P. 1
Menerawang Masa Depan Manisan Pala Bogor

Menerawang Masa Depan Manisan Pala Bogor

|Views: 164|Likes:
Published by RandiSwandaru

More info:

Published by: RandiSwandaru on Aug 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2015

pdf

text

original

Menerawang Masa Depan Manisan Pala Bogor

Memasuki Desa Dramaga, Kabupaten Bogor kita akan disambut dengan aroma khas buah pala yang menyeruak dari dalam pabrik-pabrik skala industri rumah tangga yang telah bertahan selama puluhan tahun di daerah tersebut. Desa yang berjarak sekitar 40 menit dari pusat Kota Bogor ini sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas produksi manisan buah pala sejak pagi. Ibu-ibu pengrajin pala sudah terlihat sibuk mengupas buah pala dan membentuk daging buah pala tersebut menyerupai bentuk bunga, sementara beberapa pemuda sibuk mencampur pala dengan gula. Anak-anak sekolah juga terlihat berlari-lari sambil menggenggam sekantung manisan pala menuju gerbang sekolah. Demikian memang halnya warga desa ini menghabiskan pagi mereka selama puluhan tahun, bercengkerama dengan pala. Siapa yang tidak kenal dengan pala? Indonesia sudah sejak lama dikenal sebagai produsen pala terbesar di dunia. Ketersediaan pala yang besar ini jugalah yang mengundang pelaut-pelaut Eropa untuk datang ke nusantara. Kegunaan yang beragam mulai dari industri farmasi, kosmetik, hingga bumbu dapur menyebabkan buah ini menjadi primadona di tengah perdagangan rempah-rempah dunia. Saat ini Indonesia masih menjadi pemain utama dalam perdagangan pala dengan memasok 60% kebutuhan dunia yang disusul kemudian oleh Grenada, India, Srilangka dan Papua Nugini. Pala (Myristica fragrans) inilah yang telah menghidupi warga Desa Dramaga sejak tahun 1970. Memed Abdul Fatah (74) adalah tokoh yang menjadi perintis usaha ini di daerah tersebut. Selepas bekerja sebagai staf kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB), Memed yang sedari kecil bercita-cita untuk berwirausaha memutuskan untuk mulai menjual manisan pala. Ia memilih pala sebagai komoditi usahanya karena ketersediaan pala yang melimpah pada saat itu. Ia mendapatkan buah pala dari kaki Gunung Salak yang sudah sejak lama ditanami pala oleh masyarakat setempat. Keterampilan Memed dalam mengolah manisan pala diperoleh dari neneknya. Neneknya sering membuat manisan pala yang memang sudah sejak lama dijadikan sebagai penganan khas lebaran di Bogor tetapi belum diusahakan secara komersial. Setelah beberapa kali melakukan uji coba produksi, Memed memberanikan diri untuk memulai bisnisnya tersebut. Ia mengawali bisnis manisannya ini dengan menjualnya secara eceran ke Jakarta. Setelah sekian lama bisnisnya berkembang dengan adanya kerja sama dengan beberapa toko. Kini ia tidak lagi pergi ke pasar-pasar untuk menjual produknya karena sudah ada agen-agen yang datang ke rumahnya untuk mengambil manisan pala yang ia produksi. Seiring dengan perkembangan bisnisnya, para petani pala yang menjadi supplier Memed semakin giat menanam bersamaan juga dengan warga desa yang ikut memulai bisnis yang sama dengan Memed.

Menurut Darman, staf Kepala Desa Dramaga, saat ini ada sekitar 30 pengusaha pala dengan skala industri rumah tangga yang berada di Desa Dramaga tersebut. Salah satu pengusaha manisan pala yang cukup besar di desa tersebut, Idris, mengaku bahwa ia memulai usahanya pada tahun 1980. Saat ini ia memperoleh pasokan bahan baku dari sejumlah daerah seperti Tapos dan Sukabumi. Ia mempekerjakan sebanyak 10 orang karyawan untuk memproduksi dua jenis manisan pala yaitu manisan basah dan kering. Produksi manisan basah sebesar 150 kilogram selama 10 hari sedangkan manisan kering sebesar 300 kg selama 5 hari. Selama satu bulan Memed mampu memproduksi manisan sebanyak 2 ton. Permintaan dari usahanya ini datang dari berbagai wilayah seperti, Cianjur, Bandung, Bogor, Jakarta hingga Balaraja. Selama ini ia masih mampu memenuhi permintaan dari para pelanggannya. Namun, pada waktu-waktu tertentu bahan baku sulit diperoleh sehingga ia kesulitan memenuhi permintaan, khususnya menjelang lebaran saat permintaan meningkat signifikan. Selama lebih dari 30 tahun berbisnis manisan pala ia mengaku bahwa menjaga kualitas produk mejadi kuncinya untuk bertahan. Ia memastikan bahwa manisan produksinya memiliki kadar air yang tidak terlalu tinggi sehingga mampu bertahan selama tiga bulan. Daya awet yang cukup lama ini pula yang digunakan Idris untuk memenuhi permintaan saat suplai bahan baku tersendat dengan cara menyimpan produk tersebut di dalam gudang penyimpanan. Bisnisnya ini ternyata juga membuat dunia perbankan berminat untuk memberi pinjaman. Beberapa bank telah datang untuk menawarkan kredit, bahkan bank tertentu berulang kali datang. Hanya saja ia cuma berkomitmen pada BRI untuk bekerja sama dalam menjalankan bisnisnya tersebut.

Berbeda dengan Idris, Memed menjaga kelangsungan bisnisnya dengan berinovasi, yaitu dengan melakukan diversifikasi produk. Selain membuat manisan pala, ia juga membuat berbagai jenis manisan dengan bermacam-macam bahan baku seperti wortel, mangga, pare, dan ubi jalar. Sejauh ini upaya diversifikasi produk ini mampu membuat bisnisnya bertahan. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Memed juga menjual biji pala kering seharga Rp 60 ribu per kilogram yang diambil oleh para pengumpul dua kali dalam satu bulan. Secara teknis dan kompetensi, Memed selaku ketua paguyuban pengrajin manisan pala di daerah tersebut juga kerapkali menerima bimbingan dan penyuluhan dari departemen perindustrian, perdagangan, dan kesehatan. Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut selalu dikoordinasikan dengan kepala desa setempat.

Ahmad (23) salah seorang konsumen manisan pala Bogor mengaku menyukai manisan pala ini karena rasa dan khasiatnya. Menurutnya, manisan pala ini merupakan cemilan yang enak dan menyehatkan. Rasanya manis, sedikit asam, tapi juga agak pedas dan panas. Tapi enak kok ujarnya. Selain itu, pala diyakini mampu mengatasi gangguan sulit tidur (insomnia), menyembuhkan masuk angin dan memperlancar siklus haid bagi kaum hawa. Masih menurut Ahmad, dengan harga Rp 5000 setiap kantingnya manisan ini masih cukup terjangkau jika dibandingkan dengan khasiatnya. Nyai (60) seorang pedagang manisan pala mengaku bahwa konsumennya cukup beragam. Dengan harga Rp 20 ribu per kilogram konsumen masih mampu bertahan dan loyal untuk membeli. Loyalnya para pelanggan juga yang menyebabkan ia tetap menjual manisan pala ini. Dalam jangka panjang panjang bisnis manisan pala ini diprediksi akan tetap bertahan. Secara ekonomi, usaha ini dinilai masih menguntungkan dengan porsi permintaan yang masih cukup besar. Selain itu, bisnis ini merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian besar pengusaha di daerah tersebut yang melibatkan jauh lebih banyak warga yang bekerja sebagai pegawai. Dalam hal keahlian dan kompetensi pengusaha-pengusaha ini juga didukung oleh lembaga pemerintah untuk tetap mampu memenuhi standar mutu yang diminta pasar. Walau belum semua pengusaha mendapatkan akses kredit, tetapi dukungan dari perbankan mampu membuat pengusaha-pengusaha tersebut mempertahankan bisnisnya. Penerus bisnis ini juga tidak bisa dibilang sedikit. Beberapa dari keturunan pengusahapengusaha ini juga saat ini ada yang berkecimpung dalam mengurus bisnis tersebut. Beberapa di antara mereka bahkan telah mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana. Seperti rasanya yang sedikit asam, pedas dan panas, bisnis manisan pala ini memang penuh tantangan dan hambatan. Namun, selama lidah ini masih mampu mengecap manis dan tubuh merasakan khasiat mujarab manisan pala maka selama itu pulalah bisnis ini akan terus menemukan penerusnya. Walaupun tidak mudah tetapi dukungan berbagai pihak telah mampu membuat puluhan rumah di Desa Dramaga terus menghembuskan aroma khas pala selama puluhan tahun dan semoga tetap bertahan pada puluhan atau ratusan tahun ke depan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->