FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

ANALISIS MODEL ALTERNATIF OTONOMI DAERAH DALAM PUSATMEMBANGUN HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT- PROVINSI LAMPUNG) DAN KABUPATEN/KOTA (STUDI DI PROVINSI LAMPUNG)
Oleh :

Drs. Syarief Makhya, M.Si
Armen Yasir, SH,MH Maulana Mukhlis, S.Sos. M.IP.

Dibiayai oleh : DIPA Universitas Lampung Dengan Surat Perjanjian Kontrak Penelitian antara Lembaga Penelitian dengan Pembantu Rektor II Universitas Lampung (atas nama Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen) Nomor : 1896/H26/KU/2009 Tanggal 1 Juli 2009

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS LAMPUNG Desember 2009
1

ABSTRAK
ANALISIS MODEL ALTERNATIF OTONOMI DAERAH DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA (STUDI DI PROVINSI LAMPUNG) Oleh :
Syarief Makhya , Armen Yasir , Maulana Mukhlis
1 2 3

Undang Undang (UU) No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah) sudah berjalan hampir lima tahun dan selama kurun waktu itu telah mengalami tiga kali perubahan. Dalam prakteknya, UU ini masih menimbulkan sejumlah persoalan sebagai akibat muncul dinamika politik penyelenggaraan pemerintahan dan penyesuaian regulasi dengan praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu model otonomi daerah seperti apa yang bisa membangun efektifitas penyelenggaraan pemerintahan khususnya yang terkait dengan perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang ? Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kebijakan (policy research). Sedangkan dari tingkat eksplanatif, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan dengan cara, yaitu : wawancara mendalam (in depth interview), penyebaran kuestioner kepada 245 responden di Pemerintah Provinsi Lampung dan 10 Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, dokumentasi (official and personal documentation), serta observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan UU No.32/2004 merupakan model jalan tengah. Model ini dinilai sebagai model yang sesuai untuk menggabungkan antara kepentingan, aspirasi dan demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan di daerah dengan kepentingan pemerintah pusat. Model ini, menimbulkan konsekuensi penyelenggaraan pemerintahan yang masih berpegang pada model hirarkis, implementasi kebijakan yang terbatas, masih adanya kontrol dari pemerintah, keteraturan hubungan kewenangan, tertib dan stabilitas pemerintahan yang terjaga, keutuhan NKRI, dan homogenitas regulasi. Model jalan tengah tersebut menghasilkan model otonomi yang cenderung menghambat implementasi kebijakan, tidak berorientasi pada pemecahan masalah, minimnya atau munculnya keterbatasan anggaran, fungsi pengawasan yang tidak efektif, dan terbatasnya kemandirian daerah.

1) Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung 2 ) Dosen Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung 3 ) Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

2

Dalam pelaksanaan Otonomi Daerah ke depan model otonomi daerah yang diajukan dari hasil penelitian ini adalah model otonomi yang berorientasi pada pengurangan derajat ketergantungan pada pemerintah pusat. Model ini dicirikan dengan penyeragaman regulasi yang terbatas, kewenangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah, keseimbangan kapasitas kewenangan dengan daya dukung sumber pembiayaan, kejelasan fungsi kewenangan antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan model penguatan sistem check and balances.

3

BAB I PENDAHULUAN 1. Wujud kongkrit dalam implementasi kebijakan publik adalah dengan membangun sebuah format pemerintahan lokal yang lebih terbuka. tetapi juga lebih terbuka dan adil merupakan faktor-faktor yang secara signifikan mampu memaksa para penguasa di berbagai negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) untuk menata diri dan berusaha keras melakukan reformasi sistem politik. Otonomi daerah yang telah diimplementasikan semenjak 1 Januari 2001 mengundang berbagai intepretasi. Bahkan UU 22/199 yang mendasari implementasi tersebut harus direvisi dengan UU 32/2004 dan UU 33/2004 karena terdapatnya beberapa pasal yang terkandung didalamnya kurang mendukung implementasi secara harmonis. Kesepakatan untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi di Indonesia. baik oleh para akademisi. sistem pemerintahan dan sistem administrasinya. tetapi fenomena desentralisasi juga merupakan perkembangan situasi politik pada skala global dan tekanan-tekanan politik domestik di berbagai belahan dunia yang makin kuat untuk membangun pola hubungan pusat-daerah yang tidak saja lebih rasional. demokratis. 4 . perangkat pemerintahan pusat maupun daerah (legislatif maupun ekskutif) serta tokoh/pemuka masyarakat (adat. agama maupun budaya) sehingga menimbulkan polemik – walau umumnya sepakat otonomi daerah harus dilaksanakan.1 Latar Belakang Kebijakan otonomi daerah di Indonesia pasca Pemerintahan Orde Baru telah mengeser perubahan yang mendasar terhadap praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah yaitu memberikan otoritas dan keleluasaan yang besar kepada pemerintah daerah. tidak hanya dipengaruhi oleh tuntutan demokratisasi yang muncul setelah runtuhnya pemerintahan Orde Baru.

UU ini secara diametral sangat berbeda dengan UU No. tetapi dari subtansi lebih menggambarkan dominasi dan keberfihakan pada kepentingan politik kekuasaan pemerintah Pusat atas Daerah. 2002: 7-8).dan berbagai aspek pembangunan yang lebih mengedepankan prinsip desentralisasi (Abdul Wahab. Jadi. Dengan demikian. Wujud konkrit dari keinginan 5 . et al. dalam Abdul Wahab.22 Tahun 1999. kemudian diganti dengan UU No. kebijakan desentralisasi dalam dunia pemerintahan dan politik lokal.5 Tahun 1974. tetapi secara subtanstif juga melibatkan persoalan kekuasaan (power). Dari sisi normatif upaya untuk mengimplementasikan kebijakan desentralisasi di Indonesia. 2002 :7) Implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dimaksudkan tidak hanya memberikan dampak positif secara kelembagaan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah. walaupun dalam UU tersebut diatur tentang desentralisasi. yakni dengan membangun basis pemerintahan yang lebih demokratis dan otonom di daerah.5 Tahun 1974. bukan sekedar menyangkut persoalan administratif atau persoalan teknis manajemen pemerintahan.5 tahun 1974 yang sudah dilaksanakan sekitar lebih dari 30 tahun lamanya. 1998. Pengaturan lebih lanjut mengenai berbagai hal yang menyangkut segi-segi administratif dan teknis merupakan konsekuensi logis dari keputusan politik (Abdul Wahab. melainkan juga untuk mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat atau yang dikatakan oleh Cooper apa yang disebut sebagai moving the governening function closer to the community (Cooper. 2002). secara hakiki desentralisasi lebih merupakan persoalan politik ketimbang persoalan administrasi. yang secara politis dimaksudkan untuk mendesentralisasikan sistem pemerintahan nasional yang selam ini sangat sentralistis. UU No. yaitu dengan melakukan perubahan secara mendasar seluruh bentuk produk hukum yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan Daerah. UU No. UU ini juga secara telanjang menggambarkan perilaku negara yang otoriter-birokratik yang dalam kiprah politiknya haus untuk memproduksi kekuasaan yang cenderung hegemonik.

22 tahun 1999. sistem koordinasi menjadi tidak efektif. UU No. Sedangkan implikasi politiknya adalah semakin besarnya ruang manuver daerah untuk mengambil keputusan politik dan masa depan daerah akan lebih ditentukan oleh kemampuan politik dan kemampuan manajerial dari elit-elit politik dan elit birokrasi daerah. dominasi kekuasaan DPRD yang tidak terkontrol.32 Tahun 2004. Selama empat tahun proses pelaksanaan UU No.22 tahun 1999 sesungguhnya berawal dari munculnya amandemen UUD 1945 yang menetapkan Presiden dipilih langsung oleh rakyat dan UU No.22 Gubernur/Bupati/ Walikota.DPD dan MPR yang tidak lagi memberikan kewenangan DPRD untuk memilih ini yang memperkuat UU No. (Makhya.DPR. UU No. Alasan-alasan tahun 1999 perlu direvisi dengan perubahan pasal perlunya pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. 2005). UU ini menimbulkan 6 . sudah berlangsung mengalami 3 kali perubahan. diakui terdapat sejumlah persoalan antara lain : muncul sejumlah perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.politik tersebut yaitu pemberian porsi otoritas dan kewenangan kekuasaan yang makin besar kepada Daerah sehingga intervensi pusat pada urusan sehari-hari dan rumah tangga daerah makin berkurang. UU ini merupakan hasil evaluasi dari proses pelaksanaan otonomi daerah yang mengindikasikan tidak terbangunnya tertib pemerintahan dan munculnya kehawatiran yang berlebihan akan rontoknya kekokohan NKRI. 4 tahun berjalan dan telah Dalam praktiknya. tetapi kemudian merembet pada persoalan bangunan pemerintahan daerah secara keseluruhan.32 tahun 2004. konflik antara daerah kabupaten dengan daerah propinsi. perebutan sumberdaya ekonomi. konflik antara bupati/wlikota dengan wakil bupati/wakil walikota. 22 tahun 2003 Tentang Susduk DPRD. dan tertib pemerintahan secara keseluruhan relatif tidak terjaga. hanya bisa dilaksanakan sekitar kurang dari 4 tahun dan digantikan dengan UU No. administrasi kepegawaian yang tidak proporsional.22 Tahun 1999. Ide dasar perubahan UU No.

proses pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan di daerah cenderung mengalami perubahan seiring dengan terjadinya dinamika politik.2 Tujuan Khusus Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan penelitian yang dikemukakan di atas. dengan Provinsi dan Kabupaten/Kota ? Masalah-masalah apa saja yang muncul dalam pelaksanaan otonomi daerah di Prov dan Kabupaten/Kota ? Bagaimana hubungan eksekutif dengan DPRD ? Model alternatif otonomi daerah seperti apa yang sesuai dengan aspirasi dan dinamika perkembangan masyarakat ? 1. Evaluasi ini pada akhirnya akan menawarkan konsep atau model alternatif yang mungkin bisa diterapkan dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. maka tujuan penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa model pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia saat ini belum menemukan pola yang ajeg (tetap) sehingga diperlukan kajian untuk menawarkan konsep yang tepat tentang pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan kebutuhan daerah. dan sebagainya. konflik kepala daerah dengan wakil kepala daerah. sehingga proses pelaksanaan otonomi daerah perlu dievaluasi. ketidakjelasan kewenangan antara jabatan politis dengan jabatan karier. muncul konflik antara kepala daerah dengan DPRD. Di samping itu. 7 .sejumlah persoalan yaitu hubungan kewenangan antara pemerintah provinsi dengan Kabupaten/Kota masih tumpang tindih. kontrol tidak berjalan secara efektif. rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : Model otonomi daerah seperti apa yang bisa membangun efektiftas penyelenggaraan pemerintahan ? Bagaimana hubungan kewenangan antara pemerintah Pusat.

murah. medebewind. dengan Provinsi dan Kabupaten/Kota ? b) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah – masalah yang muncul dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di Daerah c) Memformulasikan alternatif model otonomi daerah dan merekomendasikan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan otonomi daerah 1. tujuan khusus penelitian ini adalah : a) Mengkaji hubungan kewenangan antara pemerintah Pusat. namun dalam praktek otonomi tetap sulit untuk diwujudkan. penyelanggaraan pemerintahan daerah. kalau pemerintahan berada dalam jangkauan masyarakat. B. maka pelayanan responsif. dan produktif. devolusi atau privatisasi. sekalipun kesepakatan telah dicapai melalui undang-undang atau peraturan pemerintah. Asumsinya.22/1999 dan UU No. inovatif.3 Urgensi Penelitian Dalam teori Ilmu Pemerintahan. akomodatif. 1985). salah satu cara untuk mendekatkan pemerintahan kepada masyarakat adalah dengan menerapkan kebijakan desentralisasi (Smith. devolusi dan asas privatisasi dalam lebih cepat." Bahkan. Selama kurun waktu dua periode pelaksanaan otonomi daerah yaitu di era UU No. Bentuknya bisa berupa dekonsentrasi. upaya mewujudkannya tidaklah "semudah membalik telapak tangan. 8 . Sampai seberapa jauh kemungkinan konsep tersebut bisa diterapkan dalam praktek otonomi daerah membutuhkan kajian tentang gambaran keberlangsungan pelaksanaan otonomi daerah di masa depan ? jawaban atas pertanyaan ini merupakan salah satu urgensi untuk melakukan studi tentang model alternatif model otonomi daerah. Sekarang sedang muncul perspektif tentang kemungkinan akan diakomodasinya konsep desentralisasi asimetris.. hemat.32/2004.Oleh karena itu.C. ternyata model otonomi daerah yang diberlakukan masih belum final dan belum menemukan pola yang ajeg. Walaupun semua pihak mengakui bahwa otonomi diperlukan.

This kind of mechanism is called political decentralication.... diartikan ”. decentralication as the delegation of power. desentralisasi didefinisikan “…………… as the delegation of administrative authority from central to local government ….. dalam Hidayat.. 2002) Parson (1961.. konsep desentralisasi dibedakan dengan dekonsentrasi. karena in the implementation of deconcentration policy. form top level to lower level. each having authority within a specific area of the state ………Rumusan yang dikemukakan Mawhood (1987) yaitu decentralication is “devolution” of power from central to local government.1 Perspektif Desentralisasi Konsep desentralisasi bisa diartikan dalam beragam pengertian tergantung pada perspektifnya. in a territorial 9 ..the world decentralication has been used to express the mechanism by which central government devolve its power to local governments. 2002) defines decentralication as sharing parti of the governmental power by a central ruling group with other goups.. Dalam perspektif politik. (Hidayat. 1987).... Dalam pandangan ini. the local government does not have its own budget and a separate legal existance with authority granted to allocate subtantial materials resources for a range of different fuctions (Mawhood. Smith (1985) merumuskan definisi desentralisasi yaitu ……. Whereas deconcentration by which administrative decentralication is the transfer of responsibilitry from central to local government.. Sedangkan dari aspek administratif.......BAB II STUDI PUSTAKA 2.

juga dengan mengubah paradigma dalam memerintah masyarakat (modes of governing society) yang selama ini bias ke pemerintah pusat (central government) dan cenderung tidak menaruh empati atau bahkan mengabaikan terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat lokal (local preferences). Konsep desentralisasi yang dianut secara legal formal ini. which could be one of government within a state... desentralisasi dalam terminologi teknisnya merupakan proses dekonstruksi relasi kekuasaan pusat-daerah yang disebut dengan displacement of power yakni mendesentralisasikan secara rasional kekuasaan kewenangan negara (state authority) ke institusi-institusi tingkat regional dan lokal. Selain itu. desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pandangan Pierre and Peters (dalam Abdul Wahab. 32 tahun 2004 pasal 1. Pelaksanaan deconcentration di sini bermakna tiadanya pemindahan kekuasaan dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam suatu perkara. 32 tahun 2004 hampir sama. mengartikan desentralisasi dalam pemahaman desentralisasi administratif yang menekankan pada aspek the delegation of authority atau belum mengarah pada the devolution of power. Secara umum terdapat empat bentuk desentralisasi yang dijalankan dalam sebuah negara : pertama adalah deconcentration. 22 tahun 1999 dalam pasal 1 (e). . Sementara dalam UU No.. ditegaskan “desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.. 22 tahun 1999 dengan UU No. or officers within a large organisation. Kementrian diperingkat pusat masih berkuasa penuh dalam sesuatu keputusan mengenai kebijakan lokal ( United Nation 1961).....hierarvhy. 10 . konsep desentralisasi antara UU No. Secara legal formal berdasarkan UU No. yaitu pembagian wewenang kekuasaan membuat suatu keputusan berkaitan dengan pengelolaan administrasi kepada unit-unit organisasi lain atas nama pemerintah pusat. Dimaksudakan di sini adalah pembagian tanggungjawab dan wewenang oleh pemerintah pusat kepada pemerintahan lokal. Jadi. 2002).

Cirinya adalah unit pemerintahan lokal yang otonom dan mandiri. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan kebijakan politik secara makro yang bertujuan untuk memberikan dukungan terhadap kekokohan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengakomodasi tuntutan perkembangan demokrasi lokal. Tujuan tersebut berimplikasi terhadap bangunan struktur pemerintahan dengan menggabungkan dua bentuk yaitu memperkuat posisi aparat pemerintah pusat di daerah. Pemerintah pusat harus melepaskan fungsi-fungsi tertentu untuk menciptakan unit-unit pemerintahan baru yang otonom dan berada diluar kontrol langsung pemerintah pusat. kewenangan pemerintah pusat tidak besar pengawasannya tak langsung. Keempat.. pemerintah lokal memiliki status dan legitimasi hukum yang jelas untuk mengelola sumberdaya dan mengembangkan pemerintah lokal sebagai lembaga yang mandiri dan independen (Fadilllah Putra. 2. yaitu kewenangan diserahkan kepada swasta untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu. 2007).. dalam konsep ini organisasi-organisasi jabatan pemerintahan dikendalikan oleh swasta..(Effendi Hasan & Erman Anom.. struktur kebijakan (perda 11 . Tugas-tugas pemerintahan dalam kementrian pusat diserahkan kepada pemerintah di daerah untuk diselenggarakan. Devolution yaitu kemampuan unit pemerintah yang mandiri dan independen.. 1999) Ketiga. privatization...2 Desentralisasi dalam UU No. Bentuk desentralisasi ini merujuk kepada bentuk-bentuk kegiatan yang ditentukan oleh pemerintah pusat untuk pemerintah daerah tetapi dilakukan oleh masyarakat setempat. 32 Tahun 2004 UU No. Delegation.Kedua. Menurut kondep ini tugas eksekutif diserahkan kepada organisasi lain. 22 Tahun 1999 & UU No.. Dengan cara ini terjalinlah kerjasama yang erat antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat demi untuk memmudahkah pelaksanan tugas-tugas tertentu.

dan aparat birokrasi) yang hierarkis. dan tertib pemerintahan secara keseluruhan relatif tidak terjaga. 22 tahun 1999 berawal dari munculnya amandemen UUD 1945 yang menetapkan Presiden dipilih langsung oleh rakyat dan UU No. cenderung menganut pola pemerintahan yang desntralisasi dan penguatan demokratisasi politik lokal dengan memberi porsi kekuasaan kepada DPRD yang sangat kuat. tetapi kemudian merembet pada persoalan bangunan pemerintahan daerah secara keseluruhan. 22 tahun 1999. terdapat sejumlah persoalan antara lain: muncul sejumlah perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Secara substansial. dominasi kekuasaan DPRD yang tidak terkontrol. perebutan sumber daya ekonomi. Alasan-alasan ini yang memperkuat UU No. konflik antara daerah kabupaten dengan daerah propinsi. Adanya perbedaan mendasar dalam UU No. DPD dan MPR yang tidak lagi memberikan kewenangan DPRD untuk memilih Gubernur/Bupati/Walikota. UU Pemerintahan Daerah merupakan salah satu kebijakan politik yang dirancang untuk membangun format pemerintahan yang bisa memberikan dukungan terhadap kekokohan keberadaan Negara Kesatuan Republik 12 . Selama empat tahun proses pelaksanaan UU No. administrasi kepegawaian yang tidak proporsional. dan pengembangan demokratisasi lokal yang terbatas. UU No. 22 tahun 2003 tentang Susduk DPRD. DPR. 22 tahun 1999. Ide dasar perubahan UU No. 32 tahun 2004 sangat berbeda dengan UU No. konflik antara bupati/walikota dengan wakil bupati/wakil walikota. sistem koordinasi menjadi tidak efektif. 32 tahun 2004 merupakan hasil evaluasi dari proses pelaksanaan otonomi daerah yang mengindikasikan tidak terbangunnya tertib pemerintahan dan munculnya kehawatiran yang berlebihan akan rontoknya kekokohan NKRI. muatan UU No. 22 tahun 1999. 22 tahun 1999 perlu direvisi dengan perubahan pasal perlunya pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat.

UU No. walaupun otoritas gubernur itu. Warna pemerintahan yang bercorak otoriterisme-birokratik kemudian menjadi sangat kental. Artinya. sehingga kreativitas dalam alokasi anggaran akan dibatasi. Pengalaman waktu diterapkannya UU No. 22 tahun 1999. pasal 10 UU No. otoritas kedudukan gubernur sebagai wakil Pemerintah di Wilayah propinsi yang bertanggung jawab kepada Presiden (pasal 37) diperkuat perannya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kot. Kedua. tertib politik dan pemerintahan bisa terjaga secara efektif. hanya sebatas pembinaan. dengan model pemerintahan yang terpusat dan penyeragaman kebijakan. 5 tahun 1974. Ketentuan pasal ini.Indonesia. dengan istilah kewenangan daerah. 22/1999. Model pemerintahan pada waktu itu tidak hanya memposisikan birokrasi pada level paling atas (pemerintahan pusat) sebagai penentu dalam membuat kebiajkan. 32 tahun 2004 mempunyai warna yang mirip walaupun tidak sama persis dengan UU No. 32 tahun 2004. Apa akibat dari penyerahan urusan wajib. 5 tahun 1974. akuntabilitas dan efisiensi (pasal 11). Salah satu upaya untuk menjaga keutuhan NKRI. istilah yang dipakai adalah pembagian urusan pemerintahan. akan kembali pada pola subsidi. Dalam konsep pembagian urusan maka kewenangan pemerintahan daerah itu tidak secara otomatis menjadi milik daerah. pengawasan dan koordinasi. tetapi ditentukan oleh Pemerintah Pusat berdasarkan kriteria eksternalitas. apa yang didelegasikan oleh Pemerintah Pusat menjadi kewenangan daerah. bukan lagi kewenangan daerah sebagaimana dianut dalam UU No. tapi dalam 13 . maka seluruh atau sebagian besar sumber dananya harus berasal dari pemerintah pusat. Ide revisi itu berangkat dari kesatuan sedangkan kemajemukan masyarakat daerah hanya sekedar diakomodasi. Beberapa pasal yang mengatur karakter pemerintahan yang sentralistis itu antara lain: Pertama. Sementara dalam UU No. maka struktur pemerintahan harus dirancang secara sentralistis. tetapi juga mampu mengkondisikan lembaga perwakilan sebagai lembaga yang terkendali oleh kekuasaan eksekutif.

dengan tujuan agar perda secara substantif tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. yaitu: (a) demokrasi langsung akan menampakan perwujudan kedaulatan ditangan rakyat. Kelemahan sistem ini antara lain: (a) kelompok minoritas (suku. pemindahan dan pemberhentian dalam jabatan eselon II pada daerah kabupaten/kota. karena tidak mungkin menyuap pemilih dalam jumlah jutaan orang. 22 tahun 1999 yaitu dilakukannya Pilkada langsung (pasal 56 sampai dengan pasal 119). Sistem Pilkada langsung oleh rakyat merupakan sebuah prestasi bagi pemerintahan sekarang untuk memberikan hak pada rakyat secara langsung dalam menentukan kepala daerah. Sistem kepegawaian dilakukan berdasarkan manajemen PNS secara nasional. (b) karena yang dipilih 14 . (b) akan dihasilkan kepala daerah yang mendapat dukungan langsung dari rakyat. agama. Ketentuan pasal ini berimplikasi bahwa perencanaan pembangunan di daerah harus merujuk kepada perencanaan nasional. atau golongan yang tersisih) akan sulit bisa bersaing dengan kelompok mayoritas. Yang membedakan UU No.prakteknya bisa lentur ditafsirkan untuk kepentingan-kepentingan politis yang lain. ada keterlibatan peran pemerintah pusat dan gubernur untuk menetapkan perda. Ketiga. Keempat. (c) permainan politik uang bisa diperkecil. karena berbagai alasan. Sistem pemilihan kepala daerah berdasarkan demokrasi perwakilan tidak dianut lagi. perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional (pasal 150). 5 tahun 1974 dan UU No. Dalam UU No. Sistem pemilihan ini dianggap paling ideal. Namun berarti bahwa sistem ini tidak punya kelemahan. 32 tahun 2004 posisi gubernur kembali diperkuat perannya dalam penentuan pengangkatan. 32 tahun 2004 dengan UU No. sistem administrasi kepegawaian disusun secara terpusat (pasal 129) dan hierarkis (pasal 130). Kelima.

adalah orang. masyarakat diberikan hak untuk mempengaruhi proses pembuatan kebiajakan daerah. pada aspek yang lain ada pembatasanpembatasan terhadap kewenangan pemerintahan daerah yang wujudnya dalam bentuk intervensi pemerintah pusat. 32 tahun 2004. pengawasan. Namun. oleh karena itu kemudian akan mengenyampingkan faktor kemampuan. menurut Smith. konsultasi. dan mengacu pada program pembangunan nasional. proses demokratisasi lokal dibatasi dalam cakupan yang terbatas pada wilayah prosedur pemilihan kepala daerah dan hak masyarakat untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan.3 Nilai dan Tujuan Desentralisasi Smith (1985 dalam Hidayat. 32 tahun 2004 juga memberikan ruang bagi masyarakat dalam pembahasan perda (pasal 139). dalam istilah UU No. latihan kepemimpinan dan untuk menciptakan stabilitas politik. Jika dicermati secara keseluruhan tentang UU No. Secara demikian. maka faktor figur akan dijadikan salah satu faktor penentu kemenangan. 15 . Desentralisasi dilihat dari tujuan politik yaitu ……. Dari sisi kepentingan pemerintah pusat.. penyerahan urusan. Secara umum tujuan desentralisasi dibagi ke dalam dua katagori yaitu tujuan politik dan tujuan ekonomi. (c) dalam Pilkada langsung memerlukan biaya besar untuk keperluan kampanye pada putaran pertama dan putaran kedua serta untuk keperluan menyewa perahu (parpol) khususnya bagi calon dari non-partai. Nilai kedua yaitu local accountability dan nilai ketiga dari kepentingan daerah yaitu local responsiveness. nilai utama desentralisasi adalah untuk mewujudkan political equality. Sedangkan dari kepentingan daerah. 2002) melihat nilai desentralisasi dari sisi kepentingan pemerintah pusat dan kepentingan pemerintah daerah. Dalam proses pembuatan kebijakan dalam UU No. 32 tahun 2004. 2. disebut dengan pembinaan. sedikitnya ada tiga nilai desentralisasi yaitu untuk pendidikan politik.

yang diklasifikasikan dalam dua kategori utama. the implementation of decentralication policy is suppose to reduce the cost development. Untuk itu. yaitu tujuan desentralisasi untuk kepentingan nasional dan untuk kepentingan daerah. dan (c) untuk mempercepat pencapaian dan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. dan local responsiveness). liberty. tujuan utama dari desentralisasi meliputi antara lain: (a) untuk mewujudkan demokratisasi di tingkat local (political equality. berdasarkan kepentingan nasional tujuan utama dari desentralisasi adalah : (a) untuk mempertahankan dan memperkuat integrasi bangsa.to strengthen local accountability. dkk. (b) sebagai sarana untuk training bagi calon-calon pemimpin nasional. (b) untuk peningkatan pelayanan public. political skills and national integration. 2004). inprove outputs and more effectively utilise human resources. Sementara substansi dari masing-masing kategori tersebut harus dapat mengakomodasi aspek social dan aspek ekonomi yang hendak dicapai. pada level lokal nilai-nilai yang relevan yaitu equity. Dalam perspektif state-society relation tidak mendikotomikan antara tujuan politik dan administrasi karena kedua-duanya sama penting untuk diwujudkan. Kedua. Sedangkan desentralisasi dilihat dari tujuan kepentingan ekonomi yaitu ……it is argued that decentralication is needed in order to enchance local government ability in providing public goods and services (Rodinelli. Spesifiknya. latihan kepemimpinan dan stabilitas politik. dan responsiveness. Sedangkan dari sisi kepentingan daerah. nilai desentralisasi demokrasi berhubungan dengan pendidikan politik. (c) untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan pembangunan di daerah (Hari Susanto. maka formulasi tujuan desentralisasi dikembalikan pada konsep dasarnya. Dalam pendapat Jimly Asshidiqqi (2000) tujuan kebijakan desentralisasi adalah untuk menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik16 . local accountability. Smith (1985) selanjutnya merumuskan tujuan desentralisasi demokrasi ke dalam dua katagori yaitu pertama pada level nasional. 1983) atau dengan kata lain.

sangat dirasakan oleh daerah-daerah besarnya jurang ketidakadilan structural yang tercipta dalam hubungan antara pusat dan daerah-daerah. Dalam kultur masyarakat kita yang paternalistic. Pendekatan dari atas ke bawah (top-down approach) masih menjadi norma yang berlaku. Karena dalam system yang berlaku sebelumnya. kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya menyangkut pengalihan wewenang dari atas ke bawah. 17 melibatkan civil society organization .. 2. Untuk menjamin agar perasaan diperlakukan tidak adil yang muncul diberbagai daerah seluruh Indonesia tidak makin meluas dan terus meningkat yang pada gilirannya akan sangat membahayakan integrasi nasional.4 Hasil Penelitian Sebelumnya Hasil penelitian yang dilakukan Syarief Makhya dkk (2007) di Kota Metro. menunjukkan bahwa perubahan desentralisasi ternyata hampir tidak membawa terhadap proses pembuatan kebijakan yang lebih partisipatif. Dengan demikian. maka kebijakan otonomi daerah ini dinilai mutlak harus diterapkan dalam waktu yang secepat-cepatnya sesuai dengan tingkat kesiapan daerah sendiri. tetapi pada pokoknya juga perlu diwujudkan atas dasar keprakarsaan dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandirian pemerintahan daerah sendiri sebagai factor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu. namun sudah mulai dilakukan beberapa pembaharuan dengan dalam proses pengambilan kebijakan. Juga untuk mendorong kemandirian daerah. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan upaya sadar untuk membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri. Esensi kebijakan otonomi daerah itu sebenarnya berkaitan pula dengan gelombang demokratisasi yang berkembang luas dalam kehidupan nasional bangsa kita dewasa ini. ……….dengan adanya desentralisasi akan membatasi kekuasaan dan berperan sangat penting dalam rangka menciptakan iklim kekuasaan yang makin demokratis dan berdasar atas hukum.baiknya.

waluapun fenomena konsultasi tersebut masih melibatkan kalangan yang sangat terbatas. kerana beberapa alasan : (a) untuk efisiensi waktu dalam proses perumusan kebijakan. DPRD mempunyai posisi tawar yang kuat. Dalam proses pembuatan kebijakan daerah (perda). Pendekatan Top-Down.Juga. sudah ada upaya untuk melakukan mekanisme konsultasi dengan masyarakat mengenai berbagai kebutuhan dan aspirasi publik. yang merasa lebih mengetahui akan 18 . namun sayangnya tidak disertai kemampuan dalam menyusun legal drafting dan formulasi kebijakan publik. dan rapetada). (c) adanya persepsi dan sikap pemda kebutuhan daerahnya. (b) adanya kesesuaian antara kebijakan daerah dengan dokumen formal (poldas. renstra. cenderung masih tetap digunakan.

penelitian ini difokuskan pada : a) Hubungan antara kewenangan pemerintah Pusat. berorientasi pada aksi untuk mengatasi masalah tersebut) Sedangkan dari tingkat eksplanatif.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kebijakan (policy Research). 1998) 3.2 Fokus Penelitian Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Menurut Majchrzak (1984). dengan Provinsi dan Kabupaten/Kota. penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri.BAB III METODE PENELITIAN 3. ( Sugiyono. penelitian kebijakan adalah the process of conducting research on. or analysis of a fundamental social problem in order to provide policy makers with pragmatic. action oriented recommendation for alleviating problems (Proses pelaksanaan penelitian atau analisis mengenai suatu masalah sosial mendasar guna membantu pembuat kebijakan dengan cara menyajikan rekomendasi yang bersifat pragmatis. tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. Dimensi pada fokus ini mencakup dalam hal : • • • b) c) Pembuatan kebijakan Kewenangan di bidang urusan wajib dan pilihan Pembiayan keuangan daerah Masalah-masalah yang muncul dalam pelaksanaan otonomi daerah Hubungan eksekutif dengan legistatif 19 .

menemukan apa yang akan dipelajari dan memutuskan apa yang akan dilaporkan. Anggota DPRD. Metode wawancara dan dokumentasi akan banyak dipergunakan dengan penekanan pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh aktor. catatan wawancara. copy dari dokumentasi dan sapping. kuestioner yang disebar ke satker di 11 kabupaten/kota dan Provinsi. pegawai pemda.5 Analisis Data Analisis data dilakukan selama pengumpulan data di lapangan dan analisis masalah dilapangan. Kepala-Kepala Dinas/Badan /Biro. Praktisi Pemerintahan. Jumlah satker di masing-masing kabupaten 20 satker. 20 . Kedua. 3.4 Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan dua cara.3 Situs Penelitian Praktek penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh para pejabat pemda. dan observasi. dan praktisi pemerintahan. mencari pola. yaitu pertama : wawancara mendalam (in depth interview). Asisten. mensistesitesiskannya. Camat. 3. anggota DPD. total berjumlah 245 orang. Informan dalam penelitian ini yaitu Sekda. dan anggota DPR. Lurah. Analisis data mengkuti anjuran Bogdan dan Bilken (1990) yang mencakup kegiatan-kegiatan menelaah data. anggota DPRD.3. dijadikan akan dijadikan situs dalam penelitian ini. membaginya dalam satuansatuan yang dapat dikelola. Pencatatan data dilakukan dengan memanfaatkan bentuk catatan lapangan. dokumentasi (official and personal documentation). Jumlah keseluruhan rsponden yaitu 11 x 20 = 220 orang ditambah 25 satker provinsi.

menganalisis kasus negatif dan (f) melakukan penafsiran data (Maleong. (e) dilakukan pemeriksaan untuk memperoleh keabsahan data melalui pengamatan yang lebih teliti. (b) data yang sudah terkumpul direduksi sehingga tersusun secara sistematis. Untuk memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian dilakukan kredibilitas data (internal validiti) transferbalititas (exsternal validity). (c) pertanyaan apa yang perlu dijawab. dependebilitas (realibility) dan konfirmabilitas (objectivity) (Nasoetion. 1988:30) Proses analisis data dilakukan melalui prosedur : (a) penelaahan data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber data.Analisis data tersebut akan mengungkap : (a) data apa yang perlu dicari. Maleong. 21 . 1990). (c) data yang sudah tersusun dibuat kategorisasi (d) satuan data yang sudah dikategorisasi diberi kode tertentu. trianggulasi dengan sumber data. 1990:198). mendiskusikan hasil sementara dengan sejawat. dan (e) kesalahan apa yang harus diperbaiki (Nasoetion. teori dan metode penelitian. (d) metode apa yang harus dipakai untuk mencari informasi baru. (b) hipotesisi apa yang perlu dites. 1998).

2. Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 merupakan Keresidenan Lampung. Selanjutnya Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung tersebut berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 24 tahun 1983 diganti menjadi Kotamadya Bandar Lampung terhitung sejak tanggal 17 Juni 1983. luas wilayahnya 3.78 Km2 terdiri dari 17 (tujuhbelas) kecamatan. 3. dan Undang-Undang Nomor 14 tahun 1964 ditingkatkan menjadi Propinsi Lampung dengan Ibukota Tanjungkarang-Telukbetung. luas wilayahnya 2. Kabupaten Tanggamus dengan Ibukotanya Kota Agung.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Otonomi Daerah Provinsi Lampung memiliki wilayah daratan seluas 35.61 Km2 terdiri dari 24 (dua puluh empat) kecamatan. luas wilayahnya 4.BAB IV HASIL DAN ANALISIS PEMBAHASAN 4.950.356. Secara administratif Propinsi Lampung dibagi dalam 14 (empat belas) Kabupaten/Kota.89 Km2 terdiri dari 24 (dua puluh empat) kecamatan. yang selanjutnya terdiri dari beberapa wilayah Kecamatan dengan perincian sebagai berikut : 1. 4. Kabupaten Lampung Selatan dengan Ibukotanya Kalianda. termasuk pulau-pulau kecil. yang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1964.288. Secara administratif saat ini wilayah Provinsi Lampung terbagi menjadi 14 kabupaten/kota.40 Km2 terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan.337.35 km². Kabupaten Lampung Timur dengan Ibukotanya Sukadana. 22 . Kabupaten Lampung Barat dengan Ibukotanya Liwa.080. luas wilayahnya 4.

masalah keadilan dan demokrasi. 7. 8. 12. Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu terdiri atas 8 (delapan) kecamatan yang wilayahnya adalah sebagian dari wilayah kabupaten induknya yakni Kabupaten Tanggamus.84 Km2 terdiri dari 24 (delapan belas) kecamatan. ketenagakerjaan. luas wilayahnya 4.921.63 Km2 terdiri dari 16 (enam belas) kecamatan. Kabupaten Pesawaran dengan ibukotanya Gedong Tataan. luas wilayahnya 3.789. 14. luas wilayah 192. Di antara berbagai masalah pembangunan yang ada masalah keamanan dan ketertiban. Berbagai program pembangunan terus dilakukan guna mengatasi berbagai masalah khususnya yang sedang dihadapi Provinsi Lampung. Kabupaten Tulang Bawang Barat ibukotanya Panaragan terdiri atas 7 (tujuh) kecamatan yang luas wilayahnya juga merupakan bagian dari kabupaten induknya yakni Kabupaten Tulang Bawang. Kota Metro dengan ibukotanya Metro. pendidikan.725. luas wilayahnya 7. Kabupaten Lampung Utara dengan Ibukotanya Kotabumi.82 Km2 terdiri dari 27 (dua puluh tujuh) kecamatan. 11. Keberhasilan pelaksanaan program penanggulangan permasalahan tersebut perlu diketahui agar permasalahan pembangunan dapat segera diatasi.96 Km2 terdiri dari 13 (tiga belas) kecamatan.770. luas wilayahnya 1100 km2 terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan.5. Kabupaten Mesuji dengan ibukotanya Mesuji terdiri atas 7 (tujuh) kecamatan yang luas wilayahnya merupakan bagian dari kabupaten induknya yakni Kabupaten Tulang Bawang.79 Km2 terdiri dari 5 (lima) kecamatan. luas wilayahnya 2. Kabupaten Tulangbawang dengan Ibukotanya Menggala.63 Km2 terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan. serta kesejahteraan rakyat (termasuk kemiskinan. Kabupaten Lampung Tengah dengan Ibukotanya Gunung Sugih. 23 . Kota Bandar Lampung dengan ibukotanya Bandar Lampung. Kabupaten Way Kanan dengan Ibukotanya Blambangan Umpu. luas wilayahnya 61. kesehatan. 13. 9. dan lingkungan) merupakan masalah pokok yang dihadapi oleh Provinsi Lampung. 6. 10.

kualitas SDM. Perubahan kewenangan daerah yang lebih besar. pemerintah daerah praktis mempersiapkan berbagai regulasi dan perubahan kelembagaan di daerah. Propinsi Lampung dan juga propinsipropinsi lainnya disibukan dengan penyesuaian paradigma baru pemerintah daerah. serta tingkat kekayaan sumber daya alam masing-masing daerah. tidak kurang terdapat 7 wilayah kabupaten baru yang diusulkan untuk dibentuk menjadi daerah otonom baru. Provinsi Lampung yang berada di pintu gerbang selatan untuk memasuki pulau Sumatera. Dalam masa transisi berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 dan diperbiki dengan UU Nomor 32 Tahun 2004. Tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah. memiliki sumber daya alam.Berlakunya UU Nomor 32 Tahun 2004 telah mengubah paradigma hubungan pemerintah pusat dan daerah yang menciptakan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. antara propinsi dan kabupaten/kota dan antara kabupaten/kota masih mewarnai kondisi awal RPJM di Propinsi Lampung. HAM. termasuk persoalan-persoalan demokrasi. Propinsi Lampung juga disibukkan dengan pemekaran wilayah. sehingga pemerintahan baru yang terpilih melalui DPRD tidak dapat optimal melaksanakan pembangunan daerah. Sumber daya alam dan penduduk yang beragam ini merpakan potensi daerah yang dapat dijadikan modal peningkatan pembangunan daerah Lampung. sebagai Propinsi yang cukup dekat dengan Ibu Kota Negara tentunya menjadikan daerah ini sangat dipengaruhi oleh suasana kekuasaan negara. Desentralisasi dan otonomi daerah sejalan pula dengan prinsip demokrasi yang menghargai keragaman berdasarkan tingkat kemajuan ekonomi. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah pada dasarnya adalah upaya penyempurnaan dari kebijakan masa lalu yang bersifat sentralistik. Pada masa transisi wewenang daerah ini. 24 . penduduk yang cukup banyak dan beragam. belum lagi pada awal Tahun 2004 Propinsi Lampung masih diwarnai dengan sengketa Pilgub. sehingga eforia otonomi daerah benar-benar meninggalkan pembangunan daerah. otonomi daerah dan desentralisasi.

yaitu Kabupaten pesawaran. Kabupaten Lampung Selatan 1 daerah pemekaran. dekonsentrasi dan asas tugas. sampai tahun 2008 tidak kurang terdapat 5 kabupaten merencanakan pemekaran wilayah.Seiring dengan perjalanan waktu kelembagaan pemerintahan daerah Lampung mulai tertata.2 Deskripsi Pelaksanaan Otonomi Otonomi Daerah di Lampung 4. yaitu Lampung Barat merencanakan pemekaran 1 kabupaten. Kabupaten Mesuji dan kabupaten Tulang Bawang Barat yang merupakan pemekaran dari kabupaten Tulang Bawang. yaitu kabupaten Pringsewu. Kabupaten Tulang Bawang merencanakan 2 daerah pemekaran. kabupaten Lampung Tengah 2 daerah pemekaran.1 Pelaksanaan Kewenangan Daerah Tabel 1. juga sudah memperhatikan memperhatikan prinsip demokrasi.2. yaitu Kabupaten Lampung Tengah Timur dan Lampung Tengah Barat. yaitu pemekaran Kabupaten Lampung Barat. Proses pemekaran kabupaten ini ada yang hanya berhenti sampai pada tingkat studi kelayakan. dan terdapat yang telah disetujui dan telah ditetapkan dengan UU. yaitu Kabupaten Pesawaran yang merupakan pemekaran Kabupaten Lampung Selatan. tugas dan fungsi badan dan dinas daerah mulai dapat berjalan dan seiring dengan tertatanya kelembagaan daerah dengan kewenangannya. pada tingkat proses lebih lanjut di Jakarta. 4. yaitu kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang Barat. Pelaksanaan Kewenangan Pemerintah Daerah No 1 Daerah Provinsi Lampung • Pelaksanaan Kewenangan Prinisp dasar dalam pelaksanaan ototonomi kewenangan pemda Provinsi sudah terakomodasi dalam asas desentralisasi. keistimewaan dan kekhususan serta potensi 25 . Kabupaten Tanggamus merencanakan 1 daerah pemekaran. yaitu Kabupaten Pesisir Selatan. dan Kabupaten Pringsewu merupakan pemekaran Kabupaten Tanggamus. APBD Lampung meningkat dari tahun ke tahun dan pembangunan mulai berjalan dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. yaitu Kabupaten Lampung Tengah. pemerataan. Dalam konteks pembentukan otonomi daerah baru.

No Daerah • Pelaksanaan Kewenangan dan keanekaragaman daerah. hanya memerlukan penguatan kapasitas daerah untuk melaksanakannya Sudah sesuai karena kewenangan daerah yang diatur dalam UU 32/2004 tetap memungkinkan adanya kontrol oleh pemerintah pusat dalam menjaga konsistensi dan • • • • • • • 2 Bandar Lampung - 3 Lampung Tengah - 26 . karena masih ada kewenangan daerah yang masih dilebihi oleh pusat Sudah cukup. hanya pengelolaan resources pada pasal 18 misalnya perlu dibantu dengan human resources yang profesional agar dapat mensejahterakan penduduk daerah Sudah sesuai dengan aspirasi.38/2007 Belum. tetapi dalam pelaksanannya diperlukan peraturan pelaksanaan dan pengawasan Sudah sesuai. ini dapat dilihat semakin menurunnya konflik antara daerah dalam hal pelaksanaan kewenangan Sudah. karena pembagian urusan antara pemerintah provinsi maupu kabupaten/kota sudah diperjelas melalui peraturan pemerintahan No. Kewenangan sejalan dengan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Meskipun ada kewenangan tetapi tetap ada batasnya dalam konteks pertanggungjawaban kualitas kewenangan itu Seluruh aturan pembagian kewenangan sudah jelas namun implementasinya terkadang masih tarik ulur oleh sebab dominasi pemerintah pusat yang masih tinggi dan ketergantungan pemda ke pemerintah pusat yang masih tinggi pula Kewennagan dapat mengakomodir kepentingan daerah Kewenangan 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan telah cukup untuk mangakomodir pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat Sudah karena pokok-pokok kewenangan sudah terperinci dan mempertimbangkan pasitas daerah dalam menjaga NKRI Untuk masalah keuangan. kewenangan pemerintah pusat masih sangat besar Secara normatif sudah tetapi secara substansial belum karena masih banyak aturan-aturan yang tidak sinkron satu dengan yang lain dan seringnya perubahan aturan oleh sebab kepentingan Sudah tinggal pada tingkat operasional perlu ditingkatkan dan intensifkan dengan dukungan petunjuk teknis pelaksanana yang tegas dan jelas Sudah banyak/sebagian kewenangan pusat sudah diserahkan ke daerah (pegawai) Sudah sesuai dan dapat mengakomodasi kepentingan daerah.

Selain itu pelaksanannya terkadang menyimpang dari prinsip otonomi daerah yakni ketergantungan yang besar kepada - 4 Lampung Selatan - 5 Way Kanan - 27 . provinsi dan kabupaten/kota Sudah sesuai dengan aspirasi daerah. Masyarakat bukan sebagai subyek tetapi obyek dari otonomi daerah. Belum. Akibatnya keberadaan masyarakat yang berotonomi menjadi bersifat pinggiran. Termasuk program pertanahan dan statistik Belum. tetapi dalam hal perimbangan keuangan daerah belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan diamanatkan oleh otonomi daerah Belum. namun masih perlu diberikan kelonggaran bagi daerah untuk menggali PAD yang lebih luas Sudah dalam hal tertentu.No Daerah - Pelaksanaan Kewenangan pelaksanaan kewenangan itu Masih ada yang belum sepenuhnya memenuhi aspirasi daerah Belum terutama tentang pajak daerah (pajak produksi dan pajak ekspor) Pemda sama sekali tidak mendapatkan apaapa Belum. tetapi dalam pelaksanaannya masih berdasarkan kepentingan baik legislatif maupun yudikatif di daerah Sudah sesuai karena sistem pembangunan yang digunakan adalah bottom up planning selain kewenangan mengatur rumah tangga sendiri yang dimiliki daerah Terlalu banyak yang mengatur karena masalah kepentingan Kewenangan belum linier dan hierarkis antara pemerintah pusat. akan tetapi belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan daerah karena kewenangan tersebut masih terbatas pada-hal-hal yang tetap harus mendapat persetujuan pusat. karena pemerintah daerah belum mampu membiayai secara keseluruhan program pembangunan bidang kesehatan Sudah sebagian tetapi ada sebagian aspirasi daerah belum terakomodasi dalam UU 32/2004 Sudah. Desentralisasi dicerna sebagai penyerahan wewenang pemerintahan dari elit politik nasional kepada elit lokal. karena bagian terbesar anggaran terserap bukan untuk layanan publik tetapi untuk membiayai birokrat dan anggota DPRD Telah cukup mengakomodir kepentingan daerah. Karena beberapa program kesehatan yang seharusnya menjadi wewenang daerah masih dilaksanakan pusat dan provinsi. Ketiadaan visi di kalangan elit lokal mengenai otda untuk menyejehterakan masyarakat melalui pemberian layanan publik berakibat pada kemerosotan layanan publik.

karena memihak kepada masyarakat terlebih dalam pelayanan yang diberikan pemerintah sebagai pemberi jasa ( 2 responden) Sudah karena secara detail sudah menunjukkan adanya pembagian kewenangan sehingga semua aspirasi daerah dapat dilakukan melalui kewenangan itu Sudah secara normatif namun secara implementatif.No Daerah - Pelaksanaan Kewenangan pemerintah pusat ( 5 responden) Belum sesuai. ada keterbatasan pada kabupaten untuk dapat menjalankan semua aspirasinya Pembagian kewenangan sudah jelas. politik dan sosial budaya. namun kewenangan tersebut tidak diikuti oleh dukungan anggaran yang cukup dari pusat sedangkan kabupaten memiliki keterbatasan dalam hal anggaran UU 32 sudah sejalan dalam konteks NKRI. Sangat baik. kadang kewenangan pemerintah yang dimiliki oleh pusat tidak sesuai dengan aspirasi daerah yang ingin memperoleh kepastian kewenangan lebih optimal. Dalam UU 32/2004 sudah memberikan porsi kewenangan yang bagus kepada daerah dengan urusan wajib dan urusan pilihan Sudah sesuai dimana pembagian kewenangan tersebut - - - 6 Tulang Bawang - - - 7 Lampung Timur - - - 28 . namun secara teknis hal ini masih sering berbenturan yang muaranya berujung pada kewenangan penganggaran dan kapasitas keuangan terutama provinsi dan kabupaten/kota yang rendah untuk menjalankan kewenangan itu Sudah karena kepentingan darah minimal dapat dilihat dari aspek ekonomi. artinya meskipun ada aspirasi daerah namun kerangka negara kesatuan harus dijaga bukan seperti UU 22/1999 yang seolah-oleh membuat kabupaten/kota berdiri sendiri UU 32/2004 sudah relatif lebih jelas pembagian kewenangan dan sesuai dengan aspirasi daerah namun terkadang masih ada aturan dari pusat yang justru membatasi aspirasi itu dengan sekian banyak regulasi dari pemerintah pusat Secara normatif sudah ada pembagian kewenangan antara pusat. sehingga pemerintah pusat terkadang masih terlalu arogan Belum sesuai terutama karena batas kewenangan masih banyak memunculkan penafsiran yang ganda yang justru emmbuat pemerintah pusat tetap melakukan pengaturan kewenangan untuk pemerintah daerah Belum sesuai disebabkan prinsip otonomi daerah masih setengah hati oleh sebab kewenangan besar ke daerah tetapi kelembagaan di pusat terlalu gemuk yang berimplikasi pada anggaran pusat yang lebih besar. provinsi dan kabupaten/kota.

minyak dll pembagiannya harus dipertimbangkan kembali (7 responden) Sudah.khususnya dalam mengelola pandapatan daeah yang bersal daridana perimbangan (DAK dan bagi hasil). belum guru. jelas tidak adil. tetapi memerlukan kerja sama antar daerah yang selama ini tidak pernah terlaksana dengan baik baik antara kabupaten/kota dengan kabupaten/kota lain maupun antara kabupaten/kota dengan provinsi Dari sisi kewenangan antar daerah sudah cukup jelas. Begitu juga pembagian SDA seperti batubara.No Daerah Pelaksanaan Kewenangan pemerintag kabupaten dapat menjalankan otonomi seluasluasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan Belum. setiap daerah dapat mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai urusan pilihan yang menjadi fokus pembangunan dan ciri khas daerah - - - 8 Metro - - 9 Lampung Barat - - 10 Lampung Utara - 29 . selain itu misalnya masalah pendidikan. karena setiap kebijakan yang berkaitan dengan belanja publik selalu tidak sama sehingga menimbulkan kecemburuan antar daerah Belum seluruhnya sesuai dengan aspirasi daerah karena beberapa kewenangan yang ada di daerah masih merupakan kewenangan pusat sehingga beberapa permasalahan di daerah yang merupakan kewenangan pusat tidak dapat daerah selesaikan. namun pola kerja sama antar daerah belum diatur secara khusus padahal hal ini menjadi kata kunci dari berjalannya kewenangan daerah Belum. karena hampir semua urusan pemerintahan telah diserahkan ke kab/kota dan kewenangan yang diberikan kepada daerah sudah mencakup aspek penyelenggaraan pemerintah daerah ( 5 responden) Sudah. dll. belum guru. dan di sisi lain pemerintah pusat juga belum bisa menyelesaikan Sudah. standarnya harus disamakan. dll. minyak dll pembagiannya harus dipertimbangkan kembali (7 responden) Sudah. karena hampir semua urusan pemerintahan telah diserahkan ke kab/kota dan kewenangan yang diberikan kepada daerah sudah mencakup aspek penyelenggaraan pemerintah daerah ( 5 responden) Belum. standarnya harus disamakan. jelas tidak adil. fasilitasnya saja sudah beda.khususnya dalam mengelola pandapatan daeah yang bersal daridana perimbangan (DAK dan bagi hasil). fasilitasnya saja sudah beda. selain itu misalnya masalah pendidikan. Begitu juga pembagian SDA seperti batubara.

tetapi daerah tetap memiliki kewenangan. Belum secara rinci mengatur tentang standar minimal dan standar maksimal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dikaitkan dengan kewenangan yang dimiliki daerah sehingga memunculkan penafsiran yang berbeda.No Daerah - Pelaksanaan Kewenangan Telah sesuai sebab di luar urusan wajib pemda mendapat urusan pilihan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Secara kuantitas kewenangan yang telah diberikan kepada daerah telah sesuai atau mewakili aspirasi daerah tetapi secara kualitas kewenangan yang diberikan tersebut belum dapat mengakomodasi kepentingan daerah terutama mengenai sumber-sumber pembiayaan daerah Ya sudah. Sudah. karena wewenang yang diberikan kepada daerah cukup besar tetapi tidak didukung oleh alokasi pendanaan yang proporsional dalam memenuhi kewenangan yang besar tersebut. namun ada urusan pilihan yang dapat disesuaikan dengan potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh daerah. namun pengaturannya belum detail sehingga menimbulkan penafsiran yang berbedabeda. akuntabilitas dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan Sudah sesuai dengan kepentingan daerah ketika pemahaman akan kewenangan ini dibingkai dalam NKRI Sudah secara normatif semua urusan dan tanggung jawab dalam melaksanakan aktifitas pembangunan dan pemerintahan sudah diatur. karena semua kewenangan pemerintahan ada di kabupaten/kota kecuali kewenangan yang diatur dalam PP 25/2000 Belum karena kewenangan yang diberikan ke daerah terkadang masih sama dengan kewenangan yang diberikan ke provinsi dengan pembatasan yang belum jelas Sudah karena pembagian urusan kewenangan pemeirntah telah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. sedangkan urusan pilihan - 11 Tanggamus - - - - - - 30 . apakah kewenangan itu sama dengan tanggung jawab sehingga banyak daerah merasa berwenang dalam meminta alokasi anggaran tetapi lemah dalam tanggung jawab melakukan fungsi-fungsi pemerintahan di daerah dalam mendukung fungsi dan kewenangan dari pemerintah tingkat atasnya Sudah diatur dan memberikan keleluasaan kepada daerah. Belum. Belum jelas. Urusan wajib menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan daerah. provinsi dan kabupaten memang harus diatur dan tetap memberikan porsi besar kepada pemerintah pusat karena meskipun otonomi. karena dalam bingkai NKRI pembagian kewenangan antara pemerintah pusat. Alokasi DAU sebenarnya diarahkan untuk membiayai urusan wajib.

hampir sebagian besar daerah berpendapat bahwa pengaturan kewenangan yang diatur dalam UU No. peraturan pelaksana yang tidak sinkron. tetapi pola ketergantungan daerah pada pemerintah pusat masih tinggi. Tabel 2. Sumber : Diolah dari Hasil Penelitian Lapangan. dukungan juklak dan juknis pelaksanaan kewenangan yang masih belum jelas. pertanggungjawaban kewenangan lemah. Penilaian dan pendapat tentang pengaturan kewenangan berdasarkan PP yang berlaku sekarang ? No 1 Daerah Prov Lampung - Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan Sudah cukup baik karena Pemda menyelenggarakan urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan kecuali urusan pemerintah yang memang oleh pemerintah pusat bukan merupakan kewenangan daerah Sudah cukup baik meskipun belum terperinci lebih detail pembagian standar pelayanan minimalnya Secara tegas kewenangan kabupaten/kota dan provinsi sudah jelas namun batasan kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/kota belum secara rinci diatur Jelas namun belum semua urusan disusun SPM nya sehingga penafsiran masih berbeda-beda dalam memaknai kewenangan yang dimiliki Lebih sistematis dan mengurangi perbedaan penafsiran meskipun hal tersebut masih sering terjadi Banyak kewenangan yang tidak diimbangi dengan kapasitas pembiayaan sehingga ketergantungan daerah kepada pusat masih sangat tinggi Secara prinsip sudah cukup ideal namun pengawasan dari - - - - 31 . 2009 Berdasarkan data tabel 1. namun dalam pealaksanannya beberapa persoalan yang dihadapi antara lain : pola kerjasama pelaksanaan kewenangan antara provinsi dengan kabupaten belum terimplementasikan dengan baik. 32/2004 baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota sudah sejalan dengan aspirasi daerah. masih terjadi multi interpretasi dalam memahami pembagian kewenangan dan juga sekalipun kewenangan sudah diberikan kepada daerah.No Daerah Pelaksanaan Kewenangan disesuaikan dengan PAD yang diperoleh daerah. beberapa kewenangan tidak didukungan dengan dana yang memadai.

Dengan PP no. 38 Tahun 2007.No Daerah Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan pemerintah tingkat atasnya terhadap implementasi kewenangan itu masih sangat rendah 2 Kota Bandar Lampung - - Sudah cukup jelas. meskipun masih ada hal-hal yang belum sesuai dengan kepentingan daerah Kewenangan pemerintah pusat dan provinsi sebagai daerah otonom dibatasi. Pemda provinsi dan kab/kota dapat memiliki 14 dinas tetapi PP tersebut belum banyak diikuti dengan aturan dari Depdagri yang memungkinkan adanya sinkronisasi kewenangan itu Perlu penegasan kembali penegasan urusan pemerintahan daerah Sudah baik hanya perlu pembatasan kewenangan dan diikuti dengan komitmen pembiayaan Belum mencerminkan efektif dan efisien karena masih menggunakan model atau pola maksimal dengan penambahan badan dan instansi lain Ada kewenangan kabupaten yang ditarik ke provinsi dan kewenangan provinsi yang ditarik ke pusat Secara normatif sudah efektif sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Sudah sesuai dan mengakomodasi kepentingan sosial Semakin sering pengaturan pembagian kewenangan antara pusat dan daerah justru yang terlihat adalah semakin besarnya dominasi pemerintah pusat karena 3 Lampung Tengah - - 4 Lampung Selatan - - - 5 Way Kanan - 32 . sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang bersifat asumsi-asumsi dari pelaksana Sudah cukup ideal karena sudah mengacu pada aturan yang ada Cukup baik. Perubahan yang terjadi secara cepat dan meluas tentu saja menimbulkan keterkejutan dan upaya penolakan terutama di kalangan perangkat pemerintah pusat Pengaturan yang ada masih cenderung memihak kepada kepentingan pemerintah pusat Sudah cukup ideal. karena hampir mengakomodir seluruh kewenangan yang ada Perlu dikembangkan sesuai dengan kepentingan masyarakat Banyak yang tumpang tindih dengan peraturan yang ada/yang lebih rendah PP 38/2007 ini membagi kewenangan wajib dan kewenangan pilihan urusan wajib adalah urusan yang harus diselenggarakan oleh pemerintah kota karena menyangkut kebutuhan dasar/pelayanan dasar sedangkan urusan pilihan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik daerah Masih perlu dijabarkan lagi.

Seudah baik. jangan hanya mengatur organisasinya saja. karena telah ditetapkan 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. namun kewenngannya mulai dari pusat. 6 Tulang Banwang - - - Sudah cukup ideal karena pembagian kewenangan sudah diarahkan pada fokus dan sektor yang terperinci Ideal karena dengan PP no. Seudah lebih jelas. 38 Tahun 2007 telah mengatur secara detail Sudah ideal karena pemda provinsi dan kab/kota dapat memiliki 14 dinas oleh urusan wajibnya dan urusan pilihan Belum karena PP yang ada tersebut belum banyak diikuti dengan aturan dari Depdagri yang memungkinkan adanya sinkronisasi kewenangan itu Belum karena kewenangan yang diberikan ke daerah tidak didukung oleh kapasitas keuangan yang cukup jadi seolah-olah kewenangan itu adalah beban atau tanggung jawab dan bukan keleluasaan bagi daerah untuk mengelola rumah tangga daerahnya sendiri Bernuansa kembali ke zaman orde baru karena ada pengaturan jenis dinas apa yang harus ada di daerah seharusnya diserahkan saja kepada daerah Meski sudah diatur kewenangan antara pusat. Maknanya secara prosedural kewenangan besar diberikan kepada daerah akan tetapi kebebasan masih dibatasi oleh kewenangan pusat yang ternyata lebih besar Nuansa politisnya lebih kental Cukup baik. namun perlu lebih diperjelas. bila kewenangan itu dilaksanakan dengan efektif dapat meningkatka kesejahteraan rakyat Sudah sesuai dan mengakomodasi kepentingan sosial Pengaturan kewenangan pemerintah pusat tidak konsisten dengan apa yang tertulis (hanya 6 urusan).No Daerah Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan justru pemerintah pusat paling banyak membuat regulasi dalam mengatur daerah dari mulai penganggaran. provinsi/kab dan kota juga harus jelas. Kenyataanya pemerintah pusat masih enggan melepas urusan yang menjadi urusan daerah. provinsi dan kabupaten/kota namun belum sesuai dengan rincian kewenangan yang pasti dan rigit sehingga masih memunculkan penafsiran yang ganda Cukup jelas dan efektif karena sudah dibagi secara tegas Ibarat ayam yang dilepas tetapi kakinya diikat talli. penyusunan program dan sebagainya. PP No. batas kewenangan antara pemerintah privinsi dan kabupaten/kota dengan peraturan-peraturan yang jelas atas batas kewenangan 7 Lamtim - - - 8 Metro - 9 Lampung Barat - - - 33 . 41 th 2007 tentang organisasi perangkat daerah.

provinsi 34 . 38 Tahun 2007 Sudah cukup sesuai karena urusan pemerintah yang menjadi kewenangan pemda telah tertuang secara jelas di pasal 7 di mana tercantum 26 urusan wajib dan 8 item urusan pilihan Baik sebab kewenangan pemerintah daerah dilaksanakan secara utuh. Dengan PP no. 2009 Tabel 3. tetapi tidak ada sanksi dan reward bagi daerah yang berkinerja baik dalam melakukan kewenangan itu dalam hal memberikan pelayanan dan pembangunan di daerah Kewenangan besar di fungsi tetapi secara struktur kewenangan itu pada akhirnya tetap ditentukan oleh pemerintah pusat melalui departemen yang ternyata jumlahnya lebih besar dibanding dinas yang ada di daerah. pembagian kewenangan antara pemerintah pusat. pengendalian dan evaluasi pada semua aspek pemerintahan Memungkinkan adanya keberanian daerah untuk menetpan urusan pilihan namun terbentur oleh aturan dan batasan nama program dan kegiatan yang telah ditentukan pemerintah pusat Pengaturannya masih terlalu umum dan belum detail sehingga aturan turunan masih diperlukan sedangkan hingga kini belum semua aturan keluar yang menyebabkan pembagian kewenangan cenderung hanya formalitas Masih menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda antar daerah kabupaten dan provinsi sehingga pembagian kewenangan belum menjelma di dalam pembagian penganggaran Kewenangan daerah sebenarnya cukup besar tetapi nampaknya lebih berorientasi kepada kewenangan untuk memberikan pelayanan bukan kewenangan untuk mencari dan mengoptimalkan potensi dan keuangan yang ada di daerah karena porsi pemerintah pusat masih lebih besar Kewenangan sudah jelas. Kejelasan. pengawasan.No Daerah - Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan Sudah diatur mengenai kewenangan: menjadi urusan pemerintah daerah Sudah cukup ideal. pelaksanaan. padahal seharusnya kewenangan itu berada di daerah Kewenangan tidak sesuai dengan kapasitas keuangan yang dimiliki daerah dan alokasi keuangan yang diberikan leh pemerintah pusat 10 Lampung Utara - - - 11 Tanggamus - - - - - - Sumber : Diolah dari Hasil Penelitian Lapangan. luas dan bulat yang meliputi perencanaan.

. Sementara. Alasan dan Jenis Tumpang Tindih Kewenangan No 1 Daerah Prov Lampung - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan PP tentang kewenangan daerah sebenarnya sudah tegas merincinya namun implementasinya masih tumpang tindih misalnya kewenangan pengawasan antara instansi pengawas di daerah dan pusat 35 . Propinsi dan Kabupaten cukup jelas. yang seringkali menimbulkan disharmonisasi komunikasi juga berdampak pada masyarakat banyak. pada waktu yang hampir bersamaan. muncul inkonsistensi kebijakan antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah Kabupaten/Kota. peraturan pelaksana satu undang-undang bisa saling bertentangan. Peraturan ini melarang adanya dana pndamping bagi tugas kegiatan tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi di daerah. Misalnya Permenkeu 156 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.dan kewenangan kabupaten/kota No 1 2 3 Kategori sasi Jawaban Kewenangang Cukup Jelas Terjadi Tumpang Tindih Lainnya…. Sebagai akibat perbedaaan kepentingan dan kebijakan kabupaten/kota dengan provinsi.33 100 Data pada tabel 3 menunjukkan bahwa sekalipun 60 % menyatakan pembagian kewenangan Pusat. Akibatnya. namun dalam prakteknya masih dijumpai adanya tarik menarik kepentingan dan tumpang tindih kewenangan antara Pusat. Tabel 4. ada Peraturan Menteri Pertanian dan Menteri Pendiidkan yang menghasruskan daerah harus menyimpan dana pendamping (penunjang).66 39. provinsi dan Kabupaten/Kota. Jumlah Sumber : Hasil Penelitian 2009 Jumlah 91 59 150 % 60. Data ini menunjukkan bahwa Di dalam realitas penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih masih muncul kebijakan yang bertentangan antara pemerintah Provinsi dengan pemerintaha Kabupaten/Kota.

Kewenangan dalam bidang mennetukan anggaran Dalam otonomi daerah seharusnya dinas di daerah lebih banyak dibandingkan departemen di pusat sehingga tidak terjadi tumpang tindih. Di daerah sendiri juga tumpang tindih - - 2 Kota Bandar Lampung - 3 Lampung Tengah - - - - - - 4 Lampung Selatan - 36 . antara instansi vertikal dengan daerah masih belum sinkron padahal lokasi dan obyeknya sama Contohnya di bidang administrasi pemerintahan misalnya mutasi pegawai banyak sekali prosedurprosedur yang tidak dijalankan baik oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten Di bidang kewenangan pengelolaan RSBI.No Daerah - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan Pembagian urusan antara provinsi dan kabupaten/kota yang wilayah cakupan kewenangannya belun diatur secara spesifik baik pada urusan wajib maupun urusan pilihan Tumpang tindih misalnya Program daerah diprogramkan yang sama oleh pusat. Kewenangan pengawasan dari Depdagri misalnya terdapat banyak sekali aturan mulai Permen 23. ada dinasi di provinsi dan dinas di daerah dengan tupoksi sama biasanya akan ada tumpang tindihm sebab ada dana APBN dan dana dekonsentrasi yang juga masuk ke daerah tanpa sepengetahuan daerah Dalam hal perizinan. Tarik menarik kewenangan tersebut pada akhirnya hanya merugikan masyarakat Tumpang tindih dan ketidakkonsistenan antara peraturan yang justru berada di instansi tingkat pusat sehingga daerah kebingungan Tumpang tindih dalam penyediaan fasilitas atau layanan umum kepada masyarakat. sementara sekolah punya kab/kota. Di beberapa daerah masih dibentuk badan/bagian pertanahan padahal ada Badan Pertanahan Nasional di daerah sebagai instansi vertikal. masih ada tumpang tindih dan belum ada kejelasan batas kewenangan perizinan antara pemerintah pusat. 24. provinsi dan daerah untuk investasi yang ada di daerah Contoh tumpang tindih bidang pertanahan. Setiap ada departemen di pusat. Terkadang pemerintah provinsi beranggapan di daerah tersebut memerlukan tetapi daerah justru sebaliknya. satu provinsi yang punya kewenangan. 25 dan sebagainya belum termasuk pengawasan dari BPKP Di bidang kewenangan Dinas sosial misalnya antara daerah dan pusat juga provinsi tidak jelas bagian kewenangan mana yang bertanggung jawab terhadap PMKS di daerah. SLBI.

Bidang pertanahan dan bidang pajak Dalam hal penetapan prioritas pembangunan Dalam hal penetapan DAK dan DAU dan perekrutan pegawai Pemberian perintah pelaksanaan kegiatan yang masih dipegang oleh provinsi tetapi pengoprasionalnya daerah kabupaten Dalam hal infrastruktur pembangunan yang mana menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan mana yang menjadi tanggung jawab kabupaten masih tumpang tindih Pada bidang pembangunan di daerah. penyeberangan bakauheni. seperti pembangunan infrastruktur yang tertuju pada kepentingan masyarakat adalah kewenangan pusat tetapi pusat tidak memikirkan Pada penetapan jenis kegiatan dalam usulan kegiatan SKPD yang sudah dibatasi Pada pengelolaan keuangan Kewenangan pertanahan masih tumpang tindih sehingga banyak tanah adat yang akhirnya kebingungan statusnya Kewenangan pertanahan. Kewenangan dinas kesehatan misalnya dalam pengadaan alat medis dan sarana dan prasarana bidang kesehatan yang masih didominasi oleh pusat Terjadi tumpang tindih seperti pengelolaan bandara raden intan. pemerintah pusat sangat lamnbat dalam melakukan sertifikasi padahal daerah secara cepat membutuhkan itu untuk kepastian Urusan perencanaan pembangunan yang masih dibatasi nama program da kegiatannya oleh pemerintah pusat Urusan penanganan bencana.No Daerah - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan selain ada dinas sosial ada juga bagian sosial. tidak ada stok di kabupaten dari pusat atau provinsi sehingga sewaktuwaktu ada bencana kita harus lapor dahulu dan mesti menunggu sementara korban bencana sangat membutuhkan itu secara cepat Urusan keuangan dan pengelolaan keuangan karena semua peraturan masih dipegang pusat ditambah dengan seringnya peraturan itu berubah Kebijakan yang diambil kabupaten belum tentu disetujui oleh provinsi Kewenangan penerimaan CPNSD ternyata tetap - 5 Way Kanan - - - 6 Tulang Banwang - - - - 7 Lamtim - 37 . THR pasir putih yang seluruhnya masuk wilayah Lamsel tetapi justru dikelola oleh provinsi. Kemudian kegiatan-kegiatan pelatihan bencana alam masih dilaksanakan oleh provinsi dan tidak diserahkan kepada lamsel.

provinsi telah melakukan pemeriksaan. karena rentang yang jauh terkadang provinsi kurang memperhatikan. SDA dan pajak: pembagian % daerah dan pusat. tidak perlu ditetapkan 6 urusan saja. Di bidang kewenangan pemeriksaan inspektorta. pemantauan dan pengawasan tata ruang dan pelayanan pertanahan jika dihubungkan dengan kewenangan tentang kawasan sektoral seperti - 8 Metro - - 9 Lampung Barat - - - - - - 10 Lampung Utara - 38 . jika pemerintah pusat masih menangani urusan di luar 6 urusan tersebut. mengapa tidak disebutkan saja di UU 32/2004??kenapa harus mengeluarkan UU yang bersifat sektoral?? Lembaga-lembaga pemerintah. masih banyak jalan yang rusak. kabupaten/kota melakukan lagi Tidak ada. Contoh: urusan jalan. misal di bidang pendidikan.kewenangan maslah PNS Perencanaan. proyek-proyek dari pemerintah pusat masih tumpang tindih Penyelenggaraan pendidikan misalkan kenaikan pangkat tenaga pendidik golonganIII dan IV Di luar 6 urusan yang telah di tetapkan. kesehatan. Kalo memang bid kehutanan masih ingin diatur oleh pusat. provinsi sd tingkat kabupaten masih ada belum keseragaman Pemerintah pusat masih enggan melepas urusan yang menjadi urusan daerah Kewenangan di bidang jlan raya. provinsi dan kabupaten/kota harus detail sekali sehingga tidak membuat bingung Bidang pekerjaan umum: beberapa subbidangpekerjaan umum yang seharusnya menjadi kewenangan /urusan pemerintah provinsi kadang masih dilaksanakan oleh pemerintah daerah. karena pembagian kewenangannya masih memungkinkan terjadinya multi tafsir. begitupun sebaliknya. seharusnya di UU/PP tersebut. rekrutmen PNS pada penetapan formasi. baik yang di tingkat pusat. Seharusnya kewenangan antar tingkat pusat. jalan yang ada di kabupaten Di bidang pendidikan: standarisasi.No Daerah - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan diputuskan oleh pemerintah pusat Dalam perencanaan pembangunan masih sering terdapat program pembangunan yang sama antara pemerintah pusat. provinsi dan kabupaten Contoh tumpang tindih : bidang pertanahan. Masih tumpang tindih. namun dalam penerapannya perlu untuk diperjelas kembali Di bidang PU.

Masyarakat tidak mengetahui secara pasti tentang status jalan apakah milik kabupetan. Sosial. 22/1999 dengan UU No. 32/ 2004 No 1 Daerah Provinsi Lampung UU No. pusat melakukan pendataan daerah juga melakukan pendataan 2. Kesesuaian Kepentingan Daerah antara UU No. 11 Tanggamus - Kewenangan yang masih tumpang tindih : 1.No Daerah Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan kehutanan. Statistik. daerah sering menjadi tempat keluhan tentang lamban dan tidak jelasnya prosedur sertifikasi tanah padahal hal itu kewenangan pusat 6.32/2004 Jelas lebih sesuai UU 32/2004 karena hubungan Pemda dan DPRD merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara & bersifat kemitraan yang maksudnya mitra kerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah sesuai dengan fungsi masingmasing dan saling mendukung bukan merupakan lawan atau pesaing satu sama lainnya dalam melaksanakan fungsi Lebih menjamin dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lebih - 39 . sasaran pembangunan bidang sosial sama antara pusat. provinsi atau pusat 5. Pertanahan.22/1999 UU No.2. provinsi dan kabupaten dengan data yang berbeda-beda 3. Koordinasi instansi vertikal kepada pemerintah daerah rendah padahal obyek masyarakat yang dilayani berada di daerah sehingga masyarakat terkadang menjadi bingung Sumber : Hasil Penelitian 2009 4. pertambangan dan lainnya. masih terjadi tumpang tindih bahwa lokasi proyek di kabupaten ketika pusat mau masuk ternyata sudah dikerjakan oleh kabupaten sehingga anggaran pusat mubazir 4.2 Kepentingan Daerah Tabel 5. Perencanaan pembangunan.

No Daerah UU No. UU 32/2004 lebih memungkinkan daerah untuk mendapat alokasi yang lebih besar dibanding dalam UU 22/1999 Lebih tepat dalam UU 32/2004 karena provinsi kembali memiliki kewennagan untuk melakukan kordinasi dan pengawasan kepada kabupaten/kota Dalam konteks NKRI.32/2004 mendominasi jalannya pemerintahan karena DPRD tidak lagi dapat memberhentikan kepala daerah yang justru lebih didasarkan pada suka atau tidak suka bukan pertimbangan rasional Lebih rasional kewenangannya. UU 32/2004 lebih sesuai karane UU 22/1999 lebih mengarah pada konsep federalismme UU 32/2004 lebih menjamin koordinasi secara bejenjang antara Pemda sebagai sustau sistem pemerintahan dalam wadah NKRI Lebih sesuai UU 32/2004 karena sudah lebih akomodatif dan daerah diberi kewenangan lebih luas dengan disertai hak dan kewajibannya dalam menjalankan otonomi selain itu lebih jelas pembagian antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota - - - - - - - 2 Bandar Lampung Sebagian responden menyatakan lebih memilih UU No 22/1999 sebab kewenangan sepenuhnya diserahkan ke daerah - 40 . Daerah kabupaten/kota tidak terlalu berlebihan dan provinsi masih memiliki kewenangan Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena membatasi anggapan daerah kabupaten/kota yang seolah-olah memiliki keleluasaan kekuasaan untuk mengelola daerahnya secara bebas Tentang demokratisasi jauh lebih masu termasuk dalam menjaga keseimbangan dan sta bilitas jalannya pemerintahan Dalam konteks bagi hasil dana perimbangan oleh potensi daerah.22/1999 UU No.

32/2004 Lebih sesuai dan bisa mengakomodasi kepentingan daerah adalah UU 32/2004 karena pada pasal UU tersebut telah dijelaskan secara rinci dan untuk kepentingan daerah selaku daerah otonom. karena kita NKRI maka tidak mungkin daerah dapat berdiri sendiri karena ada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. .No 3 Daerah Lampung Tengah UU No.Lebih sesuai dalam UU 22/1999 namun dalam pelaksanaanya terjadi kebablasan. Seharusnya UU hanya mengatur hal-hal pokok saja sedangkan urusan teknisnya diatur dalam peraturan pemerintah atau peraturan teknis lainnya Lebih sesuai UU 22/1999 karena kewenangan daerah sebagai daerah otonom lebih luas UU No. Lebih menjamin dalam UU 32/2004 karena lebih detail dan lebih luas dalam menyeimbangkan otonomi daerah dalam kerangka NKRI - 41 . Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hampir 25% dari isi UU 32/2004.22/1999 -Jika berbicara tentang kepentingan daerah ansich maka UU 22/1999 lebih mampu mengakomodir kepentingan daerah secara mandiri. Namun. Salah satu kelemahan UU 32/2004 yaitu terlampau banyak mengatur tentang pemilihan kepala daerah sehingga hal-hal esensial lainnya malah tidak diatur.

No

Daerah

UU No.22/1999
sehingga daerah lebih merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri bukan oleh pemerintah pusat

UU No.32/2004

4

Lampung Selatan

-

Lebih banyak UU 22/1999 yang mengakomodasi kepentingan daerah karena dalam UU 32/2004 ada beberapa batasan kewenangan daerah

-

-

-

Lebih sesuai UU 32/2004 karena UU tersebut sudah bisa mengakomodir kepentingan daerah tetapi harus diimbangi dengan perda-perda disesuaikan dengan keadaan daerah Sebetulnya lebih sesuai dengan UU 32/2004 yang bisa mengakomodir kepentingan daerah karena penjabarannya lebih terperinci dan diberikan kewenangan penuh mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan Lebih sesuai UU 32 tahun 2004 akan tetapi pelaksanaannya masih belum terdapat kepastian dalam arti tidak ada penafsiran ganda Lebih sesuai UU 32/2004 karena lebih mempunyai titik berat ke rakyat, dapat mewakili kebutuhan daerah (7 responden) Jelas lebih sesuai UU No 32/2004, yang lebih mengakomodasi kepentingan daerah. Dengan semangat otonomi daerah ini mewakili pembangunan daerah, tetapi perlu diadakannya pengawasan yang menyeluruh (3 responden) Dalam konteks menjaga stabilitas pemerintahan daerah, UU 32/2004 lebih menjamin terwujudnya tujuan itu UU 32/2004 lebih menjamin adanya kepentingan daerah khususnya dalam hal stabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah Lebih pas UU 32/2004 karena tidak ada raja-raja kecil di daerah

5

Way Kanan

-

-

-

6

Tulang Bawang

Jika kepentingannya adalah otonomi seluas-luasnya maka UU 22/1999 lebih memungkinkan aspirasi daerah secara umum, namun jika kepentingannya

-

-

42

No

Daerah

UU No.22/1999
menjaga negara kesatuan maka UU 32/2004 relatif lebih memungkinkan adanya kesetaraan dan pengakuan bahwa kabupaten/kota berada di bawah koordinasi provinsi dan provinsi berada di bawah kordinasi pemerintah pusat

UU No.32/2004 Lebih sesuai UU 32/2004 karena kepala daerah dan DPRD adalah sederajat sehingga tidak bisa saling menjatuhkan oleh sebab kepentingan pribadi dan golongan terutama parpolnya Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena kepala dearah dipilih langsung oleh rakyat untuk menghindarkan adanya kekuasaan DPRD yang sangat kuat sementara banyak anggota DPRD yang tidak memiliki kapasitas untuk itu. Jika mengacu pada keseimbangan antara kekuasaan legislatif dan eksekutif, maka UU 32/204 lebih mencerminkan dan mengakomodasi kepentingan daerah secara umum dalam bingkai NKRI sehingga menghilangkan raja-raja kecil baik oleh kepala daerah maupun oleh DPRD Pembagian urusan wajib dan urusan pilihan merupakan kelebihan yang ada dalam UU 32/2004 yang dengan urusan pilihan itu daerah dapat berkreatifitas menjalankan kewenangan berdasarkan potensi dan masalah yang dihadapi oleh daerah Kewenangan besar tetapi tetap ada batasannya dalam menjaga NKRI. Oleh karena itu UU 32/2004 dianggap lebih memadai dan selaras dengan otonomi daerah yang tidak seluas-luasnya karena tetap ada batas kewenangan bagi daerah

-

7

Lampung Timur

Jika mengacu pada keleluasaan daerah, maka UU 22/1999 lebih dapat memberikan kewenangan daerah secara optimal namun kekuasaan kepala daerah dan DPRD harus samasama diatur secara ketat

-

-

-

8

Metro

9

Lampung

Lebih sesuai UU 32/2004 karena ada beberapa pasal ya ng telah mengalami revisi sehingga bisa mengakomodasi kepentingan daerah,tetapi ada unsurunsur dalam UU No 22/1999 perlu diadopsi, misalnya jangan sampai UU No.32 tahn 2004 menjadikan kepala daerah sebagai raja-raja kecil di daerah - UU no 32/2004 lebih sesuai karena

43

No

Daerah Barat

UU No.22/1999

UU No.32/2004
UU 22/1999 menjadikan kabupaten/kota memiliki kewenangan, salah satunya penetapan APBD yang tidak perlu disetujui oleh provinsi. Yang lebih sesuai adalah UU No.32 karena kewenangan sudah deperluas dan lebih diperjelas Cenderung hampir sama Keduanya saling mengisi, akan tetapi UU No.32 lebih spesifik pembagiannya tetapi tidak bersifat khusus hanya umum saja Secara umum UU No 32 adalah penyempurnaan dari No 22 tetapi untuk akomodasi kepentingan daerah lebih terakomodasi di dalam UU No 22 UU no. 32/2004, sebab UU NO 22/199 masih dilaksanakan asa desentralisasi dan dekonsentrasi sedangkan perda UU No 32/2004 pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan UU No.22/199 lebih sesuai dan bisa mengakomodasi kepentingan daerah. UU No 32 tahun 2004 UU ini telah mengakomodasi sesuatu yang terjadi pada perda UU No 32/2004 karena UU ini merupakan penyempurnaan dari UU 22/1999, namun demikian penerapan fungsi terhadap pelanggaran dalam pelaksanaan tidak setimpal

-

-

-

-

10

Lampung Utara

- Lebih sesuai UU 32/2004 karena UU
tersebut setiap daerah diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi dan ciri khasnya masingmasing - Lebih jelas dalam UU 32/2004 karena urusan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) terperinci dengan jelas yang terbagi ke dalam urusan wajib dan urusan pilihan

44

karena DPRD tidak serta merta dapat menjatuhkan kepala daerah yang biasanya lebih didasarkan atas kepentingan oknum DPRD bukan kepentingan rakyat. tetapi siapa yang dapat memberhentikan DPRD karena tidak ada mekanisme bagi rakyat untuk memberhentikan DPRD . UU 22/1999 dirasakan lebih menjamin kekuasaan DPRD sebagai wakil rakyat yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja kepala daerah sekaligus menjamin bahwa kepala daerah menjalankan kebijakan yang sesuai dengan harapan rakyat.Lebih sesuai UU 32/2004 karena tekah sesuai dengan perkembangan keadaan.32/2004 .UU 32/2004 lebih menjamin adanya kesadaran bahwa pembangunan daerah adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (eksekutif) dengan DPRD (legislatif) bukan sebaliknya yang biasanya cenderung bahwa DPRD berhak melakukan kontrol seluas-luasnya terhadap kinerja kepala daerah.22/1999 UU No.Lebih sesuai 32/2004 karena memungkinkan adanya prakarsa daerah dalam mengelola daerahnya secara optimal .No Daerah UU No.Bagi provinsi UU 32/2004 lebih sesuai karena tidak menghilangkan fungsi gubernur sebagai kordinator kabupaten/kota.Secara normatif UU 32/2004 lebih sesuai karena bisa mengakomodasi kepengtingan daerah sehingga diperlukan kebijakan /regulas lebih lanjut supaya dapat mengakomodasi kepentingan daerah sesuai dengan tuntutan yang berubah . Dalam persektif otonomi seluasluasnya. . ketatanegaraan dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah 11 Tanggamus Jika melihat kepentingan DPRD.Dalam menjaga keseimbangan dan stabilitas daerah. Kepala daerah dapat diberhentikan oleh DPRD jika kinerjanya buruk. apa yang diatur dalam UU 22/1999 dirasakan lebih sesuai dengan kepentingan daerah yang . 45 . UU 32/2004 lebih dapat menjamin tujuan itu.

Namun dalam konteks NKRI. 22/1999.32 Tahun 2004 cenderung lebih bisa diterima oleh daerah dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. menjamin keterjaminan NKRI. Artinya. UU No.32/2004 dibandingakan dengan UU No. UU No. UU No. dan kewenangan Gubernur untuk mengawasi dan berkoordinasi dengan Pemkab/Kota lebih jelas dan besar. diakui bahwa dengan penerapan UU No.22/1999.32/2004 bisa mengakomodasi kepentingan daerah karena kedudukan DPRD tidak dominan sehingga stabilitas pemerintahan bisa terjaga.32/2004 Sumber : Hasil penelitian 2009 Dari hasil penelitian data pada tabel 5 menunjukkan bahwa kepentingan daerah lebih sejalan dan sesuai dengan UU No.22/1999 begitu besar. sebagian kecil beberapa informan dari Kabupaten/Kota menyatakan bahwa kalau dilihat dari kemandirian Daerah. 22/1999. argumen pokok bahwa UU No. dinilai lebih cocok diterapkan karena UU ini lebih cenderung memberikan proses demokratisasi pemerintahan yang lebih mandiri tanpa harus tergantung pada pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Namun.22/1999. UU 32/2004 lebih sesuai untuk tetap mengedepankan hierarki yang jelas dan tegas bahwa kabupaten/kota berada di bawah struktur provinsi dan pemerintah provinsi berada di bawah pemerintah pusat. Namun. koordinasi antara Daerah Kabu dan Provinsi sulit 46 . sumber pembiayaan dari Pusat lebih besar dibandingkan dengan UU No.No Daerah UU No. Dalam pandangan informan.

administrasi kepegawaian.3 Intervensi Pemerintah Tabel 6. Bentuk Intervensi Pusat pada Daerah No 1 Daerah Lampung Bentuk Intervensi Dalam peencanaan pembangunan karena jenis kegiatan dan programnya sudah ditetapkan dari pusat sehingga kreatifitas daerah menjadi lemah Pembinaan di bidang kepegawaian Dalam evaluasi APBD padahal proses penyusunan di daerah sudah dilakukan melalui tahapan yang lama dan mempertimbangkan berbagai aspek kebutuhan Intervensi langsung dalam bentuk PP dan Permen Intervensi tak langsung dalam bentuk penetapan anggaran alokasi DAK Masih kuat intervensinya misalnya dalam penyusunan 47 . rekrutmen CPNSD. penyusunan (evaluasi Perda APBD).27 26. dan sebagainya (lihat tabel 7). 4. Tabel 7.2.70 100 Sumber : Hasil Penelitian 2009 Dari data pada tabel 6 menunjukkan bahwa campur tangan pemerintah dalam pelaksanaan otonomi daerah masih cukup besar.bisa diimplementasikan sehingga pemerintah kab/kota dengan pemerintah prov berjalan sendiri-sendiri. sehingga derajat otonomi daerah cenderung masih rendah. Campur Tangan Pemerintah Dalam Proses Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Intervensi/Campur Tangan Pusat ke daerah Ya. penetapan DAK dan DAU.01 31. Melakukan Campur Tangan Tidak melakukan Campur Tangan Kadang-kadang Jumlah No 1 2 3 Jumlah 52 32 39 123 % 42. Bentuk intervensi Pusat terhadap Daerah antara lain : dalam perencanaan pembangunan.

atau dengan kata lain tindakan/keputusan yang menjadi kewenangan pemerintah tingkat atas Intervensi pemerintah adalah dalam menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah selaras dengan kebijakan provinsi dan kebijakan provinsi selaras dengan prioritas nasional Perda dalam konteks kewenangan daerah tidak melampauai kewenangan tetap perlu mendapat campur tangan dari pemerintah pusat dalam rangka menjaga agar Perda itu konsisten dengan aturan tingkat atasnya. di bidang kepegawaian kewenangan menetapkan golongan IV c masih merupakan kewenangan pusat sehingga memerlukan jalur birokrasi yang sangat panjang Masalah intervensi pada kewenangan pengangkatan kepala daerah.No Daerah Bentuk Intervensi APBD karena pengaturan penyusunan APBD masih dibatasi oleh nomenklatur yang dibuat oleh pusat Dalam bentuk penerbitan peraturan perundang-undangan Rekomendasi pengangkatan Sekda kabupaten/kota Terutama dalam kebijakan pengangguran Dalam bentuk penyelesaian perselisihan . Hal ini masih terdapat campur tangan dari pihak-pihak tertentu di pemerintah pusat sehingga keputusan akhir tetap ada di pemerintah pusat. Pasal 26 : mestinya tindakan penyelidikan dan penyidikan terhadap kepala daerah tidak perlu izin tertulis dari presiden sehingga tindakan dan kepastian hukum secara cepat dapat dilaksanakan Ada beberapa kewenangan dalam Otda yang masih dipegang oleh pemerintah pusat dan tidak diberikan kepada daerah : 1. Pengalokasian dana DAK dan tugas pembantuan yang sepenuhnya masih diatur oleh pemerintah pusat Adanya keharusan dilakukannya evaluasi APBD yang sudah disahkan oleh DPRD dan pemerintah daerah oleh pejabat tingkat atasnya. Dalam penyusunan DAU pusat bisa mengurangi atau menambah DAU tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan negara 2. Pengaturan dan penggunaan dana DAK dari pusat Pengaturan dalam perencanaan pembangunan dan beberapa kegiatan pemerintah yang harus merujuk pada kepentingan pusat dan terprogram dari pusat Pembuatan Perda dan pelaksanaan Pilkada 2 Bandar Lampung - 3 Lampung Tengah - - - 4 Lampung Selatan - - - 48 . kebijakan anggaran dan sumber daya manusia/aparat.

tapi pada akhirnya dengan tujuan tertentu Penentuan kebijakan pembangunan daerah Seperti kebijakan dalam hal penganggaran untuk daerah dengan kapasitas sebagai pemerintah pusat yang ada di daerah Dalam bidang pembangunan jalan-jalan lintas penghubung atau dalam hal hubungan pembangunan pemerintahan Intervensi penetapan kuota CPNSD padahal yang akan menggaji PNS tersebut adalah daerah meskipun tetap lewat DAU.serta BOS Selalu ikut melakukan yang dalam bahsanya disebut koordinasi.No 5 Daerah Way Kanan Bentuk Intervensi Dalam hal anggaran yaitu besar kecilnya DAK+DAU (2 responden) Tentang usulan atau program yang digulirkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkewajiban untuk melaksanakanya Program pemerintah yang dilimpahkan ke daerah (PNPM mandiri). Seharusnya jika demikian gaji PNS dimasukkan ssaja ke APBN Intervensi dalam penetapan nama kegiatan dan program dalam APBD Intervensi dalam urusan penetapan calon kepala daerah yang diusung parpol seharusnya parpol di daerah tidak mesti harus meminta persetujuan pusat dalam menetapkan calon kepala daerah dari parpolnya Intervensi dalam hal pengaturan bahwa Perda harus dikoreksi oleh pemerintah provinsi sehingga membuat lamban dalam pelaksanaan Perda tersebut Intervensi dalam hal menetapkan alokasi DAU padahal usulan yang dibuat daerah sudah memperhitungkan kriteria-kriteria yang diatur. Ada beberapa kewenangan dalam Otda yang masih dipegang oleh pemerintah pusat dan tidak diberikan kepada daerah : Memerlukan intervensi dalam penyelesaian konflik pilkada yang berlarut-larut di daerah Intervensi dalam pengaturan keuangan yang tidak konsisten Dalam bentuk pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai PP 20 tahun 2001 Intervensi diperlukan dalam rangka menjamin bahwa peraturan di daerah yang ada tidak bertentangan dengan peraturan tingkat atasnya Aturan dari pusat banyak memaksa daerah menyesuaikan 6 Tulang Bawang - - - 7 Lampung Timur - 8 Metro - 49 .

maslah keuangan. Dalam proses pembentukan anggaran dan kepegawaian Kebijakan-kebijakan produk daerah sering tidak dapat berfungsi akibat tidak atau dinilai bertentangan dengan arahan-arahan sektoral/departemen Penentuan jenis pajak dan retribusi daerah Tarif pajak dan retribusi daerah Tumpang tindih dalam aturan keuangan antara Depdagri dan Depkeu Kedudukan peraturan perundang-undangan di tingkat daerah mempunyai hubungan yang sifatnya saling melengkapi dengan peraturan perundang-undangan 9 Lambar - - 10 Lampung Utara - 50 .No Daerah Bentuk Intervensi padahal di daerah tersebut terlalu urgen tapi di pusat diwajibkan. pembagian SDA. sehingga sasaran kegiatan tidak tercapai Dalam hal sengketa pilkada yang kacau Fiskal. dll Penetapan APBD Kadang-kadang terutama dalam hal pembentukan perda yang berhubungan dengan peningkatan PAD. tapi jadinya seolah-olah percuma diterbitkan UU No 32/2004 karena belum sempurna Pemerintah pusat melalui lembaga-lembaganya yang berkompeten di pusat. dan monitir. misalnya bidang penyuluh pertanian Dalam hal penentuan pegawai. pertahanan keamanan dan politik Pengadaan pegawai. tetap mengawasi seluruh kegiatan pemerintahan di provinsi dan kabupaten baik dalam penerapan kebijakan maupun realisasi pelaksanaan. Tetap harus berkoordinasi dengan pusat pemerintah daerah Pelaksanaan program-program yang dibiayai APBN (bersifat Top Down) biaya-biaya yang tidak sesuai dengan kondisi di daerah. karena kewenangan daerah dalm penggalian PAD sangat terbatas PILGUB Lampung Penetapan atau teknis pelaksanaan Evaluasi perda Prosedur perencanaan/pengajuanDAU Campur tangan soal ketahanan dan pertahanan NKRI dan soal agama Seperti dalam penetapan RPBD untuk provinsi masih ada evaluasi mendagri dan untuk kabupaten/kota masih ada evaluasi gubernur Fasilitasi atau advokasi terhadap suatu program pembangunan di daerah Pengelolaan kekayaan alam Dengan menerbitkan peraturan perundang-undangan baru yang tidak selaras dengan UU 32/2004. walaupun intervensi tersebut dibutuhkan.

98 Sumber : Hasil Penelitian 2009 Ternyata dari pendapat responden.70 3. Beberapa alasan mengapa intervensi diperlukan antara lain : menghindari 51 .No Daerah Bentuk Intervensi tingkat pusat. Kemungikinan Diperlukannya Intervensi (campur tangan) No 1 2 3 Kategori sasi Jawaban Intervensi Diperlukan Tidak diperlukan intervensi Lainnya…. Artinya. Jumlah Jumlah 63 46 4 113 % 55.75 40.. 2009 Tabel 8. intervensi tersebut berdasarkan data tabel 8 masih diperlukan sementara yang menyatakan tidak setuju hanya 40. tata cara dan sebagainya dalam berbagai urusan yang terkadang bila tidak sesuai format pusat dianggap sebagai pelanggaran Rekrutmen CPNS yang masih terlalu menunggu keputusan pusat dalam menetapkan kuota Alokasi DAU yang murni merupakan kewenangan pusat padahal jika mengacu pada kriteria yang ada sudah dapat ditentukan besarannya tetapi ternyata tetap membutuhkan intervensi pusat dalam konteks pendekatan daerah kepada pusat Diperlukan apabila ada sengketa di daerah yang berlarutlarut baik sengketa pilkada maupun sengketa antara kabupetan dengan provinsi Kadang-kadang diperlukan untuk menjamin bahwa apa yang akan dilakukan daerah sesuai dengan aturan yang ada di pusat Kadang-kadang diperlukan untuk melakukan fungsi pembinaan dalam rangka menyampaikan ke daerah tentang apa-apa yang baik di daerah lain yang mungkin dapat ditiru oleh kabupaten/daerah lainnya sehingga semua daerah melakukan hal-hal yang dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat - 11 Tanggamus - - Sumber : Hasil Penelitian. 53 99.70 %. daerah tidak dapat mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa sendiri tetapi tetap harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi Bentuk campur tangan atau intervensi seperti adanya pembakuan dari pusat akan model.

yustisi dan agama dikelola bersama-sama antar tingkatan dan susunan pemerintah yang bersifat konkuren sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntabilitas pemerintah terhadap rakyat Tetap diperlukan dalam rangka mencegah adanya penyimpangan daeri daerah baik oleh sebab ketidakpahaman aturan yang kompleks maupun oleh - Alasan Tidak Perlu Tidak perlu sepanjang batas kewenangan antar tingkatan pemerintahan dapat dijalankan secara proporsional Tidak diperlukan karena berdasarkan UU 32/2004 daerah memiliki kewenangan atau urusan rumah tangganya sendiri secara mandiri - 52 . Intervensi tidak diperlukan karena ada Gubenur yang memiliki kewenangan untuk mengkoordinasikan dan mengontrol Kabupaten/Kota. pertanahan. otonomi daerah masih tidak bisa dilaksanakan secara mandiri. Daerah memiliki potensi daerah dan lingkungan sosial-politik yang bisa dikelola secara mandiri tanpa harus terlibat campur tangan Pusat. moneter + fiskal nasional. menjaga keutuhan NKRI. Alasan Intervensi/Campur Tangan Pusat dan Provinsi No 1 Daerah Lampung • Alasan Perlu karena urusan pemerintah mencakup bidang politik luar negheri. beberapa responden yang menyatakan tidak perlu dilakukan intervensi. untuk mensikronkan pembangunan. (Tabel 9) Sementara. keamanan. untuk penyelesaian sengketa/perselisihan antar daerah. karena alasan-alasan sebagai berikut : sepenjang kewenangan dilaksanakan secara proporsional tidak perlu campur tangan Pusat/Provinsi. dan agar perda tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang lebih tinggi. untuk kepentingan pengawasan. untuk pembinaan karier pegawai daerah. dan adanya intervensi membuat Daerah menjadi tidak kreatif dan tidak produktif sehingga harus selalu tergantung pada Pusat (lihat tabel 9) Tabel 9. kondisi keuangan dan perekonomian daerah tidak merata.penyimpangan yang dilakukan oleh Daerah. agar tidak muncul raja-raja kecil.

norma dan standar Diperlukan yang berkaitan dengan keuangan daerah mengingat dinamika politik dan pembahasan di lembaga legislatif terkadang melampauai aspek ketentuan yang digariskan Dalam bentuk bantuan atau apapun ketika bencana terjadi sehingga pemda tidak mampu untuk menyelesaikan Perlu untuk sinkronisasi antar daerah Diperlukan dalam bentuk pembinaan dan pengawasan dalam rangka kesinambungan pembangunan nasional Dalam rangka pembinaan. srana dan SDM Agar tidak timbul seperti raja-raja kecil di daerah yang mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengatur wilayah sendiri Bidang kurikulum dan Alasan Tidak Perlu • • • • • • • 2 Bandar Lampung - - - - - 53 .No Daerah Alasan Perlu kepentingan yang masih terlihat di daerah Masih diperlukan utamanya dalam rangka pembinaan karier pegawai daerah sebagai imbas pilkada yang dilakukan secara langsung Diperlukan intervensi yaitu dalam rangka menjalankan kewenangan. intervensi dalam menjaga keutuhan NKRI dan intervensi dalam rangka memberikan pedoman. pengendalian dan pengawasan di bidang kepegawaian Perlu karena sebagai lembaga yang saling membutuhkan dalam rangaka NKRI Kebijakan pusat dapat membantu daerah yang kekurangan dana.

No Daerah Alasan Perlu peningkatan mutu pendidikan Masih diperlukan terutama dalam rangka pengendalian dan pengawasan keuangan Karena pemerintah daerah belum mampu melaksanakan seluruh kewajibannya tanpa bantuan sesuai dengan UU 32/2004 dari pemerintah pusat Tindakan dan keputusan terhadap masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh intern atau sesama daerah tingkat II yang berdampingan Perlu intervensi berupa subsidi pembiayaan karena pemerintah daerah masih banyak kekurangan dalam kaitan dengan pembiayaan pembangunan daerah Diperlukan dalam rangka mensinkronkan prioritas pembangunan nasional dengan pembangunan di daerah. namun hal ini harus didukung oleh konsistensi anggaran pusat ke daerah atas dasar prioritas itu Intervensi dalam makna positif perlu sebagai bentuk kontrol pemerintah pusat terhadap pemerintah pusat agar pemda tidak salah dalam mengartikan kewenangan dalam pelaksanaan otonomi daerah. Diperlukan dalam hal menetapkan pembagian anggaran antar daerah yang satu dengan daerah yang lain Intervensi pusat masih diperlukan di bidang keuangan dikarenakan daerah banyak yang belum mampu membiayai daerahnya sendiri dikarenakan PAD yang Alasan Tidak Perlu - - - 3 Lampung Tengah - - - - - 54 .

yang ada pemerintah pusat punya kewenangankewenangan dalam hubungannya dengan pemda yang secara jelas diatur dalam UU dan PP - 55 . Alasannya kondisi keuangan dan ekonomi daerah tidak merata sehingga perlu peran pemerintah pusat untuk mengurangi kesenjangan antar daerah Diperlukan intervensi dalam rangka menjaga keamanan daerah Tidak diperlukan intervensi sepanjang kepala daerah dapat bertindak sesuai ketentuan Tidak diperluklan supaya daerah dapat berkembang apabila diberikan keleluasaan.Tidak diperlukan karena sudah ada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah . Yang memiliki rakyat adalah kabupaten/kota sedangkan provinsi dan pusat hanya fasilitator Perlu intervensi agar di daerah tidak muncul rajaraja kecil dan agar program nasional/pusat masih bisa dilaksanakan di daerah supaya masyarakat bisa mendukung program tersebut Perlu intervensi dalam dana DAK sehingga penggunaan bisa lebih terarah Pengaturan di bidang keuangan dan pembangunan Jadi apabila ada sengketa pilkada serahkan saja secara bebas kepada kewenangan yudikatif di daerah sehingga daerah sendiri yang akan bertanggung jawab apabila ada persoalan di kemudian hari karena daerah lebih mengetahui rangkaian persoalan tentang sengketa atau permasalahan itu. Terkadang perlu dan terkadang tidak. Dalam konteks menjaga NKRI perlu tetapi dalam konteks Alasan Tidak Perlu - - - 4 Lamsel - - - .No Daerah - Alasan Perlu masih sangat kecil Diperlukan.Tidak diperlukan karena intervensi tidak punya dasar hukum.

kab/kota tidak menjalankan kebijakannya sendiri sehingga sesuai dengan apa yang digariskan oleh pemerintah pusat Sebagai fungsi kontrol tetap memerlukan intervensi Karena masih banyak daerah yang masih harus diperhatikan oleh pemerintah pusat. Diperlukan agar.No Daerah Alasan Perlu Alasan Tidak Perlu - - 5 Way Kanan - - - - 6 Tulang Bawang - karakteristik dan kearifan yang dimiliki daerah yang berbeda maka tidak perlu adanya intervensi itu.Tidak perlu. sebagai alat pengawasan pemerintahan di daerah supaya pemerintah daerah memanfatkan dana perimbangan dari pusat benar-benar untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. agar pemerintah provinsi. pemerintah menjalankan otonomi secara daerah harus dapat mandiri sehingga perlu tetap mengontrol adanya pengawasan dan kebutuhannya sendiri pembinaan dari pusat Perlu. peraturan . dikarenakan daerah masih ada yang belum mampu berdiri sendiri secara finansial Sebagai controling pemerintah di daerah Perlu. Perlu intervensi dalam pengelolaan anggaran lebih khusus pengelolaan anggaran yang dikucurkan dari pusat Diperlukan untuk menentukan langkahlangkah strategis pembangunan sehingga dapat selaras dan sejalan di semua daerah sehingga pembangunan secara nasional dapat tercapai Daerah masih belum mampu .Tidak perlu intervensi di daerah tidak bertentangan karena ini adalah dengan aturan yang lebih otonomi sehingga 56 .

Tidak perlu intervensi supaya daerah lebih kreatif dan tidak selamanya bergantung kepada pemerintah pusat - - - - 7 Lamtim - . potensi dan masalah yang dihadapi oleh daerahnya .No Daerah - Alasan Perlu tinggi Diperlukan untuk menyadarkan DPRD daerah agar tidak merasa paling berkuasa dalam penetapan anggaran Perlu intervensi agar di daerah tidak muncul rajaraja kecil Intervensi agar program nasional/pusat masih bisa dilaksanakan di daerah dan supaya masyarakat bisa mendukung program tersebut Perlu intervensi karena keterbatasan SDM dan SDA di daerah Intervensi dalam aturan saja sebagai alat pengawasan pemerintah pusat ke daerah agar daerah tidak banyak melakukan penyimpangan Diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan di daerah sehingga ada mekanisme kontrol yang tetap dilakukan dalam menjaga konsistensi antar aturan Diperlukan dalam hal penyelesaian sengketa antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota Intervensi tidak diperlukan sepanjang antara pemerintah pusat.Tidak diperlukan karena pelaksanaan otonomi daerah mutlak dapat dilakukan sesuai kewenangan daerah - - - 57 . provinsi dan kabupaten menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang menjadi kewenangannya dan saling sinergis untuk mendukung pemerintahan tingkat bawahnya Tetap diperlukan karena NKRI Diperlukan agar terdapat keserasian penyelenggaraan pemerinthan dan Alasan Tidak Perlu daerah lebih mengetahui keadaan.

dan jika tdak ada campurtangan akan adanya otoriter di daerah Dalam rangka dukungan pendanaan khususnya bidang pendidikan masih sangat dibutuhkan Intervensi diperlukan untuk sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah Seharusnya tidak. Diperlukan dalam peraturan perundang-undangan agar seragam di seluruh wilayah indonesia Diperlukan dalam urusan tugas pembantuan Perlu dalam hal-hal yang sangat strategis dan sensitis misalnya pethanan. agama Masih diperlukan karena sluruh keberadaan pegawai harus berdasarkan dari pusat. dan terjalin kerjasama yang baik antara daerah dan pusat Cukup grandstrateginya saja oleh pusat. bila pembagian kewenangan di perluas dan diperjelas sehingga daerah lebih leluasa dalam panggilan Alasan Tidak Perlu - 8 Metro - - - - - - - 9 Lampung Barat - - 58 . Untuk pelaksanaan di daerah diserahkan ke daerah masing-masing sebagai kontrol dalam pelaksanan penyelengaraan pem daerah agar penyelengaraan pemerintah di daerah berjalan sesuai keinginan daerah masing-masing NKRI Diperlukan karena daerah belum mampu dalam menjalankan otonomi penuh.No Daerah Alasan Perlu pengelolaan pembangunan daerah dan nasional dengan tidak membatasi inisiatif daerah untuk menggali potensi daerah.

bila kegunaannya untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan agar berjalan baik Agar NKRI ini masih tetap terjag Diperlukan sekali. mengingat keterbatasan dana dan sumber daya manusia di daerah itu yang paling utamadan mendasar Diperlukan dalam pengaturan keamanan daerah Masih sangat diperlukan . pembuatan anggaran daerah tetap harus mengacu pada kemampuan keuangan nasional. terutama yang berkaitan dengan DAU dan DAK Diperlukan khususnya untuk program-program penunjang dan penetaoan standar pelayanan minimal dalam Alasan Tidak Perlu - - - - - - - 10 Lampura - - 59 . agar pemerintah daerah tidak salah dalam melaksanakan tugas pemerintahan Tidak diperlukan. karena daerah sudah mempunyai eksekutif dan legislatif tetapi hasil itu bisa dibatalkan oleh mendagri/gubernur Diperlukan. alasan utamanya untuk menjaga keutuhan NKRI Prinsip otonomi yang diterapkan bukanlah alasan bagi daerah untuk benarbenar melepaskan diri dari pemerintah pusat 100% Keterbatasan kompetensi SDM aparatur pemda dalam penyelenggaran tata pemerintahan di daearah Diperlukan.No Daerah Alasan Perlu PAD tanpa merugikan masyarakat. Intervensi pemerintah pusat tetap perlu dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengendalian/ pengawasan.

Tidak diperlukan pemerintah tingkat atasnya karena otonomi daerah menjadi perlu untuk memberikan mendekati kesempurnaan itu Diperlukan untuk kewenangan kepada memberikan fuingsi daerah seluas-luasnya sepanjang sesuai pengawasan kepada daerah dengan UU sehingga sehingga daerah-daerah tidak kebablasan dalam mengelola intervensi pusat bukan daerah khususnya memungut dalam pelaksanaan pajak dan retribusi atas nama undang-undang atau PAD tetapi jus peraturan melainkan Diperlukan dalam kerangka dalam proses penyusunan yang tidak menjamin bahwa DAU yang memungkinkan daerah dikirimkan ke daerah 60 .No Daerah Alasan Perlu Alasan Tidak Perlu - - - - 11 Tanggamus - - - - upaya untuk tidak terjadinya ketimpangan yang terlalu besar antara satu daerah dengan daerah yang lain sehingga perlu disusun SPM Diperlukan secara gradual sampai akhirnya pemerintah dan masyarakat di daerah dianggap siap menjalankan kewenangan secara maksimal Diperlukan. sebab jika tidak dapat menimbulkan arogansi daerah untuk memobilisasi pendapatan tanpa mempertimbangkan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah Tetap diperlukan supaya pemerintah daerah tidak lepas kontrol karena kita masih terikat dengan NKRI Diperlukan sebagai pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah Sebagai batas-batas agar tidak terjadi penyimpangan Tidak diperlukan Diperlukan untuk menjamin karena setiap aturan bahwa aturan di daerah tidak bertentangan dengan aturan yang ada telah memiliki di tingkat atasnya sanksi sehingga dasar Diperlukan karena tidak ada pengawasan adalah sesuatu yang sempurna sanksi dalam peraturan itu sehingga perbaikan dari .

2. Lebih menjamin UU 32/2004 karena memberikan jaminan kepada DPRD untuk melaksanakan peran dan fungsi yang sesungguhnya sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah Fungsi legislasi. bangunan sejarah. Pendapat/Penilaian tentang DPRD Dilihat Dari Dari Sisi Kepentingan Demokrasi Di Daerah Berdasarkan UU No.4 Kedudukan dan Peranan DPRD Tabel 10.No Daerah Alasan Perlu dipergunakan sebaikbaiknya untuk kesejahteraan masyarakat Diperlukan untuk memberikan kekhususan potensi daerah dimana kekhususan itu dapat terus dipertahankan apabila ada intervensi pusat untuk mengatur dan membantu mengelola (misalnya hutan lindung.Tidak diperlukan karena justru kontraproduktif dengan harapan bahwa daerah dapat kreatif - Sumber : Hasil Penelitian.32/2004 No 1 Daerah Prov Lampung Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena bahwasanya pemerintah daerah terdiri atas gubernur/bupati dan DPRD yang merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan dalam melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing demi kepentingan kesejahteraan rakyat di daerah UU 32/2004 lebih sejalan karena menghendaki agar anggota DPRD juga pro aktif bersama kepala daerah melakukan perencanaan dan pengelolaan pembangunan daerah. 2009 4. tetapi selain peran dan fungsi tersebut juga agak - - - 2 Bandar Lampung - 61 . penganggaran dan pengawasan sudah cukup ideal serta kesadaran bahwa DPRD juga merupakan bagian dari Pemda dalam penyelenggaraan pemerintah daerah sehingga tidak arogan Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena semakin jelas fungsi (berfungsi sebagai check and balances) dan kedudukan DPRD dalam pemerintahan daerah. dan sebagainya) Alasan Tidak Perlu melakukan penyimpangan .

anggaran. hak & kewajiban.No Daerah Penilaian / Pendapat tentang DPRD berlebihan (over acting) 3 Lampung Tengah - - - Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak bisa berbuat arogan dengan memberhentikan kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat. pengawasan dan aspirasi) UU 32/2004 lebih lengkap. Lebih sejalan sebagai fungsi kontrol dan monitoring pembangunan di daerah UU 32/2004 lebih menjamin adanya stabilitas daerah karena DPRD tidak serta merta dapat memberhentikan kepala daerah yang terkadang lebih didasari kepentingan politis Lebih pas UU 32/2004 karena kedudukan DPRD dan kepala daerah sejajar dan tidak bisa saling menjatuhkan Lebih sejalan UU 22/1999 karena dengan UU 32/2004 semakin mempertegas tidak ada lembaga legislatif di daerah Lebih sejalan UU No 32/2004. karena DPRD yang ada di dewan kehormatan adalah wakil rakyat untuk memenuhi kepentingan rakyat Ya. hak dan kewajiban DPRD. jelas dan tegas dalam mengatur tugas dan wewenang DPRD. dalam konteks menghilangkan dominasi DPRD terlalu besar 4 Lamsel - - - 5 Way Kanan - - - - - 62 . pengawasan dan penyalur aspirasi Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lagi memposisikan kepala daerah untuk bertanggung jawab kepada DPRD sehingga DPRD tidak bisa berbuat arogan. Lebih sejalan dengan UU 32/2004 karena demokrasi di daerah tetap harus terkontrol oleh pemerintah pusat oleh sebab kapasitas DPRD di daerah belum seluruhnya memahami seluk beluk fungsi dari DPRD secara maksimal (legislasi. tugas dan wewenang. anggaran. alat kelengkapan DPRD termasuk larangan dan pemberhentian anggota DPRD Lebih sejalan dalam UU 32/2004 karena memuat secara jelas dan konsisten tentang kedudukan dan fungsi. Disebutkan pula bahwa DPRD memiliki fungsi legislasi. sebagai mitra yang mendukung kelancaran pemerintah yaitu hubungan antara eksekutif dan legislatif adalah mitra kerja secara harmonis (5 responden) Hanya sebagian kecil saja dari DPRD karena perilaku anggota DPRD tidak pernah berubah dari masa ke masa terutama pada periode terakhir Kebanyakan dalam kepentingan parpol atau pribadi setiap anggota dewan lebih terlihat dalam pembahasanpembahasan di lembaga Ya.

No 6 Daerah Tulang Bawang Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sejalan dalam UU 32/2004 sebab dahulu banyak anggota DPRD yang semau-mau dalam melakukan penetapan gaji dan tunjangan untuk DPRD sehingga dana daerah banyak terserap hanya untuk membiayai DPRD yang ternyata tidak banyak memberikan manfaat untuk masyarakat Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lagi memposisikan bahwa kepala daerah harus bertanggung jawab kepada DPRD Sesuai dalam UU 32/2004 DPRD tidak bisa berbuat arogan dengan menjadi penguasan bahkan kepala daerah takut dengan DPRD UU 32/2004 membuat DPRD melemah karena tidak memiliki kewenangan untuk memilih dan memberhentikan kepala daerah. anggarananggaran. selain itu dalam UU ini posisi DPRD lebih dominan daripada pemerintah daerah ”legislatif heavy” sehingga tidak sejajar dan banyak anggotanya yang bersikap arogan ke eksekutif Lebih sejalan UU NO 32/2004 karen alegilasi. dan pengawasan pada UU ini kepentingan demokrasi daerah lebih nyata sejalan dengan UU 32/2004 karena peran dan fungsinya kini tidak sangat dominan lagi seperti dalam hal penetapan APBD - 7 Lamtim - - - 8 Metro - - 9 Lampung Barat - 63 . anggaran dan pengawasan dengan batasan yang tidak memungkinkan adanya arogansi Secara prinsip lebih sesuai dengan UU 32/2004 sehingga DPRD tidak serta merta merasa paling berkuasa juga mencerminkan kepentingan masyarakatr bukan hanya kepentingan parpol nya Lebih sejalan UU No 32/2004. Tidak ada yang saling mendominasi dengan peran masingmasing ( 4 responden ) Lebih sejalan karena memiliki fungsi legislasi.karena dalam UU No 22/1999 posisi DPRD terlalu kuat sehingga dapat menimbulkan konflik dan ketidakstabilan jalannya pemerintahan di daerah. sejalan dalam UU 32 tahun 2004 karena meminimalkan dominasi DPRD yang terlalu besar sehingga DPRD tidak hanya mengedepankan kepentingan individu dibanding kepentingan umum dan masyarakat Lebih sejalan dalam UU 32/2004 karena ada keseimbangan antara kepala daerah dan sebagai penyelenggara pemerintah daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD sebagai lembaga yang setara.

Peran dan fungsi DPRD lebih sejalan dengan UU NO 22/1994 karena disana diatur tentang peranan DPRD lebih punya peran Lebih sejalan dengan UU No 32/2004 karena telah sejalan dengan keinginan daerah telah banyak sendi-sendi demokrasi yang dibangun dari UU tersebut contohnya PILKADA langsung Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena mitra sejajar pemda dalam penyusunan program pembangunan dan posisi DPRD dan kepala daerah setara sehingga tidak saling menjatuhkan ( 5 responden) Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena gubernur dan bupati/walikota tidak mesti harus bertanggung jawa kepada DPRD karena gubernur dan bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat Lebih sesuai karena selain posisi yang setara dengan kepala daerah. dan kepala daerah berada dibawah DPRD dan bertanggung jawab kepada DPRD. karena dalam UU ini peran DPRD lebih besar. yang pelaksanaanya sering terjadi penyalahgunaan wewenang No.No Daerah - Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sesuai UU No 32/2004 karena pengaturan antara persetujuan DPRD dan pengawasan DPRD sudah lebih sesuai dan lebih jelas dan lebih demokratis UU No. Lebih sesuai dengan UU 22/1999 karena makna otonomi adalah memberikan kebebasan kepada daerah untuk mengatur dan mengelola daerahnya secara mandiri sepanjang DPRD dan kepala daerah sama-sama menjalankan fungsinya secara ideal dan tidak memposisikan sebagai penguasa tunggal di daerah Lebih sesuai dalam UU 22/1999 karena provinsi tidak perlu terlalu turut campur urusan daerah kabupaten sehingga tidak perlu ada DPRD di tingkat provinsi Lebih sesuai dalam UU 32/2004 untuk menghindarkan adanya raja-raja kecil di daerah yang selama ini terjadi - 10 Lampura - - - 11 Tanggamus - - - 64 . 32/2004 lebih sejalan karena mengatur tentang pemilihan kepala daerah secara langsung. anggaran dan pengawasan Jika dapat dijamin bahwa anggota DPRD adalah orangorang yang benar-benar memiliki kualitas dan pengalaman serta tidak memiliki kepentingan emosional maka UU 22/1999 lebih dapat menjamin demokrasi di daerah karena kepala daerah akan lebih hati-hati dalam menjalankan kebijakan karena DPRD sewaktu-waktu dapat memberhentikan kepala daerah. pada UU No. 22/1999. 22/1999. DPRD juga memiliki kewennagan legislasi. pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD.

bisa menjamin stabilitas dan menghindari konflik kelembagaan antara DPRD dan Pemda.22/1999. Ya sepanjang DPRD melaksanakan fungsi sebagaimana yang diharapkan dengan meminimalkan kepentingan golongan dan pribadinya. Beberapa alasan dan pertimbangan (lihat tabel 10) lebih cocok diatur dalam UU No. bisa menjamin hubungan yang harmonis dengan kepala daerah. - Sumber : Hasil Penelitian 2009. karena dijelaskan dalam UU 32/2004 bahwa kepala daerah maupun DPRD mempunyai peran dan fungsi masing-masing dan merupakan hubungan kerja dalam membuat kebijakan dalam pembangunan daerah yang efektif bukan lawan atau pesaing dalam melaksanakan tugas itu Cukup harmonis dalam konteks hubungan kerja. dan bisa melakukan peran mitra kerja dengan pemda (lihat tabel 10) Tabel 11. namun secara substansial sebenarnya tidak harmonis karena hubungan antar keduanya lebih dodominasi oleh politik dagang sapi. tidak bisa menjatuhkan kepala daerah. tidak dominatif.No Daerah - Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lagi memposisikan kepala daerah untuk bertanggung jawab kepada DPRD sehingga DPRD tidak bisa berbuat arogan dan semau-mau Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena merupakan penyempurnaan dari aturan sebelumnya. antara lain : kedudukan dan peran DPRD lebih jelas. 32/2004. - - 65 .32 tahun 2004 dibandingakan dengan UU No. Hubungan Antara DPRD Dengan Kepala Daerah No Daerah 1 Provinsi Lampung Hubungan DPRD dengan Kepala daerah Sudah harmonis. masih kental dengan kepentingankepentingan partai dari pada membangun pemerintahan Harmonis secara prosedural . Tabel di atas menunjukkan bahwa kedudukan dan peranan DPRD hampir sebagian besar menyatakan lebih cocok diatur dalam UU No.. Ketidakharmonisan terkadan terjadi karena latar belakang politik yang berbeda tetapi secara umum tidak menggangu jalannya pemerintahan Belum harmonis.

bekerja sesuai dengan bidangnya dan berfungsi sebagai pengawas dalam pelaksanaan kebijakan pembngunan Cukup harmonis tergantung masing-masing lembaga memahami fungsi dan peran serta kedudukannya Hubungnnya biasa saja. Terkadang cukup baik dan harmonis asalkan mereka memahami tupoksinya masing-masing 2 Bandar Lampung - 3 Lampung Timur - - 4 Lamsel - - 66 . karena kewenangan DPRD sudah banyak yang dipangkas DPRD terlalu banyak campur tangan khususnya berkaitan dengan urusan teknis di pemerintahan misalnya penunjukan pejabat daerah Harmonis dan tidak harmonis tergantung kepentingan apa yang diharapkan oleh DPRD. pengawasan dan anggaran yang dilakukan DPRD bersama dengan pemerintah kabupaten.No Daerah - Hubungan DPRD dengan Kepala daerah DPRD masih sering tidak bisa menempatkan posisinya secara tepat sesuai tugas dan kewajibannya sehingga kualitas anggota DPRD masih perlu ditingkatkan Seharusnya harmonis kalau ada yang tidak harmonis maka antara DPRD atau kepala daerah pasti mengedepankan kepentingan kelompoknya Hubungan kurang harmonis karena kepentingan politik seharusnya kedua belah pihak komitmen untuk melayani masyarakat Cukup efektif dan harmonis. karena masih terjadi anggota legislatif tidak mengerti fungsinya dan berlebihan dalam mencampuri kebijakan Pemda Secara institusi cukup harmonis dalam menjalankan fungsi legislasi. namun kasus di Lampung Timur jangan sampai terulang akibat berlarur-larutnya ketidakharmonisan antara kepala daerah dengan DPRD DPRD cenderung hanya pandai bicara sedangkan pelaksanaan di lapangan belum tentu sesuai dengan apa yang disampaikan DPRD terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintahan dan pembangunan yang dilakukan eksekutif Kurang harmonis. Karena kadang-kadang untuk memutuskan kebijakan lebih dominan oleh kepentingan politik bukan memikirkan kepentingan rakyat sehingga terdapat kelompok-kelompok tertentu Ya. namun biasanya oknum-oknum anggota DPRD yang membuat hubungan itu terkadang ada kepentingan di balik hubungan yang terjadi Relatif kurang harmonis Tidak.

tapi dalam prakteknya DPRD terlalu banyak mencampuri masalah-maslah yang sifatnya teknis yang sebenarnya secara substansi mereka tidak terlalu paham. Sejauh ini harmonis dengan DPRD dapat sejalan dengan program pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah Cukup harmonis sehingga semua RAPBD di Tulang Bawang dapat dibahas bersama-sama Harmonis tetapi nampaknya karena kepentingan kedua belah pihak dapat sama-sama terakomodir Harmonis karena bupati nampaknya sanggup memenuhi semua kepentingan DPRD sehingga DPRD juga mempermudah urusan-urusan eksekutif Tidak harmonis jika ada kepentingan DPRD yang tidak dapat dipenuhi oleh eksekutif Cukup harmonis. Fungsi legislati belum maksimal karena kemampuan pemerintahan dan pengalaman anggota DPRD masih kurang Sebenernya sudah harmonis. sebagai pengontrol dari eksekutif Lebih banyak tidak harmonis karena kepentingan politik sudah ikut didalamnya. Artinya segala pembangunan diketahui dewan Khusus di Lampung Selatan. karena harus ada kontrol dari DPRD tentang pembangunan daerah serta jalannya pemerintahan. hubungan kepala daerah dengan DPRD sudah berjalan harmonis.No Daerah - Hubungan DPRD dengan Kepala daerah DPRD terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintahan apalagi yang sifatnya politis Cukup harmonis terlihat segala perencanaan yang diusulkan bupati melalui sidang sehingga dapat disetujui oleh dewan. meski DPRD lebih kritis tetapi dengan tujuan baik. DPRD bekerja sebagaimana mestinya dan tidak juga campur tangan dan tidak juga lemah dalam mengawasi jalannya pemerintahan Dalam konteks fungsi pengawasan sudah cukup baik. Perlu. Dan selama ini hubungan ini sudah baik Sudah cukup baik. tetapi sampai saat ini DPRD belum - - - 5 Way Kanan - - 6 Tulang Bawang - 7 Lampung Tengah - 67 . akan tetapi fungsi DPRD sebagai wakil rakyat dalam rangka menyusun dan memprioritaskan anggaran pembangunan belum begitu maksimal. Hanya terkadang DPRD tidak terfokus dalam menontrol pemerintah daerah dan pembangunan Cukup harmonis.

Apakah dia merupakan pembina/pemimpin partai mayoritas di DPRD Cukup harmonis. tapi tergantung dari kepala daerahnya. sangat tergantung masing-masing pihak memahami tugas masing-masing. Cukup harmonis.No Daerah Hubungan DPRD dengan Kepala daerah maksimal dalam melaksanakan kontrol terhadap pemda dan pembangunan. Peran DPRD cukup persetujuannya saja. terkesan lebih kepada deal2 tertentu untuk menjaga keharmonisan tsb sehingga dapat membangun daerah dengan efektif dan efisien Kurang efektif. namun terkadang DPRD sering kebablasan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya contohnya dalam hal pengawasan hasil pembangunan sampai kemasalah teknis Sangat baik sekali khususnya di lambar. karena segala kebijakan yang pro rakyat seluruhnya didukung oleh DPRD Seringkali DPRD bersikapover acting terhadap kepala daerah. sehingga sering terjadi dishrmonisasi dan terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintaha dan pembangunan Masih kurang harmonis. banyak DPRD yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan kepentingan parpolnya DPRD terlalu banyak campur tangan dan mengontrol urusan pemerintahan dam pembangunan meskipun secara filosofis pengontrolan itu tidak didasarkan atas pengetahuan dan argumentasi yang kuat Masih banyak terjadi inkonsistensi antara pembagian peran antara eksekutif dan legislatif yang pada akhirnya dominasi legislatif nampak lebih dominan Kurang harmonis karena tidak profesionalnya anggota DPRD Cukup harmonis. namun fungsi DPRD sebagai wakil rakyat perlu lebih diperkuat Berjalan dengan baik Harmonis dalam DPRD bekerja sesuai dengan tipoksinya Cukup harmonis. karena DPRD saat ini banyak campur tangan dalam penyelenggaraan pemerintah daerah Cukup harmonis. karena dPRD terlalu banyak campur tangan dalammengontrol urusan pemerintahan dan pembangunan Tidak terlalu harmonis. namun dalam penyusunan APBD kewenangan DPRD terlalu luas dan agar proses penyusunan di persingkat saja. Karena DPRD terlalu campur - 8 Metro - 9 Lampung Barat - - - - 10 Lampura - 68 .

hubungan DPRD dengan kepala daerah bisa berjalan secara harmonis dibandingkan dengan UU No. 69 . Karena kadang-kadang untuk memutuskan kebijakan lebih dominan oleh kepentingan politik bukan memikirkan kepentingan rakyat sehingga terdapat kelompok-kelompok tertentu dalam DPRD sendiri Tidak harmonis karena kepala dinas juga takut kepada DPRD di sisi lain dia juga takut kepada kepala daerah sehingga terlalu banyak urusan-urusan yang tidak substansial dihabiskan dengan DPRD DPRD tidak kompak dan cenderung memperjuangkan parpol dan kelompoknya sedangkan eksekutif lebih kompak Harmonis.22/1999.No Daerah Hubungan DPRD dengan Kepala daerah tangan dalam mengontrol urusan pemeirntahan dan pembangunan Sudah harmonis terbukti dengan LkPJ bupati selalu diterima oleh DPRD dan pengesahan RAPBD berjalan lancar Terjadi pasang surut tergantung dalam konteks apa hubungan itu terjalin Cukup harmonis. karena semua kebijakan pemda baik anggaran maupun pembangunan merupakan hasil pembahasan bersama antara eksekutif dan legislatif Tidak harmonis. adanya kepentingan politik yang sifatnya personal. terjadi politik dagang sapi. ada kepentingan DPRD yang tidak dapat dipenuhi oleh eksekutif dan DPRD belum profesional. 2009 Data pada tabel 11 menunjukkan bahwa dengan UU No. masih kentalnya kepentingan partai. Ketidakharmonisan ini disebabkan karena karena latar belakang politik yang berbeda tetapi secara umum tidak menggangu jalannya pemerintahan. tidak pernah ada konflik berarti dibandingkan Lampung Timur misalnya 11 Tanggamus - - - Sumber : Hasil Penelitian. karena masih terjadi anggota legislatif tidak mengerti fungsinya dan berlebihan dalam mencampuri kebijakan Pemda. Jika muncul konflik antara eksekutif dan legislatif itu hanya dinamika demokrasi dan proses untuk menuju idealisme demokrasi DPRD lebih dodominasi oleh kepentingan pribadi dan golongan Harmonis.32/2004. DPRD terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintahan.

5 Pemilihan Kepala Daerah Tabel 12.Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) ketika kebutuhan pembangunan daerah yang lain masih sangat besar dan mendesak 70 . sedangkan gubernur/wakil dipilih oleh pusat sebagai perwakilan pusat Dipilih oleh rakyat. untuk rakyat dan oleh rakyat.2. karena pada dasarnya semokrasi dalam artian dari rakyat. Selain itu prinsip demokrasi mendorong akuntabilitas pemerintah terhadap rakyat khususnya di sini adalah daerah Alasan Dipilih DPRD • Lebih baik dipilih oleh DPRD saja dengan catatan anggota DPRD adalah wakil rakyat yang cerdas dan amanah termasuk tidak terlalu membutuhkan banyak dana Untuk provinsi dipilih oleh DPRD dan untuk kabupetan/kota dipilih langsung oleh rakyat • 2 Bandar Lampung Untuk bupati/walikota dan wakilnya sebaiknya dipilih rakyat. karena kalau dipilih oleh DPRD akan terjadi politik uang. dan untuk menjamin otonomi daerah karena pemilihan secara langsungmemberikan ruang kepada masyarakat untuk menentukan siapa pemimpin yang mereka inginkan sebagai perwujudan demokrasi yang memang hak itu ada di tangan masyarakat Dipilih langsung oleh rakyat sehingga kedekatan antara pemimpin dengan rakyat dapat terjalin namun dengan mekanisme yang disederhanakan.4. Bupati/walikota sebaiknya Lebih baik dipilih oleh DPRD selain tidak memakan waktu yang lam adan biaya yang besar. Pendapat apakah kepala daerah dan wakil kepala daerah lebih baik dipilih oleh DPRD atau dipilih langsung oleh rakyat (Pilkada)? No 1 Daerah Prov Lampung Alasan Dipilih Rakyat Lebih baik dipilih oleh rakyat. kepala daerah terpilih lebih cepat dapat melaksanakan tugas dan fungsi tanpa terhambat proses hukum dari pihak yang kalah dan tidak puas akan hasil pilkada : 3 Lamteng .

namun gubernur ditunjuk oleh pemerintah pusat karena gubernur adalah kepanjangan tangan pemerintah pusat di daerah Bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat Gubernur ditunjuk langsung oleh pemerintah pusat. karena lebih demokrasi tetapi jangan menghabiskan biaya yang besar Lebih baik dipilih rakyat. POLRI. tetap pegawai negeri (TNI. Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) ketika kebutuhan pembangunan daerah yang lain masih sangat besar dan mudah dalam pengawasan jika terjadi money politik : -Lebih baik ditunjuk oleh pemerintah pusat. jadi lebih mementingkan kelompok daripada kepentingan daerah 5 Way Kanan Kalau diplih oleh rakyat langsung akan habiskan dana besar. Karena baik pilkada langsung maupun dipilih oleh DPRD akan terjadi banyak kesenjangan dalam memimpin. hal ini juga ditambah oleh argumentasi bahwa konstituen atau pemilih masih bersifat pragmatis : 4 Lamsel Langsung oleh rakyat (pilkada langsung) karena DPRD belum tentu mewakili suara rakyat dengan beberapa catatan misalnya hanya gabungan parpol yang memiliki 35% suara di DPRD yang boleh mencalonkan sehingga Pilkada tidak perlu dua putaran sehingga menghemat anggara Untuk kabupaten/kota kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. kalau dipilih DPRD saya rasa tidak tepat sasaran. jadi ada baik dan buruknya 71 .No Daerah Alasan Dipilih Rakyat dipilih langsung oleh rakyat. dan di tingkat provinsi tidak perlu ada DPRD Alasan Dipilih DPRD sehingga lebih praktis dan ekonomis. Sedangkan gubernur dipilih DPRD atau ditunjuk pusat karena merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat di daerah Kalau kepentingannya demokrasi akan lebih baik dipilih langsung. Lebih baik langsung oleh rakyat. namun kalau kepentingannya adalah penghematan anggaran maka lebih baik dipilih DPRD.

sedangkan pilkada kabupaten/kota dipilih langsung oleh rakyat untuk azas demokrasi Lebih baik dipilih oleh DPRD karena lebih hemat. lebih efisien dan menghindari konflik di masyarakat bawah akibat perbedaan pilihan.No Daerah Alasan Dipilih Rakyat PNS) tidak boleh memilih untuk membuat kondusif pemerintah yang sedang berjalan Lebih baik tetap Pilkada Langsung karena lebih demokratis dan belum tentu DPRD mewakili rakyat secara keseluruhan Alasan Dipilih DPRD 6 Tulang Bawang Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) Lebih baik dipilih DPRD karena masyarakat belum siap Lebih baik dipilih DPRD karena jika ada money politik masyarakat tidak akan terkena hal serupa ( 1responden) Lebih baik DPRD saja asal dengan pemilihan yang tertutup Lebih baik DPRD supaya masyarakat tidak terkotakkotak dan kekhawatiran munculnya konflik di masyarakat dapat dihindari 7 Lamtim Lebih baik dipilih langsung oleh rakyat untuk menjamin terjadinya demokrasi dalam Pilkada Untuk pilkada gubernur ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat. lebih praktis dan tidak terancam disintegrasi dan sesuai dengan asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Lebih baik dipilih oleh DPRD dalam rangka menghindarkan keterlibatan PNS dalam tim sukses calon sehingga berimplikasi pada stabilitas birokrasi dan penempatan pejabat pasca Pilkada Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) 8 Metro Lebih baik langsung oleh rakyat. agar apa yang menjadi aspirasi masyarakat langsung 72 .

jarang sekali yang membawa manfaat. sehingga rakyat memilih menang orang yang benar-benar kapabel Langsung oleh masyrakat sehingga tidak ada money politik. wakilnya dipilih oleh bupati/walikota Alasan Dipilih DPRD ketika kebutuhan pembangunan daerah yang lain masih sangat besar dan mudah dalam pengawasan jika terjadi money politik 9 Lampung Barat Lebih baik pilkada. namun tentunya masih perlu fit dan proper test oleh semacam lembaga. dan karena kita negara demokrasi jadi rakyatnya yang berkuasa bukan kelompok golongan Dipilih DPRD. sedangkan bupati/walikota di tunju oleh gubernur dengan persetujuan DPRD Kab/kota Baik dipilih oleh rakyat. wagub dipilih oleh gubernur. hendaknya dibuka seluas-luasnya calon dari independen Lebih baik dipilih oelh DPRD. bupati/walikota dipilih oleh rakyat. karena unsur money politiknya bisa diminimalkan. lebih banyak membuat konflik. karena berkaca dari pengalaman pilkada yang sudah . Dipilih DPRD karena mindset masyarakat kita saat ini belum siap untuk melakukan pilkada langsung dalam konteks menghindari pragmatisme dan kemunginan konflik di daerah Dipilih oleh DPRD untuk menghindarkan adanya rajaraja kecil dan meningkatkan stabilitas politik di daerah 10 Lampung Utara Dipilih oleh rakyat langsung sebagai cerminan demokrasi 73 . karena DPRD pemimpin wakil rakyat. menurangi krisis legitimasi Gubernur dipilih langsung oleh rakyat. selain itu untuk menghemat biaya Karena DPRD merupakan wakil rakyat. yang bahkan dapat merugikan daerah itu sendiri. maka seyogyangan kepala daerah dipilih oleh DPRD Lebih baik dipilih oleh DPRD mengingat political cost yang besar bila pemilihan langsung. hanya saja perlu dikaji ulang tentang syarat pencalonan melalui parpol.No Daerah Alasan Dipilih Rakyat dapat tersalurkan dan mereka teramsuk yang akan menikmati hasil pembangunannya (5 responden) Gubernur dipilih oleh presiden.

Namun. Mereka yang setuju dengan pemilihan langsung oleh rakyat seperti yang berlaku sekarang ini karena pertimbangan pelaksanaan demokrasi jeuh lebih baik dilakukan secara langsung. menghindari terjadinya praktek politik uang. dsb (lihat tabel 11). responden juga mengajukan beberapa alternative dan varian dalam pemilihan kepala daerah antara lain : 74 .No Daerah Alasan Dipilih Rakyat Alasan Dipilih DPRD Dipilih oleh DPRD untuk menghindari keributan di masyarakat dan menghindarkan pengkotakkotakan PNS Untuk saat ini lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD)dan kebutuhan pembangunan daerah dan masyarakat masih sangat besar dan mudah dalam pengawasan jika terjadi money politik 11 Tanggamus Lebih baik dilakukan secara langsung tetapi dengan mekanisme yang sederhana dan dilakukan serentak dengan pemilu-pemilu lainnnya sehingga lebih hemat anggaran Lebih baik dipilih langsung karena akan dapat menghasilkan pimpinan yang dikenal masyarakat dan memenuhi unsur demokrasi Gubernur sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat ditunjuk oleh presiden. sedangkan bupati/walikota dipilih secara langsung Sumber : Hasil Penelitian 2009 Kepala Daerah dipilih oleh rakyat secara langsung (pilkada lansung) dan Kepala Daera dipilih DPRD cenderung memiliki argumen yang sama-sama cukup berimbang. rakyat punya akses langsung untuk menentukan pemimpinnya. karena DPRD tidak menjamin memenuhi keterwakilan rakyat.

agar tidak terjadi keributan di masyarakat. masyarakat belum siap untuk melakukan pemilihan secara langsung. wagub dipilih oleh gubernur. sedangkan bupati/walikota dipilih secara langsung oleh rakyat. sedangkan pilkada kabupaten/kota dipilih langsung oleh rakyat untuk azas demokrasi (d) Gubernur dipilih oleh presiden.(a) Gubernur sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat ditunjuk oleh presiden.6 Pembuatan Perda Tabel 13. (lihat tabel 12) 4.2. bupati/walikota dipilih oleh rakyat. dan proses pilkada oleh DPRD tidak memerlukan waktu yang lama. Perlu Tidaknya Evaluasi Proses Pembuatan Perda oleh Pemerintah Pusat No 1 Daerah Prov Lampung Alasan Perlu Perlu intervensi agar Perda tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan di atasnya serta tidak terjadi tumpang tindih peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan Masih perlu dalam kaitan menjamin bahwa daerah telah menjalankan prosedur penyusunan Perda sesuai dengan aturan yang ada Sangat perlu dalam rangka pembinaan dan pengawasan demi NKRI Diperlukan untuk menghindari Alasan Tidak Perlu Tidak perlu karena yang tahu permasalahan di daerah adalah daerah sendiri Tidak perlu evaluasi karena menghambat pelaksanaan Perda - - 75 . (b) Bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat Gubernur ditunjuk langsung oleh pemerintah pusat. dan di tingkat provinsi tidak perlu ada DPRD (c) Untuk pilkada gubernur ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat. wakilnya dipilih oleh bupati/walikota Sementara mereka yang setuju kepala daerah dipilih oleh DPRD karena pertimbangan efsiensi anggaran.

agar tidak bertentangan dengan UU diatsnya Selama ini sudah dievaluasi. perda tersebut berkembang dengan pesat atau tidak. agar terdapat kontrol aparat. yang menjadi masalah pembuatan perda kurang memperhatikan substansi untuk itu perlu draf akademi atau seminar-seminar Diperlukan dalam konteks keselarasan aturan antara pusat dan daerah karena terkadang banyak aturan tingkat pusat yang tidak tersosialisasi secara maksimal ke bawah Perlu sekali mengingat SDM di daerah terutama di lembaga legislatif masih perlu ditingkatkan lagi Perlu karena meskipun Perda dibuat oleh daerah namun tetap perlu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dalam rangka peningkatan kualitas Perda bukan untuk pengekangan bagi daerah Masih perlu sebagai kontrol dengan memberikan kriteria evaluasi yang jelas Perlu tetapi dalam bentuk saran yang mengikat serta untuk Alasan Tidak Perlu - 2 Bandar Lampung - - Tidak perlu karena pusat belum tentu lebih memahami karakteristik akan wilayah dan apa yang lebih dibutuhkan dari wilayah tersebut 3 Lampung Tengah - Tidak perlu karena azas otonomi daerah memungkinkan daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri Tidak perlu karena Perda sangat penting bagi daerah dan daerah yang lebih mengerti kondisi daerah - - - 76 .No Daerah Alasan Perlu adanya permasalahan hukum di kemudian hari Perlu agar tidak menggangu kepentingan nasional Perlu agar lebih menghasilkan output yang diharapkan Perlu dalam rangka menciptakan sinergi dan sinkroniasai antara pusat dan daerah Perlu. dan untuk menghindari tumpang tindih dengan peraturan yang lebih tinggi Cukup dievaluasi oleh pemerintah propinsi saja Ya.

Pemerintah pusat cukup memasang rambu-rambu agar tidak tumpang tindih dengan aturan pemerintah pusat Tidak perlu. karena DPRD juga memiliki kewenangan dan fungsi legislasi (membuat undangundang) di daerah Tidak begitu perlu karena peraturan daerah dibuat untuk menyesuaikan kondisi daerah masing-masing yang dianggap perlu/penting (2 responden) Tidak. karena daerah memiliki DPRD untuk mengurus atau merumuskan perda dapat dioperasionalkan Tidak perlu. Perlu untuk mensinkronkan Perda dan PP supaya tidak saling bertabrakan Perlu untuk mencegah kebijakan yang tumpang tindih dan kebijakan yang melanggar aturan di atasnya Perlu untuk mengantisipasi kesalahan terutama mengenai wewenang daerah Ada kasus-kasus eksekutif mendapat kontrol dari DPRD dan adakalanya DPRD kalah dominan dari kepala daerah Sepanjang tidak bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi tidak perlu ada kontrol dari pusat Perlu.No Daerah Alasan Perlu menghindari penyimpangan yang dilakukan kepala daerah demi kepentingan prbadi dan golongan Perlu agar antara peraturan yang ada di daerah tidak tumpang tindih dengan peraturan yang ada di tingkat atasnya (provinsi dan pusat) karena banyak daerah yang membuat Perda dengan kebablasan. untuk menghindari pertentangan antara peraturan yang dibuat oleh negara dengan perda Kadang-kadang perlu. Perda itu adalah peraturan daerah. artinya sebelum ada peraturan daerah pasti ada peraturan pemerintahnya Tidak perlu. karena cukup sampai pemerintah daerah - - 5 Way Kanan - - 77 . kareana perda yang dibuat banyak tidak sesuai Alasan Tidak Perlu 4 Lampung Selatan - - Tidak perlu. karena pemerintah daerah yang tahu daerahnya.

namun laporan berapa jumlah Perda dan substansi Perda tetap harus dilaporkan ke pemerintah pusat Tidak perlu ada evaluasi dari pusat karena pengesahan perda telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan DPRD dan DPRD juga memiliki hak legislasi artinya memiliki kewenangan untuk menyusun peraturan - - - - 78 . Diperlukan mengingat di daerah SDM nya yang memahami peraturan perundang-undangan terbatas sehingga dalam pembuatan Perda tidak maksimal Diperlukan evaluasi oleh pemerintah pusat. hal ini dimaksudkan agar perda yang dihasilkan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan sekaligus sebagai bahan pembinaan dan pengawasan Perlu supaya tidak berbenturan dengan peraturan tingkat atasnya. Hanya tahap-tahap perlu ditinjau lagi.No Daerah Alasan Perlu Alasan Tidak Perlu dan DPRD yang menentukan efektif atau tidak perda tersebut dibuat 6 Tulang Bawang - - Perlu karena kualitas SDM di daerah belum seluruhnya bagus sehingga dikhawatirkan justru Perda tersebut tidak komprehensif Perlu dalam rangka pengawasan dan pembinaan Perlu agar antara peraturan yang ada di daerah tidak tumpang tindih dengan peraturan yang ada di tingkat atasnya (provinsi dan pusat) karena banyak daerah yang membuat Perda dengan orientasi hanya pendapatan bukan pelayanan. Ke depan koordinasi dari tahap pembahasan bersama provinsi Sangat perlu agar rakyat jangan sampai menjadi sapi perahan Tidak perlu karena akan memperlambat pelaksanaan Perda tersebut Tidak perlu karena DPRD juga memiliki hak legislasi sehingga ia juga berwenang membuat aturan (Perda) tanpa harus dievaluasi oleh pemerintah pusat 7 Lampung Timur - Tidak perlu sepanjang Perda yang disusun telah mengacu pada UU dan PP Tidak perlu. selama ini sudah ditetapkan DPRD baru dievaluasi sehingga kemudian harus dirubah lagi. tidak tumpang tindih dan terdapat evaluasi mengenai isi dari Perda tersebut Perda kabupaten/kota cukup dievaluasi di provinsi.

No

Daerah

Alasan Perlu
dengan alasan otonomi daerah dengan menerbitkan retribusi yang membebani masyarakat Perlu karena tanpa pengawasan kemungkinan Perda akan tumpang tindih dan memberatkan masyarakat Perlu intervensi agar Perda tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan di atasnya serta tidak terjadi tumpang tindih peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan Masih perlu dalam kaitan menjamin bahwa daerah telah menjalankan prosedur penyusunan Perda sesuai dengan aturan yang ada Sangat perlu dalam rangka pembinaan dan pengawasan demi NKRI Diperlukan untuk menghindari adanya permasalahan hukum di kemudian hari Perlu agar tidak menggangu kepentingan nasional Perlu agar lebih menghasilkan output yang diharapkan Perlu dalam rangka menciptakan sinergi dan sinkroniasai antara pusat dan daerah Perlu untuk sinkronisasi dan keselarasan dan tidak terjadi tumpang tindih dan agar tidak bertentangan dengan peraturan diatsnya Tidak perlu, bila kewenangan daerah jelas maka perda tentunya sudah sesuai kewenangan, apalagi perda bersifat lokal Sangat perlu agar tidak bertentangan dengan atyuranaturan yang lebih tinggi

Alasan Tidak Perlu

-

8

Metro

-

Tidak perlu karena yang tahu permasalahan di daerah adalah daerah sendiri Tidak perlu evaluasi karena menghambat pelaksanaan Perda

-

-

9

Lambar

-

-

Tidak perlu, cukup evaluasi pemerintah provinsi saja, pemerintah pusat cukup menerbitkan aturan-aturan yang mengatur dan membtasi peraturan daerah saja

-

79

No

Daerah -

Alasan Perlu
Sangat perlu dievaluasi oleh pemerintah pusat sebab banyak perda yang kurang pas karena SDM Perlu dievaluasi karena perda merupakan produk hukum yang ada di bawah. Dimungknkan bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi selain itu masih bnyak pembuatan perda yang justru bertentangan dengan UU Pembuatan perda hanya cukup di evaluasi oleh gubernur saja tidak sampai kepusat Ya, di kab/kota sampai saat ini proses pembuatan perda atas inisiatif dari DPRD belum bisa berjalan atau hasilnya masih dbisa dihitung dengan jari, hal ini masih kurang pemahaman atas pembuatan perda Perlu dievaluasi agar antara peraturan yang ada di daerah tidak tumpang tindih dengan peraturan yang ada di tingkat atasnya (provinsi dan pusat). Dalam hal tertentu masih tetap membutuhkan evaluasi dari provinsi dan pusat Masih perlu, sebab belum semua daerah kab/kota dalam membuat Perda mempertimbangkan berbagai aspek yang timbul akibat penerapan Perda tersebut Perlu dalam konteks mengevaluasi kemanfaatan dan proses penyusunan Perlu intervensi agar Perda tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan di atasnya serta tidak terjadi tumpang tindih peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan

Alasan Tidak Perlu

-

-

10

Lampura

-

Tidak perlu karena Perda telah disusun berdasarkan peraturan yang lebih tinggi

-

-

11

Tanggamus

-

Tidak perlu evaluasi karena menghambat pelaksanaan Perda Tidak perlu karena yang tahu permasalahan di daerah adalah daerah sendiri

80

No

Daerah -

Alasan Perlu
Masih perlu dalam kaitan menjamin bahwa daerah telah menjalankan prosedur penyusunan Perda sesuai dengan aturan yang ada Sangat perlu dalam rangka pembinaan dan pengawasan demi NKRI Diperlukan untuk menghindari adanya permasalahan hukum di kemudian hari Perlu agar tidak menggangu kepentingan nasional Perlu agar lebih menghasilkan output yang diharapkan Perlu dalam rangka menciptakan sinergi dan sinkroniasai antara pusat dan daerah

Alasan Tidak Perlu

-

Sumber : Hasil Penelitian 2009

Data pada tabel 13 hampir sebagian besar berpendapat bahwa perda perlu dilakukan evaluasi oleh pemerintah agar tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih atas, untuk mencegah kewenangan pemda dalam pembuatan perda melampauk batas kewenangannya, agar daerah bisa dikontrol dalam mebuat berbagai kebijakannya, dan untuk kepentingan menjaga NKRI.

4.2.7

Titik Berat Otonomi Daerah

Tabel 14. Titik Berat Otonomi Daerah No 1 Daerah Prov Lampung Provinsi Sebab supaya tidak terjadi sikap over pada kabupaten/kota dan menjaga kewibawaan provinsi di mata kabupaten/kota Lebih menjamin keterpaduan pembangunan dan sinkronisasi serta

Kabupaten Karena titik berat otonomi adalah di tingkat pemerintahan terkecil yaitu desa dan kabupaten memiliki posisi yang dianggap lebih mendukung ketersediaan profesionalisme sehingga titik tekan otonomi daerah ada di

-

81

No

Daerah -

Provinsi
kesatuan NKRI Maka aturan dan tata cara pemerintahan akan lebih terpusat dan terarah sehingga tidak ada perbedaan aturan antara kabupaten yang satu dnegan yang lainnya

Kabupaten kabupaten. Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat, pemerintah provinsi cukup mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Agar otonomi dapat tumbuh dan berkembang secara lebih maksimal karena luas wilayah cukup untuk pengenalan potensi wilayah secara maksimal Dalam rangka mempercepat pengentasan kemiskinan, pembangunan di daerah dan memperpendek rentang kendali birokrasi dan pemberian pelayanan Kabupaten langsung berhadapan dengan masyarakat Karena semua potensi pembangunan berada dan dimiliki oleh kabupaten Karena kabupaten otonomi itu ada di kab/kota, sehingga lebih mengetahui keadan daerah dan langsung memberikan pelayanan kepada masyrakat dan kabupaten yang mempunyai wilayah/rakyat dan berhubungan langsung dengan masyarakat, provinsi sebaiknya hanya sebagai pengawasan dan koordinasi Karena ujung tombak otonomi daerah ada di

-

-

-

2

Bandar Lampung

Karena sebagai perpanjangan tangan, pemerintah provinsi dapat mengembangkan antara kelebihan dan kekurangan satu wilayah dengan wilayah yang lain agar kesejahteraan lebih dapat merata dan pengaturannya akan lebih terkendali

-

-

82

No

Daerah

Provinsi

Kabupaten
kab/kota, dan pelaksana otonomi daerah bertujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan pemberdayaan dan peran masyarakat Rentang kendali kabupaten dengan rakyat tidak terlalu jauh(langsung) namun sistem pilkada yang harus dirubah Karena kabupaten/kotalah yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat termasuk pembangunan daerah akan sesuai dengan kebutuhan daerah setempat Karena wilayah provinsi adalah kabupaten/kota jadi provinsi seolah-olah tidak punya wilayah dan rakyat Kabupaten merupakan daerah yang paling dekat dengan masyarakat Kabupaten lebih mengetahui kebutuhan, keadaan, potensi daerah

-

3

Lampung Tengah

-

-

-

Lebih bisa menyatukan segala aspek, kelebihan dan kekurangan pada kabupaten/kota di provinsi sehingga tidak terjadai ketimpangan yang terlalu tajam antara kabupaten/kota yang satu dengan kabupaten/kota lainnya Agar terdapat keseragaman pola otonomi daerah secara nasional, namun tetap mengakomodir kepentingan daerah Agar kebijakankebijakan kabupaten/kota dalam pembangunan dapat terkontrol dan tidak terlalu jauh menyimpang dari kebijakan nasional Supaya provinsi sebagai fungsi kontrol dan monitoring

-

-

-

4

Lamsel

-

-

Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat, pemerintah

83

dan lebih menyentuh ke masyarakat karena sangat kecil kemungkinan untuk ada campur tangan dengan pihak luar.No Daerah Provinsi pembangunan di kabupaten/kota supaya efektif dan selaras dengan visi. provinsi bisa melihat kabupaten/kota mana di provinsinya yang siap otonomi sehingga kesiapan kabupaten/kota bisa berbeda-beda. peran provinsi sebagai koordinator kabupaten/kota akan lemah. Supaya mudah mengkoordinor antara kabupaten/kota di provinsi Di provinsi lebih banyak programprogram pusat dan berdasarkan kepentingan daerah terdapat skala prioritas untuk mengembangkan kab/kota yang membutuhkan penanganan prioritas Karena jika terlalu khusus di kabupaten. provinsi dijadikan wakil pemerintah pusat - - - - - 5 Way Kanan - - - - sesuai dengan harapan. misi dan kebijakan pemerintah provinsi Karena secara bertahap setelah otonomi di provinsi matang. Kabupaten provinsi cukup mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Kabupaten yang langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia adalah negara kesatuan. karena daerah itu sendiri yang akan membuat wilayahnya maju/mundur karena kabupaten dapat membuka wilayah pemerintahan dari kampung sampai ke kecamatan lebih mengena ke 84 .

pemerintah provinsi cukup mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Supaya bisa mandiri bagaimana daerah agar bisa secepatnya memahami persoalan yang dihadapi oleh daerah Di kabupaten lah titik berat sasaran kebijakan pemerintah Kabupaten lah yang secara riil memiliki wilayah. memiliki penduduk dan lebih dekat dengan masyarakat - 6 Tulang Bawang - - Supaya ada sebagai fungsi kontrol dan monitoring pembangunan di kabupaten/kota supaya efektif dan selaras dengan visi. misi dan kebijakan pemerintah provinsi SDM di kabupaten masih memerlukan banyak pembinaan - - - 7 Lampung Timur - - - Karena pengaruh controling pelaksanaan pemerintah daerah lebih efektif sekaligus melakukan koordinasi atas potensi dan kelemahan yang dimiliki oleh kabupaten/kota yang ada di wilayahnya Karena potensi setiap kabupaten berbeda sehingga rawan menimbulkan kecemburuan dan perbedaan tingkat kesejahteraan Karena provinsi adalah perpanjangan tangan pemerintah - - 85 . mengenal wilayah. oleh karena itu otonomi baiknya di kabupaten bukan di provinsi Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat.No Daerah Provinsi Kabupaten masyarakat akan tetapi tetap perlu pengawasan dari provinsi karena kabupaten merupakan pemerintahan daerah yang berhubungan langsung dengan masyarakat Karena kabupaten lebih mengenal potensi dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat di bawah Hekakat otonomi adalah mendekatkan pelayanan.

pelaksanaan. Agar langsung pada 9 Lampung Barat - - - Karena pembangunan lebih jelas dan terintegrasi Agar supaya mempunyai satu kendali dlam mngambil satu keputusan Bial dititik beratkan di kabupaten.No Daerah - Provinsi pusat Dengan demikian provinsi sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat dapat lebih efektif dalam melaksanakan kebijakan pemerintah pusat Supaya pemerintah kota/kab tidak semena-mena dalam menjalankan otonomi daerahnya Karena asas desentralisasi Kabupaten 8 Metro - - - - Agar perotonomian yaitu pemerataan pembangunan di tiaptiap daerah dapat berjalan dengan lancar dan berkembang sehingga ikut menjunjung perkembangan provinsi selain itu kabupaten yang lebih mengetahui kondisi di daerahnya sehingga kab/kota dapat tumbuh da berkembang sesuai denga harapan Karena perencanaan. serta dapat memberikan kesempatan pada masyarakatuntuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. justru akan melahirkan rajaraja kecil dimana bupati/walikota cenderung tidk taatkepada gubernur Untuk menhemat dana dan aparatur - - - 86 . pengendalian. pengembangan evaluasi dan monitoring lebih mudah dan efektif dan optimal Karena kabupaten/kota yang memiliki wilayah termasuk operator dan perangkatnya sampai ke wilayah terkecil (desa/kelurahan) Agar adanya pluralisme di daerah bisa ditampungdalam pemerintahan daerah.

SDA. pemerintah provinsi cukup - - - - - 10 Lampung Utara Karena gubernur merupakan wakil pemerintah pusat di daerah sehingga gubernur dapat mengendalikan penyelenggaraan pemerintahan kabupaten/kota menuju visi misi propinsi dan nasional - - 87 . lagi pula jika di provinsi rentang kendali pelayanan kepada masyarakat terlalu besar Rentang kendali lebih kecil Karena letak SDM. Kabupatenlah ujung tombak pelayanan kepada masyarakat. SD wilayah ada di kabupaten. dan ini akan lebih mempercepat pencapaian kinerja pembangunan lebih baik Kabupaten merupakan ujung tombak otonomi daerah yang lebih memahami potensi dan kemampuan yang ada Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat.No Daerah Provinsi yang efektif dan efisien juga DPRD cukup di provinsi sedangkan yang di kabupaten/kota di tiadakan Kabupaten sasaran sehingga tidak terjadi proses yang panjang Kabupaten lebih dekat dengan rakyat Karena merupakan daerah otonomi. sedangkan provinsi merupakan perpanjangan pemerintah pusat Karena di kab. banyak sekali sumber yang perlu dikelola sedangkan diprivinsi sebaiknya menjadi wilayah administrasi saja Karena prinsip OTDA adalah lebih meningkatkan pelayanan oleh pemerintah pada masyarakat sehinggakabupaten yang paling dekat dengan masyarakat.

karena Daerah Kabupaten/Kota yang memiliki wilayah yang berhubungan langsung dengan rakyat 88 . di provinsi lebih memadai dibandingkan dengan SDM yang dimiliki oleh kabupaten/kota - - - - Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat Kabupaten/kota adalah daerah otonom yang memiliki kewenangan luas Kabupaten lebih dekat dengan masyarakat Kabupaten lebih mengatahui potensi dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat UU mengatur demikian Sumber : Hasil Penelitian 2009 Dalam menjawab di mana titik berat otonomi daerah dilaksanakan. maka sebagian besar berpendapat di Kabupaten/Kota.No Daerah Provinsi Kabupaten mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Kabupaten lebih mengetahui potensi dan masalah di daerah Karena gubernur hanya perwakilan pemerintah pusat di daerah sehingga DPRD di provinsi tidak perlu ada dan gubernur dipilih oleh pemerintah pusat Kabupaten langsung berhadapan dengan masyarakat - - 11 Tanggamus - - - Karena provinsi sebagai fungsi kontrol dan monitoring pembangunan di kabupaten/kota Supaya pembangunan di kabupaten/kota selaras dengan visi. alasannya hampir sama. misi dan kebijakan pemerintah provinsi Menjaga keutuhan NKRI Dari sisi SDM.

Kekhusunan hanya didasarkan pada keistimewaan sejarah bukan geografis dan ketakutan pusat akan tuntutan terlalu besar dari daerah Titik berat otonomi daerah harus seragam secara nasional untuk menjaga dan melindungi NKRI secara adil dan merata. agar tidak terjadi/meminimalisasi kecemburuan daerah dan tidak terjadi perpecahan daerah - - - - - 2 Lamteng - - - - Tidak perlu ada keseragaman secara nasional terutama pada daerah yang memang memiliki karakteristik yang berbeda (baik karena sejarah maupun potensi serta masalah khusus yang dimiliki daerah) Memungkinkan adanya otonomi khusus oleh sebab ketidakberhasilan pemerintah pusat dalam memberikan pelayanan dan penyelenggaraan pembangunan di daerahdaerah yang oleh sebab sejarah. seperti di Aceh dan Papua Harus Ada Otonomi Khusus/Desentralisasi A simetris Dimungkinkan adanya otonomi khusus berdasarkan prinsip asimetris dan latar belakang sejarah dan geografis yang berbeda Perlu adanya otonomi khusus karena otonomi bagis etiap daerah tidak selalu sama satu Otonomi khusus perlu karena latar belakang sejarah dan geografis masing-masing daerah berbeda Tidak mungkin seragam karena latar belakang dan kondisi daerah juga berbeda-beda sepanjang masih dalam kerangka NKRI No 1 Daerah Lampung Otonomi Daerah Harus Sama Harus seragam karena kalau ada otonomi khusus akan membentuk opini anak emas dan akan terjadi sikap yang kebablasan. Namun masing-masing diberikan keleluasaan untuk mengembangkan potensi daerahnya Harus seragam. Adanya istilah otonomi khusus sebenarnya adalah wujud nyata kegagalan pemerintah pusat dalam menerapkan standarisasi atau format otonomi yang diinginkan Seragam. luas wilayah dan keistimewaan membuat daerah tersebut berbeda 89 .Tabel 15. Pendapat titik berat otonomi daerah harus seragam secara nasional atau memungkinkan adanya otonomi khusus.

disesuaikan dengan keadaan daerah tetapi ada hal-hal yang sama secara nasional tetap dalam rangka NKRI. khusus tidknya ternyata hanya maslah kemampuan keuangan. SDA. otonomi khusus tidak selamanya dan harus selalu dievaluasi Tidak harus seragam namun harus disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing tetapi regulasi harus seragam seperti diatur oleh UU No 32/2004 Diperlukan adanya otonomi khusus untuk daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan daerah 5 Lambar - - Tapi perlu adanya otonomi khusus. Tahap pertama otonomi tingkay provinsi terlebih dahulu setelah daerah provinsi mampu baru kemudian dilanjutkan ke tingkat kabupaten/kota sehingga ada kesiapan Harus ada keseragaman secara nasional karena daerah dapat melaksanakan peran dan fungsi sesuai dengan kemampuan wilayah sendiri dan tidak menimbulkan kecemburuan bagi daerah yang lain Harus ada otonomi khusus karena karakter tiap-tiap daerah berbeda-beda Perlu adanya spesifikasi daerah jadi tidak harus sama/seragam tetapi harus mempunyai satu visi dan misi dalam pembangunan nasional - - - 4 Bandar Lampung - - - Tidak perlu seragam. Asalkan perhitungan perimbangan keuangan pusat dan daerah itu fair Harus seragam agar tidak ada diskriminasi antar daerah. politik Mutlak seragam tetapi perlu otonomi khusus. misalnya maslah budaya. serta tidak ada konflik yang bisa memunculkan isu SARA - - 90 .dengan daerah lainnya 3 Lamsel Harus ada keseragaman secara nasional karena untuk menghindari kesenjangan dan kecemburuan dari daerah-daerah lain Harus seragam secara nasional sehingga antara pusat dan daerah akan sama mengambil keputusan dan kebijaksanaan Harus seragam tetapi dibuat 2 tahap.

budaya dari daerah masing-masing sehingga daerah tersebut dapat berkembang 6 Lampura - - - - Titik berat otonomi daerah tidak harus seragam. wewenang dan kewajiban dari daerah dengan mempertimbangkan sejarah dan latar belakang daerah tersebut 7 Lamtim - Secara kewenangan seharusnya sama. dalam rangka menjaga NKRI Otonomi daerah harus seragam. potensi dan kondisi daerah yang berbeda. hanya yang berbeda adalah alokasi anggaran kepada daerah-daerah khusus Oleh sebab sejarah daerah . Namun tetap dilihat bahwa secara nyata kondisi geografis maupun demografi di indonesia sangat beragam Seragam. 91 . maka otonomi juga harus berbeda-beda. namun mempertimbangkan potensi dan kemampuan daerah. adat istiadat. contohnya peraturan syariah islam di aceh dan UU pornografi dan ponoaksi Baiknya seragam secara nasional supaya tidak memunculkan anggapan pemihakan dan ketakutan pemerintah pusat ke daerah serta mengindarkan kecemburuan - tersebut Tidak harus seragam secara nasional. bisa dibuat kewenangan khusus.- - Sebaiknya seragam secara nasional dan otonomi khusus tetap ada. disesuaikan dengan karakter. Aceh dan Papua mendapatkan otonomi khusus karena memiliki permasalahan dan sejarah yang berbeda Masih dibutuhkan kekhususan karena masih ada gap terlalu tinggi antara daerah yang satu dengan daerah lainnya Harus ada otonomi khusus sebab otonomi daerah membuka hak. hanya saja dibidang kebudayaan dan beberapa bidang lainnya yang bersifat khas daerah.

Aceh dan Yogyakarta. Otonomi khusus diletakkkan kerangka otonomi daerah bukan pada UU tersendiri Secara nasional harus sama atau seragam secara nasional sehingga tidak ada kecemburuan dari daerah yang tidak mendapatkan kekhususan dan tidak mengancam perpecahan pada bangsa ini Lebih baik seragaman . namun hal ini jangan sampai 10 Tulang Bawang - Harus ada keseragaman secara nasional karena untuk menghindari kesenjangan dan kecemburuan dari daerah-daerah lain di Indonesis sehingga pengaturannya juga bisa seragam - - 92 . karena setiap daerah mempunyai potensi yang berbeda-beda dan dengan tidak mengabaikan NKRI Bila diperlukan. 8 Metro - - - -Tidak harus seragam. Namun keistimewaan daerah tersebut harus juga dikembangkan sehingga dapat mendukung NKRI yang kuat Tidak harus seragam karena ada beberapa daerah di Indonesia yang memang memiliki kekhususan oleh sebab sejarah masa lalu seperti Yogyakarta Tidak harus seragam karena kebutuhan daerah juga berbeda. agar tetap menjaga NKRI Sebaiknya dilakukan seragam demi persatuan dan kesatuan bangsa walapun sudah otonomi daerah Harus ada keseragaman secara nasional karena untuk menghindari kesenjangan dan kecemburuan dari daerah-daerah lain (11 responden ) - Namun letak perbedaannya harus benar-benat sesuai dengan kebutuhan daerah dan potensi yang dimiliki daerah. tapi tuk daerah khusus diberikan kekhususan.- tersebut. otonomi khusus tetap dipertahankan 9 Tanggamus - - Karena tidak semua daerah memiliki masalah dan karakteristik serta sejarah yang berbeda maka otonomi khusus perlu dilakukan misalnya Papua.

menyatakan sebagian besar hubungan antara Pemerintah Provinsi harus hirarkiis dengan beberapa alas an sebagai berikut : 93 . 2009 Data pada tabel 14 bahwa sebagian besar pelaksanaan otonomi daerah lebih baik dilaksanakan di kabupaten/kota. namun karena setiap daerah sangat beragam memiliki potensi dan lingkungan sosial. karena hal tersebut dilakukan untuk meredam disintegrasi bangsa Tidak harus seragam. sama saja membuat negara terselubung di dalam negara itu sendiri Otonomi khusus ataupun penyeragaman. ekonomi dan politik yang tidak sama.8 Hubungan Pemerintah Provinsi dengan Kabupaten/Kota Pendapat responden dari Prov dan 10 Kabupaten/Kota. 4.2. karena harus sesuai dengan kondisi daerah masing-masing Sumber : Hasil Penelitian. maka pelaksanaan otonomi daerah bisa diatur sera berbeda tergantung pada kemampuan Daerah yang bersangkutan ( Lihat data pada tabel 15).- membuat seolah-oleh pemerintah pusat takut kepada tuntutan akan memisahkan diri Tidak harus seragam karena kalau seragam nanti banyak daerah yang ingin keluar dari NKRI karena merasa tidak puas 11 Way Kanan - - Secara nasional harus seragam Sebenarnya adanya penyeragaman otonomi karena otonomi khusus itu. kalau orangnya bergaya kerja lama tidak efektif - - Perlu juga ada otonomi khusus. namun apakah pelaksanaannya harus seragam atau perlu ada otonomi khusus seperti di Aceh atau Papua. Data tabel 16 menunjukkan bahwa bahwa secara prinsip Otonomi Daerah Harus seragam.

Harus hierarkis satu sama lain karena provinsi yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat memiliki kewenangan untuk menjadi kordinator kabupaten/kota sehingga kebijakan kabupaten/kota harus sesuai dengan kebijakan provinsi Harus hierarkis dalam konsep negara kesatuan dan provinsi merupakan wakil pemerintah pusat di daerah Hubungan yang berdiri sendiri sepanjang koordinasi. pembinaan dan pengawasan dan penyelenggaraan urusan dapat dilakukan secara maksimal Hubungan hirarki tidak dapat dihindarkan namun hendaknya terus dikembangkan diverensiasi yang bersifat otonom berdasarkan potensi dan kekhasan daerah Perlu dicari bentuk dan pola hubungan yang lebih ideal dan fleksibel agar daerah dapat leluasan mengembangkan potensi daerahnya Harus hirarkis untuk menghindari terjadinya perbedaan-perbedaan sistem pemerintahan yang dapat menimbulkan kesenjangan dengan daerah kabupaten/kota lainnya Kabupaten/kota dapat menjalankan otonominya sendiri tetapi secara hirarkis tetap harus dalam pembinaan provinsi sebagai wakil pemerintah pusat Sedangkan sebagian kecil harus berdiri sendiri.2. kerjasama. Kendala dalam pelaksanaan kebijakan desentralisasi & otonomi daerah Kendala Masih ada departemen yang tidak ingin melepaskan kewenangannya kepada daerah padahal hal tersebut sudah menjadi urusan pemerintah daerah di Provinsi Lampung 94 .9 Kendala Pelaksanaan Otonomi Daerah Tabel 16. karena alasan bahwa berdiri sendiri karena dalam pengaturan kebijakan tidak tumpang tindih antara pemerintah provinsi dengan kabupaten 4.

Masih terjadi tarik ulur atau naik turun Terjadi pengkotak-kotakan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Rendahnya kualitas pemahaman tentang otonomi daerah di kalangan stakeholders Kabupaten/kota merasa terlalu memiliki kewenangan yang lebih besar daripada provinsi sehingga kreatifitas untuk berkoordinasi dengan provinsi sebagai wakil pemerintah pusat di daerah lemah Mental pemimpin baik eksekutif dan anggota DPRD yang masih lemah dan pragmatis Mental masyarakat yang pragmatis Ketidaktegasan aturan tentang pelimpahan kewenangan antara pemerintah provinsi dan kabupaten Kurangnya koordinasi antara pemerintah kabupaten/kota dengan provinsi maupun antar kabupaten/kota 95 . SDM tidak komit dengan roh Otda untuk melayani masyarakat dan dana terbatas untuk membiayai Otda itu sendiri Kemampuan keuangan daerah dan pendapatan daerah yang tidak sebanding dengan kebutuhan pembangunan daerah Kemampuan SDM yang belum merata Ketidakpahaman banyak aparatur daerah tentang prinsip-prinsip etika pemerintahan sehingga otonomi banyak diasumsikan oleh masyarakat dengan maraknya korupsi Masing-masing berdiri sendiri. Namun demikian benang merah pembangunan daerah tetap dikordinasikan oleh provinsi dalam wadah RPJP provinsi Desentralisasi dan otonomi masih seperti permainan yoyo.Perlunya penataan peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah Kurangnya kerja sama antar pemerintah daerah Kurangnya kapasitas kelembagaan daerah Kurangnya profesionalisme aparatur pemerintah Kurangnya kapasitas keuangan pemda Kurangnya pertimbangan rasional pemekaran daerah Kurangya pendanaan Mental masyarakat yang belum sepenuhnya dewasa dalam berpolitik Kurangnya inovasi Pemda dalam penyelenggaraan pelayanan bagi masyarakat Masih terdapat penafsiran yang berbeda terhadap peraruran perundangundangan/kebijakan nasional dan masih kuatrnya egosektoral di tiap-tiap kabupaten dan kota Daya dukung keuangan daerah yang rendah Terlalu besarnya persentase APBD untuk biaya gaji dan biaya aparat sehingga biaya pembangunan yang notabene akan meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi sangat sedikit Masih kentalnya nuansa politis dan kepentingan dalam pengambilan kebijakan publik Ketidakmauan kabupaten/kota untuk selalu berkoordinasi dengan pemerintah provinsi Belum adanya kesungguhan dan kerja sama yang baik antara pemprov dengan pemkab/kota dan antara pemkab/kota dengan pemkab/kota lainnya Masih belum jelasnya tanggung jawab provinsi pada masalah-masalah yang lintas kabupaten/kota Kendala mendasar. karena setiap kab/kota dipimpin oleh kepala daerah yang dipilih rakyat secara langsung yang notabene memiliki visi dan misinya sendiri-sendiri.

2. bahkan terkesan saling jebak PAD rendah. Termasuk kebijakan pelayanan kesehatan yang kriteria penggratisannya tidak jelas dan rumit Tidak jelasnya program pembangunan yang sudah dijabarkan dalam RPJM daerah dengan renstra SKPD Masih ada kepentingan kelompok Kendala dalam pengawasan pengelolaan anggaran oleh pusat terutama dalam pengelolaan anggaran yang bersumber dari APBN SDM aparatur masih kurang/rendah.10 DAU (Dana Alokasi Umum) Secara umum pendapat informan dan responden terhadap fokus tentang pengaturan DAU (Dana Alokasi Umum) menyangkut Persentase DAU. pengangguran karena ekuatan terpecah dan ego kedaerahan masing-masing Birokrasi terlalu lama dalam melaksanakan dalam suatu kebijakan Perataan pendanaan yang melalui provinsi tidak merata Kurang optimalnya koordinasi kab/kota ke provinsi Masih rendahnya SDM. masih mementingkan kepentingan pribadi Sumber : Hasil Penelitian 2009 4. Otonomi daerah yang masih diasumsikan hanya sekedar untuk meningkatkan PAD dengan berbagai cara tetapi kesejahteraan rakyat kurang mendapat perhatian Para kepala daerah kurang memahami tentang otonomi daerah karena syarat menjadi kepala daerah sangat mudah Penggunaan DAU yang kurang tepat sasaran Pengawasan ke eksekutif dari legislatif maupun pemerintah pusat masih kurang Sumber daya alam yang dikelola tidak dapat meningkatkan kemandirian daerah Provinsi kurang memperhatikan pembinaan kab/kota. masih bersifat kedaerahan. Contohnya kebijakan dalam menyelenggarakan pendidikan nasional ini benyak perbedaan penafsiran sehingga masyarakat merasa kebingungan. kriteria yang digunakan dan prosedur pengajuan DAU adalah sebagai berikut : 96 . karena sumber pajak potensial ditarik ke provinsi dan pemerintah pusat sehingga sangat bergantung pada DAU dan DAK Peraturan perundang-undangan yang kurang emndukung iklim investasi Proses birokrasi yng rumit Daya ungkit menjadi emah terhadappermasalahan kemiskinan. Kebijakan dalam pelayanan umum. sehingga seolah-olah berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik.Masih adanya visi dari gubernur lampung dan jajarannya tentang otda yang masih menganggap kab/kota bawahan dari provinsi Suhu politik yang kurang kondusif karena seringnya ada pemilu.

jumlah penduduk. akan tetapi data dasar penghitungan tersebut perlu diupayakan validitasnya dan mutakhir Dari sisi persentase masih sangat minim karena hanya 25% dari netto pendapatan dalam negeri Kriteria celah fiskal dan alokasi dasar. padahal seharusnya kebutuhan DAU adalah untuk pembangunan Persentasenya masih memberatkan bagi daerah tertentu karena komponen gaji masih melekat dalam DAU sehingga belum dapat menunjang untuk kegiatan pembangunan fisik Sudah baik dan adil tetapi setelah pembahasan dan disahkan oleh DPRD di masing-masing SKPD tidak mencukupi atau tidak ada uangnya Besaran persentase bagi hasil harus ditinjau ulang Unsur kedekatan dengan pemerintah pusat ternyata masih menjadi salah satu syarat tidak tertulis dalam konteks pengajuan DAU Kurang terbuka pengaturan penggunaan dana DAU sehingga masingmasing SKPD tidak jelas porsinya Pengaturan DAU. indeks kemahalan konstruksi. PDRB dan IPM sudah merupakan kriteria yang ideal. luas wilayah. 50% : gaji dan 50% : pembangunan 97 . namun pelaksanaannya masih tarik menarik sehingga tetap membutuhkan pendekatan ke pusat Kebutuhan DAU yang diajukan oleh Pemda belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh pemeirntah pusat Pengaturan DAU masih perlu dibenahi terutaa terhadap penambahan DAU akibat perubahan peraturan/kenaikan gaji PNS Sudah cukup bagus meskipun hal ini dirasakan kurang transparan Sudah sesuai tetapi sumber daya di daerah tidak mampu secara maksimal mengoptimalkan DAU itu untuk pembangunan sehingga alokasi DAU masih sangat besar hanya untuk gaji pegawai Pengaturan DAU lebih didominasi oleh kebutuhan anggaran pegawai.Kriteria umum sudah cukup sebagai persyaratan penetapan DAU.

namun turun jika tidak diurus Kriteria sudah jelas tetapi kriteria tersebut tidak dapat menjadi acuan yang pasti dalam penetapan jumlah DAU Prosedur pengajuan DAU sudah oke. Naik jika diurus.2 11 Sistem Administrasi Kepegawaian Penilaian responden baik di provinsi maupun kabupaten/kota tentang sistem administrasi kepegawaian adalah sebagai berikut : Sudah sejalan sesuai dengan aturan yang ada namun nuansa politis masih kadang-kadang terlihat sehingga terlihat gerbong siapa yang membawa 98 .Prosedur pengajuan DAU terlebih dahulu dibahas oleh DPRD dalam berkas RAPBD kemudian disahkan dalam APBD baru diajukan ke pemerintah pusat untuk dicairkan sesuai jumlahnya DAU masih banyak digunakan untuk belanja pegawai Persentase DAU tidak jelas karena masih membutuhkan pendekatan daerah ke pusat sehingga jumlah DAU selalu naik turun. namun sebaiknya DPRD juga dilibatkan sejak awal dalam mengusulkan sehingga tanggung jawab pengelolaan juga dapat dilakukan oleh DPRD sehingga mereka tidak mainmain dengan pengelolaan anggaran nanti DAU masih dodominasi untuk kepentingan aparat dan DPRD sedangkan alokasi untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat masih sangat minim Sudah jelas aturannya namun prakteknya tidak sesuai dengan idealnya Perlu juga diatur oleh pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota secara transparan sehingga antar kabupaten/kota di satu provinsi tidak saling menjatuhkan. Perlu diadakan pertimbangan secara menyeluruh dengan mengikutsertakan anggota legislatif dalam proses pengajuannya Harus sesuai dengan PAD maka dapat balance Alokasi DAU harus diawasi 4.

Penempatan SDM PNS tidak berdasarkan beban kerja sehingga akan mengakibatkan beban kerja tinggi dan beban kerja rendah sehingga berpengaruh terhadap produktifitas - Penempatan jabatan struktural masih belum mempertimbangkan karier seseorang - Belum mengikuti daftar urutan kepangkatan secara konsisten Secara umum sistem administrasi kepagawaian telah sejalan dengan keinginan daerah. Tetapi transparannya hanya di formalitas bukan pada substansinya - Masih jauh dari harapan. Hanya untuk kenaikan pangkat dan pensiun PNS golongan IV C ke atas yang selama ini diproses dan ditandatangai presiden seyogyanya cukup di BKN - Masih banyak dipengaruhi kepentingan politik. Tupoksi yang diberikan tidak sesuai dengan tingkat pendidikan. transparansi dan persayaratan harus ditingkatkan Penghargaan kepada prestasi pegawai belum menjadi pertimbangan dalam penempatan pejabat - Kedisiplinan pegawai yang rendah Sistem kepagawaian sudah benar namun yang perlu diperbaiki adalah pelaksanaan dari sistem itu - Belum profesional dalam hal : 1. birokrasi menjadi mainan bagi pejabat politik - Sudah ada aturan yaitu PP 96 tahun 2006 yang mengatur tentang kepegawaian di daerah 99 . skill dan pengalaman 2. baik dalam pengangkatan PNS atau pengisian jabatan struktural. KKN masih kental Sudah cukup transparan. selama brokrasi masih berada di bawah pengaruh kekuasaan politik.- Konsistensi antara aturan dan implementasi masih lemah contohnya dalam rekrutmen pejabat impor dari daerah ke provinsi - Masih banyaknya pejabat non job Prosedur.

pelayanan KTP. akte kelahiran.- Penempatan pejabat masih tergantung gerbong hasil Pikada sehingga fungsi Baperjakat masih jauh dari ideal - Penempatan pejabat eselon II masih dipengaruhi oleh kepentingan dari siapa kepala daerah yang memimpin daerah sehingga sangat sering berganti-ganti - Pengesahan pejabat eselon II lama karena menunggu pengesahan dari provinsi - Terlalu sering dilakukan rolling pejabat sehingga banyak pejabat yang bekerja tidak tenang karena takut diroling - akan tetapi pendidikan belum sesuai dengan jabatannya sehingga kurang menguasai pekerjaan - Meski telah otonomi tetapi sistem administrasi kepegawaian ternyata masih diatur oleh pusat termasuk penetapan kuota penerimaan CPNSD - Belum sejalan dengan keinginan dan kepentingan daerah mengingat masih ada pengisian pejabat eselon yang tidak memahami dan berbasis pendidikan dengan jabatan yang diembannya - Belum maksimal karena masih banyak pejabat eselon struktural yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan riwayat jabatannya tidak menjadi pertimbangan - Pengangkatan eselon II tidak harus ditentukan oleh pemerintah tingkat atasnya (gubernur) langsung saja merupakan kewenangan bupati dengan tetap mempertimbangkan profesionalisme - Masih kental nuansa like and dislike Fungsi Baperjakat terkadang hanya formalitas karena unsur kedekatan dan tim sukses. dsb jauh lebih baik dibanding di 100 . pengadaan/perbaikan fasilitas jalan.2. 4.12 Pelayanan Publik Pendapat/penilaian responden tentang pemberian pelayanan publik di era otonomi daerah seperti: pemberian surat perizinan.

irigasi. tetapi dalam pelaksanaannya masih sangat buruk dan biaya tinggi Lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya . 22/1999) atau malah sebaliknya tambah buruk. dan sebagainya Model perizinan satu pintu menjadi salah satu indikator pelayanan yang meningkat dalam konteks perizinan. dan sebagainya) Sudah lebih baik jika standar pelayanan minimal pelayanan publik dapat diterapkan secara optimal 101 . 5/1974 dan UU No. Namun. tetapi jenis pelayanan infrastruktur kondisinya lebih parah dibandingkan sebelumnya Masih belum efektif dan justru memperpanjang jalur yang dahuku mengurus KTP cukup di kecamatan misalnya sekarang justru harus ke kabupaten Sentralisasi dalam pelayanan lebih baik dirasakan sehingga persyaratan antar daerah idak berbeda-beda termasuk dalam penentuan tarif pelayanan Infrastruktur zaman sentralisasi lebih baik Pelayanan publik sangat dipengaruhi oleh kebijakan kepala daerah dan kebijakan dari perubahan peraturan di tingkat pusat yang sering berganti dan tidak konsisten Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik belum secara konsisten dilakukan pengukurannya sehingga tidak ada bahan evaluasi bagi daerah dalam peningkatan kualitas pelayanannya Dari sisi jarak memang lebih efektif. Adalah sebagai berikut : Pelayanan cenderung mengalami perbaikan dengan kemudahan mengurus perizinan. Semakin transparan sehingga kontrol masyarakat dapat berperan Beberapa meningkat beberapa menurun. gedung. khusus pelayanan kependudukan yang selalu bermasalah sebaiknya dinasionalkan Dari sisi aturan sudah sangat baik. Hal ini dapat tercapai karena pemangkasan birokrasi Menurun kualitasnya.era sebelumnya (UU No. terutama pada kualitas bangunan publik (jalan. namun seringnya perubahan kebijakan membuat pola pelayanan publik belum menemukan sesuatu yang ideal dan terkadang masih membingungkan masyarakat.

2. dan sebagainya) - Sudah lebih baik jika standar pelayanan minimal pelayanan publik dapat diterapkan secara optimal 4.13 Efisiensi dan Efektifitas Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan di Daerah Penilaian/pendapat responden apakah penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah sekarang ini sudah efemtif dan efisien. irigasi. KKN bisa diminimalisir. dst. Hal ini dapat tercapai karena pemangkasan birokrasi - Menurun kualitasnya. peningkatan kesejahteraan masyarakat meningkat. tetapi dalam pelaksanaannya masih sangat buruk dan biaya tinggi - Lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya . - Semakin transparan sehingga kontrol masyarakat dapat berperan Pelayanan kependudukan yang selalu bermasalah sebaiknya dinasionalkan Dari sisi aturan sudah sangat baik. stabilitas pemerintahan cukup terjaga.- Dari sisi jarak memang lebih efektif. tidak terjadi lagi pemborosan dalam penggunaan anggaran. Misal. good governance bisa diwujudkan. Dapat dilihat sebagai berikut : Belum efektif dan efisien karena di sana-sini masih banyak pembangunan belum menyentuh kepentingan masyarakat Masih terjadi banyak pemborosan khususnya untuk gaji aparat dan DPRD Masih terjadi penyimpangan penggunaan anggaran Keamanan masyarakat masih jauh dari harapan Konflik akibat Pilkada semakin besar karena pilihan politik yang berbeda Keberhasilan pembangunan daerah masih berupa paparan belaka. namun seringnya perubahan kebijakan membuat pola pelayanan publik belum menemukan sesuatu yang ideal dan terkadang masih membingungkan masyarakat. gedung. terutama pada kualitas bangunan publik (jalan. pendidikan gratis dan kesehatan gratis adalah capaian yang hanya dalam wacana Korupsi masih merajalela 102 .

tunjangan tidak meningkat karena banyak kebocoran sehingga anggaran tidak dapat diprediksi dan dirancang dengan baik padahal setiap tahun nilai anggaran selalu naik. rapel gaji PNS belum terbayar. karena pada dasarnya jumlah PNS yang tidak proporsional sehingga penggunaan anggaran lebih kepada pendekatan politis dibandingkan efisiensi - Pembangunan daerah kurang maksimal karena keterbatasan PAD daerah Belum efektif dan efisien. - Munculnya perilaku kepala daerah seolah menjadi raja-raja kecil di daerah membuat stabilitas pemerintahan dan pembangunan tidak dapat dilakukan secara kontinyu - Belum efektif dan efisien karema masih banyak terjadi pemborosan penggunaan anggaran - Masih banyak terjadi korupsi hampir di semua sektor Belum. - Justru banyak terjadi pemborosan dan penyimpangan : 1. sehingga orientasi pemerintahan lebih pada upaya untuk mendapatkan sesuatu bukan memberikan sesuatu - Zaman orde baru meskipun pola pemerintahan masih sentralistis tetapi efektifitas dan efisiensi anggaran daerah.- Reformasi mental aparatur masih sangat rendah. 3. 2. pelaksanaan pilkada yang menyerap dana cukup banyak anggaran DPRD yang sangat besar pelaksanaan tender pengadaan barang/jasa cenderung kocok bekem sehingga aturan dalam kepres sekedar dilakukan secara prosedural dan diatur - Belum efektif dan efisien karena di sana-sini masih banyak pembangunan belum menyentuh kepentingan masyarakat - Belum efektif dan efisien perlu pengawasan dan pembinaan lebih lanjut serta diperlukan tekat yang kuat dari para pemegang kebijakan serta reformasi sistem manajemen 103 . indikasinya : anggaran defisit. dan kesejahteraan masyarakat misalnya untuk memperoleh rasa aman lebih baik dibandingkan masa otonomi daerah.

karena hal ini diukur dari pelajaran yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat - Cukup memprihatinkan Tergantung individu dan tergantung SDM yang ada di daerah Sistem yang baik maka. - Penduduk miskin masih tinggi. KKN masih sulit dihilangkan. serahkan saja kepada camat agar bisa 5 menit masyarakat selesai dilayani - Belum efektif dan efisien KKN tetap eksis. pemerintah pusat sering terlambat dalam menetapkandan mngawal otonomi dalam bentuk standar belanja dll. penggunaan anggaran dilakukan secara terencana efektif walaupun sebagian besaranggaran habis untuk gaji pegawai sehingga rekrutmen PNS dihentikan untuk sementar waktu. tetapi.- Belum efektif dan efisien karena keinginan tidak melihat kemampuan sehingga terjadi kekurangan (defisit) dan pengelolaan anggaran hendaknya memakai skala prioritas dan masih terjadi KKN. good governance belum terwujud Penyelenggaraan pemerintah di era otonomi ini lebih baik Hal ini belum diartikan sebagai efektif efisien. tidak terjadi pemborosan penggunaan anggaran good governance. - Sudah. good govermence amburadul. tidak sehat. seterusnya interst lebih kental. sering terjadi pemborosan Berjalan cukup baik. stabilitas pemerintahan cukup terjaga 104 . efisiensi dan efektifitas tercapai. jika orang yang ada dalam sistem tidak profesional maka tidak akan tercapai yang diharapkan - Hal itu relatif kepada daerah yang menyelenggarakan pemerintahan di daerah - Sejauh ini belum terlihat jelas efektifitas atau efisien untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah - Khususnya KTP/KK tambah lambat lebih baik pembuatan KTP. stabilitas pemerintah hanya terjaga 1-2 th pertama. - Belum efisien masih banyak terdapat pemborosan keuangan untuk kegiatankegiatan yang tidak menyentuh masyarakat secara langsung - Daerah belum memiliki perencanaan yang baik Dukungan dan pengawasan legislatif belum sepenuhnya berjalan.

dsb di swastakan saja agar pemerintahlebih fokus dalam pembangunan. Agar APBD dan penggunaan di beritakan di koran publik. organisasi prangkat daerah masih terlalu gemuk. - Sebaiknya terdapat satuan kerja yang benar-benar mengkoreksi pola pengaggran kegiatan terhadap kinerja yang akan dicapai 4. - Belum sepenuhnya. beberapa kewenangan tidak didukungan dengan dana yang memadai. terminal. namun dalam pealaksanannya beberapa persoalan yang dihadapi antara lain : pola kerjasama pelaksanaan kewenangan antara provinsi dengan kabupaten belum terimplementasikan dengan baik. dan pemerintah pusat harus terus mengawasi dan memonitor penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. perlu peningkatan Masih sedikit sekali yang mengguerakan pembangunan yang efektif dan efisien - Masih diperlukan perbaikan di berbagai segi.1 Kewenangan Pemerintah Daerah Dari hasil penelitian. agar organisasi tertentu seperti kebersihan. parkir. peraturan 105 . pertanggungjawaban kewenangan lemah.- Tergantung political will antara pemerintah eksekutif dan DPRD selaku legislatif di daerah - Belum efektif dan efisien masih banyaknya SKPD yang di bentuk tanpa dimodali anggaran yang cukup untuk melakukan program dan kegiatan.3 Analisis dan Interpretasi 4.32 / 2004 baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota sudah sejalan dengan aspirasi daerah. selama ini hanya di back up untuk anggaran rutin saja - Belum. serta adanya peraturan yang tegas dan konsisten - Korupsi: relatif kecil Kolusi: 60% nepotisme 90% Sudah menuju yang lebih baik.3. karena di beberapa daerah masih terliahat adanya pemborosan anggaran daerah yang dipakai untuk halhal yang masih belu urgentdan menyampingkan kepentingan masyarakat. hampir sebagian besar berpendapat bahwa pengaturan kewenangan yang diatur dalam UU No.

pelaksana yang tidak sinkron. The organization of outhority is power concentred or dispersed”. 106 . tetapi pola ketergantungan Daerah pada Pusat masih tinggi. dukungan juklak dan juknis pelaksanaan kewenangan yang masih belum jelas. Buku Referensi. h. 2009)4 mengatakan “Great issues of politics. namun dalam prakteknya masih dijumpai adanya tarik menarik kepentingan dan tumpang tindih kewenangan antara Pusat. Otonomi daerah telah mengubah tata kelola pemerintahan dari yang semula sentralistik menjadi desentralistik. Sebagian besar responden menunjukkan bahwa sekalipun 60 % menyatakan pembagian kewenangan Pusat. Leslie Lipson (dalam Armen Yasir. Hukum Otonomi Daerah (Preskriptif Teoritis). Penerbit Universitas Lampung. Sebagai akibat perbedaaan kepentingan dan kebijakan kabupaten/kota dengan provinsi. Penyerahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada satuan-satuan daerah merupakan persoalan politik yang selalu timbul dalam proses politik. 2009. Data ini menunjukkan bahwa Di dalam realitas penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih masih muncul kebijakan yang bertentangan antara pemerintah Provinsi dengan pemerintaha Kabupaten/Kota. muncul inkonsistensi kebijakan antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah Kabupaten/Kota. provinsi dan Kabupaten/Kota. 1. Arti pemerintahan daerah dalam praktek pemerintahan terlihat dalam pasang surut kebijaksanaan dan perundang-undangan yang senantiasa mencari landasan politiknya dalam garis politik pemerintahan dan landasan yuridisnya dalam konstitusi (Undang-Undang Dasar). Propinsi dan Kabupaten cukup jelas. yang seringkali menimbulkan disharmonisasi komunikasi juga berdampak pada masyarakat banyak. Lokus pembangunan bergeser dari pusat (nasional) ke daerah dari yang semula dijalankan oleh aktor utama negara 4 Armen Yasir. Persoalan politik ini merupakan pilihan antara Centralization (sentralisasi) dan Local outonomy (otonomi daerah). masih terjadi multi interpretasi dalam memahami pembagian kewenangan dan juga sekalipun kewenangan sudah diberikan kepada Daerah.

Hubungan keuangan pusat daerah tersebut pada akhirnya ditentukan pada tingkatan atau derajat desentralisasi yang tercermin dalam pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.(pemerintah) secara konstitusional semestinya berpindah kemasyarakat di daerah. 107 . Jika diandingkan dengan UU No. 4.3. Tanpa pelimpahan ini. kepada pemerintahan daerah yang disertai dengan Pendelegasian pengeluaran sebagai konsekunesi diberikannnya kewenangan yang luas serta tanggungjawab pelayanan publik harus diikuti dengan adanya pendelegasian pendapatan.2 Kepentingan Daerah Konteks kepentingan daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah difahami oleh responden adanya jaminan terhadap stabilitas pemerintahan. perbaikan pelayanan dasar publik dan peningkatan akses ekonomi masyarakat. Sebagai konsekuensi dianutnya Bentuk Negara Kesatuan yang didesentralisasikan sebagaimana ditentukan UUD 1945. Perubahan tata kelola pemerintahan daerah yang terdesentralisasi dipilih diharapkan dapat menciptakan iklim kepemerintahan yang berpeluang tinggi untuk mencapai demokratisasi. Pada umumnya hubungan antara pemerintah pusat dan daerah terrefleksi dalam pelimpahan kekuasaan pelimpahan keuangan. maka dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dibentuk daerah-daerah otonom yang mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. sumber pembiayaan bisa mendukung pelaksanaan otonomi daerah. 22/1999. Berbagai cara menentukan pembagian kekuasaan untuk menjalankan fungsi pemerintahan merupakan sumber pokok persoalan hubungan pusat dan daerah. Perkembangan masalah keuangan dan pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan daerah terus mengalmi evolusi. UU No. 32 Tahun 2004 bisa lebih diterima dalam mengakomodasi kepentingan daerah. kewenangan Gubernur dalam mengawasi dan berkoordinasi dengan pemkab/kota cukup jelas diatur. otonomi daerah menjadi tidak bermakna.

4. Negara Kesatuan Republik Indonesia di bagi atas Daerah-Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. yang tiap-tiap propinsi. Dalam perubahan UUD 1945 mengganti secara menyeluruh ketentuan pasal 18 dan penjelasannya. Namun.22/1999. sejauh ini dilakukan dalam dua bentuk yaitu pola hubungan hirarkis dan tidak berhubungan secara hirakis. UUD 1945 Perubahan Mengatur Pemerintahan Daerah Dalam Bab VI Di bawah Judul Pemerintah Daerah yang isi lengkapnya adalah sebagai berikut : Pasal 18 1. dinilai lebih cocok diterapkan karena UU ini lebih cenderung memberikan proses demokratisasi pemerintahan yang lebih mandiri tanpa harus tergantung pada pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. 22/1999. diakui bahwa dengan penerapan UU No. Dari hasil penelitian. pola pemerintahan kemudian menjadi bergantung pada pusat. sebagaimana pernah berlaku dalam UU No. secara politik dan kemandirian daerah. Namun praktek hubungan yang tidak hirarkis ada kecenderungan koordinasi pengawasan menjadi tidak fungsional dan Daerah kabupaten/Kota dengan provinsi berjalan sendiri-sendiri.3 Hubungan Pemerintah. koordinasi antara Daerah Kabu dan Provinsi sulit bisa diimplementasikan sehingga pemerintah kab/kota dengan pemerintah prov berjalan sendiri-sendiri. Provinsi dan kabupaten.22/1999.3. 108 . beberapa informan dari Kabupaten/Kota menyatakan bahwa UU No. kabupaten/kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. menyatakan bahwa pola hubungan hirarkis lebih bisa diterima untuk melaksanakan proses penyelenggaraan pemerintahan. Provinsi dengan Kabupaten Hubungan Pemerintah.Namun.

Pasal 18 B 1. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lain antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. Hubungan wewenang antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Propinsi. 2. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. Bupati. Kabupaten. 6. Pemerintahan Daerah Propinsi. atau antara propinsi dan kabupaten. Hubungan keuangan. dan Kota. dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintahan Daerah Propinsi. dan kota diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Pemerintahan Daerah Propinsi. pelayanan umum. 3. Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. 7. 2. Gubernur. Daerah Kabupaten. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undangundang. Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai 109 . dan Kota dipilih secara demokratis. 4. Daerah Kabupaten. Pasal 18 A 1. 5.2. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. dan Kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. dan Kota memiiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. Kabupaten.

Prinsip ini menunjukkan terdapat pola hubungan kekuasaan antar organisasi. politik luar negeri. (3) Dalam UU. Pasal 11 ayat (2) UU. pertahanan keamanan. Berdasarkan ketentuan di atas. fiskal nasional. yaitu antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Propinsi. antara Pemerintah Propinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. yaitu : 110 . Dalam UU.dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.NO. tergantung dan sinenergis sebagai satu sistem pemerintahan. moniter.NO. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah dirinci sebagai berikut.32 Tahun 2004 dinyatakan bahwa urusan pemerintah yang tidak didesentralisasikan. Urusan pemerintah yang tidak didesentralisasikan. 32/2004. dapat dikatakan hubungan antara Pemerintah Pusat dan daerah berisikan prinsif hirarkhi dan vertikal. yustisi dan agama. sedangkan pola hubungan kekuasaan intra organisasi juga tercermin dari hubungan instansi pusat departemen atau lembaga pemerintah non departemen dengan organisasi (instansi) vertikalnnya di daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintahan merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara pemerintah dan daerah otonom yang terkait. di dekonsentrasikan kepada gubernur dan ditugas bantukan kepada daerah otonom dan desa. (1) Hubungan dalam penyelenggaraan desentralisasi (terutama dalam bimbingan dan pengawasan) (2) Hubungan dalam penyelenggaraan desentralisasi. NO. Pola hubungan ini merupakan penyelengaraan dekonsentrasi.32 Tahun 2004 ditentukan bahwa bahwa Pemerintah Daerah dalam menjalankan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan pemerintah dan dengan pemerintahan daerah lainnya. Menurut ketentuan UU No. Pola hubungan ini merupakan penyelenggaraan desentralisasi yang diatualisasikan dengan keberadaan local self goverment. antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota.

dan 3.a. 3. 4. 2. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. kerjasama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. Hubungan Dalam bidang keuangan antara pemerintah dan pemerintah daerah meliputi : 1. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pembiayaan bersama atar kerjasama antar daerah. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggungjawab bersama. tanggungjawab. Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah meliputi : 1. 2. 3. c. 2. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah meliputi : 111 . dan 3. dan penentuan standar pelayanan minimal. b. kewenangan. dan pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah meliputi : 1. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintah daerah. dan pinjaman dan/atau hibah antarpemerintahan daerah. bagi hasil pajak dan non pajak antara pemerintahan propinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. e. Hubungan dalam bidang keuangan antar pemerintahan daerah meliputi: 1. 2. d. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah.

pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. 2. pertambangan umum (80%). gas alam (30. PBB. Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu dana yang brsumber dari Pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk mendanai kebutuhan 112 . Pengawasan Terhadap Raperda APBD dan Raperda lainnya. perkotaan. hutan (IHPH. tanggungjawab. kewenangan. dan pelestarian. perkebunan. ). 80%. 2. 2.5 %).5 %). perikanan (80%). Hubungan dalam pengawasan berhubungan dengan. (b) pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Dalam rangka tercapainya tujuan penyelenggaraan otonomi daerah (pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat) dikoordinasi oleh Menteri Dalam Negeri dan Gubernur. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam lainnya antarpemerintahan daerah. 3. Dana Bagi hasil. pengendalian dampak. pemeliharaan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. pertambangan minyak (15. (c) 5. Hubungan Keuangan berdasarlam UU. sektor pedesaan. pertambangan serta kehutanan (90%). f.NO. 4. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pemanfaatan. Bea perolehan atas hak tanah dan bangunan (80%). dan. Yang bersumber dari Sumber daya Alam. Reboisasi 40 %. dan 3. Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah meliputi : 1. Pajak Penghasilan (20%). budidaya. dan panas bumi (80%).1. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. yang sumbernya berasal dari pendapatan APBN terdiri dari : 1.

dana cadangan. hubungan keuangan pusat dan daerah tercermin dari desentralisasi fiskal. Dana Alokasi Khusus (DAK). kegiatan dan jenis belanja. dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi berupa penundaan atas penyaluran Dana Perimbangan. belanja. Dalam hal pengendalian Menteri Keuangan menetapkan batas maksimum jumlah kumulatif defisit APBD. Hal tersebut dapat dilihat dari sistem anggaran yang defisit-surplus. 33 tahun 2004 adalah pembiayaan sebagai salah satu sumber penerimaan daerah selain pendapatan daerah. Pengaturan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang ditentukan UU No. yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Apabila APBD defisit. program. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan tugas pembantuan. 33 Tahun 2004 disinergikan dengan UU. yaitu tidak melebihi 3 persen dari PDRB tahun yang bersangkutan. Disini daerah yang mengajukan dan wajib memiliki dana pendamping 10 %.daerah. dan UU. dan pembiayaan. dan anggaran dibuat menurut organisasi. 17 tahun 2004 tentang Keuangan Negara. N0. UU No. pembiayaan difisit bersumber dari sisa lebih perhitungan angara (SILPA). 3. fungsi. No.NO. penggunaan sistem anggaran terpadu yang terdiri dari pendapatan. Sistem anggaran yang difisit-surplus membuat aspek pengendalian. tugas. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara. dan pinjaman daerah. Menteri keuangan menetapkan deficit APBD dan batas maksimal defisit APBD masing-masing daerah setiap tahun anggaran. Prinsip dasar yang digunakan dalam UU. Hubungan antara pusat dan daerah tercermin dalam pembagian kewenangan. penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. dan tanggungjawab yang jelas antar tingkat pemerintahan oleh karena 113 . Sekurang-kurangnya 26 % dari Pendapatan Dalam Negeri Neto. dekonsentrasi.

prinsip money follows function diterapkan. oleh karenanya konflik yang terjadi di masyarakat makin bervariasi.NO. sementara elemen-elemen yang lain dapat 114 . 4. yaitu besarnya distribusi keuangan di dasarkan oleh distribusi kewenangan. UU No.3. Desentralisasi dan demokrasi di daerah telah mendorong tumbuhnya pemerintahan lokal yang semakin terbuka. Dalam rangka menjalankan otonomi seluas-luasnya pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. dan tanggungjawab yang telah ditentukan terlebih dahulu sebagaimana diatur dalam UU. Akibatnya sejumlah politisi yang berbasis masyarakat hingga politisi karbitan dapat mempunyai akses menduduki jabatan politik (Kepala Daerah dan DPRD). hal ini nampak bukan hanya keanggotaan DPRD yang didasarkan atas pemilihan langsung oleh rakyat.4 Dinamika Politik dan Hukum dalam Kaitannya Dengan Hubungan Pusat Daerah dan Tujuan Pembangunan daerah Implikasi amandemen UUD 1945 dalam pemerintahan daerah yang sangat penting dan mendasar adalah keinginan untuk melakukan perubahan tata kelola pemerintahan daerah. tetapi juga kepala daerah yang calonkan oleh partai politik maupun calon independen. UUD 1945 telah menetapkan bahwa pemerintahan daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. 32 tahun 2004. tugas. Cerminan hubungan tersebut tercermin dalam aspek perencanaan dan penganggaran untuk semua aktivitas disetiap level pemerintahan sesuai dengan kewenangan. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dapat dikatakan memadukan model efisiensi struktural dan model demokrasi lokal. tugas dan tanggungjawab masing-masing. fenomena pergeseran pemerintah birokratis ke pemerintahan partai merupakah sebuah contoh hadirnya pemerintahan yang semakin terbuka yang memberikan kesempatan yang lebih besar bagi elemen-elemen masyarakat sipil (diluar birokrasi dan militer) untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Jurnal Justisia Vol 12 NO.NO. 2004. maka secara perlahan ia akan jatuh ketangan segelintir orang (oligarki) dan cenderung pada apa yang disebut hukum besi oligarki. Dalam kaitannya dengan proses rekruitmen politik sebagai satu bentuk 5 Armen Yasir. Ini berarti partai politik harus sudah mengkader dan mempersiapkan kadernya untuk menjadi pemimpin. yaitu pasangan calon diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Robert Michel (dalam Armen Yasir)5 menyatakan bahwa. apabila logika formal dipakai. Dibukanya kesempatan bagi calon perseorangan yang bukan kader partai politk untuk mendaftarkan diri ke partai politik dan akan diproses oleh partai politik secara demokratis dan transparan membawa konsekuensi bahwa partai politik harus memiliki aturan main yang terbuka. 2 Desember 2004. sekali partai politik terbentuk oleh para pendukungnya. kemudian mengumumkan hasilnya kepada publik serta meminta masukan kepada publik terhadap calon yang telah mendaftar tersebut. hal 7. Sebagai suatu contoh proses rekuritmen kepala daerah yang ditentukan oleh UU. Selama ini proses demokrasi dan transparansi dalam pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah sejak berlakunya UU. namun tidak membuka diri bagaimana proses penetapan calon dan mengapa calon tersebut diajukan dan ditetapkan dari partainya.memperoleh akses masuk ke Komisi Pemilihan Umum sampai Dewan Perwakilan Daerah. 32 Tahun 2004. di Propinsi Lampung yang dilakukan oleh partai politik atau gabungan partai politik sangat formal. dan terkesan hanya memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.NO. 115 . Analisis Terhadap Pemilihan Umum Anggota Legislatif Tahun 2004 di Propinsi Lampung. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. sehingga bergaining posistion pimpinan dalam partai politik dan antar partai politik lebih menentukan. maka kader partai merupakan calon utama yang akan diajukan oleh partai politik untuk menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. dan publik diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengetahuinya bagaimana proses demokrasi dan transparan yang dilasanakan oleh partai politik. Proses yang dilakukan dengan membuka pendaftaran kepada calon perseorangan untuk mendaftarkan diri kepartainya baik untuk calon kepala daerah maupun wakil kepala daerah.

Begitu juga prakarsa inovasi penyelenggaraan pemerintahan daerah kearah good fovernance 116 . antara lain cendrung tidak menghendaki perluasan politik dalam pengambilan kebijakan daerah. desentralisasi dan demokrasi merupakan sumber baru petaka di daerah. Bukan rahasia umum bahwa untuk menentukan rekruitmen politik sangat ditentukan pola oleh hubungan. faksi dan finansial. Pensiunan TNI atau POLRI dan Pengusaha. sebab setiap perubahan dalam pola partisipasi dianggap sebagai suatu ancaman terhadap status quo politik. oligharki elite yang jauh dari sentuhan rakyat yang menimbulkan sisi sinis masyarakat banyak yaitu reformasi. maraknya korupsi. sering menimbulkan persoalan tersendiri bagi pengembangan demokrasi di daerah terutama dalam mendorong tumbuhnya kemitraan dan kerjasama yang terbuka antara pemerintah daerah dengan unsurunsur nonpemerintah (di berbagai daerah tumbuhnya kemitraan dan kerjasama yang terbuka yang mengarah kepada kesetaraan dan pembelajaran). kader partai politik cendrung menduduki sebagai calon wakil kepala daerah. sedangkan calon kepala daerah berasal dari Birokrat. yang lebih banyak menguntungkan pihak mereka. Berbagai persoalan diatas. Selama ini dari pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah (6 kabupaten/Kota di Propinsi Lampung) yang sudah dilakukan. pelipatgandaan pajak dan retribusi daerah yang menjadi beban berat bagi masyarakat.partisipasi warga masyarakat terdapat suatu kecendrungan di mana elit partai politik kurang menyukai perluasan kesempatan politik. Penawaran terhadap kandidat dan tuntutan pencalonan akan berinteraksi yang menghasilkan out put para calon yang direkrut untuk menduduki kursi kepala daerah atau wakil kepala daerah. Calon kepala daerah yang bukan berasal dari partai kemudian hari apabila terpilih akan masuk partai politik yang mencalonkannya atau memasuki partai politik yang akan dijadikan kendaraan untuk mencalon kembali untuk kedua kalinya Hadirnya pemerintahan partai ternyata menimbulkan sejumlah masalah bagi demokrasi di daerah.

32 tahun 2004). sehingga polarisasi idiologi dan kepentingan adalah sajian yang jauh lebih menonjol.NO. Dilihat dari subtansi pasal-pasal yang mengatur penyelenggaraan otonomi dan prakteknya cenderung hanya dilakukan 117 . Akibat lebih jauh dari kondisi ini timbulnya problem baru yaitu distrust (rendahnya kepercayaan) antar elemen. secara horizontal kemajemukan masyarakat menyajikan konflik ketimbang pluralisme dan kohesivitas. Tumbuhnya organisasi kemasyarakatan yang sangat marak di setiap daerah membuat ruang publik semakin terbuka luas. Di balik kemajuan dalam organisasi non pemerintah. hubungan keuangan dan hubungan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan dekonsentrasi yang sekaligus berkaitan dengan hirarkhi pemerintahan. Dari dari pengertian desentralisasi dan daerah otonom (Pasal 1 angka 5. 32 tahun 2004 berhubungan dengan hubungan kewenangan. Hubungan kewenangan pusat dan daerah di Indonesia berdasarkan UU.NO. masih terdapat elemen masyarakat bahkan partai politik merupakan bagian dari pemeliharaan status quo yang siap melumpuhkan elemen masyarakat yang menentang kebijakan pemerintah yang bermasalah atau korupsi di pemerintahan daerah dengan memainkan para preman bayaran. mengorganisir masyarakat. 6 dan 7 UU. pada dasarnya menghendaki desentralisasi merupakan otonomi suatu masyarakat dalam wilayah tertentu batas-batasnya yang menjelma menjadi daerah otonom. mengelar advokasi untuk desentralisasi dan demokrasi. walaupun kondisi ini tidak menghentikan gerakan demokratisasi namun harus dibayar dengan resiko kekerasan akibatnya gerakan civil society dewasa sekarang terseok-seok. menjadi struktur mediasi dan memfasilitasi partisipasi dan kemitraan antara pemerintah daerah dan masyarakat. Organisasi kemasyarakatan ini saling bekerjasama membangun jaringan untuk melakukan riset. dapat dengan mudah disaksikan sisi paradoksal. Gerakan demokrasi yang didorong oleh aktor-aktor civil society harus berhadapan dengan praktik-praktik kekerasan yang dimainkan oleh elemen masyarakat yang lain.dan reinventing government akan menjadi terhambat apabila pemerintah daerahnya sibuk hanya untuk memperkaya diri pribadi dan koloninya.

makna desentralisasi menjadi penyerahan wewenang pemerintahan dari pemerintah pusat (elit nasional) kepada pemerintah daerah (elit lokal). sedangkan anggaran daerah yang sekarang sudah cukup memadai sebagian besar lebih pada untuk membiayai birokrat dan anggota DPRD.oleh pemerintahan daerah. Dengan demikian konotasi partisipasi tidak hanya terbatas pada keterlibatan dalam pengambilan keputusan tapi juga keterlibatan dalam menikmati hasil-hasil pembangunan itu sendiri. Dalam Pasal 139 ayat (1) UU. Pembangunan akan memberikan hasil yang optimal apabila memberikan manfaat terbesar bagi rakyat. Akibat lebih lanjut cita otonomi daerah untuk lebih meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat mengalami kemerosotan. Disisi lain dominasi birokrasi dalam menjalankan roda pemerintahan daerah baik karena kelebihan-kelebihan dalam pengalaman. akibatnya keberadaan masyarakat yang berotonomi menjadi kabur maknaya lebih-lebih peran serta aktif dari masyarakat dalam setiap tahap penyelenggaraan otonomi kurang terakomodir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai kelemahan struktural dari lembaga DPRD membuat lembaga ini belum dapat melaksanakan fungsinya secara optimal. kemampuan dan kewenangan telah menyebabkan wakil-wakil 118 . hingga sekarang belum ada satu perdapun yang mengatur tentang partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. namun dirasakan sangat sumir sebab menurut penjelasan tersebut peran serta masyarakat dilaksanakan hanya berdasarkan peraturan tatatertib DPRD. keeratan hanya terjadi pada saat kampanye. Kebanyakan anggota DPRD loyal kepada partainya atau pada dirinya sendiri.NO. 32 Tahun 2004 terdapat subtansi pasal yang mengatur tentang peran serta masyarakat dalam penyiapan dan pembahasan rancangan peraturan daerah. Pengaturan yang ditentukan pasal di atas juga lebih menekankan kepada peranan DPRD sebagai sentral pengemban misi menyuarakan aspirasi masyarakat. Telah diyakini secara universal bahwa pembangunan akan lebih efektif dan efisien apabila didukung oleh partisipasi yang tinggi dari masyarakat. Kaburnya tali hubungan antara yang mewakili dengan yang diwakili.

yaitu urusan pemerintahan diluar kelompok urusan pemerintahan yang pertama. yaitu penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. pertahanan keamanan. besaran. moneter. maka sudah selayaknya tugas tersebut didesentralisasikan kepada daerah otonom. dan terakhir berdasarkan kriteria efisiensi. Kriteria akuntabelitas. fiskal nasional. Ketentuan adanya urusan pemerintahan yang diselenggarakan oleh gubernur selaku wakil pemerintah dan ditugasbantukan kepada daerah otonom atau desa menimbulkan persoalan tersendiri. Selanjutnya dalam UU ini dinyatakan 119 . Pengaturan mengenai distribusi urusan ditentukan dalam Pasal 10 UU NO. dekonsentrasi kepada wakil pemerintah (gubernur) dan instrasi vertikal di daerah dan tugas pembantuan kepada daerah otonom dan desa.rakyat dalam posisi bargaining position dengan eksekutif. oleh karennya apabila dilihat dari ketentuan tugas gubernur dan hal-hal yang ditugasbantukan kepada daerah otonom atau desa. 32 tahun 2004. karena akan sulit membedakan mana posisi sebagai wakil pemerintah dengan kepala daerah begitupun dalam melaksanakan tugas otonomi dan tugas pembantuan. Dilihat dari dasar pendistribusian di dasarkan ketentuan Pasal 11 yang mengacu kepada kriteria eksternalitas. Kelompok lain adalah urusan pemerintahan yang diselenggarakan menurut asas sentralisasi. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. besaran. yaitu urusan pemerintahan yang tidak dapat didesentralisasikan yang meliputi politik luar negeri. yustisi dan agama karena dipandang penting bagi keutuhan negara dan bangsa Indonesia. yaitu penaggungjawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. Terdapat urusan pemerintahan yang dapat didesentralisasikan. yaitu penyelenggara suatu urusan pemerintah ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. kondisi inipun berimplikasi terhadap cecks and balances tidak jalan.

Apabila dilihat dari kualitas dan manfaat peraturan daerah yang dibatalkan oleh pemerintah pusat. namun demikian walaupun terdapat susunan daerah otonom.urusan pemerintahan yang didesentralisasikan dapat bersifat wajib dan dapat pula bersifat pilihan (lihat Pasal 13 dan Pasal 14 UU. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan). propinsi dan kabupaten/kota dipetakan secara rinci menurut ketiga kriteria di atas. aspek lain dapat juga dilihat dari pemberian laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah oleh kepala daerah kepada pemerintah secara bertingkat serta dalam hal pengangkatan Sekretaris Daerah. Berdasarkan ketentuan di atas.NO. Nampak bahwa distribusi urusan pemerintahan bagi pemerintah. sehingga terjadinya pengingkaran terhadap segala bentuk kendali dan kontrol pemerintah yang diatur dalam kerangka hukum disisi lain terjadi penampikan terhadap bentuk peraturan kebijakan yang harus dipatuhi seperti peraturan menteri (kondisi ini akibat juga dari tidak tegasnya pengaturan Kedudukan Peraturan Menteri dan atau peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat selain yang ditentukan oleh Pasal 7 UU. implikasi lebih luas dapat terjadi tumpang tindih pengaturan suatu urusan dalam suatu propinsi. dalam praktek penentuan kriteria yang tidak berdasarkan kondisi riil daerah menimbulkan konflik antara propinsi dan kabupaten/kota dalam menyelenggarakan urusan wajibnya.NO. Hasil evaluasi peraturan daerah yang dilakukan pemerintah pusat terhadap peraturan daerah yang telah ditetapkan daerah berhubungan erat dengan kapasitas dan political will pemerintah daerah. dapat dikatakan bahwa kualitas peraturn daerah tersebut rendah dan memberatkan beban ekonomi masyarakat. 32 tahun 2004). Sebagian tersebesar pengaturan dalam peraturn daerah adalah pungutan untuk mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD). Pada dasarnya daerah otonom tersusun secara hirarkhis yang dapat dilihat dari aspek pelaksanaan tugas pembantuan dari propinsi kepada kabupaten/kota dan desa serta oleh kabupaten/kota kepada desa. Rendahnya kualitas perda disebabkan minimnya partisipasi masyarakat dalam 120 . namun tidak terdapat satu pasalpun yang menyatakan peraturan daerah propinsi berkedudukan lebih tinggi dari pada peraturan daerah kabupaten/kota.

Terdapat peraturan daerah yang dianggap bertentangan dengan peraturan perundangundangan nasional. melihat persoalan keuangan pusatdaerah di Propinsi Lampung terdapat permasalahan permasalahan keuangan daerah antara lain berhubungan dengan : a. 121 . Salah satu fenomena yang sangat menonjol pola hubungan keuangan pusat dan daerah adalah ketergantungan keuangan daerah yang sangat tinggi terhadap pemerintah pusat secara umum kondisi ini tercipta karena adanya ketimpangan fiskal disisi lain kesulitan daerah dalam penentuan kebutuhan keuangan merupakan persoalan tersendiri. Rendahnya sumber-sumber keuangan lukratif telah menyebabkan ketergantungan keuangan yang tinggi pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. Penggunaan sistem grant dalam perimbangan keuangan pusat dan daerah menimbulkan kekurangan kemandirian daerah yang menyebabkan daerah 6 Made Suwandi dalam Robert A. Konsekuensi dari kondisi seperti ini pembangunan daerahpun menjadi sangat tergantung pada Pemerintah Pusat. Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah. d. Simanjuntak.proses penyusunan. hal 278-279. Secara empirik pendekatan perimbangan keuangan yang lebih memberikan dominasi pusat untuk menguasai sumber-sumber keuangan lukratif telah mengakibatkan terjadinya bias of allocation dengan memberikan akses pendanaan yang lebih besar kepada departemen-departemen pusat dan kanwil serta kandepnya di daerah untuk melakukan pembangunan. Secara empirik sistem perimbangan keuangan selama ini lebih bertumpu pada subsidi. c. Perimbangan keuangan daerah tidak akan efektif dan efisien sepanjang belum diupayakan adanya reaktualisasi otonomi daerah dan pembuatan standarstandar pembiayaan untuk pelaksanaan urusan otonomi tersebut. e. 2005. TIFA. Berdasarkan pendapat Made Suwandi6. atau minimnya implementasi prinsip transparansi dan akuntabelitas dalam penyusunan dan pelaksanaan peraturan daerah. b. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 tahun.

maka disain perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdasarkan UU. sedangkan urusan yang dilakukan pemerintah pusat lebih besar sehingga memerlukan anggaran yang besar pula. Dari pendapat di atas. bahkan berpotensi memperbesar kesenjangan tersebut dengan semakin mengencilnya peran dan anggaran pusat untuk memprioritaskan pembangunan di daerah-daerah tertinggal. 33 tahun 2004 belum mampu memperkecil kesenjangan antar daerah. Tidak heran bila setiap tahun untuk menjamin perolehan anggaran yang cukup wajar.kurang kreatif dan inovatif dalam menggali sumber-sumber keuangan daerah yang tidak membebankan keuangan masyarakat daerahnya. Demikian juga dengan maraknya pembentukan daerah-daerah otonom baru (pemekaran) yang membebani keuangan negara dan daerah lebih memperkecil kemampuan fiskal pemerintah untuk didistribusikan ke daerah. Salah satu tujuan pelaksanaan desentralisasi adalah tujuan ekonomis dan administratif.NO. Apabila dikaitkan sistem otonomi yang diterapkan UU. akibat lebih lanjut terbatasnya kemampuan alokasi anggaran pemerintah daerah untuk pelayanan dasar dan peningkatan akses ekonomi masyarakat. daerah melakukan perjuangan dan bahkan harus menuntut hak daerah untuk mendapatkan anggarannya dengan menyiapkan berbagai pelumas untuk memperoleh perimbangan keuangannya itu. Tujuan ini menitik beratkan pada pemikiran bahwa keberadaan Pemerintah Daerah akan dapat membantu Pemerintah Pusat dalam memeratakan 122 . utamanya daerah tertinggal. kecuali secara kategoris ditetapkan sebagai urusan pemerintah pusat. 32 tahun 2004 yang lebih meletakkan prinsif semua fungsi pemerintah adalah urusan rumah tangga daerah. sedangkan urusan rumah tangga bersifat pelayanan yang banyak menyerap anggaran dari pada menghasilkan uang. dapat dapat diprediksi bahwa kesulitan bagi setiap daerah yang benar-benar mampu membelanjai secara penuh rumah tangganya. disisi lain kebutuhan pelayanan semakin meningkat baik mutu maupun jenisnya yang merupkana implikasi dari kemajuan masyarakat itu sendiri.NO.

yang dalam kaitannya dengan hubungan kekuasaan pusat dan daerah ditentukan Pasal 18. masih terdapat kelemahan dari sumber daya manusia. Prinsip ini menunjukkan terdapat pola hubungan kekuasaan antar organisasi.pembangunan. sehingga tercermin delegasi wewenang kepada daerah membutuhkan pertanggungjawaban. berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak terciptanya siatuasi kondisif bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pembangunan. terdapat prinsip bahwa hubungan antara Pemerintah Pusat dan daerah bersifat hirarkhi dan vertikal. antara Pemerintah Propinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. termasuk di dalamnya pembangunan politik dalam usaha pengembangan dan penerapan demokrasi di daerah. sedangkan pola hubungan kekuasaan intra organisasi juga tercermin dari hubungan instansi pusat departemen atau lembaga 123 . sumber dana. Dari berbagai analisis sebelumnya dapat dikatakan bahwa sistem dan praktek otonomi sekarang belum menciptakan situasi yang favaorauble untuk meningkatkan kinerja pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan daerah. 18 A dan Pasal 18 B UUD 1945. hal ini disebabkan faktor eksternal pemerintahan daerah. sedangkan faktor internal pemerintah daerah. pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. meningkatkan efisiensi pelayanan. Pola hubungan ini merupakan penyelenggaraan desentralisasi yang diatualisasikan dengan keberadaan local self goverment. yaitu antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Propinsi. UUD 1945 Perubahan mengatur Pemerintahan Daerah Dalam Bab VI Di bawah Judul Pemerintah Daerah. Perubahan UUD 1945 mengganti secara menyeluruh ketentuan pasal 18 dan penjelasannya. mengefektifkan perencanaan pembangunan dan sebagainya. Berdasarkan ketentuan pasal-pasal ini. seperti hirarkhi atasan yang menciptakan ketergantungan daerah yang berhubungan dengan memacu kewenangan. mendekatkan pemerintah dengan masyarakat. pertentangan politik dan manajemen yang kurang baik. antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. maka dibutuhkan situasi kondusif yang akan memungkinkan daerah untuk berperan secara optimal dalam pembangunan. Untuk memacu pembangunan daerah.

Pola hubungan ini merupakan penyelengaraan dekonsentrasi. melainkan sebagai tuntutan konstitusional yang berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum. Hak dari setiap daerah untuk mendapatkan bagian yang seimbang dari hasil-hasil daerah serta memperoleh manfaat dari segala pemanfaatan sumberdaya daerah yang bersangkutan.pemerintah non departemen dengan organisasi (instansi) vertikalnnya di daerah. Dilihat dari hubungan keuangan pusat dan daerah UUD 1945 telah menegaskan harus dilaksanakan secara selaras dan adil: Ketentuan ini menunjukkan bahwa daerah berhak memperoleh secara wajar dan adil segala sumberdaya untuk mewujudkan pemerintahan daerah yang mandiri dan kesejahteraan masyarakat daerah yang bersangkutan. Berdasarkan uraian di atas nampaklah bahwa cita-cita otonomi daerah bukan sekedar tuntutan efisiensi dan efektivitas pemerintahan. UUD 1945 juga mengatur Prinsip hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah didasarkan kepada kekhususan dan keragaman daerah: Kekhususan daerah disini adalah keistimewaan yang terdapat dimasing-masing daerah. otonomi daerah diperlukan dalam rangka memperluas partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Otonomi untuk daerah pertanian tentunya akan berbeda di daerah industri atau di daerah pantai. karena itu pengaturan tentang hubunngan keuangan pusat dan daerah harus dipertegas dan diperjelas dalam peraturan perundang-undangan. atau di daerah pedalaman yang masih sangat kuat dipengaruhi adat budaya lokalnya dan lain sebaginya. Dari sudut demokrasi (secara normatif). Berdasarkan pemikiran demikian. sedangkan keragaman daerah dimaksudkan bahwa antar daerah yang satu dengan daerah lainnya masing-masing berbeda satu sama lainnya. Dari segi materil otonomi daerah mengandung makna sebagai usaha mewujudkan kesejahteraan yang bersandingan dengan prinsip 124 . maka bentuk dan isi otonomi daerah tidak harus seragam. karena sangat ditentukan oleh berbagai kondisi yang ada dimasing-masing daerah.

negara kesejahteraan dan sistem pemencaran kekuasaan menurut dasar negara berdasarkan atas hukum7. sedangkan urusan-urusan pelayanan umum dan berorientasi sosial dapat menjadi urusan pemerintah pusat. Melalui kegijaksanaan sektoral. untuk itu perlu dikaji ulang mekanisme penyusunan anggaran untuk menghilangkan hambatan sistem dan proses penanggaran daerah bauk menyangkut produk hukum nasional maupun daerah yang memberikan keleluasaan otonomi daerah dalam rambu-rambu good governance. hal 58-59. Kebijakan sektoral meski memiliki sensitivitas untuk mendukung daerah dalam menciptakan pusat-pusat baru kewilayahan. pertama daerah diberikan sumber-sumber pajak yang lukratif termasuk bagi hasil pajak yang biasanya menjadi pajak pusat. Peningkatan diskresi keuangan Pemerintah daerah. Urusan-urusan yang dapat menjadi sumber keuangan secara bertahap harus diserahkan kepada daerah untuk dikelola. penguatan potensi peningkatan pendapatan terutama daerahdaerah tertinggail berdasarkan analisis biaya dan manfaat untuk keseluruhan wilayah Indonesia. maka terdapat beberapa rencana tindak yang harus dilakukan yaitu. termasuk pusatpusat ekonomi. Dalam rangka efektifitas anggaran perlu ada keseimbangan antara diskresi pemerintah daerah untuk mengatur pemerintahan otonomnya dan control pemerintah untuk menjaga kepentingan nasional. Dari berbagai dinamika politik dan hukum di daerah sebagaimana digambarkan terdahulu dikaitkan konstruksi dasar hubungan pusat dan daerah sebagaimana ditentukan oleh UUD 1945. 125 . Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII. 1. Menyosong Pajar Otonomi Daerah. 2001. disisi lain perlu ditingkatkan proporsi DAK dari total penghasilan bersih negara. Analisis kebutuhan keuangan pemerintah daerah. Pemerintah Pusat dapat menerapkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja keuangan daerah yang dilengkapi 7 Bagir Manan. 4. 2. 3. pemerintah pusat juga dapat meningkatkan porsentase alokasi anggaran tiap institusi pemerintah dengan mengarahkan programnya untuk daerah-daerah tertinggal.

Pemerintah daerah sering kurang menggunakan pertimbangan strategis sehingga alokasi anggara daerah benar-benar efisien. efektifitas. disisi lain perlu pedoman pemerintah pusat dalam menilai peraturan derah yang dapat diterbitkan melalui proses Regulatory Impact Analysis yang berbasis cost and benefit analysis dan prinsif-prinsif good governance akuntabilitas. efisiensi). Alokasi anggara lebih sering berdasarkan pada besarnya anggara daerah tahun sebelumnya dan besarnya bantuan proyek luar neger yang akan diterima pada tahun yang bersangkutan.NO. Perlu adanya kebijakan fiskal yang proporsional mengingat kebijakan fiskal dewasa sekarang masih belum mendukung peningkatan kemampuan daerah dalam menggali sumber-sumber pendapatansendiri. pelanggaran terhadap ini harus dilakukan tindakan represif yang bersifat punishment oleh pemerintah pusat. Berbagai terjadi di daerah dimana penyusunan anggaran pembangunan daerah sering tidak memperhatikan kebutuhan riil. 6. pembelanjaan harus dilakukan secara bertanggungjawab. 8. ekonomis dan membantu mengurangi kesenjangan antar daerah. 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. dan memanfaatkan secdara optimal kondisi ekonomi dan potensi daerah sebagai bahan pertimbangan utama. Otoritas dan inisiatif daerah dalam hal pengelolaan sumber-sumber keuangan masih terbatas.dengan mekanisme reward dan punisbment bagi pemerintah daerah dalam hal fiskal. 7. 5. Penguatan pengawasan atas implementasi prinsif pendekatan partisipatoris yang telah dipersyaratkan dalam UU. Dibidang pengawasan peraturan perundang-undangan daerah. akibat lebih lanjut alokasi anggara saat ini cendrung mendorong daerah-daerah yang telah memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang manju semakin maju dan yang terbelakang menjadi semakin tertinggal di belakang. perlu penegasan dan pengaturan bahwa pemerintah mepunyai kewenangan 126 (transparansi. Peningkatan akuntabilitas pemerintah daerah dalam anggaran terutama dilihat dari ketaat asas anggaran. yang mengakibatkan daerah semakin mengandalkan bantuan dari pusat untuk pemenuhan anggaran rutin dan pembangunannya. partisipatif. . penggelolaan.

sebab kewenangan DPRD tersebut berhubungan dengan kepentingan darah yang 127 . menyempitnya skala ekonomi akibat sekat administratif pemerintahan. Secara nasional diperlukan UU yang mengatur ketentuan penguatan kapasitas kelembagaan DPRD. perlu pernegasan pencantuman ditingkat konstitusi bahwa peluang kandidat perseorangan dijamin oleh konstitusi. 10. tata ruang wilayah.pembatalan peraturan daerah dan masyarakat dapat mengajukan judicial review. Dari berbagai alternatif analisis di atas. Kewenangan DPD tidak akan mengurangi kewenangan DPR dan Presiden dalam membentu UU. apabila pemerintah pusat tidak mampu mengawasi prilaku daerah. Dilihat dari aspek politik dalam proses pemilihan kepala daerah yang ditentukan oleh UUD 1945 yang dipilih secara demokratis. lembaga DPRD benar-benar menjadi mitra seimbang dengan pemerintah daerah dalam perumusan berbagai kebijakan strategis 11. 32 tahun 2004 perlu mendapat prioritas. pengelolaan sumber daya alam dapat diatas melalui kerjasama antar daerah. dilihat dari berbagai kepentingan antar daerah. Perimbangan kewenangan pusat-daerah harus mencerminkan adanya check and balances pusat terhadap daerah. Peningkatan kapasitas DPRD harus dilakukan secara kelembagaan. begitu juga kerja sama antar daerah seperti yang dimandatkan UU. 12. 9.NO. pengawasan dan keuangan. maka kecendrungan sistem pemerintah tidak berjalan. sisi lain perlu diperketat persyaratan dan mekanisme pemekaran daerah. inefisiensi anggaran. diwajibkan adanya staf ahli secara permanen agar. sudah saatnya memperkuat DPD sebagai lembaga perwakilan rakyat yang mewakili kepentingan daerah memiliki kewenangan di bidang legislasi. Dalam rangka memperkuat daerah pemekaran perlu dilakukan melalui berbagai program pemerintah pusat melalui peningkatan kapasitas dan dukungan anggaran. mengingat pengakuat calon independen dalam UU dapat dengan mudah berubah dan keliru dalam penafsiran dipilih secara demokratis dikemudian hari.

Kewenangan legislasi dan pengawasan merupakan kunci dan ujung tombak masuknya kepentingan daerah dalam peraturan perundang-undangan yang di dalamnya termasuk materi muatan daerah. 128 .wajib diperhatikan dan diperjuangkan terutama hak-hak daerah serta perlidungan terhadap wilayah daerah. sedangkan dari sisi keuangan dapat dilakukan kontrol penyeimbangan keuangan pusat-daerah.

minimnya keterbatasan anggaran. • Model ini menghasilkan model otonomi yang cenderung menghambat implementasi kebijakan. aspirasi daerah dan dengan demokratisasi kepentingan konsekuensi pemerintahan Model pusat. • Pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan UU No. Model pemerintahan daerah berdasarkan ke dua UU tersebut.32/2004 merupakan model jalan tengah.BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. di ini.32/2004 terjadi perubahan yang mendasar dari era sebelumnya yaitu UU No.1 Kesimpulan • Dalam pelaksanaan otonomi daerah di Provinsi Lampung dan 10 Kabupaten/Kota pada periode UU No. keteraturan hubungan kewenangan. menimbulkan penyelenggaraan pemerintahan yang masih berpegang pada model hirarkis. keutuhan NKRI.22/1999 dan UU No. Model ini dinilai sebagai model yang sesuai untuk menggabungkan penyelenggaraan pemerintah antara kepentingan.5/1974 yang sudah berlangsung lebih 30 tahun lamanya. Perubahan mendasar tersebut menyangkut terjadinya pergeseran dari model pemerintahan yang sentralistis ke model pemerintahan desentralistis yang lebih bermakna. dan homogenitas regulasi. tidak berorientasi pada pemecahan masalah. dan terbatasnya kemandirian daerah. namun masih muncul beberapa persoalan yang bersumber 129 . • Walaupun terdapat perubahan mendasar dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. fungsi pengawasan yang tidak efektif. tertib dan stabilitas pemerintahan yang terjaga. kontrol dari pemerintah. implementasi kebijakan yang terbatas. memberikan kewenangan kepada pemda untuk mengurus dan mengelola pemerintahannya berdasarkan aspirasi dan kepentingan daerah dengan tetap mengacu pada garis kebijakan yang ditentukan oleh Pemerintah Pusat.

hubungan kerja Prov dan Kabupaten/Kota masih belum sinergi . dari hasil penelitian masih diperlukan.22/1999 dalam menyelenggarakan pemerintahan. pelayanan publik masih belum memuaskan masyarakat. isu kemiskinan masih belum teratasi.32/2004. • Intervensi atau Campur tangan Pusat kepada Daerah atau Campur tangan Provinsi Ke Kabupaten/Kota. Argumen Umum diterimanya UU No. antarlain : a) Hubungan Pemerintah Prov dengan Kabupaten/kota tidak bersifat hirakis telah mengembalikan model pemerintahan yang relative terintegrasi dan harmonis antara pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. 130 .Melalui pengawasan yang dilakukan model ini koordinasi dan Provinsi terhadap pemerintah Pemerintah Kabupaten/Kota dinilai jauh lebih baik dibandingankan dengan UU No. • Dari hasil temuan penelitian di lapangan. terjadi pemborosan anggaran. serta keberlangsungan pemerintahan bisa dilaksanakan secara efektif. Pemda di Lampung lebih condong menerima UU No. kepentingan daerah masih belum bisa diakomodasi secara menyeluruh berdasarkan regulasi yang berlaku sekarang ini. Sejumlah persoalan mendasar tersebut yaitu fungsi pengawasan yang dilakukan DPRD masih belum efektif. sehingga jaminan terhadap terjaganya tertib dan stabilitas pemerintahan.masih belum efektifnya penyelenggaraan pemerintahan.22/1999 b) Kedudukan dan kewenangan DPRD tidak dominatif dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. masih terbukanya peluang korupsi. dari sisi kemandirian daerah.32 Tahun 2004 daripada UU No. dsb. konflik sebagai akibat imbas pilkada. d) Namun. ternyata baik di tingkat Provinsi maupun di Kabupaten/Kota. c) Kepentingan Daerah dalam perspektif adanya jaminan tertib dan stabilitas pemerintahan difahami dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan sebagai salah satu ukuran untuk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

untuk kepentingan pengawasan. untuk pembinaan karier pegawai daerah. Sebagai akibat perbedaaan kepentingan dan kebijakan kabupaten/kota dengan provinsi. hal ini disebabkan faktor eksternal pemerintahan daerah. pemerataan pembangunan. berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak memacu terciptanya siatuasi 131 . dan sistem administrasi keuangan daerah. Di dalam realitas penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih masih muncul kebijakan yang bertentangan antara pemerintah Provinsi dengan pemerintahan Kabupaten/Kota. muncul inkonsistensi kebijakan antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah Kabupaten/Kota. bisa diterima sebagai jalan tengah untuk mengakomodasi kepentingan daerah dan pusat. menyelesaikan konflik/perselisihan antar daerah. intervensi harus dihindari untuk kepentingan membatasi pengembangan kemandirian daerah. dan implementasi kebijakan di Daerah. dan agar perda tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang lebih atas. menjaga keutuhan NKRI.sepanjang intervensi itu difahami dalam menjaga keutuhan NKRI. Namun. sistem administrasi kepegawaian. • Kendati UU No. untuk mensikronkan pembangunan. menghindari penyimpangan yang dilakukan oleh Daerah. • Sistem dan praktek otonomi sekarang belum menciptakan situasi yang favaorauble untuk meningkatkan kinerja pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan daerah. proses demokratisasi pemerintahan. yang seringkali menimbulkan disharmonisasi komunikasi juga berdampak pada masyarakat banyak. seperti hirarkhi atasan yang menciptakan ketergantungan daerah yang berhubungan dengan kewenangan. agar tidak muncul raja-raja kecil. hubungan Provinsi dan kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pemerintahan. namun dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan masih dijumpai problem implementasi baik dari segi pelaksanaan kewenangan.32 Tahun 2004. implementasi kebijakan pemerintah.

sumber dana. • Perlu adanya kebijakan fiskal yang proporsional mengingat kebijakan fiskal dewasa sekarang masih belum mendukung peningkatan kemampuan daerah dalam menggali sumber-sumber pendapatansendiri • Dalam rangka efektifitas anggaran perlu ada keseimbangan antara diskresi pemerintah daerah untuk mengatur pemerintahan otonomnya dan control pemerintah untuk menjaga kepentingan nasional. 5.32 tahun 2004. perlu penegasan pencantuman ditingkat konstitusi bahwa peluang kandidat perseorangan dijamin oleh konstitusi. melainkan sebagai tuntutan konstitusional yang berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum. masih terdapat kelemahan dari sumber daya manusia. sebagai berikut : • Esensi pelaksanaan otonomi daerah bukan sekedar tuntutan efisiensi dan efektivitas pemerintahan. sedangkan faktor internal pemerintah daerah. mengingat pengakuat calon independen dalam UU dapat dengan mudah berubah dan keliru dalam penafsiran dipilih secara demokratis dikemudian hari. Proses pemilihan kepala daerah yang ditentukan oleh UUD 1945 yang dipilih secara demokratis. pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. otonomi daerah diperlukan dalam rangka memperluas partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Dari segi materil otonomi daerah mengandung makna sebagai usaha mewujudkan kesejahteraan yang bersandingan dengan prinsip negara kesejahteraan dan sistem pemencaran kekuasaan menurut dasar negara berdasarkan atas hukum. untuk itu perlu dikaji 132 . pertentangan politik dan manajemen yang kurang baik.2 Rekomendasi Untuk menjawab terhadap persoalan otonomi daerah tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota diajukan beberapa rekomendasi sebagai model alternatif untuk pengembangan pelaksanaan otonomi daerah ke depan dan sebagai bahan masukan untuk revisi UU No. Dari sudut demokrasi (secara normatif).kondisif bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pembangunan.

Model ini dicirikan dengan penyeragaman regulasi yang terbatas. keseimbangan kapasitas kewenangan dengan daya dukung sumbur pembiayaan. lembaga DPRD benar-benar menjadi mitra seimbang dengan pemerintah daerah dalam perumusan berbagai kebijakan strategis • Perimbangan kewenangan pusat-daerah harus mencerminkan adanya check and balances pusat terhadap daerah. pemerintah pusat juga dapat meningkatkan porsentase alokasi anggaran tiap institusi pemerintah dengan mengarahkan programnya untuk daerahdaerah tertinggal. pertama daerah diberikan sumber-sumber pajak yang lukratif termasuk bagi hasil pajak yang biasanya menjadi pajak pusat. maka kecendrungan sistem pemerintah tidak berjalan 133 . • Model Otonomi Daerah yang diajukan dari hasil penenelitian ini adalah model otonomi yang berorientasi pada pengurangan derajat ketergantungan pada pemerintah pusat. • Peningkatan diskresi keuangan Pemerintah daerah. diwajibkan adanya staf ahli secara permanen agar. Melalui kegijaksanaan sektoral. Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan model penguatan sistem check and balances • Peningkatan kapasitas DPRD harus dilakukan secara kelembagaan. Secara nasional diperlukan UU yang mengatur ketentuan penguatan kapasitas kelembagaan DPRD. kewenangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah. Pemerintah Pusat dapat menerapkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja keuangan daerah yang dilengkapi dengan mekanisme reward dan punishment bagi pemerintah daerah dalam hal fiskal.ulang mekanisme penyusunan anggaran untuk menghilangkan hambatan sistem dan proses penganggaran daerah bauk menyangkut produk hukum nasional maupun daerah yang memberikan keleluasaan otonomi daerah dalam rambu-rambu good governance. kejelasan fungsi kewenangan antara Pusat. apabila pemerintah pusat tidak mampu mengawasi prilaku daerah. disisi lain perlu ditingkatkan proporsi DAK dari total penghasilan bersih negara.

134 .• Di bidang pengawasan peraturan perundang-undangan daerah. perlu penegasan dan pengaturan bahwa pemerintah mepunyai kewenangan pembatalan peraturan daerah dan masyarakat dapat mengajukan judicial review.

Tarsito. Syarif. PT Remaja Majchrzak. 2002. Mahwood. Syarif. Surabaya. Andi. Syarief. Ann. Jimly. 1990. Otonomi Daerah. Makhya. 2000. 135 . 1998. Bandung. Local Government in The Third World : The Experience of Tropical Africa. International Review of Administrative Sciences Vo. Otonomi Daerah Dan Parlemen Di Daerah. D. Makalah Disampaikan dalam “Lokakarya tentang Peraturan Daerah dan Budget Bagi Anggota DPRD se-Propinsi (baru) Banten” yang diselenggarakan oleh Institute for the Advancement of Strategies and Sciences (IASS). Exploring Indonesia Local State-Elites Orientation Towards Local Autonomy. JICA. S. Methode For Policy Research. Naoetion. Banten. 1981. 2005. Ramses. Solichin. Format Baru Otonomi Daerah. Lampung Post. Moeleong. Jakarta. Hidayat. Beverly Hills. Makna dan Implikasinya terhadap Pemerintahan Daerah. Lexy J. Masa Depan Cooper et.. Bandung. Pustaka Quantum. London : Harcourt Brace College Publisher. 2000. 1988. 1981. 2005. Abdul Wahab. Hidayat. XLVII No.A. Chicheser: John Wiley & Sons. Government Decentralization in Comparartive Perspective : Theory and Practice in Developing Countries.P (ed) 1987. Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia.32 Tahun 2004 : Antara Tertib Pemerintahan dan Demokratisasi Terbatas. 2002. Jurnal Ilmu Pemerintahan. Putra. Rondinelli. UU NO. Metode penelitian Naturalistik Kualitatif. 2 Oktober 2000. Metode Penelitian Kualitatif. Saiful. Fadilah. Jakarta. Sage Publication. London. 2002.M. Jakarta. SIC. Edisi 11 Tahun 2000.2. di Anyer. Public Administration for the Twenwty-First Century. Refleksi Realitas Otonomi Daerah. Rosdakarya.DAFTAR PUSTAKA Asshiddiqie. Arif.al.

1986. 1998.Smith. Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah UU No. London : George Allen & Unwin. Decentralization : The Territorial Dimension of The State.C.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat-dan Pemerintahan Daerah 136 . Alfabeta.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah UU No. B.

137 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful