Permasalahan Outsourcing di Indonesia

Pendahuluan Persaingan dalam dunia bisnis antar perusahaan membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan maka akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran. Dewasa ini pada iklim persaingan usaha yang makin ketat, perusahaan berusaha untuk melakukan efisiensi biaya produksi (production cost). Salah satu usahanya adalah dengan melakukan sistem outsourcing, dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. Latar Belakang Garis besar tujuan perusahaan melakukan outsourcing adalah agar perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional. Tujuan ini baik adanya, namun pada pelaksanaannya, pengalihan ini menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan. Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup bervariasi, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini dikarenakan penggunaan outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku usaha, sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tentang outsourcing yang telah berjalan tersebut. Banyak perusahaan melakukan outsourcing bukan atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan aturan hukum yang ada, melainkan hanya karena tidak mau repot dengan urusan-urusan ketenagakerjaan. Perusahaan melakukan oursourcing karena tidak mau direpotkan apabila nanti terjadi PHK, dan agar tidak perlu memberi pesangon kepada karyawan yang di-PHK. Penghindaran kewajiban oleh perusahaan dalam pembayaran upah yang layak dan memenuhi kesejahteraaan karyawannya dapat dikatakan juga sebagai salah satu bentuk pelanggaran etika. Dalam melakukan kegiatan bisnis, prinsip-prinsip bisnis yang beretika sudah sepatutnya dijalankan, termasuk pula dalam melakukan outsourcing. Di Indonesia sendiri terdapat peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan untuk mengatur segala sesuatu tentang penggunaan outsourcing di wilayah Indonesia, namun jika dilihat lebih jauh lagi, peraturan ini dirasa kurang dapat mengakomodasi dan mengatasi permasalahan outsourcing di Indonesia. Tentu saja ini akan sangat terkait pula dengan etika. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dikemukakan beberapa permasalahan yang menarik terkait dengan outsourcing dan etika bisnis. Permasalahan tersebut melingkupi : 1. Apakah kaitan dari outsorcing dan etika bisnis? 2. Bagaimana tanggapan masyarakat/pekerja di Indonesia terhadap outsourcing? 3. Bagaimana seharusnya perusahaan outsorucing yang baik dan benar? 4. Apakah peraturan pemerintah telah mengatur proses pelaksanaan outsourcing di Indonesia? dan bagaimana dalam prekteknya? Tinjauan Teoritis A. Etika Bisnis Etika sebagai praksis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Dapat dikatakan juga etika sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan

A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives. Kedua. Etika adalah filsafat tentang praksis manusia.khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. ukuran penilaian dan norma yang mengarahkan tindakan manusia terhadap diri sendiri. The International Covenant on Economic.” Menurut definisi Maurice Greaver.” (Webster’s English Dictionary) Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II. 33) Dalam kata’etika bisnis’ termuat kata ‘etika’ dan kata ‘bisnis’. Sering juga digunakan kata ‘etiket’. adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing). Dalam pengertian ini. to draw together. yaitu rangka normatif bagi tingkah laku manusia yang mencakup aturan bertindak. Dalam pengertian ini. 2. Moral membicarakan mengenai baik dan buruknya tindakan manusia terhadap dirinya maupun terhadap manusia. (1999) Beberapa pakar serta praktisi outsourcing (Alih Daya) dari Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing. B. istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary. 3. etika adalah penyelidikan filsafat tentang bidang yang mengenai kewajiban-kewajiban manuasia serta tentang yang baik dan yang buruk. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (Alih Daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan. The opportunity to work Merupakan hak seseorang untuk memperoleh kesempatan untuk bekerja 2. hanya mungkin perlu sedikit dibicarakan terlebih dahulu adalah mengenai kata ’etika’ dalam praktik dapat bermacam-macam misalnya: 1. dalam berbicara di depan umum. Dalam masyarakat umum. traditionally handled by internal staff and respurces. Pengertian bisnis umumnya sudah lama diketahui. dapat berarti sekadar ‘sopan dantun’ atau ‘adat istiadat kebiasaan’ seperti etika dalam makan dan minum.1 Hak dan Kewajiban dasar Karyawan dan Perusahaan Berdasarkan Universal Declaration of Human Rights. Article 23(1). berlaku beberapa norma yang mengatur warga masyarakat. From the latin contractus. the past participle of contrahere. dijabarkan sebagai berikut : “Strategic use of outside parties to perform activities. berarti filsafat tentang moral. 2000. yaitu: 1. etika lebih berarti pada arti yang ketiga. sering kali disamakan dengan ‘moral’ atau ‘kumpulan asa atau nilai moral’. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas. Pertama. terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain. Free choice of employment Kebebasan memilih kepada siapa orang bekerja dan kebebasan perusahaan untuk memilih karyawan . pada bukunya Strategic Outsourcing. mendefinisikan elemen elemen inti dari hak untuk bekerja. 4. antara lain menyebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai alih daya. sering juga digunakan kata’ kode etik’. yaitu moral dalam melakukan bisnis. (Bertens. Outsourcing Dalam pengertian umum. Dalam pengertian ini. Ketiga. Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider). Dalam pengertian etika bisnis. Social and Cultural Rights " berisi tentang ketentuan yang paling komprehensif mengenai hak untuk bekerja. bring about or enter into an agreement. sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut: “ Contract to enter into or make a contract. dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama. yaitu rangka normatif bagi tingkah laku manusia yang mencakup moral’. Artikel 6–8. B.

Kewajiban Konfidensialitas merupakan kewajiban karyawan untuk menyimpan informasi yang sifatnya konfidensial. Outsourcing seringkali dibahasakan sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya.2000. 4. Sistem Outsourcing Outsourcing atau alih daya adalah proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Sedangkan kewajiban kewajiban perusahaan menurut Bartens meliputi (Bartens. 3. ataupun secara praktek semua lini kerja bisa dialihkan sebagai unit outsourcing seperti yang banyak terjadi di Indonesia.2000. Kewajiban loyalitas Kewajiban loyalitas merupakan konsekuensi dari status sebagai karyawan perusahaan. hal ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan tenaga kerja Indonesia. The right to form and join trade unions. 4. Toyota dan Honda. 3.yang akan dipekerjakan. Merupakan hak karyawan untuk membangun dan turut serta dalam serikat pekerja. Kewajiban Ketaatan Karyawan harus taat kepada atasannya dan kepada perusahaan tempat ia bekerja. Perusahaan diluar perusahaan induk bisa berupa vendor. Hak dalam bekerja merupakan turunan dari hak asasi manusia yang tercantum dalam deklarasi HAM dengan tanpa memandang lingkungan sosial politik dan budaya dari seorang karyawan. 169) meliputi : 1. koperasi ataupun instansi lain yang diatur dalam suatu kesepakatan tertentu. Perusahaan harus menjamin kesehatan dan keselamatan kerja. Beberapa ketentuan pokok dalam outsorcing adalah penyelenggara outsourcing harus berbadan hukum. Dengan mulai bekerja di suatu perusahaan karyawan harus mendukung tujuan tujuan perusahaan. Karyawan dalam perusahaan. memperoleh gaji dan berserikat. Just and favourable conditions of work Merupakan kondisi lingkungan kerja yang baik dan adil. Dalam bekerja dianut pula konsep "free choice of employment" sehingga tidak dibenarkan adanya kerja paksa . Pada awalnya dalam proses produksi mobil. karyawan dan perusahaan memiliki kewajiban kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing masing. Perusahaan tidak boleh memberhentikan karyawan dengan semena mena. Kewajiban karyawan terhadap perusahaan menurut (Bartens. Analisis A. Non-discrimination Tidak ada diskriminasi dalam hal apapun dalam bekerja dan pekerjaan. core business perusahaan perusahaan otomotif tersebut terdiri dari pembuatan desain. yaitu memperoleh keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar. sehingga perusahaan mobil tersebut bisa meraih keunggulan kompetitif. 2. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan bisa juga mencakup tenaga kerja pada proses pendukung (non core business unit).184) : 1. 3. Outsourcing (Alih Daya) untuk meraih keunggulan kompetitif ini dapat dilihat pada industri-industri mobil besar di dunia seperti Nissan. Karyawan yang bekerja dalam sebuah perusahaan memiliki kewajiban yang harus dipenuhi kepada perusahaan dan hak yang harus diperoleh dari perusahaan. Kewajiban memberi gaji yang adil. Perusahaan tidak boleh menerapkan praktek diskriminasi. 2. menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. . eksploitasi terhadap manusia lain dan perbudakan. Hal ini sesuai dengan covenant ILO.Outsourcing (Alih Daya) pada dunia modern dilakukan untuk alasan-alasan yang strategis. Selain hak . seperti yang telah disebutkan diatas memiliki hak untuk bekerja. Namun seiring dengan waktu pada akhirnya yang menjadi core business hanyalah pembuatan desain mobil sementara pembuatan suku cadang dan perakitan diserahkan pada perusahaan lain yang lebih kompeten dengan sistem outsourcing. 5. pembuatan suku cadang dan perakitan.

karyawan kontrak atau bentuk lain dimana karyawan tidak atau lebih sedikit menerima keuntungan. Dengan kata lain. Dalam menerapkan outsourcing. Karyawan outsourcing bisa merupakan karyawan tetap ataupun kontrak. yang boleh di-outsource hanyalah proses-proses pendukung saja (bukan proses utama atau core business perusahaan). hal inilah yang yang menyebabkan outsourcing bersinggungan dengan etika. banyak wujud outsourcing yang berupa mengganti pekerjaan karyawan tetap dan purna waktu dengan karyawan yang tidak tetap dan paruh waktu. Dalam banyak hal cukup sulit untuk memberikan gaji karyawan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut karena kemampuan perusahaan.yang salah. namun dalam pelaksanaannya tidaklah semudah itu. Outsourcing pada umumnya menutup kesempatan karyawan menjadi permanen. Namun pada prakteknya outsourcing pada umumnya didorong oleh ‘ketamakan’ sebuah perusahaan untuk menekan cost serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya yang seringkali melanggar etika bisnis. Ada perusahaan yang terlalu serakah dalam mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan mengorbankan kepentingan pokok karyawannya. Di indonesia praktet yang terjadi . Keterkaitan Antara Etika dan Outsourcing Ketenagakerjaan Kegiatan outsourcing pada hakikatnya adalah kegiatan pembelian. yaitu: pembelian jasa. jaminan pensiun). Oleh karena itu. hal itu bergantung kepada sifat pekerjaannya (apakah memenuhi syarat untuk kontrak?) dan juga bergantung kepada kebijakan pengelola outsorcing itu. Oleh karena itu. dengan sistem kontrak maupun gaji yang minim. selalu ada persoalan dilematis antara memperkerjakan sedikit orang dengan gaji cukup atau memperkerjakan banyak orang dengan gaji kurang sementara angka pengangguran begitu tinggi. Memang tidak semua hal berlaku demikian. kelanjutan kontrak.Outsourcing seringkali mengurangi hak-hak karyawan yang seharusnya dia dapatkan bila menjadi karyawan permanen (kesehatan. persoalannya tidak hanya itu.hak-hak normatif harus diberikan kepada karyawan outsourcing. manajemen harus mempertimbangkan pentingnya kesetiaan dan keamanan kelangsungan kerja. B. artinya tidak semua perusahaan terpaksa memberikan gaji rendah karena faktor mempertahankan hidup perusahaan. benefit dan lain lain). adalah ketidakmampuan perusahaan outsourcing menciptakan nilai tambah sehingga ia mengandalkan upah murah sebagai cara mendapatkan profit. Beberapa orang menganggap adalah tidak etis bila perusahaan yang dalam kondisi persaingan ketat membebani penurunan biaya dalam bentuk pengurangan gaji dan peniadaan asuransi kesehatan bagi karyawan tingkat bawah dan buruh sementara para eksekutif menerima gaji yang sedemikian besarnya. mungkin persoalannya adalah etiskah apabila mengorbankan suatu persoalan etis demi mempertahankan masalah etis yang lebih besar? Bagaimanapun juga isu etika dalam outsourcing tetap ada dan wajib untuk dicermati dan diperhatikan secara serius. Pandangan Masyarakat Indonesia Terhadap Outsourcing Pandangan umum mengenai outsourcing seringkali dibahasakan sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya. . Walaupun hak-hak karyawan merupakan hal yang cukup jelas. Pembelian itu sendiri adalah bagian kegiatan bisnis perusahaan sehingga terhadap kegiatan pembelian berlaku pula etika bisnis. Akibatnya pekerjalah yang terus ditekan. Posisi outsourcing selain rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja. C. Pengurangan biaya yang dicari dengan cara outsourcing haruslah pertama-tama dilakukan dengan cara-cara lain dan cara-cara pengurangan gaji dan hak-hak karyawan hanyalah opsi terakhir dan kalau perlu tidak dilakukan pengurangan hak-hak karyawan tersebut. Hal ini banyak dialami perusahaan di negara berkembang. Salah satu tujuan yang penting dari outsorcing adalah untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dengan menekan biaya operasi. namun pencariannya tidak boleh membenarkan pengingkaran terhadap komitmen terhadap kepentingan dan hak-hak karyawan. outsourcing dapat berupa penggantian karyawan bergaji tinggi dengan karyawan temporer bergaji rendah. Keuntungan (profit) merupakan motivasi yang sangat penting dalam masyarakat dewasa ini. Pada negara yang sedang berkembang.

Yang menarik dari Premji dan bisnis outsourcingnya adalah cara Azim Premji memegang teguh nilai nilai etika adalah modal dasar dalam membangun organisasi yang kuat dan profesional. yaitu: pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja/buruh. Selain itu. Pada perkembangannya dalam draft revisi UndangUndang No. Jika China sudah mengambil pekerjaan sebagai blue collar (pegawai pabrik) dari Amerika dengan adanya pabrik-pabrik di China. Memang upah buruh di India murah. Perusahaan perusahaan outsourcing India melayani dari pengembangan software sampai dengan menjadi call center untuk perusahaan perusahaan global seperti Nokia. adalah raja dalam hal bisnis outsourcing global. tidak ada jaminan kesehatan. perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu atau tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak.000. karena lebih condong ke arah sub contracting pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja. Teknologi tinggi juga dirangkai sedemikian rupa sehingga mampu mengangkat nilai kontrak outsourcing oleh perusahaan di India. elektronik. Prudential. d. itu yang akan menang. Sistem ini menempatkan manusia sama seperti alat produksi lainnya. tidak hanya pekerjaan level bawah yang bisa didapatkan dalam sistem outsourcing. saat ini orangorang India mengambil pekerjaan para white collar (pegawai kantoran) dengan berkembangnya bisnis outsourcing di India. adanya hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. Karyawan di India 61. seperti security. antara lain. Perlindungan upah. staf marketing. namun India mampu menciptakan nilai tambah lain yaitu lewat teknologi canggih. Kita melihat sekarang. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. sistem kerja alih daya atau lebih dikenal dengan outsourcing merupakan 'buah' dari sistem kapitalisme. bahkan nuklir India.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai dasar hukum diberlakukannya outsourcing (Alih Daya) di Indonesia. insinyur india sangat maju perkembangannya baik dalam dunia IT. cleaning service. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. perusahaan outsourcing di Indonesia masih terfokus pada pekerjaan level bawah. sistem outrsourcing membawa berkah bagi pengusaha dan membawa 'suram' masa depan pekerjan. Dengan kata lain. Menurut beberapa masyarakat Indonesia. membagi outsourcing (Alih Daya) menjadi dua bagian. Perusahaan penyedia jasa untuk tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi juga harus memenuhi beberapa persyaratan. teller.000 dan di luar negeri mencapai 11. Tidak ada jaminan ketenagakerjaan. Bukan kelebihan dan pelayanan yang diutamakan. Sebagai contoh di India. Azim Premji dan Wipro menjadi perusahaan outsourcing global terbesar di India. Perusahaan yang melakukan outsourcing akan lebih efisien dan efektif. kesejahteraan. mesin. Pasal 66 UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. dan Microsoft.Perusahaan outsourcing juga gagal mendapatkan pekerjaan/kontrak yang lebih baik karena mengandalkan persaingan harga antar sesama perusahaan outsourcing. Pengaturan Outsourcing di Indonesia dan Praktek-Prakteknya UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) mengenai pemborongan pekerjaan dihapuskan. namun sebenarnya hal itu tidak lebih dari pengalihan beban saja ke pekerja outsourcing. Di India. Hubungan kerjasama antara Perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing . Programming yang melibatkan insinyur-insinyur berpendidikan tinggi juga dikerjakan di India. rendahnya perlindungan hukum. tapi mana yang dapat meyediakan jasa yang lebih murah.

syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul tetap merupakan tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. namun juga harus memenuhi ketentuan ketenagakerjaan. sementara secara hukum tidak ada hubungan kerja antara keduanya. 3. Bentuk perjanjian kerja ini . syarat-syarat kerja maupun perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 2. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. Suatu hal tertentu. ada 2 tahapan perjanjian yang dilalui yaitu: 1. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan. c. c. maka pada waktu yang bersamaan berakhir pula kontrak kerja antara karyawan dengan perusahaan outsource. Perjanjian perusahaan penyedia pekerja/buruh dengan karyawan Penyediaan jasa pekerja atau buruh untuk kegiatan penunjang perusahaan hatus memenuhi syarat sebagai berikut : a. Hal ini dimaksudkan apabila perusahaan pengguna jasa outsourcing hendak mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaan outsourcing. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) juga tidak semata-mata hanya mendasarkan pada asas kebebasan berkontrak sesuai pasal 1338 KUH Perdata. yaitu: 1. adanya hubungan kerja antara pekerja atau buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja atau buruh. d. Pemenuhan hak-hak karyawan seperti perlindungan upah dan kesejahteraan. 2. Perjanjian antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penyedia pekerja/buruh. Dari hubungan kerja ini timbul suatu permasalahan hukum. karyawan outsourcing (Alih Daya) dalam penempatannya pada perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku pada perusahaan pengguna oustourcing tersebut. Dalam hal penempatan pekerja/buruh maka perusahaan pengguna jasa pekerja akan membayar sejumlah dana (management fee) pada perusahaan penyedia pekerja/buruh. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja yang dibuat secara tertulis. bagi para pihak. Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus memenuhi syarat sah perjanjian seperti yang tercantum dalam pasal 1320 KUH Perdata. perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan dan atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua pihak. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja/buruh. b. Sebab yang halal.tentunya diikat dengan suatu perjanjian tertulis. Perjanjian kerja antara karyawan outsourcing dengan perusahaan outsourcing biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. Bentuk perjanjian kerja yang lazim digunakan dalam outsourcing adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). yaitu UU No. Perjanjian kerja antara karyawan dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) dapat berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. Tidak menghambat proses produksi secara langsung. 4. Dalam penyediaan jasa pekerja. Merupakakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. Dengan adanya 2 (dua) perjanjian tersebut maka walaupun karyawan sehari-hari bekerja di perusahaan pemberi pekerjaan namun ia tetap berstatus sebagai karyawan perusahaan penyedia pekerja. perlindungan usaha dan kesejahteraan. b. Sepakat.

Selain agar perusahaan dapat berkonsentrasi pada core competencenya. etika dan hak hak karyawan. namun pada saat rekruitment. hak hak dan kewajiban yang ada dalam outsourcing harus ditingkatkan. Melakukan eksploitasi terhadap karyawan dan melanggar hak hak yang harus diberikan dan kewajiban yang harus dipenuhi tentu saja bertentangan dengan prinsip-prinsip etika. kegiatan yang dialihkan tersebut diharapkan dapat dikerjakan dengan hasil yang lebih baik oleh perusahaan lain yang menerima pekerjaan outsourcing. Terjadi pengabaian dan pelanggaran hak hak tenaga kerja yang juga merupakan pelanggaran hukum dan etika. .Umumnya merupakan pekerjaan pekerjaan yang tidak membutuhkan skill/keahlian yang khusus. Outsourcing pada dasarnya bertujuan baik untuk perusahaan. Disamping hal yang disebutkan diatas yang terpenting adalah kesadaran moral perusahaan dan pemerintah juga masyarakat akan etika. karena lingkup pekerjaannya yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan perusahaan. Hal ini tentu saja sangat merugikan karyawan. tatacara. maka berakhir juga perjanjian kerja antara perusahaan outsourcing dengan karyawannya. agar ke depan nanti kondisi outsourcing dan pelaksanaan outsorcing di Indonesia dapat menjadi lebih baik. Tindakan ini merupakan bentuk dari pelanggaran terhadap etika yang dilakukan perusahaan terhadap karyawan dan lingkungannya. hukum dan etika maka selayaknya terdapat peraturan perundang undangan yang dapat secara detail dan menyeluruh menjamin outsourcing dilakukan dengan benar dan tidak melanggar hukum. Meskipun pemerintah Indonesia telah membuat dan memberlakukan undang-undang yang berkaitan dengan sistem. mana yang dapat menyediakan harga tenaga kerja yang lebih murah adalah yang memenangkan pasar. Karyawan outsourcing walaupun secara organisasi berada di bawah perusahaan outsourcing. Akan tatapi dalam perkembangannya yang terjadi adalah perusahaan banyak menggunakan outsourcing sebagai sarana pemangkasan biaya secara besar besaran dan melanggar etika dengan menghindari kewajiban kewajiban yang harus dipenuhi terhadap karyawan yang merupakan hak hak yang seharusnya diperoleh karyawan. karyawan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari pihak perusahaan pengguna outsourcing. Tingkat skill yang rendah menyebabkan daya tawar karyawan menjadi rendah sehingga dapat dimanfaatkan perusahaan outsourcing penyedia tenaga kerja untuk menekan harga penawaran jasa kepada perusahaan perusahaan yang membutuhkan menjadi murah.dipandang cukup fleksibel bagi perusahaan pengguna jasa outsourcing. dan untuk tujuan itu maka kegiatan-kegiatan yang bukan merupakan core competence perusahaan dialihkan pengerjaannya kepada pihak lain. Peraturan ini jika dicermati lebih jauh hanya mengatur garis besar dari outsourcing dan pekerjaan pekerjaan yang ditentukan dapat di outsourcingkan hanya merupakan pekerjaan yang tidak menyangkut kegiatan produksi utama perusahaan. hak hak yang pekerja yang seharusnya didapat tidak diperoleh. Apabila perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing berakhir.tampaknya peraturan perundang undangan ini belum dapat menjamin dan memastikan pelaksanaan outsourcing yang baik. peraturan dan penggunaan outsourcing. dan dapat mengakomodir kepentingan pengusaha dan kepetingan pekerja. Kesimpulan Outsourcing pada mulanya diciptakan dalam rangka agar perusahaan dapat berkonsentrasi pada core competencenya. Ini disebabkan karena pekerjaan yang bukan merupakan keahlian perusahaan dialihkan kepada perusahaan yang lebih mampu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Perluasan cakupan keahlian tenaga kerja yang dapat dipergunakan dalam outsourcing akan baik jika ditingkatkan sehingga pekerja memiliki daya tawar yang kuat terhadap perusahaan. Selanjutnya sudah dapat dipastikan terjadi persaingan harga tenaga kerja. Keuntungan lain yang didapatkan dengan melakukan outsourcing adalah adanya penghematan biaya dikarenakan dengan outsourcing terjadi efisiensi biaya produksi dalam perusahaan. namun agar tidak terjadi pelanggaran hak-hak karyawan.

Pengantar Etika Bisnis. 1995 Bartens.Daftar Pustaka Anonim. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives.tvone.html http://nn-no.co.com/bagaimana-membuat-perjanjian-kerja-outsource http://indosdm. Concise Oxford Dictionary. Outsourcing.facebook. Greaver II Maurice F. 1999 http://aadvokatku.id/view/?i=1203606919&c=NAS&s= www. 2000.php?uid=68915136640&topic=11539 http://sdmberkualitas. Outsourcing.blogspot. outsourcing di indonesia .com/journal/item/1222/Hak_Karyawan_Outsource http://antara.html http://sosialbudaya..com/2009/04/karyawan-kontrak-dan-outsourcing-apa.com/masalah-masalah-dalam-pelaksanaan-outsourcing http://jurnalhukum.multiply.com/2007/05/outsourcing-dan-tenaga-kerja.blogspot. Penerbit Kanisius.dikkyzulfikar.id/berita/view/30938/2010/01/01/pemerintah_harus_tegas_soal_penyim pangan_perekrutan_outsourching/ Posted by reinerain at 11:56 PM Labels: Masalah tenaga kerja.com/topic. Oxford University Press. K.co.com http://indosdm.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful