A.

Definisi Dilalah Al-Qur’an dan Dalil yang Qath’i serta Zhanni Dalil menurut arti etimologi bahasa Arab ialah pedoman bagi apa saja yang khissi (material) yang ma’nawi (spiritual), yang baik ataupun yang jelek. Adapun menurut istilah ahli ushul (termenilogi) ialah sesuatu yang dijadikan dalil, menurut perundangan yang benar, atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, secara pasti (qath’i) atau dugaan (zhanni). Sedangkan istilah dali-dalil hukum, pokok-pokok hukum, sumber-sumber hukum syari’at Islam adalah lafadz-lafadz mutarodifat (kata-kata sinonim), yang artinya adalah satu atau sama (equivalent).Dalalah berarti pemahaman atau tanda penunjukkannya untuk sampai kepada madlul, prosesnya berawal dari petunjuk yang mendasarinya (dalil) kemudian dipahami (dalalah) yang akhirnya mengacu kepada pemahaman (madlul). Cth : Aqimu al-Sholat perintah shalat wajib shalat Asap ada yang terbakar api Sebagian ulama’ ushul memberikan definisi dalil dengan sesuatu yang diambil dari padanya, hukum syara’ mengenai perbuatan manusia dengan jalan pasti (qath’i). sedangkan sesuatu yang diambil daripadanya hukum syara’ dengan jalan dugaan (zhanni) adalah amarah (sign = tanda), bukan dalil. Tetapi yang termasyhur dalam istilah ulama’ ushul mengenai definisi dalil itu ialah sesuatu, yang diambil daripadanya, hukum syara’ secara amali, mutlak, baik dengan jalan qath’i maupun zhanni. Karena itu mereka membagi dalil kepada 2 macam yaitu : 1. Dalil atau Nash Qath’i Dalil atau nash yang qath’i ialah nash yang menunjukkan kepada makna yang bisa difahami secara tertentu, tidak ada kemungkinan menerima ta’wil, tidak ada tempat bagi pemahaman arti selain itu, sebagaimana firman Allah SWT :: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” (QS. An-Nisa’ : 12). Ayat ini adalah pasti, artinya bahwa bagian suami dalam keadaaan seperti ini adalah seperdua, tidak yang lain (yakni yang lain dari seperdua). Dan seperti firman Allah juga yaitu :: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera”. (QS. anNur : 2) Ayat ini pasti juga, artinya bahwa had zina itu seratus kali dera, tidak lebih dan kurang. Begitu juga setiap nash yang menunjukkan arti mengenai bagian dalam soal harta pusaka, atau ati had dalam hukuman dan atau tentang arti nishab. Semua itu telah dipastikan atau ditentukan dan atau dibatasi. Dalil qath’i ini ada dua macam, yaitu : a. Dalil al-Wurud yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah (al-Qur’an) atau dari Rasulullah (hadits mutawatir). Al-qur’an seluruhnya qath’i dilihat dari segi wurudnya. Akan tetapi tidak semua hadits qath’i wurudnya. b. Qath’i Dalalah, dalil yang kata-katanya atu ungkapan kata-katanya menunjukkan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. Seperti firman Allah SWT yaitu dalam surat an-Nisa’ ayat 12 di atas. 2. Dalil atau Nash Zhanni Dalil atau nash yang zhanni ialah nash yang menunjukkan atas makna yang memungkinkan untuk ditakwilkan atau dipalingkan dari makna asalanya (lughawi) kepada makna yang lain, seperti firman Allah SWT yaitu : “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[1].” (QS. alBaqarah : 228) Padahal lafal quru’ itu dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yaitu suci dan haid. Sedangkan nash menunjukkan (memberi arti) bahwa wanita-wanita yang ditalak itu menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksudkan, adalah tiga kali suci atau tiga kali haid. Jadi ini berarti tidak pasti dalalahnya atas satu makna dari dua makna tersebut. Oleh karena itu para mujtahidin berselisih pendapat bahwa ‘iddah wanita yang ditalak itu Quru’ dapat diartikan suci atau haid. Dan sebagaimana firman allah, yaitu “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah.[2]” Padahal lafal maitah (bangkai) itu umum. Jadi ini mempunyai kemungkinan arti mengharamkan setiap bangkai, atau keharaman itu (ditaksis) dengan selain bangkai lautan, maka oelh karena itu nash yang mempunyai makna yang serupa (makna ganda) atau lafal umum, atau mutlak dan atau seperti maitah ini, semua adalah zhanni dalalahnya (indikator), karena ia mempunyai kecenderungan kepada satu arti lebih. Dalil zhanni ada dua macam, yaitu : a. Zhanni al-Wurud yaitu dalil yang hanya memberi kesan yang kuat (sangkaan yang kuat) bahwa datangnya dari Nabi saw. Tidak ada ayat al-Qur’an yang zhanni wurudnya, adapun hadits ada yang zhanni wurudnya, seperti hadits ahad. b. Zhanni al-Dalalah yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberikan kemungkinan-kemungkinan arti dan maksud. Tidak menunjukkan kepada satu arti dan maksud tertentu. Seperti firman allah dalam surat al-baqarah ayat 228. B. Definisi dan Kehujjahan Sunnah serta Dilalah dan Kedudukan Sunnah As-Sunnah dalam bahasa Arab berarti tradisi, kebiasaan, adat istiadat. Dalam terminology Islam, berarti perbuatan, perkataan, dan keizinan Nabi Muhammad saw (af’alu, aqwalu, dan taqriru). Menurut rumusan ulama ushul fiqh, As-Sunnah dalam pengertian istilah ialah segala yang dipindahakan dari Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbuatan, ataupun tqrir yang mempunyai kaitan dengan hukum. Pengertian inil;ah yang dimaksudkan untuk kata AsSunnah dalam hadist Nabi : sungguh telah kutinggalkan untukmu dua perkara, yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Al-Hadist) Pengertian As-Sunnah tersebut sama dengan pengertian Al-Hadist. Al-Hadist dalam bahasa Arab berarti berita atau kabar. Namun demikian, ada yang membedakan pengertian As-Sunnah dan Al-Hadits. Perbedaan dimaksud, As-Sunnah adalah sesuatu perbuatan yang beberapa kali dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yangb kemudian terus menerus diikuti oleh sahabat dan dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dari zaman ke zaman dengan jalan mutawatir. Nabi Muhammah saw melakukan perbuatan ini beserta para sahabat, kemudian hal itu diteruskan oleh para sahabat lain dan tabiin, bahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada kita saat ini. Adapun Al-Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya sepanjang hidupnya dan walaupun hanya seorang saja yang meriwayatkannya. Perbedaan makna secara etimologi seperti ini, tidak mengurangi pentingnya arti As-Sunnah atau Al-Hadits dimaksud. Sebab, mayoritas ahli hadits, berdasarkan penelitian mereka menyamakan hadits dan sunnah (Nasaruddin Razak, 1977: 102). Akan tetapi, tidak semua hadits mesti menjadi sumber hukum. Sebab ada hadits yang maqbul (diterima) da nada yang mardud (tidak dapat diterima). Oleh karena itu perlu juga diungkapkan pembagian Sunnah dan Hadits. Sunnah atau Hadits dapat dibagi berdasarkan kriteria dan klasifikasi sebagai berikut : Ditinjau dari segi bentuknya terbagi menjadi :

2. 3. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 1. 2. 3.

Masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak tetapi tidak sampai kepada derajat mutawatir, baik karena jumlahnya maupun karena tidak jalan indera.

Ahad, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih yang tidak sampai kepada tingkat masyhur dan mutawatir. Ditinjau dari segi kualitas hadits, terbagi menjadi : Shahih, yaitu hadits yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya dan kuat hafalannya, materinya baik dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkannya. Hasan, yaitu hadits yang memenuhi persyaratan hadits shahih kecuali di segi hafalan pembawanya yang kurang baik. Dha’if, yaitu hadits lemah, baik karena terputus salah satu sanadnya atau karena salah seorang pembawanya kurang baik dan lain-lain.

Maudhu’, yaitu hadits palsu, hadits yang dibikin oleh seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Rasul saw. Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, terbagi menjadi : Maqbul, yaitu hadits yang mesti diterima.

Mardud, yaitu hadits yang mesti ditolak. Ditinjau dari segi orang yang berbuat atau berkata-kata, hadits terbagi menjadi : Marfu’, yaitu betul-betul Nabi saw yang pernah bersabda, berbuat dan memberi izin. Mauquf, yaitu sahabat Nabi yang berbuat dan Nabi tidak menyaksikan perbuatan sahabat.

1. 2. 3. 1.

Fi’il, yaitu perbuatan Nabi. Qauli, yaitu perkataan Nabi.

Taqriri, yaitu perizinan Nabi, yang artinya perilaku sahabat yang disaksikan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak menegurnya atau melarangnya. Ditinjau dari segi jumlah orang yang menyampaikannya menjadi : Mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal tidak mungkin mereka bersepakatan dusta serta disampaikan melalui jalan indra.

Maqtu’, yaitu tabi’in yang berbuat. Artinya perkataan tabi’in yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan. Pembagian lain yang disesuaikan jenis, sifat, redaksi, teknis penyampaiaan dan lain-lain. Hal dimaksud, dapat diungkapkan sebagai contoh : hadits yang banyak menggunakan kata an (dari) menjadi hadits mu’an’an. Hadits yang benyak menggunakan kata anna (sesungguhnya) menjadi hadits muanan. Hadits yang menyangkut perintah disebut hadits awamir. Hadits yang menyangkut larangan disebut hadits nawahi. Hadits yang sanad (sanadnya) terputusnya disebut hadits munqath’i. Bukti-bukti kehujjahan as-Sunnah banyak sekali, yaitu : Nash-nash al-Qur’an Karena allah SWT dalam beberapa ayat kitab al-Qur’an telah memerintahkan mentaati Rasul-Nya. Menurut-Nya taat kepada Rasul-Nya berarti taat kepada-Nya. Dia memerinatah umat Islam ketika mereka bertentangan dalam urusan sesuatu, untuk mengembalikannya keepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak membuat untuk orang mu’min suatu pilihan ketika Dia dan Rasul-Nya telah memutuskan sesuatu. Dia meniadakan iman bagi seseorang yang tidak tenang hatinya menerima keputusan Rasul, atau tidak menyerah kepadanya. Semuanya ini adalah bukti dari Allah bahwa sesungguhnya pembentukan hukum syari’at oleh Rasulullah saw adalah pembentukan hukum syari’at oleh Tuhan yang harus diikuti. Allah SWT telah berfirman dalam beberapa ayat berikut : “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imron : 32). “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ : 59) “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ : 65). “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[3]” (QS. an-Nisa’ :80). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab : 36). “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orangorang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyar : 7). Ayat-ayat tersebut di atas saling bersatu dan bersandaran, dan dengan itu mendatangkan arti secara pasti, bahwasannya Allah mengharuskan mengikuti RasulNya terhadap apa yang disyari’atkannya. Ijma’ para sahabat r.a semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya mengenai keharusan mengikuti sunnah Nabi. Pada masa hidup Nabi mereka melaksanakan hukum-hukumnya dan menjalankan segala perintah serta larangannya, hukum halal serta hukum haramnya. Dalam keharusan mengikuti mereka tidak membedakan di antara hukum yang diwahyukan kepadanya dalam al-Qur’an dan hukum yang keluar dari Nabi sendiri. Dan oleh karena itu Mu’adz bin Jabal berkata : “JIka saya tidak mendapati dalam Kitabullah, hukum yang hendak saya jadikan keputusan, maka jatuhkan keputusan dengan sunnah Rasulullah saw.” Mereka (para sahabat) setelah wafatnya Nabi, apabila tidak mendapatkan dalam Kitabullah hukumnya sesuatu yang terjadi pada mereka, maka mereka kembali kepada sunnah Rasulullah saw. Abu Bakar ketika tidak hafal sunnah mengenai suatu kejadian, maka keluarlah beliau dan bertanya kepada umat Islam : “Adakah di antara kamu terdapat orang yang hafal sunnah dari Nabi kita mengenai kejadian ini?” Demikian pula Umar mengerjakan seperti itu dan juga sahabat lainnya yang bertugas untuk memberikan fatwa dan keputusan pun pula para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in juga menempuh jalan para sahabat sekiranya salah seorang di antara mereka tidak mengetahui seorang yang menyalahinya berbuat melampaui batas mengenai keharusan mengikuti sunnah Rasulullah saw manakala telah shahih penukilannya. Dalam al-Qur’an Allah SWT telah mewajibkan kepada manusia beberapa ibadah fardhu secara global tanpa penjelasan (secara rinci) tidak dijelaskan di dalamnya mengenai hukum-hukumnya atau cara memakainya (melaksanakannya). Maka Allah SWT berfirman :“Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat”. (QS. an-Nisa’ : 77) “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. alBaqarah : 183).

Allah Azza wa Jalla berfirman:" Kami tidak akan meng‘adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul. Secara terminologi. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Jaami’ul Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi [9] menerangkan perbedaan antara ittiba’ (mengikuti) dan taqlid yaitu terletak pada adanya dalil-dalil qath’i yang jelas. [2]. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.. di antaranya sebagai berikut :[14] [1]. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: . Maka setiap sunnah pembentukan hukum syari’at Islam yang shahih keluarnya dari Nabi. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. Syari’at didahulukan atas akal.Allah Azza wa Jalla mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur`an. aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu`. akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Hadits Mu`allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. atau “afalaa ta’qiluun” (apakah kamu tidak berakal). Berkata Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki (namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdillah. da`if dan maudu` Hadits Shahih. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Jenis dan Tingkatannya Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan.” Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal. Karena semua asSunnah sumbernya adalah Rasulullah saw yang ma’sum yang telah diberi oleh Allah kekuasaan untuk menjelaskan dan untuk membentuk hukum syari’at Islam. maka tidak ada bagi seseorang suatu kewajiban agama pun dan tidak ada pula yang namanya pahala dan dosa. karena syari’at itu ma’shum sedang akal tidak ma’shum. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad. Mashur. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad).”[2] Akal adalah insting yang diciptakan Allah Subahnahu wa Ta'ala kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah Azza wa Jalla. Munqati`.. hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu` (terangkat). hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. di antaranya: Ad-diyah (denda). maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". Dan itu dapat dilihat pada beberapa point berikut: Pertama [3]: Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. "Kami terbiasa. anak kecil sampai bermimpi. larangan-larangan. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut.Sebab itu sampaikanlah berita (gembira) itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. [6].. ‘aql (selanjutnya ditulis akal) digunakan untuk dua pengertian: [1]. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits.” (QS. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari’at. Sedangkan yang dimaksud dengan akal ialah. Akal merupakan ‘ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa hilang. [3]. perbuatan. Katakanlah: “Ruh itu adalah urusan Rabb-ku. [5]. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya. contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Shu`bah.” [Al-Israa’: 70] Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Hadits Maqtu` adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi`in (penerus). Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu. dalil-dalil ‘aqli yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan/mengalahkan dalil-dalil syar’i. Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah".. Hadits Munqati`. bahwa madzhab Ahlus Sunnah mengatakan bahwa akal tidak mewajibkan sesuatu bagi seseorang dan tidak melarang sesuatu darinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: " Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). [4] Yakni: perintah-perintah. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. orang yang tidur sampai bangun. "Kami dilarang untuk.. tidak bersifat detail. Karena Allah mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya" [Al-Buruuj: 16] Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu`. Dan keruntuhan pondasi berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. [4]. lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah.“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah”. [2].” [10] Jadi definisi taqlid adalah menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil. dan tidak mendapat petunjuk? "[Al-Baqarah: 170] Perbedaan antara taqlid dan ittiba’ adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Hadits mutawatir. hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. hasan. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Kalau seandainya as-Sunnah yang menjelaskan itu bukan hujjah atas umat Islam dan bukan sebagai undang-undang yang harus diikutinya.. seperti tadabbur. Hadits ahad. Penerbit Pustaka At-Taqwa. Hadits Mursal.. alasan) namun berubah men-jadi dalil yang bathil. Sehingga akal tidak lagi menjadi hujjah (argumen. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.Pembatasan wilayah kerja akal dan pikiran manusia sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla. Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari’at.dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal. mauquf (terhenti) dan maqtu` : Hadits Marfu` adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya). Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya. ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. ta-aqqul dan lainnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi`in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:" Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman: “ .” [8] Ibnu ‘Abdil Barr (wafat th. “Ittiba’ adalah sese-orang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:” Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal. mereka menjawab: ‘Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (QS. wafat th. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan." [Al-Israa’: 85] Firman Allah Azza wa Jalla :"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam al-Qur-an. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. [1] Quru’ dapat diartikan suci atau haidh. tafakkur. [9].[11] Keenam [12] Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah Azza wa Jalla yang diten-tukan oleh akal kita kepada-Nya. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. " Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani Rahimahullah (wafat th. 463 H) dalam kitabnya. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi`in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi`in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Dan jika ia bertentangan dengan keduanya." [Shaad: 43] Kedua [4] : Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah Azza wa Jalla. Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M] Hadist Pengertian."[5] Ketiga [6]. Sifat ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya: "Artinya : . Firman-Nya:"Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. [2] Ialah: darah yang keluar dari tubuh.." [Al-Mulk: 10] Keempat [7]. Ali Imron : 97) “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran.". Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang berten-tangan dengan syari’at. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). As-Sunnah yang menjelaskan itu harus diikuti dari segi dari segi bahwa ia adalah keluar dari Rasul saw diceritakan daripadanya dengan system yang mendatangkan kepastian akan datangnya daripadanya atau mendatangkan dugaan yang kuat akan datangnya daripadanya. dalah hujjah yang harus diikuti baik sunnah itu menjelaskan tentang hukum di dalam al-Qur’an maupun membentuk hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an.. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib. Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. atau “afalaa yatadabbaruuna al-Qur'ana” (apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an) dan lainnya. Po Box 264 Bogor 16001. agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[4] dan supaya mereka memikirkan. Dan makna ittiba’ yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah/dalil yang tetap. Dan di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya." [Al-Israa’: 15] [8]. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma`nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). 390 H) : “Makna taqlid secara syar’i adalah merujuk kepada perkataan yang tidak ada hujjah/dalil atas orang yang mengatakannya. sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. maka tidak mungkin melaksanakan fardhu-fardhu al-Qur’an atau mengikuti hukum-hukumnya. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. serta tidak ada hak baginya untuk meng-halalkan atau mengharamkan sesuatu. Mu`allaq.". husnut tasharruf (tindakan yang baik atau tepat). Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.” Kata ‘Aql dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti [1]. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan ‘aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan rasio semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli (dalil syar’i) yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka. “Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shahih. Aziz. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh syari’at. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara`id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. Dan tiadalah kalian diberi ilmu melainkan sedikit. Bahwa ittiba’ yaitu penerimaan riwayat berdasarkan diterimanya hujjah sedangkan taqlid adalah penerimaan yang ber-dasarkan pemikiran logika semata." [Az-Zumar: 17-18] Ketujuh. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia.. namun taqlid dilarang. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syariat. (Apakah mereka akan mengikutinya juga) walau-pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun. [7].. 489 H) [13] berkata: “Ketahuilah. Naql adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam al-Qur-an dan asSunnah. Jadi. orang gila sampai ia kembali sadar (berakal). sebagaimana juga tidak ada wewenang baginya untuk menilai ini baik atau buruk." [Thaahaa: 110] Ulama Salaf (Ahlus Sunnah) senantiasa mendahulukan naql (wahyu) atas ‘aql (akal). Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi`in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu`dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya. Matan ialah redaksi dari hadits. sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat [3] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Science of Hadits)." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Seandainya tidak datang kepada kita wahyu. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir.[15] [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas. al-hikmah (kebijakan). Ittiba’ diperkenankan dalam agama. Kelima. an-Nahl : 44). Maka kalimat seperti “la’allakum tatafakkaruun” (mudah-mudahan kamu berfikir). Hukumhukum syari’at tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Mu`dal dan Mursal.

sinonim dengan kata burhan yang mempunyai arti petunjuk. Sumber hukum syar'i yang merupakan kumpulan-kumpulan dalil yang darinya hukum-hukum syariat digali. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. tentunya berdasarkan pembenaran dan penelitian yang cermat lafadz tersebut menunjukan wajibnya shalat karena suatu perintah memberikan makna wajib. Kata dalil berasal dari bahasa Arab yaitu. prinsipprinsip umum syariat Islam. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. maka kita akan mendapatkan dua kategori. yang secara substansi dari al-Sunnah itu berasal dari Allah. madzhab Sahabat. Maka. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. dan ayat-ayat tentang mu'ammalah ini banyak mengisi lembaran-lembaran al-Quran. dalam ayat-ayat hukum di bidang mu'ammalah pada umumnya disebutkan atau disyariatkan hikmah atau 'illat hukumnya. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. akan tetapi tak sedikit ulama yang mengabaikan dan menjauhinya. Hadits Mudallas. agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami ayat-ayat alQuran maupun al-Hadits Rasulullah.Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. mudallas. yaitu dengan menyamakan hukum satu dengan hukum yang lainnya. Hadits Mudraj. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. dan banyak kekurangan. Abdul Wahab Kholaf berpendapat dalil sebagai sesutu yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis. yang merupakan milik semua manusia. Imam Muslim. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. hanyalah lafadznya saja. Dalam ijma' sendiri itu ijmanya siapa. Dalam ushul fiqih dijelaskan batasan akal manusia dalam memahami wahyu Allah. istihsan. Sumber hukum ini masih bayak menuai pertentangan. yang lafadz dan substansinya berasal dari Allah.6 Yaitu petunjuk yang menunjukan kepada madlul (sesuatu yang ditunjuk).). Namun jika kita melihat dalil dari sisi asal dalil sendiri. tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. PENDAHULUAN Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama hukum Islam. Mujtahid sama seperti kita. Mayoritas bersifat umum. Ayat tersebut menyuruh kita untuk mendirikan shalat. terjaga muruah (kehormatan)-nya. Sesungguhnya pertentangan-pertentangan dalil yang terjadi hanya sebatas ketidakmampuan akal manusia memahami wahyu-wahyu Allah. baik yang mengetahui maupun tidak tahu. ada sebagian ulama yang tidak mengakuinya. Ada baiknya ayat-ayat yang bertentangan dibahas dan dimengerti oleh semua orang agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami dalil-dalil hukum yang terdapat al-Quran maupun al-Sunnah. Adapun ta'arudh yang terjadi dalam dalil-dalil hukum Islam dewasa ini hanyalah sebatas ta'arudh Dzahiri. hukum Islam berkembang dalam sejarah. Dijelaskan dalam al-Quran Surat al-Nisaa' pada ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut. baik berupa al-Quran ataupun Sunnah Rasulullah disyaratkan mengetahui secara kaidahkaidah ushul fiqih. serta matannya tidak syadz serta cacat. dan syaru' man qablana (syariat kaum sebelum Nabi Muhammad SAW. yang melawan Ali pada Perang Jamal. Ilmu ushul fiqih merupakan salah satu bidang ilmu keislaman yang penting dalam memahami syariat Islam dari sumber aslinya.5 Apabila menemukan ayat yang bertentangan kemudian dikaji. mu’allaq. 2. Tidak sedikit dalil-dalil hukum yang saling bertentangan. maslahah mursalah. ijma' ahli madinah. Hadits Syadz.Al-Istibsaar. II.Sumber hukum yang disepakati oleh Jumhur ( mayoritas ) ulama. Metodologi ijtihad dewasa ini dikenal dengan ushul fiqih. Imam Bukhari dan Imam Muslim. baik dalam sanad atau pada gurunya. Adapun al-Sunnah termasuk kategori ini karena merupakan sumber hukum yang substansi dari Sunnah sendiri adalah Allah. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. seorang mujtahid3 dapat memastikan posisi akal dalam memahami wahyu Allah SWT. dan kuat ingatannya.Al-Tahzeeb. berakhlak baik. ketika berupa analogi suatu hukum terhadap hukum yang belum diketahui adalah qiyas. istri Muhammad saw. dan yang termasuk istidlal sendiri bermacam-macam seperti istihsan. Sedangkan dalil-dalil yang tidak termasuk wahyu. ‫ولو كان من غير ال لوجدوا فيه اختلفا كثيرا‬ Artinya: Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah. istishab. mereka berbeda-beda pendapat. Di samping itu. tentunya. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)_Sunan an-Nasa`i. Aturan-aturan ini. Dengan berpegang kepada metode ushul fiqih. Semua ulama sepakat bahwa al-Quran dan al-Sunnah merupakan sumber hukum syariat Islam. dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. Sedangkan dalil menurut Muhammad Wafa'. sehingga hukum Islam dapat berkembang sesuai dengan tuntutan manusia dan Zaman. Ulama ushul fiqih kontemporer Wahbah zuhaili memaparkan analisisnya mengenai dalil-dalil yang terkumpul dalam sumber hukum. dapat dipahami bahwa dalil yaitu sesuatu yang dengannya kita dapat memperoleh status hukum berdasarkan dengan keyakinan atau praduga. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. PERTENTANGAN ANTAR DALIL QATH’I DAN PENYELESAINNYA (Oleh Muhammad Wildan) I. Imam Abu Daud. Namun demikian. Dalil dalam Perspektif Sumbernya Berbicara tentang dalil. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. dipahami. Mujtahid sangat berperan dalam menentukan hukum Islam dewasa ini. yang tentunya menggunakan metode yang benar yang bersifat praktis ataupun relatif. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. yaitu sesuatu yang dapat mengantarkan atas apa yang dicari yang berupa kepastian berdasarkan keyakinan maupun praduga berdasarkan rajhan (keunggulan) dan taghlib (keumuman). sangat mustahil terjadi. Dalam pembahasan ta'arudh al-dilalah (pertentangan antar dalil). apabila merupakan kesepakatan dan analisis para mujtahid maka dinamakan ijma'. Sumber hukum dalam hal ini yang kita bahas adalah hukum syar'i.Sumber hukum yang menjadi perdebatan ulama. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). Sumber-sumber hukum dalam hal ini ialah 'urf (tradisi). Akan tetapi ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah dijelaskan oleh Rasulullah SAW secara rinci dan jelas dalam sunnahnya. Terlepas dari perdebatan para ulama. Ada juga sumber dalil yang diikutkan dalam kategori seperti ijma'. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib.9 Membaca keterangan di atas. istihsan (anggapan baik tentang suatu hukum). dengan dalih karena kesamaan illat (alasan) kedua dalil. ijma' ahlul bait (keluarga Rasulullah) ataukah ijma ummat. istihsan. Perlu dicatat dalam usaha menggali makna al-Quran dan al-Sunnah serta rahasia-rahasia hukum yang tersirat di dalamnya. dengan cara menyatukan dalil-dalil hukum yang mengalami kontradiksi. Adapun sumber dalil yang termasuk dalam hal ini seperti qiyas. perintah mendirikan shalat juga perintah wajib untuk melaksanakan shalat. Ada beberapa sekte dalam Syi`ah. disusun oleh Bukhari (194-256 H)_Shahih Muslim. pada umumnya disebutkan pokok-pokoknya saja. Syi`ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi`ah diklaim memusuhi Ali. dan penerapannya dalam kehidupan manusia. memiliki sifat istiqomah. batasan ringkas mengenai ini adalah adakalanya berupa wahyu atau bukan. maka kita harus mengetahui dulu definisi dari dalil sendiri. dan maslahah mursalah. karena orang yang dapat mengetahui isi atau kandungan hukum dalil-dalil syariat Islam yaitu mujtahid. terbukti banyak hadits qudsi. yaitu sebagai berikut11. seperti metode qiyas. apalagi ayat-ayat yang belum jelas makna dan maksudnya terbuka lebar bagi para mujtahid untuk menafsiri ayat tersebut. Ulama ushul fiqih dalam hal ini membagi sumber hukum syari' kepada tiga bagian10 yaitu sebagai berikut: 1. Hadits Maudu`. termasuk: Shahih Bukhari. Selain itu. Hadits Mu`allal. baik itu berupa al-Quran ataupun al-Sunnah. dibahas. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. Oleh karena itulah al-Sunnah menempati urutan kedua setelah al-Quran. yang terdapat dalam alQuran ataupun al-Sunnah. Pada dasarnya al-Quran dan al-Hadits tak akan menuai pertentangan diantara keduanya.4 Setelah membaca ayat di atas dapat disimpulkan bahwa al-Quran maupun al-Hadits tidak mungkin mengalami pertentangan.Shahih Bukhari. manusia. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. Imam Turmudzi. Melalui ilmu ushul fiqih dapat diketahui kaidah-kaidah. Seseorang yang ingin memahami dalil syara'. juga mengandung hukum-hukum yang masih memerlukan penafsiran dan mempunyai potensi untuk berkembang. Maksudnya. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan di dalam memahami dalil-dalil yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. dan syariat kaum sebelum kita. Hadits Mudlthorib. yang menjelaskan hubungan antarmanusia. Diterangkan bahwa ayat-ayat al-Quran. Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi`ah Muslim Syi`ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. istishab (pengambilan hukum berdasarkan keberadan hukum pada masa lampau). cara memahami suatu dalil. meskipun hakikat dari pertentangan dalil-dalil syara' itu tidak mungkin terjadi. Sedangkan apabila tidak memiliki kriteria-kriteria di atas maka dinamakan istidlal (mencari dalil). terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq `Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. Hadits Munqalib. Adapun yang termasuk sumber hukum atau dalil adalah al-Quran dan al-Sunnah. 2. disusun oleh Muslim (204-262 H)_Sunan Abu Daud. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi. sumber hukum yang termasuk pembagian ini adalah sumber hukum yang diakui dan dipakai oleh ulama. Al Arba`ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)_Sunan at-Turmudzi. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. disusun oleh an-Nasa`i (215-303 H)_Sunan Ibnu Majah. adapun sumber hukum yang termasuk dalil naql ialah al-Quran dan al-Sunnah. baik yang statusnya qathi' (pasti) maupun zhanni8 (relatif).Sumber hukum yang telah disepakati oleh semua ulama Islam. tentunya ijma dan qiyas menuai perdebatan. Sebagian ulama masih belum mengetahui ijma'.dalil aqli (akal) yaitu dalil yang cara pengambilan hukumnya melalui penalaran logis yang berdasarkan dengan akal. Meskipun. ijma' mujtahid sepanjang masa. tentunya yang namanya manusia tidak akan lepas dari kesalahan. Imam Bukhari. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. sehingga peluang untuk mengembangkan hukum terbuka lebar dengan berbagai metode. dan menerima berbagai macam penafsiran serta berbagai prinsip-prinsip dasar yang dalam bentuk aplikatifnya memerlukan aturan tambahan. Pengertian Dalil Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas pertentangan dalil-dali qathi'. Imam Bukhari.12 Adapun dalil yang merupakan wahyu adakalanya dibacakan seperti al-Quran dan ada juga yang tak dibacakan seperti al-Sunnah. 1. Hadits Mungkar. Dengan penerapan metodologi itulah. Tentunya. Hadits Maqlub.DALIL a. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. tentunya tidak akan lepas dari pembahasan sumber-sumber hukum. meskipun pelaku dari al-Sunnah sendiri itu Nabi Muhammad SAW. .Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin.Sanadnya bersambung. melalui Fatimah az-Zahra. Adapun yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. akan tetapi ayat-ayat al-Quran mengenai mu'ammalah (hubungan antaramanusia dengan manusia) ini hanya sebagian kecil saja yang langsung disebutkan hukumnya dalam al-Quran secara tegas dan terperinci. Dan sampai sekarang pun perdebatan tersebut masih diperbincangkan. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma`lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu`tal (Hadits sakit atau cacat). Karena kebanyakan ayat-ayat yang bertentangan itu terdapat di dalam pembahasan mua'ammalah. Perkembangan hukum-hukum Islam tentunya tak mungkin bisa lepas dari peran para Mujtahid (orang yang mampu menggali hukum) yang telah merumuskan metodologi ijtihad. sasaran dalil sendiri ada kalanya berupa perkara baik atau buruk. Dalam tulisan ini penulis mencoba mencari jalan keluar dari pertentangan tersebut. Mustahil bagi Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengusai menciptakan suatu hukum yang bertentangan. mengandung kejanggalan atau cacat. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan dalil yaitu sesuatu yang bisa mengantarkan kita sampai kepada hasil yang bersifat khobar (hukum) dengan penelitian yang benar7berbeda dengan definisi di atas. Sedangkan dalil menurut ulama ushul fiqih. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. mana yang harus diterima dan mana yang boleh bahkan harus melalui proses pemikiran akal. Hadits Dhaif (lemah). padahal sebenarnya ada. ijma' Sahabat. Dengan kemapuannya ayat al-Quran maupun al-Hadits dapat diketahui maknanya. tidak lepas dari peran seorang mujtahid. b. Menurutnya. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta` dari Imam Malik. dan istishab. Seperti halnya dalil diwajibkannya shalat yaitu ayat alQuran: ‫اقيمواالصلة‬ Yang mempunyai arti dirikanlah shalat menunjukan perintah untuk melaksanakan shalat. Yang termasuk sumber hukum golongan ini ialah ijma' atau kesepakatan para ulama dan qiyas. tidak fasik. meskipun ada sebagian orang yang dapat memahami al-Quran ataupun al-Sunnah yang belum termasuk golongan mujtahid. terbuka. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu`allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. Mereka yang tak mengakui qiyas sebagai sumber hukum masih ragu dalam cara pengambilan hukum dengan metode qiyas sendiri. sehingga sekilas terjadi pertentangan. Dalam bidang mu'ammalah. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. tentunya dengan kaidah-kaidah yang benar. seperti Aisyah. Imam Muslim dan Ibnu Majah. maslahah mursalah (pengambilan hukum yang berprinsip kemaslahatan secara bebas). dengan mengutip dari pemikiran dan metodologi para ulama Islam yang telah bersusah payah dalam menggali dan menyatukan dalil-dalil yang bertentangan. dan maslahah mursalah. Hadits Hasan. di samping mengandung hukum-hukum yang sudah jelas dan rinci yang menurut sifatnya tidak berkembang. kelemahan. Imam Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. Banyak ulama ushul fiqih yang telah mencurahkan pikirannya untuk memahami apa yang terdapat dalam wahyu Allah SWT. dan disatukan maka jelaslah ayat yang bertentangan tersebut tak ada pertentangan sedikit pun. karena antara mujtahid satu dengan mujtahid yang lain berbeda dalam memakai metode pengambilan hukum.dalil naqli (dogmatik). Ayat hukum yang menyangkut ibadah. As Sab`ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). Tak berbeda dengan ijma'. 3. qiyas juga tak diakui sebagai sumber hukum oleh sebagian ulama.

Mengawini saya. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. Dikarenakan al-Quran dan al-Sunnah menjadi sumber hukum syariat Islam yang tergolong primer. Yaitu."ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan. baik yang hamil maupun yang tidak hamil.Al-Tarjih (menguatkan) Apabila dengan metode mengumpulkan dan mengkompromikan dalil yang mengalami kontradiksi tidak dapat ditemukan jalan keluarnya. Dalam metode yang kedua ulama jumhur menggunakan metode al-tarjih. yaitu menguatkan salah satu dalil yang mengalami kontradiksi.17 adapun Abdul Wahab Kholaf mendefinisikan ta'arudh dengan pertentangan antara dua nash atau dalail (bentuk jamak dari dalil) yang sama kuatnya. secara otomatis kedua penunjukan hukum seperti ini tidak menunjukan adanya pertentangan. Selain itu juga ditambah dengan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil qathi' maupun zahnni. maka secara otomatis dalil qathi' yang didahulukan." (QS."25(QS. Adapun Hadits yang pertama menjelaskan bahwa Rasulullah mengawini Maemunah dalam keadaan tidak berihram. serta sejauh mana logika mereka dalam membahas suatu hukum. Dalil pertama mengatakan bahwa nikah ketika sedang ihram hukumnya boleh.. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. Dengan metode tarjih seorang mujtahid bisa menetapkan hukum berdasarkan dalil yang lebih kuat dari pada dalil yang lemah. maha mengetahui. yang muatannya bermuara kepada al-Quran dan al-Sunnah. ketika dalil tersebut hanya memenuhi beberapa syarat. waktu 'iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Terbukti daengan sifat 20-Nya. Ditambah Hadits masyhur menurut pendapat ulama Hanafiayah. 2. sedangkan Hadits yang kedua menjelaskan bahwa Nabi mengawini Maemunah dalam keadaan ihram. maka tertib urutan sumber hukum yang pertama adalah al-Quran. Apabila di dalam al-Sunnah tidak ditemukan maka. tentunya tidak melupakan pedoman dan kaidah-kaidah dalam al-Quran dan al-Sunnah.33 Seperti contoh pertentangan yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 180 dengan surat al-Nisa ayat 11. Apabila waktunya sudah berbeda dalam penunjukan hukum.kedua dalil tersebut berada dalam derajat yang sama dalam penunjukan hukum. baik yang disepakati ulama dalam penetapannya maupun yang masih menjadi bahan perdebatan. dan lafadz muthlaq kepada lafadz yang muqayyad32. (HR. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. Tidak hanya itu. Ulama ini berpendapat ketika terjadi pertentangan dua dalil. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. berdasarkan alasan di atas. yang harus di depankan."(QS. berdasarkan dengan Ayat al-Quran. Jika kita kaji. sedangkan Hadits Ahad termasuk dalam dalil zhanni. sumber-sumber hukum dalam Islam yang di dalamnya merupakan rujukan dalil-dalil hukum. dan lain sebagainya. jual beli. Karena sumber-sumber hukum tidaklah ditetapkan keabsahannya melalui potensi akal.16 Berbeda dengan pendapat Imam Syaukani mengenai ta'arudh..antara dalil yang mengalami pertentangan harus terjadi dalam satu masa dalam menentukan hukum. Selain itu juga mencakup kaidah-kaidah universal yang menjadi rujukan hukum-hukum parsial ataupun sekunder seperti ijma' dan qiyas yang merujuk dari kaidah-kaidah al-Quran dan al-Sunnah. hanya saja berbedanya cara pandang ulama.Pengertian Pertentangan antar Dalil Pertentangan dalam istilah ulama ushul fiqih adalah ta'arudh. Apabila dalam al-Quran tidak ditemukan maka merujuk kepada al-Sunnah. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. yang sekiranya dalil tersebut bisa menguatkan salah satu dalil yang bertentangan. b. mengawini maemunah. Hal ini berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal ketika diutus oleh Rasul ke Yaman sebagai Qadhi (juru hukum).. Adapun ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. jika ia meninggalkan harta. istihsan dan lain sebagainya. diantaranya yaitu maha berkuasa. sedangkan beliau keadaan ihram".. Hadits Nabi. Maka.22 Tidak ada perentangan antara al-Quran dengan Hadits Ahad. Alasan mereka berdasarkan kaidah mengamalkan kedua dalil lebih baik daripada mengabaikan salah satu dalil. al-Baqarah: 180)26 ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين‬ Artinya:"Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. Al-Baqarah: 180) ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين الية‬ Artinya: "Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. Ketika terjadi ta'arudh akan tetapi waktu penunjukan hukum ayat itu berbeda maka ayat tersebut bisa disatukan. Ketika ada dalil yang tampak bertentangan akan tetapi.al-Quran memerintah kan untuk mengamalkan dan berpedoman dengan al-Sunnah. al-Sunnah dengan al-Sunnah). 2. Adapun menurut ulama hanafiyah ditambah dengan hadits masyhur.Meneliti Hukum36 Cara ini dapat dilakukan dengan mendahulukan hukum haram atas hukum halal." Kemudian Rasulullah menepuk dada Mu'adz dan berkata.kedua dalil yang bertentangan berbeda dalam menentukan hukum. yang merupakan sandaran dari dari ijma' sendiri adalah al-Quran dan al-Sunnah...Dalil qathi' yaitu dalil yang diyakini datang dari syara'. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih yang berbunyi ‫اذا اجتمع الحلل والحرام غلب الحرم‬ Artinya "Apabila berkumpul antara halal dan haram.Jumhur Ulama (Kebanyakan Ulama) Para ulama ini yang kebanyakan adalah pengikut Imam Syafi'i.19 Adapun kontradiksi yang terjadi hanyalah sebatas ketidak mampuan akal para ulama untuk mengetahui maksud dari dalil-dalil kontradiksi tersebut. Abu Dawud)29 Secara zhahir kedua Hadits di atas mengalami kontradiksi dalam menentukan hukum nikah dalam keadaan ihram. Ketika dalam ijma' tidak ditemukan barulah pengambilan hukum ditetapkan dengan akal. Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan.. tidak disebut ta'arudh. Abu Dawud)28 ‫عن ابنعباسرضياللهعنهماانالنبيصلي اللهعليهوسلمتزوجميمونةوهومحرم‬ Artinya:"Dari Ibnu Abbas ra.. dan keduanya berbeda dalam menentukan hukum.18 Dari keterangan di atas penulis memberi titik tekan dari ta'rudh yaitu kontradiksi dua dalil yang berbeda.35 Perlu diketahui penguatan dalil dalam hal ini terjadi dengan sendirinya. Adapun selain dari keduanya adalah hasil dari manifestasi akal manusia.kedua dalil yang mengalami pertentangan berada dalam satu hukum (satu masalah).. "saya akan memutusinya dengan Sunnah Rasulullah" Nabi kembali bertanya.34 b. Dewasa ini ulama ushul fiqih terdapat dua pendapat dalam menyelesaikan ta'arudh. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. Hirarki Dalil dalam Pemakaiannya Bila ditelusuri lebih jauh. seperti al-Quran dengan al-Quran." III. 2. kedua dalil tersebut berbeda dalam menunjukan hukum. Rasulullah bertanya pada Mu'adz. maka al-Quran adalah sumber dari segala sumber-sumber hukum Islam. Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan. 2. c. baik itu golongan mutaakhirin (ulama ushul fiqih yang mengikuti Imam Syafi'i) ataupun ulama Hanafiah sepakat bahwa hakikat dari ta'arudh dalam syariat Islam yang di dalamnya merupakan kumpulan dalil-dalil hukum mustahil terjadi. Al-Talaq: 4) Pada ayat 234 surat al-Baqarah menjelaskan bahwa wanita-wanita yang ditinggal mati suaminya. ayat tersebut adalah: ‫كتب عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربينالية‬ Artinya:"Diwajibkan atas kamu. baik cerai mati maupun cerai hidup. Sesungguhnya Rasulullah SAW. berupa ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang mutawatir. Al-Nisa: 11) Kedua ayat di atas menunjukan pertentangan. Jadi yang dimaksud pertentangan dalil qathi'' yaitu kontradiksi antara dua dalil yang diyakini datang dari syara'. sedangkan kami dalam keadaan tidak ihram" (HR. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. maka metode yang ditempuh untuk keluar dari kontradiksi tersebut adalah sebagai berikut:31 a.23 yang seperti ini dikarena perbedaan metode ulama dalam memahami dalil-dalil suatu hukum. 3. Dari semua syarat juga harus dipenuhi oleh dalil yang ta'arudh. Jadi tidak mungkin Dzat yang mengetahui dan berkuasa membuat aturan yang kontradiksi. sedangkan dalil yang lain menentukan hukum yang berbeda dengan hukum tersebut.Dalil zahnni yaitu dalil-dalil syara' yang sampai kepada kita tidak dengan cara mutawatir."37 Contoh dalil yang bertentangan yang diselesaikan dengan cara tarjih yaitu Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di bawah ini : . Atas jasa mereka kita dapat mnegetahui makna dalil-dalil hukum yang dijadikan pijakan untuk memutuskan hukum suatu perkara. Adapun ta'arudh yang terjadi dewasa ini hanyalah ta'arudh zhahiri (kontradiksi sekilas saja). tetapi ketika turun ayat yang menunjukan bahwa arak haram." (QS. Dengan demikian.20 Sumber hukum Islam primer yang berasal dari Allah SWT. mereka juga telah memberikan solusi jika terjadi pertentangan antar dalil. 'iddahnya (masa menunggu) adalah empat bulan sepuluh hari. Apabila terjadi pertentangan antara dalil qathi' dan zahnni. Apabila dalil-dalil qathi' maupun zahnni terjadi pertentangan serta memenuhi syaratnya. al-Nisa: 11)27 Pada ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. Karena itulah al-Quran dan al-Sunnah menjadi dalil primer dalam mementukan suatu hukum. al-Sunnah dengan al-Sunnah. Dengan demikian kedua ayat di atas terdapat kontradiksi kandungan dalam kasus wanita hamil yang ditinggal mati suaminya. yaitu ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang mutawatir. pada dasarnya konsentrasi terhadap sumber hukum naqliyah (dogmatik). Disebabkan alSunnah merupakan penjelas dari kandungan al-Quran sendiri. Ijma'.Dan perempuan-perempuan yang hamil. dan merintangi. ‫كتب عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربين‬ Artinya: "Diwajibkan atas kamu. ‫عن ميمونة قالت تزوجني رسوال صلي ال عليه وسلم ونحن حللن‬ Artinya:"Dari Maimunah ra. maka dimenangkan yang haram. Seperti arak pada masa awal Islam hukumnya boleh. Contoh dalil qathi' yang mengalami pertentangan 1. jika ia meninggalkan harta.21 Seperti hukum nikah ketika ihram (rukun haji).Mencari Dalil yang Lain yaitu dengan cara mencari dalil-dalil yang lain baik itu berupa ayat al-Quran. tidak dikuat-kuatkan oleh manusia. Para ulama memberikan syarat-syarat ta'arudh apabila dalil yang kontradiksi memenuhi syarat: 1.al-Sunnah mempunyai fungsi sebagai penjelas dari kandungan al-Quran. Imam Maliki dan golongan Zhahiriyah.15 Sedangkan ta'arudh secara terminologi menurut Ali Hasbullah yaitu terjadinya pertentangan hukum yang dikandung satu dalil dengan hukum yang lain.Surat al-Baqarah ayat 180 kontradiksi dengan surat al-Nisa ayat 11. PERTENTANGAN ANTAR DALIL QATHI' a. Penunjukan Hukum Dalil Apabila kita melihat dalil dalam segi penunjukan hukum maka kita akan menemukan dua pembagian yaitu sebagai berikut: 1. serta dengan cara memilih salah satu hukum dengan cara mangambil hukum yang khusus daripada dalil yang umum. baik itu qath'i maupun dalil zahnni. Surat al-Nisa ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut: ‫ولو كانمنغيراللهلوجدوافيهاختلفاكثيرا‬ Artinya:Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah. kita analisa sebenarnya pertentangan itu tidak ada.Hakikat Ta'arudh Para ulama ushul fiqih. ijma' dan qiyas."(QS. oleh karena itu muatan dari keduanya mencakup hukumhukum yang parsial dan cabangnya secara detail. maka tidak disebut ta'arudh (pertentangan). "bila di dalam Sunnah Rasul pun tidak kau temukan?" Mu'adz menegaskan. menghadapi. seperti qiyas. akan tetapi ada dalil lain yang menerangkan bahwa nikah pada saat sedang melakukan ihram hukumnya haram. Karena itu apabila menetapkan suatu hukum maka alQuran sebagai dalil pertama dan utama. sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. seperti halnya hukum zakat. 4. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. yaitu sebagai berikut: 1. sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya.. tidak mungkin terjadi kontradiksi antar al-Quran maupun al-Sunnah yang merupakan wahyu-Nya. maka dalil tersebut tidak dinamakan pertentangan. dan masih ada syarat yang belum terpenuhi. Cara ini dapat dilakukan dengan cara menta'wilkan lafadz yang umum kepada lafadz yang khusus. baik itu kontradiksi antar dalil qathi' maupun zahnni. yakni al-Quran dan alSunnah. PENYELESAIAN TA'ARUDH Kita harus berterima kasih kepada para ulama atas kesungguhannya dalam menggali dan membahas hukum-hukum Islam. karena alQuran dalam penunjukan hukumnya adalah sebagai dalil qathi''. "segala puji bagi Allah yang memberikan petunjuk pada utusan Rasulullah dengan apa yang diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya.... maka yang seperti inilah yang dinamakan ta'arudh. perujukan hukum mengambil dari ijma'. yang kedua dalil tersebut terdapat dalam satu derajat atau tingkatan (ayat al-Quran dengan ayat al-Quran. tidak mungkin terjadi kontradiksi antara satu dengan lainnya. Yaitu. dan terjadi dalam satu martabat atau derajat (sumber hukum yang sama kuatnya dalam pengambilan hukum). Sedangkan pada surat al-Talaq menyatakan bahwa wanita-wanita yang hamil 'iddahnya sampai melahirkan kandungannya.13 d. IV. Akan tetapi para ulama sepakat pertentangan antara dalil yang qathi' dan zhanni tidak mungkin terjadi.c. lafadz yang dhahir kepada lafadz nash. dan qoulu Sahabat. Dengan seperti ini sudah tidak ada pertentangan antara kedua ayat tersebut. sanksi pelanggaran. Rasulullah bertanya lagi "bila kau tidak menemuinya di dalam kitab Allah?" Mu'adz menjawab.Al-Jam'u wa talfiq bain al-Muta'aridhain (mengumpulkan dan menkompromikan dalil yang bertentangan) Metode yang pertama digunakan ulama ini adalah mengumpulkan dan mengkompromikan dalil yang bertentangan.Syarat-sarat Ta'arudh Yang dimaksud syarat di sini adalah sesutu yang menyebabkan terjadinya ta'arudh.Adapun al-Sunnah menjadi sumber hukum primer berdasarkan dua alasan yaitu: 14 1. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. Qiyas. Ayat yang kedua juga berlaku bagi wanita yang dicerai suaminya. yaitu pertentangan dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap satu persoalan. Adapun kontradiksi antar dalil qathi'' tidak akan pernah terjadi. yaitu mena'wil ayat yang pertama untuk berwasiat kepada calon ahli waris karena berbedanya Agama yang manjadikan terputusnya hak waris. yang berbunyi sebagai berikut: ‫والدين يوتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن أربعة اشهر وعشر‬ Artinya: "Orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beri'ddah) empat bulan sepuluh hari.al-Baqarah: 234)24 ‫وأولت الحمال أجالهن أن يضعن حملهن‬ Artinya: ". Ayat ini berlaku secara umum bagi wanita yang ditinggal mati suaminya. Jumhur ulama sepakat metode yang kedua digunakan adalah dengan cara al-tarjih. "saya akan berijtihad berdasarkan dengan pendapat saya. Adapun pentarjihan dua dalil yang bertentangan dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut: 1. ataupun qiyas dengan qiyas." (QS. dengan cara apa kau memberikan putusan?" Mu'adz menjawab "saya akan memutusinya dengan kitab Allah".Ayat 234 surat al-Baqarah dengan ayat 4 sutat al-Thalaq.. diikuti dengan al-Sunnah. 2. dan saya akan berhati-hati dalam menerapkannya.. Menurut bahasa ta'arudh mempunyai brrbagai arti diantaranya adalah menentang. Kedua dalil qathi' yang bertentangan dapat diselesaikan dengan metode al-jam'u dengan cara ta'wil. berdasarkan petunjuk dalil-dalil yang mendukungnya kemudian mengamalkan hukum dalil yang lebih unggul dan mengabaikan dalil yang lemah. Rasulullah SAW.

yang bukan fardlu ataupun wajib. maka harus menyatukan dan mengkompromikan kedua dalia yang saling bertentangan.Al-Nasakh (Membatalkan) Arti bahasa dari al-nasakh adalah membatalkan. adalah metode yang sama. Yaitu.baik berupa perkataan. perbuatan ataupun taqrir yang bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i.41 Cara ini ditempuh ketika kedua cara di atas yaitu mengumpulkan kedua dalil serta menguatkan salah satu dalil tidak bisa menjadi jalan keluar dari pertentangan. Adapun definisi al-Quran secara terminologi adalah Firman Allah yang berbahasa Arab. Manusia hanya bisa mendekati saja. Menurut mereka. Sunah menurut istilah ahli ushul fiqh adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi-selain al Qur’an. Muhammad Ali Daud dalam kitab Ulum al-Quran wa al-Hadits. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut dengan al-Quran karena surat. yaitu dengan memilih salah satu dalil yang dikehendaki tanpa menganggap adanya pertentangan antara dalil yang ada. Oleh karena itu. Menurut Imam al-Fara’ kata al-Quran diderivasi dari noun (kata benda) qarain.Ulama Hanafiah Menurut golongan ini. Oleh karena itu. beesabda" berbuatlah segala sesuatu (terhadap isterimu yang sedang haidh) selain bersetubuh".Al-Jam'u wa talfiq bain al-Muta'aridhain 4. menjawab. Pada dasarnya metode yang digunakan oleh dua golongan. apabila syarat dari ta'arudh tidak terpenuhi. Menurut mereka. tapi ada sebagian ulama yang berpendapat. setiap khabar belum tentu dapat disebut dengan hadits. Pada kasus ini ulama Jumhur menguatkan Hadits yang pertama. 5. Imam al-Asy’ari dan sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa kata al-Quran diderivasi dari masdar (abstract noun. orang yang sedang membaca al-Quran berarti ia sedang memperlihatkan dan mengeluarkan al-Quran. Rasulullah SAW. Pembatalan ini menurut Abdul Wahab Khallaf. Kedua. Ketika dalil yang bersifat qathi' mengalami kontradiksi dengan dalil qathi' atau yang lainnya. (HR. Menurut al-Lihyani kata al-Quran diderivasi dari fi’il qaraa yang mempunyai arti membaca. atsar adalah perkataan. Jamaknya adalah hudtsan. Oleh sebab itu. Sunah menurut istilah Muhadditsin adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan. Rasulullah SAW. Akan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw."(QS. tidak diderivasi dari kosakata apapun. menciptakan dalil yang saling bertentangan. Pengertian Hadits Qudsi . dengan mencari jalan keluar dari pertentangan yang ada. Dengan demikian. Khabar mempunyai arti yang lebih luas dari hadits. yang di dalamnya tiada ikut campur sedikitpun akal manusia dalam menentukan dalil naqli.فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صادقين‬ “maka hendaklah mereka mendatangkan khabar yang sepertinya jika mereka orang yang benar” (QS. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling kuat. Seperti contoh ayat al-Quran surat al-Baqarah pada ayat 180 dengan ayat al-Quran surat al-Nisa pada ayat 11 di bawah ini :‫كتب‬ ‫عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربينالية‬ Artinya:"Diwajibkan atas kamu. Al-Baqarah: 180) ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين الية‬ Artinya:"Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. dengan mengoptimalkan fungsi dari akal dalam memecahkan hukumhukum Islam yang kekinian.Tatsaquth al-Dalilain (Meninggalkan keDua Dalil) Metode ini ditempuh ketika cara nomer satu sampai nomer tiga tidak bisa menjadi jalan keluar dari pertentangan dalil yang ada. Di dalam kontradiksi antara dalil tersebut tentunya mempunyai aturan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Hadits petama menegaskan hukum haram berbuat sesuatu diantara pusar dan lutut terhadap isteri yang sedang haidh. sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah SAW. maka tampak sekilas terjadi kontradiksi antara satu dengan dalil yang lainnya. Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai definisi atsar ini. yaitu Jumhur ulama dan Hanafiah.. Oleh karena itu. Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. SIMPULAN Kebenaran hanya milik tuhan secara mutlak. dan Hadits Nabawi 1) Pengertian al-Qur’an Para ulama berbeda pendapat terkait dengan pengertian al-Quran dari segi etimologi. yaitu: 1. S al-Qiyamah: 17). tindakan. mencabut. secara otomatis salah satu dari dalil yang mengalami kontradiksi akan terabaikan. tidaklah pantas bagi seorang muslim yang terpelajar berpangku tangan mengandalkan karya-karya mereka.Nasakh 2. Allah juga menggunakan kata hadits dengan arti khabar. sebelum ulama meninggalkan kedua dalil yang bertentangan. menyebutkan enam pendapat berkenaan pengertian al-Quran dari segi etimologi ini. 3. dalil yang tidak dipakai hukumnya cuma tidak beramal. Sebagian ulama mutaakhirin tidak sependapat dengan pandangan yang menyatakan bahwa al-Quran bersumber dari fi’il (verb. Setelah para ulama mendapatkan jalan keluar atas kontradiksi yang ada. yang mayoritas terdiri dari ulama bermadzhab Hanafi meskipun madzhab Hanabiah juga mengikuti metode ini47. perbuatan dan taqrir beliau.Tarjih 3.45 Demikianlah metode jumhur ulama dalam menghadapi kontradiksi antar dalil. Menurut al-Raghib. Pengertian khabar Khabar menurut bahasa adalah berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain. Adapun urutan metode yang digunakan ulama Hanafiah adalah sebagai berikut:48 1. maukuf. ‫. Dengan sumbangan para ulama terdahululah permasalahan-permasalan dalam menentukan hukum Islam dapat diselesaikan.40 akan tetapi yang dimaksud membatalkan di sini adalah membatalkan hukum syara' yang ditetapkan terdahulu dengan hukum syara' yang sama yang datang kemudian (diakhirkan). dan huruf yang ada di dalamnya saling beriringan. ia diberi kesempatan untuk menempuh metode takhyir (memilih).42 Dengan diketahuinya dalil hukum yang datang awal dan akhir maka dapat diketahui mana dalil yang dibatalkan. Adapun hadits menurut istilah ahli hadits hampir sama (murodif) dengan sunah. oleh karena itu. Sedangkan hadits adalah perkataan. dan taqrir beliau. yang merupakan acuan para ulama dalam pengambilan suatu hukum. Oleh karena itu. Shahabat. Khabar adalah perkataan. kemudian berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebuh rendah. 4. Khabar menurut Muhadditsin adalah warta dari Nabi. ketika tarjih dengan mencari dalil yang lebih unggul diantara keduanya. terlebih dalil yang bersifat naqli (dogmatik) lain dengan dalil yang sifatnya bersumber dari manifestasi akal manusia.. Namun. Kata khabar sinonim dengan hadits. baik terpuji atau tidak. c. lawan dari qodim. d. yaitu mendahulukan hukum haram daripada hukum halal ataupun mubah. Sedangkan Hadits yang kedua membolehkan berbuat sesuatu antara pusar dan lutut kecuali bersetubuh. Adapun secara terminologi terdapat perbedaan pendapat terkait definisi khabar. Imam Syafi’i berpendapat bahwa al-Quran merupakan nama yang independent. hanya saja berbeda dalam urutan penggunaan metodolgi penyelesaian pertentangan. Dia berkata. ayat.46 2. kata kerja qaraa mempunyai arti memperlihatkan atau memperjelas. mustahil Allah SWT. perbuatan. Dari pendapat ini. tetapi ketika dilakukan pentarjihan maka jelaslah hukum berbuat sesuatu diantara pusar dan lutut. maka tidak akan terjadi kontrdiksi. (HR. orang yang meriwayatkan hadits disebut Muhadditsin dan orang yang meriwayatkan sejarah dan yang lain disebut Akhbari. 24). "segala yang berada di atas kain pinggang". Penerepan dari semua metode ini juga harus secara berurutan. diturunkan kepada Nabi Muhammad. mana dalil yang pertama duluan serta mana dalil yang datang kemudian. Pengertian sunah Sunah menurut bahasa adalah perjalanan (jalan yang ditempuh). hadits marfu’. para ulama harus mendahulukan hukum dari dalil yang datang belakangan. seperti halnya qiyas yang merupakan buah pikiran manusia. sehingga seakan-akan ia menjadi indikator bagi sebagian ayat yang lain tersebut. taqrir. jika ia meninggalkan harta. hadist-hadits Rasul dikatakan ahadits al Rosul bukan hudtsan al Rosul atau yang lainnya. Ketika terjadi kontradiksi disebabkan oleh ketidak mampuan akal manusia dalam memahami wahyu Allah secara menyeluruh. Pertama.. melainkan merupakan isim jamaknya. perbuatan. yaitu: 1. Dan menurutnya khabar murodif dengan hadits. Mengenai dalil yang tidak beramal hukumnya tetap qathi'. setiap hadits dapat disebut juga dengan khabar. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. hidtsan dan ahadits. dan ketetapan Shahabat. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara satu dalil dengan yang lainnya. Pengertian Atsar Secara etimologi atsar berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. Menurutnya. kata kerja) qaraa yang mempunyai arti mengumpulkan dengan dalil firman Allah:‫إن علينا جمعه وقرآنه‬ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ْ َ َ ْ ََ ّ ِ “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya”. 6. ketika menggunakan al-jam'u talfiq bain al-muta'aridhain maka. dan dalam pendekatannya manusia menuju kebenaran tak jarang kesalahankesalahan menyertainya. dan maktu’ bisa dikatakan sebagai khabar. Kemudian ulama menetapkan hukum berdasarkan dalil yang datang lebih akhir dari pada dalil yang datang lebih sebelumnya. "Apa yang boleh aku lakukan terhadap isteriku yang sedang haidh? ". At Thur. yang mungkin saja ulama membuat kesalahan dalam mementukan hasil hukum. Dengan demikian. 1) al jadid minal asyya (sesuatu yang baru). kata al-Quran merupakan masdar yang sinonim dengan kata qiraah. yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul. maka baru menggugurkan kedua dalil serta berijtihad dengan dalil yang lebih rendah kualitasnya atau derajatnya. baik setelah diangkat ataupun sebelumnya. ditulis di dalam mushaf. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. 2. Abu Dawud)39 Sekilas kedua Hadits mengalami pertentangan.‫عن حزامابنحكيمعنعمهانهسألرسولللهصلىاللهعليهوسلممايحللىمنإمرأتىوهىحائضقاللكمافوقالزر‬ Artinya: "Dari Hizam Ibnu Hakim dari pamannya. Suah menurut istilah Fuqoha adalah sesuatu yang diterima dari Nabi Muhammad saw. yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. Menurut ahli ushul hadits adalah segala pekataan Rosul. tentunya bukan kesalahan Allah dalam membuat dasar-dasar hukum syariat tetapi ketidakmampuan akal manusia untuk menuju kebenaranNya.. akan tetapi. seperti urusan pakaian.49 V. yang berupa ucapan. tentunya dengan tidak mengabaikan kesungguhan mereka dalam meluhurkan Agama Islam berupa. tentunya berbeda dengan dalil qathi' yang secara nyata datangnya dari Allah SWT. tindakan. sedangkan khabar dari selain Rosul.43 Jadi hukum yang dipakai dalam menentukan hak waris seorang anak adalah dapat diperoleh secara otomatis. dengan tanda kutip sang anak bukan orang kafir ataupun murtad. 2) Qorib (yang dekat) 3) Khabar (warta). setelah diangkat menjadi nabi. Hadits Qudsi. Ia merupakan nama yang khusus digunakan untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. STATUS DALIL YANG KONTRADIKSI Semua dalil al-Quran dan al-Hadits (mutawatir) yang merupakan dalil Naqli (dogmatik) sesungguhnya. Al-Nasakh dilakukan dengan membatalkan salah satu hukum yang dikandung dalam kedua dalil tersebut dengan syarat harus diketahui dulu.44 Jumhur ulama berpendapat seperti ini. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dinamakan dengan al-Quran karena ia mengumpulkan intisari beberapa kitab yang diturunkan sebelum alQuran. baik banyak ataupun sedikit. 3. Sebagian ulama berpendapat bahwasannya hadits dari Rosul. Dalam hal ini. (Q. dapat melemahkan musuh. kata benda abstrak) qiran yang mempunyai arti bersamaan atau beriringan. Menurut penelitian ulama Jumhur ayat 180 surat al-Baqarah dinasakh dengan surat al-Nisa ayat 11. Al-Nisa: 11) Pada ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. B. karena sudah ada dalil yang lebih jelas dan detail. baik setelah dingkat ataupun sebelumnya. 2.سورة الخلص‬ 2. tindakan. Jadi haram berbuat sesuatu kepada isteri yang sedang haidh diantara pusar dan lutut. pencarian hukum dengan menggali pada wahyu-wahyu Allah.Tatsaquth al-Dalilain Prakteknya tetap sama ketika menggunakan nasakh. tidak mungkin satu masalah dihukumi dengan dua hukum. maupun perjalanan hidup. sifat. bentuk jama’ (plural) dari qarinah yang mempunyai arti indikator. meskipun keduanya (suami dan isteri) tidak bersetubuh. dan ketetapan seseorang selain Nabi Muhammad. tidak ada keraguan dalam keqathi'an kedua sumber hukum tersebut. Jamaknya adalah sunan. Contoh wahyu al-Quran adalah:‫قل هو ال احد ال الصمد لم يلد ولم يولد إلخ . tentunya kedua dalil yang mengalami kontradiksi tidak bisa diamalkan semua. menurut ahli ushul sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum tidak tergolong hadits. yang terkadang menghendaki perubahan seiring dengan perubahan kondisi manusia itu sendiri. Imam al-Zajaj berpendapat bahwa kata al-Quran diderivasi dari noun (kata benda) qur-u yang mempunyai arti kumpulan. sunah lebih umum daripada hadits. Pengertian al-Quran. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan). berdasarkan dengan satu sumber dari pembuat hukum tersebut. Abu Dawud) 38 ‫عن أنسرضىاللهعنهقالقالرسولللهصلىاللهعليهوسلمإصنعواكلشيءغيرالنكح‬ Artinya "Dari Anas ra. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut dengan al-Quran karena sebagian ayatnya menyerupai sebagian ayat yang lain. Kemudian jika memang hal ini tidak memungkinkan. Melihat keterangan di atas telah diketahui hakikat dari dalil qathi. Jalan keluarnya adalah memakai satu hukum yang dipilihnya. guna merealisasikan kemaslahatan manusia. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. dalam firman-Nya. dan Tabi’in. Tatsaqut al-dalilain yaitu meninggalkan kedua dalil yang bertentangan." (QS. Sama juga seperti pertentangan antar dalil. Jamak ahadits-jamak yang tidak menuruti qiyas dan jamak yang syad-inilah yang dipakai jamak hadits yang bermakna khabar dari Rasulullah saw. kata atsar sinonim dengan hadits. dikarenakan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil tersebut. VI. dan ketetapan Nabi Muhammad. dengan syarat ke empat cara di atas harus ditempuh secara berurutan. dan menghapus. kelakuan. DEFINISI HADIST Pengertian Hadits menurut bahasa kata hadits memiliki arti. Ada juga yang berpendapat ahadits bukanlah jamak dari hadits. dan ditranformasikan secara tawattur serta membacanya termasuk ibadah. yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar atau salahnya Dari makna inilah diambil perkataan hadits Rasulullah saw.

Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). حديث انس ابن مالك‬ Setelah kita mengetahui masing-masing dari definisi al-Quran. 2. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: "Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. Aku pun menyebutnya di kalangan orang banyak yang lebih baik dari itu. f) Al-Quran ditransformasikan secara tawattur. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat. d) Al-Quran tidak boleh dipegang oleh orang yang mempunyai hadats. karena Hadits Qudsi bersifat dhanni al-Tsubut. . Dan. Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku di dalam dirinya. Hadits Qudsi. “Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith). Sedangkan secara terminologis. memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. Bagi pembaca semuanya. Maka dalam redaksinya sering memakai ‫. Ringkasnya. 2. Contoh hadits Qudsi adalah § ‫عن النبي قال. yaitu banyak salah lengah dalam menghafal 6. bukan pelupa yang banyak salahnya. artinya berasal dari Allah. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi ialah: 1. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran.. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. walaupun hanya satu surat. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya.sedangkan hadits qudsi tidak. tidak ber’illat dan tidak janggal. Perbedaan antara al-Quran dengan Hadits Qudsi: a) Al-Quran mampu mengungguli sastra Arab yang waktu itu merupakan sastra yang terbaik. الخ . sedangkan hadits qudsi adalah perkataan-perkataan nabi dengan mengatakan "Allah berfirman". Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. pengertian hadits qudsi terdapat dua versi. Adapun Hadits Qudsi.” Perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi Seperti yang kita ketahui bahwa Al-qur'an merupakan mu'jizat yang diturunkan oleh ALLAH kepada nabi Muhummad SAW dengan perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dan membacanya dianggap sebagai ibadah. sehingga ia berstatus dhanni al-Tsubut.Oleh sebab itu hadits qudsi disebut juga hadits illahi atau hadits robbany. sempurna ingatan. j) Pebedaan antara Hadits Nabawi dengan Hadits Qudsi antara lain: k) Hadits Nabawi dinisbahkan dan disampaikan oleh Nabi Muhammad. 3. Al-Quran juga tidak boleh dibaca oleh orang yang mempunyai hadats besar. 2. baik berupa perkataan. قال ال تعالى ثلثه انا خصمهم يوم القيامه… الخ. maupun sifat. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum.sedangkan bagi pambaca hadits qudsi tidak. menguasai apa yang diriwayatkan.sedangkan hadits qudsi lafadznya dari nabi dan maknanya dari ALLAH. hanya saja karena satu sebab tertentu. Hadits Yang Diterima (Maqbul) Hadits Shahih Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi.sedangkan bagi pambaca hadits qudsi tidak. boleh meriwayatkannya secara makna.semua lafadz (ayat-ayat) Al-qur'an adalah mu'jizat dan mutawatir. sehingga orang Arab tidak mampu membuat karya sastra yang seindah dan sebaik al-Quran. sanadnya bersambung-sambung. Adanya Kekurangan pada Perawinya 2.semua ketentuan hukum bagi Al-qur'an tentang membaca dan menyentuhnya tidak berlaku bagi hadits qudsi. حدبث ابن عباس‬ Contoh hadist berupa sifat (wasfi) ialah ‫كان رسول ال ربعة ليس بالطويل ولبالقصر حسن الجسم. Andaikata tidak ada 'Adhid. apabila dibaca di dalam shalat maka dapat menyebabkan shalat menjadi batal. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya). Sedangkan orang yang mengingkari Hadits Qudsi tidak dianggap orang kafir. Fasik. Dusta (hadits maudlu) 4. Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih.Oleh sebab itu hadits qudsi disebut juga hadits illahi atau hadits robbany. yaitu hadits yang kandungannya diterima oleh Nabi Muhammad melalui wahyu.. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. اخرجه البجخارى فى صحيحه‬ Contoh hadist berupa perbuatan (fi'li) ialah ‫كان النبي اذا اراد ان ينام وهو جنب غسل فرجه وتوضأ للصلة.tolong kasih komentar pada rangkuman saya ini. atau dari perenungan dan ijtihad beliau. حديث عائشة‬ Contoh hadist berupa ketetapan (taqriri) ialah ‫ان خالته اهدت الى رسول ال سمنا واضبا واقطا فاكل من السمن والقط واكل على مائدته‬ . l) Bentuk Hadits Nabawi ada dua macam: 1." Maka nabi SAW pun membolehkannya.رواه ابو هريرة‬ § Hadis Qudsi persangkaan seorang hamba kepada Tuhannya. Oleh karena itu. "Ya. g) Orang yang mengingkari al-Quran terkategorikan sebagai orang kafir. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits. Adapun mayoritas Hadits Qudsi ditransformasikan secara ahad (individual). maka ada baiknya kita juga membahas tentang perbedaan ketiga hal tersebut. Sedangkansecara istilah. 4.hadits qudsi marupakan titah tuhan yang dismpaikan kepada nabi melalui mimpi'kemudian diterangkan oleh nabi dengan bahasanya sendiri serta menyandarkannya kepada ALLAH. pengertian hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW. yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid.sedangkan hadits qudsi tidak. Penganut Bid’ah (hadits mardud) . Hal ini tidak berlaku pada Hadits Qudsi i) Di dalam al-Quran terdapat penamaan ayat dan surat untuk kalimat-kalimatnya. maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: Rawinya bersifat adil. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan.setiap huruf Al-qur'an yang dibaca mendatangkan pahala bagi pembacanya. Penyebab Tertolak : 1. kemudian beliau sampaikan kepada umatnya. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya.قال ال تعالى‬ 3.semua lafadz dan makna Al-qur'an bersumber dari ALLAH. Sedangkan Hadits Qudsi. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. ia berstatus qath’i al-tsubut. dan Hadits Nabawi.. “Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW berkata.semua lafadz dan makna Al-qur'an bersumber dari ALLAH. yaitu hadits yang tercipta murni dari pemahaman Nabi Muhammad terhadap al-Quran. Taufiqi. menjauhi dosa-dosa kecil.. Allah Taala berfirman. Yang pertama hadits qudsi merupakan kalam Allah SWT (baik dalam sturiktur maupun substansi bahasanya).. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi ialah: 1. yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat.sedangkan menurut ath-thibi. b) Lafadz dan arti al-Quran berasal dari Allah. Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan. hanya sebagian orang yang bodoh dan awam yang memasukkannya ke dalam hadits.sedangkan menurut ath-thibi. Tidak demikian dengan Hadits Qudsi. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. karena al-Quran bersifat qath’i al-Tsubut. maka kedudukannya dhaif. bila dia menyebut-Ku di kalangan orang banyak. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah. Hasan adalah sifat yang bermakna indah. ‫انما العمال بالنية. misalnya karena: 3. ‫ولو كان حراما مااكل على مائدة رسول ال... Tertuduh dusta (hadits matruk) 5. yaitu hadits yang shahih dan hasan. dan Nabi hanya sebagai penyampai Yang kedua hadits qudsi adalah perkataan dari Nabi. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya.. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku.semua lafadz (ayat-ayat) Al-qur'an adalah mu'jizat dan mutawatir.sedangkan hadits qudsi lafadznya dari nabi dan maknanya dari ALLAH. Menyalahi riwayat orang kepercayaan 8.. Tauqifi. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. Pengertian Hadits Nabawi Adapun menurut istilah. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain. sedangkan isi dari perkataan tersebut berasal dari Allah SWT. Contoh hadist nabawi yang berupa perkataan (qauli) misalnya perkataan Nabi SAW. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. Adapun Hadits Qudsi dinisbahkan kepada Allah. c) Tidak boleh meriwayatkan al-Quran secara makna. Satu huruf al-Quran sebanding dengan 10 kebaikan.Secara etimologi Hadits Qudsi merupakan nisbah kepada kata Quds yang mempunyai arti bersih atau suci. Baik tentang keadilan maupun hafalannya. Sedangkan Hadits Qudsi. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta. 2. yaitu hadits yang tertolak. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. 3. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif.hadits qudsi marupakan titah tuhan yang dismpaikan kepada nabi melalui mimpi'kemudian diterangkan oleh nabi dengan bahasanya sendiri serta menyandarkannya kepada ALLAH. Di antara contoh hadits ini adalah: Seandainya aku tidak memberatkan umatku. Adapun keseluruhan kandungan Hadits Qudsi bersumber dari Allah. 4. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Tidak demikan halnya dengan Hadits Qudsi. yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. namun karena ada ada mu'adhdhid. Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil.. sedangkan hadits qudsi adalah perkataan-perkataan nabi dengan mengatakan "Allah berfirman". e) Al-Quran harus dibaca di dalam shalat. Hadits Hasan Secara bahasa. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya. Seperti yang kita ketahui bahwa Al-qur'an merupakan mu'jizat yang diturunkan oleh ALLAH kepada nabi Muhummad SAW dengan perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dan membacanya dianggap sebagai ibadah. perbuatan. h) Membaca al-Quran termasuk ibadah. akan tetapi lafadznya dari Nabi Muhammad.semua ketentuan hukum bagi Al-qur'an tentang membaca dan menyentuhnya tidak berlaku bagi hadits qudsi.setiap huruf Al-qur'an yang dibaca mendatangkan pahala bagi pembacanya. Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) 9. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah. Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal 7. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul). persetujuan. Dua larangan ini tidak berlaku di dalam Hadits Qudsi. terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. atau dengan ada beberapa sanad lain. hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah). Nabi Muhammad hanya berstatus sebagai penyambung lidah dari-Nya. yang kurang kuat ingatannya. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan..

Tapi Tidak Mati Diatas Salib Terkait masalah penyaliban. Kepercayaan Jamaah Muslim Ahmadiyah tersebut di dasarkan pada Firman Allah. Rasul Allah. keadaannya saja yang di tampakan seperti telah mati di atas salib. dan merupakan bantahan atas kepercayaan bathil orang-orang Kristen yang mangatakan Nabi Isa as. Isa putra Maryam. Sedangkan setiap amal sunnah. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki.kepada-Nya.”. Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami dan meyakini : Nabi Isa as. Ayat tersebut seolah-olah berkata. ia hanya pingsan. Demikian juga dengan hukum jual beli. ayat 157 dari Surah An-Nisa tersebut merupakan bantahan atas tuduhan palsu orang-orang Yahudi yang mengatakan Nabi Isa as.. Muassasatur Risalah. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. kata “rafahullaahu ilaihi” – Allah mengakat dia (Isa). berarti Allah ada di langit. hukum thalaq dan lain-lain. keadaannya saja yang di tampakan seperti telah mati di atas salib.. antara lain: Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. disalib. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. tetapi ia tidak mati di atas salib. benar Nabi Isa. asosiasinya pastilah hanya bermohon di angkat harkat derajatnya. wahdini. dalam pemahaman Jamaah Ahmadiyah. (An-Nisa. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). 1989. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. 4:158).. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. dan Allah itu Mahaperkasa. 5820) Di dalam shalat. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. 4:157) Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami dan meyakini. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu). telah mati di atas palang salib sebagai penebus dosa umat manusia. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits... maka Allah akan mengangkat derajatnya hingga ke langit ke tujuh (Kanjul Umal. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. Beirut. kata rafa’a jika subjeknya adalah Allah. benar disalib. Semua Mushalli pada saat mengucap doa “warfa’nii” – wahai Allah. Imam AlBukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif. Allah tidak berhajatkan tempat. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. Hadits no. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. dan obyeknya manusia. tidak di angkat Allah ke langit. terdapat sebuah doa : “Rabighfirlii. Maha Bijaksana”(An-Nisa. seperti pada An-Nisa 58 itu. Nabi Isa as. hukum akad nikah.3. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. Namun. maka haditsnya tidak bisa dipakai. kepadanya. tentu tidak seorang pun punya asosiasi pikiran ketika ia mengucap doa “warfa’nii”. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah.. Dan. Karena Sanadnya Tidak Bersambung Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 12. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. Lagi pula. tetapi tidak mati di atas salib. artinya akan selalu mengangkat harkat derajat. Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 11. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. Rasulullah SAW. di riwayatkan pernah bersabda : Idza tawa dha’al-‘abdu rafa’ahullaahu ilas-samaa-is-saabi’ah” – apabila seorang hamba merendahkan dirinya. pada saat duduk di antara dua sujud. ia hanya pingsan. mereka tidak mengingkarinya 2. sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran : “Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih. maka orang itu salah seorang pendusta. warhamni. hal 110. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. Sukir Ahmadi Benar di Salib. telah mati di palang salib sebagai bukti nabi palsu. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. ia memohon kepada Allah agar di angkat jasad kasarnya. mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka. Sebab. Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. sementara derajat periwayatannya lemah.10.…. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. bukan mengangkat jasad. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib. tidak dapat diartikan : Allah mengangkat Isa ke langit. . Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. warfa’ni. Padahal dalam teologi Islam. bukan di angkat jasad kasarnya. Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. angkatlah aku. sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini. Benar. Alaudin Alhindi. jika di artikan demikian. di dalam Al-Quran terdapat Friman Allah: “Akan tetapi Allah telah mengangkat dia (Isa). Jld III. Adapun kalau dengan sanadnya.. Tidak Diangkat Allah ke Langit Jamaah Ahmadiyah juga memhami dan meyakini. akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. dan mereka tidak yakin telah membunuhnya.

dan minum air tawar yang jernih”. Nabi Isa as. (Rowahut.Karomah). Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.. Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sesungguhnya telah berlalu (mati). berfirman : “Dan Kami jadikan anak Maryam dan ibunya suatu Tanda. meriwayatkan. berdiri berpidato. perbatasan antara India dan Pakistan. supaya orang jangan tahu di mana engkau. (Matius 15:24) Kepada murid-muridnya. Pendirian dan Pemahaman Jamaah Ahmadiyah ini didasarkan pada : 1) Firman Allah : “Dan.. 3:144) Mendengar penjelasan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Sesungguhnya telah berlalu (mati). Nabi Isa as. wafat. Pemahaman dan keyakinan Jamaah Ahmadiyah.. yang bukan masuk kandang domba ini. Kanzul.. jika pada ayat lain dalam Al-Quan. Orang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Apakah arti orang gharib?” Beliau menjawab: “Ialah orang yang lari membela agama.. Nabi Muhammad SAW. dan kemudian menetap di Kasymir hingga akhir hayatnya. para anggota keluarga (ahlulbait) Rasulullah s. Jld 1:592) “Bahwa beliau banyak berjalan. tersebut. dan domba-domba itu kelak mendengar akan suaraku. kalimat “bal rafahullaahu ilaihi” (An-Nisa..a. Pedang terhunus Umar jatuh. 3:144 : “Dan. masih ada nabi yang masih hidup.. 3:55) Dan. Tuhanku dan Tuhanmu". maka sekalian itu juga wajib aku bawa. lalu membacakan kalam Ilahi. membiarkan Nabi Isa as. berarti : kabar suka. maka tuduhan orang-orang Yahudi yang mengatakan. dan sebagian lagi tidak mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. berdakwah kepada seluruh suku-suku/kabilah bani Israil. . Dan. gontai. Karena kesuburannya. 21:23). tersebut. sekiranya aku telah mengatakannya tentu Engkau mengetahuinya. lalu akan menjadi sekawan dan gembala seorang saja”. Beliau berjalan kaki.. juga menyuruh menyampaikan ajarannya itu hanya kepada bani Israil : “Maka kedua belas orang inilah disuruhkan oleh Yesus dengan pesannya demikian : “Janganlah kamu pergi ke negeri orang kafir dan jangan kamu masuk ke negeri orang Samaria. (Kitab Tarikh bahasa Parsi:130-131) Al-Quran menjelaskan. dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir. (Al-Mu’minun. Sabda Rasulullah SAW. masih hidup. Bani Israil terpencar sejak di kalahkan Raja Nebukadnesar.. dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dibangkitkan. melainkan pergilah kamu kepada segala domba kaum Israil yang sesat itu”. kondisi fisik kembali normal. Orang-orang Yahudi menangkap dan menggantung Nabi Isa as. bernama Al-Busyro.. hidup kembali". dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu”. masih hidup”. telah wafat. Mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW.s. kemudian mengabarkan berita kewafatan Rasulullah SAW. dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Engkau. tersebut kepada para sahabat yang hadir. para sahabat Rasulullah SAW. 1989. maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun. adalah kuburan Nabi Isa as. Penduduk setempat mengakui kuburan tersebut adalah kuburan seorang nabi yang datang dari negeri asing. di utus Allah untuk Bani Israil. dengan tujuan. Beliau wafat pada malam ketika Isa Ibnu Maryam pada malam yang sama rohnya di angkat ke langit. tersebut.. Srinagar. hingga saat ini terdapat sebuah kuburuan yang sangat terpelihara dan di pelihara penduduknya. umat Islam di landa kegelisahan yang amat hebat.. yang juga berarti : kabar suka.s. (Al-Maidah. Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur”. beliau tidak pernah kembali tanpa membawa kemenangan. itu beredar. dan meninggikan derajat engkau di sisi-Ku. pada tahun ini ia datang kepadaku dua kali. Iran. telah mewahyukan kepada Isa : Pindahlah engkau dari tempat ini ke tempat yang jauh. pergi ke timur mencari suku-suku Israil. diantaranya : “Isa bin Maryam tidak pernah tinggal menetap di suatu tempat. (Ulangan. Jika dikalangan para sahabat berkembang kepercayaan Nabi Isa as. 4:158). Engkau mengetahui apa yang terkandung dalam pikiranku. Ia membuka kain yang menutup tubuh suci Rasulullah SAW... Seorang sahabat menyusul dan mengabarkannya. mengangkat harkat/derajat Nabi Isa as. Adalah sama dengan Injil. dan aku menjadi saksi atas mereka. Dan. tidak wafat.. Di dalam Kitab Taurat memang tertulis hukum: “orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah”. akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan. setelah Nabi Isa as. yang menghunus pedang. 28:88). Jld 2:42 & Kitab Tafsir Lawamiut-Tanzil. jika ia mati atau terbunuh. Dengan ciri-ciri dan tanda-tanda tersebut. berarti : Akan tetapi Allah telah mengangkat (harkat/derajat) Nabi Isa kepada-Nya. adalah bahasa Arab dan bahasa Ibrani.. Anggota Keluarga Rasulullah SAW. termasuk di antara yang tidak mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. Alaudin Alhindi. Ia berkata : “Maka jawab Yesus. Karena Nabi Isa as. Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul.Umal. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. wafat pada malam yang bersamaan dengan ketika roh Nabi Isa a. menunaikan missi-risalah-nya.Contoh-contoh ini memberi kesimpulan. maka Engkau-lah yang menjadi pengawas mereka. teriak Umar ibnu Khaththab ra. juga mengakui bahwa ia hanya diutus Allah kepada Bani Israel. dan melihatnya. yang merupakan ruang-lingkup tanggungjawab dakwahnya. Kenyataannya.. nabi Isa as. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Nabi Yuz dikatakan datang dari negeri asing.. maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun. bahwa Rasulullah SAW. Di dalam Injil-nya ia berkata : “Ada lagi padaku domba yang lain. di angkat ke langit. Ia menjawab: "Maha Suci Engkau. Rasulullah SAW. selama Aku berada di antara mereka. bernama Al-Busyro. kita menemukan Firman Allah.. dengan cara. (Kitab Tafsir Ruhul-Maani. Jld XI:479. yang sejak awal menghunus pedang dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW. Nabi Yuz meninggalkan suatu kitab ajaran agama. maka Jibril menjaga di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya. akan menjadi terbukti dan sempurna. setelah selamat dari peristiwa salib.. berkata : “Dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan. (Kitab Abdullah Ibnu Umar Jld 6:51) Di dalam beberapa Kitab Tafsir juga terdapat keterangan mengenai perjalanan Nabi Isa as.. ia mengatakan kepadaku bahwa usia Isa bin Maryam 120 tahun”.. sangat cocok dengan keadaan dataran tinggi Kasymir yang subur.s. yakni : di Syria. Yang maksudnya Yesus.a. Kasymir. dahulu dipanggil Allah. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha mengetahui segala yang ghaib-ghaib. (Ali Imran. Sebutan Yesus bukan asli bahasa Ibrani.. seperti tercantum di dalam “Thabaqat Ibn Sa’ad”. melainkan bahasa latin (Griek). setelah selamat dari peristiwa salib. 3:144) 2) Firman Allah : “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam. Dan.w mengutus beliau ke medan perang. Walhasil. maka kawasan ini menjadi rebutan antara India dan Pakistan. katanya: Tiadalah aku di suruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara bani Israil”. sepakat : Nabi Isa a. Yaitu. rasul-rasul sebelumnya. dan jika dia hidup berarti dia benar utusan Allah. hanya sedang dipanggil Allah. 3:48). 3:185) dan Kullu syai-in haalikun illaa wajhah (Al-Qashash. lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan”. dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku wafat. Dan penduduk setempat juga mengakui.. Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku.. anggota keluarga Rasulullah SAW. diutus Allah hanya untuk Bani Israel (Ali-Imran. Telah Wafat Selain ijmak para sahabat. Allah SWT. Nabi Isa as. Kasymir. seperti dijelaskan pada An-Nisa 157... Rasulullah s. seperti telah mati di atas salib. artinya ia bukan asli orang Kasymir. bernama: kuburan Nabi Yuz Asyaf. (Kitab Tafsir Fathul-Bayan. Umar yang di kenal tegar dan gagah berani itu pun. akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan. (Maryam. seperti halnya Isa bin Maryam”. Beliau selalu berjalan dari satu negeri ke negeri lainnya. telah wafat. karena beliau banyak berjalan. & Hujajul. sedang berada di luar kota Madinah saat berita kewafatan Rasulullah SAW.. Nabi Isa as. yang sedang dilanda kegelisahan hebat. Kata Yuz. bahwa setelah selamat dari peristiwa salib. telah wafat. 19:33) Wafat Secara Wajar Dalam Usia 120 Tahun Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. yang berbunyi sbb : “Ingatlah. (Riwayat Jabir Jld 2:71) “Allah cinta kepada orang gharib”. maka Imam Hasan r. dan merasa. dan kami beri mereka perlindungan pada tanah yang tinggi dengan lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir”. Di Desa Kanyar. benar-benar telah wafat. seolah-olah ayat itu baru di turunkan pada hari itu. Para Sahabat Rasulullah SAW. Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. Padahal semuanya ada 12 kabilah. sepakat : Nabi Isa as. Muassasatur-Risalah. yakni. seperti dikutip Al-Quran.a. Sambil menghunus sebilah pedang.. pada malam tanggal dua puluh tujuh Ramadhan” (Thabaqat Ibn Sa’ad. India. sebelumya. sendiri. Beirut. dikabarkan wafat. kuburan Nabi Yuz Asyaf yang terletak di Desa Kanyar. dan supaya orang tidak memberi kesusahan kepada engkau”. India dan Pakistan. Irak. Sebab.a. adakah engkau berkata kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?". tunai melaksanakan missi risalah-nya. adalah wajar jika beliau pergi menemui dan berdakwah kepada 10 kabilah Israil yang terpencar di negerinegeri sebelah timur itu. (Yahya 10:16) Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. pastilah mereka akan menolak keterangan Abu Bakar Ash-Ashiddiq ra. pun pingsan. (ahlulbait) pun sepakat : Nabi Isa a. termasuk kepada Umar ibnu Khaththab. Pedangnya jatuh.a. Oleh sebab itu... segera kembali.. 23: 50) Tanah dataran tinggi. yang mengabarkan kewafatan Rasulullah SAW. ketika Rasulullah SAW. diriwayatkan pernah bersabda : “Allah SWT. Jadi. rasul-rasul sebelumnya. : “Fatimah binti Muhammad ra. Telah Wafat Tertulis di dalam tarikh. untuk membuktikan bahwa Nabi Isa as.. dalam usia 120 tahun. Jadi.. yaitu: "Beribadahlah kepada Allah. Sebagian mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. Srinagar. (Ali Imran.. barangsiapa berpaling atas tumitnya. (Kitab Lisanul-Arab:431) “Bahwa Isa bin Maryam disebut Al-Masih. adalah orang terkutuk dan Nabi Palsu. Adalah tidak mengherankan. tentu tidak akan berkata bahwa Khalifah Ali ra. dengan cara menyelamatkan beliau dari kematian hina di palang salib. Di ketahuilah oleh beliau. dengan lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir. dan kembali setelah empat puluh hari”. Kemudian kepada-Ku-lah kamu kembali.w. seperti halnya Musa as. (Kanjul Umal. di palang salib. di situlah beliau tidur. Sepakat : Nabi Isa as. akhirnya beliau wafat secara wajar. malam ini telah wafat seorang yang sebagian amal perbutannya tidak pernah di capai orang-orang sebelumnya dan tidak pula akan di capai oleh orang-orang yang akan datang kelak. Beliau meninggalkan peninggalan (warisan) sebesar tujuh ratus dirham saja. kemudian melanjutkan missi risalah-nya : berdakwah kepada suku-suku Israel. ketika Allah berfirman: "Hai Isa. dan berkubur di bumi ini. jika Allah SWT. Bani Israil yang berada di negeri tumpah darahnya hanya ada dua kabilah. jilid III) Riwayat ini menunjukan. menjadi perlu dan harus bagi Allah SWT. dengan mengatakan : “Tidak Abu Bakar. Sepakat : Nabi Isa as. Afghanistan. Dengan uang itu beliau bermaksud membeli seorang budak belian (untuk di merdekakan). 5:116-117) 3. telah wafat. berasal dari kata Yozua (bahasa Ibrani). Kisah ini mengisyaratkan. (Ali Imran. akan tetapi ia disamarkan kepada mereka (orang-orang Yahudi). Nabi Yuz meninggalkan suatu kitab ajaran agama. dan langsung melihat jasad Rasulullah SAW. beliau adalah orang terkutuk dan nabi palsu.. karena ia banyak berjalan di bumi tanpa menetap lama di suatu tempat”. dan di mana beliau tiba di waktu malam. beliau selalu berjalan”.. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.... sebab itu beliau disebut Al-Masih”. Rasulullah SAW. Umar ibnu Khaththab ra. Jld 2:34) “Al-Masih terus berjalan. Umar ibnu Khaththab ra. jika ia mati atau terbunuh. dari Surah Ali Imran. ia berdiri dan berkata : “Siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW. selaras dengan petunjuk Al-Quran. bila malam ia makan daun-daunan di hutan. (Matius 10:5-6) Pada zaman Nabi Isa as. Hal ini terbukti dari riwayat yang dituturkan oleh Imam Hasan r. Umar pingsan. akan tetapi setelah Engkau mewafatkan daku. Yang sepuluh kabilah lagi terpencar di negeri-negeri sebelah timur... mati di palang salib. saat mengisahkan peristiwa wafatnya Khalifah Ali r.. hingga saat ini. yang di ilustrasikan Al-Quran Surah Al-Mu’minun ayat 50 tersebut. Kata Nabi. Sebab. barangsiapa berpaling atas tumitnya. Umar ibnu Khaththab ra. bersabda : “Sesungguhnya Jibril sekali setiap tahun datang memeriksa Qur’an. dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat. Umar merasa baru mendengar ayat itu. Beliau berkata : “Wahai sekalian manusia. sekiranya pada diri beliau-beliau tidak ada gagasan semacam itu. tidak layak bagiku mengatakan apa yang bukan hakku.. tidak pernah berkendaraan”. kakinya mulai gontai. Rasulullah SAW.. Sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara wajar.Tabroniyu wal. sebagi wujud fana yang terikat oleh hukum : Kullu nafsin dzaaiqatul maut (Ali Imran.Hakim. Jika dia mati di palang salib berarti dia orang terkutuk dan nabi palsu. dan Nabi Isa as. tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib. maka pedang Umar-lah bagiannya. Nabi Isa as. Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur”. Jld 2:364) “Dikatakan Isa itu Al-Masih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful