P. 1
budaya pesantren

budaya pesantren

|Views: 340|Likes:
Published by Dedi Fachrozi

More info:

Published by: Dedi Fachrozi on Aug 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/28/2014

pdf

text

original

http://sosialcorner.

com/mekanisme-survival-pesantren-peran-dan-tantanganpesantren-pasca-realisasi-jembatan-suramadu-dan-industrialisasi-madura Mekanisme Survival pesantren: Peran dan tantangan Pesantren pasca realisasi jembatan Suramadu dan industrialisasi Madura at Berbagi referensi ilmu SosiaL « Strategi Pembangunan kawasan Suramadu Sisi Madura Pasca realisasi jembatan Suramadu dan industrialisasi Madura Multi nasional corporations (MNC) sebagai instrument kapitalisme dalam Ekspolitasi level produksi dan konsumsi di Negara sedang berkembang: potret dan solusi » Mekanisme Survival pesantren: Peran dan tantangan Pesantren pasca realisasi jembatan Suramadu dan industrialisasi Madura Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Pesantren merupakan institusi pendidikan yang melembaga dalam sub-kultur masyarakat Indonesia. Pesantren tidak hanya mengandung unsur keaslian (native) Indonesia, tetapi juga mengandung unsur keislaman. Pesantren yang awalnya sebagai lembaga pendidikan, penyiaran agama Islam,reproduksi ulama dan pemelihara Islam tradisional, seiring dengan adanya perubahan dalam masyarakat, identitas pesantren juga mengalami perubahan Pesantren merupakan sebutan bagi lembaga pendidikan yang bercorak islam tradisional dimana para siswa (yang kemudian disebut santri) tinggal didalamnya dibawah bimbingan sang pengasuh yang kemudian disebut kyai (Understood Abdullah, 2007:24). Menurut Dhofier lembaga pesantren terdiri dari unsur masjid, pengajian kitab kuning, santri dan kyai yang secara sistemik membentuk lembaga pendidikan pesantren (Amin Haedari dkk, 2004:5-6). Dengan demikian pesantren merupakan lembaga pendidikan yang tidak terpisahkan dari tipologi masyarakat yang religius. Namun sejalan dengan dinamika masyarakat dan zaman sekiranya diperlukan modernisasi pesantren untuk meningkatkan daya saing pesantren ditengah-tengah kemajuan pendidikan saat ini. Menurut perspektif lokal, pesantren erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat madura yang dikenal religius. Soegianto (2003) mengemukakan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang religius. Hal ini ditandai dengan penempatan Kyai sebagai strata tertinggi di Madura kemudian masyarakat umum yang bergelar haji (Soegianto, 2003:21). Kenyataan ini menunjukkan kentalnya nilai religiusitas masyarakat Madura. Eksistensi pesantren sangat urgen bagi masyarakat Madura karena secara historis sejak abad XIX di Bangkalan Madura telah berdiri pesantren yang tersohor di bawah pimpinan kyai kharismatik KH. Moh. Kholil (Rifa’i, 2007:43) Sebagai lembaga pendidikan, bagi masyarakat Madura pesantren tidak sekedar melaksanakan peran dan fungsi pendidikan semata, akan tetapi juga mempunyai fungsi

karena referensi pesantren yang terkesan konservatif kalah bersaing dengan lembaga pendidikan lain yang selangkah lebih kontemporer (Understood Abdullah. Salah satu point dari 9 pokok pikiran Ulama BASSRA mengacu pada peran dan fungsi pesantren sebagai sarana untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia Madura (Point 3e). Kompleksitas peran pesantren bagi masyarakat Madura akan semakin nyata seiring dengan meningkatnya modernisasi global pasca realisasi jembatan Suramadu dan industrialisasinya. 2004: 31-32). Permasalahannya adalah bagaimana strategi survival Pondok pesantren di daerah landasan jembatan suramadu dalam menghadapi tekanan perubahan sosial pasca realisasi Jembatan Suramadu dan Industrialisasi Madura. Selain itu pesantren merupakan salah satu tempat konservasi budaya khususnya nilai-nilai religius masyarakat setmpat. pesantren khususnya pesantren salaf mempunyai idealisme yang ”bertentangan” dengan logika modernitas. dikhawatirkan modernisasi akan menggeser ciri khas madura yang identik dengan ”daerah pesantren”. 2004: 129-136). khususnya pesantren dalam menghadapi gelombang modernisasi pasca industrialisasi Madura (Subaharianto. Lebih dari itu melalui kharisma pengasuh pesantren bargaining politik suatu masyarakat dapat meningkat. Di tengah-tengah modernitas saat ini tantangan mendasar bagi pesantren adalah implikasi modernitas yang akan menggeser peran signifikan pesantren yang telah mengakar di masyarakat Madura. Salah satu Representasi kepentingan dan harapan masyarakat adalah pengembangan pendidikan yang berbasis pesantren. Wacana ini diperkuat dengan hasil konferensi cabang NU se-Madura pada 2002 di Pesantren Darul Manan Gersempal Omben Sampang yang menghasilkan tiga poin dimana salah satunya menuntut pengembangan pendidikan Pesantren secara proporsional (Subaharianto dkk. Bersamaan dengan realisasi jembatan Suramadu dan industrialisasinya. .sosial yang komprehensif. Urgensitas Pesantren bagi Masyarakat Madura dapat kita lihat pada besarnya pengaruh Ulama Madura yang tergabung dalam Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) terhadap pembangunan Jembatan Suramadu dan industrialisasinya. Wacana ini pada akhirnya menjadi tantangan masyarakat madura pada umumnya. Pesantren mempunyai peran yang sangat strategis bagi masyarakat sekitarnya. 2007:68). Eksistensi ini menuntut pesantren untuk lebih adaptif tanpa mengurangi nilai-nilai idealismenya. Sebagai respon terhadap Wacana Suramadu dan Industrialisasi Madura. Pasca realisasi jembatan Suramadu dan industriaslisasinya. Dengan demikian diperlukan sinergi mutualisme antara pesantren dan lembaga genteel (pemerintah) untuk menjaga eksistensi pesantren sebagai kearifan lokal Madura sekaligus modal sosial dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. pesantren mampu menciptakan sirkulasi pasar bagi masyarakat sekitarnya. Masyarakat sekitar pesantren dapat membuka kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan santri. Ulama BASSRA pada tahun 1994 merumuskan 9 pokok pikiran BASSRA dalam kaitannya dengan Suramadu dan Industrialisasinya. Namun disisi lain pesantren mempunyai peran strategis dalam menjaga equilibrium. khususnya equlibrium nilai-nilai religius dan harus tetap eksis. diharapkan wacana pembangunan Madura yang representatif terhadap harapan (expectasi) masyarakat Madura benar-benar terwujud. Disatu sisi. Pesantren tidak lagi diminati masyarakat. Dalam segi ekonomi. Bahkan tidak jarang pemerintah bekerjasama dengan pesantren untuk menggalang partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Selain itu. Perubahan secara terus menerus (oikumenogenesis) akan membawa perubahan pula pada tatanan masyarakat termasuk didalamnya institusiinstitusi sosial. 2007: 11-12). terdapat fenomena yang menarik dengan munculnya beberapa adaptasi yang dilakukan oleh pesantren. keterampilan. SMU dan Perguruan tinggi) ataupun bercirikan khas islam (MI. Peran dan tantangan Pesantren Secara teoritis. Subsistem tersebut saling menyatu dalam keseimbangan. 2. Pesantren dan tipologinya dapat dibedakan menjadi dua. perubahan sosial akan membawa perubahan-perubahan pada subsistem sosial secara interdependen. Pertengahan tahun 1980-аn muncul berbagai pesantren yang berorientasi pada peran sosial yang mengarah pada pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Perubahan pada satu subsistem akan berpengaruh pada subsistem lainnya. MA). Selain peran utamanya sebagai lembaga pendidikan. yaitu masyarakat majemuk. Peran pesantren mengalami pasang surut seiring dengan perubahan sosial. Dalam pelaksanaannya memang pesantren mengemban beberapa peran. pengembangan masyarakat dan sekaligus menjadi konservasi budaya kearifan lokal. pesantren terintegrasi ataupun pesantren virtual yang beraktifitas lewat dunia maya (Understood Abdullah. 1998: 29) Masyarakat merupakan sebuah sistem dan merupakan perpaduan beberapa bagian yang saling menyatu membentuk satu kesatuan yang utuh. perubahan pada satu aspek berimplikasi pada aspek lainnya dan akhirnya mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. 2002: 151). pemberdayaan ekonomi . Perbedaan ini dapat dilihat dalam proses dan substansi kegiatan didalamnya. SMP. Antar bagian tersebut bersifat interdependen. Pembedaan ini didasarkan pada metode pembelajaran dan substansi aktifitas didalamnya.1. 2. Tipologi Pesantren Secara umum pondok pesantren mempunyai ciri-ciri yang hampir sama. Ketika pesantren tidak mampu beradaptasi dengan situasi sosial baru. akan menciptakan kompetisi pendidikan. pesantren Salafiyah (Tradisional) dan pesantren Khalafiyah (present). yang akan menciptakan konvergensi pluralitas tatanan masyarakat (Salim. 2007:44 – 48).one map οf a logic іѕ thе interdependence οf іtѕ раrt. Perubahan sosial bersifat interdependen antar sub sistem sosial. Exchange іn one institution hаѕ implications fοr οthеr institutions аnԁ fοr thе thе high classes аѕ a total (Zanden. Pesantren salafiyah merupakan pesantren yang masih mempertahankan kurikulum dan metode pendidikan ala pesantren murni. Sedangkan pondok pesantren Khalafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan pesantren dan menambahkan pendidikan genteel baik yang bersifat umum (SD. pesantren juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan. MTS. Pesantren kilat. (Understood Abdullah. akan tetpai pada hakekatnya terdapat diferensiasi mendasar yang membedakan pesantren berdasarkan tipologinya.2.BAB 2 Pembahasan 2.1. Zanden (1998) merumuskan : Fungsionalist pocket аѕ thеіr starting point thе notion thаt thе high classes аѕ a logic . pola interaksi. Peran Ekonomi. kompetisi SDM dan menjadikan struktur masyarakat baru. a amalgamation οf equipment οr раrt thаt affect a better total….2. Realisasi jambatan Suramadu juga akan berdampak demikian. maka tidak menutup kemungkinan eksistensinya akan terancam.

Peran politis ini dapat dilihat juga pada tahun 90an. bahkan bisa dikatakan lebih banyak berada di desa. Namun demikian. Potensi pesantren sebagai agen perubahan sosial di pedesaan memang sangat strategis. dan pesantren yang mengembangkan manajemen koperasi (kopontren) seperti Sidogiri di Jawa timur. kultural. sektor internal dan sektor eksternal. . Dari praktek ekonomi inilah warga sekitar mempunyai tambahan penghasilan yang yang bermanfaat bagi kehidupan ekonominya. Kembali ke hakikat ekonomi berdasarkan jati diri bangsa adalah pilihan yang barrier baik bagi masyarakat. sosial. tetapi juga kaya dengan tradisi dan budaya. Namun hingga kini pengelolaan manajemen koperasinya belum teratur. Banyak dijumpai. Hal ini mencakup sektor. Hal ini membutuhkan upaya-upaya pelatihan manajerial koperasi agar dapat dimanfaatkan lebih optimal. pesantren yang mengembangkan peternakan. Selain itu Pesantren dapat menjadi pusat pengembangan ekonomi dan bekerja untuk mengatasi kemiskinan dengan kekuatan masyarakat sendiri. Selain sebagai lemabaga pendidikan pesantren juga sangat berperan sebagai lembaga yang multifungsi (lembaga pendidikan. Karena didalam pesantren dapat diintegrasikan praktek-praktek ekonomi yang bisa menjadi pengalaman berharga bagi para santri/siswa selepas dari pendidikan di pesantren. juga menjadikan pesantren sebagai pusat keagamaan dan sekaligus pusat kebudayaan. Pesantren bukan hanya dihiasi oleh doktrindoktrin agama secara genteel.Pesantren selain sebagai foothold pendidikan agama. Selain sebagai pemberdayaan ekonomi pesantren. 2. sektor eksternal. tawar menawar antara pemerintah dengan Badan silaturrahmi ulama madura (BASSRA) tentang Suramadu merupakan salah satu wujud konkrit bargaining spot politik pesantren yang cukup disegani. hubungan dengan masyarakat juga sangat dekat. juga mempunyai peran strategis dalam pemberdayaan ekonomi. sentralistik. dalam hal ini pesantren memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar pesantren. warga sekitar dapat membuka toko kelontong yang menyediakan kebutuhan para santri. Jumlah kebutuhan santri dan siswa tidak mungkin dapat dipenuhi oleh koperasi pesantren secara keseluruhan.2. dan ekonomi) dalam masyarakat Indonesia. agama. para wakil rakyat (anggota legislatif) merupakan tokoh yang besar dari kalangan pesantren. Sebagai upaya adaptif pesantren di daerah landasan jembatan suramadu.2. Di samping secara umum pesantren berada di tengah-tengah masyarakat. Dalam kontek inilah pesantren merupakan aset bangsa untuk melestarikan nilai-nilai budaya. tarik ulur. kegiatan tersebut merupakan pengalaman dan pelatihan bagi para santri yang berguna ketika terjun secara langsung ke masyarakat nantinya. Kedua. Sektor internal merupakan pengembangan pemberdayaan ekonomi internal dalam pesantren yang manfaatnya dirasakan oleh santri atau siswa dalam pesantren tersebut. keberadaan pesantren di daerah landasan suramadu ini telah lama dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Kedekatan ini secara politis mempunyai nilai lebih tersendiri apabila diperdayakan dengan benar. Hal ini merupakan peluang usaha tersendiri masyarakat sekitar pesantren. khususnya dimadura. Kehidupan masyarakat pesantren yang terkonstruk dari nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal tersebut. pesantren juga dapat menjadi fasilitator curriculum pemberdayaan masyarakat dari pemerintah. Misalnya pesantren Agrobisnis. sudah seharusnya pesantren tersebut mengembangkan ekonomi berbasis pesantren. Peran sosial-politik Lazim kita ketahui bahwasanya pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berbasis islam.

untuk meningkatkan daya saing pesantren. dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat. Langkah strategis 2. pendanaan. Pertama foothold clarification kebudayaan (Clarification dishonest οf culture). Kedua foothold sosial kebudayaan (shared dishonest οf culture) berisi tentang bentuk-bentuk interaksi antar kelompok sosial dalam masyarakat.1. peran pesantren yang signifikan bukan berarti tanpa tantangan dan hambatan. eligibilitas. Tantangan pesantren berkaitan dengan modernisasi yang mungkin muncul pasca suramadu dan industrialsasi Madura berada pada wilayah dinamika nilai-nilai sosial budaya. Dapat kita lihat beberapa pesantren yang telah berhasil mengintegrasikan tradisionalistiknya dengan modernitas dalam curriculum dan perannya. Gelombang modernisasi sedikit banyak akan mengubah orientasi dan pola pikir masyarakat yang pada awalnya bersifat religius. Modernisasi pesantren dapat dilakukan dengan peningkatan peran pemberdayaan SDM.3.3. Modernisasi pesantren sangat diperlukan untuk menjaga eksistensinya di tengah-tengah modernitas zaman saat ini. dengan kurikulum tertentu . Lazim dikathui bahwa salah satu pilar modernitas (menurut H. Misalnya pesantren Agrobisnis Al Ittifaq (Ciwidey). 2005: 18). 2. Dalam perspektif inilah. termasuk hubungannya dengan ekonomi. Ketiga foothold mental (mental planet). Secara sosiologis proses sosial semacam modernisasi senantiasa mengarah pada perubahan sosial. yaitu hubungan antara satu kelompok individu dengan dunia nilai-nilai (Salim. Perubahan sosial dalam masyarakat sekitar suramadu secara dialektis dapat dijelaskan bahwa perubahan tersebut berawal dari foothold clarification yang kemudian merambah pada foothold sosial kemudian menuju foothold mental dan kembali lagi kepada foothold clarification dan seterusnya. Analisis kurikulum ini didasarkan pada sarana prasarana. 2002: 229). Kiranya modernisasi kurikulum merupakan langkah strategis. Kurikulum pesantren salafi yang selama ini dianggap konservatif kalah bersaing dengan lembaga pendidikan yang mungkin tumbuh di sekitar daerah pesantren wilayah suramadu yang merupakan “ancaman” akan eksistensi pesantren apabila pesantren tidak tanggap akan realita tersebut. dikawatirkan harapan masyarakat terhadap berkah realisasi Suramadu dan Industrialisasinya justru menjadi ”bumerang” yang mengancam eksistensi masyarakat lokal dengan segenap kearifan lokalnya. Masyarakat bisa menyadari dan menduga arah perubahan serta mengharapkan dampak positif dari proses tersebut.Namun demikian. Pesantren Al Amanah dengan peternakan Ayam dan Ikan (Cililin) dan beberapa pesantren besar yang berhasil mengintegrasikan pendidikan tinggi. sumberdaya manusia. Akan tetapi proses yang terjadi justru berlawanan dengan dugaan dan harapan masyarakat sehingga hasilnya pun sama sekali berlawanan dengan yang diharapkan. integritas pondok pesantren yang kesemuanya merupakan sarana sistemik untuk menciptakan kemampuan kompetitif pesantren pasca realisasi jembatan Suramadu. Coley dan Lucian W. meminjam istilah biologi morphogenesis terdapat trilogi perubahan sosial yang mengacu pada kesadaran dan ketidaksadaran terhadap implikasi proses sosial. Proses demikian oleh Merton dan Kendall disebut sebagai ”Proses Bumerang” (Sztomka. Pye ) adalah sikap antipati terhadap agama yang berujung sekularisme. yaitu hubungan manusia dengan dunia fisiknya. Dinamika ini dapat dilihat pada tiga foothold utama kebudayaan. Inovasi kurikulum Analisis kebutuhan menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum yang adaptif dan inovatif.

Peningkatan Mutu Pengajar. Sertifikasi intellectual swasta kiranya dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan mutu pengajar di pesantren.4. Annuqoiyah di Gulukguluk sumenep dan pesantren lain di Madura Sebagai penutup. Sarana ini meliputi gedung sekolah dan perlengkapannya. BAB 3 Kesimpulan . Dalam kajian Modal sosial. Kebijakan tersebut dapat berupa proteksi pesantren. maupun dengan bekerjasama dengan pesantren atau lembaga lain yang lebih berpengalaman. tidak akan bisa optimal apabila tidak didukung oleh kebijakan pemerintah.2. magang dll dengan pesantren di daerah lain yang lebih maju. Pemenuhan Sarana dan Prasarana yang Memadai.2. 3. mutu pengajaran di pesantren terkesan seadanya. Jaringan (networking) ini dapat menajadi sarana komunikasi dan penyerapan informasi aktual dan faktual. dan alokasi khusus/prioritas bagi pesantren. Misalnya di Pondok pesantren Darul hikmah langkap Burneh telah menyediakan Hotspot vicinity. Pemanfaatan kemajuan IT dll. dan mampu menjembatani kepada lembaga. progresif dan tidak “ortodoks” sehingga santri bisa secara cepat beradaptasi dalam setiap bentuk perubahan peradaban dan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat 2. Pesantren-pesantren di kawasan suramadu (kecamatan labang dan Burneh) dapat melakukan kerjasama. bukan pada prestasi. Peningkatan kualitas pengajar ini dapat dilakukan dengan pelatiahan khusus. Closure strategi merupakan pengembangan jaringan berdasarkan ikatan yang kesamaan identitas. upaya peningkatan kompetensi pesantren sebagaimana diuraikan diatas. jaringan ini dapat dikembangkan melalui closure аррrοасh maupun adviser аррrοасh. terutama berkaitan dengan pelajaran Non Agama (umum).2.pesantren dapat menyelenggarakan madrasah Mu’adalah yang sebanding dengan SMU negeri dan diakui secara nasional.3. Tentunya hal ini membutuhkan proses dan peran serta berbagai pihak. termasuk pemerintah dalam menyediakan biaya pendidikan khusus bagi pendidik di pesantren. Kurikulum pendidikan pesantren present merupakan perpaduan antara pesantren salaf dan sekolah (perguruan tinggi). khusus pemerintah daerah guna mendukung upaya-upaya tersebut. Adviser аррrοасh dapat diimplementasikan dengan menjalin hubungan dengan seseorang yang mempunyai akses lebih luas. Kurikulum dan kualitas pengajar harus ditunjang dengan sarana dan prsarana yang memadai. Hingga saat ini. Orientasi pembelajaran hanyalaha pada kelulusan. 3.3. tukar pengajar. instansi lain. diharapkan akan mampu memunculkan productivity pesantren berkualitas yang tercermin dalam sikap aspiratif. Pengembangan jaringan (networking) Peningkatan kompetensi pesantren akan lebih cepat apabila pesantren mempunyai jaringan dan akses keluar yang memadai. studi lanjut. Misalnya dengan Al Amin di prenduan sumenep. dalam hal ini misalnya dengan sesama pesantren maupun dengan lembaga lain yang mempunyai kesamaan visi dan misi. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing pesantren pasca realisasi Suramadu dan industrialisasi Madura. media pembelajaran serta perpustakaan yang cukup. Revisi dan inovasi kurikulum pesantren kiranya kurang memadai apabila tidak disertai dengan peningkatan kualitas dan profesionalisme pesantren.

Langkah strategis pesantren dapat berupa revisi dan inovasi kurikulum. Manner. Namun demikian. Jakarta. Manusiawi dan islami. Jati diri dan pencerahan masyarakat. Panorama Pesantren dalam cakrawala present. Jakarta. 2006 Sosiologi teks pengantar dan terapan Kencana Prenada Media Assemble. Bayumedia Publishing Sztomka. Fungsi ekonomi dan pemberdayaan juga ditunjukkan dengan kemampuan pesantren sebagai pengisi stuktural hole menjadi fasilitator dan adviser pemberdayaan ekonomi oleh pemerintah. Dwi. Piotr. Agus. 2002 Perubahan sosial : Sketsa teori dan refleksi metodologi kasus indonesia Headband Wacana yogyakarta Soegianto. Manusia Madura : pembawaaan. Kepercayaan. 2007. Yogyakarta. Pembangunan madura harus Madurawi. pesantren juga mempunyai peran strategis dalam ekonomi maupun politik. Malang. menjunjung leluhur). Jember Tapal Kuda Subaharianto. Andang. Pilar Media Salim. Dwi J. serta benar-benar membangun madura bukan membangun di Madura. Peran pesantren bagi masyarakat semakin dibutuhkan ketika nilai-nilai lokalitas madura mulai terancam dengan masuknya budaya asing. Tantangan Industrialisasi Madura (Membentur kultur. Selain sebagai pemelihara nilai-nilai lokal. penampilan. Jakarta Priyanto. 2003. 2004. peningkatan kualitas pengajar. dan pendangan hidupnya seperti dicitrakan peribahasanya. Diva Pustaka Narwoko. 2006 Revisi kurikulum pesantren Jurnal Ibda Vol 4 Nο 1 Edisi JanuariJuni 2006 Rifai. perluasan jaringan dan perlengkapan sarana dan prasarana kegiatan belajar mengajar. Namun demikian. Magi dan tradisi dalam Masyarakat Madura. Ahmad. Pesantren. 2005 Sosiologi Perubahan Sosial Prenada Media. Understood Abdullah Institute Publishing Haedari. pesantren menghadapi tantangan yang signifikan pasca realisasi jembatan Suramadu dan Industrialisasi Madura.Pesantren merupakan institusi sosial yang mempunyai peran signifikan bagi masyarakat madura yang dikenal religius. Understood. Modernitas dan segala konsekwensinya menjadi tantangan bagi pesantren terutama pasca industrialisasi. perilaku. Amin dkk. Untuk itu pesantren harus segera berbenah dan melakukan langkah-langkah strategis guna menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan tanpa meninggalkan nilai-nilai lokalitas madura. 2004. namun pesantren juga mempunyai peran sosial yang luas. Kehadiran pesantren membawa berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar pesantren. Jakarta . DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Peran pesantren tidak hanya sebatas pada pendidkan-pengajaran. Hal ini menunjukkan signifikansi pesantren sebagai konservasi budaya lokal. etos kerja. Hal ini sejalan dengan TriLogi Alawy yang diderivasi dari pokok pikiran BASSRA yang di deklarasikan dalam rangka pembangunan madura pasca suramadu. 2007. Peran pesantren telah lama mengakar dalam masyarakat dalam waktu yang lama. langkah strategis pesantren tersebut harus ditunjang kebijakan-kebijakan yang protektif dan mengutamakan pendidikan berbasis pesantren oleh pemerintah daerah bangkalan.

Muhammad Revitalisasi peran sosial kyai pesantren http://moxeeb. Ginanjar. Vander. Nеw York.pikiran-rakyat.com/prprint.wordpress. 2010 Peran pesantren dalam era Globalisasi & Otonomi http://www. antara tuntutan dan ancaman http://majelisfathulhidayah.Zanden.com/2009/05/08/modernisasi-pesantren-antaratuntutan-dan-ancaman/ Kartasasmita. Wildan.wordpress. Thе Shared Experience An initiation tο Sociology. 1998.com/2009/02/11/revitalisasi-peran-sosial-kiai-pesantren/ bу hisnuddin lubis . Unsystematic Household Internet Burhan. 2009 Modernisasi pesantren. James W.php?mib=beritadetail&id=24574 Muhibbun.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->