Tugas dan wewenang

Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar
MPR berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam mengubah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, anggota MPR tidak dapat mengusulkan pengubahan terhadap Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Usul pengubahan pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diajukan oleh sekurangkurangnya 1/3 (satu pertiga) dari jumlah anggota MPR. Setiap usul pengubahan diajukan secara tertulis dengan menunjukkan secara jelas pasal yang diusulkan diubah beserta alasannya. Usul pengubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diajukan kepada pimpinan MPR. Setelah menerima usul pengubahan, pimpinan MPR memeriksa kelengkapan persyaratannya, yaitu jumlah pengusul dan pasal yang diusulkan diubah yang disertai alasan pengubahan yang paling lama dilakukan selama 30 (tiga puluh) hari sejak usul diterima pimpinan MPR. Dalam pemeriksaan, pimpinan MPR mengadakan rapat dengan pimpinan fraksi dan pimpinan Kelompok Anggota MPR untuk membahas kelengkapan persyaratan. Jika usul pengubahan tidak memenuhi kelengkapan persyaratan, pimpinan MPR memberitahukan penolakan usul pengubahan secara tertulis kepada pihak pengusul beserta alasannya. Namun, jika pengubahan dinyatakan oleh pimpinan MPR memenuhi kelengkapan persyaratan, pimpinan MPR wajib menyelenggarakan sidang paripurna MPR paling lambat 60 (enam puluh) hari. Anggota MPR menerima salinan usul pengubahan yang telah memenuhi kelengkapan persyaratan paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum dilaksanakan sidang paripurna MPR. Sidang paripurna MPR dapat memutuskan pengubahan pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% (lima puluh persen) dari jumlah anggota ditambah 1 (satu) anggota.

Melantik Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan umum
MPR melantik Presiden dan Wakil Presiden hasil pemilihan umum dalam sidang paripurna MPR. Sebelum reformasi, MPR yang merupakan lembaga tertinggi negara memiliki kewenangan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dengan suara terbanyak, namun sejak reformasi bergulir, kewenangan itu dicabut sendiri oleh MPR. Perubahan kewenangan tersebut diputuskan dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-7 (lanjutan 2) tanggal 09 November 2001, yang memutuskan bahwa Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, Pasal 6A ayat (1).

Memutuskan usul DPR untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya

diberhentikan. dari 2 (dua) pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum sebelumnya. diberhentikan. Usul DPR harus dilengkapi dengan putusan Mahkamah Konstitusi bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara. Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan rapat paripurna DPR. korupsi. MPR wajib menyelenggarakan sidang paripurna MPR untuk memutuskan usul DPR mengenai pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden pada masa jabatannya paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak MPR menerima usul. Memilih Wakil Presiden Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden. . MPR menyelenggarakan sidang paripurna paling lambat 30 (tiga puluh) hari untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. MPR menyelenggarakan sidang paripurna dalam waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari untuk memilih Wakil Presiden dari 2 (dua) calon yang diusulkan oleh Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya. Melantik Wakil Presiden menjadi Presiden Jika Presiden mangkat. Keputusan MPR terhadap usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden diambil dalam sidang paripurna MPR yang dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota yang hadir. Dalam hal DPR tidak dapat mengadakan rapat. Pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden diusulkan oleh DPR. berhenti. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan.Presiden bersumpah menurut agama atau berjanji dengan sungguhsungguh di hadapan pimpinan MPR dengan disaksikan oleh pimpinan Mahkamah Agung. ia digantikan oleh Wakil Presiden sampai berakhir masa jabatannya.MPR hanya dapat memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Memilih Presiden dan Wakil Presiden Apabila Presiden dan Wakil Presiden mangkat. sampai berakhir masa jabatannya. tindak pidana berat lainnya. MPR segera menyelenggarakan sidang paripurna MPR untuk melantik Wakil Presiden menjadi Presiden. berhenti. Jika terjadi kekosongan jabatan Presiden. penyuapan. maupun perbuatan tercela dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Dalam hal MPR tidak dapat mengadakan sidang.

dan Menteri Pertahanan secara bersama-sama. . diberhentikan. pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri. berhenti. Menteri Dalam Negeri.Dalam hal Presiden dan Wakil Presiden mangkat. atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan.

hubungan pusat dan daerah. hubungan pusat dan daerah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah serta membahas membahas rancangan undang-undang tersebut bersama Presiden dan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden  Membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah. hubungan pusat dan daerah. pemekaran. dan penggabungan daerah. pendidikan. pajak. dan agama  Membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden   Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN Membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD terhadap pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. pembentukan. pelaksanaan APBN. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden  Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. serta membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang   Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti dan abolisi Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan menerima penempatan duta besar negara lain   Memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban keuangan negara yang disampaikan oleh BPK . membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah.Tugas dan wewenang Tugas dan wewenang DPR antara lain: Membentuk Undang-Undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama Membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undangyang diajukan oleh Presiden untuk menjadi undang-undang    Menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah. pendidikan. dan agama  Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang.

usaha kecil dan menengah). telekomunikasi. membidangi energi. hak asasi manusia. membuat perdamaian. pejabat pemerintah. Dalam hal pejabat yang disandera habis masa jabatannya atau berhenti dari jabatannya. Komisi IV. membidangi pemerintahan dalam negeri. Pada periode 2009-2014. yang bersangkutan dapat disandera paling lama 15 (lima belas) hari sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. perikanan. membidangi perhubungan. membidangi hukum dan perundang-undangan. menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam undang-undang DPR dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya berhak meminta pejabat negara. Komisi VIII. dan lingkungan. otonomi daerah. dan pangan. DPR mempunyai 11 komisi dengan ruang lingkup tugas. yang bersangkutan dilepas dari penyanderaan demi hukum. perindustrian. badan hukum. Setiap pejabat negara.   Komisi VII. membidangi pertanian. badan hukum. membidangi perdagangan.       Komisi VI. membidangi agama. badan hukum. sumber daya mineral. dan informasi. Setiap pejabat negara. pembangunan pedesaan dan kawasan tertinggal. perumahan rakyat. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan bangsa dan negara. Komisi II. riset dan teknologi. atau warga masyarakat wajib memenuhi permintaan DPR tersebut. perkebunan. pejabat pemerintah. aparatur negara. yaitu : Komisi I. koperasi. sosial dan pemberdayaan perempuan. membidangi pertahanan. pekerjaan umum. Dalam hal panggilan paksa tidak dipenuhi tanpa alasan yang sah. dan badan usaha milik negara. dan agraria. kelautan. atau warga masyarakat yang melanggar ketentuan tersebut dikenakan panggilan paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan keamanan. investasi. dan perjanjian dengan negara lain   Menyerap. luar negeri. kehutanan. . Komisi III. pejabat pemerintah. Komisi V. menghimpun.  Memberikan persetujuan kepada Presiden atas pengangkatan dan pemberhentian anggota KY Memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial untuk ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden  Memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden untuk diresmikan dengan keputusan Presiden  Memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan terhadap perjanjian yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara  Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang.

Komisi XI. kesehatan. pemuda. tenaga kerja dan transmigrasi.   Komisi IX. dan kebudayaan. membidangi keuangan. Komisi X. membidangi kependudukan. pariwisata. dan lembaga keuangan bukan bank. . perbankan. membidangi pendidikan. kesenian. perencanaan pembangunan nasional. olahraga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful