P. 1
Hukum Acara Perdata

Hukum Acara Perdata

|Views: 401|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: anak baru belajar hukum on Aug 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2012

pdf

text

original

Pendahuluan

Hukum Acara Perdata merupakan hukum yang berisi aturan – aturan atau yang mengatur bagaimana cara berperkara, dimulai sejak mengajukan tuntutan hak sampai akhirnya ada pelaksanaan putusan hakim [eksekusi]. Pada akhirnya pelaksanaan putusan hakim tersebut bertujuan untuk terpenuhinya hak dan kewajiban yang telah diatur dalam putusan hukum perdata materiil berjalan sesuai ketentuan. Untuk mencapai ketentuan tersebut, sebagaimana sifat hukum yang bersifat memaksa, pelaksanaan hukum acara perdata pun bersifat dwigend recht. Jadi semua pihak yang berperkara harus tunduk patuh terhadap hukum undang – undang yang berlaku. Dalam pasal 5 Undang – undang Darurat No.1/1951, Hukum Acara Perdata Indonesia dapat ditemukan pada HIR dan RBg. Selain itu juga dapat ditemukan dalam : ; Rv; KUH Perdata buku IV ; Undang-Undang; UU Darurat; PERMA; doktrin; yurisprudensi; perjanjian internasional. mengenai Hukum Acara Perdata Indonesia. Berikut adalah uraian singkat

I. Tahap – tahap Hukum Acara Perdata
Hukum acara atau hukum formil merupakan hukum yang berfungsi untuk menegakkan, mempertahankan dan menjamin ditaatinya ketentuan hukum materiil dalam praktik oleh pihak –pihak yang berperkara di pengadilan. Terdapat tiga tahapan dalam hukum acara perdata yaitu tahap pendahuluan [permulaan]; penemuan; pelaksanaan.

 Tahap Pendahuluan
Merupakan tahap sebelum acara pemeriksaan di persidangan, yaitu tahap untuk mempersiapkansegala sesuatunya guna pemeriksaan perkara di persidangan pengadilan. Bagian dari tahap pendahuluan adalah : Pendaftaran perkara Penetapan majelis hakim Penetapan hari sdang Panggilan kepada pihak yang berperkara Penetapan verskot biaya perkara Berita acara prodeo

 Tahap Penentuan Tahap mengenai jalannya proses pemeriksaan perkara dipersidangan, mulai dari pemeriksaan peristiwanya sampai pada pengambilan putusan hakim. Bagian dari tahap penentuan : Mengkonstantasi peristiwa [ menetapkan atau merumuskan peristiwa konkrit dengan jalan membuktikan peristiwanya] Mengkualifikasi peristiwa konkret [menetapkan peristiwa hukumnya sari peristiwa yang terbukti]

-

Mengkonstitusi hukumnya [menetapkan hukum atau memberikan keadilan dalam suatu putusan]

 Tahap Pelaksanaan Tahap untuk merealisasikan putusan hakim yang sudah berkekuatan hukum tetap [in kracht van gewijsde] sampai selesai. Bagian dari tahap pelaksanaan : Sukarela Paksa [eksekusi] : a. putusan berkekuatan hukum tetap

b. putusan tidak dijalankan secara sukarela c. putusan dapat dieksekusi bersifat condemnotoir d. pelaksanaan oleh panitera dan juru sita atas perintah dan dibawah pimpinan ketua pengadilan negeri

IV. Komulasi dan Intervensi dalam Gugatan
1. Komulasi Gugatan
Komulasi gugatan merupakan penggabungan tuntutan hak dalam suatu perkara. macam komulasi : a. Komulasi subyektif [penggabungan subyektif] : dalam satu perkara, seorang penggugat melawan beberapa penggugat, beberapa penggugat melawan seorang tergugat atau masing-masing terdiri lebih dari seorang. Syarat komulasi subyektif : o o o Tuntutan harus ada hubungan erat satu sama lain [koneksitas] Tuntutan yang tidak ada hubungan hukumnya harus digugat tersendiri Exceptionpluriumlitis consortium

b. Komulasi obyektif [penggabungan objek atau tuntutan] : dalam suatu perkara penggugat mengajukan beberapa tuntutan sekaligus dalam satu perkara atau gugatan. Syarat : o Penggabungan tuntutan yang diperiksadengan acara khusus dengantuntutan yang diperiksa dengan acara biasa o Penggabungan tuntutan yang salah satu diantaranya hakim tidak berwenang secara relative memeriksanya o Penggabungan antara tuntutan mengenai bezit dengan tuntutan mengenai eigendom

Tujuan penggabungan tuntutan : a. memudahkan proses pemeriksaan perkara b. menghindarkan putusan yang bertentangan dengan prinsip cepat, sederhana, biaya ringan 2. Concursus [tuntutan berganda] Concursus adalah beberapa tuntutan yang kesemuanya menuju satu akibat hukum yang sama. Denga n dipenuhi atau dikabulkannya salah satu dari tuntutan, maka tuntutan lain sekaligus terkabul. 3. Acara Intervensi [campur Tangan] Intervensi [campur tangan], yaitu pihak ketiga atas kehendak sendiri ikut serta dalam sengketa yang sedang berlangsung antara pihak penggugat dan tergugat. Pihak ketiga yang mencampuri perkara yang sedang berlangsung disebut intervient.1 Aturan tersebut terdapat dalam pasal 279-282 Rv yang sudah tidak dipakai tapi karena intervensi masih berlaku di pengadilan. Dengan demikian intervensi di pengadilan Negri menurut hukum acara perdata tidak tertulis. Macam bentuk Intervensi dalam praktik : • Voeging [menyertai], yaitu keikutsertaan pihak ketiga dalam perkara yang sedang berlangsung antara penggugat dan tergugat dengat berpihak pada salah satu pihak atau melindungi kepentingan sendiri. • Tussenkomst [menengahi], yaitu ikut sertanya intervenient dalam perkara yang sedang berlangsung dengan tidak memihak, akan tetapi menuntut haknya sendiri baik terhadap penggugat maupun tergugat. 4. Vriwaring [garantie, penanggungan atau pembebasan], yaitu keikutsertaan pihak ketiga dalam perkara yang sedang berlangsung karena ditarik oleh salah satu pihak atau bukan atas kehendaknya sendiri.
3 2

c. sesuai

1

Sri Wardah, Bambang Sutiyoso. Hukum Acara Perdata dan Perkembangannya di Indonesia. 2007. Yogyakarta : Gama Media. hal. 68-69
2

Ibid hal. 69. Lihat juga Prof. Dr.R. Supomo, hukum acara perdata pengadilan negeri., hal. 33

Prosedur diatur dalam pasal 70-76 Rv, dan dasar tuntutan dala, sengketa pokok didasarkam atas tuntutan yang bersifat pribadi [pasal 74 Rv]. Macam vrijwaring, yaitu : a. Vriwaring formil [pasal 72 Rv], yaitu apabila seorang diwajibkan untuk menjamin orang lain menikmati suatu hak atau benda terhadap tuntutan yang bersifat kebendaan. b. Vriwaring sederhana [pasal 74 Rv], yaitu apabila sekiranya tergugat dikalahkan dalam sengketa yang sedang berlangsung, mempunyai hak untuk menaguh kepada pihak ketiga.4 Menjamin atas tuntutan yang bersifat pribadi.5

3

Ibid hal. 70. Ibid. hal. 70-71.

4

5

Sri Wardah, S.H., S.U. Bahan kuliah Hukum acara Perdata, Fakultas Hukum UII. 2010. hlm. 19.

V. Sita Jaminan
Penyitaan merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan pengadilam dikemudian hari. Barang – barang yang disita untuk kepentingan kreditur [penggugat] dibekukan dan disimpan [diconserveer] untuk jaminan dan tidak boleh dialihkan atau dijual [pasal 197 ayat 9, 199 HIR atau 212, 214 RBg]. Karena itu penyitaan ini disebut juga sita jaminan[conservatoir beslag].6 Sita jaminan ialah tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata. Barang yang disita yang dikuasai debitur dibekukan dengan cara menyimpan [disconsrveer] untuk kepentingan debitur sebagai jaminan.7

Sita jaminan mempunyai arti penting, dalam Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi telah diintruksikan oleh Mahkamah Agung dengan beberapa buah surat edaran, agar tidak menjatuhkan putusan yang dapat dilaksanakan terlrbih dahulu, karena dalam praktiknya sulit untuk memulihkan keadaan seperti semula ketika di tingkat banding atau kasasi ternyata putusannya berbeda.8 Akibat penyitaan : debitur atau tergugat kehilangan wewenang untuk mengalihkan barang-barangnya kepada pihak ketiga. Tindakan pengalihan

6

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia. 1998. Yogyakarta : Liberty.

7

Sri Wardah, S.H., S.U. Bahan kuliah Hukum acara Perdata, Fakultas Hukum UII. 2010. hlm. 21
8

Ibid. hlm. 75-76.

merupakan tindakan tidak sah [1337 BW] dan diancam dengan pidana [231 dan 232 KUHP].9 Ketentuan umum Sita Jaminan : 1. Dilakukan oleh Panitera Pengadilan Negeri dengan dibantu dua orang saksi, dan 2. Harus membuat berita acara penyitaan, serta 3. Pemberitahuan isinya kepada tersita jika tidak hadir. 4. Tidak boleh dilakukan terhadap semua harta kekayaan debitur [berlainan dengan sita dalam kepailitan] 5. Hakim secara ex officio tidak boleh meletakkan sita jika tidak di mohonkan oleh yang berkepentingan. 6. Harus dinyatakan sah dan berharga, jika gugatan dikabulkan[fungsi : merubah sita jaminan menjadi sita eksekutorial]10 Macam Sita Jaminan 1. Conservatoir Beslag : tindakan persiapan untuk menjamin pelaksanaan putusan dengan cara membekukan barang milik tergugat. Fungsi : menjamin tagihan uang dengan menjual barang yang disita. Harus ada sangkaan yang beralasan bahwa barang tergugat akan dialihkan. Barang berupa : benda bergerak, benda tetap, derden beslag. Prosedur : diajukan ke ketua Pengadilan Negeri dan putusan atau pernyataan sah dan berharga dalam dictum putusan.

9

Sri Wardah, S.H., S.U. Bahan kuliah Hukum acara Perdata, Fakultas Hukum UII. 2010. hlm. 21.
10

Sri Wardah, S.H., S.U. Bahan kuliah Hukum acara Perdata, Fakultas Hukum UII. 2010. hlm. 21.

2. Revindicatoir Beslag : tindakan persiapan untuk menjamin pelaksanaan putusan dengan cara membekukan barang milik pemohon yang dikuasai orang lain. Fungsi : menjamin hak kebendaan pemohon, berakhir dengan penyerahan barang, berakhir dengan mrnjual barang yang disita. Barang debitur berupa benda bergerak. Prosedur : diajukan dengan lisan atau tertulis dan putusan atau pernyataan sah dan berharga dalam dictum putusan. 3. Marital/matrimonial Beslag : sita jaminan yang ada dalam perkara perceraian Fungsi : melindungi hak pemohon dengan cara menyimpan bekukan harta kesatuan perkawinan agar tidak dialihkan pihak lain. Barang berupa nenda bergerak, benda tetap, harta bergerah milik istri. Gugatan melalui lisan atau tertulis.

VI. Prosedur Pemanggilan Pihak Secara Patut
Pemanggilan pihak – pihak yang berperkara dilakukan dengan jurusita atau jurusita pengganti dengan menyerahkan surat panggilan disertai salinan surat gugatan [pasal 121 HIR/145 ayat 2 RBg]. 1. Harus dilakukan terhadap yang berkepentingan secara pribadi di tempat tinggalnya/kediaman 2. Tidak dapat secara pribadi maka surat panggilan harus disampaikan kepada kepala desa [ pasal 390 ayat 1 HIR/718 ayat 1 RBg. 3. Bila tergugat sudah meninggal dunia, maka surat disampaikan pada ahli warisnya 4. Bila ahli waris tidak diketahui maka disampaikan kepada kepala desa terakhir saat tergugat meninggal 5. Apabila tempat tinggal tergugat tidak ditemukan maka diserahkan pada Bupati wilayah tempat tinggal penggugat dan ditempelkan pada papan pengumuman di pengadilan negeri [pasal 390 ayat 3 HIR 18 ayat 3 RBg]

6. Jika yang berkepentinga berada diluar daerah hukum maka dilakukan melalui Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan. 7. Jurusita harus menyerahkan risalah panggilan kepada hakim yang akan memeriksa perkara.11

11

Sri Wardah, S.H., S.U. Bahan kuliah Hukum acara Perdata, Fakultas Hukum UII. 2010. hlm. 23.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->