P. 1
Asuhan Keperawatan Decomp Cordis

Asuhan Keperawatan Decomp Cordis

|Views: 2,484|Likes:
Published by Dany Satyogroho

More info:

Published by: Dany Satyogroho on Aug 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.

S DENGAN DECOMPENSATION CORDIS DI RAUNG G RSU TIDAR MAGELANG

OLEH : I NYOMAN SUKARATA

AKADEMI KEPERAWATAN NGUDI WALUYO UNGARAN 2006

BAB I TINJAUAN TEORI

A. Definisi Gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan oksigen dan nutrisi (Smeltzer, 2001; 717-740) Gagal jantung adalah suatu keadaan ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah keseluruh tubuh dengan kebutuhan metabolisme. (Priyanto, 2001; 420) Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal menampkakkan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri. (Noer, 2001)

B. Etiologi Penyebab gagal jantung 1. a. b. c. Kelainan mekanis : Peningkatan beban kanan Sentral (stenosisi aorta, dsb) Perifer (hipertensis sistemik, dsb)

d.

Peningkatan

beban

volume

(regurgitasi

katub,

peningaktan beban awal, dsb) e. Obstruksi terhadap pengisian ventrikel (stenosis mezralis

atau trikuspidalis) f. g. h. i. 2. a. Tekponade pericardium Restriksi enddeardium atau miokordium Aneurisma ventrikel Disenergi ventrikel Kelainan miokardium Primer : kardiomiopati, miokardititis kelainan metabolic,

toksisitas (alkohol, kobalt, dsb) Presbikardio b. Kelainan dis dinamik sekunder (sekunder terhadap

kelainan mekanis) 3. Kekurangan O2 (penyakit jantung koroner) Kelainan metabolik Penyakit sistemik Penyakit paru obstruksi menahun

Berubahnya irama jantung atau urutan konduksi Henti jantung Fibrilasi Takikardia atau kardiokardia yang berat Asikroni listrik, gangguan konduksi

(Price, 1994) C. Patofisiologi Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan

kemampuan kontralitas jantung, yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal. Frekuensi jantung merupakan fungsi sistem syaraf otonom, bila curah jantung berkurangh sistem saraf simpatus akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka sekuncup jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk memepertahankan curah jantung Tetapi pada gagal jantung dengan masalah utama kerusakan dana kekuatan serabut otot jantung, volume sekuncup berkurang dan curah jantung normal masih dipertahankan, volume sekuncup merupakan sejumlah darah yang dipompa pada setiap kontraksi tergantung pada tiga faktor : preload, kontraktifilitas dan afterload Pre load adalah sinonim letak starling pada jantung yang menyatakan bahwa jumlah darah yang mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya tegangan serabut jantung. Kontraktilitas mengacu pada perubahan kekuatan kontraksi yang terjadi pada sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar kalsium Afterload mengacu pada besarnya tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh tekanan arteriola.

Pada gagal jantung jika satu atau lebih dari ketiga faktor tersebut terganggu hasilnya curah jantung berkurang kemudian dalam menentukan pengukuran hemodinamika melalui prosedur pemantauan invase telah mempermudah diagnosa gagal jantung kongestif dan mempermudah penerapan terapi farmakologis yang efektif. (Smeltzer, 2001)

D. Manifestasi klinis Edema ektremitas bawah (edema dependen) Pertambahan BB Cardiomegali (pembesaran jantung) Dypsnoe Asites (penimbunan cairan dalam rongga peritoneum) Oliguria Lemah Lelah Pucat (Smeltzer, 2001)

E. Penatalaksanaan Terapi farmakologi Aspirin Anti koogulan

-

Antagonis dan adren reseptor. Glikosida jantung, dioretik dan vasodilator Agonis receptor dopamine. Digitalis : meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan memperlambat frekuensi jantung

Terapi non farmakologi Diet rendah garam Batasi cairan Menghindari alkohol Manajemen stress Aktivitas fisik (Priyanto, 2001)

F. Fokus intervention 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan aliran darah

keginjal sekunder akibat gagal jantung (Carpenito, 2001) Tujuan : Volume cairan adekuat Intervensi Pantau saluran urine (warna dan jumlah) Pantau keseimbangan intake dan out put. Pertahankan dudk atau tirah jantung Catat adanya edema tubuh umum (anasarkar)

2.

Rubah posisi dengan sering Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan anorexia sekunder akibat gagal jantung (Carpenito, 2001) Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi Intervensi : 3. darah. (Doenges, 2000) Tujuan : mendemonstrasikan perfusi adekuat secara individual. Intervensi : 4. Lihat pucat, sianosis . Pantau pernafasan,catat kerja pernafasan Kaji fungsi gastrointestinal, catat anoreksia Pantau intake dan catat perubahan saluran urine. Selidiki perubahan tiba-tiba/gangguan mental kontinu. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan Auskultasi bunyi usus Awasi masukan sesuai indikasi Ajarkan pasien makan sendiri Beri minum tambahan (susu, teh) Bantu pasien dalam pemberian makan Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran

membran kapiler

(Doenges, 2000) Tujuan : mendemostrasikan ventilasi dan desigenasi adekuat Intervensi : Auskulatsi bunyi nafas Dorong perubahan posisi sering Pertahankan duduk di kursi/tirah baring Berikan lingkungan istirahat dan batasi aktivitas.

BAB II RESUME KEPERAWATAN

A. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada hari senin tanggal5 juni 2006 jam 08.00 WIB di ruang G RSU Tidar Magelang dengan auto anamnesa, pasien bernama Ny. S umur 40 th, alamat kajoran rejosari bandungan, tanggal masuk 3 juni 2006 jam 12.00 WIB dengan no register 0484. diagnosa medis decompensasi cordis. Penanggung jawab Tn.D, umur 40 th hubungan dengan pasien suami. Keluhan utama yang diarasakan adalah pasien mengatakan sesak nafas RR : 28x/mnt. Riwayat kesehatan sekarang 1 minggu sebelum pasien masuk RSU Tidar Magelang, pasien mengeluhkan sesak nafas yang sangat berat, kedua kaki bengkak, kemudian pada tanggal 3 juni 2006 jam 12.00 WIB, keluarga pasien membawa pasien ke RSU Tidar Magelang oleh dokter dianjurkan opname. Riwayat kesehatan dahulu pasien dan keluarga mengatakan bahwa pasien pernah opname dengan sakit yang sama tidak menderita penyakit menular seperti TBC, dan tidak menderita penyakit keturunan seperti DM, begitu juga didalam keluarga, tidak ada anggota keluarga yang menderita decompensasi cordis maupun riwayat penyakit menular dan penyakit keturunan. Pada pengkajian pola fungsional menurut Virginia Handerson yang mengalami gangguan diantaranya pada pola bernafas sebelum sakit pasien

tidakmempunyai gangguan pernafasan, frekuensi pernafasan 20 x /mnt, tidak menggunakan alat bantu dan selama sakit pasien mengalami sesak nafas, frekuensipernafasan 28 x/menit, terpasang O21,5 lt/mnt. Pada pola nutrisi dan metabolisme sebelum sakit pasien makan 3 x /hari dengan komposisi naasi, lauk pauk dan sayur habis 1 porsi, minum ± 7-8 gelas 1 hari. Pola eliminasi : pasien BAB 1 x/hari dengan konsistensi lunak, bau kha, warna kuning BAK, 4-5 x/hr tanoa ada gangguan, bau khas amoniak. Pada pola agerak dan keseimbangan sebelum sakit pasien melakukan aktivitas tanpa bantuan dan tidak ada keterbatasan dan selama sakit aktivitas (personal hygiene) pasien dibantu oleh perawat dan keluarga. Pada pola kebutuhan rasa aman dan nyaman sebelum sakit pasien merasa aman dengan kondisi kesehatan yang tidak mengalami gangguan dan selama sakit kurang nyaman karena pasien masih sesak nafas. Pada pola kebutuhana belajar pasien dengan latar belakang pendidikan SD, pasien kurang thau penyebab penyakitnya, pasien sesekali bertanya kepada perawat dan dokter tentang perkembangan penyakitnya. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum pasien composmentis,

penampilan lemah, tekanan darah 120/70 mmHg, respirasi 28 x/mnt, nadi 84 x/mnt, suhu 360 C. Kepala bentuk mecochepal, rambut hitam tidak beruban, panjang lurus, persebaran merata, tidak ada ketombe dan tidak aa pembesaran polip, terpasang selang O2, telinga bersih, tidak ada penumpukan serumen, mulut bersih tidak ada stomatitis, mukosa bibir kering, leher tidak ada nyeri telan, tidak ada pemebesaran kelenjar tyroid, maka edema dada : paru-paru

simetris, ada tarikan intercosta, tidak ada nyeri tekanan terdengar suara wheezing dan ronchi, ictus cordis teraba pada intercosta 4 dan 5m bunyi gallop. Abdomen tidak ada luka bekas operasi, peristaltik usus 10 x/mnt. Tidak ada nyeri tekan, perkusi tympani, genetalia bersih, terpasang kateter, anus bersih, tidak ada hemoroid. Ekstremitas superior terpasang infus D5 % 20 tts/mnt pada ekstremitas kiri tidak ada oedem dan lesi. Inferior tidak ada luka, tidak ada lesi, terdapat oedema pada kedua ekstremitas. Hasil pemeriksaan labolatorium tanggal 5 juni 2006 : Rho : ± 30 mg/dl, URO ± 2,0 mg/dl, PH S1 0,56>1,030, BCP +++ over mg/dl. lEV 500 LBU/ml, leukosit 20-30, eritrosit 30-50, epitel 2-6, protein total 5,73, normal 6,6 -8,8, albumin 2,52, normal 3,8-5, globin 3,12 normal 2,3-3, therapy infus D5 %, fossix 1 x 2 amp, laternal 1 x 1 tab, ciprolax 2 x1 tablet.

B. Analisa Data 1. Pada tanggal 5 juni 2006 didapatkan analisa data sebagai berikut ;

Data obyektif : pasien mengatakan sesaka nafas, badan lemas, dan data obyektif : pasien tampak sesak, terapsang oksigen 3 lt/menit, respiratory 28 x/menit. Berdasarkan data diatas dapat dirumuskan, diagnosa keperawatan tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan

penyempitan jalan nafas. 2. Pada tanggal 5 juni 2006 diperoleh data : pasien mengatakan tidak

nafsu makan dengan data objektif pasien makan ¼ porsi, lidah kotor dan berat badan turun. Dari data diatas dapat dirumuskan diagnosa

keperawatan : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia mual, muntah. 3. Pada tanggal 5 juni 2006 diperoleh analisa data : pasien

mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya ditandai dengan pasien lemas, bertanya kepada perawat. Dari data tersebut dapat dirumuskan bahwa diagnosa keperawatan : kurabng pengetahuan tentang penyakit

berhubungan dengan kurang informasi. Diagnosa keperawatan diataas dapat diprioritaskan sebagai berikut : a. Tidak efektifnya jalan nafas bnerhubungan dengan

penyempitan jalan nafas b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan anoreksia c. Kurang pengetahuan tentang penyakit nerhubungan

dengan kurang informasi.

BAB III PEMBAHASAN

A. Pengkajian Menurut smeltzer, 2002 pada pasien dengan gagal jantung ditemukan adanya tanda-tanda dan gejala kelebihan cairan paru dan tanda-tanda serta gejala sistemis. Pada pernafasan ditemukan adanya krekels dan bunyi wheezhing, krekel terjadi oleh gerakan udara melalui cairan dan menunjukkan adanya oedem pada ekstremitas dan wajah. Menurut Doenges , 2000 tanda dari gagal jantung adalah tekanan darah : mungkin rendah (gagal penampaan0 normal (gagal jantung ringan atau kroni) atau tinggi (kelebihan beban cairan). Frekuensi jantung : tachicardi 9gagal jantung kiri), irama jantung : disritmia, bunyi nafas krekels, ronchi sedangkan pada pengkajian ditemukan adanya tekanan darah normal (120/70 mmHg), nadi : 84 x/menit, dan terdengar suara ronchi dan wheezhing. Menurut Doenges, 2000 gejala dari gagal jantung adalah : kehilangan nafsu makan, mual/muntah, penambahan berat badan signifikan.

Pembengkakan

pada ekstremitas bawah, sedangkan pada pengkajian

ditemukan data penurunan nafsu makan, tidak mual/muntah, penurunan berat badan dan terjadi pembesaran pada ekstremitas bawah. Pada pola pengkajian pola fungsional menurut Virginia Handerson kebutuhan belajar terganggu karena minimnya informasi yang didapatkan mengenai penyakit yang diderita yang ditandai dengan adanya rasa cemas.

Pasien bertanya tentang penyakitnya kepada perawat. Untuk mengatasi masalah tersebut maka implementasi yang dilakukan adalah memberi posisi yang nyaman yaitu posisi semi flower. Ini dilakukan karena dengan peninggian posisi kepala tempat tidur dapat memaksimalkanpengembangan paru sehingga mempermudah pernafasan (Doenges, 2000; 519), memberikan therapi okseganasi 11/2 liter/menit. Ini dilakukan untuk menambah kebutuhan oksigen serta kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan bronkodilator untuk membuka jalan nafas (Doenges, 2000). Mengkaji pola nafas yaitu frekuensi pernafasan , kedalaman dan auskultasi bunyi nafas. Evaluasi setelah dilakukan tindakan keperawatanb tersebut adalah data subyektif : pasien mengakatakan masih sesak tapi sedikit lebih nyaman. Data obyektif ; posisi semi flower, terpasang O2 1 1/5 liter/menit dan frekeunsi pernafasan 24 x/menit. Analisa maslah belum teratasi maka diperlukan intervensi lanjutan berupa : beri posisi semi flower, beri oksiegenasi 3 liter/menit dan kolaborasi dengan tim medis dalam pemeberian bronkodilator. Selama dilakukan tindakan keperawatan faktor pendukung yang ditemukan adalah pasien kooperatif. Tidak ada faktor penghambat selama melakukan tindakan keperawatan.

B. Diagnosa, Intervensi Dan Evaluasi 1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan

penyempitan jalan nafas. (Doenges, 2002)

Bersihan jalan nafas tidak efektif adalah suatu keadaan dimana individu mengalami suatu ancaman yang nyata dan potensi potensial pada status pernafasan sehubungan dengan ketidakmampuan untuk batuk secara efektif (Carpenito,2000, 324). Sedangkan menurut NANDA (2002 :16). Bersihan jalan nafas tidak sekret atau sumbatan dari saluran pernafasan untuk mempertahankan bersihan jalan nafas. Patofisiologi gagal jantung : Tidak efektifnya jalan nafas. Tanda dominan gagal jantung adalah meningkatnya volume intravaskuler. Kongesti jaringan terjadi akibat tekanan arteri dan vena yang meningkat akibat turunnya curah jantung pada gagal jantung. Peningkatan tekanan vena pulmonalis dapat menyebabkan cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli, akibatnya terjadi oedem paru yang dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek. Meningkatnya tekanan vena sistemik dapat mengakibatkan oedem perifer secara umum dan penambahan cairan dalam alveoli yang menggangu pertukaran gas. Disneu bahkan terjadi saat istirahat atau dicetuskan oleh gerakan yang minimal atau sedang. Dapat terjadi ortopneu (kesulitan bernafas saat berbaring). Psien yang mengalami ortopneu tidak akan mau berbaring, tetapi akan menggunakan bantal agar bisa tegak ditempat tidur atau duduk dikursi, bahkan saat tidur.

Batasan karakteristik mayor (baru terdapat satu atau lebih) yaitu batuk tidak efektif atau tidak ada batuk, ketidakmampuan untuk mengeluarkan sekresi jalan nafas. Batasan karakteristik minor adalah : bunyi nafas abdomen, frekuensi, irama, kedalamam pernafasan abnormal (Carpenito, 2000 ;324). Penulis kurang tepat dalam menegakkan diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas. Diagnosa yang seharusnya adalah ganngua pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler. Penulis mengambil diagnosa ini karena menemukan beberapa data yaitu data subyektif : pasien mengatakan sesak untuk bernafas. Data obyektif : pasien tampak sesak nafas, pasirn menggunakan alat bantu pernafasan berupa oksigenasi 3 lt/mnt, frekuensi pernafasan 28 x/minute dan pasien lemah. Penulis mengambil diagnosa ini menjadi diagnosa pertama karena kebutuhan dasar menurut hirearki Maslow dibagi menjadi 5 tahapan. Kebutuhan oksigen merupakan kebutuhan fisiologis yang harus segera ditangani. Kebutuhan O2 merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2 setiap kali bernafas. Penyampaian O2 kejanringan tubuh di tentukan oleh sistem respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologi. (Tarwoto & Warttonah, 2002; 9)

Untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan intervensi ; auskultasi bunyi nafas, catat krekels mengi dengan rasionalisasi menyatakan adanya kongesti paru. Dorong perubahan posisi minus dengan rasionalisasi membantu mencagah aktivitas, anjurkan pasien batuk efektif, nafas dalam untuk membersihkan jalan nafas. Kolaborasi ; berikan oksigen tambahan sesuai untuk meningkatkan aliran oksigen (Doenges, 2000). 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan anorexia mual/muntah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan dimana individu tidak puasa mengalami atau yang beresiko mengalami penurunan BB yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrium yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik (Carpenito, 2000). Nutrisi Nutrisi adalah zat yang digunakan tubuh untuk menyediakan energi untuk fungsi organ dan pergerakan badan, untuk mempertahankan suhu tubuh dan menyediakan material untuk fungsi enzim. Pertumbuhan dan penempatan kembali dan perbaikan sel. Nutrisi merupakan element penting untuk proses dan fungsi tubuh. Kategori zat makanan adalah : Karbohidrat Merupakan sumber energi utama dalam diit. Tiap gram karbohidrat menghasilkan 4 kkal. Sumber karbohidrat : beras, tepung, jagung, sagu dll.

Protein Meskipun protein memberikan sumber energi (4 kkal/g) juga penting untuk mensitetis (membangun) jaringan pemeliharaan dan perbaikan. Sumber protein : daging, hewan ternak, susu, telur : sereal , kacangkacangan dan sayur-sayuran. Lemak Lemak merupakan nutrisi padat yang paling berkalori (9kkal/gram). Lipid merupakan lemak yang padat pada suhu ruangan dan minyak yang cair pada suhu ruangan. Sumber : daging, kelapa. Air Air merupakan komponen kritis dalam tubuh karena fungsi sel bergantung pada lingkungan cair. Air menyusun 60 %-70% dari seluruh berat badan. Vitamin Merupakan substansi organik dalam jumlah kecil padamakanan yang essensial untuk metabolisme normal. Sumber : sayur-sayuran dan buah-buahan segar. Mineral Merupakan elemen penting non organik pada tubuh sebagai katalis dalam reaksi bio kimia. (Perry & Potter, 2002). tubuh dalam pertumbuhan,

Anoreksia dapat menyebabkan gangguan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh karena kadang-kadanag dalam hidup penatalaksanaan konsep sakit dapat dikarenakan dari individu secara tidak langsung berupa tingkah laku yang destruktif. Terjadi paling utama pada wanita dannlebih sering memiliki hal tersebut pada saat dewasa yang akan menyebabkan sindrom klinis pada dirinya (Donna, 1995). Anoreksia Mudah lelah terjadi akibat curah jantung yang kurang yang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme. Juga terjadi akibat meningkatnya energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadi akibat distress pernafasan dan batuk. Anoreksia (hilangnya nafsu makan) dan mual terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena didalam rongga abdomen (Smeltzer, 2002). Kerusakan menelan adalah keadaan dimana individu mengalami

penurunan volunter memasukkan cairan dan atau makanan padat melalui mulut ke dalam lambung (Carpenito, 1998). Mual adalah suatu keadaan dimana seorang individu mengalami

perasaan tidak enak/tidak nyaman dalam perut dengan/tanpa dimasuki makanan (carpenito, 1998) Muntah adalah suatu keadaan dimana individu mengalami

gangguan penceranaan berupa reflek makanan dari lambung ke luar

tanpa/dengan melalui makanan karena rasa tidak nyaman pada perut atau suatu penyakit. (Carpenito, 1998). Batasan karakteristik (harus terdapat) yaitu individu yang tidak puasa melaporkan atau mengalami masukan makanan yang tidak adekuat kurang dari yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan BB atau kebutuhankebutuhan metabolic. Karakteristik minor (mungkin terdapat) yaitu : BB 10%-20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi dan kerangka tubuh, lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah dan lingkar otot tengah pertengahan dengan kurang dari 60%. Standar pengukuran kelemahan otot dan nyeri tekan peka rangsang mental dan kekacauan mental, penurunan albumin serum, penurunan transfertin serum atau penurunan kapsitas ikatan besi (Carpenito, 2000 ; 519) Penulis mengambil diagnosa ini karena menemukan beberapa data yaitu data subyektif : pasien mengatakan setiap makan selalu tidak habis. Obyektif : pasien makan habis ¼ porsi, lidah kotor dan BB turun dari 47 kg – 46 kg. Diagnosa ini diangkat menjadi diagnosa kedua karena nutrisi sangat penting bagi tubuh, karena tubuh memerlukan energi untuk berfungsinya organ. Pergerakan tubuh untuk mempertahankan sel tubuh. Fungsi enzim pertumbuhan dan mengganti sel yang rusak. Selain itu nutrisi merupakan zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia untuk menerima

makanan atau bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya (Tarwoto & Wartonah, 2003 ; 29) Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan intervensi: kaji masukan makanan saat ini, catat derajat kesalahan makan, evaluasi berat badan dengan rasionalisasi untuk mengkaji anoreksia. Berikan makan sedikit tapi sering. Untuk mengurangi reflek muntah, auskultasi bunyi usus untuk mengidentifikasi adanya gangguan pencernaan. Berikan perawatan oral dan ajarkan kepada keluarga untuk memotivasi klien (Doengrs, 2000). Analisa data : maslah belum teratasi. Planning : lanjutkan intervensi dengan anjurkan kepada klien dan keluarga untuk memberi makan sedikit tapi sering, sajikan makan dalam keadaan hangat dan kolaborasi dengan tim gizi dalam pemenuhan nutrisi pasien. Faktor pendukung : keluarga mau memberi motivasi agar pasien mau makan. Faktor penghambat : pasien tidak nafsu makan.

C. Kurang

pengetahuan

tentang

penyakit

dan

perawatannya

berhubungan dengan kurangnya informasi. Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan (carpenito, 2000 :223). Karakteristik mayor : mengungkapkan kurang pengetahuan atau ketrampilan-ketrampilan atau permintaan informasi. Karakteristik minot ;

memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologis (misalnya: ansietas, depresi) mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi. Penulis mengambil diagnosa ini karena ditemukan data subyektif : pasien mengatakan belum mengetahui tentang penyakitnya, data obyektif : pasien bertanya tentang penyakitnya dan penyebabnya. Penulis menjadikan diagnosa ini menjadi diagnosa ketiga karena

pengetahuan merupakan hal yang mendukung dalam proses penyembuhan dan perawatan pasien selanjutnya. Untuk mengatasi maslah tersebut dilakukan intervensi : bantu pasien mengerti tentang penyakitnya agar pasien tahu tentang penyakitnya, beri kesempatan pasien untuk bertanya, masalahnya dengan bertanya pasien akan bertanya, masalahnya dengan bertanya pasiendian pada tanggal 5 juni 2006 jam 10.15 WIB dilakukan implementasi : memberi pendidikan kesehatan kepada pasien tentang penyakitnya dan motivasi pasien dengan memberi reinforcement (Doenges, 2000) Evaluasi yang dilakukan, setelah melakukan tindakan keperawatan diatas yaitu : datya subyektif : pasien mengatakan setelah diberi pendidikan kesehatan cukup paham dengan infromasi yang diberikan dan penegtahuannya bertambah. Obyektif : pasien paham dan mengerti, pasien tidak cemas dan pasien dapat menjawab pertanyaan yang diajukan perawat. Analisa data : masalah teratasi sehingga intervensi dipertahankan.

Selama melakukan tindakan keperawatan, faktor pendukung : pasien kooperatif, keluarga pasien juga kooperatif. Faktor penghambat : tidak ada. Adapun diagnosa keperawatan yang tidak muncul pada kasus sesuai dengan perbandingan antara teori dan kasus dilapangan adalah : 1. kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan aliran darah ke ginjal sekunder akibat gagal jantung. 2. gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah. 3. kerusakan petukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler. Diagnosa tersebut tidak muncul pada kasus karena tidak ditemukan datadata yang mendukung untuk ditegakkan diagnosa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Bare and Smeltzer, 2001. Keperawatan medikal bedah volume 2. EGC. Jakarta. Carpenito, Lynda Juall, 2001. Buku saku diagnosa keperawatan edisi 8. EGC. Jakarta. Priyanto, Ade. 2001. Buku ajar keperawatan cardiovaskuler edisi 1. Pusat Kesehatan Jantung Dan Pembuluh Darah Nasional. Jakarta. Price, Sylvia A. 1994. Patofisiologi, edisi 4. EGC. Jakarta. Doenges , Marly I. 2000. Rencana asuhan keperawatan, edisi 3. EGC. Jakarta Nanda, 2002. Nursing diagnosis, definitions and classification. Philadelphia, United State of America.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->