P. 1
PENGERTIAN

PENGERTIAN

|Views: 644|Likes:

More info:

Published by: Afhyeef Cup-Cup Garrhh on Aug 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

PENGERTIAN Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang teraba sebagai suatu nodul ,tanpa

disertai tanda – tanda hipertiroidisme,berdasarkan jumlah nodul ,dibagi : • Struma mononodosa non toksik • Struma multinodosa nontoksik Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif,nodul dibedakan menjadi : nodul dingin ,nodul hangat,nodul panas, Sedangkan berdasarkan konsistensinya ,nodul dibedakan menjadi ;nodul lunak ,nodul kistik, nodul keras,nodul sangat keras, DIAGNOSIS Anamnesis : • Sejak kapan benjolan timbul • Rasa nyeri spontan atau tidak spontan ,berpindah atau tetap • Cara membesarkanya : cepat atau lambat • Pada awalnya berupa satu benjolan yang membesar menjadi beberapa benjolan atau hanya pembesaran leher saja • Riwayat keluarga • Riwayat penyinaran daerah pada waktu kecil/muda • Perubahan suara • Gangguan menelan ,sesak nafas • Penurunan berat badan • Keluhan tirotoksikosis Pemeriksaan fisik ; • Umum • Local ; o Nodul tunggal atau majemuk,atau difus o Nyeri tekan o Konsistensi o Permukaan o Perlekatan pada jaringan sekitarnya o Pendesakan atau pendorongan trakea o Pembesaran kelenjar getah bening regional o Pemberton’s sign Penilaian risiko keganasan : Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan diagnostic penyakit tiroid jinak ,tetapi tak sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan kanker tiroid : • Riwayat keluarga dengan struma nodosa atau difusi jinak • Riwayat keluarga dengan tiroiditis hashimoto atau penyakit tiroid autoimun, • Gejala hipo atau hipertiroidisme • Nyeri berhubungan dengan nodul • Nodul lunak, mudah degerakan • Multinodul tanpa nodul yang dominant ,dan konsistensi sama. namnesis dan pemeriksaan fisik yang meningkatkan kecurigaan kearah keganasan tiroid : • Umur < 20 tahun atau > 70 tahun

fibrous-invasif ( riedel ) • Simple goiter • Struma endemic • Kista tiroid.irregular dan sulit digerakan • Paralysis pita suara • Temuan limpadenofati servikal • Metastasis jauh ( paru-paru ).kehamilan menopause. • USG tiroid o Pemantau kasus nodul yang tidak diopersi o Pemendu pada BAJAH • Sidik tiroid : o Bila klinis ganas. Biasanya dianggap membesar bila kelenjar tiroid lebih dari 2x ukuran normal.limpositik (hashimoto). Pembesaran kelenjar tiroid sangat bervariasi dari tidak terlihat sampai besar sekali dan mengadakan penekanan pada trakea.menstruasi.curiga penyakit hashimoto Definisi Struma adalah tumor (pembesaran) pada kelenjar tiroid.tetapi hasil scan : cold nodule – syrat sudah menjadi eutiroid.kista degenerasi • Adenoma • Karsinoma tiroid primer.tetapi hasil sitologi dengan BAJAH ( 2 X ).diperiksakan kalsitonik) • Pemeriksaaan antitiroglobulin bila TSHs meningkat.DLL Langkah diagnosis I :TSHs FT4 Hasil : non –toksis – langkah diagnostic H :BAJAH nodul tiroid Hasil .berbatas tegas .infeksi.metastatik • Limfoma PEMEIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium : T4 atau T3.pubertas laktasi. membuat dilatasi .keras. dan TSHs • Biosi aspirasi jarum halus ( BAJAH ) nodul tiroid o Bila hasil laboratorium. A ganas B curiga C jinak D tak cukup /sediaan tak representative DIAGNOSIS BANDING • Struma nodosa yang terjadi pada peningkatan kebutuhan terhadap tiroksin saat masa pertumbuhan .• Gender laki.serak atau obstruksi jlan napas • Pertumbuhan nodul cepat ( beberapa minggu – bulan ) • Riwayat radiasi daerah leher waktu usia anak – anak atau dewasa ( juga meningkatkan insiden penyakit nodul tiroid jinak ) • Riwayat keluarga kanker tiroid meduler • Nodul yang tunggal .laki • Nodul disertai disfagi .(awal ) toksik.stes lain . • Tiroiditis akut • Tiroiditis subakut • Tiroiditis kronis.jinakm . o Hasil sitologi dengan BAJAH : curiga ganas • Petanda keganasan tiroid ( bila ada riwayat keluarga dengan karsinoma tiroid medular. non –toksik o Bila hasil lab.

nodul hangat (warm nodule) . bila produksi hormon tiroksin kurang. • Eutiroid. Pada struma gondok endemik. Pada keadaan tertentu derajat 0 dibagi menjadi: • Derajat 0a: tidak terlihat atau teraba tidak besar dari ukuran normal. Defisiensi enzim deiodinase.3 Akhirnya. Keadaan inilah yang dapat menjelaskan mengapa kelenjar ini biasanya nodular. bila produksi hormon tiroksin normal. 3.nodul panas (hot nodule) Berdasarkan konsistensinya dibagi menjadi: (-) nodul lunak (-) nodul kistik (-) nodul keras (-) nodul sangat keras3.sistem vena serta pembentukan vena kolateral. di mana iodida tidak dioksidasi menjadi iodium. di dalam kelenjar tiroidnya timbul kelainan pada sistem enzim yang dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroid. yang selanjutnya menyebabkan peningkatan sekresi TSH (thyroid stimulating hormone) dan pertumbuhan yang progresif dari bagian kelenjar yang tidak meradang. Defisiensi sistem peroksidase. 2. bila tanpa tanda-tanda hipertiroidi Berdasarkan kemampuan menangkap iodium radioaktif. namun sebagian besar penderita menunjukkan gejala-gejala tiroiditis ringan. sehingga bentuk akhir dari hormon tiroid tidak terbentuk. ada beberapa makanan yang mengandung substansi goitrogenik yakni makanan yang mengandung sejenis propiltiourasil yang mempunyai aktifitas antitiroid sehingga juga menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid akibat rangsangan TSH. yang tidak mengalami penggandengan untuk membentuk hormon tiroid. nodul dibedakan menjadi: . yang tugasnya memproduksi hormon tiroksin. oleh karena itu.nodul dingin (cold nodule) . sehingga iodium dipompakan ke dalam sel jumlahnya tidak adekuat. . diduga tiroiditis ini menyebabkan hipotiroidisme ringan. Di antara kelainankelainan yang dapat dijumpai adalah: 1. • Hipotiroidi. Perez membagi klasifikasi menjadi: • Derajat 0: tidak teraba pada pemeriksaan • Derajat I: teraba pada pemeriksaan.2 Dari aspek fungsi kelenjar tiroid. tetapi tidak terlihat bila kepala ditegakkan. sehingga menyebabkan defisiensi iodium. dengan beberapa bagian kelenjar tumbuh namun bagian yang lain rusak akibat tiroiditis. yang mencegah pulihnya iodium dari tirosin teriodinasi. Defisiensi mekanisme pengikatan iodida. • Struma nodosa non toksik. bila produksi hormon tiroksin berlebihan. • Derajat 0b: jelas teraba lebih besar dari normal. sering juga disebut toksik (walaupun pada kenyataannya pada penderita ini tidak dijumpai adanya toksin). 4. pemeriksaan fisik. Defisiensi penggandengan tirosin teriodinasi di dalam molekul tiroglobulin. Beberapa bahan goitrogenik ditemukan pada beberapa varietas lobak dan kubis. maka bisa dibagi menjadi: • Hipertiroidi.6 Etiologi Penyebab pasti pembesaran kelenjar tiroid pada struma nodosa tidak diketahui. Diagnosis Diagnosis struma nodosa non toksik ditegakkan berdasarkan anamnesis. Pada beberapa penderita struma nodosa. terlihat hanya kalau kepala ditegakkan • Derajat II: mudah terlihat pada posisi kepala normal • Derajat III: terlihat pada jarak jauh.

Keempat jari lainnya diletakkan pada tepi belakang muskulus sternokleidomastoideus untuk meraba tepi lateral kelenjar tiroid tersebut. • Sebaliknya nodul dengan konsistensi lunak lebih sering jinak. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol ke depan. Karena pertumbuhannya berangsur-angsur. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah kontra lateral. walaupun nodul ganas tidak selalu mengadakan infiltrasi. Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernafasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan stridor inspiratoar. miosis dan enoftalmus (Horner syndrome) merupakan tanda infiltrasi atau metastase ke jaringan sekitar.penilaian resiko keganasan. Keluhan yang ada ialah rasa berat di leher. Jika ditemukan ptosis. Biasanya struma masih bisa digerakkan ke arah lateral dan susah digerakkan ke arah vertikal.pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tiroid: ada atau tidak2. keras . Sekitar 5% struma nodosa mengalami keganasan. Sewaktu menelan trakea naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena terfiksasi pada trakea.ukuran: dalam sentimeter. kenyal. dan pemeriksaan penunjang. diameter panjang . Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan. lobos kiri. muskulus sternokleidomastoidea .2. • 20% nodul soliter bersifat ganas sedangkan nodul multipel jarang yang ganas. • Infiltrasi nodul ke jaringan sekitarnya merupakan tanda keganasan. lunak.lokasi: lobus kanan. Di klinik perlu dibedakan nodul tiroid jinak dan nodul ganas yang memiliki karakteristik: • Konsistensi keras pada beberapa bagian atau menyeluruh pada nodull dan sukar digerakkan. Kelenjar tiroid yang normal teraba sebagai bentukan yang lunak dan ikut bergerak pada waktu menelan. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. ismus . sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya bilateral.nyeri: ada nyeri atau tidak pada saat dilakukan palpasi . tiroiditis dan sudah ada jaringan fibrosis setelah operasi. Pada umumnya struma nodosa non toksik tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipoatau hipertiroidisme. tetapi nodul multipel dapat ditemukan 40% pada keganasan tiroid • Nodul yang muncul tiba-tiba atau cepat membesar perlu dicurgai ganas terutama yang tidak . maka dilakukan dengan jari tangan kiri diletakkan di mediall di bawah kartilago tiroid. keganasan yang sudah menembus kapsul. dengan demikan tiroid lebih mudah dievaluasi dengan palpasi. Pada struma yang besar dan masuk retrosternal tidak dapat di raba trakea dan pole bawah tiroid. Struma menjadi terfiksir apabila sangat besar. Pada pemeriksaan fisik nodul harus dideskripsikan: . Pendorongan demikian mungkin tidak mengakibatkan gangguan pernafasan.mobilitas: ada atau tidak perlekatan terhadap trakea. walaupun nodul ganas dapat mengalamii degenerasi kistik dan kemudian menjadi lunak. Kemudian ibujari tangan kanan diletakkan di permukaan anterior benjolan. walaupun nodul yang mengalami kalsifikasi dapat dtemukan pada hiperplasia adenomatosa yang sudah berlangsung lama. Gunakan kedua tangan bersamaan dengan ibu jari posisi di tengkuk penderita sedang keempat jari yang lain dari arah lateral mengeveluasi tiroid serta mencari pole bawah kelenjar tiroid sewaktu penderita disuruh menelan. struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher.konsistensinya: kistik. lalu dorong benjolan tersebut ke kanan. Pemeriksaan pasien dengan struma dilakukan dari belakang kepala penderita sedikit fleksi sehingga muskulus sternokleidomastoidea relaksasi.jumlah nodul: satu (uninodosa) atau lebih dari satu (multinodosa) . Untuk memeriksa struma yang berasal dari satu lobus (misalnya lobus kiri penderita).

Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap iodium. USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk: . Iodida selain mengalami proses trapping juga ikut dalam proses organifikasi. kadar normal pada orang dewasa antara 1. Kadang-kadang meningkat sampai 3 kali normal. foto rontgen leher [posisi AP dan Lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas sehubungan dengan intubasi anastesinya. Atau nodul lama yang tiba-tiba membesar progresif.0-2. Uji tangkap tiroid tidak selalu sejalan dengan keadaan klinik dan kadar hormon tiroid. Pemeriksaan T4 total dikerjakan pada semua penderita penyakit tiroid. sedangkan ion pertechnetate hanya ikut dalam proses trapping.6 nmol/L atau 0. bahkan tidak jarang intuk konfirmasi diagnostik tersebut sampai memelukan CT-scan leher.antibodi antigen koloid ke dua (CA2 antibodies) . TSH sangat membantu untuk mengetahui hipotiroidisme primer di mana basal TSH meningkat 6 mU/L.65-1. atau pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga. Penilaian fungsi kelenjar tiroid dapat juga dilakukan karena adanya sistem transport pada membran sel tiroid yang menangkap iodida dan anion lain. Antibodi terhadap macam-macam antigen tiroid ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. . • Pulsasi arteri karotis teraba dari arah tepi belakang muskulus sternokleido mastoidea karena desakan pembesaran nodul (Berry’s sign)2 Pemerikasaan laboratorium yang digunakan dalam diagnosa penyakit tiroid terbagi atas: a. Pemerikasaan histopatologis dengan biopsi jarum halus (fine needle aspiration biopsy FNAB) . kadar normal pada orang dewasa 60-150 nmol/L atau 50-120 ng/dL. . Pemeriksaan dengan sidik tiroid sama dengan uji angkap tiroid. Pemeriksaan tiroid dengan menggunakan radio-isotop dengan memanfaatkan metabolisme iodium yang erat hubungannya dengan kinerja tiroid bisa menggambarkan aktifitas kelenjar tiroid maupun bentuk lesinya. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid.Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik.Pada kehamilan di mana pemeriksaan sidik tiroid tidak dapat dilakukan.thyroid stimulating hormone antibody (TSA) Pemeriksaan radiologis dengan foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid Pemerikasaan hormon tiroid dan TSH paling sering menggunakan radioimmuno-assay (RIA) dan cara enzyme-linked immuno-assay (ELISA) dalam serum atau plasma darah.Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan.antibodi permukaan sel (cell surface antibody) . yaitu dengan prinsip daerah dengan fungsi yang lebih aktif akan menangkap radioaktivitas yang lebih tinggi. pemeriksaan USG sangat membantu mengetahui adanya pembesaran tiroid. Uji tangkap tiroid ini berguna untuk menentukan fungsi dan sekaligus membedakan berbagaii penyebab hipertiroidisme dan juga menentukan dosis iodium radioaktif untuk pengobatan hipertiroidisme.antibodi mikrosomal .disertai nyeri.7 ng/dL. .antibodi tiroglobulin . yang tidak terlihat dengan sidik tiroid.Dapat mengukur volume dari nodul tiroid . b. . T3 sangat membantu untuk hipertiroidisme.Dapat menentukan jumlah nodul . • Nodul dicurigai ganas bila disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional atau perubahan suara menjadi serak.Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi terarah .

FKUI. tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher yang luas sulit dilakukan eksisi yang baik.Jinak (negatif) Tiroid normal Nodul koloid Kista Tiroiditis subakut Tiroiditis Hashimoto .5 Pemeriksaan potong beku (VC = Vries coupe) pada operasi tiroidektomi diperlukan untuk meyakinkan bahwa nodul yang dioperasi tersebut suatu keganasan atau bukan.struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan . dan bila dipaksakan akan memberikan mortalitas yang tinggi dan sering hasilnya tidak radikal. hal. sukar eksisinya biarpun telah dilakukan sternotomi. Karsinoma yang demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek prognosanya.Terapi supresi dengan hormon levotirosin . bila yakin nodul tidak ganas. Hal ini perlu diingat agar jangan sampai menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil FNAB saja. Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukan reseksi trakea atau laringektomi. 1987).Suntikan etanol .2. . Biasanya karena metastase luas ke mediastinum.kosmetik. Penanganan Pilihan terapi nodul tiroid: .struma toksika yang belum dipersiapkan sebelumnya . Lesi tiroid atau sisa tiroid yang dilakukan VC dilakukan pemeriksaan patologi anatomis untuk memastika n proses ganas atau jinak serta mengetahui jenis kelainan histopatologis dari nodul tiroid dengan parafin block.US Guided Laser Therapy . 461.Pembedahan .struma yang disertai dengan sindrom vena kava superior.struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit digerakkan yang biasanya karena karsinoma. Ilmu Penyakit Dalam.Iodium radioaktif . (Sri Hartini. . jilid I.akurasinya 80%.Observasi.Ganas (positif) Karsinoma tiroid papiler Karsinoma tiroid meduler Karsinoma tiroid anaplastik.3. Indikasi operasi pada struma adalah: . .struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa . Berikut ini penilaian FNAB untuk nodul tiroid.struma dengan gangguan tekanan .6 Pengertian struma nodosa non toksik Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. Kontraindikassi operasi pada struma: .Curiga (indeterminate) Neoplasma sel folikuler Neoplasma Hurthle Temuan kecurigaan keganasan tai tidak pasti .struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik yang lain yang belum terkontrol .

Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide. sel – sel parafolikular mensekresi hormon kalsitonin. Anatomi kelenjar tyroid Kelenjar tyroid mempunyai dua lobus. Jika kelenjar secara aktif mengandung folikel yang besar. 1. sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. menyimpan dan mensekresi kedua hormon utama T3 (triodotironin) dan T4 (tiroksin). penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium. Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain : 1. 1. misalnya daerah pegunungan. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis. lobus terletak di sebelah lateral trakea tepat dibawah laring dan dihubungkan dengan jembatan jaringan tiroid. 1. tiroid terutama terdiri atas folikel steroid. yang masing – masing mempunyai jumlah koloid yang disimpan dalam jumlah besar sel – selnya. kacang kedelai). masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. 1. yang terlentang pada permukaan anterior trakea. Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis. Secara mikroskopik. Defisiensi iodium Pada umumnya. Dalam kelenjar. lobak. pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan . Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. Hormon – hormon ini akan dibicarakan kemudian. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol. 1. iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Folikel memproduksi. yang masing – masing menyimpan materi koloid dibagian pusatnya. struktur yang kaya vaskularisasi. yang disebut isthmus. Bahan yang mengandung iodium diserap usus. Hormon ini dan dua hormon lainnya mempengaruhi metabolisme kalsium. sulfonylurea dan litium). Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3).1.

1. Penyuntikan lipidol Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc. Gejala-gejala Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. 1. melalui : 1. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan atas dasar adanya struma yang bernodul dan tidak toksik. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin. 1. .2 cc – 0.Penatalaksanaan Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat.melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. 1. Konsep Asuhan Keperawatan Dalam melaksanakan asuhan keperawatan. sedang kurang dari enam tahun diberi 0. Pencegahan 2. Pada palpasi teraba batas yang jelas. bernodul satu atau lebih. indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul. Tindakan operasi Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil. konsistensinya kenyal. Pada pemeriksaan laboratorium. penulis menggunakan pedoman asuhan keperawatan sebagai dasar pemecahan masalah pasien secara ilmiah dan sistematis yang meliputi tahap pengkajian.8 cc. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsi yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman. perencanaan keperawatan. terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya. tindakan keperawatan dan evaluasi keperawatan. indikasi. ditemukan serum T4 (troksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal. Jika struma cukup besar. 1. kosmetik. akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid. Edukasi Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat.

. Perencanaan keperawatan/intervensi Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan pasien. diare. kulit halus. perubahan dalam faeces. emosi labil. Pernafasan . Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea. kehausan. kelelahan berat. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang diuraikan di atas. gangguan koordinasi. suhu meningkat di atas 37. perdarahan sedikit atau tidak sama sekali. edema paru (pada krisis tirotoksikosis). impotensi.1. Integritas ego . lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah. pembengkakan. alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan). dan pemeriksaan fisik meliputi : 1. takipnea. maka disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai berikut : 1. nafsu makan meningkat. 1. keringat yang berlebihan. mual dan muntah. atrofi otot. urine dalam jumlah banyak. Aktivitas/istirahat . pembesaran tyroid. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara. nyeri. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan laring. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa nontoksis khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut . Rasa nyeri/kenyamanan . frekuensi pernafasan meningkat. Eliminasi . perdarahan dan spasme laringeal. mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik. Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil : Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi. iritasi pada konjungtiva dan berair. goiter. diaforesis. pembengkakan. edema jaringan. mengkilat dan lurus. pruritus. nyeri orbital.40C. dispnea. Makanan/cairan . perdarahan dan spasme laryngeal. makannya sering. makan banyak. Langkah selanjutnya adalah penentuan diagnosa keperawatan yang merupakan suatu pernyataan dan masalah pasien secara nyata maupun potensial berdasarkan data yang terkumpul. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi. observasi. depresi. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi trakea. hangat dan kemerahan. rambut tipis. Seksualitas . Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan. ketidaknyamanan. fotofobia. 1. insomnia. eksoptamus : retraksi. otot lemah. Keamanan . rangsangan pada sistem saraf pusat. kehilangan berat badan yang mendadak. tidak toleransi terhadap panas. libido menurun.

1. kedalaman dan kerja pernafasan. edema jaringan. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat dipahami. Rencana tindakan/intervensi Kaji fungsi bicara secara periodik. Kaji adanya dispnea. Auskultasi suara nafas. Pembedahan tulang Rasional : Mungkin sangat diperlukan untuk penyambungan/perbaikan pembuluh darah yang mengalami perdarahan yang terus menerus. Rasional : Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang mengancam kehidupan yang memerlukan tindakan yang darurat. Bantu dalam perubahan posisi. penumpukan sekresi oral. latihan nafas dalam dan atau batuk efektif sesuai indikasi. Selidiki kesulitan menelan. Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien. stridor. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara/kerusakan saraf laring. menyokog kepala dengan bantal. Rasional : . dan sianosis. Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri yang berat. Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher. tetapi berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trakea karena edema atau perdarahan. nyeri. Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur. Rasional : Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka karena pembedahan. ketidaknyamanan. catat adanya suara ronchi. Rasional : Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.Rencana tindakan/intervensi Pantau frekuensi pernafasan. Perhatikan kualitas suara.spasme laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat. Rasional : Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat. Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai indikasi. Rasional : Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri. Rasional : Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi. balutan bagian anterior mungkin akan tampak kering karena darah tertampung/terkumpul pada daerah yang tergantung. 1. catat warna dan karakteristik sputum. tetapi hal itu perlu untuk membersihkan jalan nafas. Rasional : Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku pada jaringan sekitar daerah operasi. terutama pada bagian posterior Rasional : Jika terjadi perdarahan. Rasional : Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.

Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan. seperti papan tulis. rangsangan pada sistem saraf pusat. tmpat tidur pada posisi yang rendah. Rasional : Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan. Pertahankan lingkungan yang tenang. misalnya gerakan tersentak. Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kolaborasi . Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi terpenuhi/terkontrol.Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea. Pertahankan komunikasi yang sederhana. takikardi (140 – 200/menit). sakit waktu bernafas (pembengkakan paru). disrtrimia. Rasional : Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 – 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama pembedahan. mengurangi bicara. beri pertanyaan yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. Kunjungan pasien secara teratur. Rasional : Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang. Rasional . Rasional : Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid. 1. Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai. prestesia. adanya kejang. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses pembedahan. Rencana tindakan/intervensi Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh. Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan jawablah bel panggilan dengan segera. kertas tulis/papan gambar. Rasional : Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan. Evaluasi reflesi secara periodik.5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti. Memantau kadar kalsium dalam serum. Rasional : Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus diucapkan pasien untuk dapat didengarkan. 1. Observasi adanya peka rangsang. Rasional : Kalsium kurang dari 7. Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk berkomunias. syanosis. Rasional : Menurunkan kebutuhan berespon.

Rasional : Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman secara lebih efektif. Menunjukkan kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian dengan aktif sesuai situasi. Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen. Rasional : Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas gari jahitan.Berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat. catat lokasi. musik yang lembut. Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong selama perubahan posisi. Berikan es jika ada indikasi Rasional : Menurunnya edema jaringan dan menurunkan persepsi terhadap nyeri. Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam jangkauan yang mudah. nyeri otot pada daerah operasi. 1. Rasional : Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan tegangan otot. menentukan efektivitas terapi. 1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot dan paska operasi. 1. Kolaborasi Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai kebutuhannya. Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil. Rencana tindakan/intervensi : Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. Rasional : Membatasi ketegangan. 1. laktat). Instruksikan pasien menggunakan tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan untuk menghindari hiperekstensi leher. intensitas (skala 0 – 10) dan lamanya. . Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Rasional : Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri. Rasional : Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. menentukan pilihan intervensi. seperti imajinasi. Rasional . Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan. relaksasi progresif.

haruslah dilibatkan tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil : Adanya saling pengertian tentang prosedur pembedahan dan penanganannya. Pelaksanaan keperawatan Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan.Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi. 1. Dorong program latihan umum progresif Rasional : Latihan dapat menstimulasi kelenjar tyroid dan produksi hormon yang memfasilitasi pemulihan kesejahteraan. 5. Identifikasi makanan tinggi kalsium (misalnya : kuning telur. Hindari makanan yang bersifat gastrogenik. hati) Rasional : Memaksimalkan suplay dan absorbsi jika fungsi kelenjar paratiroid terganggu. setelah menginterpretasikan konsepsi. 2. prognosis dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan tidak mengungkapkan secara terbuka/mengingat kembali. 1. Mempercepat penyembuhan dan membantu pasien mencapai berat badan yang sesuai dengan pemakaian garam beriodium cukup. Dalam melaksanakan keperawatan. misalnya makanan laut yang berlebihan. maka pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada : Apakah jalan nafas pasien efektif? Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar? Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi? Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi? Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta tindakan perawatan dan pengobatannya? 1. kacang kedelai. keamanan dan kenyamanan pasien. diet bergizi dan bila dapat mencakup garam beriodium. 3. Rencana tindakan/intervensi : Tinjau ulang prosedur pembedahan dan harapan selanjutnya. Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya. Evaluasi Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. melakukan perubahan gaya hidup yang perlu. Rasional . . Rasional : Merupakan kontradiksi setelah tiroidiktomi sebab makanan ini menekan aktivitas tyroid. lobak. Diskusikan kebutuhan diet yang seimbang. berpartisipasi dalam program pengobatan. 4. Member pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat keputusan sesuai informasi.

0 feed. 24 Agustus 2010 . You can skip to the end and leave a response. Poskan Komentar Link ke posting ini Buat sebuah Link Share it þÿ . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.Disusun Oleh: Dodo Pebriansyah (P This entry was posted on Selasa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->