Berbagai Faktor Penyebab Kemiskinan di Pedesaan dan Perkotaan

10 Oct 2008 1 Comment by elisabetyas in My Tasks Tidak banyak mungkin yang menyadari bahwa, berdasarkan angka koefisien Gini (indikator standar untuk mengukur ketimpangan), Indonesia ternyata termasuk ke dalam 30 negara yang paling merata sedunia (diperingkat dari data Bank Dunia, World Development Indicator 2002). Namun, bisakah angka koefisien Gini tidak tepat dalam merepresentasikan tingkat ketimpangan di Indonesia yang sebenarnya? Tentu saja. Penyebab pertama, angka ketimpangan di Indonesia diukur dari angka pengeluaran rumah tangga, bukan angka pendapatan. Penyebab yang kedua adalah jika data yang digunakan untuk menghitung ketimpangan tidak akurat dalam merepresentasikan golongan kaya. Hal ini bisa disebabkan budaya orang Indonesia yang ³low profile´ sehingga melaporkan pengeluaran lebih kecil dari yang sebenarnya. Penyebab yang lain adalah jika sampel data survei rumah tangga kurang mewakili golongan pendapatan tinggi. Angka koefisien Gini di pedesaan sudah relatif akurat, tetapi angka koefisien Gini di perkotaan sangat under-estimated. Hal ini masuk akal, mengingat golongan sangat kaya di pedesaan tentunya hampir tidak ada jika dibandingkan dengan golongan sangat kaya yang tidak terwakili di perkotaan. Untuk tahun 2002, misalnya, angka koefisien Gini di perkotaan hampir mencapai angka 0,6, jauh lebih tinggi daripada yang tercatat saat ini, yaitu 0,35. (opini pakar ekonomi Arief A. Yusuf) Orang di desa yang dengan susah payah mengumpulkan pendapatannya (yang jauh bila dibandingkan pendapatan orang kota) untuk memenuhi kebutuhannya tetapi justru sebagian besar pendapatannya mengalir dengan deras menuju kota. Untuk kondisi seperti ini semestinya pihak terkait (pemerintah, lembaga dan organisasi kemasyarakatan serta perguruan tinggi) dapat mengkaji dan menelaah kembali bila perlu dilakukan survey bagaimana aliran distribusi

raskin. sehingga tidak bisa bekerja´.org) Pemberian BLT dipertanyakan efektivitasnya. Akan tetapi. Secara umum masyarakat mengetahui apa itu lingkaran kemiskinan. Masyarakat desa dianggap demikian lugu dengan kondisi lingkungannya. difokuskan pada program padat karya atau cash for work. dengan rata-rata tingkat kemiskinan 1015 persen. Untuk belanja. (www. Bantuan langsung tunai (BLT) diberikan untuk rakyat miskin di luar Jawa. setiap pemerintah menggulirkan program bantuan bagi masyarakat terdapat beberapa skema yang mencantumkan alur kemiskinan masyarakat. misalnya beberapa pertanyaan yang berhubungan ³mengapa miskin?´ salah satu jawabannya ³karena tidak sekolah.masyarakat dan arus konsumsi masyarakat di dua wilayah tersebut (kota dan desa) terjadi. kesehatan. kemudian ³mengapa tidak bekerja?´ jawabannya akan kembali ke atas yaitu ³karena miskin´. meskipun diketahui sumber yang membuat masyarakat miskin tetapi itu memerlukan waktu dan konsekuensi yang tinggi untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera seperti dicita-citakan bangsa Indonesia. Untuk Jawa. apakah dalam pendataan sudah meliputi semua orang miskin? Ataukah pendataan itu hanya secara acak saja? Salah satu Ketua RT di Kelurahan Braga mengatakan pegawai BPS datang ke tempatnya sudah berulang kali meminta Ketua RT tersebut untuk memberikan data terbaru penduduk miskin di wilayahnya. . telah banyak kejadian yang mencatat bagaimana para petani menuntut perbaikan kesejahteraan di sektor pertanian dan hal itu terus berlangsung hingga kini. sedikit sekali temuan dan inisiatif serta gagasan yang dapat berkembang dan mampu menciptakan potensi dan keunggulan komparatif. yang mencakup 80 persen jumlah penduduk Indonesia. Untuk di Jawa. yang terjadi data penduduk miskin tidak pernah diubah sesuai dengan pendataan Ketua RT.jurnal-ekonomi. harus lewat cash for work. Kerja Badan Pusat Statistik (BPS) dipertanyakan. sebagian kecil contohnya adalah desa yang memiliki potensi pertanian yang luas tetapi pada kenyataannya masyarakat tidak mampu menjadikan potensi tersebut sebagai keunggulan bersaing dengan desa yang justru tidak memiliki potensi tersebut. dan pendidikan masih bisa digratiskan. Tidaklah mudah memutus rantai kemiskinan. Ada yang seharusnya tidak menerima BLT. sehingga akan diperoleh data ketimpangan pendapatan yang akurat sebagai informasi.

Para petani juga senantiasa tertindas oleh kerakusan para pembeli beras. harga beras yang melonjak. Ketika paceklik tiba mereka sudah tidak punya uang lagi. Dan seterusnya seperti lingkaran. Konflik biasanya muncul karena persyaratan yang diajukan. yang seharusnya menerima BLT. jumlah penduduk dan konsumsi beras adalah TETAP secara nasional. banyak di antara mereka meminjam uang. Tentu saja. Untuk menanam padi. Alangkah lebih baiknya apabila orang-orang miskin diberi fasilitas atau lapangan pekerjaan agar mereka bisa mengembangkan pekerjaan mereka. Selama ini alasan pokok negara Dunia Ketiga sampai saat ini masi menerima bntuan dari luar negeri. Todaro. Uang hasil utang dikorupsi oleh para pejabat. menghina petani. Jadi hutang-hutang mereka bisa terbayar. sebab mereka membutuhkan uang secepatnya untuk hidup. Pinjaman luar negeri pada masa Orde Baru turut menjadi penyebab kemiskinan yang ada sekarang ini. Negara berada dalam baying-bayang kemakmuran. kadar airnya tinggi. Bantuan tersebut cenderung dianggap atau bahkan diyakini akan dapat melengkapi kelangkaan sumber daya alam di negara berkembang. sekalipun mengikat tetapi tidak banyak diperhatikan. malah tidak menerima BLT. Dalam situasi bencana.justru menerima. kebijakan pemerintah dalam untuk memutuskan impor beras dengan alasan bencana. Siapa yang dapat mengontrol kinerja anggota BPS? Dikhawatirkan pemberian BLT atau pemberian tunai sejenis lainnya justru malah membuat budaya mengemis. dan melampaui batas kewajaran. Adakalanya. harga gabah mereka murah. tapi ternyata hutang tak terkontrol. uang itu akhirnya digunakan pemerintahan yang korup menggunakan bantuan itu untuk aneka proyek yang tidak menguntungkan. Orang miskin bisa saja menjadi malas bekerja dan terlalu berharap dengan bantuan itu. mengada-ada. Namun. pihak pemberi seringkali tidak bisa member arahan yang tepat. Ketika panen tiba. 1998: 174) Di bidang pertanian. mereka akan menjual gabah mereka dalam kondisi yang kurang bagus. biasanya kepada rentenir. bertolak dari motif pemberian bantuan. (Michael P. Celakanya. hanya . pinjam lagi. Sisanya tentu tidak seberapa. maupun stok beras yang ada di pemerintah adalah hal yang terlalu panik. Rakyat sedikit sekali menggunakannya. Uang pemberian itu juga nantinya akan habis dengan cepat. Perjanjiannya panen dilunasi.

pada beberapa wilayah saja seperti Jakarta yang terkesan menyerap banyak untuk stok di rumah tangga ataupun bantuan untuk bencana. kemiskinan. Menurut Imam. para tengkulak semakin berkuasa menentukan harga gabah. ketahanan pangan tidak hanya mengandung aspek ketersediaan pangan. bahkan saat orang miskin menuntut apa yang menjadi haknya sekalipun. Mereka memanfaatkan kelambanan Bulog dalam membeli gabah petani. Kadang apa yang mereka tanam pun tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka. menurut Imam Cahyono. kelompok masyarakat miskin bukan termasuk dalam kelompok yang dapat dengan mudah memperoleh pangan. Dalam kondisi semacam ini. Dan tentunya. akses perempuan yang dibatasi hukum. mereka pun tidak memiliki suara secara politis. Globalisasi juga telah melahirkan kemiskinan dan ketimpangan global. Mereka tahu harga pasaran. para petani menjual gabah ke tengkulak yang tentu membeli dengan harga rendah. Imam memaksudkannya bahwa sebagian besar penduduk miskin di negara berkembang adalah perempuan. berupa upah perempuan yang lebih rendah. apalagi untuk dijual guna mendatangkan penghasilan. Hal ini dikarenakan adanya feminisasi kemiskinan. (Esterlianawati dalam blog at wordpress. Karena saat persediaan pangan negara banyak sekalipun. Petani miskin juga hanya memiliki lahan yang terbatas atau bahkan tidak memiliki lahan.com ) Orang miskin tidak memiliki akses terhadap sumber daya yang cukup. Dalam kaitannya dengan pangan. namun tidak dapat melakukan apa-apa karena terdesak kebutuhan. yakni bahwa dalam kondisi sama-sama miskin. Mereka yang memiliki lahan hanya menggunakan teknik-teknik pertanian yang mungkin kurang efisien. Lagi-lagi petani yang miskin pun semakin dirugikan. Akhirnya karena kebutuhan hidup. hanya kelompok tertentu yang dapat memperolehnya. feminisasi pekerjaan. Karena miskin. maka kelompok perempuan akan menjadi . Kebijakan-kebijakan negara sangat bias kelas. dan sebagainya. Lebih lanjut. Dari kalimat Imam di atas bahwa kemiskinan memiliki wajah perempuan. yang akhirnya membatasi produksi pangan. memiliki wajah perempuan. baik untuk memproduksi ataupun membeli makanan yang layak. kemiskinan memiliki dimensi yang sangat bias gender karena adanya ketimpangan gender dan aspek kekuasaan. terdapat makna lain.

serta adanya kemungkinan akan semakin dominannya kalangan elit domestik dan berbagai macam kelompok kepentingan. Dalam buku Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Meskipun mereka adalah pemegang peran utama dalam memproduksi dan mengolah makanan. dan ekonomi.yang paling menderita. 1998: 271) Sumber : http://elisabetyas. Hal ini dikarenakan struktur patriarki dalam budaya kita yang harus diterima perempuan. Meskipun telah ada pengakuan formal terhadap kesetaraan gender dalam hukum internasional dan nasional. Dalam kondisi miskin. Mereka selalu menjadi yang terakhir dalam menikmati hasil pertumbuhan ekonomi. yakni memperlebar kesenjangan kesejahteraan antara si miskin dan si kaya. (Michael P. Sebenarnya belum ada bukti yang mengatakan swastanisasi akan menciptakan profitabilitas. sosial. perempuan akan lebih sulit terpenuhi hak-haknya atas pangan yang layak. efisiensi. Di kalangan negara berkembang yang termiskin. Proses swantanisasi memunculkan berbagai masalah yang kompleks. perempuan miskin tetap akan lebih terhambat dibandingkan laki-laki untuk mendapatkan makanan yang layak.wordpress. Mereka malah dinyatakan sebagai populasi yang paling tidak beruntung.com/2008/10/10/berbagai-faktor-penyebab- kemiskinan-di-pedesaan-dan-perkotaan/ . Selain itu. Faktor lainnya penyebab kemiskinan di negara ini adalah swastanisasi perusahaanperusahaan yang mengasilkan produk yang menuasai hajat orang banyak. swastanisasi ternyata menimbulkan dampak negatif dalam distribusi pendapatan. Todaro. mereka tidak diakui sebagai produsen secara hukum. struktur hak milik dan landasan hukumnya. apakah swastanisasi bisa mengatasi. Aspek-aspek kelayakan. serta tingkat output yang lebih tinggi. baik dalam negaranya bahkan dalam keluarganya sendiri. bahkan yang selalu memperoleh dampak negatif dari proses pertumbuhan ekonomi tersebut. atau malah memperparah struktur-struktur politik. pendanaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful