Kesehatan

Selasa, 29 Maret 2011 Askep Preeklampsia Berat Askep Preeklampsia Berat BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, 2 orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas. Begitu juga dengan kematian anak, di Indonesia setiap 20 menit anak usia di bawah 5 tahun meninggal. Dengan kata lain 30.000 anak balita meninggal setiap hari dan 10,6 juta anak balita meninggal setiap tahun. Sekitar 99 % dari kematian ibu dan balita terjadi di negara miskin, terutama di Afrika dan Asia Selatan. Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Dengan kata lain, 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Sebagai perbandingan, angka kematian bayi di negara maju seperti di Inggris saat ini sekitar 5 per 1.000 kelahiran hidup . Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena kehamilan dan persalinan, termasuk perdarahan, infeksi, aborsi tidak aman, tekanan darah tinggi dan persalinan lama (Anonim, 2005). Preeklampsia-eklampsia merupakan kesatuan penyakit yang masih merupakan penyebab utama kematian ibu dan penyebab kematian perinatal tertinggi di Indonesia. Sehingga diagnosis dini preeklampsia yang merupakan pendahuluan eklampsia serta penatalaksanaannya harus diperhatikan dengan seksama. Disamping itu, pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin untuk mencari tanda preeklampsia yaitu hipertensi dan proteinuria sangat penting dalam usaha pencegahan, disamping pengendalian faktor-faktor predisposisi lain (Sudinaya, 2003). Insiden preeklampsia sangat dipengaruhi oleh paritas, berkaitan dengan ras dan etnis. Disamping itu juga dipengaruhi oleh predisposisi genetik dan juga faktor lingkungan. Sebagai contoh, dilaporkan bahwa tempat yang tinggi di Colorado meningkatkan insiden preeklampsia. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita dengan sosio ekonominya lebih maju jarang terkena preeklampsia. Preeklampsia lebih sering terjadi pada primigravida dibandingkan multigravida. Faktor risiko lain yang

menjadi predisposisi terjadinya preeklampsia meliputi hipertensi kronik, kelainan faktor pembekuan, diabetes, penyakit ginjal, penyakit autoimun seperti Lupus, usia ibu yang terlalu muda atau yang terlalu tua dan riwayat preeklampsia dalam keluarga (Cunningham, 2003). Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat berperan sebagai pendidik, konselor dan bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya. Oleh karena itu pentingnya peran ibu untuk mengurangi / mencegah resiko terjadinya pre eklampsia menjadi eklampsia.

B. Tujuan 1. Tujuan umum Tujuan dari pembuatan makalah asuhan keperawatan dengan preeklampsia berat adalah supaya perawat dan mahasisiwa mampu memberikan asuhan keperawatan dengan pasien preeklampsia berat. 2. Tujuan khusus a. Mahasiswa memahami apa itu preeklampsia. b. Mahasiswa mengetahui tanda dan gejala preeklampsia. c. Mahasiswa mampu memberikan pencegahan dan penatalaksanaan preeklampsia. d. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan kepada pasien preeklampsia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul akibat kelainan neurologi (Kapita Selekta Kedokteran edisi ke3). Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 1998 ).

Tetapi terdapat suatu kelainan yang menyertai penyakit ini yaitu : . akan tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia (Obstetri Patologi : 1984) Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeklampsia ialah iskemia plasenta. (Ilmu Kebidanan : 2005) B. Etiologi Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih. 2. gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium 5.Spasmus arteriola . Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau disertai udema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Asuhan Patologi Kebidanan : 2009). Oliguria. edema. Keluhan serebral.Retensi Na dan air . Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditemukan mana yang sebab mana yang akibat (Ilmu Kebidanan : 2005). 3 atau 4 + pada pemeriksaan kualitatif. Penyakit digolongkan berat bila satu atau lebih tanda gejala dibawah ini : 1. Akan tetapi.Koagulasi intravaskuler Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini. 3.Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi. Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24 jam. Preeklampsia dibagi dalam 2 golongan ringan dan berat. melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia. Oleh karena itu disebut penyakit teori namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Edema paru dan sianosis. dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit itu. dan proteinuria yang timbul karena kehamilan (Ilmu Kebidanan : 2005). air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam 4. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. Banyak teori teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Rupanya tidak hanya satu faktor. .

Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya. mungkin karena retensi air dan garam. dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal (Trijatmo. Halaman 199). natrium. Metablisme air dan elektrolit Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui penyebabnya . dan protein tidak mununjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia.2003). Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Patofisiologi Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin. kristaloid. Jilid I.2003). 2. Pada beberapa kasus. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus menurun. Penumpukan trombus dan perdarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit syaraf lokal dan kejang. Perubahan kardiovaskuler Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklamsia dan eklampsia. Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunniangham. Penderita preeklamsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan. sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak berubah. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intavaskuler.2005). dan aktifasi endotel disertai ekstravasasi kedalam ekstravaskuler terutama paru (Cunningham. . lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi. meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme.tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. Konsentrasi kalium. preload jantung yang secara nyata dipengaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik / kristaloid intravena. jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita preeklamsia dan eklampsia dari pada wanita hamil biasa atau penderita dengan hipertensi kronik.2005). Elektrolit. Perubahan pada organ : 1. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomelurus dan proteinuria.C. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trobositopeni.

diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. yaitu : . diplopia dan ambliopia. Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan. 6. sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Otak Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks serebri. D. Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan.1998).Proteinuria Berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklamsia. 4. Paru2 Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Manifestasi Klinis Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya dari tiga gejala. Hal ini disebabkan oleh adaanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan dikorteks serebri atau didalam retina (Rustam. Mata Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. 1998). Uterus Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta. atau kadar protein 1 g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah. pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan (Trijatmo. Proteiuria bila terdapat protein sebanyak 0.2005).Hipertensi . Disebut preeklamsia berat bila ditemukan gejala : .3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2. pembengkakan kaki. Tekanan darah 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit.3. Selain itu dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intraokuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang menunjukkan pada preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma. jari tangan dan muka.Edema . 5. sehingga terjad partus prematur. Bisa juga karena aspirasi pnemonia atau abses paru (Rustam.

Nyeri epigastrum dan ikterus. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Penatalaksanaan Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi : a. memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik. namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi. Pencegahan Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini preeklampsia. ada gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan) b.Trombositopenia. . garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST dan USG).Penurunan visus (Kapita Selekta Kedokteran edisi ke-3) E. karbohidrat.Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan.Pertumbuhan janin terhambat. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan di atas.Nyeri epigastrium Pusing . . Ibu Usia kehamilan 37 minggu atau lebih Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medisinal. dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. . namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik pada wanita hamil. . Indikasi : a. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur. dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. . Mengenal secara dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan obat antihipertensif. F. 1.Oliguria (<400 ml dalam 24 jam).Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 110 mmHg. Janin . Diet tinggi protein dan rendah lemak. kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24 jam perawatan medisinal.Mual muntah . . Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat dicegah sepenuhnya.. .Proteinuria + 5 g/24 jam atau 3 pada tes celup.

kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot pernapasan karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. lemak dan garam. Pengobatan mediastinal Pengobatan mediastinal pasien preeklampsia berat adalah : a. 1. b. 2. 3. d. MgSO4 dihentikan bila : Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot. Dosis ulang : diberikan 4 gr IM 40% setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu dosis ulang diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari. Kadar 12-15 mEq/liter dapat terjadi kelumpuhan otot pernapasan dan > 15 mEq/liter terjadi kematian jantung. c. Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125 cc/jam) 500 cc. Tirah baring miring ke satu sisi. Frekuensi pernapasan lebih 16 x/menit. Segera masuk rumah sakit. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan xylocain 2% yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM. refleks fisiologis menurun. Tanda vital perlu diperiksa setiap 30 menit. Diikuti segera 4 gram di pantat kiri dan 4 gr di pantat kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no 21 panjang 3.7 cm. fungsi jantung terganggu. e. depresi SSP. trombositopenia) 2. refleks patella setiap jam. rendah karbohidrat.Hasil fetal assesment jelek (NST dan USG) Adanya tanda IUGR (janin terhambat) c. Laboratorium Adanya HELLP Syndrome (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar. Syarat-syarat pemberian MgSO4 Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10% 1 gr (10% dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit.5 cc/KgBB/jam) 4. Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. Pemberian obat anti kejang magnesium sulfat (MgSO4). Diet cukup protein. Dosis awal sekitar 4 gr MgSO4) IV (20% dalam 20 cc) selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Bila timbul tanda-tanda keracunan MgSO4 : . Refleks patella positif kuat.

Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak dilakukan terminasi. g.. Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap pengobatan medisinal gagal dan harus diterminasi. 3. 1. diastolik > 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medisinal. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tanda-tanda preeklampsia ringan. selambat-lambatnya dalam 24 jam. Deuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru. Pengobatan obstetri : a. payah jantung kongestif atau edema anasarka.Lakukan pernapasan buatan MgSO4 dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sedah terjadi perbaikan (normotensi). Diberikan furosemid injeksi 40 mg IM. Dosis yang dapat dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah. . catapres injeksi. Desakan darah sistolik > 180 mmHg. 4. maksimal 4-5 kali.Berikan oksigen . Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (syakib bakri. Hanya loading dose MgSO4 tidak diberikan IV. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam.1997) b. 2.Hentikan pemberian MgSO4 . Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. 2. Anti hipertensi diberikan bila : 1.Berikan calcium gluconase 10% 1 gr (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit . b. c. 3. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolik <105 mmHg (bukan < 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. Bila diperlukan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu). f. cukup intramuskular saja dimana gram pada pantat kiri dan 4 gram pada pantat kanan. Indikasi : bila kehamilan paterm kurang 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda inpending eklampsia dengan keadaan janin baik.

Kematian janin H. Kejang 7. Komplikasi 1. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan preeklamsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu). Pemeriksaan retina. G. Pemeriksaan kadar human laktogen plasenta (HPL) dan esteriol di dalam plasma serta urin untuk menilai faal unit fetoplasenta (Helen Farier : 1999) . khususnya untuk mengetahui kadar ureum darah (untuk menilai kerusakan pada ginjal) dan kadar hemoglobin. Infark plasenta 10. Stroke 2. 4. Pemeriksaan Penunjang Preeklampsia 1. Hipertensi permanen 8. 3.d. Gagal ginjal 4. Kebutaan 5. Pemeriksaan darah. Pemeriksaan spesimen urine mid-stream untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi urin. Hipoxia janin 3. Gagal jangtung 6. Distress fetal 9. b. Penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda preeklampsia ringan dan telah dirawat selama 3 hari. 4. untuk mendeteksi perubahan pada pembuluh darah retina. Abruptio plasenta 11. Penderita dipulangkan bila : a. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka diberi lebih dulu MgSO4 20% 2 gr IV. 2.

suhu : 360 C. Pengkajian . Dari pemeriksaan Urin didapatkan kadar protein urin 5 gr. Hari / tanggal masuk : 7 Januari 2011 Jam : No. A 19 tahun datang kerumah sakit bersama suaminya Tn. Ny. RR : 34 x/menit. matanya berkunang-kunang. dan kakinya membesar. B mengatakan bahwa istrinya lemas. I.5. usia kehamilannya 20 minggu. Elektrokardiogram dan foto dada menunjukkan pembesaran ventrikel dan kardiomegali. berat badan bertambah dengan cepat. CM : Ruang : Diagnosa medis : A. pusing. Pathways Terlampir BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PREEKLAMPSIA BERAT Kasus Ny. Setelah dilakukan pemeriksaan tanda vital didapatkan TD : 160 / 110 mmHg. B 21 tahun pada tanggal 7 Januari 2011 dengan keadaan hamil. A mengatakan sesak nafas dan suaminya Tn. nadi : 120 x/menit. nyeri punggung.

B Umur : 21 Tahun Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Pekerjaan : Pendidikan : Status perkawinan : Sudah menikah Agama : Islam Hubungan dengan klien : Suami klien B. Penanggung jawab Nama : Tn.Pengkajian dilakukan : perawat H. Hari / tanggal : 7 Januari 2011 Jam : 1. Biodata a. Klien Nama : Ny. Riwayat Kesehatan . A Umur : 19 Tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Pekerjaan : Pendidikan : Status perkawinan : Sudah menikah Agama : Islam b.

Dari pemeriksaan Urin didapatkan kadar protein urin 5 gr.a. Breathing Pola nafas dalam dengan RR : 34 x/menit c. Riwayat perkawinan Menikah 1 kali dan telah berangsung 1 tahun g. berat badan bertambah dengan cepat. B 21 tahun pada tanggal 7 Januari 2011 dengan keadaan hamil. matanya berkunang-kunang. Riwayat kontrasepsi Pasien dan suaminya belum pernah memakai kontrasepsi C. A 19 tahun datang kerumah sakit bersama suaminya Tn. f. ekstremitas dingin . e. kulit pucat. nyeri punggung. Pengkajian Primer a. dan kakinya membesar. Riwayat persalinan Ny. d. B mengatakan bahwa istrinya lemas. pusing. b. RR : 34 x/menit. A tidak mempunyai penyakit hipertensi sebelumnya. A belum pernah melakukan persalinan. Riwayat kesehatan sekarang Ny. A mengatakan sesak nafas dan suaminya Tn. nadi : 120 x/menit. Airway Tidak ada sumbatan jalan nafas b. Setelah dilakukan pemeriksaan tanda vital didapatkan TD : 160 / 110 mmHg. Circulation Nadi : 120 x/menit. Keluhan utama Klien merasa sesak nafas. Ny. Riwayat kesehatan terdahulu Ny. Riwayat kesehatan keluarga Keluarga tidak mempunyai penyakit hipertensi. c. usia kehamilannya 20 minggu. suhu : 360 C.

Telinga : terdapat serumen 7. Tanda-tanda vital : TD : 160 / 110 mmHg RR : 34 x/ menit Nadi : 120 x/menit Suhu : 360 C 4. edema Pa : fremitus meningkat Pe : pekak Au : sesak nafas Jantung I : asimetris Pa : denyut melemah Pe : pekak Au : lemah 9. Hidung : simetris 8. Pengkajian Sekunder 1. Abdomen .D. Kepala : simetris 5. diplopia. Dada : Paru-paru I : asimetris cembung. Keadaan umum : lemah 2. ikterik 6. Kesadaran : apatis 3. Mata : anemis.

Komunikasi Komunikasi klien terbatas karena kelemahan. mual muntah 4. Kebersihan diri Klien mandi 2 x sehari. Ibadah . takiepnea 2. Genetalia : normal E. Pola Kehidupan Sehari-hari 1. pusing. Nutrisi Anoreksia. nyeri 6. Pernafasan RR : 34 x/menit. 8. Sirkulasi TD : 160 / 110 mmHg. Mobilitas dan kenyamanan Klien lemah. proteinuria 5. Nadi : 120 x/menit. Tidur dan istirahat Klien sukar tidur 7.I : membesar sesuai status obstetri Au : bising usus normal Pa : nyeri tekan pada kuadran 1 Pe : 10. 9. Ekstremitas : edema 11. Eliminasi BAB 1 x sehari. Suhu : 360 C 3.

DS : udema Peningkatan reabsorbsi Na Kelebihan volume cairan DS : mata berkunang-kunang DO : . kakinya membesar.Kelemahan fisik. lemah DO : . 10. DO : TD : 160 / 110 mmHg RR : 34 x/ menit Nadi : 120 x/menit Suhu : 360 C Peningkatan kebutuhan O2 Pola nafas inefektif. Sosial ekonomi Kebutuhan sosial ekonomi klien terganggu dan ekonominya.Peningkatan tekanan vaskuler otak Gangguan rasa nyaman nyeri DS : Berat badan bertambah cepat. F. nyeri punggung DO : . DS : sesak nafas DO : TD : 160 / 110 mmHg RR : 34 x/ menit Nadi : 120 x/menit COP menurun Gangguan perfusi jaringan DS : sesak nafas.Peningkatan tekanan vaskuler retina Resiko injuri .Pasien masih bisa melaksanakan ibadah sesuai kemampuan. Analisa Data Tgl / jam Data fokus Etiologi Problem DS : klien mengatakan sesak nafas. ketidakseimbangan suplai O2 Intoleransi aktifitas DS : pusing.

Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi Rasional : meningkatkan pengiriman oksigen ke paru 2. Intoleransi aktivitas b.d peningkatan vaskuler otak 5.d ketidakseimbangan suplai O2.d penurunan COP 3.G. Pola nafas inefektif b. Gangguan perfusi jaringan b. . Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan COP Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 60 menit diharapkan kebutuhan O2 terpenuhi. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman Rasional : untuk mengetahui pola nafas pasien b. Auskultasi bunyi nafas Rasional : mengetahui ada tidaknya nafas tambahan c. pala nafas normal RR : 24 x/mnt Intervensi : a. Atur posisi pasien semi fowler Rasional : merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru d.d peningkatan reabsorpsi Na 6. Kelebihan volume cairan b. Gangguan rasa nyaman nyeri b. kelemahan fisik 4.d peningkatan kebutuhan O2 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 60 menit pola nafas kembali normal Kriteria hasil : bebas dari sianosis.d peningkatan tekanan vaskuler retina H. Resiko injuri b. Diagnosa Keperawatan 1.d peningkatan kebutuhan O2 2. Rencana Tindakan Keperawatan 1. Pola nafas inefektif b.

kelemahan fisik Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam aktivitas pasien dapat terpenuhi Kriteria hasil : Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / di perlukan Intervensi : a. c.d peningkatan vaskuler otak Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam nyeri berkurang /menghilang Kriteria hasil : wajah tidak menyeringai. Intoleransi aktivitas b. Kolaborasi pemberian IV larutan elektrolit Rasional : meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler. tidak terjadi sianosis Interensi : a. Periksa TTV sebelum dan sesudah aktivitas Rasional : mengetahui tingkat kelemahan b. Gangguan rasa nyaman nyeri b. Instruksikan pasien tentang tekhnik penghematan energi Rasional : membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Pantau BGA Rasional : asidosis yang terjadi dapat menghambat masuknya oksigen pada tingkat sel. 3. penggunaan otot bantu. Catat frekuensi dan kedalaman pernapasan. c. Kaji skala nyeri . Rasional : untuk mengetahui kelemahan otot pernapasan.d ketidakseimbangan suplai O2.Kriteria hasil : CRT < 2 detik. b. Berikan bantuan sesuai kebutuhan Rasional : Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas. d. tidak pusing Intervensi : a. Awasi tanda-tanda vital Rasional : untuk mengetahui tingkat kegawatan klien. 4.

mengejan. Ajarkan taknik relaksasi dan distraksi Rasional : membantu menghilangkan rasa nyeri e.Tidak ada destensi vena perifer dan edema .d peningkatan reabsorpsi Na Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam BB stabil Kriteria hasil : . Pertahankan tirah baring Rasional : meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaksasi c. Jelaskan tujuan pembatasan cairan / Na pada pasien Rasional : Na dapat mengikat air sehingga meningkatkan volume cairan bertambah c. Rasional : Menghambat reabsorpsi natrium dan menurunkan kelebihan cairan d. diazepam Rasional : menurunkan nyeri dan menurunkan rengsang system saraf simpatis. 5. Obervasi input dan output Rasional : Mengetahui pengeluaran dan pemasukan cairan b. Kolaborasi pemberian deuretik . batuk panjang Rasional : aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menambah beratkan penyakit d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi misalnya lorazepam.Rasional : mengetahui intensitas nyeri b. Resiko injuri b. Minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya.asam etakrinik (edecrin) sesuai dengan indikasi.Paru bersih dan BB stabil Intervensi : a.d peningkatan tekanan vaskuler retina Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam pasien tidak mengalami trauma . Kelebihan volume cairan b. Kolaborasi dengan ahli gizi Rasional : diet pembatasan Na sesuai indikasi 6. contoh : furosemid (lazix).

Pertahankan tirah baring Rasional : Meminimalkan pergerakan pasien c.2005.2000. 2009.Kriteria hasil : Pasien tidak mengalami cidera Intervensi : a. Asuhan Patologi Kebidanan.2001. Hindarkan pasien dari benda-benda yang berbahaya bagi pasien Rasional : Mencegah terjadinya injuri b. Sujiyatini dkk. Penerbit Buku Kedokteran. 1984. Marilynn E. Batasi aktivitas pasien Rasional : Meminimalkan aktivitas yang dapat menimbulkan trauma pada pasien. Elstar Offset : Bandung. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta Pusat Obstetri Patologi. Ilmu Kebidanan. Diposkan oleh Acan Shiamphibi di 21:43 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook . DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Pertahankan BEL di samping tempat tidur dan pagar tempat tidur tinggi Rasional : Mencegah terjadinya injuri d. Kapita Selekta Kedokteran. Nuha Medika : Jogjakarta Wiknjosastro. Media Aesculapius : Jakarta Doengoes. Arif dkk. Hanifa. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta.

Berbagi ke Google Buzz Label: ASKEP GADAR 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Apakah Anda suka dengan Blog ini? Label ASKEP GADAR (1) Gizi (1) isue dan trend (1) Obat Herbal (5) Penkes (1) Penyakit (2) Perawatan (1) .

Didukung oleh Blogger.Tampilan slide Pengikut Arsip Blog 2011 (2) Maret (2) Operasi plastik Askep Preeklampsia Berat 2010 (11) Mengenai Saya Acan Shiamphibi Kata orang aku cakep. .pinter. dan memuaskan heeheee Lihat profil lengkapku Acan MP3 Clips Template Ethereal.lucu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful