P. 1
BUDIDAYA KELAPA SAWIT

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

|Views: 120|Likes:
Published by Arta Kusuma
BAB I LATAR BELAKANG A. Sejarah Perkembangan Tanaman Kelapa Sawit di Indonesia Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika barat, merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848. Saat itu ada 4 batang bibit
BAB I LATAR BELAKANG A. Sejarah Perkembangan Tanaman Kelapa Sawit di Indonesia Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika barat, merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848. Saat itu ada 4 batang bibit

More info:

Published by: Arta Kusuma on Aug 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2011

pdf

text

original

BAB I LATAR BELAKANG A.

Sejarah Perkembangan Tanaman Kelapa Sawit di Indonesia Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis) berasal dari Afrika barat, merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang mempunyai produktivitas lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848. Saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya bogor (Botanical Garden) Bogor, dua berasal dari Bourbon (Mauritius) dan dua lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam (Belanda). Awalnya tanaman kelapa sawit dibudidayakan sebagai tanaman hias, sedangkan pembudidayaan tanaman untuk tujuan komersial baru dimulai pada tahun 1911, kemudian budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha. Pada masa pendudukan Belanda, perkebunan kelapa sawit maju pesat sampai bisa menggeser dominasi ekspor Negara Afrika waktu itu. Memasuki masa pendudukan Jepang, perkembangan kelapa sawit mengalami kemunduran. Lahan perkebunan mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada sehingga produksi minyak sawitpun di Indonesia hanya mencapai 56.000 ton pada tahun 1948 / 1949, pada hal pada tahun 1940 Indonesia mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Pada tahun 1957, setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia, pemerintah mengambil alih perkebunan (dengan alasan politik dan keamanan). Untuk mengamankan jalannya produksi, pemerintah meletakkan perwira militer di setiap jenjang manejemen perkebunan. Pemerintah juga membentuk BUMIL (Buruh Militer) yang merupakan kerja sama antara buruh perkebunan dan militer. Perubahan manejemen dalam perkebunan dan kondisi social politik serta keamanan dalam negeri

PERKEBUNAN M.ARTA KUSUMA 422008003

Page 1

yang tidak kondusif, menyebabkan produksi kelapa sawit menurun dan posisi Indonesia sebagai pemasok minyak sawit dunia terbesar tergeser oleh Malaysia. Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan keja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sektor penghasil devisa Negara. Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Sampai pada tahun 1980, luas lahan mencapai 294.560 Ha dengan produksi CPO (Crude Palm Oil) sebesar 721.172 ton. Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Hal ini didukung oleh kebijakan Pemerintah yang melaksanakan program Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR – BUN). Luas areal tanaman kelapa sawit terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya permintaan akan produk olahannya. Ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia antara lain ke Belanda, India, Cina, Malaysia dan Jerman, sedangkan untuk produk minyak inti sawit (PKO) lebih banyak diekspor ke Belanda, Amerika Serikat dan Brasil. Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Buah terdiri dari tiga lapisan:
• • •

Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin. Mesoskarp, serabut buah Endoskarp, cangkang pelindung inti Inti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan

embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi. Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

BAB II I. SYARAT TUMBUH TANAMAN KELAPA SAWIT

Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada 15 °LU15 °LS. Ketinggian pertanaman kelapa sawit yang ideal berkisar antara 1-500 m dpl. Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan. Kelembaban optimum yang ideal sekitar 80-90 %. Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol. Nilai pH yang optimum adalah 5,0–5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Kondisi topografi pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15o.

II. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KELAPA SAWIT A. Sistem Pembibitan tanaman Kelapa Sawit Lokasi/areal untuk pelaksanaan pembibitan dengan pesyaratan : harus datar dan rata, dekat dengan sumber air, dan letaknya sedapat mungkin di tengah-tengah areal yang akan ditanami dan mudah diawasi. Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya tersedia springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan paritparit drainase. Luas kompleks pembibitan harus sesuai dengan kebutuhan. Terdapat dua teknik pembibitan yaitu: (a) cara langsung tanpa dederan dan (b) cara tak langsung dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan pembibitan utama(nursery)selama 9 bulan.

a) Cara langsung

Kecambah langsung ditanam di dalam polibag ukuran besar seperti pada cara pembibitan. Cara ini menghemat tenaga dan biaya. b) Cara tak langsung Cara tak langsung dilakukan dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan persemaian bibit(nursery)selama 9 bulan. ► Tahap pendederan (prenursery) Benih yang sudah berkecambah di deder dalam polybag kecil, kemudia diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya. Ukuran polybag yng digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm (lay flat). Polybag diisi dengan 1,5 – 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase. Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 – 4 bulan dan berdaun 4 – 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit (nursery). Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman. ► Pesemaian bibit (nursery) Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase. Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 – 30 kg per polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) dipesemaian bibit.

Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan tanahsekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100 cm.

III. Kriteria Bibit Yang Baik Menurut direktorat jendral perkebunan ada beberapa syarat mutu benih kelapa sawit. Untuk melihat bibit kelapa sawit yang baik, yaitu: 1. Mutu Genetis a. Asal bahan tanaman, asal bahan adalah dari kebun benih yang telah di tetapkan oleh pemerintah. b. Varietas adalah harus benih unggul c. Kemurnian adalah lebih dari 98% 2. Mutu Fisiologis kesehatan harus bebas OPT 3. Mutu Fisik a. Berat Biji minimum 0,8 Gram b. Radikula dan plumula - panjang maksimum 2 cm -warna putih kekuningan - Arah tumbuh harus berlawanan arah -Kenampakan dapat dibedakan dengan jelas

IV. Varietas Kelapa Sawit Yang Ada Di Indonesia Varietas yang banyak diusahakan umumnya merupakan varietas jenis Tenera (persilangan varietas jenis Dura dan Pisifera). Varietas ini mewarisi sifat-sifat unggul seperti inti kecil, cangkang tipis, daging buah tebal (60–90 % dari buah) serta kandungan minyak yang tinggi. Beberapa contoh varietas unggul kelapa sawit, yaitu: 1. Deli Dura x Pisifera Dolok Sinumbah a. Umur mulai berproduksi 30 bulan b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun c. Berat tandan 17 kg d. Kandungan minyak 6,8 ton/ha/tahun 2. Deli Dura x Pisifera Bah Jambi a. Umur mulai berproduksi 30 bulan b. Jumlah tandan 13 tandan/tahun c. Berat tandan 16 kg d. Kandungan minyak 6,9 ton/ha/tahun 3. Deli Dura x Pisifera Marihat a. Umur mulai berproduksi 30 bulan b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun c. Berat tandan 17 kg d. Kandungan minyak 6,7 ton/ha/tahun. 4. Deli Dura x Pisifera lame a. Umur mulai berproduksi 30 bulan b. Jumlah tandan 14 tandan/tahun c. Berat tandan 16 kg d. Kandungan minyak 7,0 ton/ha/tahun 5. Deli Dura x Pisifera Yangambi a. Umur mulai berproduksi 30 bulan b. Jumlah tandan 13 tandan/tahun c. Berat tandan 16 kg d. Kandungan minyak 6,9 ton/ha/tahun

6. Deli Dura x Pisifera AVROS a. Umur mulai berproduksi 30 bulan b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun c. Berat tandan 16 kg d. Kandungan minyak 7,0 ton/ha/tahun.

BAB III I. TEKNIK PEMBUKAAN DAN PENYIAPAN LAHAN Pengolahan tanah pada areal peremajaan kelapa sawit akan lebih rasional jika mempertimbangkan sifat tanah pada tingkat klasifikasi macam tanah. Tingkat

kegemburan atau kekerasan tanah ternyata dapat menentukan intensitas pengolahan tanan. Tanah yang berasal dari bahan volkanis baik yang bersifat in-situ ataupun aluviumnya, umumnya membentuk tanah yang gembur sampai agak teguh dengan tingkat kekerasan tanah berkisar 1,25 - 2,50 kg/cm2. Penelitian terhadap 15 macam tanah yang ditemukan di areal kelapa sawit di Indonesia menunjukkan bahwa potensi pengerasan tanah adalah berbeda-beda tergantung pada macam tanahnya. Tingginya kandungan bahan organik ( > 1% kandungan carbon dan kapasitas tukar kation nyata ( > 16 me/lOOg liat), ternyata memlegang peranan penting dalam mengurangi degradasi sifat fisik tanah. Pengolahan tanah secara intensif sangat ditekankan terhadap tanah-tanah yang berasal dari formasi tersier, terutama pada tanahtanah Typic Paleudult dan Typic Plinthudult. Tanah dari formasi tersier yang sebagian besar berada di wilayah pengembangan, memiliki penyebaran + 41% dari seluruh areal kelapa sawit. Tanpa Olah Tanah (TOT) hanya disarankan pada tanah-tanah yang berasal dari bahan vulkanis seperti Aquic Hapludand, Typic Dys -tropept, sebagian Typic Hapludult dan Eutric Tropofluvent. TOT dalam hal ini meliputi pemberantasan gulma secara kimiawi disertai dengan olah tanah manual seperlunya untuk penanaman penuntup tanah kacangan. KeadaanLahan a. Ketinggian Tempat Tanaman kelapa sawit bisa tumbuh dan berbuah hingga ketimggian tempat 1000 meter diatas permukaan laut (dpl). Namun, pertumbuhan tanaman dan produktivitas optimal akan lebih baik jika ditanam di lokasi dengan ketinggian 400m dpl.

b. Topografi Kelapa sawit sebaiknya ditanam di lahan yang memiliki kemiringan lereng 012o atau 21%. Lahan yang kemiringannya 13o-25o masih bisa ditanami kelapa sawit, twtapi petumbuhannya kurang baik. Untuk lahan yang kemiringannya lebih dari 25o sebaiknya tidak dipilih karena menyulitkan dalam pengangkutan buah saat panen dan

beresiko terjadi erosi. c. Drainase Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai tanaman kelapa sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek dapat menghambat kelancaran penyerapan unsure hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan unsure nitrogen (N). karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang. d. Tanah Kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Tanah gambut juga dapat di tanami kelapa sawit asalkan ketebalan gambutnya tidak lebih dari satu metter dan sudah tua (saphrik). Sifat tanah yang perlu di perhatikan untuk budi daya kelapa sawit adalah sebagai berikut1. Sifat Fisik Tanah Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik di tanah yang bertekstur lempung berpasir, tanah liat berat, tanah gambut memiliki ketebalan tanah lebih dari 75 cm; dan berstruktur kuat. 2 . Sifat Kimia Tanah Tanaman kelapa sawit membutuhkan unsure hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsure hara yang tinggi juga. Selain itu, pH tanah sebaiknya bereaksi dengan asam dengan kisaran nilai 4,0-6,0 dan ber pH optimum 5,0-5,5. ► Keadaan Iklim Keadaan iklim sangat mempengaruhi proses fisiologio tanaman, seperti proses asimilasi, pembentukan bunga, dan pembuahan. Sinar matahari dan hujjan dapat menstimulasi pembentukan bunga kelapa sawit. Jumlah curah hujan dan lamanya penyinaran matahari memiliki korelasi dengan fluktuasi produksi kelapa sawit. Curah hujan ideal untuk tanaman kelapa sawit adalah 2.000-2.500 mm per tahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Jumlah penyinaran rata rata sebaiknya tidak kurang dari 6 jam per hari. Temperature sebaiknya 22-23o. keasaan

angina tidak terlalu berpengaruh karenaan kelapa sawit lebih tahan terhadap angina kencang di bandingkan tanaman lainnya. Bulan kering yang tegas dan berturut turut selama beberapa bulan bisa mempengaruhi pembentukan bunga (baik jantan maupun seks rasionya) untuk 2 tahun berikutnya. ► Metode Pembukaan Lahan a. Perkebunan kelapa sawit dapat dibangun di daerah yang memiliki topografi yang berbeda-beda o bekas hutan o daerah bekas alang-alang, atau o bekas perkebunan b. Yang perlu diperhatikan o tetap terjaganya lapisan olah tanah o urutan pekerjaan, alat, dan teknik pelaksanaannya c. identifikasi vegetasi d. ditentukan apakah pembukaan lahan dilakukan secara manual, manual – mekanis atau secara mekanis ► Metode Pembukaan Lahan a. Pada daerah alang-alang: -membajak dan menggaruk mekanis - menyemprot alang-alang b. Khemis dengan racun antara lain Dalapon atau Glyphospate c. Konversi : membuka areal perkebunan dari bekas perkebunan lain d. Pembukaan lahan cara membakar hutan dilarang oleh pemerintah dengan tanpa bakar dikeluarkannya SK Dirjen Perkebunan No. 38 tahun 1995, tentang pelarangan membakar hutan.

METODE PEMBAKARAN LAHAN • Sejarah sejarah deforestasi.◊perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia • Praktek pembersihan lahan :

o Jutaan hektar hutan di buka dan diambil kayunya. o Pohon-pohon yang kecil beserta ilalang kemudian api sarana yang paling cepat◊dibakar sehingga menimbulkan kebakaran & murah. puluhan perusahaan menggunakan◊• Penegakan hukum lemah api untuk melakukan pembersihan lahan termasuk peningkatan pH tanah o Pada tahun 2001, Manager PT Adei Plantation berkebangsaan Malaysia dihukum 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kampar tahun 2001 karena terbukti memerintahkan pembakaran lahan untuk menaikkan ph tanah menjadi 5- 6 agar dapat ditanami kelapa sawit alasan menggunakan metode pembukaan lahan tanpa bakar : • mempertahankan kesuburan tanah, • menjamin pengembalian unsur hara, • mencegah erosi permukaan tanah, dan • membantu pelestarian lingkungan. Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit • Sebelum konversi o tingginya intensitas hujan di wilayah tropis diimbangi dengan penutupan hutan alam mengendalikan terjadinya banjir, erosi, sedimentasi◊yang begitu luas dan tanah longsor o gudang sumberdaya genetik dan pendukung ekosistem kehidupan o pepohonan pada hutan alam menghasilkan serasah yang ◊ meningkatkan kandungan bahan organik lantai hutan ◊cukup tinggi lantai hutan memiliki kapasitas peresapan air (infiltrasi) yang jauh lebih tinggi dibandingkan penutupan lahan non-hutan. o tebalnya meningkatkan aktifitas biologi tanah◊lapisan serasah Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit o siklus hidup/pergantian perakaran pohon (tree root turnover) yang amat dinamis dalam jangka waktu tanah hutan memiliki banyak poripori◊yang lama tanah hutan memiliki laju penyerapan◊berukuran besar (macroporosity) air/pengisian air tanah (perkolasi) yang jauh lebih tinggi o stratifikasi hutan alam (bervariasinya umur dan ketinggian tajuk hutan), penutupan

lahan◊tingginya serasah dan tumbuhan bawah pada hutan alam efektif mengendalikan erosivitas hujan (daya rusak◊secara ganda hujan), aliran permukaan dan erosi ◊o sisi bentang lahan (landscape) penggunaan lahan yang paling aman secara ekologis Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit o sangat sedikit sekali ditemukan jalan-jalan setapak, tidak ada saluran Irigasi & jalan pada saat hujan besar berperan sebagai◊berukuran besar yang diperkeras saluran drainase. filter o biomasa hutan yang tidak beraturan pergerakan air dan sedimen. o dalam hutan alam tidak dilakukan pengolahan tanah yang membuat lahan lebih peka terhadap erosi. o hutan dalam kondisi yang tidak terganggu lebih tahan terhadap kekeringan tidak mudah terbakar. Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit • Sesudah konversi ◊o merusak habitat hutan alam menghancurkan seluruh kekayaan hayati hutan yang tidak ternilai harga mengubah landscape hutan alam secara total.◊dan manfaatnya o kerusakan seluruh ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) jika tidak dilakukan dengan baik o meningkatnya aliran permukaan (surface runoff), tanah longsor,erosi dan sedimentasi o semakin parah, apabila pembersihan lahan (setelah kayunya ditebang) dilakukan dengan cara pembakaran Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit o Rumput dan tumbuhan bawah secara menerus akan dibersihkan, karena akan berperan sebagai gulma tanaman pokok. Dilain pihak, rumput dan tumbuhan bawah ini justru berperan sangat penting untuk mengendalikan laju erosi dan aliran permukaan. o Keberadaan pepohonan yang tanpa diimbangi meningkatkan laju erosi◊oleh pembentukan serasah dan tumbuhan bawah permukaan o Pembangunan perkebunan memerlukan pembangunan jalan, dari jalan utama hingga jalan inspeksi, serta pembangunan infrastruktur (perkantoran, perumahan), termasuk saluran drainase. Kondisi ini apabila semakin◊tidak dilakukan dengan baik (biasanya memang demikian) peresapan air menjadi◊cepatnya air hujan mengalir menuju ke hilir

terbatas dan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor akan meningkat Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit o pohon kelapa sawit sebagai pohon yang cepat tumbuh (fast growing species) dikenal sebagai pohon yang rakus air, artinya pohon ini memiliki laju evapotranspirasi (penguap-keringatan) yang tinggi. Setiap pohon kelapa sawit memerlukan mengurangi ketersediaan air khususnya◊20 – 30 liter air setiap harinya di musim kemarau Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (Manurung, 2000; Potter and Lee, 1998). SOLUSI • pemerintah daerah perlu ekstra hati-hati dalam ◊menerbitkan ijin konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit rujukan utama dalam pengambilan keputusan: Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. S.599/Menhut-VII/2005 tertanggal 12 Oktober 2005 tentang Penghentian/Penangguhan Pelepasan Kawasan • pemerintah perlu memberikan sanksi yang tegas dan jelas terhadap pihak pelaku kegiatan konversi hutan yang tidak bertanggung jawab • menghentikan konversi mengganti hutan alam dengan◊hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit lahan kritis/terlantar • perencanaan tata ruang yang tepat dan perencanaan praktik-praktik perkebunan yang lestari dan bertanggung jawab Penanaman Kelapa Sawit 1) Persiapan lahan Tanaman kelapa sawit sering ditanam pada areal / lahan : bekas hutan (bukaan baru, new planting), bekas perkebunan karet atau lainnya ( konversi), bekas tanaman kelapa sawit (bukaan ulangan, replanting). Pembukaan lahan secara mekanis pada areal bukaan baru dan konversi terdiri dari beberapa pekerjaan, yakni: a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil dengan mengusahakan agar tanahnya terlepas dari tanah; b) merumpuk, yaitu mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk memudahkan pembakaran. c)

merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah ditumpuk agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar. d) pengolahan tanah secara mekanis. Pembukaan lahan secara mekanis pada tanah bukaan ulangan terdiri dari pekerjaan, yakni: a) pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan traktor. b) meracun batang pokok kelapa sawit dengan cara membuat lubang sedalam 20 cm pada ketinggian 1 meter pada pokok tua. Lubang diisi dengan Natrium arsenit 20 cc per pokok, kemudian ditutup dengan bekas potongan lubang; c) membongkar, memotong dan membakar. Dua minggu setelah peracunan, batang pokok kelapa sawit dibongkar sampai akarnya dan swetelah kering lalu dibakar; d) pada bukaan ulangan pembersihan bekas-bekas batang harus diperhatikan dengan serius karena sisa batang, akar dan pelepah daun dapat menjadi tempat berkembangnya hama (misalnya kumbang Oryctes) atau penyakit ( misalnya cendawan Ganoderma). 2) Pengajiran ( memancang) Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengann jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur. System jarak yang digunakan adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9 m x 9 m x 9 m. Dengan system segi tiga sama sisi ini, pada arah Utara – Selatan tanaman berjarak 8,82 m dan jarak untuk setiap tanaman adalah 9 m. Populasi (kerapatan) tanaman per hektar adalah 143 pohon. 3) Pembuatan lubang tanaman Lubang tanaman dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukuran lubang, panjang x lebar x dalam adalah 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah atas dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan Selatan lubang. 4) Menanam Cara menanam bibit yang ada pada polybag, yaitu: - Sediakan bibit yang berasal dari main nursery pada masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat. - Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah

dan persediaan air cukup untuk bibit. - Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gram per lubang. - Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hatihati, kemudian masukkan ke dalam lubang. - Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak. - Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air. - Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan. - Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.

II. DOSIS DAN TEKNIK PEMUPUKAN TANAMAN KELAPA SAWIT Tanaman kelapa sawit seringkali merupakan tanaman yang sangat tergantung pada pemupukan untuk mencapai produksi yang tinggi, meskipun dapat ditemui kebun kelapa sawit yang dapat mencapai produksi rata-rata 3 ton/ha/bulan meskipun tanpa diberi pupuk sedikitpun. Secara logika, kebunkelapa sawit yang baik diharapkan dapat berproduksi TBS sebanyak 3-5 ton/bulan, dengan rendemen minyak mencapai 21%, maka produksi CPO adalah 6,3-10,5 ton/bulan, nilai kalori lemak adalah yang paling tinggi di antara zat gizi lainnya, yaitu 9,4 kalori/mg asam lemak, maka nilai energi yang dihasilkan dari satu hektar kebun sawit adalah luar biasa besarnya. Energi tersebut dapat digunakan sebagai zat gizi, bahan bakar, atau fungsi lainnya. Maka tidaklah wajar jika hasil produksi yang sedemikian besar tersebut hanya kita harapkan dari sang tanaman kelapa sawit dan tanah yang menyangganya tanpa ada sumbangsih dari kita yang menjadikannya sebagai "sapi perah". Tujuan umum dari pemupukan adalah memberikan zat hara yang dibutuhkan tanaman dalam membangun jaringan akar, batang, daun dan buah.

Pada saat kelapa sawit berupa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), tujuan pemupukan ada untuk menjadi bahan baku dan penolong dalam pembangunan tubuh tanaman, sedangkan pada saat kelapa sawit berupa TM (Tanaman Menghasilkan), tujuan pemupukan adalah agar tanaman kelapa sawit memproduksi buah dengan optimal. Berdasarkan banyaknya kuantitas yang dibutuhkan tanaman, pupuk dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu: pupuk makro dan pupuk mikro. Pupuk makro adalah pupuk yang mengandung unsur makro (unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar). Unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar antara lain adalah : ♦ Nitrogen (N), dapat diperoleh dari pupuk Urea (46% N), ZA ( %N) ♦ Posphor (P), dapat diperoleh dari pupuk TSP (46% P), Rock Posphat ( % P) ♦ Kalium (K), dapat diperoleh dari pupuk KCl (64% K) ♦ Magnesium (Mg), dapat deperoleh dari pupuk Kieserit ( % Mg)

III. TAHAP-TAHAP PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT Dalam pembuhaan lahan dan penentuan bibit kelapa sawit yang baik, ada beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam penanaman atau pun dalam hal pertumbuhan kelapa sawit. Tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam menjamin keberhasilan pertumbuhan kelapa sawit, adalah: a. Penyediaan benih unggul Benih dapat diperoleh dari balai-balai penelitian kelapa sawit dan dapat juga diperoleh dengan cara penyediaan benih sendiri atau individual b. Pengencambahan benih kelapa sawit Beberapa hal dalam proses pengencambahan benih kelapa sawit, antara lain: Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya Tandan buah diperam selama 3 hari dan skali-kali disiram air Masukkan buah kemesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dan biji, cuci biji dengan air selama 3 menit setelah itu keringkan biji dan seleksi biji untuk memperoleh biji yang seragam Untuk mengencambahkan benih dilakukan perendaman terlebih dahulu selama 5 hari dan setiap hari diganti air Setelah benih direndam, beninh diangkat dan dikeringkan selama 1 hari

-

Benih disimpan dikatong plastic Benih diperiksa setiap 3 hari sekali Setelah 3 bulah keluarkan kantong dan keluarkan biji serta diletakkan ditempat yang dingin, tunggu hingga berkecambah

c. Pembibitan kelapa sawit Pembibitan dilakukan dilokasi atau diareal yang rata atau datar, dekat dengan sumber air dan letaknya diareal yang akan ditanami serta mudah untuk diawasi d. Kegiatan pemeliharaan bibit kelapa sawit di pembibitan Penyiraman Pemupukkan Seleksi bibit Persiapan lahan Pengajiran (Memancang) Pembuatan lubang tanaman menanam Penyulaman Penanaman tanaman penutup tanah Membentuk piringan (Bokoran) Pemupukkan Pemangkasan daun

e. Penanaman kelapa sawit

f. Pemeliharaan tanaman kelapa sawit

g. Pengendalian hama dan penyakit kelapa sawit Hama dikendalikan oleh musuh alami, Penyakit dikendalikan dengan melakukan penyemprotan bakterisida, dan untuk mengendalikan gulma dengan melakukan penyemprotan pestisida. h. Panen dan pasca panen Tanaman kelapa sawit mulai berbuah umur 2,5 tahun dan proses pemasakkan buah berkisar 5-6 bulan setelah terjadinya penyerbukkan. Buah kelapa sawit dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen dari lima pohon kelapa sawit rata-rata terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan

buah matang panen, adalah: Sedikitnya ada 5 buah yang lepas atau jatuh dari tandan yang ada di pohon kelapa sawit.

BAB IV I. HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT A. Penyakit 1. Penyakit Akar (Blast disease) Gejala serangan :

- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah - Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning Penyebab : Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.) Cara pengendalian : - Melakukan kegiatan persemaian dengan baik - Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman 2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma) Gejala serangan: - Daun berwarna hijau pucat - Jamur yang terbentuk sedikit - Daun tua menjadi layu dan patah - Dari tempat yang terinfeksi keluar getah Penyebab : Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum. Cara pengendalian dan pencegahan : - Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar - Melakukan pembumbunan tanaman 3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot) Gejala serangan: - Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati - Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk - Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan

Penyebab : Jamur Fomex noxius. Cara pengendalian : - Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang - Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka 4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot) Gejala serangan : Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah. Penyebab : Jamur Ceratocytis paradoxa. Cara pengendalian : Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot) Gejala serangan: Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan. Penyebab : Belum diketahui dengan pasti. Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang 6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)

Gejala serangan : - Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut - Aroma kuncup yang terserang berbau busuk Penyebab : Bakteri Erwinia. Cara pengendalian : Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini. 7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow) Gejala serangan: Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat. Penyebab : Jamur Fusarium oxysporum Cara pengendalian : Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang. 8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose) Gejala serangan : - Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun - Bercak-bercak dikelilingi warna kuning - Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang

Penyebab : Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum. Cara pengendalian : - Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang - Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama. Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%. 9. Penyakit Tajuk (Crown disease) Gejala serangan : Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek. Penyebab: Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk. Cara pengendalian : Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini. 10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot) Gejala serangan: Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun. Penyebab : Jamur Marasmius palmivorus. Cara pengendalian :

Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan. Pengaplikasian difolatan 0,2 %. B. Hama 1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus) Gejala serangan : - Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak - Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering. Cara pengendalian: - Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar - Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit 2. Tungau (Oligonychus sp.) Gejala serangan : Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz). Cara pengendalian : Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l. 3. Pimelephila ghesquierei Gejala serangan : Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah. Cara pengendalian :

- Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang - Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%. 4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta) Gejala serangan : Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya tersisa tulang daunnya saja. Cara pengendalian : Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l. 5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula) Gejala serangan: - Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi - Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu. Cara pengendalian : Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 6. Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus Gejala serangan: Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang. Cara pengendalian : Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya. 7. Kumbang Oryctes rhinoceros

Gejala serangan : Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang. Cara pengendalian : Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes. Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung. 8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah) Gejala serangan: Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua. Cara pengendalian : Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l. 9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.) Gejala serangan: - Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal - Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan. Cara pengendalian : Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

II. KRITERIA PANEN KELAPA SAWIT A. Panen

Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan buahnya masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Suatu areal sudah dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Ciri-ciri lain yang digunakan adalah apabila sebagian buah sudah membrondol (jatuh di piringan) secara alamiah dan bobot rata-rata tandan sudah mencapai 3 kg. Kriteria panen yang diharapkan adalah bila tingkat kematangan buah sudah mencapai fraksi kematangan 1–3 dimana persentase buah luar yang jatuh sekitar 12,5 %-75 %. Ada dua jenis sistem panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap.

► Cara Panen Buah dari pohon yang masih rendah diambil dengan dodos sedangkan untuk pohon yang tinggi diambil dengan agrek (arit bergagang bambu panjang). Cara panen adalah: a) tandan matang harus dipanen semuanya dengan kriteria 25-75% buah luar memberondol atau kurang matang dengan 12,5-25% buah luar memberondol b) potong pelepah daun yang menyangga buah (tandan buah dipotong dengan dodos/agrek di dekat pangkalnyad) beri tanda di tempat bekas potongan yang berisi nama pemanen dan tanggal panen) tumpuk pelepah daun yang dipotong secara teratur di gawangan (ruang kosong di antara barisan tanaman) dengan cara ditelungkupkan. Panen dilakukan 5 hari dalam seminggu, 2 hari sisa untuk pemeliharaan alat. ► Perkiraan Produksi Tingkat produksi dipengaruhi kualitas tanaman, kesuburan tanah, keadaan iklim, umur tanaman, pemeliharaan tanaman dan serangan hama-penyakit. Sebagai contoh, tingkat produksi kelapa sawit jenis Dura dapat dilihat berikut ini : a) Umur tanaman 4 tahun; hasil minyak=500 kg/ha, hasil inti=100 kg/ha b)Umur tanaman 5 tahun; hasil minyak=740 kg/ha, hasil inti=150 kg/ha c) Umur tanaman 6 tahun; hasil minyak=1.000 kg/ha, hasil inti=200 kg/ha

d) Umur tanaman 7 tahun; hasil minyak=1.300 kg/ha, hasil inti=260 kg/ha e) Umur tanaman 8 tahun; hasil minyak=1.600 kg/ha, hasil inti=320 kg/ha f) Umur tanaman 9 tahun; hasil minyak=1.900 kg/ha, hasil inti=380 kg/ha g) Umur tanaman 10 tahun; hasil minyak=2.000 kg/ha, hasil inti=400 kg/ha h) Umur tanaman 11 tahun; hasil minyak=2.200 kg/ha, hasil inti=440 kg/ha i) Umur tanaman 12 tahun; hasil minyak=2.250 kg/ha, hasil inti=450 kg/ha Hasil tersebut masih dibawah standard produksi minyak kelapa sawit di Asia Tenggara yang rata-rata 5 ton/ha dan di Malaysia yang dapat mencapai 6-8 ton/ha. B. Pasca Panen Hasil terpenting dari tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit yang diperoleh dari ekstraksi daging buah (pericarp). Hasil lain yang tidak kalah pentingnya adalah minyak inti sawit atau kernel yang juga diperoleh dengan cara ekstraksi. Pertama tandan buah diletakkan di piringan. Buah yang lepas disatukan dan dipisahkan dari tandan. Kemudian tandan buah dibawa ke Tempat Pengumpulan Buah (TPH) dengan truk tanpa ditunda. Di TPH tandan diatur berbaris 5 atau 10. Buah kelapa sawit harus segera diangkut ke pabrik untuk segera diolah. Penyimpanan menyebabkan kadar asam lemak bebas tinggi. Pengolahan dilakukan paling lambat 8 jam setelah panen. Di pabrik buah akan direbus, dimasukkan ke mesin pelepas buah, dilumatkan didalam digester, dipres dengan mesin untuk mengeluarkan minyak dan dimurnikan. Sisa pengepresan berupa ampas dikeringkan untuk memisahkan biji dan sabut. Biji dikeringkan dan dipecahkan agar inti (kernel) terpisah dari cangkangnya. Tahapan dari pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut: 1. Perebusan (sterilisasi) TBS TBS yang masuk ke dalam pabrik selanjutnya direbus di dalam sterilizer. Buah direbus dengan tekanan 2,5-3 atm dan suhu 130 oC selama 50-60 menit. Tujuan perebusan TBS adalah: - Menonaktifkan enzim Lipase yang dapat menstimulir pembentukan free fatty acidMembekukan protein globulin sehingga minyak mudah dipisahkan dari airMempermudah perontokan buah- Melunakkan buah sehingga mudah diekstraksi 2. Perontokan Buah Dalam tahap ini buah selanjutnya dipisahkan dari tandannya dengan menggunakan

mesin thresher. Tandan kosong disalurkan ke tempat pembakaran atau digunakan sebagai bahan pupuk organik. Sedangkan buah yang telah dirontokkan selanjutnya dibawa ke mesin pelumatan. Selama proses perontokan buah, minyak dan kernel yang terbuang sekitar 0.03%. 3. Pelumatan Buah Proses pelumatan buah adalah dengan memotong dan mencacah buah di dalam steam jacket yang dilengkapi dengan pisau berputar. Suhu di dalam steam jacket sekitar 85-90 oC. Tujuan dari pelumatan buah adalah : - Menurunkan kekentalan minyak- Membebaskan sel-sel yang mengandung minyak dari serat buah- Menghancurkan dinding sel buah sampai terbentuk pulP 4. Pengempaan (ekstraksi minyak sawit) Proses pengempaan bertujuan untuk membantu mengeluarkan minyak dan melarutkan sisa-sisa minyak yang terdapat di dalam ampas. Proses pengempaan dilakukan dengan melakukan penekanan dan pemerasan pulp yang dicampur dengan air yang bersuhu 95 oC. Selain itu proses ekstraksi minyak kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi, bahan pelarut dan tekanan hidrolis. 5. Pemurnian (klarifikasi minyak) Minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari mesin ekstraksi minyak sawit umumnya masih mengandung kotoran berupa tempurung, serabut dan air sekitar 4045% air. Untuk itu perlu dilakukan pemurnian minyak kelapa sawit. Persentase minyak sawit yang dihasilkan dalam proses pemurnian ini sekitar 21%. Proses pemurnian minyak kelapa sawit terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: a. Pemurnian minyak di dalam tangki pemisah (clarification tank) Prinsip dari proses pemurnian minyak di tangki pemisah adalah melakukan pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan sehingga campuran minyak kasar dapat terpisah dari air. b. Sentrifusi minyak Dalam tahap ini minyak dimurnikan dari berbagai macam kotoran yang lebih halus lagi. Hasil akhir dari proses sentrifusi ini adalah minyak dengan kadar kotoran kurang dari 0,01%. c. Pengeringan hampa

Dalam tahap ini kadar air minyak diturunkan sampai 0,1%. Proses pengeringan hampa dilakukan dalam kondisi suhu 95 oC dan tekanan -75 cmHg. d. Pemurnian minyak di dalam tangki lumpur Proses pemurnian di dalam tangki lumpur bertujuan untuk memisahkan minyak dari lumpur. e. Strainer Dalam tahap ini minyak dimurnikan dari sampah-sampah halus. f. Pre Cleaner Proses pre cleaner bertujuan untuk memisahkan pasir-pasir halus dari slude. g. Sentrifusi lumpur Dalam tahap ini minyak dimurnikan kembali dari air dan kotoran. Prinsip yang digunakan adalah dengan memisahkan bahan berdasarkan berat jenis masing-masing bahan. h. Sentrifusi Pemurnian minyak Tahap ini hampir sama dengan sentrifusi lumpur, hanya putaran sentrifusi lebih cepat. i. Pengeringan minyak Dalam proses pengeringan minyak kadar air yang terkandung di dalam minyak diturunkan. Proses ini berlangsung dalam tekanan -75 cmHg dan suhu 95 oC. 6. Pemisahan Biji Dengan Serabut (Depeicarping) Ampas buah yang masih mengandung serabut dan biji diaduk dan dipanaskan sampai keduanya terpisah. Selanjutnya dilakukan pemisahan secara pneumatis. Serabut selanjutnya dibawa ke boiler, sedangkan biji disalurkan ke dalam nut cleaning atau polishing drum. Tujuannya adalah agar biji bersih dan seragam. 7. Pengeringan Dan Pemisahan Inti Sawit Dari Cangkang Setelah dipisahkan dari serabut selanjutnya biji dikeringkan di dalam silo dengan suhu 56 oC selama 12-16 jam. Kadar air biji diturunkan sampai 16%. Proses pengeringan mengakibatkan inti sawit menyusut sehingga mudah untuk dipisahkan. Untuk memisahkan inti sawit dari tempurungnya digunakan alat hydrocyclone separator. Setelah terpisah dari tempurungnya inti sawit selanjutnya dicuci sampai bersih. Proses

selanjutnya inti dikeringkan sehingga kadar airnya tinggal 7,5%. Proses pengeringan dilakukan dalam suhu di atas 90 C.

III. PRODUK TURUNAN KELAPA SAWIT DAN PROSES PROSESINYA Produk turunan kelap sawit merupakan manfaat yang didapat dari pengolahan lebih lanjut dari kelap sawit, yaitu minyak dasar yang dihasilkan dari kelapa sawit (Crude Palm Oil). Olahan lebih lanjutnya bisa berbentuk Revined Palm Oil maupun produk turunan lainya. Produk-produk ini dibuat berdasarkan spesifikasi kelapa sawit yang dipanen yaitu berdasarkan standar mutu internasional meliputi ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, Peroksida, dan ukuran pemucatan. Produk minnyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas, yaitu: 1. berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembapan dan kadar kotoran 2. berhubungan dengan rasa, aroma, dan kejernihan serta kemurnian produk Berdasarkan faktor-faktor mutu tersebut, maka didapat hasil pengolahan turunan kelapa sawit seperti: 1. Crude Palm Oil 2. Crude Palm Stearin 3. RBD Palm Oil 4. RBD Olein 5. RBD Stearin 6. Palm kernel 7. Palm kernel Oil 8. Palm kernel fatty acid 9. Palm kernel expeller 10. Palm kernel Pellet 11. Palm kernel Charcoal 12. palm cooking Oil 13. Refined palm Oil 14. Refined Bleached Deodorised 15. Refined Bleached deodorised Stearin

♦ Pangsa produksi dan konsumsi serta pemanfaatan minyak sawit: 1. industri makanan mentega, shortening, coklat, additive, es cream, pakan ternak, minyal goring 2. produk obat-obatan dan kosmetik krim, shampoo, lotion, pomade, vitamin dan betakaroten 3. industri berat dan ringan industri kulit untuk membuat kulit halus dan lentur serta tahan terhadap temperature tinggi, cold rolling dan fluxing agen pada industri perak, dan sebagai bahan pemisah dari material cobalt dan tembaga di industri logam. 4. industri kimia Bahan kimia yang digunakan untuk ditergen, sabun dan minyak. Sisa-sisa dari industri minyak sawit, dapt digunakan sebagai bahan bakar boyler, bahan semir, furniture dan bahan anggur. Selain itu pemanfaatna kelapa sawit berupa ampas tandan kelapa sawit merupakan sumber pupuk kalium dan berpoteni untuk memproses menjadi pupuk organic melalui permentasi (pengomposan) aerob dengan penambahan mikroba alami yang akan memperkaya pupuk yang dihasilkan. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternative pupuk organic sehingga memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi. Bagi perkebunan kelapa sawit dapat menghemat penggunaan pupuk sintesis sampai dengan 50 %. Pemanfaatn ini sesuai spesivikasi kebutuhan produk, maka dapat diturunkan lagi menjadi: 1. produk turunan CPO Produk turunan CPO selain minyak goreng, kelapa sawit dapat dihasilkan margarine, shortening, vanaspati, ice cream, bakery fast, bio diesel. Khusnya untuk biodiesel permintaan akan produk ini pada beberapa tahun mendatang akan semakin meningkat, terutama dengan diterapkannya kebijaksanaan dibeberapa Negara eropa dan jepang untuk menggunakan renewable energy. 2. produk turunan minyak inti sawit Dari produk turunan minyak inti sawit dapat dihasilkan shortening, cocoa butter, substitute, speciality fast, ice cream, sabun, shampoo dan kosmetik.

3. produk turunan Oleochemicals kelapa sawit Dari produk turunan minyak kelapa sawit dalam bentuk oleochimical dapat dihasilkan methyl esters, plastic, textile, detergen, produk dan food protective coatings.

LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 1. Pembibitan

Gambar 2. Perkebunan

Gambar 3. Varietas tanaman sawit

Gambar 4. buah muda

Gambar 5. buah matang

Gambar 6. TBS (Tandan Buah Segar)

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010.(online) http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/kelapa-sawit. Diakses pada tanggal 19 Juni 2011 Anonim 2008. (online) http://budidayakelapasawit.blogspot.com/2008/01/pemiliharaanpada-pembibitan.html. Diakses pada tanggal 19 Juni 2011 Anonim. 2010. (online) http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit. Diakses pada tanggal 19 Juni 2011

TUGAS AKHIR PERKEBUNAN Kelapa sawit DI BINA OLEH Ir. Yopie moelyohadi, m.si

Muhammad Arta kusuma 42200800

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->