P. 1
j012

j012

|Views: 94|Likes:
Published by chourey

More info:

Published by: chourey on Aug 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/06/2011

pdf

text

original

TATA URUT PERUNDANG-UNDANGAN DAN PROBLEMA PERATURAN DAERAH1 oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH2.

PENGANTAR Salah satu tuntutan aspirasi yang berkembang dalam era reformasi sekarang ini adalah reformasi hukum menuju terwujudnya supremasi sistem hukum di bawah sistem konstitusi yang berfungsi sebagai acuan dasar yang efektif dalam proses penyelenggaraan negara dan kehidupan nasional sehari-hari. Dalam upaya mewujudkan sistem hukum yang efektif itu, penataan kembali kelembagaan hukum, didukung oleh kualitas sumberdaya manusia dan kultur dan kesadaran hukum masyarakat yang terus meningkat, seiring dengan pembaruan materi hukum yang terstruktur secara harmonis, dan terus menerus diperbarui sesuai dengan tuntutan perkembangan kebutuhan. Dalam upaya pembaruan hukum tersebut, penataan kembali susunan hirarkis peraturan perundang-undangan tersebut bersifat niscaya, mengingat susunan hirarkis peraturan perundangundangan Republik Indonesia dewasa ini dirasakan tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan dewasa ini. Di samping itu, era Orde Baru yang semula berusaha memurnikan kembali falsafah Pancasila dan pelaksanaan UUD 1945 dengan menata kembali sumber tertib hukum dan tata-urut peraturan perundang-undangan, dalam prakteknya selama 32 tahun belum berhasil membangun susunan perundangundangan yang dapat dijadikan acuan bagi upaya memantapkan sistem perundang-undangan di masa depan. Lebih-lebih dalam prakteknya, masih banyak produk peraturan yang tumpang tindih dan tidak mengikuti sistem yang baku, termasuk dalam soal nomenklatur yang digunakan oleh tiap-tiap kementerian dan badan-badan pemerintahan seingkat Menteri. Sebagai contoh, produk hukum yang dikeluarkan Bank Indonesia yang dimaksud untuk memberikan aturan terhadap dunia perbankan menggunakan istilah Surat Edaran yang tidak dikenal dalam sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku. Beberapa kementerian mengeluarkan peraturan di bidangnya dengan menggunakan sebutan Keputusan Menteri, dan beberapa lainnya menggunakan istilah Peraturan Menteri. Keputusan Presiden yang bersifat mengatur dengan Keputusan Presiden yang bersifat penetapan administratif biasa tidak dibedakan, kecuali dalam kode nomernya saja, sehingga tidak jelas kedudukan masing-masing sebagai salah satu bentuk peraturan perundang-undangan yang bersifat mengatur. Sementara itu, setelah lebih dari 50 tahun Indonesia merdeka, sangat dirasakan adanya kebutuhan untuk mengadakan perubahan terhadap pasal-pasal dalam UUD 1945 yang tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Namun, timbul persoalan apabila perubahan UUD itu ditetapkan dalam produk hukum berupa Ketetapan MPR, sementara dalam tata urut perundang-undangan ditentukan bahwa Ketetapan MPR itu lebih rendah kedudukannya daripada UUD. Bagaimana mungkin perubahan terhadap konstitusi dituangkan dalam peraturan yang derajatnya lebih rendah. Oleh karena itu, perlu diperkenalkan bentuk hukum yang sama sekali belum dikenal dalam sistem peraturan perundang-undangan Indonesia selama ini, yaitu bentuk Perubahan UUD. Ditambah lagi dengan munculnya kebutuhan untuk mewadahi perkembangan otonomi daerah di masa depan yang dapat mendorong tumbuh dan berkembangnya dinamika hukum adat di desa-desa yang cenderung diabaikan atau malah sebaliknya dikesampingkan dalam setiap upaya pembangunan hukum selama lebih dari 50 tahun terakhir. Dalam rangka desentralisasi dan otonomi daerah itu, mulai diperkenalkan adanya perangkat Peraturan Desa yang harus pula dimasukkan ke dalam sistem dan tata urut peraturan perundang-undangan yang baru. Dengan perkataan lain, banyak alasan yang mendorong sehingga Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 yang menjadi acuan dalam mengembangkan susunan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia selama lebih dari 30 tahun terakhir, harus dikaji ulang dan disempurnakan untuk kepentingan masa depan hukum dan sistem hukum nasional. Sebelum membahas lebih rinci masalah-masalah dan usul-usul penyempurnaan mengenai sumber tertib hukum dan sistem serta tata urut peraturan Republik Indonesia di masa depan, perlu diperjelas dulu pengertian kita mengenai sumber tertib hukum, dan mengenai bentuk-bentuk serta tata urut peraturan yang kita gunakan dalam tulisan ini. Pengertian tentang sumber tertib hukum memuat pengertian yang lebih luas, yaitu tidak hanya mencakup aneka putusan legislatif dan eksekutif yang dapat
1

Disampaikan dalam rangka Lokakarya Anggota DPRD se-Indonesia, diselenggarakan di Jakarta, oleh LP3HET, Jum’at, 22 Oktober, 2000. 2 Guru Besar Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, pernah menjadi Asisten Wakil Presiden RI, 1998-1999.

1

dijadikan sumber hukum. yaitu untuk melaksanakan Peraturan Presiden. masing-masing untuk mengatur sesuatu hal dan untuk melakukan atau meresmikan pengangkatan-pengangkatan. 2 . dinyatakan bahwa di samping bentuk-bentuk peraturan perundangundangan tersebut di atas. 5. dan Peraturan pemerintah. dan (v) Peraturan daerah swatantra ataupun daerah swapraja 3. Disini. 1998. Di masamasa awal kemerdekaan. dalam ketiga konstitusi ini. Sedangkan dalam UUDS yang berlaku mulai tanggal 17 Agustus 1950. Akan tetapi. kadang-kadang nota-nota dinas. Dalam penjelasan juga disebutkan bahwa UUD adalah bentuk konstitusi yang tertulis. tetapi maklumat itu dibuat tanpa nomor. Jakarta: Balai Pustaka. 3 Jimly Asshiddiqie. 2. Peraturan Presiden. Di samping yang tertulis itu masih ada pengertian konstitusi yang tidak tertulis yang hidup dalam kesadaran hukum masyarakat. Keputusan Presiden yang dimaksudkan untuk melakukan atau meresmikan pengangkatanpengangkatan. Undang-Undang Darurat. dipandang perlu dikeluarkan bentuk-bentuk peraturan yang lain. Penyebutan hanya 3 atau 4 bentuk peraturan (termasuk UUD) tersebut dalam Undang-Undang Dasar bersifat enunsiatif dalam arti tidak menutup kemungkinan untuk mengatur bentuk-bentuk lain yang lebih rinci sesuai dengan kebutuhan. setelah periode kembali ke UUD 1945. maklumat. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PASCA KEMERDEKAAN Di zaman Hindia Belanda. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) atau Undang-Undang Darurat. tetapi dalam prakteknya belum teratur karena suasana belum memungkinkan untuk menertibkan bentuk-bentuk peraturan yang dibuat. tetapi dapat dijadikan dasar bagi upaya mengatur kebijakan yang lebih teknis. Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang. Bentuk peraturan perundang-undangan yang dikenal dalam UUD 1945 adalah Undang-Undang. pengertian Konstitusi diidentikkan dengan pengertian UUD. dalam tulisan ini. dan karena itu disebut dengan ‘per-ATUR-an’. yaitu: (I) Undang-Undang Dasar Kerajaan Belanda. bentuk-bentuk peraturan yang dikenal meliputi 5 tingkatan. surat-surat edaran dan lain sebagainya diperlakukan sebagai peraturan yang seakan mengikat secara hukum. peraturan dalam arti sempit dan luas itu digunakan secara silih berganti. dan Peraturan Pemerintah. Penetapan Presiden untuk melaksanakan Dekrit Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang tanggal 5 Juli 1959 tentang Kembali Kepada UUD 1945. (iii) Ordonantie yaitu peraturan yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda bersama-sama dengan Dewan Rakyat (Volksraad) di Jakarta sesuai Titah Ratu Kerajaan Belanda di Den Haag. Undang-Undang atau Undang-Undang Federal. dan Peraturan Pemerintah.2262/HK/1959 tertanggal 20 Agustus 1959 yang ditujukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong. 4. Peraturan Pemerintah. Dengan perkataan lain. kita mengenal adanya Undang-Undang Dasar. bentuk-bentuk peraturan yang tegas disebut adalah Undang-Undang Federal. sehingga dikenal kemudian sebagai Maklumat No. dan Peraturan Pemerintah. pengertian peraturan itu dalam arti luas dapat pula mencakup putusan-putusan yang bersifat administratif yang meskipun tidak bersifat mengatur. Agenda Pembangunan Hukum Nasional di Abad Globalisasi. Sedangkan bentuk-bentuk dan tata-urut peraturan hanya mencakup putusan-putusan cabang kekuasaan legislatif dan eksekutif yang isinya dapat bersifat mengatur (regeling). yaitu peraturan yang dikeluarkan untuk melaksanakan penetapan Presiden. Karena itu. yaitu: 1. maka berdasarkan Surat Presiden No. Dalam Konstitusi RIS yang berlaku mulai tanggal 27 Desember 1949. Bahkan. penyebutannya berubah lagi menjadi Undang-Undang. tetapi mencakup pula putusan-putusan pengadilan dalam lingkungan kekuasaan judikatif. hal. Peraturan Menteri dan Keputusan Menteri yang dibuat oleh kementerian-kementerian negara atau Departemen-Departemen pemerintahan. Undang-Undang Darurat. (ii) Undang-Undang Belanda atau ‘wet’. sehingga berbeda pengertiannya dengan Peraturan Pemerintah yang dimaksudkan dalam Pasal 5 ayat (2) UUD 1945. Karena itu. (iv) Regerings Verordening atau RV. 3. Wakil Presiden mengeluarkan Maklumat yang sangat terkenal yang isinya membatasi tugas dan fungsi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang ketika itu sangat berperan sebagai lembaga legislatif.x tertanggal 16 Oktober 1945. ataupun peraturan yang dikeluarkan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945. yaitu Peraturan Pemerintah yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal untuk melaksanakan UndangUndang atau ‘wet’. Setelah Indonesia merdeka mulai diperkenalkan bentuk-bentuk peraturan baru. 54-55.

dan lain-lain. ataupun Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang. Yang lebih gawat lagi adalah banyak di antara penetapan dan peraturan itu yang jelas-jelas menyimpang isinya dari amanat UUD 1945. Undang-Undang/Perpu. digunakan istilah Peraturan Menteri. Instruksi Menteri. XX/MPRS/1966. padahal isinya jelas-jelas memuat materi-materi yang mengatur kepentingan publik seperti di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengatur mengenai penyelenggaraan pendidikan nasional. Attamimi yang pernah lama bertugas sebagai Wakil Sekretaris Kabinet selama masa Orde Baru4.Pelita IV. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara: Suatu Studi Analisis mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I . dikembangkan kebiasaan untuk menerbitkan peraturan dalam bentuk Surat Edaran Gubernur Bank Indonesia yang juga jelas-jelas tidak mempunyai dasar hukum sama sekali. Jakarta. Di samping itu. satu hal yang perlu dicatat disini adalah bahwa antara penetapan yang bersifat administratif berupa pengangkatan-pengangkatan yang berisi putusan-putusan yang bersifat ‘beschikking’ jelas dibedakan dari putusan yang berbentuk mengatur (regeling). Peraturan Pemerintah. jelas terdapat kekacauan antara satu bentuk dengan bentuk peraturan yang lain. karena berdasarkan UUD 1945 sebelum diadakan amandemen melalui Perubahan 4 Hamid S. Ketetapan MPRS tersebut menugaskan Pemerintah untuk bersama-sama dengan DPR melaksanakan peninjauan kembali produk-produk legislatif. Sebagai contoh di beberapa kementerian. ditetapkan pula sumber tertib hukum dan tata urut peraturan perundangan Republik Indonesia dalam Ketetapan MPRS No. bentuk Keputusan Bersama itu jelas tidak ada dasar hukumnya. maka pada tahun 1966 dikeluarkan Ketetapan MPRS No. Peraturan Presiden. Di pihak lain. 1991. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya seperti Peraturan Menteri. 4. ditentukan bentuk peraturan dengan tata urut sebagai berikut: 1. yaitu tentang Memorandum DPRGR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urut Perundangan Republik Indonesia. baik yang berbentuk Penetapan Presiden. Dalam praktek. seperti misalnya Gubernur Bank Indonesia perlu membuat aturan-aturan berkenaan dengan dunia perbankan. Attamimi. Selama ini. 3. 5. Undang-Undang. Kadang-kadang banyak materi yang seharusnya diatur dalam UU. justru diatur dengan Penetapan Presiden ataupun Peraturan Presiden. Padahal. tetapi di beberapa kementerian lainnya digunakan istilah Keputusan Menteri. berkembang pula kebutuhan di lingkungan instansi yang dipimpin oleh pejabat tinggi yang bukan berkedudukan sebagai Menteri untuk mengatur kepentingan publik yang bersangkutpaut dengan bidangnya. Untuk memberikan pedoman bagi terwujudnya kepastian hukum dan keserasian hukum serta kesatuan tafsir dan pengertian mengenai Pancasila dan pelaksanaan UUD 1945 serta untuk mengakhiri ekses-ekses dan penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas. dalam praktek. Keputusan Presiden itu banyak yang berisi materi pengaturan yang bersifat mandiri dalam arti tidak dimaksudkan untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang. Namun demikian. tidak sepenuhnya diikuti. dan sebagainya.Dalam susunan tersebut di atas. Kebiasaan seperti ini didukung pula oleh kenyataan. Undang-Undang Dasar. Ketetapan MPR. Keputusan Presiden.XX/MPRS/1966 tersebut. Dalam Ketetapan No. Seperti tercermin dalam pendapat Hamid S. 6. Keganjilan-keganjilan yang sama juga terjadi dalam keputusan-keputusan yang dibuat oleh Presiden dalam bentuk Keputusan Presiden (Keppres). 3 .XIX/MPRS/1966 tentang Peninjauan Kembali Produk-Produk Legislatif Negara di Luar Produk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang Tidak Sesuai dengan UUD 1945. bentuk yang paling banyak dikeluarkan adalah Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden yang menimbulkan ekses dimana-mana. Bahkan. tata urut dan penamaan bentuk-bentuk peraturan sebagaimana diatur dalam Ketetapan tersebut. Disertasi Doktor pada Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Istilah Keputusan Presiden ataupun Keputusan Menteri secara khusus dikaitkan dengan jenis putusan yang bersifat administraftif. Dalam rangka penataan kembali bentuk-bentuk peraturan perundang-undangan tersebut dengan maksud mengadakan pemurnian terhadap pelaksanaan UUD 1945. 2. untuk mengatur secara bersama berkenaan dengan materi-materi yang bersifat lintas departemen berkembang pula kebiasaan menerbitkan Keputusan Bersama antar Menteri.

yaitu hak Presiden untuk memveto suatu UU yang sudah ditetapkan oleh DPR. sehingga bagi masyarakat umum. telah disepakati bahwa bentuk hukum perubahan itu dinamakan ‘Perubahan UUD’ sebagai nomenklatur baru yang tingkatnya sederajat dengan UUD.XX/MPRS/1966 tersebut.” 5 Memang benar bahwa meskipun dikatakan pemegang kekuasaan membentuk UU itu dipindahkan ke DPR. materi yang diatur dalam Keputusan Presiden itu juga tidak dibedakan secara jelas antara materi yang bersifat mengatur atau regulatif (regeling) dengan materi yang bersifat penetapan administratif biasa (beschikking) seperti misalnya Keputusan Presiden (Keppres) mengenai pengangkatan dan pemberhentian pejabat. sebagai jalan keluar. Proses pembuatan UU itu dilakukan bersama-sama dalam arti pada tahap pembahasan di DPR. PRODUK LEGISLATIF DAN PRODUK ADMINISTRATIF 1. Di samping itu. tidak ada pertentangan dan tidak ada tumpang tindih di antara kedudukan DPR dan Presiden dalam hal ini. bahwa suara partai pemerintah di DPR dikalahkan oleh suara oposisi. sifatnya sama dengan Keputusan Presiden yang ditetapkan untuk mengangkat atau memberhentikan pejabat sebagaimana disebut di atas. Jika perubahan itu dituangkan dalam bentuk Ketetapan MPR yang jelas ditentukan bahwa kedudukannya berada di bawah UUD. Keppres mengenai pembentukan panitia-panitia negara yang bersifat ad-hoc. sulit dibedakan mana yang bersifat mengatur (regeling) dan karena itu dapat disebut sebagai per-ATUR-an. 4 . Ketetapan MPR tentang pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden. namun pengesahan formal produk UU itu dilakukan oleh Presiden. karena isinya kadang-kadang sama dengan Keputusan Presiden yang hanya bersifat penetapan biasa. dapat terjadi.XX/1966 tersebut tidak dapat lagi dipertahankan dan perlu segera diadakan penyempurnaan dalam rangka penataan kembali sumber tertib hukum dan bentuk-bentuk serta tata urut peraturan perundang-undangan Republik Indonesia di masa yang akan datang. Apakah Ketetapan MPR itu termasuk peraturan atau bukan. meskipun UU ditetapkan oleh DPR. Pergeseran Fungsi Parlemen Indonesia dan implikasinya terhadap Kegiatan legislasi Salah satu perubahan substantif yang telah dilakukan dalam rangka Perubahan Pertama UUD 1945 pada Sidang Umum MPR bulan Nopember 1999 lalu adalah soal cabang kekuasaan legislatif yang secara tegas dipindahkan dari Presiden ke DPR. Presiden memang memegang kekuasaan membentuk undang-undang.” Sebaliknya dalam Pasal 20 ayat (1) baru dinyatakan: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. otomatis. maka RUU tersebut dianggap berlaku menjadi UU. ditegaskan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. Sedangkan dalam Pasal 5 ayat (1) baru berdasarkan Perubahan Pertama tersebut ditegaskan: “Presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk menegaskan hal inilah maka dalam Perubahan Kedua ketentuan Pasal 20 itu ditambah dengan ayat (5) yang memberikan waktu 30 hari bagi Presiden untuk mengesahkan UU itu. (tanpa tahun). dan mana yang bukan. ketentuan TAP MPRS No. Akan tetapi. Bagaimana mungkin UUD yang lebih tinggi diubah dengan peraturan yang lebih rendah. Jakarta: terbitan Sekretariat Jenderal MPR-RI. tetapi ada juga yang berpendapat bahwa proses pembuatan UU itu tetap dilakukan bersama-sama antara Presiden dengan DPR. Kekuasaan legislatif tetap berada di tangan DPR. Presiden itu selain sebagai eksekutif juga mempunyai kedudukan sebagai legislatif. Apakah perbedaan antara kekuasaan yang menetapkan dengan kekuasaan yang mengesahkan itu bersifat bertentangan? Menurut saya. Pembedaan antara kedua jenis keputusan itu selama ini hanya diadakan dalam pemberian nomor kode Keppres. Jika dalam batas waktu itu tidak disahkan. pihak pemerintah sudah terlibat intensif. 5 Bandingkan naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan naskah Perubahan Pertama UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. karena adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan terhadap pasal-pasal UUD 1945. Dengan perkataan lain. Lagi pula. kekuassan yang mengesahkan menurut ketentuan Perubahan Pertama UUD tetap berada di tangan Presiden. Lebih-lebih lagi. Karena itu. Karena itu. maka akan timbul kekacauan dalam sistematika berpikir menurut tata urut peraturan yang diatur menurut TAP MPRS No. timbul polemik mengenai bentuk hukum perubahan UUD itu sendiri. Dalam Pasal 5 ayat (1) lama. menjelang berlangsungnya Sidang Umum MPR pada bulan Nopember 1999 yang lalu. Sebagai contoh.Pertama UUD. Hal ini justru menunjukkan adanya perimbangan kekuasaan diantara keduanya. dan sebagainya. Yang juga menjadi persoalan adalah mengenai kedudukan ketetapan MPR yang selama ini sudah banyak sekali jumlahnya.

Fungsi pembuatan undang-undang itu bahkan mulai cenderung dianggap sebagai fungsi teknis dibandingkan dengan fungsi pengawasan yang bersifat politis 6. maka kekuasaan Presiden dan termasuk para pembantunya serta para pejabat pemerintahan seperti Direktur Jenderal Departemen sampai pejabat yang lebih rendah juga mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan peraturan pada tingkat pelaksanaan di bidangnya masing-masing. 7 Sesuai dengan ketentuan Pasal 121 UU No. Jika suatu rancangan UU telah disetujui oleh lebih dari 2/3 anggota DPR. instansi dan pejabat yang berhak membuat peraturan haruslah dibatasi hanya lembaga parlemen bersama-sama dengan pejabat yang memegang kedudukan politik saja. 6 Jimly Asshiddiqie. Lembaga parlemen yang dimaksud sesuai tingkatannya adalah DPR-Pusat. maka dapat saja terjadi bahwa suatu Undang-Undang. Dengan demikian. maka veto Presiden dapat dinyatakan tidak berlaku. dimajukan untuk mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Daerah. jika suatu UU itu hanya mendapat persetujuan suara di bawah jumlah 2/3 anggota DPR. maka Presiden dapat diberikan hak untuk menerapkan hak vetonya dengan cara tidak mengesahkan UU tersebut. Akan tetapi.Dalam hal ini. mekanisme pembatasan terhadap hak veto Presiden itu masih harus dikaji lebih lanjut cara membatasinya. DPRD propinsi. Peraturan pelaksanaan ini makin rendah tingkatannya makin teknis pula sifatnya. karena Rancangan UU tersebut sudah disetujui oleh dua lembaga tinggi negara setingkat Presiden. 22 Tahun 1999. rakyat Indonesia sudah menjatuhkan pilihan bahwa di masa depan kita akan menganut ajaran pemisahan yang tegas di antara ketiga cabang kekuasaan legislatif. Dalam hal demikian ini. Misalnya. bukan lagi kekuasaan Presiden. Para Direktur Jenderal dan Direktur sebagai pejabat tinggi (eselon I atau eselon II) yang tunduk kepada hukum kepegawai-negerian tidak selayaknya diberikan wewenang untuk turut membentuk peraturan perundang-undangan dalam pengertian yang baru. Tugas administratif Presiden tinggal hanya mengundangkan UU sebagaimana mestinya. Namun dalam sistem parlemen unikameral seperti yang sekarang berlaku. dapat saja dipertimbangkan pengaturan sebagai berikut. fungsi pembuatan undang-undang itu dipertegas sebagai kekuasaan DPR. Hal ini jelas berbeda dari sistem yang dianut selama ini. dimana antara fungsi legislatif dan eksekutif tidak dipisahkan secara tegas dan malah bersifat tumpang tindih. memang masih perlu diatur agar penggunaan hak veto Presiden ini dibatasi. meskipun tetap diberikan hak inisiatif di bidang legislasi. Jakarta: UI-Press. Kabupaten Daerah Tingkat 5 . Jangan sampai nanti. Sedangkan Presiden. Karena itu. pergeseran kekuasaan membentuk UU dari Presiden ke DPR sungguh-sungguh mencerminkan terjadinya pergeseran terhadap kedudukan DPR yang secara substantif menjadi lembaga pemegang kekuasaan legislatif. Demi kepentingan hukum. Akan tetapi. Khusus untuk tingkat desa. fungsi legislatif parlemen itu memang cenderung makin dianggap tidaklah lebih penting dibandingkan dengan fungsi kontrol atau pengawasan politik terhadap pemerintah. Hanya saja. Sesuai tingkatannya. 1996. Perubahan ini sekaligus memastikan pula bahwa UUD 1945 dengan sungguh-sungguh menerapkan sistem pemisahan kekuasaan legislatif. dan DPRD kabupaten/kota 7 yang merupakan badan-badan perwakilan rakyat. maka “Sebutan propinsi Daerah Tingkat I. Masalahnya kemudian yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa pergeseran kekuasaan legislatif dari Presiden ke DPR itu tentunya mengandung implikasi yang mendasar terhadap proses pembentukan peraturan perundang-undangan dan terhadap institusi atau pejabat yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan itu sendiri. sudah seharusnya ditinjau kembali logika yang memberikan pembenaran terhadap pola pengaturan seperti itu. eksekutif dan yudikatif. setelah disetujui oleh DPR. maka hak veto Presiden tidak dapat diberlakukan. Akan tetapi. karena berdasarkan ketentuan yang lamapun kekuasaan judikatif memang dinyatakan bebas dari pengaruh pemerintah. Presiden harus mengsahkan UU itu sebagaimana mestinya. bukan mereka yang memegang kedudukan sebagai pegawai pemerintahan. Perkembangan pemikiran dan praktek penyelenggaraan fungsi legislatif ini sebenarnya dapat dibahas tersendiri mengingat di berbagai negara di dunia dewasa ini. Apabila misalnya parlemen kita bersifat bikameral nantinya disetujui terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan atau Utusan Daerah. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah: Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara. Dalam sistem yang lama dimana dinyatakan bahwa Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. dan yudikatif. hal itu tetap tidak menempatkan Presiden sebagai pemegang kekuasaan utama di bidang ini. setiap UU yang dibuat oleh DPR selalu dapat digagalkan dengan mudah oleh Presiden dengan menggunakan hak vetonya. eksekutif. maka Presiden dapat menggunakan hak vetonya untuk tidak mengesahkan UU yang sudah disetujui oleh DPR tersebut seperti juga dipraktekkan di Amerika Serikat. dengan adanya pergeseran sebagaimana disebut di atas.

8 Sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 121 tersebut. Tugas Kepala Kantor Wilayah hanyalah melaksanakan kebijakan dan peraturan-peraturan di tingkat Departemennya. Keputusan Presiden yang bersifat pengaturan dapat pula bersifat mandiri dalam arti tidak dimaksudkan melaksanakan Undang-Undang ataupun mengatur hal-hal yang ditunjuk oleh undang-undang untuk diatur lebih oleh Presiden. yaitu para Menteri atau Pejabat Tinggi yang menduduki jabatan politis setingkat Menteri seperti Gubernur Bank Indonesia. Dalam hal ini. sama-sama merupakan bentuk peraturan yang proses pembentukannya melibatkan peran wakil rakyat dan kepala pemerintahan yang bersangkutan. kebupaten ataupun kota. Para pejabat administratif itu pada prinsipnya hanya melaksanakan kebijakan dan peraturan yang ditetapkan oleh Menteri sebagai pemegang tanggungjawab politik di kementerian atau Departemennya.5 Tahun 1974. Ibid. selain bersama-sama para wakil rakyat membentuk Perda dan Peraturan Desa. Kepala Kepolisian. disebut sebagai Peraturan Daerah saja. berubah masing-masing menjadi propinsi. Karena banyaknya kebijakan pemerintahan yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan yang bersifat pelaksanaan terhadap peraturan yang lebih tinggi. II. Akan tetapi. Untuk melaksanakan peraturan perundangan yang melibatkan peran para wakil rakyat tersebut. secara tegas dapat diatur bahwa semua kebijakan yang bersifat mengatur di bidang yang menjadi tugas kementerian tertentu. Bentuk hukum peraturan-peraturan tersebut. Jaksa Agung. tetapi dapat saja diterima dalam paradigma pemikiran UUD 1945 yang lama. maka Peraturan Daerah yang dimaksud disini.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. dan Peraturan Kepala Desa sebagai pelaksanaan terhadap peraturan yang lebih tinggi tersebut. hak itu tidak memberikan kedudukan kepadanya sebagai pemegang kekuasaan legislatif. Logika pengaturan yang mandiri oleh Presiden ini. Gubernur. Dengan demikian. Presiden juga berwenang mengeluarkan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden (Pouvoir Reglementair). Lembaran Negara RI Tahun 1999 No. dan Pasal 105 UU No. Sedangkan Sekretaris Jenderal. haruslah dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri atau pejabat setingkat Menteri.22/1999. tetapi pihak DPR sendiri belum siap dengan rancangan dari mereka sendiri. Demikian pula. maka para Pembantu Presiden. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. dapat pula diberikan kewenangan untuk membuat peraturan yang bersifat pelaksanaan tersebut. Demikian pula dengan para Kepala Kantor Wilayah Departemen di daerah-daerah tidak diperkenankan membuat peraturan yang mengatur kepentingan publik. Jenis Keputusan Presiden demikian itu disebut Hamid Attamimi sebagai Keputusan Presiden yang mendiri. maka ketentuan demikian itu harus dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah atau Peraturan Gubernur. dibentuk Badan Perwakilan Desa sebagaimana diatur dalam Pasal 94 juncto Pasal 102. yaitu karena Presidenlah yang ditentukan dalam UUD sebagai pemegang kekuasaan utama dalam pembentukan undang-undang. Selain itu. Bupati. Walikota dan Kepala Desa.60. sebagaimana dikemukakan oleh Hamid Attamimi. Semua peraturan di bawah undang-undang hanyalah merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari Peraturan Dasar dan Undang-Undang. selain UU. Peraturan Daerah kabupaten. Peraturan Daerah propinsi. Presiden dapat mengambil prakarsa untuk menyusun rancangan undang-undangan tersebut dan kemudian mengajukannya kepada DPR. juga berwenang mengeluarkan Peraturan Gubernur. dan Panglima Tentara Nasional Indonesia.meskipun tidak terdapat lembaga parlemen sebagaimana mestinya. Oleh karena tidak boleh ada lagi peraturanperaturan untuk kepentingan pengaturan kepentingan publik yang dibuat Presiden atau Pemerintah secara mandiri. Karena itu. Pada prinsipnya. Pasal 105 ayat (3) UU ini menyatakan: “Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. masing-masing adalah UU di tingkat Pusat. dalam ketentuan yang baru berdasarkan Perubahan Pertama UUD. baik untuk tingkat propinsi. Dalam hal diperlukan pengaturan yang bersifat khusus di daerah. dan kota”. sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. kabupaten. meskipun banyak dipersoalkan di kalangan para ahli hukum. maka logika yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan pembenar terhadap eksisten Keputusan yang mengatur secara mandiri tersebut dengan sendirinya tidak dapat diterima lagi. Direktur Jenderal dan pejabat yang lebih rendah di tiap-tiap kementerian atau Departemen Pemerintahan tidak berwenang mengatur kepentingan publik. Ref. dan Peraturan Desa. Kalaupun Presiden diberi hak untuk mengajukan rancangan undang-undang. maka kepala pemerintahan yang bersangkutan juga perlu diberikan wewenang untuk membuat peraturan-peraturan yang bersifat pelaksanaan. sebagaimana diatur dalam Pasal 69 sampai dengan Pasal 74 UU No. melainkan sekedar memberikan hak kepadanya untuk mengambil inisiatif karena kebutuhan yang sangat dirasakan oleh pihak eksekutif untuk mengatur suatu kebijakan publik yang harus dilayani oleh pemerintah. Perdaturan Daerah kota8. 104. Presiden bukan lagi pemegang kekuasaan utama dalam pembentukan UU. Peraturan Bupati/Walikota. 6 .

Materi-materi yang dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Keputusan Menteri seperti tersebut tidaklah mengandung elemen regulasi sama sekali. Karena itu. perlu dibedakan dengan tegas antara putusan-putusan yang bersifat mengatur (regeling) dari putusan-putusan yang bersifat penetapan administratif (beschikking). ataupun mengangkat dan memberhentikan pegawai negeri sipil. ataupun menaikkan pangkat seorang pegawai negeri sipil ke pangkat yang lebih tinggi. dan sebagainya. Keputusan Menteri yang menetapkan pembentukan Panitia Nasional peringatan hari ulang tahun Departemen tertentu. eksekutif dan yudikatif. Presiden tidak dapat lagi membuat peraturan-peraturan yang bersifat mandiri seperti kedudukan Keputusan Presiden pada masa lalu. pengertian peraturan perundang-undangan dalam arti sempit perlu dibatasi ataupun sekurang-kurangnya dibedakan secara tegas karena elemen pengaturan (regeling) kepentingan publik dan menyangkut hubungan-hubungan hukum atau hubungan hak dan kewajiban di antara sesama warganegara dan antara warganegara dengan negara dan pemerintah. namun dari segi proses pembuatannya ataupun karena adanya faktor eksternal berupa keadaan bahaya atau kegentingan yang memaksa. membentuk dan membubarkan kepanitiaan. keputusan-keputusan tersebut memang mengandung muatan hukum. dan lain-lain sebagainya. Peraturan Pemerintah. Peraturan yang Mengatur dan Keputusan yang bersifat Administratif. Sifatnya hanya penetapan administratif (beschikking). dan seterusnya. Bupati/Walikota. Dalam arti luas. Dalam rangka penyusunan tertib peraturan perundang-undangan yang baru. Akan tetapi. maka tidak ada salahnya apabila dalam susunan tata urut peraturan perundang-undangan yang baru nanti.Satu-satunya peraturan yang dapat berisi pengaturan yang mandiri hanyalah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang yang dari segi isinya seharusnya dituangkan dalam bentuk UU. Undang-Undang. eksistensi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) ini saya usulkan tetap dipertahankan dengan perubahan fungsi seperti yang dikemukakan di atas. dan Peraturan Desa serta Peraturan Kepala Desa. Keputusan Menteri sederajat dengan Peraturan Menteri. Dengan demikian. Akan tetapi. Sedangkan bentuk-bentuk putusann lainnya dapat dinamakan Ketetapan atau Keputusan dengan tingkatan yang sederajat dengan peraturan yang terkait. karena di dalamnya berisi hubungan-hubungan hak dan kewajiban dari para pihak yang terlibat di dalamnya yang terbit karena putusan pejabat yang berwenang dan juga didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang sah. yang termasuk dalam pengertian peraturan perundang-undangan dalam arti sempit itu adalah UUD dan dokumen yang sederajat. Peraturan Gubernur. Mengingat tingkatannya sederajat dengan bentuk-bentuk peraturan yang dikeluarkan oleh pejabat berwenang terkait (ambtsdrager). tetapi tingkatannya sederajat dengan UUD dan Naskah Perubahan UUD yang sama-sama merupakan produk MPR. dan apabila tidak disetujui harus dicabut kembali oleh Presiden. 2. Peraturan Presiden. Keputusan Presiden dapat disetarakan tingkatannya dengan Peraturan Presiden. Secara hukum. semua jenis putusan tersebut dianggap penting dalam perkembangan hukum nasional. Peraturan Daerah. untuk kepentingan tertib peraturan perundangundangan. maka oleh Presiden dapat ditetapkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti UU (PERPU) yang bersifat mandiri. Peraturan Menteri dan Pejabat setingkat Menteri. Ketetapan dan Keputusan MPR. Keputusan Bupati/Walikota dengan Peraturan Bupati/Walikota. Contoh lain. Jadi. Perpu tersebut harus diajukan untuk mendapat persetujuan DPR menjadi UU selambat-lambatnya 1 tahun sejak dikeluarkannya PERPU tersebut. misalnya. Keputusan-keputusan yang bersifat administratif ini tidak dapat kita kategorikan sebagai peraturan perundang-undangan. Semua pejabat tinggi pemerintahan yang memegang kedudukan politis berwenang mengeluarkan keputusan-keputusan yang bersifat administratif. bentuk-bentuk hukum yang bersifat adminsitratif tersebut. Misalnya. bentuk keputusan administratif tersebut juga turut dicantumkan dengan pengertian bahwa putusan-putusan tersebut bersifat administratif (beschikking) dan tidak berisi pengaturan terhadap kepentingan umum (publik). Keputusan Presiden mengangkat seseorang menjadi Menteri ataupun mengangkat dan memberhentikan seorang Pejabat Eselon I di satu Departemen. sebaiknya disebut dengan istilah yang berbeda dari nomenklatur yang digunakan untuk bentuk-bentuk formal peraturan perundangundangan. Satu-satunya peraturan yang ditetapkan oleh Presiden dengan sifat mandiri adalah Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang seperti dikemukakan di atas. meskipun bukan peraturan dalam pengertian yang baru. Elemen pengaturan (regeling) inilah yang seharusnya dijadikan kriteria suatu materi hukum dapat diatur dalam bentuk peraturan perundang-undangan sesuai dengan tingkatannya secara hirarkis. Sebagai contoh. 7 . misalnya untuk mengangkat dan memberhentikan pejabat. dalam sistem pemisahan kekuasaan legislatif. Keputusan Gubernur dengan Peraturan Gubernur.

Bentuk peraturan kebijakan ini memang dapat juga disebut peraturan. Hal ini dapat mengundang penafsiran bahwa ketiganya memiliki kedudukan yang sama. ANALISIS TERHADAP TAP MPR NO. maka seharusnya penyebutan UUD 1945 tersebut di atas dilengkapi dengan ‘… dan Perubahan UUD’. 6. Yang menjadi masalah adalah apa yang dirumuskan dalam ayat (2)nya yaitu: “Peraturan atau Keputusan Mahkamah Agung. Padahal. sesuai prinsip ‘lex superiore derogat lex infiriore’. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). Menteri. di samping produk peraturan tingkat menteri itu dalam praktek banyak sekali ditetapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan sehari-hari dan memerlukan penertiban sebagaimana mestinya. penyebutan Perpu pada nomer urut keempat di bawah undang-undang dapat menimbulkan penafsiran seakan-akan kedudukan perpu itu berada di bawah UU. Perumusan mengenai bentuk dan tata urutan ketujuh peraturan perundang-undangan di atas dapat dikatakan kurang sempurna dan mengandung beberapa kelemahan. 2. Ketetapan MPR-RI. dokumen hukumnya sebaiknya dinamakan Per-ATUR-an. Sidang Tahun MPR Tahun 2000 telah menetapkan Ketetapan No. 4. Inilah yang pada mulanya menjadi dasar pembenar sehingga muncul Keputusan-Keputusan Presiden yang turut mengatur.MPR/2000 dan Implikasinya terhadap Perda Dalam rangka pembaruan sistem peraturan perundang-undangan kita di era reformasi dewasa ini. Seharusnya. Padahal. Pertama. Dalam Pasal 2 ditentukan bahwa tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia adalah: 1. tetapi dasarnya hanya bertumpu pada aspek ‘doelmatigheid’ dalam rangka prinsip ‘freis ermessen’ atau ‘beoordelingsvrijheid’. yang tidak selalu atau bahkan tidak mungkin ditentukan secara rinci dalam bentuk peraturan-peraturan yang kaku. dalam Pasal 3 ayat (7) diatur mengenai pengertian Peraturan Daerah yang di dalamnya tercakup pengertian Peraturan Daerah Propinsi. Ketiga. seperti dalam TAP No. 7. Peraturan Daerah Kabupaten. sudah seyogyanya suatu pemerintahan itu diberikan ruang gerak yang cukup untuk berkreatifitas dalam usahanya melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. yaitu sama-sama Peraturan Daerah yang dalam tata urutan tersebut ditentukan berada dalam tata urutan ketujuh. meskipun bukan dalam arti ‘regeling’ (public regulation). bukan keputusan. Akan tetapi. dan Peraturan Desa. Peraturan Menteri itu sangat penting untuk ditempatkan dalam tata urutan di atas Perda. Peraturan Pemerintah. Undang-Undang.III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan. memang ada pula bentuk-bentuk peraturan yang disebut dengan ‘beleidsregels’ (policy rules) atau peraturan kebijakan. yaitu ‘Undang-Undang dan Perpu’. Dalam Pasal 4 ayat (1) ditegaskan bahwa sesuai dengan tata urutan tersebut. hanya karena pertimbangan bahwa MPR cukup mengatur mengenai tata urutan peraturan sampai tingkat peraturan yang ditetapkan oleh Presiden. keduanya ditempat pada nomor tiga. di bawahnya masih disebut Peraturan Daerah yang tingkatannya juga di bawah peraturan yang ditetapkan oleh Presiden. momentum reformasi ini digunakan sebaikbaiknya untuk menata kembali peristilahan yang baik dan benar. karena naskah Perubahan UUD sekarang dibuat terpisah. Undang-Undang Dasar 1945.Di luar bentuk-bentuk peraturan yang bersifat mengatur itu. 5. Bank 8 . Padahal. Kedua. maka setiap aturan hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi. Prinsip kebebasan bertindak itu cukup diimplementasikan dalam bentuk Instruksi Presiden ataupun Keputusan-Keputusan yang tidak diperlakukan sebagai peraturan. maka bentuk Peraturan Menteri tidak disebut dalam tata urutan tersebut. Karena itu. Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Presiden. Berdasarkan prinsip ini. 3. saya mengusulkan kiranya prinsip ‘freis ermessen’ tersebut di atas tidak digunakan sepanjang menyangkut pembuatan peraturan dalam arti teknis. seharusnya. Peraturan Daerah. Keempat. yaitu prinsip kebebasan bertindak yang diberikan kepada pemerintah untuk mencapai tujuan pemerintahan yang dibenarkan menurut hukum. Selanjutnya. agar kita konsisten dan konsekwen mengikuti sistematika pemisahan kekuasaan legislatif dan eksekutif secara tegas.XX/MPRS/1966. penggunaan nomenklatur Keputusan Presiden yang selama ini dipakai mengandung kelemahan karena tidak membedakan secara tegas antara keputusan yang mengatur (regeling) dengan keputusan yang bersifat administratif belaka (beschikking).III. kedudukan hukum keduanya adalah sederajat. yaitu untuk keputusan yang mengandung aturan dan pengaturan.

demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. sehingga pembuatan dan penetapan Perda di daerah-daerah tidak perlu mengacu kepada pedoman yang ditetapkan oleh Menteri. badan. Akan tetapi. atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh Pemerintah.IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang dalam lampirannya merekomendasikan 7 kebijakan pokok. Lembaga dan Komisi? Kedua. apakah Peraturan Mahkamah Agung dan Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Pemerintah. baik di propinsi maupun kabupaten dan kota. Peraturan Daerah Kabupaten. apakah Keputusan Mahkamah Agung dalam menyelesaikan sesuatu perkara kasasi tidak boleh bertentangan semua ketentuan peraturan yang tingkatannya di bawah Undang-Undang? Padahal. Ketentuan ayat (2) ini menentukan peraturan dan keputusan yang tidak boleh bertentangan itu adalah: 1.III/MPR/2000 itu sendiri. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang temuat dalam tata urutan peraturan perundang-undangan ini”. Perda dan pengujian peraturan perundang-undangan oleh MA serta pengaturan ruang lingkup keputusan Presiden diatur lebih lanjut dengan UU”. melainkan koordinatif dan horizontal.Indonesia. dan bahkan dengan Badan. dapat diperbaiki dengan cara segera menetapkan UU yang diperintahkan untuk ditetapkan dalam Pasal 6 Ketetapan MPR tersebut. hubungan antara daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota berdasarkan UU tersebut tidak lagi bersifat hirarkis. dan bahkan Peraturan Desa? Ketiga. Peraturan atau Keputusan Mahkamah Agung. putusan hakim itu dapat saja bertentangan dengan Undang-Undang. Tetapi di pihak lain. daerah-daerah sudah sangat mendesak perlunya menetapkan berbagai Peraturan Daerah. lembaga. PP. apakah peraturan atau keputusan yang ditetapkan oleh lembaga tinggi negara seperti BPK dan MA dianggap sederajat dengan Menteri. meskipun sebagian dari kelemahan tersebut di atas. Yang perlu diperhatikan di antaranya ialah rekomendasi nomor 2d yang menegaskan: “Apabila keseluruhan peraturan pemerintah belum diterbitkan sampai dengan akhir Desember 2000. Harus segera diadakan kesepakatan untuk menghindari penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda antara satu daerah 9 . Beberapa persoalan yang timbul dengan adanya ketentuan demikian adalah: Pertama. dalam melaksanakan inisiatif dari bawah itu. tidak boleh bertentangan dengan Keputusan Presiden. Peraturan atau Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan. peraturan daerah yang terkait harus disesuaikan dengan peraturan pemerintah dimaksud. daerah yang mempunyai kesanggupan (penuh) untuk menyelenggarakan otonomi diberikan kesempatan untuk menerbitkan Peraturan Daerah yang mengatur pelaksanaannya. 2. Kesulitan-kesulitan teknis hukum tersebut dapat ditambah pula dengan pertanyaan kelima. lebih gawat lagi. dan bahkan tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Daerah Propinsi. Dalam Pasal 2 Ketetapan No. Pertama. Pemerintah Daerah dan DPRD di tiap-tiap propinsi bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota beserta DPRD Kabupaten/Kota di propinsi masing-masing dapat mengadakan kesepakatan bersama mengenai mekanisme penetapan Peraturan Daerah masing-masing dengan mengacu kepada rencana induk pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana direkomendasikan dalam Rekomendasi TAP No. yang menjadi masalah adalah bahwa dalam rangka melaksanakan agenda otonomi daerah yang tidak mungkin ditunda-tunda lagi pelaksanaannya. Pertanyaan ini timbul karena menurut ketentuan UU No.IV/MPR/2000 butir 3. dan Peraturan Desa. sesuai dengan asas kebebasan hakim. Pemerintah Daerah dan DPRD di daerah-daerah sungguh-sungguh memperhatikan jiwa dari Ketetapan MPR No. 3. Peraturan atau Keputusan (Gubernur?) Bank Indonesia. semangatnya mengatur agar Peraturan Daerah tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah yang ditetapkan oleh pusat. Jika peraturan pemerintah telah diterbitkan. sehingga Pemerintah Daerah ataupun DPRD tidak perlu menunggu arahan dan aturan dari atas.III/MPR/2000 tersebut. dengan pengertian sebagaimana diuraikan dalam Pasal 3 ayat (7) mencakup pengertian Perda Propinsi. Dalam Pasal 6 tersebut dikatakan: “Tata cara pembuatan UU. apakah kedudukan Perda lebih tinggi daripada Peraturan atau Keputusan Menteri. yaitu apakah Peraturan Daerah Propinsi sederjat atau lebih tinggi daripada Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Tidak semua pertanyaan tersebut dapat dijawab tanpa memperbaiki lebih dulu perumusan TAP MPR No.22/1999. 5. Perda Kabupaten/Kota. kedudukan Peraturan Daerah disebut pada nomor urut ketujuh. 4. sebagai jalan keluarnya – terutama untuk membantu pelaksanaan tugas pemerintahan dan tugas parlemen di daerah-daerah – dapat diusulkan hal-hal berikut. Peraturan atau Keputusan Menteri. Bank Indonesia. Keempat. Kedua. Karena itu.” Semangat yang terkandung dalam rumusan rekomendasi ini di satu segi mendorong tumbuhnya kemandirian dan keprakarsaan dari bawah. Lembaga ataupun Komisi yang setingkat dengan (Menteri?). Peraturan atau Keputusan Badan.

berbagai peraturan yang akan ditetapkan itu nantinya dapat sungguhsungguh dijadikan acuan. baik materinya maupun wilayah berlakunya ataupun waktu berlakunya. maka perbedaan dalam teknis pelaksanaannya. Akan tetapi.kabupaten/kota dan daerah kabupaten/kota lainnya di propinsi yang bersangkutan. Langkah-langkah ini penting untuk menghindari jangan sampai perbedaan antara satu sama lain terlalu tajam sehingga dapat mengganggu upaya mencapai tujuan menyukseskan pelaksanaan agenda otonomi daerah secara keseluruhan. dalam konsideran Peraturan Daerah selalu dimuat adanya (a) elemen pertimbangan (unsur ‘Menimbang’) yang bersifat substantif yang menjadi latar belakang gagasan pembentukan Perda tersebut. tetapi kita siap untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terjadinya kekisruhan dalam pengaturan teknis hukumnya di lapangan. (b) elemen pengingatan (unsur ‘Mengingat’) yang dijadikan landasan hukum pembentukan Perda tersebut. Dalam hal demikian. karena kekurangcermatan dalam perumusannya seperti yang telah terjadi dengan perumusan Ketetapan MPR No. jika materi yang diatur bukan berlawanan tetapi hanya tidak sesuai dengan apa yang diatur dalam peraturan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah dapat ditetapkan mengacu kepada berbagai pedoman yang selama ini berlaku. yaitu menyangkut tujuannya (doelmatigheid). Ketiga. sehingga dapat dikelola sebagaimana mestinya. tidak malah menimbulkan masalah-masalah baru. Karena harus dimaklumi juga bahwa persoalan yang harus diselesaikan demikian banyak dan rumit. Peraturan Daerah mutlak tidak boleh mengatur norma yang berlawanan atau bertentangan dengan norma yang diatur dalam peraturan yang lebih tinggi. III/MPR/2000 tersebut di atas. Sebelum dibentuknya UU tentang Tata Cara Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan yang diamanatkan berdasarkan ketentuan Pasal 6 TAP No.III/MPR/2000 tersebut di atas. maka norma aturan yang akan dimuat dalam diktum Perda dapat berbeda atau tidak sesuai dengan materi yang diatur dalam Keputusan Menteri atau Peraturan Menteri tersebut.. Akan tetapi. prinsip tersebut diimbangi oleh prinsip lain. dengan penyesuaian dan inovasi sendiri berdasarkan kebutuhan di lapangan. terlepas dari harapan-harapan positif tersebut di atas. sehingga tetap saja ada kemungkinan terjadinya kekurangan disana-sini. yaitu ‘lex specialis derogat lex generalis’ bahwa norma hukum yang khusus. dapat saja mengatur yang berbeda dari norma hukum yang bersifat umum tanpa mengubah status keberlakuan norma hukum yang bersifat umum tersebut. inisiatif dari bawah tidak perlu terganggu. semua pihak hendaklah siap mengantisipasi berbagai kemungkinan buruknya teknik perumusan peraturan-peraturan di tingkat pusat tersebut. Mudah-mudahan para pejabat kita di tingkat pusat dapat bekerja keras untuk segera menetapkan berbagai peraturan pusat yang sangat diperlukan sebagai pedoman bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia. pluralisme hukum yang dapat timbul sebagai akibat penerapan kebijakan otonomi daerah juga dapat diikuti tahap demi tahap. maka penafsirannya disarankan dikaitkan dengan elemen teleologis dari materi peraturan itu. dalam pelaksanaannya. Yang penting adalah semangat kita semua harus ditujukan ke arah perbaikan yang sungguh-sungguh dalam rangka 10 . (c) dalam hal ditemukan adanya perbedaan pengaturan antara satu peraturan dengan peraturan yang lain. maka perlu dikembangkan pemahaman bahwa: (a) prinsip ‘lex superiore derogat lex infiriore’ mengharuskan norma hukum yang di bawah tidak bertentangan dengan norma hukum yang di atas. Dengan demikian. Bahkan Keputusan Direktur Jenderal yang status hukumnya juga tidak jelas juga dapat dijadikan rujukan peringatan yang tidak mengikat dalam Perda yang bersangkutan. (b) dalam hukum dibedakan antara istilah pertentangan norma (contra legem) dengan ketidaksesuaian norma (praepria). maka hal itu masih dapat diterima secara hukum. PENUTUP Demikianlah beberapa masukan pemikiran yang kiranya dapat dipertimbangkan oleh para anggota DPRD dan pejabat Pemerintah Daerah kita di seluruh Indonesia dalam upaya membuat dan menetapkan Peraturan daerah yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan otonomi di daerahnya masingmasing. maka keduanya masih dapat diterima sebagai dokumen hukum menurut pengertian ketidaksesuaian seperti pada butir (b) tersebut di atas. dan (c) elemen perhatian (unsur ‘Memperhatikan’) yang dijadikan rujukan operasional. Jika tujuannya sama. Namun. Mudah-mudahan pula. Di pihak lain. bukan Konsideran Mengingat. untuk menjamin sikap kehati-hatian tidak menghalangi inisiatif yang tumbuh dari bawah. sepanjang tidak mengganggu proses pencapaian tujuan langsungnya. Misalnya. Jika para perancang ragu mengenai status hukum Peraturan Menteri atau Keputusan Menteri yang mengatur hal yang bersangkutan. maka Peraturan Menteri ataupun Keputusan Menteri yang bersangkutan dapat dimuat dalam Konsideran Memperhatikan.

pelaksanaan agenda otonomi daerah yang justru sangat menentukan nasib bangsa dan negara kita ke depan. Sukses tidaknya pelaksanaan agenda otonomi daerah ini menyangkut taruhan yang sangat besar. baik di bidang politik dan ekonomi yang menyangkut nasib 200-an juta rakyat Indonesia yang sudah terlalu menderita akibat krisis yang tidak berkepanjangan. 11 . yaitu keutuhan bangsa dan negara. serta kembali pulihnya kehidupan nasional bangsa kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->