6 November 2008

KAJIAN MORFOLOGI KARST UNTUK GEOKONSERVASI DAN PENGEMBANGAN WISATA ALAM DI KAWASAN EKO-KARST GUNUNGSEWU
KAJIAN MORFOLOGI KARST UNTUK GEOKONSERVASI DAN PENGEMBANGAN WISATA ALAM DI KAWASAN EKO-KARST GUNUNGSEWU Usulan Penelitian

Oleh Masita Dwi Mandini Manessa No. Mhs. 04/175838/GE/05626 DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS GEOGRAFI YOGYAKARTA 2008

Bab I
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem karst merupakan ekosistem yang unik dilihat dari berbagai aspek geografis. Bentang alam ekosistem karst sangat indah seperti telaga, polje, doline, lapies, lembah kering, bukit dan menara karst yang terbentuk akibat proses pelarutan batuan gamping. Keanekaragaman organisme endemik seperti walet, kelelawar, mahoni, jati memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Konservasi sebagai salah satu upaya perlindungan dan pengelolaan perlu dilakukan untuk melindungi ekosistem dan keanekaragaman organisme kawasan karst. Keindahan, keunikan, dan kebudayaan kawasan karst memiliki nilai jual yang tinggi bagi sektor pariwisata. Gua-gua karst dapat memberikan kenikmatan para wisatawan baik dari segi keindahan, keunikan, ilmu speleologi yang dapat diambil dari penjelajahan gua karst horisontal maupun vertikal. Bentuk wisata unik lainya di kawasan karst adalah pemanjatan tebing karst yang dapat memacu adrenalin wisatawan. Tujuan pengelolaan kawasan karst menurut Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor: 1456.K/20/MEM/2000 tanggal 3 November 2000 mengenai pedoman pengelolaan kawasan karst adalah mengoptimalkan pemanfaatan kawasan karst guna menunjang pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pemanfatan dan perlindungan kawasan karst pada golongan Kelas I atau kawasan konsevasi karst hanya dapat dilakukan kegiatan yang tidak berpotensi mengganggu proses karstifikasi, merusak bentuk-bentuk karst di bawah dan di atas pemukaan, serta merusak fungsi kawasan karst. Kawasan eko-karst Gunung Sewu telah dicanangkan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada

tanggal 6 Desember 2004 berdasarkan pada Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Nomor: 961.K/40/MEM/2003 tanggal 23 Juli 2003 dan Nomor: 1659.K/40/MEM/2003 tanggal 1 Desember 2004. Diharapkan dengan pencanangan kawasan eko-karst Gunung Sewu dapat memberikan kepastian arah pengembangan kawasan karst, terjaminnya pelaksanaan berbagai pembangunan kawasan karst yang berwawasan lingkungan, termasuk pembangunan ekowisata, terjaganya sumberdaya kawasan karst, meningkatnya kesejahteraan masyarakat penghuni kawasan karst, dan tersosialisasikannya kawasan karst Gunung Sewu. Arahan pengembangan yang dicanangkan oleh pemerintah salah satunya adalah berkembangnya ekowisata, hutan lestari dan hutan rakyat (Departemen ESDM, 2004). Daerah karst di Gunung Sewu merupakan jenis karst yang berada pada kawasan tropis basah dan merupakan salah satu model karst berbentuk kerucut di dunia. Keunikannya ini membuat Gunung Sewu diberi status kawasan eko-karst. Gunung Sewu memiliki bukit karst diperkirakan berjumlah 40.000 bukit pada ketinggian 100-300 meter di atas permukaan laut. Tim Arkeologi Universitas Gadjah Mada selama lima tahun terakhir mencatat, terdapat 11 kecamatan di Gunungkidul yang memiliki kawasan karst dengan situs goa mencapai 40 situs di tiap kecamatan. Namun, sejumlah goa saat ini telah ditambang, di antaranya Goa Sengok di Playen. Sementara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul telah menetapkan kawasan wisata karst, di antaranya Goa Seropan, Kecamatan Semanu, dan Goa Maria di Kecamatan Playen (Kompas, 2004). Kawasan karst Gunung Sewu memiliki aneka fungsi yang berkaitan erat dengan situs pengembangan iptek, sumberdaya alam hayati dan nirhayati yang memberi nilai ekonomi jangka pendek dan jangka panjang, tatanan sosio-budaya masyarakat yang khas, dan konservasi sumberdaya alam. Nilai ekonomi kawasan karst antara lain dapat digali aspek sumberdaya mineral, pengelolaan air, pariwisata, kehutanan, pertanian, perikanan, sumberdaya ekonomi walet dan sebagainya. Kegiatan eksploitasi nilai ekonomi di kawasan karst harus dapat diselaraskan dengan upaya pelestarian nilai-nilai strategis yang di milikinya. Diharapkan kelestarian ekosistem karst Gunung Sewu dapat terjaga dengan adanya pengembangan wisata yang berwawasan lingkungan sehingga dapat meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat Gunung Sewu dan konflik antara kepentingan manusia dan kelestarian alam dapat teratasi. 1.2. Perumusan Masalah Sejalan dengan pertambahan penduduk, kemajuan teknologi dan kemajuan pembangunan ancaman terhadap keberadaan kawasan karst semakin meningkat. Ancaman pertama yang paling kuat terhadap kelestarian kawasan karst adalah penambangan batugamping secara besar-besaran sebagai bahan baku untuk industri semen, dan penambangan rakyat yang cukup banyak, sehingga sebagian besar fenomena karst hilang. Ancaman yang kedua adalah perubahan tata air dikawasan karst. Perubahan tata air pada kawasan karst dapat terjadi oleh beberapa sebab, antara lain oleh: vegatasi penutup, pembuatan bendung dan pompa airtanah yang berlebihan. Perubahan vegatasi penutup akan mengakibatkan aliran permukaan yang besar, akibat air yang tersimpan pada lapisan tanah/batuan bagian atas berkurang sehingga akan mengurangi intensitas proses pelarutan. Bendungan pada kawasan karst akan merubah tata air, karena sifat batugamping yang banyak kekarnya, sehingga ada kebocoran atau rembesan melalui kekar yang tergenang air, akibat akan terjadi proses pelarutan pada kawasan baru. Kegiatan pertanian, perkebunan dan kehutanan sering mengakibatkan erosi permukaan, akibatnya lapisan tanah atas sebagai media meresapkan air kedalam batuan berkurang, sehingga proses pelarutan menurun bahkan dapat berhenti. Apabila proses pelarutan berhenti maka kawasan karst menjadi mati, tidak terjadi lagi gemericik aliran air dan tetasan air dari stalagtit, ornamen dan speleotem kering tidak basah lagi seperti onggokan travertin (Sutikno dan Haryono, 2000). Isu kekeringan hampir setiap tahun melanda kawasan karst Gunung Sewu, sementara aspek hidrologi kawasan karst merupakan lumbung air yang tersedia sepanjang tahun. Sungai bawah tanah di Gua

Bribin, Kabupaten Gunungkidul, merupakan usaha manusia untuk memanfaatkan air karst yang diberikan oleh alam. Sungai bawah tanah Bribin yang debitnya sekitar 1000 liter/detik dimanfaatkan oleh sekitar 80-100 liter/detik untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi 79.000 jiwa atau 6.000 KK penduduk di sekitar gua (Siaran Pers ESDM, 2004). Akan tetapi penambangan batu gambing di daerah Ponjong yang merupakan kawasan resapan bagi sistem hidrologi Bribin dapat menjadikan masalah yang dapat mengganggu pasokan air bagi masyarakat sekitar. Kawasan karst sangat rentan terhadap kerusakan dikarenakan nilai ekonominya yang sangat tinggi. Lingkungan Eko-Karst memiliki fungsi dualisme antara kepentingan manusia dan kelestarian lingkungan, dimana sangatlah sukar untuk menjaga keseimbangan lingkungan karst dalam pengelolaan kawasan. Diperlukan usaha dari tiap unsur masyarakat untuk melindungi kelestarian kawasan karst. Diharapkan dengan pengembangan pariwisata dapat menjadi alternatif solusi permasalahan pengelolaan kawasan karst. Menurut Sharples (Anonim, 2000) Geokonservasi didasari pada geodiversitas yang utama karena proses geologi, bentuklahan dan tanah adalah dasar esensial dari proses ekologikal bergantung. Fokus utama dari geokonservasi adalah melindungi geodiversitas alami dan upaya tidak hanya melindungi kenampakan yang berhubungan langsung atau nilai yang mengilhami manusia, tetapi juga upaya untuk menjaga pengolahan ekologi alami yang difokuskan pada urusan konservasi alami. Elemen dari geodiversitas tidak dapat dengan mudah diklasifikasikan baik sebagai kepekaan atau daya tahan terhadap kerusakan, elemen apapun dari geodiversitas yang bekerja pada beberapa tipe dari gangguan dan daya tahan dalam sisi lainnya. Karenanya dalam menilai kepekaan dari kenampakan atau proses tertentu, sangat penting untuk mengidentifikasi aktivitas yang mengganggu dalam kajian dari penilaian yang dilakukan. Berdasarkan uraian di atas, maka timbullah pertanyaan-pertanyaan penelitian yang menarik untuk dikaji sebagai berikut : 1. bagaimana karateristik morfologi karst Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu? 2. bagaimana tingkat kepentingan aspek-aspek morfologi untuk Geokonservasi Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu? 3. bagaimana nilai visual landskap untuk pengembangan wisata alam Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu? 4. bagaimana arahan pengembangan wisata alam di Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu? Dari latar belakang dan perumusan masalah di atas penulis tertarik untuk melakukan peneliian dengan judul KAJIAN MORFOLOGI KARST UNTUK GEOKONSERVASI DAN PENGEMBANGAN WISATA ALAM DI KAWASAN EKO-KARST GUNUNG SEWU . 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini meliputi : 1. mengetahui karateristik morfologi karst kawasan Eko-Karst Gunung Sewu 2. mengetahui tingkat kepentingan aspek-aspek morfologi untuk Geokonservasi Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu 3. mengetahui nilai visual landskap untuk pengembangan wisata alam Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu 4. mengetahui arahan pengembangan wisata alam di Kawasan Eko-Karst Gunung Sewu 1.4. Kegunaan Penelitian 1. nilai kepentingan dari kawasan karst dapat menjadi pertimbangan dalam pengelolaan kawasan konservasi. 2. penelitian dapat menjadi masukan bagi pertimbangan-pertimbangan dalam pengembangan pariwisata yang memperhatikan lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. 3. hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pembanding dalam penelitian selanjutnya 1.5. Tinjauan Pustaka 1.5.1. Kawasan Karst

2. Menurut White ( ) daerah karst umumnya dicirikan dengan adanya cekungan tertutup dengan ukuran dan susunan bervariasi. gua dengan stalaktit dan stalakmit kenampakan yang adanya hanya pada kawasan karst. morfokronologi. morfostruktur aktif. luweng. Pada perkembangan lebih lanjut tower karst akan muncul. cekungan tertutup dan sistem drainase bawah permukaan (Summerfield. pada umumnya tanpa mogotes dan terletak pada akhir dari wilayah karst. proses. morfogenesis (morfostruktur pasif.cuaca. dan survei pragmatik. 1972). pergerakan tektonik. air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). yang dikontrol oleh pelarutan. Dengan demikian dapatlah dijelaskan beberapa aspek utama geomorfologi yaitu: morfologi (morfografi dan morfometri). Bentukan positif yang berbentuk kubah. Pada kondisi iklim tropis bentang alam karst dengan funnel-like hollows (biasanya pada daerah dengan iklim yang lebih tinggi) akan di gantikan dengan perbukitan kubah terpisah dengan lembah irregular atau cockpits.1. morfokronologi. cockpits. 1.Karst berasal dari kata Slovenia Kras yang digunakan untuk menjelaskan bentuklahan di Notranjski yang meliputi Postojna Cave. evaporit seperti halnya gips dan halite. Karst merupakan bentang alam pada batuan karbonat yang bentuknya sangat khas berupa bukit. Pada perkembangannya selanjutnya istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan suatu lahan yang mempunyai pola drainase khas. 1970 dalam Sweetings. dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). survei sintetik. dan menara karst yang tersusun dengan pola keruangan tertentu merupakan suatu kenampakan alam yang tidak dijumpai pada bentang alam lain. berkarateristik oleh grup dari steep-side limestone tower (mogotes) terletak di tengah dari dataran aluvial gamping. kegiatan hidrolik. sungai bawah permukaan. dan morfo-dinamik).5. Bentukan negatif yang berbentuk doline.. morfometri. lembah. terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit. tidak memiliki drainase permukaan. Dataran gamping. 2000). Morfologi Karst Geomorfologi di definisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mendeskripsikan (secara genetis) bentuklahan dan proses-proses yang mengakibatkan terbentuknya bentuklahan tersebut serta mencari hubungan antara bentuklahan dengan proses-proses dalam susunan keruangan (Dibyosaputro. dan morfoaransemen (Zuidham tahun dalam Dibyosaputro. doline. dan kubah karst. 1979). Dalam survei geomorfologi ada tiga pendekatan utama yang digunakan yaitu survei analitik. morfografi. Pada survei analitik dikaji aspek-apek geomorfologi seperti litologi. morfogenesis. Cerknisvko Polje dan Rakov Skicjan. Gambar 1. dikenal dengan bentukan seperti labirin. adanya gua dan sistem drainase bawah tanah. 2001). solum tanah tipis dan keberadaannya hanya pada bebrapa tempat. dan gua. Perkembangan Karst pada daerah Tropis (Zuidam. kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu). Kemudian istilah tersebut dipersempit menjadi daerah dengan batugamping yang memiliki sistem drainase yang jarang. Pada survei sintetik kajian ditekankan pada kontribusi konteks kelingkungan dan hubungan atara bentanglahan dengan ekologi. Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan. silika seperti halnya batupasir dan kuarsa.1. Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses yang lain . 2001). Perpaduan antara survei analitik dan survei sintetik yakni survei pragmatik . Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan. polje. Daerah karst tropis seperti yang terlihat pada Gambar 1. dan berbagai informasi terkait lainnya. Kelengkapan bentukan positif dan negatif pada suatu kawasan merupakan potensi yang mempunyai nilai tinggi untuk dijadikan kawasan perlindungan dan obyek wisata alam (Sutikno dan Haryono. uvala. 1979) Daya tarik Kawasan karst adalah karateristik bentanglahannya yang mempunyai nilai keunikan dan kelangkaan. tetapi pelarutan batuan terjadi di litologi lain. cockpits. yang dinamakan karst-border plain yang terbentuk kurang lebih saat level phreatic (Zuidam.

splitkarren. decantation runner. Tipe ini meliputi wallkarren dan maanderkaren e.1.2. berbentuk seperti saluran yang bergerak ke arah lereng bawah. b. berasosoasi dengan kekar. pit. yaitu meliputi tipe-tipe karren 1. terbentuk akibat air hujan yang tercutahkan dari lerang atas. asal mula pembentukan yang spesifik dan kekhasan gua karst (Sutikno. shaft atau well. merupakan petunjuk rekahan minor. berbentuk seperti blok-blok dan berasiosiasi dengan grike 3. rillenkarren. berbentuk seperti lubang dengan lebar yang bervariasi dan umunya berukuran kurang dari 1mm. karateristik batugamping. panjang hanya beberapa sentimeter hingga dapat mencapai beberapa meter. Berukuran lebar 3 hingga 3 cm dan panjang 1 10 meter d. reaksi kimia alami. kepadatan dan ukuran kelurusan. Penelitian ini menekankan pada aspek morfologi (morfografi). berbentuk lingkaran. Sweeting (1972) mengemukakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan karren yakni. oval atau datar tetapi tidak teratur dan berdiameter lebih dari 1mm. microrill atau rillenstein. Bentukkan morfologi mayor dan minor yang dikaji pada penelitian kali ini antara lain: 1. Tipe ini merupakan kenampakan yang meninjol sekali dengan ukuran panjang 1 10 meter d. 1996 didasarkan pada bentuk luarnya. e. memiliki pinggiran yang tajam pada batuan yang terbuka (rinnerkarren) atau berbentuk melingkar apabila terdapat di bawah tanah (rundkarren). microfissure. clint atau flachkarrent. berbentuk seperti terowongan ke arah bawah dan berhubungan dengan gua-gua kecil (protocave) 2. berbentuk membulat. tidak teratur.5. kekar dan kemiringan lereng. Gerakan air terkontrol oleh gaya kapiler atau gaya gravitasi atau oleh gerakan angin b. berbentuk datar. pan. decantation fluting. micropit. kondisi penutup vegetasi dan kondisi iklim masa lampau. Saluran menjadi lebih lebar ke arah lereng bawah. Klasifikasi tipe karren yang dikemukakan oleh Ford dan Williams. terbuka ke arah lereng bawah dengan diameter 10 hingga 30 cm. c. berbentuk longjing dan panjangnya hanya beberapa sentimeter dan kedalamannya jarang yang lebih dari 1 cm b. Ukuran bervariasi dimana panjangnya dapat mencapai 100 meter. terbentuk oleh aliran air yang terlepaskan secara tersebar dan saluran dapat . Saluran semakin ke arah lereng bawah semakin kecil ukurannya. berbentuk seperti saluran yang berawal dari puncak sampai lereng bawah.yang berorientasi pada masalah yang ada dan pengembangannya (Verstappen. berbentuk lurus terkontrol kekar a. Splitkarren dapat tertutup dan berakhir pada rekahan atau terbuka yang berakhir dengan karren lain c. lurus membentuk pola aliran radial sentripetal. solution karren. elips hingga berbentuk datar. pola saluran baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan. Aliran air dihasilkan oleh air hujan dan jatuh tanpa penuangan. besar dan distribusi curah hujan. grike atau kluftkarren. berbentuk lurus terkontrol tekanan air a. berasosiasi dengan kekar yang relatif besar atau patahan. Karren Karren merupakan bentuk-bentuk permukaan kasar pada permukaan batugamping akibat proses pelarutan dan pengerusan (Thronbury. Geomorfologi sebagai salah satu ilmu kebumian dapat memberikan kontribusi dalam menentukan kawasan yang perlu dilindungi atau dilestarikan. yaitu a. merupakan alur kecil dengan lebar sekitar 1 mm. Berukuran lebar 1-3 cm c. heelprint atau treetkarren. 1958). 1983). umunya searah dengan perlapisan batuan dengan diameter lebih dari 1 cm dan terisi oleh material endapan d. membentuk datar membulat (plan circular). ). Kriteria geomorfologi untuk tujuan perlindungan dan pencagaran lingkungan karst tersebut antara lain: keunikan morfologi baik makro maupun mikro.

Lembah Karst Morfologi lembah karst dalam perkembangannya terbentuk oleh aliran air dipermukaan karst. merupakan karren yang terbentuk disekitar pantai dimana selain dipengaruhi oleh proses pelarutan juga terpengaruh oleh aktivitas gelombang laut. proses pelarutan yang terjadi dipengaruhi oleh dua tenaga. membentuk pola aliran cockling pattern serta terdapat pada lereng landai dan batugamping terbuka 4.2. Tipe ini diperlihatkan oleh adanya notches dan keterdapatan pit dan pan dengan kerapatan tinggi. d. Gua adalah setiap ruangan bawah tanah alam di bebatuan yang cukup dimasuki manusia (Union Internationale de Speleologie. pit caves. Berukuran lebar 1 hingga 50 cm f. e. Sebagian terbentuk berhubungan dengan sumber air atau tempat keluarnya air yang juga membentuk gua.2. Misalnya mulut gua yang berupa swallow hole atau mulut mata air. Merupakan bentuk perkembangan dari clint yang ditumbuhi oleh rundkarren sehingga berubah menjadi lonjong. Tipe ini umunya terjadi pada daerah karst dataran tinggi dengan lereng yang landai hingga datar serta telah mengalami deforestisasi dan mengalami erosi tanah yang besar. coastal karren. sinkhole collapse. 1. Satu buah clint berukuran 1 meter hingga 10 meter persegi. atau perpotongan vertical shaft dengan lorong gua. goa yang terbentuk dari perkembangan shaft secara terus menerus sampai terbentuk suatu sistem protocave dengan aliran kearah vertikal 2. 1. merupakan gua yang berkembang di bawah muka airtanah. merupakan bentuk perkembangan dari clint yang berukuran besar. tahun . gua yang terbentuk pada zona patahan dan berkembang baik secara vertikal maupun horizontal. 3. Bentuk-bentuk yang dihasilkan akan menunjukkan akibat dari energi gelombang. pan. selisih pasang surut. dan jelas bahwa karakter sedimen semula dan sejarah diagenetik adalah faktor-faktor yang mengontrol lokasi sebuah gua. Proses kelahiran sebuah gua biasa disebut dengan speleogenesis. yaitu tenaga airtanah dan tenaga air laut. merupakan karrenfend yang terdapat pada lapisan batuan yang datar atau landai dan didominasi oleh clint dan grike yang teratur dan memperlihatkan seperti bentuk lantai atau ubin. berbentuk seperti ripple dan mirip kulit kerang. pinnace karren.2.5. shaft. dan wallkarren yang oleh perkembangan selanjutnya satu sama lain bersatu dan membentuk pinnacle karren. Aliran air di . merupakan karren yang berkembang di bawah tanah dan tutupan vegetasi yang kemudian terekspos secara meluas sehingga terbuka atau terbuka sebagian b. giant grikeland. fracture caves. Padanya dapat tumbuh pit. merupakan karren yang berbentuk seperti tiang-tiang yang runcing pada ujungnya. Kemudian dipertajam oleh pertumbuhan rillenkarren. dan fitur dari geologi sangat besar pengaruhnya disini. ruiniform. Mulut gua terbentuk secara kebetulan. fluted scallop atau solution ripple... Proses pembentukannya dimulai dari pemindahan tanah dari grike yang sangat dalam dan lebar oleh proses erosi akan tetapi clint tidak berubah bentuknya menjadi pinnacle.5.3. limestone pavement. phreatic caves (flank margin caves dan banana hole ).berkumpul menjadi satu dilereng bawah. Gua dapat diklasifikasikan berdasarkan proses terbentuknya menjadi tiga (Mylroie dan Carew. tipe poligenetik yang umum dijumpai antara lain a.). banana hole terbentuk akibat adanya tenaga pelarutan yang bekerja secara horizontal akibat aliran air pada zona muka airtanah. yaitu: 1. rinnenkarren. variasi litologi dan struktur geologi. Flank margin caves terbentuk oleh proses pelarutan pada daerah tepi lensa muka airtanah yang berbatasan dengan muka air laut. merupakan perkembangan dari grike yang diperluas menjadi bentuk yang lebih besar membentuk depresi tertutup seperti lembah yang berbentuk kotak (box valley) f. 1995). karrenfeld. Gua Karst Gua-gua hanya dapat dibentuk dari batuan yang terlitifikasi. dan splitkarren c. Mulut gua terbentuk dengan downcutting dari lembah permukaan yang memotong lorong gua atau dengan proses yang komplek: pembentukan lorong gua.

1. Lembah ini terbentuk saat proses pelarutan dan aliran permukaan memasuki area karst yang mudah larut sehingga terbentuk lembah allogenic. yakni: 1. rasio antara diameter dan kedalamannya 2:1 sampai 3:1 dengan kemiringan lereng 30 sampai 40 dasar doline tipe ini dekat dengan batas bawah karstifikasi 3. doline merupakan cekungan atau depresi tertutup yang umumnya berbentuk membulat atau agak membulat dan memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari beberapa meter hingga ratusan meter. 1996. berasosiasi dengan mataair besar yang berada pada batuan gamping masif. Polje merupakan cekungan di daerah kapur yang mempunyai drainage di bawah permukaan. Cvijic mengidentifikasi dua tipe doline yang berasosiasi dengan sistem sungai bawah tanah. Terbentuk akibat proses pelarutan maupun runtuhnya dinding doline dengan kedalamannya 100 sampai dengan 200 m. Lembah karst merupakan kelompok topografi karst mayor yang dapat menyunjukkan klasifikasi karateristik dari lembah yang terdapat pada morfologi karst. Lembah allogenic memiliki morfologi lembah yang diapit oleh dinding terjal menyerupai tembok besar yang terbentuk akibat kombinasi tenaga fluvial dan solusional. terkadang berbentuk U. doline tipe sumuran memiliki diameter yang lebih kecil daripada kedalamnya dengan dinding doline vertikal dan dasar doline datar. doline terbetuk akibat adanya runtuhan sink (Thornburry. yaitu: Allogenic valey terbentuk pada daerah karst yang berbatasan dengan batuan tidak larut (insolubel). rasio diameter dan kedalamannya 1:10 dengan kemiringan lereng berkisar antara 10o sampai 200. doline berdasarkan morfologinya dapat di kelompokkan menjadi tiga. Memiliki bentuk dasar yang datar. Menurut Cvijic (1983) dalam Haryono dan Adjik (2004). Pembentukan cockpits diakibatkan oleh erosi dan pelarutan intensif pada bidang kekar oleh aliran permukaan sehingga membentuk sink. Pembentukan blind valley dimulai dengan lembah fluvial yang tererosi hingga batuan impermeabel diatas batuan gamping. dan tebing yang curam pada bagian atas . Tipe ini memiliki bentuk yang sederhana dimana atap dari sungai bawah tanah runtuh dan . Lembah saku Poket valley merupakan kebalikan dari blind valley. Polje terbentuk akibat struktur sesar pada batuan gamping (Susmayadi. 2006). Blind valley menurut Thornbury (1954) merupakan lembah di dataran karst yang berakhir menuju ke swallow hole. 1972). Cockpits merupakan suatu depresi yang mengelilingi kerucut karst atau conical karst hill. doline berbentuk sumuran. Kedua. Dalam Ford dan Williams.4. Jenis ini memiliki lorong terbuka dan menuju pada gua kecil yang berkembang. Proses pembentukan cockpits erat kaitanya dengan tension dan shear joint pada batugamping. Lembah kering atau dry valley merupakan lembah besar yang terbentuk akibat runtuhnya permukaan dikarenakan sungai bawah tanah yang sudah tidak dialiri air sehingga tidak mampu menahan beban material diatasnya.permukaan karst tidak selalu dan tidak semuanya menghilang masuk ke dalam retakan batuan tetapi ada sebagian yang terus mengalir disertai proses pelarutan pada batuan yang dilaluinya hingga akhirnya terbentuk lembah karst (Sweeting.2. saat melewati lubang (sinkhole) air akan masuk dan sungai menjadi hilang secara permanen. 1972). Doline Doline berasal dari kata Serbian dolinas. dinamakan setelah macocha doline di Devonian limestone of Moravia.5. dasar doline umumnya terisi oleh tanah 2. Uvala merupakan lahan cekungan memanjang berbentuk oval akibat proses berkembangnya bentuk dan ukuran doline. Pertama di sebut dengan macocha type. lembah dengan tebing bertingkat. 1958). Lembah dapat diklasifikasikan menjadi empat (Sweeting. Cvijic tahun . terkadang horizontal tetapi terkadang berbentuk vertikal seperti corong. doline berbentuk corong.. Pertama ditemukan bahwa beberapa doline merujuk pada sistem gua pendek dan buntu yang tererosi sepanjang kekar dan rekahan. doline berbentuk mangkuk. Polje memiliki bentuk depresi memanjang dan tidak teratur searah dengan jurus perlapisan. 1972 menyebutkan ada dua tipe dari doline yang berasosiasi dengan gua. dalam Sweeting..

Tipe Trebic bersosiasi dengan sungai bawah tanah.5. variasi dari curah hujan dari musim penghujan ke musim kering. dinding yang menyerupai tebing dan kerucut runtuhan dari blok batugamping yang jatuh dapat dijumpai pada tipe ini. bukit karst adalah topografi positif yang merupakan sisa dari pelarutan yang lokasi dan bentuknya terkait erat dengan lembah tertutup yang ada disekitarnya.3. terpisah satu dengan yang lainnya dan dikelilingi dataran aluvial. Morfologi Kubah karst merupakan pewakil dari tipe karst tropis dan sudah dikenal secara internasional sebagai tipe karst Gunung Sewu (Haryono. Pendekatan ini didasari pada manajemen lahan seperti manajemen konservasi tanah. Symetric conical karst adalah kubah karst yang memiliki kemiringan yang sama pada masing-masing sisinya. dan konsekuensi variasi dari volume sungai bawah tanah mengakibatkan tekanan hidrolik yang berbeda sangat besar pada atap gua dan runtuhan dapat terjadi. bentuklahan dan tanah yang mengakui bahwa geodiversitas memiliki nilai konservasi alami (Anonim. lingkungan geologi. yang mana fokus didasari pada nilai manfaat atau antroposentrik: bahwa ini merupakan pencarian pendekatan akhir untuk mencegah degradasi dari bentuklahan. 1998). Perkembangan kubah tipe ini dipengaruhi oleh asal pembentukkannya yang terbentuk pada permukaan yang miring. dimana geodiversitas merupakan keanekaragaman dari kenampakan. Pada iklim tropis basah. Berdasarkan geometrinya kubah karst dibedakan menjadi dua yaitu asimetric conical karst dan symetric conical karst. 1996. dan bahaya geomorfologi. Sisi yang curam. Menara karst atau tower karst adalah bukit sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng yang terjal tegak atau menggantung. seperti ekosistem sungai. Maksud dari menjamin kelestarian ini seperti halnya tujuan konservasi (UNEP dalam Wood. menjamin kelestarian dan pemanfaatan ekosistem 4. dan tanah (ex. kumpulan dan sistem dari geologi (bedrock). air. Kemudian pendekatan lainnya adalah pendekatan pada keberpihakan kepada masyarakat setempat agar mampu mempertahankan budaya lokal dan sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Sementara itu destinasi yang diminati wisatawan ecotour adalah area alami. kontaminasi air tanah. pemanfaatan area alam untuk wisata mempergunakan pendekatan ini dilaksanakan dengan menitikberatkan pelestarian dibanding pemanfaatan. geomorfologi (landform). Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur conservation tax untuk membiayai secara langsung kebutuhan kawasan dan masyarakat lokal Geokonservasi adalah konservasi dari geodiversitas untuk nilai hakekat. 1. Kubah. Banyak bagian dan gua besar menghalangi permukaan doline dan sistem sungai bawah tanah.5. atau karst subsiden) sehingga dapat meminimalisir efek degradasi yang mungkin ditimbulkan dari aktivitas manusia pada lahan. dan Menara Karst Menurut Ford dan William.menyingkap aliran sungai bawah tanah. 2007) 1. menjaga tetap berlangsungnya proses ekologis yang tetap mendukung sistem kehidupan 2. 2002) sebagai berikut : 1. Asimetric conical karst adalah kubah karst yang memiliki kemiringan berbeda pada masingmasing sisinya. dan geoheritage. 1998 (dalam Wood. Geokonsevasi International Union Conservation of Nature and Natural Resource. erosi tanah. Pendekatan yang harus dilaksanakan adalah tetap menjaga area tersebut lestari sebagai area alam.2.5. Pendekatan yang lain bahwa wisata harus dapat menjamin kelestarian lingkungan. ekologikal. 2002) menerangkan bahwa konservasi adalah usaha manusia untuk memanfaatkan biosfer dengan berusaha memberikan hasil yang besar dan lestari unuk generasi kini dan mendatang. ekosistem gunung api. Kedua tipe doline yang berasosiasi dengan gua ini memiliki morfologi doline sumuran. Pada intinya geokonservasi merupakan usaha untuk . dan tanah. Geokonservasi merupakan sebuah pendekatan management konservasi dari batuan. berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi. ekosistem karst dan ekosistem pantai. Pendekatan ini berbeda dengan dengan pendekatan pada ilmu kebumian lainnya. Kerucut karst atau conical karst adalah bukit karst yang berbentuk kerucut. tetapi hubungannya tidak langsung. melindungi keanekaragaman hayati 3.

sesuai dengan bidang atau lingkupnya. Haryono (2007) menjelaskan bahwa nilai intrinsik atau existence value adalah pentingnya suatu singkapan batuan. pedologi. bentuklahan. Unsur yang lain seperti bentuk. Pendekatan letak dapat dilihat dari kedudukan titik yang lain sebagai kuncinya. Geokonservasi didasari pada geodiversitas juga penting karena proses geologi. bentuklahan dan tanah adalah dasar esensial dari proses ekologikal bergantung. bentuk maupun luas. sasaran atau obyek adalah obyek wisata. Dengan kata lain nilai ekologis diartikan sebagai kepentingan dalam hal menjaga keberlangsungan proses geologi. dalam Anonim. Wisata Alam Ilmu geografi pada dasarnya adalah mempelajari tentang bumi berserta isinya serta hubungan antar keduanya. bentuklahan. 1. antara lain membahas tentang unsur letak. Fokus utama dari geokonservasi adalah melindungi geodiversitas alami dan upaya tidak hanya melindungi kenampakan yang berhubungan langsung atau nilai yang mengilhami manusia. Semakin meningkatnya tuntunan dan kebutuhan manusia. 1998). Geografi pariwisata. atau tanah dalam suatu georegion dan atau tidak penting keberadaannya dalam menjaga keberlangsungan proses ekologi yang ada. mempelajari Geografi Pariwisata tidak terlepas darinya sehingga sebelum mempelajari lebih jauh tentang Geografi Pariwisata perlu mengetahui unsur dasarnya (Sujali. Heritage value atau nilai antroposentrik merupakan manfaat langsung dari batuan. Ilmu geografi mempunyai unsur-unsur dasar di dalam pembahasanya. batas dan persebaran. Kepentingan ini terkait dengan kepentingan pemanfaatan oleh manusia. merupakan contah dari suatu tipe batuan. namun harus dituntut juga mampu memanfaatkan bumi dan isinya tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan pembangunan pada umumnya. § kepentingan tidak diketahui atau tidak terdapat data atau contoh lain dari obyek yang dinilai untuk diperbandingkan dalam suatu georegion. luas. atau tanah. Pendekatan geografi yang mendasarkan pada aspek keruangan mempunyai kaitan erat dengan persebaran dari suatu obyek pembahasan. Nilai ekologis atau sering disebut dengan nilai proses alamiah adalah kepentingan obyek yang dikonservasi dalam menjaga kelangsungan sistem dan proses ekologis. Nilai kepentingan geokonservasi merupakan penilaian kepentingan suatu obyek untuk dikonservasi dalam hal ini dapat dilihat melalui pertimbangan berikut: § kepentingan tinggi. bila suatu obyek merupakan contoh terbaik dari suatu tipe batuan. Melalui pendekatan unsur-unsur geografi tersebut. dengan kata lain nilai intrinsik bukanlah merupakan antopocintric judgment. § kepentingan sedang. dan tanah dalam mewakili suatu tipe batuan. atau tanah dalam suatu georegion dan atau memerlukan upaya perlindungan yang mendesak agar dapat menjamin keberlangsungan proses ekologi yang ada. bentuklahan.5. bentuklahan. bentuklahan. contoh yang kurang baik dari suatu tipe batuan. hal tersebut tidaklah hanya berhenti pada mengetahui dan mempelajari. tanah untuk manusia. Dengan demikian penekanan kajian geografi adalah didasarkan pada pendekatan keruangan. Dan secara umum pendekatan geografi dapat dilakukan dengan melihat unsur letak. tetapi juga upaya untuk menjaga pengolahan ekologi alami yang difokuskan pada urusan konservasi alami. bentuklahan. § kepentingan rendah. tetapi juga menjaga keberlangsungan proses biologi yang tergantung pada ketiga sistem fisik tersebut. geomorfologi. batas dan luas akan memberikan informasi tentang cakupan yang akan dikerjakan sehubungan dengan rencana pengembangan dari suatu obyek.mencegah atau meninimalir dampak degradasi dalam upaya melindungi nilai intrinsik bedrock. atau tanah dalam suatu georegion tetapi kualitasnya termasuk kategori menengah dibandingkan dengan obyek yang sama di tempat lain dan upaya perlindungan tidak begitu mutlak diperlukan. sehingga pembahasannya ditekankan pada masalah bentuk jenis. batas. bentuk. persebaran dan juga termasuk . bentuklahan. dan tanah dibandingkan untuk memanfaatkan kegunaanya (utilitarian value) untuk manusia (Sharples. 1989).4.

Penelitian Sebelumnya Penelitian mengenai wisata kawasan karst sudah banyak dilakukan dengan kesimpulan yang beragam untuk metode dan daerah yang berbeda. Metode yang dilakukan adalah inventarisasi dan klasifikasi data. morfologi dan proses terbentuknya karren. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daerah perbukitan karst meskipun memiliki potensi atraksi wisata yang menarik. Penelitian ini menganalisa sebaran sumberdaya geologi dan bahaya geologi serta membuat zonasi pengelolaan pariwisata di perbukitan karst dan pesisir Baron hingga Sepanjang sehingga dapat disusun arahan bentuk wisata pada masing-masing zona pengelolaan. Propinsi DIY . termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Suwarsono (2002) dalam penelitiannya Kajian geomorfologi Karst Minor di daerah antara Kepek dan Pantai Baron Kabupaten Gunungkidul DIY . dan membuat arahan pengembangan wisata penelusuran gua dengan analisis SWOT. flora dan fauna. Penelitian ini . Sleman. peninggalan purbakala. Hasil dari penelitian ini adalah gambaran mengenai kondisi geomorfologi karst minor. 2. 1989). wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi fisik gua dan karateristik gua-gua untuk wisata petualangan penelusuran gua. 1. Kabupaten Gunungkidul. terbang layang. Dari hasil analisis kerapatan struktur diketahui bahwa daerah dengan struktur kekar yang memiliki kerapatan tinggi rawan terhadap bahaya gerak massa batuan seperti amblesan akibat proses pelarutan yang terjadi intensif pada zona lemah karst. Noor (2003) dalam penelitiannya Geologi Lingkungan Perbukitan Karst dan Pesisir Baron Hingga Sepanjang untuk Zonasi Pengelolaan Kawasan Pariwisata. penelusuran goa. sangat rentan terhadap bahaya Gerak Massa Batuan. mahasiswa pencinta alam yang melakukan aktivitas penulusuran gua sebgai data primer. dalam undangundang ini dijabarkan bahwa: 1. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yakni gua di kawasan karst memiliki potensi tinggi untuk wisata penelusuran gua. Penelitian ini bertujuan untuk menginventaris jenis ODTW di Kab. Keadaan alam.wisatanya sendiri sebagai konsumen dari obyek wisata (Sujali. Joyo (2005) dalam penelitiannya Inventarisasi Obyek dan Daya Tarik Wisata untuk Jalur Tematik Wisata di Kabupaten Sleman untuk Pengembangan Pariwisata Daerah . Potensi atraksi wisata di Kabupaten Gunungkidul yang berkaitan dengan wisata karst antara lain lintas alam. serta seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumber daya dan modal yang besar artinya bagi usaha pengembangan dan peningkatan kepariwisataan. 4. pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata. Landasan yuridis dari aspek Kepariwisataan di Indonesia adalah Undang-undang No 9 tahun 1990 yang di sahkan pada tanggal 18 Oktober 1990. Penelitian ini menganalisa tipe-tipe. Dari data yang ada dilakukan analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. panjat tebing. Sleman. membuat jalur wisata tematik dan membuat arahan pengembangan ODTW. Suswardana (2006) mengadakan penelitian tentang Geomorfologi Karst daerah Bali Selatan. peninggalan sejarah. obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. konservasi hutan dan penghijauan. mengetahui kunjungan wisatawan pada ODTW. Seperi (2003) mengadakan penelitian tentang Perencanaan Pengembangan Wisata Penelusuran Gua Pengunungan Karst di Kabupaten Gunungkidul Provinsi DIY. Hasil dari penelitian ini adalah Penilaian potensi dan karateristik produk wisata dan Arahan pengembangan ODTW dan Jalur wisata tematik di kab. olahraga sepeda gunung dan perkemahan. kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun dan disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi dengan metode skoring terhadap variabel-variabel penelitian yakni variabel internal gua dan eksternal serta wawancara terhadap juru kunci gua.6. 3.

bertujuan untuk mengetahui morfologi karst dan proses yang sedang berlangsung. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini yakni Bervariasinya bentuklahan sepanjang semenanjung Bali Selatan akibat proses pembentukkannya. .

Wonogiri Kab.Dalam Rencana Strategis Kebijakan Pengelolaan Kawasan Karst Gunung Sewu (Anonim. Gunungkidul Kab. Wonogiri Kab. Gunungkidul Kab. terutama dari sektor pariwisata. Gunungkidul Kab. Wonogiri Bedoyo dan Sistem Bribin . Gunungkidul Kab. penetapan kawasan perlindungan harus mencakup ketiga kabupaten yang ada di kawasan karst Gunung Sewu (Gambar 1. 2007) terdapat kebijakan untuk pengendalian perubahan morfologi atau bentangalam karst adalah dengan menetapkan sebagian kawasan karst yang memiliki keunikan bentang alam yang masih belum terusik dan kawasan yang telah rusak dan berpotensi memberikan dampak negatif yang lebih besar bagi kelestarian sumberdaya yang ada didalamnya.). Agar diperoleh keterpaduan dalam pengolahan. Wonogiri Kab. Kab.2. Kawasan perlindungan tersebut diharapkan juga dapat menjadi daya tarik dan pusat pengembangan kawasan karst.

Grubug Kali Suci.Bedoyo dan Sistem Bribin Bedoyo dan Sistem Bribin Bedoyo dan Sistem Bribin Mulo Mulo Mulo Mulo Kali Suci. Terus. Terus. Ombo Kompleks Gua Tabuan. Kalak. Kalak. Jomblang. Terus. Ombo Sungai Baksoko Sungai Baksoko Sungai Baksoko Sungai Baksoko . Keplek. Grubug Kali Suci. Kalak. Keplek. Kalak. Jomblang. Jomblang. Gong. Grubug Kali Suci. Gong. Gong. Keplek. Grubug Museum Alam sebagian Pusat Informasi Museum Alam sebagian Pusat Informasi Museum Alam sebagian Pusat Informasi Museum Alam sebagian Pusat Informasi Lembah Bengawan Solo Purba Lembah Bengawan Solo Purba Lembah Bengawan Solo Purba Lembah Bengawan Solo Purba Kompleks Gua Tabuan. Ombo Kompleks Gua Tabuan. Jomblang. Keplek. Terus. Gong. Ombo Kompleks Gua Tabuan.

Kriteria morfologi untuk tujuan perlindungan dan pencagaran lingkungan karst yang digunakan adalah variasi. dan ilmu pengetahuan. Dengan melakukan pembobotan pada aspek ancaman. Pacitan Kab.2. Hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kawasan karst Gunung Sewu memiliki potensi yang tinggi untuk di kembangkan menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW). 1.2. Bentukan positif yang dikaji adalah kubah. sehingga perlu diadakannya kajian Geokonservasi untuk mengetahui kerentanan kawasan Eko-karst Gunung Sewu terhadap kerusakan. Pacitan Kab. Kerangka Pemikiran Kawasan karst merupakan kawasan lindung yang pemanfaatannya haruslah menekankan pada sumberdaya alam yang dapat diperbaharui dan selalu berorientasi pada pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Penilaian kepekaan geokonservasi pada penelitian ini lebih menekan pada aspek variasi dari morfologi karst. Pacitan Kab. gua. Anonim. Dimana kawasan konservasi memang diperuntukkan untuk pengembangan aktivitas pariwisata yang berkelanjutan. Sehingga penulis tertarik untuk mengkaji prospek pengembangan wisata kawasan karst dengan pendekatan Geokonservasi. Penelitian sebelumnya menekankan pada potensi dari obyek wisata dan Pengelolaan Kawasan Pariwisata. Hasil dari penilaian kepetingan geokonservasi kemudian akan di urutkan berdasarkan tingkatan nilai di seluruh . ancaman.2. Usulan kawasan perlindungan dan sekaligus sebagai pusat pengembangkan kawasan Karst Gunung Sewu (Rancangan Strategis Pengelolaan kawasan Karst Gunung Sewu. Penelitian ini mengkaji dua aspek dari kawasan eko-karst Gunung Sewu yakni aspek morfologi dan panorama. 2007) Gambar 1. Karateristik alam kawasan eko-karst Gunung Sewu untuk pengembangan wisata belum terkelola dengan baik. Usulan kawasan perlindungan dan sekaligus sebagai pusat pengembangkan kawasan Karst Gunung Sewu (Rancangan Strategis Pengelolaan kawasan Karst Gunung Sewu. 2007) Gambar 1. keunikan dan variasi morfologi. Anonim. Anonim. Geokonservasi merupakan suatu hal yang baru dan mulai dikembangkan di dunia untuk menjadi salah satu model konservasi alam. 2007) Gambar 1. pemandangan yang indah. dan keunikan morfologi baik makro maupun mikro. yang jarang dijumpai di Indonesia.7.Kab. Kawasan wisata dipilih pada kawasan konservasi Eko-karst Gunung Sewu karena sesuai dengan tujuan dan aturan dalam pengelolaan kawasan karst. Perbukitan-perbukitan conical yang terbentuk di kawasan karst Gunung Sewu juga merupakan ekotipe khas dari karst tropis basah dengan batuan batugamping tebal dan berteras. dan menara karst Bentukan negatif yang dikaji adalah doline. Pacitan Gambar 1. lembah. 2007) Berdasarkan telaah pustaka dapat diketahui bahwa telah banyak penelitian yang mengkaji wisata di kawasan Gunung Sewu. Kawasan eko-karst Gunung Sewu memiliki potensi fisik yang baik untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata meliputi keunikan fenomena bentang alam karst. Usulan kawasan perlindungan dan sekaligus sebagai pusat pengembangkan kawasan Karst Gunung Sewu (Rancangan Strategis Pengelolaan kawasan Karst Gunung Sewu. dan karren sebagai bentukan morfologi minor. Usulan kawasan perlindungan dan sekaligus sebagai pusat pengembangkan kawasan Karst Gunung Sewu (Rancangan Strategis Pengelolaan kawasan Karst Gunung Sewu. Anonim.2.

Untuk menilai potensi visual dari panorama alam karst Gunung Sewu dilandasi pada sistem penilaian yang dikeluarkan oleh Bureau of Land Management meliputi unsur bentuklahan. nilai dari kumpulan sistem dan proses geologi (bedrock). 2004) Wisata. kumpulan dan sistem dari geologi (bedrock).kawasan kajian. merupakan kawasan ekosistem karst yang dilindungi oleh pemerintah. segala aktivitas pengembangan kawasan harus menjaga keseimbagan ekosistem karst (Departemen ESDM. upaya menjaga kelangsungan pemanfatan sumberdaya alam untuk waktu kini dan masa datang Kawasan eko-karst. Penelitian ini diharapakan dapat mendapatkan penilaian kepentingan suatu obyek untuk di konservasi. konservasi dari geodiversitas untuk nilai hakekat. ekologikal. kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikati obyek dan daya tarik wisata (Yeoti.8. 2000) Diposkan oleh buletinsuaka di 05:06 Bab II BAB II METODE PENELITIAN Bahan dan Alat Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah: Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 25. dalam Anonim. 2006) Konservasi. kelangkaan. 1996) Geokonservasi. geomorfologi (landform). dimana geodiversitas merupakan keanekaragaman dari kenampakan. 1958) Lembah. dan modifikasi yang dilaksanakan oleh manusia terhadap alam. vegetasi.000 Foto Udara Kawasan Karst Gunung Sewu Citra Landsat ETM komposit 457 tahun 2002 Peta Geologi Gunung Sewu skala 1 : 100. 2007. bentukan negatif dari proses pelarutan berbentuk melingkar membulat atau hampir membulat dengan diameter mulai dari beberapa meter sampai satu kilometer (Ford and Williams. Daerah yang peka terhadap kerusakan memerlukan respon pengelolaan yang lebih protektif untuk menjaga kelestarian kawasan. geomorfologi (bentuklahan) dan tanah (Sharples. topografi positif yang merupakan sisa dari pelarutan yang lokasi dan bentuknya terkait erat dengan lembah tertutup yang ada disekitarnya (Ford and Williams. merupakan topografi negatif yang terbentuk akibat adanya tenaga fluvial atau solutional (Susmayadi. Dari hasil penilaian potensi visual dari kawasan eko-karst Gunung Sewu dan nilai kepentingan geokonservasinya maka dapat dilakukan analisis SWOT untuk mengetahui arahan pengembangan wisata alam. 2002) Geodiversitas. merupakan bentuk-bentuk permukaan kasar pada permukaan batugamping akibat proses pelarutan dan pengerusan (Thronbury. dan geoheritage. pemandangan. 2002) Karren. dalam Anonim. 1996) Doline. dan tanah (Sharples. Batasan Operasional Bukit karst. air. 1. warna.000 Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Perangkat lunak (software) komputer yang terdiri: Microsoft Word versi MS Office untuk mengolah kata Microsoft excel versi MS Office untuk mengolah data kuesioner .

Jomlang. keyboard. dan printer. monitor. akomodasi. Mulo. Keplek. dan (3) Kompleks Gua Pacitan Tabuan. daya listrik BPN. yang terdiri dari CPU (central processor unit). potensi airtanah dan air permukaan. Ombo dan Sungai Baksoso di Kabupaten Pacitan. Beberapa alasan yang mendukung dipilihnya daerah ini sebagai lokasi penelitian: (i) topografi karst pada daerah ini sangat kompleks (ii) kenampakan eksokarst dan endokarst cukup lengkap (iii) potensi bentang alam yang unik (iv) bentang alam yang indah dan memiliki nilai jual Data yang Dikumpulkan Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer melalui pengumpulan data lapangan dan data sekunder melalui lembaga dan instansi yang berhubungan dengan penelitian ini. Kawasan-kawasan karst tersebut dapat mewakili karateristik morfologi karst Gunung Sewu secara keseluruhan. Dinas PU.3 untuk mengolah data grafis dan atribut dalam pembuatan peta-peta dalam penelitian ER Mapper untuk mengolah data foto udara Perangkat keras (hardware) komputer untuk dapat menjalankan perangkat lunak. sarana dan prasarana transportasi. (2) Museum Alam Karst dan Lembah Begawan Solo Purba di Kabupaten Wonogiri.ArcView versi 3. dan batas wilayah BAPPEDA 2 Kondisi lingkungan wilayah meliputi iklim. geologi. Data Primer. Kali Suci. Streoskop Kamera Digital GPS Alat tulis dan alat gambar Pemilihan Daerah Penelitian Lokasi dipilih mengacu pada rekomendasi dari penelitian sebelumnya yang di lakukan oleh Deputi Peningkatan Konservasi Sumberdaya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan yakni sebagian kawasan Eko-Karst Gunung Sewu yang meliputi (1) Bedoyo dan Sistem Bribin. RUTRD BAPPEDAL 5 Rencana Pengembangan dan Pembangunan Pariwisata Dinas Pariwisata 6 Peta Karst Gunung Sewu Eko Haryono 7 Data sebaran gua di kawasan karst Gunung Sewu Bagus Yulianto dan J. mouse. BAPPEDA. Tabel Data Sekunder No Data Sumber data 1 Lokasi daerah penelitian yang meliputi letak. Penelitian Sebelumnya 3 Kependudukan meliputi jumlah komposisi penduduk dan angkatan kerja Kantor Statistik 4 Pola kebijakan Pembangunan Daerah.1. Gong. Kalak. luas. Terus. dan Grubug di Kabupaten Gunung Kidul. meliputi: data morfologi gua data morfologi lembah karst data morfologi doline data morfologi bukit karst data morfologi karren data visual landskap karst Tabel 2. geomorfologi. Suseno Edy Yuwono . penggunaan lahan. scanner.

situs. pengolahan peta RBI. Dari hasil interpretasi dilakukan cek lapangan untuk mengetahui karateristik morfologi secara kualitatif. Identifikasi obyek dapat menggunakan seluruh unsur interpretasi atau sebagian tergantung pada jenis obyek yang di identifikasi. dan bukit karst e. 2005). tekstur. menyusun data hasil pangamatan lapangan dan data sekunder h. foto udara. peta Geologi. seluruh lembar foto udara bentuk digital. bayangan. dan data sebaran gua karst c. Penarikan garis pada mozaik ini dilakukan secaara visual layar komputer (on screen digitization). dan asosiasi. penyusunan laporan Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data primer Lokasi penelitian yang ditentukan secara purposive pada tiap Kabupeten di Kawasan Karst Gunung Sewu dengan tujuan dapat menjadi kesatuan kawasan pengelolaan untuk pengembangan wisata alam.000. ukuran. Kemudian foto udara digital dilakukan mozaik interpretasi secara keseluruhan dengan menggunakan bantuan software ArcView 3. Kawasan Baksoko dan Gua Pacitan tidak tersedianya data foto udara sehingga proses interpretasi di lakukan menggunakan Citra Landsat komposit 457 dan Peta RBI skala 1 : 25.Tahapan Penelitian Tahapan penelitian meliputi tahap pra lapangan. bentuk. doline. Mozaik terkontrol foto udara yang sudah terkoreksi ini dideliniasi bentuk-bentuk kenampakan karst seperti bukit karst. Tahapan awal dalam melakukan inventarisasi karateristik morfologi adalah interpretasi foto udara. Pengamatan dan penilaian karateristik visual landskap f. Pengambilan gambar dilapangan untuk membantu proses analisis data Tahap Paska Lapangan g. pola. studi pustaka mengenai penelitian-penelitian sebelumnya b. dan interpretasi Tahap Pelaksanaan d. Metode yang dilakukan untuk menginventarisasi morfologi bentukkan di tiap kawasan dapat dilihat pada Tabel 2. lembah. gua.000.2 Tabel 2. dan tahap paska lapangan. doline dan lembah karst.2 Tabel Data Primer dan Cara Perolehannya No Data morfologi Cara Perolehan 1 gua observasi lapangan 2 lembah karst interpretasi dan observasi lapangan 3 doline interpretasi dan observasi lapangan 4 bukit karst interpretasi dan observasi lapangan 5 karren observasi lapangan . analisis dan evaluasi data lapangan dan data sekunder i. Citra Landsat meliputi mozaik. peta Geologi. penyiapan data sekunder berupa peta RBI. pemetaan hasil j. Purposive sampling atau sampling pertimbangan merupakan teknik sampling dengan pertimbangan tertentu (Sugiono. foto udara. Hasil interpretasi foto udara dilakukan pengecekan lapangan untuk mengetahui secara lebih detil kateristik morfologi.3. tahap pelaksanaan. Foto udara yang digunakan adalah foto udara pankromatik hitam putih skala 1 : 30. Tahap Pra Lapangan a. Untuk dapat melakukan interpretasi diperlukan unsur-unsur interpretasi. yaitu rona/warna. Pengamatan dan identifikasi karatersitik morfologi karren.

Penilaiaan visual landskap dari suatu obyek didasarkan karateristik unsur-unsur bentangalam. Data gua yang telah didapatkan dilakukan analisis pola sebaran dengan mengunakan metode Tetangga terdekat (Bintarto. Daerah yang rentan terhadap kerusakan meskipun dengan aktivitas yang minim tentusaja memerlukan pengelolaan yang khusus. dan sumbangan obyek dalam memberikan watak wilayah sekitarnya. Pengumpulan data sekunder Data-data sekunder didapatkan melalui pengumpulan data instational dari Pemerintah Daerah serta instansi-instansi dan juga telaah pustaka yang terkait penelitian ini. Tabel frekuensi akan mengetahui karateristik obyek kajian geokonservasi. Berdasarkan variasi morfologi dilakukan skoring berdasarkan klasifikasi yang telah dibuat. namun penilaian/penetapan paling tidak harus mempertimbangkan dua hal sebagai berikut : kepentingan obyek dalam mewakili obyek geologi. Observasi lapangan ditujukan untuk mencari informasi aktivitas pengelolaan bentangalam karst dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kelestarian kawasan. sehingga menjadi (N/A) Nilai visual landskap didapatkan melalui observasi lapangan pada daerah penelitian. Untuk memudahkan dalam observasi lapangan maka akan dibuat daftar informasi yang dibutuhkan dalam penilaian visual landskap kawasan karst Gunung Sewu. Walaupun kriteria penetapan tidaklah baku. Analisa data dilakukan untuk mengetahui hasil dari tujuan penelitian yang dilakukan. nilai kepekaannya dan nilai visual lanskap-nya. Unit analisis yang digunakan adalah kompleks obyek wisata alam. Penilaian dilakukan pada tiap unit kajian seperti kawasan Gua Bribin. . Observasi secara menyeluruh dari tiap obyek dapat menghasilkan informasi karateristik tertentu dengan tingkat kerentanan terhadap kerusakan yang bervariasi. sungai Baksoko. 1987): T : indeks persebaran tetangga terdekat Ju : jarak rata-rata yang diukur antara satu titik dengan titik tetangganya yang terdekat Jh : jarak rata-rata yang diperoleh andaikata semua titik mempunyai pola random P : kepadatan titik dalam tiap kilometer persegi yaitu jumlah titik (N) dibagi dengan luas wilayah dalam kilometer persegi (A). geomorfologi. Analisis Data Data hasil observasi dan cek lapangan diolah dengan mengunakan tabel frekuensi. atau tanah dari hasil proses masa lalu maupun masa kini.Nilai kepekaan geokonservasi dihasilkan melalui identifikasi morfologi karst hasil interpretasi foto udara dan cek lapangan. Analisis yang dilakukan merupakan analisis deskriptif kualitatif meliputi beberapa tahapan meliputi Analisa Nilai Kepentingan Geokonservasi Menurut Haryono (2007) penetapan nilai suatu obyek untuk tujuan geokonservasi harus didasarkan pada kriteria yang jelas.

Kering 9 Fungsi Budaya Situs . Faktor ancaman di tinjau dari aspek penggunaanlahan dan pola persebaran gua. Fungsi hidrologi merupakan kondisi keberadaan sumberair masyarakat sepanjang tahun. Obyek wisata massal di indonesia menjadi faktor yang menghawatirkan kelestarian karena pada pengelola kawasan lebih mementingkan profit di bandingkan kelestarian obyek wisata.4..Berdasarkan konsep dasar dari Nilai Kepentingan Geokonservasi yang terdiri dari tiga aspek yakni penilaian terhadap keunikan. Pola sebaran gua akan mempengaruhi proses konservasi yang akan di lakukan. Tabel 2.3 yang menjelaskan Kriteria penilaian Kepentingan Geokonservasi pada kawasan Eko-karst Gunung Sewu. Penilaian Kepentingan Geokonservasi Nilai evaluasi 3210 1 Variasi Tipe Karren 3 tipe 2 tipe 1 tipe Tidak memiliki 2 Variasi Tipe Doline 3 tipe 2 tipe 1 tipe Tidak memiliki 3 Variasi Tipe lembah 3 tipe 2 tipe 1 tipe Tidak memiliki 4 Variasi Tipe Bukit 2 tipe 1 tipe Tidak memiliki 5 Variasi Tipe Gua 3 tipe 2 tipe 1 tipe Tidak memiliki 6 Penggunaanlahan Industri Tambang Tambang Rakyat Obyek wisata Tegalan/Hutan 8 Pola Sebaran Gua Mengelompok Seragam Acak 7 Fungsi Hidrologis Sumber air sepanjang tahun Sumber air saat penghujan .3. Tabel 2. sungai atau mataair memiliki karateristik hidrologi yang beragam. Pada penelitian ini faktor keunikan di tinjau dari variasi tipe dan kelangkaan suatu morfologi. Tabel 2.Bukan Situs Unsur dalam nilai geokonservasi tidak hanya ditekankan pada keterdapatan. dan fungsi. Fungsi arkeologi merupakan keberadaan situs purbakala. Kawasan yang memiliki pola sebaran mengelompok akan memudahkan proses konservasi yang dilakukan sehingga evaluasi nilai kepentingan geokonservasi akan tinggi. fungsi dan ancaman pada suatu bentangalam akan tetapi faktor lain yang cukup penting adalah keunikan tipe morfologi dan penggunaan lahan dibandingkan dengan kenampakan yang sama pada lokasi lain. Penggunaanlahan merupakan faktor ancaman yang dapat merusak geodiversitas dari suatu kawasan. Faktor fungsi di tinjau dari aspek fungsi hidrologi dan fungsi arkeologi. Tegalan dan hutan tidak memiliki pengaruh negatif terhadap geodiversitas dari kawasan. Kawasan yang memiliki sumberair sepanjang tahun atau memiliki situs purbakala merupakan kawasan yang memiliki nilai fungsi yang tinggi untuk Geokonservasi. Tabel Kriteria Keunikaan Geokonservasi . Telaga. Pada penelitian ini faktor keunikan di tinjau dari kelangkaan suatu morfologi. Maka penelitian ini mendeskripsikan Nilai Kepentingan Geokonservasi dalam Tabel 2. Tambang rakyat merupakan salah satu tumpuan hidup masyarakat. kerusakan yang ditumbulkan memang tidak sebesar aktivitas industri tambang tetapi kuantitas aktivitas pertambangan yang tersebar di tiap kawasan akan menjadi salah satu faktor yang memicu timbulnya degradasi lingkungan. kawasan yang memiliki morfologi yang hanya dapat ditemukan dikawasan tersebut tentunya akan memiliki nilai geokonservasi yang tinggi. ancaman. Industri tambang pada kawasan karst merupakan aktivitas penggunaanlahan yang intensif merusak bukit-bukit karst karena penambangan dilakukan dalam skala besar dengan bantuan alat berat.4 menjelaskan Kriteria penilaian keunikan Geokonservasi pada kawasan Eko-karst Gunung Sewu. Variasi tipe menunjukkan bahwa kawasan yang memiliki tipe morfologi bervariasi dan tipe tersebut hanya dapat ditemukan dikawasan tersebut tentunya akan memiliki nilai geokonservasi yang tinggi.

No Kawasan 1 Kawasan 2 Kawasan 3 Kawasan n+1 1 Variasi Tipe karren E*n s E*n s E*n s E*n s 2 Variasi Tipe Doline E*n s E*n s E*n s E*n s 3 Variasi Tipe lembah E*n s E*n s E*n s E*n s 4 Variasi Tipe Bukit E*n s E*n s E*n s E*n s 5 Variasi Tipe Gua E*n s E*n s E*n s E*n s 6 Penggunaan lahan E*n s E*n s E*n s E*n s Dimana : E = Nilai evaluasi. Analisa Visual Lanskap Analisa ini dilakukan untuk mengetahui karateristik dan kualitas sumberdaya visual (visual lanskap) dari tiap obyek analisis dilakukan dengan cara menentukan nilai visual lanskap dari observasi lapangan . jumlah kawasan yang memiliki tipe morfologi yang sama dan penggunaanlahan yang sama Pertimbangan-pertimbangan tersebut didasari pada unsur geokonservasi yang di amati dilapangan dan nilai kepentingannya. Nilai kepentingan yang didasarkan pada pengaruh aktivitas yang dapat menimbulkan kerusakan pada obyek akan di gabungkan dengan penilaian unsur geokonservasi sehingga dapat ditentukan kepentingan suatu obyek untuk dikonservasi. Tiap obyek memiliki unsur yang menunjukkan karateristik yang unik dan memiliki nilai konservasi berbeda-beda. dari penilaian kepentingan Geokonservasi untuk tiap deskripsi aspek Geokonservasi n = Jumlah kawasan kajian s = Kelangkaan.

termasuk kelas A (kualitas tinggi) nilai 9-17. rumah.5. Analisa SWOT merupakan analisis terhadap faktor-faktor internal yang . mengalir. 1 Sedikit atau tidak ada perbedaan jenis vegetasi 3 Beberapa macam vegetasi tetapi hanya pada 1-2 jenis dominan 5 Banyak tipe dan vegatasi yang menarik. memberikan modifikasi yang mampu menambah keragaman atau visual Sumber : Bureau of land management dalam Akhmadi (2003) dengan modifikasi Dengan menggunakan rumus Strurgess (Sugiono. dan bentuk 1 Tidak terdapat air atau terdapat tetapi tidak terlibat dengan jelas 3 Air mengalir dengan tenang tetapi bukan hal yang dominan dalam suatu landskap 5 Jernih. vegatasi. 2005) maka dari hasil penilaian dapat diklasifikasikan : nilai 18-27. yang ditunjukkan dalam pola. saluran air. teksture. Pada zona ini topografi karst dan hasil proses solusional sangat berjalan aktif dan produktif. Dengan diketahuinya karateristik Kawasan Karst yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi penyusunan arahan pengelolaan wisata sesuai dengan karateristik. sehingga merupakan ekosistem yang unik.dilanjutkan dengan membuat klasifikasi dari potensi tersebut. 1 Mempunyai latar belakang yang menarik tetapi hampir sama dengan keadaan umum pada daerah tertentu 3 Khas meskipun agak sama dengan daerah tertentu 5 Suatu area/daerah yang khas (berbeda) dengan obyek lainnya -4 Modifikasi menambah variasi tetapi sangat bertentangan dengan alam dan menimbulkan ketidak harmonisan 0 Modifikasi menambah sedikit atau tidak sama sekali keragaman pemandangan 2 Pembangunan sama seperti instalasi listrik. batu dan vegetasi tetapi bukan unsur keindahan yang dominan 5 Kombinasi jenis warna yang beragam atau warna yang hidup oleh pertentangan yang indah dari warna tanah. Kriteria Penilaian Landskap untuk wisata alam alam berdasarkan Bureau of Land Management Unsur Bentang Alam Skor Kriteria 1 Zona Non Karst yang merupakan kenampakan topografi yang tidak dipengaruhi oleh proses solusional karena batuan pembentuknya tidak mudah larut 3 Zona Sub Inti Karts yang di cirikan oleh kurang berkembangnya proses solusional dan kenampakan endokarst maupun eksokarst yang dihasilkan 5 Zona Inti Karts yang di cirikan oleh pengkayaan dan pengelompokan fenomena kenampakan eksokarst dan endokarst. air atau lainnya Lanjutan Tabel 2. ada pertentangan warna dari tanah. termasuk kelas C (kualitas rendah) Analisa untuk Arahan Wisata Alam Analisa ini digunakan untuk menganalisa nilai kepentingan Geokonservasi dan nilai visual lanskap Kawasan Karst Gunung Sewu sehingga dihasilkan arahan pengelolaan wisata alam. beriak. termasuk kelas B (kualitas sedang) nilai 0-8. Model analisis yang digunakan adalah sebagai berikut : Tabel 2. bersih. atau komponen apa saja dari air yang dominan 1 Variasi yang bagus umumnya bersifat mati 3 Terdapat berbagai jenis warna.5.

Letak.1.meliputi strenght (kekuatan. Sementara faktor-faktor eksternal meliputi opportunity (peluang) dan threats (tantangan). Donorejo. Tabel. Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur.6 Skema Penetapan Strategi Pengembangan Internal Faktor-faktor Eksternal Kekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness) Peluang (Opportunity) Strategi SO Strategi WO Tantangan (Threats) Strategi ST Strategi WT Sumber : Fandeli. Giritronto. dan Pringkuku di Kabupeten Pacitan. dan Kecamatan Panggang. Diposkan oleh buletinsuaka di 05:10 Bab III BAB III DESKRIPSI WILAYAH 3. Secara administratif daerah penelitian terdiri atas 21 kecamatan di tiga Kabupaten. Adapun batas daerah penelitian adalah : sebelah selatan : Samudera Hindia . Playen di Kabupaten Gunungkidul . potensi) dan weakness (kelemahan). Karangmojo. Perencaan Kepariwisataan Alam Didalam penetapan strategi dapat dilaksanakan dengan empat buah skenario seperti berikut : strategi (S/O) : suatu strategi yang memanfaatkan kekuatan (Strenght) secara maksimal untuk meraih peluang (Opportunity) strategi (S/T) : suatu strategi dengan memanfaatkan kekuatan (Strenght) untuk mengantisipasi atau menghadapi ancaman (Threats) dan berusaha secara maksimal menjadikan ancaman (Threats) sebagai peluang (Opportunity) strategi (W/O) : suatu strategi dengan meminimalkan kelemahan (Weakness) untuk meraih peluang (Opportuniy) strategi (W/T) : suatu strategi meminimalkan kelemahan (Weakness) untuk menghindar ancaman (Threats) secara lebih baik. dan Luas Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di kawasan Eko-Karst Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul Propinsi DIY. yaitu Kecamatan Pracimantoro. Daerah penelitian secara astronomi terletak antara 9086877-9125073 mU dan 425196-508759 mT. 2001. Saptosari. Wonosari. Paliyan. Tanjungsari. Batas. dan Giriwoyo di Kabupeten Wonogiri. Tepus. Ponjong. Paranggupito. Girisubo. Rongkop. Kecamatan Punung. 2. Purwosari. Eromoko.

Terdapat dua kelompok batuan yang menyusun formasi ini. Kecamatan Eromoko. Peta Geologi dari daerah penelitian disajikan pada Gambar 3.1. dalam Surono dkk. Semin.3. Formasi Wungkal Gamping (Tew) Formasi ini tersusun oleh perulangan batu pasir kuarsa. dan lensa batu gamping. napal. Stratigrafi Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tim Geologi UGM (1994. Ngawen. Formasi ini memiliki ketebalan sekitar 650 meter. Dua kelompok . Umur Formasi ini Eosen Tengah Eosen Akhir ( P 15 P 17). 1. dan Beji di Kabupaten Gunungkidul.sebelah timur : Kota Pacitan sebelah utara : Kecamatan Nglipar. 3. Bagian bawah terdiri perselingan antara batupasir dan batulanau.2. Secara umum lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 3. Kondisi Geologi dan Geomorfologi 3. formasi ini kemudian meluncur ke bawah sehingga merupakan exotic faunal assemblage (Raharjo. batu lempung. 1980. dan lensa batu gamping.2. 2000) yang mendasarkan pada penamaan formasi dan penelitian sebelumnya. Batuwarno. 1992) 2. dalam Latif. Karena pengaruh gaya berat dilereng bawah laut. daerah Gunungsewu tersusun oleh delapan formasi batuan. dan Baturetno di Kabupaten Wonogiri.1. napal pasiran. Kota Pacitan di Kabupaten Pacitan sebelah barat : Kabupaten Bantul Kawasan karst ini merupakan rangkaian kawasan Eko-Karst Gunungsewu yang memanjang ke arah timur dari Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan berakhir di Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur. Formasi Kebo Butak (Tomk) Formasi ini tersusun secara tidak selaras di atas Formasi Wungkal Gamping. Sebagian dari satuan ini seula merupakan endapan laut dangkal yang kaya akan fosil.

Bagian atasnya terbentuk oleh batupasir sela berfelspar yang berlapis baik dan bersisipan serpih. Sehingga secara umum lingkungan pengendapannya adalah laut yang disertai longsoran bawah laut. tersusun dari batu pasir berlapis baik. tuf dan aglomerat · bagian atas. silangsiur. breksi autoklastik dan breksi hialoklastik. Formasi Sambipitu (Tmss) Formasi ini tersusun secara menjari dengan Formasi Nglangran.batuan tersebut yaitu sebagai berikut: · bagian bawah. batu pasir vulkanik. Formasi ini berumur Miosen Awal Bagian Atas hingga Miosen Tengah bagian bawah (N 10 N 11). Di bagian tengah formasi pada breksi gunungapi ini ditemukan batugamping koral yang membentuk lensa atau berupa kepingan. lava andesit-basalt. flame . Formasi Nglanggran (Tmng) Formasi ini tersusun secara menjari dengan Formasi Semilir. Formasi Semilir menjemari dengan Formasi Ngelanggran dan tertindih tak selaras oleh Formasi Oyo. yang berlapis baik dengan struktur nendetan dan biogenik. Umur formasi ini adalah Miosen Tengah bagian bawah (N 10 N 11) 6. . silang-siur berskala menengah dan berpermukaan erosi. batu pasir tufan dan serpih. Lingkungan pengendapannya berkisar dari laut dangkal yang berarus kuat (bagian bawah dan tengah satuan) hingga laut dalam yang dipengaruhi arus turbin (bagian atas satuan). yang menunjukkan adanya longsoran bawah laut yang berkembang menjadi arus turbin. dan jejak binatang. Bagian bawah dari satuan ini berlapis baik. Lingkungan pengendapannya adala laut terbuka yang terpengaruh arus turbin. berstruktur sedimen perairan. Di bagian atasnya ditemukan batulempung dan serpih dengan ketebalan lapisan sampai 15 cm dan berstruktur longsoran bawah laut. tuf andesitisan. Lingkungan pengendapannya laut dangkal (neritik) yang dipengaruhi kegiatan gunungapi. Formasi ini tersusun dari breksi gunungapi. perlapisan berlapis. 3. Pada bagian atasnya ditemukan permukaan erosi yang menunjukkan adanya pengaruh arus kuat pada waktu pengemdapan. dan cetakan beban (load cast) menunjukkan adanya aliran longsor (debris flow). batu lempung. perjarian sejajar. yang menunjukkan adanya arus turbid. Formasi ini tersusun dari batugamping tufan. Umur formasi ini adalah Miosen Awal hingga Miosen Tengah bagian bawah (N 5 N 9). batu lanau. Umur formasi ini seumur dengan Formasi Semilir. Setempat satuan ini disisipi batupasir gunungapi epiklastika dan tuf yang berlapis baik. Formasi ini tersusun dari breksi batu apung dasitan. Formasi Semilir menindih selaras Formasi Kebo-Butak. Formasi Oyo (Tmo) Formasi Oyo tersusun secara tidak selaras di atas Formasi Nglangran dan membaji dengan Formasi Sambipitu dengan ketebalan lebih dari 140 m. namun secara setempat tidak selaras. 5. 4. Ketebalan satuan ini diduga lebih dari 460 m. Fragmennya terdiri dari andesit dan sedikit basal. Breksi gunungapi dan aglomerat yang menguasai Formasi Nglanggran umumnya tidak berlapis. Struktur sedimen pada bagian ini berupa perlapisan bersusun. Struktur sedimen yang ditemukan berupa perlapisan bersusun. yaitu Miosen Awal bagian tengah hingga Miosen Tengah bagian bawah (N 5 N 9) Struktur sedimen yang dijumpai pada satuan ini berupa perjarian sejajar. serpih. perjarian sejajar. dan gembur gelombang (current ripple). batulempung dan batulanau. Di bagian tengahnya dijupai lignit yang berasosiasi dengan batupasir tufan gampingan dan kepingan koral pada breksi gunungapi. Formasi Semilir (Tms) Formasi ini berada selaras di atas Formasi Kebo Butak. tersusun dari batu pasir dan batu lempung dengan sisipan tipi tuf asam Pada beberapa tempat pada bagian tengah di jumpai lava andesit-basalt dan di atasnya dijumpai sedikit breksi andesit. Formasi ini tersusun dari perselingan batu gamping dan serpih gampingan. Umur formasi ini adalah Oligosen Akhir hingga Miosen Awal (N 2 N 4). longsoran. Adanya betugamping koral menunjukkan lingkungan laut. gelembur gelombang.

yaitu daerah punung ditemukan klastika kasar dan tufan.7. Struktur Geologi dan Tektonika . setempat-setempat dijumpai batu pasir tufan. Formasi Kepek (Tmpk) Formasi ini tersusun dari perselingan batu gamping dan napal. batu gamping napalan tufan dan batu lanau. Tebal satuan ini diduga kurang dari 200m. Formasi Wonosari Punung (Tmpw) Formasi ini tersusun secara menjari dengan Formasi Sambipitu dan Formasi Oyo. Formasi Kepek menjemari dengan bagian atas Formasi Wonosari-Punung. sedang di daerah Wonosari tidak. Namun kenyataan di lapangan keduanya sukar dipisahkan.3.2. Formasi Kepek umumnya berlapis baik dengan kemiringan kurang dari 10o. lempung. Bagian bawah formasi ini menjemari dengan bagian bawah Formasi Oyo. Sedangkan di daerah Punung berupa batugamping berlapis. sedangkan bagian atasnya menjemari dengan bagian bawah Formasi Kepek. formasi ini berumur Miosen Atas hingga Pliosen (N 16 N 18). dan batugamping napalan. dan kaya akan fosil foram kecil. 8. Formasi ini tersusun dari batu gamping berlapis dan batu gamping terumbu. batugamping dan napal konglomerat. batugamping terumbu. yang menjemari dengan batugamping tufan. Formasi ini berumur Miosen Tengah bagian bawah hingga Miosen Atas (N 10 N 18). Lingkungan pengendapan Formasi Wonosari Punung adalah laut dangkal (netritik) yang mendangkal ke arah selatan. Nampak ada perbedaan pada kedua daerah tersebut. 3. Ketebalan satuan ini di duga lebih dari 800 meter.

Depresi ini terbentuk bersamaan dengan pengangkatan Pengunungan selatan karena material penyusun daerah ini relatif plastis. 2008). dan barat timur. Pengangkatan pertama terjadi pada Kala Eosen dengan intensitas lemah. 1979). yaitu sesar yang terjadi pada Kompleks Baruragung dan sesar yang memisahkan bagian selatan dan cekungan Baturetno dan Wonosari. 10. Pengangkatan keriga terjadi pada Kala Miosen. Pembentukan sistem retakan baratlaut-tenggara dan utara-selatan yang berkembang menjadi sesar-mendatar tidak hanya melibatkan batuan Oligosen-Miosen saja tetapi juga sebagian batugamping Neogen. pengunungan Selatan mengalami empat kali pengangkatan dengan intensitas yang berbeda. Memiliki relief bergelombang hingga berbukit dengan kemiringan 15% hingga 40%. dan bagian selatan Perbukitan Karst atau lebih di kenal dengan Gunungsewu (Gambar 3. dan pensesaran. sehingga selain batugamping terkekarkan dan tersesarkan pada arah-arah tersebut juga mengalami peretakan utara-selatan.). Pada kala ini di daerah Lembah Sadeng dan sekitatnya berkembang empat sistem retakan utama yang masingmasing berarah timurlaut-baratdaya. Permukaan yang miring ke selatan ini mengalami pelengkungan sehingga terbentuk cekungan baturetno dan cekungan Wonosari. baratlaut-tenggara. Selama masa Kenozoikum. Selama puncak pengangkatan ini. Ada dua sesar mayor yang terjadi pada Pegunungan Selatan. Komplek Baturagung Daerah ini terletak pada elevasi antara 200 700 meter dpl. puncak geoantiklin yang terletak di Solo terpatahkan dan tergelincir ke arah utara. maka pada pertengahan pleistosen zone ini secara relatif turun kebawah. maka dapat diduga bahwa sesar yang terjadi di pegunungan Selatan terjadi sebelum proses pengangkatan berlangsung (Putrisari. Pegunungan selatan ini dapat dibagi menjadi tiga zona yakni bagian utara atau komplek Baturagung (Baturagung range).Tektonisme yang terjadi di pengunungan selatan adalah pengangkatan. Pada kala Plistosen Atas yang masih merupakan fasa tektonik mampatan sebagian besar batugamping sudah berada di atas permukaan laut. Depresi Wonosari dan Baturetno Daeah ini berada pada elevai anatara 150 200 meter dpl. Sesar jurus dapat diamati pada pola kelurusan yang mempunyai arah tenggara melengkung ke arah barat daya dan pararel di sepanjang jalur Pegunungan Selatan. misalnya Plopoh Range dan Kambengan Range. Geomorfologi Kawasan karst Gunungsewu secara fisiografis masuk ke dalam pengunungan Selatan (Bemmelen. Pengangkatan kedua terjadi pada kala Oligosen-Miosen dengan intensitas lemah. Pada proses pengangkatan terakhir pengunungan Selatan miring ke selatan dan membentuk sayap bagian selatan dari geoantiklin Jawa. penurunan.3. Kedua cekungan ini umumnya dibatasi oleh sesar-sesar tangga dimana bagian utara mengalami penurunan sementara gawir sesarnya cekung ke utara (Putrisari. Sesar utama yang terdapat di pegunungan Selatan merupakan sesar normal dan sesar jurus. 3. bagian tengah atau depresi Wonosari dan Baturetno. Memiliki relief yang relatif datar dan kemiringan lerengnya asekitar 0% hingga 15%. Pada pengangkatan keempat ini memiliki intensitas yang paling besar dan terbentuk kenampakan seperti sekarang ini. Sesar timurlaut-baratdaya yang terbentuk pada fasa tektonik sebelumnya mengalami reaktivasi. Amblesan ini merupakan sesar-sesar tangga. sehingga pada batas antara Zone Solo Zone Pengunungan Selatan terbetuk blok-blok yang terpisah. Pengangkatan ketiga ini memiliki intensitas yang lebih besar dari pada pengangkatan pertama dan kedua. 9. sekaligus teralihkan ke timur karena pemotongan sistem sesar baratlaut-tenggara. Proses pengembalian gaya di akhir fasa tektonik Pliosen Akhir menyebabkan terbentuknya sistem retakan tarikan barat-timur dan terbukanya retakan timurlaut-baratdaya. . utara-selatan. diantaranya adalah Bengawan Solo Purba yang dahulunya mengalir ke selatan karena terkontrol oleh keberadaan sesar. Pengangkatan keempat terjadi pada Kala Pliostosen Tengah.3. Sesar-sesar ini menyebabkan pelengkungan alur sungai. 2008). Mengakibatkan sistem retakan barat-timur mencapai perkembangan maksimumnya.3.

pembagian tersebut yaitu sebagai berikut.wilayah tengah dan wilayah selatan. Karstifikasi di wilayah utara di kontrol oleh sesar yang tersingkap akibat patahan. wilayah ini secara regional relatif datar dengan topografi bergelombang. wilayah tengah. wilayah selatan. sedang tekuk lereng yang curam disebabkan oleh adanya penurunan relatif dataran. Bentukan positif yang ada antara lain bukit-bukit karst dengan karateristik yang khas yakni berbentuk kerucut atau lebih dikenal dengan conical karst. Gunungsewu Daerah ini memiliki elevasi anatara 150 hingga 200 meter dpl. Karst Gunungsewu memiliki variasi morfologi yang beragam di dukung oleh arah perkembangan dan stadium karstifikasi. Kemiringan lereng regionalnya paling curam yaitu sekitar 15%. wilayah utara. Bentukan negatif yakni doline. dicirikan oleh topografi yang secara regional melandai ke arah selatan dengan kemiringan sekitar 5%. Daerah penelitian secara fisiografis masuk pada subzona Gunungsewu. kemudian wilayah selatan dan yang termuda adalah wilayah utara. wilayah tengah mempunyai usia tertua. uvala. wilayah ini merupakan bidangpatahan yang memisahkan subzona Gunungsewu denga subzona Depresi Wonosari. Penelitian yang telah dilakukan oleh Latif (2000) di kawasan karst Gunungsewu membagi daerah tersebut menjadi tiga wilayah didasarkan pada karateristik fisiografinya. Karstifikasi di wilayah selatan dikontrol oleh aliran purba dan fluktusai air laut. Memiliki reief yang datar dan kemiringan lerengnya sekitar 0% hingga 15%. Pada penampang melintang tanpak adanya empat teras pendataran yang dipisahkan oleh tekuk lereng yang relatif curam. yaitu wilayah utara. Masing-masing wilayah di atas memiliki karateristik sendiri dalam perkembangan karstifikasi. Pendataran ini disebabkan oleh kondisi diam relatif dataran terhadap muka air laut sehingga terbentuk peneplain. Karstifikasi di wilayah tengah dikontrol oleh lingkungan masa lampau dan mengalami peremajaan pada akhir Plistosen. Karstifikasi pada daerah ini telah berkembang lebih lanjut bila dibandingkan dengan wilayah selatan.11. Berdasarkan perkembangannya.dan .

4 1733.6 115 741 1029 1998 2744 3981 4408 3455 832 2191 737 2551 2175.cockpit.5 15837 16305 14673 16598 11638.8 1664. terbentuk akibat pengabungan beberapa doline yang membentuk cekungan dengan morfografi menyerupai bintang dan dikelilingi oleh perbukitan.8 1163. namun di antara keduanya curah hujan memiliki pengaruh yang lebih besar dari pada temperatur (Sweeting.2 2132.3 1308 1518 1309 1997 1292 1444 1661 1070 1808 1953 1223 1002 161. 3.8 2755.5 1205 2860 1366 2004 1965 1496 1682 2613 1403 1258 1944 1556 1276.3 1659. Dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh banyak pemerhati karst telah dapat menginventarisasi gua-gua dikawasan karst gunungsewu. Pengaruh iklim terhadap perkembangan bentuklahan karst adalah curah hujan dan temperatur. Terong 2 Sta.1 menunjukkan curah hujan rata-rata disetiap stasiun penakar hujan.88 mm/th sampai 2755. Curah Hujan Untuk melihat kondisi dari iklim di kawasan Karst Gunungsewu maka di lakukan perhitungan nilai curah hujan rata-rata. pelapukan secara fisik melalui air hujan menyebabkan proses erosi berlangsung intensif.78 2121.1.4 2230 2920 2168 1996 1584 2190 2345 1934 2078 1926 1980 1434 634.5 2358.8 1662.5 1909 1863 1757 2001 2503 3187 3309 1762 1742 1423 1232 1548 1569. Klasifikasi iklim di Indonesia pada umumnya hanya menggunakan data curah hujan karena kondisi curah hujan sangat berubah terhadap musim. Ponor-ponor yang terbentuk akibat proses pelarutan pada rekahan-rekahan di batuan gamping menjadi awal dari pembentukan doline dan juga gua-gua di kawasan gunungsewu. Curah hujan tahunan (dalam millimeter) Stasiun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1995 2406 3992 3016 2679 1443 1763 1092 1816 1762.5 mm/th. Tabel 3.3 1583.8 16622 21505 16151 Ratarata : 2089. Bentukan cockpit merupakan bentukan khas yang hanya terdapat pada daerah karst dengan iklim tropis. 3. Faktor iklim melalui air hujan dan suhu sangat berpengaruh dalam proses erosi dan pelapukan yang terjadi pada batuan induk. Proses erosi dan pelapukan yang terjadi pada iklim tropis lebih cepat dibandingkan daerah lainnya.1 Sumber : Analisis Data Keterangan : 1 Sta.4 1135.4 1598 2277 2419 1368 2003 1991 2101 2206 1248 1131 1259 1368 1508 1594. Nilai curah hujan rata-rata tahunan dapat dilihat pada Tabel 3.5 1308 1237 2629 961 : 20894 26348 27555 23582. Variasi bentukan doline seperti uvala. Giriwoyo 10 Sta. sementara pelapukan secara kimia melalui suhu udara menyebabkan terjadinya proses pelapukan pada batuan induk.8 2374 2635 2748 1999 2422 3035 3431 3366 1736 920 1761 1706 1274.5 2216 2132 1607 2002 1655 1922 1796 2576 1688 1842 1308 1858 597. Donorojo 5 Sta.5 1615.2 1751 1788 1838 2000 2332 3000 3701 2879 1976 1770 2028 1619 591. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa curah hujan rerata tahunan berkisar antara 1163.93 2349.1.3.8 1734.5 1037.3. Curah hujan dan temperatur berpengaruh dalam proses melarutkan batugamping dan senyawa karbonat lainnya.81 16647. Pracimantoro 9 Sta.5 1467.4 2634. Punung 6 Sta.7 1630. Kondisi Klimatologi Iklim memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap bentuklahan karst.9 1497. polje dan cockpit di dasari pada morfografi dan morfometri dari doline. Siluk .1. sedangkan suhu udara di Indonesia sepanjang tahun relative konstan. 1972).2 2150. Tabel 3.

dengan besar indeks Tipe G (Sangat Kering).627 3 7 0.9 2. Pada kawasan karst dengan tipe iklim tropis basah akan mengakibatkan proses pelapukan batuan berlangsung lebih cepat dibandingkan proses pelapukan pada kawasan beriklim tropis musim.1 4.8 346 2.7 5 5 1 D Stasiun Siluk 1664.5 22.1 dapat diketahui besarnya total hujan tahunan.67 D Sumber : Analisa Data Tipe iklim pada kawasan karst akan mempengaruhi proses pelapukan batuan karbonat. Ponjong 13 Sta.21 21. yaitu : Tipe iklim berdasarkan besarnya indeks Q. curah hujan bulan terkering.67 D Stasiun Eromoko 1659.9 4 6 0.3 7. dengan besar indeks Tipe D (Sedang).25 365.43 C Stasiun Pracimantoro 1583.3 296.3 0 5 6 0.4 420. dengan besar indeks Tipe E (Agak Kering).4 3.8 11.14 A Stasiun Pacitan 2358. Bulan lembab apabila curah hujan bulanan 60-100 mm.8 487. c. adalah sebagai berikut : Tipe A (Sangat Basah). Giritontro 11 Sta. Eromoko 12 Sta.8 5. Tabel 3.1 315. Pringkuku 7 Sta. dengan besar indeks Tipe B (Basah).1 7 4 1.2 6 6 1 D Stasiun Giriwoyo 1630. Semanu 3.88 234. Berdasarkan Tabel 3. dengan besar indeks Tipe F (Kering).21 2.2.83 D Stasiun Karangmojo 1662. Pacitan 8 Sta.2 351.49 5 6 0.57 C Stasiun Punung 2634. Hasil ini dapat dilihat pada Tabel 3.2 Karakteristik Curah Hujan.5 426.3 3 7 0.3 Sta. mendukung proses pelapukan batuan .2.78 349 4. Bulan basah apabila curah hujan bulanan >100 mm. Bulan kering apabila curah hujan bulanan <60 mm. curah hujan bulan terbasah serta jumlah bulan kering dan bulan basah di daerah penelitian.5 476. Penggolongan didasarkan pada nilai Q.75 F Stasiun Terong 1163.5 1 7 0. b. dengan besar indeks Mohr mengklasifikasikan kriteria bulan basah dan bulan kering sebagai berikut : a.14 A Stasiun Pringkuku 2755.3. dikarenakan iklim tropis basah memiliki curah hujan dan tingkat kelembapan yang tinggi.83 D Stasiun Giritontro 1467. Tipe Iklim Penentuan tipe iklim pada daerah penelitian didasarkan pada penggolongan tipe iklim menurut Schmidt dan Ferguson.1 4 6 0.9 1 7 0.8 4 7 0. Karangmojo 4 Sta.3 5 7 0.7 380.5 399.71 D Stasiun Ponjong 2150. dengan besar indeks Tipe H (Luar Biasa Kering). Besarnya nilai Q dan Tipe Iklim Stasiun Penakar Hujan Total Curah Hujan Tahunan Curah hujan bulan terbasah Curah hujan bulan terkering Jumlah bulan kering Jumlah bulan basah Q Tipe Iklim Stasiun Donorojo 2089.43 C Stasiun Semanu 1615.7 30. dengan besar indeks Tipe C (Agak Basah).

Struktur geologi sangat menentukan besar kesilnya koefisien aliran dan cadangan airtanah.6. Gambar 3. Sistem cekungan dan sistem rekahan tersebut akhirnya masuk ke dalam luweng menuju sistem sungai bawah tanah yang pada akhirnya dapat muncul kembali ke permukaan sebagai mataair dan rembesan di sepanjang pantai (Kapedal. Sebagai salah satu sumber air. Wonogiri dan Pacitan yang dapat dilihat pada Tabel 3. Sungai permukaan jarang sekali ditemui di kawasan karst Gunungsewu. Suhu lingkungan ikut berpengaruh dalam proses pelarutan.5.karbonat seperti batugamping dan dolomit.3 Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan .3. 2007). Limpasan permukaan tersebut kemudian berkumpul dan mengalir sebagai sistem sungai. kondisi kependudukan dari segi kepadatan penduduk memiliki variasi yang beragam.2 menunjukkan tidak semua telaga dapat digunakan sepanjang tahun karena kondisi telaga di Gunungsewu telah banyak mengalami kerusakan sehingga pada musim kemarau telaga kering.4. dan morfologi permukaan. Selain telaga sumberair masyarakat di kawasan karst Gunungsewu adalah mata air yang pada umumnya dapat ditemui pada kaki perbukitan. Kondisi Demografi Penduduk Penduduk menjadi faktor yang penting dalam pengembangan kawasan terutama untuk pengembangan pariwisata alam. mencuci. demikian terjadi seterusnya hingga bermuara pada suatu pantai. Pada daerah yang menjadi pusat pemerintahan atau perdagangan akan memiliki pertumbuhan penduduk yang pesat. dalam Kapedal. Dari hasil data data statistik Kabupaten Gunungkidul. 2005). kemudian keluar kembali ke permukaan dan masuk lagi.4 menunjukkan kondisi authigenic pada sistem sungai banjar. dan mulo-ngingrong. kondisi ini juga dapat ditemui pada sistem kali suci.. Mata air yang ditemukan di kawasan karst Gunungsewu merupakan parenial dengan debit berkisar antara 5 50 liter/dt (Bappeda. Sistem hidrologi permukaan pada kawasan karst gunungsewu. Telaga dapat dijumpai pada depresi karst di antara kubah-kubah karst di kawasan karst Gunungsewu. menurut McDonald & Partners (1984. Air hujan yang meresap ke dalam tanah masuk ke dalam sistem perkolasi authigenic melalui zona rekahan. Sungai permukaan ini nampak di permukaan namun kemudian dapat menghilang masuk pada gua atau luweng menuju sistem sungai bawah tanah. Kondisi Hidrologi Air permukaan di kawasan karst Gunungsewu dikontrol oleh struktur geologi seperti retakan dan diaklas.. Air hujan yang jatuh di atas topografi karst sebagian menjadi limpasan permukaan dan sebagian meresap ke dalam tanah. masyarakat Gunungsewu memanfaatkan telaga untuk memenuhi kebutuhan domestik seperti mandi. 3. Saat musim penghujan dapat ditemukan banyak sumber-sumber air seperti telaga. Penggunaanlahan 3. Gambar 3. dikenal dengan sistem authigenic. Ketersedian air pada kawasan karst di pengaruhi oleh kondisi musim. dan memasak. 2005). 3. Eko-karst Gunungsewu memiliki potensi sumberdaya manusia dan dalam aspek kuantitas cukup baik. Peran serta pemerintah dalam pengembangan daerah-daerah yang berada dalam kategori tertinggal atau kurang berkembang perlu ditangani secara lebih serius. Telaga merupakan sebuah doline atau gabungan beberapa doline yang pada bagian dasarnya tertutup oleh material kedap air seperti lempung. kondisi kekerasan batuan. Tabel 3. Meningkatnya suhu lingkungan akibat aktivitas mahluk hidup dapat mengakibatkan reaksi kimia dan biokimia di kawasan karst sehingga proses pelarutan dapat berjalan lebih cepat.

27 % untuk Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya prosentase penduduk yang menamatkan SD atau dibawahnya sebesar 70.46 29061 348.88 % untuk Kabupaten Gunungkidul.31 33.2027 8 Girisubo 94.0707 5 Tepus 104.76 19181 267. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan yang dicapai masyarakat masih rendah sehingga akan berpengaruh terhadap sumberdaya manusia untuk mengembangkan potensi wisata di kawasan Eko-karst Gunungsewu.9 Sumber : BPS Gunungkidul.9 % untuk Kabupaten Pacitan.5027 12 Wonosari 75.68 38.49 48529 464.94 17 Giriwoyo 98 47171 481.8 SD 31.91 33595 320. 1.1239 14 Pracimantoro 112 67311 600.34 39.63 % untuk Kabupaten Wonogiri.84 19 Punung 108.81 35594 327.93 32156 241.03 SLTP 15.4368 11 Karangmojo 80.5238 13 Playen 105.9934 7 Rongkop 83.4 Presentase Penduduk Usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan di Tingkat Propinsi Persentase (%) Gunungkidul Wonogiri Pacitan Tidak punya 39. dan Pacitan 2005 Tingkat Pendidikan Secara umum tingkat pendidikan masyarakat yang berada di Kawasan Eko-karst Gunungsewu dapat dikatakan kurang memadai.85 % untuk Kabupaten Gunungkidul. Penduduk yang berhasil menamatkan hingga perguruan tinggi sebesar 2. Penduduk yang menamatkan pendidikan hingga tamat SLTP sebesar 15.26 52222 496. Penduduk yang menamatkan hingga tingkat SMU dan SMK sebesar 10.28 % untuk Kabupaten Gunungkidul.47 % untuk Kabupaten Wonogiri.7324 9 Semanu 108. 9.9455 10 Ponjong 104.6834 2 Purwosari 71. dan 64. dan 4.88 17. Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap penyedian tenaga kerja terampil di bidang pariwisata.29 25.97 21 Pringkuku 132.83 36280 413. 17.12 48593 606.32 16 Giritronto 68 24816 364.2938 3 Paliyan 38.12 20 Donorejo 109.7 % untuk Kabupaten Wonogiri.83 % untuk Kabupaten Pacitan.33 18 Eromoko 79 49521 626.39 50829 468. dan 12 % untuk Kabupaten Pacitan.8 26116 261. Wonogiri.9 . Tinggi pendidikan penduduk merupakan salah satu indikator kualitas hidup penduduk yang juga berhubungan dengan tingkat perkembangan wilayah yang bersangkutan.57 55109 582.4594 4 Saptosari 87.2269 6 Tanjungsari 71.19 % untuk Kabupaten Wonogiri.51 75172 995. dan 18.47 18. 71.99 15 Paranggupito 171 21089 123. Tabel 3.99 % untuk Kabupaten Gunungkidul.63 26431 368.No Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Penduduk (Jiwa) Kepadatan (Jiwa/Km2) Kabupaten 1 Panggang 99.09 40251 368.07 30207 793.

7. dengan jumlah kamar sebanyak 237 buah. Dibanyak tempat ditemui tiang dengan kondisi miring akibat tanah yang tidak stabil. Secara keseluruhan jumlah hotel yang tercatat pada tahun 2003 di Kabupeten Wonogiri adalah sebanyak 17 buah. paving block. Diposkan oleh buletinsuaka di 05:11 . dengan jumlah kamar sebanyak 225 buah di Kabupeten Pacitan. Jaringan telokomunikasi telepon arau wartel hanya dapat ditemui pada kawasan ibukota kabupaten dan beberapa ibukota kecamatan yang sudah relatif maju. Kabupeten Gunungkidul sebanyak 9 buah.7 4. karena banyak jalan tidak dalam kondisi yang baik dan dapat membahayakan pengguna jalan seperti Jalan Raya Wonogiri-Pacitan yang mengalami rusak cukup berat. 3. bis umum akan tetapi untuk menuju kebeberapa lokasi terpencil di kawasan ini diperlukan kendaraan pribadi karena transportasi umum belum dapat menjangkau daerah tersebut. Transportasi umum hanya beroperasi pukul 05.7. Rumah makan dan restoran yang menjajakan menu khas seperti sego abang.85 1.00 WIB. dan sebanyak 10 buah. Prasarana jalan yang dimiliki antara lain jalan aspal.4 Sarana Akomodasi Akomodasi penginapan hanya terdapat pada ibukota kabupaten yakni Kota Pacitan. dan jangan lombok ijo dapat di jumpai disepanjang kawasan karst Gunungsewu. Solo dan Pacitan dengan jarak tempuh beragam antara 1.27 Sumber : BPS Gunungkidul. Listrik sebagai salah satu sumber kehidupan masyarakat sudah terdistribusi secara merata di Kawasan Eko-Karst Gunungsewu sampai pada tingkat desa. Fasilitas hotel dan penginapan yang berada di Kabupaten Wonogiri dan Gunungkidul hanya terdiri dari hotel berklasisikasi Melati. Wonogiri dan Wonosari.7.19 12 Diploma dan Perguruan Tinggi 2.1 Sistem Transportasi Kawasan Eko-karst Gunungsewu dapat dijangkau dari Yogyakarta.2 Sistem Komunikasi Komunikasi merupakan salah satu kebutuhan menusia yang penting dalam melakukan hubungan anatara satu dengan yang lain. Sarana transportasi yang dapat digunakan mobil.5 3 jam dengan kendaraan bermotor. Melihat kondisi jalan secara umum perlu dilakukan beberapa perbaikan dan peningkatan kualitas jalan.7. Sarana dan Prasarana Pariwisata Daerah Penelitian 3.7. Wonogiri. 3.00 17. Daerah pedesaan belum dapat menerima akses komunukasi telepon. Daya yang digunakan oleh masyarakat masih relatif kecil. Prasarana trasnportasi lainnya adalah terminal yang sangat diperlukan untuk mewujutkan ketertiban pemberentian dari berbagai jenis kendaraan. dengan jumlah kamar sebanyak 124 buah. dan jalan tanah dan batu.3 Sumber Daya Listrik Masyarakat menggunakan sumber listrik berasal dari PLN yang dialirkan melalui tiang listrik.28 9. dan Pacitan 2005 3. motor.SMU & SMK 10. Sinyal seluler beberapa provider dapat dijangkau hampir diseluruh kawasan karst akan tetapi memang terdapat beberapa desa yang berlokasi di lembah tidak dapat menerima sinyal telepon selular dikarenakan faktor topografi. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful