BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon. Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering dalam bentuk spora lalu diterbangkan angin. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru. Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan masyarakat sekitarnya. Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sakit sekitar dada. Di Indonesia, kasus baru tuberkulosis hampir separuhnya adalah wanita dan menyerang sebagian besar wanita pada usia produktif. Kira-kira 1-3% dari semua wanita hamil menderita tuberkulosis. Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada

1

tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan. Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) 5u dan bila hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita dengan TBC paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat dianosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada ibu yang sedang hamil bila diobati dengan baik tidak berbeda dengan wanita tidak hamil. Pada janin jarang dijumpai TBC kongenital, janin baru tertular penyakit setelah lahir, karena dirawat atau disusui oleh ibunya. 1.2 Rumusan Masalah Apakah ada hubungan antara tuberkulosis dengan kehamilan? Bagaimakah kehamilan yang disertai dnegan tuberculosis? 1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum Memberikan gambaran tentang kehmilan penyakit tuberculosis yang menyertai kehamilan tersebut. 1.3.2 Tujuan Khusus 1) Menjelaskan pengertian tuberculosis secara umum 2) Menjelaskan perjalanan penyakit tuberculosis dan penegakan diagnosa 3) Menjelaskan tuberculosis pada kehamilan

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tuberculosis

2.1.1 Definisi Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

Kuman tuberkulosis berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. Imunitas manusia menunjukkan imunitas alamiah terhadap tuberkulosis, dengan variasi individu yang besar. Usia merupakan faktor penentu penting bagi imunitas alamiah terhadap tuberkulosis. Imunitas spesifik antigen tergantung pada Limposit T. Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberkulosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian besar kuman ini terdiri dari asam lemak(Lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat tahan hidup padaa udara kering maupun dalam keadaan dingin(dapat bertahun-tahun dalam lemari es) Hal ini terjadi karena kuman yang ada pada sifat yang dormant, yang kemudian dapat bangkit kembali dan menjadi tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang kandungan oksigennya tinggi. Cara penularan melalui udara pernafasan dengan menghirup partikel kecil yang mengandung bakteri tuberkulosis, minum susu sapi yang sakit tuberkulosis. Masa tunas berkisar antara 4-12 minggu. Masa penularan terus berlangsung selama sputum BTA penderita positif. KLASIFIKASI TUBERKULOSIS Di Indonesia, Klasifikasi yang banyak dipakai adalah : 1) Tuberkulosis paru
3

sputum BTA negatif dan tanda-tanda klinis juga meragukan. Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk. b. Resiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan berfariasi antara 1 . Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.000 penduduk rata-rata terjadi 100 (seratus) penderita tuberkulosis setiap tahun. 4 . sistem saluran linfe. atau penyebaran langsung kebagian-nagian tubuh lainnya. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1 %.saluran napas.2 %. maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Tuberkulosis paru tersangka yang diobati. makin menular penderita tersebut. dapat diperkirakan bahwa daerah dengan ARTI 1 %. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. maka diantara 100. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan. Dari keterangan tersebut diatas. 10 (sepuluh) orang akan terinfeksi. Orang dapat terinfeksi bila droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. 2.2) Bekas tuberkulosis paru 3) Tuberkulosis paru tersangka yang dibagi menjadi : a. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman). kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak. penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Pada waktu batuk atau bersin. dimana 50 % penderita adalah BTA positif.1. diantaranya karena gizi buruk atau HIV/AIDS. hanya 10 % dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita TB. Tuberkulosis paru tersangka yang tidak diobati. melalui sistem peredaran darah.2 Penularan Tuberkulosis Sumber penularana penyakit tuberculosis adalah penderita TB BTA positif. sputum BTA negatif tapi tanda klinis positif. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan menjadi penderita TB.

tapi cukup 5 . Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya. ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). persendian. Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis antara lain hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas. dan ini disebut sebagai kompleks primer. Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Kadang kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman. sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus. Penderita TB paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efu si pleura. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah sakit. Pada kasus seperti ini. ginjal dan sebagainya. diperkirakan sekitar 6 bulan. dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer selama 4 . pengobatan dengan OAT tidak diperlukan. akibatnya dalam beberapa bulan. kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial. yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit. pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. yang bersangkutan akan menjadi penderita Tuberkulosis. Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer. Keadaan ini seringkali dikelirukan dengan kasus kambuh. bronkiectasis dan fibrosis pada paru.6 minggu. Masa inkubasi.Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. saluran linfe akan membawa kuman TB ke kelenjar linfe disekitar hilus paru. tulang. Meskipun demikian.

Kalau hasil rontgen mendukung TB. seperti tuberkulosis. Bila hasil rontgen tidak mendukung TB. dan demam meriang lebih dari sebulan. Tanpa pengobatan. 6 . TB. diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 . namun gejala Kalau klinis tetap mencurigakan positif.2 minggu. sehingga jika terjadi infeksi oportunistik.diberikan pengobatan simptomatis. badan lemah. nafsu makan menurun. berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. 50 % dari penderita TB akan meninggal. misalnya biakan. rasa kurang enak badan (malaise). penderita harus dirujuk ke unit spesialistik. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian.1. Bila hasil rontgen mendukung TB. Bila tiga spesimen dahak negatif. Bila perdarahan berat. untuk mendukung diagnosis TB. batuk darah. lakukan pemeriksaan foto rontgen dada. Bila tidak ada perubahan. dan 25 % sebagai menjadi kronik yang tetap menular (WHO 1996). 2.Gejala lain yang sering dijumpai antara lain dahak bercampur darah. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. penderita tersebut bukan TB. Kalau hasil SPS tetap negatif. setelah lima tahun. maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.3 Diagnosis TB pada orang dewasa Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. diagnosis sebagai penderita TB BTA negatif rontgen positif. berat badan turun. 25 % akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi. maka jumlah penderita TB akan meningkat. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular Immunity). Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat. maka pemeriksaan lain. Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. Gejala umum tuberculosis antara lain batuk terus menerus dan berdahak selama 3 (tiga) minggu atau lebih. ulangi sebagai pemeriksaan penderita TB dahak BTA SPS : hasil SPS didiagnosis positif. sesak napas dan rasa nyeri dada.

rifampicin. biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini. pengontrolan efektif TBC mengurangi pasien TBC tersebut. Efek negatif yang muncul jika berhenti minum obat adalah munculnya kuman TBC yang resisten terhadap obat. Untuk terapi. Sampai saat ini. dan kuman tersebut menyebar. Adapun obat TBC yang biasanya digunakan adalah isoniazid. sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan 2.1. untuk benar-benar sembuh dari TBC diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. dan melakukan pengawasan langsung.Karena yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC itu sendiri. Angka ini 7 . Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting. Jika ini terjadi. Setelah minum obat TBC biasanya gejala TBC bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik.4 Pengobatan Tuberkulosis Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TBC. dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. dan ethambutol. Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang.who. DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TBC saat ini. yaitu terapi dan imunisasi.int). melakukan pengobatan. pyrazinamide. WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). pengendalian TBC akan semakin sulit dilaksanakan. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TBC saat ini. Di Indonesia DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000 (http:www. Orang ini kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. streptomycin. Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TBC berikutnya. Walaupun demikian. Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten. yaitu mendeteksi pasien. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC.

sehingga diputuskan bahwa tes Tuberculin tidak perlu lagi dilaksanakan. Amerika Serikat tidak melakukan vaksinasi BCG. Bahkan Jepang telah memutuskan untuk melakukan vaksinasi BCG terhadap semua bayi yang lahir tanpa melakukan tes Tuberculin. Jika hasil tes positif. Vaksin TBC. Sistem deteksi dan diagnosa yang rapi inilah yang menjadi kunci pengontorlan TBC di AS. agaknya masih perlu melaksanakan vaksinasi BCG tersebut. masih harus waspada terhadap serangan TBC ini. diberikan sebelum berumur dua bulan. Di Indonesia. untuk tahun 2001. dianggap semua anak tidak terinfeksi kuman TBC. 70 persen Pengontrolan TBC yang kedua adalah imunisasi. Karena itu. pemberian dua atau tiga kali tidak berpengaruh. Pendapat yang kedua adalah perlunya imunisasi. Bakteri ini menyebabkan TBC pada sapi. Tingkat efektivitas vaksin ini berkisar antara 70-80 persen. dianggap telah terinfeksi TBC dan tidak akan diberikan vaksin. Vaksin ini dikembangkan pada tahun 1950 dari bakteri M tuberculosis yang hidup (live vaccine). yaitu 85 persen. jumlah kasus dugaan (suspected cases) jauh akan berkurang. Karena tingkat efektivitasnya 70-80 persen. Negara-negara Eropa dan Jepang adalah negara yang menganggap perlunya imunisasi. Imunisasi akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyaki TBC. Amerika Serikat adalah salah satu di antaranya. tes yang dilakukan untuk mendeteksi ada-tidaknya antibodi yang dihasikan oleh infeksi kuman TBC. Karena jarangnya kasus TBC di Jepang. Karena efektivitas vaksin tersebut tidak sempurna. vaksinasi BCG hanya diperlukan sekali seumur hidup. karenanya bisa berkembang biak di dalam tubuh dan diharapkan bisa mengindus antibodi seumur hidup. sehingga memudahkan mendeteksi pasien TBC. sebagian besar rakyat bisa dilindungi dari infeksi kuman TBC. Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak. Dengan melaksanakan vaksinasi. Karena itu. jauh di bawah target WHO. tetapi mereka menjaga ketat terhadap orang atau kelompok yang berisiko tinggi serta melakukan diagnosa terhadap mereka. secara global ada dua pendapat tentang imunisasi TBC. tapi tidak pada manusia. yang dikenal dengan nama BCG terbuat dari bakteri M tuberculosis strain Bacillus Calmette-Guerin (BCG).melebihi target WHO. tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. Pendapat pertama adalah tidak perlu imunisasi. Berdasarkan data WHO. Selain itu. Imunisasi TBC tidak sepenuhnya melindungi manusia dari serangan TBC. walaupun telah menerima vaksin. Pasien yang terdeteksi akan langsung diobati. untuk selanjutnya 8 . tingkat deteksi hanya 21 persen.

dilakukan terapi DOTS untuk pasien yang terdeteksi. Lebih dari 50 persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.1 Pengaruh kehamilan pada tuberkulosis paru Tidak selalu mudah untuk mengenali ibu hamil dengan tuberkulosis paru. 2. apalagi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala yang khas seperti badan kurus. Pengaruh tuberkulosis pada persalinan.150 diantaranya adalah pengidap TB paru (M Iqbal. anemia dan keadaan medis maternal merupakan dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal. hipoproteinemia. 2007 dalam http://www. Angka reaktifasi tuberkulosis paru-paru kira-kira 5-10% tidak ada perbedaan antara mereka yang hamil maupun tidak hamil. Tetapi kehamilan bisa meningkatkan risiko tuberkulosis inaktif terutama pada post partum. Status nutrisi yang jelek.com/) Efek TB pada kehamilan tergantung pada beberapa factor antara lain tipe. 4. Reaktifasi tuberkulosis paru yang inaktif juga tidak mengalami peningkatan selama kehamilan.2. Pengaruh tuberkulosis pada bayi 2. yaitu vaksinasi dan terapi perlu dilakukan untuk memberantas TBC dari bumi Indonesia.300 wanita hamil. dan kemudahan mendapatkan fasilitas diagnosa dan pengobatan TB. Kedua pendekatan.mail-archive. Pengaruh tuberkulosis pada kehamilan 3. Pengaruh kehamilan pada tuberkulosis 2. batuk menahun atau hemaptoe.2. Stressor tersebut secara simultan mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Tuberkulosis aktif tidak membaik atau memburuk dengan adanya kehamilan.2 Tuberkulosis pada kehamilan Perjalanan Penyakit Tuberkulosis Pada Kehamilan 1. 9 .2 Efek tuberculosis terhadap kehamilan Kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor yang berbeda pada ibu hamil. status nutrisi ibu hamil. letak dan keparahan penyakit. ada tidaknya penyakit penyerta. 2. status imunitas. usia kehamilan saat menerima pengobatan antituberkulosis.

2. kemungkinan akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang.okezone. Idealnya. Namun.biasanya diberikan obat-obatan TB yang aman bagi kehamilan seperti Rifampisin. wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai tuntas. induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB.com/index. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi. Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus tidak siap menerima hasil konsepsi. Selain paru-paru. selaput otak. Bahkan. tulang. serta kulit. jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan gangguan kesuburan. maka akan ada sedikit risiko terhadap janin. Harold Oster MD. jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi. Kehamilan dapat berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma akibat kehamilan akan menyebabkan kavitas paru bagian bawah mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar paru dan jaringan limfa. INH dan Etambutol.okezone.com/index.2007 dalam http://www.2 Efek tuberculosis terhadap janin Menurut Oster.php jika kuman TB hanya menyerang paru.Untuk meminimalisasi risiko. khususnya wanita usia reproduksi. sebelum memutuskan untuk hamil.Usia kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB. kemungkinan untuk hamil masih tetap ada.php mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. kuman TB juga dapat menyerang organ tubuh lain seperti usus. dan sendi. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki anak menjadi tertutup sama sekali. Namun. 2.2007 dalam http://www. TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB atau yang pernah mengidap TB. Pada awal abad 20. dimana wanita tersebut memerlukan perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan 10 .

risiko juga meningkat pada janin. kecil masa kehamilan. hati dan limpa membesar. Dalam suatu tinjauan (Snider.com/pqdweb tentang efek ekstrapulmoner tuberkuosis. Kushagradhi TB Ghosh. piridoksin harus pula diberikan sebagai suplemen untuk mengurangi kemungkinan neurotoksisitas yang potensial pada janin. Pengaruh utama tuberculosis terhadap kehamilan adalah mencegah terjadinya konsepsi sehingga banyak penderita tuberculosis yang mengalami infertilitas. 11 . mempunyai berat badan lahir rendah.seperti prematur. Penularan kongenit l a sampai saat ini masih belum jelas. Penelitian yang dilakukan oleh Narayan Jana.bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. bayi dengan APGAR skore rendah segera setelah lahir (19% : 3%). demam. Penyakit tuberculosis yang aktif selalu dapat diobati paling tidak dengan dua . berat badan lahir rendah <2500. Namun juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%).dkk 1980) tidak menemukan frekuensi cacat lahir pada anak-anak yang ibunya mendapatkan pengobatan isoniazid. Prognosis bagi wanita hamil dengan penyakit tuberculosis yang aktif telah mengalami perbaikan yang luar biasa selama waktu 30 tahun terakhir ini.umi. KalaVasistha.macam preparat tuberculosis. Gejala TB congenital biasanya sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi. dan meningkatkan kematian perinatal 6 kali lipat. Kelainan auditorius dan vestibuler yang ringan pernah ditemukan pada terapi dengan streptomisin. didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak berefek terhadap kahamilan. gangguan napas. Subhas C Saha. Selain itu. Jika seorang wanita positif tuberculosis. seperti abortus. terhambatnya pertumbuhan janin. riwayat penyakit harus dianamnesis dengan cermat dan pemeriksaan fisik yang lengkap harus dilakukan dengan melakukan foto thorks dan bagian abdomen dilindungi ketika pemeriksaan kardiologi itu dilakukan. 2 x lipat meningkatkan persalinan premature. Kalau isoniazid digunakan selama kehamilan. Bayi dari wanita yang menderita tuberculosis. persalinan dan hasil konsepsi. kelahiran prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan amnion (disebut TB congenital).apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah lahir. Beberapa preparat tuberculosis urutan pertama tidak terlihat memberikan efek yang merugikan bagi janin. 1999 dalam http://proquest. ethambutol maupun rifampisin selama kehamilannya. berat badan rendah.

3 Tes Diagnosis TB pada Kehamilan Bakteri TB berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam. Penyakit TB biasanya menular pada anggota keluarga penderita maupun orang di lingkungan sekitarnya melalui batuk atau dahak yang dikeluarkan si penderita. Karena itu disebut basil tahan asam (BTA).murah dan cukup reliable. Infeksi neonatal tidak mungkin terjadi jika ibunya yang menderita tuberculosis aktif telah berobat minimal 2 minggu sebelum bersalin atau kultur BTA mereka negative. Diagnosis dengan BTA mudah dilakukan. keduanya mempeunyai manfaat yang cukup besar.Jika hasilnya negative. seperti pemeriksaan BTA dan rontgen (foto torak). 2. Kuman TB cepat mati terpapar sinar matahari langsung. Bakteriemia selama kehamilan dapat menyebabkan infeksi plasenta. setengah kasus lagi infeksi pada bayi disebabkan aspirasi secret vagina yang terinfeksi selama proses persalinan. Jadi. sehingga janinpun dapat terinfeksi. Seseorang yang terpapar kuman TB belum tentu akan menjadi sakit jika memiliki daya tahan tubuh kuat karena sistem imunitas tubuh akan mampu melawan kuman yang masuk. pengobatan tidak diberikan sampai sesudah persalinan bayi. Karena adanya risiko untuk terjadinya penyakit tuberculosis yang aktif pada bayi.tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat gelap dan lembap. Bayi yang lahir dari ibu dengan tuberculosis cukup rentan terhadap penyakit tersebut. Kelemahan pemeriksaan BTA adalah hasil pemeriksaan baru positif bila terdapat kuman 5000/cc dahak. yaitu dengan pemberian isoniazid selama satu tahun sebagai tindakan profilaksis. Diagnosis TB bisa dilakukan dengan beberapa cara. Hal yang penting adalah bagaimana menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. maka terapi profilaksis dengan isoniazid ataukah tindakan vaksinasi BCG.2. kejadian ini jarang tetapi fatal. Pada setengah kasus infeksi didapatkan penyebaran hematogen pada hati atau paru melalui vena umbilikalis. pasien TB yang punya kuman 4000/cc dahak misalnya. Adapun rontgen memang dapat mendeteksi pasien dengan BTA negatif. tapi kelemahannya 12 . tidak akan terdeteksi dengan pemeriksaan BTA (hasil negatif). Karena itu bayi harus diisolasi segera dari ibunya yang dicurigai tuberculosis aktif. kalaupun ada. Dalam jaringan tubuh. kuman ini dapat melakukan dormant (tertidur lama selama beberapa tahun).

Kehamilan tidak akan menurunkan respons uji tuberkulin.2. Diagnosis TB pada wanita hamil dilakukan melalui pemeriksaan fisik (sesuai luas lesi). Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB. Obat sekunder adalah obat yang digunakan dalam kasus resisten obat atau intoleransi terhadap obat. ethionamide. pyrazinamide. Di beberapa negara digunakan tes untuk mengetahui ada tidaknya infeksi TB. obat tersebut adalah isoniazid. pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB. atau terjadi anergi. kanamycin. yaitu tidak ada infeksi TB. rifampisin. serta uji tuberkulin. penggunaanPyrazinamide dalam kehamilan.4 Penatalaksanaan medis pada Kehamilan dengan TB Regimen yang sama direkomondasikan pada wanita hamil dengan TB maupun wanita non hamil dengan TB kecuali streptomycin. maka ada tiga kemungkinan. sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. terutama jika hasil BTA-nya negatif. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. foto toraks dengan pelindung di perut bisa dilakukan. voimycin dan capreomycin. yang termasuk adal h a paminasalisilic acid. 13 . Ada 11 obat tuberkulosis yang terdapat di Amerika Serikat. ethambutol dan streptomycin. Untuk mengetahui gambaran TB pada trimester pertama. 4 diantaranya dipertimbangkan sebagai obat primer karena kefektifannya dan toleransinya pada penderita. PENGOBATAN Pengobatan medis Pengobatan tuberculosis aktif pada kehamilan hanya berbeda sedikit dengan penderita yang tidak hamil.sangat tergantung dari keahlian dan pengalaman petugas yang membaca foto rontgen. Diagnosis dengan interferon gamma bisa mengukur secara lebih jelas bagaimana beratnya infeksi dan berapa besar kemungkinan jatuh sakit. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif. pemeriksaan laboratorium (apakah ditemukan BTA?). 2. cycloserine. melalui interferon gamma yang konon lebih baik dari tuberkulin tes.

murah. Isoniazid termasuk kategori obat C dan ini perlu dipertimbangkan keamanannya selama kehamilan. Pengobatan ini tidak dianjurkan jika diketahui penderita telah resisten terhadap isoniazid. Pada tuberkulosis aktif dapat diberikan pengobatan dengan kombinasi 2 obat biasanya digunakan isoniazid 5 mg/kg/hari (tidak lebih 300 mg/hari) dan ethambutol 15 mg/kg/hari. Pengobatan ini mungkin dapat ditunda dan diberikan pada postpartum. Pengobatan dilanjutkan sekurang-kurangnya 17 bulan untuk mencegah relaps. dapat ditambah dengan rifampisin tetapi stretomycin sebaiknya tidak digunakan.Pengobatan selama setahun dengan isoniazid diberikan kepada mereka yang tes tuberkulin positif. Rifampisin 10 mg/kg/hr. dan tidak boleh lebih 300 mg per hari bersama pyridoxine 50 mg per hari. Beberapa rekomendasi menunda pengobatan ini sampai 3-6 bulan post partum. jika resisten terhadap obat ini dapat dipertimbangkan pengobatan dengan pyrazinamide. maka sekarang direkomendasikan cara pengobatan dengan menggunakan kombinasi 4 obat pada penderita yang tidak hamil dengan gejala tuberkulosis. pirazinamide atau streptomycin diberikan sampai tes resistensi dilakukan. Alternatif lain dengan menunda pengobatan sampai 12 minggu pada penderita asimtomatik. Isoniazid 5 mg/kg. Kecuali streptomycin yang dapat menyebebkan ketulian kongenital. 2. Ini termasuk isoniazid.5 gram sehari(biasanya 25 mg/kg/hari selama 6 minggu kemudian diturunkan 15 mg/kg/hr. dapat diterima penderita) dan merupakan 14 . 3. Pengobatan ini diberikan minimal 9 bulan. The center for disease control(1993) merekomendasikan resep pengobatan oral untuk wanita hamil sebagai berikut : 1. Sayangnya. Beberapa obat tuberkulosis utama tidak tampak pengaruh buruknya terhadap beberapa janin. maka sama sekali tidak boleh dipakai selama kehamilan. dan tidak lebih dari 2. Terapi dengan isoniazid mempunyai banyak keuntungan (manjur. Jika dibutuhkan pengobatan dengan 3 obat atau lebih. Karena banyak terjadi resistensi pada pemakaian obat tunggal. gambaran radiologi atau gejala tidak menunjukkan gejala aktif. Ethambutol 5-25 mg/kg/hari. penyembuhannya akan membawa waktu yang sangat lama. tidak lebih 600 mg sehari. Walaupun beberapa penelitian tidak menunjukkan efek teratogenik dari isoniazid pada wanita postpartum. Selain itu pyrazinamide 50 mg/hari harus diberikan untuk mencegah neuritis perifer yang disebabkan oleh isoniazid. rifampisin.

selanjutnya setiap 2 minggu selama sebulan sampai akhir pnegobatan. Gannguan saluran pencernaan 2. Bakteriologis : Biasanya estela 2-3 minggu pengobatan. bakteriologis dan radiologis tetap tidak ada perbaikan padahal penderita sudah diobati dengan dosis adekuat serta teratur. sputum BTA tetap diperiksa sedikitnya sampai 3x berturut-turut bebas kuman. hiperuresemia 4. sputum BTA mulai jadi negatif. hepatotoksik 3. gangguan N. selain itu kadang dapat terjadi kejang. Ethambutol : Neuritis optika. stupor. perlu dipikirkan adanya gangguan imunologis pada penderita tersebut.A. harus dicurigai adanya penyakit lain disamping tuberkulosis paru. Pyrazinamide : Hepatotoksik. Isoniazid : Hepatotoksik maka tes fungsi hati seharusnya dilakukan dan diulang secara periodik. Bila ini terjadi. yakni BTA positif pada 3 kali pemeriksaan biakan (3 bulan). Evaluasi pengobatan : 1. Bila bakteriologis ada perbaikan. Rifampisin : Sindrom flu. enselopati toksik yang paling jarang terjadi. Secara klinis hendaknya terdapat perbaikan dari keluhan-keluhan penderita seperti : batuk-batuk berkurang. skin rash/dermatitis 6. Pemeriksaan control sputum BTA dilakukan sekali sebulan. neuritis optik dan ataksia. Bila sudah negatif. berarti penderita mulai kambuh lagi tuberkulosisnya. Reaksi hipersensitif Neurotoksik yang sering adalah neuropati perifer yang dapat dicegah dengan pemberian vitamin B6. Efek Samping dari tiap-tiap obat tersebut ialah: 1. Klinis : Biasanya penderita dikontrol setiap minggu selama 2 minggu. dimana sputum BTA positif dan tanpa keluhan yang relevan pada kasus-kasus yang memperoleh kesembuhan. teratogenik 7. tetapi klinis dan radiologis.S : Hepatotoksis dan gangguan saluran cerna. nafsu makan bertambah. gangguan saluran cerna. Streptomicin : Nefrotoksik.pengobatan yang aman selama kehamilan. nefrotoksik. Etionamid : Hepatotoksik. 2. P. batuk darah hilang. Sewaktu-waktu mungkin terjadi silent bacterial shedding. Bila klinis.VIII kranial 5. 15 .

Penyakit lain yang menyertai tuberkulosis seperti DM. Adanya gangguan imunologis pada kehamilan. Kekurangan biaya pengobatan b. Lesi paru yang sakit terlalu luas/sakit berat b. Terjadinya resistensi obat 2. Lakukan tes resistensi kuman terhadap obat Bila sudah dicoba dengan obat tetapi gagal.Untuk mencegah kegagalan pengobatan pada kehamilan ini perlu adanya motivasi yang kuat dari penderita Penanggulangan terhadap kasus-kasus yang gagal pada kehamilan adalah : a.Kegagalan pengobatan Sebab-sebab kegagalan pengobatan pada kehamilan : 1. Drop out : a. c. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur : Menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara pemberiannya. Paduan obat tidak adekuat b. Merasa sudah sembuh c. Malas terlibat/kurang motivasi 3. Kegagalan pengobatan pada kehamilan ini dapat mencapai 50% pada pengobatan jangka panjang. Obat : a. alkoholisme dll. Minum obat tidak teratur/tidak sesuai dengan petunjuk yang diberikan d. Jangka waktu pengobatan kurang dari semestinya e. karena sebagian besar penderita tuberkulosis adalah golongan yang tidak mampu sedangkan pengobatan tuberkulosis memerlukan waktu yang lama dan biaya yang banyak. maka pertimbangkan akan pengobatan dengan pembedahan terutama pada penderita dengan kavitas. 16 . Penyebab kegagalan pengobatan yang terbanyak pada kehamilan adalah karena kekurangan biaya pengobatan atau merasa sudah sembuh. Penyakit : a. Dosis obat tidak cukup c.

Berikan isolasi yang memadai selama persalinan. .b.Istirahat yang cukup .Pemeriksaan kehamilan yang baik . ganti dengan paduan obat yang masih sensitif c. Bila ternyata terdapat resistensi terhadap obat.Plasenta harus diukur .Pemeriksaan antenatal care yang teratur . batuk darah. Laboratorium : Pemeriksaan BTA dan kultur. Terhadap penderita dengan riwayat pengobatan yang tidak teratur : .Bayi diperiksa untuk mengetahui adanya tuberculosis . berat badan menurun. demam. Nilai kembali tes resistensi kuman tterhadap obat. Anamnesis : Pernah kontak dengan pasien TBC. .Dukungan keluarga . nyeri dada. LED sangat tinggi c.Kelahiran dan periode pasca persalinan. keringat malam.Untuk perlindungan terhadap bayi yang tidak menunjukkan gejala dan tanda penyakit aktif berikan baik isoniazid maupun vaksinasi BCG. Diagnosis a. batuk kronis. 17 . d. b. PPD : (+) jika >10 mm Foto thorak tidak rutin dikerjakan pada kehamilan.Makan makanan yang bergizi .Teruskan pengobatan selama lebih 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan. Penanganan obstetri .

koreksi anemia. c. Persalinan : Kala II diperpendek hanya atas indikasi obstetri. a. dilanjutkan dengan 600 mg 2x seminggu selama 5-8 bulan 2. b. 3. dan tidak perlu tindakan apa-apa. c. Pada kala I. kegiatan fisik dikurangi. Bila proses tenang. dan baru dapat menyusui paling cepat bila ibu telah mendapat therapi antituberkulosis selama 3 minggu. bayi harus dipisahkan dari ibu. Diit TKTP. persalinan akan berjalan seperti biasa. dillanjutkan 700 mg 2x seminggu selama 5-8 bulan. b. Penanganan tuberkulosis dalam masa nifas a. Obstetri: Kehamilan : PNC teratur. kala I dan II diusahakan mungkin. Usahakan mencegah adanya infeksi tambahan dengan memberikan antibiotika yang cukup. Rifampisin 450-600 mg/hari selama 1 bulan. INH 400 mg/hari selama 1 bulan. Rawat bersama dengan bagian penyakit dalam b. Usahakan jangan terjadi perdarahan banyak : diberi uterotonika dan koagulasia. Pasca salin : 1. Bayi : Terapi INH profilaksis dan vaksinasi BCG. ibu hamil diberi obat-obat penenang dan analgetik dosis rendah. 18 . Medikamentosa . hal ini dilakukan dengan bekerja sama dengan ahli anestesi untuk memperoleh anestesi mana yang terbaik.Bila PPD positif tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinik diberikan : INH 400 mg selama 1 tahun.Pengelolaan a. istirahat cukup. Penanganan Tuberkulosis dalam persalinan. 1. Ethambutol 1000 mg/hari selama 1 bulan. Bila TBC paru (BTA +) : IR7H7E7 ± 5-gr 8 R2H2. 2. Kala II diperpendek dengan ekstraksi vakum/forceps. Bila TBC aktif. Bila proses aktif. Bila ada indikasi obstetrik untuk sectio caesarea.

Efek sampingnya dapat membesar dan terjadi ulkus. Pendapat ini masih diperdebatkan.c. tetapi keputusan akhir dilakukan dengan pertimbangan lingkungan sosial ibu. Setelah 6 bulan papul merah tadi dapat mengecil. Bila ada anemia sebaiknya diberikan tranfusi darah. maka kemoprofilaksis dengan isonizid 1 tahun dan vaksinasi BCG harus segera dilakukan sebelum menyerahkan bayi pada ibunya. 50% bayi baru lahir dari ibu yang menderita tuberkulosis aktif. Untuk mengurangi waktu pemisahan ibu yang menderita tuberkulosis aktif dengan bayinya.bovon yang telah dikembangkan 50 tahun yang lalu. harus dipisahkan dengan segera setelah lahir sampai pemeriksaan bakteriologi ibu negatif dan bayi sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup. segera dilakukan tubektomi. 19 . pemberian tuberculosis Pemberian ASI dari ibu yang meminum obat tuberculosis selama kehamilan dan tetap diteruskan estela persalinan tidak berbahay bagi bayi.1 ml intracutan pada regio deltoid jika divaksinasi. menderita tuberkulosis pada tahun pertamanya. Ibu dianjurkan segera memakai kontrasepsi atau bila jumlah anak sudah cukup. berlekuk dengan jaringan parut putih seumur hidup. agar daya tahan ibu kuat terhadap infeksi sekunder. d. ibu dapat dipercaya dapat mengobati diri sendiri dan bayinya yang baru lahir. dapat diberikan INH dan BCG segera setelah bayi lahir. Wanita yang tenderita tuberculosis dapat menyusui bayinya dengan menggunakan master sehingga Prognosis dapat mencegah terjadinya penularan pada bayi. bayi dipulangkan ke ibunya jika INH profilaksis telah diberikan sampai tes tuberkulin positif. Semua BBL dari ibu yang TBC aktif atau reaktif harus divaksinasi pada hari pertama kelahitan dengan dosis 0. Vaksin BCG termasuk golongan kuman hidup yang dilemahkan dari M. Dua syarat menggunakan cara pengobatan ini adalah kuman tuberkulosis ibu sensitiv terhadap INH dan penderita dapat dipercaya bisa Cara dan mampu memberikan ASI pada obat wanita tersebut dengan pada ibunya. Penanganan Bayi Baru Lahir Yang Sehat dari Ibu yang menderita Tuberkulosis Bayi baru lahir yang sehat dari ibu yang menderita tuberkulosis.

masa nifas dan janin.2. 2. Pasien dan keluarga harus tahu system pelayanan pengobatan TB sehingga pasien tidak mengalami drop out selama pengobatan dimana keluarga berperan sebagai pengawas minum obat bagi pasien. Perbaikan status nutrisi ibu dan pencegahan anemia sangat penting dilakukan untuk mencegah keparahan TB dan meminimalkan efek yang timbul terhadap janin. Prognosis pada wanita hamil sama dengan prognosis wanita yang tidak hamil. serta hal yang mungkin terjadi jika penyakit TB tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat.Pada wanita hamil dengan tuberculosis aktif yang diobati secara adekuat. Pendidikan tentang sanitasi lingkungan pada keluarga dan pasien penting diberikan untuk menghindari penyebaran penyakit lebih luas. tentang pengobatan yang diberikan dan efek sampingnya. secara umum tuberculosis tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kehamilan.amilan masih menjadi perdebatan. abortus terapeutik Sekarang tidak dilakukan lagi.5 Peran Bidan dalam Kehamilan dengan TB Dalam perawatan pasien hamil dengan TB bidan harus mampu memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga tentang penyebaran penyakit dan pencegahannya. 20 . Pemantuan kesehatan ibu dan janin harus selalu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi akibat TB.

Amd. nyeri dada.000.1 Pengkajian Data 3. T : 25 tahun No Register : 10281191 Nama suami : Tn. N Umur : 33 tahun Suku / bangsa : Jawa/Indonesia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat No. Telp : Islam : SMA : Karyawan pabrik : Rp 600. Riwayat Obstetri HPHT Menarche Siklus Banyaknya Lamanya haid Sifat darah Dismenorhea Fluor albus : : : : : : : : 1 November 2009 12 tahun 1 bulan Sedang 6 hari Merah segar Tidak Tidak Persalinan yang lalu 21 . keringat malam. Telp : Islam : SMP : Karyawan pabrik : Rp 700.1.2 Anamnesa Tanggal : 07 Juni 2010 1. nafsu makan menurun. susah tidur dan panas.1.1.00/bln : Kedungsroko 50A : 72165473 Suku / bangsa : Jawa/Indonesia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Alamat No.1 Identitas Nama klien Umur : Ny.Keb : Klien mengeluh batuk terus hingga sesak napas.BAB 3 ASKEB PADA IBU HAMIL DENGAN TBC 3.1 Subyektif 3. Klien mengatakan pernah menderita TBC ketika masih SMA dan dalam keluarga satu rumah sedang ada yang menderita TBC. 2.1.000. Keluhan Utama Oleh : Bidan Nailatul.1.00/bln : Kedungsroko 50A : 72165473 3.

Kehamilan N o Sua mi ke Um ur Keh Pen y Persalinan Nifa Peno l Jenis Penul Peny. kebersihan diri 4. s Anak Ma ti Lama Hidup menete ki K B K et Seks BB 1 1 Ater m - Bida n Spt B - - Laki 3000 g - 1. Riwayat kehamilan sekarang Pergerakan anak pertama kali Penyuluhan yang didapatkan : pada usia kehamilan 20 minggu : Gizi. Riwayat Penyakit Sistemik Jantung Asma Ginjal TBC Hepatitis DM Hipertensi HIV/AIDS Lupus Thalasemia : : : : : : : : : : Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada 6. Imunisasi : pelaksanaan imunisasi TT sebanyak 2 kali 5.5 tahun 6 bln - - 3. Riwayat Kesehatan Keluarga Jantung Asma Ginjal TBC Hepatitis DM : : : : : : Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada 22 .

9. Pola Aktivitas sehari-hari 9.1 Pola Nutrisi Makan tidak teratur.7 Pola Koping dan Stress Bila waktunya periksa kehamilan klien selalu diantar suaminya 23 .3 Istirahat Tidur Klien susah tidur di malam hari 9.2 Pola Eliminasi Sebelum hamil klien BAK 4x sehari.6 Pola Persepsi Bila sakit klien segera ke dokter. tidak ada tradisi tarak dan lainnya 9.Hipertensi HIV/AIDS Lupus Thalasemia 7.5 Pola Seksual Sebelum hamil klien melakukan hubungan istri 1 minggu tiga kali Selama hamil klien mulai jarang melakukan hubungan suami istri.4 Pola Aktivitas Sebelum hamil klien bekerja di pabrik tekstil dan selama hamil klien mengurangi jam kerjanya di pabrik. 1 minggu satu kali 9. Riwayat Sosial Perkawinan Kawin Lamanya : : : : Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada : : 1x 4 tahun 8. BAB 1 hari sekali Selama hamil klien BAK 6x sehari. Riwayat Psikososial Kehamilan direncanakan : Tidak direncakan Tradisi : : Ya Tidak Klien tidak menganut tradisi apa-apa. BAB 1 hari sekali 9. selama hamil klien slalu memerisakan diri ke dokter 9. nafsu makan menurun 9.

9 Pola Spiritual Klien selalu sholat 5 waktu. tidak berbau tidak ada chloasma gravidarum. Klien rajin mengikuti pengajian di daerahnya.9. Hidung 5.5 cm . Mulut : tidak ada gigi tanggal. tidak ada hyperpigmentasi 3. tidak ada polip. Mata 4.10Pola kognitif dan konseptual Klien tidak merasa terganggu dengan kehamilannya yang kedua ini 9. lebat.1 Status Generalis Kesadaran Tinggi Badan Berat Badan 3.1. tidak ada caries. Rambut 2.3 Inspeksi 1. 3. tidak berketombe. tidak ikhterus. tidak punya binatang peliharaan dan tidak memakai narkoba. kebersihan mulut baik.1.2. tidak ada sinusitus pendengaran tidak menurun. 9. tidak ada tumor mandklienla 24 : : : Agak lemah. tidak minum alkohol.2.11Pola Persepsi Diri Klien merasa sangat bahagia atas kehamilannya yang kedua ini 9.1.1. tidak ada stomatitis. tidak ada otitis media.2 Data Obyektif 3. tidak anemis. klien jarang mengikuti kegiatan PKK 9.12Pola Kebiasaan Klien tidak punya kebiasaan minum jamu.2 Gejala Vital Tensi Nadi Suhu Pernapasan Lila 3. Muka : : hitam.8 Pola Hubungan dan Peran Hubungan dengan suami dan keluarga harmonis. tidak rontok.2. batuk 150 cm 50 kg : : : : : 110/70 mmHg 84 x/menit 360C 22 x/menit 22. tidak merokok. kebersihan baik 6. Telinga : : : tidak kabur. tidak ada oedem. tidak conjungtivitis tidak ada sekret.

10. Leopold III : Bawah luberus klien sebelah kiri teraba keras.2. kasar dan yang nyaring DJJ positif dengan keteraturan 12 ± 11 ± 11 dengan frekuensi 136x/menit 3. pada kulit terjadi sianosis.7.1. Vagina : : terdapat striae albican dan linea alba. pergerakan napas yang tertinggal. seperti papan. pada kulit terjadi sianosis. Dada : : : pucat. tidak ada infeksi kelenjar bertolini maupun kelenjar skene. tidak ada herpes vaginalis. tidak melenting dan sulit digerakkan 2. tidak ada bekas operasi.2. suara napas melemah.2.1. Ekstrimitas bawah : tidak ada varices. memanjang seperti papan 3. Leopold II : Pada dinding perut klien sebelah kiri teraba keras.2.1. dingin dan lembab. tidak ada kemerahan di vagina. fluor albus tidak ada. 3. tidak ada luka perineum. Leopold I : TFU = 4 jari diatas pusat (24 cm) Teraba tidak bulat. Bagian terendah janin belum masuk PAP 4.4 Palpasi 1. Abdomen 11. tidak ruam. Ekstrimitas atas : tidak ada oedema. Leopold IV 3. tidak ada chylosis ada hyperpigmentasi. Bibir 8. tidak keras. tidak ada tumor leher adanya tanda-tanda penarikan paru. tugor kulit menurun 13. diafragma.5 Auskultasi Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah. tugor kulit menurun. dingin dan lembab. tidak ada kram tangan.1. tidak ada hypertiroid.7 Pemeriksaan Panggul Distansia spinarum : 27 cm 25 cm 19 cm 90 cm : Tidak dilakukan Distansia christarum : Conjungtiva eksterna : Lingkat panggul : 25 . tidak ada condiloma.6 Perkusi Suara ketok redup Reflek patela ka / ki : positif / positif 3. memanjang. 12. Leher 9. tidak ada kram kaki.

3.5 Planning 26 . : 11 mg/dl = negatif = negatif ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru Test Tuberkulosis 3. dengan TBC. usia kehamilan 30mg.1.2. tulang. kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru. intrauterine.8 Pemeriksaan Laborat Darah : sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah HB Urine : albumia reduksi Sputum : meningkat terjadi pada proses aktif.1. tunggal.2 Kebutuhan KIE tentang TBC dalam kehamilan 3. 3. penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak.9 Pemeriksaan Lain USG : Mantoux test positif : tidak dilakukan 3.2.1 Masalah Klien merasa cemas dengan kehamilannya 3. persendian. letak kepala.2 Analisa GiiP10001.3 Diagnosa Potensial Berpotensi terjadinya hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah). 3. keadaan jalan lahir normal.4 Tindakan Segera - 3.2.2. ginjal dan sebagainya. insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency). hidup.

4.5.2 Jelaskan kepada klien tentang TBC dalam kehamilan Rasionalisasi : klien mengetahui TBC dalam kehamilan 3.5.3 Lakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru Rasionalisasi : agar klien ditangani oleh ahli dalam penyakit TBC 3.6 Implementasi 3.7 Evaluasi 27 .1 Beritahu klien hasil pemeriksaan bahwa klien mengalami TBC dalam kehamilan Rasionalisasi : klien mengerti tentang keadaan kehamilan dan penyakit yang dialami 3.4 Berikan obat .4 Memberikan obat Rifampisin.5.6. INH dan Ethambutol 3.6.1 Memberitahu klien hasil pemeriksaan bahwa klien mengalami TBC dalam kehamilan 3.6 Anjurkan klien untuk banyak istirahat.3 Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru 3.5 Beritahu klien untuk selalu rutin dan taat minum obat Rasionalisasi : agar obat bekerja dengan baik 3.5.6.5.5.7 Menganjurkan klien untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan 3. makan yang teratur dan minum obat sesuai anjuran 3. 3.2 Menjelaskan kepada klien tentang TBC dalam kehamilan 3.3.5.3 Ethambutol 1000 mg/hari Rasionalisasi : untuk mengobati penyakit TBC 3.5 Memberitahu klien untuk selalu rutin dan taat minum obat 3.6.1 Rifampisin 450-600 mg/hari 3.4.5.2 INH 400 mg/hari 3.7 Anjurkan klien untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan Rasionalisasi : klien bersedia untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan 3.4.6.5.6 Menganjurkan klien untuk banyak istirahat. makan yang teratur dan minum obat sesuai anjuran Rasionalisasi : agar kondisi klien lebih membaik 3.5.6.6.

S : Klien mengatakan sudah mengerti tentang informasi dan penjelasan dari bidan ditandai dengan klien dapat menjelaskan kembali sebagian dari informasi tersebut O: Tekanan darah : 110/70mmHg Nadi : 36 0C : 22 x/menit TFU : 30 cm di atas simfisis pubis : 84x/menit TBJ : 1500 gram Suhu Pernapasan DJJ : 12 ± 11. letak kepala intrauterine. keadaan jalan lahir normal. INH 400 mg/hari. usia kehamilan 30 minggu.11 = 136x/menit HIS : (-) A: GIIP10001 tunggal. hidup. Ethambutol 1000mg/hari Memberitahu klien untuk selalu rutin dan taat minum obat Anjurkan klien untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi atau jika ada keluhan 28 . dengan TBC P : Lakukan kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru Berikan obat Rifampisin 450-600 mg/hari.

Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya.2 Saran Bagi bumil dengan TBC 1) Jangan ragu untuk memeriksakan penyakit tersebut karena jika terlambat atau tidka mendapatkan penanganan yang adekuat dapat berakibat buruk baikbagi janin maupun ibu hamil sendiri. 3) Keluarga memulai untuk perubahan ke pola hidup sehat 29 . bayinya dan masyarakat sekitarnya.1 Kesimpulan Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru. sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan.BAB 4 PENUTUP 4. 4. karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri. 2) Pemeriksaan kehamilan dan minum obat secara rutin dapat menghindari dari dampak buruk TBC pada kehamilan Bagi keluarga 1) Dukungan secara moril sangat dibutuhkan untuk kesembuhan pasien TBC terutama ibu hamil yang membutuhkan perhatian ekstra terhadap kehamilannya dna penyakit TBC tersebut 2) Keluarga senantiasa aktif memotivasi bumil dengan TBC tersebut supaya dapat meminum obat secara tuntas dan periksa kehamilan secara rutin. sehingga basil ini mengering dalam bentuk spora lalu diterbangkan angin.

Bagi bidan 1) Hendaknya lebih aktif dan mengawasi kerutinan ibu hamil untuk meminum obat TBC 2) Diharapkan dapat melakukan kunjungan jika ibu tersebut tidak aktif untuk periksa ANC 3) Diharapkan selalu memberi motivasi dna semangat bagi keluarga dna ibu 4) Bidan hendaknya sudah bisa mengantisipasi kemungkinan yang ada dan menyiapkan rujukan sewaktu-waktu diperlukan setelah berkolaborasi dengan dokter 30 .

html http://lely-nursinginfo. Sarwono.html http://lorenatazo.2006.DAFTAR PUSTAKA Prawirohardjo.com/2008/06/askep-ibu-hamil-dengan-tbc. buku ajar asuhan kebidanan (Varney¶s Midwifery) volume 1.com/2009/12/ibu-hamil-dengan-penyakit-tbc.2009. Jakarta : PT YBP-SP Varney. Jakarta :EGC http://keperawatan-gun.com/2007/06/pregnancy-and-tuberculosis. Helen. ilmu kebidanan.html 31 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful