Permasalahan Outsourcing di Indonesia

Pendahuluan Persaingan dalam dunia bisnis antar perusahaan membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan maka akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran. Dewasa ini pada iklim persaingan usaha yang makin ketat, perusahaan berusaha untuk melakukan efisiensi biaya produksi (production cost). Salah satu usahanya adalah dengan melakukan sistem outsourcing, dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan. Latar Belakang Garis besar tujuan perusahaan melakukan outsourcing adalah agar perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional. Tujuan ini baik adanya, namun pada pelaksanaannya, pengalihan ini menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan. Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup bervariasi, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini dikarenakan penggunaan outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku usaha, sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tentang outsourcing yang telah berjalan tersebut. Banyak perusahaan melakukan outsourcing bukan atas dasar kebutuhan dan sesuai dengan aturan hukum yang ada, melainkan hanya karena tidak mau repot dengan urusan-urusan ketenagakerjaan. Perusahaan melakukan oursourcing karena tidak mau direpotkan apabila nanti terjadi PHK, dan agar tidak perlu memberi pesangon kepada karyawan yang di-PHK. Penghindaran kewajiban oleh perusahaan dalam pembayaran upah yang layak dan memenuhi kesejahteraaan karyawannya dapat dikatakan juga sebagai salah satu bentuk pelanggaran etika. Dalam melakukan kegiatan bisnis, prinsip-prinsip bisnis yang beretika sudah sepatutnya dijalankan, termasuk pula dalam melakukan outsourcing. Di Indonesia sendiri terdapat peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan untuk mengatur segala sesuatu tentang penggunaan outsourcing di wilayah Indonesia, namun jika dilihat lebih jauh lagi, peraturan ini dirasa kurang dapat mengakomodasi dan mengatasi permasalahan outsourcing di Indonesia. Tentu saja ini akan sangat terkait pula dengan etika. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dikemukakan beberapa permasalahan yang menarik terkait dengan outsourcing dan etika bisnis. Permasalahan tersebut melingkupi : 1. Apakah kaitan dari outsorcing dan etika bisnis? 2. Bagaimana tanggapan masyarakat/pekerja di Indonesia terhadap outsourcing? 3. Bagaimana seharusnya perusahaan outsorucing yang baik dan benar? 4. Apakah peraturan pemerintah telah mengatur proses pelaksanaan outsourcing di Indonesia? dan bagaimana dalam prekteknya? Tinjauan Teoritis A. Etika Bisnis Etika sebagai praksis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Dapat dikatakan juga etika sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berpikir tentang apa yang dilakukan dan

dalam berbicara di depan umum. yaitu rangka normatif bagi tingkah laku manusia yang mencakup aturan bertindak. hanya mungkin perlu sedikit dibicarakan terlebih dahulu adalah mengenai kata ’etika’ dalam praktik dapat bermacam-macam misalnya: 1. dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama. Dalam pengertian ini. dapat berarti sekadar ‘sopan dantun’ atau ‘adat istiadat kebiasaan’ seperti etika dalam makan dan minum. 3. (1999) Beberapa pakar serta praktisi outsourcing (Alih Daya) dari Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing. Social and Cultural Rights " berisi tentang ketentuan yang paling komprehensif mengenai hak untuk bekerja. Article 23(1). Artikel 6–8. antara lain menyebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai alih daya. Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider). yaitu moral dalam melakukan bisnis. pada bukunya Strategic Outsourcing. The International Covenant on Economic.” (Webster’s English Dictionary) Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II. Pengertian bisnis umumnya sudah lama diketahui. etika adalah penyelidikan filsafat tentang bidang yang mengenai kewajiban-kewajiban manuasia serta tentang yang baik dan yang buruk. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas. mendefinisikan elemen elemen inti dari hak untuk bekerja. Dalam pengertian etika bisnis. yaitu: 1. 33) Dalam kata’etika bisnis’ termuat kata ‘etika’ dan kata ‘bisnis’. the past participle of contrahere. traditionally handled by internal staff and respurces. Etika adalah filsafat tentang praksis manusia. B. etika lebih berarti pada arti yang ketiga. From the latin contractus. Moral membicarakan mengenai baik dan buruknya tindakan manusia terhadap dirinya maupun terhadap manusia. Pertama. dijabarkan sebagai berikut : “Strategic use of outside parties to perform activities. bring about or enter into an agreement. Outsourcing Dalam pengertian umum. 2. 4. Ketiga. Dalam masyarakat umum. The opportunity to work Merupakan hak seseorang untuk memperoleh kesempatan untuk bekerja 2.” Menurut definisi Maurice Greaver. berarti filsafat tentang moral. adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing). Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (Alih Daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan. Sering juga digunakan kata ‘etiket’. to draw together.1 Hak dan Kewajiban dasar Karyawan dan Perusahaan Berdasarkan Universal Declaration of Human Rights. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai. terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain. sering kali disamakan dengan ‘moral’ atau ‘kumpulan asa atau nilai moral’. Dalam pengertian ini. berlaku beberapa norma yang mengatur warga masyarakat.khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dalam pengertian ini. sering juga digunakan kata’ kode etik’. sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut: “ Contract to enter into or make a contract. ukuran penilaian dan norma yang mengarahkan tindakan manusia terhadap diri sendiri. yaitu rangka normatif bagi tingkah laku manusia yang mencakup moral’. Free choice of employment Kebebasan memilih kepada siapa orang bekerja dan kebebasan perusahaan untuk memilih karyawan . B. 2000. (Bertens. istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives. Kedua.

Dalam bekerja dianut pula konsep "free choice of employment" sehingga tidak dibenarkan adanya kerja paksa . The right to form and join trade unions. Kewajiban Konfidensialitas merupakan kewajiban karyawan untuk menyimpan informasi yang sifatnya konfidensial. Sistem Outsourcing Outsourcing atau alih daya adalah proses pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. ataupun secara praktek semua lini kerja bisa dialihkan sebagai unit outsourcing seperti yang banyak terjadi di Indonesia. Perusahaan tidak boleh memberhentikan karyawan dengan semena mena. eksploitasi terhadap manusia lain dan perbudakan. Karyawan yang bekerja dalam sebuah perusahaan memiliki kewajiban yang harus dipenuhi kepada perusahaan dan hak yang harus diperoleh dari perusahaan. 169) meliputi : 1. 5. Sedangkan kewajiban kewajiban perusahaan menurut Bartens meliputi (Bartens. Perusahaan tidak boleh menerapkan praktek diskriminasi. Perusahaan harus menjamin kesehatan dan keselamatan kerja. Outsourcing seringkali dibahasakan sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya. 3. Selain hak . Kewajiban loyalitas Kewajiban loyalitas merupakan konsekuensi dari status sebagai karyawan perusahaan. Outsourcing dalam regulasi ketenagakerjaan bisa juga mencakup tenaga kerja pada proses pendukung (non core business unit). Toyota dan Honda. koperasi ataupun instansi lain yang diatur dalam suatu kesepakatan tertentu. Hal ini sesuai dengan covenant ILO. pembuatan suku cadang dan perakitan. sehingga perusahaan mobil tersebut bisa meraih keunggulan kompetitif. 3. karyawan dan perusahaan memiliki kewajiban kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing masing. Perusahaan diluar perusahaan induk bisa berupa vendor.Outsourcing (Alih Daya) pada dunia modern dilakukan untuk alasan-alasan yang strategis. Dengan mulai bekerja di suatu perusahaan karyawan harus mendukung tujuan tujuan perusahaan. Analisis A. Merupakan hak karyawan untuk membangun dan turut serta dalam serikat pekerja. Outsourcing (Alih Daya) untuk meraih keunggulan kompetitif ini dapat dilihat pada industri-industri mobil besar di dunia seperti Nissan. Kewajiban memberi gaji yang adil. Hak dalam bekerja merupakan turunan dari hak asasi manusia yang tercantum dalam deklarasi HAM dengan tanpa memandang lingkungan sosial politik dan budaya dari seorang karyawan.2000. yaitu memperoleh keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar.184) : 1. Namun seiring dengan waktu pada akhirnya yang menjadi core business hanyalah pembuatan desain mobil sementara pembuatan suku cadang dan perakitan diserahkan pada perusahaan lain yang lebih kompeten dengan sistem outsourcing. 2. 3. Just and favourable conditions of work Merupakan kondisi lingkungan kerja yang baik dan adil. Beberapa ketentuan pokok dalam outsorcing adalah penyelenggara outsourcing harus berbadan hukum. menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. Kewajiban karyawan terhadap perusahaan menurut (Bartens. seperti yang telah disebutkan diatas memiliki hak untuk bekerja. core business perusahaan perusahaan otomotif tersebut terdiri dari pembuatan desain. Pada awalnya dalam proses produksi mobil. Kewajiban Ketaatan Karyawan harus taat kepada atasannya dan kepada perusahaan tempat ia bekerja. Non-discrimination Tidak ada diskriminasi dalam hal apapun dalam bekerja dan pekerjaan. .yang akan dipekerjakan. memperoleh gaji dan berserikat. Karyawan dalam perusahaan. 2.2000. 4. hal ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan tenaga kerja Indonesia. 4.

Keuntungan (profit) merupakan motivasi yang sangat penting dalam masyarakat dewasa ini. Dalam menerapkan outsourcing. namun dalam pelaksanaannya tidaklah semudah itu. adalah ketidakmampuan perusahaan outsourcing menciptakan nilai tambah sehingga ia mengandalkan upah murah sebagai cara mendapatkan profit. B. Pandangan Masyarakat Indonesia Terhadap Outsourcing Pandangan umum mengenai outsourcing seringkali dibahasakan sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya. Beberapa orang menganggap adalah tidak etis bila perusahaan yang dalam kondisi persaingan ketat membebani penurunan biaya dalam bentuk pengurangan gaji dan peniadaan asuransi kesehatan bagi karyawan tingkat bawah dan buruh sementara para eksekutif menerima gaji yang sedemikian besarnya. Pada negara yang sedang berkembang. Pembelian itu sendiri adalah bagian kegiatan bisnis perusahaan sehingga terhadap kegiatan pembelian berlaku pula etika bisnis. banyak wujud outsourcing yang berupa mengganti pekerjaan karyawan tetap dan purna waktu dengan karyawan yang tidak tetap dan paruh waktu. Ada perusahaan yang terlalu serakah dalam mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan mengorbankan kepentingan pokok karyawannya. outsourcing dapat berupa penggantian karyawan bergaji tinggi dengan karyawan temporer bergaji rendah. persoalannya tidak hanya itu. Memang tidak semua hal berlaku demikian. benefit dan lain lain). yang boleh di-outsource hanyalah proses-proses pendukung saja (bukan proses utama atau core business perusahaan). Dalam banyak hal cukup sulit untuk memberikan gaji karyawan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut karena kemampuan perusahaan. Hal ini banyak dialami perusahaan di negara berkembang. hal itu bergantung kepada sifat pekerjaannya (apakah memenuhi syarat untuk kontrak?) dan juga bergantung kepada kebijakan pengelola outsorcing itu. dengan sistem kontrak maupun gaji yang minim. Keterkaitan Antara Etika dan Outsourcing Ketenagakerjaan Kegiatan outsourcing pada hakikatnya adalah kegiatan pembelian. Namun pada prakteknya outsourcing pada umumnya didorong oleh ‘ketamakan’ sebuah perusahaan untuk menekan cost serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya yang seringkali melanggar etika bisnis. karyawan kontrak atau bentuk lain dimana karyawan tidak atau lebih sedikit menerima keuntungan. Dengan kata lain. jaminan pensiun). kelanjutan kontrak. selalu ada persoalan dilematis antara memperkerjakan sedikit orang dengan gaji cukup atau memperkerjakan banyak orang dengan gaji kurang sementara angka pengangguran begitu tinggi.Outsourcing seringkali mengurangi hak-hak karyawan yang seharusnya dia dapatkan bila menjadi karyawan permanen (kesehatan. Oleh karena itu. Karyawan outsourcing bisa merupakan karyawan tetap ataupun kontrak. Di indonesia praktet yang terjadi . Oleh karena itu. Salah satu tujuan yang penting dari outsorcing adalah untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dengan menekan biaya operasi. namun pencariannya tidak boleh membenarkan pengingkaran terhadap komitmen terhadap kepentingan dan hak-hak karyawan. Walaupun hak-hak karyawan merupakan hal yang cukup jelas. Akibatnya pekerjalah yang terus ditekan.hak-hak normatif harus diberikan kepada karyawan outsourcing. C. manajemen harus mempertimbangkan pentingnya kesetiaan dan keamanan kelangsungan kerja. mungkin persoalannya adalah etiskah apabila mengorbankan suatu persoalan etis demi mempertahankan masalah etis yang lebih besar? Bagaimanapun juga isu etika dalam outsourcing tetap ada dan wajib untuk dicermati dan diperhatikan secara serius. Outsourcing pada umumnya menutup kesempatan karyawan menjadi permanen. yaitu: pembelian jasa. Pengurangan biaya yang dicari dengan cara outsourcing haruslah pertama-tama dilakukan dengan cara-cara lain dan cara-cara pengurangan gaji dan hak-hak karyawan hanyalah opsi terakhir dan kalau perlu tidak dilakukan pengurangan hak-hak karyawan tersebut. . Posisi outsourcing selain rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja. artinya tidak semua perusahaan terpaksa memberikan gaji rendah karena faktor mempertahankan hidup perusahaan.yang salah. hal inilah yang yang menyebabkan outsourcing bersinggungan dengan etika.

dan Microsoft. Di India. d. Perusahaan perusahaan outsourcing India melayani dari pengembangan software sampai dengan menjadi call center untuk perusahaan perusahaan global seperti Nokia. tapi mana yang dapat meyediakan jasa yang lebih murah. itu yang akan menang. Programming yang melibatkan insinyur-insinyur berpendidikan tinggi juga dikerjakan di India. cleaning service. membagi outsourcing (Alih Daya) menjadi dua bagian. sistem outrsourcing membawa berkah bagi pengusaha dan membawa 'suram' masa depan pekerjan. kesejahteraan. adalah raja dalam hal bisnis outsourcing global. Memang upah buruh di India murah. bahkan nuklir India. Tidak ada jaminan ketenagakerjaan. antara lain. Bukan kelebihan dan pelayanan yang diutamakan. saat ini orangorang India mengambil pekerjaan para white collar (pegawai kantoran) dengan berkembangnya bisnis outsourcing di India.Perusahaan outsourcing juga gagal mendapatkan pekerjaan/kontrak yang lebih baik karena mengandalkan persaingan harga antar sesama perusahaan outsourcing. yaitu: pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja/buruh. staf marketing. elektronik. Sistem ini menempatkan manusia sama seperti alat produksi lainnya. teller. kecuali untuk kegiatan jasa penunjang yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi. Jika China sudah mengambil pekerjaan sebagai blue collar (pegawai pabrik) dari Amerika dengan adanya pabrik-pabrik di China. namun sebenarnya hal itu tidak lebih dari pengalihan beban saja ke pekerja outsourcing. Teknologi tinggi juga dirangkai sedemikian rupa sehingga mampu mengangkat nilai kontrak outsourcing oleh perusahaan di India. mesin. tidak ada jaminan kesehatan. Sebagai contoh di India. perusahaan outsourcing di Indonesia masih terfokus pada pekerjaan level bawah. perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu atau tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak. Perusahaan yang melakukan outsourcing akan lebih efisien dan efektif. Pasal 66 UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) mengenai pemborongan pekerjaan dihapuskan. karena lebih condong ke arah sub contracting pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja. Dengan kata lain. Hubungan kerjasama antara Perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing . seperti security. Azim Premji dan Wipro menjadi perusahaan outsourcing global terbesar di India. adanya hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. namun India mampu menciptakan nilai tambah lain yaitu lewat teknologi canggih. tidak hanya pekerjaan level bawah yang bisa didapatkan dalam sistem outsourcing.000. Selain itu. Pengaturan Outsourcing di Indonesia dan Praktek-Prakteknya UU No. Perlindungan upah. Pada perkembangannya dalam draft revisi UndangUndang No. Prudential. Yang menarik dari Premji dan bisnis outsourcingnya adalah cara Azim Premji memegang teguh nilai nilai etika adalah modal dasar dalam membangun organisasi yang kuat dan profesional. insinyur india sangat maju perkembangannya baik dalam dunia IT. Perusahaan penyedia jasa untuk tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi juga harus memenuhi beberapa persyaratan. Karyawan di India 61. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai dasar hukum diberlakukannya outsourcing (Alih Daya) di Indonesia. Menurut beberapa masyarakat Indonesia.000 dan di luar negeri mencapai 11. sistem kerja alih daya atau lebih dikenal dengan outsourcing merupakan 'buah' dari sistem kapitalisme. rendahnya perlindungan hukum. Kita melihat sekarang.

adanya hubungan kerja antara pekerja atau buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja atau buruh. Pemenuhan hak-hak karyawan seperti perlindungan upah dan kesejahteraan. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan. Hal ini dimaksudkan apabila perusahaan pengguna jasa outsourcing hendak mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaan outsourcing. yaitu UU No. Sebab yang halal. Dari hubungan kerja ini timbul suatu permasalahan hukum. Perjanjian kerja antara karyawan outsourcing dengan perusahaan outsourcing biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. 2. 4. maka pada waktu yang bersamaan berakhir pula kontrak kerja antara karyawan dengan perusahaan outsource. syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul tetap merupakan tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. Dalam penyediaan jasa pekerja. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja/buruh. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. karyawan outsourcing (Alih Daya) dalam penempatannya pada perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku pada perusahaan pengguna oustourcing tersebut.tentunya diikat dengan suatu perjanjian tertulis. c. perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan dan atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua pihak. Dalam hal penempatan pekerja/buruh maka perusahaan pengguna jasa pekerja akan membayar sejumlah dana (management fee) pada perusahaan penyedia pekerja/buruh. ada 2 tahapan perjanjian yang dilalui yaitu: 1. Dengan adanya 2 (dua) perjanjian tersebut maka walaupun karyawan sehari-hari bekerja di perusahaan pemberi pekerjaan namun ia tetap berstatus sebagai karyawan perusahaan penyedia pekerja. 3. namun juga harus memenuhi ketentuan ketenagakerjaan. Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus memenuhi syarat sah perjanjian seperti yang tercantum dalam pasal 1320 KUH Perdata. d. Bentuk perjanjian kerja ini . Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama. b. Bentuk perjanjian kerja yang lazim digunakan dalam outsourcing adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). syarat-syarat kerja maupun perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh. sementara secara hukum tidak ada hubungan kerja antara keduanya. Perjanjian perusahaan penyedia pekerja/buruh dengan karyawan Penyediaan jasa pekerja atau buruh untuk kegiatan penunjang perusahaan hatus memenuhi syarat sebagai berikut : a. Suatu hal tertentu. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja yang dibuat secara tertulis. Tidak menghambat proses produksi secara langsung. Kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan. perlindungan usaha dan kesejahteraan. bagi para pihak. Perjanjian kerja antara karyawan dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) dapat berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT). c. yaitu: 1. Perjanjian antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penyedia pekerja/buruh.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) juga tidak semata-mata hanya mendasarkan pada asas kebebasan berkontrak sesuai pasal 1338 KUH Perdata. Sepakat. b. Merupakakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan. 2.

Kesimpulan Outsourcing pada mulanya diciptakan dalam rangka agar perusahaan dapat berkonsentrasi pada core competencenya. Karyawan outsourcing walaupun secara organisasi berada di bawah perusahaan outsourcing. Apabila perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing berakhir. Tingkat skill yang rendah menyebabkan daya tawar karyawan menjadi rendah sehingga dapat dimanfaatkan perusahaan outsourcing penyedia tenaga kerja untuk menekan harga penawaran jasa kepada perusahaan perusahaan yang membutuhkan menjadi murah. karena lingkup pekerjaannya yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan perusahaan. Keuntungan lain yang didapatkan dengan melakukan outsourcing adalah adanya penghematan biaya dikarenakan dengan outsourcing terjadi efisiensi biaya produksi dalam perusahaan. Selanjutnya sudah dapat dipastikan terjadi persaingan harga tenaga kerja. Terjadi pengabaian dan pelanggaran hak hak tenaga kerja yang juga merupakan pelanggaran hukum dan etika. Meskipun pemerintah Indonesia telah membuat dan memberlakukan undang-undang yang berkaitan dengan sistem. dan untuk tujuan itu maka kegiatan-kegiatan yang bukan merupakan core competence perusahaan dialihkan pengerjaannya kepada pihak lain. Perluasan cakupan keahlian tenaga kerja yang dapat dipergunakan dalam outsourcing akan baik jika ditingkatkan sehingga pekerja memiliki daya tawar yang kuat terhadap perusahaan.tampaknya peraturan perundang undangan ini belum dapat menjamin dan memastikan pelaksanaan outsourcing yang baik.Umumnya merupakan pekerjaan pekerjaan yang tidak membutuhkan skill/keahlian yang khusus. Peraturan ini jika dicermati lebih jauh hanya mengatur garis besar dari outsourcing dan pekerjaan pekerjaan yang ditentukan dapat di outsourcingkan hanya merupakan pekerjaan yang tidak menyangkut kegiatan produksi utama perusahaan. tatacara. peraturan dan penggunaan outsourcing. namun agar tidak terjadi pelanggaran hak-hak karyawan. kegiatan yang dialihkan tersebut diharapkan dapat dikerjakan dengan hasil yang lebih baik oleh perusahaan lain yang menerima pekerjaan outsourcing. hak hak dan kewajiban yang ada dalam outsourcing harus ditingkatkan. Hal ini tentu saja sangat merugikan karyawan. dan dapat mengakomodir kepentingan pengusaha dan kepetingan pekerja. hukum dan etika maka selayaknya terdapat peraturan perundang undangan yang dapat secara detail dan menyeluruh menjamin outsourcing dilakukan dengan benar dan tidak melanggar hukum. hak hak yang pekerja yang seharusnya didapat tidak diperoleh. Tindakan ini merupakan bentuk dari pelanggaran terhadap etika yang dilakukan perusahaan terhadap karyawan dan lingkungannya. mana yang dapat menyediakan harga tenaga kerja yang lebih murah adalah yang memenangkan pasar. Ini disebabkan karena pekerjaan yang bukan merupakan keahlian perusahaan dialihkan kepada perusahaan yang lebih mampu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Outsourcing pada dasarnya bertujuan baik untuk perusahaan. Disamping hal yang disebutkan diatas yang terpenting adalah kesadaran moral perusahaan dan pemerintah juga masyarakat akan etika. maka berakhir juga perjanjian kerja antara perusahaan outsourcing dengan karyawannya. Selain agar perusahaan dapat berkonsentrasi pada core competencenya. agar ke depan nanti kondisi outsourcing dan pelaksanaan outsorcing di Indonesia dapat menjadi lebih baik. . Akan tatapi dalam perkembangannya yang terjadi adalah perusahaan banyak menggunakan outsourcing sebagai sarana pemangkasan biaya secara besar besaran dan melanggar etika dengan menghindari kewajiban kewajiban yang harus dipenuhi terhadap karyawan yang merupakan hak hak yang seharusnya diperoleh karyawan.dipandang cukup fleksibel bagi perusahaan pengguna jasa outsourcing. etika dan hak hak karyawan. namun pada saat rekruitment. karyawan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari pihak perusahaan pengguna outsourcing. Melakukan eksploitasi terhadap karyawan dan melanggar hak hak yang harus diberikan dan kewajiban yang harus dipenuhi tentu saja bertentangan dengan prinsip-prinsip etika.

dikkyzulfikar. Concise Oxford Dictionary.html http://nn-no.co. Greaver II Maurice F. 2000. 1995 Bartens.id/view/?i=1203606919&c=NAS&s= www. Pengantar Etika Bisnis.id/berita/view/30938/2010/01/01/pemerintah_harus_tegas_soal_penyim pangan_perekrutan_outsourching/ Posted by reinerain at 11:56 PM Labels: Masalah tenaga kerja. Outsourcing. Oxford University Press.multiply. Outsourcing.facebook.com/2009/04/karyawan-kontrak-dan-outsourcing-apa.com/journal/item/1222/Hak_Karyawan_Outsource http://antara. Penerbit Kanisius.co.com/2007/05/outsourcing-dan-tenaga-kerja.com/bagaimana-membuat-perjanjian-kerja-outsource http://indosdm.html http://sosialbudaya.Daftar Pustaka Anonim. 1999 http://aadvokatku.tvone.com http://indosdm. K.blogspot. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives..com/topic.com/masalah-masalah-dalam-pelaksanaan-outsourcing http://jurnalhukum. outsourcing di indonesia .blogspot.php?uid=68915136640&topic=11539 http://sdmberkualitas.