TATA URUT PERUNDANG-UNDANGAN DAN PROBLEMA PERATURAN DAERAH1 oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH2.

PENGANTAR Salah satu tuntutan aspirasi yang berkembang dalam era reformasi sekarang ini adalah reformasi hukum menuju terwujudnya supremasi sistem hukum di bawah sistem konstitusi yang berfungsi sebagai acuan dasar yang efektif dalam proses penyelenggaraan negara dan kehidupan nasional sehari-hari. Dalam upaya mewujudkan sistem hukum yang efektif itu, penataan kembali kelembagaan hukum, didukung oleh kualitas sumberdaya manusia dan kultur dan kesadaran hukum masyarakat yang terus meningkat, seiring dengan pembaruan materi hukum yang terstruktur secara harmonis, dan terus menerus diperbarui sesuai dengan tuntutan perkembangan kebutuhan. Dalam upaya pembaruan hukum tersebut, penataan kembali susunan hirarkis peraturan perundang-undangan tersebut bersifat niscaya, mengingat susunan hirarkis peraturan perundangundangan Republik Indonesia dewasa ini dirasakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan dewasa ini. Di samping itu, era Orde Baru yang semula berusaha memurnikan kembali falsafah Pancasila dan pelaksanaan UUD 1945 dengan menata kembali sumber tertib hukum dan tata-urut peraturan perundang-undangan, dalam prakteknya selama 32 tahun belum berhasil membangun susunan perundangundangan yang dapat dijadikan acuan bagi upaya memantapkan sistem perundang-undangan di masa depan. Lebih-lebih dalam prakteknya, masih banyak produk peraturan yang tumpang tindih dan tidak mengikuti sistem yang baku, termasuk dalam soal nomenklatur yang digunakan oleh tiap-tiap kementerian dan badan-badan pemerintahan seingkat Menteri. Sebagai contoh, produk hukum yang dikeluarkan Bank Indonesia yang dimaksud untuk memberikan aturan terhadap dunia perbankan menggunakan istilah Surat Edaran yang tidak dikenal dalam sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku. Beberapa kementerian mengeluarkan peraturan di bidangnya dengan menggunakan sebutan Keputusan Menteri, dan beberapa lainnya menggunakan istilah Peraturan Menteri. Keputusan Presiden yang bersifat mengatur dengan Keputusan Presiden yang bersifat penetapan administratif biasa tidak dibedakan, kecuali dalam kode nomernya saja, sehingga tidak jelas kedudukan masing-masing sebagai salah satu bentuk peraturan perundang-undangan yang bersifat mengatur. Sementara itu, setelah lebih dari 50 tahun Indonesia merdeka, sangat dirasakan adanya kebutuhan untuk mengadakan perubahan terhadap pasal-pasal dalam UUD 1945 yang tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Namun, timbul persoalan apabila perubahan UUD itu ditetapkan dalam produk hukum berupa Ketetapan MPR, sementara dalam tata urut perundang-undangan ditentukan bahwa Ketetapan MPR itu lebih rendah kedudukannya daripada UUD. Bagaimana mungkin perubahan terhadap konstitusi dituangkan dalam peraturan yang derajatnya lebih rendah. Oleh karena itu, perlu diperkenalkan bentuk hukum yang sama sekali belum dikenal dalam sistem peraturan perundang-undangan Indonesia selama ini, yaitu bentuk Perubahan UUD. Ditambah lagi dengan munculnya kebutuhan untuk mewadahi perkembangan otonomi daerah di masa depan yang dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya dinamika hukum adat di desa-desa yang cenderung diabaikan atau malah sebaliknya dikesampingkan dalam setiap upaya pembangunan hukum selama lebih dari 50 tahun terakhir. Dalam rangka desentralisasi dan otonomi daerah itu, mulai diperkenalkan adanya perangkat Peraturan Desa yang harus pula dimasukkan ke dalam sistem dan tata urut peraturan perundang-undangan yang baru. Dengan perkataan lain, banyak alasan yang mendorong sehingga Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 yang menjadi acuan dalam mengembangkan susunan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia selama lebih dari 30 tahun terakhir, harus dikaji ulang dan disempurnakan untuk kepentingan masa depan hukum dan sistem hukum nasional. Sebelum membahas lebih rinci masalah-masalah dan usul-usul penyempurnaan mengenai sumber tertib hukum dan sistem serta tata urut peraturan Republik Indonesia di masa depan, perlu diperjelas dulu pengertian kita mengenai sumber tertib hukum, dan mengenai bentuk-bentuk serta tata urut peraturan yang kita gunakan dalam tulisan ini. Pengertian tentang sumber tertib hukum memuat pengertian yang lebih luas, yaitu tidak hanya mencakup aneka putusan legislatif dan eksekutif yang dapat
1

Disampaikan dalam rangka Lokakarya Anggota DPRD se-Indonesia, diselenggarakan di Jakarta, oleh LP3HET, Jum’at, 22 Oktober, 2000. 2 Guru Besar Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, pernah menjadi Asisten Wakil Presiden RI, 1998-1999.

1

bentuk-bentuk peraturan yang tegas disebut adalah Undang-Undang Federal. Sedangkan bentuk-bentuk dan tata-urut peraturan hanya mencakup putusan-putusan cabang kekuasaan legislatif dan eksekutif yang isinya dapat bersifat mengatur (regeling). maklumat. (iv) Regerings Verordening atau RV. dalam ketiga konstitusi ini. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PASCA KEMERDEKAAN Di zaman Hindia Belanda. dan Peraturan Pemerintah. Bahkan. Di masamasa awal kemerdekaan. sehingga berbeda pengertiannya dengan Peraturan Pemerintah yang dimaksudkan dalam Pasal 5 ayat (2) UUD 1945. peraturan dalam arti sempit dan luas itu digunakan secara silih berganti. Karena itu.dijadikan sumber hukum. ataupun peraturan yang dikeluarkan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945. dan Peraturan pemerintah. Jakarta: Balai Pustaka. Dalam Konstitusi RIS yang berlaku mulai tanggal 27 Desember 1949. hal. Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri yang dibuat oleh kementerian-kementerian negara atau Departemen-Departemen pemerintahan.x tertanggal 16 Oktober 1945. dan (v) Peraturan daerah swatantra ataupun daerah swapraja 3. Dengan perkataan lain. Keputusan Presiden yang dimaksudkan untuk melakukan atau meresmikan pengangkatanpengangkatan. (ii) Undang-Undang Belanda atau ‘wet’. tetapi dapat dijadikan dasar bagi upaya mengatur kebijakan yang lebih teknis. 2 . yaitu: (I) Undang-Undang Dasar Kerajaan Belanda. tetapi mencakup pula putusan-putusan pengadilan dalam lingkungan kekuasaan judikatif. (iii) Ordonantie yaitu peraturan yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersama-sama dengan Dewan Rakyat (Volksraad) di Jakarta sesuai Titah Ratu Kerajaan Belanda di Den Haag.2262/HK/1959 tertanggal 20 Agustus 1959 yang ditujukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong. dan Peraturan Pemerintah. dalam tulisan ini. kadang-kadang nota-nota dinas. Setelah Indonesia merdeka mulai diperkenalkan bentuk-bentuk peraturan baru. yaitu Peraturan Pemerintah yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal untuk melaksanakan UndangUndang atau ‘wet’. 1998. Sedangkan dalam UUDS yang berlaku mulai tanggal 17 Agustus 1950. Wakil Presiden mengeluarkan Maklumat yang sangat terkenal yang isinya membatasi tugas dan fungsi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang ketika itu sangat berperan sebagai lembaga legislatif. setelah periode kembali ke UUD 1945. 5. Disini. Bentuk peraturan perundang-undangan yang dikenal dalam UUD 1945 adalah Undang-Undang. 4. Di samping yang tertulis itu masih ada pengertian konstitusi yang tidak tertulis yang hidup dalam kesadaran hukum masyarakat. Dalam penjelasan juga disebutkan bahwa UUD adalah bentuk konstitusi yang tertulis. yaitu peraturan yang dikeluarkan untuk melaksanakan penetapan Presiden. dan Peraturan Pemerintah. Peraturan Presiden. masing-masing untuk mengatur sesuatu hal dan untuk melakukan atau meresmikan pengangkatan-pengangkatan. bentuk-bentuk peraturan yang dikenal meliputi 5 tingkatan. surat-surat edaran dan lain sebagainya diperlakukan sebagai peraturan yang seakan mengikat secara hukum. 3 Jimly Asshiddiqie. yaitu: 1. Undang-Undang Darurat. penyebutannya berubah lagi menjadi Undang-Undang. 2. Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang. Undang-Undang Darurat. pengertian Konstitusi diidentikkan dengan pengertian UUD. Karena itu. Agenda Pembangunan Hukum Nasional di Abad Globalisasi. Penetapan Presiden untuk melaksanakan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tanggal 5 Juli 1959 tentang Kembali Kepada UUD 1945. maka berdasarkan Surat Presiden No. Penyebutan hanya 3 atau 4 bentuk peraturan (termasuk UUD) tersebut dalam Undang-Undang Dasar bersifat enunsiatif dalam arti tidak menutup kemungkinan untuk mengatur bentuk-bentuk lain yang lebih rinci sesuai dengan kebutuhan. 54-55. dipandang perlu dikeluarkan bentuk-bentuk peraturan yang lain. kita mengenal adanya Undang-Undang Dasar. dinyatakan bahwa di samping bentuk-bentuk peraturan perundangundangan tersebut di atas. Peraturan Pemerintah. tetapi dalam prakteknya belum teratur karena suasana belum memungkinkan untuk menertibkan bentuk-bentuk peraturan yang dibuat. tetapi maklumat itu dibuat tanpa nomor. Undang-Undang atau Undang-Undang Federal. Akan tetapi. yaitu untuk melaksanakan Peraturan Presiden. sehingga dikenal kemudian sebagai Maklumat No. 3. dan karena itu disebut dengan ‘per-ATUR-an’. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) atau Undang-Undang Darurat. pengertian peraturan itu dalam arti luas dapat pula mencakup putusan-putusan yang bersifat administratif yang meskipun tidak bersifat mengatur.

baik yang berbentuk Penetapan Presiden. Undang-Undang Dasar.XX/MPRS/1966 tersebut. 2. XX/MPRS/1966. yaitu tentang Memorandum DPRGR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urut Perundangan Republik Indonesia. Kebiasaan seperti ini didukung pula oleh kenyataan. Ketetapan MPRS tersebut menugaskan Pemerintah untuk bersama-sama dengan DPR melaksanakan peninjauan kembali produk-produk legislatif. ditentukan bentuk peraturan dengan tata urut sebagai berikut: 1. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara: Suatu Studi Analisis mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I . dalam praktek. Undang-Undang. Di pihak lain. untuk mengatur secara bersama berkenaan dengan materi-materi yang bersifat lintas departemen berkembang pula kebiasaan menerbitkan Keputusan Bersama antar Menteri. 3 . Padahal. bentuk Keputusan Bersama itu jelas tidak ada dasar hukumnya. Keganjilan-keganjilan yang sama juga terjadi dalam keputusan-keputusan yang dibuat oleh Presiden dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres). Di samping itu.Pelita IV. dan lain-lain. Keputusan Presiden itu banyak yang berisi materi pengaturan yang bersifat mandiri dalam arti tidak dimaksudkan untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang. berkembang pula kebutuhan di lingkungan instansi yang dipimpin oleh pejabat tinggi yang bukan berkedudukan sebagai Menteri untuk mengatur kepentingan publik yang bersangkutpaut dengan bidangnya. Attamimi.XIX/MPRS/1966 tentang Peninjauan Kembali Produk-Produk Legislatif Negara di Luar Produk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang Tidak Sesuai dengan UUD 1945. ataupun Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang. seperti misalnya Gubernur Bank Indonesia perlu membuat aturan-aturan berkenaan dengan dunia perbankan. Peraturan Presiden. ditetapkan pula sumber tertib hukum dan tata urut peraturan perundangan Republik Indonesia dalam Ketetapan MPRS No. dan sebagainya. 4. Untuk memberikan pedoman bagi terwujudnya kepastian hukum dan keserasian hukum serta kesatuan tafsir dan pengertian mengenai Pancasila dan pelaksanaan UUD 1945 serta untuk mengakhiri ekses-ekses dan penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas. Istilah Keputusan Presiden ataupun Keputusan Menteri secara khusus dikaitkan dengan jenis putusan yang bersifat administraftif. Sebagai contoh di beberapa kementerian. Attamimi yang pernah lama bertugas sebagai Wakil Sekretaris Kabinet selama masa Orde Baru4. Jakarta. padahal isinya jelas-jelas memuat materi-materi yang mengatur kepentingan publik seperti di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengatur mengenai penyelenggaraan pendidikan nasional. 5. satu hal yang perlu dicatat disini adalah bahwa antara penetapan yang bersifat administratif berupa pengangkatan-pengangkatan yang berisi putusan-putusan yang bersifat ‘beschikking’ jelas dibedakan dari putusan yang berbentuk mengatur (regeling). 6. Keputusan Presiden. jelas terdapat kekacauan antara satu bentuk dengan bentuk peraturan yang lain. Undang-Undang/Perpu. 1991. digunakan istilah Peraturan Menteri. Disertasi Doktor pada Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Namun demikian. 3. Dalam praktek. bentuk yang paling banyak dikeluarkan adalah Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden yang menimbulkan ekses dimana-mana. dikembangkan kebiasaan untuk menerbitkan peraturan dalam bentuk Surat Edaran Gubernur Bank Indonesia yang juga jelas-jelas tidak mempunyai dasar hukum sama sekali. maka pada tahun 1966 dikeluarkan Ketetapan MPRS No. Instruksi Menteri. Peraturan Pemerintah. tata urut dan penamaan bentuk-bentuk peraturan sebagaimana diatur dalam Ketetapan tersebut. tidak sepenuhnya diikuti.Dalam susunan tersebut di atas. Yang lebih gawat lagi adalah banyak di antara penetapan dan peraturan itu yang jelas-jelas menyimpang isinya dari amanat UUD 1945. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya seperti Peraturan Menteri. Dalam Ketetapan No. Selama ini. tetapi di beberapa kementerian lainnya digunakan istilah Keputusan Menteri. Kadang-kadang banyak materi yang seharusnya diatur dalam UU. karena berdasarkan UUD 1945 sebelum diadakan amandemen melalui Perubahan 4 Hamid S. Seperti tercermin dalam pendapat Hamid S. justru diatur dengan Penetapan Presiden ataupun Peraturan Presiden. Ketetapan MPR. Bahkan. Dalam rangka penataan kembali bentuk-bentuk peraturan perundang-undangan tersebut dengan maksud mengadakan pemurnian terhadap pelaksanaan UUD 1945.

Di samping itu. (tanpa tahun). sulit dibedakan mana yang bersifat mengatur (regeling) dan karena itu dapat disebut sebagai per-ATUR-an. Karena itu. Sebagai contoh.Pertama UUD.XX/1966 tersebut tidak dapat lagi dipertahankan dan perlu segera diadakan penyempurnaan dalam rangka penataan kembali sumber tertib hukum dan bentuk-bentuk serta tata urut peraturan perundang-undangan Republik Indonesia di masa yang akan datang. Pergeseran Fungsi Parlemen Indonesia dan implikasinya terhadap Kegiatan legislasi Salah satu perubahan substantif yang telah dilakukan dalam rangka Perubahan Pertama UUD 1945 pada Sidang Umum MPR bulan Nopember 1999 lalu adalah soal cabang kekuasaan legislatif yang secara tegas dipindahkan dari Presiden ke DPR. maka akan timbul kekacauan dalam sistematika berpikir menurut tata urut peraturan yang diatur menurut TAP MPRS No. Presiden memang memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Proses pembuatan UU itu dilakukan bersama-sama dalam arti pada tahap pembahasan di DPR. Dalam Pasal 5 ayat (1) lama. kekuassan yang mengesahkan menurut ketentuan Perubahan Pertama UUD tetap berada di tangan Presiden. dan mana yang bukan. Bagaimana mungkin UUD yang lebih tinggi diubah dengan peraturan yang lebih rendah. ditegaskan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. Akan tetapi. Presiden itu selain sebagai eksekutif juga mempunyai kedudukan sebagai legislatif. Lebih-lebih lagi. karena isinya kadang-kadang sama dengan Keputusan Presiden yang hanya bersifat penetapan biasa. tetapi ada juga yang berpendapat bahwa proses pembuatan UU itu tetap dilakukan bersama-sama antara Presiden dengan DPR. yaitu hak Presiden untuk memveto suatu UU yang sudah ditetapkan oleh DPR.” Sebaliknya dalam Pasal 20 ayat (1) baru dinyatakan: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Kekuasaan legislatif tetap berada di tangan DPR. Hal ini justru menunjukkan adanya perimbangan kekuasaan diantara keduanya. pihak pemerintah sudah terlibat intensif. 4 . Keppres mengenai pembentukan panitia-panitia negara yang bersifat ad-hoc. ketentuan TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 tersebut. 5 Bandingkan naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan naskah Perubahan Pertama UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dapat terjadi. bahwa suara partai pemerintah di DPR dikalahkan oleh suara oposisi. telah disepakati bahwa bentuk hukum perubahan itu dinamakan ‘Perubahan UUD’ sebagai nomenklatur baru yang tingkatnya sederajat dengan UUD. Apakah perbedaan antara kekuasaan yang menetapkan dengan kekuasaan yang mengesahkan itu bersifat bertentangan? Menurut saya. Karena itu. Lagi pula. menjelang berlangsungnya Sidang Umum MPR pada bulan Nopember 1999 yang lalu. Jika dalam batas waktu itu tidak disahkan. Jakarta: terbitan Sekretariat Jenderal MPR-RI. Dengan perkataan lain. meskipun UU ditetapkan oleh DPR. namun pengesahan formal produk UU itu dilakukan oleh Presiden. otomatis. dan sebagainya. Pembedaan antara kedua jenis keputusan itu selama ini hanya diadakan dalam pemberian nomor kode Keppres. Ketetapan MPR tentang pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden. materi yang diatur dalam Keputusan Presiden itu juga tidak dibedakan secara jelas antara materi yang bersifat mengatur atau regulatif (regeling) dengan materi yang bersifat penetapan administratif biasa (beschikking) seperti misalnya Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pengangkatan dan pemberhentian pejabat. Yang juga menjadi persoalan adalah mengenai kedudukan ketetapan MPR yang selama ini sudah banyak sekali jumlahnya. sifatnya sama dengan Keputusan Presiden yang ditetapkan untuk mengangkat atau memberhentikan pejabat sebagaimana disebut di atas. Sedangkan dalam Pasal 5 ayat (1) baru berdasarkan Perubahan Pertama tersebut ditegaskan: “Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk menegaskan hal inilah maka dalam Perubahan Kedua ketentuan Pasal 20 itu ditambah dengan ayat (5) yang memberikan waktu 30 hari bagi Presiden untuk mengesahkan UU itu.” 5 Memang benar bahwa meskipun dikatakan pemegang kekuasaan membentuk UU itu dipindahkan ke DPR. maka RUU tersebut dianggap berlaku menjadi UU. sebagai jalan keluar. Apakah Ketetapan MPR itu termasuk peraturan atau bukan. PRODUK LEGISLATIF DAN PRODUK ADMINISTRATIF 1. tidak ada pertentangan dan tidak ada tumpang tindih di antara kedudukan DPR dan Presiden dalam hal ini. Jika perubahan itu dituangkan dalam bentuk Ketetapan MPR yang jelas ditentukan bahwa kedudukannya berada di bawah UUD. karena adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan terhadap pasal-pasal UUD 1945. sehingga bagi masyarakat umum. timbul polemik mengenai bentuk hukum perubahan UUD itu sendiri.

hal itu tetap tidak menempatkan Presiden sebagai pemegang kekuasaan utama di bidang ini. Fungsi pembuatan undang-undang itu bahkan mulai cenderung dianggap sebagai fungsi teknis dibandingkan dengan fungsi pengawasan yang bersifat politis 6. sudah seharusnya ditinjau kembali logika yang memberikan pembenaran terhadap pola pengaturan seperti itu. 1996. Perubahan ini sekaligus memastikan pula bahwa UUD 1945 dengan sungguh-sungguh menerapkan sistem pemisahan kekuasaan legislatif. Sesuai tingkatannya. eksekutif. Kabupaten Daerah Tingkat 5 . Hanya saja. Dalam sistem yang lama dimana dinyatakan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah: Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara. maka veto Presiden dapat dinyatakan tidak berlaku. maka Presiden dapat diberikan hak untuk menerapkan hak vetonya dengan cara tidak mengesahkan UU tersebut. Dalam hal demikian ini. Jakarta: UI-Press. 22 Tahun 1999. Dengan demikian. memang masih perlu diatur agar penggunaan hak veto Presiden ini dibatasi. Jangan sampai nanti. jika suatu UU itu hanya mendapat persetujuan suara di bawah jumlah 2/3 anggota DPR. Para Direktur Jenderal dan Direktur sebagai pejabat tinggi (eselon I atau eselon II) yang tunduk kepada hukum kepegawai-negerian tidak selayaknya diberikan wewenang untuk turut membentuk peraturan perundang-undangan dalam pengertian yang baru. bukan lagi kekuasaan Presiden. Khusus untuk tingkat desa. DPRD propinsi. Lembaga parlemen yang dimaksud sesuai tingkatannya adalah DPR-Pusat. Akan tetapi.Dalam hal ini. Masalahnya kemudian yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa pergeseran kekuasaan legislatif dari Presiden ke DPR itu tentunya mengandung implikasi yang mendasar terhadap proses pembentukan peraturan perundang-undangan dan terhadap institusi atau pejabat yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan itu sendiri. fungsi legislatif parlemen itu memang cenderung makin dianggap tidaklah lebih penting dibandingkan dengan fungsi kontrol atau pengawasan politik terhadap pemerintah. maka Presiden dapat menggunakan hak vetonya untuk tidak mengesahkan UU yang sudah disetujui oleh DPR tersebut seperti juga dipraktekkan di Amerika Serikat. 7 Sesuai dengan ketentuan Pasal 121 UU No. meskipun tetap diberikan hak inisiatif di bidang legislasi. dapat saja dipertimbangkan pengaturan sebagai berikut. dengan adanya pergeseran sebagaimana disebut di atas. Akan tetapi. dan DPRD kabupaten/kota 7 yang merupakan badan-badan perwakilan rakyat. dan yudikatif. Namun dalam sistem parlemen unikameral seperti yang sekarang berlaku. rakyat Indonesia sudah menjatuhkan pilihan bahwa di masa depan kita akan menganut ajaran pemisahan yang tegas di antara ketiga cabang kekuasaan legislatif. Peraturan pelaksanaan ini makin rendah tingkatannya makin teknis pula sifatnya. pergeseran kekuasaan membentuk UU dari Presiden ke DPR sungguh-sungguh mencerminkan terjadinya pergeseran terhadap kedudukan DPR yang secara substantif menjadi lembaga pemegang kekuasaan legislatif. Tugas administratif Presiden tinggal hanya mengundangkan UU sebagaimana mestinya. maka kekuasaan Presiden dan termasuk para pembantunya serta para pejabat pemerintahan seperti Direktur Jenderal Departemen sampai pejabat yang lebih rendah juga mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan peraturan pada tingkat pelaksanaan di bidangnya masing-masing. Demi kepentingan hukum. instansi dan pejabat yang berhak membuat peraturan haruslah dibatasi hanya lembaga parlemen bersama-sama dengan pejabat yang memegang kedudukan politik saja. Hal ini jelas berbeda dari sistem yang dianut selama ini. Apabila misalnya parlemen kita bersifat bikameral nantinya disetujui terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan atau Utusan Daerah. setelah disetujui oleh DPR. Sedangkan Presiden. Presiden harus mengsahkan UU itu sebagaimana mestinya. Jika suatu rancangan UU telah disetujui oleh lebih dari 2/3 anggota DPR. maka dapat saja terjadi bahwa suatu Undang-Undang. Perkembangan pemikiran dan praktek penyelenggaraan fungsi legislatif ini sebenarnya dapat dibahas tersendiri mengingat di berbagai negara di dunia dewasa ini. mekanisme pembatasan terhadap hak veto Presiden itu masih harus dikaji lebih lanjut cara membatasinya. maka “Sebutan propinsi Daerah Tingkat I. karena berdasarkan ketentuan yang lamapun kekuasaan judikatif memang dinyatakan bebas dari pengaruh pemerintah. Karena itu. maka hak veto Presiden tidak dapat diberlakukan. 6 Jimly Asshiddiqie. bukan mereka yang memegang kedudukan sebagai pegawai pemerintahan. karena Rancangan UU tersebut sudah disetujui oleh dua lembaga tinggi negara setingkat Presiden. Misalnya. Akan tetapi. dimajukan untuk mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Daerah. fungsi pembuatan undang-undang itu dipertegas sebagai kekuasaan DPR. dimana antara fungsi legislatif dan eksekutif tidak dipisahkan secara tegas dan malah bersifat tumpang tindih. setiap UU yang dibuat oleh DPR selalu dapat digagalkan dengan mudah oleh Presiden dengan menggunakan hak vetonya. eksekutif dan yudikatif.

sebagaimana diatur dalam Pasal 69 sampai dengan Pasal 74 UU No. Walikota dan Kepala Desa. 8 Sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 121 tersebut. Selain itu. haruslah dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri atau pejabat setingkat Menteri. dan Peraturan Desa. Karena banyaknya kebijakan pemerintahan yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan yang bersifat pelaksanaan terhadap peraturan yang lebih tinggi. Kalaupun Presiden diberi hak untuk mengajukan rancangan undang-undang. Ibid. Semua peraturan di bawah undang-undang hanyalah merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari Peraturan Dasar dan Undang-Undang. Bupati. Lembaran Negara RI Tahun 1999 No. Peraturan Daerah propinsi. yaitu karena Presidenlah yang ditentukan dalam UUD sebagai pemegang kekuasaan utama dalam pembentukan undang-undang. dibentuk Badan Perwakilan Desa sebagaimana diatur dalam Pasal 94 juncto Pasal 102. II. 6 . sama-sama merupakan bentuk peraturan yang proses pembentukannya melibatkan peran wakil rakyat dan kepala pemerintahan yang bersangkutan. Ref. Direktur Jenderal dan pejabat yang lebih rendah di tiap-tiap kementerian atau Departemen Pemerintahan tidak berwenang mengatur kepentingan publik.5 Tahun 1974. dalam ketentuan yang baru berdasarkan Perubahan Pertama UUD. maka ketentuan demikian itu harus dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah atau Peraturan Gubernur. Peraturan Daerah kabupaten. Dengan demikian. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. juga berwenang mengeluarkan Peraturan Gubernur. berubah masing-masing menjadi propinsi. tetapi pihak DPR sendiri belum siap dengan rancangan dari mereka sendiri. maka para Pembantu Presiden. Para pejabat administratif itu pada prinsipnya hanya melaksanakan kebijakan dan peraturan yang ditetapkan oleh Menteri sebagai pemegang tanggungjawab politik di kementerian atau Departemennya. melainkan sekedar memberikan hak kepadanya untuk mengambil inisiatif karena kebutuhan yang sangat dirasakan oleh pihak eksekutif untuk mengatur suatu kebijakan publik yang harus dilayani oleh pemerintah. Logika pengaturan yang mandiri oleh Presiden ini. Presiden dapat mengambil prakarsa untuk menyusun rancangan undang-undangan tersebut dan kemudian mengajukannya kepada DPR. Jenis Keputusan Presiden demikian itu disebut Hamid Attamimi sebagai Keputusan Presiden yang mendiri. dan Panglima Tentara Nasional Indonesia. Karena itu. maka Peraturan Daerah yang dimaksud disini. masing-masing adalah UU di tingkat Pusat. maka logika yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan pembenar terhadap eksisten Keputusan yang mengatur secara mandiri tersebut dengan sendirinya tidak dapat diterima lagi. yaitu para Menteri atau Pejabat Tinggi yang menduduki jabatan politis setingkat Menteri seperti Gubernur Bank Indonesia. dan kota”. disebut sebagai Peraturan Daerah saja. hak itu tidak memberikan kedudukan kepadanya sebagai pemegang kekuasaan legislatif. Gubernur. Dalam hal ini. Presiden bukan lagi pemegang kekuasaan utama dalam pembentukan UU.meskipun tidak terdapat lembaga parlemen sebagaimana mestinya. Pasal 105 ayat (3) UU ini menyatakan: “Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. Oleh karena tidak boleh ada lagi peraturanperaturan untuk kepentingan pengaturan kepentingan publik yang dibuat Presiden atau Pemerintah secara mandiri. Peraturan Bupati/Walikota. meskipun banyak dipersoalkan di kalangan para ahli hukum. dan Pasal 105 UU No. dan Peraturan Kepala Desa sebagai pelaksanaan terhadap peraturan yang lebih tinggi tersebut. Sedangkan Sekretaris Jenderal. Presiden juga berwenang mengeluarkan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden (Pouvoir Reglementair). Kepala Kepolisian.22/1999. Demikian pula. Akan tetapi. 104. selain UU. kabupaten. Keputusan Presiden yang bersifat pengaturan dapat pula bersifat mandiri dalam arti tidak dimaksudkan melaksanakan Undang-Undang ataupun mengatur hal-hal yang ditunjuk oleh undang-undang untuk diatur lebih oleh Presiden. secara tegas dapat diatur bahwa semua kebijakan yang bersifat mengatur di bidang yang menjadi tugas kementerian tertentu.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. maka kepala pemerintahan yang bersangkutan juga perlu diberikan wewenang untuk membuat peraturan-peraturan yang bersifat pelaksanaan. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. selain bersama-sama para wakil rakyat membentuk Perda dan Peraturan Desa. kebupaten ataupun kota. baik untuk tingkat propinsi. Jaksa Agung. Pada prinsipnya. sebagaimana dikemukakan oleh Hamid Attamimi. Tugas Kepala Kantor Wilayah hanyalah melaksanakan kebijakan dan peraturan-peraturan di tingkat Departemennya.60. tetapi dapat saja diterima dalam paradigma pemikiran UUD 1945 yang lama. Demikian pula dengan para Kepala Kantor Wilayah Departemen di daerah-daerah tidak diperkenankan membuat peraturan yang mengatur kepentingan publik. Perdaturan Daerah kota8. Dalam hal diperlukan pengaturan yang bersifat khusus di daerah. Bentuk hukum peraturan-peraturan tersebut. Untuk melaksanakan peraturan perundangan yang melibatkan peran para wakil rakyat tersebut. dapat pula diberikan kewenangan untuk membuat peraturan yang bersifat pelaksanaan tersebut.

misalnya. namun dari segi proses pembuatannya ataupun karena adanya faktor eksternal berupa keadaan bahaya atau kegentingan yang memaksa. Bupati/Walikota. Dengan demikian. Satu-satunya peraturan yang ditetapkan oleh Presiden dengan sifat mandiri adalah Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang seperti dikemukakan di atas. Keputusan Gubernur dengan Peraturan Gubernur. Perpu tersebut harus diajukan untuk mendapat persetujuan DPR menjadi UU selambat-lambatnya 1 tahun sejak dikeluarkannya PERPU tersebut. Dalam rangka penyusunan tertib peraturan perundang-undangan yang baru. Ketetapan dan Keputusan MPR. sebaiknya disebut dengan istilah yang berbeda dari nomenklatur yang digunakan untuk bentuk-bentuk formal peraturan perundangundangan. Karena itu. Keputusan Menteri yang menetapkan pembentukan Panitia Nasional peringatan hari ulang tahun Departemen tertentu. Peraturan Pemerintah. Elemen pengaturan (regeling) inilah yang seharusnya dijadikan kriteria suatu materi hukum dapat diatur dalam bentuk peraturan perundang-undangan sesuai dengan tingkatannya secara hirarkis. dan Peraturan Desa serta Peraturan Kepala Desa. Peraturan yang Mengatur dan Keputusan yang bersifat Administratif. Dalam arti luas. 7 . misalnya untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat. pengertian peraturan perundang-undangan dalam arti sempit perlu dibatasi ataupun sekurang-kurangnya dibedakan secara tegas karena elemen pengaturan (regeling) kepentingan publik dan menyangkut hubungan-hubungan hukum atau hubungan hak dan kewajiban di antara sesama warganegara dan antara warganegara dengan negara dan pemerintah. Materi-materi yang dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Keputusan Menteri seperti tersebut tidaklah mengandung elemen regulasi sama sekali. Presiden tidak dapat lagi membuat peraturan-peraturan yang bersifat mandiri seperti kedudukan Keputusan Presiden pada masa lalu. Akan tetapi. keputusan-keputusan tersebut memang mengandung muatan hukum. eksistensi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) ini saya usulkan tetap dipertahankan dengan perubahan fungsi seperti yang dikemukakan di atas. Contoh lain. bentuk keputusan administratif tersebut juga turut dicantumkan dengan pengertian bahwa putusan-putusan tersebut bersifat administratif (beschikking) dan tidak berisi pengaturan terhadap kepentingan umum (publik). Keputusan Presiden dapat disetarakan tingkatannya dengan Peraturan Presiden. Undang-Undang. Semua pejabat tinggi pemerintahan yang memegang kedudukan politis berwenang mengeluarkan keputusan-keputusan yang bersifat administratif. Mengingat tingkatannya sederajat dengan bentuk-bentuk peraturan yang dikeluarkan oleh pejabat berwenang terkait (ambtsdrager). perlu dibedakan dengan tegas antara putusan-putusan yang bersifat mengatur (regeling) dari putusan-putusan yang bersifat penetapan administratif (beschikking). tetapi tingkatannya sederajat dengan UUD dan Naskah Perubahan UUD yang sama-sama merupakan produk MPR. Sedangkan bentuk-bentuk putusann lainnya dapat dinamakan Ketetapan atau Keputusan dengan tingkatan yang sederajat dengan peraturan yang terkait. Misalnya. karena di dalamnya berisi hubungan-hubungan hak dan kewajiban dari para pihak yang terlibat di dalamnya yang terbit karena putusan pejabat yang berwenang dan juga didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang sah. Akan tetapi. Keputusan Presiden mengangkat seseorang menjadi Menteri ataupun mengangkat dan memberhentikan seorang Pejabat Eselon I di satu Departemen. semua jenis putusan tersebut dianggap penting dalam perkembangan hukum nasional. Peraturan Presiden.Satu-satunya peraturan yang dapat berisi pengaturan yang mandiri hanyalah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang dari segi isinya seharusnya dituangkan dalam bentuk UU. maka tidak ada salahnya apabila dalam susunan tata urut peraturan perundang-undangan yang baru nanti. Peraturan Gubernur. Keputusan-keputusan yang bersifat administratif ini tidak dapat kita kategorikan sebagai peraturan perundang-undangan. Peraturan Menteri dan Pejabat setingkat Menteri. Keputusan Menteri sederajat dengan Peraturan Menteri. maka oleh Presiden dapat ditetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti UU (PERPU) yang bersifat mandiri. meskipun bukan peraturan dalam pengertian yang baru. eksekutif dan yudikatif. bentuk-bentuk hukum yang bersifat adminsitratif tersebut. ataupun mengangkat dan memberhentikan pegawai negeri sipil. Sifatnya hanya penetapan administratif (beschikking). dan sebagainya. dalam sistem pemisahan kekuasaan legislatif. dan apabila tidak disetujui harus dicabut kembali oleh Presiden. dan lain-lain sebagainya. yang termasuk dalam pengertian peraturan perundang-undangan dalam arti sempit itu adalah UUD dan dokumen yang sederajat. 2. Peraturan Daerah. ataupun menaikkan pangkat seorang pegawai negeri sipil ke pangkat yang lebih tinggi. membentuk dan membubarkan kepanitiaan. dan seterusnya. Keputusan Bupati/Walikota dengan Peraturan Bupati/Walikota. Secara hukum. Jadi. untuk kepentingan tertib peraturan perundangundangan. Sebagai contoh.

Hal ini dapat mengundang penafsiran bahwa ketiganya memiliki kedudukan yang sama. yaitu ‘Undang-Undang dan Perpu’. penyebutan Perpu pada nomer urut keempat di bawah undang-undang dapat menimbulkan penafsiran seakan-akan kedudukan perpu itu berada di bawah UU. Ketiga. Yang menjadi masalah adalah apa yang dirumuskan dalam ayat (2)nya yaitu: “Peraturan atau Keputusan Mahkamah Agung. 6. Peraturan Daerah Kabupaten. Peraturan Daerah. Undang-Undang. karena naskah Perubahan UUD sekarang dibuat terpisah. maka setiap aturan hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. di samping produk peraturan tingkat menteri itu dalam praktek banyak sekali ditetapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan sehari-hari dan memerlukan penertiban sebagaimana mestinya. Padahal.XX/MPRS/1966. seperti dalam TAP No. 3. Peraturan Pemerintah. yang tidak selalu atau bahkan tidak mungkin ditentukan secara rinci dalam bentuk peraturan-peraturan yang kaku. Kedua. momentum reformasi ini digunakan sebaikbaiknya untuk menata kembali peristilahan yang baik dan benar. sudah seyogyanya suatu pemerintahan itu diberikan ruang gerak yang cukup untuk berkreatifitas dalam usahanya melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. dan Peraturan Desa. keduanya ditempat pada nomor tiga. hanya karena pertimbangan bahwa MPR cukup mengatur mengenai tata urutan peraturan sampai tingkat peraturan yang ditetapkan oleh Presiden. Seharusnya.MPR/2000 dan Implikasinya terhadap Perda Dalam rangka pembaruan sistem peraturan perundang-undangan kita di era reformasi dewasa ini. agar kita konsisten dan konsekwen mengikuti sistematika pemisahan kekuasaan legislatif dan eksekutif secara tegas. Bank 8 . tetapi dasarnya hanya bertumpu pada aspek ‘doelmatigheid’ dalam rangka prinsip ‘freis ermessen’ atau ‘beoordelingsvrijheid’. Padahal. Bentuk peraturan kebijakan ini memang dapat juga disebut peraturan. 7. kedudukan hukum keduanya adalah sederajat. Prinsip kebebasan bertindak itu cukup diimplementasikan dalam bentuk Instruksi Presiden ataupun Keputusan-Keputusan yang tidak diperlakukan sebagai peraturan. yaitu prinsip kebebasan bertindak yang diberikan kepada pemerintah untuk mencapai tujuan pemerintahan yang dibenarkan menurut hukum. bukan keputusan. Padahal. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). 4. yaitu sama-sama Peraturan Daerah yang dalam tata urutan tersebut ditentukan berada dalam tata urutan ketujuh. Dalam Pasal 2 ditentukan bahwa tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia adalah: 1. Dalam Pasal 4 ayat (1) ditegaskan bahwa sesuai dengan tata urutan tersebut. Akan tetapi. maka seharusnya penyebutan UUD 1945 tersebut di atas dilengkapi dengan ‘… dan Perubahan UUD’. Perumusan mengenai bentuk dan tata urutan ketujuh peraturan perundang-undangan di atas dapat dikatakan kurang sempurna dan mengandung beberapa kelemahan. Selanjutnya. Ketetapan MPR-RI. memang ada pula bentuk-bentuk peraturan yang disebut dengan ‘beleidsregels’ (policy rules) atau peraturan kebijakan. sesuai prinsip ‘lex superiore derogat lex infiriore’. saya mengusulkan kiranya prinsip ‘freis ermessen’ tersebut di atas tidak digunakan sepanjang menyangkut pembuatan peraturan dalam arti teknis. Peraturan Menteri itu sangat penting untuk ditempatkan dalam tata urutan di atas Perda. 5. Undang-Undang Dasar 1945. di bawahnya masih disebut Peraturan Daerah yang tingkatannya juga di bawah peraturan yang ditetapkan oleh Presiden. dokumen hukumnya sebaiknya dinamakan Per-ATUR-an. Berdasarkan prinsip ini.III. yaitu untuk keputusan yang mengandung aturan dan pengaturan. Inilah yang pada mulanya menjadi dasar pembenar sehingga muncul Keputusan-Keputusan Presiden yang turut mengatur. Keempat. penggunaan nomenklatur Keputusan Presiden yang selama ini dipakai mengandung kelemahan karena tidak membedakan secara tegas antara keputusan yang mengatur (regeling) dengan keputusan yang bersifat administratif belaka (beschikking). ANALISIS TERHADAP TAP MPR NO. dalam Pasal 3 ayat (7) diatur mengenai pengertian Peraturan Daerah yang di dalamnya tercakup pengertian Peraturan Daerah Propinsi. Pertama. Sidang Tahun MPR Tahun 2000 telah menetapkan Ketetapan No. seharusnya. Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Presiden. 2. Menteri. meskipun bukan dalam arti ‘regeling’ (public regulation).III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan.Di luar bentuk-bentuk peraturan yang bersifat mengatur itu. maka bentuk Peraturan Menteri tidak disebut dalam tata urutan tersebut. Karena itu.

Ketentuan ayat (2) ini menentukan peraturan dan keputusan yang tidak boleh bertentangan itu adalah: 1. lembaga. Kedua. sebagai jalan keluarnya – terutama untuk membantu pelaksanaan tugas pemerintahan dan tugas parlemen di daerah-daerah – dapat diusulkan hal-hal berikut. Karena itu. kedudukan Peraturan Daerah disebut pada nomor urut ketujuh. demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. semangatnya mengatur agar Peraturan Daerah tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah yang ditetapkan oleh pusat. dan bahkan Peraturan Desa? Ketiga. lebih gawat lagi.Indonesia. Harus segera diadakan kesepakatan untuk menghindari penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda antara satu daerah 9 . 3. Kesulitan-kesulitan teknis hukum tersebut dapat ditambah pula dengan pertanyaan kelima. Tetapi di pihak lain. hubungan antara daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota berdasarkan UU tersebut tidak lagi bersifat hirarkis. yaitu apakah Peraturan Daerah Propinsi sederjat atau lebih tinggi daripada Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Akan tetapi. baik di propinsi maupun kabupaten dan kota. Beberapa persoalan yang timbul dengan adanya ketentuan demikian adalah: Pertama. sehingga pembuatan dan penetapan Perda di daerah-daerah tidak perlu mengacu kepada pedoman yang ditetapkan oleh Menteri. Pemerintah Daerah dan DPRD di daerah-daerah sungguh-sungguh memperhatikan jiwa dari Ketetapan MPR No. Keempat. Peraturan atau Keputusan Badan. sehingga Pemerintah Daerah ataupun DPRD tidak perlu menunggu arahan dan aturan dari atas.” Semangat yang terkandung dalam rumusan rekomendasi ini di satu segi mendorong tumbuhnya kemandirian dan keprakarsaan dari bawah. Peraturan atau Keputusan Menteri. dengan pengertian sebagaimana diuraikan dalam Pasal 3 ayat (7) mencakup pengertian Perda Propinsi.22/1999. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang temuat dalam tata urutan peraturan perundang-undangan ini”. Dalam Pasal 2 Ketetapan No.IV/MPR/2000 butir 3. yang menjadi masalah adalah bahwa dalam rangka melaksanakan agenda otonomi daerah yang tidak mungkin ditunda-tunda lagi pelaksanaannya. Pemerintah Daerah dan DPRD di tiap-tiap propinsi bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota beserta DPRD Kabupaten/Kota di propinsi masing-masing dapat mengadakan kesepakatan bersama mengenai mekanisme penetapan Peraturan Daerah masing-masing dengan mengacu kepada rencana induk pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana direkomendasikan dalam Rekomendasi TAP No. Peraturan atau Keputusan (Gubernur?) Bank Indonesia. peraturan daerah yang terkait harus disesuaikan dengan peraturan pemerintah dimaksud. daerah yang mempunyai kesanggupan (penuh) untuk menyelenggarakan otonomi diberikan kesempatan untuk menerbitkan Peraturan Daerah yang mengatur pelaksanaannya.IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang dalam lampirannya merekomendasikan 7 kebijakan pokok. apakah kedudukan Perda lebih tinggi daripada Peraturan atau Keputusan Menteri. dan bahkan dengan Badan. Perda Kabupaten/Kota. apakah peraturan atau keputusan yang ditetapkan oleh lembaga tinggi negara seperti BPK dan MA dianggap sederajat dengan Menteri.III/MPR/2000 itu sendiri. Jika peraturan pemerintah telah diterbitkan. apakah Keputusan Mahkamah Agung dalam menyelesaikan sesuatu perkara kasasi tidak boleh bertentangan semua ketentuan peraturan yang tingkatannya di bawah Undang-Undang? Padahal. Peraturan atau Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan. badan. apakah Peraturan Mahkamah Agung dan Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Pemerintah. 4. Lembaga dan Komisi? Kedua. daerah-daerah sudah sangat mendesak perlunya menetapkan berbagai Peraturan Daerah. Dalam Pasal 6 tersebut dikatakan: “Tata cara pembuatan UU. melainkan koordinatif dan horizontal. Bank Indonesia. Peraturan Daerah Kabupaten. Pertama. putusan hakim itu dapat saja bertentangan dengan Undang-Undang. meskipun sebagian dari kelemahan tersebut di atas. Yang perlu diperhatikan di antaranya ialah rekomendasi nomor 2d yang menegaskan: “Apabila keseluruhan peraturan pemerintah belum diterbitkan sampai dengan akhir Desember 2000. Peraturan atau Keputusan Mahkamah Agung. dalam melaksanakan inisiatif dari bawah itu.III/MPR/2000 tersebut. Lembaga ataupun Komisi yang setingkat dengan (Menteri?). sesuai dengan asas kebebasan hakim. 5. PP. dapat diperbaiki dengan cara segera menetapkan UU yang diperintahkan untuk ditetapkan dalam Pasal 6 Ketetapan MPR tersebut. atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh Pemerintah. Tidak semua pertanyaan tersebut dapat dijawab tanpa memperbaiki lebih dulu perumusan TAP MPR No. dan bahkan tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Daerah Propinsi. dan Peraturan Desa. Perda dan pengujian peraturan perundang-undangan oleh MA serta pengaturan ruang lingkup keputusan Presiden diatur lebih lanjut dengan UU”. tidak boleh bertentangan dengan Keputusan Presiden. Pertanyaan ini timbul karena menurut ketentuan UU No.

Jika tujuannya sama. maka norma aturan yang akan dimuat dalam diktum Perda dapat berbeda atau tidak sesuai dengan materi yang diatur dalam Keputusan Menteri atau Peraturan Menteri tersebut. maka hal itu masih dapat diterima secara hukum.III/MPR/2000 tersebut di atas. sehingga tetap saja ada kemungkinan terjadinya kekurangan disana-sini. sepanjang tidak mengganggu proses pencapaian tujuan langsungnya. bukan Konsideran Mengingat. Jika para perancang ragu mengenai status hukum Peraturan Menteri atau Keputusan Menteri yang mengatur hal yang bersangkutan. dapat saja mengatur yang berbeda dari norma hukum yang bersifat umum tanpa mengubah status keberlakuan norma hukum yang bersifat umum tersebut. Namun. karena kekurangcermatan dalam perumusannya seperti yang telah terjadi dengan perumusan Ketetapan MPR No. sehingga dapat dikelola sebagaimana mestinya. Sebelum dibentuknya UU tentang Tata Cara Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan yang diamanatkan berdasarkan ketentuan Pasal 6 TAP No. maka perlu dikembangkan pemahaman bahwa: (a) prinsip ‘lex superiore derogat lex infiriore’ mengharuskan norma hukum yang di bawah tidak bertentangan dengan norma hukum yang di atas. Di pihak lain. (b) dalam hukum dibedakan antara istilah pertentangan norma (contra legem) dengan ketidaksesuaian norma (praepria). terlepas dari harapan-harapan positif tersebut di atas. untuk menjamin sikap kehati-hatian tidak menghalangi inisiatif yang tumbuh dari bawah. dalam konsideran Peraturan Daerah selalu dimuat adanya (a) elemen pertimbangan (unsur ‘Menimbang’) yang bersifat substantif yang menjadi latar belakang gagasan pembentukan Perda tersebut. Karena harus dimaklumi juga bahwa persoalan yang harus diselesaikan demikian banyak dan rumit. (b) elemen pengingatan (unsur ‘Mengingat’) yang dijadikan landasan hukum pembentukan Perda tersebut.. Misalnya. dalam pelaksanaannya. Akan tetapi. Mudah-mudahan pula. Bahkan Keputusan Direktur Jenderal yang status hukumnya juga tidak jelas juga dapat dijadikan rujukan peringatan yang tidak mengikat dalam Perda yang bersangkutan. (c) dalam hal ditemukan adanya perbedaan pengaturan antara satu peraturan dengan peraturan yang lain. Peraturan Daerah dapat ditetapkan mengacu kepada berbagai pedoman yang selama ini berlaku. yaitu ‘lex specialis derogat lex generalis’ bahwa norma hukum yang khusus. Dengan demikian. Akan tetapi. pluralisme hukum yang dapat timbul sebagai akibat penerapan kebijakan otonomi daerah juga dapat diikuti tahap demi tahap. Peraturan Daerah mutlak tidak boleh mengatur norma yang berlawanan atau bertentangan dengan norma yang diatur dalam peraturan yang lebih tinggi. maka keduanya masih dapat diterima sebagai dokumen hukum menurut pengertian ketidaksesuaian seperti pada butir (b) tersebut di atas. maka penafsirannya disarankan dikaitkan dengan elemen teleologis dari materi peraturan itu. yaitu menyangkut tujuannya (doelmatigheid). Ketiga. dengan penyesuaian dan inovasi sendiri berdasarkan kebutuhan di lapangan. maka Peraturan Menteri ataupun Keputusan Menteri yang bersangkutan dapat dimuat dalam Konsideran Memperhatikan. berbagai peraturan yang akan ditetapkan itu nantinya dapat sungguhsungguh dijadikan acuan. Mudah-mudahan para pejabat kita di tingkat pusat dapat bekerja keras untuk segera menetapkan berbagai peraturan pusat yang sangat diperlukan sebagai pedoman bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia. PENUTUP Demikianlah beberapa masukan pemikiran yang kiranya dapat dipertimbangkan oleh para anggota DPRD dan pejabat Pemerintah Daerah kita di seluruh Indonesia dalam upaya membuat dan menetapkan Peraturan daerah yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan otonomi di daerahnya masingmasing. Yang penting adalah semangat kita semua harus ditujukan ke arah perbaikan yang sungguh-sungguh dalam rangka 10 . III/MPR/2000 tersebut di atas. inisiatif dari bawah tidak perlu terganggu. tetapi kita siap untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya kekisruhan dalam pengaturan teknis hukumnya di lapangan. dan (c) elemen perhatian (unsur ‘Memperhatikan’) yang dijadikan rujukan operasional. semua pihak hendaklah siap mengantisipasi berbagai kemungkinan buruknya teknik perumusan peraturan-peraturan di tingkat pusat tersebut. Dalam hal demikian. baik materinya maupun wilayah berlakunya ataupun waktu berlakunya. prinsip tersebut diimbangi oleh prinsip lain. jika materi yang diatur bukan berlawanan tetapi hanya tidak sesuai dengan apa yang diatur dalam peraturan yang lebih tinggi. tidak malah menimbulkan masalah-masalah baru. Langkah-langkah ini penting untuk menghindari jangan sampai perbedaan antara satu sama lain terlalu tajam sehingga dapat mengganggu upaya mencapai tujuan menyukseskan pelaksanaan agenda otonomi daerah secara keseluruhan. maka perbedaan dalam teknis pelaksanaannya.kabupaten/kota dan daerah kabupaten/kota lainnya di propinsi yang bersangkutan.

serta kembali pulihnya kehidupan nasional bangsa kita.pelaksanaan agenda otonomi daerah yang justru sangat menentukan nasib bangsa dan negara kita ke depan. baik di bidang politik dan ekonomi yang menyangkut nasib 200-an juta rakyat Indonesia yang sudah terlalu menderita akibat krisis yang tidak berkepanjangan. Sukses tidaknya pelaksanaan agenda otonomi daerah ini menyangkut taruhan yang sangat besar. 11 . yaitu keutuhan bangsa dan negara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful