P. 1
Makalah Kalkulus II "Integral" Oleh, MANSUR AMRIATUL (07 241 075)

Makalah Kalkulus II "Integral" Oleh, MANSUR AMRIATUL (07 241 075)

|Views: 6,553|Likes:
Published by Mansur Amriatul

More info:

Published by: Mansur Amriatul on Aug 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2014

pdf

text

original

MAKALAH KALKULUS II

“INTEGRAL”
O l e h :
Nama : Mansur Amriatul
NIM : 07 241 075
Semester : VIII (Delapan)
JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
IKIP MATARAM
JULI 2011
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadlirat Allah swt. atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga ditengah-tengah kesibukan dan rutinitas penulis serta
dengan segala kekurangannya, dapat menyusun makalah ini yang diharapkan dapat
membantu pribadi penulis dan mahasiswa secara umumnya dalam mempelajari
Kalkulus II tentang “Integral”.
Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada pribadi penulis dan
mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam IKIP Mataram yang sedang mengikuti perkuliahan Kalkulus II.
Kekurangan dan belum sempurnanya makalah ini menjadi ‘tuntutan” penulis sehingga
yang seharusnya teman-teman menerima banyak pengetahuan tentang Kalkulus
Integral dari makalah ini belum dapat terwujud seluruhnya.
Terselesaikannya penulisan makalah ini tentu tidak terlepas dari bantuan rekan-rekan
seprofesi penulis di IKIP Mataram, lebih-lebih teman-teman kelas ku yang menjadi
motivasi penulis untuk segera menyelesaikan makalah ini.
Semoga materi yang telah dituangkan dalam makalah ini, akan sangat berguna bagi
pribadi penulis dan mahasiswa FPMIPA IKIP Mataram umumnyam. Kekurangan dan
kekhilafan disana sini Insyaallah diperbaiki dikemudian hari.

Mataram, 18 Juli 2011
Penulis
Mansur Amriatul
Kalkulus II “Integral”
2
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ............................................................................... i
Kata Pengantar .................................................................................. ii
Daftar Isi ........................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Anti Turunan (Integral Tak-tentu) …………………………… 1
1.2 Integral Tertentu ……………………………………………... 1
1.3 Sifat-Sifat Integral Tentu .......................................................... 2
1.4 Teorema Dasar Kalkulus …………………………………….. 4
BAB II TEKNIK INTEGRAL
2.1 Teknik Substitusi ...................................................................... 6
2.2 Integral Fungsi Trigonometri .................................................... 7
2.3 Teknik Substitusi Fungsi Trigonometri .................................... 13
2.4 Integral Parsial ......................................................................... 15
2.5 Integral Fungsi Rasional .......................................................... 17
2.6 Integral Fungsi Rasional yang Memuat Fungsi Trigonometri… 19
Bab III INTEGRAL TIDAK WAJAR
3.1 Pengertian .................................................................................. 21
3.2 Integral Tidak Wajar dengan Batas Diskontinu ........................ 25
3.3 Integral Tidak Wajar dengan Batas Tak Hingga ………… 28
BAB IV RUMUS-RUMUS INTEGRAL
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 41
BAB I
PENDAHULUAN
1.5 Anti Turunan (Integral Tak-tentu)
Kalkulus II “Integral”
3
Matematika mempunyai banyak pasangan operasi balikan: penambahan dan
pengurangan,perkalian dan pembagian, pemangkatan dan penarikan akar, serta
penarikan logaritmadan penghitungan logaritma.
Definisi :
Fungsi F dikatakan anti turunan dari fungsi f pada selang I jika F’(x) = f(x) untuk
semua x di I.Notasi : F(x) = ∫ f(x) dxIntegral tak tentu adalah Anti/Invers/Kebalikan
turunan.
Contoh :
Integral tak tentu adalah operator liner, yaitu bersifat :
a.

b.
1.6 Integral Tertentu
Definisi :
Misal f(x) suatu fungsi yang didefinisikan pada [a,b], selanjutnya f(x) dikatakan
terintegralkan (integrable) pada [a,b]
jika ∑
·


n
i
i i
P
x x f
1
0
) ( lim
ada.
Selanjutnya ∫
b
a
dx x f ) (
disebut Integral Tentu (Integral Riemann) f(x) dari a
ke b, dan didefinisikan

b
a
dx x f ) (
= ∑
·


n
i
i i
P
x x f
1
0
) ( lim
.
Kalkulus II “Integral”
4

b
a
dx x f ) (
menyatakan luas daerah yang tercakup diantara kurva
y = f(x) dan sumbu x dalam selang [a,b], jika ∫
b
a
dx x f ) (
bertanda negatif maka
menyatakan luas daerah yang berada dibawah sumbu x.
Definisi :
a. ∫
a
a
dx x f ) (
= 0
b. ∫
b
a
dx x f ) (
= - ∫
a
b
dx x f ) (
, a > b
1.7 Sifat-Sifat Integral Tentu
a. Sifat Penambahan Selang
Teorema :
Jika f(x) terintegralkan pada suatu selang yang memuat tiga titik a, b dan c,
maka :
dx x f
c
a

) (
=
dx x f
b
a

) (
+
dx x f
c
b

) (
bagaimanapun urutan a, b dan c.
Contoh :
1.
dx x dx x dx x
∫ ∫ ∫
+ ·
2
1
2
1
0
2
2
0
2
2.
dx x dx x dx x
∫ ∫ ∫
+ ·
2
3
2
3
0
2
2
0
2
3.
dx x dx x dx x
∫ ∫ ∫


+ ·
2
1
2
1
0
2
2
0
2
b. Sifat Simetri
Jika f(x) fungsi genap, yaitu suatu fungsi yang memenuhi sifat
f(-x) = f(x) , maka:
dx x f
a
a


) (
= 2
dx x f
a

0
) (
dan
Jika f(x) fungsi ganjil, yaitu suatu fungsi yang memenuhi sifat
f(-x) = - f(x), maka
Kalkulus II “Integral”
5
dx x f
a
a


) (
= 0.
Contoh :
1. ∫ ∫
·

,
`

.
|
·

,
`

.
|

π π
π 0
4
cos 2
4
cos dx
x
dx
x

2 4
4
1
.
4
cos 8
0

·

,
`

.
|
π
dx
x

2.
dx
x
x


+
5
5
2
5
4
= 0
Secara lebih umum, sifat-sifat integral tertentu adalah:
Jika f(x) dan g(x) kontinu pada interval [a,b] dan k ∈Real dan f(x), g(x)
terintegralkan pada interval tersebut, maka:
1.
∫ ∫
·
b
a
b
a
dx x f k dx x kf ) ( ) (
2.
dx x g dx x f dx x g x f
b
a
b
a
b
a
∫ ∫ ∫
+ · + ) ( ) ( )] ( ) ( [
3.
, ) ( ) ( )] ( ) ( [ dx x g dx x f dx x g x f
b
a
b
a
b
a
∫ ∫ ∫
− · −
4.
0 ) ( ·

a
a
dx x f
5.
∫ ∫
− ·
a
b
b
a
dx x f dx x f ) ( ) (
, jika b < a
6.
·

b
a
dx x f ) (
∫ ∫
+
b
c
c
a
dx x f dx x f ) ( ) (
, c
) , ( b a ∈
7.
, 0 ) ( ·


a
a
x f
jika f(-x) = -f(x)
Kalkulus II “Integral”
6
8.


a
a
dx x f ) (
= 2

a
dx x f
0
) (
, jika f(-x) =
f(x)
9. Jika F(u) =

b
a
dx x f ) (
, maka
) ( ) ( u f u F
du
d
·
10.

b
a
dx x f ) (
= (b-a)
) (
o
x f
untuk paling
sedikit x = x
o
antara a dan b.
11.
∫ ∫

b
a
b
a
dx x g dx x f ) ( ) (
jika dan hanya
jika f(x) ≤ g(x) untuk setiap x ∈[a,b].
12.
) ( ) ( x f dt t f D
x
a
x
·
]
]
]



1.8 Teorema Dasar Kalkulus
Teorema dasar Kalkulus memberikan kemudahan untuk menghitung Integral
Tentu, berikut teorema tersebut :
Misal f(x) kontinu pada [a,b] dan F(x) sebarang anti turunan f(x), maka

b
a
dx x f ) (
= F(b) – F(a)
Selanjutnya ditulis F(b) – F(a) =
b
a
x F )] ( [
Contoh :
Perlihatkan bahwa jika r ∈ Q dan r ≠ -1, maka
1 1
1 1
+

+
·
+ +

r
a
r
b
dx x
r r b
a
r
Kalkulus II “Integral”
7
Jawab :
Karena F(x) =
1
1
+
+
r
x
r
suatu anti turunan dari f(x) = x
r
, maka menurut teorema dasar
Kalkulus
1 1
) ( ) (
1 1
+

+
· − ·
+ +

r
a
r
b
a F b F dx x
r r b
a
r
Integral tentu sebagai operator linear, yaitu bersifat :
Misal f(x) dan g(x) terintegralkan pada [a,b] dan k suatu konstanta, maka:
a. ∫
·
b
a
dx x kf ) (
k

b
a
dx x f ) (
b. dx x g x f
b
a
)] ( ) ( [

+ =

b
a
dx x f ) ( + ∫
b
a
dx x g ) (
Contoh :
Hitung
dx x x ) 6 4 (
2
1
2



Jawab :
dx x dx x dx x x
∫ ∫ ∫
− − −
− · −
2
1
2
2
1
2
1
2
6 4 ) 6 4 (
= 4
2
1
3
2
1
2
3
6
2
− −
]
]
]
]


]
]
]
]

x x
= 4
,
`

.
|
+ −

,
`

.
|

3
1
3
8
6
2
1
2
4
= −12
BAB II
TEKNIK INTEGRAL
Kalkulus II “Integral”
8
Beberapa macam teknik pengintergralan digunakan untuk menentukan
antiturunan suatu fungsi. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam menentukan
selesaian integral fungsi yang ditentukan. Agar teknik pengingtegralan mudah
dipahami oleh pembaca, maka dalam bab ini dirincikan teknik pengintegralan dimaksud
dengan syarat-syarat yang ditentukan. Teknik-teknik integral tersebut adalah: Teknik
Substitusi, Integral Fungsi Trigonometri, Teknik Substitusi Fungsi Trigonometri,
Integral Parsial, Integral Fungsi Rasional, dan Integral Fungsi Rasional yang memuat
fungsi Trigonomteri.
Berikut ini penjelasan teknik-teknik dalam pengintegralan.
2.1 Teknik Substitusi
Istilah lain untuk teknik substitusi adalah pemisalan. Teknik substitusi pada
umumnya digunakan untuk memudahkan selesaian integral ke bentuk rumus dasar
rumus integral tak tentu, yaitu;
a.

n
x
dx =
1
1
+
+
n
x
n
+ C, asalkan n ≠ -1 atau
b.
[ ] dx x f x f
n
) ( ' ) (

=
[ ]
1
) (
1
+
+
n
x f
n
+ C, asalkan n ≠ -1
Karena rumus di atas adalah pedoman umum. maka integrannya menyesuaikan
dengan rumus di atas. Jika belum sesuai atau menyimpang dari bentuk di atas maka
sedapat mungkin diubah terlebih dahulu. Dengan demikian setelah integran sesuai
dengan bentuk baku integralnya dapat dilakukan dengan mengaplikasikan rumus
dasar integral tidak tentu. Akhirnya selesaiannya dapat dilakukan dengan metode
substitusi.
Perhatikan beberapa contoh berikut:
1.

−x 1
dx
Misal u = x − 1
x u − · ⇔ 1
2
) 1 ( ) (
2
x d u d − · ⇔
dx udu − · ⇔2
Substitusi bentuk terakhir ke

−x 1
dx, diperoleh
Kalkulus II “Integral”
9

− du u u ) 2 (
= -2

du u
2
Dengan rumus dasar di dapat

−x 1
dx = -2

du u
2
= -2
C
u
+
]
]
]

3
3
= -
C x + −
3
) 1 (
3
2
2.

+ dx x
11
) 12 3 (
Misal A = 3x + 12
d(A) = d(3x+12)
dA = 3 dx
dx =
3
dA
Sehingga

+ dx x
11
) 12 3 (
=

3
11
dA
A
=

dA A
11
3
1
= C
A
+ )
12
(
3
1
12
=
C A +
12
36
1
= C
x
+
+
36
) 12 3 (
12
2.2 Integral Fungsi Trigonometri
Sebelum membahas teknik integral fungsi trigonometri secara lebih rinci,
berikut ini diberikan integral dasar fungsi trigonometri yang menjadi acuan untuk
menentukan hasil pengintegralan dengan teknik fungsi trigonometri. Bentuk dasar
tersebut adalah:
1.

x sin
dx = -cos x + C
2.

x cos
dx = sin x + C
3.

tan
x dx = ln
C x + sec

= -ln
C x + cos
Kalkulus II “Integral”
10
4.

cot
x dx = - ln
C x + csc
= ln
C x + sin
5.

x sec
dx = ln
C x x + +tan sec
6.

csc
x dx = ln
C x x + −cot csc
Berdasarkan bentuk di atas selanjutnya diberikan beberapa kasus bentuk
integral fungsi trigonometri yang dibahas pada bagian ini, diantaranya adalah:
a.

, sin xdx
m
dan

xdx
m
cos
dengan m bilangan ganjil atau genap
positip
Jika m bulat positip dan ganjil, maka m diubah menjadi (m-1) + 1, atau m
digenapkan terdekat. Selanjutnya substitusi dengan menggunakan kesamaan
identitas 1 cos sin
2 2
· + x x atau sin x
2
= 1 - cos x
2
atau cos x
2
= 1 - sin
x
2
.
Akhirnya dengan substitusi tersebut didapat kesamaan antara integran dengan
tanda integrasinya, sehingga dengan mudah dapat diselesaikan.
Contoh:
1.

xdx
3
sin
Jawab :


xdx
3
sin
=
dx x

+ − 1 ) 1 3 (
sin
=
x xsin sin
2

dx
=

− − ) cos ( ) cos 1 (
2
x d x
=
∫ ∫
+ − ) (cos cos ) cos ( 1
2
x d x d
= -cos x +
C x +
3
cos
3
1
2.
dx x

5
cos
Jawab :

dx x

5
cos
=

+ −
x
1 ) 1 5 (
cos
dx
=
xdx xcos cos
4

=

− ) (sin ) sin 1 (
2 2
x d x
Kalkulus II “Integral”
11
=
) (sin ) sin sin 2 1 (
4 2
x d x x + −

=
∫ ∫ ∫
+ − ) (sin sin ) (sin sin 2 ) (sin 1
4 2
x xd x xd x d
= sin x -
C x x + +
5 3
sin
5
1
sin
3
2

b.

xdx x
n m
cos sin
Jika m atau n bilangan bulat positip ganjil, sedangkan lainnya sebarang bilangan,
maka faktorkan sin x atau cos x dengan menggunakan kesamaan identintas
1 cos sin
2 2
· + x x dengan terlebih dahulu mengubah salah satu bilangan ganjil.
Misal m ganjil maka ubah m dengan m = (m-1)+1 , jika n ganjil diubah menjadi
(n-1)+1. Jika m dan n genap digunakan kesamaan setengah sudut sin x
2
=
2
2 cos 1 x −
dan cos
2
2 cos 1
2
x
x
+
·
sehingga diperoleh hasil
pengintegralannya.
Contoh
1.

xdx x
2 3
cos sin
Jawab
Karena m ganjil, maka gunakan substitusi kesamaan identitas


xdx x
2 3
cos sin
=
dx x

+ − 2 1 ) 1 3 (
cos sin


dx x x
2 2
cos sin sin
=

− xdx x x sin cos ) cos 1 (
2 2
=
) cos ( ) cos (cos
4 2
x d x x − −

=
∫ ∫
− − − ) cos ( cos ) cos ( cos
4 2
x xd x xd
=
C x x + + −
5 3
cos
5
1
cos
3
1
= cos
C x x + − )
3
1
cos
5
1
(
2 3
2.
xdx x
3 2
cos sin

Karena n ganjil, maka ubah menjadi genap

xdx x
3 2
cos sin

=

xdx x x cos cos sin
2 2
=

− ) (sin ) sin 1 ( sin
2 2
x d x x
=
∫ ∫
− ) (sin sin ) (sin sin
4 2
x xd x xd
Kalkulus II “Integral”
12
=
C x x + −
5 3
sin
5
1
sin
3
1

c.

, tan xdx
n
dan
dx x
n

cot
Dalam kasus ini jika n genap gunakan kesamaan identitas 1 + x x
2 2
sec tan ·
dan 1+cot x x
2 2
csc · . Jika n ganjil ubah menjadi (n-1)+1 dan gunakan
kesamaan 1 + x x
2 2
sec tan · dan 1+cot x x
2 2
csc · .
Perhatikan contoh berikut:
1.

xdx
3
tan
Karena pangkat n ganjil maka diubah dalam bentuk perkalian yang salah
satunya genap, selanjutnya gunakan kesamaan identitas 1 + x x
2 2
sec tan ·
Sehingga diperoleh


xdx
3
tan
=

x
2
tan
tanx dx
=

− ) 1 (sec
2
x
tan x dx
=

x
2
sec
tan x dx -

tan x dx
=

tan x sec x
2
dx – ln
x sec
+ C
=

x tan
d(tan x) – ln
x sec
+ C
=
C x x + − sec ln tan
2
1
2
2.

xdx
4
cot
Karena pangkat n , langsung gunakan kesaman identintas 1+cot x x
2 2
csc · ,
sehingga didapat


xdx
4
cot
=
dx x
2 2
) (cot

=

− dx x
2 2
) 1 (csc
=
dx x x ) 1 csc 2 (csc
2 4

+ −
=

+ − dx x x x ) 1 csc 2 csc ) (csc
2 2 2
=

+ − + ` 1 csc 2 csc ) cot 1 (
2 2 2
dx x x x
=
∫ ∫ ∫
+ − − − + dx x d x d x ) cot ( 2 ) cot ( ) cot 1 (
2
=
C x x x x + + + − − cot 2 cot
3
1
) cot (
3
Kalkulus II “Integral”
13
=
C x x x + + + − cot cot
3
1
3
d.

xdx x
n m
sec tan
, dan

xdx x
n m
csc cot
Bentuk ini mempunyai dua kasus yaitu n genap m sebarang dan m ganjil n
sebarang. Jika n genap dan m sebarang gunakan kesamaan 1 + tan x x
2 2
sec ·
atau 1 + cot x
2
= csc x
2
.
Contoh
1.
dx x x

4 5
sec tan
Karena salah satu pangkat bilangan genap, maka langsung gunakan
kesamaan identitas 1+tan x x
2 2
sec · , sehingga diperoleh
dx x x

4 5
sec tan
=
dx x x x

2 2 5
sec sec tan

=
dx x x x

+
2 2 5
sec ) tan 1 ( tan
=

+ ) tan (tan
7 5
x x
d(tgnx)
=
C x x + +
8 6
tan
8
1
tan
6
1
2.
dx x x

4 4
csc cot
Jawab :

dx x x

4 4
csc cot
=
dx x x x

) )(csc (csc cot
2 2 4

=
) cot ( ) 1 (cot cot
2 4
x d x − −

=
) cot ( ) cot (cot
4 6
x d x x − −

=
C x x + + −
5 7
cot
5
1
cot
7
1
Sedangkan untuk m bilangan ganjil dan n sebarang juga dengan menggunakan
substitusi kesamaan identitas 1 + tan x x
2 2
sec · atau 1 + cot x
2
= csc x
2
.
Contoh:
1.

xdx x
3 3
sec tan
=

xdx x x x sec sec tan tan
2 2
=

) (sec sec tan
2 2
x d x

=
) (sec sec ) 1 (sec
2 2
x d x x


=
) (sec ) sec (sec
2
4
x d x x


Kalkulus II “Integral”
14
=
C x x + −
3 5
sec
3
1
sec
5
1
2.


xdx x
2 / 1 3
sec tan
=

x
2
tan
tan x sec x
2 / 3 −
sec x dx
=

x
2
(sec
-1)sec x
2 / 3 −
d(sec x)
=

− x
2 / 1
(sec
sec )
2 / 3
x

d(secx)
=
x x
2 / 1 2 / 3
sec 2 sec
3
2

+
+ C
e.

nxdx mx cos sin
,

, sin sin nxdx mx

nxdx mx cos cos
Integral bentuk ini juga sering muncul, untuk menyelesaikannya digunakan
rumus kesamaan hasil kali, yaitu:
sin mx cos nx =
] ) sin( ) [sin(
2
1
x n m x n m − + +
sin mx sin nx =
] ) cos( ) [cos(
2
1
x n m x n m − − + −
cos mx cos nx =
] ) cos( ) [cos(
2
1
x n m x n m − + +
Contoh :
1.

sin
3x cos 4x dx =

− + + ] ) 4 3 sin( ) 4 3 [sin(
2
1
x x
dx
=

x 7 sin
2
1
+ sin (-x) dx
=
x 7 cos
14
1

-
cos
2
1
x + C
2.

x x 2 sin 3 sin
dx =

− − + − ] ) 2 3 cos( ) 2 3 [cos(
2
1
x x
dx
=


2
1
(cos 5x – cos x) dx
=
sin
10
1

5x +
sin
2
1
x + C
3.

cos
y cos 4y dy =

+ y ) 4 1 [cos(
2
1
+cos(1-4)y] dy
=

− + )] 3 cos( 5 [cos
2
1
y x
dy
Kalkulus II “Integral”
15
=
C y y + − 3 sin
6
1
5 sin
10
1
2.3 Teknik Substitusi Fungsi Trigonometri
Teknik substitusi fungsi trigonometri digunakan untuk menyelesaikan integral
jika integrannya memuat bentuk-bentuk:
a.
2 2
x a − , a > 0, a ∈ Real
b.
2 2
a x + =
2 2
x a + , a > 0, a ∈ Real
c.
2 2
a x − , a > 0, a ∈ Real
atau bentuk lain yang dapat diubah menjadi bentuk di atas, misalnya
2 2 2
x b a − =
2
2
x
b
a

,
`

.
|
x b a
2 2
+ =
2
2
x
b
a
+

,
`

.
|
2 2 2
b x a − =
2
2

,
`

.
|

a
b
x atau c bx ax + +
2
yang dapat diubah menjadi bentuk
kuadrat sempurna.
Integrannya memuat
2 2
x a − atau sejenisnya, Gunakan substitusi
x = a sin t atau sin t =
a
x

x = a sin t

dx = a cos t dt
dengan -
2
π

2
π
≤ ≤ t
sehingga,

2 2
x a − =
2 2
) sin ( t a a −
= ) sin 1 (
2 2
t a −
= a cos t
Catatan :
Gambar segitiga siku-siku di atas yang masing-masing sisinya diketahui berguna
untuk menentukan nilai fungsi trigonometri yang lain, yaitu cos t, tan t, cot t, sec t,
dan csc t. Hal ini dikarenakan sangat mungkin hasil dari pengintegralan adalah
fungsi-fungsi tersebut.
Contoh:
Tentukan hasil pengintegralan berikut ini:
Kalkulus II “Integral”
16
t
x a
2 2
x a −
1.

2
4 x − dx
Jawab :
Substitusi x = 2 sin t

sin t =
2
x

dx = 2 cos t dt

2
4 x − = t t cos 2 sin 4 4
2
· −
Sehingga :


2
4 x − dx =

tdt t cos 2 . cos 2
=

tdt t cos cos 4
= 4

tdt
2
cos
= 4

+
dt
t
2
) 2 cos 1 (

= 2

dt
+ 2

t 2 cos
dt
= 2t + sin 2t + C
= 2t + 2 sin t cos t
= 2 arc sin
2
4
2 2
2
x x x −
+

,
`

.
|
+ C
Atau 4

tdt
2
cos
= 4 (
2
cos sin t t
+
C t +
2
1
)
= 2 sint cost + 2t + C
= 2
,
`

.
|
2
x
2
4
2
x −
+ 2 arc sin
,
`

.
|
2
x
+ C
= C
x x x
+
,
`

.
|


2
arcsin 2
2
4
2
2. ∫

2
4 x x
dx
Jawab :


2
4 x x
dx
= ∫
− −
2
) 2 ( 4 x
dx
Substitusi (x-2) = 2 sin t,
dx = 2 cos t dt
t x cos 2 ) 2 ( 4
2
· − − , sehingga

− −
2
) 2 ( 4 x
dx
=

t
tdt
cos 2
cos 2
Kalkulus II “Integral”
17
t
x
2
2
4 x −
2 − x
2
4 x x −
2
t
=

dt
= t + C
= arc sin
,
`

.
| −
2
2 x
+ C
2.4 Integral Parsial
Secara umum integral parsial digunakan untuk menentukan selesaian integral yang
integrannya merupakan perkalian dua fungsi uv, dimana u = f(x) dan v = g(x).
Karena y = uv, maka menurut definisi differensial dan turunan fungsi y = uv
diperoleh :
dy = d(uv)
d(uv) = u dv + v du
Dengan mengintegralkan masing-masing bagian diperoleh
∫ ∫ ∫
+ · vdu udv uv d ) (

∫ ∫ ∫
− · vdu uv d udv ) (

∫ ∫
− · vdu uv udv
Bentuk terakhir ini dinamakan rumus integral parsial. Prinsip yang digunakan
dalam integral parsial adalah integran yang berbentu uv di manipulasi menjadi u dv
dan dalam menentukan udv tidak boleh memunculkan persoalan yang lebih sulit
dibandingkan dengan

udv
tersebut.
Perhatikan beberapa contoh berikut ini.
Tentukan integral persial berikut ini
1)

xdx xcos
Jawab :
Bentuk

xdx xcos
diubah menjadi

udv,
Misal u = x , dv = 1 dx
dv = cos x dx , v =

x cos
dx = sin x
Akibatnya

xdx xcos
=

x d(sin x).
Dengan rumus integral parsial

∫ ∫
− · vdu uv udv
, diperoleh


x d(sin x) = x sin x -

x sin
d(x)
= x sin x -

x sin
dx
Kalkulus II “Integral”
18
= x sin x + cos x + C
Akhirnya diperoleh

xdx xcos
= x sin x + cos x + C
2)

+x x 1
dx
Pilih u = x , du = dx
dv = x + 1 , v =

+x 1
dx =
3
1
3
2
x +
Sehingga

+x x 1
dx =

+ ) 1
3
2
(
3
x xd
Berdasarkan rumus integral parsial

∫ ∫
− · vdu uv udv
, diperoleh


+x x 1
dx =

+ ) 1
3
2
(
3
x xd
=
3
1 1
3
2
+
x
-

+ ) ( 1
3
2
3
x d x
=
3
1 1
3
2
+
x
-

+ dx x
3
1
3
2

=
3
1 1
3
2
+
x
-
C x + +
3
4
) 1 (
4
2

2.5 Integral Fungsi Rasional.
Fungsi rasional adalah suatu fungsi yang dinyatakan dalam bentuk F(x) =
) (
) (
x g
x f
,
dimana f(x) , g(x) adalah fungsi pangkat banyak (polinom) dan g(x) ≠ 0.
Fungsi pangkat banyak adalah suatu fungsi yang dinyatakan dengan
f(x) = a o + a
1
x + a
2
x
2
+ a 3 x
3
+ … + a n x
n
, n = 1, 2, 3, … , sehingga fungsi
rasional adalah fungsi berbentuk
) (
) (
x g
x f
yang pembilang dan penyebutnya
polinom.
Contoh :
a. F(x) =
2 3
1
2
+ −

x x
x
(Fungsi Rasional Sejati)
b. F(x) =
4 4
4
2
2
+ −

x x
x
(Fungsi Rasional Tidak Sejati)
c. F(x) =
x x
x x x
5
1 2
3
3 5
+
+ − +
(Fungsi Rasional Tidak Sejati)
Kalkulus II “Integral”
19
Pada contoh di atas, (1) disebut fungsi rasional sejati, karena derajat pembilang
lebih dari derajat penyebut, sedangkan (2) dan (3) disebut fungsi rasional tidak
sejati, karena derajat pembilang lebih besar atau sama dengan derajat penyebut.
Untuk langkah selanjutnya jika suatu fungsi rasional termasuk jenis tidak sejati,
maka fungsi tersebut dijadikan fungsi rasional sejati. Melalui proses pembagian
panjang akan diperoleh fungsi rasional sejati. Sehingga:
F(x) =
x x
x x x
5
1 2
3
3 5
+
+ − +
= x 3
2
− +
x x
x
5
) 1 14 (
3
+
+
F(x) =
) (
) (
x g
x f
, g(x) ≠ 0.
Dalam menentukan integral fungsi rasional, langkah yang ditempuh adalah:
a. Nyatakan integrannya dalam bentuk fungsi rasional sejati.
b. Faktorkan penyebut g(x) dari fungsi rasional F(x) =
) (
) (
x g
x f

sampai tidak dapat difaktorkan lagi.
c. Dalam hal langkah nomor 2 di atas, g(x) dapat berupa kombinasi
antara:
- fungsi linear berbeda, g(x) = (x-a)(x-b)….(x-t) dstnya.
- fungsi linear berulang, g(x) = (x-a)
n
= (x-a)(x-a)(x-a) … (x-a)
- fungsi liner dan kuadrat, g(x) = (x-a)(ax
2
+bx + c)
- fungsi kuadrat berbeda, g(x) = (ax )(
2
c bx + + px
2
+ qx + c)
- fungsi kuadrat berulang, g(x) = (ax )
2
c bx + +
n
dan seterusnya.
d. Nyatakan integran menjadi bentuk penjumlahan n-pecahan
parsial sehingga integran dapat ditentukan antiturunannya,
Misal :
·
) (
) (
x g
x f

...
) ( ) (
2 2
2
1 1
1
+
+
+
+ b ax
A
b ax
A
(Penyebut kombinasi liner
berbeda)

...
) ( ) ( ) ( ) (
) (
3
3
2
2 1
+
+
+
+
+
+
·
b ax
A
b ax
A
b ax
A
x g
x f
(kombinasi lenear berulang)
Kalkulus II “Integral”
20

...
) (
) (
2 2
2
2
2 2
1 1
2
1
1 1
+
+ +
+
+
+ +
+
·
c x b x a
B x A
c x b x a
B x A
x g
x f
(kombinasi kuadrat
berbeda)
e. Integralkan secara keseluruhan jumlah n-pecahan parsial tersebut
yang merupakan hasil akhir pengintegralan dengan terlebih dahulu menentukan
konstanta A
1
, A
2
, …A
n
dan B
1
, B
2
, …B
n
.
Contoh :
1. Tentukan


dx
x 1
2
2
Karena intergran adalah fungsi rasional sejati, selanjutnya faktorkan integran:


−1
2
2
x
dx =

+ −
dx
x x ) 1 )( 1 (
2
=

+
+

dx
x
B
x
A
) 1 ( ) 1 (
=
dx
x x
x B x A

+ −
− + +
) 1 )( 1 (
) 1 ( ) 1 (
=

+ −
− + +
dx
x x
B A x B A
) 1 )( 1 (
) ( ) (
Diperoleh A + B = 0 , A – B = 2 atau A = 1, B = -1 sehingga:

−1
2
2
x
dx =

+

+

dx
x x ) 1 (
1
1
1
=


dx
x 1
1
-

+
dx
x 1
1
= ln
C x x + + − − 1 ln 1

= ln
C
x
x
+
+

1
1
2.


+
,
1
1
dx
x
x
integran fungsi rasional tidak sejati, maka:

∫ ∫

+ ·

+
dx
x
dx
x
x
1
2
1
1
1
=
∫ ∫

+ dx
x
dx
1
2
= x + ln (x-1)
2
+ C
2.6 Integral Fungsi Rasional yang Memuat Sin x dan Cos x
Kalkulus II “Integral”
21
Fungsi F(x) =
) ( , 0 ) ( ,
) (
) (
x f x g
x g
x f

dan g(x) mememuat fungsi
trigonometri dapat juga dikategorikan sebagai fungsi rasional, hanya saja tidak
dapat disebut sejati atau tidak sejati. Hal ini dikarenakan f(x) = sin x dan f(x) =
cos x tidak mempunyai derajat seperti halnya dengan fungsi polinomial.
Pengintegralan jenis ini menggunakan METODE SUBSTITUSI.
Berikut ini diberikan beberapa contoh fungsi rasional yang pembilang dan
penyebutnya memuat f(x) = sin x atau g(x) = cos x.
1. F(x) =
x
x
cos
sin 1−
2. F(x) =
x
x
sin
cos sin 2 1 + +
3. F(x) =
x
x
cos
2 sin 5 +

4. F(x) =
x sin 2 3
1

5. F(x) =
x x cos sin 1
2
− +
Sehingga dalam bentuk pengingtegralan fungsi rasional yang pembilang dan
penyebutnya memuat fungsi trigonometri adalah:
1.

− + x x
dx
cos sin 1
2.

+ x
dx
cos 2
3.

+ + x x
dx
cos sin 1
4.

x
x
sin
cos sin 2 1 + +
dx
5.

x sin 2 3
1

dx
Selesaian integral bentuk-bentuk di atas adalah menggunakan metode
substitusi x = 2 arc tan z sehingga dx =
dz
z
2
1
2
+
.Selanjutnya sin x dan coc
Kalkulus II “Integral”
22
x di substitusi ke bentuk variabel z. Karena x = 2 arc tan z maka:
z
x
·
,
`

.
|

2
tan

Menurut rumus identitas fungsi trigonometri
1 + tan
,
`

.
|
2
2
x
= sec
,
`

.
|
2
2
x
⇔ 1 + z
,
`

.
|
·
2
sec
2 2
x

2
2
1
1
2
cos
z
x
+
·

,
`

.
|


Menurut rumus identitas fungsi trigonometri yang lain
sin 1 cos
2 2
· + x x
1
2
cos
2
sin
2 2
·

,
`

.
|
+

,
`

.
|

x x
, sehingga didapat
sin
2
2
1
1
1
2 z
x
+
− ·

,
`

.
|
=
2
2
1 z
z
+

Dengan rumus jumlah cosinus didapat:
cos 2x = cos − x
2
sin
2
x

,
`

.
|
+
,
`

.
|
· ⇔
2
sin
2
cos cos
2 2
x x
x
2
2
2
1 1
1
cos
z
z
z
x
+

+
· ⇔
=
2
2
1
1
z
z
+

Dengan rumus jumlah sinus didapat:
sin 2x = 2 sin x cos x
⇔sin x = 2 sin
,
`

.
|
2
x
cos
,
`

.
|
2
x
= 2
2 2
2
1
1
1 z z
z
+ +
=
2
1
2
z
z
+
Dengan demikian integral fungsi rasional yang memuat fungsi trigonometri dapat
diselesaikan dengan menggunakan substitusi
Kalkulus II “Integral”
23
x = 2 arc tan z, sin x =
2
1
2
z
z
+
, cos x =
2
2
1
1
z
z
+


Untuk lebih jelasnya perhatikan beberapa contoh di bawah ini.
Tentukan selesaian dari :
1.

+ + x x
dx
cos sin 1
Jawab :


+ + x x
dx
cos sin 1
=

+

+
+
+
+
2
2
2
2
1
1
1
2
1
1
2
z
z
z
z
dz
z
=

+

+
+
+
+
+
+
2
2
2 2
2
2
1
1
1
2
1
1
1
2
z
z
z
z
z
z
z
dz
=

+ z
dz
2 2
2
=

+z
dz
1
= ln
z + 1
+ C
= ln
C
x
+ +
2
tan 1
2.

− x
dx
cos 2
Jawab :

− x
dx
cos 2
=

+


+
2
2
2
1
1
2
1
2
z
z
z
dz
=

+


+
+
+
2
2
2
2
2
1
1
1
) 1 ( 2
1
2
z
z
z
z
z
dz
=

+
2
3 1
2
z
dz
=

+
,
`

.
|
2
2
3
1
3
2
z
dz
Kalkulus II “Integral”
24
=
3
3
2
arc tan

,
`

.
|
3 / 1
z
+ C
=
3
2
arc tan 3 z + C
=
3
2
arc tan 3 (tan x/2) + C
BAB III
INTEGRAL TAK WAJAR
3.1 Pengertian
Sebelum membahas konsep tentang integral tak wajar, marilah kita ingat
kembali teorema dasar kalkulus pada integral tertentu.
Teorema:
Misal f(x) adalah fungsi yang kontinu dan terintegralkan pada I = [a,b], dan F(x)
sebarang antiturunan pada I, maka

b
a
dx x f ) (
= [ ] ) ( ) ( ) ( a F b F x F
b
a
− ·
Contoh :
1.
4
2
4
2
2
2
1
) 1 (
∫ ]
]
]

− · − x x dx x
= (4- ½ .16) – (2- ½ 4)
= -4 – 0
= -4
2. [ ]
2
1
2
1
1 ln
1

+ ·
+
x
x
dx
= ln (1+2) – ln (1+1)
= ln 3 – ln 2
3.


2
1
1 x
dx
, tidak dapat diselesaikan dengan teorem di atas karena integran
f(x) =
x − 1
1
tidak terdefinisi pada x = 1.
Kalkulus II “Integral”
25
4.


1
1
x
dx
, tidak dapat diselesaikan dengan teorema di atas, karena integran f(x) =
x
1
tidak terdefinisi di x = 0
Dengan demikian tidak semua integral fungsi dapat diselesaikan dengan
teorema dasar kalkulus. Persoalan-persoalan integral seperti pada contoh 3 dan 4
dikategorikan sebagai integral tidak wajar.
Bentuk

b
a
dx x f ) (
disebut Integral Tidak Wajar jika:
a. Integran f(x) mempunyai sekurang-kurangnya satu titik yang tidak kontinu
(diskontinu) di [a,b], sehingga mengakibatkan f(x) tidak terdefinisi di titik
tersebut.
Pada kasus ini teorema dasar kalkulus

b
a
dx x f ) (
= F(b) – F(a) tidak berlaku lagi.
Contoh :
1)


4
0
4 x
dx
, f(x) tidak kontinu di batas atas x = 4 atau f(x) kontinu di [0,4)
2)


2
1
1 x
dx
, f(x) tidak kontinu di batas bawah x = 1 atau f(x) kontinu di (1,2]
3) ∫

4
0 3
2
) 2 ( x
dx
, f(x) tidak kontinu di x = 2 ∈[0,4] atau f(x) kontinu di [0,2) ∪
(2,4]
b. Batas integrasinya paling sedikit memuat satu tanda tak hingga
1)


+
0
2
4 x
dx
, integran f(x) memuat batas atas di x = ∞
2)

∞ −
0
2
dx e
x
, integran f(x) memuat batas bawah di x = - ∞
Kalkulus II “Integral”
26
3)


∞ −
+
2
4 1 x
dx
, integran f(x) memuat batas atas di x = ∞dan batasa bawah di x
= - ∞
Pada contoh a (1,2,3) adalah integral tak wajar dengan integran f(x) tidak
kontinu dalam batas-batas pengintegralan, sedangkan pada contoh b (1, 2, 3) adalah
integral tak wajar integran f(x) mempunyai batas di tak hingga ( ∞).
Integral tak wajar selesaiannya dibedakan menjadi Integral tak wajar dengan
integran tidak kontinu Integral tak wajar dengan batas integrasi di tak hingga.
3.2 Integral tak wajar dengan integran diskontinu
a. f(x) kontinu di [a,b) dan tidak kontinu di x = b
Karena f(x) tidak kontinu di x = b, maka sesuai dengan syarat dan definsi
integral tertentu integran harus ditunjukkan kontinu di x = b -
ε
(
→ ε
+
0 ),
sehingga
∫ +

·
b
a
dx x f
0
lim ) (
ε


−ε b
a
dx x f ) (

Karena batas atas x = b -
ε
( x

b

), maka



·
b
a b t
dx x f lim ) (


t
a
dx x f ) (

Perhatikan beberapa contoh di bawah ini.
1)
∫ ∫



·

+
ε
ε
4
0
0
4
0
4
lim
4 x
dx
x
dx
, f(x) tidak kontinu di batas atas x = 4, sehingga
=
ε
ε


]
]
]

− −
+
4
0
0
4 2 lim x
= -2
+
→0
lim
ε
[ ] ) 0 4 ( ) 4 ( 4 − − − − ε
= -2 (
4 lim
0

+

ε
ε
)
= -2(0-2)
= 4
Cara lain :
∫ ∫

·



t
t
x
dx
x
dx
0
4
4
0
4
lim
4
=
[ ]
t
t
x
0
4
4 2 lim − −


Kalkulus II “Integral”
27
=
[ ] 0 4 2 4 2 lim
4
− + − −


t
t
= -2(0)+2(2)
= 4
2)



2
2
2
4 x
dx
, f(x) =
2
4
1
x −

Fungsi di atas tidak kontinu di x = 2 dan x = -2, sehingga:
maka ·



2
2
2
4 x
dx
2


2
0
2
4 x
dx
= 2


2
0
2
4 x
dx
= 2
ε
ε


]
]
]

+
2
0
0
2
arcsin
x
Lim
= 2 (
) 0
2

π
=
π

b. f(x) kontinu di (a,b] dan tidak kontinu di x = a
Karena f(x) tidak kontinu di x = a, maka sesuai dengan syarat dan definsi
integral tertentu integrannya harus ditunjukkan kontinu di x = a +
ε
(
→ ε
+
0
), sehingga
∫ +

·
b
a
dx x f
0
lim ) (
ε


+
b
a
dx x f
ε
) (
Karena batas bawah x = a +
ε
( x

a

) maka dapat dinyatakan dalam
bentuk lain:

+

·
b
a
a t
dx x f lim ) (


b
t
dx x f ) (

Perhatikan beberapa contoh dibawah ini.
1)
·


4
3
3
3
x
dx


+

4
3
3
3
lim
t
t
x
dx
=
[ ]
4
3
3 ) 2 ( 3 lim
t
t
x −
+

Kalkulus II “Integral”
28
=
[ ] 3 6 3 4 6 lim
3
− − −
+

t
t
= 6(1) – 6(0)
= 6
2)
∫ ∫
+

+
·
1
0
1
0
0
lim
ε
ε
x
dx
x
dx
,f(x) tidak kontinu di batas bawah x = 0 sehingga
diperoleh:
[ ]
1
0
1
0
0
2 lim
ε
ε
+

∫ +
· x
x
dx
=
[ ] ε
ε
+ −
+

0 2 1 2 lim
0
= 2 – 0
= 2
c. f(x) kontinu di [a,c) ∪ (c,b] dan tidak kontinu di x = c
Karena f(x) tidak terdefinisi di x = c, maka sesuai dengan syarat dan definsi
integral tertentu integrannya harus ditunjukkan kontinu di x = c +
ε
dan x = c -
ε
(
→ ε
+
0 ), sehingga
∫ ∫ ∫
+ ·
b
a
c
a
b
c
dx x f dx x f dx x f ) ( ) ( ) (
=
+
→0
lim
ε

−ε c
a
dx x f ) (
+



+
b
c
x f Lim
ε
ε
) (
0
Dapat juga dinyatakan dengan :



·
b
a b t
dx x f lim ) (


t
a
dx x f ) (
+
+
→a t
lim


b
t
dx x f ) (

Perhatikan beberapa contoh dibawah ini.
1)


4
0
3
1 x
dx
, f(x) tidak kontinu di x = 1, sehingga diperoleh
∫ ∫

+

1
0
4
1
3 3
1 1 x
dx
dx
x
dx
, berdasarkan contoh sebelumnya didapat:
∫ ∫
+




+

+ +
4
1
3
0
1
0
3
0
1
lim
1
lim
ε
ε
ε
ε
x
dx
x
dx
Kalkulus II “Integral”
29
=
4
1
3
2
0
1
0
3
2
0
) 1 (
2
3
lim ) 1 (
2
3
lim
ε
ε
ε
ε
+



]
]
]

− +
]
]
]


+ +
x x
=
2
3
) 1 0 ( ) 1 ) 1 ( lim
2
3
3
2
3
2
0
+
]
]
]

− − − −
+

ε
ε
]
]
]

− + − −
+

3
2
3
2
0
) 1 ) 1 (( ) 1 4 ( lim ε
ε
=
) 9 1 (
2
3
3
+ −
2)



8
1
3
1
, dx x f(x) tidak kontinu di x = 0, sehingga diperoleh
dx x dx x
∫ ∫



+
8
0
3
1 0
1
3
1
=
dx x dx x
∫ ∫
+






+ +
+
8
0
3
1
0
0
1
3
1
0
lim lim
ε
ε
ε
ε
=
8
0
3
2
0
0
1
3
2
0
2
3
lim
2
3
lim
ε
ε
ε
ε
+




]
]
]

+
]
]
]

+ +
x x
= -
6
2
3
+
=
2
9

3.3 Integral tak wajar dengan batas tak hingga
Bentuk integral tak wajar dengan batas tak hingga jika sekurang-kurangnya
batas-batas integrasinya memuat tak hingga. Selesaiannya berbeda dengan integral
tak wajar yang integrannya tidak kontinu di salah satu batas intergrasinya.
a. Intergral tak wajar dengan batas atas x = ∞.
Selesaiannya cukup dengan mengganti batas atas dengan sebarang variable
dimana variable tersebut mendekati tak hingga. Dengan demikian integral tak
wajar dengan batas atas tak hingga mempunyai selesaian berbentuk.
∫ ∫
∞ →

·
t
a
t
a
dx x f dx x f ) ( lim ) (
Perhatikan contoh berikut ini :
1)


+
0
2
1 x
dx
=

+
∞ →
t
t
x
dx
0
2
4
lim
Kalkulus II “Integral”
30
=
t
t
x
0
2
arctan
2
1
lim
]
]
]

→∞
=
]
]
]


∞ →
0 arctan
2
1
2
arctan
2
1
lim
t
t
= ( ½ .
2
π
- ½ .0)
=
4
π
2)


1
2
x
dx
=
∞ → t
lim

t
x
dx
1
2
=
t
t
x
1
1
lim
]
]
]


∞ →
=
t
t
t
1
1
1
lim
]
]
]

+ −
∞ →
= 1
b. Integral tak wajar dengan batas bawah di x = - ∞
Selesaiannya cukup dengan mengganti batas bawah dengan sebarang variable
dimana variable tersebut mendekati (negative) tak hingga. Dengan demikian
integral tak wajar dengan batas bawah tak hingga mempunyai selesaian:

∫ ∫
∞ −
−∞ →
·
a
t
a
t
dx x f dx x f ) ( lim ) (
Perhatikan contoh berikut ini:
1.

∞ −
0
2x
e dx =
0
2
2
1
lim
t
x
t
e
]
]
]

−∞ →
=
]
]
]


−∞ →
t
t
e
2
2
1
1 .
2
1
lim
= ½ - 0
= ½
2.

∞ −

0
2
) 4 ( x
dx
=
0
) 4 (
1
lim
t
t
x
]
]
]


−∞ →
=
]
]
]


+

−∞ →
) 0 4 (
1
) 4 (
1
lim
t
t
Kalkulus II “Integral”
31
= 0 +
4
1

= ¼
c. Integral tak wajar batas atas x = ∞ dan batas bawah di x = - ∞
Khusus untuk bentuk integral ini diubah terlebih dahulu menjadi penjumlahan
dua integral tak wajar dengan
∫ ∫ ∫

∞ − ∞ −

+ ·
a
a
dx x f dx x f x x f ) ( ) ( ) (
, sehingga
bentuk penjumlahan integral tak wajar ini dapat diselesaikan dengan cara a
dan b tersebut di atas, atau diperoleh bentuk:

∫ ∫ ∫

∞ − ∞ −

+ ·
a
a
dx x f dx x f x x f ) ( ) ( ) (

=
∫ ∫
∞ → −∞ →
+
t
a
a
t
t t
dx x f dx x f ) ( lim ) ( lim
Perhatikan beberapa contoh dibawah ini:
1.


∞ −
+
2
4 1 x
dx
=
∫ ∫
∞ −

+
+
+
0
0
2 2
4 1 4 1 x
dx
x
dx
=
[ ]
0
4 lim
t
t
x arctg
−∞ →
+
[ ]
t
t
x arctg
0
4 lim
∞ →

=
2
π

2.


∞ −
+1
2x
x
e
dx e
=

∞ −
+
0
2
1
x
x
e
dx e
+


+
0
2
1
x
x
e
dx e
= −∞ → t
lim

+
0
2
1
t
x
x
e
dx e
+ `
lim
∞ → t

+
t
x
x
e
dx e
0
2
1
= −∞ → t
lim
(arc tgn e
x
)
0
t
+ ∞ → t
lim
(arc tgn e
x
)
t
0
=
+ −
4 2
π π
0
4

π
=
2
π
BAB IV
RUMUS-RUMUS DASAR INTEGRAL
Kalkulus II “Integral”
32
Misal u adalah suatu fungsi yang terintegralkan dan C sebuah konstanta, dengan
memperhatikan sifat-sifat operasi Aljabar fungsi (penjumlahan, pengurangan, perkalian
dan pembagian) dapat diperikan beberapa sifat Integral tak tentu fungsi yang
terintegralkan. Sifat-sifat berikut berlaku untuk syarat yang diberikan.
1.

n
u
du =
1
1
+
+
n
u
n
+ C, jika n ≠ -1
2. [ ]
[ ]
C
n
x u
dx x u x u
n
n
+
+
·
+

1
) (
) ( ' ) (
1
, jika n ≠ -1
3.

u
du
= ln
u
+ C atau

+ · C x f dx
x f
x f
) ( ln
) (
) ( '
4.

e
u
du = e
u
+ C
5.

a
u
du =
u
a
u
ln
+ C
6.

u dv = uv -

v du
7.

sin du = - cos u + C
8.

cos u du = sin u + C
9.

sec
2
u du = tan u + C
10.

csc
2
u du = - cot u + C
11.

sec u tan u du = sec u + C
12.

csc u cot u du = - csc u + C
13.

tan u du = ln
u sec
+ C
14.

cot u du = ln
u sin
+ C
15.

sec u du = ln
u u tan sec +
+ C
16.

csc u du = ln
u u c cot sec −
+ C
17.

2 2
u a
du

= arc sin
a
u
+C
18.

2 2
u a
du
+
=
a
1
arc tan
a
u
+ C
19.

·

2 2
u a
du

a 2
1
ln
a u
a u

+
+ C
20.

·

2 2
a u
du

a 2
1
ln
a u
a u
+

+ C
Kalkulus II “Integral”
33
21. ∫
+
2 2
a u
du
= ln (u +
2 2
a u + ) + C
22. ∫

2 2
a u
du
= ln (u +
2 2
a u − ) + C
23.

2 2
u a − du = ½ u − −
2 2
a u
C
a
u
a + arcsin
2
1
2

24.

2 2
a u u
du

=
a
1
arc sec
a
u
+ C
25.


2 2
a u
du = ½ u − −
2 2
a u
2 2 2
ln
2
1
a u u a − +
+ C
26.

+
2 2
a u
du = ½ u + +
2 2
a u
2 2 2
ln
2
1
a u u a + +
+ C
27.

sin
2
u du =
2
1
u –
4
1
sin 2u + C
28.

cos
2
u du =
2
1
u + ¼ sin 2u + C
29.

tan
2
u du = -u + tan u + C
30.

cot
2
u du = - u – cot u + C
31.

sin
3
u du = -
3
1
( 2 + sin
2
u ) cos u + C
32.

cos
3
u du =
3
1
( 2 + cos
2
u ) sin u + C
33.

tan
3
u du =
2
1
tgn
2
u + ln
u cos
+ C
34.

cot
3
u du = -
2
1
cot
2
u - ln
u sin
+ C
35.

sec
3
u du =
2
1
sec u tan u +
2
1
ln
u u tan sec +
+ C
36.

csc
3
u du = -
2
1
csc u cot u +
2
1
ln
u u c cot sec −
+ C
37.

sin au sin bu du =
) ( 2
) sin(
b a
u b a


-
) ( 2
) sin(
b a
u b a
+
+
+ C, jika a
2
≠ b
2

38.

cos au cos bu du =
) ( 2
) sin(
b a
u b a


+
) ( 2
) sin(
b a
u b a
+
+
+ C, jika a
2
≠ b
2

39.

sin au cos bu du = -
) ( 2
) cos(
b a
u b a


-
) ( 2
) cos(
b a
u b a
+
+
+ C, jika a
2
≠ b
2

Kalkulus II “Integral”
34
40.

sin
n
u du = -
n
u u
n
cos sin
1 −
+
n
n 1 −


sin
n-2
u du
41.

cos
n
u du =
n
u u
n
sin cos
1 −
+
n
n 1 −


cos
n-2
u du
42.

tan
n
u du =
1
1
− n
tan
n-1
u -

−2
tan
n
u du jika n ≠ 1
43.

cot
n
u du = -
1
1
− n
cot
n-1
u -

−2
cot
n
gn
u du jika n ≠ 1
44.

sec
n
u du =
1
1
− n
sec
n-2
u tgn u +
1
2


n
n

sec
n-2
u du, jika n ≠ 1
45.

csc
n
u du= -
1
1
− n
csc
n-2
u cot u +
1
2


n
n

csc
n-2
u du, n ≠ 1
46.

sin
n
ucos
m
u du = -
m n
u u
m n
+
+ − 1 1
cos sin
+
m n
n
+
−1

sin
n-2
u cos
m
u du,
n ≠ -m
47.

u sin u du = sin u – u cos u + C
48.

u cos u du = cos u + u sin u + C
49.

u
n
sin u du = -u
n
cos u + n

u
n-1
cos u du
50.

u
n
cos u du = u
n
sin u + n

u
n-1
sin u du
51.

sin u d(sin u) =
2
1
sin
2
u + C
52.

cos u d(cos u) =
2
1
cos
2
u + C
53.

tan u d(tan u) =
2
1
tan
2
u + C
54.

cot u d(cot u) = ½ cot
2
u + C
55.

sec u d(sec u) = ½ sec
2
u + C
56.

csc u d(csc u) = ½ csc
2
u + C
57.

2 2
a u t du =
2
u
2 2
a u t t
2
2
a
ln
2 2
a u u t +
+ C
58.

u
a u
2 2
+
du =
2 2
a u + - a ln

,
`

.
|
− t
u
u u a
2 2
+ C
59.

2 2
a u
du
t
= ln
2 2
a u u t +
+ C
Kalkulus II “Integral”
35
60.

u
a u
2 2

du =
2 2
a u − - a arc sec
a
u
+ C
61.

u
2 2 2
u a t du =
8
u
(2a
2
tu
2
)
2 2
u a t -
8
4
a
ln
2 2
u a u t +
+ C
62.

2 2
2
a u
u
t
du =
2
u
2 2
u a t t
2
2
a
ln
2 2
u a u t +
+ C
63.

2 2 2
a u u
du
t
= t
u a
a u
2
2 2
t
+ C
64.

2
2 2
u
a u t
du = -
u
a u
2 2
t
- ln
2 2
u a u t +
+ C
65.

2
3
2 2
) ( a u
du
t
=
2 2 2
a u a
u
t
t
+ C
66. ∫

2 2
u a
udu
= -
2 2
u a − + C
67.

(
2 2
a u t )
3/2
du =
8
u
(2u
2
t5a
2
)
2 2
a u t +
8
3
4
a
ln
2 2
a u u t +
+ C
68.

2 2
u a − du =
2
a
2 2
u a − +
u
a
2
arc sin
-1

a
u
+ C
69.

2 2
2
u a
u

du = -
2
a
2 2
u a − +
u
a
2
arc sin
-1

a
u
+ C
70.

u
u a
2 2

du =
2 2
u a − - a ln
u
u a a
2 2
− +
+ C
71.

u
2 2 2
u a − du =
8
u
(2u
2
- a
2
)
2 2
u a − +
8
4
a
arc sin
-1

a
u
+ C
72.

2 2 2
u a u
du

= -
u a
u a
2
2 2

+ C
73.

2
2 2
u
a u −
du = -
u
a u
2 2

- arc sin
-1

a
u
+ C
74.

2 2
u a u
du

= -
a
1
ln
u
u a a
2 2
− +
+ C
75.

−u u
du
1
= ln
x
x
− +
− −
1 1
1 1
+ C
76.

+u
u
1
du = 2 u - 2 arc tan u + Cl
Kalkulus II “Integral”
36
77. ∫
+ ) 1 ( u u
du
= 2 ln (1+ u )
78.

2
3
2 2
) ( u a
du

=
2 2 2
u a a
u

+ C
79.

(
2 2
u a − )
3/2
du =
8
u
(5a
2
- 2u
2
)
2 2
u a − +
8
3
4
a
arc sin
-1

a
u
+ C
80.

ue
u
du = (u-1)e
u
+ C
81.

u
n
e
u
du = u
n
e
u
– n

u
n-1
e
u
du
82.

ln u du = u ln u – u + C
83.

u
n
ln u du =
1
1
+
+
n
u
n
ln u -
2
1
) 1 ( +
+
n
u
n
+ C
84.

e
au
sin bu du =
2 2
b a
e
au
+
(a sin bu – b cos bu) + C
85.

e
au
cos bu du =
2 2
b a
e
au
+
(a cos bu + b sin bu) + C
86.

arc sin
-1
u du = u arc sin
-1
u +
2
1 u − + C
87.

arc tan u du = u arc tan u -
2
1
ln
2
1 u +
+ C
88.

arc sec u du = u arc sin u – ln
2
1 u u + +
+ C
89.

u arc sin u du = ¼ (2u
2
– 1) arc sin u +
4
u

2
1 u − + C
90.

u arc tan u du = ½ (u
2
+ 1) arc tan u -
2
u
+ C
91.

u arc sec u du =
2
2
u
arc sec u – ½ 1
2
− u + C
92.

u arc sin u du =
1
1
+
+
n
u
n
arc sin u -
1
1
+ n


+
2
1
1 u
u
n
du + C, jika n ≠ -1
93.

u
n
arc tan u du =
1
1
+
+
n
u
n
arc tan u -
1
1
+ n

+
+
2
1
1 u
u
n
du + C, jika n ≠ -1
94.

u
n
arc sec u du =
1
1
+
+
n
u
n
arc sec u -
1
1
+ n


+
1
2
1
u
u
n
du + C, jika n ≠ -1
95.

sinh u du = cosh u + C
96.

cosh u du = sinh u + C
Kalkulus II “Integral”
37
97.

tanh u du = ln (cosh u ) + C
98.

coth u du = ln
u sinh
+ C
99.

sech u du = arc tan
u sinh
+ C
100.

csch u du = ln
2
tanh
u
+ C
101.

sinh
2
u du = ¼ sinh u -
2
u
+ C
102.

cosh
2
u du = ¼ sinh u +
2
u
+ C
103.

tanh
2
u du = u - tanh u + C
104.

coth
2
u du = u – coth u + C
105.

sech
2
u du = tanh u + C
106.

csch
2
u du = -coth u + C
107.

sech u tgnh u du = - sech u + C
108.

csch u coth u du = - csch u + C
109.

u(au+b)
-1
du =
2
a
b
a
u

ln
b au +
+ C
110.

u(au + b)
-2
du =
]
]
]

+
+ +
b au
b
b au
a
ln
1
2
+ C
111.

u(au+b)
n
du =
2
1
) (
a
b au
n+
+
]
]
]

+

+
+
1 2 n
b
n
b au
+ C, jika n ≠ -1, -2
112.
∫ n
u a
du
) (
2 2
t
=
]
]
]

t
− +
t −
∫ − − 1 2 2 1 2 2 2
) (
) 1 2 (
) ( ) 1 ( 2
1
n n
u a
du
n
u a
u
n a
+
C, n ≠ 1
113.

u b au + du = C b au b au
a
+ + −
2
3
2
) )( 2 3 (
15
2

114.

u
n
b au + du =

,
`

.
|
+ − +
+


b au u nb b au u
n a
n n 1
2
3
) (
) 3 2 (
2
+ C
115.

b au
udu
+
= b au b au
a
+ − ) 2 (
3
2
2
+ C
116.

b au
du u
n
+
=
) 1 2 (
2
+ n a
( ) b au u
n
+ -nb

+

du
b au
u
n 1
Kalkulus II “Integral”
38
117.

b au u
du
+
=
b
1
ln
b b au
b b au
+ +
− +
+ C
118.

b au u
du
n
+
= -

+




+
− −
b au u
du
b n
a n
u n b
b au
n n 1 1
) 2 2 (
) 3 2 (
) 1 (
+ C, jika
n ≠ 1
119.

2
2 u au − = arc
n
a
u au
a u
2
2
2
2
+ −

sin
a
a u −
+ C
120.

2
2 u au
du

= arc sin
a
a u −
+ C
121.

u
n 2
2 u au − =
+
+


2
) 2 (
2
3
2 1
n
u au u
n
2
) 1 2 (
+
+
n
a n


− 2 1
2 u au u
n

du
122.

2
2 u au
du u
n

= -
2
1
2 u au
n
u
n


+


n
a n ) 1 2 (
2
1
2 u au
du u
n


+ C
123.

u
u au
2
2 −
= + −
2
2 u au a arc sin
a
a u −
+ C
124.

n
u
u au
2
2 −
=
+


n
au n
u au
) 2 3 (
) 2 (
2
3
2
∫ −



du
u
u au
a n
n
n 1
2
2
) 3 2 (
3
125.

) 2 (
2
u au u
du
n

=




+


− 2 1
2
2
) 1 2 (
1
) 2 1 (
2
u u u
du
a n
n
u n a
u au
n
n
126.

(
2
2 u au − )
2
=



+
1 2
2
) 2 (
1
n
u au
n
na
du
127.
∫ 4 2
) 2 ( u au
du

=
( )




+ −



2
3
2
2
2
2
2
) 2 (
) 2 (
3
2
) 2 (
u au
du
a n
n
u au
n
a u
n
du
128.
1
2
1
tan ln
1 cos sin
− ·
− −

u
u u
du
+ C
129.
u
u u
du
2
1
tan 1 ln
cos sin 1
+ ·
+ +

+ C
130.

+
du
u
udu
2
sin 1
sin
=
2
4
1
ln
2 2 3
2
tan
2 2 3
2
tan
2
2
+ +
− +
u
u
+ C
Kalkulus II “Integral”
39
131.

·
− u
udu u
cos 1
cos sin
cos u + ln (1-cos u) + C
132.

sin
u du = - u 2 cos u + 2 sin u + C
133.

− u
du
sin 2 1
=
3 2
2
tan
3 2
2
tan
ln
3
3
+ −
− −
u
u
+ C
134.

+ u
du
sin 2
=
3
1
2
2
3
2
+
u
tgn
arctgn
+ C
135.

+ u
du
sin 5 3
=
3
2
tan
1
2
tan 3
ln
4
1
+
+
u
u
+ C
136.

+ u
du
sin 3 5
=
arctan
2
1
4
3
2
tan 5 +
u
+ C
137.

u u
du
cos sin 1 − +
= ln
2
tan 1
2
tan
u
u
+
+ C
138.

− u
du
cos 2
=
)
2
tan 3 arctan(
3
2 u
+ C
139.
C
u
u
du
+
+
·
+

3
4
2
tan 5
arctan
3
2
sin 4 5
140.
C
u
u
du
+

,
`

.
|
·
+

2
tan
3
3
arctan
3
3 2
cos 2
141.

C
u
u
du
+ ·

)
2
tan 5 arctan(
5
5 2
2 3
142.
C
u
u
u u
udu
+
+
·
+

cos
cos 1
ln
) cos 1 ( cos
sin
2
2
143. + + ·
+
+

u
u
udu u
tan 1 ln
tan 1
sec ) tan 2 (
2
2 2
C
u
+

3
1 tan 2
arctan
3
2
144.

·

2
sin 1
x
dx
2(tan
C
x x
+ + )
2
sec
2
145.

+

·
+
C
x
x
x
dx
3 sin 3
3 cos 1
3 cos 1
Kalkulus II “Integral”
40
146. C
x
x
xdx
+ ·
+

2 2
2 sin
arctan
8
2
8 2 sin
2 cos
2
147.
2
1
tan 4 1
sec
2
2
·


x
xdx
arc sin(2 tan x) + C
148.

+ ·
+
C
x
x
xdx
3
4 sin
arctan
12
1
4 sin 9
8 sin
2
2
149.

+ ax
dx
sec 1
= x +
a
1
(cot ax-csc ax) + C
150.
C
a
x
a dx
a
x
a
x
+ ·

2 2
tan
2
1
tan sec
Kalkulus II “Integral”
41
DAFTAR PUSTAKA
Dale Varberg., Edwin J. Purcell. 2001. Kalkulus Jilid I (edisi 7). Alih Bahasa I Nyoman
Susila. Batam: Interaksara.
Koko Martono, 1993. Kalkulus Integral I. Bandung: Alva Gracia
Achsanul In’am, 2000. Kalkulus I. Malang: UMM Press.
Kalkulus II “Integral”
42
Kalkulus II “Integral”
43

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->