Modul Kebijakan dan Pemantapan Praktek Akuntabilitas Dalam Sektor Publik

Diklat Teknis Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(Accountability Of Government Institutional Performance)

Eselon II

SAMBUTAN DEPUTI BIDANG PEMBINAAN DIKLAT APARATUR LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA

Selaku Instansi Pembina Diklat PNS, Lembaga Administrasi Negara senantiasa melakukan penyempurnaan berbagai produk kebijakan Diklat yang telah dikeluarkan sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Diklat Jabatan PNS. Wujud pembinaan yang dilakukan di bidang diklat aparatur ini adalah penyusunan pedoman diklat, bimbingan dalam pengembangan kurikulum diklat, bimbingan dalam penyelenggaraan diklat, standarisasi, akreditasi Diklat dan Widyaiswara, pengembangan sistem informasi Diklat, pengawasan terhadap program dan penyelenggaraan Diklat, pemberian bantuan teknis melalui perkonsultasian, bimbingan di tempat kerja, kerjasama dalam pengembangan, penyelenggaraan dan evaluasi Diklat. Sejalan dengan hal tersebut, melalui kerjasama dengan Departemen Dalam Negeri yang didukung program peningkatan kapasitas berkelanjutan (SCBDP), telah disusun berbagai kebijakan guna lebih memberdayakan daerah seperti peningkatan kapasitas institusi, pengelolaan dan peningkatan SDM melalui penyelenggaraan Diklat teknis, pengembangan sistem keuangan, perencanaan berkelanjutan dan sebagainya. Dalam hal kegiatan penyusunan kurikulum diklat teknis dan modul diklatnya melalui program SCBDP telah disusun sebanyak 24 (dua puluh empat) modul jenis diklat yang didasarkan kepada prinsip competency based training. Penyusunan kurikulum dan modul diklat ini telah melewati proses yang cukup panjang melalui dari penelaahan data dan informasi awal yang diambil dari berbagai sumber seperti Capacity Building Action Plan (CBAP) daerah yang menjadi percontohan kegiatan SCBDP, berbagai publikasi dari berbagai media, bahan training yang telah dikembangkan baik oleh lembaga donor, perguruan tinggi, NGO maupun saran dan masukan dari berbagai pakar dan tenaga ahli dari berbagai bidang dan disiplin ilmu, khususnya yang tergabung dalam anggota Technical Review Panel (TRP). Disamping itu untuk lebih memantapkan kurikulum dan modul diklat ini telah pula dilakukan lokakarya dan uji coba/pilot testing yang dihadiri oleh para pejabat daerah maupun para calon fasilitator/trainer. Dengan proses penyusunan kurukulum yang cukup panjang ini kami percaya bahwa kurikulum, modul diklatnya berikut Panduan Fasilitator serta Pedoman Umum Diklat Teknis ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pelatihan di daerah masing-masing.

i

Harapan kami melalui prosedur pembelajaran dengan menggunakan modul diklat ini dan dibimbing oleh tenaga fasilitator yang berpengalaman dan bersertifikat dari lembaga Diklat yang terakreditasi para peserta yang merupakan para pejabat di daerah akan merasakan manfaat langsung dari diklat yang diikutinya serta pada gilirannya nanti mereka dapat menunaikan tugas dengan lebih baik lagi, lebih efektif dan efisien dalam mengelola berbagai sumber daya di daerahnya masing-masing. Penyempurnaan selalu diperlukan mengingat dinamika yang sedemikian cepat dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Dengan dilakukannya evaluasi dan saran membangun dari berbagai pihak tentunya akan lebih menyempurnakan modul dalam program peningkatan kapasitas daerah secara berkelanjutan. Semoga dengan adanya modul atau bahan pelatihan ini tujuan kebijakan nasional utamanya tentang pemberian layanan yang lebih baik kepada masyarakat dapat terwujud secara nyata.

ii

salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan otonomi daerah adalah kapasitas atau kemampuan daerah dalam berbagai bidang yang relevan. pada tahun 2002 Pemerintah telah menetapkan Kerangka Nasional Pengembangan dan Peningkatan Kapasitas Dalam Mendukung Desentralisasi melalui Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. bersifat demand driven yaitu berorientasi pada kebutuhan masing-masing daerah. menengah. dengan Direktorat Jenderal Otonomi Daerah sebagai Lembaga Pelaksana (Executing Agency) telah menginisiasi program peningkatan kapasitas melalui Proyek Peningkatan Kapasitas yang Berkelanjutan untuk Desentralisasi (Sustainable Capacity Building Project for Decentralization/ SCBD Project) bagi 37 daerah di 10 Provinsi dengan pembiayaan bersama dari Pemerintah Belanda. yang kemudian diganti dengan UU Nomor 32 Tahun 2004. dan pendek. telah terjadi perubahan paradigma dalam pemerintahan daerah. iii . dan dari Pemerintah RI sendiri melalui Departemen Dalam Negeri dan kontribusi masing-masing daerah. yang semula lebih berorientasi sentralistik menjadi desentralistik dan menjalankan otonomi seluas-luasnya. Proyek SCBD ini secara umum memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas Pemerintah Daerah dalam aspek sistem.KATA PENGANTAR DIREKTUR JENDERAL OTONOMI DAERAH Setelah diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. dan individu. dan meningkatkan daya saing daerah. kelembagaan. kelembagaan dan individu SDM aparatur Pemerintah Daerah melalui penyusunan dan implementasi Rencana Tindak Peningkatan Kapasitas (Capacity Building Action Plan/CBAP). dan mengacu pada kebijakan nasional. Dengan demikian. Departemen Dalam Negeri. Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pemerintahan di banyak negara. Dalam rangka pelaksanaan peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah. Bank Pembangunan Asia (ADB). Peningkatan kapasitas tersebut meliputi sistem. Salah satu aspek penting kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi adalah peningkatan pelayanan umum dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. yang dalam pelaksanaannya menganut prinsip-prinsip multi dimensi dan berorientasi jangka panjang. dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat dan peningkatan daya saing daerah diperlukan kemampuan atau kapasitas Pemerintah Daerah yang memadai. Dalam rangka peningkatan kapasitas untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. serta mencakup multistakeholder.

Salah satu komponen peningkatan kapasitas di daerah adalah Pengembangan SDM atau Diklat bagi pejabat struktural di daerah. agar diperoleh kesesuaian/ relevansi dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh para pejabat daerah itu sendiri. iv . Selain itu juga dalam setiap tahapan proses pengembangannya telah melibatkan pejabat daerah sebagai narasumber. juga melibatkan pejabat daerah. Dalam memenuhi kurikulum serta materi diklat tersebut telah dikembangkan sejumlah modul-modul diklat oleh Tim Konsultan yang secara khusus direkrut untuk keperluan tersebut yang dalam pelaksanaannya disupervisi dan ditempatkan di Lembaga Administrasi Negara (LAN) selaku Pembina Diklat PNS. Dalam rangka memperoleh kurikulum dan materi diklat yang akuntabel dan sesuai dengan kebutuhan daerah. Pejabat daerah merupakan narasumber yang penting dan strategis karena merupakan pemanfaat atau pengguna kurikulum dan materi diklat tersebut dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. telah siap untuk dilaksanakan. maka pelaksanaan peningkatan kapasitas Pemerintah Daerah. Diharapkan bahwa dengan terlatihnya para pejabat daerah maka kompetensi mereka diharapkan semakin meningkat sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin meningkat pula. yang pada akhirnya kesejahteraan masyarakat dapat segera tercapai dengan lebih baik lagi. Kurikulum dan meteri diklat yang dihasilkan melalui Proyek SCBD ini. selain untuk digunakan di lingkungan Proyek SCBD sendiri. dalam tahapan proses pengembangannya telah memperoleh masukan dari para pejabat daerah dan telah diujicoba (pilot test). khususnya untuk peningkatan kapasitas individu SDM aparatur daerah. dapat juga digunakan di daerah lainnya karena dalam pengembangannya telah memperhatikan aspekaspek yang berkaitan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Dengan telah tersedianya kurikulum dan materi diklat.

..............................................................................iii Daftar Isi ........ 18 B............................ Latihan................................................... 1 A.................... 3 B....................................................... Latihan.................... Pengendalian................................................................................ Monitoring........................... Karakteristik Good Governance....... 6 C................................................................................................... 12 E.................................................................................Depdagri ........................................................................... Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Di Indonesia........... 3 A.. 1 C.................................................................................... 25 A...... 221 C............ 9 D..................................... 16 F............................. 2 D...................... ................................. Audit Dan Evaluasi....... Deskripsi Singkat . 32 v ......................... Rangkuman.. Akuntabilitas Keuangan Dan Kinerja Pada Sektor Publik..... 18 A................... Pergeseran Paradigma New Public Management Ke Governance ..................................................................................................................................................... Pokok Bahasan .................................. 2 BAB II GOOD GOVERNANCE DAN AKUNTABILITAS SEKTOR PUBLIK. Kebijakan Akuntabilitas Di Indonesia........................ Revolusi Manajemen Publik ............................ 1 B............................... CONTROL..................... AUDIT DAN EVALUASI...... v BAB 1 PENDAHULUAN...... 23 D....................... Konsep Akuntabilitas ............ 25 B..................LAN.............................................................................................................................................................. ......... i Kata Pengantar Dirjen Otonomi Daerah ................................................DAFTAR ISI Sambutan Deputy IV ................................................................................................. 24 BAB IV AKUNTABILITAS PUBLIK KEBIJAKAN DAN PRAKTEKNYA DI INDONESIA .................................. Indikator Hasil Belajar ................................................................................................................. Rangkuman. 16 BAB III STRATEGI AKUNTABILITAS MONITORING.................................... Hasil Belajar.....................................................................

........ Rangkuman...... 50 E.......... 45 D...................... 51 Daftar Pustaka vi ...... Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Lakip) .................................................................. Latihan...................................................................C.............................

Ide dasar akuntabilitas adalah kemampuan seseorang atau organisasi atau penerima amanat untuk memberikan jawaban kepada pihak yang memberikan amanat atau mandat tersebut. modul ini juga akan membahas berbagai mekanisme akuntabilitas yang dapat diterapkan pada sektor publik. Secara umum organisasi atau institusi harus akuntabel kepada mereka yang terpengaruh dengan keputusan atau aktivitas yang mereka lakukan. Akuntabilitas ini tidak dapat berjalan efektif tanpa adanya transparansi dan aturan hukum yang jelas. Salah satu karakteristik penting dalam konsep Good Governance adalah akuntabilitas. Peraturan atau kebijakan merupakan dasar hukum yang kuat sebagai landasan dalam pelaksanaan kewenangan bagi seseorang dalam pelaksanaan mandat. modul ini juga akan membahas berbagai kebijakan yang mengatur tentang akuntabilitas instansi pemerintah di Indonesia. Deskripsi Singkat Good Governance (GG) sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan kinerja pemerintahan telah merubah paradigma manajemen sektor publik. Hasil Belajar Setelah mengikuti mata ajar ini. sedangkan masyarakat dapat menggunakan peraturan sebagai dasar dalam mengontrol dan memonitor penggunaan wewenang yang mereka berikan pada seseorang/organisasi.BAB 1 PENDAHULUAN A. paradigma Good Governance melengkapi paradigma tersebut dengan memperbaharui bentuk dan mekanisme hubungan antara negara dengan warga negaranya. Jika paradigma New Public Management (NPM) yang menjadi tonggak penting dalam reformasi manajemen publik memberikan penekanan pada hubungan antara negara/state dengan pasar/market. akuntabilitas. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai mekanisme dan metode pertanggungjawaban akuntabilitas. kebijakan dan aplikasi umum akuntabilitas di Indonesia serta mampu mendisain mekanisme akuntabilitas di instansi masing-masing dalam menciptakan kepemerintahan yang akuntabel. B. modul ini juga akan dilengkapi dengan berbagai contoh dan aplikasi mekanisme di atas. peserta (Pejabat Eselon II) diharapkan mampu menjelaskan dan menganalisis berbagai konsep Good Governance. sehingga dalam pengembangan akuntabilitas dibutuhkan suatu mekanisme dan peraturan yang jelas. Selain tataran konsep mengenai mekanisme akuntabilitas. Secara specifik. Transparansi dan dasar hukum yang jelas akan memperjelas posisi masing-masing pihak dalam akuntabilitas. Menyadari posisi penting mekanisme dan peraturan. 1 .

3. Akuntabilitas Publik di Indonesia: Kebijakan dan Prakteknya. 2. 5. diharapkan peserta mampu: 1. Familiar dengan Kebijakan tentang Akuntabilitas di Indonesia dan gambaran aplikasinya. 4. 6. .2 C. 7. Pokok Bahasan Pokok Bahasan dalam Modul ini meliputi: 1. 2. Menganalisis isi konsep GG dan akuntabilitas sehingga memahami konsep tersebut. Menjelaskan Strategi Akuntabilitas dalam Sektor Publik. Control. Strategi Akuntabilitas: Monitoring. Menjelaskan Konsep Akuntabilitas. Menjelaskan Konsep Good Governance (GG). Indikator Hasil Belajar Setelah mempelajari modul ini. Audit dan Evaluasi. 3. Good Governance dan Akuntabilitas bagi Sektor Publik. Menganalisis isi Strategi Akuntabilitas sehingga memahami konsep tersebut. Mampu mendisain strategi aplikasi Akuntabilitas di instansi masing-masing. D.

2-4) telah mengelompokkan perubahan ide tentang administrasi publik dan manajemen ke dalam dua kelompok yaitu: orthodox forms of analysis/classic bureaucracy theory dan public policy and public management perspectives. Paradigma baru ini dianggap sebagai solusi atas berbagai label negatif yang melekat pada sektor publik sehingga dalam perkembangannya pendekatan tradisional dalam administrasi publik telah ditinggalkan dalam praktek penyelengaaraan pemerintahan. Classic bureaucracy theory yang diperkenalkan oleh sosiolog Jerman. Paradigma baru ini merupakan tantangan langsung atas berbagai fungsi prinsip administrasi publik yang telah diyakini sebagai paradigma terpenting selama hampir 20 abad. Peserta mampu menganalisis isi konsep GG dan akuntabilitas sehingga memahami konsep tersebut. Minogue et. birokrasi pemerintah dibuat seefisien dan seefektif mungkin sehingga mereka dapat bergerak fleksibel dalam mengikuti tuntutan masayarakat dan perubahan lingkungan. 2. Konsep dan sistem administrasi publik yang kaku. Revolusi Manajemen Publik Dalam perkembangannya manajemen sektor publik telah mengalami transformasi besar-besaran pada pertengahan 1980-an. Sebagai akibatnya birokrasi pemerintah dianggap sebagai pihak yang menghalangi pembangunan dan tidak tanggap terhadap berbagai tuntutan masyarakat. menempatkan organisasi pemerintah atau adminsitrasi publik sebagai institusi yang memfokuskan pada struktur formal dan peran institusi pemerintah. A. pp. dan sebagai gantinya terjadi adopsi besar-besaran new public management (NPM). Max Weber. 3. Peserta mampu menjelaskan Konsep Good Governance (GG). Dalam paradigma baru. dan birokratis telah ditinggalkan dan sebagai gantinya telah dikembangakan suatu konsep manajemen publik yang fleksibel dan berorientasi kepada pasar (Hughes.BAB II GOOD GOVERNANCE DAN AKUNTABILITAS SEKTOR PUBLIK Kompetensi standar yang ingin dicapai pada Bab ini adalah: 1. tuntutan masyarakat dan lingkungan. struktural/hirarkis. Perubahan yang terjadi ini diarahkan pada penciptaan manajemen publik yang handal dan mempertajam serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi publik. 1998. struktur organisasi dan prosesnya. 3 . p i). Kekakuan model birokrasi Max Weber diyakini tidak mampu untuk mengikuti berbagai perkembangan. Perubahan ini bukan perubahan sederhana dalam “management style” dalam administrasi publik. Peserta mampu menjelaskan Konsep Akuntabilitas. al (1998. Perbedaan pokok kedua konsep itu terletak pada perbedaan cara pandang terhadap fungsi dan peranan administrasi publik yang dilandasi oleh perbedaan karakteristik dalam menganalisa sektor publik dengan segala aktivitas. tapi perubahan ini merupakan perubahan peranan pemerintah dalam masyarakat/society dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakatnya/citizenry.

di rekrut untuk seumur hidup untuk menjamin loyalitas. Dalam konsep ini. dan sebagai akibatnya kelompok ini selalu menghubungkan implementasi dengan hasilnya . administrasi publik harus dibuat birokrat yang professional. dan yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan keinginan political master. p 2). Perspektif ini menempatkan organisasi swasta sebagai mitra pemerintah untuk menyediakan berbagai kebutuhan publik. dan pentingnya suatu kebijaksanaan. Karakteristik lain yang tidak kalah pentingnya yang dianut oleh penyokong teori ini adalah konsep pemisahan administrasi dan politik. Daripada terlibat langsung dalam menyediakan berbagai barang dan jasa. maka sebagai konsekuensinya instansi pemerintah ini juga yang akan menjadi penyelenggara dan provider barang dan jasa bagi masyarakat (Hughes 1998. garis otoritas mengalir dari atas ke bawah dan garis akuntabilitas mengalir dari bawah ke atas. Prinsip lain dalam teori klasik ini adalah jika pemerintah terlibat dalam penyusunan kebijaksanaan. 3. p i). Keterbukaan pemerintah juga ditekankan dalam paradigma baru ini. hal ini ditunjukkan dengan diadopsinya berbagai prinsip dan sistem manajemen sektor swasta kedalam sektor publik untuk memperbaiki kinerja birokrasi.4 Dari sudut pandang paradigma ini. 2. pemerintah memfasilitasi kebutuhan masyarakatnya melalui subsidi. Dari sudut pandang paradigma ini. sedangkan pihak yang bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan/instructions adalah administrator. Di sebutkan bahwa ketaatan terhadap prinsip-prinsip hirarki dan birokrasi merupakan cara terbaik dalam mengorganisir pemerintah. Konteks politik dalam pelaksanaan administrasi publik Organisasi dan personel yang terlibat dalam perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan Kesuksesan. pengaturan perundangan dan kontrak. Politik (political leadership) adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan dan strategi. Berbagai perubahan prinsip dapat juga dilihat pada paradigma baru administrasi publik. kegagalan. seperti acuan pendekatan yang diberikan oleh perspektif public policy yang memfokuskan pada proses kebijakan (yang meliputi berbagai aktivitas dan tindakan pemerintah dalam melaksanakan tugas-tugasnya) yaitu: 1. pemerintah harus mengorganisir dirinya berdasarkan hirarki dan struktur birokrasi yang ada dalam organisasi pemerintah. birokrat dan pemerintah bukanlah satu-satunya provider barang dan jasa masyarakat. Berbagai prinsip tersebut di atas telah di tantang oleh perspektif public policy dan public management. Karena mekanisme akuntabilitas akan berjalan dengan baik jika birokrat dipisahkan dari masyarakat (Hughes 1998. Pemerintah adalah aktor utama yang terlibat langsung dalam pelayanan publik (baik dalam bidang jasa maupun barang). Dan untuk menciptakan suatu kondisi yang kondusif untuk terciptanya accountability.

pemerintahan lokal dianjurkan untuk melakukan berbagai tender dan juga melalukan kompetisi secara bebas dengan sektor swasta. ekonomi dan masyarakat (Minogue 1998. NPM Model 1: The Efficiency Drive NPM Model 2: Downsizing and Decentralization NPM Model 3: In Search of Excellent NPM Model 4: Public Service Orientation Keempat model di atas menggambarkan bahwa terjadi perubahan fungsi sektor publik. “Sehingga muncul berbagai istilah seperti managerialism (Pollit. the postbureaucratic paradigm (Barzelay. terutama negara-negara maju (Farnham dan Horton. 19981) mengelompokkan semuanya dalam label New Public Management (NPM) dan membaginya dalam empat model yakni: 1. Semua tindakan itu dimaksudkan untuk melayani publik secara lebih baik dan meningkatkan efisiensi pengeluaran pemerintah. 1996). 1992). semua istilah tersebut menggambarkan fenomena yang sama. Ferlie (dalam Minogue. penyedia barang dan jasa yang sebelumnya dikelola oleh pemerintah. p. Zhiyong dan Rosenbloom. Dalam perkembangannya. model baru dalam manajemen sektor publik telah berkembang dan diadopsi oleh berbagai negara. sektor publik dituntut untuk mentransfer berbagai perannya kepada sektor swasta. 1998. 1991). sedangkan perusahaan negara/daerah dituntut untuk mendatangkan profit dengan cara berkompetensi dengan sektor swasta (Minogue. aktifitas. Dalam pandangan ini dapat . 3). maupun sektor swasta yang kesemuanya ditujukan untuk pelayanan kepada masyarakat dengan bermuara pada pertimbangan ekonomi dan efisiensi. p 2). pemerintah daerah. fungsi dan struktur sektor publik. dan juga antara sistem politik. Public management perspektif berpendapat bahwa sektor publik telah gagal dalam fungsinya sebagai agen pembangunan bahkan keberadaan sektor publik dianggap sebagai rintangan dalam pembangunan dengan birokrasinya. dan juga entrepreneurial government (Osborne dan Gaebler. 2. Meskipun terdapat berbagai perbedaan istilah untuk model baru manajemen sektor publik. Akhirnya kelompok ini berpendapat bahwa sektor swasta adalah pihak atau agen yang memiliki kemampuan manajerial dan flesibilitas untuk mengelola berbagai kegiatan. 1992)” (Hughes 1998. 1993). Pada awal tahun 1990-an telah berkembang konsep neo-classical economic principle yang juga dikenal dengan public management yang mengkritik ukuran (size). p. Untuk mencapai efisiensi. new public management (Hood. Konsep pokok negara sangat penting untuk menganalisa bentuk hubungan antara sistem administrasi dan politik. 3).5 4. 1992). marketbased public administration (Lan. Dalam label public manajement ini terjadi perubahan besar-besaran dalam formasi tugas pemerintah karena banyak tugas pemerintah yang diprivatisasikan (di alihkan pada sektor swasta). 3. 4. Yang tidak kalah penting dari paradigma administrasi publik yang baru adalah perkembangan konsep public management.

formulasi kebijakan. dimana warga negara tidak diberlakukan hanya sebagai konsumen tapi juga sebagai warga negara/citizen yang memiliki hak untuk mendapatkan jaminan atas kebutuhan dasar dan menuntut pemerintah untuk bertanggung-jawab atas berbagai kebijakan yang dilakukan (Minogue. Modern government tidak hanya mencakup efisiensi dan ekonomis. evaluasi. Peran pemerintah masih sangat penting dalam development management/manajemen pembangunan. World Bank (1997) menyebutkan bahwa meskipun terjadi kecenderungan “privatisasi” terhadap berbagai kegiatan pemerintah. pengurangan kemiskinan. ketenagakerjaan. 1998. Pola hubungan ini semakin memperkuat cakupan administrasi negara yang pada dasarnya mempelajari ilmu manajemen dan kebijakan (publik). dalam arti pegawai secara hirarkis mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilakukannya pada pejabat di atasnya. Peran pemerintah mungkin akan berkurang dalam central economic direction/arahan dan petunjuk dari pusat pemerintahan. B. implementasi.6 dikatakan bahwa label “public management” lebih dikonotasikan dengan perubahan hubungan antara pemerintah/publik dengan sektor swasta. Dalam mekanisme dan pola hubungan ini akuntailitas yang ada tidak hanya mengalir dari bawah ke atas. pandangan yang terakhir dikenal dengan governance. Peran pemerintah ini dapat berwujud dalam munculnya peranan pengaturan (regulations) terhadap keterlibatan sektor swasta dan juga dalam me-manage respon yang efektif terhadap tuntuntan sosial dan ekonomi masyarakat. terutama yang berkaitan dengan transformasi ekonomi. Ini merupakan perubahan pandangan dalam manajemen publik dari penekanan pada hubungan antara negara/state dengan pasar/market ke hubungan antara negara dengan warga negaranya. tapi juga merupakan hubungan akuntabilitas antara negara dengan warga negara. dalam kerangka hubungan antara negara dengan pasar/market. p 5). perubahan dan penghentian kebijakan merupakan bagian dari ilmu administrasi negara. Sehingga dapat dikatakan bahwa kebijakan publik (public policy) dengan berbagai formasi/tahapnya seperti agenda setting. akan tetapi pemerintah masih bertanggung jawab terhadap design/rancangan dan pelaksanaan kebijaksanaan publik. fasilitas sosial dan umum. namun pertanggungjawaban juga dilakukan kepada pihak luar (eksternal) organisasi publik (misalnya masyarakat ataupun kepada sektor swasta). peningkatan kinerja sektor pertanian. serta pengelolaan lingkungan hidup (UNDP. Pergeseran Paradigma New Public Management ke Governance Orientasi “privatisasi” yang terdapat pada new public management tidak berarti bahwa peran pemerintah berkurang. 1995). Governance atau kepemerintahan diartikan UNDP sebagai: . hal ini tidak berarti bahwa peran pemerintah menjadi berkurang. Hal lain yang mendukung bahwa peran pemerintah masih sangat dibutuhkan dalam pelayanan publik adalah kenyataan bahwa prinsip ekonomi dan efisiensi tidak selau dapat diterapkan pada semua aktivitas pemerintah (misalnya fasilitas sosial dan fasilitas umum).

Hal senada terungkap dalam definisi governance yang dikeluarkan World Bank yaitu: “governance as the traditions and institutions by which authority in a country is exercised for the common good. (ii) the capacity of the government to effectively manage its resources and implement sound policies. dikutip di PKKOD. . Hubungan semua pihak ini bukan merupakan kerangka kegiatan yang terpisah melainkan dalam kerangka keterpaduan dan kerja sama (co-arrangement) yang harmonis untuk pencapaian tujuan dan kepentingan bersama. processes and institutions through which citizens and groups articulate their interests. mengatur berbagai perbedaan. serta kepercayaan (dan penghormatan/ penghargaan) dari masyarakat dan Negara terhadap institusi yang mengurus ekonomi dan kehidupan social termasuk hubungan diantara mereka. akan tetapi konsep ini berkaitan dengan manajemen proses pembangunan yang melibatkan pemerintah. 2001. mediate their differences and exercise legal rights and obligations ” (UNDP. Hubungan ini mencakup hubungan yang komplek antar berbagai kewenangan dalam semua level pemerintahan dalam bentuk mekanisme. Konsep ini lebih luas dari fungsi dan kapasitas sektor publik. and (iii) the respect of citizens and the state for the institutions that govern economic and social interactions among them”. kapasitas pemerintah untuk mengelola sumber daya secara efektif dan pelaksanaan kebijakan. p 10). This includes (I) the process by which those in authority are selected. dan juga mendapatkan jaminan hukum (dan pengaturannya). 1995). monitored and replaced. Cakupan dalam governance juga meliputi proses pemilihan terhadap pemegang kewenangan. economic and administrative authority in the management of a country’s affairs at all level…comprises the complex mechanisms.7 “… the exercise of political. dan masyarakat. sektor swasta dan masyarakat. Tujuan interaksi sosial-politik-ekonomi dalam pengertian ini adalah tercapainya suatu keseimbangan dan sinergi dalam pemenuhan kebutuhan dan kepentingan masing-masing institusi dalam satu keselarasan dan keseimbangan/collibration (Dunsire. swasta. Dalam governance berbagai kewenangan baik yang menyangkut tentang politik. proses dan pembentukan institusi dimana masyarakat dan kelompok masyarakat dapat menyampaikan keinginan. Bahwa pemegang kewenangan dalam suatu Negara selalu mengusahakan praktekpraktek terbaik dalam semua aspek kegiatan. monitoring dan pengangkatannya. Good Governance pada dasarnya ialah tentang hubungan antara pemerintah. ekonomi dan administrasi berinteraksi satu dengan lainnya.

Konferensi digunakan sebagai forum untuk membahas tentang hubungan perdamaian (peace).8 Governance is wider t han government … GOVERNMENT BUSINESS CIVIL SOCIETY Komitmen untuk selalu melaksanakan/praktek-praktek terbaik dalam penyelenggaraan pemerintahan inilah yang kemudian berkembang menjadi Konsep Good Governance. Dasar perkembangn konsep Good Governance adalah Deklarasi Manila pada Bulan Juni Tahun 1988 dalam the First International Conference of New or Restored Democracies. demokratis. wajar. . Komitmen untuk mengembangkan GG ini secara konsisten dibahas dan dipromosikan dalam konferensi-konferensi selanjutnya seperti: 1. akuntabel. partisipatif. development and good governance 2. adil. Konferensi ini juga menyepakati 7 (tujuh) karakteristik GG/Kepemerintahan yang Baik yaitu transparan. the Third International Conference of New or Restored Democracies (September Tahun 1997) yang menghasilkan The Final Document of Bucharest yang membahas hubungan yang erat antara democracy. demokrasi (democracy) dan pembangunan (development). dan tanggap/peka terhadap kebutuhan masyarakat. the Second International Conference of New or Restored Democracies (Juli Tahun 1994) yang berhasil menghasilkan The Managua Declaration and Plan of Action yang menegaskan perlunya untuk mempromosikan the universal right to democracy and development.

Sifat adil ini diperoleh dari aspek ekonomi. Sedangkan pada konferensi yang ke-4 International Conference of New and Restored Democracies yang dilaksanakan di Benin pada Tahun 2000 terdapat beberapa kesepakatan antara lain: penghormatan terhadap political pluralism and the protection of rights and fundamental freedom. C. Secara umum organisasi atau institusi harus akuntabel kepada mereka yang terpengaruh dengan keputusan atau aktivitas yang mereka lakukan. dapat diandalkan. Transparan mengindikasikan adanya adanya kebebasan dan kemudahan didalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai bagi mereka yang memerlukan. sistem pemilihan umum dan penguatan sistem demokrasi pada pemerintah daerah). kebebasan informasi. Sedangkan The 5th International Conference (Ulan Bator 2003) menyepakati reformasi institusional untuk mencapai tujuan demokrasi. Salah satu yang menjadi tonggak adalah karakteristik GG yang dirumuskan pada deklarasi Manila yaitu: 1. pengaturan perwakilan dalam parlemem. komitmen untuk melaksanakan GG dan melawan korupsi. dan bebas sebagai elemen dasar demokrasi. memonitor pelaksanaan kampanye dan transparansi pemilihan umum. Adil ini juga berarti terdapat jaminan akan kesejahteraan masyarakat dimana semua masyarakat merasa bahwa mereka memiliki hak dan tidak merasa diasingkan dari kehidupan masyarakat. peningkatan partisipasi dari wanita dalam proses pemilihan dan meningkatkan perwakilan wanita dalam semua bidang. sosial dan politik. Akuntabel dimana semua pihak (baik pemerintah. mutakhir.9 3. jaminan terhadap institusi yang mengkoordinir pelaksanaan pemilihan umum. penegakan hukum. kuat. penguatan civic education. Berbagai konferensi tersebut memperkuat pelaksanaan dan komitmen berbagai Negara untuk mengembangkan dan menciptakan Good Governance. penguatan sistem demokrasi (sistem multi-partai. partisipasi masyarakat (terutama peran wanita/kesetaraan gender dan kelompok minoritas) dalam proses pengambilan keputusan. dan penciptaan civil society yang terorganisir. dan menciptakan akses bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya. 2. mudah diperoleh dan dimengerti adalah beberapa parameter yang digunakan untuk mengecek keberhasilan tranparansi. swasta dan masyarakat) harus mampu memberikan pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan kepadanya (stakeholders-nya). . 4. 3. termasuk dalam legislatif. Informatif. Adil dalam arti terdapat jaminan bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan dan kesempatan yang sama dalam menjalankan kehidupannya. Karakteristik Good Governance Dan dalam rangka mengembangkan strategi yang lebih implementatif. kita sering kali mendengar banyak karakteristik dan prinsip tentang GG.

Peran Organisasi non-pemerintah sangat penting dalam konteks ini karena diyakini organisasi ini memiliki kontak yang lebih baik dengan masyarakat miskin. Penegakan hukum secara mutlak membutuhkan pengadilan yang independen dan pihak kepolisian yang tidak korupsi. Hal ini dibutuhkan sebagai upaya perlindungan hak asasi manusia secara mutlak. baik laki-laki maupun perempuan harus memiliki hak suara yang sama dalam proses pengambilan keputusan. Dalam kaitannya dengan partisipasi ini. terutama kelompok yang lemah. baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan. terutama aturan hukum tentang hak-hak asasi manusia. terdapat tuntutan agar pemerintah meningkatkan fungsi kontrol terhadap manajemen pemerintah dan pembangunan dengan melibatkan organisasi non-pemerintah. Wajar dalam arti jaminan atas pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (standar). Partisipatif dalam arti terdapat jaminan kesamaan hak bagi setiap individu dalam pengambilan keputusan (baik secara langsung maupun melalui lembaga perwakilan). Pelaksanakan kepemerintahan yang baik membutuhkan kerangka hukum yang fair dan penegakan hukum dalam pelaksanaan tanpa terkecuali. Transparansi: transparansi harus dibangun dalam kerangka kebebasan aliran informasi. sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya masing-masing. mampu menyediakan metode alternatif pelayanan publik dengan harga yang murah dan sebagai mediator dalam menyampaikan berbagai pandangan dan kebutuhan masyarakat. . Dan untuk alasan ini dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. pemerintah harus menyediakan standar pelayanan untuk menjamin kesamaan (fair) dan konsistensi pelayanan. kelembagaan. langsung. Karakteristik GG yang lain ditawarkan oleh UNDP yaitu: 1. 3. Partisipasi: setiap orang atau setiap warga masyarakat. 5.10 4. baik dan dalam waktu yang tepat (tanggap terhadap kemauan masyarakat). Aturan hukum (rule of law): kerangka aturan hukum dan perundang-undangan haruslah berkeadilan. memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya. 6. Demokratis dalam arti terdapat jaminan kebebasan bagi setiap individu untuk berpendapat/mengeluarkan pendapat serta ikut dalam kegiatan pemilihan umum yang bebas. memiliki hubungan yang baik dengan daerah pedalaman dan pedesaan. Hal ini mensyaratkan bahwa semua kelompok. 7. ditegakkan dan dipatuhi secara utuh (impartially). dan informasi baru harus dapat diakses secara bebas oleh mereka yang membutuhkannya. Partisipasi yang luas ini perlu dibangun dalam suatu tatanan kebebasan berserikat dan berpendapat. serta kebebasan untuk berpartisipasi secara konstruktif. terutama untuk kelompok minoritas. dan jujur. Tanggap/peka/responsif bahwa dalam melaksanakan kepemerintahan semua institusi dan proses yang dilaksanakan pemerintah harus melayani semua stakeholders-nya secara tepat. dan informasinya 2. Berbagai proses.

sebagimana halnya kepada para pemilik (stakeholders). Bervisi strategis: para pimpinan dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) dan pembangunan manusia (human development). Berkeadilan (equity): pemerintahan yang baik akan memberikan kesempatan yang sama baik terhadap laki-laki maupun perempuan dalam upaya mereka untuk meningkatkan dan memelihara kualitas hidupnya. bersamaan dengan dirasakannya kebutuhan untuk pembangunan tersebut. cultural. 10. Tingkat legitimasi keputusan yang kuat pada gilirannya akan mendorong efektifitas pelaksanaannya. 7. sehingga dapat digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi. dan proses pengambilan keputusan akan semakin efektif. dan masyarakat madani memiliki pertanggungjawaban (akuntabilitas) kepada publik (masyarakat umum). Akuntabilitas: para pengambil keputusan dalam organisasi pemerintah. yaitu terhadap pertukaran informasi yang diperlukan bagi pengambilan keputusan. 5. dan jika dimungkinkan juga dapat diberlakukan terhadap berbagai kebijakan dan prosedur yang akan ditetapkan pemerintah.11 harus dapat disediakan secara memadai dan mudah dimengerti. swasta. Efektivitas dan efisiensi: setiap proses kegiatan dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan melalui pemanfaatan sebaik-baiknya berbagai sumber yang tersedia. Misalnya informasi semakin mudah diakses berarti transparensi semakin baik. dan untuk memperkuat keabsahan atau legitimasi atas berbagai keputusan yang ditetapkan. Partisipasi yang semakin luas akan berkontribusi kepada dua hal. 4. Daya tanggap (responsiveness): setiap isntitusi dan prosesnya harus diarahkan pada upaya untuk melayanai berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders). 6. dan komplesitas sosial yang mendasari perspektif mereka. 9. tingkat partisipasi akan semakin luas. Pertanggungjawaban tersebut berbeda-beda. Saling keterkaitan (interrelated): bahwa keseluruhan ciri good governance tersebut di atas adalah saling memperkuat dan saling terkait (mutually reinforcing) dan tidak bisa berdiri sendiri. pemerintah bertindak sebagai penengah (mediator) bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai konsensus atau kesepakatan yang terbaik bagi kepentingan masing-masing pihak. Berorientasi konsensus (consensus orientation): dalam hubungan yang saling melengkapi antara pemerintah-masyarakat-sektor swasta. Mereka juga memahami aspek-aspek historis. Dan kelembagaan yang responsive haruslah transparan dan berfungsi sesuai dengan aturan hukum dan . bergantung apakah jenis keputusan organisasi itu bersifat internal atau external. 8. dan sekaligus mendorong peningkatan partisipasi dalam pelaksanaannya.

D. Akan tetapi konsep good governance jika dikembangkan akan menciptakan modern governance (baik good ‘national’ governance maupun good local governance) yang handal yang tidak hanya menekankan aktivitasnya dalam kerangka efisiensi tetapi juga akuntabilitasnya dimata publik. dan juga untuk membuat pemerintah/publik sektor semakin terbuka. Konsep Akuntabilitas Good governance tidak hanya terkait dengan efisiensi. Tingkat kematian bayi berkurang 75%. d. 2005. mempunyai sifat mengarahkan daripada mengatur. dikatakan . a. Rendahnya tingkat keterlibatan dalam (kejahatan) politik. penelitian ini juga memberikan beberapa kesimpulan diantaranya ialah: Pada beberapa negara berkembang dengan tingkat korupsi sangat rendah. 2001. akuntable dan demokratis. Selain ciri GG.12 Perundang-undangan yang berlaku agar keberfungsiannya itu dapat dinilai berkeadilan (disadur dari PKKOD-LAN. tapi juga berkaitan dengan akuntabilitas berbagai penyelenggaraan publik kepada stakeholder-nya. Landman menemukan 5 ciri kepemerintahan yang mendorong terciptanya GG. dan mendapatkan 6 ciri dari Kepemerintahan yang baik (Good Governance). responsif. Studi lain tentang GG dilakukan oleh Landman. pp 11-12). Dengan menggunakan metoda purposive random sampling terhadap para pemimpin (pejabat pemerintah yang menduduki jabatan struktural). Good Governance and Evident Base. berdasarkan hukum dan korupsi yang rendah. Good Governance Dalam Penelitian Kaufmann bersama dengan World Bank pada Tahun 1999 melakukan penelitian dengan menggunakan 300 ukuran pada 160 negara. Mendapatkan penilaian yang baik dari ahli dan atau lembaga internasional. Negara yang memerangi korupsi. efektivitas pemerintahan. aksi pemberantasan korupsi akan memperlihatkan kemajuan yang nyata setelah 6 sampai 8 tahun. yaitu: mendengarkan/responsif terhadap suara rakyat dan akuntabel. apakah dipilih atau ditunjuk. c. akan mendorong peningkatan investasi luar negeri. Semua unit organisasi. Good governance adalah strategi untuk menciptakan institusi masyarakat yang kuat. yaitu: a. Melalui upaya yang keras. Mendapatkan hasil pengukuran yang baik tentang GG dari dunia internasional. c.. Memberikan kebebasan kepada masyarakat. Berdasarkan konsep-konsep di atas. dapat kita lihat bahwa good governance mempunyai tujuan yang lebih dari manajemen yang efisien dan penggunaan resources yang ekonomis. Pertumbuhan usaha meningkat 3% per tahun. Ide dasar dari akuntabilitas adalah kemampuan seseorang atau organisasi atau penerima amanat untuk memberikan jawaban kepada pihak yang memberikan amanat atau mandat tersebut.. stabilitas politik dan keamanan. b. b. Sumber: Russell. standar kehidupan dapat mencapai 300% lebih tinggi daripada negara yang secara signifikan korup. Kaufmann juga menemukan beberapa keuntungan dalam Kepemerintahan yang Baik yaitu: Kepemerintahan yang baik menghasilkan “Good Governance dividend” rata-rata 400% dan meningkatkan pendapatan rata-rata masyarakat.

Model tradisional yang dikembangkan (upward. pendukung konsep ini menyarankan diciptakannya berbagai mekanisme dan sistem akuntabilitas seperti pengembangan jaminan kebebasan mendapatkan informasi dan pembentukan berbagai lembaga independen yang bertujuan untuk mengontrol kinerja sektor publik seperti ombudsman dan lembaga peradilan yang kuat. yaitu: a. Dan untuk mendukung akuntabilitas internal dan eksternal ini. inward dan outward). b. tetapi juga bersifat kedalam (perorangan) dan keluar (masyarakat). 2. maka dikembangkan konsep pertanggungjawaban akuntabilitas yang tidak hanya dari bawah ke atas. Model tradisional Westminster.13 akuntabel ketika mereka mampu menjelaskan dan mempertanggungjawabkan semua tindakan/kegiatan yang mereka lakukan. Model menyebutkan bahwa garis pertanggungjawaban akuntabilitas dari bawah ke atas (hierakhi). dan menerima sanksi untuk tindakan yang tidak layak (tidak dapat dipertanggungjawabkan). Ide pertanggungjawaban yang menekankan pada penjelasan dan pembenaran atas suatu tindakan dianggap tidak cukup digunakan untuk melihat kinerja suatu tindakan. 1. Managerialism. Model akuntabilitas ini sesuai dengan konsep birokrasi yang diterapkan oleh Weber sehingga disebut juga sebagai administrative accountability. b. Kontrol yang bersifat Top-down. Kontrol dari Parlemen (DPR). Hubungan dalam pertanggungjawaban yang bersifat interpersonal. Dalam konsep ini setiap individu memberikan pertanggungjawaban terhadap suatu tugas spesifik yang diberikan kepadanya kepada atasannya secara hirarkis. Dalam model ini pertanggungjawaban/akuntabilitas dibagi dalam 5 kategori. . Hal ini dilakukan sebagai bentuk kontrol atasan terhadap kinerja bawahan. Dengan berbagai kelemahan tersebut dan tuntutan global yang menuntut transparansi dan kejujuran organisasi pemerintah. Secara garis besar terdapat 4 model akuntabilitas. Model ini merupakan pengembangan Model Tradisional Westminster yang memiliki beberapa kelemahan yang antara lain: a. dan garis kewenangan (otoritas) dari atas ke bawah atau akuntabilitas Ministerial (simply upward). Model Stone. 3. Perkembangan model ini lebih banyak dipengaruhi karena perubahan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. c. Konsep dan aplikasi akuntabilitas sebenarnya sudah ada namun seiring dengan perubahan lingkungan tuntutan akuntabilitas menjadi semakin besar.

Perwakilan Masyarakat. Pasar (konsumen-pengusaha). Lima kategori yang diberikan Romzek and Dubnik di atas memberikan beberapa aspek penting dalam akuntabilitas: a. Model ini menekankan pada pola hubungan yang terjalin dalam suatu kerjasama. e. d.14 c. b. atau bagaimana mengkombinasikan berbagai sistem tersebut agar dapat berguna dan dapat diterapkan.sektor swasta Figure by Romzek and Dubnik dalam Stone. Karena institusi dan cara yang dapat digunakan dalam sektor publik untuk mengembangkan akuntabilis sangat kompleks dan bervariasi. maka memunculkan pertanyaan bagaimana kita memilih sistem akuntabilitas yang tepat dari berbagai pilihan yang ada. Akuntabilitas tidak hanya tentang disain institusi secara administratif tetapi juga mencakup berbagai cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan akuntabilitas. 1995. semua pihak yang terkait saling melakukan komunikasi. Hubungan dalam sistem akuntabilitas model ini dapat digambarkan Kategori Dasar Hubungan Kontrol Parlemen Supervisi/ Komando (DPR) Managerialism Pengadilan/Lembaga Semi Peradilan Perwakilan Masyarakat Pasar Bentuk Hubungan Atasan-Bawahan Kontrak Principal-Agent Hak individu Komplain dari responden /Kewajiban secara procedural Perwakilan/Responsif Pemilih – Perwakilan Kompetisi/pemenuhan kebutuhan konsumen Konsumen. 4. Dalam suatu sistem kerjasama. . pemberian informasi dan hubungan kerja yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan dari jaringan kerja yang dibuat. Model Jaringan Kerja (Jaringan yang kompleks) Para pihak terkait satu dengan yang lain membentuk suatu jaringan kerja yang kompleks dan saling memberikan kontribusi dan informasi. c. Lima konsepsi di atas menawarkan berbagai pengaturan yang komplek dan perubahan signifikan yang kemungkinan memiliki konsekuensi biaya dan juga menimbulkan ke-tidak-konsisten-an/gejolak. Pengadilan/Lembaga semi peradilan.

Menteri. Richard (2003) dalam bukunya “Holding Power to Account”. Mekanisme akuntabilitas juga meliputi aspek yaitu siapa yang harus melakukan akuntabilitas. bagaimana dan prosesnya. Bupati. Walikota. tergantung dari siapa kita mendapatkan mandat tersebut dan seberapa besar berbagai tindakan yang kita lakukan mempengaruhi orang lain. membuat matriks mekanisme akuntabilitas pemerintah. pertanyaan lain yang penting adalah tentang mekanisme akuntablitas. Mulgan. untuk apa akuntabilitas dilakukan. Gubernur. Partai Politik 2. Pemerintah 2. Kepada siapa kita harus bertanggung jawab. Pertanggungjawaban dapat diberikan kepada masyarakat (pelanggan). d. Organisasi Kemasyarakatan/NGOs. Individu (yang dipilih) 1. lembaga penilai organisasi pulik yang diatur dalam undang-undang. b. Organisasi pemerintah lainnya misalnya BUMN. c. Pemerintah Pusat dan Daerah (termasuk dalam hal ini Presiden. e. Kejelasan tugas dan peran Hasil akhir yang speseifik Proses yang transparan Ukuran keberhasilan kinerja Konsultasi dan inspeksi publik. kepada siapa akuntabilitas ini dilakukan. Pengembangan Mekanisme akuntabilitas diarahkan untuk: a. Pejabat Struktural dalam Birokrasi Pemerintah). Birokrasi Kepada Siapa Pemilih Untuk Apa Bagaimana Prosesnya bagaimana Diskusi Amandemen Kinerja Kampanye secara total Partai Politik Media Wartawan Publik Kinerja secara umum Keputusan khusus Laporan pers Wawancara Laporan dari informan Informasi Diskusi . Mekanisme akuntablitas ini sangat bervariasi dan sangat ditentukan oleh apakah keputusan atau aktivitas yang dilakukan suatu organisasi mengikat organisasi secara internal atau eksternal. Contoh dari matrik yang dikembangkan sebagai berikut: MEKANISME AKUNTABILITAS PEMERINTAH Mekanisme Pemilu Siapa 1.15 Selain model akuntabilitas yang menekankan pada cara dan institusi pendukung dalam pelaksanaan akuntabilitas.

dimana berbagai model akuntabilitas selalu berkembang untuk menyesuaikan dengan perkembangan tuntutan dan perubahan lingkungan. Berbagai karakteristik dikemukakan untuk menggambarkan GG ini diantaranya adalah akuntabilitas. bagaimana dan prosesnya! F. 3. 4. 3. Rangkuman Good Governance merupakan suatu gerakan internasional yang berusaha menciptakan berbagai praktek kepemimpinan terbaik. untuk apa. siapa yang melakukan akuntabilitas. 2. 2. kepada siapa akuntabilitas dilakukan. Latihan Aktivitas 1 1. 5. Konsep akuntabilitas adalah sebuah konsep yang dinamis. Akuntabilitas adalah konsep tentang kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan mandat yang diterima kepada orang yang memberikan mandat tersebut. . Gambarkan kondisi karakteristik Good Governance berdasarkan Deklarasi Manila di instansi anda asing-masing saat ini! Dari karakterstik di atas mana yang masih bermasalah? Mengapa masalah itu ada? Apa yang dapat anda lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut? Aktivitas 2 1.16 Akses publik secara langsung Birokrasi Publik Kebijakan umum Keputusan khusus Prosedur pengaduan Prosedur FOI Angaran dasar Informasi Diskusi (bukan FOI) Amandemen (bukan FOI) E. Bagaimana kondisi akuntabilitas di instansi anda? Mekanisme akuntabilitas yang bagaimana yang ingin anda kembangkan di intansi anda? Kapan anda berencana untuk melaksanakannya? Siapa yang akan anda libatkan? Buatlah rencana mekanisme akuntabilitas ini dalam bentuk Matrik seperti yang dikembangkan Richard Mulgan untuk menjawab mekanisme yang digunakan.

. tiap-tiap organisasi membutuhkan dan dapat mengembangkan mekanisme akuntabilitas yang berbeda. karakteristik dan kebutuhan.17 Berdasarkan perbedaan kondisi.

laporan harian. daftar antrian dalam Rumah Sakit. Manajemen Kinerja adalah suatu pola pemikiran stratejik untuk mengkombinasikan dan menggunakan berbagai fungsi manajemen dengan sistem administratif dan struktur organisasi. Pengendalian. Audit Dan Evaluasi Salah satu konsep penting dalam upaya akuntabilitas adalah Performance Management atau Manajemen Kinerja. Monitoring. Semua hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan panduan pelaksanaan dan informasi yang baik dan tepat sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Dan informasi yang baik (secara kualtitatif dan kuantitatif) akan dapat digunakan sebagai pedoman dalam untuk mengurangi resiko dalam proses pengambilan keputusan (baik keputusan teknis maupun stratejik). Peserta mampu menganalisis isi Strategi Akuntabilitas sehingga memahami konsep tersebut. Definisi di atas mengarisbawahi bahwa dalam sistem manajemen kinerja termasuk berbagai teknik untuk memonitor dan mengefektifkan perilaku dalam organisasi. AUDIT DAN EVALUASI Kompetensi standart yang ingin dicapai pada Bab ini adalah: 1. 2.BAB III STRATEGI AKUNTABILITAS: MONITORING. Dalam pelaksanaan monitoring kita melakukan serangkaian kegiatan pengukuran untuk mendapatkan informasi tentang kinrerja sesungguhnya dari sutau tindakan. Dikenal beberapa istilah dalam ilmu manajemen yang terkait dengan upaya meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas melalui monitoring kegiatan sektor publik. Backlog Reports (Kumpulan Laporan) misalnya laporan-laporan proses administratif. 2. Peserta mampu menjelaskan Strategi Akuntabilitas dalam Sektor Publik. yaitu monitoring. pengendalian. Critical Incident Report atau laporan kejadian-kejadian penting dalam suatu organisasi. Dalam konsep ini pengelolaan suatu organisasi tidak hanya berhenti sampai pada proses perencanaan namun dilanjutkan sampai pada tingkat operasi pengawasan. Bentuk monitoring antara lain: 1. CONTROL. 18 . serta pengukuran kinerja. Monitoring merupakan proses dimana pihak supervisi berwenang mengawasi secara detail kecenderungan yang terjadi atas kinerja unit yang diawasinya. A. Atau dengan kata lain pengukuran kinerja (performance measurement) merupakan inti dalam penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Organisasi. audit dan evaluasi. Selain itu informasi kinerja yang disusun dengan baik dapat digunakan sebagai media untuk akuntabilitas kinerja (sektor publik) kepada massyarakat (stakeholders) dan juga sebagai media transparansi kinerja sektor publik.

Seperti halnya monitoring. Melibatkan ahli untuk menginterpretasikan data dan informasi yang diperoleh. Pengendalian keuangan melalui proses persetujuan. 6. golongan. 3. Daftar atau kumpulan kritik dari pelanggan. Mekanisme pelaporan yang memungkinkan manajemen mengetahui kondisi organisasi yang sebenarnya. Dalam pengendalian dibutuhkan: 1. 5. pengendalian dilakukan selama suatu kegiatan sedang berlangsung. 7. dan pembayaran atas karyawan yang terlibat dalam suatu kegiatan serta wewenang untuk menunjuk pimpinan dalam pelaksanaan kegiatan serta mengganti karyawan yang terlibat dalam kegiatan.19 3. Dilakukan secara sistematis (misalnya dengan menganalisis kecenderungan yang terjadi). 2. 4. Untuk mendapatkan hasil monitoring yang maksimal maka kegiatan ini seharusnya: 1. Tepat waktu (menggunakan informasi terbaru). Didukung dengan data dan informasi yang valid baik secara kualitatf dan kuantitatif (menggunakan informasi yang baik). Batasan bagi manajemen dalam memberikan pengarahan dan melakukan perubahan. 2. Sedangkan pengendalian (control) adalah proses formal dimana seorang pimpinan secara langsung mengawasi dan merubah kinerja (unit) organisasi yang dipimpinnya. triwulan. Pengendalian Sumber Daya Manusia melalui persetujuan jumlah. Fokus pada pengukuran hal-hal yang penting. Laporan Keuangan. Bermanfaat untuk digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan (peningkatan) kinerja. . 3. Dilakukan secara reguler (misalnya bulanan. Beberapa bentuk Pengendalian antara lain: 1. 4. atau enam bulan sekali). 2. wewenang dalam proses pengambilan dan penyetoran dana. Manajemen dan bawahan memiliki kejelasan atas tujuan yang ingin dicapai.

Evaluasi merupakan suatu proses penilaian independen terhadap suatu proyek atau program. Gambaran di atas memperlihatkan bahwa monitoring dan kontrol dilakukan real time. dalam rangka membantu manajemen untuk melakukan perbaikan sebelum siklus aktivitas dimulai kembali. Upaya lain yang dilakukan oleh manajemen untuk meningkatkan kinerja organisasi dan dalam rangka akuntabilitas adalah dilakukannya audit. adalah tim internal yang melaporkan kepada Dewan Direksi atau Pimpinan. Audit atas keuangan. Audit biasanya dilakukan setelah kegiatan selesai. 3. Evaluasi Proyek. pengaturan tentang sanksi dan reward dalam kontrak maupun pelaksanaan kegiatan.20 3. operasional atau efisiensi. Tipe-tipe Evaluasi: Evaluasi Program. suatu pengujian yang mandiri menyeluruh dari sasaran. Tipe-tipe audit seperti: 1. Audit terkait kepada penilaian pihak yang independen atas kinerja keuangan dan operasional atau kepatuhan terhadap kontrak yang disepakati. merupakan audit terhadap laporan keuangan yang dilakukan oleh pejabat auditor. Pengendalian Kebijakan (bersifat pengaturan) misalnya kebijakan persetujuan untuk menghentikan atau melanjutkan suatu kegiatan atau kontrak. Audit kinerja. pada saat perubahan masih dapat dilakukan untuk merubah (meningkatkan) kinerja. 4. Beberapa contoh audit adalah audit keuangan tahunan dan audit terhadap kinerja tertentu. suatu pengujian yang menyeluruh atas penyelesaian apa yang dapat dipelajari dari implementasi suatu proyek yang penting. baik hal-hal yang terkait dengan keuangan maupun nonkeuangan. biasanya dilakukan setelah kegiatan selesai. merupakan suatu pengujian sendiri atas kinerja suatu fungsi. seperti suatu kelengkapan proyek konstruksi. Sedangkan Audit dan Evaluasi biasanya dilakukan sesudah suatu tindakan (kegiatan) selesai dilakukan. Audit ini dapat dilakukan secara internal dan eksternal. 2. Efektivitas Audit adalah suatu kebijakan atas efektivitas pencapaian tujuan tertentu Audit internal. Namun audit dan evaluasi ini sangat berguna dalam proses . sehingga perubahan dalam peningkatan kinerja sudah tidak dapat dilakukan. strategi dan kemajuan suatu program pemerintah diselesaikan secara signifikan.

Sistem penganggaran model line item (yang berfokus kepada organisasi). Pemerintah yang lebih kecil Mengambil resiko. b. perubahan kebijakan dan lain-lain). c. Nilai untuk uang Desentralisasi. Fleksibilitas. dilanjutkan atau dihentikannya suatu kegiatan. Dalam proses akuntabilitas. yaitu : a. Akuntabilitas Keuangan Dan Kinerja Pada Sektor Publik 1. stabilitas. kerjasama. antara lain: MANAJEMEN PUBLIK BARU Nilai-nilai Kewiraswastaan. Perubahan sistem penganggaran sektor publik dipengaruhi oleh perubahan dalam manajemen pemerintahan dari model tradisional (berfokus kepada input) menjadi model baru (manajemen publik baru: berfokus kepada hasil). kontrak ADMINISTRASI PEMERINTAHAN TRADISIONAL Kebijaksanaan. namun mengingat bahwa kedua kegiatan ini masih terbuka untuk tindakan koreksi maka dengan pertimbangan tertentu transparansi kepada publik atas kedua hasil tersebut jarang sekali digunakan. B. Penganggaran berbasis program (yang berfokus pada apa yang kita kerjakan). Pemerintah yang lebih besar Menentang resiko Proses akuntabilitas. Akuntabilitas Keuangan Sistem pengangaran sektor publik juga mengalami perubahan seiring dengan Perubahan Paradigma Managemen Sektor Publik. efisiensi Sentralisasi. hirarkis Toleran Resiko Akuntabilitas Struktur Sedangkan dalam penganggaran terdapat 3 model perubahan. Hasil proses monitoring dan pengendalikan dimungkinkan digunakan untuk kepentingan akuntabilitas kepada publik. dan Penganggaran berbasis hasil (yang berfokus kepada ’apa yang kita hasilkan’). yang sering digunakan untuk informasi publik dan penyusunan laporan kineja instansi publik adalah hasil kegiatan evaluasi dan audit. Manajemen resiko Akuntabilitas untuk hasil. . kejujuran.21 pengambilan keputusan lebih lanjut (misalnya perubahan strategi. kreativitas. Perbedaan antara manajemen publik baru dan model tradisional.

e. b. 2) Berhubungan dengan misi. 2) Identifikasi tantangan yang dihadapi dalam mencapai tujuan. Difokuskan pada pengukuran kunci. 1) Mencakup analisis esekutif atau manajemen. 2) Hubungan antara informasi kinerja yang tersedia dalam level yang berbeda harus dikomunikasikan dan harus menyertakan bagaimana pengguna dapat mencari informasi dalam level/tingkatan yang berbeda. Analisis tentang hasil dan tantangan. Pengukuran yang relevan terhadap hasil. .22 2. 1) Laporan harus difokuskan pada pengukuran kunci dari laporan kinerja yang mencakup dasar dalam mengukur hasil dari program atau pelayanan kunci. 1) Informasi kinerja harus disajikan dalam level yang berbeda dalam laporan. Tujuan dan Ruang Lingkup. 1) Relevan dengan tujuan organisasi yang sudah disepakati. Tingkatan dari Laporan. wakil rakyat. Informasi yang dapat diandalkan. 2) Alasan (sumber) tujuan dan sasaran tersebut. 2) Juga mencakup informasi tentang isi lengkap dari laporan. 2) Harus padat. g. 1) Harus dinyatakan dengan jelas. pegawai dalam penyusunan tujuan dan sasaran. utama atau kritis. tapi juga komprehensif. Pernyataan tentang tujuan utama dan sasaran. h. Partisipasi dalam menyusunan tujuan dan sasaran. Akuntabilitas Kinerja Beberapa kriteria yang disarankan untuk menyiapkan laporan untuk informasi kinerja: a. tujuan dan sasaran. d. f. Mencakup informasi dimana pengguna dapat memanfaatkan keakuratan dari informasi kinerja yang dilaporkan. c. 1) Nyatakan tentang tujuan utama dan sasaran dari organisasi. Cantumkan proses diskusi dengan masyarakat. manajemen.

Bagaimana organisasi anda melakukan monitoring. Mudah dicari. 2) Laporan Informasi Kinerja Juga Mencantumkan Hubungan Antara Biaya dengan output atau outcomes (pengukuran efisiensi). 1) Mencakup informasi tentang sumber daya yang digunakan atau biaya dari program atau pelayanan. j. Latihan 1. C. Persepsi masyarakat dan pelanggan tentang kualitas dan hasil dari program-program dan pelayanan-pelayanan utama dan kritis harus dilaporkan. 1) Cara untuk mendapatkan laporan harus dikomunikasikan secara luas melalui mekanisme-mekanisme yang layak untuk organisasi maupun pengguna lain. diakses dan dimengerti. Konsistensi. Faktor yang mempengaruhi hasil. p. Laporan yang teratur dan tepat waktu. pengendalian. 2) Informasi yang dilaporkan harus dibuat secepatnya. Komprehensifitas dan ketidak-komprehensifitas informasi disesuaikan dengan kebutuhan dan ketertarikan pengguna. Sumber daya yang digunakan dan efisiensi.23 i. audit dan evaluasi? harus . n. 1) Laporan kinerja harus dilakukan/dilaporkan secara teratur. Perbandingan untuk Mengevaluasi Kinerja. Persepsi Masyarakat dan Pelanggan. Termasuk diskusi tentang identifikasi faktor ekternal dan internal yang mempengaruhi kinerja secara signifikan. k. Komprehensifitas dan ketidak-komprehensifitas informasi. l. m. Laporan pengukuran kinerja harus konsisten dari waktu ke waktu. o. 2) Informasi Kinerja Harus Dikomunikasikan Melalu Media Dan Metode Yang Bervariasi Da Layak Bagi Pengguna. Mencantumkan informasi yang bersifat perbandingan untuk mengevaluasi kinerja.

pada saat perubahan masih dapat dilakukan untuk merubah (meningkatkan) kinerja. dilanjutkan atau dihentikannya suatu kegiatan. Rangkuman Dasar pelaksanaan akuntabilitas adalah pengukuran terhadap kinerja (pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan). . Sedangkan Audit dan Evaluasi dilakukan sesudah suatu tindakan (kegiatan) selesai dilakukan. audit dan evaluasi mana yang paling berguna untuk diterapkan di organisasi anda? D. Untuk mendapatkan informasi untuk pelaksanaan pengukuran kinerja. meskipun untuk pelaksanaan akuntabilitas (terbuka) kepada publik seorang pemimpin yang efektif harus mempertimbangkannya secara masak-masak. Hasil kegiatan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan akuntabilitas. sehingga perubahan dalam peningkatan kinerja sudah tidak dapat dilakukan. audit dan evaluasi. perubahan kebijakan dan lain-lain). strategi yang digunakan adalah dengan monitoring. pengendalian. Namun audit dan evaluasi ini sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan lebih lanjut (misalnya perubahan strategi. Salah satu karakteristik penting yang mendasari pertimbangan tersebut bahwa monitoring dan pengendalian dilaksanakan secara real time. pengendalian.24 2. Dari berbagai metode dan cara monitoring.

4. Azas Kepastian Hukum. tuntutan internal (Indonesia) antara lain agar sektor publik semakin transparan dan mampu mempertanggungjawabkan atas berbagai kebijakan dan tindakan yang dilakukan yang ditujujan untuk menyelesaikan dan memnuhi tuntutan publik.BAB IV AKUNTABILITAS PUBLIK: KEBIJAKAN DAN PRAKTEKNYA DI INDONESIA Kompetensi standart yang ingin dicapai pada Bab ini adalah: 1. Azas Tertib Penyelenggaraan Negara. 2. 6. 28/1999 disebutkan bahwa azas penyelenggaraan Kepemerintahan Yang Baik meliputi: 1. perubahan dalam lingkungan global dalam hal manajemen sektor publik misalnya tuntutan Good Governance dan Performance Management. Azas Kepentingan Umum. Kebijakan Akuntabilitas di Indonesia Pengembangan kebijakan akuntabilitas di Indonesia pada dasarnya disebabkan oleh dua hal penting yaitu. Azas akuntabilitas disini diartikan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat di-pertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. satu. 25 . Azas Proporsionalitas. Azas Profesionalistas. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN. Dua. 7. Azas Keterbukaan. Azas Akuntabilitas. Peserta mampu mendisain strategi aplikasi Akuntabilitas di instansi masing-masing. A. Kebijakan Akuntabilitas di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998 dan dan UU No. Peserta familiar dengan Kebijakan tentang Akuntabilitas di Indonesia dan gambaran aplikasinya. Dalam UU No. 2. 3. 5.

dan kewenangannya. dan pihak-pihak yang berkepentingan/stakeholders. Semuanya itu diarahkan pada upaya untuk mendorong (Djoko Susilo. pencegahan terjadinya KKN. penerapan prinsip-prinsip good governance dan fungsi-fungsi manajemen kinerja secara taat asas. pengelolaan dana dan sumber daya lainnya menjadi efisien dan efektif. penyempurnaan struktur organisasi. 2. 5. tujuan dan sasaran organisasi yang telah ditetapkan. pengukuran tingkat keberhasilan dan atau kegagalan setiap pimpinan instansi pemerintah/unit kerja dalam menjalankan misi. ketatalaksanaan. metoda kerja dan prosedur pelayanan masyarakat. 2005): 1. fungsi. kebijakan publik.26 Siklus Sistem Akuntabilitas Publik LEMBAGA PERWAKILAN RAKYAT AMANAH PUBLIC ACCOUNTABILITY FORMULASI KEBIJAKAN PERENCANAAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PELAKSANAAN MONITORING DAN EVALUASI PENGENDALIAN LAPORAN AKUNTABILITAS AKUNTABILITAS Berbagai kebijakan di atas pada dasarnya menggarisbawahi bahwa Sistem AKIP pada dasarnya harus dapat menggambarkan kinerja instansi pemerintah yang sebenarnya. . mengenai kemampuan (keberhasilan atau kegagalan) setiap pimpinan instansi pemerintah/unit kerja dalam melaksanakan misi. 3. secara jelas (berdasar data yang tepat & akurat) dan transparan kepada publik (pemberi amanah). sistem perencanaan dan penganggaran. tugas pokok. percepatan reformasi birokrasi. 6. 4.

bahwa tuntutan untuk dapat memepertanggungjawabakan kinerja berdasarkan hasil atau manfaat kepada masyarakat menjadi keharusan bagi Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota. Inpres ini mendefinisikan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) sebagai pertanggungjawaban keberhasilan atau kegagalan misi dan visi instansi pemerintah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui seperangkat indikator kinerja. 1 Seiring dengan terbitnya UU No. 32 Tahun 2004 sebagai ganti UU No 22 Tahun 1999. produktivitas. Berbagai peraturan mewajibkan daerah untuk menerapkan anggaran berbasis kinerja dan mempertanggungjawabkan dalam bentuk Laporan Keuangan dan Laporan Kinerja. 105 Tahun 2000. Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota diminta untuk menjelaskan apakah dana-dana masyarakat telah dibelanjakan secara lebih ekonomis. berbagai PP juga diterbitkan misalnya PP No. Dalam tataran praktis Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah wujud nyata penerapan akuntabilitas di Indonesia. Hal ini juga masih menjadi komitmen dalam berbagai PP yang diterbitkan Pemerintah seiring dengan pelaksanaan UU No 32 Tahun 2004. Tuntutan agar instansi pemerintah terutama bagi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota untuk dapat mengukur kinerja organisasinya sendiri semakin besar dengan dikeluarkannya PP 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dan PP 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala Daerah . Dalam konteks AKIP ini. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah untuk menggantikan PP No. . kreativitas.27 7. sensitivitas. efisien dan efektif pada sektor-sektor yang merupakan prioritas utama yang dibutuhkan masyarakat. Kepala Daerah sebagai pimpinan penyelenggara pemerintahan di daerah diminta pula untuk dapat mempertanggungjawabkan hasil atau efektifitas kebijakan-kebijakan dan programprogram yang dilaksanakannya. instansi pemerintah diharapkan dapat menyediakan informasi kinerja yang dapat dipahami dan digunakan sebagai alat ukur keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran tersebut. Kedua PP tersebut secara eksplisit menuntut agar pertanggungjawaban Kepala Daerah tidak lagi hanya berfokus kepada pertanggungjawaban keuangan (input oriented). disiplin dan tanggung jawab aparatur Negara.

misi dan visi. LAK. Untuk menyempurnakan sistem lama yang belum dapat memperlihatkan keterkaitan antara kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dengan sasaran. Tujuan perbaikan antara lain: 1.28 Penyusunan Anggaran dan Pertanggungjawaban Daerah sebagai mekanisme akuntabilitas dapat digambarkan sebagai berikut: RENSTRA PEMDA AKU STRATAS RENJA PEMDA RAPBD APB D LAKIP PEMDA RASK DASK RENJA RENJ SATKER A K T U A L I S A S I Perencanaan Kinerja RENSTRA SATKER Perencanaan Strategis Pengukuran Kinerja LPJ LAPKE LPA. Kesemuanya itu adalah payung kebijakan untuk membangun sistem akuntabilitas di Indonesia. merumuskan indikator kinerja dan mengumpulkan data kinerja. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara ini telah diperbaiki dengan Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Untuk mengembangkan pedoman atau pegangan yang jelas dalam pelaksanaan akuntabilitas ini serta mengembangkan sistem pengukuran kinerja. Namun. kebijakan-kebijakan di atas ditindaklanjuti dengan Keputusan Kepala LAN Nomor 589/IX/6/YY/99 tentang Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. tujuan. Perbaikan ini dilakukan sesudah mendapatkan saran dan masukan dari berbagai instansi pemerintah yang menerapkan kebijakan akuntabilitas ini. NERACA LAKIP SATKER Pelaporan Kinerja Peraturan Perundang-undangan di atas pada prinsipnya mendorong instansi pemerintah untuk mulai dapat merancang dan mengukur kinerja nya organisasinya secara lebih komprehensif. perlu dipahami dan disadari bersama bahwa merancang dan mengimplementasikan sistem pengukuran kinerja sebagaimana yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan bukanlah hal yang mudah. .

Misi .Instrumen: PK.Strategi: * Kebijakan * Program * Kegiatan PS 1 dan PS 2 Rencana Kinerja Tidak Ada Keputusan Kepala LAN No.Sasaran dan Indikator Pencapaian Sasaran .Sangat Subyektif Laporan AKIP .Pendekatan Kuantitatif dengan metode agregasi .Memberikan keleluasaaan kepada instansi pemerintah dalam melakukan analisis dan evaluasi kinerjanya.Memaknai capaian kinerja kegiatan. 3.Memaknai capaian kinerja kegiatan. program dan kebijakan .Strategi: * Kebijakan * Program RS Rencana Stratejik .Menyajikan berbagai informasi kinerja kegiatan.Tujuan dan sasaran . program dan pencapaian sasaran dilengkapi dengan berbagai informasi kualitatif yang diperoleh ketika proses pelaksanaan kegiatan .Menyajikan berbagai informasi kinerja kegiatan. program dan pencapaian sasaran yang telah dilakukan pengukurannya pada proses pengukuran dan evaluasi kinerja .Kegiatan dan Indikator Kinerja Kegiatan RKT Pengukuran dan Evaluasi Kinerja .Program .Memberikan informasi sejauh-mana . Pengukuran . 589/IX/6/Y/99 Rencana Stratejik .Visi . Memudahkan implementasi.Evaluasi Kinerja . EK2 dan EK3 .Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK) .Pendekatan kuantitatif dan kualitatif .Analisis Kinerja .Merekomendasikan pemecahan masalah Laporan AKIP .Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) .Visi . 239/IX/6/8/2003 Rencana Stratejik . EK1.Misi .Tujuan dan sasaran .Dapat digunakan pembobotan (jika diperlukan) . Perbandingan antara keduanya dapat digambarkan sebagai berikut: PENYEMPURNAAN PEDOMAN PENYUSUNAN PELAPORAN AKIP Keputusan Kepala LAN No.29 2. Mendorong instansi pemerintah untuk dapat menyusun LAKIP dengan lebih obyektif.Digunakan pembobotan untuk Indikator Kinerja Kegiatan . program dan kebijakan yang telah dilakukan pengukurannya pada proses pengukuran kinerja .

Sebagai suatu sistem. Perpres No 9/2005 yang mewajibkan setiap Instansi Pemerintah untuk melaksanakan Sistem AKIP.5/2004 berkaitan dengan penyusunan penetapan kinerja sebagai upaya peningkatan kualitas penerapan sistem AKIP selama ini. 2) Penetapan Rencana. Dalam konsep manajemen kinerja. sejauhmana sasaransasaran telah sesuai dengan tujuan Menyajikan akuntabilitas keuangan Merekomendasikan strategi pemecahan masalah Sumber: LAN-Pusdiklat SPIMNAS.25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pemabangunan Nasional.1/2004 tentang Perbendaharaan Negara. dan 4) Evaluasi Pelaksanaan Rencana. 3) Pengendalian Pelaksanaan Rencana. . UU No. pengukuran dan evaluasi kinerja. yakni perencanaan strategik. UU No.30 Keputusan Kepala LAN No. 4. perencanaan kinerja. Kebijakan lain yang terkait dengan Sistem SAKIP di Indonesia adalah: 1. 3. hal. 239/IX/6/8/2003 kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan mencapai sasaran yang telah ditetapkan. 2004. 2004 ’Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (SAKIP) merupakan instrumen yang digunakan instansi pemerintah dalam memenuhi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi’ (LAN. Dalam UU ini disebutkan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. keseluruhan proses perencanaan ini mengarah pada upaya akuntabilitas berbagai tapan kegiatan yang dilaksanakan pada sektor Publik. serta pelaporan kinerja. Inpres No. 2. 63). Komponen dalam SAKIP ini menceminkan semua proses yang ada dalam manajemen kinerja. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Tahapan Perencanaan Pembangunan Nasional meliputi: 1) Penyusunan Rencana. yang mengamanatkan penyusunan PP tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah UU No. 589/IX/6/Y/99 Keputusan Kepala LAN No. 5. SAKIP terdiri dari komponen-komponen yang merupakan satu kesatuan. Undang-undang ini mewajibkan adanya integrasi dari sistem akuntabilitas kinerja dan sistem penganggaran serta penerapan anggaran berbasis kinerja pada seluruh instansi pemerintah.

.Good Governance melelui Implementasi SAKIP.31 UU 25/2004 INPRES 7/ 1999 & PERPRES NO.9/2005 STRATEGI C PLAN Multi-Year Planning Annual Performance Plans Annual Budget Request UU 17/ 2003 Annual Budget Appropriation Inpres 5/ 2004 Performanc e Annual Operating Plan UU 1/ 2004 Performance Report Sumber: Djoko Susilo. Menpan. 2005.

32 Posisi LAKIP dalam kaitannya dengan adopsi sistem penganggaran berbasis kinerja digambarkan sebagai berikut:

Kerangka Integrasi Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Sistem Anggaran Berbasis kinerja
RENSTRA KPJM Jangka Menengah (3-5 tahun)

Pokok – pokok Kebijakan Fiskal Karangka Makro RENJA RKA Kebijakan Umum Prioritas Anggaran

Tahunan

Pengukuran Kinerja

Pelaksanaan Anggaran

LAKIP

Laporan Pertg jwb Keuangan

LPPA (Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran)

B. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah di Indonesia Siklus Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah setidaknya memiliki empat fase penting yang membentuk siklus akuntabilitas kinerja yang tidak terputus dan terpadu. Keempat fase tersebut mencakup: (1) Perencanaan Stratejik, (2) Perencanaan Kinerja, (3) Pengukuran dan Evaluasi Kinerja, dan (4) Pelaporan Kinerja.

33 Hubungan komponen tersebut digambarkan sebagai berikut:

Perencaan Stratejik

Perencanaan Kinerja

Pelaporan Kinerja

Akuntabilitas Kinerja

Pengukuran dan Evaluasi Kinerja

Sumber: LAN, 2004, Modul SAKIP.

Sedangkan terkait dengan berbagai kebijakan tentang SAKIP, hubungan keempat fase tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

RPJ M
Rencana Strategis

Rencana Kinerja Tahunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)

Kontrak Kinerja (Performance Contract/Agreement)

LAKIP

Laporan pertanggungjawaban keuangan

34 1. Perencanaan Stratejik Perencanaan stratejik merupakan proses penyusunan rencana strategis organisasi yang berorientasi kepada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu tertentu (biasanya 3-5 tahun) dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau mungkin timbul. ’Analisis terhadap lingkungan organisasi baik internal maupun eksternal merupakan langkah yang sangat penting dalam memperhitungkan kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities), dan tantangan/kendala (threats). Analisis terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting dan merupakan dasar bagi perwujudan visi dan misi serta strategi instansi pemerintah’ (LAN, 2004, hal. 64). Dokumen yang dihasilkan dari proses perencanaan stratejik disebut ’Rencana Stratejik’ atau populer disebut Renstra. Format Renstra meski variatif dalam praktiknya, namun setidaknya mengandung informasi tentang hal-hal sebagai berikut: a. b. Where do we want to be? Merupakan arah masa depan organisasi yang ingin dituju (Visi, Tujuan dan Sasaran Stratejik). Where are we now? Analisis organisasi tentang nilai-nilai luhur yang dimiliki, kekuatan, kelemahan, kesempatan dan kendala organisasi (SWOT analysis) serta tugas pokok dan fungsi utama organisasi yang menunjukkan alasan utama keberadaan organisasi (misi) How do we get there? Merupakan langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh organisasi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Langkah-langkah ini biasanya dituangkan dalam kebijakan, program dan kegiatan organisasi. How do we measure our progress? Berkaitan dengan cara organisasi menetapkan ukuran-ukuran keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Karenanya, setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan harus dapat terukur dengan seperangkat indikator kinerja yang idealnya merupakan indikator kinerja outcome atau setidaknya output.

c.

d.

Dalam Modul SAKIP Lembaga Administrasi (2004) disebutkan bahwa cakupan Renstra meliputi: (1) Pernyataan visi, misi; (2) Perumusan Tujuan dan Sasaran beserta indikator kinerjanya; (3) Uraian tentang cara mencapai Tujuan dan sasaran (strategi) yang dijabarkan kedalam kebijakan dan program. Dalam Modul LAN ini juga disajikan formulir untuk mempermudah pembuatan Renstra (dasar penyusunan Renstra). Formulir ini memperlihatkan keterkaitan visi, misi, tujuan, sasaran serta kebijakan dan program.

. Instansi Visi Misi : ........ manfaat.. namun secara garis besar Renstra harus memuat: a.... asumsi-asumsi... Tujuan dan Sasaran yang memuat rumusan tujuan dan sasaran deserta indikator-indikator pencapainnya........ dan SWOT..... : . Sebagai alternatif Modul SAKIP LAN (2004) memberikan outline Renstra yaitu: RENCANA STRATEJIK Pengantar Bab I Bab II Pendahuluan Memuat latar belakang.. CSFs...... Sasaran Uraian 2 Indikator 3 Cara Mencapai Tujuan dan Sasaran Kebijakan Program 4 5 Tujuan 1 Keterangan 6 Formulir ini merupakan dasar dalam penyusunan Dokumen Renstra yang disahkan oleh pimpinan instansi. b.. Visi dan Misi yang memuat visi dan misi instansi....35 Formulir RS Rencana Stratejik Tahun ………. Meskipun isi Renstra dimungkinkan untuk dikembangkan sesuai dengan tuntutan kebutuhan organisasi.... c... s.......... Strategi (cara mencapai tujuan dan sasaran) yang memuat kebijakan dan program... dan lain-lain Tugas Pokok dan Fungsi Memuat tugas pokok dan fungsi sebagaimana dituangkan dalam landasan hukum instansi masing-masing Analisis Stratejik Memuat hasil analisis stratejik: analisis lingkungan....... : ....d .. Bab III ....

Secara eksplisit. Kesepakatan yang demikian dikenal sebagai suatu Kesepakatan Kinerja (Kontrak Kinerja/Performance Agreement). rencana kinerja ini diajukan kepada para pemberi amanat untuk kemudian para pihak mengikat suatu kesepakatan terhadap rencana kinerja yang telah disusun. dan target yang akan dicapai pada periode yang bersangkutan. Rencana kinerja ini merupakan rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari perencanaan stratejik. Kegiatan. 7/1999. Sasaran. indikator kinerja. meski aturan dan ketentuan Rencana Kinerja dan Kesepakatan Kinerja belum tertuang jelas dalam Inpres No. di dalamnya memuat seluruh target kinerja yang hendak dicapai dalam suatu tahun yang dituangkan dalam sejumlah indikator kinerja (performance indicators) yang relevan. Misi. Idealnya. Tujuan. dan target yang diharapkan dalam suatu kegiatan. Perencanaan kinerja adalah aktivitas analisis dan pengambilan keputusan di depan untuk menetapkan tingkat kinerja yang diinginkan di masa yang akan datang. . 2004) menyebutkan bahwa dokumen dalam rencana kinerja antara lain berisikan informasi mengenai: a. Dokumen tersebut dituangkan dalam bentuk Formulir Rencana Kinerja Tahunan (RKT). Rencana kinerja ini merupakan tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan/kegagalan penyelenggaraan pemerintahan untuk suatu periode tertentu.36 Bab IV Bab V Rencana Stratejik Memuat Visi. Selain sebagai dasar dalam penyusunan kontrak kinerja. b. namun esensi dari keduanya secara implisit telah terkandung dalam pokok-pokok pikiran Inpres tersebut. indikator kinerja. Modul SAKIP (LAN. Sasaran serta Stratejik (Kebijakan dan Program) Penutup 2. c. Program yang akan dilaksanakan. perencanaan kinerja ini juga merupakan dasar dalam penyusunan dan pengajuan anggaran kinerja (performance basedbudgeting). Perencanaan Kinerja Setiap tahun perencanaan stratejik dituangkan dalam suatu perencanaan kinerja tahunan (annual performance plan).

Dalam SAKIP pengukuran dan evaluasi ini merupakan komponen penting dalam Pelaporan Kinerja yang merupakan bagian penting untuk menjamin akuntabilitas sektor publik. Sasaran Uraian 1 Indikator Kinerja 2 Rencana Tingkat Capaian (Target) 3 Program Uraian 5 Kegiatan Indikator Kinerja 6 Satuan 7 Rencana Tingkat Capaian (Target) 8 Ket. yakni tatanan.37 Formulir RKT Rencana Kinerja Tahunan Tahun …. (5) selaras dengan tujuan organisasi secara keseluruhan. Instansi : ………. Untuk dapat memperoleh dan memelihara data kinerja yang demikian. Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Fase berikutnya dari sistem akuntabilitas kinerja adalah menetapkan pengukuran dan evaluasi kinerja. 4 9 3. Untuk dapat menerapkan dan menjaga sistem pengukuran dan evaluasi kinerja perlu diperhatikan beberapa hal antara lain (1) menjaga dan menjamin konsistensi data dan informasi. seluruh data kinerja (performance data) dikumpulkan dan diakumulasikan. (2) melibatkan pimpinan puncak untuk menjamin konsistensi dan kesiapan organisasi dalam mengembangkan Sistem Pengumpulan dan Pengolahan Data Kinerja. (6) menempatkan Sistem . instrumen. (3) selalu menempatkan pengukuran dan evaluasi sebagai hal yang penting dalam menjalankan berbagai aktivitas (menjaga sense of urgency). metode pengumpulan data kinerja yang digunakan oleh instansi pemerintah untuk memperoleh data mengenai realisasi capaian kinerja untuk suatu periode pelaksanaan tertentu. (4) melibatkan karyawan dalam pengembangan Sistem Pengumpulan dan Pengolahan Data Kinerja. Data kinerja ini merupakan capaian kinerja (performance result) yang dinyatakan dalam satuan indikator kinerja yang diperoleh selama satu periode pelaksanaan tertentu. instansi pemerintah harus mengembangkan Sistem Pengumpulan dan Pengolahan Data Kinerja.. Selama melaksanakan kegiatan pengukuran dan evaluasi kinerja..

Selain perbedaan cara pengukura. 65). kepuasan komunitas dan shareholders/ stakeholders. berpenampilan atau hasil karya. operasi bisnis internal. Syarat-syarat yang harus dipenuhi suatu indikator kinerja adalah sebagai berikut : 1) 2) 3) Spesifik dan jelas untuk menghindari kesalahan interpretasi. baik pada tahap perencanaan (ex-ante). kepuasan pelanggan dan kontribusinya terhadap lingkungan strategik.. Kinerja adalah hasil kerja suatu organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan strategik. kepuasan pelanggan.38 Pengumpulan dan Pengolahan Data Kinerja dalam keseluruhan proses manajemen. 2004). Bernadin. a. Seperti disebukan di atas bahwa dasar pengukuran kinerja adalah indikator kinerja. tahap pelaksanaan (on-going) maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post).pada tahap pengukuran kinerja ini kita tidak merubah indikator kinerja kegiatan dan satuan indikator kinerja yang telah disepakati dan ditetapkan di dalam dokumen Rencana Kinerja Tahunan’(LAN. 2004. ’. sehingga cara mengukurnya sangat bervariasi tergantung kepada banyak faktor (Bates dan Holton. kepuasan pegawai. . Oleh karena itu kinerja merupakan bentuk bangunan yang multi dimensional. Secara sepintas kinerja dapat diartikan sebagai perilaku berkarya. hal. beberapa diantaranya adalah aspek finansial. Kane dan Johnson (1995) mendefinisi kinerja sebagai outcome hasil kerja keras organisasi dalam mewujudkan tujuan strategik yang ditetapkan organisasi. kepuasan pelanggan serta kontribusinya terhadap perkembangan ekonomi masyarakat. 2004.. 232-234). Pengukuran kinerja adalah jembatan untuk perencanaan strategis dengan pelaporan akuntabilitas (LAN. Dapat diukur secara obyektif baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Menangani aspek-aspek yang relevan. 1995). hal. dan (7) mengembangkan komunikasi untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas Sistem Pengumpulan dan Pengolahan Data Kinerja (LAN. serta waktu. hal atau aspek yang diukur juga berbeda. Pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja hendaknya dapat dibangun dalam suatu kerangka sistem pengukuran kinerja. Sistem ini mencakup perancangan indikator kinerja yang ditetapkan pada saat instansi menyusun Renstra dan kontrak kinerja yang tertuang dalam perencanaan kinerja. Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif maupun kualitatif untuk dapat menggambarkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan organisasi.

dianalisis dengan biaya yang tersedia. 2) Indikator kinerja output (keluaran) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik maupun non fisik. 3) Indikator kinerja outcome (hasil) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran (output) kegiatan pada jangka menengah (efek langsung). cakupan pengukuran kinerja meliputi (Modul SAKIP LAN. misal dana. Efektif. 5) Indikator kinerja impact (dampak) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif pada setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan. informasi. indikator kinerja output. Terdapat 5 (lima) macam indikator kinerja yang umumnya digunakan yakni : indikator kinerja input. akurat dan relevan untuk memudahkan pemilihan indikator kinerja. Fleksibel dan sensitif terhadap perubahan pelaksanaan. indikator kinerja manfaat dan indikator kinerja dampak. kebijakan dan lain-lain. Penetapan indikator kinerja harus berlandaskan pada hasil perumusan perencanaan strategik yang meliputi tujuan. 1) Indikator kinerja input (masukan) adalah indikator segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat menghasilkan keluaran yang ditentukan. Pengalaman atas penyelenggaraan misi organisasi sangat membantu dalam memilih indikator kinerja yang relevan. Kemudian diidentifikasi data. SDM. Dalam kaitannya dengan penyusunan Renstra dan Rencana Kinerja (Renja). program operasional maupun implementasi kebijakan. yakni yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kegiatan kerja. output. hasil / outcome. 2004): 1) Kinerja kegiatan yang merupakan tingkat pencapaian target (rencana tingkat capain) dari masing-masing kelompok indikator kinerja kegiatan. dalam arti datanya mudah diperoleh. indikator kinerja outcome. diolah. informasi yang lengkap. sasaran dan strateji organisasi.39 4) 5) 6) Harus penting/berguna untuk menunjukkan keberhasilan input. Alat bantu yang digunakan adalah Formulir Pengukuran Kinerja Kegiatan (PKK) berikut ini: . manfaat maupun dampak serta proses. 4) Indikator kinerja benefit (manfaat) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan.

Instansi : ………. Kegiatan Program Uraian Indikator Kinerja Satuan Rencana Tingkat Capaian (Target) Realisasi Persentase Pencapaian Rencana Tingkat Capaian Ket.40 Formulir PKK Pengukuran Kinerja Kegiatan Tahun …. 8 1 2 3 4 5 6 7 a. Alat bantu yang digunakan adalah Formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) berikut ini: Formulir PPS Pengukuran Pencapaian Sasaran Tahun … Instansi : ………… Indikator Sasaran 2 Rencana Tingkat Capaian (Target) 3 Persentase Pencapaian Rencana Tingkat Capaian 5 Sasaran 1 Realisasi 4 Ket... Tingkat pencapaian sasaran instansi pemerintah yang merupakan tingkat pencapaian target (rencana tingkat capaian) dari masing-masing indikator sasaran yang telah ditetapkan sebagaimana dituangkan dalam dokumen Rencana Kinerja. 6 .

kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam rangka pencapaian misi. hal. Sedangkan keuntungan yang diperoleh antara lain untuk perbaikan perencanaan. 66) menyebutkan beberapa perbandingan yang dapat digunakan untuk kegiatan analisis dan evaluasi kinerja yaitu: a. Kinerja suatu instansi dengan kinerja instansi lainnya yang unggul dibidangnya ataupun dengan kinerja sektor swasta. dan output. Diasumsikan setiap instansi pemerintah mempunyai kebijakan-kebijakan. Kinerja nyata dengan kinerja di negara-negara lain atau dengan standar internasional. d. maupun kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mencapai sasaran kinerja. untuk tujuan pengendalian program/kegiatan. Evaluasi Kinerja Tahap selanjutnya setelah pengukuran kinerja adalah evaluasi kinerja yang bertujuan untuk mengetahui progress realisasi kinerja yang dihasilkan. kebijakan. 2004. Evaluasi kinerja dapat digunakan untuk melihat efisiensi. hal. Kinerja nyata dengan kinerja yang direncanakan. untuk pengambilan keputusan. untuk perbaikan input. serta evaluasi program dan kebijakan. dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran dalam rangka menjalankan misi maupun tugas pokok dan . quasi-experimental. Evaluasi kinerja instansi pemerintah dapat dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan dan sasaran. serta 4) Evaluasi dampak (impact evaluation). dan sebagainya. 2) Evaluasi proses (process evaluation). ekonomi maupun perbedaan kinerja (gap). Kinerja nyata dengan kinerja tahun-tahun sebelumnya. noneksperimental. metode evaluasi eksperimental.41 b. evaluasi dengan metode kualitatif. Evaluasi kinerja ini bertujuan untuk mengetahui pencapaian realisasi. programprogram. strategi. b. efektivitas. perbaikan tatanan atau sistem prosedur. Sedangkan beberapa metode yang digunakan untuk evaluasi antara lain analisis dan evaluasi biaya dan manfaat (cost and expenses). metode kuantitatif. Sedangkan fokus evaluasi kinerja ini meliputi: 1) Evaluasi masukan (input evaluation). Hasil analisis dan evaluasi lebih lanjut dapat digunakan sebagai umpan balik untuk mengetahui pencapaian implementasi perencanaan strategik. Fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi dan memberikan masukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. 3) Evaluasi keluaran (output evaluation). c. proses. 66). metode deskriptif. agar dapat dinilai dan dipelajari guna perbaikan pelaksanaan program/kegiatan dimasa yang akan datang (LAN. LAN-RI (2004b. 4) Evaluasi hasil (outcome evaluation).

b. Evaluasi terhadap kegiatan dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu: a. program dan kegiatan-kegiatannya. program dan kebijakan ini diharapkan dapat menarik kesimpulan mengenai kinerja organisasi instansi secara keseluruhan. kinerja instansi dapat dievaluasi dengan mengevaluasi seluruh atau sebagian dari kebijakan. hal yang penting di dalam proses Evaluasi Kebijakan Publik yang harus dipahami sebagai proses yang bersifat positif berkaitan dengan penaksiran (appraisal). 2) Desain evaluasi. penyusunan . walaupun masalahnya tidak sederhana. Pendekatan Analisis Input-Proses-Output. 2) Jenis pembandingan yang digunakan. 3) Penyusunan desain evaluasi serta strategi pengumpulan dan analisis data. sedangkan evaluasi terhadap kebijakan mungkin saja sampai dampak (impact) yang terjadi. yaitu dengan meneliti dan mempelajari input. Pendekatan ini masih menyisakan berbagai pertanyaan tentang bagaimana caranya meningkatkan kinerja dengan memperbaiki proses pelayanan/produksi yang dilakukan. Difokuskan untuk mengetahui outcomes Evaluasi Program Evaluasi Kebijakan Untuk mengetahui outcomes maupun dampak (impacts) Sementara dalam evaluasi kebijakan. baik peningkatan hasil (output) maupun prosesnya. tentulah lebih murah. Oleh karena itu. perumusan alternatif. proses dan output secara mendalam. dan penilaian (assessment) mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Dari hasil evaluasi terhadap berbagai kegiatan. Pendekatan Analisis Input-Output saja. Pembedaan ini hanya bertujuan untuk penyederhanaan saja. pemberian angka (rating). sedangkan prosesnya merupakan black-box yang dibiarkan tidak diteliti dan diserahkan kepada pihak pelaksana bagaimana cara mencapai output tersebut. pendekatan yang kedua lebih menguntungkan dipandang dari sisi biaya evaluasi. 3) Ukuran dan komposisi sampel yang digunakan. perumusan masalah. Penggunaan pendekatan ini akan dapat memberikan rekomendasi atau feedback tentang berbagai hal. Dalam menyusun desain evaluasi harus memperhatikan unsur penting sebagai berikut: 1) Jenis informasi yang dibutuhkan. Dalam pendekatan ini yang diteliti hanya input dan outputnya saja. Evaluasi terhadap program hanya dilakukan untuk mencari jawaban akan outcome yang dihasilkan. Hasil evaluasi ini akan berujung pada proses analisis kebijakan mulai dari identifikasi masalah.42 fungsi instansi tersebut. Walaupun demikian. Tahapantahapan dalam evaluasi program meliputi: 1) Analisis logika program.

pihak lain (internal dan ekternal). b. c. Untuk melakukan kontrol atas terpenuhinya kepentingan publik tersebut. dan juga publik sebagai wujud dari akuntabilitas publik. sehingga instansi pemerintah dapat meningkatkan efektivitas program sehingga meningkat pula kepuasan masyarakat. serta pola hubungan antar berbagai dimensi realitas yang diamati.43 kriteria dan metode pemilihan alternatif. Laporan adalah komunikasi komunikasi obyektif dan teratur mengenai informasi fakta yang melayani tujuan manajemen. 4. maka pihak yang berkepentingan baik internal maupun eksternal akan mengetahui secara jelas kinerja organisasi dan akan menjadi feedback bagi proses perencanaan selanjutnya. diharapkan pelaporan akan mampu mengkomunikasikan kepada stakeholders sejauh mana tujuan organisasi telah dilaksanakan. Menggambarkan adanya dampak masyarakat akibat adanya kebijakan tersebut. Kejelasan. Review. Akunting. Beberapa fungsi evaluasi kebijakan antara lain untuk: a. maka perlu dilakukan pelaporan dan pertanggungjawaban. Pelaporan Kinerja Pelaporan Kinerja adalah penyampaian perkembangan dan hasil usaha (kinerja). pelaporan ini meliputi pelaporan pencapaian hasil kinerja pemerintah pada level yang lebih atas. Hasil evaluasi merupakan masukan bagi penyempurnaan kebijakan. Melihat sejauh mana pelaksanaan program dan kebijakan sesuai dengan standar dan prosedur yang telah ditetapkan. Dengan adanya laporan. sehingga dapat teridentifikasi masalah. Laporan dapat dikelompokkan ke dalam : . Audit. Sebagai sebuah komunikasi obyektif dan teratur tentang informasi fakta kinerja yang dihasilkan organisasi. Salah satu tujuan dilakukannya pelaporan adalah pelaksanaan akuntabilitas. Kepatuhan (Taat Azaz). Menilai apakah output kegiatan benar-benar sampai kepada kelompok sasaran kebijakan. Semua kegiatan dalam sektor publik diarahkan pada terpenuhinya keinginan publik. d. Hasil evaluasi dapat memberikan gambaran realitas pelaksanaan kebijakan dan program. atau justru terjadi penyimpangan. sosio-ekonomi bagi e. dan aktor yang mendukung keberhasilan dan menghambat kegagalan suatu kebijakan. hasil pemilihan alternatif kebijakan sampai kepada penyusunan rekomendasi kebijakan serta rencana implementasi pelaksanaan kebijakan. baik secara lisan atau tulisan maupun dengan komputer (Kamus Istilah Manajemen). kondisi. legislatif. Dalam konteks publik.

disajikan secara lahiriah dan disampaikan dengan kalimat yang sesuai dengan kebutuhan peristiwa resmi. Laporan khusus yang dipersiapkan untuk tugas khusus. b. laporan akunting. kesimpulan das saran (rekomendasi). laporan manajemen dan sebagainya. Laporan menurut status wewenang yang dapat diperinci menjadi: 1) 2) Laporan publik yang disiapkan dan disusun oleh lembaga umum Laporan swasta yang disiapkan dan disusun oleh lembaga swasta. setiap bulan dan seterusnya. Laporan menurut formalitas yang dapat dibedakan menjadi: 1) 2) 3) Laporan formal. Laporan menurut pokok-pokok soal yang merupakan laporan mengenai subjek atau hal-hal tertentu. analisa dan interpretasi atas data tersebut. disajikan secara lahiriah dan disampaikan dengan kalimat yang cocok dengan kebutuhan peristiwa tidak resmi. Laporan eksaminatif yang menyajikan data terolah. penulis dan pembaca yang dapat e. misalnya laporan keuangan. Laporan menurut hubungan dikelompokkan menjadi: 1) 2) 3) Laporan bebas yang disusun oleh seseorang atau kelompok orang yang ditujukan oleh orang lain. Laporan analitis yang menyajikan data. Laporan menurut fungsi yang dapat diperinci lagi menjadi: 1) 2) 3) Laporan informatif yang menyajikan data mengenai suatu hal. 2) d. . Laporan informal. Laporan menurut waktu yang dapat dibedakan ke dalam: 1) Laporan berkala yang disusun menurut selang (jangka waktu) yang teratur.44 a. c. sewaktu-waktu. Laporan profesional yang disusun oleh seorang spesialis (pakar) atau sekelompok spesialis dari luar organisasi. laporan marketing. laporan produksi. laporan rekayasa (engineering). misalnya setiap hari (seperti laporan likuiditas untuk perbankan) setiap minggu. tidak terulang dengan teratur. Laporan administratif yang secara resmi ditulis atau disusun di dalam organisasi untuk memberi kemudahan dalam pelaksanaan. analisa dan tafsiran.

2004. detail. C. Selanjutnya pimpinan instansi. 269-316 . Laporan lahiriah yang dapat dibedakan menjadi: 1) 2) 3) 4) Laporan memorandum yang melaporkan masalah rutin. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. maka pihak yang berkepentingan baik internal maupun eksternal akan mengetahui secara jelas kinerja organisasi dan akan menjadi bahan masukan (feedback) bagi proses perencanaan kinerja selanjutnya. Instansi Pemerintah yang berkewajiban menerapkan sistem akuntabilitas kinerja dan menyampaikan pelaporannya adalah instansi-instansi dari Pemerintah Pusat. Pemerintah Daerah Propinsi.45 f. Modul Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. sebagaimana tersebut dalam Inpres Nomor 7 Tahun 1999. Laporan surat yang menyajikan laporan resmi atau setengah resmi yang biasanya tidak lebih dari sehelai surat bisnis biasa. g. Penanggungjawab penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) adalah pejabat yang secara fungsional bertanggung jawab melayani fungsi administrasi di instansi masing-masing. Laporan lain yang merupakan laporan yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam laporan-laporan di atas yang meliputi: 1) 2) Laporan perkembangan yang merupakan laporan informatif yang menyajikan kemajuan pelaksanaan pekerjaan atau tugas. hal. LAKIP dipakai sebagai media akuntabilitas bagi instansi pemerintah. Laporan rekomendasi yang merupakan laporan analitis yang diakhiri atau disertai dengan saran-saran (perbaikan) yang seringkali disebut dengan ”laporan perbaikan”. Laporan pengabsahan yang menyajikan suatu keputusan dalam memecahkan masalah yang isinya ditujukan untuk mengemukakan tinjauan logis (dasar pemikiran) yang berhubungan dengan faktorfaktor yang mempengaruhi keputusan. Laporan pendek yang menyajikan data atau informasi yang penting dan ringkas. Salah satu tujuan dilakukannya pelaporan adalah pelaksanaan akuntabilitas dalam sektor publik (public accountability) yang akan kita bahas dalam bagian selanjutnya dibawah ini. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Salah satu bentuk Laporan Kinerja yang digunakan dalam sektor publik di Indonesia adalah LAKIP. Laporan panjang yang menyajikan data dan informasi yang lengkap. 3) Dengan adanya laporan. luas dan disertai dengan latar belakang masalah yang mendalam. dapat 2 Materi pada bagian ini diadopsi dari LAN-RI.

d. berdaya banding tinggi. tidak kontradiktif antar bagian). dan transparan. 2. c. Prinsip akuntabilitas. tepat waktu. sehingga lingkupnya jelas. yang dilaporkan adalah hal-hal yang penting dan relevan bagi pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban instansi yang bersangkutan. Disamping itu. mudah dimengerti (jelas dan cermat). dan sebagainya. dalam bentuk yang menarik (tegas dan konsisten. Prinsip manfaat. obyektif. Hal-hal yang dikendalikan (controllable) maupun yang tidak dapat dikendalikan (uncontrollable) oleh pihak yang melaporkan harus dapat dimengerti pembaca laporan. maka bentuk dan isinya diseragamkan tanpa mengabaikan keunikan masing-masing instansi pemerintah. penyimpangan-penyimpangan dari rencana karena alasan tertentu. Isi LAKIP Agar LAKIP dapat lebih berguna sebagai umpan balik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Penyeragaman ini paling tidak dapat mengurangi perbedaan cara penyajian yang cenderung menjauhkan pemenuhan prasyarat minimal akan informasi yang seharusnya dimuat dalam LAKIP. e. perlu pula diperhatikan prinsip-prinsip lain. sejalan dengan prinsip pertanggungjawaban dan prinsip pengecualian. dapat dipercaya/diandalkan. Prinsip pertanggungjawaban(adanya responsibility center). Penyeragaman juga dimaksudkan untuk pelaporan yang bersifat . seperti : a. 1. Prinsip-Prinsip LAKIP Penyusunan LAKIP harus mengikuti prinsip-prinsip yang lazim. Misalnya hal-hal yang menonjol baik keberhasilan maupun kegagalan.46 menentukan Tim Kerja yang bertugas membantu penanggung jawab LAKIP di instansinya masing-masing. dan terstandarisasi (untuk yang rutin). Prinsip perbandingan. lengkap. maka prinsip ini mensyaratkan bahwa yang terutama dilaporkan adalah hal-hal yang dominan yang membuat sukses atau gagalnya pelaksanaan rencana. yaitu laporan harus disusun secara jujur. berdaya uji (verifiable). yaitu manfaat laporan harus lebih besar dari pada biaya penyusunannya. Dengan mengacu pada pedoman ini instansi pemerintah yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkan dan menjelaskan keberhasilan/ kegagalan tingkat kinerja yang dicapainya. laporan dapat memberikan gambaran keadaan masa yang dilaporkan dibandingkan dengan periode-periode lain atau unit/instansi lain. Prinsip pengecualian. Selanjutnya. padat. perlu pula diperhatikan beberapa ciri laporan yang baik seperti relevan. b. perbedaan-perbedaan antara realisasi dengan sasaran/standar/rencana/budget. netral.

LAKIP dapat dimasukan pada kategori laporan rutin. Hal yang paling utama untuk diinformasikan dalam LAKIP adalah yang mencakup capaian kinerja instansi pemerintah. Misi. . maka dalam LAKIP harus dijelaskan keterkaitan pelaksanaan komponen-komponen dalam perencanaan strategik. Pengungkapan Rencana Kinerja: 1) Diuraikan rencana kinerja selama 1 tahun berisi penjelasan tentang indikator kinerja sasaran. potensi. Pengungkapan Rencana Strategik (Renstra): 1) Karena Renstra adalah alat untuk menyelaraskan visi dan misi. karena paling tidak disusun dan disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan setahun sekali. Cara mencapai Tujuan dan Sasaran (Strategi). strategis dan unik. Penjelasan mengenai posisi kinerja terhadap pencapaian rencana strategis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam uraian kinerja instansi pemerintah. Selanjutnya perlu juga disampaikan mengenai kecenderungan capaian kinerja selama beberapa tahun terakhir. Isi LAKIP adalah uraian pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi dalam rangka pencapaian visi dan pelaksanaan misi serta penjabarannya yang menjadi perhatian utama instansi pemerintah. peluang dan kendala dalam upaya akuntabilitas kinerja. sehingga pembandingan atau evaluasi dapat dilakukan secara memadai. c. 2) Hal-hal yangbersifat penting. b. Informasi capaian kinerja yang harus diungkapkan bukan hanya berupa tabel atau formulir Pencapaian Kinerja Kegiatan (PKK) dan formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) saja. program kegiatan serta rencana capaiannya.47 rutin. kebijakan dan program serta keterkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Sasaran. Yang lebih harus diutamakan adalah penyampaian informasi mengenai capaian kinerja tahun berjalan yang merupakan pembandingan antara realisasi dengan rencana tahun tersebut. 2) Dicantumkan Visi. LAKIP merupakan informasi mengenai keberhasilan dan kegagalan instansi pemerintah dalam melaksanakan amanahnya. Komponen pelaporan dalam LAKIP adalah : a. 2) Dicantumkan pula target kinerja dan ketersediaan anggaran. Tujuan. 3) Dicantumkan keterkaitan antara kegiatan dan sasaran. Pengungkapan Lingkungan Strategik yang mencakup: 1) Gambaran singkat dan latar belakang keberadaan instansi.

Pengungkapan Akuntabilitas Kinerja: 1) Diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan kinerja organisasi. Akuntabilitas kinerja meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 3. Outline dan Isi Informasi LAKIP LAKIP sekurang-kurangnya terdiri dari: ikhtisar eksekutif. dan penutup-penutup serta lampiran-lampiran (bila ada). e. akuntabilitas kinerja. rencana strategik. pendahuluan. hambatan dan kendala yang dihadapi. rencana kinerja. Daftar Isi Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah adalah sebagai berikut : Outline Dan Isi Informasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Sampul Depan Pengantar Ringkasan Eksekutif Daftar Isi I Pendahuluan Latar Belakang Tugas. Pokok Dan Fungsi Instansi Analisis Perkembangan Strategik Rencana Strategik Rencana Strategik Rencana Kinerja II . termasuk hasil-hasil yang telah dicapai. Kesimpulan Hasil Evaluasi secara menyeluruh. 3) Sasaran yang dicapai dikaitkan dengan program dan kegiatankegiatan yang telah dilakukan.48 d. 2) Uraian kinerja didasarkan pada sasaran-sasaran dalam suatu tujuan. Penyajian Data Akuntabilitas Kinerja. Strategi Pemecahan Masalah. Evaluasi Kinerja. Penyajian Data Akuntabilitas Keuangan. Indikator Kinerja yang dipakai beserta penjelasannya. Pengukuran Kinerja Instansi Pemerintah.

49 III Akuntabilitas Kinerja Akuntabilitas Kinerja Akuntabilitas Keuangan IV Penutup Lampiran-Lampiran Keterangan: Ringkasan Eksekutif Pada bagian ini disajikan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rencana strategik serta sejauh mana instansi pemerintah mencapai tujuan dan sasaran utama tersebut. Rencana Kinerja Disajikan rencana kinerja pada tahun yang bersangkutan. Bab III Akuntabilitas Kinerja Pada bagian ini disajikan uraian hasil pengukuran kinerja. evaluasi dan analisis akuntabilitas kinerja. B. Rencana Strategik Uraian Singkat tentang rencana strategik instansi. serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pencapaiannya. Daftar Isi Cukup Jelas Bab I Pendahuluan Pada bagian ini dijelaskan hal-hal umum tentang instansi serta uraian singkat mandat apa yang dibebankan kepada instansi (gambaran umum Tugas Pokok dan Fungsi) Bab II Perencanaan Strategik Pada bab ini disajikan gambaran singkat mengenai: Rencana Strategik dan Rencana Kinerja. terutama menyangkut kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai sasaran sesuai dengan program pada tahun tersebut dan indikator keberhasilan pencapaiannya. A. termasuk di dalamnya menguraikan secara misi. sasaran serta kebijakan dan program instansi. Pada awal bab ini disajikan gambaran secara singkat sasaran yang ingin diraih instansi pada tahun yang bersangkutan serta bagaimana kaitannya dengan capaian visi dan misi instansi. mulai dari visi. . Disebutkan pula langkah-langkah apa yang telah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut dan langkah antisipatif untuk menanggulangi kendala yang mungkin akan terjadi pada tahun mendatang. tujuan.

prasarana. Bab IV Penutup Mengemukakan tinjauan secara umum tentang keberhasilan dan kegagalan. Lampiran-Lampiran Setiap bentuk penjelasan lebih lanjut. 3. daftar gambar dan daftar tabel secukupnya. 2. dan kendala utama yang berkaitan dengan kinerja instansi yang bersangkutan serta strategi pemecahan masalah yang akan dilaksanakan di tahun mendatang. sarana. Sebutkan berbagai kebijakan yang mendasari penerapan Akuntabilitas di Indonesia! Jelaskan keterkaitan antar berbagai kebijakan tersebut! Jelaskan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah di Indonesia! Apa kendala yang dihadapi organisasi anda dalam penyusunan LAKIP? Apa strategi yang dapat anda sarankan untuk mengatasi kendala tersebut? . dan permasalahan yang dihadapi serta langkah-langkah antisipatif yang akan diambil. hendaknya tidak diuraikan dalam badan teks laporan. hendaknya dibuat daftar lampiran. 4.50 sistematis keberhasilan dan kegagalan. 4. perhitungan-perhitungan. tetapi dimuat dalam lampiran. D. gambar. Selain itu dilaporkan pula akuntabilitas keuangan dengan cara menyajikan alokasi dan realisasi anggaran bagi pelaksanaan tupoksi atau tugas-tugas lainnya. Waktu Penyampaian LAKIP Penyusunan LAKIP harus dilandasi dengan pengertian dan kesadaran bahwa laporan akan dapat bermanfaat bagi tumbuh dan berkembangnya praktekpraktek akuntabilitas kinerja di lingkungan instansi pemerintah. dan LAKIP tersebut harus disampaikan selambat-lambatnya tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir dan kepada pihak-pihak yang berkepentingan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. permasalahan. metode dan aspek lain dan data yang relevan. Jika jumlah lampiran cukup banyak. maka LAKIP harus dibuat secara tertulis dan disampaikan secara periodik. termasuk analisis tentang capaian indikator kinerja efisiensi. dan aspek pendukung seperti SDM. Mengingat LAKIP merupakan media pertanggungjawaban dan juga menjadi bahan evaluasi untuk menilai kinerja instansi pemerintah. Keputusan-keputusan atau peraturan-peraturan dan perundang-undangan tertentu yang merupakan kebijaksanaan yang ditetapkan dalam rangka pencapaian visi. tujuan dan sasaran perlu dilampirkan. misi. hambatan/kendala. Latihan 1.

Pada dasarnya.51 E. Selain itu. Dan pada akhir periode. setiap capaian kinerja di evaluasi dan analisis serta melaporkan hasil pelaksanaan tersebut kepada publik melalui dokumen Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). yakni hasil pengolahan data capaian kinerja yang membandingkan antara realisasi capaian kinerja dengan rencana kinerja yang ada sehingga diperoleh pengetahuan mengenai keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi organisasi terhadap pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. efisiensi dan efektifitas pemanfaatan dana publik terhadap jasa atau produk prima yang dihasilkan (excelency) dan yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali (equity). . LAKIP hendaknya juga memuat informasi tentang kehematan (ekonomis). Pada dasarnya berbagai kebijakan tersebut menekankan pentingya bagi instansi pemerintah untuk memperlihatkan kinerja organisasinya kepada masyarakat (stakeholder). Rangkuman Komitmen untuk penyelenggaraan Kepemerintahan yang baik telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Indonesia dengan terbitnya berbagai kebijakan yang mendukung komitmen tersebut. Sistem ini mensyaratkan bahwa setiap instansi pemerintah terutama eselon II ke atas harus membuat rencana stratejik (Renstra) sebagai pola perencanaan jangka menengah. LAKIP ini memuat informasi kinerja (performance information).

Washington D.(2005). PERATURAN PERUNDANGAN TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998. 5 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. E. Undang-undang No. Good Governance and the Evidence Base (Power Point Presentation).(1997). Undang-undang No. Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara. Beyond the New Public Management: Changing Ideas and Practices in Governance. Melbourne Australia. E. PKKOD (Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah-Lembaga Administrasi Negara). Russel. Russel.(2005). Undang-undang No. Public Accountability and Public Policy (Power Point Presentation). als (eds. World Bank. UK: Edward Elgar Publishing. Manila Declaration On Governance.). Bruce. 1999. E.C. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Richard. Public Management and Administration: An Introduction. Undang-undang No. Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. et.(1998). Monash University. W. Good Governance Melalui Implementasi SAKIP.(2005). 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN. Undang-undang No. Stone. Kertas Kerja Kebijakan PKKOD-LAN RI Dalam Rangka Pengembangan Kapasitas Kelembagaan dan Kompetensi Manajemen Kinerja Otonomi Daerah. UNDP .. M.:World Bank. W. Holding Power to Account. LAN.(1998). 52 . Minogue. Good Governance (Power Point Presentation). W. Undang-undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Administrative Accountability in the ‘Westminster’Democraties: Towards a New Conceptual Framework. Monash University.(2004). Australia: McMillan Press Ltd. New York. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Jakarta. Peraturan Presiden No 9 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Sistem AKIP.52 DAFTAR PUSTAKA Djoko Susilo. LAN-Pusdiklat SPIMNAS.(2001).(1995). Hughes. Monash University. E. Russel.(2004).(2005). World Development Report (Summary).1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Melbourne Australia. O. Modul: Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Edisi Kedua). Jakarta. Policy Document Governance for Sutainabele Human Development. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Palgrave.(2003). Melbourne Australia. Mulgan. Jakarta.

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.53 Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Daerah.5 Tahun 2004 tentang Penyusunan Penetapan Kinerja. Instruksi Presiden No. Keputusan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 53 . Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Keputusan Kepala LAN Nomor 589/IX/6/YY/99 tentang Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

com.This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie. . The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.