pelaksanaan otonomi daerah dalam ekonomi pembangunan guna tercapainya kesejahteraan masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Krisis multidimensional yang tengah melanda bangsa Indonesia telah menyadarkan kepada kita semua akan pentingnya menggagas kembali konsep otonomi daerah dalam arti yang sebenarnya. Gagasan penataan kembali sistem otonomi daerah bertolak dari pemikiran untuk menjamin terjadinya efisiensi, efektivitas, transparansi, akuntabilitas, dan demokratisasi nilai-nilai kerakyatan dalam praktik penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Dengan adanya gelombang krisis nasional, mengharuskan Indonesia untuk mereformasi paradigma pembangunan ekonomi. Reformasi yang dimaksudkan oleh Dr. Ruslan Abdulgani adalah reformation of the system, yang artinya adalah perombakan struktural, semacam revolusi, yang harus berjalan secara

konstitutional, konseptual, simultan dan damai (Swasono, 2001). Paradigma baru pembangunan diharapkan lebih memperhatikan masyarakat golongan bawah, seperti buruh tani, pekerja kasar, pengusaha kecil dan sebagainya yang diharapkan mendapatkan lebih banyak perhatian dalam perencanaan pembangunan nasional. Hal ini juga berlaku pada tingkat perencanaan pembangunan daerah. Selama 32 tahun Orde Baru, feodalisme, paternalisme dan absolutisme yang dilakukan pemerintah pada dasarnya merupakan kecenderungan ke arah sentralisaisme. Dalam kecendrungan semacam itu, otonomi, desentralisasi dan dekonsentrasi tidak akan berjalan (Swasono, 2001).

Sepanjang tahun 70-an dan 80-an. sentralisasi otoritas dipandang sebagai prasyarat untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Dampak dari sistem yang selama ini kita anut menyebabkan Pemerintah Daerah tidak responsif dan kurang peka terhadap aspirasi masyarakat daerah.Kritik yang muncul selama ini adalah Pemerintah Pusat terlalu dominan terhadap Daerah. rendahnya akuntabilitas. dan pembiayaan yang adil. Karena dua alasan tersebut. Akibatnya. Banyak proyek pembangunan daerah yang tidak menghiraukan manfaat yang dirasakan masyarakat. karena beberapa proyek merupakan proyek titipan yang sarat dengan petunjuk dan arahan dari Pemerintah Pusat. sentralisasi seperti itu telah menimbulkan ketimpangan dan atau ketidakadilan. Pemerintah Pusat melakukan campur tangan terhadap Daerah dengan alasan untuk menjamin stabilitas nasional dan masih lemahnya sumber daya manusia yang ada di Daerah. Pemerintah Daerah kurang diberi keleluasaan (local discreation) untuk menentukan kebijakan daerahnya sendiri. lambatnya pembangunan infrastruktur . misalnya. tetapi justru ketergantungan Daerah terhadap Pemerintah Pusat. penyiapan sumber daya manusia yang profesional. Pola pendekatan yang sentralistik dan seragam yang selama ini dikembangkan Pemerintah Pusat telah mematikan inisiatif dan kreativitas Daerah. Namun dalam jangka panjang. yang terjadi bukannya tercipta kemandirian Daerah. Pada awalnya pandangan tersebut terbukti benar. Kewenangan yang selama ini diberikan kepada Daerah tidak disertai dengan pemberian infrastruktur yang memadai. Indonesia mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabilitas politik yang mantap.

Dari segi ekonomi pembangunan. permasalahan dan kebutuhan nyata daerah. aspirasi masyarakat yang tumbuh dan berkembang di daerah. rendahnya tingkat pengembalian proyek-proyek publik.sosial. Guna menunjang kebijakan pembangunan nasional dalam pelaksanaan otonomi daerah secara efektif dan efisien diperlukan pemantapan perencanaan pembangunan daerah secara menyeluruh dan terpadu. Oleh karena itu. serta memperlambat pengembangan kelembagaan sosial ekonomi di daerah. . dalam pelaksanaan otonomi daerah perlu diperhatikan untuk melancarkan pelaksanaan program pembangunan guna tercapainya kesejahteraan rakyat. potensi. kebijakan pembangunan yang digariskan dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah harus dirumuskan dengan memperhatikan kondisi.

1 Pengertian Otonomi Daerah Otonomi atau autonomy berasal dari bahasa Yunani. sebagaimana dikandung dalarn UU No. autos yang berarti sendiri dan nomous yang berarti hukum atau peraturan. 1999:35).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. di mana otonomi berarti pemerintahan sendiri (zelfregering) yang oleh Van Vollenhoven dibagi atas zelfwetgeving (membuat undang-undang sendiri). otonomi pada dasarnya memuat makna kebebasan dan kemandirian. sosial-budaya dan politik di wilayahnya. Sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Nomor 32 Tahun 2004) definisi otonomi daerah sebagai berikut: “Otonomi daerah adalah hak. 2001:2).” . wewenang. adalah usaha memberi kesempatan kepada daerah untuk memberdayakan potensi ekonomi. Pengertian otonomi dapat juga ditemukan dalam literatur Belanda. Otonomi Daerah. 22/1999. zelfrechtspraak (mengadili sendiri) dan zelfpolitie (menindaki sendiri). dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Otonomi daerah berarti kebebasan dan kemandirian daerah dalam menentukan langkahlangkah sendiri (Widarta. (Sarundajang. zelfuitvoering (melaksanakan sendiri). Dengan demikian.

Daerah tidak boleh mencampuri hak mengatur dan mengurus rumah tangga daerah lain sesuai dengan wewenang pangkal dan urusan yang diserahkan kepadanya. hak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri tidak merupakan hak mengatur dan mengurus rumah tangga daerah lain. c.2 Tujuan Otonomi Daerah Pelaksanaan otonomi daerah tidak terlepas dari keberadaan Pasal 18 UUD RI 1945. Istilah sendiri dalam hak mengatur dan mengurus rumah tangga merupakan inti keotonomian suatu daerah. Otonomi yang dijalankan tetap harus memperhatikan hak-hak asal usul dalam daerah yang bersifat istimewa (Bagir Manan. b. Hak mengurus rumah tangga sendiri bagi suatu daerah otonom. . d. Hak tersebut bersumber dari wewenang pangkal dan urusang-urusan pemerintah (pusat) yang diserahkan kepada daerah. 2. Otonomi tidak membawahi otonomi daerah lain.Sarundajang (1999:35) menyatakan bahwa otonomi daerah pada hakekatnya adalah: a. Pasal tersebut yang menjadi dasar penyelenggaraan otonomi dipahami sebagai normatifikasi gagasan-gagasan yang mendorong pemakaian otonomi sebagai bentuk dan cara menyelenggarakan pemerintahan daerah. Dalam kebebasan menjalankan hak mengurus dan mengatur rumah tangga sendiri. daerah tidak dapat menjalankan hak dan wewenang otonominya itu diluar batas-batas wilayah daerahnya.1993:9).

Tujuan otonomi daerah adalah sebagai berikut (Sarundajang. Dari segi politik adalah untuk mengikutsertakan. dengan melakukan usaha pemberdayaan (empowerment) masyarakat.Sejalan dengan hal tersebut. adat dan sifat-sifat sendiri-sendiri dalam kadar negara kesatuan. Dari segi kemasyarakatan. Soepomo mengatakan bahwa otonomi daerah sebagai prinsip berarti menghormati kehidupan regional menurut riwayat. dan tidak terlalu banyak tergantung pada pemberian pemerintah serta memiliki daya saing yang kuat dalam proses penumbuhannya. Tiap daerah mempunyai historis dan sifat khusus yang berlainan dari riwayat dan sifat daerah lain. Oleh karena itu. d. baik untuk kepentingan daerah sendiri. terutama dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat dengan memperluas jenis-jenis pelayanan dalam berbagai bidang kebutuhan masyarakat. maupun untuk mendukung politik dan kebijaksanaan nasional dalam rangka pembangunan dalam proses demokrasi di lapisan bawah. sehingga masyarakat makin mandiri. b. pemerintah harus menjauhkan segala urusan yang bermaksud akan menguniformisir seluruh daerah menurut satu model (H. 2000:11). c. untuk meningkatkan partisipasi serta menumbuhkan kemandirian masyarakat. Dari segi manajemen pemerintahan. menyalurkan inspirasi dan aspirasi masyarakat. Rozali Abdullah. . adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan. 1993:36): a. Dari segi ekonomi pembangunan. adalah untuk melancarkan pelaksanaan program pembangunan guna tercapainya kesejahteraan rakyat yang makin meningkat.

Pengembalian trust (kepercayaan) pusat ke daerah Desentralisasi merupakan simbol lahirnya kepercayaan dari pemerintah pusat ke daerah. maksudnya membebaskan pemerintah pusat dari bebanbeban tidak perlu menangani urusan domestik sehingga ia berkesempatan mempelajari.Martin Jumung (2005:43) mengemukakan bahwa tujuan utama otonomi daerah pada era otonomi daerah sudah tertuang dalam kebijakan desentralisasi sejak tahun 1999 yakni: a. Pembebasan pusat. memahami. Hal ini dengan sendirinya mengembalikan kepercayaan kepada pemerintah dan masyarakat daerah. merespons berbagai kecenderungan global dan mengambil manfaat daripadanya. b. c. Pemberdayaan lokal atau daerah Alokasi kewenangan pemerintah pusat ke daerah maka daerah akan mengalami proses pemberdayaan yang signifikan. Artinya ability (kemampuan) prakarsa dan kreativitas daerah akan terpacu sehingga kapasitasnya dalam mengatasi berbagai masalah domestik akan semakin kuat. . Pada saat yang sama sangat diharapkan pemerintah pusat lebih mampu berkonsentrasi pada kebijakan makro nasional dari yang bersifat strategis.

Kebijakan pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang luas. Perubahan paradigma ini antara lain diwujudkan melalui kebijakan otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diatur dalam satu paket undang-undang yaitu Undang-Undang No. otonomi daerah dan desentralisasi fiskal merupakan langkah strategis bangsa Indonesia untuk menyongsong era globalisasi ekonomi dengan memperkuat basis perokonomian daerah. nyata dan bertanggungjawab kepada . ketidakmerataan pembangunan. Otonomi yang diberikan kepada daerah kabupaten dan kota dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. nyata. dan bertanggung jawab kepada daerah merupakan langkah strategis dalam dua hal. Kedua. dan masalah pembangunan sumber daya manusia (SDM). 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UndangUndang No. kemiskinan. otonomi daerah dan desentralisasi merupakan jawaban atas permasalahan lokal bangsa Indonesia berupa ancaman disintegrasi bangsa. Pertama.BAB III PEMBAHASAN 3. rendahnya kualitas hidup masyarakat. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.1 Arah Dan Kebijakan Otonomi Daerah Era reformasi saat ini memberikan peluang bagi perubahan paradigma pembangunan nasional dari paradigma pertumbuhan menuju paradigma pemerataan pembangunan secara lebih adil dan berimbang.

saat sekarang daerah sudah diberi kewenangan penuh untuk merencanakan. dan pengembangan peran dan fungsi DPRD. dari command and control menjadi berorientasi pada tuntutan dan kebutuhan publik. mengawasi. mengendalikan dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan daerah. melaksanakan. Dengan semakin besarnya partisipasi masyarakat ini. hampir tiap negara bersiap-siap untuk menyambut dan menghadapi era perdagangan bebas. baik dalam kerangka AFTA. Artinya. koordinator dan entrepreneur (wirausaha) dalam proses pembangunan. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah kuatnya upaya untuk mendorong pemberdayaan masyarakat. peningkatan peran serta masyarakat. desentralisasi kemudian akan mempengaruhi komponen kualitas pemerintahan lainnya.2 Otonomi Daerah Sebagai Upaya Memperkuat Basis Perekonomian Daerah Saat ini. 3. Setiap negara berupaya secara maksimal untuk menciptakan rerangka kebijakan yang mampu menciptakan iklim perekonomian yang kondusif. Salah satunya berkaitan dengan pergeseran orientasi pemerintah. Orientasi yang seperti ini kemudian akan menjadi dasar bagi pelaksanaan peran pemerintah sebagai stimulator. pengembangan prakarsa dan kreativitas. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. UU ini memberikan otonomi secara penuh kepada daerah kabupaten dan kota untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakatnya. dan pemanfaatan dan sumberdaya nasional yang berkeadilan. fasilitator. Artinya. APEC maupun WTO. pelimpahan tanggungjawab akan diikuti oleh pengaturan pembagian. Hal .pemerintah daerah secara proporsional.

Daerah dituntut untuk mencari alternatif sumber pembiayaan pembangunan tanpa mengurangi harapan masih adanya bantuan dan bagian (sharing) dari Pemerintah Pusat dan menggunakan dana publik sesuai dengan prioritas dan aspirasi masyarakat.tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan investasi dalam negeri serta mampu mendorong masyarakat untuk bermain di pasar global. Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan efisiensi. Dengan otonomi. Dengan kondisi seperti ini. Meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat . peranan investasi swasta dan perusahaan milik daerah sangat diharapkan sebagai pemacu utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah (enginee of growth). dan akuntabilitas sektor publik di Indonesia. Salah satu implikasi dari kondisi di atas adalah adanya tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap efisiensi. karena pada dasarnya terkandung tiga misi utama sehubungan dengan pelaksanaan otonomi daerah tersebut. Daerah juga diharapkan mampu menarik investor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta menimbulkan efek multiplier yang besar. yaitu: 1. dan efektivitas sektor publik (pemerintahan). Menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah 2. Pemberian otonomi daerah diharapkan dapat memberikan keleluasaan kepada daerah dalam pembangunan daerah melalui usaha-usaha yang sejauh mungkin mampu meningkatkan partisipasi aktif masyarakat. Hal tersebut disebabkan pasar tidak akan kondusif jika sektor publiknya tidak efisien. efektivitas.

Untuk mendukung perubahan struktural dari ekonomi tradisional yang subsistem menuju ekonomi moderen diperlukan pengalokasian sumber daya. Langkah-langkah yang perlu diambil dalam mewujudkan kebijakan tersebut adalah sebagai berikut (Sumodiningrat. Globalisasi ekonomi telah meningkatkan persaingan antar negara-negara dalam suatu sistem ekonomi internasional. perlu dilakukan perubahan struktural untuk memperkuat kedudukan dan peran ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional. c. Sebagai langkah awal untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam rangka kualitas sumber daya manusia. Pemberian peluang atau akses yang lebih besar kepada aset produksi. b. Kebijakan pengembangan industri harus mengarah pada penguatan industri rakyat yang terkait dengan industri besar. Industri rakyat yang . Salah satu cara menghadapi dan memanfaatkan perdagangan internasional adalah meningkatkan daya saing melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja. d. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta (berpartisipasi) dalam proses pembangunan. disertai dengan upaya peningkatan gizi. yang paling mendasar adalah akses pada dana. penguatan kelembagaan. Memperkuat posisi transaksi dan kemitraan usaha ekonomi rakyat.3. 1999): a. penguatan teknologi dan pembangunan sumber daya manusia. Perubahan struktural adalah perubahan dari ekonomi tradisional yang subsistem menuju ekonomi modern yang berorientasi pada pasar.

oleh karena itu pemerataan pembangunan daerah diharapkan mempengaruhi peningkatan pembangunan ekonomi rakyat. bervisi strategik dan mampu berpikir strategik. dan evaluasi sehingga otonomi yang diberikan kepada daerah akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. efektivitas. Daerah sangat membutuhkan aparat daerah (baik eksekutif maupun legislatif) yang berkualitas tinggi.berkembang menjadi industri-industri kecil dan menengah yang kuat harus menjadi tulang punggung industri nasional. Upaya-upaya untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya daerah harus dilaksanakan secara komprehensif dan terintegrasi mulai dari aspek perencanaan. serta memiliki moral yang baik sehingga dapat mengelola pembangunan daerah dengan baik. Partisipasi aktif dari semua elemen yang ada di daerah sangat dibutuhkan agar perencanaan pembangunan daerah benar-benar . Dari aspek perencanaan. Sejalan dengan upaya untuk memantapkan kemandirian Pemerintah Daerah yang dinamis dan bertanggung jawab. maka diperlukan upayaupaya untuk meningkatkan efisiensi. f. Kebijakan ketenagakerjaan yang mendorong tumbuhnya tenaga kerja mandiri sebagai cikal bakal wirausaha baru yang nantinya berkembang menjadi wirausaha kecil dan menengah yang kuat dan saling menunjang. Pemerataan pembangunan antar daerah. dan profesionalisme sumber daya manusia dan lembaga-lembaga publik di daerah dalam mengelola sumber daya daerah. serta mewujudkan pemberdayaan dan otonomi daerah dalam lingkup yang lebih nyata. e. pelaksanaan. Ekonomi rakyat tersebut tersebar di seluruh penjuru tanah air.

dan alat koordinasi bagi semua aktivitas dari berbagai unit kerja. aspek pelaksanaan. APBD digunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya pendapatan dan pengeluaran. sumber pengembangan ukuranukuran standar untuk evaluasi kinerja. Salah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur secara hatihati adalah masalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan. Sebagai instrumen kebijakan. perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil kerja pemerintah daerah. Anggaran Daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi Pemerintah Daerah. otorisasi pengeluaran di masa-masa yang akan datang. Pemerintah Daerah dituntut mampu menciptakan sistem manajemen yang mampu mendukung operasionalisasi pembangunan daerah. APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah. proses penyusunan dan pelaksanaan APBD hendaknya difokuskan pada upaya untuk mendukung pelaksanaan program dan aktivitas yang menjadi preferensi daerah yang bersangkutan.mencerminkan kebutuhan daerah dan berkaitan langsung dengan permasalahan yang dihadapi daerah. Untuk memastikan bahwa pengelolaan dana publik (public money) telah dilakukan sebagaimana mestinya (sesuai konsep value for money). Evaluasi dapat . pemerintah daerah dapat membentuk pusat-pusat pertanggungjawaban (responsibility centers) sebagai unit pelaksana. Untuk memperlancar pelaksanaan program dan aktivitas yang telah direncanakan dan mempermudah pengendalian. Dalam kaitan ini. alat untuk memotivasi para pegawai.

pembangunan prasarana dan sarana baik fisik maupun sosial. Untuk menciptakan transparansi dan akuntabilitas publik. serta pengembangan kelembagaan di daerah. penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang. 3. Pengawasan dari semua lapisan masyarakat dan khususnya dari DPRD mutlak diperlukan agar otonomi yang diberikan kepada daerah tidak “kebablasan” dan dapat mencapai tujuannya. pemerintah daerah perlu membuat Laporan Keuangan yang disampaikan kepada publik. peningkatan kemampuan masyarakat dalam membangun melalui berbagai bantuan dana.dilakukan oleh pihak internal yang dapat dilakukan oleh internal auditor maupun oleh eksternal auditor. Prinsip pembangunan partisipatif yang kini diterapkan sebagai manajemen nasional merupakan model ekonomi rakyat melalui pemberdayaan masyarakat. tugas pemerintah adalah mempertajam arah pembangunan maupun melalui penguatan Penguatan kelembagaaan pembangunan masyarakat birokrasi. perlindungan melalui pemihakan kepada yang lemah untuk . serta pengembangan kelembagaan di daerah. ketiga. kedua. misalnya auditor independen. kelembagaan tersebut dilakukan melalui pembangunan yang partisipatif untuk mengembangkan kapasitas masyarakat dan kemampuan aparat dalam menjalankan fungsi pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat (good governance). Pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang: pertama. latihan.3 Kebijaksanaan Dalam Pengembangan Usaha Ekonomi Rakyat Berkaitan dengan pelaksanaan arah baru pembangunan tersebut.

mencegah persaingan yang tidak seimbang. Prinsip demokrasi ekonomi tercermin dalam pasal 33 UUD 1945. mengenai hak budget DPR pemerintah dapat melakukan rencanaa proyek yang akan dilaksanakan untuk menggerakkan perekonomian nasional dan menetapkan sumber-sumber penerimaan negara untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan. Di tengah-tengah ketimpangan ekonomi yang makin melebar. Memperkokoh Gerakan Koperasi Sambil mensukseskan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Dalam hal ini yang menonjol adalah pimpinan dan kepemilikan oleh anggota masyarakat. maka demoktarisasi ekonomi sangat perlu untuk melawan konglomerasi dan pemusatan kekuasaan ekonomi. yaitu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. bahasa. dan menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan (Sumodiningrat. Selain itu masyarakat adil dan makmur yang ingin dicapai sesuai dengan jiwa dan semangat Pancasila juga berarti bahwa dalam pembangunan nasional pendapatan nasional juga harus meningkat. 1999). Indonesia dengan banyak ragam suku bangsa. pasal 23 UUD 1945. maka untuk mempertahankan integrasi nasional idiologi ekonomi yang menganut paham kebersamaan seperti koperasi sangat relevan dengan kondisi Indonesia. . Dalam hal ini DPR mempunyai hak untuk menolak sendainya pemerintah melakukan program yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Selain itu. Ide demokrasi ekonomi dapat dilihat dalam penjelasan UUD 1945. Campur tangan pemerintah dengan memberikan proteksi dan subsidi sangat diperlukan untuk memberdayakan usaha kecil dan menengah.

Resource-based strategy akan lebih mampu menjamin kemandirian industri dalam negeri. Sektor pertanian dan industrialisasi pertanian menjadi pilihan strategis karena posisinya yang berdasarkan suumber-sumber sendiri (resource-based) dan berttitik sentral pada rakyat (people centered) dengan sekaligus mengutamakan kepentingan rakyat (putting people first). serta sekaligus sesuai dengan sumber-sumber Indonesia (factor-endowment) yang tersedia. antara penduduk diperkotaan dengan di pedesaan. Dengan pengalaman yang lebih pahit dari masa-masa terakhir pemerintahan Orde Baru. 1979). arah kebijaksanaan ekonomi nasional harus dituujukan kepada sektor-sektor yang sarat dengan kepentingan dan keterlibatan rakyat. 2001b). maka diperlukan sistem ekonomi yang melindungi kelompok yang lemah dengan batas waktu tertentu dan membatasi yang kuat agar tidak menjurus ke monopoli dan etatisme. Ide pasar bebas mengharuskan bangsa Indonesia menyusun “paradigma baru” dalam kebijaksanaan ekonomi yang mencerminkan demokrasi ekonomi. terkait dengan potensi dan kapasitas rakyat. dimana adanya kesenjangan yang sangat lebar antara golongan kaya dan miskin. agar tidak terlalu tergantung pada kebutuhan akan komponen luar negeri sebagai elemen ketergantungan. Prinsip demokrasi ekonomi tercermin dalam pasal 33 UUD 1945.Sesuai dengan dasar pemihakan dan strategi di atas. sehingga komponen impor (import components) produk industri dalam negeri menjadi minimal (Swasono. Gerakan Koperasi dan Triple-Co Merosotnya perekonomian Indonesia antara lain karena kesalahan strategi pembangunan yang terlalu bersifat liberal materialistis dan kurangnya aspek kekeluargaan dan spiritual (Mokoginta dalam Mubyarto. yaitu .

yaitu sistem ekonomi yang berdasar pakem “dari rakyat. Antara yang kecil. keterkaitan produksi (production common bond) maupun keterkaitan teritori (teritory common bond). sebagai dasar ekonomi pasar sosial atau social market economy (Jung. termasuk kerjasama mengatur persaingan. tetapi kerjasama antarketiganya. baik karena keterkaitan konusmsi (consumption common bond). Inilah yang disebut coopetition atau kerjasama untuk mengatur persaingan. Gerakan koperasi dengan konsep “triple-co” yang mencakup pemilikan bersama (co-ownership). maupun koperasi dalam arti semangat (makro) membentuk suatu konsolidasi ekonomi nasional melalui azas “triple-co” tadi. Melalui penciptaan kondisi yang demikian itu akan diperoleh makna dan hakikat dari “kebersamaan” (mutuality) dan “azas kekeluargaan” (brotherhood) sebagai sukma dari sistem ekonomi berdasar demokrasi ekonomi. oleh . Dengan demikian koperasi dalam arti badan usaha (mikro). 1990. Yang kecil. Melalui triple-co usaha-usaha besar dapat dimiliki oleh usaha-usaha kecil (atau koperasi) “terkait”. 2001b).perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. penentuan bersama (co-determination) dan tanggung jawab bersama (co-responsibility). untuk menghindari suatu persaingan yang mematikan. Lamppert. dimana koperasi koperasi dapat terkait dengan badan usaha non koperasi. dalam Swasono. menengah dan yang besar tidak saja terbentuk suatu interdependensi. menengah dan yang besar terintegrasi secara konsolidatif membentuk kekuatan ekonomi nasional yang tangguh untuk menghadapi globalisasi dan kekuatan global. 1994. Pengalaman menunjukkan bahwa di banyak negara koperasi banyak tumbuh menjadi usaha yang besar.

2001c). .rakyat dan untuk rakyat” (Swasono.

Mendesak: Reformasi Peranan Daerah (dalam Dari Lengser ke Lengser). Cara Mudah Memahami Otonomi Daerah. Jakarta: IndHill Co. Rozali. Bagir. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 1999. Swasono. 2000. Penerbit Universitas Indonesia Widarta. Sarundajang. Jumung. Politik Lokal dan Pemerintah Daerah dalam Perspektif Otonomi Daerah. 2001. Sri-Edi. Jakarta: Pustaka Nusantara. Dasar-Dasar Perundang-Undangan Indonesia. 1992. . Pelaksanaan Otonomi Luas dan Isu Federalisme Sebagai Alternatif. Martin. 2001. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. Manan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful