P. 1
Tugas Akhir Perencanaan Struktur Beton Bertulang Dengan Menggunakan Balok-Balok Kantilever (Studi Kasus: Gendung Berbentuk Oval)

Tugas Akhir Perencanaan Struktur Beton Bertulang Dengan Menggunakan Balok-Balok Kantilever (Studi Kasus: Gendung Berbentuk Oval)

|Views: 2,430|Likes:
Published by Gabrielle Soosu

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Gabrielle Soosu on Aug 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2015

pdf

text

original

TUGAS AKHIR

PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG DENGAN
MENGGUNAKAN BALOK-BALOK KANTILEVER
(STUDI KASUS GEDUNG BERBENTUK OVAL)
Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S1)
Disusun oleh :
NAMA : GABRIELLA MARIA MAGDALENA S.
NIM : 41107010007
UNIVERSITAS MERCU BUANA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL dan PERENCANAAN
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
2011
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS MERCU BUANA
Q
Tugas akhir ini untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan dalam memeperoleh
gelar Sarjana Teknik, jenjang pendidikan Strata 1 (S-1), Program studi Teknik Sipil, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Mercu Buana, Jakarta.
Judul Tugas Akhir : Perencanaan Struktur Beton Bertulang Dengan Menggunakan
Balok-Balok Kantilever (Studi Kasus : Gedung Berbentuk Oval)
Disusun oleh :
Nama : Gabriella Maria Magdalena S.
NIM : 41107010007
Jurusan/Program Studi : Teknik Sipil
Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan sidang sarjana :
Jakarta, 5 Agustus 2011
Mengetahui, Mengetahui,
Pembimbing Tugas Akhir Ketua Program Studi Teknik Sipil
Ir. Zainal Abidin Shahab, MT Ir. Sylvia Indriani, MT
Semester : Genap Tahun Akademik : 2010/2011
Tugas akhir ini untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi persyaratan dalam memeperoleh
gelar Sarjana Teknik, jenjang pendidikan Strata 1 (S-1), Program studi Teknik Sipil, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Mercu Buana, Jakarta.
Judul Tugas Akhir : Perencanaan Struktur Beton Bertulang Dengan Menggunakan Balok-
Balok Kantilever (Studi Kasus : Gedung Berbentuk Oval)
Disusun oleh :
Nama : Gabriella Maria Magdalena S.
NIM : 41107010007
Jurusan/Program Studi : Teknik Sipil
Telah diajukan dan dinyatakan LULUS pada sidang sarjana pada tanggal 5 Agustus 2011
Pembimbing
Ir. Zainal Abidin Shahab, MT
Jakarta, 5 Agustus 2011
Mengetahui, Mengetahui,
Ketua Penguji Ketua Program Studi Teknik Sipil
Ir. Edifrizal Darma, MT Ir. Sylvia Indriany, MT
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS MERCU BUANA
Q
LEMBAR PERNYATAAN
SIDANG SARJANA PRODI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS MERCU BUANA
Q
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Gabriella Maria Magdalena S.
Nomor Induk Mahasiswa : 41107010007
Program Studi : Teknik Sipil
Fakultas : Teknik Sipil dan Perencanaan
Menyatakan bahwa Tugas Akhir ini merupakan kerja asli, bukan jiplakan (duplikat) dari karya
orang lain. Apabila ternyata pernyataan saya ini tidak benar maka saya bersedia menerima sanksi
berupa pembatalan gelar kesarjanaan saya.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk dapat dipertanggung jawabkan
sepenuhnya.
Jakarta, 5 Agustus 2011
Yang memberikan pernyataan
Gabriella Maria Magdalena S.
ABSTRAK
Judul: Perencanaan Gedung Beton Bertulang Dengan Menggunakan Balok-Balok Kantilever
(Studi Kasus: Gedung Berbentuk Oval), Nama: Gabriella Maria Magdalena S. NIM:
41107010007, Dosen Pembimbing: Ir. Zainal Abidin Shahab, MT. Tahun : 2011.
Kemajuan teknologi dibidang ilmu struktur dan kostruksi yang membuat berbagai bentuk desain
bangunan semakin beragam. Beragamnya desain yang ada juga membuat semakin membuat
perhitungan dari desain tersebut semakin rumit. Dengan latar belakang itulah, perencanaan ini
mempunyai maksud untuk mengetahui berbagai permasalahan dari segi kekuatan, kekakuan, dan
stabilitas dari desain yang semakin maju saat ini.
Dalam metode perencanaan ini pertama-tama yang harus dilakukan adalah pengumpulan data
tentang desain-desain yang akan di buat. Seperti misalnya kuat tekan beton berapa yang akan
digunakan, kuat tarik berapa yang akan dipakai, desain akan dibangun diatas wilayah gempa
berapa. Setelah keseluruhan data yang akan dipakai itu lengkap, mulai membuat desain gambar
yang akan kita rencanakan. Desain gambar berupa denah tiap lantai beserta dengan ukuran-
ukurannya, letak-letak kolom yang akan didesain, potongan-potongan struktur gedung yang akan
didesain. Setelah semuanya lengkap, baru dapat mulai menghitung. Perhitungan awal dimulai
dari prarencana, yang berisi perhitungan untuk menentukan dimensi-dimensi yang akan
digunakan dalam desain.
Hasil dari perencanaan ini berupa dimensi-dimensi yang akan digunakan dalam desain. Seperti
dimensi yang digunakan pada balok berdasarkan dari pembebanan-pembenanya didapat ukuran
balok umum 350/700 mm, sedangkan untuk ukuran balok-balok kantilevernya adalah 450/800.
Balok kantilever memiliki dimensi yang lebih besar dari balok umum dikarenakan karena pada
balok kantilever memiliki deformasi akibat beban yang besar, maka dari itu perlu perhatian yang
lebih. Dimensi kolom yang digunakan juga beragam, dibagi menurut lantai dan letak kolom iu
sendiri. Seperti pada kolom pinggir ukuran kolom pinggir lantai 1-3 adalah 750/750, lantai 4-7
adalah 600/600, dan lantai 8-10 adalah450/450. Sedangkan pada kolom yang mengalami
perkakuan dibagi menjadi 2 bagian menurut lantai. Lantai 1-5 menggunakan dimensi 900/900,
dan kolom lantai 6-10 menggunakan dimensi 700/700. Pada perhitungan penulangan digunakan
dua metode, manual dan hasil output dari ETABS, output dari ETABS sebagai koreksi dari hasil
perhitungan manual. Desain penulangan diambil berdasarkan momen-momen paling ekstrim
yang terjadi pada struktur. Sedangkan pada penulangan bagian kantilever digunakan dengan
metode prategang, hal ini dikarenakan bentang balok kantilever yang sangat besar, dan agar
menjadi lebih efisien dan aman.
Kata kunci : Kantilever, Oval, Prategang
KATA PENGANTAR
Tiada ada kata yang dapat saya ucapkan selain puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas rahmat, karunia, dan ijin-Nyalah proses penyusunan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan
dengan baik dan lancar. Tugas Akhir ini dibuat dalam rangka melengkapi salah satu syarat guna
mencapai jenjang strata 1 (S1) Sarjana Teknik Sipil Universitas Mercu Buana.
Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
proses penyusunan Tugas Akhir ini baik dari segi moril maupun segi materil dari secara
langsung maupun tidak secara langsung.
Terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada :
1. Seorang wanita yang telah Tuhan berikan kepada saya untuk mendidik, membesarkan,
dan menyayangi saya dengan setulus hati sampai saya berusia 20 tahun. Terima kasih ibu
buat semuanya, buat dukungan, semangat, dan doa yang selalu menyertai saya selama ini
sampai saat kau pergi. “Terima kasih” adalah kata yang belum sempat saya ucapkan
kepadamu. Miss u in every second i have mom, everything i do just to make you proud of
me.....
2. Ayah saya yang selalu mendukung setiap langkah dan keputusan yang saya ambil. Yang
selalu menjadi inspirasi saya dan semangat saya ketika saya sedang merasa tidak mampu.
Satu-satunya laki-laki yang tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan sedih
ataupun senang. Lav u so much dad...
3. Bapak Ir. Zainal Abidin Shahab, MT. Selaku dosen pembimbing dalam Tugas Akhir ini.
Yang dengan sabar membimbing saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. Terima
kasih bapak buat ilmunya.
4. Ibu Dr. Ir. Resmi Bestari Muin, MT. Selaku dosen pembimbing saya dalam Tugas Akhir
ini, Terima kasih ibu, untuk kesabaran dan pengertiannya dalam mengajarkan dan
membimbing saya selama ini.
5. Ibu Ir. Sylvia Indriani, MT. Selaku Kepala Program Studi Teknik Sipil yang selalu
membimbing saya dengan sabar.
6. Bapak Ir. Zaenal Arifin, MT. Selaku dosen pembimbing akademik saya, selama saya
menuntut ilmu di Teknik Sipil Mercu Buana ini. Terima Kasih Pak Jefri.
7. Bapak dan Ibu dosen Teknik Sipil Mercu Buana yang telah dengan sabar dan tulus
membekali saya dengan ilmu-ilmu yang akan menjadi modal utama saya untuk
dikemudian hari nanti. Terima kasih bapak. Terima kasih ibu.
8. Pak Kadi, selaku tata usaha Teknik Sipil yang selalu dengan sabar dan perhatian
memberikan berbagai informasi-informasi penting tentang informasi perkuliahan dan
masalah administrasi saya. Maaf ya pak selama ini saya selalu menyusahkan bapak,
terima kasih.
9. Pak Harri, selaku kepala tata usaha Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan yang selalu
ramah dan ceria kepada saya yang dapat merubah suasana hati saya terutama saat suasana
hati saya sedang tidak baik. Terima Kasih juga karena sudah mau memfoto-foto saya
dalam setiap acara-acara yang berlangsung.
10.Saudara sepupu-sepupu saya yang selalu memberikan saya motivasi, dorongan, doa, dan
yang tidak pernah henti-hentinya kepada saya dalam menyusun Tugas Akhir ini. Lav u
sist.....
11. Kak Ika Rahmawati, Sipil 2005, yang selalu dengan sabar menjawab segala pertanyaan-
pertanyaan urgent saya, walau sudah malam sekalipun. Terima kasih kakak, maaf sudah
banyak merepotkan kakak.
12. Kak Suteni, Sipil 2004, yang dengan sabar dan setia menjawab segala masalah-masalah
dalam tugas akhir ini dengan setia. Terima kasih ya kak teni buat semua refrensi-refrensi
yang kakak berikan untuk saya.
13.Seluruh sahabat-sahabat sipil 2007. Mas Yanto “K-Link” terima kasih yang sebesar-
besarnya buat semuanya. Buat perhatiannya, buat pengertiannya, buat semangatnya, buat
motivasinya yang selalu anda beri kepada saya. Ayo link.... September pasti bisa!!!!. To
all My beloved WTS 2007. Tante Pie, Bounce, Ais, thanks for all ya, Terima kasih buat
dukungannya selama ini dan buat keyakinan yang sudah kalian beri buat saya. Terima
kasih untuk semangat yang selalu kalian tularkan untuk saya ketika saya merasa tidak
mampu. Terima kasih karena telah selalu bersabar dan perhatian menghadapai teman
seperti saya, sedih banget kita tidak bisa menyusun Tugas Akhir bersama-sama. Tayo
“Risti” Irawan. *sigh. Sahabat senasib dan seperjuangan saya. Terima kasih buat
kekonyolan, keceriaan, keautisan, dan kegoblokan yang sudah anda beri untuk saya. 4
hari anda berturut-turut bermalam dirumah saya sudah dapat membuktikan kalau
sebenarnya anda itu “berbeda”. Hahahaha...... Hendra “Birong beiber” May Rahman.
Terima kasih untuk canda tawa yang anda berikan kepada saya. Anda adalah satu-satunya
sahabat yang dapat membuat saya tertawa sendiri dengan hanya melihat atau
mendengarkan anda berbicara. “Ayooo ndraaa.... mainkan tanahmu!!!!”. Chandra
“uncle” Kurniawan. Terima Kasih untuk semangat dan nasihat hidup sehat yang selalu
om kasih untuk saya. “Ayoo... om, kapan mulai T.A nya??” Bang Dafi, yang selalu
menjadi inspirasi saya dalam melakukan usaha, makasih bang buat segala keceriaan yang
sudah anda berikan kepada saya. My beloved son Taqbir Ronie, Makasih ya nak buat
semuanya yang udah kamu beri untuk saya. “ayooo donk.... mana semangaaadnya
nak???”. Saeful “Aa Ipunk” Bokhari tersayank, yang selalu memberi saya pencerahan
dalam setiap perkataanmu aa *lebay. Hehehe..... Lav u so much aa. My teddy
“Mengkel”, terima kasih buat semuanya ya kel, buat keceriaan yang selalu dirimu
ciptakan ditengah-tengah kita semua. “Ayo kuliah lagi, jangan keenakan cari duit
muluuuu”. Ari “Blay” Yulianto, makasih buat semuanya yaaa, buat segala kegokilan
yang sudah kita lewatin bersama. Septian “KoDog” Kisprabowo. Terima kasih untuk
semuanya ya dog, buat segala nasehat, kegokilan, dan cerita-cerita yang bisa menjadi
inspirasi untuk saya. Rusman “Ucok” Lubis. Makasih ya ucok buat cerita-cerita
inspiratif tentang kehidupan yang telah dirimu ceritakan kepada saya, anda membuka
mata saya tentang rahasia “warteg” yang sebenarnya. Hehehe.... Untuk Rezza Jatnika,
sahabat kami tercinta, semangat ya T.Anya. Thanks for all everybody.....I’m nothing
without you guys, Thanks for our friendship. Lav u all......
14.Terima kasih untuk semua sahabat-sahabat terbaik saya. Anak XII-IPA tahun ajaran
2006/2007 SMA. KARTIKA X-1 Bintaro, especially my lovely bear “Fariza ‘mimi’
Rahmi Rusdi” yang walau sekarang kita sudah terpisah dengan ruang dan waktu masih
bisa dapat saling menyemangati satu sama lain sampai saat ini. Proud of you guys, keep
it!!!!!
15. Terima kasih untuk sahabat-sahabat masa kecil saya sejak saya duduk dibangku SD,
Debby Cyntia. Terima kasih beb untuk persahabatan kita selama 16 tahun, untuk
pengertiannya dan kesabarannya selama ini, dan untuk dukungan yang selalu kamu
berikan kepada saya. Lav u so much.......
16. Semua abang-abang dan kakak-kakak sipil 2003, 2004, 2005, 2006, yang selalu perhatian
dan baik kepada saya. Saya sudah menganggap kalian seperti abang saya sendiri. Terima
kasih buat semuanya yaaaa bang, kak!!!
17.WTS PSK 2008,,, terima kasih ya buat dukungannya selama ini. Buat my hunny Wita,
my lovely Yaya, kokoh Ronny, Iwan, Choyeeeeh, Staciaaaa, Amed, Dodoy, Agoes, Riza,
Yarnas, Ipenk, Adit,,, semangaaad ya KP nya!!! Saya hanya dapat membantu doa untuk
kalian. Buat yang lainnya “Ayooooooooooo..... who’s next??”
18. Adik-adik sipil 2009 dan 2010, terima kasih ya buat semuanya.... Semangat ya,
perjalanan kalian masih panjang!!!! Lav u all......
19. The Last but not Least, babeh ipin (betul betul betul... hehehe) makasih ya beh buat
semangat dan dukungannya yang buat aku bisa tetep survive di sipil sampai saat ini.
Mang Aseeep, makasih iaaah buat somay yang palingg enaaak yang selalu menemani
saya selama 4 tahun ini, MU makasih buat gado-gadonya, mang Eben “pesen teh
manisnya 2, ga pake gelas” hehehe......
20. Dan semua pihak yang tidak dapat saya ucapkan satu persatu, yang telah membantu
dalam memberikan motivasi, dorongan, semangat, inspirasi yang dapat menjadi bekal
untuk saya dikemudian hari.
Semoga Tuhan melimpahkan segala rezeki dan karunia kepada mereka semua. Banyak hal yang
telah saya lakukan untuk menjadikan Tugas Akhir ini menjadi sempurna, namun ibarat kata “No
Body’s perfect” , mungkin jika nantinya akan ditemukan banyak kekurangan disana-sini. Karena
itu segala saran dan kritik akan sangat berarti guna memperbaiki dimasa yang akan datang.
Akhir kata, Penyusunan Tugas ini masih jauh dari kata sempurna. Walaupun demikian, semoga
laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi kita semua. Amin.
Jakarta, Agustus 2011
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................. I-1
1.2 Tujuan ................................................................................. I-2
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan dan Batasan Masalah.............. I-2
1.4 Metodelogi Perencanaan .................................................... I-3
1.5 Sistematika Penulisan ......................................................... I-4
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK
2.1 Umum ................................................................................ II-1
2.2 Pelat .................................................................................... II-10
2.3 Balok .................................................................................. II-13
2.3.1 Lokasi Tulangan.......................................................... II-13
2.3.2 Tinggi Balok................................................................ II-15
2.3.3 Selimut Beton dan Jarak Tulangan.............................. II-16
2.4 Kolom ................................................................................. II-18
2.5 Kelengkungan Pada Struktur................................................ II-22
2.6 Baja Tulangan...................................................................... II-23
2.7 Dasar-dasar Perencanaan Gedung Bertingkat Banyak.......... II-23
2.7.1 Perbedaan Antara Beban Statik dan
Beban Dinamik ......................................................... II-23
2.8 Faktor Beban Ultimit............................................................ II-27
2.9 Analisis Struktur................................................................... II-28
BAB III METODELOGI PERENCANAAN
3.1 Langkah Kerja .................................................................... III-1
3.2 Metode Analisis .................................................................. III-2
3.2.1 Pengumpulan Data ……………………................... III-2
3.2.2 Desain Gambar......................................................... III-2
3.2.3 Desain Pendahuluan …………………………….... III-2
3.2.4 Menghitung Beban................................................... III-3
3.2.5 Desain Tulangan Lentur dan Geser.......................... III-3
3.2.6 Gambar Tulangan..................................................... III-10
BAB IV ANALISA STRUKTUR
4.1 Data-data Struktur................................................................. IV-1
4.2 Perencanaan Awal................................................................. IV-2
4.2.1 Prarencana Pelat.................................................... IV-2
4.2.2 Prerencana Balok................................................... IV-8
4.2.3 Prarencana Kolom................................................. IV-23
4.3 Analisis Struktur................................................................... IV-45
4.3.1 Data Beban Untuk Input Etabs............................... IV-46
4.3.2 Besar Pembebanan Trap........................................ IV-47
4.3.3 Perhitungan Gaya Geser Akibat Gempa................ IV-49
4.3.4 Permodelan Pembebanan Struktur......................... IV-55
BAB V PENULANGAN ELEMEN VERTIKAL DAN HORIZONTAL.
5.1 Desain Penulangan Elemen Struktur..................................... V-1
5.1.1 Penulangan Pelat...................................................... V-1
5.1.2 Penulangan Balok..................................................... V-13
5.1.3 Penulangan Kolom................................................... V-21
5.1.4 Diagram Interaksi..................................................... V-26
5.15 Perhitungan Penulangan Balok Kantilever
dengan beton prategang............................................ V-27
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan........................................................................... VI-1
6.2 Saran ................................................................................. VI-3
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Strong column weak beam II-6
Gambar 2.2 Peta wilayah gempa Indonesia II-7
Gambar 2.3 Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002) II-11
Gambar 2.4 Balok diatas dua tumpuan II-14
Gambar 2.5 Balok Kantilever II-15
Gambar 2.6 Balok Menerus II-15
Gambar 2.7 Selimut Beton II-17
Gambar 2.8 Jarak Antar Tulangan II-17
Gambar 2.9 Diagram interaksi untuk tekan dengan lentur P
n
dan M
n
II-21
Gambar 3.1 Bagan Alir Perencanaan III-1
Gambar 3.2 Hubungan Tegangan dan Regangan Pada Beton III-3
Gambar 4.1 Denah Lantai IV-2
Gambar 4.2 Dimensi Satu Pelat IV-2
Gambar 4.3 Diagram Letak α IV-3
Gambar 4.4 Bentang Balok Pada As. E IV-8
Gambar 4.5 Penyebaran Pembebanan Pada As. E IV-10
Gambar 4.6 Penyebaran Beban Pada As. E IV-11
Gambar 4.7 Bentang Balok Pada As. C IV-14
Gambar 4.8 Penyebaran Pembebanan Pada As. C IV-16
Gambar 4.9 Penyebaran Beban Pada As. C IV-16
Gambar 4.10 Bentang Balok Pada As. B IV-19
Gambar 4.11 Penyebaran Pembebanan Pada As. B IV-20
Gambar 4.12 Penyebaran Beban Pada As. B IV-21
Gambar 4.13 Denah Lantai dan As IV-45
Gambar 4.14 Denah Gedung Dengan Beban Tiap Lantai IV-45
Gambar 4.15 Denah Lantai IV-55
Gambar 4.16 Permodelan Beban Gempa Arah X IV-56
Gambar 4.17 Model Struktur 3D IV-57
Gambar 4.18 Denah Letak Kolom Yang Diperbesar IV-58
Gambar 4.19 Denah Lantai 9 Letak Balok Yang Diperbesar IV-58
Gambar 4.20 Denah Lantai IV-59
Gambar 4.21 Pembebanan Beban Mati As. B IV-60
Gambar 4.22 Pembebanan Beban Mati As. C IV-60
Gambar 4.23 Pembebanan Beban Mati As. D IV-61
Gambar 4.24 Pembebanan Beban Mati As. E IV-61
Gambar 4.25 Pembebanan Beban Mati As. F IV-62
Gambar 4.26 Pembebanan Beban Mati As. G IV-62
Gambar 4.27 Pembebanan Beban Mati As. H IV-63
Gambar 4.28 Deformasi Akibat Beban Mati Pada As. C IV-64
Gambar 4.29 Gaya Normal Untuk Beban Mati IV-64
Gambar 4.30 Gaya Geser Untuk Beban Mati IV-65
Gambar 4.31 Gaya Momen Untuk Beban Mati IV-66
Gambar 4.32 Pembebanan Beban Hidup As. B IV-67
Gambar 4.34 Pembebanan Beban Hidup As. C IV-68
Gambar 4.35 Pembebanan Beban Hidup As. D IV-68
Gambar 4.36 Pembebanan Beban Hidup As. E IV-69
Gambar 4.37 Pembebanan Beban Hidup As. F IV-69
Gambar 4.38 Pembebanan Beban Hidup As. G IV-70
Gambar 4.39 Pembebanan Beban Hidup As. H IV-70
Gambar 4.40 Deformasi Akibat Beban Hidup IV-71
Gambar 4.41 Gaya Normal Akibat Beban Hidup IV-72
Gambar 4.42 Gaya Geser Akibat Beban Hidup IV-73
Gambar 4.43 Gaya Momen Akibat Beban Hidup IV-74
Gambar 4.44 Pola Pembebanan Untuk Gempa Statik Arah X IV-75
Gambar 4.45 Deformasi Untuk Gempa Statik EY As. C IV-76
Gambar 4.46 Gaya Normal Akibat Beban Gempa Y As. C IV-77
Gambar 4.47 Gaya Momen Akibat Beban Gempa Y As. C IV-78
Gambar 4.48 Gaya Geser Akibat Beban Gempa Y As. C IV-79
Gambar 4.49 Deformasi Untuk Gempa Statik EX As. C IV-80
Gambar 4.50 Deformasi Untuk Gempa Statik EX As. C IV-81
Gambar 4.51 Gaya Normal Akibat Beban Gempa X As. C IV-81
Gambar 4.52 Gaya Geser Akibat Beban Gempa X As. C IV-82
Gambar 4.53 Gaya Momen Akibat Beban Gempa X As. C IV-84
Gambar 4.54 Deformasi Akibat Combo 6 As. C IV-85
Gambar 4.55 Gaya Normal Akibat Combo 6 As. C IV-86
Gambar 4.56 Gaya Geser Akibat Combo 6 As. C IV-87
DAFTAR TABEL
2.1 Faktor Keutamaan I untuk berbagai kategori gedung dan bangunan .................... II - 8
2.2 Parameter Daktilitas Struktur Gedung .................................................................. II - 9
2.3. Jenis – jenis tanah ................................................................................................. II - 10
2.4.Tabel Tebal Selimut Beton .................................................................................... II - 18
2.5. Perbedaan Over Reinforced dan Under Reinforced ............................................ II - 23
4.1. Tabel besar pembebanan balok As E ................................................................... IV - 12
4.2. Tabel besar pembebanan balok As C ................................................................... IV - 17
4.3. Tabel besar pembebanan balok As B ................................................................... IV - 22
4.4. Tabel dimensi ukuran kolom ............................................................................... IV - 34
4.5. Tabel beban statis ................................................................................................. IV - 37
4.6. Tabel Beban gempa Horizontal ............................................................................ IV - 39
4.7. Tabel Rasio Balok Kolom .................................................................................... IV - 41
4.8. Tabel Luas Lantai ................................................................................................. IV - 50
4.9. Tabel Beton Ultimated ......................................................................................... IV - 52
4.10. Tabel Distribusi beban gempa horizontal gempa statis arah XY ....................... IV - 54
4.11. Tabel deformasi akibat beban mati .................................................................... IV - 64
4.12. Tabel gaya Normal akibat beban mati ............................................................... IV - 65
4.13. Tabel gaya geser (D) akibat beban mati ............................................................. IV - 65
4.14. Momen Akibat beban mati ................................................................................. IV - 66
4.15. Deformasi akibat beban hidup ........................................................................... IV - 71
4.16. Gaya normal akibat beban hidup ........................................................................
4.17. Gaya geser akibat beban hidup ..........................................................................
IV - 72
IV - 73
4.18. Gaya momen akibat beban hidup ....................................................................... IV - 74
4.19. Deformasi akibat beban gempa Y ...................................................................... IV -76
4.20. Gaya normal akibat beban gempa EY pada As c ............................................... IV - 77
4.21. Gaya geser akibat beban gempa EY pada As c .................................................. IV - 78
4.22. Gaya momen akibat beban gempa EY pada As c .............................................. IV - 78
4.23. Deformasi akibat gempa X ................................................................................. IV - 80
4.24. Gaya normal akibat beban gempa EX pada As c .............................................. IV - 81
4.25. Gaya geser akibat gempa X pada As c ............................................................... IV - 82
4.26. Deformasi combo 6 pada As c ........................................................................... IV -84
4.27. Gaya Normal akibat combo 6 pada As c ............................................................ IV - 85
4.28. Gaya geser akibat combo 6 pada As 6 ............................................................... IV - 86
4.29. Gaya momen akibat pada As c ............................................................................ IV - 87
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan kemajuan ilmu dalam bidang konstruksi, bentuk dan desain bangunan semakin
bervariasi dan beragam. Sebagai teknik sipil, hal tersebut merupakan sebuah tantangan baru
untuk mewujudkannya. Hal ini membuat perencana harus mencari solusi dalam menterjemahkan
gambar arsitek ke gambar struktural sehingga dapat menjadi sebuah proyek konstruksi.
Dalam tugas akhir ini penulis akan mencoba merancang dan mendesain bangunan dengan
bentuk oval berdiri. Bentuk oval sendiri dipilih karena dari bentuk struktural bangunan bentuk
oval adalah bentuk yang unik. Dengan menggunakan sistem perkakuan pembesaran kolom dan
balok-balok oversteek diharapkan dapat memikul gaya-gaya yang bekerja. Pada desain bangunan
ini, selain menggunakan pembesaran kolom sebagai sistem perkakuannya juga menggunakan
kolom-kolom yang berada disekitarnya untuk membantu menahan beban-beban vertikal dari
balok. Yang kemudian menyalurkannya ke tanah melalui pondasi. Kegunaan lain dari kolom-
kolom tersebut juga untuk memperpendek bentang dari balok kantilever yang digunakan sebagai
bagian dari struktural bangunan. Penggunaan balok-balok kantilever tersebut digunakan sebagai
pembentuk dari desain bangunan tersebut. Kantilever pada desain bangunan ini adalah sebagai
pengikat bagian luar dari bangunan. Hal ini memerlukan suatu desain yang lebih intensif
mengingat selama ini kantilever hanya digunakan sebagai teras, balkon atau bagian tambahan
pada bangunan. Dalam tugas akhir ini penulis mencoba mendesain bangunan berbentuk oval
yang mempunyai keunikan tersendiri dengan menggunakan banyak balok oversteek dengan
menggunakan sistem perkakuan perbesaran kolom.
1.2 Tujuan
Tujuan penulisan Tugas Akhir ini meliputi :
1. Merancang bangunan gedung beton bertulang berlantai banyak dengan menggunakan
banyak balok ovesteek untuk tampilan fasade (finishing luar) pada bangunan
berbentuk oval.
2. Menganalisa perkakuan dengan mengunakan sistem perbesaran kolom pada bangunan
berbentuk oval.
3. Memeriksa kekuatan dan kekakuan dari bangunan yang menggunakan struktur
kantilever.
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan dan Batasan Masalah
Ruang lingkup dari kajian ini adalah :
1. Model struktur yang direncanakan adalah struktur dengann tapak simetris, lingkaran
dengan model oval sesuai dengan gambar rencana.
2. Bagian bangunan yang dirancang hanya pada struktur bagian atas (upper structure)
3. Perencanaan gempa dengan menggunakan Peraturan Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Rumah dan Gedung SNI 03-1726-2002 dan refrensi yang disyaratkan.
4. Analisis struktur beton bertulang menggunakan Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
Untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002 dan refrensi yang disyaratkan.
5. Analisis struktur dengan menggunakan software ETABS v.9.0
6. Bangunan dengan sistem struktur rangka beton bertulang dengan menggunakan sistem
perkakuan perbesaran kolom.
7. Perencanaan meliputi perhitungan kolom, balok, pelat.
8. Gambar struktur meliputi kolom, balok, dan pelat di beberapa lantai.
8. Lokasi bangunan di wilayah gempa 5.
1.4 Metodologi Perencanaan
Metodologi perencanaan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Tinjauan pustaka dengan mempelajari literatu-literatur dari beberapa refrensi yang
berkaitan dengan analisis yang dilakukan, yaitu berupa teori dan rumus-rumus yang ada.
2. Perhitungan desain kolom, balok, pelat, yang sesuai dengan perencanaan.
3. Dilakukan diskusi dan asistensi dengan dosen pembimbing dan dosen-dosen lain yang
terlibat dalam penyelesaian Tugas Akhir ini.
1.5 Sistematika Penulisan
Laporan Tugas Akhir ini terdiri atas enam bab dengan Bab I Pendahuluan yang berisi latar
belakang, ruang lingkup, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab II Tinjauan pustaka yang
merupakan dasar teori sebagai rujukan dari perencanaan ini. Bab III Membahas diagram alir
metodologi analisis dan desain. Bab IV Analisis struktur. Bab V Penulangan elemen vertikal dan
horizontal dalam struktur. Bab VI Kesimpulan dan Saran.
BAB II
DASAR TEORI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG
2.1 Umum
Dalam mendesain suatu struktur sebelumnya harus ditetapkan komponen-komponen yang akan
digunakan sebagai ukuran maupun yang dapat menentukan apakah gedung tersebut sesuai atau layak
dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dalam perencanaan yang akan dibahas pada Tugas Akhir ini
adalah perencanaan dengan menggunakan struktur beton bertulang. Beton bertulang adalah bahan
bangunan yang digunakan seluruh dunia. Beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan tidak
kurang dari nilai minimum yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang dan direncanakan berdasarkan
asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja. Alasan
digunakan beton bertulang sebagai bahan baku utama dalam perencanaan struktur adalah karena lebih
efisien (murah), mudah dibentuk, mempunyai ketahanan terhadap api yang tinggi, mempunyai kekakuan
yang tinggi, mudah dalam perawatannya dan relatif murah, dan material dalam pembuatannnya mudah
didapatkan. Namun, ada kekurangan dari material beton itu sendiri dibandingkan dengan material
bangunan lainnya, antara lain mempunyai daya kekuatan tarik yang rendah, membutuhkan bekisting dan
penumpu sementara selama proses konstruksi, rasio kekuatan terhadap berat yang rendah dan stabilitas
volumenya relatif rendah. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pencanaan desain suatu struktur
diantaranya :
1. Kemampuan layan
Dalam perencanaan, struktur yang di desain tersebut harus dapat menahan beban tanpa kelebihan
tegangan pada material dan mempunyai deformasi yang masih dalam batas-batas yang diijinkan.
Pemilihan ukuran dan elemen yang dipilih merupakan penentu utama dalam menahan kemampuan
layan tersebut.
2. Efisiensi
Prinsip utama perencanaan desain struktur dalam bidang konstruksi adalah bagaimana
mendesain bangunan yang kuat dan aman namun dengan biaya yang relatif ekonomis.
3. Konstruksi
Tinjauan konstruksi sering dipengaruhi pilihan struktural dimana penggunaan elemen-elemen
struktural akan efisien apabila material yang digunakan mudah didapat dan dibuat.
Desain struktural harus mencakup :
a. Keamanan
Struktur yang didesain harus aman dan kuat. Pada Struktur akan mencakup beban-
beban yang bekerja padanya desain. Yaitu beban mati (berat sendiri), beban hidup
(manusia, angin, dll) dan beban gempa.
b. Kekakuan
Dalam perencanaan suatu gedung perlu diperhitungkan kekakuannya agar didapat struktur yang
kaku dan dapat memperkuat struktur saat terjadi gempa. Kekakuan merupakan syarat mutlak
yang harus sangat dipikirkan oleh perencana dalam merencanakan suatu bangunan struktur.
Karena suatu struktur tidak akan dapat diterima jika bangunan tersebut tidak kaku walaupun
sangat kuat.
Beberapa jenis perkakuan dari suatu gedung adalah :
1. Dinding pendukung sejajar (parallel bearing wall)
Perkakukan ini terdiri dari unsur-unsur bidang vertikal yang dipratekan oleh bera sendiri,
sehingga menyerap gaya aksi lateral secara efisien. Dinding sejajar ini terutama digunakan
untuk bangunan apartemen yang tidak memerlukan ruang bebas yang luas dan sistem
mekanisnya tidak memerlukan struktur inti.
2. Inti dan dinding pendukung kulit luar (core and facade bearing wall)
Unsur bidang vertikal membentuk dinding luar yang mengelilingi sebuah struktur inti, hal
ini memungkinkan ruang interior yang terbuka, yang bergantung pada kemampuan bentangan dari
struktur lantai. Intinya adalah membuat sistem transportasi mekanis vertikal serta menambah kekakuan
bangunan.
3. Pelat rata (flat slab)
Sistem bidang horizontal terdiri dari pelat lantai dengan tebal yang rata dan ditumpu pada
kolom.
4. Rangka kaku (rigid frame)
Sambungan kaku yang digunakan antara susunan unsur linear atau membentuk bidang vertikal
dan horizontal. Pengaturan bidang vertikal terdiri dari balok dan kolom, pada grid horizontal
terdiri dari balok dan gelagar. Dengan keterpaduan dari semuanya menjadi penentu
pertimbangan rancangan.
5. Rangka kaku dan inti (rigid frame and corewall)
Rangka kaku bereaksi terhadap bidang lateral, terutama melalui lentur balok dan kolom. Perilaku
demikian berakibat ayunan lateral yang besar pada bangunan dengan ketinggian tertentu.
Akan tetapi, apabila dilengkapi struktur inti, ketahanan lateral bangunan akan sangat
meningkat karena interaksi inti dan rangka mengalami fungsi untuk menambah kekakuan
dan menyerap bidang geser pada bangunan tersebut. Sistem ini memuat sistem mekanis dan
transportasi vertikal. Pada kondisi struktur dengan lantai banyak, efektifitas struktur inti
(corewall) hanya dapat terjadi 80% hingga 90% dari jumlah lantai yang ada,
sehingga pada lantai atas atau 20% dari lantai keseluruhan akan tidak berfungsi secara
nilai kekakuan terhadap struktur bangunan, bahkan ada kemungkinan akan menambah
bidang geser pada lantai tersebut.
c. Stabilitas
Faktor stabilitas harus diperhatikan dalam mendesain struktur. Stabilitras diperlukan untuk dapat
menghitung momen-momen yang bekerja pada struktur. Stabilitas juga harus diperhatikan agar
mencegah bangunan mengalami guling. Momen-momen yang bekerja pada struktur adalah momen
geser dan momen uplift.
4. Beban-Beban Pada Struktur
Dalam perencanaan desain struktur, perlu memperkirakan secara mendalam mengenai beban-beban
yang bekerja pada struktur serta besarnya beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Perencanaan
bangunan konstruksi pada umumnya berdasarkan pada keadaan batas atau ultimit.
1. Beban Mati
Beban mati merupakan berat struktur gedung itu sendiri, yang memiliki besar yang kostan
dan terdapat pada satu posisi tertentu. Berat sendiri struktur bangunan beton bertulang adalah pelat,
balok, kolom, dinding, tangga, langit-langit, dan saliran air. Semua metode untuk menghitung beban
mati adalah untuk menghitung elemen didasarkan atas peninjauan berat suatu material yang terlibat
berdasarkan volume elemen tersebut. Struktur luar dari desain menggunakan elemen kaca sebagai
pembentuk dari struktur bangunan. Pembebanan elemen kaca harus diperhatikan, mengingat desain
berbentuk oval yang mempunyai perhitungan lebih detail akibat kelengkungan dari struktur.
2. Beban Hidup
Beban hidup adalah beban yang letaknya dapat berubah atau berpindah, beban tersebut dapat
ada ataupun tidak ada. Beban hidup pada perencana struktur adalah beban orang, barang-barang,
beban angin, ataupun mesin-mesin yang sedang bekerja pada struktur. Walaupun beban hidup ini dapat
ada atau tidak, beban hidup harus tetap menjadi perhatian dala perancanaan karena beban tersebut
bekerja perlahan- lahan dalam struktur.
3. Beban Gempa
Gempa merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Didunia ini banyak daerah
yang menjadi daerah langganan gempa. Indonesia merupakan salah satunya. Oleh karena itu daerah
yang merupakan daerah rawan gempa perlu memperhitungkan beban gempa dalam desain semua jenis
struktur. Menurut SNI-03-1726-2002 sub bab 4.1.1, peraturan ini menentukan pengaruh gempa
rencana yang harus ditinjau dalam perencanaan struktur gedung. Gempa rencana merupakan beban
gempa yang ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun, agar probabilitas
terjadinya terbatas pada 10% selama umur gedung 50 tahun.
Untuk struktur beton bertulang yang berada di wilayah rawan gempa harus didesain khusus sebagai
struktur strong column weak beam (gambar 2.1). Yang bertujuan agar kolom yang didesain harus lebih
kuat dari balok, agar jika saat terjadi gempa yang cukup kuat, walaupun balok mengalami
kerusakan yang cukup parah, kolom masih tetap berdiri dan mampu menahan beban-beban yang
bekerja.
Gambar 2.1 Strong column weak beam
Menurut peraturan SNI-03-1726-2002 sub bab 4.7.1 Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6
wilayah gempa, dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan rasio kegempaannya paling rendah,
dan wilayah gempa 6 dengan rasio kegempaannya paling tinggi.
Gambar 2.2 Peta wilayah gempa Indonesia
Menurut peraturan SNI-03-1726-2002 untuk menentukan beban gempa diperlukan data-data
antara lain :
1. Faktor keutamaan (I)
I = I
1
• I
2
dimana :
I = faktor keutamaan
I
1
= faktor keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa
berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa
selama umur gedung.
I
1
= faktor keutamaan untuk menyelesaikan periode ulang gempa
berkaitan dengan penyesuaian umur gedung.
Adapun faktor-faktor keutamaan I
1
, I
2,
I sebagai berikut :
Kategori Gedung
Faktor
Keutamaan
I
1
I
2
I
Gedung umum seperti untuk penghunian, perniagaan, dan perkantoran 1.0 1.0 1.0
Momen dan bangunan monumental 1.0 1.6 1.6
Gendung penting pasca gempa seperti rumah sakit, instalasi air bersih,
pembangkit tenaga listrik, pusat penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas
radio dan televisi 1.4 1.0 1.4
Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti gas, produk minyak bumi,
asam, bahan beracun 1.6 1.0 1.6
Cerobong, tangki diatas menara 1.5 1.0 1.5
Tabel 2.1 Faktor keutamaan I untuk berbagai kategori gedung dan bangunan
2. Faktor reduksi gempa (R)
1,6 ≤ R = μ • f
1
≤ R
m
dimana :
R = faktor reduksi gempa
μ = faktor daktilitas untuk struktur gedung
f
1
= faktor kuat lebih beban beton dan bahan 1,6
R
m
= faktor reduksi gempa maksimum
Nilai R dan µ ditetapkan berdasarkan tabel :
Taraf Kinerja Struktur
Gedung µ R
Elastik Penuh 1.0 1.6
Daktail Parsial 1.5 2.4
2.0 3.2
2.5 4.0
3.0 4.8
3.5 5.6
4.0 6.4
4.5 7.2
5.0 8.0
Daktail Penuh 5.3 8.5
Tabel 2.2 Parameter Daktilitas Struktur Gedung
3. Faktor respon gempa (C
1
)
Nilai repon gempa didapat dari spektrum respon gempa rencana untuk
waktu getar alami fundamental (T) dari struktur gedung. Nilai tersebut
bergantung pada :
1. Waktu getar alami struktur (T), dinyatakan dalam detik
T = 0,06 H
3/4
dimana :
H = tinggi struktur bangunan (m)
2. Nilai respons gempa juga tergantung dari jenis tanah. Berdasarkan SNI-
03-1726-2002, jenis tanah dibagi menjadi tiga bagian yaitu tanah keras,
sedang dan lunak.
Tabel 2.3 Jenis-jenis tanah
Berdasarkan SNI 03-1726-2002 nilai respons gempa bergantung pada waktu getar alami struktur
dan kurvanya ditampilkan dalam spektrum respons gempa.
Gambar 2.3 Respons Spektrum Gempa Rencana (SNI 03-1726-2002)
2.2 Pelat
Pelat merupakan suatu bagian struktur yang kaku secara khas terbuat dari material monolit yang
tingginya lebih kecil dibandingkan dengan dimensi-dimensi lainnya.
Pelat dapat dianalisis sebagai grid-grid menerus. Pelat adalah elemen struktur beton bertulang
yang secara langsung menahan beban-beban vertikal. Jika kita meninjau pelat dan memperhatikan
bagaimana berbagai jenis pelat memberikan momen dan gaya geser internal yang mengimbangi momen
dan geser eksternal kita dapat mendapatkan lebih banyak manfaat dari pelat tersebut. Beban umum yang
bekerja pada pelat mempunyai sifat banyak arah dan tersebar. Pelat dapat ditumpu diseluruh tepinya, atau
hanya pada titik-titik tertentu atau campuran antara tumpuan menerus dan titik. Pelat sebagai penahan
beban lateral, juga dapat menjadi bagian dari pengaku lateral struktur. Gaya dalam yang dominan dalam
pelat adalah momen lentur, sehingga perancangan tulangannya relatif sederhana. Dalam perencanaan,
pelat dapat dipermodelkan searah maupun dua arah
Syarat-syarat untuk menentukan tebal minimum pelat (SK SNI T-15-1991-03) :
Rumus 1
Rumus 2
Rumus 3
dimana :
Ln : panjang bentang bersih pelat setelah dikurangi tebal balok (cm)
fy : tegangan leleh baja untuk pelat
h : tebal pelat
α
m
: koefisien jepit pelat
n : jumlah tepi pelat
( ) β 9 36
1500
8 , 0
+

,
`

.
|
+

fy
Ln
h
36
1500
8 , 0

,
`

.
|
+

fy
Ln
h
¹
'
¹
¹
'
¹
]
]
]

+ − +

,
`

.
|
+

β
α β
1
1 12 , 0 5 36
1500
8 , 0
m
fy
Ln
h
β : Ln memanjang (cm)
Ln melintang (cm)
Pada SK SNI T – 15 – 1991 – 03 pasal 3.6.6 mengijinkan untuk menentukan distribusi gaya dengan
menggunakan koefisiensi momen yang dapat dilakukan dengan mudah. Untuk menentukan momen lentur
maksimumnya dapat mempergunakan tabel 14 SK SNI T – 15 – 1991 – 03. Setelah menentukan syarat-
syarat batas, bentang dan tabel pelat kemudian beban-beban dapat dihitung. Untuk pelat sederhana
berlaku rumus :
Wu = 1,2 Wd + 1,6 Wl
Menurut SK SNI T – 15 – 1991 – 03 tebel 3.2.5 (b), batas lendutan maksimum adalah
bentang. Lendutan yang terjadi akibat beban merata (Timoshenko dkk, 1998) adalah :
dimana :
= lendutan yang terjadi
α = koefisien lendutan
Wu = beton ultimate (kg/cm
2
)
μ = nilai poison rasio
D = momen akibat lentur untuk pelat (kg.cm)
480

D
b Wu
4
⋅ ⋅
·
α
δ
( )
2
3
1 12 µ −

·
H Ec
D
δ
Ec = modulus elastisitas beton
h = tebal pelat
b = lebar pelat
2.3 Balok
Balok adalah bagian dari struktur bangunan yang berfungsi untuk menopang lantai diatasnya. Balok
dikenal sebagai elemen lentur yaitu elemen struktur yang dominan memikul gaya dalam berupa momen
lentur dan juga geser. Balok dapat terdiri dari balok anak (joint) dan balok induk (beam). Perencanaan
balok beton bertulang bertujuan untuk menghitung tulangan dan membuat detail-detail konstruksi untuk
menahan momen-momen lentur ultimit, gaya-gaya lintang, dan momen-momen puntir lengan cukup kuat.
Kekuatan suatu balok lebih banyak dipengaruhi oleh tinggi daripada lebarnya. Lebarnya dapat sepertiga
sampai setengah dari tinggi ruangan.
Ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan dan perlu menjadi pertimbangan dalam mendesain balok beton
bertulang, yaitu :
1. Lokasi tulangan
2. Tinggi minimum balok
3. Selimut beton (concrete cover) dan jarak tulangan
2.3.1 Lokasi Tulangan
Tulangan dipasang dibagian struktur yang membutuhkan, yaitu pada lokasi dimana beton tidak
sanggup melakukan perlawanan akibat beban, yakni di daerah tarik (karena beton lemah dalam menerima
tarik). Sehingga dapat dilihat pada gambar serat yang tertarik.
Gambar 2.4 Balok diatas dua tumpuan
sedangkan pada balok kantilever dibutuhkan tulangan pada bagian atas, karena serat yang tertarik adalah
pada bagian atas.
Gambar 2.5 Balok Kantilever
Untuk balok menerus diatas beberapa tumpuan, maka di daerah lapangan dibutuhkan tulangan dibagian
bawah, sedangkan di daerah tumpuan dibutuhkan tulangan utama dibagian atas balok.
Gambar 2.6 Balok menerus
2.3.2 Tinggi Balok
Untuk menentukan ukuran penampang menurut SNI Beton pada pasal 9.5 terdapat tabel tinggi
minimum (H
min
) balok terhadap panjang bentang :
1. untuk balok sederhana (satu tumpuan)
2. untuk balok menerus bentang ujung
3. untuk balok menerus bentang tengah
4. untuk balok kantilever
L
16
1
L
5 . 18
1
L
21
1
L
8
1
Namun, sacara umum dimensi balok diperkirakan dengan :
H = sampai dengan dengan L = bentang pelat terpanjang.
Jika H
min
telah diketahui, dapat diperkirakan tinggi balok yang akan didesain.
B = sampai dengan dengan H = tinggi balok
2.3.3 Selimut Beton dan Jarak Tulangan
Selimut beton adalah bagian terkecil yang melindungi tulangan. Fungsi dari selimut beton itu
sendiri untuk memberikan daya lekat tulangan ke beton, melindungi tulangan dari korosi, serta
melindungi tulangan dari panas tinggi jika terjadi kebakaran (panas tinggi dapat menyebabkan
menurun/hilangnya kekuatan baja tulangan secara tiba-tiba)
Gambar 2.7 Selimut Beton
L
12
1
L
10
1
H
3
2
H
2
1
Tebal minimum selimut beton adalah 40 mm ( SNI Beton pasal 9.7)
Sedangkan jarak antar tulangan adalah ≤ 25 mm atau ≥ d
b
dan ≥25 mm
Gambar 2.8 Jarak Antar Tulangan
Dalam SNI 03-2847-2002 disebutkan bahwa tebal selimut beton minimum yang harus disediakan untuk
tulangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
Tabel 2.4 Tebal selimut beton
Untuk memeriksa kekakuan balok terhadap lendutan, lendutan maksimum yang terjadi pada tengah
bentang bila balok dianggap sendi dan rol pada ujung-ujungnya (Timoshenko dkk, 1998) adalah :
dimana :
L = panjang bentang balok
E = modulus elastisitas balok
I = momen inersia balok
EI
L Wu

⋅ ⋅
·
384
5
4
δ
Tebal selimut
No. Kondisi Beton minimum
(mm)
1 Beton dicor langsung diatas tanah dan selalu berhubungan langsung dengan tanah 75
2 Beton yang berhubungan dengan tanah atau berhubungan dengan cuaca
> Batang D-19 hingga D-56………………………………………………………….. 50

> Batang D-16 jaringan kawat polos P16 atau kawat ulir D-16 dan yang lebih
kecil……………………………………………………...………………………………... 40
3 Beton yang tidak berhubungan langsung dengan cuaca ateu beton tidak lansung
berhubungan dengan tanah :
> Pelat,dinding, pelat berusuk :
Batang D-44 dan D-56……………………………………………………………….. 40
Batang D-36 dan yang lebih kecil……………………..…………………………….. 20
> Balok, kolom :
Tulang utama, pengikat, sengkang, lilitan spiral…………………………………… 40
> Komponen struktur cangkang, pelat lipat :
Batang D-19 dan yang lebih besar………………………………………………….. 20
Batang D-16 jaring kawat polos P-16 atau ulir D-16 dan yang lebih kecil……… 15
Dalam merencanakan penulangan balok harus dapat memenuhi persyaratan dibawah ini :
1. > 0.3
2. b
min
> 25 cm
3. ρ
min
≤ ρ ≤ ρ
maks
Menentukan tulangan tekan
< 1
Koefisien balok dengan pelat, α
m
merupakan nilai rata-rata α untuk semua balok. Untuk mencari lebar
efektif balok dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

2.4 Kolom
Kolom merupakan batang tekan vertikal dari suatu rangka struktur yang memikul beban dari
balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang sangat memegang peranan penting dalam
suatu struktur. Keruntuhan kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya lantai yang
bersangkutan dan juga dapat terjadi keruntuhan total dalam seluruh struktur. Menurut SNI 03-1726-2002
pada pasal 10.8 mengatakan bahwa kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang
H
B
δ ·
' As
As
2 1
2
1
2
1
L L bw b
eff
+ + ·
hf hf bw b
eff
8 8 + + ·
8
L
b
eff
·
bekerja pada semua lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu
bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio
maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.
Syarat-syarat dalam mendesain kolom antara lain :
1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang bekerja pada semua
lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu bentang terdekat dari
lantai atau atap yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang mengahasilkan rasio maksimum dari
momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.
2. Pada konstruksi rangka atau struktur menerus, pengaruh dari adanya beban yang tak
seimbang pada lantai atau atap terhadap kolom luar ataupun dalam harus diperhitungkan.
Demikian pula pengaruh dari beban eksentrisitas karena sebab lainnyajuga harus diperhitungkan.
3. Dalam menghitung momen akibat bebabn gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung
terjauh kolom dapat dianggap terjepit, selama ujung-ujung tersebut menyatu (monolit) dengan
komponen struktur lainnya.
4. Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus didistribusikan pada
kolom diatas atau dibawah lantai tersebut berdasarkan kekakuan relatif kolom dengan juga
memperhatikan kondisi kekangan pada ujung kolom.
Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Kolom berfungsi sangat
penting, agar bangunan tidak runtuh. Beban bangunan dimulai dari atap dan akan diteruskan ke kolom.
Keruntuhan kolom merupakan hal yang perlu dihindari dalam perncanaan struktur bangunan.
Perencanaan kolom harus memperhatikan keadaan batas tegangan (kekuatan) dan kekakuan untuk
menghindari deformasi berlebihan dan tekuk. Daktail tulangan yang benar dan penutup beton yang cukup
adalah hal yang penting. Perbandingan dari kolom tidak boleh dari 0,4
Syarat untuk menetukan dimensi kolom (Kusuma dan Andriono, 1996) yaitu :
h
b
dimana :
N
u
= W
u
= beban ultimate yang dipikul kolom (kg)
A
gross
= luas kolom yang dibutuhkan (cm
2
)
Fc’ = mutu beton (Mpa)
Untuk batang-batang eksentrisitas yang sangat besar atau yang sangat kecil, pedoman mengatur
ketentuan-ketentuan keamanan tambahan, yang akan dikemukakan dibawah ini.
Gambar 2.9 Diagram interaksi untuk tekan dengan lentur P
n
dan M
n
' 2 , 0 fc
A
N
gross
u

' 2 , 0 fc
N
A
u
gross

Compression failure = keruntuhan tekan
Tension failure = keruntuhan tarik
Balanced failure = keruntuhan seimbang
2.5 Kelengkungan Pada Struktur
Pada desain struktur berbentuk oval ini, kelengkungan pada struktur luar (fasade) perlu
diperhatikan. Hal ini dikarenakan finishing bentuk luar dari bangunan menggunakan material dari kaca
yang rentan terhadap pemuaian. Kelengkungan pada fasade struktur juga mempunyai rentan yang tinggi
akibat getaran yang dapat menyebabkan elemen pecah atau patah.
Kelengkungan bentuk luar (fasade) merupakan diambil dari busur lingkaran dengan jari-jari
setengah dari diameter gedung yaitu sepanjang 22m, dan dengan titik pusat lingkaran berada pada lantai 5
struktur gedung. Dengan panjang oversteek pada tiap-tiap lantai mengikuti pendekatan .
2.6 Baja Tulangan
Beton yang digunakan sebagai bahan utama dalam struktur sangat kuat menahan tekan, namun
tidak kuat dalam menahan tarik. Maka dari itu beton menggunakan tulangan baja dalam mengatasi
masalah itu. Baja yang terdapat pada beton berfungsi untuk memikul tegangan tarik pada struktur. Agar
penggunaan tulangan dapat berjalan dengan efektif, harus diusahakan agar tulangan dan beton dapat
mengalami deformasi bersama-sama, yang bertujuan untuk agar ikat-ikatan yang cukup kuat diantara
kedua material tersebut untuk memastikan tidak terjadinya gerakan relatif (slip) dari tulangan dengan
beton yang terdapat disekelilingnya. Menurut peraturan SNI 03-2847-2002 pada pasal 5.5 mengatakan
baja tulangan yang digunakan harus tulangan ulir, kecuali baja polos diperkenankan untuk tulangan spiral
atau tendon.
Dalam perencanaan, sering digunakan tulangan yang bersifat balance reinforced atau tulangan yang
berimbang, artinya tulangan leleh pada saat bersamaan dengan hancurnya beton. Perbedaan Over
Reinforced dan Under Reinforced adalah :
Tabel 2.5 Perbedaan Over reonforced dan Under reinforced
Dari dua kondisi tersebut, dalam perancangan beton bertulang tidak disarankan dalam kondisi over
reinforced, perancangan didesain harus dalam kondisi keruntuhan under reinforced.
Banyaknya tulangan ditunjukan oleh luas penampang tulangan (As)
dimana :
ρ = angka tulangan (tanpa dimensi)
As = luas tulangan
ρ
b
= angka tulangan dalam keadaan seimbang (balance)
ρ > ρ
b
= over reinforced
d b
As
×
· ρ
Over Reinforced Under Reinforced
Tulangan banyak Tulangan sedikit
Momen nominal (Mn) besar Momen nominal (Mn) kecil
Garis netral besar Garis netral kecil
Tulangan belum leleh saat beton hancur Tulangan sudah hancur saat beton hancur
Keruntuhan tekan Keruntuhan tarik
Keruntuhan bersifat tiba-tiba
Keruntuhan bersifat perlahan
(didahului retak-retak)
Brittle failure Dactile failure
ρ > ρ
b
= under reinforced
dalam perancangan : ρ < 0,75 ρ
b
Kapasitas momen akan meningkat dengan semakin banyaknya tulangan, tetapi tulangan yang
semakin banyak juga akan menyebabkan penampang semakin besar yang akan menyebabkan over
reinforced. Dalam perancangan, penampang dengan kapasitas besar akan tetapi tetap mengalami under
reinforced. Cara terbaik untuk mengatasinya dengan menggunakan tulangan rangkap, tulangan atas
(tekan) dan tulangan bawah (tarik).
2.7 Dasar-dasar Perencanaan Gedung Bertingkat Banyak
Metode yang digunakan dalam menganalisa perencanaan bangunan pada Tugas Akhir ini yaitu,
Analisis beban statik ekuivalen dan Analisis dinamis. Umumnya untuk bangunan sederhana, simetris dan
beraturan, metode statik ekuivalen cukup efektif digunakan.
2.7.1 Perbedaan Antara Beban Statik dan Beban Dinamik
1. Analisis Beban Statik Ekuivalen
Analisis beban statik ekuivalen adalah suatu cara analisa statik struktur, dimana
pengaruh gempa pada struktur dianggap sebagai beban-beban statik horizontal untuk menirukan
pengaruh gempa yang sesungguhnya akibat pergerakan tanah. Analisis beban gempa statik ekuivalen
( ) 6000
1 ' 85 , 0
+
⋅ ⋅ ⋅
·
fy
fc
b
β
ρ
pada struktur gedung beraturan yaitu suatu cara analisis statik 3 dimensi linier dengan meninjau
beban-beban gempa statik ekuivalen, sehubungan dengan sifat struktur gedung beraturan yang
praktis berperilaku sebagai struktur 2 dimensi, sehingga respon dinamiknya praktis hanya
ditentukan oleh respon ragamnya yang pertama dan dapat ditampilkan sebagai akibat dari
beban gempa statik ekuivalen.
Setiap struktur gedung harus direncanakan dan dilaksanakan untuk menahan suatu beban geser
dasar akibat gempa dalam arah-arah yang ditentukan.
Gaya lateral direncanakan dan dilaksanakan dan dilaksanakan untuk menahan suatu beban
geser dasar akibat gempa (V) dalam arah-arah yang ditentukan. Besarnya beban lateral menurut
peraturan SNI-03-1726-2002 dapat dinyatakan sebagai berikut :
dimana :
V = Gaya geser horizontal total akibat gempa
R = Faktor reduksi gempa
C
1
= Faktor respon gempa
1 = Faktor keutamaan
W
t
= Berat total bangunan termasuk beban hidup yang sesuai
Beban geser dasar nominal V harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung menjadi beban-
beban gempa nominal statik ekuivalen Fi yang menangkap pada pusat massa lantai-1 menurut
persamaan :
t
W
R
C
V
1
1

·
V
Z W
Z W
F
n
l i
i i
i i
i



·

·
dimana :
Wi = Berat lantai tingkat-1
Zi = Ketinggian lantai
2. Analisis Beban Gempa Dinamik
Analisa dinamik adalah untuk menetukan pembagian gaya geser tingkat akibat gerakan
tanah oleh gempa dan dapat dilakukan dengan cara analisa ragam spectrum respon atau dengan cara
analisa respon riwayat waktu.
Salah satu aspek penting dalam analisa dinamik adalah periode dan pola getar alami,
yang menghasilkan frekuensi dan periode.
Analisa dinamik harus dilakukan untuk struktur gedung-gedung berikut :
1. Gedung-gedung yang tingginya lebih dari 40 m
2. Gedung-gedung yang memiliki lebih dari 10 lantai
3. Gedung-gedung yang strukturnya tidak beraturan
4. Gedung-gedung yang bentuk, ukuran, dan peraturannya tidak umum
5. Gedung-gedung dengan kekakuan tingkat yang tidak merata
Analisa dinamik yang ditentukan didasarkan atas prilaku struktur yang bersifat elastik penuh dengan
meninjau gerakan gempa dalam satu arah. Salah satu aspek penting dalam analisa dinamik adalah periode
dan pola getar alami. Dalam hal ini dapat dilakukan analisis modal untuk mode getaran dengan
menggunakan eigenvector. Struktur dengan jumlah bentang dan kolom tersebar dapat diidealisasikan
hubungan massa dan periode, sehingga dapat dianggap:
1. Massa terpusat pada bidang lantai
2. Balok pada lantai, kaku tak hingga dibandingkan kolom
3. Deformasi struktur tak dipengaruhi gaya aksial yang terjadi pada struktur
2.8 Faktor Beban Ultimit
Ketentuan desain gempa SNI 2847 memakai dasar desain kekuatan terbatas dan bukan desain
tingkat layan (elastis)
Menurut SNI beton 2002 pasal 11.2 secara umum ada 6 macam kombinasi beban yang harus
dipertimbangkan,
1. 1.4 D
2. 1.2 D + 1.6 L
3. 1.2 D + 1.0 L ± 1.0 (Ex ± 0.3 Ey)
4. 1.2 D + 1.0 L ± 1.0 (0.3 Ex ± Ey)
5. 0.9 D ± 1.0 (Ex ± 0.3 Ey)
6. 0.9 D ± 1.0 (0.3 Ex ± Ey)
Beban gempa nominal E adalah kombinasi beban pada SNI 2847 ini, memakai beban
terfaktor = 1,0 karena E adalah beban Ultimate.
2.9 Analisis Struktur
Struktur dengan menggunakan beton bertulang berlantai banyak merupakan kombinasi dari balok,
kolom, pelat dan dinding yang dihubungkan satu sama lain untuk membentuk suatu kerangka monolitis.
Setiap bagian harus mampu menahan gaya yang bekerja padanya.
Analisis dimulai dengan menghitung seluruh beban yang dipikul oleh konstruksi, termasuk berat
sendiri konstruksi. Selanjutnya parameter-parameter penampang seperti luas dan momen inersia dihitung.
Gaya-gaya dapat dihitung dengan berbagai metode analisin struktur statis tak tentu, baik secara manual
maupun software komputer. Pada Tugas Akhir ini digunakan program komputer ETABS.
Beban yang terima struktur direncanakan sebagai pembebanan vertikal gravitasi dan pembebanan
leteral gempa. Pembebanan vertikal gravitasi terdiri atas beban mati dan beban hidup.
BAB III
METODELOGI PERENCANAAN
3.1 Langkah Kerja
Dalam melakukan perencanaan struktur dengan menggunakan balok-balok kantilever dibuat
langkah kerja dalam bentuk flow chart atau bagan alur seperti dibawah ini :
MULAI
PENGUMPULAN DATA
DESAIN GAMBAR
PERENCANAAN AWAL :
• Pelat
• Balok
• Kolom
SELESAI
DESAINTULANGANLENTUR & GESER :
• Pelat
• Balok
• Kolom
PERIKSA TULANGAN
Tulangan perlu < Tulangan terpasang
GAMBAR TULANGAN :
• Pelat
• Balok
• Kolom
PERHITUNGAN BEBAN MANUAL :
• Beban Mati
• Beban Hidup
• Beban Gempa
ANALISA STRUKTUR DENGAN ETABS :
• Beban Mati
• Beban Hidup
• Beban Gempa
Tidak
Tidak
Gambar 3.1 Bagan Alur Perencanaan
3.2 Metodologi Analisis
3.2.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk mendapatkan data-data yang akan diolah dalam
perhitungan, data-data tersebut akan menjadi acuan dalam melakukan perencanaan struktur. Data-data
yang dibutuhkan seperti kegunaan dari bangunan itu sendiri, lokasi struktur, jumlah lantai, tinggi lantai,
tingkat daktalitas struktur, kuat tekan beton yang digunakan, tinggi leleh baja tulangan yang digunakan,
modulus elastisitas, dan gambar struktur dari desain.
3.2.2 Desain Gambar
Desain gambar bertujuan untuk mengetahui model dari desain struktur yang akan direncanakan.
Dalam tugas akhir ini penulis merencanakan denah gambar dengan permodelan gedung berbentuk oval
(tube).
Pemilihan bentuk tersebut dikarenakan karena penulis ingin mengamati perilaku dari stabilitas
struktur terhadap gempa. Karena desain bentuk struktur yang mengecil dibagian bawah dan atas serta
melebar dibagian tengahnya.
3.2.3 Desain Pendahuluan (Preeliminary Design)
Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi rencana seperti pelat, balok, dan
kolom agar memperoleh suatu nilai yang optimal.
3.2.4 Menghitung Beban
Dalam perhitungan beban, digunakan dua metode. Metode manual dan metode dengan
menggunakan software ETABS. Penggunaan dua metode ini dimaksudkan agar mendapatkan perhitungan
beban yang lebih akurat dan teliti dalam perencanaan. Metode manual menggunakan cara konvensional
dengan menerapkan rumus-rumus yang ada. Sedangkan metode dengan menggunakan software
menggunakan permodelan struktur ETABS yang dihitung secara otomatis menurut beban-beban yang kita
masukan.
3.2.5 Desain Tulangan Lentur dan Geser
1. Desain Balok Terhadap Lentur
Jika balok dibebani secara bertahap mulai dari beban yang ringan sampai qu sebagai beban batas,
penampang balok mengalami keadaan lentur. Proses peningkatan beban berakibat terjadinya korosi
tegangan dan regangan yang berbeda pada tahapan pembebanan.
Gambar 3.2 Hubungan Tegangan dan Regangan Pada Beton
Desain tulangan lentur ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan besar tulangan yang optimal
dalam menahan gaya lentur. Sifat tulangan terlebih dahulu mencapai titik leleh sebelum kehancuran beton
inilah yang dikehendaki dalam desain dan disebut perencanaan tulangan lemah penampang. Sebaliknya
perencanaan tulang kuat didefinisikan bila terlebih dahulu beton mencapai tegangan batas sebelum
terjadinya kelelehan baja tulangan. Desain dengan tulangan yang kuat sedapat mungkin dihindari dalam
perencanaan, karena akan terjadi keruntuhan secara mendadak yang sifatnya destruktif dan berakibat fatal
bagi pengguna.
Jenis-jenis keruntuhan lentur
Dengan data-data penampang yang didapat, mutu beton, dan tulangan yang digunakan, terdapat 3
kemungkinan keruntuhan yang akan terjadi
1. Keruntuhan tarik (under reinforced)
Pada keruntuhan ini tulangan mencapai tegangan lelehnya terlebih dahulu, setelah itu beton baru
mencapai regangan batasnya, kemudian struktur runtuh.
2. Keruntuhan tekan (over reinforced)
Keruntuhan tekan diakibatkan karena penggunaan tulangan yang terlalu banyak, sehingga beton
akan hancur terlebih dahulu. Keruntuhan ini harus dihindari dalam perencanaan karena
keruntuhan ini bersifat tiba-tiba.
3. Keruntuhan seimbang (ballance)
Pada keruntuhan ini, tulangan baja dan beton secara bersama-sama mencapai regangan batasnya.
Jenis keruntuhan ini juga harus dihindari dalam perencanaan karena bersifat tiba-tiba.
2. Desain Balok Terhadap Geser dan Torsi
Kekuatan tarik beton jauh lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan tekannya, maka dari itu
desain terhadap geser merupakan hal yang sangat penting dalam struktur beton. Perilaku balok pada
keadaan runtuh karena geser sangat berbeda dengan keruntuhan lentur. Balok yang terkena keruntuhan
geser akan langsung runtuh tanpa adanya peringatan terlebih dahulu, selain itu retak diagonalnya lebih
besar dibandingkan dengan retak lenturnya. Oleh sebab itu desain balok tehadap gaya geser harus
diperhitungkan secara teliti. Gaya geser dirancang berdasarkan momen ekstrim dan gaya lintang pada
balok yang mengalami pembebanan yang paling ekstrim.
Balok selain menerima gaya geser juga menerima beban torsi yang didalam sistem struktur dapat
digolongkan atas dua tipe yaitu torsi statis tertentu dan torsi statis tak tentu. Statis tertentu jika jumlah dari
torsi yang harus dipikul bisa memenuhi persyaratan statika dan bebas dari kekakuan unsur. Sedangkan
torsi tak tentu terjadi dalam keadaan dimana tidak akan ada torsi kalau ketidaktentuan statika dihilangkan.
Perencanaan Balok Terhadap Geser
Perencanaan penampang akibat geser harus didasarkan pada :
V
u
≤ Ø V
n
Dimana V
u
adalah gaya geser terfaktor pada penampang yang ditinjau dan V
n
adalah kuat geser
nominal yang dihitung dari :
V
n
= V
c
+ V
s
V
c
= kuat geser nominal yang disumbangkan beton
V
s
= kuat geser nominal yang disumbangkan oleh tulangan geser
Hal yang harus dipenuhi dalam menetukan kuat geser :
1. Untuk kuat geser V
n
harus memperhitungkan pengaruh setiap bukaan pada komponen
struktur.
2. Untuk kuat geser V
u
dimana berlaku pengaruh regangan aksial tarik yang disebabkan oleh
rangkak dan susut pada komponen struktur yang terkekang, maka harus diperhitungkan
pengaruh tarik tersebut pada pengurangan kuat geser.
Perencanaan Balok Terhadap Torsi
Kuat momen torsi dalam merencanakan penampang terhadap torsi harus didasarkan kepada :
Tu ≤ Ø Tn
Dimana Tu merupakan torsi terfaktor pada penampang yang ditinjau, sedangkan Tn adalah kuat
momen torsi nominal yang harus dihitung dengan :
Tn = Tc + Ts
Ts = kuat momen torsi nominal yang disumbangkan oleh beton.
Dalam menentukan penulangan pada balok dapat dibedakan menjadi dua bagian diantaranya :
1. Tulangan dipasang simetris pada dua sisi penampang kolom.
2. Tulangan dipasang sama rata pada sisi-sisi penampang kolom.
1. Desain Kolom Terhadap Aksial dan Lentur
Perencanaan suatu kolom terutama didasarkan pada kekuatan dan kekakuan penampang
lintangnya terhadap beban aksial dan momen lentur. Kolom tersebut harus memiliki kekakuan yang
sedemikian rupa, sehingga kekuatan dalam kombinasi beban aksial dan lentur ini harus memenuhi
persamaan keserasian tegangan dan regangan. Serta berdasarkan beban kombinasi yang paling ekstrim
yang terjadi pada kolom.
Pada situasi pembebanan lentur dengan gaya aksial harus terjadi kesetimbangan ∑H = 0, sehingga
didapat persamaan :
Ø P = Ø (Cc + Cs – Ts)
Ø = koefisien reduksi
(fc’ ≤ 30 Mpa Ø = 0,85)
(30 Mpa ≤ fc’ ≤ 58 Mpa Ø = 0.85 – 0.05/7 (fc’ – 30)
(fc’ ≥ 58 Mpa Ø = 0,65)
Ø P = Ø (0.81 fc’ · a · b + As’ · Es · ε’s – fy · As)
Sesuai dengan syarat kesetimbangan momen ∑M=0, maka didapat persamaan :
Ø M = Ø (Cc + Cs – Ts)
Ø M = Ø {Cc(0.5 – 0.5a) + Cs(0.5h – d’) – Ts (0.5h – ds)}
Ø M = Ø {[0.81 fc’·a·b(0.5h – 0.5a)] + [As’·Es·ε’s(0.5h-d’)] – [fy·As(0.5h – ds)]
Pada SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.14.4 menetapkan batasan untuk gaya yang bekerja pada beban yang
mengalami beban lentur dan aksial. Pada pasal tersebut menjelaskan bahwa komponen struktur rangka
yang mengalami beban aksial dan lentur harus :
1. Untuk penampang yang berdimensi pendek yang telah diukur pada satu garis lurus melalui titik
berat penampang tidak boleh kurang dari 300 mm.
2. Perbandingan rasio dimensi penampang terpendek terhadap dimensi yang tegak lurus
terhadapnya tidak boleh kurang dari 0,4.
3. Untuk rasio tinggi kolom terhadap dimensi penampang kolom yang terpendek tidak boleh lebih
besar dari 25. Nila pada kolom tersebut mengalami momen yang dapat berbalik tanda, rasionya
tidak boleh lebih besar dari 16. Sedangkan pada kolom kantilever rasionya tidak boleh lebih dari
10.
Penggunaan grafik pada grafik 6.2 CUR 4 (terdapat pada lampiran) dapat juga dilakukan dalam
membantu perhitungan desain maupun analisa, terutama pada saat penulangan isi kolom, dimana dari
grafik tersebut didapat perbandingan antara luas total penampang dengan luas tulangan.
4. Penulangan Pada Pelat
Perhitungan penulangan pada pelat dimodelkan seperti perhitungan tulangan pada balok,
diasumsikan lebar balok dianggap 1 meter. Dengan menggunakan perbandingan antara sisi panjang dan
sisi pendek pada pelat.
Mlx = 0,001 × Wu × Lx
2
× x
Mly = 0,001 × Wu × Lx
2
× x
Mtx = -0,001 × Wu × Lx
2
× x
·
Lx
Ly
Mty = 0,001 × Wu × Lx
2
× x
Diambil Momen terbesar (Mmax) = Mu
Mn =
Tebal pelat minimum (h
min
) = (didapat h)
Penutup beton tebalnya ditentukan berdasarkan Tabel 3 CUR
mis. untuk Ø < 16 mm, tebal pelat = 40 mm
gunakan
Tentukan nilai ρ berdasarkan grafik dan tabel perencanaan beton bertulang
(CUR.4) tabel 5.2
As = ρ · b · d · 10
6
→ didapatkan tulangan (As terpasang = ...... mm
2
)
Cek :
Terhadap rasio tulangan max dan min
ρ = → ρmin ≤ ρ ≤ ρmax (ok!!!)
Terhadap lendutan
Lendutan yang terjadi harus lebih kecil dari lendutan ijin (L/240)
φ
Mu
L ⋅
20
1
2
d b
Mn

d b
As

3.2.6 Gambar Tulangan
Gambar tulangan adalah hasil atau produk yang keluar dari desain perencanaan yang dibuat.
Gambar tulangan bertujuan untuk memudahkan pekerja dalam membuat atau menjadikan hasil
perhitungan kita ke dalam lapangan. Gambar tulangan merupakan gambar dari penulangan pelat, kolom,
dan balok.
BAB IV
ANALISA STRUKTUR
4.1 Data-data Struktur
Pada bab ini akan membahas tentang analisa struktur dari struktur bangunan yang
direncanakan serta spesifikasi dan material yang digunakan.
1. Bangunan direncanakan akan digunakan sebagai Perkantoran
2. Struktur direncanakan dengan tingkat daktilitas penuh
3. Bangunan 10 lantai
4. Lokasi struktur berada di wilayah gempa 5
5. Sistem pelat yang digunkan adalah konvensional
6. Kuat tekan beton fc’ = 25 Mpa atau 250 kg/cm
2
7. Tinggi lantai 1-10 = 4 m
8. Tegangan leleh tulangan baja fy = 270 Mpa
9. Modulus elastistas beton Ec = 4700 fc' Mpa = 4700 27 = 23500000
4.2 Perencanaan Awal (Preliminary Design)
Perhitungan perencanaan awal ini bertujuan untuk menghitung dimensi rencana struktur
seperti pelat, balok, dan kolom agar memperoleh suatu nilai yang optimal.
4.2.1 Pra Rencana Pelat
Gambar 4.1 Denah Lantai
B C D E F G H I
9
8
7
6
5
4
3
2
1
A
6000 mm

6000 mm
Gambar 4.2 Dimensi Satu Pelat
Menentukan Koefisien Jepit Pelat (α
m
)
Koefisien jepit pada pelat merupakan nilai rata-rata α
m
untuk semua balok pada tepi suatu panel.
α
1
α
2
α
4
6000 mm

α
3
6000 mm
Gambar 4.3 Diagram letak α
Untuk α
1
(asumsi tebal pelat 120 mm)
be
ht ha

bo
Balok dengan 2 ujung menerus
ht > l21=600021=285,7 mm
diambil ht = 400 mm
bo = 250 mm
be < 14×6000=1500 mm
be < bo+6000+2502+6000-2502= 6000 mm ambil yang terkecil be =
1500 mm
be < bo + 8 (120) + 8 (120) = 2120 mm
C
1
= 112[1+(1500250-1)(120400)
3
+3150250-11-12040021204001+1500250-
1(120400)=0,17
I
2b
= C
1
∙ bo ∙ht3 = 0,17∙250∙4003=2.720.000.000 mm4
I
2p
= 112∙5000∙1203=720.000.000 mm4
∴α1=I2bI2p=2.720.000.000720.000.000=3,78
Untuk α
2
(asumsi tebal pelat 120 mm)
be
ht ha

bo
Balok dengan 2 ujung menerus
ht > l21=600021=285,7 mm
diambil ht = 400 mm bo = 250 mm
be < 14×6000=1500 mm
be < bo+6000+2502+6000-2502= 6000 mm ambil yang terkecil
be < bo + 8 (120) + 8 (120) = 2120 mm be = 1500 mm
C
1
= 112[1+(1500250-1)(120400)
3
+3150250-11-12040021204001+1500250-
1(120400)=0,17
I
2b
= C
1
∙ bo ∙ht3 = 0,17∙250∙4003=2.720.000.000 mm4
I
2p
= 112∙6000∙1203=864.000.000 mm4
∴α2=I2bI2p=2.720.000.000864.000.000=3,15
Karena panjang bentang sama maka
α
2
= α
3
= α
4
= 3,15
α
rata-rata
= 3,78+3,15+3,15+3,154=3,31
fy = 270 Mpa

n
= bentang bersih terpendek pelat = 4 m = 4000 mm
β = 60006000=1
α
m
= 3,31 > 2,0
h ≥ l(0,8+fy1500)36+9β=4000(0,8+2701500)36+9 (1)=87,1 mm
Maka h = 120 mm (Tebal Pelat)
Dalam perhitungan awal tebal pelat diasumsikan 120 mm, dan memenuhi syarat untuk
digunakan. Namun penulis mengambil tebal pelat 90 mm agar menjadi lebih efisien dan
walaupun tebal pelat dikurangi tetap memenuhi syarat.
Periksa Kekakuan Pelat Terhadap Lendutan (δ)
➢ Pelat Bagian Tengah
Pembebanan Ultimit Pada Lantai
Beban Mati
Tebal Pelat : 0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88KN/m2
Berat Penutup Lantai : (Keramik + Semen) = 0,175KN/m2
Berat Plafon + Rangka : 0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
+
= 2,515KN/m2
Beban Hidup
Gedung diperuntukan untuk perkantoran = 2,5KN/m2
Wu = 1,2 qd + 1,6 ql = 1,2 (2,515) + 1,6 (2,5) = 7,018 KN/m2
Momen Lentur Pelat (D)
D = E∙h312(1-μ2)=23.500.000∙0,1212(1-0,22)=183593,75
Lendutan Pada Pelat (δ)
δ=α∙Wu∙b4D=3,31∙7,018∙6183593,75=0,00076
Lendutan izin maksimum
δizin=L480=6480=0,0125
δ<δizin
∴ Maka tebal pelat 120 mm dapat digunakan pada pelat bagian tengah
➢ Pelat Bagian Pinggir (Kantilever)
Pembebanan Ultimit Pada Lantai
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
Berat Kaca = 0,1 KN/m2
+
= 2,615KN/m2
Beban Hidup
Gedung diperuntukan untuk perkantoran = 2,5 KN/m2
Wu = 1,2 qd + 1,6 ql = 1,2 (2,615) + 1,6 (2,5) = 7,138 KN/m2
Momen Lentur Pelat (D)
D = E∙h312(1-μ2)=23.500.000∙0,1212(1-0,22)=183593,75
Lendutan Pada Pelat (δ)
δ=α∙Wu∙b4D=3,31∙7,138∙6183593,75=0,00052
Lendutan izin maksimum
δizin=L480=4480=0,0083
δ<δizin
Maka tebal pelat 120 mm dapat digunakan pada pelat kantilever
4.2.2 Pra Rencana Balok
Balok Lantai 5 ( Ekstrim)
➢ Bentang Balok As. E
4m 4m 6m 6m 6m 6m 6m 6m
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Gambar 4.4 Bentang Balok Pada As. E
Perkiraan awal ukuran penampang
Balok 1 – 2 dan 8 – 9 merupakan balok kantilever
hmin=L8=40008=500 mm
Balok 2 – 3, 3 – 4, 4 – 5, 5 – 6, 6 – 7, 7 – 8 merupakan balok dengan dua ujung menerus
hmin=L18,5=600018,5=324,32 mm
Ambil yang terbesar h = 500 mm
b = 250 mm
Beban Balok
○ Bagian Tengah
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175 KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
+
= 2,515 KN/m2
Beban Hidup : 2,5 KN/m2
Wu : 1,2 (qD) + 1,6 (qL)
1,2 (2,515) + 1,6 (2,5) = 7,018 KN/m2
○ Bagian Pinggir (Kantilever)
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175 KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
Berat Kaca = 0,1 KN/m2
+
= 2,615 KN/m2
Beban Hidup : 2,5 KN/m2
Wu : 1,2 (qD) + 1,6 (qL)
1,2 (2,615) + 1,6 (2,5) = 7,138 KN/m2
4m 6m 6m 6m 6m 6m 6m 4m
6m
6m
Gambar 4.5 Penyebaran Pembebanan Pada As. E
Pembebanannya :
q1
q2
q3
q4
q5
q6
q7
q8
q9
q10
q11
q12
q13
q14
q15
q16
Gambar 4.6 Penyebaran Beban Pada As.E
q1 = qD=2,615∙42=5,23 kNm
qL=2,5∙42=5 kNm
q1=q2=q15= q16=qD=5,2 3 kNm
qL=5 kNm
q3 = qD=2,515∙62=7,545 kNm
qL=2,5∙62=7,5 kNm
q
qD
(kNm)
qL
(kNm)
q1 5,23 5
q2 5,23 5
q3 7,545 7,5
q4 7,545 7,5
q5 7,545 7,5
q6 7,545 7,5
q7 7,545 7,5
q8 7,545 7,5
q9 7,545 7,5
q10 7,545 7,5
q11 7,545 7,5
q12 7,545 7,5
q13 7,545 7,5
q14 7,545 7,5
q15 5,23 5
q16 5,23 5
Tabel 4.1 Tabel Besar Pembebanan Balok As. E
Dengan menggunakan SAP 2000 diperoleh nilai dari Mu=102,75 × 106 Nmm
bd2≥Mu∅fc'w(1-0,59w)
diasumsikan
ρ=0,01 angka rasio tulangan ekonomis
ω= ρ∙fyfc'
ω= 0,01∙27025=0,108
sehingga
bd2=102,75 ×1060,8∙25∙0,108(1-0,59∙0,108)=5,1 × 107
jika b = 300 mm → d = 450 mm
Tulangan diasumsikan dipasang 1 lapis, maka :
h = d + 65 mm
= 450 mm + 65 mm = 515 mm ≈ 600 mm
Maka dimensi balok yang digunakan b = 300 mm
` h = 600 mm
Periksa Kekakuan Balok Terhadap Lentur
δ5 ∙ Wu ∙ L4384 ∙E ∙I
I = Momen Inersia Balok
I = 112∙b∙h3
= 112∙300∙6003=5.400.000.000 mm4=540000 cm4
 Untuk balok bagian tengah
δ=5 ∙70,18 ∙ 6004384∙23.500.000 ∙540000=0,017
Lendutan izin balok (δizin)=400480=0,83
δ < δizin
Maka pada balok tengah memenuhi syarat kekakuan
 Untuk balok bagian pinggir (kantilever)
δ=71,38 ∙ 400430∙23.500.000 ∙292933,33=0,0088
Cek Lendutan Pada Balok Kantilever Dengan Metode Conjugate Beam
4 m
R = l · q A
B
q = 523 kg/cm

400 cm
R=400 · 523=209200kg/cm A
B
q = 523 kg/cm

400 cm
MB' = R' · 300 = 8367 x 10 6
R' =
1
3

· · ·
δ = MBEI=8367 ∙106235000∙540000=0,066
Lendutan izin balok (δizin)=400480=0,83
δ < δizin
Maka pada balok kantilever memenuhi syarat kekakuan
∴ Dimensi balok yang digunakan pada As. E adalah 300/600
➢ Bentang Balok As. C (Panjang Kantilever 6m)
6m 6m 6m 6m 6m 6m
1 2 3 4 5 6 7
Gambar 4.7 Bentang Balok Pada As. C
Perkiraan awal ukuran penampang
Balok 1 – 2 dan 6 – 7 merupakan balok kantilever
hmin=L8=60008=750 mm
Balok 2 – 3, 3 – 4, 4 – 5, 5 – 6 merupakan balok dengan dua ujung menerus
hmin=L18,5=600018,5=324,32 mm
Ambil yang terbesar h = 750 mm
b = 375 mm
Beban Balok
○ Bagian Tengah
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175 KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
+
= 2,515 KN/m2
Beban Hidup : 2,5 KN/m2
Wu : 1,2 (qD) + 1,6 (qL)
1,2 (2,515) + 1,6 (2,5) = 7,018 KN/m2
○ Bagian Pinggir (Kantilever)
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175 KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
Berat Kaca = 0,1 KN/m2
+
= 2,615 KN/m2
Beban Hidup : 2,5 KN/m2
Wu : 1,2 (qD) + 1,6 (qL)
1,2 (2,615) + 1,6 (2,5) = 7,138 KN/m2
6 m 6 m 6m 6m 6m 6m
6 m
6 m
Gambar 4.8 Penyebaran Pembebanan Pada As. C

Pembebanannya
q1
q2
q3
q4
q5
q6
q7
q8
q9
q10
q11
q12
Gambar 4.9 Penyebaran Beban Pada As.C
q1 = qD=2,615∙62=7,845 kNm
qL=2,5∙62=7,5 kNm
q1=q2=q11= q12=qD=7,845 kNm
qL=7,5 kNm
q3 = qD=2,515∙62=7,545 kNm
qL=2,5∙62=7,5 kNm
q
qD
(kNm)
qL
(kNm)
q1 7,845 7,5
q2 7,845 7,5
q3 7,545 7,5
q4 7,545 7,5
q5 7,545 7,5
q6 7,545 7,5
q7 7,545 7,5
q8 7,545 7,5
q9 7,545 7,5
q10 7,545 7,5
q11 7,845 7,5
q12 7,845 7,5
Tabel 4.2 Tabel Besar Pembebanan Balok As. C
Dengan menggunakan SAP 2000 diperoleh nilai dari Mu=222,98 × 106 Nmm
bd2≥Mu∅fc'w(1-0,59w)
diasumsikan
ρ=0,01 angka rasio tulangan ekonomis
ω= ρ∙fyfc'
ω= 0,01∙27025=0,108
sehingga
bd2=222,98×1060,8∙25∙0,108(1-0,59∙0,108)=1,1 × 108
jika b = 375 mm → d = 545 mm
Tulangan diasumsikan dipasang 1 lapis, maka :
h = d + 65 mm
= 545 mm + 65 mm = 610 mm
Maka dimensi balok yang digunakan b = 400 mm
` h = 650 mm
Periksa Kekakuan Balok Terhadap Lentur
δ 5Wu ∙ L4384 ∙E ∙I
I = Momen Inersia Balokh
I = 112∙b∙h3
= 112∙375∙6103=7.093.156.250 mm4=709315,63 cm4
 Untuk balok bagian tengah
δ=5 ∙70,18 ∙ 6104384∙23.500.000 ∙709315,63=0,0076
Lendutan izin balok (δizin)=400480=0,83
δ < δizin
Maka pada balok tengah memenuhi syarat kekakuan
 Untuk balok bagian pinggir (kantilever)
δ=71,38 ∙ 610430∙23.500.000 ∙709315,63=0,0198
Lendutan izin balok (δizin)=400480=0,83
δ < δizin
Maka pada balok kantilever memenuhi syarat kekakuan
Cek Lendutan Pada Kantilever Dengan Conjugate Beam
6 m
R = l · q A
B
q = 750 kg/cm

600 cm
R=600 · 750 =450000 kg/cm A
B
q = 750 kg/cm

600 cm
MB' = R' · 4,5 = 4,05 x 10 8
R' =
1
3

· · ·
δ = MBEI=4,05 ∙108235000∙709315,64=0,0245
∴ Dimensi balok yang digunakan pada As. C adalah 375/600
➢ Bentang Balok As. B (Panjang Kantilever 6,65 m)
6,65m 6m 6m 6,65m
1 2 3 4 5
Gambar 4.10 Bentang Balok Pada As. B
Perkiraan awal ukuran penampang
Balok 1 – 2 dan 4 – 5 merupakan balok kantilever
hmin=L8=66508=831,25 mm ≈835 mm
Balok 2 – 3, 3 – 4 merupakan balok dengan dua ujung menerus
hmin=L18,5=600018,5=324,32 mm
Ambil yang terbesar h = 835 mm
b = 420 mm
Beban Balok
○ Bagian Tengah
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175 KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2 = 0,18 KN/m2
+
= 2,515 KN/m2
Beban Hidup : 2,5 KN/m2
Wu : 1,2 (qD) + 1,6 (qL)
1,2 (2,515) + 1,6 (2,5) = 7,018 KN/m2
○ Bagian Pinggir (Kantilever)
Beban Mati
Tebal Pelat :0,12 m x 24 KN/m2 = 2,88 KN/m2
Berat Penutup Lantai :(Keramik + Semen) = 0,175 KN/m2
Berat Plafon + Rangka :0,11 KN/m2 + 0,07 KN/m2= 0,18 KN/m2
Berat Kaca = 0,1 KN/m2
+
= 2,615 KN/m2
Beban Hidup : 2,5 KN/m2
Wu : 1,2 (qD) + 1,6 (qL)
1,2 (2,615) + 1,6 (2,5) = 7,138 KN/m2
6,65 m 6 m 6 m 6,65 m
6 m
6 m
Gambar 4.11 Penyebaran Pembebanan Pada As. B
Pembebanannya
q1
q2
q3
q4
q5
q6
q7
q8
Gambar 4.12 Penyebaran Beban Pada As.B
q1 = qD=2,615∙6,652=8,7 kNm
qL=2,5∙6,652=8,3 kNm
q1=q2=q7= q8=qD=8,7 kNm
qL=8,3 kNm
q3 = qD=2,515∙62=7,545 kNm
qL=2,5∙62=7,5 kNm
q
qD
(kNm)
qL
(kNm)
q1 8,7 8,3
q2 8,7 8,3
q3 7,545 7,5
q4 7,545 7,5
q5 7,545 7,5
q6 7,545 7,5
q7 8,7 8,3
q8 8,7 8,3
Tabel 4.3 Tabel Besar Pembebanan Balok As. B
Dengan menggunakan SAP 2000 diperoleh nilai dari Mu=370,18× 106 Nmm
bd2≥Mu∅fc'w(1-0,59w)
diasumsikan
ρ=0,01 angka rasio tulangan ekonomis
ω= ρ∙fyfc'
ω= 0,01∙27025=0,108
sehingga
bd2=370,18×1060,8∙25∙0,108(1-0,59∙0,108)=1,83 × 108
jika b = 420 mm → d = 660 mm
Tulangan diasumsikan dipasang 1 lapis, maka :
h = d + 65 mm
= 660 mm + 65 mm = 725 mm
Maka dimensi balok yang digunakan b = 450 mm
` h = 750 mm
Periksa Kekakuan Balok Terhadap Lentur
δ5 ∙ Wu ∙ L4384 ∙E ∙I
I = Momen Inersia Balok
I = 112∙b∙h3
= 112∙420∙7203=940584960 cm4
 Untuk balok bagian tengah
δ=5 ∙70,18 ∙ 7204384∙23.500.000 ∙940584960=0,00011
Lendutan izin balok (δizin)=400480=0,83
δ < δizin
Maka pada balok tengah memenuhi syarat kekakuan
 Untuk balok bagian pinggir (kantilever)
δ=71,38 ∙ 720430∙23.500.000 ∙940584960=0,000029
Lendutan izin balok (δizin)=400480=0,83
δ < δizin
Maka pada balok kantilever memenuhi syarat kekakuan
∴ Dimensi balok yang digunakan pada As. B adalah 450/750
4.2.3 Pra Rencana Kolom
Dengan mempertimbangkan keekonomisan struktur, dimensi kolom dibagi dalam 3 bagian,
yaitu dengan pembagian 1-3, 4-7, 8-10.
1. Pra Rencana Kolom Lantai 8-10
Kolom Tengah
a. Pembebanan Lantai Atap
Beban Mati (Pd10)
Berat sendiri pelat = 6 × 6 × 0,12 × 24 KN/m2 = 77,76 KN
Berat sendiri balok = (6+6) × 0,25 × (0,55 – 0,09) × 24 = 33,12 KN
Berat plafond = 6 × 6 × (0,11 + 0,07) = 6,48 KN
Aspal = 6 × 6 × 0,14 × 7 KN/m2 = 35,28 KN
+
Pd10 =152,64KN
Beban Hidup (Pl10)
Beban hidup atap = 6 × 6 × 1 KNm2 Pl10 = 36 KN
Pu10 = 1,2 (Pd10) + 1,6 (Pl10)
= 1,2 (152,64) + 1,6 (36)
= 240,77 KN
b. Pembebanan Lantai 9
Beban Mati (Pd9)
Berat sendiri pelat = 6 × 6 × 0,12 × 24 KN/m2 = 77,76 KN
Berat sendiri balok =(6+6) × 0,25 × (0,55 – 0,09) × 24 = 33,12 KN
Berat plafond =6 × 6 × (0,11 + 0,07) = 6,48 KN
Berat penutup lantai =6 × 6 × 0,007 × 25 KN/m2 = 6,3 KN
+
Pd9 =123,66KN
Beban Hidup (Pl9)
Gedung diperuntukan untuk kantor =6 × 6 × 2,5 Pl9 = 90 KN
Pu9 = 1,2 (Pd9) + 1,6 (Pl9) + Pu10
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 240,77
= 533,162 KN
c. Pembebanan Lantai 8
Beban Mati (Pd8)
(Pd8) = (Pd9) = 123,66 KN
(Pl8) = (Pl9) = 90 KN
Pu8 = 1,2 (Pd8) + 1,6 (Pl8) + Pu9
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 533,162
= 825,55 KN
Penentuan Ukuran Kolom
Dari data diatas, dapat dihitung dimensi dari kolom dengan menggunakan
Ag≥ Pu80,1 (fc'+ρ∙fy)=825,55∙103N0,1(25+0,01∙270)=298032,491 mm2
Kolom yang digunakan adalah kolom persegi b = h
b= 298032,491 mm2=545,9 mm
∴ ukuran kolom tengah yang digunakan pada lantai 8-10 adalah 550/550
Kolom Pinggir
a. Pembebanan Lantai Atap
Beban Mati (Pd10)
Berat sendiri pelat = 6 × 7 × 0,12 × 24 KN/m2 = 90,72 KN
Berat sendiri balok = (6+7) × 0,25 × (0,52 – 0,09) × 24 = 33,54 KN
Berat plafond = 6 × 7 × (0,11 + 0,07) = 7,56 KN
Aspal =6 × 7 × 0,14 × 7 KN/m2 = 41,16 KN
+
Pd10 =172,98KN
Beban Hidup (Pl10)
Beban hidup atap = 6 × 7 × 1 KNm2 Pl10 = 42 KN
Pu10 = 1,2 (Pd10) + 1,6 (Pl10)
= 1,2 (172,98) + 1,6 (42)
= 274,78 KN
b. Pembebanan Lantai 9
Beban Mati (Pd9)
Berat sendiri pelat = 6 × 7 × 0,12 × 24 KN/m2 = 90,72 KN
Berat sendiri balok = (6+7) × 0,25 × (0,52 – 0,09) × 24 = 33,54 KN
Berat plafond = 6 × 7 × (0,11 + 0,07) = 7,56 KN
Berat penutup lantai = 6 × 7 × 0,007 × 25 KN/m2 = 7,35 KN
+
Pd9 =139,17KN
Beban Hidup (Pl9)
Gedung diperuntukan untuk kantor = 6 × 7 × 2,5 KN/m2Pl9 = 105 KN
Pu9 = 1,2 (Pd9) + 1,6 (Pl9) + Pu10
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 274,78
= 609,784 KN
c. Pembebanan Lantai 8
Beban Mati (Pd8)
(Pd8) = (Pd9) = 139,17 KN
(Pl8) = (Pl9) = 105 KN
Pu8 = 1,2 (Pd8) + 1,6 (Pl8) + Pu9
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 609,784
= 944,79 KN
Penentuan Ukuran Kolom
Dari data diatas, dapat dihitung dimensi dari kolom dengan menggunakan
Ag≥ Pu80,1 (fc'+ρ∙fy)=944,79∙103N0,1(25+0,01∙270)=341079,42 mm2
Kolom yang digunakan adalah kolom persegi b = h
b= 341079,42 mm2=584,02 mm
∴ ukuran kolom pinggir yang digunakan pada lantai 8-10 adalah 600/600
1. Pra Rencana Kolom Lantai 4-7
Kolom Tengah
a.Pembebanan Lantai 7
Beban Mati (Pd7)
(Pd7) = (Pd8) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl7)
(Pl7) = (Pl8) = 90 KN
Pu7 = 1,2 (Pd7) + 1,6 (Pl7) + Pu8
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 852,55
= 1117,94 KN
b.Pembebanan Lantai 6
Beban Mati (Pd6)
(Pd6) = (Pd7) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl6)
(Pl6) = (Pl7) = 90 KN
Pu7 = 1,2 (Pd6) + 1,6 (Pl6) + Pu7
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 1117,94
= 1410,33 KN
c.Pembebanan Lantai 5
Beban Mati (Pd5)
(Pd5) = (Pd6) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl5)
(Pl5) = (Pl6) = 90 KN
Pu5 = 1,2 (Pd5) + 1,6 (Pl5) + Pu6
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 1410,33
= 1702,73 KN
d.Pembebanan Lantai 4
Beban Mati (Pd4)
(Pd4) = (Pd5) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl4)
(Pl4) = (Pl5) = 90 KN
Pu4 = 1,2 (Pd4) + 1,6 (Pl4) + Pu5
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 1702,73
= 1995,12 KN
Penentuan Ukuran Kolom
Dari data diatas, dapat dihitung dimensi dari kolom dengan menggunakan
Ag≥ Pu80,1 (fc'+ρ∙fy)=1995,12∙103N0,15(25+0,01∙270)=480173,3 mm2
Kolom yang digunakan adalah kolom persegi b = h
b= 480173,3 mm2=692,9 mm
∴ ukuran kolom tengah yang digunakan pada lantai 4-7 adalah 700/700
Kolom Pinggir
a. Pembebanan Lantai 7
Beban Mati (Pd7)
(Pd7) = (Pd8) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl7)
(Pl7) = (Pl8) = 105 KN
Pu7 = 1,2 (Pd7) + 1,6 (Pl7) + Pu8
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 944,79
= 1279,792 KN
b. Pembebanan Lantai 6
Beban Mati (Pd6)
(Pd6) = (Pd7) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl6)
(Pl6) = (Pl7) = 105 KN
Pu7 = 1,2 (Pd6) + 1,6 (Pl6) + Pu7
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 1279,792
= 1614,8 KN
c. Pembebanan Lantai 5
Beban Mati (Pd5)
(Pd5) = (Pd6) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl5)
(Pl5) = (Pl6) = 105 KN
Pu5 = 1,2 (Pd5) + 1,6 (Pl5) + Pu6
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 1614,8
= 1949,8 KN
d. Pembebanan Lantai 4
Beban Mati (Pd4)
(Pd4) = (Pd5) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl4)
(Pl4) = (Pl5) = 105 KN
Pu4 = 1,2 (Pd4) + 1,6 (Pl4) + Pu5
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 1949,8
= 2284,8 KN
Penentuan Ukuran Kolom
Dari data diatas, dapat dihitung dimensi dari kolom dengan menggunakan
Ag≥ Pu80,1 (fc'+ρ∙fy)=2284,8∙103N0,15(25+0,01∙270)=549891,7 mm2
Kolom yang digunakan adalah kolom persegi b = h
b= 549891,7 mm2=741,55 mm
∴ ukuran kolom pinggir yang digunakan pada lantai 4-7 adalah 750/750
1. Pra Rencana Kolom Lantai 1- 3
Kolom Tengah
a. Pembebanan Lantai 3
Beban Mati (Pd3)
(Pd3) = (Pd4) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl3)
(Pl3) = (Pl4) = 90 KN
Pu3 = 1,2 (Pd3) + 1,6 (Pl3) + Pu4
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 1995,12
= 2287,51 KN
b. Pembebanan Lantai 2
Beban Mati (Pd2)
(Pd2) = (Pd3) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl2)
(Pl2) = (Pl3) = 90 KN
Pu2 = 1,2 (Pd2) + 1,6 (Pl2) + Pu3
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 2287,51
= 2579,9 KN
c. Pembebanan Lantai 1
Beban Mati (Pd1)
(Pd1) = (Pd2) = 123,66 KN
Beban Hidup (Pl1)
(Pl1) = (Pl2) = 90 KN
Pu1 = 1,2 (Pd1) + 1,6 (Pl1) + Pu2
= 1,2 (123,66) + 1,6 (90) + 2579,9
= 2872,29 KN
Penentuan Ukuran Kolom
Dari data diatas, dapat dihitung dimensi dari kolom dengan menggunakan
Ag≥ Pu80,1 (fc'+ρ∙fy)=2872,29∙103N0,15(25+0,01∙270)=620914,56
mm2
Kolom yang digunakan adalah kolom persegi b = h
b= 620914,56 mm2=831,43 mm
∴ ukuran kolom tengah yang digunakan pada lantai 1-3 adalah 850/850
Kolom Pinggir
a. Pembebanan Lantai 3
Beban Mati (Pd3)
(Pd3) = (Pd4) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl3)
(Pl3) = (Pl4) = 105 KN
Pu3 = 1,2 (Pd3) + 1,6 (Pl3) + Pu4
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 2284,8
= 2619,81 KN
b. Pembebanan Lantai 2
Beban Mati (Pd2)
(Pd2) = (Pd3) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl2)
(Pl2) = (Pl3) = 105 KN
Pu2 = 1,2 (Pd2) + 1,6 (Pl2) + Pu3
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 2619,81
= 2954,81 KN
c. Pembebanan Lantai 1
Beban Mati (Pd1)
(Pd1) = (Pd2) = 139,17 KN
Beban Hidup (Pl1)
(Pl1) = (Pl2) = 105 KN
Pu1 = 1,2 (Pd1) + 1,6 (Pl1) + Pu2
= 1,2 (139,17) + 1,6 (105) + 2954,81
= 3289,82 KN
Penentuan Ukuran Kolom
Dari data diatas, dapat dihitung dimensi dari kolom dengan menggunakan
Ag≥ Pu80,1 (fc'+ρ∙fy)=3289,82∙103N0,15(25+0,01∙270)=791773,8 mm2
Kolom yang digunakan adalah kolom persegi b = h
b= 791773,8 mm2=889,82 mm
∴ ukuran kolom pinggir yang digunakan pada lantai 1-3 adalah 900/900
Tabel 4.4 Tabel Dimensi
Ukuran Kolom
Menentukan Kekakuan Kolom
Menurut SNI perencanaan komponen struktur terhadap momen dan beban tekan aksial harus
diperhatikan terhadap pengaruh kekakuan, lendutan, momen, dan gaya yang ada pada komponen
struktur. Pada metode Clapeyron, terdapat persamaan sebagai berikut :
K=4EIL
Dimana :
I : Momen Inersia
L : Panjang Bentang
Menentukan Berat Ultimit Bangunan
Lantai 1
(Beban mati)
Pelat = hp × bj.beton × Luas area lantai 1
Lanta
i
Dimensi Kolom b/h
(mm)
Kolom
Tengah
Kolom
Pinggir
1 850/850 900/900
2 850/850 900/900
3 850/850 900/900
4 700/700 750/750
5 700/700 750/750
6 700/700 750/750
7 700/700 750/750
8 550/550 600/600
9 550/550 600/600
10 550/550 600/600
= 0,12 × 24 × ((33,04 × 20) + (2,1 × 8) +
(10,4 × 8) + (31,2 × 8) + (8,9 × 4) ` = 2259,36 KN
Balok Umum = b × (h- hp) × bj.beton × jml balok
= 0,25 × (0,52 – 0,09) × 24 × 68 = 175,44 KN
Balok KAS3 = 0,375 × (0,61 – 0,09) × 24 × 16 =74,88 KN
Kolom =-Kolom Tengah = (b × h)× 12tnggi lantai atas+tnggi lntai bwh
× bj.beton×jml)
= (0,7 × 0,7) ×12 4+4×24 ×20 = 470,4 KN
– Kolom Pinggir = (0,75 × 0,75) × 124+4×16 = 432 KN
Plafond = Luas Area Lt. 1 × bj. Plafond
= (33,04 × 20) + (2,1 × 8) + (10,4 × 8) +(31,2 × 8)
+ (8,9 × 4) × 0,05 = 52,3 KN
Penutup Lantai = Luas Area Lt. 1 × bj
= (33,04 × 20) + (2,1 × 8) + (10,4 × 8) +
(31,2 × 8) + (8,9 × 4) × 0,175 =183,05 KN
+
Total (Wd1) =3647,43 KN
(Beban Hidup)
Menurut peraturan SNI
 Beban hidup untuk atap = 1 KNm2
 Beban hidup untuk lantai (perkantoran) = 2,5 KNm2
Koefisien reduksi beban hidup terhadap gempa sebesar 0,3 (perkantoran)
Lantai 10 (Atap)
Atap = Koef. Reduksi × Luas Area × qL
= 0,3 × 313,8 × 1 =94,14 KN
Air Hujan = L. Area × bj.air × koef. Rdksi × 0,05
= 313,8 × 1 × 0,3 × 0,05 =4,707 KN
+
Total (Wlatap) =98,85 KN
Lantai 1 (Perkantoran)
Perkantoran = Luas Area × qL × koef. Reduksi
= (33,04×20)+(2,1×8)+(10,4×8) +
(31,2 × 8) + (8,9 × 4) × 2,5 × 0,3 =784,5 KN
Beban Ultimit
Wu1 = 1,2 (Wd1) + 1,6 (Wl1)
= 1,2 (3644,43) + 1,6 (78,45)
= 4502,436 KN
Dengan menggunakan cara yang sama didapatkan
Lanta
i
Berat
Wd Wl Wu
Pelat Balok
Kolo
m
Plafo
n
Penutup
Lantai
1
2259,3
6
250,3
2 902,4 52,3 183,05
3647,4
3 784,5
5632,1
16
2
2451,2
5
263,6
8 902,4
56,74
2 198,6
3872,6
72
851,1
3
6009,0
14
3
2579,7
3
263,6
8 902,4
59,71
6 209,006
4014,5
32
895,7
4
6250,6
22
4
2703,2
8
263,6
8
566,8
8
62,57
6 219,02
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
5 2688,6 277,0 566,8 66,28 231,998 3830,8 994,2 6187,8
5 8 4 12 7 06
6
2703,2
8
263,6
8
566,8
8
62,57
6 219,02
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
7
2579,7
3
263,6
8
566,8
8
59,71
6 209,006
3679,0
12
895,7
4
5847,9
98
8
2451,2
5
263,6
8
309,1
2
56,74
2 198,6
3279,3
92
851,1
3
5297,0
78
9
2259,3
6
250,3
2
309,1
2 52,3 183,05
3054,1
5 784,5
4920,1
8
10
2119,
48
250,3
2
309,1
2 49,06 171,71
2899,6
9 735,9
4657,0
68

22675,
84
2610,
09
5902,
08
578,0
12 2023,06
35908,
56
8670,
21
56962,
61
Tabel 4.5 Tabel Beban Statis
Total waktu getar (T)
Tx=Ty = 0,06 ∙ H34 = 0,06 ∙(40)34 = 0,95 detik
Faktor Keutamaan
I=I1 ∙ I2
I = 1,0 × 1,0 = 1,0
Koefisien dasar gempa (C) untuk struktur wilayah gempa 5
C= 0,76T = 0,760,95=0,8
Dari grafik 2.3 wilayah gempa 5 didapat C = 0,85 (Lengkung)
Faktor Reduksi Gempa (R)
1,6 ≤R= μ ∙ fi ≤Rm
Dimana :
R = Faktor Reduksi Gempa
μ = Faktor Daktilitas Untuk Struktur Gedung (µ= 5,3 daktail penuh)
fi = Faktor Kuat Lebih Beban Beton dan Bahan (fi=1,6)
R = μ ∙ fi = 5,3 ∙ 1,6 = 8,48
Maka, data yang didapat adalah μ=5,3 dan R=8,48
Gaya Geser Horizontal Terhadap Gempa (V) sepanjang gedung
Vx= Vy= C1∙IR∙Wt
= 0,85 ∙ 18,48∙56962,61 KN=5709,7 KN
Menurut peraturan SNI-03-1726-2002, untuk pembagian sepanjang tinggi struktur
gedung menjadi beban gempa nominal statik ekivalen Fi yang menangkap pada pusat massa
lantai yaitu:
Fi= Wi ∙Zin=1n∙Wi ∙Zi ∙V
Distribusi gaya geser horizontal total akibat gempa sepanjang tinggi gedung :
HA= 4044=0,91
HB= 4044=0,91
Elastisitas Kolom (E) = 4700fc'=470025=23.500.000 Mpa
= 2.350.000 kgcm2
Ik pinggir= 112∙75∙753=2636718,75 cm4
Ik tengah = 112∙70∙703=2000833,33 cm4
Ib = 112∙25∙523=292933,33 cm4
Lant
ai
Wd Wl Wu V Z Fix,y
1 3647,4 784,5 5632,1 5709,6 4 106,37
3 16 96 33
2
3872,6
72
851,1
3
6009,0
14
5709,6
96 8
226,98
36
3
4014,5
32
895,7
4
6250,6
22
5709,6
96 12
354,16
51
4
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
5709,6
96 16
459,35
74
5
3830,8
12
994,2
7
6187,8
06
5709,6
96 20
584,34
31
6
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
5709,6
96 24
689,03
61
7
3679,0
12
895,7
4
5847,9
98
5709,6
96 28
773,15
48
8
3279,3
92
851,1
3
5297,0
78
5709,6
96 32
800,36
41
9
3054,1
5 784,5
4920,1
8
5709,6
96 36
836,34
35
10
2899,6
9 735,9
4657,0
68
5709,6
96 40
879,57
68

35908,
56
8670,
21
56962,
61 40
5709,6
98

Tabel 4.6 Tabel Beban Gempa Horizontal
Menentukan Kekakuan


Kb 1 Kb 2
Kc
6 0 0 c m 6 0 0 c m
4 0 0 c m
Arah x
K1= 4EIL= 4 ×2.350.000 ×292933,33600=457988836,7 kg.cm
Arah y
K2= 4EIL= 4 ×2.350.000 ×292933,33600=457988836,7 kg.cm
Kcp= 4EIKpL= 4 ×2.350.000 ×2636718,75600=41308593750 kg.cm
Kct= 4EIKtL= 4 ×2.350.000 ×2000833,33600=31346388890 kg.cm
Kx1=K1Kcp= 457988836,741308593750=0,011
Kx=0,026
Kx2=K1Kct= 457988836,731346388890=0,015
Ky1=K2Kcp= 457988836,741308593750=0,011
Ky=0,026
Ky2=K2Kct= 457988836,731346388890=0,015
Kekakuan = Kx+ Ky2= 0,026+0,0262=0,026
Rasio Titik Balok Kolom Untuk K = 1,05 s.d 5
Lanta
i
Rasio Tinggi
Titik Balok
10 0,45
9 0,5
8 0,5
7 0,5
6 0,5
5 0,5
4 0,5
3 0,5
2 0,5
1 0,55
Tabel 4.7 Tabel Rasio Balok Kolom
B ME B
4 0 0 c m
A
ME A
0 , 5 5 x 4
Pemeriksaan Rasio Luas Tulangan (ρ) kolom
Untuk Kolom 75/75
Pu = 0,1 ∙ fc’ ∙ Agr
= 0,1 ∙ 250 ∙ 75 ∙ 75
= 140625 kg = 140,625 ton
Pu = 140,625 ton ≤ Pu = 364,65 ton
Faktor Reduksi (Ø) = 0,8
MEA=Ft ∙tinggi lantai-rasio tinggi lantai∙tinggi lantai
= 36,57 ∙ (4 – (0,55 ∙ 4)) = 65,83 t.m
MEB=Ft ∙rasio tinggi lantai∙tinggi lantai
= 36,57 ∙ (0,55 ∙ 4) = 80,45 t.m
ME=nilai terbesar dari MEA dan MEB = 80,45 t.m
Mu = 1,0541∙80,45= 337,9 t.m
e=MuPu=337,9364,65=0,92 m=92 cm
eh=9240=2,3
d'h=440=0,1
Menentukan ρ dengan grafik
a. Bidang Datar
ρ= Pu∅Agr ∙0,81 ∙fc'×eh
= 364,65 × 103o,8∙75∙75∙0,81∙250∙2,3=0,09
b. Bidang Tegak
ρ=Pu(∅Agr∙0,81∙fc')=364,65∙103(0,8∙75∙75∙0,81∙250)=0,04
Dari gambar 6.2.d (Vis dan Kusuma, 1997), didapatkan data sebagai berikut :
r = 0,014
β = 1,0
ρ = 0,014 · 1,0 = 0,014 = 1,4%
0,01 ≤ 0,014 ≤ 0,06
Kolom 75/75 masih dalam keadaan aman.
Kesimpulan dan Pengambilan Dimensi Struktur
Dalam pengambilan dimensi struktur, dimensi dirubah dari perhitungan pra rencana. Hal ini
terjadi karena adanya perbesaran kolom dalam sistem perkakuannya. Maka dari itu, penulis
mencoba untuk mengurangi dimensi struktur dari perhitungan pra rencana.
1. Dimensi Pelat (hp) : 120 mm
2. Dimensi Balok
a. Balok Umum : 350/700
b. Balok Umum 2 : 450/700
c. Balok Kantilever As.2 : 450/800
Balok umum 2 digunakan pada bagian-bagian dari balok umum yang pada saat di start
check concrete design masih merah, dengan hanya mendesain kembali balok-balok yang
merah saja tanpa merubah ukuran-ukuran balok lainnya yang sudah ok.
1. Dimensi Kolom
a. Kolom Lantai 10 s.d 8 : Kolom Tengah : 400/400
Kolom Pinggir : 450/450
b. Kolom Lantai 7 s.d 4 : Kolom Tengah : 700/700
Kolom Pinggir : 600/600
c. Kolom Lantai 3 s.d 1 : Kolom Tengah : 700/700
Kolom Pinggir : 750/750
Dimensi pembesaran kolom direncanakan menggunakan dimensi
Kolom Besar 1 (Lantai 1-5) : 900/900
Kolom besar 2 (Lantai 6-10) : 700/700
Namun, pada saat dianalisis struktur dengan menggunakan program ETABS, dimensi
kolom dapat berubah bervariasi seperti yang telah dituliskan dalam pengambilan dimensi
struktur diatas. Penulis menentukan dimensi pada kolom dengan cara trial and error, dan
mendesainnya seefisien mungkin tanpa mengurangi kekuatan dari struktur.
4.3 Analisis Struktur
P e r b e s a r a n K o l o m
A
7
B C D E F G I
6
5
4
3
2
1
H
8
9
Gambar 4.13 Denah Lantai dan Asnya
A
7
B C D E F G I
6
5
4
3
2
1
H
8
9
6 m
6 m
4 m 6 m 6 m 6 m 6 m 6 m 4 m
4 m
6 m
6 m
6 m
6 m
6 m
4 m
Gambar 4.14 Denah Gedung Dengan Beban Trap Lantai 5
Pembebanan dengan beban trap merupakan penyebaran beban yang bekerja pada setiap
lantai. Lantai yang diambil adalah pada lantai 5 dikarenakan luas area terbesar berada dilantai 5.
Semua didesain dengan menggunakan beban terbesar dari struktur bangunan.
4.3.1 Data Beban Untuk Input ETABS
Pada ETABS perhitungan beban mati pada bagian balok tengah diabaikan, karena sudah
otomatis masuk dalam perhitungan berat sendiri, kecuali pada pembebanan balok-balok
kantilever yang ditambahkan beban kaca dan pembebanan pada lantai atap yang ditambahkan
dengan aspal.
Bagian Pinggir (Kantilever)
Beban Mati
Berat Kaca : Bj.kaca × (tinggi lantai-tinggi balok)= 0,31KN/m2
Beban Hidup = 2,5 KN/m2
Beban Mati
Bagian Atap Tengah
Aspal : Bj. Aspal × tebal = 0,98 KN/m2
Bagian Kantilever
Aspal : Bj. Aspal × tebal = 0,98 KN/m2
Kaca : Bj. Kaca × (tnggi lntai- tinggi blk) = 0,31 KN/m2
+
= 1,29 KN/m2
Beban Hidup : Air Hujan : 1 × 0,3 × 0,05 =4,707 KN/m2
Atap :Koef. Reduksi × qL = 0,3 × 1 =0,3 KN/m2
+
=5,007 KN/m2
4.3.2 Besar Pembebanan Trap
Bagian Segi Tiga

6 m
b b
b = ℓ ∙ 0,5 = 6 ∙ 0,5 = 3 m
Pembebanannya:
Beban Mati Atap Tengah
Jarak 0 3 3 6
Beba
n 0 0,98 0,98 0
Beban Hidup Atap Tengah
Beban Hidup Lantai 1 s.d 9
Bagian Trapesium
Jarak 0 3 3 6
Beba
n 0 3,045 3,045 0
Jarak 0 3 3 6
Beba
n 0 2,5 2,5 0

4 m
a b
b = 4 ∙ 13=1.33 m
Pembebanannya:
Beban Mati Atap Kantilever
Jarak 0 1,33 2,66 4
Beba
n 0 0,645 1,29 1,29
Beban Mati Lantai 1 s.d 9 Kantilever
Jarak 0 1,33 2,66 4
Beba
n 0 0,155 0,31 0,31
Beban Hidup Atap Kantilever
Beban Hidup Lantai 1 s.d 9 Kantilever
Jarak 0 1,33 2,66 4
Beba
n 0 2,504 5,007 5,007
Jarak 0 1,33 2,66 4
Beba
n 0 1,25 2,5 2,5
4.3.3 Perhitungan Gaya Geser Akibat Gempa
Luas Setiap Lantai
Luas Lantai
1 1046
Luas Lantai
2
1134
,83
Luas Lantai
3
1194
,32
Luas Lantai
4
1251
,52
Luas Lantai
5
1288
,82
Luas Lantai
6
1251
,52
Luas Lantai
7
1194
,32
Luas Lantai
8
1134
,83
Luas Lantai
9 1046
Luas Lantai
10
981,
2
Tabel 4.8 Tabel Luas
Menentukan Berat Ultimit Bangunan
Lantai 1
(Beban mati)
Pelat = hp × bj.beton × Luas area lantai 1
= 0,12×24×((33,04×20)+(2,1×8)+(10,4×8)+
= (31,2 × 8) + (8,9 × 4) ` =2259,36 KN
Balok Umum = b × (h- hp) × bj.beton × jml balok
= 0,25 × (0,52 – 0,09) × 24 × 68 = 175,44 KN
Balok KAS3 = 0,375 × (0,61 – 0,09) × 24 × 16 =74,88 KN
Kolom = - Kolom Tengah=(b × h)× 12tnggi lntai atas+tnggi lntai bwh
×bj.btn×jml)
= (0,7 × 0,7) ×12 4+4×24 ×20 =470,4 KN
– Kolom Pinggir = (0,75 × 0,75) × 124+4×16= 432 KN
Plafond = Luas Area Lt. 1 × bj. Plafond
= (33,04 × 20) + (2,1 × 8) + (10,4 × 8) +(31,2 × 8)
+ (8,9 × 4) × 0,05 = 52,3 KN
Penutup Lantai = Luas Area Lt. 1 × bj
= (33,04 × 20) + (2,1 × 8) + (10,4 × 8) +(31,2 × 8) +
(8,9 × 4) × 0,175
=183,05 KN
+
Total (Wd1) =3647,43 KN
(Beban Hidup)
Menurut peraturan SNI
 Beban hidup untuk atap = 1 KNm2
 Beban hidup untuk lantai (perkantoran) = 2,5 KNm2
Koefisien reduksi beban hidup terhadap gempa sebesar 0,3 (perkantoran)
Lantai 10 (Atap)
Atap = Koef. Reduksi × Luas Area × qL
= 0,3 × 313,8 × 1 =94,14 KN
Air Hujan = L. Area×bj.air×koef. Reduksi×0,05
= 313,8 × 1 × 0,3 × 0,05 = 4,707 KN
+
Total (Wlatap)= 98,85 KN
Lantai 1 (Perkantoran)
Perkantoran = Luas Area × qL × koef. Reduksi
= (33,04×20)+(2,1×8)+(10,4×8) +
(31,2 × 8) + (8,9 × 4) × 2,5 × 0,3 =784,5 KN
Beban Ultimit
Wu1 = 1,2 (Wd1) + 1,6 (Wl1)
= 1,2 (3644,43) + 1,6 (78,45)
= 4502,436 KN
Dengan menggunakan cara yang sama didapatkan
Lanta
i
Berat
Wd Wl Wu
Pelat Balok
Kolo
m
Plafo
n
Penutup
Lantai
1
2259,3
6
250,3
2 902,4 52,3 183,05
3647,4
3 784,5
5632,1
16
2
2451,2
5
263,6
8 902,4
56,74
2 198,6
3872,6
72
851,1
3
6009,0
14
3
2579,7
3
263,6
8 902,4
59,71
6 209,006
4014,5
32
895,7
4
6250,6
22
4
2703,2
8
263,6
8
566,8
8
62,57
6 219,02
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
5 2688,6
277,0
5
566,8
8
66,28
4 231,998
3830,8
12
994,2
7
6187,8
06
6
2703,2
8
263,6
8
566,8
8
62,57
6 219,02
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
7
2579,7
3
263,6
8
566,8
8
59,71
6 209,006
3679,0
12
895,7
4
5847,9
98
8 2451,2 263,6 309,1 56,74 198,6 3279,3 851,1 5297,0
5 8 2 2 92 3 78
9
2259,3
6
250,3
2
309,1
2 52,3 183,05
3054,1
5 784,5
4920,1
8
10
2119,
48
250,3
2
309,1
2 49,06 -
2723,9
8 735,9
4446,2
2

22675,
84
2610,
09
5902,
08
578,0
12 1851,35
35732,
85
8670,
21
56751,
76
Tabel 4.9 Tabel Beban Ultimit
Total waktu getar Bangunan (T)
Tx=Ty = 0,06 ∙ H34 = 0,06 ∙(40)34 = 0,95 detik
Faktor Keutamaan
I=I1 ∙ I2
I = 1,0 × 1,0 = 1,0
Koefisien dasar gempa (C) untuk struktur wilayah gempa 5
C= 0,76T = 0,760,95=0,8
Dari grafik 2.3 wilayah gempa 5 didapat C = 0,85 (Lengkung)
Faktor Reduksi Gempa (R)
1,6 ≤R= μ ∙ fi ≤Rm
Dimana :
R = Faktor Reduksi Gempa
μ = Faktor Daktilitas Untuk Struktur Gedung (µ= 5,3 daktail penuh)
fi = Faktor Kuat Lebih Beban Beton dan Bahan (fi=1,6)
R = μ ∙ fi = 5,3 ∙ 1,6 = 8,48
Maka, data yang didapat adalah μ=5,3 dan R=8,48
Gaya Geser Horizontal Terhadap Gempa (V) sepanjang gedung
Vx= Vy= C1∙IR∙Wt
= 0,85 ∙ 18,48∙56751,76 KN=5688,56 KN
Menurut peraturan SNI-03-1726-2002, untuk pembagian sepanjang tinggi struktur
gedung menjadi beban gempa nominal statik ekivalen Fi yang menangkap pada pusat massa
lantai yaitu:
Fi= Wi ∙Zin=1n∙Wi ∙Zi ∙V
Distribusi gaya geser horizontal total akibat gempa sepanjang tinggi gedung :
HA= 4044=0,91
HB= 4044=0,91
Elastisitas Kolom (E) = 4700fc'=470025=23.500.000 Mpa
= 2.350.000 kgcm2
Wd Wl Wu V Z Fix,y
Untuk Tiap
Portal (KN)
1/10
Fix,y
1/3
Fix,y
3647,4
3 784,5
5632,1
16
5688,5
61 4
105,97
96
10,5979
6 35,327
3872,6
72
851,1
3
6009,0
14
5709,6
96 8
226,98
36
22,6983
6
75,661
2
4014,5
32
895,7
4
6250,6
22
5709,6
96 12
354,16
51
35,4165
1
118,05
5
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
5709,6
96 16
459,35
74
45,9357
4
153,11
9
3830,8
12
994,2
7
6187,8
06
5709,6
96 20
584,34
31
58,4343
1 194,78
3815,4
36
938,6
5
6080,3
63
5709,6
96 24
689,03
61
68,9036
1 229,68
3679,0
12
895,7
4
5847,9
98
5709,6
96 28
773,15
48
77,3154
8
257,71
8
3279,3
92
851,1
3
5297,0
78
5709,6
96 32
800,36
41
80,0364
1
266,78
8
3054,1
5 784,5
4920,1
8
5709,6
96 36
836,34
35
83,6343
5
278,78
1
2723,9
8 735,9
4446,2
16
5709,6
96 40
839,75
34
83,9753
4 279,92
35732
,85
8670,
21
56751
,76 40
5669,
481
566,94
8
1889,8
3
Tabel 4.10 Tabel Distribusi Beban Gempa Horizontal Gempa Statis Arah X,Y
4.3.4 Permodelan Pembebanan Struktur
1. Beban Mati dan Beban Hidup
Permodelan struktur yang penulis pakai menggunakan program ETABS. Pada software
ini dalam memberikan beban tidak memperhitungkan dari beban elemen struktur sendiri, karena
seluruh berat elemen struktur secara otomatis telah dimasukkan sebagai beban mati.
Pada program ETABS, penulis mencoba mengubah dimensi struktur dari yang telah
diperhitungkan pada perhitungan prarencana. Hal ini dikarenakan, penulis ingin mendesain
dimensinya dengan seefisien mungkin tanpa mengurangi kekakuan atau kekuatan dari struktur.
Dalam permodelan struktur ini juga, penulis mencoba membesarkan dimensi balok yang berada
pada lantai paling atas (lantai 10). Dengan menggunakan perbesaran dimensi kolom dan balok
diharapkan dapat mengurangi dimensi-dimensi yang telah ada.
2. Beban Gempa
Dalam perencanaan beban gempa pada bangunan ini cukup hanya dilakukan analisa
beban statis saja. Dikarenakan tinggi total dari struktur tidak lebih dari 40 m.
A
7
B C D E F G I
6
5
4
3
2
1
H
8
9
V i e w 5
Gambar 4.15 Denah Lantai
Elevation View 5
4 0 m
3 6 m
3 2 m
2 8 m
2 4 m
2 0 m
1 6 m
1 2 m
8 m
4 m
1 0 5 , 9 8 K N
2 2 6 , 3 8 K N
3 5 4 , 1 7 K N
4 5 9 , 3 6 K N
5 8 4 , 3 4 K N
6 8 9 , 0 4 K N
7 7 3 , 1 6 K N
8 0 0 , 3 6 K N
8 3 6 , 3 4 K N
8 3 9 , 7 5 K N
4 4 m
Gambar 4.16 Permodelan Beban Gempa Arah X
3. Permodelan Struktur
Seperti yang telah dijelaskan pada BAB I, permodelan struktur dibuat menggunakan
program ETABS. Permodelan struktur ini dimulai dengan menyusun titik-titik kumpul atau
joint. Masing-masing titik kumpul ini merupakan pembatas antar elemen yang digunakan
untuk menyusun model struktur. Model struktur berbentuk portal dengan 3 (tiga) dimensi,
yaitu arah X,Y,Z. Struktur terdiri dari lantai dasar sampai dengan lantai 10, seperti yang telah
direncanakan. Tinggi masing-masing dari lantai adalah 4 m, dengan tinggi total sebesar 40 m.
Bangunan ini memiliki denah lantai berbentuk lingkaran, dengan diameter terbesar lantai
adalah 44 m, luas berbeda-berbeda pada setiap lantai. Dengan luas terbesar berada pada lantai
5.
Gambar 4.17 Model Struktur 3D
Dalam proses permodelan struktur dengan menggunakan program ETABS, penulis
mencoba berkali-kali model dimensi yang cocok sehingga memenuhi kelayakan dengan
menggunakan metode trial and error. Pada awalnya penulis memasukan dimensi-dimensi yang
telah dihitung pada pra rencana, tapi pada saat dianalisis struktur memiliki deformasi yang lebih
dari 2% tinggi seluruh gedung atau melebihi dari ketentuan yang berlaku. Lalu penulis mencoba
membesarkan dimensi-dimensi yang ada. Pada saat di check structure concrete design, ternyata
masih terdapat elemen-element struktur yang belum kuat yang ditandai dengan berwarna
merahnya elemen struktur yang belum kuat. Penulis kembali mencoba membesarkan elemen dari
struktur, kali ini penulis mencoba membesarkan hanya pada bagian elemen kolom yang berada
pada sudut-sudutnya saja dan pada dimensi balok yang berada dilantai 9. Terjadi perubahan pada
kekuatan struktur bangunan. Maka dari itu, penulis mencoba berulang kali merubah kolom-
kolom yang berada pada bagian sudut sampai sesuai dengan kekuatan bangunan. Yang terakhir,
penulis mencoba untuk memperkecil elemen-elemen yang berada pada bagian tengah agar
menjadi lebih efisien.
Kol om Yang Dibesarkan
A
7
B C D E F G I
6
5
4
3
2
1
H
8
9
Gambar 4.18 Denah Letak Kolom Yang Diperbesar
Ba l ok y a n g di pe rb es a r
Kol om y a ng d ip e rbe s ar
D en a h La n ta i 9
Gambar 4.19 Denah Lantai 9 Letak Balok Yang Diperbesar
1. Pembebanan Struktur
Beban Mati
Pada pembebanan untuk beban mati, pembebanan meratanya ada yang berbentuk
segitiga, ada pula yang berbentuk trapesium. Beban merata berbentuk segitiga kebanyakan
berada pada balok bagian tengah, sedangkan trapesium berada pada bagian pinggir atau
kantilever. Beban mati pada bagian tengah sudah termasuk dalam perhitungan berat sendiri yang
tidak perlu ditambahkan lagi, akan tetapi pada bagian balok pinggir beban mati ditambahkan
pembebanan kaca dan pada lantai atap ditambahkan pembebanan aspal.
A
7
B C D E F G I
6
5
4
3
2
1
H
8
9
4.20 Denah Lantai

4.21 Pembebanan Beban Mati As. B

4.22 Pembebanan Beban Mati As. C

4.23 Pembebanan Beban Mati As. D
4.24 Pembebanan Beban Mati As. E

4.25 Pembebanan Beban Mati As. F

4.26 Pembebanan Beban Mati As. G

4.27 Pembebanan Beban Mati As. H
Mayoritas dari pola pembebanan berbentuk segitiga, hanya pada bagian pinggir atau
kantilevernya yang berbentuk trapesium. Pada bagian kantilever berbentuk trapesium terbuka, pada salah
satu ujungnya, dikarenakan hanya pada satu bagian saja yang tertumpu oleh kolom.
Gambar 4.28 Deformasi Akibat Beban Mati Pada As. C
Deformas
i
Atap Lantai 9 Lantai 1
(m) (m) (m)
Tepi -3,6E-03 -3,4E-03 -6,1E-04
Tengah
-3,43E-
03 -3,3E-03 -4,94E-04
Tabel 4.11 Tabel Deformasi Akibat Beban Mati
Gambar 4.29 Gaya
NormalUntuk Beban
Mati
Tabel 4.12 Tabel Gaya Normal Akibat Beban Mati
Dari tabel 4.15 dapat dilihat bahwa gaya normal maksimum terdapat pada kolom tepi dan
berada pada lantai 1. Hal ini dikarenakan kolom tepi merupakan kolom yang mengalami
N Atap (m)
Lantai 1
(m)
Kolom Tepi -198,01 -2873,18
Kolom Tengah -126,84 -1452,30
perbesaran, jadi gaya normal yang diserap lebih besar dari pada kolom tengah. Secara tidak
langsung, merupakan yang menjadi penopang beban utama dari struktur.
Gambar 4.30 Gaya Geser Untuk Beban Mati As. C
D
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi 18,09 63,91 4,98
Kolom
Tengah 0,82 3,63 -0,61
Balok
Tengah -42,34 -32,94 -20,16
Balok
Kantilever -33,82 -70,12 -52,85
Tabel 4.13 Tabel Gaya Geser (D) Akibat Beban Mati
Seperti yang dilihat pada gambar 4.37, gaya geser pada balok sebelah kanan dan kiri
lebih besar dari pada balok yang berada pada bagian tengah. Hal ini dikarenakan kolom yang
berada pada as ini merupakan kolom perkakuan. Gaya yang bekerja lebih banyak terserap oleh
kolom yang mengalami perkakuan. Besar gaya geser pada balok kantilever terbesar didapatkan
pada lantai 6 mengingat panjangnya yang mempengaruhi dari gaya geser yang terjadi
Gambar 4.31 Gaya Momen Untuk Beban Mati As. C
M
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -4,49 -38,79 -15,67
Kolom
Tengah -1,04 -4,70 -2,01
Balok
Tengah -141,45 -140,182 -49,106
Balok
Kantilever -62,783 -217,06 -49,11
Tabel 4.14 Momen Akibat Beban Mati
Pada Tabel 4.17 dapat terlihat momen terbesar berada pada balok kantilever lantai 6, hal
ini dikarenakan balok kantilever menanggung momen yang paling besar, sehingga momen yang
bekerja pada balok kantilever menjadi besar pula. Momen yang bekerja pada kolom tidak sebesar
yang bekerja pada balok, karena yang ditinjau adalah beban mati
Beban Hidup
Pembebanan beban hidup yang bekerja berbentuk segitiga dan trapesium. Pada beban
merata berbentuk segitiga kebanyakan berada pada balok bagian tengah, sedangkan trapesium
berada pada bagian pinggir atau kantilever. Beban hidup ini berupa beban beban atap dan air
hujan untuk lantai atap dan beban hidup perkantoran untuk lantai 1 sampai dengan 9.
Gambar 4.32 Pembebanan Beban Hidup As. B
Gambar 4.33 Pembebanan Beban Hidup As. C
Gambar 4.34 Pembebanan Beban Hidup As. D
Gambar 4.35 Pembebanan Beban Hidup As. E
Gambar 4.36 Pembebanan Beban Hidup As. F
Gambar 4.37 Pembebanan Beban Hidup As. G
Gambar 4.38 Pembebanan Beban Hidup As. H
Gambar 4.39 Deformasi Akibat Beban Hidup
Nilai deformasi akibat beban hidup lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai deformasi
beban mati. Hal ini dikarenakan nilai beban hidup yang bekerja lebih kecil dibandingkan dengan
nilai beban mati yang bekerja pada struktur. Besarnya nilai inilah yang mempengaruhi nilai dari
deformasi.
Deformas
i
Atap Lantai 9 Lantai 1
(m) (m) (m)
Tepi
-1,23E-
03
-1,12E-
06 -2,21E-04
Tengah
-1,12E-
03
-1,15E-
03 -1,83E-04
Tabel 4.15 Deformasi Akibat Beban Hidup
Gambar 4.40 Gaya Normal (N) Akibat Beban Hidup As. C
N Atap (m)
Lantai 1
(m)
Kolom Tepi -44,81 -1052,74
Kolom Tengah -47,8 -527,39
Tabel 4.16 Gaya Normal Akibat Beban Hidup
Seperti deformasi, gaya normal akibat beban hidup yang bekerja pada struktur relatif lebih
kecil dibanding gaya normal yang bekerja akibat beban mati. Hal ini disebabkan nilai dari
beban hidup tidak sebsar nilai beban mati yang bekerja pada struktur. Hal ini juga
disebabkan karena yang mempengaruhi gaya normal adalah gaya yang sejajar dengan
elemen baik kolom maupun balok. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa gaya terbesar
berada pada lantai 1 kolom yang mengalami perkakuan.
Gambar 4.41 Gaya Geser (D) Akibat Beban Hidup As. C
D
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi 6,69 46,76 2,11
Kolom
Tengah 0,5 2,48 0,45
Balok
Tengah -19,925 23 -8,14
Balok
Kantilever -12,9 -15,85 -15,79
Tabel 4.17 Gaya Geser Akibat Beban Hidup
Dari tabel 4.20 diatas dapat terlihat gaya geser kolom pada kolom tepi lebih besar
dibandingkan pada kolom yang berada di bagian tengah. Hal ini dikarenakan kolom tepi
merupakan kolom yang dibesarkan atau yang menjadi kolom perkakuan. Kolom perkakuan
mempunyai fungsi menyerap gaya-gaya geser yang bekerja pada balok. Balok kantilever
mempunyai gaya yang lebih besar jika dibandingkan dengan pada balok tengah, hal
tersebut karena balok-balok kantilever hanya memiliki satu tumpuan saja.
Gambar 4.42 Gaya Momen Akibat Beban Hidup View C
M
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi 0,86 -22,15 -6,76
Kolom
Tengah 0,64 -3,15 -1,5
Balok
Tengah -69,42 -80,51 -24,33
Balok
Kantilever -27,97 -65,05 -58,65
Tabel 4.18 Gaya Momen Akibat Beban Hidup
Seperti halnya pada geser, momen yang bekerja pada kolom tepi lebih besar
dibandingkan dengan momen yang bekerja pada kolom bagian tengah dan yang terbesar berada
pada lantai 6. Hal ini terjadi karena beban yang terbesar berada pada lantai 6. Jika dibandingkan
dengan beban mati, deformasi, normal, geser dan momen akibat beban hidup lebih kecil
dibandingkan dengan beban mati.
Beban Gempa Statik
Beban gempa statik merupakan pembebanan lateral yang diberikan pada struktur pada
arah X, Y. Pola pembebanan gempa arah X dan Y pada desain ini berbeda namun tidak begitu
besar, mengingat bentang X, dan Y yang sama dalam perencanaan bentuk gedung. Distribusi
beban gempa, semakin keatas semakin besar karena selain bentuk struktur yang semakin keatas
semakin besar lalu mengecil lagi, tapi karena pada saat gempa terjadi, besarnya deformasi
semakin keatas semakin besar.
E l e v a t i o n V i e w C
4 0 m
3 6 m
3 2 m
2 8 m
2 4 m
2 0 m
1 6 m
1 2 m
8 m
4 m
1 0 5 , 9 8 K N
2 2 6 , 3 8 K N
3 5 4 , 1 7 K N
4 5 9 , 3 6 K N
5 8 4 , 3 4 K N
6 8 9 , 0 4 K N
7 7 3 , 1 6 K N
8 0 0 , 3 6 K N
8 3 6 , 3 4 K N
8 3 9 , 7 5 K N
3 6 m
Gambar 4.43 Pola Pembebanan Untuk Gempa Statik Arah X
Gambar 4.44 Deformasi Untuk Gempa Statik EY As. C
Letak Titi
Kumpul
Atap
(cm)
Lantai 9
(cm)
Lantai2
(cm)
Deformasi 3,5 3,23 0,97
Tabel 4.19 Deformasi Akibat Beban Gempa Y
Deformasi akibat beban gempa EY terjadi searah sumbu X. Deformasi yang terjadi sesuai
dengan yang diharapkan, yaitu sesuai dengan arah sumbu X. Semakin keatas, deformasi yang
dihasilkan semakin besar. Dikarenakan karena gaya lateral yang semakin ke atas semakin
membesar yang membuat deformasi semakin besar.
Gambar 4.45 Gaya Normal Akibat Beban Gempa Y Pada As. C
Gaya normal akibat gempa y terjadi simetris dan sesuai dengan yang diharapkan. Karena
jika satu portal dibebani oleh beban lateral, sisi yang terbebani pertama kali akan mengalami
tekan dan salah satu sisi lainnya akan mengalami tarik. Hal itulah yang menyebabkan gaya
normal menjadi simetris.
Tabel 4.20 Gaya Normal Akibat Beban Gempa EY Pada As. C
N Atap (KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -12,45 -807,58
Kolom
Tengah 3,17 -36,08
Gambar 4.46 Gaya Geser Akibat Beban Gempa Y Pada As. C
Dari gambar diatas dapat terlihat gaya geser yang bekerja justru lebih dominan pada
balok, bukan pada kolom. Pada kasus ini gaya geser yang terjadi sama seperti gaya geser
biasanya yang semakin kebawah semakin besar, namun disini lebih besar terjadi pada balok. Hal
ini dikarenakan gaya geser yang bekerja pada kolom telah diserap oleh kolom-kolom perkakuan
sehingga memperkecil gaya yang bekerja pada kolom lainnya.
Tabel 4.21 Gaya Geser Akibat Beban Gempa EY Pada As. C
D
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi 16,62 38,09 -34,95
Kolom
Tengah -0,09 0,26 0,00148
Balok
Tengah -13,67 -80,3 -176,39
Balok
Kantilever 0 2,34 0
Gambar 4.47 Gaya Momen Akibat Beban Gempa Y Pada As. C
Seperti pada geser, pada momen gaya terbesar berada pada balok dibandingkan pada
kolom. Hal ini dikarenakan momen yang bekerja pada balok lebih besar dari pada kolom.
M
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -23,97 -43 -111,84
Kolom
Tengah 0,11 -0,34 -0,0049
Balok
Tengah 63,93 272,35 591,015
Balok
Kantilever 0 11,832 0
Tabel 4.22 Gaya Momen Akibat Beban Gempa EY Pada As. C
Gambar 4.48 Deformasi Untuk Gempa Statik EX As. C
Letak Titi
Kumpul
Atap
(cm)
Lantai 9
(cm)
Lantai2
(cm)
Deformasi 3,4 3,2 0,71
Tabel 4.23 Deformasi Akibat Beban Gempa X
Jika dibandingkan dengan deformasi akibat gempa Y, deformasi akibat gempa X
mempunyai deformasi yang lebih besar. Hal ini dikarenakan, beban yang diberikan pada arah Y
sedikit lebih kecil dari pada arah X. Namun perbedaan ini tidak begitu besar mengingat tidak
begitu besar perbedaan bentang antara arah X dan Arah Y.
4.49 Gaya Normal Akibat Beban Gempa X As. C
Tabel 4.24 Gaya Normal Akibat Beban Gempa EX Pada As. C
N Atap (KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -5,12 920,86
Kolom
Tengah 23,73 41,12
4.50 Gaya Geser Akibat Beban Gempa X Pada As. C
Tabel 4.25
Gaya
Geser Akibat
Gempa X Pada As. C
Dari gambar diatas dapat terlihat gaya geser yang bekerja justru lebih dominan pada
kolom, bukan pada balok seperti akibat gempa Y. Pada kasus ini gaya geser yang terjadi sama
seperti gaya geser biasanya yang semakin kebawah semakin besar. Namun gaya yang bekerja
pada balok sangat kecil.
4.51 Gaya Momen Akibat Beban Gempa X Pada As. C
M
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -113,3 -121,72 -867,34
D
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi 65,97 116,97 271,05
Kolom
Tengah 14,42 95,69 121,69
Balok
Tengah -2,21 6,62 21,15
Balok
Kantilever 0 1,54 0
Kolom
Tengah -18,87 -124,43 -401,57
Balok
Tengah 95,93 116,98 105,04
Balok
Kantilever 0 7,572 0
Kebalikan dengan gaya momen akibat gempa Y yang momen di dominasi dengan
momen pada balok, pada gaya momen akibat beban gempa X ini justru lebih di dominasi dengan
gaya yang bekerja pada kolom.
Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang diberikan adalah sebagai berikut :
1. 1,4 D
2. 1,4 D + 1,2 L
3. 1 L + 1,2 D + 1 Ex + 0,3 Ey
4. 1 L + 1,2 D – 1 Ex + 0,3 Ey
5. 1 L + 1,2 D + 0,3 Ex – 1 Ey
6. 1 L + 1,2 D + 0,3 Ex + 1 Ey
7. 0,9 D + 1 Ex + 0,3 Ey
8. 0,9 D – 1 Ex + 0,3 Ey
9. 0,9 D + 0,3 Ex + 1 Ey
10. 0,9 D + 0,3 Ex – 1 Ey
11. 1,2 D + 1 L
Gambar 4.52 Deformasi Akibat Combo 6 As. C
Combo 6 mempunyai kombinasi beban 1 L + 1,2 D + 0,3 Ex + 1 Ey dan mempunyai
besar deformasi sebesar :
Tabel 4.26 Deformasi Combo 6 Pada As.C
Letak Titik
Kumpul
Atap
(cm)
Lantai 9
(cm)
Lantai2
(cm)
Tepi -0,6 -0,6 -0,2
Tengah -0,53 -0,51 -0,15
Gambar 4.53 Gaya
Normal Akibat Combo
6 Pada As. C
Tabel 4.27 Gaya Normal Akibat Combo 6 Pada As.C
N Atap (KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -252,47 -5117,18
Kolom
Tengah -189,72 -229,89
Gambar 4.54 Gaya Geser Akibat Combo 6 Pada As. C
Tabel 4.28
Gaya Geser Akibat Combo 6 Pada As. 6
D
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi 42,97 196,63 124,25
Kolom
Tengah 5,71 35,8 37,69
Balok
Tengah -69,47 -101,56 -195,81
Balok
Kantilever -52,68 -99,79 -79,21
Gambar 4.55 Gaya Momen Akibat Combo 6 Pada As. C
M
Atap
(KN)
Lantai 6
(KN)
Lantai 1
(KN)
Kolom Tepi -62,50 -175,51 -397,60
Kolom
Tengah -7,44 -46,46 -124,38
Balok
Tengah 188,83 -302,75 -575,124
Balok
Kantilever
-
103,30
9 -321,05 -225,5
Tabel 4.29 Gaya Momen Akibat Combo 6 Pada As. C
BAB V
PENULANGAN ELEMEN VERTIKAL DAN HORIZONTAL
5.1 Desain Penulangan Elemen Struktur
Pada bab V ini akan membahas tentang perhitungan tulangan yang akan
digunakan dalam perencaan struktur yang telah didesain. Seperti yang telah kita ketahui,
baja dalam struktur beton bertulang berfungsi sebagai yang memikul tegangan tarik,
sedangkan beton sendiri sebagai yang memikul tegangan tekan. Agar pemakaian tulangan
dapat berjalan secara efektif, harus dibuat agar tulangan dan beton dapat mengalami
deformasi bersama-sama, yaitu agar terdapat suatu hubungan yang cukup kuat antara kedua
material tersebut untuk memastikan tidak adanya gerakan relatif (slip) dari tulangang beton
yang berada disekelilingnya.
5.1.1 Penulangan Pelat
Dalam mendesain penulangan pada pelat, terlebuh dahulu perlu diketahui
data pembebanan yang bekerja pada pelat.
Lantai 1-9
1. Data Pembebanan
Beban Mati
Pelat = 0,12 · 24 = 2,88 KN/ m
2
Penutup Lantai = 0,175 KN/ m
2
Plafond + rangka = 0,18 KN/ m
2
+
Wd = 3,235 KN/ m
2
Beban Hidup
Beban Hidup Lantai = 2,5 KN/ m
2
Wu = 1,2 qd + 1,6 ql = 1,2 (3,235) + 1,6 (2,5) = 7,882 KN/m2
2. Desain Penulangan Pelat
Data yang diperlukan untuk perhitungan adalah
a) Tebal pelat (hp) = 120 mm
b) Tebal penutup beton = 40 mm
c) Dari CUR 1 halaman 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan
fc’= 25 Mpa didapat dari interpolasi
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
d) Diameter tulangan (Øtulangan) = 10 mm
e) Tinggi efektif (d) = hp –d’ – ½ Øtulangan
= 120 – 40 – ½ 10
= 75 mm
600 cm β = lyly=600600=1
600 cm
Dari CUR.4 Hal. 26 didapat :
Ml
x
= 0,001 Wu l
x
2
x
= 0,001 · 7,882 · 6
2
· 25 = 7,0938 kNm
Ml
y
= 0,001 Wu l
x
2
x
= 0,001 · 7,882 · 6
2
· 25 = 7,0938 kNm
Mt
x
= -0,001 Wu l
x
2
x
= -0,001 · 7,882 · 6
2
· 51 = -14,47 kNm
Mt
y
= -0,001 Wu l
x
2
x
= -0,001 · 7,882 · 6
2
· 51 = -14,47 kNm
1. Perhitungan Tulangan
Penulangan Arah X
Tulangan Lapangan
Mu = 7,0398 kNm
Rn = Mubd2 = 7,03981·0,752=12,515 kN/m
2
Tulangan Tumpuan
Mu = 14,47 kNm
Rn = Mubd2 = 14,471·0,752=25,724 kN/m
2
Penulangan Arah Y
Tulangan Lapangan
Mu = 7,0398 kNm
Rn = Mubd2 = 7,03981·0,752=12,515 kN/m
2
Tulangan Tumpuan
Mu = 14,47 kNm
Rn = Mubd2 = 14,471·0,752=25,724 kN/m
2
Tulangan Lapangan Arah X
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 4 Ø 10 (As = 314 mm
2
)
Tulangan Tumpuan Arah X
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 5 Ø 10 (As = 393 mm
2
)
Tulangan Lapangan Arah Y
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 4 Ø 10 (As = 314 mm
2
)
Tulangan Tumpuan Arah Y
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 5 Ø 10 (As = 393 mm
2
)
Lantai Atap
1. Data Pembebanan
Beban Mati
Pelat = 0,12 · 24 = 2,88 KN/ m
2
Plafond + rangka = 0,18 KN/ m
2
+
Wd = 3,06 KN/ m
2
Beban Hidup
Beban Hidup Lantai = 2,5 KN/ m
2
Wu = 1,2 qd + 1,6 ql = 1,2 (3,06) + 1,6 (2,5) = 7,672 KN/m2
2. Desain Penulangan Pelat
Data yang diperlukan untuk perhitungan adalah
a) Tebal pelat (hp) = 120 mm
b) Tebal penutup beton = 40 mm
c) Dari CUR 1 halaman 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan
fc’= 25 Mpa didapat dari interpolasi
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
d) Diameter tulangan (Øtulangan) = 10 mm
e) Tinggi efektif (d) = hp –d’ – ½ Øtulangan
600 cm = 120 – 40 – ½ 10
= 75 mm
600 cm
β = lyly=600600=1

Dari CUR.4 Hal. 26 didapat :
Ml
x
= 0,001 Wu l
x
2
x
= 0,001 · 7,672 · 6
2
· 25 = 6,95 kNm
Ml
y
= 0,001 Wu l
x
2
x
= 0,001 · 7,672 · 6
2
· 25 = 6,95 kNm
Mt
x
= -0,001 Wu l
x
2
x
= -0,001 · 7,672 · 6
2
· 51 = -14,09 kNm
Mt
y
= -0,001 Wu l
x
2
x
= -0,001 · 7,672 · 6
2
· 51 = -14,09 kNm
Perhitungan Tulangan
Penulangan Arah X
Tulangan Lapangan
Mu = 6,95 kNm
Rn = Mubd2 = 6,951·0,752=12,36 kN/m
2
Tulangan Tumpuan
Mu = 14,09 kNm
Rn = Mubd2 = 14,091·0,752=25,05 kN/m
2
Penulangan Arah Y
Tulangan Lapangan
Mu = 6,95 kNm
Rn = Mubd2 = 6,951·0,752=12,36 kN/m
2
Tulangan Tumpuan
Mu = 14,09 kNm
Rn = Mubd2 = 14,091·0,752=25,05 kN/m
2
Tulangan Lapangan Arah X
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 4 Ø 10 (As = 314 mm
2
)
Tulangan Tumpuan Arah X
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 5 Ø 10 (As = 393 mm
2
)
Tulangan Lapangan Arah Y
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 4 Ø 10 (As = 314 mm
2
)
Tulangan Tumpuan Arah Y
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295 ρmax= 0,0366
Untuk ρ
min
< ρ < ρ
maks
maka As = ρ· b · d
Untuk ρ < ρ
min
maka As = ρ
min
· b · d
Dipakai ρ
min
= 0,00295
As = ρ
min
· b · d
= 0,00295 · 1000 · 75
= 221,25 mm
2
≈ 222 mm
2
Dipasang tulangan 5 Ø 10 (As = 393 mm
2
)
5.1.2 Balok
Dalam merencanakan penulangan-penulangan pada balok, sebelumnya harus diketahui
terlebih dahulu momen-momen yang telah dihasilkan dari output analisis struktur pada ETABS.
1. Balok Umum
– Dimensi balok = 350/700 mm
– Tebal penutup beton = 40 mm
Asumsi tulangan utama : 22 mm
Diameter tulangan sengkang : 10 mm
d’ = 40 + 10 + (½ 22) : 61 mm
d = h – d’ = 700 – 61 : 639 mm
d'h-d'= 61639=0.0978 ≈0,1
Tulangan Lentur Pada Balok Umum
fy = 270 Mpa
fc’ = 25 Mpa
Dari CUR 1 Hal. 50-52 untuk fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapat dengan cara interpolasi
didapatkan :
ρmin= 0,00295
ρmax= 0,0366
Tulangan Lapangan
Dari output ETABS didapat momen paling besar :
Mu = 898,078 kNm
R
n
= Mub∙d2 = 898,0780,35∙0,72 = 5206,67 kNm ≈ 5200 kNm
Dari Tabel CUR 4 Tabel 5.3.e halaman 63
Dengan nilai fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapatkan dengan cara interpolasi :
d'd=0,1 didapatkan ρ = 0,0272
As = ρ · b · d
As = 0,0272 · 350 · 639 = 6083,28 mm
2
As’ = ½ As
= ½ · 6083,28 = 3041,64 mm
2
Menghitung jumlah tulangan
Yang didapat dari tabel 5.3.e diatas merupakan ρ untuk tulangan tarik saja, sedangkan ρ untuk
tulangan tekan adalah ½ dari ρ tulangan tarik.
Untuk tulangan tarik didapat As = 6083,28 mm
2
Dari Tabel CUR. 4 Hal. 15 didapatkan jumlah tulangan 8 dengan diameter 32
8 D 32 (As = 6434 mm
2
)
Periksa tulangan terpasang :
As aktual = 6364 mm
2
d aktual = 639 mm
ρ aktual = Asbw∙d= 6364350∙639=0,0285
ρmin < ρ < ρmax
0,00295 < 0,0285 < 0,0366
Tulangan tarik 8 D 32 pada lapangan dapat digunakan
Tulangan Tekan
Didapatkan As’ = 3041,64 mm
2
Dari Tabel CUR. 4 Hal. 15 didapatkan jumlah tulangan 5 dengan diameter 28
5 D 28 (As = 3079 mm
2
)
Periksa tulangan terpasang :
As aktual = 3079 mm
2
d aktual = 639 mm
ρ aktual = Asbw∙d= 3079350∙639=0,0138
ρmin < ρ < ρmax
0,00295 < 0,0138 < 0,0366
Tulangan tekan 5 D 28 pada lapangan dapat digunakan
Tulangan Tumpuan
Selimut beton = 40 mm
H = 700 mm
Asumsi :
Diameter tulangan utama = 22 mm
Diameter tulangan sengkang = 10 mm
d’ = 40 + 10 + ( ½ 22) = 61 mm
h – d’ = 700 – 61 = 639 mm
d'd=0,1 didapatkan ρ = 0,0272
Dari output ETABS didapatkan Mu tumpuan paling besar
Mu = 1121,16 kNm
R
n
= Mub∙d2 = 1102,30,35∙0,72 = 6417,38 kNm ≈ 6400 kNm
Dari Tabel CUR 4 Tabel 5.3.e halaman 63
Dengan nilai fy = 270 Mpa dan fc’ = 25 Mpa didapatkan dengan cara interpolasi :
d'd=0,1 didapatkan ρ = 0,0302
As = ρ · b · d
As = 0,0302 · 350 · 639 = 6764,014 mm
2
As’ = ½ As
= ½ · 5278,14 = 3382 mm
2
Menghitung jumlah tulangan
Yang didapat dari tabel 5.3.e diatas merupakan ρ untuk tulangan tarik saja, sedangkan ρ untuk
tulangan tekan adalah ½ dari ρ tulangan tarik.
Untuk tulangan tarik didapat As = 6764,014 mm
2
Dari Tabel CUR. 4 Hal. 15 didapatkan jumlah tulangan 8 dengan diameter 32
8 D 32 (As = 6434 mm
2
) + 3 D 12 (As = 339 mm
2
)
Periksa tulangan terpasang :
As aktual = 6773 mm
2
d aktual = 639 mm
ρ aktual = Asbw∙d= 6773350∙639=0,03
ρmin < ρ < ρmax
0,00295 < 0,03 < 0,0366
Tulangan tarik 8 D 32 + 3 D 12 pada tumpuan dapat digunakan
Tulangan Tekan
Didapatkan As’ = 3382, mm
2
Dari Tabel CUR. 4 Hal. 15 didapatkan jumlah tulangan 6 dengan diameter 28
6 D 28 (As = 3695 mm
2
)
Periksa tulangan terpasang :
As aktual = 3695 mm
2
d aktual = 639 mm
ρ aktual = Asbw∙d= 3695350∙639=0,0167
ρmin < ρ < ρmax
0,00295 < 0,0167 < 0,0366
Tulangan tekan 6 D 28 pada tumpuan dapat digunakan
Tulangan Geser Pada Balok
Dari output ETABS didapatkan besar gaya geser yang terjadi pada balok adalah
Vu = 273,43 kNm
= 27343 kg
Asumsi :
Diameter tulangan utama = 20 mm
Diameter tulangan sengkang = 10 mm As = 157 mm
Tebal selimut beton = 40 mm
d’ = 40 + 10 + ( ½ 20) = 60 mm
d = h – d’ = 700 – 60 = 640 mm
s = 6402=320 mm
diambil yang terkecil
h4=7004=175 mm=17,5 cm
16 D = 16 · 10 = 160 mm = 16 cm diambil s = 15 cm
15 cm
Nilai Vc dan Vs dapat dihitung secara manual, seperti pada rumus dibawah ini :
Periksa apakah Vu ≤ φVn
Rumus : Vc = 16fc'∙bw∙d = 1625∙350∙640
= 186666,67 N = 186,67 kN
Vu ≤ φ Vc
273,43 ≤ φ 186,67
Vs = As·fy·ds = 157∙270∙640150=180979,2 N = 180,98 kN
Vn = Vc + Vs = 186,67 + 180,98 = 367,65 kN
Periksa dengan rumus = Vu ≤ Ø · Vn
= 273,43 ≤ 0,6 · 367, 65
= 273,43 ≤ 220,59
Dapat disimpulkan bahwa balok memerlukan tulangan geser
5.1.3 Kolom
Tulangan Lentur Pada Kolom
Data-data yang digunakan untuk menentukan tulangan lentur pada pada kolom sama
seperti data yang diperlukan untuk menentukan tulangan lentur pada balok.
fy = 270 Mpa
fc’= 25 Mpa
Selimut beton = 40 mm
B = 900 mm
H = 900 mm
Asumsi
Tulangan utama : 20 mm
Diameter tulangan sengkang : 10 mm
d’ = 40 + 10 + ( ½ 20) : 60 mm
d'h=0,1
Ø = 0,8
Untuk menentukan penulangan pada kolom dapat dibedakan menjadi dua bagian,
diantaranya :
1. Tulangan dipasang simetris pada dua sisi penampang kolom
2. Tulangan dipasang sama rata pada sisi-sisi penampang kolom
Dalam penulangan struktur kolom bangunan ini yang penulis gunakan adalah kedua-duanya.
Untuk kolom persegi panjang, tulangan dipasang simetris pada dua sisi penampang kolom.
Sedangkan untuk kolom persegi, tulangan dipasang sama rata pada sisi-sisi penampang kolom.
Untuk menentukan tulangan dapat menggunakan tabel dan grafik yang terdapat pada CUR 4
Dari hasil output ETABS didapat data :
Mu =1217 kNm
Pu = 69,894 kNm
Pada sumbu vertikal (ordinat) dinyatakan :
Pu∅∙Agr∙0,81∙fc'= 6918940,890·900,81·250=0,05
Pada sumbu horizontal dinyatakan :
Pu∅∙Agr∙0,81∙fc' ×eth
e
t
= MnPu=121741691894=0,16
Maka,
1217410,8×90×90×0,81∙0,1690=0,04
Karena tulangan dipasang sama rata, maka pada grafik penulangan kolom didapat :
r = 0,007
β = 1
menentukan harga ρ
ρ = r × β = 0,007 × 1 = 0,007
As = ρ × b × h
= 0,007 × 900 × 900
= 5670 mm
2
Dengan penampang tulangan 5670 mm
2
didapatkan jumlah tulangan sebanyak 8 buah tulangan
dengan diameter 32, 8 D 32 (As = 6434 mm
2
)
Tulangan Geser Pada Kolom
Dari output etabs dapat diketahui
Vu = 12,644 kNm
Nu = 6796,15 kNm
Asumsi :
Diamter tulangan utama : 20 mm
Diameter tulangan sengkang : 10 mm
d’ = 60 mm
Jarak sengkang tidak perlu lebih dari
h4=9004=225 mm=22,5 cm
S ≤ 8D = 8 · 10 = 80 mm = 8 cm
10 cm
1,5 h = 1,5 · 900 = 1350 mm =135 cm
16bentangan= 16∙900=150 mm=15 cm ambil yang terkecil s = 15 cm
75 cm
Nilai Vc dan Vs dapat dihitung secara manual, seperti pada rumus dibawah ini :
Periksa apakah Vu ≤ φVn
Rumus : Vc = 16fc'∙bw∙d = 1625∙900∙900
= 675000 N = 675 kN
Vu ≤ φ Vc
12,644 ≤ φ 675
Vs = As·fy·ds = 157∙270∙900150=254340 N = 254,34 kN
Vn = Vc + Vs = 675 + 254,34 = 929,34 kN
Periksa dengan rumus = Vu ≤ Ø · Vn
= 12,64 ≤ 0,6 · 929,34
= 12,64 ≤ 557,604
Dapat disimpulkan bahwa kolom tidak memerlukan tulangan geser
5.1.4 Diagram Interaksi
Diagram interaksi ini didapat dari hasil program ETABS, dari nilai P dan

Hasil As yang didapat pada
ETABS = 5161 mm
2
Tidak begitu jauh dari hasil
perhitungan manual
As = 5670 mm
2

Diagram Interaksi
5.1.5 Perhitungan Balok Kantilever Dengan Beton Prategang
Balok-balok kantilever pada struktur dihitung secara parsial dengan menggunakan beton
prategang, yang dimaksudkan agar balok-balok tidak mengalami retak-retak yang dikarenakan
bentangnya yang cukup panjang. Besar momen yang dipikul oleh beton prategang ini merupakan
sisa dari momen yag ditanggung oleh tulangan pasif, dengan kata lain, penggunaan prategang ini
merupakan pengganti dari tulangan yang mengalami tarik.
Perhitungan Pra Tegang Pada Balok Kantilever Lantai 5
Panjang Bentang : 4 m
Dimensi Balok : 450/800 mm
Dari output etabs didapat
Δ Mu = 347,87 kNm
10 cm
60 cm
Pp · 0,25 m = Δ Mu
0,25 Pp = 347,87 kNm
Pp = 1391,48 kNm
Kehilangan Tegangan 20 % dari Pp
Po = 20 % · Pp
= 20 % · 1391,38 = 278,3 kN
Dari Tabel 1.1 Buku Desain Praktis Beton Prategang didapatkan 3 Kabel D 9,3
Dengan fy = 1860 Mpa
Tulangan Geser
Dari output ETABS didapatkan besar gaya geser yang terjadi pada balok adalah
Vu = 222,22 kNm
Asumsi :
Diameter tulangan utama = 20 mm
Diameter tulangan sengkang = 10 mm As = 157 mm
Tebal selimut beton = 40 mm
d’ = 40 + 10 + ( ½ 20) = 60 mm
d = h – d’ = 800 – 60 = 740 mm
s = 7402=370 mm
diambil yang terkecil
h4=8004=200 mm=20 cm
16 D = 16 · 10 = 160 mm = 16 cm diambil s = 10 cm
10 cm
Nilai Vc dan Vs dapat dihitung secara manual, seperti pada rumus dibawah ini :
Periksa apakah Vu ≤ φVn
Rumus : Vc = 16fc'∙bw∙d = 1625∙450∙750
= 337500 N = 337,5 kN
Vu ≤ φ Vc
222,22 ≥ 0,6 · 337,5 = 202,5
Maka : Ø Vs = Vu - Ø Vc
Ø Vs = 222,22 – 202,5 = 19,75 kN
Ø Vs = 19,75
∅Vsbd=19,750,45 x 0,55=79,8 kN/m2 = Øvs
G = Gaya lintang sepanjang y yang harus ditanggung sengkang
= y x b x Ø vs
= 0,75 x 0,45 x 79,8
= 26,93 kN
s = gaya sengkang sepanjang y dari n buah sengkang
= n x Ø fy x As
1

= n x (0,6 x 24 x 158) = 2275,2 n
∑v = 0 maka, nilai s = G
Maka n = Gs=26,932275,2=0,01
S = yn== 751=75
Berdasarkan ketentuan jarak maksimal sengkang 30 cm sedangkan dilapangan dominan
dipakai maks = 25 cm, maka dalam kantilever ini memakai tulangan geser Ø 10- 25 cm
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Dari hasil perhitungan dan pembebanan, maka pada pengambilan dimensi kolom dipecah
atau dibagi-bagi menjadi beberapa bagian menurut lantai dan letak dari kolom tersebut.
Misalnya pada kolom pinggir, dibagi-bagi menjadi kolom pinggir untuk lantai 1-3, lantai
4-7, dan 8-10. Sedangkan pada kolom perkakuannya dibagi menjadi 2 bagian. Kolom
besar 1 untuk lantai 1-5, dan kolom besar 2 untuk lantai 6-10.
2. Pada saat permodelan struktur pada ETABS, penggunaan dimensinya sempat berbeda
dengan hasil-hasil pada perhitungan manual, hal ini dikarenakan pada perhitungan
manual diambil secara garis besar, berbeda dengan pada saat di input pada ETABS yang
secara otomatis dihitung secara mendetail.
3. Pada perhitungan penulangan dihitung dengan menggunakan dua metode, manual dan
dengan menggunakan program ETABS yang dipakai sebagai koreksi. Hasil yang didapat
melalui output ETABS dan manual tidak begitu jauh perbedaannya.
4. Dari hasil permodelan struktur pada ETABS, dapat dilihat bahwa perbedaan bentang
pada setiap lantai sangat mempengaruhi deformasi pada gedung, maka dari itu pada
bagian kantilever-kantilever yang mengalami perubahan bentang pada setiap lantai harus
mendapat perhatian yang lebih.
5. Beton prategang yang didesain hanya untuk memikul kekurangan moment pada
kantilever.
6.2 Saran
Dari Tugas Akhir yang penulis susun, penulis ingin memberikan beberapa saran yang dapat
disampaikan :
1. Perlunya studi lanjut tentang pondasi apa yang akan digunakan dalam struktur
yang penulis desain. Mengingat desain yang membesar dibagian tengah lalu
mengecil lagi pada bagian atas. Perlunya perhitungan khusus dalam mendesain
pondasi untuk bangunan seperti ini.
2. Dikarenakan tinggi total gedung dan bentang kantilever yang tidak begitu panjang,
maka perubahan bentuk tidak begitu terlihat. Penulis menyarankan, untuk
menambahkan tinggi lantai dan bentang kantilever agar perubahan – perubahan
pada desain lebih terlihat, tentunya butuh perhatian yang lebih pada perhitungan
beban gempa dan pada saat penulangan pada bagian kantilever
3. Disarankan untuk dapat lebih memperkecil dimensi-dimensi lainnya bisa
menambahkan atau mencoba sistem perkakuan lain, seperti mis. menggunakan
corewall pada bagian tengah lantai.
Daftar Pustaka
Badan Standarisasi Nasional. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan
Gedung (SNI 03 – 1726 – 2002). Badan Standarisasi Nasional. 2002.
Rahmat, Purwono. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Sesuai Dengan SNI
– 1726 dan SNI-2487 Terbaru. ITS Press Surabaya. 2006.
Universitas Semarang. Struktur Beton. Badan Penerbit Universitas Semarang. 1999.
W.C Vis, Gideon Kesuma. Grafik dan Tabel Perhitungan Beton Bertulang Berdasarkan
SKSNI T - 15 - 1991 – 03 (CUR). Erlangga, 1997: Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->