Kegiatan membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dengan membaca dapat memperkaya

dan memperluas wawasan kehidupan, sehingga pembaca semakin mampu untuk mendewasakan diri. Proses pendewasaan diri melalui membaca merupakan pengejawantahan dari konsep humaniora. Dengan demikian, sesungguhnya kegiatan membaca membawa misi humaniora (Koendjono, 1987: 86) Hal ini juga ditekankan oleh Tarigan (1986) bahwa membaca merupakan salah satu keterampilan bahasa yang harus dikuasai. Apabila seseorang mampu menangkap ide secara tepat di dalam bacaan maka ia dikatakan telah memahami isi bacaan. Untuk memahami isi bacaan diperlukan kemampuan penguasaan kosakata (Tarigan, 1986:14). Berkaitan dengan itu, Aswandi (1991: 42) mengatakan bahwa bagaimanapun baiknya penguasaan kosakata dan cara membaca tidak ada artinya, kecuali pembaca tahu maknanya. Jika tidak demikian, mereka akan mengalami kesuliatan dalam memahami isi bacaan. Senada dengan itu, Tarigan (1986: 9) mengemukakan bahwa tujuan utama membaca adalah untuk mencari informasi menyangkut isi dan memahami makna bacaan. Nuttal (1982) mengartikan reading comprehension sebagai interpretasi symbol verbal yang bermakna. Ini berarti bahwa membaca merupakan suatu hasil interaksi antara persepsi simbul graphic yang merepresentasikan ketrampilan bahasa. Dalam proses ini penulis suatu teks bacaan mengharapkan pembacanya untuk mampu memahami ide yang tersirat dan tersurat didalamnya. Comprehension atau pemahaman dalam membaca memegang suatu peranan penting. Menurut Wirama Jaya (2002: 6) inti dari aktivitas membaca adalah kemampuan untuk mendapatkan suatu makna yang tepat dari informasi tertulis yang dibaca, maka dari itu pembaca memerlukan pengetahuan sebagai elemen dasar dari comprehension. Berkaitan dengan hal ini, Carnine, et.al (1984) menyatakan bahwa reading comprehension adalah suatu proses berpikir melalui membaca. Suatu proses yang berdasar pada ketrampilan intelektual kognitif, pengalaman, dan ketrampilan bahasa si pembaca. Greenwood (1985) juga menyatakan bahwa ketrampilan yang diperlukan oleh siswa untuk memahami teks bacaan adalah (1) mereka mampu

tidak hanya sekedar merangkai makna setiap kata yang tersusun. dan meringkas (summarizing). Sehubungan dengan hal tersebut.k (1984:145) menyatakan bahwa pemahaman membaca adalah suatu aktivitas untuk mengerti dan mendapatkan ide dibalik sebuah kalimat atau paragraph. Dubin (1982) menyatakan bahwa dalam memahami teks tertulis. Carnine. (3) mereka mengetahui hubungan antara ide-ide pokok beserta dengan pengembangannya. Ia juga mengemukakan bahwa pemahaman membaca ditandai dengan kemampuan siswa menjawab pertanyaan tentang bacaan tersebut.k.mengidentifikasi ide pokok. para siswa diharapkan mampu menyerap informasi dengan menggunakan keterampilan pemahaman membaca. Dengan demikian. d. (4) mereka mampu memahami apa yang tersirat didalam teks bacaan. pengetahuan kosakata untuk membaca efektif (vocabulary knowledge for effective reading). Shepherd (1979) juga meyakini bahwa pemahaman membaca merupakan kemampuan siswa memahami informasi yang disampaikan oleh penulis. Pemahaman membaca memerlukan beberapa keterampilan. yaitu: membaca sepintas kilas (scanning). dalam kelas membaca guru bahasa Inggris harus memiliki kemampuan mengajar. sebagaimana yang dinyatakan oleh Dubin (1982) sorang guru hanya bisa membantu siswa memahami bacaan apabila dia mampu mengajar siswa dengan baik. Dengan demikian. membuat kesimpulan tentang informasi yang implisit (making inference). materi atau bahan bacaan haruslah dipilih sehingga sesuai . Mereka membutuhkan kemampuan untuk menguhungkan informasi yang mereka dapatkan dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya. atau reading between the line dan terakhir mereka dapat menarik kesimpulan. Keberhasilan memahami suatu bacaan sangat bergantung pada tingkat kemampuan bahasa siswa dan tingkat kesulitan bahasa yang digunakan penulis. Lebih jauh. Memiliki kemampuan mengajar sangatlah penting. membaca sepintas dengan tujuan (skimming). yaitu siswa mampu menemukan informasi umum dari suatu teks. (2) mereka mampu mengetahui dan mengungkapkan kembali informasi spesifik yang mereka dapat pada teks bacaan. menafsirkan (previewing and predicting).

perbandingan. memberikan contoh sebanyak-banyaknya mengenai konsep yang baru itu. Lebih dari itu. Tulalessy (1995) berpendapat bahwa membaca mahir (avented reading) harus mulai diajarkan pada siswa kelas 1 SLTP sehingga siswa SLTP bisa menuju pada membaca di seberang baris (reading beyond the lines). mengingat siswa akan lebih termotivasi untuk membaca teks yang bisa mereka pahami. menolak. Secara karakteristik. pada peringkat yang lebih tinggi. melainkan pula memahami. berbicara. perbandingan metaforis untuk menjembatani apa yang telah mereka ketahui dengan halhal baru atau asing. Aspek-aspek bahasa tersebut antara lain keterampilan menyimak. Menurut Sujana (1995) langkah-langkah pembelajaran menggunakan teknik skema adalah: 1. Kemampuan memahami aspek-aspek tersebut sangat menentukan keberhasilan dalam proses komunikasi. membandingkan dan meyakini pendapat-pendapat yang ada dalam bacaan. Sebenarnya. menerima. menggunakan analogi. Membaca pemahaman inilah yang dibina dan dikembangkan secara bertahap pada sekolah (Tompubolon: 1987). (Dubin.dengan tingkat kemampuan bahasa siswa. terutama membaca pemahaman bukanlah sebuah kegiatan yang pasif. bahkan kalau perlu. 1982:127) Berbahasa pada dasarnya adalah proses interaktif komunikatif yang menekankan pada aspek-aspek bahasa. namun dalam penggunaan bahasa sebagai proses komunikasi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Pembelajaran membaca pemahaman menggunakan teknik skema merupakan salah satu upaya tepat karena dengan teknik skema siswa harus menghubungkan pengalamannya dengan pengalaman yang ada dalam buku teks. 3. . membaca dan menulis. 2. Membaca. Hal ini sangat penting. bersikap positif terhadap apa yang diketahui murid jadikanlah apa yang telah diketahui murid itu sebagai batu loncatan atau jembatan dalam usaha menolong mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan. membaca itu. keempat keterampilan itu berdiri sendiri. bukan sekedar memahami lambang-lambang tertulis.

(3) memperoleh kesenangan. (4) mengganti pengalaman estetika yang sudah usang. Artinya. atau penyakit tertentu. tujuan membaca adalah (1) memperoleh informasi faktual. 5. semakin kuat tujuan seorang dalam membaca maka semakin tinggi pula kemampuan orang itu dalam memahami bacaannya. kalimat. Hal menarik diungkapkan oleh Nurhadi (1987) bahwa tujuan membaca akan mempengaruhi pemerolehan pemahaman bacaan. memberikan contoh sebanyak-banyaknya mengenai konsep yang baru itu. (2) memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis. metaforis untuk menjembatani apa yang telah mereka ketahui dengan halhal baru atau asing. Lebih lanjut Nurhadi (1987) yang mengutip pendapat Waples (1967) menuliskan bahwa tujuan membaca adalah : (1) mendapat alat atau cara praktis mengatasi masalah. Tujuan Membaca Secara umum. (2) mendapat hasil yang berupa prestise yaitu agar mendapat rasa lebih bila dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya. Jenis Membaca Membaca Pemahaman Membaca pemahan merupakan suatu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memahami bacaan secara tepat dan cepat. (5) menghindarkan diri dari kesulitan. dan wacana.4. 1987:11). frasa. (3) memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis seseorang. (2) memperoleh pemahaman. dan (5) mengisi waktu luang (Nurhadi. tujuan membaca adalah (1) mendapatkan informasi. Sejumlah aspek yang perlu diperlukan pembaca dalam membaca pemahaman adalah: (a) memiliki kosa kata yang banyak. Secara khusus. ketakutan. (b) memiliki kemampuan menafsirkan makna kata. . (4) memperoleh kenikmatan emosi. (3) memperkuat nilai pribadi atau keyakinan.

N. 1992. Henry Guntur. P. C. Jakarta: Depdikbud. Spada. (Kamidjan. . 416. Press Weaver.M.S. Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Cambridge: Bolt. Modul materi pokok membaca UT. Technical Report No. Kompetensi membaca bulletin pusat perbukuan. & Altwelger. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca?. and Newman Inc. N & Lightbown. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 1985. What’s the Difference?. 1987.H: Heinemann Rosenblatt. DAFTAR PUSTAKA • • • • • • • • • • • Muchlisoh. Bandung : Sinar Baru. B. Tarigan. N. Jakarta: Karunika. (1993). How Languages Are Learned. dkk. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdikbud. Membaca Cepat dan Efektif. Oxford: Oxford Univ. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. 2004. Beranek.H : Heinemann Sujana.(c) (e) memiliki kemampuan menangkap ide pokok dan ide penunjang. C. H. Tulalessy. Pengajaran membaca. D. memiliki kemampuan menangkap urutan peristiwa dalam bacaan (d) memiliki kemampuan menangkap garis besar dan rincian. (1988).(1994). A. Writing and Reading: The Transactional Theory. 1991. ________.H. (1994).M. 1987. L. Bandung: Ganesa. 1988. Reading Process and Practice from SocioPsycholinguistics to Whole language. Nurhadi. Bandung: Angkasa Tarigan.1996).Whole Language. Edelsky.