1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Dalam mencapai sasaran pembangunan milenium (millennium development goals/MDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah Indonesia, berbeda dengan Indonesia Sehat 2010, sasaran MDGs ada indikatornya serta kapan harus dicapai. Sasaran MDGs ini bisa dijadikan slogan ³Indonesia Sehat di tahun 2015´ sebagai pengganti slogan sebelumnya. Dalam visi ini Indonesia mempunyai delapan sasaran MDGs salah satunya yaitu mengurangi angka kematian bayi dan ibu pada saat persalinan. Maksud dari visi tersebut yaitu kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi yang akan dilahirkan hidup sehat, dengan misinya menurunkan kesakitan dan kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan di dalam menghadapi persalinan yang aman. (http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/07/03/visi-indonesiasehat-2015/) WHO memperkirakan sekitar 15±20% kematian ibu disebabkan oleh abortus. Angka kematian ibu karena abortus yang tidak aman diperkirakan 100.000 wanita setiap tahun, 99% diantaranya terjadi di Negara±negara berkembang termasuk Indonesia. 1

2

(www.locals/temp on line diakses tanggal 27 April 2011). Survey Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyatakan bahwa AKI di Indonesia mencapai 248 per 100.000 kelahiran hidup, sebagai angka tertinggi di ASEAN. Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh berbagai penyebab yang kompleks yaitu sosial, budaya, ekonomi, tingkat pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan gender. Dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklampsi, partus lama, dan komplikasi abortus. Hal ini menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas

pemerintah (Depkes RI, 2000). Di Indonesia, sampai kini diperkirakan jumlah kasus aborsi mencapai 2 juta per tahun 750.000 diantaranya dilakukan kalangan remaja. Kejadian abortus inkomplit diperkirakan terjadi

pada 10±15% kehamilan. (Depkes RI, 2007). Saat ini angka kematian bayi dan angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi, dimana cakupan pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, ibu melahirkan dan pasca persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah sehingga keterampilan tenaga kesehatan perlu selalu

ditingkatkan, karena pelayanan kesehatan maternal dan neonatal merupakan salah satu unsur penentu status kesehatan (Syaifuddin AB, 2002).

3

Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan pada tahun 2006 di Sul-Sel sebesar 101,56 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2007 menurun menjadi 92,89 per 100.000 kelahiran hidup dan didapatkan jumlah bayi pada tahun 2007 sebanyak 160.875 orang (Dinas Provinsi Sul-Sel 2008). Berdasarkan data yang diperoleh dibagian rekam medik RSU Sawerigading Palopo tahun 2010 ditemukan jumlah kejadian abortus berkisar 348 kasus, dimana ibu hamil yang mengalami abortus inkomplit sebanyak 229 orang (65,80%), abortus komplit sebanyak 7 orang (2,01%), abortus imminens 48 orang (13,79%), abortus insipiens 21 orang (6,03%), abortus habitualis sebanyak 4 orang (1,15%), missed abortion sebanyak 15 orang (4,31%) dan abortus provokatus sebanyak 24 orang (6,90%). Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan. Kecuali apabila terjadi komplikasi, juga karena sebagian abortus spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan. Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10±15%, frekuensi dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka yang hamil sangat dini, terlambat haid beberapa hari sehingga wanita itu sendiri tidak mengetahui bahwa ia sudah hamil (Wiknjosastro H, 2005).

Tujuan Umum Diketahuinya gambaran kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil di RSU Sawerigading Palopo tahun 2010. . C. kesakitan dan kematian serta kelangsungan reproduksi wanita. Dimana fungsi reproduksi ini sering merepotkan manusia. maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang abortus inkomplit dengan judul ³Gambaran Angka Kejadian Abortus Inkomplit di RSU Sawerigading Palopo Tahun 2010´.4 Berdasarkan insiden diatas ternyata abortus merupakan masalah dunia yang mempengaruhi kesehatan. (Bertens K. banyak pasangan ingin sekali mendapat anak dengan berbagai cara namun ironisnya disisi lain ada pasangan yang istrinya hamil tetapi kehamilan tersebut tidak diinginkan dan menempuh segala cara untuk menggugurkan kandungannya. Tujuan Penelitian 1. maka dirumuskan masalah sebagai berikut : ³Bagaimana gambaran angka kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil di RSU Sawerigading Palopo tahun 2010´. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas. B. 2002). Dengan melihat data diatas yang menggambarkan sejumlah kasus abortus yang masih sangat tinggi.

5 2. Bagi Institusi Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi dan acuan dalam rangka penentu kebijakan kejadian abortus. Ilmiah Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan ilmiah bagi dunia pendidikan dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum serta memperkaya khasanah ilmu pengatahuan dan juga dapat menjadi acuan bagi peniliti selanjutnya. Diketahuinya gambaran kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil berdasarkan umur ibu b. Bagi Masyarakat / Pasien Kiranya menambah wawasan dan pengetahuan tentang abortus khususnya abortus inkomplit. . Diketahuinya gambaran kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil berdasarkan gravida D. 4. Tujuan Khusus a. 2. Bagi Penulis Merupakan pengalaman berharga bagi penulis sendiri dalam meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit. Manfaat Penelitian 1. 3.

2004). Tinjauan Umum Tentang Abortus 1. Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup (Cuningham G.2005). Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram sedangkan menurut WHO batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu (Anonim. Pengertian a. 2004). 6 . 2005) e. Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan dimana janin belum mampu hidup diluar rahim (belum viable). Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar. dengan kriteria usia kehamilan <20 minggu atau berat janin <500 gram (Achadiat C. tanpa mempersoalkan penyebabnya (Sastrawinata S. Abortus adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Winkjosastro H. b.6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2007). d. c.

telur kosong (bliggted ovum). infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yang sedang berkembang. Faktor Janin Kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah gangguan pertumbuhan zigot. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama. atau kelainan kromosom (monosomi. yakni : 1) Kelainan telur. 3) Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblast). atau poliploid).7 2. terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. kerusakan embrio. apakah janin yang menjadi terinfeksi atau toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya penyakit ± penyakit yang dapat menyebabkan abortus : . trisomi. Faktor maternal 1) Infeksi. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara pasti. 2) Embrio dengan kelainan lokal. b. Etiologi Faktor±faktor yang dapat menyebabkan terjadinya abortus yaitu : a. embrio janin atau plasenta.

polio. 7) Faktor psikomatik. 2) Penyakit vaskuler. 3) Penyakit endokrin. hipoplasia uterus. kasusnya jarang terjadi segera setelah trauma tersebut.8 a) Virus. pengaruh dari faktor ini masih dipertanyakan. misalnya rubella. misalnya trauma akibat pembedahan : a) Pengangkatan ovarium yang mengandung korpus luteum graviditatum sebelum minggu ke-8 b) Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus pada saat hamil 6) Kelainan uterus. misalnya salmonella typi. ketidakcocokan (inkompabilitas) system HLA (Human Leukocyte Antigen). virus herpes simpleks. abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid. sitomegalovirus. b) Bakteri. misalnya Toxoplasma gondii. serviks inkompeten atau retroflexi uteri gravidi incarcerata. Plasmodium. tetapi diduga penyebab abortus. vaccina. misalnya hipertensi vaskuler. campak. varicellazoster. 4) Faktor imunologis. defesiensi insulin. . hepatitis. mioma (terutama mioma sub mukosa). dan ensefalomielitis. c) Parasit. 5) Trauma.

. 2. 2005). Obat±obatan. Sebaiknya tidak mengganggu obat±obatan sebelum kehamilan 16 minggu. 3. Radiasi. kecuali telah dibuktikan bahwa obat tersebut membahayakan janin atau untuk pengobatan penyakit ibu yang parah.9 c. sehingga bagian yang terlepasnya ini merupakan benda asing dalam uterus menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut (Wiknjosastro H. antikoagulan. Faktor eksternal 1. Bahan±bahan kimia lainnya. antagonis asam folat. dosis 1-10 rad bagi janin pada kehamilan 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran. Nekrosis jaringan sekitar desidua basalis menyebabkan terlepasnya hasil konsepsi sebagian atau seluruhnya. 2004). seperti bahan yang mengandung arsen atau benzene (Sastrawinata S. Patofisiologi Keguguran pada awalnya terjadi perdarahan dalam desidua basalis yang diikuti oleh kematian jaringan disekitarnya (nekrosis). dan lainlain. 3.

beberapa waktu kemudian disusul plasenta. Sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. b. Pada kehamilan 8±14 minggu villi korealis menembus desidua lebih dalam. yaitu : a. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin. Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh. 2004). c. 2005). Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar. Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin keluar.10 Pengeluaran hasil konsepsi didasarkan 4 cara. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepasnya dengan lengkap (Wiknjosastro H. meningglkan korion dan desidua. d. tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang dikeluarkan). Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini. . (Sastrawinata S. meninggalkan sisa desidua. Kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korealis belum menembus desidua basalis secara mendalam.

b) Abortus buatan kriminal (abortus provokatus kriminalis) adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum (Sastrawinata S. dapat dibagi menjadi dua. Klasifikasi Keguguran atau abortus dapat dibagi menjadi. yaitu : a. Berdasarkan golongan : 1) Abortus spontan Keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis atau mekanis 2) Abortus buatan (provokatus) adalah abortus yang disengaja. Diagnosa dapat ditentukan bila wanita hamil terjadi perdarahan melalui ostium uteri eksternum. 2005). disertai mules sedikit atau tidak . dimana hasil konsepsi masih dalam uterus tanpa adanya dilatasi serviks.11 4. b. Indikasi abortus untuk kepentingan ibu misalnya penyakit jantung. Berdasarkan gambaran klinis 1) Abortus imminens (keguguran mengancam) Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu. yaitu : a) Abortus buatan menurut kaidah ilmu (abortus provokatus articialis atau abortus therapeuticus). dan Karsinoma serviks. hipertensi esensial.

serviks belum membuka dan tes kehamilan positif (Wiknjosastro H. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit (Saifuddin AB. Pada pemeriksaan vaginal. ostium uteri telah terbuka dan uterus sudah mengecil (Wiknjosastro H. uterus membesar sebesar tuanya kehamilan. . 2005). tetapi hasil konsepsi masih ada dalam uterus. kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri kadang±kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum (Wiknjosastro H. 2002). 3) Abortus inkomplit (keguguran tidak lengkap) Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.12 sama sekali. 2005). 2) Abortus insipiens (keguguran berlangsung) Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks yang meningkat. 4) Abortus komplit (keguguran lengkap) Abortus komplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. 2005).

perforasi. 2004).13 5) Abortus habitualis (keguguran yang berulang 3 kali atau lebih) Abortus habitualis adalah abortus yang terjadi 3 kali berturut±turut atau lebih oleh sebab apapun (Achadiat M. Rasa nyeri atau kram terutama di daerah supra simfisis d. Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi (Achadiat C. Komplikasi Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah perdarahan. infeksi dan syok.2004) 6. e. 6) Missed abortion (retensi janin mati) Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu tetapi tertahan didalam uterus selama 8 minggu atau lebih (Wiknjosastro H. Pada pemeriksaan urine. . Adanya terlambat haid atau amenorhoe kurang dari 20 minggu b. 5. plano test dapat memberi hasil masih positif atau negatif. yaitu: a. Dasar Diagnosis Keguguran atau abortus dapat dipastikan dengan beberapa kriteria. 2005). Perdarahan pervaginam c.

dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya b. untuk mengambil komplikasi c. Infeksi Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa±sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati dengan teliti. laparatomi segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera. Jika ada tanda bahaya. Perforasi uterus mungkin dapat terjadi apabila dikerjakan oleh orang awam karena perlukaan uterus biasanya luas dan mungkin juga terjadi pada perlukaan kandung kemih atau usus.14 a. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Dengan adanya dugaan/kepastian terjadinya perforasi. perlu segera dilakukan laparatomi. tapi biasanya ditemukan pada abortus inkomplit dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis pada abortus septik virulensi bakteri tinggi tindakan±tindakan seperlunya guna mengurangi .

uterus akan . Oleh karena itu. Perdarahan biasanya terus berlangsung. Pengertian Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis. 2005).15 dan infeksi menyebar ke miometrium tuba. 2005). 2002). Serviks tetap sering terbuka karena masih ada benda didalam rahim yang dianggap sebagai benda asing (corpus alienum). banyak yang membahayakan ibu. Tinjauan Umum Tentang Abortus Inkomplit 1. Apabila infeksi menyebar lebih jauh. Syok Syok hemoragik) pada dan abortus karena terjadi infeksi karena berat perdarahan (syok (syok endoseptik) (Wiknjosastro H. parametrium dan peritoneum. Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebagian 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. terjadilah peritonitis umum atau sepsis. dengan kemungkinan diikuti oleh syok d. (Saifuddin AB. Diagnosis abortus inkomplit ditentukan apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta). (Wiknjosastro H. B.

Anamnesis 1) Adanya amenorhoe pada masa reproduksi 2) Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi 3) Rasa sakit atau keram perut didaerah atas simpisis b. Ada keluar fetus atau jaringan f.16 berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri (Sastrawinata S. Pemeriksaan Fisik 1) Abdomen biasanya lembek dan tidak ada nyeri tekan . Adanya perdarahan pervaginam bisa sedikit atau banyak d. Hasil pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru terjadi didapati serviks terbuka. 2007) 3. Diagnosis Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan : a. 2004) 2. kadang±kadang dapat diraba sisa±sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri g. Sakit perut dan mules±mules c. Amenorhe b. Gejala Klinis a. Perdarahan biasanya berupa stolsel (darah beku) e. Uterus berukuran kecil dari seharusnya (Anonim.

Jika perdarahan berhenti.2 mg intramuskuler atau misoprostal 400 mcg per oral. sisa hasil konsepsi ditemukan didalam uterus. evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi melalui serviks. 2) Pemeriksaan USG ditemukan kantong gestasi tidak utuh. c. c. beri ergometrium 0. dapat juga menonjol keluar atau didapatkan diliang vagina. ada hasil konsepsi (Anonim. Pemeriksaan penunjang 1) Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu.17 2) Pada pemeriksaan pelvik. leukosit. hemoglobin. Penanganan Abortus Inkomplit Penanganan abortus inkomplit dapat dilakukan dengan : a. 2007). 4. evaluasi sisa hasil konsepsi dengan: . 3) Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol 4) Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak. Perbaiki keadaan umum b. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu.

18 1) Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evaluasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman . beri ergometrium 0. 2) Jika perlu berikan misoprostal 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi pengeluaran hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). d. C. Tinjauan Umum Tentang Variabel yang Diteliti 1) Umur Aborsi telah dilakukan oleh 2. e. Jika kehamilan lebih 16 minggu 1) Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes per menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi.2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostan 400 mcg per oral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu). 2) Jika evaluasi belum dapat dilakukan segera. Diperkirakan di seluruh dunia setiap tahun terjadi 40-70 aborsi per 100 wanita usia produktif. 2002). Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan (Saifuddin AB. Umur ibu merupakan salah satu faktor resiko terjadinya abortus.3 juta perempuan.

2000). Remaja wanita merupakan populasi resiko tinggi terhadap komplikasi kehamilan.wordpress. mortalitas perinatal dan morbiditas maternal sangat tinggi pada remaja wanita hamil dibanding dengan wanita dalam usia 20-an (Hamilton PM. Penyulit ini terjadi karena para remaja biasanya tumbuh dan berkembang sehingga memiliki kebutuhan kalori yang lebih besar dari wanita yang lebih tua. resiko mengidap penyakit kronik dan kondisi fisik yang kurang sehingga meningkatkan terjadinya abortus. Sebagai akibatnya. 2) Gravida Gravida adalah jumlah kehamilan yang pernah dialami tanpa melihat hasil kelahiran. persalinan dan kelahiran yaitu 20-35 tahun (Wheeler L.com/2009/02/27/hubungan-usia-ibudengan-kejadian-abortus on line diakses tanggal 27 April 2011). 2004). Pada indeks kehamilan menunjukkan bahwa . Sedangkan kehamilan setelah 35 tahun saat ini sekitar 10%. Penelitian-penelitian awal mengisyaratkan bahwa wanita yang berusia lebih dari 35 tahun berisiko lebih tinggi mengalami penyulit obstetri serta morbiditas dan mortalitas perinatal karena wanita yang berumur. Kehamilan remaja sekitar 13% terjadi pada wanita berusia antara 15-19 tahun.19 dalam kehamilan. (http://gepe2306.

Ibu yang hamil dengan multigravida mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya abortus sebab kehamilan yang berulang-ulang menyebabkan rahim tidak sehat. Dalam hal ini kehamilan yang berulang menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin akan berkurang dibanding pada kehamilan sebelumnya. . 2005).20 gravid 1-3 termasuk resiko rendah dan gravid >3 termasuk resiko tinggi (Bobak Irene. keadaan ini dapat menyebabkan kematian pada bayi (Wiknjosastro H. 2005).

Bagan Kerangka Konseptual Umur ibu Gravida Alkohol Abortus Inkomplit Kafein Nutrisi Riwayat penyakit Keterangan : : Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : Variabel Independen : Variabel Dependen 21 .21 BAB III KERANGKA KONSEP A.

Pengeluaran hasil konsepsi yang tidak utuh atau tidak keseluruhan yang tercantum dalam status pasien di RSU Sawerigading Palopo. Abortus inkomplit. . b. Abortus inkomplit Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. 20-35 tahun dan >35 tahun yang tercantum dalam status pasien di RSU Sawerigading Palopo c.22 B. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. Kriteria Objektif a. Definisi Operasional a. Umur Umur penderita dihitung berdasarkan tahun kelahiran pada lamanya hidup sejak lahir sampai mengalami abortus yang dibagi atas 3 kelompok umur yaitu umur <20 tahun. Gravida Jumlah kehamilan yang pernah dialami tanpa melihat hasil kelahiran yang diperoleh dari status pasien di RSU Sawerigading Palopo 2.

Umur adalah suatu keadaan dimana lamanya waktu manusia hidup Kriteria Objektif : 1) Ya : Jika umur ibu saat hamil < 20 tahun atau > 35 tahun 2) Tidak: Jika umur ibu saat hamil 20-35 c. Kriteria Objektif : 1) Ya : Jika jumlah kehamilan ibu > 3 2) Tidak : Jika jumlah kehamilan ibu < 3 . Pada indeks kehamilan menunjukkan bahwa gravid 1-3 termasuk resiko rendah dan gravid >3 termasuk resiko tinggi (Bobak Irene. 2005).23 Kriteria Objektif : 1) Ya : Jika pengeluaran hasil konsepsi hanya sebagian 2) Tidak: Jika pengeluaran hasil konsepsi tidak ada yang tersisa b. Umur Menurut Bambang M dalam kamus besar bahasa Indonesia (tahun 1999). Gravida Gravida adalah jumlah kehamilan yang pernah dialami tanpa melihat hasil kelahiran.

Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien abortus inkomplit yang dirawat di RSU Sawerigading Palopo tahun 2010. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus C. Tehnik Pengambilan Sampel Tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah secara total sampling. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. 24 .24 BAB IV METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian diskriptif yaitu masalah penelitian yang berhubungan dengan variabel yang ada tanpa membuat suatu perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Penelitian ini dilakukan di RSU Sawerigading Palopo 2. Populasi dan Sampel 1. D. Populasi Populasi dalam penelitian adalah semua pasien yang mengalami abortus di RSU Sawerigading Palopo Tahun 2010. B. 2.

2. Pengumpulan Data Data yang diambil berupa data sekunder yang diperoleh dari Medical Record dengan diagnosis Abortus Inkomplit yang dirawat di RSU Sawerigading Palopo tahun 2010.25 E. Analisa Data Analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif RSU Sawerigading Palopo dengan rumus : F P= N Keterangan : P : Persentase yang dicari F : Frekuensi faktor variabel N : Jumlah Populasi x 100 % . F. Langkah-langkah Pengumpulan Data 1. frekuensi dan penjelasan hasil. Pengolahan dan Penyajian Data Data diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi.

5. Perbaikan hasil penelitian . Seminar hasil riset/ujian sidang 8.26 G. Uraian Kegiatan Menyusun proposal Penelitian 2. Menyusun laporan hasil penelitaian 7. Seminar proposal Perbaikan proposal Pelaksanaan penelitian Pengolahan dan analisi data 6. 3. Jadwal Penelitian Juni 2011 1 2 3 4 1 Juli 2011 2 3 4 Agustus 2011 1 2 3 4 No 1. 4.

Hasil Penelitian Setelah dilakukan penelitian dibagian rekam medik RSU Sawerigading Palopo pada tanggal 21 Juni 2010. maka diperoleh jumlah abortus pada tahun 2009 berkisar 289 kasus dimana ibu yang mengalami abortus Inkomplit terdapat 145 orang (50.76%). abortus habitualis sebanyak 6 orang (2. abortus komplit sebanyak 8 orang (2.73%).99%). Dalam laporan hasil penelitian ini. data diolah dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel distribusi.17%). abortus insipiens 26 orang (8. frekuensi.38%) dan abortus provokatus sebanyak 17 orang (5.88%).07%). missed abortion sebanyak 4 orang (1. abortus imminens sebanyak 83 orang (28.27 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. dan persentase yang dilengkapi dengan penjelasan sebagai berikut: 29 .

28 Tabel V. abortus insipiens 26 orang (8.99 2.88%). abortus komplit sebanyak 8 orang (2. Frekuensi 145 8 83 26 6 17 4 289 Persentase (%) 50.38 100 .99%).38%) dan abortus provokatus sebanyak 17 orang (5. abortus imminens sebanyak 83 kasus (28.73 8. missed abortion sebanyak 4 orang (1.1 Distribusi Angka Kejadian Abortus Pada Ibu Hamil Di RSU Sawerigading Palopo Tahun 2009 Abortus Abortus Inkomplit Abortus Komplit Abortus Imminens Abortus Insipiens Abortus Habitualis Abortus Provokatus Missed Abortion Jumlah Sumber: Data Sekunder Berdasarkan tabel V.07%). abortus habitualis sebanyak 6 orang (2.1 diatas menunjukkan bahwa dari 289 kejadian abortus di RSU Sawerigading Palopo dan terdapat sebanyak 145 kasus abortus inkomplit (50.17%).76 28.88 1.17 2.07 5.76%).73%).

86%) dan umur 20-35 tahun yaitu sebanyak 93 kasus (64.86% 64.3 Distribusi Angka Kejadian Abortus Inkomplit Pada Ibu Hamil Berdasarkan Gravida Di RSU Sawerigading Palopo Tahun 2009 Gravida Gravid 1-3 Gravid >3 Jumlah Sumber: Data Sekunder Frekuensi 64 81 145 Persentase (%) 44.29 Tabel V.14% 55.14%).2 diatas menunjukkan bahwa ibu yang mengalami abortus inkomplit berdasarkan umur ibu yang termasuk kelompok umur <20 tahun dan >35 tahun yaitu sebanyak 52 kasus (35. Tabel V.14% 100 .2 Distribusi Angka Kejadian Abortus Inkomplit Pada Ibu Hamil Berdasarkan Umur Ibu Di RSU Sawerigading Palopo Tahun 2009 Umur Ibu <20 Tahun dan >35 Tahun 20-35 Tahun Jumlah Sumber: Data Sekunder Dari tabel V.86% 100 Frekuensi 52 93 145 Persentase (%) 35.

14%). umur 20-35 tahun sebanyak 93 kasus (64.3 diatas menunjukkan bahwa ibu yang mengalami abortus inkomplit berdasarkan gravida yang termasuk gravid 1-3 yaitu sebanyak 64 kasus (44. Dari hasil penelitian ada kesenjangan antara teori dan hasil penelitian dimana teori mengatakan faktor resiko tinggi terjadinya abortus inkomplit yaitu pada usia <20 tahun dan >35 tahun (Wheeler L. Dari penelitian di RSU Sawerigading Palopo didapatkan 93 kasus yang mengalami abortus inkomplit yang berumur 20-35 tahun dari 145 sampel yang ada. 2004). Pembahasan Setelah melakukan penelitian mengenai distribusi angka kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil di RSU Sawerigading Palopo tahun 2009.14%). Umur Ibu Berdasarkan hasil penelitian mengenai distribusi angka kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil berdasarkan umur ibu yang termasuk kelompok umur <20 tahun dan >35 tahun yaitu sebanyak 52 kasus (35. B. maka hasilnya dapat dibahas berdasarkan variabel yang diteliti: 1.86%).30 Berdasarkan tabel V.86%). dan gravid >3 sebanyak 81 kasus (55. .

Hasil penelitian yang dilakukan di RSU dr. Gravida Berdasarkan hasil penelitian mengenai distribusi angka kejadian abortus inkomplit pada ibu hamil berdasarkan gravida yang termasuk kelompok gravid 1-3 yaitu sebanyak 64 kasus (44.86%). Kehamilan remaja sekitar 13% terjadi pada wanita berusia antara 15-19 tahun.31 Terjadinya kesenjangan tersebut disebabkan karena banyaknya pasangan usia subur sehingga wanita yang mengalami abortus inkomplit paling banyak ditemukan pada usia 20-35 tahun. resiko mengidap penyakit kronik dan kondisi fisik yang kurang sehingga meningkatkan terjadinya abortus (Cuningham G. 2005).14%) dan gravid >3 sebanyak 81 kasus (55. Hasan Sadikin Bandung tahun 2004 dengan menggunakan metode deskriptif dengan desain cross sectional yang diambil secara total sampling diperoleh bahwa kejadian abortus paling banyak terdapat pada umur 25-29 tahun oleh Ema Wahyuningrum dkk. Penelitian-penelitian awal mengisyaratkan bahwa wanita yang berusia >35 tahun berisiko lebih tinggi mengalami penyulit obstetri serta morbiditas dan mortalitas perinatal karena wanita yang berumur. Sedangkan kehamilan setelah 35 tahun saat ini sekitar 10%. . 2.

keadaan ini dapat menyebabkan kematian pada bayi (Wiknjosastro H. 2005). Ibu yang hamil dengan multigravida mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya abortus sebab kehamilan yang berulang-ulang menyebabkan rahim tidak sehat. Dari hasil penelitian tersebut tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil penelitian dimana teori mengatakan faktor resiko tinggi terjadinya abortus inkomplit yaitu pada ibu hamil dengan gravid >3.32 Dari penelitian di RSU Sawerigading Palopo tahun 2010 didapatkan 81 kasus abortus inkomplit yang terjadi pada gravid >3 dari 145 sampel yang diambil. . Dalam hal ini kehamilan yang berulang menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin akan berkurang dibanding pada kehamilan sebelumnya.

17%) dari 289 kasus abortus. 2. Angka Kejadian Abortus Inkomplit berdasarkan umur ibu paling banyak terdapat pada kelompok umur 20-35 tahun sebanyak 93 orang (64. 3. Upaya untuk meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat khususnya kelompok wanita yang dikategorikan sebagai usia subur berupa pemahaman tentang abortus. maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Saran 1. Angka Kejadian Abortus di RSU Sawerigading Palopo tahun 2009 paling banyak yang mengalami abortus inkomplit yaitu sebanyak 145 penderita (50. Angka Kejadian Abortus Inkomplit berdasarkan gravida paling banyak terdapat pada kelompok gravid >3 sebanyak 81 orang (55. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Gambaran Angka Kejadian Abortus Inkomplit Pada Ibu Hamil di RSU Sawerigading Tahun 2009. 35 .86%) B.33 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. resiko yang ditimbulkan dan upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya abortus.14%).

mengatur jarak dan jumlah kehamilan. Pada penelitian selanjutnya supaya dapat diteliti tentang faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan abortus inkomplit. Upaya pemantapan pelayanan program keluarga berencana yang bertujuan untuk menunda kehamilan. . 3.34 2. Ppentingnya memberikan konseling pra nikah tentang kesiapan menjadi orang tua serta memberitahu tentang kehamilan yang berisiko sehingga dapat diantisipasi oleh ibu. Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan sejak dini dalam upaya mmengantisipasi terjadinya komplikasi dalam kehamilan dan persalinan. 4. 5.

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ida Bagus Gde. ilmu kebidanan Penyakit Kandungan & Keluarga berencana Untuk Pendidikan Bidan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Saifuddin. Asuhan Kebidanan Post Partum. WHO . Jakarta. Hanifa. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. JHPIEGO. 2003. diakses tanggal 21 April 2011 27 . Wiknjosastro. Sinopsis Obstetri. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Edisi 2. 2000.path. Jakarta. Manuaba. 2001. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Manuaba. Wiknjosastro. Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000. 1998. 2002.35 DAFTAR PUSTAKA Moctar.mediaindonesia. 1998. Ida Bagus Gde.com. Jakarta.org/files/indonesian diaskses tanggal 21 April 2011 http://www. Edisi 3. Jakarta. Soetjiningsih. Ilmu Bedah Kebidanan. http://gepe2306. Jilid 3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pusdiknakes. Hanifa. Edisi 1. AB. Jakarta. Ilmu Kebidanan.online. Jakarta. ASI.com/2009/02/27/hubungan-usia-ibu-dengankejadian-abortus diakses tanggal 27 April 2011 http://www.wordpress. Jakarta. Rustam.1997. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

36 http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/07/03/visi-indonesia sehat2015/ diaskses tanggal 3 Agustus 2011 28 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful