P. 1
Kebijakan Perbaikan Gizi Di Jawa Timur

Kebijakan Perbaikan Gizi Di Jawa Timur

|Views: 336|Likes:
Published by M. Subaidi Muchtar
Sehat adalah hak asasi manusia, dan kesehatan dasar di Jawa Timur Masih merupakan masalah yang cukup serius. Kematian bayi masih cukup tinggi, tercatat bahwa 2,7 % angka kematian Bayi pada tahun 2009 dari 3.200.000 kelahiran. itu berarti 86.400 kasus kematian bayi karena diakibatkan kekurangan gizi.
Sehat adalah hak asasi manusia, dan kesehatan dasar di Jawa Timur Masih merupakan masalah yang cukup serius. Kematian bayi masih cukup tinggi, tercatat bahwa 2,7 % angka kematian Bayi pada tahun 2009 dari 3.200.000 kelahiran. itu berarti 86.400 kasus kematian bayi karena diakibatkan kekurangan gizi.

More info:

Published by: M. Subaidi Muchtar on Aug 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

KEBIJAKAN PERBAIKAN GIZI DI JAWA TIMUR : Menjamin Hak Asasi Manusia Oleh : M. Subaidi Muchtar, M.Si.

(Waket DPC Partai Kebangkitan Bangsa Kab. Jombang)

A. Pendahuluan Sehat adalah hak asasi manusia, seperti halnya hak-hak lain seperti hak hidup, hak berbicara dan hak-hak sipil lainnya sebagaimana tertera dalam deklarasi universal PBB tahun 1948. Sehat memungkinkan orang hidup sejahtera, dan produktif. Sehat memungkinkan keluarga tumbuh dan

berkembang, serta berkontribusi produktif dan positif didalam. Dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Sasaran yang ingin dicapai dibidang pembangunan kesehatan adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), dan menurunkan prevalensi gizi kurang. Dalam pencapaian MDG·S setiap negara diupayakan untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan serta mengurangi tingkat kematian anak. Hal ini berkaitan erat dengan aspek gizi dan pangan masyarakat. Status gizi serta ketersediaan pangan di masyarakat yang baik pastinya dapat mengatasi situasi kesehatan dan kelaparan ini. Akan tetapi permasalahan gizi dan pangan di Indonesia banyak mengalami hambatan akibat kemiskinan dan pelaksanaan program kebijakan yang ada. Di Indonesia, merebaknya kasus gizi buruk atau malnutrisi pasca krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu, masih menjadi bahasan dan dapat kita saksikan di media masa hingga kini. Sebelumnya Indonesia merupakan negara swasembada pangan (beras) yang dapat dikatakan sejahtera, akan tetapi sekarang dengan kondisi negara yang jauh berbeda, kita belum dapat menuntaskan masalah pangan kita. Masyarakat Indonesia yang merupakan

negara yang berkembang ini, status gizi buruk dan kurang sangatlah besar bila dibanding negara-negara Asia lainnya. Permasalahan gizi buruk ini tentu tidak hanya masalah pada status gizi masyarakat akan tetapi juga berhubungan dan mempengaruhi status kesehatan dan pangan masyarakat. Sehingga dalam

melaksanakan penyelesaian masalah gizi dibutuhkan pertimbangan pada aspek kesehatan dan pangan. Tingginya keadaan gizi buruk juga sangat terasa di Provinsi Jawa Timur, hususnya Balita. Data dari Dinkes Provinsi Jawa Timur, jumlah balita di Jawa Timur tahun 2009 tercatat 3.027.298, yang mengalami Gizi buruk 2,7 %. Kondisi Sosial itulah yang kemudian memberikan inspirasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Timur untuk mendesain kebijakan perbaikan Gizi kedalam sebuah produk legislasi berupa Peraturan Daerah Tentang Perbaikan Gizi di Jawa Timur.

B. Landasan Raperda Perbaikan Gizi Terdapat 2 (dua) landasan utama yang dapat dijadikan dasar Raperda Perbaikan Gizi di Jawa Timur Pertama, bahwa pangan dan perbaikan gizi setiap warga negara adalah hak azasi manusia yang didasarkan atas 4 (empat) hal berikut: a. Universal Declaration of Human Right (1948) dan The International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (1966) yang meny ebutkan bahwa ´everyone should have an adequate standard of living, including adequate food, cloothing, and housing and that the fundamental right to freedom from hunger and malnutritionµ. b. Rome Declaration on World Food Security and World Food Summit 1996 yang ditanda tangani oleh 112 kepala negara atau penjabat tinggi dari 186 negara peserta, dimana Indonesia menjadi salah satu di antara penandatangannya. Isinya adalah pemberian tekanan pada human right to adequate food (hak atas pemenuhan kebutuhan pangan secara cukup), dan perlunya aksi bersama antar negara untuk mengurangi kelaparan. c. Millenium Development Goals (MDGs) menegaskan bahwa tahun 2015 setiap negara termasuk Indonesia menyepakati menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuhnya. d. Hari Pangan Sedunia tahun 2007 menekankan pentingnya pemenuhan Hak Atas Pangan.

Kedua, Berbagai Kebijakan dan Strategi Pemerintah dalam pengembangan program penanggulangan masalah gizi secara nasional, baik yang sudah berupa buku panduan program maupun yang masih be rupa dokumen telah banyak diterbitkan oleh Pemerintah diantaranya : a. Kepmenkes Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Penilain Status Gizi Anak b. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bansos Perbaikan Gizi tahun 2009 c. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Masyarakat (SPM) Penyelenggaraan Perbaikan Gizi Masyarakat d. Petunjuk Teknis Bantuan Sosial Program Perbaikan Gizi Masyarakat Tahun 2008 e. Kepmenkes RI tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia f. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan g. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan h. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

C. Muatan Raperda Yang Membutuhkan Perhatian Dalam draf Raperda Perbaikan Gizi yang membutuhkan beberapa perhatian diantaranya adalah : No 1 Muatan Asas Perbaikan Gizi Draf Didalam draf Raperda Bab II pasal 2 disebutkan bahwa : Asas-asas perbaikan gizi masyarakat adalah a. Berpihak kepada masyarakat b. Bertindak cepat dan akurat Analisis/Evaluasi Peraturan Daerah tentang Perbaikan Gizi secara filosofis dan sosiologis bertujuan : a. Peningkatan derajat kesehatan

masyarakat b. Pengurangan kesenjangan

c. Menguatkan lembaga dan kerja sama d. Transparansi e. Peka Budaya f. Akuntabilitas

kesehatan Oleh sebab itu Perda ini perlu memasukkan asas Keadilan Sosial sebagai spirit ditetapkannya Perda Perbaikan Gizi di Jawa Timur.

2

Pengawasan Mutu Makanan dan Laboratorium Gizi

Didalam Bab VIII pasal 10 disebutkan bahwa : (1) Setiap Produsen yang memproduksi makanan untuk diperdagangkan wajib

Terhadap Bab VIII ini, secara konseptual memang sangat strategis untuk menjamin tersedianya bahan makanan yang sehat bagi masyarakat. Hal ini diatur dalam

menyelenggarakan berbagai Undangsistem pengawasan mutu makanan sesuai degan jenis makanan yang diproduksi. (2) Sistem pengawasan mutu makanan meliputi komposisi zat gizi, angka kecukupan gizi dan bahan tambahan makanan Undang tentang pangan dan perlindungan konsumen. Namun masalahnya bahwa didalam Draf Raperda ini belum menetapkan Sanksi terhadap produsen dan pengedar makanan yang membayakan kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu perlu disarankan bahwa

(3) Sistem pengawasan mutu makanan direkomendasikan oleh tenaga gizi terlatih (4) Terhadap makanan tertentu yang diperdagangkan, Pemerintah menetapkan persyaratan agar makanan tersebut terlebih dahulu diuji secara laboratoris sebelum peredarannya (5) Pengujian secara laboratoris dilakukan di laboratorium yang ditunjuk oleh dan atau telah memperoleh akreditasi Pemerintah (6) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada

perlu ada penambahan Bab dan pasal yang mengatur tentang Sanksi bagi produsen dan pengedar makanan yang membahayakan terhadap kesehatan masyarakat.

ayat (1)-(5) dilakukan secara terorganisisr dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Provinsi serta Instansi terkait dan ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur 3 Badan Koordinasi Dalam Bab IX pasal 11 Gizi Daerah yang mengatur tentang Badan Kordinasi Gizi Daerah di rumuskan klausul sebagai berikut : (1) Badan Kordinasi Gizi Daerah sebagai Lembaga Non Struktural adalah wadah kordinasi lintas sektor dibidang gizi yang membantu Gubernur dalam Perencanaan dan pelaksanaan usaha perbaikan gizi masyarakat. Pasal ini dimaksudkan untuk menyiapkan sebuah wadah yang fungsi dan kedudukannya membantu Gubernur dalam perencanaan dan kordinasi perbaikan gizi masyarakat. Namun masih membutuhkan kejelasan beberapa hal yang secara lebih detail diatur didalam Raperda ini yang meliputi : (1) Bagaimana Status

(2) Badan Kordinasi Daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat memberikan advokasi kepada Kabupaten/Kota sehubungan dengan perbaikan gizi masyarakat. (3) Pembentukan Badan Koordinasi Gizi Daerah pada ayat (1) ditetapkan dalam Keputusan Gubernur

kelembagaan yang dikategorikan sebagai Lembaga Non Struktural tersebut (2) Bagaimana Tugas Pokok, fungsi dan kewenangannya secara lebih detail (3) Bagaimana rentang kendali dan atau kordinasi yang dimaksudkan. (4) Apa persyaratan keanggotaan Badan Kordinasi Gizi Daerah

4

Sanksi

Didalam Draf Raperda Perbaikan Gizi tidak mencantumkan Sanksi terhadap pelanggar Peraturan Daerah ini.

Terhadap pelanggar Peraturan Daerah ini perlu ditetapkan adanya Sanksi. Sanksi tesebut meliputi sanksi administrasi, perdata

dan pidana bagi perusahaan makanan dan minuman, penyelenggara makanan seperti restoran, kantin sekolah, perusahaan makanan dan lain-lain yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Daerah tentang Perbaikan Gizi.

D. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Sebagai sebuah Draf Raperda yang mengatur tentang perbaikan gizi di Jawa Timur bertujuan untuk meningkatan derajat kesehatan masyarakat Serta pengurangan kesenjangan kesehatan di Provinsi Jawa Timur, masih terdapat beberapa muatan yang membutuhkan perhatian lebih serius yang meliputi : Pertama, terkait dengan Asas yang lebih substantif dan relevan dengan tujuan ditetapkannya Perda ini. Kedua, Pengawasan Mutu Makanan dan Laboratorium Gizi. Ketiga, Badan Koordinasi Gizi Daerah. Keempat, Sanksi

2. Saran-Saran Guna penyempurnaan Draf Raperda Perbaikan Gizi di Provinsi Jawa Timur disarankan untuk dilakukan perbaikan muatan aturan yang menyangkut hal hal sebagai berikut :

Pertama, disarankan untuk memasukkan asas Keadilan Sosial sebagai spirit ditetapkannya Perda Perbaikan Gizi di Jawa Timur. Kedua, Terkait dengan Badan Kordinasi Gizi Daerah yang merupakan wadah yang fungsi dan kedudukannya membantu Gubernur dalam perencanaan dan kordinasi perbaikan gizi masyarakat, perlu ada kejelasan aturan didalam Perda ini yang meliputi : . (1) Bagaimana Status kelembagaan yang dikategorikan sebagai Lembaga Non Struktural tersebut (2) Bagaimana Tugas Pokok, fungsi dan kewenangannya secara lebih detail (3) Bagaimana rentang kendali dan atau kordinasi yang dimaksudkan. (4) Apa persyaratan keanggotaan Badan Kordinasi Gizi Daerah Ketiga, terkait dengan jaminan tersedianya bahan makanan yang sehat bagi masyarakat didalam Draf Raperda ini perlu ditetapkannya Sanksi terhadap produsen dan pengedar makanan yang membayakan kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu disarankan bahwa perlu ada penambahan Bab dan pasal yang mengatur tentang Sanksi bagi produsen dan pengedar makanan yang membahayakan terhadap kesehatan masyarakat.Terhadap pelanggar Peraturan Daerah ini perlu ditetapkan adanya Sanksi. Sanksi tesebut meliputi sanksi administrasi, perdata dan pidana bagi perusahaan makanan dan minuman, penyelenggara makanan seperti restoran, kantin sekolah, perusahaan makanan dan lain-lain yang melanggar ketentuan dalam Peraturan Daerah tentang Perbaikan Gizi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->