, benda yang disebut ‘rumah’ adalah referen dar kata rumah proses atau hasl perulangan kata atau unsur kata bersangkut paut dengan hal-hal luar proses penggabungan dua bentuk kata mejadi suatu kesatuan makna tolok ukur yang berlaku untuk untuk kuantitas atau kalitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan; standar upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai hasil yang lebih baik

5 - 34 Unit 5

Daftar Pustaka

Alwasilah, Abd. Chedar. 1983. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung:Angkasa Badudu, J.S. 1980. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia Jakarta: Bandung Angkasa __________ 1982. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta:Gramedia. Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Depdikbud. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Keraf, Gorys. 1982. Tatabahasa Indonesia. EndeFlores: Nusa Indah Kridalaksana. H. 1982. Kamus Lingistik, Jakarta: Gramedia Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono. Sartuni, Rasyid, dkk. 1984. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Nina Dinamika Supriyadi, dkk. 1992. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 4. Jakarta: Depdiknas Tarigan, Djago & Sulistyaningsih, L.S. 1979. Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta; Depdikbud Tarigan, Hendry Guntur, 1986. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

5-

35

5 - 36 Unit 5

Unit

6

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

Muh. Faisal Abd. Halik

A

nalisis kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik merupakan unit VI mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD. Unit ini hanya terdiri atas dua subunit yaitu: subunit 1 menganalisis kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi dan morfologi, dan subunit 2 menganalisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis dan semantik. Dengan memahami dasar-dasar analisis kesalahan berbahasa tersebut akan membantu tugas Anda dalam membimbing siswa menggunkan bahasa Indonesia yang baik dan benar di sekolah Untuk memahami materi ini, diharapkan Anda mampu membaca materi ini dengan sungguh-sungguh dan berlatih menganalisis kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Dengan demikian, secara lebih khusus setelah mempelajari unit ini diharapkan Anda dapat: 1. menganalisis kesalahan bahasa dalam bidang fonologi, 2. menganalisis kesalahan bahasa dalam bidang morfologi, 3. menganalisis kesalahan bahasa dalam bidang sintaksis, 4. menganalisis kesalahan bahasa dalam bidang semantik, Materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik dan benar di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya sehingga semakin mampu menganalisis kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-berkelanjutan. Pelajari setiap bagian secara

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 1

cermat dan seksama. Mulailah dengan membaca konsep, uraian, dan contohcontoh yang terdapat di dalamnya. Untuk menambah pemahaman dan wawasan Anda, pelengkap materi unit ini juga terdapat di web-site. Bukalah web-site. Masih ingat kan, caranya? Jangan lupa mengerjakan latihan/tugas. Setiap latihan/tugas disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Ramburambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Bila Anda mendapat kesulitan dalam memahami kata atau istilah yang terdapat pada unit ini, lihatlah glosarium dalam unit ini atau manfaatkanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Setelah melakukan kegiatan secara bertahap seperti disebutkan di atas, dan merasa telah menguasai materi unit ini, sekarang kerjakan soal-soal tes formatif. Setelah itu, cocokkan jawaban tes formati Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini sehingga dapat mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contoh-contoh, dan rangkuman yang ada. Jangan lupa, materi ini dilengkapi video yang dapat Anda akses melalui internet. Selamat belajar menganalisis kesalahan berbahasa dalam berbagai bidang! Semoga Anda semakin mahir dalam melakukan analisis kesalahan berbahasa dan pikiran kritisnya semakin tajam. Sukses selalu!

6 - 2 Unit 6

Subunit 1 Analisis Kesalahan Berbahasa Fonologi Dan Morfologi
audara, dalam proses berkomunikasi perlu menggunakan bentuk kata dan pelafalan yang tepat. Hal ini agar gagasan dan ide-ide inovatif yang Anda sampaikan kepada orang lain dapat dipahami secara efektif. Agar hal itu dapat terwujud, perlu kita memiliki pemahaman dan kemampuan menganalisis kesalahan berbahasa khususnya dalam bidang fonologi dan morfologi. Fungsinya, agar kita dapat membedakan bentuk komunikasi verbal yang benar dan yang salah. Untuk memahami apa sesungguhnya hakikat analisis kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi dan morfologi, bacalah dengan saksama uraian berikut.

S

Analisis Kesalahan Fonologi
Sebelum Anda memasuki uraian tentang menganalisis kesalahan berbahasa, tak ada salahnya jika Anda kembali mengingat kembali uraian unit VI tentang STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI BAHASA INDONESIA. Masih ingat, kan? Kalau masih ingat, apa yang dimaksud fonologi? Menurut Kridalaksana (1982:45) fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya, fonemik. Sedangkan Alwasilah (1983) menyatakan bahwa fonologi adalah salah satu bidang tatabahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa tertentu, misalnya bahasa Indonesia dalam rangka mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi kata-kata tertentu. Dengan kata lain, fonologi merupakan salah satu cabang dalam ilmu bahasa yang membahas bunyi bahasa yang digunakan dalam proses berkomunikasi dengan orang lain. Bunyi bahasa yang dimaksud meliputi bunyi vokal, seperti: a, i, u, e, o, e, bunyi konsonan seperti: k, l, m, dan sebagainya, dan bunyi diftong seperti: au, o, dan ai. Kaitannya dengan analisis kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi, Tarigan dan Suliastianingsih (1998) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi meliputi perubahan pengucapan fonem, penghilangan fonem, penambahan fonem, dan perubahan bunyi diftong menjadi bunyi tunggal

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 3

atau fonem tunggal. Kesalahan-kesalahan berbahasa dalam bidang fonologi tersebut antara lain sebagai berikut. (1) Pelafalan fonem /n/ diubah menjadi /ng/ Kata-kata yang berakhir fonem /n/ seperti makan, lafal bakunya /makan/. Namun karena faktor pengaruh bahasa daerah yang tidak mengenal fonem /n/ pada akhir kata sehingga kadang-kadang kata-kata makan dilafalkan /makang/. Contoh yang lain: ikan arisan taman dilafalkan dilafalkan dilafalkan semestinya semestinya semestinya /ikan/ /arisan/ /taman/

(2) Pelafalan fonem /t/ pada akhir kata diubah menjadi /’/ Kata-kata yang berakhir fonem /t/ seperti pada kata tepat, lafal bakunya adalah /tepat/. Namun karena faktor pengaruh bahasa daerah yang tidak mengenal fonem /t/ pada akhir kata, yang ada adalah fonem /’/ sehingga “kadang-kadang” kata-kata tepat dilafalkan /tepa’/. Katakata lain yang mengalami pelafalan seperti kata tepat antara lain adalah: cepat hormat dapat dilafalan dilafalan dilafalan /cepa’/ /horma’/ /dapa’/ semestinya semestinya semestinya /cepat/ /horma’/ /dapat/

(3) Pelafalan fonem /e/ diubah menjadi /E/ Kata-kata yang berfonem /e/ (e = enam) seperti pada kata senter, lafal bakunya adalah /sEnter/ (E=ekor) Namun, karena faktor pengaruh bahasa daerah (Bugis) yang “biasa” menyebut kata /sEntErE/, maka kata senter dilafalkan /sEntEr/. Kata-kata lain yang mengalami kesalahan pelafalan seperti kata senter antara lain adalah: dilafalan /kalEnder/ /kalEndEr/ semestinya kalender semestinya dilafalan /mEter/ /mEtEr/ meter semestinya dilafalan /liter/ /litEr/ liter

6 - 4 Unit 6

(4) Pelafalan fonem /E/ diubah menjadi /e/, Fonem /e/ pada kata peka seharusnya dilafalkan /E/ bukan /e/. Kesalahan pelafalan /E/seperti pada kata peka tersebut biasa kita jumpai dalam proses berkomunikasi situasi resmi, pada kata: sukses sugesti lengah dilafalan dilafalan dilafalan /sukses/ /sugesti/ /lengah/ semestinya semestinya semestinya /suksEs/ /sugEsti/ /lEngah/

(5) Fonem /u/ pada kata juang seharusnya dilafalkan /u/ bukan /o/. Kesalahan pelafalan /u/ seperti pada kata juang tersebut, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi, pada kata: lubang gua dilafalan dilafalan /lobang/ /goa/ semestinya semestinya /lubang/ /gua/

(6) Pelafalan fonem /i/ diubah menjadi /E/ Fonem /i/ pada kata tarikat seharusnya dilafalkan /i/ bukan /E/. Kesalahan pelafalan /i/ pada kata tarikat, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi, seperti pada kata: hakikat nasihat dilafalkan dilafalkan /hakEkat/ /nasEhat/ semestinya semestinya /hakikat/ /nasihat/

(7) Pelafalan fonem /ai/ dilafalkan /E/ atau /Ei/ Fonem /ai/ pada kata sampait seharusnya dilafalkan /ai/ bukan /E/ atau /Ei/ . Kesalahan pelafalan /ai/ pada kata sampai tersebut, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi , seperti pada kata: semestinya /santai/ dilafalan /santEi/santE/ santai dilafalan /pantEi/pantE/ semestinya /pantai/ pantai semestinya /balai/ dilafalan /balEi/balE/ balai (8) Pelafalan fonem /g/ pada akhir kata diubah menjadi /h/ atau /ji/ Kata geologi seharusnya dilafalkan /geologi/ bukan /geolohi/ atau /geoloji/. Kesalahan pelafalan /g/ pada kata gelogi tersebut, biasa kita jumpai dalam proses komunikasi situasi resmi, seperti pada kata:

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 5

idiologi morfologi sosiologi

dilafalan dilafalan dilafalan

/idiolohi/ atau /idioloji/ /morfolohi/ atau /morfoloji/ /sosiolohi/ atau /sosioloji/

semestinya semestinya semestinya

/idiologi/ /morfologi/ /sosiologi/

(9) Pelafalan fonem /h/ dihilangkan / / Fonem /h/ pada kata hilang seharusnya dilafalkan /h/ atau tidak dihilangkan. Penghilangan pelafalan /h/ seperti pada kata hilang. Contoh lain: semestinya dilafalan /hilang/ /ijau/ hijau semestinya dilafalan /pahit/ /pait/ pahit semestinya dilafalan /tahi/ /tai/ tahi (10) Penambahan fonem /h/ pada awal atau akhir kata Pelafalan kata andal seharusnya tidak ditambah /h/. Penambahan pelafalan /h/ seperti pada kata andal, di depan atau pada akhir kata, biasa pula dijumpai dalam proses komunikasi situasi resmi. Contoh lain: alangan imbau silakan sempurna dilafalan dilafalan dilafalan dilafalan /halangan/ /himbau/ /silahkan/ /sempurnah/ semestinya semestinya semestinya semestinya /alangan/ /imbau/ /silakan/ /sempurna/

(11) Pelafalan fonem /f/ diubah menjadi /p/ Fonem /f/ pada kata feodal harusnya tidak dilafalkan /p/ . Kesalahan pelafalan /f/ pada kata feodal. Contoh yang lain: aktif negatif kreatif dilafalan dilafalan dilafalan /aktip/ /negatip/ /kreatip/ semestinya semestinya semestinya /aktif/ /negatif/ /kreatif/

6 - 6 Unit 6

(12) Pelafalan fonem /z/ diucapkan /j/ atau /s/ Fonem /z/ pada kata izin seharusnya tidak dilafalkan /s/ atau /j/. Kesalahan pelafalan /z/ pada kata izin. Contoh yang lain: zakat zaman ijazah dilafalan dilafalan dilafalan semestinya /sakat /jakat/ /saman/jaman/ semestinya /ijasah/ ijajah/ semestinya /zakat/ /zaman/ /ijazah/

(13) Pelafalan /au/ diganti menjadi /h/ Fonem /kh/ pada kata khawatir seharusnya tidak dilafalkan /h/ tetapi /kh/. Kesalahan pelafalan /kh/ pada kata khawatir. Contoh yang lain: khatib khutbah khusyuk dilafalan dilafalan dilafalan /hatib/ /hutbah/ /husyuk/ semestinya semestinya semestinya /khatib/ /khutbah/ /khusyuk/

Analisis Kesalahan Morfologi
Anda masih ingat apa yang dimaksud dengan morfologi? Semoga masih ingat. Jika belum, Badudu (1976:15) mengemukakan bahwa “morfologi adalah ilmu bahasa yang mebicarakan morfem dan bagaimana morfem itu dibentuk menjadi sebuah kata”. Berbicara tentang morfem terbagi atas tiga macam morfem bebas seperti makan, minum, dan lain-lain, morfem terikat seperti berber, -kan, dan lain sebagainya, morfem unik, misalnya juang, tawa, dan sebagainya. Morfem bebas /makan/ digabung morfem terikat –an/ menjadi kata berimbuhan, misanya, makanan. Morfem bebas /minum/ mengalami pengulangan /minum-minum/ disebut kata ulang. Morfem bebas /mata/ digabung dengan morfem bebas /hari/ menjadi matahari disebut kata majemuk. Kaitannya dengan keperluan analisis kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi, menurut Badudu (1982) dan Tarigan dan Sulistyaningsih (1979) terbagi atas tiga kelompok: (a) kesalahan afiksasi, (b) kesalahan reduplikasi, (c) kesalahan pemajemukan. Kesalahan bidang afiksasi. Kesalahan berbahasa dalam bidang afiksasi antara lain seperti yang dipaparkan berikut ini.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 7

(1) Afik yang luluh, tidak diluluhkan Kaidah afiksasi awalan meN- manakala memasuki kata dasar yang dimulai huruf t, s, k, p harus luluh menjadi men-, meny-, meng-, dan mem- , misalnya meN- memasuki kata dasar tarik, satu, kurang, dan pinjam akan menjadi menarik, menyatu, mengurang, dan meminjam. Dalam proses berkomunikasi biasa ditemukan: mentabrak mempahat mempabrik seharusnya seharusnya seharusnya menabrak memahat memabrik

(2) Afiks yang tidak luluh, diluluhkan Afiks meN- memasuki kata asal atau kata dasar yang dimulai huruf kluster seperti transmigrasi dan prosentase tidak luluh misalnya mentrasmigrasikan dan memprosentasekan. Akan tetapi, dalam proses berkomunikasi biasa ditemukan penggunaan kata berimbuhan seperti: menerasmigrasikan seharusnya memerotes seharusnya memerakarsai seharusnya mentransmgraskan memprotes memprakarsai

(3) Morf men- disingkat n, Bentuk narik merupakan salah satu contoh kata dasar dari sekian kata dasar yang nonbaku. Kata dasar tersebut muncul dari pengaruh kesalahan afiksasi. Yakni dari kata tarik lalu mendapat awalan meN-, menjadilah kata menarik. Selanjutnya, dalam proses komunikasi hanya menggunakan narik padahal seharusnya menarik seperti dalam kalimat Saya belum menarik kesimpulan. Kata-kata yang tidak baku seperti itu adalah: natap seharusnya menatap nangis seharusnya menangis nabrak seharusnya menabrak (4) Morf meny- disingkat ny, misalnya: Bentuk kata nyampakan, bukanlah kata dasar yang baku. Kata dasar tersebut muncul dari pengaruh kesalahan afiksasi. Yakni dari kata sampai

6 - 8 Unit 6

lalu mendapat awalan meN-, menjadilah kata berimbuhan menyampaikan. Selanjutnya, dalam proses berkomunikasi hanya meng-gunakan nyampai atau nyampaikan padahal seharusnya menyampaikan. Contoh yang lain: nyapu seharusnya menyapu nyisir seharusnya menyisir nyusun seharusnya menyusun (5) Morf meng disingkat ng, misalnya: Kata berimbuhan seperti ngoreksi bukanlah kata berimbuhan yang baku. Kata berimbuhan tersebut muncul dari pengaruh kesalahan afiksasi alomorf meng-. Yakni dari kata koreksi lalu dimasuki awalan meN-, menjadilah kata berimbuhan mengoreksi. Selanjutnya, dalam proses berkomunikasi hanya menggunakan ngoreksi padahal seha-rusnya mengoreksi seperti dalam kalimat Aminuddin mengoreksi pemerintah secara sopan. Kata berimbuhan lain yang tidak baku seperti itu, sebagai berikut: ngarang seharusnya mengarang ngantuk seharusnya mengantuk ngurung seharusnya mengurung (6) Morf menge- disingkat ngeKata dasar seperti ngebom bukanlah kata yang baku. Kata dasar tersebut muncul sebagai akibat kesalahan afiksasi alomorf menge-. Yakni, dari kata dasar bom lalu dimasuki awalan meN-, menjadilah kata berimbuhan mengebom. Selanjutnya, dalam proses berkomunikasi masyarakat hanya menggunakan ngebom padahal seharusnya mengebom seperti dalam kalimat Syarifuddin berencana akan mengebom pantai Sanur. Contoh lain kata berimbuhan yang tidak baku seperti itu adalah sebagai berikut: ngelap ngebom ngecet ngelas seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya mengelap mengebom mengecet mengelas

(7) Kesalahan morfologi segi reduplikasi Salah satu betuk kesalahan morfologis dalam segi redukplikasi adalah perulangan bentuk dasar , misalnya ngarang-mengarang. Bentuk

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 9

perulangan tersebut berdasar dari kata asal karang lalu mendapat awalan meN- menjadilah mengarang. Selanjutnya, kata dasar mengarang mengalami proses reduplikasi ngarang- mengarang, yang semestinya karang-mengarang seperti dalam kalimat Mereka belajar tentang karangmengarang di sekolah. Kata ulang lain yang biasa ditemukan seperti itu adalah sebagai berikut: ngejek-mengejek ngutip-mengutip ngunjung mengunjungi seharusnya seharusnya seharusnya ejek-mengejek kutip-mengutip kunjung-mengunjungi

Kesalahan morfologis segi proses pemajemukan (1) Kata majemuk yang seharusnya disatukan tetapi dipisahkan Kata majemuk yang ditulis terpisah seperti pasca panen, ekstra kurikler, adalah kata majemuk yang nonbaku. Kata tersebut semestinya ditulis serangkai seperti pascapanen dan ekstrakurikuer. Karena kata-kata: pasca, ektra, antar , infra, intra, anti, panca, dasa, anti, pra, proto, mikro, maha, psiko, ultra, supra, para, dan sebagainya adalah kata-kata yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contoh kata majemuk yang seharusnya ditulis serangkai tetapi ditulis terpisah adalah sebagai berikut. anti karat ekstra kurikuler antar universitas psiko terapi supra segmental proto tipe para medis pramu niaga infra struktur mikro film seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya antikarat ekstrakurikuler antaruniversitas psikoterapi suprasegmental prototipe paramedis pramuniaga infrastruktur mikrofilm

6 - 10 Unit 6

(2) Kata majemuk yang seharusnya dipisahkan tetapi disatukan Kata majemuk yang ditulis serangkai seperti ibukota, anakasuh, kepala kantor, butahuruf, hakcipta, jurumasak adalah contoh kata majemuk yang semestinya ditulis terpisah seperti ibu kota, anak asuh, kepala kantor, buta huruf, hak cipta, juru masak. Karena, kedua kata tersebut masingmasing adalah kata dasar yang tergolong morfem bebas. Contoh kata majemuk yang seharusnya dipisahkan tetapi disatukan adalah sebagai berikut. seharusnya adu cepat aducepat seharusnya ibu angkat ibuangkat seharusnya kerja bakti kerjabakti seharusnya obat nyamuk obatnyamuk

Apakah Anda sudah memahami dengan baik materi di atas? Semoga, karena Anda adalah pebelajar yang tekun dan cerdas! Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 1 ini cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Analisis kesalahan berbahasa yang terdapat dalam dialog berikut dari segi fonologi/pelafalannya. Rudy : “Kafan kita kak jalan-jalan bersama paman di pante pulo Lumpue sambil makang ikan bakar?” Tina : “Saya masih sibuk mengurusi adikku yang sakit polio” Rudy : “Moga-moga bulan depan ada waktu kakak, sudah lama saya tida ke pulo kamerang!” Rudy “Menurut Tina yang bagus pulo Lumpue daripada Kamerrang?” Tina “ Pada hakekatnya, sejak jaman dulu Kamerang lebi seju’ karena anya bilohi lautnya yang menawan..” 2. Analisislah kesalahan yang terdapat pada kalimat berikut dari segi morfologi (afiksasi, perulangan, dan pemajemukan) - Dia sudah nyusun laporan pertangungan jawab keuangan koperasi. - Arkadilah mencari ikan di laut dengan cara ngebom di tengah laut. - Pemerintah galakkan semangat anti narkoba di kalngan pemuda. - Jangan mengenyampingkan pendidikan matematika dan bahasa. - Mereka sedang giatnya mempelajari ngarang-mengarang cerpen. Rambu-rambu pengerjaan latihan.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 11

1. Untuk mengerjakan latihan nomor satu Anda perlu mengingat aspek yang berkaitan dengan lafal yang baku, jika bingung buka kamus bahasa Indonesia. 2. Untuk mengerjakan latihan nomor dua, perhatikan hakikat proses afiksasi, pemajemukan, dan perulangan serta aspek-aspeknya masingmasing. 3. Agar pekerjaan Anda bisa benar dalam mengerjakan latihan bagian ketiga, perhatikan hakikat frasa, klausa dan kalimat serta jenisnya dan contohnya masing-masing. 4. Sebelum Anda mengerjakan latihan bagian keempat, cermati sungguhsungguh lebih dahulu pengertian gejala hiperkret dan pleonasme dan contohnya masing-masing.

Rangkuman
Kesalahan berbahasa yang relatif dilakukan dalam proses berkomunikasi dengan orang lain, antara lain dapat disebabkan dari segi fonologi dan morfologi. (1) Kesalahan dalam bidang fonologi pada umumnya berupa: fonem /n/ dilafalkan /ng/ fonem /t/ pada akhir kata dilafalkan /’/ fonem /e/ dilafalkan /E/, fonem /E/ dilafalkan /e/, fonem /u/ dilafalkan /o/, fonem /i/ dilafalkan /E/, fonem /ai/ dilafalkan /E/ atau /Ei/ , fonem /g/ dilafalkan /h/ atau /j/, penambahan atau penghilangan fonem /h/ pada awal atau akhir kata, fonem /f/ dilafalan /p/, fonem /z/ diucapkan /j/ atau /s/, . (2) Kesalahan dalam bidang morfologi relatif dalam bentuk: (a) afiksasi, seperti: afik yang luluh, tidak diluluhkan, afiks yang tidak luluh, diluluhkan, morf men- disingkat n. Morf meny- disingkat ny, morf meng disingkat ng, morf menge- disingkat nge. (b) proses reduplikasi, seperti pengulangan bentuk dasar yang salah. (c) proses pemajemukan, seperti kata majemuk yang seharusnya disatukan penulisannya tetapi dipisahkan, kata majemuk yang seharusnya dipisahkan penlisannya tetapi disatukan.

6 - 12 Unit 6

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Pelafalan yang benar pada kata berikut adalah... A. zakat B. jakat C. sakat D. syakat 2. Kata majemuk yang benar penulisannya berikut ini adalah... A. adukepintaran B. adukelincahan C. anti racun D. olah raga 3. Bentuk perulangan yang benar berikut adalah… A. ngarang-mengarang B. ngutip-mengutip C. nyalin-menyalin D. tunjuk-menunjuk 4. Semua pelafalan kata berikut ini benar … kecuali: A. geolohi B. juang C. pulo D. pante 5. Proses afiksasi yang benar berikut adalah… A. memahat B. memproses C. meneransmigrasikan D. menterjemahkan 6. Pelafalan yang benar pada kata berikut adalah... A. pulo B. pulau C. pulou D. fulau

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 13

7. Kata berimbuhan yang benar berikut ini adalah.. A. memelusuri B. menyelusuri C. menelusuri D. mentelusuri 8. Pelafalan kata berikut ini semua benar....kecuali: A. ijazah B. ijasah C. ijadzah D. ijajah 9. Semua kata majemuk berikut ini benar penulisannya.... kecuali: A. antar sekolah B. pascapanen C. prasejarah D. ekstrakurikuler 10. Pelafalan kata yang tepat berikut ini adalah ... A. suksEs B. sukses C. sakses D. syukses

6 - 14 Unit 6

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif unit 6 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai. Selamat atas kesuksesan Anda ! Semoga terus belajar dengan tekun. Jangan putus asa jika mendapat masalah! Belajar terus dengan semangat yang tinggi dan dengan harapan akan berhasil di masa depan. x 100%

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 15

Subunit 2 Analisis Kesalahan Berbahasa Sintaksis Dan Semantik

S

etiap hari Anda selalu berkomunikasi dengan orang lain , bukan? Tentu Anda ingin agar proses komunikasinya dengan lain tersebut berlangsung secara komunikatif, baik secara lisan maupun secara tertulis! Bagaimana supaya proses komunikasi tersebut dapat berjalan lancar dan efektif, antara lain Anda perlu memiliki pemahaman dan kemampuan menganalisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis dan semantik. Dengan memahami bidang sintaksis dan semantik, Anda dapat mengidentifikasi dan membedakan bentuk-bentuk komunikasi verbal yang benar dan yang salah. Di samping itu, Anda memperoleh bekal untuk diterapkan kelak dalam membimbing siswanya d ikelas menggunakan bahasa Indonesia yang baik dana benar. Untuk memahami apa sesungguhnya hakikat menganalsisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis, dan semantik, bacalah dengan saksama uraian berikut.

Analisis Kesalahan Sintaksis
Kalau fonologi membahas tentang bunyi-bunyi bahasa, sedang morfologi membahas tentang morfem dan kata, maka sintaksis membahas tentang apa? Tarigan (1984) mengemukakan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang dari tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa. Oleh Kridalaksana (1982 ) kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial terdiri dari klausa, misalnya saya makan nasi. Sedang klausa adalah satuan bentuk linguistik yang terdiri atas subjek dan predikat. Lalu apa yang dimaksud frasa? Frasa adalah satuan tatabahasa yang tidak melampaui batas fungsi subjek atau predikat (Ramlan, 1978). Kaitannya dengan hal tersebut, Tarigan dan Sulistyaningsih (1979) dan Semi (1990) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis meliputi: kesalahan frasa, kesalahan klausa, dan kesalahan kalimat. Adapun rincian kesalahan setiap aspek tersebut antara lain sebagai berikut.

6 - 16 Unit 6

a. Kesalahan bidang frasa Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya segi frasa, antara lain sebagai berikut. (1) Pengunaan kata depan tidak tepat: di masa itu Beberapa frasa preposisional yang tidak tepat karena mengunakan kata depan yang tidak sesuai. Hal ini pengaruh dari bahasa sastra atau bahasa media masa, misalnya sebagai berikut. di masa di waktu itu di malam ini di hari itu seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya pada pada pada pada masa itu waktu itu malam itu hari itu

(2) Penyusunan frasa yang salah struktur Sejumlah frasa kerja yang salah karena strukturnya yang tidak tepat karena kata keterangan atau modalitas terdapat sesudah kata kerja. Misalnya: belajar sudah minum belum makan sudah seharusnya seharusnya seharusnya sudah belajar belum minum sudah makan

(3) Penambahan yang dalam frasa benda (B+S) Frasa benda yang berstruktur kata benda + diantarai kata penghubung yang. Misalnya: petani yang muda pedagang yang hebat guru yang profesional Anak yang saleh seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya

kata sifat tidak

petani muda pedagang hebat guru profesional anak saleh

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 17

(4) Penambahan kata dari atau tentang dalam Frasa Benda (B+B) Frasa benda yang berstruktur Kata benda + kata benda tidak diantarai kata penghubung yang atau dari, karena tanpa kata dari sudah menunjukkan asal. Contoh: gadis dari Bali pisang dari Ambon daram dari inggris seharusnya seharusnya seharusnya gadis Bali pisang ambon garam inggris

(5) Penambahan kata kepunyaan dalam Frasa Benda (B+Pr) Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata pronomina tidak diantarai kata penghubung milik atau kepunyaan, karena tanpa kata itu sudah menunjukkan kepunyan posesif, misalnya: Destar kepunyaan ibu Golok milik Abdullah Buku kepunyaan Motor milik Imran seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya destar ibu golok Abdullah buku adik motor Imran

(6) Penambahana kata untuk dalam frasa Kerja (K pasif + K lain) Frasa kerja yang berstruktur kata kerja pasif + kata kerja aktif tidak diantarai kata seperti untuk supaya makna yang ditunjuk tanpak jelas, misalnya sebagaiberkut diajar untuk membaca dituduh untuk membunuh dibimbing untuk menulis dididik untuk berani seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya diajar membaca dituduh membunuh dibimbing menulis dididik berani

(7) Penghilangan kata yang dalam Frasa Benda (Benda+yang+K pasif) Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata kerja pasif memerlukan kata yang untuk memperjelas makna frase tersebut. Misalnya sebagai berikut. Kursi kududuki Taman kupelihara seharusnya seharusnya kursi yang kududuki taman yang kupelihara

6 - 18 Unit 6

Baju kubersihkan Kursi kuperbaiki

seharusnya seharusnya

baju yang kebersihkan kursi yang kuperbaki

(8) Penghilangan kata oleh dalam Frasa Kerja Pasif (K pasif+oleh+B) Frasa yang berstruktur dimulai dari kata kerja fasif + kata benda seharusnya tidak dihilangkan kata oleh atau perlu ada kata oleh diantaranya untuk memperjelas makna pasif frase tersebut. Misalnya sebagai berikut: diminta ibu dinasihati kakak dibimbing paman dididik kakek seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya diminta oleh ibu dinasihati oleh kakak dibimbing oleh paman dididik oleh kakek

(9) Penghilangan kata yang dalam frasa Sifat (yang +paling +sifat) Dialah paling pintar di kampung ini . Kalimat tersebut kurang tegas makna yang dimaksud karena tidak menggunakan kata penghubung yang sesudah kata Dialah. Oleh karena itu, kalimat tersebut seharusnya menjadi Dialah yang paling pintar di kampung ini. Jadi, frase sifat yang dimulai kata paling seharusnya diawali kata yang, misalnya sebagai berikut. paling besar paling tinggi sangat berwibawa yang amat profesional seharusnya seharusnya seharusnya seharusnya yang yang yang yang paling besar palingtinggi sangat berwibawa amat profesional

b. Kesalahan bidang klausa Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya segi klausa, antara lain sebagai berikut. (1) Penambahan preposisi di antara kata kerja dan objeknya dalam klausa aktif Dalam klausa aktif seharusnya antara kata kerja dan objeknya tidak diantarai modalitas atau kata keterangan tertentu. Hal ini agar supaya tanpak hubungan yang erat antara predikat dan objek dalam

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 19

kalimat. Selain itu, agar makna kalimat tersebut tidak menjadi agak kabur. Misalnya: - Rakyat mencintai akan pimpinan yang jujur. seharusnya - Rakyat mencintai pimpinan yang jujur. - Pemimpin itu melindungi akan rakyatnya, seharusnya - Pemimpim itu melindungi rakyatnya. (2) Penambahan kata kerja bantu dalam klausa ekuasional Dalam klausa ekuaional atau nominal, kata kerja bantu adalah tidak perlu ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar keterpaduan antara subjek dan predikat terpadu secara erat.. Selain itu, makna kalimat tersebut nampak dengan jelas. Misalnya: - Nenekku adalah dukun. seharusnya - Nenekku dukun - Bapakku adalah guru SD, seharusnya - Bapakku guru SD (3) Pemisahan pelaku dan kata kerja dalam klausa aktif Dalam klausa aktif, kata modalitas semestinya tidak ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar hubungan dan keterpaduan subjek dan predikat tanpak secara jelas sekaligus memberikan efek makna yang jelas. Misalnya: - Saya akan membeli rumah itu. seharusnya - Akan saya membeli rumah itu. - Pak Lurah selalu mengunjungi wilayahnya, seharusnya, - Selalu Pak Lurah mengunjungi wilayahnya. (4) Penghilangan kata oleh dalam klausa pasif. Klausa fasif adalah klausa yang salah satu ciricirinya adalah menggunakan kata oleh. Misalnya Buku Pendidikan Agama Islam itu dibaca oleh Andi Makkasau. Namun demikian, biasa dijumpai penggunaan klausa pasif tanpa ada kata oleh di dalamnya. Kluasa pasif seperti itu seharusnya menggunakan kata oleh supaya ciri-cirinya sebagai klauas pasif semakin jelas. Misalnya:

6 - 20 Unit 6

- Roman Tenggelamnya Kapal Tanpomas dibaca Rina. seharusnya - Roman Tenggelamnya Kapal Tanpo Mas dibaca oleh Rina. - Buku ekonomi itu telah dibaca Amir, seharusnya - Buku ekonomi itu telahdibaca oleh Amir. (5) Penghilangan kata kerja dalam klausa intranstif Dalam situasi pembicaraan yang resmi, kadang-kadang menggunakan klausa intransitif, yakni klausa yang predikatnya dari kata kerja intransitif. Namun kata kerja tersebut tidak masukkan dalam kalimat, misalnya /Ibu ke Makassar/. Klausa intranstif tersebut tidak jelas predikatnya; klausa tersebut bukan tergolong klausa yang benar. Olehnya itu, klausa itu perlu diperbaiki menjadi Ibu pergi ke Makassar. Contoh lain adalah sebagai berikut. - Pak camat ke Maros kemarin. Semestinya - Pak Camat pergi ke Maros. - Amin di kolam renang. Semestinya - Amin berenang di kolam renang c. Bidang kalimat Kesalahan yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya dari segi kalimat antara lain sebagai berikut. (1) Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa daerah Berbahasa Indonesia dalam situasi resmi kadang-kadang tidak disadari menerapkan struktur bahasa daerah. Seperti (a) Amin pergi ke rumahnya Rudy. (b) Buku ditulis oleh saya (c) Rumah itu dibuat oleh saya. Kalimat (a), (b), dan (c) terpengaruh pada struktur bahasa daerah. Oleh karena itu, kedua kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: - Amin pergi ke rumah Rudy. - Buku itu saya tulis. - Rumah itu saya buat.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 21

(2) Kalimat yang tidak bersubjek karena terdapat preposisi di awal Ketika menulis atau berbicara dengan orang lain pada situasi resmi, kadang-kadang menggunakan kalimat yang tidak bersubjek karena adanya kata penghubung seperti dalam, pada, untuk, kepada diletakkan di awal kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi tidak bersubjek misalnya - Dalam pertemuan itu membahas berbagai persoalan. Supaya kalimat itu menjadi bersubjek, seharusnya - Pertemuan itu membahas berbagai persoalan. atau - Dalam pertemuan itu dibahas berbagai persalan. (3) Penggunaan subjek yang berlebihan Biasa kita mendengar kalimat Ety membeli ikan ketika Ety akan makan malam. Kalimat tersebut menggunakan dua subjek yang sama. Semestinya subjek kedua dihilangkan dan hal itu tidak mempengaruhi makna kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi Ety membeli ikan ketika akan makan malam. Contoh lain: - Ali menulis drama saat Ali telah membaca buku Rendra tentang drama. Seharusnya: - Ali menulis drama setelah membaca buku Rendra tentang drama. (4) Penggunan kata penghubung secara ganda pada kalimat majemuk Dalam kalimat majemuk setara berlawanan kadang-kadang ada yang menggunakan dua kata penghubung sekaligus. Penggunaan kata penghubung yang ganda dalam suatu kalimat perlu dihindari. Semestinya hanya satu kata penghubung, misalnya sebagai berikut. - Meskipun sedang sakit kepala, namun Alimuddin tetap pergi sekolah. Seharusnya: Meskipun sedang sakit kepala, Alimuddin tap pergi ke sekolah. - Walaupun sibuk sekali tetapi Rudi dan Indrawan selalu hadir di acara sederhana ini. Seharusnya:

6 - 22 Unit 6

- Walapun sibuk sekali, Rudi dan Indawan selalau hadir di acara sederhana ini. (5) Penggunaan kalimat yang tidak logis Buku itu membahas peningkatan mutu pendidkan di Sekolah Dasar. Kalimat tersebut tidak logis karena tidak mungkin buku mempunyai kemampuan membahas peningkatan mutu pendidikan SD. Oleh karena itu, kalimat tersebut perlu diperbaiki menjadi Dalam buku itu dibahas tentang peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. Atau Dalam buku itu, pengarang membahas peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. (6) Pengunaan kata penghubung berpasangan secara tidak tepat Kata penghubung berpasangan yang berfungsi menafikan suatu hal terdiri atas bukan berpasangan melainkan untuk menafikkan ”benda” dan kata penghubung bukan berpasangan tetapi untuk menafikkan ”peristiwa atau kerja”. Kedua kata penghubung berpasangan tersebut seharusnya digunakan secara konsisten dalam berbahasa Indonesia. Misalnya: Bukan Pak Alimuddiin yang mengajarkan IPA tetapi Pak Nurdin. Sudirman tidak menulis buku tetapi menghitung angka. Dengan demikian, kalimat yang menggunakan bukan ..........tetapi atau tidak.....melainkan dapat digolongkan bentuk yang tidak semestinya. Contoh: - Mereka tidak menulis melainkan sedang melukis. Seharusnya Mereka tidak menulis tetapi sedang melukis. - Dia bukan perampok tetapi pengemis. Seharusnya - Dia bukan perampok melainkan pengemis.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 23

(7) Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa asing Kata di mana, yang mana, dengan siapa, adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam membuat kalimat tanya. Kata-kata tersebut bila digunakan di tengah kalimat yang fungsinya bukan menanyakan sesuatu merupakan pengaruh bahasa asing. Dengan demikian, perlu dihindari penggunaan di mana, yang mana, dengan siapa diganti dengan kata bahasa Indonesia. Misalnya sebagai berikut. - Rumah di mana dia bermalam dekat dari pasar - Orang dengan siapa dia ajak bicara belum datang - Kitab yang kami kaji bersama-sama cukup jelas yang mana memberi contoh-contoh denga jelas pula. Ketiga kalimat di atas seharusnya: - Rumah tempat dia bermalam dekat dari pasar. - Orang yang akan dia ajak bicara belum datang. - Kitab yang kami kaji bersama-sama cukup jelas karena contoh-contohnya jelas pula (8) Penggunaan kalimat yang tidak padu Kalimat yang digunakan kadang-kadang kurang padu karena kesalahan struktur kata yang kurang tepat sehingga maknanya agak kabur. Misalnya: - Mereka menyatakan persetujuannya tentang keputusan yang bijaksana itu - Yang menjadi sebab rusaknya hutan adalah perladangan liar. Kedua kalimat di atas seharusnya: - Mereka menyetujui keputusan yang bijaksana itu. - Penyebab rusaknya hutan adalah perladangan liar. (9) Penyusunan kalimat yang mubazir Kalimat yang mubazir biasanya disebabkan penggunaan katakata yang berulang secara berlebihan, penggunaan dua kata yang relatif sama maknanya, misalnya sebagai berikut. - Dalam konsep pedidikan yang disusunnya banyak terdapat berbagai kesalahan.

6 - 24 Unit 6

- Mereka mencari nafkah demi untuk keluarganya. - Mahasiswa harus rajin belajar agar supaya lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Ketiga kalimat tersebut seharusnya: - Dalam konsep pendidikan yang disusunnya terdapat banyak kesalahan. - Mereka mencari nafkah demi keluarganya. - Mahasiswa harustrajin belajar agar lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.

Analisis Kesalahan Semantik
Sebelum Anda mempelajari analisis kesalahan berbahasa lebih dahulu memahami apa itu semantik dan ruang lingkupnya. Semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan mana atau struktur makna. Pengertian tersebut sejalan dengan Sartuni dkk (1982) yang menyatakan bahwa ”semantik adalah bagian dari tatabahasa yang meneliti kata-kata dari maknamaknanya”. Demikian halnya dengan Keraf (1982:143) bahwa semantik adalah bahagian dari tatabahasa yang meneliti makna dalam bahasa tertentu, mencari asal mula dan perkembangan arti suatu kata.” Dengan kata lain, semantik adalah salah satu cabang ilmu bahasa yang menyelidiki seluk beluk makna suatu kata dan perkembangan maknanya secara berkesinambungan . Sehubungan dengan analisis kesalahan berbahasa yang berkaitan dengan bidang semantik, Badudu (1982) Tarigan dan Sulistyaningsih (1979) mengemukakan kesalahan berbahasa yang mungkin terjadi di bidang semantik, adalah seperti berikut. (1) Adanya penerapan gejala hiperkoret Gejala hiperkoret adalah suatu bentuk yang sudah betul lalu dibetul-betulkan ahli akhirnya menjadi salah. Misalnya: (a) /sy/ diganti dengan /s/ atau sebaliknya Syarat dijadikan sarat ’ atau sebaliknya, padahal kedua kata itu masing-masing mempunyai arti yang berbeda. Syarat ‘ketentuan/aturan’ sarat ‘penuh’. Contoh dalam kalimat: - Kita harus mengikuti syarat itu. - Perahu itu sarat muatan.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 25

(b)

Syah dijadikan sah atau sebaliknya, padahal kedua kata tersebut masing-masing mempunyai makna yang berbeda. Syah ‘raja’ sedangkan sah ’sesuai dengan aturan’. Jadi, tak dapat dipertukarkan penggunaannya, contoh: - Tahun depan akan dinobatkan sebagai Syah Iran. - Belum sah sebagai mahasiswa S1. /E/ diganti /e/ Kata dekan diganti menjadi dEkan, padahal kedua kata itu berbeda maknanya, dEkan ‘pimpinan fakultas’, sedang dekan ‘ulat’. - Adikku menjadi dEkan FIP UNM. - Pepaya itu banyak dekannya.

(2) Gejala pleonasme Yang dimaksudkan gejalan pleonasme adalah suatu penggunaan unsur-unsur bahasa secara berlebihan, misalnya - Lukisanmu sangat indah sekali. Seharusnya: Lukisanmu sangat indah atau indah sekali. - Dia bekerja demi untuk keluarganya. Seharusnya Dia bekerja demi keluarganya, atau untuk keluarganya. Anda telah mempelajari dengan sungguh-sungguh materi subunit 2 ini dengan seksama, bukan? Anda memang pebelajar yang tekun dan cermat! Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 2 ini silakan kerjakan latihan analisis sintaksis dan semantik berikut. 1. Dalam bidang sintaksis ada tiga macam kesalahan berbahasa yang biasa terjadi, yakni kesalahan frasa, klausa, dan kalimat. Jelaskan ketiga hal tersebut dan berikan contoh ketiga macam kesalahan tersebut! 2. Analisislah kesalahan kalimat berikut. - Ini hari pemerintah sedang melaksanakan kampanye antinarkoba. - Meskipun banjir besar, namun Dedy tetap pergi. - Ibunya sealu anaknya yang sedang menuntut ilmu di Jawa. - Dalam masyarakat Bugis mengenal budaya mappadendang. - Susy pergi ke rumahnya Andika kemarin.

6 - 26 Unit 6

- Paman sedang mencangkul rumput di halaman rumah. - Mereka ke Malang dengan kereta api tadi pagi. - Kamus dibeli oleh dia di pasar kemarin. - Sisawa selalu menghargai akan gurunya yang bijaksana. - Dia dinasihati kakak iparnya di rumah nenek kemarin. 3. Kesalahan berbahasa dalam bidang semantik antara lain berkaitan dengan gejala hiperkoret dan ploenasme. Jelaskan keduakedua hal tersebut disertai contoh! 4. Analisislah kesalahan aspek semantik kalimat berikut: - Sepeda motormu amat bagus sekali. - Ahmad turun ke bawah lantai tadi pagi. - Bayak petani semang rugi karena terkena wabah dEkan ganas. - Diana pergi membeli kain kapan buat pamannya. - Belajar tiap hari agar supaya semakin pintar. Rambu-rambu pengerjaan latihan. 1. Sebelum mengerjakan latihan pertama, baca secara cermat uraian yang berkaitan dengan pengertian frasa, klausa, dan kalimat serta contohnya masing-masing. 2. Agar pekerjaan Anda bisa benar dalam mengerjakan latihan bagian ketiga, perhatikan hakikat frasa, klausa dan kalimat serta jenisnya dan contohnya masing-masing. 3. Kalau Anda akan mengerjakan latihan bagian ketiga terlebih dahulu membaca secara cermat uraian yang berkaitan dengan pengertian gejala hiperkoret dan pleonsame serta contohnya masing-masing. 4. Sebelum Anda mengerjakan latihan bagian keempat, cermati sungguhsungguh lebih dahulu pengertian gejala hiperkoret dan pleonasme dan contohnya masing-masing.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 27

Rangkuman
Mengnalisis kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis dan semantik merupakan bagian integral dari analisis kesalahan berbahasa secara terpadu di bidang kebahasaan. Kesalahan yang relatif sering terjadi dalam bidang sintaksis
adalah sebagai berikut.

(a)

Dalam segi frasa, seperti: penggunaan kata depan tidak tepat, penyusunan

yang salah, penambahan yang dalam frasa Benda (B+S), penambahan kata dari atau tentang dalam Frasa Benda (B+B), penghilangan kata yang dalam Frasa Benda (B + yang + K pasif. (b) Dalam segi klausa, seperti: penambahan kata depan di antara kata kerja dan objeknya dalam klausa aktif, pemisahan pelaku dan kata kerja dalam klausa pasif, penghilangan kata oleh dalam klausa pasif, penghilangan kata kerja dalam klausa intranstif. (c) Dari segi kalimat, seperti: kalimat yang tidak bersubjek karena terdapat preposisi di awal, penggunan kata penghubung pada kalimat majemuk, penggunaan kata penghubung berpasangan secara tidak tepat, penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa daerah. Adapun kesalahan dalam bidang semantik disebabkan pertama adanya adanya penerapan gejala hiperkoret dalam penyusunan kalimat seperti penggantian /E/ menjadi /e/, penggantian fonem /sy/ menjadi /s/, kedua adanya penerapan gejala pleonasme dalam penyusunan kalimat tertentu.

6 - 28 Unit 6

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Klausa berikut tergolong salah karena penghilangan preposisi dari kata kerja berpreposisi dalam klausa pernyataan, adalah ... A. Mereka akan pergi ke Cianjur. B. Aku selalu teringat tindakanmu yang bijak. C. Guru menjelaskan berbagai pendekatan belajar. D. Aku selalu terkenang akan ucapanmu dahulu. 2. Kata folio diganti dengan kata polio padahal makna yang dimaksud adalah penyakit tulang adalah contoh... A. gejala hiperkoret B. gejala pleonasme C. gejala kontaminasi D. A, B, dan C salah 3. Kalimat berikut tergolong salah karena menggunakan struktur bahasa daerah yaitu… A. Mereka meminjam bukunya Tuty. B. Dia selalu menunjukan keterampilannya. C. Jangan mempermainkan teman sendiri. D. Dia bermain bersama teman-temanya. 4. Bentuk frasa yang benar berikut ini adalah A. di sore hari B. pada masa C. di malam hari D. di waktu itu 5. Frasa berikut tergolong salah karena mengalami penghilangan kata yang dalam frasa nominal adalah ... A. sepatu kupakai B. sepeda baru C. petani muda D. mobil biru

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 29

6. Berikut adalah contoh klausa yang benar… kecuali: A. Amin menjual nasi goreng. B. Surat itu ditulis Amri. C. Ayahanda teringat akan nyanyianmu. D. Akan saya membeli rumah itu. 7. Kalimat yang benar di bawah ini adalah ... kecuali: A. Dalam rapat itu dibahas masalah peningkatan mutu guru. B. Rumah tempat dia bermalam dekat dari pasar. C. Dia mau menang sendiri dikelompoknya. D. Mereka tidak menulis melainkan sedang melukis. 8. Kalimat berikut yang tergolong salah karena subjeknya berlebihan ialah... A. Dia pergi ke pasar sesudah dia belajar. IPS B. Ibu telah mencuci pakaian. C. Dalam masyarakat Bugis dikenal adat tudang mappacci. D. Orang yang akan dia ajak bicara belum datang. 9. Kata-kata berikut mengalami gejala hiperkoret... kecuali: A. tabel diganti tabEl B. tegel diganti tEgel. C. peka diganti pEka. D. dekan diganti dEkan. 10. Kalimat yang predikatnya tidak jelas adalah... A. Dia akan ke Palembang bulan depan. B. Ibu telah mencuci pakaian sebelum mati lampu. C. Saya membeli kue ketika perut sudah lapar. D. Buku itu dibaca oleh Rina.

6 - 30 Unit 6

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Telah dipelajari semua materi di atas dengan sungguh-sungguh, bukan? Bagus itu adalah ciri seorang peserta didik yang akan sukses di masa datang! Nah, sekarang cocokkanlah hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 2 ini yang terdapat pada bagian akhir unit VI. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Pemahaman Anda sungguh bagus! Anda memang pantas mendapat pujian sebagai peserta didik yang berprestasi. Hal ini Anda dapat menyelesaikan soal-soal subunit 2 di atas dengan baik! Di atas 80 %, bukan! . Jika memang demikian halnya, silakan Anda lanjut untuk mempelajari unit VII. Akan tetapi manakala tidak demikian halnya atau kurang dari 80%, bersemangat terus belajar, jangan putus asa! Ulangilah mempelajari subunit 2, terutama bagian yang belum Anda pahami.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 31

Kunci Jawaban Tes Formatif 1
Tes Formatif 1
1. A: Fonem z pada kata zakat atau zaman dilafalkan /z/ bukan dilafalkan /s/, atau /j/ 2. C: Olah raga, yang lain seperti adukepintaran dan adu kelincahan seharusnya ditulis terpisah dan anti karat sehausnya ditulis serangkai. 3. C: Perulangan seperti ngarang-mengarang harus berdasar pada kata dasar karang seperti karang-mengarang, tunjuk-menunjuk 4. C: Fonem /g/, seharusnya dilafalkan /g bukan /h/. fonem /ai/, 5. A: seharusnya dilafalkan /E/ bukan /Ei/, fonem /au/ tidak dilafalkan /o/ tetapi seharusnya /au/ Kata dasar yang dimulai huruf p, t, k, s luluh jika dimasuki awalan 6. B: meN- kecuali kata yang huruf awalnya dimulai huruf kluster seperti transmigrasi proses 7. C: Fonem /au/ harus dilafalkan /au/ bukan /o/, atau /ou/ dan fonem /p/ pada kata pulau harus dilafalkan /p/ bukan /f/ 8. A: Kata dasar yang dimulai huruf t seperti telusuri harus luluh jika 9. C: dimsuki awalan meN- misalnya menelusuri, Pelafalan fonem /z/ yang benar adalah /z/ bukan /s/, dz/, /j/ 10. A: Kata-kata seperti pasca, sub, ekstra, dan pra harus dirulis serangkai dengan yang mengikutinya Pelafalan yang benar pada kata sukses adalah /suksEs/ bukan /sukses/, /syukses/ atau /saksEs/

Tes Formatif 2
Dalam klausa pernyataan yang menggunakan kata teringat dalam kalimat semestinya diikuti preposisi akan. /...teringat akan ucapanmu.../ 2. A: Suatu kata yang ddilafalkan sudah tepat lalu diganti dengan lafal yang dianggap lebih benar disebut hiperkoret seperti /folio/ diganti /polio/ dalam kalimat Adikku terkena folio sejak umur dua tahun. 1. B:

6 - 32 Unit 6

3. A: Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk –nya antara Benda +Benda yang berarti posesif .misalnya bukunya Tuty. Bentuk seperti itu adalah pengaruh bahasa daerah . Jadi, seharusnya buku Tuty. 4. B: Preposisi di yang terletak di depan kata-kata seperti masa, waktu, musim tidak tepat. Yang seharusnya adalah pada, misalnya pada waktu. 5. A: Prase nominal yang berstruktur Benda + Ku-Kerja semestinya diantarai yang , misalnya buku yang kupinjami. 6. B: Klausa Surat itu ditulis Ali kurang tepat karena tidak ada kata oleh sebelum kata Ali. 7. C: Kalimat Dia mau menang sendiri dalam kelompoknya adalah kalimat yang strukturnya dipengaruhi bahasa daerah. 8. A: Seharusnya kalimat tersebut membuang kata ganti dia supaya tidak berlebihan subjeknya Dia pergi ke pasar sesudah belajar IPS. 9. A: Kata peka diganti dengan lafal /pEka/ bukan hiperkoret karena memang itu yang semestinya pelafalannya. pergi agar kalimat itu 10. A: Seharusnya menggunakan kata kerja mempunyai predikat, yakni Dia akan pergi ke Palembang bulan depan.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 33

Glosarium
preposisi afiks verbal reduplikasi afiksasi inovatif sufiks morf prefiks linguistik identifikasi analisis subjek intransitif afiksasi aktual predikat Temporal Mubazir Menafikkan Konsisten Logis Intransitif : Kata depan : tentang imbuhan : kata yang tidak bisa diawali kata sangat /kata kerja : pengulanga kata asal tertentu : proses atau hasil penambahan afiks pada kata dasar : bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru : akhiran, -an, -kan : anggota morfem yang belum ditentukan distribusnya. : awalan seperti meN-, ber: ilmu bahasa; telahasa secara ilmiah : proses penentuan identitas ssuatu : penyelidikan terhadap sesuatu. : bagian klausa yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara; pokok kalimat : kata keja ang tidak memerlukan objek : proses atau hasil penambahan afiks pada kata dasar : baru saja terjadi : bagian kalimat yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicraan tentang subjek. : berkaitan dengan waktu : berlebih-lebihan : meniadakan, atau menyangkalkan : tetap atau tidaka berubah-ubah : masuk akal, sesuai nalar yang sehat : berkaitan dengan kata kerja yang tidak membutuhkan objek; lawan dari transitif, memerlukan objek.

6 - 34 Unit 6

Daftar Pustaka

Alwasilah, Abd. Chedar. 1983.Linguistik Suatu Pengantar. Bandung:Angkasa Badudu, J.S. 1980. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia Jakarta: Bandung Angkasa __________ 1982. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta:Gramedia. Kridalaksana. H. 1982. Kamus Lingistik, Jakarta: Gramedia Keraf, Gorys. 1982. Tatabahasa Indonesia. EndeFlores: Nusa Indah Ramlan, M. 1988. Sintaksis. Yogyakarta: UP Kencono Sartuni, Rasyid, dkk. 1984. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Nina Dinamika Semi, M.Atar.1990 Menulis Efetif. Padang: Angkasa Raya Tarigan, H,G, 1983. Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis. Bandung: Angkasa. Tarigan, Djago & Sulistyaningsih, L.S. 1979. Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta; Depdikbud

Kajian Bahasa Indonesia di SD

6- 35

6 - 36 Unit 6

Unit

7

SASTRA ANAK-ANAK

Abd. Halik

P

engertian, tingkatan, manfaat jenis, ciri, dan contoh sastra anak-anak ini merupakan unit VII mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD. Unit ini terdiri atas 2 sub unit yaitu: (1) Pengertian, tingkatan, dan manfaat apresiasi sastra anak-anak, (2) Jenis, contoh dan ciri-ciri sastra anak-anak memahami materi ini, diharapkan Anda mampu menjelaskan pengertian, tingkatan, manfaat apresasi sastra, jenis , ciri-ciri , dan contoh- contoh sastra anak.. Dengan demikian, secara lebih khusus setelah mempelajari unit ini diharapkan Anda dapat: 1. Menjelaskan pengertian apresiasi sastra anak-anak, 2. Menjelaskan tingkatan dan manfaat apresiasi sastra anak-anak 3. Mengemukakan jenis dan contoh sastra anak-anak, 4. Menjelaskan ciri-ciri sastra anak-anak. Materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya seingga semakin semakin mahir mengapresiasi sastra anak-anak. Selain itu, Anda akan semakin luas wawasannya tentang nilainilai pengalaman kemanusiannya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadap bahasa Indonesia dan sastra anak-anak. Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-berkelanjutan. Pelajari setiap bagian secara cermat dan seksama. Mulailah dengan membaca konsep, uraian, dan contohcontoh yang terdapat di dalamnya. Untuk menambah pemahaman dan wawasan Anda, materi unit ini juga terdapat di internet, yaitu berupa materi Tutorial online. Bukalah internet. Masih ingat kan, caranya? Jangan lupa mengerjakan
Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

1

latihan/tugas. Setiap latihan/tugas disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Rambu-rambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Bila Anda mendapat kesulitan dalam memahami kata atau istilah yang terdapat pada unit ini, lihatlah glosarium dalam unit ini atau manfaatkanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Setelah melakukan kegiatan secara bertahap-berkelanjutan seperti disebutkan di atas, dan merasa telah menguasai materi unit ini, sekarang kerjakan soal-soal tes formatif. Setelah itu, cocokkan jawaban tes formati Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini sehingga dapat mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contohcontoh, dan rangkuman yang ada. Selamat belajar sastra anak-anak! Semoga Anda semakin mahir dalam mengapresiasi sastra anak-anak!

7 - 2 Unit 7

Subunit 1 Pengertian, Tingkatan, Dan Manfaat Apresiasi Sastra Anak-Ana

I

stilah apresiasi dan sastra anak-anak tentu bukan merupakan hal yang baru bagi Anda, bukan? Istilah tersebut setiap saat selalu kita dengar, baca, atau bahkan menggunakan istilah tersebut dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Bukan hanya itu, hampir setiap saat dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan apresiasi dan sastra anak-anak. Begitu seringnya kita menggunakan istilah sastra anak-anak dan apresiasinya maka terkadang kita lupa untuk memahami apa sesungguhnya hakikat apresiasi dan sasatra anakanak, tingkatan dan manfaat apresiasi sastra anak . Untuk memperoleh pemahaman tentang pengertian, tingkatan, dan manfaat apresiasi dan sastra anak-anak, baca baik-baik uraian berikut.

Pengertian Apresiasi Sastra Anak-anak
Untuk mehamai apresiasi sastra anak-anak perlu dipahamai dengan baik kata apresiasi dan sastra anak-anak. Apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau menghargai”. Berarti secara harpiah apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra. Munculnya penghargaan (yang positif) terhadap karya sastra merupakan manifestasi dari adanya pengetahuan tentang sastra, sejumlah pengamalan emosional dan penajaman kognitif di bidang sastra, serta pengalaman keterampilan bersastra, baik secara reseptif maupun secara produktif . Hal tersebut sejalan dengan pendapat Disick yang menyatakan bahwa “aspek apresiasi yang berkaitan dengan sikap penghargaan atau nilai berada pada domain afektif merupakan tingkatan terakhir yang dapat dicapai...pencapaiannya memerlukan waktu yang sangat panjang serta prosesnya berlangsung terus setelah pendidikan formal berakhir” (dalam Wardani, 1981:1) Sedangkan sastra anak-anak merupakan karya yang dari segi bahasa memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman ruhani bagi kalangan anak-anak. Pramuki (2000) mengungkapkan bahwa sastra anak-anak adalah karya sastra (prosa, puisi, drama) yang isinya mengenai anak-anak; sesuai kehidupan, kesenangan, sifat-

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

3

sifat, dan perkembangan anak-anak. Sedang manurut Solchan dkk (1994:225) membagi pengertian sastra anak-anak atas dua bagian, yakni sebagai berikut. “Pertama sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa yangisi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Kedua, sastra anak anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Dengan demikian, sastra anak-anak dapat dikatakan bahwa suatu karya sastra yang bahasa dan isinya sesuai perkembangan usia dan kehidupan anak, baik ditulis oleh pengarang yang sudah dewasa, remaja atau oleh anak-anak itu sendiri. Karya sastra yang dimaksud bukan hanya yang berbentuk puisi dan prosa, melainkan juga bentuk drama. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan apresiasi sastra anak-anak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut lebih dahulu kita pahami pengertian apresasi sastra menurut S.Effendi (1980:24) bahwa apresiasi sastra adalah “suatu kegiatan menggauli sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, pengehargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.” Definisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

PENGERTIAN

PENGHARGA AN Menggauli Sastra KEPEKAAN PIKIRAN KEPEKAAN PERASAAN

B A I K

CIPTA

Pendapat S.Effendi tersebut sejalan dengan Squire dan Taba (dalam Aminuddin, 1987:34) yang menyatakan bahwa “apresiasi sastra mengandung tiga unsur inti: (a) aspek kognitif, (b) aspek emotif, (c) aspek evaluatif”. Aspek kognitif sejalan pengertian , aspek emotif sejalan dengan kepekaan perasaan,

7 - 4 Unit 7

(c) aspek evaluatif berkaitan dengan kepekaan pikiran perasaan dan penghargaan yang positif. Lalu apa yang dimaksud dengan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan? Pertama, pengertian berkaitan dengan pemahaman tentang teori-teori dasar sastra, seperti pengertian puisi, unsurunsur instrinsik prosa, dan lain-lain. Kedua, penghargaan berkaitan dengan sikap pandang positif terhadap sastra bahwa sastra memiliki nilai-nilai positif yang bermanfaat bagi penjernihan batin, peningkatan harkat kehidupan individual-sosial. Ketiga, kepekaan pikiran kritis berkaitan dengan kemampuan memahami dan mengungkapkan sinstesis tentang makna atau nilai-nilai yang dikandung suatu karya sastra setelah mengadakan analisis yang teliti, saksama dan menyeluruh. Adapun kepekaan perasaan berkaitan dengan kemampuan menikmati dan menampilkan nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastra, seperti rasa senang tidak senang, berkenaan dengan cerita dan tokoh, perasaan terharu dan gembira berkenaan dengan nasib tokoh, persaan takut, kecewa, dan kagum berkenaan dengan gambaran peristiwa dalam cerita yang tergambar pada ekspresi wajah, gestur tubuh dan atau intonasi pada saat pembacaan karya sastra tertentu. Berdasar pengertian yang dikemukakan oleh S. Effendi, dapatlah kita mengatakan bahwa apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatan bermain dengan sastra sehingga tumbuh pemahaman, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, kepekaan persaan yang baik bagi anak terhadap karya sastra anakanak.

Tingkatan Apresiasi Sastra
Adapun tingkatan apresiasi sastra, Wardani (1981) membagi tingkatan apresiasi sastra ke dalam empat tingkatan sebagai berikut. (1) Tingkat menggemari, yang ditandai oleh adanya rasa tertarik kepada bukubuku sastra serta keinginan membacanya dengan sungguh-sungguh, anak melakukan kegiatan kliping sastra secara rapi, atau membuat koleksi pustaka mini tentang karya sastra dari berbagai bentuk. (2) Tingkat menikmati, yaitu mulai dapat menikmati cipta sastra karena mulai tumbuh pengertian, anak dapat merasakan nilai estetis saat membaca puisi anak-anak, atau mendengarakan deklamasi puisi/prosa anak-anak, atau menonton drama anak-anak. (3) Tingkat mereaksi yaitu mulai ada keinginan utuk menyatakan pendapat tentang cipta sastra yang dinikmati misalnya menulis sebuah resensi, atau

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

5

berdebat dalam suatu diskusi sastra secara sederhana. Dalam tingkat ini juga termasuk keinginan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sastra. (4) Tingkat produktif, yaitu mulai ikut menghasilkan ciptasastra di berbagai media masa seperti koran, majalah atau majalah dinding sekolah yang tersedia, baik dalam bentuk puisi, prosa atau drama. Berbeda dengan P. Suparman (Tarigan, 2000) membagi tingkatan apresiasi sastra atas lima tingkatan, yakni sebagai berikut: (1) Tingkat penikmatan, misalnya menikmati pembacaan/deklamasi puisi, menonton drama, mendengarkan cerita. (2) Tingkat penghargaan, misalnya memetik pesan positif dalam cerita, mengagumi suatu karya sastra, meresapkan nilai-nilai humanistik dalam jiwa; menghayati amanat yang terkandung dalam puisi yang dibacanya atau yang dideklamasikan. (3) Tingkat pemahaman, misalnya mengemukakan berbagai pesan-pesan yang terkandung dalam karya sastra setelah menelaah atau menganalisis unsur instrinsik-ekstrinsiknya, baik karya puisi, prosa maupun drama anak-anak. (4) Tahap penghayatan, misalnya melakukan kegiatan mengubah bentuk karya sastra tertentu ke dalam bentuk karya lainnya (parafrase), misalnya mengubah puisi ke dalam bentuk prosa, mengubah prosa ke dalam bentuk drama, menafsirkan menemukan hakikat isi karya sastra dan argumentasinya secara tepat. (5) Tingkat implikasi, misalnya mengamalkan isi sastra, mendayagunakan hasil apresiasi sasatra untuk kepentingan peningkatan harkat kehidupan, Tingkatan apresiasi yang dipaparkan dia atas mendorong kita untuk tidak sekedar menghasilkan karya sastra tetapi yang lebih penting adalah untuk dihayati dan diamalkan oleh peserta didik dalam kehidupannya.

Manfaat Apresiasi Sastra
Apresiasi sastra memiliki berbagai manfaat. Moody dan Leslie S. (dalam Wardani,1981) mengemukakan manfaat apresiasi sastra: (a) melatih keempat keterampilan berbahasa, (b) menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb, (c) membantu mengembangkan pribadi, (d) membantu pembentukan watak, (e) memberi kenyamanan, (f) meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru. Hal tersebut sejalan dengan Huck (1987) yang mengemukakan dua manfaat apresiasi sastra, yakni:

7 - 6 Unit 7

nilai personal: memberi kesenangan, mengembangkan imajinasi, memberi pengalaman yang dapat terhayati, mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, menyajikan pengalaman yang bersifat emosional; (2) Nilai pendidikan: membantu perkembangan bahasa, meningkatkan kelancaran-kemahiran membaca, meningkatkan keterampilan menulis, mengembangkan kepekaan terhadap sastra. Manfaat apresiasi sastra yang dikemukakan tersebut, hanya manfaat (1) mengembangkan imajinasi, (2) mengembangkan pandangan ke arah persoalan kemanusiaan, (3) meningkatkan keterampilan membaca-menulis yang akan diuraikan secara singkat. a. Mengembangkan Imajinasi Salah satu tujuan utama pembelajaran bahasa/sastra adalah terbentuknya kemampuan siswa yang kreatif. Untuk menjdi kreatif, salah satu aspek mutlak yang harus dimiliki adalah daya imajinasi yang memadai. Akhadiah (1992:3) menyatakan bahwa “sesuangguhnya hanya dapat menjadi kreatif jika siswa memiliki daya imajinasi.” Sebagaimana yang dikemukakan Huck (1987) bahwa mengapresiasi sastra dapat mengembangkan imajinasi siswa. Imajinasi yang dimaksud adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan) atau menciptakan sesuatu (gambar, karangan,dan sejenisnya) berdasarkan kenyataan atau pengalaman sesorang (dalam KBBI, 1994:372). Mengapa apresiasi sastra dapat meningkatkan imajinasi siswa? Sebagai jawaban yang bersifat tentatif atas pertanyaan ini adalah dalam bersastra daya pikir didorong untuk mengalami kebebasan berkhayal tanpa kekangan aturan yang kaku “licentie puetica”. Kebebasan itu bukan berarti sebebas-bebasnya tanpa batas dan tidak berakar pda dunia nyata yang bersifat logis, luwes, dan dinamis. Dengan batas yang demikian orang yang bergelut dalam dunia sastra dapat menciptakan kreasi yang di dalamnya selalu ada unsur kebaruan, baik dari segi isi maupun dari segi bentuk. Misalnya, karya Sutan Takdir Alisyahbana, Nur Sutan Iskandar, dan seniman lainnya. c. Meluaskan pandangan tentang kemanusiaan Melalu pergaulan dengan karya sastra berbagai pengalaman dapat diperoleh yang kelak bisa berfungsi untuk meluaskan pandangan tentang kemanusian sekaligus berkaitan dengan pembentukan watak dan pribadi yang baik dalam mengarungi kehidupan masyarakat. Misalnya dalam puisi POT

(1)

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

7

oleh Sutarji Kalsum Bachri, memberi perluasan wawasan dan pengalaman kejiwaan bahwa kita harus menjadi ibu, ibu yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas, generasi dapat mengharumkan bangsa di tingkat internasional. Puisi Chairil “Sekali berarti/ Sudah itu mati” jika kita cermati dengan sedalam-dalamnya, akan mendorong kita untuk memperbanyak amal saleh, agar kita dapat memperoleh derajat yang tinggi di sisi-Nya, tidak sederajat binatang atau lebih rendah lagi. d. Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Tujuan utama pembelajaran BI di SD adalah untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Kaitannya dengan apresiasi sastra yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan karya sastra dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan berbahasa. Misalnya, Lehman menemukan bahwa siswa yang menggunakan karya sastra dalam membaca memperoleh nilai yang lebih tinggi dalam hal kosa kata dan pemahaman isi bacaan dibandingkan siswa yang bukan menggunakan karya sastra sebagai bahan bacaan ( dalam Rofi’uddin,1997). Adapun hubungannya dengan peningkatan keterampilan menulis dengan memanfaatkan karya sastra sebagai bahan pembelajaran. Agustina (1997) menemukan dalam penelitiannya bahwa anak kelas tiga SD yang diajar menulis cerita melalui jurnal pribadi menunjukkan peningkatan kelancaran dan keterampilan menulis. Oleh karena itu, Gani (1988:3) mengungkapkan bahwa di negara-negara maju pembelajaran apresiasi sastra tidak dipisahkan dengan pengajaran membaca dan menulis. Hal ini sejalan dengan pendekatan terpadu bahwa pembelajaran kiranya komponen bahasa disajikan secara terpadu seperti dalam pembelajaran sastra dipadukan antara membaca, dan menulis . Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 1 ini cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan apresiasi sastra anakanak? 2. Bentuk sastra anak yang menekankan penampakan karakter melalui dialog adalah sastra anak yang bentuk prosa? Setujukah Anda dengan pernyataan tersebut? Jika tidak bagaimana pendapat Anda?

7 - 8 Unit 7

Rambu-rambu pengerjaan latihan. 1. Untuk mengerjakan latihan nomor satu Anda perlu mengingat aspek yang berkaitan dengan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setelah itu, rumuskan jawaban ke tiga aspek itu dalam satu kalimat. 2. Untuk latihan nomor dua, jika Anda menjawab setuju tentu Anda belum membaca dengan baik materi. Coba perhatikan, apakah yang paling menonjol pada setiap jenis sastra anak tersebut?

Rangkuman
Pengertian apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatan bermain dengan sastra anak-anak sehingga muncul pengertian, kemampuan pemahaman, kepekaan perasaan dan pengharhaan yang baik dalam diri anak terhadap sastra anak-anak. Apresiasi sastra anak dapat dikelompokkan atas beberapa tigkata: penikmatan, penghargan, pemahaman, penghayatan, dan implikasi. Sedangkan manfaat apresiasi sastra yakni dapat meningkatkan imajinasi, meluaskan wawasan tentang nilai kemausiaan, dapat meningkatkan keterampilan berbahasa anak, khususnya membaca dan menulis.

Tes Formatif Subunit 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Secara etimologis, kata apresiasi berarti... a. mengutamakan b. menghargai c. menilai d. memahami 2. Berikut ini adalah tingkatan apresiasi sastra ...kecuali: a. menikmati b. mengomentari c. menggemari d. mereaksi

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

9

3. Edy selalu mengikuti setiap pertemuan sastra, dirumahnya banyak koleksi sastra, yang pertama dibaca di perpustakaan adalah buku sastra. Tingkah laku Edy tersebut mencerminkan apresiasi sastra yang berkaitan dengan... A. Tumbuhnya pengertian yang baik terhadap karya sastra anak-anak B. Kemampuan pemahaman yang teliti terhadap sastra anak-anak C. Penguasaaan aspek emotif terhadap karya sastra anak-anak D. Penghargaan yang positif terhadap karya sastra anak. 4. Jika anak telah sering memasukkan tulisannya berupa puisi-prosa di majalah dinding sekolah, berarti anak tersebut telah berada pada tingkatan... a. menggemari b. menghasilkan c. penghargaan d. pemahaman 5. Dia mampu menjelaskan unsur instrinsik puisi, prosa, dan drama dengan tepat. Kemampuan tersebut merupakan bagian dari apresiasi sastra yang berkaitan... a. Peghargaan yang positif terhadap karya sastra anak b. Kemampuan pemahaman yang teliti terhadap sastra anak-anak c. Penguasaaan aspek emotif terhadap karya sastra anak-anak d. Tumbuhnya pengertan yang baik terhadap karya sastra anak-anak 6. Jika anak telah menunjukkan kesenangan membaca dan mengumpulkan koleksi sastra, anak tersebut berada pada tingkatan... a. mereaksi b. menghayati c. menggemari d. menikmati 7. Mengapresiasi sastra dapat memberikan manfaat...KECUALI A. Meningkatkan kesadaran berbahasa yang benar B. Meluaskan wawasan tentang nilai kemanusiaan C. Mengembangkan imajinasi D. Meningkatkan keterampilan berbahasa anak

7 - 10 Unit 7

8. Setelah membaca dua kali prosa itu, Tuty dapat mengungkapkan tema, alur, penokohan, amanat yang tepat dan jelas prosa tersebut. Aprsiasi sastra Tuty tersebut berkaitan erat dengan .... A. Kemampuan pemahaman yang teliti terhadap sastra anak-anak. B. Penguasaaan aspek emotif terhadap karya sastra anak-anak. C. Tumbuhnya pengertan yang baik terhadap karya sastra anak-anak D. Peghargaan yang positif terhadap karya sastra anak. 9. “Intonasi sedih, gembira, marah yang ditampilkan Yuni saat baca puisi sangat sesuai dengan mimik dan gestur tubuhnya.” Pernyataan tersebut menunjukan bahwa Yuni memiliki apresiasi sastra yang berkaitan dengan.... A. Kemampuan pemahaman yang teliti terhadap sastra anak-anak. B. Penguasaaan aspek emotif terhadap karya sastra anak-anak. C. Tumbuhnya pengertan yang baik terhadap karya sastra anak-anak. D. Peghargaan yang positif terhadap karya sastra anak. 10. Setelah anak membaca sebeuah prosa, ia dapat menunjukkan pesan-pesan dalam cerita tersebut berarti anak tersebut berada pada... 3 Tingkatan pemahaman 4 Tingkatan penghargaan 5 Tingkatan penikmatan 6 Tingkatan peghayatan

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

11

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Sudah merasa berhasil menjawab seluruh soal dengan benar? Tentu, karena Anda pembaca efektif sehingga bagian demi bagian telah dibaca secara saksama dan sunguh-sungguh! Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, syukurlah dan saya ucapkan selamat dan sukses selalu! Hhal itu berarti Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Namun demikian, manakala tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa!. Ulangilah mempelajari subunit 1 dengan sungguh-sungguh , terutama bagian-bagian yang Anda anggap belum kuasai dengan baik.

7 - 12 Unit 7

Subunit 2 Jenis, Contoh, Dan Ciri-Ciri Sastra Anak-Anak

B

agaimana pemahaman Anda terhadap materi subunit pertama? Cukup sempurna bukan! Materi yang akan Anda pelajari pada subunit 2 ini adalah bagian integral dari materi yang telah Anda pelajari pada subunit 1 yakni jenis, ciri-ciri, dan contoh sastra ana-anak. Pemahaman tentang hal tersebut mendukung tugas tugas Anda kelak di Sekolah Dasar. Hal ini di Sekolah dasar, sejulah kompetensi yang harus diajarkan berkaian dengan dengan sastra anak karena sastra anak-anak dinilai fungsional dalam pembentukan keprbadian anak sekaligus peningkatan keterampilan berbahasa anak itu sendiri. Untuk memperoleh pemahaman yang berkaitan dengan ciri, jenis dan contoh sastra anak-anak ikuti uraian berikut dengan saksama.

Jenis dan Contoh Karya Sastra Anak
Sastra anak-anak (kompas, 2005) membagi sastra anak-anak ke dalam beberapa jenis, yakni: fiksi, nonfiksi, puisi, sastra tradisonal, dan komik. Pembagian tersebut sejalan dengan Framuki (2000) bahwa sastra anak-anak yang bersifat imajinatif dapat dibagi atas tiga macam yakni puisi, prosa, dan drama. Berdasarkan pendapat tersebut sastra anak-anak dapat dibagi atas tiga macam sebagai berikut 1. Puisi Apa yang dimaksud dengan puisi? Sudjiman (dalam Nadeak:1985:7) menyatakan bawa “puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Pengertian tersebut relatif sejalan dengan pengertian puisi yang dikemukakan oleh Ralph Waldo Emmerson bahwa “puisi adalah mengajarkan sebanyak-banyaknya dengan kata-kata yang sesedikit-dikitnya”. Berbeda dengan pendapat Mattew Arnold yang melihat dari segi keindahan pendendangannya bahwa bahwa “puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif dan paling efektif mendendangkan sesuatu” (dalam Situmorang: 1981:9). Berdasarkan pengertian tersebut dapatlha dikatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait yang relatif memperhatikan irama dan rima sehingga sungguh indah dan efektif
Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

13

didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan bentuk karya sastra lainnya. Puisi sebagai suatu karya sastra seni terdiri atas berbagai ragam. Waluyo (1987) mengklasifikasi puisi berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan , terbagi atas: puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif, yakni sebagai berikut. a. Puisi naratif Puisi naratif adalah puisi isinya berupa cerita. Penyair menyampaikan gagasanya dalam bentuk puisi dengan cara naratif yang di dalamnya tergambar ada pelaku yang berkisah, misalnya:

DESAKU
Nurfikri

Hagu Sebuah nama selalu merdu Di telingaku Setiap waktu Alammu Nyiurmu Pantaimu Memanggil daku selalu Untuk tidak jauh Dari sisimu Di pagi dan siang Kuberangkat dan pulang dari sekolah Bersama teman-temanku lewat jalan berbelok Dinaungi pepohonan rindang Karena itu aku bertekad Akan selalu memeliharamu Akan selalu mengingatmu Sampai akhir hayat ( Dikutip dalam Pedoman Rakyat, 2002 oleh Nurfikri)

7 - 14 Unit 7

b. Puisi lirk Adalah puisi yang mengungkapkan gagasan pribadinya dengan cara tidak bercerita. Puisi lirik dapat berupa pengungkapan pujaan terhadap seseorang, misalnya puisi berikut.

R.A. Kartini
Engkau pendekar bangsa Pahlawan wanita Indonesia Egkau korbankan jiwa an raga Engkau lahir di Istana Tiada kurang satu apa pun Tapi kau tak terlena Melihhat kaummu menderita Raden Ajeng Kartini Engkau laksana obor Oikireanmu menerang hati Engkalah pelopor (Herni Maya Sari, klas V SD O42 Balikpapan) c. Puisi deskriptif Adalah puisi penyair yang mengungkapkan gagasannya dengan cara melukis-kan sesuatu untuk mengungkapkan kesan, peristiwa, pengalaman menarik yang pernah dialaminya. Misalnya puisi yang menggambarkan keindahan alam berikut:

ALAM YANG INDAH
Lenny Ch.M.

Sungguh indah alam Ciptaan Tuhan Hewan, Burung, ikan Tumbuh-tumbuhan Bintang dan bulan Segenap tata surya Memuji Tuhan Tuhanku menjaga Sejagad raya
Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

15

Burung Margasatwa Cukup makannya Ajar aku, Tuhan Buka mataku Belajar dari alam Melihatmu 2. Prosa Apakah prosa sama dengan puisi? Tentu prosa dengan puisi jauh berbeda bentuknya! Surana (1984:105) mengemukakan pengertian prosa sebagai berikut. Bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa, bukan puisi, terdiri atas kalimat-kalimat yang jelas pula runtutan pemikirannya, biasanya ditulis satu kalimat setelah yang lain, dalam kelompokkelompok yang merupakan alinea-alinea. Pengertian prosa yang dikemukakan oleh Surana di atas saling melengkapi dengan pengertian prosa fiksi atau narasi yang digambarkan oleh Aminuddin (2004:66) sebagai berikut: Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelakupelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu ceita. Berdasarkan kedua pengertian di atas dapatlah kita mengatakan bawa prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas ragkaian bait demi bait tetapi dibuat atas rangkaian paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur unsur seperti tempat, waktu, suasana, kejadian, alur pristiwa, pelaku berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif. Cullinan (1989) menyebutkan beberapa jenis prosa fiksi, antara lain: (1) prosa fiksi sains, (2) prosa fiksi realistik, (3) prosa fiksi imajinatif (a) Prosa fiksi sains Prosa fiksi sains adalah cerita fiksi yang disusun dengan menekanan pada isi yang ingin disampaikan. Isi yang disampaikan berupa ilmu pengetahuan (sains) atau bersifat faktual . Namun demikian isi yang bersifat faktual tersebut disusun dalam bentuk cerita fiksi dengan cara

7 - 16 Unit 7

menentukan pelaku, latar, dan alur. Tujuannya untuk menarik minat dan perhatian siswa sehingga mereka merasa tidak sulit memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang. Contohnya sebagai berikut: Mendengarkan Penyuluhan tentang Penyakit Demam Berdarah Pada siang hari itu pendopo balai Desa Makmur dipenuhi oleh warga. Mereka diundang untuk mendengarkan penyuluhan tentang penanggulangan penyakit demam berdaarah dari Dinas Kesehatan Rakyat Kabupaten. Penyuluhan in diberikan karena beberapa hari yang lalu di Desa Makmur Jaya terkena wabah penyakit demam berdarah. Tepat pada pukul 13.00 Dokter Surya yang diberi tugas penyuluhan oleh Dinas Kesehatan Rakyat Kabupaten telah datang. Beliau daang bersama beberapa petugas yang lain. Setelah beristirahat sebentar, Dokter Surya pun segera memberikan penyuluhannya. Menurut Dokter Surya, penyakit demam berdarah itu disebabkan oleh virus yang ditularkan leh nyamuk Aedes Aegypti. Naymuk itu hidup dan berkembang biak di dalam rumah dan di sekitarnya. Tidak jarang, nyamuk ini dijumpai pula di sekolah. Nyamuk ini mencari mangsa pada pagi sampai siang hari. Terdapat beberapa tanda yang dapat kita kenali dari orang yang terkena penyakit mematikan ini. Pertama, selama 2-7 hari panas badan pen-derita meninggi. Kedua, nyeri perut terutama di bagian uluhati. Ketiga, pendarahan berupa bintik-bintik merah pada kulit, mimisan, gusi berdarah, muntah darah, bahkan berak darah. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan kepada orang yang terkena penyakit demam berdarah adalah dengan memberikan minuman sebanyak-banyaknya. Minuman itu dapat berupa air masak, susu, atau air teh. Untuk menurunkan panas badan, penderita dapat diberi obat penurun panas, selain itu, penderita dapat dibantu dengan kompres dengan menggunakan kain basah yang telah direndam di air es. Setelah itu itu barulah penderita dibawa ke puskesmas/RSU. Penyakit demam berdarah dapat dicegah dapat dicegah dengan dua cara. Cara pertama adalah melenyapkan tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti. Naymuk ini biasanya berkembang biak di dalam maupun di luar rumah. Di dalam rumah, misalnya di bak mandi, tempayan,

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

17

vas bunga, atau di tempat minuman burung. Di luar rumah naymuk ini berkembang biak di tangki penampungan air, kaleng potongan bambu, dan sebagainya Cara kedua adalah dengan menghambat masuknya nyamuk ke rumah. Cara ini dapat dilakukan dengan memasang kawat kasa pada lubang ventilasi. Dengan cara ini, nyamuk tidak akan dapat masuk ke rumah. Nyamuk ini dapat dicegah agar tidak masuk ke rumah dengan cara mem-berikan penerangan yang cukup di dalam kamar kita. Nyamuk biasanya senang tinggal di tempat gelap. Para warga tanpak tertarik akan semua penjelasan yang diberikan Dokter Surya. Setelah mendengarkan penyuluhan itu mereka berjanji akan selalu berusaha hidup lebih bersih lagi. Mereka ingin hidup sehat. Mereka ingin terbebas dari penyakit demam berdarah. (Anonim Dalam Aku Cinta Bahasa Indonesia,V, 1997) (b) Prosa fiksi realistik Adalah cerita yang disusun dengan tujuan menyampaikan sesuatu yang mengandung nilai-nilai kehidupan yang logis, baik berkaitan dengan etika, moral, relegius, dan nilai-nilai lainnya. Nilai-nilai tersebut diungkap melalui prosedur “bercerita” dengan menentukan tema, latar, alur, penokohan, sudat pandang, dan amanat yang ingin disampaikan. Peristiwa demi peristiwa yang disampaikan bukan merupakan fakta atau kejadian yang sesungguhnya melainkan peristiwa yang bersifat fiktif (seolah-olah pernah terjadi). Dikatakan realistik karena isi atau tema cerita tersebut diangkat dari kehidupan sehari-hari; ada kemungkinan hal tersebut terjadi dalam kenyataan sehari meskipun pelaku tempat, dan waktu kejadian berbeda. Misalnya, cerita berikut. Musim Layang Membawa Berkah
Ni Wayan Margiani

Kupercepat lariku begitu melihat begitu kulihat layang-layangku putus. Tak perduli kakiku penuh lumpur. Aku terus berlari di pematang sawah, sambil melihat ke atas. Semua semak tidak luput dari perhatianku, tetapi layang-layangku tidak kutemukan juga. Dengan lemas aku berjalan menuju rumahku. Sebagian besar anak di kampungku lebih suka membeli layanglayang di pasar/walaupun ada juga yang membuat sendiri. Wah…

7 - 18 Unit 7

sekarang saya harus membuat layang-layang sendiri, aku tidak mau merepotkan ibu lagi. Panggilan ibu itu menandakan harus segera menyabit rumput untuk sapiku. Aku menganggukkan kepala. Sambil menyabit rumput aku memikirkan cara membuat layang-layang. Setelah memberi makan sapi, aku sibuk dengan bambu, plastik, dan benang. Ya aku akan buat layang-layang ssendiri. Uangnya dari sisa jajanku kemarin. “Bill, banyak sekali layang-layangnya?” Minta satu buat aku, ya?” adikku yang paling kecil, wayan datang mendekat. “Ya nanti Bill buatkan satu untukmu,” jawabku pada adikku. Begitu layang-layang telah siap aku langsung pergi ke sawah. Disitu tempanku biasa main layang-layangan. Melihat aku, Made langsung mendekati, “Tut, layang-layang itu mau kamu jual, ya? Aku beli satu, ya?” Aku juga, Tut. Aku beli dua buat aku dan adikku,” kata Bagus tidak mau kalahh. Teman-teman yang lain juga mengerumuniku.. “Layng-layang ini masing- asing kujual seribu rupiah. Kalian boleh pilih sendiri.”, kataku. Wow, luar biasa! Layang-layangmku laris manis. Setelah itu, aku terima banyak pesanan. Jadi, aku bisa membeli buku-0buku sendiri. Sisanya aku tabung. Ini berarti menghemat pengeluaran ibu dan bapak. Musim layang-layang kali ini benar-benar membawa berkah buatku. (Dalam Aku Mampu Berbahasa Indonesia, V, Kastam Syamsi, dkk 2004) (c) Prosa fiksi imajinatif (folkrole) Adalah cerita yang di dalamnya menyajikan rangkaian perstiwa yang pelaku-pelakunya hanya ada dunia dalam dunia imajinasi pengarang; tidak ada dalam kehidupan sehari-hari, misalnya raksasa pemakan manusia dan burung garuda raksasa, dalam cerita Bugis diistilahkan dengan nenepakande dan kuajang. Cerita seperti ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan bagi anak-anak yang suka dongeng dengan pelaku raksasa atau binatang (fabel), misalnya dongeng Tanah Sang Raksasa, Kepel Iwe-Iwel, Kancil yang Cerdik, dan sebagainya.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

19

Tanah Sang Raksasa Raksasa Bargawa menerima sahabatnya di dalam guanya. Sahabat raksasa Bargawa adalah seorang manusia , laki-laki muda bernama Arya. Pemuda Arya dan raksasa Bargawa sudah lama bersahabat. Mereka saling menyukai satu dengan yang lain. “Aku sengaja mengundangmu hari ini, Arya,” kata Raksasa Bargawa. Matanya yang lebar berkejap-kejap, giginya yang tajam dan runcing tampak mengkilap ketika ia ketawa. “Untuk berbicara tentang tanah milikmu ini, bukan?” tanya Arya. “Benar!” Raksasa Bargawa mengangguk. Rambutnya yang keriting panjang beriap-riap pada waktu itu menggerakkan kepalanya… (Dikutip Dalam Aku Cinta bahasa Indonsia, IV A. 2004) 3. Drama Bagaiamana dengan drama? Samakah dengan prosa atau berbeda ? Surana (1984) memberikan jawaban bahwa “drama adalah karangan prosa atau puisi berupa dialog dan keterangan laku untuk dipertunjukkan di atas pentas.” Pengertian tersebut sejalan dengan pengertian drama yang disampaikan oleh Hermawan (1988:2) bahwa “drama merupakan cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton.” Jadi, drama merupakan salah satu karya sastra yang dipakai sebagai medium pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkain dialog antarpelaku dan adegan, yang tujuan utamanya bukan untuk dibacakan secara estetis melainkan untuk dipertunjukkan . Misalnya TAS SEKOLAH RARA Tokoh : Rara, Yayang, Alisia, dan Ibu Di halaman rumah Yayang terlihat Rara, Yayang, Alisia mengenakan seragam Sekolahh, mengendong tas masing-masing Yayang : “Ra, terima kasi ya! (memberikan buku), Nanti kalau ada yang baru kita tukar baca lagi Rara : (memasukan buku ke tasnya) Iya, Aku pulang dulu ya!

7 - 20 Unit 7

Alisia

: “Ra, kamu tak punya tas lagi, ya! Yang sudah robek begini masih kamu pakai (menepuk tas rara). (Rara dan Yayang terkejut) Yayang : “Lis!” Rara : “Yo saya pulang duluan ya! (tak meladeni pertanyaan Alisia) Alisia : “Aku juga pulang, yu. Sampai besok! Yayang : “Ya dadaa! (Rara dan Alisia meninggalkan pentas, ibu masuk). Ibu : “Eh, mamam sudah pulang. Yayang : “Iya, Ma! (mencium tangan ibunya) ............................................ (Dikutip dari Karya Mien Rumini dalam Pend. KeterampilanBerbahasa oleh Djago Tarigan dkk, 2001)

Ciri-ciri Puisi Anak-anak
Ciri-ciri yang perlu diperhatikan dalam memilih puisi di SD, menurut Rusyana (Dalam Nadeak, 1985:62) adalah: (a) isi sajak harus merupakan pengalaman dari dunia anak sesuai umur dan taraf perkembangan jiwa anak, (b) sajak itu memiliki daya tarik terhadap anak, (c) sajak itu harus memiliki keindahan lahiriah bahasa, misalnya irama yang hidup, tekanan kata yang nyata, permainan bunyi, dan lain-lain, (d) perbendaharaan kata yang sesuai dengan dunia anak. Sedangkan menurut Sutawijaya, dkk (1992) pusi yang diberikan kepada anak sebagai bahan pembelajaran apresiasi sastra puisi di SD hendaknya memiliki ciri sebagai berikut: (1) Ciri keterbacaan (a) Bahasa yang digunakan dapat dipahami anak, artinya kosa kata yang digunakan dikenal oleh anak, susunan kalimatnya sederhana sehingga dapat dipahami oleh anak. (b) Pesan yang dikandung puisi dapat dibaca dan dipahami anak karena tidak bersifat diapan (tersembunyi) melainkan bersifat transparan atau eksplisit. (2) Ciri kesesuaian (c) Kesesuaian dengan kelompok usia anak, pada usia anak Sekolah Dasar menyukai puisi yang membicarakan kehidupan sehari-hari , petualangan, kehidupan keluarga yang nyata. (d) Kesesuaian dengan lingkungan sekitar tempat anak berada. Artinya, anak yang berada di lingkungan sekitar pantai akan bersemangat jika

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

21

puisi yang diberikan untuk dipelajari adalah puisi yang berbicara tentang pantai. Atau pada musim kemarau, puisi yang diajadikan bahan ajar adalah puisi yang berbicara tentang kemarau. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan puisi anak-anak yang berjudul “Desaku” berikut ini. DESAKU YANG INDAH
Nur A’dill Y.U.

Desaku yang sangat indah Ada rerumputan hijau Bunga-bunga brmekaran Bunga-bunga berterbangan Udara pagi yang segar Aku senang tinggal di desa Aku bangga tinggal di desa Aku bangga bisa memelihara Keindahan desa. (Bobo, No 50 XXXXI/2004)

Ciri-ciri Cerita Anak-anak
Bagaimana dengan ciri prosa anak-anak dan contohnya? Cerita yang diberikan kepada anak sebagai bahan ajar di SD hendaknya cerita memiliki ciriciri: bahasa yang sederhana, pilihan kata yang dapat dipahami, sesuai dengan kegemaran dan perkembangan usia anak, dan lingkungan yang relevan dengan dunia anak misalnya pada musim panen dipilih cerita yang berkaitan dengan kehidupan petani. Hasyim (1981) mengemukakan bahwa cerita yang diberikan kepada anak sebagai bahan belajar di Sekolah Dasar hendaknya memiliki ciri sebagai berikut. (a) Bahasa yang digunakan haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa anak. (b) Isi ceritanya haruslah sesuai dengan tingkat umur dan perhatian anak. Pada tahap pertama (kelas 1-3 SD) , bacaan untuk anak laki-laki dan wanita dapat disamakan. Untuk selanjutnya ( kelas 4-6 SD) secara berangsurangsur akan kelihatan bahwa anak laki-laki lebih menyenangi cerita petualangan, olahraga, dan teknik, sedangkan anak wanita lebih menyenangi cerita yang bersifat kekeluargaan dan sosial.

7 - 22 Unit 7

Hendaknya jangan diberikan cerita yang bersendikan politik tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukan watak. Apa yang dikemukakan oleh Hasyim sejalan dengan Pramuki (2000) bahwa hendaknya cerita yang diberikan kepada anak adalah cerita yang sesua dengan tingkat perkembangan usia anak-anak, yakni: usia 6-9 tahun lebih menyenangi cerita yang bertema kehidupan sehari-hari sampai termasuk dongeng hewan dan cerita lucu, usia 9-12 tahun menyukai cerita yang bertema tentang kehidupan keluarga yang dilukiskan secara realistis, cerita fantastis, dan cerita petualangan. Adapun ciri-ciri yang lebih spesifik dikemukakan oleh Cullinan (1987) bahwa bahan cerita yang diberikan kepada anak SD hendaknya memiliki ciriciri: (1) latar cerita dikenal oleh anak, yakni cerita yang dipelajari berlatarkan lingkungan yang mereka temui dalam permainan sehari-hari, (2) alurnya bersifat tunggal dan maju karena mudah dipahami anak, bukan plot majemuk dan beralur maju-mundur atau sorot balik (3) pelaku utama cerita adalah dari kalangan anak-anak dengan jumlah sekitar 3-4 orang dan karakter pelaku dilukiskan secara konkret sehingga mudah dipahami oleh anak dan sesuai perkembangan moral anak, (4) tema cerita sederhana dan sesuia tingkat perkembangan individua-sosial anak seperti kejujuran, patuh pada orangtua, benci pada kebohongan dan sebagainya, (5) amanat atau pesan cerita dapat membantu siswa memahami dan menyadari perbedaan sikap yang baik dan tidak baik serta nilai-nilai positif yang dapat membentuk kepribadian dirinya (6) bahasa yang digunakan dapat dipahami oleh anak; kosa katanya dipahami dan struktur kalimatnya sederhana. Apakah semua kosa kata dalam cerita harus dipahami anak? Pertanyaan itu mungkin Anda ajukan setelah mencermati uraian di atas. Kosa kata dalam cerita tidak mutlak harus dipahami semua oleh anak. Boleh saja cerita itu di dalamnya ada satu atau dua kata yang kurang diketahui artinya oleh anak. Fungsinya adalah menjadi sarana penambah perbendaharaan kosa kata anak. Agar lebih jelas pemahaman Anda tentang ciri-ciri prosa anak-anak, berikut ini diberikan contoh cerita anak-anak untuk dicermati dengan baik.

(c)

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

23

Mandi Mandi di Sungai Oleh Tuti Rahayu Sungai Kelapa mengalir di perbatasan kampung Kelapa. Sekelompok anak-anak suka sekali berenang di Sungai Kelapa. Padahal air sungai itu kotor. Sampah sampah mengambang dan bertumpuk di tepian sungai. Udin senang bermain di sungai Kelapa bersama temannya. Suatu sore, seperti biasanya Udin mengajak Slamet, Opi, Buki, dan Eko bermain di sungai. “Teman-teman , panas sekali, Ya? Yuk, kita mandi-mandi dan bermain ke sungai.” Empat sekawan itu berkejar-kejaran menuju Sungai Kelapa. “Ho-ree ... Buki kena! Dia yang terjun le-bih dahulu” Kelima anak itu satu per satu terjun ke sungai. Mereka bere-nang dan bersimburan air. “Lihat, banyak ikan kecil,” Ujar slamet. “Ups, kena! Horee....Dapat ikan!” teriak Udin kegirangan Matahari mulai terbenam. Ibu Udin gelisah sebab anaknya belum juga pulang. “Tumi, lihat adikmu, nggak?” Tanya Ibu kepada Tumi, kakak Udin. “Ah, Ibu seperti tak kenal Udin saja. Kalau dia sudah di Sungai , mana ingat pulang?” jawab Tumi. Ibu Udin mendatangi anaknya ke sungai. “Udin Udin!” Pulang, Nak...!” Dari kejauhan Udin berlari. “Ibu! Ibu! Lihat, Udin dapat ikan kecil!” teriak Udin sambil berlari menghampiri ibunya. “Duh. kotor sekali! Mana bau lagi!” teriak ibu.. Sesampai di rumah, ibu berkata, “Lekas, mandi sana!” “Ibu bagaimana sih?” Kan Udin sudah mandi di sungai bersama teman-teman?. Masa di suruh mandi lagi?!” bantah Udin sengit. “Ya, sudahlah, Bu. Ganti baju saja Din,” sahut ayah. “Ayah ini bagaimana , sih? Udin baru mandi di sungai itu, tetapi airnya kotor sekali Banyak sekali sampah di situ. Itu kan sama saja belum mandi, Yah?” gerutu ibu. *** Waktu makan malam, Udin sibuk menggaruk tangannya. “Ih, gatal sekali”, keluhnya. Suasana makan malamnya jadi terganmggu. “Lho, kok garuk terus?” tanya ayah keheranan. “Coba, mari ibu lihat tanganmu, Din.” Astaga, kok di kulit tanganmu ada bercak-bercak putih?” Ibu mulai cemas. Ia mulai memperhatikan kulit anaknya. “Tuh, di kaki Udin juga ada luka-lukanya...” kata ayah keheranan. “Bu, jangan-jangan Udin kena sihir

7 - 24 Unit 7

penunggu sungai, “ gumam Tumi. Udin mulai terisak-isak menahan tangis. “Duh, Tum, Udin sakit, kamu malah bercanda. Ibu antar dulu Udin ke Pak Mantri, Yah,” kata ibu. Tetapi, Bu, ini kan sudah tengah malam. Malah mengganggu, lho,” ujar ayah. Udin menangis. “Kita sendiri tak mampu mengobati. Kasihan dia,” sahut ibu. “Baiklah, ayah ambil senter dulu. Kita pergi bersama saja. Tum, bantu memakai mantel adikmu.” Mereka pergi ke rumah Pak Mantri Bu mantri mengintip dari balik jendela. “Oh, keluarga Pak Udin rupanya. Mari, mari silakan masuk.” “Maaf , kedatangan kami mungkin mengganggu,” kata ayah. “Ah, tidak kok. Ada apa, Bu?” Apa yang saya bisa bantu?” Tanya Pak Mantri “Begini, Pak Mantri. Udin menggaruk terus. Katanya kulitnya terasa gatal dan perih,” ungkap, Ibu. “Betul ,Pak mantri” Habis gatal sekali, huk.....,” Udin terisak-isak. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Bu, mantri membukakan pintu, “Lho mengapa berbondong-bondong datang ke mari Bapak dan Ibu-ibu?” “Maaf, Pak dan Bu Mantri. Ini masalahnya. Anak-anak semua mengeluh gatal-gatal.” kata Pak Bakri, “Lho, kok sama dengan Udin?” Ayah dan ibu Udin heran. “Nah, saya ingin tahu. Bapak dan ibu sekalian. Di mana anak-anak sering bermain?” tanya Pak Mantri. “Tentu saja di Sungai Kelapa” jawab ayah Slamet. “Ya, Slamet dan anak-anak lain juga main di sana,” sahut Pak Bakri.Semuanya mengiyakan. “Setelah anak-anak mandi di sungai, apakah mereka mandi lagi di rumah?” sambung Pak Mantri. “Ah, Pak Mantri, tentu saja tidak,” ayah Udin menukas cepat. “Kan sama saja mandi di sungai dan di rumah,” sahut Pak Eko. Pak Mantri mengangguk. “Nah, coba saya periksa dulu kulitnya.” Ia melihat bercak putih dan luka yang bernanah pada kulit anak-anak. “Wah, rupanya anak-anak ini men-derita penyakit kulit,” kata PakMantri. “Masa rajin mandi masak bisa kena penyakit kulit, Pak Mantri?” seru ayah Opi keheranan. “Bapak dan ibu tahu persis Sungasi Kelapa, kan?” Airnya jernih atau kotor?” tanya Pak Mantri.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

25

“Wah air sungai itu kotor sekali karena banyak sampah di situ,” jawab ibu Udin. “Nah, air sungai yang kotor itulah sarangnya bibit penyakit kulit. Bibit penyakit lain pun banyak di situ, seperti bibit penyakit muntaber, cacing, dan sebagainya. Nah anak-anak mandi di sungai, bibit penyakit menempel di kulit,” ungkap Pak Mantri. “Di tambah lagi, sesudah mandi di sungai, anak-anak tidak mandi lagi, “sahut Bu Mantri. “Ya, Udin cuma ganti baju saja, Pak Mantri,” sahut Udin cepat. ”Itu makanya kena penyakit kulit. Mandi dengan air kotor yang ada bibit penyakitnya. Kulit digerogoti kuman penyakit kulit,”kata Pak Mantri. “Ini salep untuk mengobati penyakit kuliat kalian, kata Pak Mantri sambil membagikan salep obat kulit. “Jadi berbeda lho, mandi di sungai kotor dengan mandi air bersih di ru-mah, “ujar Bu Mantri . “Benar ,Bu. Mandi di sungai bukannya kulit jadi bersih, malah kena penyakit kulit,” sambung ibu Udin. ****

Ciri Drama Anak-anak
Pembelajaran sastra yang berkaitan dengan drama di sekolah dasar hendaknya menggunakan bacaan drama anak-anak. Bagaimana ciri drama anakanak? Drama anak-anak tidak jauh beda dengan cerita anak-anak, baik dari segi bahasanya, tema, pesannya. Yang berbeda adalah dari segi dialog yang sederhana dan jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan berbelit. Agar pemahaman Anda tentang ciri drama anak-anak silakah baca dengan seksama dan sungguh-sungguh contoh penggalan drama berikut. ? TEMAN SEKOLAHKU Pelaku : Dita, Ega, Ibu Ega, Esky, Sefi, Pak Darmawan Babak I Suasana kantin ibu Ega nampa sepi. Ega dan Ibunya asyik berbincang-bincang sambil membersihkan warungnya. Tiba-tiba Ibu Ega ada perlu. Ibu : “Nak… jjaga warung dulu sebentar ya…!” Ega : “Lho, … Ibu mau ke mana ? Sebentar lagi kan banyak langganan kita akan datang.”

7 - 26 Unit 7

Ibu : “Ibu ada urusan dengan Pamanmu, tak lama, paling lama hanya setengah jam! “ Ega : “ Iya dech…. Bu!” Pada saat itu suasana tampak sunyi dan sepi, tak seperti biasanya hanya terlihat seorang gadis yang duduk di kantin. Tak lama kemudian seorang anak datang menghampiri. : “Selamat pagi Ega (mengagetkan Ega) Dita : (Dengan rasa gkaget menyapa Dita) “Eh…. Kamu Dit, pagi-pagi Ega sudah ngagetin aku…. Nggak ada kerjaan lagi apa?” : “Habis gue senang banget hari ini.” Dita : “Kalau gitu bagi-bagi dong senangnya.” Ega Tiba-tiba Ibu Ega muncul datang menghampiri Ega dan Dita yang lagi asyik ngobrol. : “Eh …. Nak…. Dita sudah lama yach datanganya?” Ibu : “Tidak Bu… baru saja!” Dita : “Bu! Aku sudah mau ke sekolah .” Ega : “Iya… hati-hati yah Nak dan jangan lupa belajar sungguh-sungguh Ibu dan rajin di sekolah .” Babak II Ega dan Dita meninggalkan kantin dan menuju ke sekolah yang tidak jauh dari rumahnya sambil ngobrol tentang temannya yang jatuh kemarin di depan kelas V SD. …………………………………………………………………………………. Bagaimana? Apakah sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Saya yakin sudah karena Anda adalah pebelajar yang tangguh dan kreatif. Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 2 ini cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Sastra anak terdiri atas puisi, prosa, dan drama. Khusus puisi dan prosa terbagi lagi atas beberapa ragam. Jelaskan perbedaan jenis sastra anak tersebut! 2. Kalau Anda mengajarkan cerita di Sekolah Dasar, cerita yang bagaimana ciri-cirinya yang Anda berikan kepada Anak untuk dipelajari atau diapresiasi? Jelaskan!

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

27

3. Dapatkah Anda menjelaskan ciri-ciri drama yang dapat dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran drama di SD? 4. Kedua puisi berikut, manakah menurut Anda yang memenuhi ciri-ciri sastra anak-anak atau cocok dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran puisi di SD? Tentukan dan Jelaskan !

LAYANG-LAYANG MILIKKU S. Sukirnanto Layang-layang milikku, kumanjakan kau Membumbung di langit biru Di alam raya bersama burung-burung yang bebas Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang angkuh? Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi Sebab jarak antara kita akan semakin jauh Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib Layang-layang milikkku, kumanjakan kau Membumbung di langit biru Sampaikan salam: hidup teguh di sini Nyanyian bumi dalam ujud puisi LAYANG-LAYANG KESAYANGANKU Haksan Layang-layang kesayanganku Bagian atasnya hijau Bagian tengahnya kuning Bagian bawahnya putih Ekornya berwarna merah Angkah indah kupandang Pada hari Sabtu Sesudah salat ashar Saya dan kawan-kawanku Pergi bermain laying-layang Di tanah lapang

7 - 28 Unit 7

Rambu-rambu pengerjaan latihan. 1. Sebelum Anda menjawab bagian nomor pertama, baca secara saksama materi yang mengupas jenis sastra anak. 2. Untuk mengerjakan latihan nomor dua Anda perlu mengingat unsurunsur yang membangun terwujudnya cerita dan dikaitkan dengan eksistensi anak sebagai makhluk individu dan sosial dan ketergantungannya pada lingkungan tertentu. 3. Untuk menjawab latihan nomor 3, Anda perlu mengingat secara cermat unsur yang membangun suatu karya drama secara menyeluruh lalu memberikan jawaban secara sistematik 4. Untuk menjawab latihan nomor empat, perlu Anda memperhatikan sarana penyampaian gagasan, makna inti yang dikemukakan, individualitas dan sosialitas peserta didik dan keberadaannya pada tempat tertentu.

Rangkuman
Bentuk karya sastra yang dijadikan bahan ajar di SD hendaknya memenuhi ciri-ciri sastra anak-anak yang meliputi puisi, prosa, dan drama. Puisi anak-anak memiliki ciri-ciri :bahasanya dapat dipahami anak, pesan yan dikandungnya dapat dimengerti, memiliki irama dan keindahan , isinya sesuai dengan tingkat perkembangan anak Cerita anak-anak memiliki ciri: latarnya dikenal anak, alurnya berbentuk maju dan tunggal, penokohannya dari kalangan anak dengan jumlah sekitar 3-4 orang, temanya tentang kehidupan sehari-hari, petualangan, olahraga, dan keluarga. Drama ana-anak memiliki ciri-ciri yang relatif sama dengan prosa yang berbeda dari segi dalog yang relatif sederhana dan adegan yang tidak panjang. Sastra anak-anak terdiri atas: (1) puisi merupakan pengungkapan gagasan dan perasaan dalam bentuk rangkaian bait, (2) prosa merupakan pemaparan pemikiran dan perasaan melalui bentuk paragraf demi paragraf, (3) drama merupakan pengemukaan gagasan dan perasan melalui bentuk dialog antara berbagai tokoh.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

29

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! ................................................... Saat angin semilir berembus, Pogi pergi berburu di hutan belantara yang pepohonannya lebat dan rindang. Di hutan ia bertemu dengan seorang pengembara dengan pakaian yang lusu dan kumal sedang membawa 3 pundi-pundi yang sarat dengan isi . ……………………………….. 1. Penggalan cerita di atas tidak sesuai dengan ciri cerita anak-anak, khususnya dari segi: A. Plot B. Bahasa C. Pesan D. alur 2. .............. Kartini, kau bagaikan bintang kejora Kau menyinari langit kelabu udara beku Cahaya juangmu membimbing bangsa Melangkah maju Meski jauh jalan berliku penuh sandungan ........................................ Puisi di atas tidak cocok dijadikan bahan pembelajaran di SD karena tidak sesuai ciri puisi anak-anak dari segi.... A. Keterbacaan bahasa B. Keterbacaan isi C. Kesesuaian lingkungan D. Bagian a dan b 3. ........................... Adikku yang kusayangi Aku menjagamu tiap hari Kumandikan kau tiap pagi Adikku, tidurlah sayang Hari sudah larut malam

7 - 30 Unit 7

Besok kita main lagi ................................... Puisi yang berjudul “Adikku” cocok dijadikan bahan dalam pembelajaran apresiasi sastra di SD karena memenuhi ciri-ciri puisi anak-anak, khususnya dari segi....... A. Keterbacaan bahasa B. Keterbacaan isi C. Kesesuaian perkembangan usia D. Bagian a, b, dan c 4. “Cerita itu mengarahkan anak pada petualangan, mengajari anak patuh pada orang tua, benci pada ketidakjujuran.” Pernyataan tersebut menunjukkan ciri yang berkaitan dengan.. A. latar B. alur C. tema D. penokohan 5. “Kata-kata puisi dapat dipahami anak, tidak menggunakan kosa kata yang bermakna kias dan konotatif, susunan kalimatnya sederhana” pernyataan tersebut menggambarkan ciri...... A. keterbacaan bahasa B. kterbacaan pesan C. Kesesuaian perkembangan usia D. kesesuaian lingkungan 6. Cerita yang bertemakan kehidupan keluarga yang dilukiskan secara realistis, dan cerita petualangan digemari oleh anak .... A. Usia 6- 9 tahun B. Usia 8 – 10 tahu C. Usia 9 – 11 tahun D. Usia 10 - 12 tahun 7. ........................... Simin hanya tersenyum. “Min, katanya penyebab sakitmu itu karena lewat pohon angker itu?” tanya Mamat. “Ya, ibuku juga bilang begitu, tapi aku tak percaya,” jawab Simin. “Huss, jangan ngomong gitu Min, kalau penunggu pohon itu mendengar nanti marah lho,” kata Mamat dengan pelan. ....................

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

31

Penggalan karya sastra di atas adalah contoh... A. Prosa fiksi imajinatif B. prosa fiksi realistis C. prosa fiksi sains D. prosa fiksi sosial 8. Cerita yang bertemakan tentang petualangan, olahraga, dan teknik lebih digemari oleh anak.... A. Anak laki-laki usia 10 – 12 tahun B. Anak laki-laku usia 7 – 9 tahun C. Anak laki-laki usia 6- 8 tahun D. Anak laki-laki usia 9 – 11 tahun 9. Anda mengajarkan puisi di SD tentang perlunya hormat pada guru dan patuh pada orang tua, maka ciri yang digunakan adalah… A. kesesuaian perkembangan usia B. keterbacaan isi C. keterbacaan bahasa D. kesesuaian lingkungan 10. .................................... Susan : “Kak, ada buku pelajaran IPA?” Penjual : “Ada, Nak! Buku apa lagi yang kamu cari?” Susan : “Bahasa Indonesia kelas IV SD1 terbitan Erlangga” Penjual : “Oh, maaf baru-baru habis, kalau terbitan Balai Pustaka ada!” .................. Penggalan karya sastra di atas adalah contoh... A. puisi B. esai C. drama D. prosa

7 - 32 Unit 7

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Sudah dikerjakan semua soal di atas dengan baik, bukan? Bagus Sekali!. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 2 yang terdapat pada bagian akhir Unit 2 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat atas kesuksesannya! Jika Anda sukses, Anda dapat terus mempelajari unit VIII berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, ulangi lagi membaca uraian subunit 2 ini dengan sungguh-sungguh secermat-cermatnya, utamanya bagian yang belum dikuasai. Insya Allah Anda akan sukses.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

33

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1. C 2. D Secara etimologi apresiasi berarti menilai Tingkatan apresiasi tidak ada yang berkaitan dengan mengomentari, yang ada hanya mereaksi, menikmati, dan menggemari Bila seseorang menunjukkan kegiatan bermakna tentang isi cerita yang dibaca berarti berkaitan dengan pemahaman. Memasukkan secara berulang-ulang di majalah dinding sekolah berarti telah berada pada tingkatan menghasilkan Jika mampu menunjukkan nilai keindahan puisi, prosa, drama berati berkaitan dengan penguasaan aspek emotif Jika anak mampu menunjukan nilai keindahan puisi dan prosa berkaitan tingkatan menikati. Apresiasi sastra secara langsung dapat meningkatkan wawasan kemanusiaan, mengembangkan imajinasi, dan secara tak langsung meningkatkan kesadaran berbahasa Berkaitan dengan kemampuan dan ketelitian terhadap /pemahaman isi karya sastra Sesorang yang mampu menunjukkan berbagai suasana hati seperti marah, sedih berarti memiliki kemampuan berkaitan dengan aspek emotif Jika siswa mampu memahami isi suatu karya yang diiringi dengan pemahaman mendalam berkaitan dengan tingkatan penghayatan.

3. B 4. B 5. B 6. D 7. A

8. A 9. B

10. D

Tes Formatif 2
1. B 2. B 3. D Segi dapat tidaknya memahami isi bacaan karena ada beberapa kata yang tidak dimengerti oleh siswa, misalnya semilir, dsb. Keterbacaan isi karena puisi tersebut kurang cocok untuk anak usia SD Puisi di atas cocok untuk anak SD karena menemui aspek bahasa dan isi dan keseuaian lingkungan Jadi agian D

7 - 34 Unit 7

4. C 11. A 12. D 13. B 14. C 15. B 10.C

Puisi yang berkaitan dengan masalah petualangan dan patuh pada orang tua adalah berhubungan dengan tema Puisi yang yang di dalamnya tidak ada kata-kata yang bersifat konotatif dan kias adalah berkaitan dengan aspek bahasa. Pada usia 9 – 12 anak lebih menyenangi cerita realistik dan petualangan Cerita tersebut bisa saja terjadi dalamkehidupa keseharian anak, berarti termasuk fiksi realistik. Anak laki-laki usia 6 -8 cenderung menguasai cerita bertema petualangan Berkaitan dengan keterbacaan isi karena menyangkut sikap hormat pada guru atau orang tua Bentuk karya sastra tersebut menggunakan cara dialog yang dilakonkan berarti karya sastra drama.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

35

Glosarium

apresiasi sastra puisi prosa drama plot amanat latar tema makna konotatif makna kias adegan

: penilaian atau penghargaan terhadap sesuatu : suatu karya yang mengandung nilai keindahan dan nilai kegunaan : karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait : karya sastra yang bentuk rangkaian paragraf dalam mengungkapkan gagasan atau perasaan kepada orang lain : karya sastra yang menggunkan dialog antar pelaku dalam menyampaikan gagasan atau perasaan kepada orang lain. : rangkain peristiwa demi peristiwa yang saling berhubungan dalam suatu cerita hal-hal yang baik untuk dilakukan atau hal yang negatif untuk tidak dilaksanakan :
yan terdapat dalam karya sastra

: : : : : :

segenap lingkungan sekeliling dan lalar belakang suatu cerita seperti waktu, tempat, dan suasana kejadian gagasan pokok yang melndasi cerita mulai awal hingga akhir

licentia Poetica

makna yang berkaitan dengan nilai rasa (negatif-positif) sehingga pengertian bersifat ketaksaan-subjektif makna yang muncul sebagai pengembangan dari makna dasar seperti kata kursi yang bermakna ’jabatan’ bagian dari suatu babak dan merupakan situasi tunggal di dalam drama Kebebasan penyair untuk memilih kata untuk menciptakan keindahan dalam karya sastra

7 - 36 Unit 7

Daftar Pustaka

Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo Cullinan, Bernice. 1989. Literature and The Child. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Effendi. 1989. Bimbingan Apresasi Puisi. Bandung: Tangga Mustika Rizanur, Gani. 1980: Pengajaran Sastra Indonesia, Respon dan Analisis. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Hasyim. 1981. Pengajaran Sastra . Jakarta: Depdikbud Huch, C. S. 1987. Children Literature in Elementary School. New York: Hol Renehart Kastam, S. dkk. 2004. Aku Mampu Berbahasa Indonesia. Surabaya: Penerbit SIC Kompas 17 Desember 2005. Buku Baru. http://www.kompas.com. Diakses 8 Maret 2007. Pramuki. Esti .2000. Apresiasi Karya sastra Anak-Anak secara Reseptif. Jakarta: Dikti Depdikbud Sarumpaet. Riris K. Toha. 1976. Bacaan Sastra Anak-anak. Jakarta: Pustaka Jaya Situmorang..B.P. 1980. Sistem Pengajaran Puisi. Flores: Nusa Endeh Sutawijaya. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Depdikbu Solchan dkk. 1994. Kecenderungan Perkembangan Sastra Anak-anak. Dalam Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Penerapannya. Thn 22. No. 2. Juli hal. 224-231
Kajian Bahasa Indonesia di SD 7-

37

Sugiastuti. 2002, Teori dan Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Wardani. 1980. Pengajaran Sastra. Jakarta: Depdikbud

7 - 38 Unit 7

Unit

8

APRESIASI SASTRA ANAK-ANAK SECARA RESEPTIF DAN PRODUKTIF

Abd. Halik

A

presiasi sastra anak-anak secara reseprif dan produktif ini merupakan unit VIII dari mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD. Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Apresiasi sastra anak-anak secara reseptif dan (2) apresiasi sastra anak-anak secara produktif. Dengan memahami materi ini, diharapkan Anda mampu menjelaskan apresiasi sastra anak-anak secara reseptif, melalui pengkajian dan penerapan pendekatan emotif, didaktis, analitis, dan parafrastis terhadap karya sastra anak-anak Dengan demikian, secara lebih khusus setelah mempelajari unit ini diharapkan Anda dapat: 1. Menjelaskan perbedaan pendekatan emotif, didakatis, analitis, dan paraftastis dalam hubungannya dengan apresiasi sastra anak-anak. 2. Menerapkan pendekatan emotif, didaktis, analitis dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara reseptif. 3. Menerapkan pendekatan analitis dan parafrastis dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara produktif. Materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kompetensi yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing murid SD secara edukatif sehingga dia semakin mahir mengapresiasi sastra anak-anak, baik secara reseptif maupun secara produktif. Selain itu, Anda akan semakin luas wawasannya tentang nilai-nilai pengalaman kemanusiannya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadap bahasa Indonesia, khususnya terhadap sastra anak-anak.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

1

Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-berkelanjutan. Pelajari setiap bagian secara cermat dan seksama. Mulailah dengan membaca konsep, uraian, dan contohcontoh yang terdapat di dalamnya. Untuk menambah pemahaman dan wawasan Anda, pelengkap materi unit ini juga terdapat di internet, yaitu berupa video. Bukalah internet. Masih ingat kan, caranya? Jangan lupa mengerjakan latihan/tugas. Setiap latihan/tugas disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Rambu-rambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Bila Anda mendapat kesulitan dalam memahami kata atau istilah yang terdapat pada unit ini, lihatlah glosarium dalam unit ini atau manfaatkanlah Kamus Sastra atau Kamus Besar Bahasa Indonesia Setelah melakukan kegiatan secara bertahap-berkelanjutan seperti disebutkan di atas, dan merasa telah menguasai materi unit ini, sekarang kerjakan soal-soal tes formatif. Setelah itu, cocokkan jawaban tes formatif Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini sehingga dapat mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contohcontoh, dan rangkuman yang ada. Selamat berlatih mengapresiasi sastra anak-anak! Semoga Anda semakin mahir dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara reseptif-produktif!

8 - 2 Unit 8

Subunit 1 Apresiasi Sastra Anak-Anak Secara Reseptif

S

audara, pengertian apresiasi sastra anak-anak telah Anda pahami dengan baik, bukan! Sekarang, bagaimana mengapresiasi sastra anak-anak secara reseptif ? Pemahaman dan penguasaan tentang hal tersebut sangat fungsional dan menujang pelaksanaan tugas dan tangung jawab Anda dalam menyukseskan amanat amanah Kurikulum yang berkaitan dengan apresiasi sastra. Tentu kita sepaham bahwa kualitas apresiasi sastra anak didik di SD antara lain ditentukan oleh taraf pemahaman dan pengalaman apresiasi sastra yang Anda miliki sebagai guru kelas. Oleh karena itu, perlu Anda kaji dan berlatih tentang berbagai pende-katan yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara reseptif. Untuk memperoleh pemahaman dan pengalaman bermakna tentang berbagai pendekatan tersebut, silakan baca dengan sungguh-sungguh uraian berikut.

Pendekatan Emotif
Sebelum kita bahas pengertian pendekatan emotif, perlu kita mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah Anda merasa senang pada saat membaca puisi atau membaca karya sastra lainnya? Kalau ya, bagaimana bentuk keindahan yang Anda rasakan itu? Tentu kita berharap bahwa Anda merasa senang saat membaca atau mendengarkan pembacaan puisi/karya sastra lainnya sekaligus dapat mengungkapkan bentuk kidahan yang dirasakan. Apa yang melatarbelakangi lahirnya pendekatan emotif? Tidak lain karena karya sastra adalah salah satu bagian dari karya seni yang sarat berbagai nilai-nilai estetis. Nilai estetis tersebut diharapkan dapat dinikmati oleh masyarakat luas termasuk murid SD dalam berbagai media cetak dan elektronik agar mereka dapat memperoleh hiburan yang mendidik. Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk mampu menemukan dan menikmati nilai keindahan (estetis) dalam suatu karya sastra tertentu, baik dari segi bentuk maupun dari segi isi. Kaitannya dengan pendekatan emotif, Aminuddin (2004:42) mengemukakan bahwa:

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

3

“Pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Ajukan emosi itu berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan dengan isi atau gagasan yang lucu atau menarik” Sebagai contoh penerapan pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra ank secara reseptif, kita perhatikan puisi berikut. Dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu Biar susah sungguh Mengingat kau penu seluruh ........................................... Jika kita cermati dan resapi larik demi larik puisi di atas akan terasa nilai keindahan bentuknya, kususnya dari segi persamaan bunyi akhirnya. Selanjutnya, kita cermati keindahan penggalan puisi W.S. Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lison berikut. ........................................... Delapan juta kanak-kanak menghadapi suatu jalan panjang. tanpa pilihan tanpa pepohonan. tanpa dangau persinggahan tanpa ada bayangan ujungnya. ............................................. Penggalan puisi Rendara di atas dapat membersitkan keindahan irama (nada, tempo, tekanan), keindahan diksi, gaya bahasa repetisi, dan keindahan pengungkapan rasa iba-pilu melihat derita 8 juta kanak-kanak Indonesia yang tak diketahui kapan berakhir. Contoh ketiga, kita ambil larik terakhir puisi Chairil Anwar yang berbunyi “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Keindahan yang dapat kita rasakan adalah keindahan isi yang dikandungnya. Larik tersebut bukan mendorong kita untuk mau hidup dengan gaya egoisme-materialisme selama 1 abad melainkan mendorong kita untuk hidup dengan semangat idealisme yang

8 - 4 Unit 8

tinggi; kita harus memiliki ide-ide yang tidak cukup 100 –200-300 tahun untuk merampungkannya melainkan 1000 tahun lamanya, alangkah akbar dan tingginya ide itu! Anda sudah pahami materi di atas, bukan? Kalau sudah, baca puisi berikut lalu kemukakan nilai keindahan (emotif) yang Anda rasakan sebagai latihhan untuk mempermantap pemahaman Anda tentang penerapan pendekatan emotif. DESAKU Hagu Sebuah nama selalu merdu Di telingaku Di relung qalbuku Setiap waktu Alammu Nyiurmu Pantaimu Memanggil daku selalu Agar selamanya dekat di sisimu Di pagi dan siang Kuayun kaki menuntut ilmu Bersama teman-temanku lewat jalan berliku Dinaungi pepohonan rindang Karena itu kubertekad Akan selalu memeliharamu Akan selalu menjagamu Akan selalu melindungi Selama nafas dalam jasad (Pedoman Rakyat, 2002 oleh Nurfikri) Rambu-rambu pengerjaan latihan Untuk megerjakan latihan ini, Andu perlu membaca bait demi bait secara berulang-ulang sambil meresapi dan membuka mata hati terhadap nilai

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

5

keindahan yang berkaitan keindaan bentuk (rima, irama, diksi) dan pengungkapan makna yang dikandungnya.

Pendekatan Didaktis
Mengapa ada pendekatan didaktis?” Pertanyaan itu mungkin muncul dalam hati Anda, bukan! Pendekatan tersebut ada karena mutu karya sastra antara lain ditentukan oleh ada tidaknya nilai kemanfaatan didaktis yang terkandung di dalamnya. Semakin banyak mengandung nilai kemanfaatan didaktis-humanistik semakin tinggi pula mutu karya sastra itu . Pendekatan didaktis mengantar pembaca untuk memperoleh berbagai amanat, petuah, nasihat atau pandangan keagamaan yang sarat dengan nilainilai yang dapat memperkaya kehidupan rohaniah pembaca. Aminuddin (2004:47) mengemukakan bahwa: “Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukaan dan memahami gagasan, tanggapan, evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.” Sebagai contoh penerapan pendekatan didaktis dalam mengapresiasi sastra anak-anak di sekolah Dasar kita perhatikan dan baca penggalan bait puisi berikut secara saksama. .................. Pada hari Sabtu sore Sesudah salat bersama ayah, ibu, nenek Saya dan kawan-kawanku Pergi main layang-layang Di tanah lapang Nasihat apa yang dapat diperoleh setelah membaca puisi di atas? Paling kurang ada tujuh macam: (1) sebagai anak sekolah hendaknya bermain-main pada pada Sabtu sore bukan Rabu sore, supaya semua PR dapat terselesaikan dengan baik, (2) hendaknya pergi bermain sesudah salat ashar, (3) kalau shalat diupayakan berjamaah dengan seisi rumah, (4) kalau pergi bermain jangan sendiri tetapi bersama kawan-kawan agar lebih asyik dan jika mengalami

8 - 6 Unit 8

kecelakaan ada yang menolong, (5) biasakan hidup kebersamaan jangan biasakan hidup jalan sendiri (egois), (6) sebagai anak-anak perlu bermain jangan hanya belajar supaya perkembangan jiwanya normal, dan (7) jika bermain layangan kiranya di tanah lapang, bukan di jalan raya, berbahaya. Latihan. Bacalah puisi berikut lalu kemukakan minimal dalamnya! KAKEKKU
Carollah Indah C.

5 pesan yang terkandung di

Kakekku Aku sayang padamu Aku suka dongengmu Aku senangi penampilanmu Aku bangga kepribadianmu Tapi itu dulu Kini tak kudengar lagi Semua dongengmu Tawa candamu Kini yang kulihat Hanya batu nisan yang kokoh Sekokoh dirimu Ya Allah, ya Rabbi Ampunilah dosa kakekku Balaslah amal ibadahnya Dengan surgamu-Mu Rambu-rampu pengerjaan latihan Untuk mengarjakan latihan ini, Anda perlu membaca puisi itu secara berulang-ulang lalu mencermati bait demi bait, larik demi larik lalu memaknainya sesuai esensi yang dikandungnya. Jangan lupa mengaitkan dengan nilai etis, agamis, sosial, budaya, dan sebagainya bila dianggap belum sempurna.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

7

Pendekatan Analitis
Salah satu pendekatan yang perlu Anda pahami supaya dalam mengapresiasi sastra anak semakin baik dan komprehensif adalah Pendekatan Analitis. Pendekatan ini membimbing Anda untuk memahami secara lebih lengkap dibanding pendekatan emotif dan didaktis. Aminuddin (2004:44) mengungkapkan bahwa: “Pendekatan analitis merupakan pendekatan yang berupaya membantu pembaca memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan, sikap pengarang, unsur instrinsik dan hubungan antara elemen itu sehingga dapat membentuk keselarasan dan kesatuan dalam rangka terbentuknya totalitas bentuk dan maknanya. Namun demikian, penerapan pendekatan analitis dalam pembelajaran sastra di SD tidaklah berarti harus selengkap seperti yang dipaparkan di atas. Telah memadai, jika telah dapat mengungkapkan unsur-unsur yang membangun karya sastra yang dibaca, dan dapat menujukkan hubungan antarunsur yang saling mendukung/saling bertentangan, serta mampu memaparkan pesan-pesan yang dapat memperkaya pengalaman rokhaniah. Yang mana unsur-unsur yang membangun karya sastra prosa tersebut dan bagaiaman esensi unsur tersebut? Aminuddin (2004) mengemukakan bahwa unsur dalam prosa atau cerita fiksi adalah tema, latar, alur, penokohan, dan titik pandang, dan gaya. Keenam unsur itulah yang dimanfaatkan oleh pengarang untuk membangun suatu cerita yang menyenangkan dan bermakna. 1. Tema cerita Sebagai langkah awal yang harus ditempuh oleh pengarang dalam mencipta-kan sebuah karya sastra prosa adalah menentukan tema. Hal ini karena tema oleh Sumardjo (1984:57) adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita”. Tentu saja pokok pembicaraan artau ide tersebut melandasi lahirnya karya sastra mulai dari awal sampai akhir. Apabila kita memperhatikan dengan cermat, dalam sebuah karya sastra prosa, maka akan nampak pada kita dengan jelas bahwa tema tersebut akan terasa dan mewarnai karya sastra tersebut dari halaman awal hingga akhir. Dengan demikian, tema cerita dapat dikatakan bahwa tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita

8 - 8 Unit 8

dan sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dalam karyanya. 2. Alur Cerita (plot) Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan plot atau alur cerita. Untuk memperoleh jawaban pertanyaan tersebut , mari kita cermati berbagai definisi plot yang dipaparkan Tirtawirya (1995:79) dalam bukunya Apresiasi Puisi dan Prosa sebagai berikut. Rene Wellek mengatakan bahwa plot adalah struktur penceritaan. Sedangkan Hudson mengatakan bahwa plot adalah rangkaian kejadian dan perbuatan, rangkaian hal-hal yang diderita oleh pelaku-pelaku sepanjang roman/nover berasangkutan. Dan akhirnya Oemarjati mengambil kesimpulan bahwa plot adalah struktur penyusunan kejadian-kejadian dalam cerita tapi disusun secara logis.” Berdasarkan kutipan tersebut dapatlah kita menyatakan bahwa plot merupakan cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara berentetan dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga membentuk suatu kesatuan cerita yang yang utuh dan padu. Artinya peristiwa terdahulu menjadi sebab munculnya peristiwa kemudian dan peristiwa yang muncul kemudian merupakan akibat peristiwa terdahulu Plot dilihat dari segi sifatnya terbagi atas plot rapat dan plot longgar. Plot rapat adalah plot yang seluruh peristiwa yang ditampilkan setiap pelaku hanya berpusat pada satu alur, misalnya. Sedang plot longgar adalah plot yang setiap pelakunya mempunyai alur peristiwa tersendiri; di dalamnya ada beberapa alur cerita seperti dalam Kisah Mahabrata. Dilihat dari segi bentuknya, plot terdiri atas beberapa macam seperti plot/alur maju, mundur dan alur maju mundur. Alur mundur (flashback) yang dimulai menceritakan peristiwa bagian akhir lalu kembali menceritakan bagian awal dan bagian tengah tenagah. sedangkan alur maju (kronologis) adalah alur cerita yang menceritakan peristiwa berdasarkan urutan waktu kejadiannya dari awal, tengah, lalu menuju ke bagian akhir kejadian cerita. Adapun alur campuran atau maju mundur adalah alur yang menceritakan sesuatu ketika berada pada kejadian, di tengah cerita kembali lagi menceritakan peristiwa pada awal cerita, misalnya saat sekolah di SMU dia bercerita ketika di masih di SD kelas 4.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

9

Plot atau rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita menurut Aminuddin (2004) bahwa alur cerita dapat dikelompokkan atas lima tahapan: (1) eksposis pengenalan masalah dengan memperkenalkan konflik pada bagi-an awal cerita., (2) komplikasi, yakni pelaku menghadapi masalah tertentu yang berupaya untuk dipecahkan pada bagian tengah cerita, (3) klimaks, yakni konfliks memuncak yang diharapkan dapat terselesaikan pada menjelang bagian-bagian akhir cerita , (4) denoument masalah yang terdapat pada bagian akhir cerita. . 3. Penokohan (character) Penokohan merupakan pelaku yang dapat berbentuk manusia atau binatang yang terlibat dalam rangkaian peristiwa cerita. Pelaku dan sifatsifatnya merupakan unsur yang penting karena merupakan ciri utama sebuah cerita dan pengalaman penulis dikreasikan kepada pembaca terpusat pada pelaku dan sifatnya. Pengarang mengembangkan karakter dalam cerita melalui keadaan pelaku, (penampilan), prilaku yang ditampilkan (lakuan), dari apa yang diucapkan (dialog), dari apa yang dipikirkan (monolog). Secara umum, pelaku dapat dikelompokkan atas pelaku utama dan pelaku tambahan. Pelaku utama adalah pelaku yang paling menonjol perannya, terlibat secara penuh dari awal hingga akhir peristiwa dalam cerita. Sedang pelaku tambahan adalah pelaku yang hanya muncul pada peristiwa tertentu. Di samping itu, ada cerita tertentu yang mempunyai tiga macam pelaku, yakni (a) pelaku protogonis yakni pelaku menampilkan berbagai sifat yang baik misalnya, bijaksana, penolong, dermawan, pemaaf dan sebagainya, (b) pelaku antagonis yakni pelaku yang aktif dalam beberapa peristiwa dengan menampilkan sifat-sifat yang berlawanan dengan sifat pelaku utama atau sifat jahat, misalnya misalnya: licik, khianat, bohong, serakah, dan sebagainya, (c) pelaku tritogonis adalah pelaku yang berfungsi melerai perseteruan antara pelaku antagonis dan pelaku protogonis. Kaitannya dengan penetuan nama pelaku, Liothe (1991) berpendapat bahwa memilih dan menentukan nama pelaku sangatlah penting terutama untuk memberikan gambaran yang hidup tentang tokoh cerita. Dengan demikian, memilih nama pelaku hendaknya selaras dengan watak tokoh, corak cerita, keadaan zaman, dan lokasinya.

8 - 10 Unit 8

4. Latar Cerita (setting) Setiap peristiwa atau perbuatan selalu berlangsung pada waktu, dan tempat tertentu. Waktu dan tempat berlangsungnya peristiwa disebut latar, baik berupa latar fisik maupun berupa latar sosial. Penggambaran latar yang rinci dalam narasi dapat membantu penyusunan alur, memperjelas pelaku narasi, dan memudahkan pembaca menangkap amanat atau pesan yang disampaikan oleh penulisnya. Namun demikian, kadangkala ada cerita yang tidak dapat diketahui secara jelas waktu kejadiannya tetapi latar fisik dan latar sosial masayarakat tempat terjadinya peristiwa dapat diketahui dengan jelas. Latar cerita tidak hanya berkaitan dengan tempat kejadian perisitwa tetapi juga dengan waktu dan suasana saat peristiwa yang terjadi peristiwa tersebut. Waktu terjadinya peritiwa dapat dibagi atas: siang-malam (time of day), priode waktu sekarang, yang akan datang, atau waktu yang telah lalu (time of period). Penentuan latar waktu yang tepat akan mendukung gambaran suasana cerita yang menarik. Misalnya suasana cerita yang menakutkan (horor) akan lebih tepat memilih waktu malam “Jumat Kliwon”. Lain halnya untuk jenis cerita fantasi biasanya merujuk pada latar waktu lampau sehingga digunakan “pada zaman duhulu”. 5. Sudut Pandang (point of View) Cara penulis menyajikan peristiwa dalam cerita banyak ditentukan oleh sudut pandang yang digunakan. Sudut pandang adalah posisi penulis dalam cerita yang ditulisnya. Secara garis besar ada dua sudut pandang yang digunakan dalam menulis cerita (a) sudut pandang orang pertama atau gaya saya (aku atau kami) dan (b) sudut pandang orang ketiga atau gaya dia ( manusia atau binatang). Sudut pandang gaya saya atau aku, penulis melibatkan dirinya dalam peristiwa yang disampaikan baik sebagai pelaku utama maupun sebagai pelaku tambahan. Adapun sudut pandang gaya dia, penulis menghadirkan orang lain atau nama lain sebagai pelaku untuk menggambarkan idenya atau gagasannya . Pada umumnya cerita menggunakan gaya dia dibandingkan dengan cerita yang bergaya aku. Hal ini gaya aku cenderung menggurui pembaca dan kelihatan lebih tahu segala-galanya. Sedangkan gaya dia relatif dipandang wajar sebagai suatu peristiwa yang menyenangkan, mendidik , dan memberi makna yang menarik.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

11

6. Gaya Pengungkapan Gaya merupakan teknik pengarang menyampakain gagasanya lewat cerita dengan untaian kalimat atau kata- kata yang khas. Pengungkapan tersebut dengan jelas tercermin pada pengolahan persoalan yang ditampilkan, tema yang dicairkan dalam cerita. Gaya tersebut relatif tidak ditemukan pada pengarangan yang lain. Berbicara tentang gaya pengarang dalam bercerita, ada yang bersifat lemah lembut, kata-kata yang indah, rangkaian kalimat yang penuh cinta kasih. Sebaliknya, ada pula yang bergaya keras, pemberontakan terhadap hal yang telah ada, ingin melihat perubahan sesuatu secara cepat atau secara revolusioner. Di samping itu, ada pula yang bergaya moderat, tidak terlalu lembut dan tidak terlalu keras dalam menyampaikan gagasannya. Intinya gaya merupakan teknik penyampaian gagasan pengarang tertentu dalam bercerita sebagai karakteristik tersendiri bagi dirinya yang tidak ditemukan pada pengarang yang lain. KESABARAN PUN ADA BATASNYA Anak anak kelas enam SD Utama Karya sempat terheran-heran melihat sikap Dedet sejak hari pertama masuk, ia sudah dikerjain oleh Danang yang terkenal berandalnya. Pertama tas Dedet disembunyikan Bondan dan Agil, komplotan Si Danang, tapi Dedet tak marah. Kemarin pun ketika bajunya dikotori oleh Danang, ia malahan tersenyum. Ah cuma noda lumpur, masih bisa dibersihkan!” Demikian katanya kepada teman mereka saat itu. Tanpaknya kesabaran Dedet justeru membuat penasaran dan panas hati Danang serta komplotannya .Sebaliknya, teman-teman yang lain semakin simpati pada Dedet karena dia juga suka membantu temannya. Oleh karena itu, mereka menasihati Dedet agar hati-hati menghadapi Danang serta komplotannya yang tidak bosan mengganggu teman-temannya, maka ketika melihat Dedet menjadi penghuni baru kelas 6, sasarannya beralih kepadanya.. “Wah, sialan. Ini pasti ulah si anak baru itu1” Kata Danang suatu ha ri setelah menghadap Bu Dita untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya atas perlakuannya terhadap Dedet “Benar, dia pasti telah meng-adukannya kepada Bu Dita!” sambung Bondan.

8 - 12 Unit 8

“Anak itu harus diberi pelajaran, biar dia tahu sia kita,”kata Agil menambah. “Teng...teng...!” lonceng tanda pulang telah berbunyi, anak-anak pun bersorak kegirangan. Mereka segera berhamburan dari kelas masing-masing setelah memberi penghormatan kepada guru. Danang dan komplotannya pun tak ketinggalan, mereka segera melesat meninggalkan temannya. Kelihatannya ada suatu yang akan dilakukan oleh mereka. Di tengah jalan, Dedet yang diwarnai canda ria bersama temannya saat itu mendadak berhenti. Tiba-tiba Danang dan komplotannya sudah ada di depan Dedet. “Hei pengecut!” Kau mengadu kepada Bu Dita, ya?” kata Agil sambil menarik kerah baju Dedet de-ngan keras. “Dasar banci! Berani-berani-nya kamu mengadukan kami ke Bu Dita, ha!” Danang menimpali. “Mengadu apa? Aku tak katakan apa-apa pada Bu Dita, sungguh!” kata Dedet meyakinkan Danang dan komplotannya. Dan memang Dedet tak mengadukan apa pun ke Bu Dita. Mungkin temannya yang telah mengadukannya. Mungkin saja temannya tak tega melihat Dedet terus dipermainkan oleh Danang dan komplotannya. “Alasan!” Baru kali ini ada orang yang berani kepada kami. Ayo teman segera kita beresin!” kata Agil sambil menendang tubuh Dedet. Dedet terhunyung-hunyung ke belakang. Baru saja akan berdiri tegak Dedet menerima lagi sebuah tendang dari Danang yang bersarang di perutnya. Dedet menjadi limbung lalu tersungkur jatuh. “Anak-anak yang melihat kejadian itu hanya terpaku bagai patung. Mereka tidak berani melerai, karena takut ancaman dari Danang dan komplot-annya. Sementara itu, Dedet yang tadi tersungkur kini sudah berdiri tegap. “Kesabaran seseorang ada batasnya! Kalian ini memang perlu di beri pelajaran!” Dedet berkata demikian sambil bersikap kuda-kuda. “Hei kawan! Lihat dia mau berlagak!” Seru Bondan “Udah sana pulang, cuci kaki dan tidur!” Agil menambahi. “Mungkin ia ingin pil pengantar tidur! Nih pil tidurnya!” Bondang yang sedari tadi tadi belum berperan, kini berusaha melayangkan tinjunya ke tubuh Dedet. Pukulan Bondang yang keras itu dengan mudah dapat dielakkan oleh Dedet. Sambil mengelak, Dedet sempat juga

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

13

mengirimkan tendang taekwondonya ke tubuh Bondang. Rupanya tendangn Dedet cukup keras, sampai-sampai Bondang sempoyongan dan menabrak tubuh Agil. Kedua anak tersebut terjatuh bersama-sama. Melihat temannya jatuh, Danang segera menyerang Dedet. Nasib Danang pun sama dengan Bondan dan Agil. Dia terpaksa mencium tanah yang kotor. Beberapa saat kemudian tiga anak tersebut bangun. Mereka kemudian menyerang secara bersama-sama. Dedet terpaksa bekerja keras untuk meladeni Danang dan komplotannya itu. Tak sissialah ia berlatih selama dua tahun selama ini. Danang dan kawan-kawannya kini benar-benar kena batunya. Walaupun mereka bertiga, toh mereka kewalahan juga menghadapi kelincahan Dedet yang hanya seorang diri. Semua pukulan yang mereka lancarkan dengan mudah dapat ditangkis oleh Dedet. Sebaliknya, pukulan Dedet membuat ketiga anak tersebut jatuh bangun. Dan kini mereka tak berkutik lagi. Mereka hanya bisa mengerang kesakitan dengan badan terkapar di tanah. Melihat lawannya tak berkutik lagi Dedet pun menghentikan serangannya. Setelah beberapa saat menghadapi ketiga anak yang terkapar itu, memandangi ketiga anak yang terkapar itu, Dedet lalu berjalan menghampiri mereka. Bukannya untuk memukul lagi, tetapi Dedet malah membimbing mereka satu satu untuk bangun “Maaf teman-teman, aku terpaksa melakukan ini. Sebelumnya aku tak mau melukai kalian!” kata Dedet sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ketiga-nya setelah semuanya berdiri. “Kami Det, yang seharusnya meminta maaf kepadamu” selama ini kami telah mengganggumu!” kata Danang dengan menundukkan kepalanya. “Det, mungkin hari akhir dari keberandalan kami, kini kami benar-benar sadar,” kata Bondang sambil menundukkan kepalanya. “Det, kamu mau kan memaafkan kami?” Agil berkata sambil menjabat tangan Dedet. “Tentu! Syukurlah kalian mau mengubah sikap! Eh...... sudah siang nih! Perutku sudah keroncongan.” Yo kita pulang bersama-sama.” Setelah membaca cerita “Kesabaran Ada Batasnya “ dapat dianalisis unsurnya sebai berikut.

8 - 14 Unit 8

KESABARAN PUN ADA BATASNYA (1) Tema cerita Perlu sikap berani dan sabar dalam menyadarkan orang yang nakal. (2) Latar cerita Cerita ini berlangsung di Sekolah Dasar yang berada di pinggiran kota. Seko-lah tersebut berada pada lingkungan masyarakat yang masih jauh dari kehidupan kota yang modern. (3) Plot cerita. Plot cerita ini bersifat maju dan tungal dengan rangkaian peristiwa sebagai berikut: (a) Pengenalan masalah: Dedet sebagai murid baru SD kelas VI sejak hari pertama dan kedua diganggu oleh Komplotan Bondang dkk. dengan menyembunyikan tasnya dan melempari lumpur bajunya. Namun Dedet tetap sabar atau tidak marah (b) Permasalahan: Bondan dkk dihukum oleh Bu Dita karena itu beserta komplotannya karena itu Dedet dituduh oleh Bondang dkk mengadu kepada Bu Dita. (c) Klimaks: Dedet melawan Bondan, Agil, dan Danang. Mereka dihajar oleh Dedet de-ngan tendangan taekwondo dan tinjunya hingga mereka tidak berkutik. (d) Penyelesaian masalah: Dedet memaafkan kesalahan Bondang dkk. setelah mereka meminta maaf dan akhirnya mereka dapat bersahabat dengan baik. Dilihat dari segi bentuk alurnya, cerita di atas menggunakan alur maju karena peristiwa demi peristiwa beranjak terus-menerus ke depanSedangkan dilihat dari segi sifat alurnya, cerita menggunakan alur rapat karena seluruh peristiwa yang ditampilkan pelaku berpusat pada satu alur. (4) Penokohan (a) Pelaku utama ( protogonis) dan sifatnya. Dedet dan sifatnya: penyabar, pemaaf, pengasih, senang berteman, suka menolong, pemberani, tidak sombong. (b) Pelaku antagonis dan sifat-sifatnya. Bondang, Agil, dan Danang. Ketiganya senang mengganggu teman seke-lasnya, pemarah, dan nakal. (c) Pelaku tambahan. Bu Dita, guru yang penuh perhatian kepada seluruh siswanya.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

15

(d)

Pelaku dinamis adalah Bondan bondan dan kawan-kawan karena mengalami perubahan dari sifat, dari yang kurang baik menjadi baik.

(5) Gaya Penyampaian Gaya pengarang dalam menyajikan cerita menggunakan gaya yang berimbang atau moderat. Pengarang tidak hanya menggambarkan sesuatu secara keras melalui toko Bondan dan kawan kawan, tetapi juga menggambrkna sesuatu yang dengan penuh lemah lembut melalu tokoh Dedet. Anda sudah pahami materi di atas, bukan? Kalau sudah, baca cerita berikut lalu analisis/kemukakan unsur instrinsiknya. Latihan ini bertujuan untuk mempermantap pemahaman Anda tentang penerapan pendekatan analitis dalam mengapresiasi sastra. Kartini Oh Kartini Mama kaget luar biasa ketika Ocha mengutarakan keinginannya meng-ikuti Pemilihan Putri Kartini Cilik ‘97 di Super Market terbesar di Bandung. Bukan lantaran tajkut tidak menang, tetapi lebih karena pembawa-an Ocha yang tomboy. “Kamu hanya bercanda, kan?” tanya Mama masih terkaget-kaget. “Ya, enggak dong, Ma. Ocha sudah menginginkannya dari tahun kemarin. Lagi pula Ocha sudah belajar berjalan di atas cat walk pada Sisil.” Jawabnya. “Sisil yang mana? Tanya Mama lagi. “Putri Bu Dewi, yang rumahnya di Blok P. Dia kerap menang lom-ba putri-putrian sampai jadi bin-tang iklan segala,” Ocha berusaha meyakinkan. “Tap kamu.....”Mama meng gantungkan kalimatnya. “Ah, sudah-lah, lupakan pemilihan itu”” Mama menepis tangan. “Tapi, ma, meskipun tomboy, Ocha juga ingin sesekali tampil lemah lembut!” Ocha tetap ngotot. Mama terdiam beberapa jenak. Ocha yang jago Tae Kwondo, pmegang ban hitam, sering mengan di kejuaraan karate, dan paling suka pakai celana dibanding rok, mau ikut pemilihan putri-putrian? Apa tidak salah dengar?

8 - 16 Unit 8

“Ma biar jago tea kwondo, tapi ocha bisa tampil lemah lembut kalau mama mengizinkan”, Ucap ocha membaca pikiran Mama. “Kata Sisil, Ocha sudah punya modal keperca-yaan diri, tinggal belajar membawakannya sebaik mungkin,” lanjutnya. Melihat kesungguhan yang ter-pancar dari mata putri semata wayangnya, akhirnya Mama mengiyakan. Hari itu juga, dia mengajak Ocha mendaftar ketempat persewaan pakaiaan tradisional yang tidak jauh dari rumah. Ocha memilih pakaian adat daerah Jawa Tengah. Ternyata, kertika Ocha mendaftar, Selly, teman sekolahnya yang selalu tampil cantik dan se-ring mengikuti pemilihan putri-put-rian itu juga mendaftar. Di sekolah diceritakan pada teman-temannya. “Orang tomboy ikut pemilihan putri-putrian? Apa tidak salah dengar?” Sindir Oni, saat Ocha berjalan di depan mereka. “Kalau pun tidak salah de-ngar, pasti dia sudah tidak waras!” kali ini suara Teni, sipembuat ulah dan pembual besar. Karuan membuat telinga Ocha merah. “kamu bilang apa?” tanya Ocha mendekati mere-ka. Keempat teman Ocha yang memang jago ngerumpi dan ngomongin orang itu langsung diam. “Hei, anak-anak manis, kalau ngo-mong jangan sembarangan, ya. Kena batunya baru tahu rasa!” ujar Ocha memperingatkan, sebelum masuk ke-las dan membiarkan mereka bungkam. Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Peserta Pemilihan Puti Kartini Cilik 97 itu ternyata banyak sekali. Ocha, yang duduk di kelas IV mnasuk kategori C. antara kelas IV sampai kelas VI SD. Di daerah bangku tengah, Mama melihat penampilan Ocha dengan haru campur senang. Sesekali dia mengisap mata yang tiba-tiba lembab dengan sapu tangan. Yang dikatakan Ocha memang benar. Dia bisa berjalan di atas pentas dengan luwes, seperti layaknya putri Solo. Tidak sia-sialah dia belajar berjalan selama sebulan lebih pada Sisil. “Itu putri Ibu?” tunjuk seorang penonton yang duduk di samping Mama Ocha. Mama mengangguk. “Penampilannya sempurna se-kali. Saya yakin, dia pasti dapat salah satu juara,” komentar penon-ton tadi. Mama semakin haru. Dan, keharuan mama berubah jadi tangis kegembiraan yang teramat sangat, ketika para pemenang diumumkan. Ocha

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

17

terpilih sebagai The Best Putri Kartini Cilik ‘97, sementara Silly hanya meraih juara harapan. Selamat, ya” salah seorang penonton memberikan ucapan selamat pada Mama Ocha. Ternayata dia seorang wartawan. Dia tanya macam-macam pada Mama Ocha. Saat sedang asyik nya difoto, dari arah belakang tiba-tiba ada seorang ibu yang berteriak minta tolong. Dia kecopetan. Secepat kilat, Ocha meng-angkat kain tinggi-tinggi, lantas tanpa menghiraukan penampilannya me-nerjang seorang laki-laki bertopi yang ditunjuk Ibu yang berteriak-teriak tadi. Laki-laki itu terjengkang dan seketika ditangkap Pak Satpam. Tapi konde Ocha ikut juga terjeng-kang, lepas dari rambutnya. Orang- yang sedang belanja dan melihat kejadian itu tertawa cekikikan.. “Aduh, konde kamu, Ocha” jerit Mama terus memungutnya. Ocha tidak merasa malu atau merasa ditertawakan. Dengan cueknya, dia meminta mamanya membetulkan konde-nya seperti semula. Om wartawan geleng kepala. “Ocha-Ocha, kamu memang Kartini zaman sekarang” gumamnya pelan. Rambu-rambu pengerjaan latihan Untuk mengerjakan latihan Anda perlu membaa cerita tersebut minimal dua kali lalu mencermati setiap unsur dan hubungan antar unsur serta sikap setiap pelaku untuk mengemuekakan pesan cerita. Dan jangan lupa menganalisis persoalan inti uyang mendasari rangkaian peristiwa untuk menentukan tema cerita.

Rangkuman
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang mengantar pembaca untuk dapat menikmati dan menunjukkan nilai-nilai keindahan yang terjandung dalam suatu karya sastra. Sedang pendekatan didaktis merupakan pendekatan mengarahkan anak untuk dapat memetik berbagai pesan atau amanat yang terdapat suatu karya sastra. Adapun pendekatan analitis adalah pendekatan yang dapat membantu pembaca untuk memahami unsur-unsur instrinsik yang membangun suatu karya hubungan antar unsur tersebut sebagai suatu kesatuan yang utuh.

8 - 18 Unit 8

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Urutan alur cerita yang benar adalah.. A. pengenalan- permasalahan- penyelesaian – klimaks B. pengenalan-permasalahan-klimaks- penyelesaian C. Permasalahan – klimaks-pengenalan-penyelesaian D. Pengenalan- penyelesaian- permaslahan-klimaks 2. Latar (setting) cerita berkaitan dengan… A. tempat-waktu kejadian B. suasana–tempat-waktu kejadian C. tempat– pelaku – waktu kejadian D. tempat- bahasa – waktu kejadian 3. Pendekatan yang membantu pembaca memahami unsur-unsur instrinsik suatu karya sastra dan hubungan antara unsur tersebut sebagai suatu kesatuan yang padu dan utuh adalah… A. Pendekatan emotif B. Pendekatan didaktis C. Pendekatan analitis D. Pendekatan terpadu 4. Sambung sinambung peritiwa yang membentuk suatu kesatuan utuh dalam suatu cerita disebut… A. Latar B. tema C. Penokohan D. alur 5. Pendekatan yang dapat mengarahkan pembaca untuk menikmati dan menentukan nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam suatu karya sastra di sebut pendekatan... A. emotif B. analitis C. didaktis D. terpadu

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

19

6. Pendekatan yang mengarahkan pembaca suatu karya sastra untuk memperleh sejumlah pemahaman tentang pesan, petuah, atau nasihat yang dapat memperkaya pengalaman rokhania disebut... A. Pendekatan emotif B. Pendekatan analitis C. Pendekatan didaktis D. Pendekatan terpadu 7. Segala menebal, Segala mengental Segala tak kukenal Selamat tinggal Keindahan yang relatif cepat dapat dinikmati setelah membaca penggalan puisi Chairil Anwar di atas adalah... A. keindahan irama B. keindahan tema C. Keindahan diksi D. Keindahan rima 8. ............... Ah, apa guna kusesalkan Menyesal tua tiada berguna Hanya menamba luka sukma Kepada yang muda kuharapkan Atur barisan di pagi hari Menuju padang bakti ............................... Pesan-pesan yang dapat dipahami setelah membaca penggalan puisi di atas ... kecuali: A. Tidak ada gunanya menyesal di hari tua. B. Menyesal di masa tua hanya semakin menyakitkan. C. Yang muda perlu siap mengahadapi tantangan masa depan. D. Di masa tua harus terus berjuang di padang bakti. 9. Pelaku ayang selalu muncul sejak awal sampi akhir cerita disebut... A. pelaku utama B. pelaku tambahan C. pelaku antagonis D. pelaku dinamis

8 - 20 Unit 8

10. Pelaku yang hanya menampilkan terhadap pelaku utama disebut.. A. pelaku protogonis B. Pelaku tritogonis C. Pelaku antagonis D. Pelaku statis

sifat yang buruk atau perlawanan

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut Apakah semua soal sudah Anda kerjakan?. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

21

Subunit 2 Apresiasi Sastra Anak-Anak Secara Produktif
nda telah memahami dan mengapresiasi sastra secara reseptif. Menyenangkan, bukan? Sekarang, bagaimana dengan apresiasi sastra anak-anak secara produktif? Pemahaman dan penguasaan tentang apresiasi sastra produktif sangat fungsional dan menunjang pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Anda dalam menyukseskan amanah Kurikulum tentang apresiasi sastra. Tentu kita sepaham bahwa kualitas apresiasi sastra anak di SD antara lain ditentukan oleh taraf pemahaman dan pengalaman apresiasi sastra yang Anda miliki sebagai guru kelas. Oleh karena itu, perlu Anda kaji dan berlatih tentang pendekatan yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra anakanak secara produktif. Untuk memperoleh pemahaman dan pengalaman bermakna tentang berbagai pendekatan tersebut, silakan baca dengan sungguhsungguh uraian berikut.

A

Pendekatan Parafrastis
Parafrase merupakan salah keterampilan yang dapat meningkatkan apresiasi sastra siswa. Melalui parafrase, siswa berlatih mengubah bentuk karya sastra tertentu menjadi bentuk karya sastra yang lain tanpa mengubah tema atau gagasan pokoknya, misalnya prosa menjadi puisi, puisi menjadi prosa , prosa menjadi drama atau seba-liknya. Dengan melalui pengubahan bentuk tersebut, siswa dapat semakin memahami isi karya sastra tersebut. Aminuddin (2004) menjelaskan bahwa parafrase adalah strategi pemahaman makna suatu bentuk karya sastra dengan cara mengungkapkan kembali karya pengarang tertentu dengan menggu-nakan kata-kata yang berbeda dengan kata-kata yang digunakan pengarang. Mengapa pendekatan parafrastis perlu dipahami dan dialami oleh siswa? Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa para pengarang sering menggunakan kata yang konotatif, kias, elipsis atau menghilangkan sebagian unsur, dan kurang menaati tatabahasa karena adanya hak licentia poetica pengarang Kesemuanya itu dapat menyulitkan pembaca untuk memahami karya sastra tertentu. Melalui parafrase, pembaca dapat semakin memahami karya sastra tertentu.

8 - 22 Unit 8

Di samping itu, Aminuddin (2004) mengemukakan bahwa pendekatan parafrastis pada dasarnya beranjak dari prinsip bahwa (a) pengubahan bentuk karya sastra tententu ke dalam bentuk sastra yang lain (puisi ke prosa atau sebaliknya) akan semakin meningkatkan keluasan dan ketajaman pemahaman pembaca yang bersangkutan (b) gagasan tertentu dapat dikemukakan dalam bentuk yang berbeda, misalnya puisi ke prosa, (c) simbol yang konotatif (mengandung ketaksaan makna atau abstrak) dapat diganti dengan kata yang lebih konkret dan mudah dipahami, (d) pengungkapan yang eliptis dapat ditambah sehingga semakin lengkap dan mudah dimengerti. I.G.P. Antara (1985) mengemukakan bahwa teknik memparafrasekan puisi menjadi prosa dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni sebagai berikut. (a) Teknik larik yakni perubahan bentuk puisi ke dalam bentuk prosa dengan mendasarkan kepada kalimat demi kalimat yang terdapat dalam puisi tersebut. (b) Teknik bait yakni perubahan bentuk puisi menjadi prosa didasarkan kepada susunan bait demi bait yang menyusun puisi yang diparafrasekan. (c) Teknik global yakni perubahan bentuk puisi menjadi prosa yang didasarkan kepada keseluruhan unsur yang membentuk puisi itu. Makna yang tercermin dalam puisi itu dituangkan ke dalam bentuk prosa . Berikut disajikan contoh parafrase puisi ke prosa. HARI LIBUR Hatiku gembira Ujian usai sudah Rapor ku terima Aku rangking pertama Esok amulai libur Liburan kuhabiskan di rumah nenek Liburan sambil melepas rindu Kunikmati damainya desa Tiap hari Kutelusuri pematang sawah Bernyanyi riang Menyambut kicau burung Satu minggu sudah Hari libur habis

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

23

Aku harus pulang Selamat tinggal Selamat tinggal nenek

Puisi yang berjudul “Hari Libur” di atas dapat diubah menjadi sebuah cerita seperti berikut. HARI LIBUR Selain hari minggu, saya selalu menyelesaikan tugas PR selama 12 jam sesudah bangun tidur siang hari. Setelah itu, baru pergi main bersama teman-teman. Setelah salat magrib secara berjamaah dengan Bapak, Ibu dan Kakek, Nenek, dan Kakak, saya belajar selama satu jam untuk mengulangi pelajaran yang telah dipelajari di sekolah, kemudian pergi menonton dan tidur. Dengan demikian, pada waktu ujian cawu, seluruh pertanyaan dapat saya jawab dengan baik dan tepat. Dengan ketekunan dan kedisiplinan belajar tersebut, pada waktu menerima rapor, di , lalu saya buka, di dalamnya tertulis sebagai peringkat I . langsung saya mengucapkan Alhamdulillah, betapa senangnya dan puasnya saya saat itu. Begitu pun, mama ,bapak, dan nenek di rumah. Sesaat setelah pembagian rapor, ada siswa bertanya, “Kapan mulai libur cawu , Bu?,” tanya Imran. “Libur cawu mulai besok,” jawab Bu Guru. Ady sambung bertanya, “Berapa lama libur, Bu?” Jawab bu Guru, “Sembilan hari. Jadi kita mulai sekolah pada hari Rabu” Pada malam harinya, bapak bertanya, “Berapa lama kau libur, Nak?” “Sembilan hari , Pak!” Jawabku singkat. “Lalu di mana akan berlibur?” tanya bapak Lagi.“ “Saya mau berlibur ke rumah nenek di desa sambil melepas rindu, sekaligus menikmati damai dan indahnya panorama desa.“ Jawabku dengan wajah yang ceria.“ Itu ide yang bagus. Insya Allah nanti bapak-ibu antar besok sekalian melepas rindu juga dengan nenek dan kelu-arga lainnya di desa kelahiran bapak. Keesokan harinya, tepatnya pada hari minggu pagi, saya berangkat bersama Ayah dan ibu ke rumah nenek yang jauhnya sekitar 25 kilometer dari rumah kami. Dua jam kemudian saya tiba rumah nenek. Betapa gembiranya nenek menyambut kami, saya langsung dipeluk dan dicium

8 - 24 Unit 8

sambil berkata “Kenapa baru datang, Nak. Lama sekali rasanya baru bertemu. Nenek sudah rindu sekali”. Baru libur, Nek! Jawabku. Selama di rumah nenek, setiap hari aku berjalan bersama nenek, mene-lusuri pematang sawah sambil menyanyi dengan riang gembira. Utamanya pada pagi hari setelah shalat subuh, kami berjalan-jalan bersama nenek mengelilingi desa sambil mendengarkan kicauan berbagai macam burung yang begitu mengasyikkan. Alangkah indahnya berlibur di rumah nenek. Pada malam Selasa, saya menyampikan kepada nenek bahwa besok saya akan pulang karena sudah beberapa hari di sini . “Mengapa cepat sekali pulang cucuku? Rindu nenek masih...” ” Lusa hari sekolah sudah mulai, Nek!” sambungku cepat. “Kalau begitu, nenek tidak bisa menahanmu, nanti bapakmu marah.” Nek, bisa antar saya besok sekalian jalan-jalan ke kota. Sudah lama juga nenek tidak ke kota. Nanti kita jalanjalan menikmati ramai dan hiruk pikuknya kendaraan dan megahnya bangunan di kota Makassar .“ “Nenek sudah tua, dan ada sepupumu akan dinikahkan minggu depan” Jawabnya. Keesokan harinya, Bapak dan Ibu menjemputku. Sekiat 20 meter dari rumah nek, Saya melambaikan tangan kepada nenek sambil mengucapkan dalam hati “Selamat tinggal panorama desaku yang indah dan permai, sela-mat tinggal nenek tersayang , sampai jumpa nek di libur cawu mendatang.” Bagaimana? Anda telah memahami uraian materi subunit 2 di atas? Jika ya, kerjakan latihan berikut untuk meningkatkan pemahamannya tentang parafrase puisi. Parafrasekan puisi berikut ini menjadi prosa! MENYESAL Ali Hasymi Pagiku hilang melayang Hari mudaku sudah pergi Sekarang petang datang membayang Batang usiaku sudah tinggi Aku lalai di hari pagi

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

25

Beta lengah di hari pagi Kini hidup meracuni hati Miskin ilmu miskin harta Ah, apa guna kusesalka Menyesal tua tiada berguna Hanya menambah luka sukma Kepada yang muda kuharapkan Atur barisan di pagi hari Menuju ke arah padang bakti
Rambu-rambu penyelesaian latihan. Untuk mengerjakan latihan di atas, Anda perlu membaca puisi tersebut secara berulang-ulang lalu mencermati kata-kata yang konotatif pada setiap larik/bait, kemudian memahami makna inti atau tema puisi tersebut, terakhir mencermati alur cerita yang akan dibuat berdasarkan puisi tersebut.

Pendekatan Analitis
Pendekatan analitis telah dibahas teori dan penerapannya pada unit subunit 1 yang tujuannya untuk meningkatkan taraf apresiasi sastra anak SD secara reseptif. Oleh karena itu, pendekatan analitis pada subunit 2 ini akan diarahkan pembahasan dan penerapannya untuk meningkatkan taraf apresiasi sastra anak SD secara produktif. Sebagaimana yang telah diuraikan pada subunit 1 bahwa pendekatan analitis merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk memahami unsur-unsur instrinsik yang menangun suatu karya sastra tertentu dan hubungan antarunsur yang satu dengan lainnya sebagai suatu kesatuan yang utuh (Aminuddin, 2004). Diharapkan dengan pemahaman tersebut pembaca menulis karya sastra tertntu dengan baik. Untuk itu, sebelum siswa ditugasi menulis puisi misalnya lebih dahulu dibelajarkan tentang unsur-unsur instrinsik puisi. Menurut I.A Richard (dalam Situmorang,1980) ada dua hal pokok yang membangun puisi, yaitu hakikat puisi dan metode puisi. Hakikat puisi meliputi tema, rasa, nada, dan amanat, sedang metode puisi meliputi diksi, gaya bahasa, kata konkret, imagery, ritme dan rima. Hubungan keduanya erat, oleh Tarigan (1989) seperti hubungan jiwa dan tubuh.sehingga hakikat puisi dapat disebut sebagai unsur batiniah dan metode puisi dapat disebut sebagai unsur lahiriah puisi. a. Unsur lahiriah (metode puisi)
8 - 26 Unit 8

(1) Diksi. Diksi merupakan kemampuan memilih kata demi kata secara tepat menurut tempatnya yang sesuai dalam suatu jalinan kata yang harmonis dan artistik sehingga sejalan dengan maksud puisinya, baik secara denotatif maupun secara konotatif. Misalnya: Sekali berarti (bukan: bermakna, berguna, bermanfaat) Sudah itu mati (bukan: wafat, meninggal, tewas, mampuas, dll. ..................... (2) Gaya bahasa. Gaya bahasa ialah cara atau gaya tertentu yang digunakan penyair untuk menciptakan kesan tertentu, daya bayang, dan nilai keindahan, seperti: - gaya personifikasi : “Kerling danau di pagi hari” (Situr Situmorang) - Gaya simbolisme : Ah, rumput, akarmu jangan turut mengering (Waluyati) (3) Kata konkret. Kata konkret ialah pemakaian kata-kata yang dapat mewakili suatu pengertian secara konkret dengan memilih kata yang khusus; bukan yang umum, misal: - Anak itu bersimpuh di kaki ibundanya. (kata khusus) - Aak itu duduk lalu memeluk kaki ibundanya (kata umum) (4) Daya bayang (imagery). Daya bayang (imagery) ialah kemampuan penyair mendeskripsikan atau melukiskan suatu benda atau peristiwa sehingga seolah-olah pembaca menyaksikan benda atau mengalami peristiwa seperti yang disaksikan atau dialami penyair tersebut. Daya bayang terwujud sebagai manifestasi dari pemakaian kata konkret, diksi, dan gaya bahasa yang tepat. Misalnya: Sajak Kecil Buat Penggalang Dengan gagah perkasa Engkau berdiri siap siaga Bersenjata tongkat dibalut kain selempang Berhias tanda-tanda kecakapan Tali merah tali sempritan Tersandang di lengan tangan kiri Kepala dibalut baret Lengkap lencana tunas kelapa Tali melingkar bergantung dipinggang Sangkur menambah indah dipandang .....................................

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

27

(5) Irama dan rima. (a) Irama adalah berkaitan dengan keras lembutnya suara (tekanan), panjang pendeknya suara (tempo), dan tinggi rendahnya suara (nada), perhentian sejenak (jeda) dan lainnya. Misalnya sebagai berikut. KASIH IBU

Siti Atika
Penuh kasih engkau nina bobokkan aku Penuh cinta engkau suapi aku Tangisku, rintihanku dan rengekanku Tetap membuatmu tersenyum Kasihmu seluas samudra Cintamu sedalam lautan Sayangmu setinggi gunung Dengan apa aku harus membalasnya Ibu.... Di dunia ini tiada banding kasihmu Dalam deritamu Engkau tetap tabah mengasuh dan mendidik aku Ibu..... Engkau adalah matahariku Engkau adalah rembulanku Doaku bersamamu selalu Semoga rahmat Ilahi atasmu (b) Rima ialah persaman bunyi awal, akhir, awal-akhir. Misalnya: Caya bulan di ombak menitik Embun berdikit turun menitik (J.E.Tatengkeng) Segala menebal, segala mengental Segala tak kukenal Selamat tinggal...... (Chairil Anwar) b. Unsur batiniah puisi (hakikat puisi) (1) Tema ialah pokok persoalan yang mendasari dan menjiwai setiap larik puisi. Misalnya, Ayip Rosidi menuangkan tema “Ketidakpuasan “ dalam puisi “Di Akuarium”:

8 - 28 Unit 8

Di Akuarium Ayip Rosidi Kulihat ikan-ikan berenangan, alangkah nyaman dan tenang hidup tanpa persoalan. Betapa ingin aku menjadi ikan. Dari balik kaca, matanya cemburu memandang Barangkali ingin menjadi manusia, menjadi aku Yang pergi memancing di hari minggu. (2) Rasa (feeling) ialah sikap pandang (pendapat) penyair terhadap pokok persoalan/tema tertentu. Ada penyair yang bersikap simpati-antipati, setuju-tidak setuju, dll. Misalnya Chairil Anwar dalam masih bersikap menerima terhadap gadis yang telah mengecewakannya dengan persyaratan tertentu. Sebaliknya Armyn Pane bersikap menolak terhadap gadis yang telah mengecewakannya. Hal itu terungkap dalam puisinya masing-masing sebagai berikut. PENERIMAAN Chairil Anwar Kalau kau mau, kuterima kembali Dengan sepenuh hati Aku masih tetapi sendiri Kutahu kau yang bukan dulu lagi Bak kembang sari sudah terbagi Jangan tunduk! Tantang Aku dengan berani
KEMBANG SETENGAH JALAN

Armyn Pane Mejaku hendak dihiasi Kembang jauh dari gunung Kau petik sekarangan kembang Jauh jalan panas hari Bunga layu setengah jalan

(3) Nada (tone) ialah sikap bahasa penyair terhadap penikmat karyanya. Ada penyair bersikap didaktis, persuasif, sinis (ironis), tawadhu (rendah diri), dan sebagainya. Misalnya Ali Hasymi bersikap persuasif dalam puisinya sebagai berikut. MENYESAL Pagiku hilang melayang Hari mudaku sudah pergi Sekarang petang datang membayang Batang usiaku sudah tinggi

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

29

Aku lalai di hari pagi Beta lengah di hari pagi Kini hidup meracuni hati Miskin ilmu miskin harta Ah, apa guna kusesalkan Menyesal tua tiada berguna Hanya menambah luka sukma Kepada yang muda kuharapkan Atur barisan di pagi hari Menuju ke arah padang bakti (4) Amanat. Amanat adalah pesan, nasihat, petuah, yang disampaikan oleh penyair dalam karyanya baik secara langsung atau taklangsung . Pesan tersebut dapat dijadikan sebagai perluasan wawasan, memperkaya pengalaman, dan memperhalus budi pekerta, serta mempertinggi nilainilai kemanusiaan. Misalnya larik puisi Chairil Anwar yang berbunyi “/pilih kuda liar/ pacu sampai melaju / jangan tambatkan pada siang dan malam/”, antara lain mengandung amanat bahwa kita harus hidup dengan penuh semangat, selalu memanfatkan waktu secara dinamiskreatif. Penerapan pendekatan analitis dalam upaya menignkatkan apresiasi sastra anak SD seara produktif sejalan dengan pendapat Badriyah (2000) tentang langkah-langkah menulis puisi sebagai berikut. (1) Mengamti suatu objek secara cermat. (2) Tentukan tema lalu dijadikan judul puisi (3) Susun alur (kronologis / spasial) lalu kembangkan menjadi cerita (4) Susunlah berurutan ke bawah, satu baris satu kalimat pendek. (5) Jika ada kalimat yang panjang, pendekkan dengan membuang kata-kata sambung yang tidak penting. (6) Cari kata/kalimat yang intesitas keindahannya dan maknanya kurang kuat dan deang kata-kata yang lebih indah (konotatif) dan imajinatif, misalnya angin, hitam, diganti dengan bayu, pekat/kelam, (7) Cemati terus menerus tiap kalimat/kata dengan memperhatikan keindahan bunyi dan penggunaan gaya baya bila memungkinkan. Sebagai contoh:

8 - 30 Unit 8

BAJU KESUKAANKU Warnamu sungguh sangat baik Mataku senang melihatmu Selalu aku kupakai Pergi kegiatan penting Denganmu aku gembira dan riang Dan bisa bergaul dengan baik Tanpa ada rasa malu dan rendah diri Namun sekarang ini Kau sudah penuh banyak debu Kau sudah penuh banyak lumpur Aku selalu lupa mencucimu

Puisi di dapat diperbaiki seperti berikut ini. BAJU KESAYANGNKU Warnamu sungguh menawan Elok mata memandangmu Tiap saat kupakai Di pertemuan penting Denganmu aku ceria Dapat bergaul leluasa Dengan rasa percaya diri Namun kini Kau berdebu Kau berlumpur Aku lupa baktimu Anda telah memahami uraian di atas bukan! Memang Anda pebelajar yang tekun! Sekarang, supaya taraf apresiasi sastra produktif Anda semakin tinggi silakan menyelesaikan latihan berikut! Perbaikilah puisi berikut sehingga menjadi puisi yang baik! POHON KELAPA Di sebuah padang yang cukup luas Kau sedang tumbuh dengan begitu suburnya Daun-daunmu rindang dan kelihatan hijau

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

31

Dengan batangmu yang berdiri kokoh dan besar Serta akar serabutmu mu tertanam jauh ke dalam tanah Kau sekarang telah berbuah banyak Ada yang sudah tua, Ada pula yang belum tua Ada juga yang kecil Buahmu yang tua aku buat minyak untuk menggoreng Buah yang muda kubuat es kelapa sirop untuk diminum Buahmu yang kecil aku buat menjadi obat penyakit Kau memang tumbuhan banyak manfaat Bagi keperluan hidup banyak orang Rambu-rambu penyelesaian latihan Untuk mengerjakan latihan ini Anda perlu selalu mengingat bahwa menulis puisi bukan hanya keindahan bahsanya (unsur lahiriah) yang perlu diperhatikan melainkan juga unsur makna yang dikandungnya (unsur batiniah). Keduanya harus Anda seimbangkan secara proporsional.

RANGKUMAN Pengertian apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatan bermain dengan sastra anak-anak sehingga muncul pengertian, ketepatan dan ketelitian pemahaman, kepekaan perasaan dan penghargaan yang baik dalam diri anak terhadap sastra anak-anak. Sastra anak-anka terdiri atas (1) puisi merupakan pengungkapan gagasan dan perasaan dalam bentuk rangkaian bait demi bait, (2) prosa merupakan pemaparan peikiran dan perasaan melaui bentuk paragraf demi paragraf, (3) drama merupakan pengemukaan gagasan dan perasan melalui bentuk dialog antara berbagai tokoh.

8 - 32 Unit 8

Tes Formatif Subunit 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Pendekatan yang menuntun siswa mengubah bentuk karya sastra tertentu seperti puisi ke dalam bentuk prosa di sebut ... A. Pendekatan parafrastis B. Pendekatan analitis C. Pendekatan emotif D. Pendekatan terpadu 2. Persaman bunyi apada awal, akhir, awal-akhir disebut... A. irama B. rima C. sajak D. larik 3. Mengubah bentuk suatu puisi ke dalam bentuk prosa tanpa mengubah gagasan intinya disebut .. A. parafrase prosa B. Parafrase puisi C. Parafrase drama D. Bagian a dan c. 4. Berikut ini unsur lahiriah puisi... Kecuali A. Daya bayang B. Sikap pengarang C. Gaya bahasa D. Pilihan kata 5. Pilih memilih kata yang dianggap susuai dan tepat dalam konteks kalimat/bait tertentu disebut... A. rima B. irama C. diksi D. Imagery

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

33

6. Gayamu Citamu Kepribadianmu Dan Pengambdianmu Membuatku semakin mencintaimu ................... Penggalan puisi di atas menggunakan persamaan bunyi atau .... A. rima akhir B. rima awal C. rima awal akhir D. rima awal-tengah, akhir 7. Sikap pandang penyair terhadap pokok persoalan tentang karya yang ditulisnya disebut.. A. diksi B. tone C. tema D. feeling 8. Berikut adalah prinsip yang mendasari penerapan pendekatan parafrastis adalah... kecuali: A. Pengubahan bentuk karya sastra tententu ke dalam bentuk sastra yang lain akan semakin meningkatkan ketajaman pemahaman pembaca itu sendiri. B. Gagasan tertentu dapat dikemukakan dalam bentuk yang berbeda. C. Simbol yang denotatif dapat diganti dengan kata yang lebih jelas sehingga mudah dipahami. D. Pengungkapan yang eliptis dapat dilengkapi sehingga semakin mudah dimengerti pembaca. 9. Sikap bahasa penyair terhadap pembaca karya sastra yang ditulisnya disebut A. diksi B. feeling C. tone D. tema 10. Berikut adalah unsur-unsur yang bukan bagian dari metode puisi... kecuali: A. diksi – nada – imagery - rima B. irama – rima - kata konkret - tema C. kata konkret – diksi – plot – rima D. diksi – kata konkret – irama - imagery

8 - 34 Unit 8

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Saya yakin Anda telah menyelesaikan soal-soal di atas dengan baik, bukan!. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100% 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

35

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1
1. B: Urutan alur cerita yang benar adalah dmulai dari pengenalan, lalu permasalahan, kemudian klimaks, terakhir penyelesaian. 2. C: Yang terlingkup dalam latar (settng) cerita adalah suasana, waktu, dan tempat kejadian. 3. D: Pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk memahami unsur instrinsik suatu prosa/puisi adalah pendekatan analitis bukan emotif dan didaktis. 4. A: Alur adalah suatu rangkaian peristiwa yang saling berkaitan da merupakan suatu kesatuan. 5.A : Pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk menikmati dan menentukan nilai-nilai estetis yang terkandung dalam suatu karya sastra di sebut pendekatan emotif. 6. C: Pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk memperleh sejumlah pemahaman tentang pesan, petuah, atau nasihat yang dapat memperkaya pengalaman rokhania disebut pendekatan didaktis. 7. D: Yang cepat dapat dinikmati jika membaca penggalan puisi tersebut adalah keindahan berkaitan dengan persamaan bunyi awal dan akhir atau rima. 8. D: Pesan yang tidak ada hbungannya dengan penggalan puisitersebut adalah bagan D atau Di masa tua harus terus berjuang di padang bakti. 9. A: Pelaku yang selalu muncul sejak awal, tengah, sampai cerita berakhir adalah pelaku utama dan merupakan pusat pengisahan gagasan. 10. B: Pelaku antagonis adalah pelaku yang penampilannya dalam cerita selalu dalam betuk sikap yang melawan pelaku protogonis atau sikap yang kurang baik.

8 - 36 Unit 8

Tes Formatif 2
1. A : Pendekatan parafrastis madalah satu stratgi yang menuntun siswa mengubah bentuk karya sastra tertentu seperti puisi ke dalam bentuk prosa. 2. B : Rima adalah salah unsur lahiriah puisi yang berkaitan dengan persamaan bunyi baik persamaan bunyi awal-akhir, awal tengah dan akhir, atau akhir saja. 3. A : Suatu puisi yang diubah ke dalam bentuk prosa tanpa mengubah gagasan inti adalah parafrase puisi. 4. B : Sikap pengarang adalah salah satu unsur puisi dari segi batiniah 5. C : Pilih memilih kata secara tepat untuk ditempatkan dalam bait suatu puisi adalah diksi. 6. D : Rima akhir adalah peramaan bunyi pada akhir bait, apakah persamaan bunyi atau sajak aa aa, sajak ab ab, atau sajak ab ba. 7. C : Feeling adalah sikap pro-kontra atau sikap pandang penyair terhadap suatu persoalan tertentu. 8. C : Yang seharusnya adalah simbol konotatif bukan simbol denotatif karena pada dasarnya yang membuat cerita kurang jelas maknanya adalah simbol konotatif. 9. C : Nada adalah sikap bahasa penyair terhadap pembaca apakah persuasif, paedagogis atau menggurui. 10.D : Pelaku, tema, alur bukan unsur yang membangun puisi dari segi lahiriah. Unsur tersebut adalah diksi – kata konkret – irama – imagery.

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

37

Glosarium
reseptif : bersifat menerima atau memahami suatu gagasan secara tepat dan komprehensif

apresiasi sastra puisi
prosa

: Penilaian atau penghargaan terhadap sesuatu : Suatu karya yang mengandung nilai keindahan dan nilai kegunaan : karya sastra yang berbentuk untaian bait demi bait
: Karya sastra yang bentuk rangkaian paragraf dalam ngungkapkan gagasan atau perasaan kepada orang lain

drama
amanat

: Karya sastra yang menggunkan dialog antar pelaku dalam menyampaikan gagasan atau perasaan kepada orang lain.
: hal-hal yang baik untuk dilakukan atau hal yang negatif untuk tidak dilaksanakan yan terdapat dalam karya sastra : bersifat menghasilkan sesuatu yang bermakna

produktif

apresiasi merevisi menyunting instrinsik

: penilaian atau penghargaan positif terhadap karya sastra : mengubah isi atau bentuk karya sastra : memperbaiki aspek mekanik / bahasa : unsur yang membangun suatu karya sastra seperti latar, alur tema penokohan amanat.

8 - 38 Unit 8

Daftar Pustaka
Aminuddin. 1988. Pengantar Apresiasi Sastra. Malang: Y.A.3 Malang
Antara, I.G.P. 1985. Apresiasi Puisi.Denpasar: CV. Kayu Mas. Badriyah, Ratu. 2000. Apresiasi Puisi dan Cerita Anak secara Produktif.. Jakarta: Universitas Terbuka Liothe, Wimanjaya. 1991. Petunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak. Jakarta: Balai Pustaka.

Rendra. W.S. 1980. Potret Pembangunan dalam Puisi. Jakarta Lembaga Studi Pembangunan
Pramuki, Esti. 2000. Apresiasi Karya Sastra Anak secara Reseptif. Jakatra. Universitas Terbuka. Situmorang, B.P. 1980. Sistem Pengajaran Puisi. Flores: Nusa Ende

Sumardjo, Yakob. 1984. Memahami Kesusastraan. Bandung. Penerbit Alumni.
Tarigan, H.G. 1989. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Tirtawirya, Putu Arya. 1983. Apresiasi Puis dan Prosa. Flores NTT: Nusa Indah Wardani. 1980. Pengajaran Sastra. Jakarta: Depdikbud

Kajian Bahasa Indonesia di SD 8-

39

Unit

9

DEKALAMASI DAN PEMENTASAN KARYA SASTRA ANAK-ANAK

Abd. Halik

M

endeklamasikan dan mementaskan sasra anak-anak merupakan unit IX mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia di SD. Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Mendeklamasikan puisi-anak-anak, dan (2) mementaskan drama anak-anak. Dengan memahami materi ini, diharapkan Anda mampu mendeklamsikan dan mementaskan drama anak-anak dengan baik. Secara khusus setelah mempelajari unit ini diharapkan Anda dapat: 1. Menjelaskan pengertian baca puisi dan perbedaannya dengan deklamasi puisi; 2. Syarat-syarat menjadi deklamator puisi; 3. Mengemukakan unsur penilaian deklamasi sastra anak-anak; 4. Menjelaskan pengertian drama; 5. Menjelaskan teknik-teknik mementaskan drama anak-anak; 6. Mengemukakan dasar-dasar penguasaan pementasan drama anak-anak. Materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya sehingga semakin mahir mengapresiasi sastra anak-anak seara produktif. Selain itu, Anda akan semakin luas wawasannya tentang nilai-nilai pengalaman kemanusiaannya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadap sastra anak-anak. Setelah memahami tujuan mempelajari unit ini, ikutilah bagian-bagian bahan ajar ini secara bertahap-berkesinambungan. Pelajari setiap bagian secara cermat dan saksama. Mulailah dengan membaca konsep, uraian, dan contoh-

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 1

contoh yang terdapat di dalamnya. Untuk menambah pemahaman dan wawasan Anda, pelengkap materi unit ini juga terdapat di web-site. Bukalah web-site. Masih ingat kan, caranya? Jangan lupa mengerjakan latihan/tugas. Setiap latihan/tugas disertai dengan rambu pengerjaan atau jawaban latihan. Ramburambu tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada Anda tentang bagaimana latihan dikerjakan dan seperti apa hasil pengerjaan latihan yang dianggap benar. Tapi ingat, jangan terburu-buru membuka rambu-rambu atau kunci jawaban. Karena, bila hal itu Anda lakukan, Anda akan terbiasa tidak akan pernah belajar. Jangan lupa pula membaca rangkuman. Pahamilah rangkuman dengan baik. Bila Anda mendapat kesulitan dalam memahami kata atau istilah yang terdapat pada unit ini, lihatlah glosarium dalam unit ini atau manfaatkanlah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Setelah melakukan kegiatan secara bertahap-berkelanjutan seperti disebutkan di atas, dan merasa telah menguasai materi unit ini, sekarang kerjakan soal-soal tes formatif. Setelah itu, cocokkan jawaban tes formati Anda dengan kunci jawaban yang tersedia di akhir unit ini sehingga dapat mengetahui kemampuan Anda yang sesungguhnya. Analisislah materi mana yang telah Anda kuasai dengan baik dan materi mana yang belum Anda kuasai. Untuk materi yang belum Anda kuasai, bacalah kembali konsep, uraian, contohcontoh, dan rangkuman yang ada. Selamat berlatih mendeklamasi dan mementaskan sastra anak-anak dengan baik! Semoga Anda kelak sukses menjadi deklamator dan aktor yang baik dan mampu memukau penonton !

9 - 2 Unit 9

Subunit 1 Deklamasi Karya Sastra Anak-Anak

A

pakah Anda ingin menjadi deklamator/pembaca puisi yang hebat? Tentu, karena menjadi pemabca puisi yang baik, di samping dapat menyenangkan bagi diri sendiri juga dapat menghibur orang lain. Namun permasalahannya, sekarang sudahkah Anda memahami perbedaan antara deklamasi puisi dan baca puisi, serta aspek-aspek apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam mendeklamasikan puisi dengan baik. Untuk memperoleh pemahaman tentang deklamasi puisi dan aspek yang perlu diperhatikan agar pada saat mendeklamasikan puisi supaya dapat terasa indah bagi penikmat, ikuti dengan sungguh-sungguh uraian berikut.

Pengertian Deklamasi
Kata “deklamasi“ berasal dari bahasa Inggris “declamation” yang berarti penyuaraan sesuatu lewat suara. Secara umum, deklamasi merupakan suatu kegiatan membawakan atau menyampaikan puisi atau prosa secara lisan disertai mimik, intonasi, dan gerak jasmaniah yang wajar sesuai konteks makna larik atau yang dituturkan. Aspek-aspek tersebut harus saling menunjang dan atau saling melengkapi dalam menciptakan suasana deklamasi yang dapat memukau para penonton. Secara umum saat ini, yang membedakan dengan deklamasi adalah baca puisi “poetry reading” disampaikan dengan memegang naskah, sedangkan deklamasi dilaksanakan dengan menghafal sajak yang akan dideklamasikan tersebut. Selanjutnya, Junaedi (1989) mengemukakan beberapa perbedaan antara baca puisi dan deklamasi dari berbagai segi: (1) baca puisi sipembaca memegang naskah puisi sedang deklamasi tidak memegang naskah puisi sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik melakukan gerak jasmaniah secara bervariasi, (2) pada baca puisi, jumlah dan panjang puisi yang dibaca lebih banyak dan panjang daripada deklamasi, (3) pada baca puisi faktor suara/intonasi banyak berperan, sedang deklamasi disamping intonasi juga faktor mimik dan gestur atau gerak jasmaniah, (4) baca puisi relatif untuk diri sendiri dan orang lain, sedang deklamasi semata-mata untuk orang lain.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 3

Meskipun banyak segi yang membedakan deklamasi dan baca puisi, tak perlu ditonjolkan, seperti yang dikatakan oleh Ali (1982) bahwa perbedaan tersebut tidak merupakan suatu ketentuan yang definitif dan bersifat mengikat. Kalau deklamator menghafal sajak, tidak lain hanyalah persoalan teknis, sekedar untuk memberikan kekebasan kepada si deklamator untuk berimprovisasi. Dengan kata lain, deklamasi dan baca puisi, pada hakikatnya sama, yakni keduanya menyampaikan puisi secara lisan kepada khalayak penonton untuk dinikmati nilai-nilai estetis dan nilai-nilai humanistik puisi tersebut.

Syarat Mendeklamasikan Puisi
Menjadi pendeklamasi puisi yang baik ada sejumlah syarat yang perlu dipenuhi. Syarat-syarat tersebut sifatnya saling menunjang. Salah satu syarat yang kurang dipenuhi akan berpengaruh secara totalitas terhadap taraf kemenarikan deklamasi puisi yang ditampilkan. Menurut Ali (1982) syarat yang harus dipenuhi seorang pembaca/deklamasi pusi adalahsebagaia berikut. a. Mempunyai kemampuan teknis Kemampuan teknis yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pembaca atau deklamator puisi yang baik adalah suara yang jelas, vokal yang sempurna, mahir membentuk irama, mamp mengubah warna suara secara teat dan menarik. b. Penguasaan mimik Seorang deklamator harus memiliki kemampuan mengubah-ubah raut muka yang alamiah dan wajar sesuai makna larik atau bait puisi yang dideklamasikan, mimik marah, mimik takut, mimik terharu, mimik sedih, mimik.heran, dan sebagainya c. Penguasaan gestur Seorang pembaca atau deklamator puisi harus memiliki penguasan gerak anggota tubuh (gestur) secara reflek dan pantas sesuai isi larik puisi yang dideklamasikan. Fungsinya sebagai komplementer bagi pelafalan dan intonasi larik/baik yang dilantunkan. d. Penguasaan memahami puisi dengan tepat Salah memahami isi suatu sajak yang dideklamasikan akan berpengaruh terhadap lafal-intonasi, mimik, dan gerak tubuh yang

9 - 4 Unit 9

ditampilkan. Karena itu, seorag pembaca/deklamator puisi harus memiliki kemampuan memahami isi, suasana, sikap pengarang yang tersembunyi dalam puisi yang dideklamasikan.

Deklamsi dan Unsur Penilaiannya
Menilai dan menentukan suatu deklamasi yang baik perlu memperhatikan berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut, menurut Ali (1984) meliputi aspek interpretasi dan presentasi. Interpretasi meliputi: visi, artikulasi, dan intonasi, sedang presentasi meliputi: vokal, gestur atau gerak, tekanan, volume suara, ekspresi mimik. Sedangkan menuurut Aminuddin (2004) bahwa aspek-aspek yang diiperhatikan dalam menilai suatu deklamasi adalah (1) aspek pemahaman dan penghayatan tentang makna, suasana penuturan, sikap pengarang, dan intensi pengarang, (2) aspek pemaparan yang meliputi: kualitas ujaran, tempo, durasi, pelafalan, ekspresi wajah., kelenturan tubuh, dan konversasi. Sasaran penilaian deklamasi di atas adalah untuk orang dewasa. Yang diperlukan adalah aspek penilaian untuk keperluan deklamasi anak usia Sekolah Dasar. Namun demikian, aspek penilaian di atas tetap dijadikan acuan, hanya saja mengalami penyederhanaan. Penilaian deklamsi puisi untuk keperluan anak usia Sekolah Dasar adalah terdiri atas lima aspek. Kelima aspek tersebut dapat dilihat secara utuh pada skema berikut.

Mimik pelafalan Penilaian deklamasi di SD Gestur

Intonasi
Konversasi

a. Pelafalan Pelafalan yang dimaksud adalah pelafalan bunyi vokal, konsonan secara tepat, misalnya makan tidak diucapkan makang tetapi makan, cepat tidak dilafalkan cepa’ tetapi cepat, kemana tidak dilafalkan kEmana tetapi kemana, kiri tidak dilafalkan keri tetapi kiri dan sebagainya. Di samping itu, pelafalan menyangkut pula dengan masalah kejelasan, yakni pelafalan bunyi vokal,

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 5

konsonan, dengan volume suara yang jelas dan sempurna, misalanya vokal /o/ dilafalkan denga suara yang keras atau jelas serta dengan bentuk mulut yang tidak setenga bundar.

b. Intonasi Intonasi yang dimaksud kaitannya dengan deklamasi puisi bukan hanya berkaitan dengan aspek panjang pendeknya suara (tempo), tinggi rendahnya suara (nada) melainkan juga termasuk keras lembutnya suara (tekanan) dan perhentian suara sejenak (jeda) pada saat mendeklamasikan larik atau bait puisi. Keseluruhan aspek tersebut tentu nampak secara keseluruha sebagai suatu komponen yang saling berhubungan secara utuh. Intonasi yang dimaksud di atas beranjak dari pengertian yang dikemukakan oleh Keraf (1980:43) “bahwa intonasi adalah kerjasama antara tekanan, nada, tekanan waktu, dan perhentian (jeda) yang menyertai suatu tutur dari awal hingga akhir. Pengertian tersebut sejalan dengan pengertian intonasi yang disampaikan oleh Asmara (1981:26) dengan istilah “lagu tutur, yang meliputi: aksen, nada, irama, timbre, tempo, dan jeda.” Pemaparan intonasi yang tepat dan sesuai pada saat mendek-lamasikan suatu puisi tentu mencerminkan kualitas pemahaman dan penghayatan deklamator tentang makna, suasana penuturan, dan sikap pengarang. Puisi yang bersuasana sedih seperti puisi doa dan puisi yang berisi penderitaan, intonasinya adalah nada rendah, tekanan lembut, tempo lambat. Puisi yang bersuasana marah atau tegas seperti puisi kepahlawanan, intonasinya: nada tinggi, tempo cepat, dan tekanan keras. Sedangkan puisi yang bersuasana gembira seperti puisi yang mendeskripsikan keindahan alam, intonasinya: nada sedang (tidak tinggi dan tidak rendah, tempo sedang, dan tekanan sedang). Berdasarkan hal tersebut, puisi yang berjudul “Doa” jika dibaca dengan intonasi tegas/marah seperti puisi kepahlawanan, tentu hilang nilai estetisnya dan maknanya Demikian pula sebaliknya, puisi kepahlawan dibaca dengan intonasi sedih tentu hilang pula nilai estetis dan makna yang dikandungnya. Bahkan lebih dari itu akan menimbulkan kelucuan atau bahan tertawaan bagi pendengar c. Ekspresi Wajah (mimik)

9 - 6 Unit 9

Mimik adalah perubahan raut wajah sesuai konteks makna dan suasana puisi atau prosa yang dibaca. Penampakan mimik yang tepat merupakan cerminan dari tingkat pemahaman dan penghayatan makna dan suasana penuturan, dan sikap pengarang karya sastra tersebut. Ekspresi wajah (mimik) dalam deklamasi sastra dapat terdiri atas beberapa macam, antara lain, mimik sedih, mimik marahh/tegas, mimik gembira, dan sebagainya. Menurut Remelan, (1982) mengungkapkan berbagai ciri mimik sebagai berikut. “Mimik sedih: wajah tampak muram, pandangan mata kelihatan sayu , bibir mengatup rapat. Mimik marah: mata membelalak , tampak galak, dahi berkerut. Mimik gembira: pandangan mata bercahaya, muka berbinar-binar, bibir merekah tersenyum.” Kemampuan seorang pemain dalam menunjukkan mimik yang sesuai tuntutan peran dalam naskah merupakan suatu hal yang turut menentukan taraf keberhasilan suatu pementasan; kapan mimik atau ekspresi wajah pemain khususnya pemain utama kurang sesuai, penonton akan memberi penilaian kurang menyenangkan. d. Gestur (kelenturan tubuh) Yakni kemampuan pembaca menguasai anggota tubuh dalam menggerakkannya secara lentur, refleks namun kelihatan wajar dan alamiah sebagai sarana penunjang. Gestur atau gerak jasmaniah harus selalu sejalan dengan pemaparan intonasi dan perasaan pembaca, misalnya saat membaca larik puisi gunung yang tinggi, tangan menunjuk ke atas secara lentur dan refleks, pada saat membaca larik /sungai yang berkelok-kelok/ tangan bergerak berkelok-kelok secara lentur dan refleks dan sebagainya e. Konversasi Berdeklamasi di hadapan khalayak penonton secara langsung menurut Aminuddin (2004) pada hakikatnya sedang berkomunikasi dengan penikmat itu sendiri. Olehnya itu, deklamator selayaknya memperhatikan sikap yang dapat menumbuhkan suasana simpatik dan keakraban antara dirinya dengan khalayak penonton, misalnya penciptaan kontak lewat pandangan mata, pengaturan posisi tubuh, pengaturan gerak-gerik tubuh secara wajar. Kepribadian

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 7

deklamator yang gampang demam panggung, pemalu, dan tidak percaya diri, tentu sulit menampilkan kesan yang simpati yang dapat memukau bagi khalayak penonton. Kompersasi mengindikasikan bahwa deklamator mampu tampil di atas pentas dengan sikap dan penampilan yang komunikatif dan menarik bagi penonton. Anda telah mencermati kelima aspek penilaian deklamasi puisi di atas, bukan! Bagaimana mendeklamasikan puisi yang berjudul “Di Kala Kuberdoa” berikut ini?

Di Kala Kuberdoa
Elviani

Dikala kuberdoa Ada rasa damai di hati Di kala kuberdoa Air mata ini jatuh Satu-satu di pipi Di kala kuberdoa Kusadari siapa diriku Tidak putih, Tuhan Ketika kuberdoa Kudengar bisikanmu menyejukkan Sekan menghapus keresahan hatiku Terima kasih Tuhan Atas kasih sayang-Mu padaku Dengan memperhatikan secara kritis puisi di atas, maka berikut dipaparkan hal hal yang perlu diperhatikan saat membaca puisi di atas, khususnya dari segi intonasi, mimik, gestut tubuh, dan konversasi. - Pembacaan puisi “Di Kala Keberdoa” dominan menggunakan intonasi .sedih: tempo lambat, nada rendah, dan tekanan dinamik yang lembut - Pembacaan puisi “Di Kala Kuberdoa” menggunakan mimik sedih pada bait kedua, ketiga, keempat, dan mimik gembira pada bait pertama dan larik kedua bait ke-4 . - Gerak refleks anggota tubuh saat mendeklamasikan puisi di atas adalahSaat membaca bait I, kedua tangan diangkat ke atas seperti berdoa lalu diletakkan di atas dada

9 - 8 Unit 9

-

-

-

Saat membaca bait II, kedua tangan diangkat seperti berdoa lalu telunjuk menunjuk ke mata lalu ke pipi secara berulang-ulang Saat membaca bait III, kedua tangan diangkat seperti saat berdoa lalu tangan diletakkan di kening lalu telapak digerakkan ke kiri-kanan tanda menolak. Saat membaca bait IV, kedua tangan diangkat ke atas seperti saat berdoa lalu tangan kanan didekatkan ke telinga selanjutnya tangan disilangkan lalu digerakan kedepan simbol menghapus. Saat membaa bait V, tangan kanan diangkat keatas lalu badan membungkuk tanda hormat. Konversasi deklamator saat menampilkan puisi di atas tidak banyak bergerak ke sana kemari secara cepat. Namun boleh juga pindah dari depan ke belakang atau kiri ke kanan secara perlahan.

Anda telah perhatikan penjelasan di atas, bukan? Bagaimana? Sudah memahami tentang deklamasi dan baca puisi serta unsur penilaiannya? Apakah sudah bisa mendeklamasikan puisi dengan baik? Kalau ya, silakan kerjakan latihan berikut! (1) Jelaskan perbedaan antara baca puisi dan deklamasi puisi! (2) Unsur apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam deklamasi puisi dan bagaimana perbedan antara unsur penilaian tersebut? (3) Pilihlah salah satu puisi yang Anda senangi berikut ini untuk dideklamasikan! Alam Indonesia
Karina Kencana

Alangkah indah alam Indonesia Gunung-gung menjulang tinggi Sungainya tampak berliku-liku Sawah dan ladang luas membentang Nyiur melambai di pantai Angin bertiup sepoi-spoi Hawa pun terasa sejuk Ombak memecah di tengah laut Matahariari terbit di lereng gunung Merah menyala pantulkan sinarnya

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 9

Burung-burung berkicau merdu mengasyikkan Seakan memberi salam pada-Nya.
Harian Pedoman Rakyat , 22 April 2004 Engkau Yang Berjasa S. Pebriani

Kupuji tugasmu Kuhormati dirimu Kukagumi ketabahanmu Kuhargai pengabdianmu Hidupmu yang penuh kesederhanaan Hatimu yang penuh keikhlasan Kata-katamu yang berisi nasihat dan saran Bagaikan pelita di dalam kegelapan Engkaulah pahawan tanpa tanda jasa Engkaulah penunjang kemajuan bangsa Engkau sumbangkan jiwa dan raga Untuk tanah air tercinta Guru…. Betapa mulia tugasmu Tanpa keikutsertaanm Tak mungkin negaraku maju Rambu-rambu pengerjaan latihan (1) Untuk mengerjakan latihan bagian pertama perlu Anda memiliki pemahaman berbagai aspek terkait kedua hal tersebut dengan baik, yakni memahami arti dasar kedua kata tersebut! (2) Sebelum Anda mengerjakan latihan bagian kedua, Anda perlu mencermati dan membayangkan dirinya sedang mengikuti atau menonton perlombaan baca puisi di suatu tempat! (3) Kalau Anda akan mendeklamasikan puisi di atas, baca secara berlangulang lalu berkonsentrasi dengan sungguh-sungguh. Pahami dengan baik makna kata demi kata dan suasana penuturannya. Selanjutnya, perhatikan pelafalan, intonasi, mimik, gestur dan konversasi Anda di atas pentas.

9 - 10 Unit 9

Rangkuman
Deklamasi puisi atau prosa anak-anak merupakan suatu kegiatan penyampaian sajak atau prosa melalui suara secara langsung atau secara lisan di depan khalayak. Syarat yang perlu dipenuhi untuk menjadi pembaca puisi yang baik adalah kemampuan teknis, gestur tubuh yang wajar, pengugasaan mimik, dan pemahaman isi sajak. Unsur-unsur yang dinilai dalam deklamasi puisi adalag aspek pelafalan atau volume suara yang sempurna, (2) intonasi yakni penuturan suatu larik atau kalimat yang di dalamnya merangkaikan secara harmonis antara tempo, nada, tekanan sesuai konteks makna kalimat/larik yang dilafalkan, (3) mimik yakni perubahan raut wajah atau ekspresi wajah sesuai konteks makna larik/kalimat yang mendukung intonasi yang dituturkan, (4) gestur yakni gerak tubuh secara refleks dan wajar sesuai konteks makna larik/kalimat untuk mendukung mimik yang dipaparkan, (5) konversasi adalah sikap deklamator di atas pentas yang dapat menumbukan keakraban dan simpati para penonton.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 11

Tes Formatif 1
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1. Deklamasi berasal kata... A. deklamation B. declamation C. declamatio D. declamatisation 2. Saat deklamator membaca larik puisi /lari ke kiri ke kanan/ lalu tangannya bergerak kiri ke kanan. Gerak deklamator tersebut dinilai dari segi... A. ekspresi B. gestur C. konversasi D. intonasi 3. Mimik sedih ditandai dengan dengan ciri-ciri...... A. Muka bercahaya, pandangan mata bercahaya, mulut tersenyum B. Muka tanpak muram, mulut terbuka, dan pandang mata sayu C. muka tanpak muram, pandangan mata sayu, mulut tertutup D. Mata terbelalak/melotot, muka kemerah-merah, dan kening berkerut. 4. Indahnya negeriku Alanya hijau Bertaburan bunga mewangi ................... Saat membaca penggalan puisi diatas sebaiknya dengan intonasi. yang ... A. Tempo cepat, nada tinggi, tekanan lembut B. Tempo sedang, tekanan sedang, nada sedang C. Tempo lambat, nada rendah. tekanan lembut D. Tempo cepat, nada tinggi, tekanan dinamik keras 5. Matanya membelalak-melotot, mukanya kemerah-merahan, dan keningnya berkerut adalah ciri-ciri.... A. Mimik marah B. Mimik humor C. Mimik sedih D. Mimik gembira

9 - 12 Unit 9

6. Pada saat membaca larik puisi / Aku sedih/ , /Ibu telah tiada/ raut wajahnya kelihatan muram, pandangan matanya sayu dan mulutnya tertutup, peristiwa deklamasi puisi tersebut dinilai dari segi A. Mimik B. Gestur C. Konversasi D. Intonasi 7. Untuk kepeluan baca puisi anak SD, unsur yang dinilai dalam baca puisi terdiri atas A. Dua unsur B. Tiga unsur C. Empat unsur D. Lima unsur 8. Berikut ini adalah aspek yang membedakan deklamasi puisi dan baca puisi, KECUALI .... A. Baca puisi pegang naskah sedang deklamasi puisi hapal naskah B. Baca puisi relatif lebih panjang/banyak , deklamasi puisi terbatas C. Intonasi merupakan penekanan dalam baca puisi , penekanan deklamsi puisi adalah intonasi, mimik, dan gestur D. Baca puisi lebih mudah dan menyenangkan , deklamasi puisi lebih sulit dan kurang menyenangkan. 9. Unsur-unsur yang dinilai saat deklamasi sastra (prosa – puisi) anak-anak adalah.... A. Pelafalan – mimik – artikulasi – pengayatan - gestur B. Pelafalan – intonasi – mimik – ekspresi - konversasi C. Pelafalan - tempo - artikulasi - intonasi - mimik D. Pelafalan – intonasi - mimik – gestur - konversasi 10. Kerja secara proporsional antara nada, tempo tekanan dinamik, jeda yang menyertai suatu tutur disebut .... A. Intonasi B. mimik C. Gestur D. Konversasi

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 13

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Apakah semua soal sudah Anda kerjakan dengan baik? Sudah, kan!. Kalau sudah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 1 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat terus mempelajari subunit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai. x 100%

9 - 14 Unit 9

Subunit 2 Pementasan Drama

B

iasa Anda mementaskan drama? Atau, sering menoton pementasan drama? Anda sangat menikmatinya sekaligus memperoleh pengalaman yang dapat memperkaya kepribadian Anda, bukan! Yah, oleh karena itu, mungkin Anda bertanya dalam hati, apa itu drama dan teknik pementasannya, teknik-teknik apa saja yang perlu dipahami sebagai pemain drama, serta adakah dasar-dasar apresiasi drama anak-anak yang perlu dikuasai? Untuk memahami hal tersebut ikuti uraian berikut dengan teliti dan saksama.

Pengertian Drama
Apakah yang disebut drama? Drama adalah suatu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang tujuannya bukan untuk dibaca melainkan untuk dipertunjukkan oleh aktor di atas pentas. Hal tersebut sejalan dengan Hermawan (1988:2) bahwa “drama merupakan cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton.” Sehubungan dengan drama sebagai salah satu karya sastra, oleh Sumardjo (1984) memiliki unsur-unsur: tema, plot, latar, karakter, dialog, pembagian waktu, efek, dan retorika. Unsur-unsur tersebut saling mendukung dalam membentuk suatu sistem yang kompak. Namun demikian Japi Tambojang (dalam Tjahyono dan Setiawan, 1998: 6.3) menyatakan bahwa secara teknis naskah drama dibangun dua komponen penting yaitu wawancang dan kramaagung. Wawancang adalah suatu percakapan yang harus dihapal oleh aktor yang disertai pemahaman intonasi yang tepat. Dalam wawancang atau dialog tentu harus dipahami suasana emotif yang menyertainya sepoerti jengkel, terharu, marah, sedih, bangga, bimbang, dan sebagainya. Sedangkan kramagung merupakan instruksi yang membantu aktor untuk berakting di atas panggung dengan tepat sekaligus sebagai rambu-rambu atau petunjuk bagi penata panggung mempersiapkan tempat pementasan yang sesuai latar adegan atau babak yang akan dipentaskan. Misalnya:

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 15

LISWATY DUDUK DI KURSI BELAKANG. IA ADALAH GADIS JELITA, BERUSIA SEKITAR 20 TAHUN, MENGENAKAN PAKAIAN DAN DANAN MUTKHIR. TAS DAN SATU EKS BUKU DIKTAT YANG DIBAWA, RTERLETAK DI KURSI KIRI. SEKARANG IA SEDANG MEMBACA KORAN SAMBIL SESEKALI MENOLEHH ARAH PINTU BELAKANG. KEMUDIAN SAPARI MUNCUL DAR IP INTU BELAKANG DENGAN TERSENYUM. IA BERUSIA SEKITAR 27 TAHUN UMURNYA... Lisawaty : “Bagaimana si Orok. Tak perlu bantuanku, bukan?” : “O, tidak Dsudah beres. Tidur pulas ia sekarang. Jadinya lega Sapari aku.” Lisawaty : “Tak kusangka engkau seterampil itu.” : (MELANGKAH KE KURSI DEKAT MEJA) “Ucapan orang Sapari bijaksana memang selalu benar.” (Drama Pendek“Tanpa Pembantu”, oleh A.Adjib Hamzah, 1985) Naskah yang ditulis dengan huruf kapital dan dalam kurung disebut kramagung sedangkan yang bagimana naskah yang ditulis dengan huruf kecil disertai tanda petik adalah contoh wawancang atau dialog.

Teknik Mementaskan Drama
Dalam mementaskan atau bermain drama perlu memahami berbagai teknik. Menurut Rendra (1978) ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan dalam mementaskan drama Teknik tersebut dilihat secara jelas dan utuh pada skema berikut.

9 - 16 Unit 9

Teknik Muncul Teknik Pengembangan Teknik Memberi Isi Teknik Pengembangan

TEKNIK BERMAIN DRAMA

Teknik Timing Teknik Penonjolan

1. Teknik Muncul Cara pemain memunculkan diri pada saat tampil pertama kalinya di atas pentas dalam satu drama babak, atau adegan. Pemunculan tersebut memberi kesan pada para penonton sesuai peran yang dimainkan. Jika memerankan seorang ustadz, dia harus memperlihat diri sebagaimana layaknya ustadz, berpakaian muslim dengan tutur kata yang lemah lembut sesuai dan prilaku kelihatan sopan dan santun kepada siapa pun. 2. Teknik memmberi Isi Pengucapan suatu kalimat dengan penekanan makna tertentu melalui tempo, nada, dinamik, misalnya : DIA sangat baik padaku (bukan saya atau mereka) Dia SANGAT baik padaku (bukan kurang atau cukup) Dia sagat BAIK padaku ( bukan tidak baik ) Dia sangat baik PADAKU (bukan orang lain tapi padaku) Teknik ini harus terpadu dengan teknik jasmaniah seperti mimik, sikap, gerak anggota badan lainnya (gestur)

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 17

3. Teknik Pengembangan Teknik membuat drama bergerak dinamis menuju klimas atau drama tidak datar. Teknik terbagi atas beberapa teknik yang intinya menyangkut penggunan pengucapan dan jasmaniah, (a) Teknik pengembangan pengucapan: seperti menaikkan volume suara atau sebaliknya, menaikkan tinggi nada suara atau sebaliknya, menaikkan kecepatan tempo suara atau sebaliknya (b) Teknik pengembangan jasmaniah, yakni - Menaikkan posisi jasmaniah, dari duduk menjadi berdiri lalu berjongkok dan seterusnya

- Dengan cara memalingkan kepala, tubuh atau seluruh tubuh - Dengan cara berpindah tempat dari kiri ke kanan , dari belakang ke
depan, dan sebagainya.

- Dengan cara menggerakan anggota badan tanpa berubah tempat
seperti menggerakkan kaki atau jari

- Dengan ekspresi wajah (mimik) untuk mencerminkan emosi
tertentu, misalnya mata sendu, muram untuk mengekspresikan kesedihan dan sebagainya. 4. Teknik Timing Tekni ini merupakan ketepatan hubungan antara gerakan jasmaniah dengan kata-kata atau kalimat yang diucapkan dalam waktu yang singkat atau sekejap, misalnya: - Bergerak sebelum mengucapkan kata-kata tertentu, seperti menepuk kepala “aku lupa, maaf!’ - Bergerak sambil mengucapkan sesuatu seperti menepuk kepala sambil mengucapkan “Aku lupa, maaf!” - Bergerak setelah mengucapkan sesuatu seperti “Aku lupa, maaf!” lalu menepuk kepala. 5. Teknik Penonjolan Penonjolan isi merupakan teknik dimana seorang pemain harus memahami pada bagian mana suatu kalimat yang perlu ditonjolkan pada saat diucapkan. Seterusnya pada bagian mana dalam suatu adegan/babak yang perlu ditonjokan. Hal ini agar penonton dapat menikmati pementasan dengan penuh keharuan.

9 - 18 Unit 9

Dasar-dasar Pementasan Drama Anak-anak
Sebelum bermain drama anak-anak, Junaedi (1989) dan Ramelan (1982) mengemukakan beberapa dasar-dasar pementasan yang perlu dikuasai dengan baik supaya pemntasan dapat menarik simpati penonton. Dasar-dasar tersebut sebagai berikut. (1) Penguasaan Vokal Seorang calon pemain drama harus menguasai pelafalan bunyi konsonandan vokal sesuai artikulasinya secara tepat dan sempurna. Disertai suara yang jelas dan keras.. Penguasaan vokal ini biasanya di tempat terbuka untuk mengulang-ulang vokal tertentu sampai sempurna pengucapannya. (2) Penguasaan Mimik.-Intonasi Dasar Seorang calon pemin harus menguasai mimik dasar seperti mimik sedih, gembira, marah. Mimik marah biasa ditandai dengan mata melotot, muka kemerah-merahan, kening berkerut, mimik sedih ditandai dengan wajah muram, pandangan mata sayu, dan mulut tertutup, sedang mimik gembira ditandai muka yang bercahaya, mata bersinar, dan mulut terseyum.. Di samping mimik harus pula menguasai intonasi dasar sedih (tempo lambat-nada rendah- tekanan lembut) intonasi marah (tempo cepatnada tinggi- tekanan keras) dan intonasi gembira (tempo-nada-tekanan bersifat sedang).Mimik dan intonasi sangat mendukung peran yang dimainkan. (3) Penguasan Kelenturan Tubuh Tubuh seorang pemain drama harus lentur atau elastis sehingga dalam memainkan peran tertentu tidak kelihatan kaku. Untuk mencapai penguasaai tubuh yang elastis, perlu melakukan serangkaian gerakan seperti berlari cepat dalam jarak dekat, bolak balik ke utara, selatan, timur, barat, ke segala penjuru. Berjalan dengan menggambarkan perasaan sedih, jalan kepayahan membayangkan berjalan di padang pasir hingga jatuh bergulingan, dan seterusnya. (4) Penguasaan Pemahaman Watak Peran Suatu peran menjadi hidup bila aktornya memiliki penguasaan pemahaman dan penghayatan watak peran yang tepat. Untuk memperoleh

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 19

pemahaman watak peran yang tepat, perlu mengadakan analisis peran berdasarkan naskah, seperti memahami alur cerita, pengenalan, permasalahan, klimaks , dan penyelesaian lalu mencatat peran yang akan dimainkan. Selanjutnya, mencatat secara lengkap tentang umur, pekerjaan, ligkungan keseharan, latar belakang keluarga, tingkat pendidikan dan kepribadian peran yang akan dimainkan. Watak tersebut dibayangkan sedalam-dalamnya sehingga pda saat memainkan peran tersebut, watak pribadi aktor terganti dengan watak peran yang semestinya diperankan. (5) Penguasaan pemanggungan Penuguasaan pemanggungan sebagai suatu yang harus dimiliki oleh setiap pemain dama, antara lain berkaitan dengan: (a) teknik muncul pada saat pertama kali aktor tampil di panggung sesuai peran yang dimainkan Pemunculan itu befungsi memberi kesan simpati bagi penonton; (b) bloking, yakni penguasaan masing-masing aktor tentang daerah gerakannya di atas panggung sehingga panggung kelihatan tak berat sebelah; (c) penguasaan cahaya dan bunyi, yakni aktor perlu penguasaan menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya dan bunyi (sound system) di atas panggung. Sebelum mementaskan drama tentu harus membaca dan menelaah naskah secara cermat supaya bisa beracting sesuai peran yang ditugaskan oleh sutradara. Namun demikian, agar kita mampu memainkan peran diberikan perlu mengetahui langkah-langkah mementaskan drama, yakni sebagai berikut. (a) Menganalisis dan menyimpulkan bentuk tindakan pokok yang akan diperankan dalam pementasan di atas panggung, misalnya menendang kaki seseorang hingga terjatuh, menangis tersedu-sedu saat menyaksikan ibunda tercinta di rumah sakit sedang diopename dan kaget saat melihat suatu peristiwa tertentu, sebagainya. (b) Menganalisis dan menyimpulkan sifat atau watak yang akan diperan dalam pementasan misalnya sebagai ibu yang lembut atau ibu yang keras dalam mendidik anaknya, atau bapak yang penuh perhatian kepada anak-anaknya dan sebagainya.

9 - 20 Unit 9

(c)

(d)

(e)

Mencari dalam naskah atau adegan/babak tentang bagian-bagian yang perlu yang ditonjolkan, baik dalam bentuk penonjolan pengucapan maupun dalam bentuk penonjolan jasmaniah. Menciptakan ekspresi wajah atau mimik muka, atau sikap yang mendukung watak peran yang dimainkan sehingga peranan yang dibawakan memukau penonton. Menganalisis naskah untuk menciptakan timing (berbicara sebelum bergerak, bergerak sambil, bicara, atau bergerak lalu berbicara) yang tepat dan sempurna saat pementasan. Sehinga penonton dapat menikmati keindahan pementasan yang di dalamnya terkandung pesan yang dapat memperkaya rokhaninya.

Tata Artistik Pementasan Drama
Pementasaan drama memerlukan tata artistik agar nampak memakau penonton. Tata artistik menurut Tjokroatmojo dkk (1984) yang perlu diperhatikan dalam pementasan drama ada lima macam. Kelima jenis tata artistik tersebut dapat dilihat secara utuh dan jelas pada skema berikut.

Tata rias wajah Tata rias wajah TATA ARTISTIK PEMENTASAN DRAMA Tata rias wajah Tata rias wajah Tata rias wajah

(a)

Tata artistik rias wajah Tata rias merupakan salah satu bagian yang menunjang pemain dalam memerankan suatu peran. Dengan tata rias wajah, membantu mengubah aktor muda memerankan aktor yang kelihatan tua sekali , aktor yang sehat kelihatan sakit, atau aktor muda kelihatan sangat tampan atau sangat cantik sehingga semakin menarik perhatian penonton

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 21

(b)

(c)

(d)

(e)

Tata artisitik busana Dengan tata busana yang relevan dengan peran yang dimainkan, secara tak langung mencerminkan karakter atau pribadi pemain bersangkutan. Melalui tata busana yang tepat, seorang aktor diketahui kepribadian atau karakternya, profesi, pendidikan, kegemaran, umur dan sebagainya. Di samping itu, tata busana akan semakin memberikan nilai keindahan, efek visual yang menarik saat pementasan. Tata artistik musik Apa yang dimaksud dengan tata musik? Tata musik merupakan iringan musik atau ilustrasi seni suara yang mengantar suatu adegan / babak sehingga peristiwa yang digambarkan semakin hidup, jelas dan menarik. Misalnya, drama yang mengisahkan kepahlawanan akan lebih menarik jika diringi dengan lagu-lagu kepahlawan, drama yang berkisah tentang percintaan akan lebih menarik jika diiringi lagu-lagu percintaan, atau drama yang mengisahkan nilai-nilai spiritual penonton akan lebih tertarik jika diiringi lagu yang bersyahdu rebana atau keagamaan. Tata artistik sinar /cahaya Suatu drama yang menggunakan tata artisitik sinar yang berwarna-warni akan memberikan efek estetis yang memukau dibanding drama tanpa penataan cahaya. Melalui tata cahaya membantu permainan dalam menggambarkan peristiwa tertentu, seperti malam, pagi, sore. Selain itu, atata cahaya dapat membantu pada saat menjelang memasuki pembukaan, lampu di panggung padam sambil layar tertutup. Bersamaan layar terbuka, lampu menyala diiringi suara musik yang sesuai serta munculnya pelaku yang berdialog/ monolog . Tata artistik suara (sound system) Seni artistik suara (sound system) juga perlu dipersiapkan dengan cermat. Dengan seni artistik suara yang baik, suara musik, dialog atau -monolog pemain akan terdengar jernih, jelas, dan menarik, baik penonton yang berada di depan maupun yang ada di belakang. Masalah tata suara sering dianggap remeh padahal fungsinya tidak kalah pentingnya dengan aspek lainnya. Tata artsitik suara yang

9 - 22 Unit 9

terganggu akan menimbulkan bebagai efek sampingan, bahkan akan menyebabkan gagalnya suatu pementasan secara total.

Sutradara dan Pementasan Drama
Tak dapat dipungkiri bahwa peran sutradara dalam pementasan drama sangat penting. Keberhasilan suatu pementasan drama tak lepas dari kreatifitas sutradara. Mengapa demikian? Menurut Tambojan (1981) sutradara bertanggungjawab atas beberapa peran vital yang menentukan taraf keberhasilan suatu pementasan drama. Peran sutradara tersebut adalah sebagai beikut. (1) Memilih naskah bermutu Sutradara memilih naskah bermutu dengan berlandas pada nilai filsafati yakni naskah tersebut mengandung perenungan yang hakiki, segi artistik yakni naskah tersebut memiliki nilai estetis yang tinggi, segi etishumanistik, yakni naskah tersebut memiliki nilai moral yang dapat memperkaya rokhani penonton, segi komersil yakni naskah itu memiliki daya minat yang mampu memacing penonton. (2) Menentukan penafsiran naskah Naskah yang akan dipentaskan harus sesuai keinginan penafsiran sutradara berdasarkan naskah. meskipun penafsiran itu kadangkala merupakan hasil diskusi bersama dengan para aktor. Semua akting dan dialog merupakan anjuran atau persetujuan sutradara karena berhasil atau gagalnya banyak ditentukan oleh kreativitas, etos kerja, dan tangungjawabnya. (3) Memilih aktor Berdasarkan hasil penafsiran terhadap naskah, sutradara memilih dan menentuan aktor esuai postur tubuh, umur, dan jenis kelamin dan keahlian tokoh yang dinginkan dalam naskah. (4) Melatih aktor Setelah memilih aktor, tugas sutradara adalah menentukan jadwal latihan untuk melatih aktor kepiawian aktor dalam memainkan peran yang diembannya sebagai prapementasan final. Hal ini agar pagelaran drama berjalan dengan tepat dan menarik. (5) Bekerjasama dengan tim Sutradara juga harus mampu menentukan tim yang dapat membantunya mempersiapkan tata artistik: sinar, rias, busana, musik, panggung. Tim tersebut haris memiliki jiwa kreatif dan semangat kerja yang tinggi.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 23

Anda sudah mempelajari dengan baik materi di atas? Terntu sudah! Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi subunit 2 ini cobalah kerjakan latihan berikut. 1. Ada berapa macam teknik yang perlu dikuasai sebelum tampil di atas pentas? Sebutkan dan jelaskan satu demi satu ! 2. Jelaskan 4 jenis dasar-dasar penguasaan panggung yang harus dimiliki oleh seorang pemain drama! 3. Pementasan drama didukukung oleh berabagai tata artistik: musik, rias wajah, busana, dan cahayasuara (sound system). Jelaskan tata artistik tersebut menurut pemahaman Anda. 4. Sutradara memiliki peran vital terhada keberhasilan suatu pementasan drama. Kemukakan peran sutradara tersebut 5. Bentuklah kelompok di kelasnya lalu Anda pentaskan drama tiga babak secara kelompok berikut ini.

Penyesalan RIO
Tokoh: - Rio sebagai adik, - Raka (aku dalam cerita sebagai kakak) - Bibi, Ibu, dan Ayah

Babak I
Disebuah ruangan di rumah sakit, tampak Rio tidur pada sebuah tempat tidur yang diberi seperei berwarna putih, dan selimut berwarna hijau. Di sebelah kiri atas tempat tidur terdapat meja kecil yang berhias bunga. Di sebelah kanan atas tempat tidur terdapat sebuah meja kecil yang berisi sekeranjang buah-buahan. Ruang tersebut disekat dengan kain berwarna hijau . Rio terbaring di tempat tidur. Di sampingnya berdiri seorang perawat yang baru saja selesai mengukur suhu tubuhnya. Dari pintu, masuk bibi dan Raka dengan membawa bungkusan buat RIO. Bibi : “Hai Rio! Bagaimana, sudah makin baik?” (tangannya mengusap tangan Rio) Rio : “Lumayan Bi!” Raka : “Wah, kamu kelihatan sudah sehat! Sebentar lagi bisa pulang, ya! Nih, kakak bawakan sankis buah kesukaan kamu! (Raka menuju meja menyimpan bawaannya)

9 - 24 Unit 9

Rio Rio Bibi Rio Bibi Raka Rio Raka Raka Rio

Bibi Raka Rio

: “Iya, kak! Terimakasih!” : “Bi, maafkan Rio ya!” (memelas) : “Lho, memang mengapa? Sudah, kamu jangan punya pikiran yang bukan-bukan, biar cepat sembuh!” : “Iya, Bi! Tapi Bibi mememaafkan Rio, kan?” : “Bibi sangat sayang kepadamu, sebelum kau minta bibi sudah memaafkanmu!” : “Bagaimana ? Apa sekarang masih akan tidur dengan kucing?” : “No way!” (sambil menggerakkan telapak tangannya menyatakan tidak). : “Bagus, kamu memang anak yang baik!” (Bibi tersenyum memandang dua kakak beradik itu dengan penuh sayang) : “Kucingmu boleh tetap dipelihara, asalkna tidak diajak bermain di dalam dan diajak tidur”. : “Walaupun aku tetap sayang sama kuccing tapi sekarang kucingku harus tidur di rumah-rumahannya. Dan bibi tak usah segan mengepruknya ke luar, jika kucing itu masuk rumah kita” (sambil memandang ke arah bibi). :”Iya, sayang! Sekarang, Rio tidur, ya! Bibi dan Raka harus segera pulang supaya tidak kemalaman”. (mengusap kepala Rio). : “Ayo, (tangannya melakukan salam tepuk dengan adiknya) kak pulang dulu , ya!” : “Ya,......”Terima kasih ,Bi, Kak!”

Babak II Di sebuah ruang tengah seorang ayah dan seorang ibu sedang duduk beristirahat. Ayah tampak membaca. Di atas meja terhidang te hangat dan kue. Ayah :“Bagaimana belajar anak-anak, Bu?” Ibu :“Bagus, Pk! Malah sekarang juga mereka sedang (Rio datang mengampiri orang tuanya, sambil mengelus sekor kucing). Rio :“Bibi nakal, bu! Kucing Rio selalu dipukul sapu lidi, dan tak boleh ke dalam”. (Ayah melihat ke arah bibi menggerakan tangannya) Ayah : “Ada apa lagi, sudah ke sana! (mengibaskan tangannya). Bibi :“Kak, sekarang kucing itu berak, mengotori rumah ini!” Ayah :“Apa! Berak?” (Ayah melihat ke arah Rio) Ayah :“Ccoba lihat tanganmu kucing itu pasti belum bersih!”

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 25

Rio

:“O, iya ada kotorannya di tanganku”. (Rio meninggalkan kembali orang tuanya). Ayah :“Nin, dimana beraknya kucing itu?” Bibi :“Disana! Di kamar Rio dan koridor, lihatlah!” Ibu :“Kucing berak, malah nyuruh kakakmu melihatnya! Gimana kamu ini?” (marah) Ayah :“Bersihkan kotoran itu!” (bangkit,meninggalkan ruangan diikuti dan bibi) ____________________________________________

Babak III Di sebuah ruangan di rumah sakit. Dekorasi sama dengan babak satu. Ditambah kopor kecil yang diletakkan di atas tempat tidur. Rio duduk bersama Ibu, disaksikan Raka dan Bibi. Raka :”Wah sekarang sudah siap untuk tidur dengan si Meng lagi nihh!” (tersenyum sambil melihat Rio) Rio :”Jangan gitu, Kak. Rio kan sudah janji pada Bibi, kaka, dan diriku sendiri. Tidur sama kucing. No way! No way! (semua tertawa) Raka :”Benar kamu sdah janji dan sampai dalam hati? Rio :“Kak jangan ragu, insyaallah akan saya buktikan nanti!” Rio :“Terima kasih, kalau adik sudah sadar!” Ayah :“Mari ita pulang ke rumah, nak!” (wajah mereka tanpa bahagia ) (Karya Mien R. dalam Apresiasi Drama anak-anak, 2000) Rambu-rambu pengerjaan latihan subunit 2. 1. Untuk mengerjakan latihan bagian pertama perlu Anda memahami secara mendalam arti dasar setiap jenis teknik bermain drama. 2. Sebelum Anda mengerjakan latihan bagian kedua pahami dahulu satu demi satu dasar-dasar pemanggungan tersebut dengan ccara membuat skema. Dengan skema tersebut memudahkan Anda memahami materi tersebut. 3. Untuk mengerjakan latihan pementasan drama anak-anak di atas, perlu Anda memperhatikan dengan sungguh-sungguh teknik muncul, teknik pengembangan isi, teknik penonjolan, dan teknik timing. Di samping itu

9 - 26 Unit 9

Anda jangan lupa melatih dasar-dasar penguasaan vokal, mimik, gestur dan, pemahaman watak peran, dan penguasaan pemanggungan.

Rangkuman
Drama adalah suatu cerita konflik tentang kehidupan manusia yang ditulis dfalambntuk dialog. Secara teknis unsur r drama meliputi wawancang atau dialo dan kramagung yang merupakan pentunjuk bagi aktor , penata panggung, dan sutradara melaksanakan tugasnya dengan baik Beberapa teknik yang perlu dipahami setiap calon aktor agar dapat tampil di pentas dengan baik, yakni: teknik timing, teknik muncul, teknik penonjolan isi, dan teknik pengembangan. Di samping itu, seorang calon aktor perlu pula memiliki penguasaan vokal, penguasaan mimik, penguasaan gestur atau kelenturan tubuh, dan penguasan peanggungan yang meliputi blocking, cahaya dan bunyi atau sound system. Tata artistik pementasan drama meliputi tata artistik rias wajah, tata artistik busana, tata artistik cahaya atau lampu, tata artistik musik, dan tata artistik suara (sound system). Peran vital seorang sutradara terhada keberasila suatu pementasan drama adalah: memilih naskah bermutu, menentukan penafsiran naskah yang tepat, memilih dan melatih pemain, dan bekerjasama dengan seluruh tim.

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 27

Tes Formatif 2
Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan! 1 Suatu cerita konflik tentang kehidupan manusia yangn ditulis dalam bentuk dialog untuk dipertunjukkan disebut A. Esay B. Drama C. Puisi D. Prosa. 2. Berikut ini berkaitan erat dengan kramagung KECUALI... A. Petunjuk bagi aktor untuk berakting dengan tepat B. Petunjuk bagi penata panggung mempersiapkan panggung yang sesuai C. Petunjuk bagi sutradara mengarahkan para aktor bermain dengan baik D. Petumjuk bagi penonton memberi tanggapan yang tepat kepada sutradara. 3. Cara simpati menampilkan diri pada saat pertama kali tampil di panggung adalah...... A. Teknik memberi isi B. Teknik muncul C. Teknik pengembangan D. Teknik timing 4. Menurut Japi Tambojan, drama secara teknis terdiri atas....... A. dua unsur B. tiga unsur C. empat unsur D. lima unsur 5. Teknik yang mengarahkan agar terjadi hubungan yang tepat antara gerak dengan kalimat yang diucapkan dalam waktu sepintas adalah... A. teknik Pengembangan B. teknik penonjolan C. teknik timing D. Teknik muncul 6. Penguasaan blocking berkaitan dengan.... A. Agar setiap pemain memahami daerah geraknya di panggung B. Agar setiap pemain memahami peran yang dibawakan C. Agar setiap pemain menguasai pengaturan cahaya saat acting D. Agar sutradara mampu mengontrol setiap dengan

9 - 28 Unit 9

7. Teknik yang mengarahkan drama bergerak menuju klimaks, tidak monoton adalah.... A. Teknik muncul B. Teknik pengembangan C. Teknik timing D. Teknik penonjolan isi 8 . Artikulasi merupakan salah satu aspek yang perlu dikuasai oleh calon aktor, yang intinya tentang A. Melafalkan vokal-konsonan secara jelas dan sempurna B. Memahami jiwa dan arti setiap kata yang diucapkan C. Memahami bentuk perubahan raut muka sesuai kalimat yang diucapkan D. Memahami gestur tubuh secara tepat sesuai kalimat yang dilafalkan 9. Aktor yang mampu menunjukkan perubahan raut muka muram, sedih, gembira berkaitan dengan..... A. Penguasaan mimik B. Penguasaan artikulasi C. Penguasaan pemanggungan D. Penguasaan gestur tubuh 10. Unsur yang membangun suatu drama sebagai suatu kesatuan utuh adalah....... A. Tema, latar, alur penokohan, amanat B. Tema. latar, penokohan, sudut pandang C. Tema, plot alur, penokohan, gaya bahasa D. Tema, latar, alur, penokohan, dialog

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 29

UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT Saya yakin Anda telah mengerjakan semua soal di atas dengan baik. Anda memang pebelajar yang tekun dan cerdas. Jika demikian halnya, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 2 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit 2 ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 2. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = 10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat dan sukses! Hal itu menunjukkan bahwa Anda telah mempelajari materi dengan saksama sehingga pemahamannya optimal, khususnya subunit 2 dari Unit terakhir modul ini. Sekali lagi, Anda patut mendapat pujian. Namun demikian, bilamana tingkat penguasaan Anda ternyata masih di bawah 80%, tidak apaapa, masih ada kesempatan mengulang-ulangi materi itu sampai Anda kuasai dengan baik, khususnya materi-materi yang dianggap belum dipahami dengan baik. x 100%

9 - 30 Unit 9

Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1. B Dari segi struktur fonetis bahasa Inggris, istilah yang benar declamation 2. B Salah keahlian yang perlu dikuasai pembaca puisi adalahpenguasan gerak jasmaniah atau disebut juga gestur. 3. C Saat marah muka merah dan mata melotot; sedang saat sedih mata sayu dan muka muram; saat gembira muka bercahaya dan mata bersinar 4. B Puisi itu harus dibacadengan suasana gembira. Jad,i tempo, nada, tekanan harus sadang; bukan tempo cepat/lambat, nada tinggi atau rendah, tekanan keras atau lembut. 5. A Mimik marah mata melotot, muka agak kemerah-merahan, dan kening berkerut. Sedangkan mimik sedih wajah kelihatan murung. Adapun mimik gembira, wajah kelihatan bersinar. 6. A Mimik atau ekspresi wajah berkaitan perubahan raut wajah sesuai makna larik/bait yang dibaca, apakah mimik sedih, marah atau gembira 7. D Untuk kebutuhan anak SD, unsur yang dinilai adalah pelafalan, intonasi, mimik, gestur, dan konversasi/sikap 8. D Baca puisi atau deklamasi puisi keduanya dapat menyenangkan bagi khalayak penonton 9. D Yang dinilai saat deklamasi puisi untuk kepeluan anak sekolah dasar meliputi aspek: pelafalan, intonasi, mimik, gestur dan konversasi 10. A Intonasi adalah kerja secara harmonis antara nada, tempo tekanan dinamik, jeda yang menyertai suatu tutur

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 31

Tes Formatif 2
Aspek menonjol yang membedakan puisi, prosa, dengan drama adalah dari karya itu bukan untuk dibaca tetapi untuk dipentaskan di atas panggung. Kramagung tak ada hubngannya dengan penonton; hanya . B: berkaitan dengan sutradara, aktor, penata artistik rias wajah, sinar, musik, dan penata pangung. Teknik yang mengarahkan pemain agar pada saat petama tampil . B: berkesan simpati bagi penonton adalah teknik muncul. Drama secara teknis terdiri atas dua komponen utama yakni . A: wawancang dan kramagung. Wawancang berkaitaan dengan dialog sedang kramagung berkaitan dengan petunjuk pelaksanaan pementasan. Teknik yang mengarahkan agar terjadi hubungan yang tepat antara . C: gerak dengan kalimat yang diucapkan dalam waktu sepintas adalah teknik timing. Latihan Bloking mengarahkan para pemain memanfaatkan . A: panggung secara berimbang saat pentas; panggung tidak tidak berat sebelah. Agar para pemain dapat mengembangkan lakon secara klimaks . B: dan menarik, aktor perlu memiliki penguasaan teknik pnonjolan 8. A: Kemampuan melafalkan bunyi vokal dan konsonan secara sempurna disebut kemampuan artikulasi. 9. A: Aktor yang mampu mengubah-ubah ekspresi wajah atau raut muka sesuai makna dialog/monolog yang ditampilkan adalah kemampuan berkaitan dengan penguasaan mimik. 10. D: Unsur utama yang membedakan genre sastra drama dengan puisi dan prosa adalah unsur dialog; unsur yang sama adalah alur, tema, dan latar. . B:

9 - 32 Unit 9

Glosarium
artistik improvisasi : berkaitan dengan keindahan : gerak yang secara refleks saat mengucapkan seuatu dalam pentas tanpa persiapan sebelumnya secara matang : pencapaian sesuatu secara maksimal : orang banyak pada suatu kegiatan tertentu : percakapan atau komunikasi dengan orang lain. : secara seimbang : gerak tubuh yang lentur : baris puisi dalam bait : beberapa larik membentuk suatu kesatuan makna dalam suatu puisi : panjang pendeknya suara saat mengucapkan susuatu : berkaitan tinggi rendahnya suara saat pengucapan sesuatu : tekanan keras lembutnya suara saat mengucapkan sesuatu : berkaitan dengan pakaian : tanda atau petunjuk tentang sesuatu : peselisihan tentang sesuatu : pengaruh negatif atau positif : watak atau prilaku seseorang : saling melengapi atau menunjang : perasaan tertentu : tekanan suara yang keras : rasa suka atau suka kepada : karangan yang masih ditulis denga tangan : masalah sikap atau kepribadian : penting : orang yang bertanggung jawab atas masalah artistik dan teknis dalam pementasan drama

optimal khalayak konversasi proporsional gestur larik bait tempo nada tekanan dinamik busana rambu-rambu konflik efek karakter kompelementer emotif dinamik simpati naskah afektif vital sutradara

Kajian Bahasa Indonesia di SD

9- 33

Daftar Pustaka
Ali, Muhammad. 1982. Teknik Berklamasi dan Baca Puisi. Surabaya: CV. Warga Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo Asmara, Adhy.1982. Apresiasi Puisi bagi Pemula. Yogyakarta: CV Nur Cahaya Hamzah, A.Ajib. 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: Rosda Karya Hermawan. 1988. Dramaturgi. Bandung:Rosda Karya Junaedi, Moha. 1982. Apresiasi Sastra II. Ujung Pandang: FPBS IKIP Press Mien, Rukmieni..2000. Apresiasi Drama Secara Produktif. Jakarta: Depdikbud Keraf, Gorys. 1980. Tatabahasa Indonesia. Ende Flores:Nusa Indah Ramelan, Kastoyo. 1980. Seni Drama. Jakarta: Tiga Serangkai Rendra, W.S. 1978. Tentang Bermain Drama. Jakarta: Pustaka Jaya. Tambojan, Japi. 1981. Dasar-dasar Dramatugi. Bandung: Putaka Prima Tjahjono, T. dan Setiawan, W. 1998. Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Depdikbud Tjokroatmodjo dkk. 1985. Pendidikan Seni Drama Suatu Pengantar. Surabaya: Usaha Nasional Sumardjo, Yakob. 1984. Memahami Kesusastraan. Bandung Perbi Alumni.

9 - 34 Unit 9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->