PENDAHULUAN Sejarah pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam sejatinya telah

berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam itu sendiri. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meneladani model-model pendidikan Islam di masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama-ulama sesudahnya. Para ahli sejarah menyebut bahwa sebelum muncul sekolah dan universitas, sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sesungguhnya sudah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal, diantaranya adalah masjid. Pendidikan Islam berarti memasuki ajaran-ajaran Islam kedalam unsur-unsur suatu bangsa Arab pada masa itu, sehingga diwarnai oleh Islam dalam proses pembudayaan ajaran Islam. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pertama, Islam mendatangkan sesuatu unsur yang sifatnya memperkaya dan melengkapi unsur budaya yang telah ada, seperti Al-Qur’an. Didatangkannya Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad SAW untuk dihafal dan dipelajari oleh umatnya pada masa itu adalah memperkaya sifat unsur budaya sastra arab yang pada masa itu diakui mempunyai tingkah laku yang tinggi. Kedua, Islam mendatangkan ajaran baru yang belum ada sebelumnya untuk meningkatkan kesejahterean masyarakat dan meningkatkan perkembangan budayanya. Ketiga, Islam mendatangkan ajaran yang sifatnya bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya dibiarkan tetap berlaku dan berkembang dengan mendapatkan pengarahan-pengarahan seperlunya. Keempat, Islam mendatangkan suatu ajaran yang sifatnya meluruskan kembali nilai-nilai yang ada dalam kenyataan praktisnya telah menyimpang dari ajaran aslinya. Dengan demikian terbentuklah satu pengaturan nilai dan budaya Islam yang lengkap dan sempurna dalam ruang lingkupnnya yang sopan dan baik dari segi situasi dan kondisi maupun pada waktu perkembanan zaman. Setting tersebutlah yang diwariskan kepada generasi berikutnya, untuk dikembangkan secara kualitatif maupun kuantitatif. Melihat pentingnya mempelajari bagaimana sejarah dan perkembangan pendidikan agama Islam, maka dari itu penulis tertarik untuk mengangkat tema Pendidikan Agama Islam. Dalam makalah ini, kami sebagai penulis membatasi pembahasan hanya mengenai Pendidikan Agama Islam di Indonesia.

Sejak zaman VOC. usaha pemerintahan belanda untuk pemberantasan pendidikan agama islam dilanjutkan pada tahun 1932 dengan mengeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa sekolah pemerintah tidakmengajarkan agama. Umat islam diizinkan meneruskan organisasi yang bersifat kemanusiaan. c) d) e) f) g) Sekolah negeri diberi pendidikan budi pekerti yang identik dengan ajaran islam. Namun ternyata. Dan. Selanjutnya. Kantor Urusan Agama pada masa pemerintahan belanda diubah menjadi kantor Pondok pesantren yang besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari petinggi Sumubi yang dipimpin oleh ulama islam. Namun pada akhirnya ia berpikiran bahwa pendidikan agama islam tidak membantu pemerintahan belanda. Pada tahun 1819. Pemerintah jepang mengizinkan untuk member pelatihan militer bagi pemuda islam. Gubernur Jendral Van den Capellen merencanakan untuk mendirikan sekolah dasar bagi penduduk pribumi agar dapat membantu pemerintahan Belanda. Hal ini timbul karena adanya ketakutan pihak pemerintahan belanda terhadap rasa keagamaan dan kolonialisme rakyat indonesi yang mayoritas beragama islam. hal itu dilakukan hanya untuk meningkatkan hasil penjajahannya. Masa Penjajahan Jepang Pada awal kekuasaannya di Indonesia.PEMBAHASAN A. pemerintahan jepang menunjukkan seakan-akan membela kepentingan agama islam dengan menempuh kebijakan sebagai berikut: a) b) jepang. pemerintah belanda membentuk suatu badan yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan islam. . Lalu pada tahun 1925 pemerintah mengeluarkan peraturan yang semakin ketat dimana tidak semua kyai diperbolehkan untuk memberikan pelajaran agama. Pemerintah jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. pada tahun 1905. pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa orang yang mengadakan pengajaran agama islam harus mendapat izin dari pemerintah. ekonomi dan agama. keluarlah kebijaksanaan bahwa sekolah gereja dianggap sebagai sekolah pemerintahan dan di setiap keresidenan didirikan satu sekolah Kristen. mereka memperkenalkan system dan metode baru hanya untuk menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan mereka. Ketika Van den Boss menjadi Gubernur Jendral di Jakarta tahun 1831. Sejarah Perkembangan Pendidikan Agama Islam 1. Pada tahun 1882. kedatangan mereka di Indonesia sudah bermotif politik. Masa Penjajahan Belanda Kedatangan bangsa Barat di Indonesia telah membawa kemajuan dalam bidang teknologi. Para ulama islam diizinkan membentuk barisan pembela tanah air (Peta). Begitu pula di bidang pendidikan. 2.

Namun pendidikan dalam pondok pesantren masih dapat berjalan dengan agak wajar. karena murid-muridnya setiap hari diwajibkan untuk mengikuti militer. mulailah diterapkan system klasikal seperti adanya bangku. dunia pendidikan secara umum terbengkalai. Namun pada saat perang dunia II berlangsung jepang mengalami kesulitan dalam melawan musuh-musuhnya sehingga membentuk berbagai badan pertahanan rakyat yang membuat penderitaan rakyat Indonesia semakin bertambah. yaitu 1) Semakin banyaknya kaum muslim yang mampu menunaikan ibadah haji dan belajar agama disana. Dengan usaha-usaha nonformal ini ternyata mampu menunjang keberhasilan pendidikan islam dan memberi motivasi yang kuat untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih baik dan sempurna. Sistem Pendidikan Islam di Indonesia Pada awal berkembangnya agama islam di Indonesia. Tidak lama berselang. memperbaharui dan menyempurnakan system pendidikan islam desebabkan oleh 2 hal. Sistem pendidikan agama islam berkembang sejalan dengan berkembangnya zaman dan pergeseran kekuasaan di Indonesia. B. Maka. pendidikan islam dilaksanakan secara informal melalui perbuatan. Keinginan untuk membenahi. banyak para orang tua yang tidak begitu mengerti agama islam menyuruh anaknya untuk belajar di langgar dengan seorang guru mengaji atau guru agama. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan akan pendidikan dan . muncullah madrasah-madrasah yang keadaannya lebih baik. Tempat pendidikan seperti inilah yang menjadi awal terbentunya sistem pendidikan pondok pesantren. Pada dasarnya. 2) Pengaruh system pendidikan barat yang mempunyai program yang terkoordinir dan sistematis yang telah menghasilkan manusia terampil dan terdidik yang semakin jauh dari ajaran islam. Pondok pesantren ini tumbuh sebagai perwujuda dari umat islam untuk mempertahankan eksistensinya terhadap pengaruh penjajahan barat dan juga karena langgar didak mampu lagi menampung anak-anak yang ingin mengaji. langgar sama halnya dengan pondok pesantren. Untuk itu. hanya saja belajar di pondok pesantren lebih intensif dan waktu belajarnya lebih lama.Tujuan dari pemerintah jepang melakukan kebijakan-kebijakan ini adalah agar kekuatan umat islam dan nasionalisme dapat digunakan untuk kepentingan perang asia timur raya yang dipimpin oleh Jepang. Dengan keadaan tersebut. contoh dan teladan. setelah pulang ke tanah air timbullah keinginan untuk mempraktekkan cara penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran islam seperti di Mekkah. Karena cepatnya penyebaran agama islam di Indonesia dan mudahnya masuk agama islam. meja dan papan tulis dalam proses pendidikan agama islam.

SKP Islam. dan pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal. serta informal. C. serta informal. Kita bukan hanya sebagai pengelola. serta sarana dan prasarana pendidikan. Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah yang sedang berlangsung belum semuanya memenuhi harapan kita sebagai umat Islam mengingat kondisi dan kendala yang dihadapi. nasional. pendidikan dasar. pertama. serta kebutuhan peserta didik.pengajaran agama islam. Artinya kalau pendidikan itu bermutu hasilnya memenuhi harapan-harapan dan keinginan-keinginan kita. Kedua. orang tua. Ketiga. pendidikan menengah. maka diperlukan pedoman dan pegangan dalam membina pendidikan agama Islam. standar proses pembelajaran. dan sebagainya. pendidikan keagamaan Islam pada berbagai satuan pendidikan diniyah dan pondok pesantren yang diselenggarakan pada jalur formal. Dalam . standar pendidik dan tenaga kependidikan. Kegiatan dalam rangka pengembangan kurikulum adalah pembinaan atas satuan pendidikan dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam tingkat satuan pendidikan. bahwa pendidikan Islam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk. pendidikan agama diselenggarakan dalam bentuk pendidikan agama Islam di satuan pendidikan pada semua jenjang dan jalur pendidikan. Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Pengembangan pendidikan agama Islam pada sekolah mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) terutama pada standar isi. Ini semua mengacu pada usaha strategis pada rencana strategis kebijakan umum Direktorat Jendral Pendidikan Agama Islam Departemen Agama yaitu peningkatan mutu khusus mengenai pendidikan agama Islam di sekolah. pendidikan umum berciri Islam pada satuan pendidikan anak usia dini. Pengembangan pendidikan agama Islam pada sekolah juga mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam pada sekolah diarahkan pada peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agama Islam pada sekolah dengan perkembangan kondisi lingkungan lokal. Mutu itu sendiri sebetulnya sesuatu yang memenuhi harapan-harapan kita. dan non formal. tetapi juga sebagai pelaksana bersama semua pemangku kepentingan (stakeholder) termasuk masyarakat. SPG Islam. dan global. maka muncul lembaga pendidikan formal yang berdasarkan keagamaan dimana pendidikan agama islam merupakan pokok seperti SMP Islam. peningkatan mutu itu sendiri terkait dengan bagaimana kualitas hasil pembelajaran pendidikan agama Islam pada peserta didik yang mengikuti pendidikan di sekolah.

Jika sebatas hanya memberikan pengajaran agama Islam yang lebih menekankan aspek kognitif. Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di sekolah penuh tantangan. belum bisa dikatakan pendidikan agama Islam itu berhasil. Begitu pula sebaliknya.kenyataan pendidikan agama Islam di sekolah masih banyak hal yang belum memenuhi harapan. tetapi kalau memberikan pendidikan yang meliputi tidak hanya kognitif tetapi juga sikap dan keterampilan. Inilah yang belum memenuhi harapan dan keinginan kita. keislaman mereka ini adalah tanggung jawab moral. jika sikap dan/atau keterampilannya bagus tetapi kognitifnya kurang. bisa mengerti dan mampu melaksanakan pokok-pokok ajaran agama atau kewajiban-kewajiban ‘ainiyah seperti syarat dan rukun shalat. maka tentu yang kita inginkan adalah peserta didik bukan hanya mengerti tetapi juga dapat melaksanakan praktek-praktek ajaran Islam baik yang bersifat pokok untuk dirinya maupun yang bersifat kemasyarakatan. mungkin guru bisa melakukannya. Peserta didik yang mendapatkan nilai kognitifnya bagus belum bisa dikatakan telah berhasil jika nikai sikap dan keterampilannya kurang. Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah bagi peserta didik mengandalkan pendidikan agamanya hanya dari sekolah. karena orang-orangnya sibuk dan jarang sekali tempat-tempat yang memungkinan mereka belajar agama Islam. Maka sekolah nampaknya belum bisa memberikan harapan itu karena terbatasnya waktu alokasi atau jam pelajaran di sekolah. hampir sebagian besar umat Islam menginginkan peserta didiknya bisa membaca Al Quran. Namun bagi peserta didik yang tinggal di daerah yang ada madrasah diniyah atau pesantren mengikuti pendidikan agama Islam di sekolah tidak terlalu . akan lebih baik apabila menciptakan berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang memungkinkan mereka bisa belajar agama Islam lebih banyak lagi. Oleh karena itu jangan hanya mengandalkan guru-guru yang hanya mengajar di sekolah saja. Jadi guru ini kalau dipercaya untuk mendidik pendidikan agama Islam di sekolah. guru akan mengalami kesulitan. Kita tahu bahwa sekarang di kota-kota pada umumnya mengandalkan pendidikan Islam di sekolah saja. Misalnya kalau guru memberikan pendidikan agama Islam kepada peserta didik. karena secara formal penyelenggaraan pendidikan Islam di sekolah hanya 2 jam pelajaran per minggu. Jadi apa yang bisa mereka peroleh dalam pendidikan yang hanya 2 jam pelajaran. praktek pendidikan agama Islam di sekolah. Contoh lainnya. tetapi juga sikap dan keterampilan peserta didik. Karena di dalam pendidikan agama Islam bukan hanya memperhatikan aspek kognitif saja. namun bisakah orang tua mengandalkan kepada sekolah agar peserta didiknya bisa membaca Al Quran.

yaitu peserta didik belajar agama Islam dari sisa waktu yang dimiliki oleh orang tuanya. kedua pelaksanaan pendidikan agama Islam.banyak menghadapi masalah. yaitu hanya 2 jam pelajaran per minggu. Cara ini memang membutuhkan tambahan fasilitas. Pembelajaran dilakukan bisa di sekolah. waktu. maka guru yang menjadi ujung tombak pembelajaran di lapangan/sekolah. yaitu pertama sumber daya guru. Menghadapi kendala dan tantangan ini. dan ketiga terkait dengan kegiatan evaluasi dan pengujian tentang pendidikan agama Islam di sekolah. Dalam pendidikan agama Islam banyak yang mesti dikuasai oleh peserta didik. Gambaran umum tentang mutu pendikan pendidikan agama Islam di sekolah belum memenuhi harapan-harapan dalam peningkatan kualitas pendidikan agama Islam di sekolah yang menjadi agama sebagai benteng moral bangsa. Tetapi kondisi semacam ini pada masa sekarang sudah sulit dijumpai. Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan penyediaan guru . 1. Kondisi ini dipengaruhi sekurangkurangnya oleh tiga faktor. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik antara guru dengan orang tua. perlu merumuskan model pembelajaran sebagai implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). tapi itulah tantangan guru yang tidak hanya mengajar tetapi memiliki semangat dakwah untuk menyebarkan ilmu di mana pun dan kapan pun. khususnya kurikulum mikro pada kurikulum agama Islam di sekolah. Pendidikan mutu guru sebagai pendidik dan tenaga kependikan dilaksanakan dengan mengacu pada standar pendidik dan tenaga kependidikan mata pelajaran dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP). penanaman akidah. Peserta didik belajar agama Islam dengan mengundang ustadz ke rumahnya. dan tenaga guru. Kendala dan tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran agama Islam di sekolah antara lain karena waktunya sangat terbatas. Ada pula peserta didik yang hanya mengandalkan pendidikan agama Islam dari sekolahnya tanpa mendapatkan tambahan belajar agama dari tempat lain. Ada beberapa kemungkinan yang dihadapi oleh peserta didik. praktek ibadah. karena mereka bisa sekolah dan bisa juga belajar agama Islam di diniyah atau pesantren. Bisa pula di rumah atau tempat yang disetujui. seperti berkaitan dengan pengetahuan. yaitu di kelas atau di mushala. pembinaan perilaku atau yang dalam Undang-Undang disebut pembinaan akhlak mulia. Cara yang bisa ditempuh guru dalam menambah pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pembelajaran ekstra kurikuler dan tidak hanya pembelajaran formal di sekolah. Sumber daya manusia berupa guru. Waktu belajarnya tentu diluar jam pelajaran formal.

karena peningkatan kemampuan itu harus dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu guru perlu dibina dalam bentuk kelompok kerja guru mata pelajaran yang dikenal dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk meningkatkan kemampuannya. kemudian ada kuliah secara tatap muka di tempat yang sudah ditunjuk dan disepakati antara mahasiswa dengan dosennya. dan juga melakukan sertifikasi guru pendidikan agama Islam. belajar sepanjang hayat. Kalau kelas jauh perguruan tinggi membuka kelas di luar kampusnya. tanya jawab. Namun lulusan S1 ini belum mejadikan guru yang bermutu dalam menyampaikan pendidikan agama Islam. dan pengayaan terhadap . Di dalam modul itu ada tujuan pembelajarannya yang harus dicapai setelah menyelesaikan satu materi pelajaran. Di MGMP digunakan sebagai forum meningkatkan kemampuan secara internal melalui upaya diskusi kelompok atau belajar kelompok. namun berbeda dengan kelas jauh dari suatu perguruan tinggi. Tetapi pada waktu-waktu tertentu mereka diberikan kesempatan untuk berkumpul di suatu tempat yang ditentukan. Guru pendidikan agama Islam di sekolah dilihat dari segi latar belakang pendidikan kira-kira 60% khususnya sudah mencapai S – 1 dari berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dualmode system adalah dua modus belajar yaitu menggunakan modul sebagai bahan belajar mandiri (BBM). Apalagi zaman sekarang perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat yang jika tidak diikuti maka guru akan ketinggalan informasi. Jadi yang dipelajari adalah modul sebagai bahan kuliah. pendidikan dasar. pemberian bea peserta didik Strata 1 (S – 1) untuk guru pendidikan agama Islam. kemudian dosennya datang untuk memberikan respons. ada materi pelajaran yang diajarkannya kemudian langsung dilengkapi dengan format evaluasinya. Program belajar jarak jauh belajarnya menggunakan sarana atau alat. dengan alat utamanya berupa modul. diskusi. Mereka belajar sendiri dan mengukur kemampuan sendiri. serta informal.pendidikan agama Islam untuk satuan pendidikan peserta didik usia dini. pendidikan menengah. sehingga menyulitkan untuk mengontrol kualitas pembelajaran dan kualitas lulusannya. dan pendidikan tinggi pada jalur formal dan non formal. Dilakukan pula pendidikan dan pelatihan metode pembelajaran pendidikan agama Islam. minal mahdi ilallahdi. Dualmode system itu hakekatnya sama dengan Universitas Terbuka yang melaksanakan belajar jarak jauh. Peningkatan kemampuan guru juga diberikan kepada guru-guru yang belum mencapai gelar S – 1 sesuai dengan Undang-Undang yaitu memberikan kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa banyak meninggalkan tugas-tugas di sekolah yaitu dengan merancang suatu program pendidikan dualmode system.

pertama adanya jalur resmi untuk mengikuti pendidikan S1. 2. Ada dua jalur/cara dalam rangka peningkatan kualitas kemampuan guru. Inilah yang disebut dengan belajar jarak jauh plus tatap muka. kedua yang rutin mengikuti kegiatan-kegiatan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). 107/U/2001 tentang PTJJ (Perguruan Tinggi Jarak Jauh). tetapi tetap harus datang ke tempat-tempat yang telah ditunjuk untuk kuliah tatap muka. pengembangan kultur budaya Islami dalam proses pembelajaran. Dengan demikian guru-guru tidak terlalu berat meninggalkan waktu sekolah. tidak belajar. Sebagai orang Islam kita berpegang kepada suatu kaidah yang menyatakan bahwa kalau hari ini lebih jelek dari hari kemarin. Dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa jadilah kalian orang yang mengajar. Untuk itu dilakukan kegiatan-kegiatan seperti pengembangan metode pmbelajaran pendidikan agama Islam. maka celaka.modul yang sudah dipelajari tersebut. 20 tahun 2003 pasal 31 dan SK Mendiknas No. Secara UndangUndang pun kegiatan ini legal. Begitu pula ujiannya diisi langsung oleh dosen. Dalam Undang-Undang itu secara lebih spesifik mengizinkan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk melaksanakan pendidikan melalui cara Perguruan Tinggi Jarak Jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. dan kalau hari ini lebih bagus dari hari kemarin. Kalau hari ini sama dengan hari kemarin. Dari kedua jalur ini. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan agama Islam berorientasi pada penerapan Standar Nasional Pendidikan. Janganlah jadi yang keempat yaitu tidak mengajar. diharapkan guru pendidikan agama Islam di sekolah tidak berjalan begitu saja dan kemampuannya juga tidak meningkat. Untuk itulah guru yang harus selalu meningkatkan kualitas dirinya. Belajar jarak jauh ini tidak boleh diselenggarakan atau dibuka oleh perguruan tinggi yang tidak ditugasi. jadi harus dikendalikan atau dikoordinasikan. maka beruntung. karena ada pasal atau Bab dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. dan tidak mendengar. . misalnya dengan memanfaatkan perangkat komputer dengan internetnya seperti elearning atau e-mail. atau jadilah orang-orang belajar atau kalau tidak kedua-duanya sekurang-kurangnya mendengarkan. maka rugi. Maka harus ada upaya-upaya untuk terus menerus belajar minal mahdi ilallahdi. dan pengembangan kegiatan-kegiatan kerokhanian Islam dan ekstrakurikuler.

antara lain pertama. Pelaksanaan pendidikan agama Islam tidak hanya disampaikan secara formal dalam suatu proses pembelajaran oleh guru agama. Kemudian supaya guru-guru memenuhi tuntutan itu. Misalnya membina peserta didik belajar Al Quran. Kalau tidak melalui ekstrakurikuler dan dikontrol satu persatu maka tidak akan ketemu orang yang memang memerlukan pembinaan itu. praktek wudlu maupun praktek sholat dan sebagainya. Yang jadi persoalan adalah kalau seorang guru agama ditugasi mengajar di sekolah. Sedangkan implikasi bagi guru itu sendiri adalah guru dituntut untuk melaksanakan kewajiban menyelenggarakan proses pembelajaran sebanyak 24 jam per minggu. sehingga maksimal pembelajaran yang dilaksanakan guru adalah 18 jam pelajaran. Berarti guru tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan tugas yang diberikan oleh pemerintah. namun dapat pula dilakukan di luar proses pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Tuntutan itu harus benar-benar diperhitungkan karena pemerintah memberikan dan menaikkan tunjangan-tunjangan bukan hanya gaji kepada guru yang melaksanakan tugas kewajibannya sesuai dengan jumlah jam pelajaran yang sudah ditentukan. Untuk ekstra kurikuler banyak yang bisa dilakukan. Jadi yang namanya mengajar itu jangan hanya cukup di dalam kelas saja. Mulai tahun 2009 ini sekurang-kurangnya gaji guru ini bisa memperoleh penghasilan 4 juta rupiah kalau sudah disertifikasi. Pendidikan agama merupakan tugas dan tanggung jawab bersama semua guru. Jadi seharusnya dilakukan diskusi-diskusi dengan guru-guru agama untuk memenuhi tuntutan kewajiban mengajar.Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah masih menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Implikasinya adalah guru tersebut tidak berhak memperoleh tunjangan-tunjangan sebagai guru karena kewajiban mengajarnya belum memenuhi syarat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Artinya bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru agama saja melainkan juga guru-guru bidang studi lainnya. peserta didik dikalkulasikan waktunya hanya 2 jam pelajaran per minggu untuk mendidik agama. misalnya di sekolah dasar (SD) ada 6 kelas kemudian di satu kelas guru mengajar 3 jam pelajaran. Guru bisa memberikan pendidikan agama ketika menghadapi sikap atau perilaku peserta didik. dari segi jam pelajaran yang disediakan oleh sekolah secara formal. Coba bandingkan dengan mata pelajaran lainnya yang bisa mencapai 4 – 6 jam per minggu. Sehingga upaya pemerintah ini cukup bagus yaitu dengan menaikkan kesejahteraan guru. Guru-guru bidang studi itu bisa . Banyak faktor yang menyebabkan keprihatinan itu. apalagi kelas itu kurang dari tuntutan minimal wajib mengajar. maka guru dapat menggunakan ekstra kurikuler di dalam pembinaan agama Islam. Implikasinya bagi peserta didik adalah hasil belajar yang diperolehnya sangat terbatas.

Guru melakukan pengamatan terhadap perilaku sehari-hari peserta didik tersebut apakah peserta didik itu shalat? Kalau dilaksanakan apakah shalatnya benar sesuai tata caranya? Evaluasi ini sebetulnya menentukan status peserta didik tentang hasil belajarnya itu apakah sudah mencapai tujuan yang ingin dicapai atau tidak. dan evaluasinya itu bukan hanya hafal tentang kaidah-kaidah tentang kemampuan kognitif saja tetapi juga yang bersifat praktikal. prakteknya atau keterampilan (psikomotor) dan sikapya (afektif). tetapi ketika dievaluasi dia mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik yang rajin belajar agama. Misalnya ada peserta didik yang jarang sekolah. sehingga menjadi bahan untuk dipertimbangkan peserta didik lulus atau tidak lulus di suatu lembaga pendidikan. dan semangat keagamaan sehingga menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan yang bertujuan memberikan bekal kemampuan yang bersifat kognitif. tetapi harus dievaluasi juga sikap. Dari hasil pendidikan agama yang dilakukan secara bersama-sama ini.menyisipkan pendidikan agama ketika memberikan pelajaran bidang studi. afektif. Mengenai evaluasi pendidikan agama Islam ini terkadang terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Oleh karena itu evaluasi pendidikan agama Islam jangan hanya mengandalkan evaluasi kemampuan kognitif saja. Kalau tujuan agama itu adalah supaya peserta didik bisa menjalankan agama Islam dengan baik maka evaluasinya harus sesuai. praktek dan perilaku. malas dan merasa terpaksa mengikuti pelajaran agama. Minimum essential dalam teori kurikulum Dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan agama dan keagamaan menjadi bagian dari pendidikan nasional. perilaku jujur. sikap. 3. dan pengalaman keagamaan yang baik dan benar. dan psikomotor tentang suatu agama yang dianut . Artinya yang salah itu adalah evaluasinya karena yang dilakukan hanyalah mengukur unsur kognitifnya saja. dapat membentuk pengetahuan. Peserta didik akan mempunyai akhlak mulia. serta sikap peserta didik sebagai orang yang menganut ajaran agama Islam. Ujiannya jangan sekedar mengukur kemampuan kognitif melainkan juga kemampuan yang bersifat psikomotor. perilaku. Melakukan Evaluasi. disiplin. Berkaitan dengan evaluasi pendidikan agama Islam. ada usulan yang kuat dari berbagai kalangan agar pendidikan agama Islam sebaiknya masuk pada ujian nasional.

Guru pun harus mencari model-model pembelajaran yang efektif agar materi pelajaran yang essensial minimum itu bisa diberikan secara penuh dan dipahami peserta didik. atau memberikan bekal kemampuan yang bersifat minimum tetapi essensial. atau syarat sahnya shalat. wajib. Contoh lainnya tentang materi zakat. Dalam pemahaman zakat akan berbeda antara yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren dan yang tidak pernah ikut pesantren. Sungguh berat memang tantangan yang harus dihadapi dan dilaksanakan guru pendidikan agama Islam.peserta didik. Guru perlu membuat kriteria-kriteria essensial minimum dari pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah. kemudian dibuat pendalaman atau perluasannya yang proses pembelajarannya bisa di sekolah atau ekstra kurikuler. Misalnya apakah akan terjadi kesulitan ketika mengajarkan keimanan agar dipahami secara . tetapi ketika peserta didik itu sudah baligh dan memiliki kewajiban melaksanakan shalat. Jika merujuk pada Imam Ghazali yang mengungkapkan “suatu ilmu itu wajib dipelajari ketika dia akan melaksanakan kewajiban itu. yaitu kemampuan-kemampuan minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik terkait dengan penguasaan agama Islam.” Jadi bagi orang yang belum akan berzakat merasa belum perlu memahami tentang zakat. guru perlu menerapkan yang dalam teori kurikulum disebut minimum essential. Oleh karena itu. khususnya agama Islam. Sehingga pembelajaran itu benar-benar menjadi fungsional karena sesuai dengan tujuan dan kebutuhan peserta didik yang mempelajari materi tersebut. Itulah pokok dari essensial minimum dalam pengembangan kurikulum. padahal waktu yang tersedia sangat terbatas hanya 2 jam pelajaran per minggu. minimal bisa menjalankan hal-hal yang minimal dikuasainya. maka dia harus mempelajari tata cara shalat. Misalnya peserta didik lebih diprioritaskan mempelajari dan memahami pokok-pokok cara mengerjakan shalat yang meliputi rukun. Namun ketika akan berzakat maka dia wajib meningkatkan kemampuannya untuk memahami pokok-pokok cara-cara berzakat. Sehingga ketika peserta didik ini lulus dari jenjang pendidikan tertentu. Oleh karena itu dalam merancang pendidikan agama Islam yang harus dipilih adalah materi-materi yang penting yang minimal harus dikuasai oleh peserta didik. Jangan sampai materi pelajaran yang seharusnya belum perlu dipahami peserta didik tetapi sudah dipelajari oleh peserta didik tersebut. Begitu pula peserta didik yang belum wajib shalat belum wajib mempelajari tata cara shalat. Kendala yang dihadapi dalam mengajarkan pendidikan agama Islam adalah kurang seimbangnya materi pelajaran yang diberikan dalam pendidikan agama Islam dengan alokasi waktu yang diberikan dalam kurikulum sekolah yaitu 2 jam pelajaran per minggu. dengan memberikan kemampuan dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam sebagai seorang muslim.

Misalnya jika peserta didik mempelajari tentang ibadah bukan hanya memahami konsep tentang ibadah saja namun juga melakukan praktek ibadah tersebut. Namun memiliki jiwa dan semangat sebagai muslim yang mempunyai kewajiban untuk mengajar menyampaikan ilmu pengetahuan dan mendidik peserta didik sehingga dapat menyiarkan dan melestarikan agama Islam. Pendidikan agama Islam dilakukan oleh guru dengan cara seperti mengajarkan mata pelajaran lain yang lebih menekankan aspek kognitif. Orientasi model pembelajaran pendidikan agama Islam perlu memperhatikan beberapa hal. Peserta didik lebih banyak dijejali dengan berbagai informasi dan pengetahuan. sikap guru pendidikan agama Islam dalam mengajar. bukan hanya mengetahui atau memahami suatu pengetahuan. Pemahaman terhadap materi pembelajaran akan selesai setelah mengikuti pelajaran tersebut tanpa ada dampak atau pengaruhnya (nurturant effect) terhadap peserta didik dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. Ketiga. Kedua. pada aspek pengetahuan. padahal peserta didik usia SD belum sampai pada . pengaruh-pengaruh dari luar atau lingkungan. Begitu pula ketika mengajarkan zakat. Materi pembelajaran dalam kurikulum pendidikan agama Islam kurang berorientasi pada kehidupan nyata sehari-hari peserta didik. mempertimbangkan kurikulum dengan memperhatikan materi essensial yang memungkinan diberikan kepada peserta didik dengan tetap mengacu pada standar nasional dalam merancang kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah. terkadang diajarkan secara tidak realistik.kuat oleh peserta didik? Apakah cukup hanya dengan menceramahinya tentang rukun iman? Dalam mengajarkan agama banyak tantangannya. baik lokal maupun global yang membawa pengaruh negatif. memperhatikan proses pembelajaran atau model pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah baik di dalam kelas (intra kurikuler) maupun ekstra kurikuler. Peserta didik SD sudah mendapatkan materi pembelajaran tentang zakat yang sangat banyak dan mendalam sampai menyita waktu banyak dan mengabaikan materi pembelajaran lainnya. dan keterampilannya. Mempertimbangkan kurikulum dengan memperhatikan materi essensial yang memungkinan diberikan kepada peserta didik perlu memperhatikan materi pembelajaran. Guru pendidikan agama Islam tidak hanya memikirkan tuntutan kewajiban formal mengajar di sekolah. pertama. Inilah yang seharusnya dikembangkan dalam kurikulum pendidikan agama Islam sehingga mempunyai dampak atau pengaruh yang nyata dalam kehidupan peserta didik. Sasaran pendidikan agama Islam adalah membentuk perilaku peserta didik yang sesuai dengan ajaran agama. sikap. seperti pikiran peserta didik yang pragmatis.

Oleh karena itu ruang lingkup dan urutan materi pendidikan agama Islam perlu diatur dengan baik dan tepat disesuaikan dengan karakteristik dan usia peserta didik. Buku teks yang digunakan hendaknya bervariasi agar mendapatkan materi pembelajaran yang luas. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 ada hal yang menggembirakan yaitu disamakannya madrasah dengan jenjang sekolah. Buku pedoman guru untuk membantu guru mencapai tujuan pengajaran yang digunakan baik untuk menyusun silabus maupun menyusun buku yang digunakan oleh guru dalam mengajar. Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan dilaksanakan melalui sejumlah kegiatan seperti penyediaan buku pedoman guru pendidikan agama Islam. sehingga ketika menyusun silabus akan terhindar dari kesalahan konsep. Oleh karena itu perlu . Akhirnya materi pembelajaran tidak menyentuh pada hal-hal yang penting dari pelajaran itu. karena mengikuti pendidikan hanya 6 jam pelajaran per minggu apalagi dengan mengikuti pendidikan formal. Buku teks sebagai sumber bahan belajar utama dalam penyusunan silabus. sehingga tugas gurulah untuk aktif dan kreatif mengembangkan materi pembelajaran tersebut.kemampuan untuk berzakat. dan penyediaan alat peraga pendidikan agama Islam. dan materi pembelajaran. Materi pembelajaran pada buku kurikulum hanya pokok-pokok materi pembelajaran. Bagi guru-guru di sekolah buku pelajaran merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan pembelajaran. Sehingga tidak menutup kemungkinan ke depannya lulusan madrasah yang membaca Al Quran belum benar. kemudian diatur pula alokasi waktunya yang tepat. Pengembangan pendidikan agama Islam pada sekolah yang mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) khususnya standar sarana dan prasarana pendidikan. kompetensi dasar. Madrasah yang kini sudah menjadi sekolah umum yang bercirikan Islam saja dengan kurikulum yang 6 jam pelajaran per minggu itu belum tentu bisa membekali peserta didik memiliki pemahaman yang baik tentang Pendidikan Agama Isalam kalau tidak mengaji dan melakukan kegiatan pendukung lainnya yang memadai. sebaiknya tidak satu jenis atau dari satu orang pengarang. tetapi kekhawatirannya juga ada yaitu berkurangnya jam-jam pelajaran terutama yang berkaitan dengan keagamaan. Buku pedoman guru sangat penting sebagai pedoman untuk menentukan standar kompetensi. Buku teks atau buku pelajaran merupakan sumber bahan rujukan. penyediakan buku teks atau buku pelajaran pendidikan agama Islam.

Media cetak seperti buku. kaset. Penyediaan alat peraga pendidikan agama Islam berkaitan dengan media pembelajaran yang merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran seperti media cetak. Hal ini ditunjukan antara lain dengan mengintegrasikan wawasan keagamaan pada kurikulum pendidikan. VCD/DVD. Kelemahan dan Kelebihan Pendidikan Agama Islam . dalam kurikulum pendidikan. koran. media pembelajaran elektronik. film. televisi. Dari media elektronik ini yang dimanfaatkan adalah harda ware (perangkat keras) dan terutama soft warenya (perangkat keras) berupa program-programnya yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam. dan sebagainya.diperhatikan scope (ruang lingkup) dan sequence (urutan) isi materinya agar mudah memudahkan dipahami baik oleh guru maupun peserta didik. Media elektronik adalah komputer (seperti internet). jurnal. Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Islam di Indonesia E. buku referensi keagamaan dan tempat ibadah. Selain itu. majalah. dan sebagainya yang berkaitan langsung dengan materi pendidikan agama Islam atau materi pelajaran yang sifatnya umum. Buku pelajaran pendidikan agama Islam dalam penyusunannya hendaknya selalu memperhatikan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia Indonesia yang bertakwa dan berbudipeketi luhur. dan sebagainya. perlu menyediakan dukungan bahan dan sarana pembelajaran seperti kitab suci. radio. bulletin. D. Pendidikan Agama Islam dikembangkan dengan menempatkan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa sebagai spirit dalam proses pengelolaan dan pembelajaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful