A.

Definisi Dilalah Al-Qur’an dan Dalil yang Qath’i serta Zhanni Dalil menurut arti etimologi bahasa Arab ialah pedoman bagi apa saja yang khissi (material) yang ma’nawi (spiritual), yang baik ataupun yang jelek. Adapun menurut istilah ahli ushul (termenilogi) ialah sesuatu yang dijadikan dalil, menurut perundangan yang benar, atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, secara pasti (qath’i) atau dugaan (zhanni). Sedangkan istilah dali-dalil hukum, pokok-pokok hukum, sumber-sumber hukum syari’at Islam adalah lafadz-lafadz mutarodifat (kata-kata sinonim), yang artinya adalah satu atau sama (equivalent).Dalalah berarti pemahaman atau tanda penunjukkannya untuk sampai kepada madlul, prosesnya berawal dari petunjuk yang mendasarinya (dalil) kemudian dipahami (dalalah) yang akhirnya mengacu kepada pemahaman (madlul). Cth : Aqimu al-Sholat perintah shalat wajib shalat Asap ada yang terbakar api Sebagian ulama’ ushul memberikan definisi dalil dengan sesuatu yang diambil dari padanya, hukum syara’ mengenai perbuatan manusia dengan jalan pasti (qath’i). sedangkan sesuatu yang diambil daripadanya hukum syara’ dengan jalan dugaan (zhanni) adalah amarah (sign = tanda), bukan dalil. Tetapi yang termasyhur dalam istilah ulama’ ushul mengenai definisi dalil itu ialah sesuatu, yang diambil daripadanya, hukum syara’ secara amali, mutlak, baik dengan jalan qath’i maupun zhanni. Karena itu mereka membagi dalil kepada 2 macam yaitu : 1. Dalil atau Nash Qath’i Dalil atau nash yang qath’i ialah nash yang menunjukkan kepada makna yang bisa difahami secara tertentu, tidak ada kemungkinan menerima ta’wil, tidak ada tempat bagi pemahaman arti selain itu, sebagaimana firman Allah SWT :: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteriisterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” (QS. An-Nisa’ : 12). Ayat ini adalah pasti, artinya bahwa bagian suami dalam keadaaan seperti ini adalah seperdua, tidak yang lain (yakni yang lain dari seperdua). Dan seperti firman Allah juga yaitu :: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera”. (QS. anNur : 2) Ayat ini pasti juga, artinya bahwa had zina itu seratus kali dera, tidak lebih dan kurang. Begitu juga setiap nash yang menunjukkan arti mengenai bagian dalam soal harta pusaka, atau ati had dalam hukuman dan atau tentang arti nishab. Semua itu telah dipastikan atau ditentukan dan atau dibatasi. Dalil qath’i ini ada dua macam, yaitu : a. Dalil al-Wurud yaitu dalil yang meyakinkan bahwa datangnya dari Allah (al-Qur’an) atau dari Rasulullah (hadits mutawatir). Al-qur’an seluruhnya qath’i dilihat dari segi wurudnya. Akan tetapi tidak semua hadits qath’i wurudnya. b. Qath’i Dalalah, dalil yang kata-katanya atu ungkapan kata-katanya menunjukkan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahamkan lain. Seperti firman Allah SWT yaitu dalam surat an-Nisa’ ayat 12 di atas. 2. Dalil atau Nash Zhanni Dalil atau nash yang zhanni ialah nash yang menunjukkan atas makna yang memungkinkan untuk ditakwilkan atau dipalingkan dari makna asalanya (lughawi) kepada makna yang lain, seperti firman Allah SWT yaitu : “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’[1].” (QS. alBaqarah : 228) Padahal lafal quru’ itu dalam bahasa Arab mempunyai dua arti yaitu suci dan haid. Sedangkan nash menunjukkan (memberi arti) bahwa wanita-wanita yang ditalak itu menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksudkan, adalah tiga kali suci atau tiga kali haid. Jadi ini berarti tidak pasti dalalahnya atas satu makna dari dua makna tersebut. Oleh karena itu para mujtahidin berselisih pendapat bahwa ‘iddah wanita yang ditalak itu Quru’ dapat diartikan suci atau haid. Dan sebagaimana firman allah, yaitu “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah.[2]” Padahal lafal maitah (bangkai) itu umum. Jadi ini mempunyai kemungkinan arti mengharamkan setiap bangkai, atau keharaman itu (ditaksis) dengan selain bangkai lautan, maka oelh karena itu nash yang mempunyai makna yang serupa (makna ganda) atau lafal umum, atau mutlak dan atau seperti maitah ini, semua adalah zhanni dalalahnya (indikator), karena ia mempunyai kecenderungan kepada satu arti lebih. Dalil zhanni ada dua macam, yaitu : a. Zhanni al-Wurud yaitu dalil yang hanya memberi kesan yang kuat (sangkaan yang kuat) bahwa datangnya dari Nabi saw. Tidak ada ayat al-Qur’an yang zhanni wurudnya, adapun hadits ada yang zhanni wurudnya, seperti hadits ahad. b. Zhanni al-Dalalah yaitu dalil yang kata-katanya atau ungkapan kata-katanya memberikan kemungkinan-kemungkinan arti dan maksud. Tidak menunjukkan kepada satu arti dan maksud tertentu. Seperti firman allah dalam surat al-baqarah ayat 228. B. Definisi dan Kehujjahan Sunnah serta Dilalah dan Kedudukan Sunnah As-Sunnah dalam bahasa Arab berarti tradisi, kebiasaan, adat istiadat. Dalam terminology Islam, berarti perbuatan, perkataan, dan keizinan Nabi Muhammad saw (af’alu, aqwalu, dan taqriru). Menurut rumusan ulama ushul fiqh, As-Sunnah dalam pengertian istilah ialah segala yang dipindahakan dari Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbuatan, ataupun tqrir yang mempunyai kaitan dengan hukum. Pengertian inil;ah yang dimaksudkan untuk kata AsSunnah dalam hadist Nabi : sungguh telah kutinggalkan untukmu dua perkara, yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Al-Hadist) Pengertian As-Sunnah tersebut sama dengan pengertian Al-Hadist. Al-Hadist dalam bahasa Arab berarti berita atau kabar. Namun demikian, ada yang membedakan pengertian As-Sunnah dan Al-Hadits. Perbedaan dimaksud, As-Sunnah adalah sesuatu perbuatan yang beberapa kali dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yangb kemudian terus menerus diikuti oleh sahabat dan dinukilkan (dipindahkan) kepada kita dari zaman ke zaman dengan jalan mutawatir. Nabi Muhammah saw melakukan perbuatan ini beserta para sahabat, kemudian hal itu diteruskan oleh para sahabat lain dan tabiin, bahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai kepada kita saat ini. Adapun Al-Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya sepanjang hidupnya dan walaupun hanya seorang saja yang meriwayatkannya. Perbedaan makna secara etimologi seperti ini, tidak mengurangi pentingnya arti As-Sunnah atau Al-Hadits dimaksud. Sebab, mayoritas ahli hadits, berdasarkan penelitian mereka menyamakan hadits dan sunnah (Nasaruddin Razak, 1977: 102). Akan tetapi, tidak semua hadits mesti menjadi sumber hukum. Sebab ada hadits yang maqbul (diterima) da nada yang mardud (tidak dapat diterima). Oleh karena itu perlu juga diungkapkan pembagian Sunnah dan Hadits. Sunnah atau Hadits dapat dibagi berdasarkan kriteria dan klasifikasi sebagai berikut : Ditinjau dari segi bentuknya terbagi menjadi :

2. 3. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 1. 2. 3.

Masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak tetapi tidak sampai kepada derajat mutawatir, baik karena jumlahnya maupun karena tidak jalan indera.

Ahad, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih yang tidak sampai kepada tingkat masyhur dan mutawatir. Ditinjau dari segi kualitas hadits, terbagi menjadi : Shahih, yaitu hadits yang sehat, yang diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya dan kuat hafalannya, materinya baik dan persambungan sanadnya dapat dipertanggungjawabkannya. Hasan, yaitu hadits yang memenuhi persyaratan hadits shahih kecuali di segi hafalan pembawanya yang kurang baik. Dha’if, yaitu hadits lemah, baik karena terputus salah satu sanadnya atau karena salah seorang pembawanya kurang baik dan lain-lain.

Maudhu’, yaitu hadits palsu, hadits yang dibikin oleh seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Rasul saw. Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, terbagi menjadi : Maqbul, yaitu hadits yang mesti diterima.

Mardud, yaitu hadits yang mesti ditolak. Ditinjau dari segi orang yang berbuat atau berkata-kata, hadits terbagi menjadi : Marfu’, yaitu betul-betul Nabi saw yang pernah bersabda, berbuat dan memberi izin. Mauquf, yaitu sahabat Nabi yang berbuat dan Nabi tidak menyaksikan perbuatan sahabat.

1. 2. 3. 1.

Fi’il, yaitu perbuatan Nabi. Qauli, yaitu perkataan Nabi.

Taqriri, yaitu perizinan Nabi, yang artinya perilaku sahabat yang disaksikan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak menegurnya atau melarangnya. Ditinjau dari segi jumlah orang yang menyampaikannya menjadi : Mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang menurut akal tidak mungkin mereka bersepakatan dusta serta disampaikan melalui jalan indra.

Maqtu’, yaitu tabi’in yang berbuat. Artinya perkataan tabi’in yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan. Pembagian lain yang disesuaikan jenis, sifat, redaksi, teknis penyampaiaan dan lain-lain. Hal dimaksud, dapat diungkapkan sebagai contoh : hadits yang banyak menggunakan kata an (dari) menjadi hadits mu’an’an. Hadits yang benyak menggunakan kata anna (sesungguhnya) menjadi hadits muanan. Hadits yang menyangkut perintah disebut hadits awamir. Hadits yang menyangkut larangan disebut hadits nawahi. Hadits yang sanad (sanadnya) terputusnya disebut hadits munqath’i. Bukti-bukti kehujjahan as-Sunnah banyak sekali, yaitu : Nash-nash al-Qur’an Karena allah SWT dalam beberapa ayat kitab al-Qur’an telah memerintahkan mentaati Rasul-Nya. Menurut-Nya taat kepada Rasul-Nya berarti taat kepada-Nya. Dia memerinatah umat Islam ketika mereka bertentangan dalam urusan sesuatu, untuk mengembalikannya keepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak membuat untuk orang mu’min suatu pilihan ketika Dia dan Rasul-Nya telah memutuskan sesuatu. Dia meniadakan iman bagi seseorang yang tidak tenang hatinya menerima keputusan Rasul, atau tidak menyerah kepadanya. Semuanya ini adalah bukti dari Allah bahwa sesungguhnya pembentukan hukum syari’at oleh Rasulullah saw adalah pembentukan hukum syari’at oleh Tuhan yang harus diikuti. Allah SWT telah berfirman dalam beberapa ayat berikut : “Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imron : 32). “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ : 59) “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’ : 65). “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[3]” (QS. an-Nisa’ :80). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. al-Ahzab : 36). “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orangorang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (QS. al-Hasyar : 7). Ayat-ayat tersebut di atas saling bersatu dan bersandaran, dan dengan itu mendatangkan arti secara pasti, bahwasannya Allah mengharuskan mengikuti RasulNya terhadap apa yang disyari’atkannya. Ijma’ para sahabat r.a semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya mengenai keharusan mengikuti sunnah Nabi. Pada masa hidup Nabi mereka melaksanakan hukum-hukumnya dan menjalankan segala perintah serta larangannya, hukum halal serta hukum haramnya. Dalam keharusan mengikuti mereka tidak membedakan di antara hukum yang diwahyukan kepadanya dalam al-Qur’an dan hukum yang keluar dari Nabi sendiri. Dan oleh karena itu Mu’adz bin Jabal berkata : “JIka saya tidak mendapati dalam Kitabullah, hukum yang hendak saya jadikan keputusan, maka jatuhkan keputusan dengan sunnah Rasulullah saw.” Mereka (para sahabat) setelah wafatnya Nabi, apabila tidak mendapatkan dalam Kitabullah hukumnya sesuatu yang terjadi pada mereka, maka mereka kembali kepada sunnah Rasulullah saw. Abu Bakar ketika tidak hafal sunnah mengenai suatu kejadian, maka keluarlah beliau dan bertanya kepada umat Islam : “Adakah di antara kamu terdapat orang yang hafal sunnah dari Nabi kita mengenai kejadian ini?” Demikian pula Umar mengerjakan seperti itu dan juga sahabat lainnya yang bertugas untuk memberikan fatwa dan keputusan pun pula para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in juga menempuh jalan para sahabat sekiranya salah seorang di antara mereka tidak mengetahui seorang yang menyalahinya berbuat melampaui batas mengenai keharusan mengikuti sunnah Rasulullah saw manakala telah shahih penukilannya. Dalam al-Qur’an Allah SWT telah mewajibkan kepada manusia beberapa ibadah fardhu secara global tanpa penjelasan (secara rinci) tidak dijelaskan di dalamnya mengenai hukum-hukumnya atau cara memakainya (melaksanakannya). Maka Allah SWT berfirman :“Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat”. (QS. an-Nisa’ : 77) “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. alBaqarah : 183).

Karena semua asSunnah sumbernya adalah Rasulullah saw yang ma’sum yang telah diberi oleh Allah kekuasaan untuk menjelaskan dan untuk membentuk hukum syari’at Islam.. Berdasarkan jumlah penutur adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Syari’at didahulukan atas akal. Dan itu dapat dilihat pada beberapa point berikut: Pertama [3]: Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal. hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad.Allah Azza wa Jalla mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. maka tidak ada bagi seseorang suatu kewajiban agama pun dan tidak ada pula yang namanya pahala dan dosa. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. [4].Sebab itu sampaikanlah berita (gembira) itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. [3]. Maka setiap sunnah pembentukan hukum syari’at Islam yang shahih keluarnya dari Nabi. Kelima. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. hasan. Hadits Mu`allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan.” [Al-Israa’: 70] Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. atau “afalaa ta’qiluun” (apakah kamu tidak berakal). Jadi. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur`an.. Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M] Hadist Pengertian. [2] Ialah: darah yang keluar dari tubuh. mereka menjawab: ‘Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. Sifat ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam salah satu sabdanya: "Artinya : . Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Hadits Maqtu` adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi`in (penerus). Dan keruntuhan pondasi berarti juga keruntuhan bangunan yang ada di atasnya. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. sebagaimana juga tidak ada wewenang baginya untuk menilai ini baik atau buruk. As-Sunnah yang menjelaskan itu harus diikuti dari segi dari segi bahwa ia adalah keluar dari Rasul saw diceritakan daripadanya dengan system yang mendatangkan kepastian akan datangnya daripadanya atau mendatangkan dugaan yang kuat akan datangnya daripadanya. Po Box 264 Bogor 16001.” (QS. karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syariat-Nya. "Kami dilarang untuk. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. Dan tiadalah kalian diberi ilmu melainkan sedikit..". Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu`. Secara terminologi. larangan-larangan. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara`id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar.. Jenis dan Tingkatannya Pengertian Hadist secara literal berarti perkataan atau percakapan.dan termasuk orang gila sampai ia kembali berakal. Sedangkan yang dimaksud dengan akal ialah. [5]. Hadits mutawatir. karena syari’at itu ma’shum sedang akal tidak ma’shum. Mu`dal dan Mursal. bahwa madzhab Ahlus Sunnah mengatakan bahwa akal tidak mewajibkan sesuatu bagi seseorang dan tidak melarang sesuatu darinya. Mashur. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: " Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : Gharib. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi`in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi`in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Bahwa ittiba’ yaitu penerimaan riwayat berdasarkan diterimanya hujjah sedangkan taqlid adalah penerimaan yang ber-dasarkan pemikiran logika semata. [4] Yakni: perintah-perintah. [7]. Imam Abul Muzhaffar as-Sam’ani Rahimahullah (wafat th. Kalau seandainya as-Sunnah yang menjelaskan itu bukan hujjah atas umat Islam dan bukan sebagai undang-undang yang harus diikutinya. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: . Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:” Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal. seperti tadabbur. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. Science of Hadits). ta-aqqul dan lainnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi`in dimana hal ini sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih (Suhaib Hasan. tafakkur. Katakanlah: “Ruh itu adalah urusan Rabb-ku.". Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari’at. haram dan seterusnya) adalah hak prerogatif syariat. Firman-Nya:"Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad. Allah Azza wa Jalla berfirman: “ . maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". dalah hujjah yang harus diikuti baik sunnah itu menjelaskan tentang hukum di dalam al-Qur’an maupun membentuk hukum yang tidak terdapat dalam al-Qur’an. [9].”[2] Akal adalah insting yang diciptakan Allah Subahnahu wa Ta'ala kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan Allah Azza wa Jalla. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" Berdasarkan ujung sanad. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Dan jika ia bertentangan dengan keduanya. perbuatan.“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah”. wafat th. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan ‘aqidah mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan rasio semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal dan menolak dalil naqli (dalil syar’i) yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka. "Kami terbiasa. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Kesiapan bawaan yang bersifat instinktif dan kemampuan yang matang. agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[4] dan supaya mereka memikirkan. maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu`. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan al-Qur'an dan as-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. [2].” Kata ‘Aql dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti [1]. dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak beriman diantara kamu sekalian hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri" (Hadits riwayat Bukhari) Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari’at." [Az-Zumar: 17-18] Ketujuh. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. da`if dan maudu` Hadits Shahih. Naql adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam al-Qur-an dan asSunnah. [6]. serta tidak ada hak baginya untuk meng-halalkan atau mengharamkan sesuatu. ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur diatasnya.. Hadits Mursal." [Al-Israa’: 85] Firman Allah Azza wa Jalla :"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka.." [Al-Israa’: 15] [8]. atau “afalaa yatadabbaruuna al-Qur'ana” (apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur'an) dan lainnya. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan). [1] Quru’ dapat diartikan suci atau haidh. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. (Apakah mereka akan mengikutinya juga) walau-pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun. Ittiba’ diperkenankan dalam agama. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. orang yang tidur sampai bangun. an-Nahl : 44). hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu` (terangkat).Pembatasan wilayah kerja akal dan pikiran manusia sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla. dan tidak mendapat petunjuk? "[Al-Baqarah: 170] Perbedaan antara taqlid dan ittiba’ adalah sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. contoh: Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Shu`bah. Aziz. [2]. sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat [3] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu`dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.[15] [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam al-Qur-an. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahyaa > Shu’bah > Qataadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya.. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh syari’at. Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. tidak bersifat detail. Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang berten-tangan dengan syari’at. Maka kalimat seperti “la’allakum tatafakkaruun” (mudah-mudahan kamu berfikir). husnut tasharruf (tindakan yang baik atau tepat). 489 H) [13] berkata: “Ketahuilah. Berdasarkan tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.[11] Keenam [12] Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran. mauquf (terhenti) dan maqtu` : Hadits Marfu` adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya). orang gila sampai ia kembali sadar (berakal). di antaranya: Ad-diyah (denda). Berkata Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki (namanya adalah Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdillah. ‘aql (selanjutnya ditulis akal) digunakan untuk dua pengertian: [1]. al-hikmah (kebijakan).” [10] Jadi definisi taqlid adalah menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil. Penentuan hukum-hukum tafshiliyah (terinci seperti wajib." [Al-Mulk: 10] Keempat [7]. walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk. Matan ialah redaksi dari hadits. 390 H) : “Makna taqlid secara syar’i adalah merujuk kepada perkataan yang tidak ada hujjah/dalil atas orang yang mengatakannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Pena (catatan pahala dan dosa) diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan. Hadits Munqati`. Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah"... meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur). “Dalil ‘aqli (akal) yang benar akan sesuai dengan dalil naqli/nash yang shahih. " Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:" Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Akal merupakan ‘ardh atau bagian dari indera yang ada dalam diri manusia yang bisa ada dan bisa hilang. Allah Azza wa Jalla berfirman:" Kami tidak akan meng‘adzab sehingga Kami mengutus seorang Rasul. Misalnya celaan Allah terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya. Hadits ahad. alasan) namun berubah men-jadi dalil yang bathil. maka tidak mungkin melaksanakan fardhu-fardhu al-Qur’an atau mengikuti hukum-hukumnya. Jaami’ul Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi [9] menerangkan perbedaan antara ittiba’ (mengikuti) dan taqlid yaitu terletak pada adanya dalil-dalil qath’i yang jelas." [Shaad: 43] Kedua [4] : Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban kewajiban) dari Allah Azza wa Jalla. Ali Imron : 97) “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran. “Ittiba’ adalah sese-orang mengikuti apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hukumhukum syari’at tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Dan di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma`nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat). Karena Allah mengatakan tentang diri-Nya: "Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya" [Al-Buruuj: 16] Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Seandainya tidak datang kepada kita wahyu. Munqati`. Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Allah Azza wa Jalla yang diten-tukan oleh akal kita kepada-Nya. Aksioma-aksioma rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia. anak kecil sampai bermimpi. namun taqlid dilarang.. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global. Sehingga akal tidak lagi menjadi hujjah (argumen." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi`in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW Hadits Musnad.” [8] Ibnu ‘Abdil Barr (wafat th. dalil-dalil ‘aqli yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan/mengalahkan dalil-dalil syar’i.. 463 H) dalam kitabnya. Dan makna ittiba’ yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah/dalil yang tetap.” Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal." [Thaahaa: 110] Ulama Salaf (Ahlus Sunnah) senantiasa mendahulukan naql (wahyu) atas ‘aql (akal). di antaranya sebagai berikut :[14] [1]. Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Penerbit Pustaka At-Taqwa. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut. sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. Mu`allaq. Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu."[5] Ketiga [6].

ijma' ahlul bait (keluarga Rasulullah) ataukah ijma ummat. yang menjelaskan hubungan antarmanusia. maka kita akan mendapatkan dua kategori. Ada juga sumber dalil yang diikutkan dalam kategori seperti ijma'. Perkembangan hukum-hukum Islam tentunya tak mungkin bisa lepas dari peran para Mujtahid (orang yang mampu menggali hukum) yang telah merumuskan metodologi ijtihad. Sebagian ulama masih belum mengetahui ijma'. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H)_Sunan an-Nasa`i. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya/jujur. seorang mujtahid3 dapat memastikan posisi akal dalam memahami wahyu Allah SWT. dan yang termasuk istidlal sendiri bermacam-macam seperti istihsan. dengan dalih karena kesamaan illat (alasan) kedua dalil. Imam Muslim dan Ibnu Majah. di samping mengandung hukum-hukum yang sudah jelas dan rinci yang menurut sifatnya tidak berkembang. perintah mendirikan shalat juga perintah wajib untuk melaksanakan shalat.5 Apabila menemukan ayat yang bertentangan kemudian dikaji. Imam Bukhari dan Imam Muslim. sumber hukum yang termasuk pembagian ini adalah sumber hukum yang diakui dan dipakai oleh ulama. dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim. tidak fasik. terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits antara lain: Muttafaq `Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama. tidak lepas dari peran seorang mujtahid. Ada beberapa sekte dalam Syi`ah. maka kita harus mengetahui dulu definisi dari dalil sendiri. yang secara substansi dari al-Sunnah itu berasal dari Allah. juga mengandung hukum-hukum yang masih memerlukan penafsiran dan mempunyai potensi untuk berkembang. terbukti banyak hadits qudsi. Pengertian Dalil Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas pertentangan dalil-dali qathi'.dalil naqli (dogmatik). Sumber hukum dalam hal ini yang kita bahas adalah hukum syar'i. Ulama ushul fiqih kontemporer Wahbah zuhaili memaparkan analisisnya mengenai dalil-dalil yang terkumpul dalam sumber hukum. Tidak sedikit dalil-dalil hukum yang saling bertentangan. disusun oleh an-Nasa`i (215-303 H)_Sunan Ibnu Majah. Adapun sumber dalil yang termasuk dalam hal ini seperti qiyas. Maka. Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Syi`ah Muslim Syi`ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma`lul (yang dicacati) dan disebut Hadits Mu`tal (Hadits sakit atau cacat). yang merupakan milik semua manusia. Dengan berpegang kepada metode ushul fiqih. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan dalil yaitu sesuatu yang bisa mengantarkan kita sampai kepada hasil yang bersifat khobar (hukum) dengan penelitian yang benar7berbeda dengan definisi di atas. Tak berbeda dengan ijma'. Dan sampai sekarang pun perdebatan tersebut masih diperbincangkan. berakhlak baik. apalagi ayat-ayat yang belum jelas makna dan maksudnya terbuka lebar bagi para mujtahid untuk menafsiri ayat tersebut. Adapun yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan di dalam memahami dalil-dalil yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah. Banyak ulama ushul fiqih yang telah mencurahkan pikirannya untuk memahami apa yang terdapat dalam wahyu Allah SWT. tentunya ijma dan qiyas menuai perdebatan. Ayat tersebut menyuruh kita untuk mendirikan shalat. Ada baiknya ayat-ayat yang bertentangan dibahas dan dimengerti oleh semua orang agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami dalil-dalil hukum yang terdapat al-Quran maupun al-Sunnah. Al Arba`ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. PENDAHULUAN Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama hukum Islam. sasaran dalil sendiri ada kalanya berupa perkara baik atau buruk. Namun jika kita melihat dalil dari sisi asal dalil sendiri. ada pula yang memasukkan Musnad dari Ahmad bin Hanbal sebagai bagian dari aturan tersebut. Kata dalil berasal dari bahasa Arab yaitu. Imam Bukhari. sangat mustahil terjadi. Mayoritas bersifat umum.dalil aqli (akal) yaitu dalil yang cara pengambilan hukumnya melalui penalaran logis yang berdasarkan dengan akal. ada yang menyatakan dengan Koleksi Enam Hadits utama ada pula dengan Koleksi Tujuh Hadits Utama. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi). yang tentunya menggunakan metode yang benar yang bersifat praktis ataupun relatif. tentunya. Selain itu. karena orang yang dapat mengetahui isi atau kandungan hukum dalil-dalil syariat Islam yaitu mujtahid. qiyas juga tak diakui sebagai sumber hukum oleh sebagian ulama.4 Setelah membaca ayat di atas dapat disimpulkan bahwa al-Quran maupun al-Hadits tidak mungkin mengalami pertentangan. dan ayat-ayat tentang mu'ammalah ini banyak mengisi lembaran-lembaran al-Quran. akan tetapi ayat-ayat al-Quran mengenai mu'ammalah (hubungan antaramanusia dengan manusia) ini hanya sebagian kecil saja yang langsung disebutkan hukumnya dalam al-Quran secara tegas dan terperinci. Dalam pembahasan ta'arudh al-dilalah (pertentangan antar dalil). Hadits Mudlthorib.9 Membaca keterangan di atas. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. yang terdapat dalam alQuran ataupun al-Sunnah. Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya Periwayat Hadits Periwayat Hadits yang diterima oleh Muslim Sunni Aturan-aturan Hadits dari Sunni mendapatkan bentuk terakhirnya kurang lebih 3 abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Yang termasuk sumber hukum golongan ini ialah ijma' atau kesepakatan para ulama dan qiyas. Sesungguhnya pertentangan-pertentangan dalil yang terjadi hanya sebatas ketidakmampuan akal manusia memahami wahyu-wahyu Allah. dan penerapannya dalam kehidupan manusia. Imam Nasa`i dan Imam Ibnu Majah. mudallas. tentunya tidak akan lepas dari pembahasan sumber-sumber hukum. Hadits Mudraj. PERTENTANGAN ANTAR DALIL QATH’I DAN PENYELESAINNYA (Oleh Muhammad Wildan) I. tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. mu’allaq. dan maslahah mursalah.). dengan cara menyatukan dalil-dalil hukum yang mengalami kontradiksi. yang melawan Ali pada Perang Jamal. manusia. meskipun pelaku dari al-Sunnah sendiri itu Nabi Muhammad SAW. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasanya dianggap yang paling dipercaya dari koleksi ini. dapat dipahami bahwa dalil yaitu sesuatu yang dengannya kita dapat memperoleh status hukum berdasarkan dengan keyakinan atau praduga. Imam Muslim. dibahas. Adapun ta'arudh yang terjadi dalam dalil-dalil hukum Islam dewasa ini hanyalah sebatas ta'arudh Dzahiri. mana yang harus diterima dan mana yang boleh bahkan harus melalui proses pemikiran akal. istishab. Imam Turmudzi. mengandung kejanggalan atau cacat. apabila merupakan kesepakatan dan analisis para mujtahid maka dinamakan ijma'. Tentunya. dan syaru' man qablana (syariat kaum sebelum Nabi Muhammad SAW.Shahih Muslim Beberapa istilah dalam ilmu hadits Berdasarkan siapa yang meriwayatkan. Dalam tulisan ini penulis mencoba mencari jalan keluar dari pertentangan tersebut. . melalui Fatimah az-Zahra. yaitu sesuatu yang dapat mengantarkan atas apa yang dicari yang berupa kepastian berdasarkan keyakinan maupun praduga berdasarkan rajhan (keunggulan) dan taghlib (keumuman). termasuk: Shahih Bukhari. akan tetapi tak sedikit ulama yang mengabaikan dan menjauhinya. Di samping itu. Ada beberapa perdebatan yang terjadi apakah anggota ke-6 dari aturan ini seharusnya Ibnu Majah atau Muwatta` dari Imam Malik. Pada dasarnya al-Quran dan al-Hadits tak akan menuai pertentangan diantara keduanya. sehingga sekilas terjadi pertentangan. dalam ayat-ayat hukum di bidang mu'ammalah pada umumnya disebutkan atau disyariatkan hikmah atau 'illat hukumnya. memiliki sifat istiqomah. Dalam ijma' sendiri itu ijmanya siapa. adapun sumber hukum yang termasuk dalil naql ialah al-Quran dan al-Sunnah.Mun La Yah DuruHu al-Faqeeh Kitab-kitab Hadits Beberapa kitab hadits yang masyhur/populer antara lain: Riyadhus Shalihin. Seseorang yang ingin memahami dalil syara'. dan syariat kaum sebelum kita.Al-Istibsaar. Dalam bidang mu'ammalah. serta matannya tidak syadz serta cacat. baik yang statusnya qathi' (pasti) maupun zhanni8 (relatif). Aturan-aturan ini. Meskipun. As Sittah maksudnya enam perawi yakni mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hambal. pada umumnya disebutkan pokok-pokoknya saja. Mereka yang tak mengakui qiyas sebagai sumber hukum masih ragu dalam cara pengambilan hukum dengan metode qiyas sendiri. Oleh karena itulah al-Sunnah menempati urutan kedua setelah al-Quran. Adapun al-Sunnah termasuk kategori ini karena merupakan sumber hukum yang substansi dari Sunnah sendiri adalah Allah. Yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya.Shahih Bukhari. sinonim dengan kata burhan yang mempunyai arti petunjuk. Hadits Munqalib. ijma' ahli madinah. dan kuat ingatannya. Hadits Mudallas. Ulama ushul fiqih dalam hal ini membagi sumber hukum syari' kepada tiga bagian10 yaitu sebagai berikut: 1. istishab (pengambilan hukum berdasarkan keberadan hukum pada masa lampau). dan banyak kekurangan. 2. Ats tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami ayat-ayat alQuran maupun al-Hadits Rasulullah. Mujtahid sangat berperan dalam menentukan hukum Islam dewasa ini. Hadits Maqlub. dengan mengutip dari pemikiran dan metodologi para ulama Islam yang telah bersusah payah dalam menggali dan menyatukan dalil-dalil yang bertentangan. Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawi-perawi yang lain. Abdul Wahab Kholaf berpendapat dalil sebagai sesutu yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara' yang bersifat praktis. kelemahan. sehingga peluang untuk mengembangkan hukum terbuka lebar dengan berbagai metode. Mustahil bagi Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengusai menciptakan suatu hukum yang bertentangan. Diterangkan bahwa ayat-ayat al-Quran. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. cara memahami suatu dalil. Dengan kemapuannya ayat al-Quran maupun al-Hadits dapat diketahui maknanya. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. maslahah mursalah.DALIL a. Sedangkan dalil menurut ulama ushul fiqih. karena antara mujtahid satu dengan mujtahid yang lain berbeda dalam memakai metode pengambilan hukum. Ilmu ushul fiqih merupakan salah satu bidang ilmu keislaman yang penting dalam memahami syariat Islam dari sumber aslinya. seperti metode qiyas. yaitu dengan menyamakan hukum satu dengan hukum yang lainnya. Hadits Mungkar. meskipun hakikat dari pertentangan dalil-dalil syara' itu tidak mungkin terjadi. Maksudnya. disusun oleh Bukhari (194-256 H)_Shahih Muslim. Perlu dicatat dalam usaha menggali makna al-Quran dan al-Sunnah serta rahasia-rahasia hukum yang tersirat di dalamnya. seperti Aisyah. dan maslahah mursalah. Sedangkan dalil menurut Muhammad Wafa'.6 Yaitu petunjuk yang menunjukan kepada madlul (sesuatu yang ditunjuk). istihsan. terbuka. prinsipprinsip umum syariat Islam. Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain: Hadits Matruk. baik berupa al-Quran ataupun Sunnah Rasulullah disyaratkan mengetahui secara kaidahkaidah ushul fiqih. Hadits Syadz. Sedangkan dalil-dalil yang tidak termasuk wahyu. Dalam ushul fiqih dijelaskan batasan akal manusia dalam memahami wahyu Allah. Metodologi ijtihad dewasa ini dikenal dengan ushul fiqih. dan istishab. tentunya yang namanya manusia tidak akan lepas dari kesalahan. tentunya dengan kaidah-kaidah yang benar. tentunya berdasarkan pembenaran dan penelitian yang cermat lafadz tersebut menunjukan wajibnya shalat karena suatu perintah memberikan makna wajib. padahal sebenarnya ada. Sedangkan apabila tidak memiliki kriteria-kriteria di atas maka dinamakan istidlal (mencari dalil). meskipun ada sebagian orang yang dapat memahami al-Quran ataupun al-Sunnah yang belum termasuk golongan mujtahid. ijma' mujtahid sepanjang masa. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah. Semua ulama sepakat bahwa al-Quran dan al-Sunnah merupakan sumber hukum syariat Islam. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. sehingga hukum Islam dapat berkembang sesuai dengan tuntutan manusia dan Zaman. istri Muhammad saw. Sumber-sumber hukum dalam hal ini ialah 'urf (tradisi). Menurutnya. Hadits Maudu`. Sumber hukum ini masih bayak menuai pertentangan. Syi`ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum syi`ah diklaim memusuhi Ali. Adapun yang termasuk sumber hukum atau dalil adalah al-Quran dan al-Sunnah. dan menerima berbagai macam penafsiran serta berbagai prinsip-prinsip dasar yang dalam bentuk aplikatifnya memerlukan aturan tambahan. Dengan penerapan metodologi itulah. dan disatukan maka jelaslah ayat yang bertentangan tersebut tak ada pertentangan sedikit pun. Imam Bukhari. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim. munqati’ atau mu’dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. baik dalam sanad atau pada gurunya. hanyalah lafadznya saja. mereka berbeda-beda pendapat.Sumber hukum yang telah disepakati oleh semua ulama Islam. terjaga muruah (kehormatan)-nya. Dalil dalam Perspektif Sumbernya Berbicara tentang dalil. istihsan. yaitu sebagai berikut11. Ilmuwan hadits yang kemudian memperdebatkan keotentikan beberapa hadits tetapi otoritas dari buku-buku tersebut meningkat dengan pesat. 2.Al-Tahzeeb. baik itu berupa al-Quran ataupun al-Sunnah. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H)_Sunan at-Turmudzi. Hadits Hasan. Namun demikian. Mujtahid sama seperti kita. maslahah mursalah (pengambilan hukum yang berprinsip kemaslahatan secara bebas).12 Adapun dalil yang merupakan wahyu adakalanya dibacakan seperti al-Quran dan ada juga yang tak dibacakan seperti al-Sunnah. tetapi sebagian besar menggunakan: Usul al-Kafi. Dijelaskan dalam al-Quran Surat al-Nisaa' pada ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut.Sanadnya bersambung. Ayat hukum yang menyangkut ibadah. baik yang mengetahui maupun tidak tahu. bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung. II. As Sab`ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad. yang lafadz dan substansinya berasal dari Allah.Sumber hukum yang disepakati oleh Jumhur ( mayoritas ) ulama. disusun oleh Muslim (204-262 H)_Sunan Abu Daud. Hadits Dhaif (lemah). 3. b. dipahami. Imam Abu Daud. Seperti halnya dalil diwajibkannya shalat yaitu ayat alQuran: ‫اقيمواالصلة‬ Yang mempunyai arti dirikanlah shalat menunjukan perintah untuk melaksanakan shalat. Akan tetapi ayat-ayat yang berbicara tentang ibadah dijelaskan oleh Rasulullah SAW secara rinci dan jelas dalam sunnahnya. batasan ringkas mengenai ini adalah adakalanya berupa wahyu atau bukan. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. 1. hukum Islam berkembang dalam sejarah. ijma' Sahabat. Sumber hukum syar'i yang merupakan kumpulan-kumpulan dalil yang darinya hukum-hukum syariat digali. Melalui ilmu ushul fiqih dapat diketahui kaidah-kaidah. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya. Hadits Mu`allal.Sumber hukum yang menjadi perdebatan ulama. ‫ولو كان من غير ال لوجدوا فيه اختلفا كثيرا‬ Artinya: Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah. madzhab Sahabat. istihsan (anggapan baik tentang suatu hukum). Terlepas dari perdebatan para ulama. Karena kebanyakan ayat-ayat yang bertentangan itu terdapat di dalam pembahasan mua'ammalah. ada sebagian ulama yang tidak mengakuinya. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadis Mu`allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. ketika berupa analogi suatu hukum terhadap hukum yang belum diketahui adalah qiyas.

Penunjukan Hukum Dalil Apabila kita melihat dalil dalam segi penunjukan hukum maka kita akan menemukan dua pembagian yaitu sebagai berikut: 1. PERTENTANGAN ANTAR DALIL QATHI' a. al-Baqarah: 180)26 ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين‬ Artinya:"Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. berdasarkan dengan Ayat al-Quran..Hakikat Ta'arudh Para ulama ushul fiqih. dengan cara apa kau memberikan putusan?" Mu'adz menjawab "saya akan memutusinya dengan kitab Allah".. (HR. Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan. Tidak hanya itu. Al-Baqarah: 180) ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين الية‬ Artinya: "Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. Dewasa ini ulama ushul fiqih terdapat dua pendapat dalam menyelesaikan ta'arudh. Terbukti daengan sifat 20-Nya. Karena sumber-sumber hukum tidaklah ditetapkan keabsahannya melalui potensi akal. yang merupakan sandaran dari dari ijma' sendiri adalah al-Quran dan al-Sunnah.. maka yang seperti inilah yang dinamakan ta'arudh.Syarat-sarat Ta'arudh Yang dimaksud syarat di sini adalah sesutu yang menyebabkan terjadinya ta'arudh. Apabila di dalam al-Sunnah tidak ditemukan maka. Qiyas. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. waktu 'iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. ‫كتب عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربين‬ Artinya: "Diwajibkan atas kamu. Cara ini dapat dilakukan dengan cara menta'wilkan lafadz yang umum kepada lafadz yang khusus. maka metode yang ditempuh untuk keluar dari kontradiksi tersebut adalah sebagai berikut:31 a.21 Seperti hukum nikah ketika ihram (rukun haji). maha mengetahui. maka secara otomatis dalil qathi' yang didahulukan. yaitu ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang mutawatir. Dengan seperti ini sudah tidak ada pertentangan antara kedua ayat tersebut. baik yang disepakati ulama dalam penetapannya maupun yang masih menjadi bahan perdebatan. Karena itu apabila menetapkan suatu hukum maka alQuran sebagai dalil pertama dan utama. Maka. Dengan metode tarjih seorang mujtahid bisa menetapkan hukum berdasarkan dalil yang lebih kuat dari pada dalil yang lemah. IV.c.. ijma' dan qiyas..20 Sumber hukum Islam primer yang berasal dari Allah SWT. Dengan demikian.kedua dalil tersebut berada dalam derajat yang sama dalam penunjukan hukum.13 d." (QS. jika ia meninggalkan harta. Dari semua syarat juga harus dipenuhi oleh dalil yang ta'arudh. ‫عن ميمونة قالت تزوجني رسوال صلي ال عليه وسلم ونحن حللن‬ Artinya:"Dari Maimunah ra. baik itu golongan mutaakhirin (ulama ushul fiqih yang mengikuti Imam Syafi'i) ataupun ulama Hanafiah sepakat bahwa hakikat dari ta'arudh dalam syariat Islam yang di dalamnya merupakan kumpulan dalil-dalil hukum mustahil terjadi. mereka juga telah memberikan solusi jika terjadi pertentangan antar dalil.34 b. al-Nisa: 11)27 Pada ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. "saya akan memutusinya dengan Sunnah Rasulullah" Nabi kembali bertanya.. tidak mungkin terjadi kontradiksi antar al-Quran maupun al-Sunnah yang merupakan wahyu-Nya.19 Adapun kontradiksi yang terjadi hanyalah sebatas ketidak mampuan akal para ulama untuk mengetahui maksud dari dalil-dalil kontradiksi tersebut. dan lain sebagainya. al-Sunnah dengan al-Sunnah.. kita analisa sebenarnya pertentangan itu tidak ada."37 Contoh dalil yang bertentangan yang diselesaikan dengan cara tarjih yaitu Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di bawah ini : . Kedua dalil qathi' yang bertentangan dapat diselesaikan dengan metode al-jam'u dengan cara ta'wil. yaitu sebagai berikut: 1. Selain itu juga ditambah dengan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil qathi' maupun zahnni. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. Adapun kontradiksi antar dalil qathi'' tidak akan pernah terjadi. Surat al-Nisa ayat 82 yang berbunyi sebagai berikut: ‫ولو كانمنغيراللهلوجدوافيهاختلفاكثيرا‬ Artinya:Kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. Hal ini berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal ketika diutus oleh Rasul ke Yaman sebagai Qadhi (juru hukum). Jika kita kaji.15 Sedangkan ta'arudh secara terminologi menurut Ali Hasbullah yaitu terjadinya pertentangan hukum yang dikandung satu dalil dengan hukum yang lain. diikuti dengan al-Sunnah. Adapun menurut ulama hanafiyah ditambah dengan hadits masyhur. sedangkan beliau keadaan ihram". Ayat yang kedua juga berlaku bagi wanita yang dicerai suaminya." III. sedangkan Hadits Ahad termasuk dalam dalil zhanni. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. Ijma'." Kemudian Rasulullah menepuk dada Mu'adz dan berkata. 2.33 Seperti contoh pertentangan yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 180 dengan surat al-Nisa ayat 11. Abu Dawud)28 ‫عن ابنعباسرضياللهعنهماانالنبيصلي اللهعليهوسلمتزوجميمونةوهومحرم‬ Artinya:"Dari Ibnu Abbas ra. baik yang hamil maupun yang tidak hamil.antara dalil yang mengalami pertentangan harus terjadi dalam satu masa dalam menentukan hukum. "saya akan berijtihad berdasarkan dengan pendapat saya. Ketika dalam ijma' tidak ditemukan barulah pengambilan hukum ditetapkan dengan akal. yang harus di depankan. Dalam metode yang kedua ulama jumhur menggunakan metode al-tarjih. yang sekiranya dalil tersebut bisa menguatkan salah satu dalil yang bertentangan.. seperti al-Quran dengan al-Quran. yang muatannya bermuara kepada al-Quran dan al-Sunnah. ketika dalil tersebut hanya memenuhi beberapa syarat. Sedangkan pada surat al-Talaq menyatakan bahwa wanita-wanita yang hamil 'iddahnya sampai melahirkan kandungannya. tidak disebut ta'arudh. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. 2. tentunya tidak melupakan pedoman dan kaidah-kaidah dalam al-Quran dan al-Sunnah. hanya saja berbedanya cara pandang ulama. Al-Nisa: 11) Kedua ayat di atas menunjukan pertentangan. sedangkan Hadits yang kedua menjelaskan bahwa Nabi mengawini Maemunah dalam keadaan ihram. jika ia meninggalkan harta. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. sanksi pelanggaran. seperti qiyas. seperti halnya hukum zakat.35 Perlu diketahui penguatan dalil dalam hal ini terjadi dengan sendirinya. serta dengan cara memilih salah satu hukum dengan cara mangambil hukum yang khusus daripada dalil yang umum.16 Berbeda dengan pendapat Imam Syaukani mengenai ta'arudh. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.17 adapun Abdul Wahab Kholaf mendefinisikan ta'arudh dengan pertentangan antara dua nash atau dalail (bentuk jamak dari dalil) yang sama kuatnya. Contoh dalil qathi' yang mengalami pertentangan 1. sumber-sumber hukum dalam Islam yang di dalamnya merupakan rujukan dalil-dalil hukum. berupa ayat-ayat al-Quran dan al-Hadits yang mutawatir. yang berbunyi sebagai berikut: ‫والدين يوتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن أربعة اشهر وعشر‬ Artinya: "Orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beri'ddah) empat bulan sepuluh hari. al-Sunnah dengan al-Sunnah). Alasan mereka berdasarkan kaidah mengamalkan kedua dalil lebih baik daripada mengabaikan salah satu dalil. Apabila dalil-dalil qathi' maupun zahnni terjadi pertentangan serta memenuhi syaratnya. Dengan demikian kedua ayat di atas terdapat kontradiksi kandungan dalam kasus wanita hamil yang ditinggal mati suaminya. Atas jasa mereka kita dapat mnegetahui makna dalil-dalil hukum yang dijadikan pijakan untuk memutuskan hukum suatu perkara. ayat tersebut adalah: ‫كتب عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربينالية‬ Artinya:"Diwajibkan atas kamu. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati. dan lafadz muthlaq kepada lafadz yang muqayyad32. Hal ini berdasarkan kaidah fiqih yang berbunyi ‫اذا اجتمع الحلل والحرام غلب الحرم‬ Artinya "Apabila berkumpul antara halal dan haram. baik itu qath'i maupun dalil zahnni." (QS. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Ditambah Hadits masyhur menurut pendapat ulama Hanafiayah. Ayat ini berlaku secara umum bagi wanita yang ditinggal mati suaminya.al-Baqarah: 234)24 ‫وأولت الحمال أجالهن أن يضعن حملهن‬ Artinya: ". tidak mungkin terjadi kontradiksi antara satu dengan lainnya. menghadapi.. perujukan hukum mengambil dari ijma'. Adapun ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. maka al-Quran adalah sumber dari segala sumber-sumber hukum Islam. maka dalil tersebut tidak dinamakan pertentangan. berdasarkan petunjuk dalil-dalil yang mendukungnya kemudian mengamalkan hukum dalil yang lebih unggul dan mengabaikan dalil yang lemah. Jumhur ulama sepakat metode yang kedua digunakan adalah dengan cara al-tarjih. Selain itu juga mencakup kaidah-kaidah universal yang menjadi rujukan hukum-hukum parsial ataupun sekunder seperti ijma' dan qiyas yang merujuk dari kaidah-kaidah al-Quran dan al-Sunnah. dan terjadi dalam satu martabat atau derajat (sumber hukum yang sama kuatnya dalam pengambilan hukum). tetapi ketika turun ayat yang menunjukan bahwa arak haram. pada dasarnya konsentrasi terhadap sumber hukum naqliyah (dogmatik). Rasulullah SAW.Al-Tarjih (menguatkan) Apabila dengan metode mengumpulkan dan mengkompromikan dalil yang mengalami kontradiksi tidak dapat ditemukan jalan keluarnya. Imam Maliki dan golongan Zhahiriyah. Seperti arak pada masa awal Islam hukumnya boleh."(QS.Dalil zahnni yaitu dalil-dalil syara' yang sampai kepada kita tidak dengan cara mutawatir. yaitu mena'wil ayat yang pertama untuk berwasiat kepada calon ahli waris karena berbedanya Agama yang manjadikan terputusnya hak waris. sedangkan kami dalam keadaan tidak ihram" (HR.Surat al-Baqarah ayat 180 kontradiksi dengan surat al-Nisa ayat 11. Para ulama memberikan syarat-syarat ta'arudh apabila dalil yang kontradiksi memenuhi syarat: 1. 4."ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan. Adapun Hadits yang pertama menjelaskan bahwa Rasulullah mengawini Maemunah dalam keadaan tidak berihram. Mengawini saya. serta sejauh mana logika mereka dalam membahas suatu hukum. Adapun pentarjihan dua dalil yang bertentangan dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut: 1. "bila di dalam Sunnah Rasul pun tidak kau temukan?" Mu'adz menegaskan. 'iddahnya (masa menunggu) adalah empat bulan sepuluh hari. Jadi yang dimaksud pertentangan dalil qathi'' yaitu kontradiksi antara dua dalil yang diyakini datang dari syara'. yang kedua dalil tersebut terdapat dalam satu derajat atau tingkatan (ayat al-Quran dengan ayat al-Quran. sedangkan dalil yang lain menentukan hukum yang berbeda dengan hukum tersebut..Dan perempuan-perempuan yang hamil. tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. Apabila terjadi pertentangan antara dalil qathi' dan zahnni. Al-Talaq: 4) Pada ayat 234 surat al-Baqarah menjelaskan bahwa wanita-wanita yang ditinggal mati suaminya.Jumhur Ulama (Kebanyakan Ulama) Para ulama ini yang kebanyakan adalah pengikut Imam Syafi'i.. maka dimenangkan yang haram. yakni al-Quran dan alSunnah. Yaitu. Yaitu. maka tertib urutan sumber hukum yang pertama adalah al-Quran. Dikarenakan al-Quran dan al-Sunnah menjadi sumber hukum syariat Islam yang tergolong primer.. Hirarki Dalil dalam Pemakaiannya Bila ditelusuri lebih jauh.Dalil qathi' yaitu dalil yang diyakini datang dari syara'. Apabila waktunya sudah berbeda dalam penunjukan hukum. lafadz yang dhahir kepada lafadz nash.Mencari Dalil yang Lain yaitu dengan cara mencari dalil-dalil yang lain baik itu berupa ayat al-Quran. oleh karena itu muatan dari keduanya mencakup hukumhukum yang parsial dan cabangnya secara detail. Karena itulah al-Quran dan al-Sunnah menjadi dalil primer dalam mementukan suatu hukum.al-Sunnah mempunyai fungsi sebagai penjelas dari kandungan al-Quran. Menurut bahasa ta'arudh mempunyai brrbagai arti diantaranya adalah menentang. Jadi tidak mungkin Dzat yang mengetahui dan berkuasa membuat aturan yang kontradiksi. tidak dikuat-kuatkan oleh manusia. Ketika terjadi ta'arudh akan tetapi waktu penunjukan hukum ayat itu berbeda maka ayat tersebut bisa disatukan. jual beli. 3." (QS. baik itu kontradiksi antar dalil qathi' maupun zahnni.Ayat 234 surat al-Baqarah dengan ayat 4 sutat al-Thalaq.. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. Rasulullah bertanya pada Mu'adz.Meneliti Hukum36 Cara ini dapat dilakukan dengan mendahulukan hukum haram atas hukum halal. sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. Hadits Nabi. dan masih ada syarat yang belum terpenuhi.al-Quran memerintah kan untuk mengamalkan dan berpedoman dengan al-Sunnah.kedua dalil yang mengalami pertentangan berada dalam satu hukum (satu masalah). b. Ulama ini berpendapat ketika terjadi pertentangan dua dalil."25(QS. istihsan dan lain sebagainya.. mengawini maemunah."(QS. sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. 2. diantaranya yaitu maha berkuasa. berdasarkan alasan di atas. dan saya akan berhati-hati dalam menerapkannya. yaitu pertentangan dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap satu persoalan. kedua dalil tersebut berbeda dalam menunjukan hukum. secara otomatis kedua penunjukan hukum seperti ini tidak menunjukan adanya pertentangan. maka tidak disebut ta'arudh (pertentangan). "segala puji bagi Allah yang memberikan petunjuk pada utusan Rasulullah dengan apa yang diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya. dan qoulu Sahabat. dan keduanya berbeda dalam menentukan hukum. c. Dalil pertama mengatakan bahwa nikah ketika sedang ihram hukumnya boleh. Apabila dalam al-Quran tidak ditemukan maka merujuk kepada al-Sunnah. PENYELESAIAN TA'ARUDH Kita harus berterima kasih kepada para ulama atas kesungguhannya dalam menggali dan membahas hukum-hukum Islam. Sesungguhnya Rasulullah SAW.22 Tidak ada perentangan antara al-Quran dengan Hadits Ahad. yaitu menguatkan salah satu dalil yang mengalami kontradiksi.Al-Jam'u wa talfiq bain al-Muta'aridhain (mengumpulkan dan menkompromikan dalil yang bertentangan) Metode yang pertama digunakan ulama ini adalah mengumpulkan dan mengkompromikan dalil yang bertentangan. Abu Dawud)29 Secara zhahir kedua Hadits di atas mengalami kontradiksi dalam menentukan hukum nikah dalam keadaan ihram. 2.Adapun al-Sunnah menjadi sumber hukum primer berdasarkan dua alasan yaitu: 14 1. Disebabkan alSunnah merupakan penjelas dari kandungan al-Quran sendiri. Adapun selain dari keduanya adalah hasil dari manifestasi akal manusia.18 Dari keterangan di atas penulis memberi titik tekan dari ta'rudh yaitu kontradiksi dua dalil yang berbeda. Adapun ta'arudh yang terjadi dewasa ini hanyalah ta'arudh zhahiri (kontradiksi sekilas saja). Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan. ataupun qiyas dengan qiyas. karena alQuran dalam penunjukan hukumnya adalah sebagai dalil qathi''.23 yang seperti ini dikarena perbedaan metode ulama dalam memahami dalil-dalil suatu hukum. Akan tetapi para ulama sepakat pertentangan antara dalil yang qathi' dan zhanni tidak mungkin terjadi. Ketika ada dalil yang tampak bertentangan akan tetapi. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. Rasulullah bertanya lagi "bila kau tidak menemuinya di dalam kitab Allah?" Mu'adz menjawab. dan merintangi.. 2.kedua dalil yang bertentangan berbeda dalam menentukan hukum. akan tetapi ada dalil lain yang menerangkan bahwa nikah pada saat sedang melakukan ihram hukumnya haram. baik cerai mati maupun cerai hidup.Pengertian Pertentangan antar Dalil Pertentangan dalam istilah ulama ushul fiqih adalah ta'arudh.

dikarenakan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil tersebut. maka tampak sekilas terjadi kontradiksi antara satu dengan dalil yang lainnya. Oleh karena itu. seperti urusan pakaian. yaitu Jumhur ulama dan Hanafiah. S al-Qiyamah: 17). dengan tanda kutip sang anak bukan orang kafir ataupun murtad. Tatsaqut al-dalilain yaitu meninggalkan kedua dalil yang bertentangan. Abu Dawud)39 Sekilas kedua Hadits mengalami pertentangan. sehingga seakan-akan ia menjadi indikator bagi sebagian ayat yang lain tersebut. tidak ada keraguan dalam keqathi'an kedua sumber hukum tersebut. Ketika terjadi kontradiksi disebabkan oleh ketidak mampuan akal manusia dalam memahami wahyu Allah secara menyeluruh. Sedangkan hadits adalah perkataan. Dan menurutnya khabar murodif dengan hadits. Sedangkan ayat kedua menjelaskan bahwa kedua orang tua dan sanak kerabat secara otomatis mendapatkan harta pusaka tanpa adanya wasiat. Mengenai dalil yang tidak beramal hukumnya tetap qathi'. Suah menurut istilah Fuqoha adalah sesuatu yang diterima dari Nabi Muhammad saw. Pengertian khabar Khabar menurut bahasa adalah berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain. yaitu mendahulukan hukum haram daripada hukum halal ataupun mubah. mustahil Allah SWT. Hadits Qudsi. dan ditranformasikan secara tawattur serta membacanya termasuk ibadah. Pengertian Atsar Secara etimologi atsar berarti sisa reruntuhan rumah dan sebagainya. setiap khabar belum tentu dapat disebut dengan hadits. Kemudian jika memang hal ini tidak memungkinkan. tidak diderivasi dari kosakata apapun. sedangkan khabar dari selain Rosul. menciptakan dalil yang saling bertentangan. karena sudah ada dalil yang lebih jelas dan detail.Ulama Hanafiah Menurut golongan ini.45 Demikianlah metode jumhur ulama dalam menghadapi kontradiksi antar dalil. dan dalam pendekatannya manusia menuju kebenaran tak jarang kesalahankesalahan menyertainya. maka tidak akan terjadi kontrdiksi. 3. Pengertian sunah Sunah menurut bahasa adalah perjalanan (jalan yang ditempuh).Tatsaquth al-Dalilain Prakteknya tetap sama ketika menggunakan nasakh. Contoh wahyu al-Quran adalah:‫قل هو ال احد ال الصمد لم يلد ولم يولد إلخ . Jamaknya adalah sunan. baik banyak ataupun sedikit. maka harus menyatukan dan mengkompromikan kedua dalia yang saling bertentangan. dan taqrir beliau. Manusia hanya bisa mendekati saja. Dengan demikian. At Thur. Sama juga seperti pertentangan antar dalil. Adapun secara terminologi terdapat perbedaan pendapat terkait definisi khabar.44 Jumhur ulama berpendapat seperti ini. kata atsar sinonim dengan hadits. tentunya bukan kesalahan Allah dalam membuat dasar-dasar hukum syariat tetapi ketidakmampuan akal manusia untuk menuju kebenaranNya. melainkan merupakan isim jamaknya. kata benda abstrak) qiran yang mempunyai arti bersamaan atau beriringan. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut dengan al-Quran karena surat. DEFINISI HADIST Pengertian Hadits menurut bahasa kata hadits memiliki arti. menyebutkan enam pendapat berkenaan pengertian al-Quran dari segi etimologi ini. STATUS DALIL YANG KONTRADIKSI Semua dalil al-Quran dan al-Hadits (mutawatir) yang merupakan dalil Naqli (dogmatik) sesungguhnya. Oleh karena itu. Menurut mereka. tidak mungkin satu masalah dihukumi dengan dua hukum. diturunkan kepada Nabi Muhammad. VI. Allah juga menggunakan kata hadits dengan arti khabar. baik setelah dingkat ataupun sebelumnya. SIMPULAN Kebenaran hanya milik tuhan secara mutlak. Ada juga yang berpendapat ahadits bukanlah jamak dari hadits. meskipun keduanya (suami dan isteri) tidak bersetubuh.Al-Nasakh (Membatalkan) Arti bahasa dari al-nasakh adalah membatalkan. Imam al-Zajaj berpendapat bahwa kata al-Quran diderivasi dari noun (kata benda) qur-u yang mempunyai arti kumpulan. Jadi haram berbuat sesuatu kepada isteri yang sedang haidh diantara pusar dan lutut. Di dalam kontradiksi antara dalil tersebut tentunya mempunyai aturan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. yang mungkin saja ulama membuat kesalahan dalam mementukan hasil hukum. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dinamakan dengan al-Quran karena ia mengumpulkan intisari beberapa kitab yang diturunkan sebelum alQuran.Nasakh 2. Jalan keluarnya adalah memakai satu hukum yang dipilihnya. para ulama harus mendahulukan hukum dari dalil yang datang belakangan. bentuk jama’ (plural) dari qarinah yang mempunyai arti indikator. baik terpuji atau tidak. ‫. B. yang bisa bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i.. tentunya kedua dalil yang mengalami kontradiksi tidak bisa diamalkan semua. tentunya dengan tidak mengabaikan kesungguhan mereka dalam meluhurkan Agama Islam berupa. Dengan demikian. dan menghapus. baik setelah diangkat ataupun sebelumnya. perbuatan ataupun taqrir yang bisa dijadikan dalil bagi hukum syar’i."(QS. yaitu: 1.فليأتوا بحديث مثله إن كانوا صادقين‬ “maka hendaklah mereka mendatangkan khabar yang sepertinya jika mereka orang yang benar” (QS. kata al-Quran merupakan masdar yang sinonim dengan kata qiraah. Oleh karena itu. 2. yang berupa ucapan. Sebagian ulama mutaakhirin tidak sependapat dengan pandangan yang menyatakan bahwa al-Quran bersumber dari fi’il (verb.. yang bukan fardlu ataupun wajib. Pertama.سورة الخلص‬ 2. tindakan. Seperti contoh ayat al-Quran surat al-Baqarah pada ayat 180 dengan ayat al-Quran surat al-Nisa pada ayat 11 di bawah ini :‫كتب‬ ‫عليكماذاحضراحدكمالموتانتركخيراالوصيةللوالدينوالقربينالية‬ Artinya:"Diwajibkan atas kamu. taqrir. ditulis di dalam mushaf. orang yang sedang membaca al-Quran berarti ia sedang memperlihatkan dan mengeluarkan al-Quran. ketika tarjih dengan mencari dalil yang lebih unggul diantara keduanya. jika ia meninggalkan harta. dengan syarat ke empat cara di atas harus ditempuh secara berurutan. menjawab. perbuatan. Adapun definisi al-Quran secara terminologi adalah Firman Allah yang berbahasa Arab. Pengertian al-Quran. sifat. yang di dalamnya tiada ikut campur sedikitpun akal manusia dalam menentukan dalil naqli.baik berupa perkataan. yang mayoritas terdiri dari ulama bermadzhab Hanafi meskipun madzhab Hanabiah juga mengikuti metode ini47. yaitu dengan memilih salah satu dalil yang dikehendaki tanpa menganggap adanya pertentangan antara dalil yang ada. yang merupakan acuan para ulama dalam pengambilan suatu hukum. mana dalil yang pertama duluan serta mana dalil yang datang kemudian. Al-Nisa: 11) Pada ayat yang pertama menjelaskan wajib bagi seseorang yang kedatangan tanda-tanda kematian untuk memberi wasiat kepada kedua orang tua dan sanak kerabatnya tentang harta yang dia miliki. Kedua. Kemudian ulama menetapkan hukum berdasarkan dalil yang datang lebih akhir dari pada dalil yang datang lebih sebelumnya. "segala yang berada di atas kain pinggang". 4. Ketika dalil yang bersifat qathi' mengalami kontradiksi dengan dalil qathi' atau yang lainnya. yang terkadang menghendaki perubahan seiring dengan perubahan kondisi manusia itu sendiri. perbuatan. Adapun hadits menurut istilah ahli hadits hampir sama (murodif) dengan sunah. dengan mengoptimalkan fungsi dari akal dalam memecahkan hukumhukum Islam yang kekinian. 3. dan Hadits Nabawi 1) Pengertian al-Qur’an Para ulama berbeda pendapat terkait dengan pengertian al-Quran dari segi etimologi. Sunah menurut istilah ahli ushul fiqh adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi-selain al Qur’an. Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara satu dalil dengan yang lainnya. perbuatan dan taqrir beliau. dengan mencari jalan keluar dari pertentangan yang ada. Penerepan dari semua metode ini juga harus secara berurutan. Al-Baqarah: 180) ‫يو صيكم ال في اولدكم للذكر مثل حظ ال نثيين الية‬ Artinya:"Allah mensyariatkan bagimu (tentang pusaka untuk) anak-anakmua. kelakuan. (HR. kata kerja qaraa mempunyai arti memperlihatkan atau memperjelas. dan ketetapan seseorang selain Nabi Muhammad. Imam Syafi’i berpendapat bahwa al-Quran merupakan nama yang independent. Akan tetapi kalau kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. yaitu: 1. atsar adalah perkataan. Menurut ahli ushul hadits adalah segala pekataan Rosul. Kata khabar sinonim dengan hadits. Al-Nasakh dilakukan dengan membatalkan salah satu hukum yang dikandung dalam kedua dalil tersebut dengan syarat harus diketahui dulu.." (QS. tapi ada sebagian ulama yang berpendapat. setiap hadits dapat disebut juga dengan khabar. Pada dasarnya metode yang digunakan oleh dua golongan. Pembatalan ini menurut Abdul Wahab Khallaf. ketika menggunakan al-jam'u talfiq bain al-muta'aridhain maka.42 Dengan diketahuinya dalil hukum yang datang awal dan akhir maka dapat diketahui mana dalil yang dibatalkan. terlebih dalil yang bersifat naqli (dogmatik) lain dengan dalil yang sifatnya bersumber dari manifestasi akal manusia. Yaitu.‫عن حزامابنحكيمعنعمهانهسألرسولللهصلىاللهعليهوسلممايحللىمنإمرأتىوهىحائضقاللكمافوقالزر‬ Artinya: "Dari Hizam Ibnu Hakim dari pamannya. Khabar menurut Muhadditsin adalah warta dari Nabi. d. oleh karena itu. Namun. Jamaknya adalah hudtsan. "Apa yang boleh aku lakukan terhadap isteriku yang sedang haidh? ". dan Tabi’in. ia diberi kesempatan untuk menempuh metode takhyir (memilih). Pendapat ini merupakan pendapat yang paling kuat. sedangkan ayat yang kedua menjelaskan tidak wajibnya wasiat. Rasulullah SAW. Khabar mempunyai arti yang lebih luas dari hadits. sesungguhnya dia bertanya kepada Rasulullah SAW. seperti halnya qiyas yang merupakan buah pikiran manusia. mencabut. guna merealisasikan kemaslahatan manusia. Ia merupakan nama yang khusus digunakan untuk firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Khabar adalah perkataan. Sunah menurut istilah Muhadditsin adalah segala sesuatu yang berasal dari Nabi baik berupa perkataan. Pada kasus ini ulama Jumhur menguatkan Hadits yang pertama.Tarjih 3. dalil yang tidak dipakai hukumnya cuma tidak beramal. menurut ahli ushul sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum tidak tergolong hadits. ayat. Melihat keterangan di atas telah diketahui hakikat dari dalil qathi. apabila syarat dari ta'arudh tidak terpenuhi. dapat melemahkan musuh. hidtsan dan ahadits. orang yang meriwayatkan hadits disebut Muhadditsin dan orang yang meriwayatkan sejarah dan yang lain disebut Akhbari. c. (Q. Setelah para ulama mendapatkan jalan keluar atas kontradiksi yang ada. beesabda" berbuatlah segala sesuatu (terhadap isterimu yang sedang haidh) selain bersetubuh".46 2. berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya. dan ketetapan Shahabat. Menurut al-Raghib. Rasulullah SAW. Jamak ahadits-jamak yang tidak menuruti qiyas dan jamak yang syad-inilah yang dipakai jamak hadits yang bermakna khabar dari Rasulullah saw.49 V. dan huruf yang ada di dalamnya saling beriringan. Dalam hal ini. Sebagian ulama berpendapat bahwasannya hadits dari Rosul. 2. seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. maupun perjalanan hidup. yang mana keduanya memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul. sunah lebih umum daripada hadits. 1) al jadid minal asyya (sesuatu yang baru). setelah diangkat menjadi nabi. Sedangkan secara terminologi ada dua pendapat mengenai definisi atsar ini. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan). Menurutnya. dan maktu’ bisa dikatakan sebagai khabar. tindakan. Shahabat. Menurut penelitian ulama Jumhur ayat 180 surat al-Baqarah dinasakh dengan surat al-Nisa ayat 11.40 akan tetapi yang dimaksud membatalkan di sini adalah membatalkan hukum syara' yang ditetapkan terdahulu dengan hukum syara' yang sama yang datang kemudian (diakhirkan). Menurut mereka. sebelum ulama meninggalkan kedua dalil yang bertentangan. 6. (HR. tentunya berbeda dengan dalil qathi' yang secara nyata datangnya dari Allah SWT. tetapi ketika dilakukan pentarjihan maka jelaslah hukum berbuat sesuatu diantara pusar dan lutut. Secara dzahir kedua ayat di atas terdapat pertentangan sebab ayat yang pertama menjelaskan kewajiban untuk berwasiat. Abu Dawud) 38 ‫عن أنسرضىاللهعنهقالقالرسولللهصلىاللهعليهوسلمإصنعواكلشيءغيرالنكح‬ Artinya "Dari Anas ra. hadist-hadits Rasul dikatakan ahadits al Rosul bukan hudtsan al Rosul atau yang lainnya. firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad disebut dengan al-Quran karena sebagian ayatnya menyerupai sebagian ayat yang lain.Tatsaquth al-Dalilain (Meninggalkan keDua Dalil) Metode ini ditempuh ketika cara nomer satu sampai nomer tiga tidak bisa menjadi jalan keluar dari pertentangan dalil yang ada. 24). lawan dari qodim. 2) Qorib (yang dekat) 3) Khabar (warta). pencarian hukum dengan menggali pada wahyu-wahyu Allah. Muhammad Ali Daud dalam kitab Ulum al-Quran wa al-Hadits. apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda) mati.41 Cara ini ditempuh ketika kedua cara di atas yaitu mengumpulkan kedua dalil serta menguatkan salah satu dalil tidak bisa menjadi jalan keluar dari pertentangan. tindakan. kemudian berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebuh rendah. Pengertian Hadits Qudsi . maka baru menggugurkan kedua dalil serta berijtihad dengan dalil yang lebih rendah kualitasnya atau derajatnya. Dengan sumbangan para ulama terdahululah permasalahan-permasalan dalam menentukan hukum Islam dapat diselesaikan. Dari pendapat ini. Adapun urutan metode yang digunakan ulama Hanafiah adalah sebagai berikut:48 1.Al-Jam'u wa talfiq bain al-Muta'aridhain 4. dan ketetapan Nabi Muhammad. kata kerja) qaraa yang mempunyai arti mengumpulkan dengan dalil firman Allah:‫إن علينا جمعه وقرآنه‬ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ْ َ َ ْ ََ ّ ِ “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya”. 5.. Oleh sebab itu. Hadits petama menegaskan hukum haram berbuat sesuatu diantara pusar dan lutut terhadap isteri yang sedang haidh. hanya saja berbeda dalam urutan penggunaan metodolgi penyelesaian pertentangan. akan tetapi. dalam firman-Nya. adalah metode yang sama. Sedangkan Hadits yang kedua membolehkan berbuat sesuatu antara pusar dan lutut kecuali bersetubuh.43 Jadi hukum yang dipakai dalam menentukan hak waris seorang anak adalah dapat diperoleh secara otomatis. Imam al-Asy’ari dan sebagian ulama yang lain menyatakan bahwa kata al-Quran diderivasi dari masdar (abstract noun. yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada kemungkinan benar atau salahnya Dari makna inilah diambil perkataan hadits Rasulullah saw. tidaklah pantas bagi seorang muslim yang terpelajar berpangku tangan mengandalkan karya-karya mereka. berdasarkan dengan satu sumber dari pembuat hukum tersebut. Menurut al-Lihyani kata al-Quran diderivasi dari fi’il qaraa yang mempunyai arti membaca. secara otomatis salah satu dari dalil yang mengalami kontradiksi akan terabaikan. Menurut Imam al-Fara’ kata al-Quran diderivasi dari noun (kata benda) qarain. Dia berkata. hadits marfu’. maukuf. Oleh karena itu.

Hadits Mardud (Tertolak) Setelah kita bicara hadits maqbul yang di dalamnya adahadits shahih dan hasan. d) Al-Quran tidak boleh dipegang oleh orang yang mempunyai hadats. sedangkan hadits qudsi adalah perkataan-perkataan nabi dengan mengatakan "Allah berfirman". yaitu banyak salah lengah dalam menghafal 6. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi ialah: 1. 4. 2.sedangkan hadits qudsi lafadznya dari nabi dan maknanya dari ALLAH. Klasifikasi Hadits berdasarkan pada Kuat Lemahnya Berita Berdasarkan pada kuat lemahnya hadits tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua). l) Bentuk Hadits Nabawi ada dua macam: 1. Klasifikasi Hadits Hasan Hasan Lidzatih Yaitu hadits hasan yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Contoh hadist nabawi yang berupa perkataan (qauli) misalnya perkataan Nabi SAW. tiada terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (mempunyai banyak jalan) yang sepadan maknanya. yaitu hadits yang shahih dan hasan. ‫انما العمال بالنية. Tidak demikian dengan Hadits Qudsi.قال ال تعالى‬ 3. artinya berasal dari Allah. Jumhur ulama: Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil (tapi) tidak begitu kuat ingatannya. Hadits Qudsi. Maka bisa disimpulkan bahwa hadits hasan adalah hadits yang pada sanadnya tiada terdapat orang yang tertuduh dusta. yaitu hadits yang tertolak. Menyalahi riwayat orang kepercayaan 8. terkenal makhrajnya dan dikenal para perawinya. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Hasan adalah sifat yang bermakna indah..semua lafadz dan makna Al-qur'an bersumber dari ALLAH. yang paling tinggi kedudukannya ialah yang bersanad ahsanu’l-asanid. sedangkan hadits qudsi adalah perkataan-perkataan nabi dengan mengatakan "Allah berfirman".. sempurna ingatan. akan tetapi lafadznya dari Nabi Muhammad. menjauhi dosa-dosa kecil. اخرجه البجخارى فى صحيحه‬ Contoh hadist berupa perbuatan (fi'li) ialah ‫كان النبي اذا اراد ان ينام وهو جنب غسل فرجه وتوضأ للصلة. Hadits Hasan Secara bahasa. yang muttashil (bersambung-sambung sanadnya).. Hadits Dhaif yaitu hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits Shahih atau hadits Hasan. “Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW berkata. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi ialah: 1. maka ada baiknya kita juga membahas tentang perbedaan ketiga hal tersebut. الخ . Adapun mayoritas Hadits Qudsi ditransformasikan secara ahad (individual). Syarat-Syarat Hadits Shahih: Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih.hadits qudsi marupakan titah tuhan yang dismpaikan kepada nabi melalui mimpi'kemudian diterangkan oleh nabi dengan bahasanya sendiri serta menyandarkannya kepada ALLAH.sedangkan hadits qudsi lafadznya dari nabi dan maknanya dari ALLAH.semua lafadz (ayat-ayat) Al-qur'an adalah mu'jizat dan mutawatir.. قال ال تعالى ثلثه انا خصمهم يوم القيامه… الخ.setiap huruf Al-qur'an yang dibaca mendatangkan pahala bagi pembacanya. Tidak demikan halnya dengan Hadits Qudsi. Bagi pembaca semuanya. tidak tampak adanya sebab yang menjadikan fasik dan matan haditsnya adalah baik berdasarkan periwayatan yang semisal dan semakna dari sesuatu segi yang lain. Hadits itu tidak ber’illat (penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshahihan suatu hadits) Tidak janggal. Taufiqi. b) Lafadz dan arti al-Quran berasal dari Allah..semua ketentuan hukum bagi Al-qur'an tentang membaca dan menyentuhnya tidak berlaku bagi hadits qudsi. Hadits yang diterima terbagi menjadi dua. maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini: Rawinya bersifat adil. h) Membaca al-Quran termasuk ibadah. Hadits yang tertolak adalah hadits yang dhaif dan juga hadits palsu. boleh meriwayatkannya secara makna. maka pasti aku perintahkan untuk menggosok gigi setiap waktu shalat Hadits Hasan lighairih Yaitu hadits hasan yang sanadnya tidak sepi dari seorang mastur (tak nyata keahliannya). yaitu hadits yang tercipta murni dari pemahaman Nabi Muhammad terhadap al-Quran. Perbedaan antara al-Quran dengan Hadits Qudsi: a) Al-Quran mampu mengungguli sastra Arab yang waktu itu merupakan sastra yang terbaik. Al-Quran juga tidak boleh dibaca oleh orang yang mempunyai hadats besar. Hadits Shahih dan Hadits Hasan ini diterima oleh para ulama untuk menetapkan hukum (Hadits Makbul). حديث انس ابن مالك‬ Setelah kita mengetahui masing-masing dari definisi al-Quran. Sedangkan orang yang mengingkari Hadits Qudsi tidak dianggap orang kafir. sehingga orang Arab tidak mampu membuat karya sastra yang seindah dan sebaik al-Quran. Oleh karena itu. Al-Khattabi menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang orang-orangnya dikenal.semua lafadz dan makna Al-qur'an bersumber dari ALLAH. bila dia menyebut-Ku di kalangan orang banyak. maka derajatnya naik sedikit menjadi hasan li ghairihi. artinya seorang rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat. Nabi Muhammad hanya berstatus sebagai penyambung lidah dari-Nya. Kedudukan Hadits Hasan adalah berdasarkan tinggi rendahnya ketsiqahan dan keadilan para rawinya. Sedangkan hadits dhaif memang benar sebuah hadits. ia berstatus qath’i al-tsubut. yaitu hadits yang kandungannya diterima oleh Nabi Muhammad melalui wahyu. karena al-Quran bersifat qath’i al-Tsubut. Ringkasnya.sedangkan hadits qudsi tidak. sedangkan isi dari perkataan tersebut berasal dari Allah SWT. Andaikata tidak ada 'Adhid. Sedangkan yang tertolak disebut juga dengan dhaif. Hadits Hasan Naik Derajat Menjadi Shahih Bila sebuah hadits hasan li dzatihi diriwayatkan lagi dari jalan yang lain yang kuat keadaannya.. 2. walaupun hanya satu surat. apabila dibaca di dalam shalat maka dapat menyebabkan shalat menjadi batal. yaitu hadits maqbul (diterima) dan mardud (tertolak). 3.sedangkan bagi pambaca hadits qudsi tidak.. Di antara contoh hadits ini adalah: Seandainya aku tidak memberatkan umatku. Dua larangan ini tidak berlaku di dalam Hadits Qudsi.Oleh sebab itu hadits qudsi disebut juga hadits illahi atau hadits robbany. Adanya Kekurangan pada Perawinya 2. maka kedudukannya dhaif. artinya ingatan seorang rawi harus lebih banyak daripada lupanya dan kebenarannya harus lebih banyak daripada kesalahannya.. Tauqifi. Tertuduh dusta (hadits matruk) 5. hanya sebagian orang yang bodoh dan awam yang memasukkannya ke dalam hadits. Penganut Bid’ah (hadits mardud) . memahami maksudnya dan maknanya Sanadnya tiada putus (bersambung-sambung) artinya sanad yang selamat dari keguguran atau dengan kata lain. Maka dalam redaksinya sering memakai ‫. . Adapun Hadits Qudsi dinisbahkan kepada Allah. dan Nabi hanya sebagai penyampai Yang kedua hadits qudsi adalah perkataan dari Nabi.sedangkan hadits qudsi tidak. sekarang kita bicara tentang kelompok yang kedua. Banyak waham (prasangka) disebut hadits mu’allal 7. Sedangkan Hadits Qudsi.semua lafadz (ayat-ayat) Al-qur'an adalah mu'jizat dan mutawatir. hanya saja karena satu sebab tertentu.hadits qudsi marupakan titah tuhan yang dismpaikan kepada nabi melalui mimpi'kemudian diterangkan oleh nabi dengan bahasanya sendiri serta menyandarkannya kepada ALLAH. maupun sifat. Fasik. Atau hadits yang bersambung-sambung sanadnya dengan orang yang adil yang kurang kuat hafalannya dan tidak terdapat padanya sydzudz dan illat. Karena kekurangan yang terdapat pada sanad pertama. 3. Hadits Dhaif merupakan hadits Mardud yaitu hadits yang tidak diterima oleh para ulama hadits untuk dijadikan dasar hukum. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat ‘illat serta kejanggalan matannya. pengertian hadis nabawi ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi SAW. ‫ولو كان حراما مااكل على مائدة رسول ال. Sedangkansecara istilah. Dan. pengertian hadits qudsi terdapat dua versi. baik berupa perkataan.semua ketentuan hukum bagi Al-qur'an tentang membaca dan menyentuhnya tidak berlaku bagi hadits qudsi. Namun karena ada jalur lain yang lebih kuat. حديث عائشة‬ Contoh hadist berupa ketetapan (taqriri) ialah ‫ان خالته اهدت الى رسول ال سمنا واضبا واقطا فاكل من السمن والقط واكل على مائدته‬ . yang musnad jalan datangnya sampai kepada nabi SAW dan yang tidak cacat dan tidak punya keganjilan. Adapun Hadits Qudsi. g) Orang yang mengingkari al-Quran terkategorikan sebagai orang kafir. Adapun keseluruhan kandungan Hadits Qudsi bersumber dari Allah. Seperti Qatadah buat penduduk Bashrah. As-Suyuti mengatakan bahwa 'Ashim ini dhaif lantaran lemah hafalannya. para ulama mempunyai pendapat tersendiri seperti yang disebutkan berikut ini: Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar menuliskan tentang definisi hadits Hasan: Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil.. persetujuan. Baik tentang keadilan maupun hafalannya. kemudian beliau sampaikan kepada umatnya.setiap huruf Al-qur'an yang dibaca mendatangkan pahala bagi pembacanya. حدبث ابن عباس‬ Contoh hadist berupa sifat (wasfi) ialah ‫كان رسول ال ربعة ليس بالطويل ولبالقصر حسن الجسم. maka posisi hadits ini menjadi hasan li ghairihi. Yang pertama hadits qudsi merupakan kalam Allah SWT (baik dalam sturiktur maupun substansi bahasanya).sedangkan bagi pambaca hadits qudsi tidak. karena diriwayatkan oleh Turmuzy dari 'Ashim bin Ubaidillah dari Abdullah bin Amr. Penyebab Tertolak : 1.. Seperti yang kita ketahui bahwa Al-qur'an merupakan mu'jizat yang diturunkan oleh ALLAH kepada nabi Muhummad SAW dengan perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dan membacanya dianggap sebagai ibadah.sedangkan menurut ath-thibi. Sedangkan secara terminologis. Aku pun menyebutnya di kalangan orang banyak yang lebih baik dari itu. dan tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara’ Sempurna ingatan (dhabith). Hadits Yang Diterima (Maqbul) Hadits Shahih Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nukhbatul Fikar. "Ya.. Contoh hadits Qudsi adalah § ‫عن النبي قال. perbuatan. naiklah dia dari derajat hasan li dzatihi kepada derajat shahih. artinya tidak ada pertentangan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajin daripadanya. 2.tolong kasih komentar pada rangkuman saya ini. misalnya karena: 3. c) Tidak boleh meriwayatkan al-Quran secara makna. atau dari perenungan dan ijtihad beliau. Allah Taala berfirman. atau dengan ada beberapa sanad lain. Dusta (hadits maudlu) 4.sedangkan menurut ath-thibi. 4.” Perbedaan antara Al-qur'an dan hadits qudsi Seperti yang kita ketahui bahwa Al-qur'an merupakan mu'jizat yang diturunkan oleh ALLAH kepada nabi Muhummad SAW dengan perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dan membacanya dianggap sebagai ibadah. “Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. yang dimaksud dengan hadits shahih adalah adalah: Hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil. tiap-tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits." Maka nabi SAW pun membolehkannya. Yang dimaksud dengan makhraj adalah dikenal tempat di mana dia meriwayatkan hadits itu. Hal ini tidak berlaku pada Hadits Qudsi i) Di dalam al-Quran terdapat penamaan ayat dan surat untuk kalimat-kalimatnya. f) Al-Quran ditransformasikan secara tawattur. Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku di dalam dirinya. Di antara contoh hadits ini adalah hadits tentang Nabi SAW membolehkan wanita menerima mahar berupa sepasang sandal: "Apakah kamu rela menyerahkan diri dan hartamu dengan hanya sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab. Dalam kitab Muqaddimah At-Thariqah Al-Muhammadiyah disebutkan bahwa definisi hadits shahih itu adalah: Hadits yang lafadznya selamat dari keburukan susunan dan maknanya selamat dari menyalahi ayat Quran. At-Tirmizy dalam Al-Ilal menyebutkan tentang pengertian hadits hasan: Hadits yang selamat dari syuadzudz dan dari orang yang tertuduh dusta dan diriwayatkan seperti itu dalam banyak jalan. hadis dhaif menjadi tertolak untuk dijadikan landasan aqidah dan syariah. bukan pelupa yang banyak salahnya. yaitu kurang kuat hafalan perawinya telah hilang dengan ada sanad yang lain yang lebih kuat. Tidak diketahui identitasnya (hadits Mubham) 9.رواه ابو هريرة‬ § Hadis Qudsi persangkaan seorang hamba kepada Tuhannya. Pengertian Hadits Nabawi Adapun menurut istilah. yang kurang kuat ingatannya. sanadnya bersambung-sambung. Sebenarnya hadits palsu bukan termasuk hadits. Satu huruf al-Quran sebanding dengan 10 kebaikan. Hadits ini asalnya dhaif (lemah). j) Pebedaan antara Hadits Nabawi dengan Hadits Qudsi antara lain: k) Hadits Nabawi dinisbahkan dan disampaikan oleh Nabi Muhammad. menguasai apa yang diriwayatkan. tidak ber’illat dan tidak janggal. namun karena ada ada mu'adhdhid. dan Hadits Nabawi. Abu Ishaq as-Suba'i dalam kalangan ulama Kufah dan Atha' bagi penduduk kalangan Makkah. e) Al-Quran harus dibaca di dalam shalat.Oleh sebab itu hadits qudsi disebut juga hadits illahi atau hadits robbany. tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman. Sedangkan Hadits Qudsi. 2. karena Hadits Qudsi bersifat dhanni al-Tsubut. hadits hasan li ghairihi ini asalnya adalah hadits dhaif (lemah).Secara etimologi Hadits Qudsi merupakan nisbah kepada kata Quds yang mempunyai arti bersih atau suci. sehingga ia berstatus dhanni al-Tsubut.

(An-Nisa. Kepercayaan Jamaah Muslim Ahmadiyah tersebut di dasarkan pada Firman Allah. kedhaifan suatu hadits bisa juga terjadi karena kelemahan pada matan. seperti pada An-Nisa 58 itu. Beirut. sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran : “Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih. Hukum Mengamalkan Hadits Dhaif Segenap ulama sepakat bahwa hadits yang lemah sanadnya (dhaif) untuk masalah aqidah dan hukum halal dan haram adalah terlarang. Benar. telah mati di palang salib sebagai bukti nabi palsu. yang sering diistilahkan dengan fadhailul a'mal. antara lain: Derajat kelemahan hadits itu tidak terlalu parah. bukan di angkat jasad kasarnya. telah mati di atas palang salib sebagai penebus dosa umat manusia. maka orang itu salah seorang pendusta. Sukir Ahmadi Benar di Salib. Hadits no. atau tertuduh sebagai pendusta atau yang terlalu sering keliru. Ketika seseorang mengamalkan sebuah amalan yang disemangati dengan hadits lemah. asosiasinya pastilah hanya bermohon di angkat harkat derajatnya. Nabi Isa as.. benar Nabi Isa. artinya akan selalu mengangkat harkat derajat. mereka tidak mempunyai pengetahuan yang pasti tentang ini melainkan menuruti dugaan belaka. keadaannya saja yang di tampakan seperti telah mati di atas salib. keadaannya saja yang di tampakan seperti telah mati di atas salib. sementara derajat periwayatannya lemah. warhamni. kata rafa’a jika subjeknya adalah Allah. Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami dan meyakini : Nabi Isa as. tidak dapat diartikan : Allah mengangkat Isa ke langit. Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. tidak boleh diyakini bahwa semangat itu datangnya dari nabi SAW. 5820) Di dalam shalat. Tidak Diangkat Allah ke Langit Jamaah Ahmadiyah juga memhami dan meyakini. ia hanya pingsan. Namun pernyataan beliau ini seringkali dipahami secara salah kaprah. mereka tidak mengingkarinya 2. 4:158).3. Tetapi mereka berselisih faham tentang mempergunakan hadits dha'if untuk menerangkan keutamaan amal. Padahal yang benar adalah masalah keutamaan suatu amal ibadah. kalau pun sebuah hadits itu boleh digunakan untuk memberi semangat dalam beramal. Muassasatur Risalah. tetapi ia tidak mati di atas salib. Tidak boleh siapapun dengan tujuan apapun menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW. Adapun kalau dengan sanadnya. 1989. Semua Mushalli pada saat mengucap doa “warfa’nii” – wahai Allah. Sedangkan setiap amal sunnah.kepada-Nya. Alaudin Alhindi. di dalam Al-Quran terdapat Friman Allah: “Akan tetapi Allah telah mengangkat dia (Isa). disalib. Demikian juga dengan hukum jual beli. kepadanya. Allah tidak berhajatkan tempat.”. selama hadits itu belum sampai kepada derajat maudhu' (palsu).. dan obyeknya manusia. dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. tetap harus didasari dengan hadits yang kuat. Namun. (HR Bukhari Muslim) Sedangkan Al-Imam An-Nawawi rahimahulah di dalam kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa para ulama hadits dan para fuqaha membolehkan kita mempergunakan hadits yang dhaif untuk memberikan targhib atau tarhib dalam beramal. tentu tidak seorang pun punya asosiasi pikiran ketika ia mengucap doa “warfa’nii”. benar disalib... ia hanya pingsan. Isa putra Maryam. dan Allah itu Mahaperkasa. maka haditsnya tidak bisa dipakai. Tapi Tidak Mati Diatas Salib Terkait masalah penyaliban. Sebab.. jika di artikan demikian. berarti Allah ada di langit. Rasulullah SAW. di riwayatkan pernah bersabda : Idza tawa dha’al-‘abdu rafa’ahullaahu ilas-samaa-is-saabi’ah” – apabila seorang hamba merendahkan dirinya. maka Allah akan mengangkat derajatnya hingga ke langit ke tujuh (Kanjul Umal. maka ada beberapa syarat yang juga harus terpenuhi. Ketegasan sikap kalangan ini berangkat dari karakter dan peran mereka sebagai orang-orang yang berkonsentrasi pada keshahihan suatu hadits. Jadi kita tetap tidak boleh menetapkan sebuah ibadah yang bersifat sunnah hanya dengan menggunakan hadits yang dhaif.10. dan merupakan bantahan atas kepercayaan bathil orang-orang Kristen yang mangatakan Nabi Isa as. akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. yaitu untuk targhib atau memberi semangat menggembirakan pelakunya atau tarhib (menakutkan pelanggarnya). hukum thalaq dan lain-lain. . Karena Sanadnya Tidak Bersambung Kalau yang digugurkan sanad pertama disebut hadits mu’allaq Kalau yang digugurkan sanad terakhir (sahabat) disebut hadits mursal Kalau yang digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadits mu’dlal Jika tidak berturut-turut disebut hadits munqathi’ 12. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menetapkan bahwa bila hadits dha'if tidak bisa digunakan meski hanya untuk masalah keutamaan amal. padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib.…. Karena Matan (Isi Teks) Yang Bermasalah Selain karena dua hal di atas. Sebab derajat haditsnya sudah sangat parah kelemahannya. warfa’ni. Dan. Jld III. Demikian juga para pengikut Daud Azh-Zhahiri serta Abu Bakar Ibnul Arabi Al-Maliki. Perawi yang telah dicap sebagai pendusta. dalam pemahaman Jamaah Ahmadiyah. Kitab shahih karya mereka masing-masing adalah kitab tershahih kedua dan ketiga di permukaan muka bumi setelah Al-Quran Al-Kariem. ia memohon kepada Allah agar di angkat jasad kasarnya. Rasul Allah. terdapat sebuah doa : “Rabighfirlii. 4:157) Jamaah Muslim Ahmadiyah memahami dan meyakini. Tidak baik hafalannya (hadits syadz dan mukhtalith) 11. tetapi tidak mati di atas salib. tidak di angkat Allah ke langit. hukum akad nikah. Banyak yang menyangka bahwa maksud pernyataan Imam An-Nawawi itu membolehkan kita memakai hadits dhaif untuk menetapkan suatu amal yang hukumnya sunnah. Lagi pula. sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan tentang ini. wahdini. ayat 157 dari Surah An-Nisa tersebut merupakan bantahan atas tuduhan palsu orang-orang Yahudi yang mengatakan Nabi Isa as. angkatlah aku. Perbuatan amal itu masih termasuk di bawah suatu dasar yang umum. Padahal dalam teologi Islam. bukan mengangkat jasad. Senjata utama mereka yang paling sering dinampakkan adalah hadits dari Rasulullah SAW: Siapa yang menceritakan sesuatu hal dari padaku padahal dia tahu bahwa hadits itu bukan haditsku. Agar kita terhindar dari menyandarkan suatu hal kepada Rasulullah SAW sementara beliau tidak pernah menyatakan hal itu. Sedangkan sebuah amal yang tidak punya dasar sama sekali tidak boleh dilakkan hanya berdasarkan hadits yang lemah. pada saat duduk di antara dua sujud. hal 110.. Hadits Dhaif yang disebabkan suatu sifat pada matan ialah hadits Mauquf dan Maqthu’ Oleh karenanya para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. Maha Bijaksana”(An-Nisa. melainkan kita boleh menggunakan hadits dha'if untuk menggambarkan bahwa suatu amal itu berpahala besar. Ayat tersebut seolah-olah berkata.. kata “rafahullaahu ilaihi” – Allah mengakat dia (Isa). Imam AlBukhari dan Muslim memang menjadi maskot masalah keshahihan suatu riwayat hadits.

(Yahya 10:16) Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. melainkan pergilah kamu kepada segala domba kaum Israil yang sesat itu”. Orang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Apakah arti orang gharib?” Beliau menjawab: “Ialah orang yang lari membela agama. Rasulullah SAW.. sepakat : Nabi Isa as. Rasulullah SAW.. Bani Israil terpencar sejak di kalahkan Raja Nebukadnesar. (Kanjul Umal. Kasymir. dan melihatnya. Iran. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. para anggota keluarga (ahlulbait) Rasulullah s. karena beliau banyak berjalan. Nabi Muhammad SAW. Pendirian dan Pemahaman Jamaah Ahmadiyah ini didasarkan pada : 1) Firman Allah : “Dan. Beirut. nabi Isa as. setelah Nabi Isa as. anggota keluarga Rasulullah SAW. kondisi fisik kembali normal. Dan. Nabi Isa as. masih ada nabi yang masih hidup. Karena kesuburannya. yang berbunyi sbb : “Ingatlah. pun pingsan. dan Nabi Isa as. akan tetapi setelah Engkau mewafatkan daku.. kita menemukan Firman Allah.. bernama Al-Busyro. perbatasan antara India dan Pakistan. Sebab.s. Jld 2:34) “Al-Masih terus berjalan. berkata : “Dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan. dengan lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir.. Jika dia mati di palang salib berarti dia orang terkutuk dan nabi palsu. maka kawasan ini menjadi rebutan antara India dan Pakistan. ia mengatakan kepadaku bahwa usia Isa bin Maryam 120 tahun”..a. Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. sendiri. Tidak pernah aku mengatakan kepada mereka selain apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku. Sabda Rasulullah SAW. berdiri berpidato. sekiranya pada diri beliau-beliau tidak ada gagasan semacam itu. Jld 1:592) “Bahwa beliau banyak berjalan. 3:48)... jilid III) Riwayat ini menunjukan.. telah wafat. menjadi perlu dan harus bagi Allah SWT. hingga saat ini terdapat sebuah kuburuan yang sangat terpelihara dan di pelihara penduduknya. Kata Nabi.. Dan.a. Alaudin Alhindi. lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan”. Di dalam Kitab Taurat memang tertulis hukum: “orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah”. mati di palang salib.. (Al-Mu’minun. barangsiapa berpaling atas tumitnya.. 3:144 : “Dan.... India. 3:55) Dan. (ahlulbait) pun sepakat : Nabi Isa a. telah wafat. (Matius 10:5-6) Pada zaman Nabi Isa as.w.. segera kembali. pergi ke timur mencari suku-suku Israil. Di dalam Injil-nya ia berkata : “Ada lagi padaku domba yang lain. yang juga berarti : kabar suka. melainkan bahasa latin (Griek). untuk membuktikan bahwa Nabi Isa as. dikabarkan wafat. dan aku menjadi saksi atas mereka. adalah wajar jika beliau pergi menemui dan berdakwah kepada 10 kabilah Israil yang terpencar di negerinegeri sebelah timur itu. berarti : kabar suka. membiarkan Nabi Isa as.Hakim. Dengan ciri-ciri dan tanda-tanda tersebut. (Maryam. Nabi Yuz meninggalkan suatu kitab ajaran agama. masih hidup”. tunai melaksanakan missi risalah-nya. masih hidup. Pemahaman dan keyakinan Jamaah Ahmadiyah. dalam usia 120 tahun. 5:116-117) 3. Dengan uang itu beliau bermaksud membeli seorang budak belian (untuk di merdekakan). 28:88). di palang salib.. Dan penduduk setempat juga mengakui. tidak pernah berkendaraan”. kalimat “bal rafahullaahu ilaihi” (An-Nisa. maka Engkau-lah yang menjadi pengawas mereka. kemudian melanjutkan missi risalah-nya : berdakwah kepada suku-suku Israel. (Ali Imran. sekiranya aku telah mengatakannya tentu Engkau mengetahuinya.. Oleh sebab itu. Pedang terhunus Umar jatuh. (Ulangan. 21:23). Ia berkata : “Maka jawab Yesus. Dan. kuburan Nabi Yuz Asyaf yang terletak di Desa Kanyar. ketika Allah berfirman: "Hai Isa. Umar ibnu Khaththab ra. 3:185) dan Kullu syai-in haalikun illaa wajhah (Al-Qashash. pada tahun ini ia datang kepadaku dua kali. tersebut. hidup kembali". Tuhanku dan Tuhanmu". Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Kenyataannya. dan domba-domba itu kelak mendengar akan suaraku. setelah selamat dari peristiwa salib. yakni : di Syria. bahwa setelah selamat dari peristiwa salib. diantaranya : “Isa bin Maryam tidak pernah tinggal menetap di suatu tempat. akan tetapi ia disamarkan kepada mereka (orang-orang Yahudi). sebagi wujud fana yang terikat oleh hukum : Kullu nafsin dzaaiqatul maut (Ali Imran. dengan cara menyelamatkan beliau dari kematian hina di palang salib. supaya orang jangan tahu di mana engkau. Afghanistan.. Rasulullah SAW. termasuk kepada Umar ibnu Khaththab.. Beliau selalu berjalan dari satu negeri ke negeri lainnya.a. sepakat : Nabi Isa a. dan langsung melihat jasad Rasulullah SAW. yang menghunus pedang. akan menjadi terbukti dan sempurna. di utus Allah untuk Bani Israil. adalah bahasa Arab dan bahasa Ibrani. Anggota Keluarga Rasulullah SAW. hingga saat ini. Yang sepuluh kabilah lagi terpencar di negeri-negeri sebelah timur. para sahabat Rasulullah SAW. malam ini telah wafat seorang yang sebagian amal perbutannya tidak pernah di capai orang-orang sebelumnya dan tidak pula akan di capai oleh orang-orang yang akan datang kelak. yang bukan masuk kandang domba ini. Telah Wafat Tertulis di dalam tarikh. beliau adalah orang terkutuk dan nabi palsu. Sebutan Yesus bukan asli bahasa Ibrani. yang mengabarkan kewafatan Rasulullah SAW.a. (Kitab Tafsir Fathul-Bayan. : “Fatimah binti Muhammad ra. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Jld 2:42 & Kitab Tafsir Lawamiut-Tanzil. Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul.s. dengan mengatakan : “Tidak Abu Bakar.... (Kitab Tafsir Ruhul-Maani.. Beliau wafat pada malam ketika Isa Ibnu Maryam pada malam yang sama rohnya di angkat ke langit. tentu tidak akan berkata bahwa Khalifah Ali ra. 23: 50) Tanah dataran tinggi. maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun. dan kembali setelah empat puluh hari”. Engkau mengetahui apa yang terkandung dalam pikiranku. di angkat ke langit. akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan.. Beliau berkata : “Wahai sekalian manusia. yang di ilustrasikan Al-Quran Surah Al-Mu’minun ayat 50 tersebut. dan meninggikan derajat engkau di sisi-Ku. yang merupakan ruang-lingkup tanggungjawab dakwahnya. Sambil menghunus sebilah pedang. Sebab. Karena Nabi Isa as. Ia membuka kain yang menutup tubuh suci Rasulullah SAW. selaras dengan petunjuk Al-Quran. maka tuduhan orang-orang Yahudi yang mengatakan. Jika dikalangan para sahabat berkembang kepercayaan Nabi Isa as. seperti halnya Musa as. Bani Israil yang berada di negeri tumpah darahnya hanya ada dua kabilah. Umar pingsan. Walhasil.. itu beredar. berasal dari kata Yozua (bahasa Ibrani). India dan Pakistan. bernama Al-Busyro. telah wafat. dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang kafir. meriwayatkan.. dan minum air tawar yang jernih”. 19:33) Wafat Secara Wajar Dalam Usia 120 Tahun Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. ia berdiri dan berkata : “Siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW. (Matius 15:24) Kepada murid-muridnya. menunaikan missi-risalah-nya. hanya sedang dipanggil Allah. beliau selalu berjalan”. Jamaah Ahmadiyah memahami dan meyakini. Rasulullah s. jika ia mati atau terbunuh. dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat.Umal. wafat pada malam yang bersamaan dengan ketika roh Nabi Isa a. termasuk di antara yang tidak mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. 3:144) Mendengar penjelasan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.. (Ali Imran. dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Engkau. Nabi Isa as. dan merasa. Kanzul. Kasymir. akhirnya beliau wafat secara wajar. seperti dikutip Al-Quran. seolah-olah ayat itu baru di turunkan pada hari itu. maka ia tidak akan memudharatkan Allah sedikitpun. pada malam tanggal dua puluh tujuh Ramadhan” (Thabaqat Ibn Sa’ad. Nabi Yuz meninggalkan suatu kitab ajaran agama. seperti halnya Isa bin Maryam”. Srinagar. dan jika dia hidup berarti dia benar utusan Allah. benar-benar telah wafat. 3:144) 2) Firman Allah : “Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam. sebab itu beliau disebut Al-Masih”. Di ketahuilah oleh beliau. Orang-orang Yahudi menangkap dan menggantung Nabi Isa as. tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib. Pedangnya jatuh. maka Imam Hasan r. Sesungguhnya telah berlalu (mati). artinya ia bukan asli orang Kasymir. dari Surah Ali Imran.. jika ia mati atau terbunuh. Umar ibnu Khaththab ra.Karomah).. Irak. (Kitab Lisanul-Arab:431) “Bahwa Isa bin Maryam disebut Al-Masih. diutus Allah hanya untuk Bani Israel (Ali-Imran. bernama: kuburan Nabi Yuz Asyaf. dan berkubur di bumi ini. Sepakat : Nabi Isa as. 1989. Umar merasa baru mendengar ayat itu. juga menyuruh menyampaikan ajarannya itu hanya kepada bani Israil : “Maka kedua belas orang inilah disuruhkan oleh Yesus dengan pesannya demikian : “Janganlah kamu pergi ke negeri orang kafir dan jangan kamu masuk ke negeri orang Samaria. beliau tidak pernah kembali tanpa membawa kemenangan. ketika Rasulullah SAW.. katanya: Tiadalah aku di suruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara bani Israil”. setelah selamat dari peristiwa salib. Sepakat : Nabi Isa as. sangat cocok dengan keadaan dataran tinggi Kasymir yang subur. & Hujajul.. Para Sahabat Rasulullah SAW. rasul-rasul sebelumnya. bersabda : “Sesungguhnya Jibril sekali setiap tahun datang memeriksa Qur’an. dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku dibangkitkan. di situlah beliau tidur. Srinagar.. pastilah mereka akan menolak keterangan Abu Bakar Ash-Ashiddiq ra. dan kami beri mereka perlindungan pada tanah yang tinggi dengan lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir”. Kemudian kepada-Ku-lah kamu kembali. Allah SWT. saat mengisahkan peristiwa wafatnya Khalifah Ali r. Nabi Isa as. adalah kuburan Nabi Isa as. Sebagian mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu”. Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur”. karena ia banyak berjalan di bumi tanpa menetap lama di suatu tempat”. tidak wafat. yang sejak awal menghunus pedang dan mengancam akan membunuh siapa saja yang mengatakan Rasulullah SAW. Muassasatur-Risalah. kemudian mengabarkan berita kewafatan Rasulullah SAW. juga mengakui bahwa ia hanya diutus Allah kepada Bani Israel. sedang berada di luar kota Madinah saat berita kewafatan Rasulullah SAW. lalu membacakan kalam Ilahi. barangsiapa berpaling atas tumitnya. Yang maksudnya Yesus. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha mengetahui segala yang ghaib-ghaib. yang sedang dilanda kegelisahan hebat. dengan cara. . maka sekalian itu juga wajib aku bawa. lalu akan menjadi sekawan dan gembala seorang saja”. Yaitu. Sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara wajar. Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur”.w mengutus beliau ke medan perang. umat Islam di landa kegelisahan yang amat hebat. Jld 2:364) “Dikatakan Isa itu Al-Masih. maka pedang Umar-lah bagiannya. bila malam ia makan daun-daunan di hutan. tersebut. seperti tercantum di dalam “Thabaqat Ibn Sa’ad”. telah wafat. adakah engkau berkata kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?". dan supaya orang tidak memberi kesusahan kepada engkau”.s. Padahal semuanya ada 12 kabilah. berdakwah kepada seluruh suku-suku/kabilah bani Israil. Telah Wafat Selain ijmak para sahabat. jika pada ayat lain dalam Al-Quan.. berarti : Akan tetapi Allah telah mengangkat (harkat/derajat) Nabi Isa kepada-Nya. Seorang sahabat menyusul dan mengabarkannya. jika Allah SWT... Adalah sama dengan Injil. Jld XI:479. berfirman : “Dan Kami jadikan anak Maryam dan ibunya suatu Tanda. gontai. Jadi. Sesungguhnya telah berlalu (mati). Mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW. Jadi. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.Tabroniyu wal.a. Kata Yuz. seperti dijelaskan pada An-Nisa 157. Nabi Isa as. 4:158). (Al-Maidah. teriak Umar ibnu Khaththab ra. Adalah tidak mengherankan.Contoh-contoh ini memberi kesimpulan. akan berpalingkah kamu atas tumitmu? Dan. Umar ibnu Khaththab ra. Umar yang di kenal tegar dan gagah berani itu pun.. dan di mana beliau tiba di waktu malam. Nabi Isa as. yakni. tersebut... dahulu dipanggil Allah. sebelumya. (Kitab Tarikh bahasa Parsi:130-131) Al-Quran menjelaskan. yaitu: "Beribadahlah kepada Allah. bahwa Rasulullah SAW. Penduduk setempat mengakui kuburan tersebut adalah kuburan seorang nabi yang datang dari negeri asing.. wafat. Hal ini terbukti dari riwayat yang dituturkan oleh Imam Hasan r. mengangkat harkat/derajat Nabi Isa as.. Beliau berjalan kaki. tidak layak bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Di Desa Kanyar. tersebut kepada para sahabat yang hadir. Nabi Yuz dikatakan datang dari negeri asing. rasul-rasul sebelumnya.. diriwayatkan pernah bersabda : “Allah SWT. dengan tujuan. Ia menjawab: "Maha Suci Engkau. Beliau meninggalkan peninggalan (warisan) sebesar tujuh ratus dirham saja. adalah orang terkutuk dan Nabi Palsu.. (Rowahut. selama Aku berada di antara mereka. telah mewahyukan kepada Isa : Pindahlah engkau dari tempat ini ke tempat yang jauh. (Kitab Abdullah Ibnu Umar Jld 6:51) Di dalam beberapa Kitab Tafsir juga terdapat keterangan mengenai perjalanan Nabi Isa as. maka Jibril menjaga di sebelah kanannya dan Mikail di sebelah kirinya. dan selamat-sejahtera atasku pada hari aku wafat.. Kisah ini mengisyaratkan.. seperti telah mati di atas salib. (Riwayat Jabir Jld 2:71) “Allah cinta kepada orang gharib”. (Ali Imran. dan sebagian lagi tidak mempercayai berita kewafatan Rasulullah SAW. kakinya mulai gontai. dan kemudian menetap di Kasymir hingga akhir hayatnya.