P. 1
A

A

|Views: 91|Likes:
Published by Penjaga Gudang

More info:

Published by: Penjaga Gudang on Aug 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

A.

Definisi Dilalah Al-Qur’an dan Dalil yang Qath’i serta Zhanni Dalil menurut arti etimologi bahasa Arab ialah pedoman bagi apa saja yang khissi (material) yang ma’nawi (spiritual), yang baik ataupun yang jelek. Adapun menurut istilah ahli ushul (termenilogi) ialah sesuatu yang dijadikan dalil, menurut perundangan yang benar, atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, secara pasti (qath’i) atau dugaan (zhanni). Sedangkan istilah dali-dalil hukum, pokok-pokok hukum, sumber-sumber hukum syari’at Islam adalah lafadz-lafadz mutarodifat (kata-kata sinonim), yang artinya adalah satu atau sama (equivalent).Dalalah berarti pemahaman atau tanda penunjukkannya untuk sampai kepada madlul, prosesnya berawal dari petunjuk yang mendasarinya (dalil) kemudian dipahami (dalalah) yang akhirnya mengacu kepada pemahaman (madlul). Cth : Aqimu al-Sholat perintah shalat wajib shalat Asap ada yang terbakar api Sebagian ulama’ ushul memberikan definisi dalil dengan sesuatu yang diambil dari padanya, hukum syara’ mengenai perbuatan manusia dengan jalan pasti (qath’i). sedangkan sesuatu yang diambil daripadanya hukum syara’ dengan jalan dugaan (zhanni) adalah amarah (sign = tanda), bukan dalil. Tetapi yang termasyhur dalam istilah ulama’ ushul mengenai definisi dalil itu ialah sesuatu, yang diambil daripadanya, hukum syara’ secara amali, mutlak, baik dengan jalan qath’i maupun zhanni. Karena itu mereka membagi dalil kepada 2 macam yaitu : 1. Dalil atau Nash Qath’i Dalil atau nash yang qath’i ialah nash yang menunjukkan kepada makna yang bisa difahami secara tertentu, tidak ada kemungkinan menerima ta’wil, tidak ada tempat bagi pemahaman arti selain itu, sebagaimana firman Allah SWT :: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” (QS. An-Nisa’ : 12). Ayat ini adalah pasti, artinya bahwa bagian suami dalam keadaaan seperti ini adalah seperdua, tidak yang lain (yakni yang lain dari seperdua). Dan seperti firman Allah juga yaitu :: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera”. (QS. anNur : 2) Ayat ini pasti juga, artinya bahwa had zina itu seratus kali dera, tidak lebih dan kurang. Begitu juga setiap nash yang menunjukkan arti mengenai bagian dalam soal harta pusaka, atau ati had dalam hukuman dan atau tentang arti nishab. Semua itu telah dipastikan atau ditentukan dan atau dibatasi. Dalil qath’i ini ada dua macam, yaitu : a. Dalil al-Wurud yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah (al-Qur’an) atau dari Rasulullah (hadits mutawatir). Al-qur’an seluruhnya qath’i dilihat dari segi wurudnya. Akan tetapi tidak semua hadits qath’i wurudnya. b. Qath’i Dalalah, dalil yang kata-katanya atu ungkapan kata-katanya menunjukkan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. Seperti firman Allah SWT yaitu dalam surat an-Nisa’ ayat 12 di atas. 2. Dalil atau Nash Zhanni Dalil atau nash yang zhanni ialah nash yang menunjukkan atas makna yang memungkinkan untuk ditakwilkan atau dipalingkan dari makna asalanya (lughawi) kepada makna yang lain, seperti firman Allah SWT yaitu : “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[1].” (QS. alBaqarah : 228) Padahal lafal quru’ itu dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yaitu suci dan haid. Sedangkan nash menunjukkan (memberi arti) bahwa wanita-wanita yang ditalak itu menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksudkan, adalah tiga kali suci atau tiga kali haid. Jadi ini berarti tidak pasti dalalahnya atas satu makna dari dua makna tersebut. Oleh karena itu para mujtahidin berselisih pendapat bahwa ‘iddah wanita yang ditalak itu Quru’ dapat diartikan suci atau haid. Dan sebagaimana firman allah, yaitu “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah.[2]” Padahal lafal maitah (bangkai) itu umum. Jadi ini mempunyai kemungkinan arti mengharamkan setiap bangkai, atau keharaman itu (ditaksis) dengan selain bangkai lautan, maka oelh karena itu nash yang mempunyai makna yang serupa (makna ganda) atau lafal umum, atau mutlak dan atau seperti maitah ini, semua adalah zhanni dalalahnya (indikator), karena ia mempunyai kecenderungan kepada satu arti lebih. Dalil zhanni ada dua macam, yaitu : a. Zhanni al-Wurud yaitu dalil yang hanya memberi kesan yang kuat (sangkaan yang kuat) bahwa datangnya dari Nabi saw. Tidak ada ayat al-Qur’an yang zhanni wurudnya, adapun hadits ada yang zhanni wurudnya, seperti hadits ahad. b. Zhanni al-Dalalah yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberikan kemungkinan-kemungkinan arti dan maksud. Tidak menunjukkan kepada satu arti dan maksud tertentu. Seperti firman allah dalam surat al-baqarah ayat 228. B. Definisi dan Kehujjahan Sunnah serta Dilalah dan Kedudukan Sunnah As-Sunnah dalam bahasa Arab berarti tradisi, kebiasaan, adat istiadat. Dalam terminology Islam, berarti perbuatan, perkataan, dan keizinan Nabi Muhammad saw (af’alu, aqwalu, dan taqriru). Menurut rumusan ulama ushul fiqh, As-Sunnah dalam pengertian istilah ialah segala yang dipindahakan dari Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbuatan, ataupun tqrir yang mempunyai kaitan dengan hukum. Pengertian inil;ah yang dimaksudkan untuk kata AsSunnah dalam hadist Nabi : sungguh telah kutinggalkan untukmu dua perkara, yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Al-Hadist) Pengertian As-Sunnah tersebut sama dengan pengertian Al-Hadist. Al-Hadist dalam bahasa Arab berarti berita atau kabar. Namun demikian, ada yang membedakan pengertian As-Sunnah dan Al-Hadits. Perbedaan dimaksud, As-Sunnah adalah sesuatu perbuatan yang beberapa kali dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yangb kemudian terus menerus diikuti oleh sahabat dan dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dari zaman ke zaman dengan jalan mutawatir. Nabi Muhammah saw melakukan perbuatan ini beserta para sahabat, kemudian hal itu diteruskan oleh para sahabat lain dan tabiin, bahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada kita saat ini. Adapun Al-Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya sepanjang hidupnya dan walaupun hanya seorang saja yang meriwayatkannya. Perbedaan makna secara etimologi seperti ini, tidak mengurangi pentingnya arti As-Sunnah atau Al-Hadits dimaksud. Sebab, mayoritas ahli hadits, berdasarkan penelitian mereka menyamakan hadits dan sunnah (Nasaruddin Razak, 1977: 102). Akan tetapi, tidak semua hadits mesti menjadi sumber hukum. Sebab ada hadits yang maqbul (diterima) da nada yang mardud (tidak dapat diterima). Oleh karena itu perlu juga diungkapkan pembagian Sunnah dan Hadits. Sunnah atau Hadits dapat dibagi berdasarkan kriteria dan klasifikasi sebagai berikut : Ditinjau dari segi bentuknya terbagi menjadi :

2. 3. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 1. 2. 3.

Masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak tetapi tidak sampai kepada derajat mutawatir, baik karena jumlahnya maupun karena tidak jalan indera.

Ahad, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih yang tidak sampai kepada tingkat masyhur dan mutawatir. Ditinjau dari segi kualitas hadits, terbagi menjadi : Shahih, yaitu hadits yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya dan kuat hafalannya, materinya baik dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkannya. Hasan, yaitu hadits yang memenuhi persyaratan hadits shahih kecuali di segi hafalan pembawanya yang kurang baik. Dha’if, yaitu hadits lemah, baik karena terputus salah satu sanadnya atau karena salah seorang pembawanya kurang baik dan lain-lain.

Maudhu’, yaitu hadits palsu, hadits yang dibikin oleh seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Rasul saw. Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, terbagi menjadi : Maqbul, yaitu hadits yang mesti diterima.

Mardud, yaitu hadits yang mesti ditolak. Ditinjau dari segi orang yang berbuat atau berkata-kata, hadits terbagi menjadi : Marfu’, yaitu betul-betul Nabi saw yang pernah bersabda, berbuat dan memberi izin. Mauquf, yaitu sahabat Nabi yang berbuat dan Nabi tidak menyaksikan perbuatan sahabat.

1. 2. 3. 1.

Fi’il, yaitu perbuatan Nabi. Qauli, yaitu perkataan Nabi.

Taqriri, yaitu perizinan Nabi, yang artinya perilaku sahabat yang disaksikan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak menegurnya atau melarangnya. Ditinjau dari segi jumlah orang yang menyampaikannya menjadi : Mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal tidak mungkin mereka bersepakatan dusta serta disampaikan melalui jalan indra.

Maqtu’, yaitu tabi’in yang berbuat. Artinya perkataan tabi’in yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan. Pembagian lain yang disesuaikan jenis, sifat, redaksi, teknis penyampaiaan dan lain-lain. Hal dimaksud, dapat diungkapkan sebagai contoh : hadits yang banyak menggunakan kata an (dari) menjadi hadits mu’an’an. Hadits yang benyak menggunakan kata anna (sesungguhnya) menjadi hadits muanan. Hadits yang menyangkut perintah disebut hadits awamir. Hadits yang menyangkut larangan disebut hadits nawahi. Hadits yang sanad (sanadnya) terputusnya disebut hadits munqath’i. Bukti-bukti kehujjahan as-Sunnah banyak sekali, yaitu : Nash-nash al-Qur’an Karena allah SWT dalam beberapa ayat kitab al-Qur’an telah memerintahkan mentaati Rasul-Nya. Menurut-Nya taat kepada Rasul-Nya berarti taat kepada-Nya. Dia memerinatah umat Islam ketika mereka bertentangan dalam urusan sesuatu, untuk mengembalikannya keepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak membuat untuk orang mu’min suatu pilihan ketika Dia dan Rasul-Nya telah memutuskan sesuatu. Dia meniadakan iman bagi seseorang yang tidak tenang hatinya menerima keputusan Rasul, atau tidak menyerah kepadanya. Semuanya ini adalah bukti dari Allah bahwa sesungguhnya pembentukan hukum syari’at oleh Rasulullah saw adalah pembentukan hukum syari’at oleh Tuhan yang harus diikuti. Allah SWT telah berfirman dalam beberapa ayat berikut : “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imron : 32). “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ : 59) “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ : 65). “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[3]” (QS. an-Nisa’ :80). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab : 36). “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orangorang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyar : 7). Ayat-ayat tersebut di atas saling bersatu dan bersandaran, dan dengan itu mendatangkan arti secara pasti, bahwasannya Allah mengharuskan mengikuti RasulNya terhadap apa yang disyari’atkannya. Ijma’ para sahabat r.a semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya mengenai keharusan mengikuti sunnah Nabi. Pada masa hidup Nabi mereka melaksanakan hukum-hukumnya dan menjalankan segala perintah serta larangannya, hukum halal serta hukum haramnya. Dalam keharusan mengikuti mereka tidak membedakan di antara hukum yang diwahyukan kepadanya dalam al-Qur’an dan hukum yang keluar dari Nabi sendiri. Dan oleh karena itu Mu’adz bin Jabal berkata : “JIka saya tidak mendapati dalam Kitabullah, hukum yang hendak saya jadikan keputusan, maka jatuhkan keputusan dengan sunnah Rasulullah saw.” Mereka (para sahabat) setelah wafatnya Nabi, apabila tidak mendapatkan dalam Kitabullah hukumnya sesuatu yang terjadi pada mereka, maka mereka kembali kepada sunnah Rasulullah saw. Abu Bakar ketika tidak hafal sunnah mengenai suatu kejadian, maka keluarlah beliau dan bertanya kepada umat Islam : “Adakah di antara kamu terdapat orang yang hafal sunnah dari Nabi kita mengenai kejadian ini?” Demikian pula Umar mengerjakan seperti itu dan juga sahabat lainnya yang bertugas untuk memberikan fatwa dan keputusan pun pula para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in juga menempuh jalan para sahabat sekiranya salah seorang di antara mereka tidak mengetahui seorang yang menyalahinya berbuat melampaui batas mengenai keharusan mengikuti sunnah Rasulullah saw manakala telah shahih penukilannya. Dalam al-Qur’an Allah SWT telah mewajibkan kepada manusia beberapa ibadah fardhu secara global tanpa penjelasan (secara rinci) tidak dijelaskan di dalamnya mengenai hukum-hukumnya atau cara memakainya (melaksanakannya). Maka Allah SWT berfirman :“Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat”. (QS. an-Nisa’ : 77) “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. alBaqarah : 183).

dan tidak mendapat petunjuk? "[Al-Baqarah: 170] Perbedaan antara taqlid dan ittiba’ adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal." [Az-Zumar: 17-18] Ketujuh. Akal merupakan ‘ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa hilang. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. bahwa madzhab Ahlus Sunnah mengatakan bahwa akal tidak mewajibkan sesuatu bagi seseorang dan tidak melarang sesuatu darinya. Mashur.. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: " Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu.". " Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Matan ialah redaksi dari hadits. orang yang tidur sampai bangun. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). [2]. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari’at. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah." [Al-Israa’: 15] [8]. Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. hasan.”[2] Akal adalah insting yang diciptakan Allah Subahnahu wa Ta'ala kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah Azza wa Jalla. [7]. Dan tiadalah kalian diberi ilmu melainkan sedikit. dalil-dalil ‘aqli yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan/mengalahkan dalil-dalil syar’i. Hadits mutawatir. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. tafakkur. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu`dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam al-Qur-an. (QS. 390 H) : “Makna taqlid secara syar’i adalah merujuk kepada perkataan yang tidak ada hujjah/dalil atas orang yang mengatakannya. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. Po Box 264 Bogor 16001. Ali Imron : 97) “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran. alasan) namun berubah men-jadi dalil yang bathil. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. di antaranya sebagai berikut :[14] [1]. Karena semua asSunnah sumbernya adalah Rasulullah saw yang ma’sum yang telah diberi oleh Allah kekuasaan untuk menjelaskan dan untuk membentuk hukum syari’at Islam. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). "Kami terbiasa. 489 H) [13] berkata: “Ketahuilah. Hadits Munqati`. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).Pembatasan wilayah kerja akal dan pikiran manusia sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla. atau “afalaa ta’qiluun” (apakah kamu tidak berakal). Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda).dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal. Sedangkan yang dimaksud dengan akal ialah."[5] Ketiga [6].” [Al-Israa’: 70] Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Kelima. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[4] dan supaya mereka memikirkan. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu"." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:” Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal. [6]. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi`in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad. “Ittiba’ adalah sese-orang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. (Apakah mereka akan mengikutinya juga) walau-pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun. Munqati`. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Allah Azza wa Jalla berfirman: “ . Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:" Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Katakanlah: “Ruh itu adalah urusan Rabb-ku. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya. tidak bersifat detail. Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Bahwa ittiba’ yaitu penerimaan riwayat berdasarkan diterimanya hujjah sedangkan taqlid adalah penerimaan yang ber-dasarkan pemikiran logika semata.[11] Keenam [12] Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran. [2]. Mu`dal dan Mursal. an-Nahl : 44). al-hikmah (kebijakan). ‘aql (selanjutnya ditulis akal) digunakan untuk dua pengertian: [1]. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. Jadi. Mu`allaq.” [8] Ibnu ‘Abdil Barr (wafat th. Hukumhukum syari’at tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh syari’at. Hadits ahad. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. mereka menjawab: ‘Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (QS. husnut tasharruf (tindakan yang baik atau tepat). “Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shahih. Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. Aziz. namun taqlid dilarang. Science of Hadits). Secara terminologi. perbuatan.. Jaami’ul Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi [9] menerangkan perbedaan antara ittiba’ (mengikuti) dan taqlid yaitu terletak pada adanya dalil-dalil qath’i yang jelas. dalah hujjah yang harus diikuti baik sunnah itu menjelaskan tentang hukum di dalam al-Qur’an maupun membentuk hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. Firman-Nya:"Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. ta-aqqul dan lainnya. Maka kalimat seperti “la’allakum tatafakkaruun” (mudah-mudahan kamu berfikir). Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". [5]. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara`id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. [2] Ialah: darah yang keluar dari tubuh. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang berten-tangan dengan syari’at. Allah Azza wa Jalla berfirman:" Kami tidak akan meng‘adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul. hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. wafat th. karena syari’at itu ma’shum sedang akal tidak ma’shum. Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu`. [1] Quru’ dapat diartikan suci atau haidh. 463 H) dalam kitabnya. serta tidak ada hak baginya untuk meng-halalkan atau mengharamkan sesuatu. Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M] Hadist Pengertian. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib.[15] [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad.. [9]. hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. anak kecil sampai bermimpi. hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu` (terangkat)." [Shaad: 43] Kedua [4] : Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah Azza wa Jalla. Sifat ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya: "Artinya : . Kalau seandainya as-Sunnah yang menjelaskan itu bukan hujjah atas umat Islam dan bukan sebagai undang-undang yang harus diikutinya. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: . di antaranya: Ad-diyah (denda).. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.Sebab itu sampaikanlah berita (gembira) itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Maka setiap sunnah pembentukan hukum syari’at Islam yang shahih keluarnya dari Nabi.. Penerbit Pustaka At-Taqwa. Berkata Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki (namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdillah. As-Sunnah yang menjelaskan itu harus diikuti dari segi dari segi bahwa ia adalah keluar dari Rasul saw diceritakan daripadanya dengan system yang mendatangkan kepastian akan datangnya daripadanya atau mendatangkan dugaan yang kuat akan datangnya daripadanya." [Al-Israa’: 85] Firman Allah Azza wa Jalla :"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan keruntuhan pondasi berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. Syari’at didahulukan atas akal.. Ittiba’ diperkenankan dalam agama.“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah”.Allah Azza wa Jalla mencela orang yang tidak menggunakan akalnya.. "Kami dilarang untuk. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah Azza wa Jalla yang diten-tukan oleh akal kita kepada-Nya.". Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW.” Kata ‘Aql dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti [1]. Dan itu dapat dilihat pada beberapa point berikut: Pertama [3]: Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal." [Al-Mulk: 10] Keempat [7].” Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal. Dan jika ia bertentangan dengan keduanya. Karena Allah mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya" [Al-Buruuj: 16] Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Shu`bah. larangan-larangan. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi`in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu`. [4]. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi`in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi`in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Sehingga akal tidak lagi menjadi hujjah (argumen. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Hadits Maqtu` adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi`in (penerus). atau “afalaa yatadabbaruuna al-Qur'ana” (apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an) dan lainnya. [3]. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari’at. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma`nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). mauquf (terhenti) dan maqtu` : Hadits Marfu` adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya). ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. da`if dan maudu` Hadits Shahih. Naql adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam al-Qur-an dan asSunnah. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani Rahimahullah (wafat th." [Thaahaa: 110] Ulama Salaf (Ahlus Sunnah) senantiasa mendahulukan naql (wahyu) atas ‘aql (akal). Seandainya tidak datang kepada kita wahyu..” [10] Jadi definisi taqlid adalah menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil. sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. maka tidak ada bagi seseorang suatu kewajiban agama pun dan tidak ada pula yang namanya pahala dan dosa. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur`an.. akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. Jenis dan Tingkatannya Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan. [4] Yakni: perintah-perintah. seperti tadabbur. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan ‘aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan rasio semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli (dalil syar’i) yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. sebagaimana juga tidak ada wewenang baginya untuk menilai ini baik atau buruk.. Dan di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya. Dan makna ittiba’ yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah/dalil yang tetap. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. maka tidak mungkin melaksanakan fardhu-fardhu al-Qur’an atau mengikuti hukum-hukumnya. Hadits Mursal. sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat [3] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syariat. Hadits Mu`allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya.

hukum Islam berkembang dalam sejarah. Ada juga sumber dalil yang diikutkan dalam kategori seperti ijma'.6 Yaitu petunjuk yang menunjukan kepada madlul (sesuatu yang ditunjuk). Sumber hukum syar'i yang merupakan kumpulan-kumpulan dalil yang darinya hukum-hukum syariat digali. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. Dengan penerapan metodologi itulah. Imam Bukhari. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. seperti Aisyah. Aturan-aturan ini. baik itu berupa al-Quran ataupun al-Sunnah. b. ijma' ahli madinah. dan ayat-ayat tentang mu'ammalah ini banyak mengisi lembaran-lembaran al-Quran. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan dalil yaitu sesuatu yang bisa mengantarkan kita sampai kepada hasil yang bersifat khobar (hukum) dengan penelitian yang benar7berbeda dengan definisi di atas. tentunya. Sedangkan dalil menurut ulama ushul fiqih. mengandung kejanggalan atau cacat. sehingga hukum Islam dapat berkembang sesuai dengan tuntutan manusia dan Zaman. . Seseorang yang ingin memahami dalil syara'. Ada baiknya ayat-ayat yang bertentangan dibahas dan dimengerti oleh semua orang agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami dalil-dalil hukum yang terdapat al-Quran maupun al-Sunnah. 2. dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. 3. disusun oleh Bukhari (194-256 H)_Shahih Muslim. meskipun hakikat dari pertentangan dalil-dalil syara' itu tidak mungkin terjadi.). ada sebagian ulama yang tidak mengakuinya.Shahih Bukhari. Sumber-sumber hukum dalam hal ini ialah 'urf (tradisi). yang melawan Ali pada Perang Jamal. Ilmu ushul fiqih merupakan salah satu bidang ilmu keislaman yang penting dalam memahami syariat Islam dari sumber aslinya. Adapun ta'arudh yang terjadi dalam dalil-dalil hukum Islam dewasa ini hanyalah sebatas ta'arudh Dzahiri. dan menerima berbagai macam penafsiran serta berbagai prinsip-prinsip dasar yang dalam bentuk aplikatifnya memerlukan aturan tambahan. termasuk: Shahih Bukhari. Dengan kemapuannya ayat al-Quran maupun al-Hadits dapat diketahui maknanya. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. dengan cara menyatukan dalil-dalil hukum yang mengalami kontradiksi.Al-Istibsaar. juga mengandung hukum-hukum yang masih memerlukan penafsiran dan mempunyai potensi untuk berkembang. maslahah mursalah (pengambilan hukum yang berprinsip kemaslahatan secara bebas). yang menjelaskan hubungan antarmanusia. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah dijelaskan oleh Rasulullah SAW secara rinci dan jelas dalam sunnahnya. Namun jika kita melihat dalil dari sisi asal dalil sendiri. dalam ayat-ayat hukum di bidang mu'ammalah pada umumnya disebutkan atau disyariatkan hikmah atau 'illat hukumnya. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya. Imam Bukhari. Hadits Mudraj. manusia. Pengertian Dalil Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas pertentangan dalil-dali qathi'. ‫ولو كان من غير ال لوجدوا فيه اختلفا كثيرا‬ Artinya: Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur.Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. sangat mustahil terjadi. dengan dalih karena kesamaan illat (alasan) kedua dalil. yang lafadz dan substansinya berasal dari Allah.Sumber hukum yang menjadi perdebatan ulama. akan tetapi tak sedikit ulama yang mengabaikan dan menjauhinya. memiliki sifat istiqomah. baik yang mengetahui maupun tidak tahu. yaitu sebagai berikut11. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta` dari Imam Malik. Dalam pembahasan ta'arudh al-dilalah (pertentangan antar dalil). terbuka. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. Di samping itu. dibahas. ijma' mujtahid sepanjang masa. akan tetapi ayat-ayat al-Quran mengenai mu'ammalah (hubungan antaramanusia dengan manusia) ini hanya sebagian kecil saja yang langsung disebutkan hukumnya dalam al-Quran secara tegas dan terperinci. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)_Sunan at-Turmudzi. Mayoritas bersifat umum. dan disatukan maka jelaslah ayat yang bertentangan tersebut tak ada pertentangan sedikit pun. tentunya dengan kaidah-kaidah yang benar. maka kita akan mendapatkan dua kategori. Banyak ulama ushul fiqih yang telah mencurahkan pikirannya untuk memahami apa yang terdapat dalam wahyu Allah SWT. istihsan. Dalil dalam Perspektif Sumbernya Berbicara tentang dalil. sumber hukum yang termasuk pembagian ini adalah sumber hukum yang diakui dan dipakai oleh ulama. Sesungguhnya pertentangan-pertentangan dalil yang terjadi hanya sebatas ketidakmampuan akal manusia memahami wahyu-wahyu Allah. istihsan (anggapan baik tentang suatu hukum). melalui Fatimah az-Zahra. dipahami. Adapun al-Sunnah termasuk kategori ini karena merupakan sumber hukum yang substansi dari Sunnah sendiri adalah Allah. baik yang statusnya qathi' (pasti) maupun zhanni8 (relatif). Mustahil bagi Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengusai menciptakan suatu hukum yang bertentangan. yaitu dengan menyamakan hukum satu dengan hukum yang lainnya. Hadits Syadz. Imam Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. istishab. apabila merupakan kesepakatan dan analisis para mujtahid maka dinamakan ijma'.dalil aqli (akal) yaitu dalil yang cara pengambilan hukumnya melalui penalaran logis yang berdasarkan dengan akal. II. yang secara substansi dari al-Sunnah itu berasal dari Allah. Maka. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi.9 Membaca keterangan di atas. Hadits Mudallas. Dijelaskan dalam al-Quran Surat al-Nisaa' pada ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut. Sedangkan apabila tidak memiliki kriteria-kriteria di atas maka dinamakan istidlal (mencari dalil). yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.12 Adapun dalil yang merupakan wahyu adakalanya dibacakan seperti al-Quran dan ada juga yang tak dibacakan seperti al-Sunnah. tentunya berdasarkan pembenaran dan penelitian yang cermat lafadz tersebut menunjukan wajibnya shalat karena suatu perintah memberikan makna wajib. perintah mendirikan shalat juga perintah wajib untuk melaksanakan shalat. Perkembangan hukum-hukum Islam tentunya tak mungkin bisa lepas dari peran para Mujtahid (orang yang mampu menggali hukum) yang telah merumuskan metodologi ijtihad. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). Dalam ushul fiqih dijelaskan batasan akal manusia dalam memahami wahyu Allah. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. Meskipun. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. mu’allaq. dan syaru' man qablana (syariat kaum sebelum Nabi Muhammad SAW. Ulama ushul fiqih kontemporer Wahbah zuhaili memaparkan analisisnya mengenai dalil-dalil yang terkumpul dalam sumber hukum. Sumber hukum ini masih bayak menuai pertentangan. Dengan berpegang kepada metode ushul fiqih. Sebagian ulama masih belum mengetahui ijma'. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). cara memahami suatu dalil. baik dalam sanad atau pada gurunya. dengan mengutip dari pemikiran dan metodologi para ulama Islam yang telah bersusah payah dalam menggali dan menyatukan dalil-dalil yang bertentangan. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan di dalam memahami dalil-dalil yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. Perlu dicatat dalam usaha menggali makna al-Quran dan al-Sunnah serta rahasia-rahasia hukum yang tersirat di dalamnya. Imam Muslim. Adapun yang termasuk sumber hukum atau dalil adalah al-Quran dan al-Sunnah. Hadits Maudu`. tentunya yang namanya manusia tidak akan lepas dari kesalahan. Namun demikian. Ayat hukum yang menyangkut ibadah. Semua ulama sepakat bahwa al-Quran dan al-Sunnah merupakan sumber hukum syariat Islam. yaitu sesuatu yang dapat mengantarkan atas apa yang dicari yang berupa kepastian berdasarkan keyakinan maupun praduga berdasarkan rajhan (keunggulan) dan taghlib (keumuman). mana yang harus diterima dan mana yang boleh bahkan harus melalui proses pemikiran akal. istri Muhammad saw. As Sab`ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. Syi`ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi`ah diklaim memusuhi Ali. meskipun pelaku dari al-Sunnah sendiri itu Nabi Muhammad SAW. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. apalagi ayat-ayat yang belum jelas makna dan maksudnya terbuka lebar bagi para mujtahid untuk menafsiri ayat tersebut. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)_Sunan an-Nasa`i. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu`allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. di samping mengandung hukum-hukum yang sudah jelas dan rinci yang menurut sifatnya tidak berkembang. kelemahan. Karena kebanyakan ayat-ayat yang bertentangan itu terdapat di dalam pembahasan mua'ammalah. padahal sebenarnya ada. Dalam ijma' sendiri itu ijmanya siapa. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. Selain itu. Yang termasuk sumber hukum golongan ini ialah ijma' atau kesepakatan para ulama dan qiyas. serta matannya tidak syadz serta cacat. tidak lepas dari peran seorang mujtahid. karena antara mujtahid satu dengan mujtahid yang lain berbeda dalam memakai metode pengambilan hukum.DALIL a. terbukti banyak hadits qudsi. tidak fasik. Dan sampai sekarang pun perdebatan tersebut masih diperbincangkan. 2. qiyas juga tak diakui sebagai sumber hukum oleh sebagian ulama. Dalam tulisan ini penulis mencoba mencari jalan keluar dari pertentangan tersebut. Terlepas dari perdebatan para ulama. Tentunya.dalil naqli (dogmatik). mereka berbeda-beda pendapat. Mereka yang tak mengakui qiyas sebagai sumber hukum masih ragu dalam cara pengambilan hukum dengan metode qiyas sendiri.Sumber hukum yang telah disepakati oleh semua ulama Islam. hanyalah lafadznya saja. tentunya tidak akan lepas dari pembahasan sumber-sumber hukum. agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami ayat-ayat alQuran maupun al-Hadits Rasulullah. dan penerapannya dalam kehidupan manusia.Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin. ijma' ahlul bait (keluarga Rasulullah) ataukah ijma ummat. tentunya ijma dan qiyas menuai perdebatan. disusun oleh an-Nasa`i (215-303 H)_Sunan Ibnu Majah. Ayat tersebut menyuruh kita untuk mendirikan shalat. Sedangkan dalil-dalil yang tidak termasuk wahyu. baik berupa al-Quran ataupun Sunnah Rasulullah disyaratkan mengetahui secara kaidahkaidah ushul fiqih. seorang mujtahid3 dapat memastikan posisi akal dalam memahami wahyu Allah SWT. Oleh karena itulah al-Sunnah menempati urutan kedua setelah al-Quran. Hadits Mudlthorib. Ulama ushul fiqih dalam hal ini membagi sumber hukum syari' kepada tiga bagian10 yaitu sebagai berikut: 1. dan maslahah mursalah. dapat dipahami bahwa dalil yaitu sesuatu yang dengannya kita dapat memperoleh status hukum berdasarkan dengan keyakinan atau praduga. disusun oleh Muslim (204-262 H)_Sunan Abu Daud. Ada beberapa sekte dalam Syi`ah. Menurutnya. sinonim dengan kata burhan yang mempunyai arti petunjuk. karena orang yang dapat mengetahui isi atau kandungan hukum dalil-dalil syariat Islam yaitu mujtahid. Kata dalil berasal dari bahasa Arab yaitu. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. Abdul Wahab Kholaf berpendapat dalil sebagai sesutu yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis. prinsipprinsip umum syariat Islam. Al Arba`ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. adapun sumber hukum yang termasuk dalil naql ialah al-Quran dan al-Sunnah. Melalui ilmu ushul fiqih dapat diketahui kaidah-kaidah. Mujtahid sangat berperan dalam menentukan hukum Islam dewasa ini. sasaran dalil sendiri ada kalanya berupa perkara baik atau buruk. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. dan syariat kaum sebelum kita.Al-Tahzeeb. dan maslahah mursalah. Pada dasarnya al-Quran dan al-Hadits tak akan menuai pertentangan diantara keduanya. PENDAHULUAN Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama hukum Islam. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. sehingga peluang untuk mengembangkan hukum terbuka lebar dengan berbagai metode. Dalam bidang mu'ammalah. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Diterangkan bahwa ayat-ayat al-Quran.4 Setelah membaca ayat di atas dapat disimpulkan bahwa al-Quran maupun al-Hadits tidak mungkin mengalami pertentangan. PERTENTANGAN ANTAR DALIL QATH’I DAN PENYELESAINNYA (Oleh Muhammad Wildan) I. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma`lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu`tal (Hadits sakit atau cacat). dan istishab. ketika berupa analogi suatu hukum terhadap hukum yang belum diketahui adalah qiyas. yang terdapat dalam alQuran ataupun al-Sunnah.Sumber hukum yang disepakati oleh Jumhur ( mayoritas ) ulama. tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. Hadits Munqalib. mudallas. Imam Abu Daud. Maksudnya. Tidak sedikit dalil-dalil hukum yang saling bertentangan. terjaga muruah (kehormatan)-nya. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. Adapun sumber dalil yang termasuk dalam hal ini seperti qiyas. Sedangkan dalil menurut Muhammad Wafa'. sehingga sekilas terjadi pertentangan. Hadits Mu`allal. maka kita harus mengetahui dulu definisi dari dalil sendiri. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. madzhab Sahabat. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. Mujtahid sama seperti kita. dan banyak kekurangan. Hadits Dhaif (lemah). Hadits Maqlub. maslahah mursalah. Tak berbeda dengan ijma'. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. Sumber hukum dalam hal ini yang kita bahas adalah hukum syar'i. Seperti halnya dalil diwajibkannya shalat yaitu ayat alQuran: ‫اقيمواالصلة‬ Yang mempunyai arti dirikanlah shalat menunjukan perintah untuk melaksanakan shalat. ijma' Sahabat. dan kuat ingatannya. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. Adapun yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. dan yang termasuk istidlal sendiri bermacam-macam seperti istihsan. yang merupakan milik semua manusia. Imam Muslim dan Ibnu Majah. berakhlak baik.5 Apabila menemukan ayat yang bertentangan kemudian dikaji. Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits Hasan. Imam Turmudzi. istishab (pengambilan hukum berdasarkan keberadan hukum pada masa lampau). ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi`ah Muslim Syi`ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq `Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. batasan ringkas mengenai ini adalah adakalanya berupa wahyu atau bukan. istihsan. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. pada umumnya disebutkan pokok-pokoknya saja. 1. yang tentunya menggunakan metode yang benar yang bersifat praktis ataupun relatif. Metodologi ijtihad dewasa ini dikenal dengan ushul fiqih. Hadits Mungkar. seperti metode qiyas. meskipun ada sebagian orang yang dapat memahami al-Quran ataupun al-Sunnah yang belum termasuk golongan mujtahid.Sanadnya bersambung.

Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan. dan keduanya berbeda dalam menentukan hukum." Kemudian Rasulullah menepuk dada Mu'adz dan berkata. Qiyas. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. sedangkan Hadits yang kedua menjelaskan bahwa Nabi mengawini Maemunah dalam keadaan ihram."25(QS. sedangkan kami dalam keadaan tidak ihram" (HR. Karena itulah al-Quran dan al-Sunnah menjadi dalil primer dalam mementukan suatu hukum." (QS.. Rasulullah SAW. ‫كتب عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربين‬ Artinya: "Diwajibkan atas kamu.17 adapun Abdul Wahab Kholaf mendefinisikan ta'arudh dengan pertentangan antara dua nash atau dalail (bentuk jamak dari dalil) yang sama kuatnya. PERTENTANGAN ANTAR DALIL QATHI' a.15 Sedangkan ta'arudh secara terminologi menurut Ali Hasbullah yaitu terjadinya pertentangan hukum yang dikandung satu dalil dengan hukum yang lain. "bila di dalam Sunnah Rasul pun tidak kau temukan?" Mu'adz menegaskan. Penunjukan Hukum Dalil Apabila kita melihat dalil dalam segi penunjukan hukum maka kita akan menemukan dua pembagian yaitu sebagai berikut: 1. al-Sunnah dengan al-Sunnah.22 Tidak ada perentangan antara al-Quran dengan Hadits Ahad. Apabila terjadi pertentangan antara dalil qathi' dan zahnni.kedua dalil yang bertentangan berbeda dalam menentukan hukum. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati.34 b. baik cerai mati maupun cerai hidup. Ijma'. karena alQuran dalam penunjukan hukumnya adalah sebagai dalil qathi''. Imam Maliki dan golongan Zhahiriyah.13 d. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Jumhur ulama sepakat metode yang kedua digunakan adalah dengan cara al-tarjih. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. Apabila waktunya sudah berbeda dalam penunjukan hukum. baik itu golongan mutaakhirin (ulama ushul fiqih yang mengikuti Imam Syafi'i) ataupun ulama Hanafiah sepakat bahwa hakikat dari ta'arudh dalam syariat Islam yang di dalamnya merupakan kumpulan dalil-dalil hukum mustahil terjadi. oleh karena itu muatan dari keduanya mencakup hukumhukum yang parsial dan cabangnya secara detail. lafadz yang dhahir kepada lafadz nash. "segala puji bagi Allah yang memberikan petunjuk pada utusan Rasulullah dengan apa yang diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya. serta dengan cara memilih salah satu hukum dengan cara mangambil hukum yang khusus daripada dalil yang umum. Adapun pentarjihan dua dalil yang bertentangan dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut: 1. Seperti arak pada masa awal Islam hukumnya boleh.al-Quran memerintah kan untuk mengamalkan dan berpedoman dengan al-Sunnah.kedua dalil tersebut berada dalam derajat yang sama dalam penunjukan hukum. maha mengetahui. Dengan seperti ini sudah tidak ada pertentangan antara kedua ayat tersebut. Sesungguhnya Rasulullah SAW. Adapun ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. 3.23 yang seperti ini dikarena perbedaan metode ulama dalam memahami dalil-dalil suatu hukum.antara dalil yang mengalami pertentangan harus terjadi dalam satu masa dalam menentukan hukum.33 Seperti contoh pertentangan yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 180 dengan surat al-Nisa ayat 11. Selain itu juga ditambah dengan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil qathi' maupun zahnni.. Disebabkan alSunnah merupakan penjelas dari kandungan al-Quran sendiri. hanya saja berbedanya cara pandang ulama.18 Dari keterangan di atas penulis memberi titik tekan dari ta'rudh yaitu kontradiksi dua dalil yang berbeda..Surat al-Baqarah ayat 180 kontradiksi dengan surat al-Nisa ayat 11."ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan. c." III. Alasan mereka berdasarkan kaidah mengamalkan kedua dalil lebih baik daripada mengabaikan salah satu dalil.Ayat 234 surat al-Baqarah dengan ayat 4 sutat al-Thalaq. Surat al-Nisa ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut: ‫ولو كانمنغيراللهلوجدوافيهاختلفاكثيرا‬ Artinya:Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah. al-Baqarah: 180)26 ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين‬ Artinya:"Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua.. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat.16 Berbeda dengan pendapat Imam Syaukani mengenai ta'arudh. sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat.21 Seperti hukum nikah ketika ihram (rukun haji). 'iddahnya (masa menunggu) adalah empat bulan sepuluh hari.c. Dengan demikian. dan saya akan berhati-hati dalam menerapkannya. Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan. PENYELESAIAN TA'ARUDH Kita harus berterima kasih kepada para ulama atas kesungguhannya dalam menggali dan membahas hukum-hukum Islam. Akan tetapi para ulama sepakat pertentangan antara dalil yang qathi' dan zhanni tidak mungkin terjadi. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih yang berbunyi ‫اذا اجتمع الحلل والحرام غلب الحرم‬ Artinya "Apabila berkumpul antara halal dan haram. maka secara otomatis dalil qathi' yang didahulukan. Sedangkan pada surat al-Talaq menyatakan bahwa wanita-wanita yang hamil 'iddahnya sampai melahirkan kandungannya. al-Nisa: 11)27 Pada ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. Dengan metode tarjih seorang mujtahid bisa menetapkan hukum berdasarkan dalil yang lebih kuat dari pada dalil yang lemah. tidak disebut ta'arudh.Dalil zahnni yaitu dalil-dalil syara' yang sampai kepada kita tidak dengan cara mutawatir. 2. Ditambah Hadits masyhur menurut pendapat ulama Hanafiayah..Adapun al-Sunnah menjadi sumber hukum primer berdasarkan dua alasan yaitu: 14 1. yaitu ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang mutawatir. baik yang hamil maupun yang tidak hamil. maka yang seperti inilah yang dinamakan ta'arudh. sumber-sumber hukum dalam Islam yang di dalamnya merupakan rujukan dalil-dalil hukum.. mengawini maemunah. secara otomatis kedua penunjukan hukum seperti ini tidak menunjukan adanya pertentangan. Rasulullah bertanya lagi "bila kau tidak menemuinya di dalam kitab Allah?" Mu'adz menjawab. Menurut bahasa ta'arudh mempunyai brrbagai arti diantaranya adalah menentang. Atas jasa mereka kita dapat mnegetahui makna dalil-dalil hukum yang dijadikan pijakan untuk memutuskan hukum suatu perkara. Tidak hanya itu. Dengan demikian kedua ayat di atas terdapat kontradiksi kandungan dalam kasus wanita hamil yang ditinggal mati suaminya. Hal ini berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal ketika diutus oleh Rasul ke Yaman sebagai Qadhi (juru hukum). waktu 'iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.kedua dalil yang mengalami pertentangan berada dalam satu hukum (satu masalah). dan lain sebagainya.. jika ia meninggalkan harta.Mencari Dalil yang Lain yaitu dengan cara mencari dalil-dalil yang lain baik itu berupa ayat al-Quran..35 Perlu diketahui penguatan dalil dalam hal ini terjadi dengan sendirinya. 2. tetapi ketika turun ayat yang menunjukan bahwa arak haram. Karena itu apabila menetapkan suatu hukum maka alQuran sebagai dalil pertama dan utama. yaitu pertentangan dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap satu persoalan. Contoh dalil qathi' yang mengalami pertentangan 1. Ketika terjadi ta'arudh akan tetapi waktu penunjukan hukum ayat itu berbeda maka ayat tersebut bisa disatukan. 2. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. maka dalil tersebut tidak dinamakan pertentangan.al-Baqarah: 234)24 ‫وأولت الحمال أجالهن أن يضعن حملهن‬ Artinya: ".Dalil qathi' yaitu dalil yang diyakini datang dari syara'. Mengawini saya. berdasarkan dengan Ayat al-Quran. Ayat ini berlaku secara umum bagi wanita yang ditinggal mati suaminya. Abu Dawud)29 Secara zhahir kedua Hadits di atas mengalami kontradiksi dalam menentukan hukum nikah dalam keadaan ihram. Karena sumber-sumber hukum tidaklah ditetapkan keabsahannya melalui potensi akal. Adapun ta'arudh yang terjadi dewasa ini hanyalah ta'arudh zhahiri (kontradiksi sekilas saja). pada dasarnya konsentrasi terhadap sumber hukum naqliyah (dogmatik). sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. tidak mungkin terjadi kontradiksi antara satu dengan lainnya. Ayat yang kedua juga berlaku bagi wanita yang dicerai suaminya. jual beli.. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. ketika dalil tersebut hanya memenuhi beberapa syarat. diikuti dengan al-Sunnah. Yaitu.Al-Jam'u wa talfiq bain al-Muta'aridhain (mengumpulkan dan menkompromikan dalil yang bertentangan) Metode yang pertama digunakan ulama ini adalah mengumpulkan dan mengkompromikan dalil yang bertentangan.. akan tetapi ada dalil lain yang menerangkan bahwa nikah pada saat sedang melakukan ihram hukumnya haram." (QS. tidak mungkin terjadi kontradiksi antar al-Quran maupun al-Sunnah yang merupakan wahyu-Nya. baik itu qath'i maupun dalil zahnni. Para ulama memberikan syarat-syarat ta'arudh apabila dalil yang kontradiksi memenuhi syarat: 1. Dikarenakan al-Quran dan al-Sunnah menjadi sumber hukum syariat Islam yang tergolong primer. seperti al-Quran dengan al-Quran. al-Sunnah dengan al-Sunnah). berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. dengan cara apa kau memberikan putusan?" Mu'adz menjawab "saya akan memutusinya dengan kitab Allah". Dewasa ini ulama ushul fiqih terdapat dua pendapat dalam menyelesaikan ta'arudh. berupa ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang mutawatir. dan lafadz muthlaq kepada lafadz yang muqayyad32. yang berbunyi sebagai berikut: ‫والدين يوتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن أربعة اشهر وعشر‬ Artinya: "Orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beri'ddah) empat bulan sepuluh hari. ‫عن ميمونة قالت تزوجني رسوال صلي ال عليه وسلم ونحن حللن‬ Artinya:"Dari Maimunah ra. Selain itu juga mencakup kaidah-kaidah universal yang menjadi rujukan hukum-hukum parsial ataupun sekunder seperti ijma' dan qiyas yang merujuk dari kaidah-kaidah al-Quran dan al-Sunnah. sedangkan dalil yang lain menentukan hukum yang berbeda dengan hukum tersebut. dan terjadi dalam satu martabat atau derajat (sumber hukum yang sama kuatnya dalam pengambilan hukum). Ketika ada dalil yang tampak bertentangan akan tetapi. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.Meneliti Hukum36 Cara ini dapat dilakukan dengan mendahulukan hukum haram atas hukum halal.Syarat-sarat Ta'arudh Yang dimaksud syarat di sini adalah sesutu yang menyebabkan terjadinya ta'arudh. baik yang disepakati ulama dalam penetapannya maupun yang masih menjadi bahan perdebatan. 4. 2. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan..Dan perempuan-perempuan yang hamil. 2. Adapun Hadits yang pertama menjelaskan bahwa Rasulullah mengawini Maemunah dalam keadaan tidak berihram. berdasarkan petunjuk dalil-dalil yang mendukungnya kemudian mengamalkan hukum dalil yang lebih unggul dan mengabaikan dalil yang lemah."37 Contoh dalil yang bertentangan yang diselesaikan dengan cara tarjih yaitu Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di bawah ini : . (HR. istihsan dan lain sebagainya. mereka juga telah memberikan solusi jika terjadi pertentangan antar dalil.. dan merintangi. dan masih ada syarat yang belum terpenuhi. Jadi yang dimaksud pertentangan dalil qathi'' yaitu kontradiksi antara dua dalil yang diyakini datang dari syara'.Jumhur Ulama (Kebanyakan Ulama) Para ulama ini yang kebanyakan adalah pengikut Imam Syafi'i.Pengertian Pertentangan antar Dalil Pertentangan dalam istilah ulama ushul fiqih adalah ta'arudh."(QS. sanksi pelanggaran. tentunya tidak melupakan pedoman dan kaidah-kaidah dalam al-Quran dan al-Sunnah. Kedua dalil qathi' yang bertentangan dapat diselesaikan dengan metode al-jam'u dengan cara ta'wil. Apabila dalil-dalil qathi' maupun zahnni terjadi pertentangan serta memenuhi syaratnya..19 Adapun kontradiksi yang terjadi hanyalah sebatas ketidak mampuan akal para ulama untuk mengetahui maksud dari dalil-dalil kontradiksi tersebut. tidak dikuat-kuatkan oleh manusia. Ketika dalam ijma' tidak ditemukan barulah pengambilan hukum ditetapkan dengan akal. Dari semua syarat juga harus dipenuhi oleh dalil yang ta'arudh. yang sekiranya dalil tersebut bisa menguatkan salah satu dalil yang bertentangan. Dalil pertama mengatakan bahwa nikah ketika sedang ihram hukumnya boleh. seperti qiyas. Terbukti daengan sifat 20-Nya. "saya akan berijtihad berdasarkan dengan pendapat saya. sedangkan Hadits Ahad termasuk dalam dalil zhanni. yakni al-Quran dan alSunnah. baik itu kontradiksi antar dalil qathi' maupun zahnni. yaitu menguatkan salah satu dalil yang mengalami kontradiksi. IV. ataupun qiyas dengan qiyas. b. Dalam metode yang kedua ulama jumhur menggunakan metode al-tarjih. Al-Baqarah: 180) ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين الية‬ Artinya: "Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. Abu Dawud)28 ‫عن ابنعباسرضياللهعنهماانالنبيصلي اللهعليهوسلمتزوجميمونةوهومحرم‬ Artinya:"Dari Ibnu Abbas ra. Cara ini dapat dilakukan dengan cara menta'wilkan lafadz yang umum kepada lafadz yang khusus. yang kedua dalil tersebut terdapat dalam satu derajat atau tingkatan (ayat al-Quran dengan ayat al-Quran. Jika kita kaji. yaitu sebagai berikut: 1. Ulama ini berpendapat ketika terjadi pertentangan dua dalil." (QS. maka al-Quran adalah sumber dari segala sumber-sumber hukum Islam. yaitu mena'wil ayat yang pertama untuk berwasiat kepada calon ahli waris karena berbedanya Agama yang manjadikan terputusnya hak waris. "saya akan memutusinya dengan Sunnah Rasulullah" Nabi kembali bertanya. ayat tersebut adalah: ‫كتب عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربينالية‬ Artinya:"Diwajibkan atas kamu. yang muatannya bermuara kepada al-Quran dan al-Sunnah. jika ia meninggalkan harta. serta sejauh mana logika mereka dalam membahas suatu hukum. sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. yang merupakan sandaran dari dari ijma' sendiri adalah al-Quran dan al-Sunnah. Adapun menurut ulama hanafiyah ditambah dengan hadits masyhur. Rasulullah bertanya pada Mu'adz. Hirarki Dalil dalam Pemakaiannya Bila ditelusuri lebih jauh. Yaitu. sedangkan beliau keadaan ihram". perujukan hukum mengambil dari ijma'.al-Sunnah mempunyai fungsi sebagai penjelas dari kandungan al-Quran. maka tidak disebut ta'arudh (pertentangan). ijma' dan qiyas. Al-Nisa: 11) Kedua ayat di atas menunjukan pertentangan. menghadapi.Hakikat Ta'arudh Para ulama ushul fiqih. tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. seperti halnya hukum zakat. kedua dalil tersebut berbeda dalam menunjukan hukum. Adapun kontradiksi antar dalil qathi'' tidak akan pernah terjadi.. kita analisa sebenarnya pertentangan itu tidak ada. berdasarkan alasan di atas. Maka. yang harus di depankan. maka tertib urutan sumber hukum yang pertama adalah al-Quran. maka metode yang ditempuh untuk keluar dari kontradiksi tersebut adalah sebagai berikut:31 a.. Jadi tidak mungkin Dzat yang mengetahui dan berkuasa membuat aturan yang kontradiksi. Apabila di dalam al-Sunnah tidak ditemukan maka.Al-Tarjih (menguatkan) Apabila dengan metode mengumpulkan dan mengkompromikan dalil yang mengalami kontradiksi tidak dapat ditemukan jalan keluarnya. Al-Talaq: 4) Pada ayat 234 surat al-Baqarah menjelaskan bahwa wanita-wanita yang ditinggal mati suaminya. maka dimenangkan yang haram. Hadits Nabi. dan qoulu Sahabat.20 Sumber hukum Islam primer yang berasal dari Allah SWT. Apabila dalam al-Quran tidak ditemukan maka merujuk kepada al-Sunnah. diantaranya yaitu maha berkuasa. Adapun selain dari keduanya adalah hasil dari manifestasi akal manusia."(QS.

24). Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat.40 akan tetapi yang dimaksud membatalkan di sini adalah membatalkan hukum syara' yang ditetapkan terdahulu dengan hukum syara' yang sama yang datang kemudian (diakhirkan). Rasulullah SAW. yang mayoritas terdiri dari ulama bermadzhab Hanafi meskipun madzhab Hanabiah juga mengikuti metode ini47. (HR. Allah juga menggunakan kata hadits dengan arti khabar. 2) Qorib (yang dekat) 3) Khabar (warta). Oleh karena itu. Kemudian ulama menetapkan hukum berdasarkan dalil yang datang lebih akhir dari pada dalil yang datang lebih sebelumnya. tentunya dengan tidak mengabaikan kesungguhan mereka dalam meluhurkan Agama Islam berupa. orang yang sedang membaca al-Quran berarti ia sedang memperlihatkan dan mengeluarkan al-Quran..سورة الخلص‬ 2. bentuk jama’ (plural) dari qarinah yang mempunyai arti indikator. mustahil Allah SWT. Menurut al-Raghib. Adapun secara terminologi terdapat perbedaan pendapat terkait definisi khabar. hidtsan dan ahadits. dan Tabi’in. Contoh wahyu al-Quran adalah:‫قل هو ال احد ال الصمد لم يلد ولم يولد إلخ . Ketika dalil yang bersifat qathi' mengalami kontradiksi dengan dalil qathi' atau yang lainnya. sedangkan khabar dari selain Rosul. Menurut Imam al-Fara’ kata al-Quran diderivasi dari noun (kata benda) qarain. Menurut al-Lihyani kata al-Quran diderivasi dari fi’il qaraa yang mempunyai arti membaca. melainkan merupakan isim jamaknya. lawan dari qodim. berdasarkan dengan satu sumber dari pembuat hukum tersebut. tetapi ketika dilakukan pentarjihan maka jelaslah hukum berbuat sesuatu diantara pusar dan lutut.فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صادقين‬ “maka hendaklah mereka mendatangkan khabar yang sepertinya jika mereka orang yang benar” (QS. akan tetapi.49 V. Abu Dawud) 38 ‫عن أنسرضىاللهعنهقالقالرسولللهصلىاللهعليهوسلمإصنعواكلشيءغيرالنكح‬ Artinya "Dari Anas ra. perbuatan dan taqrir beliau. Imam Syafi’i berpendapat bahwa al-Quran merupakan nama yang independent. dan ketetapan Shahabat. Khabar adalah perkataan. Imam al-Asy’ari dan sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa kata al-Quran diderivasi dari masdar (abstract noun. Pengertian khabar Khabar menurut bahasa adalah berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain. Pengertian sunah Sunah menurut bahasa adalah perjalanan (jalan yang ditempuh). mencabut.Ulama Hanafiah Menurut golongan ini.. ayat. yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul. Pada kasus ini ulama Jumhur menguatkan Hadits yang pertama. Kemudian jika memang hal ini tidak memungkinkan. VI. Menurutnya. Menurut mereka. kata kerja qaraa mempunyai arti memperlihatkan atau memperjelas. Menurut ahli ushul hadits adalah segala pekataan Rosul. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara satu dalil dengan yang lainnya. yang merupakan acuan para ulama dalam pengambilan suatu hukum. menciptakan dalil yang saling bertentangan. menurut ahli ushul sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum tidak tergolong hadits. dengan mencari jalan keluar dari pertentangan yang ada. yang berupa ucapan. seperti halnya qiyas yang merupakan buah pikiran manusia. Oleh sebab itu. Abu Dawud)39 Sekilas kedua Hadits mengalami pertentangan. Kedua. dengan mengoptimalkan fungsi dari akal dalam memecahkan hukumhukum Islam yang kekinian. baik banyak ataupun sedikit. dan huruf yang ada di dalamnya saling beriringan. Jamaknya adalah hudtsan."(QS. sifat. SIMPULAN Kebenaran hanya milik tuhan secara mutlak. c. dan ketetapan seseorang selain Nabi Muhammad. ‫. yaitu Jumhur ulama dan Hanafiah. 4. diturunkan kepada Nabi Muhammad. Manusia hanya bisa mendekati saja. Oleh karena itu. Melihat keterangan di atas telah diketahui hakikat dari dalil qathi. Yaitu. Adapun definisi al-Quran secara terminologi adalah Firman Allah yang berbahasa Arab. kata kerja) qaraa yang mempunyai arti mengumpulkan dengan dalil firman Allah:‫إن علينا جمعه وقرآنه‬ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ْ َ َ ْ ََ ّ ِ “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya”. Pertama. maukuf. pencarian hukum dengan menggali pada wahyu-wahyu Allah. Akan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. setiap khabar belum tentu dapat disebut dengan hadits.43 Jadi hukum yang dipakai dalam menentukan hak waris seorang anak adalah dapat diperoleh secara otomatis.Tatsaquth al-Dalilain (Meninggalkan keDua Dalil) Metode ini ditempuh ketika cara nomer satu sampai nomer tiga tidak bisa menjadi jalan keluar dari pertentangan dalil yang ada. Sebagian ulama berpendapat bahwasannya hadits dari Rosul. Penerepan dari semua metode ini juga harus secara berurutan. Setelah para ulama mendapatkan jalan keluar atas kontradiksi yang ada. kata atsar sinonim dengan hadits. Dan menurutnya khabar murodif dengan hadits. Dengan sumbangan para ulama terdahululah permasalahan-permasalan dalam menentukan hukum Islam dapat diselesaikan. menyebutkan enam pendapat berkenaan pengertian al-Quran dari segi etimologi ini. dengan syarat ke empat cara di atas harus ditempuh secara berurutan. Mengenai dalil yang tidak beramal hukumnya tetap qathi'. Shahabat. Dengan demikian. oleh karena itu. Jadi haram berbuat sesuatu kepada isteri yang sedang haidh diantara pusar dan lutut. tidak diderivasi dari kosakata apapun. menjawab. Pengertian Atsar Secara etimologi atsar berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. Adapun hadits menurut istilah ahli hadits hampir sama (murodif) dengan sunah. tapi ada sebagian ulama yang berpendapat. 2. Tatsaqut al-dalilain yaitu meninggalkan kedua dalil yang bertentangan. apabila syarat dari ta'arudh tidak terpenuhi. terlebih dalil yang bersifat naqli (dogmatik) lain dengan dalil yang sifatnya bersumber dari manifestasi akal manusia. Kata khabar sinonim dengan hadits. dan dalam pendekatannya manusia menuju kebenaran tak jarang kesalahankesalahan menyertainya. Jalan keluarnya adalah memakai satu hukum yang dipilihnya. Pembatalan ini menurut Abdul Wahab Khallaf. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. Adapun urutan metode yang digunakan ulama Hanafiah adalah sebagai berikut:48 1. dengan tanda kutip sang anak bukan orang kafir ataupun murtad.. tindakan.Tatsaquth al-Dalilain Prakteknya tetap sama ketika menggunakan nasakh. maupun perjalanan hidup. Suah menurut istilah Fuqoha adalah sesuatu yang diterima dari Nabi Muhammad saw. yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i. dalam firman-Nya. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling kuat. kemudian berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebuh rendah. Jamak ahadits-jamak yang tidak menuruti qiyas dan jamak yang syad-inilah yang dipakai jamak hadits yang bermakna khabar dari Rasulullah saw. B. Hadits petama menegaskan hukum haram berbuat sesuatu diantara pusar dan lutut terhadap isteri yang sedang haidh. At Thur. Jamaknya adalah sunan. sehingga seakan-akan ia menjadi indikator bagi sebagian ayat yang lain tersebut. Pada dasarnya metode yang digunakan oleh dua golongan. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. tidak ada keraguan dalam keqathi'an kedua sumber hukum tersebut. Namun. dan menghapus. ketika tarjih dengan mencari dalil yang lebih unggul diantara keduanya. yaitu mendahulukan hukum haram daripada hukum halal ataupun mubah. Dengan demikian. Sunah menurut istilah ahli ushul fiqh adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi-selain al Qur’an. 3. beesabda" berbuatlah segala sesuatu (terhadap isterimu yang sedang haidh) selain bersetubuh". mana dalil yang pertama duluan serta mana dalil yang datang kemudian. hadits marfu’. dan ditranformasikan secara tawattur serta membacanya termasuk ibadah. Khabar mempunyai arti yang lebih luas dari hadits. maka harus menyatukan dan mengkompromikan kedua dalia yang saling bertentangan.baik berupa perkataan.46 2. yang mungkin saja ulama membuat kesalahan dalam mementukan hasil hukum. Al-Nasakh dilakukan dengan membatalkan salah satu hukum yang dikandung dalam kedua dalil tersebut dengan syarat harus diketahui dulu. maka tidak akan terjadi kontrdiksi. Di dalam kontradiksi antara dalil tersebut tentunya mempunyai aturan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. dan maktu’ bisa dikatakan sebagai khabar. hadist-hadits Rasul dikatakan ahadits al Rosul bukan hudtsan al Rosul atau yang lainnya. (HR. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. Dalam hal ini. Al-Baqarah: 180) ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين الية‬ Artinya:"Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. Dia berkata. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dinamakan dengan al-Quran karena ia mengumpulkan intisari beberapa kitab yang diturunkan sebelum alQuran. 3. (Q. maka baru menggugurkan kedua dalil serta berijtihad dengan dalil yang lebih rendah kualitasnya atau derajatnya. baik setelah dingkat ataupun sebelumnya. Sedangkan Hadits yang kedua membolehkan berbuat sesuatu antara pusar dan lutut kecuali bersetubuh. Pengertian al-Quran. dapat melemahkan musuh. 6. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut dengan al-Quran karena surat. sunah lebih umum daripada hadits. Sama juga seperti pertentangan antar dalil. Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai definisi atsar ini.‫عن حزامابنحكيمعنعمهانهسألرسولللهصلىاللهعليهوسلممايحللىمنإمرأتىوهىحائضقاللكمافوقالزر‬ Artinya: "Dari Hizam Ibnu Hakim dari pamannya. Menurut mereka. perbuatan. baik setelah diangkat ataupun sebelumnya. seperti urusan pakaian. dikarenakan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil tersebut. yang terkadang menghendaki perubahan seiring dengan perubahan kondisi manusia itu sendiri. Seperti contoh ayat al-Quran surat al-Baqarah pada ayat 180 dengan ayat al-Quran surat al-Nisa pada ayat 11 di bawah ini :‫كتب‬ ‫عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربينالية‬ Artinya:"Diwajibkan atas kamu. dan ketetapan Nabi Muhammad. yang bukan fardlu ataupun wajib. kelakuan. tentunya bukan kesalahan Allah dalam membuat dasar-dasar hukum syariat tetapi ketidakmampuan akal manusia untuk menuju kebenaranNya.Al-Jam'u wa talfiq bain al-Muta'aridhain 4. taqrir. guna merealisasikan kemaslahatan manusia. Sedangkan hadits adalah perkataan. "Apa yang boleh aku lakukan terhadap isteriku yang sedang haidh? ".Nasakh 2. kata benda abstrak) qiran yang mempunyai arti bersamaan atau beriringan. ia diberi kesempatan untuk menempuh metode takhyir (memilih). 1) al jadid minal asyya (sesuatu yang baru). Muhammad Ali Daud dalam kitab Ulum al-Quran wa al-Hadits.Tarjih 3. Ketika terjadi kontradiksi disebabkan oleh ketidak mampuan akal manusia dalam memahami wahyu Allah secara menyeluruh. yang di dalamnya tiada ikut campur sedikitpun akal manusia dalam menentukan dalil naqli. maka tampak sekilas terjadi kontradiksi antara satu dengan dalil yang lainnya. jika ia meninggalkan harta. DEFINISI HADIST Pengertian Hadits menurut bahasa kata hadits memiliki arti. dan Hadits Nabawi 1) Pengertian al-Qur’an Para ulama berbeda pendapat terkait dengan pengertian al-Quran dari segi etimologi. hanya saja berbeda dalam urutan penggunaan metodolgi penyelesaian pertentangan.42 Dengan diketahuinya dalil hukum yang datang awal dan akhir maka dapat diketahui mana dalil yang dibatalkan. Sunah menurut istilah Muhadditsin adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan. tindakan.41 Cara ini ditempuh ketika kedua cara di atas yaitu mengumpulkan kedua dalil serta menguatkan salah satu dalil tidak bisa menjadi jalan keluar dari pertentangan. atsar adalah perkataan. tidak mungkin satu masalah dihukumi dengan dua hukum. dalil yang tidak dipakai hukumnya cuma tidak beramal. tentunya kedua dalil yang mengalami kontradiksi tidak bisa diamalkan semua. ditulis di dalam mushaf. dan taqrir beliau. Ada juga yang berpendapat ahadits bukanlah jamak dari hadits. Pengertian Hadits Qudsi . STATUS DALIL YANG KONTRADIKSI Semua dalil al-Quran dan al-Hadits (mutawatir) yang merupakan dalil Naqli (dogmatik) sesungguhnya. 2. Oleh karena itu. orang yang meriwayatkan hadits disebut Muhadditsin dan orang yang meriwayatkan sejarah dan yang lain disebut Akhbari. Oleh karena itu. tindakan. perbuatan ataupun taqrir yang bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i. "segala yang berada di atas kain pinggang". d. sebelum ulama meninggalkan kedua dalil yang bertentangan. sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah SAW. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan). yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar atau salahnya Dari makna inilah diambil perkataan hadits Rasulullah saw. perbuatan. Imam al-Zajaj berpendapat bahwa kata al-Quran diderivasi dari noun (kata benda) qur-u yang mempunyai arti kumpulan. meskipun keduanya (suami dan isteri) tidak bersetubuh. tentunya berbeda dengan dalil qathi' yang secara nyata datangnya dari Allah SWT. karena sudah ada dalil yang lebih jelas dan detail.44 Jumhur ulama berpendapat seperti ini. yaitu dengan memilih salah satu dalil yang dikehendaki tanpa menganggap adanya pertentangan antara dalil yang ada. Rasulullah SAW. baik terpuji atau tidak. Sebagian ulama mutaakhirin tidak sependapat dengan pandangan yang menyatakan bahwa al-Quran bersumber dari fi’il (verb. Menurut penelitian ulama Jumhur ayat 180 surat al-Baqarah dinasakh dengan surat al-Nisa ayat 11. ketika menggunakan al-jam'u talfiq bain al-muta'aridhain maka. yaitu: 1. para ulama harus mendahulukan hukum dari dalil yang datang belakangan. kata al-Quran merupakan masdar yang sinonim dengan kata qiraah. tidaklah pantas bagi seorang muslim yang terpelajar berpangku tangan mengandalkan karya-karya mereka. S al-Qiyamah: 17).45 Demikianlah metode jumhur ulama dalam menghadapi kontradiksi antar dalil. Khabar menurut Muhadditsin adalah warta dari Nabi. Ia merupakan nama yang khusus digunakan untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.. Al-Nisa: 11) Pada ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut dengan al-Quran karena sebagian ayatnya menyerupai sebagian ayat yang lain. adalah metode yang sama. yaitu: 1. secara otomatis salah satu dari dalil yang mengalami kontradiksi akan terabaikan.Al-Nasakh (Membatalkan) Arti bahasa dari al-nasakh adalah membatalkan. Dari pendapat ini." (QS. setiap hadits dapat disebut juga dengan khabar. 5. setelah diangkat menjadi nabi. Hadits Qudsi.

sedangkan hadits qudsi lafadznya dari nabi dan maknanya dari ALLAH. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). sehingga orang Arab tidak mampu membuat karya sastra yang seindah dan sebaik al-Quran." Maka nabi SAW pun membolehkannya. b) Lafadz dan arti al-Quran berasal dari Allah. اخرجه البجخارى فى صحيحه‬ Contoh hadist berupa perbuatan (fi'li) ialah ‫كان النبي اذا اراد ان ينام وهو جنب غسل فرجه وتوضأ للصلة. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah. yaitu hadits yang shahih dan hasan. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. ia berstatus qath’i al-tsubut.قال ال تعالى‬ 3. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran.. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. 2. Hadits Qudsi. Dusta (hadits maudlu) 4. yaitu hadits yang kandungannya diterima oleh Nabi Muhammad melalui wahyu. Adanya Kekurangan pada Perawinya 2. Hadits Yang Diterima (Maqbul) Hadits Shahih Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar.semua lafadz (ayat-ayat) Al-qur'an adalah mu'jizat dan mutawatir. hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah). maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: Rawinya bersifat adil.Oleh sebab itu hadits qudsi disebut juga hadits illahi atau hadits robbany. Oleh karena itu. Sedangkan Hadits Qudsi. Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). الخ .رواه ابو هريرة‬ § Hadis Qudsi persangkaan seorang hamba kepada Tuhannya. Tidak demikian dengan Hadits Qudsi. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. baik berupa perkataan. Dan. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah.. persetujuan. Yang pertama hadits qudsi merupakan kalam Allah SWT (baik dalam sturiktur maupun substansi bahasanya).setiap huruf Al-qur'an yang dibaca mendatangkan pahala bagi pembacanya.setiap huruf Al-qur'an yang dibaca mendatangkan pahala bagi pembacanya. Tidak demikan halnya dengan Hadits Qudsi. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. 2.Oleh sebab itu hadits qudsi disebut juga hadits illahi atau hadits robbany. bila dia menyebut-Ku di kalangan orang banyak. hanya saja karena satu sebab tertentu. Di antara contoh hadits ini adalah: Seandainya aku tidak memberatkan umatku. “Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. artinya berasal dari Allah. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi ialah: 1. قال ال تعالى ثلثه انا خصمهم يوم القيامه… الخ. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama.sedangkan bagi pambaca hadits qudsi tidak. sehingga ia berstatus dhanni al-Tsubut. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua.sedangkan hadits qudsi tidak. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. yaitu hadits yang tercipta murni dari pemahaman Nabi Muhammad terhadap al-Quran. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat. Hal ini tidak berlaku pada Hadits Qudsi i) Di dalam al-Quran terdapat penamaan ayat dan surat untuk kalimat-kalimatnya. e) Al-Quran harus dibaca di dalam shalat. Hadits Hasan Secara bahasa. maka kedudukannya dhaif.” Perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi Seperti yang kita ketahui bahwa Al-qur'an merupakan mu'jizat yang diturunkan oleh ALLAH kepada nabi Muhummad SAW dengan perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dan membacanya dianggap sebagai ibadah. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: "Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. Maka dalam redaksinya sering memakai ‫. sanadnya bersambung-sambung. atau dari perenungan dan ijtihad beliau. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul).. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil. sempurna ingatan. Tauqifi. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih. namun karena ada ada mu'adhdhid. sedangkan hadits qudsi adalah perkataan-perkataan nabi dengan mengatakan "Allah berfirman". Sedangkan Hadits Qudsi. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal 6. maupun sifat. 3. akan tetapi lafadznya dari Nabi Muhammad.. artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. menguasai apa yang diriwayatkan. Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif. boleh meriwayatkannya secara makna. Dua larangan ini tidak berlaku di dalam Hadits Qudsi. walaupun hanya satu surat. Penyebab Tertolak : 1. "Ya. Sedangkan orang yang mengingkari Hadits Qudsi tidak dianggap orang kafir. حديث عائشة‬ Contoh hadist berupa ketetapan (taqriri) ialah ‫ان خالته اهدت الى رسول ال سمنا واضبا واقطا فاكل من السمن والقط واكل على مائدته‬ . menjauhi dosa-dosa kecil. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain. atau dengan ada beberapa sanad lain.sedangkan hadits qudsi tidak. 2. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). Contoh hadits Qudsi adalah § ‫عن النبي قال. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr.sedangkan menurut ath-thibi. Perbedaan antara al-Quran dengan Hadits Qudsi: a) Al-Quran mampu mengungguli sastra Arab yang waktu itu merupakan sastra yang terbaik. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya.tolong kasih komentar pada rangkuman saya ini.sedangkan hadits qudsi lafadznya dari nabi dan maknanya dari ALLAH. pengertian hadits qudsi terdapat dua versi. Al-Quran juga tidak boleh dibaca oleh orang yang mempunyai hadats besar. dan Hadits Nabawi. Fasik. bukan pelupa yang banyak salahnya. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya. Sedangkansecara istilah. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. sedangkan isi dari perkataan tersebut berasal dari Allah SWT. Sedangkan secara terminologis. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. misalnya karena: 3. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal. ‫ولو كان حراما مااكل على مائدة رسول ال. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. Andaikata tidak ada 'Adhid. hanya sebagian orang yang bodoh dan awam yang memasukkannya ke dalam hadits. Menyalahi riwayat orang kepercayaan 8. Penganut Bid’ah (hadits mardud) . h) Membaca al-Quran termasuk ibadah.hadits qudsi marupakan titah tuhan yang dismpaikan kepada nabi melalui mimpi'kemudian diterangkan oleh nabi dengan bahasanya sendiri serta menyandarkannya kepada ALLAH. Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan.. g) Orang yang mengingkari al-Quran terkategorikan sebagai orang kafir. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). 2. حدبث ابن عباس‬ Contoh hadist berupa sifat (wasfi) ialah ‫كان رسول ال ربعة ليس بالطويل ولبالقصر حسن الجسم. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. c) Tidak boleh meriwayatkan al-Quran secara makna. tidak ber’illat dan tidak janggal.. apabila dibaca di dalam shalat maka dapat menyebabkan shalat menjadi batal. Adapun mayoritas Hadits Qudsi ditransformasikan secara ahad (individual). Allah Taala berfirman. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith). maka ada baiknya kita juga membahas tentang perbedaan ketiga hal tersebut. l) Bentuk Hadits Nabawi ada dua macam: 1. ‫انما العمال بالنية. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya. dan Nabi hanya sebagai penyampai Yang kedua hadits qudsi adalah perkataan dari Nabi. Ringkasnya.. sedangkan hadits qudsi adalah perkataan-perkataan nabi dengan mengatakan "Allah berfirman". Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal 7.semua lafadz (ayat-ayat) Al-qur'an adalah mu'jizat dan mutawatir.. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Tertuduh dusta (hadits matruk) 5. Adapun keseluruhan kandungan Hadits Qudsi bersumber dari Allah.. Taufiqi. . Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta. حديث انس ابن مالك‬ Setelah kita mengetahui masing-masing dari definisi al-Quran. Nabi Muhammad hanya berstatus sebagai penyambung lidah dari-Nya. 4.sedangkan menurut ath-thibi. pengertian hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW.. yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid.semua ketentuan hukum bagi Al-qur'an tentang membaca dan menyentuhnya tidak berlaku bagi hadits qudsi. “Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW berkata..Secara etimologi Hadits Qudsi merupakan nisbah kepada kata Quds yang mempunyai arti bersih atau suci. yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil. 4.sedangkan bagi pambaca hadits qudsi tidak. Aku pun menyebutnya di kalangan orang banyak yang lebih baik dari itu. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. kemudian beliau sampaikan kepada umatnya. Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. Seperti yang kita ketahui bahwa Al-qur'an merupakan mu'jizat yang diturunkan oleh ALLAH kepada nabi Muhummad SAW dengan perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dan membacanya dianggap sebagai ibadah. karena al-Quran bersifat qath’i al-Tsubut. Adapun Hadits Qudsi dinisbahkan kepada Allah. yang kurang kuat ingatannya. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. Contoh hadist nabawi yang berupa perkataan (qauli) misalnya perkataan Nabi SAW. d) Al-Quran tidak boleh dipegang oleh orang yang mempunyai hadats. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi ialah: 1. Adapun Hadits Qudsi. yaitu hadits yang tertolak. j) Pebedaan antara Hadits Nabawi dengan Hadits Qudsi antara lain: k) Hadits Nabawi dinisbahkan dan disampaikan oleh Nabi Muhammad. f) Al-Quran ditransformasikan secara tawattur.semua ketentuan hukum bagi Al-qur'an tentang membaca dan menyentuhnya tidak berlaku bagi hadits qudsi. karena Hadits Qudsi bersifat dhanni al-Tsubut. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu.hadits qudsi marupakan titah tuhan yang dismpaikan kepada nabi melalui mimpi'kemudian diterangkan oleh nabi dengan bahasanya sendiri serta menyandarkannya kepada ALLAH. perbuatan.semua lafadz dan makna Al-qur'an bersumber dari ALLAH. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). Pengertian Hadits Nabawi Adapun menurut istilah. 3.semua lafadz dan makna Al-qur'an bersumber dari ALLAH. Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku di dalam dirinya. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. Satu huruf al-Quran sebanding dengan 10 kebaikan. Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) 9. Bagi pembaca semuanya. Baik tentang keadilan maupun hafalannya.

Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. 4:158). tidak dapat diartikan : Allah mengangkat Isa ke langit. ia hanya pingsan. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. Ayat tersebut seolah-olah berkata. sementara derajat periwayatannya lemah. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal.. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. tidak di angkat Allah ke langit. Karena Sanadnya Tidak Bersambung Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 12. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. antara lain: Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. warfa’ni.. dan Allah itu Mahaperkasa. asosiasinya pastilah hanya bermohon di angkat harkat derajatnya. hukum akad nikah. Muassasatur Risalah. Jld III. kata rafa’a jika subjeknya adalah Allah. Padahal dalam teologi Islam. ayat 157 dari Surah An-Nisa tersebut merupakan bantahan atas tuduhan palsu orang-orang Yahudi yang mengatakan Nabi Isa as. Semua Mushalli pada saat mengucap doa “warfa’nii” – wahai Allah. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah. kepadanya. Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami dan meyakini : Nabi Isa as.10. Rasulullah SAW. bukan mengangkat jasad. wahdini. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. dalam pemahaman Jamaah Ahmadiyah. Sebab. pada saat duduk di antara dua sujud. terdapat sebuah doa : “Rabighfirlii. warhamni. Lagi pula. Maha Bijaksana”(An-Nisa. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. benar disalib. Isa putra Maryam.kepada-Nya. disalib. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. . Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 11. Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. Tidak Diangkat Allah ke Langit Jamaah Ahmadiyah juga memhami dan meyakini. di riwayatkan pernah bersabda : Idza tawa dha’al-‘abdu rafa’ahullaahu ilas-samaa-is-saabi’ah” – apabila seorang hamba merendahkan dirinya. maka Allah akan mengangkat derajatnya hingga ke langit ke tujuh (Kanjul Umal. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). kata “rafahullaahu ilaihi” – Allah mengakat dia (Isa). Imam AlBukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. benar Nabi Isa.”. Alaudin Alhindi. Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini. Sukir Ahmadi Benar di Salib. tetapi tidak mati di atas salib. hukum thalaq dan lain-lain. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. maka haditsnya tidak bisa dipakai. 5820) Di dalam shalat. bukan di angkat jasad kasarnya. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. telah mati di palang salib sebagai bukti nabi palsu. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. mereka tidak mengingkarinya 2. 1989. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. ia hanya pingsan. Beirut.3. Adapun kalau dengan sanadnya. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu.. Tapi Tidak Mati Diatas Salib Terkait masalah penyaliban. akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.…. Rasul Allah.. artinya akan selalu mengangkat harkat derajat. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. keadaannya saja yang di tampakan seperti telah mati di atas salib. Benar. ia memohon kepada Allah agar di angkat jasad kasarnya. seperti pada An-Nisa 58 itu. Demikian juga dengan hukum jual beli. dan obyeknya manusia. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. 4:157) Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami dan meyakini. (An-Nisa. Hadits no. maka orang itu salah seorang pendusta. telah mati di atas palang salib sebagai penebus dosa umat manusia. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah.. Allah tidak berhajatkan tempat. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. Nabi Isa as. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. Kepercayaan Jamaah Muslim Ahmadiyah tersebut di dasarkan pada Firman Allah. Sedangkan setiap amal sunnah. Namun. tentu tidak seorang pun punya asosiasi pikiran ketika ia mengucap doa “warfa’nii”. angkatlah aku.. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). dan merupakan bantahan atas kepercayaan bathil orang-orang Kristen yang mangatakan Nabi Isa as. padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib. tetapi ia tidak mati di atas salib. di dalam Al-Quran terdapat Friman Allah: “Akan tetapi Allah telah mengangkat dia (Isa). keadaannya saja yang di tampakan seperti telah mati di atas salib. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. jika di artikan demikian. Dan.. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran : “Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih. hal 110. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka. berarti Allah ada di langit. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya.

Yaitu.. maka sekalian itu juga wajib aku bawa. akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan. seolah-olah ayat itu baru di turunkan pada hari itu. Jadi. dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku wafat. Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur”. pergi ke timur mencari suku-suku Israil. Umar merasa baru mendengar ayat itu. dan aku menjadi saksi atas mereka. Telah Wafat Tertulis di dalam tarikh.Contoh-contoh ini memberi kesimpulan. Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. akan menjadi terbukti dan sempurna. 28:88). Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Dan penduduk setempat juga mengakui. Srinagar.. Jadi. yang mengabarkan kewafatan Rasulullah SAW. tentu tidak akan berkata bahwa Khalifah Ali ra. Umar ibnu Khaththab ra. seperti telah mati di atas salib.a. Di dalam Kitab Taurat memang tertulis hukum: “orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah”. 19:33) Wafat Secara Wajar Dalam Usia 120 Tahun Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. di situlah beliau tidur. mengangkat harkat/derajat Nabi Isa as. Hal ini terbukti dari riwayat yang dituturkan oleh Imam Hasan r. Kata Yuz. Ia membuka kain yang menutup tubuh suci Rasulullah SAW. 3:48). sedang berada di luar kota Madinah saat berita kewafatan Rasulullah SAW.. artinya ia bukan asli orang Kasymir. pada tahun ini ia datang kepadaku dua kali. dan sebagian lagi tidak mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW.. (Ali Imran. akhirnya beliau wafat secara wajar. tidak pernah berkendaraan”. India. selama Aku berada di antara mereka. 3:144) Mendengar penjelasan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. seperti dikutip Al-Quran. Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul..a. umat Islam di landa kegelisahan yang amat hebat. maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun.. Padahal semuanya ada 12 kabilah.. beliau tidak pernah kembali tanpa membawa kemenangan. yakni. hingga saat ini. Bani Israil yang berada di negeri tumpah darahnya hanya ada dua kabilah. Kemudian kepada-Ku-lah kamu kembali. berarti : kabar suka. Jika dikalangan para sahabat berkembang kepercayaan Nabi Isa as. telah wafat. Dan. (Matius 10:5-6) Pada zaman Nabi Isa as. 3:144) 2) Firman Allah : “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam. dan kami beri mereka perlindungan pada tanah yang tinggi dengan lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir”. Rasulullah SAW.. Beliau wafat pada malam ketika Isa Ibnu Maryam pada malam yang sama rohnya di angkat ke langit. seperti tercantum di dalam “Thabaqat Ibn Sa’ad”. Ia menjawab: "Maha Suci Engkau. tersebut. wafat pada malam yang bersamaan dengan ketika roh Nabi Isa a. maka Imam Hasan r. Umar ibnu Khaththab ra.. (Matius 15:24) Kepada murid-muridnya. termasuk di antara yang tidak mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. dan supaya orang tidak memberi kesusahan kepada engkau”. Kasymir. dengan mengatakan : “Tidak Abu Bakar. sebab itu beliau disebut Al-Masih”. Adalah tidak mengherankan. yang berbunyi sbb : “Ingatlah. tersebut kepada para sahabat yang hadir. Telah Wafat Selain ijmak para sahabat. yang sejak awal menghunus pedang dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW. adalah kuburan Nabi Isa as.a. Nabi Isa as. adalah wajar jika beliau pergi menemui dan berdakwah kepada 10 kabilah Israil yang terpencar di negerinegeri sebelah timur itu. Rasulullah SAW. berkata : “Dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan. selaras dengan petunjuk Al-Quran. dan di mana beliau tiba di waktu malam. dan kembali setelah empat puluh hari”. 3:144 : “Dan. Nabi Isa as. (Al-Maidah. di utus Allah untuk Bani Israil. maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun. Ia berkata : “Maka jawab Yesus. Sebagian mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW.. yang juga berarti : kabar suka. diutus Allah hanya untuk Bani Israel (Ali-Imran. kemudian melanjutkan missi risalah-nya : berdakwah kepada suku-suku Israel. yaitu: "Beribadahlah kepada Allah. .a. menunaikan missi-risalah-nya. Jld 2:42 & Kitab Tafsir Lawamiut-Tanzil. 5:116-117) 3. dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Engkau.Hakim. (Rowahut.. hidup kembali". : “Fatimah binti Muhammad ra. setelah selamat dari peristiwa salib.. diriwayatkan pernah bersabda : “Allah SWT. adalah orang terkutuk dan Nabi Palsu. & Hujajul. masih hidup”. Pedangnya jatuh. Umar pingsan. Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. kondisi fisik kembali normal. pastilah mereka akan menolak keterangan Abu Bakar Ash-Ashiddiq ra.. Rasulullah SAW. dan langsung melihat jasad Rasulullah SAW.. bernama Al-Busyro. Jld 2:34) “Al-Masih terus berjalan. akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan. tidak wafat. sekiranya aku telah mengatakannya tentu Engkau mengetahuinya.. Nabi Yuz meninggalkan suatu kitab ajaran agama. (Kitab Tafsir Fathul-Bayan. nabi Isa as. untuk membuktikan bahwa Nabi Isa as. diantaranya : “Isa bin Maryam tidak pernah tinggal menetap di suatu tempat. (Riwayat Jabir Jld 2:71) “Allah cinta kepada orang gharib”. Nabi Yuz meninggalkan suatu kitab ajaran agama. Di dalam Injil-nya ia berkata : “Ada lagi padaku domba yang lain. Yang sepuluh kabilah lagi terpencar di negeri-negeri sebelah timur. bernama Al-Busyro. Beliau meninggalkan peninggalan (warisan) sebesar tujuh ratus dirham saja.. menjadi perlu dan harus bagi Allah SWT. akan tetapi ia disamarkan kepada mereka (orang-orang Yahudi). karena ia banyak berjalan di bumi tanpa menetap lama di suatu tempat”. supaya orang jangan tahu di mana engkau.. wafat. maka pedang Umar-lah bagiannya. dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu”. (Kitab Lisanul-Arab:431) “Bahwa Isa bin Maryam disebut Al-Masih. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Di Desa Kanyar.. Engkau mengetahui apa yang terkandung dalam pikiranku. ia mengatakan kepadaku bahwa usia Isa bin Maryam 120 tahun”. Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur”. sepakat : Nabi Isa a. juga menyuruh menyampaikan ajarannya itu hanya kepada bani Israil : “Maka kedua belas orang inilah disuruhkan oleh Yesus dengan pesannya demikian : “Janganlah kamu pergi ke negeri orang kafir dan jangan kamu masuk ke negeri orang Samaria. Nabi Isa as. malam ini telah wafat seorang yang sebagian amal perbutannya tidak pernah di capai orang-orang sebelumnya dan tidak pula akan di capai oleh orang-orang yang akan datang kelak. yang bukan masuk kandang domba ini. pada malam tanggal dua puluh tujuh Ramadhan” (Thabaqat Ibn Sa’ad. kita menemukan Firman Allah. seperti halnya Isa bin Maryam”. Umar yang di kenal tegar dan gagah berani itu pun. dari Surah Ali Imran. dan domba-domba itu kelak mendengar akan suaraku. Walhasil. berdakwah kepada seluruh suku-suku/kabilah bani Israil. sekiranya pada diri beliau-beliau tidak ada gagasan semacam itu. Pendirian dan Pemahaman Jamaah Ahmadiyah ini didasarkan pada : 1) Firman Allah : “Dan. perbatasan antara India dan Pakistan. jika Allah SWT. jilid III) Riwayat ini menunjukan. dahulu dipanggil Allah. bila malam ia makan daun-daunan di hutan... maka kawasan ini menjadi rebutan antara India dan Pakistan. tunai melaksanakan missi risalah-nya. itu beredar. dan melihatnya. yang sedang dilanda kegelisahan hebat. Beliau berkata : “Wahai sekalian manusia. berdiri berpidato. Sepakat : Nabi Isa as. melainkan pergilah kamu kepada segala domba kaum Israil yang sesat itu”.. Jld 1:592) “Bahwa beliau banyak berjalan. termasuk kepada Umar ibnu Khaththab. Mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW. berarti : Akan tetapi Allah telah mengangkat (harkat/derajat) Nabi Isa kepada-Nya. kuburan Nabi Yuz Asyaf yang terletak di Desa Kanyar. adalah bahasa Arab dan bahasa Ibrani..w mengutus beliau ke medan perang. Sebutan Yesus bukan asli bahasa Ibrani. Sambil menghunus sebilah pedang. mati di palang salib. tersebut. karena beliau banyak berjalan. dan meninggikan derajat engkau di sisi-Ku.a. Seorang sahabat menyusul dan mengabarkannya. lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan”.. yang menghunus pedang. rasul-rasul sebelumnya. tersebut.s. hingga saat ini terdapat sebuah kuburuan yang sangat terpelihara dan di pelihara penduduknya. di palang salib. Kenyataannya. kalimat “bal rafahullaahu ilaihi” (An-Nisa. 1989. Kasymir. dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat. benar-benar telah wafat. Sebab. Di ketahuilah oleh beliau. juga mengakui bahwa ia hanya diutus Allah kepada Bani Israel. Nabi Isa as. kemudian mengabarkan berita kewafatan Rasulullah SAW. membiarkan Nabi Isa as. Orang-orang Yahudi menangkap dan menggantung Nabi Isa as. kakinya mulai gontai. anggota keluarga Rasulullah SAW. Dan. dikabarkan wafat. Beirut. setelah selamat dari peristiwa salib. (Ali Imran. teriak Umar ibnu Khaththab ra. sangat cocok dengan keadaan dataran tinggi Kasymir yang subur. yang merupakan ruang-lingkup tanggungjawab dakwahnya. Oleh sebab itu. Sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara wajar.. dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dibangkitkan. telah wafat. 3:185) dan Kullu syai-in haalikun illaa wajhah (Al-Qashash. (Maryam. dan kemudian menetap di Kasymir hingga akhir hayatnya. saat mengisahkan peristiwa wafatnya Khalifah Ali r. jika ia mati atau terbunuh. Anggota Keluarga Rasulullah SAW. (Ali Imran. sepakat : Nabi Isa as. katanya: Tiadalah aku di suruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara bani Israil”. bahwa Rasulullah SAW. Sesungguhnya telah berlalu (mati). barangsiapa berpaling atas tumitnya. maka Jibril menjaga di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya. Muassasatur-Risalah. telah wafat. Yang maksudnya Yesus. Dengan uang itu beliau bermaksud membeli seorang budak belian (untuk di merdekakan).Umal. Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku. 23: 50) Tanah dataran tinggi. tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib. Beliau berjalan kaki. maka tuduhan orang-orang Yahudi yang mengatakan. Dan. (ahlulbait) pun sepakat : Nabi Isa a.. Afghanistan. Pedang terhunus Umar jatuh. Alaudin Alhindi. sebelumya.. Karena kesuburannya. Sebab. Bani Israil terpencar sejak di kalahkan Raja Nebukadnesar. ketika Rasulullah SAW.. (Kitab Tarikh bahasa Parsi:130-131) Al-Quran menjelaskan. Iran. Orang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Apakah arti orang gharib?” Beliau menjawab: “Ialah orang yang lari membela agama. dan jika dia hidup berarti dia benar utusan Allah. 21:23).. Para Sahabat Rasulullah SAW.s.. segera kembali. para sahabat Rasulullah SAW. meriwayatkan. barangsiapa berpaling atas tumitnya.Karomah). Sepakat : Nabi Isa as. dalam usia 120 tahun. Rasulullah s. (Yahya 10:16) Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. (Kitab Abdullah Ibnu Umar Jld 6:51) Di dalam beberapa Kitab Tafsir juga terdapat keterangan mengenai perjalanan Nabi Isa as. (Al-Mu’minun. ia berdiri dan berkata : “Siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW.. bernama: kuburan Nabi Yuz Asyaf. beliau adalah orang terkutuk dan nabi palsu. (Ulangan. Jika dia mati di palang salib berarti dia orang terkutuk dan nabi palsu. Irak. jika pada ayat lain dalam Al-Quan. 4:158). masih hidup. (Kitab Tafsir Ruhul-Maani. dengan cara menyelamatkan beliau dari kematian hina di palang salib.. dan minum air tawar yang jernih”. hanya sedang dipanggil Allah. sendiri. Nabi Isa as. bahwa setelah selamat dari peristiwa salib..w. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha mengetahui segala yang ghaib-ghaib.s. Sabda Rasulullah SAW. Nabi Yuz dikatakan datang dari negeri asing. para anggota keluarga (ahlulbait) Rasulullah s. tidak layak bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. dengan lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir. Adalah sama dengan Injil... Kisah ini mengisyaratkan. di angkat ke langit. dan Nabi Isa as. masih ada nabi yang masih hidup.. Karena Nabi Isa as. Jld XI:479.. lalu akan menjadi sekawan dan gembala seorang saja”. dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir. Sesungguhnya telah berlalu (mati). akan tetapi setelah Engkau mewafatkan daku. Beliau selalu berjalan dari satu negeri ke negeri lainnya. Tuhanku dan Tuhanmu". Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sebagi wujud fana yang terikat oleh hukum : Kullu nafsin dzaaiqatul maut (Ali Imran. seperti dijelaskan pada An-Nisa 157. Allah SWT. Umar ibnu Khaththab ra. dan berkubur di bumi ini... Kanzul. dan merasa. Penduduk setempat mengakui kuburan tersebut adalah kuburan seorang nabi yang datang dari negeri asing. berasal dari kata Yozua (bahasa Ibrani). Nabi Muhammad SAW. jika ia mati atau terbunuh. dengan cara. beliau selalu berjalan”. Jld 2:364) “Dikatakan Isa itu Al-Masih. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. seperti halnya Musa as.. adakah engkau berkata kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?". Pemahaman dan keyakinan Jamaah Ahmadiyah. telah wafat.. Dengan ciri-ciri dan tanda-tanda tersebut. maka Engkau-lah yang menjadi pengawas mereka. setelah Nabi Isa as. melainkan bahasa latin (Griek). gontai. yakni : di Syria. berfirman : “Dan Kami jadikan anak Maryam dan ibunya suatu Tanda. pun pingsan. Kata Nabi. lalu membacakan kalam Ilahi.Tabroniyu wal. yang di ilustrasikan Al-Quran Surah Al-Mu’minun ayat 50 tersebut. (Kanjul Umal.. telah mewahyukan kepada Isa : Pindahlah engkau dari tempat ini ke tempat yang jauh. 3:55) Dan. rasul-rasul sebelumnya.. bersabda : “Sesungguhnya Jibril sekali setiap tahun datang memeriksa Qur’an.. ketika Allah berfirman: "Hai Isa. India dan Pakistan... Srinagar. dengan tujuan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->