P. 1
Hasil Penelitian Lapangan

Hasil Penelitian Lapangan

|Views: 592|Likes:
Published by eindrayadi

More info:

Published by: eindrayadi on Aug 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

TUGAS UAS Laporan Penelitian Matakuliah Ekonomi-Politik

“Emas Biru Di Penghujung Lestari” (Studi Kasus PT. Aqua Danone) Ds. Mekar Sari, Kec. Cicurug, Kab. Sukabumi, Prov. Jawa Barat

Oleh EKO INDRAYADI NIM. 109033200006

PRODI ILMU POLITIK SEMESTER IV FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA TAHUN 2010/2011

BAB I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Sebotol Aqua dingin memang terasa nikmat dan menyegarkan ketika diminum di siang hari yang terik. Sejuk air pegunungan yang mengalir melewati tenggorakan langsung menghapuskan dahaga yang memuncak akibat dehidrasi. Tetapi, pernahkah kita mencoba untuk sedikit merenungkan. Bagaimana proses panjang yang dibutuhkan sebotol Aqua yang diproduksi oleh pihak Danone untuk sampai ke tangan kita? Bermula dari perenungan inilah penulis mencoba melakukan petualangan menuju pabrik Aqua yang terletak di Desa Mekar Sari, Kecamatan Cicurug Sukabumi, pada Rabu (20/06) lalu. Perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam dari Jakarta tidak memudarkan semangat penulis untuk melakukan pembongkaran terhadap misteri Aqua yang selama ini menghantui benak penulis. Sesampai di kaki Gunung Salak, Jawa Barat. Penulis menyempatkan diri untuk melihat pemandangan alam yang luar biasa. Tetapi, pemandangan ini tidak serta merta meredam keingintahuan penulis mengenai Aqua. Sesampai di depan pintu pabrik penulis mencoba melakukan percakapan agar bisa mendapatkan izin untuk masuk dan melakukan riset. Tetapi sayang, lagi-lagi kendala birokrasi yang sulit ditembus dan masalah tetek bengek yang harus penulis penuhi membuat diri terpaksa harus berlapang dada mengamati dari luar pabrik. Terlepas dari kisah yang penulis alami. Ada sebuah permasalahan besar yang sebenarnya ingin penulis ungkap dan jelaskan dalam laporan singkat ini. Masalah tersebut ialah mengenai upaya privatisasi terhadap sumber daya air bersih yang dilakukan oleh pihak PT.Aqua Danone. Tindakan privatisasi terhadap air yang dilakukan oleh pihak Aqua sudah seharusnya membuat kita resah. Penjajahan terhadap sumber daya air yang dilakukan oleh pihak Aqua Danone sudah saatnya dihentikan.

2

Padahal jika kita amati secara konstitusi. Secara jelas tersirat dalam Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, pasal 5 yang menyatakan bahwa “Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok sehari-hari guna memenuhi kebutuhannya yang sehat, bersih, dan produktif.”1 Selain itu, di dalam konstitusi dasar negara kita. Di dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 33 ayat 2 dinyatakan, “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.2 Di dalam kalimat tersebut, secara tegas dinyatakan bahwa negara kita menolak tindakan privatisasi dan bertanggung jawab untuk mempergunakan segala kekayaan alam yang terkandung di bumi pertiwi sebagai penyelenggaraan kemakmuran rakyat. Bukan milik segelintir orang/golongan yang hanya berorintasi kepada keuntungan dan mengorbankan kepentingan rakyat. Oleh karena itu, berdasarkan pengamatan penulis mengenai privatisasi air yang telah menyebabkan hilangnya jaminan pelayanan hak dasar rakyat atas air, melanggar HAM, membuat akses masyarakat terhadap air terbatas dan mahal, merusak lingkungan, menimbulkan krisis air, mengganggu kebutuhan pertanian dan kehidupan dasar rakyat sudah seharusnya dihentikan. Pemerintah sudah selayaknya tegas dan tanpa ampun memberi hukuman kepada pihak yang melakukan privatisasi dalam bentuk PDAM dan bisnis AMDK. Namun, dilematis berbagai dampak negatif yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk melakukan tindakan korektif. Sepertinya dilakukan dengan ogah-ogahan. Peran pengelolaan air yang seharusnya tidak diserahkan pada pihak swasta yang meletakkan keuntungan sebagai tujuan pertama (profit first) dianggap sebagai tindakan kerja sama yang mampu memberikan keuntungan bersama dengan mengorbankan kepentingan dan hak-hak rakyat. Berdasarkan latar belakang inilah, penulis memutuskan untuk menulis penelitian yang berjudul “Emas Biru Di Penghujung Lestari” sebagai judul penelitian yang penulis pilih sebagai tugas akhir (UAS) untuk matakuliah ekonomi politik.
1 2

Undang-Undang No. 7 tahun 2004 UUD 1945

3

B. Rumusan Masalah Tindakan privatisasi air yang dilakukan oleh pihak swasta (dalam hal ini dilakukan oleh PT. Aqua Danone) telah membuat keresahan yang mendalam di kalangan masyarakat sekitar daerah pabrik. Sulitnya akses terhadap air terhadap tindakan eksploitasi yang berlebihan telah membuat keadaan lingkungan berubah seratus delapan puluh derajat dari visi dan misi utama dari Aqua yang ingin menjaga kelestarian lingkungan. Semua tindakan ini jelas tidak bisa kita putuskan dari sisi natural yang dimiliki oleh Aqua sebagai bagian dari pihak swasta yang memiliki orientasi untuk meraih keuntungan setingginya dengan modal yang serendah mungkin. Namun, tindakan kasat mata yang mereka lakukan sudah saatnya diawasi dan dihentikan. Mengingat beratnya beban yang harus ditanggung oleh generasi kita selanjutnya. Oleh karena itu, penulis mencoba melakukan analisis terhadap permasalahan privatisasi ini dengan analisis hipotesis yang menjadi langkah awal penelitian penulis, yakni: “Bagaimanakah Hubungan Antara PT. Aqua Di Mekarsari Dengan Negara, Masyarakat, dan Pasar?” C. Tujuan Penelitian Agar penelitian menjadi lebih terfokus, maka perlu dikemukakan tentang tujuan penelitian. Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimanakah hubungan privatisasi yang dilakukan oleh PT. Aqua terhadap hubungannya dengan negara, masyarakat, dan pasar di Indonesia. D. Manfaat Penelitian

4

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: a. Menambah cakrawala berpikir penulis dan menerapkan ilmu metodologi penelitian sosial, khususnya pada metode kualitatif yang diperoleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di lapangan. b. Memberi tambahan referensi kepustakaan bagi civitas academika Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan khususnya mahasiswa prodi ilmu politik dalam memahami mata kuliah ekonomi-politik sesuai dengan kondisi Real yang ada di lapangan. c. Membentuk dan mempupuk sikap kritis mahasiswa dalam melihat dan mengamati berbagai macam kebijakan ekonomi politik yang menyentuh sektor strategis, terutama masalah Sumber Daya Alam dan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. E. Kerangka Teori Secara sederhana, privatisasi dapat kita artikan sebagai upaya penyerahan kekuasaan ekonomi kepada pihak swasta untuk mengelola sumber daya agar mampu diproduksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Tindakan ini memang memiliki kaitan erat dengan pasar bebas dan spirit kapitalisme yang memang menghendaki keadaan privat guna meminimalisir peran dari negara terhadap pasar. Di dalam pandangan mengenai liberalisme, asumsi yang muncul senantiasa mencoba meletakkan manusia sebagai rasionalisasi dari sistem pasar yang menuntut efisiensi ekonomi, maksimalisasi pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan manusia. Mencoba mengutip pernyataan Adam Smith dalam Budi3 mengenai adanya the Invisible Hand yang mampu mengatur dan berfungsi sebagai kekuatan pasar. Semakin melegitimasi bahwa mekanisme pasar yang terjadi dengan kompetisi indivindu dalam meraih keuntungan akan berakibat kepada masyarakat yang akan mendapatkan keutungan pula. Baginya, pelepasan otoritas pemerintah

3

Darsono Prawironegoro, Ekonomi Politik Globalisasi, (Jakarta: Nusantara Consulting, 2010), h. 41.

5

yang membebani dirinya sendiri-dengan beragam perhatian yang tidak perlu harus dihilangkan dengan memberikan kebebasan kepada pasar. Kembali kepada masalah privatisasi yang muncul di dalam pasar bebas. Penulis mencoba untuk mengartikulasikan asal muasalnya dalam Teorema Coase yang berbunyi,
“Dalam pasar bebas biaya transaksi lebih kecil dibanding pada suatu hirarki besar. Dalam pasar bebas pertukaran lebih fleksibel dan arus informasi lebih efisien. Dengan makin rumitnya perekonomian maka kemampuan memproses informasi di pusat makin tertinggal dibandingkan arus informasi yang harus diolah. Karenanya, pengambilan keputusan sering terlambat dan kualitasnya pun menurun. Hal ini berdampak pada rendahnya efisiensi produksi.”4

Sedangkan menurut Steve H. Hanke, privatisasi adalah “is the transfer of assets and service functions from public to private hands. It includes, therefore, activities that range from selling state – owned enterprise to contracting out public service with private contractor”5. Sedangkan menurut UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, “Privatisasi adalah penjualan saham Persero (Perusahaan Perseroan), baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas saham oleh masyarakat”6. Dari ketiga pengertian di atas, maka dapat kita pahami bahwa munculnya privatisasi pada awalnya adalah memiliki tujuan untuk mengurangi beban keuangan pemerintah, sekaligus membantu sumber pendanaan pemerintah (divestasi), meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan, meningkatkan profesionalitas pengelolaan perusahaan, mengurangi campur tangan birokrasi/pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan, mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri, mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri. Tetapi ironis, tindakan privatisasi yang cenderung kebablasan terhadap Sumber Daya Alam Air, sebagaimana yang dilakukan oleh pihak Aqua sangat bertentangan dengan esensi dasar yang visinya adalah memakmurkan masyarakat. Nilai Oportunity Cost, yang harus dibayar oleh masyarakat sekitar pabrik.
4

http://www.umj.ac.id/main/artikel/index.php?detail=20101216190605(Diakses,Selasa21/06/2011. Pukul 21.00 wib) 5 Ibid. 6 Ibid.

6

Sebagaimana dikatakan oleh Marx, bahwa bentuk asli, evolusi, dan kematian mode produksi kapitalis dipengaruhi tiga hukum ekonomi yang tidak dapat dihindari, yaitu: 1. Hukum disproporsionalitas, 2. Hukum Konsentrasi (akumulasi) kapital, 3. Hukum Jatuhnya keuntungan.7 Oleh karena itu, berdasarkan beberapa teori yang dikemukan oleh para ahli di atas, penulis mencoba untuk melakukan sebuah penelitian yang berlandaskan pada teori, dengan berupaya melakukan sinkronisasi hipotesis penulis terhadap teori-teori tersebut, terkhusus hubungan privatisasi PT. Aqua terhadap negara, masyarakat, dan pasar. F. Metodologi Penelitian 1.Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data pada penelitian ini penulis menggunakan penelitian pustaka (Library ressearh) dan metode wawancara mendalam (face to face) kepada pihak-pihak yang dianggap mampu memberikan informasi secara aktual dan terpercaya sebagai metode atau cara mendapatkan informasi primer. Tujuan pengumpulan data yang lebih menekankan pada sisi wawancara (interview) adalah agar informasi yang didapat benar-benar kridibel dan kadar akuntabilitasnya mampu dipercaya. 2. Metode Pembahasan Metode pembahasan dalam penulisan ini adalah metode deskriptifanalisis-kritis sebagai eksplorasi untuk melakukan pengamatan terhadap PDI Perjuangan dengan merujuk pada data-data yang ada (baik primer maupun sekunder) kemudian menganalisisnya secara proporsional dan komprehensif sehingga akan tampak jelas perincian jawaban atas persoalan yang berhubungan dengan pokok permasalahan dan akan menghasilkan pengetahuan yang valid. 3. Teknik Penulisan
7

Budi Winarno, Pertarungan Negara VS Pasar, (Yogyakarta: Medpress, 2009), h. 68.

7

Adapun teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini mengacu pada pedoman Ceqda yang memuat sistematika penulisan skripsi, tesis, dan skripsi edisi terbaru yang diterbitkan oleh UIN Jakarta Press. Dalam penulisan catatan kaki, penulis tidak memakai istilah log. Cit, op. Cit, namun masih menggunakan Ibid.Sebagaimana telah disahkan dan disepakati oleh FISIP UIN Jakarta. Tetapi mengantinya dengan penulisan nama depan atau nama populer penulis dan dua kata pertama dalam judul atau judul besar karya penulisan.

G. Sistematika Penulisan Agar penulisan makalah ini lebih sistematis terarah dan menjadi standar, maka penulisan makalah ini di susun dalam lima bab yang masing-masing dari sub-sub bab tersebut, ialah: BAB. I pendahuluan yang berisi antara lain tentang Latar Belakang Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan. BAB. II membahas tentang Profil PT. Aqua dari sisi sejarah kelahirannya dan dinamika perkembangannya. BAB. III berisi tentang, hubungan PT. Aqua terhadap negara, masyarakat, dan pasar. Bab. IV, adalah bab penutup yang berisikan Kesimpulan dan Komentar Kritis (saran-saran), serta lampiran-lampiran.

BAB II. SEJARAH DAN DINAMIKA PERKEMBANGAN PT. AQUA Sekilas Aqua Aqua adalah sebuah merek air minum dalam kemasan (AMDK) yang diproduksi oleh Aqua Golden Mississipi di Indonesia sejak tahun 1973. Selain di Indonesia, Aqua juga dijual di Singapura. Aqua adalah merek AMDK dengan penjualan terbesar di Indonesia dan merupakan salah satu merek AMDK yang 8

paling terkenal di Indonesia, sehingga telah menjadi seperti merek generik untuk AMDK. Di Indonesia, terdapat 14 pabrik yang memroduksi Aqua. Sejak tahun 1998, Aqua sudah dimiliki pula oleh perusahaan multinasional dari Perancis, Danone, hasil dari penggabungan Aqua Golden Mississippi dengan Danone. AQUA didirikan oleh Tirto Utomo, warga asli Wonosobo yang setelah keluar bekerja dari Pertamina mendirikan usaha air minum dalam kemasan (AMDK). Tirto berjasa besar atas perkembangan bisnis atau usaha AMDK di Indonesia, karena sebagai seorang Pioneer maka Almarhum berhasil menanamkan nilai-nilai dan cara pandang bisnis AMDK di Indonesia.8

Awal Pendirian
PT Aqua Golden Mississippi didirikan pada tahun 1973 di Indonesia. Ide mendirikan perusahaan AMDK timbul ketika Tirto bekerja sebagai pegawai pertamina di awal tahun 1970-an. Ketika itu Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan. Ia dan saudara-saudaranya mulai mempelajari cara memproses air minum dalam kemasan. Ia meminta adiknya, Slamet Utomo untuk magang di Polaris, sebuah perusahaan AMDK yang ketika itu telah beroperasi 16 tahun di Thailand. 9 Pada awalnya, produk Aqua menyerupai Polaris mulai dari bentuk botol kaca, merek mesin pengolahan air, sampai mesin pencuci botol serta pengisi air. Tirto mendirikan pabrik pertamanya di Pondok Ungu, Bekasi, dan menamai pabrik itu Golden Mississippi dengan kapasitas produksi enam juta liter per tahun. Tirto sempat ragu dengan nama Golden Mississippi yang meskipun cocok dengan target pasarnya, ekspatriat, namun terdengar asing di telinga orang Indonesia. Konsultannya, Eulindra Lim, mengusulkan untuk menggunakan
8 9

http://id.wikipedia.org/wiki/Aqua_(air_mineral) Ibid.

9

nama Aqua karena cocok terhadap imej air minum dalam botol serta tidak sulit untuk diucapkan. Ia setuju Dua dan mengubah tahun merek produknya produksi dari Puritas menjadi Aqua. kemudian,

pertama Aqua diluncurkan dalam bentuk kemasan botol kaca ukuran 950 ml dengan harga jual Rp.75, hampir dua kali lipat harga bensin yang ketika itu bernilai Rp.46 untuk 1.000 ml. 10

Perkembangan dan akuisisi
Pada tahun 1982, Tirto mengganti bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap mengandung komposisi mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium, zat besi, dan sodium.11 Willy Sidharta, sales dan perakit mesin pabrik pertama Aqua, merupakan orang pertama yang memperbaiki sistem distribusi Aqua. Ia memulai dengan menciptakan konsep delivery door to door khusus yang menjadi cikal bakal sistem pengiriman langsung Aqua. Konsep pengiriman menggunakan karduskardus dan galon-galon menggunakan armada yang didesain khusus membuat penjualan Aqua Secara Pada 1984, konsisten AQUA menanjak kedua hingga didirikan akhirnya angka penjualan Aqua mencapai dua triliun rupiah di tahun 1985. Pabrik di Pandaan, Jawa Timur sebagai upaya mendekatkan diri pada konsumen yang berada di wilayah tersebut. Setahun kemudian, terjadi pengembangan produk Aqua dalam bentuk kemasan PET 220 ml. Pengembangan ini membuat produk Aqua menjadi lebih berkualitas dan lebih aman untuk dikonsumsi. Pada tahun 1995, Aqua menjadi pabrik air mineral pertama yang menerapkan sistem produksi in line di pabrik Mekarsari. Pemrosesan air dan pembuatan kemasan AQUA dilakukan bersamaan. Hasil sistem in-line ini adalah botol AQUA yang baru dibuat dapat segera diisi air bersih di ujung proses produksi, sehingga proses produksi menjadi lebih higienis.12
10 11

Ibid Ibid. 12 Ibid.

10

Pada tahun 1998, karena ketatnya persaingan dan munculnya pesaingpesaing baru, Lisa Tirto sebagai pemilik Aqua Golden Mississipi sepeninggal ayahnya Tirto Utomo, menjual sahamnya kepada Danone pada 4 September 1998. Akusisi tersebut dianggap tepat setelah beberapa cara pengembangan tidak cukup kuat menyelamatkan Aqua dari ancaman pesaing baru. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk dan menempatkan AQUA sebagai produsen air mineral dalam kemasan (AMDK) yang terbesar di Indonesia. Pada tahun 2000, bertepatan dengan pergantian milenium, Aqua meluncurkan produk berlabel Danone-Aqua.13

Pasca Akuisisi
DANONE meningkatkan kepemilikan saham di PT Tirta Investama dari 40 % menjadi 74 %, sehingga Danone kemudian menjadi pemegang saham mayoritas Aqua Group. Aqua menghadirkan kemasan botol kaca baru 380 ml pada 1 November 2001. 2006-2008 Danone berupaya untuk membuat pabrik di Serang, namun karena Danone didemo oleh warga sekitar, Bupati, DPRD dan LSM, serta terlebih lagi kasus ini sudah sampai Gubernur Banten yang bukan menjadi rahasia merupakan Putri dari 'penguasa' Banten maka Danone dengan terpaksa 'kalah' atau membatalkan atau mundur dari pembuatan Pabrik di Serang. Sebenarnya Danone bisa berhasil membuat pabrik di Serang seandainya Danone mau membuatkan fasilitas umum yaitu Air Bersih bagi warga sekitar, karena sebenarnya yang dibutuhkan warga sekitar itu hanyalah Air Bersih bukannya hanya sekedar survey atau malah penghijauan. Keadaan inilah yang sayangnya justru dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mencari 'keuntungan' pribadi. Aqua-Danone hingga saat ini telah memiliki 14 pabrik dengan 10 sumber air berbagai daerah di Indonesia, yakni Berastagi Sumut, Jabung dan Umbul Cancau (Lampung), Mekarsari, Sukabumi (Jabar), Subang, Cipondoh (Jabar), Wonosobo, Mangli (Jatim), Klaten, Sigedang (Jateng), Pandaan (Jatim), Kebon
13

Ibid.

11

Candi (Jatim), Mambal (Bali) dan Menado, Airmadidi (Sulut). Dua sumur terbesar yang mensuplai lebih dari 70% air merk Aqua ialah sumur Klaten dan Sukabumi. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan Aqua-Danone terdaftar dengan nama Aqua Golden Mississipi (AGM). Publik memiliki sekitar 6% saham AGM.14 BAB III. HUBUNGAN PT. AQUA TERHADAP NEGARA, PASAR, DAN MASYARAKAT 1.Hubungan PT. Aqua Terhadap Negara Dalam membahas hubungan PT. Aqua dan negara tidak bisa kita putushubungkan dengan beberapa kegagalan pasar yang pernah dibahas beberapa pekan yang lalu. Menurut Darsono15, secara umum terdapat 3 hal utama yang berkaitan dengan kegagalan pasar, yakni: Pertama, adanya monopoly. Tindakan monopoly adalah upaya yang dilakukan pihak swasta-indivindu yang ingin menguasai jalannya pasar melalui monopoli produk terhadap konsumen. Kedua, Oligarky. Adalah tindakan konspirasi yang dilakukan oleh sekelompok pengusaha untuk melakukan desain terhadap harga pasar. Sehingga tidak ada harga yang kompetitif diantara mereka. Ketiga, Eksternalitas. Adalah dampak negatif yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan terhadap lingkungan-umumnya permasalahan seperti limbah. Dari beberapa kegagalan pasar tersebut, tindakan yang mungkin secara jelas terlihat adalah tindakan yang pertama dan kedua. Pada tindakan yang pertama, Aqua mencoba untuk meredam perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) lainnya yang ingin melakukan persaingan. Selain itu, jika dilihat melalui persfektif kacamata politik akan dapat kita amati satu buah contoh kasus seperti dimuat di Kompas tanggal 3 April 2009 yang lalu, Group Danone berinisiatif mengalokasikan dana sebesar € 100 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun untuk membaiayi proyek-proyek sosial yang berorientasi pada pembangunan yang
14 15

http://www.aqua.com/aqua-menyapa/umum Budi Winanarno, Pertarungan Negara VS Pasar, (Yogyakarta: Medpress, 2009).

12

berkelanjutan

di

sejumlah

negara.

Indonesia

merupakan

negara

yang

diperioritaskan memperoleh bagian terbesar dari dana tersebut.16 Kita patut berterima kasih atas adanya bantuan tersebut, terutama jika sumber dana bantuan dapat dipertanggungjawabkan dan bantuan diberikan tanpa pamrih. Namun di sisi lain kita bertanya-tanya, mengapa Danone mampu memberikan bantuan di saat krisis global sedang memuncak. Kita juga sedikit khawatir, mengapa bantuan diberikan pada saat menjelang Pemilu. Terlepas dari itu semua, kita meminta semua pihak untuk bersikap transparan: Danone harus mendeklarasikan berapa sebenarnya jumlah bantuan yang diberikan dan kepada siapa atau instansi mana diberikan. Selain masalah mengenai konspirasi pihak Danone dan pemerintah. Tindakan mereka yang umumnya telah melampaui batas dalam melakukan eksploitasi terhadap sumber daya air pengawasan yang ketat. 2.Hubungan PT. Aqua Terhadap Pasar Dalam menganalisis hubungan PT. Aqua dan pasar. Penulis mencoba untuk menghubungkannya dengan teori Robert Berts mengenai hubungan antara pasar dan negara. Disini, penulis melihat adanya upaya juga penghapusan peran negara oleh pasar. Peran ini sangat rasional jika kita sandingkan dengan pemikiran Bates yang banyak meniliti fenomena serupa di Afrika dan Asia. Di dalam hubungannya dengan institusi pasar, pihak Aqua mencoba bermain di belakang layar dengan menggunakan politik “siluman” dalam rangka menolak intervensi dari negara terhadap pertimbangan-pertimbangan rasional yang berkaitan dengan kepentingan diri maupun kelompok kolektifnya. Hal ini dapat kita amati dari kasus saham Aqua yang mengalami kenaikan secara drastis. Dalam hal nilai saham, tercatat bahwa Aqua-Danone telah mengalami kenaikan harga yang spektakuler selama menjadi perusahaan terbuka. Jika pada saat pertama kali go public saham AGM hanya berharga beberapa ribu rupiah (anggap saja Rp 10.000) per lembar, maka pada tahun 2008 meningkat menjadi sekitar Rp 130.000. Saat ini (September 2009) harga saham AGM adalah
16

patut mendapatkan

http://ren1arch.blog.uns.ac.id/2010/01/07/menggugat-penjajahan-sumberdaya-air-denganmodus-privatisasi/

13

sekitar Rp 240.000 per lembar. Berulangkali sejak tahun 2000 hingga 2004, atau juga berlanjut hingga beberapa tahun terakhir, AGM berupaya untuk delisting (menjadi perusahaan tertutup) dari BEI. Karena harga sahamnya terus meningkat, maka keinginan delisting ini patut dipertanyakan atau malah dicurigai. Berdasarkan kasus tersebut, penulis melihat bahwa adanya tindakan dari pihak Aqua yang ingin meminimalisasi peran pemerintah dan menciptakan pasar bebas dalam komuditi air sebagai barang ekonomi. Perubahan yang secara langsung sangat merugikan masyarakat daerah yang berada di sekitar pabrik harus dihentikan, karena selain berhubungan dengan masalah eksternalitas; meskipun tampak dilematis dengan beragam kegiatan penghijauan yang dilakukan oleh pihak Aqua. Namun, hilangnya sumber daya air yang notabenenya adalah barang publik yang harus dipergunakan dan dijaga untuk kemakmuran rakyat. Semestinya merupakan sebuah keadaan yang harus dikoreksi dan diperbaiki dalam hubungan Aqua dan pasar. 3. Hubungan PT. Aqua Terhadap Masyarakat Dalam melihat hubungan Aqua dengan masyarakat penulis mencoba untuk membaginya menjadi dua tipologi, yakni masyarakat pekerja yang memiliki keterkaitan bersama pabrik Aqua dalam memproduksi AMDK, dan masyarakat daerah lainnya yang hanya berprilaku sebagai konsumen. Pada tipe yang pertama penulis melihat keadaan dilematis yang patut dicermati bersama. Karena ada dua paradigma yang muncul dan berkembang dari masyarakat pekerja yang berada di sekitar pabrik. Paradigma yang pertama adalah mereka yang pro terhadap pabrik Aqua. Hal ini penulis buktikan dengan mewawancarai seorang warga desa Mekar Sari, Romy (30 th) pada (20/06). Ketika dimintai mengenai keberadaan pabrik AMDK yang ada di desanya ia mengatakan, “Perusahaan Aqua sangat membantu penduduk daerah sini, mas. Mereka seringkali membantu pembangunan rumah ibadah, serta memberikan bibit pepohonan untuk penghijauan di kampung ini. Selain itu, mereka juga sering kali memberikan beasiswa pendidikan kepada anak warga daerah sini.” Namun, berbeda dengan Romy, salah seorang warga yang berprofesi sebagai petani, sebut saja namanya Agus (40th). Terlihat kontra dengan 14

keberadaan pabrik Aqua yang ada di desa Mekar Sari. Ia mengungkapkan bahwa, “Keberadaan pabrik ini sudah menimbulkan beberapa masyarakat resah dan khawatir. Tindakan mereka yang melakukan privatisasi sangat membingungkan warga yang umumnya membutuhkan air bersih. Tidak banyak masyarakat yang bisa mendapatkan akses untuk masuk dan mengambil air dari mata air yang kini dieksploitasi oleh pihak Aqua. Selain itu, air tanah yang dulu bisa didapat dengan mudah dengan sumur yang kedalamannya kurang lebih 5 s.d 10 meter saat ini sangat sulit ditemukan. Apalagi kalau, mas lihat. Bagaimana kotornya saluran air milik masyarakat yang berada di samping pabrik. Seperti tidak ada keberpihakan dari pihak Aqua untuk menjaga kelestarian lingkungan disini, mas.” Dari hasil wawancara dari kedua orang warga yang menjadi narasumber penulis. Ada fakta yang penulis dapatkan bahwa pihak Aqua mencoba membangun citra positif diantara warga desa. Keadaan ini didukung oleh faktor minimnya tingkat pendidikan dan pengetahuan warga mengenai privatisasi air. Meskipun terkadang Aqua mampu memberikan keuntungan dengan pemberian beasiswa dan hewan kurban pada hari raya. Tetapi masalah utamanya, adalah pada keberdayaan Sumber Daya Air yang tidak dapat kita perkirakan keberlangsungan dan kelestariannya. Pada tipe masyarakat daerah lainnya yang berprilaku sebagai konsumen dan tidak merasa dampak tindakan eksploitasi dan privatisasi oleh pihak Aqua mungkin terlihat sangat mendukung program-program penghijauan yang dilakukan oleh pihak Aqua . Secara riil mungkin mereka secara tidak langsung memberikan keutungan kepada pihak Aqua untuk semakin menggila dalam melakukan kegiatan ekploitasi demi bulir-bulir keuntungan yang harus diraih. BAB IV. PENUTUP Kesimpulan Pada bagian akhir ini, penulis mencoba untuk melakukan penyimpulan dari hasil penelitian yang penulis lakukan. Dari penelitian yang dilakukan. Penulis beranggapan bahwa adanya hubungan yang erat dan saling menguntungkan antara 15

pemerintah pasar dan PT. Aqua. Hal ini terlihat dari tindakan pihak Aqua yang mencoba untuk memutuskan hubungan antara pemerintah dan pasar. Pihak Aqua juga berupaya untuk melakukan tindakan monopoly dengan mengalahkan pesaing lainnya sebagai perusahaan AMDK. Kedekatan pihak Aqua yang mengusung ideologi neoliberal dan anti terhadap intervensi pemerintah dalam kegiatan produksinya. Selain itu, kedekatan yang dimiliki oleh pihak Aqua dan pemerintah juga terlihat dengan tindakan lobi-lobi penghijuan yang mereka lakukan. Tindakan yang katanya bertujuan untuk kegiatan sosial ini pun tidak lebih dari upaya pencitraan PT. Aqua terhadap pasar dan negara. Sedangkan pada hubungan antara PT. Aqua dan masyarakat. Penulis melihat bahwa adanya paradigm dilematis. Dimana munculnya pro dan kontra terhadap keberadaan terhadap pihak Aqua dari masyarakat setempat. Namun, terlepas dari semua permasalahan di atas, Penulis melihat seperti ada permasalahan yang mengambang yang berujung kepada pengorbanan hak-hak publik yang dilakukan dalam tiga hubungan ini. Masalah-masalah seperti privatisasi dengan melakukan tindakan ekonomisasi terhadap air sudah seharusnya mendapatkan pengawasan yang ketat dari negara dan masyarakat luas.

LAMPIRAN Dokumentasi Penelitian

16

Kontainer yang hilir mudik membawa angkutan Aqua dari pabrik

Pintu masuk pabrik Aqua

17

Kantor Pos Jaga di dalam pabrik

Tempat bongkar muat kontainer Aqua

18

Papan pengumuman yang berisi peraturan yang wajib dipatuhi oleh pekerja pabrik

Salah satu papan peraturan yang berisi perintah untuk menjaga kebersihan di pabrik

19

Jalanan publik yang terlihat rusak di depan pabrik Aqua

Pemukiman pemulung yang ada di samping pabrik

20

Sampah yang berserakan di saluran air samping pabrik

Saluran air rakyat yang melalui pabrik

21

Sampah yang menumpuk tanpa diperhatikan

Kantor Lurah Desa Mekar Sari Dekat Pabrik Aqua Keuntungan Ini rincian keuntungan PT. Aqua perhari (Berdasarkan Analisis Penulis)
1. Berdasarkan Hasil Produksi Aqua Galon Ukuran Besar

22

 240 truk x 250 galon per hari
 6000 galon x Rp 8.000 (harga produksi)

: 6000 galon : Rp 48.000.000,-

(keuntungan kotor)
 Jadi keuntungan Aqua perhari adalah Rp 8000-Rp 2000 (ongkos produksi)

x 6000 galon = Rp 36.000.000,- (keuntungan bersih dari Aqua galon besar perhari)

2. Gaji Pegawai • Seorang pegawai biasa digaji sebesar Rp 1.400.000,- perbulan dan jika dibagi dengan biaya hidupnya selam 1 bulan (30 hari) maka dapat kita temukan bahwa mereka punya biaya hidup sebesar Rp 46.666,perhari.

Hal ini membuktikan bahwa secara UMR (1 $ perhari) pekerja Aqua sudah sejahtera, apalagi ditambah dengan upah dan jaminan kesehatan yang diberikan oleh pihak Danone.

23

DAFTAR PUSTAKA Caporaso, A James dkk. 1992. Theories Of Political Economy. USA : Cambridge University Press. Deliarnov. 2007. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Marbun, B.N. 2007. Kamus Politik. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Prawironegoro, Darsono. 2010. Ekonomi Politik Globalisasi. Jakarta : Nusantara Consulting. Rachbini, Didik. 2002. Ekonomi Politik: Teori Pilihan Publik. Bogor : Ghalia Indonesia. Winarno, Budi. 2009. Pertarungan Negara VS Pasar. Yokyakarta : Medpress. Internet
• http://id.wikipedia.org/wiki/Aqua_(air_mineral) (diakses 19 Juni 2011 pada pukul 20.30 wib). • http://www.aqua.com/aqua-menyapa/umum 2011 pada pukul 20.30 wib). • http://ren1arch.blog.uns.ac.id/2010/01/07/menggugatpenjajahan-sumberdaya-air-dengan-modus-privatisasi/(diakses 19 Juni 2011 pada pukul 20.30 wib). • http://klatenonline.com/klaten/tanggapi-protes-petani-das-pusuraqua-bantah-lakukan-privatisasi-air.htm(diakses 19 Juni 2011 pada pukul 20.30 wib). • http://www.simpuldemokrasi.com/informasi-malang-raya/sosialpolitik/2295-privatisasi-mencederai-hak-publik.html? (diakses 19 Juni

24

tmpl=component&print=1&page=(diakses 19 Juni 2011 pada pukul 20.30 wib).

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->