BAB.

2 TINJAUAN PUSTAKA

A.

Pengertian hipertensi Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama). Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri. Satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah kita secara teratur.

B. Tanda dan gejala hipertensi Pada sebagian besar penderita hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.

C. Penyebab hipertensi 1. Berdasarkan penyebabnya, Hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : Hipertensi esensial atau primer. Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas (keturunan), obesitas. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder.

Etnis Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang berkulit putih. Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Belum diketahui secara pasti penyebabnya. 5. Laki-laki juga mempunyai resiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Umur. 4. 3. 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya. Faktor genetic Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai resiko menderita hipertensi. Jenis kelamin Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. namun dalam orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar. Individu yang berumur di atas 60 tahun. Stres Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Obesitas . 2.Factor resiko yang menyebabkab hipertensi antara lain: 1. Individu dengan orangtua hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. kelas sosial. Sedangkan di atas umur 50 tahun hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan. ekonomi. dan karakteristik personal.

7. 6. antara lain kelainan pembuluh darah ginjal. Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalam upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia. Pada populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring umur. Factor resiko hipertensi Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial. maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara . Obesitas terutama pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut. asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. penderita dan lain lain. Asupan garam tinggi yang dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi adalah lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi kedalam takaran sendok makan adalah lebih dari dua sendok makan. Merokok Penelitian terakhir menyatakan bahwa merokok menjadi salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. 2. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui. Nutrisi Yodium adalah penyebab penting dari hipertensi esensial. penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme).Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid). tidak dijumpai peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur.

Sedangkan hipertensi sekunder. Menstabilkan berat badan Secara fisiologi turunnya berat badan ini menyebabkan berkurangnya volume darah dan curah jantung. hipertensi primer tidak bisa disembuhkan sehingga yang bias dilakukan adalah mengurangi factor predisposisi dan presipitasi sehingga terhindar dari komplikasi hipertensi.lain faktor genetik. 3. PENCEGAHAN HIPERTENSI Berdasarkan penyebab hipertensi. umur. . sehingga bila kita tidak ingin menderita hipertensi jauhilah konsumsi rokok dan alcohol. Asupan yang dianjurkan adalah pengurangan asupan kalori berlebih pada seseorang yang overweigh dan asupan lemak dan obesitas. dan hal ini bias dicapai hanya dengan mengurangi berat badan tanpa mengurangi asupan garam. Olahraga atau aktifitas teratur Olahraga teratur selain menjaga berat badan tetap normal atau ideal tapi juga bisa menurunkan tekanan darah yang menjaga kebugaran tubuh. dan nutrisi D. Pengaturan diet Pengaturan asupan makanan dilakukan guna untuk menjaga kestabilan berat badan dan mengendalikan jumlah kolesterol dan lemak dalam darah. obesitas. dan etnis. Selain itu diperlukan dianjurakan pengontrolan kolesterol serrta memperbanyak megkonsumsi sayuran dan buah-buahan. seperti: 1. 2. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres. penyebabanya bias dihindari dengan melakukan beberapa perlakuan. Secara fisiologis olahraga bisa menyebabkan peredaran darah lancer dan mengurangi penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan perifer tetap stabil dan tidak meningkat. jenis kelamin. 4. Menurunkan factor resiko yang menyebabkan aterosklerotik Factor resiko aterosklerotik adalah konsumsi rokok dan alcohol yang berlebih.

E. . harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. 2. Penanganan dan pengobatan hipertensi 1. pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah : a) Diet rendah garam. Nasehat pengurangan garam. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal. d) Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan. Olah raga juga dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit). Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu: Pengobatan non obat (non farmakologis) Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah. c) Ciptakan keadaan rileks Berbagai cara relaksasi seperti meditasi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. kolesterol atau lemak jenuh b) Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis. karena olah raga isotonik (spt bersepeda. Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi. aerobic) yang teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah. jogging.

a) Diuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatnya adalah : Metoprolol. karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.e) Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alcohol. g) Kurangi berat badan bila berlebihan h) Lakukan latihan aerobic (senam) i) Kurangi stress berlebih Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) Obat-obatan antihipertensi. f) Setelah umur 30 tahun. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid. Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati. Klonidin dan Reserpin c) Betabloker Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. d) Vasodilator . Propranolol dan Atenolol. b) Penghambat Simpatetik Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. periksa tekanan darah setiap tahun. Contoh obatnya adalah : Metildopa.

Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. lemas dan mual. g) Penghambat Reseptor Angiotensin II Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur. Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin.Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). serta menghindari faktor resiko terjadinya hipertensi. Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering. . Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit. Hidralasin. pusing. pusing. f) Antagonis kalsium Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing. maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan. sakit kepala dan lemas. e) Penghambat ensim konversi Angiotensin Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). sakit kepala dan muntah. Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala. Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin. pusing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful