P. 1
TEKNIK PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea Mays) DAN KEDELAI

TEKNIK PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea Mays) DAN KEDELAI

|Views: 715|Likes:
Published by andylatifwijaya

More info:

Published by: andylatifwijaya on Aug 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

LABORATORIUM PRODUKSI TANAMAN 1 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER LAPORAN PRAKTIKUM NAMA NIM GOLONGAN/KELOMPOK ACARA : ANDY

LATIF WIJAYA : 081510501196 : D/2 : TEKNIK PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea Mays) DAN KEDELAI (Glycine Max) TANGGAL PRAKTIKUM TANGGAL PENYERAHAN ASISTEN : 05 NOVEMBER 2009 : 10 DESEMBER 2009 :1. DEDDY FRISNANTO 2. BACHTIAR JUSUF E. 3. ANOM PAMBUDHI 4. BOBBY HANDOKO 5. SAFITRI NURINA A. 6. ANTONIUS DWIYONO 7. EVA NURAINI 8. DENY ARIYANTO P. 9. BASVIRUDIN FAJAL 10.ALFA FIRDAUS 11.ZARANITA PRITA 12.HERVIENA DESTYANINGRUM 13.FERBRIYANTO

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut ahli biologi evolusi, jagung yang ada sekarang telah mengalamievolusi dari tanaman serealia primitif, yang bijinya terbuka dan jumlahnya sedikit, menjadi tanaman yang produktif, biji banyak pada tongkol tertutup, mempunyai nilai jual yang tinggi, dan banyak ditanam sebagai bahan pangan. Nenek moyang tanaman jagung masih menjadi kontroversi, ada tiga teori yang mengatakan tanaman jagung berasal dari pod corn, kerabat liar jagung tripsacum dan teosinte. Mangelsdorf mengatakan pod corn sebagai nenek moyang tanaman jagung merupakan tanaman liar yang terdapat di dataran rendah Amerika Utara. Teosinte merupakan hasil persilangan antara jagung dan tripsacum. Namun teori ini juga hilang karena tidak didukung oleh data sitotaksonomi dan sitogenetik dari jagung dan teosinte. Menurut Weatherwax (1954, 1955), dan Mangelsdorf (1974), nenek moyang tanaman jagung berasal dari tanaman liar di dataran tinggi Meksiko atau Guatemala, namun teori ini juga tidak bertahan lama. Randolph (1959) mengemukakan bahwa nenek moyang tanaman jagung berasal dari kerabat liar tanaman jagung. Sebelum jagung primitif teosinte dan tripsacum ditemukan, tanaman liar jagung banyak digunakan dan dibudidayakan. Menurut Longley (1941), jagung merupakan mutasi dan seleksi secara alami dari teosinte. Biji teosinte terbungkus berbentuk buah yang keras. Komponen buah ini sama dengan buah jagung, tapi dalam perkembangannya terjadi evolusi, sehingga tidak terbungkus seperti teosinte, dan berubah menjadi tongkol. Doebly dan Stec (1991,1993), Doebly et al. (1990), dan Dorweiler et al. (1993) melakukan penelitian dan menguraikan serta memetakan secara genetik dengan quantitative trait loci (QTL) tga1 (teosinte glume architecture 1), yang menunjukkan kunci perbedaan teosinte dan jagung. Apabila QTL dari jagung, tga1, ditransfer ke teosinte, intinya tidak berpegang erat dalam. Produksi jagung berbeda antardaerah, terutama disebabkan oleh perbedaan kesuburan tanah, ketersediaan air, dan varietas yang ditanam. Variasi lingkungan tumbuh akan mengakibatkan adanya interaksi genotipe dengan lingkungan, yang

berarti agroekologi spesifik memerlukan varietas yang spesifik untuk dapat memperoleh produktivitas.
Optimal.Curah

hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada

fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl. Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam). Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung. Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang).

Tanaman kedelai dapat diusahakan di dataran rendah mulai dari 0 – 500 m d.p.l. dengan curah hujan relatif rendah (suhu tinggi), tetapi membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan tanamannya. Sebagai barometer untuk mengetahui apakah keadaan iklim di suatu daerah, cocok atau tidak untuk tanaman kedelai, dapat dibandingkan dengan tanaman jagung yang tumbuh di aderah tersebut.Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya juga baik, berarti iklim di daerah sesuai untuk tanaman kedelai. Namun kedelai mempunyai daya tahan yang lebih baik daripada jagung. Teknik budidaya kedelai yang dialukakan sebagian besar petani umumnya masih sangat sederhana, baik dalam hal pengolahan tanah, pemupukan dan pemberantasan hama/penyakitnya, sehingga produksinya masih relatif rendah.Sebagian besar petani tidak melakukan pengolahan tanah (TOT = tanpa olah tanah), terutama tanah bekas padi atau tebu. Tanah hanya dibersihkan dari je-rami padi dan daun tebu, yang selanjutnya bibit kedelai ditebar atau ditugal terlebih dahulu untuk lubang untuk penanaman biji kedelai. Selain itu kualitas bibitnya kurang baik, sehingga produksinya relatif rendah. Dalam hal pemupukan, sebagian besar petani belum melakukannya secara intensif atau semi intensif. Tidak menggunakan pupuk sama sekali atau minim sekali jumlahnya. Demikian juga dalam hal pemberantasan hama penyakit dapat dikatakan kurang sekali, sehingga banyak kerugian atau rendahnya produksi akibat serangan hama penyakit. Bibit yang baik adalah berukuran besar, tidak cacat, berwarna seragam (putih, kekuning-kuningan). Jumlah bibit antara 40 – 50 kg per ha untuk tanaman monokultur, sedangkan untuk tanaman tumpangsari dengan jagung, yaitu 30 kg biji kedelai dan jagung 20 kg per ha. Di lahan kering dengan tanaman tumpang sari, tanah diolah dua kali dengan alat bajak dan luku, sedangkan di sawah dengan tanaman monokultur, tanah dibersihkan dari jerami, kemudian tanah diolah satu kali.Untuk tanah yang pH-nya rendah, diberi kapur atau dolomit antara 200 – 300 Kg per ha. Pada saat ini juga tanah diberi pupuk dasar, yaitu pupuk SP-36 sebanyak 100 Kg untuk monokultur, sedangkan bila tumpang sari dengan jagung dosisnya adalah sebanyak 200 kg – 250 kg per ha. Untuk tanaman monokultur, dibuat lubang dengan tugal dengan jarak 20 x 30 cm, sedangkan untuk

tumpangsari dengan jagung lubang untuk kedelai 30 x 30 cm dan untuk jagung 90 x 90 cm. Lubang untuk jagung dibuat terlebih dahulu, dan setelah jagung tumbuh 2 – 3 minggu kemudian dibuat lubang untuk kedelai. Untuk tanaman monokultur, biji kedelai dimasukan dalam lubangang telah dibuat. Untuk tanaman tumpang sari, biji jagung ditanam ter-lebih dahulu dan 2 – 3 minggu kemudian baru ditanam kedelai. Penyiangan dilakukan setelah tanaman berumur 30 – 35 hari, dan setelah itu langsung dipupuk, yaitu untuk tanaman monokultur dengan 50 kg urea dan 50 kg KCl. Bila kondisinya masih kurang baik, maka penyiangan dilakukan lagi pada umur 55 hari.Sedangkan untuk tanaman tumpangsari penyiangan dilakukan pada umur jagung 40 – 45 hari dan setelah itu diberi pupuk sebanyak 350 kg urea dan 100 kg KCl. Untuk mencegah atau memberantas hama/penyakit, maka mulai umur 25 hari dan 50 hari disemprot dengan pestisida (karbofuran) sebanyak 5 – 10 liter. Untuk memperoleh pertumbuhan yang baik, maka bila kekurangan air, tanaman perlu diberi pengairan, terutama pada umur 1 – 50 hari. Demikian pula bila tanahnya terlalu banyak air, perlu adanya drainase. Produksi kedelai yang diusahakan secara monokultur secara intensif, sebenarnya dapat mencapai 2,00 – 2,50 ton per Ha. Akan tetapi karena pertimbangan teknis dalam MK PKT ini angka produksi yang digunakan untuk analisis adalah sebesar 1,5 ton.Sedangkan produksi secara tradisional maksimum hanya 1,00 – 1,50 ton per ha. Produksi kedelai yang diusahakan secara tumpangsari dengan jagung secara intensif dapat mencapai 1,5 – 1,75 ton kedelai per Ha dan 2 – 2,5 ton jagung per Ha. Dengan cara intensifikasi ini selain produksinya meningkat, juga kualitasnya (ukuran biji, keutuhan) meningkat pula, sehingga harganya juga akan meningkat. Dengan demikian pendapatan petani atau laba usaha akan meningkat dengan adanaya kenaikan produksi dan harga. Berdasarkan hal diatas, maka perlu diadakannya penelitian lebih lanjut mengenai teknik produksi tanaman jagung dan kedelai. Hal ini perlu dilakukan supaya produktivitas jagung maupun kedelai di Indonesia dapat tercapai sesuai target dengan melihat kondisi tanah yang berbeda-beda antarwilayah. Mengingat hasil jagung dan kedelai per hektar sangat rendah dibanding dengan negara produsen jagung maupun kedelai di luar negri.

1.2. Tujuan dan Manfaat 1.2.1. Tujuan 1. Untuk mengetahui produktivitas tanaman jagung dan kedelai. 2. Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jagung dan kedelai yang baik sesuai dengan kondisi tanah. 1.2.2. Manfaat 1. Mengetahui produktivitas tanaman jagung dan kedelai. 2. Mengetahui teknik budidaya tanaman jagung dan kedelai yang baik sesuai dengan kondisi tanah.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn. Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering (Annas, 2007). Jagung merupakan tanaman pengganti padi . Sebagai bahan makanan, jagung bernilai gizi tinggi. Tanaman jagung dapat tumbuh di berbagai daerah dengan iklim berbeda, yaitu daerah beriklim dingin, sedang, dan panas. Selain itu tanaman jagung dapat hidup baik di dataran rendah maupun tinggi. Penanamanya di areal terbuka dan bebas dari genangan air (Istiyastuti dan Yanuharso, 1996). Tanaman kedelai dapat diusahakan di dataran rendah mulai dari 0 – 500 m d.p.l. dengan curah hujan relatif rendah (suhu tinggi), tetapi membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan tanamannya. Sebagai barometer untuk mengetahui apakah keadaan iklim di suatu daerah, cocok atau tidak untuk tanaman kedelai, dapat dibandingkan dengan tanaman jagung yang tumbuh di aderah tersebut.Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya juga baik, berarti iklim di daerah sesuai untuk tanaman kedelai. Namun kedelai mempunyai daya tahan yang lebih baik daripada jagung. Teknik budidaya kedelai yang dialukakan sebagian besar petani umumnya masih sangat sederhana, baik dalam hal pengolahan tanah, pemupukan dan pemberantasan hama/penyakitnya, sehingga produksinya masih relatif rendah.Sebagian besar petani tidak melakukan pengolahan tanah (TOT = tanpa olah tanah), terutama tanah bekas padi atau tebu. Tanah hanya dibersihkan dari je-rami padi dan daun tebu, yang selanjutnya bibit kedelai ditebar atau ditugal terlebih dahulu untuk lubang untuk penanaman biji kedelai. Selain itu kualitas bibitnya kurang baik, sehingga produksinya relatif

rendah. Dalam hal pemupukan, sebagian besar petani belum melakukannya secara intensif atau semi intensif. Tidak menggunakan pupuk sama sekali atau minim sekali jumlahnya. Demikian juga dalam hal pemberantasan hama penyakit dapat dikatakan kurang sekali, sehingga banyak kerugian atau rendahnya produksi akibat serangan hama penyakit. Bibit yang baik adalah berukuran besar, tidak cacat, berwarna seragam (putih, kekuning-kuningan). Jumlah bibit antara 40 – 50 kg per ha untuk tanaman monokultur, sedangkan untuk tanaman tumpangsari dengan jagung, yaitu 30 kg biji kedelai dan jagung 20 kg per ha. (Hidayat, 1985) Menurut (Plantus, 2008) di lahan kering dengan tanaman tumpang sari, tanah diolah dua kali dengan alat bajak dan luku, sedangkan di sawah dengan tanaman monokultur, tanah dibersihkan dari jerami, kemudian tanah diolah satu kali.Untuk tanah yang pH-nya rendah, diberi kapur atau dolomit antara 200 – 300 Kg per ha. Pada saat ini juga tanah diberi pupuk dasar, yaitu pupuk SP-36 sebanyak 100 Kg untuk monokultur, sedangkan bila tumpang sari dengan jagung dosisnya adalah sebanyak 200 kg – 250 kg per ha. Untuk tanaman monokultur, dibuat lubang dengan tugal dengan jarak 20 x 30 cm, sedangkan untuk tumpangsari dengan jagung lubang untuk kedelai 30 x 30 cm dan untuk jagung 90 x 90 cm. Lubang untuk jagung dibuat terlebih dahulu, dan setelah jagung tumbuh 2 – 3 minggu kemudian dibuat lubang untuk kedelai. Untuk tanaman monokultur, biji kedelai dimasukan dalam lubangang telah dibuat. Untuk tanaman tumpang sari, biji jagung ditanam ter-lebih dahulu dan 2 – 3 minggu kemudian baru ditanam kedelai. Penyiangan dilakukan setelah tanaman berumur 30 – 35 hari, dan setelah itu langsung dipupuk, yaitu untuk tanaman monokultur dengan 50 kg urea dan 50 kg KCl. Bila kondisinya masih kurang baik, maka penyiangan dilakukan lagi pada umur 55 hari.Sedangkan untuk tanaman tumpangsari penyiangan dilakukan pada umur jagung 40 – 45 hari dan setelah itu diberi pupuk sebanyak 350 kg urea dan 100 kg KCl. Untuk mencegah atau memberantas hama/penyakit, maka mulai umur 25 hari dan 50 hari disemprot dengan pestisida (karbofuran) sebanyak 5 – 10 liter. Untuk memperoleh pertumbuhan yang baik, maka bila kekurangan air, tanaman perlu diberi pengairan, terutama pada umur 1 – 50 hari. (Plantus, 2008).

Produksi kedelai yang diusahakan secara monokultur secara intensif, sebenarnya dapat mencapai 2,00 – 2,50 ton per Ha. Akan tetapi karena pertimbangan teknis dalam MK PKT ini angka produksi yang digunakan untuk analisis adalah sebesar 1,5 ton.Sedangkan produksi secara tradisional maksimum hanya 1,00 – 1,50 ton per ha. Produksi kedelai yang diusahakan secara tumpangsari dengan jagung secara intensif dapat mencapai 1,5 – 1,75 ton kedelai per Ha dan 2 – 2,5 ton jagung per Ha. Dengan cara intensifikasi ini selain produksinya meningkat, juga kualitasnya (ukuran biji, keutuhan) meningkat pula, sehingga harganya juga akan meningkat. Dengan demikian pendapatan petani atau laba usaha akan meningkat dengan adanaya kenaikan produksi dan harga. Untuk mengantisifikasi pesatnya permintaan di dalam negeri, selain meningkatkan kuantitas lahan budidaya (yaitu pertambahan areal penanaman) juga harus dipertimbangkan peningakatan kualitas budidaya (yaitu peningkatan produktivitas tanaman) dengan cara penerapan teknologi budidaya tanaman kedelai yang lebih modern daripada teknologi yang diterapkan selama ini.Perlunya teknologi yang lebih maju ini, mengingat tanaman sebenarnya adalah tanaman sub tropis, sehingga budidaya tanaman kedelai di negara tropis hasilnya lebih rendah dari pada di negara-negara sub tropis yang mampu mencapai produksi hingga 4 ton per ha. Dengan penerapan teknologi yang maju ini, sehingga produksi tanaman kedelai diharapkan akan meningikat setidaknya menjadi rata-rata 2,5 ton per Ha. Budidaya tanaman kedelai di masa depan perlu menyusun perencanaan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan-bahan kimia, dengan menerapkan teknologi yang akrab lingkungan, yaitu penerapan teknologi bio-plus. Dengan penerapan teknologi yang lebih maju dan mengurangi bahan-bahan kimia ini, maka PKT budidaya tanaman kedelai kelak akan menghasilkan produktivitas yang lebih baik dan akrab lingkungan. Cara yang paling tepat untuk mencapai penerapan teknologi masa depan pada setiap PKT ini, adalah mendorong perusahaan INTI untuk menyusun suatu konsep pengembangan PKT yang berorientasi ke depan secara gradual, baik secara individual oleh perusahaan Inti itu sendiri, atau bekerjasama dengan isntitusi lain seperti Lembaga-Lembaga Penelitian (dari universitas atau lembaga lainnya) (Plantus, 2008).

Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl .Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam). Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung. Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang) (Plantus, 2008). Suprapto (1985), menyatakan jagung cukup mengandung gizi dan serat kasar, sehingga memadai untuk dijadikan makanan pokok sebagai pengganti beras

atau dicampurkan dengan beras. Jagung termasuk golongan Graminae. Golongan jagung yang terdapat di Indonesia ada empat macam. Jagung adalah salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Jagung merupakan makanan utama bagi masyarakat Amerika Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai makanan pokok. Daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, kemudian teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Jagung merupakan tanaman semusim yaitu sekali ia tumbuh setelah berbuah akan mati. Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m (Ukhtipeni, 2008).

BAB 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Produksi Tanaman kali ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 4 November 2009 yang bertempat di lahan Agropark Fakultas Pertanian Universitas Jember . 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat a. Cangkul b. Tugal c. Roll meter d. Tali rafia e. Papan nama f. Ayakan g. Timba 3.2.2 Bahan

a. Benih jagung b. Benih kedelai c. Tanah d. Pupuk : Urea, SP-36 e. KCL f. Polybag ukuran 40x60 g. Tanah kering angin (ayak). 3.3 Cara Kerja : a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. b. Menyiapkan media tanam dengan cara mengayak tanah, dan menjemur sampai kering angin. c. Mengambil sampel tanah kemudian dianalisis dengan sidik cepat untuk mengetahui kondisi tanah meliputi pH, C-Organik, dan sifat fisik tanah.

d. Memasukkan tanah sebanyak 10 kg kedalam polybag, ntuk perlakuan denga penambahan BO berat tanah disesuaikan, kemudian menyiram dengan air. e. Menanam benih jagung dan kedelai pada masing-masing perlakuan, satu lubang diisi 2 benih. f. Pemupukan SP-36 dan KCI serta penambahan Bahan Organik sesuai dengan dosis anjuran dari analisi sidik cepat sedangkan untuk pupuk Urea sesuai dengan perlakuan. g. Melakukan pengamatan secara rutin.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Tabel Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Perlakuan Jagung 1 Jagung 2 Kedelai 1 Kedelai 2 Kedelai 3 Jumlah Daun Perlakuan Jagung 1 Jagung 2 Kedelai 1 Kedelai 2 Kedelai 3 Jumlah Akar Perlakuan Jagung 1 Jagung 2 Kedelai 1 Kedelai 2 Kedelai 3 Ulangan 1 22 18 7 10 8 2 12 15 8 10 9 3 21 12 12 6 13 Rata-Rata 18 15 9 9 13 Ulangan 1 7 9 21 23 32 2 6 8 23 20 28 3 7 8 27 26 20 Rata-Rata 7 8 24 23 27 Ulangan 1 46,3 90 13 18,4 18 2 46,8 88 19 20,5 19,8 3 45 99,5 17 19,8 17 Rata-Rata 46,03 92,05 17 19,8 17

Panjang Akar (Rata-Rata 5 Terpanjang) Perlakuan Jagung 1 Jagung 2 Kedelai 1 Kedelai 2 Kedelai 3 Internood Perlakuan Kedelai 1 Kedelai 2 Kedelai 3 4.2 [embahasan Ulangan 1 7 9 9 2 9 8 12 3 9 11 8 Rata-Rata 8 9 10 Ulangan 1 52,2 47,1 19,5 52,8 27 2 59,5 55,5 34 33 17 3 72,8 49,2 35,5 45 30 Rata-Rata 61,63 30,36 34 43,6 25

grafik jumlah daun
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 minggu 3 4 80 70 60 1 2 3 4 50 40 30 20 10 0 J1

grafik tinggi tanam an

1 2 3 4

J2

K1 m inggu

K2

K3

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada praktikum sebelumnya di peroleh grafik pertumbuhan tanaman kedelai dan jagung yang menunjukan pertumbuhan yang terus meningkat. Pertumbuhan tinggi tanaman yang paling cepat terjadi pada minggu ke-2 dan minggu ke-3. Pada minggu ke-3 menjelang minggu ke-4 pertumbuhan tinggi tanaman mulai melamban. Pada perkembangan jumlah dau yang paling cepat terjadi pada minggu ke-2 dan ke-3. Dari tabel jumlah akar pada tanaman K2 memilki jumlah akar yang banyak dan subur dari pada tanaman yang lain pada tiap-tiap polibag yaitu dengan rata-rata 18,6. Dibandingkan dengan panjang akar J1 memiliki rata-rata yang paling tinggi dibandingkan dengan tanaman yang lainnya. Internodid yang paling banyak adalah K2 dengan rata-rata 6. Jadi Dari hasil yang di dapat grafik pertumbuhan tanaman kedelai dan jagung mengalami pertumbuhan yang terus meningkat yaitu dari proses penanam hingga tumbuh daun,akar, dan batang. Yaitu dikarenakan karena dengan adanya perawatan dan pemberian pupuk maka pertumbuhan tanaman kedelai dan menjadi baik. Dari pengamatan yang telah dilakukan pada tanaman jagung dan kedelai tanaman yang paling cocok dan layak di aplikasikan kelahan atau kesawah adalah tanaman kedelai. Pada lahan sawah, kedelai bisa ditanam setelah tanaman padi pada pola tanam padi-padi-palawija atau padi-palawija-palawija. Tanaman kedelai yang ditanam langsung setelah padi bisa mendapatkan manfaat dari residu hara dari pemupukan padi. Oleh karenanya, kedelai yang ditanam setelah padi memerlukan lebih sedikit pupuk dibandingkan ditanam setelah palawija lainnya. Dosis pemupukan NPK spesifik lokasi ditetapkan berdasarkan hasil uji tanah di laboratorium atau uji cepat menggunakan PUTS (perangkat uji tanah sawah). Tanaman kedelai dapat diusahakan di dataran rendah mulai dari 0 – 500 m d.p.l. dengan curah hujan relatif rendah (suhu tinggi), tetapi membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhan tanamannya. Sebagai barometer untuk mengetahui apakah keadaan iklim di suatu daerah, cocok atau tidak untuk tanaman kedelai, dapat dibandingkan dengan tanaman jagung yang tumbuh di aderah tersebut.Apabila tanaman jagung dapat tumbuh baik dan hasilnya juga baik, berarti iklim di daerah sesuai untuk tanaman kedelai. Namun kedelai

mempunyai daya tahan yang lebih baik daripada jagung.Dalam hal pemupukan, sebagian besar petani belum melakukannya secara intensif atau semi intensif. Tidak menggunakan pupuk sama sekali atau minim sekali jumlahnya. Dari data yang diperoleh pemupukan yang paling baik adalah pemupukan yang dilakukan pada tanaman K2 dan J1 dengan komposisi sebagai berikut: Oldeman membagi lima zona iklim dan lima sub zona iklim. Zona iklim merupakan pembagian dari banyaknya jumlah bulan basah berturut-turut yang terjadi dalam setahun. Sedangkan sub zona iklim merupakan banyaknya jumlah bulan kering berturut-turut dalam setahun. Kaitan pertumbuhan saat ini yaitu awal bulan basah, Potensi lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai, baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendalanya antara lain nilai komparatif dan kompetitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah, lahan kering (tegalan), lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi. Secara rinci peluang penambahan areal panen dapat dilakukan pada lahan. Lahan sawah MK II (Juli – Oktober) yang biasanya diberokan seperti: jalur pantura Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Utara, NTB, dan Kalimantan Selatan. Lahan sawah tadah hujan (MK I Maret – Juni) awal musim hujan sebelum ditanami padi sawah seperti Jawa dan NTB. Dan keadaan iklim untuk tanaman kedelai yaitu Klasifikasi iklim yang dilakukan oleh Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, terutama pada tanaman padi. Pada praktikum yang dilakukan pada saat penanaman benih iklim sesuai yang dibtuhkan oleh tanaman kedelai untuk mengoptimalkan pertumbuhannya.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1. Produktivitas tanaman jagung sangat dipengaruhi faktor dalam yaitu jenis varietas dan faktor luar yaitu lingkungan, iklim, dan OPT 2. Teknik budidaya jagung tidak lepas dari pengaruh kondisi tanah, baik dari unsur hara, kelembaban, sifat fisik tanah, hingga organisme dalam tanah. 3. Untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kedelai dan tanaman jagung harus memperhatikan kandungan unsur hara pada tanah dan pemberian pupuk yang sesuai. 5.2 Saran Dalam praktikum budidaya tanaman jagung ini hendaknya dilakukan perawatan yang baik dan teratur seperti menyiram pada tanaman, sehingga produktivitas dapat meningkat dan dapat diamati tingkat produktivitas dari tanaman jagung dan dalam pengambilan data untuk pembuatan laporan dapat terlasana dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA Annas. 2007. BUDIDAYA JAGUNG. http://insidewinme.blogspot.com/2007/11/budidaya-jagung.html. diakses 4 november 2009. Hidayat, O. D. 1985. Morfologi Tanaman Kedelai. Hal 73-86. Dalam S. Somaatmadja et al. (Eds.). Puslitbangtan. Bogor Istiyastuti dan Yanuharso. 1996. Berbudidaya Aneka Tanaman Pangan. Trigenda Karya. Bandung. Plantus. 2008. ASPEK PRODUKSI BUDIDAYA KEDELAI. http://anekaplanta.wordpress.com/2008/01/23/aspek-produksibudidaya-kedelai/. Diakses 3 November 2009. Prabowo. 2007. BUDIDAYA JAGUNG. http://tekni budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-jagung.html. diakses 4 November 2009. Soprapto. 2001. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya. Jakarta. Ukhtipeni. 2008. JAGUNG. http://ukhtipeni.multiply.com/journal/item/10. diakses 4 November 2009.

Lampiran

DIAGRAM BATANG TINGGI TANAMAN
80 70 60 50 40 30 20 10 0 J1 J2 K1 K2 K3 1 2 3 4
80 70 60 50 40 30 20 10 0

DIAGRAM BATANG JUMLAH DAUN

1 2 3 4

J1

J2

K1

K2

K3

D IAG R AM B ATAN G P AN J AN G AK AR
80 70 60 50 40 30 20 10 0 J1 J2 K1 K2 K3

D IAG R AM B AT AN G JU M L AH AK AR
80 70 60 50 40 30 20 10 0 J1 J2 K1 K2 K3

1 2 3 4

1 2 3 4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->