KONSEP DASAR MPMBS

Filed under: Uncategorized by suaidinmath — 1 Komentar April 24, 2010 i 1 Votes PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan. Berdasarkan masalah ini, maka berbagai pihak mempertanyakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik-sentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi diatasnya sehingga mereka kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreativitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional. Faktor ketiga, peranserta warga sekolah khususnya guru dan peranserta masyarakat khususnya orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di sekolah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaruan apapun jika guru tidak berubah,

maka tidak akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, dan barang/jasa kurang diperhatikan. Akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat juga lemah. Sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orangtua siswa, sebagai salah satu unsur utama yang berkepentingan dengan pendidikan (stakeholder). Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut diatas, tentu saja perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan, salah satunya adalah melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. B. Pengertian Secara umum, manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dsb.) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku (Catatan: MPMBS tidak dibenarkan menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku). Dengan otonomi yang lebih besar, maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelola sekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya, sekolah lebih berdaya dalam mengembangkan program-program yang, tentu saja, lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Dengan fleksibilitas/keluwesan-keluwesannya, sekolah akan lebih lincah dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal. Demikian juga, dengan partisipasi/pelibatan warga sekolah dan masyarakat secara langsung dalam penyelenggaraan sekolah, maka rasa memiliki mereka terhadap sekolah dapat ditingkatkan. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkan peningkatan rasa tanggungjawab, dan peningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatan dedikasi warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah. Inilah esensi partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam pendidikan. Baik peningkatan otonomi sekolah, fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah maupun partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah tersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. MPMBS merupakan bagian dari manajemen berbasis sekolah (MBS). Jika MBS bertujuan untuk meningkatkan semua kinerja sekolah (efektivitas, kualitas/mutu, efisiensi, inovasi, relevansi, dan pemerataan serta akses pendidikan), maka MPMBS lebih difokuskan pada peningkatan mutu. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa mutu pendidikan nasional kita saat ini sangat memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius. Itulah sebabnya MPMBS lebih ditekankan dari pada MBS untuk saat ini. Pada saatnya nanti MPMBS akan menjadi MBS. C. Tujuan MPMBS bertujuan untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada sekolah, pemberian fleksibilitas yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah, dan mendorong partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Lebih rincinya, MPMBS bertujuan untuk:

Alasan Diterapkannya MPMBS MPMBS diterapkan karena beberapa alasan berikut: § Dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada sekolah. orangtua peserta didik. Pengertian Mutu Pendidikan . Penggunaan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat.§ meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan kemandirian. § meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orangtua peserta didik. keterbukaan. dan inisiatif sekolah dalam mengelola. kerjasama. masyarakat. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah. dan § meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai. maka sekolah akan lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah. sustainabilitas. dan pemerintah daerah setempat. § Sekolah lebih mengetahui kekuatan. akuntabilitas. memanfaatkan. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya. kelemahan. • • • • • • Back KONSEP DASAR A. dan masyarakat pada umumnya. dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. masyarakat. partisipasi. dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia. dan Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat. peluang. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. § Dengan pemberian fleksibilitas/keluwesan-keluwesan yang lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdayanya. fleksibilitas. khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. maka sekolah akan lebih inisiatif/kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah. sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang telah direncanakan. • Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya. dan pemerintah tentang mutu sekolahnya. D. § meningkatkan tanggungjawab sekolah kepada orangtua.

karyawan. B. bahan. Pola Baru Manajemen Pendidikan Masa Depan Bukti-bukti empirik lemahnya pola lama manajemen pendidikan nasional dan digulirkannya otonomi daerah. Input harapan-harapan berupa visi. lomba akademik. Kesiapan input sangat diperlukan agar proses dapat berlangsung dengan baik.) dilakukan secara harmonis. kurikulum. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. dsb. makin tinggi pula mutu input tersebut. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input. dan moral kerjanya. pengertian mutu mencakup input. Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah. dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. EBTA. inovasinya. diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.Secara umum. Output pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. mampu mendorong motivasi dan minat belajar. rencana. dan output pendidikan. proses pengelolaan program. dan (2) prestasi nonakademik. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya. tujuan. perlengkapan. dan pengawasan. uang. kesopanan. Kata memberdayakan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya. guru termasuk guru BP. sedang sesuatu dari hasil proses disebut output. Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. deskripsi tugas. dsb. peralatan. keterampilan kejuruan. seperti misalnya IMTAQ. dihayati. efektivitasnya. Tabel 1 berikut menunjukkan dimensi-dimensi perubahan pola manajemen. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan. proses belajar mengajar. proses. dan yang lebih penting lagi peserta didik tersebut mampu belajar secara terus menerus (mampu mengembangkan dirinya). misi. Dalam konteks pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. kejujuran. dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan prosesproses lainnya. dari yang lama menuju yang baru. olahraga. dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah. dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik. mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya.). efisiensinya. Oleh karena itu. produktivitasnya. Dalam pendidikan bersekala mikro (tingkat sekolah). pelaksanaan. Input sumberdaya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah. karya ilmiah. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). siswa) dan sumberdaya selebihnya (peralatan. program. proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan. kualitas kehidupan kerjanya. peraturan perundang-undangan. Makin tinggi tingkat kesiapan input. EBTANAS. telah mendorong dilakukannya penyesuaian diri dari pola lama manajemen pendidikan menuju pola baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan yang lebih demokratis. akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik. khususnya prestasi belajar siswa. siswa. tinggi rendahnya mutu input dapat diukur dari tingkat kesiapan input. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input sekolah (guru. dan proses monitoring dan evaluasi. uang. berupa nilai ulangan umum. proses pengelolaan kelembagaan. . Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah. dsb. kesenian.

dan mendorong sekolah meningkatkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan mutu sekolah dalam kerangka pendidikan nasional. tugas dan fungsi sekolah lebih pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif dan partsisipasi masyarakat makin besar. MPMBS dapat didefinisikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. penggunaan uang lebih efisien karena sisa anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (efficiency-based budgeting). dan merdeka/tidak tergantung. Konsep Dasar MPMBS Seperti ditulis pada BAB I butir B. pengelolaan sekolah lebih desentralistik. Pada dasarnya. dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efisien. perubahan sekolah lebih didorong oleh motivasi-diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah. pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan birokrasi. konsep dasar dan karakteristik MPMBS dapat diuraikan sebagai berikut. memberikan fleksibilitas/keluwesan lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumberdaya sekolah. Pada Pola Lama. Karena itu. Sedang pada Pola Baru. lebih mengutamakan pemberdayaan. dari menghindari resiko menjadi mengolah resiko. esensi MPMBS= otonomi sekolah + fleksibilitas + partisipasi untuk mencapai sasaran mutu sekolah. regulasi pendidikan lebih sederhana. sekolah lebih luwes dalam mengelola lembaganya. Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan/kemandirian yaitu kemandirian dalam mengatur dan mengurus dirinya sendiri. Kemandirian dalam program dan . C. peranan pusat bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi. MPMBS dijiwai oleh Pola Baru manajemen pendidikan masa depan sebagaimana diilustrasikan pada Tabel 1.Tabel 1 Dimensi-Dimensi Perubahan Pola Manajemen Pendidikan Pola Lama Menuju Subordinasi ÞÞ Pengambilan keputusan ÞÞ terpusat Ruang gerak kaku ÞÞ Pendekatan birokratik ÞÞ Sentralistik ÞÞ Diatur ÞÞ Overregulasi ÞÞ Mengontrol ÞÞ Mengarahkan ÞÞ Menghindari resiko ÞÞ Gunakan uang semuanyaÞÞ Individual yang cerdas Informasi terpribadi Pendelegasian Organisasi herarkis ÞÞ ÞÞ ÞÞ ÞÞ Pola Baru Otonomi Pengambilan keputusan partisipatif Ruang gerak luwes Pendekatan professional Desentralistik Motivasi diri Deregulasi Mempengaruhi Memfasilitasi Mengelola resiko Gunakan uang seefisien mungkin Teamwork yang cerdas Informasi terbagi Pemberdayaan Organisasi datar Berikut dijelaskan secara singkat Tabel 1. Lebih rincinya. lebih mengutamakan teamwork. sekolah memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolaan lembaganya. informasi terbagi ke semua warga sekolah.

Jadi otonomi sekolah adalah kewenangan sekolah untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku. Istilah otonomi juga sama dengan istilah “swa”. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa jika seseorang dilibatkan (berpartisipasi) dalam penyelenggaraan pendidikan. yaitu kemampuan mengambil keputusan yang terbaik. kemampuan bersinergi dan berkolaborasi. tokoh masyarakat. masyarakat dan pemerintah melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. kemampuan memobilisasi sumberdaya. Sedang demokrasi pendidikan adalah kebebasan yang terlembagakan melalui musyawarah dan mufakat dengan menghargai perbedaan. ilmuwan. siswa. misalnya swasembada. Kerjasama sekolah yang baik ditunjukkan oleh hubungan antar warga sekolah yang erat. melaksanakan rencana peningkatan mutu. kemampuan berkomunikasi dengan cara yang efektif. akuntabilitas. kemampuan memecahkan persoalan-persoalan sekolah. sehingga yang bersangkutan juga akan bertanggungjawab dan berdedikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan sekolah. mulai dari pengambilan keputusan. hubungan sekolah dan masyarakat erat. Peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah akan mampu menciptakan keterbukaan. Tentu saja pelibatan warga sekolah dalam penyelenggaraan sekolah harus mempertimbangkan keahlian. dan melakukan evaluasi pelaksanaan . makin besar rasa memiliki. batas kewenangan. karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa. Tentu saja kemandirian yang dimaksud harus didukung oleh sejumlah kemampuan. keluwesan-keluwesan yang dimaksud harus tetap dalam koridor kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ada. dan swalayan. maka yang bersangkutan akan mempunyai “rasa memiliki” terhadap sekolah. dan demokrasi pendidikan. swakarya. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdayanya. Singkatnya: makin besar tingkat partisipasi. maka sekolah akan lebih lincah dan tidak harus menunggu arahan dari atasannya untuk mengelola. usahawan. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik. Dengan keluwesan-keluwesan yang lebih besar diberikan kepada sekolah. sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi segala tantangan yang dihadapi. dan relevansinya dengan tujuan partisipasi. Dengan pengertian diatas. memanfaatkan dan memberdayakan sumberdaya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriyah kebersamaan/kolektif untuk meningkatkan mutu sekolah. dan makin besar rasa tanggungjawab. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan-keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola. dsb. dan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. dan adanya kesadaran bersama bahwa output sekolah merupakan hasil kolektif teamwork yang kuat dan cerdas. makin besar pula dedikasinya. makin besar pula rasa tanggungjawab. makin besar pula rasa memiliki.) didorong untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. kemampuan memilih cara pelaksanaan yang terbaik. Dengan cara ini. pelaksanaan. Akuntabilitas sekolah adalah pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. menyusun rencana peningkatan mutu. dimana warga sekolah (guru.pendanaan merupakan tolok ukur utama kemandirian sekolah. maka sekolah memiliki kewenangan (kemandirian) lebih besar dalam mengelola sekolahnya (menetapkan sasaran peningkatan mutu. Keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. hak asasi manusia serta kewajibannya dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan. kemampuan adaptif dan antisipatif. swadana. kerjasama yang kuat. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. kemampuan berdemokrasi/menghargai perbedaan pendapat. kemandirian yang berlangsung secara terus menerus akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan sekolah (sustainabilitas). Pada gilirannya. Namun demikian. swakelola.

bersifat adaptif dan antisipatif/proaktif sekaligus. dan ilmiah). tantangan. dan output. mengetahui bahwa dia adalah bagian penting dari sekolah. yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non-akademik (non-academic achievement). Output nonakademik. dan Departemen Pendidikan Nasional) akan merupakan unit pendukung dan pelayan sekolah. uraian berikut dimulai dari output dan diakhiri input. pendekatan sistem yaitu input-proses-output digunakan untuk memandunya. Dalam menguraikan karakteristik MPMBS. dia bertanggungjawab. harga diri. karakteristik MPMBS berikut memuat secara inklusif elemen-elemen sekolah efektif. Matematika. rasa . inovatif. Dinas Pendidikan Propinsi. Dengan kepemilikan ketiga hal ini. pekerjaannya memiliki kontribusi. sumberdaya yang dibutuhkan ada. Berbicara karakteristik MPMBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif. jika sekolah ingin sukses dalam menerapkan MPMBS. memiliki kontrol yang kuat terhadap input manajemen dan sumberdayanya. sehingga penguraian karakteristik MPMBS (yang juga karakteristik sekolah efektif) mendasarkan pada input. sedang proses memiliki tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output. ada pujian. Output prestasi akademik misalnya. 1. dan memiliki partisipasi yang lebih besar dari kelompok-kelompok yang berkepentingan dengan sekolah. dan prestasi merupakan acuan bagi penilaiannya. pemecahan masalah sekolah secara “teamwork”. dia tahu posisinya dimana. dan output. Dengan kata lain. induktif. Pada umumnya. sedang unit-unit diatasnya (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. misalnya keingintahuan yang tinggi. kreatif/ divergen. gigih. Selanjutnya. Jika MPMBS merupakan wadah/kerangkanya. maka sekolah efektif merupakan isinya. bagi sumberdaya manusia sekolah yang berdaya. dan sebagainya). dia memiliki kontrol terhadap pekerjaannya.peningkatan mutu). Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. memiliki fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. Fisika). rasional. dan pekerjaannya merupakan bagian hidupnya. dan warga sekolah diberlakukan sebagai manusia ciptaan-Nya yang memiliki martabat tertinggi. pemberian tanggungjawab. Oleh karena itu. umpan balik bagus. komitmen yang tinggi pada dirinya. yang dikategorikan menjadi input. Contoh tentang hal-hal yang dapat memandirikan/memberdayakan warga sekolah adalah: pemberian kewenangan. lomba (Bahasa Inggris. output dapat diklasifikasikan menjadi dua. proses. maka sejumlah karakteristik MPMBS berikut perlu dimiliki. pekerjaan yang bermakna. caracara berpikir (kritis. hasil kerja yang terukur. memiliki kontrol yang kuat terhadap kondisi kerja. NEM. didengar. deduktif. bertanggungjawab terhadap kinerja sekolah. Output yang Diharapkan Sekolah harus memiliki output yang diharapkan. memiliki jiwa kewirausahaan tinggi (ulet. kejujuran. pada umumnya. kontrol yang luwes. Karakteristik MPMBS MPMBS memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. khususnya dalam pengelolaan peningkatan mutu. lomba karya ilmiah remaja. kepercayaan. Sekolah yang mandiri atau berdaya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: tingkat kemandirian tinggi/tingkat ketergantungan rendah. kemampuan untuk mengukur kinerjanya sendiri. berani mengambil resiko. komunikasi yang efektif. D. menghargai ide-ide. dukungan. memiliki ciri-ciri: pekerjaan adalah miliknya. proses. dan input memiliki tingkat kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem. variasi tugas. maka sekolah akan merupakan unit utama pengelolaan proses pendidikan. mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi. kerjasama yang baik. Selanjutnya. nalar.

kesenian. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi. sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman. bukan sekadar penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logos). hingga sampai pada imbal jasa. Ini ditunjukkan oleh sifat PBM yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik. evaluasi kinerja. prestasi olahraga. terutama sumberdaya manusia. d. dan sasaran sekolahnya melalui programprogram yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. dan kepramukaan. kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan. Sekolah yang menerapkan MPMBS menyadari tentang hal ini. pengelolaan tenaga kependidikan. Dalam hal ini. dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. PBM bukan sekadar memorisasi dan recall. PBM yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know). tertib melalui pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim tersebut. toleransi. Sekolah hanyalah merupakan wadah. untuk mencapai tujuan sekolah. Karena itu. ini harus dilakukan secara terusmenerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. tertib. solidaritas yang tinggi. menggerakkan. belajar hidup bersama (learning to live together). selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be). belajar bekerja (learning to do). nyaman. perencanaan. Pendeknya. Terlebih-lebih pada pengembangan tenaga kependidikan. c. terutama guru. pengembangan. Sekolah Memiliki Budaya Mutu . Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif Tenaga Kependidikan. Oleh karena itu. akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik (pathos). kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. misi. Secara umum. Proses Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut: Sekolah yang menerapkan MPMBS memiliki efektivitas proses belajar mengajar (PBM) yang tinggi. Kepemimpinan Sekolah yang Kuat Pada sekolah yang menerapkan MPMBS. kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah.kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. b. a. dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). kedisiplinan. 2. tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menyukseskan MPMBS adalah tenaga kependidikan yang mempunyai komitmen tinggi. kerajinan. Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman. peranan kepala sekolah sangat penting sekali. hubungan kerja. e. Oleh karena itu. tujuan. mulai dari analisis kebutuhan. merupakan jiwa dari sekolah.

Sebaliknya. kemapanan merupakan musuh sekolah. tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar tersebut untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. f. Untuk menjadi mandiri. bukan hasil individual. Perbaikan secara terus-menerus harus merupakan kebiasaan warga sekolah. yang selalu melibatkan pihak-pihak terkait sebagai alat kontrol. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat partisipasi. (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment). Sekolah Memiliki Kewenangan (Kemandirian) Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya. Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat Sekolah yang menerapkan MPMBS memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik. dan makin besar rasa tanggungjawab. sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. g. setiap dilakukan perubahan. baik bersifat fisik maupun psikologis. Cerdas. bukan kompetisi. penggunaan uang. Artinya. antar individu dalam sekolah. i. Sekolah Memiliki “Teamwork” yang Kompak. Tiada hari tanpa perbaikan. makin besar pula tingkat dedikasinya. makin besar rasa memiliki.Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah. Sistem . (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaannya. j. dan sebagainya. makin besar rasa memiliki. budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah. karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah. Karena itu. harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah. k. hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik. perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan. (d) kolaborasi dan sinergi. fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus menerus. bukan untuk mengadili/mengontrol orang. sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugasnya. makin besar pula rasa tanggungjawab. Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik) Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. Keterbukaan/transparansi ini ditunjukkan dalam pengambilan keputusan. harus merupakan basis untuk kerjasama. h. (b) kewenangan harus sebatas tanggungjawab. Karena itu. Budaya mutu memiliki elemen-elemen sebagai berikut: (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan. Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen Keterbukaan/transparansi dalam pengelolaan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang menerapkan MPMBS. Oleh karena itu. dan Dinamis Kebersamaan (teamwork) merupakan karakteristik yang dituntut oleh MPMBS. (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan. (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya.

maka orangtua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. kompak. akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu. maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan. Sebaliknya jika program tidak berhasil. orangtua siswa. Menjemput bola. sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah. m. Sekolah memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk enjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik alam program maupun pendanaannya. Demikian pula. Dengan cara ini. dan masyarakat. Tujuan. o. Jika berhasil. sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. Selain itu. Memiliki Komunikasi yang Baik Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik. Jika berhasil. Karena itu. Berdasarkan laporan hasil program ini. adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif. komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat. Sekolah memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat. para orangtua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan. dan juga sekolah-masyarakat. l. sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. Sekolah Memiliki Akuntabilitas Akuntabilitas adalah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. n. Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan Sekolah selalu tanggap/responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. Dengan cara ini. Bahkan. terutama antar warga sekolah.mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi. a. maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. pemerintah dapat menilai apakah program MPMBS telah mencapai tujuan yang dikendaki atau tidak. tanggungjawab. maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program-program ang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya. Input Pendidikan Memiliki Kebijakan. sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap perubahan/tuntutan. Sustainabilitas pendanaan dapat ditunjukkan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun yang akan datang. dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah bagi sekolah-sekolah negeri. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah. prosedur. dan cerdas. 3. dan Sasaran Mutu yang Jelas . Jika kurang berhasil. maka orangtua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program MPMBS yang telah dilakukan.

d. Karena itu. f. Secara umum. sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya . semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. Input Manajemen Sekolah yang menerapkan MPMBS memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. Artinya. sekolah yang menerapkan MPMBS harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. Sumberdaya Tersedia dan Siap Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. e.Secara formal. proses pendidikan di sekolah tidak akan berlangsung secara memadai. tindakan. diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada disekitarnya. bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi. Artinya. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa. peralatan. Implikasinya jelas. dan sasaran sekolah yang berkaitan dengan mutu. walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada di sekolah. sehingga tertanam pemikiran. dan sasaran mutu tersebut dinyatakan oleh kepala sekolah. perlengkapan. yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. dan sebagainya) dengan penegasan bahwa sumberdaya selebihnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah. Ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal. bahan. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya. yaitu. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. dan sasaran mutu tersebut disosialisasikan kepada semua warga sekolah. tanpa campur tangan sumberdaya manusia. akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. c. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompeten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. tujuan. harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa) Pelanggan. hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah. b. Tanpa sumberdaya yang memadai. maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan. Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi Meskipun pada butir (b) telah disinggung tentang ketersediaan dan kesiapan sumberdaya manusia (staf). namun pada butir ini perlu ditekankan lagi karena staf merupakan jiwa sekolah. kebiasaan. Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi Sekolah yang menerapkan MPMBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Sumberdaya dapat dikelompokkan menjadi dua. tujuan. Kebijakan. Kebijakan. segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. tujuan. terutama siswa. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal.

(5) pengelolaan peralatan dan perlengkapan. Dengan demikian. dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. Undang-Undang Nomor 22 tentang Pemerintah Daerah (Otonomi Daerah) tahun 1999 beserta sejumlah Peraturan Pemerintah (PP) sebagai pedoman pelaksanaannya terutama PP No. khususnya evaluasi yang dilakukan secara internal. Fungsi-Fungsi yang Didesentralisasikan ke Sekolah Secara umum. Oleh karena itu. Yang dimaksud dengan pembelajaran berpusat pada siswa adalah pembelajaran yang menekankan pada keaktifan belajar siswa. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Sementara menunggu “legal aspect” yang akan diberlakukan kelak. sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. (7) pelayanan siswa. sebagian porsi kewenangan Dinas Propinsi. sampai saat ini belum ada resep yang pasti tentang hal ini. 1. pergeseran dimensi-dimensi pendidikan dari manajemen berbasis pusat menjadi manajemen berbasis sekolah telah diuraikan pada Butir A. sebagian porsi kewenangan Dinas Kota/Kabupaten. E. bukan pada keaktifan mengajar guru. cooperative learning. Secara umum. (3) pengelolaan kurikulum. karakteristik guru. (6) pengelolaan keuangan. Propinsi dan Kota/Kabupaten. Kebutuhan yang dimaksud. sekolah harus melakukan analisis kebutuhan mutu dan berdasarkan hasil analisis kebutuhan mutu inilah kemudian sekolah membuat rencana peningkatan mutu. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolahnya dengan efektif. Secara lebih spesifik. sehingga secara peraturan perundang-undangan (legal aspect) belum dimiliki tugas dan fungsi sekolah dalam era otonomi saat ini. dan teknik-teknik pembelajaran dan pengajaran yang paling efektif. (8) hubungan sekolah-masyarakat. 2. (4) pengelolaan ketenagaan. sebagian dari fungsi dapat dilakukan oleh sekolah secara professional. program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana. dan sebagian porsi lainnya yang dilimpahkan ke sekolah. otonomi pendidikan sedang bergulir dan sedang mencari formatnya. pendesentralisasian fungsi-fungsi pendidikan tidak akan merubah peraturan perundang-undangan yang ada. dan (9) pengelolaan iklim sekolah. metode. Adapun fungsi-fungsi yang sebagian porsinya dapat digarap oleh sekolah dalam kerangka MPMBS ini meliputi: (1) proses belajar mengajar. Namun demikian. sebagian masih merupakan porsi kewenangan Pemerintah Pusat. cara-cara belajar siswa aktif seperti misalnya active learning. Perencanaan dan Evaluasi Sekolah diberi kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya (schoolbased plan). strategi/metode/teknik pembelajaran dan pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered) lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa. Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas.menggunakan sejumlah input manajemen. Evaluasi internal dilakukan oleh warga sekolah untuk memantau proses pelaksanaan . Sekolah diberi kebebasan memilih strategi. misalnya. karakteristik siswa. dan quantum learning perlu diterapkan. pertanyaannya adalah: “Fungsi-fungsi apa sajakah yang perlu didesentralisasikan ke sekolah”? Pada dasarnya. fungsi-fungsi sekolah yang semula dikerjakan oleh Pemerintah Pusat/Dinas Pendidikan Propinsi/Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten. Sekolah diberi wewenang untuk melakukan evaluasi. Artinya. dan kondisi nyata sumberdaya yang tersedia di sekolah. Oleh karena itu. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah. harus digunakan sebagai referensi/patokan. karena seperti kita ketahui. suatu fungsi tidak dapat dilimpahkan sepenuhnya kesekolah. rencana yang rinci dan sistematis. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panutan bagi warga sekolahnya untuk bertindak. kebutuhan untuk meningkatkan mutu sekolah. (2) perencanaan dan evaluasi program sekolah.

Hubungan Sekolah-Masyarakat. artinya. sebenarnya dari dahulu memang sudah didesentralisasikan. Hal ini juga didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan fasilitas. maupun kemutakhirannya. memperkaya. Karena itu. 4. sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan local. rekrutmen. kepemilikan.dan untuk mengevaluasi hasil program-program yang telah dilaksanakan. dan dukungan dari masyarakat terutama dukungan moral dan finansial. mulai dari penerimaan siswa baru. apa yang diajarkan boleh dikembangkan agar lebih kontekstual dan selaras dengan karakteristik peserta didik. mulai dari analisis kebutuhan. Pengelolaan Kurikulum Kurikulum yang dibuat oleh Pemerintah Pusat adalah kurikulum standar yang berlaku secara nasional. kepedulian. Esensi hubungan sekolah-masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan. sehingga desentralisasi pengalokasian/penggunaan uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah. Pelayanan Siswa. dan yang dapat diajarkan. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja. Evaluasi diri harus jujur dan transparan agar benar-benar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya. 6. Sekolah juga dibolehkan memperkaya apa yang diajarkan. 7. hadiah dan sangsi (reward and punishment). Sekolah dibolehkan memperdalam kurikulum. artinya. 5. yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. 8. Pelayanan siswa. Demikian juga. memodifikasi). sekolah dibolehkan memodifikasi kurikulum. sekali lagi. kesesuaian. sampai evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah (guru. dsb. laboran. pemeliharaan dan perbaikan. Oleh karena itu.) dapat dilakukan oleh sekolah. Selain itu. hubungan kerja. tenaga administrasi. yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. mulai dari pengadaan. yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitas hubungan sekolah-masyarakat. Pengelolaan Keuangan. Pengelolaan keuangan. 3. Oleh karena itu. terutama fasilitas yang sangat erat kaitannya secara langsung dengan proses belajar mengajar. Evaluasi semacam ini sering disebut evaluasi diri. Padahal kondisi sekolah pada umumnya sangat beragam. apa yang diajarkan boleh dipertajam dengan aplikasi yang bervariasi. perencanaan. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) Pengelolaan fasilitas sudah seharusnya dilakukan oleh sekolah. terutama pengalokasian/penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. pengembangan/pembinaan/ pembimbingan. Sekolah juga harus diberi kebebasan untuk melakukan “kegiatankegiatan yang mendatangkan penghasilan” (income generating activities). Pengelolaan Ketenagaan Pengelolaan ketenagaan. hingga sampai pada pengurusan alumni. Dalam arti yang sebenarnya. baik kecukupan. hubungan sekolah-masyarakat dari dahulu sudah didesentralisasikan. apa yang diajarkan boleh diperluas dari yang harus. kecuali yang menyangkut pengupahan/imbal jasa dan rekrutmen guru pegawai negeri. hingga sampai pengembangan. dalam implementasinya. artinya. . pengembangan. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. yang seharusnya. sekolah dapat mengembangkan (memperdalam. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.

Jika suatu sekolah hanya memenuhi sebagian persyaratan. akan tetapi lebih merupakan petunjuk yang masih terbuka untuk dimodifikasi. dikurangi atau ditambah sesuai dengan karakteristik sekolah dan masyarakat sekitarnya. Persyaratan berikut bukan harga mati. dan kegiatan-kegiatan yang terpusat pada siswa (student-centered activities) adalah contoh-contoh iklim sekolah yang dapat menumbuhkan semangat belajar siswa. yaitu penghargaan terhadap perbedaan pendapat. Budaya yang kondusif bagi penyelenggaraan MPMBS. kesehatan sekolah. fungsi-fungsi yang didesentralisasikan ke sekolah dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.) 2. Iklim sekolah sudah merupakan kewenangan sekolah. Kapasitas kelembagaan yang memadai untuk menerapkan MPMBS. masyarakat dapat disadarkan akan pentingnya pendidikan. seperti misalnya manajemen sekolah yang memadai. Namun persyaratan berikut lebih merupakan petunjuk penyiapan bagi sekolah-sekolah yang akan menerapkan MPMBS. Persyaratan berikut bukan dimaksudkan untuk menghambat sekolah yang tidak memenuhinya. Adapun persyaratan-persyaratan yang dimaksud adalah: 1. dsb. Input Perencanaan & Evaluasi Kurikulum Ketenagaan Fasilitas Keuangan Kesiswaan Hubungan SekolahMasyarakat Iklim Sekolah F. demokrasi pendidikan dapat ditumbuhkan. Gambar 1. rencana. Iklim sekolah (fisik dan nonfisik) yang kondusif-akademik merupakan prasyarat bagi terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif. dan masyarakat dapat digerakkan untuk mendukung MPMBS. musyawarah-mufakat dapat dilaksanakan.9. maka sekolah tersebut tetap bisa menerapkan MPMBS sambil melengkapi persyaratan berikut. peralatan. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Secara visual. Sekolah memiliki kemampuan membuat kebijakan. sehingga yang diperlukan adalah upaya-upaya yang lebih intensif dan ekstentif. dan program sekolah untuk menyelenggarakan MPMBS Proses Belajar Mengajar Prestasi Siswa Fungsi-Fungsi yang di Desentralisasikan ke Sekolah Proses Output . menjunjung tinggi hak asasi manusia. perlengkapan. bahan. optimisme dan harapan/ekspektasi yang tinggi dari warga sekolah. Pengelolaan Iklim Sekolah. Prakondisi MPMBS Bagi sekolah yang akan menerapkan MPMBS perlu menyiapkan persyaratan berikut. kesiapan sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (dana. 3.

Konsep ini membawa konsekuensi bahwa pelaksanaan MPMBS sudah sepantasnya menerapkan pendekatan “idiograpik” (membolehkan adanya keberbagaian cara melaksanakan MPMBS) dan bukan lagi menggunakan pendekatan “nomotetik” (cara melaksanakan MPMBS yang cenderung seragam/konformitas untuk semua sekolah). Rasional dan Tujuan Konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). peraturan daerah.4. luwes. koordinatif. baik dalam bentuk pedoman pelaksanaan. dsb. dan peningkatan fleksibilitas pengelolaan sumberdaya sekolah. dan lain-lain yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan MPMBS Back KONSEP PELAKASANAAN A. integratif. dan professional. kebiasaan (routines) berperilaku unsur-unsur sekolah perlu disesuaikan. dalam arti yang sebenarnya. Keempat. Dukungan pemerintah pusat dan daerah yang ditunjukkan oleh pemberian pengarahan dan pembimbingan. menjadi sekolah yang bersifat otonom dan mendudukkannya sebagai unit utama. karena MPMBS menuntut kebiasaan-kebiasaan berperilaku yang mandiri. peran sekolah yang selama ini biasa diatur (mengikuti apa yang diputuskan oleh birokrasi) perlu disesuaikan menjadi sekolah yang bermotivasi-diri tinggi (self-motivator). proses menuju MPMBS memerlukan perubahan empat hal pokok berikut: Pertama. dan fasilitatif). Peraturan perundang-undangan yang ada sekarang perlu disesuaikan. perlu perubahan peraturan perundang-undangan/ketentuan-ketentuan bidang pendidikan yang ada saat ini. maka berikut ini akan disampaikan beberapa tahapan dalam pelaksanaan MPMBS yang sifatnya . Karena itu struktur organisasi pendidikan yang ada saat ini perlu ditata kembali dan kemudian dianalisis hubungan antar unsur/pihak untuk menentukan sifat hubungan (komando. sinkronistis. peraturan pemerintah. antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Propinsi perlu disesuaikan. proaktif. tidak ada satu resep pelaksanaan MPMBS yang sama untuk diberlakukan ke semua sekolah. dari yang semula menempatkan sekolah sebagai subordinasi birokrasi semata dan kedudukan sekolah bersifat marginal. esensinya adalah peingkatan otonomi sekolah. baik undang-undang. sebagaimana telah diuraikan di atas. petunjuk pelaksanaan. Kedua. keputusan menteri. akan tetapi merupakan proses yang berlangsung secara terus menerus dan melibatkan semua pihak yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan persekolahan. Sekolah memiliki sistem untuk mempromosikan akuntabilitas sekolah terhadap publik. koordinatif. hubungan antar unsur-unsur dalam sekolah. Ketiga. sehingga sekolah akan merupakan bagian dari masyarakat dan bukannya sekolah berada dimasyarakat 5. Paling tidak. Perubahan peran ini merupakan konsekwensi dari perubahan peraturan perundang-undangan bidang pendidikan. sinergis. peningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. kooperatif. Dilandasi oleh konsep MPMBS dan berbagai pemikiran mengenai pelaksanaannya tersebut. kreatif. Oleh karena itu. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bahwa mengubah pendekatan manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menjadi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah bukanlah merupakan proses sekali jadi dan bagus hasilnya (one-shot and quick-fix).

jangan menghindar dan jangan menarik darinya serta jelaskan mengapa diperlukan perubahan dari manajemen berbasis pusat menjadi MPMBS. d. Secara umum. siswa. budaya. dan kenalkan sistem. dan sumberdaya baru yang diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan MPMBS. diskusi.masih “umum” dan “luwes”. rencana. akan tetapi sangat diperlukan untuk mendukung visi. rapat kerja. forum ilmiah. identifikasikan sistem. Sekolah merupakan sistem yang terdiri dari unsur-unsur dan karenanya hasil kegiatan pendidikan di sekolah merupakan hasil kolektif dari semua unsur sekolah. 1. dan media masa. Tahap-tahap Pelaksanaan Melakukan Sosialisasi B. budaya. budaya. lokakarya. agar penyelenggaraan MPMBS dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. dan Melakukan uji coba tentang pelaksanaan konsep MPMBS. sehingga diharapkan diperoleh masukan-masukan yang konstruktif bagi penyempurnaan konsep dan pelaksanaan MPMBS di masa yang akan datang. dan sumberdaya manusia yang mendukung penerapan MPMBS serta hargailah mereka (unsur-unsur) yang telah memberi contoh dalam penerapan MPMBS. Dalam melakukan sosialisasi MPMBS. f. sasaran. jika terjadi perubahan sistem. maka semua unsur sekolah harus memahami konsep MPMBS “apa”. pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Oleh karena itu. budaya. garisbawahi prioritas sistem. e. dan “bagaimana” MPMBS diselenggarakan. guru BK. dan sumberdaya yang belum ada sekarang. budaya. tujuan. misi. hadapilah “status quo” (resistensi) terhadap perubahan. langkah pertama yang harus dilakukan oleh sekolah adalah mensosialiasikan konsep MPMBS kepada setiap unsur sekolah (guru. sasaran. budaya.) melalui berbagai mekanisme. tujuan. dan sumberdaya yang cukup mendasar. dan sumberdaya baru yang diperlukan untuk menyelenggarakan MPMBS. dan program-program penyelenggaraan MPMBS. misalnya seminar. “mengapa”. terutama sekolah. dan sumberdaya yang ada di sekolah secara cermat dan refleksikan kecocokannya dengan sistem. dan . bekerjalah dengan semua unsur sekolah untuk mengklarifikasikan visi. budaya. dsb. yang penting dilakukan oleh kepala sekolah adalah “membaca” dan “membentuk” budaya MPMBS di sekolah masing-masing. Sekolah dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian pentahapan berikut sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing. c. pejabat Dinas Pendidikan Propinsi. buatlah komitmen secara rinci yang diketahui oleh semua unsur yang bertanggungjawab. simposium. misi. garisgaris besar kegiatan sosialisasi/ pembudayaan MPMBS dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. wakil kepala sekolah. baca dan pahamilah sistem. dan sumberdaya yang perlu diperkuat dan yang perlu diubah. karyawan. Membantu sekolah-sekolah yang menerapkan MPMBS dalam menyusun rencana dan program-programnya untuk mendapatkan dukungan biaya dari pihak-pihak yang kompeten. dan programprogram penyelenggaraan MPMBS dan doronglah sistem. Tahap-tahap pelaksanaan MPMBS berikut ditulis dengan tujuan untuk: • • • Membantu unsur-unsur penyelenggara pendidikan. rencana. Dengan cara berpikir semacam ini. orangtua siswa. b. pengawas.

khususnya tujuan pendidikan nasional sesuai jenjang dan jenis sekolahnya dan juga sesuai dengan profil sekolah yang bersangkutan. Visi Setiap sekolah harus memiliki visi. a. Tujuan. Rencana pengembangan sekolah pada umumnya mencakup perumusan visi. Sebagai contoh. Misi. sehingga dapat menimbulkan perselisihan dalam implementasinya. Dengan kata lain. pemilihan fungsi-fungsi sekolah yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah diidentifikasi. dan program-program MPMBS. Tujuan pendidikan nasional sama tetapi profil sekolah khususnya potensi dan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah tidak selalu sama. visi yang dituliskan UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMAN DAN TAQWA. Merumuskan Visi. Dengan kata lain. Oleh karena itu dimungkinkan sekolah memiliki visi yang tidak sama dengan sekolah lain. misi.g. yaitu undang-undang pendidikan dan sejumlah peraturan pemerintahnya. pantaulah dan arahkan proses perubahan agar sesuai dengan visi. misi. misi. diberi indikator sebagai berikut: . tujuan dan sasaran sekolah (tujuan situasional sekolah). sebaiknya diberikan indikator sebagai penjelasan apa yang dimaksudkan oleh visi tersebut. Oleh karena itu. Sebagai contoh. 2. Gambaran tersebut tentunya harus didasarkan pada landasan yuridis. Tentu saja. perumusan visi harus disesuaikan dengan tujuan dari setiap jenjang dan jenis sekolah sebagaimana dituliskan dalam peraturan pemerintah. seringkali memiliki aneka tafsir. merumuskan visinya sebagai berikut: UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMTAQ Sementara itu sekolah yang terletak di daerah pedesaan yang umumnya tidak lebih maju dari pada sekolah diperkotaan. Visi yang pada umumnya dirumuskan dalam kalimat yang filosofis seperti contoh tersebut. maka kepala sekolah yang baru tidak jarang memberi tafsir yang berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. sasaran. rencana. asalkan tidak keluar dari koridor nasional yaitu tujuan pendidikan nasional. tujuan sekolah dan strategi pelaksanaannya. Bahkan jika terjadi penggantian kepala sekolah. visi adalah pandangan jauh ke depan kemana sekolah akan dibawa. Setiap orang menafsirkan secara berbeda-beda. sebuah sekolah yang terletak di perkotaan. Sedangkan rencana kerja tahunan sekolah pada umumnya meliputi pengidentifikasian sasaran sekolah (tujuan situasional sekolah). Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah. tujuan. visi sekolah harus tetap dalam koridor kebijakan pendidikan nasional tetapi sesuai dengan kebutuhan anak dan masyarakat yang dilayani. agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. analisis SWOT. merumuskan visinya sebagai berikut: TERDIDIK BERDASARKAN IMTAQ Kedua visi tersebut sama-sama benar sepanjang masih dalam koridor tujuan pendidikan nasional. dan Sasaran Sekolah (Tujuan Situasional Sekolah) Sekolah yang melaksanakan MPMBS harus membuat rencana pengembangan sekolah. Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah dan digunakan untuk memandu perumusan misi sekolah. dan penyusunan rencana dan program kerja tahunan sekolah. Berikut diuraikan secara singkat mengenai perumusan visi. langkahlangkah pemecahan persoalan. mayoritas siswanya berasal dari keluarga mampu dan hampir seluruh lulusannya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.

sehingga setiap siswa berkembang secara optimal. unggul dalam lomba kesenian. selanjutnya sekolah merumuskan tujuan. unggul dalam aktivitas keagamaan. unggul dalam lomba olahraga. gain score achievement (GSA) siswa meningkat + 0. maka tujuan yang ingin di capai dalam jangka waktu 3 tahun mungkin belum se ideal visi atau belum selengkap visi. Misalnya. unggul dalam persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan diatasnya. Sebagai contoh. misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tuntutan yang dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya. maka misi dapat juga diartikan sebagai tindakan untuk memenuhi kepentingan masing-masing kelompok yang terkait dengan sekolah.1 . Dalam merumuskan misi. tetapi tujuannya sampai tahun 2004 baru mencakup 5 aspek sebagai berikut: § Pada tahun 2004. Karena visi harus mengakomodasi semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. c. Dengan demikian tujuan pada dasarnya merupakan tahapan wujud sekolah menuju visi yang telah dicanangkan. unggul dalam perolehan NEM. Tujuan Bertolak dari visi dan misi. harus mempertimbangkan tugas pokok sekolah dan kelompok-kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah. tujuan merupakan tahapan untuk mencapai visi. unggul dalam disiplin. § Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah (stakeholders). Dengan kata lain. sebuah sekolah telah menetapkan visi dengan indikator sebanyak 9 aspek. Tujuan merupakan “apa” yang akan dicapai/dihasilkan oleh sekolah yang bersangkutan dan “kapan” tujuan akan dicapai. Dengan kata lain. sesuai dengan potensi yang dimiliki. unggul dalam lomba kreativitas. dan unggul dalam kepedulian sosial. sehingga dapat dikembangkan secara optimal. § Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya.§ § § § § § § § § b. maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu 3-5 tahun. Misi Misi adalah tindakan untuk mewujudkan/merealisasikan visi tersebut. sebuah sekolah yang memiliki visi UNGGUL DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMTAQ merumuskan misinya sebagai berikut: § Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif. § Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah. Jika visi dan misi terkait dengan jangka waktu yang panjang. unggul dalam lomba karya ilmiah remaja. Jika visi merupakan gambaran sekolah di masa depan secara utuh (ideal). § Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam betindak.

proporsi lulusan yang melanjutkan ke sekolah unggul minimal 40% § Pada tahun 2004. maka sasaran harus dibuat spesifik. Akan tetapi bagaimanakah caranya mengidentifikasi output sekolah yang diharapkan. memiliki kelompok KIR dan mampu menjadi finalis LKIR tingkat nasional. memiliki tim olahraga minimal 3 cabang dan mampu menjadi finalis tingkap propinsi. tetap harus didasarkan atas tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah.§ Pada tahun 2004. baik peningkatan kualitas. jelas kriterianya. Pada umumnya. yaitu sesuatu yang akan dihasilkan/dicapai oleh sekolah dalam jangka waktu lebih singkat dibandingkan tujuan sekolah. sementara saat ini baru mencapai +0. sehingga tantangannya adalah 30 siswa atau 10 persen yaitu berasal dari 30 siswa dibagi 300 siswa. karena tersedia datanya. efektivitas. perlu dilakukan analisis prakiraan (forecasting) lengkap dengan asumsi-asumsinya untuk menemukan kecenderungan-kecenderungan yang diharapkan di masa depan.4) = (+0. juara lomba karya ilmiah remaja sekolah saat ini berperingkat nomor 4 se kabupaten dan yang diharapkan akan meningkat menjadi peringkat nomor 1. Sasaran adalah penjabaran tujuan. maka langkah selanjutnya adalah menetapkan sasaran/target/tujuan situasional/tujuan jangka pendek. memiliki tim kesenian yang mampu tampil pada acara setingkat kabupaten/kota. sekolah melakukan analisis output sekolah yang hasilnya berupa identifikasi tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. Mutu output sekolah dipengaruhi oleh tingkat kesiapan input dan proses persekolahan. efektivitas.4 berarti tantangan nyata yang dihadapi sekolah adalah (+2)-(+0. yaitu kualitas. kualitas yang dimaksud adalah kualitas output sekolah yang bersifat akademik (misal: NEM dan LKIR) dan non-akademik (misal: olah raga dan kesenian). Meskipun sasaran bersumber dari tujuan. kurang 3. Contoh tantangan efektivitas: dari 300 siswa yang ikut EBTANAS. namun dalam penentuan sasaran yang mana dan berapa besar kecilnya sasaran. sehingga output yang diharapkan tersebut cukup realistis? Caranya. d. Rumusan sasaran harus selalu mengandung peningkatan. maupun efisiensi (bisa salah satu atau kombinasi). jika dalam tiga tahun ke dapan dicanangkan tujuanuntuk mencapai GSA sebesar +2. Contoh tantangan kualitas: misalnya. maka besarnya tantangan adalah 1-4 (3). Agar sasaran dapat dicapai dengan efektif. terukur. produktivitas. Tantangan adalah selisih (ketidaksesuaian) antara output sekolah saat ini dan output sekolah yang diharapkan di masa yang akan datang (tujuan sekolah). Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa. Mengidentifikasi Tantangan Nyata Sekolah Pada tahap ini.4). produktivitas. dan efisiensi. tantangan sekolah bersumber dari output sekolah yang dapat dikategorikan menjadi empat. § Pada tahun 2004. dan disertai indikator-indikator yang rinci. § Pada tahun 2004. yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat. Dalam konteks pendidikan. Output sekolah saat ini dapat dengan mudah diidentifikasi. yang lulus 270 siswa. 1). Misalnya lagi. Besar kecilnya ketidaksesuaian antara output sekolah saat ini (kenyataan) dengan output sekolah yang diharapkan (idealnya) di masa yang akan datang memberitahukan besar kecilnya tantangan. Sasaran/Tujuan Situasional Setelah tujuan sekolah (tujuan jangka menengah) dirumuskan. .

Merumuskan Sasaran (Tujuan Situasional) Berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi sekolah. sekolah tersebut menetapkan sasaran untuk tahun ajaran 2000/2001 sebagai berikut: § § Gain score achievement siswa meningkat 0. misi. maka dapat dikatakan bahwa tahun ini sekolah yang bersangkutan lebih efisien secara internal dari pada tahun lalu. jika dengan biaya yang sama. Karena itu. Oleh karena itu. dua sekolah SLTP 1 dan SLTP 2 dengan menggunakan biaya yang sama setiap tahunnya. fasilitas.1 Jumlah lulusan yang melanjutkan ke sekolah unggul diatasnya minimal 25% . Dalam bentuk persamaan. efektivitas sama dengan hasil nyata dibagi hasil yang diharapkan. Akan tetapi. maka dapat dikatakan bahwa tahun ini sekolah tersebut lebih produktif dari pada tahun sebelumnya. dan tujuan sekolah merupakan sumber pengertian (sumber referensi) bagi perumusan sasaran sekolah. bahan. Sebagai contoh. Analisis biayamanfaat merupakan alat utama untuk mengukur efisiensi eksternal. sebuah sekolah memutuskan ingin menggarap kelima aspek yang tercantum dalam tujuan. misi. kuantitas. maka efektivitasnya adalah 45:60 = 75%. Sasaran sebaiknya hanya untuk waktu yang relatif pendek. Baik output maupun input sekolah adalah dalam bentuk kuantitas. Jika tujuan yang telah dicanangkan mencakup 5 aspek.Produktivitas adalah perbandingan antara output sekolah dibanding input sekolah. atau hanya beberapa saja. misalnya jumlah guru. Dengan demikian sasaran (misalnya untuk 1 tahun) pada dasarnya merupakan tahapan untuk mencapai tujuan jangka menengah (misalnya untuk jangka 3 tahun). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa SLTP 1 lebih efisien secara eksternal dari pada SLTP 2. namun NEM yang diperoleh siswa hanya 45. modal sekolah. Efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauhmana tujuan (kualitas. dan tujuan sekolah. lama belajar. sebelum merumuskan sasaran sekolah yang akan dicapai. setiap sekolah harus memiliki visi. 2). meskipun baru pada tahap awal. sosial. misalnya jumlah siswa yang lulus sekolah setiap tahunnya. Contoh produktivitas. Misalnya. dan tujuan sekolah. Setiap penilaian biayaefektivitas selalu memerlukan dua hal. misi. jika tahun ini sebuah sekolah lebih banyak meluluskan siswanya dari pada tahun lalu dengan input yang sama (jumlah guru. tetapi NEM tahun ini lebih baik dari pada NEM tahun lalu. Ketika menentukan sasaran. Efisiensi internal menunjuk kepada hubungan antara output sekolah (pencapaian prestasi belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memproses/menghasilkan output sekolah. dan waktu) telah dicapai. dan energi. yaitu penilaian ekonomik untuk mengukur biaya masukan (input) dan penilaian hasil pembelajaran (prestasi belajar. dan nonekonomik) yang didapat setelah pada kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Efisiensi eksternal adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual. apakah kelimanya akan digarap pada tahun pertama. misalnya. lulusan SLTP 1 mendapatkan upah yang lebih besar dari pada lulusan SLTP 2 setelah mereka bekerja. NEM idealnya berjumlah 60.). Hal itu sangat tergantung kondisi sekolah. maka dirumuskanlah sasaran/tujuan situasional yang akan dicapai oleh sekolah. angka putus sekolah). karena visi. Efisiensi internal sekolah biasanya diukur dengan biaya-efektivitas. Kuantitas input sekolah. ekonomik. namun perumusan sasaran tersebut harus tetap mengacu pada visi. misalnya untuk satu tahun ajaran. Misalnya. prioritas harus dipertimbangkan sungguh-sungguh. Misalnya. dsb. Meskipun sasaran dirumuskan berdasarkan atas tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Kuantitas output sekolah.

Sebaliknya. misalnya. sebagai faktor yang memiliki tingkat kesiapan kurang memadai. Faktor yang memenuhi kriteria/standar ini ditemukan melalui perhitungan-perhitungan atau pertimbangan-pertimbangan yang bersumber pada pencapaian sasaran. fungsi ketenagaan. bagi faktor yang tergolong internal. lihat Tabel 2: Analisis SWOT/Tingkat Kesiapan Fungsi dan Faktor-faktornya berikut. artinya. Tabel 2: Analisis SWOT/Tingkat Kesiapan Fungsi dan Faktor-Faktornya . peluang. 4. bagi faktor yang tergolong eksternal. diluar kewenangan sekolah. Sedangkan yang dimaksud faktor eksternal adalah faktor-faktor pada setiap fungsi yang berada diluar kewenangan sekolah. Memiliki kelompok KIR dan mampu menjadi juara LKIR setingkat kabupaten/kota Memiliki tim olahraga yang mampu menjadi finalis loma setingkat kabupaten/kota Memiliki tim kesenian yang secara teratur mengadakan latihan dan pentas di sekolah. fungsi proses belajar mengajar beserta fungsi-fungsi pendukungnya yaitu fungsi pengembangan kurikulum. Opportunity. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai. bagi faktor yang tergolong internal. Faktor internal adalah faktor-faktor pada setiap fungsi yang berada didalam kewenangan sekolah. Baik kelemahan maupun ancaman. Melakukan Analisis SWOT Setelah fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran diidentifikasi. baik faktor yang tergolong internal maupun eksternal. Untuk lebih jelasnya. minimal memenuhi ukuran/kriteria kesiapan yang diperlukan untuk mencapai sasaran. dinyatakan bermakna: kelemahan. maka langkah berikutnya adalah menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT (Strength. Berhubung tingkat kesiapan fungsi ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi. maka langkah berikutnya adalah mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai sasaran dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Weakness. Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Yang dimaksud dengan kriteria kesiapan faktor adalah faktor yang memenuhi kriteria/standar untuk mencapai sasaran/tujuan situasional. kondisi lingkungan sosial masyarakat digolongkan sebagai faktor eksternal karena sekiranya kondisi tersebut ingin diubah.§ § § 3. bagi faktor yang tergolong eksternal. Mengidentifikasi Fungsi-Fungsi yang Diperlukan untuk Mencapai Sasaran Setelah sasaran dipilih. Fungsi-fungsi yang dimaksud. and Threat). satu diantaranya perilaku mengajar guru (faktor internal) dan satu lainnya kondisi lingkungan sosial masyarakat (faktor eksternal). fungsi pengembangan iklim akademik sekolah. dan fungsi pengembangan fasilitas. maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi. artinya tidak memenuhi ukuran kesiapan. yang dinyatakan sebagai: kekuatan. Tingkat kesiapan harus memadai. fungsi keuangan. fungsi hubungan sekolah-masyarakat. Untuk mengetahui tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya dicapai melalui membandingkan faktor dalam kondisi nyata dengan faktor dalam kriteria kesiapan. masih dalam kewenangan sekolah. fungsi perencanaan dan evaluasi. disebut persoalan. fungsi proses belajar mengajar terdiri dari banyak faktor. Misalnya. dan ancaman. fungsi pelayanan kesiswaan. Perilaku mengajar guru digolongkan faktor internal karena sekiranya perilaku tersebut perlu diubah.

…. Faktor Internal a.Fungsi dan Kriteria Faktornya Kesiapan A. perlu dilakukan tindakan-tindakan yang mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan fungsi. agar menjadi kekuatan dan/atau peluang. …... b. e. 6. …. …. c. b. yang sama artinya dengan ada ketidaksiapan fungsi. maka langkah berikutnya adalah memilih langkah-langkah pemecahan persoalan (peniadaan) persoalan. yang hakekatnya merupakan tindakan mengatasi makna kelemahan dan/atau ancaman.. …. a. Faktor Eksternal a. Dst. Fungsi …………… 1.. c.. c. a. b. a. …. …. b. maka sasaran yang telah ditetapkan tidak akan tercapai.. a.. f. … ….. b. menengah. …. a.. Menyusun Rencana dan Program Peningkatan Mutu Berdasarkan langkah-langkah pemecahan persoalan tersebut. …. ….. a.. dan panjang.. 1.. …. sekolah bersama-sama dengan semua unsur-unsurnya membuat rencana untuk jangka pendek....... agar sasaran tercapai. …. c. …. … Peluang Ancaman (Opportunity)(Threat) Alternatif Langkah Pemecahan Persoalan Dari hasil analisis SWOT. …. Oleh karena itu... Selama masih ada persoalan. 5... Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness) 2.. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. c. yakni dengan memanfaatkan adanya satu/lebih faktor yang bermakna kekuatan dan/atau peluang. beserta .. …. ….. …. ….. …. …. a. a. c.. c. …. …. …. 2. c. Faktor Eksternal d. c.. Faktor Internal a. c. b. b. … …. …. …. …. b. Fungsi …………. b. b. Tindakan yang dimaksud lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan persoalan. …. b... Kondisi Nyata Tingkat Kesiapan Faktor Siap Tidak Siap Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness) a. … Peluang Ancaman (Opportunity)(Threat) B. …. …. …. c.

uang. Kepala sekolah dan guru bebas mengambil inisiatif dan kreatif dalam menjalankan program-program yang diproyeksikan dapat mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. perbekalan. wakil dari pemerintah. maka program adalah alokasi sumberdaya (sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya. orangtua siswa. Catatan: Pada gilirannya.2 s/d butir B. Hal pokok yang perlu diperhatikan oleh sekolah dalam penyusunan rencana adalah keterbukaan kepada semua pihak yang menjadi stakeholder pendidikan. kapan dan dimana dilaksanakan. moral. misalnya. Hal ini diperlukan untuk memudahkan sekolah dalam menjelaskan dan memperoleh dukungan dari pemerintah maupun dari orangtua siswa. maka sekolah perlu mengambil langkah proaktif untuk mewujudkan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. dsb. siapa yang harus melaksanakan. Jika rencana adalah merupakan deskripsi hasil yang diharapkan dan dapat digunakan untuk keperluan penyelenggaraan kegiatan sekolah. Sekolah tidak selalu memiliki sumberdaya yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan bagi pelaksanaan MPMBS. sehingga perlu dibuat skala prioritas untuk jangka pendek. dan berapa sisanya yang harus ditanggung oleh orangtua peserta didik dan masyarakat sekitar. sekolah harus dapat membebaskan diri dari keterikatan-keterikatan birokratis yang biasanya banyak menghambat penyelenggaraan pendidikan. Dengan cara demikian akan diperoleh kejelasan. baik dukungan pemikiran. analisis SWOT dapat digunakan untuk merevisi/memperbaiki sasaran yang mungkin terlalu tinggi/rendah atau terlalu besar agar menjadi sasaran yang pas/realistik (wajar). Secara visual. berapa kemampuan sekolah dan pemerintah untuk menanggung biaya rencana ini. dan wakil dari publik. peralatan. menggunakan pengalaman-pengalaman masa lalu yang dianggap efektif. Dengan kata lain. Rencana yang dibuat harus menjelaskan secara detail dan lugas tentang: aspek-aspek mutu yang ingin dicapai. Kepala sekolah dan guru hendaknya mendayagunakan sumberdaya pendidikan yang tersedia semaksimal mungkin. Catatan: BP3 saat ini yang anggotanya hanya terdiri dari orangtua siswa perlu dimekarkan menjadi Komite Sekolah yang anggotanya terdiri dari: orangtua siswa.program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. wakil dari siswa. program adalah bentuk dokumen untuk menggambarkan langkah mewujudkan sinkronisasi dalam ketatalaksanaan. maka kemungkinan kesulitan memperoleh sumberdana untuk melaksanakan rencana ini bisa dihindari. menurut jadwal waktu dan menunjukkan tatalaksana yang sinkron. bahan. kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan. . khususnya orangtua siswa dan masyarakat (BP3/Komite Sekolah) pada umumnya.7) dapat dilihat pada Gambar 2 berikut. wakil dari sekolah. Melaksanakan Rencana Peningkatan Mutu Dalam melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan yang telah disetujui bersama antara sekolah. Karena itu. menengah. Dengan keterbukaan rencana ini. alur berpikir pembuatan rencana dan program sekolah (dari butir B. dan menggunakan teori-teori yang terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. perlengkapan. wakil dari organisasi profesi. Gambar 2: Alur Berpikir Pembuatan Rencana dan Program Sekolah 7. material maupun finansial untuk melaksanakan rencana peningkatan mutu pendidikan tersebut. Rencana yang dimaksud harus juga memuat rencana anggaran biaya (rencana biaya) yang diperlukan untuk merealisasikan rencana sekolah.) kedalam kegiatan-kegiatan. dan panjang. dan berapa biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatankegiatan tersebut. dan masyarakat.

8. bisa saja sasaran mutu tetap seperti sediakala. Untuk lebih detailnya tentang monitoring dan evaluasi MPMBS. sekolah hendaknya menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning). 9. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (akuntabilitas). Jika dianggap berhasil.Dalam melaksanakan proses pembelajaran. maka pendapatan tambahan tersebut harus juga dilaporkan. Dengan evaluasi ini akan diketahui kekuatan dan kelemahan program untuk diperbaiki pada tahun-tahun berikutnya. sedang laporan keuangan meliputi penggunaan uang serta pertanggungjawabannya. Laporan teknis menyangkut program pelaksanaan dan hasil MPMBS. kepala sekolah harus mengikutsertakan setiap unsur yang terlibat dalam program. Kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin pendidikan di sekolahnya berhak dan perlu memberikan arahan. dukungan. bimbingan dan arahan jangan sampai membuat guru dan tenaga lainnya menjadi amat terkekang dalam melaksanakan kegiatan. maka sekolah harus dapat memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pada catur wulan berikutnya. Konsep ini menekankan pentingnya siswa menguasai materi pelajaran secara utuh dan bertahap sebelum melanjutkan ke pembelajaran topik-topik yang lain. sekolah mengetahui bagaimana sudut pandang pihak luar bila dibandingkan dengan hasil penilaian internal. sekolah perlu mengadakan evaluasi pelaksanaan program. lihat Bab 4. untuk mengetahui seberapa jauh program peningkatan mutu telah mencapai sasaran-sasaran mutu yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika tidak. kepala sekolah perlu melakukan supervisi dan monitoring terhadap kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang dilakukan di sekolah. Dalam melaksanakan evaluasi. Dengan demikian. khususnya guru dan tenaga lainnya agar mereka dapat menjiwai setiap penilaian yang dilakukan dan memberikan alternatif pemecahan. Suatu hal yang bisa terjadi bahwa orangtua peserta didik dan masyarakat menilai suatu program gagal atau kurang berhasil. Dengan demikian siswa dapat menguasai suatu materi pelajaran secara tuntas sebagai prasyarat dan dasar yang kuat untuk mempelajari tahapan pelajaran berikutnya yang lebih luas dan mendalam. Evaluasi jangka pendek dilakukan setiap akhir catur wulan untuk mengetahui keberhasilan program secara bertahap. Orang Tua Siswa dan Yayasan (bagi sekolah swasta). Bilamana pada satu catur wulan dinilai adanya faktor-faktor yang tidak mendukung. Namun yang tidak kalah pentingnya. Melakukan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. baik jangka pendek maupun jangka panjang. Yang perlu disepakati adalah indikator apa saja yang perlu ditetapkan sebelum penilaian dilakukan. hasil evaluasi merupakan masukan bagi sekolah dan orangtua peserta didik untuk merumuskan sasaran mutu baru untuk tahun yang akan datang. Merumuskan Sasaran Mutu Baru Sebagaimana dikemukakan terdahulu. namun dilakukan perbaikan strategi dan mekanisme pelaksanaan kegiatan. maka laporan harus dikirim kepada Pengawas. dan teguran kepada guru dan tenaga lainnya jika ada kegiatan yang tidak sesuai dengan jalur-jalur yang telah ditetapkan. bimbingan. Hasil evaluasi pelaksanaan MPMBS perlu dibuat laporan yang terdiri dari laporan teknis dan keuangan. sasaran mutu dapat ditingkatkan sesuai dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. Untuk menghindari berbagai penyimpangan. orangtua peserta didik dan masyarakat sebagai pihak eksternal harus dilibatkan untuk menilai keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Jika sekolah melakukan upaya-upaya penambahan pendapatan (income generating activities). Komite Sekolah. . Dinas Pendidikan Kabupaten. sehingga kegiatan tidak mencapai sasaran. walaupun pihak sekolah menganggapnya cukup berhasil. hasil evaluasi berguna untuk dijadikan alat bagi perbaikan kinerja program yang akan datang. Evaluasi jangka menengah dilakukan pada setiap akhir tahun. Namun demikian. Demikian pula.

1. Pada tataran evaluasi kebijakan. Direktorat SLTP Secara umum. sarana dan prasarana. dan evaluasi kebijakan pada tingkat nasional. Pada tataran formulasi dan penetapan kebijakan. Menerbitkan informasi secara berkala. yaitu dari pola manajemen lama (sentralistik) menuju ke pola manajemen baru (desentralistik). sedang birokrasi dan unsur-unsur lainnya merupakan unit pelayanan pendukung. Direktorat SLTP/Dikmenum mempunyai tugas dan fungsi menentukan kebijakan dan strategi pada tataran formulasi/penetapan kebijakan. maka tugas dan fungsi jajaran birokrasi juga harus diubah. caranya seperti urut-urutan nomor 2 s/d nomor 8 diatas. penumbuhan motivasi-diri sekolah. Pada tataran implementasi kebijakan.Namun tidak tertutup kemungkinan. peluang. Direktorat SLTP/Dikmenum mempunyai tugas dan fungsi mensosialisasikan MPMBS keseluruh Dinas Pendidikan Propinsi serta mengkoordinasikan seluruh jajaran Dinas Pendidikan Propinsi dalam melaksanakan MPMBS di tanah air. Tugas dan Fungsi Jajaran Birokrasi Konsekwensi logis dari perubahan penyelenggaraan pendidikan. b. baik secara elektronik dan atau non-elektronik tentang perkembangan konsep maupun hasil pelaksanaan MPMBS secara agregatif (nasional) dan secara disagregatif (per wilayah/daerah). Dengan informasi ini. dan one-man-show dalam pengambilan keputusan. sehingga dapat diketahui kekuatan. Menetapkan standar MPMBS sebagai patokan yang berlaku secara nasional. maka langkah-langkah pemecahan persoalan segera dipilih untuk mengatasi faktor-faktor yang mengandung persoalan. Depdiknas Pusat melalui Direktorat SLTP/Dikmenum mempunyai tugas dan fungsi memformulasikan/menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan MPMBS melalui penyusunan dan penerbitan buku “Konsep dan Pelaksanaan MPMBS” beserta sejumlah buku “Pedoman Rintisan MPMBS”. Dinas Pendidikan Propinsi . implementasi kebijakan. pengarahan. sudah harus ditinggalkan dan diganti dengan pola pikir manajemen baru yang lebih menekankan pada pemberian otonomi. Ini memiliki arti bahwa sekolah merupakan unit utama kegiatan pendidikan. kelemahan. d. Dari uraian konsep MPMBS disebutkan bahwa pola manajemen baru lebih menekankan pada pemandirian dan pemberdayaan sekolah. c. C. dana) yang tersedia. dan pengambilan keputusan partisipatif. Karena itu pola pikir manajemen lama yang lebih menekankan pada subordinasi. pengontrolan. berikut disampaikan tugas dan fungsi tentatif masing-masing jajaran birokrasi Depdiknas dalam penyelenggaraan MPMBS. rencana peningkatan mutu baru dapat dibuat. kemudian dilakukan analisis SWOT untuk mengetahui tingkat kesiapan masing-masing fungsi dalam sekolah. bahwa sasaran mutu diturunkan. 2. Direktorat SLTP/Dikmenum mempunyai tugas dan fungsi memonitor dan mengevaluasi penyelenggaraan MPMBS secara nasional. Sambil menunggu tugas dan fungsi jajaran birokrasi Depdiknas yang definitif secara yurisdiksi dalam kerangka Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. karena dianggap terlalu berat atau tidak sepadan dengan sumberdaya pendidikan yang ada (tenaga. dan e. pengaturan. dan ancaman. yaitu: a. pemberian fasilitas. Setelah ini. Demikian seterusnya. Setelah sasaran baru ditetapkan. pemberian bantuan.

b. tugas dan fungsi Dinas Pendidikan Propinsi adalah menjabarkan kebijakan dan strategi MPMBS yang telah digariskan oleh Direktorat SLTP/Dikmenum untuk diberlakukan di Propinsi masing-masing. c. Menyusun rencana dan program pelaksanaan MPMBS dengan melibatkan kelompokkelompok kepentingan. wakil orangtua siswa. wakil pemerintah. Memberi pelatihan kepada para pengembang MPMBS di tingkat kabupaten.Secara umum. maka sekolah menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: a. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsinya sebagai berikut: d. Melaksanakan MPMBS secara efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip-prinsip total quality management (fokus pada pelanggan. antara lain: a. perbaikan secara terus-menerus. wakil siswa (OSIS). Memberikan pelayanan terhadap sekolah dalam mengelola seluruh aset/sumberdaya pendidikan yang meliputi tenaga guru. wakil organisasi profesi. dana pendidikan. Mengingat sekolah merupakan unit utama dan terdepan dalam penyelenggaraan MPMBS. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan MPMBS serta pengembangannya di Propinsi masing-masing. dan sebagainya. dan keterlibatan total warga sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah) dan berpikir sistem (berpikir holistik/tidak parsial. Memberikan pelayanan pengelolaan atas seluruh satuan pendidikan negeri dan swasta di Kabupaten/Kota masing-masing berkaitan dengan pelaksanaan MPMBS. 4. Menyusun petunjuk teknis pelaksanaan dan petunjuk teknis monitoring dan evaluasi berdasarkan pedoman yang ditetapkan pemerintah pusat. . Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota Seiring dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. f. buku pelajaran. dan g. antara lain: wakil sekolah (kepala sekolah. maka Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menjalankan tugas dan fungsi utama memberikan pelayanan dalam pengelolaan satuan pendidikan di Kabupaten/Kota masing-masing yang menjalankan MPMBS. prasarana dan sarana pendidikan. Sekolah Tugas dan fungsi utama sekolah adalah mengelola penyelenggaraan MPMBS di sekolah masingmasing. d. tata usaha). c. Mengkoordinasikan dan menyerasikan segala sumberdaya yang ada di sekolah dan di luar sekolah untuk mencapai sasaran MPMBS yang telah ditetapkan. e. Melaksanakan monitoring dan evaluasi atas tugas dan fungsi pokoknya sesuai dengan kebijakan umum yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan MPMBS. wakil kepala sekolah. Mengkoordinasikan dan menyerasikan pelaksanaan MPMBS lintas Kabupaten untuk menghindari penyimpangan MPMBS dan menghindari kesenjangan mutu pendidikan lintas Kabupaten. saling terkait. dan terpadu). b. 3. Melaksanakan pembinaan dan pengurusan atas tenaga pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan di Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan MPMBS. Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan dalam pelaksanaan MPMBS sehingga kejituan implementasi dapat dijamin untuk mencapai sasaran MPMBS. Lebih spesifiknya. dan tokoh masyarakat. guru. dan d.

Komite Sekolah. tepat. kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat Sekolah. f. Penerapan MPMBS juga memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. Mempertanggungjawabkan hasil penyelenggaraan MPMBS kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan sekolah yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. sebaiknya setiap sekolah yang melaksanakan MPMBS diharapkan memiliki data-data tentang prestasi siswa sebelum dan sesudah MPMBS. pada umumnya. tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. berarti MPMBS efektif. Hal ini penting untuk dilakukan agar sekolah dengan mudah untuk membandingkan prestasi siswa sebelum dan sesudah MPMBS. apanya yang salah? Konsepnya atau pelaksanannya? Karena itu. pengelolaan kelembagaan. dan Departemen. Dinas Pendidikan Propinsi. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk menentukan sasaran baru program MPMBS tahun. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Pengawas Sekolah. Jadi. Tepatnya. Menyusun laporan penyelenggaraan MPMBS beserta hasilnya secara lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait yaitu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Monitoring dan evaluasi. Jika setelah MPMBS ada peningkatan prestasi yang signifikan dibanding sebelum MPMBS. maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Komite Sekolah. Pada setiap akhir tahun ajaran melakukan evaluasi untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran program MPMBS yang telah ditetapkan. kita dapat menilai apakah MPMBS benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan. kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan MPMBS. Hasil monitoring dapat digunakan untuk memberi masukan . Monitoring dan evaluasi MPMBS bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Tanpa pengukuran. fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan MPMBS. fokus monitoring adalah pada komponen proses MPMBS. Jika MPMBS kurang berhasil. dengan monitoring dan evaluasi. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi. Oleh karena itu. Sebaliknya jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. baik di tingkat mikro (Sekolah). Sedang evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil MPMBS. Dengan monitoring dan evaluasi. Istilah monitoring dan evaluasi memiliki makna sebagai berikut. dan cukup untuk pengambilan keputusan.e. maupun makro (Departemen). meso (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan.tahun berikutnya. dan g. Monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan MPMBS. menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. dan Yayasan (bagi sekolah swasta). maka MPMBS dianggap tidak efektif (gagal). maka hal ini dapat diduga bahwa MPMBS cukup berhasil. baik menyangkut proses pengambilan keputusan. fokus evaluasi adalah pada hasil MPMBS. Back KONSEP MONITORING DAN EVALUASI A. monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat. Karena itu. bukan pada hasilnya. Jadi. Dinas Pendidikan Propinsi). Rasional dan Tujuan Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengelolaan pendidikan. Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. pengelolaan program.

baik pada konteks. waktu) telah dicapai oleh MPMBS. lihat uraian input pada BAB II. sedang inkonsistensi akan menjurus kepada kegagalan MPMBS. dan prestasi olahraga. Sesuatu yang dimaksud tidak harus berupa barang. peralatan. dan outcome. Konsistensi antara rancangan dan proses pelaksanaan akan mendukung tercapainya sasaran. Dalam istilah lain. Dalam MPMBS sebagai sistem. Hasil nyata yang dimaksud dapat berupa prestasi akademik (academic achievement). sumberdaya. makin besar pula kesuksesan MPMBS. C. rencana. Outcome adalah hasil MPMBS jangka panjang. program. baik dampak individual (tamatan SLTP). nilai EBTA. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand and support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. kuantitas. Jenis Monitoring dan Evaluasi: Internal dan Eksternal . Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauhmana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan (kualitas. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tentang “ketersediaan dan kesiapan” input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses. input dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Input adalah segala “sesuatu” yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Harapan-harapan terdiri dari visi. B. yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MPMBS sesaat/jangka pendek. dan sebagainya). segera dapat dilakukan koreksi/pelurusan terhadap pelaksanaan. output. konteks sama artinya dengan istilah kebutuhan. Komponen-Komponen MPMBS yang Dimonitor dan Dievaluasi MPMBS sebagai sistem. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan/disain MPMBS semula dengan proses implementasi yang sebenarnya. evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. dan peringkat lomba karya tulis. input. kejujuran. Input manajemen terdiri dari tugas. Masukan-masukan dari hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk pengambilan keputusan. dan pengendalian atau tindakan turun tangan. dan sosial (masyarakat).(umpan balik) bagi perbaikan pelaksanaan MPMBS. maupun outcome nya. memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain. Karena itu. sasaran. Sedang hasil evaluasi dapat memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memberi masukan terhadap keseluruhan komponen MPMBS. input. proses pengelolaan kelembagaan. Tentunya makin besar kesesuaiannya. proses pengelolaan program. perlengkapan. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (needs assessment). output. Secara garis besar. kesenian. fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MPMBS. proses evaluasi sekolah. dan proses akuntabilitas. maupun prestasi non-akademik (non-academic achievement). EBTANAS. Dengan kata lain. Untuk lebih rincinya. IMTAQ. dan input manajemen. Untuk melakukan evaluasi ini. fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MPMBS jangka panjang. yaitu konteks. Dengan demikian. prosedur kerja. yaitu harapan. Dengan didapatkan informasi inkonsistensi tersebut. tetapi juga dapat berupa perangkat-perangkat lunak dan harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses. misi. proses. pada umumnya digunakan analisis biayamanfaat (cost-benefit analysis). misalnya. proses terdiri dari: proses pengambilan keputusan. tujuan. institusional (SLTP). regulasi (ketentuanketentuan. misalnya. Sumberdaya dibagi menjadi dua yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang. proses belajar mengajar. kedisiplinan. proses. limitasi. sejauhmana “hasil nyata sesaat” sesuai dengan “hasil/sasaran yang diharapkan”. Dengan demikian. dan kerajinan. bahan). Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MPMBS.

Pergeseran pendekatan manajemen ini jelas memerlukan penyesuaian-penyesuaian. hingga sampai terbentuk karakter MPMBS kepada semua warga sekolah. dan warga sekolah lainnya. Pada umumnya. Oleh karena itu. Hasil monitoring dan evaluasi eksternal dapat digunakan untuk: rewards system terhadap individu sekolah. siswa. yaitu internal dan eksternal. Back PENUTUP Berbagai kenyataan tidak optimalnya mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak factor. salah satunya adalah manajemen pendidikan. meningkatkan iklim kompetisi antar sekolah. Tujuan utama monitoring dan evaluasi internal sekolah adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. tindakan. Dalam kenyataan. guru bimbingan dan penyuluhan. manajemen pendidikan yang selama ini bersifat sentralistik telah menempatkan sekolah pada posisi marginal. lokakarya. Depdiknas terdorong untuk melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menuju manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). kurang mandiri. memperbaiki sistem yang ada secara keseluruhan. Dengan MPMBS ini. dan diskusi tentang MPMBS. Sedang yang dimaksud monitoring dan evaluasi eksternal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak eksternal sekolah (external institution). Konsep MPMBS ini merupakan ide baru dalam wacana manajemen pendidikan di Indonesia. Pengawas. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Direktorat Pendidikan Menengah Umum berkemauan kuat dan bertekad bulat mengupayakan pengembangan SLTP/Dikmenum dapat terjadi dan mengakar di sekolah. dan Perguruan tinggi. dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya. orangtua siswa. Penyesuaian secara teknis dapat dilakukan melalui penataran. guru. masukan-masukan yang berharga dan konstruktif dari para pembaca dan praktisi pendidikan sangat diperlukan bagi penyempurnaan konsep MPMBS ini. tentu saja konsep MPMBS ini tidak secara otomatis sempurna.Ada dua jenis monitoring dan evaluasi sekolah. kebiasaan. dan bahkan terpasung kreativitasnya. kepentingan akuntabilitas publik. Untuk itu. . pelaksana monitoring dan evaluasi internal adalah warga sekolah sendiri yaitu kepala sekolah. atau gabungan dari ketiganya. Yang dimaksud monitoring dan evaluasi internal adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh sekolah sendiri. misalnya Dinas Pendidikan. Sedang penyesuaian secara kultural dapat dilakukan melalui penanaman pemikiran. seminar. Semoga bermanfaat. kurang berdaya. Sebagai ide baru. baik secara teknis maupun kultural.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful