Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat

1
BAB I
PERI NTAH MENDI RI KAN
SHALAT
halat adalah rukun Islam kedua. Untuk belajar shalat kita
berpedoman pada tuntunan shalat dari buku-buku dan dari
penjelasan guru-guru agama. Dan kini bisa melalui media
elektronik.
Menurut ahli, di dalam Al Qur’an dijumpai 30 perintah
mendirikan shalat, 27 buah diantaranya disatukan dengan
perintah membayar zakat. Ini berarti bahwa bagi yang
melaksanakan shalat, mereka juga wajib menunaikan zakat
apabila telah memenuhi syarat.
Mendirikan shalat artinya melaksanakan shalat sesuai
dengan tuntunannya. Mulai dari cara berwuduk, bertayamum,
mandi, berniat untuk shalat, takbir, sampai salam, disiplin
waktu, dan shalat secara kontinyu.
Nah, apa yang kita sajikan dalam tulisan ini adalah dalil-
dalil tentang shalat berdasarkan Al Qur’an saja beserta sedikit
penjelasannya. Sebab itu kita akan menelusuri Al Qur’an terkait
dengan shalat fardhu dan beberapa shalat sunat. Dengan harapan,
kita tidak melakukan shalat hanya menurut apa yang diajarkan oleh
guru-guru agama saja atau apa yang kita baca dalam buku-buku
tuntunan shalat yang umumnya tidak menyebutkan sumber
hukumnya. Di bawah ini akan penulis sajikan dalil-dalil tentang
shalat tersebut demi kesempurnaan pengetahuan dan praktek shalat
kita di kemudian hari.
S
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
2
Ayat yang Memerintahkan Mendirikan Shalat
Di dalam Al Qur’an banyak sekali kita jumpai perintah
mendirikan shalat dengan berbagai redaksi. Kita ambil
beberapa contoh diantaranya:
1. Al Baqarah [(2):3]:
_.`..1`.´. :.l¯.l¦ …
“……..dan (marilah) mendirikan shalat/……and
perform ash-shalat (iqamat ash-shalat)”.
2. Al Baqarah [(2):43]:
¦..,·¦´. :.l¯.l¦ ¦..¦´.´. :.´,l¦ ¦.`-´¯¸¦´. ×. _.-´¯,l¦ '¯
“Dan dirikanlah shalat dan bayarlah zakat, dan ruku’lah
bersama-sama orang-orang yang ruku’/ And perform
ash-shalat (iqamat ash-shalat) and give zakat, and bow
down (or submit yourselves with obedience to Allah) along
with ar - raki’iina”.
3. Al Baqarah [(2):45]:
¦.`.,-.`.¦´. ¸¯.¯.l!. :.l¯.l¦´.
“Dan mohon pertolonganlah kamu dengan shalat dan
sabar/ And seek help in patience and ash-shalat (the
prayer)”.
4. Al Baqarah [(2):238]:
¦.´L±.> _ls .´.l¯.l¦ :.l¯.l¦´. _L`.'.l¦ ¦.`..·´ ´< _....·
”Peliharalah segala shalat (mu) dan shalat wustha dan
berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan penuh
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
3
ketundukan dan kepatuhan / Guard strictly (five
obligatory) ash-shalat (the prayers) espscially the middle
shalat (i.e. the best paryer – ‘Asr)”.
5. Al Baqarah [(2):277]:
¦.`.!·¦´. :.l¯.l¦ ¦'..¦´.´. :.é,l¦ `.±l ¯.>`,>¦ ..s ¯.±.´¸
“…..dan mereka mendirikan shalat dan (mereka)
menunaikan zakat, maka bagi mereka pahala di sisi
Tuhan mereka, …/….. and perform ash-shalat (iqamat
ash-shalat), and give zakat, they will have their reward
with their Lord ….”.
6. An Nisa [(4):103]:
¦:¦· `..,.· :.l¯.l¦ ¦.`,é:!· ´<¦ !..´,· ¦´:.`-·´. _ls´.
¯.÷..`.`> ¦:¦· ¯....!.L¦ ¦..,·!· :.l¯.l¦ _| :.l¯.l¦
·.l´ _ls _...¡.l¦ !´...´ !´..·¯.. ¸¸¯
“Maka apabila kamu telah selesai shalat, ingatlah Allah
di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring.
Bila kamu telah merasa aman, dirikanlah shalat
(kembali). Sesungguhnya shalat itu adalah untuk orang-
orang beriman, suatu kewajiban yang sudah ditetapkan
waktunya/When you have finished ash-shalat (the
congregational prayer), remember Allah standing, sitting
down, and (lying down) on your sides, but when you are
free from danger, perform ash-shalat. Verily, ash-shalat
(the prayer) is enjoined on the believers at fixed hours”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
4
7. Hud [(11):114]:
.·¦´. :.l¯.l¦ _,L ¸!..l¦ !±l`¸´. ´. ¸,l¦
”Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada
permulaan malam …./And perform ash-shalat (iqamat
ash-shalat) at the two ends of the day and in some hours
of the night (i.e. the five compulsary shalat/prayers….”).
8. Al Isra’ [(17):78]:
.·¦ :.l¯.l¦ ì.l.! .:l¦ _|| _.s ¸.l¦ _¦´.¯,·´. ,>±l¦
_| _¦´.¯,· ,>±l¦ _l´ ¦´:.·.:. ¯¯
“Dirikanlah shalat dari tergelincir matahari sampai
malam telah gelap dan bacalah Al Qur’an di waktu Fajar,
sesungguhnya membaca Al Qur’an di waktu Fajar
disaksikan (dihadiri oleh Malaikat yang bertugas di
malam hari dan yang bertugas di siang hari) / Perform
ash-shalat (iqamat ash-shalat) from mid-day till the
darkness of the night (i.e. the Zuhr, ‘Asr, Maghrib, and
‘Isha’ prayer), and recite the Qur’an in the early dawn.
Verily, the recitation of the Qur’an in the early dawn is
ever witnessed (attended by the Angles in charge of
mankind of the day and the night”).
9. Al ‘Isra’ [(17):79]:
´.´. ¸.l¦ .>±.· .«. «\·!. il ´_.s _¦ i.-¯.. i¯.´¸
!´.!1. ¦´:..>: ¯'
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
5
“Dan dari sebagian malam, shalat tahajudlah sebagai
shalat sunat bagimu, mudah-mudahan Tuhan akan
mengangkatmu ke tempat yang terpuji / And in some
parts of the night (also) offer the shalat (the prayer) with
it (i.e. recite the Qur’an in the prayer), as an aditional
prayer (tahajjud optional prayer - nawafil) for you (O
Muhammad saw). It may be that your Lord will raise you
to Maqam Mahmud [(station of praise and glory i.e. the
honour of intercession on the Day of Resurrection “)].
10. Thaha [(20):14]:
… .·¦´. :.l¯.l¦ _,é.! ¸'
“…..dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku / ……and
perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) for My
Remembrance …….”
11. Al Muzammil [(73); 20]:
… ¦.'.,·!· !. ´¸´.´,. «.. ¦.`.,·¦´. :.l¯.l¦ ¦..¦´.´. :.´,l¦
¦..,·¦´. ´<¦ !´.¯,· !´..> ..
“…sebab itu bacalah Qur’an, mana yang mudah bagimu
(membacanya) dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah
zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan
pinjaman secara baik ….. /…….so recite as much of the
Qur’an as may be easy (for you), and perform ash-shalat
(iqamat ash-shalat) and give zakat, and lend to Allah a
goodly loan …..”
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
6
12. Al ‘Ankabut/Laba-laba [(29):45]:
`¸.¦ !. ´_-.¦ i.l| . ...>l¦ .·¦´. :.l¯.l¦ ´_|
:.l¯.l¦ _a.. s .!:`>±l¦ ,>..l¦´. `,´.!´. ´<¦
¸.é¦ ´<¦´. `.l-. !. _.`-.`.. ''
“Bacalah Kitab, yang diwahyukan kepada engkau, dan
tetaplah mengerjakan shalat, sesungguhnya shalat itu
menghalangi dari (mengerjakan) perbuatan keji dan
kesalahan. Sesungguhnya mengingat Allah itu amat
besar mamfaatnya, dan Allah itu mengetahui apa yang
kamu kerjakan / Recite (O Muhammad saw) what has
been revealed to you of the Book (the Qur’an) and
perform ash-shalat (iqamat ash-shalat). Verily, ash-shalat
(the prayer) prevents from al fasha’ (i.e. great sins of
every kind, unlawful sexual intercourse) and al munkar
(i.e. disbelief, polytheism, and every kind of evil wicked
deed) and the remembering (praising) of (you by) Allah
(in front of the Angle) is greater indeed [than you
remembering (prasing) of Allah in prayers. And Allah
knows what you do”].
13. Al Kausar [(108):2]:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan
berkorbanlah/Therefore to your Lord turn in prayer and
sacrifice”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
7
Demikianlah beberapa contoh perintah mendirikan
shalat yang tersebar pada beberapa surah/ayat. Tentu pada
surah/ayat yang lain masih ada. Perintah shalat tersebut mulai
dari era Nabi Ibrahim as, Nabi Luqman as, Nabi Musa as, Nabi
‘Isa as, sampai ke masa Nabi Muhammad saw.
Apakah Perintah Shalat
Baru ada Setelah Nabi Muhammad saw ‘Isra’ Mi’raj?
Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui bahwa, Al
Qur’an diturunkan secara bertahap dalam kurun waktu lebih
kurang 23 tahun. Termasuk surah ‘Isra’ (17) yang diturunkan di
Makkah. Ayat pertama surah ini menginformasikan tentang
‘Isra’ Nabi/Rasul saw. Dalam hadits yang diceritakan oleh
Malik bin Sa’sa’ah r.a, Nabi saw menyatakan bahwa beliau
‘Isra’ dan menerima perintah shalat lima kali sehari semalam
(H.R. Bukhari Vol. 4, hadits No. 429). Begitu juga H.R.
Bukhari yang diceritakan oleh Anas bin Malik, hadits No.211
jilid I tentang shalat.
Kalau kita berpedoman kepada hadits di atas, berarti
sebelum peristiwa ‘Isra’ Mi’raj, perintah mendirikan shalat
belum ada. Umat sebelum peristiwa Isra’Mi’raj tidak ada
kewajiban melaksanakan shalat lima kali dalam sehari
semalam. Dengan tersebarnya perintah mendirikan shalat pada
beberapa surah/ayat, sedangkan surah diturunkan secara
berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup lama,
bisakah terjadi sebelum ‘Isra’ Mi’raj, perintah shalat sebagian
sudah ada? Atau perintah shalat sudah ada sejak zaman Nabi-
nabi sebelumnya sebagaimana shiam dan qurban. Kalau begitu,
perintah mendirikan shalat sebagaimana tertuang di dalam Al
Qur’an merupakan pengulangan saja. Atau hadits yang
menceritakan Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat
saat ‘Isra’ Mi’raj lemah statusnya? Sebab, dalam ayat pertama
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
8
surah Al ‘Isra’ (17) tidak ada penjelasan bahwa Nabi
Muhammad saw menerima perintah shalat. Yang ada hanya
perintah mendirikan shalat dari tergelincir Matahari sampai
malam telah gelap [Al ‘Isra’(1):78] dan perintah melaksanakan
shalat tahajjud pada sebagian malam [Al‘Isra’(17):79]. Sampai
ayat terakhir (ayat ke 111) tidak dijumpai firman bahwa Nabi
saw menerima perintah shalat ketika ‘Isra’ Mi’raj tersebut.
Surah An Najm/Bintang-bintang/The Stars (53) yang
terdiri dari 62 ayat yang merupakan penjelasan [Al‘Isra’(17):1]
juga tidak menginformasikannya. Ayat 1-18 surah ini hanya
menjelaskan tentang kebenaran ‘Isra’ Nabi Muhammad saw.
Apa yang diceritakan Nabi Muhammad saw tentang ke-‘Isra’-
kan beliau adalah benar. Beliau tidak keliru, tidak berbohong,
dan tiada salah. Apa yang beliau ceritakan adalah ‘wahyu’,
bukan ucapan atau rekayasa beliau.
Difirmankan dalam surah An Najm (53), ayat 2, 3, dan 4:
!. ¸. ¯¸>.>!. !.´. _´.s '
“Kawan kamu itu (Muhammad saw) tiada sesat dan tiada
keliru / Your companion (Muhammad saw) has neither gone
astray nor has erred” (ayat 2).
!.´ . _L.. s ´_´.>¦ ¯
“Dan dia berkata bukan dengan kemauannya sendiri / Nor
does he speak of (his own) desire” (ayat 3).
“_| ´.> N| "_`-´. _-.`. '
“Itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya / It is only
revelation revealed” (ayat 4).
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
9
Nabi Muhammad saw ‘Isra’ adalah benar. Tetapi beliau
menerima perintah shalat pada saat ‘Isra’ masih perlu
penjelasan lebih lanjut. Karena sebelum era Nabi Muhammad
saw, perintah shalat sudah ada. Di zaman Nabi Ibrahim as,
dalam surah Al Ambiya [(21):72 dan 73] ada firman:
“Dan Kami berikan kepadanya Ishak, dan Ya’qub sebagai
tambahan (cucu), dan masing-masing kami jadikan orang
yang baik-baik/And We bestowed upon him Ishak (Isaac),
and (a grandson) Ya’qub (Jacob). Each one We made
righteous”.
Ayat 73-nya:
“Dan mereka Kami jadikan pemimpin, yang memimpin
dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka
mengerjakan perbuatan baik, tetap mengerjakan shalat, dan
membayar zakat; dan mereka hanya menyembah kepada
Kami saja / And We made him leaders, guiding (mankind) by
Our Command, and We revealed to them the doing of good
deeds, performing shalat (iqamat as-shalat), and the giving of
zakat and of Us (Alone) they were worshipped”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
10
Pada masa Nabi Luqman, surah Luqman [(31):17] Allah swt
berfirman:

“Dirikanlah shalat, suruhlah mengerjakan perbuatan baik,
…/ O my son! Aqimish-shalat (perform as-shalat, enjoin (on
people) al ma’ruuf-Islamic Monotheism and all that is good,
…”).
Di era Nabi Musa as, ada firman dalam surah Thaha [(20):13-
14] sebagai berikut:
“Dan Aku telah memilih engkau (Musa), sebab itu
dengarkanlah apa yang diwahyukan / And I have chosen you
(Musa/Moses). So listen to that which will be revealed (to
you)”.
Dan pada ayat 14-nya:
“Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku.
Sebab itu, sembahlah Aku, dan tetaplah mengerjakan shalat
untuk mengingat Aku / Verily, I am Allah! Laa ilaaha illa
Ana (non has the right to be worshipped but I, so worship Me,
and perform ash-shalat (iqamash-shalat) for My
Remembrance”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
11
Pada masa Nabi ‘Isa as Allah berfirman dalam surah Maryam
[(19):30-31]:
Berkata ‘Isa, “Sesunggunya aku ini hamba Allah. Dia
memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang
Nabi” / He [‘Isa (Jesus)] said, “Verily, I am a slave of Allah,
He has given me the Scripture (Injil) and made me a
Prophet”.
Selanjutnya ayat 31-nya berbunyi:
“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana
saja akau berada, dan Dia memerintahkan kepadaku
(mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku
hidup / And He has made me blessed wheresoever I be, and
has enjoined on me shalat (prayer), and zakat, as long as I
live”.
Ini sebagai bukti bahwa agama wahyu itu bersumber
dari satu, yaitu Allah swt, walaupun diturunkan pada nabi yang
berbeda sampai kepada Nabi Muhammad saw.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
12
Nama-Nama Shalat
Dalam qalam Ilahi surah An Nisa [(4):103] dinyatakan:
…. _| :.l¯.l¦ ·.l´ _ls _...¡.l¦ !´...´ !´..·¯.. ¸¸¯
“… sesungguhnya shalat itu adalah untuk orang-orang
beriman, suatu kewajiban yang (telah) ditentukan waktunya /
Verily, ash-shalat (the prayer) is enjoined on the believers at
fixed hours”.
Jadi, waktu-waktu shalat sudah ditetapkan. Kita hanya
menjalaninya saja lagi. Dan nama-nama shalat wajib diberi
sesuai dengan nama waktu tersebut. Misalnya, shalat di
waktu/saat fajar, disebut shalat Fajar. Shalat di waktu zuhur
disebut shalat Zuhur, shalat di waktu ‘asyar disebut shalat
‘Asyar, dan shalat di waktu ‘isya’ dinamakan shalat ‘Isya’.
Begitu seterusnya. Jadi fajar, subuh, dhuha, zuhur, ‘asyar,
maghrib dan ‘isya itu hakekatnya adalah nama-nama waktu.
Shalat Fajar atau Shalat Subuh?
Kata ‘Fajar’
Dijumpai di empat tempat yaitu:
a. Dalam surah An Nur [(24):58], dijumpai penggalan
firman,
… . ¸¯.· :.l. ,>±l¦ ….
“ ….. dari sebelum shalat Fajar / … before Fajr…”
Penggalan firman ini berkaitan dengan larangan bagi budak
perempuan dan budak laki-laki yang dimiliki yang sudah
dewasa masuk ke kamar majikannya tanpa izin sebelum
tiba waktu shalat Fajar.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
13
b. Dalam surah Al Fajr [(89);1]:
,>±l¦´. ¸
“Demi fajar / By the dawn”
Di sini kata ‘fajr’ hanya sekedar nama waktu, tidak
dikaitkan dengan nama shalat.
c. Dalam surah Al Qadr [(97):5]:
'..l. ´_> _.> ×lL. ,>±l¦ '
“Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar / There is
Peace in the appearance of dawn”.
Juga di sini kata ‘fajr’ hanya menunjukkan waktu, tidak
dikaitkan dengan kata shalat.
d. Dalam surah Al ‘Isra’ [(17):78] terdapat penggalan firman:
... _¦´.¯,·´. ,>±l¦ _| _¦´.¯,· ,>±l¦ _l´ ¦´:.·.:. ¯¯
“….dan bacalah Al Qur’an di waktu fajar, sesungguhnya
membaca Qur’an di waktu fajar disaksikan / …….and
recite the Qur’an in the early dawn. Verily, the recitation
of the Qur’an in the early dawn is ever witnessed”.
Kata ‘Subuh’
Dijumpai:
a. Dalam surah Al Muddaththir [(74):34]:
~¯.¯.l¦´. ¦:| ,±`.¦ ¯'
“Dan subuh ketika (matahari) terbit/terang / And by the
dawn when it brightens”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
14
b. Dalam surah Hud [(11):81] berbunyi:
_| `.>.s¯.. ~¯.¯.l¦ ´ ,l¦ ~¯.¯.l¦ ..,1. ¯¸
“Bahwa waktu yang ditetapkan buat mereka adalah di
pagi hari (subuh). Bukankah pagi itu (subuh) dekat? /
Indeed, morning is their appointed time. Is not the
morning near?”
c. Dalam surah At Takwir [(81):18] berbunyi:
~¯.¯.l¦´. ¦:| ´±´.. ¸¯
“Dan subuh apabila sudah terang / And by the dawn as it
brighten”.
Yang dimaksud waktu subuh, sebagaimana diterangkan
dalam surah di atas, yaitu bila Matahari sudah terbit atau agak
terang. Ternyata juga tidak diikuti oleh kata ‘shalat’. Jadi,
waktu ‘fajar’ ialah ketika terbitnya ‘fajar’. Sedangkan waktu
‘subuh’ saat matahari ‘terbit’. Jarak antara waktu ‘fajar’ dan
waktu ‘subuh’ sangat dekat (singkat). Dan waktu ‘fajar’ lebih
dulu daripada waktu ‘subuh’. Sebab, shalat sunat sebelum
shalat fardhu Fajar disebut shalat sunat Fajar, bukan shalat
sunat Subuh. Karena begitu dekatnya jarak antara waktu ‘fajar’
dan waktu ‘subuh’, maka kita sebut shalat Fajar itu dengan
shalat Subuh. Karena itu shalat Fajar masih bisa dilakukan di
waktu subuh jika terlambat. Tetapi tak boleh terus-menerus.
Sebab dalam Al Qur’an disebut waktu fajar, bukan waktu
subuh. Dari segi momen (saat) ia sudah berbeda. Dalam bahasa
Inggris tadi waktu ‘fajar’ disebut ‘early in the morning
(dawn)’ dan ‘subuh’ disebut ‘morning’.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
15
Kita telusuri ini supaya duduk persoalannya jelas. Jadi
pada kedua waktu tersebut boleh shalat Fajar (tapi shalat Fajar
di waktu subuh tak boleh terus-menerus) berpedoman pada arti
surah Hud [(11):114]:
.·¦´. :.l¯.l¦ _,L ¸!..l¦ !±l`¸´. ´. ¸,l¦
“Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada
permulaan malam….. / And perform ash-shalat (iqamat ash-
shalat) at the two ends of the day and in some hours of the
night (i.e. the five compulsary shalat/prayer)”.
Tepi siang pertama adalah waktu terbitnya fajar, bukan
terbitnya Matahari. Tepi siang kedua, pada saat Matahari mulai
terbenam (maghrib) yang merupakan permulaan malam.
d. Disamping kata ‘subhi’ yang diartikan dengan ‘subuh’, ada
lagi kata ‘al falaq’ yang di indoneisiakan juga dengan
‘subuh’ [Al Falaq (113):1] yaitu waktu pagi yang mulai
memancarkan cahaya terang. Tapi tidak dikaitkan dengan
kata ‘shalat’. Kata ‘falaq’ hanya menunjukkan waktu saja.
Shalat Zuhur
Dilaksanakan setelah shalat Fajar. Tapi kata ‘zuhur
atau zuhr’ tidak ada dalam surah-surah yang kita bahas. Yang
ada hanya kata
¸!..l¦´.
“… demi siang / by the day” [Asy-Syams (91):3].
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
16
Guna menentukan waktu zuhur ini kita kutip kembali surah Al
‘Isra’ [(17):78]:
“Dan dirikanlah shalat pada saat tergelincir matahari sampai
malam telah gelap dan bacalah Qur’an di waktu fajar.
Sesungguhnya membaca Qur’an di waktu fajar disaksikan
(dihadiri oleh Malaikat yang bertugas di malam hari dan
yang bertugas di siang hari) / Perform ash-shalat (iqamat
ash-shalat) from mid-day till the darkness of the night (i.e. the
Zuhr, ‘Asr, Maghrib, and ‘Isya’ prayer), and recite the
Qur’an in the early dawn. Verily, the recitation of the Qur’an
in the early dawn is ever witnessed by (attended by the Angles
in charge of mankind of the day and the night”).
Shalat saat tergelincir Matahari di siang hari kira-kira
lewat sedikit jam 12.00 siang. Shalatnya disebut shalat Zuhur
atau shalat Jum’at bila tiba hari Jum’at.
Shalat ‘Asyar
Kata ‘Ashar atau ‘Asr terdapat pada surah Al ‘Asr
[(103):1] berbunyi:
¸`.-l¦´. ¸
“Demi (waktu) ‘asyar / By al ‘asr (the time”).
Kata ‘asr’ tidak disambungkan dengan kata ‘shalat’.
Jadi, dia hanya menunjukkan waktu saja. Surah yang menyebut
shalat ini adalah surah Al Baqarah [(2):238]. Kita ulangi lagi:
¦.´L±.> _ls .´.l¯.l¦ :.l¯.l¦´. _L`.'.l¦ ¦.`..·´. ´< _....·
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
17
“Peliharalah segala shalat(mu) dan shalat Wusthaa dan
berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan penuh
ketundukan dan kepatuhan / Guard strictly (five obligatory)
ash-shalat (the prayers) especially the middle shalat (i.e. the
best prayer –‘Asr”).
Dr.Muhammad Taqi-ud-Din Al Hilali cs, Madinah,
dalam tafsir The Noble Qur’an-nya menerjemahkan shalat
Wusthaa dengan shalat Pertengahan (The Middle Shalat).
Shalat Pertengahan itu adalah shalat ‘Asyar (‘Asr). Jadi tidak
disebut shalat Wusthaa.
Shalat Fajar Shalat Zuhur Shalat ‘Asyar Shalat Maghrib Shalat ‘Isya
Shalat Tengah
Di atas dikatakan bahwa shalat ‘Asyar adalah shalat
yang terbaik (the best shalat). Kenapa dikatakan terbaik?
Izinkanlah penulis sedikit menukilkan hadits yang menjelaskan
mengenai shalat ‘Asyar ini. Karena kita merencanakan tidak
menyinggung hadits, tetapi karena penjelasan ini perlu, dan
dalam praktek sehari-hari hal ini jarang disampaikan, bahkan
tak pernah terungkap, maka ada baiknya penulis sajikan di sini
hadits yang menjelaskan keutamaan shalat ‘Asyar ini.
Diceritakan oleh Ibn ‘Umar r.a., Rasul Allah saw berkata,
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Asyar (dengan
sengaja), sama artinya dengan kehilangan seluruh
keluarganya dan harta bendanya” (H.R.Bukhari Vol.1, hadits
No.527).
Abu Al Malik bercerita: Pada suatu waktu kami bersama
Buraidah dalam pertempuran di terik Matahari dan dia
berkata, “Laksanakanlah shalat ‘Asyar’ segera”,
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
18
sebagaimana Nabi saw bersabda, “Barangsiapa
meninggalkan shalat ‘Asyarnya, semua perbuatan baiknya
hilang” (H.R. Bukhari, Vol. 1, hadits No. 628 – i.e. Seseorang
yang tidak shalat ‘Asyar dengan sengaja sampai waktu yang
ditetapkan lewat, maka jika shalat sesudah itu, shalatnya
tidak ada artinya/tidak berguna lagi).
Shalat Maghrib
Surah Hud [(11):114] berbunyi:
.·¦´. :.l¯.l¦ _,L ¸!..l¦ !±l`¸´. ´. ¸,l¦ _| ·.´..>'¦ _.>.`.
.!:¯,´.l¦ il: _,´: _·,´.\l ¸¸'
“Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada
beberapa jam dari malam. Sesungguhnya perbuatan-
perbuatan baik menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk.
Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat / And perform
ash-shalat (iqamat ash-shalat) at the two ends of the day and
in some hours of the night [i.e. the five compulsory shalat
(prayers)]. Verily, the good deeds remove the evil deeds (i.e.
small sin). That is a reminder (an advice) for the mindful
(those who accept advice)”.
Ada dua tepi siang. Yang mana tepi siang pertama dan
mana tepi siang kedua? Tepi siang, berarti belum siang. Tepi
siang belum siang tersebut berdasarkan uraian tadi adalah
waktu fajar (tepi siang pertama). Tepi siang kedua, saat
perpindahan dari siang ke malam. Jadi, belum masuk malam.
Shalat di tepi siang pertama adalah shalat Fajar. Shalat di tepi
siang kedua, adalah shalat Maghrib atau permulaan malam.
Kata ‘maghrib’ dijumpai dalam surah Al Baqarah
[(2):115], berbunyi:
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
19
´<´. ·,:.¦ ´.,-.¦´. !.´..!· ¦.l´.. ¯.:· «>´. ´<¦ ´_| ´<¦
×.´. '.,l. ¸¸'
“Dan kepunyaan Allah Timur (Masyrik) dan Barat
(Maghrib), maka kemana saja kamu menghadap (shalat) di
situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas
(nikmat-Nya) dan Maha Mengetahui / And to Allah belong
the East and the West, so where ever you turn (yourselves or
your faces), there is the Face of Allah (and He is High above,
over His Throne). Surely, Allah is All-Sufficient for His
creatures’ needs, All-Knowing” (wajah Allah maksudnya
qiblat).
Matahari terbit di Timur (Masyrik) dan terbenam di
Barat (Maghrib). Sedangkan arah Barat adalah arah Kiblat. Saat
Matahari mulai terbenam (Maghrib) berarti belum malam. Ia
adalah ‘tepi siang kedua’. Itulah sebabnya shalat pada saat
Matahari mulai terbenam disebut shalat Maghrib (shalat pada
tepi siang kedua).
Yang menjelaskan bahwa Matahari terbit di Timur
adalah surah Al Baqarah [(2):258]:
`… _¦· ´<¦ _.!. .:l!. ´. ·¸:.l¦ …
“…Sesumgguhnya Allah itu telah menerbitkan Matahari dari
Timur, … / ….Verily, Allah brings the sun from the east, …”.
Belahan Timur Bumi adalah tempat terbitnya Matahari,
belahan Barat tempat tenggelamnya. Matahari terbit dari dua
titik, begitu juga saat tenggelamnya. Kata-kata Timur dan Barat
juga dijumpai dalam surah Al Muzzammil [(73):9], Ar Rahman
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
20
[(55):17], Az Zukhruf [(43):38], Al A’raaf [(7):137] dan Al
Ma’rij [(70):40].
Ketika Matahari beredar di garis 23,5
0
Lintang Utara
(LU), maka di potongan Bumi Utara saat itu musim panas dan
potongan Bumi Selatan musim dingin. Ketika Matahari beredar
23,5
0
derajat Lintang Selatan (LS), di mana pada waktu itu
potongan Bumi Selatan terjadi musim panas dan potongan
Bumi Utara mengalami musin dingin.
Hal ini ada bila Bumi dibagi atas dua potong, yaitu
potongan Utara dan potongan Selatan dengan garis khatulistiwa
sebagai garis potongannya.
Pada musim dingin dan musim panas, Matahari terbit
dan terbenam diantara keduanya, dari tempat yang berjauhan
dan pancaran sinar yang berbeda. Al Qur’an hendak
menjelaskan maksud bahwa di sana ada jarak yang cukup jauh
antara belahan Timur dan Barat. Dalam surah Az Zukhruf
[(43):38] Allah berfirman:
´_.> ¦:| !.´.l> _!· ·.l.. _.,. i´...´. .-. _.·¸:.l¦ ´..·
_·,1l¦ ¯¯
Sehingga, apabila orang-orang yang berpaling itu datang
kepada Kami (di akhirat), mereka berkata, “Aduhai, semoga
(jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara Timur dan
Barat, maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang
menjerat manusia) / Till, when (such a one) comes to Us, he
says (to his Qarin/Satan/devil companion), “Would that
between me and you were the distance of the two (or the east
and west) - a worst (type of) companion (indeed)”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
21
Teman yang jahat datang ke pengadilan Tuhan, pada
waktu itu kebenaran mengalahkan kepalsuan. Yang dimaksud
teman di sini adalah setan yang selalu menjerumuskan manusia.
Dan bila Bumi dibelah dua, maka ada belahan Timur,
dan belahan Barat. Belahan Timur tempat terbitnya dan belahan
Barat tempat tenggelamnya. Matahari terbit dari dua titik
(disebut dua Timur tempat terbitnya Matahari), begitu juga saat
tenggelamnya juga mempunyai dua titik (disebut dua Barat
tempat terbenamnya Matahari) yang berbeda. Dalam Al Qur’an
[Ar Rahman (55): l7] dikatakan:
“(Dialah) Tuhan dua Timur dan Tuhan dua Barat / (He is)
the Lord of the two easts (places of sunrise during early
summer and early winter), and the Lord of the two weasts
(place of sunset during early summer and early winter)”.
Bumi mengelilingi Matahari, dan bagian Bumi yang
selalu secara langsung terkena sinar Matahari adalah dalam
batas 0
0
– 23,5
0
LU dan 0
0
– 23,5
0
LS yang disebut daerah
tropis atau khatulistiwa, baik pada Bumi belahan Timur dan
belahan Barat, yang malam dan siangnya sama-sama 12 jam.
Garis 0
0
adalah garis yang membagi Bumi atas dua
potongan, Utara dan potongan Selatan. Garis tersebut
dinamakan garis khatulistiwa atau garis equator. Dua kota di
Indonesia yang dilewati oleh garis khatulistiwa ini adalah kota
Pontianak (di Kalimantan Barat) dan kota Bonjol (di Sumatera
Barat).
Dua tempat terbit adalah tempat terbit Matahari di dua
garis edar yang berseberangan dengan dua tempat terbenamnya.
Al Masyaariq dan Al Maghaariq artinya adalah beberapa
tempat terbit dan beberapa tempat terbenamnya Matahari pada
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
22
garis edarnya selama musim dingin dan musim panas. Pada saat
pindah dari dua tempat beredarnya, Matahari berjalan melalui
beberapa titik yang tersusun dan berjumlah kira-kira 365 buah
lebih, jadi tidak pindah satu kali loncatan diantara keduanya.
Jadi, setiap titik yang dijadikan sarana berpindah antara dua
garis edarnya, dikategorikan sebagai titik-titik terbit dan titik-
titik terbenam. Karena itu ada beberapa tempat terbit dan ada
beberapa tempat terbenamnya. Dalam surah As Saffat [(37):5]
disebutkan:
´.¯¸ .´...´.l¦ ¯¸N¦´. !.´. !.·.... .´¸´. ·,.:.l¦ '
“Tuhan langit, Bumi dan diantara keduanya, dan Tuhan
(daerah-daerah) Matahari terbit / The Lord of the heavens
and the earth, and all that is between them, and the Lord of
every point of the sun’s risings”.
Matahari memiliki kira-kira 365 titik untuk tempat
terbitnya dan 365 titik pula untuk tempat terbenamnya (sesuai
dengan jumlah hari dalam hitungan tahun syamsiah). Tiap hari
ia terbit dan terbenam pada titk baru, hingga tahun berakhir,
lemudian ia kembali pada titik yang sama setelah setahun (tafsir
Qurtubi). Tiap planet dan bintang juga memiliki tempat terbit
dan terbenamnya.
Titik I, terletak pada 23,5
0
Lintang Utara (LU) dan titik
II, pada 23,5
0
Lintang Selatan (LS) adalah posisi terbit
Matahari pada belahan Bumi bagian Timur. Antara titik I dan II
dilalui oleh Matahari selama setahun bolak-balik. Di mana
terdapat lagi titik-titik posisi terbitnya Matahari setiap hari yang
berjumlah kira-kira 365 sebagaimana disebut di atas. Maka
apabila kita amati setiap hari posisi terbit dan terbenamnya
Matahari tidak sama.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
23
Titik I, terletak pada 23,5
0
Lintang Utara (LU) dan titik
II terletak pada 23,5
0
Lintang Selatan (LS) adalah posisi
terbenamnya Matahri di belahan Bumi bagian Barat.
Titik I dan II, posisi terbitnya Matahari di belahan Bumi
bagian Timur inilah yang dikatakan dua Timur dan titik I dan
II, posisi terbenamnya Matahari di belahan bagian Barat
dikatakan dua Barat dalam surah Ar Rahman [(55):17].
Adanya Utara-Selatan dan Timur-Barat, secara teori,
bila Bumi dipotong dua (pada garis equator), maka ada Bumi
potongan Utara (LU) dan Bumi potongan bagian Selatan (LS).
Dan bila Bumi dibelah dua, maka ada Bumi belahan
Timur (disebut Bujur Timur/BT) dan Bumi belahan Barat
(disebut Bujur Barat /BB). Untuk lebih jelas, lihat Gambar 2
dan 3.
Bumi mengelilingi Matahari, dan bagian Bumi yang
selalu secara langsung terkena sinar Matahari adalah dalam
batas 0
0
-23,5
0
LU dan 0
0
-23,5
0
LS yang disebut daerah
tropis/khatulistiwa/equator yang malam dan siangnya sama-
sama 12 jam. Matahari terbit dan terbenam dalam batas daerah
tropis tersebut, pada titik I dan II.
Shalat ‘Isya
Kata ‘Isya dijumpai dalam surah An Nur [(24):58] di
mana Allah swt berfirman:
!±¯.!.. _·.!¦ ¦.`..¦´. `.>..:.`.´,l _·.!¦ ·>l. `.>`....¦
_·.!¦´. `.l ¦.-l¯.. ´.l>'¦ `.>.. ±.l. .¯,. . ¸¯.· :.l.
,>±l¦ _.>´. _.`-.. . >.!´.. ´. :´¸.±Ll¦ .´. .-. :.l.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
24
.!:-l¦ ±.l. .´¸¯.s ¯.>l .l ¯¸>.l. N´. ¯.±,l. ´-!´.`>
´>.-. _.·¯.L ¸>.l. ¯.÷.-. _ls -. '
“Hai orang-orang yang beriman! Hamba sahaya laki-laki
dan perempuan kepunyaanmu hendaklah meminta izin
(sebelum masuk ke tempatmu) pada tiga saat: sebelum shalat
Fajar, ketika kamu membuka pakaianmu karena panas di
siang hari dan sesudah shalat ‘Isya. Tiga saat (momen)
pakaianmu terbuka. Selain dari (tiga momen) itu tidak
mengapa bagi kamu melayani satu sama lain / O you who
believe! Let your slaves and slave girls, and those among you
who have not come to the age of puberty ask your permission
(before they come to your presence) on three occasions:
before Fajr (Dawn) shalat (prayer), and while you put off
your clothes for the noonday (rest), and after the ‘Isya (late -
night) shalat (prayer). (These) three times are of privacy for
you, other than these times there is no sin on you or on them
to move about, attending to each other”.
Jelas, shalat ‘Isya dilakukan bila malam telah gelap
(late-night) atau saat mulai hilangnya cahaya merah di ufuk
Barat (syaffaq). Dari lima shalat fardhu, tiga diantaranya
dengan jelas didahului oleh kata ‘shalat’. Dua di dalam ayat di
atas ada ‘frasa’ shalaatil Fajri dan shalaatil ‘Isya’. Kemudian
dalam surah Al Baqarah [(2):238] terdahulu dengan frasa
‘shalaatil Wusthaa’ (shalat Pertengahan / shalat ‘Asyar).
Karena hanya pada tiga ayat tersebut dinyatakan secara
tegas nama shalatnya, ada orang yang berpendapat bahwa
shalat fardhu menurut Al Qur’an hanya tiga kali dalam sehari
semalam, yaitu shalat Fajar, shalat Wusthaa (‘Asyar) dan shalat
‘Isya. Di antaranya yang berkata demikian adalah saudara
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
25
Othman Ali, tamatan Libanon, orang Malaysia. Menulis di
internet menyatakan bahwa shalat wajib hanya tiga kali dalam
sehari semalam (disiarkan tahun 1992). Bahkan ada yang
mengatakan hanya dua kali, yaitu hanya shalat Fajar dan shalat
‘Isya saja sebagaimana disebut dalam surah An Nur [(24):58].
Pada hal dalam surah Al ‘Isra’ [(17):78] dikatakan yang
artinya:
“Dirikanlah shalat pada saat tergelincir matahari sampai
malam telah gelap / Perform ash-shalat (iqamat ash-shalat)
from mid-day till the darkness of the night” (lihat kembali
uraian tentang shalat Zuhur).
Shalat ketika tergelincir Matahari itu shalat apa? Juga
pada surah Hud [(11):114] yang memerintahkan mendirikan
shalat di waktu maghrib, yaitu shalat Maghrib (lihat kembali
uraian tentang shalat Maghrib).
Dengan demikian adalah tidak benar bahwa shalat
hanya tiga atau dua kali dalam sehari semalam.
Berdasarkan uraian ayat-ayat Al Qur’an di atas, tanpa
adanya hadits yang menyatakan bahwa ketika Nabi saw
‘Isra’Mi’raj menerima perintah shalat lima kali sehari semalam,
Al Qur’an telah menyebutkannya secara jelas satu-persatu
shalat fardhu tersebut. Mana yang lebih dahulu, uraian tentang
shalat atau peristiwa ‘Isra’Mi’raj atau perintah shalat lima
waktu tadi. Kalau peristiwa ‘Isra’ yang lebih dahulu baru
kemudian penjelasan tentang shalat fardhu, dapat kita maklumi.
Tetapi, jika uraian shalat lebih dahulu, maka bagaimana
kedudukan hadits yang mengatakan Nabi saw menerima
perintah shalat saat ‘Isra’Mi’raj? Kalau seandainya perintah
shalat itu diberikan pada saat nabi/rasul Muhammad mi’raj,
tentu perintah shalat diturunkan dalam satu ayat. Tidak
terpisah-pisah seperti tertuang dalam Al Qur’an.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
26
‘Adzan dan Iqamah
Pelaksanaan ‘adzan ketika akan memasuki melaksanakan
shalat didasarkan pada surah Al Maidah [(5):58] yang
mengatakan:
“Dan bila kamu memanggil (menyeru) untuk mengerjakan
shalat (shalat fardhu) mereka jadikan itu sebagai olok-olok
dan latihan; hal mana mereka lakukan karena mereka tidak
mengerti / When your proclime your call to prayer they take it
(but) as mockery and sport, that is because they are a people
without understanding”.
Panggilan untuk shalat tersebut dinamakan ‘adzan.
Lihat juga pernyataan Allah swt dalam surah Al Jumu’ah
[(62):9] yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk
menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada
mengingat Allah (shalat Jum’at), dan tinggalkanlah jual beli
(buat sementara). Yang demikian itu lebih baik bagimu jika
kamu mengetahui / O you who believes! When the call is
proclimed for shalat (prayer) on Friday (Jum’ah prayer),
come to remembrance of Allah [Jum’ah religious talk
(khutbah) and shalat (prayer)] and leave off business (and
every other things). That is better for you if you did but know”
(teks ayat dapat dilihat dalam uraian shalat Jum’at).
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
27
Diceritakan oleh Anas r.a., Nabi saw bersabda:
“Orang meneriakkan api-api dan membunyikan lonceng (disarankan
sebagaimana tanda dimulainya shalat), sebagaimana orang Yahudi dan
Kristen melakukannya. Kemudian Bilal diperintah mengumandangkan
‘adzan untuk shalat dengan mengucapkan kata-kata dua kali-dua kali, dan
untuk iqamat sekali, di mana orang sudah siap untuk shalat / Narrated by
Anas r.a., “The people mentioned the fire and the bell (they suggested those
as signals to indicate the starting of prayers), and by that they mentioned
the Jews and Christians, then Bilal was ordered to pronounced ‘Adzan for
the prayer by saying its wordings twice (indoubles), and for the iqamah (the
call for the actual standing for prayers in rows) by saying its wordings once
(in singles)(iqamah is pronounced when the people are ready for the
prayer)-Shahih Bukhari, Vol1, Hadith No. 577”.
Note: the wordings of ‘adzan: Allaahu akbar-Allaahu akbar, Allaahu
akbar-Allaahu akbar, Ash-hadu anlaa ilaaha illallaah, Asha-hadu anlaa
ilaha illaallah; Ash-hadu anna Muhammad-ar-Rasuulullaah; Ash-hadu
anna Muhammad-ar-Rasuulullaah; Hayya ’alash-shalaah, Hayya ‘alash-
shalaah; Hayya‘alal Falaah, Hayya ‘alal Falaah; Allaahu akbar-Allaahu
akbar; Laa illaaha illallaah..
Tambahan kata dalam ‘adzan shalat fardhu Fajar
(umumnya disebut shalat Subuh) yang berbunyi: “ash-shalaatu
khairum minanaum”- shalat lebih baik daripada tidur, tidak
disebut dalam penjelasan hadits di atas, karena ia merupakan
tambahan belakangan. Kalimat tersebut baru disyariatkan pada
masa Umar Bin Khaththab menjadi khalifah. Asal-muasal
disyariatkannya kata tersebut pada ‘adzan subuh berasal dari
mimpi Abdullah bin Zayd bin Ta’labah al Anshari, lalu
dilaporkan kepada Nabi saw dan langsung menginstruksikan
kepada Bilal untuk mengumandangkannya. Orang Syiah, tidak
mengakui dan tidak percaya kepada mimpi tersebut dengan
alasan bahwa di era Nabi saw dan Abu Bakar Ash-Shiddiq,
kata-kata tambahan tersebut tidak ada. Jadi kaum Syiah dalam
‘adzan menjelang shalat Fajar/Subuhnya tidak menambahkan
kalimat ‘ash-shalaa tu khairum-minan-naum’ tersebut.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
28
Dalam buku The Life of the Prophet Muhammad (peace
be upon him), oleh Leila Azzam-Aisha Gouverneur, Penerbit
Karisma Remaja, Cirene, Bandung, hal yang sama juga
dikatakan: “the adhan, or call for prayer, which came to ‘Abd.
Allah ibn Zayd in his dream and was performed by Bilal on
the instruction of the Prophet (p. b. u. p), is the one we still
hear to day being called from the minarets of the mosques all
over the world”- ‘adzan, atau panggilan shalat, yang datang
kepada ‘Abd. Allah melalui mimpinya dan dilaksanakan oleh
Bilal atas perintah Nabi saw, adalah salah satu yang masih
kita dengar sampai kini yang dikumandangkan via menara-
menara masjid di seluruh dunia (hal 118).
Balasan bagi Orang ‘Adzan dengan Ihklas
Rasulullah saw bersabda yang artinya:
”Orang-orang yang ‘adzan dengan ikhlas pada hari kiamat
akan keluar dari kuburnya sambil ‘adzan. Dan orang-orang
’adzan itu disaksikan oleh segala sesuatu yang mendengar
suaranya, baik itu berupa batu, pohon, pasir, manusia, benda
yang basah maupun yang kering; dan Allah mengampuni
dosanya sejauh suaranya dapat didengar; dicatatkan baginya
pahala orang shalat karena mendengar ’adzannya; dan Allah
memberinya apa yang dia minta antara ’adzan dan iqamah,
baik disegerakan di dunia maupun disimpan-Nya nanti di
akhirat, atau dihindarkan-Nya dari bahaya. Orang yang
pertama kali mendapatkan pakaian surga nanti di akhirat
adalah Nabi Ibrahim a.s., kemudian Nabi Muhammad saw, lalu
para Rasul dan Nabi lainnya, lantas para mu’adzin yang
ikhlas, dan mereka disambut oleh para malaikat dengan
kendaraan dari yaqut merah yang masing-masing dari mereka
diiringi oleh 70 000 malaikat dari kuburnya hingga mahsyar”
(Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.a.)
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
29
Balasan bagi Siapa yang Menyahuti ‘Adzan
Nabi/Rasul Muhammad saw bersabda yang artinya:
”Barangsiapa yang mengucapkan seperti apa yang diucapkan
oleh orang yang ’adzan, maka ia mendapatkan pahala seperti
pahala orang yang ’adzan.”
Sebab itu janganlah Anda menganggap enteng tugas
tugas mu’adzin dan menjawab setiap kalimat ’adzan oleh orang
yang mendengarnya sesuai tuntunannya, karena umumnya kita
kurang hirau membalas seruan ’adzan.
Shalat Tahajjud
Mengenai shalat ini kita kutib kembali surah Al ‘Isra’
[(17):79] yang berbunyi:
´.´. ¸.l¦ .>±.· .«. «\·!. il ´_.s _¦ i.-¯.. i¯.´¸ !´.!1.
¦´:..>: ¯'
“Dan dari sebagian malam, shalat tahajjudlah kamu sebagai
shalat sunat bagimu, mudah-mudahan Tuhan akan
mengangkatmu ke tempat yang terpuji / And in some parts of
the night (also) offer the shalat (the prayer) with it (i.e. recite
the Qur’an in the prayer) as an additional prayer (tahajjud
optional prayer - nawafil) for you (O Muhammad saw). It
may be that your Lord will raise you to Maqam Mahmud (a
station of praise and glory (i.e. the honour of intercession on
the Day of Resurraction)”.
Shalat ini adalah shalat sunat yang sangat dianjurkan.
Dalam surah Al Qaf [(50):40] Allah berfirman:
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
30
´.´. ¸.l¦ «`>..· ,..:¦´. :.>´.l¦ '¸
“Dan di malam hari mereka sujud melakukan shalat sunat /
And during a part of the night (also) glorify His praises (i.e.
Maghrib and ‘Isya’ prayer and (so likewise) after the prayers
(as-sunnah nawafil - optional and additional prayer”).
Shalat sunat setelah shalat Maghrib dan ‘Isya’. Juga
dijelaskan dalam surah Al Muzammil [(73):20]:
_| i`.´¸ `.l-. i.¦ `».1. _.:¦ . _.l. ¸.l¦ .«±`..´. .«.l.´.
«±,!L´. ´. _·.!¦ i-. ´<¦´. '¸´.1`. ¸.l¦ ´¸!..l¦´.
“Sesungguhnya, Tuhan kamu mengetahui bahwa kamu
berdiri (mengerjakan shalat) kurang dari dua pertiga malam
dan ada juga separuh malam atau sepertiganya dan (begitu
pula) orang-orang yang bersama dengan kamu. Dan Allah
menetapkan/menentukan ukuran malam dan siang / Verily,
your Lord know that you do stand (to pray at night) a little
less than two thirds of the night, or in half of the night, or a
third of the night and also a part of those with you. And Allah
measures the night and the day”.
Yang dimaksud dengan sepertiga malam adalah antara
pukul 18.00-22.00. Separuh malam adalah pukul 24.00 malam.
Dua pertiga malam adalah pukul 02.00 dinihari (lihat
pembagian waktu siang dan malam). Sebab itu, shalat ‘Isya’
dapat dilakukan malam hari hanya dalam keadaan tertentu,
tetapi tidak pada waktu sepertiga malam terakhir (sesudah jam
02.00 dini hari sampai jam 06.00 pagi). Kalau tidak, jika
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
31
dilakukan juga, maka berarti ‘Isya’nya dilakukan bersamaan
dengan shalat sunat tahajjud.
Selanjutnya dalam surah Al Furqan [(25):64] difirmankan:
´..!¦´. _..... `.±.,l ¦´.>. !..´,·´. ''
“Dan orang-orang yang menggunakan waktunya di malam
hari menyembah Tuhannya, mereka berdiri dan sujud / And
those who spend the night in worship of their Lord, prostrate
and standing”.
Dalam surah Ali ‘Imran [(3):113]:
“Diantara Ahlul Kitab ada golongan yang berlaku lurus.
Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di
malam hari, sementara mereka juga bersujud (shalat) / Not
all of them are alike; a party of people of the Scripture stand
for right, they recite the Verses of Allah during the hours of
the night, prostrating themselves in prayer”.
Dalam surah Adz-Dzariyat [(51):18]:
“Dan di akhir malam mereka mohon ampun (kepada Allah) /
And in the hours of before dawn, they were (found) asking
(Allah) for forgiveness”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
32
Tidak Berjemaah
Shalat tahajjud adalah shalat yang sangat bersifat
pribadi, memohon keampunan, pertolongan, saat mengadukan
nasib kepada-Nya, di mana masalah seseorang tidak sama
dengan orang lain atau dengan orang banyak, maka shalat
tahajjud ini dilakukan sendiri tanpa berjemaah. Dianjurkan
dengan membaca ayat-ayat yang relatif panjang, dan sebaiknya
delapan rakaat, maka shalat ini boleh dikerjakan dengan berdiri
atau duduk dalam rakaat yang terpisah, atau dalam satu rakaat,
sebagian duduk dan sebagian berdiri. Itulah kemudahan yang
diberikan kepada hamba-Nya.
Bertasbih
Mengenai bertasbih terdapat dalam surah Qaf [(50):40]:
´.´. ¸.l¦ «`>..· ,..:¦´. :.>´.l¦ '¸
“Dan bertasbihlah memuji Tuhanmu pada sebagian waktu di
malam hari dan sesudah shalat / And during a part of the night
(also) glorify His praise (i.e. Maghrib and ‘Isya’ prayer) and (so
likewise) after the prayers (as sunnah, nawafil - optional and
additional prayers). And also glorify, praise and magnify Allah
(Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Allaahu-Akbar)”.
Bertasbih sesudah shalat Maghrib, shalat ‘Isya’, Fajar
dan shalat lain. Dalam surah Az Zumar [(39):9] Allah swt
berfirman:
.¦ ´.> ·..· ´.!.¦´. ¸.l¦ ¦´.>!. !.,!·´. '¸.>´ :,>N¦
¦.`>¯,.´. «´.-´¸ .«.´¸
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
33
“Apakah orang yang patuh menjalankan kewajibannya
selama beberapa waktu pada malam hari, dan memelihara
dirinya untuk hari kemudian, dan mengharapkan karunia
Tuhannya sama dengan orang-orang yang durhaka kepada
Tuhan? / Is one obedient to Allah, prostrating himself or
standing (in prayer) during the hours of the night, fearing the
Hereafter and hoping for the Mercy of His Lord (like one
who disbelieves?”).
Juga dalam surah Al Furqan [(25):64]:
´..!¦´. _..... `.±.,l ¦´.>. !..´,·´. ''
“Dan orang-orang yang menggunakan waktunya di malam
hari menyembah Tuhannya, mereka berdiri dan sujud / And
those who spend the night in worship of their Lord, prostrate
and standing”.
Dalam surah An Nashr [(110):3]:
“Maka bertasbihlah engkau dengan memuji Tuhanmu dan
mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah
penerima taubat / So glorify the Praises of your Lord, and ask
His Forgiveness. Verily, He is the One Who Ever accepts the
repentence and Who forgives”.
Surah Ath-Thur [(52):48]:
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
34
“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, maka
sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun
dari tidur / So wait patiently (O Muhammad saw) for the
Decision of your Lord, for verily, you are under Our Eyes,
and glorify the Praises of your Lord when you get up from
sleep”.
Juga dalam surah Al-Insan [(76):26]:
“Dan pada sebagian dari malam, sujudlah kepada-Nya dan
bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang pada
malam hari / And during night, prostrate yourself to Him (i.e.
the offering of Maghrib and ‘Isha’ prayers), and glorify Him
a long night through (i.e. Tahajjud prayer)”.
Itulah beberapa kelebihan dan keutamaan dan perlunya
shalat sunat tahajjud dan bertasbih di malam hari memikirkan
azab yang pedih di akhirat nanti dan mohon keampunan kepada
Sang Pencipta.
Situasi yang tenang, penuh dengan kesunyian di malam
hari sangat baik untuk menyembah Tuhan dan mohon
keampunan-Nya. Janganlah malam hari itu digunakan
seluruhnya untuk tidur. Sebagian dari malam hendaknya
dimamfaatkan untuk menyembah Tuhan (shalat) dan mohon
ampun kepada Allah swt. Sebab itu perlu diatur waktu tidur.
Jangan terlalu terlambat dan jangan pula terlalu cepat, atau
‘begadang’ semalam suntuk agar sempat melakukan shalat
tahajjud.
Bila sudah biasa bangun pada sepertiga malam terakhir,
maka kita akan terbiasa, pasti terbangun asal jadwal waktu tidur
tidak dirubah. Berkat latihan tersebut maka kita akan terbiasa
bangun untuk shalat tahajjud di malam hari.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
35
Doa Setelah Shalat Malam
Karena waktu malam adalah momen yang sangat baik
untuk berkomunikasi dengan Allah swt maka setelah shalat
atau pada waktu tidak shalat berdoalah [Al Furqan (25):65]:
!´.`.´¸ .¸.¦ !.s ´.¦.s ..±> ´_| !±.¦.s _l´ !´.¦,s ''
“Ya,Tuhan kami! Palingkanlah dari kami azab jahannam.
Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal / Our
Lord! Avert from us the torment of Hell. Verily, its torments
is ever an insparable permanent punishment”.
Dalam surah ‘Ali Imran [(3):16,17] Allah swt berfirman:
!.`.´¸ !..| !..¦´. ¯,±s!· !´.l !....: !´.·´. ´.¦.s ¸!.l¦ ¸'
“Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya kami beriman, sebab itu
ampunilah dosa kami dan hindarkanlah kami dari ‘azab api
neraka / Our Lord! We have indeed believed, so forgive us our
sins and save us from the punishment of the Fire” (ayat 16).
_·¸..¯.l¦ _.·..¯.l¦´. _....1l¦´. _.1±..l¦´.
_·,±-.`..l¦´. ¸!>`.N!. ¸¯
“Dan orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar,
orang-orang yang patuh (pada Tuhan), orang-orang yang
menafkahkan sebagian (hartanya di jalan kebaikan) dan
orang-orang yang memohon ampun (kepada Tuhan) di akhir
malam / They are those who patient, those who are true (in
faith, words, and deeds), and obedient with sincere devotion
in worship to Allah. Those who spend (give the zakat and
alms in the Way of Allah) and those who pay and beg Allah’s
Pardon in the last hours of the night” (ayat 17).
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
36
Dalam surah Al A’raaf [(7):55] difirmankan:
¦.`s:¦ ¯.>`.´¸ l´.¯¸.· «´,±>´. .«.| N ´.>´ _·..-.l¦ ''
“Bermohonlah kepada Tuhan dengan rendah hati dan
rahasia (suara jiwa), sesungguhnya Tuhan itu tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas / Invoke your
Lord with humility and in secret. He likes not the agressors”.
Pada ayat 56-nya:
.. :.`s:¦´. !·¯.> !´-.L´. …
“…..dan bermohonlah kepada Tuhan dengan perasaan takut
dan penuh harapan …. / ….and invoke Him with fear and
hope …..”.
Jadi, dalam berdoa hendaklah:
- tadharru’ = dengan rendah hati,
- nidaa an khalifiyya = dengan suara lembut / berbisik
- khufyah = suasana jiwa;
- khaufan = dengan perasaan takut;
- thama’an = penuh harapan;
Shalat Jum’at
Tentang shalat Jum’at tertuang dalam surah Al Jumu’ah
(hari Jum’at- hari berkumpul), [(62):9-10]. Hari Jum’at adalah
hari besar bagi umat Islam dalam seminggu. Jadi bukan hari
Minggu di mana oleh umat Nasrani dijadikan hari besarnya
dalam seminggu yang juga diikuti oleh umat Islam. Ini untuk
diketahui saja karena dalam sehari-hari kita memakai kalender
Masehi. Ayat di atas berbunyi:
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
37
!..!.. _·.!¦ ¦.`..¦´. ¦:| .:.. :.l¯.ll . .¯.. «-.>l¦
¦¯.-`.!· _|| ,´: ´<¦ ¦.'¸:´. ×..l¦ ¯.>l: ¸¯.> ¯.>l _| `...´
_..l-. '
“Hai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk
menunaikan shalat di hari Jum’at, maka bersegeralah kamu
kepada mengingat Allah (shalat Jum’at) dan tinggalkanlah
jual beli (buat sementara). Yang demikian itu lebih baik
bagimu jika kamu mengetahui / O you who believes
(Muslims)! When the call is proclimed for shalat (prayer) on
Friday (Jumu’ah prayer), come to the remembrance of Allah
[Jumu’ah religious talk (khutbah)] and shalat (prayer) and
leave off business (and every other things). That is better for
you if you did but know” (ayat 9)”.
Ayat 10-nya:
¦:¦· ·´,.· :.l¯.l¦ ¦.`,:..!· _ ¯¸N¦ ¦.-.¯.¦´. . ¸.·
´<¦ ¦.`,´:¦´. ´<¦ ¦¸..´ ¯¸>l-l _.>l±. ¸¸
“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah
(kembali) kamu di muka bumi, dan carilah karunia (rezeki)
Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu
beruntung / Then when the (Jumu’ah) shalat (prayer) is
ended, you may disperse through the land, and seek the
Bounty of Allah (by working etc.), and remember Allah much
that you may be successful”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
38
Shalat Jum’at dilakukan di tengah hari (mid-day), pada
saat orang sedang sibuk bekerja atau berusaha. Tetapi apabila
terdengar panggilan untuk shalat Jum’at (‘adzan), atau sudah
tiba waktu untuk shalat Jum’at, maka sebagai orang yang
beriman, tinggalkanlah segala aktivitas. Segeralah tunaikan
shalat Jum’at lebih dulu. Kemudian bila telah selesai, segera
pula lah kembali ketempat pekerjaan masing-masing.Yang
pegawai kembali ke kantornya.Yang buruh ke pabriknya. Yang
petani pergi ke ladangnya.Yang pedagang ke toko-kedainya-
plaza-mall-swalayannya. Yang mahasiswa-pelajar-guru-dosen
ke sekolahnya masing-masing untuk meneruskan mencari
rezeki atau melanjutkan tugas masing-masing. Hal itu lebih
baik agar kita beruntung.
Waktu untuk shalat Jum’at sama dengan shalat Zuhur.
Petunjuk di atas tentu berlaku juga untuk shalat Zuhur. Tetapi
shalat Jum’at harus dilakukan berjama’ah di masjid. Setelah
bekerja dari pagi sampai waktu zuhur, mungkin kepala sudah
pusing, capek sudah terasa pula, diperlukan istirahat untuk
menenangkan pikiran dan melepas lelah sejenak kira-kira
setengah atau satu jam. Shalat di tengah hari tersebut berfungsi
juga melepaskan kelelahan tersebut, dengan berwudhuk,
mengosongkan pikiran dari urusan dunia, menyembah Allah
swt. Bila shalatnya dilakukan dengan sempurna, maka pikiran
akan kembali tenang dan kekuatan pisik dan mental akan pulih
kembali.
Karena waktu sangat berguna untuk mencari karunia
(rezeki), agar tidak ada kesempatan yang lepas, selesai shalat
kita diperintahkan segera bekerja ke tempat masing-masing.
Jangan dibuang-buang waktu yang berguna pada waktu jam
kerja puncak (peak) tersebut. Sebab itu, khutbah Jum’at pun
tidak dianjurkan untuk panjang-panjang supaya waktu untuk
urusan dunia tidak banyak tersita. Begitulah Islam
mementingkan urusan dunia disamping urusan akhirat.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
39
Membaca Ta’awwudz
Ta’awwudz atau isti’aadzah ialah mengucapkan,
“A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim / Aku berlindung
kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk / I seek
Allah’s protection from satan the rejected one”. Dibaca setiap
akan membaca Al Qur’an dan Al Fatihah dengan dalil surah An
Nahl [(16):98]:
“Bila engkau membaca Al Qur’an, maka berlindunglah
kepada Allah dari syaitan yang terkutuk / When you will read
the Qur’an, seek Allah’s protection from satan the rejected
one”.
Meramaikan Masjid
Meramaikan masjid (‘imarah) maksudnya mengunjungi,
beribadah di dalamnya, atau memperindah, menjaga dan
memeliharanya. Orang-orang musyrik (orang-orang yang
mensekutukan Tuhan) tidak berhak meramaikan masjid, karena
masjid adalah lambang Kesucian dan Keesaan Allah swt dan
tempat menyembah-Nya semata. Allah swt berfirman dalam
surah Al Jin [(72):18] sebagai berikut:
_¦´. .>...l¦ ´< *· ¦.`s.. ×. ´<¦ ¦´.>¦ ¸¯
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk Allah
(semata). Sebab itu, janganlah kamu puja siapa juapun
bersama Allah (di masjid itu) / And the mosques are for Allah
(Alone). So invoke not anyone along with Allah”.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
40
Pada surah yang lain, surah Al Baraah [Pembebasan
(9):17] ditegaskan tentang hal ini:
!. _l´ _.´¸:.ll _¦ ¦.`,.-. .>... ´<¦ ´..±.: ´_ls
.±.±.¦ ,±>l!.
“Tidaklah orang-orang musyrik itu berhak meramaikan
masjid-masjid Allah, sedangkan mereka telah mengakui
bahwa mereka sendiri tidak beriman,…. / It is not for
musyrikiin (polytheists, idoleters, pagans, disbelievers in the
Oneness of Allah), to maintain the Mosques of Allah, while
they witness against their ownselves of disbelief”.
Yang berhak adalah:
!..| `,.-. .>... ´<¦ . .¦´. ´<!. .¯.´.l¦´. ,>N¦ »!·¦´.
:.l¯.l¦ _.¦´.´. :.é,l¦ `.l´. >´ N| ´<¦ ´_.-· i..l`.¦ _¦
¦...>. ´. _·..±.l¦ ¸¯
“Hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian serta tetap mengerjakan shalat dan membayar
zakat dan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah /
The Mosques of Allah shall be maintained only by those who
believe in Allah and the Last Day, perform ash-shalat (iqamat
ash-shalat), and give zakat and fear none but Allah. It is they
who are on true guidance” [At Taubah (9):18].
Mereka boleh beribadah di dalamnya, memperindahnya,
menjaga dan memeliharanya. Berdasarkan ayat 17 dan 18 surah
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
41
Al Baraah (9) ini, sumbangan orang-orang musyrik untuk
membangun, memperindah masjid sebenarnya juga juga tidak
dapat diterima.Termasuk turis orang musyrik yang ingin
melihat-lihat ke dalam masjid (seperti ke masjid Sultan
Deli/Masjid Raya di Medan) dan masjid-masjid lainnya.
Masjid Dhirar
Masjid ‘dhirar’ (masjid bahaya) adalah masjid yang
didirikan oleh orang munafiq. Sejarahnya, dulu seorang
pendeta, Abu Umar, membangun masjid, bersamaan dengan
pembangunan masjid Quba. Ia lama mengadakan perlawanan
terhadap Nabi Muhammad saw dan agama Islam. Sesudah
perang Hunain, dia melarikan diri ke Syiria dan meninggal di
sana. Tuhan melarang Nabi/Rasul Muhammad saw shalat di
masjid ‘dhirar’, masjid yang digunakan untuk menipu umat
Islam. Akhirnya masjid itu diruntuhkan. Kita pun tentu dilarang
shalat, meramaikan masjid ‘dhirar’ karena dibangun atas
konspirasi atau maksud tertentu, menghancurkan umat Islam.
Sedangkan masjid yang dibangun atas dasar taqwa (kepatuhan
kepada Allah) lebih pantas diramaikan.
Tentang masjid ‘dhirar’ ini tertuang dalam surah Al
Baraah/At Taubah / Pembebasan [(9):107]:
_·.!¦´. ¦..>´¦ ¦´.>`.. ¦´¸¦´¸. ¦,±é´. !1.,±.´. _..
_...¡.l¦ ¦´:!.¯¸|´. .l .´¸l> ´<¦ .`«!..´¸´. . `¸¯.·
“Dan orang-orang yang membangun masjid untuk
menimbulkan bahaya, kekafiran, perpecahan antara orang-
orang yang beriman dan menyambut kedatangan orang yang
sejak dulu telah memerangi Allah dan Rasul-Nya… / And as
for those who put up a mosque by way of harm and disbelive
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
42
and to disunite the believers and as an outpost for those who
warred against Allah and His Messenger (Muhammad
saw)….”.
Karena itu [Al Baraah (9):108] menyatakan:
N `.1. «.· ¦´..¦ .>`..l ´¯.¦ _ls _´.1`.l¦ . _.¦ .¯..
´_>¦ _¦ ».1. «.· «.· _l>¸ _.´.>´ _¦ ¦.`,´±L.. ´<¦´. ´.>´
_·,´±L.l¦ ¸¸¯
“Janganlah engkau berdiri (shalat) dalam masjid itu buat
selamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar
taqwa sejak hari pertama (didirikan) itu, lebih patut di
dalamnya engkau shalat. Di dalamnya ada beberapa orang
yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang
yang bersih / Never stand you therein. Verily, the mosque
whose foundation was laid from the first day on piety is more
worthy that you stand therein (to pray). In it are men who
love to clean and to purify themselves. And Allah love those
who make themselves clean and pure [i.e.who clean their
private parts with dust (which has the properties of soap) and
water from urine and stools, after answering the call of
nature]”
Masjid Yayasan Amal Bhakti Muslimin Pancasila
Dalam era Soeharto, yang dikenal dengan nama era Orde
Baru, umat Islam banyak dipojokkan. Tak sedikit orang yang
ditangkap lalu dipenjarakan. Orang-orang memberi khutbah
disetiap masjid dimata-matai. Orang yang pakai jilbab disuruh
buka jilbabnya. Mengucapkan assalamua’alaikum, permisi
untuk shalat saja di saat rapat di kantor-kantor umat Islam pada
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
43
masa itu takut. Takut dituduh fundamentalis, Islam DII/TII dsb.
Kemudian karena umurnya semakin tua dan banyak menterinya
yang selama ini sangat tidak suka kepada Islam sudah banyak
yang meninggal lebih dahulu daripada dia, lama-lama ia sadar,
ingin berbaikan dengan umat Islam dengan cara mengambil
inisiatif mengumpulkan dana untuk membangun masjid di
seluruh Indonesia. Dana dikumpulkan dari seluruh PNS dihimpun
melalui yayasan yang mereka sebut Yayasan Amal Bhakti
Muslim Pancasila. Sebab itu masjid yang dibangun atas nama
Yayasan tersebut dengan tipe dan ukuran yang sama di seluruh
Indonesia pernah dianggap sebagai masjid ‘dhirar’. Lokasi
pendiriannya ditentukan oleh Yayasan Amal Bhakti Muslimin
Pancasila yang dipimpin langsung oleh Soeharto pada waktu itu.
Walaupun masjidnya bagus, tetapi jema’ahnya tidak seramai
masjid yang dibangun oleh masyarakat tanpa maksud apapun.
Takut dituduh mendukung Golkar, dikekang aktivitas agamanya,
dituduh fundamentalis, ingin mendirikan negara Islam dan
sebagainya atau luka hati umat Islam belum pupus dengan
tindakannya terhadap umat Islam selama 32 tahun.
Mengqashar Shalat
Mengqashar artinya meringkaskan atau memendekkan
shalat. Tentang ini berpedoman pada surah An Nisa [(4):101]
yang berbunyi:
¦:|´. ..¯.´¸. _ ¯¸N¦ ´,l· ¯¸>.l. -!´.`> _¦ ¦.¸´.1. ´.
:.l¯.l¦ _| ..±> _¦ `.>´..±. _·.!¦ ¦.`,±´ _| _·,±.>l¦ ¦..l´
¯¸>l ¦..s !´...¯. ¸¸¸
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
44
“Dan apabila berpergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu mengqasharkan (meringkas) shalatmu jika
kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya
orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu /
And you (Muslims) travel in the land, there is no sin on you if
you shorten ash-shalat (the prayer) if you fear that the
disbelievers may put you in trial (attack you etc.). Verily, the
disbelievers are ever unto you open enemies”.
Secara literal, mengqashar (dari antaqshuruu) shalat
dilakukan dalam keadaan bahaya (takut diserang) oleh musuh
orang kafir. Jadi suasana nuzulnya ayat ini saat peperangan
dengan orang kafir. Bagaimana kalau tidak dalam keadaan
tidak berperang atau tidak dalam keadaan bahaya? Misalnya
kita dalam perjalanan jauh memakan waktu lama, tidak dengan
angkutan sendiri?.
Menurut ‘jumhur’, arti ‘qashar’ adalah meringkaskan
shalat, misal shalat yang empat raka’at dijadikan dua raka’at
(kecuali shalat Maghrib dan shalat Fajar tak bisa diqashar).
Tapi apakah ‘jumhur’ tersebut dari hadits, atsar atau ijtihad
(konsensus) para ulama? Yang jelas menurut Qur’an, qashar
dilakukan bila dalam keadaan bahaya, takut diserang musuh,
apalagi bila dikaitkan dengan ayat 102 berikut ini:
Shalat dalam Keadaan Perang
Shalat dalam keadaan perang/bahaya (chauf) dijelaskan
dalam surah An Nisa [(4):102]:
¦:|´. ·.´ ¯...· ·.·!· `.±l :.l¯.l¦ ¯.1.l· «±,!L .·... i-.
¦..>!´.l´. ¯.·..>l`.¦ ¦:¦· ¦..>. ¦...>´,l· . ¯.÷,¦´¸´.
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
45
.!.l´. «±,!L .,>¦ `.l ¦.l.`. ¦.l.`.l· i-. ¦..>!´,l´.
¯.>´¸.> ¯.·..>l`.¦´. :´. ´..!¦ ¦.`,±´ ¯.l _.l±-. s
¯.>.>l`.¦ ¯¸>.-..¦´. _.l..´,· .÷.l. «\.. :.>´.
“Dan kalau engkau (Muhammad) hadir bersama-sama
mereka hendak mengerjakan shalat berjama’ah dengan
mereka, hendaklah sebagian diantara mereka berdiri (shalat)
bersama-sama engkau (Muhammad), dan memegang senjata
mereka, dan sesudah mereka sujud (shalat satu raka’at),
lantas mereka mundur kebelakang, dan bagian lain yang
belum shalat, tampil (maju) ke kemuka dan shalat pula
berjama’ah dengan engkau (Muhammad). Hendaklah
mereka mempersiapkan penjagaan dan senjata mereka,
karena orang kafir itu ingin supaya kamu terlengah, senjata
dan barang-barangmu mereka rampas, lalu mereka
menyerang sekaligus / When you (O Messenger Muhammad
saw) are among them and lead them in shalat (the prayer), let
one party of them stand up [ in shalat (prayer) ] with you
taking their arms with them, when their finished their
prostration, let them take their position in the rear and let the
other party come up which have not yet prayed, and let them
pray with you taking all precautions and bearing arms. Those
who disbelieve wish, if you were negligent of your arms and
your baggage, to attack you in a single rush,…”.
Maksudnya, begini. Kalau pertempuran belum terjadi.
Pasukan dibagi. Ada yang shalat berimam dengan Nabi saw,
tetap memegang senjatanya, dan yang tidak shalat berjaga-jaga
di belakang juga dengan memegang senjata. Bila yang shalat di
depan sudah selesai satu raka’at, mereka mundur kebelakang,
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
46
lalu barisan yang di belakang maju ke depan ikut shalat dengan
Nabi saw (sebagai imam) sambil memegang senjata juga. Jadi
masing-masing barisan (shaf) shalat hanya satu raka’at dengan
berjama’ah sedangkan imamnya shalat dua raka’at. Sedangkan
makmum yang shalat satu raka’at tadi, menambah masing-
masing satu raka’at lagi tanpa berimam. Jadi shalatnya cuma
dua raka’at. Pernah juga terjadi masing-masing shalat dua
raka’at dengan bergantian seperti tadi, dan imamnya shalat
empat raka’at.
Menjamak Shalat
Penulis belum menemukan ayat tentang ‘menjamak
shalat’ di dalam Al Qur’an. Menjamak maksudnya
menggabung dua shalat wajib. Misalnya shalat Zuhur dengan
‘Asyar, Maghrib dengan ‘Isya. Baik jamak taqdim dan maupun
jamak taqkhir.
Shalat Berjamaah
Tidak ada ayat tersendiri yang menginformasikan
mengenai shalat berjama’ah, kecuali shalat berjama’ah yang
langsung diimami oleh Nabi saw ketika shalat dalam keadaan
perang di atas. Tapi kita dapat menyimpulkan bahwa dasar
hukum syalat berjama’ah, berpedoman pada surah An Nisa
[(4):102] di atas tadi. Kita ulangi:
¦:|´. ·.´ ¯...· ·.·!· `.±l :.l¯.l¦ ¯.1.l· «±,!L .·... i-.
“Dan kalau engkau (Muhammad) hadir bersama-sama
mereka hendak mengerjakan shalat berjama’ah dengan
mereka, hendaklah sebagian diantara mereka berdiri (shalat)
bersama-sama engkau (Muhammad) … / When you (O
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
47
Messenger Muhammad saw) are among them and lead them
in shalat (the prayer), let one party of them stand up [in
shalat (prayer)] with you …..”
Ada yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah didasarkan
kepada surah Al Baqarah [(2):43] sebagai berikut:
¦..,·¦´. :.l¯.l¦ ¦..¦´.´. :.´,l¦ ¦.`-´¯¸¦´. ×. _.-´¯,l¦ '¯
“Dan dirikanlah shalat dan bayarlah zakat, dan ruku’lah
bersama-sama orang-orang yang ruku’ / And perform ash-
shalat (iqamat ash-shalat) and give zakat, and bow down (or
submit yourselves with obedience to Allah) along with ar-
raki’ina”).
Kalimat “ruku’lah bersama-sama orang-orang yang ruku’“
diartikan shalat berjama’ah. Dalam surah Al Hajj [(22):77]:
“Wahai orang-orang beriman! Ruku’ dan sujudlah kalian /
O you who have believed! Bow down, and prostrate
yourselves,..”
Shalat dengan Berjalan Kaki atau di Atas Kendaraan
Difirmankan dalam surah Al Baqarah [(2):239] sebagai berikut:
_¦· `..±> N!>,· .¦ !.!.´'¸ ¦:¦· ....¦ ¦.`,é:!· ´<¦ !.´
.÷.l. !. ¯.l ¦...>. _.`.l-. '¯'
“Kalau kamu dalam bahaya, boleh shalat sambil berjalan
kaki atau di atas kendaraan. Dan kalau sudah aman
Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat
48
shalatlah (ingatlah Allah) sebagaimana Dia telah
mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui / And
if you fear (an enemy), perform shalat (prayer) on foot or
riding. And when you are in savety, offer the shalat (prayer)
in the manner He has taught you which you know not
(before”).
Ada juga yang menafsirkan ayat di atas berlaku juga
untuk shalat dalam perjalanan dengan angkutan umum. Seperti
sekarang naik pesawat waktu ke Makkah, naik bus, naik kereta
api atau kapal laut. Kalau kendaraan pribadi, bisa diatur sendiri,
dicari kesempatan untuk shalat. Tekanan shalat sambil berjalan
kaki atau di atas kendaraan sejarahnya karena dalam keadaan
bahaya.
Mengqadha Shalat
Kita tidak menemukan dalil dalam Al Qur’an tentang
bolehnya ‘mengqaha shalat’. Maksudnya mengganti shalat
yang tertinggal (waktunya sudah lewat) pada waktu lain di luar
jadwalnya. Apalagi sebagaimana telah kita sebut terdahulu,
waktu-waktu shalat sudah ditentukan. Jadi jika shalat di luar
waktu tersebut maka shalatnya tidak diterima lagi (penjelasan
shalat Wustha/shalat Pertengahan atau shalat ‘Asyar).
Mengimami Shalat
Apabila shalat dilakukan dengan berjama’ah, seorang
dari jama’ah hendaklah menjadi imam. Diutamakan yang suara
dan bacaannya relatif baik, lebih banyak pengertiannya tentang
Al Qur’an. Dalil yang menyatakan perlunya imam adalah surah
An Nisa [(4):102] di atas.

Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat

Ayat yang Memerintahkan Mendirikan Shalat Di dalam Al Qur’an banyak sekali kita jumpai perintah mendirikan shalat dengan berbagai redaksi. Kita ambil beberapa contoh diantaranya: 1. Al Baqarah [(2):3]:


“……..dan (marilah) mendirikan shalat/……and perform ash-shalat (iqamat ash-shalat)”. 2. Al Baqarah [(2):43]:

“Dan dirikanlah shalat dan bayarlah zakat, dan ruku’lah bersama-sama orang-orang yang ruku’/ And perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) and give zakat, and bow down (or submit yourselves with obedience to Allah) along with ar - raki’iina”. 3. Al Baqarah [(2):45]:

“Dan mohon pertolonganlah kamu dengan shalat dan sabar/ And seek help in patience and ash-shalat (the prayer)”. 4. Al Baqarah [(2):238]:

”Peliharalah segala shalat (mu) dan shalat wustha dan berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan penuh
2

Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat

ketundukan dan kepatuhan / Guard strictly (five obligatory) ash-shalat (the prayers) espscially the middle shalat (i.e. the best paryer – ‘Asr)”. 5. Al Baqarah [(2):277]:

“…..dan mereka mendirikan shalat dan (mereka) menunaikan zakat, maka bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka, …/….. and perform ash-shalat (iqamat ash-shalat), and give zakat, they will have their reward with their Lord ….”. 6. An Nisa [(4):103]:

“Maka apabila kamu telah selesai shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Bila kamu telah merasa aman, dirikanlah shalat (kembali). Sesungguhnya shalat itu adalah untuk orangorang beriman, suatu kewajiban yang sudah ditetapkan waktunya/When you have finished ash-shalat (the congregational prayer), remember Allah standing, sitting down, and (lying down) on your sides, but when you are free from danger, perform ash-shalat. Verily, ash-shalat (the prayer) is enjoined on the believers at fixed hours”.
3

Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat

7. Hud [(11):114]:

”Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada permulaan malam …./And perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) at the two ends of the day and in some hours of the night (i.e. the five compulsary shalat/prayers….”). 8. Al Isra’ [(17):78]:

“Dirikanlah shalat dari tergelincir matahari sampai malam telah gelap dan bacalah Al Qur’an di waktu Fajar, sesungguhnya membaca Al Qur’an di waktu Fajar disaksikan (dihadiri oleh Malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari) / Perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) from mid-day till the darkness of the night (i.e. the Zuhr, ‘Asr, Maghrib, and ‘Isha’ prayer), and recite the Qur’an in the early dawn. Verily, the recitation of the Qur’an in the early dawn is ever witnessed (attended by the Angles in charge of mankind of the day and the night”). 9. Al ‘Isra’ [(17):79]:

4

Al Muzammil [(73). dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman secara baik …. recite the Qur’an in the prayer). It may be that your Lord will raise you to Maqam Mahmud [(station of praise and glory i.. Thaha [(20):14]: … “….nawafil) for you (O Muhammad saw).. shalat tahajudlah sebagai shalat sunat bagimu.. and perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) and give zakat.so recite as much of the Qur’an as may be easy (for you).e. /……. as an aditional prayer (tahajjud optional prayer .” 5 . mudah-mudahan Tuhan akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji / And in some parts of the night (also) offer the shalat (the prayer) with it (i. 20]: … . “…sebab itu bacalah Qur’an.e. 10..dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku / ……and perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) for My Remembrance ……. mana yang mudah bagimu (membacanya) dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Dan dari sebagian malam.” 11. and lend to Allah a goodly loan …. the honour of intercession on the Day of Resurrection “)].

13.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat 12. great sins of every kind. ash-shalat (the prayer) prevents from al fasha’ (i. disbelief. Al ‘Ankabut/Laba-laba [(29):45]: “Bacalah Kitab. Al Kausar [(108):2]: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah/Therefore to your Lord turn in prayer and sacrifice”. Verily. polytheism. dan Allah itu mengetahui apa yang kamu kerjakan / Recite (O Muhammad saw) what has been revealed to you of the Book (the Qur’an) and perform ash-shalat (iqamat ash-shalat). Sesungguhnya mengingat Allah itu amat besar mamfaatnya. dan tetaplah mengerjakan shalat.e. yang diwahyukan kepada engkau. And Allah knows what you do”]. sesungguhnya shalat itu menghalangi dari (mengerjakan) perbuatan keji dan kesalahan. unlawful sexual intercourse) and al munkar (i. and every kind of evil wicked deed) and the remembering (praising) of (you by) Allah (in front of the Angle) is greater indeed [than you remembering (prasing) of Allah in prayers.e. 6 .

sampai ke masa Nabi Muhammad saw. Nabi Luqman as. sedangkan surah diturunkan secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup lama.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Demikianlah beberapa contoh perintah mendirikan shalat yang tersebar pada beberapa surah/ayat.R. perintah mendirikan shalat belum ada.a. 4. Kalau kita berpedoman kepada hadits di atas. Nabi Musa as. dalam ayat pertama 7 . perintah shalat sebagian sudah ada? Atau perintah shalat sudah ada sejak zaman Nabinabi sebelumnya sebagaimana shiam dan qurban. Bukhari Vol. Bukhari yang diceritakan oleh Anas bin Malik. Termasuk surah ‘Isra’ (17) yang diturunkan di Makkah. Begitu juga H. 429). berarti sebelum peristiwa ‘Isra’ Mi’raj. Nabi saw menyatakan bahwa beliau ‘Isra’ dan menerima perintah shalat lima kali sehari semalam (H. Ayat pertama surah ini menginformasikan tentang ‘Isra’ Nabi/Rasul saw. Tentu pada surah/ayat yang lain masih ada. Kalau begitu. perintah mendirikan shalat sebagaimana tertuang di dalam Al Qur’an merupakan pengulangan saja. Dengan tersebarnya perintah mendirikan shalat pada beberapa surah/ayat.211 jilid I tentang shalat. Apakah Perintah Shalat Baru ada Setelah Nabi Muhammad saw ‘Isra’ Mi’raj? Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui bahwa. hadits No. Dalam hadits yang diceritakan oleh Malik bin Sa’sa’ah r. Nabi ‘Isa as. Atau hadits yang menceritakan Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat saat ‘Isra’ Mi’raj lemah statusnya? Sebab. hadits No. bisakah terjadi sebelum ‘Isra’ Mi’raj. Perintah shalat tersebut mulai dari era Nabi Ibrahim as. Umat sebelum peristiwa Isra’Mi’raj tidak ada kewajiban melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam. Al Qur’an diturunkan secara bertahap dalam kurun waktu lebih kurang 23 tahun.R.

8 . Surah An Najm/Bintang-bintang/The Stars (53) yang terdiri dari 62 ayat yang merupakan penjelasan [Al‘Isra’(17):1] juga tidak menginformasikannya. “Dan dia berkata bukan dengan kemauannya sendiri / Nor does he speak of (his own) desire” (ayat 3). Apa yang diceritakan Nabi Muhammad saw tentang ke-‘Isra’kan beliau adalah benar. “ “Itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya / It is only revelation revealed” (ayat 4). 3. dan tiada salah.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat surah Al ‘Isra’ (17) tidak ada penjelasan bahwa Nabi Muhammad saw menerima perintah shalat. Apa yang beliau ceritakan adalah ‘wahyu’. Difirmankan dalam surah An Najm (53). ayat 2. Ayat 1-18 surah ini hanya menjelaskan tentang kebenaran ‘Isra’ Nabi Muhammad saw. dan 4: “Kawan kamu itu (Muhammad saw) tiada sesat dan tiada keliru / Your companion (Muhammad saw) has neither gone astray nor has erred” (ayat 2). Sampai ayat terakhir (ayat ke 111) tidak dijumpai firman bahwa Nabi saw menerima perintah shalat ketika ‘Isra’ Mi’raj tersebut. tidak berbohong. bukan ucapan atau rekayasa beliau. Yang ada hanya perintah mendirikan shalat dari tergelincir Matahari sampai malam telah gelap [Al ‘Isra’(1):78] dan perintah melaksanakan shalat tahajjud pada sebagian malam [Al‘Isra’(17):79]. Beliau tidak keliru.

Karena sebelum era Nabi Muhammad saw. and (a grandson) Ya’qub (Jacob). and We revealed to them the doing of good deeds. Ayat 73-nya: “Dan mereka Kami jadikan pemimpin. tetap mengerjakan shalat. dan Ya’qub sebagai tambahan (cucu). Tetapi beliau menerima perintah shalat pada saat ‘Isra’ masih perlu penjelasan lebih lanjut. Each one We made righteous”. performing shalat (iqamat as-shalat). dan masing-masing kami jadikan orang yang baik-baik/And We bestowed upon him Ishak (Isaac). guiding (mankind) by Our Command. dan mereka hanya menyembah kepada Kami saja / And We made him leaders. Di zaman Nabi Ibrahim as. dalam surah Al Ambiya [(21):72 dan 73] ada firman: “Dan Kami berikan kepadanya Ishak. yang memimpin dengan perintah Kami. dan membayar zakat. dan Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan perbuatan baik.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Nabi Muhammad saw ‘Isra’ adalah benar. 9 . perintah shalat sudah ada. and the giving of zakat and of Us (Alone) they were worshipped”.

tiada Tuhan selain Aku. ada firman dalam surah Thaha [(20):1314] sebagai berikut: “Dan Aku telah memilih engkau (Musa). …/ O my son! Aqimish-shalat (perform as-shalat. enjoin (on people) al ma’ruuf-Islamic Monotheism and all that is good.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Pada masa Nabi Luqman. Sebab itu. Di era Nabi Musa as. surah Luqman [(31):17] Allah swt berfirman: … “Dirikanlah shalat. suruhlah mengerjakan perbuatan baik. and perform ash-shalat (iqamash-shalat) for My Remembrance”. …”). so worship Me. sebab itu dengarkanlah apa yang diwahyukan / And I have chosen you (Musa/Moses). I am Allah! Laa ilaaha illa Ana (non has the right to be worshipped but I. Dan pada ayat 14-nya: “Sesungguhnya Aku ini Allah. So listen to that which will be revealed (to you)”. dan tetaplah mengerjakan shalat untuk mengingat Aku / Verily. 10 . sembahlah Aku.

Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Pada masa Nabi ‘Isa as Allah berfirman dalam surah Maryam [(19):30-31]: Berkata ‘Isa. 11 . as long as I live”. “Verily. and zakat. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi” / He [‘Isa (Jesus)] said. He has given me the Scripture (Injil) and made me a Prophet”. Selanjutnya ayat 31-nya berbunyi: “dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja akau berada. I am a slave of Allah. dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup / And He has made me blessed wheresoever I be. Ini sebagai bukti bahwa agama wahyu itu bersumber dari satu. “Sesunggunya aku ini hamba Allah. walaupun diturunkan pada nabi yang berbeda sampai kepada Nabi Muhammad saw. and has enjoined on me shalat (prayer). yaitu Allah swt.

dhuha. suatu kewajiban yang (telah) ditentukan waktunya / Verily. disebut shalat Fajar. ash-shalat (the prayer) is enjoined on the believers at fixed hours”. Begitu seterusnya. 12 . Shalat Fajar atau Shalat Subuh? Kata ‘Fajar’ Dijumpai di empat tempat yaitu: a. zuhur. Dalam surah An Nur [(24):58]. ‘asyar. maghrib dan ‘isya itu hakekatnya adalah nama-nama waktu.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Nama-Nama Shalat Dalam qalam Ilahi surah An Nisa [(4):103] dinyatakan: …. Misalnya. shalat di waktu ‘asyar disebut shalat ‘Asyar. … “ …. dari sebelum shalat Fajar / … before Fajr…” Penggalan firman ini berkaitan dengan larangan bagi budak perempuan dan budak laki-laki yang dimiliki yang sudah dewasa masuk ke kamar majikannya tanpa izin sebelum tiba waktu shalat Fajar. dijumpai penggalan firman. “… sesungguhnya shalat itu adalah untuk orang-orang beriman. shalat di waktu/saat fajar. Jadi. Kita hanya menjalaninya saja lagi.. Dan nama-nama shalat wajib diberi sesuai dengan nama waktu tersebut. Jadi fajar. subuh. …. dan shalat di waktu ‘isya’ dinamakan shalat ‘Isya’. waktu-waktu shalat sudah ditetapkan. Shalat di waktu zuhur disebut shalat Zuhur.

tidak dikaitkan dengan nama shalat. tidak dikaitkan dengan kata shalat. the recitation of the Qur’an in the early dawn is ever witnessed”. d. c.and recite the Qur’an in the early dawn. Kata ‘Subuh’ Dijumpai: a.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat b. 13 .. sesungguhnya membaca Qur’an di waktu fajar disaksikan / ……. Dalam surah Al Muddaththir [(74):34]: “Dan subuh ketika (matahari) terbit/terang / And by the dawn when it brightens”.. Verily. Juga di sini kata ‘fajr’ hanya menunjukkan waktu.dan bacalah Al Qur’an di waktu fajar. “…. Dalam surah Al Fajr [(89). Dalam surah Al Qadr [(97):5]: “Sejahteralah malam itu hingga terbit fajar / There is Peace in the appearance of dawn”.1]: “Demi fajar / By the dawn” Di sini kata ‘fajr’ hanya sekedar nama waktu. Dalam surah Al ‘Isra’ [(17):78] terdapat penggalan firman: .

Jadi.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat b. morning is their appointed time. bukan waktu subuh. Bukankah pagi itu (subuh) dekat? / Indeed. Sebab. Is not the morning near?” c. bukan shalat sunat Subuh. Dalam surah Hud [(11):81] berbunyi: “Bahwa waktu yang ditetapkan buat mereka adalah di pagi hari (subuh). Tetapi tak boleh terus-menerus. Dari segi momen (saat) ia sudah berbeda. Dalam surah At Takwir [(81):18] berbunyi: “Dan subuh apabila sudah terang / And by the dawn as it brighten”. Yang dimaksud waktu subuh. 14 . Dan waktu ‘fajar’ lebih dulu daripada waktu ‘subuh’. waktu ‘fajar’ ialah ketika terbitnya ‘fajar’. shalat sunat sebelum shalat fardhu Fajar disebut shalat sunat Fajar. Sebab dalam Al Qur’an disebut waktu fajar. maka kita sebut shalat Fajar itu dengan shalat Subuh. sebagaimana diterangkan dalam surah di atas. Dalam bahasa Inggris tadi waktu ‘fajar’ disebut ‘early in the morning (dawn)’ dan ‘subuh’ disebut ‘morning’. yaitu bila Matahari sudah terbit atau agak terang. Sedangkan waktu ‘subuh’ saat matahari ‘terbit’. Jarak antara waktu ‘fajar’ dan waktu ‘subuh’ sangat dekat (singkat). Karena itu shalat Fajar masih bisa dilakukan di waktu subuh jika terlambat. Ternyata juga tidak diikuti oleh kata ‘shalat’. Karena begitu dekatnya jarak antara waktu ‘fajar’ dan waktu ‘subuh’.

the five compulsary shalat/prayer)”.e. ada lagi kata ‘al falaq’ yang di indoneisiakan juga dengan ‘subuh’ [Al Falaq (113):1] yaitu waktu pagi yang mulai memancarkan cahaya terang.. Disamping kata ‘subhi’ yang diartikan dengan ‘subuh’. Tepi siang kedua. Tepi siang pertama adalah waktu terbitnya fajar. d. pada saat Matahari mulai terbenam (maghrib) yang merupakan permulaan malam.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Kita telusuri ini supaya duduk persoalannya jelas. Shalat Zuhur Dilaksanakan setelah shalat Fajar. Tapi kata ‘zuhur atau zuhr’ tidak ada dalam surah-surah yang kita bahas. 15 . Jadi pada kedua waktu tersebut boleh shalat Fajar (tapi shalat Fajar di waktu subuh tak boleh terus-menerus) berpedoman pada arti surah Hud [(11):114]: “Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada permulaan malam…. Tapi tidak dikaitkan dengan kata ‘shalat’. Kata ‘falaq’ hanya menunjukkan waktu saja. / And perform ash-shalat (iqamat ashshalat) at the two ends of the day and in some hours of the night (i. Yang ada hanya kata “… demi siang / by the day” [Asy-Syams (91):3]. bukan terbitnya Matahari.

Sesungguhnya membaca Qur’an di waktu fajar disaksikan (dihadiri oleh Malaikat yang bertugas di malam hari dan yang bertugas di siang hari) / Perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) from mid-day till the darkness of the night (i. the recitation of the Qur’an in the early dawn is ever witnessed by (attended by the Angles in charge of mankind of the day and the night”). Kita ulangi lagi: 16 . Shalatnya disebut shalat Zuhur atau shalat Jum’at bila tiba hari Jum’at.e.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Guna menentukan waktu zuhur ini kita kutip kembali surah Al ‘Isra’ [(17):78]: “Dan dirikanlah shalat pada saat tergelincir matahari sampai malam telah gelap dan bacalah Qur’an di waktu fajar. Verily. Surah yang menyebut shalat ini adalah surah Al Baqarah [(2):238].00 siang. ‘Asr. and ‘Isya’ prayer). and recite the Qur’an in the early dawn. the Zuhr. Jadi. dia hanya menunjukkan waktu saja. Shalat ‘Asyar Kata ‘Ashar atau ‘Asr [(103):1] berbunyi: terdapat pada surah Al ‘Asr “Demi (waktu) ‘asyar / By al ‘asr (the time”). Maghrib. Shalat saat tergelincir Matahari di siang hari kira-kira lewat sedikit jam 12. Kata ‘asr’ tidak disambungkan dengan kata ‘shalat’.

e.Muhammad Taqi-ud-Din Al Hilali cs. Jadi tidak disebut shalat Wusthaa. bahkan tak pernah terungkap. the best prayer –‘Asr”). Madinah. “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘Asyar (dengan sengaja). dalam tafsir The Noble Qur’an-nya menerjemahkan shalat Wusthaa dengan shalat Pertengahan (The Middle Shalat).Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Peliharalah segala shalat(mu) dan shalat Wusthaa dan berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan penuh ketundukan dan kepatuhan / Guard strictly (five obligatory) ash-shalat (the prayers) especially the middle shalat (i. Shalat Pertengahan itu adalah shalat ‘Asyar (‘Asr).1.a. “Laksanakanlah shalat ‘Asyar’ segera”. Shalat Fajar Shalat Zuhur Shalat ‘Asyar Shalat Maghrib Shalat ‘Isya Shalat Tengah Di atas dikatakan bahwa shalat ‘Asyar adalah shalat yang terbaik (the best shalat). Abu Al Malik bercerita: Pada suatu waktu kami bersama Buraidah dalam pertempuran di terik Matahari dan dia berkata. hadits No. Kenapa dikatakan terbaik? Izinkanlah penulis sedikit menukilkan hadits yang menjelaskan mengenai shalat ‘Asyar ini. Rasul Allah saw berkata.527). Dr.R.. 17 .Bukhari Vol. dan dalam praktek sehari-hari hal ini jarang disampaikan. tetapi karena penjelasan ini perlu. sama artinya dengan kehilangan seluruh keluarganya dan harta bendanya” (H. Diceritakan oleh Ibn ‘Umar r. maka ada baiknya penulis sajikan di sini hadits yang menjelaskan keutamaan shalat ‘Asyar ini. Karena kita merencanakan tidak menyinggung hadits.

Seseorang yang tidak shalat ‘Asyar dengan sengaja sampai waktu yang ditetapkan lewat. Tepi siang belum siang tersebut berdasarkan uraian tadi adalah waktu fajar (tepi siang pertama).R. Bukhari. maka jika shalat sesudah itu.e. Jadi. saat perpindahan dari siang ke malam. 1.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat sebagaimana Nabi saw bersabda. the five compulsory shalat (prayers)]. Verily. hadits No. Vol. “Barangsiapa meninggalkan shalat ‘Asyarnya. adalah shalat Maghrib atau permulaan malam. That is a reminder (an advice) for the mindful (those who accept advice)”. berbunyi: 18 . Ada dua tepi siang. small sin). Kata ‘maghrib’ dijumpai dalam surah Al Baqarah [(2):115]. Shalat di tepi siang kedua. berarti belum siang. the good deeds remove the evil deeds (i. Shalat di tepi siang pertama adalah shalat Fajar. Tepi siang kedua. belum masuk malam.e. Yang mana tepi siang pertama dan mana tepi siang kedua? Tepi siang.e. Sesungguhnya perbuatanperbuatan baik menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk. shalatnya tidak ada artinya/tidak berguna lagi). semua perbuatan baiknya hilang” (H. Shalat Maghrib Surah Hud [(11):114] berbunyi: “Dan dirikanlah shalat pada dua tepi siang dan pada beberapa jam dari malam. 628 – i. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat / And perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) at the two ends of the day and in some hours of the night [i.

Verily. maka kemana saja kamu menghadap (shalat) di situlah wajah Allah. Matahari terbit di Timur (Masyrik) dan terbenam di Barat (Maghrib). … / …. Sesungguhnya Allah Maha Luas (nikmat-Nya) dan Maha Mengetahui / And to Allah belong the East and the West. Itulah sebabnya shalat pada saat Matahari mulai terbenam disebut shalat Maghrib (shalat pada tepi siang kedua).Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Dan kepunyaan Allah Timur (Masyrik) dan Barat (Maghrib). so where ever you turn (yourselves or your faces). Allah brings the sun from the east. over His Throne). Saat Matahari mulai terbenam (Maghrib) berarti belum malam. Ia adalah ‘tepi siang kedua’. Sedangkan arah Barat adalah arah Kiblat. begitu juga saat tenggelamnya. Belahan Timur Bumi adalah tempat terbitnya Matahari. …”. Allah is All-Sufficient for His creatures’ needs. Matahari terbit dari dua titik. Yang menjelaskan bahwa Matahari terbit di Timur adalah surah Al Baqarah [(2):258]: … … “…Sesumgguhnya Allah itu telah menerbitkan Matahari dari Timur. Surely. Kata-kata Timur dan Barat juga dijumpai dalam surah Al Muzzammil [(73):9]. Ar Rahman 19 . there is the Face of Allah (and He is High above. belahan Barat tempat tenggelamnya. All-Knowing” (wajah Allah maksudnya qiblat).

Dalam surah Az Zukhruf [(43):38] Allah berfirman: Sehingga. Al Qur’an hendak menjelaskan maksud bahwa di sana ada jarak yang cukup jauh antara belahan Timur dan Barat. Al A’raaf [(7):137] dan Al Ma’rij [(70):40].50 Lintang Utara (LU). Pada musim dingin dan musim panas. maka di potongan Bumi Utara saat itu musim panas dan potongan Bumi Selatan musim dingin. he says (to his Qarin/Satan/devil companion). Az Zukhruf [(43):38]. maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menjerat manusia) / Till. apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di akhirat). 20 . yaitu potongan Utara dan potongan Selatan dengan garis khatulistiwa sebagai garis potongannya. dari tempat yang berjauhan dan pancaran sinar yang berbeda. Hal ini ada bila Bumi dibagi atas dua potong. di mana pada waktu itu potongan Bumi Selatan terjadi musim panas dan potongan Bumi Utara mengalami musin dingin. Matahari terbit dan terbenam diantara keduanya. semoga (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak antara Timur dan Barat. “Would that between me and you were the distance of the two (or the east and west) . when (such a one) comes to Us.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat [(55):17]. mereka berkata.50 derajat Lintang Selatan (LS).a worst (type of) companion (indeed)”. Ketika Matahari beredar di garis 23. Ketika Matahari beredar 23. “Aduhai.

dan belahan Barat. maka ada belahan Timur. Dan bila Bumi dibelah dua. Matahari terbit dari dua titik (disebut dua Timur tempat terbitnya Matahari). Dua kota di Indonesia yang dilewati oleh garis khatulistiwa ini adalah kota Pontianak (di Kalimantan Barat) dan kota Bonjol (di Sumatera Barat). Dalam Al Qur’an [Ar Rahman (55): l7] dikatakan: “(Dialah) Tuhan dua Timur dan Tuhan dua Barat / (He is) the Lord of the two easts (places of sunrise during early summer and early winter). baik pada Bumi belahan Timur dan belahan Barat.50 LU dan 00 – 23.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Teman yang jahat datang ke pengadilan Tuhan. and the Lord of the two weasts (place of sunset during early summer and early winter)”. begitu juga saat tenggelamnya juga mempunyai dua titik (disebut dua Barat tempat terbenamnya Matahari) yang berbeda. Al Masyaariq dan Al Maghaariq artinya adalah beberapa tempat terbit dan beberapa tempat terbenamnya Matahari pada 21 . yang malam dan siangnya sama-sama 12 jam. Garis tersebut dinamakan garis khatulistiwa atau garis equator. Yang dimaksud teman di sini adalah setan yang selalu menjerumuskan manusia. Dua tempat terbit adalah tempat terbit Matahari di dua garis edar yang berseberangan dengan dua tempat terbenamnya. dan bagian Bumi yang selalu secara langsung terkena sinar Matahari adalah dalam batas 00 – 23. pada waktu itu kebenaran mengalahkan kepalsuan.50 LS yang disebut daerah tropis atau khatulistiwa. Utara dan potongan Selatan. Bumi mengelilingi Matahari. Garis 00 adalah garis yang membagi Bumi atas dua potongan. Belahan Timur tempat terbitnya dan belahan Barat tempat tenggelamnya.

22 . Tiap hari ia terbit dan terbenam pada titk baru. Maka apabila kita amati setiap hari posisi terbit dan terbenamnya Matahari tidak sama. Dalam surah As Saffat [(37):5] disebutkan: “Tuhan langit.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat garis edarnya selama musim dingin dan musim panas. Bumi dan diantara keduanya. Matahari memiliki kira-kira 365 titik untuk tempat terbitnya dan 365 titik pula untuk tempat terbenamnya (sesuai dengan jumlah hari dalam hitungan tahun syamsiah). lemudian ia kembali pada titik yang sama setelah setahun (tafsir Qurtubi). and all that is between them. Titik I. and the Lord of every point of the sun’s risings”. Karena itu ada beberapa tempat terbit dan ada beberapa tempat terbenamnya.50 Lintang Utara (LU) dan titik II. Matahari berjalan melalui beberapa titik yang tersusun dan berjumlah kira-kira 365 buah lebih.50 Lintang Selatan (LS) adalah posisi terbit Matahari pada belahan Bumi bagian Timur. Pada saat pindah dari dua tempat beredarnya. dikategorikan sebagai titik-titik terbit dan titiktitik terbenam. jadi tidak pindah satu kali loncatan diantara keduanya. hingga tahun berakhir. Di mana terdapat lagi titik-titik posisi terbitnya Matahari setiap hari yang berjumlah kira-kira 365 sebagaimana disebut di atas. pada 23. setiap titik yang dijadikan sarana berpindah antara dua garis edarnya. terletak pada 23. Antara titik I dan II dilalui oleh Matahari selama setahun bolak-balik. dan Tuhan (daerah-daerah) Matahari terbit / The Lord of the heavens and the earth. Jadi. Tiap planet dan bintang juga memiliki tempat terbit dan terbenamnya.

Untuk lebih jelas. lihat Gambar 2 dan 3. Titik I dan II. Adanya Utara-Selatan dan Timur-Barat. secara teori.50 LU dan 00-23. posisi terbitnya Matahari di belahan Bumi bagian Timur inilah yang dikatakan dua Timur dan titik I dan II.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Titik I. posisi terbenamnya Matahari di belahan bagian Barat dikatakan dua Barat dalam surah Ar Rahman [(55):17]. bila Bumi dipotong dua (pada garis equator). Matahari terbit dan terbenam dalam batas daerah tropis tersebut. dan bagian Bumi yang selalu secara langsung terkena sinar Matahari adalah dalam batas 00-23.50 Lintang Selatan (LS) adalah posisi terbenamnya Matahri di belahan Bumi bagian Barat. Dan bila Bumi dibelah dua.50 Lintang Utara (LU) dan titik II terletak pada 23. maka ada Bumi potongan Utara (LU) dan Bumi potongan bagian Selatan (LS). terletak pada 23. Bumi mengelilingi Matahari. Shalat ‘Isya Kata ‘Isya dijumpai dalam surah An Nur [(24):58] di mana Allah swt berfirman: 23 . maka ada Bumi belahan Timur (disebut Bujur Timur/BT) dan Bumi belahan Barat (disebut Bujur Barat /BB).50 LS yang disebut daerah tropis/khatulistiwa/equator yang malam dan siangnya samasama 12 jam. pada titik I dan II.

Kemudian dalam surah Al Baqarah [(2):238] terdahulu dengan frasa ‘shalaatil Wusthaa’ (shalat Pertengahan / shalat ‘Asyar). attending to each other”. Karena hanya pada tiga ayat tersebut dinyatakan secara tegas nama shalatnya. and those among you who have not come to the age of puberty ask your permission (before they come to your presence) on three occasions: before Fajr (Dawn) shalat (prayer). tiga diantaranya dengan jelas didahului oleh kata ‘shalat’. Di antaranya yang berkata demikian adalah saudara 24 . (These) three times are of privacy for you. other than these times there is no sin on you or on them to move about. ketika kamu membuka pakaianmu karena panas di siang hari dan sesudah shalat ‘Isya. Selain dari (tiga momen) itu tidak mengapa bagi kamu melayani satu sama lain / O you who believe! Let your slaves and slave girls.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Hai orang-orang yang beriman! Hamba sahaya laki-laki dan perempuan kepunyaanmu hendaklah meminta izin (sebelum masuk ke tempatmu) pada tiga saat: sebelum shalat Fajar. shalat ‘Isya dilakukan bila malam telah gelap (late-night) atau saat mulai hilangnya cahaya merah di ufuk Barat (syaffaq). and after the ‘Isya (late night) shalat (prayer). Tiga saat (momen) pakaianmu terbuka. and while you put off your clothes for the noonday (rest). shalat Wusthaa (‘Asyar) dan shalat ‘Isya. Dari lima shalat fardhu. yaitu shalat Fajar. Jelas. ada orang yang berpendapat bahwa shalat fardhu menurut Al Qur’an hanya tiga kali dalam sehari semalam. Dua di dalam ayat di atas ada ‘frasa’ shalaatil Fajri dan shalaatil ‘Isya’.

Dengan demikian adalah tidak benar bahwa shalat hanya tiga atau dua kali dalam sehari semalam. dapat kita maklumi.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Othman Ali. Mana yang lebih dahulu. Tidak terpisah-pisah seperti tertuang dalam Al Qur’an. uraian tentang shalat atau peristiwa ‘Isra’Mi’raj atau perintah shalat lima waktu tadi. tamatan Libanon. maka bagaimana kedudukan hadits yang mengatakan Nabi saw menerima perintah shalat saat ‘Isra’Mi’raj? Kalau seandainya perintah shalat itu diberikan pada saat nabi/rasul Muhammad mi’raj. jika uraian shalat lebih dahulu. 25 . tanpa adanya hadits yang menyatakan bahwa ketika Nabi saw ‘Isra’Mi’raj menerima perintah shalat lima kali sehari semalam. Shalat ketika tergelincir Matahari itu shalat apa? Juga pada surah Hud [(11):114] yang memerintahkan mendirikan shalat di waktu maghrib. Al Qur’an telah menyebutkannya secara jelas satu-persatu shalat fardhu tersebut. tentu perintah shalat diturunkan dalam satu ayat. Berdasarkan uraian ayat-ayat Al Qur’an di atas. Kalau peristiwa ‘Isra’ yang lebih dahulu baru kemudian penjelasan tentang shalat fardhu. yaitu shalat Maghrib (lihat kembali uraian tentang shalat Maghrib). Pada hal dalam surah Al ‘Isra’ [(17):78] dikatakan yang artinya: “Dirikanlah shalat pada saat tergelincir matahari sampai malam telah gelap / Perform ash-shalat (iqamat ash-shalat) from mid-day till the darkness of the night” (lihat kembali uraian tentang shalat Zuhur). orang Malaysia. Bahkan ada yang mengatakan hanya dua kali. yaitu hanya shalat Fajar dan shalat ‘Isya saja sebagaimana disebut dalam surah An Nur [(24):58]. Menulis di internet menyatakan bahwa shalat wajib hanya tiga kali dalam sehari semalam (disiarkan tahun 1992). Tetapi.

26 . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui / O you who believes! When the call is proclimed for shalat (prayer) on Friday (Jum’ah prayer). hal mana mereka lakukan karena mereka tidak mengerti / When your proclime your call to prayer they take it (but) as mockery and sport. dan tinggalkanlah jual beli (buat sementara). That is better for you if you did but know” (teks ayat dapat dilihat dalam uraian shalat Jum’at). Lihat juga pernyataan Allah swt dalam surah Al Jumu’ah [(62):9] yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat Jum’at). that is because they are a people without understanding”.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat ‘Adzan dan Iqamah Pelaksanaan ‘adzan ketika akan memasuki melaksanakan shalat didasarkan pada surah Al Maidah [(5):58] yang mengatakan: “Dan bila kamu memanggil (menyeru) untuk mengerjakan shalat (shalat fardhu) mereka jadikan itu sebagai olok-olok dan latihan. Panggilan untuk shalat tersebut dinamakan ‘adzan. come to remembrance of Allah [Jum’ah religious talk (khutbah) and shalat (prayer)] and leave off business (and every other things).

tidak disebut dalam penjelasan hadits di atas. Hayya ‘alashshalaah. and for the iqamah (the call for the actual standing for prayers in rows) by saying its wordings once (in singles)(iqamah is pronounced when the people are ready for the prayer)-Shahih Bukhari. Orang Syiah. di mana orang sudah siap untuk shalat / Narrated by Anas r. tidak mengakui dan tidak percaya kepada mimpi tersebut dengan alasan bahwa di era Nabi saw dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. then Bilal was ordered to pronounced ‘Adzan for the prayer by saying its wordings twice (indoubles). Kemudian Bilal diperintah mengumandangkan ‘adzan untuk shalat dengan mengucapkan kata-kata dua kali-dua kali.a. Kalimat tersebut baru disyariatkan pada masa Umar Bin Khaththab menjadi khalifah. Tambahan kata dalam ‘adzan shalat fardhu Fajar (umumnya disebut shalat Subuh) yang berbunyi: “ash-shalaatu khairum minanaum”.. dan untuk iqamat sekali. Hayya ‘alal Falaah. Ash-hadu anna Muhammad-ar-Rasuulullaah. Allaahu akbar-Allaahu akbar. Hayya ’alash-shalaah. 577”. Allaahu akbar-Allaahu akbar.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Diceritakan oleh Anas r. 27 . Nabi saw bersabda: “Orang meneriakkan api-api dan membunyikan lonceng (disarankan sebagaimana tanda dimulainya shalat). Asha-hadu anlaa ilaha illaallah. Asal-muasal disyariatkannya kata tersebut pada ‘adzan subuh berasal dari mimpi Abdullah bin Zayd bin Ta’labah al Anshari. Ash-hadu anlaa ilaaha illallaah. sebagaimana orang Yahudi dan Kristen melakukannya. Ash-hadu anna Muhammad-ar-Rasuulullaah. “The people mentioned the fire and the bell (they suggested those as signals to indicate the starting of prayers). Laa illaaha illallaah. and by that they mentioned the Jews and Christians. lalu dilaporkan kepada Nabi saw dan langsung menginstruksikan kepada Bilal untuk mengumandangkannya. Note: the wordings of ‘adzan: Allaahu akbar-Allaahu akbar. Hadith No. karena ia merupakan tambahan belakangan...shalat lebih baik daripada tidur. Jadi kaum Syiah dalam ‘adzan menjelang shalat Fajar/Subuhnya tidak menambahkan kalimat ‘ash-shalaa tu khairum-minan-naum’ tersebut.a. kata-kata tambahan tersebut tidak ada. Vol1. Hayya‘alal Falaah.

Cirene. atau panggilan shalat. u.. baik itu berupa batu. atau dihindarkan-Nya dari bahaya. b. oleh Leila Azzam-Aisha Gouverneur. Dan orang-orang ’adzan itu disaksikan oleh segala sesuatu yang mendengar suaranya.) 28 . Penerbit Karisma Remaja. hal yang sama juga dikatakan: “the adhan. kemudian Nabi Muhammad saw. p). dan Allah mengampuni dosanya sejauh suaranya dapat didengar. lalu para Rasul dan Nabi lainnya. lantas para mu’adzin yang ikhlas. Allah melalui mimpinya dan dilaksanakan oleh Bilal atas perintah Nabi saw. Bandung. dicatatkan baginya pahala orang shalat karena mendengar ’adzannya. Balasan bagi Orang ‘Adzan dengan Ihklas Rasulullah saw bersabda yang artinya: ”Orang-orang yang ‘adzan dengan ikhlas pada hari kiamat akan keluar dari kuburnya sambil ‘adzan. dan Allah memberinya apa yang dia minta antara ’adzan dan iqamah. dan mereka disambut oleh para malaikat dengan kendaraan dari yaqut merah yang masing-masing dari mereka diiringi oleh 70 000 malaikat dari kuburnya hingga mahsyar” (Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah r.‘adzan. baik disegerakan di dunia maupun disimpan-Nya nanti di akhirat. yang datang kepada ‘Abd. adalah salah satu yang masih kita dengar sampai kini yang dikumandangkan via menaramenara masjid di seluruh dunia (hal 118). or call for prayer.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Dalam buku The Life of the Prophet Muhammad (peace be upon him).a. Orang yang pertama kali mendapatkan pakaian surga nanti di akhirat adalah Nabi Ibrahim a. Allah ibn Zayd in his dream and was performed by Bilal on the instruction of the Prophet (p. benda yang basah maupun yang kering.s. pasir. manusia. pohon. is the one we still hear to day being called from the minarets of the mosques all over the world”. which came to ‘Abd.

e. karena umumnya kita kurang hirau membalas seruan ’adzan. maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang ’adzan. the honour of intercession on the Day of Resurraction)”.” Sebab itu janganlah Anda menganggap enteng tugas tugas mu’adzin dan menjawab setiap kalimat ’adzan oleh orang yang mendengarnya sesuai tuntunannya. recite the Qur’an in the prayer) as an additional prayer (tahajjud optional prayer .Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Balasan bagi Siapa yang Menyahuti ‘Adzan Nabi/Rasul Muhammad saw bersabda yang artinya: ”Barangsiapa yang mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh orang yang ’adzan. shalat tahajjudlah kamu sebagai shalat sunat bagimu. mudah-mudahan Tuhan akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji / And in some parts of the night (also) offer the shalat (the prayer) with it (i. Dalam surah Al Qaf [(50):40] Allah berfirman: 29 . Shalat Tahajjud Mengenai shalat ini kita kutib kembali surah Al ‘Isra’ [(17):79] yang berbunyi: “Dan dari sebagian malam. Shalat ini adalah shalat sunat yang sangat dianjurkan.nawafil) for you (O Muhammad saw).e. It may be that your Lord will raise you to Maqam Mahmud (a station of praise and glory (i.

or a third of the night and also a part of those with you. Separuh malam adalah pukul 24. Dan Allah menetapkan/menentukan ukuran malam dan siang / Verily. Sebab itu.e. your Lord know that you do stand (to pray at night) a little less than two thirds of the night.00 dinihari (lihat pembagian waktu siang dan malam).00-22. shalat ‘Isya’ dapat dilakukan malam hari hanya dalam keadaan tertentu.optional and additional prayer”). tetapi tidak pada waktu sepertiga malam terakhir (sesudah jam 02.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Dan di malam hari mereka sujud melakukan shalat sunat / And during a part of the night (also) glorify His praises (i. And Allah measures the night and the day”. jika 30 . Yang dimaksud dengan sepertiga malam adalah antara pukul 18.00 malam. Dua pertiga malam adalah pukul 02.00 dini hari sampai jam 06.00. Tuhan kamu mengetahui bahwa kamu berdiri (mengerjakan shalat) kurang dari dua pertiga malam dan ada juga separuh malam atau sepertiganya dan (begitu pula) orang-orang yang bersama dengan kamu.00 pagi). or in half of the night. Maghrib and ‘Isya’ prayer and (so likewise) after the prayers (as-sunnah nawafil . Kalau tidak. Shalat sunat setelah shalat Maghrib dan ‘Isya’. Juga dijelaskan dalam surah Al Muzammil [(73):20]: “Sesungguhnya.

sementara mereka juga bersujud (shalat) / Not all of them are alike. 31 . prostrating themselves in prayer”. they recite the Verses of Allah during the hours of the night. maka berarti ‘Isya’nya dilakukan bersamaan dengan shalat sunat tahajjud.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat dilakukan juga. a party of people of the Scripture stand for right. Dalam surah Adz-Dzariyat [(51):18]: “Dan di akhir malam mereka mohon ampun (kepada Allah) / And in the hours of before dawn. mereka berdiri dan sujud / And those who spend the night in worship of their Lord. Dalam surah Ali ‘Imran [(3):113]: “Diantara Ahlul Kitab ada golongan yang berlaku lurus. prostrate and standing”. Selanjutnya dalam surah Al Furqan [(25):64] difirmankan: “Dan orang-orang yang menggunakan waktunya di malam hari menyembah Tuhannya. they were (found) asking (Allah) for forgiveness”. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari.

Dianjurkan dengan membaca ayat-ayat yang relatif panjang. Bertasbih sesudah shalat Maghrib. Bertasbih Mengenai bertasbih terdapat dalam surah Qaf [(50):40]: “Dan bertasbihlah memuji Tuhanmu pada sebagian waktu di malam hari dan sesudah shalat / And during a part of the night (also) glorify His praise (i. memohon keampunan. praise and magnify Allah (Subhaanallaah. Maghrib and ‘Isya’ prayer) and (so likewise) after the prayers (as sunnah.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Tidak Berjemaah Shalat tahajjud adalah shalat yang sangat bersifat pribadi. Allaahu-Akbar)”. di mana masalah seseorang tidak sama dengan orang lain atau dengan orang banyak. sebagian duduk dan sebagian berdiri. maka shalat tahajjud ini dilakukan sendiri tanpa berjemaah. And also glorify. shalat ‘Isya’.optional and additional prayers). Fajar dan shalat lain. saat mengadukan nasib kepada-Nya. atau dalam satu rakaat. Itulah kemudahan yang diberikan kepada hamba-Nya. nawafil . pertolongan. Dalam surah Az Zumar [(39):9] Allah swt berfirman: 32 . Alhamdulillaah. dan sebaiknya delapan rakaat.e. maka shalat ini boleh dikerjakan dengan berdiri atau duduk dalam rakaat yang terpisah.

Juga dalam surah Al Furqan [(25):64]: “Dan orang-orang yang menggunakan waktunya di malam hari menyembah Tuhannya. dan memelihara dirinya untuk hari kemudian. prostrate and standing”. fearing the Hereafter and hoping for the Mercy of His Lord (like one who disbelieves?”).Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Apakah orang yang patuh menjalankan kewajibannya selama beberapa waktu pada malam hari. Dalam surah An Nashr [(110):3]: “Maka bertasbihlah engkau dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. prostrating himself or standing (in prayer) during the hours of the night. and ask His Forgiveness. Surah Ath-Thur [(52):48]: 33 . mereka berdiri dan sujud / And those who spend the night in worship of their Lord. He is the One Who Ever accepts the repentence and Who forgives”. Sesungguhnya Dia adalah penerima taubat / So glorify the Praises of your Lord. Verily. dan mengharapkan karunia Tuhannya sama dengan orang-orang yang durhaka kepada Tuhan? / Is one obedient to Allah.

Bila sudah biasa bangun pada sepertiga malam terakhir. 34 . Situasi yang tenang. the offering of Maghrib and ‘Isha’ prayers). Berkat latihan tersebut maka kita akan terbiasa bangun untuk shalat tahajjud di malam hari.e. for verily. and glorify the Praises of your Lord when you get up from sleep”. Sebagian dari malam hendaknya dimamfaatkan untuk menyembah Tuhan (shalat) dan mohon ampun kepada Allah swt. Sebab itu perlu diatur waktu tidur. prostrate yourself to Him (i. Juga dalam surah Al-Insan [(76):26]: “Dan pada sebagian dari malam.e. Tahajjud prayer)”.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu. sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang pada malam hari / And during night. Itulah beberapa kelebihan dan keutamaan dan perlunya shalat sunat tahajjud dan bertasbih di malam hari memikirkan azab yang pedih di akhirat nanti dan mohon keampunan kepada Sang Pencipta. penuh dengan kesunyian di malam hari sangat baik untuk menyembah Tuhan dan mohon keampunan-Nya. and glorify Him a long night through (i. atau ‘begadang’ semalam suntuk agar sempat melakukan shalat tahajjud. pasti terbangun asal jadwal waktu tidur tidak dirubah. maka kita akan terbiasa. you are under Our Eyes. Jangan terlalu terlambat dan jangan pula terlalu cepat. maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. Janganlah malam hari itu digunakan seluruhnya untuk tidur. dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun dari tidur / So wait patiently (O Muhammad saw) for the Decision of your Lord.

orang-orang yang menafkahkan sebagian (hartanya di jalan kebaikan) dan orang-orang yang memohon ampun (kepada Tuhan) di akhir malam / They are those who patient. Verily. orang-orang yang patuh (pada Tuhan). Sesungguhnya azabnya adalah kebinasaan yang kekal / Our Lord! Avert from us the torment of Hell. so forgive us our sins and save us from the punishment of the Fire” (ayat 16). its torments is ever an insparable permanent punishment”.Tuhan kami! Palingkanlah dari kami azab jahannam. “Dan orang-orang yang sabar. and obedient with sincere devotion in worship to Allah. 35 . Dalam surah ‘Ali Imran [(3):16. words.17] Allah swt berfirman: “Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya kami beriman. orang-orang yang benar.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Doa Setelah Shalat Malam Karena waktu malam adalah momen yang sangat baik untuk berkomunikasi dengan Allah swt maka setelah shalat atau pada waktu tidak shalat berdoalah [Al Furqan (25):65]: “Ya. those who are true (in faith. Those who spend (give the zakat and alms in the Way of Allah) and those who pay and beg Allah’s Pardon in the last hours of the night” (ayat 17). sebab itu ampunilah dosa kami dan hindarkanlah kami dari ‘azab api neraka / Our Lord! We have indeed believed. and deeds).

He likes not the agressors”.hari berkumpul). [(62):9-10]. . / …. dalam berdoa hendaklah: . Jadi.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Dalam surah Al A’raaf [(7):55] difirmankan: “Bermohonlah kepada Tuhan dengan rendah hati dan rahasia (suara jiwa).. Shalat Jum’at Tentang shalat Jum’at tertuang dalam surah Al Jumu’ah (hari Jum’at.tadharru’ = dengan rendah hati. “….thama’an = penuh harapan. Jadi bukan hari Minggu di mana oleh umat Nasrani dijadikan hari besarnya dalam seminggu yang juga diikuti oleh umat Islam.. .nidaa an khalifiyya = dengan suara lembut / berbisik . .”. Hari Jum’at adalah hari besar bagi umat Islam dalam seminggu.. Ayat di atas berbunyi: 36 .khaufan = dengan perasaan takut.dan bermohonlah kepada Tuhan dengan perasaan takut dan penuh harapan …. Pada ayat 56-nya: … . Ini untuk diketahui saja karena dalam sehari-hari kita memakai kalender Masehi.and invoke Him with fear and hope ….khufyah = suasana jiwa. sesungguhnya Tuhan itu tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas / Invoke your Lord with humility and in secret.

you may disperse through the land.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Hai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan shalat di hari Jum’at. That is better for you if you did but know” (ayat 9)”.). come to the remembrance of Allah [Jumu’ah religious talk (khutbah)] and shalat (prayer) and leave off business (and every other things). and remember Allah much that you may be successful”. and seek the Bounty of Allah (by working etc. 37 . maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (shalat Jum’at) dan tinggalkanlah jual beli (buat sementara). Ayat 10-nya: “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah (kembali) kamu di muka bumi. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui / O you who believes (Muslims)! When the call is proclimed for shalat (prayer) on Friday (Jumu’ah prayer). dan carilah karunia (rezeki) Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung / Then when the (Jumu’ah) shalat (prayer) is ended.

capek sudah terasa pula. diperlukan istirahat untuk menenangkan pikiran dan melepas lelah sejenak kira-kira setengah atau satu jam. segera pula lah kembali ketempat pekerjaan masing-masing. Yang petani pergi ke ladangnya. Waktu untuk shalat Jum’at sama dengan shalat Zuhur.Yang pegawai kembali ke kantornya. Begitulah Islam mementingkan urusan dunia disamping urusan akhirat. dengan berwudhuk. Hal itu lebih baik agar kita beruntung. tinggalkanlah segala aktivitas. maka sebagai orang yang beriman. Petunjuk di atas tentu berlaku juga untuk shalat Zuhur. Shalat di tengah hari tersebut berfungsi juga melepaskan kelelahan tersebut. menyembah Allah swt. Kemudian bila telah selesai. Bila shalatnya dilakukan dengan sempurna. Setelah bekerja dari pagi sampai waktu zuhur. Yang mahasiswa-pelajar-guru-dosen ke sekolahnya masing-masing untuk meneruskan mencari rezeki atau melanjutkan tugas masing-masing. Sebab itu.Yang pedagang ke toko-kedainyaplaza-mall-swalayannya. Jangan dibuang-buang waktu yang berguna pada waktu jam kerja puncak (peak) tersebut. Karena waktu sangat berguna untuk mencari karunia (rezeki). maka pikiran akan kembali tenang dan kekuatan pisik dan mental akan pulih kembali. atau sudah tiba waktu untuk shalat Jum’at. agar tidak ada kesempatan yang lepas.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Shalat Jum’at dilakukan di tengah hari (mid-day). Tetapi shalat Jum’at harus dilakukan berjama’ah di masjid. 38 . pada saat orang sedang sibuk bekerja atau berusaha. Tetapi apabila terdengar panggilan untuk shalat Jum’at (‘adzan).Yang buruh ke pabriknya. khutbah Jum’at pun tidak dianjurkan untuk panjang-panjang supaya waktu untuk urusan dunia tidak banyak tersita. mengosongkan pikiran dari urusan dunia. mungkin kepala sudah pusing. Segeralah tunaikan shalat Jum’at lebih dulu. selesai shalat kita diperintahkan segera bekerja ke tempat masing-masing.

Meramaikan Masjid Meramaikan masjid (‘imarah) maksudnya mengunjungi. atau memperindah. karena masjid adalah lambang Kesucian dan Keesaan Allah swt dan tempat menyembah-Nya semata. Orang-orang musyrik (orang-orang yang mensekutukan Tuhan) tidak berhak meramaikan masjid. Sebab itu. janganlah kamu puja siapa juapun bersama Allah (di masjid itu) / And the mosques are for Allah (Alone). So invoke not anyone along with Allah”.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Membaca Ta’awwudz Ta’awwudz atau isti’aadzah ialah mengucapkan. menjaga dan memeliharanya. 39 . seek Allah’s protection from satan the rejected one”. beribadah di dalamnya. maka berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk / When you will read the Qur’an. Allah swt berfirman dalam surah Al Jin [(72):18] sebagai berikut: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk Allah (semata). Dibaca setiap akan membaca Al Qur’an dan Al Fatihah dengan dalil surah An Nahl [(16):98]: “Bila engkau membaca Al Qur’an. “A’uudzubillaahi minasy-syaithaanir rajiim / Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk / I seek Allah’s protection from satan the rejected one”.

Mereka boleh beribadah di dalamnya. surah Al Baraah [Pembebasan (9):17] ditegaskan tentang hal ini: “Tidaklah orang-orang musyrik itu berhak meramaikan masjid-masjid Allah. It is they who are on true guidance” [At Taubah (9):18]. memperindahnya. disbelievers in the Oneness of Allah). perform ash-shalat (iqamat ash-shalat). Berdasarkan ayat 17 dan 18 surah 40 . menjaga dan memeliharanya.…. pagans. to maintain the Mosques of Allah. while they witness against their ownselves of disbelief”. Yang berhak adalah: “Hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mengerjakan shalat dan membayar zakat dan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah / The Mosques of Allah shall be maintained only by those who believe in Allah and the Last Day. sedangkan mereka telah mengakui bahwa mereka sendiri tidak beriman.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Pada surah yang lain. / It is not for musyrikiin (polytheists. idoleters. and give zakat and fear none but Allah.

dia melarikan diri ke Syiria dan meninggal di sana. dulu seorang pendeta. Ia lama mengadakan perlawanan terhadap Nabi Muhammad saw dan agama Islam. Tuhan melarang Nabi/Rasul Muhammad saw shalat di masjid ‘dhirar’. menghancurkan umat Islam. kekafiran. Sejarahnya. Masjid Dhirar Masjid ‘dhirar’ (masjid bahaya) adalah masjid yang didirikan oleh orang munafiq. bersamaan dengan pembangunan masjid Quba. memperindah masjid sebenarnya juga juga tidak dapat diterima. perpecahan antara orangorang yang beriman dan menyambut kedatangan orang yang sejak dulu telah memerangi Allah dan Rasul-Nya… / And as for those who put up a mosque by way of harm and disbelive 41 . meramaikan masjid ‘dhirar’ karena dibangun atas konspirasi atau maksud tertentu. Sesudah perang Hunain. Kita pun tentu dilarang shalat. Akhirnya masjid itu diruntuhkan.Termasuk turis orang musyrik yang ingin melihat-lihat ke dalam masjid (seperti ke masjid Sultan Deli/Masjid Raya di Medan) dan masjid-masjid lainnya.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Al Baraah (9) ini. Tentang masjid ‘dhirar’ ini tertuang dalam surah Al Baraah/At Taubah / Pembebasan [(9):107]: “Dan orang-orang yang membangun masjid untuk menimbulkan bahaya. Abu Umar. sumbangan orang-orang musyrik untuk membangun. membangun masjid. masjid yang digunakan untuk menipu umat Islam. Sedangkan masjid yang dibangun atas dasar taqwa (kepatuhan kepada Allah) lebih pantas diramaikan.

Orang yang pakai jilbab disuruh buka jilbabnya. Verily. Di dalamnya ada beberapa orang yang ingin membersihkan diri. lebih patut di dalamnya engkau shalat. Mengucapkan assalamua’alaikum. yang dikenal dengan nama era Orde Baru. umat Islam banyak dipojokkan. Tak sedikit orang yang ditangkap lalu dipenjarakan. Karena itu [Al Baraah (9):108] menyatakan: “Janganlah engkau berdiri (shalat) dalam masjid itu buat selamanya. permisi untuk shalat saja di saat rapat di kantor-kantor umat Islam pada 42 . the mosque whose foundation was laid from the first day on piety is more worthy that you stand therein (to pray).”. Orang-orang memberi khutbah disetiap masjid dimata-matai.who clean their private parts with dust (which has the properties of soap) and water from urine and stools. after answering the call of nature]” Masjid Yayasan Amal Bhakti Muslimin Pancasila Dalam era Soeharto.e.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat and to disunite the believers and as an outpost for those who warred against Allah and His Messenger (Muhammad saw)…. In it are men who love to clean and to purify themselves. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama (didirikan) itu. Allah menyukai orang-orang yang bersih / Never stand you therein. And Allah love those who make themselves clean and pure [i.

dikekang aktivitas agamanya. lama-lama ia sadar. Kemudian karena umurnya semakin tua dan banyak menterinya yang selama ini sangat tidak suka kepada Islam sudah banyak yang meninggal lebih dahulu daripada dia. Dana dikumpulkan dari seluruh PNS dihimpun melalui yayasan yang mereka sebut Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila. Tentang ini berpedoman pada surah An Nisa [(4):101] yang berbunyi: 43 . dituduh fundamentalis. Walaupun masjidnya bagus. Takut dituduh mendukung Golkar.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat masa itu takut. Islam DII/TII dsb. Takut dituduh fundamentalis. tetapi jema’ahnya tidak seramai masjid yang dibangun oleh masyarakat tanpa maksud apapun. Mengqashar Shalat Mengqashar artinya meringkaskan atau memendekkan shalat. ingin mendirikan negara Islam dan sebagainya atau luka hati umat Islam belum pupus dengan tindakannya terhadap umat Islam selama 32 tahun. ingin berbaikan dengan umat Islam dengan cara mengambil inisiatif mengumpulkan dana untuk membangun masjid di seluruh Indonesia. Lokasi pendiriannya ditentukan oleh Yayasan Amal Bhakti Muslimin Pancasila yang dipimpin langsung oleh Soeharto pada waktu itu. Sebab itu masjid yang dibangun atas nama Yayasan tersebut dengan tipe dan ukuran yang sama di seluruh Indonesia pernah dianggap sebagai masjid ‘dhirar’.

qashar dilakukan bila dalam keadaan bahaya. mengqashar (dari antaqshuruu) shalat dilakukan dalam keadaan bahaya (takut diserang) oleh musuh orang kafir.). tidak dengan angkutan sendiri?. Tapi apakah ‘jumhur’ tersebut dari hadits. Jadi suasana nuzulnya ayat ini saat peperangan dengan orang kafir. arti ‘qashar’ adalah meringkaskan shalat. apalagi bila dikaitkan dengan ayat 102 berikut ini: Shalat dalam Keadaan Perang Shalat dalam keadaan perang/bahaya (chauf) dijelaskan dalam surah An Nisa [(4):102]: 44 . Verily. Secara literal. there is no sin on you if you shorten ash-shalat (the prayer) if you fear that the disbelievers may put you in trial (attack you etc.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Dan apabila berpergian di muka bumi. Bagaimana kalau tidak dalam keadaan tidak berperang atau tidak dalam keadaan bahaya? Misalnya kita dalam perjalanan jauh memakan waktu lama. Menurut ‘jumhur’. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu / And you (Muslims) travel in the land. the disbelievers are ever unto you open enemies”. maka tidaklah mengapa kamu mengqasharkan (meringkas) shalatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. misal shalat yang empat raka’at dijadikan dua raka’at (kecuali shalat Maghrib dan shalat Fajar tak bisa diqashar). atsar atau ijtihad (konsensus) para ulama? Yang jelas menurut Qur’an. takut diserang musuh.

let one party of them stand up [ in shalat (prayer) ] with you taking their arms with them. if you were negligent of your arms and your baggage. dan bagian lain yang belum shalat. Bila yang shalat di depan sudah selesai satu raka’at. lantas mereka mundur kebelakang. and let them pray with you taking all precautions and bearing arms. lalu mereka menyerang sekaligus / When you (O Messenger Muhammad saw) are among them and lead them in shalat (the prayer). to attack you in a single rush. Hendaklah mereka mempersiapkan penjagaan dan senjata mereka. Kalau pertempuran belum terjadi. tetap memegang senjatanya. hendaklah sebagian diantara mereka berdiri (shalat) bersama-sama engkau (Muhammad). Those who disbelieve wish. Maksudnya. 45 . dan yang tidak shalat berjaga-jaga di belakang juga dengan memegang senjata. Pasukan dibagi.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat “Dan kalau engkau (Muhammad) hadir bersama-sama mereka hendak mengerjakan shalat berjama’ah dengan mereka. dan sesudah mereka sujud (shalat satu raka’at). dan memegang senjata mereka.…”. when their finished their prostration. karena orang kafir itu ingin supaya kamu terlengah. senjata dan barang-barangmu mereka rampas. Ada yang shalat berimam dengan Nabi saw. begini. let them take their position in the rear and let the other party come up which have not yet prayed. mereka mundur kebelakang. tampil (maju) ke kemuka dan shalat pula berjama’ah dengan engkau (Muhammad).

Jadi shalatnya cuma dua raka’at. kecuali shalat berjama’ah yang langsung diimami oleh Nabi saw ketika shalat dalam keadaan perang di atas. Menjamak Shalat Penulis belum menemukan ayat tentang ‘menjamak shalat’ di dalam Al Qur’an. Shalat Berjamaah Tidak ada ayat tersendiri yang menginformasikan mengenai shalat berjama’ah. dan imamnya shalat empat raka’at. Sedangkan makmum yang shalat satu raka’at tadi. Maghrib dengan ‘Isya. Kita ulangi: “Dan kalau engkau (Muhammad) hadir bersama-sama mereka hendak mengerjakan shalat berjama’ah dengan mereka. hendaklah sebagian diantara mereka berdiri (shalat) bersama-sama engkau (Muhammad) … / When you (O 46 . berpedoman pada surah An Nisa [(4):102] di atas tadi. menambah masingmasing satu raka’at lagi tanpa berimam. Misalnya shalat Zuhur dengan ‘Asyar. Tapi kita dapat menyimpulkan bahwa dasar hukum syalat berjama’ah. Baik jamak taqdim dan maupun jamak taqkhir. Menjamak maksudnya menggabung dua shalat wajib.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat lalu barisan yang di belakang maju ke depan ikut shalat dengan Nabi saw (sebagai imam) sambil memegang senjata juga. Pernah juga terjadi masing-masing shalat dua raka’at dengan bergantian seperti tadi. Jadi masing-masing barisan (shaf) shalat hanya satu raka’at dengan berjama’ah sedangkan imamnya shalat dua raka’at.

. dan ruku’lah bersama-sama orang-orang yang ruku’ / And perform ashshalat (iqamat ash-shalat) and give zakat. Kalimat “ruku’lah bersama-sama orang-orang yang ruku’“ diartikan shalat berjama’ah. Dalam surah Al Hajj [(22):77]: “Wahai orang-orang beriman! Ruku’ dan sujudlah kalian / O you who have believed! Bow down.” Ada yang berpendapat bahwa shalat berjama’ah didasarkan kepada surah Al Baqarah [(2):43] sebagai berikut: “Dan dirikanlah shalat dan bayarlah zakat..” Shalat dengan Berjalan Kaki atau di Atas Kendaraan Difirmankan dalam surah Al Baqarah [(2):239] sebagai berikut: “Kalau kamu dalam bahaya. boleh shalat sambil berjalan kaki atau di atas kendaraan.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat Messenger Muhammad saw) are among them and lead them in shalat (the prayer). Dan kalau sudah aman 47 . and bow down (or submit yourselves with obedience to Allah) along with arraki’ina”). let one party of them stand up [in shalat (prayer)] with you …. and prostrate yourselves..

Maksudnya mengganti shalat yang tertinggal (waktunya sudah lewat) pada waktu lain di luar jadwalnya. naik kereta api atau kapal laut. bisa diatur sendiri.Dalil-Dalil Al Qur’an tentang Shalat shalatlah (ingatlah Allah) sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui / And if you fear (an enemy). lebih banyak pengertiannya tentang Al Qur’an. Dalil yang menyatakan perlunya imam adalah surah An Nisa [(4):102] di atas. Mengimami Shalat Apabila shalat dilakukan dengan berjama’ah. Ada juga yang menafsirkan ayat di atas berlaku juga untuk shalat dalam perjalanan dengan angkutan umum. offer the shalat (prayer) in the manner He has taught you which you know not (before”). waktu-waktu shalat sudah ditentukan. And when you are in savety. Tekanan shalat sambil berjalan kaki atau di atas kendaraan sejarahnya karena dalam keadaan bahaya. naik bus. Apalagi sebagaimana telah kita sebut terdahulu. perform shalat (prayer) on foot or riding. Jadi jika shalat di luar waktu tersebut maka shalatnya tidak diterima lagi (penjelasan shalat Wustha/shalat Pertengahan atau shalat ‘Asyar). seorang dari jama’ah hendaklah menjadi imam. Seperti sekarang naik pesawat waktu ke Makkah. Mengqadha Shalat Kita tidak menemukan dalil dalam Al Qur’an tentang bolehnya ‘mengqaha shalat’. dicari kesempatan untuk shalat. 48 . Diutamakan yang suara dan bacaannya relatif baik. Kalau kendaraan pribadi.