BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Permasalahan Dalam rangka pembangunan ekonomi Indonesia, bidang hukum yang minta perhatian serius dalam pembinaan di antaranya adalah bidang hukum jaminan.1 Hukum Jaminan memiliki kaitan yang erat dengan bidang hukum benda dan perbankan. Dibidang perbankan kaitan ini terletak pada fungsi perbankan yakni penghimpun dan penyalur dana bagi masyarakat, yang salah satu usahanya adalah memberikan kredit. Kredit merupakan faktor pendukung bagi pembangunan ekonomi. Ini berarti perkreditan mempunyai arti penting dalam berbagai aspek pembangunan, seperti perdagangan, perindustrian, perumahan, transportasi, dan sebagainya.2 Perkreditan memberikan dukungan kepada ekonomi lemah dan para pengusaha dalam mengembangkan usahanya. Bagi perbankan, setiap kredit yang disalurkan kepada pengusaha selalu mengandung resiko. Oleh karena itu, perlu unsur pengamanan, yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam pemberian kredit di samping unsur keseimbangan dan keuntungan. Bentuk pengamanan kredit dalam praktek perbankan dilakukan dengan pengikatan jaminan. Salah satu jenis jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif adalah jaminan fidusia, sebagai lembaga jaminan atas benda bergerak, jaminan fidusia banyak dipergunakan oleh masyarakat bisnis. Pada awalnya fidusia didasarkan kepada yurisprudensi, sekarang jaminan fidusia sudah diatur dalam undang-undang tersendiri.3
1 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Bina Usaha: Yogyakarta, 1980, hal. 1. 2 H. Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Alumni: Bandung, 2004, hal. 1 3 Jaminan Fidusia diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999, sebelumnya diatur dalam UU No. 16 Tahun 1985 dan UU No. 4 Tahun 1992.

1

2 Istilah Fidusia barasal dari bahasa Belanda, yaitu fiducie dan dalam bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of ownership, yang artinya kepercayaan. Dalam berbagai literatur, fidusia lazim disebut dengan istilah Fiduciare eigendom overdract (FEO) yaitu penyerahan hak milik berdasarkan kepercayaan. Dalam Bahasa Belanda disebut juga dengan Zekerheids eigendom artinya hak milik sebagai kepercayaan. Fidusia, menurut asal katanya berasal dari kata “fides” yang berarti kepercayaan. Sesuai dengan arti kata, maka hubungan hukum antara debitur (pemberi fidusia) dan kreditur (penerima fidusia) merupakan hubungan hukum yang berdasarkan kepercayaan. Pemberi fidusia percaya bahwa penerima fidusia mau mengembalikan hak milik barang yang telah diserahkan, setelah dilunasi utangnya. Sebaliknya penerima fidusia percaya bahwa pemberi fidusia tidak akan menyalahgunakan barang jaminan yang berada dalam kekuasaannya. Menurut Mahadi “fidusia” berasal dari bahasa latin yang artinya kepercayaan tehadap seseorang atau sesuatu, pengharapan yang besar. Juga ada kata “fido” yang merupakan kata kerja yang berarti mempercayai seseorang atau sesuatu.4 Subekti menjelaskan arti kata “fiduciair” adalah kepercayaan yang diberikan secara bertimbal balik oleh satu pihak kepada yang lain, bahwa apa yang keluar ditampakkan sebagai pemindahan milik, hanya suatu jaminan saja untuk suatu utang.5 Fidusia adalah suatu istilah yang berasal dari hukum Romawi, yang memiliki dua pengertian yakni sebagai kata kerja dan kata sifat. Sebagai kata benda, istilah fidusia mempunyai arti seorang yang diberi amanah untuk mengurus
4 Mahadi, Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional, Proyek BPHN: 1981, hal. 61. 5 R. Subekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Alumni: Bandung, 1982, hal. 76.

3 kepentingan pihak ketiga dengan itikad baik, penuh ketelitian, bersikap hati-hati dan berterus terang. Orang yang diberi kepercayaan dibebani kewajiban melakukan perbuatan untuk kemanfaatan orang lain. Sebagai kata sifat istilah fidusia menunjukkan pengertian tentang hal yang berhubungan dengan kepercayaan (trust). Di dalam Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dijumpai, pengertian fidusia yaitu: “Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda”. Pengertian pengalihan hak kepemilikan adalah pemindahan hak

kepemilikan dari pemberi fidusia kepada penerima fidusia atas dasar kepercayaan, dengan syarat bahwa benda yang menjadi objeknya tetap berada di tangan pemberi fidusia. Jadi fidusia itu merupakan suatu cara pemindahan hak milik dari (debitur) berdasarkan adanya perjanjian pokok (perjanjian utang piutang) kepada kreditur, tetapi yang diserahkan hanya haknya saja secara yuridis levering dan hanya dimiliki oleh kreditur secara kepercayaan saja (sebagai jaminan utang debitur), barangnya tetap dikuasai oleh debitur. Bentuk rincian dari constitutum Prossesorium (penyerahan kepemilikan benda tanpa penyerahan fisik benda sama sekali), fidusia ini pada prinsipnya dilakukan melalui proses tiga fase yaitu: • “Fase I: Fase perjanjian obligatoir (obligatoir overeenskomst) Yaitu berupa perjanjian pinjam uang dengan jaminan fidusia antara pihak pemberi fidusia dengan pihak penerima fidusia. • Fase II: Fase perjanjian kebendaan (zakelijke overeenskomst) Yaitu perjanjian berupa penyerahan hak milik dari debitur kepada kreditur, dalam hal ini dilakukan dengan penyerahan hak milik tanpa penyerahan fisik benda (constitutum prossessorium).

Kekuatannya hanya terbatas pada kepercayaan secara moral saja dan bukan kekuatan hukum yang pasti. setelah diikat dengan jaminan fidusia tetap saja dikuasai secara fisik oleh pihak debitur”. . lembaga fidusia dikenal dalam hukum Romawi dengan nama Fidusia Cum Creditore dengan nama lengkapnya adalah Fiducia Cum Creditore Contracta yang berarti janji kepercayaan yang dibuat dengan kreditur. Debitur tidak akan dapat berbuat apa-apa jika kreditur tidak mau mengembalikan hak milik atas barang yang diserahkan sebagai jaminan. Dengan fiducia cum creditore ini maka kewenangan yang dimiliki oleh kreditur akan lebih besar yaitu sebagai pemilik atas barang yang diserahkan sebagai jaminan. pengakuan fidusia dalam yurisprudensi sampai diaturnya jaminan fidusia dalam undang-undang. sehingga praktis benda tersebut. Debitur percaya bahwa kreditur tidak akan menyalahgunakan wewenang yang diberikan itu. Putusan Hooge Raad tersebut merupakan awal bagi perkembangan hukum fidusia di Belanda. 5-6. sebagai akibat dari sempitnya pengaturan gadai 6 Munir Fuady. Citra Aditya Bakti: Bandung.4 • Fase III: Fase perjanjian pinjam pakai Dalam hal ini benda objek fidusia yang hak miliknya sudah berpindah kepada pihak kreditur dipinjampakaikan kepada pihak debitur. dikatakan bahwa debitur akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda kepada kreditur sebagai jaminan atas utangnya dengan kesepakatan bahwa kreditur akan mengalihkan kembali kepemilikan tersebut kepada debitur apabila utangnya sudah dibayar lunas. 2003. Fidusia ini adalah lembaga jaminan yang lahir dari hasil penemuan hukum oleh hakim (recthvinding). Pada putusan Hooge Raad (HR) dalam perkara Aw de Haan V. Jaminan Fidusia. hal. Heinken Bierbrouwerij Maafschappij tanggal 25 Januari 1929 fidusia telah diakui sebagai lembaga jaminan dengan objek benda berupa inventaris perusahaan. Pada awalnya.6 Perkembangan fidusia dapat dilihat dari sejak lahirnya fidusia.

hal. Jakarta: 2004.5 (pand) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. sebagaimana tampak dalam hal membagi hasil eksekusi.9 Menurut Munir Fuady ada beberapa hal yang mendasari lahirnya jaminan fidusia. 9 Salim HS. Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya di Indonesia. sementara kreditur tidak mempunyai kepentingan bahkan kerepotan jika benda 7 Menurut Pasal 1512 KUHPerdata. 3. sebagaimana yang diatur dalam pasal 1152 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 8 Sri Soedewi Mascjhoen Sofwan. . karena pemberi gadai tidak dapat menggunakan benda-benda tersebut untuk keperluannya.8 Dan Menurut Salim HS gadai mempunyai beberapa hambatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meliputi: 1. antara lain: 1. tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat”. misalnya mengenai cara pemberitahuan tentang adanya gadai piutang-piutang tersebut kepada si debitur surat utang. Ketiadaan kepastian berkedudukan sebagai kreditur terkuat. Dalam Perjanjian Gadai. kreditur lain. Tidak adanya ketentuan tentang cara penarikan dari piutang-piutang oleh si pemegang gadai. Gadai atas surat-surat piutang Kelemahan dalam pelaksanaan gadai atas surat-surat piutang ini karena: 1. hal.7 Menurut Sri Soedewi latar belakang timbulnya jaminan fidusia adalah “Karena ketentuan undang-undang yang mengatur tentang lembaga gadai (pand) mengandung banyak kekurangan. Ini merupakan hambatan yang berat bagi gadai atas benda-benda bergerak berujud. Objek Gadai Harus Berada Dalam Kekuasaan Kreditur. Raja Grafindo Persada. 115-116. Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia. yaitu pemegang hak privilege dapat berkedudukan lebih tinggi dari pada pemegang gadai”. Adanya asas inbezitstelling Asas ini mensyaratkan bahwa kekuasaan atas bendanya harus pindah/berada pada pemegang gadai. 57-58. Tidak adanya ketentuan mengenai bentuk tertentu bagaimana gadai itu harus dilaksanakan. Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. 2. 2. Dalam praktek terdapat kasus dimana benda yang menjadi objek jaminan utang adalah tergolong benda bergerak tetapi pihak debitur enggan menyerahkan kekuasaan atas benda tersebut kepada kreditur. Yogyakarta: 1977.

op. Ada benda-benda yang sebenarnya termasuk benda-benda bergerak tetapi mempunyai sifat-sifat seperti benda tidak bergerak sehingga pengikatannya dengan gadai dirasa tidak cukup. 3. 2. 4. hal. terutama karena adanya kewajiban menyerahkan kekuasaan dari jaminan tersebut. sehingga ada hak-hak atas benda yang sebenarnya tidak bergerak tetapi tidak dapat diikatkan dengan hipotik. . Selain fakta di atas yang melatar belakangi lahirnya UU No. tetapi benda yang dijaminkan karena sesuatu hal tidak dapat diserahkan kepemilikannya kepada kreditur. 3. Inilah yang disebut dengan jaminan fidusia. Karena itu dibutuhkan suatu bentuk jaminan utang yang objeknya benda bergerak tetapi tanpa menyerahkan kekuasaan atas benda itu kepada kreditur. tercantum dalam konsiderannya yaitu: 1. Karena itu timbul fidusia saham”.. kasus jaminan fidusia untuk pertama kali diputus oleh Mahkamah Agung (MA) dalam perkara Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) v. Adanya hak atas tanah tertentu yang tidak dapat dijaminkan dengan hak tanggungan. Dengan adanya berbagai kelemahan di atas. Kebutuhan yang sangat besar dan terus mengikat bagi dunia usaha atas tersedianya dana. Adakalanya pihak kreditur dan debitur tidak keberatan agar diikatkan jaminan utang berupa gadai.6 tersebut diserahkan kepadanya. 2-3. misalnya hak pakai atas tanah. Perkembangan kepemilikan atas benda-benda tertentu tidak selamanya dapat diikuti oleh perkembangan hukum jaminan. Sehingga hak pakai atas tanah tersebut diikat dengan jaminan fidusia. misalnya saham yang belum dicetak sertifikatnya. Pedro Clignett tanggal 18 Agustus 1932 dengan objek fidusia adalah 10 Munir Fuady. 5. Pengaturan lembaga jaminan fidusia masih didasarkan pada yurisprudensi. cit.10 2. Dalam rangka memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan Di Indonesia. Karena itu jaminan fidusia menjadi pilihan. dalam praktik timbul lembaga baru yaitu fidusia. perlu diimbangi dengan adanya ketentuan hukum yang jelas dan lengkap yang mengatur mengenai lembaga jaminan. 42 Tahun 1999 tentang Fidusia berdasarkan keadaan sekarang.

13 Dalam UU No. “Menurut Undang-Undang Pokok Agraria. perkembangan objek fidusia dapat dilihat setelah berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria.11 Dalam surat Direktur Jenderal Agraria No. 2. objek fidusia adalah rumah. 3 Tahun ke III. Demikian juga fidusia dapat dibebankan atas bangunan di atas tanah hak sewa. Hooggerechtschof dengan arrestnya tanggal 16 Februari 1933 menetapkan bahwa hak grant (grant recht) dapat dijadikan objek jaminan fidusia. Sejak keluarnya UU No. dalam Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman No.D1133/73/3/73 tanggal 26 Maret 1973 dikatakan bahwa hak pakai tidak dapat dibebankan dengan hipotik (sekararang hak tanggungan). 13 Lihat Pasal 12 dan 13 UU No. 12 Sumardi Mangunkusumo. hak-hak atas tanah yang dapat dijadikan objek jaminan dengan hak tanggungan adalah hak milik. 5 Tahun 1960. 14 Lihat Pasal 15 dan Penjelasannya UU No. ketentuan fidusia dalam Undang-Undang Rumah 11 Lihat Pasal 25. tidak diatur secara rinci apakah rumah itu didirikan di atas suatu jenis hak atas tanah tertentu. objek fidusia adalah rumah susun atau satuan rumah susun yang didirikan diatas tanah hak pakai atau tanah negara. hak guna bangunan dan hak guna usaha”. 4 Tahun 1992. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. dan Pasal 33 UU No. Juni: hal. Sebagai jalan keluarnya dipergunakan lembaga fidusia. Fidusia Bangunan-Bangunan Di Atas Tanah Hak Sewa.12 Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Undang-Undang Rumah Susun.7 benda bergerak/mobil. Dalam bidang perundang-undangan. 16 Tahun 1985. 39. . 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman.14 Berbeda halnya dengan Undang-Undang Rumah Susun yang menegaskan objek jaminan fidusia dengan melihat hak atas tanah. (1972) Hukum dan Keadilan No. 4 Tahun 1992 yang diutamakan sebagai jaminan utang adalah rumah terlepas dari hak atas tanah.

Hanya saja diberlakukan ruang lingkup berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia. 4 Tahun 1992. . “Benda tidak bergerak” yang dimaksudkan ialah bangunan yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan yaitu bangunan di atas tanah hak milik orang lain. benda dagangan. Jadi dapat diketahui bahwa benda-benda yang dapat dijadikan jaminan utang dengan pembebanan fidusia meliputi benda bergerak dan benda tidak bergerak. Dengan berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa: “Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak.16 Berdasarkan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang No. 16 Lihat Pasal 2 dan 3 UU No. yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan (inventory).15 Selanjutnya dalam Undang-Undang No. Pasal 9. peralatan mesin dan kenderaan bermotor. Benda-benda 15 Lihat Pasal 27 UU No. sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu. Bandingkan dengan Pengaturan Objek Hak Tanggungan dalam Pasal 4 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. yang antara lain terdapat dalam ketentuan Pasal 1 angka 4. tidak dinyatakan secara tegas benda-benda apa saja yang dapat dijadikan jaminan utang dengan pembebanan fidusia.8 Susun dicabut dan diganti dengan lembaga hak tanggungan. Pasal 10 dan Pasal 20. maka objek jaminan fidusia diberikan pengertian yang luas. 42 Tahun 1999. piutang. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya”. khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang nomor 4 tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia. sedangkan fidusia dalam Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman masih berlaku. Sebelum berlakunya UU Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. 4 Tahun 1992.

termasuk piutang 3. yang bergerak maupun yang tak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan atau hipotik”. Benda berwujud dan benda tidak berwujud.9 yang menjadi objek jaminan fidusia adalah: 1. 7. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang isinya: “Benda adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dialihkan. yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar. Benda bergerak dan tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan 4. Oleh karena itu penyusunan hukum benda harus memperhatikan prinsip-prinsip hukum adat. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang isinya adalah: ”Bangunan di atas tanah milik orang lain yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan berdasarkan UU No. baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Termasuk hasil dari benda yang telah menjadi objek fidusia dan juga hasil klaim asuransi objek jaminan fidusia tersebut. Hukum benda adalah sub sistem dari sistim hukum perdata nasional di satu sisi dan di sisi lain hukum adat adalah salah satu komponen dalam penyusunan hukum perdata nasional. Fidusia memiliki arti penting dalam memenuhi kebutuhan kredit bagi masyarakat. Dapat atas satu satuan atau jenis benda dan lebih dari satu jenis atau satuan benda 6. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hipotik 5. Benda persediaan (inventory). Hal ini penting mengingat penjelasan Pasal 3 UU No. Benda itu harus dapat dimiliki dan dialihkan secara hukum 2. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. khususnya perusahaan kecil dan menengah sangat membantu usaha . dapat dijadikan objek jaminan fidusia” dan Pasal 1 angka (4) UU No.

persediaan. Oleh karena itu. Dan “Bagi bank dapat menimbulkan masalah mengenai tempat penyimpanan. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan) Pasal 8 dan penjelasannya dinyatakan bahwa pemberian kredit selalu mengandung resiko. Agunan tambahan adalah agunan yang tidak termasuk di dalam batasan agunan 17 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan. “Bank tidak perlu menyediakan tempat khusus barang jaminan seperti pada lembaga gadai (pand)”. pihak perbankan lebih praktis mempergunakan prosedur pengikatan fidusia. . Hak-Hak Jaminan Kebendaan. 149. 75. op. piutang dagang/hak tagih. hal. Jaminan yang diminta bank dapat berupa jaminan pokok berupa barang proyek (tanah dan bangunan. Citra Aditya Bakti: Bandung. barang jaminan harus diserahkan kepada kreditur sesuai dengan pasal 1150 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata yang isinya: “Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas namanya …”. Debitur masih dapat menguasai barang jaminan untuk keperluan usaha sehari-hari.. khususnya bank-bank di kota besar. 2002.10 debitur. hal. Satrio. karena tidak adanya gudang-gudang yang cukup luas yang mereka miliki”.17 Dalam perjanjian gadai. mesin-mesin. cit.18 Akibat pengaturan gadai yang terlalu sempit. kehadirannya dapat memberikan manfaat ganda. Salah satu cara mengatasi resiko adalah menetapkan jaminan (collateral) dalam analisis pemberian kredit. 10 Tahun 1998 (UU Tentang Perubahan atas UU No. Hukum Jaminan. Dalam UU No. dan lain-lain) sedangkan jaminan tambahan adalah harta kekayaan debitur. fidusia lahir untuk mengisi kekosongan hukum jaminan melalui putusan pengadilan atas desakan kebutuhan masyarakat. Dengan syarat gadai tersebut barang jaminan tidak dapat lagi menunjang usaha debitur. 18 J.

jaminan pemerintah. pihak bank telah melakukan analisis faktor agunan terhadap debitur. surat berharga. kreditur fidusia wajib mengembalikan kelebihan uang sisa penjualan kepada debiturnya. kalau harga jual melebihi utang debitur. Secara teoritis. . garansi risiko. Untuk menutupi kelemahan itu. 20 Lihat Pasal 34 UU No. objek jaminan fidusia dapat dieksekusi. jika seorang pemberi fidusia wanprestasi. lembaga penjamin dan lain-lain. Nilai agunan lebih besar dari pinjaman kredit yang diberikan yaitu sebesar 50%. Hukum jaminan yang bersumber dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengandung prinsip bahwa harta kekayaan debitur menjadi jaminan utang untuk segala perikatan yang dibuat19. perlu diperjanjikan secara khusus benda-benda tertentu dari debitur yang diikat sebagai jaminan utang. Sebagai contoh: aktiva tetap diluar proyek yang dibiayai.20 Menurut pihak bank. Oleh karena itu tidak sepantasnya kreditur meminta penyitaan atas benda-benda lainnya milik debitur. Namun asas hukum jaminan dan doktrin hukum perdata menyatakan bahwa semua harta debitur memikul beban untuk 19 Prinsip Hukum Jaminan tercantum dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Sebaliknya apabila hasil eksekusi tidak mencukupi untuk membayar utang.11 pokok tersebut di atas. hak milik atau jaminan yang bersifat perorangan. apabila ternyata objek jaminan fidusia tidak mencukupi untuk membayar utang. debitur tetap bertanggungjawab atas sisa utang tersebut. Tidak logis bahwa benda jaminan fidusia tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran utang debitur karena pada saat perjanjian kredit dengan pengikatan jaminan fidusia. Selain jaminan fidusia bank meminta jaminan lainnya yang diikat dengan surat kuasa memasang hak tanggungan atau surat kuasa menjual atas hak tanggungan. bank dapat menyita barang-barang lain milik debitur. 42 Tahun 1999.

Pendapat lain menyatakan seharusnya yang boleh diminta pertanggugjawaban hanya sebatas benda jaminan yang disebutkan dalam perjanjian pokok dengan alasan bahwa ketika membuat perjanjian kredit.12 melunasi utangnya kepada kreditur. pihak bank sudah menaksir bahwa benda agunan lebih tinggi nilainya dari jumlah pinjaman yang diberikan Secara teori jaminan tambahan lebih dahulu dieksekusi. Dalam praktik ada kecendrungan bahwa objek jaminan fidusia akan dikuasai oleh bank. apakah kreditur diakui sebagai kreditur separatis murni seperti yang dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia dan bagaimana dengan asas-asas hukum yang dipakai sehingga tidak tumpang tindih . Apabila debitur wanprestasi. bank dapat mengambil pelunasan utang dari hasil penjualan barang jaminan. sampai terpenuhi semua utangnya. bagaimana status barang jaminan fidusia?. Hakim berpendapat bahwa walaupun debitur dinyatakan wanprestasi. sehingga debitur tidak dirugikan. dalam proses eksekusi penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang wajar. Perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian yang muncul karena adanya perjanjian kredit bank (perjanjian pokok). Dalam kasus jaminan PT Bank BRI (Persero) Tbk dengan nasabahnya pada pengadilan negeri padangsidimpuan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. jika debitur terbukti melakukan wanprestasi. Jika terjadi kepailitan pada debitur. sita dibatalkan dengan alasan tidak sah dan melawan hukum. hakim telah membatalkan eksekusi jaminan yang tidak disebutkan dalam perjanjian pokok dan juga disebabkan penjualan benda jaminan yang tidak sesuai dengan harga pasar pada saat itu. jika belum cukup untuk membayar utang sidebitur dapatlah dilakukan eksekusi terhadap jaminan pokok.

Tujuan Teoritis Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan: a. Bagaimana pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan? b. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian yang akan ditulis dalam sebuah tesis dengan judul: “Pelaksanaan Perjanjian Jaminan Fidusia Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan”.13 dengan asas hukum kebendaan lainnya. Tujuan Penelitian 1. Berdasarkan uraian diatas masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia dan perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Bagaimana perlindungan hukum terhadap debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan? C. permasalahan yang menjadi kajian penulis dalam melakukan penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas. b. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang .

Manfaat secara praktis a. Merupakan sumbangan pemikiran dalam rangka pembahasan hukum. Merupakan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum perdata. Merupakan sumbangan pemikiran dan informasi bagi akademis serta bahan perbandingan bagi para peneliti lainnya yang hendak melaksanakan penelitian lanjutan. Disamping itu penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan masukan bagi pembentuk undang-undang dan juga kepada pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam melaksanakan bisnisnya sehingga benar-benar sesuai dengan hukum yang berlaku dan memenuhi tuntutan masyarakat. yang diharapkan dari penelitian ini adalah: a. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1.14 Padangsidimpuan. . b. terhadap pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia. khususnya dalam bidang hukum jaminan fidusia. agar para pembuat undang-undang tidak saja memperhatikan hal-hal yang idiil dalam pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia tetapi juga kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. Manfaat secara teoritis. D. 2. 2. Tujuan Praktis Untuk memahami pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia dan perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia yang berlangsung pada lingkungan PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. b.

Menurut Lawrerence M. berarti hukum jaminan kebendaan merupakan suatu sistem.23 Berdasarkan teori sistim ini. hal. 22 Lawrence M. 1983. di atas mana dibangun tertib hukum. Angkasa: Bandung. 1. mengemukakan sejumlah asas-asas hukum jaminan yang objeknya benda sebagai berikut: “Pertama. dapat dirumuskan bahwa sistem hukum jaminan kebendaan adalah kumpulan asas-asas hukum yang merupakan landasan. W. substansi (substance). 5-6. Perubahan masyarakat dibidang hukum jaminan harus berlangsung secara teratur dan diikuti dengan pembentukan hukum jaminan fidusia berjalan dari kebiasaan kemudian diakui dalam yurisprudensi dan akhirnya ditetapkan dalam undang-undang tersendiri. Hukum dan Masyarakat.15 E.21 Hukum berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Teori yang tepat dipakai sebagai pendukung teori perubahan masyarakat adalah teori sistem. yang merupakan landasan. Kerangka Teoritis Teori yang dipakai adalah perubahan masyarakat harus diikuti oleh perubahan hukum. Friedmann. tempat berpijak di atas mana tertib hukum jaminan kebendaan itu dibangun. Suatu sistem hukum terdiri dari 3 unsur yaitu: Struktur (structure). hal. 102. Friedmann. asas hak kebendaan (real right). Kerangka Teoritis dan Konseptual. 1984. Jadi dengan ikatan asas-asas hukum tersebut. 1984. 15. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. Alumni: Bandung. hal. .W Norton dan Company: New York London.22 Suatu sistem adalah kumpulan asas-asas yang terpadu. dan budaya hukum (legal Culture). American Law. 23 Mariam Darus Badrulzaman. Mariam Darus Badrulzaman dalam Workshop Hukum Jaminan Tahun 1993 di Medan yang dikutip oleh Tan Kamelo. Sifat hak kebendaan adalah 21 Satjipto Rahardjo.

Tan Kamelo. asas mudah dieksekusi”. Di dalam karakter ini terkandung asas hak yang tua didahulukan dari hak yang muda (droit de preference). dijaminkan. Pemegang hak benda berhak menuntut setiap orang yang mengganggu haknya. tetapi ada dan hapusnya bergantung (accssotium) kepada perjanjian pokok.24 Dengan demikian. Selain itu. sifat hak kebendaan adalah memberikan wewenang yang kuat kepada pemiliknya.. kesatuan jaminan fidusia sebagai sub sistem hukum jaminan kebendaan harus diterapkan terhadap kumpulan unsur-unsur yuridis seperti peraturan hukum jaminan fidusia. konstruksi yang terjadi adalah pemberian jaminan fidusia bertindak sebagai pemilik manfaat. 25 Ibid. asas assesoir artinya hak jaminan ini bukan merupakan hak yang berdiri sendiri (zelfstandingrecht). 19-20. Keenam. cit.16 absolute. Undang-Undang Jaminan Fidusia sebagai sub sistem hukum jaminan kebendaan tidak boleh bertentangan satu sama lainnya. Jadi dengan demikian dalam perjanjian jaminan fidusia. . Sifat lain dari hak kebendaan adalah droit de suite. asas spesifikasi/pertelaan dari benda jaminan. disewakan. hal.25 24 H. sedangkan penerima fidusia sebagai pemilik yuridis. Kedua. artinya hak kebendaan mengikuti bendanya dalam tangan siapapun ia berada. Jika beberapa kebendaan diletakkan di atas suatu benda. 22. Ketiga. artinya hak ini dapat dipertahankan pada setiap orang. berarti kekuasaan hak itu ditentukan oleh urutan waktunya. . Ketujuh. asas terbuka artinya ada publikasi sebagai pengumuman agar masyarakat mengetahui adanya beban yang diletakkan di atas suatu benda. hak itu dapat dinikmati dialihkan. Keempat asas asesi yaitu perlekatan antara benda yang ada diatas tanah dengan tapak tanahnya. artinya pemberi fidusia melepaskan hak pemilikan secara yuridis untuk sementara. Kelima. hak yang didahulukan artinya hak jaminan merupakan hak yang didahulukan pemenuhannya dari piutang lain. Penyerahan secara yuridis artinya benda jaminan masih dapat dipergunakan oleh pemberi fidusia agar bisnisnya tetap berjalan. hal.. op. Pemberian jaminan fidusia merupakan penyediaan bagian harta pemberi fidusia untuk jaminan pemenuhan kewajibannya. asas pemisahan horizontal yaitu dapat dipisahkan benda yang ada di atas tanah dengan tanah yang merupakan tapaknya. Kedelapan. asas hukum dan pengertian hukumnya.

Pembedaan hak tanggungan dapat juga dilakukan terhadap hak atas tanah berikut bangunan. pendaftaran kapal laut. 24 Tahun 1997. hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah negara. Pendaftaran benda diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. hak guna usaha. benda jaminan dalam hak tanggungan adalah hak atas tanah berupa hak milik. Penekanan objek 26 Lihat Pasal 4 jo Penjelasan Umum angka (6) UU No. 42 Tahun 1999). pendaftaran kenderaan bermotor.26 Secara konseptual hak tanggungan hanya dibebankan atas tanah saja. 10 Tahun 1961 yang diubah dengan PP No. dan benda-benda yang ada di atasnya memiliki hukum sendiri. Seiring dengan perkembangan hukum. antara tanah dan bangunan/rumah yang ada di atasnya adalah terpisah dan ini sesuai dengan asas pemisahan horizontal yang dianut dalam hukum adat. Hipotik juga dapat dibebankan atas pesawat udara dan helikopter yang telah memiliki tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia. seperti yang terdapat dalam hukum perdata tetapi didasarkan pada benda terdaftar dan tidak terdaftar dalam hukum jaminan. . tanaman dan hasil karya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah dan milik pemegang hak atas tanah tersebut. Pengecualian asas ini hanya dimungkinkan apabila bangunan/rumah yang ada di atas tanah tersebut adalah kepunyaan dari pemilik hak atas tanah. Dalam jaminan hipotik yang menjadi objek adalah kapal yang beratnya paling sedikit 20 m3 dan telah terdaftar (Pasal 314 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang). 4 Tahun 1996. Pengecualian semacam ini dibenarkan dalam teori hukum.17 Berbeda halnya dengan objek fidusia (Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. ini berarti Undang-Undang Hak Tanggungan menganut asas pemisahan horizontal. pembedaan pada benda tidak didasarkan pada benda bergerak dan benda tidak bergerak lagi. pendaftaran pesawat terbang dan lain sebagainya. Dalam Undang-Undang Pokok Agraria.

jaminan fidusia mempunyai hak didahulukan terhadap kreditur lain (droit de preferent) untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda jaminan fidusia. 42 Tahun 1999). pesawat udara dan helikopter yang tidak terdaftar adalah jaminan fidusia (Pasal 31 UU No. Hak untuk mengambil pelunasan ini mendahului kreditur-kreditur lain. Dengan demikian penerima fidusia tergolong dalam kelompok kreditur separatis. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda . 42 Tahun 1999). Sebagai konsekuensinya jika pesawat udara. hak didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam harta pailit pemberi fidusia.18 hipotik terletak pada aspek pendaftaran dari kapal. Sebagai hak kebendaan. Ini Menunjukkan jaminan fidusia memiliki karakter assessoir (tambahan). yang dilahirkan dengan didahului oleh perjanjian kredit bank. helikopter itu tidak terdaftar tentunya tidak dapat dibebani dengan jaminan hipotik dan alternatif yang dapat diterapkan adalah lembaga gadai (pand) dan jaminan fidusia. dan ini sangat merugikan debitur. Bahkan sekalipun pemberi fidusia dinyatakan pailit atau dilikuidasi (Pasal 27 UU No. alternatif jaminan yang lebih menguntungkan untuk kapal. pesawat udara dan helikopter. Ini menunjukkan bahwa pendaftaran memberikan fungsi yuridis untuk menetapkan benda tersebut dianggap sebagai benda tidak bergerak yang menjadi objek hipotik. Fidusia sebagai salah satu jaminan adalah unsur pengaman kredit bank. Dengan menggunakan lembaga gadai atas kapal. pesawat dan helikopter tentunya barang jaminan harus diserahkan kepada kreditur pemegang gadai (Pasal 1152 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

usaha dan sebagainya) melaksanakan (rancangan dan sebagainya)27 b. Pelaksanaan adalah: perihal (perbuatan. W. Proses pembuatan jaminan fidusia harus dilakukan secara sempurna mulai dari tahap perjanjian kredit. Perjanjian adalah: suatu hubungan hukum antara pemberi fidusia dengan penerima fidusia yang terjadi di lingkungan perbankan dan notaris dalam 27 Kamus Umum Bahasa Indonesia.J.19 yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji. Dengan demikian objek jaminan fidusia tidak menjadi bagian harta pailit penerima fidusia oleh karena hak kepemilikan atas objek jaminan fidusia tersebut diperolehnya semata-mata sebagai jaminan Hak kebendaan jaminan fidusia baru lahir pada tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia dan sekaligus untuk memenuhi asas publisitas. .S. perlu dirumuskan serangkaian defenisi operasional sebagai berikut: a. batal demi hukum. 553. 2. Tahapan proses perjanjian fidusia tersebut memiliki arti yang berbeda sehingga memberi karakter tersendiri dengan segala akibat hukumnya. 1988. Karena itu konsekuensi yuridis adalah kalau jaminan fidusia tidak dicatatkan dalam buku daftar fidusia berarti hak jaminan fidusia bukan merupakan hak kebendaan yang memiliki sifat kebendaan tetapi memiliki karakter perorangan akibatnya kreditur fidusia tidak dapat dilindungi dengan asas droit de suite dan berkedudukan sebagai kreditur konkuren bukan kreditur preferen. Jakarta. hal. Poerwadarminto. Kerangka Konseptual Dalam rangka penelitian ini. Balai Pustaka. pembuatan akta jaminan fidusia oleh notaris dan diikuti dengan pendaftaran akta jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia.

hal. 30 Bambang Waluyo.20 bentuk tertulis. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data primer berkenaan dengan hal yang terjadi sesungguhnya dilapangan dan dihubungkan dengan data sekunder yang diperoleh dari kasus jaminan pada pengadilan negeri Padangsidimpuan dan data yang diperoleh dari Bank BRI cabang Padangsidimpuan. Sinar Grafika.29. Methode Penelitian 1. 43. Penelitian Hukum Dalam Praktek.. Penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atau 28 Lihat Pasal 1 angka (1) UU No. Pendekatan Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian dengan metode penelitian hukum empiris (socio legal research).30 yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk melukiskan tentang sesuatu hal di tempat/daerah tertentu dan pada saat tertentu. Metodologi Penelitian Hukum.28 Jadi yang dimaksud dengan Pelaksanaan Perjanjian Jaminan Fidusia Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan adalah analisa terhadap pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia serta perlindungan hukum terhadap pemberi dan penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan F. hal. 29 Bambang Sunggono. Raja Grafindo Persada. 42 Tahun 1999. . Jakarta: 2002. Fidusia adalah: Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Penelitian ini bersifat deskriptif (descriptive research). Jaminan adalah: setiap yang diberikan oleh debitur kepada kreditur guna menjamin dipenuhinya utang. Jakarta: 2003. c. 8-9. d.

21 menggambarkan secara sistematis mengenai fakta yang ada di lapangan yang berhubungan dengan objek penelitian yaitu pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia. 3. hakim yang pernah menangani fidusia. dan anggota bagian administrasi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purpossive sampling yakni diambil dengan sengaja sesuai dengan kebutuhan. 2. bagian marketing. Metode Pengambilan Sampel atau Teknik Sampling Sampel adalah sebahagian dari anggota populasi yang diamati guna mewakili keadaan populasi. dan hakim pengadilan negeri Padangsidimpuan yang pernah menangani fidusia untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masalah yang akan diteliti. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. . Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini adalah merupakan penelitian empiris. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan informan yaitu kepala bagian administari. notaris M dan notaris L mitra kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. dan notaris yang pernah menangani fidusia mitra PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Teknik purpossive sampling ditujukan terhadap pegawai PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan yang menangani kredit. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pedoman wawancara (interview guide) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. dengan cara melakukan wawancara secara langsung dengan informan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi yang ingin diperoleh dalam penelitian ini.

Kemudian dikelompokkan sesuai dengan masalah. Surat Edaran BRI 2004. terutama data nasabah yang mengambil kredit pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. menurut pegawai PT Bank BRI (Persero) Tbk banyak data yang sifatnya rahasia sehingga tidak dapat diperoleh. . Akhirnya ditarik kesimpulan guna menjawab masalah penelitian 5. 4. Jalannya Penelitian Penelitian di lapangan menemui banyak kesulitan terutama dalam mendapatkan data dari PT Bank BRI (Persero) Tbk. perjanjian membuka kredit dan perjanjian penyerahan hak milik secara kepercayaan (fidusia barang) menurut format PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Selanjutnya menyederhanakan data menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjelaskan permasalahan.22 Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui literatur atau pustaka dan dokumen-dokumen yaitu berupa kasus jaminan fidusia yang telah diputus oleh pengadilan negeri Padangsidimpuan tahun 1992 yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Teknik Analisis Data Data yang didapat di lapangan berupa data primer dianalisis secara kualitatif. ditunjang dengan data sekunder dan ditafsirkan dengan menghubungkan konsepkonsep dan pendapat pakar yang dianut dalam kerangka teoritis. dengan melakukan penafsiran terhadap data tersebut.

Istilah jaminan juga dikenal dengan agunan. hal. defenisi agunan adalah: “Jaminan tambahan diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”. Agunan dalam konstruksi ini merupakan jaminan tambahan (accessoir). IV. Gadai. Alumni: Bandung.23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tujuan agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank. Rejeki Agung: Jakarta. yang diserahkan oleh debitur kepada bank. 148. Cet. 24 .31 Defenisi di atas hampir sama dengan defenisi yang dikemukakan oleh M. yaitu Zekerheid atau cautie. Dalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggerakan di Yogyakarta. Penilaian Jaminan Kredit Perbankan Indonesia. Bab-bab Tentang Creditverban. Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara kreditur menjamin dipenuhi tagihannya. 32 M.32 31 Mariam Darus Badrulzaman. Pengertian Jaminan Istilah Jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda. 227. disimpulkan pengertian jaminan adalah: “Menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum”. Bahsan yang berpendapat bahwa jaminan adalah: “Segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat”. 2002. di samping tanggung jawab umum debitur terhadap barang-barangnya. hal. 1987. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. dan Fiducia. Bahsan. yang dapat dijumpai dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang No.

terhadap harta kekayaan debitur umumnya”. yang diatur di dalam Bab 20 Buku II Kitab UndangUndang Hukum Perdata. Seperti ditegaskan dalam Pasal 1820 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu: “Penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si kreditur mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si debitur manakala orang itu sendiri tidak memenuhinya”. 2. . hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu. yaitu: 1. 46-47. tetapi hanya dijamin oleh harta kekayaan seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan perikatan yang bersangkutan. Sedangkan jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu. selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan.. dapat dipertahankan terhadap siapapun. Gadai (pand). Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum dan Jaminan Perorangan. Jaminan perorangan (personal/coorporate guarantee) diatur dalam pasal 1820-1864 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Sri Soedewi Masjhoen memberikan pengertian jaminan kebendaan yaitu: “Jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda. Jenis Jaminan 4 Jaminan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 macam. Sedangkan jaminan perorangan tidak memberikan hak mendahului atas bendabenda tertentu. Jaminan Kebendaan Dalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta dihasilkan suatu rumusan bahwa jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan. op. 33Sri Soedewi Masjhoen.24 B. cit. dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu. yaitu: 1.33 Jaminan kebendaan dapat digolongkan menjadi 4 macam. hal.

yang serupa dengan tanggung renteng. diatur di dalam UU Nomor 4 Tahun 1996. Menurut Soebekti jaminan perorangan (immateril) adalah: “Suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga. Hak tanggungan. yaitu bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga. 4. Perjanjian garansi Pasal 1316 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hubungan hak bersifat intern. 3.34 Yang termasuk jaminan perorangan adalah: 1. 17. Fungsi jaminan perorangan ini adalah sebagai jaminan/agunan tambahan seperti dimaksud dalam penjelasan Pasal 8 UU Perbankan No. Cara pengikatan jaminannya dibuat dengan akta notariil. hubungan hak antara para debitur dengan pihak lain (debitur). Pihak ketiga sebagai penjamin adalah: 1. 7 Tahun 1992.. Jaminan Fidusia. Jaminan hipotik atas kapal laut dan pesawat udara. yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur)”. hal. 4. 2. 3. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih. op. Pengurus yang sekaligus menjadi pemegang saham atau pengendali perusahaan debitur. 2. . hubungan hak bersifat ekstren.25 2. Soebekti. cit. Akibat hak dari tanggung renteng pasif. hubungan hak antara sesama debitur itu satu dengan yang lainnya. Tanggung menanggung. diatur dalam UU Nomor 42 Tahun 1999. Dalam Jaminan perorangan ini pengurus yang menjadi penjamin 34 R. Perusahaan yang menjadi pemegang saham atau pengendali perusahaan debitur.

Lembaga ini belum dikenal di Indonesia 4. Dalam hal penjamin adalah perusahaan maka dimintakan Company Guarantee yang harus dilampiri dengan rincian harta kekayaan perusahaan sebagaimana tertuang dalam laporan keuangan perusahaan. cit. Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya (possessorium security) 2. Mortgage with possession. Meskipun penjamin menyerahkan daftar harta kekayaannya. Conditional sale (pembelian bersyarat). yaitu pembebanan jaminan (hipotek) atas benda bergerak. Pledge or pawn. misalnya jika harga dibayar lunas 6. Lembaga jaminan ini dibagi menjadi enam macam: 1.26 disyaratkan. yaitu hak untuk menguasi bendanya sampai utang yang berkaitan dengan benda tersebut dibayar lunas 3. Di luar negeri lembaga jaminan dibagi menjadi 2 macam yaitu: 1. . ialah jual beli di mana peralihan hak telah terjadi pada saat penyerahan meskipun harga belum dibayar lunas”. Lembaga jaminan tanpa menguasai bendanya Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya adalah suatu lembaga jaminan.. op. Secara yuridis penjamin tidak dapat dipaksa untuk menyerahkan daftar harta kekayaannya. yaitu benda yang dijaminkan berada di tangan pemegang gadai 2. atau untuk kredit yang berjalan. yang benda jaminannya berada pada penerima jaminan. hak bank atas harta kekayaan penjamin tetap hanya terbatas pada jumlah dan syarat tertentu. Sebaiknya kewajiban untuk menyerahkan daftar harta kekayaan penjamin dilakukan secara kasuistis. 26. Hire Purchase. Lien.35 Lembaga jaminan dengan tidak menguasai bendanya adalah suatu lembaga 35 Salim HS. misalnya untuk menyerahkan agunan berupa tanah/rumah tinggal yang dimilikinya baik untuk pemberian kredit baru dan tambahan. Credit sale. hal. yaitu perjanjian jual beli dengan syarat bahwa pemindahan hak atas barang baru terjadi setelah syarat dipenuhi. dan hak milik atas barang tersebut baru beralih setelah pelunasan yang terakhir 5. yaitu perjanjian antara penjual sewa dan pembeli sewa.

Sifat Perjanjian Jaminan Pada dasarnya perjanjian kebendaan dibedakan menjadi 2 macam. Leasing. yaitu perjanjian pokok dan perjanjian tambahan (accesoir). 54. 3. Yang termasuk lembaga jaminan ini adalah: 1. 2. 37 J. yaitu pembebanan atas benda tak bergerak atau sama dengan hipotik. Mortage. . yaitu mortgage atas benda-benda bergerak. hal. yang untuk adanya mempunyai dasar yang mandiri”. dengan opsi jenis jaminan yang berlaku untuk mendapatkan fasilitas kredit pada lembaga perbankan atau pegadaian.. 4. yaitu suatu perjanjian dimana si peminjam (leassee) menyewa barang modal untuk usaha tertentu dan jaminan angsuran tertentu”. 27. Satrio dengan mengutip pendapat Rotten mengemukakan bahwa: “perjanjian pokok adalah perjanjian-perjanjian. op. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan 36 Ibid. Umumnya ialah mortgage atas kapal laut dan kapal terbang dengan tanpa menguasai bendanya. dimana benda yang menjadi objek jaminan tidak berada atau tidak dikuasai oleh penerima jaminan. Satrio. Dalam Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dijumpai pengertian kredit yaitu: “Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu.27 jaminan. yaitu perpindahan hak milik atas kepercayaan yang dipakai sebagai jaminan utang. Fiduciary transfer of ownership.36 Penggolongan ini bertujuan memudahkan debitur untuk membebani hakhak yang digunakan dalam pemasangan jaminan. cit. J. C.. Perjanjian pokok merupakan perjanjian untuk mendapatkan fasilitas kredit dari lembaga perbankan atau lembaga keungan non bank (perjanjian utang piutang). hal. Chattel Moetgage.37 Perjanjian pokok ini dijumpai dalam perjanjian kedit bank.

Pengakuan Fidusia Dalam Undang-Undang Untuk Kepastian Hukum Secara umum diterima prinsip bahwa segala peristiwa hukum yang belum 38 Munir Fuady. op.. 40 Ibid.28 pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. D. hal. 49. perjanjian jaminan pribadi. dalam berbagai hal. hal. .. cit. Raja Grafindo Persada: Jakarta. 19. dan perjanjian jaminan perusahaan.40 Perjanjian accessoir adalah perjanjian yang bersifat tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok. 48. 2000. Munir Fuady memberikan pengertian perjanjian accessoir adalah “perjanjian yang tidak mungkin berdiri sendiri.38 Menurut Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani perjanjian assesoir adalah “suatu bentuk perjanjian atau/perikatan bersyarat. kondisi atau keadaan dalam perjanjian dasar yang menjadi dasar dari pembentukannya”. perjanjian fidusia. Meskipun tidak sepenuhnya benar. perjanjian hak tanggungan. perjanjian hipotik. 39 Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani. seperti perjanjian gadai. hal. Jaminan Fidusia. pengalihan hak atas prestasi dalam perjanjian dasar dari pihak kreditur kepada pihak ketiga membawa serta akibat hukum beralihnya perjanjian assesoir kepada pihak ketiga yang menerima pengalihan hak berdasarkan perjanjian dasar tersebut. tetapi mengikuti/membuntuti perjanjian lainnya yang merupakan perjanjian pokok”.39 Perjanjian assesoir tidak dapat dan tidak mungkin berdiri sendiri. Perjanjian accessoir ini dijumpai dalam perjanjian dengan pembebanan jaminan. yang pelaksanaannya atau kebatalannya digantungkan pada pemenuhan atau ketiadaan pemenuhan dari suatu syarat.

Undang-undang merupakan kumpulan norma-norma hukum yang dilandasi oleh prinsip-prinsip hukum. baik yang bersifat publik maupun yang privat. Tetapi tidak diimbangi dengan adanya kepastian hukum dalam pelaksanaanya. Undang-undang dibuat untuk memberikan perlindungan kepada manusia dan memelihara ketertiban dalam masyarakat. Sebaliknya apabila peristiwa hukum itu telah mendapat pengukuhan dalam undang-undang sudah dianggap memiliki kepastian hukum. Salah satu tujuan dari penegakan hukum adalah menciptakan kepastian hukum. kepastian hukum meliputi dua hal yakni: . tetapi tidak dipungkiri bahwa awal dari kepastian hukum itu dimulai dengan pembentukan undang-undang dan juga pelaksanaannya dalam praktek di lapangan.29 mendapat pengaturan dalam undang-undang belum memiliki kepastian hukum. Namun dalam perkembangannya. Apakah kepastian hukum itu dapat terwujud? Dalam suatu undang-undang. Agar norma hukum itu dapat melindungi kepentingan manusia dan menciptakan ketertiban dalam masyarakat maka undang-undang itu harus dilaksanakan. Secara logika kepastian hukum itu tidak cukup hanya demi undang-undang atau sampai pada tahap pelaksanaan undang-undang saja. walaupun dalam penegakannya mengalami hambatan. Pemerintah telah banyak membentuk perundang-undangan yang baru untuk dapat mendukung pembangunan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Melalui pelaksanaan itu undang-undang dapat ditegakkan. Dengan kepastian hukum kepentingan manusia akan terlindungi dan ketertiban akan dapat terwujud dalam masyarakat. terjadi kontraversial antara materi hukum yang menunjukkan adanya peningkatan.

Tan Kamelo. tetapi dapat pula diterima dan diakui oleh masyarakat. 117. bahwa dalam pelaksanaan tidak ada masalah. berlakunya suatu kaidah hukum itu dapat dilihat dari tiga aspek yakni aspek yuridis. Kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip hukum undangundang tersebut”. tidak dapat dikatakan bahwa kepastian hukum telah berjalan secara sempurna. 42 Soerjona Soekanto dan Mustafa Abdullah. Sosiologi Hukum dalam Masyarakat. Apakah kepastian hukum yang sudah tercipta dalam undang-undang itu akan efektif ketika undang-undang dilaksanakan?. Meskipun suatu undang-undang sudah mempunyai kepastian hukum belum menjamin. 2. Dengan demikian. hal. hal. aparatur pelaksana hukum. 1987. kepastian hukum itu tidak pernah menyentuh kepada masyarakat. 41 H. persoalan kepastian hukum merupakan suatu hal yang terletak pada substansi undangundangnya. op. Jadi. Kepastian perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan satu dengan lainnya baik dengan pasa-pasal dalam undang-undang itu maupun dengan pasal-pasal di luar undang-undang itu. secara sosiologis. Apabila norma hukum dalam undang-undang itu belum pernah dilaksanakan atau dalam pelaksanaannya mengalami hambatan. sosiologis dan filosofis. . cit. keefektifan suatu kepastian hukum yang tercantum dalam undang-undang apabila undang-undang tersebut sudah dilaksanakan dan diterima oleh masyarakat. warga masyarakat dan fasilitas yang tersedia untuk pelaksanaan undang-undang tersebut. 13..41 Jika perumusan norma dan prinsip hukum itu sudah memiliki kepastian hukum tetapi hanya berlaku secara yuridis saja. Rajawali:: Jakarta.30 1.42 Pelaksanaan suatu undang-undang dapat dipaksakan oleh negara. Menurut teori hukum.

. Di Indonesia. Tidak dijelaskan apakah hak jaminan fidusia yang diatur dalam UndangUndang Rumah Susun objeknya hanya berlaku pada hak pakai atas tanah negara khusus rumah susun dan hak milik satuan rumah susun. Lembaga fidusia merupakan suatu gejala hukum yang memberikan keuntungan bagi pemakainya khususnya untuk melancarkan pengembalian kredit dan juga tidak melemahkan potensi penerima kredit. fidusia diartikan sebagai hak jaminan yang berupa penyerahan hak atas benda berdasarkan kepercayaan yang disepakati sebagai jaminan bagi pelunasan piutang kreditur. Seminar Nasional Agraria ke-3: Medan. 44 A. Pengaturan lembaga fidusia dalam Undang-Undang Rumah Susun tersebut masih bersifat sumir. Dalam Undang-Undang Rumah Susun.31 Salah satu gejala tersebut dapat dilihat dari pengaturan fidusia dalam perundang-undangan.P Parlindungan. perkembangan fidusia cukup menggembirakan para pemakainya. Konsep Rancangan Undang-Undang Hak Tanggungan dan Gadai. karena pada mulanya diatur dalam yurisprudensi kemudian mendapat pengakuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. 16 Tahun 1985. Dan juga tidak dijelaskan tentang apa yang dialihkan kepada pemegang fidusia karena itu juga merupakan hal yang penting yakni kepemilikan yang berupa hak bukan bendanya. juga tidak jelas tentang sifat penyerahan yang menjadi ciri khas dari fidusia yakni benda yang dialihkan tetap berada pada pemberi fidusia. tetapi cukup memberikan kepastian hukum khususnya tentang pengertian dan objek fidusia.43 Dalam rumusan ini tidak dijelaskan kedudukan kreditur sebagai kreditur pereferents. 1990.44 Atau juga berlaku atas bangunan bertingkat/flat di luar rumah susun. 43 Pasal 1 angka 8 UU No.

dinyatakan bahwa pemilikan rumah dapat dijadikan jaminan utang dengan jaminan fidusia. 45 Hal ini membuktikan bahwa Undang-Undang No. penjaminan dengan fidusia tidak dijumpai dengan pembebanan rumah susun atau hak milik satuan rumah susun.32 Hak milik atas satuan rumah susun dapat dijaminkan melalui hipotik apabila dibangun di atas tanah hak milik atau hak guna bangunan. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. 123. Dengan demikian dapat ditafsirkan objek fidusia terhadap hak pakai atas tanah negara dalam Undang-Undang No.46 Jadi dapat disimpulkan bahwa kepastian hukum jaminan fidusia dalam UndangUndang Rumah Susun secara empiris belum terwujud. oleh karena itu fungsinya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 16 Tahun 1985 itu hanya bersifat temporer.. cit. mengingat fidusia merupakan lembaga jaminan yang hidup dan dalam kenyataannya diperlukan oleh masyarakat. Tan Kamelo. op. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman (UUPP) dijumpai pada Pasal 15. Pengecualian dari asas pemisahan horizontal dalam Undang-Undang Rumah Susun adalah dengan menunjuk lembaga jaminan hipotik atas tanah beserta rumah susun di atasnya. hal. Pembebanan fidusia atas 45 Lihat Pasal 13 UU No. Menurut pembentuk Undang-Undang No. penggunaan fidusia terhadap hak pakai atas tanah negara adalah untuk menampung kebutuhan masyarakat. Menurut Maria Sumardjono yang dikutip oleh Tan Kamelo. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun pada prinsipnya menganut asas pemisahan horizontal sebagai implementasi dari asas yang dianut dalam Undang-Undang No. Pengakuan fidusia dalam UU No. 5 Tahun 1960 yaitu Undang-Undang Pokok Agraria. 16 Tahun 1985. 46 H. dan dijaminkan melalui lembaga jaminan fidusia apabila dibangun di atas tanah hak pakai atas tanah negara. .

4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan (UUHT). Prinsip horizontal semakin jelas dengan adanya pernyataan dalam Pasal 1 Undang-Undang No. Jadi jelas bahwa objeknya berbeda. Pemilik rumah bukan pemilik hak atas tanah dengan izin pemilik hak atas tanah. Dalam undang-undang ini tidak dijelaskan bagaimana status hak atas tanah. . Objek fidusia adalah rumah bukan hak atas tanah. 4 Tahun 1992 yang memberikan perumusan pengertian rumah tanpa mengaitkan dengan hak atas tanah. Setelah keluarnya Undang-Undang No. 2.33 rumah dalam Pasal 15 Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman ada dua cara: 1. dan dalam Pasal 6 Undang-Undang No. Hal ini menunjukkan bahwa Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman menganut asas pemisahan horizontal. 4 Tahun 1996. ketentuan hak jaminan yang diatur dalam Undang-Undang Rumah Susun dinyatakan tidak berlaku lagi. yang diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) selambat-lambatnya tiga bulan setelah 47 Lihat Pasal 27 UU No.47 Tetapi tidak dinyatakan berlaku juga pada Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman. Pemilik rumah oleh pemilik hak atas tanah. sedangkan Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman menekankan hak jaminan atas rumah/bangunan. 4 Tahun 1992 diatur tentang pembangunan rumah di atas tanah milik orang lain. Persoalan objek fidusia mengenai tanah belum terdaftar telah diatur dalam Undang-Undang Hak Tanggungan yakni dengan menggunakan Surat Kuasa Memasang Hak tanggungan (SKMHT). Hal ini dapat dipahami sebab Undang-Undang Hak Tanggungan bertitik tolak dari hak atas tanah.

Dari suatu perjanjian pokok (perjanjian utang piutang).48 Pengaturan fidusia secara parsial tidak memberikan kepastian hukum sehingga perlu diatur secara unifikasi dalam bentuk undang-undang tersendiri. Bentuk perjanjian fidusia wajib dibuat dengan akta otentik. . suatu perjanjian yang dapat menggunakan fidusia sebagai bentuk jaminannya adalah semua perjanjian yang berkaitan dengan suatu benda yang dapat dibebani dengan jaminan fidusia. 4 Tahun 1996. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu. 1.49 Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia. yang dibuat dihadapan notaris. Konsekuensi dari perjanjian assesoir ini adalah apabila perjanjian pokok tidak sah atau tidak berlaku secara hukum. perjanjian fidusia sebagai perjanjian assesoir juga ikut menjadi batal dan apabila perjanjian pokok yaitu utang piutang telah lunas dengan sendirinya perjanjian tambahan tersebut hapus. 42 Tahun 1999. 49 Lihat pasal 5 ayat 1 UU No.34 diberikan. Perjanjian Fidusia Dalam perjanjian pinjam meminjam atau utang piutang kita menghendaki agar barang agunan dijadikan jaminan fidusia. Perjanjian dengan jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir (perjanjian ikutan/tambahan). Pembebanan Fidusia dan Fidusia Ulang Pembebanan fidusia diatur dalam Pasal 4 sampai Pasal 10 Undang-Undang 48 Lihat Pasal 15 Ayat 4 UU NO. 2. maka caranya adalah dengan membuat perjanjian fidusia terlebih dahulu. Upaya tersebut terwujud dalam UU No. 42 Tahun 1999 dengan nama Jaminan Fidusia.

Nilai penjaminan dan e. yang dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disebut dengan “Akta Jaminan Fidusia”. Akta jaminan fidusia ini dibuat dalam bentuk akta otentik. Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia d. akta ini antara lain harus berisikan hal-hal: a.35 jaminan Fidusia No. Misalnya utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia c. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 17 . Menurut pasal 6 Undang-Undang Jaminan Fidusia. yang dibuat dihadapan notaris dengan menggunakan bahasa Indonesia. tetapi telah diperjanjikan dan jumlahnya sudah tertentu. 3. ada beberapa pasal yang seolah-olah saling bertentangan namun mengenai fidusia ulang ini dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya tidak dapat dibenarkan. Utang yang dapat ditentukan jumlahnya pada saat eksekusi berdasarkan suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban untuk dipenuhi. misalnya utang bunga atas perjanjian pokok yang jumlahnya akan ditentukan kemudian. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia Utang yang pelunasannya dijaminkan dengan jaminan fidusia adalah: 1. Walaupun dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia ini terlihat. Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia b. Yang dimaksud dengan fidusia ulang adalah atas benda yang sama yang telah dibebankan fidusia. 42 tahun 1999. Utang yang akan ada dikemudian hari (kontinjen). dibebankan fidusia sekali lagi. Utang yang telah ada 2.

Peraturan Pemerintah ini . Pendaftaran Fidusia Pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang No. Karena Undang-Undang Jaminan Fidusia masih menganut prinsip fidusia sebagai peralihan hak milik (secara kepercayaan) bukan hanya sebagai jaminan utang. Maksudnya fidusia diberikan secara bersama-sama pada waktu yang bersamaan dan semua kreditur saling mengetahui adanya dua atau lebih kreditur tersebut. Ada satu kemungkinan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu pihak adalah kemungkinan yang diberikan berdasarkan Pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah: “Jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu penerima fidusia atau kepada kuasa atau wakil dari penerima fidusia tersebut”. Dari penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersirat bahwa yang dimaksud adalah pemberian fidusia kepada lebih dari satu kreditur dalam bentuk pemberian kredit konsorsium atau sindikasi. 3. tidak dimungkinkan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia karena hak kepemilikan atas benda tersebut telah beralih kepada penerima fidusia. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftarana Jmaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia. baik debitur maupun penjamin pihak ketiga. Fidusia ulang oleh pemberi fidusia.36 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah “Pemberi fidusia dilarang melakukan fidusia ulang terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang sudah didaftar”.

baik yang berada di dalam wilayah negara Republik Indonesia maupun benda yang berada di luar wilayah negara Republik Indonesia yang dibebani jaminan fidusia wajib didaftarkan. . Tujuan pendaftaran fidusia adalah: 1. Memberikan hak yang didahulukan (preferen) kepada penerima fidusia terhadap kreditur lain. hal. Kantor Pendaftaran Fidusia berada dalam lingkup tugas Departemen Kehakiman dan Hak Azasi manusia. 2004. pencoretan pendaftaran. 42 Tahun 1999). Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia. 42 tahun 1999). 42 tahun 1999). 82. 2. Untuk pertama kalinya kantor pendaftaran fidusia didirikan di Jakarta dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. 2. Untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan. Benda objek jaminan fidusia yang berada di luar negeri (pasal 11 ayat 2 Undang-Undang No. dan penggantian sertifikat. Pada pokoknya pendaftaran jaminan fidusia adalah sebagai berikut: a. Benda objek jaminan fidusia yang berada di dalam negeri (pasal 11 ayat 1 Undang-Undang No. Terhadap perubahan isi Sertifikat Jaminan Fidusia (pasal 16 ayat 1 Undang-Undang No. Ini disebabkan jaminan fidusia memberikan hak kepada pemberi fidusia untuk tetap menguasai objek jaminan fidusia berdasarkan kepercayaan. Pendaftaran jaminan fidusia dilakukan di Kantor Pendaftaran Fidusia dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah negara Republik Indonesia dan 50 Salim HS.37 terdiri dari atas 4 bab dan 14 Pasal. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Hal-hal yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi pendaftaran fidusia. tata cara perbaikan sertifikat. Dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia ditentukan bahwa benda. perubahan sertifikat.50 Pendaftaran fidusia dilakukan terhadap hal-hal: 1.

Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia. Salinan akta notaris tentang pembebanan jaminan fidusia. 86 Tahun 2000. permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilengkapi dengan: a. kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia: c. c. 5) Nilai jaminan. dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia. Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia. nama. Pasal 2 ayat 4 PP No. petugas pendaftaran hanya berwenang melakukan pengecekan data dan tidak . b. Pernyataan pendaftaran jaminan fidusia memuat: 1) Identitas pemberi dan penerima fidusia 2) Tanggal. 3) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia. sertifikat jaminan fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Ketika mencatat dalam buku daftar fidusia. b. nomor akta jaminan fidusia. 4) Uraian mengenai benda yang menjadi objek jamnan fidusia. Kantor pendaftaran fidusia akan mencatat jaminan fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran dan kemudian menerbitkan dan menyerahkan kepada penerima fidusia. Permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan secara tertulis dan dalam Bahasa Indonesia oleh penerima fidusia. 6) Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia.38 berada di lingkup tugas Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

Adanya kewajiban melakukan pendaftaran jaminan fidusia merupakan 51 Lihat Pasal 5 ayat (1) PP No. antara lain perubahan objek jaminan fidusia. maka penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri (pasal 15 ayat 2 dan 3 UU Jaminan Fidusia). perubahan perjanjian pokok dan perubahan nilai jaminan. . Sehingga apabila debitur wanprestasi. perubahan penerima fidusia.39 berwenang melakukan penilaian terhadap kebenaran data yang dicantumkan dalam pernyatan pendaftaran jaminan fidusia. Jaminan fidusia lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. Judul Sertifikat Jaminan Fidusia dicantumkan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. Dengan dikelurkannya Keputusan Presiden nomor 139 Tahun 2000 tanggal 30 September 2000. 86 Tahun 2000. Makna dari pencantuman kata-kata tersebut adalah bahwa Sertifikat Jaminan Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Sertifikat perbaikan memuat tanggal yang sama dengan tanggal sertifikat semula. dalam waktu 60 hari setelah menerima sertifikat itu. Jika terjadi kekeliruan penulisan dalam sertfikat jaminan fidusia yang telah diterima pemohon.51 Sertifikat jaminan fidusia dapat saja mengalami perubahan terhadap substansi. di setiap wilayah ibukota propinsi dibentuk Kantor Pendaftaran Fidusia. pemohon memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia untuk diterbitkan sertifikat perbaikan. yang terletak dalam lingkup Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

yaitu: Segala keterangan mengenai benda fidusia yang menjadi objek jaminan fidusia yang ada pada Kantor Pendaftaran Fidusia terbuka untuk umum. kreditur maupun khalayak ramai mempunyai akses untuk mengetahui berbagai informasi yang berhubungan dengan jaminan utang tersebut. tidak dapat lagi membohongi/menipu kreditur atau calon debitur dengan memfidusiakan sekali lagi atau bahkan menjual benda objek jaminan tanpa sepengetahuan kreditur. bahasa Inggris “principle” dan bahasa Belanda “beginsel”. Istilah asas merupakan terjemahan dari bahasa Latin “principium”. E. Ini menunjukkan pentingnya asas hukum dalam suatu perundang-undangan. Dengan adanya pendaftaran fidusia. yang artinya dasar yaitu sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Asas publisitas secara tersirat tercantum pada pasal 18 UU Jaminan Fidusia. Dalam peraturan-peraturan (pasalpasal) dapat ditemukan aturan yang mendasar berupa asas hukum yang merupakan cita-cita dari pembentuknya. Dengan adanya publikasi terhadap jaminan utang. Asas-Asas Hukum Jaminan Fidusia Salah satu unsur yuridis dalam sistem hukum jaminan adalah asas hukum. diharapkan agar pihak debitur terutama debitur yang tidak beritikat baik.40 suatu perwujutan dari asas publisitas. Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak mencantumkan dengan tegas asas-asas jaminan fidusia yang menjadi asas fundamen dari pembentukan norma hukumnya. Asas hukum bukan suatu perintah hukum yang konkrit yang dapat dipergunakan terhadap peristiwa hukum yang konkrit dan tidak memiliki sanksi yang tegas. Tan Kamelo melalui proses analitis mengemukakan asas-asas hukum jaminan fidusia yang terdapat dalam UndangUndang Jaminan fidusia adalah: .

Tan Kamelo. asas bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memilki kewenangan hukum atas objek jaminan fidusia. keberadaan jaminan fidusia ditentukan oleh perjanjian utama atau principal. asas bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke kantor pendaftaran fidusia (asas publikasi).Ketujuh. Akan tetapi hak untuk diutamakan yang dimiliki oleh penerima fidusia tidak mengurangi kedudukan untuk didahulukan terhadap piutang-piutang negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku sama 52 H. Dalam Pasal 27 ini dijelaskan bahwa hak yang didahulukan adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Asas bahwa jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada (droit de suite atau zaakgevolg).52 • Asas preferens ini dapat dilihat dari pasal 1 angka 2 dan Pasal 27 UU Jaminan Fidusia. cit. Kelima. 169-170. asas bahwa yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai itikad baik. asas bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subjek dan objek jaminan fidusia. Ketigabelas. Kedua.Ketiga. Keenam. Keempat. asas bahwa jaminan fidusia dapat diletakkan atas utang yang baru akan ada (kontinjen). Kesembilan. Berbeda halnya dengan gadai yang tidak tegas menyatakan kreditur yang diutamakan dari kreditur lainnya. asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap benda yang akan ada.Kesebelas. Kedelapan.. asas bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia sekalipun hal itu diperjanjikan (asas pendakuan). . asas bahwa jaminan fidusia mudah dieksekusi. hal. Kesepuluh. op.41 Pertama. asas bahwa kreditur penerima fidusia berkedudukan sebagai kreditur preferens. Keduabelas. asas bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan yang lazim disebut asas asesoritas. asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain (asas pemisahan horizontal). asas bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima jaminan fidusia yang terlebih dahulu mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia dari kreditur yang mendaftar kemudian.

kreditur pemegang . dengan begitu hak jaminan fidusia dapat dipertahankan terhadap siapapun juga dan barhak untuk menuntut siapa saja yang mengganggu hak tersebut. Maksud penegasan ini adalah kalau jaminan fidusia ini tidak dicatatkan dalam buku daftar fidusia berarti hak jaminan fidusia bukan merupakan hak kebendaan melainkan memilki karakter hak perorangan. Hak kebendaan jaminan fidusia baru lahir pada tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar jaminan fidusia. konsekwensi yuridis adalah pemberlakuan asas droit de suite baru diakui sejak tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. Dalam asas droit de suite terdapat prinsip yang tua didahulukan dari yang muda berdasarkan urutan waktunya. Akibatnya. Apabila terjadi peralihan benda jaminan fidusia. • Asas droit de suite atau zaakgevolg. pengakuan asas ini menunjukkan bahwa jaminan fidusia merupakan hak kebendaan dan bukan hak perorangan. Bahkan ketika benda jaminan fidusia berada pada pihak ketiga.42 halnya dengan ketentuan yang berlaku kepada hak tanggungan. Karena itu. Hal ini perlu dalam memberikan kepastian hukum bagi kreditur pemegang fidusia untuk memperoleh pelunasan utang dari hasil penjualan objek jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia melakukan wanprestasi. bagi pihak ketiga adalah tidak dihormatinya hak jaminan fidusia dari kreditur pemegang jaminan fidusia.

cit. Menurut Tan kamelo benda persediaan adalah benda yang diuraikan dalam suatu daftar secara detail. benda dagangan.43 jaminan fidusia hanya berkedudukan sebagai kreditur konkuren tidak dapat dilindungi berdasarkan asas droit de suite (tidak didahulukan dari kreditur lain) Asas droit de suite ini tidak berlaku pada semua objek jaminan fidusia. spesifik baik mengenai jumlah maupun jenisnya. 54 Penjelasan Umum angka 3 UU No. 42 Tahun 1999. atau rumah pribadi yang menjadi objek jaminan fidusia. Pada prinsipnya. kecuali terhadap objek jaminan fidusia yang berupa benda persediaan. pemberi jaminan fidusia dilarang untuk mengalihkan. 42 Tahun 1999. .53 Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dijelaskan bahwa sebelum Undang-Undang Jaminan Fidusia No. Tetapi Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan benda persediaan tetapi hanya dijelaskan apa yang tidak termasuk benda persediaan yaitu: mesin produksi. 42 Tahun 1999 dibentuk benda yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan (inventory). peralatan mesin. mobil pribadi.55 Debitur pemberi jaminan fidusia dapat mengalihkan benda persediaan sesuai dengan cara dan prosedur yang lazim dalam dunia perdagangan. piutang. peralihan ini adalah sah dan pembeli adalah pemilik yang sempurna. Misalnya. dengan cara menjual kepada pihak ketiga. asas ini mempunyai arti bahwa keberadaan 53 Penjelasan Pasal 23 ayat (2) UU No.54 Jadi belum ada kejelasan tentang benda persediaan yang dimaksud oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia.Tan Kamelo. log. atau menyewakan kepada pihak lain objek jaminan fidusia. menggadaikan. dan kendraan bermotor. ada pengecualian yaitu terhadap objek jaminan fidusia berupa benda persediaan. • Asas assesoir. 55 H.

Pencantuman asas ini adalah untuk menghilangkan keragu-raguan mengenai karakter jaminan fidusia yang bersifat assesoir dan bukan perjanjian yang berdiri sendiri. Sesuai dengan asas assesoir ini hapusnya jaminan fidusia ini juga ditentukan oleh hapusnya utang atau karena pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima jaminan fidusia dan musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia.56 Jadi Jaminan Fidusia ini merupakan perjanjian yang lahir dari perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang. . Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia . Asas ini juga dianut dalam perjanjian hak tanggungan. 42 Tahun 1999 hal ini sempat meragukan bagi dunia bisnis. asas assesoir ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. 42 Tahun 1999 yang isinya adalah: “Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi”. Asas ini membawa konsekuensi hukum terhadap pengalihan hak atas piutang dari pemegang jaminan fidusia lama kepada pemegang jaminan fidusia yang baru. dengan syarat bahwa pemegang fidusia yang baru mendaftarkan perbuatan hukum (cessie) tersebut ke 56 Pasal 25 UU No.44 jaminan fidusia ditentukan oleh perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang yang melahirkan utang yang dijamin dengan jaminan fidusia. Hal ini berarti terjadi pemindahan hak dan kewajiban dari pemegang fidusia yang lama kepada pemegang fidusia yang baru. Sebelum lahirnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No.

Artinya pada saat dibuatnya akta jaminan fidusia.59 Undang-Undang No. . 58 Lihat Penjelasan Pasal 7 huruf b UU No. tetapi sudah diperjanjikan sebelumnya dalam jumlah tertentu. 42 Tahun 1999.58 • Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap benda yang akan ada.45 kantor pendaftaran fidusia. 42 Tahun 1999 tidak hanya menetapkan objek jaminan terhadap benda yang akan ada. bahkan memberikan aturan terhadap piutang yang akan ada juga dapat dibebani dengan jaminan fidusia yang sebenarnya mengandung pengertian yang sama sebab piutang yang akan ada juga benda yaitu benda tidak berwujud untuk itu sebenarnya pengaturan piutang yang ada ini tidak perlu lagi. misalnya hutang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang intinya adalah jaminan fidusia dapat dibebankan atas benda yang akan ada. Asas ini adalah untuk menampung aspirasi hukum dalam dunia bisnis perbankan. Perbedaan yang perlu ditegaskan adalah mengenai objek jaminan pada barang perniagaan dengan barang yang akan ada.57 • Asas bahwa jaminan fidusia dapat diletakkan atas utang yang baru akan ada (kontinjen). 42 Tahun 1999. utang tersebut belum ada. 42 Tahun 1999. Asas ini telah diakui setelah keluarnya UndangUndang No. Barang perniagaan objek jaminan fidusia sering terjadi sedangkan barang yang akan ada pergantian itu 57 Pasal 19 UU No. 59 Lihat Pasal 9 UU No.

Dalam ilmu hukum asas ini disebut dengan asas pemisahan horizontal. • Asas bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subjek dan objek jaminan fidusia. Subjek fidusia yang dimaksudkan adalah identitas para pihak yakni pemberi dan penerima jaminan fidusia.46 tidak terjadi dengan cepat seperti: taksi-taksi sebagai objek jaminan fidusia. • Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain. Dalam hukum disebut asas spesialitas atau pertelaan. Dalam pemberian kredit bank. dapat menampung pihak pencari kredit khususnya pelaku usaha yang tidak memiliki tanah tetapi memiliki hak atas bangunan/rumah. Kewenangan hukum tersebut harus sudah ada pada saat 60 Lihat Pasal 6 UU No. nilai penjaminan dan nilai benda yang menjadi objek jaminan. uraian mengenai benda jaminan fidusia.60 • Asas bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memiliki kewenangan hukum atas objek jaminan fidusia. Biasanya hubungan hukum antara pemilik tanah dan pemilik bangunan adalah perjanjian sewa. sedangkan objek jaminan yang dimaksud adalah data perjanjian pokok yang dijamin dengan fidusia. . Pengaturan asas ini adalah untuk mengantisipasi perkembangan dunia bisnis dan sekaligus dapat menjamin kelenturan objek jaminan fidusia yang tidak hanya terpaku pada benda yang sudah ada. 42 tahun 1999. Perwujutan asas ini merupakan penuangan cita-cita masyarakat dalam bidang hukum jaminan.

tidak mengalihkan. Dalam ilmu hukum disebut dengan asas publikasi. Dalam Undang-Undang No. Dengan asas ini diharapkan bahwa pemberi jaminan fidusia wajib memelihara benda jaminan. 42 Tahun1999.61 Dengan dilakukannya pendaftaran akta jaminan fidusia. berarti perjanjian fidusia lahir dan momentum tersebut menunjukkan perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian kebendaan. berbeda dengan pengaturan dalam hak tanggungan yang mengatur secara tegas dalam Pasal 8 Undang-Undang Hak tanggungan. Asas ini sekaligus menegaskan bahwa pemberi jaminan fidusia bukanlah orang berwenang berbuat. . • Asas bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke kantor pendaftaran fidusia. 42 Tahun 1999.62 Asas ini disebut asas pendakuan. menyewakan dan yang 61 Lihat pasal 12 UU No. 42 Tahun 1999 asas ini tidak secara tegas diatur. • Asas bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia meskipun hal itu diperjanjikan. Asas publikasi ini melahirkan kepastian hukum bagi kreditur. 62 Lihat Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 33 UU No. • Asas bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima fidusia yang terlebih dahulu mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia daripada kreditur mendaftarkan kemudian • Asas bahwa pemberi jaminan fidusia yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai itikat baik.47 jaminan fidusia didaftarkan ke kantor fidusia.

Penegertian sistem sebagagi suatu methode atau tata cara. Dalam penjualan benda jaminan fidusia. sesuatu wujud benda (abstrak maupun konkrit termasuk konseptual) 2. Belanda “systeem”.. 64 H. . cit. F. Jaminan Fidusia sebagai Jaminan Kebendaan merupakan sub Sistem Hukum Jaminan Pengertian sistem secara umum. kata sistem secara garis besar dapat dikelompokkan dalam dua hal yaitu: 1. 145. Inggris “system”. op.63 Kemudahan pelaksanaan eksekusi dilakukan dengan mencantumkan irahirah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” pada sertifikat jaminan fidusia. Dengan titel eksekutorial ini menimbulkan konsekuensi yuridis bahwa jaminan fidusia mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Menurut Tan Kamelo. 42 Tahun 1999.48 menggadaikannya kepada pihak lain. dapat juga dilakukan dengan cara melelang secara umum dan dibawah tangan. yang artinya keseluruhan yang terdiri dari pada macam-macam bagian. Istilah sistem dalam bahasa Yunani “systema”. sistem hukum dan sistem hukum jaminan sangat diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.64 63 Lihat Pasal 15 UU No. selain melalui titel eksekutorial. Pengertian sistem sebagai entitas. Tan Kamelo. hal. • Asas bahwa jaminan fidusia mudah dieksekusi.

benda-benda. hal. secara piramida dari norma-norma yang terbentuk secara hirarkhi. konsep-konsep. untuk mencapai tujuan”. Secara sederhana sistem diartikan sekumpulan unsur. tersusun menurut suatu rencana atau pola. 88. . Para ahli hukum merumuskan pengertian sistem sebagai berikut: “Suatu sistem adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur. 99. yang berhubungan untuk mencapai tujuan bersama. seperti manusia. Setelah makna sistem. memiliki tatanan tertentu yang menunjukkan suatu struktur yang tersususn atas komponen-komponen atau bagianbagian yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan. yang intinya bahwa hukum adalah suatu stelsel dari aturan yang berkaitan satu sama lain secara organis. perlu juga dijelaskan pengertian sistem hukum 65 Subekti. 1986. 1983. Dan secara etimologi sistem adalah seperangkat unsur yang berkaitan yang bekerjasama untuk membentuk suatu kesatuan. hasil dari pemikiran.66 Dari dua pengertian sistem diatas dapat dipahami bahwa penekanan arti sistem terletak pada keterkaitan antara unsur-unsur atau bagian-bagian dan kerjasama dari unsurunsur/bagian-bagian untuk mencapai tujuan. yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain yang bekerja bersama secara aktif untuk mencapai tujuan pokok dari kesatuan tersebut”. Pradya Paramita: Jakarta.49 Pengertian sistem yang menjadi acuan dalam kerangka analisis jaminan fidusia adalah sistem dalam arti entitas. 66 Satjipto Rahardjo. Ilmu Hukum. hal. Teori sistem ini adalah aliran yang paling penting dalam positivisme hukum.65 Suatu sistem adalah “suatu kesatuan yang bersifat kompleks. Alumni: Bandung. Perbandingan Hukum Perdata. suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain.

asas-asas hukum yang menjadi fundamental dan pengertian-pengertian hukum. harapan-harapan. pandangan-pandangan pikiran-pikiran. sehingga terdapat kehamonisan dan dapat dihindarkan tumpang tindih antara masing-masing sistem tersebut. Unsur sistem hukum dibangun di atas tertib hukum. Liberty: Yogyakarta. nilai-nilai.67 Menurut Sudikno sistem hukum adalah: suatu kesatuan yang terdiri unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan berinteraksi sama lain dan bekerjasama untuk mencapai tujuan kesatuan hakiki terbagi-bagi dalam bagian-bagian. Struktur hukum adalah jumlah dan ukuran pengadilan. penyelesaiannya ada dalam sistem hukum itu sendiri. hal ini adalah merupakan bagian dari budaya umum yang berkenaan dengan sistem 67 Mariam Darus Badrulzaman. 1988. 2. cit. dan budaya hukum (legal culture). di dalam mana setiap masalah persoalan menemukan jawaban atau penyelesaiannya. hal. cit. Rumusan sistem hukum di atas hanya dilihat dari segi komponen substansi hukum saja. substansi (substance). yang merupakan landasan. Friedmann.68 dari satu dan atau Pengertian sistem hukum di atas dapat dianalisa bahwa sistem hukum adalah peraturan hukum. Mengenal Hukum. 102. normanorma. Padahal komponen sistem hukum (element of legal system) meliputi tiga hal yakni: structur (sturucture). 68 Sudikno Mertokusumo. log.69 Tan Kamelo menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Fiedmann dengan ketiga unsur tersebut adalah: 1.50 yakni kumpulan asas-asas hukum yang terpadu. Substansi hukum diartikan sebagai aturan-aturan yang berlaku. jurisdiksi dan cara-cara banding dari satu pengadilan kepada pengadilan lainnya. 69 Lawrence M. Struktur juga dapat berarti bagaimana badan pembuat undang-undang diatur dan sebagainya. di atas mana dibangun tertib hukum. . loc. Kalau ada konflik antar unsur-unsur sistem hukum. 3 Budaya hukum adalah sikap masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum kepercayaan-kepercayaan. dan pola-pola prilaku manusia di dalam sistem.

harapan dan pendapat mengenai hukum. Di belakang tuntutan itu. konsep budaya hukum substantive memerlukan unsur yang dinamis.. Tan Kamelo. dihindarkan atau disalahgunakan. Ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut yakni: 1. Kultur hukum mengandung potensi untuk dipakai sebagai sumber informasi guna menjelaskan sistem hukum. 166-167. op. 3. posisi dan kedudukan. Karena masyarakat hukum itu berubah-ubah dari waktu ke waktu. lingkungan. hukum sebagai sistem mempunyai tiga aspek. pembuat hukum dan lainlain badan serta proses hukum itu berjalan dan dijalankan. terlihat juga faktor-faktor seperti ide. Kultur hukum adalah unsur yang terpenting dalam sistem hukum yakni tuntutan dan permintaan. Budaya hukum dengan perkataan lain adalah iklim dari pikiran sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan. 2. hal. 71 Satjipto Rahardjo. Struktur hukum adalah pola yang memperlihatkan tentang bagaimana hukum itu dijalankan menurut ketentuan formalnya yakni memperlihatkan bagaimana pengadilan. keyakinan. sistem hukum adalah tidak berdaya-ibarat ikan mati yang terletak dalam sebuah keranjang. 150-151. bahkan kepentingan-kepetingannya. sikap. Jadi jelas bahwa hukum tidak dapat 70 H. op. bukan ikan yang hidup berenang di laut. Tuntutan datangnya dari rakyat atatu para pemakai jasa hukum.70 Jadi dalam perkembangannya. cit.. hal. Substansi hukum adalah peraturan-peraturan yang dipakai oleh para pelaku hukum pada waktu melakukan perbuatan-perbuatan serta hubunganhubungan hukum. yang sangat menentukan berjalan atau tidaknya suatu peraturan hukum adalah budaya hukum masyarakatnya.51 hukum. kecuali didorong oleh kepentingan. Budaya hukum masyarakat bergantung kepada budaya hukum anggota-anggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan.71 Berdasarkan pendapat teori sistem di atas. . Tanpa budaya hukum. cit.

dapat dijelaskan bahwa sistem hukum jaminan merupakan sub sistem dari sistem hukum benda. Pembangunan sistem hukum yang ideal adalah menetapkan prosedur yang jelas kepada para penegak hukum dalam rangka menerapkan atau menjalankan hukum dengan menyediakan sarana dan prasarana yang cukup. Hukum dalam realitas pernyataannya harus dilihat sebagai perwujudan atau pencerminan dari stuktur masyarakat. Arief Sidharta. hukum tidak tertulis termasuk hukum adat dan yurisprudensi) serta tatanan hukum internal (asas-asas hukum) yang mengutuhkannya. peranan sistem hukum jaminan dalam pembangunan hukum dapat diwujudkan. hal. Pusat Penelitian Perkembangan Hukum Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 14. yudikatif). 72B. dapat dikatakan sistem hukum jaminan yang akan dibentuk harus memperhatikan aspek-aspek sistem hukum nasional yaitu substansi. sedangkan sistem hukum benda adalah sub sistem dari sistem hukum perdata. dan komponen budaya hukum yang mencakup sikap prilaku para pejabat dan warga masyarakat berkenaan dengan komponen-komponen lainnya dengan proses-proses penyelenggaraan kehidupan masyarakat berhukum. Peranan Praktisi Hukum dalam Perkembangan Hukum di Indonesia. komponen kelembagaan hukum yang terdiri atas berbagai organisasi publik dengan para pejabatnya (legislatif. struktur. Dengan pendekatan sistem hukum yang demikian. eksekutif. Sistem hukum juga harus dibangun untuk mendidik dan mengarahkan perilaku masyarakat agar mematuhi hukum sesuai dengan cita-cita hukum yang diharapkan. juga meliputi penataan aturan hukum yang pasti adil dan benar. .52 dilihat semata-mata sebagai perwujudan atau pencerminan dari konsep-konsep dan peraturan hukum. sarana dan prasarana serta budaya hukum tersebut. dapat dikatakan pembangunan hukum berarti pembaharuan tata hukum yang mencakup tiga koponen yakni komponen substansi hukum disebut juga tata hukum eksternal yang terdari dari (perundang-undangan. Demikian pula sistem hukum perdata merupakan sub sistem hukum nasional. 1: 1999. Jurnal Hukum No. Dengan perubahan paradigma sistem hukum.72 Berdasarkan hal tersebut di atas.

53 .

Dengan dikeluarkannya PP ini maka BRI menjadi bank pemerintah pertama di Indonesia. AVB dengan cabangnya di Jawa dan Madura kembali dibuka dengan nama “Syomin Gink” (Syomin = Rakyat. . Bank Tani dan Nelayan (BTN) serta Nederlansche Handels Maatschappij 73 BRI 2006. Selanjutnya berdasarkan Staatbld No.54 BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS A. Bank Rakyat Indonesia: Jakarta. berubah nama menjadi “Centrale Kas Voor het Volscredietwezen”. 1 Tanggal 22 Februari 1946 dengan wilayah kerja di seluru Indonesia. 41 Tahun 1960 dalam Lembaran Negara No. yaitu berdasarkan Surat Keputusan Ratu Belanda No. Ginko = Bank).74 Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 118 tanggal 10 Juli 1912. 74 Ibid. hal. Laporan Tahunan BRI Tahun 2005.73 Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942-1945. dengan nama “Hulp Spaarbank der Inlandssche Besturrs Ambtenaren” (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi) yang merupakan bank perkreditan rakyat yang pertama di Indonesia. tiga buah bank yaitu BRI. Namun pada tanggal 3 Oktober 1942. 28/1960 tanggal 26 Oktober 1960. Syomin Ginko secara resmi menjadi Bank Rakyat Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Staatsbld 1912 No. terjadi perubahan menjadi “Algemeene Volkscredietbank” atau AVB. 392. 82 dengan ordonansi tanggal 19 Februari 1934 tentang Bepalingen Betreffende de Algemeene Volkscredietbank. Keadaan Umum Tempat Penelitian Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada tanggal 16 Desember 1895 oleh seorang Patih Banyumas bernama Raden Bei Aria Wirjaatmadja. 2006. 1. Pemerintah Jepang menutup semua bank termasuk AVB. Dalam perjalanan 53 sejarah bank ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama.

Bank ini bertujuan untuk membentuk usaha koperasi. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Presiden No. 7 Tahun 1992 Tentang UU Perbankan dan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1965. Visi Misi dan tujuan Perusahaan Sesuai dengan Corporate Plan 2003-2007. sehingga menjadi perusahaan public dengan nama PT Bank BRI (Persero) Tbk. Misi PT Bank BRI (Persero) Tbk adalah sebagai berikut: 1. 76 Ibid.55 (NHM) dilebur menjadi sebuah lembaga perbankan baru bernama Bank Koperasi Tani dan nelayan (BKTN). BNI unit II bidang rural diubah menjadi Bank Rakyat Indonesia.77 1.76 Berdasarkan UU No. visi PT Bank BRI Tbk yaitu untuk menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.75 Pada tahun 1965 terjadi perubahan struktur kelembagaan pada bank-bank milik pemerintah. Sejak bulan Oktober 2003 BRI melakukan go public. pertanian dan perikanan dalam arti luas. 77 Ibid. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan 75 Ibid. BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi. 17 tanggal 27 Juli 1965 dibentuk bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia (BNI) dan BI-UKTN dilebur kedalamnya dengan nama BNI Unit II bidang rural. 21 Tahun 1992. Berdasarkan UU No. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 14 Tahun 1967 Tentang Pokok Perbankan. Tani dan Nelayan (BI-UKTN). telah terjadi perubahan kepemilikan BRI yang semula bank pemerintah diubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Bank BRI Perubahan ini dimaksudkan agar Bank BRI menjadi lebih professional untuk mengantisipasi persaingan perbankan yang semakin ketat. .

2003. yaitu sebagai berikut: a. kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan usaha masyarakat. Hal ini terlihat dari komposisi pembiayaan yang diberikan kepada sektor usaha UMKM di atas 80% dari fortopolio Kredit PT Bank BRI (Persero) Tbk. kecil dan menengah (UMKM).56 pelayanan kepada usaha mikro. e. Corporate Plan Bank BRI 2003-2007. 2. Berdasarkan visi misi tersebut. Pemegang saham. Memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik dengan nilai tambah yang wajar (maksimal) demi terpeliharanya hubungan kemitraan dengan nasabah. Karyawan. Menjadikan karyawan sebagai asset utama perusahaan dengan menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang memuaskan. Masyarakat memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membangun ekonomi maupun sosial dengan menyisihkan sebagian 78 BRI 2003. b. c. PT Bank BRI (Persero) Tbk menetapkan tujuan perusahaan yang diselaraskan dengan kepentingan stokeholders. . Tidak dipublikasikan. Menjadi persero yang sehat dengan mematuhi segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan berperan serta dalam meningkatkan mutu industri perbankan Indonesia. hal.78 Bertitik tolak dari visi dan misi PT Bank BRI (Persero) Tbk. dibidang perkerditan jelas arahnya menjadi bank komersial dengan menitikberatkan pada sektor usaha mikro. Memberikan hasil yang wajar (optimal) bagi pemegang saham tanpa harus meninggalkan tanggung jawab sosial. baik public maupun pemerintah. 3. Memeberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan diukung oleh sumber daya manusia yang professional dengan melaksanakan praktek good corporate govermance. 8. Di bidang pendanaan PT Bank BRI (Persero) Tbk berusaha untuk tetap peduli dan mengutamakan kepuasan nasabah dengan memberikan pelayanan secara prima dengan terus berusaha mengembangkan dukungan teknologi perbankan yang canggih. memberikan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan prestasi serta mengembangkan budaya perusahaan (Corporate Cultural) yang berlandaskan suatu tekad untuk mejadi bankir entrepreneur yang piawai dan mandiri d. BRI: Jakarta. Nasabah. Pemerintah. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada stakenholders.

PT Bank BRI (Persero) Tbk sebagai bank public dan merupakan salah satu bank yang menerima dana rekapitulasi dari pemerintah. Di samping itu dengan diberlakukannya Asian Free Trade Agreement (AFTA) maka perbankan asing akan semakin mudah masuk ke Indonesia sehingga PT Bank BRI (Persero) Tbk juga harus sanggup memenuhi ketentuan perbankan internasional berdasarkan Bank for International Settlement (BIS). op. hal. 10. dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja yang semakin baik. Dana rekap yang diterima dari pemerintah sebesar 29. Setelah go public pada tahun 2003 permodalan PT Bank BRI (Persero) Tbk telah mencapai 12%. Pada saat krisis moneter 1997 kondisi penyaluran kredit PT Bank BRI (Persero) Tbk menjadi tidak maksimal karena sektor riil belum dapat menyerap dana perbankan secara baik. 3. Di lain pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk juga harus memenuhi peraturan dan ketentuan bank sentral yang semakin ketat dalam hal ketentuan Capital Adequacy Ratio (CAR) minimal 8% dan Non Performing Loan (NPL) maksimal 5%.57 laba usaha yang diperoleh. . Masing-masing Direktur 79 BRI 2006. Keuntungan perbankan juga masih mengandalkan bunga obligasi rekap dan bunga SBI yang mempunyai tingkat resiko relatif kecil walaupun margin yang diperoleh tidak maksimal. cit.2 triliun meningkat CAR menjadi 8%. Organisasi dan Jaringan Kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang dibantu oleh 6 orang Direktur yang membidangi bisnis..79 2. Perkembangan Usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk Perkembangan usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk berjalan seiring dengan situasi dan kondisi perekonomian di Indonesia.

Bidang Pengendalian Kredit. seratus empat puluh tiga (143) Payment Point. Unit kerja di tingkat Kantor Cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh Pemimpin Cabang yang membawahi para Officer. Bidang Keuangan dan Internasional. tiga belas (13) Kantor Wilayah. Bidang Operasional dan Bidang Kepatuhan. operasional dan penunjang yang masing-masing dipimpin oleh para Kepala Divisi dibantu Wakil Kepala Divisi yang membawahi para Kepala Bagian dan Staf. enam (6) buah Kas Mobil. empat ribu sembilan puluh enam (4096) Kantor PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit. Kepala Bagian dan Kepala Seksi serta seluruh PT Bank BRI (Persero) Tbk unit yang ada di wilayah kantor Cabang tersebut. Jaringan kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk meliputi wilayah yang sangat luas dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia di samping beberapa kantor cabang dan perwakilan di luar negeri. Unit kerja di kantor pusat PT Bank BRI (Persero) Tbk meliputi berbagai bidang bisnis. seratur enam puluh tiga (163) Kantor Cabang Pembantu. dua (2) Kantor Perwakilan Luar Nageri. Unit Kerja di tingkat wilayah PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh Pemimpin Wilayah yang dibantu oleh Wakil Pemimpin Wilayah yang membawahi Kepala Bagian dan Pemimpin Cabang yang ada di wilayah tersebut. satu (1) buah Kantor Cabang Khusus. satu (1) Kantor Cabang Luar Negeri. dua belas (12) Kantor Inspeksi. tiga ratus dua puluh empat (324) Kantor Cabang. Bidang Bisnis Menengah. Saat ini jaringan kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk terdiri dari satu (1) buah Kantor Pusat. seratus enam puluh (160) Pos Pelayanan Desa . delapan (8) Kantor Cabang Syariah.58 membawahi Bidang Bisnis Mikro dan Ritel. Secara structural Direksi membawahi para Kepala Divisi di Kantor Pusat dan Pemimpin Wilayah Pt Bank BRI (Persero) Tbk.

Wali Amanat. pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Usaha jasa bank meliputi transper. subsidi pembangunan inpres (P2KP). pelayanan pembayaran Pertamina dan pelayanan setoran pegadaian. Safe Deposit Box. BPKP. inkaso. pembayaran uang pensiun PT Taspen.59 dan seratus enam belas (116) Tim Pelayanan Desa. penerimaan SSB. Cek Perjalanan PT Bank BRI (Persero) Tbk (Cepebri). wesel. Usaha pinjaman meliputi kredit Prioritas atau Kredit Program. penerimaan setoran denda tilang. 3. sertifikat PT Bank BRI (Persero) Tbk (Sertibri). penerimaan setoran tagihan telepon dan listrik. Kredit Ekspress. Jasa bank lainnya meliputi biaya penyelenggaraan ibadah haji. Kredit Profesi. Kredit Pemilikan Rumah. Usaha simpanan meliputi Girobri dan depobri dalam mata uang rupiah maupun US dollar. pembayaran pajak bea cukai KPKN. Kredit Golongan Berpenghasilan Tetap dan Pensiun dan Credit Cash Collateral. Kredit Kendraan Bermotor. 4. B. Tabungan Simpedes dan Tabungan Haji. 4. SIM. Bidang Usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk memilki berbagai jenis usaha yang secara garis besar dapat di bagi dalam bidang usaha simpanan. Kliring dan jual beli Bank Notes. pinjaman dan jasa bank lainnya. 1. pelayanan setoran PT Pusri. Tabungan Britama. 2. Gambaran Umum Kantor Cabang Padangsidimpuan Kantor Cabang (Kanca) PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan . Kredit Non Prioritas atau Kredit Komersial. STNK. ATM. Kupedes.

Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan dipimpin oleh Pemimpin Cabang (Pinca) yang membawahi kegiatan pelayanan kepada sektor mikro dan ritel. Seorang Asisten Manajer Operasional (AMO) yang bertanggung jawab terhadap kelancaran seluruh proses operasional kanca. Dua orang Asisten Manajer Bisnis Mikro (AMBM). Dalam kegiatannya Pinca dibantu oleh tiga orang Asisten Manajer di bawah ini: 1. sedangkan 15 PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit yang ada di Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan bergerak dalam pelayanan perbankan untuk sektor mikro.60 merupakan salah satu dari 17 kantor cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk yang terdapat di Kantor Wilayah Medan. serta sebuah Kantor Cabang Pembantu (KCP) yaitu KCP Panyabungan yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal. AMBM juga membawahi bagian Supervisi Administrasi Unit yang terdiri dari petugas Administrasi dan Petugas Rekonsiliasi Unit. 2. betanggung jawab terhadap bisnis baik kredit maupun dana dan operasional mikro di Bank BRI unit. Jumlah unit usaha yang menjadi supervisi Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan terdiri dari 15 PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit yang tersebar di berbagai kecamatan yang ada di Kota Padangsidimpuan. AMBM dibantu oleh lima orang penilik Bank BRI unit. Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal. . Kantor Cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan mempunyai segmen pelayanan perbankan di bidang bisnis ritel. AMO membawahi bagian pelayanan dan bagian kas Kanca.

1. Gambaran Umum Jaminan Fidusia Yang Ada Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. Jika tidak diperjanjikan lain. Menurut Pak Riza bagian marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan telah dibuka model kredit kendraan barang. Jaminan tambahan berupa benda bergerak yaitu sepeda motor. Objek Jaminan Fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk merupakan salah satu bank yang cukup tangguh di Kota Padangsidimpuan. mesin padi. Dalam Surat Edaran BRI 11 Mei 2004 Obyek jaminan fidusia adalah: a.61 C. kendaraan bermotor. khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam UU No. truk. c. mobil/taxi. Benda bergerak (berwujud maupun tidak berwujud). dan semua statusnya hanya sebagai jaminan tambahan dan jaminan pokoknya adalah jaminan dalam bentuk hak tanggungan. juga klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia diasuransikan. Khusus mengenai jaminan fidusia dari pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk diperoleh data bahwa perjanjian jaminan yang diikat dengan jaminan fidusia dari tahun 2000 sampai 2007 berjumlah 4 buah. misalnya hak pakai atas tanah hak milik. Benda tidak bergerak. maka jaminan fidusia meliputi hasil dari benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. piutang . mesin. misalnya persediaan/stok dagang/usaha b. telah memiliki banyak nasabah dengan berbagai opsi pelayanan jasa perbankan yang disediakan oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk. 4/1996.

62 bermotor dengan jaminan secara fidusia, tetapi karena lembaga-lembaga leasing memberikan persyaratan yang lebih mudah dibandingkan dengan syarat yang harus dipenuhi debitur jika berhubungan dengan bank menyebabkan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan sangat sedikit jumlahnya. Pada dasarnya pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang

Padangsidimpuan merasa lebih aman dengan menggunakan jaminan hak tanggungan, jaminan fidusia hanya akan digunakan apabila setelah dianalisis ternyata jaminan pokok yang berupa hak tanggungan dinilai masih kurang mencukupi dengan besarnya nilai kredit yang akan disalurkan. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Pangsidimpuan tegas menyatakan tidak mau mengikat kredit dengan jaminan fidusia sebagai jaminan pokok.80 Praktek perbankan yang terjadi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, jaminan fidusia hanya berkedudukan sebagai jaminan sekunder sebagai pelengkap dari hak tanggungan dan bukan sebagai jaminan primer. Dan objek jaminan fidusia yang telah diikat semuanya adalah benda bergerak. Mengenai objek jaminan fidusia atas benda tidak bergerak seperti bangunan di atas tanah orang lain, hak sewa atau hak pakai dan rumah susun belum ada nasabah yang mengajukan pinjaman. Dengan tegas pihak Bank BRI mengatakan tidak bersedia untuk memberikan pinjaman terhadap agunan dalam bentuk bangunan di atas tanah orang lain, hak pakai, hak sewa, dan tanah yang tidak bersertifikat dengan alasan terlalu beresiko dan kurang bahkan tidak memberikan kepastian hukum. Keterangan bagian marketing ini cukup beralasan dan sejalan dengan
80 Wawancara dengan Pak Riza bagian Marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan tanggal 29 Desember 2006

63 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 4/248/UPPK/PK tanggal 6 Maret 1972 (sebelum keluarnya UU No. 42 Tahun 1992 Tentang Jaminan Fidusia) menegaskan bahwa fidusia hanya diperlakukan terhadap barang bergerak. Selanjutnya bank-bank dianjurkan agar tidak secara mudah menggunakan fidusia tanpa terlebih dahulu menyelidiki keadaan moral maupun financial standing dari calon debitur, mengingat barang bergerak itu tetap dikuasai debitur, berhasil atau gagalnya bentuk jaminan fidusia semata-mata bergantung kepada bonafiditas dan itikad baik debitur. Landasan operasional Bank BRI adalah surat edaran yang terbaru yaitu Nose: S. 8 –DIR/ADK/05/2004 tentang agunan kredit, secara yuridis hal ini dibenarkan oleh hukum berdasarkan hirarkhi perundang-undangan yang dianut di Indonesia, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hukum jaminan fidusia adalah Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Dalam Surat edaran ini ditegaskan bahwa objek jaminan fidusia adalah benda bergerak dan benda tidak bergerak dapat atas bangunan yang berdiri di atas tanah orang lain termasuk rumah susun, hak pakai dan hak sewa dan ini sesuai dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia No.42 Tahun 1999 tetapi dalam praktek jelas mereka menyatakan menolak untuk memberikan kredit terhadap nasabah yang memberikan agunan dengan objek jaminan seperti bangunan di atas tanah hak milik orang lain, hak sewa, dan hak pakai. Secara yuridis Bank BRI tidak melakukan pelanggaran hukum/peraturan perundang-undangan, karena tidak bersedia memberikan kredit terhadap agunan hak sewa, hak pakai dan bangunan yang ada di atas tanah orang lain, juga tanah yang tidak memiliki sertifikat, hal ini dapat dikaitkan dengan asas konsensualitas dan kebebasan berkontra, artinya apa yang diinginkan oleh pihak yang satu

64 dikehendaki juga oleh pihak yang lain. Konsensualitas dalam perjanjian tersimpul dalam pasal 1320 yang mengatur syarat sahnya suatu perjanjian dan salah satu syarat tersebut adalah “sepakat” mereka yang mengikatkan dirinya, artinya para pihak bebas untuk melakukan perjanjian apa saja selama tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak sepakat dengan nasabah yang mempunyai agunan berupa bangunan diatas tanah orang lain, hak pakai dan hak sewa, meskipun undang-undang Jaminan Fidusia mengatur tentang hal ini tetapi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebagai kreditur boleh menyimpangi peraturan ini di dasarkan oleh suatu prinsip bahwa jaminan fidusia lahir karena diperjanjikan bukan karena undang-undang. Selayaknya PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dapat mengikuti perkembangan hukum jaminan yang sudah jauh lebih maju dengan objek jaminan yang lebih luas seperti yang telah diatur dalam ruang lingkup jaminan fidusia yang diatur dalam Pasal 2 dan 3 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Jumlah perjajian kredit dengan pembebanan secara fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sangat sedikit, hal ini disebabkan oleh antara lain: 1. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak memenerima agunan berupa bangunan di atas tanah hak milik orang lain. 2. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak menerima agunan berupa hak pakai dan hak sewa. 3. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan juga tidak menerima

tidak banyak kasus menyangkut fidusia yang sampai ke Pengadilan karena debitur melakukan wanprestasi atau hal lain. Kasus Jaminan Fidusia ke Pengadilan Hasil wawancara dengan pihak yang berkompoten dengan bagian kredit pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padandsidimpuan sampai dengan hari terakhir penelitian belum/ tidak ada kasus tentang jaminan fidusia yang sampai ke pengadilan baik jaminan fidusia berkedudukan sebagai jaminan primer maupun jaminan sekunder sebagai pelengkap dari jaminan hak tanggungan. 2.81 81 Wawancara dengan Hakim Afandi SH. disebabkan oleh kesadaran hukum masyarakat kota Padangsidimpuan khususnya nasabah PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan cukup tinggi artinya debitur melakukan kewajiban- kewajibannya dengan baik. Menurut Pak Afandi hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri Padangsidimpuan untuk membantu dalam penelitian ini. 13/PDT. . Setelah menghubungi bagian perdata di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan diperoleh data bahwa ada satu kasus debitur yang melakukan wanprestasi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum keluarnya UndangUndang Jaminan Fidusia yaitu kasus dengan register No. G/1992/PN. Hakim pada Pengadilan Negeri Padangsidimpuan tanggal 8 Januari 2007.65 agunan tanah yang tidak bersertifikat 4. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak menerima agunan benda bergerak sebagai agunan pokok. disamping agunan yang dapat diikat dengan jaminan fidusia sangat terbatas dan hanya sebagai jaminan sekunder saja. Mungkin ini berkaitan dengan rahasia bank.PSP.

42 Tahun 1999 juga menawarkan proses eksekusi yang lebih praktis. (penjelasan pasal 15 ayat 2). Penjelasan Pak Afandi ini cukup beralasan jika dilihat dari tujuan dibentuknya UU jaminan fidusia itu sendiri yaitu untuk memenuhi kebutuhan hukum yang dapat lebih memacu pembangunan nasional dan untuk menjamin kepastian hukum serta mampu untuk memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan. Fungsi Juridis Jaminan Fidusia Sebagai Pengaman Kredit Bank .66 Ditambah lagi setelah keluarnya UU Jaminan Fidusia No 42 Tahun 1999 telah memberikan peluang yang luas bagi para pihak debitur (nasabah) dengan kreditur (pihak bank) menawarkan beberapa opsi dalam hal eksekusi. terutama perjanjian yang dibuat oleh lembaga perbankan dengan syarat bahwa perjanjian jaminan fidusia tersebut harus dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia. Untuk melakukan eksekusi terhadap barang objek fidusia dengan kekuasaan sendiri karena sertifikat jaminan fidusia yang telah memuat irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Undang-Undang Jaminan Fidusia No. dibandingkan dengan perjanjian fidusia yang dibuat di bawah tangan hingga proses eksekusinya lewat gugatan biasa. D. murah dan cepat bagi para pihak dalam perjanjian. yang melalui proses birokrasi berbelit-belit dan proses peradilan yang sangat lama dan melelahkan. efisien. Pelaksanaan Jaminan Secara Fidusia 1. apabila terjadi permasalahan dikemudian hari.

Untuk memperoleh keyakinan. . kemampuan. Kondisi dan Prospek Usaha Debitur Dari hasil analisis yang dilakukan secara mendalam terhadap unsur watak. Capital (modal). modal. PT Bank BRI (Persero) Tbk melakukan penilaian yang seksama terhadap watak.82 Dalam praktek pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan menentukan kecukupan jaminan. di Padangsidimpuan tanggal 29 Desember 2006 83 Surat Edaran BRI Tahun 2004. Tingkat keyakinan pejabat kredit tersebut akan dipakai sebagai bahan 82 Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. dan Conditions of Economic (kondisi ekonomi). dalam menentukan kecukupan jaminan kredit. kapital serta kondisi ekonomi/politik dari seorang debitur atau calon debitur. ditentukan oleh hasil analisis terhadap watak. Prinsip ini lebih dikenal dengan istilah 5 C’s yakni Character (watak. setiap pejabat kredit. yaitu: a. agunan). dalam menyalurkan kredit didasarkan kepada prinsip kehati-hatian. kemampuan. serta kondisi dan prospek usaha nasabah dan agunan. pejabat kredit (pejabat pemrakarsa dan pemutus) harus mampu mengambil suatu kesimpulan yang mengarah pada keyakinan bahwa pinjaman yang diberikan akan dapat dibayar kembali (sesuai dengan yang diperjanjikan). kapital.83 Oleh karena itu. sebelum memberikan kredit. baik pejabat pemrakarsa maupun pejabat pemutus mempertimbangkan tiga hal utama. kemampuan. agunan dan prospek usaha dari debitur. dan ini terlihat dalam sistim penilaian yang dilakukan berdasarkan prinsip keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi kewajibannya. kepribadian). Capacity (kemampuan). hal. 2. Collateral (jaminan.67 PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai penyalur dana masyarakat secara aktif memberikan kredit kepada nasabah.

diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur untuk mengembalikan utangnya. efektifitasnya pada saat diperlukan.68 pertimbangan dalam menentukan kecukupan jaminan suatu kredit yang diberikan. . modal. Nilai Agunan Pokok dan Tambahan Berdasarkan hasil judgement atas unsur–unsur tersebut di atas. sehingga tidak dapat memberikan hak preference bagi Bank BRI. kemampuan. pejabat pemrakarsa dan pejabat pemutus. Perlu juga dilakukan kajian untuk menetapkan persyaratan yang diperlukan agar agunan kredit (baik untuk agunan pokok maupun agunan tambahan) tersebut dapat dijamin keamanannya. yang disebabkan adanya kesulitan dalam pengikatan dan penguasaan agunan pokok. maka agunan tambahan menjadi wajib dipenuhi. Kecukupan Jaminan Berdasarkan kesimpulan atau judgement atas kualitas nasabah atau calon nasabah (yang diperoleh melalui analisis terhadap watak. harus didasarkan keyakinan dari Pejabat kredit Lini (pemrakarsa dan pemutus) bahwa nilai agunan tersebut akan dapat meminimalkan tingkat kerugian (loss given default) dan memperbesar recovery rate apabila debitur wanprestasi di kemudian hari. Apabila menurut judgement pemutus. Dalam mempertimbangkan kecukupan nilai agunan kredit. modal dan prospek). harus mampu mengambil keputusan mengenai macam agunan yang dipersyaratkan. yaitu apakah cukup agunan pokok saja atau perlu diminta agunan tambahan. b. Agunan kredit dapat hanya berupa agunan pokok tersebut apabila berdasarkan aspek-aspek lain dalam ”first way out” (watak. penguasaannya. kemampuan. c. agunan pokok yang disediakan tidak dapat menutup kecukupan jaminan. pengikatan hukumnya.

Penilaian kondisi ekonomi menyangkut masalah situasi perekonomian dan politik secara makro (kondisi dan situasi yang memberikan dampak positif bagi prospek usaha debitur). Penilaian modal menyangkut masalah besarnya modal yang dimiliki calon debitur. faktor yang berfungsi sebagai pengaman yuridis dari kredit yang disalurkan adalah jaminan kredit.69 serta kondisi dan prospek usaha seperti di atas ). serta nilai agunan yang ada seperti diuraikan. Penilaian jaminan menyangkut tentang harta benda milik debitur atau milik pihak ketiga yang merupakan jaminan tambahan dalam mengamankan penyelesaian kredit. Dari kelima faktor penilaian yang dilakukan oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Jaminan kredit dalam arti luas bukan hanya menyangkut agunan yang diberikan oleh debitur tetapi juga meliputi faktor-faktor lain seperti: bonafiditas . Penilain watak menyangkut masalah reputasi dari calon debitur dalam mempergunakan kredit sesuai dengan tujuan dan selalu memenuhi kewajibannya membayar kredit tepat pada waktu yang diperjanjikan. di atas. pejabat pemrakarsa dan pejabat pemutus kredit harus mampu mengambil kesimpulan mengenai kecukupan jaminan untuk mendukung kredit yang diberikan. Dengan kondisi usaha yang menguntungkan dan kejelasan pertambahan pendapatan nasabah pasti mampu membayar utang pokok dan bunganya. Semakin besar jumlah modal yang dimiliki oleh debitur akan semakin baik karena keterlibatan debitur terhadap maju dan mundurnya usaha sangat besar. Penilaian kemampuan menyangkut kemampuan calon debitur dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya sehingga berjalan lancar.

Dalam arti sempit. PT Bank BRI (Persero) Tbk memberikan kredit model ini jika dalam analisis jaminan. Setelah keluarnya UU No. . Artinya pihak bankmau memberikan kredit kepada nasabah yang mempunyai agunan tanah yang belum bersertifikat. Setelah keluarnya UU No. Pada umumnya. dan meminta jaminan kredit sebagai jaminan tambahan bukan suatu kewajiban bank. dengan alasan bahwa bentuk pengikatan jaminan baik surat kuasa jual maupun perjanjian penyerahan jaminan dan pemberian kuasa bukanlah suatu lembaga jaminan yang memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi bank dan konsekuensi yuridisnya bagi bank hanya sebagai kreditur konkuren.70 dan prospek usaha. Sebelum keluarnya Undang-Undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan bank tidak menerima lagi tanah yang belum bersertifikat untuk dijadikan sebagai agunan. jaminan utama telah memenuhi standar untuk menjamin penyelesaian kredit yang akan disalurkan. yang diterima bank adalah tanah yang sudah bersertifikat dengan bentuk perjanjian jaminannya adalah hak tanggungan. 4 Tahun 1996 pengikatan atas tanah yang belum bersertifikat dilakukan dengan menggunakan surat kuasa jual atau perjanjian penyerahan jaminan dan pemberian kuasa.84 Pemberian kredit tanpa jaminan tambahan dikenal dengan unsecured loans. Wajib dijadikan jaminan adalah yang berkaitan secara langsung dengan objek yang dibiayai. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan dinyatakan bahwa tanah yang tidak bersertifikat tidak dapat dijadikan sebagai 84 Lihat Pasal 8 UU No. jaminan kredit hanya ditujukan kepada benda agunan yang diberikan debitur yang lazim disebut dengan jaminan tambahan berupa harta benda. 10 Tahun 1998.

fungsi yuridis pengikatan jaminan fidusia lebih bersifat khusus jika dibandingkan dengan jaminan yang lahir berdasarkan Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jika dilihat dari sistim hukum jaminan kebendaan. Jaminan fidusia adalah salah satu sarana perlindungan hukum bagi keamanan bank yakni sebagai suatu kepastian bahwa debitur akan melunasi pinjaman kredit. PT Bank BRI (Persero) Tbk dengan jelas menyatakan bahwa tanah belum bersertifikat tidak dapat dijadikan sebagai agunan baik untuk bentuk jaminan dengan hak tanggungan maupun dalam bentuk jaminan fidusia. Oleh karena itu . Fungsi yuridis pengikatan benda jaminan fidusia dalam akta jaminan fidusia merupakan bagian yang sangat urgen dari perjanjian kredit. Dengan argumen bahwa tanah yang tidak bersertifikat terlalu beresiko bagi bank artinya jika debitur melakukan waprestasi pihak bank berada pada posisi yang sangat lemah dan debitur punya banyak kesempatan untuk berbuat curang85 Dari penelitian ini ditemukan fakta bahwa jaminan fidusia yang dijumpai pada PT Bank BRI (Persero) Tbk adalah jaminan fidusia yang merupakan jaminan pelengkap dari jaminan hak tanggungan. jaminan fidusia dan hak tanggungan memiliki kekuatan yuridis yang sama. Jaminan fidusia cenderung lebih kecil nilai pinjaman kreditnya jika dibandingkan dengan pinjaman kredit yang diikat dengan hak tanggungan. Perjanjian jaminan fidusia bukan suatu hak jaminan yang lahir karena undang-undang melainkan harus diperjanjikan terlebih dahulu antar bank dengan debitur.71 agunan dan sebagai jalan keluarnya dapat diikat dengan fidusia. Hubungan fungsi yuridis jaminan fidusia sebagai pengaman kredit bank dapat dilihat dari akta jaminan fidusia di bawah ini: 85 Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan di Padangsidimpuan pada tanggal 29 Dsember 2006 . hanya berbeda dalam objeknya.

Perjanjian Membuka Kredit Pemberi fidusia yang telah memenuhi semua syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam formulir reviw dokumen maka tahap selanjutnya adalah membuat perjanjian membuka kredit dibuat dengan akta notaris yang mengatur tentang: a. dan ongkosongkos serta biaya.L300DB. 2. Jaminan pokok berupa usaha/proyek yang dibiayai dan 86 Dikutip dari Akta Penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan Nomor 132 tanggal 30 Juni 2006 yang dibuat Notaris L di Padangsidimpuan. Nomor Polisi BB.72 Bahwa untuk lebih menjamin kepastian dan ketertiban pembayaran kembali pinjaman. Pengakuan utang f. yaitu atas: 1(satu) unit kendraan bermotor Merk Mitsubishi. Nomor Rangka/NIK:.CC. Nomor Mesin 4D56-698650. Selanjutya disebut perjanjian dengan syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Sebagai jaminan hutang yang dimaksud dalam Perjanjian Membuka kredit Nomor:…tanggal… dibuat dihadapan notaris. Warna Putih Kombinasi. Dan juga memperoleh kepastian terhadap pengembalian utang debitur sekaligus mengurangi tingkat resiko bank dalam menjalankan usahanya. denda bunga. Besarnya bunga d. jenis Mobil Penumpang Tahun Perakitan 1996/2477. pihak pertama setuju untuk menyerahkan hak milik atas kepercayaan kepada pihak kedua dan pihak kedua setuju untuk menerima penyerahan tersebut dari pihak pertama.215595. maka kedua belah pihak sepakat dan setuju untuk mengadakan perjanjian penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan (Fiducia). .1531-RA. Jangka waktu pinjaman e. Data pemberi kredit/bank dan penerima kredit/nasabah b. Type L300. bunga. baik berupa pokok. terdatar atas nama…dengan nilai penjaminan sebesar …86 Fungsi yuridis jaminan fidusia yang dinyatakan dalam akta jaminan fidusia akan lebih menguatkan kedudukan bank sebagai kreditur preferen. Besarnya nilai pinjaman c. Pihak pemberi kredit adalah PT Bank BRI (Persero) Tbk dan nasabahnya adalah seorang wiraswasta.biaya lainnya tanpa pengecualian.. Buku Pemilik Kendraan Bermotor A Nomor: 4972754B.

menurut notaris L menyangkut rahasia notaris. Secara umum. Jaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1131 tersebut masih dirasakan terlalu umum dan belum sepenuhnya melindungi kreditur apabila debitur wanprestasi. taxi. mesin padi. Pengikatan/Pembebanan Jaminan Secara Fidusia Nilai pengikatan agunan merupakan nilai yang menggambarkan minimal besarnya hak Bank BRI atas agunan kredit yang diikat. truk dan stok barang-barang dagangan yang telah ada sekarang maupun yang akan ada dikemudian hari yang disebut (objek jaminan fidusia). serta untuk dapat memberikan rasa aman bagi kreditur . Undang-Undang telah memberikan jaminan perlindungan kepada kreditur sebagaimana diatur dalam pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. yang diikat dengan jaminan dalam bentuk fidusia. baik yang sekarang ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi tanggungan/ jaminan atas hutang-hutangnya”. dan merupakan perkiraan besarnya kewajiban debitur kepada Bank BRI yang dapat ditutup oleh agunan tersebut. Biaya pembuatan akta perjanjian membuka kredit ini. apabila di kemudian hari terjadi kegagalan pembayaran kredit. Untuk mengatasi hal tersebut. 3. yaitu: “segala harta kekayaan debitur.73 tanah yang diikat dalam bentuk hak tanggungan g. Jaminan tambahan berupa benda bergerak yaitu: mobil. Pemutus harus menentukan besarnya nilai pengikatan agunan dengan pertimbangan utama untuk memaksimalkan recovery rate apabila kredit menjadi bermasalah.

merek dan kualitas dari benda tersebut. Nilai penjaminan 6. tempat dan tanggal lahir. pembebanan barang sebagai agunan adalah: o Pembebanan Fidusia 1. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia 4. nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia • Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia • Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia • Nilai penjaminan . • Dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia merupakan benda yang selalu berubah-ubah dan atau tidak tetap seperti stok bahan baku. Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia 7.74 (bank). antara lain : • Mencantumkan benda tersebut dan bukti kepemilikannya. Sifat Jaminan fidusia adalah perjanjian ikutan (accessoir) dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Memuat sekurang-kurangnya : • Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia. meliputi: nama lengkap. jenis kelamin. baik bergerak maupun tidak bergerak. Pendaftaran jaminan fidusia dimaksud dilakukan oleh penerima fidusia. 5. status perkawinan dan pekerjaan. barang jadi atau portofolio perusahaan efek. agama. 3. Jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari 1 (satu) penerima fidusia dalam hal kredit konsorsium atau kredit sindikasi 8. kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia yang memuat : • Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia • Tanggal dan nomor akta jaminan fidusia. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Pasal 4 sampai 10 Undang-Undang jaminan Fidusia No. Dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia 2. maka dalam akta jaminan fidusia dicantumkan uraian mengenai jenis. sebagai agunan atas kredit yang diberikan. Jaminan fidusia wajib didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia ditempat kedudukan pemberi fidusia dan pendaftarannya mencakup benda baik yang berada di dalam maupun diluar wilayah Negara Republik Indonesia. tempat tinggal/ tempat kedudukan. 42 Tahun 1999. 9. maka kreditur dapat meminta benda tertentu dalam bentuk barang.

• Penerima fidusia atau wakilnya yang sah. • Apabila bagian dari obyek jaminan fidusia atau antara obyek jaminan fidusia ada yang tidak dapat digunakan lagi. • Obyek jaminan fidusia yang insurable agar diasuransikan berdasarkan judgement dari pemutus kredit.87 4. • Pemberi fidusia tidak berhak untuk melakukan fidusia ulang atas obyek jaminan fidusia. • Pembebanan jaminan fidusia menyebabkan obyek jaminan fidusia menjadi milik penerima fidusia/bank. . 19. menggadaikan atau menjual atau mengalihkan dengan apapun obyek jaminan fidusia kepada pihak lain. tetapi setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. yang nilainya setara dengan yang digantikan serta yang dapat disetujui penerima fidusia. setiap waktu berhak dan dengan ini telah diberi kuasa dengan hak subtitusi oleh pemberi fidusia untuk memeriksa tentang adanya dan tentang keadaan obyek jaminan fidusia tersebut.75 • Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia 10. • Pemberi fidusia menjamin kepada penerima fidusia bahwa obyek jaminan fidusia tersebut tidak terikat sebagai tanggungan untuk menjamin hutang lain. sedang pengganti obyek jaminan fidusia tersebut termasuk dalam jaminan fidusia yang dinyatakan dalam akta ini. hal. Sebelum keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia pendaftaran jaminan fidusia belum menjadi suatu kewajiban. Pendaftaran Jaminan Fidusia Suatu perubahan yang cukup mendasar dari perkembangan jaminan fidusia adalah mengenai pendaftaran. Untuk obyek jaminan berupa piutang. maka pemberi fidusia berjanji dan karenanya mengikat diri untuk mengganti bagian dari atau obyek jaminan fidusia lainnya yang sejenis. Klausula yang perlu diperhatikan atau yang lazimnya terdapat pada akta jaminan fidusia. Pemberi fidusia juga tidak dapat membebankan. Pendaftaran tersebut memiliki arti yuridis 87 Surat Edaran BRI Tahun 2004. 42 Tahun 1999 pendaftaran jaminan fidusia semakin krusial. namun obyek jaminan tersebut tetap berada pada dan dalam kekuasaan pemberi fidusia selaku peminjam pakai. tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia. antara lain : • Obyek jaminan fidusia benar-benar milik pemberi jaminan fidusia dan pembebanan jaminan fidusia dilakukan di tempat dimana obyek jaminan fidusia berada. pemberi gadai juga bertindak selaku penyelenggara administrasi/tata usaha dari obyek jaminan.

menandatangani surat/formulir. pendaftaran jaminan fidusia merupakan syarat untuk memenuhi asas publisitas dalam memperoleh kepastian hukum. ditemukan fakta yuridis bahwa yang didaftarkan adalah akta jaminan fidusia dan benda jaminan fidusia. 132 tanggal 30 Juni 2006. Akta Notaris Model PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. selanjutnya menerima Sertifikat Jaminan Fidusia dan/atau pernyataan perubahan. Contoh pendaftaran jaminan fidusia yang dituangkan dalam akta jaminan fidusia berbunyi sebagai berikut: Penerima fidusia atau kuasanya berwenang untuk melaksanakan pendaftaran jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia untuk keperluan tersebut menghadap dihadapan pejabat atau instansi yang berwenang memberikan keterangan. serta dokumendokumen lain yang bertalian. selain itu. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia. Untuk keperluan itu membayar semua biaya dan menerima kwitansi segala uang pembayaran serta selanjutnya melakukan segala tindakan yang perlu dan berguna untuk melaksanakan ketentuan dari akta ini.89 Pernyataan bahwa yang didaftar adalah akta jaminan fidusia dan benda/ 88Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan di Padangsidimpuan tanggal 26 Desember 2006. 89 Dikutip dari Pasal 11 Akta Jaminan Fidusia No. semua perjanjian jaminan yang diikat dengan jaminan fidusia didaftarkan.88 Akibat hukum perjanjian jaminan fidusia yang didaftar di kantor pendaftaran fidusia adalah melahirkan perjanjian kebendaan yang berkarakter kebendaan seperti droit de suite dan hak preferensi melekat pada kreditur penerima jaminan fidusia Yang didaftarkan adalah akta jaminan fidusia dan bendanya. dan mengajukan permohonan perubahan dalam hal terjadi perubahan atas data yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia.76 sebagai suatu rangkaian yang tidak terpisah dari proses terjadinya perjanjian jaminan fidusia. Hal ini dapat dianalisis langsung dari akta jaminan fidusia yang dibuat oleh notaris. mendaftarkan jaminan fidusia atau objek jaminan fidusia tersebut dengan melampirkan Pernyataan Pendaftran Jaminan Fidusia. .

Pendaftaran jaminan fidusia sangat penting.90 Tetapi ketika diminta datanya menolak dengan alasan menyangkut rahasia bank. Suatu perjanjian penjaminan hak kebendaan memiliki kedua ciri tersebut. . Tidak terpenuhinya unsur-unsur wajib/imperatif dalam undang-undang 90 Wawancara dengan Notaris M di Padangsidimpuan tanggal 4 Januari 2007. Setiap perjanjian penjaminan pada dasarnya masuk dalam kelompok hukum perikatan walaupun memiliki dimensi hukum kebendaan.77 objek jaminan fidusia ini juga didukung oleh keterangan yang diberikan oleh notaris L (notaris mitra Bank BRI Cabang Padangsidimpuan) yang menyebukan bahwa syarat pendaftaran jaminan fidusia ke kantor pendaftaran fidusia salah satunya adalah foto copy surat kemilikan kendraan bermotor yang telah dilegalisasi oleh notaris untuk agunan fidusia yang berbentuk benda bergerak. Walaupun para pihak bebas menyusun klausulanya. Hal ini jelas terlihat dalam Undang-Undang No. perjanjian itu wajib memuat beberapa unsur yang ditentukan undang-undang. 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (“Undang-Undang Jaminan Fidusia”). Sesuai azas kebebasan berkontrak masing-masing pihak bebas saling mengikatkan diri selama syarat sahnya perjanjian terpenuhi. Salah satu ciri hukum perikatan. adalah sifatnya yang fakultatif (tidak memaksa). Hal ini diungkapkan oleh notaris M yang menyatakan bahwa masih ada perjanjian jaminan fidusia yang dibuat di bawah tangan dan tidak didaftarkan dan ada juga yang dibuat dengan akta notaris tetapi tidak didaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. namun dalam praktik perkreditan di lingkungan bank dan lembaga pembiayaan lainnya di Padangsidimpuan masih ada perjanjian jaminan fidusia yang tidak didaftarkan. Sebaliknya. hukum kebendaan lebih banyak berciri imperatif (memaksa) karena berlaku umum untuk semua pihak.

Kreditur tidak bisa menggunakan titel eksekutorial yang lazimnya dinikmati kreditur pemegang fidusia (lihat Pasal 29 UU Fidusia). Konsekuensi bagi kreditur yang tidak melakukan pendaftran jaminan fidusia adalah kreditur tidak mendapat perlindungan hukum dari Undang-Undang Jaminan Fidusia. 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia mengatur tentang pendaftaran fidusia adalah sebagai berikut ini. kuasa. Jaminan fidusia yang tidak memenuhi syarat imperatif dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia Fidusia (misalnya syarat akta jaminan fidusia dalam Pasal 6 Undang-Undang Jaminan Fidusia yaitu tidak dibuat secara notariil) tidak akan dapat didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia. Perjanjian yang disusun dengan konsep fidusia yang lama (fiduciairie eigendom overdracht atau biasa disingkat FEO) tetap sah dan berlaku mengikat pada kedua belah pihak.78 penjaminan tidak berakibat perjanjian itu sendiri batal. Namun. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah No. a. Cara meminta eksekusinya pun berbeda. Akibatnya sang kreditur tidak menikmati hak mendahului yang lazimnya didapat dari perjanjian penjaminan sesuai Undang-Undang Jaminan Fidusia. pihak yang memiliki hak atas perjanjian itu tidak bisa menikmati haknya yang diberikan dalam undang-undang yang bersangkutan. Ia hanya dapat mengajukan gugatan perdata terhadap debitur. perjanjian itu tidak memberikan hak mendahului pada sang kreditur untuk mengambil pelunasan terlebih dahulu dibanding kreditur lainnnya. Kreditur hanya berhak atas pelunasan dari hasil penjualan objek jaminan bersama-sama dengan kreditur konkuren lainnya. Namun. . Prosedur dalam pendaftaran jaminan fidusia Pasal 11 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang No. Permohonan pendaftaran fidusia dilakukan oleh penerima fidusia.

Biaya Pendaftaran fidusia ditentukan secara berjenjang disesuaikan dengan besarnya nilai penjaminannya. Apabila nilai penjaminannya kurang dari Rp.000.000. tempat dan nomor akta jaminan fidusia. Membayar biaya pendaftaran fidusia. Permohonan itu diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. Kantor Pendaftaran Fidusia mencatat jaminan dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia o Permohonan itu dilengkapi dengan: • Salinan akta notaris tentang pembebanan jaminan fidusia • Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia • Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia (Pasal 2 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia).79 atau wakilnya pada Kantor Pendaftaran fidusia. b. Berikut ini . Pernyataan itu memuat: • • Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia Tanggal. Permohonan pendaftaran melampirkan pernyataan pendaftaran fidusia.000 besarnya biaya pendaftaran fidusia ini adalah 1 per mil dari nilai penjaminan (nilai kredit). nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia • • • • Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia Nilai penjaminan. maka besarnya biaya pendaftarannya paling banyak Rp 50. Biaya pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia. a.. 50.

Rp 100. s.000.000. namun para notaris juga telah menentukan tarif yang dikenakan pada nasabah. 1.d. 7.000. 2.000.d.000 untuk setiap pembuatan akta fidusia. 5.000.000. 3.000. ke atas Tabel biaya Pembuatan Akta 92 Walaupun biaya pembuatan akta jaminan telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah.000.000. Rp.2.d Rp. tanpa melihat besarnya nilai jaminan.s.000. 93 Menurut notaris L sebagai mitra kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam membuat akta Jaminan untuk setiap pembuatan akta jaminan fidusia untuk PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dikenakan biaya yang sama yaitu sebesar Rp.000.000. 3. Surat Kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia d.000. s. > Rp 100. Rp 1. Rp. Rp.000.000. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia Tanggal 30 September 2000.000.d. hal. Rp. s.000. Tarif yang ditentukan oleh notaris sebesar 2% dari nilai jaminan.000. 000.000. hal 84.000. 5.000. cit.000. 4. untuk 91 Salim HS. • Berkas permohonan fidusia terdiri dari: a. ibid. 1.000.000. 000 s.000. 85. 200.000.000.. Nilai Penjaminan < Rp 50. s.000.5 000. Rp. 5. 250. 10. 2 > Rp 50.000. 500.d. Besar Biaya Paling banyak Rp. > Rp 1. 2. Rp..500.000.000. 6. biayanya tidak sama untuk setiap bank.000. 10.000. > Rp. Rp. 94 Surat Edaran BRI Tahun 2004.000. 150. . Rp.000. 50. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia94 Menurut Notaris L dalam praktek yang biasa dilakukannya. 000. Rp.000.000. 500.000. 7.000.500.000.000. op.d. Rp.d. 9. cit. > Rp 500.000.000.000.80 dicantumkan besarnya biaya pembuatan akta dan baiya pendaftaran. 92 PP No.000.000. Untuk bank lain ada yang Rp. Salinan akta jaminan fidusia (notariil) c. > Rp 250. s. 100.0000. Pernyataan pendaftaran jaminan fidusia b.000.91 No.000. > Rp. 125. 8. 5. 93 Salim HS. > Rp. log. Rp.

Salinan akta fidusia f. c. Diharapkan pemerintah dalam pendaftaran jaminan fidusia ini juga memberikan solusi yang lebih baik artinya biaya pendaftaran jaminan secara fidusia ini dibuat dengan harga/tarif yang seimbang dan sama menurut jumlah yang telah ditetapkan untuk menjamin kepastian hukum dan juga melakukan upaya pengawasan agar pegawai kantor pendafatran fidusia benar-benar melaksanakan peraturan yang berlaku dengan sebaik-baiknya. hingga biaya pendaftaran ini berbeda-beda tergantung petugas dan keahlian kita dalam negosiasi. membayar biaya pendaftaran fidusia sebesar 150.s/d. Rp.000. 95 Wawancara dengan Notaris L di Padangsidimpuan pada tanggal 2 Januari 2007.000. Dapat disimpulkan bahwa biaya pembuatan akta jaminan fidusia ini tidak benar-benar mengikuti peraturan yang berlaku yaitu PP No.000.000.000.s/d. dan jika Rp. Jadi tidak harga mati.000. 25. .000 untuk nilai penjaminan sebesar Rp. Surat Kuasa dari bank kepada notaris untuk mendaftarkan fidusia e. 500.000. Membeli blanko formulir seharga Rp. 95 Tentang biaya pendaftaran ini diatur dalam Pasal 2 ayat 3 yang menyatakan bahwa besarnya biaya pendaftaran jaminan fidusia ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah tersendiri mengenai penerimaan negara bukan pajak. 200. dapat dilakukan tawar menawar.81 pendaftaran fidusia adalah: a. 100.75. 500. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia. ke atas dapat dilakukan negosiasi dengan pegawai Kantor Pendaftaran Fidusia. Foto copy Bukti Pemilik Kenderaan Bermotor yang telah dilegalisasi oleh notaris. Rp.000 sampai Rp. Foto copy KTP Pemberi dan Penerima Fidusia d. 50. Setelah mengisi semua formulir dengan benar kemudian dimasukkan ke loket pendaftaran dengan membayar sebesar Rp.000.000 dan menyertakan surat pernyataan pendaftaran fidusia yang dibuat di bawah tangan b. Setelah selesai. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia oleh karena itu diharapkan ke depan agar pemerintah lebih memperketat pengawasan serta memberikan sanksi admistrasi yang tegas kepada notaris yang nakal.

Sertifikat jaminan fidusia ini sebenarnya merupakan salinan dari buku daftar fidusia yang memuat catatan tentang hal-hal yang sama dengan data dan keterangan yang ada saat pernyataan pendaftaran. Selanjutnya Kantor Pendaftaran fidusia mencatat jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Sebagai bukti bagi kreditur bahwa ia merupakan pemegang jaminan fidusia adalah sertifikat jaminan fidusia yang diterbitkan kantor pendaftran fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran jaminan fidusia.” Sertifikat jaminan ini mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia ini dianggap sebagai saat lahirnya jaminan fidusia. akan tetapi hanya melakukan pengecekan data yang dimuat dalam pernyataan pendaftaran jaminan fidusia. . Tujuannya adalah agar kantor pendaftaran fidusia tidak melakukan penilaian terhadap kebenaran yang dicantumkan dalam pernyataan pendaftaran jaminan fidusia.82 c. Penyerahan sertifikat ini kepada penerima fidusia juga dilakukan pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Hal ini berlainan dengan FEO dan cessi jaminan yang lahir pada waktu perjanjian dibuat antara debitur dan kreditur. Dalam judul sertifikat jaminan fidusia dicantumkan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasannya sendiri. Apabila debitur cidera janji.

42 Tahun 1999 . yaitu hak yang didahulukan terhadap kreditur yang lainnya.83 Ketentuan tentang adanya kewajiban pendaftaran ini merupakan hal yang yang sangat urgen dalam jaminan fidusia mengingat bahwa pada umumnya objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang tidak terdaftar sehingga sulit mengetahui siapa pemiliknya mengingat ketentuan dalam Pasal 1977 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu siapa yang menguasi benda bergerak maka ia akan dianggap sebagai pemiliknya (bezit geldt als volkomen titel). Ini berarti Undang-Undang Jaminan Fidusia secara tegas menyatakan jaminan fidusia adalah agunan atas kebendaan atau jaminan kebendaan (Zakelijke zekerheid) yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepdada penerima fidusia. Perjanjian Fidusia Merupakan Perjanjian yang Bersifat Assesoir Ketentuan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Jaminan Fidusia menyatakan bahwa jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. Setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya. Hak ini tidak hapus karena adanya kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia (Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Jaminan Fidusia). Dengan demikian tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa jaminan fidusia adalah perjanjian yang bersifat obligatoir (perorangan) bagi kreditur. 5. 4 Tahun 1996 Tentang Hak tanggungan yang tetap dalam penguasaan pemberi fidusia.

. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut: 1. Mengikuti bendanya (asas Droit de Suite) Didaftarkan di Kantor Pendaftaran Tanah (Asas Publisitas) Memberikan hak untuk menjual langsung (Eksekutorial) Obyek yang diikat fidusia adalah tertentu/terinci (Asas Spesialitas) 5. yang dapat dinilai dengan uang.84 dapat diketahui secara pasti bahwa sifat perjanjian jaminan fidusia adalah assesoir yang sebelumnya masih meragukan bagi para ahli hukum. maka hanya dapat dilaksanakan jika ketentuan yang disyaratkan dalam perjanjian pokok telah atau tidak dipenuhi. Pasal 4 Undang-Undang No. Artinya perjanjian jaminan fidusia tidak akan ada tanpa didahului oleh suatu perjanjian yang disebut dengan perjanjian pokok/dasar Keterkaitan sifat perjanjian jaminan fidusia dengan perjanjian kredit dapat dilihat dari isi perjanjian jaminan fidusia baik yang dibuat dengan akta notaris 96Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia secara tegas dinyatakan bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian assesoir dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu. 17. perjanjian jaminan fidusia memiliki sifat sebagai berikut: a. 3. 125. Keabsahannya semata-mata ditentukan oleh sah tidaknya perjanjian pokok c. 2. Sebagai perjanjian bersyarat. atau tidak berbuat sesuatu. Merupakan Perjanjian ikutan (Assesoir) 97 Perjanjian fidusia merupakan perjanjian yang lahir dan tidak terpisahkan dari perjanjian kredit bank. 97 Surat Edaran BRI Tahun 2004. hal. . 4. Sifat ketergantungan terhadap perjanjian pokok b.96 Asas-asas Fidusia yang dimuat dalam surat edaran BRI tahun 2004 tertulis bahwa perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir. hal. Sebagai suatu perjanjian assesoir. cit. op.

85 maupun yang dibuat di bawah tangan. Hal ini erat kaitannya dengan asas hukum yang paling urgen yang mendasari sistem hukum perjanjian yakni asas yang menentukan lahirnya perjanjian, asas yang berkenaan dengan isi perjanjian dan asas yang berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian. Perjanjian jaminan fidusia selalu dan harus dibuat secara tertulis, oleh karena itu terdapat bermacam-macam model perjanjian jaminan fidusia sesuai dengan keinginan masing-masing bank. Dan setiap bank mempunyai karakteristik tersendiri baik dari segi bentuk maupun dari segi isi perjanjiannya. Hal ini didasarkan kepada asas kebebasan berkontra yang dianut dalam hukum perjanjian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perjanjian jaminan fidusia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian kredit sebagai perjanjian induknya. Dalam perjanjian kredit telah ditentukan hal-hal yang telah disepakati oleh debitur dan kreditur, antara lain debitur memberikan jaminan fidusia. Kesepakatan tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak. Apabila debitur wanprestasi, kreditur dapat melaksanakan haknya sesuai dengan isi perjanjian. Setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999, bentuk perjanjian fidusia secara tegas dinyatakan harus dibuat dengan akta notaris.98 Alasan pembentuk undang-undang menetapkan akta notaris adalah bahwa akta notaris merupakan akta otentik sehingga memiliki kekuatan pembuktian sempurna. Namun menurut Sutan Remy Sjahdeini: tidak jelas alasan harus dibuatnya pembebanan benda dengan jaminan fidusia secara notaril, mengingat selama ini perjanjian fidusia cukup dibuat dengan akta di bawah tangan”.99
98 Lihat Pasal 5 ayat 1 UU No. 42 Tahun 1999. 99 Sutan Remy Sjahdeini, Komentar Pasal Demi Pasal UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan

86 Keharusan tersebut dihubungkan dengan kewajiban selanjutnya berupa pendaftaran di Kantor Pendaftaran Fidusia, tentunya juga masih dipertanyakan kemanfaatan pembebanan benda dengan jaminan fidusia secara notaril tersebut dibandingkan dengan pembebanan di bawah tangan, secara ekonomis pembebanan secara notariil akan sangat memberatkan para debitur, terutama debitur pengusaha lemah. Meskipun biaya pembuatan akta telah diatur dengan Peraturan Pemerintah, namun karena tidak ada pilihan lain kecuali memakai jasa notaris yang izin prakteknya di daerah yang bersangkutan, notaris dapat secara sewenang-wenang untuk menetapkan biaya pembuatan akta.100 Lagi pula catatan pada notaris yang berkenaan dengan lahirnya pembebanan fidusia tidak dapat diakses oleh publik. Berbeda dengan catatan pada kantor registrasi yang dinyatakan pada Pasal 18 UU No. 42 Tahun 1999 sebagai terbuka untuk umum yang pada kelanjutannya tidak dapat dimanfaatkan sama sekali oleh publik untuk mengetahui status pembebanan jaminan atas suatu barang. Masih banyak hal-hal yang perlu dikaji lebih jauh sehubungan dengan berlakunya UU No. 42 Tahun 1999, jaminan fidusia ini dapat menjadi amat berguna bagi ekonomi nasional secara makro. Oleh karena itu, perlu kiranya ada suatu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait, seperti Menteri Kehakiman dan HAM dalam menjalankan administrasi kantor registrasi fidusia. Juga Mahkamah Agung agar memiliki persepsi yang sama atas visi dan misi UndangUndang fidusia ini, sehingga fidusia sebagai suatu instrumen jaminan yang diterima secara luas. Apabila perjanjian jaminan fidusia itu dibuat dibawah tangan maka kreditur tidak memperoleh hak untuk didahulukan (preferen) dan juga tidak dilindungi dengan asas droit de suite. Penegasan bentuk perjanjian jaminan fidusia dengan aka notaris harus diartikan bersifat fakultatif (tidak memaksa) sebab Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menyebutkan sanksi apabila tidak dibuat
Fidusia, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 10, 2000, hal. 43. 100 Ibid.

87 dengan akta notaris dan tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia tetapi kreditur hanya tidak akan mendapatkan haknya sebagai kreditur yang pereferen dan tidak dapat dilindungi dengan asas droit de suite. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat masih banyak perjanjian jaminan fidusia yang tidak dibuat dengan akta notaris dan tidak didaftarkan, perbuatan dari lembaga pembiayaan bisnis tersebut tidak sesuai dengan tujuan Undang-Undang Jaminan fidusia artinya Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku terhadap setiap perjanjian yang membebani benda dengan jaminan fidusia. Oleh karena itu perjanjian yang dimaksud dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia bukan hanya berlaku terhadap perjanjian jaminan fidusia di lingkungan perbankan saja, tetapi juga meliputi perjanjian kredit di lingkungan lembaga pembiayaan bisnis lainnya yang membuat perjanjian jaminan fidusia. Secara tegas tidak dijelaskan dalam penjelasan umumnya maupun dalam penjelasan pasalnya bahwa Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku bagi lembaga pembiayaan bisnis bukan bank tetapi dari kata-kata “setiap perjanjian” yang tercantum dalam pasal 2 Undang- Undang Jaminan Fidusia dapat ditafsirkan bahwa Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku juga bagi lembaga pembiayaan bisnis bukan bank. Penafsiran yang membawa makna dubius dapat diselesaikan dengan pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem, Pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah “Undang-Undang ini berlaku terhadap setiap perjanjian yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia.” Harus diartikan sebagai elemen yang mempunyai makna penting dalam kaitannnya dengan pasalpasal lain dari Undang-Undang Jaminan Fidusia secara keseluruhan. Pasal 2

pengalihan hak hanya secara constitutum prossesorium. Keuntungan ini dilihat dari adanya penguasaan terhadap benda jaminan sehingga usaha tetap berjalan dan pinjaman kredit dapat dikembalikan dengan lancar. Tetapi penyerahan hak milik atas benda jaminan fidusia tidaklah sempurna seperti pengalihan hak milik dalam jual beli. merupakan pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Dapat disimpulkan dengan penelitian ini bahwa sifat perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir dan bukan perjanjian yang berdiri sendiri. Jaminan fidusia adalah jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif. Jika seorang debitur menyerahkan harta benda sebagai jaminan kepada krediturnya berarti sebagian kekuasaan atas kemilikan benda itu beralih kepada kreditur. Fiducia Eigendom Overdracht (FEO). artinya secara yuridis hanya hak kepemilikannya yang dialihkan sedangkan barangnya berada dalam kekuasaan pemberi fidusia. 6. yang memberikan keuntungan secara ekonomis kepada pelaku usaha bisnis jika dibandingkan dengan lembaga jaminan gadai. untuk selanjutnya disebut fidusia. . Perubahan Status Yuridis Atas Kemilikan Benda Jaminan Fidusia Pengertian kemilikan benda dalam hukum jaminan memiliki makna yang luas mencakup hak milik atas benda dan hak penguasaan atas benda.88 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersebut mempunyai makna yang penting jika dikaitkan dengan perbuatan hukum yang berkaitan dengan pembebanan benda sebagai jaminan fidusia.

101 Hal ini sejalan dengan surat edaran BRI tahun 2004. Dan Notaris L tanggal 26 Desember 2006 di Padangsidimpuan.89 Pengalihan hak dalam perjanjian jaminan fidusia masih bergantung pada satu syarat yaitu apabila pemberi fidusia melakukan wanprestasi. Penyerahan yuridis yang sudah terjadi. 103 Wawancara dengan Notaris M tanggal 19 Desember 2006 di Padangsidimpuan. Pemberi jaminan fidusia bukan pemilik benda secara yuridis tetapi sebagai pemilik manfaat. 101 Munir Fuady. 42 Tahun 1999. Pemberi jaminan fidusia sejak ditandatangi akta perjanjian fidusia berubah kedudukannya sebagai peminjam pakai atau peminjam pengganti dan bukan lagi sebagai pemilik benda. Sebaliknya dalam hal yang kedua pihak debitur pemberi jaminan fidusia tetap merupakan pemilik benda jaminan yang memanfaatkan barang tersebut sedangkan kreditur penerima jaminan fidusia hanya menerima penyerahan benda sebagai jaminan utang dalam arti yuridis. namun obyek jaminan tersebut tetap berada pada dan dalam kekuasaan pemberi fidusia selaku peminjam pakai. cit. Dalam praktek perkreditan dengan jaminan terdapat dua gejala hukum yang masih meragukan yaitu: 1. bahwa pembebanan jaminan fidusia menyebabkan obyek jaminan fidusia menjadi milik penerima fidusia/bank. cit.103 Dalam hal yang pertama. Ini berarti kreditur penerima fidusia belum sepenuhnya sebagai pemilik benda.102 2. hak miliknya terbatas sebagai pemilik jaminan. . pengalihan hak milik atas benda jaminan fidusia membawa akibat hukum bahwa debitur pemberi jaminan fidusia semula sebagai pemilik kemudian berubah sebagai peminjam pakai. loc. 102 Surat Edaran BRI Tahun 2004. Kaitannya dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia No. log.

menyebabkan suatu perikatan belum lagi mempunyai daya kerja perikatan atau pemenuhan perikatan belum dapat dilaksanakan. atau memindahkan perjanjian ini. Si Pemberi fidusia dengan ini memberikan kuasa yang tidak dapat ditarik kembali kepada bank untuk bertindak dan untuk menandatangani setiap dokumen atau surat atas nama si peminjam. yang memperpanjang. tanpa pembatasan setiap dokumen. Lahirnya benda kemilikan bagi kreditur penerima jaminan fidusia adalah pada saat dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia. Dilihat dari aspek hukum perikatan. mengubah. Dengan karakter kebendaan. Dalam pelaksanaan jaminan secara fidusia setelah jaminan fidusia lahir secara hukum/setelah dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut: si peminjam harus mengizinkan bank untuk melakukan setiap perbuatan yang diwajibkan oleh bank dari waktu ke waktu guna melaksanakan hak-hak bank di bawah perjanjian. Seandainya si peminjam tidak dapat membayar kepada bank suatu jumlah . status kreditur penerima jaminan fidusia hanya sebagai pemilik benda jaminan. Jadi dengan syarat menangguhkan ini. Si peminjam akan segera menyerahkan kepada bank segala surat-surat serta dokumen yang dianggap perlu oleh bank untuk memperoleh manfaat juga hak-hak serta kuasa-kuasa penuh dari perjanjian. mengganti. hak kreditur sebagai pemilik benda jaminan baru muncul apabila dipenuhinya syarat tangguh yang tercantum dalam Pasal 1263 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.90 perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian kebendaan yang murni dan diatur secara tersendiri dalam undang-undang sebagai bagian dari sistem hukum jaminan kebendaan.

bank atau wakilnya berhak menentukan jumlah. bahwa jumlah tersebut adalah kurang dari jumlah yang ditentukan semula oleh bank atau wakilnya. dengan harga yang dianggap paling baik oleh bank. termasuk penguasaan kembali. Setiap pembayaran atau pelepasan lainnya dapat dilakukan pada setiap waktu dan tempat. tetapi bank tidak bertanggung jawab kepada si peminjam atas ganti kerugian atau bunga dalam peristiwa tersebut. untuk memperoleh selisihnya dari bank. maka si peminjam memberikan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada bank atau wakilnya apabila untuk . bebas dari setiap tuntutan atau setiap jenis hak dari si peminjam. hak-hak itu semuanya dengan ini dilepaskan oleh si peminjam. dengan atau tanpa iklan atau pemberitahuan mengenai waktu dan tempatnya. bank dapat menjual atau melepaskan dengan cara lain barang-barang agunan atau sesuatu bagian dari barang-barang itu. pembayarannya pada waktu itu dan harus dibayar oleh si peminjam kepada bank berdasarkan buku-buku serta catatan-catatan bank. tidak akan perlu bagi bank untuk membuktikan jumlah. maka tanpa tuntutan untuk membayar atau pemberitahuan untuk memperoleh keputusan. Dalam melaksanakan setiap hak penjualan di bawah perjanjian ini. perintah atau kuasa dari suatu pengadilan. yang pembayarannya jatuh pada waktu itu dan harus dibayar oleh si peminjam kepada bank di bawah dokumendokumen utang atau perjanjian. tetapi tanpa mengurangi hak si peminjam kemudian untuk membuktikan. umum atau di bawah tangan. Pembeli barang-barang itu memiliki hak mutlak.91 yang jatuh pembayarannya dan yang wajib dibayar oleh si peminjam di bawah dokumen-dokumen utang dari perjanjian. Apabila perlu bank dapat bertindak atas nama si peminjam selama melaksanakan sesuatu hak di bawah perjanjian.

Oleh karena itu surat kuasa tidak akan dapat ditarik kembali dan tidak akan berakhir karena peristiwa dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang isinya adalah: “Pemberian kuasa berakhir: dengan ditariknya kembali surat kuasanya si kuasa. Kelalaian debitur merupakan bukti adanya wanprestasi. Apabila hasil penjualan barang masih belum mencukupi untuk pembayaran utang.92 melaksanakan hak-hak yang dianggap perlu yang ada hubungannya dengan pelaksanaan hak-hak tersebut. dengan meninggalnya. dengan perkawinannya si perempuan yang memberikan atau menerima kuasa”. Objek Jaminan Fidusia Tidak Dapat Dimilki oleh Bank Dalam hukum jaminan fidusia. pengampuannya. Setiap hasil penjualan akan dipergunakan oleh bank untuk membayar utang si peminjam dan apabila lebih akan dibayar oleh bank kepada si peminjam tetapi tanpa kewajiban pada pihak bank untuk membayar bunga dan kerugian lainnya. . si pemijam harus membayar sisanya kepada bank hingga tanggal pembayarannya. atau pailitnya si pemberi kuasa maupun si kuasa. E. persoalan yang sering menimbulkan masalah yuridis adalah ketika debitur pemberi jaminan fidusia tidak melaksanakan suatu kewajiban yang seharusnya telah diperjanjikan. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi dan Penerima jaminan Fidusia 1. dengan pemberitahuan penghentian kuasanya oleh si kuasa. Tanpa kuasa dokumen-dokumen utang dan perjanjian tidak akan dibuat. Surat kuasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian. Perjanjian akan mengikat bank dapat dilaksanakan oleh bank serta para pengganti dan penerima hak mereka.

II.93 Wanprestasi debitur pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam tiga hal yaitu: 1. 3. Tan Kamelo. III jika masih belum melakukan kewajibannya dapatlah dikatakan telah terjadi wanprestasi pada debitur. otomatis perjalanan akan macet dan tertunda yang akibatnya pendapatan perusahaan akan menurun yang akan berdampak terhadap pembayaran kredit. .105 Menurut Pak Lubis sebagai Supervisor ADK pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum dilayangkan surat teguran I. III pihak BRI sudah mengetahui bahwa pemberi fidusia/debitur mulai goyang dalam arti usahanya tidak stabil. Apabila debitur tidak membayar jumlah utang kepada bank berdasarkan perjanjian kredit sesuai waktu yang telah ditetapkan. III. II. hal.. ini diketahui misalnya jika dia seorang pengusaha yang bergerak dibidang angkutan terjadi misalnya longsor atau banjir. pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk juga belum langsung melakukan eksekusi terhadap barang 104 H. 2. Debitur pemberi fidusia lalai dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar utang kepada bank dan cukup dibuktikan dengan lewatnya waktu yang ditentukan dalam perjanjian tanpa adanya surat teguran dari juru sita. 198. Bagian Marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan pada tanggal 26 Desember 2006. cit. 105 Wawancara dengan Pak Riza. Dalam hal ini pihak Bank BRI akan mengunjungi nasabah secara kekeluargaan dan berusaha untuk mencari solusi dengan berdiskusi dengan pihak nasabah/pemberi fidusia. teguran I.104 Pada praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum mengatakan debitur telah melakukan wanprestasi selalu didahului dengan pembinaan dan kunjungan secara kekeluargaan. Wanprestasi tidak ada diatur sama sekali dalam akta perjanjian jaminan fidusia tetapi cukup diatur dalam perjanjian pokoknya. op. II. Setelah dilayangkan surat teguran I.

apabila debitur melakukan wanprestasi adalah sah. wanprestasi menimbulkan akibat hukum bagi kreditur penerima fidusia yaitu melahirkan hak untuk melakukan eksekusi terhadap barang jaminan. Secara yuridis perlakuan kreditur untuk melakukan eksekusi. . hal ini terkait dengan hal-hal yang telah disepakati oleh para pihak pada awal perjanjian dan dinyatakan dalam substansi perjanjian harus dilaksanakan dan mengikat bagi para pihak sebagai undang-udang. Dengan fakta yuridis tersebut.94 agunan tapi masih memberikan tenggang waktu 60 hari lagi untuk melakukan pembinaan/restrukturisasi/penyelesaian jika upaya ini juga tidak memberikan hasil maka PT Bank BRI (Persero) Tbk akan menetapkan debitur pemberi fidusia telah melakukan wanprestasi.106 Dalam penelitian yang dilakukan pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak ditemukan kasus jaminan fidusia yang sampai ke pengadilan yang disebabkan oleh debitur melakukan wanprestasi (mungkin ini menyangkut rahasia bank) tetapi dapat dianalisa dari pengikatan agunan PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam surat edaran tahun 2004 menegaskan bahwa bila suatu saat debitur melakukan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsididmpuan telah melakukan antisipasi. yaitu dengan menyatakan hak untuk menjual langsung benda jaminan fidusia yang dijumpai dalam asas-asas jaminan fidusia yang menjadi landasan operasional PT Bank BRI (Persero) Tbk 106 Lihat Pasal 1320 jo 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Tetapi dalam praktek bank selalu menguasai benda jaminan kalau debiturnya macet. padahal secara normatif hal ini tidak dibenarkan oleh undang-undang. Tapi bukan berarti memberikan hak kepada kreditur untuk langsung dapat memiliki benda jaminan.

68 Padangsidimpuan.PSP. Pemerintah RI. Berdasarkan suatu persetujuan dengan Viktor Harahap seorang partikulir yang tinggal di Jl.000.13/PDT. Bahwa penggugat I dan II dalah suami isteri dan mempunyai harta bersama sebidang tanah hak milik dengan sertifikat hak milik No. 42 Tahun 1992.95 cabang Padangsidimpuan. Dan ini biasanya model perjanjian dilakukan dibawah tangan sebab kreditur tidak mendapatkkan hak preferen yang dijanjikan oleh Undang-Undang No. BRI Cabang Padangsidimpuan (tergugat IV). Bahwa tanah hak milik penggugat I dan II dengan sertifikat hak milik no. Dalam perkara antara Tuan Hakim Pandapotan. . Menurut Keterangan dari Notaris L ada juga bank yang melakukan antisipasi apabila debitur melakukan wanprestasi dengan terlebih dahulu meminta tanda tangan dalam sebuah kwitansi. 107 Hasil wawancara dengan Notaris L. Cq. Ny.G/1992/PN.000. 1 tanggal 14 Mei 1974 seluas 14. 31 Tahun 1982 beserta bangunan rumah toko di atasnya yang terletak di jalan Thamrin No.Cq. Mesjid Raya Baru No.(tiga puluh lima juta) dengan agunan tanah hak milik Viktor Harahap dengan sertifikat hak milik No.107 Dalam penelitian yang dilakukan di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan ditemukan kasus dengan register No. Cq. Kantor Lelang Negara (tergugat II). Sioe Pie Tju sebagai penggugat melawan Tn Matheuis Sahertiam (tergugat I). 489/Des/Psp Timur/1987 Tanggal 17 Desember 1987 dengan tergugat IV yaitu Bank Rakyat Indonesia Cabang Padangsidimpuan sebesar Rp 35.000 m2 terletak di Desa Batunadua Jae Kec. Padangsidimpuan. Menteri Keuangan RI di Jakarta. Panitia Urusan Piutang negara Cabang Medan (tergugat III). pada tanggal 9 Desember 2006. BRI Pusat Jakarta. 19 Padangsidimpuan melakukan bersama ikatan akta credit Verband No.

(empat juta sembilan puluh ribu sembilan ratus sepuluh rupiah) sebagai angsuran utang kepada tergugat IV oleh karena itu tidak pantas tergugat III dan .Psp. Terutama menyangkut sertifikat hak milik No.000. Berdasarkan fakta di atas penggugat I dan II mengajukan gugatan ini karena tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan merugikan para penggugat.96 31 tahun 1982 tidak diikutsertakan sebagai agunan pada akte kredit verband tertanggal 17 Desember 1987 tersebut. Pengadilan negeri Padangsidimpuan telah memperingatkan para penggugat untuk mengosongkan tanah dan rumah toko kepunyaan para penggugat yang terletak di Jalam Thamrin No. Karena Viktor Harahap tidak membayar credit beserta bunganya kepada tergugat IV. 31 tahun 1982 beserta rumah toko di atasnya adalah harta para penggugat yang tidak turut diagunkan kepada tergugat IV ternyata telah turut dilelang oleh tergugat II dan III dan tergugat I sebagai pembeli lelang pada tanggal 16 Januari 1992 No. 4. maka atas permintaan tergugat IV. maka tergugat II dan Tergugat III melakukan pelelangan atas barang agunan tanah hak milik sertifikat No. 3/PdtEks/1992/PN. Ditambah lagi pada tanggal 25 Februari 1992 dengan surat No. 1 Tahun 1974 bersama tanah hak milik sertifikat no. yang seharusnya benda-benda bergerak milik debitur yang lain terlebih dahulu diekekusi seperti benda bergerak yang dijadikan sebagai jaminan tambahan dalam bentuk fidusia yaitu berupa barang dagangan yang dinilai pada penelitian terahir sejumlah Rp 8.31 tahun 1982 beserta bangunan rumah toko di atasnya. 35/1991-1992. 68 Padangsidimpuan.090. Seharusnya bank tidak meletakkan sita jaminan terhadap barang miliknya yang lain sebab tidak disebutkan dalam substansi perjanjian pokok. Selain alasan yang dikemukakan di atas Penggugat I pada tanggal 14 Januari 1992 juga telah membayar kepada tergugat III uang sebesar Rp.910.625.

ternyata hanya dengan harga lelang sebesar Rp. Dengan alasan keberatan antara lain adalah debitur/penggugat memohon pembatalan lelang eksekusi atas tanah dengan sertifikat No. 1 Tahun 1974 tersebut dan mengangkat sita jaminan terhadap harta debitur yang tidak disebutkan dalam perjanjian pokok berupa tanah dan rumah toko dengan sertifikat No. 30. 31 Tahun 1982.(tiga puluh juta rupiah) dengan demikian oleh para penggugat tindakan para tergugat-tergugat adalah tindakan sekongkol yang dengan sengaja handak merugikan para penggugat oleh karena itu para penggugat cukup punya alasan untuk menggugat dan memohon pembatalan lelang eksekusi atas tanah dengan sertifikat No. 1 Tahun 1974 tersebut adalah tidak sah dan melawan hukum serta membatalkan jual beli lelang tersebut. berdasarkan hukum yang berlaku. 1 Tahun 1974 atas nama Viktor Harahap yang berlangsung pada tanggal 16 Januari 1992 No. (tiga juta rupiah) padahal dengan harga sedikit dibawah harga pasaran yang berlaku pada saat itu. 68 dengan sertifikat hak milik No. Pengadilan Negeri Padangsidimpuan telah memutuskan bahwa lelang terhadap agunan dengan sertifikat tanah No. Dan juga menyatakan sita jaminan yang telah dilaksanakan oleh Jurusita Pengadilan Negeri . 1 Tahun 1974 karena jelas bertentangan dengan kepatutan. 31 Tahun 1982. 35/1991-1992 oleh tergugat-tergugat. 3000000. tanah tersebut dapat dijual dengan nilai sebesar Rp.0000. Thamrin No.000. Demikian juga dengan lelang terhadap tanah dengan sertifikat hak milik No.97 tergugat IV melakukan secara sepihak lelang eksekusi atas tanah dan rumah toko yang berada di atasnya di Jl. Debitur mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Padangsidimpuan. keadilan.

Dalam kasus di atas BRI cabang Padangsidimpuan tidak bertindak langsung sebagai pemilik agunan.108 2. pengurangan kualitas atau nilai dan kerusakan barang-barang yang dijadikan objek jaminan fidusia. selanjutnya BRI melakukan kasasi ke Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung juga mengukuhkan keputusan Pengadilan Tinggi Medan. pada pokonya ditentukan bahwa debitur pemberi fidusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas keadaan dari setiap kehilangan. di sini hakim mengukuhkan keputusan Pengadilan negeri Padangsidimpuan. kemunduran. . walaupun dalam klausul perjanjian telah diatur tentang substansi perjanjian jika bertentangan dengan kepatutan dan keadilan. debitur dapat melakukan gugatan perdata ke pengadilan/meminta pembatalan kepada hakim. kemusnahan. Terjadinya Overmacht Terhadap Objek Jaminan Fidusia Dalam perjanjian jaminan fidusia. Oleh karena itu debitur pemberi fidusia harus melakukan pemeliharaan agar benda 108 Materi Kuliah Hukum Bisnis Bu Yulfasni pada Tanggal 4 Januari 2007. tetapi masih melalui proses lelang secara umum terhadap agunan tetapi nilai penjualannya tidak sesuai dengan harga pasaran pada saat itu. hingga mengakibatkan debitur merasa dirugikan. 13/Pdt. 31 Tahun 1982 yaitu sita tanggal 25 April 1992 No. Dapat disimpulkan bahwa hakim memutuskan batal terhadap lelang tersebut adalah disebabkan harga barang agunan jauh dibawah harga pasaran.Psp. Dalam kasus ini jaminan fidusia (jaminan tambahan) yang diletakkan atas barangbarang dagangan tidak diproses seharusnya kreditur lebih dahulu mengambil pelunasan dari barang-barang bergerak milik debitur. tidak berharga dan diangkat.98 Padangsidimpuan atas tanah dan rumah toko yang ada di atasnya dengan sertifikat hak milik No.G/1992/PN. kehancuran. BRI sebagai pihak yang kalah dalam perkara ini mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan.

kebakaran dan lain-lain. kerugian dan bunga. dan hilangnya benda jaminan diluar kekuasaan debitur ?. dan debitur fidusia tidak dapat melunasi utangnya. Bagaiman jika terjadi keadaan memaksa artinya rusak.99 jaminan fidusia dalam keadaan baik. Keadaan memaksa adalah suatu keadaan dimana debitur tidak dapat melakukan prestasinya kepada kreditur. Apabila agunan jaminan fidusia dalam keadaan rusak. musnah. Pertanggungjawaban utang tersebut adalah dengan meletakkan sita jaminan atas barang/benda yang menjadi agunan yang kemudian akan dijual menurut ketentuan hukum jaminan. Ketentuan tentang overmacht (keadaan memaksa) diatur dalam pasal 1244 dan 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. penyitaan benda jaminan. bila tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan . Dan realisasi ini terjadi apabila debitur melakukan wanprestasi yaitu tidak melakukan kewajiban membayar utang. Debitur pemberi fidusia wajib mengganti benda jaminan fidusia apabila benda tersebut rusak atau hilang atau tidak dapat lagi dipakai. yang disebabkan adanya kejadian yang berada di luar kekuasaannya. Kelalaian atas kewajiban merawat benda jaminan fidusia adalah tanggung jawab debitur fidusia. banjir. atas permintaan kreditur fidusia tidak harus menunggu memperbaiki benda tersebut seperti dalam keadaan semula seperti pada saat debitur fidusia menyerahkan benda jaminan itu. Kreditur penerima fidusia memiliki hak atas benda jaminan fidusia dalam kaitannya dengan penjaminan utang debitur. seperti karena adanya gempa bumi. Pasal 1244 Kitab UndangUndang Hukum Perdata isinya adalah :”Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya. lahar.

Keadaan memaksa ini dibagi menjadi dua macam. kerugian. atau menggunakan kekuatan jiwa yang berada di luar kemampuan manusia. atau melakukan sesuatu perbuatan yang terhalang olehnya”.” Pasal 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata isinya adalah: ”Tidak ada penggantian biaya. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa keadaan memaksa absolut. yang tidak seimbang.100 perikatan itu disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga. Dari isi Pasal 1244 dan Pasal 1245 dapat dipahami bahwa undang-undang memberikan kelonggaran kepada debitur untuk tidak mengganti biaya. kebakaran dan adanya lahar. banjir bandang. bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang tejadi karena kebetulan. debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. oleh karena adanya gempa bumi. dan bunga. debitur tidak diwajibkan untuk mengganti biaya kerugian dan bunga sedangkan keadaan memaksa relatif debitur . Keadaan memaksa absolut b. atau kemungkinan tertimpa bahaya kerugian yang sangat besar. yang tak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. yaitu: a. Keadaan memaksa relatif adalah suatu keadaan yang menyebabkan debitur masih mungkin untuk melaksanakan prestasinya. tetapi keadaan memaksa itu harus dapat dibuktikan oleh debitur. Keadaan memaksa relatif Keadaan memaksa absolut adalah suatu keadaan dimana debitur sama sekali tidak dapat memenuhi utangnya kepada kreditur. kerugian dan bunga kepada kreditur oleh karena keadaan memaksa diluar kekuasaan debitur. walaupun tidak ada itikad buruk padanya. tetapi pelaksanaan prestasi itu haru dilakukan dengan memberikan korban yang besar.

101 masih dimungkinkan untuk melakukan prestasinya meskipun dengan menunda waktu pembayaran. Dalam Praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk mengatur tentang overmacht ini dalam Surat Edaran BRI yang isinya adalah hapusnya jaminan fidusia karena hapusnya hutang, pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia dan musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Maksud kalimat di atas bila dianalisa dengan cermat dapat dipahami bahwa apabila benda agunan musnah di luar kekuatan manusia maka jaminan fidusia dianggap hapus. Tetapi Menurut keterangan Pak Lubis sebagai kepala bagian admistrasi kredit, menyatakan bahwa: objek jaminan fidusia yang musnah itu telah diasuransikan (pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk selalu mewajibkan pemberi fidusia untuk mengasuransikan barang-barang agunan Pasal 3 bagian e dalam perjanjian hak milik atas kepercayaan/fidusia barang menurut format PT Bank BRI (Persero) Tbk terlebih dahulu dan musnahnya disebabkan oleh faktor yang sama dengan jenis asuransi yang dipilih oleh pemberi fidusia berdasarkan kesepakatan dengan PT Bank BRI (Persero) Tbk, misalnya asuransi kebakaran untuk kenderaan bermotor maka apabila terjadi kebakaran maka pemberi fidusia tidak berkewajiban lagi untuk membayar ganti rugi. Dan akan dikurangkan dengan jumlah utang yang dinilai sesuai dengan penjaminan yang telah diperjanjikan dengan pihak bank sejak awal atas kenderaan tersebut, apabila ternyata uang pengganti dari perusahaan asuransi tersebut tidak mencukupi

pemberi fidusia wajib membayar sisanya, dan bila lebih kreditur akan mengembalikan kepada pemberi fidusia dengan tidak ada kewajiban untuk membayar bunga atau ganti kerugian berupa apapun. Konsekuensinya apabila musnahnya barang tidak sesuai dengan jenis

102 asuransi yang dipilih, pemberi fidusia tetap harus mengganti sesuai dengan kewajiban pemberi fidusia seperti telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian berdasarkan kepercayaan yang dibuat oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk: • Mengganti dengan barang-barang yang sama atau sekurangkurangnya sama nilainya apabila barang-barang dimaksud rusak atau tidak dapat dipergunakan sama sekali.109 3. Proses Eksekusi Jaminan Fidusia Salah satu ciri dari jaminan utang kebendaan yang baik adalah jika hak tanggungan itu dapat dieksekusi secara cepat dengan proses yang sangat sederhana, efisien dan memberikan kepastian hukum. Seperti di Amerika, kreditur boleh mengambil sendiri barang agunan tetapi dengan syarat dapat menghindari perkelahian. Jaminan fidusia juga memiliki unsur cepat, murah dan pasti yang diatur dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Tetapi sebelum keluarnya UU No. 42 Tahun 1999 ketentuan tentang proses eksekusi ini sangat tidak jelas. Sehingga banyak kalangan yang menafsirkan bahwa proses eksekusi ini harus melalui gugatan biasa lewat pengadilan yang panjang, mahal dan memakan waktu yang sangat lama. Dalam Undang-Undang Rumah Susun No 16 tahun 1985 diatur dengan eksekusi di bawah tangan, tetapi ini hanya berlaku terhadap objek bangunan atas rumah susun. Undang-Undang Jaminan Fidusia mengambil pola eksekusi hak

tanggungan yang mengatur eksekusi fidusia secara bervariasi, sehingga para pihak dapat memilih model eksekusi yang diinginkan. Model-model eksekusi jaminan

109 Pasal 3 bagian c Akta Perjnjian Penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan (Fiducia Barang No. 132 Format PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan.

103 fidusia menurut Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999 adaalah sebagai berikut: A. Secara fiat eksekusi (dengan memakai titel eksekutorial), yakni lewat suatu penetapan pengadilan. B. Secara parate eksekusi, yakni dengan menjual (tanpa perlu penetapan pengadilan) di depan pelelangan umum. C. Dijual di bawah tangan oleh pihak kreditur sendiri D. Lewat gugatan biasa (meskipun tidak secara tegas diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999) 1. Eksekusi Fidusia Dengan Titel Eksekutorial Dalam proses pengikatan jaminan fidusia dinyatakan bahwa jaminan fidusia harus dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia untuk mendapatkan kepastian hukum bagi kreditur. Dalam akta fidusia yang dibuat oleh notaris ini selalu terdapat irah-irah yang berbunyi “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” irah-irah inilah yang memberikan titel eksekutorial, yakni titel yang mensejajarkan kekuatan akta tersebut dengan putusan pengadilan. Dengan demikian akta tersebut dapat langsung dieksekusi (tanpa perlu lagi suatu putusan pengadilan). Dengan demikian fiat eksekusi adalah seperti mengeksekusi suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan pasti. Yakni dengan cara meminta “fiat” dari ketua pengadilan yaitu memohon penetapan dari ketua pengadilan untuk melakukan eksekusi dan ketua pengadilan yang akan memimpin eksekusi. Menurut Hakim afandi kreditur yang minta penetapan pengadilan ini tidak

dan hasil pelelangan tersebut diambil untuk melunasi pembayaran piutang debitur. 42 tahun 1999 sebab para pihak kreditur dan debitur telah mempunyai opsi eksekusi yang jelas diakui sah secara hukum yang prosesnya jauh lebih cepat. • Diumumkan dalam sedikit-dikitnya dalam dua surat kabar .42 Tahun 1999 Pasal 29 yang isinya adalah: • Dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pemberi dan penerima fidusia.104 pernah terjadi lagi setelah keluarnya UU No. dengan memenuhi syarat yang telah diatur dalam UU No. Eksekusi Fidusia Secara Parate Eksekusi Dengan Penjualan di Bawah Tangan Jaminan fidusia dapat juga dieksekusi secara parate eksekusi (mengeksekusi tanpa lewat pengadilan) dengan cara menjual benda objek fidusia tersebut dibawah tangan. 3. 2. mudah dan praktis serta lebih menguntungkan bagi para pihak. • Diberitahukan secara tertulis oleh pemberi/penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Parate eksekusi ini dapat dilakukan tanpa melibatkan pengadilan yang diatur dalam pasal 29 ayat (1) huruf b yang isinya adalah: ”Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan”. • Jika dengan cara penjualan di bawah tangan tersebut dicapai harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. Eksekusi Fidusia Secara Parate Eksekusi Lewat Pelelangan Umum Eksekusi jaminan fidusia dapat juga dilakukan lewat lembaga pelelangan umum (kantor lelang).

42 Tahun 1999 yang isinya adalah: “Setiap janji yang memberikan kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda yang menjadi jaminan fidusia apabila debitur cidera janji akan batal demi hukum”. artinya agar kreditur melakukan eksekusi yang fair dan transparan sehingga . UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia secara tegas melarang eksekusi secara mendaku ini.Tetapi secara logika bila dianalisa secara mendalam maksud dari pembentuk Undang-Undang No.105 yang beredar di daerah yang bersangkutan. 42 Tahun 1999 ini kurang konsekuen sebab hukum jaminan fidusia dianggap sebagai penyerahan hak milik secara kepercayaan maksudnya benda objek fidusia tersebut sudah berpindah kepemilikannya kepada pihak kreditur. 5. • Pelaksanaan penjualan dilakukan setelah lewat waktu satu bulan sejak diberitahukan secara tertulis. 42 Tahun 1999 dengan larangan eksekusi secara mendaku ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada debitur pemberi fidusia apabila debitur cidera janji. sementara pihak kreditur menyerahkan penguasaan benda tersebut kepada pihak debitur secara kepercayaan. maka benda tersebut sudah menjadi milik pihak kreditur. Jika hendak konsekuen berlakunya sistem penyerahan hak milik secara kepercayaan ini. Ketentuan yang melarang eksekusi secara mendaku menunjukkan bahwa UU No. mestinya larangan eksekusi mendaku ini tidak perlu ada. Diatur dalam Pasal 33 UU No. Eksekusi Fidusia Secara Mendaku Eksekusi fidusia secara mendaku adalah eksekusi fidusia dengan cara mengambil barang fidusia untuk menjadi milik kreditur secara langsung tanpa lewat transaksi apapun.

Dalam praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam hal eksekusi ini Pak Riza memberikan penjelasan sebenarnya belum ada kasus tentang wanprestasi debitur yang berakibat lahirnya hak kreditur untuk melakukan eksekusi setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No.) apalagi eksekusi secara mendaku otomatis kreditur penerima fidusia akan sangat berkuasa. Tujuan model-model eksekusi khusus yang diatur dalam Undang-Undang No. tetapi pada saat ini kalaupun misalnya ada debitur yang melakukan wanprestasi pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan belum . 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia adalah untuk mempermudah dan membantu pihak kreditur menagih utangnya dengan jalan mengeksekusi barang jaminan tersebut. tidak praktis dan sangat tidak efisien. Secara logika model-model eksekusi khusus tidak untuk meniadakan hukum acara yang umum.G/1992/PN. 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dijelaskan model-model eksekusi jaminan fidusia dan di sana tidak disebutkan bahwa pihak kreditur dapat menempuh prosedur eksekusi lewat gugatan biasa ke pengadilan. disebabkan eksekusi fidusia lewat gugatan biasa memakan waktu yang lama dan prosedur yang berbelit-belit.13/PDT.106 debitur tidak merasa dirugikan sebab eksekusi melalui badan pelelangan negara secara umum saja dapat menyebabkan harga barang jaminan sangat tidak seimbang dengan harga pasar (kasus yang diperoleh dari pengadilan negeri Padangsidimpuan Register No. 42 tahun 1999. 6. Eksekusi Fidusia Lewat Gugatan Biasa Dalam Pasal 29 UU No. PSP. tetapi untuk menambah ketentuan yang ada dalam hukum acara umum.

49/Prp/1960. www… hukumonline. 111 Frans Hendra Winarta. 110 Hasil wawancara dengan Pak Riza. yang dibentuk dengan Undang-Undang No. Bagian Marketing Bank BRI Cabang Padangsidimpuan pada tanggal 26 Desember 2006. kredit macet pada bank pemerintah. Contohnya tentang tuduhan korupsi ini adalah heboh kredit macet di BAPINDO diawal tahun 1994. selama ini proses penagihannya dilakukan lewat Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Dalam hal tertentu.com (terakhir dikunjungi pada bulan Februari 2007). 2003.107 dapat berbuat apa-apa karena sedang menunggu peraturan baru yang mengatur tentang eksekusi terhadap agunan bank pemerintah. Sedangkan khusus terhadap kredit macet pada bank-bank pemerintah. Dengan demikian bagi bank milik negara menyelesaikan kredit macetnya harus dilakukan melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No. dimana dengan adanya penyerahan piutang macet kepada badan tersebut secara hukum wewenang penguasaan atas hak tagih dialihkan kepadanya. atau bank swasta yang ada dana pemerintah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. 21 tahun 1991 menentukan bahwa BUPN mempunyai tugas menyelenggarakan pengurusan piutang negara dan lelang baik yang berasal dari penyelenggaraan pelaksanaan tugas PUPN maupun lainnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Tetapi selama ini jika ada kredit macet/debitur yang melakukan wanprestasi penagihannya diserahkan kepada Panitia Urusan Piutang Negara.21 Tahun 1991. .110 Penyelesaian kredit macet pada bank-bank swasta diselesaikan melalui jalur pengadilan. Pasal 2 dari Keppres No. dan Badan Usaha Piutang dan Lelang Negara (BUPLN).111 PUPN bertugas menyelesaikan piutang negara yang telah diserahkan padanya oleh instansi pemerintah atau badan-badan negara. Teknisi Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Pendekatan Hukum.

Realisasi dari ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ini dapat dirujuk kepada hukum jaminan fidusia. secara yuridis. . Secara yuridis jika salah satu syarat sahnya perjanjian tidak dipenuhi menyebabkan perjanjian itu cacat hukum dan dapat dimintakan pembatalan dari hakim. Dan hal ini harus secara tegas dimuat dalam akta jaminan fidusia. prinsip ini akan membawa konsekuensi bahwa apabila debitur pemberi jaminan fidusia bukan orang yang mempunyai kewenangan menguasai terhadap harta benda jaminan fidusia. Jadi yang dimaksud oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah orang yang wenang menguasai dan bukan orang yang wenang bertindak. Biasanya orang tersebut adalah pemilik benda.108 4. Sebab syarat bagi sahnya jaminan fidusia adalah bahwa pemberi fidusia mempunyai hak kepemilikan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia pada waktu menyerahkan jaminan fidusia. sehingga jaminan fidusia hanya dapat diberikan oleh pemilik yang mempunyai kewenangan menguasai benda jaminan fidusia. Jaminan perkreditan selalu keliru dengan istilah berwenang untuk bertindak dan berwenang untuk menguasai. harus diselidiki terlebih dahulu apakah pihak pemberi jaminan fidusia adalah pemilik yang wenang menguasai bendanya atau hanya sebagai pemegang saja. berarti jaminan fidusia yang dilahirkan adalah cacat hukum. Kewenangan Pemberi Fidusia Terhadap Barang Jaminan Kewenangan hukum dalam perjanjian jaminan fidusia sangat perlu. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dianut ajaran bahwa untuk sahnya suatu penyerahan mempunyai syarat antara lain adalah: harus dilakukan oleh orang yang berwenang menguasai bendanya. Oleh karena itu sebelum mengikat perjanjian jaminan fidusia.

112 • 5. bebas dari sitaan dan tidak dalam sengketa. Akta Notaris Model PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan . Hak Preferensi Dari Penerima Fidusia Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Yang dimaksud dengan hak preferensi adalah: “Hak dari kreditur pemegang jaminan tertentu untuk terlebih dahulu diberikan haknya (dibandingkan dengan kreditur lain) atas pelunasan piutangnya yang diambil dari hasil penjualan 112 Dikutip dari Pasal 2 dan 3 Akta Jaminan Fidusia No. secara analogi jaminan fidusia juga mempunyai hak preferen. Menyerahkan kepada pihak kedua semua surat bukti kepemilikan atau surat-surat atas barang-barang dimaksud. 42 Tahun 1999 semakin jelas dan secara eksplisit dinyatakan bahwa jaminan fidusia mempunyai hak preferen. hak preferen hanya diberikan kepada kreditur yang diistimewakan (privilege). 132 tanggal 30 Juni 2006. gadai dan hipotik. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak ada dinyatakan secara tegas bahwa jaminan fidusia memiliki hak preferen tetapi karena jaminan fidusia juga merupakan jaminan kebendaan seperti halnya gadai. Dalam penelitian ini dokumen perjanjian jaminan fidusia yang dibuat sesudah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No 42 Tahun 1999 yang dibuat dengan akta notaris diperoleh gambaran sebagai berikut : • Pihak pemberi fidusia menjamin bahwa barang-barang tersebut adalah miliknya sendiri dan tidak sedang digadaikan atau dijaminkan untuk suatu hutang atau dijaminkan untuk suatu pertanggungan atau dibebani dengan ikatan berupa apapun. Gadai dan hipotik lebih tinggi kedudukannya dari hak privilege kecuali undangundang menentukan sebaliknya. Setelah keluarnya Undang-Undang No.109 Pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam klausul perjanjiannnya memuat dengan tegas bahwa obyek jaminan fidusia benar-benar milik pemberi jaminan fidusia.

cit. 41. op. Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dikatakan bahwa hak preferen disamakan dengan hak didahulukan. Hak preferen bukanlah hak kebendaan melainkan hak terhadap benda dan hak tersebut tidak timbul karena undang-undang tetapi karena diperjanjikan.113 Hak preferen dalam Undang-Undang No. Hak preferensi bagi penerima fidusia diatur dengan tegas di dalam Pasal 27 ayat 1 UU No. dan hak gadai.110 barang jaminan utang tersebut”. 42 Tahun 1999.. Hak preferen ini baru didapatkan oleh pemegang fidusia pada saat didaftarkannya fidusia di Kantor Pendaftaran Fidusia hal ini dijelaskan dalam penjelasan pasal 27 Undang-Undang No. maka hak preferen merupakan sifat yang melekat pada jaminan fidusia. . hipotik. 114 Lihat Penjelasan Pasal 27 UU No. 42 Tahun 1999 ayat (1): Hak yang didahulukan dihitung sejak tanggal pendaftaran benda yang menjadi objek jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia”. 42 Tahun 1999 yaitu: ”Penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur lainnya. Salah satu karakter perjanjian jaminan kebendaan adalah hak preferen. Dengan demikian hak preferen pemegang fidusia tegas dinyatakan dalam Undang-Undang No 42 Tahun 1999 yang memberikan kedudukan yang sama dengan hak tanggungan. hal. Jaminan fidusia adalah salah satu hak jaminan kebendaan. 42 Tahun1999 diatur dalam Pasal 27 ayat 2 yang menjelaskan bahwa: “Hak preferensi adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia”.114 Hak preferen ini dapat dilihat dalam konteks: 113 Munir Fuady.

Tan Kamelo. hal. Berdasarkan Pasal 1133 dan 1134 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. d. hanya bedanya piutang pajak terbit dari undang-undang sedangkan piutang bank adalah piutang yang terbit dari perjanjian jaminan fidusia.111 a.115 Permasalahan yuridis ini dapat dilihat dari kasus yang terungkap dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan dalam Perkara Bank Bumi Daya v Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat dan P. . 115 H. cit. Dalam kasus ini. piutang fiscus merupakan hak privilege yang ditunjuk oleh undang-undang perpajakan untuk didahulukan penagihannya dari piutang jaminan fidusia. 324. Alasan hukum yang diberikan pengadilan adalah bahwa negara mempunyai hak mendahulu atas tagihan pajak di atas segala tagihan lainnya.T Mahogani Indah Industri dan Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat sebagai kreditur atas pajak debitur. b. Bila dianalisa sebenarnya kedua piutang tersebut adalah piutang negara sebab bank tersebut adalah bank pemerintah.T Mahogani Indah Industri No. Hak preferen ini harus dilihat dalam kaitannya dengan kreditur-kreditur lain. Tagihan jaminan fidusia tidak merupakan kekecualian dari hak mendahulu negara atas tagihan pajak. hakim mempermasalahkan dua kreditur yaitu Bank Bumi Daya sebagai kreditur penerima fidusia atas benda jaminan fidusia dari P. Menggambarkan adanya kaitan antara hak dengan objek jaminan fidusia c. Dalam putusannya pengadilan berpendapat bahwa hak preferen atas benda jaminan fidusia diberikan kepada kreditur Kantor Pelayanan Pajak. kecuali atas tagihan ongkos perkara dan hak komisioner.. op. 40/Pdt.Plw/1994 tanggal17 November 1994. Hak preferen lahir pada saat jaminan fidusia didaftarkan. Pelaksanaan hak adalah untuk mengambil pelunasan piutang bukan memiliki objek jaminan fidusia.

jaminan fidusia.117 Berdasarkan Undang-Undang No. Bahkan sekalipun pemberi fidusia dinyatakan pailit atau dilikuidasi. hal. . Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam harta pailit pemberi fidusia.125. 6.. Pengaruh Kepailitan Pemberi Fidusia/Debitur Dan Likuidasi Bank Terhadap Objek Jaminan Fidusia Kreditur penerima fidusia mempunyai hak untuk didahulukan guna mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia. atau hak agunan atas kebendaan lainnya. 117 Lihat Pasal 1 UU Nomor 37 Tahun 2000 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang. dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan. Menurut Undang-Undang No. oleh karena itu harus selalu dilakukan koreksi dan penyempurnaan hukum jaminan ke depan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.112 Dari kasus di atas dapat dipahami bahwa undang-undang jaminan fidusia memang tidak selalu sempurna untuk mengatur semua permasalahan yang timbul.116 Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur Pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. secara eksplisit diatur tentang kreditur pemegang fidusia sebagai kreditur separatis yaitu dalam Pasal 55 ayat (1) yang isinya antara lain adalah: Setiap kreditor pemegang gadai. cit. hipotek. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Pasal 56 ayat (1) dinyatakan bahwa Hak eksekusi kreditur sebagaimana dimaksud dalam 116 Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani. op. Hak untuk mengambil pelunasan ini mendahului dari kreditur lainnya. hak tanggungan.

Penagihan piutang terhadap nasabah/pemberi fidusia dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan dalam perjanjian kreditnya. ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan. Pembubaran dan Likuidasi Bank. Tim likuidasi tidak dapat menjual benda jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia tetap melaksanakan kewajibannya dengan baik. Likuidasi bank adalah tindakan pemberesan berupa penyelesaian seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pembubaran badan hukum bank. 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha.118 Setelah bank dilikuidasi. 40 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas PP No. Hal ini berarti tim likuidasi yang menggantikan kedudukan bank tersebut sebagai pemilik benda jaminan fidusia. Kreditur penerima fidusia tidak perlu kuatir akan kehilangan agunannya apabila debitur pemberi fidusia dinyatakan pailit sebab benda agunan tidak masuk dalam harta pailit si pemberi fidusia dan menurut Undang-Undang kepailitan kreditur penerima fidusia dapat mengeksekusi benda agunan seperti tidak terjadi kepailitan. . dalam kaitannya dengan perjanjian jaminan kredit seperti jaminan fidusia. Kedudukan separatis bank/kreditur jaminan fidusia ini seharusnya diatur dalam undang-undang jaminan fidusia atau dicantumkan dalam akta jaminan fidusia. segala piutang bank terhadap nasabah diambil alih oleh tim likuidasi. Dalam praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk pencantuman kedudukan separatis bank dalam akta jaminan fidusia tidak dijumpai.113 pasal 55 ayat (1) dan hak pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam penguasaan debitur pailit atau curator. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda 118 Pasal 17 ayat (1) PP No.

114 yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji. . Dengan demikian objek jaminan fidusia tidak menjadi bagian harta pailit penerima fidusia oleh karena hak kepemilikan atas objek jaminan fidusia tersebut diperolehnya semata-mata sebagai jaminan. 42 Tahun 1999. Penjelasan Pasal 27 ayat 3 UU No. batal demi hukum. Dapat disimpulkan bahwa dalam Undang-Undang Tentang Kepailitan ditentukan bahwa benda yang menjadi objek jaminan fidusia berada di luar kepailitan dan atau likuidasi.

Pelaksanaan Jaminan secara fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dilakukan melalui penilaian yang 115seksama terhadap watak. agunan dan prospek usaha dari debitur dilanjutkan dengan mengisi daftar reviw dokumen. hingga debitur ditetapkan melakukan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak bertindak sebagai kreditur yang langsung menjadi pemilik barang agunan tetapi bentindak untuk menjual langsung barang agunan baik melalui pelelangan umum dan juga penjualan dibawah tangan untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi. modal. Perlindungan hukum bagi kreditur penerima fidusia cukup terjamin dengan adanya fakta bahwa pelaksanaan jaminan secara fidusia telah dilakukan sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia No. kemampuan. membuat perjanjian membuka kredit dan perjanjian fidusia secara notaril dan mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. 3. 42 Tahun . sebelum dinyatakan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk melakukan usaha-usaha berupa restrukturisasi.115 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Perlindungan bagi pemberi fidusia. 2. pembinaan dan berdialog secara kekeluargaan dalam mencari solusi. Kesimpulan 1.

Saran 1. juga berhak untuk melakukan eksekusi dengan kekuasaan sendiri dan bila timbul gugatan karena kesalahan debitur terhadap penggunaan dan pengalihan benda. Jaminan fidusia ini memiliki kelemahan karena objek yang dijaminkan berada di tangan debitur sehingga debitur yang tidak mempunyai itikad baik dapat melakukan kecurangan dan sulit untuk dipantau. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan mendapat hak preferent. 3. 2. Oleh karena itu perlu dibuat peraturan lapangan pelaksana dapat agar pelaksanaan dengan di baik berjalan sehubungan dengan moralitas dan itikad baik. pemberi fidusia bertanggung jawab penuh. Penerima fidusia sebaiknya memperoleh kepastian dalam undang-undang untuk memberikan suatu tanda pada bukti hak milik . dilindungi dengan asas droit de suite. B. menjadi kreditur separatis apabila debitur pailit.116 1999. Sebaiknya Semua bank baik bank pemerintah maupun swasta melakukan pendaftaran jaminan fidusia sebab jaminan fidusia lahir pada saat perjanjian fidusia tersebut didaftarkan yang akan melahirkan perjanjian dengan karakter kebendaan.

42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia telah berlaku namun masih banyak hal-hal yang perlu dikaji. Undang-Undang No. juga Mahkamah Agung agar memiliki persepsi yang sama atas visi dan misi Undang-Undang fidusia ini. 5. . sebab itu masih perlu suatu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait seperti menteri kehakiman dan hak azasi manusia dalam menjalankan administrasi kantor registrasi fidusia.117 atas objek fidusia bahwa benda tersebut telah dibebani hak jaminan fidusia seperti yang ada pada hak tanggungan. sehingga fidusia sebagai suatu instrumen jaminan yang diterima secara luas. sebab hukum jaminan dapat menjadi amat berguna bagi ekonomi nasional secara makro. Undang-Undang sebaiknya juga memberikan solusi yang lebih praktis apabila pemberi fidusia merasa haknya dirugikan selain melakukan gugatan perdata ke pengadilan hukum untuk yang menciptakan perlindungan seimbang bagi pemberi dan penerima fidusia. 4.

118 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN A......................1 B...13 .... ........................................................................................................ ........................................ Latar Belakang Permasalahan .................................................... Rumusan Permasalahan ................................

...................................................... Pengertian Jaminan ..13 E........... Perjanjian Fidusia ........ Jenis Jaminan ............ Pembebanan Fidusia dan Fidusia Ulang ............................ .............................................................................13 D.... 34 2.......................................................................................................... Metode Penelitian ............ Pengakuan Fidusia dalam Undang-Undang Untuk Kepastian Hukum................. ....................... Jaminan Fidusia sebagai Jaminan Kebendaan merupakan sub sistem hukum jaminan .................................................................. 40 F....................14 F.................................................................................................................................................................................27 D.......................................................... Tujuan Penelitian ........................................................................ 35 3......................29 1...................23 B..........................20 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN DAN JAMINAN FIDUSIA A.......................................... ......... Manfaat Penelitian ........... .......................................................... 47 BAB III PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK BRI CABANG PADANGSIDIMPUAN .............................................................................................................................. Asas-Asas Jaminan Fidusia .119 C.............. ........... Kerangka teoritis dan Konseptual...................................... .............. 37 E............... Pendaftaran Fidusia .......................................................................................24 C..................................... Sifat Perjanjian Jaminan ....................... ................................................................................. ...........

.................63 D........................... .................................... Pendaftaran Jaminan Fidusia ..............56 3.......... 3..... Visi Misi dan Tujuan Perusahaan ......................................... .............................. ..................................................................... Perjanjian Membuka Kredit ......... Bidang Usaha Bank BRI ....... Fungsi Yuridis Jaminan Fidusia Sebagai Pengaman Kredit Bank ................................... Gambaran Umum Jaminan Fidusia yang ada pada Bank BRI Cabang Padangsidimpuan...... 71................................................................................120 A...... ...........................58 C................ Gambaran Umum Kantor Cabang Padangsidimpuan .........................59 2............. Kasus Jaminan Fidusia ke Pengadilan ................................................................. Keadaan Umum Tempat Penelitian ................................................................................... Pelaksanaan Jaminan Secara Fidusia.............. Pengikatan /Pembebanan Jaminan Fidusia ... Organisasi dan Jaringan Kerja Bank BRI ............................................... Objek Jaminan Fidusia ........54 2......................................................... ..................... ...........................................65 2.............................57 B.......................65 1. .........................53 1................ .................................. .................... ................................................................................. .....72 4........................... ........... Perkembangan Usaha Bank BRI .........................56 4.................. ................59 1......... ......

..............................82 6...................................................................................... .................................... Saran ................ Kewenangan Pemberi Fidusia Terhadap Barang Jaminan .......................................... Kesimpulan ................................................................121 ....................................................74 5... .......................... ................... ..............................112 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A...................................... Terjadinya Overmach Terhadap Objek Jaminan Fidusia ...................... ................ Perjanjian Fidusia Merupakan Perjanjian Yang Bersifat Assesoir ... ...102 4..................................................................................... Hak Preferensi Dari Penerima 109 Pemberi Fidusia ...88 E............................... ...92 1.........................................................................................................108 5..........115 B..................................................................................................................92 2................................................................. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi dan Penerima Jaminan Fidusia ............................. 6.. Perubahan Status Yuridis Atas Kemilikan Benda Jaminan Fidusia .................................... ....................98 3................... Proses Eksekusi Barang Jaminan Fidusia ......... Objek Jaminan Fidusia Tidak Dapat Dimiliki Oleh Bank ...................................... .... Pengaruh Kepailitan Fidusia/Debitur dan Likuidasi Bank Terhadap Objek Jaminan Fidusia.................

................................122 ...................116 DAFTAR KEPUSTAKAAN RIWAYAT HIDUP DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMPIRAN Kasus Jaminan Yang Sudah Diputus Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Tahun 1992.. Perjanjian Membuka Kredit Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan Perjanjian Fidusia Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan Sertifikat Fidusia Surat Edaran Bank BRI Tahun 2004 Cabang Padangsidimpuan Surat Kuasa Di Bawah Tangan Untuk Mendaftarkan Perjanjian Fidusia Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan .................................

tetapi pihak debitur enggan menyerahkan kekuasaan atas barang tersebut kepada kreditur. Perlindungan hukum bagi kreditur penerima fidusia adalah dengan adanya fakta bahwa .123 PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK BRI CABANG PASANGSIDIMPUAN (Dermina Dalimunthe. Masalah dalam penelitian ini adalah 1). dan juga hukum dikebanyakan negara-negara Eropa Kontinental. 05211013. modal. Akhirnya. 4 Tahun 1996 Tentang hak Tanggungan). Dalam hal ini barang objek jaminan tidak diserahkan kepada kreditur. 2) Perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia adalah apabila debitur telah dinyatakan melakukan wanprestasi kreditur tidak langsung menjadi pemilik benda agunan tetapi bertindak untuk menjual langsung benda agunan sesuai dengan proses eksekusi yang telah ditetapkan dalam UU No. jika yang menjadi objek jaminan utang adalah benda tidak bergerak. agunan dan prospek usaha dari debitur dilanjutkan dengan mengisi dan memenuhi semua syarat pada reviw dokumen kemudian membuat perjanjian membuka kredit dan perjanjian fidusia secara notaril dan mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. karena itulah dibutuhkan adanya satu bentuk jaminan utang yang objeknya masih tergolong benda bergerak tetapi tanpa menyerahkan kekuasaan atas benda tersebut kepada pihak kreditur. bahkan kerepotan jika barang tersebut diserahkan kepadanya. Dalam hal ini. kemampuan. sementara pihak kreditur tidak mempunyai kepentingan. 2007) ABSTRAK Menurut sistem hukum kita. muncullah bentuk jaminan baru dimana pada awalnya objeknya adalah benda bergerak yang kemudian berkembang kepada benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan. tetapi tetap dalam kekuasaan debitur.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 1) Pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan dilakukan melalui penilaian yang seksama terhadap watak. PPS UNAND. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Akan tetapi terdapat kasus-kasus bahwa barang objek jaminan utang masih tergolong barang bergerak. Bagaimana perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris (socio legal research). jaminan ini dikenal dengan nama jaminan fidusia. yang pada awalnya hanya didasarkan kepada yurisprudensi hingga akhirnya diatur dalam suatu Undang-Undang tersendiri yaitu UU No. 42 Tahun 1999. jika yang menjadi objek jaminan utang adalah benda bergerak. maka jaminan tersebut haruslah berbentuk hipotik (sekarang hak tanggungan dengan keluarnya UU No. maka jaminannya diikat dalam bentuk gadai. tetapi kekuasaan atas benda tersebut tidak beralih dari debitur kepada kreditur. objek gadai tersebut harus diserahkan kepada pihak yang menerima gadai (kreditur). Sebaliknya. Ilmu Hukum.Bagaimana pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan? 2).

J. 2003. Balai Pustaka. Yogyakarta. 1977. Buku Perbankan Indonesia. 1989. Mertokusumo. 1984. W. Sri Soedewi. Raja Grafindo Persada. Metodologi Penelitian Hukum. Bandung. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional. Bina Usaha. New York London. Munir. Citra Aditya Bakti. 1987. Yogyakarta. Bandung. DAFTAR PUSTAKA I. Proyek BPHN. 2002. Mahadi. ______. ____________________________. Bandung. 1988 M. 1988. ______________. Gadai. Citra Aditya Bakti. American Law . Friedmann. Filsafat Hukum Suatu Pengantar. dilindungi dengan asas droit de suite. Bandung. Bandung. Darus Badrulzaman.W Norton & Company.124 perjanjian fidusia pada Bank BRI Cabang Padangsidimpuan dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan di kantor pendaftaran fidusia. Satjipto. 1991. Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perorangan. Poerwadarminto. Penilaian Jaminan Kredit Jakarta. 1981. Alumni. Yogyakarta. Rahardjo. Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya di Indonesia. Bandung. Fuady. Jakarta. Mariam. Mascjoen Sofwan. 1984.S. berkedudukan sebagai kreditur separatis dan memiliki titel eksekutorial. Mengenal Hukum. Bab-Bab Tentang Creditverban. dan Fiducia. Sunggono. Angkasa. Sudikno. Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Jaminan Fidusia. . kreditur mendapatkan hak untuk didahulukan/preferen. Rejeki Agung: Bahsan. Lawrence. 1980. 1986. Liberty. Ilmu Hukum. Hukum dan Masyarakat. ________________________. Bambang. Hukum Jaminan Di Indonesia. M. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Citra Aditya Bakti.W.

Subekti. Soejono. Alumni. 1998. UI-Press. II. UU No. Sinar Grafika. 2. HS. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. Pradya Paramita. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) UU Nomor 37 Tahun 2000 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang. Rajawali. 5. 6. Peraturan Perundang-Undangan 1. 1982. J. 3. 7. _____________. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. Salim. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman UU No. 1987. Jakarta. dan Ahmad Yani. . Jakarta. Sosiologi Hukum dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti. Soekanto. dan Mustafa Abdullah. Jakarta.125 Jakarta: 2003 Satrio. Raja Grafindo Persada. Jaminan Fidusia. Hukum Jaminan. R. 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha. Subekti. 40 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas PP No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Gunawan. 5 Tahun 1960 Tentang UU Pokok Agraria. Hak-Hak Jaminan Kebendaan. 1983. Grafindo Persada. Soejono. Kumpulan kertas Kerja Mariam Darus Badrulzaman (seri I). Perbandingan Hukum Perdata. 1982 . 1991. 9. Fakultas Hukum USU. H. Jakarta. UU No. Bambang Penelitian Hukum Dalam Praktek. UU No. Jakarta. Pengantar Penelitian Hukum. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. 8. PP No. Pembubaran dan Likuidasi Bank. Bandung. Bandung. Alumni. Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia. Waluyo. 2004. Hukum Bisnis Masalah Hukum Perbankan. Jakarta: 2002 Widjaya. Soekanto. 4. Tan Kamelo. UU No. 2000. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia 10. 2004. UU No. Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia. Perkreditan dan Jaminan. PP No. Medan. Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan. Bandung.

Parlindungan. Yayasan Kerjasama Ilmu Hukum Indonesia Belanda. Gravenhage. Teknisi Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Pendekatan Hukum. Keputusan dan Ketidakpastian Peralihan Milik Fidusier. W. Kleyn. Jurnal Hukum Bisnis. www… hukumonline. Jakarta. . IKAHI. Remy Sjahdeini. Mei/Juni 1972. Mangunkusumo. Gautama. Hendra Winarta. 30.com (terakhir dikunjungi pada bulan Februari 2007. 10. Varia Peradilan. Fidusia Bangunan-Bangunan diatas Tanah Hak Sewa. Vol. Seminar Nasional Agraria ke-3: Medan. Pengakuan Fidusia Dalam Perundang-undangan Di Indonesia. 2003. Compendium Hukum Belanda. 3 Tahun III. Konsep Rancangan Undang-Undang Hak Tanggungan dan Gadai.126 III. P. Sutan. 1978. 1988. 2000. Sumardi. Majalah Hukum No. Komentar Pasal Demi Pasal UU No. Frans. A. Jurnal Hasil Penelitian dan Makalah M. Sudargo. Hukum dan Keadilan No. 1990. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.

127 .

BP 05211013 PROGRAM STUDI ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2007 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan .128 PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN TESIS Oleh : DERMINA DALIMUNTHE NO.

3. Dengan kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran untuk kesempurnaan tesis ini. Tesis ini berjudul: PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN Penyelesaian karya ilmiah berupa tesis ini dapat diselesaikan penulis dengan baik walaupun melalui jalan panjang. Pembantu Dekan beserta Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Andalas yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam proses menyelesaikan studi dan tesis ini. 4.129 rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik. Ibu Prof. 2. Bapak Direktur. dengan ridho Allah swt serta dorongan dan bantuan dari semua pihak. Yang mulia dan tercinta suami. Tesis ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Andalas Padang. MH sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Tasman SH. serta anak-anakku (Irvan Arya. CN. Rosihan Arbi dan Suty Suhaimi) yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil kepada penulis mudah-mudahan segala pengorbanan yang telah diberikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Yulia Mirwati SH. Padang. dalam penulisan tesis ini banyak kekurangan dan kelemahan. Ibu dan Bapak Sekretasis Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Andalas. Bapak Dekan. Dr. ibu dan ayah. Namun dengan segala keterbatasan serta ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis. Dalam penyelesaian tesis ini penulis sadar bahwa banyak pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis. untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: 1. MH sebagai anggota Komisi .

amin. Demikian tesis ini penulis hadapkan atas segala bantuan yang diberikan mudah-mudahan menjadi amal sholeh di sisi Allah swt dan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua. amin. Billahitaufiq wal hidayah Alhamdulillah hirobbil alamin Padang. 5. Kepada rekan-rekan seangkatan PPS Universitas Andalas yang telah ikut memberikan motivasi kepada penulis. Semoga bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik moril maupun materil menjadi amal sholeh di sisi Allah swt.130 Pembimbing yang telah banyak membimbing dan meluangkan waktu untuk penulisan ini. dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Juni 2007 Penulis .

1995 : Zubir Dalimunthe : Nurlena Harahap : Jln. 6A RT 11/RW IV Kec. Kuranji Padang 25152 Nama Orang Tua: Ayah Ibu Alamat Jenjang Pendidikan: • • • • Tesis Judul : PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN Pembimbing I Pembimbing II : Prof.1984 SMPN 3 Padangsisimpuan Th 1984. BP Tempat/Tgl Lahir Alamat : DERMINA DALIMUNTHE. Tano Bato Gn. SH : 05211013 : Sihepeng. MH : Tasman SH. Yulia Mirwati SH. Setia Kel. Dr.131 RIWAYAT HIDUP Nama Lengkap NO. Hatta No. MH SD Ngeri 16 Padangsidimpuan Th 1978. M. 28 Mei 1971 : Jln. Batang Ayumi Jae Padangsidimpuan Sumatera Utara Durasi Perkuliahan : 2 Tahun Wisuda : . DR. CN.1987 SMAN 2 Padangsidimpuan Th 1987-1990 Universitas Islam Sumatera Utara Th 1990.

132 Yudicium : PERNYATAAN KEASLIAN TESIS Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya tulis dengan judul PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN adalah hasil kerja atau karya saya sendiri dan bukan jiplakan dari hasil kerja atau karya orang lain. Jika dikemudian hari pernyataan ini ternyata tidak benar. Juni 2007 Yang Membuat Pernyataan Dermina Dalimunthe Bp 05211013 . Padang. maka status kelulusan dan gelar yang saya peroleh menjadi batal dengan sendirinya. kecuali kutipan yang sumbernya dicantumkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful