A.

PENDAHULUAN Pemerintah daerah menyusun dan melaksanakan anggaran daerah untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada publik. Kualitas pelayanan tersebut sangat tergantung pada kelancaran pendanaan untuk membiayai semua aktivitas yang dilakukan. Dalam hal ini pemerintah daerah harus dapat mengelola sumberdaya yang dimilikinya dengan sebaik mungkin. Dengan demikian, unit kerja yang memberikan pelayanan kepada publik sedapat mungkin tidak berhadapan dengan masalah kekurangan atau ketiadaan dana ketika dibutuhkan. Artinya, dana yang dibutuhkan oleh unit kerja semestinya tersedia dalam jumlah yang cukup tepat pada waktunya. Untuk itu diperlukan suatu sistem manajemen dan pengendalian kas daerah yang baik. Manajemen kas sangat penting dalam pengelolaan keuangan daerah. Manajemen kas merupakan fungsi yang dilaksanakan oleh unit perbendaharaan, mulai dari perencanaan sampai pada pelaporan tentang aliran kas daerah. Agar secara optimal dapat mendukung pelaksanaan pelayanan publik oleh pemerintah daerah, pengelolaan kas selayaknya dilaksanakan secara terencana, transparan dan akuntabel. Hal ini bermakna bahwa strategi pemerintah daerah untuk memaksimalkan hasil dari uang yang dimilikinya merupakan esensi utama dari manajemen kas. Pemerintah daerah kemudian membentuk suatu unit kerja yang melaksanakan fungsi perbendaharaan, yang mencakup perencanaan, penerimaan, penataausahaan, pengeluaran, dan pertanggungjawaban kas daerah, yang disebut dengan nama bendahara daerah. Dalam peraturan perundang-unadngan terbaru dikenal dengan nama bendahara umum daerah (BUD). —————————————B. MANAJEMEN KAS DALAM PERSPEKTIF LITERATUR ILMIAH Di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, manajemen kas tidak menjadi perhatian utama dalam manajemen keuangan daerah seperti halnya penganggaran.[1] Hal ini mungkin karena penganggaran bersinggungan langsung dengan politik di pemerintahan, sementara manajemen kas merupakan pekerjaan administratif belaka yang dilakukan oleh pemerintah daerah (eksekutif). Selain itu ada anggapan bahwa manajemen kas dapat dilakukan apabila proses penyusunan dan pelaksanaan anggaran sudah dilaksanakan. Manajemen kas dengan sendirinya akan berjalan jika anggaran sudah ditetapkan. Padahal penganggaran dan manajemen kas dua hal yang berbeda, baik secara teknis maupun risiko yang melekat di dalamnya. Manajemen kas di pemerintahan didefinisikan sebagai strategi dan proses terkait untuk mengelola aliran kas jangka pendek dan saldo kas secara efektif biaya (cost-effective), baik secara internal maupun dalam hubungan pemerintah dengan pihak luar.[2] Manajemen kas adalah praktik dan teknik yang dirancang untuk mempercepat dan mengontrol penerimaan kas, menjamin keamanan penerimaan, meningkatkan kontrol atas cara-cara pembayaran, dan menghilangkan saldo kas menganggur.[3] Dalam buku Managing Public Expenditure (Allen, 1998:241) disebutkan bahwa fungsi perbendaharaan di pemerintahan mencakup aktivitas-aktivitas berikut:

manajemen kas;

• • • • •

manajemen rekening-rekening bank yang dimiliki pemerintah (daerah); perencanaan keuangan dan peramalan aliran kas; manajemen hutang publik; administrasi batuan luar negeri dan dana bantuan internasional; dan manajemen aset finansial.

Aktivitas manajemen kas pada posisi pertama mengisyaratkan bahwa pemerintah, termasuk pemerintah daerah, semestinya memprioritaskan pengelolaan kas daerah dalam manajemen keuangan pemerintah. Meskipun di negara berbeda digunakan pendekatan yang berbeda dalam merumuskan fungsi perbendaharaan, namun pengelolaan kas merupakan fungsi utama yang berlaku di negara manapun. 1. Tujuan Manajemen Kas Williams menyatakan bahwa tujuan manajemen kas adalah (1) menjaga saldo kas seminimal mungkin dan biaya-biaya yang berkaitan dengannya, (2) mengurangi risiko operasional, kredit, dan pasar; (3) meningkatkan fleksibilitas dalam mencocokkan aliran masuk dengan aliran keluar kas; dan (4) mendukung kebijakan keuangan lainnya. Sedangkan menurut Allen (1998:243) tujuan manajemen kas adalah (1) mengontrol belanja secara keseluruhan; (2) mengimplementasikan anggaran secara efisien; (3) meminimalkan biaya pinjaman pemerintah; dan (4) memaksimalkan opportunity cost sumber daya. a. Mengontrol belanja secara keseluruhan Pengendalian belanja merupakan unsur paling penting dalam manajemen keuangan dan anggaran daerah. Oleh karena itu harus didukung pula oleh sistem pengelolaan keuangan dan sistem anggaran yang memadai, baik secara manual maupun berkomputerisasi. Untuk dapat melaksanakan manajemen anggaran secara efisien, maka pembayaran setiap kewajiban harus dilakukan sesuai dengan kontrak. Pembayaran akan dapat dilakukan pada saat jatuh tempo apabila dana sudah tersedia seperti diestimasi sebelumnya. Sebisa mungkin harus diminimalkan biaya-biaya yang tidak perlu (transaction cost), melakukan pinjaman pada saat tingkat bunga paling rendah atau menanamkan kas yang menganggur (idle cash) pada investasi jangka pendek yang paling menguntungkan. Dalam penganggaran berbasis kas (cash-based budgeting) pembayaran merupakan esensi dari realisasi belanja. Pengakuan atas realisasi belanja didasarkan pada jumlah kas yang dibayarkan sesuai dengan anggarannya. Oleh karena itu, pengaturan kas bermakna sebagai pengaturan atas belanja. Pemahaman atas pengontrolan belanja dalam hal ini dimaksudkan untuk menghindari pembayaran belanja yang tidak tepat waktu sehingga pemanfaatan kas dapat lebih optimal. Dengan demikian, penyusunan jadwal pelaksanaan program dan kegiatan sangat berkaitan dengan penyediaan dana. Dalam konteks lebih luas, pengontrolan belanja yang baik melalui manajemen kas akan berdampak pada pencapaian kinerja (outcome) atas pelaksanaan anggaran yang lebih baik pula. b. Mengimplementasikan anggaran secara efisien

Di pemerintah daerah di Indonesia. Pelaksanaan anggaran sendiri berhubungan erat dengan manajemen kas ketika keduanya didasarkan pada aturan main yang ada. efisiensi (efficiency). Biayabiaya tersebut bisa berupa hilangnya kesempatan untuk memperoleh potongan harga. Dalam kondisi normal atau sesuai dengan asumsi awal dalam anggaran. dan efektifitas (effectivity). Hal ini bermakna bahwa uang yang dikeluarkan haruslah memberikan hasil seoptimal mungkin sehingga memberi manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang. Meminimalkan biaya pinjaman pemerintah Yang dimaksud dengan biaya pinjaman daerah adalah beban yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah ketika melakukan pinjaman atau berhutang kepada pihak ketiga sebagai akibat adanya kekurangan kas. yakni alokasi tersebut merupakan pembayaran tertinggi (maksimal) yang mungkin dilakukan berdasarkan asumsi dalam kebijakan anggaran. Dalam perspektif lebih luas. dalam pelaksanaannya. yakni bendahara umum daerah dan bendahara di unit kerja. Harus dipahami bahwa asas penentuan alokasi dalam anggaran belanja adalah asas maksimal. realisasi belanja dengan capaian sesuai target/kinerja yang ditetapkan seharusnya tidak mencapai seratus persen. penundaan pekerjaan. Sedangkan bendahara unit kerja menyusun anggaran kas berdasarkan rencana kerja (program dan kergiatan) selama satu tahun anggaran di tambah dengan kebutuhan untuk gaji dan tunjangan pegawai yang bersifat rutin (recurrent expenditures). Kadang-kadang realisasi atas anggaran belanja atau pelaksanaan kegiatan menghabiskan dana yang sangat besar. dan kondisi lingkungan (misalnya perbankan. Perencanaan dan pengadaan masukan (input) yang ekonomis. Selisih antara anggaran dengan realisasi ini merupakan bentuk dari efisiensi pelaksanaan anggaran. yakni sebesar anggarannya atau bahkan lebih besar dari anggarannya apabila pembayaran tidak dilakukan sesuai dengan kesepakatan atau dibayar lebih awal. manajemen kas berada pada dua entitas. dipengaruhi oleh kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi komitmen kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan program dan kegiatan dapat terganggu apabila pencairan dana (arus kas keluar) tidak lancar.Anggaran berbasis kinerja mensyaratkan terpenuhinya value for money yang mencakup ekonomi (economy). biaya pinjaman juga mencakup biaya-biaya yang timbul karena adanya transaksi yang tidak dapat dipenuhi secara tunai. Efisiensi dalam pelaksanaan anggaran sangat ditentukan oleh manajemen kas. Pelaksanaan anggaran akan berjalan efektif apabila didukung dengan pengelolaan kas yang baik. regulasi. Penghematan dapat dilakukan ketika pengaturan kas dilakukan dengan mempertimbangkan halhal yang berhubungan dengan teknis pelaksanaan pekerjaan. dan sebagainya. arus masuk kas. adanya peristiwa luar biasa). Bendahara umum daerah melaksanakan pengelolaan kas dengan terlebih dahulu membuat anggaran kas yang didasarkan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah yang telah ditetapkan oleh eksekutif dan legislatif dalam bentuk peraturan daerah (Perda). Anggaran belanja sudah ditentukan sedemikian rupa sehingga suatu kegiatan hampir pasti bisa dilaksanakan tanpa terkendala atau terganggu dengan masalah kekurangan anggaran/alokasi. pelaksanaan kegiatan yang efisien dan efektif. . harga khusus. c.

Akan tetapi. Namun. Perencanaan pelaksanaan kegiatan yang tidak baik menyebabkan biaya pinjaman akan semakin besar. Di negara yang menggunakan sistem imprest fund. ketika anggaran utama tidak merinci lebih jauh jadwal pelaksanaan atau pembayaran kegiatan-kegiatan yang direncanakan. Prioritas dalam pelaksanaan kegiatan diusulkan oleh unit kerja dengan mempertimbangkan kemampuan mereka. Agar biaya peluang dalam pengelolaan kas tidak besar. d. pemerintah daerah harus menyesuaikan kembali usulan-usulan dari unit kerja-unit kerja tersebut dengan prioritas daerah dengan mempertimbangkan kondisi keuangan daerah selama satu periode anggaran. dan akuntabel. Salah satu kebijakan yang dapat dibuat adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset daerah. Hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya pinjaman daerah karena harus mencari pembiayaan untuk sebagian unit kerja sementara ada unit kerja lain yang memiliki kelebihan kas. pertimbangan atas prioritas pelaksanaan kegiatan menjadi semakin kompleks. Meskipun manajemen kas tidak untuk mencari keuntungan finansial bagi daerah. sementara ada kebutuhan untuk pengeluaran yang harus dilakukan. Artinya tidak boleh ada atau banyak kas menganggur (idle cash). namun pemanfaatan peluang bisa saja menghasilkan tambahan dana yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk meningkatan pelayanan publik. Dana yang dimiliki dapat digunakan untuk membayar belanja pada saat tertentu. aspek regulasi merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan. unit kerja (spending agencies) seringkali membiarkan terjadinya kas menganggur dalam rekening mereka. 2. Pemanfaatan aset untuk meningkatkan sumber pembiayaan membutuhkan sistem pengelolaan aset daerah yang efektif. Pemakaian aset daerah oleh unit kerja-unit kerja daerah dalam melaksanakan kegiatan mereka harus didorong sedemikian rupa sehingga memberi hasil berupa aliran kas masuk bagi daerah. namun bisa lebih menguntungkan apabila pada waktu tertentu yang lain digunakan untuk memperoleh keuntungan jangka pendek. Pengendalian Keuangan dan Sistem Informasi Kas . maka perencanaan jadwal pelaksanaan kegiatan yang baik merupakan hal yang sangat penting. Meminimalkan biaya pinjaman dapat dilakukan dengan mengurangi ketergantungan daerah pada pinjaman. Untuk meminimalkan biaya pinjaman atau memaksimalkan pendapatan berupa bunga. transparan. Hal ini dapat terjadi karena tertundanya penerimaan kas dari pendapatan dan pembiayaan. pemanfaatan oleh pihak ketiga juga harus terus didorong.Pemerintah daerah kadangkala harus melakukan pinjaman karena kas yang ada di rekening kas daerah sudah tidak mencukupi. saldo kas haruslah tersedia seminimal mungkin. maka akan terjadi persaingan dalam pencairan dana untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Kas merupakan sumberdaya yang sumber dan peruntukkannya sudah ditentukan dalam anggaran daerah (APBD). Dalam perspektif pengeluaran jangka menengah (multi-term expenditure framework) yang harus dilaksanakan pada tahun 2009 oleh pemerintah daerah. Memaksimalkan opportunity cost sumber daya Biaya peluang (opportunity cost) berkaitan dengan adanya beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu. Dalam hal ini. efisien. Semestinya aliran kas masuk match dengan aliran kas keluar. Namun.

4. dan prediksi terhadap aliran kas dari pendapatan dan untuk belanja. pembayaran. 3. . Pengendalian umum meliputi: 1. Menyediakan dana bagi kebutuhan transaksi secara harian. jumlah uang. seperti jumlah kas di tangan. hasil dari investasi. baik secara formal maupun informal. Menurut Coe (1989: 121) ada dua bentuk pengendalian keuangan yang dapat dilakukan. Pembelian yang terpusat untuk penjadwalan dan perencanaan belanja. Akuntansi kas untuk menjaga keseimbangan kas sehari-hari dalam bentuk dana-dana (funds) dan rekening (account). 3. Dengan demikian. 2. estimasi atas arus masuk harus sesuai dengan estimasi arus keluar (matching) sehingga tidak terjadi kelebihan kas (idle cash) dan kekurangan kas (cash shortfall). Pencatata transaksi secara sistematis. Sedangkan pengendalian kas secara khusus meliputi: 1. Sebagai contoh: diharapkan tidak terjadi gangguan dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur karena pengelola keuangan (bagian keuangan) tidak mampun menyediakan dana yang dibutuhkan. Pendistribusian bunga ke dalam dana-dana (funds) apabila uang dikumpulkan dalam dua atau lebih dana. Anggaran Kas Esensi dari anggaran kas adalah merencanakan arus kas masuk dan keluar sehingga dapat mendukung kelancaran operasional organisasi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan sistem informasi yang memadai. nomor rekening. harga. tagihan. Tujuan penyusunan anggaran kas secara umum adalah untuk: 1. para pengelola keuangan daerah harus mampun menjalin komunikasi informal yang baik dengan unit kerja pelaksana teknis program pemerintah daerah. Anggaran kas memuat informasi tentang rencana arus kas masuk dari pendapatan dari sumber lain dan arus kas keluar untuk belanja dan penggunaan lainnya. 2. Untuk menjamin kelangsungan operasional dan program pemerintah daerah melalaui penyelenggaraan manajemen kas yang baik. Pemisahan antara fungsi investasi dari akuntansi dan pelaporan. jumlah rangkap dokumen.Sistem informasi dan pengendalian kas dapat memberikan informasi secara akurat dan tepat waktu tentang kondisi dan aliran kas. Rekonsiliasi bulanan terhadap saldo investasi dan kas dengan catatan akuntansi kas. yakni pengendalian umum untuk anggaran dan akuntansi dan pengendalian khusus untuk kas. dan potongan. mencakup tanggal. maturitas. nama penjual. tanda tangan pegawai yang berwenang. Komunikasi seperti ini akan mencipatkan keselarasan antara persoalan penyediaan dana dengan pelaksanaan kegiatan di lapangan. Anggaran operasi dan modal untuk mengontrol pendapatan dan belanja. seperti pelaksana pembangunan sarana dan prasarana daerah. 3.

3. Adanya pola pendapatan (income pattern). Ketika kedua pola di atas dapat disusun. Dari skedul tersebut dapat dibuat prakiraan anggaran kas (cash budget forecast). Meningkatkan kualitas kontrol terhadap sumber informasi kas. dari kelebihan kas yang dimiliki. 3. anggaran kas disusun oleh bendahara umum daerah (BUD) untuk pelaksanaan APBD dan oleh pengguna anggaran di SKPD untuk Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah . Tabel berikut menyajikan format dan skedul dalam anggaran kas. 1996:115). tetapi lebih penting lagi dalam hal kapan kas akan diterima. (Schulman & Adams. Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah di Indonesia. Mengurangi mitigasi bank. 5. terutama memperoleh pendapatan dari bunga. maka dapat dibuat skedul yang mencakup pendapatan dan belanja.2. tidak hanya dalam bentuk kas. 4. 1999). terutama dalam hal pemenuhan kewajiban jangka pendek. 2. yakni: 1. Terdapat empat konsep dasar dalam penyusunan anggaran kas (Jones. tetapi lebih penting lagi dalam hal kapan kas harus dibayarkan. 6. tidak hanya dalam bentuk kas. Meningkatkan kontrol melalui bank dan mengurangi biaya transaksi dengan melakukan sentralisasi. Menjaga likuiditas organisasi. 4. Memanfaatkan kesempatan. Tabel 1 Format Anggaran Kas Skedul Item-item Pendapatan … … Total pendapatan Item-item Belanja … … Total belanja Sumber: Jones (1996:116). Adanya pola pengeluaran (expenditure pattern).

Rekening Kas Bank adalah mitra terpenting pemerintah dalam melaksanakan manajemen kas. Oleh karena anggaran pengeluaran kas di SKPD mencakup belanja langsung dan belanja tidak langsung. 4. Perbendaharaan akan mengatur pembayaran atas tagihan-tagihan yang masuk. tetapi melalui rekening perbendaharaan (TSA). Pada praktiknya. yang kemudian melakukan kontrol dan merencanakan pembayarannya. Bank berfungsi sebagai intermediasi dalam melakukan transaksi yang melibatkan pihak ketiga sekaligus sebagai tempat menyimpan dana yang belum terpakai. Rekening ini akan lebih efisien jika terpusat pada satu rekening saja (treasury single account atau TSA). namun tidak mengontrol transaksi satu demi satu. Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah.pelaksanaan anggaran di SKPD (lihat Permendagri 13/2006). Rekening tunggal perbendaharaan terpusat pasif yang terdiri dari beberapa subrekening. Rekening tunggal perbendaharaan dan kontrol akuntansi terpusat. 2998:244). Oleh karena itu. sementara yang lainnya desentralistis atau menyerahkan ke level menajerial lebih rendah. maka anggaran kas juga dapat disusun mengikuti anggaran belanja tersebut. 2. Dalam metode ini. sumber tambahan pendapatan bagi pemerintah berupa bunga. dan keuntungan non finansial lainnya. Perbendaharaan akan membatasi jumlah pencairan secara keseluruhan melalui rencana pelaksanaan anggaran yang ada. TSA adalah sebuah atau beberapa rekening yang saling berhubungan. Rekening kas merupakan rekening bank yang dibentuk untuk menampung dana yang dimiliki daerah. Dalam model ini unit kerja memiliki rekening sendiri yang dananya diisi dari perbendaharaan dengan jumlah tetap (imprest fund). setiap pemerintah memiliki rekening sendiri di bank. 3. Secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga (Allen. MANAJEMEN KAS DALAM PERSPEKTIF BEST PRACTICE Setiap negara memiliki pendekatan berbeda dalam melaksanakan manajemen kas. Dalam metode ini pembayaran dilakukan langsung oleh unit kerja. yakni: 1. permintaan pembayaran dan dokumen-dokumen pendukungnya dikirim ke perbendaharaan. —————————————C. melalui mana pemerintah daerah melakukan transakasi pembayaran. bagi SKPD yang memungut PAD dan dana perimbangan. sebagai prasarana dalam melakukan transfer/pengiriman uang. terdapat beberapa metode untuk memusatkan transaksi dan aliran kas. dalam konsep rekening tunggal yang lebih luas. namun adakalanya penyusunan anggaran kas ini . Rekening tunggal perbendaharaan terpusat pasif. Sementara untuk pendapatan. Ada negara yang mengatur pengelolaan kas secara sentralistis atau terpusat. Unit kerja dapat mengeluarkan dana dari rekening tersebut untuk melakukan pembayaran-pembayaran dan mempertanggungjawabkan pembayaraan tersebut kepada perbendaharaan untuk mendapat penggantian dana sejumlah yang sudah digunakan. daerah diwajibkan menyusun anggaran kas sebagai bagian tidak terpisahkan dari anggaran pendapatan dan belanjanya. disusun anggaran kas masuk sesuai dengan kebijakan dan estimasi waktu penerimaan kas tersebut.

Pada tahun 1992 dibentuk Modified Disbursement System untuk memberikan koordiasi yang lebih dekat antara DBM dam DOF dalam mengeluarkan dana. Pada tahun 1995 diterapkan the Simplified Fund Release System (SFRS) yang dimaksudkan untuk menstandarkan pencairan dana di antara agency yang sejalan dengan kebijakan pemerintah. dan Bank Sentral. Filipina Sampai tahun 1985 otorisasi kas diterbitkan untuk agency setiap kuartal melalui penerbitan cash disbursement ceilings (CDCs) yang menentukan jumlah maksimum yang dapat ditarik agency dari Kantor Perbendaharaan (Buereau of the Treasury/BTr) untuk memenuhi kewajibannya. di mana apropriasi anggaran tahunan disimpan di dalam rekening berbunga (interest-bearing account) masingmasing agency. Cara ini dimkasudkan untuk menghindari adanya sisa kas tak berguna yang terlalu besar (surges) pada akhir tahun. sementara bendahara daerah tinggal mengkompilasi anggaran kas unit kerja tersebut. maka dibebani bunga. sementara jika menghabiskan dananya lebih cepat. untuk mendorong perbaikan dalam manajemen kas. meningkatkan disiplin manajer (karena overspending akan dibebankan pada periode . maka akan mendapatkan bunga atas saldo yang tersisa. dengan tingkat bunga normal 1/12 persen setiap bulan. didasarkan pada perhitungan jangka pendek atas ketersediaan kas. di agency diterapkan pengukuran atas penggunaan kas. BTr.diserahkan kepada masing-masing unit kerja di daerah. perencanaan. dan pendapatan. sehingga mengurangi paperwork dan mempermudah monitoring atas pencairan anggaran. Dengan sistem seperti ini. Department of Budget and Magamenet (DBM) dan Department of Finance (DOF) membentuk Inter-Agency Committee on Cash Programming yang beranggotakan perwakilan dari DBM. Selain itu. b. dan menjamin bahwa terjadi konsistensi antara rencana anggaran dengan sasaran pembangunan dan ketersediaan dana. Pada tahun 1990 dikenalkan Synchronized Planning-Programming-Budgeting-System (SPPBS) untuk memperbaiki sinkronisasi antara agency anggaran. Sistem ini memungkinkan fleksibilitas penggunaan dana dalam batasan yang telah ditentukan peraturan serta penyederhanaan prosesnya. Bunga ini mencerminkan biaya pinjaman yang harus ditanggung pemerintah karena adanya “pelanggaran” terhadap anggaran kas agency bersangkutan. agency diharapkan memiliki kemampuan untuk menggunakan dananya tepat waktu. Swedia Sistem di Swedia menganut konsep majamen keuangan yang efisien. agency diperbolehkan menggunakan apropriasi yang belum terpakai ke periode berikutnya (carry forward). Pada tahun berikutnya. Komite ini kemudian menetapkan batas pembayaran yang menjadi dasar penerbitan notices of cash allocation (NCAs). Untuk mengoptimalkan penggunaan kas dalam programprogram yang menjadi prioritasnya. DOF. Jika agency menghabiskan dananya terlambat. SPPBS ternyata tidak memcahkan persoalan manajemen kas dan masalah cash float dan ketepatan waktu pencairan kas terus berlanjut. a. Hal ini mendorong kepedulian agency terhadap manajemen kasnya. Berikut dijelaskan praktik manajemen kas di beberapa negara.

terutama manajemen kas daerah. Dalam kondisi tertentu bisa saja daerah membuat kebijakan membolehkan SKPD melakukan pinjaman ke kas daerah. Manajemen kas yang efektif akan memungkinkan terjadinya pelaksanaan kegiatan secara lancar dan tepat waktu. aliran kas keluar. Anggaran Kas Anggaran kas merupakan rencana keuangan yang mencakup rencana aliran kas masuk. penatausahaan. anggaran untuk SKPD tersebut sudah ada. Terlalu banyak campur tangan secara politis. sumber kas. SKPD tidak diberi gambaran yang jelas tentang kondisi kas daerah. 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam . dana di rekening kas daerah mencukupi. Hal ini menyebabkan terjadinya peyimpangan-penyimpangan atau bahkan korupsi. Tidak ada kaitan antara rencana kegiatan dengan anggaran kas. namun dengan persyaratan yang jelas: mendesak. yang tidak saja merugikan keuangan daerah. Beberapa penyimpangan yang terjadi dapat dipandang bersumber dari beberapa hal berikut: • • • • • • • • Ketidakmampuan SDM yang mengelola keuangan. dan meningkatkan efisiensi agency di luar yang diasumsikan dalam anggaran (karena keuntungan dari efisiensi tersebut akan dinimkati sendiri oleh agency). Namun. Pengawasan oleh internal auditor atau Bawasda tidak berjalan efektif. terjadi ketidakefektifan dalam pengelolaan keuangan daerah. PRAKTIK MANAJEMEN KAS SELAMA INI DI DAERAH 1. Tidak adanya transparansi dalam pelaksanaan anggaran yang menyebabkan kas masuk atau kas keluar. Beberapa kasus yang terjadi di daerah memiliki indikasi adanya korupsi atas kas daerah.berikutnya). —————————————D. dan saldo pada akhir periode anggaran. pinjaman sementara bisa dilakukan oleh SKPD apabila sebuah kegiatan atau pengeluaran kas harus dilakukan oleh SKPD bersangkutan secepatnya. 2. Pengelola keuangan daerah terlalu powerful dibanding SKPD lain. Hal ini juga berimplikasi pada pemenuhan komitmen yang telah dibuat oleh pemerintah daerah kepada stakeholders-nya. tetapi masyarakat banyak dalam jangka panjang. Menurut PP No. 29/2002. peruntukan penggunaan kas. Iklim ddan kultur di pemerintahan daerah yang memungkinkan praktik KKN semakin merajalela. Beberapa Kelemahan Manajemen Kas Selama Ini Keberhasilan penerapan anggaran berbasis kinerja di daerah tidak terlepas dari manajemen kas yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah. dan dana tersebut belum memiliki peruntukan yang lebih mendesak. Artinya. seperti diatur dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No. dan akuntansi secara mandiri. dalam pelaksanaan otonomi daerah selama ini dan sejak daerah diwajibkan memenuhi aturan penganggaran.

Hal ini tergambar dari pengaturan yang ada di dalam Permendagri 13/2006 tentang keharusan satuan kerja melampirkan anggaran kas selama empat triwulan satuan kerja ketika menyampaikan dokumen pelaksaan anggaran (DPA) kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). (2) kemampuan sumber daya manusia (SDM). Akan tetapi untuk kegiatan atau proyek. SKPD harus mempertimbangkan banyak hal. meskipun anggarannya belum tersedia. dan membayarkan uang. menyimpan. semester. perencanaannya relatif tidak sulit. kedaruratan ini bahkan bisa dibiayai dengan pinjaman atau pembiayaan lain. besaran kas masuk dan kas keluar selama satu bulan. Kemampuan SDM.Negeri (Permendagri) No. harus diperhitungkan oleh SKPD ketika merencanakan teknis pelaksanaan kegiatan. Anggaran kas yang diusulkan oleh SKPD kepada TAPD didasarkan pada kebutuhan dana SKPD. Untuk kegiatan tertentu bisa saja berhubungan dengan kondisi alam atau musim tertentu. dan tren aliran kas selama ini. Kedaruratan atau urgensi merupakan kondisi di mana suatu kegiatan harus diprioritaskan atau didahulukan pelaksanaannya dibanding kegiatan lain. triwulan. Meskipun perbendaharaan adalah pihak yang paling mengetahui kondisi kas pada peridoe berjalan. sementara aliran kas keluar dapat berupa pembayaran belanja-belanja dan pengeluaran pembiayaan. baik untuk pengeluaran yang bersifat rutin maupun kegiatan. Penyusunan anggaran kas di pemerintah daerah pada dasarnya mengikuti pedoman dan struktur organisasi yang berlaku di daerah tersebut. Waktu pelaksanaan kegiatan akan menentukan berapa besar aliran kas keluar dalam rentang waktu tertentu. (3) waktu. aliran kas masuk yang dianggarkan dapat bersumber dari pendapatan dan penerimaan pembiayaan. memiliki catatan historis aliran kas. 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Berdasarkan struktur organisasi pengelolaan keuangan daerah. yakni satuan yang bertugas menerima. unit kerja yang menangani perbendaharaan adalah subbagian perbendaharaan di bagian keuangan atau bidang perbendaharaan di badan pengelolaan keuangan daerah. maka pelaksana fungsi tersebut bertugas menyusun rencana aliran kas ke depan. didasarkan pada kebutuhan satuan kerja. Adalah tidak mungkin semua kegiatan yang direncanakan dilaksanakan sekaligus dalam waktu bersamaan oleh SKPD. dan (4) kesesuaian dengan kegiatan atau program lain yang dilaksanakan bersamaan. Seorang pegawai tentunya tidak mungkin melaksanakan dua kegiatan di tempat berbeda secara secara bersamaan. baik dari segi kapasitas maupun kuantitas. seperti misalnya gaji dan biaya-biaya operasional kantor. yang diantaranya adalah (1) kedaruratan atau urgensi. Juga dinyatakan bahwa plafon anggaran yang diperoleh tidak boleh dibagi rata ke dalam empat triwulan. Dengan demikian. . dalam menyusun anggaran kas haruslah melakukan “koordinasi” dengan satuan kerja yang merupakan pelaksana pelayanan publik. Karena anggaran kas berhubungan erat dengan fungsi bendahara. Untuk anggaran yang jumlahnya relatif tetap setiap tahun. Dalam kondisi ekstrim (force-majeur). dan tahun.

baik dari pendapatan maupun pembiayaan. seperti pajak dan retribusi. Rancangan anggaran kas SKPD disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan dengan rancangan DPA-SKPD. Namun. beberapa langkah yang harus dilakukan dalam penyusunan anggaran kas adalah sebagai berikut: 1. Menentukan batas atas (plafon) anggaran yang ditetapkan dalam APBD untuk SKPD bersangkutan. Pelaksanaan kegiatan sangat tergantung pada kemampuan sumberdaya yang dimiliki SKPD berupa personil. untuk waktu-waktu tertentu perlu dibuat kebijakan khusus. yakni ketika pengeluaran daerah lebih besar dari biasanya. dan masukan lainnya. setelah APBD disahkan SKPD diminta menyusun dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) dan dilampiri dengan anggaran kas. rencana kegiatan dan anggaran (RKA) yang sudah disetujui harus direncanakan lagi kapan pelaksanaan dan pencairan dananya. peralatan. Mekanisme penyusunan anggaran kas menurut Permendagri 13/2006 adalah: • • • • Kepala SKPD berdasarkan rancangan DPA-SKPD menyusun rancangan anggaran kas SKPD. kecuali bagi SKPD yang memiliki fungsi sebagai pemungut/penerima pendapatan yang bersumber dari potensi daerah sendiri. Plafon ini merupakan batas maksimal kas yang bisa dikeluarkan atau dibayarkan oleh SKPD. Apabila anggaran kas yang diusulkan oleh SKPD relatif smooth sepanjang tahun. Jika jumlah personil di SKPD tidak . Aliran masuk kas di BUD bersumber dari pendapatan dan pembiayaan serta transaksi/kejadian non anggaran. Untuk ini sangat disarankan untuk tidak melakukan perata-rataan jumlah pencaiaran kas setiap bulan atau triwulan. dokumen. Dengan adanya jadwal pelaksanaan kegiatan dapat ditentukan kapan pencairan akan dilakukan.Kesesuaian dengan kegiatan atau program lain menjadi pertimbangan penting ketika SKPD melaksanakan dua atau beberapa kegiatan berkelanjuran (berseri) dalam satu periode anggaran atau sebuah program dilaksanakan oleh beberapa SKPD. Penyesuaian jadwal pelaksanaan perlu dilakukan agar hasil yang ditargetkan dapat tercapai. 3. Menyusun jadwal pelaksanaan program dan kegiatan. Oleh karena itu. Langka-Langkah Penyusunan Anggaran Kas di SKPD Anggaran kas merupakan komponen dari manajemen kas. artinya tidak terlalu berfluktuasi antartriwulan. Artinya. Bagi SKPD. Dalam proses penyusunan anggaran menurut Permendagri 13/2006. Pengelolaan kas dierencanakan melalui anggaran kas berupa prakiraan atas aliran masuk dan aliran keluar kas. sehingga pengalokasian waktu pencaiaran belanja dapat dilakukan lebih mudah. Mekanisme pengelolaan anggaran kas pemerintah daerah ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Sementara aliran masuk kas SKPD umumnya bersumber dari BUD. Pembahasan rancangan anggaran kas SKPD dilaksanakan bersamaan dengan pembahasan rancangan DPA-SKPD. bendahara umum daerah akan lebih mudah merencanakan penerimaan dan pengeluaran. dalam penganggaran kas harus diupayakan perdiksi seakurat mungkin tentang waktu penerimaan daerah berupa kas. 2.

3. Apabila penerimaan kas dari BUD dilakukan setiap tiga bula (per triwulan). pemberian bantuan. format seperti Tabel 1 (Jones. penelitian. Modifikasi atas Tabel 1 dapat dilihat pada Tabel 2 berikut. Tabel 2 Format Anggaran Kas di SKPD Skedul Belanja tidak langsung Gaji … Belanja langsung 1. Kegiatan F 7. 1996:116) dapat dimodifikasi dengan merinci lebih jauh rencana kegiatan dan pembayarannya. maka harus disesuaikan penggunaannya per bulan. Kegiatan D 5. dan studi banding). Harus diingat bahwa anggaran kas di SKPD tergantung pada alokasi anggaran yang sudah ditetapan untuk SKPD bersangkutan. Kegiatan E 6. sehingga anggaran kas hanya dimaksudkan untuk mengatur penggunaannya selama satu tahun anggaran.banyak. Format Anggaran Kas Untuk digunakan di SKPD. Secara umum anggaran kas memuat sumber penerimaan kas atau aliran masuk kas dan penggunaan kas atau aliran keluar kas setiap bulan. penyuluhan. 4. Kegiatan A 2. Kegiatan … Total belanja Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah x x x x x x x x x x x x xxx x x x x x x x x x x x x xxx x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx x x x x x x x x X x x x . Adakalanya dalam satu bulan dilaksanakan beberapa kegiatan sekaligus. 4. Membuat tabel anggaran kas. Kegiatan B 3. Saat pencairan atau pembayaran mungkin berbeda untuk kegiatan yang sifatnya sikontrakkan kepada pihak ketiga dengan yang dilaksanakan sendiri. maka pelaksanaan beberapa kegiatan dalam waktu bersamaan mungkin sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Tabel anggaran kas dibuat untuk memberikan gambaran tentang jumlah dan waktu pencairan dana. atau untuk kegiatan yang bersifat pengadaan (melalui pembelian atau membuat/membangun sendiri) dengan non pengadaan (seperti pelatihan. Jumlah pencairan setiap bulan ditentukan oleh banyaknya kegiatan atau kontrak yang harus dipenuhi. Untuk bagian pengeluaran kas perlu dipisahkan antara pembayaran untuk belanja tidak langsung (belanja pegawai) dan belanja langsung (kegiatan). Kegiatan C 4. Menentukan jumlah pencairan setiap bulan.

termasuk akuntansi dan pemeriksaan. dan (4) memperkecil kemungkinan penumpukan kas di BUD/kas daerah. (2) kegiatan dapat dilaksanakan secara optimal karena beban kerja tidak terlalu padat atau menumpuk pada periodeperiode tertentu. Jumlah kas setiap bulan yang diterima SKPD tergantung pada kebutuhan untuk pembayaran pada bulan bersangkutan. misalnya PAD. —————————————E. Dalam satu bulan dapat dilaksanakan satu atau lebih kegiatan.Kas yang dibutuhkan per x x x x x x x x x bulan x x x xxx Pada format anggaran kas di atas diasumsikan sumber kas hanya satu. 58/2005 tentang pengelolaan keuangan daerah. MANAJEMEN KAS DALAM PERSPEKTIF PERATURAN PERUNDANGAN TERKAIT Beberapa peraturan perundangan berlaku saat ini yang berhubungan dengan manajemen kas adalah UU No. Mengingat kas memiliki peran . dan Permendagri No 13/2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. Pencairan dana tidak mengalami hambatan. dalam hal ini pun harus dipahami bahwa tidak mungkin seluruh pendapatan yang diterima BLU tersebut akan dapat membayar semua pengeluaran untuk belanjanya. Dari tabel di atas dapat disimpulkan beberapa hal. Pada SKPD yang melakukan pemungutan pendapatan daerah. Bagi BUD sendiri diasumsikan pengiriman dana perimbangan dari pemerintah pusat tepat waktu dan sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan sebelumnya. 17/2003 tentang keuangan negara. PP No. tergantung pada kemampuan personil dan lama waktu pelaksanaan kegiatan. baik dari aspek konsep maupun praktik di lapangan. PP No. 1. sepanjang tidak boleh digunakan langsung oleh SKPD. Kelebihan dari penyusunan anggaran kas seperti ini adalah (1) tidak ada atau sangat kecil jumlah kas yang menganggur atau dipegang oleh bendahara pengeluaran. Untuk badan layanan umum (BLU) yang diberi kewenangan untuk menggunakan pendapatan yang diterimanya dari masyarakat (misalnya berupa retribusi). (3) pelaksanaan kegiatan dapat dipertanggungjawabkan dengan lebih baik. UU No. Namun. 24/2005 tentang standar akuntansi pemerintahan. maka formatnya sama dengan format di atas. yakni: • • • • Pelaksanaan kegiatan diasumsikan dapat dilakukan pada bulan Januari. 1/2004 tentang perbendaharaan negara. PP No. Perkembangan Peraturan Perundangan Terkait Manajemen Kas Dalam beberapa tahun terakhir isu manajemen kas di pemerintahan menjadi bahan diskusi yang menarik. Peraturan perundangan tersebut mengatur mulai dari perencanaan sampai pada pelaporan penglolaan keuangan dalam perspektif yang luas. yakni BUD atau kas daerah. maka format anggaran kas di atas dimodifikasi lagi dengan memasukkan anggaran penerimaan kas dari pendapatan. 15/2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara.

seperti halnya penganggaran daerah. yang merupakan revisi atas UU 22/1999 tentang pemerintahan daerah. adanya rekening penerimaan untuk menampung penerimaan. 58/2005 tentang pengelolaan keuangan daerah dan beberapa PP lainnya. Untuk pengelolaan kas di SKPD. adanya rekening pengeluaran melakukan pengeluaran kas sesuai APBD. misalnya karena ada aktifitas tertentu yang membutuhkan dana lebih besar. perubahan UU 22/1999 ke UU 32/2004. yakni pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas (anggaran) dan pengelolaan kas non anggaran. Pada tahun 2005. pemerintah menerbitkan PP No. maka pemerintah pusat mengeluarkan aturan pelaksanaan berupa Peraturan Pemerintah dan Peraturan/Keputusan Menteri tentang pengelolaan keuangan daerah. memiliki implikasi pada berbagai perubahan dalam pengelolaan keuangan daerah. penggunaan. Apabila jumlah dana yang dikelola oleh SKPD terlalu kecil. yang kemudian diikuti dengan terbitnya Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Mekanisme pengajuan permintaan uang. rekening yang dikelola oleh BUD bersifat sentralistis. SKPD akan mengelola sejumlah dana tertentu yang jumlahnya ditentukan di awal periode. adanya rekening kas umum daerah di bank yang sehat. BUD mengendalikan pengeluaran daerah melalui satu rekening tunggal dengan menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Secara teknis. 13/2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. 2. Manajemen Kas Menurut Permendagri 13/2006 Bab IX Permendagri 13/2006 menjelaskan tentang pengelolaan kas daerah dalam dua kelompok kas. dan pelaporan atas pengelolaan kas daerah . maka dapat diberikan tambahan uang. dan Kepmendagri 29/2002 ke Permendagri 13/2006. Dalam berbagai hal. penatausahaan. PP 105/2000 ke PP 58/2005. yang disampaikan kepada pihak yang menerima pembayaran atau melakukan pembayaran lanjutan kepada pihak ketiga. Berdasarkan Permendagri 13 tersebut. Pada tahun 2001 dikeluarakn PP No. pengelolaan kas non anggaran mencakup penerimaan dan pengeluaran yang tidak mempengaruhi komponen-komponen APBD yang melibatkan perhitungan pihak ketiga. Dengan sistem ini. 29/2002 tentang pedoman pengurusan. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah. perencanaan. termasuk penganggaran dan manajemen kas daerah. 105/2000 tentang pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah. Beberapa poin penting dari lima pasal yang terdapat dalam bab ini adalah: • • • • • • pengelolaan kas adalah tanggung jawab bendahara umum daerah (BUD). pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah.vital dalam pelaksanaan operasional pemerintahan secara keseluruhan. dan pertanggungjawaban atas penggunaan uang oleh SKPD diatur lebih jauh dalam penatausahaan keuangan daerah (Bab X Permendagri 13/2006). digunakan sistem imprest fund atau dana tetap. PP ini kemudian ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. dengan landasan UU No. 32/2004 tentang pemerintahan daerah. pengelolaan kas non anggaran diatur dengan peraturan kepala daerah. Setiap penggunaan dana akan diganti setelah jumlah dana yang digunakan tersebut dipertanggungjawabkan dengan dilengkapi bukti-bukti pendukungya ke BUD.

. SP2D. Penatausahaan Dokumen Tidak ada Ada bendahara bendahara di SKPD. 29/2002 dengan Permendagri 13/2006 Perbubahan peraturan pelaksanaan manajemen kas daerah dari Kepmedagri No.Tidak ada . 29/2002 ke Permendagri 13/2006 memiliki akibat pada terjadinya beberapa perubahan dalam pelaksanaan fungsi perbendaharaan di daerah. 29/2002 dan Permendagri 13/2006 Jenis perbedaan Perencanaan dan penganggaran Kepmedagri No. menambah staf fungsional bendahara.Daerah harus merubah struktur organisasinya. selain proses belajar yang terus menerus. . .Pencairan dana .SPD. . Perbandingan Manajemen Kas dalam Kepmedagri No.Pencairan dana berkaitan dengan tidak berkaitan anggaran kas. Perubahan tersebut terjadi pada tahap perencanaan. .SPD dan SP2D . SPM. Implikasi . Harus berbentuk badan.Ada bargaining antara SKPD dengan BUD dalam penganggaran kas.Pekerjaan SKPD SPM. Tabel berikut menyajikan beberapa hal yang berbeda antara Kepmedagri No. SPJ.Harus ada staf oleh bagian oleh bagian verifikasi SPP dan keuangan. dan pelaporan keuangan. .diatur lebih lengkap dalam peraturan menteri ini. Berikut dijelaskan beberapa perbedaan antara pengelolaan kas daerah menurut Kepmendagri 29/2002 dengan Permendagri 13/2006. Struktur organisasi Tidak harus pengelola Keuda berbentuk badan. 3. penganggaran.SKO dan SPM . SPP. SPJ di PPK-SKPD.di SKPD.Pembuat dokumen . dengan anggaran kas.SKO.Ada keharusan keharusan SKPD SKPD menyusun menyusun anggaran anggaran kas. Permendagri 29/2002 13/2006 . bagaimana pengaplikasiannya di daerah sepertinya membutuhkan waktu mengingat adanya beberapa perubahan atau penyseuaian yang harus dilakukan oleh daerah. pelaksanaan. 29/2002 dengan Permendagri 13/2006. penatausahaan. Namun. menjadi lebih berat. SPP. . pertanggungajawaban. . . SPP.SKPD tapi pemegang kas. SPP dan keuangan.SKPD harus memiliki kemampuan untuk menyusun anggaran kas. kas. Tabel 3 Perbandingan antara Kepmedagri No.

pengeluaran ke PPK-SKPD. Pertanggungjawaban Setiap realisasi SPJ dilakukan di Tanggungjawab belanja harus diSPJ. ———————————— F. terutama berupa ketidakonsistenan antarperaturan dan antarkomponen dalam satu peraturan paralel. Pengguna anggaran tidak bisa memaksakan kehendak kepada bendahara Pelaporan keuangan SKPD tidak . akuntansi yang mampu menyusun LK. dilaksanakannya. .Kepala SKPD harus membuat pernyataan bertanggungjawab LK. KERANGKA INOVASI MANAJEMEN KAS DI DAERAH Pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah membutuhkan inovasi dalam jangka panjang mengingat berbagai peraturan pelaksana yang ada selama ini masih memiliki banyak kelemahan. LK ke SKPD. Risiko penyalahgunaan anggaran oleh SKPD dapat diminimalisir.SPM. . SKPD. dan SPJ oleh SKPD. semakin besar.SKPD tidak Kebenaran LK menyusun LK menyusun LK untuk merupakan untuk anggaran yg anggaran yg telah tanggungjawab telah dilaksanakannya. SKPD. Pengawasan BPK tidak BPK melakukan Tanggungjawab melakukan pemeriksanaan atas pengguna anggaran pemeriksanaan atas LK ke SKPD. Improvisasi oleh setiap daerah diharapkan dapat memperbaiki sistem pengelolaan SPJ oleh SKPD.SKPD oleh pengguna anggaran kan oleh SKPD ke bendahara semakin besar. Akuntansi Akuntansi Akuntansi SKPD harus dilaksanakan di dilaksanakan di memiliki tenaga BUD. bagain keuangan.

2001. Kas yang masih tersisa di bendahara pengeluaran SKPD tidak perlu dikembalikan ke kas daerah. namun tentunya harus mengikuti prosedur dan mekanisme yang berlaku. Meski tidak termasuk ke dalam struktur perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh daerah. Managing Public Expenditure: A Reference Book for Transition Countries. 6. SKPD diberi informasi yang lengkap tentang ketersediaan dana bagi program dan kegiatan mereka. Perbedaan karakteristik daerah dapat menjadi pertimbangan mengapa kemudian inovasi antardaerah juga berbeda. Beberapa gebrakan yang dapat dilakukan misalnya: 1. Paris: OECD. Di sisi lain. Pemerintah pusat sudah memberikan rambu-rambu yang cukup ketat dengan menyediakan perangkat peraturan yang relatif lengkap. Dalam hal ini. Hal ini mungkin dapat dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan SKPD melaksanakan pelayanan publik pada awal tahun anggaran ketika APBD belum disahkan atau ditetapkan. —————————————Referensi Allen. Meminta kepada pemerintah pusat/provinsi untuk konsisten dalam pencairan atau transfer dana perimbangan dari pusat/provinsi. mulai dari UU sampai pada peraturan menteri. sehingga SKPD dapat memperoleh informasi secepatnya tentang ketersediaan dana untuk anggaran kegiatannya.keuangan daerah melalui pembelajaran secara terus menerus. Dalam hal ini BUD harus dapat memberikan garansi bahwa pelaksanaan kegiatan tidak akan terganggu karena masalah kekurangan kas di BUD. namun memberikan hasil ketika kas tidak dibutuhkan untuk aktivitas operasional dan pelaksanaan program atau projek daerah. Richard & Daniel Tommasi. 5. kas yang menganggur (idle cash) harus seminimal mungkin. Artinya. Adanya sistem perbendaharaan berbasis komputer (LAN atau internet) yang menghubungkan bendahara SKPD dengan BUD. keamanan kas juga harus dijaga sehingga terhindar dari penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Oleh akrena itu. Fleksibilitas anggaran diperlukan untuk kondisi-kondisi tertentu. Keterlambatan dalam pengiriman ini menyebabkan pelaksanaan program dan kegiatan di daerah mengalami keterlambatan. pelanggaran mungkin dilakukan oleh BUD dan juga bendahara di SKPD. . 4. kas tersedia ketika dibutuhkan. peraturan menteri memberikan gambaran tentang pelaksanaan secara teknis pengelolaan keuangan daerah. 3. 2. Adanya kebijakan anggaran kas untuk peristiwa dan kejadian yang menyebabkan anggaran belanja tak terduga harus dicairkan/direalisasi. Inovasi yang boleh dilakukan oleh daerah haruslah dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adanya sanksi yang tegas yang dinyatakan dalam peraturan daerah (Perda) terhadap pelanggaran atas pengelolaan dan anggaran kas. Pada dasarnya tujuan akhir dari manajemen kas daerah adalah bagaimana kas dapat dimanfaatkan secara optimal.

Permendagri No. Dalam Rchlin. selambat-lambanya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. New York: John Wiley & Sons. Internal Technical Note. UU nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia telah melakukan reformasi manajemen keuangan negara baik pada pemerintah pusat maupun pada pemerintah daerah. September 2004 Penatausahaan Keuangan Sektor Publik Pengelolaan keuangan daerah adalah seluruh kegiatan yang meliputi perencanaan. London: The McGraw-Hill Companies. Penatausahaan keuangan daerah ini meliputi: 1. sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 2004. Peraturan Perundang-undangan Pengelolaan Keuangan Daerah Penatausahaan keuangan daerah berpedomaan kepada Permendagri 13/2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah sebagaimana telah diubah dengan Permendagri 59/2007. Undang-Undang No. 17/2004 tentang Keuangan Negara. Penatausahaan belanja pada tingkat SKPD dan pada tingkat SKPKD. A. UU nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 2004. N. Donniel & George Adams. 1999. Robert (Ed. Disamping Undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut. 1989. Cash Management and Budgeting. Menteri Dalam Negeri juga mengeluarkan Permendagri No 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 1/2003 tentang Perbendaharaan negara. Laporan Keuangan disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP PP 24 tahun 2005). Republik Indonesia. Pada Intinya semua peraturan tersebut menginginkan adanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan daerah. Dalam peraturan perundang-undangan tersebut dinyatakan bahwa Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Jones. Undang-Undang No.1996. 15 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara.). . Bernard. Inc. 3. Public Financial Management. 2. pelaksanaan.: Prentice Hall. penatausahaan. Mike. Financial Management in the Public Sector. 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.Coe. Peraturan Pemerintah No 24/2006 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Fourth edition. Schulman. Williams. pertanggung jawaban.J. 1999. Charles K. Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran sebagai pemerintah daerah dan pembiayaan pada tingkat SKPKD. Government Cash Management: Good – and Bad – Practice. Handbook of Budgeting. Englewood Cliffs. Penatausahaan pendapatan pada tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan tingkat Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD). Peraturan Pemerintah No. dan pengawasan keuangan daerah. pelaporan.

Pada akhir bulan. dan slip setoran. Ruang lingkup keuangan daerah sebagaimana yang dinyatakan dalam permendagri nomor 13 tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah (diperbaharui dengan permendagri nomor 59 tahun 2007) meliputi: • • • • • Hak daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah Kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintah daerah dan membayar tagihan pihak ketiga. Pada akhir bulan. surat tanda bukti pembayaran. Penatausahaan ini dilakukan pada Buku Kas Umum Penerimaan dan Pengeluaran. bendahara penerimaan membuat Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) administratif maupun fungsional paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Nota Pencairan Dana (NPD). . Buku Kas Tunai. termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah. Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). pasal 209) Buku Kas Umum Pengeluaran. B. Sementara itu. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. Surat Perintah Membayar (SPM). Sedangkan penatausahaan penerimaan dan pengeluaran sebagai pemerintah daerah. melaksanakan peraturan daerah yang telah disusun dalam anggaran. Buku Rekapitulasi Penerimaan Harian. Buku Pembantu per Rincian Objek Penerimaan. Buku Rekapitulasi Pengeluaran Per Rincian Objek Register SPPUP/GU/TU. Penerimaan dan pengeluaran daerah. penatausahaan belanja dilakukan oleh bendahara pengeluaran SKPD dengan menggunakan dokumen berupa Surat Permintaan Pembayaran (SPP). dan pembiayaan dilakukan oleh Bendahara Umum Daerah/Kuasa Bendahara Umum Daerah. Selanjutnya. Selanjutnya. pasal 189) Buku Kas Umum Penerimaan. Surat Tanda Seoran (STS). Penatausahaan pendapatan dilakukan oleh bendahara penerimaan SKPD dengan menggunakan dokumen berupa Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD). dan buktibukti pengeluaran yang sah lainnya.Pada SKPKD penatausahaan ini dilakukan baik sebagai SKPD maupun sebagai pemerintah daerah. sampai pada proses pertanggung jawaban atas kegiatan yang telah dilakukan sehubungan dengan penggunaan anggaran. bendahara pengeluaran SKPD menatausahakan belanja tersebut ke dalam (Permendagri 13/2006. Buku Simpanan Bank. Lingkup Pengelolaan Keuangan Daearah Pengelolaan keuangan daerah dimulai dari penyusunan anggaran oleh pemerintah daerah yang didasarkan pada data dari kinerja masa lalu yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah sebelumya. Kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain. bendahara pengeluaran membuat SPJ pengeluaran administrative maupun fungsional paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Buku Panjar. bendahara penerimaan SKPD menatausahakan penerimaan tersebut ke dalam (Permendagri 13/2006. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) baik UP maupun LS.

penyusunan rancangan APBD. kepatutan. azas umum dan struktur APBD. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggung jawaban pelaksanaan APBD. dan pengelolaan keuangan BLUD . ekonomis.Keuangan daerah dikelola dengan berdasarkan azas diantaranya: tertib. bertanggung jawab. perubahan APBD. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Kuasa BUD PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di . Begitu pula dengan pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah diperlukan struktur oraganisasi untuk memperjelas pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan ini. C. penatausahaan keuangan daerah. Dalam permendagri nomor 13 tahun 2006 disebutkan keterlibatan pejabat dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah ini. pengelolaan kas. diperlukan suatu perencanaan yang matang dan terstruktur sehingga lebih mudah dan jelas dalam pelaksanaan kegiatannya. pelaksanaan APBD. Kebijakan yang dapat diambil diantaranya mencakup tentang pelaksanaan APBD dan kebijakan pengelolaan barang daerah. Tugas PPKD adalah menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. Hal tersebut dapat diilustrasikan dengan gambar berikut: Gambar 1. transparan. melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah. penetapan APBD. Struktur Organisasi dan Para Pejabat yang Melaksanakan Pengelolaan Keuangan Daerah Dalam melaksanakan suatu kebijakan. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam peraturan menteri ini meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. penyusunan dan penetapan APBD bagi daerah yang belum memiliki DPRD. akuntansi keuangan daerah. kerugian daerah. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. taat pada peraturan. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. efisien. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. efektif. pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah. keadilan. dan manfaat. Kekuasaan pengelolaan keuangan daerah Seorang kepala daerah atau pemegang kekuasaan berhak untuk menetapkan kebijakan dan pejabat yang akan membantunya dalam kegiatan pengelolaan keuangan daerah.

arus barang dan arus uang inilah perlu adanya penatausahaan keuangan. 4. 2. menyimpan surat-surat penting atau mengarsipkan kegiatan dokumentasi lainnya. Tata usaha memegang peranan yang sangat penting karena melalui tata usaha segala keterangan yang menyangkut kegiatan organisasi secara teratur dicatat dan dihimpun. Proses Penatausahaan Keuangan Daerah Pada prinsipnya kegiatan tata usaha keuangan daerah dapat dibagi atas dua jenis.lingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku Kuasa BUD Ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah menyiapkan anggaran kas menyiapkan SPD menerbitkan SP2D menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah Tugas Kuasa BUD : Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan tugas bendahara umum daerah. Mempersiapkan buku-buku untuk pencatatan kegiatan pelaksanaan anggaran belanja. Dengan adanya arus dokumen. Tata Usaha Umum adalah menyangkut kegiatan surat menyurat. Pengolahan tanda-tanda bukti untuk menyusun Surat Pertanggungjawaban. Jadi peranan penatausahaan keuangan daerah dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan APBD adalah untuk melihat perkembangan volume kegiatan baik beban Anggaran Rutin maupun Anggaran Pembangunan dari tahun ke tahun dalam penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah. Anggaran yang telah disusun menurut prosedur yang telah ditetapkan tentu akan direalisasikan. Pelaksanaan APBD yang diwujudkan dalam pengurusan administrasi dan pengurusan bendaharawan akan mengakibatkan adanya arus dokumen. Pada prinsipnya penyusunan anggaran merupakan suatu bagian proses perencanaan laba dan pengendalian yang menyeluruh. yaitu : Tata Usaha Umum dan Tata Usaha Keuangan. 3. Kumpulan keterangan yang berupa angka-angka dan kata-kata merupakan unsur data yang kemudian data tersebut diolah sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang dapat dipergunakan oleh orang yang membutuhkannya. mengekspedisi. Tata cara atau prosedur pelaksanaan sistem penatausahaan keuangan daerah sangat penting dalam penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah mengingat perkembangan volume kegiatan dari tahun ke tahun terus meningkat. standar-standar tertentu serta prosedur-prosedur tertentu sehingga dapat memberikan informasi aktual di bidang keuangan. . Penyimpanan uang dan dokumen-dokumen. Tata Usaha Keuangan adalah tata buku yang merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis di bidang keuangan berdasarkan prinsipprinsip. yaitu dengan melakukan : 1. Pelaksanaan realisasi anggaran akan melibatkan berbagai sumber dari organisasi pemerintahan. Setelah anggaran direalisasikan kemudian dibuat laporannya sehingga dapat digunakan untuk melihat dan menilai efektivitas pelaksanaan anggaran. mengagenda. Pencatatan dalam Buku Kas Umum dan Buku Kepala/Buku Pembantu. arus barang dan arus uang. D.

Surat Pertanggungjawaban (SPJ). Buku Kas Umum Daerah.E. Rekening Kas Umum Daerah. diantaranya sebagai berikut : 1. Dokumen-dokumen dalam Proses Penatausahaan Keuangan Daerah Dokumen yang digunakan pada prosedur Penatausahaan Keuangan Daerah berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keaungan Daerah. Yaitu bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran lain yang sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. . 2. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. Yaitu rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. Yaitu dokumen perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan arus kas keluar untuk mengatur ketersediaan dana yang cukup guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. dan laporan pertanggungjawaban penggunaan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambah uang persediaan kepada kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) melalui Pejabat Pengelola Keuangan (PPK-SKPD) paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya. 5. Anggaran Kas. Yaitu surat/laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan penerimaan uang yang disampaikan kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selaku Bendahara Umum Daerah (BUD). 3. Dokumen/arsip merupakan endapan informasi terekam yang selain mencerminkan segala aktivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan serta kehidupan kebangsaan juga menjadi bukti otentik dan terpercaya sebagai bahan pertanggungjawaban nasional yang sekaligus menjadi identitas jati diri bangsa. 6. Yaitu dokumen yang memuat pendapatan. Bukti penerimaan dan pengeluaran lain yang sah. Yaitu tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar pengeluaran daerah. 4. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful