Manajemen Operasi/Produksi

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ± SCM)

A. Latar Belakang Munculnya SCM Munculnya SCM dilatarbelakangi oleh 2 hal pokok, yaitu: 1. Praktek manajemen logistic tradisional yang bersifat adversarial pada era modern ini sudah tidak relevan lagi, karena tidak dapat menciptakan keunggulan kompetitif. 2. Perubahan lingkungan bisnis yang semakin cepat dengan persaingan yang semakin ketat. Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti sekarang ini menjadi pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki, serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin kompetitif. Teknologi yang juga berkembang pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan dalam iklim persaingan. Usaha-usaha yang dilakukan pada akhirnya diarahkan untuk memberikan produk terbaik kepada konsumen. Konteks produk yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen dalam pengertian manajemen produksi dan operasi adalah kombinasi priduk barang dan jasa. Industri manufaktur tidak akan dapat bersaing apabila produk yang ditawarkan murni hanya barang, dan industri jasa juga tidak memiliki daya tarik apabila yang ditawarkan kepada konsumen murni berupa layanan. Keberhasilan perusahaan dalam memberikan produk terbaik kepada konsumen meliputi kombinasi diantara keduanya, yaitu barang dan jasa dalam poris masingmasing yang ideal menurut perusahaan. Menyajikan produk dalam arti luas tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi sistem produksi operasi yang harus dijalankan perusahaan. Mulai dari mengidentifikasi selera konsumen sampai dengan mengupayakan

Kelompok IV

Page 1

Manajemen Operasi/Produksi

seluruh kebutuhan input dari pemasok untuk memproduksi dan mendistribusikan produk tersebut sesuai dengan selera konsumen yang dibidik. Pada dasarnya konsumen mengharapkan dapat memperoleh produk yang memiliki manfaat pada tingkat harga yang dapat diterima. Untuk mewujudkan keinginan konsumen tersebut maka setiap perusahaan berusaha secara optimal untuk menggunakan seluruh asset dan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan value terhadap harapan konsumen. Implementasi upaya ini tentunya menimbulkan konsekuensi biaya ynag berbeda di setiap perusahaan termasuk para pesaingnya. Untuk dapat menawarkan produk yang menarik dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar yang sudah ditetapkan. Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam proses produksi sampai dengan distribusi produk sampai ke tangan konsumen. Distribusi yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan Supply Chain Management (SCM). SCM sesungguhnya bukan merupakan suatu konsep yang baru. Menurut Jebarus (2001), SCM merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbaggai elemen tersebut berlangsung seccara transparan. SCM merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggatikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadwal produksi, dan logistik.

Kelompok IV

Page 2

dan sebagainya. dengan kata lain sebuah SC bisa saja melibatkan sejumlah industry manufaktur dalam satu rantai hulu ke hilir. Sebuah SC akan memiliki komponen-komponen yang biasanya disebut channel. distribusi / transportasi. produksi. pedagang kecil. Sebuah industri manufaktur bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pemasok. 2. penyimpanan / pergudangan. Sebuah channel dalam SC akan memiliki aktivitas-aktivitas yang saling mendukung. Produk-produk yang dihasilkan oleh sebuah industri mungkin didistribusikan oleh beberapa pusat distribusi yang melayani ratusan bahkan ribuan distributor. Berbagai kemungkinan di lapangan bisa terjadi. retailer. Sebuah pemasok mungkin sekaligus adalah industri manufaktur. pengendalian persediaan. pengadaan material. Gambar Supply Chain yang disederhanakan Pada kenyataan struktur SC jauh lebih kompleks dari gambar di atas. dan sebagainya. dukungan pelayanan kepada pelanggan. Kelompok IV Page 3 . proses pembayaran. 4. Secara keseluruhan aktivitas-aktivitas tersebut meliputi perancangan produk. 3.Manajemen Operasi/Produksi Gambar di bawah ini memberikan ilustrasi sebuah supply chain (SC) yang sederhana. antara lain: 1. SC tidak selalu merupakan rantai lurus. Sebuah channel berkerja untuk memebuhi kebutuhan konsumen akhir.

Pola-pola negosiasi hanya mementingkan pihak-pihak secara individual. Pemasok ingin secepatnya memindahkan atau menjual produknya secepat dan sebanyak mungkin dengan harga yang tinggi. Konsumen menjadi semakin rumit dan terlalu banyak menuntut.Manajemen Operasi/Produksi Pada tingkatan yang lebih strategis ada aktivitas-aktivitas seperti pemilihan pemasok. Daur hidup produk sangat pendek seiring dengan perubahanperubahan yang terjadi dalam lingkungan pasar. pusat distribusi. Praktek tradisional. gudang. mutu tinggi untuk setiap produk yang ditawarkan. Akselarasi perubahan ini disebabkan berkembangkanya secara tepat faktor-faktor penting. Perubahan Lingkungan Bisnis Lingkungan bisnis senantiasa berubah dan perubahan tersebut semakin lama semakin cepat. dan perbankan yang semakin canggih memungkinkan berkembangnya model baru dalam aliran material / produk. 3. penentuan lokasi pabrik. Mereka menuntut jarga murah. semua aktivitas tersebut dilakukan tanpa atau dengan sedikit koordinasi. 2. Pola hubungan manajemen logistik tradisional masih bersifat adversarial. transportasi. Kelompok IV Page 4 . contohnya antara lain: Hubungan antara pemasok dengan perusahaan yang disuplainya hanya terbatas pada transaksi jual beli. sementara perusahaan yang disuplainya menginginkan harga yang murah dan pengiriman yang cepat dan tepat. Infrastruktur telekomuniaksi. B. dan sebagainya. Daur hidup produk. Tuntutan konsumen yang semakin kritis. dalam arti pola hubungannya masih mementingkan pihak-pihak secara individual tidak mengacu pada kinerja keseluruhan pihak yang menjadi pembentuk sebuah SC. antara lain: 1. informasi. penyerahan tepat waktu. dan sesuai dengan selera mereka. Istilah cross fungsional team misalnya tidak banyak diaplikasikan dalam manajemen SC tradisional.

retailer hingga pada konsumen akhir. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian. Mekanisme informasi antara berbagai komponen tersebut berlangsung secara transparan. and finally selling. retailers. jadwal produksi. Kelompok IV Page 5 . yaitu: the supplier of raw materials.Manajemen Operasi/Produksi 4. Dalam konsep SCM ingin diperlihatkan bahwa rangkaian aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat yang besar. Kesadaran konsumen akan pentingnya aspek sosial dan lingkungan dalam kehidupan. menuntut industri manufaktur memasukkan konsep-konsep ramah lingkungan mulai dari proses perancangan produk. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Supply Chain Management (SCM) adalah suatu konsep yang menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara tradisional. warehouses. Ada pula yang mengatakan bahwa Supply Chain Management (SCM) adalah suatu metode penciptaan produk untuk disampaikan pada pengguna akhir. transporters. Supply Chain Management (SCM) merupakan salah satu konsep dalam rangka merespon persoalan tersebut. Definisi Supply Chain Management Dengan latar belakang praktek manajemen logistik tradisional dan perubahan lingkungan bisnis yang semakin cepat tersebut di atas. Supply Chain Management (SCM) menekankan pada pola terpadu menyangkut proses aliran produk dari supplier. telah menciptakan banyak paradigma baru dalam dunia bisnis dan salah satu paradigma penting adalah meningkatnya persaingan produk jasa di pasaran. manufaktur. the manufacturing units. dimana di dalamnya tercakup berbagai komponen. C. dan logistik. proses produksi maupun proses distribusinya. Globalisasi dan perubahan peta ekonomi dunia kea rah meningkatnya kemampuan ekonommi negara-negara dunia ketiga. 5.

Persaingan dalam konteks SCM adalah persaingan antar rantai. diperlukan elektronik data interchange diperlukan elektronik interchange khusus untuk dimasukan kedalam suatu value added network atau saluran yang dibuka dengan tujuan untuk membagi suatu jaringan. perbaikan dan berbagai infomasi diantara perusahaan dan identifikasi permasalahan yang tepat dan optimasi. D. gudang (warehouses). Semua supply chain pada hakekatnya memperebutkan pelanggan dari produk atau jasa yang ditawarkan.Manajemen Operasi/Produksi Dari dua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fokus utama dari SCM adalah sinkronisasi proses untuk kepuasan pelanggan. Dalam kegiatan SCM tidak terlepas dari IT. berkualitas. dan tepat pengirimannya. bukan antar individu perusahaan. Data elektronik adalah suatu cara yang efektif untuk mempromosikan pembagian informasi dengan tepat diantara perusahaan sehingga bertepatan dengan tujuan SCM. dan penyimpanan (stores). untuk lokasi yang benar dan waktu yang benar. Semua pihak yang berada dalam satu rantai supply chain harus bekerja sama satu dengan lainnya semaksimal mungkin untuk meningkatkan pelayanan dengan harga murah. Kelemahan praktek tradisional yang bersifat adversarial adalah terfokusnya ukuran keberhasilan dan aktivitas pada bagian -bagian kecil dari supply chain yang justru sering berlawanan dengan tujuan akhir untuk meningkatkan pelayanan pada pelanggan atau konsumen akhir. IT dapat memberikan dua kontribusi dalam SCM yaitu. Elektronik data interchange didefinisikan sebagai suatu hubungan online komputer dan pertukaran informasi pada transaksi diantara perusahaan. pabrik (manufactures). dengan demikian barang dagangan itu diproduksi dan di distribusikan dengan kuantitas yang benar . Aktivitas SCM Jadi dapat diartikan bahwa SCM merupakan suatu pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien pemasok (suppliers). Jumlah model yang sangat besar untuk Kelompok IV Page 6 . Bagaimanapun juga.

dan telah menyebabkan perbaikan dalam kualitas dari aplikasi software untuk memproses informasi atau software supply chain planning E. kemajuan IT telah mengembangkan secara cepat pembagian atau berbagai informsi diantara perusahaan yang diperlukan untuk SCM. Pada umumnya. dan menemukan cara untuk menyelesaikannya. Dari manfaat ini web elektronik data interchange telah memerikan kemungkinan dalam mempromosikan pembagian informasi diantara perusahaan lebih jauh lagi. demand forecasting. dan lain-lain. Perkembangan aplikasi software sebenarnya untuk menyelesaikan berbagai masalah telah mendapatkan keuntungan lebih besar dengan perkembangan IT saat ini. Value Added SCM yang didesain dengan baik menghasilkan net value positif dengan memberikan keuntungan. dan menigkatkan kelangsungan hidup keuangan. Karena berbagai informasi memberikan banyak data yang tersedia. transportation planning. inventory management schecduling. Perusahaan Kelompok IV Page 7 . Meskipun kenyataannya internet menimbulakan beberapa masalah pada keamanan dan standarisasi. Daripada membuka saluran elektronik data interchange. Software untuk merealisasikan SCM secara bersamaan disebut Supply Chain Planning Software (SCPS) SCPS terdiri dari beberapa software pada manufacturing planning. kita harus merumuskan masalah berdasarkan data. Pembagian informasi diantara perusahaan dapat diandalkan dengan web elektronik data interchange. mengurang biaya. elektronic data interchange logistic khusus telah menjadi sangat lambat. Pengggunaan internet dikombinasikan dengan ITS menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki sistem logistik kota. web elektro nik data interchange sangat berguna dikarenakan memiliki biaya yang rendah pada invesment dibandingkan dengan membangun jaringan terbuka.Manajemen Operasi/Produksi berinvestasi dalam suatu value added network atau saluran yang dibuka telah menjadi alasan utama mengapa manajemen elektronic data interchange.

SCM diperlukan oleh perusahaan yang sudah mengarah pada pengelolaan dengan sistem just in time. biaya dapat dikurangi berhubungan dengan keuntungan yang terintegritas.Manajemen Operasi/Produksi dengan supply chain yang diselesaikan dengan baik dapat membagikan keuntungan dengan layak. Terdapat skala ekonomi dan jangkauan pada proes integrasi vertikal Sebagai contoh. dengan menghasilkan yang disebut ´win-win relationship´. inventory atau permintan pelanggan harus dapat dibagi dan diproses dengan benar. sumber daya untuk menghasilkan keuntungan termasuk menekan lea-time atau respone yang fleksibel pada pelanggan. Keuntungan ini dihasilkan dari sumber daya perusahaan yang terpusat terhadap core-competence mereka dan menghasilkan valeu dengan memiliki fleksibilitas dan dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan pasar. Kedua. Dengan memperhatikan tiga poin tersebut pengebangan IT sebelumnya dapat berkontribsi terhadp SCM. menghindari investment yang berlebihan dalam warehousing dan mengurangi inventory level dengan berbagi informasi. Pertama. Integrated Supply Chain Semua perusahaan memerlukan sesuatu yang sangat ekonomis guna melakukan kegiatan memproduksi untuk memperoleh keuntungan. berbagai jenis informasi seperti pesanan. Ketiga. kelancaran arus material yang diperlukan pasti melibatkan lebih dari satu rantai pasokan. karena konsep just in time sangat menekankan ketepatan waktu kedatangan material dari pemasok sampai ke tangan konsumen sesuai dengan yang Kelompok IV Page 8 . rantai pasokan tidak akan memiliki peran untuk kondisi pasar pada masa seperti sekarang ini. F. Tanpa pemasok yang baik dan tanpa pembelian yang memadai. Untuk mencapai keinginan tersebut. Faktor kritis dalam rantai pasokan yang efisien adalah pembelian. karena tugas pembelia an untuk menyeleksi pemasok (berikut materialnya) dan kemudian membangun hubungan yang saling menguntungkan. Seperti improvemen atau peningkatan dapat membuat supply chain perusahaan yang kopetitive.

karena sistem just in time tidak menekankan pada persediaan atau zero inventory. penyimpanan. Menerapkan konsep SCM secara menyeluruh dan terintegrasi tentu bukan merupakan hal yang mudah dilakukan perusahaan. Bagi perusahaan yang masih mementingkan persediaan karena karakteristik material (misalnya faktor musiman) atau sebagai langkah antisipatif untuk menyiasati lingkungan industri yang tidak stabil. SCM juga diperlukan. karena tidak adanya persediaan. Selain itu baik SCM maupun manajemen logistik juga memiliki kesamaan dalam hal peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Kelompok IV Page 9 .Manajemen Operasi/Produksi ditetapkan. SCM yang dilaksankan akan lebih optimal apabila diterapkan secara terintegrasi oleh seluruh mata rantai pasokan yang terkait. pergerakan. karena keduanya mengelola arus barang dan jasa melalui pembelian. Peran SCM untuk jenis perusahaan ini adalah menekan biaya persediaan. Kesulitan akan banyak dialami dalam kaitan dengan lingkungan eksternal yaitu hubungan dengans upplier dan distributor serta konsumen akhir. Sekilas konsep SCM memiliki kesamaan dengan manajemen logistik. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan eksternal relatif berada di luar kendali perusahaan. Artinya. Baik perusahaan yang menerapkan sistem just in time maupun yang masih mementingkan persediaan. biaya pemesanan. dan penyaluran barang. maka akan mengganggu pasokan material secara keseluruhan dan menghambat kelancaran tugas dari mata rantai yang lain. sehingga perlu upaya kedua belah pihak untuk mencapai komitmen menjadi mata rantai yang saling berkoordinasi untuk menyalurkan seluruh kebutuhan material sesuai yang dibutuhkan. karena persediaan yang tidak optimal akan menimbulkan dampak biaya penyimpanan. kedisiplinan dan komitmen seluruh mata rantai harus benar-benar dilaksanakan. dan biaya backorder (apabila terjadi stockout). Untuk kondisi di Indonesia sistem just in time akan berhasil kalau mata rantai terkait berada dalam satu siklus tertentu. adminitrasi. Sehingga apabila terjadi penyimpangan pada salah satu mata rantai saja.

SCM mengusahakan hubungan dan koordinasi antar proses dari perusahaan. d. sejak paling hulu sampai paling hilir. b. Mereka menjalankan program-program sendiri yang terlepas satu sama lain (incomplete isolation). 3. dan pengawasan (manajemen) yang telah dicapai dalam tahap 3 dan diteruskan ke upstreams yaitu suppliers dan downsterams sampai ke pelanggan. misalnya produksi dengan inventory control dan functional integration yang lain. mulai dari suppliers sampai kepada pelanggan juga mengutamakan arus barang antar perusahaan. yaitu di antara fungsi internal yang paling berdekatan. pelaksanaan. dalam tahap 1 ada semacam kesendirian dan ketidak saling-tergantungan fungsi produksi dan fungsi logistik. 2002): a. dalam tahap 3 integrasi perencanaan dan pengawasan atas semua fungsi yang terkait dalam satu perusahan (internal integration). dalam tahap 2 perusahaan sudah mulai menyadari pentingnya integrasi perencanaan walaupun dalam bidang yang masih terbatas. SCM telah banyak mengalami evolusi yang dapat digambarkan dalam 4 (empat) tahap sebagai berikut (Indrajit dkk. Contohnya adalah bagian produksi yang hanya memikirkan bagaimana membuat barang sesuai dengan mutu dan yang telah ditetapkan. Tahap 4. Tahap 1. Sedangkan manajemen logistik berorientasi pada perencanaan dan kerangka kerja yang menghasilkan rencana tunggal arus barang dan informasi di seluruh perusahaan. Tahap 2. c. dan sama sekali tidak mau ikut memikirkan penumpukan inventory dan penggunaan ruang gudang yang menimbulkan biaya persediaan yaitu biaya simpan.Manajemen Operasi/Produksi barang. Kelompok IV Page 10 . dalam tahap 4 menggambarkan tahap sebenarnya dari suplly chain integration. jadi lebih terfokus pada pengelolaan termasuk arus barang dalam perusahaan.perusahaan lain dalam business pipelines. yaitu integrasi total dalam konsep perencanaan. Tahap 3. Perbedaan SCM dengan manajemen logistik terletak pada orientasinya. Dalam perkembangannya.

G. 2001) kepuasan pelanggan. Aset terutama faktor manusia akan semakin terlatih dan terampil baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan. Kepuasan pelanggan. Konsumen atau pengguna produk merupakan target utama dari aktivitas proses produksi setiap produk yang dihasilkan perusahaan. menurunnya biaya. karena diminati konsumen. Konsumen atau pengguna yang dimaksud dalam konteks ini tentunya konsumen yang setia dalam jangka waktu yang panjang. Menurunnya biaya. 4. sehingga produk-produk yang dihasilkan perusahaan tidak akan µterbuang¶ p ercuma.Manajemen Operasi/Produksi Evolusi SCM yang telah mencapai tahap keempat tersebut menunjukkan suatu integrasi yang menyeluruh di antara seluruh komponen terkait sehingga menuntut adanya transparansi arus informasi. peningkatan laba. meningkatkan pendapatan. sehingga komunikasi arus informasi maupun data yang dibutuhkan akan lebih lancar. Semakin banyak konsumen yang setia dan menjadi mitra perusahaan berarti akan turut pula meningkatkan pendapatan perusahaan. Strategi kemitraan dapat digunakan untuk mewujudkan kelancaran arus pasokan material dari pemasok sampai distributor hingga ke tangan konsumen. Tenaga Kelompok IV Page 11 . Pemanfaatan asset semakin tinggi. Dengan startegi kemitraan maka perlu mengembangkan komunikasi di antara semua pihak terkait. 2. Untuk menjadikan konsumen setia. Meningkatkan pendapatan. Manfaat SCM Secara umum penerapan konsep SCM dalam perusahaan akan memberikan manfaat yaitu (Jebarus. 3. dan perusahaan semakin besar. pemanfaatan asset yang semakin tinggi. 1. maka terlebih dahulu konsumen harus puas dengan pelayanan yang disampaikan oleh perusahaan. Pengintegrasian aliran produk dari perusahan kepada konsumen khir berarti pula mengurangi biaya-biaya pada jalur distribusi.

SCM secara fisik dapat mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi dan mengantarkannya kepada konsumen akhir. Melalui pelaksanaan SCM. pemasaran dapat mengidentifikasi produk dengan karakteristik yang diminati konsumen. untuk memberikan nilai pada produk yang dihasilkan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan dan mendistribusikannya kepada konsumen yang dibidik. Secara umum. 2. Dalam hal ini fungsi pemasaran yang akan berperan. 5. Dengan semakin meningkatnya jumlah konsumen yang setia dan menjadi pengguna produk. SCM berfungsi sebagai mediasi pasar.Manajemen Operasi/Produksi manusia akan mampu memberdayakan penggunaan teknologi tinggi sebagaimana yang dituntut dalam pelaksanaan SCM. Manfaat ini menekankan pada fungsi produksi dan operasi dalam sebuah perusahaan. manfaat langsung dari penerapan SCM bagi perusahaan adalah: 1. Selanjutnya fungsi ini harus mampu mengidentifikasi seluruh atribut produk yang diharapkan konsumen tersebut dan mengkomunikasikan kepada perancang produk. Peningkatan laba. Dalam fungsi ini dilakukan penggunaan dari seluruh sumber daya yang dimilki dalam sebuah proses transformasi yang terkendali. Keenam manfaat yang sudah dijelaskan seperti tersebut di atas merupakan manfaat tidak langsung. Perusahaan semakin besar. dan tumbuh lebih kuat. 6. Apabila seleksi rancangan produk sudah dilakukan dan dilakukan pengujian maka produk dapat diproduksi. yaitu memastikan apa yang dipasok oleh rantai suplai mencerminkan aspirasi pelanggan atau konsumen akhir tersebut. Kelompok IV Page 12 . Perusahaan yang mendapat keuntungan dari segi proses distribusi produknya lambat laun akan menjadi besar. pada gilirannya akan meningkatkan laba perusahaan.

Segmentasi pelanggan berdasarkan kebutuhannya. masing-masing fungsi di atas berkaitan dengan ongkos. Fungsi SCM Ditinjau dari segi ongkos. tidak hanya bagi tiap anggota rantai tetapi bagi keseluruhan sistem. Sesuaikan jaringan logistik untuk melayani kebutuhan pelanggan yang berbeda. Dengarkan signal pasar dan jadikan signal tersebut sebagai dasar dalam perencanaan kebutuhan (demand planning) sehingga bisa menghasilkan ramalan yang konsisten dan alokasi sumber daya yang optimal. 3. 2. Kesuksesan implementasi dari prinsip ini membutuhkan perubahan. Kelompok IV Page 13 . ongkos produksi.perubahan pada tingkatan strategis maupun taktis. Sebaliknya kegagalan biasanya ditandai oleh ketidakmampuan manajemen mendefinisikan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menggiring komponen. Diferensiasi produk pada titik yang lebih dekat dengan konsumen dan percepat konversinya di sepanjang rantai supply. Anderson. Britt & Frave (1997) memberikan 7 prinsip SCM untuk membantu para manajer dalam merumuskan strategi pelaksanaan SCM. yakni ongkos material. yakni penurunan harga produk yang tidak laku dengan harga normal.komponen supply chain yang kompleks ke arah yang sama. Ongkos-ongkos ini bisa berupa ongkosmarkdown. atau ongkos kekurangan supply yang dinamakan dengan stockout cost. ongkos penyimpanan. dan sebagainya. 4.Manajemen Operasi/Produksi H. I. Prinsip-Prinsip SCM Prinsip terpenting yang harus diperhatikan dalam sinkronisasi aktivitas-aktivitas sebuah supply chain adalah menciptakan hasil yang lebih besar. serta biaya-biaya akibat terpenuhinya aspirasi konsumen oleh produk yang disediakan oleh rantai supply chain. perancangan produk. yaitu: 1. Fungsi kedua berkaitan dengan biaya-biaya survey pasar. ongkos transportasi. yaitu: fungsi pertama berkaitan dengan ongkos-ongkos fisik.

maka perusahaan terlebih dahulu harus melaksanakan evaluasi pemasok. Adopsi pengukuran kinerja untuk sebuah supply chain secara keseluruhan dengan maksud untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen akhir. Evaluasi pemasok dilakukan apabila untuk material yang sama dapat dipero lebih leh dari satu alternatif pemasok. yaitu: keadaan umum pemasok.Manajemen Operasi/Produksi 5. Syarat utama dari penerapan SCM tentunya dukungan manajemen. Kembangkan strategi teknologi untuk keseluruhan rantai supply yang mendukung pengambilan keputusan berhirarki serta berikan gambaran yang jelas dari aliran produk. sehingga yang perlu dilakukan untuk kondisi ini adalah membangun kemitraan dalam suatu kesepakatan. sampai pengendalian. maupun informasi. Sebelum membangun komitmen dan melaksanakan µkontrak kerja¶ dengan para pemasok. 6. J. Kelola sumber-sumber supply secara strategis untuk mengurangi ongkos kepemilikan dari material maupun jasa. melaksanakan evaluasi pemasok untuk pemasok yang µbermain¶ dalam pasar yang monopoli tentunya sulit dan tidak bisa dilaksanakan. Beberapa contoh indikator dari setiap kriteria evaluasi pemasok adalah sebagai berikut (Gaspersz. koordinasi. pelaksanaan. Keadaan umum pemasok Kelompok IV Page 14 . 2002): 1. Persyaratan Penerapan SCM Sebagai suatu konsep yang melibatkan banyak pihak sebagai mata rantai. Setidaknya ada tiga kriteria dalam melakukan evaluasi pemasok. dan keadaan material. keadaan pelayanan. tetapi juga informasi. Manajemen semua level dari strategis sampai operasional harus memberikan dukungan mulai dari proses perencanaan. Sebagi catatan. pengorganisasian. 7. jasa. Selain dukungan manajemen. SCM menuntut beberapa persyaratan yang tidak hanya terkait dengan material. syarat lain merupakan syarat yang melibatkan faktor eksternal yaitu pemasok dan distributor.

Keadaan pengepakan (pembungkusan) Dari ketiga kriteria tersebut. karena keadaan material akan mempengaruhi kinerja fungsi produksi dan operasi khususnya kualitas produk. Bantuan teknik yang diberikan f. Keadaan material a. Syarat berikutnya adalah pemilihan distributor sebagai perantara produk perusahaan sampai ke tangan konsumen akhir . bobot (berdasarkan tingkat kepentingan) yang terbesar diberikan pada kriteria keadaan material. Kuantitas pemesanan yang ditolak d. Kondisi finansial c. Hubungan dagang antar industr 2. Penanganan keluhan dari pembeli e.Manajemen Operasi/Produksi a. Kualitas material b. Kondisi operasional d. Fasilitas riset dan desain e. Material d. Kondisi kedatangan material c. Lokasi geografis f. Keseragaman c. Intensitas saluran distribusi yang ideal bagi suatu Kelompok IV Page 15 . Jaminan dari pemasok e. Selanjutnya dilakukan penilaian untuk setiap indikator dan dihitung total skor-nya. Keadaan pelayanan a. Ukuran atau kapasitas produksi b. Waktu penyerahan material b. Informasi harga yang diberikan 3.

Satu lagi persyaratan yang penting dalam penerapan SCM adalah transparansi arus informasi. Strategi Dasar SCM Strategi yang paling mendasar dalam SCM berkaitan erat dengan konfigurasi fisik maupun manajemennya. kapanpun diperlukan harus tersedia disertai dengan kemudahan akses. Untuk dapt mendukung arus informasi yang transparan dari seluruh mata rantai yang terlibat dalam SCM diperlukan komitmen (dapat dicapai melalui kemitraan dan kesepakatan) disertai dengan ketersediaan database.Manajemen Operasi/Produksi perusahaan adalah bagaimana menyajikan jenis produk secara luas dalam pemuasan kebutuhan konsumen (Sitaniapessy. melainkan data tersebut harus memenuhi lima kriteria sebagai berikut : 1. mulai dari konfigurasi jaringan antar channel sampai pada konfigurasi fasilitas di dalam sebuah channel tidak bisa dilepaskan dari karakteristik produk maupun jasa yang dihasilkan oleh sebuah supply chain. Konsep database yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya kumpulan data yang dikelola dan dikendalikan secara terpusat. Penggunaan distributor yang terlalu sedkit dapat membatasi penyebaran jenis produk dalam aktivitas pemasaran. Kelompok IV Page 16 . Sebaliknya. Jumlah data tidak tergantung kondisi fisik penyimpan data (penyimpan data yang harus menyesuaikan jumlah data) 5. 2001). Dalam rancangan struktur supply chain. Kemampuan dipergunakan untuk berbagi kebutuhan terkait 3. Ketersediaan. Kemampuan data untuk selalu berkembang dalam konteks yang efektif 4. penggunaan distributor yang terlalu banyak dapat mengganggu brand image dalam posisinya berkompetisi. 2. Konsistensi dan validitas data K. Satu kunci yang penting dalam mengelola saluran distribusi adalah menentukan berapa banyak saluran distribusi yang dikembangkan serta membentuk suatu pola kemitraan yang menunjang pemasaran suatu produk dalam area pemasaran tertentu.

dan sebagainya.100 % 10 % . Contoh lain adalah pakaian yang modelnya cepat berubah dan ini lebih dipacu oleh kebutuhan pasar yang mengisyaratkan perubahan model (market driven). Karakteristik Siklus hidup Variasi produk Variabilitas permintaan Kesalahan peramalan Tingkat markdown Margin keuntungan Lead time Aspirasi konsumen Fungsional > 2 tahun 10 ± 20 per kategori Tinggi 10 % 0% Rendah 6 bln ± 1 thn Harga murah Inovatif < 2 tahun Jutaan per kategori Rendah 40 % . dan sebagainya. seperti garam. Ini merupakan contoh produk inovatif yang dipacu oleh kemampuan perusahaan melakukan inovasi (innovation driven). biasanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar.Manajemen Operasi/Produksi Dalam SCM karakteristik produk ini dibedakan ke dalam 2 jenis yang didasarkan pada berbagai aspek antara lain. sabun. ballpoint. stabilitas permintaannya. gula. Untuk lebih jelasnya pembagian produk sesuai dengan karakteristiknya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.25 % Tinggi 1 hari ± 2 minggu Cepat Pernyataan kedua produk berdasarkan karakteristik di atas mengindikasikan kebutuhan akan penanganan yang berbeda. Kelompok IV Page 17 . Contoh dari produk inovatif ini adalah komputer yang perubahan rancangannya sudah dalam hitungan minggu atau bahkan hari. jumlah variasinya. Kedua jenis tersebut adalah: 1) produk fungsional. siklus hidupnya. tingkat markdown. kesalahan ramalan. seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini. 2) produk inovatif. Produk inovatif ini biasanya muncul sebagai respon atas perubahan pasar yang cepat atau sebagai akibat dari kemampuan teknologi dan inovasi yang bagus. buku tulis. minyak goreng. baik dalam aktivitas fisik maupun dalam mediasi pasar sebuah supply chain sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk masing-masing produk. yaitu produk yang permintaannya biasanya sangat tidak stabil dan sulit diramalkan.

Agility untuk suatu supply chain harus mempunyai kemampuan kecepatan dalam merespon kebutuhan pasar secara bersama-sama sebagai suatu team. Dalam Lean Supply Chain koordinasi yang baik antar channel dalam rantai supply sangat diperlukan. keunggulan kompetitif produk terletak pada kemampuan supply chain untuk merespon kebutuhan pasar yang cepat berubah.Manajemen Operasi/Produksi Tabel Strategi yang tepat berdasarkan jenis produk Strategi Lean Agile Produk Fungsional Tepat Tidak tepat Inovatif Tidak tepat Tepat Strategi Lean Supply Chain adalah strategi efisiensi yang membutuhkan dukungan struktur supply yang ramping dan terintegrasi dengan baik. Dengan demikian hubungan antar perusahaan merupakan faktor kritis dalam menciptakan agility suatu supply chain. Dengan demikian. produksi. ongkos-ongkos mediasi pasar akan merupakan fokus itama. Untuk produk inovatif. termasuk di dalamnya koordinasi untuk menangani dampak variabilitas dan ketidakpastian permintaan maupun supply. penyimpanan dan sebagainya. Pada produk fungsional. fungsi mediasi pasar lebih jarang dan lebih mudah dilakukan karena siklus hidup produknya panjang atau selera konsumen yang tidak banyak berubah. Distributor yang handal tidak dapat menjamin keunggulan berkompetisi apabila perusahaan yang mensuplai produk-produk yang didistribusikannya tidak mampu secara tepat merespon perubahan uang disyaratkan oleh pasar. Kunci keberhasilan disini adalah yang dinamakan agility. distribusi. Fokus utama dalam mengelola Lean Supply Chain adalah menekan ongkos-ongkos fisik sepanjang supply chain yang terdiri dari ongkos-ongkos material. Kecepatan ini harus dimiliki semua pihak yang berada dalam suatu supply chain. Strategi Kelompok IV Page 18 . sehingga strategi yang tepat untuk produk-produk fungsional adalah efisiensi.

khususnya di Indonesia. Masalah ini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap tantangan SCM yang lain. advanced planning and scheduling. dan genetic algorithm) Selain tantangan-tantangan tersebut. production planning. Faktor eksternal lain adalah perkembangan teknologi.aktivitas yang dilakukan oleh beberapa Kelompok IV Page 19 . Perkembangan teknologi yang terkait dengan teknologi informasi sedapat mungkin diadaptasi oleh perusahaan -perusahaan yang menerapkan SCM sehingga dapat mengelola informasi yang bergerak sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk. supply chain modeler. Sehingga sangat perlu bagi perusahaan yang menerapkan SCM untuk memiliki peralatan fungsional seperti (Watanabe. Di sisi lain. Mengingat sebuah rantai supply chain terdiri dari aktivitas. available to promise. L. Misalnya saja trend perekonomian global yang menunjukkan adanya kecenderungan inflasi. distribution and deployment. Optimizer (Linier programming. transportation management. Selain itu juga kecenderungan perilaku konsumen yang menunjukkan sikap terlalu rumit dan banyak menuntut. tetapi ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dan disikapi oleh perusahaan apabila akan menerapkannya. 2001): demand management/ forecasting. Tantangan Penerapan SCM Meskipun SCM memiliki banyak manfaat dalam menjalankan sistem produksi dan operasi di perusahaan.Manajemen Operasi/Produksi supply chain yang menekankan pada agility tentunya memerlukan pola pikir untuk strategi supply chain yang mendasarkan pada efisiensi. Tantangan yang pertama berasal dari lingkungan makro dan juga lingkungan eksternal. Hal ini disebabkan karena persaingan di tingkat global memang sangat meningkat. non linier programming. ada juga tantangan yang dapat digolongkan dalam lingkungan mikro atau di lingkungan perusahaan itu termasuk stakeholdernya. yaitu teknologi informasi. tantangan yang juga sering dihadapi khususnya negara berkembang adalah masalah infrastruktur termasuk birokrasi yang rumit. heuristic.

f. h. produksi. dan tidak ada perhatian untuk membuat µjoint matrics¶ yang mengukur kinerja rantai secara keseluruhan. tidak ada pengukuran terhadap kelambatan respon dalam pelayanan. Pengukuran kinerja yang tidak terdefinisikan dengan baik. Koordinasi antar aktivitas suplai. yaitu: a. g. m. Kebijakan inventori terlalu sederhana. banyak sekali tantangan yang bisa mengakibatkan kegagalan pengelolaan sebuah supply chain. i. dan pengiriman tidak bagus. Status data pengiriman yang tidak akurat dan sering terlambat. Karena kompleksnya permasalahan pengelolaan tersebut. maka pengelolaannya tidak mudah. Perancangan produk maupun proses tidak memperhitungkan konsep supply chain. Customer service tidak didefinisikan dengan jelas. Dampak ketidakpastian diabaikan. e. j. tidak ada pertimbangan efek persediaan dan waktu respon. faktor-faktor ketidakpastian tidak diperhitungkan dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tersebut. Definisi ongkos-ongkos persediaan tidak tepat. setiap chanel menentukan ukuran sendiri-sendiri. service levelnya tidak terukur. Lee & Bilington (1992) mendeskripsikan 14 tantangan yang harus diperhatikan dalam SCM. sistem insentifnya tidak tepat.Manajemen Operasi/Produksi perusahaan. kadang-kadang terlalu statis dan generik. Analisis metode-metode pengiriman tidak lengkap. Sistem informasi tidak efisien. k. Diskriminasi terhadap internal customer. Kompleksitas permasalahan meningkat dengan cepat begitu pertimbangan-pertimbangan aliran produk dan informasi dilihat dalam lingkungan keseluruhan supply chain dari ujung hulu ke ujung hilir. b. l. Prioritasnya rendah. dan sebagainya. Kelompok IV Page 20 . c. d. Perancangan dan operasional supply chain dibuat secara terpisah. Ada kendala komunikasi antar organisasi.

Perusahaan pembeli akan lebih mudah menegosiasikan jadwal pengiriman karena wakil tadi sewaktu. Demikian pula wakil tadi akan lebih banyak memberikan masukan Kelompok IV Page 21 . fokusnya sering hanya pada operasi internal saja. M.Manajemen Operasi/Produksi n. Untuk mengatasi tantangan tersebut. Atas nama perusahaan pembeli. Praktek ini memungkinkan kedua belah pihak untuk merundingkan rencana-rencana produksi maupun pembelian sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Supply chain tidak lengkap.waktu bisa ditemui di perusahaannya. Konsep-konsep yang lebih canggih yang merupakan pengembangan dari SCM bermunculan.konsep tersebut antara lain: 1. Wakil tersebut berfungsi menggantikan peran bagian pembelian di perusahaan pembeli. dan pemasok akan memiliki wakil di perusahaan yang disuplainya. Just In Time (JIT). tidak bisa membedakan antara µimmediate customers¶ dengan µend customers¶. Konsep. wakil tersebut akan membuat order pembelian ke perusahaannya berdasarkan rencana produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan pembeli. Perkembangan-Perkembangan Terbaru dalam SCM Agar perusahaan selalu dapat memimpin dalam berkompetisi di pasaran. cara-cara baru yang lebih inovatif perlu ditemukan atau dikembangkan. terlebih dahulu perusahaan harus melakukan perbaikan dan membangun komitmen di lingkungan internal perusahaan tersebut. baru kemudian membangun kemitraan dan komitmen dengan mata rantai lain di lingkungan eksternal. Satu hal yang juga penting dalam mengatasi tantangan untuk penerapan SCM adalah mengelola informasi dalam sebuah sistem yang harus mendukung proses pengambilan keputusan di wilayah penerapan SCM. Seiring dengan menyebarnya konsep-konsep SCM di dunia industri baik industri manufaktur atau jasa. prinsip ini menekankan pada kemitraan yang erat antara perusahaan dengan pemasoknya.

Pada VMI pertukaran informasi yang lancar sangat diperlukan. Pada VMI kebalikannya. . konsep ini didasarkan pada teori kontrol di mana aliran material atau produk akan optimal bila dikontrol dari satu titik. 2. justru pemasoklah yang berkewajiban untuk menentukan kapan dan berapa jumlah suatu item harus dikirim ke retailnya. Konsep ini banyak digunakan oleh para pemasok yang mensuplai bisnis retail. 3. yang lain mengikuti dan mendukung dengan memberikan informasi yang diperlukan. Kelompok IV Page 22 . Global Pipeline Management (GPM). Aliran material atau produk pada konsep GPM hendaknya dikendalikan oleh satu pihak atauchanel dalam supply chain. Pemasok akan mampu membuat keputusan yang baik. Vendor Managed Inventory (VMI). Selama ini pihak retail yang berkewajiban membuat order pembelian untuk menjaga kelangsungan persediaan dari setiap item yang terjual.Manajemen Operasi/Produksi tentang kemampuan perusahaannya untuk memasok kebutuhan material atau bahan baku yang dibutuhkan perusahaan pembeli. apabila informasi tingkat kebutuhan maupun tingkat persediaan yang dimiliki pihak retail bisa diakses dengan mudah. adalah merupakan salah satu variasi dari JIT II. berdasarkan informasi tingkat penjualan dan ketersediaans tock yang ada di retail tersebut.

Supply Chain Management (SCM) adalah suatu metode penciptaan produk untuk disampaikan pada pengguna akhir. dan logistik. dan sebagainya. Kelompok IV Page 23 . 5. Supply Chain Management (SCM) adalah suatu konsep yang menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara tradisional. transporters. peningkatan laba dan perusahaan semakin besar. Dalam rancangan struktur supply chain. jadwal produksi. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian. Manfaat penerapan konsep SCM dalam perusahaan yaitu: kepuasan pelanggan. 3. the manufacturing units. tingkat markdown. meningkatkan pendapatan. dimana didalamnya tercakup berbagai komponen. and finally selling. 2. 4. warehouses. SCM membedakan karakteristik produk ke dalam 2 jenis yang didasarkan pada berbagai aspek. pemanfaatan asset yang semakin tinggi. siklus hidupnya. jumlah variasinya. stabilitas permintaannya.Manajemen Operasi/Produksi RANGKUMAN 1. kesalahan ramalan. Strategi yang paling mendasar dalam SCM berkaitan erat dengan konfigurasi fisik maupun manajemennya. antara lain. menurunnya biaya. retailers. yaitu the supplier of raw materials. mulai dari konfigurasi jaringan antar channel sampai pada konfigurasi fasilitas di dalam sebuah channel tidak bisa dilepaskan dari karakteristik produk maupun jasa yang dihasilkan oleh sebuah supply chain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful