BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Permasalahan Dalam rangka pembangunan ekonomi Indonesia, bidang hukum yang minta perhatian serius dalam pembinaan di antaranya adalah bidang hukum jaminan.1 Hukum Jaminan memiliki kaitan yang erat dengan bidang hukum benda dan perbankan. Dibidang perbankan kaitan ini terletak pada fungsi perbankan yakni penghimpun dan penyalur dana bagi masyarakat, yang salah satu usahanya adalah memberikan kredit. Kredit merupakan faktor pendukung bagi pembangunan ekonomi. Ini berarti perkreditan mempunyai arti penting dalam berbagai aspek pembangunan, seperti perdagangan, perindustrian, perumahan, transportasi, dan sebagainya.2 Perkreditan memberikan dukungan kepada ekonomi lemah dan para pengusaha dalam mengembangkan usahanya. Bagi perbankan, setiap kredit yang disalurkan kepada pengusaha selalu mengandung resiko. Oleh karena itu, perlu unsur pengamanan, yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam pemberian kredit di samping unsur keseimbangan dan keuntungan. Bentuk pengamanan kredit dalam praktek perbankan dilakukan dengan pengikatan jaminan. Salah satu jenis jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif adalah jaminan fidusia, sebagai lembaga jaminan atas benda bergerak, jaminan fidusia banyak dipergunakan oleh masyarakat bisnis. Pada awalnya fidusia didasarkan kepada yurisprudensi, sekarang jaminan fidusia sudah diatur dalam undang-undang tersendiri.3
1 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Bina Usaha: Yogyakarta, 1980, hal. 1. 2 H. Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Alumni: Bandung, 2004, hal. 1 3 Jaminan Fidusia diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999, sebelumnya diatur dalam UU No. 16 Tahun 1985 dan UU No. 4 Tahun 1992.

1

2 Istilah Fidusia barasal dari bahasa Belanda, yaitu fiducie dan dalam bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of ownership, yang artinya kepercayaan. Dalam berbagai literatur, fidusia lazim disebut dengan istilah Fiduciare eigendom overdract (FEO) yaitu penyerahan hak milik berdasarkan kepercayaan. Dalam Bahasa Belanda disebut juga dengan Zekerheids eigendom artinya hak milik sebagai kepercayaan. Fidusia, menurut asal katanya berasal dari kata “fides” yang berarti kepercayaan. Sesuai dengan arti kata, maka hubungan hukum antara debitur (pemberi fidusia) dan kreditur (penerima fidusia) merupakan hubungan hukum yang berdasarkan kepercayaan. Pemberi fidusia percaya bahwa penerima fidusia mau mengembalikan hak milik barang yang telah diserahkan, setelah dilunasi utangnya. Sebaliknya penerima fidusia percaya bahwa pemberi fidusia tidak akan menyalahgunakan barang jaminan yang berada dalam kekuasaannya. Menurut Mahadi “fidusia” berasal dari bahasa latin yang artinya kepercayaan tehadap seseorang atau sesuatu, pengharapan yang besar. Juga ada kata “fido” yang merupakan kata kerja yang berarti mempercayai seseorang atau sesuatu.4 Subekti menjelaskan arti kata “fiduciair” adalah kepercayaan yang diberikan secara bertimbal balik oleh satu pihak kepada yang lain, bahwa apa yang keluar ditampakkan sebagai pemindahan milik, hanya suatu jaminan saja untuk suatu utang.5 Fidusia adalah suatu istilah yang berasal dari hukum Romawi, yang memiliki dua pengertian yakni sebagai kata kerja dan kata sifat. Sebagai kata benda, istilah fidusia mempunyai arti seorang yang diberi amanah untuk mengurus
4 Mahadi, Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional, Proyek BPHN: 1981, hal. 61. 5 R. Subekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Alumni: Bandung, 1982, hal. 76.

3 kepentingan pihak ketiga dengan itikad baik, penuh ketelitian, bersikap hati-hati dan berterus terang. Orang yang diberi kepercayaan dibebani kewajiban melakukan perbuatan untuk kemanfaatan orang lain. Sebagai kata sifat istilah fidusia menunjukkan pengertian tentang hal yang berhubungan dengan kepercayaan (trust). Di dalam Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dijumpai, pengertian fidusia yaitu: “Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda”. Pengertian pengalihan hak kepemilikan adalah pemindahan hak

kepemilikan dari pemberi fidusia kepada penerima fidusia atas dasar kepercayaan, dengan syarat bahwa benda yang menjadi objeknya tetap berada di tangan pemberi fidusia. Jadi fidusia itu merupakan suatu cara pemindahan hak milik dari (debitur) berdasarkan adanya perjanjian pokok (perjanjian utang piutang) kepada kreditur, tetapi yang diserahkan hanya haknya saja secara yuridis levering dan hanya dimiliki oleh kreditur secara kepercayaan saja (sebagai jaminan utang debitur), barangnya tetap dikuasai oleh debitur. Bentuk rincian dari constitutum Prossesorium (penyerahan kepemilikan benda tanpa penyerahan fisik benda sama sekali), fidusia ini pada prinsipnya dilakukan melalui proses tiga fase yaitu: • “Fase I: Fase perjanjian obligatoir (obligatoir overeenskomst) Yaitu berupa perjanjian pinjam uang dengan jaminan fidusia antara pihak pemberi fidusia dengan pihak penerima fidusia. • Fase II: Fase perjanjian kebendaan (zakelijke overeenskomst) Yaitu perjanjian berupa penyerahan hak milik dari debitur kepada kreditur, dalam hal ini dilakukan dengan penyerahan hak milik tanpa penyerahan fisik benda (constitutum prossessorium).

Heinken Bierbrouwerij Maafschappij tanggal 25 Januari 1929 fidusia telah diakui sebagai lembaga jaminan dengan objek benda berupa inventaris perusahaan.6 Perkembangan fidusia dapat dilihat dari sejak lahirnya fidusia.4 • Fase III: Fase perjanjian pinjam pakai Dalam hal ini benda objek fidusia yang hak miliknya sudah berpindah kepada pihak kreditur dipinjampakaikan kepada pihak debitur. . 5-6. Dengan fiducia cum creditore ini maka kewenangan yang dimiliki oleh kreditur akan lebih besar yaitu sebagai pemilik atas barang yang diserahkan sebagai jaminan. pengakuan fidusia dalam yurisprudensi sampai diaturnya jaminan fidusia dalam undang-undang. hal. dikatakan bahwa debitur akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda kepada kreditur sebagai jaminan atas utangnya dengan kesepakatan bahwa kreditur akan mengalihkan kembali kepemilikan tersebut kepada debitur apabila utangnya sudah dibayar lunas. Debitur tidak akan dapat berbuat apa-apa jika kreditur tidak mau mengembalikan hak milik atas barang yang diserahkan sebagai jaminan. Kekuatannya hanya terbatas pada kepercayaan secara moral saja dan bukan kekuatan hukum yang pasti. Pada putusan Hooge Raad (HR) dalam perkara Aw de Haan V. Fidusia ini adalah lembaga jaminan yang lahir dari hasil penemuan hukum oleh hakim (recthvinding). sehingga praktis benda tersebut. Citra Aditya Bakti: Bandung. Debitur percaya bahwa kreditur tidak akan menyalahgunakan wewenang yang diberikan itu. Pada awalnya. Putusan Hooge Raad tersebut merupakan awal bagi perkembangan hukum fidusia di Belanda. lembaga fidusia dikenal dalam hukum Romawi dengan nama Fidusia Cum Creditore dengan nama lengkapnya adalah Fiducia Cum Creditore Contracta yang berarti janji kepercayaan yang dibuat dengan kreditur. sebagai akibat dari sempitnya pengaturan gadai 6 Munir Fuady. setelah diikat dengan jaminan fidusia tetap saja dikuasai secara fisik oleh pihak debitur”. Jaminan Fidusia. 2003.

kreditur lain. sementara kreditur tidak mempunyai kepentingan bahkan kerepotan jika benda 7 Menurut Pasal 1512 KUHPerdata. Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya di Indonesia. Tidak adanya ketentuan tentang cara penarikan dari piutang-piutang oleh si pemegang gadai.9 Menurut Munir Fuady ada beberapa hal yang mendasari lahirnya jaminan fidusia. 57-58. Tidak adanya ketentuan mengenai bentuk tertentu bagaimana gadai itu harus dilaksanakan.8 Dan Menurut Salim HS gadai mempunyai beberapa hambatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meliputi: 1. yaitu pemegang hak privilege dapat berkedudukan lebih tinggi dari pada pemegang gadai”. Gadai atas surat-surat piutang Kelemahan dalam pelaksanaan gadai atas surat-surat piutang ini karena: 1. 2. Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Raja Grafindo Persada. . 115-116. misalnya mengenai cara pemberitahuan tentang adanya gadai piutang-piutang tersebut kepada si debitur surat utang. hal.7 Menurut Sri Soedewi latar belakang timbulnya jaminan fidusia adalah “Karena ketentuan undang-undang yang mengatur tentang lembaga gadai (pand) mengandung banyak kekurangan. 2. Jakarta: 2004. sebagaimana yang diatur dalam pasal 1152 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Yogyakarta: 1977. antara lain: 1. Dalam Perjanjian Gadai. sebagaimana tampak dalam hal membagi hasil eksekusi. Objek Gadai Harus Berada Dalam Kekuasaan Kreditur. 8 Sri Soedewi Mascjhoen Sofwan. karena pemberi gadai tidak dapat menggunakan benda-benda tersebut untuk keperluannya. Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia.5 (pand) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Adanya asas inbezitstelling Asas ini mensyaratkan bahwa kekuasaan atas bendanya harus pindah/berada pada pemegang gadai. 9 Salim HS. Ketiadaan kepastian berkedudukan sebagai kreditur terkuat. tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat”. Dalam praktek terdapat kasus dimana benda yang menjadi objek jaminan utang adalah tergolong benda bergerak tetapi pihak debitur enggan menyerahkan kekuasaan atas benda tersebut kepada kreditur. 3. Ini merupakan hambatan yang berat bagi gadai atas benda-benda bergerak berujud. hal.

Ada benda-benda yang sebenarnya termasuk benda-benda bergerak tetapi mempunyai sifat-sifat seperti benda tidak bergerak sehingga pengikatannya dengan gadai dirasa tidak cukup.6 tersebut diserahkan kepadanya.. kasus jaminan fidusia untuk pertama kali diputus oleh Mahkamah Agung (MA) dalam perkara Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) v. Karena itu dibutuhkan suatu bentuk jaminan utang yang objeknya benda bergerak tetapi tanpa menyerahkan kekuasaan atas benda itu kepada kreditur. Pengaturan lembaga jaminan fidusia masih didasarkan pada yurisprudensi. 3. op.10 2. . perlu diimbangi dengan adanya ketentuan hukum yang jelas dan lengkap yang mengatur mengenai lembaga jaminan. Adanya hak atas tanah tertentu yang tidak dapat dijaminkan dengan hak tanggungan. Pedro Clignett tanggal 18 Agustus 1932 dengan objek fidusia adalah 10 Munir Fuady. 4. 42 Tahun 1999 tentang Fidusia berdasarkan keadaan sekarang. Perkembangan kepemilikan atas benda-benda tertentu tidak selamanya dapat diikuti oleh perkembangan hukum jaminan. misalnya hak pakai atas tanah. hal. Sehingga hak pakai atas tanah tersebut diikat dengan jaminan fidusia. Karena itu timbul fidusia saham”. Karena itu jaminan fidusia menjadi pilihan. sehingga ada hak-hak atas benda yang sebenarnya tidak bergerak tetapi tidak dapat diikatkan dengan hipotik. Kebutuhan yang sangat besar dan terus mengikat bagi dunia usaha atas tersedianya dana. 3. dalam praktik timbul lembaga baru yaitu fidusia. 5. terutama karena adanya kewajiban menyerahkan kekuasaan dari jaminan tersebut. tetapi benda yang dijaminkan karena sesuatu hal tidak dapat diserahkan kepemilikannya kepada kreditur. Adakalanya pihak kreditur dan debitur tidak keberatan agar diikatkan jaminan utang berupa gadai. misalnya saham yang belum dicetak sertifikatnya. Selain fakta di atas yang melatar belakangi lahirnya UU No. 2. Dengan adanya berbagai kelemahan di atas. 2-3. Inilah yang disebut dengan jaminan fidusia. tercantum dalam konsiderannya yaitu: 1. cit. Dalam rangka memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan Di Indonesia.

4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman. 4 Tahun 1992 yang diutamakan sebagai jaminan utang adalah rumah terlepas dari hak atas tanah. Demikian juga fidusia dapat dibebankan atas bangunan di atas tanah hak sewa. 5 Tahun 1960. dan Pasal 33 UU No. Juni: hal. Sebagai jalan keluarnya dipergunakan lembaga fidusia. ketentuan fidusia dalam Undang-Undang Rumah 11 Lihat Pasal 25. (1972) Hukum dan Keadilan No.14 Berbeda halnya dengan Undang-Undang Rumah Susun yang menegaskan objek jaminan fidusia dengan melihat hak atas tanah. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. tidak diatur secara rinci apakah rumah itu didirikan di atas suatu jenis hak atas tanah tertentu.D1133/73/3/73 tanggal 26 Maret 1973 dikatakan bahwa hak pakai tidak dapat dibebankan dengan hipotik (sekararang hak tanggungan).7 benda bergerak/mobil. dalam Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman No. hak guna bangunan dan hak guna usaha”.12 Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Undang-Undang Rumah Susun.13 Dalam UU No. 12 Sumardi Mangunkusumo.11 Dalam surat Direktur Jenderal Agraria No. objek fidusia adalah rumah susun atau satuan rumah susun yang didirikan diatas tanah hak pakai atau tanah negara. hak-hak atas tanah yang dapat dijadikan objek jaminan dengan hak tanggungan adalah hak milik. Sejak keluarnya UU No. Hooggerechtschof dengan arrestnya tanggal 16 Februari 1933 menetapkan bahwa hak grant (grant recht) dapat dijadikan objek jaminan fidusia. 4 Tahun 1992. 16 Tahun 1985. objek fidusia adalah rumah. 14 Lihat Pasal 15 dan Penjelasannya UU No. 39. perkembangan objek fidusia dapat dilihat setelah berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria. 13 Lihat Pasal 12 dan 13 UU No. 3 Tahun ke III. Fidusia Bangunan-Bangunan Di Atas Tanah Hak Sewa. . Dalam bidang perundang-undangan. 2. “Menurut Undang-Undang Pokok Agraria.

yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan (inventory). khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang nomor 4 tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. tidak dinyatakan secara tegas benda-benda apa saja yang dapat dijadikan jaminan utang dengan pembebanan fidusia. Benda-benda 15 Lihat Pasal 27 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.8 Susun dicabut dan diganti dengan lembaga hak tanggungan. Sebelum berlakunya UU Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. benda dagangan.16 Berdasarkan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang No. peralatan mesin dan kenderaan bermotor. yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya”. 4 Tahun 1992. Hanya saja diberlakukan ruang lingkup berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia. “Benda tidak bergerak” yang dimaksudkan ialah bangunan yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan yaitu bangunan di atas tanah hak milik orang lain. yang antara lain terdapat dalam ketentuan Pasal 1 angka 4. 42 Tahun 1999. maka objek jaminan fidusia diberikan pengertian yang luas. Pasal 9. 4 Tahun 1992.15 Selanjutnya dalam Undang-Undang No. sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu. piutang. 16 Lihat Pasal 2 dan 3 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa: “Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak. Bandingkan dengan Pengaturan Objek Hak Tanggungan dalam Pasal 4 UU No. Pasal 10 dan Pasal 20. sedangkan fidusia dalam Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman masih berlaku. Jadi dapat diketahui bahwa benda-benda yang dapat dijadikan jaminan utang dengan pembebanan fidusia meliputi benda bergerak dan benda tidak bergerak. . Dengan berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia.

Hal ini penting mengingat penjelasan Pasal 3 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang isinya: “Benda adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dialihkan. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. Dapat atas satu satuan atau jenis benda dan lebih dari satu jenis atau satuan benda 6. Benda berwujud dan benda tidak berwujud. Oleh karena itu penyusunan hukum benda harus memperhatikan prinsip-prinsip hukum adat. Benda bergerak dan tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan 4. yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar. dapat dijadikan objek jaminan fidusia” dan Pasal 1 angka (4) UU No. Fidusia memiliki arti penting dalam memenuhi kebutuhan kredit bagi masyarakat. yang bergerak maupun yang tak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan atau hipotik”. Benda itu harus dapat dimiliki dan dialihkan secara hukum 2. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang isinya adalah: ”Bangunan di atas tanah milik orang lain yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan berdasarkan UU No. Hukum benda adalah sub sistem dari sistim hukum perdata nasional di satu sisi dan di sisi lain hukum adat adalah salah satu komponen dalam penyusunan hukum perdata nasional.9 yang menjadi objek jaminan fidusia adalah: 1. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hipotik 5. Benda persediaan (inventory). 7. Termasuk hasil dari benda yang telah menjadi objek fidusia dan juga hasil klaim asuransi objek jaminan fidusia tersebut. baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. khususnya perusahaan kecil dan menengah sangat membantu usaha . termasuk piutang 3.

Dan “Bagi bank dapat menimbulkan masalah mengenai tempat penyimpanan. Citra Aditya Bakti: Bandung. Debitur masih dapat menguasai barang jaminan untuk keperluan usaha sehari-hari. fidusia lahir untuk mengisi kekosongan hukum jaminan melalui putusan pengadilan atas desakan kebutuhan masyarakat. “Bank tidak perlu menyediakan tempat khusus barang jaminan seperti pada lembaga gadai (pand)”. persediaan. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan) Pasal 8 dan penjelasannya dinyatakan bahwa pemberian kredit selalu mengandung resiko. 75. piutang dagang/hak tagih. hal. pihak perbankan lebih praktis mempergunakan prosedur pengikatan fidusia. mesin-mesin. Agunan tambahan adalah agunan yang tidak termasuk di dalam batasan agunan 17 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan. Dalam UU No. khususnya bank-bank di kota besar. kehadirannya dapat memberikan manfaat ganda. hal. Salah satu cara mengatasi resiko adalah menetapkan jaminan (collateral) dalam analisis pemberian kredit. 10 Tahun 1998 (UU Tentang Perubahan atas UU No.10 debitur.17 Dalam perjanjian gadai.18 Akibat pengaturan gadai yang terlalu sempit. barang jaminan harus diserahkan kepada kreditur sesuai dengan pasal 1150 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata yang isinya: “Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas namanya …”. Hak-Hak Jaminan Kebendaan. 149. op. 2002. Dengan syarat gadai tersebut barang jaminan tidak dapat lagi menunjang usaha debitur. Satrio. Oleh karena itu. cit. Jaminan yang diminta bank dapat berupa jaminan pokok berupa barang proyek (tanah dan bangunan. 18 J. dan lain-lain) sedangkan jaminan tambahan adalah harta kekayaan debitur. karena tidak adanya gudang-gudang yang cukup luas yang mereka miliki”. Hukum Jaminan.. .

hak milik atau jaminan yang bersifat perorangan. 20 Lihat Pasal 34 UU No. Nilai agunan lebih besar dari pinjaman kredit yang diberikan yaitu sebesar 50%. debitur tetap bertanggungjawab atas sisa utang tersebut. lembaga penjamin dan lain-lain.11 pokok tersebut di atas. kreditur fidusia wajib mengembalikan kelebihan uang sisa penjualan kepada debiturnya. Sebaliknya apabila hasil eksekusi tidak mencukupi untuk membayar utang. pihak bank telah melakukan analisis faktor agunan terhadap debitur. Tidak logis bahwa benda jaminan fidusia tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran utang debitur karena pada saat perjanjian kredit dengan pengikatan jaminan fidusia. 42 Tahun 1999.20 Menurut pihak bank. Secara teoritis. Namun asas hukum jaminan dan doktrin hukum perdata menyatakan bahwa semua harta debitur memikul beban untuk 19 Prinsip Hukum Jaminan tercantum dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. perlu diperjanjikan secara khusus benda-benda tertentu dari debitur yang diikat sebagai jaminan utang. Sebagai contoh: aktiva tetap diluar proyek yang dibiayai. jaminan pemerintah. jika seorang pemberi fidusia wanprestasi. Oleh karena itu tidak sepantasnya kreditur meminta penyitaan atas benda-benda lainnya milik debitur. Hukum jaminan yang bersumber dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengandung prinsip bahwa harta kekayaan debitur menjadi jaminan utang untuk segala perikatan yang dibuat19. garansi risiko. Selain jaminan fidusia bank meminta jaminan lainnya yang diikat dengan surat kuasa memasang hak tanggungan atau surat kuasa menjual atas hak tanggungan. objek jaminan fidusia dapat dieksekusi. . bank dapat menyita barang-barang lain milik debitur. Untuk menutupi kelemahan itu. apabila ternyata objek jaminan fidusia tidak mencukupi untuk membayar utang. surat berharga. kalau harga jual melebihi utang debitur.

Dalam kasus jaminan PT Bank BRI (Persero) Tbk dengan nasabahnya pada pengadilan negeri padangsidimpuan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Apabila debitur wanprestasi. sita dibatalkan dengan alasan tidak sah dan melawan hukum. sehingga debitur tidak dirugikan. sampai terpenuhi semua utangnya. apakah kreditur diakui sebagai kreditur separatis murni seperti yang dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia dan bagaimana dengan asas-asas hukum yang dipakai sehingga tidak tumpang tindih . Jika terjadi kepailitan pada debitur. jika belum cukup untuk membayar utang sidebitur dapatlah dilakukan eksekusi terhadap jaminan pokok. dalam proses eksekusi penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang wajar.12 melunasi utangnya kepada kreditur. Dalam praktik ada kecendrungan bahwa objek jaminan fidusia akan dikuasai oleh bank. Perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian yang muncul karena adanya perjanjian kredit bank (perjanjian pokok). pihak bank sudah menaksir bahwa benda agunan lebih tinggi nilainya dari jumlah pinjaman yang diberikan Secara teori jaminan tambahan lebih dahulu dieksekusi. bagaimana status barang jaminan fidusia?. bank dapat mengambil pelunasan utang dari hasil penjualan barang jaminan. Pendapat lain menyatakan seharusnya yang boleh diminta pertanggugjawaban hanya sebatas benda jaminan yang disebutkan dalam perjanjian pokok dengan alasan bahwa ketika membuat perjanjian kredit. jika debitur terbukti melakukan wanprestasi. hakim telah membatalkan eksekusi jaminan yang tidak disebutkan dalam perjanjian pokok dan juga disebabkan penjualan benda jaminan yang tidak sesuai dengan harga pasar pada saat itu. Hakim berpendapat bahwa walaupun debitur dinyatakan wanprestasi.

Bagaimana perlindungan hukum terhadap debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan? C. Tujuan Teoritis Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan: a. Bagaimana pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan? b. Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang . permasalahan yang menjadi kajian penulis dalam melakukan penelitian ini adalah: a. Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas. b.13 dengan asas hukum kebendaan lainnya. Tujuan Penelitian 1. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian yang akan ditulis dalam sebuah tesis dengan judul: “Pelaksanaan Perjanjian Jaminan Fidusia Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan”. B. Berdasarkan uraian diatas masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia dan perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan.

Merupakan sumbangan pemikiran dan informasi bagi akademis serta bahan perbandingan bagi para peneliti lainnya yang hendak melaksanakan penelitian lanjutan. agar para pembuat undang-undang tidak saja memperhatikan hal-hal yang idiil dalam pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia tetapi juga kendala-kendala yang dihadapi di lapangan.14 Padangsidimpuan. 2. b. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. 2. Manfaat secara teoritis. khususnya dalam bidang hukum jaminan fidusia. . b. Merupakan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum perdata. D. Tujuan Praktis Untuk memahami pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia dan perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia yang berlangsung pada lingkungan PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. yang diharapkan dari penelitian ini adalah: a. Disamping itu penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan masukan bagi pembentuk undang-undang dan juga kepada pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam melaksanakan bisnisnya sehingga benar-benar sesuai dengan hukum yang berlaku dan memenuhi tuntutan masyarakat. Merupakan sumbangan pemikiran dalam rangka pembahasan hukum. terhadap pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia. Manfaat secara praktis a.

hal. Menurut Lawrerence M.15 E.W Norton dan Company: New York London. Sifat hak kebendaan adalah 21 Satjipto Rahardjo. berarti hukum jaminan kebendaan merupakan suatu sistem.21 Hukum berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Hukum dan Masyarakat. dan budaya hukum (legal Culture). tempat berpijak di atas mana tertib hukum jaminan kebendaan itu dibangun. asas hak kebendaan (real right). 1983. American Law. Friedmann. 15. Teori yang tepat dipakai sebagai pendukung teori perubahan masyarakat adalah teori sistem. hal. mengemukakan sejumlah asas-asas hukum jaminan yang objeknya benda sebagai berikut: “Pertama. 1. 1984. 22 Lawrence M. Mariam Darus Badrulzaman dalam Workshop Hukum Jaminan Tahun 1993 di Medan yang dikutip oleh Tan Kamelo. 23 Mariam Darus Badrulzaman. Friedmann. 102. yang merupakan landasan. . hal. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. di atas mana dibangun tertib hukum. Kerangka Teoritis dan Konseptual. 1984. substansi (substance).23 Berdasarkan teori sistim ini. Alumni: Bandung. Suatu sistem hukum terdiri dari 3 unsur yaitu: Struktur (structure). Perubahan masyarakat dibidang hukum jaminan harus berlangsung secara teratur dan diikuti dengan pembentukan hukum jaminan fidusia berjalan dari kebiasaan kemudian diakui dalam yurisprudensi dan akhirnya ditetapkan dalam undang-undang tersendiri. Kerangka Teoritis Teori yang dipakai adalah perubahan masyarakat harus diikuti oleh perubahan hukum. Jadi dengan ikatan asas-asas hukum tersebut. Angkasa: Bandung. dapat dirumuskan bahwa sistem hukum jaminan kebendaan adalah kumpulan asas-asas hukum yang merupakan landasan.22 Suatu sistem adalah kumpulan asas-asas yang terpadu. 5-6. W.

Selain itu. Jadi dengan demikian dalam perjanjian jaminan fidusia. dijaminkan. Keempat asas asesi yaitu perlekatan antara benda yang ada diatas tanah dengan tapak tanahnya. Di dalam karakter ini terkandung asas hak yang tua didahulukan dari hak yang muda (droit de preference). hak yang didahulukan artinya hak jaminan merupakan hak yang didahulukan pemenuhannya dari piutang lain. Sifat lain dari hak kebendaan adalah droit de suite. Kedelapan. Kedua. Ketujuh. Tan Kamelo. konstruksi yang terjadi adalah pemberian jaminan fidusia bertindak sebagai pemilik manfaat. Pemberian jaminan fidusia merupakan penyediaan bagian harta pemberi fidusia untuk jaminan pemenuhan kewajibannya. asas assesoir artinya hak jaminan ini bukan merupakan hak yang berdiri sendiri (zelfstandingrecht). Pemegang hak benda berhak menuntut setiap orang yang mengganggu haknya. artinya hak kebendaan mengikuti bendanya dalam tangan siapapun ia berada. artinya pemberi fidusia melepaskan hak pemilikan secara yuridis untuk sementara.25 24 H. . hal. . Undang-Undang Jaminan Fidusia sebagai sub sistem hukum jaminan kebendaan tidak boleh bertentangan satu sama lainnya.16 absolute. 25 Ibid. Keenam. kesatuan jaminan fidusia sebagai sub sistem hukum jaminan kebendaan harus diterapkan terhadap kumpulan unsur-unsur yuridis seperti peraturan hukum jaminan fidusia. asas mudah dieksekusi”. Kelima. tetapi ada dan hapusnya bergantung (accssotium) kepada perjanjian pokok. Penyerahan secara yuridis artinya benda jaminan masih dapat dipergunakan oleh pemberi fidusia agar bisnisnya tetap berjalan.. asas terbuka artinya ada publikasi sebagai pengumuman agar masyarakat mengetahui adanya beban yang diletakkan di atas suatu benda. berarti kekuasaan hak itu ditentukan oleh urutan waktunya. asas hukum dan pengertian hukumnya. cit. Ketiga. hak itu dapat dinikmati dialihkan. Jika beberapa kebendaan diletakkan di atas suatu benda. asas pemisahan horizontal yaitu dapat dipisahkan benda yang ada di atas tanah dengan tanah yang merupakan tapaknya. sifat hak kebendaan adalah memberikan wewenang yang kuat kepada pemiliknya.. sedangkan penerima fidusia sebagai pemilik yuridis. artinya hak ini dapat dipertahankan pada setiap orang.24 Dengan demikian. disewakan. hal. 22. op. 19-20. asas spesifikasi/pertelaan dari benda jaminan.

dan benda-benda yang ada di atasnya memiliki hukum sendiri. pendaftaran kenderaan bermotor. pembedaan pada benda tidak didasarkan pada benda bergerak dan benda tidak bergerak lagi. hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah negara. 10 Tahun 1961 yang diubah dengan PP No. 4 Tahun 1996.26 Secara konseptual hak tanggungan hanya dibebankan atas tanah saja. . pendaftaran kapal laut.17 Berbeda halnya dengan objek fidusia (Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. Hipotik juga dapat dibebankan atas pesawat udara dan helikopter yang telah memiliki tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia. hak guna usaha. benda jaminan dalam hak tanggungan adalah hak atas tanah berupa hak milik. Pengecualian asas ini hanya dimungkinkan apabila bangunan/rumah yang ada di atas tanah tersebut adalah kepunyaan dari pemilik hak atas tanah. 42 Tahun 1999). tanaman dan hasil karya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah dan milik pemegang hak atas tanah tersebut. Pengecualian semacam ini dibenarkan dalam teori hukum. ini berarti Undang-Undang Hak Tanggungan menganut asas pemisahan horizontal. Dalam Undang-Undang Pokok Agraria. 24 Tahun 1997. Dalam jaminan hipotik yang menjadi objek adalah kapal yang beratnya paling sedikit 20 m3 dan telah terdaftar (Pasal 314 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang). pendaftaran pesawat terbang dan lain sebagainya. antara tanah dan bangunan/rumah yang ada di atasnya adalah terpisah dan ini sesuai dengan asas pemisahan horizontal yang dianut dalam hukum adat. Pendaftaran benda diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. Pembedaan hak tanggungan dapat juga dilakukan terhadap hak atas tanah berikut bangunan. Seiring dengan perkembangan hukum. seperti yang terdapat dalam hukum perdata tetapi didasarkan pada benda terdaftar dan tidak terdaftar dalam hukum jaminan. Penekanan objek 26 Lihat Pasal 4 jo Penjelasan Umum angka (6) UU No.

Ini Menunjukkan jaminan fidusia memiliki karakter assessoir (tambahan). hak didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam harta pailit pemberi fidusia. Hak untuk mengambil pelunasan ini mendahului kreditur-kreditur lain. pesawat udara dan helikopter yang tidak terdaftar adalah jaminan fidusia (Pasal 31 UU No. Ini menunjukkan bahwa pendaftaran memberikan fungsi yuridis untuk menetapkan benda tersebut dianggap sebagai benda tidak bergerak yang menjadi objek hipotik. Dengan demikian penerima fidusia tergolong dalam kelompok kreditur separatis. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda . alternatif jaminan yang lebih menguntungkan untuk kapal. Bahkan sekalipun pemberi fidusia dinyatakan pailit atau dilikuidasi (Pasal 27 UU No. Sebagai hak kebendaan. Dengan menggunakan lembaga gadai atas kapal.18 hipotik terletak pada aspek pendaftaran dari kapal. 42 Tahun 1999). Fidusia sebagai salah satu jaminan adalah unsur pengaman kredit bank. Sebagai konsekuensinya jika pesawat udara. pesawat dan helikopter tentunya barang jaminan harus diserahkan kepada kreditur pemegang gadai (Pasal 1152 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). yang dilahirkan dengan didahului oleh perjanjian kredit bank. jaminan fidusia mempunyai hak didahulukan terhadap kreditur lain (droit de preferent) untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda jaminan fidusia. helikopter itu tidak terdaftar tentunya tidak dapat dibebani dengan jaminan hipotik dan alternatif yang dapat diterapkan adalah lembaga gadai (pand) dan jaminan fidusia. 42 Tahun 1999). pesawat udara dan helikopter. dan ini sangat merugikan debitur.

Proses pembuatan jaminan fidusia harus dilakukan secara sempurna mulai dari tahap perjanjian kredit. W. perlu dirumuskan serangkaian defenisi operasional sebagai berikut: a. Kerangka Konseptual Dalam rangka penelitian ini. Perjanjian adalah: suatu hubungan hukum antara pemberi fidusia dengan penerima fidusia yang terjadi di lingkungan perbankan dan notaris dalam 27 Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1988. 553.19 yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji. Poerwadarminto. pembuatan akta jaminan fidusia oleh notaris dan diikuti dengan pendaftaran akta jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia.J. Tahapan proses perjanjian fidusia tersebut memiliki arti yang berbeda sehingga memberi karakter tersendiri dengan segala akibat hukumnya. Balai Pustaka. .S. hal. 2. usaha dan sebagainya) melaksanakan (rancangan dan sebagainya)27 b. Dengan demikian objek jaminan fidusia tidak menjadi bagian harta pailit penerima fidusia oleh karena hak kepemilikan atas objek jaminan fidusia tersebut diperolehnya semata-mata sebagai jaminan Hak kebendaan jaminan fidusia baru lahir pada tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia dan sekaligus untuk memenuhi asas publisitas. batal demi hukum. Pelaksanaan adalah: perihal (perbuatan. Karena itu konsekuensi yuridis adalah kalau jaminan fidusia tidak dicatatkan dalam buku daftar fidusia berarti hak jaminan fidusia bukan merupakan hak kebendaan yang memiliki sifat kebendaan tetapi memiliki karakter perorangan akibatnya kreditur fidusia tidak dapat dilindungi dengan asas droit de suite dan berkedudukan sebagai kreditur konkuren bukan kreditur preferen. Jakarta.

28 Jadi yang dimaksud dengan Pelaksanaan Perjanjian Jaminan Fidusia Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan adalah analisa terhadap pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia serta perlindungan hukum terhadap pemberi dan penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan F. c. 43. .29. 30 Bambang Waluyo. 42 Tahun 1999. Sinar Grafika. Pendekatan Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian dengan metode penelitian hukum empiris (socio legal research). hal. Jaminan adalah: setiap yang diberikan oleh debitur kepada kreditur guna menjamin dipenuhinya utang. 8-9. Penelitian Hukum Dalam Praktek.30 yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk melukiskan tentang sesuatu hal di tempat/daerah tertentu dan pada saat tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data primer berkenaan dengan hal yang terjadi sesungguhnya dilapangan dan dihubungkan dengan data sekunder yang diperoleh dari kasus jaminan pada pengadilan negeri Padangsidimpuan dan data yang diperoleh dari Bank BRI cabang Padangsidimpuan. Penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atau 28 Lihat Pasal 1 angka (1) UU No. 29 Bambang Sunggono. Penelitian ini bersifat deskriptif (descriptive research). d. Fidusia adalah: Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.. Jakarta: 2002.20 bentuk tertulis. hal. Raja Grafindo Persada. Methode Penelitian 1. Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: 2003.

Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan informan yaitu kepala bagian administari. 3.21 menggambarkan secara sistematis mengenai fakta yang ada di lapangan yang berhubungan dengan objek penelitian yaitu pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia. dan anggota bagian administrasi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. dan hakim pengadilan negeri Padangsidimpuan yang pernah menangani fidusia untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masalah yang akan diteliti. Metode Pengambilan Sampel atau Teknik Sampling Sampel adalah sebahagian dari anggota populasi yang diamati guna mewakili keadaan populasi. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini adalah merupakan penelitian empiris. . Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purpossive sampling yakni diambil dengan sengaja sesuai dengan kebutuhan. notaris M dan notaris L mitra kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. dan notaris yang pernah menangani fidusia mitra PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Teknik purpossive sampling ditujukan terhadap pegawai PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan yang menangani kredit. bagian marketing. dengan cara melakukan wawancara secara langsung dengan informan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi yang ingin diperoleh dalam penelitian ini. 2. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pedoman wawancara (interview guide) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. hakim yang pernah menangani fidusia.

terutama data nasabah yang mengambil kredit pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. ditunjang dengan data sekunder dan ditafsirkan dengan menghubungkan konsepkonsep dan pendapat pakar yang dianut dalam kerangka teoritis. 4. Jalannya Penelitian Penelitian di lapangan menemui banyak kesulitan terutama dalam mendapatkan data dari PT Bank BRI (Persero) Tbk. Kemudian dikelompokkan sesuai dengan masalah. dengan melakukan penafsiran terhadap data tersebut. Selanjutnya menyederhanakan data menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjelaskan permasalahan. Akhirnya ditarik kesimpulan guna menjawab masalah penelitian 5. menurut pegawai PT Bank BRI (Persero) Tbk banyak data yang sifatnya rahasia sehingga tidak dapat diperoleh. perjanjian membuka kredit dan perjanjian penyerahan hak milik secara kepercayaan (fidusia barang) menurut format PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Teknik Analisis Data Data yang didapat di lapangan berupa data primer dianalisis secara kualitatif. .22 Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui literatur atau pustaka dan dokumen-dokumen yaitu berupa kasus jaminan fidusia yang telah diputus oleh pengadilan negeri Padangsidimpuan tahun 1992 yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Surat Edaran BRI 2004.

Istilah jaminan juga dikenal dengan agunan. Penilaian Jaminan Kredit Perbankan Indonesia. 148. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara kreditur menjamin dipenuhi tagihannya. Pengertian Jaminan Istilah Jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda. Agunan dalam konstruksi ini merupakan jaminan tambahan (accessoir). hal. Bahsan. Alumni: Bandung. Dalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggerakan di Yogyakarta.32 31 Mariam Darus Badrulzaman. yang dapat dijumpai dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang No. defenisi agunan adalah: “Jaminan tambahan diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”. yang diserahkan oleh debitur kepada bank.23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.31 Defenisi di atas hampir sama dengan defenisi yang dikemukakan oleh M. yaitu Zekerheid atau cautie. 32 M. Rejeki Agung: Jakarta. Cet. Bahsan yang berpendapat bahwa jaminan adalah: “Segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat”. IV. 1987. 227. dan Fiducia. 24 . Tujuan agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank. 2002. disimpulkan pengertian jaminan adalah: “Menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum”. Gadai. hal. di samping tanggung jawab umum debitur terhadap barang-barangnya. Bab-bab Tentang Creditverban.

selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan. hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu. yaitu: 1. Sedangkan jaminan perorangan tidak memberikan hak mendahului atas bendabenda tertentu.24 B. op. Jaminan perorangan (personal/coorporate guarantee) diatur dalam pasal 1820-1864 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. tetapi hanya dijamin oleh harta kekayaan seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan perikatan yang bersangkutan. yang diatur di dalam Bab 20 Buku II Kitab UndangUndang Hukum Perdata. hal. Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum dan Jaminan Perorangan. dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu. cit. Seperti ditegaskan dalam Pasal 1820 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu: “Penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si kreditur mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si debitur manakala orang itu sendiri tidak memenuhinya”.. 2. Gadai (pand).33 Jaminan kebendaan dapat digolongkan menjadi 4 macam. Jaminan Kebendaan Dalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta dihasilkan suatu rumusan bahwa jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan. 46-47. Jenis Jaminan 4 Jaminan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 macam. terhadap harta kekayaan debitur umumnya”. yaitu: 1. 33Sri Soedewi Masjhoen. Sedangkan jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu. dapat dipertahankan terhadap siapapun. . Sri Soedewi Masjhoen memberikan pengertian jaminan kebendaan yaitu: “Jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda.

Pengurus yang sekaligus menjadi pemegang saham atau pengendali perusahaan debitur. 2. . 3. 4.. diatur di dalam UU Nomor 4 Tahun 1996. diatur dalam UU Nomor 42 Tahun 1999. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih. op. Dalam Jaminan perorangan ini pengurus yang menjadi penjamin 34 R. Cara pengikatan jaminannya dibuat dengan akta notariil.34 Yang termasuk jaminan perorangan adalah: 1. Perjanjian garansi Pasal 1316 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. yaitu bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga. yang serupa dengan tanggung renteng.25 2. 4. 3. 17. 7 Tahun 1992. hubungan hak antara sesama debitur itu satu dengan yang lainnya. yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur)”. hal. Akibat hak dari tanggung renteng pasif. Hubungan hak bersifat intern. 2. hubungan hak bersifat ekstren. Tanggung menanggung. Hak tanggungan. Fungsi jaminan perorangan ini adalah sebagai jaminan/agunan tambahan seperti dimaksud dalam penjelasan Pasal 8 UU Perbankan No. Perusahaan yang menjadi pemegang saham atau pengendali perusahaan debitur. Pihak ketiga sebagai penjamin adalah: 1. Soebekti. Menurut Soebekti jaminan perorangan (immateril) adalah: “Suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga. Jaminan Fidusia. cit. Jaminan hipotik atas kapal laut dan pesawat udara. hubungan hak antara para debitur dengan pihak lain (debitur).

yaitu pembebanan jaminan (hipotek) atas benda bergerak. dan hak milik atas barang tersebut baru beralih setelah pelunasan yang terakhir 5.35 Lembaga jaminan dengan tidak menguasai bendanya adalah suatu lembaga 35 Salim HS. misalnya untuk menyerahkan agunan berupa tanah/rumah tinggal yang dimilikinya baik untuk pemberian kredit baru dan tambahan. Lien. Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya (possessorium security) 2. yaitu perjanjian jual beli dengan syarat bahwa pemindahan hak atas barang baru terjadi setelah syarat dipenuhi. op. Hire Purchase. Mortgage with possession. Credit sale. hal. Sebaiknya kewajiban untuk menyerahkan daftar harta kekayaan penjamin dilakukan secara kasuistis.26 disyaratkan. yang benda jaminannya berada pada penerima jaminan. Conditional sale (pembelian bersyarat). Meskipun penjamin menyerahkan daftar harta kekayaannya. hak bank atas harta kekayaan penjamin tetap hanya terbatas pada jumlah dan syarat tertentu. yaitu benda yang dijaminkan berada di tangan pemegang gadai 2. Pledge or pawn. cit. misalnya jika harga dibayar lunas 6. Di luar negeri lembaga jaminan dibagi menjadi 2 macam yaitu: 1. Lembaga ini belum dikenal di Indonesia 4. yaitu perjanjian antara penjual sewa dan pembeli sewa. yaitu hak untuk menguasi bendanya sampai utang yang berkaitan dengan benda tersebut dibayar lunas 3. atau untuk kredit yang berjalan. 26. . ialah jual beli di mana peralihan hak telah terjadi pada saat penyerahan meskipun harga belum dibayar lunas”.. Lembaga jaminan tanpa menguasai bendanya Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya adalah suatu lembaga jaminan. Dalam hal penjamin adalah perusahaan maka dimintakan Company Guarantee yang harus dilampiri dengan rincian harta kekayaan perusahaan sebagaimana tertuang dalam laporan keuangan perusahaan. Lembaga jaminan ini dibagi menjadi enam macam: 1. Secara yuridis penjamin tidak dapat dipaksa untuk menyerahkan daftar harta kekayaannya.

yaitu pembebanan atas benda tak bergerak atau sama dengan hipotik. Leasing.36 Penggolongan ini bertujuan memudahkan debitur untuk membebani hakhak yang digunakan dalam pemasangan jaminan. Chattel Moetgage. . cit. dimana benda yang menjadi objek jaminan tidak berada atau tidak dikuasai oleh penerima jaminan.27 jaminan. Satrio. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan 36 Ibid. yaitu perjanjian pokok dan perjanjian tambahan (accesoir). 4. Perjanjian pokok merupakan perjanjian untuk mendapatkan fasilitas kredit dari lembaga perbankan atau lembaga keungan non bank (perjanjian utang piutang). Satrio dengan mengutip pendapat Rotten mengemukakan bahwa: “perjanjian pokok adalah perjanjian-perjanjian. yaitu mortgage atas benda-benda bergerak..37 Perjanjian pokok ini dijumpai dalam perjanjian kedit bank. 3. Sifat Perjanjian Jaminan Pada dasarnya perjanjian kebendaan dibedakan menjadi 2 macam. J. yaitu perpindahan hak milik atas kepercayaan yang dipakai sebagai jaminan utang. 54. 27. yang untuk adanya mempunyai dasar yang mandiri”. yaitu suatu perjanjian dimana si peminjam (leassee) menyewa barang modal untuk usaha tertentu dan jaminan angsuran tertentu”. Dalam Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dijumpai pengertian kredit yaitu: “Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu.. Yang termasuk lembaga jaminan ini adalah: 1. C. Umumnya ialah mortgage atas kapal laut dan kapal terbang dengan tanpa menguasai bendanya. op. hal. 37 J. 2. dengan opsi jenis jaminan yang berlaku untuk mendapatkan fasilitas kredit pada lembaga perbankan atau pegadaian. Fiduciary transfer of ownership. Mortage. hal.

Jaminan Fidusia. tetapi mengikuti/membuntuti perjanjian lainnya yang merupakan perjanjian pokok”. 49.. pengalihan hak atas prestasi dalam perjanjian dasar dari pihak kreditur kepada pihak ketiga membawa serta akibat hukum beralihnya perjanjian assesoir kepada pihak ketiga yang menerima pengalihan hak berdasarkan perjanjian dasar tersebut.28 pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.. Perjanjian accessoir ini dijumpai dalam perjanjian dengan pembebanan jaminan. perjanjian hak tanggungan. hal. D. Munir Fuady memberikan pengertian perjanjian accessoir adalah “perjanjian yang tidak mungkin berdiri sendiri. hal. Meskipun tidak sepenuhnya benar.40 Perjanjian accessoir adalah perjanjian yang bersifat tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok. yang pelaksanaannya atau kebatalannya digantungkan pada pemenuhan atau ketiadaan pemenuhan dari suatu syarat. 19. dalam berbagai hal. perjanjian jaminan pribadi. perjanjian fidusia. 39 Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani. 48.38 Menurut Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani perjanjian assesoir adalah “suatu bentuk perjanjian atau/perikatan bersyarat. 40 Ibid. hal. kondisi atau keadaan dalam perjanjian dasar yang menjadi dasar dari pembentukannya”. seperti perjanjian gadai. . dan perjanjian jaminan perusahaan. 2000.39 Perjanjian assesoir tidak dapat dan tidak mungkin berdiri sendiri. perjanjian hipotik. op. Pengakuan Fidusia Dalam Undang-Undang Untuk Kepastian Hukum Secara umum diterima prinsip bahwa segala peristiwa hukum yang belum 38 Munir Fuady. cit. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

Salah satu tujuan dari penegakan hukum adalah menciptakan kepastian hukum. Pemerintah telah banyak membentuk perundang-undangan yang baru untuk dapat mendukung pembangunan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat. tetapi tidak dipungkiri bahwa awal dari kepastian hukum itu dimulai dengan pembentukan undang-undang dan juga pelaksanaannya dalam praktek di lapangan. Secara logika kepastian hukum itu tidak cukup hanya demi undang-undang atau sampai pada tahap pelaksanaan undang-undang saja. terjadi kontraversial antara materi hukum yang menunjukkan adanya peningkatan. baik yang bersifat publik maupun yang privat. Apakah kepastian hukum itu dapat terwujud? Dalam suatu undang-undang. Dengan kepastian hukum kepentingan manusia akan terlindungi dan ketertiban akan dapat terwujud dalam masyarakat. kepastian hukum meliputi dua hal yakni: . Tetapi tidak diimbangi dengan adanya kepastian hukum dalam pelaksanaanya. Undang-undang dibuat untuk memberikan perlindungan kepada manusia dan memelihara ketertiban dalam masyarakat. Agar norma hukum itu dapat melindungi kepentingan manusia dan menciptakan ketertiban dalam masyarakat maka undang-undang itu harus dilaksanakan. Namun dalam perkembangannya. Sebaliknya apabila peristiwa hukum itu telah mendapat pengukuhan dalam undang-undang sudah dianggap memiliki kepastian hukum. walaupun dalam penegakannya mengalami hambatan. Melalui pelaksanaan itu undang-undang dapat ditegakkan.29 mendapat pengaturan dalam undang-undang belum memiliki kepastian hukum. Undang-undang merupakan kumpulan norma-norma hukum yang dilandasi oleh prinsip-prinsip hukum.

1987. keefektifan suatu kepastian hukum yang tercantum dalam undang-undang apabila undang-undang tersebut sudah dilaksanakan dan diterima oleh masyarakat. aparatur pelaksana hukum.30 1. tetapi dapat pula diterima dan diakui oleh masyarakat. 42 Soerjona Soekanto dan Mustafa Abdullah. kepastian hukum itu tidak pernah menyentuh kepada masyarakat. warga masyarakat dan fasilitas yang tersedia untuk pelaksanaan undang-undang tersebut. hal.42 Pelaksanaan suatu undang-undang dapat dipaksakan oleh negara. secara sosiologis. Jadi. Meskipun suatu undang-undang sudah mempunyai kepastian hukum belum menjamin. persoalan kepastian hukum merupakan suatu hal yang terletak pada substansi undangundangnya. Dengan demikian. Apabila norma hukum dalam undang-undang itu belum pernah dilaksanakan atau dalam pelaksanaannya mengalami hambatan. 117. op. cit. Kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip hukum undangundang tersebut”. . sosiologis dan filosofis. 13. Menurut teori hukum. 2. Apakah kepastian hukum yang sudah tercipta dalam undang-undang itu akan efektif ketika undang-undang dilaksanakan?.. Rajawali:: Jakarta. bahwa dalam pelaksanaan tidak ada masalah. hal. Tan Kamelo. tidak dapat dikatakan bahwa kepastian hukum telah berjalan secara sempurna. Sosiologi Hukum dalam Masyarakat. berlakunya suatu kaidah hukum itu dapat dilihat dari tiga aspek yakni aspek yuridis.41 Jika perumusan norma dan prinsip hukum itu sudah memiliki kepastian hukum tetapi hanya berlaku secara yuridis saja. 41 H. Kepastian perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan satu dengan lainnya baik dengan pasa-pasal dalam undang-undang itu maupun dengan pasal-pasal di luar undang-undang itu.

P Parlindungan. tetapi cukup memberikan kepastian hukum khususnya tentang pengertian dan objek fidusia. 16 Tahun 1985. Pengaturan lembaga fidusia dalam Undang-Undang Rumah Susun tersebut masih bersifat sumir. Konsep Rancangan Undang-Undang Hak Tanggungan dan Gadai.44 Atau juga berlaku atas bangunan bertingkat/flat di luar rumah susun. . 1990. fidusia diartikan sebagai hak jaminan yang berupa penyerahan hak atas benda berdasarkan kepercayaan yang disepakati sebagai jaminan bagi pelunasan piutang kreditur. Dalam Undang-Undang Rumah Susun. Lembaga fidusia merupakan suatu gejala hukum yang memberikan keuntungan bagi pemakainya khususnya untuk melancarkan pengembalian kredit dan juga tidak melemahkan potensi penerima kredit. Seminar Nasional Agraria ke-3: Medan. juga tidak jelas tentang sifat penyerahan yang menjadi ciri khas dari fidusia yakni benda yang dialihkan tetap berada pada pemberi fidusia.31 Salah satu gejala tersebut dapat dilihat dari pengaturan fidusia dalam perundang-undangan. karena pada mulanya diatur dalam yurisprudensi kemudian mendapat pengakuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. Tidak dijelaskan apakah hak jaminan fidusia yang diatur dalam UndangUndang Rumah Susun objeknya hanya berlaku pada hak pakai atas tanah negara khusus rumah susun dan hak milik satuan rumah susun.43 Dalam rumusan ini tidak dijelaskan kedudukan kreditur sebagai kreditur pereferents. 44 A. perkembangan fidusia cukup menggembirakan para pemakainya. Di Indonesia. 43 Pasal 1 angka 8 UU No. Dan juga tidak dijelaskan tentang apa yang dialihkan kepada pemegang fidusia karena itu juga merupakan hal yang penting yakni kepemilikan yang berupa hak bukan bendanya.

Pembebanan fidusia atas 45 Lihat Pasal 13 UU No. Menurut pembentuk Undang-Undang No. hal. 46 H. mengingat fidusia merupakan lembaga jaminan yang hidup dan dalam kenyataannya diperlukan oleh masyarakat. Pengecualian dari asas pemisahan horizontal dalam Undang-Undang Rumah Susun adalah dengan menunjuk lembaga jaminan hipotik atas tanah beserta rumah susun di atasnya. oleh karena itu fungsinya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. op. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun pada prinsipnya menganut asas pemisahan horizontal sebagai implementasi dari asas yang dianut dalam Undang-Undang No.. 123. dan dijaminkan melalui lembaga jaminan fidusia apabila dibangun di atas tanah hak pakai atas tanah negara. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman (UUPP) dijumpai pada Pasal 15. penggunaan fidusia terhadap hak pakai atas tanah negara adalah untuk menampung kebutuhan masyarakat.46 Jadi dapat disimpulkan bahwa kepastian hukum jaminan fidusia dalam UndangUndang Rumah Susun secara empiris belum terwujud. 45 Hal ini membuktikan bahwa Undang-Undang No. Menurut Maria Sumardjono yang dikutip oleh Tan Kamelo. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. 16 Tahun 1985. 16 Tahun 1985 itu hanya bersifat temporer.32 Hak milik atas satuan rumah susun dapat dijaminkan melalui hipotik apabila dibangun di atas tanah hak milik atau hak guna bangunan. Pengakuan fidusia dalam UU No. cit. dinyatakan bahwa pemilikan rumah dapat dijadikan jaminan utang dengan jaminan fidusia. penjaminan dengan fidusia tidak dijumpai dengan pembebanan rumah susun atau hak milik satuan rumah susun. Dengan demikian dapat ditafsirkan objek fidusia terhadap hak pakai atas tanah negara dalam Undang-Undang No. . 5 Tahun 1960 yaitu Undang-Undang Pokok Agraria. Tan Kamelo.

Pemilik rumah bukan pemilik hak atas tanah dengan izin pemilik hak atas tanah. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan (UUHT). yang diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) selambat-lambatnya tiga bulan setelah 47 Lihat Pasal 27 UU No. Pemilik rumah oleh pemilik hak atas tanah. Hal ini dapat dipahami sebab Undang-Undang Hak Tanggungan bertitik tolak dari hak atas tanah. Setelah keluarnya Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 diatur tentang pembangunan rumah di atas tanah milik orang lain. . 2. Jadi jelas bahwa objeknya berbeda. 4 Tahun 1992 yang memberikan perumusan pengertian rumah tanpa mengaitkan dengan hak atas tanah. ketentuan hak jaminan yang diatur dalam Undang-Undang Rumah Susun dinyatakan tidak berlaku lagi. dan dalam Pasal 6 Undang-Undang No. Dalam undang-undang ini tidak dijelaskan bagaimana status hak atas tanah. 4 Tahun 1996.47 Tetapi tidak dinyatakan berlaku juga pada Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman.33 rumah dalam Pasal 15 Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman ada dua cara: 1. sedangkan Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman menekankan hak jaminan atas rumah/bangunan. Prinsip horizontal semakin jelas dengan adanya pernyataan dalam Pasal 1 Undang-Undang No. Hal ini menunjukkan bahwa Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman menganut asas pemisahan horizontal. Objek fidusia adalah rumah bukan hak atas tanah. Persoalan objek fidusia mengenai tanah belum terdaftar telah diatur dalam Undang-Undang Hak Tanggungan yakni dengan menggunakan Surat Kuasa Memasang Hak tanggungan (SKMHT).

yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu. 42 Tahun 1999. 42 Tahun 1999 dengan nama Jaminan Fidusia.48 Pengaturan fidusia secara parsial tidak memberikan kepastian hukum sehingga perlu diatur secara unifikasi dalam bentuk undang-undang tersendiri.49 Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia. berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. 1. Perjanjian Fidusia Dalam perjanjian pinjam meminjam atau utang piutang kita menghendaki agar barang agunan dijadikan jaminan fidusia. suatu perjanjian yang dapat menggunakan fidusia sebagai bentuk jaminannya adalah semua perjanjian yang berkaitan dengan suatu benda yang dapat dibebani dengan jaminan fidusia. yang dibuat dihadapan notaris.34 diberikan. 4 Tahun 1996. Dari suatu perjanjian pokok (perjanjian utang piutang). Bentuk perjanjian fidusia wajib dibuat dengan akta otentik. 2. Upaya tersebut terwujud dalam UU No. Konsekuensi dari perjanjian assesoir ini adalah apabila perjanjian pokok tidak sah atau tidak berlaku secara hukum. Perjanjian dengan jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir (perjanjian ikutan/tambahan). . Pembebanan Fidusia dan Fidusia Ulang Pembebanan fidusia diatur dalam Pasal 4 sampai Pasal 10 Undang-Undang 48 Lihat Pasal 15 Ayat 4 UU NO. perjanjian fidusia sebagai perjanjian assesoir juga ikut menjadi batal dan apabila perjanjian pokok yaitu utang piutang telah lunas dengan sendirinya perjanjian tambahan tersebut hapus. 49 Lihat pasal 5 ayat 1 UU No. maka caranya adalah dengan membuat perjanjian fidusia terlebih dahulu.

42 tahun 1999. Nilai penjaminan dan e. Misalnya utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 17 . Walaupun dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia ini terlihat. Utang yang akan ada dikemudian hari (kontinjen). yang dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disebut dengan “Akta Jaminan Fidusia”. Utang yang dapat ditentukan jumlahnya pada saat eksekusi berdasarkan suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban untuk dipenuhi. akta ini antara lain harus berisikan hal-hal: a. ada beberapa pasal yang seolah-olah saling bertentangan namun mengenai fidusia ulang ini dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya tidak dapat dibenarkan. Utang yang telah ada 2. dibebankan fidusia sekali lagi.35 jaminan Fidusia No. Yang dimaksud dengan fidusia ulang adalah atas benda yang sama yang telah dibebankan fidusia. tetapi telah diperjanjikan dan jumlahnya sudah tertentu. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia Utang yang pelunasannya dijaminkan dengan jaminan fidusia adalah: 1. yang dibuat dihadapan notaris dengan menggunakan bahasa Indonesia. Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia b. misalnya utang bunga atas perjanjian pokok yang jumlahnya akan ditentukan kemudian. Menurut pasal 6 Undang-Undang Jaminan Fidusia. Akta jaminan fidusia ini dibuat dalam bentuk akta otentik. 3. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia c. Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia d.

Peraturan Pemerintah ini . Fidusia ulang oleh pemberi fidusia. Maksudnya fidusia diberikan secara bersama-sama pada waktu yang bersamaan dan semua kreditur saling mengetahui adanya dua atau lebih kreditur tersebut.36 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah “Pemberi fidusia dilarang melakukan fidusia ulang terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang sudah didaftar”. baik debitur maupun penjamin pihak ketiga. Karena Undang-Undang Jaminan Fidusia masih menganut prinsip fidusia sebagai peralihan hak milik (secara kepercayaan) bukan hanya sebagai jaminan utang. Pendaftaran Fidusia Pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftarana Jmaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia. 3. Ada satu kemungkinan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu pihak adalah kemungkinan yang diberikan berdasarkan Pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah: “Jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu penerima fidusia atau kepada kuasa atau wakil dari penerima fidusia tersebut”. tidak dimungkinkan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia karena hak kepemilikan atas benda tersebut telah beralih kepada penerima fidusia. Dari penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersirat bahwa yang dimaksud adalah pemberian fidusia kepada lebih dari satu kreditur dalam bentuk pemberian kredit konsorsium atau sindikasi.

Benda objek jaminan fidusia yang berada di luar negeri (pasal 11 ayat 2 Undang-Undang No. Ini disebabkan jaminan fidusia memberikan hak kepada pemberi fidusia untuk tetap menguasai objek jaminan fidusia berdasarkan kepercayaan. Untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan. Pendaftaran jaminan fidusia dilakukan di Kantor Pendaftaran Fidusia dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah negara Republik Indonesia dan 50 Salim HS. Tujuan pendaftaran fidusia adalah: 1. baik yang berada di dalam wilayah negara Republik Indonesia maupun benda yang berada di luar wilayah negara Republik Indonesia yang dibebani jaminan fidusia wajib didaftarkan. hal. Kantor Pendaftaran Fidusia berada dalam lingkup tugas Departemen Kehakiman dan Hak Azasi manusia. Memberikan hak yang didahulukan (preferen) kepada penerima fidusia terhadap kreditur lain. perubahan sertifikat. . Untuk pertama kalinya kantor pendaftaran fidusia didirikan di Jakarta dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. 42 Tahun 1999). 2004. 2. 42 tahun 1999). Raja Grafindo Persada: Jakarta. 42 tahun 1999). Hal-hal yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi pendaftaran fidusia. pencoretan pendaftaran. Benda objek jaminan fidusia yang berada di dalam negeri (pasal 11 ayat 1 Undang-Undang No. 82. Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia.50 Pendaftaran fidusia dilakukan terhadap hal-hal: 1. 2. tata cara perbaikan sertifikat. Pada pokoknya pendaftaran jaminan fidusia adalah sebagai berikut: a.37 terdiri dari atas 4 bab dan 14 Pasal. Dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia ditentukan bahwa benda. dan penggantian sertifikat. Terhadap perubahan isi Sertifikat Jaminan Fidusia (pasal 16 ayat 1 Undang-Undang No.

86 Tahun 2000. 5) Nilai jaminan. b. nama. nomor akta jaminan fidusia. kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia: c. Pernyataan pendaftaran jaminan fidusia memuat: 1) Identitas pemberi dan penerima fidusia 2) Tanggal. Kantor pendaftaran fidusia akan mencatat jaminan fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran dan kemudian menerbitkan dan menyerahkan kepada penerima fidusia. c. Ketika mencatat dalam buku daftar fidusia. b.38 berada di lingkup tugas Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. 3) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia. Salinan akta notaris tentang pembebanan jaminan fidusia. sertifikat jaminan fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. petugas pendaftaran hanya berwenang melakukan pengecekan data dan tidak . Permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan secara tertulis dan dalam Bahasa Indonesia oleh penerima fidusia. 4) Uraian mengenai benda yang menjadi objek jamnan fidusia. Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia. permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilengkapi dengan: a. Pasal 2 ayat 4 PP No. dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia. 6) Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia.

Jaminan fidusia lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. yang terletak dalam lingkup Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. . Sertifikat perbaikan memuat tanggal yang sama dengan tanggal sertifikat semula. perubahan perjanjian pokok dan perubahan nilai jaminan.51 Sertifikat jaminan fidusia dapat saja mengalami perubahan terhadap substansi. Judul Sertifikat Jaminan Fidusia dicantumkan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”. antara lain perubahan objek jaminan fidusia. Dengan dikelurkannya Keputusan Presiden nomor 139 Tahun 2000 tanggal 30 September 2000. maka penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri (pasal 15 ayat 2 dan 3 UU Jaminan Fidusia).39 berwenang melakukan penilaian terhadap kebenaran data yang dicantumkan dalam pernyatan pendaftaran jaminan fidusia. pemohon memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia untuk diterbitkan sertifikat perbaikan. Adanya kewajiban melakukan pendaftaran jaminan fidusia merupakan 51 Lihat Pasal 5 ayat (1) PP No. Makna dari pencantuman kata-kata tersebut adalah bahwa Sertifikat Jaminan Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Jika terjadi kekeliruan penulisan dalam sertfikat jaminan fidusia yang telah diterima pemohon. 86 Tahun 2000. di setiap wilayah ibukota propinsi dibentuk Kantor Pendaftaran Fidusia. Sehingga apabila debitur wanprestasi. dalam waktu 60 hari setelah menerima sertifikat itu. perubahan penerima fidusia.

Dengan adanya pendaftaran fidusia. Asas-Asas Hukum Jaminan Fidusia Salah satu unsur yuridis dalam sistem hukum jaminan adalah asas hukum. Ini menunjukkan pentingnya asas hukum dalam suatu perundang-undangan.40 suatu perwujutan dari asas publisitas. Asas publisitas secara tersirat tercantum pada pasal 18 UU Jaminan Fidusia. Dalam peraturan-peraturan (pasalpasal) dapat ditemukan aturan yang mendasar berupa asas hukum yang merupakan cita-cita dari pembentuknya. Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak mencantumkan dengan tegas asas-asas jaminan fidusia yang menjadi asas fundamen dari pembentukan norma hukumnya. yang artinya dasar yaitu sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Asas hukum bukan suatu perintah hukum yang konkrit yang dapat dipergunakan terhadap peristiwa hukum yang konkrit dan tidak memiliki sanksi yang tegas. diharapkan agar pihak debitur terutama debitur yang tidak beritikat baik. Dengan adanya publikasi terhadap jaminan utang. kreditur maupun khalayak ramai mempunyai akses untuk mengetahui berbagai informasi yang berhubungan dengan jaminan utang tersebut. E. Tan Kamelo melalui proses analitis mengemukakan asas-asas hukum jaminan fidusia yang terdapat dalam UndangUndang Jaminan fidusia adalah: . tidak dapat lagi membohongi/menipu kreditur atau calon debitur dengan memfidusiakan sekali lagi atau bahkan menjual benda objek jaminan tanpa sepengetahuan kreditur. bahasa Inggris “principle” dan bahasa Belanda “beginsel”. Istilah asas merupakan terjemahan dari bahasa Latin “principium”. yaitu: Segala keterangan mengenai benda fidusia yang menjadi objek jaminan fidusia yang ada pada Kantor Pendaftaran Fidusia terbuka untuk umum.

Ketigabelas.52 • Asas preferens ini dapat dilihat dari pasal 1 angka 2 dan Pasal 27 UU Jaminan Fidusia. cit. asas bahwa yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai itikad baik. asas bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subjek dan objek jaminan fidusia. Kesepuluh. asas bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia sekalipun hal itu diperjanjikan (asas pendakuan). 169-170. Keenam. asas bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memilki kewenangan hukum atas objek jaminan fidusia. keberadaan jaminan fidusia ditentukan oleh perjanjian utama atau principal. Kelima. asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain (asas pemisahan horizontal). Berbeda halnya dengan gadai yang tidak tegas menyatakan kreditur yang diutamakan dari kreditur lainnya. op.. asas bahwa jaminan fidusia dapat diletakkan atas utang yang baru akan ada (kontinjen). asas bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan yang lazim disebut asas asesoritas. asas bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke kantor pendaftaran fidusia (asas publikasi). Keempat. asas bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima jaminan fidusia yang terlebih dahulu mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia dari kreditur yang mendaftar kemudian. Keduabelas.Ketujuh.41 Pertama. hal.Ketiga. Akan tetapi hak untuk diutamakan yang dimiliki oleh penerima fidusia tidak mengurangi kedudukan untuk didahulukan terhadap piutang-piutang negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku sama 52 H. Kedelapan. Tan Kamelo. asas bahwa kreditur penerima fidusia berkedudukan sebagai kreditur preferens. . asas bahwa jaminan fidusia mudah dieksekusi. Kedua. Asas bahwa jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada (droit de suite atau zaakgevolg). Kesembilan. Dalam Pasal 27 ini dijelaskan bahwa hak yang didahulukan adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia.Kesebelas. asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap benda yang akan ada.

konsekwensi yuridis adalah pemberlakuan asas droit de suite baru diakui sejak tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. Maksud penegasan ini adalah kalau jaminan fidusia ini tidak dicatatkan dalam buku daftar fidusia berarti hak jaminan fidusia bukan merupakan hak kebendaan melainkan memilki karakter hak perorangan. • Asas droit de suite atau zaakgevolg. kreditur pemegang . Hak kebendaan jaminan fidusia baru lahir pada tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar jaminan fidusia. Hal ini perlu dalam memberikan kepastian hukum bagi kreditur pemegang fidusia untuk memperoleh pelunasan utang dari hasil penjualan objek jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia melakukan wanprestasi. Akibatnya.42 halnya dengan ketentuan yang berlaku kepada hak tanggungan. Apabila terjadi peralihan benda jaminan fidusia. dengan begitu hak jaminan fidusia dapat dipertahankan terhadap siapapun juga dan barhak untuk menuntut siapa saja yang mengganggu hak tersebut. bagi pihak ketiga adalah tidak dihormatinya hak jaminan fidusia dari kreditur pemegang jaminan fidusia. Bahkan ketika benda jaminan fidusia berada pada pihak ketiga. Dalam asas droit de suite terdapat prinsip yang tua didahulukan dari yang muda berdasarkan urutan waktunya. pengakuan asas ini menunjukkan bahwa jaminan fidusia merupakan hak kebendaan dan bukan hak perorangan. Karena itu.

dan kendraan bermotor. Tetapi Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan benda persediaan tetapi hanya dijelaskan apa yang tidak termasuk benda persediaan yaitu: mesin produksi. pemberi jaminan fidusia dilarang untuk mengalihkan. log. dengan cara menjual kepada pihak ketiga.55 Debitur pemberi jaminan fidusia dapat mengalihkan benda persediaan sesuai dengan cara dan prosedur yang lazim dalam dunia perdagangan. benda dagangan. atau rumah pribadi yang menjadi objek jaminan fidusia. asas ini mempunyai arti bahwa keberadaan 53 Penjelasan Pasal 23 ayat (2) UU No. 42 Tahun 1999. ada pengecualian yaitu terhadap objek jaminan fidusia berupa benda persediaan. peralihan ini adalah sah dan pembeli adalah pemilik yang sempurna. Misalnya. 55 H. piutang. Menurut Tan kamelo benda persediaan adalah benda yang diuraikan dalam suatu daftar secara detail. mobil pribadi. kecuali terhadap objek jaminan fidusia yang berupa benda persediaan. 54 Penjelasan Umum angka 3 UU No. cit.43 jaminan fidusia hanya berkedudukan sebagai kreditur konkuren tidak dapat dilindungi berdasarkan asas droit de suite (tidak didahulukan dari kreditur lain) Asas droit de suite ini tidak berlaku pada semua objek jaminan fidusia. 42 Tahun 1999 dibentuk benda yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan (inventory). • Asas assesoir. atau menyewakan kepada pihak lain objek jaminan fidusia.Tan Kamelo. . spesifik baik mengenai jumlah maupun jenisnya. peralatan mesin.53 Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dijelaskan bahwa sebelum Undang-Undang Jaminan Fidusia No. Pada prinsipnya. 42 Tahun 1999. menggadaikan.54 Jadi belum ada kejelasan tentang benda persediaan yang dimaksud oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia.

42 Tahun 1999 hal ini sempat meragukan bagi dunia bisnis. Asas ini juga dianut dalam perjanjian hak tanggungan. 42 Tahun 1999. Sesuai dengan asas assesoir ini hapusnya jaminan fidusia ini juga ditentukan oleh hapusnya utang atau karena pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima jaminan fidusia dan musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia. asas assesoir ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Fidusia No. Hal ini berarti terjadi pemindahan hak dan kewajiban dari pemegang fidusia yang lama kepada pemegang fidusia yang baru.56 Jadi Jaminan Fidusia ini merupakan perjanjian yang lahir dari perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang.44 jaminan fidusia ditentukan oleh perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang yang melahirkan utang yang dijamin dengan jaminan fidusia. dengan syarat bahwa pemegang fidusia yang baru mendaftarkan perbuatan hukum (cessie) tersebut ke 56 Pasal 25 UU No. 42 Tahun 1999 yang isinya adalah: “Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi”. Asas ini membawa konsekuensi hukum terhadap pengalihan hak atas piutang dari pemegang jaminan fidusia lama kepada pemegang jaminan fidusia yang baru. . Pencantuman asas ini adalah untuk menghilangkan keragu-raguan mengenai karakter jaminan fidusia yang bersifat assesoir dan bukan perjanjian yang berdiri sendiri. Sebelum lahirnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia .

45 kantor pendaftaran fidusia. Barang perniagaan objek jaminan fidusia sering terjadi sedangkan barang yang akan ada pergantian itu 57 Pasal 19 UU No. 42 Tahun 1999 tidak hanya menetapkan objek jaminan terhadap benda yang akan ada. Artinya pada saat dibuatnya akta jaminan fidusia.59 Undang-Undang No. Asas ini telah diakui setelah keluarnya UndangUndang No. misalnya hutang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank.57 • Asas bahwa jaminan fidusia dapat diletakkan atas utang yang baru akan ada (kontinjen). Perbedaan yang perlu ditegaskan adalah mengenai objek jaminan pada barang perniagaan dengan barang yang akan ada. 59 Lihat Pasal 9 UU No. utang tersebut belum ada. 58 Lihat Penjelasan Pasal 7 huruf b UU No.58 • Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap benda yang akan ada. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang intinya adalah jaminan fidusia dapat dibebankan atas benda yang akan ada. Asas ini adalah untuk menampung aspirasi hukum dalam dunia bisnis perbankan. . 42 Tahun 1999. bahkan memberikan aturan terhadap piutang yang akan ada juga dapat dibebani dengan jaminan fidusia yang sebenarnya mengandung pengertian yang sama sebab piutang yang akan ada juga benda yaitu benda tidak berwujud untuk itu sebenarnya pengaturan piutang yang ada ini tidak perlu lagi. tetapi sudah diperjanjikan sebelumnya dalam jumlah tertentu. 42 Tahun 1999. 42 Tahun 1999.

60 • Asas bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memiliki kewenangan hukum atas objek jaminan fidusia. nilai penjaminan dan nilai benda yang menjadi objek jaminan. Perwujutan asas ini merupakan penuangan cita-cita masyarakat dalam bidang hukum jaminan. 42 tahun 1999. sedangkan objek jaminan yang dimaksud adalah data perjanjian pokok yang dijamin dengan fidusia. Dalam pemberian kredit bank. Dalam ilmu hukum asas ini disebut dengan asas pemisahan horizontal. • Asas bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subjek dan objek jaminan fidusia. Dalam hukum disebut asas spesialitas atau pertelaan. dapat menampung pihak pencari kredit khususnya pelaku usaha yang tidak memiliki tanah tetapi memiliki hak atas bangunan/rumah. Pengaturan asas ini adalah untuk mengantisipasi perkembangan dunia bisnis dan sekaligus dapat menjamin kelenturan objek jaminan fidusia yang tidak hanya terpaku pada benda yang sudah ada. Subjek fidusia yang dimaksudkan adalah identitas para pihak yakni pemberi dan penerima jaminan fidusia. . Kewenangan hukum tersebut harus sudah ada pada saat 60 Lihat Pasal 6 UU No. • Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain.46 tidak terjadi dengan cepat seperti: taksi-taksi sebagai objek jaminan fidusia. Biasanya hubungan hukum antara pemilik tanah dan pemilik bangunan adalah perjanjian sewa. uraian mengenai benda jaminan fidusia.

berbeda dengan pengaturan dalam hak tanggungan yang mengatur secara tegas dalam Pasal 8 Undang-Undang Hak tanggungan.62 Asas ini disebut asas pendakuan. 42 Tahun1999. • Asas bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke kantor pendaftaran fidusia. 42 Tahun 1999 asas ini tidak secara tegas diatur. 62 Lihat Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 33 UU No. tidak mengalihkan. berarti perjanjian fidusia lahir dan momentum tersebut menunjukkan perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian kebendaan. • Asas bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima fidusia yang terlebih dahulu mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia daripada kreditur mendaftarkan kemudian • Asas bahwa pemberi jaminan fidusia yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai itikat baik. Dalam ilmu hukum disebut dengan asas publikasi.61 Dengan dilakukannya pendaftaran akta jaminan fidusia. • Asas bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia meskipun hal itu diperjanjikan. 42 Tahun 1999.47 jaminan fidusia didaftarkan ke kantor fidusia. Asas publikasi ini melahirkan kepastian hukum bagi kreditur. Dengan asas ini diharapkan bahwa pemberi jaminan fidusia wajib memelihara benda jaminan. Asas ini sekaligus menegaskan bahwa pemberi jaminan fidusia bukanlah orang berwenang berbuat. . menyewakan dan yang 61 Lihat pasal 12 UU No. Dalam Undang-Undang No.

Menurut Tan Kamelo. dapat juga dilakukan dengan cara melelang secara umum dan dibawah tangan.. Dalam penjualan benda jaminan fidusia. cit. Pengertian sistem sebagai entitas. 42 Tahun 1999. Penegertian sistem sebagagi suatu methode atau tata cara.48 menggadaikannya kepada pihak lain. 64 H. 145. Belanda “systeem”. hal. Jaminan Fidusia sebagai Jaminan Kebendaan merupakan sub Sistem Hukum Jaminan Pengertian sistem secara umum.64 63 Lihat Pasal 15 UU No. op. selain melalui titel eksekutorial. . Dengan titel eksekutorial ini menimbulkan konsekuensi yuridis bahwa jaminan fidusia mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.63 Kemudahan pelaksanaan eksekusi dilakukan dengan mencantumkan irahirah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” pada sertifikat jaminan fidusia. Tan Kamelo. sistem hukum dan sistem hukum jaminan sangat diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Istilah sistem dalam bahasa Yunani “systema”. F. • Asas bahwa jaminan fidusia mudah dieksekusi. kata sistem secara garis besar dapat dikelompokkan dalam dua hal yaitu: 1. yang artinya keseluruhan yang terdiri dari pada macam-macam bagian. Inggris “system”. sesuatu wujud benda (abstrak maupun konkrit termasuk konseptual) 2.

yang berhubungan untuk mencapai tujuan bersama. Perbandingan Hukum Perdata. suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain. Setelah makna sistem. secara piramida dari norma-norma yang terbentuk secara hirarkhi. memiliki tatanan tertentu yang menunjukkan suatu struktur yang tersususn atas komponen-komponen atau bagianbagian yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan. hal. 66 Satjipto Rahardjo. Alumni: Bandung. hasil dari pemikiran. Teori sistem ini adalah aliran yang paling penting dalam positivisme hukum. Pradya Paramita: Jakarta. yang intinya bahwa hukum adalah suatu stelsel dari aturan yang berkaitan satu sama lain secara organis. 1983. perlu juga dijelaskan pengertian sistem hukum 65 Subekti.66 Dari dua pengertian sistem diatas dapat dipahami bahwa penekanan arti sistem terletak pada keterkaitan antara unsur-unsur atau bagian-bagian dan kerjasama dari unsurunsur/bagian-bagian untuk mencapai tujuan. untuk mencapai tujuan”. Dan secara etimologi sistem adalah seperangkat unsur yang berkaitan yang bekerjasama untuk membentuk suatu kesatuan.65 Suatu sistem adalah “suatu kesatuan yang bersifat kompleks. 99. benda-benda. . seperti manusia. 1986.49 Pengertian sistem yang menjadi acuan dalam kerangka analisis jaminan fidusia adalah sistem dalam arti entitas. hal. 88. yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain yang bekerja bersama secara aktif untuk mencapai tujuan pokok dari kesatuan tersebut”. Para ahli hukum merumuskan pengertian sistem sebagai berikut: “Suatu sistem adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur. konsep-konsep. Ilmu Hukum. Secara sederhana sistem diartikan sekumpulan unsur. tersusun menurut suatu rencana atau pola.

sehingga terdapat kehamonisan dan dapat dihindarkan tumpang tindih antara masing-masing sistem tersebut. 1988. asas-asas hukum yang menjadi fundamental dan pengertian-pengertian hukum. 68 Sudikno Mertokusumo. yang merupakan landasan. hal ini adalah merupakan bagian dari budaya umum yang berkenaan dengan sistem 67 Mariam Darus Badrulzaman. di atas mana dibangun tertib hukum. Struktur hukum adalah jumlah dan ukuran pengadilan. 3 Budaya hukum adalah sikap masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum kepercayaan-kepercayaan. hal.68 dari satu dan atau Pengertian sistem hukum di atas dapat dianalisa bahwa sistem hukum adalah peraturan hukum. harapan-harapan. 69 Lawrence M.69 Tan Kamelo menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Fiedmann dengan ketiga unsur tersebut adalah: 1. cit. dan budaya hukum (legal culture). Unsur sistem hukum dibangun di atas tertib hukum.50 yakni kumpulan asas-asas hukum yang terpadu. log. normanorma. loc. Liberty: Yogyakarta. Padahal komponen sistem hukum (element of legal system) meliputi tiga hal yakni: structur (sturucture). Mengenal Hukum. Substansi hukum diartikan sebagai aturan-aturan yang berlaku. substansi (substance). nilai-nilai. pandangan-pandangan pikiran-pikiran. . cit. Friedmann. Struktur juga dapat berarti bagaimana badan pembuat undang-undang diatur dan sebagainya. 102. Kalau ada konflik antar unsur-unsur sistem hukum. di dalam mana setiap masalah persoalan menemukan jawaban atau penyelesaiannya.67 Menurut Sudikno sistem hukum adalah: suatu kesatuan yang terdiri unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan berinteraksi sama lain dan bekerjasama untuk mencapai tujuan kesatuan hakiki terbagi-bagi dalam bagian-bagian. jurisdiksi dan cara-cara banding dari satu pengadilan kepada pengadilan lainnya. penyelesaiannya ada dalam sistem hukum itu sendiri. Rumusan sistem hukum di atas hanya dilihat dari segi komponen substansi hukum saja. dan pola-pola prilaku manusia di dalam sistem. 2.

cit. harapan dan pendapat mengenai hukum. Di belakang tuntutan itu.71 Berdasarkan pendapat teori sistem di atas. Tuntutan datangnya dari rakyat atatu para pemakai jasa hukum. Jadi jelas bahwa hukum tidak dapat 70 H.. Struktur hukum adalah pola yang memperlihatkan tentang bagaimana hukum itu dijalankan menurut ketentuan formalnya yakni memperlihatkan bagaimana pengadilan. 3. Budaya hukum dengan perkataan lain adalah iklim dari pikiran sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan. konsep budaya hukum substantive memerlukan unsur yang dinamis. bahkan kepentingan-kepetingannya. hukum sebagai sistem mempunyai tiga aspek. yang sangat menentukan berjalan atau tidaknya suatu peraturan hukum adalah budaya hukum masyarakatnya. Karena masyarakat hukum itu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Kultur hukum adalah unsur yang terpenting dalam sistem hukum yakni tuntutan dan permintaan. op. 2. posisi dan kedudukan. Substansi hukum adalah peraturan-peraturan yang dipakai oleh para pelaku hukum pada waktu melakukan perbuatan-perbuatan serta hubunganhubungan hukum. Ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut yakni: 1. pembuat hukum dan lainlain badan serta proses hukum itu berjalan dan dijalankan. Budaya hukum masyarakat bergantung kepada budaya hukum anggota-anggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. Tanpa budaya hukum.51 hukum. cit. Tan Kamelo. op. sikap. bukan ikan yang hidup berenang di laut. lingkungan. terlihat juga faktor-faktor seperti ide. hal. 150-151.70 Jadi dalam perkembangannya.. . kecuali didorong oleh kepentingan. sistem hukum adalah tidak berdaya-ibarat ikan mati yang terletak dalam sebuah keranjang. hal. dihindarkan atau disalahgunakan. 71 Satjipto Rahardjo. Kultur hukum mengandung potensi untuk dipakai sebagai sumber informasi guna menjelaskan sistem hukum. keyakinan. 166-167.

peranan sistem hukum jaminan dalam pembangunan hukum dapat diwujudkan. dapat dikatakan sistem hukum jaminan yang akan dibentuk harus memperhatikan aspek-aspek sistem hukum nasional yaitu substansi. Arief Sidharta. sarana dan prasarana serta budaya hukum tersebut. yudikatif). dan komponen budaya hukum yang mencakup sikap prilaku para pejabat dan warga masyarakat berkenaan dengan komponen-komponen lainnya dengan proses-proses penyelenggaraan kehidupan masyarakat berhukum. hukum tidak tertulis termasuk hukum adat dan yurisprudensi) serta tatanan hukum internal (asas-asas hukum) yang mengutuhkannya. Dengan perubahan paradigma sistem hukum. sedangkan sistem hukum benda adalah sub sistem dari sistem hukum perdata. . Pembangunan sistem hukum yang ideal adalah menetapkan prosedur yang jelas kepada para penegak hukum dalam rangka menerapkan atau menjalankan hukum dengan menyediakan sarana dan prasarana yang cukup. 72B. dapat dijelaskan bahwa sistem hukum jaminan merupakan sub sistem dari sistem hukum benda.72 Berdasarkan hal tersebut di atas. Sistem hukum juga harus dibangun untuk mendidik dan mengarahkan perilaku masyarakat agar mematuhi hukum sesuai dengan cita-cita hukum yang diharapkan. struktur. Pusat Penelitian Perkembangan Hukum Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hukum dalam realitas pernyataannya harus dilihat sebagai perwujudan atau pencerminan dari stuktur masyarakat. Demikian pula sistem hukum perdata merupakan sub sistem hukum nasional. juga meliputi penataan aturan hukum yang pasti adil dan benar. dapat dikatakan pembangunan hukum berarti pembaharuan tata hukum yang mencakup tiga koponen yakni komponen substansi hukum disebut juga tata hukum eksternal yang terdari dari (perundang-undangan. hal. komponen kelembagaan hukum yang terdiri atas berbagai organisasi publik dengan para pejabatnya (legislatif. 1: 1999. Dengan pendekatan sistem hukum yang demikian. 14. Jurnal Hukum No. eksekutif.52 dilihat semata-mata sebagai perwujudan atau pencerminan dari konsep-konsep dan peraturan hukum. Peranan Praktisi Hukum dalam Perkembangan Hukum di Indonesia.

53 .

Bank Rakyat Indonesia: Jakarta. Namun pada tanggal 3 Oktober 1942. Syomin Ginko secara resmi menjadi Bank Rakyat Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Keadaan Umum Tempat Penelitian Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada tanggal 16 Desember 1895 oleh seorang Patih Banyumas bernama Raden Bei Aria Wirjaatmadja. hal. yaitu berdasarkan Surat Keputusan Ratu Belanda No. Laporan Tahunan BRI Tahun 2005. 2006. 82 dengan ordonansi tanggal 19 Februari 1934 tentang Bepalingen Betreffende de Algemeene Volkscredietbank.73 Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942-1945. 74 Ibid. 28/1960 tanggal 26 Oktober 1960. tiga buah bank yaitu BRI. Dengan dikeluarkannya PP ini maka BRI menjadi bank pemerintah pertama di Indonesia. dengan nama “Hulp Spaarbank der Inlandssche Besturrs Ambtenaren” (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi) yang merupakan bank perkreditan rakyat yang pertama di Indonesia. 41 Tahun 1960 dalam Lembaran Negara No. 392.54 BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS A. 118 tanggal 10 Juli 1912. Staatsbld 1912 No. Pemerintah Jepang menutup semua bank termasuk AVB. Bank Tani dan Nelayan (BTN) serta Nederlansche Handels Maatschappij 73 BRI 2006. terjadi perubahan menjadi “Algemeene Volkscredietbank” atau AVB. berubah nama menjadi “Centrale Kas Voor het Volscredietwezen”. Dalam perjalanan 53 sejarah bank ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama. Selanjutnya berdasarkan Staatbld No. AVB dengan cabangnya di Jawa dan Madura kembali dibuka dengan nama “Syomin Gink” (Syomin = Rakyat. . 1 Tanggal 22 Februari 1946 dengan wilayah kerja di seluru Indonesia. 1. Ginko = Bank).74 Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No.

77 1. 14 Tahun 1967 Tentang Pokok Perbankan. Sejak bulan Oktober 2003 BRI melakukan go public. Tani dan Nelayan (BI-UKTN). Bank ini bertujuan untuk membentuk usaha koperasi. Misi PT Bank BRI (Persero) Tbk adalah sebagai berikut: 1. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 21 Tahun 1992. .75 Pada tahun 1965 terjadi perubahan struktur kelembagaan pada bank-bank milik pemerintah. 76 Ibid. BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi. visi PT Bank BRI Tbk yaitu untuk menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Presiden No. 77 Ibid.55 (NHM) dilebur menjadi sebuah lembaga perbankan baru bernama Bank Koperasi Tani dan nelayan (BKTN). telah terjadi perubahan kepemilikan BRI yang semula bank pemerintah diubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Bank BRI Perubahan ini dimaksudkan agar Bank BRI menjadi lebih professional untuk mengantisipasi persaingan perbankan yang semakin ketat. 17 tanggal 27 Juli 1965 dibentuk bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia (BNI) dan BI-UKTN dilebur kedalamnya dengan nama BNI Unit II bidang rural. 8 Tahun 1965. BNI unit II bidang rural diubah menjadi Bank Rakyat Indonesia. pertanian dan perikanan dalam arti luas. sehingga menjadi perusahaan public dengan nama PT Bank BRI (Persero) Tbk. Berdasarkan UU No. Visi Misi dan tujuan Perusahaan Sesuai dengan Corporate Plan 2003-2007. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan 75 Ibid.76 Berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 Tentang UU Perbankan dan Peraturan Pemerintah No.

e.56 pelayanan kepada usaha mikro. Pemerintah. dibidang perkerditan jelas arahnya menjadi bank komersial dengan menitikberatkan pada sektor usaha mikro. Pemegang saham. b. Masyarakat memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membangun ekonomi maupun sosial dengan menyisihkan sebagian 78 BRI 2003.78 Bertitik tolak dari visi dan misi PT Bank BRI (Persero) Tbk. yaitu sebagai berikut: a. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada stakenholders. Memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik dengan nilai tambah yang wajar (maksimal) demi terpeliharanya hubungan kemitraan dengan nasabah. Tidak dipublikasikan. baik public maupun pemerintah. kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan usaha masyarakat. PT Bank BRI (Persero) Tbk menetapkan tujuan perusahaan yang diselaraskan dengan kepentingan stokeholders. 2003. Memeberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan diukung oleh sumber daya manusia yang professional dengan melaksanakan praktek good corporate govermance. hal. Corporate Plan Bank BRI 2003-2007. Hal ini terlihat dari komposisi pembiayaan yang diberikan kepada sektor usaha UMKM di atas 80% dari fortopolio Kredit PT Bank BRI (Persero) Tbk. kecil dan menengah (UMKM). c. Berdasarkan visi misi tersebut. Di bidang pendanaan PT Bank BRI (Persero) Tbk berusaha untuk tetap peduli dan mengutamakan kepuasan nasabah dengan memberikan pelayanan secara prima dengan terus berusaha mengembangkan dukungan teknologi perbankan yang canggih. . 8. 3. Karyawan. Nasabah. Menjadi persero yang sehat dengan mematuhi segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan berperan serta dalam meningkatkan mutu industri perbankan Indonesia. BRI: Jakarta. Menjadikan karyawan sebagai asset utama perusahaan dengan menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang memuaskan. memberikan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan prestasi serta mengembangkan budaya perusahaan (Corporate Cultural) yang berlandaskan suatu tekad untuk mejadi bankir entrepreneur yang piawai dan mandiri d. 2. Memberikan hasil yang wajar (optimal) bagi pemegang saham tanpa harus meninggalkan tanggung jawab sosial.

hal. Masing-masing Direktur 79 BRI 2006. Perkembangan Usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk Perkembangan usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk berjalan seiring dengan situasi dan kondisi perekonomian di Indonesia. dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja yang semakin baik. Di samping itu dengan diberlakukannya Asian Free Trade Agreement (AFTA) maka perbankan asing akan semakin mudah masuk ke Indonesia sehingga PT Bank BRI (Persero) Tbk juga harus sanggup memenuhi ketentuan perbankan internasional berdasarkan Bank for International Settlement (BIS). . cit.57 laba usaha yang diperoleh. Setelah go public pada tahun 2003 permodalan PT Bank BRI (Persero) Tbk telah mencapai 12%. Pada saat krisis moneter 1997 kondisi penyaluran kredit PT Bank BRI (Persero) Tbk menjadi tidak maksimal karena sektor riil belum dapat menyerap dana perbankan secara baik. op. Keuntungan perbankan juga masih mengandalkan bunga obligasi rekap dan bunga SBI yang mempunyai tingkat resiko relatif kecil walaupun margin yang diperoleh tidak maksimal.. Organisasi dan Jaringan Kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang dibantu oleh 6 orang Direktur yang membidangi bisnis. Dana rekap yang diterima dari pemerintah sebesar 29. PT Bank BRI (Persero) Tbk sebagai bank public dan merupakan salah satu bank yang menerima dana rekapitulasi dari pemerintah. 10. 3. Di lain pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk juga harus memenuhi peraturan dan ketentuan bank sentral yang semakin ketat dalam hal ketentuan Capital Adequacy Ratio (CAR) minimal 8% dan Non Performing Loan (NPL) maksimal 5%.2 triliun meningkat CAR menjadi 8%.79 2.

seratus empat puluh tiga (143) Payment Point. Kepala Bagian dan Kepala Seksi serta seluruh PT Bank BRI (Persero) Tbk unit yang ada di wilayah kantor Cabang tersebut. seratur enam puluh tiga (163) Kantor Cabang Pembantu. tiga ratus dua puluh empat (324) Kantor Cabang. operasional dan penunjang yang masing-masing dipimpin oleh para Kepala Divisi dibantu Wakil Kepala Divisi yang membawahi para Kepala Bagian dan Staf. dua (2) Kantor Perwakilan Luar Nageri. satu (1) buah Kantor Cabang Khusus. Secara structural Direksi membawahi para Kepala Divisi di Kantor Pusat dan Pemimpin Wilayah Pt Bank BRI (Persero) Tbk. Unit kerja di tingkat Kantor Cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh Pemimpin Cabang yang membawahi para Officer. Unit Kerja di tingkat wilayah PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh Pemimpin Wilayah yang dibantu oleh Wakil Pemimpin Wilayah yang membawahi Kepala Bagian dan Pemimpin Cabang yang ada di wilayah tersebut. delapan (8) Kantor Cabang Syariah.58 membawahi Bidang Bisnis Mikro dan Ritel. dua belas (12) Kantor Inspeksi. Jaringan kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk meliputi wilayah yang sangat luas dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia di samping beberapa kantor cabang dan perwakilan di luar negeri. Bidang Keuangan dan Internasional. Unit kerja di kantor pusat PT Bank BRI (Persero) Tbk meliputi berbagai bidang bisnis. Bidang Operasional dan Bidang Kepatuhan. empat ribu sembilan puluh enam (4096) Kantor PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit. enam (6) buah Kas Mobil. Bidang Pengendalian Kredit. Saat ini jaringan kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk terdiri dari satu (1) buah Kantor Pusat. Bidang Bisnis Menengah. seratus enam puluh (160) Pos Pelayanan Desa . satu (1) Kantor Cabang Luar Negeri. tiga belas (13) Kantor Wilayah.

59 dan seratus enam belas (116) Tim Pelayanan Desa. Kredit Golongan Berpenghasilan Tetap dan Pensiun dan Credit Cash Collateral. Kredit Kendraan Bermotor. pembayaran uang pensiun PT Taspen. penerimaan SSB. Cek Perjalanan PT Bank BRI (Persero) Tbk (Cepebri). wesel. Wali Amanat. subsidi pembangunan inpres (P2KP). penerimaan setoran tagihan telepon dan listrik. SIM. Safe Deposit Box. 2. 4. Kupedes. pinjaman dan jasa bank lainnya. BPKP. STNK. pelayanan pembayaran Pertamina dan pelayanan setoran pegadaian. pembayaran pajak bea cukai KPKN. Kredit Pemilikan Rumah. 3. sertifikat PT Bank BRI (Persero) Tbk (Sertibri). Jasa bank lainnya meliputi biaya penyelenggaraan ibadah haji. Gambaran Umum Kantor Cabang Padangsidimpuan Kantor Cabang (Kanca) PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan . Usaha pinjaman meliputi kredit Prioritas atau Kredit Program. pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Kredit Ekspress. Usaha jasa bank meliputi transper. 1. 4. inkaso. Kredit Non Prioritas atau Kredit Komersial. Tabungan Britama. Usaha simpanan meliputi Girobri dan depobri dalam mata uang rupiah maupun US dollar. Kredit Profesi. penerimaan setoran denda tilang. ATM. Kliring dan jual beli Bank Notes. Tabungan Simpedes dan Tabungan Haji. Bidang Usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk memilki berbagai jenis usaha yang secara garis besar dapat di bagi dalam bidang usaha simpanan. pelayanan setoran PT Pusri. B.

. Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal. Jumlah unit usaha yang menjadi supervisi Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan terdiri dari 15 PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit yang tersebar di berbagai kecamatan yang ada di Kota Padangsidimpuan. betanggung jawab terhadap bisnis baik kredit maupun dana dan operasional mikro di Bank BRI unit. AMBM juga membawahi bagian Supervisi Administrasi Unit yang terdiri dari petugas Administrasi dan Petugas Rekonsiliasi Unit. 2. AMBM dibantu oleh lima orang penilik Bank BRI unit. Dalam kegiatannya Pinca dibantu oleh tiga orang Asisten Manajer di bawah ini: 1. Dua orang Asisten Manajer Bisnis Mikro (AMBM). sedangkan 15 PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit yang ada di Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan bergerak dalam pelayanan perbankan untuk sektor mikro. AMO membawahi bagian pelayanan dan bagian kas Kanca. Seorang Asisten Manajer Operasional (AMO) yang bertanggung jawab terhadap kelancaran seluruh proses operasional kanca.60 merupakan salah satu dari 17 kantor cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk yang terdapat di Kantor Wilayah Medan. serta sebuah Kantor Cabang Pembantu (KCP) yaitu KCP Panyabungan yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal. Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan dipimpin oleh Pemimpin Cabang (Pinca) yang membawahi kegiatan pelayanan kepada sektor mikro dan ritel. Kantor Cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan mempunyai segmen pelayanan perbankan di bidang bisnis ritel.

mesin padi. mobil/taxi. Jika tidak diperjanjikan lain. Benda bergerak (berwujud maupun tidak berwujud). Dalam Surat Edaran BRI 11 Mei 2004 Obyek jaminan fidusia adalah: a. Benda tidak bergerak. khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam UU No. 1. Objek Jaminan Fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk merupakan salah satu bank yang cukup tangguh di Kota Padangsidimpuan. Menurut Pak Riza bagian marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan telah dibuka model kredit kendraan barang. Khusus mengenai jaminan fidusia dari pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk diperoleh data bahwa perjanjian jaminan yang diikat dengan jaminan fidusia dari tahun 2000 sampai 2007 berjumlah 4 buah. kendaraan bermotor. mesin. 4/1996. truk. Jaminan tambahan berupa benda bergerak yaitu sepeda motor. misalnya persediaan/stok dagang/usaha b. maka jaminan fidusia meliputi hasil dari benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. c. piutang . misalnya hak pakai atas tanah hak milik. juga klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia diasuransikan. telah memiliki banyak nasabah dengan berbagai opsi pelayanan jasa perbankan yang disediakan oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk.61 C. dan semua statusnya hanya sebagai jaminan tambahan dan jaminan pokoknya adalah jaminan dalam bentuk hak tanggungan. Gambaran Umum Jaminan Fidusia Yang Ada Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan.

62 bermotor dengan jaminan secara fidusia, tetapi karena lembaga-lembaga leasing memberikan persyaratan yang lebih mudah dibandingkan dengan syarat yang harus dipenuhi debitur jika berhubungan dengan bank menyebabkan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan sangat sedikit jumlahnya. Pada dasarnya pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang

Padangsidimpuan merasa lebih aman dengan menggunakan jaminan hak tanggungan, jaminan fidusia hanya akan digunakan apabila setelah dianalisis ternyata jaminan pokok yang berupa hak tanggungan dinilai masih kurang mencukupi dengan besarnya nilai kredit yang akan disalurkan. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Pangsidimpuan tegas menyatakan tidak mau mengikat kredit dengan jaminan fidusia sebagai jaminan pokok.80 Praktek perbankan yang terjadi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, jaminan fidusia hanya berkedudukan sebagai jaminan sekunder sebagai pelengkap dari hak tanggungan dan bukan sebagai jaminan primer. Dan objek jaminan fidusia yang telah diikat semuanya adalah benda bergerak. Mengenai objek jaminan fidusia atas benda tidak bergerak seperti bangunan di atas tanah orang lain, hak sewa atau hak pakai dan rumah susun belum ada nasabah yang mengajukan pinjaman. Dengan tegas pihak Bank BRI mengatakan tidak bersedia untuk memberikan pinjaman terhadap agunan dalam bentuk bangunan di atas tanah orang lain, hak pakai, hak sewa, dan tanah yang tidak bersertifikat dengan alasan terlalu beresiko dan kurang bahkan tidak memberikan kepastian hukum. Keterangan bagian marketing ini cukup beralasan dan sejalan dengan
80 Wawancara dengan Pak Riza bagian Marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan tanggal 29 Desember 2006

63 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 4/248/UPPK/PK tanggal 6 Maret 1972 (sebelum keluarnya UU No. 42 Tahun 1992 Tentang Jaminan Fidusia) menegaskan bahwa fidusia hanya diperlakukan terhadap barang bergerak. Selanjutnya bank-bank dianjurkan agar tidak secara mudah menggunakan fidusia tanpa terlebih dahulu menyelidiki keadaan moral maupun financial standing dari calon debitur, mengingat barang bergerak itu tetap dikuasai debitur, berhasil atau gagalnya bentuk jaminan fidusia semata-mata bergantung kepada bonafiditas dan itikad baik debitur. Landasan operasional Bank BRI adalah surat edaran yang terbaru yaitu Nose: S. 8 –DIR/ADK/05/2004 tentang agunan kredit, secara yuridis hal ini dibenarkan oleh hukum berdasarkan hirarkhi perundang-undangan yang dianut di Indonesia, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hukum jaminan fidusia adalah Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Dalam Surat edaran ini ditegaskan bahwa objek jaminan fidusia adalah benda bergerak dan benda tidak bergerak dapat atas bangunan yang berdiri di atas tanah orang lain termasuk rumah susun, hak pakai dan hak sewa dan ini sesuai dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia No.42 Tahun 1999 tetapi dalam praktek jelas mereka menyatakan menolak untuk memberikan kredit terhadap nasabah yang memberikan agunan dengan objek jaminan seperti bangunan di atas tanah hak milik orang lain, hak sewa, dan hak pakai. Secara yuridis Bank BRI tidak melakukan pelanggaran hukum/peraturan perundang-undangan, karena tidak bersedia memberikan kredit terhadap agunan hak sewa, hak pakai dan bangunan yang ada di atas tanah orang lain, juga tanah yang tidak memiliki sertifikat, hal ini dapat dikaitkan dengan asas konsensualitas dan kebebasan berkontra, artinya apa yang diinginkan oleh pihak yang satu

64 dikehendaki juga oleh pihak yang lain. Konsensualitas dalam perjanjian tersimpul dalam pasal 1320 yang mengatur syarat sahnya suatu perjanjian dan salah satu syarat tersebut adalah “sepakat” mereka yang mengikatkan dirinya, artinya para pihak bebas untuk melakukan perjanjian apa saja selama tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak sepakat dengan nasabah yang mempunyai agunan berupa bangunan diatas tanah orang lain, hak pakai dan hak sewa, meskipun undang-undang Jaminan Fidusia mengatur tentang hal ini tetapi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebagai kreditur boleh menyimpangi peraturan ini di dasarkan oleh suatu prinsip bahwa jaminan fidusia lahir karena diperjanjikan bukan karena undang-undang. Selayaknya PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dapat mengikuti perkembangan hukum jaminan yang sudah jauh lebih maju dengan objek jaminan yang lebih luas seperti yang telah diatur dalam ruang lingkup jaminan fidusia yang diatur dalam Pasal 2 dan 3 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Jumlah perjajian kredit dengan pembebanan secara fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sangat sedikit, hal ini disebabkan oleh antara lain: 1. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak memenerima agunan berupa bangunan di atas tanah hak milik orang lain. 2. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak menerima agunan berupa hak pakai dan hak sewa. 3. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan juga tidak menerima

Mungkin ini berkaitan dengan rahasia bank. 2. disebabkan oleh kesadaran hukum masyarakat kota Padangsidimpuan khususnya nasabah PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan cukup tinggi artinya debitur melakukan kewajiban- kewajibannya dengan baik. 13/PDT. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak menerima agunan benda bergerak sebagai agunan pokok.PSP. Hakim pada Pengadilan Negeri Padangsidimpuan tanggal 8 Januari 2007. Kasus Jaminan Fidusia ke Pengadilan Hasil wawancara dengan pihak yang berkompoten dengan bagian kredit pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padandsidimpuan sampai dengan hari terakhir penelitian belum/ tidak ada kasus tentang jaminan fidusia yang sampai ke pengadilan baik jaminan fidusia berkedudukan sebagai jaminan primer maupun jaminan sekunder sebagai pelengkap dari jaminan hak tanggungan.65 agunan tanah yang tidak bersertifikat 4. Menurut Pak Afandi hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri Padangsidimpuan untuk membantu dalam penelitian ini. Setelah menghubungi bagian perdata di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan diperoleh data bahwa ada satu kasus debitur yang melakukan wanprestasi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum keluarnya UndangUndang Jaminan Fidusia yaitu kasus dengan register No. . tidak banyak kasus menyangkut fidusia yang sampai ke Pengadilan karena debitur melakukan wanprestasi atau hal lain.81 81 Wawancara dengan Hakim Afandi SH. disamping agunan yang dapat diikat dengan jaminan fidusia sangat terbatas dan hanya sebagai jaminan sekunder saja. G/1992/PN.

dibandingkan dengan perjanjian fidusia yang dibuat di bawah tangan hingga proses eksekusinya lewat gugatan biasa. (penjelasan pasal 15 ayat 2). Undang-Undang Jaminan Fidusia No. apabila terjadi permasalahan dikemudian hari. Penjelasan Pak Afandi ini cukup beralasan jika dilihat dari tujuan dibentuknya UU jaminan fidusia itu sendiri yaitu untuk memenuhi kebutuhan hukum yang dapat lebih memacu pembangunan nasional dan untuk menjamin kepastian hukum serta mampu untuk memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan. yang melalui proses birokrasi berbelit-belit dan proses peradilan yang sangat lama dan melelahkan. Untuk melakukan eksekusi terhadap barang objek fidusia dengan kekuasaan sendiri karena sertifikat jaminan fidusia yang telah memuat irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. 42 Tahun 1999 juga menawarkan proses eksekusi yang lebih praktis. D. murah dan cepat bagi para pihak dalam perjanjian. efisien.66 Ditambah lagi setelah keluarnya UU Jaminan Fidusia No 42 Tahun 1999 telah memberikan peluang yang luas bagi para pihak debitur (nasabah) dengan kreditur (pihak bank) menawarkan beberapa opsi dalam hal eksekusi. Pelaksanaan Jaminan Secara Fidusia 1. terutama perjanjian yang dibuat oleh lembaga perbankan dengan syarat bahwa perjanjian jaminan fidusia tersebut harus dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia. Fungsi Juridis Jaminan Fidusia Sebagai Pengaman Kredit Bank .

setiap pejabat kredit. . Prinsip ini lebih dikenal dengan istilah 5 C’s yakni Character (watak. modal. Tingkat keyakinan pejabat kredit tersebut akan dipakai sebagai bahan 82 Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. pejabat kredit (pejabat pemrakarsa dan pemutus) harus mampu mengambil suatu kesimpulan yang mengarah pada keyakinan bahwa pinjaman yang diberikan akan dapat dibayar kembali (sesuai dengan yang diperjanjikan). agunan). dalam menyalurkan kredit didasarkan kepada prinsip kehati-hatian.82 Dalam praktek pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan menentukan kecukupan jaminan. yaitu: a. dalam menentukan kecukupan jaminan kredit. serta kondisi dan prospek usaha nasabah dan agunan. dan ini terlihat dalam sistim penilaian yang dilakukan berdasarkan prinsip keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi kewajibannya. ditentukan oleh hasil analisis terhadap watak. baik pejabat pemrakarsa maupun pejabat pemutus mempertimbangkan tiga hal utama. Untuk memperoleh keyakinan. kemampuan.67 PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai penyalur dana masyarakat secara aktif memberikan kredit kepada nasabah. kepribadian). kemampuan. dan Conditions of Economic (kondisi ekonomi). hal. sebelum memberikan kredit. PT Bank BRI (Persero) Tbk melakukan penilaian yang seksama terhadap watak. kapital. 2. kemampuan. Capacity (kemampuan). kapital serta kondisi ekonomi/politik dari seorang debitur atau calon debitur. di Padangsidimpuan tanggal 29 Desember 2006 83 Surat Edaran BRI Tahun 2004. agunan dan prospek usaha dari debitur.83 Oleh karena itu. Capital (modal). Kondisi dan Prospek Usaha Debitur Dari hasil analisis yang dilakukan secara mendalam terhadap unsur watak. Collateral (jaminan.

diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur untuk mengembalikan utangnya. efektifitasnya pada saat diperlukan. pengikatan hukumnya. modal dan prospek). agunan pokok yang disediakan tidak dapat menutup kecukupan jaminan. Nilai Agunan Pokok dan Tambahan Berdasarkan hasil judgement atas unsur–unsur tersebut di atas. kemampuan. maka agunan tambahan menjadi wajib dipenuhi. kemampuan. Kecukupan Jaminan Berdasarkan kesimpulan atau judgement atas kualitas nasabah atau calon nasabah (yang diperoleh melalui analisis terhadap watak. harus didasarkan keyakinan dari Pejabat kredit Lini (pemrakarsa dan pemutus) bahwa nilai agunan tersebut akan dapat meminimalkan tingkat kerugian (loss given default) dan memperbesar recovery rate apabila debitur wanprestasi di kemudian hari. Dalam mempertimbangkan kecukupan nilai agunan kredit. Perlu juga dilakukan kajian untuk menetapkan persyaratan yang diperlukan agar agunan kredit (baik untuk agunan pokok maupun agunan tambahan) tersebut dapat dijamin keamanannya. harus mampu mengambil keputusan mengenai macam agunan yang dipersyaratkan. c.68 pertimbangan dalam menentukan kecukupan jaminan suatu kredit yang diberikan. yang disebabkan adanya kesulitan dalam pengikatan dan penguasaan agunan pokok. pejabat pemrakarsa dan pejabat pemutus. yaitu apakah cukup agunan pokok saja atau perlu diminta agunan tambahan. Apabila menurut judgement pemutus. penguasaannya. sehingga tidak dapat memberikan hak preference bagi Bank BRI. modal. . Agunan kredit dapat hanya berupa agunan pokok tersebut apabila berdasarkan aspek-aspek lain dalam ”first way out” (watak. b.

Penilain watak menyangkut masalah reputasi dari calon debitur dalam mempergunakan kredit sesuai dengan tujuan dan selalu memenuhi kewajibannya membayar kredit tepat pada waktu yang diperjanjikan. Dengan kondisi usaha yang menguntungkan dan kejelasan pertambahan pendapatan nasabah pasti mampu membayar utang pokok dan bunganya. Dari kelima faktor penilaian yang dilakukan oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Penilaian jaminan menyangkut tentang harta benda milik debitur atau milik pihak ketiga yang merupakan jaminan tambahan dalam mengamankan penyelesaian kredit. Penilaian kemampuan menyangkut kemampuan calon debitur dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya sehingga berjalan lancar. Semakin besar jumlah modal yang dimiliki oleh debitur akan semakin baik karena keterlibatan debitur terhadap maju dan mundurnya usaha sangat besar. pejabat pemrakarsa dan pejabat pemutus kredit harus mampu mengambil kesimpulan mengenai kecukupan jaminan untuk mendukung kredit yang diberikan. di atas. Penilaian kondisi ekonomi menyangkut masalah situasi perekonomian dan politik secara makro (kondisi dan situasi yang memberikan dampak positif bagi prospek usaha debitur). Penilaian modal menyangkut masalah besarnya modal yang dimiliki calon debitur.69 serta kondisi dan prospek usaha seperti di atas ). faktor yang berfungsi sebagai pengaman yuridis dari kredit yang disalurkan adalah jaminan kredit. Jaminan kredit dalam arti luas bukan hanya menyangkut agunan yang diberikan oleh debitur tetapi juga meliputi faktor-faktor lain seperti: bonafiditas . serta nilai agunan yang ada seperti diuraikan.

70 dan prospek usaha. Pada umumnya. jaminan utama telah memenuhi standar untuk menjamin penyelesaian kredit yang akan disalurkan. Dalam arti sempit. Setelah keluarnya UU No.84 Pemberian kredit tanpa jaminan tambahan dikenal dengan unsecured loans. 10 Tahun 1998. yang diterima bank adalah tanah yang sudah bersertifikat dengan bentuk perjanjian jaminannya adalah hak tanggungan. Wajib dijadikan jaminan adalah yang berkaitan secara langsung dengan objek yang dibiayai. dengan alasan bahwa bentuk pengikatan jaminan baik surat kuasa jual maupun perjanjian penyerahan jaminan dan pemberian kuasa bukanlah suatu lembaga jaminan yang memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi bank dan konsekuensi yuridisnya bagi bank hanya sebagai kreditur konkuren. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan dinyatakan bahwa tanah yang tidak bersertifikat tidak dapat dijadikan sebagai 84 Lihat Pasal 8 UU No. 4 Tahun 1996 pengikatan atas tanah yang belum bersertifikat dilakukan dengan menggunakan surat kuasa jual atau perjanjian penyerahan jaminan dan pemberian kuasa. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan bank tidak menerima lagi tanah yang belum bersertifikat untuk dijadikan sebagai agunan. . dan meminta jaminan kredit sebagai jaminan tambahan bukan suatu kewajiban bank. Sebelum keluarnya Undang-Undang Hak Tanggungan No. Artinya pihak bankmau memberikan kredit kepada nasabah yang mempunyai agunan tanah yang belum bersertifikat. jaminan kredit hanya ditujukan kepada benda agunan yang diberikan debitur yang lazim disebut dengan jaminan tambahan berupa harta benda. PT Bank BRI (Persero) Tbk memberikan kredit model ini jika dalam analisis jaminan. Setelah keluarnya UU No.

Oleh karena itu . Jaminan fidusia adalah salah satu sarana perlindungan hukum bagi keamanan bank yakni sebagai suatu kepastian bahwa debitur akan melunasi pinjaman kredit. PT Bank BRI (Persero) Tbk dengan jelas menyatakan bahwa tanah belum bersertifikat tidak dapat dijadikan sebagai agunan baik untuk bentuk jaminan dengan hak tanggungan maupun dalam bentuk jaminan fidusia. Jika dilihat dari sistim hukum jaminan kebendaan. Perjanjian jaminan fidusia bukan suatu hak jaminan yang lahir karena undang-undang melainkan harus diperjanjikan terlebih dahulu antar bank dengan debitur. Hubungan fungsi yuridis jaminan fidusia sebagai pengaman kredit bank dapat dilihat dari akta jaminan fidusia di bawah ini: 85 Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan di Padangsidimpuan pada tanggal 29 Dsember 2006 . jaminan fidusia dan hak tanggungan memiliki kekuatan yuridis yang sama. Dengan argumen bahwa tanah yang tidak bersertifikat terlalu beresiko bagi bank artinya jika debitur melakukan waprestasi pihak bank berada pada posisi yang sangat lemah dan debitur punya banyak kesempatan untuk berbuat curang85 Dari penelitian ini ditemukan fakta bahwa jaminan fidusia yang dijumpai pada PT Bank BRI (Persero) Tbk adalah jaminan fidusia yang merupakan jaminan pelengkap dari jaminan hak tanggungan.71 agunan dan sebagai jalan keluarnya dapat diikat dengan fidusia. hanya berbeda dalam objeknya. Fungsi yuridis pengikatan benda jaminan fidusia dalam akta jaminan fidusia merupakan bagian yang sangat urgen dari perjanjian kredit. Jaminan fidusia cenderung lebih kecil nilai pinjaman kreditnya jika dibandingkan dengan pinjaman kredit yang diikat dengan hak tanggungan. fungsi yuridis pengikatan jaminan fidusia lebih bersifat khusus jika dibandingkan dengan jaminan yang lahir berdasarkan Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Selanjutya disebut perjanjian dengan syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Sebagai jaminan hutang yang dimaksud dalam Perjanjian Membuka kredit Nomor:…tanggal… dibuat dihadapan notaris. dan ongkosongkos serta biaya. Warna Putih Kombinasi.72 Bahwa untuk lebih menjamin kepastian dan ketertiban pembayaran kembali pinjaman. Dan juga memperoleh kepastian terhadap pengembalian utang debitur sekaligus mengurangi tingkat resiko bank dalam menjalankan usahanya.biaya lainnya tanpa pengecualian. Besarnya nilai pinjaman c. 2. Nomor Mesin 4D56-698650. denda bunga. Jaminan pokok berupa usaha/proyek yang dibiayai dan 86 Dikutip dari Akta Penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan Nomor 132 tanggal 30 Juni 2006 yang dibuat Notaris L di Padangsidimpuan. Nomor Rangka/NIK:.1531-RA. Data pemberi kredit/bank dan penerima kredit/nasabah b. maka kedua belah pihak sepakat dan setuju untuk mengadakan perjanjian penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan (Fiducia). Besarnya bunga d. bunga.L300DB. pihak pertama setuju untuk menyerahkan hak milik atas kepercayaan kepada pihak kedua dan pihak kedua setuju untuk menerima penyerahan tersebut dari pihak pertama. Pihak pemberi kredit adalah PT Bank BRI (Persero) Tbk dan nasabahnya adalah seorang wiraswasta. Jangka waktu pinjaman e. jenis Mobil Penumpang Tahun Perakitan 1996/2477. Perjanjian Membuka Kredit Pemberi fidusia yang telah memenuhi semua syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam formulir reviw dokumen maka tahap selanjutnya adalah membuat perjanjian membuka kredit dibuat dengan akta notaris yang mengatur tentang: a. .. terdatar atas nama…dengan nilai penjaminan sebesar …86 Fungsi yuridis jaminan fidusia yang dinyatakan dalam akta jaminan fidusia akan lebih menguatkan kedudukan bank sebagai kreditur preferen. Pengakuan utang f. yaitu atas: 1(satu) unit kendraan bermotor Merk Mitsubishi. Buku Pemilik Kendraan Bermotor A Nomor: 4972754B. Type L300.215595. Nomor Polisi BB.CC. baik berupa pokok.

apabila di kemudian hari terjadi kegagalan pembayaran kredit. Jaminan tambahan berupa benda bergerak yaitu: mobil. Biaya pembuatan akta perjanjian membuka kredit ini. Pengikatan/Pembebanan Jaminan Secara Fidusia Nilai pengikatan agunan merupakan nilai yang menggambarkan minimal besarnya hak Bank BRI atas agunan kredit yang diikat. mesin padi. Untuk mengatasi hal tersebut.73 tanah yang diikat dalam bentuk hak tanggungan g. Secara umum. truk dan stok barang-barang dagangan yang telah ada sekarang maupun yang akan ada dikemudian hari yang disebut (objek jaminan fidusia). yang diikat dengan jaminan dalam bentuk fidusia. Undang-Undang telah memberikan jaminan perlindungan kepada kreditur sebagaimana diatur dalam pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1131 tersebut masih dirasakan terlalu umum dan belum sepenuhnya melindungi kreditur apabila debitur wanprestasi. menurut notaris L menyangkut rahasia notaris. serta untuk dapat memberikan rasa aman bagi kreditur . baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Pemutus harus menentukan besarnya nilai pengikatan agunan dengan pertimbangan utama untuk memaksimalkan recovery rate apabila kredit menjadi bermasalah. baik yang sekarang ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi tanggungan/ jaminan atas hutang-hutangnya”. yaitu: “segala harta kekayaan debitur. 3. taxi. dan merupakan perkiraan besarnya kewajiban debitur kepada Bank BRI yang dapat ditutup oleh agunan tersebut.

nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia • Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia • Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia • Nilai penjaminan . Dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia 2. pembebanan barang sebagai agunan adalah: o Pembebanan Fidusia 1. baik bergerak maupun tidak bergerak. antara lain : • Mencantumkan benda tersebut dan bukti kepemilikannya. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia 4. kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia yang memuat : • Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia • Tanggal dan nomor akta jaminan fidusia. Jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari 1 (satu) penerima fidusia dalam hal kredit konsorsium atau kredit sindikasi 8. 3. maka kreditur dapat meminta benda tertentu dalam bentuk barang. barang jadi atau portofolio perusahaan efek. merek dan kualitas dari benda tersebut.74 (bank). 9. maka dalam akta jaminan fidusia dicantumkan uraian mengenai jenis. tempat dan tanggal lahir. Nilai penjaminan 6. meliputi: nama lengkap. 5. Pendaftaran jaminan fidusia dimaksud dilakukan oleh penerima fidusia. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Pasal 4 sampai 10 Undang-Undang jaminan Fidusia No. Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia 7. jenis kelamin. sebagai agunan atas kredit yang diberikan. status perkawinan dan pekerjaan. agama. • Dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia merupakan benda yang selalu berubah-ubah dan atau tidak tetap seperti stok bahan baku. Sifat Jaminan fidusia adalah perjanjian ikutan (accessoir) dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Jaminan fidusia wajib didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia ditempat kedudukan pemberi fidusia dan pendaftarannya mencakup benda baik yang berada di dalam maupun diluar wilayah Negara Republik Indonesia. 42 Tahun 1999. Memuat sekurang-kurangnya : • Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia. tempat tinggal/ tempat kedudukan.

pemberi gadai juga bertindak selaku penyelenggara administrasi/tata usaha dari obyek jaminan. 19. menggadaikan atau menjual atau mengalihkan dengan apapun obyek jaminan fidusia kepada pihak lain. Pemberi fidusia juga tidak dapat membebankan. Pendaftaran Jaminan Fidusia Suatu perubahan yang cukup mendasar dari perkembangan jaminan fidusia adalah mengenai pendaftaran. Sebelum keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia pendaftaran jaminan fidusia belum menjadi suatu kewajiban. • Pembebanan jaminan fidusia menyebabkan obyek jaminan fidusia menjadi milik penerima fidusia/bank. Pendaftaran tersebut memiliki arti yuridis 87 Surat Edaran BRI Tahun 2004.87 4. namun obyek jaminan tersebut tetap berada pada dan dalam kekuasaan pemberi fidusia selaku peminjam pakai. • Pemberi fidusia tidak berhak untuk melakukan fidusia ulang atas obyek jaminan fidusia. • Apabila bagian dari obyek jaminan fidusia atau antara obyek jaminan fidusia ada yang tidak dapat digunakan lagi. hal. setiap waktu berhak dan dengan ini telah diberi kuasa dengan hak subtitusi oleh pemberi fidusia untuk memeriksa tentang adanya dan tentang keadaan obyek jaminan fidusia tersebut. tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia. • Obyek jaminan fidusia yang insurable agar diasuransikan berdasarkan judgement dari pemutus kredit. yang nilainya setara dengan yang digantikan serta yang dapat disetujui penerima fidusia. .75 • Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia 10. Untuk obyek jaminan berupa piutang. maka pemberi fidusia berjanji dan karenanya mengikat diri untuk mengganti bagian dari atau obyek jaminan fidusia lainnya yang sejenis. antara lain : • Obyek jaminan fidusia benar-benar milik pemberi jaminan fidusia dan pembebanan jaminan fidusia dilakukan di tempat dimana obyek jaminan fidusia berada. sedang pengganti obyek jaminan fidusia tersebut termasuk dalam jaminan fidusia yang dinyatakan dalam akta ini. Klausula yang perlu diperhatikan atau yang lazimnya terdapat pada akta jaminan fidusia. tetapi setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999 pendaftaran jaminan fidusia semakin krusial. • Penerima fidusia atau wakilnya yang sah. • Pemberi fidusia menjamin kepada penerima fidusia bahwa obyek jaminan fidusia tersebut tidak terikat sebagai tanggungan untuk menjamin hutang lain.

ditemukan fakta yuridis bahwa yang didaftarkan adalah akta jaminan fidusia dan benda jaminan fidusia. menandatangani surat/formulir. Untuk keperluan itu membayar semua biaya dan menerima kwitansi segala uang pembayaran serta selanjutnya melakukan segala tindakan yang perlu dan berguna untuk melaksanakan ketentuan dari akta ini. selain itu. semua perjanjian jaminan yang diikat dengan jaminan fidusia didaftarkan. dan mengajukan permohonan perubahan dalam hal terjadi perubahan atas data yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia.89 Pernyataan bahwa yang didaftar adalah akta jaminan fidusia dan benda/ 88Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan di Padangsidimpuan tanggal 26 Desember 2006. . 89 Dikutip dari Pasal 11 Akta Jaminan Fidusia No. Contoh pendaftaran jaminan fidusia yang dituangkan dalam akta jaminan fidusia berbunyi sebagai berikut: Penerima fidusia atau kuasanya berwenang untuk melaksanakan pendaftaran jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia untuk keperluan tersebut menghadap dihadapan pejabat atau instansi yang berwenang memberikan keterangan.76 sebagai suatu rangkaian yang tidak terpisah dari proses terjadinya perjanjian jaminan fidusia. pendaftaran jaminan fidusia merupakan syarat untuk memenuhi asas publisitas dalam memperoleh kepastian hukum. mendaftarkan jaminan fidusia atau objek jaminan fidusia tersebut dengan melampirkan Pernyataan Pendaftran Jaminan Fidusia.88 Akibat hukum perjanjian jaminan fidusia yang didaftar di kantor pendaftaran fidusia adalah melahirkan perjanjian kebendaan yang berkarakter kebendaan seperti droit de suite dan hak preferensi melekat pada kreditur penerima jaminan fidusia Yang didaftarkan adalah akta jaminan fidusia dan bendanya. selanjutnya menerima Sertifikat Jaminan Fidusia dan/atau pernyataan perubahan. serta dokumendokumen lain yang bertalian. Akta Notaris Model PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia. 132 tanggal 30 Juni 2006. Hal ini dapat dianalisis langsung dari akta jaminan fidusia yang dibuat oleh notaris.

Pendaftaran jaminan fidusia sangat penting. Hal ini jelas terlihat dalam Undang-Undang No. 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (“Undang-Undang Jaminan Fidusia”). Tidak terpenuhinya unsur-unsur wajib/imperatif dalam undang-undang 90 Wawancara dengan Notaris M di Padangsidimpuan tanggal 4 Januari 2007.77 objek jaminan fidusia ini juga didukung oleh keterangan yang diberikan oleh notaris L (notaris mitra Bank BRI Cabang Padangsidimpuan) yang menyebukan bahwa syarat pendaftaran jaminan fidusia ke kantor pendaftaran fidusia salah satunya adalah foto copy surat kemilikan kendraan bermotor yang telah dilegalisasi oleh notaris untuk agunan fidusia yang berbentuk benda bergerak. hukum kebendaan lebih banyak berciri imperatif (memaksa) karena berlaku umum untuk semua pihak. Suatu perjanjian penjaminan hak kebendaan memiliki kedua ciri tersebut. . perjanjian itu wajib memuat beberapa unsur yang ditentukan undang-undang. adalah sifatnya yang fakultatif (tidak memaksa).90 Tetapi ketika diminta datanya menolak dengan alasan menyangkut rahasia bank. Sesuai azas kebebasan berkontrak masing-masing pihak bebas saling mengikatkan diri selama syarat sahnya perjanjian terpenuhi. Walaupun para pihak bebas menyusun klausulanya. Setiap perjanjian penjaminan pada dasarnya masuk dalam kelompok hukum perikatan walaupun memiliki dimensi hukum kebendaan. Hal ini diungkapkan oleh notaris M yang menyatakan bahwa masih ada perjanjian jaminan fidusia yang dibuat di bawah tangan dan tidak didaftarkan dan ada juga yang dibuat dengan akta notaris tetapi tidak didaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. namun dalam praktik perkreditan di lingkungan bank dan lembaga pembiayaan lainnya di Padangsidimpuan masih ada perjanjian jaminan fidusia yang tidak didaftarkan. Sebaliknya. Salah satu ciri hukum perikatan.

Konsekuensi bagi kreditur yang tidak melakukan pendaftran jaminan fidusia adalah kreditur tidak mendapat perlindungan hukum dari Undang-Undang Jaminan Fidusia. perjanjian itu tidak memberikan hak mendahului pada sang kreditur untuk mengambil pelunasan terlebih dahulu dibanding kreditur lainnnya. Kreditur hanya berhak atas pelunasan dari hasil penjualan objek jaminan bersama-sama dengan kreditur konkuren lainnya. Namun. Cara meminta eksekusinya pun berbeda. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah No. . Perjanjian yang disusun dengan konsep fidusia yang lama (fiduciairie eigendom overdracht atau biasa disingkat FEO) tetap sah dan berlaku mengikat pada kedua belah pihak. Jaminan fidusia yang tidak memenuhi syarat imperatif dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia Fidusia (misalnya syarat akta jaminan fidusia dalam Pasal 6 Undang-Undang Jaminan Fidusia yaitu tidak dibuat secara notariil) tidak akan dapat didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia.78 penjaminan tidak berakibat perjanjian itu sendiri batal. 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia mengatur tentang pendaftaran fidusia adalah sebagai berikut ini. Prosedur dalam pendaftaran jaminan fidusia Pasal 11 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang No. pihak yang memiliki hak atas perjanjian itu tidak bisa menikmati haknya yang diberikan dalam undang-undang yang bersangkutan. kuasa. Permohonan pendaftaran fidusia dilakukan oleh penerima fidusia. Namun. a. Kreditur tidak bisa menggunakan titel eksekutorial yang lazimnya dinikmati kreditur pemegang fidusia (lihat Pasal 29 UU Fidusia). Ia hanya dapat mengajukan gugatan perdata terhadap debitur. Akibatnya sang kreditur tidak menikmati hak mendahului yang lazimnya didapat dari perjanjian penjaminan sesuai Undang-Undang Jaminan Fidusia.

Berikut ini . b. maka besarnya biaya pendaftarannya paling banyak Rp 50. 50. Apabila nilai penjaminannya kurang dari Rp. Permohonan itu diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. Kantor Pendaftaran Fidusia mencatat jaminan dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. tempat dan nomor akta jaminan fidusia. Membayar biaya pendaftaran fidusia..79 atau wakilnya pada Kantor Pendaftaran fidusia.000 besarnya biaya pendaftaran fidusia ini adalah 1 per mil dari nilai penjaminan (nilai kredit). Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia o Permohonan itu dilengkapi dengan: • Salinan akta notaris tentang pembebanan jaminan fidusia • Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia • Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia (Pasal 2 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia). Permohonan pendaftaran melampirkan pernyataan pendaftaran fidusia. nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia • • • • Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia Nilai penjaminan. Pernyataan itu memuat: • • Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia Tanggal. a. Biaya Pendaftaran fidusia ditentukan secara berjenjang disesuaikan dengan besarnya nilai penjaminannya.000. Biaya pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia.000.

5. cit.000.000. Surat Kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia d. Salinan akta jaminan fidusia (notariil) c. 250.000. hal. 100. 2. 500. 000.000. cit.2..000.000. 200.d. 93 Salim HS. > Rp 100. Tarif yang ditentukan oleh notaris sebesar 2% dari nilai jaminan.000. 125.000. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia Tanggal 30 September 2000. Rp.000.000.500.000. 000 s.d. s. 5. Rp. Rp. 2 > Rp 50.000.000.000. 4.000. > Rp 250. 5. hal 84.000. 10. 10. 9. > Rp.000.000 untuk setiap pembuatan akta fidusia. 7.000. Rp. tanpa melihat besarnya nilai jaminan. ke atas Tabel biaya Pembuatan Akta 92 Walaupun biaya pembuatan akta jaminan telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah. • Berkas permohonan fidusia terdiri dari: a. 1. Rp. s. biayanya tidak sama untuk setiap bank.d. log. 7.000. Nilai Penjaminan < Rp 50.s.000. s. 8. .000.d. 85.000.000. untuk 91 Salim HS.000. Rp. Rp. ibid.000.000. 50. s. s. 3.000.000. > Rp.000.d Rp.500. op. 6.000.000. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia94 Menurut Notaris L dalam praktek yang biasa dilakukannya.000.000. Untuk bank lain ada yang Rp.d. 3.91 No.000. 500.000. 5.000. 93 Menurut notaris L sebagai mitra kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam membuat akta Jaminan untuk setiap pembuatan akta jaminan fidusia untuk PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dikenakan biaya yang sama yaitu sebesar Rp. 000. 92 PP No.5 000. > Rp 500.000. Rp.000.80 dicantumkan besarnya biaya pembuatan akta dan baiya pendaftaran. Rp. namun para notaris juga telah menentukan tarif yang dikenakan pada nasabah. > Rp.000. Besar Biaya Paling banyak Rp.000. Rp. 150.000. Rp 100.000. Rp.d.000.0000.. 2.000. 1.000. Rp 1. Pernyataan pendaftaran jaminan fidusia b. 94 Surat Edaran BRI Tahun 2004.000.000. > Rp 1.000.

000. Rp. Dapat disimpulkan bahwa biaya pembuatan akta jaminan fidusia ini tidak benar-benar mengikuti peraturan yang berlaku yaitu PP No.000. 500. Diharapkan pemerintah dalam pendaftaran jaminan fidusia ini juga memberikan solusi yang lebih baik artinya biaya pendaftaran jaminan secara fidusia ini dibuat dengan harga/tarif yang seimbang dan sama menurut jumlah yang telah ditetapkan untuk menjamin kepastian hukum dan juga melakukan upaya pengawasan agar pegawai kantor pendafatran fidusia benar-benar melaksanakan peraturan yang berlaku dengan sebaik-baiknya.000. membayar biaya pendaftaran fidusia sebesar 150. Membeli blanko formulir seharga Rp.000. .s/d. dapat dilakukan tawar menawar. Surat Kuasa dari bank kepada notaris untuk mendaftarkan fidusia e.000 dan menyertakan surat pernyataan pendaftaran fidusia yang dibuat di bawah tangan b. Setelah mengisi semua formulir dengan benar kemudian dimasukkan ke loket pendaftaran dengan membayar sebesar Rp. c.000.75. 25.000 sampai Rp.s/d.000. 95 Wawancara dengan Notaris L di Padangsidimpuan pada tanggal 2 Januari 2007. Rp. 500. ke atas dapat dilakukan negosiasi dengan pegawai Kantor Pendaftaran Fidusia.000 untuk nilai penjaminan sebesar Rp. Jadi tidak harga mati. Setelah selesai. Foto copy Bukti Pemilik Kenderaan Bermotor yang telah dilegalisasi oleh notaris. 200. 50. Salinan akta fidusia f.81 pendaftaran fidusia adalah: a.000. 95 Tentang biaya pendaftaran ini diatur dalam Pasal 2 ayat 3 yang menyatakan bahwa besarnya biaya pendaftaran jaminan fidusia ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah tersendiri mengenai penerimaan negara bukan pajak. dan jika Rp. 100.000. Foto copy KTP Pemberi dan Penerima Fidusia d. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia oleh karena itu diharapkan ke depan agar pemerintah lebih memperketat pengawasan serta memberikan sanksi admistrasi yang tegas kepada notaris yang nakal. hingga biaya pendaftaran ini berbeda-beda tergantung petugas dan keahlian kita dalam negosiasi. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia.

Penyerahan sertifikat ini kepada penerima fidusia juga dilakukan pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. akan tetapi hanya melakukan pengecekan data yang dimuat dalam pernyataan pendaftaran jaminan fidusia. Hal ini berlainan dengan FEO dan cessi jaminan yang lahir pada waktu perjanjian dibuat antara debitur dan kreditur. Apabila debitur cidera janji. Sertifikat jaminan fidusia ini sebenarnya merupakan salinan dari buku daftar fidusia yang memuat catatan tentang hal-hal yang sama dengan data dan keterangan yang ada saat pernyataan pendaftaran. Tujuannya adalah agar kantor pendaftaran fidusia tidak melakukan penilaian terhadap kebenaran yang dicantumkan dalam pernyataan pendaftaran jaminan fidusia. . penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasannya sendiri. Tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia ini dianggap sebagai saat lahirnya jaminan fidusia. Dalam judul sertifikat jaminan fidusia dicantumkan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.82 c. Sebagai bukti bagi kreditur bahwa ia merupakan pemegang jaminan fidusia adalah sertifikat jaminan fidusia yang diterbitkan kantor pendaftran fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran jaminan fidusia.” Sertifikat jaminan ini mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Selanjutnya Kantor Pendaftaran fidusia mencatat jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran.

Setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. yaitu hak yang didahulukan terhadap kreditur yang lainnya. yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya. sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu. 5. Ini berarti Undang-Undang Jaminan Fidusia secara tegas menyatakan jaminan fidusia adalah agunan atas kebendaan atau jaminan kebendaan (Zakelijke zekerheid) yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepdada penerima fidusia. 42 Tahun 1999 . 4 Tahun 1996 Tentang Hak tanggungan yang tetap dalam penguasaan pemberi fidusia. Hak ini tidak hapus karena adanya kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia (Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Jaminan Fidusia).83 Ketentuan tentang adanya kewajiban pendaftaran ini merupakan hal yang yang sangat urgen dalam jaminan fidusia mengingat bahwa pada umumnya objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang tidak terdaftar sehingga sulit mengetahui siapa pemiliknya mengingat ketentuan dalam Pasal 1977 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu siapa yang menguasi benda bergerak maka ia akan dianggap sebagai pemiliknya (bezit geldt als volkomen titel). Perjanjian Fidusia Merupakan Perjanjian yang Bersifat Assesoir Ketentuan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Jaminan Fidusia menyatakan bahwa jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. Dengan demikian tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa jaminan fidusia adalah perjanjian yang bersifat obligatoir (perorangan) bagi kreditur.

17. hal. Sebagai suatu perjanjian assesoir. atau tidak berbuat sesuatu. Sifat ketergantungan terhadap perjanjian pokok b. 97 Surat Edaran BRI Tahun 2004. yang dapat dinilai dengan uang. maka hanya dapat dilaksanakan jika ketentuan yang disyaratkan dalam perjanjian pokok telah atau tidak dipenuhi.96 Asas-asas Fidusia yang dimuat dalam surat edaran BRI tahun 2004 tertulis bahwa perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir. Pasal 4 Undang-Undang No. Mengikuti bendanya (asas Droit de Suite) Didaftarkan di Kantor Pendaftaran Tanah (Asas Publisitas) Memberikan hak untuk menjual langsung (Eksekutorial) Obyek yang diikat fidusia adalah tertentu/terinci (Asas Spesialitas) 5. . perjanjian jaminan fidusia memiliki sifat sebagai berikut: a.84 dapat diketahui secara pasti bahwa sifat perjanjian jaminan fidusia adalah assesoir yang sebelumnya masih meragukan bagi para ahli hukum. 2. Sebagai perjanjian bersyarat. hal. 3. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia secara tegas dinyatakan bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian assesoir dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu. Keabsahannya semata-mata ditentukan oleh sah tidaknya perjanjian pokok c. op. 4. cit. Merupakan Perjanjian ikutan (Assesoir) 97 Perjanjian fidusia merupakan perjanjian yang lahir dan tidak terpisahkan dari perjanjian kredit bank. Artinya perjanjian jaminan fidusia tidak akan ada tanpa didahului oleh suatu perjanjian yang disebut dengan perjanjian pokok/dasar Keterkaitan sifat perjanjian jaminan fidusia dengan perjanjian kredit dapat dilihat dari isi perjanjian jaminan fidusia baik yang dibuat dengan akta notaris 96Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani.. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut: 1. 125.

85 maupun yang dibuat di bawah tangan. Hal ini erat kaitannya dengan asas hukum yang paling urgen yang mendasari sistem hukum perjanjian yakni asas yang menentukan lahirnya perjanjian, asas yang berkenaan dengan isi perjanjian dan asas yang berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian. Perjanjian jaminan fidusia selalu dan harus dibuat secara tertulis, oleh karena itu terdapat bermacam-macam model perjanjian jaminan fidusia sesuai dengan keinginan masing-masing bank. Dan setiap bank mempunyai karakteristik tersendiri baik dari segi bentuk maupun dari segi isi perjanjiannya. Hal ini didasarkan kepada asas kebebasan berkontra yang dianut dalam hukum perjanjian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perjanjian jaminan fidusia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian kredit sebagai perjanjian induknya. Dalam perjanjian kredit telah ditentukan hal-hal yang telah disepakati oleh debitur dan kreditur, antara lain debitur memberikan jaminan fidusia. Kesepakatan tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak. Apabila debitur wanprestasi, kreditur dapat melaksanakan haknya sesuai dengan isi perjanjian. Setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999, bentuk perjanjian fidusia secara tegas dinyatakan harus dibuat dengan akta notaris.98 Alasan pembentuk undang-undang menetapkan akta notaris adalah bahwa akta notaris merupakan akta otentik sehingga memiliki kekuatan pembuktian sempurna. Namun menurut Sutan Remy Sjahdeini: tidak jelas alasan harus dibuatnya pembebanan benda dengan jaminan fidusia secara notaril, mengingat selama ini perjanjian fidusia cukup dibuat dengan akta di bawah tangan”.99
98 Lihat Pasal 5 ayat 1 UU No. 42 Tahun 1999. 99 Sutan Remy Sjahdeini, Komentar Pasal Demi Pasal UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan

86 Keharusan tersebut dihubungkan dengan kewajiban selanjutnya berupa pendaftaran di Kantor Pendaftaran Fidusia, tentunya juga masih dipertanyakan kemanfaatan pembebanan benda dengan jaminan fidusia secara notaril tersebut dibandingkan dengan pembebanan di bawah tangan, secara ekonomis pembebanan secara notariil akan sangat memberatkan para debitur, terutama debitur pengusaha lemah. Meskipun biaya pembuatan akta telah diatur dengan Peraturan Pemerintah, namun karena tidak ada pilihan lain kecuali memakai jasa notaris yang izin prakteknya di daerah yang bersangkutan, notaris dapat secara sewenang-wenang untuk menetapkan biaya pembuatan akta.100 Lagi pula catatan pada notaris yang berkenaan dengan lahirnya pembebanan fidusia tidak dapat diakses oleh publik. Berbeda dengan catatan pada kantor registrasi yang dinyatakan pada Pasal 18 UU No. 42 Tahun 1999 sebagai terbuka untuk umum yang pada kelanjutannya tidak dapat dimanfaatkan sama sekali oleh publik untuk mengetahui status pembebanan jaminan atas suatu barang. Masih banyak hal-hal yang perlu dikaji lebih jauh sehubungan dengan berlakunya UU No. 42 Tahun 1999, jaminan fidusia ini dapat menjadi amat berguna bagi ekonomi nasional secara makro. Oleh karena itu, perlu kiranya ada suatu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait, seperti Menteri Kehakiman dan HAM dalam menjalankan administrasi kantor registrasi fidusia. Juga Mahkamah Agung agar memiliki persepsi yang sama atas visi dan misi UndangUndang fidusia ini, sehingga fidusia sebagai suatu instrumen jaminan yang diterima secara luas. Apabila perjanjian jaminan fidusia itu dibuat dibawah tangan maka kreditur tidak memperoleh hak untuk didahulukan (preferen) dan juga tidak dilindungi dengan asas droit de suite. Penegasan bentuk perjanjian jaminan fidusia dengan aka notaris harus diartikan bersifat fakultatif (tidak memaksa) sebab Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menyebutkan sanksi apabila tidak dibuat
Fidusia, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 10, 2000, hal. 43. 100 Ibid.

87 dengan akta notaris dan tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia tetapi kreditur hanya tidak akan mendapatkan haknya sebagai kreditur yang pereferen dan tidak dapat dilindungi dengan asas droit de suite. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat masih banyak perjanjian jaminan fidusia yang tidak dibuat dengan akta notaris dan tidak didaftarkan, perbuatan dari lembaga pembiayaan bisnis tersebut tidak sesuai dengan tujuan Undang-Undang Jaminan fidusia artinya Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku terhadap setiap perjanjian yang membebani benda dengan jaminan fidusia. Oleh karena itu perjanjian yang dimaksud dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia bukan hanya berlaku terhadap perjanjian jaminan fidusia di lingkungan perbankan saja, tetapi juga meliputi perjanjian kredit di lingkungan lembaga pembiayaan bisnis lainnya yang membuat perjanjian jaminan fidusia. Secara tegas tidak dijelaskan dalam penjelasan umumnya maupun dalam penjelasan pasalnya bahwa Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku bagi lembaga pembiayaan bisnis bukan bank tetapi dari kata-kata “setiap perjanjian” yang tercantum dalam pasal 2 Undang- Undang Jaminan Fidusia dapat ditafsirkan bahwa Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku juga bagi lembaga pembiayaan bisnis bukan bank. Penafsiran yang membawa makna dubius dapat diselesaikan dengan pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem, Pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah “Undang-Undang ini berlaku terhadap setiap perjanjian yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia.” Harus diartikan sebagai elemen yang mempunyai makna penting dalam kaitannnya dengan pasalpasal lain dari Undang-Undang Jaminan Fidusia secara keseluruhan. Pasal 2

Dapat disimpulkan dengan penelitian ini bahwa sifat perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir dan bukan perjanjian yang berdiri sendiri. yang memberikan keuntungan secara ekonomis kepada pelaku usaha bisnis jika dibandingkan dengan lembaga jaminan gadai. Jaminan fidusia adalah jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif. Tetapi penyerahan hak milik atas benda jaminan fidusia tidaklah sempurna seperti pengalihan hak milik dalam jual beli. Jika seorang debitur menyerahkan harta benda sebagai jaminan kepada krediturnya berarti sebagian kekuasaan atas kemilikan benda itu beralih kepada kreditur. .88 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersebut mempunyai makna yang penting jika dikaitkan dengan perbuatan hukum yang berkaitan dengan pembebanan benda sebagai jaminan fidusia. pengalihan hak hanya secara constitutum prossesorium. artinya secara yuridis hanya hak kepemilikannya yang dialihkan sedangkan barangnya berada dalam kekuasaan pemberi fidusia. untuk selanjutnya disebut fidusia. 6. merupakan pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Keuntungan ini dilihat dari adanya penguasaan terhadap benda jaminan sehingga usaha tetap berjalan dan pinjaman kredit dapat dikembalikan dengan lancar. Perubahan Status Yuridis Atas Kemilikan Benda Jaminan Fidusia Pengertian kemilikan benda dalam hukum jaminan memiliki makna yang luas mencakup hak milik atas benda dan hak penguasaan atas benda. Fiducia Eigendom Overdracht (FEO).

bahwa pembebanan jaminan fidusia menyebabkan obyek jaminan fidusia menjadi milik penerima fidusia/bank. pengalihan hak milik atas benda jaminan fidusia membawa akibat hukum bahwa debitur pemberi jaminan fidusia semula sebagai pemilik kemudian berubah sebagai peminjam pakai.102 2. Ini berarti kreditur penerima fidusia belum sepenuhnya sebagai pemilik benda. cit. Pemberi jaminan fidusia sejak ditandatangi akta perjanjian fidusia berubah kedudukannya sebagai peminjam pakai atau peminjam pengganti dan bukan lagi sebagai pemilik benda. hak miliknya terbatas sebagai pemilik jaminan. Pemberi jaminan fidusia bukan pemilik benda secara yuridis tetapi sebagai pemilik manfaat. 42 Tahun 1999. Dan Notaris L tanggal 26 Desember 2006 di Padangsidimpuan. namun obyek jaminan tersebut tetap berada pada dan dalam kekuasaan pemberi fidusia selaku peminjam pakai. . 102 Surat Edaran BRI Tahun 2004. 101 Munir Fuady. Penyerahan yuridis yang sudah terjadi. Kaitannya dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 103 Wawancara dengan Notaris M tanggal 19 Desember 2006 di Padangsidimpuan. loc. cit. log. Dalam praktek perkreditan dengan jaminan terdapat dua gejala hukum yang masih meragukan yaitu: 1.89 Pengalihan hak dalam perjanjian jaminan fidusia masih bergantung pada satu syarat yaitu apabila pemberi fidusia melakukan wanprestasi. Sebaliknya dalam hal yang kedua pihak debitur pemberi jaminan fidusia tetap merupakan pemilik benda jaminan yang memanfaatkan barang tersebut sedangkan kreditur penerima jaminan fidusia hanya menerima penyerahan benda sebagai jaminan utang dalam arti yuridis.103 Dalam hal yang pertama.101 Hal ini sejalan dengan surat edaran BRI tahun 2004.

Si peminjam akan segera menyerahkan kepada bank segala surat-surat serta dokumen yang dianggap perlu oleh bank untuk memperoleh manfaat juga hak-hak serta kuasa-kuasa penuh dari perjanjian. Jadi dengan syarat menangguhkan ini. tanpa pembatasan setiap dokumen. Si Pemberi fidusia dengan ini memberikan kuasa yang tidak dapat ditarik kembali kepada bank untuk bertindak dan untuk menandatangani setiap dokumen atau surat atas nama si peminjam. atau memindahkan perjanjian ini. mengubah. mengganti. hak kreditur sebagai pemilik benda jaminan baru muncul apabila dipenuhinya syarat tangguh yang tercantum dalam Pasal 1263 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam pelaksanaan jaminan secara fidusia setelah jaminan fidusia lahir secara hukum/setelah dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut: si peminjam harus mengizinkan bank untuk melakukan setiap perbuatan yang diwajibkan oleh bank dari waktu ke waktu guna melaksanakan hak-hak bank di bawah perjanjian. status kreditur penerima jaminan fidusia hanya sebagai pemilik benda jaminan. Dengan karakter kebendaan. Dilihat dari aspek hukum perikatan.90 perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian kebendaan yang murni dan diatur secara tersendiri dalam undang-undang sebagai bagian dari sistem hukum jaminan kebendaan. yang memperpanjang. menyebabkan suatu perikatan belum lagi mempunyai daya kerja perikatan atau pemenuhan perikatan belum dapat dilaksanakan. Lahirnya benda kemilikan bagi kreditur penerima jaminan fidusia adalah pada saat dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia. Seandainya si peminjam tidak dapat membayar kepada bank suatu jumlah .

Setiap pembayaran atau pelepasan lainnya dapat dilakukan pada setiap waktu dan tempat. tidak akan perlu bagi bank untuk membuktikan jumlah. pembayarannya pada waktu itu dan harus dibayar oleh si peminjam kepada bank berdasarkan buku-buku serta catatan-catatan bank. bebas dari setiap tuntutan atau setiap jenis hak dari si peminjam. perintah atau kuasa dari suatu pengadilan. bank atau wakilnya berhak menentukan jumlah. bank dapat menjual atau melepaskan dengan cara lain barang-barang agunan atau sesuatu bagian dari barang-barang itu. dengan harga yang dianggap paling baik oleh bank.91 yang jatuh pembayarannya dan yang wajib dibayar oleh si peminjam di bawah dokumen-dokumen utang dari perjanjian. umum atau di bawah tangan. yang pembayarannya jatuh pada waktu itu dan harus dibayar oleh si peminjam kepada bank di bawah dokumendokumen utang atau perjanjian. maka si peminjam memberikan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada bank atau wakilnya apabila untuk . tetapi tanpa mengurangi hak si peminjam kemudian untuk membuktikan. termasuk penguasaan kembali. Dalam melaksanakan setiap hak penjualan di bawah perjanjian ini. untuk memperoleh selisihnya dari bank. maka tanpa tuntutan untuk membayar atau pemberitahuan untuk memperoleh keputusan. Apabila perlu bank dapat bertindak atas nama si peminjam selama melaksanakan sesuatu hak di bawah perjanjian. hak-hak itu semuanya dengan ini dilepaskan oleh si peminjam. dengan atau tanpa iklan atau pemberitahuan mengenai waktu dan tempatnya. bahwa jumlah tersebut adalah kurang dari jumlah yang ditentukan semula oleh bank atau wakilnya. tetapi bank tidak bertanggung jawab kepada si peminjam atas ganti kerugian atau bunga dalam peristiwa tersebut. Pembeli barang-barang itu memiliki hak mutlak.

pengampuannya. dengan meninggalnya. Oleh karena itu surat kuasa tidak akan dapat ditarik kembali dan tidak akan berakhir karena peristiwa dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang isinya adalah: “Pemberian kuasa berakhir: dengan ditariknya kembali surat kuasanya si kuasa. Kelalaian debitur merupakan bukti adanya wanprestasi. Apabila hasil penjualan barang masih belum mencukupi untuk pembayaran utang. Perjanjian akan mengikat bank dapat dilaksanakan oleh bank serta para pengganti dan penerima hak mereka. Tanpa kuasa dokumen-dokumen utang dan perjanjian tidak akan dibuat.92 melaksanakan hak-hak yang dianggap perlu yang ada hubungannya dengan pelaksanaan hak-hak tersebut. persoalan yang sering menimbulkan masalah yuridis adalah ketika debitur pemberi jaminan fidusia tidak melaksanakan suatu kewajiban yang seharusnya telah diperjanjikan. Surat kuasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian. E. atau pailitnya si pemberi kuasa maupun si kuasa. si pemijam harus membayar sisanya kepada bank hingga tanggal pembayarannya. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi dan Penerima jaminan Fidusia 1. Setiap hasil penjualan akan dipergunakan oleh bank untuk membayar utang si peminjam dan apabila lebih akan dibayar oleh bank kepada si peminjam tetapi tanpa kewajiban pada pihak bank untuk membayar bunga dan kerugian lainnya. Objek Jaminan Fidusia Tidak Dapat Dimilki oleh Bank Dalam hukum jaminan fidusia. dengan pemberitahuan penghentian kuasanya oleh si kuasa. . dengan perkawinannya si perempuan yang memberikan atau menerima kuasa”.

105 Menurut Pak Lubis sebagai Supervisor ADK pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum dilayangkan surat teguran I. 105 Wawancara dengan Pak Riza. III. hal. otomatis perjalanan akan macet dan tertunda yang akibatnya pendapatan perusahaan akan menurun yang akan berdampak terhadap pembayaran kredit. Dalam hal ini pihak Bank BRI akan mengunjungi nasabah secara kekeluargaan dan berusaha untuk mencari solusi dengan berdiskusi dengan pihak nasabah/pemberi fidusia. cit. II. teguran I. Setelah dilayangkan surat teguran I. . Bagian Marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan pada tanggal 26 Desember 2006. II.104 Pada praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum mengatakan debitur telah melakukan wanprestasi selalu didahului dengan pembinaan dan kunjungan secara kekeluargaan. Wanprestasi tidak ada diatur sama sekali dalam akta perjanjian jaminan fidusia tetapi cukup diatur dalam perjanjian pokoknya. 3. pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk juga belum langsung melakukan eksekusi terhadap barang 104 H. Apabila debitur tidak membayar jumlah utang kepada bank berdasarkan perjanjian kredit sesuai waktu yang telah ditetapkan. ini diketahui misalnya jika dia seorang pengusaha yang bergerak dibidang angkutan terjadi misalnya longsor atau banjir. 2. 198. II. Tan Kamelo. op. III jika masih belum melakukan kewajibannya dapatlah dikatakan telah terjadi wanprestasi pada debitur. Debitur pemberi fidusia lalai dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar utang kepada bank dan cukup dibuktikan dengan lewatnya waktu yang ditentukan dalam perjanjian tanpa adanya surat teguran dari juru sita.. III pihak BRI sudah mengetahui bahwa pemberi fidusia/debitur mulai goyang dalam arti usahanya tidak stabil.93 Wanprestasi debitur pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam tiga hal yaitu: 1.

yaitu dengan menyatakan hak untuk menjual langsung benda jaminan fidusia yang dijumpai dalam asas-asas jaminan fidusia yang menjadi landasan operasional PT Bank BRI (Persero) Tbk 106 Lihat Pasal 1320 jo 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Secara yuridis perlakuan kreditur untuk melakukan eksekusi. hal ini terkait dengan hal-hal yang telah disepakati oleh para pihak pada awal perjanjian dan dinyatakan dalam substansi perjanjian harus dilaksanakan dan mengikat bagi para pihak sebagai undang-udang. . padahal secara normatif hal ini tidak dibenarkan oleh undang-undang.106 Dalam penelitian yang dilakukan pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak ditemukan kasus jaminan fidusia yang sampai ke pengadilan yang disebabkan oleh debitur melakukan wanprestasi (mungkin ini menyangkut rahasia bank) tetapi dapat dianalisa dari pengikatan agunan PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam surat edaran tahun 2004 menegaskan bahwa bila suatu saat debitur melakukan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsididmpuan telah melakukan antisipasi. Dengan fakta yuridis tersebut. Tetapi dalam praktek bank selalu menguasai benda jaminan kalau debiturnya macet. wanprestasi menimbulkan akibat hukum bagi kreditur penerima fidusia yaitu melahirkan hak untuk melakukan eksekusi terhadap barang jaminan.94 agunan tapi masih memberikan tenggang waktu 60 hari lagi untuk melakukan pembinaan/restrukturisasi/penyelesaian jika upaya ini juga tidak memberikan hasil maka PT Bank BRI (Persero) Tbk akan menetapkan debitur pemberi fidusia telah melakukan wanprestasi. apabila debitur melakukan wanprestasi adalah sah. Tapi bukan berarti memberikan hak kepada kreditur untuk langsung dapat memiliki benda jaminan.

000. Bahwa penggugat I dan II dalah suami isteri dan mempunyai harta bersama sebidang tanah hak milik dengan sertifikat hak milik No. 1 tanggal 14 Mei 1974 seluas 14. Bahwa tanah hak milik penggugat I dan II dengan sertifikat hak milik no. 19 Padangsidimpuan melakukan bersama ikatan akta credit Verband No. 107 Hasil wawancara dengan Notaris L. Pemerintah RI. Dan ini biasanya model perjanjian dilakukan dibawah tangan sebab kreditur tidak mendapatkkan hak preferen yang dijanjikan oleh Undang-Undang No. BRI Cabang Padangsidimpuan (tergugat IV). pada tanggal 9 Desember 2006. Menteri Keuangan RI di Jakarta. 489/Des/Psp Timur/1987 Tanggal 17 Desember 1987 dengan tergugat IV yaitu Bank Rakyat Indonesia Cabang Padangsidimpuan sebesar Rp 35. Padangsidimpuan. 31 Tahun 1982 beserta bangunan rumah toko di atasnya yang terletak di jalan Thamrin No. . Cq.107 Dalam penelitian yang dilakukan di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan ditemukan kasus dengan register No. 42 Tahun 1992.(tiga puluh lima juta) dengan agunan tanah hak milik Viktor Harahap dengan sertifikat hak milik No. Kantor Lelang Negara (tergugat II).PSP. Berdasarkan suatu persetujuan dengan Viktor Harahap seorang partikulir yang tinggal di Jl. 68 Padangsidimpuan. Dalam perkara antara Tuan Hakim Pandapotan. Ny. Cq.G/1992/PN. Menurut Keterangan dari Notaris L ada juga bank yang melakukan antisipasi apabila debitur melakukan wanprestasi dengan terlebih dahulu meminta tanda tangan dalam sebuah kwitansi. BRI Pusat Jakarta.000. Panitia Urusan Piutang negara Cabang Medan (tergugat III).95 cabang Padangsidimpuan.13/PDT. Sioe Pie Tju sebagai penggugat melawan Tn Matheuis Sahertiam (tergugat I).Cq.000 m2 terletak di Desa Batunadua Jae Kec. Mesjid Raya Baru No.

4. maka tergugat II dan Tergugat III melakukan pelelangan atas barang agunan tanah hak milik sertifikat No.000. Pengadilan negeri Padangsidimpuan telah memperingatkan para penggugat untuk mengosongkan tanah dan rumah toko kepunyaan para penggugat yang terletak di Jalam Thamrin No. 3/PdtEks/1992/PN. 31 tahun 1982 beserta rumah toko di atasnya adalah harta para penggugat yang tidak turut diagunkan kepada tergugat IV ternyata telah turut dilelang oleh tergugat II dan III dan tergugat I sebagai pembeli lelang pada tanggal 16 Januari 1992 No. Seharusnya bank tidak meletakkan sita jaminan terhadap barang miliknya yang lain sebab tidak disebutkan dalam substansi perjanjian pokok. Terutama menyangkut sertifikat hak milik No. 68 Padangsidimpuan. (empat juta sembilan puluh ribu sembilan ratus sepuluh rupiah) sebagai angsuran utang kepada tergugat IV oleh karena itu tidak pantas tergugat III dan . yang seharusnya benda-benda bergerak milik debitur yang lain terlebih dahulu diekekusi seperti benda bergerak yang dijadikan sebagai jaminan tambahan dalam bentuk fidusia yaitu berupa barang dagangan yang dinilai pada penelitian terahir sejumlah Rp 8. Selain alasan yang dikemukakan di atas Penggugat I pada tanggal 14 Januari 1992 juga telah membayar kepada tergugat III uang sebesar Rp. maka atas permintaan tergugat IV.Psp.31 tahun 1982 beserta bangunan rumah toko di atasnya. Berdasarkan fakta di atas penggugat I dan II mengajukan gugatan ini karena tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan merugikan para penggugat. 1 Tahun 1974 bersama tanah hak milik sertifikat no. Karena Viktor Harahap tidak membayar credit beserta bunganya kepada tergugat IV.96 31 tahun 1982 tidak diikutsertakan sebagai agunan pada akte kredit verband tertanggal 17 Desember 1987 tersebut.090. 35/1991-1992.625. Ditambah lagi pada tanggal 25 Februari 1992 dengan surat No.910.

(tiga puluh juta rupiah) dengan demikian oleh para penggugat tindakan para tergugat-tergugat adalah tindakan sekongkol yang dengan sengaja handak merugikan para penggugat oleh karena itu para penggugat cukup punya alasan untuk menggugat dan memohon pembatalan lelang eksekusi atas tanah dengan sertifikat No. 35/1991-1992 oleh tergugat-tergugat. Dengan alasan keberatan antara lain adalah debitur/penggugat memohon pembatalan lelang eksekusi atas tanah dengan sertifikat No. Thamrin No. 31 Tahun 1982. keadilan. 1 Tahun 1974 karena jelas bertentangan dengan kepatutan. 1 Tahun 1974 atas nama Viktor Harahap yang berlangsung pada tanggal 16 Januari 1992 No. Pengadilan Negeri Padangsidimpuan telah memutuskan bahwa lelang terhadap agunan dengan sertifikat tanah No. 1 Tahun 1974 tersebut dan mengangkat sita jaminan terhadap harta debitur yang tidak disebutkan dalam perjanjian pokok berupa tanah dan rumah toko dengan sertifikat No. Demikian juga dengan lelang terhadap tanah dengan sertifikat hak milik No. (tiga juta rupiah) padahal dengan harga sedikit dibawah harga pasaran yang berlaku pada saat itu. 68 dengan sertifikat hak milik No. 30. Debitur mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Padangsidimpuan. 1 Tahun 1974 tersebut adalah tidak sah dan melawan hukum serta membatalkan jual beli lelang tersebut. berdasarkan hukum yang berlaku. Dan juga menyatakan sita jaminan yang telah dilaksanakan oleh Jurusita Pengadilan Negeri . 3000000. 31 Tahun 1982.0000. ternyata hanya dengan harga lelang sebesar Rp. tanah tersebut dapat dijual dengan nilai sebesar Rp.97 tergugat IV melakukan secara sepihak lelang eksekusi atas tanah dan rumah toko yang berada di atasnya di Jl.000.

selanjutnya BRI melakukan kasasi ke Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung juga mengukuhkan keputusan Pengadilan Tinggi Medan. di sini hakim mengukuhkan keputusan Pengadilan negeri Padangsidimpuan. hingga mengakibatkan debitur merasa dirugikan. tetapi masih melalui proses lelang secara umum terhadap agunan tetapi nilai penjualannya tidak sesuai dengan harga pasaran pada saat itu. debitur dapat melakukan gugatan perdata ke pengadilan/meminta pembatalan kepada hakim.108 2. pada pokonya ditentukan bahwa debitur pemberi fidusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas keadaan dari setiap kehilangan. Dalam kasus ini jaminan fidusia (jaminan tambahan) yang diletakkan atas barangbarang dagangan tidak diproses seharusnya kreditur lebih dahulu mengambil pelunasan dari barang-barang bergerak milik debitur. BRI sebagai pihak yang kalah dalam perkara ini mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan. kemusnahan. 13/Pdt. walaupun dalam klausul perjanjian telah diatur tentang substansi perjanjian jika bertentangan dengan kepatutan dan keadilan. 31 Tahun 1982 yaitu sita tanggal 25 April 1992 No. pengurangan kualitas atau nilai dan kerusakan barang-barang yang dijadikan objek jaminan fidusia. kehancuran. Terjadinya Overmacht Terhadap Objek Jaminan Fidusia Dalam perjanjian jaminan fidusia. .Psp. tidak berharga dan diangkat.G/1992/PN. Oleh karena itu debitur pemberi fidusia harus melakukan pemeliharaan agar benda 108 Materi Kuliah Hukum Bisnis Bu Yulfasni pada Tanggal 4 Januari 2007. kemunduran.98 Padangsidimpuan atas tanah dan rumah toko yang ada di atasnya dengan sertifikat hak milik No. Dalam kasus di atas BRI cabang Padangsidimpuan tidak bertindak langsung sebagai pemilik agunan. Dapat disimpulkan bahwa hakim memutuskan batal terhadap lelang tersebut adalah disebabkan harga barang agunan jauh dibawah harga pasaran.

Keadaan memaksa adalah suatu keadaan dimana debitur tidak dapat melakukan prestasinya kepada kreditur. atas permintaan kreditur fidusia tidak harus menunggu memperbaiki benda tersebut seperti dalam keadaan semula seperti pada saat debitur fidusia menyerahkan benda jaminan itu. seperti karena adanya gempa bumi. bila tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan . kerugian dan bunga. dan debitur fidusia tidak dapat melunasi utangnya. kebakaran dan lain-lain. Pasal 1244 Kitab UndangUndang Hukum Perdata isinya adalah :”Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya. Apabila agunan jaminan fidusia dalam keadaan rusak. Pertanggungjawaban utang tersebut adalah dengan meletakkan sita jaminan atas barang/benda yang menjadi agunan yang kemudian akan dijual menurut ketentuan hukum jaminan. musnah.99 jaminan fidusia dalam keadaan baik. Kreditur penerima fidusia memiliki hak atas benda jaminan fidusia dalam kaitannya dengan penjaminan utang debitur. banjir. Dan realisasi ini terjadi apabila debitur melakukan wanprestasi yaitu tidak melakukan kewajiban membayar utang. Ketentuan tentang overmacht (keadaan memaksa) diatur dalam pasal 1244 dan 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. penyitaan benda jaminan. yang disebabkan adanya kejadian yang berada di luar kekuasaannya. Bagaiman jika terjadi keadaan memaksa artinya rusak. dan hilangnya benda jaminan diluar kekuasaan debitur ?. Kelalaian atas kewajiban merawat benda jaminan fidusia adalah tanggung jawab debitur fidusia. Debitur pemberi fidusia wajib mengganti benda jaminan fidusia apabila benda tersebut rusak atau hilang atau tidak dapat lagi dipakai. lahar.

Dari isi Pasal 1244 dan Pasal 1245 dapat dipahami bahwa undang-undang memberikan kelonggaran kepada debitur untuk tidak mengganti biaya. kebakaran dan adanya lahar. dan bunga. oleh karena adanya gempa bumi. yang tidak seimbang. walaupun tidak ada itikad buruk padanya. banjir bandang. kerugian.100 perikatan itu disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga. yang tak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. Keadaan memaksa ini dibagi menjadi dua macam. Keadaan memaksa relatif Keadaan memaksa absolut adalah suatu keadaan dimana debitur sama sekali tidak dapat memenuhi utangnya kepada kreditur. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa keadaan memaksa absolut. tetapi keadaan memaksa itu harus dapat dibuktikan oleh debitur. tetapi pelaksanaan prestasi itu haru dilakukan dengan memberikan korban yang besar. kerugian dan bunga kepada kreditur oleh karena keadaan memaksa diluar kekuasaan debitur.” Pasal 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata isinya adalah: ”Tidak ada penggantian biaya. Keadaan memaksa relatif adalah suatu keadaan yang menyebabkan debitur masih mungkin untuk melaksanakan prestasinya. bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang tejadi karena kebetulan. Keadaan memaksa absolut b. debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. atau kemungkinan tertimpa bahaya kerugian yang sangat besar. yaitu: a. atau menggunakan kekuatan jiwa yang berada di luar kemampuan manusia. atau melakukan sesuatu perbuatan yang terhalang olehnya”. debitur tidak diwajibkan untuk mengganti biaya kerugian dan bunga sedangkan keadaan memaksa relatif debitur .

101 masih dimungkinkan untuk melakukan prestasinya meskipun dengan menunda waktu pembayaran. Dalam Praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk mengatur tentang overmacht ini dalam Surat Edaran BRI yang isinya adalah hapusnya jaminan fidusia karena hapusnya hutang, pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia dan musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Maksud kalimat di atas bila dianalisa dengan cermat dapat dipahami bahwa apabila benda agunan musnah di luar kekuatan manusia maka jaminan fidusia dianggap hapus. Tetapi Menurut keterangan Pak Lubis sebagai kepala bagian admistrasi kredit, menyatakan bahwa: objek jaminan fidusia yang musnah itu telah diasuransikan (pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk selalu mewajibkan pemberi fidusia untuk mengasuransikan barang-barang agunan Pasal 3 bagian e dalam perjanjian hak milik atas kepercayaan/fidusia barang menurut format PT Bank BRI (Persero) Tbk terlebih dahulu dan musnahnya disebabkan oleh faktor yang sama dengan jenis asuransi yang dipilih oleh pemberi fidusia berdasarkan kesepakatan dengan PT Bank BRI (Persero) Tbk, misalnya asuransi kebakaran untuk kenderaan bermotor maka apabila terjadi kebakaran maka pemberi fidusia tidak berkewajiban lagi untuk membayar ganti rugi. Dan akan dikurangkan dengan jumlah utang yang dinilai sesuai dengan penjaminan yang telah diperjanjikan dengan pihak bank sejak awal atas kenderaan tersebut, apabila ternyata uang pengganti dari perusahaan asuransi tersebut tidak mencukupi

pemberi fidusia wajib membayar sisanya, dan bila lebih kreditur akan mengembalikan kepada pemberi fidusia dengan tidak ada kewajiban untuk membayar bunga atau ganti kerugian berupa apapun. Konsekuensinya apabila musnahnya barang tidak sesuai dengan jenis

102 asuransi yang dipilih, pemberi fidusia tetap harus mengganti sesuai dengan kewajiban pemberi fidusia seperti telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian berdasarkan kepercayaan yang dibuat oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk: • Mengganti dengan barang-barang yang sama atau sekurangkurangnya sama nilainya apabila barang-barang dimaksud rusak atau tidak dapat dipergunakan sama sekali.109 3. Proses Eksekusi Jaminan Fidusia Salah satu ciri dari jaminan utang kebendaan yang baik adalah jika hak tanggungan itu dapat dieksekusi secara cepat dengan proses yang sangat sederhana, efisien dan memberikan kepastian hukum. Seperti di Amerika, kreditur boleh mengambil sendiri barang agunan tetapi dengan syarat dapat menghindari perkelahian. Jaminan fidusia juga memiliki unsur cepat, murah dan pasti yang diatur dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Tetapi sebelum keluarnya UU No. 42 Tahun 1999 ketentuan tentang proses eksekusi ini sangat tidak jelas. Sehingga banyak kalangan yang menafsirkan bahwa proses eksekusi ini harus melalui gugatan biasa lewat pengadilan yang panjang, mahal dan memakan waktu yang sangat lama. Dalam Undang-Undang Rumah Susun No 16 tahun 1985 diatur dengan eksekusi di bawah tangan, tetapi ini hanya berlaku terhadap objek bangunan atas rumah susun. Undang-Undang Jaminan Fidusia mengambil pola eksekusi hak

tanggungan yang mengatur eksekusi fidusia secara bervariasi, sehingga para pihak dapat memilih model eksekusi yang diinginkan. Model-model eksekusi jaminan

109 Pasal 3 bagian c Akta Perjnjian Penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan (Fiducia Barang No. 132 Format PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan.

103 fidusia menurut Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999 adaalah sebagai berikut: A. Secara fiat eksekusi (dengan memakai titel eksekutorial), yakni lewat suatu penetapan pengadilan. B. Secara parate eksekusi, yakni dengan menjual (tanpa perlu penetapan pengadilan) di depan pelelangan umum. C. Dijual di bawah tangan oleh pihak kreditur sendiri D. Lewat gugatan biasa (meskipun tidak secara tegas diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999) 1. Eksekusi Fidusia Dengan Titel Eksekutorial Dalam proses pengikatan jaminan fidusia dinyatakan bahwa jaminan fidusia harus dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia untuk mendapatkan kepastian hukum bagi kreditur. Dalam akta fidusia yang dibuat oleh notaris ini selalu terdapat irah-irah yang berbunyi “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” irah-irah inilah yang memberikan titel eksekutorial, yakni titel yang mensejajarkan kekuatan akta tersebut dengan putusan pengadilan. Dengan demikian akta tersebut dapat langsung dieksekusi (tanpa perlu lagi suatu putusan pengadilan). Dengan demikian fiat eksekusi adalah seperti mengeksekusi suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan pasti. Yakni dengan cara meminta “fiat” dari ketua pengadilan yaitu memohon penetapan dari ketua pengadilan untuk melakukan eksekusi dan ketua pengadilan yang akan memimpin eksekusi. Menurut Hakim afandi kreditur yang minta penetapan pengadilan ini tidak

Eksekusi Fidusia Secara Parate Eksekusi Dengan Penjualan di Bawah Tangan Jaminan fidusia dapat juga dieksekusi secara parate eksekusi (mengeksekusi tanpa lewat pengadilan) dengan cara menjual benda objek fidusia tersebut dibawah tangan. • Diumumkan dalam sedikit-dikitnya dalam dua surat kabar . Parate eksekusi ini dapat dilakukan tanpa melibatkan pengadilan yang diatur dalam pasal 29 ayat (1) huruf b yang isinya adalah: ”Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan”.42 Tahun 1999 Pasal 29 yang isinya adalah: • Dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pemberi dan penerima fidusia. mudah dan praktis serta lebih menguntungkan bagi para pihak. 42 tahun 1999 sebab para pihak kreditur dan debitur telah mempunyai opsi eksekusi yang jelas diakui sah secara hukum yang prosesnya jauh lebih cepat. Eksekusi Fidusia Secara Parate Eksekusi Lewat Pelelangan Umum Eksekusi jaminan fidusia dapat juga dilakukan lewat lembaga pelelangan umum (kantor lelang). dan hasil pelelangan tersebut diambil untuk melunasi pembayaran piutang debitur. 2. dengan memenuhi syarat yang telah diatur dalam UU No. 3. • Jika dengan cara penjualan di bawah tangan tersebut dicapai harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. • Diberitahukan secara tertulis oleh pemberi/penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan.104 pernah terjadi lagi setelah keluarnya UU No.

Diatur dalam Pasal 33 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia secara tegas melarang eksekusi secara mendaku ini. 42 Tahun 1999 yang isinya adalah: “Setiap janji yang memberikan kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda yang menjadi jaminan fidusia apabila debitur cidera janji akan batal demi hukum”. Jika hendak konsekuen berlakunya sistem penyerahan hak milik secara kepercayaan ini. sementara pihak kreditur menyerahkan penguasaan benda tersebut kepada pihak debitur secara kepercayaan. • Pelaksanaan penjualan dilakukan setelah lewat waktu satu bulan sejak diberitahukan secara tertulis. artinya agar kreditur melakukan eksekusi yang fair dan transparan sehingga . 42 Tahun 1999 dengan larangan eksekusi secara mendaku ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada debitur pemberi fidusia apabila debitur cidera janji.105 yang beredar di daerah yang bersangkutan.Tetapi secara logika bila dianalisa secara mendalam maksud dari pembentuk Undang-Undang No. maka benda tersebut sudah menjadi milik pihak kreditur. Eksekusi Fidusia Secara Mendaku Eksekusi fidusia secara mendaku adalah eksekusi fidusia dengan cara mengambil barang fidusia untuk menjadi milik kreditur secara langsung tanpa lewat transaksi apapun. 42 Tahun 1999 ini kurang konsekuen sebab hukum jaminan fidusia dianggap sebagai penyerahan hak milik secara kepercayaan maksudnya benda objek fidusia tersebut sudah berpindah kepemilikannya kepada pihak kreditur. 5. Ketentuan yang melarang eksekusi secara mendaku menunjukkan bahwa UU No. UU No. mestinya larangan eksekusi mendaku ini tidak perlu ada.

42 tahun 1999. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia adalah untuk mempermudah dan membantu pihak kreditur menagih utangnya dengan jalan mengeksekusi barang jaminan tersebut. tetapi untuk menambah ketentuan yang ada dalam hukum acara umum. Dalam praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam hal eksekusi ini Pak Riza memberikan penjelasan sebenarnya belum ada kasus tentang wanprestasi debitur yang berakibat lahirnya hak kreditur untuk melakukan eksekusi setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No.106 debitur tidak merasa dirugikan sebab eksekusi melalui badan pelelangan negara secara umum saja dapat menyebabkan harga barang jaminan sangat tidak seimbang dengan harga pasar (kasus yang diperoleh dari pengadilan negeri Padangsidimpuan Register No. disebabkan eksekusi fidusia lewat gugatan biasa memakan waktu yang lama dan prosedur yang berbelit-belit. Tujuan model-model eksekusi khusus yang diatur dalam Undang-Undang No.) apalagi eksekusi secara mendaku otomatis kreditur penerima fidusia akan sangat berkuasa. tetapi pada saat ini kalaupun misalnya ada debitur yang melakukan wanprestasi pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan belum . Eksekusi Fidusia Lewat Gugatan Biasa Dalam Pasal 29 UU No.G/1992/PN.13/PDT. Secara logika model-model eksekusi khusus tidak untuk meniadakan hukum acara yang umum. tidak praktis dan sangat tidak efisien. 6. PSP. 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dijelaskan model-model eksekusi jaminan fidusia dan di sana tidak disebutkan bahwa pihak kreditur dapat menempuh prosedur eksekusi lewat gugatan biasa ke pengadilan.

49/Prp/1960. 21 tahun 1991 menentukan bahwa BUPN mempunyai tugas menyelenggarakan pengurusan piutang negara dan lelang baik yang berasal dari penyelenggaraan pelaksanaan tugas PUPN maupun lainnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 2003. 110 Hasil wawancara dengan Pak Riza.21 Tahun 1991. Sedangkan khusus terhadap kredit macet pada bank-bank pemerintah.107 dapat berbuat apa-apa karena sedang menunggu peraturan baru yang mengatur tentang eksekusi terhadap agunan bank pemerintah. . dimana dengan adanya penyerahan piutang macet kepada badan tersebut secara hukum wewenang penguasaan atas hak tagih dialihkan kepadanya. www… hukumonline. Teknisi Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Pendekatan Hukum.com (terakhir dikunjungi pada bulan Februari 2007). Dalam hal tertentu. dan Badan Usaha Piutang dan Lelang Negara (BUPLN). 111 Frans Hendra Winarta. Contohnya tentang tuduhan korupsi ini adalah heboh kredit macet di BAPINDO diawal tahun 1994. yang dibentuk dengan Undang-Undang No. Pasal 2 dari Keppres No. yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No. atau bank swasta yang ada dana pemerintah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. Bagian Marketing Bank BRI Cabang Padangsidimpuan pada tanggal 26 Desember 2006. Tetapi selama ini jika ada kredit macet/debitur yang melakukan wanprestasi penagihannya diserahkan kepada Panitia Urusan Piutang Negara.111 PUPN bertugas menyelesaikan piutang negara yang telah diserahkan padanya oleh instansi pemerintah atau badan-badan negara. selama ini proses penagihannya dilakukan lewat Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Dengan demikian bagi bank milik negara menyelesaikan kredit macetnya harus dilakukan melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). kredit macet pada bank pemerintah.110 Penyelesaian kredit macet pada bank-bank swasta diselesaikan melalui jalur pengadilan.

Secara yuridis jika salah satu syarat sahnya perjanjian tidak dipenuhi menyebabkan perjanjian itu cacat hukum dan dapat dimintakan pembatalan dari hakim. Jaminan perkreditan selalu keliru dengan istilah berwenang untuk bertindak dan berwenang untuk menguasai. Jadi yang dimaksud oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah orang yang wenang menguasai dan bukan orang yang wenang bertindak. Realisasi dari ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ini dapat dirujuk kepada hukum jaminan fidusia. .108 4. prinsip ini akan membawa konsekuensi bahwa apabila debitur pemberi jaminan fidusia bukan orang yang mempunyai kewenangan menguasai terhadap harta benda jaminan fidusia. Kewenangan Pemberi Fidusia Terhadap Barang Jaminan Kewenangan hukum dalam perjanjian jaminan fidusia sangat perlu. Dan hal ini harus secara tegas dimuat dalam akta jaminan fidusia. Biasanya orang tersebut adalah pemilik benda. harus diselidiki terlebih dahulu apakah pihak pemberi jaminan fidusia adalah pemilik yang wenang menguasai bendanya atau hanya sebagai pemegang saja. Oleh karena itu sebelum mengikat perjanjian jaminan fidusia. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dianut ajaran bahwa untuk sahnya suatu penyerahan mempunyai syarat antara lain adalah: harus dilakukan oleh orang yang berwenang menguasai bendanya. secara yuridis. sehingga jaminan fidusia hanya dapat diberikan oleh pemilik yang mempunyai kewenangan menguasai benda jaminan fidusia. Sebab syarat bagi sahnya jaminan fidusia adalah bahwa pemberi fidusia mempunyai hak kepemilikan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia pada waktu menyerahkan jaminan fidusia. berarti jaminan fidusia yang dilahirkan adalah cacat hukum.

gadai dan hipotik. Setelah keluarnya Undang-Undang No. bebas dari sitaan dan tidak dalam sengketa. secara analogi jaminan fidusia juga mempunyai hak preferen. Yang dimaksud dengan hak preferensi adalah: “Hak dari kreditur pemegang jaminan tertentu untuk terlebih dahulu diberikan haknya (dibandingkan dengan kreditur lain) atas pelunasan piutangnya yang diambil dari hasil penjualan 112 Dikutip dari Pasal 2 dan 3 Akta Jaminan Fidusia No. Dalam penelitian ini dokumen perjanjian jaminan fidusia yang dibuat sesudah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No 42 Tahun 1999 yang dibuat dengan akta notaris diperoleh gambaran sebagai berikut : • Pihak pemberi fidusia menjamin bahwa barang-barang tersebut adalah miliknya sendiri dan tidak sedang digadaikan atau dijaminkan untuk suatu hutang atau dijaminkan untuk suatu pertanggungan atau dibebani dengan ikatan berupa apapun. 42 Tahun 1999 semakin jelas dan secara eksplisit dinyatakan bahwa jaminan fidusia mempunyai hak preferen. Hak Preferensi Dari Penerima Fidusia Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.109 Pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam klausul perjanjiannnya memuat dengan tegas bahwa obyek jaminan fidusia benar-benar milik pemberi jaminan fidusia. Akta Notaris Model PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan . Menyerahkan kepada pihak kedua semua surat bukti kepemilikan atau surat-surat atas barang-barang dimaksud. hak preferen hanya diberikan kepada kreditur yang diistimewakan (privilege).112 • 5. 132 tanggal 30 Juni 2006. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak ada dinyatakan secara tegas bahwa jaminan fidusia memiliki hak preferen tetapi karena jaminan fidusia juga merupakan jaminan kebendaan seperti halnya gadai. Gadai dan hipotik lebih tinggi kedudukannya dari hak privilege kecuali undangundang menentukan sebaliknya.

. 114 Lihat Penjelasan Pasal 27 UU No. maka hak preferen merupakan sifat yang melekat pada jaminan fidusia.114 Hak preferen ini dapat dilihat dalam konteks: 113 Munir Fuady. 42 Tahun1999 diatur dalam Pasal 27 ayat 2 yang menjelaskan bahwa: “Hak preferensi adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia”. dan hak gadai. hipotik. Hak preferensi bagi penerima fidusia diatur dengan tegas di dalam Pasal 27 ayat 1 UU No.110 barang jaminan utang tersebut”. Salah satu karakter perjanjian jaminan kebendaan adalah hak preferen. . Jaminan fidusia adalah salah satu hak jaminan kebendaan. op.113 Hak preferen dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 ayat (1): Hak yang didahulukan dihitung sejak tanggal pendaftaran benda yang menjadi objek jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia”. hal. Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dikatakan bahwa hak preferen disamakan dengan hak didahulukan. cit. Hak preferen bukanlah hak kebendaan melainkan hak terhadap benda dan hak tersebut tidak timbul karena undang-undang tetapi karena diperjanjikan. 42 Tahun 1999 yaitu: ”Penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur lainnya. Hak preferen ini baru didapatkan oleh pemegang fidusia pada saat didaftarkannya fidusia di Kantor Pendaftaran Fidusia hal ini dijelaskan dalam penjelasan pasal 27 Undang-Undang No. Dengan demikian hak preferen pemegang fidusia tegas dinyatakan dalam Undang-Undang No 42 Tahun 1999 yang memberikan kedudukan yang sama dengan hak tanggungan. 41. 42 Tahun 1999.

Berdasarkan Pasal 1133 dan 1134 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Menggambarkan adanya kaitan antara hak dengan objek jaminan fidusia c. b.115 Permasalahan yuridis ini dapat dilihat dari kasus yang terungkap dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan dalam Perkara Bank Bumi Daya v Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat dan P. Tagihan jaminan fidusia tidak merupakan kekecualian dari hak mendahulu negara atas tagihan pajak. hanya bedanya piutang pajak terbit dari undang-undang sedangkan piutang bank adalah piutang yang terbit dari perjanjian jaminan fidusia. Alasan hukum yang diberikan pengadilan adalah bahwa negara mempunyai hak mendahulu atas tagihan pajak di atas segala tagihan lainnya. Hak preferen lahir pada saat jaminan fidusia didaftarkan. piutang fiscus merupakan hak privilege yang ditunjuk oleh undang-undang perpajakan untuk didahulukan penagihannya dari piutang jaminan fidusia. 40/Pdt. Hak preferen ini harus dilihat dalam kaitannya dengan kreditur-kreditur lain. Bila dianalisa sebenarnya kedua piutang tersebut adalah piutang negara sebab bank tersebut adalah bank pemerintah. 115 H. hal.T Mahogani Indah Industri No.111 a. Tan Kamelo. Dalam putusannya pengadilan berpendapat bahwa hak preferen atas benda jaminan fidusia diberikan kepada kreditur Kantor Pelayanan Pajak.Plw/1994 tanggal17 November 1994. hakim mempermasalahkan dua kreditur yaitu Bank Bumi Daya sebagai kreditur penerima fidusia atas benda jaminan fidusia dari P. .. 324. cit. op. Pelaksanaan hak adalah untuk mengambil pelunasan piutang bukan memiliki objek jaminan fidusia. Dalam kasus ini. kecuali atas tagihan ongkos perkara dan hak komisioner.T Mahogani Indah Industri dan Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat sebagai kreditur atas pajak debitur. d.

125.. hak tanggungan. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan. op. Pengaruh Kepailitan Pemberi Fidusia/Debitur Dan Likuidasi Bank Terhadap Objek Jaminan Fidusia Kreditur penerima fidusia mempunyai hak untuk didahulukan guna mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia.117 Berdasarkan Undang-Undang No. Menurut Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Pasal 56 ayat (1) dinyatakan bahwa Hak eksekusi kreditur sebagaimana dimaksud dalam 116 Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani. 6. Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam harta pailit pemberi fidusia. secara eksplisit diatur tentang kreditur pemegang fidusia sebagai kreditur separatis yaitu dalam Pasal 55 ayat (1) yang isinya antara lain adalah: Setiap kreditor pemegang gadai. hipotek.116 Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur Pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. atau hak agunan atas kebendaan lainnya. Bahkan sekalipun pemberi fidusia dinyatakan pailit atau dilikuidasi.112 Dari kasus di atas dapat dipahami bahwa undang-undang jaminan fidusia memang tidak selalu sempurna untuk mengatur semua permasalahan yang timbul. cit. 117 Lihat Pasal 1 UU Nomor 37 Tahun 2000 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang. jaminan fidusia. oleh karena itu harus selalu dilakukan koreksi dan penyempurnaan hukum jaminan ke depan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Hak untuk mengambil pelunasan ini mendahului dari kreditur lainnya. dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. . hal.

segala piutang bank terhadap nasabah diambil alih oleh tim likuidasi. dalam kaitannya dengan perjanjian jaminan kredit seperti jaminan fidusia.118 Setelah bank dilikuidasi. Tim likuidasi tidak dapat menjual benda jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia tetap melaksanakan kewajibannya dengan baik. Kreditur penerima fidusia tidak perlu kuatir akan kehilangan agunannya apabila debitur pemberi fidusia dinyatakan pailit sebab benda agunan tidak masuk dalam harta pailit si pemberi fidusia dan menurut Undang-Undang kepailitan kreditur penerima fidusia dapat mengeksekusi benda agunan seperti tidak terjadi kepailitan. ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan. Hal ini berarti tim likuidasi yang menggantikan kedudukan bank tersebut sebagai pemilik benda jaminan fidusia. Pembubaran dan Likuidasi Bank. 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha. . Dalam praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk pencantuman kedudukan separatis bank dalam akta jaminan fidusia tidak dijumpai. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda 118 Pasal 17 ayat (1) PP No. Kedudukan separatis bank/kreditur jaminan fidusia ini seharusnya diatur dalam undang-undang jaminan fidusia atau dicantumkan dalam akta jaminan fidusia. Penagihan piutang terhadap nasabah/pemberi fidusia dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan dalam perjanjian kreditnya. 40 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas PP No.113 pasal 55 ayat (1) dan hak pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam penguasaan debitur pailit atau curator. Likuidasi bank adalah tindakan pemberesan berupa penyelesaian seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pembubaran badan hukum bank.

114 yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji. batal demi hukum. Penjelasan Pasal 27 ayat 3 UU No. Dengan demikian objek jaminan fidusia tidak menjadi bagian harta pailit penerima fidusia oleh karena hak kepemilikan atas objek jaminan fidusia tersebut diperolehnya semata-mata sebagai jaminan. . Dapat disimpulkan bahwa dalam Undang-Undang Tentang Kepailitan ditentukan bahwa benda yang menjadi objek jaminan fidusia berada di luar kepailitan dan atau likuidasi. 42 Tahun 1999.

modal. 3. membuat perjanjian membuka kredit dan perjanjian fidusia secara notaril dan mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia.115 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Pelaksanaan Jaminan secara fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dilakukan melalui penilaian yang 115seksama terhadap watak. pembinaan dan berdialog secara kekeluargaan dalam mencari solusi. kemampuan. hingga debitur ditetapkan melakukan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak bertindak sebagai kreditur yang langsung menjadi pemilik barang agunan tetapi bentindak untuk menjual langsung barang agunan baik melalui pelelangan umum dan juga penjualan dibawah tangan untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi. 42 Tahun . Kesimpulan 1. Perlindungan bagi pemberi fidusia. agunan dan prospek usaha dari debitur dilanjutkan dengan mengisi daftar reviw dokumen. sebelum dinyatakan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk melakukan usaha-usaha berupa restrukturisasi. 2. Perlindungan hukum bagi kreditur penerima fidusia cukup terjamin dengan adanya fakta bahwa pelaksanaan jaminan secara fidusia telah dilakukan sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia No.

Sebaiknya Semua bank baik bank pemerintah maupun swasta melakukan pendaftaran jaminan fidusia sebab jaminan fidusia lahir pada saat perjanjian fidusia tersebut didaftarkan yang akan melahirkan perjanjian dengan karakter kebendaan. pemberi fidusia bertanggung jawab penuh. Saran 1. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan mendapat hak preferent. Penerima fidusia sebaiknya memperoleh kepastian dalam undang-undang untuk memberikan suatu tanda pada bukti hak milik . 3. Jaminan fidusia ini memiliki kelemahan karena objek yang dijaminkan berada di tangan debitur sehingga debitur yang tidak mempunyai itikad baik dapat melakukan kecurangan dan sulit untuk dipantau. 2. juga berhak untuk melakukan eksekusi dengan kekuasaan sendiri dan bila timbul gugatan karena kesalahan debitur terhadap penggunaan dan pengalihan benda. B. Oleh karena itu perlu dibuat peraturan lapangan pelaksana dapat agar pelaksanaan dengan di baik berjalan sehubungan dengan moralitas dan itikad baik.116 1999. dilindungi dengan asas droit de suite. menjadi kreditur separatis apabila debitur pailit.

42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia telah berlaku namun masih banyak hal-hal yang perlu dikaji. . sehingga fidusia sebagai suatu instrumen jaminan yang diterima secara luas. 4. Undang-Undang sebaiknya juga memberikan solusi yang lebih praktis apabila pemberi fidusia merasa haknya dirugikan selain melakukan gugatan perdata ke pengadilan hukum untuk yang menciptakan perlindungan seimbang bagi pemberi dan penerima fidusia. 5.117 atas objek fidusia bahwa benda tersebut telah dibebani hak jaminan fidusia seperti yang ada pada hak tanggungan. Undang-Undang No. sebab itu masih perlu suatu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait seperti menteri kehakiman dan hak azasi manusia dalam menjalankan administrasi kantor registrasi fidusia. juga Mahkamah Agung agar memiliki persepsi yang sama atas visi dan misi Undang-Undang fidusia ini. sebab hukum jaminan dapat menjadi amat berguna bagi ekonomi nasional secara makro.

....................................................13 ... ............. Rumusan Permasalahan ....... .......................................... Latar Belakang Permasalahan .....118 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN A..................................................................................................................................1 B.....

. 47 BAB III PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK BRI CABANG PADANGSIDIMPUAN ..................... Sifat Perjanjian Jaminan .................................................................. Pengertian Jaminan ....................................27 D................... 40 F...... ...................... Pembebanan Fidusia dan Fidusia Ulang ................... ....14 F.............................................................................................. ... 34 2............... ........................................................................................................................ Asas-Asas Jaminan Fidusia ...........................................................................................................................23 B........ Perjanjian Fidusia . ... 35 3................................................................................... Metode Penelitian ......... ..... 37 E.............. Pengakuan Fidusia dalam Undang-Undang Untuk Kepastian Hukum................................ Manfaat Penelitian ......................... Tujuan Penelitian ........................................................... Jaminan Fidusia sebagai Jaminan Kebendaan merupakan sub sistem hukum jaminan ............................. ................................................................................................................................................... Kerangka teoritis dan Konseptual.................20 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN DAN JAMINAN FIDUSIA A......................................................................... ................................................................................................................13 E.13 D............................119 C.........29 1....................................................................................... Pendaftaran Fidusia ..............................................................................24 C...... Jenis Jaminan .................

............................ Kasus Jaminan Fidusia ke Pengadilan ............................... 71...................56 3......................................... Visi Misi dan Tujuan Perusahaan .....120 A........................ Perjanjian Membuka Kredit ............57 B..............56 4....65 1.................................................................53 1............. Objek Jaminan Fidusia ................................................... Pelaksanaan Jaminan Secara Fidusia.................................... ............... . ....................................................... .......................72 4........................................................... ...................................... Fungsi Yuridis Jaminan Fidusia Sebagai Pengaman Kredit Bank .....................................59 2................................................ ....... Keadaan Umum Tempat Penelitian ............ Perkembangan Usaha Bank BRI ...........58 C.................................................. . ..............59 1.................................................. Gambaran Umum Jaminan Fidusia yang ada pada Bank BRI Cabang Padangsidimpuan................. .......................................... Gambaran Umum Kantor Cabang Padangsidimpuan .63 D............................................................................ Pendaftaran Jaminan Fidusia ...... ...................................... ............................ Pengikatan /Pembebanan Jaminan Fidusia ....................................... 3.........................................65 2...... ......... Bidang Usaha Bank BRI ... ..................................................... ..................... Organisasi dan Jaringan Kerja Bank BRI .54 2...............

................................................................................................................74 5............................. ................ Perubahan Status Yuridis Atas Kemilikan Benda Jaminan Fidusia ................................ ........................... Hak Preferensi Dari Penerima 109 Pemberi Fidusia .................................................................................. ..........................92 1.. Kewenangan Pemberi Fidusia Terhadap Barang Jaminan .....115 B.....98 3............................ Objek Jaminan Fidusia Tidak Dapat Dimiliki Oleh Bank ................................ Terjadinya Overmach Terhadap Objek Jaminan Fidusia ................... . .................... ....88 E....................................... Perjanjian Fidusia Merupakan Perjanjian Yang Bersifat Assesoir ......... 6.................................................108 5...................................82 6.. Saran ...........121 ................112 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A.........102 4...............................................................................................................................................................................92 2........ Proses Eksekusi Barang Jaminan Fidusia .... .................... .. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi dan Penerima Jaminan Fidusia ...... ... Kesimpulan ................................................................................................................................................................................................................................................ Pengaruh Kepailitan Fidusia/Debitur dan Likuidasi Bank Terhadap Objek Jaminan Fidusia........

........................116 DAFTAR KEPUSTAKAAN RIWAYAT HIDUP DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMPIRAN Kasus Jaminan Yang Sudah Diputus Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Tahun 1992.....................122 ........................... Perjanjian Membuka Kredit Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan Perjanjian Fidusia Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan Sertifikat Fidusia Surat Edaran Bank BRI Tahun 2004 Cabang Padangsidimpuan Surat Kuasa Di Bawah Tangan Untuk Mendaftarkan Perjanjian Fidusia Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan ..............

Perlindungan hukum bagi kreditur penerima fidusia adalah dengan adanya fakta bahwa . agunan dan prospek usaha dari debitur dilanjutkan dengan mengisi dan memenuhi semua syarat pada reviw dokumen kemudian membuat perjanjian membuka kredit dan perjanjian fidusia secara notaril dan mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. tetapi kekuasaan atas benda tersebut tidak beralih dari debitur kepada kreditur. 2) Perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia adalah apabila debitur telah dinyatakan melakukan wanprestasi kreditur tidak langsung menjadi pemilik benda agunan tetapi bertindak untuk menjual langsung benda agunan sesuai dengan proses eksekusi yang telah ditetapkan dalam UU No. karena itulah dibutuhkan adanya satu bentuk jaminan utang yang objeknya masih tergolong benda bergerak tetapi tanpa menyerahkan kekuasaan atas benda tersebut kepada pihak kreditur. 2007) ABSTRAK Menurut sistem hukum kita. maka jaminannya diikat dalam bentuk gadai. Akhirnya. 4 Tahun 1996 Tentang hak Tanggungan). PPS UNAND. muncullah bentuk jaminan baru dimana pada awalnya objeknya adalah benda bergerak yang kemudian berkembang kepada benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan. Bagaimana perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris (socio legal research). jaminan ini dikenal dengan nama jaminan fidusia. sementara pihak kreditur tidak mempunyai kepentingan. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. bahkan kerepotan jika barang tersebut diserahkan kepadanya. Ilmu Hukum. jika yang menjadi objek jaminan utang adalah benda tidak bergerak.123 PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK BRI CABANG PASANGSIDIMPUAN (Dermina Dalimunthe. Dalam hal ini barang objek jaminan tidak diserahkan kepada kreditur.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 1) Pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan dilakukan melalui penilaian yang seksama terhadap watak. tetapi tetap dalam kekuasaan debitur.Bagaimana pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan? 2). yang pada awalnya hanya didasarkan kepada yurisprudensi hingga akhirnya diatur dalam suatu Undang-Undang tersendiri yaitu UU No. 05211013. Dalam hal ini. modal. Sebaliknya. objek gadai tersebut harus diserahkan kepada pihak yang menerima gadai (kreditur). maka jaminan tersebut haruslah berbentuk hipotik (sekarang hak tanggungan dengan keluarnya UU No. Akan tetapi terdapat kasus-kasus bahwa barang objek jaminan utang masih tergolong barang bergerak. Masalah dalam penelitian ini adalah 1). 42 Tahun 1999. tetapi pihak debitur enggan menyerahkan kekuasaan atas barang tersebut kepada kreditur. kemampuan. dan juga hukum dikebanyakan negara-negara Eropa Kontinental. jika yang menjadi objek jaminan utang adalah benda bergerak.

Darus Badrulzaman. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jaminan Fidusia. 1991. Yogyakarta. 1980. Angkasa. 1977. 1984. Yogyakarta. . Bina Usaha. 2002. Proyek BPHN. Penilaian Jaminan Kredit Jakarta. ____________________________. 1984. dan Fiducia. Ilmu Hukum. berkedudukan sebagai kreditur separatis dan memiliki titel eksekutorial. Mengenal Hukum. American Law . Citra Aditya Bakti. Yogyakarta. Bandung. 1989. ______________. Bandung. Sri Soedewi. Hukum dan Masyarakat. 1988 M.S. Balai Pustaka. Bandung. Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya di Indonesia. Mariam. Metodologi Penelitian Hukum. Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional. 1986. DAFTAR PUSTAKA I. Jakarta. W. Bab-Bab Tentang Creditverban. Sudikno. Mascjoen Sofwan.W. New York London. Buku Perbankan Indonesia. Bandung. 1988. Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. Bandung. 1981. Bambang. Munir. Bandung. Mencari Sistem Hukum Benda Nasional. Filsafat Hukum Suatu Pengantar. Gadai. kreditur mendapatkan hak untuk didahulukan/preferen. Mahadi. Satjipto. Liberty. Alumni. 2003. Lawrence. Fuady.W Norton & Company.124 perjanjian fidusia pada Bank BRI Cabang Padangsidimpuan dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan di kantor pendaftaran fidusia. Friedmann. Sunggono. Citra Aditya Bakti. Citra Aditya Bakti. dilindungi dengan asas droit de suite. Hukum Jaminan Di Indonesia. Rahardjo. Rejeki Agung: Bahsan. Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perorangan. M. Mertokusumo. ________________________. Poerwadarminto. 1987. Raja Grafindo Persada.J. ______.

Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia. 1998. dan Mustafa Abdullah. 1987. Soekanto. Rajawali. Raja Grafindo Persada. Perkreditan dan Jaminan. 2000. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. 2. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia 10. Pembubaran dan Likuidasi Bank. 1982. Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia. 4. Soejono. dan Ahmad Yani. R. UU No. Perbandingan Hukum Perdata. Grafindo Persada. 1991.125 Jakarta: 2003 Satrio. Alumni. Sosiologi Hukum dalam Masyarakat. Fakultas Hukum USU. Jakarta. Pradya Paramita. Jakarta. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) UU Nomor 37 Tahun 2000 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang. J. 1983. UU No. Salim. 40 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas PP No. Jaminan Fidusia. 5. Sinar Grafika. UU No. UI-Press. H. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan. PP No. Waluyo. Pengantar Penelitian Hukum. Medan. PP No. Kumpulan kertas Kerja Mariam Darus Badrulzaman (seri I). _____________. Bandung. Hukum Bisnis Masalah Hukum Perbankan. Alumni. Subekti. II. Bandung. Subekti. Bambang Penelitian Hukum Dalam Praktek. Peraturan Perundang-Undangan 1. 8. 2004. 3. 2004. Hukum Jaminan. HS. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman UU No. UU No. Jakarta. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. 9. 1982 . Tan Kamelo. Citra Aditya Bakti. Soejono. Jakarta. Bandung. . UU No. Soekanto. Jakarta: 2002 Widjaya. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. Jakarta. Hak-Hak Jaminan Kebendaan. 6. 5 Tahun 1960 Tentang UU Pokok Agraria. 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha. 7. Gunawan.

Pengakuan Fidusia Dalam Perundang-undangan Di Indonesia. W.com (terakhir dikunjungi pada bulan Februari 2007. 3 Tahun III. Kleyn. Hukum dan Keadilan No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. . 10. IKAHI. Yayasan Kerjasama Ilmu Hukum Indonesia Belanda. 1978. Keputusan dan Ketidakpastian Peralihan Milik Fidusier. Konsep Rancangan Undang-Undang Hak Tanggungan dan Gadai. Vol. 1988.126 III. Mei/Juni 1972. Mangunkusumo. www… hukumonline. 2003. P. Komentar Pasal Demi Pasal UU No. Sumardi. Sutan. Hendra Winarta. Jurnal Hasil Penelitian dan Makalah M. Sudargo. A. Majalah Hukum No. Gautama. 30. Seminar Nasional Agraria ke-3: Medan. Jakarta. Compendium Hukum Belanda. 1990. Gravenhage. Parlindungan. 2000. Jurnal Hukum Bisnis. Frans. Fidusia Bangunan-Bangunan diatas Tanah Hak Sewa. Varia Peradilan. Teknisi Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Pendekatan Hukum. Remy Sjahdeini.

127 .

128 PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN TESIS Oleh : DERMINA DALIMUNTHE NO. BP 05211013 PROGRAM STUDI ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2007 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan .

2. Yulia Mirwati SH. Dengan kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran untuk kesempurnaan tesis ini. Rosihan Arbi dan Suty Suhaimi) yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil kepada penulis mudah-mudahan segala pengorbanan yang telah diberikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Tesis ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Andalas Padang. 4. Pembantu Dekan beserta Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Andalas yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam proses menyelesaikan studi dan tesis ini. Ibu dan Bapak Sekretasis Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Andalas. Namun dengan segala keterbatasan serta ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis. dalam penulisan tesis ini banyak kekurangan dan kelemahan. Dalam penyelesaian tesis ini penulis sadar bahwa banyak pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis.129 rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik. dengan ridho Allah swt serta dorongan dan bantuan dari semua pihak. Tesis ini berjudul: PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN Penyelesaian karya ilmiah berupa tesis ini dapat diselesaikan penulis dengan baik walaupun melalui jalan panjang. Bapak Direktur. MH sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Tasman SH. 3. MH sebagai anggota Komisi . CN. Yang mulia dan tercinta suami. ibu dan ayah. Padang. untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: 1. serta anak-anakku (Irvan Arya. Dr. Bapak Dekan. Ibu Prof.

Billahitaufiq wal hidayah Alhamdulillah hirobbil alamin Padang. amin. Semoga bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik moril maupun materil menjadi amal sholeh di sisi Allah swt. dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.130 Pembimbing yang telah banyak membimbing dan meluangkan waktu untuk penulisan ini. 5. Demikian tesis ini penulis hadapkan atas segala bantuan yang diberikan mudah-mudahan menjadi amal sholeh di sisi Allah swt dan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kepada rekan-rekan seangkatan PPS Universitas Andalas yang telah ikut memberikan motivasi kepada penulis. Juni 2007 Penulis . amin.

MH SD Ngeri 16 Padangsidimpuan Th 1978. Hatta No.1987 SMAN 2 Padangsidimpuan Th 1987-1990 Universitas Islam Sumatera Utara Th 1990. Setia Kel. BP Tempat/Tgl Lahir Alamat : DERMINA DALIMUNTHE. MH : Tasman SH. SH : 05211013 : Sihepeng.1984 SMPN 3 Padangsisimpuan Th 1984. M.131 RIWAYAT HIDUP Nama Lengkap NO. Yulia Mirwati SH.1995 : Zubir Dalimunthe : Nurlena Harahap : Jln. 6A RT 11/RW IV Kec. 28 Mei 1971 : Jln. Kuranji Padang 25152 Nama Orang Tua: Ayah Ibu Alamat Jenjang Pendidikan: • • • • Tesis Judul : PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN Pembimbing I Pembimbing II : Prof. Dr. Tano Bato Gn. Batang Ayumi Jae Padangsidimpuan Sumatera Utara Durasi Perkuliahan : 2 Tahun Wisuda : . CN. DR.

kecuali kutipan yang sumbernya dicantumkan. maka status kelulusan dan gelar yang saya peroleh menjadi batal dengan sendirinya. Juni 2007 Yang Membuat Pernyataan Dermina Dalimunthe Bp 05211013 .132 Yudicium : PERNYATAAN KEASLIAN TESIS Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya tulis dengan judul PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN adalah hasil kerja atau karya saya sendiri dan bukan jiplakan dari hasil kerja atau karya orang lain. Padang. Jika dikemudian hari pernyataan ini ternyata tidak benar.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.