P. 1
Penelitian Model Otonomi Daerah

Penelitian Model Otonomi Daerah

|Views: 1,037|Likes:

More info:

Published by: Purnomo Dhe Kanthonx on Aug 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

ANALISIS MODEL ALTERNATIF OTONOMI DAERAH DALAM PUSATMEMBANGUN HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT- PROVINSI LAMPUNG) DAN KABUPATEN/KOTA (STUDI DI PROVINSI LAMPUNG)
Oleh :

Drs. Syarief Makhya, M.Si
Armen Yasir, SH,MH Maulana Mukhlis, S.Sos. M.IP.

Dibiayai oleh : DIPA Universitas Lampung Dengan Surat Perjanjian Kontrak Penelitian antara Lembaga Penelitian dengan Pembantu Rektor II Universitas Lampung (atas nama Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen) Nomor : 1896/H26/KU/2009 Tanggal 1 Juli 2009

LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS LAMPUNG Desember 2009
1

ABSTRAK
ANALISIS MODEL ALTERNATIF OTONOMI DAERAH DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN PEMERINTAH PUSAT PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA (STUDI DI PROVINSI LAMPUNG) Oleh :
Syarief Makhya , Armen Yasir , Maulana Mukhlis
1 2 3

Undang Undang (UU) No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah) sudah berjalan hampir lima tahun dan selama kurun waktu itu telah mengalami tiga kali perubahan. Dalam prakteknya, UU ini masih menimbulkan sejumlah persoalan sebagai akibat muncul dinamika politik penyelenggaraan pemerintahan dan penyesuaian regulasi dengan praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah. Oleh karena itu, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu model otonomi daerah seperti apa yang bisa membangun efektifitas penyelenggaraan pemerintahan khususnya yang terkait dengan perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang ? Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kebijakan (policy research). Sedangkan dari tingkat eksplanatif, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan dengan cara, yaitu : wawancara mendalam (in depth interview), penyebaran kuestioner kepada 245 responden di Pemerintah Provinsi Lampung dan 10 Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, dokumentasi (official and personal documentation), serta observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan UU No.32/2004 merupakan model jalan tengah. Model ini dinilai sebagai model yang sesuai untuk menggabungkan antara kepentingan, aspirasi dan demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan di daerah dengan kepentingan pemerintah pusat. Model ini, menimbulkan konsekuensi penyelenggaraan pemerintahan yang masih berpegang pada model hirarkis, implementasi kebijakan yang terbatas, masih adanya kontrol dari pemerintah, keteraturan hubungan kewenangan, tertib dan stabilitas pemerintahan yang terjaga, keutuhan NKRI, dan homogenitas regulasi. Model jalan tengah tersebut menghasilkan model otonomi yang cenderung menghambat implementasi kebijakan, tidak berorientasi pada pemecahan masalah, minimnya atau munculnya keterbatasan anggaran, fungsi pengawasan yang tidak efektif, dan terbatasnya kemandirian daerah.

1) Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung 2 ) Dosen Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung 3 ) Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

2

Dalam pelaksanaan Otonomi Daerah ke depan model otonomi daerah yang diajukan dari hasil penelitian ini adalah model otonomi yang berorientasi pada pengurangan derajat ketergantungan pada pemerintah pusat. Model ini dicirikan dengan penyeragaman regulasi yang terbatas, kewenangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah, keseimbangan kapasitas kewenangan dengan daya dukung sumber pembiayaan, kejelasan fungsi kewenangan antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan model penguatan sistem check and balances.

3

Kesepakatan untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi di Indonesia. agama maupun budaya) sehingga menimbulkan polemik – walau umumnya sepakat otonomi daerah harus dilaksanakan. tidak hanya dipengaruhi oleh tuntutan demokratisasi yang muncul setelah runtuhnya pemerintahan Orde Baru. perangkat pemerintahan pusat maupun daerah (legislatif maupun ekskutif) serta tokoh/pemuka masyarakat (adat.BAB I PENDAHULUAN 1. Wujud kongkrit dalam implementasi kebijakan publik adalah dengan membangun sebuah format pemerintahan lokal yang lebih terbuka. tetapi juga lebih terbuka dan adil merupakan faktor-faktor yang secara signifikan mampu memaksa para penguasa di berbagai negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) untuk menata diri dan berusaha keras melakukan reformasi sistem politik. Otonomi daerah yang telah diimplementasikan semenjak 1 Januari 2001 mengundang berbagai intepretasi. baik oleh para akademisi. tetapi fenomena desentralisasi juga merupakan perkembangan situasi politik pada skala global dan tekanan-tekanan politik domestik di berbagai belahan dunia yang makin kuat untuk membangun pola hubungan pusat-daerah yang tidak saja lebih rasional. sistem pemerintahan dan sistem administrasinya. Bahkan UU 22/199 yang mendasari implementasi tersebut harus direvisi dengan UU 32/2004 dan UU 33/2004 karena terdapatnya beberapa pasal yang terkandung didalamnya kurang mendukung implementasi secara harmonis. demokratis. 4 .1 Latar Belakang Kebijakan otonomi daerah di Indonesia pasca Pemerintahan Orde Baru telah mengeser perubahan yang mendasar terhadap praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah yaitu memberikan otoritas dan keleluasaan yang besar kepada pemerintah daerah.

bukan sekedar menyangkut persoalan administratif atau persoalan teknis manajemen pemerintahan. Jadi. yang secara politis dimaksudkan untuk mendesentralisasikan sistem pemerintahan nasional yang selam ini sangat sentralistis. tetapi secara subtanstif juga melibatkan persoalan kekuasaan (power). 2002 :7) Implementasi kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dimaksudkan tidak hanya memberikan dampak positif secara kelembagaan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.5 Tahun 1974. dalam Abdul Wahab. 2002). UU No. 1998. UU No. yaitu dengan melakukan perubahan secara mendasar seluruh bentuk produk hukum yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan Daerah.5 Tahun 1974. Dari sisi normatif upaya untuk mengimplementasikan kebijakan desentralisasi di Indonesia.dan berbagai aspek pembangunan yang lebih mengedepankan prinsip desentralisasi (Abdul Wahab. Pengaturan lebih lanjut mengenai berbagai hal yang menyangkut segi-segi administratif dan teknis merupakan konsekuensi logis dari keputusan politik (Abdul Wahab. 2002: 7-8).5 tahun 1974 yang sudah dilaksanakan sekitar lebih dari 30 tahun lamanya. UU ini secara diametral sangat berbeda dengan UU No. kemudian diganti dengan UU No. melainkan juga untuk mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat atau yang dikatakan oleh Cooper apa yang disebut sebagai moving the governening function closer to the community (Cooper. Wujud konkrit dari keinginan 5 . yakni dengan membangun basis pemerintahan yang lebih demokratis dan otonom di daerah. tetapi dari subtansi lebih menggambarkan dominasi dan keberfihakan pada kepentingan politik kekuasaan pemerintah Pusat atas Daerah. UU ini juga secara telanjang menggambarkan perilaku negara yang otoriter-birokratik yang dalam kiprah politiknya haus untuk memproduksi kekuasaan yang cenderung hegemonik. secara hakiki desentralisasi lebih merupakan persoalan politik ketimbang persoalan administrasi.22 Tahun 1999. Dengan demikian. et al. kebijakan desentralisasi dalam dunia pemerintahan dan politik lokal. walaupun dalam UU tersebut diatur tentang desentralisasi.

UU ini menimbulkan 6 .politik tersebut yaitu pemberian porsi otoritas dan kewenangan kekuasaan yang makin besar kepada Daerah sehingga intervensi pusat pada urusan sehari-hari dan rumah tangga daerah makin berkurang. UU No. Selama empat tahun proses pelaksanaan UU No.22 tahun 1999. administrasi kepegawaian yang tidak proporsional.32 Tahun 2004.DPD dan MPR yang tidak lagi memberikan kewenangan DPRD untuk memilih ini yang memperkuat UU No. 4 tahun berjalan dan telah Dalam praktiknya.22 Tahun 1999. perebutan sumberdaya ekonomi. konflik antara bupati/wlikota dengan wakil bupati/wakil walikota. sudah berlangsung mengalami 3 kali perubahan.32 tahun 2004. UU No. 22 tahun 2003 Tentang Susduk DPRD. (Makhya. sistem koordinasi menjadi tidak efektif. Ide dasar perubahan UU No. tetapi kemudian merembet pada persoalan bangunan pemerintahan daerah secara keseluruhan. hanya bisa dilaksanakan sekitar kurang dari 4 tahun dan digantikan dengan UU No. Sedangkan implikasi politiknya adalah semakin besarnya ruang manuver daerah untuk mengambil keputusan politik dan masa depan daerah akan lebih ditentukan oleh kemampuan politik dan kemampuan manajerial dari elit-elit politik dan elit birokrasi daerah.DPR. dominasi kekuasaan DPRD yang tidak terkontrol.22 Gubernur/Bupati/ Walikota. Alasan-alasan tahun 1999 perlu direvisi dengan perubahan pasal perlunya pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. UU ini merupakan hasil evaluasi dari proses pelaksanaan otonomi daerah yang mengindikasikan tidak terbangunnya tertib pemerintahan dan munculnya kehawatiran yang berlebihan akan rontoknya kekokohan NKRI. diakui terdapat sejumlah persoalan antara lain : muncul sejumlah perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2005).22 tahun 1999 sesungguhnya berawal dari munculnya amandemen UUD 1945 yang menetapkan Presiden dipilih langsung oleh rakyat dan UU No. dan tertib pemerintahan secara keseluruhan relatif tidak terjaga. konflik antara daerah kabupaten dengan daerah propinsi.

ketidakjelasan kewenangan antara jabatan politis dengan jabatan karier. rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : Model otonomi daerah seperti apa yang bisa membangun efektiftas penyelenggaraan pemerintahan ? Bagaimana hubungan kewenangan antara pemerintah Pusat. dan sebagainya. dengan Provinsi dan Kabupaten/Kota ? Masalah-masalah apa saja yang muncul dalam pelaksanaan otonomi daerah di Prov dan Kabupaten/Kota ? Bagaimana hubungan eksekutif dengan DPRD ? Model alternatif otonomi daerah seperti apa yang sesuai dengan aspirasi dan dinamika perkembangan masyarakat ? 1. proses pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan di daerah cenderung mengalami perubahan seiring dengan terjadinya dinamika politik. Evaluasi ini pada akhirnya akan menawarkan konsep atau model alternatif yang mungkin bisa diterapkan dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. konflik kepala daerah dengan wakil kepala daerah. Di samping itu. 7 .sejumlah persoalan yaitu hubungan kewenangan antara pemerintah provinsi dengan Kabupaten/Kota masih tumpang tindih. muncul konflik antara kepala daerah dengan DPRD. maka tujuan penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa model pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia saat ini belum menemukan pola yang ajeg (tetap) sehingga diperlukan kajian untuk menawarkan konsep yang tepat tentang pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan kebutuhan daerah.2 Tujuan Khusus Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan penelitian yang dikemukakan di atas. sehingga proses pelaksanaan otonomi daerah perlu dievaluasi. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. kontrol tidak berjalan secara efektif.

devolusi atau privatisasi. dengan Provinsi dan Kabupaten/Kota ? b) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah – masalah yang muncul dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di Daerah c) Memformulasikan alternatif model otonomi daerah dan merekomendasikan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan otonomi daerah 1. murah. maka pelayanan responsif. Walaupun semua pihak mengakui bahwa otonomi diperlukan.3 Urgensi Penelitian Dalam teori Ilmu Pemerintahan. ternyata model otonomi daerah yang diberlakukan masih belum final dan belum menemukan pola yang ajeg. 8 . Selama kurun waktu dua periode pelaksanaan otonomi daerah yaitu di era UU No. kalau pemerintahan berada dalam jangkauan masyarakat. hemat. 1985).32/2004. sekalipun kesepakatan telah dicapai melalui undang-undang atau peraturan pemerintah. akomodatif. salah satu cara untuk mendekatkan pemerintahan kepada masyarakat adalah dengan menerapkan kebijakan desentralisasi (Smith. inovatif. B.Oleh karena itu.. Sekarang sedang muncul perspektif tentang kemungkinan akan diakomodasinya konsep desentralisasi asimetris. namun dalam praktek otonomi tetap sulit untuk diwujudkan. Sampai seberapa jauh kemungkinan konsep tersebut bisa diterapkan dalam praktek otonomi daerah membutuhkan kajian tentang gambaran keberlangsungan pelaksanaan otonomi daerah di masa depan ? jawaban atas pertanyaan ini merupakan salah satu urgensi untuk melakukan studi tentang model alternatif model otonomi daerah. penyelanggaraan pemerintahan daerah. tujuan khusus penelitian ini adalah : a) Mengkaji hubungan kewenangan antara pemerintah Pusat. dan produktif. Bentuknya bisa berupa dekonsentrasi." Bahkan. devolusi dan asas privatisasi dalam lebih cepat. medebewind. upaya mewujudkannya tidaklah "semudah membalik telapak tangan.22/1999 dan UU No.C. Asumsinya.

BAB II STUDI PUSTAKA 2... the local government does not have its own budget and a separate legal existance with authority granted to allocate subtantial materials resources for a range of different fuctions (Mawhood. Dalam pandangan ini. Whereas deconcentration by which administrative decentralication is the transfer of responsibilitry from central to local government.. each having authority within a specific area of the state ………Rumusan yang dikemukakan Mawhood (1987) yaitu decentralication is “devolution” of power from central to local government. Sedangkan dari aspek administratif. decentralication as the delegation of power.. form top level to lower level... (Hidayat. 2002) Parson (1961..the world decentralication has been used to express the mechanism by which central government devolve its power to local governments. Dalam perspektif politik...1 Perspektif Desentralisasi Konsep desentralisasi bisa diartikan dalam beragam pengertian tergantung pada perspektifnya. 2002) defines decentralication as sharing parti of the governmental power by a central ruling group with other goups... karena in the implementation of deconcentration policy.. Smith (1985) merumuskan definisi desentralisasi yaitu ……. 1987). dalam Hidayat.... This kind of mechanism is called political decentralication.. konsep desentralisasi dibedakan dengan dekonsentrasi. desentralisasi didefinisikan “…………… as the delegation of administrative authority from central to local government ….. diartikan ”.. in a territorial 9 .

which could be one of government within a state. juga dengan mengubah paradigma dalam memerintah masyarakat (modes of governing society) yang selama ini bias ke pemerintah pusat (central government) dan cenderung tidak menaruh empati atau bahkan mengabaikan terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat lokal (local preferences). Dalam pandangan Pierre and Peters (dalam Abdul Wahab. Secara legal formal berdasarkan UU No. Pelaksanaan deconcentration di sini bermakna tiadanya pemindahan kekuasaan dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam suatu perkara.. Jadi. Selain itu.... Sementara dalam UU No. konsep desentralisasi antara UU No. desentralisasi dalam terminologi teknisnya merupakan proses dekonstruksi relasi kekuasaan pusat-daerah yang disebut dengan displacement of power yakni mendesentralisasikan secara rasional kekuasaan kewenangan negara (state authority) ke institusi-institusi tingkat regional dan lokal. yaitu pembagian wewenang kekuasaan membuat suatu keputusan berkaitan dengan pengelolaan administrasi kepada unit-unit organisasi lain atas nama pemerintah pusat.. . 22 tahun 1999 dengan UU No. 22 tahun 1999 dalam pasal 1 (e). ditegaskan “desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 32 tahun 2004 hampir sama.. Dimaksudakan di sini adalah pembagian tanggungjawab dan wewenang oleh pemerintah pusat kepada pemerintahan lokal.hierarvhy. 10 . 32 tahun 2004 pasal 1. Kementrian diperingkat pusat masih berkuasa penuh dalam sesuatu keputusan mengenai kebijakan lokal ( United Nation 1961). desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum terdapat empat bentuk desentralisasi yang dijalankan dalam sebuah negara : pertama adalah deconcentration. or officers within a large organisation.. mengartikan desentralisasi dalam pemahaman desentralisasi administratif yang menekankan pada aspek the delegation of authority atau belum mengarah pada the devolution of power. 2002). Konsep desentralisasi yang dianut secara legal formal ini..

(Effendi Hasan & Erman Anom. pemerintah lokal memiliki status dan legitimasi hukum yang jelas untuk mengelola sumberdaya dan mengembangkan pemerintah lokal sebagai lembaga yang mandiri dan independen (Fadilllah Putra. 1999) Ketiga.. Tugas-tugas pemerintahan dalam kementrian pusat diserahkan kepada pemerintah di daerah untuk diselenggarakan. yaitu kewenangan diserahkan kepada swasta untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tertentu.. privatization.. Delegation. 32 Tahun 2004 UU No. struktur kebijakan (perda 11 . 2. Keempat. Dengan cara ini terjalinlah kerjasama yang erat antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat demi untuk memmudahkah pelaksanan tugas-tugas tertentu. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan kebijakan politik secara makro yang bertujuan untuk memberikan dukungan terhadap kekokohan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengakomodasi tuntutan perkembangan demokrasi lokal. Tujuan tersebut berimplikasi terhadap bangunan struktur pemerintahan dengan menggabungkan dua bentuk yaitu memperkuat posisi aparat pemerintah pusat di daerah. dalam konsep ini organisasi-organisasi jabatan pemerintahan dikendalikan oleh swasta. Menurut kondep ini tugas eksekutif diserahkan kepada organisasi lain.Kedua. 22 Tahun 1999 & UU No.. Cirinya adalah unit pemerintahan lokal yang otonom dan mandiri. Bentuk desentralisasi ini merujuk kepada bentuk-bentuk kegiatan yang ditentukan oleh pemerintah pusat untuk pemerintah daerah tetapi dilakukan oleh masyarakat setempat...2 Desentralisasi dalam UU No. kewenangan pemerintah pusat tidak besar pengawasannya tak langsung. Pemerintah pusat harus melepaskan fungsi-fungsi tertentu untuk menciptakan unit-unit pemerintahan baru yang otonom dan berada diluar kontrol langsung pemerintah pusat. 2007). Devolution yaitu kemampuan unit pemerintah yang mandiri dan independen...

Secara substansial. perebutan sumber daya ekonomi. DPD dan MPR yang tidak lagi memberikan kewenangan DPRD untuk memilih Gubernur/Bupati/Walikota. konflik antara daerah kabupaten dengan daerah propinsi. 22 tahun 1999. 22 tahun 1999. dan pengembangan demokratisasi lokal yang terbatas. Alasan-alasan ini yang memperkuat UU No. administrasi kepegawaian yang tidak proporsional. 22 tahun 1999 berawal dari munculnya amandemen UUD 1945 yang menetapkan Presiden dipilih langsung oleh rakyat dan UU No. UU Pemerintahan Daerah merupakan salah satu kebijakan politik yang dirancang untuk membangun format pemerintahan yang bisa memberikan dukungan terhadap kekokohan keberadaan Negara Kesatuan Republik 12 . 22 tahun 1999 perlu direvisi dengan perubahan pasal perlunya pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. 22 tahun 2003 tentang Susduk DPRD. konflik antara bupati/walikota dengan wakil bupati/wakil walikota. sistem koordinasi menjadi tidak efektif. Ide dasar perubahan UU No.dan aparat birokrasi) yang hierarkis. terdapat sejumlah persoalan antara lain: muncul sejumlah perda yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Selama empat tahun proses pelaksanaan UU No. 32 tahun 2004 merupakan hasil evaluasi dari proses pelaksanaan otonomi daerah yang mengindikasikan tidak terbangunnya tertib pemerintahan dan munculnya kehawatiran yang berlebihan akan rontoknya kekokohan NKRI. muatan UU No. Adanya perbedaan mendasar dalam UU No. dan tertib pemerintahan secara keseluruhan relatif tidak terjaga. 32 tahun 2004 sangat berbeda dengan UU No. dominasi kekuasaan DPRD yang tidak terkontrol. tetapi kemudian merembet pada persoalan bangunan pemerintahan daerah secara keseluruhan. cenderung menganut pola pemerintahan yang desntralisasi dan penguatan demokratisasi politik lokal dengan memberi porsi kekuasaan kepada DPRD yang sangat kuat. DPR. 22 tahun 1999. UU No.

5 tahun 1974. 32 tahun 2004. akuntabilitas dan efisiensi (pasal 11). maka seluruh atau sebagian besar sumber dananya harus berasal dari pemerintah pusat.Indonesia. Dalam konsep pembagian urusan maka kewenangan pemerintahan daerah itu tidak secara otomatis menjadi milik daerah. Artinya. maka struktur pemerintahan harus dirancang secara sentralistis. Warna pemerintahan yang bercorak otoriterisme-birokratik kemudian menjadi sangat kental. 22/1999. tapi dalam 13 . bukan lagi kewenangan daerah sebagaimana dianut dalam UU No. dengan istilah kewenangan daerah. sehingga kreativitas dalam alokasi anggaran akan dibatasi. Beberapa pasal yang mengatur karakter pemerintahan yang sentralistis itu antara lain: Pertama. 22 tahun 1999. Apa akibat dari penyerahan urusan wajib. dengan model pemerintahan yang terpusat dan penyeragaman kebijakan. Model pemerintahan pada waktu itu tidak hanya memposisikan birokrasi pada level paling atas (pemerintahan pusat) sebagai penentu dalam membuat kebiajkan. Salah satu upaya untuk menjaga keutuhan NKRI. Pengalaman waktu diterapkannya UU No. pasal 10 UU No. Sementara dalam UU No. pengawasan dan koordinasi. walaupun otoritas gubernur itu. tetapi ditentukan oleh Pemerintah Pusat berdasarkan kriteria eksternalitas. 32 tahun 2004 mempunyai warna yang mirip walaupun tidak sama persis dengan UU No. apa yang didelegasikan oleh Pemerintah Pusat menjadi kewenangan daerah. UU No. akan kembali pada pola subsidi. istilah yang dipakai adalah pembagian urusan pemerintahan. Ketentuan pasal ini. Kedua. hanya sebatas pembinaan. 5 tahun 1974. tetapi juga mampu mengkondisikan lembaga perwakilan sebagai lembaga yang terkendali oleh kekuasaan eksekutif. Ide revisi itu berangkat dari kesatuan sedangkan kemajemukan masyarakat daerah hanya sekedar diakomodasi. tertib politik dan pemerintahan bisa terjaga secara efektif. otoritas kedudukan gubernur sebagai wakil Pemerintah di Wilayah propinsi yang bertanggung jawab kepada Presiden (pasal 37) diperkuat perannya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kot.

dengan tujuan agar perda secara substantif tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional (pasal 150). 22 tahun 1999 yaitu dilakukannya Pilkada langsung (pasal 56 sampai dengan pasal 119). Sistem Pilkada langsung oleh rakyat merupakan sebuah prestasi bagi pemerintahan sekarang untuk memberikan hak pada rakyat secara langsung dalam menentukan kepala daerah. Sistem pemilihan ini dianggap paling ideal. Namun berarti bahwa sistem ini tidak punya kelemahan. 5 tahun 1974 dan UU No. Ketiga. pemindahan dan pemberhentian dalam jabatan eselon II pada daerah kabupaten/kota.prakteknya bisa lentur ditafsirkan untuk kepentingan-kepentingan politis yang lain. (c) permainan politik uang bisa diperkecil. 32 tahun 2004 dengan UU No. Keempat. 32 tahun 2004 posisi gubernur kembali diperkuat perannya dalam penentuan pengangkatan. Sistem kepegawaian dilakukan berdasarkan manajemen PNS secara nasional. Kelima. karena berbagai alasan. (b) akan dihasilkan kepala daerah yang mendapat dukungan langsung dari rakyat. (b) karena yang dipilih 14 . karena tidak mungkin menyuap pemilih dalam jumlah jutaan orang. Dalam UU No. sistem administrasi kepegawaian disusun secara terpusat (pasal 129) dan hierarkis (pasal 130). yaitu: (a) demokrasi langsung akan menampakan perwujudan kedaulatan ditangan rakyat. Sistem pemilihan kepala daerah berdasarkan demokrasi perwakilan tidak dianut lagi. agama. Yang membedakan UU No. Kelemahan sistem ini antara lain: (a) kelompok minoritas (suku. ada keterlibatan peran pemerintah pusat dan gubernur untuk menetapkan perda. atau golongan yang tersisih) akan sulit bisa bersaing dengan kelompok mayoritas. Ketentuan pasal ini berimplikasi bahwa perencanaan pembangunan di daerah harus merujuk kepada perencanaan nasional.

dan mengacu pada program pembangunan nasional. Dari sisi kepentingan pemerintah pusat. 32 tahun 2004 juga memberikan ruang bagi masyarakat dalam pembahasan perda (pasal 139). konsultasi. Namun. penyerahan urusan.adalah orang.. 32 tahun 2004. (c) dalam Pilkada langsung memerlukan biaya besar untuk keperluan kampanye pada putaran pertama dan putaran kedua serta untuk keperluan menyewa perahu (parpol) khususnya bagi calon dari non-partai. Jika dicermati secara keseluruhan tentang UU No. pengawasan. Desentralisasi dilihat dari tujuan politik yaitu ……. disebut dengan pembinaan. Nilai kedua yaitu local accountability dan nilai ketiga dari kepentingan daerah yaitu local responsiveness. masyarakat diberikan hak untuk mempengaruhi proses pembuatan kebiajakan daerah. 2. maka faktor figur akan dijadikan salah satu faktor penentu kemenangan. Secara demikian. pada aspek yang lain ada pembatasanpembatasan terhadap kewenangan pemerintahan daerah yang wujudnya dalam bentuk intervensi pemerintah pusat. proses demokratisasi lokal dibatasi dalam cakupan yang terbatas pada wilayah prosedur pemilihan kepala daerah dan hak masyarakat untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan.3 Nilai dan Tujuan Desentralisasi Smith (1985 dalam Hidayat. 2002) melihat nilai desentralisasi dari sisi kepentingan pemerintah pusat dan kepentingan pemerintah daerah. sedikitnya ada tiga nilai desentralisasi yaitu untuk pendidikan politik. menurut Smith. 15 . Dalam proses pembuatan kebijakan dalam UU No. latihan kepemimpinan dan untuk menciptakan stabilitas politik. oleh karena itu kemudian akan mengenyampingkan faktor kemampuan. dalam istilah UU No. Secara umum tujuan desentralisasi dibagi ke dalam dua katagori yaitu tujuan politik dan tujuan ekonomi. nilai utama desentralisasi adalah untuk mewujudkan political equality. 32 tahun 2004. Sedangkan dari kepentingan daerah.

the implementation of decentralication policy is suppose to reduce the cost development. (b) untuk peningkatan pelayanan public. Smith (1985) selanjutnya merumuskan tujuan desentralisasi demokrasi ke dalam dua katagori yaitu pertama pada level nasional. local accountability. pada level lokal nilai-nilai yang relevan yaitu equity.to strengthen local accountability. (c) untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pemerintahan pembangunan di daerah (Hari Susanto. political skills and national integration. Kedua. liberty. nilai desentralisasi demokrasi berhubungan dengan pendidikan politik. berdasarkan kepentingan nasional tujuan utama dari desentralisasi adalah : (a) untuk mempertahankan dan memperkuat integrasi bangsa. maka formulasi tujuan desentralisasi dikembalikan pada konsep dasarnya. Sedangkan desentralisasi dilihat dari tujuan kepentingan ekonomi yaitu ……it is argued that decentralication is needed in order to enchance local government ability in providing public goods and services (Rodinelli. 2004). Dalam perspektif state-society relation tidak mendikotomikan antara tujuan politik dan administrasi karena kedua-duanya sama penting untuk diwujudkan. 1983) atau dengan kata lain. Sedangkan dari sisi kepentingan daerah. Spesifiknya. tujuan utama dari desentralisasi meliputi antara lain: (a) untuk mewujudkan demokratisasi di tingkat local (political equality. Sementara substansi dari masing-masing kategori tersebut harus dapat mengakomodasi aspek social dan aspek ekonomi yang hendak dicapai. latihan kepemimpinan dan stabilitas politik. (b) sebagai sarana untuk training bagi calon-calon pemimpin nasional. inprove outputs and more effectively utilise human resources. dan (c) untuk mempercepat pencapaian dan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Untuk itu. dkk. dan local responsiveness). Dalam pendapat Jimly Asshidiqqi (2000) tujuan kebijakan desentralisasi adalah untuk menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik16 . yaitu tujuan desentralisasi untuk kepentingan nasional dan untuk kepentingan daerah. yang diklasifikasikan dalam dua kategori utama. dan responsiveness.

2. tetapi pada pokoknya juga perlu diwujudkan atas dasar keprakarsaan dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandirian pemerintahan daerah sendiri sebagai factor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu. Pendekatan dari atas ke bawah (top-down approach) masih menjadi norma yang berlaku. Untuk menjamin agar perasaan diperlakukan tidak adil yang muncul diberbagai daerah seluruh Indonesia tidak makin meluas dan terus meningkat yang pada gilirannya akan sangat membahayakan integrasi nasional. Dalam kultur masyarakat kita yang paternalistic.baiknya. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan upaya sadar untuk membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri.dengan adanya desentralisasi akan membatasi kekuasaan dan berperan sangat penting dalam rangka menciptakan iklim kekuasaan yang makin demokratis dan berdasar atas hukum. sangat dirasakan oleh daerah-daerah besarnya jurang ketidakadilan structural yang tercipta dalam hubungan antara pusat dan daerah-daerah. Esensi kebijakan otonomi daerah itu sebenarnya berkaitan pula dengan gelombang demokratisasi yang berkembang luas dalam kehidupan nasional bangsa kita dewasa ini. Dengan demikian. namun sudah mulai dilakukan beberapa pembaharuan dengan dalam proses pengambilan kebijakan. kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya menyangkut pengalihan wewenang dari atas ke bawah. Karena dalam system yang berlaku sebelumnya.4 Hasil Penelitian Sebelumnya Hasil penelitian yang dilakukan Syarief Makhya dkk (2007) di Kota Metro. menunjukkan bahwa perubahan desentralisasi ternyata hampir tidak membawa terhadap proses pembuatan kebijakan yang lebih partisipatif. 17 melibatkan civil society organization . ………. maka kebijakan otonomi daerah ini dinilai mutlak harus diterapkan dalam waktu yang secepat-cepatnya sesuai dengan tingkat kesiapan daerah sendiri.. Juga untuk mendorong kemandirian daerah.

(c) adanya persepsi dan sikap pemda kebutuhan daerahnya. dan rapetada). Dalam proses pembuatan kebijakan daerah (perda). sudah ada upaya untuk melakukan mekanisme konsultasi dengan masyarakat mengenai berbagai kebutuhan dan aspirasi publik. DPRD mempunyai posisi tawar yang kuat. waluapun fenomena konsultasi tersebut masih melibatkan kalangan yang sangat terbatas. kerana beberapa alasan : (a) untuk efisiensi waktu dalam proses perumusan kebijakan. namun sayangnya tidak disertai kemampuan dalam menyusun legal drafting dan formulasi kebijakan publik. yang merasa lebih mengetahui akan 18 . Pendekatan Top-Down.Juga. (b) adanya kesesuaian antara kebijakan daerah dengan dokumen formal (poldas. cenderung masih tetap digunakan. renstra.

or analysis of a fundamental social problem in order to provide policy makers with pragmatic. 1998) 3. berorientasi pada aksi untuk mengatasi masalah tersebut) Sedangkan dari tingkat eksplanatif. penelitian kebijakan adalah the process of conducting research on. penelitian ini difokuskan pada : a) Hubungan antara kewenangan pemerintah Pusat.2 Fokus Penelitian Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian. Dimensi pada fokus ini mencakup dalam hal : • • • b) c) Pembuatan kebijakan Kewenangan di bidang urusan wajib dan pilihan Pembiayan keuangan daerah Masalah-masalah yang muncul dalam pelaksanaan otonomi daerah Hubungan eksekutif dengan legistatif 19 . dengan Provinsi dan Kabupaten/Kota.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kebijakan (policy Research). Menurut Majchrzak (1984). action oriented recommendation for alleviating problems (Proses pelaksanaan penelitian atau analisis mengenai suatu masalah sosial mendasar guna membantu pembuat kebijakan dengan cara menyajikan rekomendasi yang bersifat pragmatis.BAB III METODE PENELITIAN 3. tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel lain. ( Sugiyono. penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan terhadap variabel mandiri.

Informan dalam penelitian ini yaitu Sekda. anggota DPRD. anggota DPD. pegawai pemda. Anggota DPRD. dokumentasi (official and personal documentation). mencari pola. 20 . Jumlah satker di masing-masing kabupaten 20 satker. dan observasi. Analisis data mengkuti anjuran Bogdan dan Bilken (1990) yang mencakup kegiatan-kegiatan menelaah data. total berjumlah 245 orang. catatan wawancara.5 Analisis Data Analisis data dilakukan selama pengumpulan data di lapangan dan analisis masalah dilapangan. Jumlah keseluruhan rsponden yaitu 11 x 20 = 220 orang ditambah 25 satker provinsi.3. 3. Pencatatan data dilakukan dengan memanfaatkan bentuk catatan lapangan. Kepala-Kepala Dinas/Badan /Biro. menemukan apa yang akan dipelajari dan memutuskan apa yang akan dilaporkan.4 Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan dua cara. 3. yaitu pertama : wawancara mendalam (in depth interview). Asisten. kuestioner yang disebar ke satker di 11 kabupaten/kota dan Provinsi. copy dari dokumentasi dan sapping. Praktisi Pemerintahan. dijadikan akan dijadikan situs dalam penelitian ini. Lurah. Camat. Metode wawancara dan dokumentasi akan banyak dipergunakan dengan penekanan pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh aktor. dan praktisi pemerintahan. dan anggota DPR. mensistesitesiskannya. membaginya dalam satuansatuan yang dapat dikelola. Kedua.3 Situs Penelitian Praktek penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan oleh para pejabat pemda.

trianggulasi dengan sumber data. 1998). (c) pertanyaan apa yang perlu dijawab. (b) data yang sudah terkumpul direduksi sehingga tersusun secara sistematis. menganalisis kasus negatif dan (f) melakukan penafsiran data (Maleong. (e) dilakukan pemeriksaan untuk memperoleh keabsahan data melalui pengamatan yang lebih teliti. Maleong. mendiskusikan hasil sementara dengan sejawat.Analisis data tersebut akan mengungkap : (a) data apa yang perlu dicari. 1990:198). 1990). teori dan metode penelitian. 21 . dependebilitas (realibility) dan konfirmabilitas (objectivity) (Nasoetion. Untuk memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian dilakukan kredibilitas data (internal validiti) transferbalititas (exsternal validity). (c) data yang sudah tersusun dibuat kategorisasi (d) satuan data yang sudah dikategorisasi diberi kode tertentu. (d) metode apa yang harus dipakai untuk mencari informasi baru. (b) hipotesisi apa yang perlu dites. dan (e) kesalahan apa yang harus diperbaiki (Nasoetion. 1988:30) Proses analisis data dilakukan melalui prosedur : (a) penelaahan data yang sudah terkumpul dari berbagai sumber data.

luas wilayahnya 4.61 Km2 terdiri dari 24 (dua puluh empat) kecamatan. luas wilayahnya 3. yang selanjutnya terdiri dari beberapa wilayah Kecamatan dengan perincian sebagai berikut : 1. termasuk pulau-pulau kecil. 22 .337. Kabupaten Tanggamus dengan Ibukotanya Kota Agung. luas wilayahnya 2. Kabupaten Lampung Selatan dengan Ibukotanya Kalianda. 3.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Otonomi Daerah Provinsi Lampung memiliki wilayah daratan seluas 35. Kabupaten Lampung Barat dengan Ibukotanya Liwa.080. Secara administratif saat ini wilayah Provinsi Lampung terbagi menjadi 14 kabupaten/kota. 2. dan Undang-Undang Nomor 14 tahun 1964 ditingkatkan menjadi Propinsi Lampung dengan Ibukota Tanjungkarang-Telukbetung.78 Km2 terdiri dari 17 (tujuhbelas) kecamatan.40 Km2 terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan. luas wilayahnya 4.35 km².356. 4. Selanjutnya Kotamadya Tanjungkarang-Telukbetung tersebut berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 24 tahun 1983 diganti menjadi Kotamadya Bandar Lampung terhitung sejak tanggal 17 Juni 1983. yang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 1964.288.BAB IV HASIL DAN ANALISIS PEMBAHASAN 4. Kabupaten Lampung Timur dengan Ibukotanya Sukadana.950. Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 merupakan Keresidenan Lampung. Secara administratif Propinsi Lampung dibagi dalam 14 (empat belas) Kabupaten/Kota.89 Km2 terdiri dari 24 (dua puluh empat) kecamatan.

luas wilayahnya 3. Kota Bandar Lampung dengan ibukotanya Bandar Lampung.79 Km2 terdiri dari 5 (lima) kecamatan. kesehatan. Kabupaten Lampung Utara dengan Ibukotanya Kotabumi.82 Km2 terdiri dari 27 (dua puluh tujuh) kecamatan. Kabupaten Tulangbawang dengan Ibukotanya Menggala. luas wilayahnya 1100 km2 terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan. 12. Kabupaten Pesawaran dengan ibukotanya Gedong Tataan. Kabupaten Tulang Bawang Barat ibukotanya Panaragan terdiri atas 7 (tujuh) kecamatan yang luas wilayahnya juga merupakan bagian dari kabupaten induknya yakni Kabupaten Tulang Bawang. luas wilayahnya 2. 7. luas wilayahnya 4. Keberhasilan pelaksanaan program penanggulangan permasalahan tersebut perlu diketahui agar permasalahan pembangunan dapat segera diatasi. dan lingkungan) merupakan masalah pokok yang dihadapi oleh Provinsi Lampung. luas wilayahnya 7. Kabupaten Lampung Tengah dengan Ibukotanya Gunung Sugih. Kabupaten Mesuji dengan ibukotanya Mesuji terdiri atas 7 (tujuh) kecamatan yang luas wilayahnya merupakan bagian dari kabupaten induknya yakni Kabupaten Tulang Bawang.5.84 Km2 terdiri dari 24 (delapan belas) kecamatan. luas wilayah 192.96 Km2 terdiri dari 13 (tiga belas) kecamatan. 11. 9. pendidikan. 13. 6. Berbagai program pembangunan terus dilakukan guna mengatasi berbagai masalah khususnya yang sedang dihadapi Provinsi Lampung. 14.770.63 Km2 terdiri dari 14 (empat belas) kecamatan.63 Km2 terdiri dari 16 (enam belas) kecamatan. luas wilayahnya 61.789. Di antara berbagai masalah pembangunan yang ada masalah keamanan dan ketertiban. Kota Metro dengan ibukotanya Metro. Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu terdiri atas 8 (delapan) kecamatan yang wilayahnya adalah sebagian dari wilayah kabupaten induknya yakni Kabupaten Tanggamus. 8. 10. 23 .725. serta kesejahteraan rakyat (termasuk kemiskinan. masalah keadilan dan demokrasi. ketenagakerjaan. Kabupaten Way Kanan dengan Ibukotanya Blambangan Umpu.921.

belum lagi pada awal Tahun 2004 Propinsi Lampung masih diwarnai dengan sengketa Pilgub. tidak kurang terdapat 7 wilayah kabupaten baru yang diusulkan untuk dibentuk menjadi daerah otonom baru. Pada masa transisi wewenang daerah ini. termasuk persoalan-persoalan demokrasi. sebagai Propinsi yang cukup dekat dengan Ibu Kota Negara tentunya menjadikan daerah ini sangat dipengaruhi oleh suasana kekuasaan negara.Berlakunya UU Nomor 32 Tahun 2004 telah mengubah paradigma hubungan pemerintah pusat dan daerah yang menciptakan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. HAM. Perubahan kewenangan daerah yang lebih besar. Propinsi Lampung dan juga propinsipropinsi lainnya disibukan dengan penyesuaian paradigma baru pemerintah daerah. Desentralisasi dan otonomi daerah sejalan pula dengan prinsip demokrasi yang menghargai keragaman berdasarkan tingkat kemajuan ekonomi. Tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah. serta tingkat kekayaan sumber daya alam masing-masing daerah. kualitas SDM. Provinsi Lampung yang berada di pintu gerbang selatan untuk memasuki pulau Sumatera. penduduk yang cukup banyak dan beragam. sehingga pemerintahan baru yang terpilih melalui DPRD tidak dapat optimal melaksanakan pembangunan daerah. Dalam masa transisi berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 dan diperbiki dengan UU Nomor 32 Tahun 2004. 24 . sehingga eforia otonomi daerah benar-benar meninggalkan pembangunan daerah. antara propinsi dan kabupaten/kota dan antara kabupaten/kota masih mewarnai kondisi awal RPJM di Propinsi Lampung. Propinsi Lampung juga disibukkan dengan pemekaran wilayah. pemerintah daerah praktis mempersiapkan berbagai regulasi dan perubahan kelembagaan di daerah. memiliki sumber daya alam. Sumber daya alam dan penduduk yang beragam ini merpakan potensi daerah yang dapat dijadikan modal peningkatan pembangunan daerah Lampung. otonomi daerah dan desentralisasi. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah pada dasarnya adalah upaya penyempurnaan dari kebijakan masa lalu yang bersifat sentralistik.

1 Pelaksanaan Kewenangan Daerah Tabel 1. dekonsentrasi dan asas tugas. pada tingkat proses lebih lanjut di Jakarta. Kabupaten Mesuji dan kabupaten Tulang Bawang Barat yang merupakan pemekaran dari kabupaten Tulang Bawang. yaitu pemekaran Kabupaten Lampung Barat.2. yaitu Kabupaten Pesawaran yang merupakan pemekaran Kabupaten Lampung Selatan. tugas dan fungsi badan dan dinas daerah mulai dapat berjalan dan seiring dengan tertatanya kelembagaan daerah dengan kewenangannya. yaitu kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang Barat. dan terdapat yang telah disetujui dan telah ditetapkan dengan UU.Seiring dengan perjalanan waktu kelembagaan pemerintahan daerah Lampung mulai tertata. yaitu kabupaten Pringsewu.2 Deskripsi Pelaksanaan Otonomi Otonomi Daerah di Lampung 4. pemerataan. Proses pemekaran kabupaten ini ada yang hanya berhenti sampai pada tingkat studi kelayakan. keistimewaan dan kekhususan serta potensi 25 . yaitu Kabupaten pesawaran. kabupaten Lampung Tengah 2 daerah pemekaran. APBD Lampung meningkat dari tahun ke tahun dan pembangunan mulai berjalan dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pelaksanaan Kewenangan Pemerintah Daerah No 1 Daerah Provinsi Lampung • Pelaksanaan Kewenangan Prinisp dasar dalam pelaksanaan ototonomi kewenangan pemda Provinsi sudah terakomodasi dalam asas desentralisasi. sampai tahun 2008 tidak kurang terdapat 5 kabupaten merencanakan pemekaran wilayah. 4. juga sudah memperhatikan memperhatikan prinsip demokrasi. Dalam konteks pembentukan otonomi daerah baru. yaitu Kabupaten Pesisir Selatan. yaitu Kabupaten Lampung Tengah Timur dan Lampung Tengah Barat. dan Kabupaten Pringsewu merupakan pemekaran Kabupaten Tanggamus. yaitu Kabupaten Lampung Tengah. Kabupaten Lampung Selatan 1 daerah pemekaran. yaitu Lampung Barat merencanakan pemekaran 1 kabupaten. Kabupaten Tanggamus merencanakan 1 daerah pemekaran. Kabupaten Tulang Bawang merencanakan 2 daerah pemekaran.

No Daerah • Pelaksanaan Kewenangan dan keanekaragaman daerah. ini dapat dilihat semakin menurunnya konflik antara daerah dalam hal pelaksanaan kewenangan Sudah. hanya pengelolaan resources pada pasal 18 misalnya perlu dibantu dengan human resources yang profesional agar dapat mensejahterakan penduduk daerah Sudah sesuai dengan aspirasi. Kewenangan sejalan dengan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. karena masih ada kewenangan daerah yang masih dilebihi oleh pusat Sudah cukup. tetapi dalam pelaksanannya diperlukan peraturan pelaksanaan dan pengawasan Sudah sesuai. Meskipun ada kewenangan tetapi tetap ada batasnya dalam konteks pertanggungjawaban kualitas kewenangan itu Seluruh aturan pembagian kewenangan sudah jelas namun implementasinya terkadang masih tarik ulur oleh sebab dominasi pemerintah pusat yang masih tinggi dan ketergantungan pemda ke pemerintah pusat yang masih tinggi pula Kewennagan dapat mengakomodir kepentingan daerah Kewenangan 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan telah cukup untuk mangakomodir pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat Sudah karena pokok-pokok kewenangan sudah terperinci dan mempertimbangkan pasitas daerah dalam menjaga NKRI Untuk masalah keuangan. hanya memerlukan penguatan kapasitas daerah untuk melaksanakannya Sudah sesuai karena kewenangan daerah yang diatur dalam UU 32/2004 tetap memungkinkan adanya kontrol oleh pemerintah pusat dalam menjaga konsistensi dan • • • • • • • 2 Bandar Lampung - 3 Lampung Tengah - 26 . kewenangan pemerintah pusat masih sangat besar Secara normatif sudah tetapi secara substansial belum karena masih banyak aturan-aturan yang tidak sinkron satu dengan yang lain dan seringnya perubahan aturan oleh sebab kepentingan Sudah tinggal pada tingkat operasional perlu ditingkatkan dan intensifkan dengan dukungan petunjuk teknis pelaksanana yang tegas dan jelas Sudah banyak/sebagian kewenangan pusat sudah diserahkan ke daerah (pegawai) Sudah sesuai dan dapat mengakomodasi kepentingan daerah.38/2007 Belum. karena pembagian urusan antara pemerintah provinsi maupu kabupaten/kota sudah diperjelas melalui peraturan pemerintahan No.

namun masih perlu diberikan kelonggaran bagi daerah untuk menggali PAD yang lebih luas Sudah dalam hal tertentu.No Daerah - Pelaksanaan Kewenangan pelaksanaan kewenangan itu Masih ada yang belum sepenuhnya memenuhi aspirasi daerah Belum terutama tentang pajak daerah (pajak produksi dan pajak ekspor) Pemda sama sekali tidak mendapatkan apaapa Belum. Masyarakat bukan sebagai subyek tetapi obyek dari otonomi daerah. tetapi dalam hal perimbangan keuangan daerah belum sesuai dengan apa yang diharapkan dan diamanatkan oleh otonomi daerah Belum. Ketiadaan visi di kalangan elit lokal mengenai otda untuk menyejehterakan masyarakat melalui pemberian layanan publik berakibat pada kemerosotan layanan publik. akan tetapi belum sepenuhnya mengakomodasi kepentingan daerah karena kewenangan tersebut masih terbatas pada-hal-hal yang tetap harus mendapat persetujuan pusat. provinsi dan kabupaten/kota Sudah sesuai dengan aspirasi daerah. Selain itu pelaksanannya terkadang menyimpang dari prinsip otonomi daerah yakni ketergantungan yang besar kepada - 4 Lampung Selatan - 5 Way Kanan - 27 . Termasuk program pertanahan dan statistik Belum. Belum. karena bagian terbesar anggaran terserap bukan untuk layanan publik tetapi untuk membiayai birokrat dan anggota DPRD Telah cukup mengakomodir kepentingan daerah. tetapi dalam pelaksanaannya masih berdasarkan kepentingan baik legislatif maupun yudikatif di daerah Sudah sesuai karena sistem pembangunan yang digunakan adalah bottom up planning selain kewenangan mengatur rumah tangga sendiri yang dimiliki daerah Terlalu banyak yang mengatur karena masalah kepentingan Kewenangan belum linier dan hierarkis antara pemerintah pusat. karena pemerintah daerah belum mampu membiayai secara keseluruhan program pembangunan bidang kesehatan Sudah sebagian tetapi ada sebagian aspirasi daerah belum terakomodasi dalam UU 32/2004 Sudah. Desentralisasi dicerna sebagai penyerahan wewenang pemerintahan dari elit politik nasional kepada elit lokal. Akibatnya keberadaan masyarakat yang berotonomi menjadi bersifat pinggiran. Karena beberapa program kesehatan yang seharusnya menjadi wewenang daerah masih dilaksanakan pusat dan provinsi.

kadang kewenangan pemerintah yang dimiliki oleh pusat tidak sesuai dengan aspirasi daerah yang ingin memperoleh kepastian kewenangan lebih optimal. ada keterbatasan pada kabupaten untuk dapat menjalankan semua aspirasinya Pembagian kewenangan sudah jelas. provinsi dan kabupaten/kota.No Daerah - Pelaksanaan Kewenangan pemerintah pusat ( 5 responden) Belum sesuai. namun kewenangan tersebut tidak diikuti oleh dukungan anggaran yang cukup dari pusat sedangkan kabupaten memiliki keterbatasan dalam hal anggaran UU 32 sudah sejalan dalam konteks NKRI. artinya meskipun ada aspirasi daerah namun kerangka negara kesatuan harus dijaga bukan seperti UU 22/1999 yang seolah-oleh membuat kabupaten/kota berdiri sendiri UU 32/2004 sudah relatif lebih jelas pembagian kewenangan dan sesuai dengan aspirasi daerah namun terkadang masih ada aturan dari pusat yang justru membatasi aspirasi itu dengan sekian banyak regulasi dari pemerintah pusat Secara normatif sudah ada pembagian kewenangan antara pusat. namun secara teknis hal ini masih sering berbenturan yang muaranya berujung pada kewenangan penganggaran dan kapasitas keuangan terutama provinsi dan kabupaten/kota yang rendah untuk menjalankan kewenangan itu Sudah karena kepentingan darah minimal dapat dilihat dari aspek ekonomi. Dalam UU 32/2004 sudah memberikan porsi kewenangan yang bagus kepada daerah dengan urusan wajib dan urusan pilihan Sudah sesuai dimana pembagian kewenangan tersebut - - - 6 Tulang Bawang - - - 7 Lampung Timur - - - 28 . karena memihak kepada masyarakat terlebih dalam pelayanan yang diberikan pemerintah sebagai pemberi jasa ( 2 responden) Sudah karena secara detail sudah menunjukkan adanya pembagian kewenangan sehingga semua aspirasi daerah dapat dilakukan melalui kewenangan itu Sudah secara normatif namun secara implementatif. politik dan sosial budaya. sehingga pemerintah pusat terkadang masih terlalu arogan Belum sesuai terutama karena batas kewenangan masih banyak memunculkan penafsiran yang ganda yang justru emmbuat pemerintah pusat tetap melakukan pengaturan kewenangan untuk pemerintah daerah Belum sesuai disebabkan prinsip otonomi daerah masih setengah hati oleh sebab kewenangan besar ke daerah tetapi kelembagaan di pusat terlalu gemuk yang berimplikasi pada anggaran pusat yang lebih besar. Sangat baik.

tetapi memerlukan kerja sama antar daerah yang selama ini tidak pernah terlaksana dengan baik baik antara kabupaten/kota dengan kabupaten/kota lain maupun antara kabupaten/kota dengan provinsi Dari sisi kewenangan antar daerah sudah cukup jelas. standarnya harus disamakan. dll. minyak dll pembagiannya harus dipertimbangkan kembali (7 responden) Sudah. dll. karena hampir semua urusan pemerintahan telah diserahkan ke kab/kota dan kewenangan yang diberikan kepada daerah sudah mencakup aspek penyelenggaraan pemerintah daerah ( 5 responden) Belum. fasilitasnya saja sudah beda. selain itu misalnya masalah pendidikan.khususnya dalam mengelola pandapatan daeah yang bersal daridana perimbangan (DAK dan bagi hasil). Begitu juga pembagian SDA seperti batubara. Begitu juga pembagian SDA seperti batubara. dan di sisi lain pemerintah pusat juga belum bisa menyelesaikan Sudah. selain itu misalnya masalah pendidikan. karena hampir semua urusan pemerintahan telah diserahkan ke kab/kota dan kewenangan yang diberikan kepada daerah sudah mencakup aspek penyelenggaraan pemerintah daerah ( 5 responden) Sudah. setiap daerah dapat mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai urusan pilihan yang menjadi fokus pembangunan dan ciri khas daerah - - - 8 Metro - - 9 Lampung Barat - - 10 Lampung Utara - 29 . belum guru. belum guru. jelas tidak adil.khususnya dalam mengelola pandapatan daeah yang bersal daridana perimbangan (DAK dan bagi hasil). standarnya harus disamakan.No Daerah Pelaksanaan Kewenangan pemerintag kabupaten dapat menjalankan otonomi seluasluasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan Belum. karena setiap kebijakan yang berkaitan dengan belanja publik selalu tidak sama sehingga menimbulkan kecemburuan antar daerah Belum seluruhnya sesuai dengan aspirasi daerah karena beberapa kewenangan yang ada di daerah masih merupakan kewenangan pusat sehingga beberapa permasalahan di daerah yang merupakan kewenangan pusat tidak dapat daerah selesaikan. jelas tidak adil. minyak dll pembagiannya harus dipertimbangkan kembali (7 responden) Sudah. fasilitasnya saja sudah beda. namun pola kerja sama antar daerah belum diatur secara khusus padahal hal ini menjadi kata kunci dari berjalannya kewenangan daerah Belum.

provinsi dan kabupaten memang harus diatur dan tetap memberikan porsi besar kepada pemerintah pusat karena meskipun otonomi. karena wewenang yang diberikan kepada daerah cukup besar tetapi tidak didukung oleh alokasi pendanaan yang proporsional dalam memenuhi kewenangan yang besar tersebut. akuntabilitas dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan Sudah sesuai dengan kepentingan daerah ketika pemahaman akan kewenangan ini dibingkai dalam NKRI Sudah secara normatif semua urusan dan tanggung jawab dalam melaksanakan aktifitas pembangunan dan pemerintahan sudah diatur. tetapi daerah tetap memiliki kewenangan. sedangkan urusan pilihan - 11 Tanggamus - - - - - - 30 . namun ada urusan pilihan yang dapat disesuaikan dengan potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh daerah. Sudah. apakah kewenangan itu sama dengan tanggung jawab sehingga banyak daerah merasa berwenang dalam meminta alokasi anggaran tetapi lemah dalam tanggung jawab melakukan fungsi-fungsi pemerintahan di daerah dalam mendukung fungsi dan kewenangan dari pemerintah tingkat atasnya Sudah diatur dan memberikan keleluasaan kepada daerah.No Daerah - Pelaksanaan Kewenangan Telah sesuai sebab di luar urusan wajib pemda mendapat urusan pilihan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Secara kuantitas kewenangan yang telah diberikan kepada daerah telah sesuai atau mewakili aspirasi daerah tetapi secara kualitas kewenangan yang diberikan tersebut belum dapat mengakomodasi kepentingan daerah terutama mengenai sumber-sumber pembiayaan daerah Ya sudah. Belum jelas. karena dalam bingkai NKRI pembagian kewenangan antara pemerintah pusat. Belum. namun pengaturannya belum detail sehingga menimbulkan penafsiran yang berbedabeda. karena semua kewenangan pemerintahan ada di kabupaten/kota kecuali kewenangan yang diatur dalam PP 25/2000 Belum karena kewenangan yang diberikan ke daerah terkadang masih sama dengan kewenangan yang diberikan ke provinsi dengan pembatasan yang belum jelas Sudah karena pembagian urusan kewenangan pemeirntah telah dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas. Alokasi DAU sebenarnya diarahkan untuk membiayai urusan wajib. Urusan wajib menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan daerah. Belum secara rinci mengatur tentang standar minimal dan standar maksimal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dikaitkan dengan kewenangan yang dimiliki daerah sehingga memunculkan penafsiran yang berbeda.

pertanggungjawaban kewenangan lemah. 32/2004 baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota sudah sejalan dengan aspirasi daerah. peraturan pelaksana yang tidak sinkron. beberapa kewenangan tidak didukungan dengan dana yang memadai. namun dalam pealaksanannya beberapa persoalan yang dihadapi antara lain : pola kerjasama pelaksanaan kewenangan antara provinsi dengan kabupaten belum terimplementasikan dengan baik. 2009 Berdasarkan data tabel 1. dukungan juklak dan juknis pelaksanaan kewenangan yang masih belum jelas. masih terjadi multi interpretasi dalam memahami pembagian kewenangan dan juga sekalipun kewenangan sudah diberikan kepada daerah. Penilaian dan pendapat tentang pengaturan kewenangan berdasarkan PP yang berlaku sekarang ? No 1 Daerah Prov Lampung - Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan Sudah cukup baik karena Pemda menyelenggarakan urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan kecuali urusan pemerintah yang memang oleh pemerintah pusat bukan merupakan kewenangan daerah Sudah cukup baik meskipun belum terperinci lebih detail pembagian standar pelayanan minimalnya Secara tegas kewenangan kabupaten/kota dan provinsi sudah jelas namun batasan kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/kota belum secara rinci diatur Jelas namun belum semua urusan disusun SPM nya sehingga penafsiran masih berbeda-beda dalam memaknai kewenangan yang dimiliki Lebih sistematis dan mengurangi perbedaan penafsiran meskipun hal tersebut masih sering terjadi Banyak kewenangan yang tidak diimbangi dengan kapasitas pembiayaan sehingga ketergantungan daerah kepada pusat masih sangat tinggi Secara prinsip sudah cukup ideal namun pengawasan dari - - - - 31 . hampir sebagian besar daerah berpendapat bahwa pengaturan kewenangan yang diatur dalam UU No. Sumber : Diolah dari Hasil Penelitian Lapangan. tetapi pola ketergantungan daerah pada pemerintah pusat masih tinggi. Tabel 2.No Daerah Pelaksanaan Kewenangan disesuaikan dengan PAD yang diperoleh daerah.

No Daerah Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan pemerintah tingkat atasnya terhadap implementasi kewenangan itu masih sangat rendah 2 Kota Bandar Lampung - - Sudah cukup jelas. Dengan PP no. Pemda provinsi dan kab/kota dapat memiliki 14 dinas tetapi PP tersebut belum banyak diikuti dengan aturan dari Depdagri yang memungkinkan adanya sinkronisasi kewenangan itu Perlu penegasan kembali penegasan urusan pemerintahan daerah Sudah baik hanya perlu pembatasan kewenangan dan diikuti dengan komitmen pembiayaan Belum mencerminkan efektif dan efisien karena masih menggunakan model atau pola maksimal dengan penambahan badan dan instansi lain Ada kewenangan kabupaten yang ditarik ke provinsi dan kewenangan provinsi yang ditarik ke pusat Secara normatif sudah efektif sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Sudah sesuai dan mengakomodasi kepentingan sosial Semakin sering pengaturan pembagian kewenangan antara pusat dan daerah justru yang terlihat adalah semakin besarnya dominasi pemerintah pusat karena 3 Lampung Tengah - - 4 Lampung Selatan - - - 5 Way Kanan - 32 . meskipun masih ada hal-hal yang belum sesuai dengan kepentingan daerah Kewenangan pemerintah pusat dan provinsi sebagai daerah otonom dibatasi. Perubahan yang terjadi secara cepat dan meluas tentu saja menimbulkan keterkejutan dan upaya penolakan terutama di kalangan perangkat pemerintah pusat Pengaturan yang ada masih cenderung memihak kepada kepentingan pemerintah pusat Sudah cukup ideal. 38 Tahun 2007. sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang bersifat asumsi-asumsi dari pelaksana Sudah cukup ideal karena sudah mengacu pada aturan yang ada Cukup baik. karena hampir mengakomodir seluruh kewenangan yang ada Perlu dikembangkan sesuai dengan kepentingan masyarakat Banyak yang tumpang tindih dengan peraturan yang ada/yang lebih rendah PP 38/2007 ini membagi kewenangan wajib dan kewenangan pilihan urusan wajib adalah urusan yang harus diselenggarakan oleh pemerintah kota karena menyangkut kebutuhan dasar/pelayanan dasar sedangkan urusan pilihan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik daerah Masih perlu dijabarkan lagi.

Seudah baik. bila kewenangan itu dilaksanakan dengan efektif dapat meningkatka kesejahteraan rakyat Sudah sesuai dan mengakomodasi kepentingan sosial Pengaturan kewenangan pemerintah pusat tidak konsisten dengan apa yang tertulis (hanya 6 urusan). namun perlu lebih diperjelas. karena telah ditetapkan 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. 6 Tulang Banwang - - - Sudah cukup ideal karena pembagian kewenangan sudah diarahkan pada fokus dan sektor yang terperinci Ideal karena dengan PP no. Maknanya secara prosedural kewenangan besar diberikan kepada daerah akan tetapi kebebasan masih dibatasi oleh kewenangan pusat yang ternyata lebih besar Nuansa politisnya lebih kental Cukup baik. 41 th 2007 tentang organisasi perangkat daerah. 38 Tahun 2007 telah mengatur secara detail Sudah ideal karena pemda provinsi dan kab/kota dapat memiliki 14 dinas oleh urusan wajibnya dan urusan pilihan Belum karena PP yang ada tersebut belum banyak diikuti dengan aturan dari Depdagri yang memungkinkan adanya sinkronisasi kewenangan itu Belum karena kewenangan yang diberikan ke daerah tidak didukung oleh kapasitas keuangan yang cukup jadi seolah-olah kewenangan itu adalah beban atau tanggung jawab dan bukan keleluasaan bagi daerah untuk mengelola rumah tangga daerahnya sendiri Bernuansa kembali ke zaman orde baru karena ada pengaturan jenis dinas apa yang harus ada di daerah seharusnya diserahkan saja kepada daerah Meski sudah diatur kewenangan antara pusat. PP No. jangan hanya mengatur organisasinya saja. batas kewenangan antara pemerintah privinsi dan kabupaten/kota dengan peraturan-peraturan yang jelas atas batas kewenangan 7 Lamtim - - - 8 Metro - 9 Lampung Barat - - - 33 . provinsi/kab dan kota juga harus jelas. namun kewenngannya mulai dari pusat.No Daerah Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan justru pemerintah pusat paling banyak membuat regulasi dalam mengatur daerah dari mulai penganggaran. Kenyataanya pemerintah pusat masih enggan melepas urusan yang menjadi urusan daerah. penyusunan program dan sebagainya. provinsi dan kabupaten/kota namun belum sesuai dengan rincian kewenangan yang pasti dan rigit sehingga masih memunculkan penafsiran yang ganda Cukup jelas dan efektif karena sudah dibagi secara tegas Ibarat ayam yang dilepas tetapi kakinya diikat talli. Seudah lebih jelas.

Dengan PP no. luas dan bulat yang meliputi perencanaan. pengawasan. tetapi tidak ada sanksi dan reward bagi daerah yang berkinerja baik dalam melakukan kewenangan itu dalam hal memberikan pelayanan dan pembangunan di daerah Kewenangan besar di fungsi tetapi secara struktur kewenangan itu pada akhirnya tetap ditentukan oleh pemerintah pusat melalui departemen yang ternyata jumlahnya lebih besar dibanding dinas yang ada di daerah.No Daerah - Penilaian dan Pendapat tentang PP Kewenangan Sudah diatur mengenai kewenangan: menjadi urusan pemerintah daerah Sudah cukup ideal. padahal seharusnya kewenangan itu berada di daerah Kewenangan tidak sesuai dengan kapasitas keuangan yang dimiliki daerah dan alokasi keuangan yang diberikan leh pemerintah pusat 10 Lampung Utara - - - 11 Tanggamus - - - - - - Sumber : Diolah dari Hasil Penelitian Lapangan. Kejelasan. provinsi 34 . pembagian kewenangan antara pemerintah pusat. 38 Tahun 2007 Sudah cukup sesuai karena urusan pemerintah yang menjadi kewenangan pemda telah tertuang secara jelas di pasal 7 di mana tercantum 26 urusan wajib dan 8 item urusan pilihan Baik sebab kewenangan pemerintah daerah dilaksanakan secara utuh. 2009 Tabel 3. pelaksanaan. pengendalian dan evaluasi pada semua aspek pemerintahan Memungkinkan adanya keberanian daerah untuk menetpan urusan pilihan namun terbentur oleh aturan dan batasan nama program dan kegiatan yang telah ditentukan pemerintah pusat Pengaturannya masih terlalu umum dan belum detail sehingga aturan turunan masih diperlukan sedangkan hingga kini belum semua aturan keluar yang menyebabkan pembagian kewenangan cenderung hanya formalitas Masih menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda antar daerah kabupaten dan provinsi sehingga pembagian kewenangan belum menjelma di dalam pembagian penganggaran Kewenangan daerah sebenarnya cukup besar tetapi nampaknya lebih berorientasi kepada kewenangan untuk memberikan pelayanan bukan kewenangan untuk mencari dan mengoptimalkan potensi dan keuangan yang ada di daerah karena porsi pemerintah pusat masih lebih besar Kewenangan sudah jelas.

Tabel 4.33 100 Data pada tabel 3 menunjukkan bahwa sekalipun 60 % menyatakan pembagian kewenangan Pusat. yang seringkali menimbulkan disharmonisasi komunikasi juga berdampak pada masyarakat banyak. Data ini menunjukkan bahwa Di dalam realitas penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih masih muncul kebijakan yang bertentangan antara pemerintah Provinsi dengan pemerintaha Kabupaten/Kota. Propinsi dan Kabupaten cukup jelas. Sebagai akibat perbedaaan kepentingan dan kebijakan kabupaten/kota dengan provinsi. muncul inkonsistensi kebijakan antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah Kabupaten/Kota.. pada waktu yang hampir bersamaan. Alasan dan Jenis Tumpang Tindih Kewenangan No 1 Daerah Prov Lampung - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan PP tentang kewenangan daerah sebenarnya sudah tegas merincinya namun implementasinya masih tumpang tindih misalnya kewenangan pengawasan antara instansi pengawas di daerah dan pusat 35 . provinsi dan Kabupaten/Kota. Peraturan ini melarang adanya dana pndamping bagi tugas kegiatan tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi di daerah.66 39. Jumlah Sumber : Hasil Penelitian 2009 Jumlah 91 59 150 % 60. peraturan pelaksana satu undang-undang bisa saling bertentangan. ada Peraturan Menteri Pertanian dan Menteri Pendiidkan yang menghasruskan daerah harus menyimpan dana pendamping (penunjang). Akibatnya. Sementara. Misalnya Permenkeu 156 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.dan kewenangan kabupaten/kota No 1 2 3 Kategori sasi Jawaban Kewenangang Cukup Jelas Terjadi Tumpang Tindih Lainnya…. namun dalam prakteknya masih dijumpai adanya tarik menarik kepentingan dan tumpang tindih kewenangan antara Pusat.

antara instansi vertikal dengan daerah masih belum sinkron padahal lokasi dan obyeknya sama Contohnya di bidang administrasi pemerintahan misalnya mutasi pegawai banyak sekali prosedurprosedur yang tidak dijalankan baik oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten Di bidang kewenangan pengelolaan RSBI. 24.No Daerah - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan Pembagian urusan antara provinsi dan kabupaten/kota yang wilayah cakupan kewenangannya belun diatur secara spesifik baik pada urusan wajib maupun urusan pilihan Tumpang tindih misalnya Program daerah diprogramkan yang sama oleh pusat. Di beberapa daerah masih dibentuk badan/bagian pertanahan padahal ada Badan Pertanahan Nasional di daerah sebagai instansi vertikal. 25 dan sebagainya belum termasuk pengawasan dari BPKP Di bidang kewenangan Dinas sosial misalnya antara daerah dan pusat juga provinsi tidak jelas bagian kewenangan mana yang bertanggung jawab terhadap PMKS di daerah. satu provinsi yang punya kewenangan. Tarik menarik kewenangan tersebut pada akhirnya hanya merugikan masyarakat Tumpang tindih dan ketidakkonsistenan antara peraturan yang justru berada di instansi tingkat pusat sehingga daerah kebingungan Tumpang tindih dalam penyediaan fasilitas atau layanan umum kepada masyarakat. masih ada tumpang tindih dan belum ada kejelasan batas kewenangan perizinan antara pemerintah pusat. sementara sekolah punya kab/kota. Setiap ada departemen di pusat. Terkadang pemerintah provinsi beranggapan di daerah tersebut memerlukan tetapi daerah justru sebaliknya. Kewenangan dalam bidang mennetukan anggaran Dalam otonomi daerah seharusnya dinas di daerah lebih banyak dibandingkan departemen di pusat sehingga tidak terjadi tumpang tindih. provinsi dan daerah untuk investasi yang ada di daerah Contoh tumpang tindih bidang pertanahan. SLBI. Di daerah sendiri juga tumpang tindih - - 2 Kota Bandar Lampung - 3 Lampung Tengah - - - - - - 4 Lampung Selatan - 36 . Kewenangan pengawasan dari Depdagri misalnya terdapat banyak sekali aturan mulai Permen 23. ada dinasi di provinsi dan dinas di daerah dengan tupoksi sama biasanya akan ada tumpang tindihm sebab ada dana APBN dan dana dekonsentrasi yang juga masuk ke daerah tanpa sepengetahuan daerah Dalam hal perizinan.

No Daerah - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan selain ada dinas sosial ada juga bagian sosial. pemerintah pusat sangat lamnbat dalam melakukan sertifikasi padahal daerah secara cepat membutuhkan itu untuk kepastian Urusan perencanaan pembangunan yang masih dibatasi nama program da kegiatannya oleh pemerintah pusat Urusan penanganan bencana. penyeberangan bakauheni. tidak ada stok di kabupaten dari pusat atau provinsi sehingga sewaktuwaktu ada bencana kita harus lapor dahulu dan mesti menunggu sementara korban bencana sangat membutuhkan itu secara cepat Urusan keuangan dan pengelolaan keuangan karena semua peraturan masih dipegang pusat ditambah dengan seringnya peraturan itu berubah Kebijakan yang diambil kabupaten belum tentu disetujui oleh provinsi Kewenangan penerimaan CPNSD ternyata tetap - 5 Way Kanan - - - 6 Tulang Banwang - - - - 7 Lamtim - 37 . seperti pembangunan infrastruktur yang tertuju pada kepentingan masyarakat adalah kewenangan pusat tetapi pusat tidak memikirkan Pada penetapan jenis kegiatan dalam usulan kegiatan SKPD yang sudah dibatasi Pada pengelolaan keuangan Kewenangan pertanahan masih tumpang tindih sehingga banyak tanah adat yang akhirnya kebingungan statusnya Kewenangan pertanahan. Kemudian kegiatan-kegiatan pelatihan bencana alam masih dilaksanakan oleh provinsi dan tidak diserahkan kepada lamsel. Bidang pertanahan dan bidang pajak Dalam hal penetapan prioritas pembangunan Dalam hal penetapan DAK dan DAU dan perekrutan pegawai Pemberian perintah pelaksanaan kegiatan yang masih dipegang oleh provinsi tetapi pengoprasionalnya daerah kabupaten Dalam hal infrastruktur pembangunan yang mana menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan mana yang menjadi tanggung jawab kabupaten masih tumpang tindih Pada bidang pembangunan di daerah. Kewenangan dinas kesehatan misalnya dalam pengadaan alat medis dan sarana dan prasarana bidang kesehatan yang masih didominasi oleh pusat Terjadi tumpang tindih seperti pengelolaan bandara raden intan. THR pasir putih yang seluruhnya masuk wilayah Lamsel tetapi justru dikelola oleh provinsi.

proyek-proyek dari pemerintah pusat masih tumpang tindih Penyelenggaraan pendidikan misalkan kenaikan pangkat tenaga pendidik golonganIII dan IV Di luar 6 urusan yang telah di tetapkan. namun dalam penerapannya perlu untuk diperjelas kembali Di bidang PU. begitupun sebaliknya. jika pemerintah pusat masih menangani urusan di luar 6 urusan tersebut. masih banyak jalan yang rusak. provinsi telah melakukan pemeriksaan. misal di bidang pendidikan. mengapa tidak disebutkan saja di UU 32/2004??kenapa harus mengeluarkan UU yang bersifat sektoral?? Lembaga-lembaga pemerintah. tidak perlu ditetapkan 6 urusan saja. provinsi dan kabupaten/kota harus detail sekali sehingga tidak membuat bingung Bidang pekerjaan umum: beberapa subbidangpekerjaan umum yang seharusnya menjadi kewenangan /urusan pemerintah provinsi kadang masih dilaksanakan oleh pemerintah daerah. seharusnya di UU/PP tersebut. Kalo memang bid kehutanan masih ingin diatur oleh pusat. SDA dan pajak: pembagian % daerah dan pusat. pemantauan dan pengawasan tata ruang dan pelayanan pertanahan jika dihubungkan dengan kewenangan tentang kawasan sektoral seperti - 8 Metro - - 9 Lampung Barat - - - - - - 10 Lampung Utara - 38 . baik yang di tingkat pusat.kewenangan maslah PNS Perencanaan.No Daerah - Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan diputuskan oleh pemerintah pusat Dalam perencanaan pembangunan masih sering terdapat program pembangunan yang sama antara pemerintah pusat. Contoh: urusan jalan. rekrutmen PNS pada penetapan formasi. Di bidang kewenangan pemeriksaan inspektorta. karena rentang yang jauh terkadang provinsi kurang memperhatikan. jalan yang ada di kabupaten Di bidang pendidikan: standarisasi. provinsi sd tingkat kabupaten masih ada belum keseragaman Pemerintah pusat masih enggan melepas urusan yang menjadi urusan daerah Kewenangan di bidang jlan raya. karena pembagian kewenangannya masih memungkinkan terjadinya multi tafsir. kesehatan. provinsi dan kabupaten Contoh tumpang tindih : bidang pertanahan. Seharusnya kewenangan antar tingkat pusat. Masih tumpang tindih. kabupaten/kota melakukan lagi Tidak ada.

Masyarakat tidak mengetahui secara pasti tentang status jalan apakah milik kabupetan. Kesesuaian Kepentingan Daerah antara UU No. Pertanahan. pusat melakukan pendataan daerah juga melakukan pendataan 2.22/1999 UU No. daerah sering menjadi tempat keluhan tentang lamban dan tidak jelasnya prosedur sertifikasi tanah padahal hal itu kewenangan pusat 6. Perencanaan pembangunan. 22/1999 dengan UU No. Sosial. sasaran pembangunan bidang sosial sama antara pusat. masih terjadi tumpang tindih bahwa lokasi proyek di kabupaten ketika pusat mau masuk ternyata sudah dikerjakan oleh kabupaten sehingga anggaran pusat mubazir 4. 32/ 2004 No 1 Daerah Provinsi Lampung UU No.2 Kepentingan Daerah Tabel 5.32/2004 Jelas lebih sesuai UU 32/2004 karena hubungan Pemda dan DPRD merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara & bersifat kemitraan yang maksudnya mitra kerja dalam membuat kebijakan daerah untuk melaksanakan otonomi daerah sesuai dengan fungsi masingmasing dan saling mendukung bukan merupakan lawan atau pesaing satu sama lainnya dalam melaksanakan fungsi Lebih menjamin dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lebih - 39 . Koordinasi instansi vertikal kepada pemerintah daerah rendah padahal obyek masyarakat yang dilayani berada di daerah sehingga masyarakat terkadang menjadi bingung Sumber : Hasil Penelitian 2009 4. Statistik. provinsi dan kabupaten dengan data yang berbeda-beda 3. 11 Tanggamus - Kewenangan yang masih tumpang tindih : 1.2. provinsi atau pusat 5.No Daerah Alasan dan jenis Tumpang Tindih Kewenangan kehutanan. pertambangan dan lainnya.

Daerah kabupaten/kota tidak terlalu berlebihan dan provinsi masih memiliki kewenangan Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena membatasi anggapan daerah kabupaten/kota yang seolah-olah memiliki keleluasaan kekuasaan untuk mengelola daerahnya secara bebas Tentang demokratisasi jauh lebih masu termasuk dalam menjaga keseimbangan dan sta bilitas jalannya pemerintahan Dalam konteks bagi hasil dana perimbangan oleh potensi daerah. UU 32/2004 lebih sesuai karane UU 22/1999 lebih mengarah pada konsep federalismme UU 32/2004 lebih menjamin koordinasi secara bejenjang antara Pemda sebagai sustau sistem pemerintahan dalam wadah NKRI Lebih sesuai UU 32/2004 karena sudah lebih akomodatif dan daerah diberi kewenangan lebih luas dengan disertai hak dan kewajibannya dalam menjalankan otonomi selain itu lebih jelas pembagian antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota - - - - - - - 2 Bandar Lampung Sebagian responden menyatakan lebih memilih UU No 22/1999 sebab kewenangan sepenuhnya diserahkan ke daerah - 40 .32/2004 mendominasi jalannya pemerintahan karena DPRD tidak lagi dapat memberhentikan kepala daerah yang justru lebih didasarkan pada suka atau tidak suka bukan pertimbangan rasional Lebih rasional kewenangannya.22/1999 UU No. UU 32/2004 lebih memungkinkan daerah untuk mendapat alokasi yang lebih besar dibanding dalam UU 22/1999 Lebih tepat dalam UU 32/2004 karena provinsi kembali memiliki kewennagan untuk melakukan kordinasi dan pengawasan kepada kabupaten/kota Dalam konteks NKRI.No Daerah UU No.

Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hampir 25% dari isi UU 32/2004. karena kita NKRI maka tidak mungkin daerah dapat berdiri sendiri karena ada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.Lebih sesuai dalam UU 22/1999 namun dalam pelaksanaanya terjadi kebablasan. Seharusnya UU hanya mengatur hal-hal pokok saja sedangkan urusan teknisnya diatur dalam peraturan pemerintah atau peraturan teknis lainnya Lebih sesuai UU 22/1999 karena kewenangan daerah sebagai daerah otonom lebih luas UU No. Lebih menjamin dalam UU 32/2004 karena lebih detail dan lebih luas dalam menyeimbangkan otonomi daerah dalam kerangka NKRI - 41 . Salah satu kelemahan UU 32/2004 yaitu terlampau banyak mengatur tentang pemilihan kepala daerah sehingga hal-hal esensial lainnya malah tidak diatur. Namun. .22/1999 -Jika berbicara tentang kepentingan daerah ansich maka UU 22/1999 lebih mampu mengakomodir kepentingan daerah secara mandiri.No 3 Daerah Lampung Tengah UU No.32/2004 Lebih sesuai dan bisa mengakomodasi kepentingan daerah adalah UU 32/2004 karena pada pasal UU tersebut telah dijelaskan secara rinci dan untuk kepentingan daerah selaku daerah otonom.

No

Daerah

UU No.22/1999
sehingga daerah lebih merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri bukan oleh pemerintah pusat

UU No.32/2004

4

Lampung Selatan

-

Lebih banyak UU 22/1999 yang mengakomodasi kepentingan daerah karena dalam UU 32/2004 ada beberapa batasan kewenangan daerah

-

-

-

Lebih sesuai UU 32/2004 karena UU tersebut sudah bisa mengakomodir kepentingan daerah tetapi harus diimbangi dengan perda-perda disesuaikan dengan keadaan daerah Sebetulnya lebih sesuai dengan UU 32/2004 yang bisa mengakomodir kepentingan daerah karena penjabarannya lebih terperinci dan diberikan kewenangan penuh mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan Lebih sesuai UU 32 tahun 2004 akan tetapi pelaksanaannya masih belum terdapat kepastian dalam arti tidak ada penafsiran ganda Lebih sesuai UU 32/2004 karena lebih mempunyai titik berat ke rakyat, dapat mewakili kebutuhan daerah (7 responden) Jelas lebih sesuai UU No 32/2004, yang lebih mengakomodasi kepentingan daerah. Dengan semangat otonomi daerah ini mewakili pembangunan daerah, tetapi perlu diadakannya pengawasan yang menyeluruh (3 responden) Dalam konteks menjaga stabilitas pemerintahan daerah, UU 32/2004 lebih menjamin terwujudnya tujuan itu UU 32/2004 lebih menjamin adanya kepentingan daerah khususnya dalam hal stabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah Lebih pas UU 32/2004 karena tidak ada raja-raja kecil di daerah

5

Way Kanan

-

-

-

6

Tulang Bawang

Jika kepentingannya adalah otonomi seluas-luasnya maka UU 22/1999 lebih memungkinkan aspirasi daerah secara umum, namun jika kepentingannya

-

-

42

No

Daerah

UU No.22/1999
menjaga negara kesatuan maka UU 32/2004 relatif lebih memungkinkan adanya kesetaraan dan pengakuan bahwa kabupaten/kota berada di bawah koordinasi provinsi dan provinsi berada di bawah kordinasi pemerintah pusat

UU No.32/2004 Lebih sesuai UU 32/2004 karena kepala daerah dan DPRD adalah sederajat sehingga tidak bisa saling menjatuhkan oleh sebab kepentingan pribadi dan golongan terutama parpolnya Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena kepala dearah dipilih langsung oleh rakyat untuk menghindarkan adanya kekuasaan DPRD yang sangat kuat sementara banyak anggota DPRD yang tidak memiliki kapasitas untuk itu. Jika mengacu pada keseimbangan antara kekuasaan legislatif dan eksekutif, maka UU 32/204 lebih mencerminkan dan mengakomodasi kepentingan daerah secara umum dalam bingkai NKRI sehingga menghilangkan raja-raja kecil baik oleh kepala daerah maupun oleh DPRD Pembagian urusan wajib dan urusan pilihan merupakan kelebihan yang ada dalam UU 32/2004 yang dengan urusan pilihan itu daerah dapat berkreatifitas menjalankan kewenangan berdasarkan potensi dan masalah yang dihadapi oleh daerah Kewenangan besar tetapi tetap ada batasannya dalam menjaga NKRI. Oleh karena itu UU 32/2004 dianggap lebih memadai dan selaras dengan otonomi daerah yang tidak seluas-luasnya karena tetap ada batas kewenangan bagi daerah

-

7

Lampung Timur

Jika mengacu pada keleluasaan daerah, maka UU 22/1999 lebih dapat memberikan kewenangan daerah secara optimal namun kekuasaan kepala daerah dan DPRD harus samasama diatur secara ketat

-

-

-

8

Metro

9

Lampung

Lebih sesuai UU 32/2004 karena ada beberapa pasal ya ng telah mengalami revisi sehingga bisa mengakomodasi kepentingan daerah,tetapi ada unsurunsur dalam UU No 22/1999 perlu diadopsi, misalnya jangan sampai UU No.32 tahn 2004 menjadikan kepala daerah sebagai raja-raja kecil di daerah - UU no 32/2004 lebih sesuai karena

43

No

Daerah Barat

UU No.22/1999

UU No.32/2004
UU 22/1999 menjadikan kabupaten/kota memiliki kewenangan, salah satunya penetapan APBD yang tidak perlu disetujui oleh provinsi. Yang lebih sesuai adalah UU No.32 karena kewenangan sudah deperluas dan lebih diperjelas Cenderung hampir sama Keduanya saling mengisi, akan tetapi UU No.32 lebih spesifik pembagiannya tetapi tidak bersifat khusus hanya umum saja Secara umum UU No 32 adalah penyempurnaan dari No 22 tetapi untuk akomodasi kepentingan daerah lebih terakomodasi di dalam UU No 22 UU no. 32/2004, sebab UU NO 22/199 masih dilaksanakan asa desentralisasi dan dekonsentrasi sedangkan perda UU No 32/2004 pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan UU No.22/199 lebih sesuai dan bisa mengakomodasi kepentingan daerah. UU No 32 tahun 2004 UU ini telah mengakomodasi sesuatu yang terjadi pada perda UU No 32/2004 karena UU ini merupakan penyempurnaan dari UU 22/1999, namun demikian penerapan fungsi terhadap pelanggaran dalam pelaksanaan tidak setimpal

-

-

-

-

10

Lampung Utara

- Lebih sesuai UU 32/2004 karena UU
tersebut setiap daerah diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi dan ciri khasnya masingmasing - Lebih jelas dalam UU 32/2004 karena urusan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) terperinci dengan jelas yang terbagi ke dalam urusan wajib dan urusan pilihan

44

32/2004 .Lebih sesuai UU 32/2004 karena tekah sesuai dengan perkembangan keadaan. ketatanegaraan dan tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah 11 Tanggamus Jika melihat kepentingan DPRD. 45 .No Daerah UU No.Lebih sesuai 32/2004 karena memungkinkan adanya prakarsa daerah dalam mengelola daerahnya secara optimal . tetapi siapa yang dapat memberhentikan DPRD karena tidak ada mekanisme bagi rakyat untuk memberhentikan DPRD . UU 32/2004 lebih dapat menjamin tujuan itu.UU 32/2004 lebih menjamin adanya kesadaran bahwa pembangunan daerah adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (eksekutif) dengan DPRD (legislatif) bukan sebaliknya yang biasanya cenderung bahwa DPRD berhak melakukan kontrol seluas-luasnya terhadap kinerja kepala daerah.Secara normatif UU 32/2004 lebih sesuai karena bisa mengakomodasi kepengtingan daerah sehingga diperlukan kebijakan /regulas lebih lanjut supaya dapat mengakomodasi kepentingan daerah sesuai dengan tuntutan yang berubah . .Dalam menjaga keseimbangan dan stabilitas daerah.Bagi provinsi UU 32/2004 lebih sesuai karena tidak menghilangkan fungsi gubernur sebagai kordinator kabupaten/kota. Kepala daerah dapat diberhentikan oleh DPRD jika kinerjanya buruk. UU 22/1999 dirasakan lebih menjamin kekuasaan DPRD sebagai wakil rakyat yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja kepala daerah sekaligus menjamin bahwa kepala daerah menjalankan kebijakan yang sesuai dengan harapan rakyat. karena DPRD tidak serta merta dapat menjatuhkan kepala daerah yang biasanya lebih didasarkan atas kepentingan oknum DPRD bukan kepentingan rakyat. apa yang diatur dalam UU 22/1999 dirasakan lebih sesuai dengan kepentingan daerah yang . Dalam persektif otonomi seluasluasnya.22/1999 UU No.

Artinya.No Daerah UU No.22/1999 begitu besar. 22/1999. dinilai lebih cocok diterapkan karena UU ini lebih cenderung memberikan proses demokratisasi pemerintahan yang lebih mandiri tanpa harus tergantung pada pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. koordinasi antara Daerah Kabu dan Provinsi sulit 46 . UU No. UU No. Namun.22/1999. 22/1999.32/2004 Sumber : Hasil penelitian 2009 Dari hasil penelitian data pada tabel 5 menunjukkan bahwa kepentingan daerah lebih sejalan dan sesuai dengan UU No. Dalam pandangan informan.32/2004 dibandingakan dengan UU No. sebagian kecil beberapa informan dari Kabupaten/Kota menyatakan bahwa kalau dilihat dari kemandirian Daerah. Namun dalam konteks NKRI. dan kewenangan Gubernur untuk mengawasi dan berkoordinasi dengan Pemkab/Kota lebih jelas dan besar. sumber pembiayaan dari Pusat lebih besar dibandingkan dengan UU No.22/1999. diakui bahwa dengan penerapan UU No.32/2004 bisa mengakomodasi kepentingan daerah karena kedudukan DPRD tidak dominan sehingga stabilitas pemerintahan bisa terjaga. menjamin keterjaminan NKRI. argumen pokok bahwa UU No. UU No. Namun.32 Tahun 2004 cenderung lebih bisa diterima oleh daerah dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. UU 32/2004 lebih sesuai untuk tetap mengedepankan hierarki yang jelas dan tegas bahwa kabupaten/kota berada di bawah struktur provinsi dan pemerintah provinsi berada di bawah pemerintah pusat.

sehingga derajat otonomi daerah cenderung masih rendah. penetapan DAK dan DAU. Tabel 7. Bentuk Intervensi Pusat pada Daerah No 1 Daerah Lampung Bentuk Intervensi Dalam peencanaan pembangunan karena jenis kegiatan dan programnya sudah ditetapkan dari pusat sehingga kreatifitas daerah menjadi lemah Pembinaan di bidang kepegawaian Dalam evaluasi APBD padahal proses penyusunan di daerah sudah dilakukan melalui tahapan yang lama dan mempertimbangkan berbagai aspek kebutuhan Intervensi langsung dalam bentuk PP dan Permen Intervensi tak langsung dalam bentuk penetapan anggaran alokasi DAK Masih kuat intervensinya misalnya dalam penyusunan 47 . penyusunan (evaluasi Perda APBD). rekrutmen CPNSD. administrasi kepegawaian.27 26. Bentuk intervensi Pusat terhadap Daerah antara lain : dalam perencanaan pembangunan.2.01 31. Melakukan Campur Tangan Tidak melakukan Campur Tangan Kadang-kadang Jumlah No 1 2 3 Jumlah 52 32 39 123 % 42. Campur Tangan Pemerintah Dalam Proses Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Intervensi/Campur Tangan Pusat ke daerah Ya. 4.3 Intervensi Pemerintah Tabel 6. dan sebagainya (lihat tabel 7).bisa diimplementasikan sehingga pemerintah kab/kota dengan pemerintah prov berjalan sendiri-sendiri.70 100 Sumber : Hasil Penelitian 2009 Dari data pada tabel 6 menunjukkan bahwa campur tangan pemerintah dalam pelaksanaan otonomi daerah masih cukup besar.

Pengaturan dan penggunaan dana DAK dari pusat Pengaturan dalam perencanaan pembangunan dan beberapa kegiatan pemerintah yang harus merujuk pada kepentingan pusat dan terprogram dari pusat Pembuatan Perda dan pelaksanaan Pilkada 2 Bandar Lampung - 3 Lampung Tengah - - - 4 Lampung Selatan - - - 48 . Pengalokasian dana DAK dan tugas pembantuan yang sepenuhnya masih diatur oleh pemerintah pusat Adanya keharusan dilakukannya evaluasi APBD yang sudah disahkan oleh DPRD dan pemerintah daerah oleh pejabat tingkat atasnya. kebijakan anggaran dan sumber daya manusia/aparat. di bidang kepegawaian kewenangan menetapkan golongan IV c masih merupakan kewenangan pusat sehingga memerlukan jalur birokrasi yang sangat panjang Masalah intervensi pada kewenangan pengangkatan kepala daerah. Hal ini masih terdapat campur tangan dari pihak-pihak tertentu di pemerintah pusat sehingga keputusan akhir tetap ada di pemerintah pusat.No Daerah Bentuk Intervensi APBD karena pengaturan penyusunan APBD masih dibatasi oleh nomenklatur yang dibuat oleh pusat Dalam bentuk penerbitan peraturan perundang-undangan Rekomendasi pengangkatan Sekda kabupaten/kota Terutama dalam kebijakan pengangguran Dalam bentuk penyelesaian perselisihan . Pasal 26 : mestinya tindakan penyelidikan dan penyidikan terhadap kepala daerah tidak perlu izin tertulis dari presiden sehingga tindakan dan kepastian hukum secara cepat dapat dilaksanakan Ada beberapa kewenangan dalam Otda yang masih dipegang oleh pemerintah pusat dan tidak diberikan kepada daerah : 1. atau dengan kata lain tindakan/keputusan yang menjadi kewenangan pemerintah tingkat atas Intervensi pemerintah adalah dalam menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah selaras dengan kebijakan provinsi dan kebijakan provinsi selaras dengan prioritas nasional Perda dalam konteks kewenangan daerah tidak melampauai kewenangan tetap perlu mendapat campur tangan dari pemerintah pusat dalam rangka menjaga agar Perda itu konsisten dengan aturan tingkat atasnya. Dalam penyusunan DAU pusat bisa mengurangi atau menambah DAU tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan negara 2.

tapi pada akhirnya dengan tujuan tertentu Penentuan kebijakan pembangunan daerah Seperti kebijakan dalam hal penganggaran untuk daerah dengan kapasitas sebagai pemerintah pusat yang ada di daerah Dalam bidang pembangunan jalan-jalan lintas penghubung atau dalam hal hubungan pembangunan pemerintahan Intervensi penetapan kuota CPNSD padahal yang akan menggaji PNS tersebut adalah daerah meskipun tetap lewat DAU.serta BOS Selalu ikut melakukan yang dalam bahsanya disebut koordinasi. Seharusnya jika demikian gaji PNS dimasukkan ssaja ke APBN Intervensi dalam penetapan nama kegiatan dan program dalam APBD Intervensi dalam urusan penetapan calon kepala daerah yang diusung parpol seharusnya parpol di daerah tidak mesti harus meminta persetujuan pusat dalam menetapkan calon kepala daerah dari parpolnya Intervensi dalam hal pengaturan bahwa Perda harus dikoreksi oleh pemerintah provinsi sehingga membuat lamban dalam pelaksanaan Perda tersebut Intervensi dalam hal menetapkan alokasi DAU padahal usulan yang dibuat daerah sudah memperhitungkan kriteria-kriteria yang diatur.No 5 Daerah Way Kanan Bentuk Intervensi Dalam hal anggaran yaitu besar kecilnya DAK+DAU (2 responden) Tentang usulan atau program yang digulirkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah berkewajiban untuk melaksanakanya Program pemerintah yang dilimpahkan ke daerah (PNPM mandiri). Ada beberapa kewenangan dalam Otda yang masih dipegang oleh pemerintah pusat dan tidak diberikan kepada daerah : Memerlukan intervensi dalam penyelesaian konflik pilkada yang berlarut-larut di daerah Intervensi dalam pengaturan keuangan yang tidak konsisten Dalam bentuk pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai PP 20 tahun 2001 Intervensi diperlukan dalam rangka menjamin bahwa peraturan di daerah yang ada tidak bertentangan dengan peraturan tingkat atasnya Aturan dari pusat banyak memaksa daerah menyesuaikan 6 Tulang Bawang - - - 7 Lampung Timur - 8 Metro - 49 .

dan monitir. pembagian SDA. karena kewenangan daerah dalm penggalian PAD sangat terbatas PILGUB Lampung Penetapan atau teknis pelaksanaan Evaluasi perda Prosedur perencanaan/pengajuanDAU Campur tangan soal ketahanan dan pertahanan NKRI dan soal agama Seperti dalam penetapan RPBD untuk provinsi masih ada evaluasi mendagri dan untuk kabupaten/kota masih ada evaluasi gubernur Fasilitasi atau advokasi terhadap suatu program pembangunan di daerah Pengelolaan kekayaan alam Dengan menerbitkan peraturan perundang-undangan baru yang tidak selaras dengan UU 32/2004. tetap mengawasi seluruh kegiatan pemerintahan di provinsi dan kabupaten baik dalam penerapan kebijakan maupun realisasi pelaksanaan. walaupun intervensi tersebut dibutuhkan. Dalam proses pembentukan anggaran dan kepegawaian Kebijakan-kebijakan produk daerah sering tidak dapat berfungsi akibat tidak atau dinilai bertentangan dengan arahan-arahan sektoral/departemen Penentuan jenis pajak dan retribusi daerah Tarif pajak dan retribusi daerah Tumpang tindih dalam aturan keuangan antara Depdagri dan Depkeu Kedudukan peraturan perundang-undangan di tingkat daerah mempunyai hubungan yang sifatnya saling melengkapi dengan peraturan perundang-undangan 9 Lambar - - 10 Lampung Utara - 50 . Tetap harus berkoordinasi dengan pusat pemerintah daerah Pelaksanaan program-program yang dibiayai APBN (bersifat Top Down) biaya-biaya yang tidak sesuai dengan kondisi di daerah. dll Penetapan APBD Kadang-kadang terutama dalam hal pembentukan perda yang berhubungan dengan peningkatan PAD. misalnya bidang penyuluh pertanian Dalam hal penentuan pegawai. maslah keuangan. tapi jadinya seolah-olah percuma diterbitkan UU No 32/2004 karena belum sempurna Pemerintah pusat melalui lembaga-lembaganya yang berkompeten di pusat. sehingga sasaran kegiatan tidak tercapai Dalam hal sengketa pilkada yang kacau Fiskal.No Daerah Bentuk Intervensi padahal di daerah tersebut terlalu urgen tapi di pusat diwajibkan. pertahanan keamanan dan politik Pengadaan pegawai.

Kemungikinan Diperlukannya Intervensi (campur tangan) No 1 2 3 Kategori sasi Jawaban Intervensi Diperlukan Tidak diperlukan intervensi Lainnya…. daerah tidak dapat mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri berdasarkan prakarsa sendiri tetapi tetap harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi Bentuk campur tangan atau intervensi seperti adanya pembakuan dari pusat akan model..98 Sumber : Hasil Penelitian 2009 Ternyata dari pendapat responden. intervensi tersebut berdasarkan data tabel 8 masih diperlukan sementara yang menyatakan tidak setuju hanya 40.70 %.70 3. Artinya. 53 99.No Daerah Bentuk Intervensi tingkat pusat.75 40. tata cara dan sebagainya dalam berbagai urusan yang terkadang bila tidak sesuai format pusat dianggap sebagai pelanggaran Rekrutmen CPNS yang masih terlalu menunggu keputusan pusat dalam menetapkan kuota Alokasi DAU yang murni merupakan kewenangan pusat padahal jika mengacu pada kriteria yang ada sudah dapat ditentukan besarannya tetapi ternyata tetap membutuhkan intervensi pusat dalam konteks pendekatan daerah kepada pusat Diperlukan apabila ada sengketa di daerah yang berlarutlarut baik sengketa pilkada maupun sengketa antara kabupetan dengan provinsi Kadang-kadang diperlukan untuk menjamin bahwa apa yang akan dilakukan daerah sesuai dengan aturan yang ada di pusat Kadang-kadang diperlukan untuk melakukan fungsi pembinaan dalam rangka menyampaikan ke daerah tentang apa-apa yang baik di daerah lain yang mungkin dapat ditiru oleh kabupaten/daerah lainnya sehingga semua daerah melakukan hal-hal yang dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat - 11 Tanggamus - - Sumber : Hasil Penelitian. Jumlah Jumlah 63 46 4 113 % 55. 2009 Tabel 8. Beberapa alasan mengapa intervensi diperlukan antara lain : menghindari 51 .

agar tidak muncul raja-raja kecil. (Tabel 9) Sementara. dan agar perda tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang lebih tinggi. kondisi keuangan dan perekonomian daerah tidak merata. untuk kepentingan pengawasan. yustisi dan agama dikelola bersama-sama antar tingkatan dan susunan pemerintah yang bersifat konkuren sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntabilitas pemerintah terhadap rakyat Tetap diperlukan dalam rangka mencegah adanya penyimpangan daeri daerah baik oleh sebab ketidakpahaman aturan yang kompleks maupun oleh - Alasan Tidak Perlu Tidak perlu sepanjang batas kewenangan antar tingkatan pemerintahan dapat dijalankan secara proporsional Tidak diperlukan karena berdasarkan UU 32/2004 daerah memiliki kewenangan atau urusan rumah tangganya sendiri secara mandiri - 52 . otonomi daerah masih tidak bisa dilaksanakan secara mandiri. Alasan Intervensi/Campur Tangan Pusat dan Provinsi No 1 Daerah Lampung • Alasan Perlu karena urusan pemerintah mencakup bidang politik luar negheri. untuk pembinaan karier pegawai daerah. beberapa responden yang menyatakan tidak perlu dilakukan intervensi. Intervensi tidak diperlukan karena ada Gubenur yang memiliki kewenangan untuk mengkoordinasikan dan mengontrol Kabupaten/Kota. karena alasan-alasan sebagai berikut : sepenjang kewenangan dilaksanakan secara proporsional tidak perlu campur tangan Pusat/Provinsi.penyimpangan yang dilakukan oleh Daerah. untuk mensikronkan pembangunan. pertanahan. dan adanya intervensi membuat Daerah menjadi tidak kreatif dan tidak produktif sehingga harus selalu tergantung pada Pusat (lihat tabel 9) Tabel 9. moneter + fiskal nasional. keamanan. Daerah memiliki potensi daerah dan lingkungan sosial-politik yang bisa dikelola secara mandiri tanpa harus terlibat campur tangan Pusat. untuk penyelesaian sengketa/perselisihan antar daerah. menjaga keutuhan NKRI.

intervensi dalam menjaga keutuhan NKRI dan intervensi dalam rangka memberikan pedoman. norma dan standar Diperlukan yang berkaitan dengan keuangan daerah mengingat dinamika politik dan pembahasan di lembaga legislatif terkadang melampauai aspek ketentuan yang digariskan Dalam bentuk bantuan atau apapun ketika bencana terjadi sehingga pemda tidak mampu untuk menyelesaikan Perlu untuk sinkronisasi antar daerah Diperlukan dalam bentuk pembinaan dan pengawasan dalam rangka kesinambungan pembangunan nasional Dalam rangka pembinaan.No Daerah Alasan Perlu kepentingan yang masih terlihat di daerah Masih diperlukan utamanya dalam rangka pembinaan karier pegawai daerah sebagai imbas pilkada yang dilakukan secara langsung Diperlukan intervensi yaitu dalam rangka menjalankan kewenangan. pengendalian dan pengawasan di bidang kepegawaian Perlu karena sebagai lembaga yang saling membutuhkan dalam rangaka NKRI Kebijakan pusat dapat membantu daerah yang kekurangan dana. srana dan SDM Agar tidak timbul seperti raja-raja kecil di daerah yang mempunyai kekuasaan mutlak untuk mengatur wilayah sendiri Bidang kurikulum dan Alasan Tidak Perlu • • • • • • • 2 Bandar Lampung - - - - - 53 .

Diperlukan dalam hal menetapkan pembagian anggaran antar daerah yang satu dengan daerah yang lain Intervensi pusat masih diperlukan di bidang keuangan dikarenakan daerah banyak yang belum mampu membiayai daerahnya sendiri dikarenakan PAD yang Alasan Tidak Perlu - - - 3 Lampung Tengah - - - - - 54 . namun hal ini harus didukung oleh konsistensi anggaran pusat ke daerah atas dasar prioritas itu Intervensi dalam makna positif perlu sebagai bentuk kontrol pemerintah pusat terhadap pemerintah pusat agar pemda tidak salah dalam mengartikan kewenangan dalam pelaksanaan otonomi daerah.No Daerah Alasan Perlu peningkatan mutu pendidikan Masih diperlukan terutama dalam rangka pengendalian dan pengawasan keuangan Karena pemerintah daerah belum mampu melaksanakan seluruh kewajibannya tanpa bantuan sesuai dengan UU 32/2004 dari pemerintah pusat Tindakan dan keputusan terhadap masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh intern atau sesama daerah tingkat II yang berdampingan Perlu intervensi berupa subsidi pembiayaan karena pemerintah daerah masih banyak kekurangan dalam kaitan dengan pembiayaan pembangunan daerah Diperlukan dalam rangka mensinkronkan prioritas pembangunan nasional dengan pembangunan di daerah.

Terkadang perlu dan terkadang tidak.Tidak diperlukan karena intervensi tidak punya dasar hukum. yang ada pemerintah pusat punya kewenangankewenangan dalam hubungannya dengan pemda yang secara jelas diatur dalam UU dan PP - 55 .Tidak diperlukan karena sudah ada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah . Dalam konteks menjaga NKRI perlu tetapi dalam konteks Alasan Tidak Perlu - - - 4 Lamsel - - - .No Daerah - Alasan Perlu masih sangat kecil Diperlukan. Yang memiliki rakyat adalah kabupaten/kota sedangkan provinsi dan pusat hanya fasilitator Perlu intervensi agar di daerah tidak muncul rajaraja kecil dan agar program nasional/pusat masih bisa dilaksanakan di daerah supaya masyarakat bisa mendukung program tersebut Perlu intervensi dalam dana DAK sehingga penggunaan bisa lebih terarah Pengaturan di bidang keuangan dan pembangunan Jadi apabila ada sengketa pilkada serahkan saja secara bebas kepada kewenangan yudikatif di daerah sehingga daerah sendiri yang akan bertanggung jawab apabila ada persoalan di kemudian hari karena daerah lebih mengetahui rangkaian persoalan tentang sengketa atau permasalahan itu. Alasannya kondisi keuangan dan ekonomi daerah tidak merata sehingga perlu peran pemerintah pusat untuk mengurangi kesenjangan antar daerah Diperlukan intervensi dalam rangka menjaga keamanan daerah Tidak diperlukan intervensi sepanjang kepala daerah dapat bertindak sesuai ketentuan Tidak diperluklan supaya daerah dapat berkembang apabila diberikan keleluasaan.

agar pemerintah provinsi. pemerintah menjalankan otonomi secara daerah harus dapat mandiri sehingga perlu tetap mengontrol adanya pengawasan dan kebutuhannya sendiri pembinaan dari pusat Perlu.Tidak perlu intervensi di daerah tidak bertentangan karena ini adalah dengan aturan yang lebih otonomi sehingga 56 . Perlu intervensi dalam pengelolaan anggaran lebih khusus pengelolaan anggaran yang dikucurkan dari pusat Diperlukan untuk menentukan langkahlangkah strategis pembangunan sehingga dapat selaras dan sejalan di semua daerah sehingga pembangunan secara nasional dapat tercapai Daerah masih belum mampu . peraturan . dikarenakan daerah masih ada yang belum mampu berdiri sendiri secara finansial Sebagai controling pemerintah di daerah Perlu.No Daerah Alasan Perlu Alasan Tidak Perlu - - 5 Way Kanan - - - - 6 Tulang Bawang - karakteristik dan kearifan yang dimiliki daerah yang berbeda maka tidak perlu adanya intervensi itu. Diperlukan agar. kab/kota tidak menjalankan kebijakannya sendiri sehingga sesuai dengan apa yang digariskan oleh pemerintah pusat Sebagai fungsi kontrol tetap memerlukan intervensi Karena masih banyak daerah yang masih harus diperhatikan oleh pemerintah pusat. sebagai alat pengawasan pemerintahan di daerah supaya pemerintah daerah memanfatkan dana perimbangan dari pusat benar-benar untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.Tidak perlu.

potensi dan masalah yang dihadapi oleh daerahnya .No Daerah - Alasan Perlu tinggi Diperlukan untuk menyadarkan DPRD daerah agar tidak merasa paling berkuasa dalam penetapan anggaran Perlu intervensi agar di daerah tidak muncul rajaraja kecil Intervensi agar program nasional/pusat masih bisa dilaksanakan di daerah dan supaya masyarakat bisa mendukung program tersebut Perlu intervensi karena keterbatasan SDM dan SDA di daerah Intervensi dalam aturan saja sebagai alat pengawasan pemerintah pusat ke daerah agar daerah tidak banyak melakukan penyimpangan Diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan di daerah sehingga ada mekanisme kontrol yang tetap dilakukan dalam menjaga konsistensi antar aturan Diperlukan dalam hal penyelesaian sengketa antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota Intervensi tidak diperlukan sepanjang antara pemerintah pusat.Tidak perlu intervensi supaya daerah lebih kreatif dan tidak selamanya bergantung kepada pemerintah pusat - - - - 7 Lamtim - .Tidak diperlukan karena pelaksanaan otonomi daerah mutlak dapat dilakukan sesuai kewenangan daerah - - - 57 . provinsi dan kabupaten menjalankan fungsinya sesuai dengan apa yang menjadi kewenangannya dan saling sinergis untuk mendukung pemerintahan tingkat bawahnya Tetap diperlukan karena NKRI Diperlukan agar terdapat keserasian penyelenggaraan pemerinthan dan Alasan Tidak Perlu daerah lebih mengetahui keadaan.

No Daerah Alasan Perlu pengelolaan pembangunan daerah dan nasional dengan tidak membatasi inisiatif daerah untuk menggali potensi daerah. Diperlukan dalam peraturan perundang-undangan agar seragam di seluruh wilayah indonesia Diperlukan dalam urusan tugas pembantuan Perlu dalam hal-hal yang sangat strategis dan sensitis misalnya pethanan. dan terjalin kerjasama yang baik antara daerah dan pusat Cukup grandstrateginya saja oleh pusat. dan jika tdak ada campurtangan akan adanya otoriter di daerah Dalam rangka dukungan pendanaan khususnya bidang pendidikan masih sangat dibutuhkan Intervensi diperlukan untuk sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah Seharusnya tidak. bila pembagian kewenangan di perluas dan diperjelas sehingga daerah lebih leluasa dalam panggilan Alasan Tidak Perlu - 8 Metro - - - - - - - 9 Lampung Barat - - 58 . agama Masih diperlukan karena sluruh keberadaan pegawai harus berdasarkan dari pusat. Untuk pelaksanaan di daerah diserahkan ke daerah masing-masing sebagai kontrol dalam pelaksanan penyelengaraan pem daerah agar penyelengaraan pemerintah di daerah berjalan sesuai keinginan daerah masing-masing NKRI Diperlukan karena daerah belum mampu dalam menjalankan otonomi penuh.

bila kegunaannya untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan agar berjalan baik Agar NKRI ini masih tetap terjag Diperlukan sekali. Intervensi pemerintah pusat tetap perlu dilakukan dalam rangka pembinaan dan pengendalian/ pengawasan. pembuatan anggaran daerah tetap harus mengacu pada kemampuan keuangan nasional. terutama yang berkaitan dengan DAU dan DAK Diperlukan khususnya untuk program-program penunjang dan penetaoan standar pelayanan minimal dalam Alasan Tidak Perlu - - - - - - - 10 Lampura - - 59 .No Daerah Alasan Perlu PAD tanpa merugikan masyarakat. alasan utamanya untuk menjaga keutuhan NKRI Prinsip otonomi yang diterapkan bukanlah alasan bagi daerah untuk benarbenar melepaskan diri dari pemerintah pusat 100% Keterbatasan kompetensi SDM aparatur pemda dalam penyelenggaran tata pemerintahan di daearah Diperlukan. mengingat keterbatasan dana dan sumber daya manusia di daerah itu yang paling utamadan mendasar Diperlukan dalam pengaturan keamanan daerah Masih sangat diperlukan . karena daerah sudah mempunyai eksekutif dan legislatif tetapi hasil itu bisa dibatalkan oleh mendagri/gubernur Diperlukan. agar pemerintah daerah tidak salah dalam melaksanakan tugas pemerintahan Tidak diperlukan.

No Daerah Alasan Perlu Alasan Tidak Perlu - - - - 11 Tanggamus - - - - upaya untuk tidak terjadinya ketimpangan yang terlalu besar antara satu daerah dengan daerah yang lain sehingga perlu disusun SPM Diperlukan secara gradual sampai akhirnya pemerintah dan masyarakat di daerah dianggap siap menjalankan kewenangan secara maksimal Diperlukan.Tidak diperlukan pemerintah tingkat atasnya karena otonomi daerah menjadi perlu untuk memberikan mendekati kesempurnaan itu Diperlukan untuk kewenangan kepada memberikan fuingsi daerah seluas-luasnya sepanjang sesuai pengawasan kepada daerah dengan UU sehingga sehingga daerah-daerah tidak kebablasan dalam mengelola intervensi pusat bukan daerah khususnya memungut dalam pelaksanaan pajak dan retribusi atas nama undang-undang atau PAD tetapi jus peraturan melainkan Diperlukan dalam kerangka dalam proses penyusunan yang tidak menjamin bahwa DAU yang memungkinkan daerah dikirimkan ke daerah 60 . sebab jika tidak dapat menimbulkan arogansi daerah untuk memobilisasi pendapatan tanpa mempertimbangkan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah Tetap diperlukan supaya pemerintah daerah tidak lepas kontrol karena kita masih terikat dengan NKRI Diperlukan sebagai pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah Sebagai batas-batas agar tidak terjadi penyimpangan Tidak diperlukan Diperlukan untuk menjamin karena setiap aturan bahwa aturan di daerah tidak bertentangan dengan aturan yang ada telah memiliki di tingkat atasnya sanksi sehingga dasar Diperlukan karena tidak ada pengawasan adalah sesuatu yang sempurna sanksi dalam peraturan itu sehingga perbaikan dari .

32/2004 No 1 Daerah Prov Lampung Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena bahwasanya pemerintah daerah terdiri atas gubernur/bupati dan DPRD yang merupakan hubungan kerja yang kedudukannya setara dan bersifat kemitraan dalam melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing demi kepentingan kesejahteraan rakyat di daerah UU 32/2004 lebih sejalan karena menghendaki agar anggota DPRD juga pro aktif bersama kepala daerah melakukan perencanaan dan pengelolaan pembangunan daerah.Tidak diperlukan karena justru kontraproduktif dengan harapan bahwa daerah dapat kreatif - Sumber : Hasil Penelitian. 2009 4.No Daerah Alasan Perlu dipergunakan sebaikbaiknya untuk kesejahteraan masyarakat Diperlukan untuk memberikan kekhususan potensi daerah dimana kekhususan itu dapat terus dipertahankan apabila ada intervensi pusat untuk mengatur dan membantu mengelola (misalnya hutan lindung. bangunan sejarah. dan sebagainya) Alasan Tidak Perlu melakukan penyimpangan . penganggaran dan pengawasan sudah cukup ideal serta kesadaran bahwa DPRD juga merupakan bagian dari Pemda dalam penyelenggaraan pemerintah daerah sehingga tidak arogan Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena semakin jelas fungsi (berfungsi sebagai check and balances) dan kedudukan DPRD dalam pemerintahan daerah.4 Kedudukan dan Peranan DPRD Tabel 10. Lebih menjamin UU 32/2004 karena memberikan jaminan kepada DPRD untuk melaksanakan peran dan fungsi yang sesungguhnya sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah Fungsi legislasi. Pendapat/Penilaian tentang DPRD Dilihat Dari Dari Sisi Kepentingan Demokrasi Di Daerah Berdasarkan UU No.2. tetapi selain peran dan fungsi tersebut juga agak - - - 2 Bandar Lampung - 61 .

anggaran. pengawasan dan aspirasi) UU 32/2004 lebih lengkap. tugas dan wewenang. jelas dan tegas dalam mengatur tugas dan wewenang DPRD. karena DPRD yang ada di dewan kehormatan adalah wakil rakyat untuk memenuhi kepentingan rakyat Ya. alat kelengkapan DPRD termasuk larangan dan pemberhentian anggota DPRD Lebih sejalan dalam UU 32/2004 karena memuat secara jelas dan konsisten tentang kedudukan dan fungsi. dalam konteks menghilangkan dominasi DPRD terlalu besar 4 Lamsel - - - 5 Way Kanan - - - - - 62 . Disebutkan pula bahwa DPRD memiliki fungsi legislasi. pengawasan dan penyalur aspirasi Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lagi memposisikan kepala daerah untuk bertanggung jawab kepada DPRD sehingga DPRD tidak bisa berbuat arogan. Lebih sejalan dengan UU 32/2004 karena demokrasi di daerah tetap harus terkontrol oleh pemerintah pusat oleh sebab kapasitas DPRD di daerah belum seluruhnya memahami seluk beluk fungsi dari DPRD secara maksimal (legislasi. hak dan kewajiban DPRD. anggaran. sebagai mitra yang mendukung kelancaran pemerintah yaitu hubungan antara eksekutif dan legislatif adalah mitra kerja secara harmonis (5 responden) Hanya sebagian kecil saja dari DPRD karena perilaku anggota DPRD tidak pernah berubah dari masa ke masa terutama pada periode terakhir Kebanyakan dalam kepentingan parpol atau pribadi setiap anggota dewan lebih terlihat dalam pembahasanpembahasan di lembaga Ya. hak & kewajiban. Lebih sejalan sebagai fungsi kontrol dan monitoring pembangunan di daerah UU 32/2004 lebih menjamin adanya stabilitas daerah karena DPRD tidak serta merta dapat memberhentikan kepala daerah yang terkadang lebih didasari kepentingan politis Lebih pas UU 32/2004 karena kedudukan DPRD dan kepala daerah sejajar dan tidak bisa saling menjatuhkan Lebih sejalan UU 22/1999 karena dengan UU 32/2004 semakin mempertegas tidak ada lembaga legislatif di daerah Lebih sejalan UU No 32/2004.No Daerah Penilaian / Pendapat tentang DPRD berlebihan (over acting) 3 Lampung Tengah - - - Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak bisa berbuat arogan dengan memberhentikan kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat.

anggaran dan pengawasan dengan batasan yang tidak memungkinkan adanya arogansi Secara prinsip lebih sesuai dengan UU 32/2004 sehingga DPRD tidak serta merta merasa paling berkuasa juga mencerminkan kepentingan masyarakatr bukan hanya kepentingan parpol nya Lebih sejalan UU No 32/2004. dan pengawasan pada UU ini kepentingan demokrasi daerah lebih nyata sejalan dengan UU 32/2004 karena peran dan fungsinya kini tidak sangat dominan lagi seperti dalam hal penetapan APBD - 7 Lamtim - - - 8 Metro - - 9 Lampung Barat - 63 .No 6 Daerah Tulang Bawang Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sejalan dalam UU 32/2004 sebab dahulu banyak anggota DPRD yang semau-mau dalam melakukan penetapan gaji dan tunjangan untuk DPRD sehingga dana daerah banyak terserap hanya untuk membiayai DPRD yang ternyata tidak banyak memberikan manfaat untuk masyarakat Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lagi memposisikan bahwa kepala daerah harus bertanggung jawab kepada DPRD Sesuai dalam UU 32/2004 DPRD tidak bisa berbuat arogan dengan menjadi penguasan bahkan kepala daerah takut dengan DPRD UU 32/2004 membuat DPRD melemah karena tidak memiliki kewenangan untuk memilih dan memberhentikan kepala daerah. Tidak ada yang saling mendominasi dengan peran masingmasing ( 4 responden ) Lebih sejalan karena memiliki fungsi legislasi. sejalan dalam UU 32 tahun 2004 karena meminimalkan dominasi DPRD yang terlalu besar sehingga DPRD tidak hanya mengedepankan kepentingan individu dibanding kepentingan umum dan masyarakat Lebih sejalan dalam UU 32/2004 karena ada keseimbangan antara kepala daerah dan sebagai penyelenggara pemerintah daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD sebagai lembaga yang setara. selain itu dalam UU ini posisi DPRD lebih dominan daripada pemerintah daerah ”legislatif heavy” sehingga tidak sejajar dan banyak anggotanya yang bersikap arogan ke eksekutif Lebih sejalan UU NO 32/2004 karen alegilasi.karena dalam UU No 22/1999 posisi DPRD terlalu kuat sehingga dapat menimbulkan konflik dan ketidakstabilan jalannya pemerintahan di daerah. anggarananggaran.

pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD. 22/1999. 32/2004 lebih sejalan karena mengatur tentang pemilihan kepala daerah secara langsung. karena dalam UU ini peran DPRD lebih besar.No Daerah - Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sesuai UU No 32/2004 karena pengaturan antara persetujuan DPRD dan pengawasan DPRD sudah lebih sesuai dan lebih jelas dan lebih demokratis UU No. pada UU No. dan kepala daerah berada dibawah DPRD dan bertanggung jawab kepada DPRD. Lebih sesuai dengan UU 22/1999 karena makna otonomi adalah memberikan kebebasan kepada daerah untuk mengatur dan mengelola daerahnya secara mandiri sepanjang DPRD dan kepala daerah sama-sama menjalankan fungsinya secara ideal dan tidak memposisikan sebagai penguasa tunggal di daerah Lebih sesuai dalam UU 22/1999 karena provinsi tidak perlu terlalu turut campur urusan daerah kabupaten sehingga tidak perlu ada DPRD di tingkat provinsi Lebih sesuai dalam UU 32/2004 untuk menghindarkan adanya raja-raja kecil di daerah yang selama ini terjadi - 10 Lampura - - - 11 Tanggamus - - - 64 . 22/1999. Peran dan fungsi DPRD lebih sejalan dengan UU NO 22/1994 karena disana diatur tentang peranan DPRD lebih punya peran Lebih sejalan dengan UU No 32/2004 karena telah sejalan dengan keinginan daerah telah banyak sendi-sendi demokrasi yang dibangun dari UU tersebut contohnya PILKADA langsung Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena mitra sejajar pemda dalam penyusunan program pembangunan dan posisi DPRD dan kepala daerah setara sehingga tidak saling menjatuhkan ( 5 responden) Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena gubernur dan bupati/walikota tidak mesti harus bertanggung jawa kepada DPRD karena gubernur dan bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat Lebih sesuai karena selain posisi yang setara dengan kepala daerah. anggaran dan pengawasan Jika dapat dijamin bahwa anggota DPRD adalah orangorang yang benar-benar memiliki kualitas dan pengalaman serta tidak memiliki kepentingan emosional maka UU 22/1999 lebih dapat menjamin demokrasi di daerah karena kepala daerah akan lebih hati-hati dalam menjalankan kebijakan karena DPRD sewaktu-waktu dapat memberhentikan kepala daerah. DPRD juga memiliki kewennagan legislasi. yang pelaksanaanya sering terjadi penyalahgunaan wewenang No.

masih kental dengan kepentingankepentingan partai dari pada membangun pemerintahan Harmonis secara prosedural .32 tahun 2004 dibandingakan dengan UU No. karena dijelaskan dalam UU 32/2004 bahwa kepala daerah maupun DPRD mempunyai peran dan fungsi masing-masing dan merupakan hubungan kerja dalam membuat kebijakan dalam pembangunan daerah yang efektif bukan lawan atau pesaing dalam melaksanakan tugas itu Cukup harmonis dalam konteks hubungan kerja. antara lain : kedudukan dan peran DPRD lebih jelas. - Sumber : Hasil Penelitian 2009. bisa menjamin stabilitas dan menghindari konflik kelembagaan antara DPRD dan Pemda. Ketidakharmonisan terkadan terjadi karena latar belakang politik yang berbeda tetapi secara umum tidak menggangu jalannya pemerintahan Belum harmonis. bisa menjamin hubungan yang harmonis dengan kepala daerah. tidak dominatif.22/1999. 32/2004. - - 65 . Beberapa alasan dan pertimbangan (lihat tabel 10) lebih cocok diatur dalam UU No. Ya sepanjang DPRD melaksanakan fungsi sebagaimana yang diharapkan dengan meminimalkan kepentingan golongan dan pribadinya. Hubungan Antara DPRD Dengan Kepala Daerah No Daerah 1 Provinsi Lampung Hubungan DPRD dengan Kepala daerah Sudah harmonis. tidak bisa menjatuhkan kepala daerah. namun secara substansial sebenarnya tidak harmonis karena hubungan antar keduanya lebih dodominasi oleh politik dagang sapi. Tabel di atas menunjukkan bahwa kedudukan dan peranan DPRD hampir sebagian besar menyatakan lebih cocok diatur dalam UU No. dan bisa melakukan peran mitra kerja dengan pemda (lihat tabel 10) Tabel 11.No Daerah - Penilaian / Pendapat tentang DPRD Lebih sejalan yang diatur dalam UU 32/2004 karena DPRD tidak lagi memposisikan kepala daerah untuk bertanggung jawab kepada DPRD sehingga DPRD tidak bisa berbuat arogan dan semau-mau Lebih sesuai dalam UU 32/2004 karena merupakan penyempurnaan dari aturan sebelumnya..

Terkadang cukup baik dan harmonis asalkan mereka memahami tupoksinya masing-masing 2 Bandar Lampung - 3 Lampung Timur - - 4 Lamsel - - 66 . namun kasus di Lampung Timur jangan sampai terulang akibat berlarur-larutnya ketidakharmonisan antara kepala daerah dengan DPRD DPRD cenderung hanya pandai bicara sedangkan pelaksanaan di lapangan belum tentu sesuai dengan apa yang disampaikan DPRD terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintahan dan pembangunan yang dilakukan eksekutif Kurang harmonis. karena masih terjadi anggota legislatif tidak mengerti fungsinya dan berlebihan dalam mencampuri kebijakan Pemda Secara institusi cukup harmonis dalam menjalankan fungsi legislasi. namun biasanya oknum-oknum anggota DPRD yang membuat hubungan itu terkadang ada kepentingan di balik hubungan yang terjadi Relatif kurang harmonis Tidak. Karena kadang-kadang untuk memutuskan kebijakan lebih dominan oleh kepentingan politik bukan memikirkan kepentingan rakyat sehingga terdapat kelompok-kelompok tertentu Ya. bekerja sesuai dengan bidangnya dan berfungsi sebagai pengawas dalam pelaksanaan kebijakan pembngunan Cukup harmonis tergantung masing-masing lembaga memahami fungsi dan peran serta kedudukannya Hubungnnya biasa saja. karena kewenangan DPRD sudah banyak yang dipangkas DPRD terlalu banyak campur tangan khususnya berkaitan dengan urusan teknis di pemerintahan misalnya penunjukan pejabat daerah Harmonis dan tidak harmonis tergantung kepentingan apa yang diharapkan oleh DPRD.No Daerah - Hubungan DPRD dengan Kepala daerah DPRD masih sering tidak bisa menempatkan posisinya secara tepat sesuai tugas dan kewajibannya sehingga kualitas anggota DPRD masih perlu ditingkatkan Seharusnya harmonis kalau ada yang tidak harmonis maka antara DPRD atau kepala daerah pasti mengedepankan kepentingan kelompoknya Hubungan kurang harmonis karena kepentingan politik seharusnya kedua belah pihak komitmen untuk melayani masyarakat Cukup efektif dan harmonis. pengawasan dan anggaran yang dilakukan DPRD bersama dengan pemerintah kabupaten.

DPRD bekerja sebagaimana mestinya dan tidak juga campur tangan dan tidak juga lemah dalam mengawasi jalannya pemerintahan Dalam konteks fungsi pengawasan sudah cukup baik. hubungan kepala daerah dengan DPRD sudah berjalan harmonis.No Daerah - Hubungan DPRD dengan Kepala daerah DPRD terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintahan apalagi yang sifatnya politis Cukup harmonis terlihat segala perencanaan yang diusulkan bupati melalui sidang sehingga dapat disetujui oleh dewan. Sejauh ini harmonis dengan DPRD dapat sejalan dengan program pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah Cukup harmonis sehingga semua RAPBD di Tulang Bawang dapat dibahas bersama-sama Harmonis tetapi nampaknya karena kepentingan kedua belah pihak dapat sama-sama terakomodir Harmonis karena bupati nampaknya sanggup memenuhi semua kepentingan DPRD sehingga DPRD juga mempermudah urusan-urusan eksekutif Tidak harmonis jika ada kepentingan DPRD yang tidak dapat dipenuhi oleh eksekutif Cukup harmonis. akan tetapi fungsi DPRD sebagai wakil rakyat dalam rangka menyusun dan memprioritaskan anggaran pembangunan belum begitu maksimal. karena harus ada kontrol dari DPRD tentang pembangunan daerah serta jalannya pemerintahan. meski DPRD lebih kritis tetapi dengan tujuan baik. Artinya segala pembangunan diketahui dewan Khusus di Lampung Selatan. Perlu. tetapi sampai saat ini DPRD belum - - - 5 Way Kanan - - 6 Tulang Bawang - 7 Lampung Tengah - 67 . sebagai pengontrol dari eksekutif Lebih banyak tidak harmonis karena kepentingan politik sudah ikut didalamnya. Dan selama ini hubungan ini sudah baik Sudah cukup baik. Hanya terkadang DPRD tidak terfokus dalam menontrol pemerintah daerah dan pembangunan Cukup harmonis. Fungsi legislati belum maksimal karena kemampuan pemerintahan dan pengalaman anggota DPRD masih kurang Sebenernya sudah harmonis. tapi dalam prakteknya DPRD terlalu banyak mencampuri masalah-maslah yang sifatnya teknis yang sebenarnya secara substansi mereka tidak terlalu paham.

sangat tergantung masing-masing pihak memahami tugas masing-masing. sehingga sering terjadi dishrmonisasi dan terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintaha dan pembangunan Masih kurang harmonis. namun fungsi DPRD sebagai wakil rakyat perlu lebih diperkuat Berjalan dengan baik Harmonis dalam DPRD bekerja sesuai dengan tipoksinya Cukup harmonis. banyak DPRD yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan kepentingan parpolnya DPRD terlalu banyak campur tangan dan mengontrol urusan pemerintahan dam pembangunan meskipun secara filosofis pengontrolan itu tidak didasarkan atas pengetahuan dan argumentasi yang kuat Masih banyak terjadi inkonsistensi antara pembagian peran antara eksekutif dan legislatif yang pada akhirnya dominasi legislatif nampak lebih dominan Kurang harmonis karena tidak profesionalnya anggota DPRD Cukup harmonis. karena segala kebijakan yang pro rakyat seluruhnya didukung oleh DPRD Seringkali DPRD bersikapover acting terhadap kepala daerah. tapi tergantung dari kepala daerahnya. karena dPRD terlalu banyak campur tangan dalammengontrol urusan pemerintahan dan pembangunan Tidak terlalu harmonis. Cukup harmonis. Karena DPRD terlalu campur - 8 Metro - 9 Lampung Barat - - - - 10 Lampura - 68 . Peran DPRD cukup persetujuannya saja. namun terkadang DPRD sering kebablasan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya contohnya dalam hal pengawasan hasil pembangunan sampai kemasalah teknis Sangat baik sekali khususnya di lambar. terkesan lebih kepada deal2 tertentu untuk menjaga keharmonisan tsb sehingga dapat membangun daerah dengan efektif dan efisien Kurang efektif. namun dalam penyusunan APBD kewenangan DPRD terlalu luas dan agar proses penyusunan di persingkat saja. Apakah dia merupakan pembina/pemimpin partai mayoritas di DPRD Cukup harmonis.No Daerah Hubungan DPRD dengan Kepala daerah maksimal dalam melaksanakan kontrol terhadap pemda dan pembangunan. karena DPRD saat ini banyak campur tangan dalam penyelenggaraan pemerintah daerah Cukup harmonis.

69 . adanya kepentingan politik yang sifatnya personal. ada kepentingan DPRD yang tidak dapat dipenuhi oleh eksekutif dan DPRD belum profesional. karena semua kebijakan pemda baik anggaran maupun pembangunan merupakan hasil pembahasan bersama antara eksekutif dan legislatif Tidak harmonis. Jika muncul konflik antara eksekutif dan legislatif itu hanya dinamika demokrasi dan proses untuk menuju idealisme demokrasi DPRD lebih dodominasi oleh kepentingan pribadi dan golongan Harmonis. tidak pernah ada konflik berarti dibandingkan Lampung Timur misalnya 11 Tanggamus - - - Sumber : Hasil Penelitian. Karena kadang-kadang untuk memutuskan kebijakan lebih dominan oleh kepentingan politik bukan memikirkan kepentingan rakyat sehingga terdapat kelompok-kelompok tertentu dalam DPRD sendiri Tidak harmonis karena kepala dinas juga takut kepada DPRD di sisi lain dia juga takut kepada kepala daerah sehingga terlalu banyak urusan-urusan yang tidak substansial dihabiskan dengan DPRD DPRD tidak kompak dan cenderung memperjuangkan parpol dan kelompoknya sedangkan eksekutif lebih kompak Harmonis. karena masih terjadi anggota legislatif tidak mengerti fungsinya dan berlebihan dalam mencampuri kebijakan Pemda. Ketidakharmonisan ini disebabkan karena karena latar belakang politik yang berbeda tetapi secara umum tidak menggangu jalannya pemerintahan.22/1999. 2009 Data pada tabel 11 menunjukkan bahwa dengan UU No. DPRD terlalu banyak campur tangan dalam mengontrol urusan-urusan pemerintahan. hubungan DPRD dengan kepala daerah bisa berjalan secara harmonis dibandingkan dengan UU No.No Daerah Hubungan DPRD dengan Kepala daerah tangan dalam mengontrol urusan pemeirntahan dan pembangunan Sudah harmonis terbukti dengan LkPJ bupati selalu diterima oleh DPRD dan pengesahan RAPBD berjalan lancar Terjadi pasang surut tergantung dalam konteks apa hubungan itu terjalin Cukup harmonis. terjadi politik dagang sapi. masih kentalnya kepentingan partai.32/2004.

Bupati/walikota sebaiknya Lebih baik dipilih oleh DPRD selain tidak memakan waktu yang lam adan biaya yang besar.2. Pendapat apakah kepala daerah dan wakil kepala daerah lebih baik dipilih oleh DPRD atau dipilih langsung oleh rakyat (Pilkada)? No 1 Daerah Prov Lampung Alasan Dipilih Rakyat Lebih baik dipilih oleh rakyat.5 Pemilihan Kepala Daerah Tabel 12.Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) ketika kebutuhan pembangunan daerah yang lain masih sangat besar dan mendesak 70 .4. Selain itu prinsip demokrasi mendorong akuntabilitas pemerintah terhadap rakyat khususnya di sini adalah daerah Alasan Dipilih DPRD • Lebih baik dipilih oleh DPRD saja dengan catatan anggota DPRD adalah wakil rakyat yang cerdas dan amanah termasuk tidak terlalu membutuhkan banyak dana Untuk provinsi dipilih oleh DPRD dan untuk kabupetan/kota dipilih langsung oleh rakyat • 2 Bandar Lampung Untuk bupati/walikota dan wakilnya sebaiknya dipilih rakyat. dan untuk menjamin otonomi daerah karena pemilihan secara langsungmemberikan ruang kepada masyarakat untuk menentukan siapa pemimpin yang mereka inginkan sebagai perwujudan demokrasi yang memang hak itu ada di tangan masyarakat Dipilih langsung oleh rakyat sehingga kedekatan antara pemimpin dengan rakyat dapat terjalin namun dengan mekanisme yang disederhanakan. sedangkan gubernur/wakil dipilih oleh pusat sebagai perwakilan pusat Dipilih oleh rakyat. untuk rakyat dan oleh rakyat. karena pada dasarnya semokrasi dalam artian dari rakyat. karena kalau dipilih oleh DPRD akan terjadi politik uang. kepala daerah terpilih lebih cepat dapat melaksanakan tugas dan fungsi tanpa terhambat proses hukum dari pihak yang kalah dan tidak puas akan hasil pilkada : 3 Lamteng .

Lebih baik langsung oleh rakyat. Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) ketika kebutuhan pembangunan daerah yang lain masih sangat besar dan mudah dalam pengawasan jika terjadi money politik : -Lebih baik ditunjuk oleh pemerintah pusat. Karena baik pilkada langsung maupun dipilih oleh DPRD akan terjadi banyak kesenjangan dalam memimpin. karena lebih demokrasi tetapi jangan menghabiskan biaya yang besar Lebih baik dipilih rakyat. tetap pegawai negeri (TNI. POLRI. namun kalau kepentingannya adalah penghematan anggaran maka lebih baik dipilih DPRD. namun gubernur ditunjuk oleh pemerintah pusat karena gubernur adalah kepanjangan tangan pemerintah pusat di daerah Bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat Gubernur ditunjuk langsung oleh pemerintah pusat. Sedangkan gubernur dipilih DPRD atau ditunjuk pusat karena merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat di daerah Kalau kepentingannya demokrasi akan lebih baik dipilih langsung. dan di tingkat provinsi tidak perlu ada DPRD Alasan Dipilih DPRD sehingga lebih praktis dan ekonomis. hal ini juga ditambah oleh argumentasi bahwa konstituen atau pemilih masih bersifat pragmatis : 4 Lamsel Langsung oleh rakyat (pilkada langsung) karena DPRD belum tentu mewakili suara rakyat dengan beberapa catatan misalnya hanya gabungan parpol yang memiliki 35% suara di DPRD yang boleh mencalonkan sehingga Pilkada tidak perlu dua putaran sehingga menghemat anggara Untuk kabupaten/kota kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. kalau dipilih DPRD saya rasa tidak tepat sasaran. jadi lebih mementingkan kelompok daripada kepentingan daerah 5 Way Kanan Kalau diplih oleh rakyat langsung akan habiskan dana besar. jadi ada baik dan buruknya 71 .No Daerah Alasan Dipilih Rakyat dipilih langsung oleh rakyat.

agar apa yang menjadi aspirasi masyarakat langsung 72 . lebih efisien dan menghindari konflik di masyarakat bawah akibat perbedaan pilihan. sedangkan pilkada kabupaten/kota dipilih langsung oleh rakyat untuk azas demokrasi Lebih baik dipilih oleh DPRD karena lebih hemat. lebih praktis dan tidak terancam disintegrasi dan sesuai dengan asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Lebih baik dipilih oleh DPRD dalam rangka menghindarkan keterlibatan PNS dalam tim sukses calon sehingga berimplikasi pada stabilitas birokrasi dan penempatan pejabat pasca Pilkada Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) 8 Metro Lebih baik langsung oleh rakyat.No Daerah Alasan Dipilih Rakyat PNS) tidak boleh memilih untuk membuat kondusif pemerintah yang sedang berjalan Lebih baik tetap Pilkada Langsung karena lebih demokratis dan belum tentu DPRD mewakili rakyat secara keseluruhan Alasan Dipilih DPRD 6 Tulang Bawang Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) Lebih baik dipilih DPRD karena masyarakat belum siap Lebih baik dipilih DPRD karena jika ada money politik masyarakat tidak akan terkena hal serupa ( 1responden) Lebih baik DPRD saja asal dengan pemilihan yang tertutup Lebih baik DPRD supaya masyarakat tidak terkotakkotak dan kekhawatiran munculnya konflik di masyarakat dapat dihindari 7 Lamtim Lebih baik dipilih langsung oleh rakyat untuk menjamin terjadinya demokrasi dalam Pilkada Untuk pilkada gubernur ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat.

karena DPRD pemimpin wakil rakyat. jarang sekali yang membawa manfaat. Dipilih DPRD karena mindset masyarakat kita saat ini belum siap untuk melakukan pilkada langsung dalam konteks menghindari pragmatisme dan kemunginan konflik di daerah Dipilih oleh DPRD untuk menghindarkan adanya rajaraja kecil dan meningkatkan stabilitas politik di daerah 10 Lampung Utara Dipilih oleh rakyat langsung sebagai cerminan demokrasi 73 . wakilnya dipilih oleh bupati/walikota Alasan Dipilih DPRD ketika kebutuhan pembangunan daerah yang lain masih sangat besar dan mudah dalam pengawasan jika terjadi money politik 9 Lampung Barat Lebih baik pilkada. hendaknya dibuka seluas-luasnya calon dari independen Lebih baik dipilih oelh DPRD. karena berkaca dari pengalaman pilkada yang sudah . maka seyogyangan kepala daerah dipilih oleh DPRD Lebih baik dipilih oleh DPRD mengingat political cost yang besar bila pemilihan langsung.No Daerah Alasan Dipilih Rakyat dapat tersalurkan dan mereka teramsuk yang akan menikmati hasil pembangunannya (5 responden) Gubernur dipilih oleh presiden. sehingga rakyat memilih menang orang yang benar-benar kapabel Langsung oleh masyrakat sehingga tidak ada money politik. wagub dipilih oleh gubernur. sedangkan bupati/walikota di tunju oleh gubernur dengan persetujuan DPRD Kab/kota Baik dipilih oleh rakyat. dan karena kita negara demokrasi jadi rakyatnya yang berkuasa bukan kelompok golongan Dipilih DPRD. namun tentunya masih perlu fit dan proper test oleh semacam lembaga. karena unsur money politiknya bisa diminimalkan. yang bahkan dapat merugikan daerah itu sendiri. lebih banyak membuat konflik. menurangi krisis legitimasi Gubernur dipilih langsung oleh rakyat. hanya saja perlu dikaji ulang tentang syarat pencalonan melalui parpol. bupati/walikota dipilih oleh rakyat. selain itu untuk menghemat biaya Karena DPRD merupakan wakil rakyat.

dsb (lihat tabel 11). responden juga mengajukan beberapa alternative dan varian dalam pemilihan kepala daerah antara lain : 74 . sedangkan bupati/walikota dipilih secara langsung Sumber : Hasil Penelitian 2009 Kepala Daerah dipilih oleh rakyat secara langsung (pilkada lansung) dan Kepala Daera dipilih DPRD cenderung memiliki argumen yang sama-sama cukup berimbang. rakyat punya akses langsung untuk menentukan pemimpinnya. Namun. Mereka yang setuju dengan pemilihan langsung oleh rakyat seperti yang berlaku sekarang ini karena pertimbangan pelaksanaan demokrasi jeuh lebih baik dilakukan secara langsung. menghindari terjadinya praktek politik uang.No Daerah Alasan Dipilih Rakyat Alasan Dipilih DPRD Dipilih oleh DPRD untuk menghindari keributan di masyarakat dan menghindarkan pengkotakkotakan PNS Untuk saat ini lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD) Lebih baik dipilih oleh DPRD dilihat dari penghematan anggaran daerah (APBD)dan kebutuhan pembangunan daerah dan masyarakat masih sangat besar dan mudah dalam pengawasan jika terjadi money politik 11 Tanggamus Lebih baik dilakukan secara langsung tetapi dengan mekanisme yang sederhana dan dilakukan serentak dengan pemilu-pemilu lainnnya sehingga lebih hemat anggaran Lebih baik dipilih langsung karena akan dapat menghasilkan pimpinan yang dikenal masyarakat dan memenuhi unsur demokrasi Gubernur sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat ditunjuk oleh presiden. karena DPRD tidak menjamin memenuhi keterwakilan rakyat.

dan di tingkat provinsi tidak perlu ada DPRD (c) Untuk pilkada gubernur ditunjuk oleh pemerintah pusat sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat.(a) Gubernur sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat ditunjuk oleh presiden. sedangkan pilkada kabupaten/kota dipilih langsung oleh rakyat untuk azas demokrasi (d) Gubernur dipilih oleh presiden. dan proses pilkada oleh DPRD tidak memerlukan waktu yang lama. masyarakat belum siap untuk melakukan pemilihan secara langsung.6 Pembuatan Perda Tabel 13. Perlu Tidaknya Evaluasi Proses Pembuatan Perda oleh Pemerintah Pusat No 1 Daerah Prov Lampung Alasan Perlu Perlu intervensi agar Perda tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan di atasnya serta tidak terjadi tumpang tindih peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan Masih perlu dalam kaitan menjamin bahwa daerah telah menjalankan prosedur penyusunan Perda sesuai dengan aturan yang ada Sangat perlu dalam rangka pembinaan dan pengawasan demi NKRI Diperlukan untuk menghindari Alasan Tidak Perlu Tidak perlu karena yang tahu permasalahan di daerah adalah daerah sendiri Tidak perlu evaluasi karena menghambat pelaksanaan Perda - - 75 . wagub dipilih oleh gubernur. (lihat tabel 12) 4. (b) Bupati/walikota dipilih langsung oleh rakyat Gubernur ditunjuk langsung oleh pemerintah pusat. wakilnya dipilih oleh bupati/walikota Sementara mereka yang setuju kepala daerah dipilih oleh DPRD karena pertimbangan efsiensi anggaran.2. agar tidak terjadi keributan di masyarakat. sedangkan bupati/walikota dipilih secara langsung oleh rakyat. bupati/walikota dipilih oleh rakyat.

agar tidak bertentangan dengan UU diatsnya Selama ini sudah dievaluasi.No Daerah Alasan Perlu adanya permasalahan hukum di kemudian hari Perlu agar tidak menggangu kepentingan nasional Perlu agar lebih menghasilkan output yang diharapkan Perlu dalam rangka menciptakan sinergi dan sinkroniasai antara pusat dan daerah Perlu. perda tersebut berkembang dengan pesat atau tidak. yang menjadi masalah pembuatan perda kurang memperhatikan substansi untuk itu perlu draf akademi atau seminar-seminar Diperlukan dalam konteks keselarasan aturan antara pusat dan daerah karena terkadang banyak aturan tingkat pusat yang tidak tersosialisasi secara maksimal ke bawah Perlu sekali mengingat SDM di daerah terutama di lembaga legislatif masih perlu ditingkatkan lagi Perlu karena meskipun Perda dibuat oleh daerah namun tetap perlu dilakukan evaluasi oleh pemerintah pusat dalam rangka peningkatan kualitas Perda bukan untuk pengekangan bagi daerah Masih perlu sebagai kontrol dengan memberikan kriteria evaluasi yang jelas Perlu tetapi dalam bentuk saran yang mengikat serta untuk Alasan Tidak Perlu - 2 Bandar Lampung - - Tidak perlu karena pusat belum tentu lebih memahami karakteristik akan wilayah dan apa yang lebih dibutuhkan dari wilayah tersebut 3 Lampung Tengah - Tidak perlu karena azas otonomi daerah memungkinkan daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri Tidak perlu karena Perda sangat penting bagi daerah dan daerah yang lebih mengerti kondisi daerah - - - 76 . agar terdapat kontrol aparat. dan untuk menghindari tumpang tindih dengan peraturan yang lebih tinggi Cukup dievaluasi oleh pemerintah propinsi saja Ya.

kareana perda yang dibuat banyak tidak sesuai Alasan Tidak Perlu 4 Lampung Selatan - - Tidak perlu. untuk menghindari pertentangan antara peraturan yang dibuat oleh negara dengan perda Kadang-kadang perlu. artinya sebelum ada peraturan daerah pasti ada peraturan pemerintahnya Tidak perlu. karena daerah memiliki DPRD untuk mengurus atau merumuskan perda dapat dioperasionalkan Tidak perlu. karena pemerintah daerah yang tahu daerahnya. Perda itu adalah peraturan daerah.No Daerah Alasan Perlu menghindari penyimpangan yang dilakukan kepala daerah demi kepentingan prbadi dan golongan Perlu agar antara peraturan yang ada di daerah tidak tumpang tindih dengan peraturan yang ada di tingkat atasnya (provinsi dan pusat) karena banyak daerah yang membuat Perda dengan kebablasan. Pemerintah pusat cukup memasang rambu-rambu agar tidak tumpang tindih dengan aturan pemerintah pusat Tidak perlu. karena DPRD juga memiliki kewenangan dan fungsi legislasi (membuat undangundang) di daerah Tidak begitu perlu karena peraturan daerah dibuat untuk menyesuaikan kondisi daerah masing-masing yang dianggap perlu/penting (2 responden) Tidak. karena cukup sampai pemerintah daerah - - 5 Way Kanan - - 77 . Perlu untuk mensinkronkan Perda dan PP supaya tidak saling bertabrakan Perlu untuk mencegah kebijakan yang tumpang tindih dan kebijakan yang melanggar aturan di atasnya Perlu untuk mengantisipasi kesalahan terutama mengenai wewenang daerah Ada kasus-kasus eksekutif mendapat kontrol dari DPRD dan adakalanya DPRD kalah dominan dari kepala daerah Sepanjang tidak bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi tidak perlu ada kontrol dari pusat Perlu.

No Daerah Alasan Perlu Alasan Tidak Perlu dan DPRD yang menentukan efektif atau tidak perda tersebut dibuat 6 Tulang Bawang - - Perlu karena kualitas SDM di daerah belum seluruhnya bagus sehingga dikhawatirkan justru Perda tersebut tidak komprehensif Perlu dalam rangka pengawasan dan pembinaan Perlu agar antara peraturan yang ada di daerah tidak tumpang tindih dengan peraturan yang ada di tingkat atasnya (provinsi dan pusat) karena banyak daerah yang membuat Perda dengan orientasi hanya pendapatan bukan pelayanan. hal ini dimaksudkan agar perda yang dihasilkan tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan sekaligus sebagai bahan pembinaan dan pengawasan Perlu supaya tidak berbenturan dengan peraturan tingkat atasnya. Ke depan koordinasi dari tahap pembahasan bersama provinsi Sangat perlu agar rakyat jangan sampai menjadi sapi perahan Tidak perlu karena akan memperlambat pelaksanaan Perda tersebut Tidak perlu karena DPRD juga memiliki hak legislasi sehingga ia juga berwenang membuat aturan (Perda) tanpa harus dievaluasi oleh pemerintah pusat 7 Lampung Timur - Tidak perlu sepanjang Perda yang disusun telah mengacu pada UU dan PP Tidak perlu. Hanya tahap-tahap perlu ditinjau lagi. Diperlukan mengingat di daerah SDM nya yang memahami peraturan perundang-undangan terbatas sehingga dalam pembuatan Perda tidak maksimal Diperlukan evaluasi oleh pemerintah pusat. tidak tumpang tindih dan terdapat evaluasi mengenai isi dari Perda tersebut Perda kabupaten/kota cukup dievaluasi di provinsi. selama ini sudah ditetapkan DPRD baru dievaluasi sehingga kemudian harus dirubah lagi. namun laporan berapa jumlah Perda dan substansi Perda tetap harus dilaporkan ke pemerintah pusat Tidak perlu ada evaluasi dari pusat karena pengesahan perda telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan DPRD dan DPRD juga memiliki hak legislasi artinya memiliki kewenangan untuk menyusun peraturan - - - - 78 .

No

Daerah

Alasan Perlu
dengan alasan otonomi daerah dengan menerbitkan retribusi yang membebani masyarakat Perlu karena tanpa pengawasan kemungkinan Perda akan tumpang tindih dan memberatkan masyarakat Perlu intervensi agar Perda tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan di atasnya serta tidak terjadi tumpang tindih peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan Masih perlu dalam kaitan menjamin bahwa daerah telah menjalankan prosedur penyusunan Perda sesuai dengan aturan yang ada Sangat perlu dalam rangka pembinaan dan pengawasan demi NKRI Diperlukan untuk menghindari adanya permasalahan hukum di kemudian hari Perlu agar tidak menggangu kepentingan nasional Perlu agar lebih menghasilkan output yang diharapkan Perlu dalam rangka menciptakan sinergi dan sinkroniasai antara pusat dan daerah Perlu untuk sinkronisasi dan keselarasan dan tidak terjadi tumpang tindih dan agar tidak bertentangan dengan peraturan diatsnya Tidak perlu, bila kewenangan daerah jelas maka perda tentunya sudah sesuai kewenangan, apalagi perda bersifat lokal Sangat perlu agar tidak bertentangan dengan atyuranaturan yang lebih tinggi

Alasan Tidak Perlu

-

8

Metro

-

Tidak perlu karena yang tahu permasalahan di daerah adalah daerah sendiri Tidak perlu evaluasi karena menghambat pelaksanaan Perda

-

-

9

Lambar

-

-

Tidak perlu, cukup evaluasi pemerintah provinsi saja, pemerintah pusat cukup menerbitkan aturan-aturan yang mengatur dan membtasi peraturan daerah saja

-

79

No

Daerah -

Alasan Perlu
Sangat perlu dievaluasi oleh pemerintah pusat sebab banyak perda yang kurang pas karena SDM Perlu dievaluasi karena perda merupakan produk hukum yang ada di bawah. Dimungknkan bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi selain itu masih bnyak pembuatan perda yang justru bertentangan dengan UU Pembuatan perda hanya cukup di evaluasi oleh gubernur saja tidak sampai kepusat Ya, di kab/kota sampai saat ini proses pembuatan perda atas inisiatif dari DPRD belum bisa berjalan atau hasilnya masih dbisa dihitung dengan jari, hal ini masih kurang pemahaman atas pembuatan perda Perlu dievaluasi agar antara peraturan yang ada di daerah tidak tumpang tindih dengan peraturan yang ada di tingkat atasnya (provinsi dan pusat). Dalam hal tertentu masih tetap membutuhkan evaluasi dari provinsi dan pusat Masih perlu, sebab belum semua daerah kab/kota dalam membuat Perda mempertimbangkan berbagai aspek yang timbul akibat penerapan Perda tersebut Perlu dalam konteks mengevaluasi kemanfaatan dan proses penyusunan Perlu intervensi agar Perda tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan di atasnya serta tidak terjadi tumpang tindih peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam UU 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan

Alasan Tidak Perlu

-

-

10

Lampura

-

Tidak perlu karena Perda telah disusun berdasarkan peraturan yang lebih tinggi

-

-

11

Tanggamus

-

Tidak perlu evaluasi karena menghambat pelaksanaan Perda Tidak perlu karena yang tahu permasalahan di daerah adalah daerah sendiri

80

No

Daerah -

Alasan Perlu
Masih perlu dalam kaitan menjamin bahwa daerah telah menjalankan prosedur penyusunan Perda sesuai dengan aturan yang ada Sangat perlu dalam rangka pembinaan dan pengawasan demi NKRI Diperlukan untuk menghindari adanya permasalahan hukum di kemudian hari Perlu agar tidak menggangu kepentingan nasional Perlu agar lebih menghasilkan output yang diharapkan Perlu dalam rangka menciptakan sinergi dan sinkroniasai antara pusat dan daerah

Alasan Tidak Perlu

-

Sumber : Hasil Penelitian 2009

Data pada tabel 13 hampir sebagian besar berpendapat bahwa perda perlu dilakukan evaluasi oleh pemerintah agar tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih atas, untuk mencegah kewenangan pemda dalam pembuatan perda melampauk batas kewenangannya, agar daerah bisa dikontrol dalam mebuat berbagai kebijakannya, dan untuk kepentingan menjaga NKRI.

4.2.7

Titik Berat Otonomi Daerah

Tabel 14. Titik Berat Otonomi Daerah No 1 Daerah Prov Lampung Provinsi Sebab supaya tidak terjadi sikap over pada kabupaten/kota dan menjaga kewibawaan provinsi di mata kabupaten/kota Lebih menjamin keterpaduan pembangunan dan sinkronisasi serta

Kabupaten Karena titik berat otonomi adalah di tingkat pemerintahan terkecil yaitu desa dan kabupaten memiliki posisi yang dianggap lebih mendukung ketersediaan profesionalisme sehingga titik tekan otonomi daerah ada di

-

81

No

Daerah -

Provinsi
kesatuan NKRI Maka aturan dan tata cara pemerintahan akan lebih terpusat dan terarah sehingga tidak ada perbedaan aturan antara kabupaten yang satu dnegan yang lainnya

Kabupaten kabupaten. Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat, pemerintah provinsi cukup mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Agar otonomi dapat tumbuh dan berkembang secara lebih maksimal karena luas wilayah cukup untuk pengenalan potensi wilayah secara maksimal Dalam rangka mempercepat pengentasan kemiskinan, pembangunan di daerah dan memperpendek rentang kendali birokrasi dan pemberian pelayanan Kabupaten langsung berhadapan dengan masyarakat Karena semua potensi pembangunan berada dan dimiliki oleh kabupaten Karena kabupaten otonomi itu ada di kab/kota, sehingga lebih mengetahui keadan daerah dan langsung memberikan pelayanan kepada masyrakat dan kabupaten yang mempunyai wilayah/rakyat dan berhubungan langsung dengan masyarakat, provinsi sebaiknya hanya sebagai pengawasan dan koordinasi Karena ujung tombak otonomi daerah ada di

-

-

-

2

Bandar Lampung

Karena sebagai perpanjangan tangan, pemerintah provinsi dapat mengembangkan antara kelebihan dan kekurangan satu wilayah dengan wilayah yang lain agar kesejahteraan lebih dapat merata dan pengaturannya akan lebih terkendali

-

-

82

No

Daerah

Provinsi

Kabupaten
kab/kota, dan pelaksana otonomi daerah bertujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan pemberdayaan dan peran masyarakat Rentang kendali kabupaten dengan rakyat tidak terlalu jauh(langsung) namun sistem pilkada yang harus dirubah Karena kabupaten/kotalah yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat termasuk pembangunan daerah akan sesuai dengan kebutuhan daerah setempat Karena wilayah provinsi adalah kabupaten/kota jadi provinsi seolah-olah tidak punya wilayah dan rakyat Kabupaten merupakan daerah yang paling dekat dengan masyarakat Kabupaten lebih mengetahui kebutuhan, keadaan, potensi daerah

-

3

Lampung Tengah

-

-

-

Lebih bisa menyatukan segala aspek, kelebihan dan kekurangan pada kabupaten/kota di provinsi sehingga tidak terjadai ketimpangan yang terlalu tajam antara kabupaten/kota yang satu dengan kabupaten/kota lainnya Agar terdapat keseragaman pola otonomi daerah secara nasional, namun tetap mengakomodir kepentingan daerah Agar kebijakankebijakan kabupaten/kota dalam pembangunan dapat terkontrol dan tidak terlalu jauh menyimpang dari kebijakan nasional Supaya provinsi sebagai fungsi kontrol dan monitoring

-

-

-

4

Lamsel

-

-

Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat, pemerintah

83

dan lebih menyentuh ke masyarakat karena sangat kecil kemungkinan untuk ada campur tangan dengan pihak luar. provinsi dijadikan wakil pemerintah pusat - - - - - 5 Way Kanan - - - - sesuai dengan harapan. Kabupaten provinsi cukup mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Kabupaten yang langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia adalah negara kesatuan. misi dan kebijakan pemerintah provinsi Karena secara bertahap setelah otonomi di provinsi matang. peran provinsi sebagai koordinator kabupaten/kota akan lemah. karena daerah itu sendiri yang akan membuat wilayahnya maju/mundur karena kabupaten dapat membuka wilayah pemerintahan dari kampung sampai ke kecamatan lebih mengena ke 84 . provinsi bisa melihat kabupaten/kota mana di provinsinya yang siap otonomi sehingga kesiapan kabupaten/kota bisa berbeda-beda.No Daerah Provinsi pembangunan di kabupaten/kota supaya efektif dan selaras dengan visi. Supaya mudah mengkoordinor antara kabupaten/kota di provinsi Di provinsi lebih banyak programprogram pusat dan berdasarkan kepentingan daerah terdapat skala prioritas untuk mengembangkan kab/kota yang membutuhkan penanganan prioritas Karena jika terlalu khusus di kabupaten.

mengenal wilayah. misi dan kebijakan pemerintah provinsi SDM di kabupaten masih memerlukan banyak pembinaan - - - 7 Lampung Timur - - - Karena pengaruh controling pelaksanaan pemerintah daerah lebih efektif sekaligus melakukan koordinasi atas potensi dan kelemahan yang dimiliki oleh kabupaten/kota yang ada di wilayahnya Karena potensi setiap kabupaten berbeda sehingga rawan menimbulkan kecemburuan dan perbedaan tingkat kesejahteraan Karena provinsi adalah perpanjangan tangan pemerintah - - 85 .No Daerah Provinsi Kabupaten masyarakat akan tetapi tetap perlu pengawasan dari provinsi karena kabupaten merupakan pemerintahan daerah yang berhubungan langsung dengan masyarakat Karena kabupaten lebih mengenal potensi dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat di bawah Hekakat otonomi adalah mendekatkan pelayanan. oleh karena itu otonomi baiknya di kabupaten bukan di provinsi Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat. pemerintah provinsi cukup mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Supaya bisa mandiri bagaimana daerah agar bisa secepatnya memahami persoalan yang dihadapi oleh daerah Di kabupaten lah titik berat sasaran kebijakan pemerintah Kabupaten lah yang secara riil memiliki wilayah. memiliki penduduk dan lebih dekat dengan masyarakat - 6 Tulang Bawang - - Supaya ada sebagai fungsi kontrol dan monitoring pembangunan di kabupaten/kota supaya efektif dan selaras dengan visi.

Agar langsung pada 9 Lampung Barat - - - Karena pembangunan lebih jelas dan terintegrasi Agar supaya mempunyai satu kendali dlam mngambil satu keputusan Bial dititik beratkan di kabupaten. justru akan melahirkan rajaraja kecil dimana bupati/walikota cenderung tidk taatkepada gubernur Untuk menhemat dana dan aparatur - - - 86 . serta dapat memberikan kesempatan pada masyarakatuntuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.No Daerah - Provinsi pusat Dengan demikian provinsi sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat dapat lebih efektif dalam melaksanakan kebijakan pemerintah pusat Supaya pemerintah kota/kab tidak semena-mena dalam menjalankan otonomi daerahnya Karena asas desentralisasi Kabupaten 8 Metro - - - - Agar perotonomian yaitu pemerataan pembangunan di tiaptiap daerah dapat berjalan dengan lancar dan berkembang sehingga ikut menjunjung perkembangan provinsi selain itu kabupaten yang lebih mengetahui kondisi di daerahnya sehingga kab/kota dapat tumbuh da berkembang sesuai denga harapan Karena perencanaan. pengendalian. pengembangan evaluasi dan monitoring lebih mudah dan efektif dan optimal Karena kabupaten/kota yang memiliki wilayah termasuk operator dan perangkatnya sampai ke wilayah terkecil (desa/kelurahan) Agar adanya pluralisme di daerah bisa ditampungdalam pemerintahan daerah. pelaksanaan.

banyak sekali sumber yang perlu dikelola sedangkan diprivinsi sebaiknya menjadi wilayah administrasi saja Karena prinsip OTDA adalah lebih meningkatkan pelayanan oleh pemerintah pada masyarakat sehinggakabupaten yang paling dekat dengan masyarakat.No Daerah Provinsi yang efektif dan efisien juga DPRD cukup di provinsi sedangkan yang di kabupaten/kota di tiadakan Kabupaten sasaran sehingga tidak terjadi proses yang panjang Kabupaten lebih dekat dengan rakyat Karena merupakan daerah otonomi. pemerintah provinsi cukup - - - - - 10 Lampung Utara Karena gubernur merupakan wakil pemerintah pusat di daerah sehingga gubernur dapat mengendalikan penyelenggaraan pemerintahan kabupaten/kota menuju visi misi propinsi dan nasional - - 87 . dan ini akan lebih mempercepat pencapaian kinerja pembangunan lebih baik Kabupaten merupakan ujung tombak otonomi daerah yang lebih memahami potensi dan kemampuan yang ada Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat. Kabupatenlah ujung tombak pelayanan kepada masyarakat. SD wilayah ada di kabupaten. lagi pula jika di provinsi rentang kendali pelayanan kepada masyarakat terlalu besar Rentang kendali lebih kecil Karena letak SDM. SDA. sedangkan provinsi merupakan perpanjangan pemerintah pusat Karena di kab.

alasannya hampir sama. karena Daerah Kabupaten/Kota yang memiliki wilayah yang berhubungan langsung dengan rakyat 88 . di provinsi lebih memadai dibandingkan dengan SDM yang dimiliki oleh kabupaten/kota - - - - Karena kabupaten yang mempunyai daerah/wilayah serta masyarakat Kabupaten/kota adalah daerah otonom yang memiliki kewenangan luas Kabupaten lebih dekat dengan masyarakat Kabupaten lebih mengatahui potensi dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat UU mengatur demikian Sumber : Hasil Penelitian 2009 Dalam menjawab di mana titik berat otonomi daerah dilaksanakan. misi dan kebijakan pemerintah provinsi Menjaga keutuhan NKRI Dari sisi SDM.No Daerah Provinsi Kabupaten mengawasi saja (wakil pemerintah pusat di daerah Kabupaten lebih mengetahui potensi dan masalah di daerah Karena gubernur hanya perwakilan pemerintah pusat di daerah sehingga DPRD di provinsi tidak perlu ada dan gubernur dipilih oleh pemerintah pusat Kabupaten langsung berhadapan dengan masyarakat - - 11 Tanggamus - - - Karena provinsi sebagai fungsi kontrol dan monitoring pembangunan di kabupaten/kota Supaya pembangunan di kabupaten/kota selaras dengan visi. maka sebagian besar berpendapat di Kabupaten/Kota.

Kekhusunan hanya didasarkan pada keistimewaan sejarah bukan geografis dan ketakutan pusat akan tuntutan terlalu besar dari daerah Titik berat otonomi daerah harus seragam secara nasional untuk menjaga dan melindungi NKRI secara adil dan merata. Pendapat titik berat otonomi daerah harus seragam secara nasional atau memungkinkan adanya otonomi khusus. seperti di Aceh dan Papua Harus Ada Otonomi Khusus/Desentralisasi A simetris Dimungkinkan adanya otonomi khusus berdasarkan prinsip asimetris dan latar belakang sejarah dan geografis yang berbeda Perlu adanya otonomi khusus karena otonomi bagis etiap daerah tidak selalu sama satu Otonomi khusus perlu karena latar belakang sejarah dan geografis masing-masing daerah berbeda Tidak mungkin seragam karena latar belakang dan kondisi daerah juga berbeda-beda sepanjang masih dalam kerangka NKRI No 1 Daerah Lampung Otonomi Daerah Harus Sama Harus seragam karena kalau ada otonomi khusus akan membentuk opini anak emas dan akan terjadi sikap yang kebablasan. agar tidak terjadi/meminimalisasi kecemburuan daerah dan tidak terjadi perpecahan daerah - - - - - 2 Lamteng - - - - Tidak perlu ada keseragaman secara nasional terutama pada daerah yang memang memiliki karakteristik yang berbeda (baik karena sejarah maupun potensi serta masalah khusus yang dimiliki daerah) Memungkinkan adanya otonomi khusus oleh sebab ketidakberhasilan pemerintah pusat dalam memberikan pelayanan dan penyelenggaraan pembangunan di daerahdaerah yang oleh sebab sejarah.Tabel 15. Namun masing-masing diberikan keleluasaan untuk mengembangkan potensi daerahnya Harus seragam. luas wilayah dan keistimewaan membuat daerah tersebut berbeda 89 . Adanya istilah otonomi khusus sebenarnya adalah wujud nyata kegagalan pemerintah pusat dalam menerapkan standarisasi atau format otonomi yang diinginkan Seragam.

SDA. khusus tidknya ternyata hanya maslah kemampuan keuangan. serta tidak ada konflik yang bisa memunculkan isu SARA - - 90 . Asalkan perhitungan perimbangan keuangan pusat dan daerah itu fair Harus seragam agar tidak ada diskriminasi antar daerah.disesuaikan dengan keadaan daerah tetapi ada hal-hal yang sama secara nasional tetap dalam rangka NKRI. Tahap pertama otonomi tingkay provinsi terlebih dahulu setelah daerah provinsi mampu baru kemudian dilanjutkan ke tingkat kabupaten/kota sehingga ada kesiapan Harus ada keseragaman secara nasional karena daerah dapat melaksanakan peran dan fungsi sesuai dengan kemampuan wilayah sendiri dan tidak menimbulkan kecemburuan bagi daerah yang lain Harus ada otonomi khusus karena karakter tiap-tiap daerah berbeda-beda Perlu adanya spesifikasi daerah jadi tidak harus sama/seragam tetapi harus mempunyai satu visi dan misi dalam pembangunan nasional - - - 4 Bandar Lampung - - - Tidak perlu seragam. misalnya maslah budaya. otonomi khusus tidak selamanya dan harus selalu dievaluasi Tidak harus seragam namun harus disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing tetapi regulasi harus seragam seperti diatur oleh UU No 32/2004 Diperlukan adanya otonomi khusus untuk daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan daerah 5 Lambar - - Tapi perlu adanya otonomi khusus. politik Mutlak seragam tetapi perlu otonomi khusus.dengan daerah lainnya 3 Lamsel Harus ada keseragaman secara nasional karena untuk menghindari kesenjangan dan kecemburuan dari daerah-daerah lain Harus seragam secara nasional sehingga antara pusat dan daerah akan sama mengambil keputusan dan kebijaksanaan Harus seragam tetapi dibuat 2 tahap.

- - Sebaiknya seragam secara nasional dan otonomi khusus tetap ada. wewenang dan kewajiban dari daerah dengan mempertimbangkan sejarah dan latar belakang daerah tersebut 7 Lamtim - Secara kewenangan seharusnya sama. dalam rangka menjaga NKRI Otonomi daerah harus seragam. namun mempertimbangkan potensi dan kemampuan daerah. adat istiadat. bisa dibuat kewenangan khusus. Aceh dan Papua mendapatkan otonomi khusus karena memiliki permasalahan dan sejarah yang berbeda Masih dibutuhkan kekhususan karena masih ada gap terlalu tinggi antara daerah yang satu dengan daerah lainnya Harus ada otonomi khusus sebab otonomi daerah membuka hak. potensi dan kondisi daerah yang berbeda. 91 . hanya saja dibidang kebudayaan dan beberapa bidang lainnya yang bersifat khas daerah. disesuaikan dengan karakter. Namun tetap dilihat bahwa secara nyata kondisi geografis maupun demografi di indonesia sangat beragam Seragam. contohnya peraturan syariah islam di aceh dan UU pornografi dan ponoaksi Baiknya seragam secara nasional supaya tidak memunculkan anggapan pemihakan dan ketakutan pemerintah pusat ke daerah serta mengindarkan kecemburuan - tersebut Tidak harus seragam secara nasional. maka otonomi juga harus berbeda-beda. budaya dari daerah masing-masing sehingga daerah tersebut dapat berkembang 6 Lampura - - - - Titik berat otonomi daerah tidak harus seragam. hanya yang berbeda adalah alokasi anggaran kepada daerah-daerah khusus Oleh sebab sejarah daerah .

otonomi khusus tetap dipertahankan 9 Tanggamus - - Karena tidak semua daerah memiliki masalah dan karakteristik serta sejarah yang berbeda maka otonomi khusus perlu dilakukan misalnya Papua. Aceh dan Yogyakarta.- tersebut. Otonomi khusus diletakkkan kerangka otonomi daerah bukan pada UU tersendiri Secara nasional harus sama atau seragam secara nasional sehingga tidak ada kecemburuan dari daerah yang tidak mendapatkan kekhususan dan tidak mengancam perpecahan pada bangsa ini Lebih baik seragaman . Namun keistimewaan daerah tersebut harus juga dikembangkan sehingga dapat mendukung NKRI yang kuat Tidak harus seragam karena ada beberapa daerah di Indonesia yang memang memiliki kekhususan oleh sebab sejarah masa lalu seperti Yogyakarta Tidak harus seragam karena kebutuhan daerah juga berbeda. agar tetap menjaga NKRI Sebaiknya dilakukan seragam demi persatuan dan kesatuan bangsa walapun sudah otonomi daerah Harus ada keseragaman secara nasional karena untuk menghindari kesenjangan dan kecemburuan dari daerah-daerah lain (11 responden ) - Namun letak perbedaannya harus benar-benat sesuai dengan kebutuhan daerah dan potensi yang dimiliki daerah. 8 Metro - - - -Tidak harus seragam. tapi tuk daerah khusus diberikan kekhususan. namun hal ini jangan sampai 10 Tulang Bawang - Harus ada keseragaman secara nasional karena untuk menghindari kesenjangan dan kecemburuan dari daerah-daerah lain di Indonesis sehingga pengaturannya juga bisa seragam - - 92 . karena setiap daerah mempunyai potensi yang berbeda-beda dan dengan tidak mengabaikan NKRI Bila diperlukan.

4. namun apakah pelaksanaannya harus seragam atau perlu ada otonomi khusus seperti di Aceh atau Papua.- membuat seolah-oleh pemerintah pusat takut kepada tuntutan akan memisahkan diri Tidak harus seragam karena kalau seragam nanti banyak daerah yang ingin keluar dari NKRI karena merasa tidak puas 11 Way Kanan - - Secara nasional harus seragam Sebenarnya adanya penyeragaman otonomi karena otonomi khusus itu. karena harus sesuai dengan kondisi daerah masing-masing Sumber : Hasil Penelitian. maka pelaksanaan otonomi daerah bisa diatur sera berbeda tergantung pada kemampuan Daerah yang bersangkutan ( Lihat data pada tabel 15). kalau orangnya bergaya kerja lama tidak efektif - - Perlu juga ada otonomi khusus.8 Hubungan Pemerintah Provinsi dengan Kabupaten/Kota Pendapat responden dari Prov dan 10 Kabupaten/Kota. sama saja membuat negara terselubung di dalam negara itu sendiri Otonomi khusus ataupun penyeragaman. 2009 Data pada tabel 14 bahwa sebagian besar pelaksanaan otonomi daerah lebih baik dilaksanakan di kabupaten/kota. karena hal tersebut dilakukan untuk meredam disintegrasi bangsa Tidak harus seragam.2. namun karena setiap daerah sangat beragam memiliki potensi dan lingkungan sosial. menyatakan sebagian besar hubungan antara Pemerintah Provinsi harus hirarkiis dengan beberapa alas an sebagai berikut : 93 . Data tabel 16 menunjukkan bahwa bahwa secara prinsip Otonomi Daerah Harus seragam. ekonomi dan politik yang tidak sama.

2. karena alasan bahwa berdiri sendiri karena dalam pengaturan kebijakan tidak tumpang tindih antara pemerintah provinsi dengan kabupaten 4. Kendala dalam pelaksanaan kebijakan desentralisasi & otonomi daerah Kendala Masih ada departemen yang tidak ingin melepaskan kewenangannya kepada daerah padahal hal tersebut sudah menjadi urusan pemerintah daerah di Provinsi Lampung 94 . kerjasama.Harus hierarkis satu sama lain karena provinsi yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat memiliki kewenangan untuk menjadi kordinator kabupaten/kota sehingga kebijakan kabupaten/kota harus sesuai dengan kebijakan provinsi Harus hierarkis dalam konsep negara kesatuan dan provinsi merupakan wakil pemerintah pusat di daerah Hubungan yang berdiri sendiri sepanjang koordinasi. pembinaan dan pengawasan dan penyelenggaraan urusan dapat dilakukan secara maksimal Hubungan hirarki tidak dapat dihindarkan namun hendaknya terus dikembangkan diverensiasi yang bersifat otonom berdasarkan potensi dan kekhasan daerah Perlu dicari bentuk dan pola hubungan yang lebih ideal dan fleksibel agar daerah dapat leluasan mengembangkan potensi daerahnya Harus hirarkis untuk menghindari terjadinya perbedaan-perbedaan sistem pemerintahan yang dapat menimbulkan kesenjangan dengan daerah kabupaten/kota lainnya Kabupaten/kota dapat menjalankan otonominya sendiri tetapi secara hirarkis tetap harus dalam pembinaan provinsi sebagai wakil pemerintah pusat Sedangkan sebagian kecil harus berdiri sendiri.9 Kendala Pelaksanaan Otonomi Daerah Tabel 16.

Masih terjadi tarik ulur atau naik turun Terjadi pengkotak-kotakan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Rendahnya kualitas pemahaman tentang otonomi daerah di kalangan stakeholders Kabupaten/kota merasa terlalu memiliki kewenangan yang lebih besar daripada provinsi sehingga kreatifitas untuk berkoordinasi dengan provinsi sebagai wakil pemerintah pusat di daerah lemah Mental pemimpin baik eksekutif dan anggota DPRD yang masih lemah dan pragmatis Mental masyarakat yang pragmatis Ketidaktegasan aturan tentang pelimpahan kewenangan antara pemerintah provinsi dan kabupaten Kurangnya koordinasi antara pemerintah kabupaten/kota dengan provinsi maupun antar kabupaten/kota 95 .Perlunya penataan peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah Kurangnya kerja sama antar pemerintah daerah Kurangnya kapasitas kelembagaan daerah Kurangnya profesionalisme aparatur pemerintah Kurangnya kapasitas keuangan pemda Kurangnya pertimbangan rasional pemekaran daerah Kurangya pendanaan Mental masyarakat yang belum sepenuhnya dewasa dalam berpolitik Kurangnya inovasi Pemda dalam penyelenggaraan pelayanan bagi masyarakat Masih terdapat penafsiran yang berbeda terhadap peraruran perundangundangan/kebijakan nasional dan masih kuatrnya egosektoral di tiap-tiap kabupaten dan kota Daya dukung keuangan daerah yang rendah Terlalu besarnya persentase APBD untuk biaya gaji dan biaya aparat sehingga biaya pembangunan yang notabene akan meningkatkan kesejahteraan rakyat menjadi sangat sedikit Masih kentalnya nuansa politis dan kepentingan dalam pengambilan kebijakan publik Ketidakmauan kabupaten/kota untuk selalu berkoordinasi dengan pemerintah provinsi Belum adanya kesungguhan dan kerja sama yang baik antara pemprov dengan pemkab/kota dan antara pemkab/kota dengan pemkab/kota lainnya Masih belum jelasnya tanggung jawab provinsi pada masalah-masalah yang lintas kabupaten/kota Kendala mendasar. Namun demikian benang merah pembangunan daerah tetap dikordinasikan oleh provinsi dalam wadah RPJP provinsi Desentralisasi dan otonomi masih seperti permainan yoyo. SDM tidak komit dengan roh Otda untuk melayani masyarakat dan dana terbatas untuk membiayai Otda itu sendiri Kemampuan keuangan daerah dan pendapatan daerah yang tidak sebanding dengan kebutuhan pembangunan daerah Kemampuan SDM yang belum merata Ketidakpahaman banyak aparatur daerah tentang prinsip-prinsip etika pemerintahan sehingga otonomi banyak diasumsikan oleh masyarakat dengan maraknya korupsi Masing-masing berdiri sendiri. karena setiap kab/kota dipimpin oleh kepala daerah yang dipilih rakyat secara langsung yang notabene memiliki visi dan misinya sendiri-sendiri.

10 DAU (Dana Alokasi Umum) Secara umum pendapat informan dan responden terhadap fokus tentang pengaturan DAU (Dana Alokasi Umum) menyangkut Persentase DAU. bahkan terkesan saling jebak PAD rendah. kriteria yang digunakan dan prosedur pengajuan DAU adalah sebagai berikut : 96 . Otonomi daerah yang masih diasumsikan hanya sekedar untuk meningkatkan PAD dengan berbagai cara tetapi kesejahteraan rakyat kurang mendapat perhatian Para kepala daerah kurang memahami tentang otonomi daerah karena syarat menjadi kepala daerah sangat mudah Penggunaan DAU yang kurang tepat sasaran Pengawasan ke eksekutif dari legislatif maupun pemerintah pusat masih kurang Sumber daya alam yang dikelola tidak dapat meningkatkan kemandirian daerah Provinsi kurang memperhatikan pembinaan kab/kota. masih mementingkan kepentingan pribadi Sumber : Hasil Penelitian 2009 4. karena sumber pajak potensial ditarik ke provinsi dan pemerintah pusat sehingga sangat bergantung pada DAU dan DAK Peraturan perundang-undangan yang kurang emndukung iklim investasi Proses birokrasi yng rumit Daya ungkit menjadi emah terhadappermasalahan kemiskinan. Contohnya kebijakan dalam menyelenggarakan pendidikan nasional ini benyak perbedaan penafsiran sehingga masyarakat merasa kebingungan. pengangguran karena ekuatan terpecah dan ego kedaerahan masing-masing Birokrasi terlalu lama dalam melaksanakan dalam suatu kebijakan Perataan pendanaan yang melalui provinsi tidak merata Kurang optimalnya koordinasi kab/kota ke provinsi Masih rendahnya SDM.2. Termasuk kebijakan pelayanan kesehatan yang kriteria penggratisannya tidak jelas dan rumit Tidak jelasnya program pembangunan yang sudah dijabarkan dalam RPJM daerah dengan renstra SKPD Masih ada kepentingan kelompok Kendala dalam pengawasan pengelolaan anggaran oleh pusat terutama dalam pengelolaan anggaran yang bersumber dari APBN SDM aparatur masih kurang/rendah. Kebijakan dalam pelayanan umum. masih bersifat kedaerahan.Masih adanya visi dari gubernur lampung dan jajarannya tentang otda yang masih menganggap kab/kota bawahan dari provinsi Suhu politik yang kurang kondusif karena seringnya ada pemilu. sehingga seolah-olah berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik.

PDRB dan IPM sudah merupakan kriteria yang ideal.Kriteria umum sudah cukup sebagai persyaratan penetapan DAU. akan tetapi data dasar penghitungan tersebut perlu diupayakan validitasnya dan mutakhir Dari sisi persentase masih sangat minim karena hanya 25% dari netto pendapatan dalam negeri Kriteria celah fiskal dan alokasi dasar. jumlah penduduk. 50% : gaji dan 50% : pembangunan 97 . luas wilayah. padahal seharusnya kebutuhan DAU adalah untuk pembangunan Persentasenya masih memberatkan bagi daerah tertentu karena komponen gaji masih melekat dalam DAU sehingga belum dapat menunjang untuk kegiatan pembangunan fisik Sudah baik dan adil tetapi setelah pembahasan dan disahkan oleh DPRD di masing-masing SKPD tidak mencukupi atau tidak ada uangnya Besaran persentase bagi hasil harus ditinjau ulang Unsur kedekatan dengan pemerintah pusat ternyata masih menjadi salah satu syarat tidak tertulis dalam konteks pengajuan DAU Kurang terbuka pengaturan penggunaan dana DAU sehingga masingmasing SKPD tidak jelas porsinya Pengaturan DAU. namun pelaksanaannya masih tarik menarik sehingga tetap membutuhkan pendekatan ke pusat Kebutuhan DAU yang diajukan oleh Pemda belum seluruhnya dapat dipenuhi oleh pemeirntah pusat Pengaturan DAU masih perlu dibenahi terutaa terhadap penambahan DAU akibat perubahan peraturan/kenaikan gaji PNS Sudah cukup bagus meskipun hal ini dirasakan kurang transparan Sudah sesuai tetapi sumber daya di daerah tidak mampu secara maksimal mengoptimalkan DAU itu untuk pembangunan sehingga alokasi DAU masih sangat besar hanya untuk gaji pegawai Pengaturan DAU lebih didominasi oleh kebutuhan anggaran pegawai. indeks kemahalan konstruksi.

Perlu diadakan pertimbangan secara menyeluruh dengan mengikutsertakan anggota legislatif dalam proses pengajuannya Harus sesuai dengan PAD maka dapat balance Alokasi DAU harus diawasi 4. namun sebaiknya DPRD juga dilibatkan sejak awal dalam mengusulkan sehingga tanggung jawab pengelolaan juga dapat dilakukan oleh DPRD sehingga mereka tidak mainmain dengan pengelolaan anggaran nanti DAU masih dodominasi untuk kepentingan aparat dan DPRD sedangkan alokasi untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat masih sangat minim Sudah jelas aturannya namun prakteknya tidak sesuai dengan idealnya Perlu juga diatur oleh pemerintah provinsi bersama kabupaten/kota secara transparan sehingga antar kabupaten/kota di satu provinsi tidak saling menjatuhkan. Naik jika diurus.Prosedur pengajuan DAU terlebih dahulu dibahas oleh DPRD dalam berkas RAPBD kemudian disahkan dalam APBD baru diajukan ke pemerintah pusat untuk dicairkan sesuai jumlahnya DAU masih banyak digunakan untuk belanja pegawai Persentase DAU tidak jelas karena masih membutuhkan pendekatan daerah ke pusat sehingga jumlah DAU selalu naik turun.2 11 Sistem Administrasi Kepegawaian Penilaian responden baik di provinsi maupun kabupaten/kota tentang sistem administrasi kepegawaian adalah sebagai berikut : Sudah sejalan sesuai dengan aturan yang ada namun nuansa politis masih kadang-kadang terlihat sehingga terlihat gerbong siapa yang membawa 98 . namun turun jika tidak diurus Kriteria sudah jelas tetapi kriteria tersebut tidak dapat menjadi acuan yang pasti dalam penetapan jumlah DAU Prosedur pengajuan DAU sudah oke.

Tetapi transparannya hanya di formalitas bukan pada substansinya - Masih jauh dari harapan. Hanya untuk kenaikan pangkat dan pensiun PNS golongan IV C ke atas yang selama ini diproses dan ditandatangai presiden seyogyanya cukup di BKN - Masih banyak dipengaruhi kepentingan politik. Penempatan SDM PNS tidak berdasarkan beban kerja sehingga akan mengakibatkan beban kerja tinggi dan beban kerja rendah sehingga berpengaruh terhadap produktifitas - Penempatan jabatan struktural masih belum mempertimbangkan karier seseorang - Belum mengikuti daftar urutan kepangkatan secara konsisten Secara umum sistem administrasi kepagawaian telah sejalan dengan keinginan daerah. skill dan pengalaman 2.- Konsistensi antara aturan dan implementasi masih lemah contohnya dalam rekrutmen pejabat impor dari daerah ke provinsi - Masih banyaknya pejabat non job Prosedur. selama brokrasi masih berada di bawah pengaruh kekuasaan politik. transparansi dan persayaratan harus ditingkatkan Penghargaan kepada prestasi pegawai belum menjadi pertimbangan dalam penempatan pejabat - Kedisiplinan pegawai yang rendah Sistem kepagawaian sudah benar namun yang perlu diperbaiki adalah pelaksanaan dari sistem itu - Belum profesional dalam hal : 1. birokrasi menjadi mainan bagi pejabat politik - Sudah ada aturan yaitu PP 96 tahun 2006 yang mengatur tentang kepegawaian di daerah 99 . Tupoksi yang diberikan tidak sesuai dengan tingkat pendidikan. baik dalam pengangkatan PNS atau pengisian jabatan struktural. KKN masih kental Sudah cukup transparan.

- Penempatan pejabat masih tergantung gerbong hasil Pikada sehingga fungsi Baperjakat masih jauh dari ideal - Penempatan pejabat eselon II masih dipengaruhi oleh kepentingan dari siapa kepala daerah yang memimpin daerah sehingga sangat sering berganti-ganti - Pengesahan pejabat eselon II lama karena menunggu pengesahan dari provinsi - Terlalu sering dilakukan rolling pejabat sehingga banyak pejabat yang bekerja tidak tenang karena takut diroling - akan tetapi pendidikan belum sesuai dengan jabatannya sehingga kurang menguasai pekerjaan - Meski telah otonomi tetapi sistem administrasi kepegawaian ternyata masih diatur oleh pusat termasuk penetapan kuota penerimaan CPNSD - Belum sejalan dengan keinginan dan kepentingan daerah mengingat masih ada pengisian pejabat eselon yang tidak memahami dan berbasis pendidikan dengan jabatan yang diembannya - Belum maksimal karena masih banyak pejabat eselon struktural yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan riwayat jabatannya tidak menjadi pertimbangan - Pengangkatan eselon II tidak harus ditentukan oleh pemerintah tingkat atasnya (gubernur) langsung saja merupakan kewenangan bupati dengan tetap mempertimbangkan profesionalisme - Masih kental nuansa like and dislike Fungsi Baperjakat terkadang hanya formalitas karena unsur kedekatan dan tim sukses. akte kelahiran. dsb jauh lebih baik dibanding di 100 .12 Pelayanan Publik Pendapat/penilaian responden tentang pemberian pelayanan publik di era otonomi daerah seperti: pemberian surat perizinan. 4.2. pengadaan/perbaikan fasilitas jalan. pelayanan KTP.

Adalah sebagai berikut : Pelayanan cenderung mengalami perbaikan dengan kemudahan mengurus perizinan. tetapi dalam pelaksanaannya masih sangat buruk dan biaya tinggi Lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya .era sebelumnya (UU No. dan sebagainya Model perizinan satu pintu menjadi salah satu indikator pelayanan yang meningkat dalam konteks perizinan. Semakin transparan sehingga kontrol masyarakat dapat berperan Beberapa meningkat beberapa menurun. dan sebagainya) Sudah lebih baik jika standar pelayanan minimal pelayanan publik dapat diterapkan secara optimal 101 . Hal ini dapat tercapai karena pemangkasan birokrasi Menurun kualitasnya. gedung. 5/1974 dan UU No. namun seringnya perubahan kebijakan membuat pola pelayanan publik belum menemukan sesuatu yang ideal dan terkadang masih membingungkan masyarakat. khusus pelayanan kependudukan yang selalu bermasalah sebaiknya dinasionalkan Dari sisi aturan sudah sangat baik. tetapi jenis pelayanan infrastruktur kondisinya lebih parah dibandingkan sebelumnya Masih belum efektif dan justru memperpanjang jalur yang dahuku mengurus KTP cukup di kecamatan misalnya sekarang justru harus ke kabupaten Sentralisasi dalam pelayanan lebih baik dirasakan sehingga persyaratan antar daerah idak berbeda-beda termasuk dalam penentuan tarif pelayanan Infrastruktur zaman sentralisasi lebih baik Pelayanan publik sangat dipengaruhi oleh kebijakan kepala daerah dan kebijakan dari perubahan peraturan di tingkat pusat yang sering berganti dan tidak konsisten Kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik belum secara konsisten dilakukan pengukurannya sehingga tidak ada bahan evaluasi bagi daerah dalam peningkatan kualitas pelayanannya Dari sisi jarak memang lebih efektif. irigasi. Namun. terutama pada kualitas bangunan publik (jalan. 22/1999) atau malah sebaliknya tambah buruk.

peningkatan kesejahteraan masyarakat meningkat. good governance bisa diwujudkan. Dapat dilihat sebagai berikut : Belum efektif dan efisien karena di sana-sini masih banyak pembangunan belum menyentuh kepentingan masyarakat Masih terjadi banyak pemborosan khususnya untuk gaji aparat dan DPRD Masih terjadi penyimpangan penggunaan anggaran Keamanan masyarakat masih jauh dari harapan Konflik akibat Pilkada semakin besar karena pilihan politik yang berbeda Keberhasilan pembangunan daerah masih berupa paparan belaka.- Dari sisi jarak memang lebih efektif. tetapi dalam pelaksanaannya masih sangat buruk dan biaya tinggi - Lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya . - Semakin transparan sehingga kontrol masyarakat dapat berperan Pelayanan kependudukan yang selalu bermasalah sebaiknya dinasionalkan Dari sisi aturan sudah sangat baik.2. gedung. dst. KKN bisa diminimalisir. irigasi. dan sebagainya) - Sudah lebih baik jika standar pelayanan minimal pelayanan publik dapat diterapkan secara optimal 4. Misal. terutama pada kualitas bangunan publik (jalan. pendidikan gratis dan kesehatan gratis adalah capaian yang hanya dalam wacana Korupsi masih merajalela 102 . tidak terjadi lagi pemborosan dalam penggunaan anggaran. Hal ini dapat tercapai karena pemangkasan birokrasi - Menurun kualitasnya. namun seringnya perubahan kebijakan membuat pola pelayanan publik belum menemukan sesuatu yang ideal dan terkadang masih membingungkan masyarakat.13 Efisiensi dan Efektifitas Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan di Daerah Penilaian/pendapat responden apakah penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah sekarang ini sudah efemtif dan efisien. stabilitas pemerintahan cukup terjaga.

sehingga orientasi pemerintahan lebih pada upaya untuk mendapatkan sesuatu bukan memberikan sesuatu - Zaman orde baru meskipun pola pemerintahan masih sentralistis tetapi efektifitas dan efisiensi anggaran daerah.- Reformasi mental aparatur masih sangat rendah. pelaksanaan pilkada yang menyerap dana cukup banyak anggaran DPRD yang sangat besar pelaksanaan tender pengadaan barang/jasa cenderung kocok bekem sehingga aturan dalam kepres sekedar dilakukan secara prosedural dan diatur - Belum efektif dan efisien karena di sana-sini masih banyak pembangunan belum menyentuh kepentingan masyarakat - Belum efektif dan efisien perlu pengawasan dan pembinaan lebih lanjut serta diperlukan tekat yang kuat dari para pemegang kebijakan serta reformasi sistem manajemen 103 . tunjangan tidak meningkat karena banyak kebocoran sehingga anggaran tidak dapat diprediksi dan dirancang dengan baik padahal setiap tahun nilai anggaran selalu naik. dan kesejahteraan masyarakat misalnya untuk memperoleh rasa aman lebih baik dibandingkan masa otonomi daerah. indikasinya : anggaran defisit. - Munculnya perilaku kepala daerah seolah menjadi raja-raja kecil di daerah membuat stabilitas pemerintahan dan pembangunan tidak dapat dilakukan secara kontinyu - Belum efektif dan efisien karema masih banyak terjadi pemborosan penggunaan anggaran - Masih banyak terjadi korupsi hampir di semua sektor Belum. 2. 3. rapel gaji PNS belum terbayar. - Justru banyak terjadi pemborosan dan penyimpangan : 1. karena pada dasarnya jumlah PNS yang tidak proporsional sehingga penggunaan anggaran lebih kepada pendekatan politis dibandingkan efisiensi - Pembangunan daerah kurang maksimal karena keterbatasan PAD daerah Belum efektif dan efisien.

tetapi. stabilitas pemerintah hanya terjaga 1-2 th pertama.karena hal ini diukur dari pelajaran yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat - Cukup memprihatinkan Tergantung individu dan tergantung SDM yang ada di daerah Sistem yang baik maka. - Belum efisien masih banyak terdapat pemborosan keuangan untuk kegiatankegiatan yang tidak menyentuh masyarakat secara langsung - Daerah belum memiliki perencanaan yang baik Dukungan dan pengawasan legislatif belum sepenuhnya berjalan. penggunaan anggaran dilakukan secara terencana efektif walaupun sebagian besaranggaran habis untuk gaji pegawai sehingga rekrutmen PNS dihentikan untuk sementar waktu. pemerintah pusat sering terlambat dalam menetapkandan mngawal otonomi dalam bentuk standar belanja dll. tidak terjadi pemborosan penggunaan anggaran good governance. efisiensi dan efektifitas tercapai. sering terjadi pemborosan Berjalan cukup baik. KKN masih sulit dihilangkan. - Sudah. jika orang yang ada dalam sistem tidak profesional maka tidak akan tercapai yang diharapkan - Hal itu relatif kepada daerah yang menyelenggarakan pemerintahan di daerah - Sejauh ini belum terlihat jelas efektifitas atau efisien untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah - Khususnya KTP/KK tambah lambat lebih baik pembuatan KTP.- Belum efektif dan efisien karena keinginan tidak melihat kemampuan sehingga terjadi kekurangan (defisit) dan pengelolaan anggaran hendaknya memakai skala prioritas dan masih terjadi KKN. good governance belum terwujud Penyelenggaraan pemerintah di era otonomi ini lebih baik Hal ini belum diartikan sebagai efektif efisien. seterusnya interst lebih kental. good govermence amburadul. tidak sehat. stabilitas pemerintahan cukup terjaga 104 . serahkan saja kepada camat agar bisa 5 menit masyarakat selesai dilayani - Belum efektif dan efisien KKN tetap eksis. - Penduduk miskin masih tinggi.

- Tergantung political will antara pemerintah eksekutif dan DPRD selaku legislatif di daerah - Belum efektif dan efisien masih banyaknya SKPD yang di bentuk tanpa dimodali anggaran yang cukup untuk melakukan program dan kegiatan. perlu peningkatan Masih sedikit sekali yang mengguerakan pembangunan yang efektif dan efisien - Masih diperlukan perbaikan di berbagai segi. namun dalam pealaksanannya beberapa persoalan yang dihadapi antara lain : pola kerjasama pelaksanaan kewenangan antara provinsi dengan kabupaten belum terimplementasikan dengan baik.1 Kewenangan Pemerintah Daerah Dari hasil penelitian. hampir sebagian besar berpendapat bahwa pengaturan kewenangan yang diatur dalam UU No. peraturan 105 . serta adanya peraturan yang tegas dan konsisten - Korupsi: relatif kecil Kolusi: 60% nepotisme 90% Sudah menuju yang lebih baik. dan pemerintah pusat harus terus mengawasi dan memonitor penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. karena di beberapa daerah masih terliahat adanya pemborosan anggaran daerah yang dipakai untuk halhal yang masih belu urgentdan menyampingkan kepentingan masyarakat. terminal. organisasi prangkat daerah masih terlalu gemuk. - Belum sepenuhnya. Agar APBD dan penggunaan di beritakan di koran publik. beberapa kewenangan tidak didukungan dengan dana yang memadai.3.32 / 2004 baik di Provinsi maupun Kabupaten/Kota sudah sejalan dengan aspirasi daerah. agar organisasi tertentu seperti kebersihan. - Sebaiknya terdapat satuan kerja yang benar-benar mengkoreksi pola pengaggran kegiatan terhadap kinerja yang akan dicapai 4. parkir. dsb di swastakan saja agar pemerintahlebih fokus dalam pembangunan. pertanggungjawaban kewenangan lemah.3 Analisis dan Interpretasi 4. selama ini hanya di back up untuk anggaran rutin saja - Belum.

namun dalam prakteknya masih dijumpai adanya tarik menarik kepentingan dan tumpang tindih kewenangan antara Pusat. h. yang seringkali menimbulkan disharmonisasi komunikasi juga berdampak pada masyarakat banyak. 2009)4 mengatakan “Great issues of politics. The organization of outhority is power concentred or dispersed”. provinsi dan Kabupaten/Kota.pelaksana yang tidak sinkron. 1. muncul inkonsistensi kebijakan antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah Kabupaten/Kota. Buku Referensi. 106 . Sebagian besar responden menunjukkan bahwa sekalipun 60 % menyatakan pembagian kewenangan Pusat. tetapi pola ketergantungan Daerah pada Pusat masih tinggi. dukungan juklak dan juknis pelaksanaan kewenangan yang masih belum jelas. 2009. masih terjadi multi interpretasi dalam memahami pembagian kewenangan dan juga sekalipun kewenangan sudah diberikan kepada Daerah. Sebagai akibat perbedaaan kepentingan dan kebijakan kabupaten/kota dengan provinsi. Otonomi daerah telah mengubah tata kelola pemerintahan dari yang semula sentralistik menjadi desentralistik. Penerbit Universitas Lampung. Lokus pembangunan bergeser dari pusat (nasional) ke daerah dari yang semula dijalankan oleh aktor utama negara 4 Armen Yasir. Penyerahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada satuan-satuan daerah merupakan persoalan politik yang selalu timbul dalam proses politik. Persoalan politik ini merupakan pilihan antara Centralization (sentralisasi) dan Local outonomy (otonomi daerah). Data ini menunjukkan bahwa Di dalam realitas penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih masih muncul kebijakan yang bertentangan antara pemerintah Provinsi dengan pemerintaha Kabupaten/Kota. Propinsi dan Kabupaten cukup jelas. Leslie Lipson (dalam Armen Yasir. Arti pemerintahan daerah dalam praktek pemerintahan terlihat dalam pasang surut kebijaksanaan dan perundang-undangan yang senantiasa mencari landasan politiknya dalam garis politik pemerintahan dan landasan yuridisnya dalam konstitusi (Undang-Undang Dasar). Hukum Otonomi Daerah (Preskriptif Teoritis).

perbaikan pelayanan dasar publik dan peningkatan akses ekonomi masyarakat. 32 Tahun 2004 bisa lebih diterima dalam mengakomodasi kepentingan daerah. Tanpa pelimpahan ini. kepada pemerintahan daerah yang disertai dengan Pendelegasian pengeluaran sebagai konsekunesi diberikannnya kewenangan yang luas serta tanggungjawab pelayanan publik harus diikuti dengan adanya pendelegasian pendapatan. 4. Hubungan keuangan pusat daerah tersebut pada akhirnya ditentukan pada tingkatan atau derajat desentralisasi yang tercermin dalam pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. UU No. Berbagai cara menentukan pembagian kekuasaan untuk menjalankan fungsi pemerintahan merupakan sumber pokok persoalan hubungan pusat dan daerah. Sebagai konsekuensi dianutnya Bentuk Negara Kesatuan yang didesentralisasikan sebagaimana ditentukan UUD 1945.2 Kepentingan Daerah Konteks kepentingan daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah difahami oleh responden adanya jaminan terhadap stabilitas pemerintahan.3.(pemerintah) secara konstitusional semestinya berpindah kemasyarakat di daerah. maka dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dibentuk daerah-daerah otonom yang mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. 107 . Perkembangan masalah keuangan dan pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan daerah terus mengalmi evolusi. Jika diandingkan dengan UU No. Pada umumnya hubungan antara pemerintah pusat dan daerah terrefleksi dalam pelimpahan kekuasaan pelimpahan keuangan. sumber pembiayaan bisa mendukung pelaksanaan otonomi daerah. otonomi daerah menjadi tidak bermakna. 22/1999. kewenangan Gubernur dalam mengawasi dan berkoordinasi dengan pemkab/kota cukup jelas diatur. Perubahan tata kelola pemerintahan daerah yang terdesentralisasi dipilih diharapkan dapat menciptakan iklim kepemerintahan yang berpeluang tinggi untuk mencapai demokratisasi.

menyatakan bahwa pola hubungan hirarkis lebih bisa diterima untuk melaksanakan proses penyelenggaraan pemerintahan. Provinsi dengan Kabupaten Hubungan Pemerintah. sejauh ini dilakukan dalam dua bentuk yaitu pola hubungan hirarkis dan tidak berhubungan secara hirakis. pola pemerintahan kemudian menjadi bergantung pada pusat.22/1999. beberapa informan dari Kabupaten/Kota menyatakan bahwa UU No.Namun. dinilai lebih cocok diterapkan karena UU ini lebih cenderung memberikan proses demokratisasi pemerintahan yang lebih mandiri tanpa harus tergantung pada pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Namun. Negara Kesatuan Republik Indonesia di bagi atas Daerah-Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. 108 .3 Hubungan Pemerintah. diakui bahwa dengan penerapan UU No. koordinasi antara Daerah Kabu dan Provinsi sulit bisa diimplementasikan sehingga pemerintah kab/kota dengan pemerintah prov berjalan sendiri-sendiri. yang tiap-tiap propinsi.22/1999. sebagaimana pernah berlaku dalam UU No. Dalam perubahan UUD 1945 mengganti secara menyeluruh ketentuan pasal 18 dan penjelasannya. 22/1999. Provinsi dan kabupaten. UUD 1945 Perubahan Mengatur Pemerintahan Daerah Dalam Bab VI Di bawah Judul Pemerintah Daerah yang isi lengkapnya adalah sebagai berikut : Pasal 18 1.3. Namun praktek hubungan yang tidak hirarkis ada kecenderungan koordinasi pengawasan menjadi tidak fungsional dan Daerah kabupaten/Kota dengan provinsi berjalan sendiri-sendiri. secara politik dan kemandirian daerah. Dari hasil penelitian. kabupaten/kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. 4.

Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undangundang. Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya. atau antara propinsi dan kabupaten. Bupati. 5. Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai 109 . dan Kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Daerah Kabupaten. dan kota diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. 3. dan Kota dipilih secara demokratis. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Pasal 18 B 1. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. Kabupaten. dan Kota. Pemerintahan Daerah Propinsi. Pemerintahan Daerah Propinsi. Pasal 18 A 1. 2. 2. pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya lain antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. Hubungan wewenang antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Propinsi. 7. Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam undang-undang. Gubernur.2. pelayanan umum. 6. Kabupaten. dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintahan Daerah Propinsi. 4. Hubungan keuangan. dan Kota memiiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. Daerah Kabupaten.

fiskal nasional. yaitu : 110 . yaitu antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Propinsi. Pasal 11 ayat (2) UU. 32/2004. NO. (1) Hubungan dalam penyelenggaraan desentralisasi (terutama dalam bimbingan dan pengawasan) (2) Hubungan dalam penyelenggaraan desentralisasi. Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah dirinci sebagai berikut. antara Pemerintah Propinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. Penyelenggaraan urusan pemerintahan merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara pemerintah dan daerah otonom yang terkait. antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. politik luar negeri. Urusan pemerintah yang tidak didesentralisasikan. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. yustisi dan agama. Pola hubungan ini merupakan penyelengaraan dekonsentrasi. dapat dikatakan hubungan antara Pemerintah Pusat dan daerah berisikan prinsif hirarkhi dan vertikal. pertahanan keamanan.NO. sedangkan pola hubungan kekuasaan intra organisasi juga tercermin dari hubungan instansi pusat departemen atau lembaga pemerintah non departemen dengan organisasi (instansi) vertikalnnya di daerah. Dalam UU. moniter.dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.NO. di dekonsentrasikan kepada gubernur dan ditugas bantukan kepada daerah otonom dan desa. Menurut ketentuan UU No. (3) Dalam UU.32 Tahun 2004 dinyatakan bahwa urusan pemerintah yang tidak didesentralisasikan. Pola hubungan ini merupakan penyelenggaraan desentralisasi yang diatualisasikan dengan keberadaan local self goverment. Berdasarkan ketentuan di atas. Prinsip ini menunjukkan terdapat pola hubungan kekuasaan antar organisasi. tergantung dan sinenergis sebagai satu sistem pemerintahan.32 Tahun 2004 ditentukan bahwa bahwa Pemerintah Daerah dalam menjalankan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan pemerintah dan dengan pemerintahan daerah lainnya.

Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah meliputi : 111 . 2. c. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. Hubungan dalam bidang pelayanan umum antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah meliputi : 1. b. 2. Hubungan dalam bidang pelayanan umum antarpemerintahan daerah meliputi : 1. dan 3. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. 4.a. dan penentuan standar pelayanan minimal. pembiayaan bersama atar kerjasama antar daerah. Hubungan Dalam bidang keuangan antara pemerintah dan pemerintah daerah meliputi : 1. tanggungjawab. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah. 3. pengelolaan perizinan bersama bidang pelayanan umum. kerjasama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. dan pinjaman dan/atau hibah antarpemerintahan daerah. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. kewenangan. bagi hasil pajak dan non pajak antara pemerintahan propinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Hubungan dalam bidang keuangan antar pemerintahan daerah meliputi: 1. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintah daerah. e. 3. dan pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. 2. 2. dan 3. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggungjawab bersama. d.

pertambangan umum (80%). Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah meliputi : 1. pengendalian dampak. Pengawasan Terhadap Raperda APBD dan Raperda lainnya. 3. Bea perolehan atas hak tanah dan bangunan (80%). 4. Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu dana yang brsumber dari Pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk mendanai kebutuhan 112 . kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam lainnya antarpemerintahan daerah. dan panas bumi (80%). Pajak Penghasilan (20%). Dana Bagi hasil. perkotaan. gas alam (30. (b) pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah Dalam rangka tercapainya tujuan penyelenggaraan otonomi daerah (pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat) dikoordinasi oleh Menteri Dalam Negeri dan Gubernur.1. 2. budidaya. perkebunan. Hubungan Keuangan berdasarlam UU. ). bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan pelestarian. pemanfaatan. tanggungjawab. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. sektor pedesaan. 2. pemeliharaan. 2.5 %). (c) 5. Reboisasi 40 %. 80%. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. PBB.5 %). Hubungan dalam pengawasan berhubungan dengan. f. hutan (IHPH. perikanan (80%). kewenangan. pertambangan minyak (15. pengelolaan perizinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan 3. yang sumbernya berasal dari pendapatan APBN terdiri dari : 1. dan. pertambangan serta kehutanan (90%). Yang bersumber dari Sumber daya Alam. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah.NO.

dan pembiayaan. dana cadangan. Apabila APBD defisit. 3. 33 Tahun 2004 disinergikan dengan UU. No. Hal tersebut dapat dilihat dari sistem anggaran yang defisit-surplus. yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Prinsip dasar yang digunakan dalam UU. penggunaan sistem anggaran terpadu yang terdiri dari pendapatan. Dalam hal pengendalian Menteri Keuangan menetapkan batas maksimum jumlah kumulatif defisit APBD. dan bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi berupa penundaan atas penyaluran Dana Perimbangan.NO. Hubungan antara pusat dan daerah tercermin dalam pembagian kewenangan.daerah. UU No. hubungan keuangan pusat dan daerah tercermin dari desentralisasi fiskal. Sekurang-kurangnya 26 % dari Pendapatan Dalam Negeri Neto. dekonsentrasi. Sistem anggaran yang difisit-surplus membuat aspek pengendalian. Menteri keuangan menetapkan deficit APBD dan batas maksimal defisit APBD masing-masing daerah setiap tahun anggaran. 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara. fungsi. Disini daerah yang mengajukan dan wajib memiliki dana pendamping 10 %. 33 tahun 2004 adalah pembiayaan sebagai salah satu sumber penerimaan daerah selain pendapatan daerah. program. pembiayaan difisit bersumber dari sisa lebih perhitungan angara (SILPA). dan anggaran dibuat menurut organisasi. dan UU. Dana Alokasi Khusus (DAK). 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. dan tugas pembantuan. belanja. N0. dan tanggungjawab yang jelas antar tingkat pemerintahan oleh karena 113 . 17 tahun 2004 tentang Keuangan Negara. tugas. kegiatan dan jenis belanja. Pengaturan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang ditentukan UU No. dan pinjaman daerah. yaitu tidak melebihi 3 persen dari PDRB tahun yang bersangkutan.

NO. hal ini nampak bukan hanya keanggotaan DPRD yang didasarkan atas pemilihan langsung oleh rakyat. 32 tahun 2004. UUD 1945 telah menetapkan bahwa pemerintahan daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. dan tanggungjawab yang telah ditentukan terlebih dahulu sebagaimana diatur dalam UU.4 Dinamika Politik dan Hukum dalam Kaitannya Dengan Hubungan Pusat Daerah dan Tujuan Pembangunan daerah Implikasi amandemen UUD 1945 dalam pemerintahan daerah yang sangat penting dan mendasar adalah keinginan untuk melakukan perubahan tata kelola pemerintahan daerah. 4.3. Desentralisasi dan demokrasi di daerah telah mendorong tumbuhnya pemerintahan lokal yang semakin terbuka. fenomena pergeseran pemerintah birokratis ke pemerintahan partai merupakah sebuah contoh hadirnya pemerintahan yang semakin terbuka yang memberikan kesempatan yang lebih besar bagi elemen-elemen masyarakat sipil (diluar birokrasi dan militer) untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan. yaitu besarnya distribusi keuangan di dasarkan oleh distribusi kewenangan. tetapi juga kepala daerah yang calonkan oleh partai politik maupun calon independen. tugas dan tanggungjawab masing-masing. sementara elemen-elemen yang lain dapat 114 .prinsip money follows function diterapkan. tugas. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dapat dikatakan memadukan model efisiensi struktural dan model demokrasi lokal. Akibatnya sejumlah politisi yang berbasis masyarakat hingga politisi karbitan dapat mempunyai akses menduduki jabatan politik (Kepala Daerah dan DPRD). oleh karenanya konflik yang terjadi di masyarakat makin bervariasi. Cerminan hubungan tersebut tercermin dalam aspek perencanaan dan penganggaran untuk semua aktivitas disetiap level pemerintahan sesuai dengan kewenangan. Dalam rangka menjalankan otonomi seluas-luasnya pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.

Dalam kaitannya dengan proses rekruitmen politik sebagai satu bentuk 5 Armen Yasir. Analisis Terhadap Pemilihan Umum Anggota Legislatif Tahun 2004 di Propinsi Lampung. kemudian mengumumkan hasilnya kepada publik serta meminta masukan kepada publik terhadap calon yang telah mendaftar tersebut. 115 . 32 Tahun 2004.NO. yaitu pasangan calon diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. sekali partai politik terbentuk oleh para pendukungnya. dan publik diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengetahuinya bagaimana proses demokrasi dan transparan yang dilasanakan oleh partai politik. hal 7.memperoleh akses masuk ke Komisi Pemilihan Umum sampai Dewan Perwakilan Daerah. sehingga bergaining posistion pimpinan dalam partai politik dan antar partai politik lebih menentukan. Jurnal Justisia Vol 12 NO. Robert Michel (dalam Armen Yasir)5 menyatakan bahwa. Sebagai suatu contoh proses rekuritmen kepala daerah yang ditentukan oleh UU. 2 Desember 2004. namun tidak membuka diri bagaimana proses penetapan calon dan mengapa calon tersebut diajukan dan ditetapkan dari partainya. apabila logika formal dipakai. Ini berarti partai politik harus sudah mengkader dan mempersiapkan kadernya untuk menjadi pemimpin. dan terkesan hanya memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. Proses yang dilakukan dengan membuka pendaftaran kepada calon perseorangan untuk mendaftarkan diri kepartainya baik untuk calon kepala daerah maupun wakil kepala daerah. maka secara perlahan ia akan jatuh ketangan segelintir orang (oligarki) dan cenderung pada apa yang disebut hukum besi oligarki. 2004. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Dibukanya kesempatan bagi calon perseorangan yang bukan kader partai politk untuk mendaftarkan diri ke partai politik dan akan diproses oleh partai politik secara demokratis dan transparan membawa konsekuensi bahwa partai politik harus memiliki aturan main yang terbuka. maka kader partai merupakan calon utama yang akan diajukan oleh partai politik untuk menjadi calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Selama ini proses demokrasi dan transparansi dalam pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah sejak berlakunya UU. di Propinsi Lampung yang dilakukan oleh partai politik atau gabungan partai politik sangat formal.NO.

yang lebih banyak menguntungkan pihak mereka. sedangkan calon kepala daerah berasal dari Birokrat. pelipatgandaan pajak dan retribusi daerah yang menjadi beban berat bagi masyarakat.partisipasi warga masyarakat terdapat suatu kecendrungan di mana elit partai politik kurang menyukai perluasan kesempatan politik. Selama ini dari pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah (6 kabupaten/Kota di Propinsi Lampung) yang sudah dilakukan. sering menimbulkan persoalan tersendiri bagi pengembangan demokrasi di daerah terutama dalam mendorong tumbuhnya kemitraan dan kerjasama yang terbuka antara pemerintah daerah dengan unsurunsur nonpemerintah (di berbagai daerah tumbuhnya kemitraan dan kerjasama yang terbuka yang mengarah kepada kesetaraan dan pembelajaran). sebab setiap perubahan dalam pola partisipasi dianggap sebagai suatu ancaman terhadap status quo politik. kader partai politik cendrung menduduki sebagai calon wakil kepala daerah. Bukan rahasia umum bahwa untuk menentukan rekruitmen politik sangat ditentukan pola oleh hubungan. desentralisasi dan demokrasi merupakan sumber baru petaka di daerah. Berbagai persoalan diatas. maraknya korupsi. oligharki elite yang jauh dari sentuhan rakyat yang menimbulkan sisi sinis masyarakat banyak yaitu reformasi. Penawaran terhadap kandidat dan tuntutan pencalonan akan berinteraksi yang menghasilkan out put para calon yang direkrut untuk menduduki kursi kepala daerah atau wakil kepala daerah. antara lain cendrung tidak menghendaki perluasan politik dalam pengambilan kebijakan daerah. Pensiunan TNI atau POLRI dan Pengusaha. Calon kepala daerah yang bukan berasal dari partai kemudian hari apabila terpilih akan masuk partai politik yang mencalonkannya atau memasuki partai politik yang akan dijadikan kendaraan untuk mencalon kembali untuk kedua kalinya Hadirnya pemerintahan partai ternyata menimbulkan sejumlah masalah bagi demokrasi di daerah. faksi dan finansial. Begitu juga prakarsa inovasi penyelenggaraan pemerintahan daerah kearah good fovernance 116 .

mengorganisir masyarakat. Akibat lebih jauh dari kondisi ini timbulnya problem baru yaitu distrust (rendahnya kepercayaan) antar elemen. Dari dari pengertian desentralisasi dan daerah otonom (Pasal 1 angka 5.NO. sehingga polarisasi idiologi dan kepentingan adalah sajian yang jauh lebih menonjol.dan reinventing government akan menjadi terhambat apabila pemerintah daerahnya sibuk hanya untuk memperkaya diri pribadi dan koloninya. menjadi struktur mediasi dan memfasilitasi partisipasi dan kemitraan antara pemerintah daerah dan masyarakat. walaupun kondisi ini tidak menghentikan gerakan demokratisasi namun harus dibayar dengan resiko kekerasan akibatnya gerakan civil society dewasa sekarang terseok-seok. Organisasi kemasyarakatan ini saling bekerjasama membangun jaringan untuk melakukan riset. 32 tahun 2004 berhubungan dengan hubungan kewenangan. 32 tahun 2004). Gerakan demokrasi yang didorong oleh aktor-aktor civil society harus berhadapan dengan praktik-praktik kekerasan yang dimainkan oleh elemen masyarakat yang lain. Di balik kemajuan dalam organisasi non pemerintah. masih terdapat elemen masyarakat bahkan partai politik merupakan bagian dari pemeliharaan status quo yang siap melumpuhkan elemen masyarakat yang menentang kebijakan pemerintah yang bermasalah atau korupsi di pemerintahan daerah dengan memainkan para preman bayaran. secara horizontal kemajemukan masyarakat menyajikan konflik ketimbang pluralisme dan kohesivitas.NO. mengelar advokasi untuk desentralisasi dan demokrasi. Dilihat dari subtansi pasal-pasal yang mengatur penyelenggaraan otonomi dan prakteknya cenderung hanya dilakukan 117 . dapat dengan mudah disaksikan sisi paradoksal. Hubungan kewenangan pusat dan daerah di Indonesia berdasarkan UU. Tumbuhnya organisasi kemasyarakatan yang sangat marak di setiap daerah membuat ruang publik semakin terbuka luas. 6 dan 7 UU. hubungan keuangan dan hubungan pengawasan dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan dekonsentrasi yang sekaligus berkaitan dengan hirarkhi pemerintahan. pada dasarnya menghendaki desentralisasi merupakan otonomi suatu masyarakat dalam wilayah tertentu batas-batasnya yang menjelma menjadi daerah otonom.

Akibat lebih lanjut cita otonomi daerah untuk lebih meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat mengalami kemerosotan. Dengan demikian konotasi partisipasi tidak hanya terbatas pada keterlibatan dalam pengambilan keputusan tapi juga keterlibatan dalam menikmati hasil-hasil pembangunan itu sendiri. Dalam Pasal 139 ayat (1) UU. sedangkan anggaran daerah yang sekarang sudah cukup memadai sebagian besar lebih pada untuk membiayai birokrat dan anggota DPRD. Pengaturan yang ditentukan pasal di atas juga lebih menekankan kepada peranan DPRD sebagai sentral pengemban misi menyuarakan aspirasi masyarakat. Kaburnya tali hubungan antara yang mewakili dengan yang diwakili. Pembangunan akan memberikan hasil yang optimal apabila memberikan manfaat terbesar bagi rakyat. Telah diyakini secara universal bahwa pembangunan akan lebih efektif dan efisien apabila didukung oleh partisipasi yang tinggi dari masyarakat. Kebanyakan anggota DPRD loyal kepada partainya atau pada dirinya sendiri. makna desentralisasi menjadi penyerahan wewenang pemerintahan dari pemerintah pusat (elit nasional) kepada pemerintah daerah (elit lokal).NO. keeratan hanya terjadi pada saat kampanye.oleh pemerintahan daerah. akibatnya keberadaan masyarakat yang berotonomi menjadi kabur maknaya lebih-lebih peran serta aktif dari masyarakat dalam setiap tahap penyelenggaraan otonomi kurang terakomodir. 32 Tahun 2004 terdapat subtansi pasal yang mengatur tentang peran serta masyarakat dalam penyiapan dan pembahasan rancangan peraturan daerah. hingga sekarang belum ada satu perdapun yang mengatur tentang partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Disisi lain dominasi birokrasi dalam menjalankan roda pemerintahan daerah baik karena kelebihan-kelebihan dalam pengalaman. kemampuan dan kewenangan telah menyebabkan wakil-wakil 118 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai kelemahan struktural dari lembaga DPRD membuat lembaga ini belum dapat melaksanakan fungsinya secara optimal. namun dirasakan sangat sumir sebab menurut penjelasan tersebut peran serta masyarakat dilaksanakan hanya berdasarkan peraturan tatatertib DPRD.

Pengaturan mengenai distribusi urusan ditentukan dalam Pasal 10 UU NO. dan jangkauan dampak yang timbul akibat penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. kondisi inipun berimplikasi terhadap cecks and balances tidak jalan. yaitu penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan luas. yustisi dan agama karena dipandang penting bagi keutuhan negara dan bangsa Indonesia. besaran. moneter. Ketentuan adanya urusan pemerintahan yang diselenggarakan oleh gubernur selaku wakil pemerintah dan ditugasbantukan kepada daerah otonom atau desa menimbulkan persoalan tersendiri.rakyat dalam posisi bargaining position dengan eksekutif. yaitu penaggungjawab penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ditentukan berdasarkan kedekatannya dengan luas. yaitu urusan pemerintahan yang tidak dapat didesentralisasikan yang meliputi politik luar negeri. karena akan sulit membedakan mana posisi sebagai wakil pemerintah dengan kepala daerah begitupun dalam melaksanakan tugas otonomi dan tugas pembantuan. pertahanan keamanan. yaitu urusan pemerintahan diluar kelompok urusan pemerintahan yang pertama. Selanjutnya dalam UU ini dinyatakan 119 . Dilihat dari dasar pendistribusian di dasarkan ketentuan Pasal 11 yang mengacu kepada kriteria eksternalitas. dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan. fiskal nasional. 32 tahun 2004. besaran. maka sudah selayaknya tugas tersebut didesentralisasikan kepada daerah otonom. yaitu penyelenggara suatu urusan pemerintah ditentukan berdasarkan perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh. Kriteria akuntabelitas. oleh karennya apabila dilihat dari ketentuan tugas gubernur dan hal-hal yang ditugasbantukan kepada daerah otonom atau desa. dan terakhir berdasarkan kriteria efisiensi. Kelompok lain adalah urusan pemerintahan yang diselenggarakan menurut asas sentralisasi. Terdapat urusan pemerintahan yang dapat didesentralisasikan. dekonsentrasi kepada wakil pemerintah (gubernur) dan instrasi vertikal di daerah dan tugas pembantuan kepada daerah otonom dan desa.

Hasil evaluasi peraturan daerah yang dilakukan pemerintah pusat terhadap peraturan daerah yang telah ditetapkan daerah berhubungan erat dengan kapasitas dan political will pemerintah daerah.urusan pemerintahan yang didesentralisasikan dapat bersifat wajib dan dapat pula bersifat pilihan (lihat Pasal 13 dan Pasal 14 UU. Rendahnya kualitas perda disebabkan minimnya partisipasi masyarakat dalam 120 . aspek lain dapat juga dilihat dari pemberian laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah oleh kepala daerah kepada pemerintah secara bertingkat serta dalam hal pengangkatan Sekretaris Daerah. implikasi lebih luas dapat terjadi tumpang tindih pengaturan suatu urusan dalam suatu propinsi. Apabila dilihat dari kualitas dan manfaat peraturan daerah yang dibatalkan oleh pemerintah pusat. Sebagian tersebesar pengaturan dalam peraturn daerah adalah pungutan untuk mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD). namun demikian walaupun terdapat susunan daerah otonom. namun tidak terdapat satu pasalpun yang menyatakan peraturan daerah propinsi berkedudukan lebih tinggi dari pada peraturan daerah kabupaten/kota. Nampak bahwa distribusi urusan pemerintahan bagi pemerintah. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan). dapat dikatakan bahwa kualitas peraturn daerah tersebut rendah dan memberatkan beban ekonomi masyarakat.NO. 32 tahun 2004).NO. dalam praktek penentuan kriteria yang tidak berdasarkan kondisi riil daerah menimbulkan konflik antara propinsi dan kabupaten/kota dalam menyelenggarakan urusan wajibnya. Berdasarkan ketentuan di atas. sehingga terjadinya pengingkaran terhadap segala bentuk kendali dan kontrol pemerintah yang diatur dalam kerangka hukum disisi lain terjadi penampikan terhadap bentuk peraturan kebijakan yang harus dipatuhi seperti peraturan menteri (kondisi ini akibat juga dari tidak tegasnya pengaturan Kedudukan Peraturan Menteri dan atau peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat selain yang ditentukan oleh Pasal 7 UU. Pada dasarnya daerah otonom tersusun secara hirarkhis yang dapat dilihat dari aspek pelaksanaan tugas pembantuan dari propinsi kepada kabupaten/kota dan desa serta oleh kabupaten/kota kepada desa. propinsi dan kabupaten/kota dipetakan secara rinci menurut ketiga kriteria di atas.

d. b. Perimbangan keuangan daerah tidak akan efektif dan efisien sepanjang belum diupayakan adanya reaktualisasi otonomi daerah dan pembuatan standarstandar pembiayaan untuk pelaksanaan urusan otonomi tersebut. Terdapat peraturan daerah yang dianggap bertentangan dengan peraturan perundangundangan nasional. e. TIFA.proses penyusunan. Berdasarkan pendapat Made Suwandi6. hal 278-279. Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah. Secara empirik pendekatan perimbangan keuangan yang lebih memberikan dominasi pusat untuk menguasai sumber-sumber keuangan lukratif telah mengakibatkan terjadinya bias of allocation dengan memberikan akses pendanaan yang lebih besar kepada departemen-departemen pusat dan kanwil serta kandepnya di daerah untuk melakukan pembangunan. Secara empirik sistem perimbangan keuangan selama ini lebih bertumpu pada subsidi. Simanjuntak. Penggunaan sistem grant dalam perimbangan keuangan pusat dan daerah menimbulkan kekurangan kemandirian daerah yang menyebabkan daerah 6 Made Suwandi dalam Robert A. Pasang Surut Otonomi Daerah Sketsa Perjalanan 100 tahun. atau minimnya implementasi prinsip transparansi dan akuntabelitas dalam penyusunan dan pelaksanaan peraturan daerah. Konsekuensi dari kondisi seperti ini pembangunan daerahpun menjadi sangat tergantung pada Pemerintah Pusat. c. 2005. Rendahnya sumber-sumber keuangan lukratif telah menyebabkan ketergantungan keuangan yang tinggi pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. melihat persoalan keuangan pusatdaerah di Propinsi Lampung terdapat permasalahan permasalahan keuangan daerah antara lain berhubungan dengan : a. 121 . Salah satu fenomena yang sangat menonjol pola hubungan keuangan pusat dan daerah adalah ketergantungan keuangan daerah yang sangat tinggi terhadap pemerintah pusat secara umum kondisi ini tercipta karena adanya ketimpangan fiskal disisi lain kesulitan daerah dalam penentuan kebutuhan keuangan merupakan persoalan tersendiri.

NO. bahkan berpotensi memperbesar kesenjangan tersebut dengan semakin mengencilnya peran dan anggaran pusat untuk memprioritaskan pembangunan di daerah-daerah tertinggal. sedangkan urusan rumah tangga bersifat pelayanan yang banyak menyerap anggaran dari pada menghasilkan uang. Apabila dikaitkan sistem otonomi yang diterapkan UU. utamanya daerah tertinggal. disisi lain kebutuhan pelayanan semakin meningkat baik mutu maupun jenisnya yang merupkana implikasi dari kemajuan masyarakat itu sendiri. Dari pendapat di atas. akibat lebih lanjut terbatasnya kemampuan alokasi anggaran pemerintah daerah untuk pelayanan dasar dan peningkatan akses ekonomi masyarakat. kecuali secara kategoris ditetapkan sebagai urusan pemerintah pusat.NO. Salah satu tujuan pelaksanaan desentralisasi adalah tujuan ekonomis dan administratif.kurang kreatif dan inovatif dalam menggali sumber-sumber keuangan daerah yang tidak membebankan keuangan masyarakat daerahnya. daerah melakukan perjuangan dan bahkan harus menuntut hak daerah untuk mendapatkan anggarannya dengan menyiapkan berbagai pelumas untuk memperoleh perimbangan keuangannya itu. Demikian juga dengan maraknya pembentukan daerah-daerah otonom baru (pemekaran) yang membebani keuangan negara dan daerah lebih memperkecil kemampuan fiskal pemerintah untuk didistribusikan ke daerah. sedangkan urusan yang dilakukan pemerintah pusat lebih besar sehingga memerlukan anggaran yang besar pula. 32 tahun 2004 yang lebih meletakkan prinsif semua fungsi pemerintah adalah urusan rumah tangga daerah. Tujuan ini menitik beratkan pada pemikiran bahwa keberadaan Pemerintah Daerah akan dapat membantu Pemerintah Pusat dalam memeratakan 122 . maka disain perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah berdasarkan UU. 33 tahun 2004 belum mampu memperkecil kesenjangan antar daerah. dapat dapat diprediksi bahwa kesulitan bagi setiap daerah yang benar-benar mampu membelanjai secara penuh rumah tangganya. Tidak heran bila setiap tahun untuk menjamin perolehan anggaran yang cukup wajar.

Untuk memacu pembangunan daerah. antara Pemerintah Propinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. 18 A dan Pasal 18 B UUD 1945. seperti hirarkhi atasan yang menciptakan ketergantungan daerah yang berhubungan dengan memacu kewenangan. masih terdapat kelemahan dari sumber daya manusia. berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak terciptanya siatuasi kondisif bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pembangunan. Perubahan UUD 1945 mengganti secara menyeluruh ketentuan pasal 18 dan penjelasannya. pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. pertentangan politik dan manajemen yang kurang baik. maka dibutuhkan situasi kondusif yang akan memungkinkan daerah untuk berperan secara optimal dalam pembangunan. yaitu antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Propinsi. Pola hubungan ini merupakan penyelenggaraan desentralisasi yang diatualisasikan dengan keberadaan local self goverment. Dari berbagai analisis sebelumnya dapat dikatakan bahwa sistem dan praktek otonomi sekarang belum menciptakan situasi yang favaorauble untuk meningkatkan kinerja pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan daerah. mengefektifkan perencanaan pembangunan dan sebagainya. Berdasarkan ketentuan pasal-pasal ini. sumber dana. meningkatkan efisiensi pelayanan. Prinsip ini menunjukkan terdapat pola hubungan kekuasaan antar organisasi. termasuk di dalamnya pembangunan politik dalam usaha pengembangan dan penerapan demokrasi di daerah. sedangkan pola hubungan kekuasaan intra organisasi juga tercermin dari hubungan instansi pusat departemen atau lembaga 123 . antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. hal ini disebabkan faktor eksternal pemerintahan daerah. UUD 1945 Perubahan mengatur Pemerintahan Daerah Dalam Bab VI Di bawah Judul Pemerintah Daerah. yang dalam kaitannya dengan hubungan kekuasaan pusat dan daerah ditentukan Pasal 18. mendekatkan pemerintah dengan masyarakat. terdapat prinsip bahwa hubungan antara Pemerintah Pusat dan daerah bersifat hirarkhi dan vertikal. sehingga tercermin delegasi wewenang kepada daerah membutuhkan pertanggungjawaban.pembangunan. sedangkan faktor internal pemerintah daerah.

Berdasarkan pemikiran demikian. Dilihat dari hubungan keuangan pusat dan daerah UUD 1945 telah menegaskan harus dilaksanakan secara selaras dan adil: Ketentuan ini menunjukkan bahwa daerah berhak memperoleh secara wajar dan adil segala sumberdaya untuk mewujudkan pemerintahan daerah yang mandiri dan kesejahteraan masyarakat daerah yang bersangkutan. Otonomi untuk daerah pertanian tentunya akan berbeda di daerah industri atau di daerah pantai. Dari sudut demokrasi (secara normatif). Berdasarkan uraian di atas nampaklah bahwa cita-cita otonomi daerah bukan sekedar tuntutan efisiensi dan efektivitas pemerintahan. Hak dari setiap daerah untuk mendapatkan bagian yang seimbang dari hasil-hasil daerah serta memperoleh manfaat dari segala pemanfaatan sumberdaya daerah yang bersangkutan. atau di daerah pedalaman yang masih sangat kuat dipengaruhi adat budaya lokalnya dan lain sebaginya.pemerintah non departemen dengan organisasi (instansi) vertikalnnya di daerah. karena sangat ditentukan oleh berbagai kondisi yang ada dimasing-masing daerah. UUD 1945 juga mengatur Prinsip hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah didasarkan kepada kekhususan dan keragaman daerah: Kekhususan daerah disini adalah keistimewaan yang terdapat dimasing-masing daerah. sedangkan keragaman daerah dimaksudkan bahwa antar daerah yang satu dengan daerah lainnya masing-masing berbeda satu sama lainnya. Dari segi materil otonomi daerah mengandung makna sebagai usaha mewujudkan kesejahteraan yang bersandingan dengan prinsip 124 . melainkan sebagai tuntutan konstitusional yang berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum. Pola hubungan ini merupakan penyelengaraan dekonsentrasi. maka bentuk dan isi otonomi daerah tidak harus seragam. karena itu pengaturan tentang hubunngan keuangan pusat dan daerah harus dipertegas dan diperjelas dalam peraturan perundang-undangan. otonomi daerah diperlukan dalam rangka memperluas partisipasi masyarakat dalam pemerintahan.

Analisis kebutuhan keuangan pemerintah daerah. disisi lain perlu ditingkatkan proporsi DAK dari total penghasilan bersih negara.negara kesejahteraan dan sistem pemencaran kekuasaan menurut dasar negara berdasarkan atas hukum7. penguatan potensi peningkatan pendapatan terutama daerahdaerah tertinggail berdasarkan analisis biaya dan manfaat untuk keseluruhan wilayah Indonesia. 4. untuk itu perlu dikaji ulang mekanisme penyusunan anggaran untuk menghilangkan hambatan sistem dan proses penanggaran daerah bauk menyangkut produk hukum nasional maupun daerah yang memberikan keleluasaan otonomi daerah dalam rambu-rambu good governance. Pemerintah Pusat dapat menerapkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja keuangan daerah yang dilengkapi 7 Bagir Manan. pemerintah pusat juga dapat meningkatkan porsentase alokasi anggaran tiap institusi pemerintah dengan mengarahkan programnya untuk daerah-daerah tertinggal. 2001. Urusan-urusan yang dapat menjadi sumber keuangan secara bertahap harus diserahkan kepada daerah untuk dikelola. 1. 3. Menyosong Pajar Otonomi Daerah. termasuk pusatpusat ekonomi. maka terdapat beberapa rencana tindak yang harus dilakukan yaitu. Dalam rangka efektifitas anggaran perlu ada keseimbangan antara diskresi pemerintah daerah untuk mengatur pemerintahan otonomnya dan control pemerintah untuk menjaga kepentingan nasional. 2. Kebijakan sektoral meski memiliki sensitivitas untuk mendukung daerah dalam menciptakan pusat-pusat baru kewilayahan. pertama daerah diberikan sumber-sumber pajak yang lukratif termasuk bagi hasil pajak yang biasanya menjadi pajak pusat. Dari berbagai dinamika politik dan hukum di daerah sebagaimana digambarkan terdahulu dikaitkan konstruksi dasar hubungan pusat dan daerah sebagaimana ditentukan oleh UUD 1945. Peningkatan diskresi keuangan Pemerintah daerah. sedangkan urusan-urusan pelayanan umum dan berorientasi sosial dapat menjadi urusan pemerintah pusat. hal 58-59. 125 . Melalui kegijaksanaan sektoral. Pusat Studi Hukum Fakultas Hukum UII.

efisiensi). 7. Peningkatan akuntabilitas pemerintah daerah dalam anggaran terutama dilihat dari ketaat asas anggaran. Penguatan pengawasan atas implementasi prinsif pendekatan partisipatoris yang telah dipersyaratkan dalam UU. Alokasi anggara lebih sering berdasarkan pada besarnya anggara daerah tahun sebelumnya dan besarnya bantuan proyek luar neger yang akan diterima pada tahun yang bersangkutan. yang mengakibatkan daerah semakin mengandalkan bantuan dari pusat untuk pemenuhan anggaran rutin dan pembangunannya. penggelolaan. Berbagai terjadi di daerah dimana penyusunan anggaran pembangunan daerah sering tidak memperhatikan kebutuhan riil. 5. 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. 8. Perlu adanya kebijakan fiskal yang proporsional mengingat kebijakan fiskal dewasa sekarang masih belum mendukung peningkatan kemampuan daerah dalam menggali sumber-sumber pendapatansendiri. ekonomis dan membantu mengurangi kesenjangan antar daerah. pelanggaran terhadap ini harus dilakukan tindakan represif yang bersifat punishment oleh pemerintah pusat. perlu penegasan dan pengaturan bahwa pemerintah mepunyai kewenangan 126 (transparansi. efektifitas. disisi lain perlu pedoman pemerintah pusat dalam menilai peraturan derah yang dapat diterbitkan melalui proses Regulatory Impact Analysis yang berbasis cost and benefit analysis dan prinsif-prinsif good governance akuntabilitas. partisipatif. Dibidang pengawasan peraturan perundang-undangan daerah.NO. 6. . Pemerintah daerah sering kurang menggunakan pertimbangan strategis sehingga alokasi anggara daerah benar-benar efisien.dengan mekanisme reward dan punisbment bagi pemerintah daerah dalam hal fiskal. dan memanfaatkan secdara optimal kondisi ekonomi dan potensi daerah sebagai bahan pertimbangan utama. pembelanjaan harus dilakukan secara bertanggungjawab. Otoritas dan inisiatif daerah dalam hal pengelolaan sumber-sumber keuangan masih terbatas. akibat lebih lanjut alokasi anggara saat ini cendrung mendorong daerah-daerah yang telah memiliki tingkat pembangunan ekonomi yang manju semakin maju dan yang terbelakang menjadi semakin tertinggal di belakang.

diwajibkan adanya staf ahli secara permanen agar. dilihat dari berbagai kepentingan antar daerah. 12. inefisiensi anggaran. Peningkatan kapasitas DPRD harus dilakukan secara kelembagaan. Dari berbagai alternatif analisis di atas. 9. menyempitnya skala ekonomi akibat sekat administratif pemerintahan. lembaga DPRD benar-benar menjadi mitra seimbang dengan pemerintah daerah dalam perumusan berbagai kebijakan strategis 11. 32 tahun 2004 perlu mendapat prioritas. Dalam rangka memperkuat daerah pemekaran perlu dilakukan melalui berbagai program pemerintah pusat melalui peningkatan kapasitas dan dukungan anggaran. perlu pernegasan pencantuman ditingkat konstitusi bahwa peluang kandidat perseorangan dijamin oleh konstitusi. tata ruang wilayah. pengawasan dan keuangan.pembatalan peraturan daerah dan masyarakat dapat mengajukan judicial review. pengelolaan sumber daya alam dapat diatas melalui kerjasama antar daerah.NO. 10. mengingat pengakuat calon independen dalam UU dapat dengan mudah berubah dan keliru dalam penafsiran dipilih secara demokratis dikemudian hari. begitu juga kerja sama antar daerah seperti yang dimandatkan UU. Secara nasional diperlukan UU yang mengatur ketentuan penguatan kapasitas kelembagaan DPRD. maka kecendrungan sistem pemerintah tidak berjalan. Perimbangan kewenangan pusat-daerah harus mencerminkan adanya check and balances pusat terhadap daerah. sisi lain perlu diperketat persyaratan dan mekanisme pemekaran daerah. sudah saatnya memperkuat DPD sebagai lembaga perwakilan rakyat yang mewakili kepentingan daerah memiliki kewenangan di bidang legislasi. sebab kewenangan DPRD tersebut berhubungan dengan kepentingan darah yang 127 . Dilihat dari aspek politik dalam proses pemilihan kepala daerah yang ditentukan oleh UUD 1945 yang dipilih secara demokratis. apabila pemerintah pusat tidak mampu mengawasi prilaku daerah. Kewenangan DPD tidak akan mengurangi kewenangan DPR dan Presiden dalam membentu UU.

Kewenangan legislasi dan pengawasan merupakan kunci dan ujung tombak masuknya kepentingan daerah dalam peraturan perundang-undangan yang di dalamnya termasuk materi muatan daerah. sedangkan dari sisi keuangan dapat dilakukan kontrol penyeimbangan keuangan pusat-daerah. 128 .wajib diperhatikan dan diperjuangkan terutama hak-hak daerah serta perlidungan terhadap wilayah daerah.

fungsi pengawasan yang tidak efektif. memberikan kewenangan kepada pemda untuk mengurus dan mengelola pemerintahannya berdasarkan aspirasi dan kepentingan daerah dengan tetap mengacu pada garis kebijakan yang ditentukan oleh Pemerintah Pusat.22/1999 dan UU No. implementasi kebijakan yang terbatas.BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. minimnya keterbatasan anggaran. tidak berorientasi pada pemecahan masalah. • Pelaksanaan Otonomi Daerah berdasarkan UU No. • Walaupun terdapat perubahan mendasar dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. dan homogenitas regulasi.32/2004 terjadi perubahan yang mendasar dari era sebelumnya yaitu UU No.32/2004 merupakan model jalan tengah. keteraturan hubungan kewenangan. Model ini dinilai sebagai model yang sesuai untuk menggabungkan penyelenggaraan pemerintah antara kepentingan. keutuhan NKRI. tertib dan stabilitas pemerintahan yang terjaga.5/1974 yang sudah berlangsung lebih 30 tahun lamanya. Perubahan mendasar tersebut menyangkut terjadinya pergeseran dari model pemerintahan yang sentralistis ke model pemerintahan desentralistis yang lebih bermakna. • Model ini menghasilkan model otonomi yang cenderung menghambat implementasi kebijakan. menimbulkan penyelenggaraan pemerintahan yang masih berpegang pada model hirarkis. namun masih muncul beberapa persoalan yang bersumber 129 .1 Kesimpulan • Dalam pelaksanaan otonomi daerah di Provinsi Lampung dan 10 Kabupaten/Kota pada periode UU No. dan terbatasnya kemandirian daerah. aspirasi daerah dan dengan demokratisasi kepentingan konsekuensi pemerintahan Model pusat. kontrol dari pemerintah. di ini. Model pemerintahan daerah berdasarkan ke dua UU tersebut.

dari hasil penelitian masih diperlukan. masih terbukanya peluang korupsi. hubungan kerja Prov dan Kabupaten/Kota masih belum sinergi . Argumen Umum diterimanya UU No. Pemda di Lampung lebih condong menerima UU No.masih belum efektifnya penyelenggaraan pemerintahan.32/2004. kepentingan daerah masih belum bisa diakomodasi secara menyeluruh berdasarkan regulasi yang berlaku sekarang ini. d) Namun. c) Kepentingan Daerah dalam perspektif adanya jaminan tertib dan stabilitas pemerintahan difahami dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan sebagai salah satu ukuran untuk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan daerah. dari sisi kemandirian daerah.22/1999 b) Kedudukan dan kewenangan DPRD tidak dominatif dalam proses penyelenggaraan pemerintahan. isu kemiskinan masih belum teratasi. serta keberlangsungan pemerintahan bisa dilaksanakan secara efektif.22/1999 dalam menyelenggarakan pemerintahan.Melalui pengawasan yang dilakukan model ini koordinasi dan Provinsi terhadap pemerintah Pemerintah Kabupaten/Kota dinilai jauh lebih baik dibandingankan dengan UU No. antarlain : a) Hubungan Pemerintah Prov dengan Kabupaten/kota tidak bersifat hirakis telah mengembalikan model pemerintahan yang relative terintegrasi dan harmonis antara pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. ternyata baik di tingkat Provinsi maupun di Kabupaten/Kota. 130 . Sejumlah persoalan mendasar tersebut yaitu fungsi pengawasan yang dilakukan DPRD masih belum efektif. terjadi pemborosan anggaran. konflik sebagai akibat imbas pilkada. sehingga jaminan terhadap terjaganya tertib dan stabilitas pemerintahan.32 Tahun 2004 daripada UU No. pelayanan publik masih belum memuaskan masyarakat. • Intervensi atau Campur tangan Pusat kepada Daerah atau Campur tangan Provinsi Ke Kabupaten/Kota. • Dari hasil temuan penelitian di lapangan. dsb.

menghindari penyimpangan yang dilakukan oleh Daerah. implementasi kebijakan pemerintah. bisa diterima sebagai jalan tengah untuk mengakomodasi kepentingan daerah dan pusat. Sebagai akibat perbedaaan kepentingan dan kebijakan kabupaten/kota dengan provinsi. pemerataan pembangunan.sepanjang intervensi itu difahami dalam menjaga keutuhan NKRI. proses demokratisasi pemerintahan. namun dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan masih dijumpai problem implementasi baik dari segi pelaksanaan kewenangan. agar tidak muncul raja-raja kecil. sistem administrasi kepegawaian. muncul inkonsistensi kebijakan antara pemerintah Propinsi dengan pemerintah Kabupaten/Kota. hubungan Provinsi dan kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pemerintahan. hal ini disebabkan faktor eksternal pemerintahan daerah. yang seringkali menimbulkan disharmonisasi komunikasi juga berdampak pada masyarakat banyak. • Kendati UU No. seperti hirarkhi atasan yang menciptakan ketergantungan daerah yang berhubungan dengan kewenangan. dan implementasi kebijakan di Daerah.32 Tahun 2004. dan sistem administrasi keuangan daerah. untuk pembinaan karier pegawai daerah. dan agar perda tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang lebih atas. menyelesaikan konflik/perselisihan antar daerah. Namun. menjaga keutuhan NKRI. untuk mensikronkan pembangunan. berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak memacu terciptanya siatuasi 131 . • Sistem dan praktek otonomi sekarang belum menciptakan situasi yang favaorauble untuk meningkatkan kinerja pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan daerah. intervensi harus dihindari untuk kepentingan membatasi pengembangan kemandirian daerah. Di dalam realitas penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih masih muncul kebijakan yang bertentangan antara pemerintah Provinsi dengan pemerintahan Kabupaten/Kota. untuk kepentingan pengawasan.

sedangkan faktor internal pemerintah daerah. melainkan sebagai tuntutan konstitusional yang berkaitan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum. masih terdapat kelemahan dari sumber daya manusia. Dari segi materil otonomi daerah mengandung makna sebagai usaha mewujudkan kesejahteraan yang bersandingan dengan prinsip negara kesejahteraan dan sistem pemencaran kekuasaan menurut dasar negara berdasarkan atas hukum. pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. mengingat pengakuat calon independen dalam UU dapat dengan mudah berubah dan keliru dalam penafsiran dipilih secara demokratis dikemudian hari. perlu penegasan pencantuman ditingkat konstitusi bahwa peluang kandidat perseorangan dijamin oleh konstitusi.2 Rekomendasi Untuk menjawab terhadap persoalan otonomi daerah tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota diajukan beberapa rekomendasi sebagai model alternatif untuk pengembangan pelaksanaan otonomi daerah ke depan dan sebagai bahan masukan untuk revisi UU No. otonomi daerah diperlukan dalam rangka memperluas partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. • Perlu adanya kebijakan fiskal yang proporsional mengingat kebijakan fiskal dewasa sekarang masih belum mendukung peningkatan kemampuan daerah dalam menggali sumber-sumber pendapatansendiri • Dalam rangka efektifitas anggaran perlu ada keseimbangan antara diskresi pemerintah daerah untuk mengatur pemerintahan otonomnya dan control pemerintah untuk menjaga kepentingan nasional.32 tahun 2004. sebagai berikut : • Esensi pelaksanaan otonomi daerah bukan sekedar tuntutan efisiensi dan efektivitas pemerintahan. sumber dana. pertentangan politik dan manajemen yang kurang baik. Dari sudut demokrasi (secara normatif). Proses pemilihan kepala daerah yang ditentukan oleh UUD 1945 yang dipilih secara demokratis. untuk itu perlu dikaji 132 .kondisif bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pembangunan. 5.

maka kecendrungan sistem pemerintah tidak berjalan 133 .ulang mekanisme penyusunan anggaran untuk menghilangkan hambatan sistem dan proses penganggaran daerah bauk menyangkut produk hukum nasional maupun daerah yang memberikan keleluasaan otonomi daerah dalam rambu-rambu good governance. kewenangan yang disesuaikan dengan kemampuan daerah. kejelasan fungsi kewenangan antara Pusat. Melalui kegijaksanaan sektoral. Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan model penguatan sistem check and balances • Peningkatan kapasitas DPRD harus dilakukan secara kelembagaan. lembaga DPRD benar-benar menjadi mitra seimbang dengan pemerintah daerah dalam perumusan berbagai kebijakan strategis • Perimbangan kewenangan pusat-daerah harus mencerminkan adanya check and balances pusat terhadap daerah. keseimbangan kapasitas kewenangan dengan daya dukung sumbur pembiayaan. pemerintah pusat juga dapat meningkatkan porsentase alokasi anggaran tiap institusi pemerintah dengan mengarahkan programnya untuk daerahdaerah tertinggal. diwajibkan adanya staf ahli secara permanen agar. Secara nasional diperlukan UU yang mengatur ketentuan penguatan kapasitas kelembagaan DPRD. apabila pemerintah pusat tidak mampu mengawasi prilaku daerah. • Peningkatan diskresi keuangan Pemerintah daerah. Model ini dicirikan dengan penyeragaman regulasi yang terbatas. • Model Otonomi Daerah yang diajukan dari hasil penenelitian ini adalah model otonomi yang berorientasi pada pengurangan derajat ketergantungan pada pemerintah pusat. disisi lain perlu ditingkatkan proporsi DAK dari total penghasilan bersih negara. pertama daerah diberikan sumber-sumber pajak yang lukratif termasuk bagi hasil pajak yang biasanya menjadi pajak pusat. Pemerintah Pusat dapat menerapkan sistem monitoring dan evaluasi kinerja keuangan daerah yang dilengkapi dengan mekanisme reward dan punishment bagi pemerintah daerah dalam hal fiskal.

perlu penegasan dan pengaturan bahwa pemerintah mepunyai kewenangan pembatalan peraturan daerah dan masyarakat dapat mengajukan judicial review. 134 .• Di bidang pengawasan peraturan perundang-undangan daerah.

Hidayat. 2002. Jakarta. Jakarta. Andi. 2005. Makalah Disampaikan dalam “Lokakarya tentang Peraturan Daerah dan Budget Bagi Anggota DPRD se-Propinsi (baru) Banten” yang diselenggarakan oleh Institute for the Advancement of Strategies and Sciences (IASS). Hidayat. 1988. Masa Depan Cooper et. Pustaka Quantum. Lampung Post. 1990. Ramses.P (ed) 1987. Methode For Policy Research. Arif. Tarsito..A. Metode penelitian Naturalistik Kualitatif. Jakarta. Banten. Jurnal Ilmu Pemerintahan. Public Administration for the Twenwty-First Century. Otonomi Daerah Dan Parlemen Di Daerah. Government Decentralization in Comparartive Perspective : Theory and Practice in Developing Countries. Jimly. S. XLVII No. 1998. Otonomi Daerah. Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia. Rondinelli. International Review of Administrative Sciences Vo. Beverly Hills. JICA. SIC. Syarif. Format Baru Otonomi Daerah. 2005. Exploring Indonesia Local State-Elites Orientation Towards Local Autonomy. 2000. Naoetion. D. PT Remaja Majchrzak. 135 . Local Government in The Third World : The Experience of Tropical Africa.M. 1981. Abdul Wahab. Lexy J. 2002. Chicheser: John Wiley & Sons. 2000. UU NO. 1981.DAFTAR PUSTAKA Asshiddiqie. Bandung. Mahwood.32 Tahun 2004 : Antara Tertib Pemerintahan dan Demokratisasi Terbatas. 2 Oktober 2000. 2002. Ann. Saiful. Makhya. London. Surabaya. Sage Publication. Syarief. Syarif. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. di Anyer. Edisi 11 Tahun 2000. Putra. Rosdakarya. Solichin.al. Moeleong. Makna dan Implikasinya terhadap Pemerintahan Daerah. London : Harcourt Brace College Publisher. Fadilah. Refleksi Realitas Otonomi Daerah.2.

Decentralization : The Territorial Dimension of The State. 1998.Smith. London : George Allen & Unwin.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat-dan Pemerintahan Daerah 136 . Bandung UU No. 1986. B. Alfabeta. Sugiyono.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah UU No.C.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah UU No. Metode Penelitian Administrasi.

137 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->