P. 1
26. Sosiologi Pendidikan

26. Sosiologi Pendidikan

|Views: 2,965|Likes:
Published by Taufik Agus Tanto
Sosiologi Pendidikan
Sosiologi Pendidikan

More info:

Published by: Taufik Agus Tanto on Aug 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

Unit

1

PENGERTIAN DAN PENDEKATAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN
EDDY TUKIDJAN

Pendahuluan

U

nit I (satu) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang pengertian sosiologi pendidikan, pendidikan dan persepektif budaya. Materi unit ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan, pemahaman, sebagai landasan untuk berinteraksi dengan teman sejawat, dosen, birokrasi sekolah, keluarga dan masyarakat dalam kegiatan sehari-hari baik di sekolah maupun masyarakat. Setelah mempelajari materi unit ini, Anda diharapkan dapat: 1. Menjelaskan pengertian sosiologi pendidikan. 2. Menjelaskan pendekatan sosiologi pendidikan. 3. Menjelaskan faktor-faktor pendekatan individual 4. Mendeskripsikan faktor biologis pada tingkah laku manusia. 5. Mendeskripsikan faktor psikologis pada tingkah laku manusia. 6. Mendeskripsikan pendekatan sosial. 7. Mendeskripsikan 4 proses pendekatan sosial. 8. Mendeskripsikan pendekatan interaksi. 9. Mendeskripsikan 3 jenis interaksi dengan lingkungan. 10. Menjelaskan pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli. 11. Menjelaskan pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan. 12. Mendeskripsikan pendidikan di sekolah dapat menjadi pusat kebudayaan apabila memenuhi 4 ciri khusus. 13. Menjelaskan pendidikan (sekolah) merupakan sarana untuk pembudayaan. 14. Mendeskripsikan peranan sekolah dalam hal kebudayaan.

Sosiologi Pendidikan

1- 1

Materi ini diberikan pada semester awal merupakan bahan yang harus dikuasai untuk dilanjutkan pada unit-unit berikutnya. Agar kajian berikutnya tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas. Agar dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi unit ini, disiplin yang tinggi, baik dalam waktu belajar maupun dalam mengikuti semua petunjuk akan sangat menentukan keberhasilan Anda. Tidak ada yang sukar dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda dapat mengkaji bahanbahan dari media lain antara lain seperti website. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

1 - 2 Unit 1

Subunit 1 Pengertian Dan Pendekatan Sosiologi Pendidikan
engertian sosiologi pendidikan, pendekatan sosiologi pendidikan merupakan materi yang harus dikuasai terlebih dahulu, agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya secara baik. Materi belajar yang pertama ini mencakup: Pengertian Sosiologi Pendidikan Pendekatan Sosiologi Pendidikan Bacalah dan kaji dengan cermat bahan cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan soal tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

P

Uraian
A. Pengertian Sosiologi Pendidikan Apakah sosiologi pendidikan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa hal yang perlu dicermati, diantaranya sebagai berikut: Sosiologi pendidikan berasal dari kata sosiologi dan pendidikan, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya (Pidarta, 2000:145), Jadi sosiologi dapat ditafsirkan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain. Menurut Mayor Polak dalam Gunawan (2000:3) disebutkan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Gunawan (2000:3) sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial 7 dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Menurut H.P. Fairchild dalam Ahmadi (2000:1) Sosiologi Pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Secara etimologi sosiologi pendidikan terdiri

Sosiologi Pendidikan

1- 3

sosiologi dan pendidikan, yang berarti aspek-aspek sosiologi dikaitkan dengan masalah-masalah pendidikan. Menurut Charles A. Ellwood dalam Ahmadi (2000:7) Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial. Menurut Wuraji dalam Pidarta (2000:146) sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membahas sosiologi yang terdapat pada pendidikan. Dari uraian tersebut di atas maka dapat ditafsirkan bahwa sosiologi pendidikan adalah aspek-aspek sosiologi yang diterapkan pada masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Kaitan antara sosiologi pendidikan dengan sosiologi, ilmu pendidikan dan kelompok ilmu sosial dapat terlihat jelas dalam gambar di bawah ini.

Sosiologi

Sosiologi Pendidikan

Ilmu Pendidikan

Gambar 1 Sosiologi Pendidikan dalam kelompok ilmu-ilmu sosial (Dirujuk dari Ravik Karsidi, 2005:2) Mengapa dalam pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologis sebab situasi pendidikan adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial. Hubungan dan pergaulan sosial yang ada dalam pendidikan (sekolah) antara lain terjadi antara pendidik dengan pendidik, pendidik dan anak didik, anak didik dengan anak didik, pendidik dengan pegawai, pegawai dengan pegawai, anak didik dengan pegawai. Mengapa guru dan calon guru perlu memahami hal-hal yang berkaitan dengan sosiologi? Hal ini disebabkan antara lain: 1. Bahwa masyarakat mengalami perubahan sangat cepat, progresif. Perubahan yang cepat menimbulkan adanya cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat adanya hambatan-hambatan). Cultural lag ini merupakan paham sesuatu yang menimbulkan masalah-masalah sosial di masyarakat. Masalah yang timbul

1 - 4 Unit 1

tidak dapat diatasi oleh lembaga-lembaga pendidikan. Untuk itu para ahli sosiologi diharapkan dapat mengembangkan pemikirannya untuk ikut memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. 2. Guru selain sebagai administrator, informatory dan pemimpin, maka harus berkelakuan menurut harapan masyarakatnya. Kepribadian guru dapat mempengaruhi suasana kelas/sekolah, baik kebebasan yang dinikmati anak dalam mengeluarkan pendapatnya dan mengembangkan kreatifitasnya ataupun pengekangan dan keterbatasan yang dialami dan pengembanga kepribadiannya. Kebebasan guru juga dibatasi oleh atasannya (kepala sekolah, pemilik, kepala Dinas sangsi menteri), keseluruhannya dipengaruhi, dibatasi, serta diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah dipengaruhi berbagai faktor antara ;ain menyangkut usaha murid, guru, orang tua, interaksi antara murid dengan murid serta lingkungan sosialnya baik yang dihadapi di dalam maupun di luar sekolah. Anak memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya menyangkut bakat, kemampuan pembawaannya, karena dipengaruhi lingkungan sosial yang berlainan. Untuk itu sudah sewajarnya bila seorang guru harus berusaha menganalisis pendidikan dari segi sosiologi, hubungan manusia dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Bagaimana perkembangan sosiologi pendidikan? Untuk menjawab permasalahan ini kita kaji bersama hal-hal sebagai berikut. Perkembangan sosiologi pendidikan di mulai oleh Jhon Dewey yang menerbitkan buku “School and society” tahun 1899. selanjutnya pada tahun 1920, F. R. Clow David Inedden, Ross Finney, C.C. Petrus, C.L. Robbius, E. R. Groves dan lain-lain meneruskan jalan pikiran tersebut di atas dan menekankan pentingnya nilai sosial pendidikan. Sosiologi pendidikan dikuliahkan pertama kali oleh Henry Awazalo tahun 1910 di Teaher College, Universitas Columbia. Pada tahun 1916 di Universitas New York dan Columbia didirikan jurusan sosiologi pendidikan. Himpunan untuk studi sosiologi pendidikan dibentuk pada konggres himpunan sosiologi Amerika pada tahun 1923. Sejak tahun 1928 terbitlah The Jurnal of educational Sociology di bawah pimpinan E. George Payne. Majalah social education mulai terbit tahun 1936. Sejak tahun 1940 dalam Review of Educational research dimuat artikel-artikel yang mempunyai hubungan dengan sosiologi pendidikan. Pada tahun 1967 sosiologi pendidikan diberikan pertama kali di IKIP Negeri Yogyakarta jurusan Didaktik kurikulum.

Sosiologi Pendidikan

1- 5

B. Pendekatan Sosiologi Pendidikan Pendekatan sosiologi pendidikan menggunakan beberapa pendekatan yaitu pendekatan individu, pendekatan sosial dan pendekatan interaksi. 1. Pendekatan individu Individu merupakan bagian dari kelompok atau masyarakat dengan kata lain bahwa individu merupakan pembentuk kelompok. Apabila kita dapat memahami tingkah laku individu satu persatu bagaimana cara berpikirnya, perasaannya, kemauannya, perbuatannya, mentalitasnya dan seterusnya, maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok, bagaimana mentalita kelompok. Individu dipengaruhi oleh faktor intern meliputi faktor-faktor biologis dan psikologis, sedangkan faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial (Ahmadi, 2000:27). Pada bagian ini yaitu individu dibahas tentang faktor biologis pada tingkah laku manusia dan faktor psikologis pada tingkah laku manusia. a. Faktor biologis pada tingkah laku manusia Menyangkut keadaan biologis manusia dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, dapat ditemukan antara lain: Penyelewengan nasionalisme yang ekstrim seperti yang dianut Hitler, bahwa ras Arya dari Jerman sebagai ras yang super, melebihi ras-ras yang lain. Ras kulit putih menganggap bahwa ras kulit hitam memiliki intelegensi yang rendah. Tetapi dalam penyelidikan-penyelidikan membuktikan bahwa tinggi rendahnya Intelegensi tidak tergantung pada asal ras, tetapi dipengaruhi faktor milieu fisik dan kultural pada masyarakat. Bangsa kulit berwarna belum maju karena berkaitan dengan kebebasan, fasilitas ekonomi, kemajuan kebudayaan, hubungan sosial yang luas dan keagamaan. Hal yang lain misalnya menyangkut makanan yang berkaitan dengan protein, jaringan otak dan saraf-sarafnya berasal dari protein, orang yang jaringan otaknya tumbuh secara baik karena protein, maka perkembangan Intelegensinya juga baik. b. Faktor psikologis pada tingkah laku manusia Unsur kejiwaan atau psikologis dapat mempengaruhi tingkah laku manusia. Hal ini dipertegas sesuai pendapat Ahmadi (2000:36) yang menyatakan bahwa: “Faktor-faktor hereditair, misalnya pembawaan, bakat dan sebagainya, yang harus kita akui sebagai kekuatan potensial, kekuatan yang latent,

1 - 6 Unit 1

kekuatan-kekuatan potensial mana baru dapat diaktuilkan, baru dapat dimanifestasikan kalau faktor-faktor milieu, faktor-faktor lingkungan sekitar mengijinkan, memberi kesempatan dan fasilitas yang mencukupi adanya”. Dari pendapat tersebut dapat memperjelas bahwa aktualitas seseorang yang berwujud tingkah laku dipengaruhi adanya unsur kejiwaan berupa hereditas dan juga faktor lingkungan (milieu). 2. Pendekatan Sosial Pendekatan sosial menekankan pada masyarakat dan pengaruh geografi. Di masyarakat terjadi individu berhubungan dengan individu dan juga menyesuaikan diri dengan lingkungan. Proses sosial dimulai dari interaksi sosial. Sedangkan interaksi dan proses sosial didasari oleh fakta-fakta sebagai berikut: 1) imitasi; 2) sugesti; 3) identifikasi; simpati (Pidarta, 2000:147). Imitasi adalah peniruan, misalnya anak meniru gurunya yang berpakaian rapi. Tetapi anak tidak meniru orang lain yang gemar minumminuman keras. Meniru guru yang berpakaian rapi merupakan imitasi terhadap hal yang positif. Kalau anak ikut-ikutan minum-minuman keras terhadap temannya maka itu merupakan imitasi yang negatif. Sugesti adalah jika anak menerima atau tertarik pada pandangan atau sikap orang lain, ini dilakukan tanpa adanya kritik atau pertimbangan yang rasional. Identifikasi adalah keinginan untuk menggunakan dirinya kepada orang lain yang dianggap memiliki keistimewaan atau kelebihan. Simpati yaitu tertariknya orang satu terhadap orang lain. Timbulnya simpati karena berdasarkan penilaian perasaan. 3. Pendekatan Interaksi Dalam proses sosial terdapat interaksi sosial, yaitu suatu hubungan sosial antara individu dengan individu, antara individu dengan masyarakat dan sebaliknya. Interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi syarat: 1) kontak sosial, 2) komunikasi (Pidarta, 2000:149). Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu: 1. Kontak antar individu, misalnya antara anak dengan ibu di rumah, anak dengan anak, anak dengan guru di sekolah. 2. Kontak antara individu dengan kelompok atau sebaliknya, contohnya antara anak dengan kelompok remaja masjid atau gereja.

Sosiologi Pendidikan

1- 7

3. Kontak antar kelompok, contohnya antara kelompok orang tua murid dengan guru-guru. Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Adapun alat-alat komunikasi antara lain : melalui pembicaraan, melalui mimik dengan lambang-lambang misalnya mengacungkan ibu jari, melalui alat-alat misalnya melalui media cetak dan elektronik. Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit I (satu). Tentu Anda telah menguasai uraian di atas. Untuk mengetahui pemahaman Anda, kita kerjakan latihan berikut ini:

Latihan
1. Jelaskan apa yang dimaksud sosiologi! 2. Jelaskan mengapa dalam pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologis! 3. Jelaskan mengapa unsur individu penting dalam pendekatan sosiologi pendidikan!

Rambu-rambu jawaban latihan
1. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain. 2. Sebab situasi pendidikan adalah situasi berhubungan dan pergaulan sosial. 3. Sebab individu merupakan bagian dari kelompok atau masyarakat, apabila dapat memahami tingkah laku individu, satu persatu bagaimana cara berpikirnya, perasaannya, kemauannya, perbuatannya, mentalitasnya maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok, bagaimana mentalita kelompok.

Rangkuman
Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membahas sosiologi yang terdapat pada pendidikan, dapat disebut juga aspek-aspek sosiologi yang diterapkan pada masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Pendekatan sosiologi pendidikan yaitu pendekatan individu, pendekatan sosial dan pendekatan interaksi individu dipengaruhi faktor intern dan ekstern, faktor intern meliputi faktor biologis dan psikologis. Faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

1 - 8 Unit 1

Tes Formatif I
Kerjakan soal-soal berikut dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Pendapat yang menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya merupakan pendapat dari…. A. H.P. Fairchild B. H. Abu Ahmadi C. Made Pidarta D. Charles A. Ellwood 2. Dalam bidang pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologi disebabkan …. A. bidang pendidikan berkaitan dengan masalah fakta B. bidang pendidikan berhubungan dengan masa depan C. bidang pendidikan mempunyai andil peningkatan sumber daya manusia D. Bidang pendidikan menyangkut hubungan dan pergaulan sosial 3. Pendekatan individu meliputi beberapa faktor yaitu …. A. faktor intern B. faktor ekstern C. faktor lingkungan D. faktor intern dan ekstern 4. Berkaitan dengan faktor biologis, Intelegensi di pengaruhi oleh …. A. ras kulit putih B. ras kulit hitam C. milieu dan kultural D. kultural 5. Faktor-faktor yang termasuk hereditair adalah…. A. milieu B. kultural C. bakat D. rasa sosial 6. Interaksi sosial dan proses sosial menurut Pidarta didasari hal-hal berikut, kecuali…. A. imitasi B. identifikasi

Sosiologi Pendidikan

1- 9

C. partisipasi D. sugesti 7. Jika anak tertarik menerima pandangan sikap orang lain disebut…. A. sugesti B. emosi C. identifikasi D. adaptasi 8. Apabila guru berpakaian rapi, penuh kebajikan, berwibawa, berkata benar, maka murid-muridnya meniru disebut…. A. partisipasi B. identifikasi C. sosialisasi D. interaksi 9. Proses penyampaian pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang lain disebut…. A. proses sosial B. komunikasi C. imitasi D. partisipasi 10. Hubungan antara kelompok guru-guru dengan orang tua murid disebut…. A. kontak B. kontak antar kelompok C. kontak antar individu dengan kelompok D. kontak antar individu

1 - 10 Unit 1

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit I (satu). Sesuai tujuan pembelajaran sub unit I (satu) mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda, kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus.

Rumus:

Jumlah jawaban Anda yang benar x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Tingkat penguasaan materi : Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda sudah berhasil dan dapat meneruskan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2). Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 1 (sub unit 1), sebelum melanjutkan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2).

Sosiologi Pendidikan

1-

11

Subunit 2 Pendidikan Dan Perspektif Budaya
Bagian modul ini membahas tentang 1. Pengertian kebudayaan 2. Pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan 3. 4 ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan 4. Pendidikan di sekolah merupakan sarana untuk pembudayaan 5. Peranan sekolah dalam hal kebudayaan Setelah mempelajari materi ini. Anda diharapkan dapat: 1. Menjelaskan pengertian kebudayaan menurut berbagai ahli 2. Menjelaskan pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan 3. Mendiskripsikan 4 ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan 4. Menjelaskan pendidikan di sekolah merupakan sarana untuk pembudayaan. 5. Mendiskripsikan peranan sekolah dalam hal kebudayaan

Uraian A. Pengertian Kebudayaan
Apakah kebudayaan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini kita kaji uraian berikut ini. Kebudayaan berasal dari kata cultuur (bahasa Belanda) Culture (bahasa Inggris), colere (bahasa latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Kebudayaan juga berasal dari buddhayah (bahasa sansekerta), yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan pendapat yang lain menyatakan budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk = budi daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta , rasa, karsa. Lebih lanjut kehidupan dapat diartikan hasil usaha untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya (Ahmadi 2004:58). Menurut E.B. Tylor dalam Ahmadi (2004:172) kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang

1 - 12 Unit 1

didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dari definisi tersebut, kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, artinya mencakup segala caracaracara atau pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Ahmadi (2004:173) kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Dari beberapa pendapat tersebut kebudayaan dapat ditafsirkan sebagai hasil cipta rasa dan karya manusia yang dijunjung tinggi.

B. Pendidikan Merupakan Bagian Integral Dari Kebudayaan
Berkaitan dengan pendidikan bahwa kebudayaan sebagai suatu pola dan hasil tingkah laku yang dipelajari oleh semua anggota masyarakat tertentu. Sebagai suatu hasil kebudayaan juga ditransmisikan dari generasi tua kepada generasi muda. Selain kebudayaan yang ada, ditransmisikan melalui pendidikan tetapi juga ada perubahan-perubahan sesuai dengan kondisi baru, sehingga terbentuklah pola tingkah laku baru, nilai-nilai dan norma-norma baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat (Wardani, 1999:4.5). Menurut uraian di atas dapat ditafsirkan bahwa dengan pendidikan kebudayaan dapat diwariskan dan dengan pendidikan kebudayaan dapat diperbarui sesuai dengan kemajuan dan tuntutan masyarakat. Lebih lanjut secara jelas disebutkan bahwa pendidikan itu merupakan bagian dari kebudayaan (Wardani, 1999:4.2). Pendidikan itu merupakan bagian integral dari kebudayaan (Wardani, 1999:4.9). Menurut UU Nomor 4 tahun 1950 juncto nomor 12 tahun 1954 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan pengajaran di sekolah pada bab III pasal 4 dari pendidikan dan pengajaran adalah asas-asas yang termaktub dalam Pancasila dan UUD negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia. Demikian juga menurut UU nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.

Sosiologi Pendidikan

1-

13

Dari uraian di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa pendidikan nasional Indonesia berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia sebab pendidikan nasional Indonesia berakar pada kebudayaan Indonesia.

C. Ciri Khusus Agar Pendidikan Menjadi Pusat Kebudayaan
Ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan adalah : (1) dapat meningkatkan mutu, (2) dapat menciptakan masyarakat belajar, (3) dapat menjadi teladan masyarakat sekitarnya, (4) dapat membentuk manusia seutuhnya (Parsono dkk, 1990:4.16) 1. Peningkatan mutu pendidikan Agar peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara optimal maka perlu diperhatikan antara lain : a. Tujuan, Tujuan pendidikan harus dirumuskan secara jelas baik tujuan institusional, tujuan kurikulum, tujuan institusional maupun tujuan instruksional. Semua tujuan harus dirumuskan secara jelas, tepat dan berdasarkan kompetensi. b. Materi pelajaran, materi pelajaran yang berbentuk pengetahuan, sikap dan ketrampilan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan kompetensi, isi materi pelajaran harus disusun sedemikian rupa untuk menemukan sesuatu. Organisasi materi harus dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk menganalisis, menyimpulkan, berbuat sesuatu dan mengerjakan sesuatu. c. Metode pengajaran harus bervariasi, dapat meningkatkan siswa untuk berdiskusi, berlatih, berpikir ilmiah, dapat menemukan sesuatu sendiri, belajar bekerja sama. d. Kemampuan yang telah dimiliki siswa (entry behavior) diperhatikan. Metode dan materi pengajaran disesuaikan kemampuan siswa. e. Fasilitas dan perlengkapan yang memadai sehingga dapat mendukung terjadinya proses belajar mengajar yang optimal. 2. Menciptakan Masyarakat Belajar Pendidikan hendaknya dapat menciptakan siswa agar ada upaya untuk selalu ingin tahu dan juga agar tercipta keinginan belajar sepanjang hayat. 3. Sekolah dapat menjadi teladan dari masyarakat Jika sekolah dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya, maka sekolah dapat menjadi pusat kebudayaan. 4. Membentuk manusia Indonesia seutuhnya

1 - 14 Unit 1

Menurut UU No. 2 tahun 1989 bab II pasal 4 ciri-ciri seutuhnya adalah : (1) manusia yang beriman, (2) memiliki pengetahuan dan ketrampilan, (3) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (4) kepribadian yang mantap dan mandiri, (5) serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Parsono dkk, 1990:4.7).

D. Pendidikan Merupakan Sarana Untuk Pembudayaan
Melalui pendidikan merupakan sarana untuk membudayakan anak. Hal ini tercermin dari fungsi sekolah adalah mentransformasikan nilai budaya dari satu generasi ke generasi lainnya. Lebih lanjut hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan hubungan transformatif. Artinya sekolah memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan nilai-nilai atau norma-norma yang ada di masyarakat kepada anak didik dengan berbagai perubahan-perubahan sebagai hasil perbaikan dari kekurangan yang ada. Dalam arti positif pendidikan dapat dipandang sebagai kegiatan inovasi (Sunaryo dan Nyoman Dantes, 1996/1997:40). Dari uraian tersebut di atas dimaksudkan melalui pendidikan di sekolah, pendidikan dalam rumah tangga maupun pendidikan di luar sekolah dapat dipakai sebagai sarana untuk pembentukan kebudayaan. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk pembudayaan.

E. Peranan Sekolah Dalam Hal Kebudayaan
1. Peranan Sekolah Sebagai Pewaris Kebudayaan seperti telah dibahas terdahulu, yaitu hasil cipta, karsa dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan dan tingkah laku yang dipelajari dan dimiliki semua anggota masyarakat tertentu dan dijunjung tinggi. Hasil cipta, karsa dan karya manusia yang memiliki nilai dan dijunjung tinggi tidak dengan sendirinya dimiliki oleh anak didik tanpa diajarkan (ditransmisikan) kepada anak atau dipelajari oleh anak tersebut. 2. Peranan Sekolah Sebagai Pemelihara Nilai-nilai budaya yang tinggi dan pantas untuk dilestarikan, maka sekolah perlu memelihara, sedangkan budaya yang tidak perlu seperti egosentris (mementingkan diri sendiri) lambat laun harus dikurangi. 3. Peranan Sekolah Sebagai Pembaru Kebudayaan Selain peranan sekolah sebagai pemelihara dan pewaris nilai-nilai budaya, juga sebagai pembaru (inovatif). Budaya yang sudah tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak masyarakat dihilangkan, sedangkan yang
Sosiologi Pendidikan

1-

15

sesuai dengan kehendak masyarakat dijaga dan dikembangkan, sehingga timbul budaya-budaya baru di kemudian hari. Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit 2 (dua) tentu Anda telah menguasai uraian di atas, untuk mengetahui pemahaman Anda kita kerjakan latihan berikut ini.

Latihan
1. Jelaskan pengertian dari budaya menurut Ahmadi ! 2. Jelaskan jenis budaya yang bagaimana yang perlu dilestarikan! 3. Jelaskan hal-hal apakah yang perlu diperhatikan dalam hal peningkatan mutu pendidikan!

Rambu-Rambu Jawaban Latihan
1. Budaya adalah daya dan budi pekerti yang berupa cipta, rasa dan karsa. 2. Yang dilestarikan adalah budaya yang masih diinginkan dari masyarakat. 3. Harus diperhatikan adanya tujuan pendidikan harus dirumuskan secara jelas, materi pelajaran harus sesuai dengan tujuan pendidikan, metode harus bervariasi dan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.

RANGKUMAN
Kebudayaan berasal dari kata cultuur (bahasa Belanda), culture (bahasa Inggris), colere (Latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan. Ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan adalah peningkatan mutu pendidikan, menciptakan masyarakat belajar, sekolah sebagai teladan bagi masyarakatnya dan sekolah membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

1 - 16 Unit 1

Tes Formatif 2
Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Kebudayaan berasal dari kata culture yaitu berasal dari bahasa….. A. Belanda B. Inggris C. Latin D. Sansekerta 2. Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat merupakan pendapat dari….. A. Selo Soemardjan B. Soelaeman Soemardi C. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi D. E.B. Taylor 3. Melalui pendidikan maka kebudayaan dapat, kecuali…. A. diperbaharui B. dimiliki C. diwariskan D. dirumuskan 4. Pembentukan kebudayaan dapat dilaksanakan, kecuali…. A. pendidikan di sekolah B. pendidikan pramuka C. teman sejawat D. pendidikan pada keluarga 5. Membentuk keinginan untuk belajar sepanjang hayat dapat dibentuk melalui…. A. membentuk manusia Indonesia seutuhnya B. menciptakan masyarakat belajar C. sekolah sebagai teladan D. metode penyampaian bervariasi 6. Pengertian dari pembudayaan berarti kebudayaan dapat …. A. dibentuk B. dipaksakan C. diambil D. dibuat 7. Peranan guru di sekolah dalam kebudayaan, kecuali…. A. sosialisasikan B. transmisikan
Sosiologi Pendidikan

1-

17

C. pewarisan D. perekrutan 8. Dalam hal pembentukan kebudayaan guru dan murid mempunyai hubungan yang…. A. sederajat B. horizontal C. vertikal D. timbal balik 9. Bahwa pendidikan itu merupakan bagian integral dari kebudayaan adalah pendapat dari …. A. I.G.A.K Wardani B. E.B. Taylor C. Selo Soemardjan D. H. Abu Ahmadi 10. Agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan apabila memenuhi kriteria, kecuali…. A. peningkatan mutu pendidikan B. menciptakan masyarakat belajar C. pendidikannya mahal D. membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

1 - 18 Unit 1

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 2 (dua) sesuai tujuan pembelajaran sub unit 2 (dua), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus : Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan materi : x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 2 (dua), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

Sosiologi Pendidikan

1-

19

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif I
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. C D D C C C A B B B

Tes formatif 2
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. B C D C B A D C A C

1 - 20 Unit 1

Glosarium

Biologis Karsa

: :

sifat jasmaniah seseorang kehendak

Sosiologi Pendidikan

1-

21

Daftar Pustaka
H. Abu Ahmadi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. H. Aswandi Bahar. 1989. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : Dirjen Dikti. Made Pidarta. 2000. Landasan Kependidikan. Jakarta : Rineka Cipta. Mohammad Ansyar. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud. Parsono dkk. 1990. Landasan Kependidikan. Jakarta : Depdikbud UT. Redja Mudyahardjo. 1992. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : Depdikbud. Ravik Karsidi. 2007. Sosiologi Pendidikan. Solo : Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press) Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Raja Grasindo Persada. Sunaryo Kartadimata. 1996/1997. Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikti. Sutan Zanti Arbi dan Syakmiar Syahrun. 1991/1992. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : Depdikbud UT. Wardani, I.G.A.K. 1999. Dasar-Dasar Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.

1 - 22 Unit 1

Unit

2

INDIVIDU DAN MASYARAKAT, FUNGSI DAN PERANAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT

U

nit 2 (dua) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang Individu dan Masyarakat, fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat. Materi ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan berkaitan dengan individu, masyarakat, fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat. Hal-hal tersebut berkaitan erat dengan tugastugas yang berhubungan dengan guru dengan siswa maupun kaitannya dengan masyarakat. Setelah mempelajari materi unit ini, Anda diharapkan dapat: 1. Mendeskripsikan pengertian individu 2. Mendeskripsikan fakta-fakta yang mempengaruhi adanya tingkah laku manusia. 3. Menjelaskan pengertian dari masyarakat. 4. Menjelaskan hubungan antar individu dengan masyarakat. 5. Mendeskripsikan perwujudan dari interaksi sosial. 6. Mendeskripsikan akibat interaksi sosial yang harmonis. 7. Mendeskripsikan fungsi pendidikan dalam masyarakat. 8. Mendeskripsikan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. 9. Mendeskripsikan hubungan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat. 10. Mendeskripsikan pendidikan dalam perkembangan teknologi dan pengetahuan untuk kehidupan masyarakat. Materi ini merupakan kelanjutan dari bahan unit 1 (satu) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikut tidak mengalami

Sosiologi Pendidikan

2- 1

kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas. Agar dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain antara lain seperti website, video. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

2 - 2 Unit 2

Subunit 1 Individu Dan Masyarakat
Bagian sub unit 1 (satu) ini membahas tentang : 1. Individu 2. Masyarakat Setelah mempelajari materi ini, anda diharapkan dapat : 1. Mendeskripsikan pengertian individu. 2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu. 3. Menjelaskan pengertian masyarakat. 4. Menjelaskan hubungan antara individu dengan masyarakat. 5. Mendeskripsikan perwujudan dari interaksi sosial. 6. Mendeskripsikan akibat interaksi sosial yang harmonis.

Uraian A. Individu pakah individu itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita kaji bahan sebagai berikut: Individu merupakan bagian dari masyarakat, individu itu dianggap satu sel satu atom, dan kumpulan sel-sel itu merupakan struktur, merupakan suatu organisasi, ialah organisme (Ahmadi, 2004:26). Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa individu bagian yang terkecil dari masyarakat, disebutkan bahwa individu merupakan satu sel atau satu atom dari masyarakat. Lebih lanjut disebutkan :” untuk dapat mengerti tata kehidupan masyarakat (kelompok) perlu dibahas tata kehidupan individu yang menjadi pembentuk masyarakat itu” (Ahmadi, 2004:26). Menurut uraian tersebut dapat dikatakan tata kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh tata kehidupan individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu adalah 4 faktor intern dan ekstern. Faktor intern meliputi faktor-faktor biologis dan psikologis, sedangkan faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial (Ahmadi, 2004:27).

A

Sosiologi Pendidikan

2- 3

Faktor biologis adalah faktor yang ada hubungannya dengan jasmaniah seseorang, sedangkan faktor psikologis berkaitan dengan rohaniah. Lingkungan fisik yaitu berkaitan dengan lingkungan dimana individu berada, adapun lingkungan sosial adalah menyangkut lingkungan dimana ia berhubungan sosial, berhubungan dengan masyarakat sekelilingnya. B. Masyarakat 1. Pengertian Masyarakat Apakah masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita kaji uraian berikut ini. Masyarakat menurut Arbi dan Syahrun (1991/1992:67) kelompok individu yang berintegrasi secara terorganisasi yang mengikuti suatu cara hidup tertentu. Sedangkan masyarakat menurut Ansyar (1989:49) merupakan suatu kumpulan para individu yang menyatakan diri mereka menjadi satu kelompok. Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditafsirkan bahwa masyarakat adalah sekumpulan individu yang sudah terintegrasi dan terorganisasi yang mengikuti cara/pola hidup tertentu. Jadi dalam masyarakat bukan hanya sekelompok orang, melainkan juga terintegrasi dan terorganisasi dan juga mempunyai pola hidup tertentu. 2. Hubungan antara individu dengan masyarakat Antara individu dengan masyarakat mempunyai hubungan satu dengan yang lain, saling pengaruh mempengaruhi, individu mempengaruhi adanya masyarakat, sebaliknya masyarakat mempengaruhi individu. Keadaan masyarakat yang semakin maju dan kompleks mempengaruhi individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang semakin meningkat. Demikian juga adanya kebutuhan/keinginan individu mempengaruhi keberadaan masyarakat. Individu-individu semakin maju maka masyarakatnya juga semakin maju. Ditinjau dari kegiatannya hubungan antara individu dengan masyarakat dipengaruhi adanya pengaruh luar atau pengaruh dari individu yang bersangkutan, seperti norma-norma, kebudayaan, situasi, kepribadian individu, dan sebagainya (Yoesoef dan Santoso, 1986:2.2). Menurut pendapat tersebut faktor-faktor yang berasal dari luar dan dari dalam yaitu berupa norma-norma, kebudayaan, situasi, dan kepribadian individu.

2 - 4 Unit 2

3. Perwujudan dari interaksi sosial Syarat adanya interaksi sosial adalah : 1) adanya kontak sosial, 2) adanya komunikasi (Soekanto, 2006:64). Jadi agar terjadi interaksi sosial diperlukan syarat adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Adapun perwujudan interaksi sosial dapat berbentuk: 1) kerjasama, 2) akomodasi, 3) asimilasi atau akulturasi, 4) persaingan, 5) pertikaian (Pirdarta, 2000:150-151). Dari uraian tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut: a. Kerjasama adalah suatu bentuk adanya bekerja bersama-sama, misalnya : antara siswa dengan siswa, guru dengan murid antara guru dengan guru. b. Akomodasi ialah usaha meredakan pertentangan, mencari kestabilan. Misalnya masyarakat tidak setuju adanya peraturan pemerintah nomor 37 (tentang Pemberian kenaikan tunjangan kepada anggota DPR), akhirnya pemerintah berusaha merevisi. c. Asimilasi dan akulturasi ialah upaya mengurangi perbedaan pendapat antara anggota serta usaha meningkatkan persatuan dan kesatuan pikiran, sikap dan tindakan dengan memperhatikan tujuan-tujuan bersama. Halhal yang mempermudah akulturasi yaitu : 1) toleransi, 2) menghargai kebudayaan orang lain, 3) sikap terbuka, 4) demokrasi dalam banyak hal, dan 5) adanya kepentingan bersama. d. Persaingan ialah bentuk kompetisi antara satu orang dengan orang lain atau bisa dari satu kelompok dengan kelompok lain. Persaingan ada yang berakibat baik ada juga yang berakibat buruk, berakibat baik misalnya persaingan harga suatu produk, maka akibatnya barang di pasaran menjadi murah, persaingan di kelas untuk mencapai prestasi yang tinggi maka memacu anak untuk giat belajar agar memperoleh nilai yang baik. Berakibat buruk misalnya saling menyalahkan atau menjelekkan antara satu dengan yang lain. e. Pertikaian adalah pertentangan atau konflik. Hal-hal juga menimbulkan konflik antara lain perbedaan kepentingan, kebudayaan dan pendapat. 4. Interaksi yang harmonis Interaksi sosial yang harmonis dapat menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi individu maupun masyarakat. Hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan seperti :”Adanya kerjasama, pemberian bantuan, solidaritas, bersatu dan sebagainya (Yoesoef dan Santoso, 1986:2.1).

Sosiologi Pendidikan

2- 5

Dengan kerjasama mengandung makna yang positif sebab kerjasama dalam hal positif dapat menghasilkan hasil yang bermanfaat bagi semua orang. Bangsa Indonesia memiliki salah satu keajaiban dunia yaitu Borobudur. Bangunan Borobudur tidak akan pernah terwujud apabila antara warga pada saat itu tidak bekerja sama. Jadi dengan kerjasama maka dapat mewujudkan hal-hal yang bermanfaat bagi warga negara. Bahkan sampai saat ini Borobudur merupakan tempat wisata yang terkenal bukan untuk warga negara Indonesia, tetapi juga warga bangsa-bangsa di dunia. Pemberian bantuan adalah bentuk dari toleransi atau solidaritas. Pada saat Indonesia terjadi bencana yang bertubi-tubi, kita semua sadar bahwa ada yang menerima bantuan ada yang memberi bantuan. Dengan adanya bentuk bantuan maka dapat meringankan beban bagi yang mengalami musibah, contoh : Tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, kelaparan di Yakohimo, dan masih banyak lagi. Solidaritas adalah rasa sosial. Dengan solidaritas yang baik maka warga masyarakat yang mengalami penderitaan akan menjadi lebih ringan, karena ada solidaritas atau kesetiakawanan dari warga yang lain, yang kebetulan tidak mengalami penderitaan. Rasanya yang mengalami musibah atau menjadi diringankan dengan adanya solidaritas dari warga masyarakat yang lain. Bersatu adalah bentuk dari interaksi sosial yang positif. Dengan bersatu kita telah menikmati hasilnya. Contoh karena kita bersatu maka dapat merdeka dari penjajahan bangsa Belanda yang berlangsung selama ± 350 tahun. Dengan bersatu kita dapat membangun negara mulai dari Sabang sampai Merauke.

Latihan
1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu! 2. Hubungan antara individu dengan masyarakat dipengaruhi faktor dari dalam dan faktor dari luar, sebutkan faktor-faktor tersebut! 3. Jelaskan apa yang dimaksud akomodasi!

Rambu-rambu jawaban soal
1. Faktor ekstern dan faktor intern 2. Faktor-faktor tersebut berupa norma-norma, kebudayaan, situasi, kepribadian individu. 3. Akomodasi adalah usaha meredakan pertentangan, mencari kestabilan.
2 - 6 Unit 2

Rangkuman
Individu adalah merupakan bagian yang terkecil dari masyarakat. Tata kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh tata kehidupan individu. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu meliputi faktor intern dan faktor ekstern. Perwujudan adanya interaksi sosial berupa : kerjasama, akomodasi, asimilasi atau akulturasi, persaingan dan konflik. Akibat interaksi sosial yang harmonis yaitu antara lain kerjasama, pemberian bantuan, solidaritas dan bersatu.

Tes Formatif 1
Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Tingkah laku individu dipengaruhi adanya faktor intern dan ekstern yang termasuk faktor intern, kecuali…. A. perbedaan biologis B. psikologis C. lingkungan phisik D. pembawaan 2. Pendapat yang menyatakan masyarakat adalah kelompok individu yang berintegrasi secara terorganisasi yang mengikuti suatu cara hidup tertentu merupakan pendapat dari…. A. H. Abu Ahmadi B. Sutan Zanti Arbi C. Syahmiar Syahrun D. Sutan Zanti Arbi dan Syahmiar Syahrun 3. Hal-hal yang mempermudah akulturasi, kecuali…. A. toleransi B. demokrasi C. sikap terbuka D. kompetisi 4. Pendapat yang menyatakan bahwa syarat interaksi sosial adalah kontak sosial dan komunikasi yaitu pendapat dari…. A. Made Pidarta B. Sorjono Soekanto C. Soelaiman Yoesoef D. Slamet Iman Santoso
Sosiologi Pendidikan

2- 7

5. Pada saat ini ada beberapa daerah yang menginginkan adanya pemekaran, pemerintah menyetujui sebagian keinginan tersebut, hal ini digolongkan tindakan…. A. asimilasi B. kompetisi C. akomodasi D. persuasi 6. Dalam interaksi sosial dipengaruhi oleh beberapa hal, kecuali…. A. kebudayaan B. norma C. pembawaan D. kepribadian individu 7. Pada saat bangsa Indonesia telah merdeka, tetapi ada keinginan daerah Aceh ingin merdeka, keinginan memisahkan diri tersebut dapat diatasi dengan, kecuali…. A. kerjasama B. akomodasi C. persaingan D. asimilasi 8. Seorang guru memberikan hadiah kepada murid yang berprestasi, tindakan tersebut merupakan bentuk menumbuhkan…. A. persaingan sehat B. asimilasi C. akulturasi D. kerjasama 9. Pada saat kita belum merdeka, yang berkuasa raja-raja dahulu berusaha mengawinkan anggota keluarga raja yang satu dengan anggota keluarga yang lain, maka tindakan itu merupakan tindakan….. A. asimilasi dan akulturasi B. persaingan C. akomodasi D. kerjasama 10. Akibat interaksi sosial yang tidak dikehendaki dan merugikan apabila timbul….. A. persaingan B. pertikaian C. perpecahan D. akomodasi

2 - 8 Unit 2

PENUTUP Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 1 (satu). Sesuai dengan pembelajaran sub unit 1 (satu), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan juga dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar sub unit. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda, kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus.

Rumus:

Jumlah jawaban Anda yang benar x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Tingkat penguasaan materi : Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda sudah berhasil dan dapat meneruskan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2). Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 1 (sub unit 1), sebelum melanjutkan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2).

Sosiologi Pendidikan

2- 9

Subunit 2 Fungsi Dan Peranan Pendidikan Dalam Masyarakat
Pengantar Bagian sub unit 2 (dua) ini membahas tentang : 1. Fungsi pendidikan dalam masyarakat. 2. Peranan pendidikan dalam masyarakat.

Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat: 1. Mendeskripsikan fungsi pendidikan dalam masyarakat 2. Mendeskripsikan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. 3. Mendeskripsikan hubungan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat. 4. Mendeskripsikan pendidikan dalam perkembangan teknologi dan pengetahuan untuk kehidupan masyarakat.

Uraian A. Fungsi Pendidikan Dalam Masyarakat
pa sebenarnya fungsi pendidikan bagi masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita kaji uraian berikut ini. Secara lebih luas, yaitu kepastiannya masyarakat dalam lingkup negara disebutkan menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 2, bahwa: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Jadi menurut uraian di atas fungsi pendidikan untuk masyarakat dalam lingkup negara antara lain mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

A

2 - 10 Unit 2

Di masyarakat anak berinteraksi dengan seluruh anggota masyarakat yang beraneka ragam kepribadiannya, dan juga berinteraksi dengan benda-benda serta peristiwa-peristiwa. Pada masyarakat anak juga dapat memperoleh pendidikan non formal berupa kursus-kursus. Kepribadian dipengaruhi oleh gejala sosial, kebudayaan yang ada di lingkungannya. Sebagai contoh anak yang hidup dalam lingkungan orang-orang berpendidikan cenderung suka belajar, anak yang hidup di lingkungan bisnis, cenderung berjiwa ekonomis (pertimbangan untung rugi). Anak yang bergaul dalam kehidupan keras dan penuh tekanan, anak menjadi patuh atau penurut, juga mungkin suka memberontak. Untuk itu sebagai orang tua atau pemimpin, kita dapat memilih lingkungan hidup, menciptakan lingkungan hidup yang menguntungkan perkembangan kepribadian anak. Sedangkan fungsi pendidikan menurut Broom dalam Pidarta (2000:171) adalah (1) transmisi budaya, (2) meningkatkan integrasi sosial atau masyarakat, (3) mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan itu sendiri, dan (4) mengembangkan kepribadian. Dari pendapat Broom maka dapat diuraikan sebagai berikut: Sebagai transisi kebudayaan maksudnya dari budaya yang sudah ada maka dapat dipindahkan kepada masyarakat berikutnya atau dari suatu masyarakat tertentu kepada masyarakat yang lainnya. Meningkatkan integrasi sosial atau masyarakat artinya dengan pendidikan dapat dibentuk dan ditingkatkan integrasi sosial; mempersatukan masyarakat. Mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja dimaksudkan melalui pendidikan dapat diadakan pemilihan bidang pekerjaan dan juga penempatan serta penyediaan tenaga kerja. Mengembangkan kepribadian mengandung makna, melalui pendidikan dapat dikembangkan adanya pribadi-pribadi yang unggul sesuai dengan harapan masyarakat, bangsa dan negara. Secara lebih rinci manfaat pendidikan untuk masyarakat menurut Pidarta (2000:172) adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan sebagai transmisi dan pelestari budaya. 2. Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya. 3. Sekolah mengembangkan kepribadian anak disamping oleh keluarga anak itu sendiri. 4. Pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya. 5. Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat.

Sosiologi Pendidikan

2- 11

6. Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian. 7. Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agama dan budi pekerti. 8. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial. 9. Pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaan-kebudayaan yang baru. 10. Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja. 11. Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, Anda dapat mengkaji pendapat Pidarta sebagai berikut: Pendidikan sebagai transmisi dan pelestarian budaya berarti selain berfungsi memindahkan juga diharapkan dapat melestarikan budaya yang sudah ada. Kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah yang beraneka ragam tersebut harus dapat dilestarikan atau dipelihara keberadaannya. Demikian pula dengan adanya kebudayaan nasional bangsa Indonesia, sebagai warga negara wajib melestarikannya. Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya mempunyai makna bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan selain berusaha melestarikan budaya yang sudah ada, juga berperan sebagai tempat untuk mengadakan pembaruan budaya ke arah yang lebih maju, ke arah yang lebih unggul pada masyarakat dimana lembaga tersebut berada. Sekolah mengembangkan kepribadian anak disamping oleh keluarga anak itu sendiri. Tempat pengembangan kepribadian selain di dalam keluarga, juga berada di lembaga sekolah. Potensi-potensi yang dimiliki anak, oleh sekolah diusahakan untuk dikembangkan ke arah yang positif, potensi-potensi yang negatif dikendalikan. Dengan upaya-upaya tersebut maka sekolah dapat dikatakan tetapi tempat pengembangan kepribadian anak. Pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya. Pada lembaga pendidikan selain diberikan pendidikan budi pekerti, sopan santun, pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan. Melalui pendidikan kewarganegaraan anak dididik agar menjadi warga negara yang baik, tahu tentang hak dan kewajibannya. Ada sebagian warga masyarakat berusaha menuntut hak tetapi lupa akan kewajibannya. Pendidikan sekolah berusaha menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.

2 - 12 Unit 2

Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat. Pada lembaga sekolah merupakan pencerminan sebagai masyarakat kecil, demikian juga dalam kelas. Anak bergaul dengan anak lain yang beraneka ragam latar belakangnya. Dengan demikian anak mulai mengenal berbagai keadaan anak lain. Melalui masyarakat kecil tersebut, dapat terbentuk suatu kondisi masyarakat walaupun dalam lingkungan terbatas, dengan dasar pembentukan masyarakat secara terbatas kemudian dapat berkembang terbentuknya persatuan sosial, selanjutnya anak memiliki kemampuan untuk hidup bermasyarakat. Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis melalui pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian. Hal ini mengandung arti bahwa dengan pendidikan maka anak didik dapat meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu yang diajarkan, teknologi maupun kesenian. Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan pendidikan agama dan budi pekerti. Jadi melalui pendidikan agama, budi pekerti maka anak dapat meningkatkan kemampuan untuk memiliki alat kontrol sosial. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial. Hal ini maksudnya dengan memperoleh pelajaran ilmu-ilmu di sekolah, kemudian dari anak diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaankebudayaan yang baru. Pada dasarnya pendidikan selain sebagai pelestari budaya yang sudah ada, tetapi juga berperan sebagai pembaru. Dengan demikian pendidikan berfungsi sebagai perubah sosial, maksudnya sistem sosial yang sudah ada dengan adanya pembaru budaya, akan berubah sesuai dengan perkembangan yang ada. Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan maka dipersiapkan angkatan kerja sesuai bidang yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Masing-masing bidang pendidikan mempersiapkan angkatan kerja, sehingga dari hasil pendidikan tersebut diperoleh angkatan kerja yang beraneka ragam jenisnya. Angkatan kerja tersebut telah disesuaikan dengan bakat dan minat serta kemampuannya. Dari fungsi ini dapat dikatakan telah ada seleksi tenaga kerja sesuai bidangnya masing-masing. Bagi anak didik yang tidak memiliki kemampuan, maka dalam proses pendidikannya telah terseleksi dengan sendirinya, sebab dalam prosesnya ada yang berhasil (lulus) dan tidak berhasil (tidak lulus). Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat. Dari waktu ke waktu diharapkan out put dari pendidikan semakin tinggi. Dengan perubahan

Sosiologi Pendidikan

2- 13

tingkat kelulusan maka diharapkan ekonomi masyarakat semakin baik. semakin tinggi pendidikannya semakin tinggi pula tingkat pendapatannya. Jadi dengan upaya pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang semakin tinggi, sebagai dampaknya masyarakat yang berpenghasilan tinggi semakin banyak.

B. Kebutuhan Masyarakat Terhadap Pendidikan
Masyarakat dalam arti yang lebih luas yaitu masyarakat dari bangsa Indonesia telah merumuskan adanya harapan dari pendidikan tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari uraian tersebut harapan masyarakat bangsa Indonesia dalam hal pendidikan adalah : 1) beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) berahlak mulia, 3) sehat, 4) berilmu, 5) cakap, 6) kreatif, 7) mandiri, dan 8) menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara umum kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan dirumuskan Mochlon dalam Suryansyah (2005:23) menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lebih lanjut kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan secara umum disebutkan : masyarakat (lebih khusus orang tua murid) mengirimkan anakanaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah (khususnya NEM), ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan output yang berkualitas pula. (Suryansyah, 2005:23).

C. Hubungan Antara Pendidikan (Sekolah) Dengan Masyarakat
Hubungan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Bernays dalam Suryansyah (2005:24) adalah : a. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat. Misalnya adanya penemuan JBS (jam belajar masyarakat) yaitu saatnya masyarakat memberikan kesempatan kepada anakanak sekolah untuk belajar di rumah agar tidak mendapat gangguan. Pada saat anak belajar orang tua murid tidak diperkenankan menghidupkan antara
2 - 14 Unit 2

lain, televisi, radio, tape recorder. Hal ini dilakukan pada jam-jam tertentu yang telah disepakati bersama antara anak, orang tua serta masyarakat pada umumnya. b. Persuasion directed at the public, to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah). Sebagai contoh anggapan dari sebagian orang tua siswa; apabila telah menyekolahkan anaknya maka pengawasan belajar menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya. Padahal kenyataan anak belajar di sekolah waktunya terbatas, di rumah anak juga perlu mendapatkan pengawasan belajar dari pihak orang tua. Hal ini menjadi topik penyesuaian antara sekolah dengan orang tua murid atau wali murid. c. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of public with the institution (suatu upaya untuk menyatakan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik, yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah. Contoh adanya dengan dibentuknya komite sekolah. Dengan lembaga komite sekolah, maka antara sekolah dan masyarakat dapat menjalin suatu kerjasama secara timbal balik antara sekolah dan masyarakat, sekolah membantu masyarakat, sebaliknya masyarakat berusaha membantu sekolah. Pendapat di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hubungan sekolah dan masyarakat. Hal yang penting bahwa adanya informasi yang diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan. Dari pengertian tersebut dapat diambil maknanya apabila ada hubungan yang baik antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat maka dapat memberikan pengaruh positif baik dari pihak pendidikan (sekolah) maupun dari pihak masyarakat. Secara sederhana paling tidak dapat terbina saling pengertian dan akibat berikutnya (dampak pengiring) terjadinya saling menunjang program, keinginan mewujudkan misi dan visi masing-masing.

Sosiologi Pendidikan

2- 15

D. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pendidikan untuk Kehidupan masyarakat
Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan mengalami perkembangan. Berkaitan dengan dunia pendidikan perkembangan pengetahuan dan teknologi terus berlangsung. Dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dipergunakan untuk kemajuan kehidupan masyarakat. Kaitan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat dapat dikaji berdasarkan pendapat-pendapat sebagai berikut: Menurut Popenoe dalam Ahmadi (2004:182) fungsi pendidikan untuk masyarakat adalah : 1) transmisi kebudayaan masyarakat, 2) menolong individu memilih dan melakukan peranan sosial, 3) menjamin integrasi sosial, 4) sebagai sumber inovasi sosial. Sedangkan menurut Broom dan Selznick dalam Ahmadi (2004:182) fungsi pendidikan adalah untuk : 1) transmisi kebudayaan, 2) integrasi sosial, 3) inovasi, 4) seleksi dan alokasi, 5) mengembangkan kepribadian anak. Dari kedua pendapat ahli tersebut di atas ada unsur-unsur yang hampir sama, dan pendapat dari Broom dan Selznick ada sedikit perbedaan karena menambah unsur yang kelima yaitu mengembangkan kepribadian anak. Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pendidikan, dari beberapa unsur yang ada, memiliki kaitan erat yaitu menyangkut inovasi (pembaruan). Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan membawa pembaruan dalam bidang kehidupan masyarakat. Sebagai contoh pengaruh yang positif, dengan ditemukannnya energi nuklir maka dapat dipakai untuk pembangkit tenaga listrik. Walaupun ada pihak yang kontra yaitu adanya dampak negatif misalnya pembuangan limbah nuklir, seandainya ada kecelakaan pembangkit listrik seperti kasus Kernobil. Contoh yang lain dengan pengembangan energi yang dapat diperbarukan seperti minyak jarak; pengembangan tenaga-tenaga panas bumi, pemanfaatan sinar matahari. Hal tersebut dapat mengurangi ketergantungan manusia terhadap minyak bumi yang saat ini cadangannya semakin berkurang. Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pendidikan maka dapat bermanfaat untuk pembaruan kehidupan masyarakat.

2 - 16 Unit 2

Latihan
1. Dalam lingkup masyarakat yang kapasitasnya negara sebutkan fungsi pendidikan! 2. Jelaskan pendapat Made Pidarta tentang sarana perubah sosial! 3. Berilah contoh di bidang energi nuklir untuk pembaruan kehidupan masyarakat!

Rambu-rambu jawaban soal.
1. Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban kehidupan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 2. Perubah sosial menurut Made Pidarta adalah dengan kebudayaan-kebudayaan baru yang diciptakan. 3. Contohnya dengan ditemukannya energi nuklir dapat dipakai dalam pembangkit listrik.

Rangkuman
Fungsi pendidikan menurut Broom adalah : 1) transmisi budaya; 2) meningkatkan integrasi sosial atau bermasyarakat; 3) mengadakan seleksi dan alokasi melalui pendidikan; 4) mengembangkan kepribadian. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan dipergunakan untuk kemajuan kehidupan masyarakat.

Tes Formatif 2
Kerjakan soal-soal berikut dengan memilih huruf di depan jawaban yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Dalam lingkup masyarakat luas (negara) fungsi pendidikan, kecuali…. A. mengembangkan kemampuan B. membentuk watak C. mencerdaskan kehidupan bangsa D. membentuk potensi 2. Sedangkan tujuan dari pendidikan untuk masyarakat, kecuali…. A. berahlak mulia B. berwatak sosial C. cakap D. kreatif

Sosiologi Pendidikan

2- 17

3. Sedangkan fungsi pendidikan menurut Broom, kecuali…. A. meningkatkan integrasi sosial B. mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja C. mengembangkan ilmu pengetahuan D. mengembangkan kepribadian. 4. Antara pendapat Broom dan Selznick dengan sosial Popenoe ada perbedaan dalam…. A. inovasi B. mengembangkan kepribadian anak C. seleksi D. transmisi kebudayaan 5. Keuntungan adanya hubungan pendidikan (sekolah) dengan masyarakat yaitu…. A. mencerdaskan kehidupan bangsa B. membentuk peradaban C. saling menunjang program D. saling melengkapi peran 6. Dalam bidang pendidikan (Sekolah), dengan ditemukannya hal-hal yang baru dan bermanfaat, identik dengan adanya….. A. seleksi B. inovasi sosial C. alokasi D. transmisi 7. Dengan adanya pendidikan (sekolah) maka dapat diketahui kemampuan untuk bekerja di kemudian hari, ini sejalan dengan ….. A. transmisi B. informasi C. seleksi dan alokasi D. ketrampilan 8. Dengan adanya perubahan ketentuan saat ini setiap lembaga sekolah memiliki komite sekolah, hal tersebut sebagai sarana…. A. mencari bantuan B. menjalin kerjasama dengan murid C. kerjasama dengan orang tua murid D. kerjasama dengan masyarakat 9. Harapan masyarakat terhadap pendidikan, kecuali…. A. pembentukan iman dan takwa B. berilmu

2 - 18 Unit 2

C. sehat D. mencetak pemimpin daerah 10. Dalam peranan information given to the public seharusnya….. A. sekolah menjalin kerjasama B. sekolah memberikan informasi kepada masyarakat C. menyatukan sikap D. menyatukan pendapat. Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 2 (dua) sesuai tujuan pembelajaran sub unit 2 (dua), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus : Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan materi : x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 2 (dua), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

Sosiologi Pendidikan

2- 19

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif I
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. C D D B C C C A A B

Tes Formatif 2
D B C B C B C D D B

2 - 20 Unit 2

Glosarium
Berahlak mulia : Hierarki : Menunjang : Berkelakuan amat baik Berjenjang Mendukung

Sosiologi Pendidikan

2- 21

Daftar Pustaka

Ahmad Suryansyah. 2005. Landasan Pendidikan Peranan Persekolahan dalam Pendidikan. Jakarta:Pustekom. H. Abu Ahmadi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mode Pidarta. 2006. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mohammad Ansyar. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Dirjen Dikti. Sutan Zanti Arbi dan Syahmiar Syharun. 1991/1992. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta. Rineka Cipta. Soelaiman Yoesoef dan Slamet Iman Santoso. 1986. Dinamika Kelompok. Jakarta: Karunika. Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grasindo Persada.

2 - 22 Unit 2

Unit

3

SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL

EDDY TUKIDJAN PIET J. MSEN

U

nit 3 (tiga) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang sekolah sebagai sistem sosial, tujuan sistem sosial, sekolah sebagai suatu birokrasi dan sekolah sebagai mobilitas sosial. Materi ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan, pemahaman sebagai landasan untuk melaksanakan tugas sebagai guru yang profesional dan dapat mensosialisasikan pentingnya sekolah bagi peningkatan perubahan status sosial. Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat : 1. Menjelaskan sekolah sebagai sistem sosial 2. Mendiskripsikan tujuan sistem sosial 3. Mendiskripsikan sekolah sebagai suatu birokrasi 4. Mendiskripsikan sekolah sebagai sarana mobilitas sosial Materi ini merupakan kelanjutan dari bahan unit 2 (dua) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikut tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas. Agar dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain seperti web-site. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

Sosiologi Pendidikan

3- 1

Subunit 1 Sekolah Sebagai Sistem Sosial Dan Tujuan Sistem Sekolah

S

ekolah sebagai sistem sosial dan tujuan sistem sekolah merupakan materi yang harus dikuasai agar calon guru memiliki wawasan yang luas untuk membentuk profesionalisme seorang calon guru, agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya secara baik. Materi ini mencakup : Sekolah Sebagai Sistem Sosial Tujuan Sistem Sekolah Bacalah dan kaji dengan cermat media cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan soal tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

Uraian A. Sekolah Sebagai Sistem Sosial
Situasi sekolah tidak jauh berbeda dengan situasi dalam masyarakat. Sekolah memiliki ciri-ciri yang serupa dengan ciri-ciri yang berada di dalam sistem sosial. Institusi sosial yang disebut sekolah itu merupakan suatu masyarakat kecil yang mempunyai kebudayaan tertentu. Kebudayaan sekolah dan interaksi antar individu yang berada di dalamnya akan melahirkan suatu sistem sosial. Pembahasan ini mengkaji aspek sosial dari sekolah sebab pelaksanaan pendidikan pada dasarnya adalah suatu interaksi antara manusia satu dengan lainnya, baik secara individual maupun secara kelompok. Selain itu pembahasan aspek sosial pendidikan adalah sangat perlu sebab sekolah itu sendiri merupakan suatu institusi sosial yang mengemban tujuan tertentu, dengan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda serta adanya status sosial yang berbeda-beda pula. Misalnya dari umur guru dan siswa tentu jauh berbeda. Umur siswa satu dengan lainnya berbeda pula. Segala keputusan tidak mungkin diputuskan oleh semua, sebab yang umumnya lebih tua dipercayakan untuk membuat keputusan.

3 - 2 Unit 3

Dilihat dari latar budaya dan agama juga berbeda-beda. Budaya dari suku Jawa tentu berbeda dengan suku Makasar atau suku lainnya. Demikian pula dengan agama ada yang menganut agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan lainnya. Dalam sekolah juga kita dapat menemui siswa-siswa dengan latar ekonomi sosial yang bervariasi. Dari latar ekonomi ditemukan siswa-siswa yang kelas ekonominya tinggi, menengah dan ada pula yang rendah. Ada siswa yang berasal dari keluarga kaya raya dan ada pula dari keluarga yang miskin. Status sosial juga bervariasi ada siswa yang orang tuanya pejabat, pegawai negeri, petani, nelayan, buruh, swasta, pengusaha dan sebagainya. Berdasarkan pendekatan teori fungsi bahwa sistem sekolah itu tersusun dari berbagai sub sistem atau bagian, yang masing-masing bagian mempunyai tujuan. Tujuan-tujuan dalam sub sistem tersebut bergabung, sehingga menjadi satu kesatuan dan atau menjadi satu sistem. Dalam pelaksanaannya masingmasing sub sistem saling bergantung satu sama lain. Kalau ada sub sistem yang tidak berfungsi maka akan mengganggu sub sistem yang lain. Jadi dalam satu sistem masing-masing sub sistem yang ada berfungsi dan difungsikan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Agar lebih jelas mari kita analisis skema berikut ini.

Sosiologi Pendidikan

3- 3

Sekolah Sebagai Suatu Sistem Sosial
SMP NEGERI

A Kepala Sekolah WK Kepala Sekolah Pegawai Tata Usaha B. Guru dan murid

1

2
Layanan BP, Turorial UKS, Remedial

3

4

Sekretaris Conselor Ahli Psikologi Pustakawan/TU

C. Pendukung Pesuruh Pelayanan Kesehatan Tempat Olah Raga

Bus Siswa Program Khusus Lainnya

Direkontruksi dari Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:99) Keterangan: A. Kita memasuki gerbang sekolah kemudian langsung melewati kantor kepala sekolah, wakil kepala sekolah, tata usaha, seolah-olah para staf (pegawai) bertindak sebagai pencatat dan penjaga sekolah. Setelah lonceng berbunyi gerbang sekolah ditutup. B. Ruangan kelas adalah merupakan struktur fisik dari sekolah. Guru dan murid adalah anggota utama dalam kelas. Masing-masing kelas mempunyai struktur sosial dan suasana yang berbeda seperti : pengaturan tempat duduk, kelompok kerja siswa, tipe kepemimpinan, tipe siswa, tipe kelas dan sebagainya, yang semuanya akan mewarnai keadaan kelas dan bahkan memberikan ciri-ciri khusus untuk masing-masing kelas.

3 - 4 Unit 3

C. Pendukung, ditujukkan supaya kelas yang ada dapat berfungsi. Tentu saja tidak semua sekolah mempunyai sarana pendukung seperti tersebut di atas. Ada yang memiliki konselor, pustakawan, dalam arti hanya sebahagian saja yang dimilikinya. Sistem sekolah seperti tersebut di atas ada sub-sub sistem bagian A, B, C. dari unsur yang ada dari A, B, C, memiliki tujuan dari masing-masing bagian. Antara satu dengan yang lain saling mendukung untuk mencapai tujuan dari sistem. Apabila ada sebagian tidak berfungsi maka akan mengganggu sistem secara keseluruhan. Dipandang dari sistem yang lebih luas, sistem sosial sekolah merupakan bagian atau sub sistem. Sebagai sub sistem tidak akan berfungsi untuk mencapai tujuan tanpa adanya bantuan dari luar seperti pemerintah, yayasan, organisasi-organisasi lain, perorangan dan sebagainya (Bahar, 1989:100). Sistem sekolah yang ada di dalamnya (guru, kepala sekolah, pegawai), bangunan, kelas, buku, dan sub sistem yang lain, semua harus berfungsi dalam pencapaian tujuan yang ingin dicapai dari sistem yang lebih besar. Bagi tingkat sekolah dasar unsur-unsur sistem lebih sederhana dibandingkan dengan lembaga pada tingkat sekolah Menengah Tingkat Pertama. Kondisi struktur organisasi pada tingkat sekolah dasar sangat bervariasi, bagi sekolah dasar yang berada pada daerah perkotaan unsur-unsur sistem lebih lengkap dibandingkan daerah-daerah pedesaan maupun darah terpencil. Hal ini sesuai berita harian (Kompas, 2007:12) disebutkan : ”di sekolah ini anak-anak dari kelas I (Satu) hingga kelas VI (enam) hanya diajar oleh seorang guru dengan fasilitas pendidikan dan ruang kelas yang sangat terbatas”. Sesuai berita Kompas tersebut digambarkan bahwa dalam 1 (satu) lembaga sekolah dasar hanya dilayani oleh seorang guru. Sehingga yang ada di sekolah tersebut hanya seorang guru dan sejumlah murid. Guru tersebut selain merangkap kelas dari kelas I (satu) sampai VI (enam), juga merangkap antara lain tugas Kepala Sekolah, petugas administrasi, petugas pesuruh sekolah (pembantu sekolah). Jadi untuk tingkat sekolah dasar sub-sub sistem sangat bervariasi antara satu sekolah dengan sekolah lain, maupun dari satu daerah dengan daerah lain.

Sosiologi Pendidikan

3- 5

B. Tujuan Sistem Sekolah
Sekolah sebagai sistem mempunyai tujuan. Sebelum membahas tujuan sistem sekolah perlu dipahami dahulu apa itu sistem. Sistem adalah suatu kesatuan yang saling terkait, tidak dapat dipisahkan dan bertujuan. Menurut Sutjipto dan Mukti (1991/1992) sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian. Kesemua bagian itu mempunyai fungsi sendiri-sendiri, tetapi tetap dalam hubungannya dengan bagian lain. Dalam kegiatannya, bagianbagian itu memberikan sumbangannya masing-masing terhadap tercapainya tujuan. Sesuai pendapat tersebut menyangkut sistem sekolah yang lebih laus ada tiga komponen atau bagian, pertama adalah masukan (input), kedua proses dan ketiga adalah keluaran (output). Tujuan organisasi sekolah tentu saja sangat berbeda dari tujuan organisasi yang bersifat komersial yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produksi, atau yang dalam prosesnya adalah memproses barang mentah sebagai inputnya menjadi barang jadi sebagai outputnya. Input sekolah adalah anak-anak yang memiliki berbagai macam tingkah laku dan inilah yang diproses. Tentu hasil output sekolah lebih kompleks sebab inputnya bukan barang jadi. Sekolah sering diperhadapkan pada tuntutan yang beraneka ragam dari berbagai sumber seperti murid-murid, guru-guru, para orang tua, pendapat dari masyarakat umum. Tujuan sistem formal sekolah adalah melayani beberapa tujuan sistem sosial. Bagaimanapun juga tidak akan selalu terdapat kesepakatan tentang tujuan utama yang harus dicapai pada masing-masing sekolah dan bagaimana cara untuk mencapainya. Ada sekolah yang menekankan pada ketrampilan, ada yang menekankan pada seni, ada yang menekankan pada olah raga, ada yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan, dan ada yang menekankan pada pendidikan moral bahkan ada yang menitik beratkan pada pendidikan agama. Selanjutnya dapat dilihat tujuan sekolah dari beberapa sudut pandang antara lain: a. Tujuan masyarakat Suatu masyarakat mempunyai tujuan khusus mengenai sistem pendidikan yang akan dilaksanakan di sekolah. Setiap masyarakat pada setiap bangsa mempunyai tujuan sistem pendidikannya. Pada masyarakat yang homogen biasanya konsensus mengetahui tujuan utama (key goals) yang akan dicapai. Sedangkan pada masyarakat yang heterogen biasanya mempunyai banyak pilihan tentang tujuan yang akan dicapai yang berkenaan dengan

3 - 6 Unit 3

pendidikan. Tujuan masyarakat ini tidak terlepas dari tujuan umum yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945. Bahwa pendidikan ini sangat luas dimana setiap warga negara dijamin untuk menikmati pendidikan itu, agar dapat trampil untuk mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertanggung jawab atas dirinya dan orang lain. Mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang: 1) beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) memiliki pengetahuan dan ketrampilan, 3) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, 4) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara umum masyarakat mempunyai harapan agar pendidikan di sekolah dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk membekali peserta didik agar dapat berkembang di masyarakat. b. Tujuan sekolah Masing-masing sekolah mempunyai tujuan sesuai jenis dan tingkat sekolah itu. Dalam kurikulum setiap sekolah sudah tercantum tujuan sekolah itu. Tujuan sekolah dapat dicapai dengan cara menjabarkan materi-materi yang tercantum dalam kurikulum ke dalam kegiatan yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Suatu hal yang patut diingatkan bahwa tujuan sekolah tidak berbeda atau bertentangan dengan dasar negara. Tujuan suatu sekolah selalu mendukung pencapaian tujuan umum sebagaimana diuraikan sebelumnya. Tujuan yang ingin dicapai setiap jenis lembaga sekolah disebut tujuan institusional. Tujuan pendidikan sekolah tidak hanya menguasai bahan pelajaran, tetapi dapat menggunakan apa yang telah dipelajari itu untuk mampu belajar sendiri dan membina diri kapanpun dan dimanapun juga dalam rangka mencapai tujuan pendidikan seumur hidup (PSH) yaitu mencapai kualitas hidup pribadi, sosial dan profesional seoptimal mungkin. Pendidikan sekolah hendaknya bertujuan agar siswanya: 1) Menyadari perlunya belajar seumur hidup dalam usaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya dalam masyarakat. 2) Meningkatkan kemampuan belajar atau educability 3) Memperluas daerah belajar 4) Memadukan pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman belajar di luar sekolah

Sosiologi Pendidikan

3- 7

c. Tujuan individu Sekolah sebagai suatu organisasi di mana setiap anggotanya sebagai individu yang berada di dalamnya mempunyai tujuan tersendiri. Secara umum sekolah sebagai lembaga mempunyai tujuan kelembagaan (tujuan institusional); tetapi siswa-siswa sebagai individu tentu bervariasi. Apabila tujuan siswa-siswa tidak disingkronkan dengan tujuan kelembagaan mustahil hasil yang diharapkan tercapai. Bagaimanapun pihak sekolah merencanakan dan meningkatkan kualitas proses belajar pembelajaran agar mutu pendidikan di sekolahnya tinggi, tetapi tanpa dibarengi dengan tujuan individu-individu hasil yang diharapkan menjadi sirna. Jadi dengan sendirinya dapat kita katakan bahwa tujuan individu akan mempengaruhi pelaksanaan sekolah sebagai suatu organisasi. Untuk itu, pemerintah harus memperbaiki mutu sekolah dengan memberikan arahan dan perbaikan kegiatan belajar mengajar yang didukung oleh tenaga kependidikan yang kompeten dan dapat memahami tujuan individu yang sedang belajar. Konsep kurikulum berbasis kompetensi sesungguhnya dapat menjawab permasalahan ini, sebab dengan pemahaman yang mendalam terhadap kompetensi siswa akan membantu pemahaman tujuan individu. Kompetensi yang diharapkan adalah menyangkut cognitif dan affective (B. Bloom) serta Psychomotor (E. Simpson) (W.S. Winkel, 1991:149).

Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit 1 (satu). Tentu Anda telah menguasai uraian di atas. Untuk mengetahui pemahaman Anda, kita kerjakan soal latihan berikut:

Latihan
1. Sebutkan 3 sub sistem sosial menurut Jeanne H. Ballantina! 2. Sebutkan apa yang dimaksud sistem menurut Sutjipto dan Basori Mukti! 3. Jelaskan bagaimana cara mengetahui tujuan dari sekolah!

Rambu-rambu jawaban latihan
1. Sub sistem kesatu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kedua guru dan murid, layanan BP, tutorial, UKS, remedial. Ketiga pendukung terdiri sekretaris, konselor, ahli psikologi, pustakawan/pustakawati; pesuruh, pelayanan kesehatan, tempat olah raga; bus siswa, program khusus lainnya.

3 - 8 Unit 3

2. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran. 3. Cara mengetahui tujuan dari sekolah adalah dengan mengkaji dan mengetahui tujuan dari kurikulum sekolah.

Rangkuman
Situasi sekolah tidak jauh berbeda dengan situasi masyarakat. Institusi sosial yang disebut sekolah itu merupakan masyarakat kecil yang mempunyai kebudayaan tertentu. Kebudayaan sekolah dan interaksi antara individu yang berada di dalamnya akan melahirkan suatu iklim sosial. Berdasarkan pendekatan teori fungsi bahwa sistem sekolah itu tersusun dari berbagai sub sistem atau bahagian, yang masing-masing bahagian mempunyai tujuan. Dalam pelaksanaannya masing-masing sub sistem saling bergantung satu sama lain. Kalau ada sub sistem yang tidak berfungsi maka akan mengganggu sub sistem yang lain. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berinteraksi dalam suatu proses, mempunyai suatu tujuan tertentu. Secara umum masyarakat mempunyai harapan agar pendidikan di sekolah dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk membekali peserta didik agar dapat berkembang di masyarakat. Tujuan sekolah tercantum dalam setiap kurikulum setiap jenis lembaga sekolah memiliki tujuan yang berbeda antara jenis yang satu dengan yang lain, dalam istilah kependidikan lazim disebut tujuan institusional. Tujuan individu saat ini sering disebut kompetensi atau kemampuan. Kemampuan yang ingin dicapai masyarakat afektif, kognitif, dan psikomotor.

Tes Formatif I
Kerjakan soal-soal berikut dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Tergolong unsur-unsur pengertian sistem, kecuali…. A. keseluruhan B. sub sistem C. saling terkait D. berkebudayaan

Sosiologi Pendidikan

3- 9

2. Merupakan bagian dari sistem sekolah, kecuali…. A. guru B. murid C. kepala dinas pendidikan D. pustakawan 3. Suatu iklim sosial sekolah dipengaruhi oleh…. A. intelektual anak B. interaksi antara individu C. kondisi phisik anak D. output sekolah 4. Merupakan sub sistem sosial sekolah menurut Jeanne H. Ballantina, kecuali…. A. input atau masukan B. UKS C. pustakawan D. murid 5. Tujuan sistem lembaga sekolah yang ingin dicapai disebut tujuan…. A. khusus B. institusional C. umum D. nasional 6. Keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran, pendapat dari…. A. H. Aswandi Bahar B. Sutjipto dan Basori Mukti C. Jeanne D. Ballantina 7. Sekolah sebagai tempat pendidikan, juga sebagai tempat, kecuali…. A. latihan bekerja B. belajar patuh peraturan C. mencari nafkah D. berlatih mengerjakan tugas 8. Komponen pendidikan yang mempunyai fungsi sebagai alat dalam pelaksanaan pendidikan yaitu…. A. tujuan pendidikan B. peserta didik C. bahan pelajaran D. biaya pendidikan

3 - 10 Unit 3

9. Tujuan akhir dari sistem hendaknya…. A. dibiayai B. dicapai secara bersama dari sub sistem C. difungsikan D. difasilitasi 10. Kompetensi yang ingin dicapai oleh setiap individu siswa, kecuali…. A. pendidikan B. afektif C. kognitif D. psikomotor Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 1 (satu). Sesuai dengan pembelajaran sub unit 1 (satu), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan juga dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar sub unit. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda, kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus. Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Tingkat penguasaan materi : Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda sudah berhasil dan dapat meneruskan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2). Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 1 (sub unit 1), sebelum melanjutkan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2).

Sosiologi Pendidikan

3- 11

Subunit 2 Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi Dan Sarana Mobilitas Sosial
ekolah sebagai suatu birokrasi dan sarana mobilitas sosial merupakan bagian dari unit 3 (tiga), materi ini harus dikuasai agar calon guru atau guru memiliki wawasan yang luas untuk membentuk guru yang profesional. Selain itu agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya. Materi ini mencakup: Sekolah sebagai suatu birokrasi Sekolah sebagai sarana mobilitas sosial Bacalah dan kaji dengan cermat media cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

S

Uraian A. Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi
Apa sebenarnya birokrasi itu? Untuk menjawab pertanyaan ini lebih dahulu kita pahami bersama arti birokrasi. Birokrasi adalah merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu (kompeten) untuk melakukannya (Bahar, 1989:103). Di sekolah adalah merupakan organisasi yang memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai dalam rangka proses pencapaian tujuan melibatkan semua anggota yang berada dalam unit sekolah tersebut, berkaitan dengan anggotaanggota yang ada diharapkan semua mampu melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, sebab di dalam suatu organisasi adalah masing-masing anggota telah memiliki tugas dan wewenang sesuai dengan bidangnya masingmasing, misalnya antara guru dan kepala sekolah bertugas memandu organisasi sekolah, pustakawan mengelola perpustakaan, tata usaha bertanggung jawab tentang ketatausahaan. Menurut Ronald B. Covin dalam Bahar (1989:103) disebutkan bahwa birokrasi itu merupakan istilah yang pegorative (tidak disukai atau buruk) dan terlintas kesan sebagai suatu yang tidak efisien atau organisasi yang tidak praktis. 16
3 - 12 Unit 3

Hal ini diperkuat oleh Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:103) antara lain bahwa : 1) tidak responsif terhadap perubahan yang cepat, 2) tidak menimbulkan kreativitas, dan 3) hanya terpusat pada kekuasaan sosial yang dipegangnya dan sering berada/dilakukan oleh pemimpin yang zalim. Dari kedua pendapat tersebut di atas, memberikan gambaran bahwa birokrasi merupakan hal yang negatif, sebab dengan birokrasi maka pelayanan organisasi tidak cepat, harus mengikuti ketentuan yang baku dan kepemimpinannya terpusat atau dikendalikan oleh seorang pemimpin. Hal-hal tersebut tidak seluruhnya benar sebab dengan birokrasi maka kepemimpinan terkontrol, dan apabila ada kesalahan menjadi tanggung jawab seorang pemimpin. Menurut Rodman B. Webb dalam Bahar (1989:104) ciri-ciri birokrasi sebagai berikut: 1. Separate organization, artinya secara struktural birokrasi itu merupakan suatu organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf yang bekerja full time. Pola kehidupan organisasi staf terpisah dari kehidupan pribadi. 2. Orderly and Stable Hierarchies, artinya bahwa ciri dasar birokrasi itu adalah lingkaran organisasi yang teratur dan rapi (orderly hierarchical organization) baik dari segi bentuk maupun dari segi pembagian kerjanya. 3. Fix Yurisdiction, artinya bahwa birokrasi itu mempunyai peraturan yang mengatur tata cara pelaksanaan birokrasi tersebut baik ke dalam maupun ke luar. 4. Status Competence, artinya bahwa status individu terdapat dalam birokrasi, umpamanya para anggota (pegawai) birokrasi harus memahami dan melaksanakan peraturan atau cara kerja birokrasi, menjaga rahasia birokrasi dan lain-lain 5. Formal Communication, artinya bahwa birokrasi komunikasi formal baik ke dalam maupun ke luar. mempunyai jalur

6. Objectivity and Rationality, artinya bahwa birokrasi itu diharapkan membuat prosedur yang tertulis, Otoritas yang jelas, peraturan yang terpola. Idealnya birokrasi itu adalah lambang dari rasional organisasi sosial.

Sosiologi Pendidikan

3- 13

Dengan memperhatikan ciri-ciri Webb tersebut menunjukkan bahwa birokrasi adalah melayani fungsi yang vital (pokok) kebutuhan masyarakat. Mengapa kita membicarakan sekolah sebagai suatu birokrasi? Sebab sekolah merupakan organisasi yang unik. Hal ini seperti pendapat Cristopher J. Hurn dalam Bahar (1989:104) disebutkan :”Schools are distinctive because they expected to transmit values, ideals, and shared knowledge; faster cognitive and emotional growth; and sort and select students into groups by grades or performance on examination”. Dari pendapat tersebut ditafsirkan oleh Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:104-105) bahwa sekolah itu adalah istimewa atau mempunyai kekhususan sebab dia diharapkan untuk dapat mentransmisikan nilainilai, ide-ide, dan menyebarluaskan pengetahuan dengan cara membantu pertumbuhan atau perkembangan kognitif dan emosi, mengelompokkan atau menyeleksi siswa-siswa pada beberapa kategori antara lain bidang studi, jabatan, kepintaran dan sebagainya, dengan konsekuensi masa depan yang cerah. Secara organisasi, sekolah terdiri atas periode-periode, dan murid-murid dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkatan dan prestasi. Tentu saja birokrasi lain mempunyai struktur dan tujuan yang berbeda. Birokrasi yang berbentuk organisasi menjadi terkenal di Eropa Barat dan Amerika Serikat pada saat revolusi industri, karena organisasi efisien dan rasional lengkap dengan tujuan dengan hasil yang efektif. Menurut Max Weber dalam Bahar (1989:105-108) ciri organisasi dengan tipe ideal yaitu: 1. Devision of Labort Securitment, and promotion policies Guru maupun petugas administrasi mempunyai tugas masing-masing baik di sekolah maupun di rumah, karena masing-masing telah mengerjakan secara rutin pekerjaannya, maka dia ahli dalam bidangnya. Di membuat jadwal dan pekerjaannya dengan rapi dan padat. Seandainya konsekuen dan bertanggung jawab dengan tugas yang dilakukan tentu mendatangkan hasil yang baik. Guru-guru akan memegang kelas yang telah ditentukan kepala sekolah dia akan bertanggung jawab mengenai pengajaran, kemajuan dan disiplin kelas dia memberikan tugas kepada murid selama jam pelajaran, memberikan bimbingan, menghadiri rapat dan masih ada tugas-tugas lainnya. Dengan memberikan gambaran tugas tersebut menunjukkan bahwa penempatan seseorang pada jabatan/pekerjaan harus jelas tentang tugas yang
3 - 14 Unit 3

harus diembannya dan sebelum melaksanakan tugas perlu diadakan penataran (pra-jabatan) baik mengenai ketrampilan maupun sikapnya. Sikap akan mempengaruhi keefektivan pekerjaan guru walaupun melakukan tugas di kelas, namun persyaratan sikap haruslah cocok dengan peraturan dan ketentuan negara. 2. Hierarchical System of Autority Jenjang atau tingkatan kepemimpinan sekolah dapat digambarkan sebagai berikut:

Dewan Penasehat/ Penyantun

Pengawas

Kepala Sekolah

Guru

Murid/Siswa

Bagan : Jenjang Kepemimpinan Sekolah

Masing-masing tingkatan ini mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda, dengan sendirinya mempunyai jalur komunikasi yang berbeda pula. Contoh guru di kelas ada yang menggunakan komunikasi dua arah, ada yang menggunakan satu arah seperti direktur dan bawahannya. Sebagian tanggung jawab seseorang dalam jenjang kepemimpinan mempunyai hubungan timbal balik. Guru dalam memanggil murid dengan nama panggilan sehari-hari misalnya; Alek, Ronald atau Pur, itu berbeda kalau memanggil dengan kata ganti kamu, anda, engkau. Dengan menggunakan nama panggilan maka anak akan merasa lebih dekat dengan guru, apabila

Sosiologi Pendidikan

3- 15

anak merasa asing maka mempengaruhi kelancaran komunikasi dengan demikian hirarkhi kepemimpinan tidak berjalan dengan lancar. 3. Ruler, Regulation, and Procedures Setiap sekolah mempunyai peraturan tersendiri, seperti siswa yang terlambat harus melapor kepada guru piket dan menandatangani kartu terlambat, memakai pakaian seragam sekolah, rambut pria tidak boleh panjang (gondrong). Ketentuan-ketentuan tersebut harus disosialisasikan dengan peraturan. Peraturan ini dicetak sedemikian rupa dan ditempelkan pada papan pengumuman sehingga dapat dibaca setiap saat, dan bahkan guru menempelkan pada buku pegangan guru supaya dapat mengingatkan siswa yang melanggar peraturan. Demikian pula ada lembaga sekolah yang menanamkan kedisiplinan melalui kehadiran. Semua siswa dan guru tidak bola terlambat datang di sekolah, apabila terlambat datang maka tidak boleh masuk sekolah sebab pagar sekolah (pintu pagar) sudah ditutup. Ketentuan ini berlaku bagi siswa maupun guru tanpa pandang bulu (tanpa terkecuali). Apabila kebijakan ini menjadi ketentuan maka dalam pembuatan ketentuan harus dirumuskan (ditetapkan) bersama antara guru dan murid. Apabila sudah menjadi ketentuan maka perlu ada ketentuan tertulis, ketentuan itu disosialisasikan dengan cara-cara yang lazim dipakai, misalnya ketentuan ditempelkan di papan pengumuman bahkan kalau mungkin pada tiap-tiap kelas. Dengan cara demikian maka dalam pelaksanaannya tidak mendapat hambatan antara lain baik dari pihak murid, orang tua murid, guru, pegawai. 4. Formalized and Effectively Neutral Role Relationship Apabila seseorang memegang posisi tertentu dalam organisasi birokrasi. Jikalau terjadi pengabaian terhadap satu peranan maka akan menimbulkan masalah dalam suatu organisasi. Lain halnya di sekolah organisasi sekolah terdiri dari beberapa unsur yang formal manusia (bukan benda), maka kelakuan yang formal (terlihat pada prosedur tertentu) akan sulit mencapai hasil. Oleh karenanya hubungan yang terjadi di sekolah harus netral, artinya terjadinya saling pengertian antara guru dan murid, saling memahami, berinteraksi dan lain-lain.

3 - 16 Unit 3

5. Relatioality of the Total Organization Kecenderungan administrasi organisasi adalah untuk mencoba dan mencari alat yang paling efisien dalam rangka menghasilkan suatu fungsi. Begitu juga halnya dengan sekolah yaitu berusaha untuk mencapai tingkat efisiensi yang sedemikian rupa. 6. Position Belong Organization Ada kepala sekolah yang akan pensiun, dia seorang kepala sekolah yang dikenal atau populer. Teman-teman dan murid menyenanginya, sebentar lagi akan diganti dengan yang lebih muda, tentu kepala yang baru akan membawa suasana pula. Apakah kepala sekolah yang baru ini akan menjadi populer? Tentu belum tentu karena masing-masing orang mempunyai keunikan tersendiri dalam memimpin. Hal ini dipengaruhi seseorang dalam suatu organisasi.

B. Sekolah Sebagai Sarana Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial ada hubungannya dengan perubahan suatu masyarakat. Perubahan itu dapat berarti perkembangan maju atau mundur suatu masyarakat. Secara umum mobiltias itu perputaran dari positif menjadi negatif atau sebaliknya. Menurut Robert G. Burgess dalam Bahar (1989:36) mobilitas sosial itu mengacu pada turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang. Mobilitas menurut Ivan Reid dalam Bahar (1989:36) ada 3 (tiga) macam yaitu: 1. Horizontal social mobility Perubahan yang terjadi hanyalah waktu dan tempat. Akan tetapi jenis pekerjaannya sama dengan sebelumnya. Seperti pindah kerja ke tempat yang lain dengan jenis pekerjaan yang sama. 2. Intragenerational social mobility Perubahan yang dramatis yaitu perubahan yang terjadi secara dramatis, mungkin karier seseorang itu menanjak atau mungkin saja jatuh. 3. Intergenerirational social mobility Perubahan yang terjadi karena sesuatu seperti karier seseorang anak meningkat karena orang tuanya memegang tampuk pimpinan di dalamnya. Ada hubungan antara pendidikan dengan mobilitas sosial. Hal ini seperti pendapat Robert G. Burgess dalam Bahar (1989:37) bahwa sistem pendidikanlah

Sosiologi Pendidikan

3- 17

yang menjadi mekanisme mobilitas sosial. Pendapat Ivan Reid dalam Bahar (1989:37) menyatakan bahwa pendidikan itu memainkan peranan yang penting dalam mobilitas sosial sekalipun tidak tertuju pada penempatan pekerjaan tertentu. Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam mobilitas sosial, kita mengakui bahwa kualifikasi pendidikan harus dihubungkan secara langsung dengan jenis pekerjaan. Dengan demikian pendidikan ikut menentukan status sosial. Menurut Bahar (1989:37) ada beberapa hal dalam melihat hubungan antara sekolah dengan mobilitas sosial yaitu: 1. kesempatan pendidikan. Kesempatan pendidikan ini banyak ditentukan oleh faktor-faktor tertentu antara lain kedudukan atau status sosial masyarakat. Kalangan masyarakat bawah menginginkan terjadinya perubahan atau mobilitas sosial melalui pendidikan, 2. mendapatkan pekerjaan, kualifikasi pendidikan ada hubungannya dengan jenis pekerjaan, akan tetapi tidak semua orang yang berkualifikasi tinggi dalam pendidikan mendapatkan yang cocok dengan pekerjaannya. Sebab dalam kenyataan ada rintangan misalnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Kesempatan pekerjaan antara satu daerah dengan daerah lain berbeda-beda karena mobiltias sosial dipengaruhi adanya pendidikan, maka pendidikan menghasilkan kualifikasi yang lebih banyak, paling tidak sesuai dengan lapangan pekerjaan. Jadi secara singkat hubungan dengan mobilitas sosial dipengaruhi kesempatan memperoleh pendidikan dan kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sehingga apabila ingin mobilitas sosial semakin baik atau maju maka kesempatan memperoleh pendidikan semakin baik, dan hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit 2 (dua), tentu Anda telah menguasai uraian di atas, untuk mengetahui pemahaman Anda kita kerjakan latihan berikut ini.

3 - 18 Unit 3

Latihan
1. Sebutkan pengertian birokrasi menurut Bahar! 2. Jelaskan mengapa birokrasi mempunyai kesan buruk dan tidak disukai! 3. Jelaskan mengapa pendidikan yang baik mengakibatkan mobilitas sosial yang baik!

Rambu-rambu jawaban latihan
1. Birokrasi adalah rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu untuk melakukannya. 2. Sebab birokrasi tidak responsif terhadap perubahan yang cepat, tidak menimbulkan kreativitas dan hanya terpusat pada kekuasaan sosial pemimpin. 3. Pendidikan yang baik dapat memungkinkan orang mendapatkan kualifikasi pendidikan baik, dengan demikian memungkinkan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik pula dan kemudian orang yang mendapatkan pekerjaan yang baik dapat meningkatkan taraf sosialnya.

Rangkuman
Birokrasi adalah rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu untuk melakukannya. Ciri-ciri birokrasi : 1. Organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf. 2. Tingkatan organisasi yang teratur dan tersusun rapi baik dari bentuk maupun pembagian kerjanya. 3. Ada peraturan yang mengatur tata cara pelaksanaan birokrasi baik ke dalam maupun ke luar. 4. Status individu terdapat dalam birokrasi misalnya harus memahami dan melaksanakan peraturan atau cara kerja birokrasi. 5. Mempunyai jalur komunikasi formal baik ke dalam maupun ke luar. Mobilitas sosial adalah turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang. Mobilitas sosial menurut Ivan Reid ada 3 macam yaitu: 1. Horizontal social mobility yaitu perubahan sosial hanyalah waktu dan tempat akan tetapi jenis pekerjaannya sesuai dengan sebelumnya.

Sosiologi Pendidikan

3- 19

2. Intragenerational social mobility yaitu perubahan yang terjadi secara dramatis misalnya menanjak atau jatuh. 3. Intergenerirational social mobility yaitu perubahan yang terjadi karena sebab lain misalnya karier seseorang meningkat sebab orang tuanya memegang tampuk pimpinan di dalamnya. Hubungan antara sekolah dengan mobilitas sosial adalah kesempatan memperoleh pendidikan dan mendapatkan pekerjaan sesuai kualifikasi pendidikannya. Menurut P.A. Sorokin dalam Gunawan (2000:44) yang menjadi saluran mobilitas sosial yaitu : 1) angkatan bersenjata, 2) lembaga keagamaan, 3) lembaga pendidikan 4) organisasi politik, 5) ekonomi 6) keahlian.

Tes Formatif 2
Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tetap untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Pengertian birokrasi ada kaitan dengan, kecuali…. A. organisasi B. tanggung jawab C. kejujuran melaksanakan tugas D. kompeten untuk melakukannya 2. Termasuk ada kaitan dengan birokrasi di sekolah, kecuali…. A. Kepala sekolah B. Guru C. Badan Pertimbangan Pendidikan D. Pustakawan 3. Birokrasi mempunyai kesan yang tidak disukai atau buruk disebut…. A. negatif B. pegorative C. prerogatif D. proaktif 4. Secara struktural birokrasi itu merupakan suatu organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf yang bekerja secara full time disebut juga…. A. integrated organization B. correlated organization C. status competence D. separate organization

3 - 20 Unit 3

5. Birokrasi mempunyai jalur komunikasi formal baik ke dalam maupun ke luar disebut juga …. A. formal communication B. formal competence C. formal organization D. formal hierarchies 6. Setiap sekolah mempunyai peraturan yang disosialisasikan, misalnya apabila terlambat harus melapor kepada guru piket tergolong dalam…. A. procedural B. rules, regulation C. rules, procedures D. rules, regulation and procedures 7. Mobilitas sosial secara dramatis, dengan adanya karier seseorang itu menanjak atau jatuh, tergolong dalam…. A. intragenerational social mobility B. intergenerational social mobility C. horizontal mobility D. vertical social mobility 8. Ada hubungan antara pendidikan dan mobilitas sosial merupakan pendapat dari…. A. Ivan Reid B. Robert G. Burgess C. Max Webber D. Webb 9. Dalam hubungan mobilitas sosial dengan pendidikan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, kecuali…. A. kesempatan memperoleh pendidikan B. mendapatkan pekerjaan C. mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan D. dana yang disediakan oleh pemerintah 10. Mobilitas sosial ke arah yang lebih baik disebabkan…. A. kurikulum B. pendidikan sekolah yang baik C. pendidikan pada umumnya D. fasilitas yang baik

Sosiologi Pendidikan

3- 21

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 2 (dua) sesuai tujuan pembelajaran sub unit 2 (dua), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus : Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Tingkat penguasaan materi : Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar unit 2 (dua), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

3 - 22 Unit 3

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. D C B A B B C C B A 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Tes Formatif 2 C C B D A D A B D B

Sosiologi Pendidikan

3- 23

Glosarium
: Merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu (kompeten) untuk melakukannya. Mobilitas sosial : Mengacu pada turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang. Prosedur : Langkah-langkah yang harus dilalui Sistem : Keseluruhan yang terdiri dari bagian- bagian. Kesemua bagian itu mempunyai fungsi sendiri-sendiri, tetapi tetap dalam hubungannya dengan bagian-bagian, dalam kegiatannya, bagian-bagian itu memberikan sumbangannya masing-masing terhadap tercapainya tujuan. Tujuan Institusional : Tujuan yang ingin dicapai dari setiap lembaga pendidikan Birokrasi

3 - 24 Unit 3

Daftar Pustaka

Ary H. Gunawan. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. H. Aswandi Bahar. 1989. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikti. Kompas, 28 Agustus 2007. Suasana Belajar di D Inpres Poepe Merauke. Hlm, 12. Sutjipto dan Basori Mukti. 1991/1992. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti. W.S. Winkel. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.

Sosiologi Pendidikan

3- 25

Unit

4

SEKOLAH DAN DUNIA KERJA

U

nit 4 (empat) ini mengajak Anda mengkaji tentang sekolah dan dunia kerja. Materi ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan, pemahaman sebagai landasan untuk melaksanakan tugas sebagai guru yang profesional dan dapat mensosialisasikan tentang pentingnya sekolah berkaitan dengan dunia kerja. Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat : 1. Menjelaskan bahwa pendidikan mengakibatkan perbedaan status 2. Mendeskripsikan peningkatan taraf hidup melalui pendidikan 3. Mendeskripsikan dimensi psikologis orang bekerja 4. Mendeskripsikan sekolah dan hasil yang dicapai

Materi ini merupakan kelanjutan dari bahan unit 3 (tiga) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikut tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas. Agar Anda dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain antara lain seperti web-site. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

Sosiologi Pendidikan

4- 1

Sekolah Dan Dunia Kerja

Pengantar ekolah dan dunia kerja merupakan materi yang harus dikuasai agar calon guru/guru memiliki wawasan yang luas untuk membentuk profesionalisme seorang guru, agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya secara baik. Materi ini mencakup: Pendidikan mengakibatkan perbedaan status Peningkatan taraf hidup melalui pendidikan Dimensi psikologis orang bekerja Sekolah dan hasil yang dicapai

S

Bacalah dan kaji dengan cermat media cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan soal tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

Uraian A. Pendidikan Mengakibatkan Perbedaan Status
Apakah perbedaan status itu? Untuk menjawab hal ini perlu lebih dahulu mengetahui tentang apa yang dimaksud status. Menurut Roucek Weren dalam Ary H. Gunawan, (2000:40) bahwa status sebagai berikut : 1) status ialah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial; 2) status sosial ialah posisi seseorang dalam masyarakat. Dari uraian tersebut menggambarkan status sosial antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Perbedaan ada dalam suatu kelompok sosial tertentu dan perbedaan dalam masyarakat. Menurut Karsidi (2007:185) disebutkan bahwa: “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”. Memperjelas pendapat tersebut juga disebutkan bahwa pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Jenis pekerjaan yang kasar yang berpenghasilan bailk sukar diperoleh tanpa seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada prinsipnya pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan status seseorang.

4 - 2 Unit 4

Dari 3 (tiga) jalur pendidikan mulai dari informal, formal dan non formal, yang lebih menjanjikan adalah, jalur non formal dan formal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu. Untuk memperoleh status sosial menurut Ralph Linton dalam Gunawan (2000:42) ada dua macam yaitu : 1) ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misalnya dalam sistem kasta seorang anak sudra, langsung saja sejak lahir ia berstatus kasta sudra. Seorang anak raja langsung menjadi bangsawan; 2) achieved status, ialah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana untuk lulusan S1, magister lulusan S2, dan doktor untuk lulusan S3 dan seterusnya. Menurut pendapat Ralph Linton untuk butir kesatu yaitu ascribed status, bahwa status dapat diperoleh dengan adanya kelahiran seseorang atau dengan sendirinya tergantung dari status orang tua. Sedangkan achieved status dapat diperoleh melalui usaha yaitu dengan menempuh pendidikan tertentu. Lebih lanjut menurut Mayor Polak dalam Gunawan, (2000:42) selain status yang diutarakan Ralph Linton masih ditambah dengan Assigned status yaitu status diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya dapat status “putra mahkota” karena berjasa menyembuhkan penyakit sang raja atau seorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara. Berkaitan dengan masalah pendidikan yang mengakibatkan perubahan status, maka dari pendapat di atas yang paling cocok adalah achieved status jadi melalui pendidikan seseorang akan mengakibatkan perbedaan status. Apabila pendidikannya tinggi maka statusnya akan tinggi sebaliknya apabila pendidikannya rendah maka statusnya juga akan rendah. Dampak pendidikan memang besar dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan statusnya. Memperhatikan salah satu fungsi pendidikan adalah proses seleksi terjadi di segala bidang kehidupan baik di sekolah maupun di tempat-tempat kerja. Untuk masuk sekolah terjadi seleksi antara semua calon. Maksud seleksi tentu untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam mencari pekerjaan atau untuk memangku suatu jabatan diperlukan juga seleksi tujuannya untuk memperoleh penghargaan dan dapat meningkatkan tenaga kerja yang cakap dan trampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya.

Sosiologi Pendidikan

4- 3

Sekolah juga sebagai lembaga yang berfungsi melatih dan mengembangkan tenaga kerja. Sekolah mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas, disiplin sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga status sosialnya berubah. Menurut Syuhada (1988:126-131) Kebutuhan masyarakat akan pendidikan sangat penting sehingga dalam mengembangkan pendidikan perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat Dewasa ini semakin dirasakan bahwa pendidikan belum menjawab kebutuhan masyarakat, sebab upaya-upaya pendidikan belum terkait secara nyata dengan lapangan kerja dalam masyarakat. Para pelajar, mahasiswa memasuki sekolah dan perguruan tinggi tanpa pemahaman yang jelas. Kebanyakan karena ikut-ikutan teman juga keinginan orang tua. Dampak negatif dari kesenjangan itu, banyak/tidak sedikit tamatan sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa menganggur atau memasuki lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Seharusnya diusahakan pendidikan itu dikembangkan ke arah pemenuhan kebutuhan masyarakat. Barangkali pernah mendengar konsep link and match yang dikembangkan dalam sekolah-sekolah kejuruan di mana diharapkan para lulusannya dapat langsung diserap dalam dunia kerja. Sebenarnya ide ini didasarkan kepada pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 2. Panduan pendidikan dan latihan Sebagian masyarakat telah menyadari kekurangan dari pendidikan formal di sekolah, di mana masih terdapat kekurangan-kekurangan. Untuk melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut perlu ada kegiatan pendidikan dan latihan di masyarakat. Sekarang ini memang sudah banyak pusat-pusat pendidikan dan latihan akan tetapi out-putnya juga mengalami kondisi seperti dalam pendidikan formal. Mengapa keadaan seperti ini terjadi? Hal tersebut terjadi sebab peserta pendidikan dan latihan tidak memahami kegiatankegiatan yang diikuti. Akibatnya begitu selesai mengikuti kegiatan tidak bisa bekerja. Kondisi seperti ini menimbulkan kekecewaan dalam masyarakat. Kekecewaan seperti itu dapat dihindari sekurang-kurangnya apabila pihak yang berkompeten baik pemerintah maupun swasta secara terbuka memberikan informasi yang jelas tentang lembaga-lembaga pendidikan dan latihan yang diselenggarakan kepada masyarakat luas baik lewat media massa maupun lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya.

4 - 4 Unit 4

Kegunaan panduan pendidikan dan latihan itu antara lain: a. Sebagai sumber informasi bagi keluarga-keluarga yang diantara anggota keluarganya akan atau sedang memasuki suatu jenjang pendidikan dan latihan, guna memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada yang bersangkutan. b. Sebagai sumber informasi bagi para guru dan pembimbing di sekolahsekolah untuk mengarahkan siswanya memilih pendidikan dan latihan yang sesuai. c. Sebagai sumber informasi bagi guru dan pembimbing di sekolah-sekolah dalam rangka pemilihan studi lanjut yang sesuai dengan keadaan pribadi siswa. d. Sebagai sumber informasi bagi para perencana pendidikan dan latihan dalam mengembangkan program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. e. Sebagai sumber informasi bagi para pemilik lapangan pekerjaan dalam merekrut tenaga yang tersedia. Berkaitan dengan lapangan pekerjaan perlu adanya upaya antara lain : 1) Informasi lapangan kerja Dewasa ini sebagian besar masyarakat, terutama pencari kerja hanyalah memperoleh informasi melalui mereka yang telah bekerja. Informasi yang diperoleh tidak memadai, sebab sumber informasinya terbatas. Bahkan tidak jarang tertipu oleh para calo pencari lapangan kerja yang tidak bertanggung jawab. Keadaan seperti diuraikan di atas dapat diatasi atau dikurangi apabila informasi lapangan kerja disampaikan kepada masyarakat secara serius dan transparan. Data-data tentang lapangan pekerjaan disosialisasikan melalui instansi pemerintah yang terkait, sehingga tidak menyesatkan masyarakat pencari kerja. Upaya memasyarakatkan lapangan pekerjaan itu dapat disampaikan melalui sekolah-sekolah, dan lembaga-lembaga kursus, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Pendidikan. Informasi tentang lapangan pekerjaan itu diperlukan oleh masyarakat luas, bukan hanya pencari kerja, hal ini disebabkan informasi tentang lapangan pekerjaan penting dalam : a. Rujukan perencanaan pendidikan dan latihan b. Rujukan bagi lembaga-lembaga penempatan kerja

Sosiologi Pendidikan

4- 5

c. Rujukan bagi lembaga-lembaga bimbingan karier d. Pengembangan dan perencanaan berbagai bidang sosial ekonomi. 2) Layanan kesehatan mental masyarakat Masyarakat Indonesia sedang mengalami masa transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Di dalam proses transisi itu nilai-nilai lama mulai ditinggalkan sedang nilai-nilai baru belum dikuasai. Dampaknya sebagian masyarakat mengalami gangguan kesehatan mental. Gejala-gejala gangguan mental itu antara lain: a. Produktivitas kerja rendah b. Disiplin merosot c. Penyalahgunaan jabatan meningkat d. Penggunaan obat-obatan, Narkoba meningkat e. Angka perceraian meningkat f. Angka putus sekolah meningkat g. Angka kriminalitas meningkat Pemerintah perlu mengembangkan program rehabilitasi kesehatan mental secara nasional untuk memperbaiki mental masyarakat yang sudah terganggu itu. Apabila mentalitas yang terganggu ini direhabilitasi baru dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena peranan pendidikan dapat meningkatkan status seseorang maka program pendidikan perlu direncanakan atau didesain sehingga dapat menjawab kebutuhan dari masyarakat, baik ditinjau dari lingkungan masyarakat yang sempit maupun masyarakat secara luas. Dalam menyelenggarakan pendidikan (sekolah) banyak kendala yang dihadapi antara lian dana terbatas, sarana kurang memadai dan adanya drop out (DO). Drop out adalah dimana anak didik tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang berikutnya. Contoh anak tidak dapat menyelesaikan jenjang sekolah dasar karena pada kelas IV (empat) terpaksa keluar karena sesuatu hal misalnya menyangkut biaya sekolah walaupun sebenarnya di jenjang sekolah dasar bebas SPP (uang sekolah). Masalah putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah, kemudian tidak bekerja atau berpenghasilan tetap, merupakan beban masyarakat. Bahkan sering menjadi pengganggu ketentraman masyarakat. Hal ini diakibatkan

4 - 6 Unit 4

kurangnya pendidikan atau pengalaman intelektual, serta kurangnya ketrampilan yang dapat menopang kehidupan sehari-hari. Lebih-lebih bila mengalami frustasi dan rendah diri, bisa menimbulkan gangguan-gangguan masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang tertentangan dengan norma-norma sosial yang positif. Putus sekolah bisa menimbulkan akibat negatif dalam masyarakat, untuk itu penanganannya menjadi tugas peran pendidik pada umumnya. Ada beberapa langkah penanganannya menurut Gunawan (2000:72) ada 3 (tiga) langkah yang dapat didahulukan yaitu: a. Langkah preventif, membekali para peserta didik dengan ketrampilanketrampilan praktis yang bermanfaat sejak dini, agar kelak bisa diperlukan dapat merespon tantangan-tantangan hidup dalam masyarakat secara positif, sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban masyarakat atau parasit masyarakat. Misalnya antar lain ketrampilan kerajinan, jasa, perbengkelan, elektronika, fotografi, batik, menjahit. b. Langkah pembinaan : memberikan pengetahuan-pengetahuan praktis yang mengikuti perkembangan/pembaharuan, melalui bimbingan dan latihanlatihan dalam lembaga pendidikan luar sekolah misalnya antara lain kelompok Capi, karang taruna, LKMD. c. Langkah tindak lanjut : memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk fasilitas-fasilitas penunjang sesuai kemampuan masyarakat, termasuk membina hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Misalnya melalui koperasi dengan berbagai kredit (kredit condak kulak/KCK). Dengan keragaman anak yang sudah terlanjur Drop out dapat memberikan jalan keluar kepada anak menyangkut bekal pendidikan, agar dapat mandiri, tidak menimbulkan masalah di masyarakat dan selanjutnya status sosialnya tidak rendah.

Sosiologi Pendidikan

4- 7

B. Peningkatan Taraf Hidup Melalui Pendidikan
Menurut Clark dalam Karsidi (2007:185) disebutkan buku yang berjudul “ An Investment in People, dinyatakan experiment in low-income communities show cleary that education can be used to help people obtain a higher standard of living through their own efforts”. Dari pernyataan itu menunjukkan bahwa pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri. Penegasan ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap masyarakat yang berpenghasilan rendah. Hal ini mudah dipahami sebab dengan modal pengetahuan yang mantap dan terlebih lagi cara sengaja materi yang berhubungan dengan masalah ekonomi mendapat tekanan yang lebih berat, maka out put dari pendidikan dapat berusaha lebih baik dalam menghadapi segala persoalan tentang kesejahteraannya. Sebaliknya perkembangan ekonomi juga dapat membantu peran pendidikan, dengan meningkatnya ekonomi baik masyarakat sekitar maupun nasional berarti kekuatan untuk memikul biaya pendidikan semakin besar. Hal ini bisa dilakukan melalui pajak yang diperoleh maupun bantuan langsung dari masyarakat baik secara lingkup sempit ataupun lingkup secara luas. Keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan tingkat ekonomi atau hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat sosial ekonomi seseorang digambarkan oleh Clark (1944) dalam Karsidi (2007:186) sebagai berikut: 1. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin tinggi penghasilannya (tamatan sekolah dasar maksimal antara empat dan lima ribu dolar setahun; tingkat sekolah menengah atas maksimal antara lima dan enam ribu dolar setahun dan tingkat perguruan tinggi maksimal antara depalan dan sembilan ribu dolar setahun). 2. Tamatan sekolah dasar (atau sekolah menengah pertama) akan mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 25-34 tahun; tamatan sekolah menengah atas akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun dan tamatan perguruan tinggi akan mendapat hasil maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun. 3. Tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada usia tua mendapat hasil lebih rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan sekolah menengah atas pada usia mendapat hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan perguruan tinggi pada usia tua mendapat hasil yang lebih besar ketika mereka mulai bekerja.

4 - 8 Unit 4

Dari rumusan Clark (1944) tersebut menurut Ravik dinyatakan tidak terjadi secara mutlak, penyimpangan tentu ada dalam masalah sosial. Berkaitan dengan masalah ekonomi dan pendidikan sebelumnya telah disadari sebagian penduduk Indonesia, ini terbukti adanya sebagian warga Jakarta yang melakukan demonstrasi di Istana Presiden dan Departemen Pendidikan Nasional dari yang menyebut Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK); Posko Perjuangan Rakyat Miskin; Jaringan nasional Perempuan Mahardita; Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia; Liga Mahasiswa Nasional untuk demokrasi; dan Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia; Rabu 28 Agustus menuntut akses pendidikan murah tetapi berkualitas dengan tuntutan pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) (Kompas, 2007:12). Mereka beranggapan apabila anggaran pendidikan tidak memadai maka rakyat miskin tidak dapat keluar dari kemiskinan. Sesuai pendapat tersebut di atas dan kejadian pada 28 Agustus di Istana Presiden dan Departemen Pendidikan Nasional memberikan gambaran yang jelas keterkaitan antara masalah pendidikan dengan sosial ekonomi baik lingkup kecil (keluarga) maupun lingkup luas (masyarakat serta negara).

Sosiologi Pendidikan

4- 9

C. Dimensi Psikologis Orang Bekerja
Apabila ada orang bertanya apa yang mendasari orang bekerja? Tentu argumentasi masing-masing orang berbeda-beda. Tetapi suatu alasan yang dapat diterima secara umum bahwa orang bekerja adalah untuk hidup. Pada zaman sekarang ini di mana tingkat teknologi telah berkembang sedemikian rupa dapat dikatakan bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar. Pendapat St Paul dalam Bahar (1989:49) yang berbunyi : “anyone who would not work should not eat” artinya orang-orang yang tidak mau bekerja jangan makan. Pendapat ini mengingatkan bahwa bekerja merupakan suatu kewajiban yang patut dilakukan oleh individu agar terpenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi masyarakat yang sudah kehidupan ekonominya sudah mapan orientasi bekerjanya sudah berbeda. Orang bekerja bukan hanya untuk memenuhi kemauan dan kebutuhan hidup seperti makanan, pakaian, perumahan, mobil dan lainnya untuk dirinya tetapi ada hal yang ingin ia lakukan kepada orang lain yaitu “a sense of social service”, rasa ingin menolong orang lain. Di sini orang yang bekerja merasa puas sebab dapat menolong orang lain dalam kariernya. Kondisi ini akhirnya melahirkan dampak negatif bagi orang yang bekerja di mana ada kecenderungan bekerja terus tanpa rileks. Apabila orang itu tidak bekerja dia akan merasa bersalah dan gelisah. Para ahli psikologi menyebut orang-orang yang gelisah karena tidak bekerja ini dengan “Sunday Neurosis”. Tipe orang ini adalah tipe orang yang selalu bekerja gigih dan telah menjadi kebiasaan atau bekerja telah menjadi bahagian dari hidupnya. Tipe orang-orang yang selalu bekerja gigih dengan semangat kerja yang tinggi disebut “workaholic”, (Bahar, 1989:62). Hakekat bekerja dewasa ini dalam masyarakat ekonomi industri bahwa bekerja itu diukur dengan uang atau dianggap sebagai mesin, maka sulit bagi pekerja dalam memenuhi kebutuhan psikologis mereka. Kebutuhan psikologi yang perlu dipenuhi oleh orang yang bekerja adalah kepuasan. Biasanya orang akan merasa puas atas kerja yang telah atau sedang ia jalankan, apabila ada yang ia kerjakan itu dianggapnya telah memenuhi harapannya, sesuai dengan tujuan ia bekerja. Bagi sementara orang, kerja merupakan sarana untuk menuju ke arah terpenuhinya kepuasan pribadi dengan jalan memperoleh kekuasaan dan menggunakan kekuasaan itu terhadap orang lain. Pada pokoknya, kerja itu merupakan aktivitas yang memungkinkan terwujudnya kehidupan sosial dan persahabatan (Bahar, 1989:62).

4 - 10 Unit 4

Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dirasakannya. Kepuasan kerja merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk di dalamnya masalah upah, kondisi sosial, kondisi fisik dan kondisi psikologis. Berkaitan dengan prinsip orang bekerja menurut Bahar (1989:50) orang Arab mengungkapkan : “Bekerjalah engkau sedemikian rupa seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramalah (beribadatlah) dengan khusuknya seolaholah engkau akan meninggal esok harinya”. Orang Amerika memiliki etik kerja : “Who trough hard work and dedication had achieved fame and fortune, siapa yang selalu bekerja keras dan penuh dedikasi dia akan mencapai nasib baik dan keberuntungan”. Dari uraian tersebut di atas menggambarkan bahwa orang Arab hendaknya bekerja keras seolah-olah akan hidup selamanya dan berbuat baiklah atau beramal baik seolah-olah besok hari akan meninggal. Jadi selain bekerja keras juga berbuat baik atau beramal baik untuk bekal apabila meninggal. Sedangkan orang Amerika menghendaki orang bekerja keras dan berdedikasi (pengabdian) agar orang akan mencapai nasib baik dan memperoleh keberuntungan. Sedangkan pendapat Miller dan Form dalam Anoraga (2001:14) bahwa: “motivasi untuk bekerja tidak dapat dikaitkan hanya pada kebutuhan-kebutuhan ekonomis belaka, sebab orang tetap akan bekerja walaupun mereka sudah tidak membutuhkan hal-hal yang bersifat materiil”. Jadi walaupun keadaan sosial ekonomis sudah mapan, tetap orang melakukan kegiatan kerja. Pandangan mengenai kerja menurut Anoraga (2001:14-15) bahwa: 1. Kerja merupakan bagian paling mendasar/esensial dari kehidupan manusia. Sebagai bagian paling dasar, dia akan memberi status dari masyarakat yang ada di lingkungan juga bisa mengikat individu lain baik yang bekerja atau tidak, sehingga kerja akan memberi isi dan makna dari kehidupan manusia yang bersangkutan. 2. Baik pria maupun wanita menyukai pekerjaan, kalaupun orang tersebut akhirnya tidak menyukai pekerjaan, hal ini biasanya disebabkan kondisi psikologis dan sosial dari pekerjaan itu. 3. Moral dari pekerja tidak mempunyai hubungan langsung dengan kondisi material yang menyangkut pekerjaan tersebut.

Sosiologi Pendidikan

4- 11

4. Inisiatif dari kerja banyak bentuk dan tidak selalu tergantung pada uang. Insentif ini adalah hal-hal yang mendorong tenaga kerja untuk bekerja lebih giat! Biasanya orang akan merasa puas atas kerja yang telah atau ia jalankan apabila apa yang ia kerjakan itu dianggapnya telah memenuhi harapannya, sesuai dengan tujuan bekerja.

D. Sekolah Dan Hasil Yang Dicapai di Indonesia
Tujuan didirikannya sekolah menurut Fajar dalam H. R. Syaukani (2002:80) minimal untuk memenuhi tiga hal. Pertama, sebagai sarana implementasi kebijakan pendidikan yang dikembangkan melalui sistem yang berlaku secara nasional; kedua, memenuhi dan mewujudkan pendidikan nasional yang mumpuni secara akademik (bermutu dan bertaraf), dan ketiga, untuk mengembangkan visi dan misi menuju kehidupan modern. Visi pendidikan nasional tercakup dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”; sedangkan misi pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Apakah sekolah telah mencapai hasil sesuai harapan-harapan di atas? Mutu pendidikan dipermasalahkan apabila hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya. Apakah keluaran (output) mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Selalu diperdebatkan apakah ada hubungan antara lama bersekolah dengan hasil belajar yang diperoleh nanti di masyarakat? Jawabannya bahwa ada, sebab bagaimanapun juga orang dapat maju dan berkembang karena adanya pendidikan di sekolah. Banyak orang melihat pendidikan itu sebagai investasi jangka panjang. Bertambah orang bersekolah bertambah banyak dia menanamkan modal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tingkat pendidikan dan golongan pegawai yang baru diangkat mereka yang berijasah: • • • Sekolah Dasar SMTP SMTA/DI diangkat pada golongan diangkat pada golongan diangkat pada golongan Ia Ib II a

4 - 12 Unit 4

• • • • •

Sarjana Muda/DII D III Sarjana (S1) Master (S2) Doktor

diangkat pada golongan diangkat pada golongan diangkat pada golongan diangkat pada golongan diangkat pada golongan

II b II c III a III b III c

Pendidikan di sekolah sebenarnya tidak mempromosikan pangkat dan golongan ini, tetapi karena pendidikan itu merupakan investasi yang berupa sumber daya manusia suatu bangsa. Pendidikan di sekolah mempunyai sumbangasih yang besar terhadap perkembangan masyarakat. Melalui bentuk pendidikan formal, informal dan nonformal, lembaga pendidikan pemerintah, lembaga agama, lembaga non agama dan keluarga semuanya melaksanakan pendidikan. Pendidikan diselenggarakan oleh masing-masing lembaga secara bersama-sama dan terpadu untuk mengubah masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern yang dicita-citakan. Sebagian masyarakat modern memandang lembaga-lembaga pendidikan sebagai pemegang kunci mencapai tujuan yang dicita-citakan. Pendidikan formal disebut juga sekolah. Oleh karena itu sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu (1) sebagai partner masyarakat, dan (2) sebagai penghasil tenaga kerja. Menurut Bahar (1989:53) pendidikan diartikan sebagai senjata yang paling ampuh dalam rangka mengurangi kemelaratan dan kemiskinan. Sebab orang yang berpendidikan akan lebih banyak menghasilkan income dari pada orang yang tidak berpendidikan. Jadi apabila akan mengurangi kemiskinan maka dapat ditempuh dengan meningkatkan partisipasi masyarakat agar memperoleh pendidikan yang semakin tinggi. Dengan pendidikan orang akan mendapatkan ketrampilan dan pengetahuan dan sikap sehingga setelah bekerja dapat mengembangkan kemampuan yang semakin tinggi hasil yang akan diperoleh akan semakin tinggi. Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar unit 4 (empat), tentu Anda telah menguasai uraian di atas, untuk mengetahui pemahaman Anda, marilah kita kerjakan latihan soal berikut ini.

Sosiologi Pendidikan

4- 13

Latihan
1. Jelaskan apa yang dimaksud status! 2. Jelaskan apa yang dimaksud Achieved status! 3. Jelaskan hubungan antara pendidikan dengan kemiskinan!

Rambu-rambu jawaban latihan
1. Status adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial 2. Achieved status adalah kedudukan status yang dicapai seseorang dengan sengaja, misalnya melalui menempuh pendidikan tertentu. 3. Bahwa dengan pendidikan adalah merupakan senjata yang paling ampuh dalam pengurangan kemiskinan dan kemelaratan.

Rangkuman
Status sosial adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial Untuk memperoleh status menurut Ralph Linton adalah melalui dengan sendirinya melalui kelahiran seseorang, melalui usaha atau sengaja. Dalam mengembangkan pendidikan perlu memperhatikan: 1. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat 2. Panduan pendidikan dan latihan Prinsip bekerja orang Arab : bekerjalah engkau sedemikian rupa seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramallah dengan khusuk seolah-olah engkau akan meninggal esok harinya. Prinsip bekerja orang Amerika : siapa yang selalu bekerja keras dan penuh dedikasi dia akan mencapai nasib baik dan keberuntungan. Pendidikan adalah merupakan senjata yang paling ampuh dalam mengurangi kemelaratan dan kemiskinan. Orang yang berpendidikan akan lebih banyak menghasilkan income (pendapatan) dari pada yang tidak berpendidikan.

4 - 14 Unit 4

Tes formatif
Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan. 1. Status sosial seseorang dapat diperoleh melalui, kecuali…. A. usaha dengan sengaja melalui pendidikan B. keturunan C. membeli dengan sejumlah uang D. memiliki jasa yang besar 2. Panduan pendidikan dan latihan kerja memiliki manfaat, kecuali…. A. sumber informasi bagi keluarga B. sumber informasi bagi guru dan pembimbing di sekolah C. sumber informasi bagi perencana pendidikan dan latihan D. sebagai kriteria formalitas 3. Lembaga pendidikan sekolah merupakan tempat, kecuali…. A. latihan bekerja B. belajar patuh peraturan C. mencari nafkah D. mendewasakan anak 4. Pendapat yang menyatakan bahwa orang-orang yang tidak mau bekerja jangan makan merupakan pendapat…. A. St. Paul B. H. Aswandi Bahar C. Ralph Linton D. Ary H. Gunawan 5. Motivasi untuk bekerja tidak dapat dikaitkan hanya pada kebutuhan-kebutuhan ekonomi belaka, sebab orang tetap akan bekerja walaupun mereka sudah tidak membutuhkan hal-hal yang bersifat materiil, ini pendapat dari …. A. Ralph Linton B. Miller dan Form C. H. Aswandi Bahar D. Ary H. Gunawan 6. Merupakan unsur-unsur prinsip kerja orang Amerika, kecuali…. A. kerja keras B. berdedikasi C. beramal baik D. untuk memperoleh keberuntungan

Sosiologi Pendidikan

4- 15

7. Unsur-unsur prinsip kerja orang Arab, kecuali…. A. kerja keras B. berdedikasi C. mengerjakan amal baik D. hidup selamanya 8. Ternyata yang dapat memotivasi orang bekerja itu tidak hanya sekedar memperoleh uang, pendapat dari…. A. Miller dan Form B. Ary H. Gunawan C. Pandji Anoraga D. H. Aswandi Bahar 9. Pandangan orang melakukan pekerjaan menurut Pandji Anoraga, kecuali…. A. kerja berhubungan langsung dengan makan B. kerja merupakan bagian paling mendasar dari kehidupan C. baik pria dan wanita menyukai pekerjaan, kalaupun tidak disebabkan kondisi psikologis dan sosial pekerjaan itu D. moral dari pekerja tidak mempunyai hubungan langsung dengan kondisi material 10. Mencerdaskan kehidupan bangsa yang tercantum dalam UUD 1945 merupakan…. A. visi pendidikan nasional B. misi pendidikan nasional C. tujuan pendidikan nasional D. fungsi pendidikan nasional

4 - 16 Unit 4

PENUTUP
Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan unit 4 (empat) sesuai tujuan pembelajaran unit 4 (empat), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus : Rumus: Tingkat penguasaan materi : Jumlah jawaban Anda yang benar x 100 % Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar unit 4 (empat), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

Sosiologi Pendidikan

4- 17

Kunci Jawaban

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

C D C A B C B C A A

4 - 18 Unit 4

Unit

5

PERAN SOSIAL GURU TERHADAP SEKOLAH, MASYARAKAT, MURID, ORANG TUA MURID DAN GURU LAIN
EDDY TUKIDJAN

Pendahuluan
nit 5 (lima) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang Guru dan Peranan Sosialnya. Materi ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan berkaitan dengan guru dan peranan sosialnya. Hal-hal tersebut berkaitan erat dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan guru di sekolah, guru di masyarakat, hubungan guru-murid, hubungan guru dengan orang tua murid. Setelah mempelajari materi ini Anda diharapkan dapat: 1. Menjelaskan pengertian peran sosial guru. 2. Mendeskripsikan peran sosial guru di sekolah. 3. Mendeskripsikan peran sosial guru di masyarakat. 4. Mendeskripsikan peran sosial guru dengan murid. 5. Mendeskripsikan peran sosial guru dengan orang tua murid. 6. Mendeskripsikan peran guru terhadap guru lain Materi ini merupakan lanjutan dari bahan unit 4 (empat) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikutnya tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas. Anda dapat menguasai dan memahami materi unit ini, disiplin yang tinggi baik dalam waktu belajar maupun dalam mengikuti semua petunjuk akan sangat menentukan keberhasilan Anda. Tidak ada yang sukar dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain seperti web-site, video. Anda pasti berhasil selamat belajar.

U

Sosiologi Pendidikan

5- 1

Peran Sosial Guru Terhadap Sekolah, Masyarakat, Murid, Orang Tua Murid Dan Guru Lain

Pengantar
Bagian unit 4 (empat) ini membahas tentang : 1. Peran sosial guru. 2. Peran sosial guru di sekolah 3. Peran sosial guru di masyarakat 4. Peran sosial guru terhadap murid 5. Peran sosial guru terhadap orang tua murid 6. Peran sosial guru terhadap guru lain Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat: 1. Menjelaskan pengertian peran sosial guru 2. Mendeskripsikan peran sosial guru di sekolah 3. Mendeskripsikan peran sosial guru di masyarakat 4. Mendeskripsikan peran sosial guru terhadap murid 5. Mendeskripsikan peran sosial guru terhadap orang tua murid. 6. Mendeskripsikan peran sosial guru terhadap guru lain

Uraian A. Pengertian Peran Sosial Guru
Guru itu siapa? Guru adalah pendidik dan pengajar di sekolah, secara lebih rinci pengertian guru sebagai berikut: Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional 1989 Pasal 27 ayat 3 (tiga) dinyatakan bahwa guru ialah tenaga pengajar yang merupakan tenaga pendidik khusus diangkat dengan tugas utama mengajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Menurut UU nomor 20 tahun 2003 pasal 39 ayat 3 (tiga) disebutkan pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen. Sedangkan menurut UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 2 (dua) ayat 1 (satu) guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan

5 - 2 Unit 5

pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menurut UU Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 kompetensi tenaga kependidikan sebagai agen pembelajaran. Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak dini meliputi : a. kompetensi pedagogik; b. kompetensi kepribadian; c. kompetensi profesional; dan d. kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik berkaitan dengan kependidikannya, maksudnya hal-hal yang berkaitan dengan kependidikan telah menjadi bagian dari penguasaan kemampuannya, baik secara teori maupun praktek. Kompetensi kepribadian adalah sebagai seorang pendidik harus memiliki kepribadian yang mendukung bidang kependidikannya. Kepribadian terbentuk selain berasal dari pembaruan juga merupakan hasil dari pembinaan setelah menyelesaikan pendidikannya atau pada saat pendidik telah berperan sebagai tenaga kependidikan. Kompetensi profesional berkaitan dengan keahliannya memerlukan pembinaan yang cukup lama misalnya jenjang DII minimal 2 tahun; jenjang DIII minimal 3 tahun; dan jenjang S1 minimal 4 tahun, jenjang S2 minimal 6 tahun. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berperan sebagai anggota kelompok sosial. Untuk itu seorang guru harus dapat berhubungan sosial dengan murid, dengan sesama guru, dengan kepala sekolah (stakeholder), dengan orang tua murid dengan masyarakat secara luas. Menurut Bahar (1989:148) peran sosial adalah pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dan dipegang teguh oleh masyarakat tersebut. Dari beberapa pendapat tersebut di atas bahwa guru adalah pendidik dan pengajar di sekolah dasar dan menengah, bahkan menurut undang-undang guru dan dosen lebih rinci disebutkan sebagai tenaga profesional selain di sekolah dasar, sekolah menengah dan pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jadi peranan guru yang diharapkan oleh masyarakat selain mendidik dan mengajar di lembaga sekolah, masih ada peran-peran yang lain misalnya sebagai seorang istri/suami; ibu; pekerja rumah tangga, mahasiswa, pejabat, anggota klub olah raga, anggota klub kesenian dan lain sebagainya.

Sosiologi Pendidikan

5- 3

B. Peran Sosial Guru di Sekolah
Di sekolah guru-guru memainkan peran berkenaan dengan murid, pegawai administrasi, sebagai teman sesama guru. Menurut Cole S. Brembeck dalam Bahar (1989:148-149) peran sosial guru di sekolah berkaitan murid; 1) sebagai alat peraga; 2) sebagai penguji; 3) sebagai orang yang berdisiplin; 4) sebagai orang kepercayaan; 5) sebagai pengenal kebudayaan; 6) pengganti orang tua; 7) sebagai penasehat siswa berkaitan dengan antar sesama guru dan pegawai; 8) sebagai teman bekerja; 9) sebagai orang ahli/profesional; 10) sebagai pegawai; 11) sebagai bawahan; 12) sebagai penasehat/konsultan. 1. Guru sebagai alat peraga Ini merupakan istilah yang digunakan oleh Bahar, sebab guru-guru berada diantara murid dan mata pelajaran. Istilah ini menurut para ahli media bukan sebagai alat peraga, melainkan sebagai media. Pengertian alat peraga dengan media berbeda, media lebih luas dibandingkan hanya sekedar alat peraga. Sebagai media maka guru agar dapat berperan dengan baik, maka harus memiliki antara lain : penguasaan materi, kurikulum yang dipakai, metode pembelajaran, ilmu jiwa belajar, hukum belajar mengajar dan lainlain. 2. Guru sebagai penguji Guru sebagai penguji maksudnya adalah melakukan penilaian atau evaluasi terhadap perkembangan hasil belajar murid-muridnya. Menurut pasal 58 ayat 1 (satu) UU nomor 20 tahun 20003 disebutkan : evaluasi belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Sedangkan menurut undang-undang guru dan dosen UU RI nomor 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Lebih lanjut menurut Kompas tanggal 16 April 2007 disebutkan : “…Prosedur operasional standar UN 2007 menetapkan, kelulusan siswa harus dibicarakan dalam rapat dewan guru” dari beberapa ketentuan di atas menunjukkan bahwa guru melaksanakan evaluasi terhadap peserta didik untuk memantau proses, kemajuan dan perbaikan hasil belajar bahkan guru-guru berperan menentukan kelulusan murid-muridnya.

5 - 4 Unit 5

3. Guru sebagai orang yang berdisiplin Disiplin berasal dari bahasa Yunani “disciplus” yang berarti murid atau pengikut seorang guru (Engkoswara, 1972:63) seorang murid atau pengikut harus tunduk kepada peraturan, kepada Otoritas gurunya, sedangkan guru harus dapat diikuti muridnya, dengan kata lain seorang guru sebagai pemimpin di sekolah harus memiliki dan dapat berdisiplin sehingga menjadi tauladan dalam menegakkan kedisiplinan. 4. Guru sebagai orang kepercayaan Seorang guru di sekolah hendaknya menjadi orang yang dapat dipercaya, baik dari kata-kata maupun perbuatannya hendaknya dapat dipercaya oleh murid-muridnya maupun kepada siapa saja yang ada di sekolah. 5. Guru sebagai pengenal kebudayaan Berkaitan dengan kebudayaan, guru diharapkan dapat memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat. Nilai-nilai dan norma-norma budaya dari masyarakat seluruhnya atau masyarakat luas, hal-hal yang mempunyai nilai tinggi dan dijunjung tinggi hendaknya ditanamkan, dijaga keberadaannya. 6. Guru sebagai pengganti orang tua Di sekolah guru-guru dapat memainkan peranan sebagai pengganti orang tua atau dengan kata lain guru adalah orang tua di sekolah. Sehingga segala sesuatu yang terjadi di sekolah merupakan tanggung jawab guru, dalam hal ini berkaitan dengan kesejahteraan dan keamanan anak-anak baik dalam memperoleh pengetahuan maupun norma-norma lain seperti agama, negara dan masyarakat. 7. Guru sebagai penasehat siswa Sebagai penasehat, memiliki peran membantu siswa dalam perencanaan akademis maupun dalam hal memecahkan masalah-masalah lain yang ada di sekolah. Saat ini peranan tersebut juga dikatakan sebagai pembimbing di sekolah. 8. Guru sebagai teman sekerja Di sekolah peranan guru dengan guru serta dengan pegawai memiliki hubungan profesional, dan dapat dikatakan senasib dan seperjuangan. Walaupun di sekolah ada unsur senioritas , umur, bidang studi, tetapi dalam melaksanakan tugas harus tercipta sebagai teman sekerja, dalam melaksanakan tugas saling bekerja sama dan saling membantu. 9. Guru sebagai orang ahli/profesional

Sosiologi Pendidikan

5- 5

Guru yang ahli/profesional, hendaknya menguasai bidang tugasnya. Berkaitan penguasaan ilmu guru tidak diragukan lagi. Menurut UU nomor 14 tahun 2005 pasal 1 (satu) ayat 4 (empat) disebut profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang guru dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. 10. Guru sebagai pegawai Sebagai seorang pegawai guru juga mendapatkan gaji sebagai seorang pegawai guru terikat dengan peraturan pegawai pada umumnya, sehingga guru selain mendapatkan hak juga memiliki kewajiban sebagai pegawai. 11. Guru sebagai bawahan Dilihat dari struktur di sekolah guru merupakan bawahan dari kepala sekolah, untuk itu sebagai bawahan harus tunduk pada aturan-aturan dari kepala sekolah dengan kata lain guru harus dapat mengikuti ketentuanketentuan dari pimpinan atau kepala sekolah. 12. Guru sebagai penasehat/konsultan Sebagai konsultan/penasehat, maka guru-guru harus dapat berperan menjadi seorang ahli yang mengikuti garis pedoman berkaitan dengan pengembangan program pengajaran. Peran guru tersebut di atas merupakan peran guru di sekolah. Apabila guru dapat mempunyai dan melaksanakan peran-peran itu maka guru memiliki peran sosial di sekolah. Sedangkan peran guru menurut Ki Hadjar Dewantara dalam Eddy Tukidjan (2005:3.37) adalah Tut Wuri Handayani, Ing Ngarsa Sungtulada, Ing Madya Mangun Karsa. Peran tersebut lazim disebut sistem among Ki Hajar Dewantara. 1. Tut Wuri Handayani artinya apabila guru di belakang murid, mengikuti dan terus menerus memberi pengaruh. 2. Ing Ngarsa Sungtulada maksudnya apabila ada di depan, maka harus dapat memberi contoh hal-hal yang baik. 3. Ing Madya Mangun Karsa artinya apabila di tengah-tengah murid harus dapat membangkitkan tekad, kemauan dan tenaga untuk mencapai tujuan pendidikan.

5 - 6 Unit 5

C. Peran Sosial di Masyarakat
Apabila guru telah menyelesaikan tugasnya di sekolah, guru pulang ke rumah dan menjadi warga masyarakat. Di masyarakat seorang guru masih juga disebut Bapak atau Ibu guru. Dengan sendirinya guru tidak terlepas dari anggota masyarakat. Masyarakat masih menghendaki guru berperan di lingkungan masyarakat. Menurut Brembeck dalam Bahar (1989:152-153) peran sosial guru di masyarakat adalah : 1) participant/peserta; 2) leader/pemimpin; 3) pembuka jalan; 4) perhatian penuh terhadap anak. 1. Peran sebagai participant/peserta Peran sebagai participant/peserta adalah peranan dari kegiatan yang ada di lingkungan masyarakat. Menurut penelitian C. Buck Roy terhadap 1.100 guru di Pennsylvania Amerika serikat bahwa guru-guru pada umumnya ikut berpartisipasi dalam masyarakat dan sebagai partisipant penuh. Artinya guru berada posisi rangking tinggi pada aktivitas masyarakat dibandingkan orang-orang yang berkecimpung dalam berdagang (bisnis) dan pejabat lainnya. 4 (empat) dari 5 (lima) guru aktif dalam satu atau dua kegiatan yang 1 ada di masyarakat dan dari jumlah guru adalah aktif dalam semua kegiatan 3 yang ada di masyarakat, dan menghabiskan waktunya 2 jam per minggunya. Di Indonesia belum ada penelitian tentang ini, tetapi berdasarkan pengalaman di lingkungan kita banyak guru yang terlibat dalam kegiatan yang ada di masyarakat. 2. Leader/pemimpin Memang guru tidak dididik sebagai pimpinan masyarakat, tetapi harus dianggap sebagai pemimpin di sekolah, terutama di kelas, maka guru di masyarakat dianggap mampu menjadi pemimpin. Guru di masyarakat kita dianggap sebagai tokoh masyarakat, untuk itu seorang guru di masyarakat harus dapat menempatkan diri sebagaimana mestinya sebab tokoh juga dianggap sebagai pemimpin. 3. Pembuka jalan Karena guru dianggap mempunyai pendidikan yang tinggi dibandingkan masyarakat pada umumnya, maka guru sebagai pembuka jalan terutama dalam pembangunan masyarakat. Selain sebagai pembuka jalan juga sebagai orang yang dapat menjadi tauladan di lingkungannya. 4. Perhatian penuh terhadap anak

Sosiologi Pendidikan

5- 7

Masyarakat berharap agar guru dapat memperhatikan pada anak-anak. Hal ini bisa dilakukan sebab guru sudah dibekali adanya psikologi. Dalam rangka memainkan peranan guru di masyarakat maka guru harus dapat menempatkan diri sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.

D. Peran Sosial Guru Terhadap Murid
Peran sosial guru terhadap murid cukup banyak, selain berperan sebagai pendidik juga sebagai pengajar. Menurut W.F. Connel dalam Parsono dkk (1990:5.33) peran seorang guru (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga. Dari beberapa peran tersebut, berkaitan dengan murid peranannya adalah (1) pendidik, (2) model, (3) pengajar dan pembimbing. Sedangkan peran keempat, kelima, keenam dan ketujuh tidak berkaitan dengan murid. 1. Pendidik Pendidik adalah personnya atau perorangannya, sedangkan mendidik adalah kegiatannya. Pengertian mendidik dimaksudkan usaha yang dengan sengaja diadakan dengan mempergunakan alat pendidikan untuk membantu anak menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab (Bratanata dkk 1973:6). Tujuan dari mendidik adalah membantu anak untuk mencapai manusia dewasa yang bertanggung jawab. Dengan peran untuk pembentukan kedewasaan dan bertanggung jawab, maka seorang guru harus sudah dewasa dan memiliki tanggung jawab. 2. Peran sebagai model Model dimaksudkan sebagai contoh bagi murid-muridnya. Guru sebagai model maka tingkah laku perbuatan, tutur kata hendaknya sesuai dengan norma yang dianut masyarakat, bangsa, dan negara. Karena nilai-nilai dasar negara adalah pancasila, maka tingkah laku guru atau pendidik harus sesuai dengan nilai-nilai pancasila. 3. Pengajar dan Pembimbing Sebagai pengajar, guru melaksanakan tugas mengajar. Yang dimaksudkan dengan pengajaran ialah kegiatan sekolah yang ditujukan pada perkembangan daya intelektual dan penggunaan kecerdasan anak. (S.A. Bratanata dkk. 1973:103).

5 - 8 Unit 5

Jadi sebagai pengajar guru berperan membantu perkembangan intelektual dan kecerdasan murid (anak didik). Sebagai pembimbing artinya orang yang melaksanakan kegiatan bimbingan. Adapun arti bimbingan menurut pasal 25 ayat 1 (satu) PP nomor 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar adalah merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Jadi guru yang berperan sebagai pembimbing adalah guru yang memberikan bantuan kepada murid untuk mengenal dirinya (pribadi), mengenal lingkungannya agar dapat merencanakan masa depan. Sedangkan peran guru menurut Ki Hadjar Dewantara dalam Eddy Tukidjan (2005:3.37) adalah Tut Wuri Handayani, Ing Ngarsa Sungtulada, Ing Madya Mangun Karsa. Peran tersebut lazim disebut sistem among Ki Hajar Dewantara. 4. Tut Wuri Handayani artinya apabila guru di belakang murid, mengikuti dan terus menerus memberi pengaruh. 5. Ing Ngarsa Sungtulada maksudnya apabila ada di depan, maka harus dapat memberi contoh hal-hal yang baik. 6. Ing Madya Mangun Karsa artinya apabila di tengah-tengah murid harus dapat membangkitkan tekad, kemauan dan tenaga untuk mencapai tujuan pendidikan.

E. Peran Sosial Guru Terhadap Orang Tua Murid
Bahwa tugas guru di sekolah selain berkaitan dengan mendidik, juga berkaitan dengan mengajar. Sedangkan peran orang tua murid terhadap anaknya (peserta didik) berkaitan dengan pendidikan. Jadi antara guru dan orang tua murid ada peran yang sama yaitu dalam hal pendidikan atau pada bagian depan dikatakan berperan pembentukan kepribadian yang mengarah kedewasaan. Guru di sekolah bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan, sedangkan orang tua berusaha untuk membantu terselenggaranya pendidikan anaknya di sekolah. Peran guru di sekolah melanjutkan pendidikan yang diselenggarakan oleh orang tua, sehingga guru di sekolah adalah berperan mengganti peran pendidikan yang dilakukan orang tua atau dengan kata lain guru sebagai pengganti orang tua di sekolah. Peran guru yang berbeda dengan orang tua adalah mengajar atau pada penjelasan bagian depan disebut pembentukan intelektual atau kecakapan. Guru di sekolah bertanggung jawab tentang pengajaran (mengajar) dan dari usaha

Sosiologi Pendidikan

5- 9

tersebut diharapkan terbentuk gejala intelektual atau menjadi cakap. Dari hasil mengajar guru berkaitan dengan pembentukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor (Dimyati dan Mudjiono, 1999:26-29). Dari upaya guru mengajar dan mendidik di sekolah, guru secara periodik (misalnya semester) memberikan laporan tentang hasil yang telah dicapai oleh peserta didik, dalam bentuk nilai raport atau nilai ujian yang telah diperoleh. Nilai-nilai tersebut dapat memberikan gambaran kemajuan belajar anak berkat penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran guru di sekolah. Agar supaya hasil yang dicapai oleh murid-murid mendapat predikat maksimal maka guru-guru dengan orang tua murid perlu menjalin kerjasama yang baik untuk merealisasikan kerjasama antara guru dan orang tua murid dapat ditempuh melalui komunikasi yang intensif dari berbagai kesempatan, misalnya pada pembagian raport atau kelulusan, melalui organisasi yang dibentuk berdasarkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 56 ayat 3 yaitu komite sekolah/madrasah, sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Jadi melalui komite sekolah diharapkan antara guru dan orang tua bahkan masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan.

F. Peran Guru Terhadap Guru Lain
Antara guru dengan guru lain memiliki peran, maksudnya seorang guru dapat berperan terhadap komunitasnya. Secara jelas telah tersurat dalam kode etik guru Republik Indonesia. Berdasarkan kode etik yang jumlahnya 9 butir, maka disebutkan: ……………………………………………………………………………… 6. Guru secara sendiri-sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya 7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan. 8. Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya. ………………………………………………………………………………. (Edi Suardi dan Suwardi; 1979:220)

5 - 10 Unit 5

Kode etik adalah merupakan susunan moral yang dijunjung tinggi para anggotanya, yaitu para guru di Indonesia. Dari 9 (sembilan) butir kode etik guru Republik Indonesia, 3 (tiga) diantaranya mengatur tentang peran guru. Butir keenam yang menyatakan guru baik secara sendiri-sendiri dan/atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya. Untuk meningkatkan mutu profesi selain melalui organisasi; juga dapat ditempuh melalui membentuk kelompok-kelompok yang jumlahnya besar dan juga kelompok yang jumlahnya kecil misalnya Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Moral Pancasila (MGMP). Dapat juga ditempuh melalui belajar sendiri-sendiri. Butir ketujuh guru menciptakan dan memelihara hubungan antara guru baik berdasarkan lingkungan kerja maupun di dalam hubungan keseluruhan. Jadi antara guru dengan guru perlu menjalin hubungan yang kondusif berkaitan dengan tugas kependidikannya, baik dalam lingkup yang sempit (lembaga kerja) maupun secara luas yaitu antar sesama guru. Kedelapan guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya. Secara bersama-sama di antara guru dapat memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi guru profesional sebagai sarana pengabdiannya berarti guru selain dapat memelihara juga membina serta meningkatkan mutu organisasi profesional, misalnya organisasi-organisasi yang dimiliki guru seperti yang telah disebutkan. Secara operasional selain guru membentuk suatu organisasi, untuk meningkatkan profesi (keahliannya) juga melalui organisasi tersebut dapat memperjuangkan kepentingan guru secara keseluruhan, misalnya perlindungan hukum, meningkatkan kesejahteraan, membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi guru, bahkan bila memungkinkan ikut memecahkan masalahmasalah pendidikan secara luas. Berkaitan dengan perlindungan hukum, organisasi guru dapat melakukan perlindungan atau sejenisnya terhadap guru-guru yang tergabung dalam komunitas air mata guru dari Medan, karena melaporkan kecurangan ujian nasional pada tahun 2006 maka mendapat sangsi, kepada Ahmad guru yang dipecat secara sepihak oleh yayasan sebuah SMA swasta di Tangerang. Dia melaporkan kecurangan UN (Ujian Nasional) tahun 2006 saat menjadi pengawas ujian silang (Kompas, 2007:12). Meningkatkan kesejahteraan guru, misalnya ikut memperjuangkan segera direalisasikannya pelaksanaan sertifikasi guru agar guru mendapatkan tunjangan profesional sebesar 1 (satu) kali gaji pokoknya.

Sosiologi Pendidikan

5- 11

Ikut memecahkan masalah-masalah pendidikan secara luas, contoh melalui organisasi atau kelompok serta perorangan ikut berjuang agar UndangUndang Dasar tahun 1945 pasal 31 ayat 4 yang berbunyi: “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta dari anggaran daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”, dapat direalisasikan. Kenyataan menurut Ketua Komisi X DPR Heri Akhmadi, anggaran pendidikan sebesar 10,9 persen atau Rp. 61,4 trilyun itu termasuk gaji dosen di Depdiknas dan gaji guru dan dosen di Departemen Agama. Sedangkan menurut Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo prosentase anggaran pendidikan 12,3 persen dengan angka absolut Rp. 16,4 trilyun, terdiri atas Depdiknas dan Departemen Agama (Kompas, 2007:12). Dari perhitungan ketua komisi X yang jumlahnya 10,9 persen, dan Menteri Pendidikan Nasional sebanyak 12,3 persen tersebut, intinya masih di bawah 20 persen dari ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 4. Dengan beberapa contoh permasalahan tersebut di atas peran guru baik perorangan maupun antar sesama guru masih diperlukan untuk ikut memperjuangkannya agar eksekutif dan legislatif di Indonesia tidak menyimpang dari salah satu butir Undang-Undang Dasar 1945.

Latihan
1. Sebutkan peran guru di sekolah! 2. Jelaskan peran guru sebagai pengganti orang tua di sekolah! 3. Jelaskan guru di sekolah sebagai orang yang menanamkan kedisiplinan!

Rambu-rambu jawaban soal
1. Peran guru di sekolah adalah mendidik dan mengajar 2. Peran guru sebagai pengganti orang tua maksudnya apa-apa yang telah dilakukan orang tua dalam mendidik anaknya dilanjutkan guru di sekolah, guru di sekolah selain mengajar juga mendidik. 3. Seorang guru di sekolah diikuti murid-muridnya, seorang murid atau pengikut guru harus tunduk pada peraturan, norma-norma yang ditanamkan gurunya, sedangkan guru harus dapat diikuti murid-muridnya, dengan kata lain guru sebagai seorang pemimpin di sekolah harus memiliki dan dapat berdisiplin sehingga menjadi tauladan dalam menegakkan kedisiplinan.

5 - 12 Unit 5

Rangkuman
Guru adalah pendidik dan pengajar di sekolah menurut UU nomor 14 tahun 2005 pasal 2 (dua) ayat 1 (satu) guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud peran sosial adalah pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dan dipegang teguh oleh masyarakat tersebut. Peran sosial di sekolah berkaitan dengan murid adalah sebagai media, sebagai penguji, sebagai orang yang berdisiplin, sebagai orang kepercayaan, sebagai pengenal kebudayaan, sebagai pengganti orang tua, sebagai penasehat siswa. Berkaitan dengan antar sesama guru dan pegawai sebagai teman sekerja, sebagai orang ahli/profesional sebagai pegawai, sebagai bawahan, sebagai penasehat atau konsultan. Peran sosial guru di masyarakat yaitu : participant/peserta, leader/pemimpin, pembuka jalan, perhatian penuh terhadap anak. Peran sosial guru terhadap murid selain sebagai pendidik dan pengajar, menurut W. F. Connell yaitu sebagai pendidik, model, pengajar dan pembimbing, pelajar, komunikator terhadap masyarakat setempat, pekerja administratif, kesetiaan terhadap lembaga. Peran sosial guru terhadap murid menurut Ki Hajar Dewantara adalah Tut wuri handayani, ing ngarsa sungtulada ing madya mangun karsa. Peran sosial guru terhadap orang tua murid sebagai pengganti orang tua di sekolah, sehingga di sekolah melanjutkan pendidikan yang dilakukan oleh orang tua di dalam keluarga. Agar supaya hasil pendidikan dan pengajaran berhasil secara maksimal, perlu menjalin kerjasama yang baik dengan orang tua murid. Melalui komite sekolah diharapkan antara guru dan orang tua bahkan masyarakat berperan meningkatkan mutu pelayanan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pengajaran.

Sosiologi Pendidikan

5- 13

Tes Formatif
Kerjakan soal-soal berikut dengan memilih huruf di depan jawaban yang paling tepat untuk melengkapi atau menjawab pertanyaan. 1. Peran sosial guru di sekolah, kecuali…. A. mengajar B. mendidik C. aktif menjadi anggota legislatif D. petugas administrasi 2. Pasal yang menyebut antara lain bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal terdapat pada…. A. pasal 27 ayat 2 UU nomor 2 tahun 1989 B. pasal 27 ayat 3 UU nomor 3 tahun 1989 C. pasal 2 ayat 1 UU nomor 14 tahun 2005 D. pasal 3 ayat 1 UU nomor 14 tahun 2005 3. Peran sosial guru adalah pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dan dipegang teguh oleh masyarakat tersebut merupakan pendapat dari…. A. H. Aswandi Bahar B. Engkoswara C. Cole S. Brembeck D. S. A. Bratanata dkk 4. Peran sosial guru di sekolah berkaitan dengan murid, kecuali…. A. bawahan B. sebagai orang yang berdisiplin C. sebagai penguji D. sebagai media 5. Agar guru dapat berperan sebagai media maka harus memiliki penguasaan, kecuali…. A. materi B. otoritas C. kurikulum D. metode belajar mengajar

5 - 14 Unit 5

6. Peran guru sebagai penguji, maka dalam menentukan evaluasi harus mengikuti ketentuan, kecuali…. A. obyektifitas B. transparan C. arahan kepala sekolah D. sesuai TIK atau indikator 7. Dari arti kata aslinya disiplin memiliki makna…. A. pengikut B. penurut C. pemeran D. tunduk 8. Guru sebagai pengenal kebudayaan apabila…. A. mengagumi budaya sendiri B. berusaha menanamkan nilai budaya yang dimiliki C. menanamkan nilai budaya dari masyarakat luas D. mengagumi budaya lokal 9. Guru memiliki pendidikan yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya maka disebut sebagai…. A. participant B. perhatian penuh terhadap anak C. pembuka jalan D. participant penuh 10. Peran guru dan orang tua murid ada yang sama, ada juga yang berbeda-beda. Peran yang berbeda dalam hal…. A. pembentukan gejala kepribadian B. pendidikan C. pembentukan kedisiplinan D. pembentukan kecakapan

Sosiologi Pendidikan

5- 15

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan unit 5 (lima). Sesuai dengan tujuan pembelajaran unit 5 (lima) mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan anda dengan menggunakan rumus: Rumus: Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan materi : x 100 % Jumlah soal Arti penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup < 70 % = kurang Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar unit 5 (lima), sebelum melanjutkan modul berikutnya.

5 - 16 Unit 5

Kunci Jawaban Tes Formatif

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

C C A A B C A C C D

Sosiologi Pendidikan

5- 17

Glosarium

Diciplus Klub Participant Profesional

: : : :

Pengikut Kelompok Peserta Ahli dalam bidangnya

5 - 18 Unit 5

Daftar Pustaka

Depdikbud. 1989. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta; Balai Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta; Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depdiknas. Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembalajaran. Jakarta. Rineka Cipta. Eddy Tukidjan. 2005. Landasan Hukum dan Arah Pendidikan Nasional. Jakarta: Pustekom. Engkoswara dkk. 1972. Didoktik Sekolah Pendidikan Guru Azas-Azas Didoktik Metodologi Pengajaran dan Evaluasi. Jakarta; PT Bumi Restu. H. Aswandi Bahar. 1989. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta; Depdikbud Dirjen Dikti. Kompas. 16 April 2007. Dewan Guru Menentukan. Hlm 12, Kompas, 24 Agustus 2007. Indonesia Bisa Kian Tertinggal. Hlm 12. Parsono dkk. 1990. Landasan Kependidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. Prayitno dkk. 1997. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi. S.A. Bratanata. dkk. 1973. Ilmu Pendidikan. Bandung; N.V. Masa Baru.

Sosiologi Pendidikan

5- 19

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

5 - 20 Unit 5

Unit

6

INTERAKSI ANTARA GURU DAN SEKOLAH

H.R. Partino Pendahuluan
audara-saudara, semua mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Sarjana-1 (PGSD-S1) pada hakekatnya adalah calon guru sekolah dasar yang profesional. Untuk mencapai profesionalitas yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, maka program pendidikan PGSD-S1 dipersiapkan secara terencana dan berkesinambungan . Anda mempunyai peluang besar untuk menjadi guru sekolah dasar yang profesional. Namun demikian, tidak disangkal juga bahwa anda bebas mengambil keputusan untuk masuk jalur lain, bukan profesi sebagai guru. Kenyataan ini sangat disadari, bahwa pada jaman milenium yang ditandai dengan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, maka seorang sarjana mempunyai peluang untuk merambah bidang-bidang lain yang sebenarnya tidak sesuai/klop (matcth)) dengan kesarjanaannya. Penulisn tidak akan membahas calon guru yang akan alih profesi, namun kajian ini akan ditikberatkan pada pendidikan calon guru SD yang profesional. Anda semua semua dipersiapkan menjadin guru SD yang profesional, oleh karena itu, anda seharusnya memahami bagaimana menjadi gruu SD yang profesional. Sebagai seorang guru, anda harus mampu berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif di kelas, terutama ketika berlangsung proses pembelajaran. di samping itu, guru sebagai anggota masyarakat juga harus mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tua dan masyarakat. Agar anda memahaminya, pelajarilah dengan seksama unit 6 tentang interaksi guru dengan sekolah, keluarga dan masyarakat. unit 6 ini dijabarkan menjadi 2 dub-unit. Sub-unit 1 tentang interaksi antara guru dengan sekolah, dan sub-unit 2 tentang interaksi antara guru dengan orang tua dan masyarakat.

S

Sosiologi Pendidikan

6- 1

Berkenaan dengan materi yang disajikan, anda diharapkan mampu menguasai kemampuan-kemampuan berikut: 1. Menjelaskan letak interaksi guru dengan murid dalam sistem pendidikan..

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Menjelaskan letak interaksi guru dengan Kepala Sekolah dalam sistem pendidikan.. Menjelaskan letak interaksi guru dengan guru-guru lainnya dalam sistem pendidikan. Menjelaskan letak interaksi guru dengan pegawai tata usaha dalam sistem pendidikan.. Memberikan contoh interaksi guru dengan murid. Memberikan contoh interaksi guru dengan Kepala Sekolah. Memberikan contoh interaksi guru dengan guru-guru lainnya. Memberikan contoh interaksi guru dengan pegawai tata usaha. Menjelaskan peran guru dalam Komite Sekolah.

Agar kemampuan-kemampuan diatas dapat anda kuasai ikutilah petunjukpetunjuk berikut ini : 1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan, agar anda tahu persis kemampuan-kemampuan apa yang seharusnya anda kuasai

2. Baca secara sepintas isi unit agar anda memperoleh gambaran isi unit secara
keseluruhan.

3. Lanjutkan dengan membaca bagian demi bagian, tandai bagian-bagian
penting dengan stabilo atau garis bawah lalu ciptakan bagan materinya : dengan begitu anda akan lebih mudah menguasai materi yang sedang anda pelajari.

4. Kerjakan tugas-tugas latihan untuk memperluas wawasan anda mengenai
konsep-konsep yang sedang anda pelajari.

5. Kerjakan juga soal-soal tes formatif yang ada pada bagian akhir setiap sub
unit.

6 - 2 Unit 6

Subunit 1 Interaksi Antara Guru Dengan Sekolah
A. Pengantar

M

anusia pada hakekatnya adalah makhluk yang dinamis, baik dari segi fisiologis maupun psikologis. Ditinjau dari segi fisiologis, dalam jangka waktu lama, manusia tidak pernah diam, selalu bergerak dan selalu berpindah tempat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ditinjau dari segi psikologis, perasaan dan pikiran manusia tidak pernah diam. Manusia selalu mempunyai gagasan-gagasan, timbul keinginan-keinginan. Manusia akan merasa puas ketika cita-citanya atau keinginannya tercapai. Perasaan puas itu sifatnya sangat sementara, berlaku untuk beberapa saat atau beberapa hari saja. Selanjutnya mereka menyusun cita-cita atau keinginan yang lain. Oleh karena itu, kepuasan yang bersifat permanen tidak pernah akan dicapai oleh manusia. Pada bagian lain telah dijelaskan bahwa manusia merupakan makhluk sosial, di samping sebagai makhluk individual. Manusia tidak mungkin mampu hidup sendiri di dunia ini, mereka membutuhkan jasa-jasa dari orang lain. Oleh karena itu, manusia harus menjalin hubungan dengan individu lain atau dengan kelompok, baik itu sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok. Jalinan hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok disebut interaksi. Ahmadi (2004) menegaskan bahwa interaksi ini merupakan dasar proses sosial.

B. Uraian Materi
Guru dalam Sistem Pendidikan. Tampaknya hapir tidak pernah ada orang yang mempersoalkan batasan tentang sekolah. Orang awam memandang sekolah yang pendidikan. Sekolah adalah tempat pendidikan anak-anak mereka. Sekolah itu mempunyai murid, guru, kepala sekolah, dan gedung. Kelengkapan atau fasilitas lain sekolah tidak pernah terpikirkan. Ahmadi (2004) memberikan batasan sekiolah sebagai suatu lembaga sosial dan merupakan bagian yang lebih besar dari organisasi sosial. Sebagai organisasi sosial yang formal, berarti sekolah mempunyai struktur organisasi. Penanggungjawab utama sekolah adalah Kepala Sekolah yang dibantu oleh satu Wakil Kepala Sekolah

Sosiologi Pendidikan

6- 3

(untuk SD), sedangkan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K) dibantu oleh lebih dari satu Wakil Kelapa Sekolah, dewan guru merupakan bawahan langsung Kepala Sekolah. Demikian juga dengan Kepala Tata Usaha dan staf sekolah lainnya merupakan tenaga kependidikan yang bertugas ikut melancarkan proses pembelajaran. Jika ditinjau dari pendekatan sistem (system approach) . maka pendidikan dapat dipandang sebagai suatu sistem. Suatu sistem terdiri dari berbagai komponen atau subsistem. Untuk memahami bagaimana interaksi guru dengan sekolah, berikut digambarkan pendidikan sebagai suatu sistem.

Instrumentalpersonal input

Raw input

Education process

Output, Outcome

Environmental input

Gambar 1. Pendidikan sebagai suatu Sistem (Adaptasi dari Suryabrata, 2004) Pembahasan berikut terbatas hanya mengkaji komponen masukan instrumentalpersonal dan proses pembelajaran. Pemilihan istilah masukan instrumental-personal digunakan dengan sengaja sebagai bagian dari sistem pendidikan. Alasan mendasar penggunaan istilah tersebut, karena di dalam komponen dimaksud terdapat berbagai macam instrumen, termasuk pendidik. Tenaga pendidik dan kependidikan sebagai imnstrumen mempunyai kepribadian. Ditinjau dari segi manusianya, maka

6 - 4 Unit 6

komponen ini terdiri dari dua kelompok pribadi, yakni pendidik dan tenaga kependidikan. Sistem Pendidikan Nasional (Departemen Pendidikan Nasional, 2003) mendefinisikan pendidik sebagai tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Tenaga pendidik merupakan kunci dalam keberhasilan proses pendidikan. Berkaitan dengan peningkatan kualitas lulusan satuan pendidikan, maka pemerintah telah menetapkan standar pendidik. Pendidik pada satuan pendidikan dasar harus memiliki kualifikasi pendidikan minimum D-IV (diploma empat) atau S-1 (sarjana) (Departemen Pendidikan Nasional, 2005). Berkenaan dengan standar nasional pendidikan (SNP), pendidik harus memiliki empat macam standar kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan sosial (Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Kualitas pendidik (guru) dengan berbagai karakteristiknya sangat menentukan kualitas proses pembelajaran. Aspek-aspek yang termasuk dalam kualitas pendidik antara lain pendidikan terakhir, keahlian, penguasaan bahan ajar, penguasaan metodologi pembelajaran, tingkat kecerdasan umum, kecerdasan emosional-spiritual, bakat, minat, sikap, dll. Komponen proses, yakni proses pendidikan, lebih ditekankan pada proses pembelajaran di sekolah. Proses pembelajaraan di sekolah merupakan interaksi fisiologis dan psikologis dari masukan mentah, masukan instrumental-personal dan masukan lingkungan. Di dalam komponen inilah terjadi optimalisasi kegiatan, baik dari pihak guru, murid, maupun faktor-faktor lain dalam proses pembelajaran (Partino, 2006). Guru sebagai penanggung jawab proses pembelajaran memegang kunci keberhasilan kegiatan tersebut. Penelitian Suryadi (1995) menemukan bahwa guru dalam proses pendidikan sangat menentukan keberhasilan murid. Guru adalah sutradara dan sekaligus sebagai pemain dalam interaksi komponen-komponen terkait. Standar kompetensi guru menjadi salah satu penjamin mutu proses pendidikan formal dalam satuan pendidikan tertentu, dan pada akhirnya menjadi salah satu penjamin kualitas lulusan. Interaksi Guru dan Murid Proses pembelajaran yang efektif terjadi, jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan murid yang intensif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga murid dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan

Sosiologi Pendidikan

6- 5

sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan murid. Peran dimaksud adalah guru sebagai guru, guru sebagai orang tua, dan guru sebagai sejawat belajar. Guru sebagai guru. Secara awam dan diakui umum, bahwa pekerjaan utama guru adalah mengajar dan mendidik murid. Guru dengan berbagai kiatnya berusaha agar semua muridnya mampu menguasasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkannya dengan baik. Bahkan dalam Diskusi Panel yang diselenggarakan oleh Kompas (2006), terunggap bahwa guru masa depan adalah guru intelektual transformatif, bukan sekadar tukang dan operator. Intelektual berarti guru itu harus mempunyai kualifikasi wawasan ilmu pengetahuan yang memadai. Hal ini telah ditunjukkan oleh Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Departemen Pendidikan Nasional, 2005). Transformatif berarti guru harus mampu berbagi ilmu pengetahuan dan pengalamannya kepada orang yang membutuhkannya. Pihak yang sangat membutuhkan jasa guru terutama adalah murid-murid yang menjadi tanggung jawabnya. Mendidik merupakan sisi lain dari tugas yang melekat pada jabatan guru. Akhir dari semua kegiatan pendidikan adalah tercapainya tujuan pendidikan nasional. Tujuan nasional pendidikan menggambarkan manusia Indonesia yang ideal yang dicita-citakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Petikan yang menggambarkan manusia Indonesia ideal adalah beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia ... (Departemen Pendidikan Nasional, 2005). Guru sebagai orang tua. Sebagai orang tua, guru adalah tempat mencurahkan segala perasaan murid. Guru adalah tempat mengadu murid, ketika murid mengalami gangguan, terutama gangguan psikologis. Murid harus merasa aman dan nyaman ketika dekat dengan guru. Bahkan murid akan merasa rindu jika tidak bertemu guru, karena masa libur sekolah. Interaksi guru dan murid hendaknya mempunyai nuansa interaksi antara orang tua dan anak yang ideal. Nuansa ini seharusnya tercermin dalam kehangatan, keakraban, dan keharmonisan yang tulus. Guru sebagai teman sejawat. Istilah teman sejawat bagi murid terhadap guru, jangan diartikan sebagai teman sepermainan. Teman sejawat merupakan pasangan untuk berbagi pengalaman dan beradu argumentasi dalam diskusi secara informal. Murid secara lugas dapat saja tidak sependapat dengan guru tentang suatu pernyataan (tentu saja harus didasarkan pada fakta atau argumentasi yang logis). Guru seharusnya juga tidak merasa direndahkan oleh murid, jika memang pendapat murid itu yang benar. Guru yang bijaksana tentu akan menerima saran murid yang memang masuk akal. Hubungan guru dan murid ini mengutamakan nilai-nilai demokratis dalam proses pembelajaran. Hubungan semacam ini akan menghilangkan rasa

6 - 6 Unit 6

canggung murid dan rasa inferiority, dan sebagai gantinya akan tumbuh rasa percaya diri dan keberanian dalam mengungkapkan suatu pendapat. . Interaksi Guru dan Kepala Sekolah Kepala Sekolah di Sekolah Dasar adalah Pimpinan tertinggi di sekolah itu. Kepala Sekolah bertanggung jawab ke dalam sekolah dan ke luar sekolah. Bertanggung jawab ke dalam artinya bahwa semua kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, baik berkenaan dengan kurikulum maupun di luar kurikulum sepenuhnya menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Pembinaan guru, pegawai tata usaha, dan murid juga menjadi tanggung jawab kepala sekolah. Bertanggung jawab ke luar, artinya Kepala Sekolah harus mampu mempertanggung-jawabkan kepada masyarakat dan pemerintah. Tanggung jawab kepala sekolah ini merupakan bentuk akuntabilitas kepala sekolah. Dewasa ini telah diterapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Oleh karena itu, kepala sekolah harus transparan dalam semua kegiatan dan semua penggunaan uang. Ketidak transparanan penggunaan uang masyarakat oleh sekolah, merupakan pemicu ”mosi tidak percaya” masyarakat terhadap kepemimpinan kepala sekolah. Jika hal ini terjadi, maka tinggal menunggu waktu hancurnya sekolah tersebut. Secara struktural, staf guru sekolah dasar adalah bawahan langsung kepala sekolah. Menurut pengamatan penulis, hubungan atasan bawahan, sebagaimana kepala sekolah dan para guru pada umumnya lebih bersifat administratif struktural. Suparman menegaskan hubungan guru dengan kepala sekolah antar sesama guru dan kepala sekolah lebih banyak bersifat birokratis dan administratif sehingga tidak mendorong terbangunnya suasana dan budaya profesional akademik di kalangan guru. Satu pertanyaan muncul, siapakah yang harus memulai dan membina hubungan yang harmonis antara guru dan kepala sekolah? Jawabannya jelas kepala sekolah. Jabatan kepala sekolah salah satunya berfusng membina seluruh guru, statf tata usaha, dan murid. Interaksi guru dan kepala sekolah harus menguntungkan ke dua belah pihak. Mereka masing-masing harus sadar, bahwa mereka sama-sama membutuhkan, mereka saling keterkaitan dan ketergantungan. Kepala sekolah membutuhkan guru, karena guru lah yang harus mengelola pembelajaran. Beberapa kasus yang ditayangkan di televisi, tindakan mogok masal oleh guru akan merugikan berbagai pihak. Demikian pula guru itu membutuhkan kepala sekolah. Kepala sekolah harus dapat menjadi atasan yang sebenarnya, menjadi penasehat dan pembimbing. Oleh karena itu kepala sekolah padahakekatnya adalah menjadi model, baik oleh guru, pegawai tata usaha, maupun para murid. Kepala sekolah harus

Sosiologi Pendidikan

6- 7

mampu menjadi mitra kerja guru atau sejawat guru. Jika guru dapat mempersepsi bahwa kepala sekolah dapat sebagai sejawat, maka interaksi dan komunikasi guru dan kepala sekolah akan lancar. Guru akan semangat untuk berdiskusi dengan kepala sekolah tanpa ragu-ragu. Di sinilah akan tercipta iklim yang demokratis di sekolah. Interaksi Guru dengan Pegawai Tata Usaha Pegawai tata usaha, termasuk di dalamnya tenaga laboran, pustakawan sekolah, satuan pengamanan (satpam), penjaga sekolah, dan lain-lainnya berfungsi sebagai pendukung dalam memperlancar proses pembelajaran di sekolah. Semua aparat tersebut mempunyai kontribusi di bidangnya masing-masing. Guru harus memandang aparat tersebut sebagai sejawat yang secara bersama-sama membangun kebersamaan demi tujuan sekolah tersebut. Jika semua komponen dapat berkerja sama dengan baik, maka hasil yang akan dicapai tentu saja optimal. Guru harus mengharagi mereka sebagai pribadi, sebagai pegawai yang turut serta andil demi kemajuan sekolah. Jika guru dapat mencipkan hubungan yang hangat dan akrab, maka mereka akan segan, menghargai dan menghormati guru. Coba anda bayangkan saja, jika suatu saat Satpam sekolah itu mogok, tidak mau membuka pintu gerbang sekolah. Apa yang terjadi bagi murid-murid? Tentu saja akan kacau sekolah tersebut. Demikian juga dengan penjaga sekolah. Salah satu tugas penjaga sekolah adalah membuka pintu kelas-kelas. Coba saja seandainya penjaga sekolah itu memboikot untuk tidak membukakan pintu-pintu kelas. Apa yang akan terjadi bagi murid-murid? Tentu saja murid-murid akan ribut, bahkan mungkin orang tua akan berbuat sesuatu. Di bagian depan telah dijelaskan tentang interaksi antara guru dengan murid, guru dengan kepala sekolah, dan guru dengan semua staf tata usaha. Brembeck (Bahar, 1989) mengemukakan sejumlah peran sosial guru di sekolah. Peran guru dimaksud adalah sebagai: (1) alat peraga, (2) penguji, (3) orang yang berdisiplin, (4) orang kepercayaan, (5) pengenal kebudayaan, (6) pengganti orang tua, (7) dan sebagai penasehat murid. Peran guru berkenaan dengan sesama guru dan pegawai administrasi sekolah adalah sebagai: (1) teman sekerja/sejawat, (2) orang ahli/profesional, (3) pegawai/karyawan, (4) bawahan, (5) penasehat/konsultan.

6 - 8 Unit 6

Latihan
Untuk lebih memantapkan pemahaman anda terhadap materi Sub Unit 1, kerjakanlah latihan berikut dengan seksama! 1. Coba anda buat suatu gambar yang dapat menjelaskan tentang interaksi antara guru dan sekolah. 2. Bagaimana sebaiknya interaksi yang efektif antara guru dan kepala sekiolah? 3. Bagaimana sebaiknya interaksi yang efektif antara guru dan pegamawi tata usaha?

Rambu-rambu jawaban latihan
1. Berikut gambar yang dapat menjelaskan tentang interaksi antara guru dan sekolah. Guruguru lain

Kepala Sekolah

Guru

Muridmurid

Staf Tata Usaha

2. Interaksi guru dengan Kepala Sekolah yang efektif, seharusnya memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Interaksi antara bawahan dan atasan b. Interaksi antara teman sejawat c. Interaksi antara anak dengan orang tua (dalam kekeluargaan) 3. Interaksi guru dengan Staf Tata Usaha yang efektif, seharusnya memenuhi kriteria sebagai berikut:

Sosiologi Pendidikan

6- 9

d. Interaksi antara teman sejawat e. Interaksi antara ahli dan tidak ahli f. Interaksi dalam kekeluargaan

Rangkuman
Gru merupakan masukan instrumental-personal dalam sistem pendidikan. Guru sebagai tenaga profesional, bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajarn, menilai hasil pemebelajaran, dan memberikan bimbingan. Guru adalah kunci dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Komponen proses pendidikan lebih ditekankan pada proses pembelajaran di sekolah. proses ini merupakan interaksi fisiologis dan psikologis dari masukan mentah, masukan instrumental-personal, dan masukan lingkungan. Di dalam proses ini terjadi optimalisasi baik dari pihak guru, murid maupun faktor-faktor lain dalam proses pembelajaran. Guru mempunyai berbagai peran terhadap murid-muridnya. Guru sebagai guru mengacu itu adalah pekerjaan profesionalnya, yakni mebelajarkan murid. Guru sebagai orang tua, menunjuk bahwa guru merupakan tempat mencurahkan segala perasaaan murid, tempat mengeluh dan tempat mengadu, karena murid mengalami gangguan. Guru sebagai teman sejawat mengarah pada sebagai pasangana untuk berbagi pengalaman, untuk beradu argumentasi, baik pada berdiskusi formal maupun informal. Murid dapat saja secara lugas dan tegas tidak sependapat dengan guru tentang sesuatu fenomena, namun semua ini harus didasarkan pada fakta atau argumentasi yang logis. Interaksi guru dengan Kepala Sekolah harus menguntungkan ke dua belah pihak; mereka saling membutuhkan dan mereka saling ketergantungan dalam melaksanakan tugas sekolah. Kepala Sekolah harus mampu menjadi mitra kerja guru atau teman sejawat guru. Interaksi antara guru dengan pegawai tata usaha seharusnya bersifat kesejawatan dan kekeluargaan. Peran sosial guru di sekolah dasar adalah : (1) alat peraga, (2) penguji, (3) orang yang berdisiplin, (4) orang kepercayaan, (5) pengenal kebudayaan, (6) pengganti orang tua, dan (7) sebagai penasehat murid. Peran guru berkaitan dengan guru lainnya dan dengan pegawai tata usaha adalah sebagai: (1) teman sekerja/sejawat, (2) orang ahli/profesional, (3) pegawai/karyawan, dan (4) penasehat/konsultan.

6 - 10 Unit 6

Tes Formatif
Untuk mengetahui tingkat daya serap anda terhadap materi Sub Unit 1, kerjakanlah soal-soal berikut ini! Petunjuk: 1. Kerjakan di lembar tersendiri 2. Pilihlah jawaban A. Jika alternatif jawaban (1), (2) dan (3) benar semua B. Jika alternatif jawaban (1) dan (2) benar C. Jika alternatif jawaban (2) dan (3) benar D. Jika alternatif jawaban (1), (2) dan (3) salah semua 1. Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan benar, yakni: (1) Orang kebanyakan memandang sekolah sebagai tempat pendidikan anak-anak mereka. (2) Sekolah sebagai sutu lembaga sosial (3) Sekolah merupakan lembaga sosial yang lebih kecil daripada organisasi sosial 2. Berikut ini adalah komponen-komponen dalam sistem pendidikan, antara lain adalah: (1) Masukan mentah (2) Masukan instrumental-personal (3) Masukan lingkungan 3. Proses dalam sistem pendidikan akan menghasilkan: (1) Outbond (2) Output. (3) Outcome 4. Berkenaan dengan kebutuhan murid, guru mempunyai sejumlah peran strategis, kecuali guru sebagai: (1) Guru (2) Teman sejawat (3) Orang tua 5. Guru SD yang profesional bukan hanya sekedar tukan atau operator, tetapi harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) Mempunyai kapastitas intelektual tinggi (2) Transformatif (3) Revolusioner 6. Peran guru sebagai orang tua adalah: (1) Pelindung murid-murid dari gangguan dan ancaman lingkungan. (2) Menerima dan menampung pengaduan murid-muridnya. (3) Membantu dan menyelesaikan masalah-masalah murid

Sosiologi Pendidikan

6- 11

7. Guru dapat berperan sebagai teman sejawat bagi murid-muridnya. Maksud pernyataan teman sejawat adalah: (1). Sama dengan teman sepermainan (2) Menghargai setiap pendapat murid (3) Merupakan pasangan untuk berbagi pengalaman 8. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap hari guru berinteraksi dengan Kepala Sekolah. Berikut bentuk interaksi guru dengan Kepala Sekolah yang dapat menumbuhkan produktivitas kerja, kecuali: (1) Bawahan-atasan (2) Teman sejawat (3) Anak-Orang tua 9. Interaraksi antara guru dan pegawai tata usaha yang efektif dapata berbentuk: (1) Hubungan majikan-buruh (2) Hubungan atasan-bawahan (3) Tidak ada hubungan sama sekali, karena mereka mempunyai tugas-tugas yang berbeda 10. Brembeck mengajukan sejumlah peran soial guru di sekolah. Peran-peran guru dimaksud antara lain adalah: (1) Pengannti orang tua (2) Orang yang berdisiplin (3) orang kepercayaan

6 - 12 Unit 6

Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah anda selesai mengerjakan Tes Formatif 1, pekerjaan berikutnya adalah mencocokkan hasil pekerjaan anda dengan kunci jawaban. Kunci jawaban terdapat pada bagian akhir Unit 1. Hitunglah jumlah jawaban anda yang benar, kemudian masukan ke dalam rumus berikut; Jumlah jawaban benar Tingkat Penguasaan = -------------------------- x 100% Jumlah soal Rentangan tingkat penguasaan sebagai berikut: 90 - 100 % = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup 0 - 69% = kurang Berapa tingkat penguasaan anda terhadap bahan yang telah dipelajari? Jika hasil perhitungan menunjukkan angka 80% ke atas, bagus sekali, dan selamat untuk anda. hal ini menunjukkan bahwa anda benar-benar telah menguasai bahan dengan memadai. Selanjutnya anda dapat mempelajari Sub Unit 2. namun jika penguasaan anda belum mencapai 80%, maka anda disarankan untuk mempelajari kembali, terutama bagian-bagian yang belum anda kuasai itu. Anda harus optimis dan berpikir positif, bahwa diri anda akan mampu menguasai bahan dimaksud.

Sosiologi Pendidikan

6- 13

Subunit 2 Interaksi Antara Guru Dengan Orang Tua Dan Masyarakat
A. Pegantar

M

anusia pada hakekatnya adalah makhluk individual dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individual, manusia harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dimaksud, manusia harus berhubungan dengan orang lain, baik orang itu sebagai individu, sebagai anggota kelompok, maupun sebagai anggota masyarakat yang lebih besar. Di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mustahil manusia tanpa membutuhkan jasa orang lain. Demikian juga dengan orang lain, mereka juga membutuhkan jasa orang lain juga. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa manusia hidup itu saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Di sinilah terjadi interdependency (saling ketergantungan) antara manusia satu dengan lainnya. Pada bagian berikut, yakni sub-unit 2 akan dibahas berkenaan dengan interaksi antara guru dengan orang tua dan interaksi antara guru dengan masyarakat. Guru sebagai individu dan sebagai pribadi tidak mungkin terhindar dari interaksi dengan orang tua dan masyarakat. Guru sebenarnya diberi kepercayaan oleh orang tua dan masyarakat untuk melayani kebutuhan murid-murid dalam bidang pendidikan, terutama berhubungan dengan pengetahuan, sikap, dan performansi.

B. Uraian Materi
1. Interaksi Guru dengan Orang Tua Secara kodrati, semua makhluk hidup, termasuk manusia mempunyai dorongan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenisnya. Untuk mempertahankan diri manusia membutuhkan makan, minum dan tempat berlindung. Untuk mengembangkan diri, manusia membutuhkan pasangan hidup. Oleh karena itu, semua manusia dewasa normal berkeinginan untuk berkeluarga (berumah tangga). Buah hasil dari rumah tangga adalah lahirnya sang anak. Berkeluarga dan mempunyai anak itu adalah insting manusia. Mempunyai anak bagi manusia itu sama artinya dengan orang yang bersangkutan sudah menjadi orang tua, meskipun terdapat juga tidak mempunyai anak dipertimbangkan sebagai orang tua. Misalnya guru,

6 - 14 Unit 6

meskipun masih bujang, baik guru laki-laki maupun guru perempuan tetap dianggap sebagai orang tua. Hal ini dapat diperiksa pada interaksi antara guru dengan murid, guru dengan guru. Tampaknya jarang sekali, atau bahkan tidak dijumpai seorang guru dipanggil dik oleh orang tua murid. Meskipun guru jauh lebih mudah dari orang tua murid, mereka tetap disapa dengan pak guru atau bu guru. Jabatan guru tetap melekat di manapun guru itu berada, lebih-lebih jika berada di sekolah. Tugas orang tua adalah mendidik anaknya menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Sebagian dari tugas orang pada umumnya dipercayakan kepada sekolah, yakni sejak pendidikan usia dini (Taman Kanak-Kanak) sampai perguruan tinggi. Memang ditemui terdapat orang tua yang mendidik anak sepenuhnya, tanpa diserahkan pada sekolah. Namun demikian, kasus semacam ini sangat terbatas, karena hanya ada satu dari sekian juta orang tua. Hal semacam ini patut untuk diabaikan. Orang tua menyerahkan anaknya untuk dididik di sekolah dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan dimaksud setidaknya dapat ditinjau dari tiga hal: (1) orang tua tidak mempunyai waktu cukup untuk mendidik anak, karena kesibukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga; (2) orang tua tidak mempunyai kompetensi (kemampuan) dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam mendidik anak; dan (3) orang tua tidak menguasai ilmu dan teknologi dalam membelajarkan anak. Sekolah mempunyai tanggung jawab besar dalam mendidik murid-murid. Pendidikan di sekolah hampir sepenuhnya diserahkan kepada guru kelas untuk hampir semua sekolah dasar. Orang tua percaya, bahkan sangat percaya terhadap kualitas sekolah yang dipilih untuk mendidik anaknya. Pandangan yang berlebihan mengatakan bahwa sekolah adalah segala-galanya untuk anaknya, karena sekolah dapat memberikan apa yang diharapkan oleh orang tua. Dalam kenyataannya, sekolah tidak demikian, karena sekolah mempunyai sejumlah keterbatasan. Guru sebagai representasi sekolah dasar menerima kepercayaan orang tua untuk mendidik anaknya. Untuk itu guru harus dapat dipercaya (thrustworty) oleh orang tua murid (Partino, 2005). Segala harapan orang tua ditumpahkan pada guru dan sekolah. Guru yang profesional akan berbuat yang terbaik dan bertanggung jawab untuk mendidik murid-murid. Guru harus mampu mengaktualisasikan diri sebagai guru yang merupakan perwujudan dari kebutuhan tertinggi menurut Maslow (Partino, 2006). Inilah merupakan pertanggung jawaban guru terhadap kepercayaan yang diberikan oleh orang tua. Di sekolah, semua kegiatan murid menjadi tanggung jawab sekolah, khususnya adalah kepala sekolah. Berkenaan dengan proses pembelajaran di sekolah, baik di

Sosiologi Pendidikan

6- 15

kelas maupun di luar kelas yang telah dirancang guru, guru kelaslah yang sepenuhnya bertanggung jawab. Di rumah, orang tua yang bertanggung jawab penuh atas anaknya. Kedua belah pihak, baik guru kelas (mewakili sekolah) maupun orang tua mempunyai tanggung jawab bersama dalam aspek yang berbeda demi untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Interaksi dan komunikasi yang dibangun oleh guru adalah interaksi dan komunikasi kesejawatan. Guru dapat meminta kepada orang tua murid untuk menyampaiakan aspek-aspek keunggulan anaknya, demikian juga aspek-aspek kelemahan dari anaknya itu. Mencari dan mengetahui kelemahan-kelemahan murid, bagi guru adalah dengan tujuan yang muliah, bukan untuk memojokkan murid. Guru semacam ini akan dapat merancang pengajaran yang mempertimbangkan perbedaan individual diantara murid-muridnya. Dengan demikian guru akan dapat mengambil manfaat guna mendidik anak yang bersangkutan. Di samping informasi tentang anak dari orang tua, guru dapat memberikan informasi tentang perilaku anaknya selama di sekolah kepada orang tuanya. Contoh kasus di kelas, misalnya Si Badu jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk kasus murid semacam ini, guru harus mengetahui, mengapa Si Badu tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Misalnya tidak mengerjakan pekerjaan rumah karena di rumah membantu orang tua. Waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tidak ada. Apakah alasan murid itu sama dengan fakta atau kenyataan yang dilakukan di rumah? Guru sebaiknya mengecek keabsahan apa yang dikatakan oleh murid tersebut. Jadi interaksi guru dengan orang tua harus selalu terbina, saling memberikan informasi tentang anak/murid, baik informasi positif maupun negatif. Jika informasi negatif diketahui ke dua belah pihak sejak dini, maka masih cukup waktu bagi sekolah dan orang tua untuk memperbaikinya. Jika interaksi dan komunikasi antara guru dengan orang tua tidak lancar atau tersumbat, maka akibat bagi murid akan lebih parah. Untuk menangani murid semacam ini membutuhkan waktu cukup lama dan menghabiskan tenaga yang cukup banyak. Oleh karena itu, seyogyanya secara berkala orang tua memberikan informasi tentang kemajuan anak kepada orang tua. Pekerjaan ini tentunya bukan terbatas ketika orang tua mengambil laporan pendidikan. Lebih baik lagi jika orang tua mempunyai inisiatif datang ke sekolah untuk menanyakan tentang kemajuankemajuan yang dicapai anaknya. Guru dapat melayani orang tua di kantor dengan waktu 15 sampai 30 menit di kantor. Jika guru harus berkunjung ke tiap-tiap orang tua, tampaknya merupakan pekerjaan tambahan yang cukup berat. Memang harus disadari, guru yang baik harus berkunjung ke rumah murid. Kunjungan guru tersebut tentunya untuk hal-hal yang memang harus dilakukan. Misalnya si Udin adalah

6 - 16 Unit 6

murid yang rajin, baik rajin masuk sekolah maupun rajin dalam mengerjakan tugastugas sekolah. Pada suatu ketika, Udin tidak masuk sekolah. Tidak satu muridpun mengetahui menapa Udin tidak masuk sekolah. Untuk itu, guru harus mengambil tindakan dengan cara berkunjung (home visit) ke rumah Udin, sehingga guru tahu betul alasan Udin tidak masuk sekolah. Interaksi guru dengan mayarakat. Istilah ”community” dialihbahasakan menjadi masyarakat atau komunitas. Pengertian masyarakat dapat dibatasi sebagai sekelompok orang yang tinggal di tempat (daerah) yang sama dan di bawah pemerintahan yang sama pula (Kamus Online, 2007). Kelompok masyarakat ini didasarkan pada kedekatan dan kadangkadang saling berhadapan (”face to face”). (Williams, 2006). Di dalam penggunaan sehari-hari, pengertian masyarakat yang bersifat umum itu berkembang. Secara khusus, masyarakat adalah sekelompok orang yang mempunyai minat yang sama, misalnya masyarakat ilmiah, masyarakat bisnis. Contoh lain lagi adalah komunitas seni, komunitas petani, komunitas gelandangan, komunitas Tionghoa. Guru, lebih khusus guru sekolah dasar adalah jabatan fungsional akademik di sekolah. Meskipun jabatan fungsional di sekolah, namun sebutan itu selalu melekat di mana guru berada. Orang pada umumnya tidak tahu (atau bahkan tidak mau peduli) apakah guru itu jabatan sekolah atau jabatan di masyarakat. Bagi mereka yang penting, di masyarakatpun disebut pak guru. Guru, setelah pulang dari sekolah kembali ke keluarga (tentunya bagi mereka yang sudah berkeluarga). Mereka tinggal bersama keluarganya di tengah-tengah masyarakat. Mereka menjadi salah satu anggota masyarakat dan bergaul dengan masyarakat itu pula. Bagi daerah-daerah pinggiran kota, pedalaman, terpencil, dan terisolasi, orang-orang pada umumnya memandang guru adalah segala-galanya. Guru adalah sebagai salah satu orang ”pintar” di lingkungannya. Hampir semua kegiatan melibatkan guru. Misalnya Panitia Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan panitia-panitia perlombaan melibatkan guru. Panitia Pemilihan Umum tingkat nasional, panitia pemilihan gubernur, panitia pemilihan bupati/walikota, semua kegiatan tersebut melibatkan guru. Jabatan Ketua Rukun Wilayah (RW), Rukun Tetangga (RT) di kota-kota juga dijabat oleh guru, Demikian juga dengan acara peminangan, ritual pernikahan dan resepsi pernikahan, biasanya guru masuk dalam jajaran panitia, dan memegang posisi penting. Satu hal lagi, khusus untuk Tanah Papua yang mayoritas berkeyakinan Kristen Protestan, para guru yang bertugas di daerah pinggiran atau pedalaman biasanya dipercaya untuk menggantikan positi Pendeta guna memimpin ibadah di gereja, jika Pendeta tidak hadir. Demikian

Sosiologi Pendidikan

6- 17

juga dengan ibadah-ibadah lainnya seperti pengucapan syukur dan ibadah di rumah keluarga, biasanya dipimpin oleh guru. Bertitik tolak dari tugas-tugas yang diemban oleh guru di luar jabatannya, sebagai konsekuensi guru harus dapat membawa dan menempatkan diri. Guru di daerah-daerah semacam itu mempunyai status sosial yang cukup bagus (tinggi). Guru menjadi teladan dalam kehidupan masyarakat setempat. Menurut Bandura (2003), guru semacam itu merupakan model bagi seluruh masyarakat. Brembeck (Bahar, 1989) menegaskan bahwa dalam masyarakat, banyak harapan dibebankan kepada guru untuk mengemban tugas-tugas kemasyarakatan. Masyarakat menganggap guru itu sebagai ”school master”, yaitu orang-orang yang mempunyai disiplin dan mempunyai kepribadian yang kokoh. Guru juga sebagai orang yang memegang teguh norma-norma agama, moral, dan jujur. Jika suatu ketika guru bertindak tidak sesuai dengan norma-norma agama dan moral, maka nilai guru akan jatuh pada posisi paling dasar. Hal ini berarti guru tidak akan disegani dan dihargai lagi oleh masyarakat setempat. Persepsi masyarakat akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dan kompleks. Brembeck (Bahar, 1989) menegaskan peran guru dalam masyarakat sebagai berikut:

Peserta atau sebagai anggota masyarakat Keikut sertaan atau partisipasi dalam masyarakat merupakan salah satu ciri kehidupan seorang guru. Penelitian yang dilakukan oleh Roy (Bahar, 1989) di Pensylvania Amerika Serikat terhadap 1.100 guru, menyimpulkan bahwa pada umumnya para guru ikut bepartisipasi terhadap masyarakat sebagai partisipan penuh. Hal ini berarti bahwa guru mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat dibandingkan dengan pegawai lainnya, seperti pegawai perusahaan atau para pejabat. Asosiasi Pendidikan Nasional di Amerika (National Education Association) menegaskan bahwa 4 dari 5 guru atau sebanyak 80% guru aktif dalam satu atau dua kegiatan di masyarakat. Fakta ini tentu saja juga dapat ditemukan dalam masyarakat Indonesia di manapun guru berada. Guru-guru sebagaimana contoh di atas, menunjukkan bahwa mereka mampu melakukan interaksi dan komunikasi dengan masyarakat setempat. Guru yang demikian itu akan diterima baik sebagai anggota masyarakat, dan bahkan kadang-kadang guru diperlakukan secara istimewa. Misalnya dalam acara-acara keluarga (lamaran atau peminangan, pernikahan, sunatan, sidi), acara-acara penting di desa guru biasanya duduk di tempat tamu-tamu terhormat layaknya para pimpinan di kampung, desa atau kecamatan.

6 - 18 Unit 6

Pemimpin Keikut sertaan guru dalam masyarakat berbeda dengan guru sebagai pemimpin masyarakat. Orang, lebih khusus guru berpartisipasi dalam masyarakat bukan berarti secara otomatis dia sebagai pemimpin masyarakat. Guru pada dasarnya dipersiapkan sebagai pemimpin dalam pembelajaran atau sebagai pemimpin murid di sekolah dasar. Dia tidak secara khusus dipersiapkan sebagai pemimpin masyarakat. Meskipun demikian, tidak sedikit guru yang menjadi pemimpin masyarakat, baik pemimpin secara formal maupun informal. Hal ini sangat beralasan, karena guru memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan serta nilai-nilai moral dan agama yang dapat menjadi acuan bagi masyarakat setempat. Jika sebagai pemimpin, maka guru harus mampu berinteraksi dengan semua warga masyarakat. Sebagai pemimpin, guru dapat membimbing dan menunjukkan jalan terbaik bagi masyarakatnya. Interaksi yang efektif akan meningkatkan dan mengokohkan posisi guru sebagai pemimpin masyarakat. Pembuka jalan Guru biasanya dipertimbangkan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya, karena guru profesional itu dituntut berpendidikan tinggi dan berpendidikan profesi. Masyarakat mengharapkan kepada guru agar guru menjadi pembuka jalan atau perintis pembangunan di masyarakat. Untuk itu, guru harus pandai berinteraksi dengan masyarakat, karena banyak harapan-harapan masyarakat yang dilimpahkan pada guru. Di samping itu, guru sebagai wakil masyarakat harus mampu beinteraksi dengan pihak lain, misalnya dengan pemerintah kecamatan, kabupaten atau lainnya. Jadi di siniguru berfungsi ganda, yakni sebagai wakil masyarakat dan sekaligus sebagai jembatan dari pemerintah untuk membantu menyampaikan pesan-pesan pemerintah. Pembimbing anak Pada umumnya masyarakat sangat mendambakan bahwa para guru memberikan perhatian penuh pada anak-anak mereka, terutama di sekolah. Interaksi dengan anakanak di masyarakat ini dapat berlangsung baik, jika interaksi guru dan murid di sekolah baik. Namun, jika interaksi dan komunikasi guru dan murid di sekolah kurang baik, maka anak-anak akan menghindar dari guru ketika berada di lingkungannya. Sebanarnya, untuk membantu anak-anak di lingkungannya, guru telah mempunyai sejumlah kompetensi. Guru telah dibekali dengan pengetahuan tentang psikologi perkembangan, khususnya perkembangan peserta didik anak usia

Sosiologi Pendidikan

6- 19

sekolah dasar. Pengetahuan ini semestinya dapat dijadikan sebagai andalan dalam bergaul dengan anak-anak di kampungnya. Komite Sekolah sebagai Masyarakat Suryadi (2003) menegaskan bahwa masyarakat adalah ”stakeholder” pendidikan yang memiliki kepentingan akan keberhasilan pendidikan di sekolah. Masyarakat adalah pembayar pendidikan, baik melalui uang sekolah maupun pajak, sehingga sekolah-sekolah seharusnya bertanggungjawab terhadap masyarakat. Selanjutnya dijelaskan bahwa entitas yang disebut “masyarakat” itu sangat kompleks dan tak berbatas (borderless) sehingga sangat sulit bagi sekolah untuk berinteraksi dengan masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah, konsep masyarakat itu perlu disederhanakan (simplified) agar menjadi mudah bagi sekolah melakukan hubungan dengan masyarakat itu.
Suryadi (2003) menambahkan bahwa penyederhanaan konsep masyarakat itu dapat dilakukan melalui “perwakilan” fungsi stakeholder, dengan jalan membentuk Komite Sekolah (KS) pada setiap sekolah dan Dewan Pendidikan (DP) di setiap kabupaten/kota. DP-KS sedapat mungkin bisa merepresentasikan keragaman yang ada agar benar-benar dapat mewakili masyarakat. Dengan demikian, interaksi antara sekolah dan masyarakat dapat diwujudkan melalui mekanisme pengambilan keputusan antara sekolahsekolah dengan Komite Sekolah, dan interaksi antara para pejabat pendidikan di pemerintah kabupaten/kota dengan Dewan Pendidikan. Bukti tanggung jawab masyarakat terhadap pendidikan diwujudkan dalam fungsi yang melekat pada DP dan KS, yaitu fungsi pemberi pertimbangan dalam pengambilan keputusan, fungsi kontrol dan akuntabilitas publik, fungsi pendukungan (supports), serta fungsi mediator antara sekolah dengan masyarakat yang diwakilinya. Komite sekolah merupakan mitra sekolah yang mempunyai kedudukan sama dengan sekolah. Komite sekolah dan sekolah berkerja bersama-sama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar Mengajar melalui Peningkatan Mutu Pembelajaran yang disebut Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) di SDMI, dan Pembelajaran Kontekstual di SLTP-MTs. (School Development.Com, 2007). Komite sekolah juga berfungsi memantau pelaksanaan program sekolah dan mempermudah akses informasi sekolah bagi orang tua. Interaksi dan komunikasi guru dengan Komite Sekolah (sebagai representasi masyarakat) dapat berjalan lancar, mengingat para guru juga masuk dalam Komite Sekolah sebagai wakil dari sekolah. Guru dan wakil masyarakat yang duduk di Komite Sekolah dapat berbagi pengalaman dan

6 - 20 Unit 6

berbagi ilmu demi peningkatan kualitas sekolah. Di dalam Komite Sekolah, hubungan di antara para anggotanya akan terbina dengan baik, terutama melalui rapat-rapat yang diselenggarakan secara berkala oleh Komite Sekolah. Hambatan-hambatan yang dihadapi oleh sekolah dapat dikomunikasikan dalam forum rapat-rapat Komite Sekolah yang dapat dilaksanakan secara insidental mengingat pentingnya persoalan tersebut.

Latihan
Untuk lebih memantapkan pemahaman anda terhadap materi Sub Unit 2, kerjakanlah soal-soal berikut. 1. Bagaimana seharusnya interaksi guru dengan orang tua? 2. Sebutkan peran guru di masyarakat menurut Brembeck! 3. Bagaimana seharusnya peran guru di dalam Komite Sekolah?

Rambu-rambu Jawaban Latihan
1. Interaksi guru dengan orang tua seharusnya adalah interaksi kesejawatan. Guru bukan atasan atau bawahan orang tua, demikian juga orang tua bukan atas atau bawahan guru. Guru dan orang tua mempunyai tujuan yang sama dalam mendidik anak, namun mempunyai tugas yang berbeda. Guru dan orang tua adalah mitra kerja. 2. Peran guru di masyarakat menurut Brembeck adalah sebagai anggota masyarakat (peserta), sebagai pemimpin, sebagai pembuka jalan, dan sebagai pembimbing anak. 3. Peran guru di dalam Komite Sekolah. Guru seharusnya aktif dan kreatif di dalam Komite Sekolah. Segala sesuatu yang menghambat peningkatan kualitas pembelajaran sekolah harus dikomunikasikan sesegera mungkin ke Komite Sekolah, sehingga tidak akan terjadi kemacetan. Guru sebaiknya mampu berkreasi menciptakan terobosan-terobosan untuk meningkatkan kualitas pemebalajaran. Gagasan-gagasan ini baik sekali jika ditawarkan kepa Komite Sekolah.

Sosiologi Pendidikan

6- 21

Rangkuman
Interaksi dan komunikasi yang dibangun oleh guru adalah interaksi dan komunikasi kesejawatan. Guru dapat meminta kepada orang tua murid untuk menyampaiakan aspek-aspek keunggulan anaknya, demikian juga aspek-aspek kelemahan dari anaknya itu. Mencari dan mengetahui kelemahan-kelemahan murid, bagi guru adalah dengan tujuan yang muliah, bukan untuk memojokkan murid. Guru semacam ini akan dapat merancang pengajaran yang mempertimbangkan perbedaan individual diantara murid-muridnya. Dengan demikian guru akan dapat mengambil manfaat guna mendidik anak yang bersangkutan. Peran guru dalama masyarakat menurut Brembeck antara lain adalah sebagai peserta atau anggota massyarakat, sebagai pemimpin, sebagai pembuka jalan, dan sebagai pembimbing anak-anak. Masyarakat adalah ”stakeholder” pendidikan yang memiliki kepentingan akan keberhasilan pendidikan di sekolah. Masyarakat adalah pembayar pendidikan, oleh karena itu sekolah-sekolah seharusnya bertanggungjawab terhadap masyarakat. Entitas yang disebut “masyarakat” itu sangat kompleks dan tak berbatas (borderless) sehingga sangat sulit bagi sekolah untuk berinteraksi dengan masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah, konsep masyarakat itu perlu disederhanakan (simplified) agar menjadi mudah bagi sekolah melakukan hubungan dengan masyarakat itu. Penyederhanaan konsep masyarakat itu dapat dilakukan melalui “perwakilan” fungsi stakeholder, dengan jalan membentuk Komite Sekolah (KS) pada setiap sekolah dan Dewan Pendidikan (DP) di setiap kabupaten/kota

6 - 22 Unit 6

Tes Formatif
Untuk mengetahui daya serap anda terhadap materi Sub Unit 2, kerjakan soal-soal berikut ini. Petunjuk: 1. Kerjakan di lembar tersendiri. 2. Pilihlah jawaban A. Jika alternatif jawaban (1), (2) dan (3) benar semua E. Jika alternatif jawaban (1) dan (2) benar F. Jika alternatif jawaban (2) dan (3) benar G. Jika alternatif jawaban (1), (2) dan (3) salah semua 1. Manusia normal pada hakekatnya mempunyai keinginan untuk: (1) Mengembangkan diri. (2) Mempertahankan diri. (3) Merusak diri 2. Manakah dari pernyataan berikut yang benar: (1) Proses pembelajaran di sekolah hampir sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru kelas. (2) Guru harus dapat dipercaya oleh orang tua murid. (3) Pada hakekatnya guru sekolah dasar adalah model. 3. Interaksi antara guru dengan orang tua adalah interaksi: (1) Antara atasan dengan bawahan (2) Antara bawahan dengan atasan (3) Antara guru dan orang tua tidak terjadi interaksi 4. Manakah kegitan berikut yang benar: (1) Orang tua tidak perlu menyampaikan kepada guru kelas tentang kelemahankelemahan anaknya, karena itu adalah aib (memalukan) keluarga. (2) Guru harus merahasiakan prestasi belajar murid yang jelek, meskipun kepada orang tua murid, karena tidak etis. (3) Laporan guru tentang kelambatan murid dalam proses pembelajaran seharusnya disampaikan kepada orang tua ketika orang tua menrima hasil laporan pendidikan (buku raport). 5. Guru harus mengkomunikasikan kemajuan anak di sekolah kepada orang tua berkenaan dengan: (1) Khusunya tindakan anak yang bersifat kriminal (2) Semua hal yang positif (3) Semua hal yang negatif

Sosiologi Pendidikan

6- 23

6. Guru yang profesional adalah orang yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) model bagi masyarakat. (2) memegang teguh norma agama, moral dan jujur. (3) “school master” 7. Brembeck mengajukan sejumlah peran guru dal;am masyarakat. Manakah yang bukan merupakan peran guru di masyarakat: (1) sebagai peserta. (2) sebagai pemimpin. (3) sebagai pembuka jalan 8. Guru-guru di perdesaan biasanya mempunyai peran banyak. Peran guru tersebut antara lain adalah: (1) Pemimpin masyarakat (2) Membimbing anak-anak dan pemuda (3) Tidak berperan, mengingat tugas-tugas guru di sekolah telalu berat 9. Komite sekolah merupakan penyederhanaan dari msyarakat yang dapat dikatakan tidak terbatas. Anggota Komite Sekolah terdiri dari: (1) Murid-murid di sekolah tersebut (2) Guru di sekolah tersebut (3) Orang tua murid di sekolah tersebut 10. Komite sekolah mempunyai sejumlah pekerjaan. Tugas Komite Sekolah antara lain adalah: (1) memantau program sekolah apakah telah dilaksanakan sesuai dengan perencamnaan. (2) memantau kondisi sekolah (3) memantau dan memeriksa kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan sekolah, karena masyarakat yang mendanai sekolah.

6 - 24 Unit 6

Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah anda selesai mengerjakan Tes Formatif 1, pekerjaan berikutnya adalah mencocokkan hasil pekerjaan anda dengan kunci jawaban. Kunci jawaban terdapat pada bagian akhir Unit 1. Hitunglah jumlah jawaban anda yang benar, kemudian masukan ke dalam rumus berikut; Jumlah jawaban benar Tingkat Penguasaan = -------------------------- x 100% Jumlah soal Rentangan tingkat penguasaan sebagai berikut: 90 - 100 % = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup 0 - 69% = kurang Berapa tingkat penguasaan anda terhadap bahan yang telah dipelajari? Jika hasil perhitungan menunjukkan angka 80% ke atas, bagus sekali, dan selamat untuk anda. hal ini menunjukkan bahwa anda benar-benar telah menguasai bahan dengan memadai. Selanjutnya anda dapat mempelajari Sub Unit 2. namun jika penguasaan anda belum mencapai 80%, maka anda disarankan untuk mempelajari kembali, terutama bagian-bagian yang belum anda kuasai itu. Anda harus optimis dan berpikir positif, bahwa diri anda akan mampu menguasai bahan dimaksud.

Sosiologi Pendidikan

6- 25

Kunci jawaban Tes Formatif

Kunci Jawaban Tes Formatif 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 B Jawaban 1 dan 2 benar, sedangkan jawaban 3 salah karena tidak sesuai dengan kenyataan A Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya benar C Jawaban 2 dan 3 benr, sedangkan jawaban 1 bukan merupakan hasil dari sistem pendidikan D Jawaban 1, 2 dan 3 salah semua B Jawaban 1 dan 2 benar, jawaban 3 salah karena revolusioner bukan merupakan cirri guru profesional A Jawaban 1, 2 dan 3 benar semua C Jawaban 2 dan 3 benar, jawban 1 salah karena teman sejawat tidak sama pengertiannya dengan teman sepermainan A Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya benar D Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya salah

10 A Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya benar

Kunci Jawaban Tes Formatir 2 1 2 3 4 5 6 B Jawaban 1 dan 2 benar, jawaban 3 salah karena tidak ada manusia normal yang merusak diri A Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya benar D Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya salah D Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya salah C Jawaban 2 dan 3 benar, jawaban 1 khusunya tindakan anak yang bersifat kriminal termasuk pada jawaban 3 A Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya benar

6 - 26 Unit 6

7 8 9

D Jawaban 1, 2 dan 3 semuanya salah B Jawaban betul adalah 1 dan 2, jawaban 3 salah, karena tidak berperan, mengingat tugas-tugas guru di sekolah telalu berat C Jawaban betul adalah 2 dan 3, jawaban 1 salah, karena murid tidak termasuk dalam Komite Sekolah

10 B Jawaban betul adalah a dan b, sedangkan c salah, karena Komite Sekolah tidak berhak memeriksa kesalahan-kesalahan fatal

Sosiologi Pendidikan

6- 27

Glossarium
Guru :

adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah
adalah hubungan timbal balik antara individu yang satu dengan individu lain, atau antara individu dengan kelompok, adalah lembaga yang didirikan oleh sekolah yang beranggotakan guru pegawai administrasi dan orang tua. Tujuan komite sekolah adalah membantu memperlancar tugas-tugas sekolah dan meningkatkan kualitas sekolah adalah sekolompok orang yang tinggal di suatu wilayah yang sama dan di bawah pemerintahan yang sama. adalah ayah dan ibu atau wali yang mempunyai anak sekolah yang belajar di sekolah dasar

Interaksi Komite Sekolah

: :

Masyarakat Orang tua

: :

6 - 28 Unit 6

Daftar Pustaka
Ahmadi, A. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Bahar, A. 1989. Landasan Kependidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Peningkatan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003: Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. --------------. 2005. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005: Tentang guru dan dosen. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Kamus Online. 2007. Library > Words > Dictionary. file:///H:/community.htm Kompas. 2006. Susahnya benahi profesi guru. Terbit 21-02-2006. file:///C:/Documents%20and%20Settings/TOSHIBA/My%20Document s/Int-JKT/2341110.htm.kompas.htm Partino, H.R. 2005. Upaya peningkatan kualitas wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun: Makalah disajikan dalam pembekalan mahasiswa kuliah kerja nyata waib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Jayapura: Lembaga Pengabdian pada Masyarakat Universitas Cenderawasih. (bahan tidak diterbitkan) --------------. 2006. Mutu pelayanan pendidikan di tanah Papua. (Bahan disajikan dalam Bimbingan Teknis bagi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Anggota Majelis Rakyat Papua, dan Stake Holder. Jayapura: Penerbit Pusat Kajian Demokrasi, Universitas Cenderawasih. Suryabrata, S. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Suryadi, A. 1995. Studi peningkatan mutu pendidikan dasar di negara berkembang dan implikasinya bagi upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia: Studi
Sosiologi Pendidikan

6- 29

Meta Analisis). Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. November 001. 72-94.
--------------. 2003. Dewan pendidikan dan komite sekolah: Mewujudkan sekolahsekolah yang mandiri dan otonom. Bahan disampaikan pada Sosialisasi Pemberdayaan Dewan Pendidikan Dan Komite Sekolah selama Juni 2003. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Williams, R. 2007. Keywords. file:///H:/definition.html

6 - 30 Unit 6

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->