Permasalahan Outsourcing di Indonesia

Pendahuluan Persaingan dalam dunia bisnis antar perusahaan membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan maka akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran. Dewasa ini pada iklim persaingan usaha yang makin ketat, perusahaan berusaha untuk melakukan efisiensi biaya produksi (production cost). Salah satu usahanya adalah dengan melakukan sistem outsourcing, dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. Latar Belakang Garis besar tujuan perusahaan melakukan outsourcing adalah agar perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional. Tujuan ini baik adanya, namun pada pelaksanaannya, pengalihan ini menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan. Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup bervariasi, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini dikarenakan penggunaan outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku usaha, sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tentang outsourcing yang telah berjalan tersebut. Banyak perusahaan melakukan outsourcing bukan atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan aturan hukum yang ada, melainkan hanya karena tidak mau repot dengan urusan-urusan ketenagakerjaan. Perusahaan melakukan oursourcing karena tidak mau direpotkan apabila nanti terjadi PHK, dan agar tidak perlu memberi pesangon kepada karyawan yang di-PHK. Penghindaran kewajiban oleh perusahaan dalam pembayaran upah yang layak dan memenuhi kesejahteraaan karyawannya dapat dikatakan juga sebagai salah satu bentuk pelanggaran etika. Dalam melakukan kegiatan bisnis, prinsip-prinsip bisnis yang beretika sudah sepatutnya dijalankan, termasuk pula dalam melakukan outsourcing. Di Indonesia sendiri terdapat peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan untuk mengatur segala sesuatu tentang penggunaan outsourcing di wilayah Indonesia, namun jika dilihat lebih jauh lagi, peraturan ini dirasa kurang dapat mengakomodasi dan mengatasi permasalahan outsourcing di Indonesia. Tentu saja ini akan sangat terkait pula dengan etika. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dikemukakan beberapa permasalahan yang menarik terkait dengan outsourcing dan etika bisnis. Permasalahan tersebut melingkupi : 1. Apakah kaitan dari outsorcing dan etika bisnis? 2. Bagaimana tanggapan masyarakat/pekerja di Indonesia terhadap outsourcing? 3. Bagaimana seharusnya perusahaan outsorucing yang baik dan benar? 4. Apakah peraturan pemerintah telah mengatur proses pelaksanaan outsourcing di Indonesia? dan bagaimana dalam prekteknya? Tinjauan Teoritis A. Etika Bisnis Etika sebagai praksis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Dapat dikatakan juga etika sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan

” Menurut definisi Maurice Greaver. terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain. yaitu: 1. B. Free choice of employment Kebebasan memilih kepada siapa orang bekerja dan kebebasan perusahaan untuk memilih karyawan . Pertama. Sering juga digunakan kata ‘etiket’. mendefinisikan elemen elemen inti dari hak untuk bekerja. B. 2000. Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider). Dalam masyarakat umum. berarti filsafat tentang moral. dalam berbicara di depan umum. berlaku beberapa norma yang mengatur warga masyarakat. Artikel 6–8. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives. Dalam pengertian etika bisnis. Pengertian bisnis umumnya sudah lama diketahui. sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut: “ Contract to enter into or make a contract. istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary. adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing).khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Moral membicarakan mengenai baik dan buruknya tindakan manusia terhadap dirinya maupun terhadap manusia. dijabarkan sebagai berikut : “Strategic use of outside parties to perform activities. ukuran penilaian dan norma yang mengarahkan tindakan manusia terhadap diri sendiri. Dalam pengertian ini. Ketiga. The opportunity to work Merupakan hak seseorang untuk memperoleh kesempatan untuk bekerja 2. etika adalah penyelidikan filsafat tentang bidang yang mengenai kewajiban-kewajiban manuasia serta tentang yang baik dan yang buruk. to draw together.1 Hak dan Kewajiban dasar Karyawan dan Perusahaan Berdasarkan Universal Declaration of Human Rights. Social and Cultural Rights " berisi tentang ketentuan yang paling komprehensif mengenai hak untuk bekerja. sering kali disamakan dengan ‘moral’ atau ‘kumpulan asa atau nilai moral’. 33) Dalam kata’etika bisnis’ termuat kata ‘etika’ dan kata ‘bisnis’. Dalam pengertian ini.” (Webster’s English Dictionary) Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II. The International Covenant on Economic. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai. the past participle of contrahere. dapat berarti sekadar ‘sopan dantun’ atau ‘adat istiadat kebiasaan’ seperti etika dalam makan dan minum. From the latin contractus. etika lebih berarti pada arti yang ketiga. 3. (Bertens. bring about or enter into an agreement. 2. yaitu rangka normatif bagi tingkah laku manusia yang mencakup moral’. traditionally handled by internal staff and respurces. hanya mungkin perlu sedikit dibicarakan terlebih dahulu adalah mengenai kata ’etika’ dalam praktik dapat bermacam-macam misalnya: 1. yaitu rangka normatif bagi tingkah laku manusia yang mencakup aturan bertindak. 4. (1999) Beberapa pakar serta praktisi outsourcing (Alih Daya) dari Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing. Etika adalah filsafat tentang praksis manusia. Article 23(1). Dalam pengertian ini. dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama. antara lain menyebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai alih daya. Outsourcing Dalam pengertian umum. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (Alih Daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan. pada bukunya Strategic Outsourcing. Kedua. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas. yaitu moral dalam melakukan bisnis. sering juga digunakan kata’ kode etik’.

Hal ini sesuai dengan covenant ILO. Kewajiban Ketaatan Karyawan harus taat kepada atasannya dan kepada perusahaan tempat ia bekerja. Perusahaan tidak boleh memberhentikan karyawan dengan semena mena. Perusahaan diluar perusahaan induk bisa berupa vendor. Merupakan hak karyawan untuk membangun dan turut serta dalam serikat pekerja. hal ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan tenaga kerja Indonesia. Just and favourable conditions of work Merupakan kondisi lingkungan kerja yang baik dan adil. Dengan mulai bekerja di suatu perusahaan karyawan harus mendukung tujuan tujuan perusahaan. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan bisa juga mencakup tenaga kerja pada proses pendukung (non core business unit). 4. eksploitasi terhadap manusia lain dan perbudakan. core business perusahaan perusahaan otomotif tersebut terdiri dari pembuatan desain. 2. yaitu memperoleh keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar.yang akan dipekerjakan.2000.2000. Kewajiban loyalitas Kewajiban loyalitas merupakan konsekuensi dari status sebagai karyawan perusahaan. 4.Outsourcing (Alih Daya) pada dunia modern dilakukan untuk alasan-alasan yang strategis. . koperasi ataupun instansi lain yang diatur dalam suatu kesepakatan tertentu. Namun seiring dengan waktu pada akhirnya yang menjadi core business hanyalah pembuatan desain mobil sementara pembuatan suku cadang dan perakitan diserahkan pada perusahaan lain yang lebih kompeten dengan sistem outsourcing. Non-discrimination Tidak ada diskriminasi dalam hal apapun dalam bekerja dan pekerjaan. ataupun secara praktek semua lini kerja bisa dialihkan sebagai unit outsourcing seperti yang banyak terjadi di Indonesia. Kewajiban memberi gaji yang adil. memperoleh gaji dan berserikat.184) : 1. Kewajiban karyawan terhadap perusahaan menurut (Bartens. Selain hak . Sistem Outsourcing Outsourcing atau alih daya adalah proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Outsourcing seringkali dibahasakan sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya. Toyota dan Honda. Perusahaan tidak boleh menerapkan praktek diskriminasi. Perusahaan harus menjamin kesehatan dan keselamatan kerja. 3. 2. Pada awalnya dalam proses produksi mobil. seperti yang telah disebutkan diatas memiliki hak untuk bekerja. Hak dalam bekerja merupakan turunan dari hak asasi manusia yang tercantum dalam deklarasi HAM dengan tanpa memandang lingkungan sosial politik dan budaya dari seorang karyawan. Karyawan yang bekerja dalam sebuah perusahaan memiliki kewajiban yang harus dipenuhi kepada perusahaan dan hak yang harus diperoleh dari perusahaan. The right to form and join trade unions. karyawan dan perusahaan memiliki kewajiban kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing masing. Kewajiban Konfidensialitas merupakan kewajiban karyawan untuk menyimpan informasi yang sifatnya konfidensial. Dalam bekerja dianut pula konsep "free choice of employment" sehingga tidak dibenarkan adanya kerja paksa . Beberapa ketentuan pokok dalam outsorcing adalah penyelenggara outsourcing harus berbadan hukum. sehingga perusahaan mobil tersebut bisa meraih keunggulan kompetitif. Analisis A. Outsourcing (Alih Daya) untuk meraih keunggulan kompetitif ini dapat dilihat pada industri-industri mobil besar di dunia seperti Nissan. pembuatan suku cadang dan perakitan. Sedangkan kewajiban kewajiban perusahaan menurut Bartens meliputi (Bartens. 3. Karyawan dalam perusahaan. menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. 169) meliputi : 1. 5. 3.

. persoalannya tidak hanya itu. Posisi outsourcing selain rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja. kelanjutan kontrak. mungkin persoalannya adalah etiskah apabila mengorbankan suatu persoalan etis demi mempertahankan masalah etis yang lebih besar? Bagaimanapun juga isu etika dalam outsourcing tetap ada dan wajib untuk dicermati dan diperhatikan secara serius. artinya tidak semua perusahaan terpaksa memberikan gaji rendah karena faktor mempertahankan hidup perusahaan. dengan sistem kontrak maupun gaji yang minim. Karyawan outsourcing bisa merupakan karyawan tetap ataupun kontrak. Namun pada prakteknya outsourcing pada umumnya didorong oleh ‘ketamakan’ sebuah perusahaan untuk menekan cost serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya yang seringkali melanggar etika bisnis. Walaupun hak-hak karyawan merupakan hal yang cukup jelas. Salah satu tujuan yang penting dari outsorcing adalah untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dengan menekan biaya operasi. Ada perusahaan yang terlalu serakah dalam mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan mengorbankan kepentingan pokok karyawannya. namun pencariannya tidak boleh membenarkan pengingkaran terhadap komitmen terhadap kepentingan dan hak-hak karyawan. jaminan pensiun). Pembelian itu sendiri adalah bagian kegiatan bisnis perusahaan sehingga terhadap kegiatan pembelian berlaku pula etika bisnis. Outsourcing pada umumnya menutup kesempatan karyawan menjadi permanen.hak-hak normatif harus diberikan kepada karyawan outsourcing. Keuntungan (profit) merupakan motivasi yang sangat penting dalam masyarakat dewasa ini.Outsourcing seringkali mengurangi hak-hak karyawan yang seharusnya dia dapatkan bila menjadi karyawan permanen (kesehatan. C. banyak wujud outsourcing yang berupa mengganti pekerjaan karyawan tetap dan purna waktu dengan karyawan yang tidak tetap dan paruh waktu. yang boleh di-outsource hanyalah proses-proses pendukung saja (bukan proses utama atau core business perusahaan). adalah ketidakmampuan perusahaan outsourcing menciptakan nilai tambah sehingga ia mengandalkan upah murah sebagai cara mendapatkan profit. Pada negara yang sedang berkembang. Akibatnya pekerjalah yang terus ditekan. Oleh karena itu. B. Oleh karena itu.yang salah. Di indonesia praktet yang terjadi . namun dalam pelaksanaannya tidaklah semudah itu. Beberapa orang menganggap adalah tidak etis bila perusahaan yang dalam kondisi persaingan ketat membebani penurunan biaya dalam bentuk pengurangan gaji dan peniadaan asuransi kesehatan bagi karyawan tingkat bawah dan buruh sementara para eksekutif menerima gaji yang sedemikian besarnya. Pengurangan biaya yang dicari dengan cara outsourcing haruslah pertama-tama dilakukan dengan cara-cara lain dan cara-cara pengurangan gaji dan hak-hak karyawan hanyalah opsi terakhir dan kalau perlu tidak dilakukan pengurangan hak-hak karyawan tersebut. Hal ini banyak dialami perusahaan di negara berkembang. Dengan kata lain. Memang tidak semua hal berlaku demikian. Pandangan Masyarakat Indonesia Terhadap Outsourcing Pandangan umum mengenai outsourcing seringkali dibahasakan sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya. benefit dan lain lain). hal inilah yang yang menyebabkan outsourcing bersinggungan dengan etika. manajemen harus mempertimbangkan pentingnya kesetiaan dan keamanan kelangsungan kerja. Dalam banyak hal cukup sulit untuk memberikan gaji karyawan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut karena kemampuan perusahaan. hal itu bergantung kepada sifat pekerjaannya (apakah memenuhi syarat untuk kontrak?) dan juga bergantung kepada kebijakan pengelola outsorcing itu. outsourcing dapat berupa penggantian karyawan bergaji tinggi dengan karyawan temporer bergaji rendah. Keterkaitan Antara Etika dan Outsourcing Ketenagakerjaan Kegiatan outsourcing pada hakikatnya adalah kegiatan pembelian. selalu ada persoalan dilematis antara memperkerjakan sedikit orang dengan gaji cukup atau memperkerjakan banyak orang dengan gaji kurang sementara angka pengangguran begitu tinggi. Dalam menerapkan outsourcing. yaitu: pembelian jasa. karyawan kontrak atau bentuk lain dimana karyawan tidak atau lebih sedikit menerima keuntungan.

Jika China sudah mengambil pekerjaan sebagai blue collar (pegawai pabrik) dari Amerika dengan adanya pabrik-pabrik di China. Perusahaan yang melakukan outsourcing akan lebih efisien dan efektif. cleaning service. kesejahteraan. itu yang akan menang.Perusahaan outsourcing juga gagal mendapatkan pekerjaan/kontrak yang lebih baik karena mengandalkan persaingan harga antar sesama perusahaan outsourcing. sistem kerja alih daya atau lebih dikenal dengan outsourcing merupakan 'buah' dari sistem kapitalisme. tidak hanya pekerjaan level bawah yang bisa didapatkan dalam sistem outsourcing. Perusahaan perusahaan outsourcing India melayani dari pengembangan software sampai dengan menjadi call center untuk perusahaan perusahaan global seperti Nokia. Pasal 66 UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. adalah raja dalam hal bisnis outsourcing global. antara lain. adanya hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu atau tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak. namun sebenarnya hal itu tidak lebih dari pengalihan beban saja ke pekerja outsourcing. Hubungan kerjasama antara Perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing . staf marketing. namun India mampu menciptakan nilai tambah lain yaitu lewat teknologi canggih. Teknologi tinggi juga dirangkai sedemikian rupa sehingga mampu mengangkat nilai kontrak outsourcing oleh perusahaan di India. yaitu: pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja/buruh. Karyawan di India 61. Tidak ada jaminan ketenagakerjaan. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) mengenai pemborongan pekerjaan dihapuskan. tidak ada jaminan kesehatan. Bukan kelebihan dan pelayanan yang diutamakan. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. membagi outsourcing (Alih Daya) menjadi dua bagian. karena lebih condong ke arah sub contracting pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja. Dengan kata lain. dan Microsoft. Pengaturan Outsourcing di Indonesia dan Praktek-Prakteknya UU No. Menurut beberapa masyarakat Indonesia. Selain itu. Di India. saat ini orangorang India mengambil pekerjaan para white collar (pegawai kantoran) dengan berkembangnya bisnis outsourcing di India. Perlindungan upah.000 dan di luar negeri mencapai 11.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai dasar hukum diberlakukannya outsourcing (Alih Daya) di Indonesia. Pada perkembangannya dalam draft revisi UndangUndang No. Memang upah buruh di India murah. insinyur india sangat maju perkembangannya baik dalam dunia IT. d. Sistem ini menempatkan manusia sama seperti alat produksi lainnya. bahkan nuklir India. elektronik. seperti security. Azim Premji dan Wipro menjadi perusahaan outsourcing global terbesar di India. teller. Kita melihat sekarang.000. Sebagai contoh di India. Programming yang melibatkan insinyur-insinyur berpendidikan tinggi juga dikerjakan di India. Yang menarik dari Premji dan bisnis outsourcingnya adalah cara Azim Premji memegang teguh nilai nilai etika adalah modal dasar dalam membangun organisasi yang kuat dan profesional. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. perusahaan outsourcing di Indonesia masih terfokus pada pekerjaan level bawah. Perusahaan penyedia jasa untuk tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi juga harus memenuhi beberapa persyaratan. tapi mana yang dapat meyediakan jasa yang lebih murah. mesin. Prudential. rendahnya perlindungan hukum. sistem outrsourcing membawa berkah bagi pengusaha dan membawa 'suram' masa depan pekerjan.

Suatu hal tertentu. b. Bentuk perjanjian kerja ini . Perjanjian perusahaan penyedia pekerja/buruh dengan karyawan Penyediaan jasa pekerja atau buruh untuk kegiatan penunjang perusahaan hatus memenuhi syarat sebagai berikut : a. ada 2 tahapan perjanjian yang dilalui yaitu: 1. 2. Dari hubungan kerja ini timbul suatu permasalahan hukum. c. perlindungan usaha dan kesejahteraan. Perjanjian kerja antara karyawan dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) dapat berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). Dalam hal penempatan pekerja/buruh maka perusahaan pengguna jasa pekerja akan membayar sejumlah dana (management fee) pada perusahaan penyedia pekerja/buruh.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. namun juga harus memenuhi ketentuan ketenagakerjaan. d. Perjanjian kerja antara karyawan outsourcing dengan perusahaan outsourcing biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. 3. Pemenuhan hak-hak karyawan seperti perlindungan upah dan kesejahteraan. Kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan. 2. b. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. Dalam penyediaan jasa pekerja. perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan dan atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua pihak. Merupakakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja yang dibuat secara tertulis. Hal ini dimaksudkan apabila perusahaan pengguna jasa outsourcing hendak mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaan outsourcing. yaitu: 1. sementara secara hukum tidak ada hubungan kerja antara keduanya. adanya hubungan kerja antara pekerja atau buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja atau buruh. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Sepakat. c. karyawan outsourcing (Alih Daya) dalam penempatannya pada perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku pada perusahaan pengguna oustourcing tersebut. Tidak menghambat proses produksi secara langsung. yaitu UU No. syarat-syarat kerja maupun perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja/buruh.tentunya diikat dengan suatu perjanjian tertulis. Bentuk perjanjian kerja yang lazim digunakan dalam outsourcing adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus memenuhi syarat sah perjanjian seperti yang tercantum dalam pasal 1320 KUH Perdata. Perjanjian antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penyedia pekerja/buruh. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) juga tidak semata-mata hanya mendasarkan pada asas kebebasan berkontrak sesuai pasal 1338 KUH Perdata. maka pada waktu yang bersamaan berakhir pula kontrak kerja antara karyawan dengan perusahaan outsource. Dengan adanya 2 (dua) perjanjian tersebut maka walaupun karyawan sehari-hari bekerja di perusahaan pemberi pekerjaan namun ia tetap berstatus sebagai karyawan perusahaan penyedia pekerja. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul tetap merupakan tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. bagi para pihak. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. Sebab yang halal. 4.

Apabila perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing berakhir. Ini disebabkan karena pekerjaan yang bukan merupakan keahlian perusahaan dialihkan kepada perusahaan yang lebih mampu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Karyawan outsourcing walaupun secara organisasi berada di bawah perusahaan outsourcing. kegiatan yang dialihkan tersebut diharapkan dapat dikerjakan dengan hasil yang lebih baik oleh perusahaan lain yang menerima pekerjaan outsourcing.dipandang cukup fleksibel bagi perusahaan pengguna jasa outsourcing. hak hak yang pekerja yang seharusnya didapat tidak diperoleh. hak hak dan kewajiban yang ada dalam outsourcing harus ditingkatkan. Disamping hal yang disebutkan diatas yang terpenting adalah kesadaran moral perusahaan dan pemerintah juga masyarakat akan etika. Tindakan ini merupakan bentuk dari pelanggaran terhadap etika yang dilakukan perusahaan terhadap karyawan dan lingkungannya. Outsourcing pada dasarnya bertujuan baik untuk perusahaan. Terjadi pengabaian dan pelanggaran hak hak tenaga kerja yang juga merupakan pelanggaran hukum dan etika. karena lingkup pekerjaannya yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan perusahaan. namun agar tidak terjadi pelanggaran hak-hak karyawan. Perluasan cakupan keahlian tenaga kerja yang dapat dipergunakan dalam outsourcing akan baik jika ditingkatkan sehingga pekerja memiliki daya tawar yang kuat terhadap perusahaan. Melakukan eksploitasi terhadap karyawan dan melanggar hak hak yang harus diberikan dan kewajiban yang harus dipenuhi tentu saja bertentangan dengan prinsip-prinsip etika. peraturan dan penggunaan outsourcing. Selain agar perusahaan dapat berkonsentrasi pada core competencenya. maka berakhir juga perjanjian kerja antara perusahaan outsourcing dengan karyawannya. Tingkat skill yang rendah menyebabkan daya tawar karyawan menjadi rendah sehingga dapat dimanfaatkan perusahaan outsourcing penyedia tenaga kerja untuk menekan harga penawaran jasa kepada perusahaan perusahaan yang membutuhkan menjadi murah. mana yang dapat menyediakan harga tenaga kerja yang lebih murah adalah yang memenangkan pasar. etika dan hak hak karyawan. Selanjutnya sudah dapat dipastikan terjadi persaingan harga tenaga kerja. . dan untuk tujuan itu maka kegiatan-kegiatan yang bukan merupakan core competence perusahaan dialihkan pengerjaannya kepada pihak lain.tampaknya peraturan perundang undangan ini belum dapat menjamin dan memastikan pelaksanaan outsourcing yang baik. hukum dan etika maka selayaknya terdapat peraturan perundang undangan yang dapat secara detail dan menyeluruh menjamin outsourcing dilakukan dengan benar dan tidak melanggar hukum. Kesimpulan Outsourcing pada mulanya diciptakan dalam rangka agar perusahaan dapat berkonsentrasi pada core competencenya. tatacara. Peraturan ini jika dicermati lebih jauh hanya mengatur garis besar dari outsourcing dan pekerjaan pekerjaan yang ditentukan dapat di outsourcingkan hanya merupakan pekerjaan yang tidak menyangkut kegiatan produksi utama perusahaan. Keuntungan lain yang didapatkan dengan melakukan outsourcing adalah adanya penghematan biaya dikarenakan dengan outsourcing terjadi efisiensi biaya produksi dalam perusahaan. dan dapat mengakomodir kepentingan pengusaha dan kepetingan pekerja. karyawan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari pihak perusahaan pengguna outsourcing. Akan tatapi dalam perkembangannya yang terjadi adalah perusahaan banyak menggunakan outsourcing sebagai sarana pemangkasan biaya secara besar besaran dan melanggar etika dengan menghindari kewajiban kewajiban yang harus dipenuhi terhadap karyawan yang merupakan hak hak yang seharusnya diperoleh karyawan. Meskipun pemerintah Indonesia telah membuat dan memberlakukan undang-undang yang berkaitan dengan sistem. Hal ini tentu saja sangat merugikan karyawan. agar ke depan nanti kondisi outsourcing dan pelaksanaan outsorcing di Indonesia dapat menjadi lebih baik.Umumnya merupakan pekerjaan pekerjaan yang tidak membutuhkan skill/keahlian yang khusus. namun pada saat rekruitment.

Penerbit Kanisius. 1999 http://aadvokatku. Pengantar Etika Bisnis.html http://nn-no.facebook. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives. Outsourcing. outsourcing di indonesia .blogspot..id/berita/view/30938/2010/01/01/pemerintah_harus_tegas_soal_penyim pangan_perekrutan_outsourching/ Posted by reinerain at 11:56 PM Labels: Masalah tenaga kerja.com/2009/04/karyawan-kontrak-dan-outsourcing-apa.com/2007/05/outsourcing-dan-tenaga-kerja.tvone.com/journal/item/1222/Hak_Karyawan_Outsource http://antara.html http://sosialbudaya.co.blogspot. 1995 Bartens.php?uid=68915136640&topic=11539 http://sdmberkualitas.co.Daftar Pustaka Anonim. Greaver II Maurice F.com http://indosdm. Concise Oxford Dictionary. K.com/topic.multiply.dikkyzulfikar. 2000.com/bagaimana-membuat-perjanjian-kerja-outsource http://indosdm.id/view/?i=1203606919&c=NAS&s= www. Oxford University Press. Outsourcing.com/masalah-masalah-dalam-pelaksanaan-outsourcing http://jurnalhukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful