REFERAT INFEKSI SELAMA KEHAMILAN

Disusun oleh: Norul Shazean Mohd Shah

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH PERIODE 27 JULI – 3 SEPTEMBER 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2011

Kata Pengantar

Penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan referat berjudul “Infeksi Selama Kehamilan” ini. Adapun tujuan referat ini dibuat adalah sebagai salah satu tugas di Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan di Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih periode 27 Juli s/d 3 September 2011.

Penulis mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada pembimbing dan para konsulen di SMF Kebidanan dan Kandungan di RSUD Budhi Asih atas segala masukan, kritik dan saran dalam penulisan dan perbaikan referat ini.

Penulis memohon maaf sekiranya dalam penulisan dan penyusunan referat ini terdapat kekurangan atau kesalahan. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sebagai penyempurnaan referat ini.

Terima kasih.

Jakarta, Juli 2011.

Daftar Isi .

bakteria atau protozoa. Dokter juga harus teliti dalam pemberian obat-obat anti infeksi karena terdapat banyak obat-obat yang berpotensi teratogenik dan mempengaruhi kehamilan pada seseorang wanita. dan AIDS. penanganan penyakit infeksi pada wanita hamil harus dilakukan dengan cermat dan teliti. akan timbul beberapa pertanyaan pada dokter dan petugas medis lainnya. atau dapat mempengaruhi bayi atau jalan persalinan. dan penyakit menular seksual seperti sifilis. Infeksi patogen sangat berpotensi untuk menyebabkan kematian janin dengan cara mengeluarkan toksin yang meningkatkan suhu dan metabolisme janin. lifogranuloma venereum. invasi kuman ke dalam tubuh janin melalui plasenta. pada wanita hamil juga dapat terjadi infeksi cacing dari golongan cacing nematoda. trematoda dan sestoda. atau protozoa pada wanita yang sedang hamil. dan menimbulkan perdarahan pada desidua. Atas alasan itu.BAB I PENDAHULUAN Infeksi selama kehamilan bermaksud terjadinya jangkitan patogen berupa bakteria. . Selain itu. gonore. Jika penyakit infeksi timbul pada seorang wanita yang sedang hamil. yaitu apakah kehamilannya akan memperburuk penyakit infeksi tersebut atau apakah penyakit infeksi tersebut akan mempengaruhi kehamilan yaitu seperti dapat menimbulkan abortus. Terdapat dua jenis infeksi pada kehamilan yaitu infeksi akut seperti infeksi virus. virus. persalinan kurang bulan.

manakala pada sistem saraf pusat akan terjadi meningoensefalitis dan retardasi mental. stenosis pulmonalis dan septum terbuka. dan ikterus. hepatosplenomegalia. Jika timbul pada wanita yang hamil dalam trimester pertama. . dan herpes hominis. Istilah TORCH dikemukakan oleh Nahmias dkk pada tahun 1971 untuk menggambarkan infeksi perinatal yang sama pada janin dan ibu. tetapi hanya 3 jenis virus yang mempunyai efek teratogenik yaitu virus rubella. Ketiga jenis virus ini. sistem pendengaran dan pada sistem saraf pusat. bersama protozoa Toksoplasma. Manifestasi klinik pada ibu sering tidak ada tetapi ancaman mortalitas pada janin sangat besar. mempunyai kelainan hematologik seperti trombositopenia dan anemia. janin yang terinfeksi dengan virus rubella akan terhambat pertumbuhannya. glaukoma dan mikroftalmia. Rubella Rubella merupakan penyakit yang kurang berarti di luar kehamilan karena tidak gejalanya tidak jelas atau sangat jarang dikeluhkan oleh pasien. Janin dengan kelainan kromosom yang berat berisiko abortus. Kelainan mata yang didapatkan pada janin yang dijangkiti rubella adalah katarak kongenital. Selain dari penyakit yang disebutkan di atas. 50% anaknya akan lahir dengan kelainan kongenital pada mata.BAB II PENYAKIT INFEKSI AKUT Infeksi Virus Terdapat banyak jenis virus yang bisa ditemukan dalam tubuh janin. sistem kardiovaskular. tetapi dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan kecacatan kongenital pada janin. sitomegalovirus. Penyakit pnemonitis interstisialis kronika difusa dapat terjadi yaitu suatu penyakit yang menyebabkan radang pada jaringan paru dan terjadinya kelainan kromosom seperti retardasi mental. termasuk dalam golongan TORCH yaitu merupakan patogen yang sangat ditakuti pada wanita hamil.Pada sistem pendengaran janin pula akan terjadi ketulian yang bersifat menetap. Kelainan kardiovaskular yang didapatkan pula adalah duktus arteriosus persistens.

Seorang wanita yang sudah kebal akan memiliki titer 1:10 atau lebih tetapi apabila titernya mula-mula 1:8 dan 10-14 hari berikutnya titer ini meningkat 4 kali lebih ditinggi. Pada viremia. Jika infeksi sitomegalovirus terjadi pada trimester pertama dan kedua. walaupun wanita itu tidak mempunyai keluhan apa-apa. Oleh karena itu. tetapi dapat menimbulkan beberapa efek samping yaitu artralgia atau artritis. Sitomegalovirus Infeksi sitomegalovirus dapat terjadi pada 1-2% kehamilan dan infeksi kongenital pula dapat terjadi pada 1-2% kehamilan juga. bayi yang terinfeksi rubella dalam bulan-bulan pertama kehidupannya dapat menjadi sumber infeksi bagi anak-anak dan orang dewasa. mikroftalmia.8% dan dalam trimester ketiga. setiap anak perempuan yang memasuki usia produktif atau yang akan menikah diberi vaksin rubella.3%. Vaksin ini sangat baik untuk mencegah penyakit rubella. Jika seorang wanita hamil itu mendapat infeksi rubella pada trimester kedua. Cara mendiagnosis rubella adalah sesuatu yang tidak mudah karena penyakit ini sering muncul tanpa gejala. gangguan pendengaran. Jika gejalanya muncul. . retardasi mental dan juga dapat ditemukan kalsifikasi serebral. harus difikirkan kemungkinan viremia. kemungkinan cacat janin berkurang menjadi 6. ia selalu tidak jelas atau bersifat subklinis sahaja. virus yang ada dalam darah ibu akan masuk ke tubuh janin melalui plasenta dan merusak tubuh janin. tetapi 10-15% anak yang terinfeksi dari ibunya akan mengalami cacat kongenital. purpura. resiko cacat janin berkurang menjadi 5. trombositopenia. Penatalaksanaan penyakit ini pada wanita hamil yang terinfeksi adalah sangat sulit karena tidak ada obat yang dapat mencegah viremia pada wanita yang tidak kebal. akan terjadi hidrosefalus.Selain itu. Walaupun penyakit ini jarang terjadi. hernia. akan terjadi hepatosplenomegali. Diagnosis penyakit ini cuma bisa dilakukan dengan isolasi virus atau ditemukan titer antibodi rubella serum yang meningkat. Jika infeksi terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan.

Penyakit ini masih belum mempunyai cara pengobatan yang manjur dan pada dasarnya pasien cuma diberi obat antivirus. Janin dapat terinfeksi dengan cara kontak langsung dari sekret D'Cruz dan kawan-kawan melaporkan angka kematian maternal 2 kali lebih tinggi pada wanita hamil dan dalam masa nifas berbanding penderita yang tidak hamil. hepatosplenomegali dan sepsis yang terjadi pada bulan pertama kehidupannya. penyakit ini tidak menimbulkan gejala klinik yang khas. Pengobatan penyakit ini pada wanita hamil sama dengan pada orang biasa yang tidak hamil. sehingga dapat menyebabkan kematian fetal dan maternal yang tinggi. Ini dilakukan karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang khas pada penderitanya. Gejala kliniknya berupa anoreksia. Pada wanita hamil dengan hepatitis berat akan menyebabkan abortus. pengobatan simptomatik dan dianjurkan untuk istirahat. Di daerah khatulistiwa seperti Indonesia. Penyakit ini didiagnosis dengan cara pemeriksaan serologik (biasanya dengan cara ELISA). Cara mendiagnosis penyakit ini adalah dengan pemeriksaan serologik yaitu memeriksa antigen HbsAg. rasa mual. demam. Hepatitis Infeksiosa Penyakit hepatitis infeksiosa sering ditemui pada remaja dan dewasa muda. Seorang wanita yang HbsAg . ASI atau urin ibu pada saat lahir. Seperti rubella dan sitomegalovirus. Penyakit ini sangat berbahaya dan dapat menumbulkan nekrosis hati yang luas. pada bayi itu akan terjadi pneumonia. yaitu diberi obat antivirus. hepatomegali yang disertai rasa nyeri dan ikterus. harus dirawat. Vaksinasi sebagai pencegahan penyakit ini harus dilakukan. Jika infeksi terjadi setelah lahir. Infeksi setelah lahir ini umumnya terjadi karena kontak virus dari serviks. partus prematurus dan cacat bawaan pada janinnya. dianjurkan tirah baring dan diberi diet tinggi protein dan rendah lemak. Infus cairan diberi jika pasien mual muntah. muntah. terdapat banyak wanita hamil yang menderita hepatitis terutama pada trimester ketiga.korioretinitis dan pneumonitis.

walaupun jarang terjadi pada orang dewasa.nya positif harus diberi imunisasi HBIG (Hepatitis B Immune Globulin) dengan dosis 0. janin yang terinfeksi akan mati karena miokarditis dan ensefalomielitis walaupun ibunya tidak menunjukkan gejala apapun.06ml/kg berat badan secara intramuskuler dalam dosis tunggal 14 hari setelah terpapar. parotitis epidemika. partus prematurus dan cacat bawaan jika terinfeksi pada trimester pertama. dapat menyebabkan kematian ibu dan dapat menyebabkan abortus. Jika infeksi terjadi pada kehamila lanjut bisa menyebabkan kematian janin. Infeksi Virus Lainnya Terdapat beberapa jenis virus lain yang bisa menyebabkan komplikasi yang gawat bagi kehamilan. variola (cacar). rubeola (campak). Infeksi virus rubeola jarang dijumpai pada orang dewasa karena kebanyakan orang dewasa sudah memperoleh kekebalan dari penyakit ini pada waktu kecil. Tetapi jika ibu itu tidak mempunyai kekebalan. contohnya infeksi virus Coxsakie. oleh itu proses menyusui hanya diperbolehkan apabila telah dilakukan imunisasi. Virus hepatitis bisa masuk ke dalam ASI. Virus parotitis epidemika pula. Setelah itu dilanjutkan dengan serial vaksin hepatitis B. Pada infeksi virus Coxsakie. Antibodi yang ada di dalam tubuh ibu dapat melintasi plasenta dan mencegah bayi dari terinfeksi selama 3 sampai 5 bulan pertama. Pada wanits yang berisiko terpapar diberi vaksinasi 6 bulan setelah terpapar.5ml secara intramuskuler dalam dosis tunggal 12 jam setelah melahirkan dan diberi vaksinasi serial hepatitis B 7 hari setelah lahir. tetapi menghindari ASI bukan berarti bayi terlepas dari kemungkinan tertular hepatitis karena cara penularan lainnya masih mungkin mengancam. penyakit ini akan menjadi lebih berat. Pada janinnya bisa terjadi partus prematurus atau kelahiran mati terutama apabila infeksi terjadi pada trimester pertama. WHO telah menyatakan bahwa dunia telah bebas dari variola pada tahun 1979 karena setiap . usia 1 bulan dan pada usia 6 bulan. varisella (cacar air) dan demam berdarah dengue. Pada bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif yang sedang hamil diberi vaksinasi HBIG 0.

akan tetapi penyakit ini bisa saja menginfeksi sebagian kecil golongan seperti petugas laboratorium atau petugas medis yang terpapar pada virus ini. atau sekelompok orang di daerah yang masih mungkin mengancam. Infeksi virus varicella pula merupakan penyakit pada anak-anak dan sangat jarang dijumpai pada orang dewasa. Selain itu. Pada janin yang lahir akan timbul gelembunggelembung setelah 10 hari kelahiran. trombositopeni. artralgia. Penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berat. Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit menular yang endemis di Indonesia dan sangat muda ditularkan dari orang yang sakit ke orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atay Aedes albopictus. Terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan adanya kadar antibodi terhadap dengue di dalam tali pusat yang didapatkan dari ibu secara transplasental. tetapi jika menginfeksi wanita hamil akan menyebabkan partus prematurus.negara mewajibkan rakyatnya mendapat vaksin variola. . sampai saat ini belum pernah ditemukan malformasi janin akibat infeksi dengue. gejala mialgia. Virus dengue juga bisa menyebabkan masalah jika menginfeksi wanita hamil. Akan tetapi. tetapi peningkatan suhu pada ibu yang demam dapat menganggu proses organogenesis terutama pada kehamilan trimester pertama. melena dan epistaksis. limfositosis. peningkatan partial thromboplastin time dan peningkatan degradasi fibrin. nyeri kepala dan nyeri epigastrium juga bisa ditemukan. Pada orangorang ini diberikan vaksinasi cacar akan tetapi vaksinasi ini sebaiknya tidak diberi pada wanita hamil karena mengakibatkan rekasi terhadap janin sehingga bisa menyebabkan kematian janin intrauterin. Antibodi ini bisa mencegah terjadinya demam berdarah dengue atau sindroma renjatan bila terjadi infeksi baru. Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan dengan pemeriksaan serologi dan virologi. Pada pasien demam berdarah dengue akan terlihat gejala demam tinggi yang mendadak disertai manifestasi perdarahan seperti timbulnya ptechiae. Gambaran laboratorium demam berdarah dengue berupa leukopeni.

Cara mengobati tetanus adalah dengan melakukan pembersihan luka dan tempat sumber infeksi. Kematian terjadi karena asfiksia akibat spasmus otot-otot pernafasan. semua wanita hamil akan diberi vaksinasi. Masa inkubasi penyakit ini pada wanita hamil lebih pendek berbanding pada orang yang tidak hamil yaitu rata-rata 9 hari. Tetanus Tetanus selama kehamilan. jika terjadi wabah tifoid pada suatu daerah. Enam puluh hingga lapan puluh persen wanita hamil yang terinfeksi penyakit ini akan terjadi pengeluaran hasil konsepsi secara spontan. Pasien diberi antibiotika dan antitoksin tetanus 100. Kolera Lima puluh empat persen wanita yang hamil dan terinfeksi kolera akan mengalami abortus atau partus prematurus. Selain itu perlu disiapkan obat antikonvulsi dan obat-obat penenang terlebih dahulu.INFEKSI BAKTERIA Tifus abdominalis Tifus abdominalis pada kehamilan dan pada nifas akan menyebabkan kematian yang lebih tinggi berbanding infeksi pada orang yang tidak hamil. Oleh karena itu. semakin berbahaya penyakitnya. . Angka kematian pada wanita hamil dengan kolea jauh lebih tinggi berbanding penderita kolera yang tidak hamil. Semakin pendek masa inkubasi. Penyakit ini sering terjadi pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berwenang. Pengobatan pada penyakit ini adalah dengan pemberian kloramfenikol atau tiamfenikol. terutama pada ibu yang abortus atau di dalam nifas akan mengakibatkan komplikasi yang sangat berbahaya.000 IU dalam 2 bentuk yaitu intravena dan intramuskuler dan sebelumnya dilakukan skin tes terlebih dahulu. Wanita yang terinfeksi juga dinasehatkan supaya tidak menyusui bayinya walaupun tidak ada bukti yang menyatakan bakteri ini tidak masuk ke dalam ASI.

4 kali sehari) dan antitoksin difteria dalam dosis tinggi yaitu 10. Difteria Difteria tenggorokan jarang dijumpai pada wanita hamil tetapi apabila tidak diobati. Lepra Penyakit lepra.000 IU. tergantung beratnya penyakit. Skarlatina Penyakit ini disebabkan oleh Stretococcus haemolyticus dan jarang dijumpai pada orang dewasa dan wanita hamil. diberi antibiotika procaine penisilin G 2. infeksi janin dan kematian janin. Erisipelas Erisipelas disebabkan oleh Streptococcus haemoliticus yang berbahaya kepada wanita hamil karena mengakibatkan sepsis ibu. .000 sampai 100. Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan otot jantung sehingga mudah terjadi gagal jantung pada persalinan. Erisipelas juga menyebabkan bahaya yang mengancam pada infeksi nifas dan sebagai pencegahannya.000. wanita yang terinfeksi harus diisolasi dan diobati dengan tirah baring dan pemberian antibiotika. merupakan penyakit menular yang sering menginfeksi anak-anak yang mempunyai hubungan erat dengan penderitanya. Ibu yang terinfeksi difteria harus diisolasi.Penyakit tetanus dicegah dengan pemberian imunisasi TT (tetanus toksoid) bagi ibu hamil sebagai salah satu cara untuk menurunkan angka kejadian tetanus neonatorum. Suhu tinggi menyebabkan peningkatan metabolisme pada janin dan bisa menyebabkan abortus.000 IU dalam air selama 7-10 hari (atau eritromisin 40 mg/kg BB. 30% akan menyebabkan abortus dan partus prematurus. Jika seorang ibu terinfeksi pada saat kehamilan muda akan menyebabkan demam tinggi. atau lebih dikenali dalam masyarakat sebagai kusta.

dapat menyusui bayinya seperti biasa tanpa ada resiko penularan melalui ASI. Jika di luar kehamilan. INFEKSI PROTOZOA Malaria Malaria banyak terjadi di daerah endemis seperti di Indonesia timur seperti di Papua dan Sulawesi. Mycobacterium leprae dapat dijumpai dalam plasenta dan tali pusat. Pada waktu pertumbuhannya juga anak itu akan mengalami keterlambatan. diketahui ibu yang menderita lepra dan mendapat pengobatan sulfa. bisa saja mendapat dampak akibat penyakit ini karena terjadinya penurunan imunitas karena kehamilannya. wanita-wanita ini tidak merasakan apa-apa saat parasitemia. walaupun telah memiliki kekebalan terhadap malaria. anaknya harus dipisahkan dari ibu sejak saat lahir sampai ibunya sembuh. Pengobatan dilakukan dengan obat-obat sulfa (diaminodietilsulfon) karena berdasarkan penelitian. penderita lepra dianjurkan untuk tidak hamil dan jika diagnosis lepra dibuat setelah wanita itu hamil.Oleh karena masa laten penyakit ini sangat panjang. penduduk di daerah endemik ini memiliki kekebalan terhadap malaria yang tinggi. yang harus diperhatikan adalah pencegahan infeksi terhadap bayi. dan walaupun demikian infeksi kongenital lepra adalah sangat jarang. Duncan (1980) melaporkan bahwa bayi yang lahir dari ibu penderita lepra sering mengalami pertumbuhan janin terhambat dengan plasenta yang berukuran lebih kecil. terdapat resiko sebesar 25% yang anaknya akan terinfeksi lepra juga. Karena hal itu. kehamilan dan 6 bulan pertama setelah kelahiran. Pada ibu yang mengalami infeksi lepra. gejala hanya akan terlihat jika terjadi penurunan imunitas seperti pada keadaan pubertas. tetapi pada saat . Pengaruh kehamilan pada malaria Seorang wanita yang hamil. Sebaliknya di daerah yang tidak endemik mudah terjadi wabah. Walaupun begitu. Jika tidak. Pengobatan penyakit ini memerlukan waktu yang lama sampai beberapa tahun.

Kematian neonatus akibat asfiksia intrapartum akibat banyaknya parasit di dalam plasenta atau anemia. Walaupun terdapat banyak parasit di dalam plasenta.hamil. Hal ini terjadi karena eritrosit yang mengandung parasit itu bersifat antigenik yang menyebabkan dibentuknya antibodi yang menyebabkan hemolisis intravaskuler. Pada wanita hamil penderita malaria. Hal ini terjadi terutama pada . karena prematuritas atau karena malaria kongenital. pengaruh buruk lain penyakit ini adalah anemia hemolitik. dampak malaria pada kehamilan adalah seperti berikut: 1. Proses hemolisis tidak hanya terjadi pada eritrosit yang diinvasi oleh parasit tetapi juga pada eritrosit yang tidak mengandungi parasit. 2. Malaria juga dapat memperburuk kondisi ibu sehingga mengakibatkan kematian ibu dan janin. infeksi transplasental jarang terjadi sehingga malaria kongenital sangat jarang didapatkan. mereka akan merasakan demam yang tinggi dan menjadi lebih parah lagi dengan tuanya kehamilan sehingga dapat terjadi abortus. 3. anemia berat karena adanya parasit di dalam plasenta dan infeksi transplasental. Selain meningkatnya frekuensi dan bertambahnya berat serangan malaria pada ibu hamil. Terjadinya abortus pada trimester pertama karena pireksia dan abortus pada trimester kedua karena anemia berat. Secara singkat. Dismaturitas janin karena insufisiensi plasenta akibat banyaknya parasit di dalam plasenta. Kematian janin intrauterin karena pireksia. Hal ini akan menghambat pertumbuhan janin dan menganggu pasokan oksigen sehingga terjadi insufisiensi plasenta yang mengakibatkan kematian perinatal yang tinggi. Partus prematurus karena pireksia atau karena kematian janin 5. 4. Ini terjadi terutama pada malaria tertiana akibat infeksi Plasmodium falciparum dan dijumpai pada trimester kedua kehamilan. plasenta itu dapat bekerja seperti limpa di mana ruangruang intervilusnya dipenuhi dengan makrofag dan parasit. Imunitas yang diperoleh oleh ibu-ibu di daerah endemis juga bisa menjadi faktor pelindung buat janinnya.

Anemia hemolitik karena malaria sering kambuh pada kehamilan berikutnya tetapi bisa dicegah dengan pemberian profilaksis dengan obat anti malaria sejak trimester pertama sehingga sampai 6 minggu setelah persalinan. hanya kadang-kadang ditemukan pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri. harus diperhatikan terjadinya dekompensasio kordis terutama pada ibu yang menderita anemia berat. transplantasi organ atau melalui tangan yang terkontaminasi. sumsum tulang akan membuat lebih banyak eritrosit baru sehingga dibutuhkan lebih banyak asam folat sehingga terjadi defisiensi asam folat dengan akibat megaloblastosis dan anemia megaloblastik. Jika anemia tidak membaik. Toksoplasmosis Toksoplasmosis disebabkan oleh protozoa Toksoplasma gondii yang biasanya didapatkan dari hewan terutama dari tinja kucing. Profilaksis diberi dengan 600mg klorokuin. miokarditis dan limfangitis. polimiositis. Pada bayinya juga diberi profilaksis 6. Untuk mengimbangi hemolisis secara besar-besaran itu. Pemberian asam folat juga harus ada untuk memperbaiki defisiensi dan untuk hemopoiesis yang meningkat.25 mg klorokuin setiap minggu dalam 6 bulan pertama. . Pada orang dewasa. Manusia bisa terinfeksi melalui makanan yang terkontaminasi kistanya. Beratnya gejala klinik ditentukan oleh besarnya inoculum. Pada saat persalinan. Profilaksis juag diberi kepada ibu yang berpindah dari daerah non endemik ke daerah endemik. Ini terjadi karena pertambahan aliran darah yang banyak secara tibatiba dan jantung ibu tidak mampu memompanya sehingga terjadi dekompensasio kordis. biasanya pada kehamilan 20-28 minggu. diberikan transfusi darah untuk mempertahankan kadar Hb pada tingkat yang cukup aman. dari transfusi darah. Pada pasien yang harus ditransfusi diberikan juga kortikosteroid untuk mencegah hemolisis. Penyakit malaria diobati dengan obat antimalaria klorokuin. penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas.malaria tertiana. Gejala-gejala berat adalah pneumonia.

Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan darah tepi 2 kali/minggu. Pengobatan pula dengan diberi pirimetamin oram 25mg/hari dengan sulfadiazin oral 1g/hari selama 28 hari disertai asam folat 6g IM atau oral 3kali/minggu. Pemberian pirimetamin tidak bisa pada kehamilan trimester pertama dan sulfadiazin tidak bisa diberikan pada kehamilan aterm. jika seorang wanita yang telah memasuki masa subur terinfeksi toksoplasmosis. kematian janin. nistagmus. Pada janin yang ibunya terinfeksi toksoplasma bisa terjadi abortus. pada ibu dengan toksoplasmosis. korioretinitis. Pada ibu hamil yang terinfeksi akan mula-mula terjadi parasitemia dan infeksi pada janin dimulai dengan masuknya parasit tersebut ke dalam plasenta sehingga terjadi plasentitis yang terbukti dengan adanya gambaran plasenta dengan gambaran inflamasi menahun pada desidua kapsularis dan reaksi fokal pada villi. Dari penelitian selanjutnya.status imunitas penderita dan juga virulensi dari setiap strain toksoplasma. atrofi nervus optikus. partus prematurus. iritis. Selain itu. dan kematian neonatal. Selain itu. Toksoplasmosis kongenital merupakan sindroma TORCH yang paling berat. mikrosefalus. 4 orang mengalami persalinan prematur dan 1 kasus kelainan kongenital. Jika bayinya hidup akan mengalami kecacatan bawaan seperti hidrosefalus. 14. ibu juga dianjurkan untuk USG untuk mengetahui kondisi janin dan setelah bayinya lahir. terdapat titer IgG toksoplasma yang tinggi. pertumbuhan janin terhambat. meningoensefalomeilitis dengan perkapuran di otak. iridosiklisis. wanita itu mungkin mengalami gangguan imunitas yang menyebabkan gangguan infertilitas karena parasit menyerang setiap sel berinti termasuk sel gamet. Menurut Sayogo (1978). Diagnosis toksoplasmosis sangat sulit dibuat karena tidak disertai gejala penyakit dan kecurigaan hanya timbul jika ditemui kelainan seperti yang disebutkan di atas. Jakarta.25% positif terhadap toksoplasms. Hal ini dibuktikan oleh penelitian Jacoeb (1990) yang menyatakan pada wanita dengan infertilitas. tetap memberikan ASI seperti biasa karena toksoplasma tidak ditularkan via ASI. . dan lain-lain. dari 288 wanita hamil di RSCM. Anak itu juga di saat pertumbuhannya mudah terjadi kejang dan retardasi mental.

Pengobatan sifilis harus segera setelah diagnosis ditegakkan karena pengobatan yang lebih dini adalah lebih baik buat janin. dosis yang dibutuhkan adalah 7. Cara mendiagnosis penyakit ini adalah dengan melakukan anamnesia tentang adanya kontak seksual dengan penderita sifilis. serta rhagade di sekitar mulut. diberi secara disentisasi. disebabkan oleh Treponema pallidum. partus immaturus. Pemeriksaan serologik memakan waktu yang lama yaitu selama 4-6 minggu setelah infeksi.PENYAKIT AKIBAT HUBUNGAN SEKSUAL Sifilis Infeksi sifilis. Pemeriksaan ini harus diulang pada trimester terakhir dan pada persalinan. deskuamasi telapak kaki dan tangan. dan partus prematurus. Penisilin yang dipakai adalah benzathine penisilin G dengan dosis 2.2 juta satuan dibagi dalam 3 dosis dengan masing-masing 2.4 juta satuan IM sekali suntik. pemfigus sifilitikus. atau dikenali dalam masyarakat sebagai lues. Selain itu. ia bisa menularkan kepada janinnya dan sifilis kongenital merupakan infeksi sifilis yang terberat dengan gejala klinisnya berupa janin dan plasenta yang tampak hidropik. Pada orang yang terinfeksi. sifilis bisa menyebabkan kematian janin. Dalam banyak kasus sering tidak ada gejala sehingga kelahiran mati dan lahirnya bayi dengan sifilis kongenital sering merupakan petunjuk pertama ke arah diagnosis sifilis pada ibu. Untuk sifilis kronis. tergantung besarnya inokulum serta imunitas penderita. Selain itu. Eritromisin tidak dianjurkan karena tidak bisa mengobati infeksi pada janin. pada infeksi primernya akan timbul chancre.4 juta satuan IM perminggu selama 3 minggu. Jika seorang ibu memiliki sifilis. bisa dilakukan swab pada lesi dengan direct flourescent antibody test dan ini menjadi hal yang rutin dilakuka pada skrining antenatal saat kunjungan pertama. Semua pasien sifilis harus dikonsultasi untuk resiko kemungkinan menderita AIDS sehingga diperlukan juga pemeriksaan antibodi HIV. Obat yang diberi adalah penisilin dan jika pasien alergi terhadap penisilin. .

Pada pemeriksaan laboratorium lendir uretra dan kanalis servikalis yang dipulas dengan biru metilen ditemukan banyak sel nanah dan ditemukan banyak diplokokus intra dan esktra seluler. sering juga ditemukan kemandulan dengan satu anak (one child sterility) pada penderita atau bekas penderita gonorea. Apabila hasil dari pemeriksaan ini meragukan. endosalpingitis.Pada neonatus. Bayi yang lahir dari ibu yang menderita sifilis tetap diberikan ASI seperti biasa karena Treponema tidak bisa melewati ASI tetapi pemberian ASI dihindarkan pada ibu yang mempunyai lesi pada kulit. korioamniositis dan sepsis neonatus. akan terjadi penjalaran dari genitalia eksterna ke interna sehingga terjadi endometritis. Gonorea pada kehamilan dijumpai dalam bentuk kronis dan sampai 80% kasus tidak terdiagnosis karena tidak adanya gejala klinis yang dikeluhkan oleh penderita. fluor albus berupa nanah encer yang berwarna kekuningan atau kuninghijau dan kadang-kadang dijumpai bartholinitis akut atau vulvokolpitis. Gonorea Penyakit ini disebabkan oleh Neisseria gonorrhea dan meningkatnya kasus gonorea pada kehamilan setara dengan peningkatan kejadian ketuban pecah dalam kehamilan. . uretritis. dilakukan pembiakan. servisitis. Selain penderita. Diagnosis sering dibuat setelah bayi lahir dengan oftalmia neonatorum. Jika seorang wanita hamil terinfeksi gonorea setelah 4 minggu kehamilannya. Pada persalinan. diberi aqueous crystalline penicillin G 100. pelvioperitonitis pasca abortus dan pasca nifas. Diagnosis gonorea akut pada kehamilan ditegakkan dengan adanya gejala klinik seperti disuria. Pada penyakit gonorea yang kronis harus dilakukan pemeriksaan pembiakan saja karena pemeriksaan apus tidak memberi arti apa-apa.000 satuan/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis. bisa terjadi infeksi pada jalan lahir sehingga menyebabkan konjungtivitis gonoroika neonatorum (blenorrhea noenatorum) ketika mata bayi tersentuh dengan bagian-bagian yang mengandungi gonokokkus.000-150. suaminya juga harus diperiksa dan dilarang koitus sebelum pasien benar-benar sembuh. Selain itu.

Pilihan obat lainnya adalah ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal dan pada setiap pengobatan perlu dipertimbangkan adanya ko-infeksi gonorea dengan sifilis dan chlamydia. persalinan preterm. semua janin yang lahir diberi salep mata eritromisin atay kloromisetin. Untuk mencegah kemungkinan blenorrhea neonatorum. endometritis. Penyakit ini disebabkan oleh Chlamydia trachomatis yang menjalar dari saluran urogenital yang dimulai dari serviks atau uretra ke atas sehingga menyebabkan terjadinya bartholinitis. Salpingitis akut juga dapat menyebabkan perihepatitis akut di mana terjadi proses inflamasi dan fibrinasi permukaan anterior hepar serta peritoneum di sekitarnya sehingga menimbulkan perlekatan hepar dan diafragma. diberi eritromisin 0. salpingitis yang akhirnya dapat menyebabkan infertilitas. pertumbuhan janin terhambat. sindroma uretra akut.5 gram. ketuban pecah dini serta endometritis postabortum maupun postpartum. Terdapat juga penelitian dari Johnson dan rekan (1970) yang menganjurkan pemberian ampisilin dosis tunggal sebanyak 3. Pemberian ASI juga harus dianjurkan karena penyakit ini tidak dapat ditularkan melalui ASI.8 juta IU. endoservisitis. perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium setiap 3 hari setelah pengobatan selesai. Keadaan tersebut dikenal sebagai sindroma Fitz-Hugh-Curtis. Pada ibu-ibu yang terinfeksi chlamydia bisa terjadi abortus. Jika penderita alergi penisilin. Chlamydia trachomatis Prevalensi penyakit infeksi chlamydia semakin lama semakin meningkat yaitu sebanyak 2 – 37% dari seluruh wanita hamil. Selain itu.5 gram 4 kali sehari selama 5-10 hari atau suntikan kanamisin dosis tunggal (1 gram di kanan dan 1 gram di kiri). Jika kambuh. 20-50% dapat mengalami . kematian janin. Bayi yang lahir per vaginam dari ibu yang terinfeksi chlamydia. di kanan dan kiri secara setengah-setengah.Pengobatan penyakit ini adalah dengan antibiotika penisilin G dalam larutan sebanyak 4. penderita diobati lagi dengan dosis dua kali lipat.

Penyakit ini dikenali dengan nama herpes simpleks. Kematian bayi juga dapat disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. Selain itu dilakukan pemeriksaan sitologi yang memperlihatkan adanya badan inklusi intrasel.5 atau tetrasiklin 1% segera setelah bayi lahir sampai 1 jam postpartum. Herpes simpleks Infeksi virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan tetapi dapat menyebabkan kematian janin. Pneumonia dapat terjadi paa usia 3-4 bulan dengan prevalensi 10-20%. Pada bayi dapat ditemukan gelembung-gelembung di kulit pada seluruh tubuh atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut.konjugtivitis inklusi dalam 2 minggu pertama kehidupannya. Pencegahan terhadap ophtalmia neonatorum perlu dilakukan dengan memberikan salep mata eritromisin 0. dan bronkiolitis. Diagnosis infeksi Chlamydia dapat ditegakkan dengan adanya sekret mukopurulen dari ostium uteri eksternum atau apusan serviks pada biakan ditemukan mikroorganisme ini. Jika pasien mempunyai intoleransi terhadap eritromisin dapat diberi amoksisilin 500 mg 3 kali/hari secara oral selama 7 hari. vagina dan serviks. dapat juga terjadi otitis media. obstruksi nasal. Penyakit ini juga dihubungkan dengan kemungkinan adanya infeksi HIV. dan pada pemeriksaan serologik didapatkan adanya kenaikan titer antibodi. Pengobatan infeksi chlamydia pada kehamilan perlu memperhatikan tentang adanya infeksi campuran dengan gonorea. Selain itu. Pengobatan dilakukan dengan eritromisin 500 mg secara oral 4 kali/hari selama 7 hari atau eritromisin 250 mg secara oral 4 kali/hari selama 14 hari. Resiko infeksi perinatal dapat dikurangkan dengan dilakukan operasi seksio sesarea. Virus herpes tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan adanya gelembunggelembung berisi cairan di vulva. Pemberian ASI juga tetap diteruskan karena Chlamydia trachomatis tidak dapat melewati ASI. akibat . dengan syarat belum pecah ketuban sebelumnya. Penularan dari ibu ke anak dapat terjadi karena hematogen melalui plasenta.

vagina atau serviks yang akan memberikan hasil positif setelah dipulas dengan Papanicolaou.0 – 1.penjalaran dari vagina. Menurut laporan Centre for Disease Control (CDC) di Amerika. pada ibu di saat persalinan sebanyak 0. perlukaan dalam proses persalinan atau melalui ASI.4-2. Pengobatan penyakit ini adalah dengan diberikan antivirus Acyclovir dan pemberian obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri di daerah vulva. HIV/AIDS Jumlah penduduk dunia yang menderita HIV/AIDS semakin lama semakin banyak. 50% bayinya akan mengalami infeksi.6% pada ibu hamil pemakai narkotika intravena. Selain itu.7 %. ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi dan apabila mau menyusui. pneumonitis atau hepatitis dan diberikan secara intravena. Cara melakukan diagnosis tidak sulit karena pada alat kelamin penderita akan terlihat gelembunggelembung. mencuci tangan dan mengganti bajunya terlebih dahulu. Walaupun demikian. Transmisi vertikal dari ibu ke janinnya sering terjadi dan ada penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan resiko transmisi perinatal pada ibu hamil adalah sebanyak 20-40%. Selain itu bisa dilakukan pemeriksaan serologik. ke janin apabila ketuban pecah atau melalui kontak langsung saat bayi lahir. Jika seorang ibu itu menunjukkan gejala aku pada genitalia. persalinan dilanjutkan dengan seksio sesarea karena jika persalinan berlangsung secara per vaginam. seroprevalensi HIV pada ibu prenatal adalah sebanyak 0. Penderita AIDS anak-anak 80% daripadanya mendapat infeksi dari ibunya. . Transmisi dapat terjadi melalui plasenta.3% dan 9. Pemberian Acyclovir tidak dianjurkan pada waktu hamil kecuali jika mengancam nyawa ibu seperti adanya ensefalitis. WHO menganjurkan ibu yang HIV positif tetap menyusui bayinya karena mengingat manfaat ASI yang besar dibandingkan dengan resiko penularan HIV. Setelah persalinan. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang bersifat kronis dan rekuren sehingga dikatakan sulit diobati.4 – 29. ibu harus membersihkan diri. terutama di kalangan wanita. ditemukan benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam epitel vulva.

berat badan menurun atau mungkin menderita kandidiasis oral atau vaginal. Konseling 5. hepatitis. Identifikasi resiko tinggi HIV/AIDS yaitu pada pemakai narkotika intravena. . golongan biseksual dengan HIV positif. pasangan seksualnya. Pencegahan sumber infeksi Setelah terdiagnosis adanya AIDS. Kematian ibu hamil yang HIV positif kebanyakannya disebabkan oleh penyakit opportunistik seperti Pneumocystis carinii pneumonia. perlu dilakukan pemeriksaan apakah ada penyakit hubungan seksual lainnya seperti gonorea. chlamydia. Gejala klinis pada penderita AIDS di stadium awal biasanya tidak spesifik. Pasien cuma menunjukkan gejala malaise. Melakukan pemeriksaan darah terhadap HIV 3. Diberi edukasi 4. penderita penyakit hubungan seksual lainnya dan pada pekerjaan tuna susila. herpes. atau infeksi TORCH. Grup I : Infeksi akut Grup II : Infeksi asimptomatik Grup III : Limfadenopati persisten generalisata Grup IV : Penyakit lain Subgrup A: Penyakit konstitutional Subgrup B: Penyakit neurologik Subgrup C: Penyakit infeksi sekunder Kelompok ini terbagi lagi dalam kategori C-1 dan C-2 tergantung jenis infeksi sekundernya. anoreksia.Pada setiap ibu hamil sebaiknya dilakukan langkah-langkah pelaksanaan seperti berikut seperti: 1. 2. CDC telah menetapkan sistem klasifikasi pasien HIV berdasarkan kondisi kliniknya.

Pengobatan infeksi HIV dan penyakit opportunistiknya dalam kehamilan merupakan masalah. sarung tangan. Jangan menggunakan penghisap lendir bayi melalui mulut. Bila curiga adanya kontaminasi. 7. menggunakan alat kontrasepsi dan mengadakan tes terhadap HIV sebelum kehamilan. Gunakan pelindung mata. 2. karena banyak obat yang belum diketahui dampak buruknya terhadap kehamilan. 3. Bayi pula harus ditangani oleh dokter anak yang khusus menangani kasus ini. Pemberian AZT (Zidovudine) dapat memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta beratnya infeksi opportunistik. lokhia. lakukan konseling dan periksa antibodi terhadap HIV serta dapatkan AZT sebagai profilaksis. Oleh karena itu dianjurkan untuk melaksanakan upaya pencegahan terhadap penularan infeksi bagi petugas kamar bersalin seperti berikut: 1. 5. 6.Subgrup D: kanker sekunder Subgrup E: kondisi lainnya Sampai saat ini belum ada pengobatan AIDS yang memuaskan. Dengan demikian. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi dengan rate 0-1% per tahun exposure. Pada bayi . 4. Cucilah tangan setiap selesai menolong penderita AIDS. dan masker yang kedap air dalam menolong persalinan. seksio sesarea bukan merupakan indikasi untuk menurunkan resiko infeksi pada bayi yang dilahirkan. Dalam persalinan. Perawatan pasca persalinan perlu memperhatikan kemungkinan penularan melalui pembalut wanita. Gunakan gaun. Gunakan sarung tangan saat menolong bayi. tetapi perawatan ibu dan anak tidak perlu dipisah. pencegahan menjadi sangat penting peranannya yaitu mengedukasi pasien tentang hubungan seksual yang sehat. Peganglah plasenta dengan sarung tangan dan beri label sebagai barang infeksius. luka episiotomi atau pun luka seksio sesarea.

jangan dilakukan tindakan yang mengakibatkan luka. Oleh karena . tes bau amin positif. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan faktor penyebab pecahnya selaput ketuban pada kehamilan dan persalinan prematur. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram karena biasanya infeksinya asimptomatik. seperti sirkumsisi. pH lebih dari 4. Jika kondiloma terlalu besar sehingga menghalangi jalan lahir atau pada persalinan per vaginam dikhuatirkan terjadi perdarahan hebat.5. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukan 3 dari 4 gejala berikut: sekret vagina homogen. penyakit yang disebabkan oleh Human papilomavirus (HPV) sering dikaitkan dengan displasia dan karsinoma dan karena itu. Infeksi pada bayi mengambil waktu yang lama untuk tampak. atau dijumpainya clue cells pada sediaan basah. Kondiloma akuminata Seperti diketahui. maka dilakukan operasi seksio sesarea. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat dan hati-hati supaya darah tidak terkena penolong. Pengobatan terhadap infeksi ini di luar kehamilan adalah dengan metronidazole tetapi karena obat ini kontraindikasi pada kehamilan trimester pertama dan belum diketahui dampaknya pada kehamilan yang lebih lanjut. Imunisasi bayi yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai bayi diyakini tidak terinfeksi HIV. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu dapat bertahan sampai 15 bulan jadi diperlukan pemeriksaan ualng berkala untuk menentukan apakah kondisi bayi semakin membaik atau memburuk. Sebagai penggantinya dapat diberi clindamycin 300 mg secara oral 2 kali/hari selama 7 hari. maka sebaiknya obat ini tidak diberi dalam kehamilan. Bacterial vaginosis Penyakit ini dahulunya dikenal sebagai vaginitis nonspesifik atau vaginitis yang disebabkan oleh Haemophillus atau Gardnella vaginalis. dan akan kelihatan pada usia 12-18 bulan. harus sering dilakukan pengawasan secara berkala.

Oleh karena itu pengobatan terhadap kandida di jalan lahir perlu dilakukan sebelum persalinan berlangsung. BAB III . Biasanya pemberian antifungal secara topikal sudah bisa mengatasi masalah ini. Trikomonas vaginalis Ibu yang terinfeksi bisa menularkan trikomonas ke bayinya. krio ataupun dengan terapi laser.itu jika ditemukan kondiloma dalam kehamilan. Penyakit ini diobati dengan pemberian metronidazole pada trimester kedua atau ketiga dengan dosis tunggal sebanyak 2 gram. dan bayi yang terinfeksi akan menunjukkan gejala sekret vagina berlebihan (pada bayi perempuan). piuria dan bayi rewel. sebaiknya dilakukan ablasi dengan cara kauterisasi. Kandidiasis Ibu yang menderita kandidiasis sering melahirkan bayi yang menderita kandidiasis di daerah orofaring.

Daftar Pustaka . menjaga makanan yang dikonsumsi. menjaga kebersihan kuku serta selalu mengeringkan tangan. Ibu hamil juga perlu menjaga kebersihan daerah vagina terutama setelah buang air kecil agar terhindar dari infeksi seksual seperti chlamydia. cacar atau malaria. dan melakukan imunisasi secara teratur sebelum merencanakan kehamilan sehingga tubuh sudah memiliki antibodi tersendiri.KESIMPULAN Ibu hamil lebih rentan mengalami infeksi yang bisa mempengaruhi kehamilan dan bayi yang dikandung. lingkungan dipastikan agar tetap bersih sehingga terhindar dari penyakit menular seperti demam berdarah. Selain itu. usahakan untuk mengonsumsi makanan yang matang dan hindari makanan mentah atau setengah matang karena berpotensi menyebabkan infeksi seperti toksoplasma. Umumnya ibu hamil tidak mengetahui ketika ia memiliki infeksi karena gejala yang munul bersifat asimtomatik padahal pengobatan yang tertunda bisa berbahaya bagi kesehatan ibu dan juga bayi yang dikandung.Untuk itu ketahui cara menghindari infeksi selama kehamilan dengan memberi edukasi kepada ibu hamil untuk melakukan beberapa hal seperti menjaga kebersihan seperti rajin mencuci tangan.

University College Cork. Cork. et al.. H et al. Wiknjosastro. Cunningham F. Kamb M.1. Cousens S. 3. McCarthy F. Giles M. Antenatal interventions for preventing the transmission of cytomegalovirus (CMV) from the mother to fetus during pregnancy and adverse outcomes in the congenitally infected infant. Jakarta: EGC. 7. 4. William's Obstetrics 23rd edition. Blencowe H. Rowlands S. 2011. Wirakusumah F. S. Martaadisoebrata D. Detection and Treatment of syphilis in pregnancy to reduce syphilis related stillbirths and neonatal mortality. EGEAL Unit. Azhar M.Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Interventions for trichomoniasis in pregnancy. Folate metabolism pathway and Plasmodium falciparum malaria infection in pregnancy. 2. United Kingdom: BMC Public Health. 2011 . Ireland. United States of America: McGraw Hill Professional. Department of Obstetrics and Gynaecology. Ireland: Anu Research Centre. Abdennebi-Najar L. Institut Polytechnique Lasalle Beauvais. 2009. 2004. et al. Gülmezoglu AM.2011 6. Ilmu Kebidanan.. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. et al.Chango A. Beauvais. Sastrawinata. Cochrane Database of Systematic Reviews. Cork University Maternity Hospital.. France. 2007. Edisi Ketiga.2011 5. France: Department of Nutritional Sciences and Health. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Obstetrik Patologi Edisi 2.