P. 1
stress dan coping stress pada pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi oleh sara sahrazad

stress dan coping stress pada pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi oleh sara sahrazad

|Views: 3,496|Likes:
Published by Sara sahrazad
skripsi
skripsi

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Sara sahrazad on Aug 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2013

pdf

text

original

Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia meningkat tajam. Data terbaru

Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Februari 2006 menyebutkan, dalam lima

tahun terakhir jumlah kasus tindak pidana narkoba di Indonesia rata-rata naik

51,3% atau bertambah sekitar 3.100 kasus per tahun. Kenaikan tertinggi terjadi

pada 2005 sebanyak 16.252 kasus atau naik 93% dari tahun sebelumnya. Di

tahun yang sama tercatat 22 ribu orang tersangka kasus tindak pidana narkoba.

Kasus ini naik 101,2% dari 2004 sebanyak 11.323 kasus (Damayanti, 2006).

Data di atas menunjukkan bahwa perkembangan kasus narkoba makin

meningkat, sehingga banyak didirikannya tempat-tempat rehabilitasi guna untuk

membantu pecandu agar dapat berhenti dari efek penggunaan narkoba.

Hawari (1991) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabkan narkoba

itu disalahgunakan, yaitu agar dapat diterima oleh lingkungannya, untuk

mengurangi stres dan kecemasan, bebas dari rasa murung, mengurangi

keletihan atau kejenuhan, dan dapat pula untuk mengatasi masalah pribadi.

Pada awal pemakaian, para pengguna narkoba ini tidak merasakan akibat buruk

dari narkoba. Akibat itu baru dirasakan setelah beberapa kali pemakaian

sehingga menimbulkan kecanduan dan ketergantungan. Ketergantungan dapat

menyebabkan kesulitan untuk melepaskan diri dari pemakaian narkoba, karena

saat sudah ketergantungan dosis pemakaian narkoba akan makin bertambah.

Pada beberapa jenis narkoba, seperti putaw dan shabu-shabu, proses

ketergantungan terjadi lebih cepat, hanya dengan beberapa kali pemakaian.

2

Pasar gelap juga mengembangkan jenis narkoba murni dengan daya

ketergantungan yang makin tinggi. Hal ini akan semakin cepat mengakibatkan

kematian.

Kematian dapat dicegah dengan cara mengikuti pengobatan untuk para

pecandu narkoba, pengobatan dapat dilakukan di tempat rehabilitasi ataupun

rumah sakit. Pusat-pusat detoksifikasi (penghilang racun narkoba) dan

rehabilitasi bagi pecandu narkoba juga sangat beragam. Ada yang hanya

menyediakan detoksifikasi sehingga pasien tidak perlu menginap. Contohnya,

rumah sakit, klinik, dan puskesmas. Ada juga tempat-tempat rehabilitasi yang

menyediakan penginapan seperti asrama, dengan fasilitas yang lengkap, udara

segar, dan pemandangan alam. Tempat-tempat ini berbeda satu sama lain,

tergantung filosifi, tujuan dari tempat tersebut, dan pasien yang disasar. Ada

pusat rehabilitasi yang berdasarkan agama sehingga memasukkan ajaran-ajaran

agama di dalam program mereka (Kompas, 2006).

Sebuah tempat rehabilitasi akan membantu seorang pecandu untuk bangkit

dari keadaan mereka yang terpuruk secara mental, spiritual, jasmani, sosial dan

membantu mereka untuk melanjutkan masa depannya. Penghuni panti

rehabilitasi membentuk hidup bersama atau komunitas. Masing-masing membuat

komitmen pada diri sendiri dan sesama anggota komunitas untuk memperbaiki

dan meningkatkan mutu kehidupan di segala bidang: mental, spiritual, sosial dan

jasmani, dengan demikian, hidup bersama, semangat persaudaraan, dan

komitmen timbal balik antara mereka dengan sendirinya menjadi model,

sekaligus metode penyembuhan bagi mereka masing-masing.

Ada suatu program yang diadakan oleh salah satu tempat rehabilitasi yang

memakai cara yang disebut dengan Naza Project. Naza Project adalah suatu

3

program yang diadakan oleh Yayasan Hikmatul Iman yang bertujuan untuk

melakukan rehabilitasi terhadap korban narkotika, zat adiktif dan psikotropika

agar sehat kembali (Wikipedia, 2007).

Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana stress dan coping stress pada

pecandu narkoba dewasa awal yang sedang menjalani rehabilitasi dengan

asumsi bahwa seseorang yang terbiasa menyelesaikan masalahnya dengan

memakai narkoba akan menolak pemikiran tersebut karena ia ingin bebas dari

pengaruh narkoba dan ingin menyelesaikan masalahnya dengan normal.

Stress adalah pengalaman emosi negatif yang diikuti dengan perubahan

biokimia, fisiologis, kognitif dan tingkah laku. Stress ini dapat dikategorikan

sebagai tiga bagian, yaitu stimulus, respon, dan proses. Pendekatan yang

mendefinisikan stress sebagai stimulus adalah pendekatan yang berfokus pada

lingkungan. Pendekatan kedua memandang stress sebagai respon. Pendekatan

ini fokus kepada reaksi individu terhadap sumber stress. Pada pendekatan

terakhir, stress dideskripsikan sebagai interaksi antara stimulus yang memicu

stres dan diri individu sendiri (Brannon & Feist, 2000).

Menurut Lazarus & Folkman (1984), dalam melakukan coping, ada dua strategi

yang dibedakan yaitu Problem-focused coping dan Emotion-focused coping.

Problem-focused coping, yaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur

atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang

menyebabkan terjadinya tekanan. Emotion-focused coping, yaitu usaha

mengatasi stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka

menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi

atau situasi yang dianggap penuh tekanan.

4

Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping dalam

menghadapi masalah-masalah yang menurut individu tersebut dapat

dikontrolnya. Sebaliknya, individu cenderung menggunakan emotion focused

coping dalam menghadapi masalah-masalah yang menurutnya sulit untuk

dikontrol (Lazarus & Folkman, 1984). Terkadang individu dapat menggunakan

kedua strategi tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping

pasti digunakan oleh individu (Taylor, 1991). Para peneliti menemukan bahwa

penggunaan strategi emotion focused coping oleh anak-anak secara umum

meningkat seiring bertambahnya usia mereka (Band & Weisz, Compas et al.,

dalam Wolchik & Sandler, 1997).

Penulis telah melakukan survey ke sebuah tempat rehabilitasi yang terletak di

daerah Sentul, tempat rehabilitasi tersebut bernama Kedhaton Parahita yang

telah berdiri sejak 2001 dengan pendirinya Romo Somar. Saat penulis datang ke

tempat rehabilitasi tersebut, penulis bertemu dengan salah satu psikolog bagian

klinis berinisial E, dan E berkata “sangat jelas para pecandu narkoba mengalami

stres saat menjalani rehabilitasi, karena saat dari pertama pecandu masuk ke

tempat rehabilitasi, pecandu akan di karantina selama 6 bulan penuh. Saat 6

bulan para pecandu tidak diperbolehkan bertemu dengan orang luar maupun

keluarga dan tidak diperbolehkan untuk keluar tempat rehabilitasi tersebut.

Saat menjalani rehabilitasi pecandu pasti akan merasa stres fisik maupun

psikis karena tubuhnya yang telah kecanduan narkoba dipaksa untuk tidak

mengkonsumsi kembali sehingga tubuh akan bereaksi yang biasa disebut

dengan sakaw. Tubuh yang sakaw akan merasa kesakitan yang luar biasa dan

pecandu akan dibiarkan merasakan hal itu sampai tubuhnya kembali normal.

Pecandu pun akan mengalami stres saat merasa sendiri (kesepian) karena

5

selama 6 bulan pertama tidak diperbolehkan bertemu dengan siapa-siapa.

Seorang pecandu pun mempunyai cara masing-masing untuk menyelesaikan

permasalahan yang yang dihadapinya”.

Percakapan penulis dengan E menunjukkan bahwa pecandu yang menjalani

rehabilitasi pasti akan mengalami stres dan para pecandu juga akan

menyelesaikan masalah (coping stress) dengan cara yang berbeda-beda (E.

Sentul, personal communication, juni 13, 2007). Oleh sebab itu penulis ingin

meneliti apa saja stressor yang akan timbul saat pecandu sedang menjalani

rehabilitasi dan coping stress apa yang dipakai dalam mengatasi

permasalahannya.

Penulis mempunyai tujuan dalam mengerjakan penelitian ini, yaitu agar peneliti

mendapatkan gambaran stressor dan coping stress yang dilakukan oleh pecandu

didalam rehabilitas, sehingga dapat memberi masukan kepada sebuah tempat

rehabilitasi agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul di

tempat rehab yang dapat menyebabkan para pasien menjadi jenuh dan bosan.

Begitupula penulis dapat member masukan kepada para orangtua pecandu agar

memberi dukungan kepada pecandu tersebut, karena hal itu dapat membantu

dalam proses penyembuhan para pecandu tersebut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->