P. 1
2

2

|Views: 257|Likes:

More info:

Published by: Triani Fatimaningpuri on Aug 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2015

pdf

text

original

Bab 2 Tinjauan Pustaka

2.1. Manajemen Persediaan Dalam sistem manufaktur maupun non manufaktur, adanya persediaan merupakan faktor yang memicu peningkatan biaya. Meskipun demikian persediaan tetap diperlukan karena kondisi nyata dari kebutuhan (permintaan) dapat bersifat tidak pasti. Menetapkan jumlah persediaan yang terlalu banyak akan mengakibatkan pemborosan biaya penyimpanan, sedangkan menetapkan jumlah persediaan yang terlalu sedikit juga berakibat hilangnya kesempatan untuk mendapatkan keuntungan apabila permintaan nyata melebihi permintaan yang diperkirakan. Tujuan manajemen persediaan adalah untuk menentukan tingkat persediaan yang dapat meminimumkan biaya atau paling ekonomis. 2.1.1. Pengertian Persediaan Bahan Baku
Defunisi Bahan baku merupakan komponen atau material yang pokok dalam proses produksi untuk digunakan atau diolah menjadi produk jadi. Persediaan bahan baku

didalam perusahaan adalah merupakan hal yang sangat wajar untuk dikendalikan dengan baik. Setiap perusahaan yang menghasilkan produk akan memerlukan persediaan bahan baku, baik disengaja maupun tidak disengaja perusahaan yang bersangkutan ini akan menyelenggarakan persediaan bahan baku yang menunjang jalannya proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan. Didalam hal ini tidak akan terkecuali, baik perusahaan tersebut merupakan suatu perusahaan kecil, perusahaan menengah maupun perusahaan besar. Namun demikian cara penyelenggaraan persediaan bahan baku ini akan berbeda-beda untuk setiap perusahaan tersebut, baik dalam hal jumlah unit dari persediaan bahan baku yang ada didalam perusahaan mupun manajemen ataupun pengelolaan dari persediaan bahn baku didalam perusahaan yang bersangkutan tersebut Pelaksanaan persediaan bahan baku merupakan fungsi atau tugas terakhir dari seorang pimpinan, banyak usaha yang gagal atau tujuan yang tidak tercapai

5

6

disebabkan sistem pengendalian persediaan bahan baku yang buruk dan lemah. Pelaksanaan persediaan bahan baku yang diterapkan secara tepat, memungkinkan manajemen dapat mengetahui bahan bahan yang dibutuhkan pada saat proses produksi. Oleh karena itu, perlu berbagai usaha untuk menanggulanginya. Sehingga kemungkinan terjadinya penyimpangan dan kecurangan dapat dihindari. Salah satu penanggulangan atas kemungkinan penyimpangan kecurangan tersebut adalah manajemen harus menerapkan sistem pengendalian persediaan bahan baku dengan baik dan terencana. Bahan yang dibutuhkan dalam proses produksi terdiri dari : 1. Bahan langsung (direct materials) adalah bahan yang menjadi pengeluaran terbesar dalam memproduksi sesuatu. 2. Bahan tidak langsung (indirect materials) merupakan bagian dari produk jadi tetapi hanya digunakan dalam jumlah sedikit sehingga biaya yang dikeluarkan tidak lebih besar jika dibandingkan dengan biaya langsung. 3. Perlengkapan (supplies) merupakan bahan yang digunakan dalam proses produksi tetapi tidak mengambil bagian dalam barang jadi. Adapun definisi sistem persediaan yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain : 1. Arman Hakim Nasution dan Yudha Prasetyawan (2008) Sistem persediaan adalah sumberdaya mengangur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud dengan proses lebih lanjut adalah berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga. 2. Hendra Kusuma (2001) Persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang, persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, dan barang jadi yang disimpan untuk dijual. Persediaan memegang peran penting agar perusahaan dapat berjalan dengan baik.

7

3. Freddy Rangkuti (2004) Pengertian persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang – barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau persediaan barang – barang yang masih dalam pengerjaan (proses produksi), atau persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Menurut Freddy Rangkuti (2004), persediaan yang diadakan mulai dari bentuk bahan mentah sampai barang jadi, antara lain berguna untuk : 1. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan. 2. Menghilangkan resiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan. 3. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasar. 4. Mempertahankan stabilitas dalam operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi. 5. Mencapai penggunaan mesin yang optimal. 6. Memberi pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut. 7. Membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaan atau penjualannya. Setiap jenis persediaan memiliki karakteristik tersediri dan cara pengelolaan yang berbeda. Persediaan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis persediaan secara fisik, yaitu : 1. Persediaan bahan mentah (raw materials), yaitu persediaan barang-barang berwujud seperti besi, kayu, serta komponen – komponen lain yang digunakan dalam proses produksi.

barang dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang diperlukan.  Memperoleh effisiensi produksi (manufacturing economies). tetapi bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi. yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk didistribusikan ke konsumen. Keuntungan yang diperoleh dengan batch stock/lot size inventory antara lain sebagai berikut :  Memperoleh potongan harga (discount). Proses Barang Setengah Jadi Bahan Baku Barang Jadi Produksi Gambar 2. 5.1. tetapi masih perlu proses lebih lanjut menjadi barang jadi.8 2. 3. 4. Proses Transformasi Produksi Menurut Freddy Rangkuti (2004).  Biaya angkut per unit lebih murah. Persediaan komponen (parts). Persediaan barang setengah jadi (work in process). Persediaan bahan pembantu (supplies). yaitu persediaan barang-barang keluaran dari tiap – tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk. Persediaan barang jadi (finished good). yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen – komponen yang diperoleh dari perusahaan lain yang secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk. . bentuk persediaan yang terdapat perusahaan dapat dibedakan menurut cara dan yakni sebagai berikut : 1) Batch stock / Lot Size Inventory dalam maksud pembeliannya Batch Stock / Lot Size Inventory adalah persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuatbahan – bahan atau barang . yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi.

penjualan atau permintaan yang meningkat. 3) Anticipation Stock Anticipation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan. Menurut Freddy Rangkuti (2004). waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti karena banyak faktor yang tak dapat dikendalikan. Keinginan untuk melakukan spekulasi dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga dimasa yang akan datang. Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelumnya.2. Ketidakpastian terjadi akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun waktu kedatangan. Persediaan yang diadakan untuk . Fungsi decoupling Persediaan ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier. Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut: 1. berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan. dilihat dari fungsinya persediaan dapat dibedakan atas : 1. Keinginan untuk meredam ketidakpastian.1. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan. Penyebab dan Fungsi Persediaan Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu produk dengan produk berikutnya. 2.9 2) Fluctuation Stock Fluctuation Stock adalah persediaan yang diadakan untuk mengahadapi fluktuasi permintaan yang tidak dapat diramalkan. 3. Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan dan pengiriman. maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan. 2.

Persediaan memungkinkan perusahaan mencapai skala ekonomis (economic of scale) 2. dibanding biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan. 3. Persediaan sebagai penyangga. Fungsi antisipasi Anticipation stock berguna untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan atau diramalkan berdasar pengalaman atau data-data masa lalu (permintaan musiman).1. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories) jika perusahaan menghadapi ketidakpastian dan diramalkan berdasarkan pengalaman atau datadata masa lalu. 3. Fungsi economic lot sizing Persediaan ini mempertimbangkan penghematan-penghematan (potongan pembelian. baik ketidakpastian penawaran maupun ketidakpatian penawaran 4. Disamping itu perusahaan juga sering menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang selama periode pesanan kembali sehingga memerlukan persediaan pengaman (safety stock / inventory). biaya pengangkutan per unit lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar. Persediaan dapat melindungi perusahaan dari ketidakpatian.10 menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan (fluctuation stock) 2. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan menyimpan persediaan. sehingga kontinuitas produksi tetap terjaga walaupun intensitas permintaan dan penawaran reatif berfluktuasi. antara lain : 1.3. Persediaan merupakan penyeimbang antara permintaan dan penawaran. Tujuan Persediaan Tujuan utama dari persediaan adalah sebagai penyangga (buffer function) antara permintaan dan penawaran. . Fungsi persediaan bahan baku bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian produksi sebagai akibat fluktuasi pasokan bahan baku. 2.

2. 3. Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan persediaan. Berapa jumlah barang yang sedang dipesan. Jenis barang apa yang dimiliki. komponen. barang dalam proses. 3. dalam kuantitas yang optimal dan pada waktu yang optimal. bahan baku secara optimal. Kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan. Secara kuantitatif. 2. masalah persediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai berikut: 1. variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan adalah sebagai berikut: 1. Dimana barang tersebut berada. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi. Bagaimana mengendalikan persediaan. Variabel keputusan dalam pengendalian tradisional dapat diklasifikasikan ke dalam variabel kuantitatif dan variabel kualitatif. Sistem Persediaan Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola masukan-masukan yang berhubungan dengan persediaan menjadi output. dan berapa besar pesanan harus dilakukan. 4. Secara kualitatif. yaitu biaya penyimpanan. 4. menentukan persediaan yang harus dijaga. Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat persediaan. Berapa jumlah persediaan pengaman.2. dimana untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. kapan persediaan harus diisi. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat. . Siapa saja yang menjadi pemasok masing-masing item. biaya pemesanan dan biaya kekurangan persediaan.11 2.

Alasannya adalah pemakaian bahan periode lalu merupakan indicator tentang penyerapan bahan oleh proses produksi. 4. Harga bahan ini bila dikalikan dengan jumlah bahan yang diperlukan merupakan kebutuhan modal yang harus disediakan untuk membeli persediaan tersebut. 2. maka mengukur kontribusi pengendalian persediaan dalam mencapai total keuntungan bukan hal mudah. Dengan demikian. 3. Beberapa faktor yang menentukan besarnya persediaan yang harus diadakan. Perkiraan pemakaian bahan Penentuan besarnya persediaan bahan yang diperlukan harus sesuai dengan kebutuhan pemakaian bahan tersebut dalam suatu periode produksi tertentu. maka ukuran optimalitas pengendalian persediaan seringkali diukur dengan keuntungan maksimum yang dicapai. Faktor-faktor dominan yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. di mana faktor-faktor tersebut saling bertautan satu sama lain. Perencanaan pemakaian bahan baku pada suatu periode yang lalu (actual usage) dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan bahan. Harga Bahan Harga bahan yang diperlukan merupakan faktor lainnya yang dapat mempengaruhi besarnya persediaan yang harus diadakan. Optimalisasi pengendalian persediaan biasanya diukur dengan total biaya minimal pada suatu periode tertentu. Adapun jenis biaya persediaan adalah biaya pemesanan (biaya order) dan biaya penyimpanan bahan gudang. Biaya persediaan Terdapat beberapa jenis biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan.12 Secara luas tujuan sistem persediaan adalah menemukan solusi optimal terhadap seluruh masalah yang terkait dengan persediaan. bila kondisinya sama berarti pada periode yang akan datang dapat ditentukan besarnya persediaan bahan baku bersangkutan. Karena perusahaan memiliki banyak subsistem lain selain persediaan. Waktu menunggu pesanan (lead time) . Dikaitkan dengan tujuan umum perusahaan.

menyetel mesin. mempersiapkan gambaran kerja dan seterusnya. Waktu tenggang ini merupakan salah satu faktoryang perlu diperhatikan agar bahan/barang yang dipesan datang tepat pada waktunya. biaya ini timbul karena sejumlah uang yang tertanam . Biaya . yaitu semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi suatu barang.  Biaya pembuatan (setup cost= k).biaya sistem persediaan adalah sebagai berikut berikut : 1. Artinya jangan sampai terjadi kehabisan bahan di gudang. 2. Biaya pembelian (purchaising cost = c) adalah untuk membeli biaya yang dikeluarkan barang. 2. Biaya penyimpanan (carrying cost) adalah semua pengeluaran yang timbul akibat memiliki persediaan selama satu kurun waktu.1. Pada beberapa model pengendalian sistem persediaan. Biaya modal. Biaya penyimpanan meliputi : a.2. penerimaan dan sbagainya. biaya tidak dimasukan sebagai dasar untuk membuat keputusan. pengiriman pesanan. pengetikan pemesanan. Biaya ini timbul di dalam pabrik yait meliputi biaya penyusunan produksi. Biaya – Biaya Dalam Sistem Persediaan Secara umum dapat dikatakan bahwa biaya sistem persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugiaan yang timbul sebagai akibat adanya persediaan. Biaya pengadaan ini dibedakan atas 2 jenis yaitu:  Biaya pemesanan (ordering cost = k). 3.13 Waktu menunggu pesanan (lead time) adalah waktu antara atau tenggat waktu sejak pesanan dilakukan sampai dengan saat pesanan tersebut masuk ke gudang. pengangkutan. Biaya ini diasumsikan konstan untuk setiap kali pemesanan. Biaya pengadaan (procurement cost). yaitu semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari luar. besarnya biaya pembelian ini tergantung pada jumlah barang yang dibeli dan harga satuan barang. Biaya ini meliputi biaya untuk menentukan pemasok (supplier).

Biaya penyiapan adalah semua pengeluaran Biaya yang ini timbul meliputi dalam biaya dari pinjaman bank. biaya mempersiapkan / menyetel (set-up) mesin. Biaya ini juga dapat dilihat dari kehilangan kesempatan bagi mempersiapkan produksi. maka akan terjadi stock out. Biaya kekurangan persediaan adalah bila perusahaan kehabisan barang saat ada permintaan. ketinggalan jaman. Jika gudangnya milik sendiri. persiapan peralatan produksi. yaitu biaya . Sebagai pedoman.biaya yang terjadi karena barang mengalami kerusakan. biaya angkut. 4. Biaya ini terjadi bila item sediaan diproduksi sendiri dan tidak membeli dari pemasok. maka biaya asuransi adalah biaya yang harus dibayar menurutjumlah persediaan yang diasuransikan. biaya perencanaan dan penjadwalan produksi. Stock out menimbulkan kerugiaan berupa keuntungan biaya akibat kehilangan kesempatan mendapatkan atau kehilangan pelanggan yang kecewa (yang pindah ke produk saingan).14 dalam persediaan yang merupakan bunga jika pihak perusahaan mendapatkan modal yang tertanam dalam persediaan keperluan mendesak lainya. Pajak. yaitu biaya sewa gudang tempat penyimpanan persediaan. dan biaya administrasi lainya. Biaya kemerosotan harga. yaitu biaya yang dikenakan pada barang dalam persediaan sebagai pajak. biaya mempersiapkan tenaga kerja langsung. b. biaya stock out dapat dihitung dari hal-hal . e. maupun kehilangan barang. 5. dan biayabiaya lain yang besarnya tidak tergantung pada jumlah item yang diproduksi. c. Biaya gudang (storage cost). Biaya asuransi. Biaya ini sulit diukur karena berhubungan dengan good will perusahaan. maka biaya sewa gudang menjadi biaya pemeliharaan dan penyusutan gudang. penurunan kualitas barang. bila barang yang disimpan diasuransikan. biaya mempersiapkan gambar kerja. d.

sehingga waktu menganggur tersebut dapat diartikan sebagi uang yang hilang  Biaya pengadaan darurat. Berapa harga rata-rata dan range kebutuhannya.15 berikut :  Kuantitas yang tak dapat dipenuhi. Kebutuhan atau demand. biasanya diukur dari keuntunngan yang hilang karena tidak dapat pemenuhan permintaan. Lamanya gudang atau kosong berarti lamanya tidak proses produksi terhenti lamanya perusahaan mendapatkan keuntungan. Periode penjadwalan. yaitu jumlah pemesanan untuk setiap periode penjadwalan. 2. maka dapat dilakukan pengadaan darurat yang biasanya menimbulkan biaya lebih besar ketimbang biaya pengadaan normal. akan tetapi harus diketahui bagaimana karakteristik kebutuhan. berapa besarnya. 2. adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh pemakai yang perlu dikeluarkan dari sistem persediaan. misalnya:  Bagaimana pola datanya. Karakteristik Sistem Persediaan Adapun unsur-unsur yang membentuk sistem persediaan yang harus diperhitungkan dengan sebaik-baiknya oleh suatu perusahaan. Agar konsumen tidak kecewa. dalam menentukan cara penambahan persediaan harus diidentifikasikan elemen-elemen sebagai berikut: Jumlah penambahan. yaitu: 1.2. dan kapan dibutuhkannya. Sebenarnya kebutuhan sulit untuk dikontrol karena ia dibentuk oleh orang diluar organisasi perusahaan. tetap atau berubah-ubah. yaitu panjang waktu antara 2 pemesanan yang berurutan biasa tetap atau berubah-ubah. Penambahan persediaan.2. Lead Time. Perkiraaan kebutuhan besar artinya untuk menentukan solusi dari sistem. Lead time hanya berpengaruh terhadap sistem . yaitu tenggang waktu antara barang yang dipesan sampai barang tersebut datang. Biaya ini diistilahkan sebagai biaya pinalti atau hukuman kerugiaan bagi perusahaan  Waktu pemenuhan.

Kriteria dalam Klasifikasi tersebut merefleksikan kesulitan dalam pengontorlan masing – masing merupakan pembatas bagi sistem persediaan. Elemen biaya persediaan. sedangkan pada sistem deterministik tidak banyak pengaruhnya karena kebutuhannya konstan. 4.3. komponen – komponen. Ketiga macam biaya itu adalah: Biaya memiliki persediaan (carrying cost). Fungsi dari metode Analisis Persediaan ABC adalah untuk menetahui jenis – jenis barang yang perlu mendapatkan prioritas. sehingga pernyataannya dikenal sebagai analisis persediaan ABC. barang – barang tersebut mungkin berupa produk jadi. Biaya penambahan persediaan (replenishing cost).16 probabilistik. berlaku jika ada aturan-aturan khusus yang Barang boleh ditukar. Vilfredo Pareto membagi barang – barang yang disimpan oleh sistem persediaan suatu perusahaan menjadi 3 klasifikasi. 3. dan C. Keterbatasan gudang. dimana 2 diantaranya atau seluruhnya harus dikontrol. Biaya kekurangan persediaan (shortage cost). 2. Ketergantungan terhadap kebutuhan sebelumnya. sehingga perlu dilakukan pengendalian persediaan berdasarkan skala prioritas. Pembatas (constrain). Metode Analisis Persediaan ABC Suatu perusahaan yang besar mungkin akan menyimpan lebih dari ribuan barang dengan jenis yang berbeda. barang – barang pembantu poduksi dan barang – barang administrasi. B. Naddor berpendapat bahwa pada sistem persediaan hanya terdapat 3 macam biaya penting. yaitu A. Harga bervariasi tergantung jumlah pemesanan. Biaya investasi dan biaya penyimpanan barang – barang tersebut tentunya membutuhkan dana yang sangat besar. seperti: .

2. Pareto mengklasifikasikan barang – barang dalam analisi persediaan ABC dengan kriteria – kriteria umum sebagai berikut : 1. dan jumlah barangnya meliputi 40% dari seluruh barang yang ada. Kelompok B Kelompok barang-barang yang menyerap modal sebesar 10%-15% dari jumlah modal keseluruhan dan jumlah barangnya sendiri adalah 30%-40% dari jumlah barang yang ada. Barang yang nilai uangnya kecil dibanding nilai total persediaan meskipun jumlah unitnya besar tidak akan memerlukan pengawasan yang sangat ketat. dan menyerap modal sebesar 80% dari seluruh modal yang tertanam dalam persediaan. Analisis persediaan ABC biasanya dibuat berdasarkan besar kecilnya nilai uang barang terhadap investasi total tahunan barang yang disimpan. Kelompok C Kelompok barang-barang yang menyerap modal sebesar 5%-10% dari jumlah modal keseluruhan.17 item dan pengaruh daripada item tersebut dalam pembiyaan dan profitabilitas perusahaan. 3. karena hal tersebut akan memerlukan persediaannya. Jenis barang dalam kelompok ini berjumlah 15 . 10 0 9 0 8 0 7 0 6 0 5 0 4 0 3 0 2 0 biaya pengawasan yang lebih besar dibandingkan nilai . Kelompok A Kelompok ini adalah barang-barang yang menyerap modal dalam prosentase yang besar.25% dari seluruh jenis barang yang ada.

2. dievaluasi dan dicek kembali karena jenis barang dalam kelompok A merupakan jenis barang yang sangat tinggi nilai penjualannya. Jenis barang kelompok B merupakan perhatian nomor dua dibawahnya.2. Sedangkan jenis barang kelompok C harus dianlisis secara kasual dengan memperhatikan satu demi satu kecenderungannya. Usaha-usaha untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang tidak akan terlepas dari kegiata peramalan (Forecasting). Analisa kebutuhan bertujuan untuk melihat atau memperkirakan prospek ekonomi atau kegiatan usaha serta pengaruh lingkungan terhadap prospek tersebut.4. agar tujuan-tujuan tesebut dapat tercapai maka segala sesuatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang harus diantisipasi sedini mungkin agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Pengertian Analisa Kebutuhan (Forecasting) Forecasting adalah upaya untuk memperkirakan apa yang terjadi dimasa yang akan datang dan objek yang diramalkan dapat meliputi apa saja. dan Manufacturing Resource Planning. dimana objek yang diramalkan adalah kebutuhan. Persentase Masing-masing Jenis Barang dalam Persediaan (ranking) Untuk tujuan manajemen. Dalam suatu manufakturing peramalan merupakan langkah awal dalam penyusunan Production Inventory Management. sedangkan pada industri yang menganut Make to Order peramalan hanya merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan mesin yang akan digunakan. Analisa kebutuhan yang akan datang disering disebut juga “ Peramalan (Forecasting) “. Suatu kebijakan usaha memang tidak lepas akan terlepas dari usaha untuk meningkatakan performasi dan keberhasilan perusaaan. . jenis barang A harus menerima analisis yang maksimal. Manufacturing and Planning Control. Dengan demikiaan secara keseluruhan jenis barang yang termasuk dalam kelompok A harus menjadi fokus perhatian utama. Pada industri yang menganut sistem Make to Stock peramalan merupakan input utama.18 1 0 1 0 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 8 0 9 0 10 0 Gambar 2.

Prinsip-prinsip Peramalan Plossi mengemukakan lima prinsip peramalan yang perlu dipertimbangkan: 1. 2. back order. Jika kesulitan terjadi pada metode sederhana. Karakteristik Peramalan Karakteristik dari peramalan yang baik harus memenuhi beberapa kriteria yaitu dari hal-hal sebagai berikut:  Ketelitian Ramalan harus memiliki tingkat ketelitian yang cukup.2. perusahaan kehilangan pelanggan dan profit.19 2.4.  Simple Keuntungan utama menggunakan peramalan yang sederhana yaitu kemudahan untuk melakukan peramalan. Peramalan hanya mengurangi ketidakpastian tetapi tidak menghilangkannya. diagnosa dilakukan lebih mudah. .1. Mengusahakan melakukan peramalan jangan sampai menimbulkan ongkos yang terlalu besar ataupun terlalu kecil. Secara umum. ini memungkinkan adanya kesalahan peramalan. lebih baik menggunakan metode paling sederhana yang sesuai dengan kebutuhan peramalan.  Biaya Biaya untuk mengembangkan model peramalan dan melakukan peramalan akan menjadi signifikan jika jumlah produk dan data lainnya semakin besar.  Response Ramalan yang dilakukan harus stabil dan tidak terpengaruhi oleh fluktuasi demand. karena apabila terlalu besar akan menyebabkan inventory yang berlebihan dan biaya operasi tambahan sedangkan kalau terlalu kecil akan menyebabkan kekurangan inventory. Peramalan melibatkan kesalahan (error).4.

4. 5. siklik dan lain-lain). produksi telah disusun. Pada saat jadwal dapat dihitung dan peramalan tidak perlu dilakukan. hitung permintaan dari pada meramal permintaan. Pola data (konstan.20 2. Peramalan family produk lebih akurat dari pada peramalan produk individu (item). Untuk produk yang bersifat memproduksi untuk disimpan (make to stock). Dalam waktu jangka pendek. dengan menggunakan teknik-teknik tertentu dalam menganalisanya. Peramalan sebaiknya memakai tolak ukur kesalahan peramalan. jumlah permintaan belum diketahui sehingga jadwal produksi harus dapat dibuat berdasarkan peramalan. Ada banyak kemungkinan antara peramalan yang satu dengan peramalan yang lainnya mengalami perbedaan.4. Jika dimungkinkan.  data masa lalu. sehingga peramalan jangka pendek cenderung lebih akurat. 3. Teknik peramalan Teknik peramalan harus sederhana untuk menghindari salah interpretasi. kondisi yang mempengaruhi permintaan cenderung tetap atau berubah lambat. Pada umumnya peramalan dapat dibagi kedalam beberapa segi tergantung dari beberapa kriteria berikut ini: 1. kebutuhan komponen dan bahan baku untuk mendukung jadwal produksi . besar kesalahan dapat dinyatakan dalam satuan unit atau persentase permintaan aktual akan jatuh dalam interval peramalan.3. persentase kesalahan cenderung lebih kecil dari pada persentase kesalahan peramalan produk-produk individu penyusunan family. Hal ini disebabkan karena Time Horison (rentang waktu). 2. Dari sifat penyusunannya  Peramalan yang subyektif yaitu peramalan yang didasarkan instuisi Peramalan yang obyektif yaitu peramalan yang didasarkan pada dari orang yang menyusunnya. jika satu family produk tertentu diramal sebagai satu kesatuan. linear. faktor penentu outcome. Peramalan jangka pendek lebih akurat dari pada peramalan jangka panjang.

Penentuan sumber daya yang diinginkan. Dalam peramalan terdapat beberapa jenis pola data diantaranya yaitu : 1.  kualitatif masa lalu.21 2. peramalan faktor lingkungan masa datang. Penjadwalan sumber-sumber tersedia. misalnya: peramalan tingkat permintaan produk. keuangan dan personil. biasanya lebih dari satu setengah tahun sampai tiga semester. . Hasil-hasil peramalan sangat diperlukan untuk menentukan keputusan yang akan diambil oleh organisasi antara lain: 1. 2. Nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata yang konstan (Stasioner terhadap nilai rata-ratanya).  Peramalan jangka pendek adalah peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil-hasil ramalan yang jangka waktunya kurang dari setahun atau tiga semester. buruh atau pelayanan adalah input untuk menjadwalkan produksi. material. Pola Horizontal (H) Pola ini terjadi bilamana nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata yang konstan. Kebutuhan sumber daya tambahan dimasa yang akan datang 3. keuangan. Dari rentang waktu  Peramalan jangka panjang yaitu peramalan yang dilakukan untuk meramalkan kebutuhan dalam jangka waktu yang lama. Dari sifat ramalan yang telah disusun  Peramalan kuantitatif yaitu peramalan yang didasarkan atas data Peramalan kualitatif yaitu peramalan yang didasarkan atas kuantitatif masa lalu. 3. transportasi. Deret seperti ini stasioner terhadap nilai rata-ratanya.

Pola Siklik (C) Pola ini terjadi bilamana datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang.22 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Gambar 2. kuartal tahun tertentu.4. seperti yang berhubungan siklus bisnis. Pola Data Musiman 3. misalnya: bulanan.3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gambar 2. Pola Data Siklus 4.5. Pola Data Horizontal 2. Pola Musiman (S) Pola ini terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman. dan harian pada minggu terentu atau waktu-waktu tertentu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gambar 2. . Pola Trend (T) Pola ini terjadi bilamana terdapat kenaikan atau penurunan sekuler jangka panjang dalam data.

Peramalan yang subyektif yaitu peramalan yang didasarkan pada intuisi dari orang yang menyusunnya.23 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gambar 2. Dalam hal ini ketajaman pemikiran orang yang menyusun sangat menentukan baik tidaknya hasil ramalan. studi kelayakan. . Peramalan jangka panjang Yaitu peramalan yang dilakukan untuk meramalkan kebutuhan dalam jangka waktu yang lama. Hasil peramalan ini biasanya digunakan untuk bahan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perencanaan pasar. b. Ditinjau dari segi proyeksi (sifat penyusunannya). yaitu: a. Peramalan yang obyektif yaitu peramalan yang didasarkan pada data masa lalu. Pola Data Trend Pada umumnya peramalan dapat dibagi kedalam beberapa segi tergantung dari beberapa kriteria berikut ini: 1. c. Peramalan jangak menengah Peramalan ini digunakan untuk meramalkan kondisi dalam jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun ke depan. peramalan secara teknis di kualifikasikan dalam 2 cara yaitu: a. b.6. biasanya lebih dari satu setengah tahun sampai tiga semester. perencanaan kapasitas. Peramalan jangka pendek Adalah peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil-hasil ramalan yang jangka waktunya kurang dari setahun atau tiga semester. 2. dan lain-lain. dengan menggunakan teknik-teknik tertentu dalam menganalisanya. Dilihat dari jangka (rentang) waktu peramalan yang disusun dapat dibedakan atas 3 macam.

yaitu: analisis deret waktu (time series analyisis) dan model structural (structural model) atau model kausal. Teknik peramalan daengan moving average ini diantaranya adalah single moving average dan double moving average. b. Teknik kualitatif mengkimbinasikan informasi dengan peramalan. pola historis data digunakan untuk mengekstrapolasi (meramalkan) masa datang. Teknik Peramalan Secara Kuantitatif Dalam teknik ini. maka peramalan dapat dibedakan menjadi: a. penilaian dan intuisi untuk menghasilkan pola-pola dan hubungan yang mungkin dapat diterapkan untuk membuat prediksi-prediksi tentang masa yang akan datang. Adapun metode-metode yang termasuk didalamnya antara lain : 1. Teknik Peramalan Secara Kualitatif Teknik ini digunakan apabila data masa lalu tidak tersedia/jika tersedia pun jumlahnya tidak mencukupi. Dilihat dari sifat ramalan yang telah disusun. Secara garis besar. Terdapat dua teknik kantitatif yang utama. yang dimodelkan untuk menentukan bagaimana pola yang akan terjadi dimasa yang akan datang dimana kondisi ini tidak dapat menjelaskan faktor apa yang akan menyebabkan terjadinya event yang diramalkan (Back bok). metode time series dapat dikelompokan menjadi:  Metode Average Peramalan dengan moving average adalah untuk mendapatkan rata-rata sejumlah data paling baru yang berurutan.24 3. Metode Single Moving Average Teknik peramalan dengan single moving average. secara matematis dapat ditulis sebagai berikut (forecasting by makridakis hal 69-79). Teknik-teknik kualitatif didasasri atas dasar pendekatan akal sehat (Common Sense) dalam menyaring informasi kedalam bentuk yang bermanfaat. Metode Peramalan Kuantitatif • Metode Time Series Metode time series didasarkan pada deret yang menggambarkan pola-pola yang bervariasi sepanjang waktu.4. .4. 2.

Metode ini kurang cepat menanggapi data yang bersifat siklis. Hasil dari metode tersebut digunakan untuk mendapatkan average kedua... dikembangakan suatu double moving average yang dapat menangkap bentuk linier tersebut. digunakan hasil dari single moving average. Dengan mengambil beberapa nilai N. Metode ini dipengaruhi oleh periode yang dipertimbangkan (N) dalam melakukan peramalan. maka dalam penetapan banyak data yang dikembangkan dipilih lebih kecil. + x t −n +1 N Dimana. Jika dari pengamatan terlihat bahwa perubahan nilai data cukup besar satiap periodenya. s t + = peramalan periode ke t. maka diambil N yang lebih besar. Metode ini selalu terlambat dalam menanggapi suatu perubahan data untuk data dengan kecenderungan menarik. N Dari persamaan diatas bahwa pola hasil peramalan sangat ditentukan oleh jumlah data yang diperhitungkan (N) dalam peramalan. selanjutnya metode single moving average ini mempunyai beberapa karakteristik yang lain: a. b.25 s t +1 = x t + x t −1 + . 1 xt = data pada periode ke t. Demikian juga sebaliknya. metode ini memberikan nilai yang lebih besar. Untuk data pola linier. 2. = jumlah data yang diperhitungkan. . hasil peramalannya memberikan nilai yang lebih kecil sedangkan untuk data dengan kecenderungan menurun. Metode Double Moving Average Seperti telah disebutkan bahwa peramalan dengan single moving average akan tertinggal dibelakang data sebenarnya bila terdapat kecenderungan dalam pola data. kemudian akan diperoleh suatu harga N yang akan memberikan simpangan terkecil. jika data pola yang stabil. Untuk dapat melakukan perhitungan dengan double moving average.

s" t f t+ m = hasil peramalan dengan double moving average pada periode = periode kedepan yang diramalkan. m  Metode Smoothing Metode smoothing dipakai pada kondisi dimana bobot data pada periode yang satu berbeda dengan data periode sebelumnya membentuk fungsi eksponensial yang biasa disebut eksponential smoothing. Metode Expnontial Smoothing Metode exponential smoothing merupakan metode peramalan yang cukup baik untuk peramalan jangka panjang dan jangka menengah. terutama pada tingkat operasional suatu perusahaan. = nilai moving average kedua. hal 72-123) sebagai berikut: s' t = s't = x 1 + x t −1 + x 1−N +1 N s' t +s t −1 + s1−N +1 N a 1 =s' t + s' t − " t ) ( s = s' t − t 2 s" 2 b = (s'1 −" t ) s N− 1 f t +m = a + b t . Adapun metode-metode yang termasuk didalamnya antara lain : 1. dalam perkembangan dasar matematis dari metode smoothing (forcasting by Makridakis. Vincent G.m Dimana : s' t = nilai peramalan dengan single moving average. kedepan.26 Bentuk perhitungan yang dilakukan dapat dijelaskan dengan persamaan (Analisis kuantitatif untuk perencanaan. hal 79-115) dapat dilihat bahwa konsep .

Menyatakan bahwa apabila data yang dianalisa bersifat stationer.Biasanya di pilih nilai α = 0.9. kita memilih nilai α mendekati 1. Metode Single Exponential Smoothing . α = 0. 0. namun dalam hal ini jika diperlukan peramalan untuk ratusan item. 2. Adapun panduan untuk memperkirkan nilai α yaitu antara lain: 1. Wheelwright & Mcgee dalam bukunya “forcasting” (hal 104). katakanlah. Permasalahan umum yang dihadapi apabila menggunakan model pemulusan eksponensial adalah memilih konstanta pemulusan yang diperkirakan tepat. terutama dalam peramalan bagi persedian. namun pembaca dapat mencoba nilai α yang lain yang mendekati 1 seperti 0. maka model yang baik untuk digunakan adalah exponential smoothing linier dari brown atau model exponential smoothing linier dari holt.01 tergantung sejauh mana kestabilan data itu. ada sedikit keraguan apakah ketepatan yang lebih baik selalu dapat dicapai dengan menggunakan (QS) Quantitatif sistem ataukah metode dekomposisi yang secara intuitif menarik.2.27 exponential telah berkembang dan menjadi metode praktis dengan penggunaan yang cukup luas. 0. 0.05. maka penggunaan metode rata-rata bergerak (moving average) atau single exponential smoothing cukup tepat akan tetapi apabila datanya menunjukan suatu trend linier. Menurut Makridakis. semakin stabil nilai α yang dipilih harus semakin kecil menuju ke nilai nol 2. Apabila pola historis dari data aktual permintaan sangat bergejolak atau tidak stabil dari waktu ke waktu. Apabila pola historis dari data akual permintaan tidak berfluktuasi atau relati stabil dari waktu ke waktu maka kita memilih nilai α yang mendekati nol.8.99 tergantung sejauh mana gejolak dari data itu. Kelebihan utama dari metode exponential smoothing adalah dilihat dari kemudahan dalam operasi yang relatif rendah.

... s' t = Atau s' t −1 = Sedangkan persamaan matematis untuk single moving exponential smoothing sebagai berikut : s' t = = x t st − + s' t N N 1 1 −1 x ' t +s' t ( ) N N = α x t −1 + (1 − α s t −1 ... ) Demikian seterusnya untuk s t − ... + x t −N +1 N Peramalan untuk periode t.. Harga α ditetapkan oleh 0 ≤ X ≤ 1 dan harga α yang terpilih yang memberikan simpangan terkecil dari perhitungan yang ada. Untuk melihat persamaan metode ini dengan metode single moving average....... persamaan adalah : s' t = x t + x t −2 + . seperti pada metode single moving average.... teknik yang digunakan dikenal dengan nama Brown Parameter Exponential Smoothing langkah-langkah perhitungan untuk mendapatkan peramalan dengan metode ini adalah: s' t = αx t + (1 − α)s' t −1 .... maka lihat kembali persamaan matematis yang digunakan pada peramalan single moving average.28 Metode ini juga digunakan untuk meramalkan suatu periode ke depan. s t +1 = x t + x t −1 + . Peramalan dengan exponential smoothing juga dapat digunakan untuk meramalkan beberapa periode kedepan untuk pola data dengan kecenderungan linier.. . 1 ... s t −2 . + x 1−N +1 + x 1−N N x ' t −x ' t −n +st N x t x t −N − +st N N Maka....... s 1−n Jadi terlihat bahwa metode single moving average merupakan sejumlah data semua yang ditekankan pada baru..

m  Metode Double Exponential Smoothing Metode ini dikembangkan oleh Brown’s untuk mengatasi adanya perbedaan yang muncul antara data aktual dan nilai peramalan apabila ada trend pada plot datanya. Persamaan yang dipakai dalam implementasi pemulusan linier satu parameter Brown ditunjukan dibawah ini: . 1. karena kedua nilai pemulusan tunggal dan ganda ketinggalan dari data yang sebenarnya bilamana terdapat unsur trend. s" t f t+ m = hasil peramalan dengan double moving average pada periode kedepan.29 s' t = α t + (1 − α)s" t s a t =s t +(s' t − " t ) s = s' t − t 2 s" α bt = (s ' t −" t ) s 1− α s t +m = a + b t . = nilai moving average kedua. Metode Double Expnontial Smoothing Satu Parameter Brown Dasar pemikiran dari pemulusan eksponensial linier dari Brown adalah serupa dengan rata-rata bergerak linier.m Dimana : s' t = nilai peramalan dengan single moving average. = periode kedepan yang diramalkan. perbedaan antara nilai pemulusan tunggal dan ganda dapat ditambahkan kepada nilai pemulusan dan disesuaikan untuk trend. Untuk itu Brown’s memanfaatkan nilai peramalan dari hasil single Eksponential Smothing dan Double Exponential smoothing. Perbedaan antara kedua ditambahkan pada harga dari SES dengan demikian harga peramalan telah disesuaikan terhadap trend pada plot datanya.

Metode Double Exponential Smoothing Dua Parameter Holt Metode pemulusan eksponensial linier dari Holt dalam prinsipnya serupa dengan Brown kecuali bahwa Holt tidak menggunakan rumus pemulusan berganda secara langsung. Jadi. Tetapi. Tetapi pada saat t = 1. 2. jika α mendekati nol.mt Dimana : S’t m = nilai pemulusan eksponensial tunggal = jumlah periode ke muka yang diramalkan. Jika parameter pemulusan α tidak mendekati nol. Sebagai gantinya Holt memuluskan nilai trend dengan parameter yang berbeda dari parameter yang digunakan pada deret yang asli.x t S"t = + (1 − α)S' t − 1 α. = ramalan m periode ke muka S” t = adalah nilai pemulusan eksponensial ganda. Ramalan dari . proses inisialisasi tersebut dapat memainkan peran yang nyata selama periode waktu ke muka yang panjang. Jenis masalah inisialisasi ini muncul dalam setiap metode pemulusan (smoothing) eksponensial. nilai-nilai tersebut tidak tersedia.30 S't = α. nilai-nilai ini harus ditentukan pada awal periode. harus tersedia. Hal ini dapat dilakukan dengan hanya menetapkan S’t dan S”t sama dengan Xt atau dengan menggunakan suatu nilai rata-rata dari beberapa nilai pertama sebagai titik awal. nilai S”t-1 dan S”t-1. Ft + m Agar dapat menggunakan persamaan diatas. pengaruh dari proses inisialisasi ini dengan cepat menjadi kurang berarti dengan berlalunya waktu.S' t +(1 − α)S" t − 1 1 1−α (S' t − S" t) at = S't + ( S't – S”t ) = 2 S't – S”t bt Ft = = at + bt.

Trend. bt. yaitu St-1. maka hal ini dihilangkan oleh pemulusan γ (gamma) trend pada periode akhir (St – St-1). Metode ini adalah metode yang digunakan dalam pemulusan trend dan musiman.X t bt = γ (S t + (1 − α ) S t −1 + b t −1 ( ) − S t −1 + (1 − γ ) b t −1 ) Ft + m = St + btm. Jadi persamaan diatas dipakai untuk meremajakan trend. nilai yang baru akan lebih tinggi atau lebih rendah dari pada nilai yang sebelumnya. Karena mungkin masih terdapat sedikit kerandoman. hal ini membantu untuk menghilangkan kelambatan dan menempatkan St ke dasar perkiraan nilai data saat ini. Akhirnya persamaan (3) digunakan untuk peramalan ke muka. Kemudian persamaan meremajakan trend (2). yang ditunjukan sebagai perbedaan antara dua nilai pemulusan yang terakhir.γ ). Metode Triple Exponential Smoothing Metode ini dapat digunakan untuk data yang bersifat atau mengandung musiman.31 pemulusan eksponensial linier Holt didapat dengan menggunakan dua konstan pemulusan (dengan nialai antara 0 sampai 1) dan tiga persamaan: St = α. 4. dikalikan dengan jumlah periode kedepan yang diramalkan. Hal ini tepat karena jika terdapat kecenderungan di dalam data. Metode winter didasarkan atas tiga persamaan pemulusan yaitu satu untuk . m dan ditambahkan pada nilai dasar St. Dimana: St bt = data pemulusan pada periode t = trend pemulusan pada periode t = peramalan pada periode t Ft + m Persamaan diatas (1) menyesuaikan St secara langsung untuk trend periode sebelumnya yaitu bt-1 dengan menambahkan nilai pemulusan yang terakhir. dan menambahkannya dengan taksiran trend sebelumnya dikalikan (1.

metode ini dapat dipakai untuk jangka panjang. sebagai variabel bebas. = Komponen trend = Faktor penyesuaian musiman = Ramalan untuk n periode ke depan. Regresi linier digunakan untuk peramalan apabila set data data yang ada linier. .dan musiman. Persamaan dasar untuk metode winter adalah sebagai berikut : b t = γ(S t − S t −1 ) + (1 − γ) b t −1 ( trend ) It =β xt + (1 − β) I t −L (musiman) S Ft +m = (S t + b t m) I t −L +m (ramalan) St = α xt + (1 − α)(S t −1 = b t −1 ) (keseluruhan) I t −L Dimana : L B I = Panjang musiman. Metode regresi linier didasarkan atas perhitungan least square error yaitu dengan memperhitungakan jarak terkecil kesuatu titik pada data untuk ditarik garis. dengan metode ini dapat diperolah suatu ramalan dengan didasarkan atas persamaan yang dihasilkan. Metode Simple Regresi Pada dasarnya metode ini berusaha mencari fungsi hubungan antara sebab akibat (causal) dalam hal waktu. jika kita gunakan y sebagai variabel tidak bebas dan x = t. trend. maka tujuan yang ingin tercapai untuk mendapatkan persamaan garis lurus.32 stationer. Hal ini serupa dengan metode holt dengan satu persamaan tambahan untuk mengatasi musiman. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat metode regresi sederhana yang melibatkan suatu variabel bebas dan variabel tidak bebas. Ft + m 5. artinya hubungan antara variabel waktu dan permintaan berbentuk garis linier. factor intercept dan slope pada peramalan dihitung dari masa lalu dan digunakan untuk melakukan peramalan dengan variabel waktu yang berubah.

2. Setelah persamaan regresi ditemukan dan diuji. = Slope (kemiringan). Pola Quadratik. = nilai kesalahan.5. Ini merupakan prosedur LS (last square) dan kesalahan dinyatakan sebagai panjang garis vertikal dari titik tertentu ke garis (a+b). kesalahan kuadrat (square error):  z ( y) − y t = e t Dimana :  y = hasil peramalan. = variabel bebas. yt e Jika dijumlahkan akan menghasilkan nilai minimum. Model peramalan dengan pendekatan regresi juga merupakan peramalan yang menggunakan pendekatan statistik dan dilihat dari bentuk peramalan dapat dibagi kedalam beberapa pola: a.  y 0 = a + bx 0  y ) Sebagai nilai harapan y yang diberikan oleh x0 . Pola Linier. Metode Pemilihan Peramalan .33  y = a + b( t ) Dimana : a b = Intercep. Sedemikian rupa sehingga untuk setiap nilai waktu t tertentu. Pola Logaritma. c. b. model regresi ini menghasilkan.4. selanjutnya kita dapat menentukan titik taksiran y (sebagai nilai tunggal berdasarkan suatu titik nilai x tertentu.

Ukuran kesalahan (Error) adalah besarnya penyimpangan antara actual demand dengan hasil ramalan (et).34 Suatu permalan sempurna jika nilai variable yang diramalkan sama dengan nilai sebenarnya. Untuk mendapatkan nilai yang tepat. M AD = ∑ A t −f t n 2. MSE memperkuat pengaruh angka–angka kesalahan besar.rata Persentase Kesalahan Absolute (Mean Absolute Percentage Error = MAPE ) Ft  100  MAPE =  ∑A t − At  n  . tetapi dapat juga disebabkan jumlah data yang diamati terlalu sedikit sehingga tidak menggambarkan perilaku atau pola yang sebenarnya dari variable yang bersangkutan. ( A t − Ft ) 2 MSE = ∑ n 3. Rata-rata kuadrat kesalahan (Mean Square Error = MSE).rata devisi mutlak ( Mean Absolute Deviation = MAD). yang dirumuskan sebagai berikut . Rata. e(t) = X(t) – F(t) Berikut ini beberapa ukuran akurasi dari peramalan yang dipakai : 1. Kesalahan peramalan tidak semata-mata dsebabakan kesalahan dalam pemilihan metode. penyimpangan absolute merupakan penjumlahan kesalahan Rata-rata peramalan tanpa menghiraukan tanda aljabarnya dibagi dengan banyaknya data yang diamati. tetapi memperkecil angka kesalahan peramalan yang lebih kecil dari satu unit. Rata. maka diharapkan peramalan tersebut dapat dilakukan dengan nilai kesalahan sekecil mungkin.

Error = Data Aktual – Forecast. Merupakan rata-rata perbedaan antara nilai sebenarnya dan nilai peramalan. atau triwulan. Rata-rata kesalahan (AE. Suatu ramalan diperbaharui setiap minggu. dan MSE (Mean Square Error = Ratarata Kuadrat Kesalahan). kita dapat menggunakan Tracking Signal.35 4. Apabila suatu data aktual dinyatakan sebagai At nila i ramalan dinyatakan sebagai Ft. Akurasi atau Validasi Peramalan Terdapat beberapa sejumlah indikator dalam pengukuran akurasi peramalan.4. bulan. Tracking Signal adalah suatu ukuran bagaimana baiknya suatu ramalan memperkirakan nilai-nilai aktual. maka galat peramalan (Forecast Error) dinyatakan sebagai et = At – Ft jadi. Tracking Signal dihitung sebagai Running Sum Of The Forecast Errors (RSFE) dibagi dengan Mean Absolut Deviation (MAD). sebagai berikut: . dan MSE semakin kecil. MAPE (Mean Absolute Percentage Error = Rata-rata Persentase Kesalahan Absolut). Rata–rata Kesalahan peramalan ( Mean Forecast Error = MFE ) ( A t − Ft ) n MFE = ∑ 5. average error atau bias ). namun yang paling umum dipergunakan adalah: MAD (Mean Absolute Deviation = Rata-rata Penyimpangan Absolut). Akurasi peramalan akan semakin tinggi apabila nilainilai: MAD. sehingga data permintaan yang baru dibandingkan terhadap nilai-nilai ramalan.6. Berkaitan dengan validasi model peramalan. yang dirumuskan sebagai berikut : AE = A t − Ft n Dimana : A = permintaan Aktual pada periode-t F = peramalan permintaan pada periode-t n = jumlah periode peramalan yang terlibat 2. MAPE.

Dengan tingkat penggunaan tetap. kita dapat membangun peta kontrol tracking signal sebagaimana halnya dengan peta-peta kontrol dalam pengendalian proses statistikal (statistical process control = SPC). Untuk menggunakan nilai Tracking Signal maksimum ± 4. persediaan akan habis dalam waktu tertentu dan ketika persediaan hanya tinggal sebanyak kebutuhan selama tenggat waktu pemesanan kembali harus dilakukan.1. Metode Persediaan Tradisional Pada dasarnya model persediaan terbagi menjadi dua buah model yaitu model pengendalian persediaan Q dan model pengendalian persediaan P yaitu: 2.36 Tracking Signal = RSFE MAD = Σ(actual demand in period i − forecast demand in period i) M AD di mana MAD = Σ(absolut dari forecast error ) n n = banyaknya periode data Tracking Signal yang positif menunjukan bahwa nilai aktual permintaan lebih besar daripada ramalan. . Kriteria optimal adalah total biaya persediaan yang minimal. Metode Q Dikatakan model Q karena variabel keputusan dalam metode ini adalah Q (yang menotasikan kuantitas) pesanan. sedangkan tracking signal yang negatif berarti nilai aktual permintaan lebih kecil daripada ramalan. sehingga pusat dari tracking signal mendekati nol. sebagai batas-batas pengendalian untuk tracking signal. 2. dan mempunyai positif error yang sama banyak atau seimbang dengan negatif error.5. yang memiliki batas kontrol atas (upper control limit) dan batas kontrol bawah (lower control limit).5. Suatu tracking signal disebut “baik” apabila memiliki RSFE yang rendah. Apabila tracking signal telah dihitung. a) Pengendalian Persediaan Model Q Model Q adalah suatu model dimana pesanan-pesanan dilakukan berdasarkan jumlah pemesanan optimal dan waktu pemesanan kembali.

Model P tidak mempunyai nilai EOQ karena jumlah akan bervariasi tergantung permintaan yang sesuai dengan dikembangkan atas fakta adanya biaya variabel dan biaya tetap dari proses produksi atau pemesanan barang. 2. Demikian pula tenggang waktu pemesanan diasumsikan konstan. Kuantitas order dapat bervariasi.2. . Model P tidak mempunyai titik pemesanan kembali.37 Tujuan dari model ini adalah untuk menentukan jumlah pemesanan optimal dan lain waktu pemesanan dan kembali. Metode Economi Order Quantity (EOQ) Metode ini merupakan insfirasi bagi para pakar persediaan Metode untuk ini mengembangkan metode-metode persediaan lainnya.pesanan dilakukan setiap periode. Metode P Model P adalah suatu model dimana pesanan . Model P berfungsi dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan dengan model Q karena hal-hal berikut : 1. pemesanan 3. tetapi lebih menekankan pada target persediaan. diasumsikan terhadap semua dapat parameter tersebut dapat diperhitungkan secara tepat (pasti). Dalam model P interval pemesananya tetap sedangkan kuantitas pemesananya berubah-ubah 1. Perusahaan-perusahaan sering menggunakan model P karena mereka membeli dan menjadwalkan dengan periode tetap (mingguan atau bulanan). 2 minggu atau bulan) tingkat persediaan ditinjau kembali dan pemesanan dilakukan untuk mengisi persediaan sebesar jumlah pemesanan optimal.5. biaya Dalam model ini. dengan kata jumlah permintaan persediaan halnya ditentukan secara pasti. tetapi setiap periode (misal. Tujuan dari model ini adalah untuk menentukan periode peninjauan kembali. 2. target persediaan.

tidak bertahap Jarak waktu sejak pesan sampai pesanan datang (Lead Time) pasti Semua biaya diketahui dan bersipat pasti Kekurangan persediaan (stock Out) tidak diizinkan Tidak ada diskon dalam tingkat kuantitas pesanan.38 EOQ merupakan salah satu model pendekatan metode manajemen persediaan dalam perusahaan yang digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya pemesanan dan biaya investasi pada persediaan. Jumlah lot pesanan berdasarkan jumlah lot jumlah yang dapat memenuhi JPP : JPP = T Keterangan : JPP = Jumlah pemesanan periode EOQ D . Metode Period Order Quantity (POQ) Merupakan metode pengendalian persediaan dengan menggunakan sistem periode pemesanan tetap.λ h yang memiliki nilai ekonomis dimana : EOQ = Keterangan: A = ongkos pesan = Rata-rata deman per periode = Ongkos simpan per unit λ H Metode ini dapat diterapkan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :       2. Lot pesan ditentukan berdasarkan jumlah pemesanan optimum 2. Permintaan diketahui dengan pasti dan konstan selama periode persediaan Semua item yang dipesan diterima seketika. Hasil keputusan dari Metode POQ adalah periode pemesanan yang optimal dan tingkat pemesanan yang optimal. A. Tetapi jumlah pemesanan dapat berbeda – beda tergantung pada persediaan yang dimilki saat ini. Sehingga pemesanan bahan baku dilakukan pada periode yang tetap.

. 7. sendirinya ada beberapa periode yang bernilai nol maka penentuan interval periode dilewati untuk yang bernilai nol. 5. Pengguna teknik ini bertujuan untuk meminimumkan ongkos simpan. Metode Part Period Balancing (PBB) merupakan suatu pendekatan jumlah lot untuk menentukan jumlah pemesanan berdasarkan keseimbangan antara biaya pesan dan biaya simpan. Metode Fixed Order Quantity (FOQ) teknik fixed order quantity (FOQ) ini menggunakan kuantitas pemesanan yang tetap untuk suatu persediaan item tertentu dapat ditentukan secara sembarang atau berdasarkan pada faktor – faktor intuitif. Metode Lot For Lot (LFL) Lot for lot (LFL) merupakan lot sizing yang mudah dan paling sederhana. sehingga dengan teknik ini ongkos simpan menjadi nol.. 3. Teknik ini selalu melakukan perhitungan kembali (bersifat dinamis) terutama apabila terjadi perubahan pada kebutuhan bersih. Metode Least Total Cost (LTC) metode ini didasarkan pada pemikiran bahwa jumlah ongkos pengadaan dan ongkos simpan (total ongkos) setiap ukuran kuantitas pemesanan yang ada pada suatu horizon perencanaan dapat diminimasi jika besar ongkos – ongkos tersebut sama atau hampir sama.39 EOQ = Jumlah pemesanan ekonomis D T = Total kebutuhan (demand) = Banyaknya periode Dalam hal penentuan interval periode. Metode Fixer Period Requirement (FPR) fixer period requirementmerupakan teknik pemesanan bahan baku ini didasari pada intuisi perusahaan dalam melakukan pemesanan bahan baku 6. 4.

9. Metode Silver Meal Algorithm (SMA) metode silver meal atau sering pula disebut metode SM yang dikembangkan oleh edwar silver dan harian meal berdasarkan pada periode biaya. Penentuan rata – rata biaya perperiode adalah jumlah periode dalam penambahan pesanan yang meningkat. pada dasarnya teknik ini menguji semua cara pemesanan yang mungkin dala memenuhi kebutuhan bersih setiap periode yang ada pada horizon perencanaan sehingga senantiasa memberikan hasil yang optimal .40 8. Metode Algorithm Wagner Whittin (AWW) Untuk mendapatkan strategi pemesanan yang optimum untuk seluruh jadwal kebutuhan bersih dengan jalan meminimasi total ongkos pengadaan dan ongkos simpan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->