P. 1
Kumpulan Artikel Syariah

Kumpulan Artikel Syariah

|Views: 2,135|Likes:
Published by alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Aug 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2013

pdf

K KK K

K KK KK KK Ku uu u
u uu uu uu um mm m
m mm mm mm mp pp p
p pp pp pp pu uu u
u uu uu uu ul ll l
l ll ll ll la aa a
a aa aa aa an nn n
n nn nn nn n A AA A
A AA AA AA Ar rr r
r rr rr rr rt tt t
t tt tt tt ti ii i
i ii ii ii ik kk k
k kk kk kk ke ee e
e ee ee ee el ll l
l ll ll ll l S SS S
S SS SS SS Sy yy y
y yy yy yy ya aa a
a aa aa aa ar rr r
r rr rr rr ri ii i
i ii ii ii ia aa a
a aa aa aa ah hh h
h hh hh hh h






Di susun oleh:
a aa a a aa al ll l l ll li ii i i ii if ff f f ff f f ff f f ff fi ii i i ii ik kk k k kk kr rr r r rr ri ii i i ii i
2
Judul : Kumpulan Artikel Syariah Kumpulan Artikel Syariah Kumpulan Artikel Syariah Kumpulan Artikel Syariah
Penyusun : alif fikri
Penyusunan : April 2010





Perhatian: Perhatian: Perhatian: Perhatian:
E EE E- -- -book ini bertujuan untuk kepentingan book ini bertujuan untuk kepentingan book ini bertujuan untuk kepentingan book ini bertujuan untuk kepentingan
penyebaran ilmu dan d penyebaran ilmu dan d penyebaran ilmu dan d penyebaran ilmu dan da’wah semata, bukan a’wah semata, bukan a’wah semata, bukan a’wah semata, bukan
untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial untuk diperjualbelikan atau tujuan komersial
lainnya. lainnya. lainnya. lainnya.
Beberapa artikel tanpa keterangan penulis Beberapa artikel tanpa keterangan penulis Beberapa artikel tanpa keterangan penulis Beberapa artikel tanpa keterangan penulis
bukanlah karya penyusun. Penyusun hanya bukanlah karya penyusun. Penyusun hanya bukanlah karya penyusun. Penyusun hanya bukanlah karya penyusun. Penyusun hanya
menyaring artikel tsb karena pertimbangan menyaring artikel tsb karena pertimbangan menyaring artikel tsb karena pertimbangan menyaring artikel tsb karena pertimbangan
keilmuan. keilmuan. keilmuan. keilmuan.





._\=\· .'== -,.>=

3


Daftar Isi


Objek Pembahasan Ilmu Ushul Fiqh__________________________________4

Mashlahat Mursalah__________________________________________________8

Pengertian dan Ruang lingkup Ushul Fiqh___________________________11

Syar'u Man Qablana_________________________________________________13

Pengertian Ushul Fiqh_______________________________________________17

'Urf_________________________________________________________________21

Saddudz Dzari'ah___________________________________________________25

Sekitar Hukum______________________________________________________31

Terminologi Ilmu Fiqh______________________________________________33

Tarikh at-Tasyri'____________________________________________________41

Objek Ilmu Fiqh dan Pembagian Hukum Fiqh________________________43

Mazhab Fiqh________________________________________________________47

Sumber Fiqh________________________________________________________53

Syari'at dan Fiqh____________________________________________________55

Masyru'iyyatu at-Tanzhim fi ad-Da'wah al-Islamiyyah al-Mu'ashirah_57
Nabiel Fuad al-Musawwa

Hukum Menikahi Orang Musyrik dan Ahlul Kitab___________________63
Dr. Amir Faishol Fath

Kepiting dan Seafood: Halalkah?____________________________________68
Dr. Setiawan Budi Utomo

Dua Dimensi Shalat_________________________________________________75
Dr. Amir Faishol Fath
4

OBJEK PEMBAHASAN ILM OBJEK PEMBAHASAN ILM OBJEK PEMBAHASAN ILM OBJEK PEMBAHASAN ILMU USHUL FIQH U USHUL FIQH U USHUL FIQH U USHUL FIQH


Objek pembahasan dari Ushul fiqh meliputi tentang dalil, hukum, kaidah dan ijtihad.

Sesuai dengan keterangan tentang pengertian Ilmu Ushul Fiqh di depan, maka yang
menjadi objek pembahasannya, meliputi:

Pembahasan tentang dalil
Pembahasan tentang dalil dalam ilmu Ushul Fiqh adalah secara global. Di sini
dibahas tentang macam-macamnya, rukun atau syarat masing-masing dari macam-
macam dalil itu, kekuatan dan tingkatan-tingkatannya. Jadi di dalam Ilmu Ushul Fiqh
tidak dibahas satu persatu dalil bagi setiap perbuatan.

Pembahasan tentang hukum
Pembahasan tentang hukum dalam Ilmu Ushul Fiqh adalah secara umum, tidak
dibahas secara terperinci hukum bagi setiap perbuatan. Pembahasan tentang hukum
ini, meliputi pembahasan tentang macam-macam hukum dan syarat-syaratnya. Yang
menetapkan hukum (al-hakim), orang yang dibebani hukum (al-mahkum 'alaih) dan
syarat-syaratnya, ketetapan hukum (al-mahkum bih) dan macam-macamnya dan
perbuatan-perbuatan yang ditetapi hukum (al-mahkum fih) serta syarat-syaratnya.

Pembahasan tentang kaidah
Pembahasan tentang kaidah yang digunakan sebagai jalan untuk memperoleh
hukum dari dalil-dalilnya antara lain mengenai macam-macamnya, kehujjahannya
dan hukum-hukum dalam mengamalkannya.

Pembahasan tentang ijtihad
Dalam pembahasan ini, dibicarakan tentang macam-macamnya, syarat-syarat bagi
orang yang boleh melakukan ijtihad, tingkatan-tingkatan orang dilihat dari kaca mata
ijtihad dan hukum melakukan ijtihad.

5


MASHLAHAT MURSALAH MASHLAHAT MURSALAH MASHLAHAT MURSALAH MASHLAHAT MURSALAH


Mashlahat mursalah yaitu suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara' dan
tidak pula terdapat dalil-dalil yang menyuruh untuk mengerjakan atau meninggalkannya,
sedang jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan


A. Pengertian

Mashlahat mursalah yaitu suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara' dan
tidak pula terdapat dalil-dalil yang menyuruh untuk mengerjakan atau meninggalkannya,
sedang jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan.
Mashlahat mursalah disebut juga mashlahat yang mutlak. Karena tidak ada dalil yang
mengakui kesahan atau kebatalannya. Jadi pembentuk hukum dengan cara mashlahat
mursalah semata-mata untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dengan arti untuk
mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan dan kerusakan bagi manusia.

Kemaslahatan manusia itu mempunyai tingkat-tingkatan. Tingkat pertama lebih utama
dari tingkat kedua dan tingkat yang kedua lebih utama dari tingkat yang ketiga. Tingkat-
tingkatan itu, ialah:

Tingkat pertama yaitu tingkat dhurari, tingkat yang harus ada. Tingkat ini terdiri atas lima
tingkat pula, tingkat pertama lebih utama dari yang kedua, yang kedua lebih utama dari
yang ketiga dan seterusnya. Tingkat-tingkat itu ialah:
Memelihara agama;
Memelihara jiwa;
Memelihara akal;
Memelihara keturunan
Memelihara harta.

Tingkat yang kedua adalah tingkat yang diperlukan (haji).
6

Tingkat ketiga, ialah tingkat tahsini.

Diantara contoh mashlahat mursalah ialah usaha Khalifah Abu Bakar mengumpulkan al-
Quran yang terkenal dengan jam'ul Quran. Pengumpulan al-Quran ini tidak disinggung
sedikitpun oleh syara', tidak ada nash yang memerintahkan dan tidak ada nash yang
melarangnya. Setelah terjadi peperangan Yamamah banyak para penghafal al-Qur'an
yang mati syahid (± 70 orang). Umar bin Khattab melihat kemaslahatan yang sangat
besar pengumpulan al-Quran itu, bahkan menyangkut kepentingan agama (dhurari).
Seandainya tidak dikumpulkan, dikhawatirkan al-Quran akan hilang dari permukaan
dunia nanti. Karena itu Khalifah Abu Bakar menerima anjuran Umar dan
melaksanakannya.

Demikian pula tidak disebut oleh syara' tentang keperluan mendirikan rumah penjara,
menggunakan mikrofon di waktu adzan atau shalat jama'ah, menjadikan tempat
melempar jumrah menjadi dua tingkat, tempat sa'i dua tingkat, tetapi semuanya itu
dilakukan semata-mata untuk kemashlahatan agama, manusia dan harta.

Dalam mengistinbatkan hukum, sering kurang dibedakan antara qiyas, istihsan dan
mashlahat mursalah. Pada qiyas ada dua peristiwa atau kejadian, yang pertama tidak
ada nashnya, karena itu belum ditetapkan hukumnya, sedang yang kedua ada nashnya
dan telah ditetapkan hukumnya. Pada istihsan hanya ada satu peristiwa, tetapi ada dua
dalil yang dapat dijadikan sebagai dasarnya. Dalil yang pertama lebih kuat dari yang
kedua. tetapi karena ada sesuatu kepentingan dipakailah dalil yang kedua. Sedang pada
mashlahat mursalah hanya ada satu peristiwa dan tidak ada dalil yang dapat dijadikan
dasar untuk menetapkan hukum dari peristiwa itu, tetapi ada suatu kepentingan yang
sangat besar jika peristiwa itu ditetapkan hukumnya. Karena itu ditetapkanlah hukum
berdasar kepentingan itu.

Imam al-Ghazali menggunakan istilah istishlah sebagai kata yang sama artinya dengan
mashlahat mursalah.


B. Dasar Hukum

Para ulama yang menjadikan mashlahat mursalah sebagai salah satu dalil syara',
menyatakan bahwa dasar hukum mashlahat mursalah, ialah:

Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang, demikian pula
kepentingan dan keperluan hidupnya. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak hal-hal
7
atau persoalan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, kemudian timbul dan
terjadi pada masa-masa sesudahnya, bahkan ada yang terjadi tidak lama setelah
Rasulullah SAW meninggal dunia. Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan
hal-hal yang demikian berarti akan sempitlah kehidupan manusia. Dalil itu ialah dalil
yang dapat menetapkan mana yang merupakan kemaslahatan manusia dan mana yang
tidak sesuai dengan dasar-dasar umum dari agama Islam. Jika hal itu telah ada, maka
dapat direalisir kemaslahatan manusia pada setiap masa, keadaan dan tempat.

Sebenarnya para sahabat, tabi'in, tabi'it tabi'in dan para ulama yang datang sesudahnya
telah melaksanakannya, sehingga mereka dapat segera menetapkan hukum sesuai
dengan kemaslahatan kaum muslimin pada masa itu. Khalifah Abu Bakar telah
mengumpulkan al-Quran, Khalifah ‘Umar telah menetapkan talak yang dijatuhkan tiga
kali sekaligus jatuh tiga, padahal pada masa Rasulullah SAW hanya jatuh satu, Khalifah
‘Utsman telah memerintahkan penulisan al-Quran dalam satu mushaf dan Khalifah ‘Ali
pun telah menghukum bakar hidup golongan Syi'ah Rafidhah yang memberontak,
kemudian diikuti oleh para ulama yang datang sesudahnya.


C. Obyek Mashlahat Mursalah

Yang menjadi obyek mashlahat mursalah, ialah kejadian atau peristiwa yang perlu
ditetapkan hukumnya, tetapi tidak ada satupun nash (al-Quran dan Hadits) yang dapat
dijadikan dasarnya. Prinsip ini disepakati oleh kebanyakan pengikut madzhab yang ada
dalam fiqh, demikian pernyataan Imam al-Qarafi ath-Thufi dalam kitabnya Mashalihul
Mursalah menerangkan bahwa mashlahat mursalah itu sebagai dasar untuk menetapkan
hukum dalam bidang mu'amalah dan semacamnya. Sedang dalam soal-soal ibadah
adalah Allah untuk menetapkan hukumnya, karena manusia tidak sanggup mengetahui
dengan lengkap hikmah ibadat itu. Oleh sebab itu hendaklah kaum muslimin beribadat
sesuai dengan ketentuan-Nya yang terdapat dalam al-Quran dan Hadits.

Menurut Imam al-Haramain: Menurut pendapat Imam asy-Syafi'i dan sebagian besar
pengikut Madzhab Hanafi, menetapkan hukum dengan mashlahat mursalah harus
dengan syarat, harus ada persesuaian dengan mashlahat yang diyakini, diakui dan
disetujui oleh para ulama.

8


PENGERTIAN DAN RUANG PENGERTIAN DAN RUANG PENGERTIAN DAN RUANG PENGERTIAN DAN RUANG LINGK LINGK LINGK LINGKUP USHUL FIQH UP USHUL FIQH UP USHUL FIQH UP USHUL FIQH


Pengetahuan Fiqh itu lahir melalui proses pembahasan yang digariskan dalam ilmu
ushul Fiqh. Menurut aslinya kata "Ushul Fiqh" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab
"Ushulul Fiqh" yang berarti asal-usul Fiqh. Maksudnya, pengetahuan Fiqh itu lahir
melalui proses pembahasan yang digariskan dalam ilmu ushul Fiqh.

Pengetahuan Fiqh adalah formulasi dari nash syari'at yang berbentuk al-Quran, Sunnah
Nabi dengan cara-cara yang disusun dalam pengetahuan Ushul Fiqh. Meskipun cara-
cara itu disusun lama sesudah berlalunya masa diturunkan al-Quran dan diucapkannya
sunnah oleh Nabi, namun materi, cara dan dasar-dasarnya sudah mereka (para ‘Ulama
Mujtahid) gunakan sebelumnya dalam mengistinbathkan dan menentukan hukum.
Dasar-dasar dan cara-cara menentukan hukum itulah yang disusun dan diolah kemudian
menjadi pengetahuan Ushul Fiqh.

Menurut istilah yang digunakan oleh para ahli Ushul Fiqh ini, Ushul Fiqh itu ialah, suatu
ilmu yang membicarakan berbagai ketentuan dan kaidah yang dapat digunakan dalam
menggali dan merumuskan hukum syari'at Islam dari sumbernya. Dalam pemakaiannya,
kadang-kadang ilmu ini digunakan untuk menetapkan dalil bagi sesuatu hukum; kadang-
kadang untuk menetapkan hukum dengan mempergunakan dalil ayat-ayat al-Ouran dan
Sunnah Rasul yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf, dirumuskan berbentuk
"hukum Fiqh" (ilmu Fiqh) supaya dapat diamalkan dengan mudah. Demikian pula
peristiwa yang terjadi atau sesuatu yang ditemukan dalam kehidupan dapat ditentukan
hukum atau statusnya dengan mempergunakan dalil.

Yang menjadi obyek utama dalam pembahasan Ushul Fiqh ialah Adillah Syar'iyah (dalil-
dalil syar'i) yang merupakan sumber hukum dalam ajaran Islam. Selain dari
membicarakan pengertian dan kedudukannya dalam hukum Adillah Syar'iyah itu
dilengkapi dengan berbagai ketentuan dalam merumuskan hukum dengan
mempergunakan masing-masing dalil itu.

9
Topik-topik dan ruang lingkup yang dibicarakan dalam pembahasan ilmu Ushul Fiqh ini
meliputi:

Bentuk-bentuk dan macam-macam hukum, seperti hukum taklifi (wajib, sunnat,
mubah, makruh, haram) dan hukum wadl'i (sabab, syarat, mani', 'illat, shah, batal,
azimah dan rukhshah).

Masalah perbuatan seseorang yang akan dikenal hukum (mahkum fihi) seperti
apakah perbuatan itu sengaja atau tidak, dalam kemampuannya atau tidak,
menyangkut hubungan dengan manusia atau Tuhan, apa dengan kemauan sendiri
atau dipaksa, dan sebagainya.

Pelaku suatu perbuatan yang akan dikenai hukum (mahkum 'alaihi) apakah pelaku
itu mukallaf atau tidak, apa sudah cukup syarat taklif padanya atau tidak, apakah
orang itu ahliyah atau bukan, dan sebagainya.

Keadaan atau sesuatu yang menghalangi berlakunya hukum ini meliputi keadaan
yang disebabkan oleh usaha manusia, keadaan yang sudah terjadi tanpa usaha
manusia yang pertama disebut awarid muktasabah, yang kedua disebut awarid
samawiyah.

Masalah istinbath dan istidlal meliputi makna zhahir nash, tawil dalalah lafazh,
mantuq dan mafhum yang beraneka ragam, 'am dan khas, muthlaq dan muqayyad,
nasikh dan mansukh, dan sebagainya.

Masalah ra'yu, ijtihad, ittiba' dan taqlid; meliputi kedudukan ra’yu dan batas-batas
penggunannya, fungsi dan kedudukan ijtihad, syarat-syarat mujtahid, bahaya taqlid
dan sebagainya.

Masalah adillah syar'iyah, yang meliputi pembahasan al-Quran, as-Sunnah, ijma',
qiyas, istihsan, istishlah, istishhab, mazhabus shahabi, al-'urf, syar'u man qablana,
bara'atul ashliyah, sadduz zari'ah, maqashidus syari'ah/ ususus syari'ah.

Masa'ah ra’yu dan qiyas, meliputi. ashal, far'u, illat, masalikul illat, al-washful
munasib, as-sabru wat taqsim, tanqihul manath, ad-dauran, as-syabhu, ilghaul fariq;
dan selanjutnya dibicarakan masalah ta'arudl wat tarjih dengan berbagai bentuk dan
penyelesaiannya.

Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam mempelajari Ushui Fiqh ialah bahwa peranan
ilmu pembantu sangat menentukan proses pembahasan. Dalam pembicaraan dan
10
pembahasan materi Ushul Fiqh sangat diperlukan ilmu-ilmu pembantu yang langsung
berperan, seperti ilmu tata bahasa Arab dan qawa'idul lugahnya, ilmu mantiq, ilmu tafsir,
ilmu hadits, tarikh tasyri'il islami dan ilmu tauhid. Tanpa dibantu oleh ilmu-ilmu tersebut,
pembahasan Ushul Fiqh tidak akan menemui sasarannya. Istinbath dan istidlal akan
menyimpan dari kaidahnya.

Ushul Fiqh itu ialah suatu ilmu yang sangat berguna dalam pengembangan pelaksanaan
syari'at (ajaran Islam). Dengan mempelajari Ushul Fiqh orang mengetahui bagaimana
Hukum Fiqh itu diformulasikan dari sumbernya. Dengan itu orang juga dapat memahami
apa formulasi itu masih dapat dipertahankan dalam mengikuti perkembangan kemajuan
ilmu pengetahuan sekarang; atau apakah ada kemungkinan untuk direformulasikan.
Dengan demikian, orang juga dapat merumuskan hukum atau penilaian terhadap
kenyataan yang ditemuinya sehari-hari dengan ajaran Islam yang bersifat universal itu.

Dengan Usul Fiqh:
Ilmu Agama Islam akan hidup dan berkembang mengikuti perkembangan peradaban
umat manusia.
Statis dan jumud dalam ilmu pengetahuan agama dapat dihindarkan.
Orang dapat menghidangkan ilmu pengetahuan agama sebagai konsumsi umum
dalam dunia pengetahuan yang selalu maju dan berkembang mengikuti kebutuhan
hidup manusia sepanjang zaman.
Sekurang-kurangnya, orang dapat memahami mengapa para Mujtahid zaman dulu
merumuskan Hukum Fiqh seperti yang kita lihat sekarang. Pedoman dan norma apa
saja yang mereka gunakan dalam merumuskan hukum itu. Kalau mereka
menemukan sesuatu peristiwa atau benda yang memerlukan penilaian atau hukum
Agama Islam, apa yang mereka lakukan untuk menetapkannya; prosedur mana yang
mereka tempuh dalam menetapkan hukumnya.

Dengan demikian orang akan terhindar dari taqlid buta; kalau tidak dapat menjadi
mujtahid, mereka dapat menjadi muttabi' yang baik (muttabi' ialah orang yang mengikuti
pendapat orang dengan mengetahui asal-usul pendapat itu). Dengan demikian, berarti
bahwa Ilmu Ushul Fiqh merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam
pengembangan dan pengamalan ajaran Islam di dunia yang sibuk dengan perubahan
menuju modernisasi dan kemajuan dalam segala bidang.

Melihat demikian luasnya ruang lingkup materi Ilmu Ushul Fiqh, tentu saja tidak semua
perguruan/ lembaga dapat mempelajarinya secara keseluruhan.
11


SYAR’U MAN SYAR’U MAN SYAR’U MAN SYAR’U MAN QABLANA QABLANA QABLANA QABLANA


Yang dimaksud dengan syar'un man qablana, ialah syari'at yang dibawa para rasul
dahulu, sebelum diutus Nabi Muhammad SAW yang menjadi petunjuk bagi kaum yang
mereka diutus kepadanya, seperti syari'at Nabi Ibrahim AS, syari'at Nabi Musa AS,
syari'at Nabi Daud AS, syari'at Nabi ‘Isa AS, dan sebagainya


A. Pengertian dan Dasar Hukum

Pada azas syari'at yang diperuntukkan Allah SWT bagi umat-umat dahulu mempunyai
azas yang sama dengan syari'at yang diperuntukkan bagi umat Nabi Muhammad SAW,
sebagaimana dinyatakan pada firman Allah SWT:



"Dia (Allah) telah menerangkan kepadamu sebagian (urusan) agama, apa yang Ia
wajibkan kepada Nuh dan yang Kami wajibkan kepadamu dan apa yang Kami wajibkan
kepada Ibrahim, Musa dan ‘lsa, (yaitu) hendaklah kamu tetap menegakkan (urusan)
agama itu dan janganlah kamu bercerai berai padanya..." (asy-Syûra: 13)

Di antara azas yang sama itu ialah yang berhubungan dengan konsepsi ketuhanan,
tentang hari akhirat, tentang qadla dan qadar, tentang janji dan ancaman Allah dan
12
sebagainya. Mengenai perinciannya atau detailnya ada yang sama dan ada yang
berbeda, hal ini disesuaikan dengan keadaan, masa dan tempat.

Dalam pada itu ada pula syari'at umat yang dahulu itu sama namanya, tetapi berbeda
pelaksanaannya dengan syari'at Nabi Muhammad SAW, seperti puasa (lihat surat al-
Baqarah: 183), hukuman qishash (lihat surat al-Mâidah: 32) dan sebagainya.


B. Macam-macam Syar'un man Qablana

Sesuai dengan ayat di atas, kemudian dihubungkan antara syari'at Nabi Muhammad
SAW dengan syari'at umat-umat sebelum kita, maka ada tiga macam bentuknya, yaitu:
Syari'at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum kita; tetapi al-Quran dan
Hadits tidak menyinggungnya, baik membatalkannya atau menyatakan berlaku pula
bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Syari'at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum kita, kemudian dinyatakan
tidak berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Syari'at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum kita, kemudian al-Quran
dan Hadits menerangkannya kepada kita.

Mengenai bentuk ketiga, yaitu syari'at yang diperuntukkan bagi umat-umat yang sebelum
kita, kemudian diterangkan kepada kita melalui al-Quran dan Hadits, para ulama
berbeda pendapat. Sebagian ulama Hanafiyah, sebagian ulama Malikiyah, sebagian
ulama Syafi'iyah dan sebagian ulama Hanabilah berpendapat bahwa syari'at itu berlaku
pula bagi umat Nabi Muhammad SAW. Mengenai pendapat golongan lain ialah menurut
mereka dengan adanya syari'at Nabi Muhammad SAW, maka syari'at yang sebelumnya
dinyatakan mansukh/ tidak berlaku lagi hukumnya.

Mengenai bentuk kedua, para ulama tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah, sedang
bentuk pertama ada ulama yang menjadikannya sebagai dasar hujjah, selama tidak
bertentangan dengan syari'at Nabi Muhammad SAW.
13


PENGERTIAN USHUL FIQ PENGERTIAN USHUL FIQ PENGERTIAN USHUL FIQ PENGERTIAN USHUL FIQH HH H


Pengertian Ushul Fiqh dapat dilihat sebagai rangkaian dari dua buah kata, yaitu: kata
Ushul dan kata Fiqh; dan dapat dilihat pula sebagai nama satu bidang ilmu dari ilmu-ilmu
Syari'ah.

Di lihat dari tata bahasa (Arab), rangkaian kata Ushul dan kata Fiqh tersebut dinamakan
dengan tarkib idlafah, sehingga dari rangkaian dua buah kata itu memberi pengertian
ushul bagi fiqh.

Kata ushul adalah bentuk jamak dari kata ashl yang menurut bahasa, berarti sesuatu
yang dijadikan dasar bagi yang lain. Berdasarkan pengertian ushul menurut bahasa
tersebut, maka Ushul Fiqh berarti sesuatu yang dijadikan dasar bagi fiqh.

Sedangkan menurut istilah, ashl dapat berarti dalil, seperti dalam ungkapan yang
dicontohkan oleh Abu Hamid Hakim:



"Ashl bagi diwajibkan zakat, yaitu al-Kitab; Allah Ta'ala berfirman: "...dan tunaikanlah
zakat!."

Dan dapat pula berarti kaidah kulliyah yaitu aturan/ ketentuan umum, seperti dalam
ungkapan sebagai berikut:

14


"Kebolehan makan bangkai karena terpaksa adalah penyimpangan dari ashl, yakni dari
ketentuan/ aturan umum, yaitu setiap bangkai adalah haram; Allah Ta'ala berfirman:
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai... ".

Dengan melihat pengertian ashl menurut istilah di atas, dapat diketahui bahwa Ushul
Fiqh sebagai rangkaian dari dua kata, berarti dalil-dalil bagi fiqh dan aturan-aturan/
ketentuan-ketentuan umum bagi fiqh.

Fiqh itu sendiri menurut bahasa, berarti paham atau tahu. Sedangkan menurut istilah,
sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu:



"Ilmu tentang hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang
terperinci."

Atau seperti dikatakan oleh Abdul Wahab Khallaf, yakni: "Kumpulan hukum-hukum syara'
mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci".

Yang dimaksud dengan dalil-dalilnya yang terperinci, ialah bahwa satu persatu dalil
menunjuk kepada suatu hukum tertentu, seperti firman Allah menunjukkan kepada
kewajiban shalat:



".....dirikanlah shalat...."(An-Nisaa': 77)

Atau seperti sabda Rasulullah SAW:



15
"Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar (benda yang
memabukkan)." (HR Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah).

Hadits tersebut menunjukkan kepada keharaman jual beli khamar.

Dengan penjelasan pengertian fiqh di atas, maka pengertian Ushul Fiqh sebagai
rangkaian dari dua buah kata, yaitu dalil-dalil bagi hukum syara' mengenai perbuatan
dan aturan-aturan/ ketentuan-ketentuan umum bagi pengambilan hukum-hukum syara'
mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Tidak lepas dari kandungan pengertian Ushul Fiqh sebagai rangkaian dari dua buah kata
tersebut, para ulama ahli Ushul Fiqh memberi pengertian sebagai nama satu bidang ilmu
dari ilmu-ilmu syari'ah. Misalnya Abdul Wahhab Khallaf memberi pengertian Ilmu Ushul
Fiqh dengan:



"Ilmu tentang kaidah-kaidah (aturan-aturan/ ketentuan-ketentuan) dan pembahasan-
pemhahasan yang dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum syara' mengenai
perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci."

Maksud dari kaidah-kaidah itu dapat dijadikan sarana untuk memperoleh hukum-hukum
syara' mengenai perbuatan, yakni bahwa kaidah-kaidah tersebut merupakan cara-cara
atau jalan-jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh hukum-hukum syara';
sebagaimana yang terdapat dalam rumusan pengertian Ilmu Ushul Fiqh yang
dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah sebagai berikut:



"Ilmu tentang kaidah-kaidah yang menggariskan jalan-jalan utuk memperoleh hukum-
hukum syara' mengenai perbuatan dan dalil-dalilnya yang terperinci."

Dengan lebih mendetail, dikatakan oleh Muhammad Abu Zahrah bahwa Ilmu Ushul Fiqh
adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid
dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara' dan dalil-dalil
16
yang didasarkan kepadanya, dengan memberi 'illat (alasan-alasan) yang dijadikan dasar
ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dimaksud oleh syara'.

Oleh karena itu Ilmu Ushul Fiqh juga dikatakan:



"Kumpulan kaidah-kaidah yang menjelaskan kepada faqih (ahli hukum Islam) cara-cara
mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil syara'."
17


‘URF URF URF URF


A. Pengertian

'Urf merupakan sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan
di kalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama
ushul fiqh, 'urf disebut adat (adat kebiasaan). Sekalipun dalam pengertian istilah hampir
tidak ada perbedaan pengertian antara 'urf dengan adat, namun dalam pemahaman
biasa diartikan bahwa pengertian 'urf lebih umum dibanding dengan pengertian adat,
karena adat di samping telah dikenal oleh masyarakat, juga telah biasa dikerjakan
dikalangan mereka, seakan-akan telah merupakan hukum tertulis, sehingga ada sanksi-
sanksi terhadap orang yang melanggarnya.

Seperti dalam salam (jual beli dengan pesanan) yang tidak memenuhi syarat jual beli.
Menurut syarat jual beli ialah pada saat jual beli dilangsungkan pihak pembeli telah
menerima barang yang dibeli dan pihak penjual telah menerima uang penjualan
barangnya. Sedang pada salam barang yang akan dibeli itu belum ada wujudnya pada
saat akad jual beli dilakukan, baru ada dalam bentuk gambaran saja. Tetapi karena telah
menjadi adat kebiasaan dalam masyarakat, bahkan dapat memperlancar arus jual beli,
maka salam itu dibolehkan. Di lihat sepintas lalu, seakan-akan ada persamaan antara
ijma' dengan 'urf, karena keduanya sama-sama ditetapkan secara kesepakatan dan tidak
ada yang menyalahinya. Perbedaannya ialah pada ijma' ada suatu peristiwa atau
kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya. Karena itu para mujtahid membahas dan
menyatakan kepadanya, kemudian ternyata pendapatnya sama. Sedang pada 'urf
bahwa telah terjadi suatu peristiwa atau kejadian, kemudian seseorang atau beberapa
18
anggota masyarakat sependapat dan melaksanakannya. Hal ini dipandang baik pula
oleh anggota masyarakat yang lain, lalu mereka mengerjakan pula. Lama-kelamaan
mereka terbiasa mengerjakannya sehingga merupakan hukum tidak tertulis yang telah
berlaku di antara mereka. Pada ijma' masyarakat melaksanakan suatu pendapat karena
para mujtahid telah menyepakatinya, sedang pada 'urf, masyarakat mengerjakannya
karena mereka telah biasa mengerjakannya dan memandangnya baik.


B. Macam-macam 'Urf

'Urf dapat dibagi atas beberapa bagian.

Di tinjau dari segi sifatnya. 'urf terbagi kepada:

'Urf qauli
Ialah 'urf yang berupa perkataan seperti perkataan walad, menurut bahasa berarti anak,
termasuk di dalamnya anak laki-laki dan anak perempuan. Tetapi dalam percakapan
sehari-hari biasa diartikan dengan anak laki-laki saja. Lahmun, menurut bahasa berarti
daging termasuk di dalamnya segala macam daging, seperti daging binatang darat dan
ikan Tetapi dalam percakapan sehari-hari hanya berarti binatang darat saja tidak
termasuk didalamnya daging binatang air (ikan).

'Urf amali
Ialah 'urf yang berupa perbuatan. Seperti jual beli dalam masyarakat tanpa
mengucapkan shighat akad jual beli. Padahal menurut syara', shighat jual beli itu
merupakan salah satu rukun jual beli. Tetapi karena telah menjadi kebiasaan dalam
masyarakat melakukan jua beli tanpa shighat jual beli dan tidak terjadi hal-hal yang tidak
diingini, maka syara' membolehkannya.

Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya 'urf, terbagi atas:

'Urf shahih
Ialah 'urf yang baik dan dapat diterima karena tidak bertentangan dengan syara'. Seperti
mengadakan pertunangan sebelum melangsungkan akad nikah, dipandang baik, telah
menjadi kebiasaan dalam masyarakat dan tidak bertentangan dengan syara'.

'Urf fasid
Ialah 'urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan syara'.
Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau suatu tempat yang
19
dipandang keramat. Hal ini tidak dapat diterima, karena berlawanan dengan ajaran
tauhid yang diajarkan agama Islam.

Ditinjau dari ruang lingkup berlakunya, 'urf terbagi kepada:

'Urf 'âm
Ialah 'urf yang berlaku pada suatu tempat, masa dan keadaan, seperti memberi hadiah
(tip) kepada orang yang telah memberikan jasanya kepada kita, mengucapkan terima
kasih kepada orang yang telah membantu kita dan sebagainya. Pengertian memberi
hadiah di sini dikecualikan bagi orang-orang yang memang menjadi tugas kewajibannya
memberikan jasa itu dan untuk pemberian jasa itu, ia telah memperoleh imbalan jasa
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada, seperti hubungan penguasa
atau pejabat dan karyawan pemerintah dalam urusan yang menjadi tugas kewajibannya
dengan rakyat/ masyarakat yang dilayani, sebagai mana ditegaskan oleh Hadits Nabi
Muhammad SAW:



"Barangsiapa telah memberi syafa'at (misalnya jasa) kepada saudaranya berupa satu
syafa'at (jasa), maka orang itu memberinya satu hadiah lantas hadiah itu dia terima,
maka perbuatannya itu berarti ia telah mendatangi/ memasuki satu pintu yang besar dari
pintu-pintu riba.”

Hadits ini menjelaskan hubungan penguasa dengan rakyatnya.

'Urf khash
Ialah 'urf yang hanya berlaku pada tempat, masa atau keadaan tertentu saja. Seperti
mengadakan halal bi halal yang biasa dilakukan oleh bangsa Indonesia yang beragama
Islam pada setiap selesai menunaikan ibadah puasa bulan Ramadhan, sedang pada
negara-negara Islam lain tidak dibiasakan.


C. Dasar Hukum 'Urf

Para ulama sepakat bahwa 'urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak
bertentangan dengan syara'. Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka
20
bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah
menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Imam Syafi'i
terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau
menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul
qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa
ketiga madzhab itu berhujjah dengan 'urf. Tentu saja 'urf fasid tidak mereka jadikan
sebagai dasar hujjah.


D. Kaidah-kaidah yang Berhubungan dengan 'Urf

Di antara kaidah-kaidah fiqhiyah yang berhubungan dengan 'urf ialah:



"Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukum."



"Perbuatan manusia yang telah tetap dikerjakannya wajib beramal dengannya."



"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan
masa."
21


SADDUDZ DZARI’AH SADDUDZ DZARI’AH SADDUDZ DZARI’AH SADDUDZ DZARI’AH


Tujuan penetapan hukum secara saddudz dzarî'ah ini ialah untuk memudahkan
tercapainya kemaslahatan atau jauhnya kemungkinan terjadinya kerusakan, atau
terhindarnya diri dari kemungkinan perbuatan maksiat. Hal ini sesuai dengan tujuan
ditetapkan hukum atas mukallaf, yaitu untuk mencapai kemaslahatan dan menjauhkan
diri dari kerusakan.


A. Pengertian Saddudz Dzarî'ah

Saddudz dzarî'ah terdiri atas dua perkara yaitu saddu dan dzarî'ah. Saddu berarti
penghalang, hambatan atau sumbatan, sedang dzarî'ah berarti jalan. Maksudnya,
menghambat atau menghalangi atau menyumbat semua jalan yang menuju kepada
kerusakan atau maksiat.

Tujuan penetapan hukum secara saddudz dzarî'ah ini ialah untuk memudahkan
tercapainya kemaslahatan atau jauhnya kemungkinan terjadinya kerusakan, atau
terhindarnya diri dari kemungkinan perbuatan maksiat. Hal ini sesuai dengan tujuan
ditetapkan hukum atas mukallaf, yaitu untuk mencapai kemaslahatan dan menjauhkan
diri dari kerusakan. Untuk mencapai tujuan ini syari'at menetapkan perintah-perintah dan
larangan-larangan. Dalam memenuhi perintah dan menghentikan larangan itu, ada yang
dapat dikerjakan secara langsung dan ada pula yang tidak dapat dilaksanakan secara
langsung, perlu ada hal yang harus dikerjakan sebelumnya.

Inilah yang dimaksud dengan kaidah:

22


"Semua yang menyempurnakan perbuatan wajib, maka ia tiada lain hanyalah wajib
pula."

Sebagai contoh ialah kewajiban mengerjakan shalat yang lima waktu. Seseorang baru
dapat mengerjakan shalat itu bila telah belajar shalat terlebih dahulu, tanpa belajar ia
tidak akan dapat mengerjakannya. Dalam hal ini tampak bahwa belajar shalat itu tidak
wajib. Tetapi karena ia menentukan apakah kewajiban itu dapat dikerjakan atau tidak,
sangat tergantung kepadanya. Berdasarkan hal ini ditetapkanlah hukum wajib belajar
shalat, sebagaimana halnya hukum shalat itu sendiri.

Demikian pula halnya dengan larangan. Ada perbuatan itu yang dilarang secara
langsung dan ada yang dilarang secara tidak langsung. Yang dilarang secara langsung,
ialah seperti minum khamar, berzina dan sebagainya. Yang dilarang secara tidak
langsung seperti membuka warung yang menjual minum khamar, berkhalwat antara laki-
laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram. Menjual khamar pada
hakikatnnya tidak dilarang, tetapi perbuatan itu membuka pintu yang menuju pada
minum khamar, maka perbuatan itu dilarang. Demikian pula halnya dengan berkhalwat
yang dapat membuka jalan kepada perbuatan zina, maka iapun dilarang. Dengan
menetapkan hukumnya sama dengan perbuatan yang sebenarnya, maka tertutuplah
pintu atau jalan yang menuju kearah perbuatan-perbuatan maksiat.


B. Dasar Hukum Saddudz Dzarî'ah

Dasar hukum dari saddudz dzarî'ah ialah al-Quran dan Hadits, yaitu:

Firman Allah SWT:



"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,
karena mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (al-
An'âm: 108)

23
Mencaci berhala tidak dilarang Allah SWT, tetapi ayat ini melarang kaum muslimin
mencaci dan menghina berhala, karena larangan ini dapat menutup pintu ke arah
tindakan orang-orang musyrik mencaci dan memaki Allah secara melampaui batas.

Dan firman Allah SWT:



"...Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang
mereka sembunyikan..." (an-Nûr: 31)

Wanita menghentakkan kakinya sehingga terdengar gemerincing gelang kakinya tidaklah
dilarang, tetapi karena perbuatan itu akan menarik hati laki-laki lain untuk mengajaknya
berbuat zina, maka perbuatan itu dilarang pula sebagai usaha untuk menutup pintu yang
menuju ke arah perbuatan zina.

Nabi Muhammad SAW bersabda:



"Ketahuilah, tanaman Allah adalah (perbuatan) maksiat yang (dilakukan) keadaan-Nya.
Barangsiapa menggembalakan (ternaknya) sekitar tanaman itu, ia akan terjerumus ke
dalamnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menerangkan bahwa mengerjakan perbuatan yang dapat mengarah kepada
perbuatan maksiat lebih besar kemungkinan akan terjerumus mengerjakan kemaksiatan
itu daripada kemungkinan dapat memelihara diri dari perbuatan itu. Tindakan yang paling
selamat ialah melarang perbuatan yang mengarah kepada perbuatan maksiat itu.


C. Objek Saddudz Dzarî'ah

Perbuatan yang mengarah kepada perbuatan terlarang ada kalanya:
Perbuatan itu pasti menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
Perbuatan itu mungkin menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.

24
Macam yang pertama tidak ada persoalan dan perbuatan ini jelas dilarang
mengerjakannya sebagaimana perbuatan itu sendiri dilarang. Macam yang kedua inilah
yang merupakan objek saddudz dzarî'ah, karena perbuatan tersebut sering mengarah
kepada perbuatan dosa. Dalam hal ini para ulama harus meneliti seberapa jauh
perbuatan itu rnendorong orang yang melakukannya untuk rnengerjakan perbuatan
dosa.

Dalam hal ini ada tiga kemungkinan, yaitu:
Kemungkinan besar perbuatan itu menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
Kemungkinan kecil perbuatan itu menyebabkan dikerjakannya perbuatan terlarang.
Sama kemungkinan dikerjakannya atau tidak dikerjakannya perbuatan terlarang.

Yang no. 1 disebut dzarî'ah qawiyah (jalan yang kuat), sedang no. 2 dan 3 disebut
dzarî'ah dha'ifah (jalan yang lemah).
25


SEKITAR HUKUM SEKITAR HUKUM SEKITAR HUKUM SEKITAR HUKUM


Yang dimaksud ialah hukum yang berpautan dengan perbuatan manusia, yakni yang
dibicarakan dalam ilmu fiqh, bukan hukum yang berpautan dengan akidah dan akhlaq.

Menurut bahasa, hukum diartikan:



“Menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakan sesuatu daripadanya.”

Menurut istilah ahli Ushul Fiqh, hukum adalah:



“Titah Allah (atau sabda rasuI) yang mengenal pekerjaan mukallaf (orang yang telah
baligh dan berakal), baik titah itu mengandung tuntutan, suruhan atau larangan, atau
semata-mata menerangkan kebolehan, atau menjadikan sesuatu itu sebab, atau syarat
atau penghalang bagi sesuatu hukum.”

Menurut istilah ahli fiqh, yang disebut hukum ialah bekasan dari titah Allah atau sabda
rasul. Apabila disebut hukum syara', maka yang dimaksud ialah hukum yang berpautan
dengan perbuatan manusia, yakni yang dibicarakan dalam ilmu fiqh, bukan hukum yang
berpautan dengan akidah dan akhlaq.

26
Dengan memperhatikan pengertian hukum sebagaimana tersebut di atas, maka nyatalah
bahwa hukum itu ada yang mengandung tuntutan, ada yang mengandung keterangan
sebab, syarat, mani' (pencegah berlakunya hukum), sah, batal, rukhshah dan azimah.

Hukum yang mengandung tuntutan (suruhan atau larangan) dinamai hukum taklify,
hukum yang mengandung takhyir (kebolehan mengerjakan dan tidak mengerjakan)
dinamai hukum takhyiriy, hukum yang menerangkan sebab, syarat, mani', sah, batal,
azimah dan rukhshah dinamai hukum wadh'iy.

Kebanyakan ulama membagi hukum kepada dua jenis saja, yaitu hukum taklify dan
hukum wadl'iy. Berikut ini penjelasan masing-masing sebagai berikut:

A. Hukum Taklify

Dari kalangan para ahli Ushul Fiqh diperoleh keterangan, bahwa titah-titah agama yang
masuk ke dalam taklify ada empat macam yaitu:

1. Ijab (Mewajibkan)

Yaitu titah yang mengandung suruhan yang mesti dikerjakan, umpamanya firman Allah:



“Sembahlah olehmu akan Allah.” (an-Nisâ': 35)

Bekasan ijab disebut wujuh dan pekerjaan yang dikenai hukum wujub disebut wajib.

2. Nadb (Anjuran Supaya Dikerjakan)

Yaitu titah yang mengandung suruhan yang tidak mesti dikerjakan, hanya merupakan
anjuran melaksanakannya. Ketidakmustian dikerjakan itu diperoleh dari qarinah di luar
suruhan itu, umpamanya firman Allah:



“Apabila kamu hutang dengan berjanji akan membayarnya pada ketika yang telah
ditentukan, maka tulislah hutang itu.” (al-Baqarah: 282)

27
Suruhan menulis atau membuat keterangan tertulis tidak bersifat mesti melainkan
merupakan anjuran, sebab pada akhir ayat tersebut Allah berfirman lagi:



“Maka jika satu sama lain saling mempercayai, hendaknya si yang dipertaruhkan amanat
kepadanya (yang berhutang) menunaikan amanat itu dan hendaklah ia takut kepada
Allah.” (al-Baqarah: 283)

Titah yang serupa ini disebut nadb bekasannya disebut nadb, dan pekerjaannya disebut
mandub atau sunat.

3. Tahrim (Mengharamkan)

Yaitu titah yang mengandung larangan yang musti dijauhi, umpamanya firman Allah:



“Janganlah kamu mengatakan cis kepada ibu bapakmu (mencibirkan ibu bapakmu), dan
janganlah kamu menghardik keduanya.” (al-Isrâ': 23)

Titah ini dinamai tahrim, bekasannya disebut muhram, pekerjaannya dinamai haram atau
mahdhur.

4. Karahah (Membencikan)

Yaitu titah yang mengandung larangan namun tidak musti dijauhi. Ketidakmustian kita
menjauhinya itu diperoleh dari qarinah-qarinah yang terdapat di sekelilingnya yang
merubah larangan itu dari mesti ditinggalkan kepada tidak mesti ditinggalkan,
umpamanya firman Allah:



“Apabila kamu diseru kepada shalat Jum'at di hari Jum'at, maka bersegeralah kamu ke
masjid untuk menyebut Allah (mengerjakan shalat Jum'at) dan tinggalkanlah berjual beli.”
(al-Jumu'ah: 9)
28

Dalam ayat ini perkataan “tinggalkanlah berjual beli”, sama artinya dengan “jangan kamu
berjualan”, hanya saja karena larangan berjual beli di sini sebagai sebab di luar dari
pekerjaan itu, maka larangan di sini tidak bersifat mengharamkan, melainkan hanya
memakruhkan.

Titah semacam ini disebut karahah, bekasannya disebut karihah, pekerjaannya disebut
makruh.

Jumhur ahli ushul fiqh tidak membedakan antara titah yang mengandung suruhan yang
musti dikerjakan yakni antara titah yang qath'iy dengan titah yang zhanniy, keduanya
disebut ijab atau fardl.

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa titah yang mengandung suruhan yang musti
dikerjakan itu kalau qath'iy disebut fardl, kalau zhanniy disebut ijab.

Titah yang mengandung suruhan yang tidak musti dikerjakan mereka bagi sunnah dan
nadb. Titah yang mengandung larangan yang musti dijauhi, kalau qath'iy dinamai tahrim,
kalau zhanniy dinamakan karahah tahrim. Yang disebut karahah oleh Jumhur mereka
namai karahah tanzih.

Titah-titah yang dikerjakan untuk menyempurnakan hukum-hukum yang wajib semisal
adzan, mereka namai sunnah hadyin.

Dengan demikian maka hukum menurut ulama Hanafiyah dibagi kepada delapan
macam, yaitu: (1) Fardlu; (2) Ijab; (3) Tahrim; (4) Karahah Tahrim; (5) Karahah Tanzih;
(6) Sunnatu Hadyin, (7) Nadb; dan (8) Ibadah.


B. Hukum Takhyiry

Hukum takhyiry ialah titah yang memberikan hak memilih atau ibadah, yakni titah yang
menerangkan kebolehan kita mengerjakan atau tidak mengerjakan pekerjaan yang
dititahkan. Titah itu dinamai ibadah, sedangkan pekerjaannya dinamakan mubah.


C. Hukum Wadl'iy

Al-Amidi dalam kitabnya al-lhkam menerangkan bahwa hukum wadl'iy itu ada tujuh
macam, sebagai berikut:
29

Titah yang menetapkan bahwa sesuatu itu dijadikan sebab bagi wajib dikerjakan suatu
pekejaan, misalnya firman Allah:



“Maka barangsiapa menyaksikan (melihat) bulan daripada kamu, maka hendaklah ia
berpuasa.” (al-Baqarah: 185)

Titah yang menerangkan bahwa sesuatu itu dijadikan syarat bagi sesuatu, misalnya
sabda Rasulullah SAW:



“Allah tiada menerima shalat salah seorang di antara kamu bila dia berhadats
sehingga ia berwudlu.”

Berdasarkan hadits tersebut nyatalah bahwa suci dari hadats ditetapkan sebagai
syarat bagi diterimanya shalat.

Titah yang menerangkan bahwa sesuatu itu menghalangi berlakunya (sahnya) sesuatu
hukum, umpamanya sabda Rasulallah SAW:



“Janganlah seseorang itu menyepi dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang
menyertainya.”

Titah yang menerangkan sahnya suatu pekerjaan, yaitu apabila kita diperintah
mengerjakan suatu pekerjaan dan telah memenuhi sebab dan syaratnya serta
terlepas dari penghalangnya, yakinlah kita bahwa pekerjaan itu telah menjadi sah,
melepaskan diri dari tugas-tugas pelaksanaannya

Titah yang menerangkan bahwa sesuatu itu batal, tidak dipandang sah, tidak dihukum
terlepas yang membuatnya dari tugas.
30

Titah yang menetapkan atas para mukallaf, tugas-tugas yang diberatkan sebagai suatu
hukum yang umum, bukan karena suatu pengecualian, disebut azimah. Bekasan dari
azimah disebut azimah, pekerjaannya disebut azimah.

Titah yang memberi pengertian, bahwa hukum yang dimaksudkan itu sebagai ganti
dari hukum azimah, yakni yang dikerjakan lantaran dipandang sukar menjalankan
yang azimah. Bekasannya disebut rukhshah, pekerjaannya disebut rukhshah pula.
31


TERMINOLOGI ILMU FIQ TERMINOLOGI ILMU FIQ TERMINOLOGI ILMU FIQ TERMINOLOGI ILMU FIQH HH H


Salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan
hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi,
bermasyarakat maupun hubungan manusia dengan Penciptanya.

Ada beberapa definisi fiqh yang dikemukakan ulama fiqh sesuai dengan perkembangan
arti fiqh itu sendiri. Misalnya, Imam Abu Hanifah mendefinisikan fiqh sebagai
pengetahuan seseorang tentang hak dan kewajibannya. Definisi ini meliputi semua
aspek kehidupan, yaitu aqidah, syariat dan akhlak. Fiqh di zamannya dan di zaman
sebelumnya masih dipahami secara luas, mencakup bidang ibadah, muamalah dan
akhlak. Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan pembidangan ilmu yang
semakin tegas, ulama ushul fiqh mendefinisikan fiqh sebagai ilmu tentang hukum syara'
yang bersifat praktis yang diperoleh melalui dalil yang terperinci. Definisi tersebut
dikemukakan oleh Imam al-Amidi, dan merupakan definisi fiqh yang populer hingga
sekarang.

Ulama usul fiqh menguraikan kandungan definisi ini sebagai berikut:
Fiqh merupakan suatu ilmu yang mempunyai tema pokok dengan kaidah dan prinsip
tertentu. Karenanya dalam kajian fiqh para fuqaha menggunakan metode-metode
tertentu, seperti qiyas, istihsan, istishab, istislah, dan sadd az-Zari'ah (az-Zari'ah);
Fiqh adalah ilmu tentang hukum syar'iyyah, yaitu Kalamullah/ Kitabullah yang berkaitan
dengan perbuatan manusia, baik dalam bentuk perintah untuk berbuat, larangan,
pilihan, maupun yang lainnya. Karenanya, fiqh diambil dari sumber-sumber syariat,
bukan dari akal atau perasaan;
Fiqh adalah ilmu tentang hukum syar'iyyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia,
baik dalam bentuk ibadah maupun muamalah. Atas dasar itu, hukum aqidah dan
akhlak tidak termasuk fiqh, karena fiqh adalah hukum syara' yang bersifat praktis
32
yang diperoleh dari proses istidlal atau istinbath (penyimpulan) dari sumber-sumber
hukum yang benar; dan
Fiqh diperoleh melalui dalil yang tafsili (terperinci), yaitu dari al-Quran, sunnah Nabi
SAW, qiyas, dan ijma' melalui proses istidlal, istinbath, atau nahr (analisis). Yang
dimaksudkan dengan dalil tafsili adalah dalil yang menunjukkan suatu hukum tertentu.
Misalnya, firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2) ayat 43: "..... dirikanlah shalat
dan tunaikanlah zakat....." Ayat ini disebut tafsili karena hanya menunjukkan hukum
tertentu dari perbuatan tertentu pula, yaitu shalat dan zakat adalah wajib hukumnya.
Dengan demikian menurut para ahli ushul fiqh, hukum fiqh tersebut tidak terlepas dari
an-Nusus al-Muqaddasah (teks-teks suci). Karenanya, suatu hukum tidak dinamakan
fiqh apabila analisis untuk memperoleh hukum itu bukan melalui istidlal atau istinbath
kepada salah satu sumber syariat.

Berdasarkan hal tersebut, menurut Fathi ad-Duraini (ahli fiqh dan usul fiqh dari
Universitas Damaskus), fiqh merupakan suatu upaya memperoleh hukum syara' melalui
kaidah dan metode usul fiqh. Sedangkan istilah fiqh di kalangan fuqaha mengandung
dua pengertian, yaitu:
Memelihara hukum furu' (hukum keagamaan yang tidak pokok) secara mutlak
(seluruhnya) atau sebagiannya; dan
Materi hukum itu sendiri, baik yang bersifat qath'i (pasti) maupun yang bersifat dzanni
(relatif) (Qath'i dan Zanni).

Menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa (ahli fiqh dari Yordania), fiqh meliputi:
Ilmu tentang hukum, termasuk usul fiqh; dan
Kumpulan hukum furu'.
33


TARIKH AT TARIKH AT TARIKH AT TARIKH AT- -- -TASYRI TASYRI TASYRI TASYRI


Dalam menyusun sejarah pembentukan dan pembinaan hukum (fiqh) Islam, di kalangan
ulama fiqh kontemporer terdapat beberapa macam cara. Dua di antaranya yang terkenal
adalah cara menurut Syaikh Muhammad Khudari Bek (mantan dosen Universitas Kairo)
dan cara Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru besar fiqh Islam Universitas Amman,
Yordania).

Cara pertama, periodisasi pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Syaikh Muhammad
Khudari Bek dalam bukunya, Tarikh at-Tasyri' al-Islamy (Sejarah Pembentukan Hukum
Islam). Ia membagi masa pembentukan hukum (fiqh) Islam dalam enam periode, yaitu:
Periode awal, sejak Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasul;
Periode para sahabat besar;
Periode sahabat kecil dan thabi'in;
Periode awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4 H;
Periode berkembangnya madzhab dan munculnya taqlid madzhab; dan
Periode jatuhnya Baghdad (pertengahan abad ke-7 H oleh Hulagu Khan [1217-1265])
sampai sekarang.

Cara kedua, pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Mustafa Ahmad az-Zarqa dalam
bukunya, al-Madkhal al-Fiqhi al-'Amm (Pengantar Umum fiqh Islam). Ia membagi
periodisasi pembentukan dan pembinaan hukum Islam dalam tujuh periode. Ia setuju
dengan pembagian Syaikh Khudari Bek sampai periode kelima, tetapi ia membagi
periode keenam menjadi dua bagian, yaitu:
34
Periode sejak pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al-
'Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada tahun 1286 H; dan
Periode sejak munculnya Majalah al-Al-Akam al-'Adliyyah sampai sekarang.

Secara lengkap periodisasi sejarah pembentukan hukum Islam menurut Mustafa Ahmad
az-Zarqa adalah sebagai berikut.


A. Periode Pertama: Masa Rasulullah SAW

Pada periode ini, kekuasaan pembentukan hukum berada di tangan Rasulullah SAW.
Sumber hukum Islam ketika itu adalah al-Quran. Apabila ayat al-Quran tidak turun ketika
ia menghadapi suatu masalah, maka ia, dengan bimbingan Allah SWT menentukan
hukum sendiri. Yang disebut terakhir ini dinamakan sunnah Rasulullah SAW. Istilah fiqh
dalam pengertian yang dikemukakan ulama fiqh klasik maupun modern belum dikenal
ketika itu. Ilmu dan fiqh pada masa Rasulullah SAW mengandung pengertian yang
sama, yaitu mengetahui dan memahami dalil berupa al-Quran dan sunnah Rasulullah
SAW.

Pengertian fiqh di zaman Rasulullah SAW adalah seluruh yang dapat dipahami dari nash
(ayat atau hadits), baik yang berkaitan dengan masalah aqidah, hukum, maupun
kebudayaan. Di samping itu, fiqh pada periode ini bersifat aktual, bukan bersifat teori.
Penentuan hukum terhadap suatu masalah baru ditentukan setelah kasus tersebut
terjadi, dan hukum yang ditentukan hanya menyangkut kasus itu. Dengan demikian,
menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa, pada periode Rasulullah SAW belum muncul teori
hukum seperti yang dikenal pada beberapa periode sesudahnya. Sekalipun demikian,
Rasulullah SAW telah mengemukakan kaidah-kaidah umum dalam pembentukan hukum
Islam, baik yang berasal dari al-Quran maupun dari sunnahnya sendiri.


B. Periode Kedua: Masa al-Khulafa' ar-Rasyidin Sampai Pertengahan Abad I H

Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah yang
menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW. setelah ia wafat,
rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi. Oleh sebab itu, para sahabat besar melihat
bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam
masyarakat tidak ditemukan di dalam al-Quran atau sunnah Rasulullah SAW. Di tambah
lagi, bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin
berkembang karena perbedaan budaya di masing-masing daerah.

35
Dalam keadaan seperti ini, para sahabat berupaya untuk melakukan ijtihad dan
menjawab persoalan yang dipertanyakan tersebut dengan hasil ijtihad mereka. Ketika itu
para sahabat melakukan ijtihad dengan berkumpul dan memusyawarahkan persoalan
itu. Apabila sahabat yang menghadapi persoalan itu tidak memiliki teman musyawarah
atau sendiri, maka ia melakukan ijtihad sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang telah
ditinggalkan Rasulullah SAW. Pengertian fiqh dalam periode ini masih sama dengan fiqh
di zaman Rasulullah SAW, yaitu bersifat aktual, bukan teori. Artinya, ketentuan hukum
bagi suatu masalah terbatas pada kasus itu saja, tidak merambat kepada kasus lain
secara teoretis.


C. Periode Ketiga: Pertengahan Abad I H Sampai Awal Abad II H.

Periode ini merupakan awal pembentukan fiqh Islam. Sejak zaman ‘Utsman bin Affan
(576-656), khalifah ketiga, para sahabat sudah banyak yang bertebaran di berbagai
daerah yang ditaklukkan Islam. Masing-masing sahabat mengajarkan al-Quraan dan
hadits Rasulullah SAW kepada penduduk setempat. Di Iraq dikenal sebagai
pengembang hukum Islam adalah ‘Abdullah bin Mas'ud (Ibnu Mas'ud), Zaid bin Sabit (11
SH/ 611 M-45 H/ 665 M) dan ‘Abdullah bin ‘Umar (Ibnu ‘Umar) di Madinah dan Ibnu
‘Abbas di Makkah. Masing-masing sahabat ini menghadapi persoalan yang berbeda,
sesuai dengan keadaan masyarakat setempat.

Para sahabat ini kemudian berhasil membina kader masing-masing yang dikenal dengan
para thabi'in. Para thabi'in yang terkenal itu adalah Sa'id bin Musayyab (15-94 H) di
Madinah, Atha bin Abi Rabah (27-114 H) di Makkah, Ibrahim an-Nakha'i (w. 76 H) di
Kufah, al-Hasan al-Basri (21 H/ 642 M-110 H/ 728 M) di Basra, Makhul di Syam (Suriah)
dan Tawus di Yaman. Mereka ini kemudian menjadi guru-guru terkenal di daerah
masing-masing dan menjadi panutan untuk masyarakat setempat. Persoalan yang
mereka hadapi di daerah masing-masing berbeda sehingga muncullah hasil ijtihad yang
berbeda pula. Masing-masing ‘ulama di daerah tersebut berupaya mengikuti metode
ijtihad sahabat yang ada di daerah mereka, sehingga muncullah sikap fanatisme
terhadap para sahabat tersebut.

Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah
dalam fiqh Islam madrasah al-hadits (madrasah = aliran) dan madrasah ar-ra'yu.
Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan madrasah al-Hijaz dan
madrasah al-Madinah; sedangkan madrasah ar-ra'yu dikenal dengan sebutan madrasah
al-Iraq dan madrasah al-Kufah.

36
Kedua aliran ini menganut prinsip yang
berbeda dalam metode ijtihad. madrasah al-
Hijaz dikenal sangat kuat berpegang pada
hadits karena mereka banyak mengetahui
hadits-hadits Rasulullah SAW, di samping
kasus-kasus yang mereka hadapi bersifat
sederhana dan pemecahannya tidak banyak
memerlukan logika dalam berijtihad.
Sedangkan madrasah al-Iraq dalam
menjawab permasalahan hukum lebih banyak
menggunakan logika dalam berijtihad.

Hal ini mereka lakukan karena hadits-hadits Rasulullah SAW yang sampai pada mereka
terbatas, sedangkan kasus-kasus yang mereka hadapi jauh lebih berat dan beragam,
baik secara kualitas maupun kuantitas, dibandingkan dengan yang dihadapi madrasah
al-Hijaz. ‘Ulama Hijaz (Hedzjaz) berhadapan dengan suku bangsa yang memiliki budaya
homogen, sedangkan ‘ulama Irak berhadapan dengan masyarakat yang relatif majemuk.
Oleh sebab itu, menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa, tidak mengherankan jika ulama Irak
banyak menggunakan logika dalam berijtihad.

Pada periode ini, pengertian fiqh sudah beranjak dan tidak sama lagi dengan pengertian
ilmu, sebagaimana yang dipahami pada periode pertama dan kedua, karena fiqh sudah
menjelma sebagai salah satu cabang ilmu keislaman yang mengandung pengertian
mengetahui hukum-hukum syara' yang bersifat amali (praktis) dari dalil-dalilnya yang
terperinci. Di samping fiqh, pada periode ketiga ini pun ushul fiqh telah matang menjadi
salah satu cabang ilmu keislaman. Berbagai metode ijtihad seperti qiyas, istihsan dan
istislah, telah dikembangkan oleh ‘ulama fiqh. Dalam perkembangannya, fiqh tidak saja
membahas persoalan aktual, tetapi juga menjawab persoalan yang akan terjadi,
sehingga bermunculanlah fiqh iftirâdî (fiqh berdasarkan pengandaian tentang persoalan
yang akan terjadi di masa datang).

Pada periode ketiga ini pengaruh ra'yu (ar-ra'yu; pemikiran tanpa berpedoman kepada
al-Quran dan sunnah secara langsung) dalam fiqh semakin berkembang karena ‘ulama
madrasah al-hadits juga mempergunakan ra'yu dalam fiqh mereka. Di samping itu, di
Irak muncul pula fiqh Syiah yang dalam beberapa hal berbeda dari fiqh Ahlusunnah wal
Jama'ah.


D. Periode Keempat: Pertengahan Abad II Sampai Pertengahan Abad IV H

37
Periode ini disebut sebagai periode gemilang karena fiqh dan ijtihad ‘ulama semakin
berkembang. Pada periode inilah muncul berbagai mazhab, khususnya mazhab yang
empat, yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali.
Pertentangan antara madrasah al-hadits dengan Madrasah ar-ra'yu semakin menipis
sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra'yu dalam berijtihad, seperti yang
diungkapkan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah, guru besar fiqh di Universitas al-Azhar,
Mesir, bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama, karena ternyata kemudian
masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain.

Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, ulama dari Mazhab Hanafi yang dikenal
sebagai Ahlurra'yu (Ahlulhadits dan Ahlurra'yu), datang ke Madinah berguru kepada
Imam Malik dan mempelajari kitabnya, al-Muwaththa' (buku hadits dan fiqh). Imam asy-
Syafi'i, salah seorang tokoh ahlulhadits, datang belajar kepada Muhammad bin Hasan
asy-Syaibani. Imam Abu Yusuf, tokoh ahlurra'yu, banyak mendukung pendapat ahli
hadits dengan mempergunakan hadits-hadits Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, menurut
Imam Muhammad Abu Zahrah. kitab-kitab fiqh banyak berisi ra'yu dan hadits. Hal ini
menunjukkan adanya titik temu antara masing-masing kelompok.

Kitab-kitab fiqh pun mulai disusun pada periode ini, dan pemerintah pun mulai menganut
salah satu mazhab fiqh resmi negara, seperti dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah
yang menjadikan fiqh Mazhab Hanafi sebagai pegangan para hakim di pengadilan. Di
samping sempurnanya penyusunan kitab-kitab fiqh dalam berbagai mazhab, dalam
periode ini juga disusun kitab-kitab ushul fiqh, seperti kitab ar-Risalah yang disusun oleh
Imam asy-Syafi'i. Sebagaimana pada periode ketiga, pada periode ini fiqh iftirâdî
semakin berkembang karena pendekatan yang dilakukan dalam fiqh tidak lagi
pendekatan aktual di kala itu, tetapi mulai bergeser pada pendekatan teoritis. Oleh sebab
itu, hukum untuk permasalahan yang mungkin akan terjadi pun sudah ditentukan.


E. Periode Kelima: Pertengahan Abad IV Sampai Pertengahan Abad VII H.

Periode ini ditandai dengan menurunnya semangat ijtihad dikalangan ‘ulama fiqh,
bahkan mereka cukup puas dengan fiqh yang telah disusun dalam berbagai mazhab.
‘Ulama lebih banyak mencurahkan perhatian dalam mengomentari, memperluas atau
meringkas masalah yang ada dalam kitab fiqh mazhab masing-masing. Lebih jauh,
Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa pada periode ini muncullah anggapan
bahwa pintu ijtihad sudah tertutup. Imam Muhammad Abu Zahrah menyatakan beberapa
penyebab yang menjadikan tertutupnya pintu ijtihad pada periode ini, yaitu sebagai
berikut:
38
Munculnya sikap ta'assub madzhab (fanatisme madzhab imamnya) di kalangan
pengikut madzhab. ‘Ulama ketika itu merasa lebih baik mengikuti pendapat yang ada
dalam madzhab daripada mengikuti metode yang dikembangkan imam madzhabnya
untuk melakukan ijtihad;
Dipilihnya para hakim yang hanya bertaqlid kepada suatu madzhab oleh pihak
penguasa untuk menyelesaikan persoalan, sehingga hukum fiqh yang diterapkan
hanyalah hukum fiqh madzhabnya; sedangkan sebelum periode ini, para hakim yang
ditunjuk oleh penguasa adalah ulama mujtahid yang tidak terikat sama sekali pada
suatu mazhab; dan
Munculnya buku-buku fiqh yang disusun oleh masing-masing madzhab; hal ini pun,
menurut Imam Muhammad Abu Zahrah, membuat umat Islam mencukupkan diri
mengikuti yang tertulis dalam buku-buku tersebut.

Sekalipun ada mujtahid yang melakukan ijtihad ketika itu, ijtihadnya hanya terbatas pada
mazhab yang dianutnya. Di samping itu, menurut Imam Muhammad Abu Zahrah,
perkembangan pemikiran fiqh serta metode iitihad menyebabkan banyaknya upaya
tarjadi (menguatkan satu pendapat) dari ulama dan munculnya perdebatan
antarmadzhab di seluruh daerah. Hal ini pun menyebabkan masing-masing pihak/
madzhab menyadari kembali kekuatan dan kelemahan masing-masing. Akan tetapi,
sebagaimana dituturkan Imam Muhammad Abu Zahrah, perdebatan ini kadang-kadang
jauh dari sikap-sikap ilmiah.


F. Periode Keenam: Pertengahan Abad VII H Sampai Munculnya Majalah al-Ahkam
al-'Adliyyah pada Tahun 1286 H

Periode ini diawali dengan kelemahan semangat ijtihad dan berkembangnya taqlid serta
ta'assub (fanatisme) madzhab. Penyelesaian masalah fiqh tidak lagi mengacu pada al-
Quran dan sunnah Rasulullah SAW serta pertimbangan tujuan syara' dalam menetapkan
hukum, tetapi telah beralih pada sikap mempertahankan pendapat madzhab secara
jumud (konservatif). Upaya mentakhrij (mengembangkan fiqh melalui metode yang
dikembangkan imam mazhab) dan mentarjih pun sudah mulai memudar.

‘Ulama merasa sudah cukup dengan mempelajari sebuah kitab fiqh dari kalangan
madzhabnya, sehingga penyusunan kitab fiqh pada periode ini pun hanya terbatas pada
meringkas dan mengomentari kitab fiqh tertentu. Di akhir periode ini pemikiran ilmiah
berubah menjadi hal yang langka. Di samping itu, keinginan penguasa pun sudah masuk
ke dalam masalah-masalah fiqh. Pada akhir periode ini dimulai upaya kodifikasi fiqh
(hukum) Islam yang seluruhnya diambilkan dari madzhab resmi pemerintah ‘Usmani
39
(Kerajaan Ottoman; 1300-1922), yaitu Madzhab Hanafi, yang dikenal dengan Majalah al-
Ahkam al-'Adliyyah.


G. Periode Ketujuh: Sejak Munculnya Majalah al-Ahkam al- 'Adliyyah Sampai
Sekarang

Ada tiga ciri pembentukan fiqh Islam pada periode ini, yaitu:
Munculnya Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah sebagai hukum perdata umum yang
diambilkan dari fiqh Mazhab Hanafi;
Berkembangnya upaya kodifikasi hukum Islam; dan
Munculnya pemikiran untuk memanfaatkan berbagai pendapat yang ada di seluruh
madzhab, sesuai dengan kebutuhan zaman.

Munculnya kodifikasi hukum Islam dalam bentuk Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah
dilatarbelakangi oleh kesulitan para hakim dalam menentukan hukum yang akan
diterapkan di pengadilan, sementara kitab-kitab fiqh muncul dari berbagai madzhab dan
sering dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat. Memilih pendapat terkuat dari
berbagai kitab fiqh merupakan kesulitan bagi para hakim di pengadilan, di samping
memerlukan waktu yang lama. Oleh sebab itu, pemerintah ‘Utsmani berpendapat bahwa
harus ada satu kitab fiqh/ hukum yang bisa dirujuk dan diterapkan di pengadilan.

Untuk mencapai tujuan ini dibentuklah sebuah panitia kodifikasi hukum perdata. Pada
tahun 1286 H panitia ini berhasil menyusun hukum perdata ‘Utsmani yang dinamai
dengan Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah yang terdiri atas 1851 pasal. Setelah berhasil
dengan penyusunan Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah, para penguasa di negeri-negeri
Islam yang tidak tunduk di bawah kekuasaan ‘Utsmani mulai pula menyusun kodifikasi
hukum secara terbatas, baik bidang perdata, pidana, maupun ketatanegaraan.

Pada abad ke-19 muncul berbagai pemikiran di kalangan ‘ulama dari berbagai negara
Islam untuk mengambil pendapat-pendapat dari berbagai madzhab serta menimbang
dalil yang paling kuat di antara semua pendapat itu. Pengambilan pendapat dilakukan
tidak saja dari madzhab yang empat, tetapi juga dari para sahabat dan thabi'in, dengan
syarat bahwa pendapat itu lebih tepat dan sesuai. Bersumber dari berbagai pendapat
atas pendapat terkuat dari berbagai madzhab, maka pada tahun 1333 H pemerintah
‘Utsmani menyusun kitab hukum keluarga (al-Ahwal asy-Syakhsiyyah) yang merupakan
gabungan dari berbagai pendapat madzhab.

Di dalam al-Ahwal asy-Syakhsiyyah ini terdapat berbagai pemikiran madzhab yang
dianggap lebih sesuai diterapkan. Sejak saat itu bermunculanlah kodifikasi hukum Islam
40
dalam berbagai bidang hukum. Pada tahun 1920 dan 1925 pemerintah Mesir menyusun
kitab hukum perdata dan hukum keluarga yang disaring dari pendapat yang ada dalam
berbagai kitab fiqh. Dengan demikian, seluruh pendapat dalam mazhab fiqh merupakan
suatu kumpulan hukum dan boleh dipilih untuk diterapkan di berbagai daerah sesuai
dengan kebutuhan.

Semangat kodifikasi hukum (fiqh) Islam di berbagai negara Islam ikut didorong oleh
pengaruh hukum Barat yang mulai merambat ke berbagai dunia Islam. Pengaruh hukum
Barat ini menyadarkan ‘ulama untuk merujuk kembali khazanah intelektual mereka dan
memilih pendapat madzhab yang tepat diterapkan saat ini. Lebih jauh lagi, menurut
Mustafa Ahmad az-Zarqa, di daerah yang berpenduduk mayoritas Islam, upaya
penerapan hukum Islam dengan beberapa penyesuaian dengan kondisi setempat mulai
berkembang. Di banyak negara Islam telah bermunculan hukum keluarga yang diambil
dari berbagai pendapat madzhab, seperti di Yordania, Suriah, Sudan, Maroko,
Afghanistan, Turki, Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia.

Ali Hasaballah, ahli fiqh dari Mesir, mengatakan bahwa upaya penerapan hukum Islam di
berbagai neqara Islam semakin tampak. Akan tetapi, pembentukan dan pengembangan
hukum Islam tersebut, menurutnya, tidak harus mengacu kepada kitab-kitab fiqh yang
ada, tetapi dengan melakukan ijtihad kembali ke sumber aslinya, yaitu al-Quran dan
sunnah Rasulullah SAW. Menurutnya, ijtihad jama'i (kolektif) harus dikembangkan
dengan melibatkan berbagai ‘ulama dari berbagai disiplin ilmu, tidak hanya ulama fiqh,
tetapi juga ‘ulama dari disiplin ilmu lainnya, seperti bidang kedokteran dan sosiologi.
Dengan demikian, hukum fiqh menjadi lebih akomodatif jika dibandingkan dengan hukum
fiqh dalam kitab berbagai mazhab.
41


OBJEK ILMU FIQH DAN OBJEK ILMU FIQH DAN OBJEK ILMU FIQH DAN OBJEK ILMU FIQH DAN PEMBAGIAN HUKUM FIQH PEMBAGIAN HUKUM FIQH PEMBAGIAN HUKUM FIQH PEMBAGIAN HUKUM FIQH


Objek bahasan ilmu fiqh adalah setiap perbuatan mukallaf yang memiliki nilai dan telah
ditetapkan hukumnya.

Berdasarkan definisi fiqh yang dikemukakan ulama usul fiqh, yang menjadi objek
bahasan ilmu fiqh adalah setiap perbuatan mukallaf yang memiliki nilai dan telah
ditentukan hukumnya. Nilai perbuatan itu bisa berbentuk wajib (misal: melaksanakan
shalat dan puasa), sunah (misal: bersedekah kepada orang yang membutuhkannya),
mubah (misal: melangsungkan berbagai transaksi yang dibolehkan syara'), haram (misal:
berzina, mencuri, dan membunuh seseorang tanpa sebab yang dibenarkan syara'), atau
makruh (misal: menjatuhkan talak tanpa sebab).

Di samping itu, bidang bahasan ilmu fiqh hanya mencakup hukum yang berkaitan
dengan masalah amaliyah (praktek). Pengetahuan terhadap fiqh bertujuan agar hukum
tersebut dapat dilaksanakan para mukallaf dalam kehidupannya sehari-hari, sekaligus
untuk mengetahui nilai dari perkataan dan perbuatan para mukallaf tersebut.


Pembagian Hukum Fiqh

Ulama fiqh membagi hukum fiqh dengan pembagian sebagai berikut:
Hukum yang berkaitan dengan ibadah mahdlah (khusus), yaitu hukum yang mengatur
persoalan ibadah manusia dengan Allah SWT, seperti shalat, puasa, zakat dan haji.
Hukum yang berkaitan dengan masalah muamalah, yaitu persoalan hubungan sesama
manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan material dan hak masing-masing,
seperti transaksi jual beli, perserikatan dagang dan sewa-menyewa.
Hukum yang berkaitan dengan masalah keluarga (al-ahwal asy-syakhsiyyah), seperti
nikah, talak, rujuk, iddah, nasab dan nafkah.
42
Hukum yang berkaitan dengan tindak pidana (jinayah atau jarimah, dan 'uqubah),
seperti zina, pencurian, perampokan,pembunuhan, pemukulan dan bentuk-bentuk
pelanggaran terhadap anggota tubuh serta harta lainnya.
Hukum yang berkaitan dengan persoalan peradilan dan penyelesaian perkara hak dan
kewajiban sesama manusia (ahkam al-qadla).
Hukum yang berkaitan dengan masalah pemerintahan dan yang mengatur hubungan
antara penguasa dan rakyat (al-ahkam as-sultaniyyah atau siyasah syar'iyyah).
Hukum yang mengatur hubungan antarnegara dalam keadaan perang dan damai (al-
ahkam ad-dauliyyah).
Hukum yang berkaitan dengan persoalan akhlak (al-adab).

Keseluruhan hukum fiqh yang disebutkan di atas tidak hanya terkait dengan masalah
keduniaan tetapi juga mengandung unsur spiritual atau makna keakhiratan. Artinya,
hukum apa pun yang dilakukan seseorang, perhitungannya meliputi perhitungan duniawi
dan perhitungan ukhrawi berupa pahala atau dosa di akhirat. Karenanya, hukum fiqh
berbeda dengan hukum positif. Hukum dalam Islam tidak memisahkan antara persoalan
dunia dan persoalan akhirat, walaupun keduanya dapat dibedakan.
43


MAZHAB FIQH MAZHAB FIQH MAZHAB FIQH MAZHAB FIQH


Dalam perkembangan fiqh di kenal beberapa mazhab fiqh. Berdasarkan keberadaannya,
mazhab fiqh ada yang masih utuh dan dianut masyarakat tertentu, namun ada pula yang
telah punah. Sedangkan berdasarkan aspek teologisnya, mazhab fiqh dapat dibagi
dalam dua kelompok, yaitu Mazhab Ahlusunnah dan Mazhab Syiah.


A. Mazhab Ahlussunnah

Mazhab ini terdiri atas 4 (empat) mazhab populer yang masih utuh sampai sekarang,
yaitu sebagai berikut:

1. Mazhab Hanafi

Pemikiran fiqh dari mazhab ini diawali oleh Imam Abu Hanifah. Ia dikenal sebagai imam
Ahlurra'yi serta faqih dari Irak yang banyak dikunjungi oleh berbagai ‘ulama di zamannya.

Mazhab Hanafi dikenal banyak menggunakan ra'yu, qiyas, dan istihsan. Dalam
memperoleh suatu hukum yang tidak ada dalam nash, kadang-kadang ulama mazhab ini
meninggalkan qaidah qiyas dan menggunakan qaidah istihsan. Alasannya, qaidah umum
(qiyas) tidak bisa diterapkan dalam menghadapi kasus tertentu. Mereka dapat
mendahulukan qiyas apabila suatu hadits mereka nilai sebagai hadits ahad.

Yang menjadi pedoman dalam menetapkan hukum Islam (fiqh) di kalangan Mazhab
Hanafi adalah al-Quran, sunnah Nabi SAW, fatwa sahabat, qiyas, istihsan, ijma'i.
Sumber asli dan utama yang digunakan adalah al-Quran dan sunnah Nabi SAW,
44
sedangkan yang lainnya merupakan dalil dan metode dalam mengistinbathkan hukum
Islam dari kedua sumber tersebut.

Tidak ditemukan catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Imam Abu Hanifah menulis
sebuah buku fiqh. Akan tetapi pendapatnya masih bisa dilacak secara utuh, sebab
muridnya berupaya untuk menyebarluaskan prinsipnya, baik secara lisan maupun
tulisan. Berbagai pendapat Abu Hanifah telah dibukukan oleh muridnya, antara lain
Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dengan judul Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir.
Buku Zahir ar-Riwayah ini terdiri atas 6 (enam) bagian, yaitu:
Bagian pertama diberi nama al-Mabsut;
Bagian kedua al-Jami' al-Kabir;
Bagian ketiga al-Jami' as-Sagir;
Bagian keempat as-Siyar al-Kabir;
Bagian kelima as-Siyar as-Sagir; dan
Bagian keenam az-Ziyadah.

Keenam bagian ini ditemukan secara utuh dalam kitab al-Kafi yang disusun oleh Abi al-
Fadl Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi (w. 344 H.). Kemudian pada abad
ke-5 H. muncul Imam as-Sarakhsi yang mensyarah al-Kafi tersebut dan diberi judul al-
Mabsut. Al-Mabsut inilah yang dianggap sebagai kitab induk dalam Mazhab Hanafi.

Di samping itu, Mazhab Hanafi juga dilestarikan oleh murid Imam Abu Hanifah lainnya,
yaitu Imam Abu Yusuf yang dikenal juga sebagai peletak dasar ushul fiqh Mazhab
Hanafi. Ia antara lain menuliskannya dalam kitabnya al-Kharaj, Ikhtilaf Abu Hanifah wa
Ibn Abi Laila, dan kitab-kitab lainnya yang tidak dijumpai lagi saat ini.

Ajaran Imam Abu Hanifah ini juga dilestarikan oleh Zufar bin Hudail bin Qais al-Kufi (110-
158 H.) dan Ibnu al-Lulu (w. 204 H). Zufar bin Hudail semula termasuk salah seorang
ulama Ahlulhadits. Berkat ajaran yang ditimbanya dari Imam Abu Hanifah langsung, ia
kemudian terkenal sebagai salah seorang tokoh fiqh Mazhab Hanafi yang banyak sekali
menggunakan qiyas. Sedangkan Ibnu al-Lulu juga salah seorang ulama Mazhab Hanafi
yang secara langsung belajar kepada Imam Abu Hanifah, kemudian kepada Imam Abu
Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani.

2. Mazhab Maliki

Pemikiran fiqh mazhab ini diawali oleh Imam Malik. Ia dikenal luas oleh ulama
sezamannya sebagai seorang ahli hadits dan fiqh terkemuka serta tokoh Ahlulhadits.

45
Pemikiran fiqh dan ushul fiqh Imam Malik dapat dilihat dalam kitabnya al-Muwaththa'
yang disusunnya atas permintaan Khalifah Harun ar-Rasyid dan baru selesai di zaman
Khalifah al-Ma'mun. Kitab ini sebenarnya merupakan kitab hadits, tetapi karena disusun
dengan sistematika fiqh dan uraian di dalamnya juga mengandung pemikiran fiqh Imam
Malik dan metode istinbat-nya, maka buku ini juga disebut oleh ulama hadits dan fiqh
belakangan sebagai kitab fiqh. Berkat buku ini, Mazhab Maliki dapat lestari di tangan
murid-muridnya sampai sekarang.

Prinsip dasar Mazhab Maliki ditulis oleh para murid Imam Malik berdasarkan berbagai
isyarat yang mereka temukan dalam al-Muwaththa'. Dasar Mazhab Maliki adalah al-
Quran, Sunnah Nabi SAW, Ijma', tradisi penduduk Madinah (statusnya sama dengan
sunnah menurut mereka), Qiyas, fatwa Sahabat, al-Maslahah al-Mursalah, 'Urf; Istihsan,
Istishab, Sadd az-Zari'ah, dan Syar'u Man Qablana. Pernyataan ini dapat dijumpai dalam
kitab al-Furuq yang disusun oleh Imam al-Qarafi (tokoh fiqh Mazhab Maliki). Imam asy-
Syatibi menyederhanakan dasar fiqh Mazhab Maliki tersebut dalam empat hal, yaitu al-
Qur an, sunnah Nabi SAW, ijma', dan rasio. Alasannya adalah karena menurut Imam
Malik, fatwa sahabat dan tradisi penduduk Madinah di zamannya adalah bagian dari
sunnah Nabi SAW. Yang termasuk rasio adalah al-Maslahah al-Mursalah, Sadd az-
Zari'ah, Istihsan, 'Urf; dan Istishab. Menurut para ahli ushul fiqh, qiyas jarang sekali
digunakan Mazhab Maliki. Bahkan mereka lebih mendahulukan tradisi penduduk
Madinah daripada qiyas.

Para murid Imam Malik yang besar andilnya dalam menyebarluaskan Mazhab Maliki di
antaranya adalah Abu Abdillah Abdurrahman bin Kasim (w. 191 H) yang dikenal sebagai
murid terdekat Imam Malik dan belajar pada Imam Malik selama 20 tahun, Abu
Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim (w. 197 H) yang sezaman dengan Imam
Malik, dan Asyhab bin Abdul Aziz al-Kaisy (w. 204 H) serta Abu Muhammad Abdullah bin
Abdul Hakam al-Misri (w. 214 H) dari Mesir. Pengembang mazhab ini pada generasi
berikutnya antara lain Muhammad bin Abdillah bin Abdul Hakam (w. 268 H) dan
Muhammad bin Ibrahim al-Iskandari bin Ziyad yang lebih populer dengan nama Ibnu al-
Mawwaz (w. 296 H).

Di samping itu, ada pula murid-murid Imam Malik lainnya yang datang dari Tunis, Irak,
Hedjzaz, dan Basra. Di samping itu Mazhab Maliki juga banyak dipelajari oleh mereka
yang berasal dari Afrika dan Spanyol, sehingga mazhab ini juga berkembang didua
wilayah tersebut.

3. Mazhab Syafi'i

46
Pemikiran fiqh mazhab ini diawali oleh Imam asy-Syafi'i. Keunggulan Imam asy-Syafi'i
sebagai ‘ulama fiqh, ushul fiqh, dan hadits di zamannya diakui sendiri oleh ‘ulama
sezamannya.

Sebagai orang yang hidup di zaman meruncingnya pertentangan antara aliran
Ahlulhadits dan Ahlurra 'yi, Imam asy-Syafi 'i berupaya untuk mendekatkan pandangan
kedua aliran ini. Karenanya, ia belajar kepada Imam Malik sebagai tokoh Ahlulhadits dan
Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sebagai tokoh Ahlurra'yi.

Prinsip dasar Mazhab Syafi'i dapat dilihat dalam kitab ushul fiqh ar-Risalah. Dalam buku
ini asy-Syafi'i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh
merumuskan hukum far'iyyah (yang bersifat cabang). Dalam menetapkan hukum Islam,
Imam asy-Syafi'i pertama sekali mencari alasannya dari al-Quran. Jika tidak ditemukan
maka ia merujuk kepada sunnah Rasulullah SAW. Apabila dalam kedua sumber hukum
Islam itu tidak ditemukan jawabannya, ia melakukan penelitian terhadap ijma' sahabat.
Ijma' yang diterima Imam asy-Syafi'i sebagai landasan hukum hanya ijma' para sahabat,
bukan ijma' seperti yang dirumuskan ulama ushul fiqh, yaitu kesepakatan seluruh
mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum, karena menurutnya ijma' seperti ini
tidak mungkin terjadi. Apabila dalam ijma' tidak juga ditemukan hukumnya, maka ia
menggunakan qiyas, yang dalam ar-Risalah disebutnya sebagai ijtihad. Akan tetapi,
pemakaian qiyas bagi Imam asy-Syafi 'i tidak seluas yang digunakan Imam Abu Hanifah,
sehingga ia menolak istihsan sebagai salah satu cara mengistinbathkan hukum syara'

Penyebarluasan pemikiran Mazhab Syafi'i berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Maliki. Di
awali melalui kitab usul fiqhnya ar-Risalah dan kitab fiqhnya al-Umm, pokok pikiran dan
prinsip dasar Mazhab Syafi 'i ini kemudian disebarluaskan dan dikembangkan oleh para
muridnya. Tiga orang murid Imam asy-Syafi 'i yang terkemuka sebagai penyebar luas
dan pengembang Mazhab Syafi'i adalah Yusuf bin Yahya al-Buwaiti (w. 231 H/ 846 M),
ulama besar Mesir; Abi Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H/ 878 M), yang
diakui oleh Imam asy-Syafi 'i sebagai pendukung kuat mazhabnya; dan ar-Rabi bin
Sulaiman al-Marawi (w. 270 H), yang besar jasanya dalam penyebarluasan kedua kitab
Imam asy-Syafi 'i tersebut.

4. Mazhab Hanbali

Pemikiran Mazhab Hanbali diawali oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Ia terkenal sebagai
‘ulama fiqh dan hadits terkemuka di zamannya dan pernah belajar fiqh Ahlurra'yi kepada
Imam Abu Yusuf dan Imam asy-Syafi'i.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziah, prinsip dasar Mazhab Hanbali adalah sebagai berikut:
47
An-Nusus (jamak dari nash), yaitu al-Quran, Sunnah
Nabi SAW, dan Ijma';
Fatwa Sahabat;
Jika terdapat perbedaan pendapat para sahabat
dalam menentukan hukum yang dibahas, maka
akan dipilih pendapat yang lebih dekat dengan al-
Quran dan sunnah Nabi SAW;
Hadits mursal atau hadits daif yang didukung oleh
qiyas dan tidak bertentangan dengan ijma'; dan
Apabila dalam keempat dalil di atas tidak dijumpai, akan digunakan qiyas. Penggunaan
qiyas bagi Imam Ahmad bin Hanbal hanya dalam keadaan yang amat terpaksa.

Prinsip dasar Mazhab Hanbali ini dapat dilihat dalam kitab hadits Musnad Ahmad ibn
Hanbal. Kemudian dalam perkembangan Mazhab Hanbali pada generasi berikutnya,
mazhab ini juga menerima istihsan, sadd az-Zari'ah, 'urf; istishab, dan al-maslahah al-
mursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam.

Para pengembang Mazhab Hanbali generasi awal (sesudah Imam Ahmad bin Hanbal) di
antaranya adalah al-Asram Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani al-Khurasani al-
Bagdadi (w. 273 H), Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj al-Masruzi (w. 275 H), Abu
Ishaq Ibrahim al-Harbi (w. 285 H), dan Abu al-Qasim Umar bin Abi Ali al-Husain al-
Khiraqi al-Bagdadi (w. 324 H). Keempat ‘ulama besar Mazhab Hanbali ini merupakan
murid langsung Imam Ahmad bin Hanbal, dan masing-masing menyusun buku fiqh
sesuai dengan prinsip dasar Mazhab Hanbali di atas.

Tokoh lain yang berperan dalam menyebarluaskan dan mengembangkan Mazhab
Hanbali adalah Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziah. Sekalipun kedua ‘ulama ini
tidak selamanya setuju dengan pendapat fiqh Imam Ahmad bin Hanbal, mereka dikenal
sebagai pengembang dan pembaru Mazhab Hanbali. Di samping itu, jasa Muhammad
bin Abdul Wahhab dalam pengembangan dan penyebarluasan Mazhab Hanbali juga
sangat besar. Pada zamannya, Mazhab Hanbali menjadi mazhab resmi Kerajaan Arab
Saudi.


B. Mazhab Syiah

Mazhab fiqh Syiah yang populer adalah Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah.

1. Mazhab Syiah Zaidiyah

48
Mazhab ini dikaitkan kepada Zaid bin ‘Ali Zainal Abidin (w. 122 H/ 740 M), seorang
mufasir, muhaddits, dan faqih di zamannya. Ia banyak menyusun buku dalam berbagai
bidang ilmu. Dalam bidang fiqh ia menyusun kitab al-Majmu' yang menjadi rujukan utama
fiqh Zaidiyah. Namun ada di antara ulama fiqh yang menyatakan bahwa buku tersebut
bukan tulisan langsung dari Imam Zaid. Namun Muhammad Yusuf Musa (ahli fiqh Mesir)
menyatakan bahwa pemyataan tersebut tidak didukung oleh alasan yang kuat.
Menurutnya, Imam Zaid di zamannya dikenal sebagai seorang faqih yang hidup
sezaman dengan Imam Abu Hanifah, sehingga tidak mengherankan apabila Imam Zaid
menulis sebuah kitab fiqh. Kitab al-Majmu' ini kemudian disyarah oleh Syarifuddin al-
Husein bin Haimi al-Yamani as-San'ani (w.1221 H) dengan judul ar-Raud an-Nadir Syarh
Majmu al-Fiqh al-Kabir.

Para pengembang Mazhab Zaidiyah yang populer di antaranya adalah Imam al-Hadi
Yahya bin Husein bin Qasim (w. 298 H), yang kemudian dikenal sebagai pendiri Mazhab
Hadawiyah. Dalam menyebarluaskan dan mengembangkan Mazhab Zaidiyah, Imam al-
Hadi menulis beberapa kitab fiqh. di antaranya Kitab al-Jami' fi al-Fiqh, ar-Risalah fi al-
Qiyas, dan al-Ahkam fi al-Halal wa al-Haram. Setelah itu terdapat imam Ahmad bin
Yahya bin Murtada (w. 840 H) yang menyusun buku al-Bahr az-Zakhkhar al-Jami' li
Mazahib 'Ulama' al-Amsar.

Pada dasarnya fiqh Mazhab Zaidiyah tidak banyak berbeda dengan fiqh ahlulsunnah.
Perbedaan yang bisa dilacak antara lain: ketika berwudlu tidak perlu menyapu telinga,
haram memakan makanan yang disembelih non-muslim, dan haram mengawini wanita
ahlulkitab. Di samping itu, mereka tidak sependapat dengan Syiah Imamiyah yang
menghalalkan nikah mut'ah. Menurut Muhammad Yusuf Musa, pemikiran fiqh Mazhab
Zaidiyah lebih dekat dengan pemikiran fiqh ahlurra'yi

2. Mazhab Syiah Imamiyah

Menurut Muhammad Yusuf Musa, fiqh Syiah Imamiyah lebih dekat dengan fiqh Mazhab
Syafi 'i dengan beberapa perbedaan yang mendasar.

Dalam berijtihad, apabila mereka tidak menemukan hukum suatu kasus dalam al-Quran,
mereka merujuk pada sunnah yang diriwayatkan para imam mereka sendiri. Menurut
mereka, yang juga dianut oleh Mazhab Syiah Zaidiyah, pintu ijtihad tidak pernah tertutup.
Berbeda dengan Syiah Zaidiyah, Mazhab Syiah Imamiyah tidak menerima qiyas sebagai
salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara'. Alasannya, qiyas merupakan ijtihad
dengan menggunakan rasio semata. Hal ini dapat dipahami, karena penentu hukum di
kalangan mereka adalah imam, yang menurut keyakinan mereka terhindar dari
49
kesalahan (maksum). Atas dasar keyakinan tersebut, mereka juga menolak ijma' sebagai
salah satu cara dalam menetapkan hukum syara', kecuali ijma' bersama imam mereka.

Kitab fiqh pertama yang disusun oleh imam mereka, Musa al-Kazim (128-183 H), diberi
judul al-Halal wa al-Haram. Kemudian disusul oleh Fiqh ar-Righa yang disusun oleh Ali
ar-Ridla (w. 203 H/ 818M).

Menurut Muhammad Yusuf Musa, pendiri sebenarnya fiqh Syiah adalah Abu Ja'far
Muhammad bin Hasan bin Farwaij as-Saffar al-A'raj al-Qummi (w. 290 H). Dasar
pemikiran fiqh Syiah Imamiyah dapat dilihat dalam buku karangannya yang berjudul
Basya'ir ad-Darajat fi 'Ulum 'Ali Muhammad wa ma Khassahum Allah bihi. Setelah itu
Mazhab Syiah Imamiyah disebarluaskan dan dikembangkan oleh Muhammad bin Ya'qub
bin Ishaq al-Kulaini (w. 328 H) melalui kitabnya, al-Kafi fi 'ilm ad-Din.

Perbedaan mendasar fiqh Syiah Imamiyah dengan jumhur Ahlussunnah antara lain:
Syiah Imamiyah menghalalkan nikah mut'ah yang diharamkan ahlus sunnah;
Syiah Imamiyah mewajibkan kehadiran saksi dalam talak, yang menurut pandangan
ahlus sunnah tidak perlu; dan
Syiah Imamiyah, termasuk syiah Zaidiyah, mengharamkan lelaki muslim menikah
dengan wanita Ahlulkitab.

Syiah Imamiyah sekarang banyak dianut oleh masyarakat Iran dan Irak. Mazhab ini
merupakan mazhab resmi pemerintah Republik Islam Iran sekarang.


C. Mazhab Fiqh yang Punah

Pengertian mazhab yang telah punah di sini menurut ‘ulama fiqh adalah mazhab
tersebut tidak memiliki tokoh dan pengikut yang fanatik, sekalipun ada sebagian
pendapat mazhab tersebut dianut sebagian ‘ulama atau masyarakat, hal tersebut hanya
merupakan salah satu pendapat yang menjadi alternatif untuk menjawab kasus tertentu.
Selain itu, mazhab tersebut dinyatakan punah karena pendapatnya tidak dibukukan
sehingga tidak terpublikasikan secara luas, sehingga pengikutnya pun tidak ada.

Menurut Muhammad Yusuf Musa, mazhab-mazhab yang telah punah itu antara lain
sebagai berikut:

1. Mazhab al-Auza'i

50
Tokoh pemikirnya adalah Abdurrahman al-Auza'i (88-157 H.). Ia adalah seorang ‘ulama
fiqh terkemuka di Syam (Suriah) yang hidup sezaman dengan Imam Abu Hanifah. Ia
dikenal sebagai salah seorang ulama besar Damaskus yang menolak qiyas. Dalam
salah satu riwayat ia berkata: "Apabila engkau menemukan sunnah Rasulullah SAW
maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkanlah seluruh pendapat yang didasarkan
kepada yang lainnya (selain al-Quran dan sunnah Nabi SAW)."

Mazhab al-Auza'i pernah dianut oleh masyarakat Suriah sampai Mazhab Syafi'i
menggantikannya. Mazhab ini juga dianut masyarakat Andalusia, Spanyol, sebelum
Mazhab Maliki berkembang di sana. Pemikiran Mazhab al-Auza'i saat ini hanya
ditemukan dalam beberapa literatur fiqh (tidak dibukukan secara khusus). Pemikiran al-
Auza'i dapat dilihat dalam kitab fiqh yang disusun oleh Abu Ja'far Muhammad bin Jarir
ath-Thabari (w. 310 H/ 923 M; mufasir dan faqih) yang berjudul Ikhtilaf al-Fuqaha, dan
dalam kitab al-Umm yang disusun Imam asy-Syafi'i. Dalam al-Umm, asy-Syafi'i
mengemukakan perdebatan antara Imam Abu Hanifah dan al-Auza'i, serta antara Imam
Abu Yusuf dan al-Auza'i. Menurut Ali Hasan ‘Abdulqadir (ahli fiqh dari Mesir), Mazhab al-
Auza'i tidak dianut lagi oleh masyarakat sejak awal abad kedua Hijriyah.

2. Mazhab ats-Tsauri

Tokoh pemikirnya adalah Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H/ 778 M). Ia juga sezaman dengan
Imam Abu Hanifah dan termasuk salah seorang mujtahid ketika itu. Akan tetapi, pengikut
ats-Tsauri tidak banyak. Ia juga tidak meninggalkan karya ilmiah. Mazhab ini pun tidak
dianut masyarakat lagi sejak wafatnya penerus Mazhab ats-Tsauri, yaitu Abu Bakar
Abdul Gaffar bin Abdurrahman ad-Dinawari pada tahun 406 H. Ia adalah seorang mufti
dalam Mazhab ats-Tsauri di Masjid al-Mansur, Baghdad.

3. Mazhab al-Laits bin Sa'ad

Tokoh pemikirnya adalah al-Laits bin Sa'ad. Menurut ‘Ali Hasan ‘Abdulqadir, mazhab ini
telah punah dengan masuknya abad ke-3 H.

Fatwa hukum yang dikemukakan al-Laits yang sampai sekarang tidak bisa diterima oleh
‘ulama mazhab adalah fatwanya tentang hukuman berpuasa berturut-turut selama dua
bulan terhadap seorang pejabat di Andalusia yang melakukan hubungan suami istri di
siang hari pada bulan Ramadlan.

Dalam fatwanya, al-Laits tidak menerapkan urutan hukuman yang ditetapkan Rasulullah
SAW, dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh mayoritas rawi hadits dari Abu Hurairah.
Dalam hadits itu dinyatakan bahwa hukuman orang yang melakukan hubungan suami
51
istri di siang hari pada bulan Ramadlan
adalah memerdekakan budak; kalau tidak
mampu memerdekakan budak, maka
diwajibkan berpuasa selama dua bulan
berturut-turut; dan kalau tidak mampu
juga berpuasa selama dua bulan berturut-
turut, maka memberi makan fakir miskin
sebanyak 60 orang. Al-Laits tidak
menerapkan hukuman pertama
(memerdekakan budak). Alasannya,
seorang penguasa akan dengan mudah
memerdekakan budak, sehingga fungsi
hukuman sebagai tindakan preventif tidak tercapai. Demikian juga dengan memberi
makan 60 orang fakir miskin bukanlah suatu yang sulit bagi seorang penguasa. Oleh
sebab itu, al-Laits menetapkan hukuman berpuasa dua bulan berturut- turut bagi pejabat
tersebut. Menurutnya, hukuman tersebut lebih besar kemaslahatannya dan dapat
mencapai tujuan syara'. Jumhur ‘ulama menganggap fatwa ini tidak sejalan dengan
nash, karena nash menentukan bahwa hukuman pertama yang harus dijatuhkan pada
pejabat tersebut semestinya adalah memerdekakan budak, bukan langsung kepada
puasa dua bulan berturut-turut. Oleh sebab itu, landasan kemaslahatan yang
dikemukakan al-Lais, menurut jumhur ulama adalah al-maslahah al-gharibah
(kemaslahatan yang asing yang tidak didukung oleh nash, baik oleh nash khusus
maupun oleh makna sejumlah nash).

4. Mazhab ath-Thabari

Tokoh pemikirnya adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari atau Ibnu Jarir ath-
Thabari (w. 310 H). Menurut Ibnu Nadim (w. 385 H/ 995 M; sejarawan), ath-Thabari
merupakan ‘ulama besar dan faqih di zamannva. Di samping seorang faqih, ia juga
dikenal sebagai muhaddits dan mufassir. Kitabnya di bidang tafsir masih utuh sampai
sekarang dan dipandang sebagai buku induk dibidang tafsir, yang dikenal dengan nama
Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Di bidang fiqh ath-Thabari juga menulis sebuah buku
dengan judul Ikhtilaf al-Fuqaha.

Dalam bidang fiqh, ath-Thabari pernah belajar fiqh Mazhab Syafi'i melalui ar-Rabi bin
Sulaiman di Mesir, murid Imam asy-Syafi'i. Akan tetapi, tidak banyak ulama dan
masyarakat yang mengikuti pemikiran fiqh ath-Thabari, sehingga sejak abad ke-4 H
mazhab ini tidak mempunyai pengikut lagi.

5. Mazhab az-Zahiri
52

Tokoh pemikirnya adalah Daud az-Zahiri yang dijuluki Abu Sulaiman. Pemikiran mazhab
ini dapat ditemui sampai sekarang melalui karya ilmiah Ibnu Hazm, yaitu kitab al-Ahkam
fi Ushul al-Ahkam di bidang ushul fiqh dan al-Muhalla di bidang fiqh.

Sesuai dengan namanya, prinsip dasar mazhab ini adalah memahami nash (al-Quran
dan sunnah Nabi SAW) secara literal, selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan
bahwa pengertian yang dimaksud dari suatu nash bukan makna literalnya. Apabila suatu
masalah tidak dijumpai hukumnya dalam nash, maka mereka berpedoman pada ijma'.
Ijma' yang mereka terima adalah ijma' seluruh ulama mujtahid pada suatu masa tertentu,
sesuai dengan pengertian ijma' yang dikemukakan ulama ushul fiqh. Menurut
Muhammad Yusuf Musa, pendapat az-Zahiri merupakan bahasa halus dalam menolak
kehujjahan ijma', karena ijma' seperti ini tidak mungkin terjadi seperti yang dikemukakan
Imam asy-Syafi'i. Kemudian, mereka juga menolak qiyas, istihsan, al-maslahah al-
mursalah dan metode istinbat lainnya yang didasarkan pada ra'yu (rasio semata).

Sekalipun para tokoh Mazhab az-Zahiri banyak menulis buku di bidang fiqh, mazhab ini
tidak utuh karena pengikut fanatiknya tidak banyak. Akan tetapi, dalam literatur-literatur
fiqh, pendapat mazhab ini sering dinukilkan ulama fiqh sebagai perbandingan antar
mazhab. Mazhab ini pernah dianut oleh sebagian masyarakat Andalusia, Spanyol.

Dengan punahnya mazhab-mazhab kecil ini, maka mazhab fiqh yang utuh dan dianut
masyarakat Islam di berbagai wilayah Islam sampai sekarang adalah Mazhab Hanafi,
Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali, yang dalam fiqh disebut dengan al-
Mazahib al-Arba'ah (Mazhab yang Empat) atau al-Mazahib al-Qubra (Mazhab-Mazhab
Besar).
53


SUMBER FIQH SUMBER FIQH SUMBER FIQH SUMBER FIQH


Sumber fiqh merupakan landasan yang digunakan untuk memperoleh hukum fiqh, di
mana ‘ulama fiqh membagi dua macam sumber fiqh yaitu sumber yang disepakati dan
sumber yang diperselisihkan.

Yang dimaksudkan dengan sumber fiqh adalah landasan yang digunakan untuk
memperoleh hukum fiqh. ‘Ulama fiqh membagi dua macam sumber fiqh, yaitu sumber
yang disepakati dan sumber yang diperselisihkan.

Sumber yang disepakati atau dalam istilah Mustafa Ahmad az-Zarqa disebut dengan al-
Masadir al-Asasiyyah adalah al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Tetapi menurut
jumhur ‘ulama fiqh sumber tersebut ada empat, yaitu al-Quran, Sunnah Nabi SAW, Ijma',
dan Qiyas.

Adapun sumber fiqh yang tidak disepakati seluruh ulama fiqh atau yang disebut juga
dengan al-Masadir at-Taba'iyyah (sumber selain al-Quran dan sunnah Nabi SAW) terdiri
atas Istihsan, Maslahat, Istishab, Irf, Sadd az-Zari'ah, Mazhab Sahabi, dan Syar'u Man
Qablana. Bagi ulama fiqh yang menyatakan bahwa al-Masadir al-Asasiyyah hanya terdiri
dari al-Quran, Sunnah Rasulullah SAW, Ijma', Qiyas, dan yang termasuk al-Masadir at-
Taba'iyyah tersebut dikatakan sebagai dalil atau metode untuk memperoleh hukum
syara' melalui ijtihad. Alasannya, metode-metode tersebut merupakan metode
penggalian hukum Islam yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus disandarkan
kepada al-Quran dan atau sunnah Nabi SAW. Oleh sebab itu, ada di antara metode
ijtihad tersebut yang keabsahannya sebagai dalil diperselisihkan ‘ulama usul fiqh.
Misalnya, metode istihsan diterima oleh ulama Mazhab Hanafi, Maliki dan sebagian
Mazhab Hanbali sebagai dalil; sedangkan ‘ulama Mazhab Syafi'i menolaknya.
Karenanya dalam suatu kasus akan ditemukan beberapa hukum, apabila landasan yang
dipakai adalah salah satu dari al-Masadir at-Taba'iyyah tersebut.

54
Munculnya perbedaan ini disebabkan karena perbedaan metode yang digunakan dalam
berijtihad terhadap kasus tersebut. Misalnya, kasus perselisihan dalam jual beli. Pembeli
tidak mau menyerahkan uang sebelum barang yang dibelinya ia terima, sedangkan
penjual tidak mau pula menyerahkan barang sebelum uang sebesar harga yang
dituntutnya diserahkan. Dalam kasus seperti ini, pembeli dan penjual berstatus sama-
sama penggugat disatu pihak dan tergugat dipihak lain. Menurut qaidah umum (qiyas),
penggugat wajib mengemukakan alat bukti untuk membuktikan kebenaran gugatannya.
Namun persoalannya adalah bagaimana menentukan penggugat dan tergugat dalam
kasus di atas.

Ulama Mazhab Hanafi menyelesaikan persoalan itu melalui istihsan. Caranya dengan
menetapkan bahwa keduanya sama-sama tergugat dan penggugat. Jika qiyas
diterapkan dalam kasus ini, maka tidak bisa ditentukan siapa yang tergugat dan siapa
yang menggugat, karena keduanya dalam waktu yang sama berstatus sebagai tergugat
dan penggugat. Oleh sebab itu, baik melalui qaidah maupun metode istihsan masing-
masing, mereka harus mengemukakan alat bukti atas gugatan mereka. Pembeli harus
mengemukakan alat bukti bahwa penjual menyerahkan barang yang dibeli sesuai
dengan harga barang yang menurutnya telah disetujui bersama, sebaliknya penjual
harus pula mengemukakan alat bukti bahwa harga yang dikehendakinya bukan seperti
yang dikemukakan pembeli. Pihak yang tidak bisa mengemukakan alat bukti dinyatakan
kalah dan harus menyerahkan tuntutan pihak lainnya.
55


SYARI’AT DAN FIQH SYARI’AT DAN FIQH SYARI’AT DAN FIQH SYARI’AT DAN FIQH


Meskipun syariat dan fiqh memiliki ikatan yang kuat dan sulit dipisahkan, namun di
antara keduanya terdapat perbedaan mendasar. Kata syariat (Arab: asy-syari'ah) secara
etimologis berarti sumber/ aliran air yang digunakan untuk minum. Dalam
perkembangannya, kata syariat digunakan orang Arab untuk mengacu kepada jalan
(agama) yang lurus (ath-thariqah al-mustaqimah), karena kedua makna tersebut
mempunyai keterkaitan makna. Sumber/ aliran air merupakan kebutuhan pokok manusia
untuk memelihara keselamatan jiwa dan tubuh mereka, sedangkan ath-thariqah al-
mustaqimah merupakan kebutuhan pokok yang akan menyelamatkan dan membawa
kebaikan bagi umat manusia. Dari akar kata ini, syariat diartikan sebagai agama yang
lurus yang diturunkan Allah SWT bagi umat manusia.

Secara terminologis, Imam asy-Syatibi menyatakan bahwa syariat sama dengan agama.
Sedangkan Manna al-Qaththan (ahli fiqh dari Mesir) mendefinisikan syariat sebagai
segala ketentuan Allah SWT bagi hamba-Nya yang meliputi masalah aqidah, ibadah,
akhlak dan tata kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan mereka di dunia
dan akhirat. Kemudian Fathi ad-Duraini menyatakan bahwa syariat adalah segala yang
diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW berupa wahyu, baik yang terdapat
dalam al-Quran maupun dalam sunnah Nabi SAW yang diyakini kesahihannya. Lebih
lanjut ia mengatakan bahwa syariat adalah an-nusus al-muqaddasah (teks-teks suci)
yang dikandung oleh al-Quran dan sunnah Nabi SAW.

Berdasarkan definisi syariat tersebut, ‘ulama fiqh dan ushul fiqh menyatakan bahwa
syariat merupakan sumber dari fiqh. Alasannya, fiqh merupakan pemahaman yang
mendalam terhadap an-nusus al- muqaddasah dan merupakan upaya mujtahid dalam
menangkap makna serta illat yang dikandung oleh an-nusus al-muqaddasah tersebut.
Dengan demikian, fiqh merupakan hasil ijtihad ‘ulama terhadap ayat al-Quran atau
sunnah Nabi SAW. Atas dasar perbedaan tersebut, ‘ulama fiqh menyatakan bahwa
syariat dan fiqh tidak bisa disamakan. Alasannya, syariat bersumber dari Allah SWT dan
Rasul-Nya, sedangkan fiqh merupakan hasil pemikiran mujtahid dalam memahami ayat
56
al-Quran atau hadits Nabi SAW. Menurut Fathi ad-Duraini, sebelum dimasuki oleh
pemikiran manusia, syariat selamanya bersifat benar. Sedangkan fiqh, karena sudah
merupakan hasil pemikiran manusia, bisa salah dan bisa benar. Namun demikian,
menurut Muhammad Yusuf Musa (ahli fiqh dari Mesir) syariat dan fiqh mempunyai
keterkaitan yang erat, karenanya fiqh tidak bisa dipisahkan dari syariat.
57


MASYRU'IYYATU AT MASYRU'IYYATU AT MASYRU'IYYATU AT MASYRU'IYYATU AT- -- -TANZHIM FI AD TANZHIM FI AD TANZHIM FI AD TANZHIM FI AD- -- -DA'WAH AL DA'WAH AL DA'WAH AL DA'WAH AL- -- -ISLAMIYYAH AL ISLAMIYYAH AL ISLAMIYYAH AL ISLAMIYYAH AL- -- -
MU'ASHIRAH MU'ASHIRAH MU'ASHIRAH MU'ASHIRAH
(Dalil-dalil Disyariatkannya Tanzhim dalam Da’wah Islamiyyah
Kontemporer)

Oleh:
Nabiel Fuad al-Musawwa


"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung." (QS. Ali ‘Imran: 104)


A. Muqaddimah

Salah satu dakwaan aneh dari para tokoh kaum Zhahiriyyah dari ummat ini, di antaranya
adalah bahwa Islam tidak membenarkan tanzhim (struktur organisasi) dalam berdakwah,
membuat tanzhim menurut mereka adalah adalah bid'ah yang tidak dikenal oleh
generasi as-Salafush Shalih, maka oleh karena ia tidak ada di masa as-Salafush Shalih,
maka menurut mereka ia harus ditolak sejauh2nya & para pelakunya yg menggunakan
tanzhim dlm dakwah mereka dianggap ahli bid'ah sehingga harus ditahdzir. Inna
liLLAAHi wa inna ilaihi raaji'uun..

Tentunya dakwaan ini keluar tiada lain karena telah menyimpangnya mereka dari al-
Haqq dan karena sikap ekstrem (ghuluw) yang telah berurat berakar di antara mereka,
padahal Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yg Maha Suci lagi Maha
Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau- telah mengingatkan kita semua dari sikap
ekstremitas ini dalam sabdanya: "Wahai sekalian manusia berhati-hatilah kalian pada
sikap ekstrem dalam beragama, karena sesungguhnya yang telah mencelakakan ummat
sebelum kalian adalah sikap ekstrem dalam beragama[1]."

58
Tanzhim dalam aktifitas dakwah adalah merupakan sebuah hal yang bersifat dharuriy
(tidak bisa tidak) dalam fiqh, berdasarkan kaidah ushul-fiqh: Maa laa yatimmul waajib illa
bihi fahuwa waajib (suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang
lain, maka yang lain itu menjadi wajib pula hukumnya), jangankan untuk berdakwah,
sedangkan untuk memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut kita saja, tidak mungkin
tercapai tanpa adanya tanzhim, coba anda bayangkan jika tidak ada pabrik pupuk,
perusahaan cangkul, perusahaan pestisida, pasar, dsb apakah mungkin nasi itu bisa
mencukupi untuk seluruh bangsa Indonesia ini?! Jika sekedar untuk urusan perut saja
membutuhkan sebuah tanzhim, maka apatah lagi dalam urusan iqamatuddin dan
ustadziyyatul-'alam!

Kebodohan macam apa lagi yg menimpa ummat ini, sehingga mereka bisa melahirkan
orang-orang yang berfikir sepicik mereka itu?! Tetapi kita memang tidak perlu heran,
karena mereka memang telah memunculkan banyak fatwa yang menggelikan &
sekaligus membingungkan ummat, di antaranya bahwa kata mereka di dunia sekarang
ini tidak ada ulama mujtahid kecuali hanya 3 orang saja, yaitu Ibni Baaz, al-Albani & Ibnu
Utsaimin. Terlepas dari pengakuan kita pada kapasitas keulamaan ketiga ulama tsb, tapi
adakah seorang yang berilmu membatasi ulama mujtahid hanya 3 orang saja? Lalu coba
antum tanyakan kepada mereka: Lalu siapa yg bisa membatasi ulama cuma 3 orang itu
saja?! Antum?! Fa man antum?!

Ikhwah wa akhwat rahimakumuLLAAH, membuat tanzhim dalam gerakan dakwah
merupakan sebuah kemestian (hatmiyyah) yang tidak bisa ditawar-tawar & ditunda-tunda
lagi, baik berdasarkan dharuriyyah-fiqhiyyah di atas, juga berdasarkan sunnah-kauniyyah
(yaitu bahwa alam semesta ini merupakan sebuah nizham-'alamiyy, yang semuanya
menempati posisi & fungsi yang berbeda-beda dan telah tetap & ditentukan), juga
berdasarkan ihtiyajaat-basyariyyah (kebutuhan kemanusiaan, dalam segala hal dalam
kemanusiaan kita memerlukan pengorganisasian yang rapi & terstruktur) serta
dharuriyyah-harakiyyah (kebutuhan mendesak kebangkitan Islam kontemporer).

Sebenarnya logika sehat sederhana di atas sdh cukup bagi orang yg berakal untuk
menunjukkan urgensi organisasi (ahamiyyah-tanzhim) dalam da’wah di era modern ini.
Namun sebagaimana biasanya, maka kelompok zhahiriyyun-ghullat (tekstualis-ekstrem)
itu tidak akan mau menerima kecuali bil-lughati qawmihim (hanya dengan bahasa
kaumnya), maka supaya tidak dituduh aqlaniyyin (kelompok yang menuhankan akal),
maka ana akan menunjukkan dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah yang shahih tentang
masyru'iyyatu tanzhim fid-da’wah al-Islamiyyah al-mu'ashirah (dalil-dalil disyariatkannya
tanzhim dalam da’wah di era modern), supaya liyahlika man halaka 'an bayyinah wa
yahya man hayya 'an bayyinah..

59

B. Tafsir Ayat

Berkata Imam Abu Ja'far ath-Thabari ketika mengawali tafsirnya atas ayat ini[2]: Berkata
ALLAH Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji: WALTAKUN MINKUM wahai orang-
orang beriman; UMMATUN yaitu Jama'ah[3]; YAD'UNA yaitu pada manusia; ILAL
KHAYRI yaitu pada Islam & syariatnya yang telah ditetapkan-NYA bagi hamba-hamba-
NYA; WA YA'MURUNA BIL MA'RUFI, yaitu memerintahkan manusia untuk mengikuti
Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi
senantiasa tercurah pada diri beliau- dan agama yang dibawanya; WA YANHAUNA
'ANIL MUNKARI, yaitu mencegah mereka dari kekafiran pada ALLAH -Yang Maha Suci
lagi Maha Tinggi- dan penentangan pada Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam
ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau- dan dari
agama yg dibawanya, yaitu melalui Jihad di jalan-NYA baik dengan tangan maupun
anggota badan, sehingga mereka mengikuti dengan ketaatan... (Perhatikanlah bahwa
Imam ath-Thabari menyebutkan agar ada & terbentuknya suatu jama'ah di antara ummat
ini)..

Imam Jalaluddin as-Suyuthi bahkan lebih maju lagi, beliau dlm tafsirnya[4] setelah
menjelaskan berbagai hadits shahih berkaitan ayat ini, menyebutkan atsar dari Ibnu Abi
Hatim dari Muqatil bin Hayyan: "Bahwa hendaklah ada suatu kaum, baik 1 atau 2 atau 3
kelompok atau lebih dari itu dan itulah baru disebut sebagai ummat." Kemudian ia
berkata lagi: "Lalu (hendaklah) ada imamnya yang memimpin untuk amar ma'ruf & nahi
munkar." Lebih jauh beliau menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu
Dzarr -semoga ALLAH Yang Maha Gagah lagi maha Tinggi- meridhainya: "Dua orang
lebih baik dari 1 orang, 3 orang lebih baik dari 2 orang, dan 4 orang lebih baik dari 3
orang, maka hendaklah kalian bersama al-Jama'ah, karena ALLAH tidak akan
mengumpulkan ummatku kecuali atas petunjuk[5]."

Imam -Muhyis Sunnah- Abu Muhammad al-Baghawi menyebutkan dalam tafsirnya[6]
bahwa huruf "lam" pd kata "waltakun" bermakna kewajiban.. sementara "min" dalam kata
"minkum ummah" bermakna "shilah" dan bukan "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[7]
sebagaimana dalam ayat: FAJTANIBUR RIJSA MINAL AWTSANI[8].. Yang maknanya:
Hendaklah mereka menjauhi semua berhala & bukan hanya sebagian berhala saja..
Kemudian Imam al- Baghawi menyebutkan beberapa hadits, di antaranya dari ‘Umar -
semoga ALLAH Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi meridhainya- Nabi Muhammad -
semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa
tercurah pada diri beliau- bersabda: "Barangsiapa yang menginginkan puncaknya
Jannah maka wajib atasnya menetapi al-Jama'ah, karena sesungguhnya Syaithan itu
bersama orang yang sendirian, dan terhadap 2 orang ia lebih menjauh[9]."
60

Imam Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya[10] bahwa makna "ummah" adalah jama'ah, kelompok,
sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan: KULLAMAA DAKHALAT UMMATUN
LA'ANAT UKHTAHA[11].. Karena asal kata "ummat" dalam bahasa Arab adalah
sekelompok orang yang memiliki 1 tujuan yang sama, bisa berupa keturunan, atau
agama, atau lainnya, dan kejelasannya diketahui melalui keterkaitannya (idhafah)
dengan kata setelahnya, semisal: Ummatul-'Arab atau Ummatun-Nashara, dll.

Imam Abi AbduLLAH Syamsuddin al-Qurthubi al-Anshari al-Khazraji dalam kitabnya[12]
berpendapat bahwa "min" dalam kata "minkum ummah" bermakna "lit-tab'idh"
(menunjukkan sebagian)[13], karena orang-orang yang memerintahkan yang ma'ruf itu
haruslah berilmu, sementara tidak semua orang berilmu, maka kewajiban ini bersifat
fardhu kifayah, jika sebagian kaum muslimin sudah melakukannya maka yang lain tidak
berdosa[14].

Sayyid Quthb -semoga ALLAH Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau
Syahid- menyatakan dalam tafsirnya[15]: "Tidak bisa tidak ayat ini memerintahkan agar
terwujudnya sebuah Jama'ah Islamiyyah yang selalu berdakwah kepada kebaikan,
memerintahkan yang ma'ruf & mencegah yang munkar. Dan hendaklah ada sebuah
pemerintahan yang tegak berdiri di atas bumi ini melakukan hal tsb, sehingga ayat ini
tidak hanya berbunyi "yad'uuna" (berdakwah saja) melainkan juga "ya'muruuna"
(memerintah) dan "yanhauna" (melarang) yang keduanya itu tidak akan tegak kecuali
adanya sebuah pemerintahan yang Islami.." Sampai kata beliau -semoga ALLAH Yang
Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau Syahid- pada akhir penjelasannya atas
ayat tsb: "...Untuk demi tercapainya hal tsb di atas, maka tidak dapat tidak haruslah ada
sebuah kelompok/ jama'ah yang memiliki 2 kekuatan di atas[16] yaitu "Iimaanu
biLLLAAH" (QS. Ali ‘Imran: 102) dan "Ukhuwwatu-fiLLAAH" (QS. Ali ‘Imran: 103) baru
bisa mewujudkan ayat ini (QS. Ali ‘Imran: 104)...”

Demikianlah maka berdasarkan dalil-dalil di atas bahwa tegaknya al-Jama'ah merupakan
dharurah-syar'iyyah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak dengan kerja infiradiyyah
(sendiri-sendiri) dan hanya mengharapkan dari tarbiyyah & tashfiyyah saja, melainkan
memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa
as-Salafush Shalih pasca generasi sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi
maha Tinggi meridhai mereka semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa
di masa mereka sudah ada al-Jama'ah & al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat
kelompok baru yang berbeda dari Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka
tidak ada Khilafah, tidak ada al-Jama'ah & tidak ada al-Hukumah, maka tiada jalan lain
kecuali membentuk & mendirikannya.. Dan persoalan ini jauh lebih mendesak & lebih
penting dari mendalami & bertele-tele dalam masalah ibadah-mahdhah, cukuplah
61
sunnah para sahabat -semoga ALLAH Yang Maha
Mulia lagi maha Tinggi meridhai mereka semua-
yang sampai meninggalkan pengurusan &
pemakaman jenazah Nabi Muhammad -semoga
shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi
Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau-
untuk memilih Khalifah menjadi dalil atas hal tsb.

Saya akhiri penjelasan ini dg sebuah hadits Nabi
Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi
senantiasa tercurah pada diri beliau- berikut: "Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang
benar yang disampaikan di depan penguasa yg zhalim[17]."

ALLAAHu a'lamu bish Shawaab...


Footnote

[1] Hadits ini di-takhrij oleh Imam An-Nasa'i, X/83; Ibnu Majah, IX/134; Al-Baihaqi dlm Al-
Kubra, V/85; Al-Hakim, IV/256; At-Thabrani dlm Al-Kubra, X/301 dan dlm Al-Awsath,
V/234; Abu Ya'la, V/481; Shahih Ibnu Habban, XVI/243; Shahih Ibnu Khuzaimah, X/284.
Dan hadits ini shahih. Jangan anda tertipu dg orang yg menyatakan hadits ini telah di-
dha'if-kan oleh Al-Albani dlm kitab Silsilah Ahaadits Adh-Dha'ifah; orang tsb telah
berdusta atas nama Al-Albani, bahkan hadits ini shahih & di-shahih-kan oleh Albani dlm
berbagai kitabnya, di antaranya Silsilatu Ahaadits Ash-Shahihah, III/278 dan V/177; juga
dlm kitabnya Shahih wa Dha'if Sunan An-Nasa'i, VII/129; juga dlm kitabnya Shahih wa
Dha'if Sunan Ibnu Majah, VII/29; juga dlm kitabnya Shahih wa Dha'if Jami' Shaghir,
X/392.

[2] Jaami'ul Bayaan fi Ta'wiilil Qur'aan, VII/91

[3] Ini juga pendapat Imam Al-Biqa'iy, lih. Tafsirnya Nuzhmud Durar fii Tanaasubil
Aayaati was Suwar, II/94

[4] Ad-Durrul Mantsur fit Ta'wili bil Ma'tsur, II/405

[5] Saya berusaha men-takhrij hadits ini, dan saya menemukannya bukan hanya dlm
Musnad Ahmad (43/297); melainkan jg oleh Ibnu Asakir (38/206); berkata Al-Albani dlm
Fii Zhilalil Jannah (80-84) bhw hadits ini maudhu' namun akhir kalimat dlm hadits ini
terdapat syawahid dari hadits shahih.
62

[6] Ma'alimut Tanzil, II/84

[7] Ini juga pendapat Imam Ibnul Jauzy, lih. Zaadul Masiir, I/391. Tapi beliau juga
menerima pendapat yg menyatakan kewajiban membentuk jama'ah ini fardhu kifayah,
dan beliau menyamakan kedudukannya seperti jihad fi sabiliLLAAH.

[8] Al-Hajj, 22/30

[9] HR Tirmidzi, VI/383-386; Ibnu Abi 'Ashim dlm As-Sunnah, I/42 (dan di-shahih-kan
oleh Al-Albani dlm ta'liq-nya atas kitab tsb); Al-Lalika'i dlm Syarah Ushul I'tiqad Ahlus
Sunnah wal Jama'ah, I/106-107; Al-Hakim dlm Al-Mustadrak, I/114; Ahmad dlm Al-
Musnad, I/18.

[10] At-Tahriru wat Tanwiru, III/178

[11] QS Al-A'raaf, 7/38

[12] Al-Jami' li-Ahkamil Qur'an, I/1081

[13] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Madrak at-Tanzil wa Haqa'iqu at-Ta'wil,
I/174; demikian juga Al-Khazin, lih. Lubab at-Ta'wil fil Ma'ani at-Tanzil, I/434.

[14] Ini juga pendapat Imam Asy-Syaukani, lih. Fathul Qadir, II/8. Ada baiknya bagi yg
berminat untuk merujuknya, ada ulasan beliau yg amat berharga ttg masyru'iyyah-nya
ikhtilaf dlm masalah2 furu' di kalangan para ulama salafus-shalih, dan mereka
menamakan ikhtilaf tsb sbg bentuk ijtihad (demikian pula paparan Imam Abu Sa'ud dlm
kitabnya Irsyadul Aqlis Salim ila Mazayal Qur'anil Kariem, I/432).

[15] Fii Zhilaalil Qur'an, I/413

[16] Maksud beliau -rahimahuLLAAH- adalah penjelasan beliau atas tafsir ayat
sebelumnya (QS Aali-Imraan, III/102-103)

[17] HR Abu Daud, XI/419; Ibnu Majah, XII/15; Ahmad, XXII/261; Hakim, XIX/443;
Thabrani dlm Al-Kabir, VII/327; Al-Baihaqi, dlm Syu'abul Iman, XVI/120; Abu Ya'la,
III/107; Bahkan Imam Tirmidzi menulis 1 bab khusus ttg tema ini, yaitu: Maa Jaa'a
Afdhalul Jihaad Kalimatu 'Adlin 'Inda Sulthanin Jaa'ir, VIII/82; Al-Albani men-shahih-kan
hadits ini dlm Ash-Shaahihah, I/490 juga dlm Misykaatul Mashaabiih, II/343.
63


HUKUM MENIKAHI ORANG HUKUM MENIKAHI ORANG HUKUM MENIKAHI ORANG HUKUM MENIKAHI ORANG MUSYRIK DAN AHLUL K MUSYRIK DAN AHLUL K MUSYRIK DAN AHLUL K MUSYRIK DAN AHLUL KITAB ITAB ITAB ITAB

Oleh:
Dr. Amir Faishol Fath


“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia
menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-
wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih
baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka,
sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka
mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

¸` - . ¯ ` ` .` - ´ . ` . · ¯ ` ' · ¸` · ` ` , - · ·` .' · · · . `¸ ·` .`
· ` ' · ¸` · ` ` , - ` ¸ ·` .' · ` ` · .` ·` .` ¸` - ¯ ` .` - ´` . ` . ´` -` · '
¸ .` ·` ` · ` ¸ ..` ·` : ·. ` ' ` . ´ -` · ' ` . · · , · ` · ·` -
.` ¯ ` .` . · ¸` · ¯ ` ¸` , `

Kata musyrikah atau musyrik dalam ayat di atas artinya seorang yang menyekutukan
Allah. Imam Al Ashfahani membagi makna al syirk dua macam:
64
(a) Al Syirkul adziim (syirik besar) yaitu menetapkan sekutu bagi Allah. Termasuk
kategori ini makna firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa
syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar” (An-Nisa: 48). Dalam ayat lain: “Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa
yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat
sejauh-jauhnya”. (An-Nisa: 116)
(b) Al Syirkush Shaghiir (syirik kecil) yaitu mendahulukan selain Allah dalam tindakan
tertentu, seperti riya’ (ingin dipuji orang), termasuk dalam kategori ini pengertian ayat:
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam
keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (Yusuf: 106),
maksudnya mengutamakan kepentingan-kepentingan dunia di atas tujuan-tujuan akhirat
(lihat Al Ashfahani, Mufradat alfaadzil Qur’an, h.452).

Para ahli tafsir, dalam menjelaskan kata musyrik selalu mencontohkan dengan agama
majusi (penyembah api) dan watsani (penyembah berhala). Ada juga sebagai mufassir
yang mendefinisikan musyrik dengan semua orang kafir yang tidak bergama Islam.
Dengan pengertian ini maka umat Yahudi dan Nasrani tergolong musyrik. Dan ayat di
atas dengan tegas melarang pernikahan seorang mukmin dengan wanita musyrikah
begitu juga sebaliknya seorang mu’minah dengan lelaki musyrik. Mengapa? Karena
batasan yang sangat fundamental yaitu perbedaan aqidah. Dari perbedaan aqidah ini
akan lahir perbedaan tujuan dan pandangan hidup. Maka tidak mungkin seorang mukmin
atau mu’minah yang benar-benar jujur dengan keimanannya rela mengorbankan
aqidahnya demi kepentingan dunia. Imam Al Qurthubi menyetir ketetapan ijma’ul ummah
bahwa seorang musyrik tidak boleh menikahi seorang mu’minah apapun alasan nya.
Imam Asyaukani menyebutkan sebuah riwayat bahwa seorang sahabat bernama Murtsid
bin Abi Murtsid pernah didatangi bekas orang yang pernah dicintainya dulu waktu di
zaman jahiliyah. Wanita itu lalu minta untuk dizinahi. Murtsid segera menjawab: Wah, itu
tidak mungkin, sebab saya sudah masuk Islam, dan Islam telah menjadi penghalang di
antara kita. Lalu wanita itu minta agar dinikahi saja. Murtsid berkata: Kalau begitu saya
akan menemui Rasulullah dulu. Lalu turunlah ayat di atas. (Imam Asy Syaukani, Fathul
Qadiir: vol.1, h.244). Dari sini jelas bahwa tidak mungkin seorang yang beriman menikah
dengan seorang yang masih kafir. Maka jika ada seorang yang mengaku mu’min atau
mu’minah, kemudian ia ternyata rela dan berani melakukan pernikahan dengan seorang
yang musyrik atau musyrikah, itu berarti dalam keimanannya ada masalah. Sebab
dengan terang-terangan ia telah berani melanggar ketentuan Allah seperti dalam ayat di
atas.

65

A. Menikahi Wanita Ahlul Kitab (Kitabiyah)

Dalam ayat di atas, hanya disebutkan istilah musyrikah atau musyrik, tetapi belum
disebutkan istilah ahlul kitab, sementara di tempat lain Al Qur’an menggunakan istilah
ahlul kitab untuk umat Yahudi dan Nasrani. Allah berfirman: “(Kami turunkan Al-Quran
itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa Kitab itu Hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami (yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani)” (Al-An’am: 156).
Pertanyaannya sekarang apakah ahlul kitab termasuk golongan musyrikiin? Menurut
definisi di atas maka ahlul kitab termasuk kaum musyrikiin. Jika demikian bolehkah
seorang mu’min menikahi wanita ahlul kitab?

Mayoritas ulama (jumhur) membolehkan seorang mu’min menikah dengan wanita ahlul
kitab (dari umat Yahudi atau Nasrani). Dan ini pendapat yang kuat (rajih). Bahkan ada
sebagian yang mengatakan –seperti Imam Al Jashshash – tidak ada khilaf di dalamnya,
kecuali ‘Abdullah bin ‘Umar yang memandangnya makruh (lihat Al Jashshash, Ahkamul
Qur’an, vol. 2, h.324). Namun kendati demikian menikah dengan wanita muslimah tetap
harus diutamakan. Sebab pada hakikatnya, di antara hikmah dibolehkannya adalah
dalam rangka untuk mengislamkannya. Dan seorang suami mu’min sebagai kepala
rumah tangga tentu sangat berperan dan menentukan dalam proses tersebut. Berbeda
halnya jika sang istri muslimah dan suami non-muslim. Sang istri tentu sangat berat
untuk mempengaruhi sang suami, bahkan bisa dipastikan sang istri akan kewalahan.
Sebab tabiat seorang istri biasanya selalu ikut apa kata suami. Atas dasar ini mengapa
seorang muslimah tidak boleh bersuamikan seorang ahlul kitab.

Beberapa alasan yang menguatkan bolehnya seorang muslim beristrikan wanita ahlul
kitab sebagai berikut:
(a) Bahwa kata musyrikaat pada ayat di atas tidak termasuk ahlul kitab, dalilnya: Orang-
orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya
sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu” (Al-Baqarah: 105) Di sini nampak dibedakan
antara orang-orang musyrik dengan ahlul kitab. Begitu juga dalam surat Al Bayyinah
Allah berfirman: “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik
(mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang
kepada mereka bukti yang nyata”. (Al-Bayyinah: 1). Dikatakan bahwa wawu athf
menunjukkan perbedaan (almughayarah). Dengan ini jelas bahwa ahlul kitab bukan
orang-orang musyrik. Toh kalaupun dikatakan bahwa mereka tergolong musyrik, maka
dengan ayat tersebut nampak adanya pengkhususan, seakan dikatakan: Tidak boleh
menikah dengan wanita musyrikah kecuali wanita ahlul kitab.

66
(b) Allah berfirman: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan
(sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal
(pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mengawini) wanita yang menjaga kehormatan di
antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di
antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas
kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak
(pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak
menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat
termasuk orang-orang merugi” (Al-Maidah: 5). Ini menunjukkan bahwa menikah dengan
wanita ahlul kitab hukumnya boleh.

(c) Diriwayatkan bahwa ‘Utsman bin Affan ra. menikah dengan Nailah Al Kalbiyah,
wanita Yahudi, begitu juga Thalhah bin Ubaidillah ra. menikah dengan wanita Yahudi
dari penduduk Syam. Itu pun tidak ada satupun riwayat yang mengatakan bahwa salah
seorang sahabat menentang pernikahan tersebut. Dari sini nampak bahwa mereka
bersepakat atas bolehnya menikah dengan wanita ahlul kitab.

Walhasil, bahwa sekalipun pernikahan dengan wanita ahlul kitab hukumnya boleh,
namun lebih utama seorang muslim tidak melakukannya. Salah seorang alim besar
dalam Madzhab Hanafi, Kamal bin Hammam berkata: “Memang boleh menikah dengan
wanita ahlul kitab, tetapi lebih baiknya seorang muslim tidak melakukannya, kecuali
dalam kondisi darurat” (lihat Al kamal bin Hammam, Fathul Qadiir, Syarhul Hidayah fii
Fiqhil Hanafiyah, vol. 2, h. 372). Pesan Kamal bin Hammam ini ternyata ada dasarnya:
diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khaththab pernah menyuruh sahabatnya Hudzaifah untuk
menceraikan istrinya yang tergolong kaum Yahudi. Hudzaifah bertanya: Apakah kamu
melihat bahwa pernikahan seperti ini hukumnya haram? ‘Umar menjawab: Tidak, tetapi
saya takut hal ini kelak menjadi contoh yang diikuti banyak orang. ‘Umar benar dalam
sikapnya ini, sebab jika kemudian pernikahan seperti tersebut, benar-benar menjadi
fenomena umum, bagaimana nantinya nasib wanita-wanita muslimah? Dan perlu diingat
bahwa di antara hikmah dibolehkannya menikah dengan kitabiyah adalah supaya wanita
kitabiyah itu masuk ke pangkuan Islam melalui pernikahan. Jika diperkirakan itu tidak
mungkin terjadi, para ‘ulama memakruhkan. Oleh sebab itu ada kondisi di mana seorang
muslim dimakruhkan menikah dengan kitabiyah: Pertama, wanita tersebut harbiyah
(mempunyai jiwa menyerang, tidak mungkin dipengaruhi dan bahkan mungkin akan
menyebabkan hancurnya moral anak-anak yang dilahirkan, serta tidak mustahil ia akan
mempengaruhi sang suami) (lihat, Ibid, vol.2. h. 372). Kedua, adanya wanita muslimah
yang bisa dinikahi. Imam Ibn Taymiah mengatakan: “Makruh hukumnya menikah dengan
wanita kitabiyah sementara di saat yang sama masih ada wanita-wanita muslimah” (lihat
Alikhtiyaraat Alfiqhiyah min Fatawa Syaikhil Islam Ibn Taymiah, h. 217).

67

B. Menikah Dengan Laki-laki Ahlul Kitab

Ayat di atas menegaskan: dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
(dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Dalam konteks ini tidak
ditemukan ayat lain yang mengkhususkannya, seperti ayat mengenai menikah dengan
wanita kitabiyah. Artinya tidak ada keterangan lain mengenai hukum boleh-tidaknya
menikah dengan laki-laki ahlul kitab, kecuali ayat di atas. Bila disebutkan bahwa ahlul
kitab tergolong orang-orang musyrik, maka berdasarkan ayat di atas tidak boleh seorang
muslimah menikah dengan laki-laki musyrik. Berbeda jika wanitanya ahlul kitab dan
calon suamimya muslim, itu dibolehkan karena adanya ayat lain yang menegaskan
bolehnya sebagaimana telah diterangkan tadi.

Jelasnya, bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh dalam kondisi apapun menikah
dengan seorang yang musyrik, termasuk laki-laki Yahudi dan Nasrani, karena al Qur’an
telah menyebutkan bahwa mereka tergolong kafir. Allah berfirman: “Orang-orang kafir
yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan
meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”. (QS. 98:
1). Lebih dari itu mereka juga akan selalu mempengaruhi istrinya agar menjadi kafir,
yang dengannya ia bisa masuk neraka, Allah berfirman pada ayat di atas: mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.

Kerena itulah Allah menekankan dengan sangat tegas bahwa menikah dengan seorang
mu’min tetap lebih utama, sekalipun ia seorang budak: walaamatun mu’minatun khairun
min musyrikatin walau a’jabatkum (sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik
dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu). Lalu dipertegas lagi pada ayat
berikutnya: wala ‘abdun mu’minun khairun min musyrikin walau a’jabakum
(sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik
hatimu). Perhatikan, penegasan ini tidak mengandung penafsiran lain keculai bahwa
yang harus diutamakan dalam pernikahan adalah kesamaan aqidah. Sebab dari
kesamaan aqidah akan mudah menentukan kesamaan tujuan sekaligus kesamaan cara
hidup. Dan hanya dengan ini kelak upaya untuk saling membantu dalam mentaati Allah
(at ta’aawun bil birri wat taqwa) akan lebih tercipta, di mana dari sini kebahagiaan hakiki
akan dicapai, tidak saja di dunia melainkan juga di akhirat. Wallhu a’lam bish shawab.
68


KEPITING DAN SEAFOOD KEPITING DAN SEAFOOD KEPITING DAN SEAFOOD KEPITING DAN SEAFOOD: HALALKAH? : HALALKAH? : HALALKAH? : HALALKAH?

Oleh:
Dr. Setiawan Budi Utomo


dakwatuna.com – Belakangan ini, semakin banyak muncul pertanyaan seputar masalah
seafood khususnya kepiting (crab) seiring dengan munculnya wirausaha restoran
seafood dan budidaya kepiting, apakah halal atau haram untuk memakannya yang
membuat sebagian masyarakat muslim ragu-ragu untuk menyantapnya, padahal
mungkin sebelumnya sangat menyukai menu masakan kepiting dan hobi memakannya.
Lalu, bagaimanakah sebenarnya hukum menjualnya sebagai masakan sea food ataupun
memasoknya ke restoran dan warung yang menjualnya. Hal ini mungkin jarang dibahas
dalam buku-buku dan tulisan fiqh sementara pada realitasnya, persoalan ini banyak
dihadapi dalam keseharian, baik dari sisi konsumsi, produksi maupun distribusi
penjualannya.

Di kalangan umat Islam Indonesia, secara tradisional, status hukum mengkonsumsi
kepiting masih dipertanyakan kehalalannya. Fenomena itu sebenarnya berangkat dari
kesadaran umum akan pentingnya sikap berhati-hati menghindari barang yang haram
dan hanya mengkonsumsi barang yang halal.

Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk mengkonsumsi yang halal dan thayyib (baik),
baik dalam mengkonsumsi jenis makanan hewani, dan jenis-jenis lainnya antara lain
dalam firmannya:

69
“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan
itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah [2]: 168).

“(yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati
tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka
mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk…” (QS. Al-A`raf [7]: 157).

“Mereka menanyakan kepadamu: Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah:
Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang
telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang
telah diajarkan Allah kepadamu, Maka, makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu,
dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya” (QS. Al-Maidah: 4).

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan
syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (QS. An-Nahl:
114).

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-
Maidah: 88)

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai
makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan
diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.
Dan bertaqwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (QS. Al-
Maidah: 96)

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 29)

Demikian pula Nabi saw berpesan tentang keharusan memperhatikan kehalalan maupun
keharaman sesuatu yang dikonsumsi demi menjaga kesucian diri dan keterkabulan jiwa,
antara lain dalam sabdanya:

70
“Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah adalah thayyib (baik), tidak akan menerima
kecuali yang thayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman
segala apa yang Ia perintahkan kepada para rasul. Ia berfirman, ‘Hai rasul-rasul!
Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal yang saleh.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. Al-Mu’minun [23]:
51), dan berfirman pula, ‘Hai orang yang beriman! Makanlah di antara rezki yang baik-
baik yang Kami berikan kepadamu…’ (QS. al-Baqarah: 172).

“Kemudian Nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang,
rambutnya acak-acakan, dan badannya berlumur debu. Sambil menengadahkan tangan
ke langit ia berdoa, ‘Ya Tuhan; ya Tuhan…’ (Berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan
kondisi seperti itu, pada umum-nya dikabulkan oleh Allah–pen.). Sedangkan, makanan
orang itu haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan
yang haram. (Nabi memberikan komentar), ‘Jika demikian halnya, bagaimana mungkin ia
akan dikabulkan doanya?’” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

“Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan di antara keduanya ada
hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya),
kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati-hati dari perkara
syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya…” (HR. Muslim).

Dalam konteks status hukum mengkonsumsi suatu barang ataupun binatang, maka
selama tidak ditemukan dalil yang akurat ataupun indikasi kuat yang dapat
dikategorisasikan ke dalam salah satu jenis yang diharamkan Allah, maka seharusnya
kita kembali kepada hukum asal yakni halal atau mubah.

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram fil Islam (hal. 22) bahwa
hukum asal segala sesuatu adalah boleh (al-Ashlu fil asya’ al-ibahah) menurut beliau
bahwa hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan manfaatnya adalah halal dan
boleh, kecuali apa yang ditentukan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash
yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Maka jika tidak ada nash
seperti itu maka hukumnya kembali kepada asalnya yakni boleh (istishab hukmil ashl).
Prinsip inilah yang dipakai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menentukan hukum
segala sesuatu selain ibadah dan aqidah. (Qawa’id Nuraniyah Fiqhiyah, hal. 112-113)

Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas (sharih), firman Allah: “Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu.”(QS. Al-Baqarah: 29) Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah: 13 dan Luqman:
20. Inilah bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakunya syariah yang
71
memperluas wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh
Nabi saw: “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya maka ia adalah halal (hukumnya)
dan apa yang Dia haramkan maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan
maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah
tidak mungkin melupakan sesuatu.” (HR. Hakim dan Bazzar)

Ketika Rasulullah saw ditanya tentang hukum mentega, keju dan keledai liar, beliau
enggan menjawab satu persatu masalah parsial ini melainkan beliau alihkan kepada
kaidah dasar hukum agar mereka dapat cerdas menyimpulkan segala persoalan dengan
sabdanya: “Sesuatu yang halal itu adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya dan
sesuatu yang haram itu adalah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, dan apa
yang Allah diamkan (tidak sebutkan) berarti termasuk apa yang dimaafkan (dibolehkan)
untuk kamu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Bahkan Rasulullah melarang kita untuk mencari-cari alasan untuk mempersoalkan
sesuatu yang Allah sengaja diamkan itu dengan sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah
mewajibkan beberapa hal fardhu maka jangan kamu abaikan, dan telah menggariskan
beberapa batasan maka jangan kamu langgar dan telah mengharamkan beberapa hal
maka jangan kamu terjang serta telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi
kamu tanpa unsur kelupaan maka jangan kamu permasalahkan.” (HR. Dar Quthni)

Bila kita telusuri berbagai macam kitab-kitab fiqh dalam masalah makanan, niscaya akan
kita temukan suatu kesimpulan bahwa hukum asal makanan adalah halal dan tidak
dapat diharamkan kecuali berdasarkan dalil khas yang spesifik. (Mausu’ah Fiqhiyah,
Kuwait, vol. V hal. 123)

Allah telah menjelaskan secara jelas dan tuntas semua yang halal maupun yang haram.
(QS. Al-A’raf: 157, An-Nisa’: 29, Al-Maidah: 4, Al-An’am: 119, 145). Dari sini para ulama
menyimpulkan kaidah bahwa prinsip dasar makanan adalah halal kecuali bila terdapat
larangan dari nash (Al-Qur’an dan Sunnah). Di antara faktor-faktor dan unsur-unsur
kandungan yang dapat mengharamkan makanan di antaranya:
1. Dipastikan dapat menimbulkan dharar (bahaya) bagi fisik manusia. Allah
berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195). Rasulullah saw bersabda:
“Tidak dibolehkan melakukan sesuatu yang membahayakan (dharar) diri sendiri
dan orang lain (dhirar).” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad.) dan sabdanya, “Barang
siapa yang mereguk racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racunnya akan
tetap berada di tangannya seraya ia mereguknya di neraka Jahannam selama-
lamanya.” (HR. Bukhari)
72
2. Memabukkan, melalaikan atau
menghilangkan ingatan. Seperti segala
jenis minuman keras, obat-obatan
terlarang, candu, narkotika dan zat
adiktif lainnya. Allah berfirman: “Hai
orang-orang yang beriman,
sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala,
mengundi nasib dengan panah, adalah
perbuatan keji termasuk perbuatan
syaitan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu mendapat
keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90).
Rasulullah saw bersabda, “Segala
sesuatu jika banyaknya memabukkan, maka yang sedikitnya pun haram.” (HR.
Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).
3. Najis dan terkontaminasi najis. Contoh: babi, darah, anjing, bangkai (selain ikan
dan belalang). (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Kuwait, vol. V/125) Allah berfirman,
“Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku,
sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau
makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena semua
itu najis atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al-An’am:
145). Selain itu, di dalam mazhab Syafi’i kita temukan larangan syariah untuk
mengkonsumsi binatang yang hidup di dua alam (air dan darat).

Apabila kita dapati Nabi saw melarang beberapa jenis makanan atau binatang di luar
konteks yang dinashkan oleh al-Qur’an maka ulama fiqih dan ushul seperti Imam Asy-
Syaukani mengkategorikan larangan Nabi tersebut sebagai larangan makruh bukan
haram. Atau bila terdapat kesesuaian ‘illat (sebab) hukum pengharaman dalam al-Qur’an
seperti najis atau indikasi najis, rijs atau fisq yang semuanya digolongkan khabaits
kebalikan halal yang identik dengan thayyibat secara umum. Maka hal itu termasuk
kategori qiyas (analogi) terhadap larangan al-Qur’an.

Asy-Syaukani melihat tidak ada relevansinya pengharaman binatang yang diperintahkan
oleh Nabi untuk dibunuh maupun yang dilarang Nabi untuk dibunuh merupakan
konsekuensi logis dan kultural untuk menjadi dalil pengharaman untuk memakannya
maka hal itu tidak dapat dijadikan dasar pengharaman. Namun bila binatang yang
diperintahkan Nabi untuk membunuhnya maupun yang dilarang untuk membunuhnya
termasuk kategori khabaits (najis) maka pengharamannya berdasarkan ayat di atas, jika
tidak mengandung unsur khabaits yang manshus (ditegaskan oleh nash ayat) maka
73
hukumnya kembali kepada hukum asal yakni halal berdasarkan dalil dan kaidah umum.
(Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, V/14)

Keraguan sementara umat Islam tentang kehalalan kepiting adalah karena diduga ia
hidup di dua alam. Hal tersebut perlu mendapatkan penjelasan ilmiah tentang tabiat dan
karakteristik biologis kepiting itu sendiri apakah hidupnya memang benar-benar di dua
alam, atau termasuk binatang darat atau binatang yang hanya bisa hidup di air. Imam al-
Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfadz al-Minhaj, (VIII/ 150-152) menjelaskan
bahwa pengertian “binatang laut/ air” adalah binatang yang tidak dapat hidup kecuali di
air dan jika keluar darinya dalam waktu lama ia tidak akan bisa bertahan hidup,
sedangkan “binatang yang hidup di laut/ air dan di daratan” yaitu yang hidup di dua alam
tersebut secara permanen seperti katak, sarathan (cancer) atau disebut kalajengking air
dan ular adalah haram karena kejorokan dan bahayanya.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Syaikh Muhammad al-Khathib al-Syarbaini
dalam Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani al-Minhaj (IV/297), Imam Abu Zakaria bin
Syaraf al-Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin (IV/298) serta syarh Imam Asy-Syarbaini
yang pada kesimpulan bahwa binatang laut yang tidak hidup kecuali padanya adalah
halal untuk dimakan berdasarkan keumuman ayat dan hadits yang menegaskan
kehalalannya. Sebagaimana hadits Nabi saw. “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”
(HR. Khamsah).

Ibn al-‘Arabi dan ulama lain sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-
Sunnah (III/249) berpendapat bahwa binatang yang hidup di daratan dan di laut secara
bersamaan hukumnya yang benar adalah haram untuk dimakan, karena terdapat
padanya kontradiksi antara dalil yang mengharamkan dan dalil yang menghalalkan,
maka kita cenderung mengharamkan untuk lebih berhati-hati. Sayyid Sabiq menjelaskan
bahwa para ulama selain Ibnu Al-‘Arabi berpendapat bahwa semua binatang yang
hidupnya secara efektif hanya bertahan di air hukumnya halal sekalipun telah menjadi
bangkai meskipun ia dapat hidup di darat untuk sejenak, kecuali katak tetap haram.

Berdasarkan pendapat ahli biologi, Dr. Sulistiono (dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan IPB) dalam makalah Eko-Biologi Kepiting Bakau (Scylla spp) (2002) dapat
disimpulkan bahwa sebenarnya jenis kepiting yang biasa dikonsumsi masyarakat
Indonesia tidak termasuk dalam kategori hewan yang hidup di dua alam.

Ia menjelaskan bahwa terdapat empat jenis kepiting bakau yang sering dikonsumsi dan
menjadi komoditas, yaitu: a) Scylla serrata, b) Scylla tranquebarrica, c) Scylla olivacea,
dan d) Scylla paramamosain. Keempat jenis kepiting bakau ini oleh masyarakat umum
hanya disebut dengan “kepiting”.
74

Kepiting menurutnya adalah termasuk jenis binatang air, dengan alasan: a) Bernafas
dengan insang, b) Berhabitat di air, c) Tidak akan pernah mengeluarkan telor di darat,
melainkan di air karena memerlukan oksigen dari air.

Sebenarnya kepiting, termasuk keempat jenis di atas hanya ada yang hidup di air tawar
saja, hidup di air laut saja, atau hidup di air laut dan di air tawar Jadi, tidak ada yang
hidup atau berhabitat di dua alam; di laut/ air dan di darat.

Majelis Ulama Indonesia melalui rapat Komisi Fatwa pada tanggal 15 Juni 2002
berdasarkan uraian ilmiah dari para pakar terkait dengan masalah ini menyimpulkan
bahwa kepiting adalah bintang air, baik di air laut maupun di air tawar dan bukan
binatang yang hidup atau berhabitat di dua alam yaitu tidak hidup di laut dan di darat
sekaligus secara permanen.

Dengan demikian hukum kepiting yang biasa dikonsumsi di Indonesia dan hidup di satu
alam saja yaitu di air adalah halal, baik untuk dikonsumsi, dijual dan diternakkan
sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia serta proses
memasaknya tidak dicampuri atau menggunakan bahan yang dilarang syariah seperti
arak Cina (angciu) yang dikategorikan sebagai khamar. Persoalan thayyib (sifat baik)
dan tidaknya dari segi kesehatan terkait dengan kadar kolesterol dan sebagainya, maka
dikembalikan secara relatif kepada kondisi kesehatan fisik masing-masing individu serta
pola hidup sehatnya. Wallahu A’lam. Wabillahit Taufiq wal Hidayah. []
75


DUA DIMENSI SHALAT DUA DIMENSI SHALAT DUA DIMENSI SHALAT DUA DIMENSI SHALAT

Oleh:
Dr. Amir Faishol Fath


Shalat adalah ibadah yang terpenting dan utama dalam Islam. Dalam deretan rukun
Islam Rasulullah saw. menyebutnya sebagai yang kedua setelah mengucapkan dua
kalimah syahadat (syahadatain). Rasullah bersabda, “Islam dibangun atas lima pilar:
bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
menegakkan shalat, membayar zakat, berhajji ke ka’bah baitullah dan puasa di bulan
Ramadlan.” (HR. Bukhari no.8 dan HR. Muslim no.16).

Ketika ditanya Malaikat Jibril mengenai Islam, Rasullah saw. lagi-lagi menyebut shalat
pada deretan yang kedua setelah syahadatain (HR. Muslim no.8). Orang yang
mengingkari salah satu dari rukun Islam, otomatis menjadi murtad (keluar dari Islam).
Abu Bakar Ash Shidiq ra. ketika menjabat sebagai khalifah setelah Rasullah saw. wafat,
pernah dihebohkan oleh sekelompok orang yang menolak zakat. Bagi Abu Bakar mereka
telah murtad, maka wajib diperangi. Para sahabat bergerak memerangi mereka.
Peristiwa itu terkenal dengan harbul murtaddin. Ini baru manolak zakat, apalagi menolak
shalat.

Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa pada awal surah Al-Baqarah, Allah
menerangkan bahwa menegakkan ibadah shalat adalah ciri kedua setelah beriman
kepada yang ghaib (Al-Baqarah: 3). Dari proses bagaimana ibadah shalat ini
disyariatkan –lewat kejadian yang sangat agung dan kita kenal dengan peristiwa Isra’
Mi’raj– Rasulullah saw. tidak menerima melalui perantara Malaikat Jibril, melainkan Allah
swt. langsung mengajarkannya. Dari sini tampak dengan jelas keagungan ibadah shalat.
76
Bahwa shalat bukan masalah ijtihadi (baca: hasil karangan otak manusia yang bisa
ditambah dan diklurangi) melainkan masalah ta’abbudi (baca: harus diterima apa adanya
dengan penuh ketaatan). Sekecil apapun yang akan kita lakukan dalam shalat harus
sesuai dengan apa yang diajarkan Allah langsung kepada Rasul-Nya, dan yang
diajarkan Rasulullah saw. kepada kita.

Bila dalam ibadah haji Rasulullah saw. bersabda, “Ambillah dariku cara melaksanakan
manasik hajimu”, maka dalam shalat Rasullah bersabda, “Shalatlah sebagaimana kamu
melihat aku shalat”. Untuk menjelaskan bagaimana cara Rasullah saw. melaksanakan
shalat, paling tidak ada dua dimensi yang bisa diuraikan dalam pembahasan ini: dimensi
ritual dan dimensi spiritual.


A. Dimensi Ritual Shalat

Dimensi ritual shalat adalah tata cara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya berapa
rakaat dan kapan waktu masing-masing shalat (shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, isya’)
yang harus ditegakkan. Dalam hal ini tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah
saw., apalagi ulama, yang mencoba-coba berusaha merevisi atau menginovasi.
Umpamanya yang empat rakaat dikurangi menjadi tiga, yang tiga ditambah menjadi lima,
yang dua ditambah menjadi empat dan lain sebagainya.

Dalam segi waktu pun tidak ada seorang ulama yang berani menggeser. Katakanlah
waktu shalat Zhuhur digeser ke waktu dhuha, waktu shalat Maghrib digeser ke Ashar
dan sebagainya (perhatikan: An-Nisa’: 103). Artinya shalat seorang tidak dianggap sah
bila dilakukan sebelum waktunya atau kurang dari jumlah rakakat yang telah ditentukan.
Dalam konteks ini tentu tidak bisa beralasan dengan shalat qashar (memendekkan
jumlah rakaat) atau jama’ taqdim dan ta’khir (menggabung dua shalat seperti Zhuhur
dengan Ashar: diawalkan atau diakhirkan) karena masing-masing dari cara ini ada
nashnya (baca: tuntunan dari Alquran dan sunnah Rasullah saw.; An-Nisa’: 101), dan
itupun tidak setiap saat, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan
kondisi yang tercantum dalam nash.

Apa yang dibaca dalam shalat juga tercakup dalam tata cara ini dan harus mengikuti
tuntunan Rasulullah. Jadi tidak bisa membaca apa saja seenaknya. Bila Rasullah
memerintahkan agar kita harus shalat seperti beliau shalat, maka tidak ada alasan lagi
bagi kita untuk menambah-nambah. Termasuk dalam hal menambah adalah membaca
terjemahan secara terang-terangan dalam setiap bacaan yang dibaca dalam shalat.
Karena sepanjang pengetahuan penulis tidak ada nash yang memerintahkan untuk juga
77
membaca terjemahan bacaan dalam shalat, melainkan hanya perintah bahwa kita harus
mengikuti Rasullah secara ta’abbudi dalam melakukan shalat ini.

Mungkin seorang mengatakan, benar kita harus mengikuti Rasullah, tapi bagaimana
kalau kita tidak mengerti apa makna bacaan yang kita baca dalam shalat? Bukankah itu
justru akan mengurangi nilai ibadah shalat itu sendiri? Dan kita hadir dalam shalat
menjadi seperti burung beo, mengucapkan sesuatu tetapi tidak paham apa yang kita
ucapkan?

Untuk mengerti bacaan dalam shalat, caranya tidak mesti dengan membaca
terjemahannya ketika shalat, melainkan Anda bisa melakukannya di luar shalat. Sebab,
tindakan membaca terjemahan dalam shalat seperti tindakan seorang pelajar yang
menyontek jawaban dalam ruang ujian. Bila menyontek, jawaban merusak ujian pelajar.
Membaca terjemahan dalam shalat juga merusak shalat. Bila si pelajar beralasan bahwa
ia tidak bisa menjawab kalau tidak nyontek, kita menjawab Anda salah mengapa tidak
belajar sebelum masuk ke ruang ujian. Demikian juga bila seorang beralasan bahwa ia
tidak mengerti kalau tidak membaca terjemahan dalam shalat, kita jawab, Anda salah
mengapa Anda tidak belajar memahami bacaan tersebut di luar shalat. Mengapa Anda
harus dengan mengorbankan shalat, demi memahami bacaan yang Anda baca dalam
shalat? Wong itu bisa Anda lakukan di luar shalat.

Pentingnya mengikuti cara Rasullah bershalat, ternyata bukan hanya bisa dipahami dari
hadits tersebut di atas, melainkan dalam teks-teks Alquran sangat nampak dengan jelas.
Dari segi bahasa dan gaya ungkap Alquran selalu menggunakan “aqiimush shalaata”
(tegakkankanlah shalat) atau “yuqiimunash sahalat” (menegakkan shalat). Menariknya,
ungkapan seperti ini juga digunakan Rasullah saw. Pada hadits mengenai pertemuannya
dengan Malaikat Jibril, Rasullah bersabda: “watuqiimush shalata“ (HR. Muslim no. 8) dan
pada hadits mengenai pilar-pilar Islam bersabda: “waiqaamish shalati “. (HR. Bukahri
no.8 dan HR. Muslim no.16)

Apa makna dari aqiimu atau yuqiimu di sini? Mengapa kok tidak langsung mengatakan
shallu (bershalatlah) atau yushalluuna (mereka bershalat)? Para ahli tafsir bersepakat
bahwa dalam kata aqiimu atau yuqiimuuna mengandung makna penegasan bahwa
shalat itu harus ditegakkan secara sempurna: baik secara ritual dengan memenuhi
syarat dan rukunnya, tanpa sedikitpun mengurangi atau menambah, maupun secara
spiritual dengan melakukannya secara khusyuk seperti Rasulullah saw. melakukannya
dengan penuh kekhusyukan. Masalah khusyu’ adalah pembahasan dimensi spiritual
shalat yang akan kita bicarakan setelah ini.


78
B. Dimensi Spiritual Shalat

Mengikuti cara Rasulullah saw. shalat tidak cukup hanya dengan menyempurkan
dimensi ritualnya saja, melainkan harus juga diikuti dengan menyempurnakan dimensi
spritualnya. Ibarat jasad dengan ruh, memang seorang bisa hidup bila hanya memenuhi
kebutuhan jasadnya, namun sungguh tidak sempurna bila ruhnya dibiarkan meronta-
ronta tanpa dipenuhi kebutuhannya. Demikian juga shalat, memang secara fiqh shalat
Anda sah bila memenuhi syarat dan rukunnya secara ritual, tapi apa makna shalat Anda
bila tidak diikuti dengan kekhusyukan. Perihal kekhusyukan ini Alquran telah
menjelaskan, “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan
sesungguhnya shalat itu sangat berat kecuali bagi mereka yang khusyu.” (Al-Baqarah:
45)

Imam Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menyebutkan pendapat para ulama salaf
mengenai makna khusyu’ dalam shalat: Mujahid mengatakan, itu suatu gambaran
keimanan yang hakiki. Abul Aliyah menyebut, alkhasyi’in adalah orang yang dipenuhi
rasa takut kepada Allah. Muqatil bin Hayyan berpendapat, alkhasyi’in itu orang yang
penuh tawadhu’. Dhahhaq mengatakan, alkhasyi’en merupakan orang yang benar-benar
tunduk penuh ketaatan dan ketakutan kepada Allah. (Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil azhim,
Bairut, Darul fikr, 1986, vol. 1, h.133)

Dan pada dasarnya shalat –seperti yang digambarkan Ustadz Sayyid Quthb– adalah
hubungan antara hamba dan Tuhannya yang dapat menguatkan hati, membekali
keyakinan untuk menghadapi segala kenyataan yang harus dilalui. Rasulullah saw. –kata
Sayyid- setiap kali menghadapi persoalan, selalu segara melaksanakan shalat. (Sayyid
Quthb, Fii Zhilalil Qur’an, Bairut, Darusy syuruuq, 1985, vol. 1, h. 69)

Dalam hal ini tentu shalat yang dimaksud bukan sekedar shalat, melainkan shalat yang
benar-benar ditegakkan secara sempurna: memenuhi syarat dan rukunnya, lebih dari itu
penuh dengan kekhusyukan. Karena hanya shalat yang seperti inilah yang akan benar-
benar memberikan ketenangan yang hakiki pada ruhani, dan benar- benar melahirkan
sikap moral yang tinggi, seperti yang dinyatakan dalam Alquran: “dan dirikanlah shalat.
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ”. (Al-
Ankabut: 45)

Jelas, bahwa hanya shalat yang khusyu’ yang akan membimbing pelaksananya pada
ketenangan dan kemuliaan perilaku. Oleh sebab itu para ulama terdahulu selalu
mengajarkan bagimana kita menegakkan shalat dengan penuh kekhusyukan. Imam As-
Samarqandi dalam bukunya tanbihul ghafiliin, menulis bab khusus dengan judul: Bab
itmamush shalaati wal khusyu’u fiihaa (Bab Menyempurkan dan Khusyuk dalam Shalat).
79
Disebutkan dalam buku ini bahwa orang yang sembahyang banyak, tetapi orang yang
menegakkan shalat secara sempurna sedikit. (As Samarqandi, Tanbihul ghafiliin, Bairut,
Darul Kitab al’Araby, 2002, h. 293)

Imam As-Samarqandi benar. Kini kita menyaksikan orang-orang shalat di mana-mana.
Tetapi, berapa dari mereka yang benar-benar menikmati buah shalatnya, menjaga diri
dari perbuatan keji, perzinaan, korupsi dan lain sebagainya yang termasuk dalam
kategori munkar.


C. Antara Ritual dan Spritual

Ketika Rasulullah saw. memerintahkan agar kita mengikuti shalat seperti yang beliau
lakukan, itu maksudnya mengikuti secara sempurna: ritual dan spiritual. Ritual artinya
menegakkan secara benar syarat dan rukunnya, spiritual artinya melaksanakannya
dengan penuh keikhlsan, ketundukan dan kekhusyukan.

Kedua dimiensi itu adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Satu dimensi hilang, maka
shalat Anda tidak sempurna. Bila Anda hanya mengutamakan yang spiritual saja,
dengan mengabaikan yang ritual (seperti tidak mengikuti cara-cara shalat Rasulullah
secara benar, menambahkan atau mengurangi, atau meniggalkannya sema sekali) itu
tidak sah. Dengan bahasa lain, shalat yang ditambah dengan menerjemahkan setiap
bacaannya ke dalam bahasa Indonesia, itu bukan shalat yang dicontohkan Rasulullah.
Maka, itu tidak disebut shalat, apapun alasan dan tujuannya.

Sebaliknya, bila yang Anda utamakan hanya yang ritual saja dengan mengabaikan yang
spiritual, boleh jadi shalat Anda sah secara fikih. Tetapi, tidak akan membawa dampak
apa-apa pada diri Anda. Karena yang Anda ambil hanya gerakan shalatnya saja.
Sementara ruhani shalat itu Anda campakkan begitu saja. Bahkan bila yang anda
abaikan dari dimensi spiritual shalat itu adalah keikhlasan, akibatnya fatal. Shalat Anda
menjadi tidak bernilai apa-apa di sisi-Nya. Na’udzubillahi mindzaalika. Wallahu A’lam
bish shawab.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->