P. 1
2011 KI Penetapan Dan Standar Kinerja

2011 KI Penetapan Dan Standar Kinerja

|Views: 252|Likes:
Published by Yogi Arjan

More info:

Published by: Yogi Arjan on Aug 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

Sections

  • PENDAHULUAN
  • 1. Deskripsi Singkat
  • 2. Prasyarat Kompetensi
  • 2.1. Standar Kompetensi
  • 2.2. Kompetensi Dasar
  • 1. Kegiatan Belajar (KB) 1
  • 1.1. Uraian dan Contoh
  • 1.2. Latihan 1
  • 1.3. Rangkuman
  • 1.4. Tes Formatif 1
  • 1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  • 2. Kegiatan Belajar (KB) 2
  • 2.1. Uraian dan Contoh
  • 2.1. Uraian dan Contoh
  • 2.2. Latihan 2
  • 2.3. Rangkuman
  • 2.4. Tes Formatif
  • 2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
  • PENUTUP
  • TES SUMATIF
  • DAFTAR ISTILAH
  • DAFTAR PUSTAKA

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI

KEPATUHAN INTERNAL

Disusun Oleh:

Purjono, Ak., M.Comm (Widyaiswara Madya) Ir. Agung Budilaksono, S.E., M.M. (Widyaiswara Muda)
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF SPESIALISASI

KEPATUHAN INTERNAL

Disusun Oleh:

Purjono, Ak., M.Comm (Widyaiswara Madya) Ir. Agung Budilaksono, S.E., M.M. (Widyaiswara Muda) KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Penetapan dan Standar Kinerja

DTSS Kepatuhan Internal

i

. Prasyarat Kompetensi ……………..........3.. 2....... E...................... Uraian dan contoh ............... Tes Formatif 1 …………………………………………………….5. PETA KONSEP MODUL …………………………………………………………................................................................... Pengelolaan Kinerja Berbasis Balanced Scorecard............................. Kompetensi Dasar (KD) ....... ............ 1...............…………...........................2. Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) .................................................................................. Latihan 1 ………………………………………………………..........Penetapan dan Standar Kinerja DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..4... KEGIATAN BELAJAR …......................... Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) F..... Penetapan dan Standar Kinerja Di Bidang Kepegawaian Kepabeanan dan Cukai Indikator …………………………………………………………………… 1..... 1........................................ 2.... 1.............. DAFTAR ISI ............... Pendahuluan ………………………………………………………………… 1..2.............................................................. 2... Kegiatan Belajar (KB) 1 ……………....... 1...................... Pengelolaan Kinerja di Lingkungan DJBC…………………......... Standar Kompetensi (SK) ... PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL …………………………………………....................................................... B......................……………………………....... Deskripsi Singkat ………………….... Umpan Balik dan Tindak Lanjut …………………….1..................... MODUL PENETAPAN DAN STANDAR KINERJA A.............. 1........... D.1............................ Standar Operating Procedures (SOP) Indikator …………………………………………………………………… 28 22 22 25 27 28 2 2 2 5 9 15 18 20 i ii iv v 1 1 1 1 1 2 2 DTSS Kepatuhan Internal ii .... A......... Pembobotan Kinerja……… .... Kegiatan Belajar (KB) 2 …………….... Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Penetapan Kinerja (PK) ................................................................. Rangkuman ……………………………………………………….......................... 2... B........... C.....

2......... SOP Pada Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai……........... Latihan 2 ……......... Standar Kode Etik Pegawai…………………………………… 2..1........... SOP Pada Bidang Administrasi Kepabeanan dan Cukai ...……………… C...... Tujuan dan Manfaat SOP .... Tes Formatif 2 ……………………………………………………. I....………………… DAFTAR ISTILAH ...........5................ KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF ) ……………………….... Orientasi Penyusunan SOP di Lingkungan DJBC .... 2............ D... Uraian dan contoh ... PENUTUP …………………………………………………………………………....................... SOP Pada Bidang Pengawasan Kepabeanan dan Cukai ......... TES SUMATIF ………………………….. Rangkuman ……………………………………………………….... A...........2.............. SOP Sistem Aplikasi Komputer Kepabeanan dan Cukai ….......4................... Pengertian Standar Operating Prosedur ………………….Penetapan dan Standar Kinerja 2.....………………………………………………….... DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………….. F.... 28 28 29 30 31 32 34 36 37 38 46 47 47 49 51 52 53 55 57 DTSS Kepatuhan Internal iii . 2..... E...3............... Komponen-Komponen Yang Membentuk SOP ... H.......………………………………………………………………... G.... B.... Umpan Balik dan Tindak Lanjut …………………….

Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut. apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15). dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini. 3. 5. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67. DTSS Kepatuhan Internal iv . Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari. Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1. Lakukan review untuk melihat jawabannya yang terdapat pada materi sebelumnya. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. 6. 7. maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya. 2.Penetapan dan Standar Kinerja PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL Diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 8. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut. 8. 4. namun apabila diperoleh angka di bawah 67. Lakukan review materi secara umum. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut).

DTSS Kepatuhan Internal v . Kegiatan Belajar 2 Standar Operating Procedures (SOP) dan Standar Kode Etik Pegawai Materi : Pengertian SOP. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Orientasi Penyusunan SOP di Lingkungan DJBC. SOP Pada Bidang Administrasi Kepabeanan dan Cukai. Standar Kode Etik Pegawai. Pengelolaan Kinerja di Lingkungan DJBC. Tujuan dan Manfaat SOP. Kegiatan Belajar 1 Penetapan dan Standar Kinerja Di Bidang Kepegawaian Kepabeanan dan Cukai Materi : Pengelolaan Kinerja Berbasis Balanced Scorecard. Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU). Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Penetapan Kinerja (PK). Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul. agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul.Penetapan dan Standar Kinerja PETA KONSEP Dalam mempelajari modul ini. KomponenKomponen Yang Membentuk SOP. SOP Pada Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai. SOP Pada Bidang Pengawasan Kepabeanan dan Cukai.

Prasyarat Kompetensi Diklat ini dapat diikuti oleh peserta dengan prasyarat kompetensi adalah telah mengikuti Diklat Teknis Substantif Dasar (DTSD) Pemeriksa. DTSS Kepatuhan Internal 1 . pengawasan administrasi dan standar kode etik pegawai.1. kepabeanan. 2. Deskripsi Singkat Mata pelajaran ini membahas mengenai konsep kegiatan penetapan standar dan kinerja di bidang kepegawaian. rencana kerja. kepabeanan dan cukai. Standar Kompetensi Setelah mempelajari mata pelajaran ini diharapkan peserta diklat mampu menerangkan standar kinerja dalam pekerjaan sebagai Pemeriksa Kepatuhan Internal. 2. Menjelaskan penetapan dan standar kinerja di bidang kepegawaian. pengawasan dan administrasi. 2.2. dan b. Menguraikan Standar Operating Procedure di bidang pelayanan. Kompetensi Dasar Setelah mempelajari mata pelajaran ini diharapkan peserta diklat mampu: a. pengenalan Standar Operating Procedure (SOP) di bidang pelayanan.Penetapan dan Standar Kinerja A PENDAHULUAN MODUL PENETAPAN DAN STANDAR KINERJA 1. termasuk pengelolaan kinerja berbasis balanced scorecard. dan cukai.

PENGELOLAAN KINERJA BERBASIS BALANCED SCORECARD (BSC) 1. Noroton yang berawal dari studi tentang pengukuran kinerja. 1.1. Uraian dan Contoh A. Kegiatan Belajar (KB) 1 PENETAPAN KINERJA DAN STANDAR DI BIDANG KEPEGAWAIAN. Balanced Scorecard terdiri dari dua kata: (1) kartu skor (scorecard) dan (2) berimbang DTSS Kepatuhan Internal 2 . Kaplan dan David P. Balanced Scorecard (BSC) Konsep BSC dikembangkan oleh Robert S. KEPABEANAN DAN CUKAI Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan Pengelolaan Kinerja dan Pelaporan Kinerja dengan baik.Penetapan dan Standar Kinerja B K KEGIATAN BELAJAR 1. BSC memberikan kerangka kerja dan berpikir yang integratif bagi manajemen dan stakeholder lain untuk mengendalikan perubahan-perubahan dalam organisasi.

target yang hendak diwujudkan di masa depan dibandingkan dengan hasil kinerja sesungguhnya. Depkeu-Four f. 2. sehingga setiap kegiatan mengarah pada tindakan strategis yang memiliki tujuan yang selaras (align) dengan visi dan misi organisasi. Depkeu-Two d. Depkeu-Wide b. Level Implementasi BSC Kementerian Keuangan a. sehingga BSC tidak berhenti pada saat strategi selesai dibangun tetapi terus memonitor proses pelaksanaannya. Depkeu-Five : : : : : : level kementerian (Menteri) level unit Eselon I level unit Eselon II level unit Eselon III level unit Eselon IV level pelaksana DTSS Kepatuhan Internal 3 . BSC dapat didefinisikan sebagai suatu alat manajemen kinerja (performance management tool) yang dapat membantu organisasi untuk menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam aksi dengan memanfaatkan sekumpulan indikator keuangan dan non keuangan yang kesemuanya terjalin dalam suatu hubungan sebab akibat (cause-effect relationsip).Penetapan dan Standar Kinerja (balanced). internal dan eksternal. dan strategi yang jelas. Hal ini dilakukan agar setiap pegawai dapat mengerti arahan pencapaian tujuan akhir organisasi. Kartu skor adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang serta untuk merencanakan skor yang hendak diwujudkan oleh personel di masa depan. Strategy map menggambarkan value chain (rantai nilai) yang merefleksikan hubungan sebab-akibat antar sasaran strategis dan antar perspektif. BSC berperan sebagai penerjemah atau pengubah (converter) visi dan strategi organisasi menjadi aksi. Strategy Map (Peta Strategi) Suatu organisasi dapat membangun strategy map apabila sudah memiliki misi. Hasil perbandingan ini digunakan untuk melakukan evaluasi atas kinerja yang bersangkutan. Depkeu-One c. 3. Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja personel diukur secara berimbang dari dua aspek yaitu aspek keuangan dan non keuangan. Melalui kartu skor. Depkeu-Three e. visi. jangka pendek dan jangka panjang.

sebagai pionir pengembang BSC. proses bisnis internal. dan menguraikan bagaimana keterkaitannya dengan rantai hubungan sebab akibat antar berbagai sasaran. Namun demikian. membagi peta strateginya ke dalam empat perspektif. Untuk peta strategi unit organisasi di bawah level Departemen dapat menggunakan perspektif yang tidak persis sama dengan Depkeu-Wide sesuai dengan karateristik unit tersebut. customer. keempat perspektif bersifat fleksibel sesuai dengan karateristik suatu unit organisasi. Cascading adalah proses menurunkan balanced scorecard dari unit kerja yang lebih tinggi ke unit kerja yang lebih rendah. pelanggan. internal process. dalam penerapannya. serta pembelajaran dan pertumbuhan. menjelaskan dengan singkat bagaimana hal itu dapat dicapai. menggambarkan mengapa sasaran itu penting. Perspektif Di dalam peta strategi. 6. yaitu stakeholder. Sasaran strategis juga merupakan sasaran-sasaran yang bersifat penting dan memperoleh prioritas tinggi dari jajaran manajemen. Setiap sasaran strategis memiliki satu atau lebih Indikator Kinerja Utama (IKU). Pernyataan sasaran strategis yang baik yaitu harus singkat (dua sampai tiga kalimat). 5. sebagai suatu institusi publik. membagi perspektif ke dalam empat jenis. penjabaran visi dan misi suatu organisasi dimasukkan ke dalam beberapa kelompok besar perspektif. Alignment adalah proses untuk menjamin bahwa balanced scorecard yang dibuat pada suatu unit kerja selaras secara vertikal (antar level) maupun secara horizontal (dalam level yang sama). Kaplan dan Norton. 7. Departemen Keuangan. b. berupa pernyataan yang merefleksikan cita-cita dan aspirasi organisasi yang ingin dicapai di masa depan.Penetapan dan Standar Kinerja 4. Indikator Kinerja Utama (IKU) IKU merupakan alat ukur kuantitatif atas keberhasilan pencapaian tujuan dan sasaran strategis dalam suatu organisasi. Cascading dan Alignment a. DTSS Kepatuhan Internal 4 . Sasaran Strategis (SS) Sasaran strategis adalah kondisi yang akan diwujudkan di masa depan yang merupakan penjabaran dari tujuan organisasi. menjelaskan apa arti sasaran tersebut. yaitu: keuangan. learning and growth.

jumlah IKU yang ideal adalah sekitar 20-25 IKU (1-2 IKU per Sasaran Strategis). 1. akan banyak hal yang ingin diukur. namun perlu diingat bahwa hanya hal yang bersifat strategis saja yang perlu diukur. Tingkat validitas IKU dibagi menjadi: • • • Exact Proxy : : KPI yang mengukur pencapaian SS (pengukuran ideal) Leading indicators bagi exact KPI untuk mencapai tujuan KPI yang mengukur kegiatan yang berdampak pada SS yang bersangkutan.Penetapan dan Standar Kinerja B. IKU yang baik adalah IKU yang mengukur hal yang strategis serta memberikan dampak yang besar kepada organisasi. Gambaran IKU tersebut dapat dilihat pada gambar berikut: Activity : Exact KPIs – All Aspects of the Objective Are Measured KPI Proxy KPIs – Limited Aspects of the Objective Are Measured Objective KPI Activity KPIs – Outputs and Inputs Size of Gap Objective KPI Size of Gap Objective DTSS Kepatuhan Internal 5 . Tingkat Validitas Validitas suatu IKU ditentukan berdasarkan tingkat kedekatan IKU tersebut dengan tujuannya (sasaran strategis). Dalam proses membangun BSC. Menurut Kaplan dan Norton. Jenis IKU Di Departemen Keuangan jenis IKU dibagi ke dalam 2 (dua) bagian. PENETAPAN IKU Suatu IKU harus bersifat definitif (terukur). yaitu: a. bukan normatif (pernyataan kualitatif).

Maka. Perlu diperhatikan bahwa bukan berarti setiap IKU yang exact otomatis kualitasnya lagging atau IKU yang proxy otomatis kualitasnya leading. suatu IKU lagging didukung oleh IKU leading baik dalam SS yang sama. Leading : Indikator yang menunjukkan performance drivers (input dan proses). SS yang dibuat adalah “Kompetensi SDM dalam bahasa Inggris”.Penetapan dan Standar Kinerja Contoh: Suatu unit organisasi ingin mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas yang baik dalam kemampuan bahasa Inggris. IKU yang bisa didefinisikan adalah: Jumlah SDM yang memiliki nilai TOEFL di atas 550 (exact KPI) Jumlah SDM yang dapat berbicara bahasa Inggris secara aktif (proxy KPI) Jumlah SDM yang telah mengikuti pelatihan bahasa Inggris lebih dari 100 jamlat (activity KPI) b. SS yang berbeda atau dalam perspektif yang berbeda. maka IKU laggingnya adalah “Tingkat produktivitas pegawai” dan IKU leadingnya adalah “Jumlah pelatihan pegawai” Dalam peta strategi yang ideal. DTSS Kepatuhan Internal 6 . Penjelasan dapat dilihat di lampiran I. biasanya di bawah kendali unit organisasi yang bersangkutan. Contoh: SS “Peningkatan kompetensi SDM”. biasanya tidak di bawah kendali unit organisasi yang bersangkutan. Jenis IKU • • Lagging : Indikator yang menunjukkan outcome/result.

II 50 Y 100 pelaporan B Take Last Known Value Angka capaian 20 50 50 90 90 100 100 100 yang digunakan adalah angka periode terakhir C Average Rata-rata penjumlahan angka per capaian periode dari 20 30 25 40 30 10 25 25 pelaporan 3. Contoh: Persentase proyeksi deviasi asumsi makro. Jenis Konsolidasi Data Menunjukkan pola penetapan/perhitungan angka capaian IKU yang terdiri atas: No A Jenis Sum Definisi Penjumlahan angka per capaian periode Q1 20 Q2 30 Sm. Stabilize : Nilai aktual/realisasi/pencapaian Indikator Kinerja diharapkan berada dalam suatu rentang target tertentu. c. b. DTSS Kepatuhan Internal 7 . Maximize : Nilai aktual/realisasi/pencapaian Indikator Kinerja diharapkan lebih tinggi dari target.I 50 Q3 40 Q1Q3 90 Q4 10 Sm. Polarisasi Data Menunjukkan ekspektasi arah nilai aktual dari KPI dibandingkan relatif terhadap nilai target: a.Penetapan dan Standar Kinerja 2. Minimize : Nilai aktual/realisasi/pencapaian Indikator Kinerja diharapkan lebih kecil dari target. Contoh: Rasio beban utang terhadap rata-rata outstanding utang. Contoh: Jumlah penerimaan negara.

yaitu: SMART-C (Spesific (spesifik). Low : Pencapaian target sangat dipengaruhi secara dominan oleh unit lain. b. realistic (realistis. Target IKU harus memenuhi beberapa hal. Degree of Controllability Menunjukkan sejauh mana kemampuan suatu organisasi dalam Status Merah Kuning Hijau mengontrol/mengelola pencapaian target IKU: a. range capaiannya diubah menjadi: Alternatif 1 Maximize X<80% 80%≤X<90% 90%≤X≤100% Alternatif 2 Tetap menggunakan aturan umum tetapi targetnya di-setting maksimum 90%. time bound (memiliki jangka waktu). menantang). Penetapan Target Capaian a. dapat dicapai. High : Pencapaian target secara dominan ditentukan oleh unit ybs. DTSS Kepatuhan Internal 8 .Penetapan dan Standar Kinerja Polarisasi data ini digunakan untuk menentukan status capaian IKU yang secara umum menggunakan perhitungan sebagai berikut: Polarisasi Maximize X<80% Minimize X>120% Stabilize X<80% atau X>120% 80%≤X<100% X≥100% Sedangkan. measureable (dapat diukur). 5. untuk 100%<X ≤ 120% X ≤100% IKU dengan 80%≤ X <90% atau 120≥X>110% 90% ≤ X ≤110 polarisasi maximize Status Merah Kuning Hijau namun pencapaiannya tidak mungkin melebihi 100%. 4. agreeable (dapat disetujui). Moderate : Pencapaian target juga dipengaruhi unit lain. controllable (dapat dikontrol)). c.

Cascading a. Keselarasan ini mencakup kesamaan parameter (jenis IKU. Indeks Sasaran Strategis (ISS) Dalam sistem pengelolaan kinerja di Depkeu. misalnya UU APBN. Untuk IKU yang berbentuk indeks. Penyusunan peta strategi sangat tergantung dengan karateristik bisnis suatu organisasi. Alignment a. perlu diberi penjelasan makna angka skala tersebut d. Indeks Sasaran Strategis (ISS) 2. 6. jenis konsolidasi data. Angka target yang berupa persentase hendaknya disertakan dengan data mentahnya Untuk IKU yang berada pada level yang sama. b. penetapan trajectory harus menyelaraskan jenis konsolidasi data dan jenis periode datanya e. C. Yang diturunkan ke level yang lebih rendah adalah SS dan IKU. skala yang digunakan sama (jika target dalam bentuk skala). jenis periode data. Angka Kinerja Individu (AKI) 1. penamaan IKUnya harus sama. b. UU APBN-P c. Angka Kinerja Unit (AKU) 4. Penetapan target IKU disesuaikan dengan peraturan formal/UU yang terkait. Validitas (V) terbagi atas 3 pembobotan: DTSS Kepatuhan Internal 9 . Penurunan SS dan IKU ke level yang lebih rendah tidak selalu berada di dalam perspektif yang sama antar level unit organisasi. Angka Kinerja Perspektif (AKP) 3. polarisasi data).Penetapan dan Standar Kinerja b. 7. Untuk IKU yang memiliki tujuan yang sama antar level unit yang sejajar. sampai dengan periode Tahun 2008 pembobotan masih dibatasi untuk perhitungan indeks Sasaran Strategis dengan metode sebagai berikut: a. PEMBOBOTAN KINERJA Pembobotan kinerja dapat diimplementasikan untuk menilai besaran angka/indeks: 1.

5 • Moderate (M) = bobot=0.375 0.625 Skor II Skor RataPolarisasi rata Status (17) "(15)={(10)+ (14)=(6)*(13) (16) (14)}/2 0.2 b. SS (1) 1 (2) KPI (3) Target (%) (4) 72. Rata-rata indeks Coverage 15.3 • Low (L) = Pencapaian target sangat dipengaruhi secara Pencapaian target juga dipengaruhi unit lain dominan oleh unit lain bobot=0.3 = Orientasi pada kegiatan.534 0.775 Maximize Bobot I Bobot Indeks (8) 0..15.00 1.200 (9) 0.2 dan pelatihan sk ala nasional. Jumlah kerjasama pendidikan 15.700 1.Penetapan dan Standar Kinerja • Exact (E) • Proxy (P) • Activity(A) • High (H) = = Orientasi pada tujuan (pengukuran ideal).000 1.357 0. Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi akan fungsi Depkeu No. Validitas dan controllability IKU yang memiliki sub-IKU bersifat independen dan tidak tergantung sub-IKU-nya.000 1.017 M 0. bobot=0.2 Ilustrasi perhitungan: SS DK. bobot=0.500 Bobot II Indeks (13) 0.714 1. regional dan internasional 2 Bagaimana pembobotan atas suatu IKU yang terdiri atas beberapa subIKU dengan validitas dan degree of controllability yang berbeda-beda? Sub-IKU tersebut tidak mempengaruhi tetap harus bobot pada IKU yang dan bersangkutan.799 0.582 Maximize DK.1 (Education & Communication) DK. bobot=0. Degree of Controllability (C) terbagi atas 3 level: = Pencapaian target secara dominan ditentukan oleh unit ybs.333 1.286 (6)= (5) (5)/(4) 93.382 0. akan tetapi didefinisikan validitas controllability untuk masing-masing sub-IKU agar mendapatkan gambaran yang jelas tentang kualitas IKU dimaksud serta sebagai antisipasi apabila dikemudian hari sub-IKU dimaksud akan dijadikan IKU tersendiri.365 DoC (11) H Bobot (12) 0.00 84.28 Skor I (10)=(6) *(9) 0.500 0.5 Leading indicators bagi exact KPI untuk mencapai tujuan.00 1.800 1. Contoh: IKU pada Depkeu-Wide: % Penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat DTSS Kepatuhan Internal 10 .300 0. bobot=0.42 E 0.76 Aktual (%) Aktual Target Val (7) A 59.

Standardisasi atas besaran bobot per perspektif ditetapkan sebagai berikut: Perspektif Stakeholder (Strategic Outcome) sebesar 30% Perspektif Customer sebesar 25% Perspektif Internal Process sebesar 15% Perspektif Learning and Growth sebesar 30% Bobot perspektif Stakeholder ditetapkan paling besar mengingat tujuan utama pengukuran kinerja berada pada perspektif ini. degree of controllability-nya menjadi high karena untuk mencapai target IKU dimaksud semua masih dalam kendali internal Depkeu.% Penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat (DJKN) Dilihat dari rentang kendali (span of control) antara IKU pada DepkeuWide dengan IKU pada Depkeu-One.% Penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat (DJA) . selain Indeks Sasaran Strategis. jelas sangat berbeda. 2. maka perlu juga diperhitungkan besaran Angka Kinerja Perspektif.% Penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat (DJP) . benarbenar merupakan indikator yang mencerminkan sasaran strategis yang ingin dicapai.Penetapan dan Standar Kinerja IKU pada Depkeu-One (Sub-IKU pada Depkeu-Wide): . maka sistem pembobotan demikian menjadi dapat diabaikan. Selain itu. Hal ini dikarenakan seluruh IKU yang diukur telah merupakan IKU yang ideal dan memiliki tingkat kesulitan yang sebanding dalam pencapaiannya antara IKU yang satu dengan yang lainnya dan antara unit yang satu dengan yang lainnya. penetapan anggaran berbasis kinerja (Performance Based Budgeting/PBB) pada umumnya juga DTSS Kepatuhan Internal 11 . sedangkan untuk IKU sejenis pada DJA. Angka Kinerja Perspektif (AKP) Untuk pengelolaan IKU Tahun 2010. dan DJKN maka degree of controllability-nya menjadi moderate karena proses penetapan SOP masih tergantung oleh unit lain yaitu Sekretariat Jenderal (Biro Organta). Pada DepkeuWide. DJP. Perlu dijelaskan bahwa pada dasarnya apabila seluruh IKU yang ditetapkan telah benar-benar mencerminkan core business unit. serta sepenuhnya berada dalam kontrol unit.

maka diberikan bobot moderate yaitu 25% mengingat sebagian customer juga merupakan stakeholder. Untuk perspektif Customer. 3. Angka tersebut diperoleh dari total Angka Kinerja perspektif yang capaiannya menggunakan data akumulasi kinerja kuartalan. setiap unit organisasi yang memiliki peta strategi akan dinilai capaian kinerjanya melalui besaran Angka Kinerja Unit (AKU). Angka Kinerja Unit (AKU) Mulai tahun 2010. Adapun bagi unit yang hanya memiliki 3 perspektif. Pertimbangannya adalah output/outcome final yang ingin dicapai oleh suatu unit telah terefleksi secara kuantitatif pada perspektif stakeholder. Sebagaimana persepektif stakeholder. bobot perspektif learning and growth juga dihitung sama besarnya. memiliki besaran sebagai berikut: Perspektif Stakeholder (Strategic Outcome) sebesar 35% Perspektif Internal Process sebesar 30% Perspektif Learning and Growth sebesar 35% Formula: SS= Sasaran Strategis n= Jumlah SS B= Bobot dalam persen Besaran pembobotan tiap perspektif tersebut adalah merupakan konsensus bersama antara Pushaka sebagai Strategy Management Office dan para manajer kinerja unit eselon I Departemen Keuangan. Penetapan perspektif internal process yang kecil bukan didasarkan pada kurangnya peranan perspektif ini dalam meningkatkan kinerja unit. dengan alasan yang sama. DTSS Kepatuhan Internal 12 . sebagaimana fungsi organisasi publik yaitu memberikan pelayanan.Penetapan dan Standar Kinerja dikaitkan dengan IKU pada perspektif ini. akan tetapi perspektif ini adalah merupakan tindak lanjut dari keberhasilan kinerja perspektif learning and growth. maka pembobotannya. Hal ini didasari bahwa perspektif inilah yang merupakan cikal bakal penentu kinerja organisasi secara keseluruhan dalam jangka panjang.

.5% T Q2 R Idx 34.8% 114% 107% 102% 99% 32% 107% 40% 44% 110% 60% 62% 103% 75% 74% 99% 25% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 15. IKU 1 (bobot 40%) IKU 2 (bobot 60%) Learning & Growth Perspective (30%) Sasaran Strategis 5 ……….Penetapan dan Standar Kinerja Ilustrasi: Angka Kinerja Unit Direktorat Jenderal . IKU 1 (bobot 60%) IKU 2 (bobot 40%) Sasaran Strategis 2 ……….5% 30% 25% 12 25 98% 114% 107% 95% 15% 75% 45% 50% 111% 70% 75% 107% 90% 87% 97% 200 133% 230 280 122% 300 320 107% 350 330 94% 105% 96% 88% 92% 30 86% 40 30 75% 40 30 75% 40 35 88% 50 125% 60 70 117% 95 96 101% 105 101 96% 28.2% 35... IKU 1 (bobot 33%) IKU 2 (bobot 67%) Angka Kinerja Unit 20% 150 35 40 T Q1 R Idx 30.2% T Q3 R Idx 32.0% 31.. Kode Deskripsi Stakeholder Perspective (30%) Sasaran Strategis 1 ……….0% 100% 1000 83% 11 110% 105% 1800 20 104% 1500 83% 23 115% 108% 2000 40 117% 2100 105% 50 125% 104% 2050 60 110% 2200 107% 67 112% 96% 1200 10 4..2% 106% 106% 72% 68% 14 117% 12 14 117% 25 20 80% 50 20 40% 25 100% 50 50 100% 75 50 67% 100 88 88% 30.5% 24. IKU 1 (bobot 50%) IKU 2 (bobot 50%) Customer Perspective (25%) Sasaran Strategis 3 ……….5% 26... Besaran angka ini dapat dipergunakan untuk mempertimbangkan promosi jabatan maupun remunerasi yang diterima oleh seorang pegawai.9% 10. Angka Kinerja Individu (AKI) Angka ini akan diperhitungkan setelah BSC telah diturunkan (cascade) sampai ke level individu. DTSS Kepatuhan Internal 13 .1% T Q4 R Idx 28.1% 33... IKU 1 (bobot 70%) IKU 2 (bobot 30%) Internal Process Perspective (15%) Sasaran Strategis 4 ……….8% 10.8% 25.9% 15.

Meet Shareholder Expectation F2 .Improve Agents Performance C2 .Underwrite Profitability I3 . dalam buku “The Balanced Scorecard”.Achieve Profitable Growth F4 .plan) Strategic IT Availibility I2 .Aligns Claims with the Business Claims Frequency Claims Severity I4 .Improve Productivity Expense Ratio Learning Perspective L1 .Develop Business in Target Business Mix (by segment) Loss ratio Business Development (v s.plan) Policyholder Satisfaction Survey Internal Perspective I1 . Michael.plan) Acquisition Retention (by segmen) Agency Performance (vs. “Harvard Business School Press” (1996): 160 DTSS Kepatuhan Internal 14 .Upgrade Staff Competencies L2 .Penetapan dan Standar Kinerja Lampiran I Figure 7-5 National Insurance-Cause and Effect Relationship Strategic Outcome Measures (Lag Indicators) Return on Equity Combined Ration Performance Drivers (Lead Indicators) Strategic Objectives Financial Perspective F1 .Improve Accsess to Strategic Information Staff Productivity Sumber: Hammer.Improve Operating Performance F3 .plan) Underwriting Quality Audit Claims Quality Audit Headcount Movement Managed Spending Staff Development (vs.Satisfy Target Policyholders Business Portofolio Mix Catastrophic Losses Acquisition Retention (vs.Reduce Shareholder Risk Customer Perspective C1 .

Sub Manajer Kinerja wajib menyampaikan laporan capaian kinerja yang ditandatangani oleh pemimpin unit organisasi eselon II yang bersangkutan kepada Kepala Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai paling lambat tanggal 10 setiap bulan. Manajer Kinerja bertugas mengkoordinasikan penyusunan Peta Strategi. Apabila terjadi pergantian Sub Manajer Kinerja.Penetapan dan Standar Kinerja D. Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP19/BC/2010 tentang Pengelolaan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. maka Pengelolaan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah sebagai berikut: 1. DTSS Kepatuhan Internal 15 . Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai sebagai Manajer Kinerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai b. Penetapan Manajer Kinerja a. analisa dan capaian dan dokumen pendukung yang diperlukan. Indikator Kinerja Utama beserta besaran target berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) dan Road Map Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pengelolaan Kinerja di Lingkungan DJBC Pengelolaan kinerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menggunakan sistem manajemen kinerja berbasis balanced scorecard untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. disertai dengan data. e. maka Pimpinan Unit Eselon II bersangkutan Sub Manajer segera Kinerja membuat yang surat baru pemberitahuan menjamin penunjukan untuk kesinambungan pekerjaan. Pimpinan Unit Eselon II menunjuk dan menetapkan seorang Sub Manajer Kinerja sebagai pengelola kinerja pada unit organisasi yang bersangkutan dan untuk mendukung Manajer Kinerja dalam mengelola kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Menunjuk Kepala Bidang Evaluasi Kinerja. f. Pimpinan Unit Eselon II diminta untuk melakukan evaluasi internal secara bulanan atas capaian kinerja unit organisasi yang bersangkutan. Surat pemberitahuan penunjukan Sub Manajer Kinerja ditembuskan kepada Kepala Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai segera setelah ditandatangani oleh pemimpin unit eselon II bersangkutan. c. d. g.

sehingga apabila pada periode berjalan terjadi pergantian pimpinan. Perubahan Kontrak Kinerja pada tahun berjalan harus ditandatangani oleh pihak-pihak yang berwenang menandatangani Kontrak Kinerja. Penyusunan/Perubahan Peta Strategi. d. 3. c.Penetapan dan Standar Kinerja 2. b. Penyusunan/Perubahan IKU: i. Peta strategi dibuat untuk jangka panjang (5 tahunan) sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. IKU. Perubahan peta strategi hanya dapat diusulkan untuk dilakukan perubahan apabila terdapat perubahan visi suatu organisasi. Usulan penyusunan/perubahan IKU disampaikan dengan surat resmi dari Pimpinan Unit Eselon II kepada Kepala Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai dan dilampiri dengan usulan Manual IKU bersangkutan. e. Kontrak kinerja tersebut dibahas dalam suatu rapat bersama Direktur Jenderal untuk disepakati dan ditandatangani pada minggu pertama bulan Februari tahun berjalan. Penetapan Kontrak Kinerja a. Kontrak Kinerja bersifat mengikat pada jabatan. Kepala Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai memiliki wewenang untuk mengundang Sub Manajer Kinerja dalam rangka membahas target capaian IKU sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan penentuan IKU yang akan dimasukkan dalam kontrak kinerja unit eselon II. instruksi Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Masing-masing Sub Manajer Kinerja mengkoordinasikan penyusunan perkiraan target capaian IKU dalam lingkungan unit eselon II yang bersangkutan untuk disampaikan kepada Kepala Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai selambat-lambatnya pada akhir minggu kedua bulan Januari tahun berjalan. maka harus dibuat serah terima hasil capaian kinerja dari pimpinan lama kepada pimpinan baru. dan Target a. DTSS Kepatuhan Internal 16 . atau perubahan penyempurnaan yang lebih merefleksikan kinerja riil unit organisasi. Penyusunan/Perubahan Peta strategi: 1. 2. perubahan Renstra Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. b.

Penetapan dan Standar Kinerja
ii. Penyusunan/perubahan IKU tersebut, apabila disetujui oleh Kepala Pusat 4. Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai, akan

diimplementasikan mulai tahun berikutnya; Pelaporan Capaian Kinerja Bulanan Kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai a. Sub Manajer Kinerja memonitor data dan informasi capaian seluruh IKU pada unit eselon II yang bersangkutan dan menyampaikan laporan sesuai dengan periode pelaporan yang telah ditetapkan paling lambat tanggal 10 tiap bulannya; b. Kepala Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai melaporkan hasil capaian seluruh IKU DJBC periode bulan sebelumnya kepada Direktur Jenderal dalam forum rapat staf inti pada minggu kedua bulan berikutnya atau sewaktu-waktu jika diminta oleh Direktur Jenderal; c. Sub Manajer Kinerja mengkoordinasikan pelaksanaan evaluasi internal seluruh IKU pada unit eselon II secara bulanan yang dipimpin oleh pejabat eselon II yang bersangkutan.

KONTRAK KINERJA <JABATAN> TAHUN ........... <Visi Organisasi> < Peta Strategi>

No

Kode

Uraian IKU

Realisasi (tahun sebelumnya)

Target (Tahun ini)

Perspektif dan Bobot

DTSS Kepatuhan Internal

17

Penetapan dan Standar Kinerja
E. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)
Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara. Sejalan dengan itu, dalam rangka pelaksanaan Tap MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dan Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sebagai tindak lanjut Tap MPR tersebut, maka telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Dalam Pasal 3 Undang-undang negara tersebut meliputi dinyatakan asas bahwa asas-asas asas umum tertib

penyelenggaraan

kepastian

hukum,

penyelenggaraan negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesional dan asas akuntabilitas. Menurut penjelasan undang-undang tersebut, asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai

pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akuntabilitas kewajiban suatu Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) pemerintah untuk adalah perwujudan

instansi

mempertanggungjawabkan

keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah instrumen

pertanggungjawaban yang pada pokoknya terdiri dari berbagai indikator dan mekanisme kegiatan pengukuran, penilaian dan pelaporan kinerja secara menyeluruh dan terpadu untuk memenuhi kewajiban suatu instansi pemerintah dalam mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan tugas dan fungsi serta misi organisasi. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) adalah media

pertanggungjawaban yang berisi informasi mengenai kinerja instansi pemerintah dan bermanfaat antara lain untuk: a. Mendorong instansi pemerintah untuk menyelenggarakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan secara baik dan benar (good governance)

DTSS Kepatuhan Internal

18

Penetapan dan Standar Kinerja
yang didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, kebijaksanaan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat; b. Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel sehingga dapat beroperasi secara efisien, efektif, dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya; c. Menjadi masukan dan umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka meningkatkan kinerja instansi pemerintah; d. Terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang

menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhitungkan indikator masukan (inputs), keluaran (outputs), hasil (outcomes), manfaat (benefits) dan dampak (impacts). a. Indikator masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator ini dapat berupa dana, sumber daya manusia, informasi,

kebijaksanaan/peraturan perundang-undangan, dan sebagainya; b. Indikator keluaran (outputs) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau non fisik; c. Indikator hasil (outcomes) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung); d. Indikator dampak (impacts) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif pada setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan.

Untuk LAKIP tahun 2009 telah mulai mencoba memasukkan indikator kinerja utama (IKU) ke dalam form Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK) dan Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS), walaupun Rencana Kinerja Tahunan (RKT) tahun 2009 belum mengintegrasikan IKU ke dalamnya mengingat baru sebagian IKU Depkeu yang dikontrak kinerjakan. Selanjutnya untuk LAKIP tahun 2010 yang berisikan narasi, realisasi RKT tahun 2010 kemudian form Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK) dan Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) telah sepenuhnya mengintegrasikan IKU ke dalamnya mengingat RKT yang telah disusun telah mengakomodir IKU.

DTSS Kepatuhan Internal

19

Idealnya. Penetapan Kinerja (PK) merupakan dokumen perencanaan periode 1 (satu) tahunan yang berisi program utama. 2007). Penetapan Kinerja (PK) Kementerian Keuangan disusun berdasarkan DTSS Kepatuhan Internal 20 . Rencana kinerja ini merupakan tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan/kegagalan penyelenggaraan pemerintahan untuk suatu periode tertentu. Rencana Strategis Departemen Keuangan 2010-2014 dalam penyusunannya sudah mengintegrasikan Indikator Kinerja Utama (IKU). dengan demikian RKT 2010 yang disusun berdasarkan Renstra akan secara otomatis memuat IKU. RKT merupakan rencana kinerja tahunan yang disusun sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan dan didasarkan pula pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) lima tahunan. Kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan arena terkait dengan proses penyusunan selanjutnya yaitu menentukan program dan kegiatan. Perencanaan kinerja adalah aktivitas analisis dan pengambilan keputusan di depan untuk menetapkan tingkat kinerja yang diinginkan di masa yang akan datang. di dalamnya memuat seluruh target kinerja yang hendak dicapai dalam suatu tahun yang dituangkan dalam sejumlah indikator kinerja (performance indicators) yang relevan. sasaran. indikator kinerja output dan indikator kinerja outcome yang disusun berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Keuangan dan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Kementerian Keuangan. Rencana kinerja ini merupakan rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari perencanaan strategis. Proses dalam penyusunan Perencanaan Kinerja meliputi kegiatan pemetaan hubungan antara sasaran dan indikator. Sesuai dengan amanat Keputusan Lembaga Administrasi Negara nomor 239/IX/6/8/2003.Penetapan dan Standar Kinerja F. Rencana Kinerja Tahunan (RKT) dan Penetapan Kinerja (PK) Setiap tahun perencanaan stratejik dituangkan dalam suatu perencanaan kinerja tahunan (annual performance plan). rencana kinerja ini diajukan kepada para pemberi amanat untuk kemudian para pihak mengikat suatu kesepakatan terhadap rencana kinerja yang telah disusun (LAN. Indikator kinerja atau ukuran kinerja dalam pemetaan inilah yang menjadi dasar dalam penetapan program dan kegiatan dan juga kegiatan pengukuran kinerja.

Program-program yang terdapat pada Rencana Kinerja Tahunan dan Penetapan Kinerja harus sejalan dengan program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan yang sedang dijalankan. dasar hukum dan janji layanan • Peningkatan manajemen sumber daya manusia • Indikator Kinerja Utama • Komunikasi publik dan • Monitoring dan evaluasi. diantaranya berupa program: • Penataan organisasi • Penyempurnaan proses bisnis – review standar prosedur operasi mengenai format. DTSS Kepatuhan Internal 21 .Penetapan dan Standar Kinerja masukan materi dari seluruh unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan sedangkan RKT dan PK Direktorat Jenderal Bea dan Cukai disusun berdasarkan masukan materi dari seluruh unit eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

pelanggan. serta BSC ? 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan peta strategi. Strategy map menggambarkan value chain (rantai nilai) yang merefleksikan hubungan sebab-akibat antar sasaran strategis dan antar perspektif. Jelaskan secara singkat Program Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan ? 1.Penetapan dan Standar Kinerja 1. BSC berperan sebagai penerjemah atau pengubah (converter) visi dan strategi organisasi menjadi aksi. internal process. keempat perspektif bersifat fleksibel sesuai dengan karateristik suatu unit organisasi.3. Jelaskan hubungan secara sistematis antara RENSTRA. Rangkuman 1. Sasaran strategis adalah kondisi yang akan diwujudkan di masa depan yang merupakan penjabaran dari tujuan organisasi. sasaran strategi dan indikator kinerja utama (IKU) dan kaitannya satu sama lain ? 4. serta pembelajaran dan pertumbuhan. Jelaskan secara singkat pengelolaan kinerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ? 6. Departemen Keuangan. membagi perspektif ke dalam empat jenis.2. RKT dan LAKIP. sebagai suatu institusi publik. sebagai pionir pengembang BSC. yaitu: keuangan. BSC dapat didefinisikan sebagai suatu alat manajemen kinerja (performance management tool) yang dapat membantu organisasi untuk menerjemahkan visi dan strategi ke dalam aksi dengan memanfaatkan sekumpulan indikator keuangan dan non keuangan yang kesemuanya terjalin dalam suatu hubungan sebab akibat (cause-effect relationsip). 4. berupa pernyataan yang merefleksikan cita-cita dan aspirasi organisasi yang ingin dicapai di masa DTSS Kepatuhan Internal 22 . dalam penerapannya. customer. proses bisnis internal. Namun demikian. 3. Latihan 1 2. 2. yaitu stakeholder. membagi peta strateginya ke dalam empat perspektif. learning and growth. Kaplan dan Norton. Jelaskan tentang Balanced Scorecard (BSC) dan manfaatnya ? 3.

biasanya di bawah kendali unit organisasi yang bersangkutan. 1993). IKU merupakan alat ukur kuantitatif atas keberhasilan pencapaian tujuan dan sasaran strategis dalam suatu organisasi. yaitu: . 8. cenderung selalu ingin mengetahui tingkat kemajuan perusahaannya. 9. Sasaran strategis juga merupakan sasaran-sasaran yang bersifat penting dan memperoleh prioritas tinggi dari jajaran manajemen.Jenis IKU • • Lagging : Indikator yang menunjukkan outcome/result. yaitu: a. 6. DTSS Kepatuhan Internal 23 . Di Departemen Keuangan jenis IKU dibagi ke dalam 2 bagian. Tingkat validitas IKU dibagi menjadi: • • • Exact Proxy Activity : KPI yang mengukur pencapaian SS (pengukuran ideal) : Leading indicators bagi exact KPI untuk mencapai tujuan : KPI yang mengukur kegiatan yang berdampak pada SS yang bersangkutan.Penetapan dan Standar Kinerja depan. . Kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu (Bernardin dan Russel. yaitu kompetensi tersebut diatas dapat diterjemahkan ke dalam tindakan atau kegiatan-kegiatan yang tepat untuk mencapai hasil kinerja (outcome). Setiap pemimpin organisasi seperti perusahaan. yang berarti individu atau organisasi memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan tingkat kinerjanya. b. entah setiap tahun atau semester atau bahkan tiap bulan. Kinerja mengandung dua komponen penting.Tingkat validitas Validitas suatu IKU ditentukan berdasarkan tingkat kedekatan IKU tersebut dengan tujuannya (sasaran strategis). Kompetensi. biasanya tidak di bawah kendali unit organisasi yang bersangkutan. Produktifitas. Kemajuan itu dilihat dari berbagai segi yang disebut Indikator Kinerja Utama (IKU) atau Key Performance Indicators (KPI). Leading : Indikator yang menunjukkan performance drivers (input dan proses). 5.

Penetapan Kontrak Kinerja. 14. 11. 12. Rencana kinerja tahunan merupakan penjabaran lebih lanjut dari perencanaan strategis.Penetapan dan Standar Kinerja 10. serta Pelaporan Capaian Kinerja. dan Target. 13. Sesuai dengan amanat Keputusan Lembaga Administrasi Negara nomor 239/IX/6/8/2003. Perencanaan kinerja adalah aktivitas analisis dan pengambilan keputusan di depan untuk menetapkan tingkat kinerja yang diinginkan di masa yang akan datang. RKT merupakan rencana kinerja tahunan yang disusun sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis (Renstra) 17. Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Pasal 3 Undang-undang nomor 28 Tahun 1999 dinyatakan bahwa asas-asas umum penyelenggaraan negara meliputi asas kepastian hukum. dengan memperhitungkan indikator masukan (inputs). di dalamnya memuat seluruh target kinerja yang DTSS Kepatuhan Internal 24 . asas tertib penyelenggaraan asas negara. Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. hasil (outcomes). Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP19/BC/2010 tentang Pengelolaan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. asas keterbukaan. IKU. Pengelolaan kinerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menggunakan sistem manajemen kinerja berbasis balanced scorecard untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. keluaran (outputs). asas asas kepentingan umum. proporsionalitas. Penyusunan/Perubahan Peta Strategi. profesional dan asas akuntabilitas. 15. 16. Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. manfaat (benefits) dan dampak (impacts). maka Pengelolaan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diantaranya mengatur tentang Penetapan Manajer Kinerja.

9. RPJMN adalah merupakan pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis Kementerian Keuangan yang periodenya adalah 4 (empat) Tahunan Landasan hukum dalam penyusunan Rencana Strategis DJBC yang periodenya 1 (satu) Tahunan adalah Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. Penetapan Kinerja (PK) merupakan dokumen perencanaan periode 1 (satu) tahunan yang berisi program utama. 5. yaitu stakeholder. relevan dan bias. Rencana Kinerja Tahunan (RKT) akan dipertanggungjawabkan pada akhir tahun dengan dokumen LAKIP yang terdiri dari narasi. 1. Syarat umum indikator kinerja adalah spesifik dan jelas. sasaran. Tes Formatif 1 1. dapat diukur secara obyektif. Produk berupa dana. Indikator kinerja pada matriks kinerja Renstra akan diformulasikan menjadi indikator sasaran pada formulir Rencana Kinerja Tahunan. indikator kinerja output dan indikator kinerja outcome yang disusun berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Keuangan dan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Kementerian Keuangan. customer. PKK. DTSS Kepatuhan Internal 25 . realisasi RKT. 4. sebagai suatu institusi publik. dengan demikian RKT 2010 akan secara otomatis memuat Indikator Kinerja Utama. 3. 2.4. 18. Renstra Kemenkeu 2010-2014 dalam penyusunannya sudah mengintegrasikan IKU. BSC berperan sebagai penerjemah atau pengubah (converter) visi dan strategi organisasi menjadi rencana aksi yang terukur dan normatif. sumber daya manusia. Departemen Keuangan. membagi peta strateginya ke dalam empat perspektif. kebijakan.Penetapan dan Standar Kinerja hendak dicapai dalam suatu tahun yang dituangkan dalam sejumlah indikator kinerja (performance indicators) yang relevan. 7. 8. learning and growth. 6. internal process. komputer merupakan bagian dari indikator kinerja Input. PPS dan Penetapan Kinerja.

13. Dalam penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU) harus memenuhi beberapa kriteria yaitu: a. Proxy dan Lagging Exact dan Leading Activity dan Leading Activity dan Lagging 14. d. c. b. atau sasaran kerja. Berikut prinsip-prinsip pelaporan secara umum yang harus diikuti dalam penyusunan LAKIP.Penetapan dan Standar Kinerja 10. Dapat dilakukan koreksi setiap saat Mencerminkan stakeholder organisasi Dapat diukur tapi sulit dibandingkan Mengarah kepada factor kunci suksesnya. Pengertian kinerja menurut P-23/BC/2010 adalah hasil kerja pegawai atau unit kerja di lingkungan DJBC yang dapat ditunjukkan buktinya secara konkrit dan dapat diukur berdasarkan tugas. kecuali: a) b) c) d) Prinsip Manfaat Prinsip Selektif Prinsip Lingkup Pertanggungjawaban Prinsip Keadilan DTSS Kepatuhan Internal 26 . c. Jenis Indikator Kinerja Utama exact dan lagging artinya adalah: a. Soal pilihan Ganda 11. IKU “Jumlah PPKP yang dilakukan” adalah termasuk jenis IKU: a. d. tujuan. b. d. c. IKU nya mendekati SS dan di bawah kendali organisasi IKU nya sangat mendekati SS (ideal) dan di bawah kendali organisasi IKU nya jauh dari SS dan diluar kendali organisasi IKU nya sangat ideal dengan SS dan diluar kendali organisasi. 12. II. b.

TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100% Jumlah keseluruhan Soal Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai: 91 % 81 % 71 % 61 % 0% s. Untuk selanjutnya Anda dapat melanjutkan kegiatan belajar berikutnya.99 % 70.99 % 60 % : : : : : Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih. kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. s.d. s. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci dibawah rumus. d.d. kecuali: a.Penetapan dan Standar Kinerja 15. 100 % 90. b. c. maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik.5.d. Hitunglah jawaban Anda yang benar. s. DTSS Kepatuhan Internal 27 .d.00 % 80. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan. Berikut jenis-jenis indikator kinerja yang dapat digunakan dalam dokumen perencanaan.d s. Indikator kinerja outcome Indikator kinerja input Indikator kinerja manfaat Indikator kinerja outline 1.

menjelaskan Pengertian Standard Operating Procedures dengan baik. Kegiatan Belajar (KB) 2 STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) dan KODE ETIK PEGAWAI Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi peserta diklat diharapkan mampu : 1. Uraian dan Contoh 4. Menjelaskan Standar Kode Etik Pegawai prosedur-prosedur baku yang yang dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas 2. SOP Pada Bidang Sistem Aplikasi Komputer Kepabeanan dan Cukai Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah 5. SOP Pada Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai b.1. menjelaskan Faktor-faktor Penentu Penyusunan SOP dilingkungan DJBC 2.1. 2. Pengertian Standar Operating Prosedur Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah prosedur-prosedur baku yang yang dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari orang atau bagian terkait. menjelaskan komponen-komponen yang membentuk SOP a. SOP Pada Bidang Administrasi Kepabeanan dan Cukai d. Pengertian Standar Operating Prosedur c. SOP Pada Bidang Pengawasan Kepabeanan dan Cukai A. Uraian dan Contoh A. menjelaskan tujuan dan manfaat SOP 3. SOP merupakan salah satu elemen yang dibangun agar aktivitas (operasional) organisasi dapat berjalan efisien dan efektif. SOP berisikan proses kegiatan yang akan dilakukan atau diikuti oleh setiap orang/fungsi/bagian pada sebuah organisasi. Oleh karena DTSS Kepatuhan Internal 28 . sehingga apa yang menjadi tujuan organisasi dapai tercapai yang pada gilirannya akan mewujudkan good governance dalam organisasi. Dalam sistem pengendalian interen. Di dalamnya ditulis dengan detail langkah-langkah aktivitas yang akan dilakukan secara teknis dan didukung oleh data /dokumen yang diperlukan.Penetapan dan Standar Kinerja 2.

SOP dibuat untuk pedoman para pegawai atau bagian-bagian dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Menghemat waktu dalam memberikan penjelasan tentang tata kerja yang akan dilakukan. Dengan adanya prosedur kegiatan yang terinci. sehingga kesalahan-kesalahan operasional dapat dikurangi seminal mungkin. maka siapa pun yang melaksanakannya hasilnya akan sama. Tujuan dan Manfaat SOP Tujuan SOP Tujuan dibuatnya SOP tidak semata-mata untuk kebutuhan internal. prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Adanya prosedur yang standar membuat para petugas akan lebih mudah memberikan penjelasan-penjelasan secara pasti kepada para pihak terkait. SOP dapat digunakan sebagai kriteria di dalam mengukur kinerja individu. responsibilitas. sehingga dapat menghemat waktu. administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja. dan guna mengetahui seberapa jauh akuntabilitas kinerja instansi pemerintah tersebut. bagian atau organisasi berkaitan dengan ketepatan program dan waktu. 2. Memberikan penjelasan tentang prosedur kegiatan secara terperinci. Tujuan lain untuk kepentingan internal. DTSS Kepatuhan Internal 29 . 1. Bagi pihak ekternal. manfaat yang diperoleh dengan adanya SOP adalah sebagai berikut. B.Penetapan dan Standar Kinerja itu bagi organisasi yang mapan SOP merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. 3. Bagi pihak internal organisasi. SOP dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja organisasi publik tingkat responsivitas. Manfaat SOP Bagi suatu organisasi yang berorientasi pelayanan. Lebih jauh SOP juga dapat digunakan sebagai alat penilaian kinerja instasi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis. akan tetapi juga untuk keperluan pihak ekternal. Memberikan kemudahan dalam komunikasi dan tukar pikiran antar sesama pengguna SOP. misalnya masyarakat.

C. sistem dan prosedur disusun mengacu pada strategi yang ditetapkan. untuk sistem pengawasan yang terintegrasi dengan sistem DTSS Kepatuhan Internal 30 . sehingga dapat meningkatkan kinerja pegawai dari waktu ke waktu dan tercapainya efisiensi dan efektifitas kegiatan atau program. Tersedianya kejelasan fungsi dan tugas masing-masing pemegang jabatan. maka orientasi dalam penyusunan sistem dan prosedur dilingkungan DJBC lebih mengarah pada: Terwujudnya pelayanan yang cepat.Penetapan dan Standar Kinerja Kadang kala terjadi perbedaan pendapat para pelaksana dilapangan mengenai suatu kegiatan yang harus dilakukan. efisien. Terwujudnya pemanfaatan teknologi informasi yang optimal mendukung pelayanan dan pengawasan. Mendukung konsistensi kerja karena sistem kerja sudah jelas dan terstruktur secara sistematis. Tersedianya mekanisme terstruktur dalam pengendalian dan evaluasi SDM Terwujudnya sistem reward dan punishment yang jelas untuk menjamin ketenangan kerja. Dengan mengacu kepada SOP yang telah ditetapkan. SOP berguna untuk mencipatakan sistem kerja yang konsisten. perbedaan pendapat tersebut bisa dihindari. Memberikan pemecahan atas permasalahan yang terjadi dengan merujuk pada prosedur kerja yang telah ditetapkan. Terciptanya hubungan kemitraan sesuai dengan tingkat kepatuhan pengguna jasa dalam rangka pelayanan prima dan melakukan pembinaan secara proaktif. Berdasarkan hal tersebut. Terwujudnya pelayanan. 5. 4. Orientasi Penyusunan SOP di Lingkungan DJBC Sebagai kelengkapan untuk menggerakkan roda organisasi secara efektif. Kadang kala dalam dilapangan dijumpai adanya perbedaan persepsi atau pendapat antara pihak-pihak yang terkait. maka akan memudahkan mereka untuk berkomunikasi dan melakukan tukar pikiran antara sesama pengguna SOP tersebut. Dengan adanya SOP. responsif dan transparan dengan sistem pelayanan satu atap.

Unsur lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah teknologi informasi. kegiatan dan fungsi/bagian. Agar aktivitas-aktivitas dapat berjalan dengan baik. yaitu: dokumen. Unsur ini berperan dalam menunjang efektivitas implementasi SOP. Aktivitas adalah urutan-urutan kegiatan yang harus dilakukan oleh orang/fungsi/bagian terhadap dokumen-dokumen yang terkait untuk mencapai hasil tertentu. Misalnya. Teamwork tersebut dilakukan dengan menempatkan kewenangan dan tanggungjawab sesuai porsinya masing-masing dan menempatkan SDM sesuai kompetensi dengan tetap memperhatikan kaidah perbaikan yang berkesinambungan. aktivitas. persyaratan. kegiatan dan orang/fungsi/bagian yang terkait. DTSS Kepatuhan Internal 31 . Dokumen adalah formulir-formulir atau laporan-laporan yang digunakan atau dihasilkan dari suatu proses atau prosedur operasi suatu kegiatan.Penetapan dan Standar Kinerja Tersedianya kejelasan kewenangan dan mekanisme terstruktur dalam pelaksanaan kerja antar fungsi sehingga tercipta koordinasi yang baik. perlunya ditumbuhkan adanya komitmen para orang-orang yang terlibat tentang apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja instansi pemerintahan. Untuk tahap awal. biaya dan janji pelayanan. Penyusunan SOP dilingkungan DJBC tidak saja hanya memuat unsur dokumen. Prinsip dari ketersediaan sistem dan prosedur di atas adalah terciptanya motivasi kerja dengan kejelasan program SDM untuk meningkatkan kualitas kerja yang lebih berorientasi teamwork. Komponen-komponen Yang Membentuk SOP Pada dasarnya SOP dibangun dari oleh tiga unsur utama. D. prinsipnya sistem dan prosedur menggunakan prosedur-prosedur yang ada dengan melakukan penyesuaian seperlunya. tetapi juga berisi dasar hukum. untuk SOP pelayanan atas permohonan impor sementara akan dimulai dari penyampaian berkas permohonan masuk oleh pemohon sampai dengan pemberian keputusan oleh Pejabat yang berwenang (misalnya Kasubdit Impor). Orang/fungsi/ bagian terkait adalah pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses (prosedur).

100. SOP Pada Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai merupakan ujung tombak dari organisasi DJBC. E. dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan bisnis dengan DJBC. DTSS Kepatuhan Internal 32 . Janji Pelayanan berisi berapa lamanya pelayan jasa akan diberikan sejak dokumen permohonan diterima secara lengkap dan benar sampai persetujuan diberikan. seperti eksportir. UU atau Peraturan Pemerintah). akan tetapi juga harus dapat memuaskan para customer. Persyaratan berisi pihak-pihak yang diberikan hak untuk mendapatkan pelayanan atau hal-hal yang harus dipenuhi agar pelayanan dapat dilaksanakan. maka baik pemberi maupun penerima kuasa harus jelas dan benar. importer.000. Berhasil tidaknya organisasi sangat tergantung dari keberhasilan bidang ini dalam memberikan pelayanan pada stakeholder. Contoh untuk pelayanan pengembalian restitusi tidan dikenakan biaya. Selain itu pihak yang mengajukan pelayanan suatu jasa juga harus memenuhi persyaratan-persaratan yang telah ditetapkan oleh DJBC. Bila dikenakan biaya maka dalam SOP tersebut juga dicntumkan besarnya biaya.Penetapan dan Standar Kinerja Dasar hukum merupakan aturan-aturan yang melandasi alasan dibuatnya SOP. Sebagai ujung tombak yang berhubungan langsung dengan para stakeholder tentunya Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai harus ditata dan dikelola sedemikian rupa sehingga tidak saja tercapain tujuan organisasi yang ditetapkan. Dasar hukum dapat berupa aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah (UUD. Untuk ini perlunya ditetapkan standar prosedur untuk pelayanan setiap jasa yang diberikan. sedangkan untuk pemberian jasa pelayanan impor dikenakan biaya Rp. Pada saat dilakukan penelitian administratif harus dapat dibuktikan bahwa pihak yang mengajukan pelayanan adalah pihak yang benar. aturan-aturan yang dibuat departemen (Surat Keputusan Mentri Keuangan atau Surat Edaran). Bila pengurusan atas pelayanan tersebut dikuasakan. Unsur biaya berisi penjelsan apakah untuk mendapatkan suatu pelayanan customer akan dikenakan biaya atau tidak. atau aturan-aturan yang dibuat oleh DJBC.

cukai. Bidang Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai: 1) Pembebasan bea masuk atas barang untuk keperluan Badan International beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia DTSS Kepatuhan Internal 33 . Berikut jasa-jasa pelayanan di kedua bidang tersebut yang telah dibuatkan SOP-nya. Dari ketiga puluh SOP tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bidang pelayanan. dan pajak dalam rangka impor (ijin voorruitslag) 16) Pelayanan atas pembongkaran dan penimbunan barang di TPS dalam kawasan pabean 17) Pelayanan fasilitas truck losing. dan pajak dalam rangka impor 15) Ijin Pengeluaran barang impor dengan penengguhan pembayaran bea masuk.Penetapan dan Standar Kinerja Bidang Pelayanan Kepabeanan dan Cukai memiliki 30 jasa pelayanan yang telah dibuatkan SOP-nya.5) 11) Tatalaksana pemasukan barang ke TPB 12) Pelayanan atas permohonan perbaikan BC 1. cukai.1 13) Pelayanan atas sarana pengangkut dan pemberitahuan pengankutan barang 14) Pengeluaran barang impor dengan penangguhan pembayaran bea masuk. dan bidang pelayanan fasilitas pabean dan cukai. Bidang Pelayanan Pabean dan Cukai: 1) 2) 3) 4) 5) Sistem dan prosedur impor untuk jalur prioritas pada KPU Sistem dan prosedur impor untuk jalur hijau pada KPU Sistem dan prosedur impor untuk jalur merah Sistem dan prosedur impor menggunakan X-Ray Tata kerja konfirmasi barang impor dari kawasan pabean untuk ditimbun di TPB 6) 7) 8) 9) Nota Kesepakatan PDE (Pertukaran Data Elektronik) Permohonan ijin operasi PPJK Pemberian perijinan pengeluaran part off Pemberian perijinan fasilitas returnable package 10) Pembatalan barang tidak dikuasai (BCF 1. dan 18) Sistem dan prosedur ekspor. yaitu bidang pelayanan pabean dan cukai.

SOP Pada Bidang Pengawasan Kepabeanan dan Cukai Bidang Pengawasan Kepabeanan dan Cukai dapat dikelompokkan menjadi tiga. cukai dan pajak dalam rangka impor 12) Perpanjangan ijin pengeluaran barang impor dengan penengguhan pembayaran bea masuk. penyajian. dan penyampaian informasi dan hasil intelejen 3) Pengumpulan data pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai 4) Pengelolaan pangkalan data intelejen di bidang kepabeanan dan cukai DTSS Kepatuhan Internal 34 . cukai dan pajak dalam rangka impor (ijin vooruitslag) 11) Pengeluaran barang impor dengan penangguhan pembayaran bea masuk. Di setiap bidang tersebut telah dibuatkan SOP untuk kegiatan-kegiatan dan jasa pelayanan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. termasuk suku cadang yang diperuntukkan bagi keperluan prtahanan dan keamanan bangsa 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan Pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan Ijin impor sementara (wilayah pengawasan KPU) Perpanjangan ijin impor sementara (wilayah pengawasan KPU) Re-ekspor Re-impor 10) Ijin Pengeluaran barang impor dengan penengguhan pembayaran bea masuk. Bidang Penindakan dan Penyidikan: 1) 2) Pengawasan Pengumpulan. yaitu Bidang Penindakan dan Penidakan.Penetapan dan Standar Kinerja 2) Pembebasan bea masuk atas impor barang contoh yang tidak untuk diperdagangkan 3) Pembebasan bea masuk atas impor persenjataan. F. cukai dan pajak dalam rangka impor (ijin vooruitslag). analisis. Bidang Audit dan Bidang Kepatuhan Internal. amunisi. perlengkapan militer dsn kepolisian.

cukai pajak dalam rangka impor. laporan pengawasan pembongkaran barang dan laporan pengawasan lainnya 6) Pelaksanaan patroli dan operasi penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai 7) Perhitungan bea masuk . denda administrasi terhadap kekurangan bongkar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh pengangkut atau kelebihan bongkar dan denda administrasi pelanggaran lainnya 8) Penatausahaan dan pengurusan barang hasil penindakan. Bidang Audit: Bidang Audit mempunyai 12 jasa layanan atau aktivitas yang telah dibuatkan SOP-nya. Kedua belas aktivitas atau jasa pelayanan tersebut adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Tata laksana penelitian lapangan dalam rangka registrasi kepabeanan Pelaksanaan penelitian lapangan dalam rangka registrasi kepabeanan Penyusunan perencanaan audit di bidang kepabeanan dan cukai Penyusunan perencanaan audit insidentil (audit sewaktu-waktu) Penyusunan daftar rencana obyek audit (DROA) di bidang kepabeanan dan cukai 6) 7) 8) 9) Pengelolaan data dalam rangka manajemen risiko Analisis data dalam rangka manajemen risiko Penyelenggaraan pelaksanaan audit di bidang keabeanan dan cukai Pelaksanaan audit atas keberatan penetapan nilai pabean 10) Tata laksana audit di bidang kepabeanan dan cukai 11) Pelaksanaan audit oleh tim audit 12) Evaluasi hasil audit di bidang kepabeanan dan cukai DTSS Kepatuhan Internal 35 . sarana komunikasi dan senjata api. barang bukti. pelelangan dan uang ganjaran hasil tangkapan 9) Penyiapan bahan pengendalian tindak lanjut hasil penindakan 10) Penyelidikan/penyidikan tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai 11) Pemantauan tindak lanjut hasil penyidikan di bidang kepabeanan dan cukai 12) Penatausahaan dan pengelolaan sarana operasi.Penetapan dan Standar Kinerja 5) Analisis laporan pemeriksaan sarana pengangkut.

G. Renja. RKT. dan LAKIP di KPU. SOP Pada Bidang Administrasi Kepabeanan dan Cukai Bidang Administrasi Kepabeanan dan Cukai memiliki 15 jasa pelayanan yang telah dibuatkan SOP-nya.Penetapan dan Standar Kinerja Bidang Kepatuhan Internal: Bidang Kepatuhan Internal memiliki 11 jasa pelayanan yang telah dibuatkan SOP-nya. Kesebelas jasa tersebut adalah sebagai berikut: 1) Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang pelayanan kepabeanan dan cukai 2) Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang intelejen. penindakan dan penyidikan kepabeanan dan cukai 3) 4) 5) 6) Pengawaan pelaksanaan tugas di bidang audit kepabeanan dan cukai Pengawasan pelaksanaan tugas di bidang administrasi Penanganan laporan pengaduan dan pujian masyarakat Evaluasi pelaksanaan peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai 7) 8) Evaluasi terhadap pelaksanaan kode etik dan perilaku pegawai Evaluasi kinerja di bidang pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai 9) Pemberian rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas 10) Pelaporan dan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan kepatuhan internal dan hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional 11) Pemberian bahan masukan dalam rangka penyusunan Renstra. Kelimabelas jasa layanan tersebut adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Administrasi penerimaan dan pemungutan PNBP Pelayanan surat keterangan impor kendaraan bermotor Administrasi pelayanan penerimaan jaminan Administrasi pelayanan pengembalian jaminan Penerbitan SPKPBM Penerbitan surat teguran (melalui aplikasi) Penerbitan dan penyampaian surat paksa Penerbitan dan penyampaian surat paksa DTSS Kepatuhan Internal 36 .

Hasil kajian yang telah dilakukan oleh tim reformasi DJBC mengenai aplikasi yang perlu dikembangkan di KPU/KPBC telah menghasilkan hal-hal berikut: • • • • • Pengembangan aplikasi pelayanan kepabeanan dan cukai secara computerized yang terintegrasi dan paperless Penerapan sistem pertukaran data secara elektronik (PDE) dalam proses pelayanan Penerapan office automation dalam penanganan proses administrasi perkantoran Penyediaan aplikasi/analysis tools untuk mendukung penerapan manajemen risiko Penerapan perijinan dan fasilitas secara elektronik DTSS Kepatuhan Internal 37 . tepat. bunga 10) Administrasi premi denda administrasi 11) Pelayanan keberatan 12) Peleyanan keberatan tariff bea masuk di KPU 13) Pembuatan surat uraian banding berdasarkan keberatan yang ditolak 14) Pelayanan pengembalian karena putusan pengadilan pajak 15) Pelayanan pengembalian karena kesalahan tata usaha atau sebab lainnya. staf. Dengan suatu sistem informasi yang terintegrasi maka KPU/KPPBC Madya dapat mengambil keputusan secara cepat. SOP Sistem Aplikasi Komputer Kepabeanan dan Cukai Peran teknologi informasi di KPU/KPPBC Madya dalam mengoptimalkan pengendalian dan pengawasan manajemen operasi dan menunjang kelancaran pelayanan sangat diperlukan. sewa.Penetapan dan Standar Kinerja 9) Administrasi penerimaan bea masuk. perkantoran. Sebagai standardisasi teknologi perangkat sistem informasi mengacu pada open platform sehingga dapat terkoneksi dengan perangkat komunitas teknologi informasi lain. baik ditingkat operasional pimpinan. dan akurat. cukai. H. Pengembangan sistem informasi dimulai dengan memetakan dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan untuk keperluan pelayanan. pengawasan. maupun pelaksana.

Penetapan dan Standar Kinerja Dalam rangka mewujudkan penerapan TI secara optimal guna mendukung pelayanan dan pengawasan telah dilakukan strategi sebagai berikut: Menerapkan system PDE yang berbasis web untuk pelayanan Menerapkan Office Automation (workflow) Membuat aplikasi analisis untuk verifikasi dokumen pabean dan cukai Menerapkan konsep pelayanan tanpa dokumen (paperless) bagi pengguna jasa dengan tingkat kelatuhan tinggi Menerapkan teknologi informasi untuk mempercepat pelayanan perizinan. tingkah laku. melaksanakan tugas dan wewenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. ditetapkan oleh pejabat yang DTSS Kepatuhan Internal 38 . disebutkan bahwa Kode Etik Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pedoman sikap. Sampai saat ini sudah sebagaian besar jasa pelayanan yang telah menggunakan system aplikasi computer. Dalam Pasal 9 PP 42 Tahun 2004 dinyatakan bahwa etika PNS dalam berorganisasi adalah: 1. melaksanakan setiap kebijakan yang berwenang. baik jasa-jasa layanan di bidang kepabeanan maupun di bidang cukai. diterangkan dalam beberapa pasal Peraturan Pemerintah tersebut di atas. dan pemberian fasilitas Menerapkan teknologi informasi untuk mempercepat pemenuhan persyaratan pabean dan cukai dari instansi lain. I. Standar Kode Etik Pegawai Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. 3. menjaga informasi yang bersifat rahasia. 2. Berkaitan dengan masalah etika pegawai negeri sipil. membangun etos kerja untnk meningkatkan kinerja organisasi. 4.

8. yaitu: 1. 7. 8. dan adil serta tidak diskriminatif. DTSS Kepatuhan Internal 39 . 3. Berkaitan dengan etika sesama pegawai negeri sipil juga dinyatakan dalam Pasal 12. Sedangkan dalam Pasal 11 PP 42 Tahun 2004 berkaitan dengan etika PNS terhadap diri sendiri dinyatakan meliputi: 1. keterampilan. berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan. memelihara kesehatan jasmani dan rohani. 6. terbuka. dan sopan. berorientasi pada upaya peningkatan kualias kerja. 2. mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inova tif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi. tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat. menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan. mewujudkan pola hidup sederhana. 2. 7. memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil. patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja. saling menghormati sesama warga negara yang memeluk agama/ kepercayaan yang berlainan. dan sikap. memberikan pelayanan secara cepat. berpenampilan sederhana. Demikian juga dalam Pasal 10 PP 42 Tahun 2004 juga dinyatakan etika PNS dalam bermasyarakat yang meliputi: 1. 9. 5. memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas. bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. memiliki daya juang yang tinggi. maupun golongan. 6. menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga. tepal. 4. kemampuan. memberikan pelayanan dengan empati hormat dan santun tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan. 2.Penetapan dan Standar Kinerja 5. dan 5. rapih. kelompok. jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang salah. 4. 3. berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas. menghindari konflik kepentingan pribadi.

melaksanakan tugas kedinasan dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian. 3. saling menghormati antara sesama warga negara yang berbeda agama/ kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. tertib. maupun antar instansi. bekerja dengan jujur.Penetapan dan Standar Kinerja 3. pemerintah atau pegawai negeri sipil. menghindari memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat pegawai negeri sipil. 7. kecuali untuk kepentingan jabatan. baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja. 5. 4. 4. mengangkat dan mentaati sumpah/ janji pegawai negeri sipil dan sumpah/ janji jabatan berdasarkan peraturan perundang-undengan yang berlaku. Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi menetapkan kode etik instansi. kesadaran dan tanggung jawab. berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya solidaritas dan soliditas semua Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak.masing. menghindari diri untuk melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan atau martabat negara. Organisasi Profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil menetapkan kode etiknya masing. dimana berkaitan dengan tanggung jawab pribadi pegawai Direktur Jenderal Bea dan Cukai dinyatakan bahwa pegawai wajib: 1. 2. menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil. Berdasarkan ketentuan kode etik sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini: 1.haknya. 6. instansi. 8. menghindari penyalahgunaan wewenangnya. menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil. saling menghormati antara teman sejawat. cermat dan bersemangat untuk kepentingan negara. DTSS Kepatuhan Internal 40 . 6. 2. 5. menghindari diri untuk menghalangi berjalannya tugas kedinasan. 7. menghargai perbedaan pendapat. Selanjutnya dikeluarkan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP 04/BC/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

persatuan dan kesatuan korps pegawai negeri sipil. 17. menjalankan pola hidup sederhana di dalam kehidupan bermasyarakat. memberikan kariernya.Penetapan dan Standar Kinerja 9. mentaati ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan. 18. 14. 16. menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. Berkaitan dengan ketaatan kepada undang-undang Semua pegawai Direktur Jenderal Bea dan Cukai harus tunduk dan patuh pada undang-undang dan ketentuan formal yang berlaku. berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap sesama pegawai negeri sipil dan atasan. Hal ini berarti bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai. DTSS Kepatuhan Internal 41 . 11. mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. pengetahuan dan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas. mendorong bawahan untuk meningkatkan prestasi kerjanya. menjadi teladan sebagai warga negara yang baik dalam masyarakat. mentaati ketentuan jam kerja. 19. 10. 2. kekompakan. 20. memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan pemerintah baik yang langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum. memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. selalu berusaha meningkatkan kemampuan. membimbing bawahan dalam melaksanakan tugasnya. 15. memelihara dan meningkatkan keutuhan. yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan yang ditegakkan oleh Bea dan Cukai. atau peraturan perundang-undangan dimana Bea dan Cukai mempunyal kepentingan di dalamnya dapat dianggap sebagai pelanggaran yang serius/parah yang dapat mencemarkan nama baik institusi DJBC. Oleh sebab itu pegawai wajib : 1. 3. 12. 13.

menyelenggarakan upaya pencegahan agar masalah yang serupa tidak terulang dikemudian hari. 3. keluhan dan keberatan tersebut. menghindari untuk melakukan suatu tindakan yang dapat berakibat menghalangi atau mempersulit salah satu pihak yang dilayaninya sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak Yang dilayani dan/ atau pihak lainnya.Penetapan dan Standar Kinerja Kode etik yang berkaitan dengan tanggungjawab kepada masyarakat Dalam melaksanakan tugasnya setiap pegawai wajib memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sebagai wujud kesadaran akan kedudukannya sebagai pelayan masyarakat Oleh sebab itu setiap pegawai wajib: 1. perilaku dan integritas pegawai. maka pegawai wajib : DTSS Kepatuhan Internal 42 . Kode etik pegawai bea cukai dalam kegiatan politik Pegawai negeri berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional. pegawal wajib untuk bersikap : 1. menyelidiki duduk masalah dan kernudian menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut. Menghadapi hal demikian. transparan dan profesional sesuai ketentuan yang berlaku. protes. keluhan dan keberatan yang berasal dari masyarakat. protes. 4. rekan sekerja maupun pihak terkait lainnya terhadap kinerja dan perilaku pegawai. menunjukan sikap simpatik dan bersedia menampung berbagai bentuk kritik. jujur. responsif. pemerintahan dan pembangunan. 3. berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat namun tegas. adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara. menyelesaikan masalah secara cepat dan obyektif serta mengacu kepada ketentuan vang berlaku. Kode Etik terhadap keberatan dan kritik masyarakat Setiap pegawai bea dan cukai harus sadar sepenuhnya tentang perlunya membangun citra yang positif tentang kinerja. memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat menurut bidang tugasnya masing-masing. Dalam kedudukan dan tugas sebagaimana tersebut di atas. 2. 2. membuka diri. Dalam melayani masyarakat seringkali tidak terhindarkan adanya masukan dalam bentuk kritik.

2. menghindari kepemilikan saham/modal dalam perusahaan yang kegiatan usahanya berada dalam ruang lingkup kekuasaannya. serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan negara oleh kepentingan golongan. 2. menghindari kepemilikan saham suatu perusahaan yang kegiatan usahanya tidak berada dalam ruang lingkup kekuasaannya yang jumlah dan sifat DTSS Kepatuhan Internal 43 . Kode etik terkait dengan pemberian hadiah atau imbalan pegawai Dalam melaksanakan tugasnya seringkali pegawai berhubungan dengan organisasi. bersikap netral darl pengaruh sernua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. diri sendiri atau pihak lain. Oleh sebab itu pegawai wajib : 1. Kode etik terkait konflik kepentingan pegawai Dirjen Bea dan Cukai Konflik kepentingan dapat timbul dari pegawai yang berurusan dengan. 5.Penetapan dan Standar Kinerja 1. menghindari melakukan kegiatan bersama dengan atasan. golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara. atau dari pegawai yang keputusannya dibuat untuk. pengguna jasa atau anggota masyarakat yang mengharapkan adanya penyimpangan prosedur dari ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini pegawai wajib untuk: 1. golongan atau pihak lain. menolak melakukan penyimpangan prosedur don menolak pemberian hadiah atau imbalan dalam bentuk apapun dari pihak manapun yang diketahui atau patut diduga bahwa penterian itu bersangkutan atau mungkin bersangkutan dengan jabatan atau pekedaan pegawai negeri sipil yang bersangkutan. 2. orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi. 4. menghindari diri menjadi anggota dan/ atau pengurus partai politik. bawahan atau orang lain di dalarn maupun di luar lingkungan kedanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. dengan menjanjikan hadiah atau imbalan untuk pegawai tersebut. menghindari untuk bertindak selaku perantara bag! sesuatu pengusaha atau golongan untuk mendapatkan pekerjaan atau pesanan dari kantor/ instansi pernerintah. teman sejawat. mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan atau diri sendiri. 3. menghindari melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun juga dalam melaksanakan tugasnya untuk kepentingan pribadi.

uang atau surat-surat berharga milik negara. menjual. maupun sambilan menjadi direksi. Kode etik terkait dengan kerahasiaan dan penggunaan informasi resmi Seringkali karena kedudukan dan/ atau jabatannya scorang pagawal memperolah. mengolah dan menyimpan Informasi resmi negara yang sifatnya rahasla. menggadaikan. 2.Penetapan dan Standar Kinerja pemilikan itu sedemikian rupa sehingga melalui pemilikan saham tersebut dapat langsung atau tidak langsung menentukan penyelenggaraan atau jalannya perusahaan. membeli. Kode etik terkait dengan penggunaan barang dan jasa dinas Barang dan jasa dinas adalah aset institusi untuk mendukung pelaksanaan tugas penegakan hukum. DTSS Kepatuhan Internal 44 . menyewakan atau meminjarnkan barang-barang. 3. menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan sebaikbaiknya. Kecuali jika diberi wewenang secara khusus. golongan atau pihak lain. apabila mengetahui adanya tindakan permbocoran rahasia dan informasi resmi yang dapat membahayakan atau merugikan negara/ pemerintah terutama di bidang keamanan. dokumen atau surat-surat berharga milik negara secara tidak sah. 2. keuangan dan materil. menghindari diri menjadi pegawai atau bekerja untuk negara asing tanpa ijin pemerintah 3. menghindari penyalahgunaan barang-barang. menghindari untuk memiliki. segera melaporkan kepada atasannya. menyimpan rahasia negara dan atau rahasia jabatan dengan sebaik-baiknya dan menghindari pemanfaatan rahasia negara yang diketahui karena kedudukan dan/ atau jabatan untuk kepentingan pribadi. pimpinan atau komisaris perusahaan swasta bagi yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke atas atau yang memangku jabatan eselon I. Oleh sebab Itu maka pegawai wajib: 1. penggunaan sumber daya atau jasa dinas untuk kepentingan atau keuntungan pribadi sangat dilarang. 6. menghindari melakukan kegiatan usaha dagang baik secara resmi. Oleh sebab itu setiap pegawai wajib: 1.

1. 3. tetapi adil dan bilaksana terhadap bawahannya. Kode etik terkait dengan praktek korupsi. bersedia diperiksa kekayaannya sebelum. mengucapkan sumpah atau janji sesuai dengan agamanya sebelum memangku jabatannya. Oleh sebab itu pegawai wajib : 1. selama dan setelah menjabat. menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. bertindak dan bersikap tegas. 5. menghindari diri dari pernyalahgunaan senjata api dan barang-barang berbahaya lainnya. menghindari diri dari penyalahgunaan alkohol dan narkoba. mengetahui. aman dan bebas dari diskriminasi dan gangguan akan dapat meningkatkan gairah bekerja sehingga tujuan individu dan organisasi akan lebih cepat tercapai. Kolusi dan Nepotisme harus menyadari dan mentaati dengan sungguhsungguh mengenai kewajibannya sebagaimana disebutkan dalam pasal 5 undang-undang tersebut. yaitu. 3. kolusi dan nepotisme Setiap pegawal harus menyadari dan mentaati dengan sungquh-sunqguh mengenai semua ketentuan mengenai tindak pidana korupsi sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.Penetapan dan Standar Kinerja Kode etik terkait dengan lingkungan kerja Suasana tempat keda yang sehat. dan mengumumkan kekayaannya sebelum dan setelah DTSS Kepatuhan Internal 45 . mengbindari diri untuk tidak melakukan tindakan yang bersifat negatif dengan maksud membalas dendam terhadap bawahannya atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya. Segala bentuk tindakan korupsi sebagaimana disebutkan daiam undang-undang tersebut akan dikenakan sanksi pidana dengan maksimal hukuman yang dapat berupa pidana mati. melaporkan menjabat. 6. memahami dan melaksanakan ketentuan tentang standar berpakaian seragam dinas yang berlaku. Bagi pegawai yang menjadi penyelenggara negara yang meliputi jabatanjabatan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 2 Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi. 2. 4. 2.

coba kerjakan latihan-latihan berikut ini. kolusi dan nepotisme serta dalam perkara lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang beriaku. 1. tanpa pamrih baik untuk kepentingan pribadi. dan tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun yang bertentangan dengan katentuan perundang-undangan yang berlaku. Bagaimana agar implementasi SOP dapat efektif? 5. tidak melakukan perbuatan korupsi. Kolusi dan Nepotisme. keluarga. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010. kroni.Penetapan dan Standar Kinerja 4. Latihan 2 Agar Anda dapat lebih memahami materi pada kegiatan belajar 2 ini. melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab dan tidak melakukan perbuatan tercela. Jelaskan pengertian SOP ? 2. Jelaskan komponen-komponen yang membentuk SOP? 4. menghayati dan mengamalkan kode etik tersebut di atas dalam pelaksanaan tugasnya maupun dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Jelaskan bagaimana SOP dapat meningkatkan kinerja organisasi ? DTSS Kepatuhan Internal 46 .2. bersedia menjadi saksi dalam perkara korupsi. 6. ras dan golongan. Adapun setiap bentuk pelanggaran terhadap ketentuan pasal tersebut di atas akan dikenakan sanksi sebagaimana tercanturn di dalarn Pasal 20. agama. melaksanakan tugas tanpa membeda-bedakan suku. 21 dan 22 Undang-undang Nomor 26 Tahun 1999 Tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi. 2. Setiap pelanggaran atas kode etik tersebut dapat dikenai sanksi atau hukuman sesuai dengan tingkat pelanggarannya. maupun kelompok. 5. kolusi dan nepotisme. dan 7. Jelaskan manfaat SOP bagi pegawai pemeriksa? 3. Jelaskan hubungan antara SOP dengan Sistem Pengendalian Internal (SPI) ? 6. Setiap pegawai DJBC wajib menjunjung tinggi.

Penetapan dan Standar Kinerja 7. coba Anda kerjakan tes formatif berikut ini. Rangkuman 1. Untuk memberikan pelayanan kepabeanan dan cukai yang memuaskan kepada pada customer diperlukan adanya standar pelayanan yang memadai. pemeriksa dapat menidentifikasi permasalahan yang dihadapi organisasi secara lebih dini. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Tes Formatif Untuk menguji hasil belajar pada kegiatan belajar 2 ini. 2. SOP juga berguna bagi para pemeriksa sebagai acuan di dalam menilai kinerja instansi yang diperiksanya. Sistem Informasi DTSS Kepatuhan Internal 47 . SOP merupakan suatu rangkaian instruksi tertulis dalam bentuk suatu dokumen yang berisikan prosedur-prosedur operasi yang rutin yang akan digunakan sebagai acuan pegawai di dalam memberi layanan kepada setiap pelanggan. 2. tingkah laku. Selain itu dengan mempelajari SOP kemudian mengukur risiko-risiko yang melekat pada SOP tersebut. sehingga proses pemeriksaan akan lebih efisien dan efektif. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik. 1. dengan cara berikan tanda silang (X) pada jawaban yang Anda anggap benar. disebutkan bahwa Kode Etik Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pedoman sikap.3. 3. Prosedur-prosedur baku yang yang dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari orang atau bagian terkait.4. Jelaskan yang dimaksud dengan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil ? 2. 4. Standar tersebut harus diperlakukan secara sama kepada semua pihak. di sebut: a. Untuk ini diperlukan adanya Standar Operating Prosedur (SOP) yang harus dilaksanakan secara benar oleh para pegawai dilingkungan DJBC.

Analisis. Jasa-jasa pelayanan berikut merupakan tupoksi Bidang Penindakan dan Penyidikan. 2. Menghemat tenaga kerja. 6. d. Keterbukaan dalam evaluasi SOP d. Menghemat biaya. kecuali: a. yaitu: dokumen. Membuat para petugas akan lebih mudah memberikan penjelasanpenjelasan secara pasti. SOP Pengawasan c. c. Tanpa SOP organisasi tidak berjalan. Efisiensi SOP 4. Dasar Hukum Pelayanan. Akuntabilitas Pelaksanaan SOP c. Janji pelayanan d. Di lingkungan DJBC selain unsur di atas unsur-unsur berikut juga dijadikan unsur pertimbangan. SOP d. 5. aktivitas. SOP Impor Sementara b. Penyajian dan Penyampaian Informasi dan Hasil Intelejen. Sistem Pengendalian c. 3. Pelayanan yang diberikan kepada siapapun akan memperoleh hasil yang sama. a. kegiatan dan orang/fungsi/bagian. Dari pernyataan berikut mana yang paling benar. Biaya pelayanan c. Sistem reward dan punishment yang jelas akan meningkatkan: a. SOP dibuat untuk kebutuhan internal organisasi b. c. Prosedur Minimum. b. Pada dasarnya SOP dibangun dari oleh tiga unsur utama.Penetapan dan Standar Kinerja b. Denda bila tidak dilayani dengan baik b. SOP Pengumpulan. DTSS Kepatuhan Internal 48 . Efektifitas implementasi SOP b. Mana dari pernyataan berikut yang bukan merupakan manfaat SOP a. kecuali: a. SOP dibuat untuk kebutuhan internal dan ekternal d. Dengan SOP yang baik organisasi pasti baik pula.

kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi pada kegiatan belajar ini. Tanggap terhadap pelestarian lingkungan alam. 9. c. Tanpa SOP organisasi tidak akan berjalan. SOP dapat meningkatkan kinerja organisasi d. SOP adalah salah satu unsur pengendalian internal b. Etika PNS dalam bermasyarakat meliputi. SOP dapat mewujudkan good governance. Mentaati ketentuan jam kerja b. b. kecuali: a. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Coba cocokkan hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang telah disediakan. Menjadi teladan dalam masyarakat d. kecuali: a. 8. b. 10. DTSS Kepatuhan Internal 49 . Mana dari pernyataan ini yang kurang tepat : a. Tingkat responsibilitas c. d. Mewujudkan pola hidup sederhana.5. Menjalankan pola hidup sederhana c. Dalam Kode Etik dan Prilaku Pegawai DJBC dinyatakan bahwa pegawai wajib. Berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. 2. terbuka dan adil c. Menghindari memasuki tempat-tempat maksiat dengan alasan apapun. Tingkat responsivitas. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan kualifikasi hasil belajar yang telah terinci dibawah rumus. Hitunglah jawaban Anda yang benar. kecuali: a. Tingkat akuntabilitas kinerja instansi d.Penetapan dan Standar Kinerja d. Tingkat integritas. SOP Pengumpulan Data Pelanggan Perundang-undangan Kepabeanan dan Cukai. Memberikan pelayanan secara cepat. SOP dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja organisasi publik guna mengetahui hal-hal berikut. tepat. 7.

s.d.99 % 70. maka Anda telah menguasai materi kegiatan belajar ini dengan baik.d.d. 100 % 90.d s.99 % 60 % : : : : : Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Bila hasil perhitungan Anda telah mencapai 81 % atau lebih.Penetapan dan Standar Kinerja TP = Jumlah Jawaban Yang Benar X 100% Jumlah keseluruhan Soal Apabila tingkat pemahaman (TP) Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai: 91 % 81 % 71 % 61 % 0% s.d. s. s.00 % 80. DTSS Kepatuhan Internal 50 .

Penetapan dan Standar Kinerja PENUTUP Setelah peserta diklat melakukan proses pembelajaran mulai dari kegiatan belajar pertama sampai dengan kegiatan belajar kedua. DTSS Kepatuhan Internal 51 . maka selanjutnya peserta diklat diminta untuk dapat memahami dan menyelesaikan Tes Sumatif yang merupakan gabungan tes seluruh materi kegiatan-kegiatan belajar yang telah dipelajari sebelumnya. Selanjutnya diharapkan peserta dapat menerapkan materi diklat ini di tempat kerja masing-masing dengan penuh kesungguhan agar dapat memberikan hasil yang optimal bagi peningkatan kinerja di unit masing-masing dan peningkatan kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai secara umum. logis dan komprehensif atas segala permasalahan yang dihadapi di lingkungan kerja. Diharapkan peserta dapat mengerjakan secara baik Tes Sumatif berupa essay tersebut secara mandiri untuk memberikan gambaran mengenai kemampuan peserta dalam mempelajari secara keseluruhan rangkaian materi modul ini dan yang terpenting adalah melatih peserta diklat untuk berfikir secara sistematis.

Moderate dan Low sesuai degree of controllability dalam IKU ? DTSS Kepatuhan Internal 52 . RKT. Outcome dan Impact ? 16. 3. Penetapan Kinerja. Jelaskan secara singkat program reformasi birokrasi lanjutan di di lingkungan DJBC Kementerian Keuangan ? 10. 8. LAKIP dan BSC secara singkat dan sistematis ? 6. Output. Apa yang dimaksud dengan cascading dan alignment IKU ? 14. Jelaskan 4 (empat) perspektif yang diterapkan pada Peta Strategi di Kementerian Keuangan ? 13. Jelaskan hubungan antara Renstra. Apa yang dimaksud dengan IKU dan jelaskan jenis IKU yang ada ? Apabila anda diminta oleh atasan untuk mengusulkan Indikator Kinerja Utama di unit seksi anda. Jelaskan yang dimaksud dengan High. Jelaskan secara singkat pengertian level BSC “Depkeu Wide sampai dengan Depkeu Five” di lingkungan Kementerian Keuangan ? 12. Jelaskan unsur-unsur yang harus ada dalam SOP ? Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kode Etik dan Prilaku Pegawai DJBC dan Komisi Kode Etik? 9. Jelaskan yang dimaksud dengan Maximize. IKU apa yang anda usulkan dan apa alasannya? 4. Jelaskan secara singkat penetapan Sub Manajer Kinerja (SMK) dan penetapan Kontrak Kinerja (KK) di lingkungan DJBC ? 15. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Peta Strategi. Jelaskan yang dimaksud dengan Balanced Scorecard (BSC) dan manfaatnya ? 2. Jelaskan pengertian kinerja dan evaluasi kinerja khususnya berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal nomor P-23/BC/2010 ? 11. Minimize dan Stabilize dalam IKU ? 17.Penetapan dan Standar Kinerja TES SUMATIF 1. Sasaran Strategi dan IKU dan kaitannya satu sama lain ? 5. Jelaskan secara singkat pengelolaan kinerja berdasarkan Kep-19/BC/2010 ? 7. Jelaskan secara singkat indikator kinerja Input.

1 NOMOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 JAWABAN S S S B S B S KEGIATAN BELAJAR .Penetapan dan Standar Kinerja KUNCI JAWABAN JAWABAN TES FORMATIF KEGIATAN BELAJAR .2 NOMOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 JAWABAN C A A A C A C B B D D B D D C B D D DTSS Kepatuhan Internal 53 .

DTSS Kepatuhan Internal 54 . Outcome: efek langsung. Monev. Internal Proses. 3. BSC : alat ukur kinerja. 4. 17. SOP. Input: untuk menghasilkan output. Max: realisasi > target. Evaluasi 10. 16. aktivitas. Impact: pengaruh baik positif maupun negatif. LAKIP : dokumen pertanggungjawaban : 1 tahun. kinerja: kegiatan penilaian hasil kerja menurut indikator tertentu atas dasar target yang telah ditetapkan. Output: sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan. lagging. 12. Personal scorecard Menteri. 9. kegiatan dan orang/fungsi/bagian Berkaitan dengan tanggungjawab pribadi pegawai DJBC. IKU : alat ukur Renstra : rencana 5 tahun. Alat ukur kuantitatif. dan pelaksana. Menerjemahkan visi dan strategi ke dalam aksi. Kinerja: hasil kerja pegawai dan unit kerja yang dapat diukur. SS : pernyataan kondisi masa depan. 15. RKT dan PK : rencana 1 tahun. 8. Komisi untuk menyelesaikan masalah kode etik. High: Pencapaian Target (PT) ditentukan oleh unit yang bersangkutan. 11. Stakeholder. Penataan organisasi. Learning and Growth. IKU. Sistem pengelolaan kinerja berbasis BSC untuk mencapai tujuan Dokumen. Pimpinan unit eselon II menetapkan SMK. 2. Min: realisasi < target. IV. 5. Alat manajemen kinerja. leading Sesuai dengan unit masing-masing PS : value chain. III. Masing-masing SMK mengkoordinasikan proyeksi target IKU untuk penyusunan Kontrak Kinerja. 13. BSC selaras secara vertikal dan horisontal 14. Customer. Tk validitas . level unit eselon I. Low: PT sangat dipengaruhi unit lain. Moderate: PT dipengaruhi oleh unit lain. 6. II. Stabilize: realisasi=rentang target tertentu. pengembangan SDM.Penetapan dan Standar Kinerja KUNCI JAWABAN KATA KUNCI TES SUMATIF 1. Proses menurunkan BSC. 7.

DTSS Kepatuhan Internal 55 . dan persentase biaya pelatihan terhadap revenue perusahaan. tingkah laku.Penetapan dan Standar Kinerja DAFTAR ISTILAH Annual performance plan adalah Rencana kinerja yang merupakan rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari perencanaan stratejik. persentase karyawan berpendidikan tinggi. KPI merupakan rincian indiaktor atau parameter dari setiap satuan kegiatan yang ada dalam satu bidang kerja yang diberi nilai berupa kuantifikasi dan/atau kualifikasi yang harus dicapai atau dipenuhi oleh pegawai dalam satu bidang kerja yang merefleksikan ukuran atau standard kinerja organisasi. Consumer knowledge kondisi dimana masyarakat pelanggan yang dilayani lebih mudah dan lebih memahami dalam mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan oleh aparat birokrasi pelayanan publik Indikator absolut. Budaya patrimonial. Indikator tertimbang. dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil di dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari. Key Performance indicator (KPI) atau indikator-indikator kunci merupakan indicator yang dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam pengukuran kinerja organisasi. contohnya persentase karyawan bermotivasi tinggi. contohnya produktifitas karyawan dan revenue perusahaan perkaryawan dalam waktu tertentu. dimana budaya organisasi penyelenggara pelayanan publik di Indonesia masih banyak terikat oleh tradisi-tradisi politik dan budaya masyarakat setempat yang seringkali tidak kondusif dan melanggar peraturan-peraturan yang telah ditentukan. Kode Etik Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah pedoman sikap. di dalamnya memuat seluruh target kinerja yang hendak dicapai dalam suatu tahun yang dituangkan dalam sejumlah indikator kinerja (performance indicators) yang relevan. Indikator relatif. contohnya produktifitas karyawan berdasarkan unsur kontrol pada periode dan kondisi inflasi tertentu.

yaitu bahwa setiap jenis pelayanan proses pelayanannya harus ditangani oleh aparat yang benar-benar memahami secara teknis pelayanan tersebut berdasarkan kejelasan. jarak dan prosedur pelayanan). prosedur dan instrumen pelayanan Producer knowledge adalah kondisi dimana pihak aparat birokrasi yang melayani lebih mudah memahami dan mengevaluasi kualitas pelayanan publik daripada masyarakat pelanggan yang dilayani. tidak ada dorongan yang kuat untuk meningkatkan jumlah. Prinsip Profitabilitas. DTSS Kepatuhan Internal 56 . dalam hal ini karena tidak adanya kompetisi dari penyelenggara pelayanan publik non pemerintah.Penetapan dan Standar Kinerja Konteks monopolistik. produk dan mutu pelayanan yang telah diberikan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat karena aparat pemerintah itu pada hakekatnya mempunyai tugas memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat. Mutual knowledge adalah kondisi dimana pihak aparat birokrasi yang melayani dan pihak masyarakat yang dilayani sama-sama dapat dengan mudah memahami kualitas pelayanan tersebut. Prinsip Aksestabilitas. ketepatan dan kemantapan sistem. yaitu bahwa setiap jenis pelayanan harus secara terus menerus tersedia bagi masyarakat dengan kepastian dan kejelasan ketentuan yang berlaku bagi proses pelayanan tersebut. Prinsip Akuntabilitas. yaitu bahwa proses pelayanan pada akhirnya harus dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien serta memberikan keuntungan ekonomis dan sosial baik bagi pemerintah maupun bagi masyarakat luas. yaitu bahwa proses. Prinsip Teknikalitas. kualitas maupun pemerataan pelayanan tersebut oleh pemerintah Mutual Ignorance adalah kondisi dimana baik aparat birokrasi pelayanan publik maupun masyarakat yang dilayani sama-sama tidak tahu dan mendapat kesulitan dalam mengevaluasi kualitas pelayanan publik. Prinsip Kontinuitas. dimana setiap jenis pelayanan harus dapat dijangkau secara mudah oleh setiap pengguna pelayanan (misal: masalah tempat.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK. E. John and Russel. Perencanaan Kinerja dan Anggaran Berbasis Kinerja. Percikan Pemikiran Awal. Graw Hill International Edition.04/2002 tentang Kode Etik dan Perilaku Pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai..05/1997 tentang Pemberitahuan Pabean sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 48/PMK. Reformasi Pelayanan Publik. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 101/KMK. Struktur. J. Ed 4. 1987. Organisasi : Perilaku. 1999. Kebijaksanaan Pembinaan Organisasi Publik Pada PJP II. Effendi. H. Yogyakarta: Liberti Bernardin.04/2003. Moh.A. An Experiential Approach.. Makalah Pelatihan Analisis Kebijakan Sosial Angkatan III.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK. 2007..04/2005. Yogyakarta. Singapore: Mac Graw Hill Book Co. et al. 1991. Human resource Management. Proses.04/2007 tentang Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai. Lembaga Administrasi Negara Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-21/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Impor Pada DTSS Kepatuhan Internal 57 . LAN. di Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek.Irfan. Jakarta : Erlangga. 1993.L. Makalah Pelatihan Strategi Pembangunan Sumber Manusia Aparatur Pemerintah Daerah dalam Era Globalisasi.Penetapan dan Standar Kinerja DAFTAR PUSTAKA As’ad. Keputusan Menteri Keuangan Nomor Nomor 144/PMK. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-81/BC/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Nilai Pabean Untuk Penghitungan Bea Masuk sebagaimana telah diubah dan ditambah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Npmor P-01/BC/2007. Sofian (1995). M. Modul 2: Manajemen Stratejik: Perencanaan Stratejik. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 515/KMK. Mc. Islamy. Psikologi Industri. Gibson.

04/2005 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 118/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 51/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-07/BC/2007 tentang Pemeriksaan Fisik Barang Impor. Denda Administrasi dan/atau Bunga.04/2005 tanggal 26 Mei 2005 tentang Tatacara Pengembalian Bea Masuk. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.04/04/2007 tentang Pemeriksaan Pabean di Bidang Impor. serta Penetapan Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau Pejabat Bea dan Cukai.04/2003 tentang Tata Laksana Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Presiden Nomor 95 tahun 2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal di Lingkungan Departemen Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2007. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-19/BC/2010 tentang Pengelolaan Kinerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. dan Sanksi Administrasi. Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-23/BC/2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Tugas Unit Kerja Kepatuhan Internal di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.011/2007. DTSS Kepatuhan Internal 58 . Nilai Pabean.010/2006 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.04/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif.Penetapan dan Standar Kinerja Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P25/BC/2007.04/2006 tentang Pencabutan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 116/KMK.01/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 139/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2008 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Berupa Denda di Bidang Kepabeanan.

Denda Administrasi dan/atau Bunga. 2010. Efektivitas Organisasi. R. Sekretariat Jenderal. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. DTSS Kepatuhan Internal 59 . Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang Pelayanan Bea dan Cukai Steers. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.M. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006. 1985. 47. Cetakan II. Panduan Pengelolaan Kinerja Berbasis Balanced Scorecard di Lingkungan Kementerian Keuangan. Seri Manajemen No. Terjemahan Magdalena Jamin.Penetapan dan Standar Kinerja Putro dan Martin. Jakarta : Erlangga. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-11/BC/2006 tanggal 16 Februari 2006 tentang Penegasan Tata Laksana Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Yang Berlaku pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.04/2005 tanggal 26 Mei 2005 tentang Tatacara Pengembalian Bea Masuk. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. PUSHAKA. 2007. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor SE-17/BC/2005 tanggal 5 Juli 2005 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 38/PMK. Sistem Pengendalian Internal Kantor Pelayanan Utama DJBC. Kementerian Keuangan. Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: SE-06/BC/2007 tentang Penunjukan Pejabat Pemeriksa Barang Dalam Rangka Pelaksanaan Pemeriksaan Fisik Barang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->