BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sistem Kesehatan Nasional tahun 2004 menggariskan bahwa untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan nasional telah

berkembang, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama melalui puskesmas. Penyelenggaraan UKP akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta dengan menerapkan konsep dokter keluarga, kecuali di daerah yang terpencil. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kedokteran yang bermutu dan manusiawi sudah tidak dapat ditunda lagi. Hal ini mengingat bahwa pelayanan kedokteran meskipun berkembang pesat, tetapi semakin terkotak-kotak dengan munculnya berbagai spesialisasi dan subspesialisasi. Lebih parah lagi, semakin berkembangnya komersialisasi pelayanan kesehatan dan kedokteran, menurunnya etos profesionalisme serta banyak ditemukan berbagai pelanggaran norma dan etika kedokteran.11 Pelayanan dokter keluarga merupakan salah satu upaya

penyelenggaraan kesehatan perorangan di tingkat primer untuk memenuhi ketersediaan, ketercapaian, keterjangkauan, kesinambungan dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Diharapkan akan mampu mengatasi permasalahan kesehatan yang hingga sekarang belum terselesaikan karena belum jelasnya bentuk subsistem pelayanan kesehatan dan terkait dengan subsistem pembiayaan kesehatan.10

1

Penyakit diare merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat, terutama anak-anak yang erat sekali hubungannya dengan keadaan kesehatan lingkungan dan kesehatan perorangan. Masyarakat menganggap bahwa penyakit diare (gastroenteritis) adalah penyakit ringan, bahkan bagi bayi dianggap dan dipercaya sebagai pertanda terjadinya perubahan perilaku. Anggapan ini bermula dari seringnya anak-anak di bawah umur menderita penyakit diare yang disebabkan oleh keadaan kesehatan lingkungan dan kesehatan perorangan yang buruk. Karena dianggap penyakit yang ringan oleh sebagian besar masyarakat maka penderita diare apabila dibawa ke rumah sakit atau puskesmas sudah dalam keadaan kekurangan cairan atau dehidrasi, bahkan banyak yang meninggal sebelum mendapat pertolongan. Tingginya prevalensi diare (103,6%) sebagai penyebab kematian bayi dan balita berakibat pada tingginya angka kematian bayi dan balita di Indonesia. Adanya faktor lingkungan dan perilaku sebagai penyebab utama tingginya angka kesakitan diare yang juga menyerang orang dewasa ini menyebabkan penyakit ini tidak mudah untuk ditanggulangi. Untuk itu perlu adanya program pencegahan dan penanggulangan penyakit diare di puskesmas. Di dunia sekurangnya 200 juta kasus dan 650.000 kematian terjadi akibat disentri basiler pada anak-anak di bawah umur 5 tahun. Kebanyakan kuman penyebab disentri basiler ditemukan di negara berkembang dengan kesehatan lingkungan yang masih kurang. Disentri amuba tersebar hampir ke seluruh dunia terutama di negara yang sedang berkembang yang berada di

2

daerah tropis. Hal ini dikarenakan faktor kepadatan penduduk, hygiene individu, sanitasi lingkungan dan kondisi sosial ekonomi serta kultural yang menunjang.2 Akibat penting dari diare disentri adalah penurunan berat badan, anoreksia dan kerusakan usus karena bakteri invasif. Beberapa komplikasi lain juga dapat terjadi. Penyebab utama disentri akut adalah Shigella, penyebab lain adalah Campylobacter jejuni, E coli enteroinvasive, Salmonella, dan Entamoeba histolytica. Aeromonas juga diketahui sebagai bakteri penyebab diare disentri. Dalam satu studi pasien diare dengan Aeromonas positif, gejala klinis yang muncul 30% diare berdarah, 37% muntah-muntah, dan 31% demam.1

B. Tujuan 1. Tujuan Umum. Memahami permasalahan kesehatan secara komprehensif, holistik, dan berkesinambungan dengan pendekatan kedokteran keluarga. 2. Tujuan Khusus. Meningkatkan kualitas kesehatan seluruh anggota keluarga. Membantu seluruh anggota keluarga untuk mengenali masalah yang ada di dalam keluarga tersebut yang akan mempengaruhi derajat kesehatan anggota keluarga.

3

Membantu keluarga untuk memahami fungsi-fungsi anggota keluarga (biologis, psikologis, sosial, ekonomi dan pemenuhan kebutuhan, serta penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi). Membantu keluarga untuk dapat memecahkan permasalahan kesehatannya secara mandiri. Membentuk perilaku hidup sehat di dalam keluarga.

C. Manfaat 1. Manfaat untuk keluarga. a. Keluarga menjadi lebih memahami mengenai masalah kesehatan yang ada dalam lingkungan keluarga. b. Keluarga mampu untuk mengatasi permasalahan kesehatan keluarga secara mandiri. 2. Manfaat untuk dokter muda. Dokter muda menjadi lebih memahami prinsip pendekatan kedokteran keluarga.

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kedokteran Keluarga Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak. Tidak hanya oleh orang-perorang atau keluarga, tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh anggota masyarakat. Untuk mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak upaya yang harus dilaksanakan. Salah satu diantaranya yang dianggap mempunyai peranan cukup penting adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Kriteria pelayanan kesehatan yang harus terpenuhi untuk mewujudkan keadaan sehat diantaranya adalah tersedianya pelayanan kesehatan (available), tercapai (accessible), terjangkau (affordable), berkesinambungan (continue), menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), dan bermutu (quality). Pengertian pelayanan kesehatan disini mencakup bidang yang sangat luas. Secara umum dapat diartikan sebagai setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.

5

Sasaran dari kedua bentuk pelayanan kesehatan ini juga berbeda. ilmu kebidanan dan kendungan. Secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam. pelayanan kesehatan personal (personal health services) atau sering disebut sebagai pelayanan kedokteran (medical services). ilmu bedah serta ilmu kedokteran jiwa yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan yang terpadu. diperkaya dengan ilmu perilaku. dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin. tidak juga oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja. Kedua. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu lainnya terutama ilmu penyakit dalam. Sasaran utama pelayanan kedokteran adalah perseorangan dan keluarga. 2. dan 6 . pelayanan kesehatan lingkungan (environmental health services) atau sering disebut pula dengan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Pertama. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai satu unit.Dari pengertian tersebut jelas bahwa bentuk dan jenis pelayanan kesehatan banyak macamnya. Dua diantaranya yang dipandang cukup penting adalah : 1. ilmu kesehatan anak. biologi dan ilmu-ilmu klinik. Sedangkan sasaran utama pelayanan kesehatan masyarakat adalah kelompok dan masyarakat. Pelayanan kedokteran yang sasaran utamanya adalah keluarga disebut dengan nama pelayanan dokter keluarga (family practice). Batasan pelayanan kedokteran keluarga ada banyak macamnya.

Batasan pengertian dokter keluarga menurut Ikatan Dokter Indonesia adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga. 7 . Cabang ilmu kedokteran yang diterapkan pada pelayanan dokter keluarga disebut dengan nama ilmu kedokteran keluarga (family medicine) yaitu suatu ilmu yang mencakup seluruh spektrum ilmu kedokteran yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan individu. penyelesaian masalah. family physician). keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan ekonomi dan sosial budaya. Ilmu kedokteran keluarga (family medicine).karenanya mampu mempersiapkan setiap dokter agar mempunyai peranan unik dalam menyelenggarakan penatalaksanaan pasien. Ilmu kedokteran keluarga lebih mengacu pada aplikasi ilmu kedokteran (medical sciences). tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya. sedangkan ilmu kesehatan keluarga lebih mengacu pada aplikasi ilmu kesehatan masyarakat (public health sciences). pelayanan konseling serta dapat bertindak sebagai dokter pribadi yang menkoordinasikan seluruh pelayanan kesehatan. yaitu keluarga (family). ia tidak hanya sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif. Pelaksana pelayanan dokter keluarga adalah dokter keluarga (Family doctor. haruslah dibedakan dengan ilmu kesehatan keluarga (family health) sekalipun sasarannya adalah sama.

Adapun tujuan pelayanan dokter keluarga mencakup bidang yang sangat luas. 2. tetapi pada pasien sebagai manusia seutuhnya. b. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efektif. Dengan demikian penyelesaian suatu masalah kesehatan diharapkan dapat lebih memuaskan. Tujuan Khusus Tujuan khusus pelayanan dokter keluarga diantaranya : a. perhatian tidak hanya ditujukan pada keluhan yang disampaikan saja. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih efisien. yang besar peranannya dalam mencegah penghamburan dana kesehatan yang biasanya bersifat terbatas. dan bahkan sebagai bagian dari anggota keluarga dengan lingkungannya masing-masing. Hal ini dikarenakan dalam menangani masalah kesehatan. 8 . terpadu dan berkesinambungan. Tujuan Umum Tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga. Salah satu keuntungan dari pelayanan yang seperti itu adalah dapat dihindarkannya tindakan atau pemeriksaaan kedokteran yang berulang-ulang. Secara umum dibedakan menjadi: 1. Pelayanan dokter keluarga lebih mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit serta diselenggarakan sevara menyeluruh.

7. Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang membertkan biaya kesehatan. terutama ditengah kompleksitas pelayanan kesehatan saat ini. 4. 8. baik keterangan kesehatan maupun keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi. Akan dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan kesehatan.Manfaat dari pelayanan dokter keluarga apabila diselenggarakan dengan baik diantaranya adalah : 1. 5. 6. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis. bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan. baik dan terarah. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan. pengaturannya akan lebih 3. Akan dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal sehingga dapat meringanka biaya kesehatan. maka segala keterangan tentang keluarga tersebut. 2. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia seutuhnya. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai masalah lainnya. Rumah Sehat 9 . termasuk faktor sosial dan psikologis.

4. 10 . Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni. Penerangan yang cukup. kimia. rembesan air kotor maupun udara kotor. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh. Bahan Bangunan. 5. namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah sehat adalah kondisi fisik. 2. Sirkulasi udara yang baik. Air bersih terpenuhi. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian. Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut : 1. antara lain : 1. biologi di dalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. 3.

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepask an zat-zat yang dapat membaha yakan kesehatan . Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkemba 11 . b.

12 . Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu. b. Pencahayaan .ngnya mikroorg anisme patogen. 3. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap. Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan. ruang makan. a. Di ruang tidur. Dinding. ruang mandi dan ruang bermain anak. Komponen dan penataan ruang rumah. 2. 4. ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara sedangkan dinding di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan. ruang tidur. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan. ruang dapur. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus dilengkapi dengan penangkal petir. ruang keluarga. Kualitas Udara.

7. Tidak ada tikus bersarang di rumah. Ventilasi.Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C dengan kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%. 5. 6. Kualitas air harus memenuh i persyarat an 13 . Air a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 liter/hari/ orang. b. Luas penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai. Binatang penular penyakit.

9.kesehatan air bersih dan minum sesuai dengan peraturan perundan gundangan yang berlaku. tidak mencemari sumber air. tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman air dan higienis. Limbah cair berasal dari rumah. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau. 8. tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah. Kepadatan hunian ruang tidur. 14 . Limbah.

yaitu dis (gangguan) dan enteron (usus). Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan. Pengertian. Sakit di perut yang sering 15 . yang berarti radang usus yang menimbulkan luka atau ulkus di kolon ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri. Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur. rumah harus mempunyai fungsi sebagai tempat yang dapat mencegah terjadinya penyakit. kecuali anak dibawah umur 5 tahun. yakni sebagai berikut : a. dan teratur”. mencegah terjadinya kecelakaan. Disentri berasal dari bahasa Yunani. serasi.14 Disentri 1. aman . aman dan nyaman bagi penghuninya.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat. Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. penurunan ketegangan jiwa dan sosial.

.3 Di negara berkembang. diare infeksi menyebabkan kematian sekitar tiga juta penduduk setiap tahun. Bacillus cereus. Tinja mengand ung darah dan lendir. Staphylococcus aureus. Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. b.disertai dengan tenesmus. Diare. c. Epidemiologi . Di Afrika anak anak terserang 16 . Campylobacter jejuni. Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Di Inggris satu dari lima orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan satu dari enam orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara barat ini oleh karena foodborne infection dan waterborne infection yang disebabkan bakteri Salmonella sp. 2.

50 juta adalah penderita amubiasis aktif dan 50.000 sampai 100. Angka kejadian amubiasis tinggi di negara Afrika. Salmonella ditemukan sebagai penyebab utama diare bakterial pada anak usia di bawah lima tahun sedangkan Shigella ditemukan lebih sering pada anak usia 5 sampai 15 tahun.000 orang meninggal pertahun.2 3. Amerika Tengah dan Selatan. Sedangkan Salmonella ditemukan dalam 100 (38. coli 19 (7.3%) hasil kultur. kelompok risiko utama adalah imigran dari daerah endemik dan orang yang tinggal di penampungan. Patofisiologi. Di seluruh dunia 500 juta orang adalah sebagai karier Entamoeba histolytica atau Entamoeba dispar. Distribusi puncak usia penderita amubiasis ada dua yaitu pada usia 2 sampai 3 tahun dengan tingkat fatalitas kasus 20% dan usia lebih dari 40 tahun dengan tingkat fatalitas kasus sebesar 70%. Indocina.diare infeksi tujuh kali setiap tahunnya di banding di negara berkembang lainnya yang mengalami serangan diare tiga kali setiap tahun. Di Amerika Serikat kasus ini lebih jarang terjadi. 17 .3%). Sebuah penelitian mengenai penyebab diare disentri pada anak usia 0 – 15 tahun di Salvador.2 Amubiasis merupakan protozoa kedua setelah malaria yang dapat menyebabkan kematian. Brazil ditemukan pada hasil kutur tinja Shigella adalah penyebab tersering dan ditemukan pada 141 (54.4%) dan Enteropathogenic E.

Keasama n lambung (pH <4). Hanya patogen tahan asam (Shigella) yang bisa bertahan dan menyeba bkan penyakit dalam jumlah kecil. patogen lain harus tertelan dalam 18 .Mayoritas patogen tidak dapat mencapai usus dengan mudah. Karena tubuh mempunyai berbagai macam pertahanan yaitu : a.

jumlah besar untuk menyeba bkan penyakit. Motilitas aktif usus halus juga membant u memberi perlindun gan dari patogen. sehingga pemberia n antimotili tas dapat berakibat stasisnya usus 19 . b.

bakteri patogen dan menyeba bkan overgrow th patogen serta menamba h parah diare. Bakteri flora normal dalam usus besar berkomp etisi dengan patogen dalam peran 20 . c.

Tetapi bila flora normal berubah atau dikurangi dengan pengguna an antibiotik .mencega h infeksi. 21 . pasien dapat cenderun g menderit a super infeksi seperti dengan Clostridi um difficile.

Proses diare secara keseluruhan mungkin juga merupakan kombinasi lebih dari satu proses dasar tersebut. guanosine monophosphate. Proses ini dimediasi oleh fungsi Prostaglandin dan siklik Adenosine monophosphate. dan ion kalsium. Merupakan diare akut yang disebabkan oleh sekresi enterotoksin yang diproduksi oleh proses infeksi. Efek Enterotoksin Bakteri pada Mukosa Usus Halus 22 . metabolik. Proses patofisiologi itu adalah sebagai berikut : a. yang merupakan sel absorbsi utama. Gambar 1. Enterotoksin dapat menghambat penyerapan cairan dan elektrolit dalam sel vilus. Enterotoksin akan merangsang sekresi cairan dan elektrolit dari mukosa crypt sel yang merupakan sel sekretori utama dari usus kecil.Ada empat dasar proses patofisiologi yang menyebabkan diare pada anak. atau toksin eksogen. Sekretori k.

paling sering disebabkan oleh infeksi virus.Bakteri patogen menghasilkan enterotoksin yang berikatan dengan permukaan permukan mukosa sel usus halus. Akibatnya adalah proses fungsional yang sama dengan yang terjadi pada diare 23 . Bagian dari enterotoksin kemudian masuk ke dalam sel mukosa usus halus dan merangsang sistem adenilat siklase. Masuknya kembali glukosa ke dalam sel membawa serta juga cairan dan elektrolit. konsentrasi glukosa ini yang digunakan dalam cairan rehidrasi. Mekanisme blok ini belum dapat dipahami tetapi tampaknya blok reabsorpsi tidak menghalangi masuknya glukosa ke dalam sel pada konsentrasi 2% hingga 3%. Sitotoksi k.4 b. Proses sitotoksik dikarakteristikkan dengan adanya kehancuran mukosa sel-sel vili usus halus. Kemudian oleh enterotoksin juga terjadi blok reabsorpsi cairan dan elektrolit pada sel vilus. Oleh karena hancurnya sel vili usus maka yang tersisa adalah sel crypt yaitu sel-sel sekretorik utama mukosa usus. Oleh karena itu. vilus menjadi pendek dan permukaan mukosa menjadi seperti yang terlihat pada penyakit celiac. Setelah lisisnya sel. Akibat dari proses ini adalah untuk menyempitnya area permukaan sel usus halus sehingga mengurangi kapasitas usus halus untuk menyerap cairan dan elektrolit. Peningkatan Adenosin trifosfat yang dihasilkan yang merangsang mekanisme transpor aktif dalam membran sel dan meningkatkan sekresi aktif cairan dan elektrolit dari sel crypt keluar ke dalam lumen usus.

peningkatan frekuensi defekasi. tinja lendir 24 . Proses osmotik paling sering terlihat pada sindrom malabsorpsi meskipun proses fungsional adalah terjadinya proses sekretori dan sitotoksik. Proses inflamasi disebabkan oleh adanya invasi bakteri patogen.sekretorik yaitu peningkatan sekresi usus ditambah dengan penurunan fungsi absorbsi mukosa usus halus. sakit perut. Diare terjadi akibat ketidak mampuan usus untuk menyerap nutrisi dan elektrolit. Yang paling sering terjadi adalah intoleransi laktosa karena menurunnya kepekaan enzim laktase pada sel mukosa oleh proses patologis gastrointestinal. Penyerapan cairan yang merupakan fungsi utama usus besar akhirnya menurun sehingga terjadi diare. Invasif. terjadi aliran cairan ke dalam lumen yang mengakibatkan terjadinya diare cair dan dalam banyak kasus pada proses diare osmotik. dan pH yang asam. Karena invasi oleh bakteri patogen yang menyebabkan edema. c. Osmotik. terjadi perdarahan mukosa dan infiltrasi leukosit. Pada disentri terjadi proses inflamasi submukosa pada ileum terminal dan usus besar. Iritasi dan peradangan menyebabkan peningkatan motilitas usus. Leukosit dan darah kemudian dikeluarkan ke lumen usus melalui tinja. d. Jika bahan yang tidak bisa dicerna memiliki konsentrasi yang cukup tinggi untuk mengaktifkan proses osmolalitas. flora usus besar dibanjiri substrat karbohidrat yang meningkat dan akan dimetabolisme oleh bakteri usus besar sehingga menghasilkan gas.

Invasi Bakteri Shigella Patogen invasif mengaktivasi sitoskeleton aktin yang menyebabkan kerusakan membran.dan darah serta seringkali dengan gejala klinis demam. 25 . macropinocytosis.4 Gambar 2. Selanjutnya terjadi edema dan kerusakan mukosa dan infiltrasi leukosit (Sel Polimorfonuklear). nyeri perut dan tenesmus. dan invasi.

(B) Ulkus kolon diameter 1 – 2 mm. (C) Ulkus kolon (pewarnaan hematoksilin eosin. Etiologi Pada diare disentri patofisiologinya dapat merupakan gabungan melalui toksin (dan invasi bakteri yang menyebabkan peradangan mukosa. perbesaran 40X) 4.Gambar 3. Berikut adalah etiologi dari jenis diare berdasarkan patofisiologinya : Tabel 1. Jenis Diare dan Penyebabnya Sekretorik Escherichia coli Vibrio cholera Clostridium difficile Clostridium perfringens Aeromonas hydrophila Staphylococcus aureus Vibrio parahaemolyticus Sitotoksik Rotavirus Norwalk agent Cryptosporidium Escherichia coli Osmotik Lactose Sorbitol Disentri Shigella Salmonella Campylobacter fetus Aeromonas Clostridium difficile Yersinia enterocolitica Entamoeba histolytica 26 . (A) Gambaran Kolonoskopi dari amubiasis intestinal. Inflamasi Usus dan Invasi Trofozoit Entamoeba histolytica (pewarnaan hematoksilin eosin. Perbesaran 20x) Gambar 4.

Shigella. dysentriae paling banyak ditemukan di negara berkembang seperti Indonesia. dysentriae paling sedikit ditemukan di negara maju. Rendahnya kualitas sanitasi dan air yang buruk. penyebab diare disentri yang paling sering pada anak usia 6 bulan sampai 10 tahun di Amerika Serikat dan negara berkembang. Shigella menginvasi dan berproliferasi di dalam epitel kolon. Shigella boydii dan Shigella sonnei. Shigella dysentriae. dan S. S. Penularan terjadi dalam kondisi banyak orang berkumpul dalam satu tempat seperti di penitipan anak. flexneri.Boydii. sonnei paling sering ditemukan dan S. Kemudian menghasilkan suatu toksin dengan efek sekretori dan sitotoksik dan menyebabkan ulkus sehingga tinja mengandung lendir dan darah. secara mikroskopis ditemukan leukosit dan sel-sel darah merah.Bacillus cereus Shigella Salmonella Yersinia enterocolitica Giardia lamblia a. Shigella Ada empat spesies Shigella. 27 . yaitu Shigella flexneri. memperbesar peningkatan risiko infeksi. Sebaliknya S. Pada umumnya S. Shigella tahan terhadap keasaman lambung dan membutuhkan inokulum yang kecil untuk menyebabkan diare sehingga mudah ditularkan ke orang lain. panti asuhan atau tempat penampungan.

atau produk unggas yang telah terkontaminasi. Salmonella terutama nontyphosa menyerang ileum distal dan menghasilkan toksik serta inflamasi usus. Salmonella sering menjadi penyebab diare nosokomial bersama C difficile dan lebih sering mengenai pasien imunodefisiensi dengan gejala klinis yang dapat membahayakan jiwa serta bersifat sering kambuh. Sehingga pengobatan primer adalah penggantian cairan. Tetapi beberapa penulis tetap menganjurkan pemberian antibiotik terutama pada pasien dengan imunodefisiensi seperti bayi. Karena infeksi Salmonella biasanya membutuhkan sebuah inokulum yang relatif besar. susu. Pemberian antimikroba tidak efektif untuk tatalaksana Salmonella bahkan dapat memperlambat pengeluaran bakteri dari usus. anak penderita limfoma. Salmonella dapat bertahan dalam pengeringan dan di Amerika Serikat sering ditularkan melalui makanan jadi dalam bentuk kering atau setelah diproses.b. Salmonella juga dapat ditularkan melalui telur yang belum pecah dan dapat menyebar dari wilayah geografis yang jauh melalui buah-buahan dan sayuran import. jarang disebabkan penularan dari orang ke orang. Masa inkubasi yaitu 24 sampai 36 jam kemudian muncul gejala klinis 28 . Salmonellosis akut biasanya akibat dari konsumsi daging. Salmonel la Salmonella merupakan penyebab diare bakterial tersering pada anak dibawah lima tahun. leukemia yang rentan terhadap terjadinya bakteremia.

EHEC noninvasif tetapi menghasilkan toksin shiga. mual dan muntah timbul pada 2/3 pasien. 29 . Enterohe moragic E. Pemeriksaan abdomen didapati distensi abdomen dan nyeri tekan pada kuadran kanan bawah. Awal dari penyakit dengan gejala diare sedang hingga berat (hingga 10-12 kali perhari). Coli 0157 dipandang sebagai penyebab diare berdarah akut atau HUS. Coli (Subtipe 0157) EHEC telah dikenal sejak terjadi wabah kolitis hemoragik. Wabah ini terjadi akibat makanan yang terkontaminasi. muntah dan nyeri perut. Diare awal tidak berdarah tetapi berkembang menjadi berdarah.diare dua sampai tiga hari bisa disertai darah di tinja dengan demam. hemolisis mikroangiopatik. Kebanyakan kasus terjadi 7-10 hari setelah asupan makanan atau air terkontaminasi. yang menyebabkan kerusakan endotel. EHEC dapat merupakan penyebab utama diare infeksius. Nyeri abdomen berat dan kejang biasa terjadi. Hingga 1/3 pasien memerlukan perawatan di rumah sakit.2 c. dan kerusakan ginjal. Centers for Disease Control (CDC) telah meneliti bahwa E. Subtipe 0157 : H7 dapat dihubungkan dengan perkembangan Hemolytic Uremic Syndrom (HUS). Demam terjadi pada 1/3 pasien.

C. dan nyeri abdomen dan 30 . Diare dan demam timbul pada 90% pasien. d. Trombosit trombositopenik purpura dapat terjadi tetapi lebih jarang dari pada HUS. Patogenesis dari penyakit toksin dan invasi pada mukosa. HUS terjadi pada 5-10% pasien dan di diagnosa 6 hari setelah terkena diare. Faktor resiko HUS. coli. Campylo bacter Spesies Campylobacter ditemukan pada manusia. dan insufiensi renal (BUN >20 mg/dL) adalah diagnosa HUS. Serotipe biasanya dilakukan pada laboratorium khusus. Masa inkubasi selama 24 -72 jam setelah organisme masuk. Jejuni dan C. Fetus. harus dilakukan kultur feses E. 3-5% akan meninggal.Leukositosis sering terjadi.Penggunaan antibiotik juga meningkatkan resiko. trombositopenia (<150 x 109/L). Manifestasi klinis infeksi Campylobacter sangat bervariasi.Terapi dengan penggantian cairan dan mengatasi komplikasi ginjal dan vaskuler. sering ditemukan pada pasien imunokompromis. Hampir 60% pasien dengan HUS akan sembuh. dari asimtomatis sampai sindroma disentri. Urinalisa menunjukkan hematuria atau proteinuria atau timbulnya lekosit. Adanya tanda anemia hemolitik mikroangiopatik (hematokrit < 30%). 5% akan berkembang ke penyakit ginjal tahap akhir dan 30% akan mengalami gejala sisa proteinuria. Jika tersangka EHEC. usia (khususnya pada anak-anak dibawah usia 5 tahun) dan penggunaan anti diare.

dan sitotoksin. Dalam satu studi pasien diare dengan Aeromonas positif. Penyakit sembuh sendiri dalam 7 hari. histolytica yang dapat menimbulkan penyakit. gejala klinis yang muncul 30% diare berdarah. termasuk hemosilin. Entamoe ba histolytic a Dua spesies amuba yang paling sering menimbulkan penyakit pada manusia adalah E. Aeromonas menghasilkan beberapa toksin. penyakit hepatobiliar. e. anaerobik fakultatif. E. dispar yang sering ditemukan pada karier asimtomatik dan E. muntah dan malaise. mual. 37% muntah-muntah. histolytica merupakan protozoa usus. Apabila kondisi mengijinkan dapat berubah menjadi patogen dengan cara 31 . Gejala lain yang mungkin timbul adalah demam. Diagnosa ditegakkan dari biakan kotoran. dan 31% demam. f. sering hidup sebagai mikroorganisme komensal (apatogen) di usus besar manusia. Aeromon as Spesies Aeromonas adalah gram negatif. termasuk malignansi.feses berdarah hingga 50-70%. atau pasien imunokompromis. Masa berlangsungnya penyakit ini 7 hari. Antibiotik direkomendasikan pada pasien dengan diare panjang atau kondisi yang berhubungan dengan peningkatan resiko septikemia. enterotoksin.

Bentuk Kista dan Trofozoit Amuba 32 . Bentuk trofozoit ada 2 macam. Hal ini dikarenakan trofozoit patogen sering menelan eritrosit (haematophagous trophozoite). Bila pasien mengalami diare. Diameternya lebih besar dari trofozoit komensal (dapat sampai 50 mm) dan mengandung beberapa eritrosit di dalamnya.membentuk koloni di dinding usus dan menembus dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi. yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista. Trofozoit komensal dapat dijumpai di lumen usus tanpa menyebabkan gejala penyakit.3 Gambar 5. yaitu trofozoit komensal (berukuran < 10 mm) dan trofozoit patogen (berukuran > 10 mm). maka trofozoit akan keluar bersama tinja. Sementara trofozoit patogen yang dapat dijumpai di lumen dan dinding usus (intraintestinal) maupun luar usus (ekstraintestinal) dapat mengakibatkan gejala disentri. Siklus hidup amuba ada 2 bentuk.

Bentuk kista hanya dijumpai di lumen usus. tinja kurang encer tapi sering mengandung lendir dan darah. pada anak-anak dan orang tua. dan bahkan kematian. Hal ini dikarenakan terdapat hubungan perkembangan metabolisme cairan dan elektrolit sistem gastrointestinal yang 33 . maka jumlah tinja meningkat. kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi. Gejala Klinis Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul nyeri perut. demam. Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5 hari pada lebih dari setengah kasus dewasa.Bentuk trofozoit ini bertanggung jawab terhadap terjadinya gejala penyakit tetapi cepat mati apabila berada di luar tubuh manusia. karena infeksi meliputi ileum dan kolon. Diagnosis a. 5. Tiap gerakan usus disertai dengan “mengedan” dan tenesmus yang menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Namun. Sehari atau beberapa hari kemudian. Tinja yang encer tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam usus halus. Bentuk kista bertanggung jawab terhadap terjadinya penularan penyakit dan dapat hidup lama di luar tubuh manusia serta tahan terhadap asam lambung dan kadar klor standar di dalam sistem air minum. yaitu kista muda dan kista dewasa. dan tinja encer. Bentuk kista juga ada 2 macam. asidosis.

Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit nyeri tekan. kadang nyeri perut ringan yang bersifat kejang. Terdapat sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid. Laborator ium Pemeriksaan tinja dapat membantu menegakkan diagnosis.memiliki variasi usia. Leukosit di tinja menunjukkan 70% penyebab diare adalah bakteri dan 90% adalah diare disentri karena leukosit di 34 . b. Keadaan tersebut bergantung pada lokasi ulkusnya. Ditemukannya darah dan lendir di tinja merupakan tanda yang penting penyebab diare disentri. dengan tinja berbau busuk. Hal ini disebabkan karena amuba yang berada dalam lumen usus besar tidak mengadakan invasi ke dinding usus. 4-5 kali sehari. jarang nyeri di daerah epigastrium. Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Keadaan umum pasien biasanya baik. Penderita biasanya mengeluh perut kembung. tanpa atau sedikit demam ringan (subfebris). Pada bayi mukosa usus cenderung lebih permeabel terhadap air. Kadang juga tinja bercampur darah dan lendir. Sehingga pada bayi dampak dari peningkatan osmolalitas lumen karena proses diare menghasilkan kehilangan cairan dan elektrolit yang lebih besar daripada anak yang lebih tua atau orang dewasa dengan proses yang sama. Dapat timbul diare ringan. Disentri Amuba Carrier (Cyst Passer) tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali.

Adanya lebih dari 5 leukosit dalam satu lapangan pandang di mikroskop menunjukkan hasil positif. Tabel 2. Pemeriksaan Tinja dan Interpretasi Hasil 1) Pemeriksaan Leukosit di Tinja Dengan cara mendapatkan sejumlah kecil tinja segar. 2) Pemeriksaan Tinja Amubiasis Untuk pemeriksaan mikroskopik diperlukan tinja yang segar mengandung darah dan lendir dari Anal Swab atau Colok 35 . Lihat di bawah mikroskop dengan perbesaran rendah 10 x kemudian periksa lagi dengan perbesaran tinggi (40x). Kemudian usap tipis pada objek glass dan tambahkan setetes metilen biru kemudian tutup dengan coverslip. sebaiknya dengan lendir.tinja memiliki sensitivitas dan positive predictive value cukup tinggi untuk diare disentri.

dapat digunakan larutan lugol. Kista amubiasis berbentuk bulat dan berkilau seperti mutiara. akan tampak amoeba dengan eritrosit di dalamnya. 36 . Temuan adanya kista amuba belum cukup untuk mendiagnosis amuba.dubur. Bila jumlah kista sedikit. Kemudian tinja dihapuskan ke objek glass dan diberi larutan Nacl 0. Di dalamnya terdapat badan-badan kromatoid yang berbentuk batang dengan ujung tumpul. Temuan adanya trofozoit adalah sebagai diagnosis pasti amubiasis. Akan tetapi dengan larutan lugol ini badan-badan kromatoid tidak tampak. Dengan larutan seng sulfat kista akan terapung di permukaan sedangkan dengan larutan eterformalin kista akan mengendap. Dalam tinja pasien dapat ditemukan bentuk trofozoit yang masih bergerak aktif seperti keong dengan menggunakan pseudopodinya yang seperti kaca. dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan metode konsentrasi dengan larutan seng sulfat dan eterformalin. Untuk dapat melihat intinya. Kemudian dilihat di bawah mikroskop dengan perbesaran rendah 10 x kemudian periksa lagi dengan perbesaran tinggi (40x). Bentuk inti akan nampak jelas bila dibuat sediaan dengan larutan eosin. sedangkan inti tidak tampak.9% kemudian tutup dengan cover slip. Jika tinja berdarah.

Trofozoit dengan pengecatan trichrome. Gambar (E) dan (F) adalah kista amuba dalam pengecatan salin. Trofozoit amuba yang menelan eritrosit dengan pengecatan salin. Sedikit tekan kembali prolaps rektum menggunakan sarung tangan bedah atau kain basah.2 ° F) yang akan menyebabkan kesulitan. (G) Kista amuba dengan pengecatan Iodine. Hipokalemi. Atau. Komplikasi a. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian oralit atau makanan kaya kalium seperti pisang. Pemeriksaan mikroskopis kista dan trofozoit amuba (perbesaran 1000x).Gambar 6. c. Jika anak demam tinggi (≥ 39 ° C atau ≥ 102. siapkan cairan yang hangat 37 . Demam tinggi. 6. b. berikan parasetamol. Prolaps rektum. H. air kelapa dan sayuran berdaun hijau. I.

e. kuah sayur. d. maka berikan antikonvulsi dengan daizepam intravena atau diazepam rektal. Anak yang minum susu formula diberikan 38 . penderita harus segera diberikan cairan intravena dengan ringer laktat sebelum dilanjutkan terapi oral dengan memberikan minum lebih banyak dengan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti air tajin . kesadaran menurun atau tidak ada output urin. 7. Anak yang masih mimun ASI harus lebih sering diberi ASI. Bila terjadi dehidrasi berat. yaitu dengan oralit. Penatalaksanaan a. Bila terjadi dehidrasi (terutama pada anak). Jika berlangsung lama atau berulang. Bila pemeriksaan laboratorium tidak dapat dilakukan. penderita harus segera dibawa ke petugas atau sarana kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang cepat dan tepat. Berikan makanan selama diare untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Berikan cairan termasuk oralit dan makanan sesuai yang dianjurkan. Mengatasi dehidrasi. Pemberian nutrisi. Kejang. air sup.dari magnesium sulfat dan kompres dengan larutan ini untuk mengurangi prolaps dengan mengurangi edema tersebut. maka pikirkan kemungkinan sindrom hemolitik-uremik (HUS) pada pasien dengan mudah memar. Sindrom hemolitik-uremik. pucat. b.

Tidak ada obat yang aman dan efektif untuk menghentikan diare. Pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik secara 39 . Pemberian Zinc selama 10 hari untuk anak dibawah usia 6 bulan 10 mg dan di atas 6 bulan 20 mg sekali sehari terbukti dapat memperbaiki kerusakan vili usus pada diare sehingga mempercepat penyembuhan diare. Anak Usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapat makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna sedikit sedikit tetapi sering. d. dengan tetap mengutamakan rehidrasi. Apabila ditemukan penderita diare infeksi. Setelah diare berhenti pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan anak. Memberi edukasi pada orang tua mengenai cara pemberian cairan pengganti diare. mengenali tanda tanda dehidrasi berat dan untuk tetap meneruskan makan dan minum selama anak diare. kolera dan pasien imunokompromis. Pemberian Zinc. Pemberian antibiotik di indikasikan pada : Pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi seperti feses lendir dan berdarah. maka diberikan pengobatan sesuai indikasi. e. leukosit pada feses. c.lebih sering dari biasanya. Memberi edukasi pada orang tua. Bila anak masih mendapat ASI. maka pemberian ASI tetap dilanjutkan. mengurangi frekuensi diare dan mencegah terjadinya diare berikutnya.

dan amoksisilin tidak efektif untuk Shigella. serta anak dibawah usia 2 bulan dengan disentri harus dirawat di rumah sakit. atau fluoroquinolones lain.empiris dapat dilakukan tetapi terapi antibiotik spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman. aminoglikosida (contoh : gentamisin. letargis. bila tidak ada perbaikan. Bila antibitik lini kedua masih tidak memberi perbaikan klinis setelah dua hari maka pikirkan kemungkinan 40 . cefamandole). Antibiotik pilihan adalah yang masih sensitif dengan Shigella di daerah tersebut. sulfonamid. Kotrimoxazole dan ampisilin sekarang sudah tidak efektif lagi oleh karena telah terjadi resistensi di hampir seluruh dunia. Sebagai tambahan anak yang kelihatan sangat sakit atau toksik. cephalosporins generasi pertama dan kedua (contoh : cephaleksin. nitrofuran (contoh : nitrofurantoin. Selain dari kelompok ini dapat dilakukan rawat jalan pada anak di rumah dengan pemberian obat : 1) Antibiotik selama 5 hari.6 2) Evaluasi gejala klinis setelah pemberian antibiotik selama dua hari. hentikan pemberian antibiotik pertama dan beri antibiotik lini kedua yang masih sensitif untuk Shigella di daerah tersebut. pivmecillinam. streptomisin. Sebagai contoh adalah ciprofloxacin. Catatan : metronidazole. tetrasiklin. furazolidone). kanamisin).6 Anak gizi buruk dengan disentri. kloramfenicol. perut kembung dan tegang serta kejang beresiko tinggi untuk mengalami sepsis sehingga harus dimondokkan di rumah sakit juga.

8. 4) Anak usia dibawah dua bulan dengan diare lendir darah. Antibiotik pada Disentri Shigella. 3 kali perhari) selama 5 hari. Anak gizi buruk dengan diare disentri.diagnosis lain. manajemen pengobatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) didasarkan bahwa diare disentri di negara berkembang banyak disebabkan oleh Shigella. Oleh karena itu uji sensitivitas terhadap antibiotik sangat 41 . rawat inap anak bila terdapat indikasi klinis atau tatalaksana sebagai disentri amuba dan beri Metronidazole (50 mg/kgBB/hari. pikirkan kemungkinan intususepsi dan rujuk ke dokter bedah bila perlu. Bila tidak. Sayangnya resistensi terhadap plasmid-mediated antimicrobial telah muncul dengan cepat dan merupakan fenomena di seluruh dunia. Untuk diare disentri. Dimana Shigella jarang menyebabkan bakteremia dan sering menyerang pasien imunokompromis serta masih berespon baik dengan pemberian antimikroba berbeda dengan Salmonella sehingga penangananan yang tepat dapat mengurangi gejala hingga 50%. Tetapi bila fasilitas kesehatan tersedia pemeriksaan mikroskopis tinja maka lakukan pemeriksaan trofozoit pada tinja. maka beri antibiotik Ceftriaxon IV/IM 100 mg/kg/hari. pertama ditatalaksana sebagai disentri Shigella bila tidak membaik ditatalaksana sebagai disentri amuba. 3) Lakukan kultur feses dan sensitivitas antibiotik bila memungkinkan. single dose selama 5 hari.

efek samping obat. 2010) mengenai kebijakan WHO baru dalam pengobatan diare disentri terbukti bahwa antibiotik ciprofloxacin. kambuhnya diare. Trimethoprim-sulfametoksazol merupakan obat pilihan untuk Shigella di daerah dimana sensitivitas antibiotik belum diketahui. ceftriaxon. kesembuhan secara bakteriologis.5. 2009) dengan kriteria inklusi : penelitian acak buta terkendali pemberian antibiotik pada disentri Shigella dan luaran yang dinilai adalah terjadinya diare.6 Sebuah metaanalisis (International Journal of Epidemiology.5. pivmenacilam yang direkomendasikan oleh WHO untuk diare disentri > 99% efektif dalam mengurangi tanda dan gejala disentri secara klinis.7 42 .diperlukan. Rangkuman hasil dari sebuah tinjauan kepustakaan sistematis (Cochrane review. demam pada masa follow up. bakteriologis dan kekambuhan diare.

: Kawin. : Jawa. Agama : Haris. : Islam . Identitas Pasien dan Keluarga 1. Umur c. Agama f. : SLTP/Sederajat. Nama b. Status perkawinan e. Umur c. 01 Desa Grabag. Identitas Pasien : a. Suku bangsa g. Kabupaten Magelang. : Buruh. Pekerjaan i. 43 . 2. : Laki-laki. Jenis kelamin d. : Islam . Pendidikan h. Nama b. : Laki-laki. Alamat lengkap RT. Kecamatan Grabag. Jenis kelamin d. Status perkawinan e. : 39 Tahun. Provinsi Jawa Tengah. Identitas Kepala Keluarga : a. : 22 Tahun.BAB III PEMBAHASAN A. 02 : Dusun Kliwonan I RW. : Belum kawin. : Johan Efendi Irwan.

Profil Keluarga Tabel 3. : Tamat SD. Haris 39 SD Buruh Pend. Pekerjaan i. Pekerjaan Keluarga KK Perkawinan Kawin Kesehatan Sehat Hubungan Status Keteterangan 2. Alamat B. Kabupaten Magelang.f. Nama (Tahun) 1. Suku bangsa g. Supartinah Indah Setiawati 42 8 SD SD Buruh Pelajar Istri Anak kandung Kawin Belum kawin Belum kawin Sehat Sehat 4. Johana Irawati 20 SLTA Swasta Anak Tiri Belum Kawin Sehat 44 . : Buruh. : Betawi. Profil Keluarga Umur No. Johan Efendi Irwan 22 SLTP Buruh Anak Tiri Disentri 5. Kecamatan Grabag. Pendidikan h. : Dusun Kliwonan I RT: 02 RW: 01 Desa Grabag. Provinsi Jawa Tengah. 3.

: tahap keluarga dengan satu anak usia sekolah dan dua anak yang telah dewasa. Genogram Keluarga Penderita Bentuk Keluarga Siklus Keluarga : keluarga inti (nuclear family). Denah Rumah 45 .Gambar 7. C. Genogram Tiga Generasi Keterangan : Laki-laki Perempuan Pasien Disentt ri Gambar 8.

Anamnesis : Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dan autoanamnesa pada tanggal 08 Februari 2011. 3.Gambar 9. Denah Rumah D. 2. Keluhan Tambahan : 46 . Keluhan Utama : Buang air besar dengan lendir dan darah lebih dari 5 kali dalam sehari. Resume Penyakit dan Penatalaksanaan yang Sudah Dilakukan kepada Pasien 1.

mual. Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak ada 6. Keadaan umum b. Pemeriksaan Fisik : a. Tensi Frekuensi Napas Nadi Suhu : 120/80 mmHg. Kesadaran c. Riwayat Penyakit Keluarga : Anak bungsu pernah menderita diare seminggu sebelumnya. GCS d. 5. lemas.Sakit kepala. demam. Mata : 1) Konjungtiva anemis : -/2) Sklera ikterik : -/47 . perut tidak nyaman. : 15.5 o C. orang tua pasien memberikan obat warung untuk antidiare. 7. 2) 3) 4) e. 4. tetapi tidak ada perubahan. Pada saat datang ke UGD. : 24x/menit. ibu pasien mengatakan bahwa anaknya sudah mengeluhkan BAB dengan lendir dan darah sejak 4 hari yang lalu. : 95x/menit. Vital Sign : 1) : Sakit sedang. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Rawat Inap Grabag I dengan keluhan utama buang air besar dengan lendir dan darah lebih dari 5 kali dalam sehari. : Compos mentis. : 37.

secret -/: Nafas cuping hidung (-). Leher k. venektasi (-) : Supel. deviasi : Bibir kering (+). nyeri tekan abdomen (-). Telinga g. suara tambahan (-) : Datar. gallop (-) 2) Pulmo a) Inspeksi : Gerak dinding dada simetris saat statis dan dinamis b) Palpasi c) Perkusi d) Auskultasi 3) Abdomen 1) Inspeksi 2) Palpasi : Fremitus kanan = kiri : Sonor di seluruh lapang paru : Bunyi napas vesikular. serumen -/-. Mulut i. Clavikularis Sinistra c) Perkusi d) Auskultasi : Dalam batas normal : BJ I-II Normal.3) Mata cekung f. mukosa lembab (+) : Faring hiperemis (-) : Pembesaran KGB (-) : Iktus cordis tak tampak : Iktus cordis teraba di ICS V. murmur (-). Toraks : 1) Cor a) Inspeksi b) Palpasi : -/: Normotia. turgor cukup 48 . 2 cm medial Linea Mid. hepar dan lien tak teraba. Hidung septum (-) h. Tenggorok j.

: Bunyi timpani. 6) Memberikan edukasi kepada orangtua/anggota keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah. Ekstremitas 8. sesudah buang air besar. setelah kontak dengan benda yang tidak bersih. 11) Hasil Penatalaksanaan Medis Dari hasil kunjungan ke rumah pasien pada tanggal 9 Februari 2011 didapatkan keterangan dari orang tua pasien bahwa keadaan pasien membaik setelah dilakukan pengobatan selama rawat inap di Puskesmas Grabag 1. 7) Biasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. 2) Minum obat teratur sesuai petunjuk dokter. Diagnosis Kerja 10.3) Perkusi 4) Auskultasi l. 3) Hindari makanan pedas dan berminyak. Pemeriksaan Penunjang 9. : Disentri. 4) Makan makanan yang bergizi. : Tidak dilakukan. : Bising usus/bunyi peristaltik (+) : Dalam batas normal. c) Ciprofloxacin selama 5 hari. Rencana Penatalaksanaan : a) Infus Ringer Laktat. Pasien sudah tidak mengeluh buang air besar dengan frekuensi 49 . b) Paracetamol (jika demam). d) Terapi edukasi : 1) Banyak minum air putih. 5) Istirahat yang cukup.

Identifikasi Fungsi-fungsi Keluarga 1. ataupun mual. Fungsi Biologis Sejak kecil pasien belum pernah sakit berat sampai dirawat di rumah sakit atau puskesmas. b. c. demam. disertai darah atau lender. Tidak ada lagi keluhan lain seperti sakit kepala. Ibunya berpisah dengan ayah kandung pasien karena ayahnya meninggal dunia. Faktor penghambat : Lingkungan pekerjaan pasien yang kurang bersih sebagai buruh lepas dan lingkungan rumah yang masih harus dijaga dan ditingkatkan kebersihan. dan ayah tiri. Adik bungsu pasien mengalami diare seminggu yang lalu selama empat hari dan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Pernikahan kedua ibunya menghasilkan satu anak 50 . dan sanitasinya. Indikator keberhasilan : Tidak ada keluhan buang air besar dengan frekuensi yang banyak. ventilasi.yang banyak dan disertai dengan darah atau lendir. E. Orang tua pasien tidak memiliki riwayat sakit bawaan dan menular. a. dua adik kandung. Sesekali pasien pernah batuk pilek saat masih sekolah dasar. Fungsi Psikologis Pasien tinggal bersama ibu kandung. konsistensi cair. penataan ruang. 2. Faktor pendukung : Orang tua terus mengawasi pasien untuk minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter dan mengawasi pola makan pasien.

Pasien dan adik pasien yang sudah bekerja memberikan sebagian uang gajinya kepada orang tuanya setiap bulanya untuk membantu membayar bea listrik. adik pasien tamat SLTA.dan dari adik pasien. Fungsi Religius Pasien adalah seorang muslim yang taat beragama. pasien. ibu. Pasien hidup Fungsi Sosial budaya dalam keluarga yang sederhana. hubungan bermasyarakat dengan tetangga-tetangganya baik. dan untuk membantu biaya pendidikan adik bungsunya. Orang tua pasien yang hanya tamat SD tidak mempunyai perencanaan pendanaan khusus untuk pendidikan anak-anaknya. 5. sedangkan adik bungsunya masih bersekolah. Walaupun pasien tinggal dengan ayah tiri. Pasien dan keluarga aktif mengikuti kegiatan pendalaman agama dalam majelis ta’lim di masjid dekat rumahnya. selalu menjalankan ibadah sholat lima waktu dan sering sholat berjamaah di Masjid di dekat rumahnya. Fungsi Pendidikan Pendidikan terakhir pasien adalah SLTP.perempuan yang sudah berumur 8 tahun. Rumah 51 . 3. 4. Fungsi Ekonomi Sumber penghasilan keluarga berasal dari hasil kerja ayah. hubungan antara masing-masing anggota keluarga sangat baik. untuk makan sehari-hari. Pasien rutin mengikuti kerja bakti membersihkan lingkungan apabila ada kerja bakti. 6. Apabila ada permasalahan dalam keluarga diselesaikan dengan musyawarah untuk mengambil keputusan.

dan tersedia pendanaan kesehatan berupa jamkesmas yang di miliki oleh pasien. dan sayuran lainnya). Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keluarga 1. F. dikarenakan jarak rumah dengan puskesmas dekat. Ibu pasien juga mengaku jarang membersihkan rumah. karpet dan jarang menjemur kasur. Pola Konsumsi Makan Penderita Frekuensi makan rata – rata setiap harinya 2x/hari dengan variasi makanan sebagai berikut : nasi lunak. sebelum makan hanya mencuci tangan dengan air tanpa sabun setelah selesai bekerja di sawah atau bekerja di pabrik tahu. sehingga rumah terlihat kotor dan berantakan dikarenakan penyusunan barang yang tidak teratur. sayur (bayam. sering kelelahan karena kurang tidur. G. Faktor Perilaku Orang tua pasien mengaku bahwa anaknya sering tidur larut malam untuk berkumpul dengan teman-temannya. Pasien jarang diberi makan daging ayam maupun daging merah (2 minggu – 3 minggu sekali) dan sering makan buah. lauk (telur/tempe/tahu). ibu pasien jarang mencuci seprei.pasien yang berdekatan dengan masjid secara tidak langsung meningkatkan keaktifan pasien dan keluarga mengikuti kegiatan keagamaan di desanya. Bila ada anggota keluarga yang sakit yang pertama dilakukan adalah pergi ke puskesmas. sehingga meningkatkan risiko untuk terkena penyakit. sayur asem. pasien tidak ikut 52 .

H. 2. Identifikasi Lingkungan Rumah Rumah penderita terletak di daerah pemukiman penduduk biasa dengan ukuran 5 x 8 m2. Jarak rumah ke Puskesmas Grabag I kurang lebih 3 km. pemanfaatan waktu luang tidak diisi dengan olah raga. rekreasi ataupun hobi. Secara umum gambaran rumah terdiri dari 2 53 . barang-barang dalam kamar terlihat tidak tertata dengan baik dan kotor. Faktor Nonperilaku Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup dekat seperti puskesmas dan praktek dokter terdekat. Jarak sumber air bersih dengan septic tank yang kurang dari 10 meter. Penderita tinggal bersama 4 anggota keluarga lainnya. Keadaan dapur yang kotor berlantaikan tanah dan terdapat tumpukan kayu-kayu serta kandang ayam. dikarenakan tumpukan sisa makanan yang tidak langsung dibuang ke tempat sampah. pasien biasa menggunakan kendaraan pribadi untuk berobat.serta dalam program kesehatan di lingkungan rumah. Tidak ada keterbatasan sarana untuk pergi berobat. Hal ini cukup berpengaruh terhadap kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan jika ada anggota keluarga yang sakit. Kamar tidur terasa lembab dikarenakan hanya memiliki 1 jendela yang jarang di buka dan di bersihkan. Keadaan kamar mandi dan tempat mencuci alat-alat makan yang kurang bersih. bentuk bangunan 1 lantai.

dan tata letak barang tidak rapi. 1 ruang tamu. Listrik 450 watt. dinding dari tembok kecuali dapur yang menggunakan dinding kayu. Kebersihan dapur kurang baik dengan keadaan lantai dari tanah dan penempatan tumpukan kayu serta kandang ayam di dalam dapur. pembuangan air limbah ke selokan dan aliran lancar. 1 kamar mandi beserta WC. Ventilasi dan penerangan disetiap ruangan kurang. 1 dapur. atap dari genteng. Di dalam rumah tidak terdapat tempat sampah yang tertutup. Kebersihan dalam rumah dan luar rumah kurang baik. dan 1 ruang makan. Jalan di depan rumah terbuat dari tanah. sumber air bersih untuk keperluan seharihari dari sumur galian. 54 . Lantai rumah dari semen. Kebersihan lingkungan pemukiman kurang baik. dan juga untuk air minum didapat dari air sumur galian yang dimasak. bak mandi dikuras 1 minggu sekali. Perbandingan luas lantai dengan jendela di ruang tamu dan kamar tidur > 25%. Jarak antara septic tank dengan sumber air minum kurang dari 10 meter. Terdapat jendela hanya pada ruang tamu dan kamar tidur dengan ukuran sebanyak masing 1 buah untuk kamar tidur dan 2 buah untuk ruang tamu.kamar tidur. Fasilitas MCK dengan jamban model leher angsa.

55 .