P. 1
my thesis, hubungan antara motivasi ibadah, kekebalan stress dan pencegahan gangguan psikosomatik. (study kasus di puskesmas astapada kab, cirebon, dr hj liza Mpdi

my thesis, hubungan antara motivasi ibadah, kekebalan stress dan pencegahan gangguan psikosomatik. (study kasus di puskesmas astapada kab, cirebon, dr hj liza Mpdi

4.93

|Views: 11,934|Likes:
motivasi ibadah yang baik dapat mencegah penyakit psikis, hasil penelitian saya, menunjukan pencegahan dapat mencapai 70 %
motivasi ibadah yang baik dapat mencegah penyakit psikis, hasil penelitian saya, menunjukan pencegahan dapat mencapai 70 %

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu negara salah satunya ditentukan oleh suatu indikator yang disebut Indeks Pembangunan manusia (IPM) yang terdiri dari bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Untuk itu diharapkan kesehatan sebagai salah satu komponen terpenting indeks pembangunan dapat mengembangkan kinerja dan perhatiannya dalam memberi pelayanan kesehatan yang optimal kepada seluruh masyarakat. Menuju INDONESIA SEHAT 2010, dalam bidang kesehatan dengan menekankan PARADIGMA SEHAT yang lebih mengedepankan usaha preventif (pencegahan) dan promotif (promosi). Usaha pencegahan dan promotif kesehatan mengarahkan masyarakat untuk mempertahankan kesehatan dengan upaya-upaya pencegahan baik terhadap faktor-faktor yang berhubungan maupun terhadap determinannya. Sehat menurut WHO 1947 adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental, sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya atau keadaan lemah tertentu. Tapi sejak tahun 1984, WHO menambahkan aspek spiritual

(kerohanian/agama) salah satu unsur tambahan dalam pengertian kesehatan seutuhnya. Sehat paripurna adalah sehat fisik, psikologi, sosial dan spiritual.

2

Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan terhadap usaha preventif terhadap masyarakat, walaupun gangguan psikosomatik tidak menjadi salah satu diagnosa yang terdapat dalam pelaporan puskesmas, yang terlapor adalah gangguan jiwa, neurotik, dan skizofrenia. Hal ini menjadi perhatian penulis, sejauh mana sebenarnya pasien mengenal keluhannya, adakah pengaruh psikis yang membebani keluhan fisiknya, bagaimana pasien mengelola stressnya, dan sejauh mana pasien termotivasi agar meningkatkan ibadahnya, sehingga keluhan fisik dan tekanan terhadap psikis tidak berkepanjangan dan menjadi lebih buruk menjadi gangguan jiwa atau bahkan sakit jiwa. Gangguan jiwa dan perilaku menurut the world health Report 2001 dialami oleh kira-kira 25 % dari seluruh penduduk pada suatu masa dari hidupnya dan lebih dari 40 % diantaranya didiagnosa tidak tepat sehingga menghabiskan biaya untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatan yang tidak tepat. Gangguan jiwa dan perilaku dialami kira-kira 10 % populasi orang dewasa. Dalam laporan itu dikutip juga penelitian yang menemukan bahwa 24 % dari pasien yang mengunjungi dokter pada pelayanan kesehatan dasar ternyata mengalami gangguan jiwa. 69 % dari pasien tersebut datang dengan keluhan fisik dan banyak diantaranya ternyata tidak ditemukan gangguan fisiknya.(Yulizar dkk, Depkes , 2004:1) Pada tahun 2002, RSJ (Rumah Sakit Jiwa ) Bandung, melaluikan survei bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Jabar yang dilakukan di 120 puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) di 24 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Hasilnya, memperlihatkan sebanyak 37,5 % pasien yang berobat di puskesmas, ternyata

3

mengalami gangguan jiwa yang berdampak kepada gangguan fisik. "Karena gejala klinisnya berupa pusing, mual, atau tidak bisa tidur, dokter puskesmas mendiagnosisnya sebagai penyakit fisik. Sehingga, gangguan jiwa yang dialami sebahagian pasien puskesmas tidak terdeteksi oleh dokter," katanya. Kemudian juga survei tahun 2003 yang dilakukan di klinik Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) puskesmas di 24 kota, dan kabupaten di Jabar didapati hasil sebanyak 27% ibu hamil dan menyusui, mengalami gangguan jiwa. Selain merujuk kepada beberapa kali survei, perkiraan angka 30% juga melihat perilaku sebagian masyarakat sekarang yang cenderung brutal, anti sosial, dan tanpa merasa bersalah mengambil hak orang lain. Menurut Machmud, sampai dengan bulan September 2005, jumlah pasien gangguan jiwa yang dirawat di RSJ Bandung sudah lebih dari 12.000 orang, tahun 2004 lalu sebanyak 13.000. Di antara pasien yang rawat inap di RSJ Bandung bahkan ada yang masih anak-anak yakni berusia 13 tahun.(Pikiran Rakyat 28 oktober 2005) Ditambahkan lagi Menurut Surat Kabar pikiran rakyat tanggal 28 oktober 2005, penderita ganguan jiwa di Jawa Barat diperkirakan lebih dari 30 % penduduk, yang jumlah nya makin bertambah dengan kesulitan ekonomi, bahkan di Cirebon sendiri mencapai 250 sampai dengan 350 %. Menurut Wahid, satu-satunya psikiater di Rumah Sakit Gunung Jati, mengemukakan, bahwa usia terbanyak yang datang ke poliklinik maupun praktek pribadi didominasi oleh keluarga muda, laki-laki merupakan jumlah terbesar dengan usia antara umur 30-40 tahun. Dengan status sosial merata dari yang rendahan, sampai menengah keatas. Wahid juga

menyebutkan jenis-jenis penyakit psikologi yang dialami pasiennya. Yang ringan dan

4

sedang seperti stres, cemas, gangguan susah tidur (insomnia), dan sejenisnya. Sampai yang berat seperti skizoprenia, depresi berat penyebab terbesar masalah psikis. Gangguan psikosomatik terselubung dalam berbagai penyakit seperti: (1) penyakit kulit dengan timbulnya pruritus, neurodermatosis; (2) pada otot dan tulang terdapat rhematoid artritis, mialgia, artralgia; (3) saluran pernafasan sindroma hiperventilasi, asma bronkiale; (4) jantung dan pembuluh darah , hipertensi esensial, sakit kepala vaskuler, sakit kepala vasogenik, migren; (5) saluran pencernaan sebagai manifestasi gangguan psikosomatik, dispepsia, konstipasi; (6) alat kelamin dan kemih berupa rasa nyeri dan parestesi di panggul, dismenorea, disparenia; (7) Sistem endokrin seperti hipertiroid, sindroma menopause. Diharapkan puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan terdepan dapat mengobati pasien tidak hanya secara fisik saja, tapi juga dapat memberikan pendidikan kesehatan yang baik dan optimal kepada pasiennya. Adakah manusia yang tidak pernah dihinggapi stress? Adakah manusia yang hidupnya tidak pernah gelisah ? Adakah manusia yang tidak pernah mengalami cobaan hidup, atau masalah, yang menyebabkan perubahan dalam hidupnya, sehingga ia harus menyesuaikan dirinya? Jawabnya pasti semua manusia pernah mengalami kegelisahan, konflik, frustasi, tekanan, dan stress. Semua yang memberatkan dan menimbulkan masalah itu tidak dapat dihindari memang, yang ada adalah bagaimana kita dapat menyikapi segala permasalahan yang timbul agar tekanan yang muncul dan juga, faktor ekonomi menjadi

5

tidak menumpuk dan menjadi stress berkepanjangan yang akhirnya menyebabkan gejala psikosomatik, bahkan kelainan jasmani dan mental. Sebuah kasus, Seseorang pasien wanita berumur 50 tahun datang ke

Puskesmas astapada, datang dengan keluhan terasa sakit di ulu hati, dada seperti ditusuk-tusuk benda tajam, jantung berdebar-debar, banyak keluar keringat, timbul perasaan sesak nafas, sehingga harus bernafas panjang dan dalam, sering mual, perasaan sakit perutnya juga sering pindah-pindah, karena peneliti melihat bahwa gejala psikis terasa memdominasi keluhan pasien, peneliti menanyakan apakah ada sesuatu masalah yang memberatkan hati pasien, dan pasien yang tadinya datang dengan hanya keluhan fisik, akhirnya mau menceritakan beban pikiran dan hati yang menyebabkan banyaknya timbul gejala fisik diatas. Kemudian pasien diberi obat sesuai dengan keluhan, di sarankan untuk lebih tenang, dan lebih banyak melaksanakan ibadah karena pasti Allah tidak akan mungkin memberikan cobaan diatas kemampuan umatnya. Setelah 2 minggu bertemu kembali, pasien terlihat lebih baik, dan gejala-gejala diatas telah hilang. Kalau diagnosa psikosomatik sudah terdeteksi secara dini, maka pasien tersebut tidak akan pernah bolak-balik kesana kemari mencari pertolongan, karena bila kita mengetahui bahwa keluhan yang diderita pasien adalah akibat psikisnya yang berat, maka kita dapat memberikan solusi dan pendidikan kepada pasien akan penyebab yang menyebabkan gangguan dan keluhannnya, bukan hanya sekedar obat saja.

6

Gangguan

psikosomatik,

atau

istilahnya

psychosomatic

illness,

di

klasifikasikan dalam ICD 10, F 45. Walaupun tidak ada data spesifik diagnosa gangguan psikosomatik di seluruh puskesmas sekabupaten Cirebon, data kasus

penyakit yang ada, selama kurun waktu satu tahun 2006 ditemukan jumlah kasus penyakit sebagai berikut: (Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon) 1. Gangguan emosi (neurotic) sebanyak 358 orang; 2. Hipertensi esensial 97.441 orang, (umur 15-44 tahun 17.074, umur 45-54 tahun 26.647 orang, umur 55-64 tahun 29,182 orang, > 65 tahun 24,538 orang; 3. Asma 20,235 orang; 4. Tukak lambung 80,570 orang; 5. 6. Gangguan Jiwa dan Prilaku 62 orang; Skizofrenia 254 orang. Berdasarkan peringkat penyakit, ditemui terbanyak pada gangguan hipertensi esensial, tukak lambung, asma, gangguan neurotik, skizofrenia, dan gangguan jiwa dan perilaku. Untuk kunjungan selama setahun di Puskesmas Astapada pada tahun 2006, didapat Pasien dengan keluhan mialgia (pegal-pegal) sebanyak 5.700 orang, tukak lambung 3.468 orang, hipertensi 1.403 orang, sakit kepala 1118 orang, asma 188 orang, jumlah pasien sakit jiwa sebanyak kurang lebih 20 orang. Hasil penelitian tersebut angka kejadian gangguan psikosomatik di wilayah Jakarta juga cukup tinggi, Yoga seorang peneliti dari Departemen Ilmu penyakit

7

dalam Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia bahwa, “Angka kejadian gangguan psikosomatik yang berupa depresi sebesar 28,4 persen dan anksietas (kekhawatiran) sebesar 39,8 persen.” Di Indonesia, gangguan psikosomatik sudah mendapat perhatian sejak tahun 1960 oleh bagian penyakit dalam RSCM, didirikan pertama oleh Prof Aulia, yang sekarang jadi sub bagian psikosomatik, karena banyak pasien yang mengunjungi dokter dengan keluhan yang bermacam-macam yang secara kuantitas dan kualitas tidak sebanding dengan apa yang didapat secara klinis, medis, internistis, sehingga pasien mengembara dari satu dokter ke dokter yang lain, ke dukun, tetap saja tidak sembuh, masih merasa sakit. Bila kita menghadapi seorang manusia, maka pendekatan yang harus di terapkan adalah pendekatan holistik (menyeluruh), melihat manusia sebagai mahluk yang terdiri dari 4 unsur (fisik, jiwa, sosial , spiritual).

B. Rumusan Masalah Tesis ini akan mengangkat beberapa masalah, terdapat tiga variabel yang menjadi fokus penelitian, dengan variabel bebas yaitu motivasi beribadah dan kekebalan stress serta variabel terikatnya yaitu pencegahan gangguan psikosomatik. Dengan demikian dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: a. Apakah ada hubungan antara motivasi beribadah gangguan Psikosomatik ? dengan pencegahan

8

b.

Apakah ada hubungan antara Kekebalan stress dengan pencegahan gangguan Psikosomatik?

c.

Sejauh mana hubungan antara motivasi beribadah dan Kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan psikosomatik?

C. Batasan Masalah Penelitian ini akan meneliti pasien dewasa yang berkunjung ke Puskesmas, yang berumur antara 20 sampai dengan 50 tahun. Karena populasi pasien tersebut yang terbanyak datang dengan berbagai keluhan. Diperiksa setelah menentukan diagnosanya, bila terlihat tanda-tanda psikis yang mendominasi gejala dan keluhan maka peneliti akan memberikan wawancara dan kuesioner, untuk melihat korelasi antara penyakit, keluhannya, bagaimana pasien menanggulangi stress, motivasi beribadah dengan skala motivasi ibadah, skala holmes, untuk melihat tingkat stress, skala Smith dan Miller modifikasi untuk melihat kekebalannya terhadap strees. Dan skala untuk mengetahui adanya gangguan psikosomatis. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk menyusun tesis pada Program Pasca Sarjana Psikologi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Cirebon, bertujuan untuk memperoleh gambaran dan kejelasan tentang: 1. Hubungan motivasi beribadah dengan pencegahan gangguan psikosomatik 2. Hubungan kekebalan stress dengan pencegahan gangguan psikosomatik 3. Sejauh mana hubungan motivasi beribadah dan kekebalan stress terhadap Pencegahan gangguan psikosomatik.

9

E. Manfaat penelitian Kegunaan penelitian ini diharapkan akan memberikan masukan secara teoritis dan praktis sebagai berikut 1) Aspek teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat teoritis bahwa beribadah dan pengelolaan kekebalan stress dapat dijadikan sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap gangguan psikosomatik, yang akhirnya mencegah penyakit fisik yang lebih parah, kelainan jiwa dan mental yang berat. 2) Aspek Praktis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu tuntunan bagi kita atau masyarakat agar dapat memotivasi dirinya menjalankan ibadah dan meningkatkan kekebalan diri terhadap stress sehingga dapat tercegah dari gangguan psikosomatik.

F. Kerangka Berfikir Tesis ini membicarakan tentang motivasi beribadah dan kekebalan stress sejauh mana dapat mencegah penyakit psikosomatik. Dalam kerangka berfikir ini ada empat hal yang dibicarakan : (1) Motivasi dan perilaku, (2) beribadah, (3) Kekebalan stress, dan (4) penyakit psikosomatik. Motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada seseorang sesuatu aksi atau tindakan dengan tujuan tertentu yang dikehendakinya, motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

10

Ibadah Menurut Kamus Indonesia adalah amalan yang diniatkan untuk berbakti kepada Allah SWT, dengan menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya, yang pelaksanaanya diatur, secara syariah. Membicarakan ibadah dan keimanan maka kita pun berbicara tentang agama, Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau) (Rakhmat, 2004:50) Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut Karl Marx mendefinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batas tegas mengenai agama atau religion yang mencakup berbagai fenomena religion. (Endang ,1979:111) Menurut Einstein, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat

11

rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta. Beribadah merupakan proses keimanan yang diawali dengan niat yang kemudian di amalkan dan dilaksanakan dengan ketaatan. Dengan beragama manusia mempunyai aturan petunjuk dan nasehat dalam menjalankan kehidupannya. Motivasi Ibadah adalah dorongan seseorang untuk berbakti kepada Allah untuk mencapai tujuan hidupnya, yang ditunjukan dengan sikap dan perilaku yang baik yaitu untuk mendapat ridho Allah:’Sesungguhnya Shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam ” (al-An’amm:162) Kekebalan Stress adalah tingkat stress seseorang yang diukur dengan sebuah skala yaitu skala Smith dan Miller, bila kekebalan terhadap stress baik, maka seseorang menjalankan pengelolaan stress yang baik, maka kekebalan stressnya pun menjadi baik, Menurut Hawari Ada beberapa pengelolaan terhadap stress, yaitu : 1. Olah raga. 2. Rekreasi 3. Kasih sayang 4. Sosial ekonomi 5. Menghindari Rokok 6. Pergaulan/Silaturahmi 7. Tidur yang cukup 8. Makanan yang seimbang dan teratur

12

9. Pengelolaan waktu yang baik 10. Agama yang dijalankan dengan ketaatan Kesehatan yang sempurna harus dilandasi dengan ketaatan dan kedisiplinan. Begitu juga dengan gangguan kesehatan seperti gangguan psikosomatik ini. Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut (IPD Mudjaddid, Shatri: 684). Penyembuhan seseorang akibat gangguan psikosomatik ini tidak hanya berupa obat-obatan yang disesuaikan dengan gejala yang timbul tapi juga dengan menganjurkan pola hidup yang baik, olah raga, menyalurkan hobi, relaksasi, penyesuaian diri yang positif terhadap masalah dan yang juga sangat penting adalah meningkatkan ibadah. Dengan peningkatan motivasi beribadah dan sikap beribadah, maka pasien akan memperkuat mental dan psikisnya, dan mendapat ketenangan. Dengan mengingat Allah maka harinya akan menjadi tenang dan tentram seperti Dalam Al-Quran surat Al-Rad (13:28) Allah berfirman:

13

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Bagaimana kita menanggulangi stress agar terhindar dari psikosomatik, antara lain adalah dengan beribadah yang iklash hanya untuk Allah semata. Meningkatkan kekebalan stress kita sehingga kita terhindar dari stress yang berkepanjangan. QS Az-zumar 39:2. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Dengan memberikan motivasi kepada pasien dengan reedukasi yang baik kita berupaya menimbulkan motivasi intrinsik pada diri pasien untuk mau menjalankan ibadah dengan ketaatan dan keiklahlasan seperti yang diperintahkan dalam rukun Islam seperti Shallat, puasa, zikir, zakat dan shodaqah, haji dengan iklash diharapkan hati ini dapat menjadi lebih tenang, ketenangan akan mengurangi stress seseorang dan upaya ini dapat menjadi salah satu usaha mencegah timbulnya gangguan psikosomatik. Beribadah adalah pengakuan kita terhadap Allah, dimana kita bergantung hanya pada satu yaitu Allah yang menciptakan manusia, dunia, dan alam semesta. Dengan pengakuan ini, timbulkan rasa aman dalam jiwa manusia bahwa ada pendukung hidupnya yang amat dekat, yang tidak akan pernah membuatnya sedih. QS, At-Taubah :40 ....La tahzan Innalaha Ma’ana, ”janganlah kamu bersedih sesugguhnya Allah berserta kita”

14

Dalam beribadah kita memerlukan motivasi, motivasi menggerakkan sikap, tampa ada motivasi yang didasari keiklasan, apalagi semata-mata hanya menjalankan kewajiban, maka ibadah tersebut menjadi kering tampa makna. Bila kita membaca Al-Quran tampa mengerti artinya, nasehat Allah kepada kita tidak akan masuk dalam dalam hati maupun jiwa kita. Bila tidak tertanam dalam jiwa, bagaimana mengamalkannya? Dalam Surah Fushilat: 44 Allah berfirman”Qul huwa lil ladziina aamanuu hudaw wa syifaa ” yang artinya ” katakanlah :”Al-quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”(QS, 41:44) Gambar 1.1 Kerangka berfikir a

Motivasi Beribadah Pencegahan Gangguan Psikosomatis Kekebalan stress Keterangan : a : faktor lain yang tidak diteliti 1. Aspek /Gangguan Kepribadian 2. Tingkat kognitif seseorang dalam menghadapi stress 3. Kebiasaan budaya setempat dan Kehidupan masa kecil 4. Penyesuaian diri dalam tahun terakhir H. Hipotesis Penelitian

15

Dari uraian diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari pengujian masalah . Adapun Hipotesis yang ingin diujikan adalah: a. Hipotesis Mayor Ada pengaruh positif antara motivasi beribadah, dan kekebalan stress terhadap Pencegahan gangguan psikosomatis b. Hipotesis Minor 1. Adanya pengaruh positif motivasi beribadah terhadap pencegahan gangguan Psikosomatik 2. Adanya pengaruh positif kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan Psikosomatik.

BAB II

16

TINJAUAN TEORITIS Sesuai dengan Judul tesis maka kajian teoritis ini khususkan ke dalam hal yang berhubungan dengan motivasi ibadah, stress, dan gangguan psikosomatik.

Untuk memudahkan pemahaman maka disusunlah tinjauan teoritis ini dimulai dengan bagaimana melihat manusia secara konsep kedokteran dan psikologi, kemudian bagaimana manusia dalam konsep medis Islam, kaitan antara stress dan terjadinya penyakit fisik dan mental, kemudian kolaborasi ibadah sebagai tuntunan hidup dan kaitannya dengan kesehatan. A. Manusia Dalam Konsep Kedokteran Dan Psikologi 1. Kesehatan Jiwa Menurut UU No.23 tahun 1992, Ps 24, 25, 26 dan 27, Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia dengan ciri menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya, mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar, mampu kerja produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat berperan serta dalam lingkungan hidup, menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya, merasa nyaman bersama dengan orang lain. Masalah kesehatan jiwa meliputi: Masalah perkembangan manusia yang harmonis dan peningkatan kualitas hidup, yaitu masalah kesehatan jiwa yang berkaitan dengan siklus kehidupan.

17

-

Masalah psikososial yaitu setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang bersifat psikologis ataupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik dan dianggap berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa (atau gangguan kesehatan) secara nyata, atau sebaliknya masalah kesehatan juwa yang berdampak sosial.\

-

Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yaitu menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. (Yulizar dkk,2004:13-14)

Menurut penulis, seorang yang disebut sehat, tidak hanya sehat fisik, dan mental saja tapi dia harus mampu menjalin hubungan vertikal secara spiritual kepada Tuhan dan hubungan horizontal terhadap sesamanya. Mempunyai kecerdasan inteligensia (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan menurut C.P.Chaplin (1975) sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. (Syamsu Yusuf, 2005:113). Sedangkan kecerdasan emosional menurut Daniel goleman (1997), meliputi : 1. Mengenali emosi diri 2. Mengelola emosi 3. Memotivasi diri sendiri 4. Mengenali emosi orang lain 5. Membina hubungan

18

Danah Zohar menyebutkan tanda-tanda seseorang yang memiliki kapasitas SQ yang berkembang sebagai berikut : 1. Kemampuan bersikap adaptif secara spontan dan aktif 2. Mempunyai tingkat kesadaran diri yang tinggi. 3. Mempunyai kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit. 4. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. 5. Mempunyai kualitas hidup yang dilhami oleh visi dan nilai-nilai. 6. Mempunyai kecenderungan untuk melihat sesuatu secara holistik. 7. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu. 8. Kecenderungan nyata untuk bertanya "Mengapa?" dan "Bagaimana?" untuk mencari jawaban yang mendasar. 9. Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai "bidang mandiri" / field independent. Secara Konseptial Keadaan Normal sehat dapat dirumuskan sebagai berikut (Winkel,1991): a. Menurut Karl Menninger, seorang Psikiater, memberikan rumusan sebagai berikut, kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. Ia bukan hanya berupa efisiensi atau hanya perasaan puas atau keluwesan dalam mematuhi aturan permainan dengan riang hati, kesehatan mental mencakup itu semua. Kesehatan mental meliputi kemampuan menahan diri, menunjukan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap hidup yang bahagia”. b. H.B. English seorang psikolog memberikan rumusan sebagai berikut:”Kesehatan mental adalah keadaan relatif tetap dimana sang pribadi menunjukan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi diri, Kesehatan

19

mental merupakan keadaan positif bukan sekedar absennya gangguan mental. (Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007 :16) 2. Ciri-Ciri Kepribadian Sehat dan Normal Kepribadian yang sehat dan normal mempunyai ciri-ciri, seperti menurut coleman dan Winkel bahwa ciri perilaku yang normal adalah seseorang itu dapat menerima dirinya baik kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri secara realistik, berkepribadian yang matang, mandiri, bertanggung jawab, memiliki jati diri yang baik, mempunyai kekebalan terhadap stress yang baik, mempunyai kedewasaan yang matang dan intelektual yang baik, adapun lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.1 Enam aspek penyesuaian diri yang diiringi dengan ciri perilaku (Coleman dalam Winkel 1991). No Aspek Penyesuaian Diri Sikap terhadap Diri sendiri 1 Ciri Perilaku
Seseorang menunjukan ciri dapat menerima diri, memiliki jati diri yang baik (positif), memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri Mempunyai pandangan yang realistik (sesuai dengan realitas) terhadap diri sendiri dan terhadap dunia orang maupun benda disekelilingnya Mempunyai kepribadian yang utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki kekebalan yang baik terhadap strees Mempunyai kompetensi-kompentensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dalam mengatasi berbagai problema hidup Memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri (self determination, self direction) yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial Menunjukan kecenderungan diri kearah menjadi semakin matang kemampuan-kemampuannya dan memcapai pemenuhan diri sebagai pribadi

2 3 4 5

Persepsi terhadap realitas Integrasi Kompetensi Otonomi

6

Pertumbuhan aktualisasi

20

(Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007 :17) 3. Abnormalitas (Ardani, Rahayu, Sholichatun, 2007 :19-20) Kriteria Abnormalitas menurut Coleman dan Winkel, terdapat beberapa kriteria: a. Penyimpangan dari norma-norma statistik, yang abnormal biasanya menunjukan yang bisa saja tidak lazim, luar biasa dan menyimpang dari norma yang ada, makin jauh dari nilai rata-rata . b. Penyimpanan dari norma-norma sosial Sifat tidak patuh dan tidak sejalan dengan norma sosial, yang biasanya dipakai istilah relativitas budaya, yang umumnya adalah normal walaupun tidak selalu sepakat tapi patokan seperti ini sering berlaku dalam masyarakat. c. Maladjustment Abnormalitas dipandang sebagai ketidak mampuan individu menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosial-nya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri. Kriteria semacam ini jelas bersifat negatif, artinya tidak memperhitungkan fakta bahwa seseorang individu dapat berpenyesuaian baik (weel adjusted) tanpa memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Tidak sedikit orang yang secara umum disebut ”berhasil” dalam menjalankan hidup secara lumrah baik namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal optimal, orang-orang yang tidak gelisah ” adem ayem” tentram belaka.

21

d Tekanan batin Abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih atau perasaan bersalah yang mendalam, namun ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya. Tekanan batin yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sebaliknya sangat normal bila orang merasa sedih atau tertekan manakala mengalami musibah, kekecewaan atau ketidak adilan. Ketabahan merupakan sesuatu indikator kedewasaan menghadapi bencana, namun dalam keadaan biasa wajar, misalnya akan terkesan aneh bila orang merasa gembira menghadapi kematian orang yang terkasih. e. Ketidakmatangan Seseorang dikatakan abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, tidak selaras dengan situasinya. Masalahnya, sering sulit menemukan patokan tentang kepantasan dan kematangan. Coleman, Butcher dan Carson (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua kriteria yaitu abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif, yang akhirnya berarti apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu sehingga pada akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat. Kesejahteraan atau kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan bertahan maupun perkembangan pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi dari berbagai kemampuan yang dimiliki.

22

Kalau kita melihat manusia, perilaku, emosi , maka semuanya akan berhubungan dengan otak. Dibawah ini beberapa teori tentang otak manusia sebagai pengendali dalam semua aktivitas fisik, emosional dan perilaku. 4. Otak Manusia Otak manusia mempunyai berat 2% dari berat badan orang dewasa (3 pon), menerima 20 % curah jantung dan memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilokalori energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan terhadap perubahan oksigen dan glukosa darah, aliran darah berhenti 10 detik saja sudah dapat menghilangkan kesadaran manusia. Berhenti dalam beberapa menit, merusak permanen otak. Hipoglikemia yang berlangsung berkepanjangan juga merusak jaringan otak (Prince,Wilson, 2006:1024) Ketika lahir seorang bayi telah mempunyai 100 miliar sel otak yang aktif dan 900 miliar sel otak pendukung, setiap neuron mempunyai cabang hinggá 10.000 cabang dendrit yang dapat membangun sejumlah satu kuadrilion koneksi. komunikasi.perkembangan otak pada minggu-minggu pertama lahir diproduksi 250.000 neuroblast (sel saraf yang Belum matang), kecerdasan mulai berkembang dengan terjadinya koneksi antar sel otak, tempat sel saraf bertemu disebut synapse, makin banyak percabangan yang muncul, makin berkembanglah kecerdasan anak tersebut, dan kecerdasan ini harus dilatih dan di stimulasi, tampa stimulasi yang baik, potensi ini akan tersia-siakan.

23

Otak manusia, adalah organ yang unik dan dasyat, tempat diaturnya proses berfikir, berbahasa, kesadaran, emosi dan kepribadian, secara garis besar, otak terbagi dalam 3 bagian besar, yaitu neokortek atau kortex serebri, system limbik dan batang otak, yang berkerja secara simbiosis. Bila neokortex berfungsi untuk berfikir, berhitung, memori, bahasa, maka sistek limbik berfugsi dalam mengatur emosi dan memori emosional, dan batang otak mengarur fungsi vegetasi tubuh antara lain denyut jantung, aliran darah, kemampuan gerak atau motorik, Ketiganya bekerja bersama saling mendukung dalam waktu yang bersamaan, tapi juga dapat bekerja secara terpisah. Otak manusia mengatur dan mengkordinir, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh, homeostasis seperti tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan cairan, keseimbangan hormonal, mengatur emosi, ingatan, aktivitas motorik dan lainlain. Otak terbentuk dari dua jenis sel: yaitu glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melindungi neuron, sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensial aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagai sinapsis. Neurotransmiter paling mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku seseorang yang ada antara lain Asetil kolin, dopamin, serotonin, epinefrin, norepinefrin. Fungsi masing masing neurotransmiter dapat dilihat dibawah ini: Tabel 2.2

24

Neurotransmitter Pada Sistem Saraf Pusat (Sumber: Mary C Towsend, 1996)
Neurotransmiter Kolinergik: Asetil kolin Lokasi/Fungsi Implikasinya pada penyakit Jiwa Sistem saraf otonom simpatis dan parasimpatis, Meningkatkan terminal saraf presinapsis parasimpatik, terminal derajat depresi postsinapsis Sistem saraf pusat : korteks serebral hipokampus, struktur limbik, basal ganglia Fungsi : tidur, bangun persepsi nyeri , pergerakan memori

Menurunkan derajat penyakit alzeimer, korea hutington, penyakit parkinson.

Monoamin n

Sistem syaraf otonom terminal saraf post Norepinefri sinapsis simpatis Sistem saraf pusat: talamus, sistem limbik, hipokampus, serebelum, korteks serebri Fungsi pernafasan, pikiran, persepsi, daya penggerak, fungsi kardiovaskuler, tidur dan bangun Menurunkan derajat depresi Meningkatkan derajat mania, keadaan kecemasan, skizofrenia.

Dopamin

Frontal korteks, sistem limbik, basal ganglia, talamus, hipofisis posterior, medula spinalis Fungsi: pergerakan dan koordinasi, emosional, penilaian, pelepasan prolaktin Menurunkan derajat penyakit parkinson dan depresi Meningkatkan derajat mania dan skizofrenia

Serotonin

Hipotalamus, talamus, sistem limbik, korteks serebral, serebelum, medula spinalis Fungsi : tidur, bangun, libido, nafsu makan,

Menurunkan derajat depresi

25

perasaan, agresi persepsi nyeri, koordinasi dan penilaian

Meningkatkan derajat kecemasan

Hipotalamus Histamin

Menurunkan derajat depresi

Asam amino GABA (gamma Amino butyric acid Hipotalamus, hipocampus, korteks, serebelum, basal ganglia, medula spinalis, retina Fungsi kemunduran aktivitas tubuh Menurunkan derajat korea huntington, gangguan ansietas, skizofrenia, dan berbagai jenis epilepsi Derajat toksik/keracunan “glycine encephalopaty”

Medula spinalis, batang otak Glisin Fungsi: menghambat motor neuron berulang

Sel-sel piramid/kerucut dari korteks, serebelum dan sistem sensori aferen primer, hipocampus, talamus, hipotalamus, medula spinalis Glutamat dan aspartat Fungsi: menilai informasi sensori, mengatur berbagai motor dan reflek spinal

Menurunkan tingkat derajat yang berhubungan dengan gerakan motor spastik

Neuropeptida Endorfin dan enkefalin

Hipotalamus , talamus, struktur limbik dan batang otak, enkedalin juga ditemukan pada traktus gastrointestinal

Fungsi modulasi (mengatur) nyeri dan mengurangi peristaltik (enkefalin)

Modulasi aktivitas dopamin oleh opiod peptida dapat menumpukkan berbagai ikatan terhadap gejala skizofrenia

26

Hipotalamus struktur limbik otak tengah, batang otak, talamus, basal ganglia, dan medula spinalis, juga ditemukan pada traktus gastrointestinal dan kelenjar saliva Substansi P Fungsi: pengaturan nyeri

Menurunkan derajat korea hutington

Korteks serebral, hipokampus, talamus, basal ganglia, batang otak, medula spinalis Fungsi: menghambat pelepasan norepinefrin, merangsang pelepasan serotonin, dopamin dan asetil kolin Menurunkan derajat penyakit alzeimer Meningkatkan derajat korea hutington

Somatostatin

(dikutip oleh Sulistiwati dkk, 2005:58-60) Fungsi Dopamin sebagai neururotransmiter kerja cepat disekresikan oleh neuron-neuron yang berasal dari substansia nigra, neuron-neuron ini terutama berakhir pada regio striata ganglia basalis. Pengaruh dopamin biasanya sebagai inhibisi.(Guyton,1997: 714). Dopamin bersifat inhibisi pada beberapa area tapi juga eksitasi pada beberapa area. Sistem norepinefrin yang bersifat eksitasi menyebar ke setiap area otak, sementara serotonin dan dopamin terutama ke regio ganglia basalis dan sistem serotonin ke struktur garis tengah (midline).(Guyton,1997: 932)

27

Serotonin disekresikan oleh nukleus yang berasal dari rafe medial batang otak dan berproyeksi disebahagian besar daerah otak, khususnya yang menuju radiks dorsalis medula spinalis dan menuju hipotalamus. Serotonin bekerja sebagai bahan penghambat jaras rasa sakit dalam medula spinalis, dan kerjanya di daerah sistem syaraf yang lebih tinggi diduga untuk membantu pengaturan kehendak seseorang, bahkan mungkin juga menyebabkan tidur (Guyton 1997: 714). Serotonin berasal dari dekarboksilasi triptofan, merupakan vasokontriksi kuat dan perangsang kontraksi otak polos. Produksi serotonin sangat meningkat pada karsinoid ganas penyakit yang ditandai sel-sel tumor penghasil serotonin yang tersebar luas didalam jaringan argentafin rongga abdomen (Martin,David .1987:364) Sistem respons fisiologik pada stress akut dan kronik, terdapat respon fight and flight dimana berperan hormon epinefrin, norepinefrin dan dopamin, respon terhadap ancaman meliputi penyesuaian perpaduan banyak proses kompleks dalam organ-organ vital seperti otak, sistem kardiovaskular, otot, hati dan terlihat sedikit pada organ kulit, gastrointestinal dan jaringan limfoid. (Martin, David, 1987:625) Sistem norepinefrn dan sistem serotonin normalnya menimbulkan dorongan bagi sistem limbik untuk meningkatkan perasaan seseorang terhadap rasa nyaman, menciptakan rasa bahagia, rasa puas, nafsu makan yang baik, dorongan seksual yang sesuai, dan keseimbangan psikomotor, tapi bila terlalu banyak akan menyebabkan serangan mania. Yang mendukung konsep ini adalah kenyataan bahwa pusat-pusat reward dan punishment di otak pada hipotalamus dan daerah sekitarnya menerima

28

sejumlah besar ujung-ujung saraf dari sistem norepinefrin dan serotonin (Guyton 1997:954) Pada pasien penyakit jiwa seperti skizofrenia terdapat berbagai keadaan yang diyakini disebabkan oleh salah satu atau lebih dari tiga kemungkinan berikut: (1) terjadi hambatan terhadap sinyal-sinyal saraf di berbagai area pada lobus prefrontalis atau disfungsi pada pengolahan sinyal-sinyal; (2) perangsangan yang berlebihan terhadap sekelompok neuron yang mensekresi dopamin dipusat-pusat perilaku otak, termasuk di lobus frontalis, dan atau; (3) abnormalitas fungsi dari bagian-bagian penting pada pusat-pusat sistem pengatur tingkah laku limbik di sekeliling hipokampus otak (Guyton,1997:954) Dopamin telah diduga kemungkinan penyebab skizofrenia secara tidak langsung karena banyak pasien parkison yang mengalami gejala skizofrenia ketika diobati dengan obat yang disebut L-DOPA. Obat ini melepaskan dopamin dalam otak, yang sangat bermanfaat dalam mengobati parkinson, tetapi dalam waktu bersaman obat ini menekan berbagai bagian lobus prefrontalis dan area yang berkaitan dengan lainnya. Telah diduga bahwa pada skizofrenia terjadi kelebihan dopamin yang disekresikan oleh sekelompok neuron yang mensekresikan dopamin yang badan selnya terletak tegmentum ventral dari mesensefalon, disebelah medial dan anterior dari sistem limbik, khususnya hipokampus, amigdala, nukleus kaudatus anterior dan sebagian lobus frefrontalis ini semua pusat-pusat pengatur tingkah laku yang sangat kuat. Suatu alasan yang sangat kuat. Suatu alasan yang lebih meyakinkan untuk mempercayai skizofrenia mungkin disebabkan produksi dopamin yang berlebihan

29

ialah bahwa obat-obat yang bersifat

efektif mengobati skizofrenia seperti

klorpromazin, haloperidol, dan tiotiksen semuanya menurunkan sekresi dopamin pada ujung-ujung syaraf dopaminergik atau menurunkan efek dopamin pada neuron yang selanjutnya (Guyton,1997:954 ) Kerusakan sedikit saja pada otak akan membawa dampak yang luar biasa pada seseorang, seperti operasi otak, akibat stroke, pasien yang pernah mengalami stroke, setelah sembuh banyak yang mengalami perubahan kepribadian. Otak yang pernah mengalami perdarahan, trauma, misalnya seperti akibat stroke ataupun operasi contohnya pada otak depan atau frontal bagian ventromedial akan timbul gejala si pasien akan kehilangan moral, tatakrama, tidak bisa memdudukan diri pada posisi semestinya. Seorang laki-laki bernama Gage usia 25 tahun bekerja di Burlington New England mengalami kecelakaaan kerja, ketika sebuah besi baja menembus kepalanya dan merusak frefrontal otak, ia lolos dari maut setelah operasi tapi setelah sembuh malah menjadi orang baru, dari yang ramah, tidak mudah marah, disiplin menjadi orang yang kasar, mudah tersinggung, tidak disiplin, Gage berubah menjadi orang yang asing, yang kehilangan aspek moralitas. Kalau menyimak apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran, QS 96:15-16. Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Ubun ubun disini adalah bagian frontal otak, dimana menjadi pusat perilaku manusia, aspek moralistas manusia, seperti cerita diatas ketika terjadi kerusakan pada frontal Gage, ia mengalami kelainan afek, perilaku, menjadi kasar, dan kehilangan aspek moralitas.

30

Bagian limbik yang menjadi pusat emosi yang berada di amygdala dan hippocampus berfungsi mengatur emosi manusia dan memori emosi, menunjukan seorang penderita epilepsi yang mendapat terapi operasi otak dengan diangkatnya amigdala dan hypocampus memperlihatkan gejala hiperseks dan rakus setelah operasi. Istilah Limbik berarti perbatasan aslinya limbik digunakan untuk menjelaskan struktur tepi sekeliling regio basal serebrum, dan pada perkembangan selanjutnya diperluas artinya keseluruh lintasan neuronal yang mengatur tingkah laku emosional dan dorongan motivasional. Bagian utama sistem limbik adalah hipotalamus dengan struktur berkaitan, selain mengatur prilaku emosional juga mengatur kondisi internal tubuh seperti suhu tubuh, osmolalitas cairan tubuh, dan dorongan untuk makan dan minum serta mengatur berat badan Fungsi internal ini secara bersama-sama disebut fungsi vegetatif otak yang berkaitan erat pengaturannya dengan perilaku. Bagaimana kerja Hipotalamus dan sistem limbik, dalam Guyton diterangkan Fungsi Perilaku dari Hipotalamus dan Sistem Limbik (Guyton, 1997:937) 1. Perangsangan pada hipotalamus lateral tidak hanya mengakibatkan timbulnya rasa haus dan nafsu makan tapi juga besarnya aktivitas emosi binatang seperti timbulnya rasa marah yang hebat dan keinginan berkelahi. 2. Perasangan nukleus ventromedial dan area sekelilingnya bila dirangsang menimbulkan rasa kenyang dan menurunkan nafsu makan dan binatang menjadi tenang.

31

3. Perangsangan pada zone tipis dari nuklei paraventrikuler yang terletak sangat berdekatan dengan ventrikel ketiga (atau bila disertai dengan perangsangan pada area kelabu dibagian tengah mesensefalon yang merupakan kelanjutan dari bagian hipotalamus biasanya berhubungan dengan rasa takut dan reaksi terhukum. 4. Dorongan seksual dapat timbul bila ada rangsangan pada beberapa area hipotalamus. Khususnya pada sebagian besar bagian anterior dan posterion hipotalamus. Hipotalamus, daerah pengatur utama untuk sistem limbik, berhubungan dengan semua tingkat limbik. Hipotalamus mewakili kurang dari 1 persen masa otak, namun merupakan bagian penting dari jaras pengatur keluaran sistem limbik. Sebagai contoh perangsangan Kardiovaskular hipotalamus. Perangsangan efek neurogenik pada sistem kardiovaskular meliputi kenaikan tekanan arteri, penurunan tekanan arteri, peningkatan atau penurunan frekuensi denyut jantung. Pada umumnya,

perangsangan bagian posterior dan lateral hipotalamus meningkatkan tekanan arteri dan frekuensi denyut jantung, menimbulkan efek yang sedangkan perangsangan area preoptik sering Pengaturan gastrointestinal, dimana

berlawanan.

perangsangan pada hipotalamik lateral berhubungan dengan pusat lapar, bila daerah ini rusak maka pada percobaan binatang, akan terjadi kehilangan nafsu makan menyebabkan kematian karena kelaparan (lethal starvation). Pusat kenyang terdapat di nukneus ventromedial, bila daerah ini dirangsang dengan listrik pada binatang percobaan akan menghentikan makannya dan benar-benar mengabaikan makanannya.

32

Bila area ventromedial ini rusak secara bilateral maka, maka binatang tersebut jadi rakus, dan terjadi kegemukan yang hebat.(Guyton, 1997:933) Menurut seorang ahli bedah otak dari Amerika bernama Vilyanur Ramachandran bahwa ada “God Spot “ di lobus temporalis. Orang yang mengaku ateis secara lisan, hati kecilnya pasti akan mengakui bahwa ada Tuhan yang mungkin tidak dikenalnya tapi dia rasakan, karena memang adanya Got spot di bagian temporal manusia menunjukan bahwa Tuhan sebenarnya telah memperkenalkan dirinya pada manusia, tapi kadang manusia lalai dan tidak mau mengakui keberadaannya. a. Bagian-bagian otak secara anatomis 1. Telensefalon (endbrain) Hemisferum serebri Korteks serebri Rhinensefalon (sistem limbik) Basal Ganglia Nukleus Kaudatus Nukleus lentikularis Klaustrum Amigdala 2. Diensefalon (interbrain) Epitalamus Talamus Subtalamus Hipotalamus 3. Mesensefalon (midbrain) Korpora quadrigemina Kolikulus superior Kolikulus inferior Tegmentum Nukleus ruber Substantia nigra

33

Pedunkulus serebri 4. Metensefalon (afterbrain) Pons Serebelum 5. Mienlesefalon (marrow brain) Medula Oblongata (Prince,Wilson, 2006:1007)

Gambar 2.1 Otak dan bagian-bagiannya (www.medem.com)

c. Fungsi Bagian-Bagian Otak Cerebral Fungsi bagian otak dapat dilihat secara singkat pada tabel dibawah ini: Tabel 2.3

34

Fungsi Otak Lobus Serebral
Frontal

Fungsi
Penilaian Kepribadian bawaan Keahlian Mental Kompleks Abstraksi , membuat konsep , memperkirakan masa depan

Gangguan
Gangguan Penilaian Gangguan Penampilan diri dan kebersihan diri Gangguan Afek Gangguan proses fikir Gangguan fungsi motorik Gangguan memori kejadian yang baru terjadi Kejang Psikomotor Tuli

Temporal

Memori pendengaran Memori kejadian yang baru terjadi Daerah auditorius primer yang mempengaruhi kesadaran Bicara Berhitung (matematika) Topograhi kedua sisi tubuh

Parietal Dominan

Afasia Agrafia Akalkulia Agnosia Gangguan sensorik (bilateral) Disorientasi Distorsi Konsep Ruang Hilang kesadaran sisi tubuh yang berlawanan Defisit penglihatan dan buta

Non Dominan

Kesadaran sensorik Sintesis ingatan yang kompleks Memori visual penglihatan

Oksipital

(Prince,Wilson, 2002: 1048)

5. Stress Dan Respon Biologis. Menurut Rippetoe-Kilgore, Stress adalah kondisi yang dihasilkan ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungannya yang kemudian merasakan suatu

35

pertentangan, apakah itu riil ataupun tidak, antara tuntutan situasi dan sumber daya system biologis, psikologis dan sosial, dalam terminologi medis, stress akan

mengganggu system homeostasis tubuh yang berakibat terhadap gejala fisik dan psikologis. Baik secara mental, fisiologi tubuh, anatomi, atau fisik, ”Stress is the condition that results when person-environment transactions lead the individual to perceive a discrepancy, whether real or not, between the demands of a situation and the resources of the person's biological, psychological or social systems. In medical terms, stress is the disruption of homeostasis through physical or psychological stimuli. Stressful stimuli can be mental, physiological, anatomical or physical (Rippetoe-Kilgore, Mark and Lon. 2006) Richard Lazarus pada tahun 1974 yang membagi stress ke dalam 2 bentuk yaitu eustress dan distress.( Lazarus RS , 1993:1) stress yang berpengaruh positif adalah eustress sedangkan distress adalah stress yang bersifat negatif yang menyebabkan gangguan fungsional maupun organ tubuh. Istilah stress sendiri ditemukan oleh Hans Selye, seorang ahli fisiologi dari Universitas Montreal merumuskan bahwa stress adalah tanggapan tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap aksi tuntutan atasnya. Sehingga tubuh bereaksi secara emosi dan fisis untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal reaksi ini disebut General adaptation syndrome (GAS) 1936. Respon tubuh terhadap perubahan tersebut yang disebut GAS terdiri dari 3 fase yaitu: a. Waspada, (alarm reaction/reaksi peringatan)

36

Respons Fight or flight (respons tahap awal) Tubuh kita bila bereaksi terhadap stress, stress akan mengaktifkan sistem syaraf simpatis dan sistem hormon tubuh kita seperti kotekolamin, epinefrin, norepinefrine, glukokortikoid, kortisol dan kortison. Sistem hipotalamus-pituitary-adrenal (HPA) merupakan bagian penting dalam sistem neuroendokrin yang berhubungan dengan terjadinya stress, hormon adrenal berasal dari medula adrenal sedangkan kortikostreroid dihasilkan oleh korteks adrenal. Hipotalamus merangsang hipofisis, kemudian hipofisis akan merangsang saraf simpatis yang mempersarafi: 1. Medula adrenal yang akan melepaskan norepinefrin dan epinefrin; 2. Mata menyebabkan dilatasi pupil; 3. Kelenjar air mata dengan peningkatan sekresi; 4. Sistem pernafasan dengan dilatasi bronkiolus, dan peningkatan pernafasan; 5. Sistem Kardiovaskular (jantung) dengan peningkatan kekuatan kontraksi jantung, peningkatan frekwensi denyut jantung, tekanan darah yang meningkat; 6. Sistem Gastrointestinal (lambung dan usus), motilitas lambung dan usus yang berkurang, kotraksi sfingter yang menurun; 7. Hati, peningkatan pemecahan cadangan karbohidrat dalam bentuk glikogen (glikogenolisis) dan peningkatan kerja glukoneogenesis, penurunan sintesa glikogen. Sehingga gula darah akan meningkat di dalam darah; 8. Sistem Kemih terjadi peningkatan motilitas ureter, kontraksi otot kandung kemih, relaksasi sfingter;

37

9. Kelenjar keringat, peningkatan sekresi; 10. Sel lemak, terjadi pemecahan cadangan lemak (lipolisis); Adapun lebih jelasnya fungsi dari syaraf simpatis yang terangsang saat terjadinya stress dapat dilihat di gambar dibawah ini: Gambar 2.2 Fungsi Syaraf Simpatis dan syaraf Parasimpatis

b. The Stage of resistance (Reaksi pertahanan) Reaksi terhadap stressor sudah melampaui batas kemampuan tubuh, timbul gejala psikis dan somatik. Individu berusaha mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi untuk mengatur stresor,

38

tubuh akan berusaha mengimbangi proses fisiologi yang terjadi pada fase waspada, sedapat mungkin bisa kembali normal, bila proses fisiologis ini telah teratasi maka gejala stress akan turun, bila stresor tidak terkendali karena proses adaptasi tubuh akan melemah dan individu akan tidak akan sembuh. c. Tahap kelelahan Pada fase ini gejala akan terlihat jelas. Karena terjadi perpanjangan tahap awal stress yang telah terbiasa, energi penyesuaian sudah terkuras, individu tidak dapat lagi mengambil dari berbagai sumber untuk penyesuaian, timbullah gejala penyesuaian seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, hipertensi, dispepsia (keluhan pada gastrointestinal), depresi, ansietas, frigiditas, impotensia. Bila terjadi stress, kecemasan, kegelisahan, maka tubuh akan bereaksi secara otomatis berupa perangsangan hormon dan neurotransmiter, untuk menahan stresor, sehingga penting untuk mempertahankan kondisi mental dan fisik mahluk hidup. Dalam hal ini stress akan merangsang pusat hormonal di otak yang bernama hipotalamus (raja endokrin). Fungsi Hipotalamus disini adalah: mengatur keseimbangan air, suhu tubuh, pertumbuhan tubuh, rasa lapar, mengontrol marah, nafsu, rasa takut, integrasi respons syaraf simpatis, mempertahankan homeostasis. Bila syaraf simpatis terangsang maka, denyut nadi dan jantung akan meningkat, aliran darah ke jantung, otak, dan ototpun meningkat, sehingga tekanan darah pun akan ikut terpengaruhi, pemecahan gula di hati meningkat sehingga gula darah ikut meningkat di darah. Kortisol yang dikeluarkan oleh korteks adrenal karena perangsangan hipotalamus, menyebabkan

39

rangsangan susunan syaraf pusat otak. Tubuh waspada dan menjadi sulit tidur (insomnia). Kortisol merangsang sekresi asam lambung yang dapat merusak mukosa lambung. Menurunkan daya tahan tubuh. Menurut Maramis bila kita tidak dapat mengatasinya stress dengan baik, maka akan muncul gangguan badan atau gangguan jiwa. Sumber stress psikologik adalah masalah penyesuaian atau keadaan stress yang dapat bersumber pada frustasi, konflik, tekanan atau krisis. Dalam stress ada yang disebut daya tahan stress atau disebut juga nilai ambang frustasi (stress/frustation tolerance, ”frustratic drempel), yang pada setiap orang berbeda-beda tergantung somato-psiko-sosial orang tersebut. (Maramis, 1980:65) Frustasi timbul bila ada aral melintang antara kita dan maksud (tujuan) kita. Konflik terjadi bila kita tidak dapat memilih antara atau dua lebih macam kebutuhan atau tujuan. Tekanan juga dapat menimbulkan masalah penyesuaian, biarpun kecil, bila bertumpuk-tumpuk dapat menjadi stress yang hebat, tekanan seperti juga frustasi boleh berasal dari dalam maupun dari luar (Maramis, 1980:67-68). Frustasi digunakan psikolog untuk mengetahui keadaan yang timbul apabila ada halangan dalam usaha untuk memenuhi keinginan, kebutuhan tujuan, harapan atau tindakan tertentu. Frustasi sendiri adalah keadaan dimana satu kebutuhan tidak bisa dipenuhi, tujuan tidak bisa tercapai. Frustasi ini juga bisa menimbulkan situasi positif atau yang destruktif (negatif). Reaksi frustasi dengan demikian sifatnya bisa negatif bisa positif. (Ardani,Rahayu, Solichatun 2006:39)

40

1. Reaksi-reaksi Frustasi yang Sifatnya Positif a. Mobilitas dan peningkatan aktifitas, karena adanya rangsangan akibat rintangan, individu memperbesar keuletannya, kerja kerasnya,

keberaniannya, tekatnya untuk menyelesaikan masalahnya. b. Berfikir mendalam dengan kejernihan Frustasi memberikan masalah, membuka wawasan realitas, dengan berfikir lebih obyektif, mencari alternatif jalan keluar yang lebih baik. c. Regignation ( kapasrahan kepada Allah) Menerima situasi yang ada dengan nalar dan rasional. Dengan tawakal kepada Allah, dan iktiar, tapi tetap berpegang pada kekuasaan Allah dalam menyikapi rintangan d. Dapat fleksibel sesuai kebutuhan Bila satu ide sudah tidak dapat dipertahankan lagi, tidak sesuai dengan kebutuhan, kita dapat mengikuti perkembangan yang ada yang lebih sesuai dengan tata kehidupan yang baru dan lebih dinamis. e. Kompensasi dari tujuan Kompensasi adalah usaha untuk mengimbangi kegagalan dan kekalahan dalam satu bidang tapi sukses dalam bidang yang lain, sebagai jalan menghidupkan stimulus dalam diri dan pantang menyerah f. Sublimasi Yaitu usaha untuk mengganti kecenderungan egoistic, nafsu seks animalistik, dorongan biologis primitive dan aspirasi sosial yang tidak sehat dalam bentuk

41

tingkah laku terpuji yang bisa diterima masyarakat, misalnya disalurkan hasrat sexual ke bidang olah raga, seni dan lain-lain. 2. Reaksi-reaksi Frustasi yang sifatnya Negatif Reaksi-reaksi ini sangat merugikan individu, ada beberapa reaksi negatif sebagai berikut: a. Agresi: yaitu bentuk reaksi kemarahan yang luar biasa, sehingga sampai melakukan penyerangan terhadap orang lain, bisa dengan senjata tajam, pembunuhan. b. Regresi: yaitu reaksi kembalinya seseorang pada pola tingkah laku kekanakkanakan, seperti mengompol, mengisap tangan, membanting barang, menangis sambil meraung-raung, histeris. Tingkah laku diatas ekspresi dari putus asa, mental yang lemah, ekspersi rasa menyerah kalah. c. Fixatie: adalah reaksi frustasi dengan melakukan suatu tingkah laku stereotipi memakai pola yang sama, misalnya menyelesaikan kesulitan dengan membentur-bentukan kepala, berlari-lari histeris, menggedor-gedor pintu. Dilakukan sebagai alat pencapaian tujuan, menyalurkan balas dendam. d. Pendesakan dan komplek terdesak Usaha menekan kebutuhan, pikiran yang jahat, nafsu, perasaan negatif, karena ditekan sehingga secara tidak sadar muncul mimpi-mimpi yang menakutkan, halusinasi, delusi, ilusi, salah baca, dan lain-lain e. Rasionalisme yaitu usaha pembenaran diri secara tidak wajar.

42

f. Proyeksi adalah usaha memproyeksikan sikap dirinya yang negatif pada orang lain. g. Identifikasi adalah usaha menyamakan diri dengan orang lain, tujuannya untuk memberikan keputusan yang semu pada dirinya sendiri. h. Narsisme adalah perasaan cinta diri sendiri yang patologis dan berlebihan, cenderung egoistis dan tidak perduli dengan dunia luar, merasa paling superior, paling penting. i. Autisme adalah gejala menutup diri secara total dari dunia diluar dirinya yang nyata, tidak mau berkomunikasi dengan dunia lain, merasa dunia luar itu kotor, penuh kepalsuan, sehingga lama-lama konflik batin yang menumpul mengdesintegrasi kepribadian individu tersebut. j. Tehnik jeruk manis yaitu memberi alasan yang baik terhadap kegagalan, kelemahan dirinya. Misalnya seorang panglima perang mengatakan mundur dari medan perang bukan sebagai kekalahan tapi sebagai taktik international. k. Tehnik Anggur Asam, Usaha memberikan alasan yang negatif pada

kegagalannya, seperti gagal ujian karena tidak sesuai dengan bahan yang diberikan. 6. Gangguan Psikosomatik Dan Kekebalan Stress Psikosomatik menurut kamus Inggris adalah kelainan fisik yang disebabkan faktor mental seperti stress atau efek yang berhubungan dengan beberapa penyakit. Psychosomatic Illness, illness that has no basic physical or organic cause but appears to be the result of psychological conditions, such as stress, anxiety, and

43

depression. Such illnesses reflect the general belief that the mind is capable of strongly affecting bodily reactions, and that a person’s mental condition can actually cause changes in the chemistry of the body, thereby creating physical illness. In cases of psychosomatic illness, a marked change in the body can often be readily detected.(Microsoft ® Encarta 2008.Microsoft Corporation) Psychosomatic disorder, now more commonly referred to as

psychophysiologic illness, is an illness whose symptoms are caused by mental processes of the sufferer rather than immediate physiological causes. If a medical examination can find no physical or organic cause, if an illness appears to result from emotional conditions such as anger, anxiety, depression and guilt, then it might be classified psychosomatic. The interaction between psychological factors and the immune system is studied in psychoneuroimmunology. Gangguan psikosomatik umumnya dihubungkan dengan gangguan psikofisiologi, yang lebih cenderung karena faktor mental daripada penyebab fisiologis, bila pemeriksaan tidak dapat menemukan gangguan fisik atau organik yang berarti dan gangguan timbul lebih diakibatkan karena faktor emosional seperti marah, anxietas, depresi, perasaan

bersalah, maka keluhan ini dimasukan dalam gangguan psikosomatik. (Wikipedia, the free encyclopedia) Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut (IPD Mudjaddid, Shatri, 684).

44

Gangguan psikosomatik tidak terlepas dari berbagai stresor psikososial dimana setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga ia harus menyesuaikan diri menanggulangi segala perubahan yang timbul, dan jenis-jenis stresor yang timbul misalnya: (1) stresor sosial seperti masalah pekerjaan, masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah keluarga, hubungan interpersonal, perkembangan, penyakit fisik, masalah kekerasan rumah tangga; (2) stresor psikis seperti perasaan rendah diri, frustasi., malu, merasa berdosa; (3) stresor fisis (panas, dingin, bising, bau yang menyengat, banjir) dan lain-lain. Keluhan Psikosomatik yaitu keluhan fisik atau jasmani yang diduga berkaitan erat dengan masalah kejiwaan (mental emosional). Contoh: berdebar-debar, tekuk pegal, tekanan darah tinggi (gejala kardiovaskular); ulu hati perih, kembung, gangguan pencernaan (gejala gastrointertinal); sesak nafas, mengik (gejala respiratorius), gatal, eksim (gejala dematologi); encok, pegal, kejang, sakit kepala (gejala muskuloskeletal); gangguan haid, keringat dingin disertai berdebar-debar (gejala hormonal-endokrin).(Yulizar dkk, 2004:21) 6.1 Diagnosa pada gangguan psikosomatik terdiri atas kriteria sebagai berikut: 1. Keadaan pasien tidak menunjukan gejala jiwa atau kelainan psikiatri (distorsi realita , waham dan sebagainya) 2. Keluhan yang timbul selalu berhubungan dengan emosi tertentu 3. keluhan berganti-ganti dari satu sistem ke sistem yang lain 4. Ditemukan adanya ketidak seimbangan vegetatif 5. Riwayat hidup pasien penuh dengan konflik dan stress

45

6. Terdapat perasaan negatif (dongkol, cemas, sedih, cemburu, dsb) 7. Ada faktor predisposisi (biologis atau perkembangan kejiwaan) 8. Terdapat faktor presipasi/pencentus (fisis, atau psikis) Tidak harus semuanya harus ada, tetapi apabila terdapat beberapa kriteria yang sesuai sudah merupakan indikasi kearah gangguan psikosomatik (E, Mujjadid, Hamzah , IPD, 687) 6.2 Gangguan-gangguan Psikosomatik antara lain : 1. Dispepsia Fungsional , menurut lagarde dan spiro (1984) adalah keluhan tidak enak diperut bagian atas yang bersifat intermitten, sedang pada pemeriksaan tidak ada kelainan organik. Patofisiologi rangsangan psikis terhadap asam lambung dipengaruhi oleh syaraf otonom cara dengan jalur syaraf, konflik emosi mempengaruhi kerja hipotalamus anterior nukleus vagusnervus vagus lambung. Jalur kedua, dari hipotalamus anterior, kemudian keluar kortikotropin  merangsang korteks adrenalasam lambung. 2. Hipertensi esensial, diagnosa ini ditegakkan karena hingga kini belum ditemukan penyebab, morfologis, kimiawi atau diagnosa klinis yang membuktikannya, sehingga untuk menetapkan diagnosa nya harus disisihkan penyebab adanya gangguan ginjal, hormonal, jantung, dan syaraf. Hipotesa Groen bahwa pasien hipertensi sebagian besar memiliki kepribadian obsesi kompulsif dengan predisposisi emosi yang tinggi. Kebutuhan cinta yang besar, kebutuhan kekuasaan . membuat mereka tidak mudah melupakan dan

46

memecahkan konflik dan penyesuaian diri terhadap tekanan dan perubahan keadaan 3. Asma bronkiale dikenal sebagai gangguan pernafasan dengan terhalangnya aliran ekspirasi , sehingga ketika itu akan terdengar wheezing atau mengi. Penyakit yang sebabnya multifaktorial ini selalu dihubungkan dengan konflik psikis 4. Depresi , merupakan gangguan afektif yang ditandai dengan adanya mood depresi (sedih). Hilang minat dan mudah lelah. Pada umumnya pasien datang ke klinik penyakit dalam dengan keluhan somatik, (PABDI,2006: 269) Pada Panduan Pelayanan Medik (PAPDI) diagnosa Depresi meliputi: Gejala A : - Perasaan sedih , tidak bisa menikmati hidup - Kurang atau tidak ada perhatian pada lingkungan - Mudah lelah Gejala B : - Konsentrasi dan perhatian yang kurang - Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang - Perasaan bersalah tidak berguna - Pandangan masa depan suram/pesimis - Tidur terganggu - Nafsu makan kurang/bertambah Diagnosa ditegakkan apabila ada gejala-gejala tersebut dengan atau tanpa gejala somatik, derajat depresi : 1. Ringan : 2 gejala A dan 2 gejala B 2. Sedang : 2 gejala A dan 3 gejala B 3. Berat : 3 gejala A dan 4 gejala B

47

5. Ansietas merupakan kecemasan yang berlebihan dan lebih bersifat subyektif. Pada umumnya pasien datang ke poliklinik dengan keluhan somatik, dengan gejala cemas berlebihan(PABDI , 2006: 275) Gejala Ansietas Diagnosa ansietas 1. Perasaan cemas berlebihan, subyektif , tidak realistis 2. Terdapat Keluhan dan gejala sebagai berikut: Ketegangan motorik : kedutan otot, kaku, pegal, sakit dada, sakit persendian. Hiperaktif otonom : sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah, mulut kering, rasa mual, mules , diare Bila ditemukan adanya kelainan organis pada umumnya keluhan tidak sebanding dengan kelainan organ yang ditemukan Kewaspadaan berlebihan dan daya tangkap berkurang : mudah terkejut, cepat tersinggung, sulit konsentrasi, sukar hidup, dan lain-lain 3. Aktifitas sehari-hari terganggu: kemampuan kerja menurun , hubungan sosial yang terganggu, dan kurang merawat diri. 6. Nyeri Psikogenik adalah keluhan nyeri yang penyebabnya bukan penyebab penyakit organik ditemukan gejala nyeri tampa kelainan organ yang jelas misalnya nyeri kepala, migren, mialgia, atralgia, kolik abdomen, ada stresor psikososial. Disertai dengan gejala depresi dan ansietas. 7. Chronic Fatique Syndrome Sindrom lelah kronik adalah rasa lelah yang berlangsung lama dan tidak hilang dengan istirahar tanpa penyebab organik yang jelas.

48

Mempunyai gejala utama adanya rasa lelah berkepanjangan yang terus menerus berkepanjangan, dan bertambah bila melakukan aktivitas atau saat stress emosional dan tidak pulih sepenuhnya dengan istirahat. Mempunyai gejala tambahan yang dapat disertai seperti mialgia, sefalgia, nyeri sendi, nyeri tenggorokan, demam, limfadenopati terutama bagai leher atau aksila, juga terdapat gejala-gejala neuropsikologis seperti depresi, kecemasan, insomnia. Gejala terutama dalam 6 bulan atau disertai minimal empat gejala tambahan, dan tidak didapatkan penyakit kronis lainnya.(E.Mudjaddin, 196) 8. Penyakit Jantung Fungsional (neurosis kardiak) Penyakit dengan keluhan seperti penyakit jantung, tanpa disertai kelainan organik, Dengan keluhan adanya sakit dada yang tidak khas, sesak nafas, dapat menyerupai angina pektoris, berdebar, rasa jantung seakan berhenti, rasa ingin mati, mudah terkejut, adanya cemas yang berlebihan, biasanya timbul sudah serin sebelum pasien datang kerumah sakit. Stresor pencetusmya jelas kecuali ansietas panik, pada pemeriksaan tidak didapat kelainan yang spesifik, dapat dijumpai adanya takikardia, aritmia, kadang-kadang prolaps katup mitral, pada EKG didapat elevasi/depresi segmet ST.(Hamzah Shatri, IPD. 2000:194) 9. Sindrom Hiperventilasi Dengan keluhan sesak nafas yang tidak khas, merasa kekurangan udara sehingga harus menarik nafas panjang, sering disertai adanya takipnea, dan rasa sempit didada, kadang disertai adanya keluhan pada jantung , parestesi.

49

Badan terasa enteng, gejala fisik yan glain tidak khas, adanya gangguan emosional terutama rasa takut, stresor psikososial.(Hamzah Shatri,IPD. 2000:195) 10. Sindrom Kolon Iritabel Adalah sakit perut disertai gangguan buang air besar tanpa dijumpai kelainan organik. Ditandai dengan rasa nyeri/tidak enak, diperut disertai diare atau konstipasi , perut kembung, yang tampak dengan jelas, rasa nyeri diperut hilang setelah buang air besar, keluhan psikis menonjol seperti gejala ansietas atau depresi, feses yang lembek pada saat timbulnya rasa sakit, feses campur lendir dan tidak berdara., penurunan berat badan tidak lebih dari 5 % dalam satu tahun terakhir, pemeriksaan feses tidak ditemui pararsis dan penemuan barium enema maupun kolonoskopi normal.(E. Mudjaddid, 2000:197)

6.3 Terapi gangguan psikosomatik Terapi dilakukan secara holistik atau keseluruhan, karena tidak hanya dengan obat saja tapi juga dengan berbagai faktor. Menurut Hawari terapi dilakukan meliputi segi psikologik, organobiologik, psikososial, dan spiritual. Dengan psikoterapi psikiatrik, psikoterapi agama, psikofarmaka. Terapi somatik, relaksasi dan terapi perilaku

50

MANUSIA

BADAN

JIWA

SPIRITUAL

LINGKUNGAN

SOMATOTERAPI

PSIKOTERAPI

MOTIVASI BERIBADAH

SOSIOTERAPI

Gambar 2.3 Terapi secara Holistik

Dan diperlukan diagnosa multiaksial yang meliputi: aksis 1 : Jenis gangguan Jiwa, aksis 2 : Aspek/gangguan kepribadian, aksis 3 : kelainan fisik (organ), aksis 4 : Stresor psikososial, aksis 5 : kemampuan adaptasi dalam tahun terakhir. 6.3.1 Pengobatan Gangguan Psikosomatik terdiri dari beberapa hal yaitu adalah sebagai berikut. (1) Farmakoterapi atau dengan menggunakan obat-obatan yang sesuai dengan

keluhan (simtomatis), fisioterapi , bisa juga sampai operatif. Yang tidak kalah pentingnya reedukasi, memberi pendidikan kepada pasien untuk menjalankan

51

pola hidup yang sehat. Untuk obat anti depresan memerlukan waktu antara 2 – 3 minggu, dan perubahan akan dirasakan bertahap. Dilatasi pupil menandai dosis yang cukup, dan pengobatan diteruskan selama 3 bulan dan berangsur dikurangi. Dan tidak perlu takut menjadi ketagihan (addicted) karena memerlukan waktu yang lama. Tahapan perubahan yang ada akan meliputi pulihnya nafsu makan, pola tidur, energi, dan depresinya sendiri merupakan perubahan pada tahap akhir. Obat yang digunakan antara lain: seperti :(a) Golongan tricyclic dan tetracyclic anti depresan (TCAs) contohnya imipramine (Tofranil), amitriptyline (laroxyl), Doxepin, Maprotiline (Ludiomil), clomipramine, mianserin (Tolvon). (b) Golongan monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) seperti moclobemide (Aurorix). (c) golongan anti depresan atipikal seperti Opipramol di HCl (insidon), Amineptine (Survector), Trazodone, (d) Golongan SSRI seperti Setraline Hcl (Zoloft). Paroksetin, fluoksetin, fluvoksamin. Secara farmakologi kerja obat anti depresi misalnya penghambat Mono Amin Oksidase yang digunakan sejak lama. MAO dalam tubuh berfungsi dalam proses deaminasi oksidatif katekolamin di mitokondria. Proses ini dihambat oleh Penghambat MAO akubatnya kadar epinefrin, norepinefrin, dan 5-HT naik dalam otak (2) Psikoterapi dengan bersikap empati kita terhadap pasien, diberi kesempatan pasien untuk mengutarakan isi hatinya (ventilasi) dengan demikian mereka dapat merasa tenang, puas dan lega, beban yang terasa bisa menjadi lebih ringan,

52

ketegangan jiwanya bisa lebih rileks, memberikan edukasi, pendidikan dan meluruskan pendapat akan apa yang dideritanya. (3) Memberi Motivasi beribadah, bahwa ibadah adalah mendekatkan diri kita kepada yang Maha mengingatnya, yaitu Allah , sebagai tempat kita bergantung dan mengadu, akan memberi ketenangan jiwa, yang kemudian akan

meningkatkan daya tahan mental dan imunitas tubuh pasien tersebut. (4) Sosioterapi, dimana anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya diajak ikut serta membantu pasien agar memberi dukungan penyembuhan terhadap hal-hal yang memberikan stresor pada pasien tersebut. (5) Meningkatkan kekebalan stress, Menurut pengelolaan terhadap stress, yaitu: a. Olah raga Dengan olah raga yang teratur minimal 2 kali seminggu , tubuh ini dapat lebih bugar, dan lebih sehat sehingga mental dan kekebalan tubuh dapat lebih meningkat. b. Rekreasi Rekreasi dapat membebaskan diri dari kejenuhan pekerjaan atau kehidupan yang monoton amat baik memulihkan ketahanan fisik dan mental, rekreasi dapat dilakukan bersama pasangan kita, agar hubungan bisa selalu mesra, dan juga rekreasi bersama anak sehingga sarana komunikasi diantara anggota keluarga bisa berjalan efekif, mempererat hubungan psikososial diantara anggota keluarga. Dadang Hawari ada beberapa

53

c. Kasih sayang Perhatian kita terhadap anak , istri atau suami, hubungan harmonis yang terus terjaga akan memberi ketentraman batin dan kedamaian, menurut Hawari, penelitian menunjukan bahwa 80 % stress disebabkan oleh adanya masalah dalam hubungan antara suami-istri, dan merupakan faktor dominan bagi menurunnya daya tahan atau kekebalan seseorang terhadap stress. d. Sosial ekonomi Pengelolaan keuangan yang baik tidak akan memberi dampak stress, apalagi bila tidak dapat mengatur pengeluaran yang lebih besar pasak dari pada tiang, atau mengejar status tampa melihat kemampuan dan penghasilan. e. Rokok Menurut Hawari , penelitian membuktikan bahwa jangan merokok lebih dari 10 batang sehari, lebih dari itu tubuh tidak akan mampu menetralisir efek negatif rokok, tapi yang lebih baik tidak merokok. Tiap satu batang rokok usia diperpendek 12 menit. f. Pergaulan/Silaturahmi Manusia tidak dapat hidup tampa manusia lain karena manusia adalah mahluk sosial yang memerlukan teman, sahabat, tempat bertukar pikiran, tetangga adalah saudara terdekat, hubungan yang terjalin baik dan harmonis dengan orang lain membuat hidup kita jadi lebih berarti. g. Tidur

54

Tidur yang teratur 7-8 jam sehari amat baik untuk memulihkan segala keletihan fisik dan mental. Bila kita kurang tidur, maka daya tahan tubuh akan turun, badan tidak bugar, pekerjaan jadi tidak lancar. Maka kekebalan tubuh kita terhadap stress akan berkurang h. Makanan Makan yang seimbang dan teratur, tidak berlebihan maupun kekurangan, memberi dampak bagi kesehatan fisik dan kekebalan tubuh . i. Waktu Pengelolaan waktu yang baik, apakah lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV, kurang membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan, sehingga waktu terbuang percuma. j. Agama Seperti yang telah dijelaskan diatas, penghayatan agama yang baik akan memberikan dampak terhadap bagaimana kita memaknai hidup ini. Kemantapan beragama membawa kita kepada ketenangan hidup kita. Pemahaman yang salah terhadap sesuatu yang musyrik, bisa membuat kita terjebak terhadap perilaku yang tidak benar, sehingga pemahaman spitual kita tercampur dengan yang batil. Bila terjadi stress, kecemasan, kegelisahan, maka tubuh akan bereaksi secara otomatis berupa perangsangan hormon dan neurotransmiter, untuk menahan stresor, sehingga penting untuk mempertahankan kondisi mental dan fisik mahluk hidup.

55

Dalam hal ini stress akan merangsang pusat hormonal di otak yang bernama hipotalamus (raja endokrin). 6.3.2 Pengukuran Kekebalan Stress (Miller & Smith) Adalah suatu alat ukur untuk mengetahui taraf kekebalan terhadap stress dari seseorang, terdapat 20 item dimana masing-masing score diberi nilai 1-5, angka score 1 ( selalu dikerjakan) dan score 5 (tidak pernah dikerjakan), sesuai dengan ukuran berapa jauh berlakunya bagi yang bersangkutan, untuk memperoleh kekebalan, jumlah nilai score diatas dan lalu dikurangi dengan 20. Jumlah angka score kurang dari 30, orang tersebut kebal, Score diatas 30 kurang kebal dan score diatas 50 yang bersangkutan tidak kebal terhadap stress. Dengan kekebalan stress yang baik, diharapkan seseorang tidak mudah menderita penyakit fisik maupun mental. Karena dengan pola hidup yang baik seperti yang ada dalam pengelolaan kekebalan stress, maka pencegahan terhadap penyakit akan meningkat, dibawah ini terdapat tabel wawancara yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kekebalan kita terhadap stress.

Tabel 2.4 Kekebalan stress Miller & Smith No 1 2 3 4 Item Tiap hari saya sedikitnya sesekali menghadapi makanan yang hangat dan berimbang Sedikitnya empat malam dalam seminggu saya tidur 7 – 8 jam Saya secara teratur menerima dan memberi kasih sayang Sedikitnya saya mempunyai seseorang saudara dalam jarak 75 Score 1- 5

56

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Km yang bisa saya andalkan Setidaknya dua kali seminggu saya gerak badan sampai berkeringat Saya merokok kurang dari setengah pak sehari Dalam seminggu saya kurang dari 5 kali minum alkohol Saya mempunyai penghasilan cukup untuk menutup pengeluaran pokok Berat badan saya sesuai dengan tinggi badan Saya memperoleh kekuatan dari agama saya Saya secara teratur menghadiri kegiatan-kegiatan seperti, kegiatan arisan atau sosial Saya mempunyai lingkungan bersahabat dan kenalan Saya mempunyai sahabat atu atau lebih kepada siapa saya dapat percaya soal-soal pribadi saya Kesehatan saya baik (termasuk mata, telinga, dan gigi) Saya bicara terus terang mengutarakan perasaan hati diwaktu marah atau gelisah Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang-orang dengan siapa saya tinggal, soal urusan domestik misalknya kebersihan rumah dan kehidupan sehari-hari Setidaknya seminggu sekali saya melakukna sesuatu untuk hiburan Saya bisa mengatur waktu secara efektif Dalam sehari saya minum kurang dari 3 cangkit kopi/teh atau cola Saya setiap hari mencari waktu untuk ketenangan diri total

6.3.3 Strategi menghadapi stress dalam perilaku a. Memecahkan Persoalan dengan Cara Yang Tenang Seseorang menyikapi stress dan kecemasannya dengan menentukan langkahlangkah pemecahannya dengan cara yang bijak, mengevaluasi, membuat perencanaan kembali dan iktiar disertai ketaqwaan terhadap Allah SWT. b. Menarik diri respon paling umum, seseorang memilih untuk tidak mengambil tindakan apa-apa, biasanya disertai sikap apatis dan depresi.

57

c. Mengelak, individu yang mengalami stress yang beralut-larut cenderung berprilaku mengelak, melakukan prilaku berulang tertentu misalnya dengan minum-minum alkohol, obat-obat terlarang. d. Agresi, stress yang di akhiri dengan marah dan sikap agresi sebagai respon penyesuaian diri. e. Regresi yaitu kondisi menghadapi stress dengan prilaku mundur kekanakkanakan, ini merupakan respon umum frustasi.

6.3.4. Strategi menghadapi stress secara kognitif Untuk mengatasi stress secara kognitif pada seseorang antara lain dengan (Ardani, Rahayu, Sholichatun,2007:45) a. Intelektualisasi , individu menggunakan taktik , dipelajari masalahnya dengan mencari tahu tujuan sebenarnya agar tidak terlalu terlibat dalam persoalan secara emosional. Dengan cara ini seseorang dapat mengurangi pengaruh yang tidak menyenangkan dirinya, sehingga ada kesempatan baginya menelaah persoalannya secara subjektif. b. Proyeksi, dengan tehnik ini seseorang dengan cepat menunjukan ciri pribadi orang lain yang tidak disukainya dengan sesuatu yang kemudian dibesarbesarkan. Dipakai untuk mengurangi kecemasannya karena harus berhadapan dengan kebururkannya sendiri. c. Represi adalah usaha seseorang menyingkirkan kecemasan, stress dan frustasinya .

58

d. Fantasi, dengan menghayal, seseorang membayangkan dirinya telah mencapai tujuannya, keberhasilannya, bila fantasi ini dilakukan tidak berlebihan dan dengan pengendalian kesadaran yang baik , fantasi dapat dipakai sebagai cara yang cukup baik menghadapi stress. e. Rasionalisasi dipakai sebagai usaha seseorang mencari alasan yang dapat diterima secara sosial untuk menutupi kelakuannya yang buruk, untuk menipu diri sendiri dengan menganggap baik yang buruk dan menganggap yang buruk sebagai yang baik. f. Menyangkal kenyataan Menipu diri sendiri dengan menyangkal kenyataan, ia melindungi diri sendiri dengan mengatakan belum berpengalaman. 6.3.5 Cara mengatasi stress Setiap orang mempunyai cara masing-masing dalam menyelesaikan masalahnya tergantung dari standar budaya dimana ia dibesarkan, gaya perlakuan orang tua sehingga terbentuk kepribadian seorang anak, tingkat kognitif mempengaruhi seseorang mengatasi stressnya, penyesuaian dirinya terhadap stress Perlakuan orangtua terhadap anak yang memberikan konstribusinya terhadap kompentensi sosial, emosional, dan intelektual anak. Pada penelitian oleh Diana Baumrind di bedakan adanya pola pengasuhan orang tua yang bersikap Authoritarian, permissive, authotaritative. Pada penelitian yang dilakukan oleh hurlock, shneiders dibedakan pola perilaku orang tua kedalam 7

59

kriteria yaitu: overprotective, permissive, rejection, acceptance, domination, submission, puniveness (overdisipline). (Syamsu Yusuf ,2005 :51) Becker, Deutsch, Kohn, sheldon, tentang kaitan antara pola asuh orang tua berdasar kelas sosial (Samsu Yusuf ,2005:53) sebagai berikut: a) kelas bawah cenderung lebih keras dan menggunakan hukuman fisik terjadap kelas menengah, anak dari kelas bawah bersikap lebih agresif, independen, lebih awal dalam pengalaman seksual; b) kelas menengah cenderung lebih memberikan pengawasan dan perhatian sebagai orang tua. Para ibunya merasa bertanggung jawab terhadap tingkah laku anak-anaknya dan menerapkan ambisi untuk meraih status tinggi, dan menekan anak untuk mengejar statusnya melalui pendidikan dan latihan profesional; c) kelas atas cenderung lebih memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan tertentu, lebih memiliki latar belakang pendidikan yang reputasinya tinggi, dan biasanya senang mengembangkan apresiasi estetikanya, anak-anaknya cenderung memiliki rasa percaya diri dan cenderung memanipulasi aspek realititas;

Tabel 2.5 Pola Asuh Orang tua terhadap Perilaku Anak (Syamsu Yusuf, 2005:50-51)

60

Pola Asuh Authoritarian

Sikap Perilaku Orang Tua Sikap ”acceptace” rendah, namun kontrolnya tinggi, suka menghukum secara fisik, bersikap mengkomando (mengharuskan/memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi, bersikap kaku , cenderung emosional dan bersikap menolak Sikap ”acceptance” tinggi namun kontrolnya rendah, memberikan kebebasan terhadap anak untuk menyatakan dorongan keinginannya

Profil Perilaku Anak Mudah tersinggung, penakut, pemurung , tidak bahagia, mudah terpengaruh, mudah stress, tidak mempunyai arah masa depan yang jelas, tidak bersahabat

Permissive

Bersikap impulsif dan agresif, suka memberontak, kurang memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri, suka mendominasi, tidak jelas arah hidupnya , rendah prestasinya Bersikap bersahabat, memiliki rasa percaya diri, mampu mengendalikan diri , bersikap sopan, mau bekerja sama, memiliki rasa ingin tahunya yang tinggi, mempunyai arah hidup yang jelas, merorientasi terhadap prestasi. Bersikap sopan dan sangat berhatihati, pemalu, penurut, inferior dan mudah bingung, tidak dapat bekerja sama

Authoritative

Sikap ”acceptance” dan kontrolnya tinggi, bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan, memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan buruk

Domination (dominasi)

Mendominasi anak

Submission (penyerahan) Punitiveness (overdiscipline )

Senantiasa memberikan sesuatu Tidak patuh, tidak bertanggung yang diminta anak berperilaku jawab, agresif, teledor, bersikap semaunya dirumah otoriter, terlalu percaya diri Mudah memberikan hukuman, Impulsif, tidak dapat mengambil menanamkan kedisiplinan secara keputusan, nakal, sikap keras bermusuhan/agresif

61

6.3.6 Macam-Macam Kepribadian Manusia Menurut PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa di Indonesia III). Pada Diagnosis Gangguan Jiwa PPDGJ III (Rusdi,2000:102-105) Terdapat Yang di sebut dengan diagnosa Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa antara lain adalah sebagai berikut: 1. Gangguan Kepribadian paranoid dengan ciri-ciri: a. Kepekaan berlebihan terjadap kegagalan dan penolakan; b. kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam; c. kecurigaan dan kecenderungan mendistorsikan pengalaman dengan menyalah artikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap permusuhan dan penghinaan; d. perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada (actual situation); e. kecurigaan yang berulang, tanpa dasar (justification) tentang kesetiaan seksual dari pasangannya; f. kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan yang bermanifestasi dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri (selfreferential attitude); g. preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substatantuf dari suatu peristiwa baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumnya. Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas. 2. Gangguan kepribadian Skizoid, ditandai dengan deskripsi berikut: a. sedikitnya (bila ada) aktivitas yang memberikan kesenangan; b. emosi dingin, efek mendatar, atau tak peduli (detachment); c. kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau kemarahan terhadap orang lain;

62

d. tampak nyata ketidak-pedulian baik terhadap pujian maupun kecaman; e. kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain (perhitungkan usia penderita); f. hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri; g. preokupasi dengan fantasi dan intropeksi yang berlebihan; h. tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu; i. sangat sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku; Untuk mendiagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas, 3. Gangguan kepribadian Dissosial a. bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain; b. sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terusmenerus (persistent), serta tidak peduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial; c. tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk mengembangkannya; d. toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan; e. tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman; f. sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat; Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas. 4. Gangguan kepribadian emosional tak stabil a. terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan konsekuensinya;

63

b. dua varian yang khas adalah berkaitan denga impulsivitas dan kekurangan pengendalian diri; 5. Gangguan Kepribadian Histrionik a. ekspresi emosi yang dibuat-buat (self dramatization) seperti bersandiwara (theariticality) yang dibesar-besarkan (exaggerated); b. bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau oleh keadaan; c. keadaan afektif yang dangkal dan labil; d. terus-menerus perhatian; e. penampilan atau perilaku ”merangsang” (seductive) yang tidak memadai; f. terlalu peduli dengan daya tarik fisik; Untuk diagnosa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas 6. Gangguan Kepribadian Anankastik ditandai dengan ciri-ciri: a. perasaan ragu-ragu dan hati-hati yang berlebihan; b. preokupasi dengan hal-hal yang rinci (detail), peraturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal; c. perfeksionisme yang mempengaruhi penyelesaian tugas; d. ketelitian yang berlebihan, terlalu berhati-hati, dan keterikatan yang tidak semestinya pada produktifitas, sampai mengabaikan kepuasan dan hubungan interpersonal; e. keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial; f. kaku dan keras kepala; g. pemaksaan yang tak beralasan agar orang lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu atau keengganan yang tak beralasan untuk mengizinkan orang lain mengerjakan sesuatu; mencari kegairahan (excitement). Penghargaan (appreation) dari orang lain, dan aktivitas dimana pasien menjadi pusat

64

h. mencampur-adukan pikiran dan dorongan yang memaksa dan yang enggan. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas. 7. gangguan kepribadian Cemas (menghindar) a. perasaan tegang dan taku yang menetap dan pervasif; b. merasa dirinya tidak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain; c. preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi sosial; d. keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai; e. pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik; f. menghindari aktivitas sosial atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak. Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas 8. Gangguan Kepribadian Dependen a. mendorong dan membiarkan orang lain untuk mengambil sebahagian besar keputusan penting untuk dirinya; b. meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia bergantung dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka; c. keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana tempat ia bergantung; d. perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidak mampuan mengurus diri sendiri; e. preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengan nya dan dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri;

65

f. terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat nasehat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain. Untuk diagnososa dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas 7. Motivasi Manusia Dalam melakukan semua hal manusia harus mempunyai motivasi, dengan motivasi yang baik maka akan timbul prilaku dan sikap yang baik. Motivasi dalam kamus Inggris berarti memberikan alasan kepada seseorang untuk bereaksi , aksi yang memberi seseorang alasan atau insentif melakukan sesuatu. Giving of reason to act: the act of giving somebody a reason or incentive to do something (Encarta 2006, Microsofword). Menurut Syamsudin Makmun Banyak definisi tentang motivasi, namun pada intinya motivasi berbicara tentang : a. Suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy) atau b. Keadaan Kompleks (a complek state) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu organisme untuk bergerak (to move, motion, motive) kearah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari Dipandang dari segi motifnya setiap gerak perilaku manusia selalu mengandung tiga aspek yang kedudukannya bertahap yaitu: 2. Motivating states (timbulnya kekuatan yang terjadi akibat adanya kebutuhan jaringan atau sekresi, gejolak hormonal dalam diri organisme atau karena terangsang oleh stimulus tertentu.

66

3. Motivated behavior (bergeraknya organisme ke arah tujuan tertentu sesuai dengan kebutuhan yang hendak dipuaskan. Dengan demikian setiap perilaku pada hakikatnya bersifat instrumental (sadar atau tidak sadar) 4. Satisfied conditions (dengan berhasilnya dicapai tujuan yang diinginkan) yaitu stabilnya homeostasis, rasa puas, namun secara kenyataan, tidak semuanya kebutuhan dapat terpenuhi menurut keinginan sehingga timbullah stress dan frustasi. Syamsuddin Makmun menggambarkan lingkaran gerak dinamik, karena terjadinya metabolisme, pelepasan kalori, perangsangan kembali, kepuasan bersifat temporal . oleh karena itu gerak dinamik prose prilaku yang sebenarnya terjadi secara siklik seperti dibawah ini:

67

Gambar 2.4 Alur Motivasi

Motif

Rasa puas Lega/kecewa Lingkaran motivasi

Prilaku instrumental

insentif

Beberapa Cara Pengukuran dan Usaha Peningkatan Kekuatan Motivasi:

68

Meskipun motivasi merupakan sesuatu kekuatan, Namun tidaklah merupakan substansi yang dapat kita amati . Yang dapat kita lakukan ialah mengidentifikasi beberapa indikator dalam term-term tertentu antara lain: (Syamsuddin Makmun 2005:40): Indikator Motivasi sendiri terdiri atas 8 item yaitu: 1. Durasinya kegiatan (berapa lama kemapuan penggunaan waktunya untuk melakukan kegiatan); 2. Frekwensinya kegiatan (berapa sering kegiatan dilakukan dalam periode tertentu); 3. Persistensinya (ketetapan dan kelekatannya ) pada tujuan kegiatan 5. Ketabahan, keuletan dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan dan kesulitan memcapai tujuan; 6. Devosi (pengabdian) dan pengorbanan (uang , tenaga, pikiran, bahkan jiwa) untuk mencapai tujuan. 7. Tingkatan aspirasinya (maksud, rencana, cita-cita, sasaran , target dan idolanya) yang hendak dicapai dengan kegiatan ingin dilakukan 8. Tingkatan kualifikasinya prestasi atau output yang ingin dicapai dari kegiatannya, apakah memuaskan 9. Arah sikap terhadap sasaran kegiatan (suka atau tidak suka) Dengan melihat indikator tersebut diatas maka berbagai tehnik pendekatan dan pengukuran dapat dilakukan

69

1. Test tindakan (performance test) disertai observasi untuk memperoleh informasi . 2. Kuesioner dan inventory terhadap subyek untuk memdapatkan informasi tentang devosi dan pengorbanan aspirasinya 3. Test prestasi dan skala sikap untuk mengetahui kualifikasi dan arah sikap. Menurut Az-zahrani (2005:96) motivasi (dorongan diri) adalah kekuatan yang mampu memunculkan aktivitas dalam diri manusia. Hal ini dimulai dari adanya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu yang menjadikan aktivitas tersebut adalah satu tugas yang harus dilaksanakan, motivasi inilah yang mampu mendorong manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya, sebagaimana ia pula yang mendorong manusia dalam melaksanakan banyak kegiatan penting yang bermanfaat yang sesuai dengan keinginan. Motivasi menurut stagner dibagi menjadi 3 bagian: (1) motivasi-motivasi biologis yang menyatakan bentuk primer atau dasar yang menggerakan kekuatan seseorang yang timbul sebagai akibat dari keperluan organik seperti lapar, dahaga, kekurangan udaram letih; (2) emosi seperti rasa takut, marah , gembira, cinta, benci dan jijik, emosi-emosi seperti ini menunjukkan adanya keadaan-keadaan dalam yang mendorong seseorang untuk mengerjakan tingkah laku tertentu. ini berbeda dengan motivasi biologis yang tidak secara langsung berhubungan denga keperluar organik; (3) Nilai-nilai dan minat : nilai-nilai dan minat seseorng bekerja sebagai motivasimotivasi yang mendorong seseorang membuat tingkah laku seseai dengan nilai dan minat yang dimilikinya. Sudah tentu seseorang yang beragama terdorong oleh nilai-

70

nilai yang dimilikinya dalam segala tingkah lakunya. Seseorang yang cenderung mengerjakan jenis aktivitas tertentu akan selalu terdorong untuk mengerjakan aktivitas-aktivitas yang diminatinya, nilai dan minat tidak ada hubungannya dengan struktur fisiologis seseorang (Langgunung, 1992,55-56) Motivasi dibagi menjadi 2 bagian penting yaitu: (1) Motivasi Utama atau motivasi Psikologi; (2) Motivasi Kejiwaan (spiritual). (Az-Zahrani ,2005:97) Motivasi utama atau psikologi adalah motivasi yang fitrah yang sudah menjadi tabiat dan bawaan manusia sejak lahir, berhubungan erat dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan fisik. motivasi psikologi yang terpenting adalah (1) Motivasi menjaga kelangsungan hidup dengan pemehuhan rasa lapar, haus , lelah, sakit , bernafas. Rasa takut dan lapar menjadi ujian dari Allah kepada manusia untuk melihat kesabarannya dan kekuatannya menghadapi cobaan sebagaimana Allah berfirman” QS. Al-Baqarah 2:155-156.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila

71

ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (2) Motivasi Kejiwaan dan Spiritual, seperti motivasi untuk tetap konsisten menjalankan ajaran agama, motivasi bertaqwa, mencintai kebaikanm

kebenaranm dan membenci kezaliman. Davis membagi motivasi kepada dua jenis yaitu: (1) Motivasi intrinsik yang mengacu kepada faktor-faktor dari dalam; (2) Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang mengacu kepada factor-faktor dari luar diri, baik pujian dari orang lain terhadap seseorang maupun ancaman hukuman. Dengan memberikan motivasi yang dapat menimbul motivasi intrinsik dari diri sendiri iklash menjalankan ibadah seperti yang diperintahkan dalam rukun Islam seperti Shallat, puasa, zikir, zakat dan shodaqah, haji dengan iklash diharapkan hati ini dapat menjadi lebih tenang, ketenangan akan menanggulangi stress dan pencegahan terhadap psikosomatik. Beribadah adalah pengakuan kita terhadap Allah, dimana kita bergantung hanya pada satu yaitu Allah yang menciptakan manusia, dunia, dan alam semesta. Dengan pengakuan ini, timbulkan rasa aman dalam jiwa manusia bahwa ada pendukung hidupnya yang amat dekat, yang tidak akan pernah membuatnya sedih. QS, At-Taubah :40 ....La tahzan Innalaha Ma’ana, ”janganlah kamu bersedih sesugguhnya Allah berserta kita” Dalam beribadah kita memerlukan motivasi, tampa ada motivasi yang didasari keiklasan, apalagi semata-mata hanya menjalankan kewajiban, maka ibadah tersebut

72

menjadi kering tampa makna. Bila kita membaca Quran tampa mengerti artinya, nasehat Allah kepada kita tidak akan masuk dalam dalam hati maupun jiwa kita.Bila tidak tertanam dalam jiwa, bagaimana mengamalkannya? Dalam Surah Fushilat : 44

Allah berfirman”Qul huwa lil ladziina aamanuu hudaw wa syifaa ” yang artinya ” katakanlah :”Al-quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”(QS, 41;44) Dengan memberikan motivasi yang dapat menimbul motivasi intrinsik dari diri sendiri iklash menjalankan ibadah seperti yang diperintahkan dalam rukun Islam seperti Shallat, puasa, zikir, zakat dan shodaqah, haji dengan iklash diharapkan hati ini dapat menjadi lebih tenang, ketenangan akan menanggulangi stress dan pencegahan terhadap psikosomatik. B. Manusia Dalam Konsep Islam 1. Konsep Manusia Dalam Al-Quran Allah menerangkan tentang Manusia dalam Al-Quran antara lain : a. Manusia menurut surat Al-Mu’minun ayat 12-14, Allah berfirman ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati (nutfah) itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani (nutfah) itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging (mudghah) itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan

73

dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” Nutfah yang dimaksud adalah nutfah amsyaj yang terdiri atas unsur nuthfah laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengeluarkan sebagian nuthfah dari tubuhnya agar keturunannya berlanjut dan demikian juga wanita, mereka berperan dalam pembentukan nuthfah amsyaj itu dengan kadar yang seimbang. Kemudian Nuthfah masuk ke rahim dan bergantung pada dinding rahim dan ini disebut Alaqah, menurut Ibnu Jauzi dalam kitab Zad Al-Masir, alaqah adalah sejenis darah yang menggumpal kental dan kemudian menjadi Mudhgah (sepotong

daging tempat pembentukan janin) yang terbentuk mulai kira-kira minggu keempat. Setelah embrio terbentuk mulailah terlihat ciri-ciri pertama susunan syaraf dan aliran darah. Setelah mudhgah , mulailah terbentuk proses permulaan tulang belulang, otot. Dalam buku-buku kedokteran tidak membedakan antara fase mudhgah , tulang dan otot (daging) mereka hanya menyusun dengan standar minggu dan hari serta membagi fase pertumbuhan janin menjadi dua yaitu fase janin (embrio) dan fase fetus, jadi Al-Quran lebih urut dalam menyebutkan kesesuaian urutan terbentuknya proses pembentukan janin. (Izzaddin Taufiq :2006:26, 61, 69 ,70) Dalam istilah kedokteran Nuthfah laki-laki adalah sperma dan nuthfah wanita adalah ovum, sedangkan alaqah adalah fase perubahan pertemuan ovum dan sperma yang kemudian membelah berkembang dari morula blastula dan blastula inilah yang akan menggantung di dalam rahim. Pada minggu-minggu

74

berikut

maka

alaqah

atau

blastula

mempersiapkan

diri

untuk

fase

Mudhgah.(embrio). Yang mulai pada awal minggu ke empat, dan pada minggu keempat ini sudah terjadi pembentukan yang nyata dari anggota tubuh. b. Manusia adalah Mahluk yang mengandung unsur Materi dan non materi berbentuk Fisik, otak, psikis yang sebelumnya tidak tau apa-apa kemudian diberikannya pancaindera dan hati, agar mahluk yang beryukur dan berfikir.

Allah berfirman dalam surat An-Nahl ,“ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS.16:78) Kalau kita mau berfikir lebih dalam , maukah kita menukar panca indra kita contohnya saja kedua mata ini dengan segunung emas, pasti jawabnya tidak, tidak terbilang karunia Allah bagi kaum yang berfikir untuk selalu bersyukur. c. Allah dengan segala kemurahannya memberikan bentuk dan rupa yang sebagusbagusnya kepada manusia. Dalam Al-Quran Allah berfirman

75

(QS.95:4),”. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS.64:3),” Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). “ Walaupun sudah diberikan rupa yang bagus, kadang manusia tidak pernah puas dengan segala yang didapatnya, terkadang ingin mengubah hidungnya, matanya, dan lain-lainnya. Sehingga kadang-kadang merusak yang sudah ada. Sedih rasanya bila terdengar kabar ada seorang wanita yang meninggal akibat silikon yang disuntikan di hidungnya oleh orang yang tidak bertanggung jawab sesuai bidangnya, sehingga menyebabkan syok yang fatal dan berakhir dengan kematian . Apalagi silikon memang zat yang sudah dilarang penggunaannya untuk urusan kecantikan manusia dan dapat menyebabkan kanker. d. Manusia diciptakan Allah sesuai dengan fitrahNya, namun manusia kadang tidak Mengetahui. Dalam Al-Quran Allah berfirman:

76

QS 30:30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu . Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; kebanyakan manusia tidak mengetahui.” e. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah dibumi (QS.2:30), dan di ciptakan Allah bukan untuk main-main (QS.23:115), melainkan untuk mengembangkan amanah (QS.33:72) dan untuk beribadah kepadaNya (QS.51:56) serta selalu menegakkan kebajikan sekaligus menghilangkan keburukan (QS.3:110) dengan segala tanggung jawab (QS.75:36), Keistimewaan lain manusia adalah memiliki kebebasan luas untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya atau serendahrendahnya (QS.91:7-10), bahkan agama pun tidak dipaksakan kepadanya (QS.2:256). Namun manusia pun dilengkapi dengan banyak kelemahan seperti ketergesah-gesahan (QS.17:11), pembantah (QS.18:54), melampaui batas (QS.10:12), Kikir (QS.70:19), mudah putus asa (QS.41:49), selalu berkeluh kesah (QS.70:20), ingkar (QS.80:17), tidak mau bersyukur (QS.100:6), mudah lalai setelah mendapat nikmat (QS.17:83) Walaupun demikian fitrah manusia adalah suci dan beriman (QS.7:72). Kecenderungan terhadap agama adalah sikap tetapi

77

dasarnya (QS.30:30), Dalam keadaan sadar ataupun tak sadar manusia selalu merindukan Allah (QS.39:8; S.39:49), taat, khusuk, tawakal dan tidak ingkar (QS. 17:66-69), terutama bila sedang mengalami malapetaka dan kesulitan hebat (QS.31:32, S.17:66). (Bastaman,1995:56). Menurut Harun Nasution, manusia tersusun dari unsur materi dan imateri, jasmani dan Rohani, Tubuh manusia yang berasal dari tanah dan ruh atau jiwa berasal dari substansi imateri di alam gaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali menjadi tanah atau jiwa akan pulang ke alam Gaib. Dalam Ruh atau jiwa ada yang disebut al-Nafs mempunyai dua daya, daya pikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat dikalbu yang berpusat di dada. Daya rasa yang berpusat didada dipertajam dengan ibadah (shalat, puasa, haji, zakat), karena intisari dari semua ibadah dalam islam adalah mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Suci. Yang maha Suci hanya dapat didekatkan oleh ruh yang suci. Ibadah adalah latihan menyucikan ruh atau jiwa. Makin banyak seseorang beribadah secara iklash, makin suci pula jiwa dan ruhnya. Daya pikir atau akal berpusat dikepala dalam sejarah islam diperkuat oleh dorongan ayat-ayat kauniah. Nasution menambahkan jadi manusia menurut ajaran Islam, tersusun dari unsur materi, yaitu tubuh yang

mempunyai hayat dan unsur imateri yaitu roh yang mempunyai dua daya, daya rasa di dada dan daya pikir dikepala. Daya rasa, jika diasah dengan baik, mempertajam hari nurani dan daya pikir, jika dilatih, mempertajam penalaran.(Nasution, 1996:3738)

78

Dalam konteks keislaman ada empat istilah yang digunakan untuk menyebutkan jiwa , yaitu (1) Hati, (2) Ruh, (3) Nafs, dan (4) Akal, Al-Ghazali memberikan batasan mengenai empat tersebut diatas (Sholeh,2006:124): a. Hati mempunyai dua pengertian, yaitu : (a)Segumpal daging sanubari yang terletak disebelah kiri dada bersifat material; (b)Bersifat im-material merupakan rasa rohaniah yang halus yang berkaitan dengan hati jasmani b. Ruh juga mempunyai dua makna, yaitu : (a) Jism atau jasad halus yang bersumber dari rongga hati jasmani, ia beredar keseluruh bagian tubuh; (b) Sesuatu yang halus yang tahu dan mengerti c. Nafsu mempunyai dua makna , yaitu : (a) Cakupan makna dari kekuatan amarah dan syahwat yang bersifat material; (b) Sesuatu yang halus, yang merupakan hakikat manusia yang bersifat im-material d. Akal mempunyai dua makna juga, yaitu: (a) Ilmu tentang hakikat segala sesuatu, yang merupakan sifat dari ilmu yang bertempat dalam hati; (b) Sesuatu yang halus, yang merupakan hakikat manusia yang bersifat im-material. Menurut Psikofisik manusia memiliki komponen jasad dan ruh yang saling terintegrasi Nafs memiliki natur gabungan antara natur jasad dan ruh, bila ia berorientasi dengan natur jasad maka tingkah laku menjadi buruk dan celaka, tetapi bila mengacu pada natur ruh maka kehidupannya menjadi baik dan

selamat.(Mujib,2005: 79) Tabel dibawah ini akan memperlihatkan perbedaan antara jasad, ruh dan nafs

79

Tabel 2.6 Perbedaan substansi Ruh , Jasad, dan Nafs NO SUBSTANSI RUH Adanya di alam arwah 1
(imateri) atau alam perintah (amar) Tercipta secara langsung dari Allah tanpa melalui proses graduasi

SUBSTANSI JASAD
Adanya dialam dunia./jasad (materi) atau alam penciptaan (khalq) Tercipta secara bertahap atau berproses dan melalui perantara Memiliki bentuk, rupa, kadar dan dapat disifati

SUBSTANSI NAFS
Adanya dialam jasad dan ruhani

2.

Terkadang tercipta secara bertahap atau berproses dan terkadang tidak Antara berbentuk atau tidak, berkadar atau tidak, berkadar atau tidak , dan dapat disifati atau tidak Naturnya antara baik-

3

Tidak memiliki bentuk , rupa, kadar, dan tidak dapat disifati

4

Naturnya halus dan suci (cenderung ber-islam atau bertauhid) dan mengejar kenikmatan ruhani

Naturnya buruk dan kasar, bahkan mengejar kenikmatan syahwat.

buruk , halus-kasar, dan menikmati kenikmatan ruhani dan syahwat Memiliki energi

5

Memiliki energi rohani yang disebut dengan alamanah

Memiliki energi jasmaniah yang disebut dengan alhayah (nyawa/daya hidup) Eksistensi energi jasmaniah

rohaniah, jasmaniah

Energi nafsani tergantung pada ibadah, makanan bergizi Eksistensinya aktualisasi

6

Eksistensi energi ruhaniah tergantung ibadah

tergantung pada makanan bergizi

80

7

Eksistensinya memotivasi kehidupan

Eksistensinya menjadi wadah ruh

atau realisasi diri

8
Tidak terikat oleh ruang dan waktu Terikat oleh ruang dan waktu

Antara terikat dan tidak mengenai ruang dan waktu Dapat menangkap antara

9

Dapat menangkap beberapa bentuk yang konkrit dan abstrak

Hanya mampu menangkap satu bentuk kongkret dan tidak mampu menangkap yang abstrak

yang kongkret dan abstrak, satu bentuk atau beberapa bentuk Substansinya antara

10

Substansinya abadi tanpa ada kematian

Substansinya temporer dan hancur setelah kematian

abadi dan temporerSU

11

Antara dapat dibagi-bagi Tidak dapat dibagi-bagi karena satu keutuhan Dapat dibagi-bagi dengan beberapa komponen dan tidak

(Mujid, 2005:82). T Burchardt (1983) seperti yang dikutif Maumana amjad, menyimpulkan nafs dalam berbagai istilah” bahwa pertama nafs al-kulliyah merupakan nafs yang bersifat universal , termasuk didalamnya semua jiwa individu yang berhubungan dengan ruh dan daya pikir.(akal) . Kedua bahwa al-nafs dalam jiwa terbagi dalam 4 bagian , yaitu al-nafs haywaniyah (nafsu binatang), al-nafs al-ammarah (nafsu amarah) yang

81

berhubungan dengan nafsu, jiwa yang egois, Al-nafs al-lawwamah (jiwa yang sadar akan ketidak sempurnaan) dan nafs Al-Mutma’innah yang berhubungan dengan nafsu yang tenang. (Maumana Amjad, 2006:47) T burchardt defines the different meaning of Nafs as follows: 1. Al-Nafs al-kulliyah: the Universal soul which includes all individual souls, This corresponds to the guarded tablet and is the complement of the spirit al ruh or first intellect and is analogous to the psyche of Plotinus. 2. Al-Nafs the soul, the psyche, the subtle reality of an individual, the ‘I’. As opposes to the spirit or the intellect (Aql) the nafs appears in a negative aspect, because it is made up of the sum of individual or egocentric tendencies. But a distinction os made between: (a) al-nafs al-haywaniyah: the animal soul, the soul as passively obedient to natural impulses; (b) al-nafs alammarah bi al-su : the soul which commands man to evil; the passionate, egoistic soul; (c) al-nafs al-lawwamah; the soul aware of its own inperfection and, (d) al-nafs al-Mutma’innah: the soul at peace the soul reintegrated in the spirit and at rest in centainty. Al-Nafs ini harus selalu diberi nutrisi dan latihan, pengamalan ibadah adalah latihan dan nutrisi agar jiwa dan akal menjadi lebih tenang, al-Nafs muthma’innah. Hati adalah hati spiritual, contohnya , kita menyebut seseorang yang tulus dan berniat baik sebagai seseorang yang memiliki hati. Hati menurut Frager yang juga seorang musyid sufi dan profesor psikologi pada institute of Transpersonal Psychology, California setelah islam bernama Syekh Raqib al-jerahi, bahwa hati menyimpan percikan roh ilahi didalam diri kita . Karenanya, hati adalah kuil Tuhan. Rumah cinta tersebut disebut hati, Cinta adalah dasar disiplin spiritual sufi.(Frager, 2003:30) Qalbu atau hati manusia itu menurut Ahmad Tafsir seperti lilin yang menyala, mulanya nyala itu kecil saja. Lilin menyala itu terletak dalam sirr, sirr itu dalam lubb,

82

lubb itu didalam syaghaf, syafgaf itu didalam fu’ad dan fu’ad itu didalam qalb (kalbu) dan seterusnya.(Tafsir,2006:29) Menurut Hadist, bahwa Rasulullah bersabda dalam hadist qutsi: ” aku jadikan pada manusia itu ada istana (qash). Didalam istana itu ada (shadr), didalam shadr itu ada kalbu (qalb), didalam qalb itu ada Fu’ad , didalam fu’ad itu ada syaghaf, didalam syaghaf itu ada lubb, didalam lubb ada sirr, dan didalam sirr itu ada aku (Ana). Susunan itu lebih jelas dalam gambar diatas. Hadist ini menjelaskan bahwa aku menjadi inti. Aku didalam hadist ini adalah Allah yang bersifat Ilahiyah. Organ di dalam tubuh yang dihubungkan dengan qalb adalah heart (jantung), Quran mengatakan 22:46,”maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi ini, lalu mereka mempunyai hati dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta tetapi yang buta adalah hati yang didalam dada.” Burckhardt (1983) mendefinisikan qalb sebagai organ suprarational yang berhubungan dengan jantung (heart) dan juga otak (brain). Ketika dada dan hati ini telah bersih dan suci, menurut sufi kita dapat

melampaui permukaan luar dan merasakan yang tersembunyi dalam diri. Perilaku yang baik akan membuat hati menjadi lembut dan peka, sedang perilaku yang buruk akan menutup dan mengeraskan hati. Pengetahuan hati. Nabi muhamad berkata, ”Ada dua jenis pengetahuan: pengetahuan lidah dan pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga.” di barat, kita terlalu menekankan pada ”pengetahuan lidah,” atau mempelajari buku-

83

salah satu tingkat kecerdasan buatan. Inilah batasan psikologi Barat tradisional, yang belum mengenal pengetahuan yang lebih dalam dari-hati kecerdasan utuh. (Frager, 2003:65) Frager seorang orientalis yang kemudian menjadi muslim dan seorang sufi menambahkan tentang Takut kepada Tuhan. Hati adalah rumah takwa, yang kerap diartikan dengan ’takut kepada Tuhan.” pada tingkat rendah, takwa bermakna rasa takut terhadap hukuman Tuhan. Bagi kaum sufi, takwa bermakna rasa takut akan kehilangan rasa cinta terhadap Tuhan, rasa kedekatan dengan Tuhan, dan cinta Tuhan. Mereka yang takut kepada Tuhan dalam makna ini menaati perintah Tuhan dengan senang hati, bukan karena rasa takut akan hukuman-Nya. Mungkin terjemahan yang paling tepat adalah ”Menyadari kehadiran Tuhan.” Mereka mengatakan bahwa rasa takut kepada Tuhan membimbing kita melawan keraguan, penyembahan terhadap tuhan-tuhan palsu, ketidaksetiaan, ketidaktulusan dan kemunafikan.( Frager, 2003:66) Lain dengan Frager, maka Ary Ginanjar Agustian mengemukakan tentang Suara hati, istilah ini menurutnya dasarnya adalah universal dengan catatan bahwa manusia telah mencapai titik Fitrah (God-Spot) dan terbebas dari segala paradigma dan belenggu. Menurut Ary, dengan mencermati Al-Quran surat As-Sajadah ayat 9 dimana Allah meniupkan ruh ciptaan-Nya yang bersifat mulia kepada manusia, maka sebenarnya Allah telah meniupkan pula keinginan-Nya kedalam hati manusia. Dan bila disimak dalam al-Quran syran Al-A’raf ayat 172, yaitu ketika jiwa manusia mengakui dan mengangguk kepada Allah bahwa Allahlah Tuhannya. Anggukan yang

84

membenarkan suara hati itu masih terus berjalan dan masih bisa dirasakan hingga saat ini kecuali hati yang tertutup (Agustian, 2003: 68). Sekarang ini kita banyak mengenal istilah Kecerdasan spiritual, Kerdasan otak dan kecerdasan emosional. Dalam islam, ibadah adalah cara untuk kita

mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosional, sedangkan kecerdasan otak kita kembangkan dengan berfikir, bernalar, mengembangkan ilmu pengetahuan. Manusia pun diberi akal untuk berfikir dan mencari rahasia alam semesta yang indah dan penuh dengan ilmu pengetahuan. Dalam A-Quran Allah memerintahkan menusia untuk berfikir melihat kebesaran Allah (QS.13:3) “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” Manusia harus mengembangkan segala unsur yang ada dalam dirinya, tidak akan sempurna seseorang yang hanya mempunyai fisik yang baik tapi tidak cerdas pikir dan tingkah lakunya. Tidak sehat juga kalau hanya mempunyai kepintaran tapi tidak mau melatih fisik dan mentalnya. Daya rasa dan daya pikir harus diasah dengan baik, karena memang manusia adalah terdiri dari kolaborasi unsur yang harus seimbang dikembangkan. Sebagai Umat Islam kita harus berbangga karena, Allah melalui Rasulnya begitu banyak memberikan kita pelajaran yang amat berguna dalam menjalani

85

kehidupan didunia ini. Rasulullah SAW memberikan kita tuntunan dalam mengasah diri secara holistik atau keseluruhan, walaupun Rasullullah bukan seorang dokter, tapi tuntunannya sejak 1400 tahun yang lalu sampai sekarang menjadi panutan bagi kita semua. Perkembangan Kedokteran pada masa Islam (Khadem Yamani 2005:41) Beberapa ajaran dan tuntunan Rasulullah yang mengandung kajian dan nilai-nilai kedokteran antara lain: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Cara bersuci yang diajarkan Rasullullah SAW, Cara berwudhu, membasuh anggota badan yang biasanya tampak Kewajiban bercebok dan memegang kemaluan (harus) dengan tangan kiri Larangan kencing di kolam air yang tergenang Sunah untuk berkhitan yaitu memotong khulub bagi laki-laki dan memotong sebagian ”labia minora” yang memanjang bagi perempuan Perintah memotong kuku, membersihkan bulu ketiak dan kemaluan Kewajiban mandi selepas bertubuh Keharusan membersihkan rumah dan halaman Contoh dalam gerakan-gerakan shalat fardhu dan tahajud

(10) Ibadah Shaum di bulan Ramadahan dan shaum sunah (11) Tuntunan melambatkan makan sahur dan menyegerakan berbuka (12) Larangan makan-minum sambil berdiri, berbaring, dan bersandar, serta aturan minum dan lain-lain (13) Keharusan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan (14) Larangan makan sampai terlalu kenyang dan tidur selepas makan (15) Diharamkan bangkai , darah, babi, sembelihan untuk berhala, khamar baik basah maupun kering (16) Dimakruhkan hewan buas

86

(17) Anjuran melihat warna-warna hijau (18) Larangan memasuki dan keluar negeri ketika berjangkit penyakit menular (19) Larangan menyatukan hewan yang sakit dan hewan yang sehat (20) Larangan mencukur bulu alis, mencacah (mentato) dan memotong atau mengikir gigi (21) Larangan berobat dengan barang haram (22) Anjuran memberikan harapan kepada seorang penderita (23) Disebutkan madu sebagai obat dalam Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW (24) Disebutkan kurma yang tumbuh ditanah berbatu hitam sebagai obat dalam hadist Rasulullah SAW. (25) Makanan yang dimakan ketika masih panas itu kurang berkat dan lainnya Kesehatan dalam islam Begitu banyak aspek kehidupan yang Allah firmankan kedalam Al-Quran dan begitu banyak aspek masalah yang nabi gambarkan dalam hadist. Kaitannya dengan manusia tidak hanya dalam hal fisik, jiwa, ruh, nafs tapi bagaimana kita mengembangkannya, tidak lain adalah dengan pendidikan. Pendidikan merupakan kunci keberhasilan di dunia dan Akherat. Tampa pendidikan maka manusia manusia akan seperti binatang, hanya menggunakan naluri tapi tidak mempunyai intelektual, baik inteletual secara emosional, otak dan spiritual. Kepribadian seseorang terbentuk secara multifaktor, antara lain oleh genetika, pendidikan orang tua dan lingkungan. Pendidikan dalam Islam, yang diajarkan oleh Rasulullah merupakan pendidikan yang sempurna dan luar biasa, dalam rangka mempersiapkan generasi muda Islam, Nabi begitu besar perhatiannya terhadap pendidikan sejak seorang anak

87

berupa nutfah, sampai mereka tumbuh dewasa. Jadi Nabi sudah memberikan pendidikan secara sempurna, yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor secara simultan. 2. Pendidikan Nabi Terhadap Anak Dari buku yang ditulus oleh Jamal Abdurrahman Athfal al-Muslimin, kaifa Rabaahum an-Nabiy al-Amin, yang sudah diterjemahkan, tentang cara Rasulullah pendidikan anak, diringkas penulis dibawah ini: Pendidikan Rasulullah dibagi dalam 4 bagian: a. Anak sejak dari pembuahan sampai usia 3 tahun b. Anak usia 4 tahun sampai dengan 10 tahun c. Anak usia 10 tahun sampai dengan 14 tahun d. anak usia 15 tahun sampai 18 tahun a. Usia Sejak Pembuahan sampai Usia 3 tahun 1. Nabi menganjurkan kepada kaum musimin untuk selalu berdoa sebelum bersetubuh seperti pada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari: “ Jika kaliam mendatangi istrimu untuk bersetubuh maka berdoalah:” Ya Allah jauhkan kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak-anak yang Engkau berikan kepada kami. “ Maka jika dari hubungan itu lahir seorang anak, setan selamanya tidak berani menggodanya. “ (HR Bukhari) 2. Nabi saw mendoakan calon bayi yang masih dalam perut. Seorang ibu yang sedang mengandung harus banyak berzikir, membaca Al-Quran, suara yang terdengar pada janin dapat meningkatkan kecerdasan otaknya.

88

3. Nabi Membacakan dzikir-dzikir untuk keselamatan bayi, Fatimah ra, putri Nabi saw, ketika hampir melahirkan menyuruh Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsay untuk datang kepadanya dan membacakan ayat Kursi disampingnya dan membaca QS. al-A’raf:54 : Allah berfirman: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Ia bersemayam di atas Arsy. Dia menutup malam kepada siang dan mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula ) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya, Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” 4. Nabi menjelaskan tentang kedudukan janin yang mengalami abortus (gugur sebelum sempurna masa lahirnya). Nabi saw bersabda ,”Demi dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya sesungguhnya bayi yang gugur akan menarik ibunya dengan tali pusarnya ke surga jika ibunya sabar atas kematiannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). 5. Nabi mengazani bayi ketika lahir pada telinga kanannya. Dari Abi Rafi, sesungguhnya ia berkata” Sesungguhnya aku melihat Rasulullah mengumandangkan adzan pada telinga al-Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkannya,” (HR.Abu Dawud dan At-Turmudzi) 6. Nabi saw mentahmik (mengolesi) anak yang baru lahir dengan kurma, yang telah dikunyah lebih dulu oleh orang tuanya sampai lembuh dan basah, berdoa untuknya dan memohonkan berkah atasnya. Dalam hadis sahir Bukhari Muslim dijelaskan bahwa Anas ra berkata: “Ketika Ummu Sulaim melahirkan seorang putra, ia membawa bayinya bersamaku kepada Nabi saw, dan aku membawa kurma. Maka aku mendatangi Rasulullah saw dengan kurma tersebut dan di atasnya terdapat tutup. Nabi berkata,” Apakah engkau Membawa kurma?” aku menjawab :”Ya,” Maka Nabi mengambil kurma tersebut, lalu mengunyahnya. Kemudian Nabi mengumpulkan ludahnya. Lalu membuka mulut bayi, dan memberikan makanan itu pada ujung lidah bayi

89

sehingga bayi itu merasakannya. Rasulullah saw bersabda: “kesukaan orang Anshar adalah kurma.” Kemudian Nabi mentahniknya dan memberi nama bayi tersebut dengan nama Abdullah. Setelah itu, tidak ada seorang pemuda Anshar yang lebih utama dari dia.” 7. Nabi memberikan pentunjuk kepada orang tua supaya menjaga anak-anak mereka dari bahaya dengan berzikir dan bersyukur kepada Allah atas pemberian-Nya. Anas ra , Nabi saw bersabda” tidak ada nikmat di berikan Allah kepada hamba-Nya berupa sebuah keluarga atau anak, kemudian ia mengatakan alhamdulillahi rabbil’alamin , kecuali Allah akan memberikan yang lebih baik daripada sesuatu yang telah ia peroleh.”. 8. Nabi saw membagikan warisan pada bayi yang berhak sebab kelahirannya. Nabi saw bersabda :” Bayi yang baru lahir belum mendapat warisan kecuali setelah menangis dengan menjerit.” Yang dimaksud dengan istihlal disini adalah juka ia menjerit, menangis atau bersin (HR.ath-Thabrani). 9. Nabi saw belas kasih terhadap anak kecil sekalipun lahir dari hasil zina. Nabi memberikan. Nabi berkata agar wanita itu pulang dan melahirkan anaknya, menyusui sampai masa menyapih, dan kemudian wanita tersebut datang lagi kepada Nabi saw sambil membawa bayinya yang telah menyapih dan telah diberi dapat makan makanan, dan Nabi menyuruh untuk menyerahkan bayi tersebuh kepada seorang laki-laki dari daum muslimin, kemudian Nabi menyuruh wanita itu untuk dipendam sampai dadanya, lalu baru dilakukan hukum rajam. Hadis ini diriwayatkan Muslim. 10. Nabi mengadakan aqiqah dan berwasiat kepada umatnya untuk aqiqah ketika seorang anak lahir. Bila dia laki-laki aqiqah dengan dua kambing dan bila yang lahir wanita maka aqiqah dengan satu kambing. Nabi bersabda,”Setiap anak itu tergadaikan sebab aqiqahnya. Hewan tersebut disembelih darinya pada hari ketujuh (dari kelahirannya) dan bayi itu dipotong rambutnya dan ia diberi nama.” (HR.an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Turmudzi).

90

Dengan aqiqah ini ada makna rasa syukur, sedekah, berbagi kebahagiaan dengan orang lain. 11. Nabi saw, memberikan nama pada anak-anak dengan nama yang paling baik dan indah, nama yang baik akan menjadi doa kepada anaknya. 12. Nabi saw menyuruh supaya rambut anak dipotong pada hari ketujuh, membersihkannya dan menghilangkan penyakit darinya 13. Nabi saw bermain bersama anak kecil dengan penuh kecintaan, bergurau dengan cara halus bersama anak-anak dalam bentuk ucapan maupun perilaku. 14. Nabi saw memperhatikan khitan dan mengangapnya sebagai sunah fitrah 15. Nabi saw mengajari anak-anak etika berpakaian. 16. Nabi saw Memberikan hadiah kepada anak-anak dan beliau mengusap kepala mereka. Menyempatkan diri bermain bersama anak kecil 17. Nab saw menganjurkan orang tua untuk selalu jujur terhadap anak dan tidak berdusta kepadanya. b. Pada Anak Usia Empat sampai Sepuluh Tahun 1. Pada saat ini orang tua hendaknya menjadi teman bagi anak, agar ia belajar dari dirinya dimana mengajari anak adalah kewajuban orang tua, Ini nasihat Nabi kepada anak kecil: “ Wahai anak kecil aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan menemukan-Nya dihadapanmu, jika engkau meminta maka mohonlah kepada Allah, ketailah bahwa andaikata umat berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu itu telah ditetapkan oleh Allah untukmu, Dan andaikata mereka berkumpul untuk membahayakanmu, maka tidak akan membahayakanmu kecuali sesuatu itu telah ditetapkan oleh Allah atas kamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Turmudzi dan Ahmad).

91

2. Nabi menentukan permainan untuk anak-anak kecil, nabi memberikan kebebasan dan ketetapan pada anak kecil untuk bermain dengan mainannya karena sesungguhnya anak kecil itu ingin mengembangkan daya pikirnya, meluaskan keingin tahuannya, menyibukkan panca inderanya. 3. Nabi tidak pernah menghentikan anak-anak yang sedang bermain. 4. Nabi melarang memisahkan anak dengan keluarganya, Nabi bersabda,” barang siapa yang memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah telah memisahkan antara dia dan para kekasihnya pada hari kiamat.” (HR Turmudszi dan Ibnu Majah). 5. Nabi saw Mengajak anak-anak untuk berahlak mulia 6. Nabi saw minta izin kepada anak-anak bila ada kaitannya dengan hak-hak mereka. 7. Nabi saw mengajari anak-anak untuk selalu menjaga rahasia. Dengan demikian terbangunlah rasa percaya diri, merasa dirinya dihargai sebab membawa rahasia penting. 8. Nabi saw makan bersama anak-anak, kesempatan itu beliau gunakan untuk mengarahkan dan membernarkan kesalahan mereka 9. Nabi saw menyuruh orang tua berbuat adil diantara anak-anaknya baik lakilaki ataupun perempuan. 10. Nabi saw mengancam orang yang menganiaya dan akan berbuat aniaya terhadap anak yatim. 11. Nabi saw menyuruh orang tua melarang anaknya berkeliaran bila malam telah gelap. 12. Nabi saw mengajari shalat kepada anak, ketika berusia tujuh tahun dan memukul mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur 10 tahun. c. Anak Usia Sepuluh sampai Empat belas Tahun 1. Nabi saw mengajak anak-anak untuk segera tidur setelah shalat isya, memisahkan tempat tidur anak-anak setelah mereka berusia sepuluh tahun. Nabi bersabda “ Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat pada umur tujuh

92

tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka, jika salah satu dari kalian telah menikahkan budaknya atau pelayannya maka janganlah dilihat auratnya. Sesungguhnya anggota bagian bawah dari pusat sampai lutut adalah auratnya,”(HR. Abu Dawud). 2. Nabi saw membiasakan anak-anak untuk menjaga pandangan dan auratnya 3. Nabi saw tidak pernah memukul anak-anak selamanya, tetapi beliau menjelaskan prinsip-prinsip dasar dan aturan dalam memukul. Kaidahkaidanya adalah sebagai berikut: a. Pukulan tidak boleh diberikan sebelum usia sepuluh tahun. b. Pukulan boleh sedikit diberikan pada anggota tubuh yang memungkinkan, batas maksimal hukuman pukulan hanya sepuluh kali itupun hanya kepada anak yang baligh dan mukallaf. Dan jangan memukul terlalu keras sehingga sampai terangkat ketiak. Dan jangan pada tempat sensitif.seperti wajah atau kepala. 4. Nabi saw melarang orang tua berlebihan dalam memanjakan anaknya, karena hal itu terdapat bahaya, hendaknya anak dijaga untuk tidak bergaul dengan teman-temannya yang biasa hidup boros, pamer memakai pakaian megah. 5. Nabi saw dengan bijaksana membenarkan pemahaman dan kesalahan anakanak, mengajari anak yang masih belum baik dalam pekerjaannya. 6. Nabi melatih anak dengan pengobatan alami, dalam hadis Umar ra ketika Rasullullah saw terkena tendangan ontanya sehingga tubuh beliau terasa sakit, maka beliau mengajarkan pada anak kecil bagaimana cara menggosok dan memijat ura-uratnya untuk meringankan rasa sakit tersebut. 7. Nabi menghukum seorang anak dengan cara halus dan lembut, mengajak berdialog dengan mereka, mengajari salam, mengajari etika ketika masuk dan bertemu dengan keluarga mereka. Nabi bersabda,” wahai anakku, jika engkau masuk menemui keluargamu maka ucapkanlah salam, maka berkah itu akan berlimpah padamu dan keluargamu.” (HR. Turmudzi).

93

8. Nabi memberikan motivasi kepada anak-anak untuk menghadiri sebuah acara dan mengunjugi kerabat untuk belajar dari pengalaman. 9. Nabi saw menyuruh anak-anak untuk duduk bersama ulama dan berperilaku sopan terhadap mereka, Rasulullah saw bersabda :”Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya:”Wahai anakku, bergaullah bersama ulama, dengarkanlah ucapan mereka, karena sesunggunya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang lebat.”(HR.Thabrani) 10. Nabi mengajari anak etika berbicara dan menjelaskan kepada mereka akan kedudukan saudaranya yang lebih besar. Nabi juga mengajari anak-anak untuk berdiri ketika ayah atau orang tua atau guru mereka datang, yaitu untuk menyambutnya. Sebagaimana Nabi saw, jika Fatimah puteri beliau, datang untuk menemui Nabi, maka beliau menyambutkan kemudian Nabi mencium Nabi dan mempersilahkan duduk di Majlisnya.” (HR. Turmudzi) 11. Nabi saw mengajari anak-anak etika untuk minta izin. Nabi saw bersabda,” Hai orang-orang beriman, hendalah budak-budak (lelaki dan wanta) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baliqh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari)yaitu sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu ditengah hari dan sesudah sembahyang isya, (itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kamu sebagaian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain), demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur, 58-59). 12. Nabi saw mendidik anak-anak untuk tidak membuat marah orang lain, terutama tetangga. Nabi saw bersabda :” Jika engkau membeli buah-buahan, maka berilah anak tetanggamu, Jika engkau tidak melakukannya, maka masukanlah buah tersebt secara sembunyi, dan anakmu tidak diperbolehkan keluar yang dapat membuat iri pada anak tetangga,” (HR Thabrani)

94

13. nabi saw memberikan peringatan kepada anak-anak untuk tidak mengancam orang lain dengan pedangnya, sekalipun dalm bentuk gurauan. DARI Abu Hurairah ra, ia berkata:”Rasulullah saw bersabda:”Barang siapa yang memberikan isyarah terhadap saudaranya dengan besi, maka sesungguhnya malaikat akan melaknatnya sehingga ia meninggalkannya, sekalipun ia adalah saudara dari ayah dan ibunya.” (HR Muslim). 14. Nabi melarang anak-anak untuk tidak menakut-nakuti orang lain sekalipun itu dalam bentuk gurauan. 15. Nabi memberikan keringatan kepada anak-anak kerena terbatasna kemampuan akal mereka. 16. Nabi saw mengajarkan anak laki-laki untuk tidak mnyerupai perempuan. Diharamkan pakaian sutera dan emas atas laki-laki dari umatku, dan dihalakan bagi perempuan-perempuan mereka.” (HR Turmudzi) 17. Nabi saw membiasakan anak-anak untuk hidup prihatin dan kuat menanggung beban hidupnya. Sayidina Umar ra pernah berkata:”Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah dan menunggang kuda.” Beliau juga berkata:”Menjadi dewasalah kalian, dan biasakanlah hidup prihatin.”(HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Asakir). 18. Nabi saw berwasiat tentang anak-anak perempuan, Nabi saw bersabda:” Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan, kemudian ia sabar atas keberadaan mereka, baik sengsara dan bahagia mereka, maka Allah akan memasukkanya kedalam surga dengan mendapat keutamaan rahmat Allah terhadap mereka.”Seorang laki-laki berkata;”Kalau dua anak perempuan wahai Rasulullah?” Nabi menjawab;”Demikian pula dua anak perempuan.” Laki-laki itu berkata:”Kalau seorang anak perempuan wahai Rasulullah?” Nabi menjawab;”Demikian pula seorang anak perempuan.” (HR Ahmad) 19. Nabi saw menghukum dosa kepada orang yang menyia-nyiakan hak mereka dalam pemberian nafkah dan pendidikan. Nabi saw bersabda; “Cukuplah

95

dosanya bagi seseorang yang menyia-nyiakan orang yang berhak diberi nafkah darinya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad) 20. Nabi memberikan peringatan kepada ana-anak yang menghina dan mencela manusia. “Janganlah engkau menampakkan celaan kepada saudaramu, karena Allah akan belas kasih kepadanya dan akan mengujimu.” (HR Turmudzi) Dalam Al-Quran Allah berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-ngolok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-ngolok) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-ngolok)(QS. Al-Hujura:11) d. Anak Usia Lima Belas sampai Delapan Belas Tahun 1. Nabi menganjurkan anak-anak muda untuk memanfaatkan waktu paginya, “Tidur pada waktu shubuh (awal siang) akan mencegah datangnya rizki, “ (HR Ahmad). Ada hadis yang lain,”Rasulullah saw berdoa;”Ya Allah berkahilah untuk umatku pada waktu paginya,”(HR. Thabrani.) 2. Nabi Saw Mengajak anak muda untuk memanfaatkan waktu kosongnya, dengan aktivitas yang berguna, seperti olah raga, zaman Nabi olah raga yang dianjurkan seperti memanah, berkuda. 3. Nabi saw mengajari anak-anak muda untuk mencintai Nabi, keluarga dan Sahabatnya serta cinta membaca Al-Qur’an. “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anak, ayah, dan seluruh manusia,” (HR. Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Abu Ya’la). 4. Nabi saw menjadi teladan bagi anak-anak dalam pergaulannya yang baik. 5. Nabi saw mengajarkan kepada anak-anak agar percaya diri, makan dari hasil tangannya, menjauhi sifat menunda-nunda dan malas. Nabi saw bersabda,”

96

Sesungguhnya Allah mencintai orang mukmin yang bekerja (kreatif),” (HR. Thabrani) 6. Nabi menetapkan hak anak-anak dalam mencari ilmu dan belajar Al-Qur’an. Nabi bersabda,”mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang-orang yang memberikan ilmu kepada selain ahlinya (artinya kepada orang yang belum saatnya menerima ilmu tersebut) itu. Seperti orang yang mengalungkan mutiara, permata dan emas pada babi,” (HR Ibnu Majah). 7. Nabi saw menyuruh anak-anak untuk memilih guru yang saleh. Nabi bersabda,”Seseorang itu tergantung atas agama temannya, hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa orang yang diajak berteman,” (HR. Turmudzi, Abu Dawud dan Ahmad). Seorang guru harus mengamalkan ilmunya dan ucapannya sesuai dengan perbuatannya, Allah SWT berfirman: “Apakah kalian memerintahkan kepada manusia melakukan kebaikan dan melupakan diri kalian sendiri, dan Firman Allah yang lain “Besar dosanya disisi Allah jika kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuat.” 8. Nabi saw menyuruh anak-anak perempuan untuk menutup auratnya ketika mereka telah baliqh. Dalam Al-Quran (QS, Al-Ahzab:59) Allah berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istri orang-orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” . 9. Nabi saw menerintahkan anak-anak supaya mereka menikah jika mereka telah baliq dan mampu menanggung beban-beban hidupnya. Nabi bersabda,”Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu memberikan nafkah maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih memejamkan penglihatan dan lebih menjaga farji, Maka barang siapa yang belum mampu maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menjadi benteng,” (HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi, An-Nassai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darami). 10. Nabi saw mengajari anak-anak agar dapat menjaga amanat dan bertanggung jawab ketika mereka telah baligh.Nabi bersabda:” Seorang laki-laki dalam

97

harta ayahnya itu menjadi pemimpin dan bertanggung jawab dari apa yang dipimpinnya, maka setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab dari yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Ahmad). 11. Nabi saw menghukum anak yang curang dalam memegang tanggung jawabnya, Nabi juga melihat bagaimana mereka berpikir. 12. Nabi saw memberikan pujian kepada anak-anak ketika mereka dan memberikan nasihat sehingga menggerakan hati dan jiwa mereka. Abdullah bin Umar ra, berkata: “Pada masa Rasulullah saw, ketika aku masih jejaka, aku tidur di masjid, maka aku bermimpi ada dua malaikat yang menarikku lalu membawaku ke neraka. Neraka itu dilipat seperti bibir sumur, mempunyai dua taring dan ternyata didalamnya terdapat orang-orang yang telah aku kenal, maka aku berkata:” A’uzu billahi minnari (aku mohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka).”Abdulllah bin Umar melanjutkan ceritanya:”kemudian aku melihat malaikat yang lain, maka dia berkata kepadaku:”Mengapa engkau bingung?” Kemudian aku menceritakannya kepada Hafshah dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah saw, maka beliau berkata:”Sebaik-baiknya orang laki-laki adalah Abdullah, andaikata dia mau rajin shalat pada malam hari (Tahajud),”Setelah kejadian itu, Abdullah bin Umar tidak pernah tidur pada malam hari kecuali sebentar (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad). Disini pujian Nabi saw kepada Abdullah bin Umar itu dapat menggerakkannya untuk selalu melaksanakan shalat Malam.

3. Tinjauan Pengamalan Ibadah Dalam Kajian Islam dan Kedokteran 3.1 Shalat a. Shalat Menurut Islam

98

Shalat menurut bahasa 'Arab: doa. Menurut istilah syara' ialah ibadat yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah Mendirikan Shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu' ,memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya. Begitu dasyat makna shalat bagi Nabi maupun sahabat-sahabatnya. Bila kita melihat kilas balik kebelakang, salah satunya cerita tentang Ali ra, diceritakan jika waktu shalat tiba, wajah Ali karramullahu wajhah ra, sahabat nabi dan menantu nabi ini akan berubah, tubuhnya gemetar, bila orang bertanya mengenai penyebabnya, Ali ra akan menjawab, ”Sekarang waktunya untuk menunaikan amanat yang tidak mampu di tunaikan oleh langit dan bumi, gunung-gunung pun tak sanggup menunaikan amanat ini. Saya tidak tahu apalah saya mampu menunaikan amanat ini. Sampai-sampai Ali ra ketika dalam suatu pertempuran terkena panah yang sangat sulit dikeluarkan, memutuskan untuk mencabut anak panah ketika beliau sedang sholat, dan ketika ia sujud maka sahabatnya menarik sekuat tenaga anak panah tersebut, setelah selesai shalat ali masih bertanya heran kepada sahabatnya karena Ali tidak merasakan sama sekali ketika panah tersebut berusaha dicabut oleh sahabatsahabatnya. Begitu pula Abdullah bin Abbas bila mendengar suaran azan, ia akan menangis sehingga serbannya basah, urat-uratnya akan timbul, wajahnya memerah, ketika seorang bertanya kepadanya,”Engkau mendengar suara adzan biasa, tidak ada apa-apanya, mengapa engkau sangat khawatir?” kemudian Abbaspun menjawab,”

99

Andai manusia mengetahui apa yang sedang dikumandangkan oleh muadzhin, ia tidak akan dapat tidur dan istirahat dengan tenang, bahkan kantuknya pun akan hilang,” Kemudian ia menjelaskan makna setiap kalimat adzan secara rinci. Menurut Quraishi Shihab Shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnyanya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungan dengan Tuhan, hubungan yang mengambarkan pengetahuan tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan dalam kesatuan sistem, shalat juga mengambarkan tata intelegensi semesta yang total yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan yang Maha dasyat dan Maha mengetahui, Tuhan yang maha esa, Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalat. (Shihab, 1992:343) Mahmud Abdullah dosen ulumul Quran Al-Azhar mesir, menyatakan bahwa shalat 5 waktu adalah asupan bernutrisi bagi ruh, jika seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya melalui shalat, hatinya akan semakin terang, dan dadanya pun semakin lapang. Dia akan memohon kepada Allah tanpa sesuatu penghalang apapun. Dia berdiri dihadapan-Nya kapanpun dia mau dan berdialog dengan-Nya tanpa satu pun penerjemah, dengan demikian , dia akan selalu merasa dekat dengan Allah dan tidak sedikit pun merasa jauh dari-Nya. Dia juga akan dengan mudahnya memohon

100

pertolongan-Nya yang Maha mulia tanpa menghina hamba-Nya sedikitpun yang datang kepadanya, yang Maha kaya dan memiliki kerajaan langit dan bumi tanpa sedikitpun kikir dalam memberikan permintaan hamba-hamba-Nya. Hal ini selaras dengan firman Allah (Abdullah, 2006:72) Dalam Surat Albaqoroh ayat:153. Allah berfirman

”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ” Berarti disini sabar dan shalat menjadi cara yang paling bijaksana dan paling benar bagi seorang muslim menyikapi masalah dan cobaan yang menimpanya sehingga kegelisahan tidak menjadi stress yang berkepanjangan Dalam Tafsir Al Maraghi, Sesungguhnya kewajiban yang dibebankan kepada orang Muslim ialah mengetahui, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata dan Dia tidak ada Tuhan selain Allah semata, dan Dia tidak mempunyai sekutu, Jika telah diakui bahwa Akulah Tuhan yang Haq dan tidak ada sembahan selain aku, maka beribadahlah hanya kepada Ku dan tunduklah kepada seluruh apa yang aku bebankan kepadaMu. Lakukanlah Shallat menurut aturan yang telah aku perintahkan kepadamu dengan rukun dan syaratnya agar dalam Shalat itu kamu mengingat Aku dan berdoa kepada ku dengan doa yang tulus dan bersih tampa dicampuri syirik dan tidak menghadap diri kepada selain aku.

101

Disebutkan shalat secara khusus diantara ibadah yang lainnya, karena ia mempunyai keutamaan atas yang lainnya. Didalam shalat, seseorang mengingat sembahannya dan hati serta lisan sibuk dengan itu. Oleh sebab itu, shalat dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar.

Al-Ankabuut:45. Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dari Tirmidzi dan Ibnu Majah dalam jamaah lain mengeluarkan riwayat dari Abu Hurairah, Bahwa Rasullullah saw, bersabda” Barang siapa lupa akan suatu Shalat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat itu ketika mengingatnya, karena sesungguhnya Allah berfirman,” dirikanlah Shallat untuk mengingatKu. Magraghi jilid 16 :168 – 169) Ketika usaha sedemikian sulit, ketika musibah datang bertubi-tubi, ketika kehilangan pekerjaan, ketika kita ditinggal oleh orang yang terkasih, dan kesabaran menjadi lemah, maka shalat menjadi sarana yang paling penting untuk kita laksanakan sebagai sarana kita mengadukan semua persoalan kita kepada Allah SWT. ( Al-

102

Shalat merupakan penolong yang akan selalu memperbaharui kekuatan dan bekal yang akan selalu memperbaiki hati. Dengan shalat kesabaran akan tetap ada dan tidak akan terputus. Justru shalat akan mempertebal kesabaran, Sehingga akhirnya kamu muslimin akan ridha, tenang, teguh dan yakin. (Sayyid Qutbh, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 1: 171) Menurut tafsir Ibnu katsir (jilid 4:90) memurnikan ketaatan kapada-Nya

adalah mengabdikan kepada-Nya dan serulah semua orang untuk mengabdi kepada Nya saja, tiada sekutu bagi-Nya, karena tidak layak beribadat kecuali bagi-Nya saja. Oleh karena itu Allah SWT berfirman, Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih,” maksudnya, tidak ada amalan yang diterima kecuali bila amalan itu iklash semata-mata karena-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Iklash berarti kita memurnikan ketaatan kita, beribadah yang iklash berarti kita semata-mata beribadah hanya untuk Allah, bukan terhadap yang lain

Al-Hijr:98. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Dalam Al-Quran surat Thaha:132 Allah berfirman:

103

”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” Sebuah hadist menyebutkan bahwa jika keluarga Nabi saw, ditimpa suatu masalah, beliau akan menyuruh mereka mengerjakan shallat sambil membacakan ayat diatas, Seluruh Nabiyullah, jika mengalami kesulitan, mereka pun segera menyibukkan diri dengan shalat. Namun sayangnya dewasa ini kita sangat melalaikan. Kita tidak memperdulikan shalat, padahal kita sering mengaku sedang mengajak kita agar memperhatikan shalat kita akan mencelanya dan mendebatnya, sebenarnya hal ini menghancurkan diri kita sendiri ( Al-Kandahlawi, 2003:285)

Ibrahim: 40. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Doa diatas dihaturkan Nabi Ibrahim ketika di usia tuanya dianugerahkan anak, Ibrahim berkata ,”Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadanya,

104

Ismail dan Ishak. Doa inipun seharusnya menjadi salah satu doa yang seharusnya kita ingat dalam mendidik anak-anak kita. Al-Maarij 34-35 Dan orang-orang yang memelihara shalatnya., Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan. Orang yang memelihara shalatnya, orang yaitu orang-orang yang selalu memelihara waktunya, kewajiban-kewajibannya, tenang dan khusyu, ketika melaksanakannya, merekalah yang akan dijanjikan Allah memasuki syurga yang dimuliakan. Shalat harus dikerjakan dalam keadaan apapun, dalam keadaan takut sekalipun dan dimanapun seperti dalam firman Allah Al-Baqarah

Al-Baqarah :239. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Allah memerintahkan kita mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berjamaah dalam melakukan shalat, terutama bagi laki-laki. Menjalankan shalat secara jamaah akan meningkatkan ukhuwah islamiah dan akan memakmurkan mesjid. Persatuan dan kesatuan dapat tercipta melalui ukhuwah diantara sesama

105

muslim. Ibarat Lidi yang terjalin menjadi sapu akan lebih kuat dan tidak mudah patah.

Al-Baqarah :43. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku Menurut Al-Kandahlawi banyak hadist yang menerangkan dan menegaskan tentang keberkahan dan keuntungan shalat, namun terlalu banyak jika ditulis semua, sehingga dibuatlah rangkuman terjemahan hadist tentang shalat sebagai mana berikut dibawah ini. Rasulullah saw bersabda: 1. Perintah yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ialah shalat 2. Takutlah kepada Allah dalam masalah shalat, takutlah kepada Allah dalam masalah shalat, takutlah kepada Allah dalam masalah shalat 3. Pembeda antara seseorang dengan syirik adalah shalat 4. Shalat adalah satu tanda keislaman. Barang siapa shalat dengan khusyu’ tepat waktu, dan memperhatikan rukun serta sunah-sunahnya, ia pasti seseorang mukmin 5. Diantara semua perintah Allah swt, iman dan shallat adalah kewajiban yang paling utama. Jika ada sesuatu yang lebih baik dari itu, maka Allah akan memerintahkan para malaikat-Nya, yang sebagian dari mereka pada waktu

106

siang dan malam hari ada yang senantiasa ruku, dan sebagian lainnya ada yang terus sujud 6. Shalat adalah tiang agama 7. Shalat menghitamkan mulut syaitan 8. Shalat adalah nur bagi orang-orang beriman 9. Shalat adalah jihad yang paling utama 10. Selama seseorang memperhatikan shalatnya, maka Allah tidak akan mengabaikannya 11. Jika suatu musibah turun dari langit, maka orang yang memakmurkan masjid pasti selamat 12. Jika seorang muslim dimasukkan ke neraka karena dosa-dosanya yang besar, maka api neraka tidak dapat membakar anggota tubuhnya yang telah bersujud ketika shalat 13. Allah mengharamkan api neraka bagi orang yang bersujud kepada_nya 14. Amal yang paling disukai Allah adalah shallat tepat pada waktunya 15. Allah swt sangat menyukai orang-orang yang bersujud kepada-Nya dengan perasaan yang sangat hina 16. Allah swt sangat dekat dengan hamba-Nya ketika hamba-Nya sujud kepadaNya 17. Shallat adalah anak kunci surga

107

18. Jika seseorang berdiri untuk shalat, pintu-pintu surga akan terbuka dan Allah swt akan menyingkapkan hijab antara ia dengan Allah. Selama ia tidak melakukan hal-hal yang dibenci dalam shalat 19. Orang yang shalat diibaratkan sedang mengetuk pintu rumah Allah. Sebagaimana pada umumnya, pintu yang diketuk itu akan dibuka 20. Derajat shalat dalam agama seperti kedudukan kepala di badan 21. Shalat adalah nur bagi hati. Barang siapa ingin hatinya senantiasa bersinar maka sinarilah dengan shalat 22. Barang siapa berwudhu dengan sempurna, lalu mengerjakan shalat dengan khusyu dan khudhu, baik shalat fardhu ataupun sunah, dan ia ingin agar dosadosanya diampuni Allah, maka Allah akan mengampuninya 23. Setiap bumi yang diatasnya didirikan shalat atau mengingat Allah, maka tanah itu akan merasa bangga dibandingkan tanah lainnya 24. Barang siapa mengerjakan shalat dua rakaat lalu berdoa kepada Allah, Allah pasti akan mengabulkan doanya. Adakalanya dipercepat atau diperlambat, sesuai dengan kepentingannya, yang jelas, doanya akan dikabulkan 25. Barang siapa mengerjakan shalat dua rakaat sendirian, tanpa seorangpun yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya, maka api neraka tidak akan menyentuhnya. 26. Jika seorang muslim mendirikan shalat fardhu, maka Allah swt, akan mengabulkan salah satu doanya

108

27. Barang siapa mengerjakan shalat lima waktu dengan khusyu’, dan melakukan ruku’, sujud, wudhu dan sebagainya dengan sempurna, maka wajib baginya surga dan haram atasnya neraka 28. Seorang muslim yang benar-benar menjaga shalat lima waktunya dengan istiqamah, maka syaitan akan takut kepadanya. Namun jika tidak memperdulikan shalat lima waktunya, syaitan akan menguasainya dan akan menyesatkannya 29. Amal yang paling utama adlah shalat pada awal waktu 30. Shalat adalah kurbanya para muttaqin 31. Amal yang disenangi Allah ialah Shalat pada awal waktu 32. Barang siapa pergi untuk menunaikan shalat shubuh, berarti ia sedang membawa bendera iman ditangannya. Dan barang siapa pergi ke pasar berarti dia membawa bendara syaitan di tangannya 33. Empat rakaat sebelum Zhuhur sama pahalanya dengan empat raka’at shalat tahajud 34. Empat rakaat sebelum Zhuhur sama dengan empat rakaat shalat tahajud 35. Rahmat Allah swt bercucuran keatas orang yang berdiri shalat 36. Sebaik-baiknya shalat (setelah shalat fardhu) adalah shalat malam, namun sangat sedikit yang mengerjakannya 37. Jibril as berkata kepadaku dan berkata, ”Ya Muhammad, berapa lamapun engkau hidup, kamu pasti akan mati juga, betapun engkau mencintai sesuatu, suatu hari engkau akan berpisah dengannya. Sesungguhnya engkau akan

109

menerima balasan atas apa saja yang engkau lakukan (baik atau buruk), tidak diragukan lagi bahwa kehormatan seorang mukmin adalah dalam tahajudnya, dan kemuliaan seseorang mukmin adalah dalam qana’ahnya 38. Shalat malam dua rakaat lebih berharga dari pada kekayaan didunia ini, jika tidak memberatkan umatku, aku akan mewajibkan shalat tahajud 39. Jagalah shalat tahajud, karena tahajud adalah amalan para shalihin dan penyebab untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghentikan perbuatan dosa, penyebab ampunan dosa, dan menyehatkan badan. 40. Allah berfirman, ”Hai anak adam , janganlah malas untuk mengerjakan empat rakaat pada permulaan pagi, karena aku akan mencurahkan rejekimu pada hari itu.” (Al-Kandahlawi,2003: 241-242)

Ada

beberapa

12

hal

yang

harus

diperhatikan

dalam

shalat

(As-

Samarqandi,1999:495-499) 1. Dalam melakukan sesuatu ibadah kita harus mengetahui ilmunya, Nabi bersabda amal yang sedikit dengan ilmu itu lebih baik dari pada amal banyak tanpa ilmu.” Pengetahuan disini : a) Mengetahui mana yang wajib dan yang sunah dalam shalat b) Mengetahui mana yang wajib dan sunah dalam berwudhu c) Mengetahui tipu daya setan sehingga ia bisa memeranginya 2. Wudu Karena Nabi bersabda :” Tidak sah shalat melainkan dengan suci”. Sempurnanya wudhu dengan tiga hal, yaitu:

110

a) Membersihkan hati dari rasa dengki dan jahat b) Membersihkan badan dari dosa c) Membasuh anggota-anggota wudu dengan sempurna tanpa memboroskan air 3. Pakaian , karena Allah SWT berfirman: QS. Al-A’raf:31 , artinya” pakailah pakaianmu yang bagus setiap kali (memasuki) mesjid.” Maksudnya berpakaianlah kamu setiap mengerjakan shalat. Sempurnannya pakaian dengan tiga hal, yaitu: a) Pakaian itu berasal dari usaha yang halal b) Bersih dari najis c) Sesuai dengan sunah. Berpakaian bukan untuk bermegah-megahan. 4. Memelihara waktu, karena Allah Ta’ala berfirman: QS. An-Nisa:103, ”Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang- orang yang beriman.” Sempurnanya pemeliharaan waktu dengan tiga hal yaitu: a) Mata selalu memperhatikan jalannya matahari, bulan dan bintang untuk mengetahui waktu shalat b) Telinga selalu memperhatikan suara azan c) Hati selalu mengingat dan memperhatikan tibanya waktu shalat 5. Menghadap Kiblat karena Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah:150, ”Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu

111

berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Kesempurnaan menghadap Kiblat dengan tiga hal, yaitu: a) Menghadap muka ke arah kiblat b) Menghadap Allah dengan sepenuh hati c) Khusyuk dan merendahkan diri 6. Niat karena Nabi Saw, bersabda,” Sesungguhnya segala amalan perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan bagi seseorang apa yang diniatkan.” Kesempurnaan niat tiga hal, yaitu: a) Mengetahui shalat apa yang dikerjakan b) Menyadari bahwa ia sedang berdiri dihadapan Allah c) Menyadari bahwa Allah mengetahui segala hal yang ada didalam hati, maka bersihkanlah hati dari kesibukan memikirkan masalah dunia 7. Kesempurnaan Takbiratul ihram dengan tiga hal, yaitu a) Takbir dengan benar dan mantap b) Mengarahkan hati hati hanya kepada Allah c) Tidak menoleh ke kanan dan kekiri 8. Membaca ayat-ayat Al-Quran, karena Allah berfirman ” Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran “(QS. Al-Muzammil:20).Kesempurnaan bacaan Quran dengan tiga hal, yaitu: a) Membaca surat Al-fatihah dengan bacaan yang benar dan tartil b) Membaca dengan merenungi artinya

112

c) Mengamalkan apa yang dibaca 9. Rukuk , karena Allah Ta’ala berfirman ” Dan rukuklah kamu,” (QS. AlHajj:77). Kesempurnaan rukuk dengan tiga hal, yaitu: a) Meluruskan tulang punggung b) Meletakan kedua tangan pada lutut dan merenggangkan jari-jari c) Thuma’ninah dalam rukuk dalam rukuk seraya membaca tasbih dengan mengagungkan Allah. 10. Kesempurnaan Duduk dengan tiga hal , yaitu: a) Duduk di atas kaki kiri dan menegakkan telapak kaki kanan b) Membaca tashahud (tahiyat) dengan ta’zhim serta berdoa untuk diri sendiri dan segenap kaum mukminin c) Mengucapkan salam dengan sempurna. Adapun kesempurnaan salam itu dengan niat memberi salam dari lubuk hati, Semoga kesejahteraan dilimpahkan ke malaikat dan segenap orang yang berada disebelah kanan dan disebelah kiri, serta pandangan tidak melebihi kedua bahu. 11. Berdiri, karena Allah berfirman dalam Qs, Al-Baqarah:238 ,”Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khuyuk.” 12. Kesempurnaan Iklash juga dengan tiga hal, yaitu a) Shalat itu ditujuan hanya untuk mengharapkan rida Allah b) Merasa bahwa mengerjakan shalat itu karena taufik dari Allah c) Memelihara shalat agar bisa bersama-sama menghadap Allah nanti pada hari kiamat.

113

b. Shalat Menurut Kedokteran Gerakan shalat menurut para ilmuwan dan dokter salah satu terbaik untuk menyembuhkan rematik (terutama untuk tulang punggung), yang disebabkan oleh ketidak seimbangan otot. Berdasarkan saran dokter tidak ada solusi yang berbaik untuk menghindari rematik sejak dini dengan melaksanakan sholat 5 waktu secara konsisten dan juga banyak melakukan gerak untuk meminimalisir kemungkinan penyakit tulang punggung, memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin

mengembalikan keseimbangan pada persendian dan otot tubuh, dan otot tubuh, dan hendaknya hal ini tetap dilaksanakan walaupun ada kerusakan tulang atau setelah penggunaan gips. Dapat disimpulkan bahwa gerakan sholat adalah jenis gerakan terbaik yang selaras dengan saran dokter dan mampu mengembalikan fungsi otot dengan baik, gerakan yang dimaksud diantaranya gerakan rukuk, berdiri tegak, sujud dalam waktu yang lama dan dilakukan berulang (Abdullah, 2006: 37-38) Gerakan shalat pun merupakan gerakan olah raga ringan yang baik untuk melancarkan peredaran darah tubuh, lancarnya peredaran darah, akan melancarkan suply oksigen dan nutrisi keseluruh organ tubuh dan otak. Selain baik untuk jantung dan peredaran darah, gerakan shalat ini juga dapat memperkuat tulang karena tulang yang banyak digerakan secara terus menerus akan menjadi lebh baik ,lebih tebal tidak gampang kropos atau dapat terhindar dari osteoporosis, karena mengandung lebih banyak kalsium dibanding tulang yang tidak sering digerakkan.

114

Berwudhu yang kita lakukan sebelum shalat dapat menetralisir jumlah kuman yang patogen atau berbahaya akibat kulit yang terpapar dengan debu. Sehingga kebersihan kulit lebih terjaga dari infeksi kulit, membilas kulit dengan air yang berulang-ulang dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap bakteri, sehingga meningkatkan imunitas. Berwudhu juga dapat menghindari kanker kulit, kulit yang terpapar dengan berbagai zat kimia , dengan membilas kulit sebanyak 5 kali sehari dapat mengurangi efek kimiawi yang terpapar ke kulit kita, sehingga dampat zat kimia dapat diminimalisir. Dalam sebuah penelitian di falkutas kedokteran di Iskandariyah Mesir, bekerja sama dengan kelompok peneliti ilmiah dan tehnologi melakukan penelitian untuk mengungkapkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan wudhu dilihat dari kesehatan mengungkapkan bahwa hidung bagian dalam yang tidak dibasuh air umumnya berwarna pucat, berminyak, serta penuh dengan debu dan kotoran, sedangkan pintu hidungnya yang tampak bagian luar, tampak berwarna cerah dan terdapat bulu hidung padanya. Bulu hidung umumnya rentan dihinggapi debu dan kotoran. Sedangkan pada hidung kelompok yang disiplin melakukan wudhu tidak didapati kumpulan bakteri dan mikroba. Hembing memaparkan membasuh wajah waktu wudhu dengan air bersih akan merangsang titik-titik akupuntur dibagian wajah yang efeknya sangat bermanfaat untuk kesehatan. Rangsangan yang ditimbulkan fungsinya sesuai dengan therapi akupuntur. Pada wajah terdapat pusat akupuntur organ seperti titik, dada, usus kecil,

115

usus besar, ginjal, kaki, tangan, tempurung lutut, faring, hati/ limfa, jantung, kandung kemih, lambung, paru-paru, kandung empedu. Ketika membasuh kedua tangan sampai siku pun terdapat titik akupuntur yang terangsang antara lain. Meridien yien untuk menyembuhkan penyakit pada dada, paru-paru, tenggorokan, lambung, jantung, dan organ gerakan bagian atas. Rangsangan pada meridien yang ditangan dapat menyembuhkan penyakit pada kepala, wajahm mata, kuping, hidung, mulut, gigi, tenggorokan dan organ gerak bagian atas leher (Hembing,1994:47-49) Bila kita melihat titik akupuntur pada telinga, terdapat berbagai titik akupuntur organ, sehingga perangsangan telinga dengan membasuhnya tiga kali juga otomatis akan menyeimbangkan organ-organ tubuh Hembing menambahkan bahwa dalam pengobatan oriental atau cina dengan akupuntur, terdapat sistem meridien pada tubuh, saluran-saluran yang membujur (cing) dan saluran yang melintang (Lo) yang tersebar secara simetris di seluruh tubuh, serta menghubungkan titik akupuntur tertentu, selama sehat sirkulasi energi vital akan berada pada keadaan seimbang, sedangkan ketidak seimbangan membuat sakit, dengan merangsang titik meridien tersebut, keseimbangan aliran energi akan diperbaiki dan akan kembali sehat, dengan berwudhu, saat kita membasuh tangan, wajah, kedua kaki, hidung, telinga, bagian kepala, maka meridien yang terdapat di bagian tubuh tersebut akan tersentuh. Rangsangan terhadap meridien dan titik akupuntur terkait dengan berbagai disiplin ilmu mulai dari fisiologi, anatom, patologi. Titik Akupuntur dan meridien berhubungan erat dengan aktivitas susunan syarat otonom, yang terdiri dari syaraf simpatis dan parasimpatis yang berpusat di

116

hipotalamus otak,. Sifat syaraf simpatis bersifat Yang dan syaraf parasimpatis bersifat Yin. Penjelasan sistem syaraf simpatis dan para simpatis dapat lebih jelas dibaca dalam mekanisme stres yang dipengaruhi hormonal tubuh. Membasuh kepala ketika wudhu dapat memberikan kebersihan kulit kepala dan rambut dari debu, dan juga dapat menjernihkan otak. Bisa terasa ketika hati dan emosi sedang marah, air wudhu yang membasahi kepala dapat menurunkan emosi kita dan menyeimbangkan hormon stress dalam tubuh. Hormon kortisol merupakan salah satu hormon yang meningkat ketika terjadi stress dan emosi amarah, yang bekerja meningkatkan seluruh kerja organ untuk bersikap fight and fligh atau waspada, dimana kerja jangtung meningkat, tekanan darah bertambah, kita menjadi waspada, wajah memerah, dan bila hal ini tidak di kendalikan, kemarahan bisa memuncak ke alam bawah sadar sehingga orang bila khilaf atau kalau sifatnya kronis membawa ke penyakit fisik. Shalat yang khusyuk, dimana seluruh pikiran dalam keadaan kosentrasi dan komunikasi dengan Allah, terdapat waktu dimana otak memperoleh istirahat yang sempurna untuk menetralisir peningkatan jumlah zat kimia yang dihasilkan otak dalam menghadapi stresor.

117

Gambar 2.5 Hasil SPECT Images Pada orang yang Meditasi dan yang tidak.

www.kaheel7.com

Dr Noha abo-krysha dalam tulisannya tentang The Effect of Prayer on the Human Body menjelaskan tentang hasil Single photon CT scan yang menunjukan adanya peningkatan aliran darah pada otak besar (cerebrum) ketika seseorang

melakukan berdoa/meditasi, gambar yang sebelah kiri menunjukan sebelum berdoa dan kanan menunjukan peningkatan aktivitas otak yang bertambah setelah meditasi Atau berdoa Warna merah menunjukkan aktivitas yang tinggi, sedang kuning dan hijau menunjukan aktifitas yang rendah, Selama meditasi atau berdoa asupan darah ke otak terutama bagian lobus frontal akan bertambah, seperti yang kita ketahui bagian frontal cerebrum bertanggung jawab dalam mengontrol emosi dan agitasi pada manusia. Hasil ini adalah hasil riset oleh Dr. Newberg, the assistant Professor at X-Ray division of the Pennsylvania University Medical Center, terhadap grup yang

118

menjalankan aktivitas doa yang berasal dari berbagai latar belakang agama yang berbeda. 3.2 Puasa a. Puasa Menurut Islam Puasa telah dilakukan sejak zaman dulu, tidak hanya oleh umat Islam saja, tapi oleh umat beragama yang lain, dengan cara masing-masing yang dipercayainya. Dengan puasa kita bisa sehat secara jasmani dan rohani. Dalam medis puasa bisa membersihkan toksin dan zat-zat yang menumpuk dalam seluran pencernaan, ginjal, dan organ yang lain akibat bahan pengawet, zat pewarna, pemanis buatan, zat karninogenik yang menyebabkan kanker, asap rokok dan lain-lainnya yang menumpuk bertahun-tahun. Walaupun tubuh kita sendiri mempunyai kemampuan mekanisme untuk mengobati sediri, tapi kapasitas tubuh sendiri juga ada batasnya. Dengan puasa ini kerja tubuh melindungi organ-organnya bisa lebih sempurna. Dalam Islam puasa yang kita lakukan dalam bulan ramadhan maupun puasa sunah diluar Ramadhan membuat kita bisa menjadi lebih taqwa dan lebih sabar, bila yang halal saja dapat kita tahan dengan puasa, apalagi yang haram. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Hurairah r.a , katanya Rasullullah bersabda ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman: ”Setiap amal anak Adam teruntuk baginya kecuali puasa, puasa itu adalah untuk Ku dan Aku akan memberinya pahala. Puasa itu perisai. Apabla kamu puasa janganlah kamu rusak puasamu itu

119

dengan sanggama dan jangan menghina orang. Apabila kamu yang dihina atau dipukul orang, maka katakanlah :”Aku puasa,” Demi Allah yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang puasa lebih harum disisi Allah pada hari kiamat kelak dari pada bau kesturi. Dan bagi orang puasa ada dua kegembiraan. Apabila dia berbuka dia gembira dengan bukaannya dan apabila dia menemui Tuhannya (meninggal) dia gembira dengan puasanya. (Muslim:hadist 1117) Mulut yang orang yang berpuasa yang tercium memang akibat adanya proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita, yang sedang membersihkan dari zat-zat yang menumpuk yang dapat mengganggu kesehatan kita, seperti lemak dan sebagainya. Puasa secara etimologis berarti mencegah makan, minum, berhubungan seksual. Dan secara terminologi puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang bisa membatalkan, atau dari makanan, minuman, dan bersetubuh mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.. Dalam bahasa arab puasa sama dengan shaum, dalam Mu’jan al Watsith, kata puasa diartikan sebagai mencegah diri untuk tidak berbuat atau berkata sesuatu. Sedangkan kata shama, shauman dan shiyaman artinya adalah menahan. Kata shaum dan syiyam bermakna sama, sedangkan kata shauman (puasa) dalam surah Maryam ayat 26, artinya adalah membisu, tidak berbicara (AshShawi,2006:18). Allah berfirman tentang puasa dalam beberapa ayat dalam Al-Quran sebagai berikut:

120

1. Bahwa Puasa adalah wajib hukumnya agar kita dapat menjadi orang yang bertaqwa.

Dalam Alquran Qs Al-Baqarah 2:183.Allah berfirman,” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” 2. Bahwa puasa bukan ibadah yang memberatkan karena dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan, kita dapat menggantinya dilain hari sebanyak bilangan yang kita tinggalkan. Qs Al-Baqarah 2:184 Allah berfirman:

. ”Dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi

121

orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Qs Al-Baqarah 2:185 Allah berfirman:

. ”Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu

122

mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 3. Puasa yang kita lakukan setelah terbit fajar dan terbenamnya matahari, pada saat itu kita tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan dengan istri, dan menahan diri dari segala yang mengurangi pahala puasa. Dalam Qs Al-Baqarah 2:187, Allah berfirman,”Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa puasa adalah menahan diri dari makan, minum berijma disertai niat iklash karena Allah SWT. Pada permulaan Islam, puasa dilaksanakan 3 hari setiap bulan, kemudian pelaksanaannya dinasakh oleh puasa pada bulan ramandhan. Dari Muazh, ibnu Mas’ud dan yang lainnya dikatakan bahwa puasa itu senantiasa disyariatkan sejak zaman nabi Nuh hingga Allah menasakh ketentuan itu dengan puasa Ramandhan (Tafsir Ibnu Katsir I: 286-287)

123

Allah mewajibkan puasa karena puasa dapat menyucikan badan.. Allah juga memberikan kemudahan, kemudahan bagi yang sakit, berpergian untuk tidak

berpuasa, namun boleh mengqadha di hari yang lain. Orang yang merasa berat (0rang tua yang tidak sanggup puasa) untuk memberi makan kepada orang-orang muskin (fidyah) setiap hari berbuka. Demikian pula pada orang yang hamil dan menyusui jika keduanya mengkhawatikan keselamatan anaknya dan menggantinya dikemudian hari. Sesuai bilangan yang ditinggalkan. Fidyah adalah mengeluarkan satu mud (sama dengan 800 gram gandum atau sejenisnya) setiap hari, dan setiap mud diberikan kepada satu orang miskin. Untuk wanita hamil yang hampir melahirkan dan sedang menyusui, ada beberapa pendapat dalam persoalan fidyah (kifarah) yaitu:( Mughniyah,2005:158) 1. Hanafi, tidak mewajibkan fidyah secara mutlak 2. Maliki, hanya mewajibkan bagi wanita yang menyusui, bukan yang hamil 3. Hambali dan syafi’i, menyatakan bahwa setiap wanita yang hamil dan menyusui wajib membayar fidyah, bila hanya khawatir bagi anaknya saja, tetapi bila khawatir terhadap dirinya dan anaknya secara bersamaan, maka dia harus meng-qadha (menggantinya), tanpa membayar fidyah. 4. Imamiyah, kalau wanita hamil yang saat kelahirannya sudah dekat dan membahayakan dirinya bila berpuasa, atau membahayakan dirinya bila berpuasa, atau dia harus berbuka dan tidak boleh berpuasa, karena yang membahayakan itu diharamkan. Mereka sepakat bahwa bagi wanita yang khawatir membahayakan anaknya harus meng-qadha’ (menggantinya) dan

124

membayar fidyah satu mud. Tetapi kalau khawatir membahayakan dirinya, mereka berbeda pendapat, sebagian harus meng-qahda (menggantinya) dan tidak usah membayar fidyah, dan yang lainnya harus meng-qhada dan membayar fidyah. Menurut Quraish Shihab puasa yang dilakukan umat Islam digaris bawahi oleh Al-Quran sebagai ”bertujuan untuk memperoleh taqwa”, Tujuan tersebut tercapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Memahami dan menghayati arti puasa memerlukan pemahaman terhadap dua hal pokok menyangkut hakikat manusia dan kewajiban di bumi, Pertama, manusia diciptakan Allah dari tanah, kemudian dihembuskan kepadaNya Ruh ciptaan-Nya dan diberi potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini, menurut hadis pula bahwa tuhan menciptakan manusia menurut ”petanya”, dalam arti memberikan potensi untuk memiliki sifat-sifat sesuai dengan kemampuannya sebagai mahluk, Kedua, dalam perjalanan manusia menuju Bumi , ia (Adam) melewati (” transit”di) surga agar pengalaman, yang diperolehnya disana dapat dijadikan bekal dalam menyukseskan tugas pokoknya dibumi ini, Pengalaman tersebut antara lain adalah persentuhan dengan keadaan di surga itu sendiri. Disana telah tersedia segala macam kebutuhan manusia, antara lain sandang pangan serta ketentraman lahir dan batin (QS 20 :118-119 dan QS 56: 25). Hal ini mendorong manusia untuk menciptakan bayangan surga di bumi, sebagaimana pengalamannya dengan dengan setan

125

mendorongnya untuk berhati-hati agar tidak terpedaya lagi sehingga mengalami kepahitan yang dirasakan ketika terusir dari surga. Kebutuhan fisiologis, seperti makan, minum, hubungan suami istri merupakan kebutuhan paling mendasar yang harus terpenuhi dulu sebelum menginjak kebutuhan berikutnya, bila seseorang dapat mengendalikan kebutuhan dasarnya maka akan mudah mengendalikan kebutuhan yang lainnya. (Shihab,1998:308) Teori tentang kebutuhan manusia yang dicetuskan Abraham Maslow (pelopor aliran psikologi humanistik). Bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurutnya, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis), kedua kebutuhan akan rasa aman dan tentram, ketiga kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, keempat kebutuhan untuk dihargai dan yang kebutuhan aktualisasi diri Quraishi Shihab menambahkan bahwa Tujuan Puasa yang sebenarnya adalah meneladani Allah dalam sifat-sifatNya yang berjumlah sembilan puluh sembilan itu. Dan manusua meneladaninya sesuai dengan kemampuan sebagai manusia, dengan demikian, dengan mencontoh sifat-sifat Tuhan berarti membangun dan paling tinggi adalah

memakmurkan bumi ini sehingga pada akhirnya bumi ini menjadi ”bayang-bayang ”

126

surga yang penuh dengan keamanan dan kedamaian, serta pemenuhan segala kebutuhan hidup manusia seperti sandang, pangan, papan. Hasan Basri menggambarkan keadaan orang yang meleladani Tuhan sehingga mencapai tingkat taqwa yang sebenarnya dengan ungkapan :”Anda akan menjumpai orang tersebut teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampak wibawanya didepan umum, jelas syukurnya dikala beruntung, menonjol qana’ah (kepuasan)-nya dalam pembagian rezeki, senantiasa berhias walaupun miskin, selalu cermat, tidak boros walaupun kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina, tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dalam permainan dan tidak berjalan membawa fitnah, disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya, serta terpelihar identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Kalau ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istighfar, bila dimaki ia tersenyum sambil berkata: ”Jika makian anda benar, maka aku bermohon semoga Tuhan mengampuniku. Dan jika makian anda keliru, maka aku memohon semoga Allah mengapunimu.”(Shihab, 1998:310). Menurut Muhammad Ali As-Shabuni dalam ensiklopedia islam bahwa puasa sedikitnya mempunyai empat hikmah yaitu: a. Sarana Pendidikan bagi manusia agar tetap bertaqwa, membiasakan diri untuk patuh, terhadap perintah Allah SWT, penghambaan diri terhadap Allah SWT.

127

b. PendidIkan jiwa dan membiasakan diri untuk tetap sabar dan tahan terhadap segala penderitaan demi menempuh dan melaksanakan perintah Allah. Menahan diri dari segala keinginan dan hawa nafsunya c. Merupakan sarana menumbuhkan sayang dan rasa persaudaraan terhadap orang lain sehingga terdorong membantu dan menyantuni orang yang tidak berkecukupan. d. Dapat menanamkan dalam diri manusia rasa takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan perintahnya dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. b.Puasa Menurut Kedokteran

Puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau imun system terhadap berbagai penyakit. Ditunjukkan dengan peningkatan fungsi sel limfa yang memproduksi sel limfosit T yang secara significan bertambah, setelah puasa. (Riyad Albiby and Ahmed Elkadi :84 ) Untuk penyakit seperti diabetes sekalipun puasa ramadhan tidak akan berbahaya , malah memberikan banyak manfaat (Sulimami, dll, 1988: 549-552) Menurut Jalal Saour bahwa berkurangnya cairan pada puasa akan menurunkan heart rate atau kerja jantung, pencegahan terhadap penggumpalan darah yang termasuk penyebab serius panyakit jantung.(Jalal, Riyad,1990)

128

Malah puasa juga aman untuk pasien yang mempunyai gangguan ulcer pada lambung. Penelitian dilakukan oleh Muzam MG, Ali M.N dan Husain dalam observasi terhadap efek puasa ramadhan terhadap asam lambung (Muzam :1963:228) Puasa adalah salah satu metode dalam mendetoksikasi tubuh, meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit, dengan puasa kita bisa mengistirahatkan organorgan tubuh dan membersihkan tubuh dari sisa residu dan zat karsinogenik yang ada dalam makanan. Menyeimbangkan metabolisme tubuh dan emosi. Yang terpenting, puasa dapat meningkatkan kualitas hidup kita. Menurut Elson M. Haas M.D. Direktur Medical Centre of Marin (sejak 1984) . Dalam puasa (cleasing dan detoksifikasi) merupakan bagian dari trilogy nutrisi, balancing, building( toning). Elson percaya bahwa puasa adalah bagian yang hilang “missing link” dalam diet di dunia barat. Kebanyakan orang di barat over eating atau terlalu banyak makan, makan dengan protein yang berlebihan, lemak yang

berlebihan pula. Sehingga ia menyarankan agar orang lain mulai mengatur makanannya agar lebih seimbang dan mulai berpuasa, karena puasa bermanfaat sebagai: purifikasi, peremajaan, istirahat pada organ pencernaan, anti aging,

mengurangi alergi, mengurangi berat badan, detoksikasi, relaxasi mental dan emosi, perubahan kebiasaan dari kebiasaan makan yang buruk menjadi lebih seimbang dan lebih terkontrol, meningkatkan imunitas tubuh. dan lebih baik lagi bila dalam pengawasan dokter. Puasa dapat mengobati penyakit seperti Influeza, bronkitis, diare,

129

konstipasi, alergi makanan, astma, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, obesitas, kanker, epilepsi, sakit pada punggung, sakit mental, angina pectoris (nyeri dada karena jantung), panas dan insomnia.

(www.healthynet.com) Puasa sudah diakui menjadi penyembuh terhebat dalam menanggulagi penyakit, bahkan di amerika ada pusat puasa yang diberi nama ”Fasting Center International, Inc” ,Director Dennis Paulson yang berdiri sudah sejak 35 tahun yang lalu, dengan pasien dari 220 negara. Yang merekomendasikan: (1) program

penurunan berat badan, (2) mengeluarkan toxin tubuh, (3) puasa dapat memperbaiki energy, kesehatan mental, kesehatan fisik dan yang paling terpenting meningkatkan kualitas hidup. Beberapa Ilmuwan telah melakukan beberapa penelitian tentang puasa diantaranya secara ringkas dibawah ini: (Seperti yang dikutip oleh Ash-Shawi) 1. Puasa dapat mengurangi jumlah hormon pemicu stress, Dr Sabah al-Baqir dan kawan-kawan dari Falkutas kedokteran Universitas King Saud.yang melakukan studi terhadap hormon prolaktin, insulin dan kortisol, pada tujuh orang laki-laki yang berpuasa sebagai sampel. Hasilnya bahwa tidak ada perubahan signifikan pada level kortisol. Prolaktin, dan insulin. Ini menunjukkan bahwa puasa bulan ramadhan bukanlah pekerjaan yang memberatkan, dan tidak mengakibatkan tekanan mental maupun saraf. Percobaan ini menunjukan peningkatannya terjadi pada perbedaan waktu saja, bila pada hari tidak puasa prolaktin mengalami kenaikan tertinggi pada jam 16.00. sementara pada bulan Ramadhan mengalami

130

puncaknya pada pukul 21.00 dan menurun lagi sampai batas terendahnya pukul 04.00. Sementara insulin meningkat pada pukul 16.00, sedang pada bulan ramadhan pukul 21.00, menurun sampai batas terendah pukul 16.00. Sedang Kortisol pada hari biasa mencapai puncaknya pukul 09.00, menurun pada pukul 21.00, sementara pada bulan Ramadhan tidak ada perubahan berarti 2. Dr Ahmad al-Qadhi, Dr. Riyadh al-Bibabi, bersama rekannya di Amerika melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah sukarelawan yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Hasil penelitian ini menunjukan pengaruh positif puasa yang cukup signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh. Indikator fungsional sel-sel getah (lymfocytes) membaik hingga sepuluh kali lipat, walaupun jumlah keseluruhan sel-sel getah bening tidak berubah, namun prosentase jenis getah bening yang bertanggung jawab melindungi tubuh dan melawan berbagai penyakit yaitu sel T mengalami kenaikan yang pesat. 3. Dr Riyadh Sulaiman dan kawan-kawan tahun 1990 dari RS Universitas King Khalid, Riyadh Saudi melakukan penelitian terhadap pengaruh puasa Ramadhan terhadap 47 penderita diabetes jenis kedua (pasien yang tidak tergantung insulin). Dan sejumlah orang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa bulan ramadhan tidak menimbulkan penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada pengaruh apapun yang berarti pada kontrol penyakit diabetes diabetes dikalangan penderita ini. Sejauh ini puasa Ramadhan aman saja bagi penderita diabetes sejauh dilakukan dengan kesadaran dan kontrol makanan serta obat-obatan.

131

4. Dr. Muhammad Munib dan kawan-kawan dari Turki juga melakukan sebuah penelitian terhadap seratus responden muslim, Sampel darah mereka diambil sebelum dan diakhir bulan ramadhan, untuk dilakukan analisis dan pengukuran terhadap kandungan protein , total lemak (total lipid), lemak fosfat, asam lemak bebas, kolesterol, albumin, globulin, gula darah, tryglycerol, dan unsur-unsur pembentuk darah lainnya, dan didapat, antara lain bahwa terjadi penurunan umum pada kadar gula (glukosa) dan tryacyglicerol orang yang berpuasa, terjadinya penurunan parsial dan ringan pada berat badan, tidak terlihat adanya aseton dalam urin, baik dalam awal maupun akhir puasa, sebab sebelum puasa ramadhan, kenyataan ini menegaskan tidak adanya pembentukan zat-zat keton yang berbahaya bagi tubuh selama bulan puasa islam, Dengan keutamaan puasa, glikogen dalam tubuh mengalami peremajaan, memompa gerakan lemak yang tersimpan, sehingga menghasilkan energi yang lebih meningkat (Ash-Shawi 2006:85-86) Sejak zaman dulu puasa dipakai sebagai pengobatan yang terbaik seperti kata Plato bahwa puasa adalah untuk mengobati sakit fisik dan mental. Philippus

Paracelsus mengatakan bahwa “Fasting is the greatest remedy the physician within!" Puasa dapat dilakukan untuk pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit, menurut Ash-Shawi secara ringkas perbedaan dan persamaan puasa yang dilakukan untuk pengobatan dan puasa Islam adalah sebagai berikut 1. Puasa dalam Islam dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu bulan Ramadhan setiap tahun, selama satu bulan dan juga bisa dilakukan di luar

132

bulan ramadhan yaitu sebagai puasa sunah. Sedangkan puasa medis dilakukan pada waktu tidak tertentu, tergantung kesadaran pasien atau anjuran dokter. Dan biasanya dalam pengawasan dokter 2. Puasa medis biasanya dengan pantangan beberapa zat makanan sesuai dengan tujuan pengobatannya. Sedangkan puasa Islam tidak memantang makanan, namun seimbang energi, protein , vitamin dan mineral. 3. Puasa Islam dilakukan dengan hati yang senang, begitulah janji Allah bahwa puasa yang umat Islam lakukan membawa dua kegembiraan, namun puasa medis biasanya membuat membuat pasien agak tertekan, dilakukan karena banyaknya bahan makanan yang dipantang. Dan pantangan sepanjang waktu sampai batas yang ditentukan dokter. 4. Puasa Islam dilakukan oleh orang yang sehat, sedangkan pada kondisi tertentu puasa diberikan keringanan, terutama pada wanita hamil. menyusui, orang tua yang sudah tidak kuat lagi melaksanakan puasa. Pada puasa medis biasanya dilakukan karena petunjuk dokter pada seseorang yang mengalami kelainan medis tertentu. 3.3 Zikir Dan Membaca Al-Quran a. Zikir Menurut Islam Al-Quran adalah penawar kekedihan dan kecemasan. Dengan membaca AlQuran dan tahu artinya maka kecemasan dan ketakutan kita terhadap segala hal akan hilang, misalnya ketika kita sedang sakit dan kita membaca Al-Quran, surat AsySyu’araa: 80-81, Allah berfirman “ Dan apabila aku sakit, Dialah yang

133

menyembuhkan aku , dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)”. Zikir dan membaca Al-Quran adalah bagian dalam mengingat Allah, bersyukur kepada-Nya disetiap waktu, dengan sebanyak-banyaknya. Dengan mengingat Allah, kita akan merasakan penjagaan dan pengawasan Allah terhadap kita, hingga makin besarlah tertanam dalam hatinya keridhaan, keiklasan kelapangan hati dan ketenangan. Ketenangan menjaga kita dari penyakit hati dan fisik.

Dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab 41, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” Mengingat Allah dalam kondisi apapun baik sedang duduk, berbaring. Dalam Al-Quran surat Ali-Imram 3:191, Allah berfirman

”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan

134

bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Allah Taala mencela orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari mahlukmahluk-Nya yang menunjukan kepada zat, sifat, syariat, takdir, dan tanda-tanda kebesarannya. Allah Ta’ala berfirman,” dan betapa banyaknya tanda-tanda kebesaranNya yang terdapat di langit dan bumi..sedang mereka menyekutukan Allah,”Allah memuji hamba-hambanya yang beriman,”yang mengingat Allah ketika duduk, berdiri berbaring. Mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi” sambil berkata.,” Ya Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan ini dengan sia-sia”Yakni , tidaklah engkau ciptakan mahluk ini dengan main-main , namun secara hak agar engkau membalas orang-orang yang beramal buruk sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan serta membalas orang yang berbuat baik dengan balasan kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir Jilid I: 635) Dengan banyak berzikir kita akan selalu mengingat Allah, kita berharap hanya kepada Allah yang selalu dekat kepada kita, yang akan mengabulkan permohonan hambanya yang iklash dan taat kepada perintah Allah dan selalu berada dalam kebenaran. Qs. Al-Baqarah :186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

135

Dalam dunia sufi seorang syek menerangkan kepada muridnya bagaimana cara berbicara kepada Allah,”Seorang syek bertanya kepada darwisnya, apakah ia ingin berbicara dengan Tuhan, ketika sang darwis mengiyakannya, sang Syek mengajarkan sang darwis, bahwa setiap kali ia berada dalam kesendirian, ia harus mengucapkan doa berikut. .Ya ALLAH Tampa-Mu wahai kekasih, aku tidak bisa tentram, aku tidak dapat menghitung anugerah yang kau limpahkan kepadaku, Bahkan jika setiap helai rambut dari tubuh ku menjadi lidah, aku tidak mampu mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepadaMu”( Frager R :307) Seorang muhaddist terkenal Hafizh Ibnu Qayyim rah.a telah menulis sebuah kitab berbahasa Arab Al-wabilush-Shayyib yang banyak membicarakan manfaat zikir dibawah ini akan disebutkan secara ringkas dan berurutan faedah zikir yaitu: (AlKandahlawi Rah.a, 2003 :409) Antara lain disebutkan: 1. Zikir menimbulkan kecintaan kepada Allah swt. Dan cinta adalah ruh Islam pusat agama, juga sumber kebahagiaan dan keselamatan, Barang siapa ingin mencapai kecintaan sejati kepada Allah, perbanyaklah zikir. Sebagaimana bermudzakarah, adalah pintu ilmu maka zikir adalah pintu cinta kepada Allah SWT. 2. Zikir adalah alat kembali kepada Allah SWT, membawa seseorang menyerahkan diri kepada Allah sehingga secara berlahan-lahan Allah swt menjadi tempat perlindungan dan bentengnya dari segala hal, ia senantiasa berlindung kepada Allah dari setiap musibah..

136

3.

Zikir mendekatkan diri kepada Allah swt, sejauh mana ia memperbanyak zikir kepada Allah sejauh itu ia mendekati Allah, dan semakin ia melalaikan zikir sejauh itu ia menjauhi Allah swt

4.

Zikir Meningkatkan derajat manusia, ia berzikir dikala sehat maupun sakit, di tempat tidur, di pasar, ketika sibuk dengan kesenangan maupun dalam keadaan susah. Sehingga hati dipenuhi dengan nur zikir.

5.

Nur zikir orang yang selalu berzikir akan selalu menyertai baik ketika di dunia dikubur, maupun shirat. Dan nur tersebut akan terus berada didepan orannya sebagai petunjuk sebagai mana firman Allah Surat Al-An’am : 122

Beberapa hadist Tentang Zikir adalah sebagai Berikut: 1. Barang siapa yang ditimpa kedukaan (kesusahan) dan keresahan, maka perbanyak mengucapkan ”La Haula Wala Quwwata Illa Billah ( tiada daya dan upaya kecuali Allah)” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas) 2. Barang siapa yang terbiasa beristigfar, maka Allah akan memberikannya jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya dan jalan keluar dari segala keresahannya serta memberikannya rezeki dari jalan yang tiada terduga Abu Dawud) 3. Allah berfirman dalam hadist Qutsi, aku ada dalam prasangka hamba-Ku kepadaKu dan aku akan selalu bersamanya selama ia mengingat-Ku. Apabila ia (HR

137

mengingat-Ku dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam kelompok, maka akupun akan mengingatnya pada satu kelompok yang lebih baik darinya. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, maka aku akan mendekatinya sehasta, jika ia mendekatiku dengan berjalan, maka aku akan mendekatinya dengan berlari (HR Bukhari dan Muslim). 4. Barang siapa yang mengucapkan ,”Laa Ilaha Illallah Laa Syariikalah, lahul Mulku Wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syai’in qadiir (Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Kepunyaan-Nya segala kerajaan dan semua syukur dan Dia Maha Berkuasa)” sebanyak seratus kali dalam seharinya, maka baginya pahala membebaskan sepuluh budak dan akan dituliskan baginya seratus kebaikan serta dihapuskan darinya seratus kesalahan. Ia pun akam memiliki perisai dari segala godaan setan pada hari itu hingga sore menjelang, Tiada seorangpun yang lebih baik darinya kecuali apabila ada seseorang mengerjakan hal tersebut lebih banyak darinya, Barang siapa yang mengucapkan ”Subhanallah wa bi hamdihi (Mahasuci Allah dan dengan pujian untuk-Nya) seratus kali dalam seharinya, maka semua dosa dan kesalahannya akan diampuni walaupun dosa dan kesalahannya tersebut bagai buih di lautan. (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi) b. Zikir Menurut Kedokteran Penelitian tentang doa dan zikir telah banyak dilakukan antara lain menurut Hawari:

138

1.

Penelitian yang dilakukan oleh Comstock, GW dan kawan-kawan (1972) seperti yang termuat dalam Journa of Chronic Diseases, menyatakan bahwa bagi mereka yang melakukan kegiatan keagamaan secara teratur disertai doa dan zikir, ternyata risiko kematiannya akibat jantung koroner lebih rendah 50 %, sementara kematian akibat emphisema (paru-paru ) lebih rendah 56 %, kematian akibat penyakit hati (cirrhosis hepatis) lebih rendah 74 % dan kematian akibat bunuh diri lebih rendah 53 %.

2.

Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan kawan-kawan (1989) terhadap pasien dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi dibandingkan dengan kelompok (bukan pasien hipertensi), diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kotrol lebih baik dan dikemukakan bahwa kegiatan agama seperti doa, zikir mencegah seseorang dari hipertensi.

3.

Penelitian Levin dan Vanderpool (1989) demikian pula terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah , bahwa kegiatan agama akan memperkecil risiko menderita penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) Alfred Tomatis seorang dokter dari Perancis yang lima puluh tahun

mengadakan eksperimen tentang hubungan antara rangsang pendengaran terhadap tubuh, dimana pendengaran dapat mengotrol regulasi kerja tubuh dalam mengontrol dan mengendalikan sistem syaraf. Dalam eksperimen, Alfred menemukan syaraf pendengaran berhubungan dengan seluruh otot tubuh, dan merupakan alasan mengapa keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, and seluruh kerja tubuh dipengaruhi oleh suara, frekwensi suara

139

dari labirin telinga berhubungan dengan seluruh bagian tubuh seperti jantung, paruparu, hati, pencernaan dan usus halus. 1960 seorang ilmuwan bernama Hans Jenny menemukan bahwa efek suara mempengaruhi bentuk , dan material sel didalamnya. Tahun 1974 seorang peneliti Fabien Maman and Sternheimer menemukan bahwa setiap bagian dari tubuh mempunyai system vibrasi. Beberapa tahun kemudian Fabien dan Grimal menemukan bahwa suara, berefek pada sel kanker khususnya suara yang mempunyai efek yang kuat terhadap perubahan sel kanker itu sendiri. www.kaheel7.com Gambar 2.6 Perubahan sel Kanker yang hancur Karena Suara Al-Quran

Gambar diatas menunjukan suara lantunan Al-Quran mempunyai efek terbaik menghancurkan sel kanker yang tidak terobati. Suara Al-Quran yang dilantunkan

140

memberikan frekuensi yang merangsang sel secara keseluruhan. Suara dari telinga menuju sel otak dan mempengaruhi kerja otak, dan sel tubuh. Yang hanya dapat dirasakan dengan pengalaman dan pengulangan. . (www.kaheel7.com) Gambar 2.7 Perubahan sel darah merah karena Suara Al-Quran

Gambar diatas menunjukan sel darah merah yang dengan suara Al-Quran dapat melawan virus yang masuk kedalam kuat, ini menunjukan bahwa suara dapat meningkatkan imunitas tubuh dalam melawan penyakit. (www.kaheel7.com( 3.4 Zakat dan infaq sadaqah

141

Dalam Al-Quran surat AlBaqarah 2:110 Allah berfirman ”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. Zakat dan sadaqah adalah ibadah rohani amaliah, untuk kepentingan ijtima’i (masyarakat). kita diharapkan dapat berbagi dengan sesama, saling menolong, menciptakan keamanan diri, maupun lingkungan, pengentasan kemiskinan,

solidaritas sesama, keamanan akan membawa rasa tenang dan menjauhi kegelisahan. Menurut Quraish Shihab zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda, bila seseorang telah memenuhi syarat-syarat dituntut untuk menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tetapi kalau terpaksa ”dengan tekanan penguasa”, oleh karena itu agama menetapkan ”amilin atau petugas-petugas khusus yang mengelolanya, disamping menetapkan sanksi-sanksi duniawi dan ukhrawi terhadap mereka yang enggan. (Shihab, 1998:323) Landasan filosofis kewajiban Zakat menurut Quraish Shihab mengandung tiga aspek yaitu : (1) Istikhlaf (penugasan sebagai khalifah di Bumi), Allah sebagai pemilik alam semesta dan manusua dititipi kewajiban untuk memenuhi ketetapan yang digariskan Allah, dan zakat adalah ketetapan Allah menyangkut harta. Harta

142

benda menjadi sarana kehidupan untuk umat manusia dan harus diarahkan guna untuk kepentingan bersama. (2) Solidaritas Sosial sebagai mahluk sosial manusia, yang tidak dapat hidup tanpa masyarakat, dan hasil yang didapatnya betapapun seseorang memiliki kepandaian namun hasil material yang di perolehnya adalah berkat bantuan pihak-pihak lain. Manusia mengelola, tetapi Allahlah yang menciptakan dan memilikinya, dan wajar bila Allahpun memerintahkan untuk mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang diamanatkannya kepada seseorang untuk mepentingan orang lain (3) Persaudaraan, bahwa manusia berasal dari satu keturunan, hubungan persaudaraan bukan sekadar memberi dan menerima tapi juga memberi tanpa menanti imbalan, atau membatu tanpa diminta bantuan, terutama bila dalam satu lingkungan. Dampak zakat 1. Mengkikis kekikiran .Nabi bersabda ,”orang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia , dekat dengan neraka, sedangkan orang yang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan orang dan jauh dari neraka.”

143

2. Membentengi harta , dan menghindari musibah dalam Hadist Nabi bersabda ,”Bentengi hartamu dengan zakat, obatilah orang-orang sakit dengan sedekah, dan hadapilah berbagai musibah dengan doa.” 3. Membentengi badan dari dosa, sebagai mana firman Allah dalam surat QS. AtTaubah:103 artinya :”ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan diri dan mensucikan mereka 4. Memberi ketentraman batin dan kegembiraan kepada orang lain yang miskin 5. Membawa berkah dalam kelapangan rejeki sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Quran, Saba: 39 :” Dan barang siapa yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantikannya 3.5 Ibadah Haji/umroh Haji adalah rukun Islam ke-lima dengan syarat baliq, berakal dan mampu Surat Al-Imran 3:97. ”..; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta. Al-Baqarah 2:196 ,.... Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah Haji/umroh dilaksanakan sekali seumur hidup bila mampu, mengandung ibadah amaliah, jasmani, dan rohani karena didalamnya terkandung latihan fisik dan

144

latihan kesabaran. Dengan niat Haji dalam hati setiap umat Muslim ada gemuruh rasa aman, tenang dan bahagia. Umat muslim melatih dirinya dari beban fisik dan lelah. Dengan pakaian haji yang sama dan sederhana, mereka menanggalkan kemewahan, tidak membedakan tingkatan dan derajat, menguatkan semangat persaudaraan dari seluruh umat di dunia. Ketika Ihram umat muslim dilatih untuk mengekang hawa nafsunya dari syahwat, bertengkar, mencela, berdebat, tidak melakukan hal yang menimbulkan kefasikan. Berkata Qatadah:” Ketika Allah SWT memerintah kepada Ibrahim (Shalawat dan salam Allah atasnya dan atas Nabi kita Muhammad, serta hamba Allah yang terpilih) agar ia menyerukan kepada manusia, sesungguhnya Allah membangun sebuah rumah dan pergilah kamu kesana. Telah bersabda Rasullullah saw:”Barang siapa berhaji ke Rumah Allah (ka’bah) lalu ia tidak mengucapkan kata-kata kotor dan tidak pula melakukan perbuatan keji, maka ia terlepas dari dosa dosanya (sehingga menjadi suci bersih) seperti ketika bari dilahirkan oleh ibunya (bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah), Sabda beliau lagi ” Setan tidak pernah terlihat, suatu hari lebih kecil, lebih hina, lebih remeh, lebih marah dari pada wukuf di Arafah (malik dari Thalhah bin Abdullah bin Kuraiz secara mursal). (Al-Ghazali,2000:14) Dalam kitab Al-Ghazali diceritakn tentang Seseorang dari kalangan muqarrabin pernah ter-kasyaf-kan baginya sosok iblis di padang ’Arafah, waktu itu iblis tampak dalam bentuk seorang manusia yang kurus dan pusat dalam keadaan menangis dan punggungnya bungkuk

145

”Mengapa engkau menangis , wahai Iblis?” tanya orang itu . :Oh, aku menangis karena melihat orang-orang mengerjakan ibadah haji secara tulus, tidak dicampuri oleh usaha perdagangan apapun. Dan aku khawatir bahwa segala permohonan mereka akan dikabulkan, itulah sebanya aku menangis,”jawab iblis. ”Lalu apa yang menyebabkan engkau kurus kering ?” ”Suara ringkik kuda fi sabillillah (di jalan Allah), tetapi dijalanku tentunya hal itu lebih kusukai. ”Dan apa yang menyebabkan engkau pucat ”kerja sama dan saling tolong-menolong antara manusia dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah . Seandainya mereka saling tolong-menolong dalam kemaksiatan, tentunya lebih kusukai ”Dan apa yang menyebabkan punggungmu menjadi bungkuk?” ”Doa manusia memohon Husn al-khatimah (akhir hidup dalam kebaikan) . Setiap kali aku mendengar seperti itu, aku berkata kepada diriku:”Betapa celakanya aku !Bila orang ini akan berbangga dan terkelabui oelh amalannya? Aku khawatir ia cukup waspada terhadap tipu dayaku,” Syarat-syarat sahnya Haji ada dua yang berkaitan dengan keislaman seseorang dan waktu pelaksanaannya. Haji dianggap sah apabila dilakukan oleh seorang Muslim, walaupun belum dewasa. Seorang anak yang mumayyiz (kira-kira berusia enam tahum keatas dan sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk) hendaklah ia meniatkan (ihram) haji atas namanya sendiri. Tetapi apabila ia masih

146

terlalu kecil belum mumayyiz, maka walinya yang meniatkan (ihram) untuknya, lalu diajak bersama-sama mengerjakan apa yang harus dikerjakan dalam haji seperti thawaf, sai dan lain-lain Syarat kedua berkaitan dengan sahnya ibadah Haji, Ialah waktu

pelaksanaannya, yaitu dimulai bulan syawal, Dzulkaidah dan sembilan hari pertama bulan Dzulhijah sambai terbit fajar hari kesepuluh atau yang disebut juga Yaum anNahr (hari Raya Haji – Penerjemah) maka barang siapa yang ber-ihram untuk haji diluar waktu-waktu tersebut, maka ihramnya beralih menjadi ”umroh. Rukun-rukun haji terdiri lima yaitu :ihram, thawaf, sai (setelah thawaf), wukuf di padang ”Arafah dan bercukup. Begitu juga Rukun Umroh kecuali wukuf di ’Arafah. Cara-cara melaksanakan Haji dan Umroh (1) Ifrad yaitu dengan menyelesaikan haji dahulu secara sempurna. Setelah

selesai dari amalan haji , lalu melakukan umroh dan kemudian amalan umrah. (2) Qiran, yaitu meniatkan haji dan umroh bersama-sama dengan mengucapkan Labaika bi hajjatin wa’umrotin ma’a (atau ma’an). Ya Allah, aku bertalbiyah (memenuhi panggilan-Mu) dengan melakukan haji dan umrah. (3) Tamattu adalah melakukan amalan-amalan umrah lebih dahulu pada bulanbulan haji dan setelah itu baru melaksanakan amalan haji. Masalah keutamaan mana yang paling utama dari ketiga cara haji diatas dari ke- empat mahzab, mempunyai beberapa pendapat seperti: (Mughniyah 2005:223)

147

Syafi’i: ifrad dan tamatu lebih utama dari Qiran. Hanafi berpendapat qiran lebih utama dari pada keduanya. Menurut Maliki, ifrad lebih utama dari yang lain, sedangkah hambali dan imamiyah berpendapat tamattu lebih utama. (al-fiqhu ’ala AlMadzahid Al-arba’ah, AL-Mughni, Mizan AL-Sya’rani, dan Fiqhus Sunnah, jillid 5) Masalah membayar qurban, ulama bersepakat bahwa haji ifrad tidak

diharuskan memberikan kurban, tetapi bila ingin juga memberi kurban secara sukarela itu lebih baik Haji dan kesehatan. Bila kita menunaikan Haji , maka kita dapat menikmati air zamzam. Air ini ditemukan oleh Siti Hajar dan Ismail anaknya ketika mereka berdua saja di padang pasir Mecca dalam keadaan sangat haus. Air zamzam yang tidak pernah habis , walaupun diminum oleh bermilyar-milyar orang sejak jaman Siti Hajar sampai dengan sekarang abad 21 ini. Air zamzam kaya akan mineral dan berkhasiat untuk berbagai macam penyakit, tidak mengandung bakteri, tidak berbau, tidak berwarna, dengan kadar keasaman 7,5, mengandung 30 jenis mineral, yang terbanyak adalah natrium, magnesium, fluor. Menurut penelitian dari lebih 50 penelitian di 9 negara terdapat hubungan antara air yang kekurangan zat magnesium dan kalsium. Penambahan kalsium dan magnesium pada air minum akan mengurangi angka kematian akibat penyakit jantung, hal ini berhubungan dengan fungsi magnesiup dalam berbagai biokimia dan fisiologi tubuh (Bahar Azwar,2007:37)

148

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Dan Desain Penelitian Metoda penelitian yang peneliti gunakan adalah metoda survei yaitu penelitian dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan, dalam hal ini peneliti melakukan penelitian di puskesmas dan kunjungan kerumah pasien, mengambil data yang terjadi pada saat penelitian dilakukan, dan mengadakan pengolahan data secara kuantitatif dengan bantuan SPSS 13. B. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini variabel yang diungkap adalah Variabel X1 : Motivasi ibadah Variabel X2 : Kekebalan stress Variabel Y : Pencegahan Gangguan Psikosomatik

C. Definisi Operasional a. Motivasi Ibadah Motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada seseorang untuk melakukan sesuatu aksi atau tindakan dengan tujuan tertentu yang dikehendakinya. Motivasi

149

mempunyai beberapa 4 indikator yang meliputi ,attenton, relevance. Confidence, satisfaction. Skala motivasi Ibadah yang diukur meliputi Ibadah Shalat, puasa,

shadaqah, zikir, membaca Al-Quran, ibadah Haji. Indikator motivasinya meliputi mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Attention, perhatian terhadap ibadah, bagaimana frekwensinya, persistensinya, apa kandungan maknaannya, bagaimana adakahperhatiaannya terhadap ibadah . 2. Relevansinya, motivasi ibadahnya dengan kebutuhannya, apakah ibadah dapat memenuhi kebutuhan rohani, jasmani, spiritual, bagaimana manfaatnya secara pribadi atau terhadap orang lain. 3. Confidence. Kepercayaan bahwa ibadah yang dilakukannya dapat meningkatkan percaya diri, bahwa ia mampu menjalani kehidupan ini, mengatasi masalah dan tekanan. 4. Satisfaction (kepuasan), Motivasi ibadah dapat memberikan kepuasan kepada seseorang karena ia dapat memjadi sehat, jasmani, rohani dan akal. Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai berikut: Tabel 3.1 Operasional Variabel Penelitian Variabel Motivasi beribadah (X1) Indikator Ibadah Motivasi Subindikator Syukur iklash Attention dan No soal Positif 18,19 1,4 Negatif Item

150

Sholat

Relevance Confidence Satisfaction Attention Relevance Confidence Satisfaction Attention Relevance Confidence Satisfaction Attention Relevance Confidence Satisfaction Attention Relevance Confidence Satisfaction Attention Relevance Confidence Satisfaction

2 3 1 7 5 6 6 8 8 10 9 12 11 12 13 17 16 16 16 14 15 15

Motivasi Puasa

Motivasi shadaqah

Motivasi Membaca Al-Quran Zikir

Motivasi haji

Kriteria penilaian Tabel 3.2 Kriteria penilaian Motivasi Ibadah Kriteria ibadah Baik Sedang Buruk Nilai 19 – 38 39 - 57 58 - 95

151

b.1 Kekebalan Stress adalah tingkat stress seseorang yang diukur dengan sebuah skala yaitu skala Smith dan Miller , bila kekebalan terhadap stress baik , maka seseorang menjalankan pengelolaan stress yang baik, maka kekebalan stressnya pun menjadi baik. Kuesioner di buat hasil adaptasi dari skala ini. Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai berikut: Tabel 3.3 Operasional Variabel Penelitian Kekebalan Stress Variabel Indikator Subindikator No soal Positif Kekebalan stress (X2) Kekebalan Stress Skala Miller & Smith
Jumlah angka score kurang dari 30, orang tersebut kebal, Score diatas 30 kurang kebal dan score diatas 50 yang bersangkutan tidak kebal terhadap stress

Item Negatif

Olah raga Kesehatan Rekreasi Kasih sayang Sosio ekonomi Pergaulan Rokok Tidur Makanan, minuman Waktu Agama Mengatasi masalah

5 7 15 3,4 10 9 11,14 6 2 1,19 16 10 12,13,19

Pengukuran Skala Holmes Nilai maslah yang dialami

Skala diatas 300 menunjukan bahaya

152

Kriteria Penilaiannya adalah sebagai berikut. Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Kekebalan Stress: Kriteria kekebalan stress Baik Sedang Buruk b.2.Skala Holmes Dengan skala ini kita dapat mengetahui sejumlah faktor yang mempengaruhi penyebab stress. Masing-masing faktor diberi nilai, kalau seseorang dalam setahunnya mendapatkan jumlah score melampaui 300, hal ini menunjukan bahwa ia sudah dalam keadaan bahaya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: Tabel 3.5 Skala Holmes No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Item Kematian Suami/istri Kematian keluarga dekat Perkawinan Kehilangan jabatan Pensiunan/Pengasingan diri Kehamilan istri Kesulitan sex Tambah anggota keluarga baru Kematian kawan dekat Konflik suami/istri Menggadaikan rumah Perubahan dalam tanggung jawab pekerjaan Konflik dengan ipar , mertua, menantu Perasaan tersinggung atau penyakit Rujuk dalam perkawinan Perubahan kesehatan seseorang anggota keluarga Perubahan dalam status keuangan perceraian Peralihan jenis pekerjaan Tanda Score 100 63 50 47 45 40 39 39 37 35 31 29 29 53 45 44 38 65 36 Nilai 17 – 34 35 - 51 52 - 85

153

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

Mencegah terjadinya penggadaian/pinjaman Anak laki-laki/perempuan meninggalkan rumah Prestasi pribadi yang luar biasa Istri mulai atau berhenti bekerja Kesulitan dengan atasan Tukar tempat tinggal Perubahan dalam hiburan Pinjaman dengan rumah sebagai jaminannya Perubahan dalam jumlah pertemuan keluarga Pelanggaran ringan Menukar kebiasaan pribadi Perubahan jam kerja/syarat kerja Tukar sekolah Tukar kegiatan sosial Tukar kebiasaan tidur Perubahan dalam kebiasaan makan Berlibur total

30 29 28 29 23 20 19 17 15 11 24 20 20 18 16 15 13

Penilaian : 0 - <150 150 –199 200 – 299

Tidak ada kemungkinan untuk stress akibat penyakit Tingkat krisis hidup ringan ----> kemungkinan terkena penyakit 35 % Tingkat krisis hidup sedang ----> Kemungkinan terkena Penyakit 50 %

300 atau Lebih Tingkat krisis hidup berat ----> Kemungkinan terkena penyakit 80 % c.Pencegahan Gangguan Psikosomatis Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis yang disebabkan karena gangguan psikis Gejala Psikosomatik terdiri dari a. Gejala depresi b. Gejala Ansietas c. Dispepsia fungsional

154

4. Nyeri psikogenik 5. Penyakit Jantung fungsional 6. Chronic Fatique Syndrome 7. Penyakit Kolon iritabel Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai berikut: Tabel 3.6 Operasional Variabel Penelitian Pencegahan Gangguan Psikosomatik Variabel Indikator Subindikator Positif Gangguan Psikosomatik (Y) Anxietas & ,1011,12,13, 14,15, 16,17,18,19, Kriteria Penilaian Variabel Pencegahan Gangguan Psikosomatik: Tabel 3.7 Penilaian Kriteri Pencegahan Gangguan Psikosomatik Kriteria Pencegahan Gangguan Psikosomatik Psikosomatik Bukan Psikosomatik (baik) Nilai 38 - 95 19 - 38 Psikosomatis Depresi 8 No soal Negatif 1,2,3,4,5,6,7 ,9 Item

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

155

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.(Arikunto, 2002: 108) Populasi penelitian yang dipakai penulis meliputi beberapa pasien dewasa yang datang dalam kurun waktu 1 bulan ke Puskesmas Astapada. Pada bulan desember 2007.

2. Sampel Adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Disini yang dimaksud adalah untuk mengangkat kesimpulan penelitian sabagai sesuatu yang berlaku bagi populasi (Arikunto, 2002: 109) Diharapkan sampel yang diambil dari sampel pasien yang disurvei selama 1 bulan bisa dipakai sebagai kesimpulan penelitian penulis. Tentang pengaruh antara motivasi beribadah dan kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan

psikosomatik. Karakteristik pasien yang digunakan pada penelitian ini adalah pasien dewasa yang berkunjungan ke Puskesmas Astapada. Diambil sampel dengan kriteria umur antara 20 – 50 tahun, dengan berbagai keluhan, antara lain, Hipertensi, mialgia, asma, depresi, anxietas. Gangguan pencernaan. Tehnik Sampling yang digunakan adalah porposive dan, dilakukannya purposive sample dengan tujuan tertentu, sesuai dengan pertimbangan penulis,

156

karena penulis sehari-hari bekerja di tempat penelitian dilaksanakan sehingga sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti. E. Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini penulis mengambil sumber data secara primer yaitu data yang diambil peneliti langsung dari kunjungan pasien di puskesmas, dan kunjungan langsung kerumah pasien atau responden dengan menggunakan daftar pertanyaan , wawancara , ataupun observasi. F. Tehnik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penyusunan tesis ini adalah sebagai berikut: 1. Kuesioner : dengan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dan kuesioner yang di gunakan peneliti adalah model kuesioner tertutup, dimana sudah disediakan jawabannya sehingga respondennya tinggal memilih, jawabannya bersifat langsung (menjawab tentang dirinya ). Disini digunakan juga skala stress holmes untuk mengukur stress , skala pengukuran kekebalan stress Miller dan smith, skala untuk mengukur gejala depresi, anxitas, dan kelainan psikosomatis 2. Observasi adalah kegiatan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian dengan mencatat, mendengar, memeriksa secara langsung pasien, peneliti mengkolaborasi hasil observasi dengan wawancara, dan kuesioner, sehingga observasi menjadi observasi yang sistematis (berpedoman dan

157

memakai istrumen yang telah dibuat sebagai bagian dalam mencari data tersebut). 3. Wawancara : dengan tanya jawab langsung, penulis mengadakan wawancara langsung, untuk mendapatkan data dan informasi secara langsung.

Pelaksanaannya secara terpimpin dibekali dengan kuesioner yang telah disediakan oleh penulis sendiri. G. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data .Peneliti menggunakan tifa daftar pertanyaan untuk tiga variabel yang di teliti, daftar pertanyaan yang digunakan dibuat oleh peneliti berdasarkan teori-teori yang ada dalam pembahasan, dan alternatif jawaban alat ukur disajikan peneliti dengan menggunakan skala pengukuran likert . Skala model likert digunakan dalam pertanyaaan angket yang bergradasi pada salah satu dari 5 kemungkinan, disini responden diminta untuk membaca dengan seksama setiap pertanyaan yang terdapat dalam format dengan lima pilihan, bila jawabannya sangat positif maka ditempatkan pada pilihan yang pertama dan yang terakhir sebagai pilihan yang paling negatif. Dengan kategori sebagai berikut.

a.Untuk Pertanyaan yang bersifat positif maka kategori jawaban dan skor nya adalah :

158

Tabel.3.8 Skor Jawaban Item Soal Bersifat Positif Kategori Jawaban Setuju Sekali Setuju Kurang setuju Tidak setuju Sangat tidak setuju Skor nilai 5 4 3 2 1

b. Pertanyaan yang bersifat negatif maka score akan terhitung sebagai berikut Tabel 3.9 Skor Jawaban Item Soal Bersifat Negatif Kategori Jawaban Setuju Sekali Setuju Kurang setuju Tidak setuju Sangat tidak setuju Skor nilai 1 2 3 4 5

H. UJI VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMENT PENELITIAN 1.Uji Validitas Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam mengukur suatu data. (Hastono, 2001:48) Validitas tes adalah tingkat suatu tes mampu mengukur apa yang hendak di ukur. (Arikunto,2005: 170) dengan uji validitas kita dapat melihat apakah instrumen yang akan diuji sudah valid untuk dijadikan alat uji penelitian. Pada tesis ini Peneliti mengunakan program komputer. SPSS 13 for Windows .SPSS for window adalah sngkatan dari statistical program for social science, yang

159

merupakan sebuah

program untuk mengolah dan menganalisa data penelitian.

Adapun cara singkat penggunaan SPSS ini dapat dilihat dilampiran halaman ini. Untuk mengukur validitas instrumen .Tehnik korelasi yang dipakai adalah tehnik Korelasi” Product Momen” yang dirumuskan sebagai berikut :

r=

{N ∑ X

N ( ∑ XY ) − ( ∑ X )( ∑ Y )
2

− (∑ X )

2

}{N ∑ Y

2

− (∑Y )

2

}

Keterangan : rxy N X Y = Koefisien validitas = Jumlah responden = Skor item = Skor total

Hasil yang signifikans didapat dengan menilai hasil korelasi (rxy) dibandingkan dengan nilai kritik r. Validitas yang cukup tinggi didapat bila r hitung (rxy) lebih besar dari nilai r tabel . Keputusan Uji, Bila r hitung lebih besar dari pada r tabel maka Ho ditolak artinya variabel valid, sedangkan bila r hitung lebih kecil dari pada r tabel maka Ho gagal ditolak, artinya variable tidak valid. 2.Uji Reliabilitas

160

Reliabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih gejala yang sama dan dengan alat pengukur yang sama (Hastono, 2001:48) Pada penelitian ini digunakan tehnik belah dua (split halve method). Yang telah disusun dibelah atau dibagi dua, pertanyaan yang valid dihitung sedang yang tidak valid dibuang, kemudian melakukan uji korelasi dengan rumus korelasi produc moment.

I. Tehnik Analisa Data Data kuantitatif yang dapat setelah dikumpulkan kemudian dikelola secara statistik.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan korelasi Product Moment dari Karl person. Analisis korelasi digunakan untuk mengukur derajat hubungan antar variable X1 (motivasi ibadah) dan X2 (kekebalan stress) dengan variabel Y (gangguan psikosomatik), dengan rumus sebagai berikut : 1. Menentukan nilai korelasi n ∑x1y – (∑x1) (∑y) rx1y = √ {n∑x12– (∑x1)2 } { n∑y2 – (∑y)2 } n ∑x2y – (∑x2) (∑y) rx2y = √ {n∑x2 2– (∑x2)2 } { n∑y2 – (∑y)2 } n ∑x1x2 – (∑x1) (∑x2) rx2x1 = √ {n∑x12– (∑x1)2 } { n∑x22 – (∑x2)2 }

161

ryx1x2 =

r2yx1+r2yx2-2ryx1ryx2ryx1x2 1-r2x1x2

2. Menentukan Interprestasi Nilai korelasi Menurut Colton kekuatan hubungan dua variable secara kualitatif dapat di bagi dalam 4 area, yaitu > 0,76 - <1,00 > 0,51 - < 0,75 > 0,26 - < 0,50 > 0,00 - < 0,25 = Sangat kuat/sempurna = Kuat = Sedang = Lemah/tidak ada hubungan

3. Uji Signifikan dengan rumus R2 k ( 1 – R2 ) ( n – k - 1)

F=

Data kuantitatif yang dikumpulkan diolah dengan rumus-rumus statistik yang sudah tersedia, bila telah terkumpul data maka dikelompokkan, bila itu data kuantitatif maka akan berbentuk angka-angka. bila berbentuk kualitatif dinyatakan dengan kata-kata dan simbol. Data yang didapat dari angket dan cek list dijumlahkan atau dikelompokan sesuai dengan instrumen yang digunakan. Dalam Penelitian ini digunakan SPSS 13 untuk membantu mendapatkan angka yang lebih akurat dan lebih cepat.

162

Dalam penelitian ini juga digunakan uji Analisis Regresi linier ganda, yang merupakan perluasan dari regresi linier sederhana. Karena pada analisis ini terdapat beberapa variabel independen (motivasi ibadah, dan Kekebalan stress) dan satu variabel dependen (Pencegahan Gangguan Psikosomatik).Cara menggunakan Program SPSS dengan ini dapat dilihat pada lampiran.

J. Rancangan dan Jadwal Penelitian Tabel 3.10 Jadwal Penelitian No 1 2 3 4 Kegiatan november Penyusunan Proposal penelitian v Pengumpulan data Pengolahan dan analisa data Penyusunan tesis desember v v v v v v januari februari

BAB IV ANALISA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Puskesmas Astapada

163

Wilayah kerja UPTD Puskesmas Astapada terletak di Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon dengan luas wilayah 577,748 Ha. Puskesmas Astapada mempunyai jumlah Desa binaan 8 Desa dengan jumlah penduduk saat ini adalah 37.008 jiwa. Wilayah kerja Puskesmas berbatasan dengan di sebelah utara dengan kecamatan Kedawung, sebelah selatan dengan Kecamatan Talun, Sebelah barat

dengan Kecamatan Plered, dan sebelah timur berbatasan dengan Kodya Cirebon. Mata pencaharian penduduk di Puskesmas Astapada sebagian besar adalah buruh sebanyak 9.671 orang (26,1 %). Dan hanya sebagian kecil yang menjadi pedagang sebanyak 3.109 orang (8,4 %), pengusaha sebanyak 2.629 orang (7,1 %) petani sebanyak 1.366 orang (3,7 %) dan PNS/ TNI POLRI sebanyak orang 398 orang (1,0 %). Sebagian besar penduduknya adalah buruh, hal ini tentunya akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Kondisi tersebut diatas jelas tidak menguntungkan bagi kesehatan masyarakat itu sendiri, karena status ekonomi yang masih rendah juga berperan penting dalam mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat . Rata-rata penduduknya tamatan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 8.749 orang ( 23,6 %) dan hanya sebagian kecil yang tamat SLTP sebanyak 2.818 orang (7,6 %) dan lulus SLTA sebanyak 2.552 orang ( 6,8 %) serta sedikit sekali yang lulus Perguruan Tinggi sebanyak 630 orang ( 1,7 %), sehingga Sumber daya Masyarakat (SDM) di wilayah Puskesmas Astapada sangat rendah dan kurang mendukung dalam pelaksanaan program pembangunan kesehatan maupun program lainnya.(Sumber Desa 2006)

164

Sebagai Pusat kesehatan Masyarakat Puskesmas merupakan pengembangan, pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat yang sekaligus merupakan pos terdepan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dasar (UPTD) Puskesmas Astapada adalah unit organisasi dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon yang berfungsi melaksanakan tugas tehnis dan administrative pada pelayanan tingkat dasar, merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional, sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat serta pusat pelayanan kesahatan strata dalam bentuk kegiatan pokok sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Visi Puskesmas Astapada adalah “ Mewujudkan Puskesmas Astapada yang berkualitas dalam pembangunan berwawasan kesehatan dengan meningkatkan mutu pelayanan masyarakat dan peningkatan sumber daya petugas menuju Indonesia Sehat 2010” Misi Puskesmas Astapada , untuk mewujudkan visi diatas maka memiliki misi sebagai berikut: 1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat 3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan 4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya

165

5. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), kemitraan, kualitas dan profesionalisme pelaksanaan pelayanan kesehatan.

B. Pengujian Instrumen Penelitian Pengujian instrumen peneltian ditujukan untuk mencari apakah butir soal yang akan diteliti sudah valid dan reliabel untuk dipakai sebagai alat ukur yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Uji coba instrumen dilaksanaka pada 200 orang responden yang datang sebagai pasien ke Puskesmas Astapada. 1. Hasil uji Validitas Uji coba dari 55 butir soal yang dibagikan kepada 200 orang responden dimaksudkan untuk mendapatkan keabsahan (valid) yang akan digunakan untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan korelasi skor butir dengan skor pengujian instrumen, Dari 55 soal dikelompokan dalam tiga variabel pengujian yang dibuat berdasarkan indikator dari masing-masing bidang tersebut, Yaitu Variabelvariabel motivasi ibadah (X1), kekebalan stress (X2) dan pencegahan gangguan Psikosomatik (Y). Kemudian analisa dilakukan terhadap instrumen melalui program SPSS 13 dimana batas angka tabel (r kritis) adalah 0,05. Kriteria pengujian adalah dengan membandingkan antara r hitung dengan r tabel. Jika r hitung lebih besar atau same dengan r tabel maka instrumen penelitian dianggap valid sebaliknya bila r hitung lebih kecil dari pada r tabel maka dianggap tidak valid sehingga instrumen tersebut bila tidak valid tidak dapat lagi digunakan dalam penelitian.

166

Instrumen penelitian diberikan kepada 200 orang ini dapat dijadikan syarat minimal dalam memberikan tanggapan dan penilaian secara obyektif, jujur dan transparan sesuai dengan keadaan yang di teliti. Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen penelitian kepada 200 dengan taraf significan 0,05 (5%) dipakai uji satu arah dari r tabel didapat hasil adalah r = 0,194. Hasil uji validitas selanjutnya untuk masing-masing variabel dapat di lihat dengan tabel sebagai berikut: a) Variabel Motivasi Ibadah (X1) Berdasarkan kajian teori tentang Motivasi Ibadah yang di analisa dalam bentuk premis , ditentukan 4 indikator yang dikembangkan menjadi 19 soal butir Ke 19 butir soal kemudian di uji dengan Uji validitas, bila soal menunjukan r hasil lebih besar dari r tabel maka soal ini dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Dan soal itu disebut valid atau sahih.

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Validitas Instrumen Variabel Motivasi Ibadah (X1)

167

No Item soal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19.

r kritis 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194

r hasil 0,550 0,259 0,563 0,398 0,545 0,606 0,484 0,404 0,486 0,403 0,565 0,492 0,601 0,340 0,365 0,658 0,412 0,460 0,368

Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Dari hasil pengujian 19 soal dari variabel motivasi beribadah (X 1), pernyataan berdasar data diatas menunjukkan keseluruhannya adalah valid (sahih) dan dapat digunakan untuk dasar melakukan penelitian dan perhitungan statistik. (Data SPSS 13 dapat dilihat dalam Lampiran)

2.Variabel Kekebalan Stress (X2)

168

Berdasarkan kajian teori yang dianalisa dari hasil modifikasi skala Miller dan Smith maka dikembangkan 17 butir soal yag diberikan kepada 200 orang responden Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen penelitian kepada 200 orang responden dengan taraf signifikansi 0,05 (5%) dipakai uji satu arah dan didapat r tabel sebesar 0,194 maka hasil uji validitas dala dilihat pada tabel berikut ini: Tabel. 4.2 Hasil Pengujian Validitas Instrumen kekebalan Stress (X 2) No Item soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 r kritis 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 r hasil 0,371 0,318 0,282 0,238 0,369 0,204 0,259 0,322 0,270 0,413 0,303 0,268 0,293 0,255 0,311 0,249 0,277 Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

169

Hasil pengujian untuk variabel kekebalan stress (X2) dari 17 butir pernyataan berdasarkan data diatas menunjukan seluruhnya valid dan dapat digunakan sebagai instrumen pelaksanaan penelitian selanjutnya (Data SPSS 13 dapat dilihat pada Lampiran). 3. Variabel Pencegahan Terhadap Gangguan Psikosomatik (Y) Tabel. 4.3 Hasil Pengujian Validitas Instrumen variabel Gangguan Psikosomatik (Y) No Item soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 r kritis 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0.194 0,194 r hasil 0,368 0,528 0,327 0,453 0,570 0,568 0,377 0,473 0,494 0,479 0,294 0,480 0,543 0,559 0,495 0,516 0,494 0,448 0,473 Keputusan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Hasil Uji validitas untuk variabel Gangguan Psikosomatik (Y) dari 19 butir instrumen diatas menunjukkan seluruhnya valid dan secara keseluruhan semua butir pernyataan diatas dapat dipakai sebagai pernyataan kuesioner dan dapat menjadikan

170

dasar dalam melaksanakan penelitian dan perhitungan statistic (Data SPSS 13 dapat dilihat di Lampiran). 2 .Hasil Uji Reabilitas Pengujian terhadap koefisien reliabilitas instrumen dimaksud untuk melihat konsistensi jawaban butir-butis soal yang diberikan kepada responden. Untuk menguji reliabilitas ini digunakan alat dengan metode belah dua (split half) yaitu metoda yang mengkirelasikan stor totalk ganjil lawan genap selanjutnya dihitung reabilitasnya dengan menggunakan rumus ”Alpha Cronbach”’ Perhitungan dengan menggunakan Program SPSS 13 di komputer.

’ Dengan jumlah responden sebanyak 200 orang didapat r tabel (r kritis) adalah 0,194 dengan jumlah responden sebanyak dan hasil perhitungan dengan SPSS 13 didapat cronbach’s Alpha sebesar 0,850 dari 19 soal motivasi ibadah, sedangkan cronbach’s Alpha sebesar 0,494 dari 17 soal kekebalan stress, cronbach’s Alpha sebesar 0,864 dari 19 soal pencegahan gangguan Psikosomatik Cronbach’s Alpha ( α ) yang didapat karena hasil

lebih besar dari pada r tabel sehingga

171

menunjukan bahwa instrumen penelitian ini adalah bersifat reliabel. Dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Hasil pengolahan data uji coba instrumen penelitian baik validitas maupun realibitas dengan menggunakan program SPSS selengkapnya dapat dilihat pada lampiran (realibity).

C.Deskripsi Data Jumlah responden yang diberi kuesioner sebanyak 200 orang, responden didapat antara lain yang berobat ke Puskesmas sejak tanggal 6 februari sampai dengan 30 desember 2007 , beberapa kuesioner ada yang dibawa pulang ada yang di isi dan di wawancara di Puskesmas, 1. Berdasarkan jenis kelamin. Jumlah wanita sebanyak 87 orang (43.5 %) orang dan laki-laki sebanyak 113 orang (56,5 %) . 2. Berdasarkan Pendidikan adalah sebagai berikut: a. SD b. SMP c. SMA d. Perguruan Tinggi : : : : 13 97 orang (48,5 %) 34 orang (17,0 %) orang ( 6,5 %)

56 orang (28,0 %)

172

Terbanyak yang menjadi responden adalah yang mempunyai pendidikan rendah yang sebanyak 48 % yang SD dan 34 orang yang SMP 3. Berdasarkan Ekonomi didapat, sebagian besar mempunyai taraf ekonomi yang Rendah sebanyak kurang lebih 81 persen , dan hanya 19 % yang penghasilannya diatas 1 juta. a. Penghasilan < 500 ribu sebanyak 44 orang (22 %) b. Penghasilan 500 ribu – 1 juta sebanyak 118 orang (59 %) c. Penghasilan diatas 1 juta sebanyak 38 orang (19 %) 4. Dari hari 200 orang yang diperiksa didapatkan data hampir 63 % dengan kriteria motivasi Ibadah baik, 37 % dengan motivasi ibadah yang sedang . Tabel. 4.4 Deskripsi Hasil kuesioner Motivasi Ibadah Kriteria Motivasi Ibadah Baik Sedang Buruk Total persentase 63,0 % 37,0 % 0 % 100 % frekwensi 126 orang 74 orang 0 orang 200 orang

5. Dari 200 responden yang diperiksa, responden yang mempunyai kekebalan stress yang baik adalah sebanyak 52 orang atau 26 %, yang mempunyai kekebalan stress yang sedang sebanyak 148 orang 74 % Tabel. 4.5 Hasil Deskripsi Kekebalan Stress Kriteria Kekebalan stress Baik Sedang Frekwensi 52 orang 148 orang Persentase 26 % 74 %

173

6. Pada variabel gangguan psikosomatik, responden yang menderita tidak menderita gangguan psikosomatik adalah sebanyak 149 orang 74,5 % dan yang mengalami gangguan psikosomatik 51 orang atau 25,5 %, dari 200 responden yang diteliti.

Tabel. 4.6 Hasil Deskripsi untuk Variabel Pencegahan Gangguan Psikosomatik Kriteria Dengan Pencegahan Gangguan Psikosomatik Bukan Psikosomatik Psikosomatik Total Frekwensi 149 Orang 51 Orang 200 Orang Persentase 74,5 % 25,5 % 100 %

7.

Dari skala Holmes digunakan untuk melihat stresor psikososial yang ada. Sehingga dengan kuesioner ini kita mengetahui sampai sejauh mana masalah yang dihadapi responden dalam satu tahun terakhir, apakah mempunyai stresor psikososial yang membahayakan atau tidak. Hasil yang didapat. responden yang mengalami masalah sampai pada taraf yang membahayakan adalah sebanyak 2 orang saja, sedangnya yang 200 orang mempunyai masalah yang tidak pada tahap yang berbahaya. Tabel. 4.7 Deskripsi Masalah Yang Dihadapi Responden Kriteria Holmes < 300 = tidak berbahaya > 300 = berbahaya Frekwensi 198 2 Persentase 98 2

174

8. Distribusi antara motivasi ibadah dan pencegahan psikosimatik Tabel 4.8 Distribusi Responden Menurut Kriteria Motivasi Ibadah Dan Pencegahan Gangguan Psikosomatik
Pencegahan Gangguan Psikosomatik Baik 126 (100%) 23 (31,1%) 149 (74,5%) Psikosomatik 0 (0%) 51 (68,9%) 51 (25,5%) Total

Motivasi Ibadah

Baik Sedang Total

126 (100%) 74 (100%) 200 (100%)

Hasil tabel diatas menunjukan bahwa dengan menurunnya motivasi ibadah makin meningkat angka kejadian gangguan psikosomtik, dari 200 orang responden, 51 orang mengalami psikosomatik ringan, and semuanya mempunyai motivasi ibadah sedang 9. Distribusi frekwensi kekebalan stress dan pencegahan psikosomatik Tabel 4.9 Distribusi Responden Menurut Kriteria Kekebalan Stress Dan Pencegahan Gangguan Psikosomatik Pencegahan Gangguan Psikosomatik Baik Psikosomatik 52 (100%) 0 (0%) 97 (65,5%) 51 (34,5%) 149 (74,5%) 51(25,5%) Total 52 (100%) 148 (100%) 200 (100%)

Kekebalan Baik Stress Sedang Total

175

Makin rendahnya kekebalan stress, makin tingginya angka kejadian gangguan psikosomatik. Dari 148 responden yang mempunyai kekebalan stress sedang , yang mengalami gangguan psikosomatik sebanyak 51 orang. Atau 34,5 %, sedangkan yang mempunyai kekebalan stress yang baik tidak ada yang mengalami gangguan psikosomatik. 10. Distribusi Frekwensi Item Jawaban variabel Motivasi Ibadah Tabel 4.10 Frekwensi Jawaban Motivasi Ibadah
No 1 2 3 Soal f
Dengan shalat hatiku cemas jadi hilang Kalau kesedihan melanda aku jadi banyak shalat Shalat tahajud bagiku dapat menyembuhan kegelisahanku Shalat tahajud aku kerjakan dengan teratur Bagiku puasa menyehat badanku dan menyembuhkan sakitku Dengan puasa aku jadi lebih sabar Puasa menjadi kebiasaanku untuk mendekatkan diri pada Allah SWT Bagiku sodakhah tidak harus dengan uang Dengan sodakhah hatiku jadi makin bahagia

SS %
32,5 20 26

f
128 118 132

S %
64 9 66

f
4 27 13

Ks %
2 13,5 6,5

Ts f
3 12 3

%
1,5 6 1,5

f
0 3 0

STS %
0 1,5 0

65 40 52

4 5

16 44

8 22

88 141

44 70.5

66 11

33 5,5

26 4

13 2

4 0

2 0

6 7

86 87

43 43,5

103 102

51,5 51

10 10

5 5

1 1

0,5 0,5

0 0

0 0

8 9

54 50

27 25

137 140

68,5 70

7 9

3,5 4,5

2 1

1 0,5

0 0

0 0

176

10

Dengan sodakhah pasti Allah akan membalasnya berlipat ganda Al-Quran adalah obat jiwaku yang sedang gelisah Aku membaca Al-Quran setiap hari beserta artinya Aku merasa Al-Quran adalah penyejuk hati nasehat yang menyejukan jiwa Aku berniat haji , mudahmudahan Allah memberi rizki Mulai saat ini aku menabung sedikit demi sedikit untuk naik haji Aku merasa zikir dapat menyenangkan jiwa dan mengurangi kegelisahanku aku melakukan zikir setiap waktu .Aku merasa hidupku penuh rasa syukur dan barokah Aku percaya apa yang aku usahakan (harta, uang, mobil, rumah) didunia ini adalah titipan Allah.

103

51,5

89

44,5

6

3

2

1

0

0

11

59

29,5

129

64,5

10

5

2

1

0

0

12 13

15 68

7,5 34

82 125

41 62,5

76 7

38 3,5

25 0

12,5

2 0

1 0

0

14

76

38

110

55

10

5

3

1,5

1

0,5

15

45

22,5

95

47,5

30

15

28

14

2

1

16

52

26

139

69,5

8

4

1

0,5

0

0

17 18

34 43

17 21,5

97 151

48,5 75,5

53 6

26,5 3

13 0

6,5 0

3 0

1,5 0

19

112

56,0

79

39,5

8

4

1

0,5

0

0

Dari tabel frekwensi Motivasi ibadah, dari 19 item pertanyaan, 16 item pertanyaan mempunyai jawaban yang baik. Hampir diatas 80 % setuju dengan jawaban yang pernyataannya positif, seperti setuju bahwa shalat dapat

menghilangkan kecemasan, puasa dapat menyembuhkan sakit, dan memberikan kesabaran, hanya 3 pertanyaan yang jawabannya agak timpang yaitu terutama dalam hal pengamalan, yaitu pertanyaan tentang Shalat tahajud yang di kerjakan dengan

177

teratur , membaca Al-Quran setiap hari beserta artinya, dan melakukan zikir setiap waktu dari 200 responden yang ada, rata-rata yang melaksanakannya 52 % yang melaksanakan shalat tahajud teratur, 48 % yang membaca Al-Quran beserta artinya, dan yang melakukan zikir setiap waktu adalah 65,5 %. 11. Distribusi Frekwensi Item Jawaban variabel kekebalan stress Tabel 4.11 Frekwensi Jawaban Kekebalan Stress.
Soal f No 1
Saya cukup makan sayur , lauk pauk, nasi, berimbang setiap hari Saya tidur cukup teratur 7- 8 jam sehari-hari. Pasangan saya atau orang tua saya cukup memberikan kasih saying dan perhatian kepada saya. Saya mempunyai saudara yang tinggalnya tidak begitu jauh (< 75 Km) yang bisa saya andalkan Minimal 2 kali seminggu saya gerak badan sampai berkeringat Saya merokok kurang dari setengah pak sehari Tinggi badan dan berat badan saya cukup baik, tidak kurus , tidak gemuk

SS %

S f % f

Ks %

f

Ts %

f

STS %

27

13,5 14,5 24

152 138 142

76 69 71

15 23 8

7,5 11,5 4

5 9 1

2,5 4,5 0,5

1 1 1

0,5 0,5 0,5

2 3

29 48

4

9

4,5

115

57,5

40

20

26 13

10

5

5

12

6

108

54

59

29,5

18 9

3

1,5

6 7

7 19

3,5 9,5

19 123

9,5 61,5

28 35

14 17,5

19 9,5 22 11

14 1

7 0,5

178

8

9

Keluarga berpenghasilan yang cukup untuk pengeluaran Saya merasa bahwa ibadah memberikan kekuatan lahir dan batin saya

13 72

6,5 36

116 120

58 60

54 6

27 3

15 7,5 1 0,5

2 1

1 0,5

10

Saya merasa bahwa ibadah memberikan kekuatan lahir dan batin saya Tetangga dan teman saya baik kepada saya

11

5,5

78

39

66

33

39 19,5

6

3

11

40

20

152

76

6

3

1

0,5

1

0,5

12

Saya mempunyai keluarga atau teman tempat berbagi cerita (curhat)

40

20

149

74,5

8

4

2

1

1

0,5

13

Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang rumah masalah urusan ruman , sehidupan sehari-hari Setidaknya seminggu sekali saya jalan-jalan dengan keluarga atau teman mencari hiburan Saya dapat mengatur waktu dengan baik Dalam sehari saya minum kopi, teh, kurang dari 3 cangkir sehari Saya setiap mencari waktu untuk menenangkan diri

33

16,5

134

67

24

12

7

3,5

2

1

14

17

8,5

84

42

68

34

24 12

7

3,5

15 16

22 6

11 3

140 83

70 41,5

30 50

15 25

5

2,5

3 22

1,5 11

39 19,5

17

9

4.5

97

48,5

67

33,5

21 10.5

6

3

Dari 17 item soal, jawaban responden rata-rata di atas 70 % yang menjawab positif, hanya 5 item soal yang dijawab kurang memuaskan sehingga hal ini

179

menyebabkan kekebalan stressnya menjadi berkurang yaitu, Bahwa rata-rata yang menjawab berolah raga secara teratur hanya 60 % selebihnya 40 % tidak mempunyai waktu untuk olah raga teratur. Olah raga selain menyehatkan fisik, juga mental, karena dengan olah raga keluarlah suatu zat yang bernama endorphin yang dapat memberikan rasa senang dan bahagia. Untuk penghasilan yang cukup untuk pengeluaran, 116 orang (58 %), menjawab setuju dan 13 orang (6,5 %) menjawab sangat setuju , dari 200 responden, yang penghasilannya kurang dibanding pengeluaran ada 27 % menjawab kurang setuju, 7,5 % tidak setuju dan hanya 2 orang saja yang sangat tidak setuju. Berarti secara rata-rata 66 % responden dapat mengelola keuangan nya dengan baik. Pada item soal bagaimana ibadah dapat memberikan kekuatan batin dijawab oleh responden 78 orang setuju (39 %) dan 11 orang sangat setuju (5,5 %) selebihnya kurang setuju sebanyak 66 orang (33%) dan 39 orang (19,5 %) menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju bahwa ibadah dapat memberikan kekuatan batin adalah 6 orang (3 %). Jadi dari 200 responden yang menberikan jawaban positif bahwa ibadah memberikan kekuatan batin adalah 45,5 %. Bila ibadah dilakukan teratur, maka akan meningkatkan kekuatan mental kita, sehingga otomatis akan mencegah kita dari penyakit mental atau penyakit jiwa. Untuk item soal rekreasi bersama keluarga dan teman seminggu sekali dijawab setuju oleh 84 orang (42%) sedangkan yang sangat setuju sebanyak 17 orang (8,5%). Selebihnya tidak teratur dan malah sangat jarang, jadi hanya 50,5 % yang berekreasi bersama keluarga. Padahal rekreasi bersama keluarga dapat meningkatkan

180

kekebalan terhadap stress dan mempererat hubungan batin dalam keluarga, menyenangkan istri dan anak. Kesibukan membuat responden yang punya waktu untuk menenangkan diri , hanya 97 orang yang menjawab setuju (48,5 %) sedangkan 9 orang menjawab sangat setuju ( 4,5 %). dan selebihnya 47 % tidak mempunyai waktu yang cukup untuk dapat menenangkan diri. Bila kita mempunyai waktu untuk menenangkan diri, di harapkan peningkatan hormon yang terjadi karena stress dapat menurun dan mengurangi ketegangan yang kita rasakan.

12.

Distribusi

Frekwensi

Item

Jawaban

variabel

Pencegahan

Gangguan

Psikosomatik Tabel 4.12 Frekwensi Jawaban Pencegahan Psikosomatik
No 1 Soal f
Saya merasa sedih, sehingga tidak dapat menikmati hidup Saya kurang memperhatikan lingkungan Saya sering merasa mudah lelah sekarang Saya merasa konsentrasi dan perhatian saya berkurang Saya merasa harga diri dan percaya diri saya berkurang Saya sering merasa tidak berguna

SS %

S f % f

Ks %

f

Ts %

f

STS %

3 1 10 4 7 6

1,5 0,5 5 2 3,5 3

25 23 90 45 18 13

12,5 11,5 45 22,5 9 6,5

82 84 62 88 76 55

41 42 31 44 38 27,5

51 74 32 56 72 85

25,5 47 16 28 36 42,5

39 18 6 7 27 41

19,5 9 3 3,5 13,5 20.5

2 3 4

5 6

181

7 8 9 10 11

Tidur saya sering terganggu sekarangsekarang ini Nafsu makan saya sekarang berkurang Saya merasa pesimis sekarang Saya merasakan kecemasan yang berlebihan Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit presendian Saya mengeluh sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah, mual, diare, mulut terasa kering. Kewaspadaan saya bertambah , mudah terkejut, cepat tersinggung, sulit konsentrasi. Kemampuan kerja saya menurun. Saya kurang merawat diri Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat kenyang, sering disertai cemas, atau rasa sedih. Saya merasa lelah berkepanjangan yang tidak hilang dengan istirahat, sering disertai pegal, nyeri sendi, kurang tidur, cemas Saya sering merasa sakit kepala, atau migren, atau nyeri sendi, nyeri otot, yang disertai perasaan cemas dan banyak pikiran, kurang tidur. Saya sering merasa gangguan buang air besar seperti sembelit, disertai perasaan yang sering cemas atau stress

9 5 3 4 10 6

4,5 2,5 1,5 2 5 3

59 34 36 18 113 17

29,5 17 18 9 56,5 8,5

46 70 51 92 45 77

23 35 25,5 36 22,5 38,5

75 81 87 71 27 78

37,5 40.5 43,5 35,5 13,5 39

11 10 23 35 5 22

5,5 5 11,5 1,5 2,5 11

12

13

9

4,5

48

24

83

41,5

49

24,5

11

5,5

14 15 16

5 5 2

2,5 2,5 1

49 48 32

24,5 24 16

85 79 73

42,5 39,5 36,5

52 53 70

26 26,5 35

9 15 23

4,5 7,5 11,5

17

7

3,5

44

22

78

39

54

27

17

8,5

18

14

7

81

40,5

64

32

36

18

5

2.5

19

4

2

21

10,5

60

30

77

38,5

38

19

182

Pada Item kuesioner variabel Pencegahan Psikosomatik. Pada soal dengan pertanyaan perasaan sedih sehingga membuat responden tidak dapat menikmati hidup ada sebanyak 25 orang yang menjawab setuju dan 3 orang yang menjawab sangat setuju, perasaan sedih seperti ini merupakan salah satu gejala tambahan depresi. Pada Item pertanyaan saya kurang memperhatikan lingkungan ada sebanyak 23 orang yang menjawab setuju dan 1 orang yang sangat setuju, orang yang sedang depresi biasanya sudah tidak punya keinginan untuk memperhatikan lingkungannya . Jawaban item bahwa responden sering merasa mudah lelah sekarang ada sebanyak 90 orang dengan jawaban setuju dan 10 orang dengan jawaban sangat setuju, perasaan mudah lelah bisa disebabkan oleh kelelahan fisik dan psikis. Gangguan psikosomatik seperti depresi, Chronic Fatique Syndrome atau Sindrom lelah kronik dengan gejala rasa lelah yang berlangsung lama dan tidak hilang dengan istirahar tanpa penyebab organik yang jelas. Chronic fatique syndrome juga dialami oleh 44 orang responden atau 22 % dengan jawaban yang setuju dan 7 orang (3,5 %) menjawab sangat setuju. Saya merasa
lelah berkepanjangan yang tidak hilang dengan istirahat, sering disertai pegal, nyeri sendi, kurang tidur, cemas

Item soal seperti merasa konsentrasi dan perhatian berkurang dijawab sangat setuju oleh 4 orang dan 45 orang menjawab setuju. Sedang pertanyaan merasa harga diri dan percaya diri yang berkurang dijawab setuju oleh 18 orang responden dan 7 orang yang sangat setuju, merasa hidup pesimis dijawab oleh 36 orang dengan

183

jawaban setuju dan 3 orang dengan jawaban sangat setuju, Nafsu makan yang berkurang dijawab oleh 34 orang responden dengan jawaban setuju dan 5 orang menjawab sangat setuju, jawaban seperti harga diri yang sudah mulai berkurang, pesimis, konsentrasi yang sudah mulai berkurang, nafsu makan yang berkurang biasanya dialami oleh orang yang depresi, jadi dari 200 responden yang diperiksa ini kurang lebih ada 23 % mengalami depresi. Dari item soal pertanyaan Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat kenyang, sering disertai cemas, atau rasa sedih. Atau yang menurut penulis mengalami gangguan psikosomatik dispepsia fungsional adalah sebanyak 32 orang responden (16 %) dengan jawaban setuju dan 2 orang menjawab sangat setuju (1%). Responden yang menjawab Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit persendian Ada sebanyak 56,5 % dengan jawaban setuju dan 5 % dengan jawaban sangat setuju, Gejala seperti ini bisa karena kelelahan fisik, atau gangguan psikosomatik yang disebut Nyeri Psikogenik Responden dengan yang menjawab Saya sering merasa sakit kepala, atau migren,
atau nyeri sendi, nyeri otot, yang disertai perasaan cemas dan banyak pikiran, kurang tidur. Ada sebanyak 14 orang (7 %) yang sangat setuju dan 81 orang (40,5 %) menjawab setuju. Keluhan nyeri psikogenik sendiri adalah adalah keluhan nyeri yang penyebabnya bukan

penyebab penyakit organik ditemukan gejala nyeri tampa kelainan organ yang jelas misalnya nyeri kepala, migren, mialgia, atralgia, kolik abdomen, ada stresor psikososial. Disertai dengan gejala depresi dan ansietas.

184

Sedangkan responden yang menjawab Saya mengeluh sesak nafas, jantung
berdebar, telapak tangan basah, mual, diare, mulut terasa kering. Dijawab oleh 6 orang responden dengan jawaban sangat setuju dan 17 orang setuju, jadi ada 11,5 % yang mengalami gangguan psikosomatik kemungkinan Penyakit Jantung Fungsional (neurosis

kardiak). Penyakit dengan keluhan seperti penyakit jantung, tanpa disertai kelainan organik, Dengan keluhan adanya sakit dada yang tidak khas, sesak nafas, dapat menyerupai angina pektoris, berdebar, rasa jantung seakan berhenti, rasa ingin mati, mudah terkejut, adanya cemas yang berlebihan. Dari 200 responden yang di wawancara ada 21 orang (10,5 %) dengan jawaban setuju dan 4 orang (2%) dengan jawaban sangat setuju menpunyai gangguan Sindrom Kolon Iritabel adalah sakit perut disertai gangguan buang air besar tanpa dijumpai kelainan organik. Ditandai dengan rasa nyeri/tidak enak, diperut disertai diare atau konstipasi, perut kembung, yang tampak dengan jelas, rasa nyeri diperut hilang setelah buang air besar, keluhan psikis menonjol.

D. Pengujian Hipotesis Penelitian dan Pembahasan Pengujian Statistik dalam penelitian bertujuan untuk menguji tiga variable hipotesa yang sebelumnya telah di rumuskan pada bab 1, yaitu: (1) terdapat

hubungan antara motivasi ibadah dengan pencegahan gangguan Psikosomatik. (2) terdapatnya hubungan antara kekebalan stress and pencegahan gangguna

psikosomatik. Pengujian terhadap ketiga hipotesa ini menggunakan rumus korelasi person atau product moment dan regresi melalui program SPSS 13.

185

Adapun hasil perhitungan uji hipotesis dari ketiga variable dapat diuraikan sebagai berikut I. Hubungan Antara Motivasi Ibadah dan Pencegahan Gangguan Psikosomatik Tabel 4.13 Statistik Dekskriptip Variabel Motivasi Ibadah (X1) Kekebalan Stress (X2) Pencegahan gangguan Psikosomatik (Y) Mean 1,2550 1,3700 1,7400 Std Deviasi 0.43695 0.48402 0,43973 N 200 200 200

Berdasarkan data deskripstip diketahui bahwa kasus yang diteliti adalah 200 responden. Diperoleh data nilai mean untuk X1 = 1,3700 dengan standar deviasi 0,43973 , variabel kedua nilai mean X2 = 1,7400 dan standar deviasinya 0,43973 sedangkan variabel ketiga nilai mean adalah Y = 1,2550 dan standar deviasi 0,43695 .Dengan nilai standar deviasi yang semuanya lebih kecil dari pada nilai mean, hal ini menggambarkan bahwa ketiga variabel yang dihasilkan dari penelitian ini lebih homogen, artinya temuan penelitian diperoleh dari sumber yang sama dan ini menunjukan validitas data yang dihasilkan. Hipotesis pertama dalam penelitian ini di rumuskan sebagai

berikut:”Terdapatnya hubungan positif yang signifikan antara motivasi Ibadah dengan Pencegahan Gangguan Psikosomatik di Puskesmas Astapada Kabupaten Cirebon. Untuk pengujian hipotesis ini digunakan analisa regresi linier

186

Untuk mengetahui signifikan hasil korelasi atau hubungan tersebut maka dirumuskan hipotesa sebagai berikut: Ho = Tidak terdapat hubungan (korelasi) signifikan antara Motivasi Ibadah dengan Pencegahan Gangguan Psikosomatik. Ha = Terdapatnya hubungan korelasi antara Motivasi Ibadah dengan Pencegahan Gangguan Psikosomatik Pengujian dengan dua sisi berdasarkan pengambilan keputusan didasarkan pada angka probabilitas : Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima, Jika Probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak Dari hasil pengolahan data Program SPSS 13 dihasilkan korelasi X1 dengan Y = 0,763 . setelah dibandingkan dengan r tabel ternyata r hitung lebih besar dari pada r tabel atau 0.753 >0,194, terdapat hubungan yang kuat, dan Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat dijelaskan adanya hubungan positif dan signifikan antara Motivasi ibadah dan Pencegahan gangguan Psikosomatik, makin tingginya motivasi ibadah maka makin meningkat juga pencegahan terhadap gangguan psikosomatik.(tabel dapat di lihat pada lampiran)

b Berdasarkan table ANOVA atau F tes tenyata didapat f hitung sebesar 276,597 dengan tingkat significan 0.000, karena probabilitas dibawah angka 0,05 maka ,model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksikan motivasi ibadah,

187

demikian juga dari table koefisien menggambarkan bahwa persamama regresi adalah sebagai berikut memprediksikan motivasi ibadah, demikian juga dari tabel koefisien menggambarkan bahwa persamama regresi adalah sebagai berikut : Y = a + bi = 0,322 + 0,190 X1 dapat menyatakan bahwa jika tidak ada peningkatan ibadah maka pencegahan gangguan psikosomatik tidak akan meningkat atau mengalami perubahan. Koefisien regresi sebesar 0,190 menyatakan bahwa setiap penambahan satu nilai atau satu point motivasi ibadah akan dapat meningkatkan pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 0,190 atau 19 %. Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya konstribusi (sumbangan) variable X1 terhadapa variable Y, dapat diketahui dari koefisien determinan = r2 x 100 % atau ( 0,763 ) 2 X 100 % = 58,2 % sisanya 100 - 58,2 % = 41,8 % ditentukan oleh variabel lain diluar penelitian

2. Hubungan Antara Kekebalan Stress (X2) dengan Pencegahan Gangguan Psikosomatik (Y) Hipotesa kedua dalam penelitian ini dirumuskan :”Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kekebalan stress dan pencegahan gangguan psikosomatik.” . Untuk mengetahui significan hasil korelasi atau hubungan tersebut dirumuskan hipotesa sebagai berikut: Ho = Tidak adanya hubungan (korelasi ) antara kekebalan stress dengan Pencegahan gangguan Psikosomatik Ha = Terdapatnya hubungan (korelasi) antara Kekebalan stress dengan pencegahan

188

gangguan Psikosomatik Pengujian dilakukan dengan dua sisi, maka dasar pengambilan keputusannya didasarkan pada angka probabilitas : Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima, Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak Pada Pengujian terhadap tidak adanya hubungan antara kekebalan stress (X2) dengan Pencegahan gangguan psikosomaktik (Y) diketahui korelasi positif artinya makin tingginya kekebalan stress akan makin tercegah dari gangguan psikosomatik. Hasil pengolahan data melalui program SPSS, dihasilkan korelasi X2 dengan Y = 0,347 . setelah dibandingkan antara r tabel dan r hitung, ternyata r hitung lebih besar dari r tabel atau 0,347 > 0,194 maka Ho ditolak dan Ha diterima b Berdasarkan table ANOVA atau F tes tenyata didapat f hitung sebesar 27,067 dengan tingkat significan 0.000 , karena probabilitas dibawah angka 0,05 maka ,model regresi ini dapat digunakan untuk memprediksikan kekebalan stress, demikian juga dari tabel koefisien menggambarkan bahwa persamaan regresi adalah sebagai berikut memprediksikan kekebalan stress, demikian juga dari tabel koefisien menggambarkan bahwa persamaan regresi adalah sebagai berikut : Y = a + bi = 0,655 + 0,347 X1 dapat menyatakan bahwa jika tidak ada peningkatan kekebalan maka pencegahan gangguan psikosomatik tidak akan meningkat atau mengalami perubahan. Koefisien regresi sebesar 0,347 menyatakan bahwa setiap

189

penambahan satu nilai atau satu point kekebalan stress akan dapat meningkatkan pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 0,347 atau 34,7 %. Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya konstribusi (sumbangan) variable X1 terhadap variable Y, dapat diketahui dari koefisien determinan = r2 x 100 % atau ( 0,347 ) 2 X 100 % = 12.04 % sisanya 100- 12,04 variabel lain diluar penelitian % = 87,96 % ditentukan oleh

3. Hubungan Antara Motivasi Ibadah (X1), Kekebalan stress (X2) dengan Pencegahan Gangguan Psikosomatik (Y) Hipotesa kedua dalam penelitian ini dirumuskan :”Terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi ibadah, kekebalan stress dan pencegahan gangguan psikosomatik.”. Untuk mengetahui signifikan hasil korelasi atau hubungan tersebut dirumuskan hipotesa sebagai berikut: Ho = Tidak adanya hubungan (korelasi ) antara motivasi ibadah, kekebalan stress dengan Pencegahan gangguan Psikosomatik Ha = Terdapatnya hubungan (korelasi) antara motivasi ibadah, Kekebalan stress dengan pencegahan gangguan Psikosomatik Pengujian dilakukan dengan dua sisi, maka dasar pengambilan keputusannya didasarkan pada angka probabilitas : Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima, Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak

190

Pada Pengujian terhadap tidak adanya hubungan antara Motivasi ibadah (X 1) kekebalan stress (X2) dengan Pencegahan gangguan psikosomaktik (Y) diketahui korelasi positif artinya makin tingginya kekebalan stress akan makin tercegah dari gangguan psikosomatik. Hasil pengolahan data melalui program SPSS, dihasilkan korelasiX1, X2 dengan Y = 0,778 . atau adanya hubungan yang kuat positif antara motivasi ibada, kekebalan stress dan pencegahan gangguan Psikosomatik, setelah dibandingkan antara r tabel dan r hitung, ternyata r hitung lebih besar dari r tabel atau 0,778 > 0,194 maka Ho ditolak dan Ha diterima Setelah dilakukan analisis dengan metode backward ternyata variable yang terlihat pada kotak model summary terlihat koefisien determinan (R square) menunjukan nilai 0,605 bahwa model regresi yang diperoleh dapat menjelaskan 60, 5% variasi variabel dependen Pencegahan gangguan Psikosomatik. Atau dengan kata lain variabel motivasi ibadah, kekebalan stress, dapat menjelaskan variasi Pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 60,5 %. dan dalam bidang kesehatan masyarakat dikatakan baik bila nilai R square minimal sekitar 60 %. Kemudian pada kotak Anova, kita lihat uji F yang menunjukan nilai P (signifikan F ) adalah sebesar 0,287 berarti lebih besar dari pada alpha 5 % , menunjukan tidak adanya signifikan bila kedua variabel diatas bila di uji secara parsial dengan regression linier ganda. Walaupun secara korelasi terdapat hubungan yang tinggi, sebesar 0,778 berarti secara simultan kedua variabel mempunyai konstribusi tapi tidak signifikan. Berarti ada variabel diluar penelitian yang harus diteliti lebih lanjut.

191

Pada kotak Koefisien kita memperoleh persamaan garisnya, Pada kolom variabel in equation diatas kita dapat mengetahui masing masing koefisien regresi masing-masing variabel and hasil diatas menunjukan Y = 0,94 + 0,652 X1 + 0,154 X2 Dengan model persamaan ini dapat diperkirakan bahwa Pencegahan gangguan Psiksomatik dengan menggunakan variabel motivasi ibadah dan kekebalan stress, Variabel Pencegahan gangguan Psikosomatik akan meningkat sebesar 0,652 (65,2 poin) bila motivasi ibadah meningkat. dan meningkat 15,4 poin bila kekebalan stress meningkat, Pada kolom Beta diketahui variabel yang paling besarlah yang berpengaruh paling besar terhadap menentukan variabel dependen, semakin besar nilai beta makin besar pengaruhnya terhadap variabel dependen, diketahui bahwa ibadah

mempengaruhi sebesar 0,722 atau 72,2 poin terhadap pencegahan gangguan psikosomatik dan 15,5 poin disumbangkan oleh kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan psikosomatik

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

192

Berdasarkan hasil penelitian antara motivasi ibadah, dan kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan Psikosomatik di Puskesmas Astapada dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Terdapatnya hubungan yang positif kuat dan signifikan antara motivasi ibadah dengan pencegahan gangguan psikosomarik sebesar 0,763 atau 76,3 % atas dasar itu berpengaruh signifikan terhadap pencegahan gangguan psikosomatik, makin tingginya motivasi ibadah makin meningkatlah pencegahan kita dari gangguan psikosomatik, 2. Terdapatnya hubungan positif sedang antara kekebalan stress dengan pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 0,347 atau 34,7 %. atas dasar itu maka dengan meningkatnya kekebalan stress, makin tinggilah angka pencegahan tubuh kita tercegah dari gangguan psikosomatik. 3. Terdapat hubungan positif yang kuat 0,778 atau 77,8 %, dan namun tidak

signifikan secara bersama-sama antara motivasi ibadah, kekebalan stress dan pencegahan gangguan psikosomatik. Menurut pendapat penulis ada variabel diluar penelitian yang harus diteliti lebih lanjut, keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, disini sehingga penulis hanya menggunakan 2 variabel penelitian. Begitu banyak determinan variabel yang mempengaruhi penyakit psikosomatik. Karena gangguan ini bersifat lebih banyak karena stresor psikososial yang masing-masing individu berbeda, antara lain perbedaan tiap individu itu : faktor lain yang tidak diteliti

193

i. Gangguan Kepribadian ii. Tingkat kognitif seseorang dalam menghadapi stress iii. Kebiasaan budaya setempat dan Kehidupan masa kecil iv. Penyesuaian diri

B. SARAN 1. Untuk meningkatkan Pencegahan kita terhadap gangguan Psikosomatik maka kita harus meningkatkan motivasi ibadah kita, motivasi ibadah yang tinggi

194

akan meningkatkan pencegahan gangguan psikosomatik secara signifikan, Ibadah yang dilakukan dengan motivasi yang baik akan menyeimbangkan hormonal tubuh, yang biasanya keluar pada saat tubuh mengalami stress. Pengamalan ibadah yang dibarengi dengan motivasi ibadah yang tinggi, dapat dijadikan salah satu alternatif sebagai psikoterapi suportif yang dapat mestabilkan hormon stress yang biasanya terpicu dalam jumlah banyak ketika stresor yang datang bertubi-tubi dan menyebabkan gejala-gejala psikosomatik. Sebelum gejala tersebut berkepanjangan, pasien di motivasi untuk mempertinggi ibadahnya sehingga selain diberikan pengobatan somatoterapi, juga kita memberi beberapa tuntunan Ibadah seperti menjalankan solat 5 waktu tepat waktu, solat tahajud pada sepertiga malam terakhir, puasa sunah , zikir dan sodaqah. Nasehat secara verbal dapat memberi support kepada pasien agar dapat menjalankan hidup ini lebih rileks dan memperbanyak Ibadah secara Iklash. 2. Tidak hanya ibadah saja yang kita tingkatkan tapi juga kekebalan stress kita, antara lain dengan melaksanakan olah raga yang teratur, tidur 7-8 jam sehari yang teratur, kita pupuk kasih sayang dalam keluarga, cukup memperoleh makanan yang berimbang, mengurangi kebiasaan rokok. Mengatur

pengeluaran yang pemasukan kita, menjalankan ibadah sebaik mungkin. Mempunyai teman atau sahabat yang baik , meluangkan waktu untuk berekreasi bersama keluarga, meluangkan waktu untuk menenangkan diri. Menjaga silaturahmi dengan keluarga dan tetangga. Mengatur waktu dengan

195

efektif dan efisien. Dengan demikian kekebalan stress kita akan baik, dengan meningkatnya kekebalan kita terhadap stress, maka akan meningkatkan pencegahan kita terhadap gangguan psikosomatik. 3. Seseorang juga harus mampu mengelola stressnya dengan baik. Strategi pengelolaan stress memang tergantung pada kebiasaan standar budaya dimana ia dibesarkan, kepribadian yang terbentuk sejak kecil, tingkat kognitif seseorang untuk mengatasi stressnya.

Daftar Pustaka Al-Quran dan terjemahan, Penerbit Sari Agung, Jakarta 2005 Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, Nasehat Bagi yang lalai,

196

Penerjeman Abu Juhaidah, Pustaka Amani , Jakarta, 1999 Az-Zahrani, Musfir, Konseling Terapi, Penerbit Gema Insani, Jakarta 2005 Al-Magraghi, Tafsir Al-Quran jilid 16 Ar-Rifai M. N ,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta 1999 Arikunto, S, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek , Rineka Cipta 2002 Ash-Shawi, A.J, Terapi Puasa, Manfaat Puasa Ditinjau dari Perspektif Sains Modern, Penerjemah Aan Wahyudin, Penerbit Republika, Jakarta 2006 Ahmad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Reality Publisher, Jakarta , 2006 Ardani, Rahayu, Sholichatun, Psikologi Klinis, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007 Azis Rani. E Mudjaddid, Hamzah Shatri dkk,. Pedoman Diagnosa dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam, Pusat Informasi dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia.2000. Bastaman, H.D.Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju psikologi islam Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 1995 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II , (Mudjaddid, Shatri) Edisi III, Balai Penerbit FK UI , Jakarta, 2001 Bahar Azwar, Manfaat Haji dan Umrah bagi Kesehatan, Qultum Media, Jakarta 2007. Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu, Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979 Frager R (Syekh Ragib al-Jerahi Serambi, Jakarta, 2003 Ginanjar Ary, ESQ, Penerbit Arga, Jakarta, 2003 Guyton, Hall, Text Book of Medical Physiology ed 9, Buku Ajar Fisiologi Hati Diri dan Jiwa , Psikologi Sufi untuk Transformasi, (Heart, sefl, & Soul) Penerjemah Hasmiyah Rauf, Penerbit

197

Kedokteran, Alih Bahasa dr. Irawati Setiawan dkk, Penerbit EGC,Jakarta,1997 Goleman, Daniel, Emotional Intelligence, Gramedia Jakarta, 1997 Hawari, Dadang, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, Dana Bhakti Primayasa , Jakarta , 1997 ------------Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Dana Bhakti Primayasa, 1998 Harun Nasution , Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran Prof. DR. Harun Nasution Penerbit Mizan, Bandung, 1995 Jalal Saour: Does Ramadan Fasting Complicate Antcoagulant Therapy? Fasting: Its Efects on health and Diseases Basic Priniciples and Clinical Practive (Abstracts). College of Medicine King Saud University , Riyadh, December 1990 . Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan, Bandung, 2004 Khadem Yamani, Ja’far, Kedokteran Islam, Sejarah Dan Perkembangannya, Alih Bahasa Tim Dokter IDAVI editor A.D El Marzdedeq, DIM, Av. Dzikra .2005 Lazarus RS (1993). "From psychological stress to the emotions: a history of changing outlooks". Annual Review of Psychology 44: 1-22. Langgunung , H, Teori-Teori Kesehatan Mental, Penerbit Balai Pustaka Al Husna , Jakarta, 1992 Martin,David W,(et al) Biokimia , Harper’s Reviem of Biochemistry, alih bahasa Iyan Darmawan, EGC, Jakarta 1987 Microsoft ® Encarta ® 2006 Maramis, W. F. Ilmu Kedokteran Jiwa , Penerbit Air langga Press ,1980 Alih Bahasa T. Hermaya, Penerbit

198

Muhammad Nasir Ar-rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Kemudahan Dari Allah), Jilid 1 , Gema Insani , Jakarta 2000 Muzam MG,. Ali M. N. and Husain A. (1963): Observations on the Effects Of Ramadan Fasting On Gastric Acidity , the Medicus 25: 228 . Maumana Amjad, et al, editor Zafar Afaq Ansari, Qur’anic Consepts of Human Psyche, Adam Publisher New delhi-110002, edition 2006 Muhammad Jawad Mughniyah, Figh Lima Mazhab, (Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali). Penerjemah Drs.Syihabuddin, Penerbit Lentera, Jakarta 2005 Muhammad Izzuddun Taufiq , Dalil Anfus Al-Quran dan Embriologi (Ayat-Ayat Tentang Penciptaan manusia) , Darussalam Kairo, Penerjemah Muhammad Arifin Dkk, editor,Ch Al-Qois, Fiedha L Hasim, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, 2006 M.Mahmud Abdullah, Mukjizat Gerak dan Bacaan Shalat, serta Aplikasi Khusu, penerjemah, Sari Narulita, Penerbit Pustaka Iman, Jakarta, 2006 Maulana Muhammad Al-Kandahlawi Rah.a., Fadhilah Amal, Penerjemah Ust A.Abdurrahman Ahmad, Penerbit Ash-Shaff, Yogyakarta ,2003 Notoatmojo, Soekidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta ,2005. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Panduan Pelayanan Medik, Penerbit Departemen IPD FK UI, 2006 Price, Wilson ,Patofisiologi Edisi 6 vol.2, Alih Bahasa dr. Brahm dkk, Penerbit EGC, Jakarta 2002 Quraish Shihab, Membumikan AL-Quran, Penerbit Mizan, Bandung, 1992

199

Sulimami R. A. Famuyiwa F. O. Laaga M. A. (1988): Diabetes Mellitus and Ramadan Fasting: the Need for Critical Appraisal. Diabetes Medicine 8: 549-552 . Suliswati, Tjie Anita, Jeremia, Yenny, Sumijatun, Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta, 2005 Riyad Albiby and Ahmed Elkadi: A preliminary Report on Effects of Islamic Fasting on Lipoprotens and Immunity. JMA, vol , 17 188 page 84 . Rippetoe-Kilgore, Mark and Lon.. Practical Programming for Strength Training. 2006 Ron de Kloet, E; Joels M. & Holsboer F. (2005). "Stress and the brain: from adaptation to disease". Nature Reviews Neuroscience 6 (6): 463-475. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa,Rujukan Ringkas Dari PPDGJ III, editor Rusdi maslim, 2000 Shahih Muslim, penerjemah Ma’mur Daud, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1983. Sholeh , M, Terapi Salat Tahajud, Menyembuhkan berbagai Penyakit, Penerbit Hikmah Populer Mizan, Bandung , 2006 Sayyid Qutbh, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 1, Penerbit Gema Insani Press , Jakarta 2000 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Penerbit Rosda, 2005 Sutanto Priyo Hastono, Modul Analisis Data, Falkutas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia .Jakarta 2001 Sulistia Gan dkk, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1997

200

Yulizar Darwis, Dkk. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Dasar Di purkesmas, Departemen Kesehatan RI, Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat Jakarta 2004 http://www.medem.com http://www.kaheel7.com http://www.Islam-online.com

201

Lampiran Kuesioner MOTIVASI BERIBADAH DAN PENANGGULANGAN STRESS DENGAN PREVENTIF GANGGUAN PSIKOSOMATIK Tanggal wawancara: Nama : (Pria/wanita) Umur : Tahun Pekerjaan : Penghasilan : Pendidikan : Status : menikah/ janda/duda/tidak menikah/cerai

Perbulan

A. Kuesioner I Tandailah jawaban anda dibawah ini dengan tanda (X) yang sesuai dengan anda: a. Setuju sekali (SS) b. Setuju (S) c. Kurang setuju (KS) d. Tidak setuju (TS) e. Sangat tidak setuju (STS) 1. Dengan shalat hatiku yang cemas jadi hilang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 2. Kalau kesedihan melanda aku jadi banyak shalat a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 3. Shalat tahajud bagiku dapat menyembuhan kegelisahanku a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 4. Shalat tahajud aku kerjakan dengan teratur a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 5. Bagiku puasa menyehat badanku dan menyembuhkan sakitku a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 6. Dengan puasa aku jadi lebih sabar a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 7. Puasa menjadi kebiasaanku untuk mendekatkan diri pada Allah SWT a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS} 8. Bagiku sodakhah tidak harus dengan uang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 9. Dengan sodakhah hatiku jadi makin bahagia a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 10. Dengan sodakhah pasti Allah akan membalasnya berlipat ganda a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 11. Al-Quran adalah obat jiwaku yang sedang gelisah a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 12. Aku membaca Al-Quran setiap hari beserta artinya a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 13. Aku merasa Al-Quran adalah penyejuk hati nasehat yang menyejukan jiwa a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]

202

14. Aku berniat haji , mudah-mudahan Allah memberi rizki a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 15. Mulai saat ini aku menabung sedikit demi sedikit untuk naik haji a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 16. Aku merasa zikir dapat menyenangkan jiwa dan mengurangi kegelisahanku a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 17. aku melakukan zikir setiap waktu a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 18. Aku merasa hidupku penuh rasa syukur dan barokah a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 19. Aku percaya apa yang aku usahakan (harta, uang, mobil, rumah) didunia ini adalah titipan Allah. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] Kuesioner II Penanggulangan stress 1. Saya cukup makan sayur , lauk pauk, nasi, berimbang setiap hari a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 2. Pasangan saya atau orang tua saya cukup memberikan kasih saying dan perhatian kepada saya. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 3. Sayang mempunyai saudara yang tinggalnya tidak begitu jauh (< 75 Km) yang bisa saya andalkan a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 4. Minimal 2 kali seminggu saya gerak badan sampai berkeringat a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 5. Saya merokok kurang dari setengah pak sehari. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 6. Tinggi badan dan berat badan saya cukup baik, tidak kurus , tidak gemuk a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 7. Keluarga berpenghasilan yang cukup untuk pengeluaran a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 8. Saya merasa bahwa ibadah memberikan kekuatan lahir dan batin saya a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 9. Saya teratur mengikuti kegiatan yang dilakukan desa a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 10. Tetangga dan teman saya baik kepada saya a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 11. Saya mempunyai keluarga atau teman tempat berbagi cerita (curhat) a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 12. Saya akan bicara terus terang mengutarakan perasaan hati ketika marah atau gelisah.

203

a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 13. Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang rumah masalah urusan ruman , sehidupan sehari-hari a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 14. Setidaknya seminggu sekali saya jalan-jalan dengan keluarga atau teman mencari hiburan a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 15. Saya dapat mengatur waktu dengan baik a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 16. Dalam sehari saya minum kopi, teh, kurang dari 3 cangkir sehari a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 17. Saya setiap mencari waktu untuk menenangkan diri a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]

Kuesioner III Pencegahan Gejala Psikosomatik 1. Saya merasa sedih, sehingga tidak dapat menikmati hidup a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 2. Saya kurang memperhatikan lingkungan a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 3. Saya sering merasa mudah lelah sekarang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 4. Saya merasa konsentrasi dan perhatian saya berkurang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 5. Saya merasa harga diri dan percaya diri saya berkurang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 6. Saya sering merasa tidak berguna a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 7. Tidur saya sering terganggu sekarang-sekarang ini a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 8. Nafsu makan saya sekarang berkurang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 9. Saya merasa pesimis sekarang a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 10. Saya merasakan kecemasan yang berlebihan a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 11. Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit presendian a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 12. Saya mengeluh sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah, mual, diare, mulut terasa kering.

204

a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 13. Kewaspadaan saya bertambah , mudah terkejut, cepat tersinggung, sulit konsentrasi. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 14. Kemampuan kerja saya menurun. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 15. Saya kurang merawat diri a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 16. Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat kenyang, sering disertai cemas, atau rasa sedih. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 17. Saya merasa lelah berkepanjangan yang tidak hilang dengan istirahat, sering disertai pegal, nyeri sendi, kurang tidur, cemas a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 18. Saya sering merasa sakit kepala, atau migren, atau nyeri sendi, nyeri otot, yang disertai perasaan cemas dan banyak pikiran, kurang tidur. a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS] 19. Saya sering merasa gangguan buang air besar seperti sembelit, disertai perasaan yang sering cemas atau stress a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS} Skala Holmes Berikut ini tandai masalah apa saja yang anda hadapi selama setahun terakhir ini, boleh lebih dari satu. No Item Tanda Score 1 Kematian Suami/istri 100 2 Kematian keluarga dekat 63 3 Perkawinan 50 4 Kehilangan jabatan 47 5 Pensiunan/Pengasingan diri 45 6 Kehamilan istri 40 7 Kesulitan sex 39 8 Tambah anggota keluarga baru 39 9 Kematian kawan dekat 37 10 Konflik suami/istri 35 11 Menggadaikan rumah 31 12 Perubahan dalam tanggung jawab pekerjaan 29 13 Konflik dengan ipar , mertua, menantu 29 14 Perasaan tersinggung atau penyakit 53 15 Rujuk dalam perkawinan 45 16 Perubahan kesehatan seseorang anggota keluarga 44 17 Perubahan dalam status keuangan 38

205

18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

perceraian Peralihan jenis pekerjaan Mencegah terjadinya penggadaian/pinjaman Anak laki-laki/perempuan meninggalkan rumah Prestasi pribadi yang luar biasa Istri mulai atau berhenti bekerja Kesulitan dengan atasan Tukar tempat tinggal Perubahan dalam hiburan Pinjaman dengan rumah sebagai jaminannya Perubahan dalam jumlah pertemuan keluarga Pelanggaran ringan Menukar kebiasaan pribadi Perubahan jam kerja/syarat kerja Tukar sekolah Tukar kegiatan sosial Tukar kebiasaan tidur Perubahan dalam kebiasaan makan Berlibur total

65 36 30 29 28 29 23 20 19 17 15 11 24 20 20 18 16 15 13

206

Lampiran Hasil SPSS 13 Lampiran 1. Realibility dan Validitas data Item Soal Reliability
Case Proce ssing Summary N Cases Valid Excludeda Total 200 0 200 % 100.0 .0 100.0

Reliability Statistics Cronbach's Alpha .850 N of Items 19

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Ite m Statistics a1 a2 a3 a4 a5 a6 a7 a8 a9 a10 a11 a12 a13 a14 a15 a16 a17 a18 a19 Mean 1.7250 2.1000 1.8350 2.5700 1.8750 1.6300 1.6300 1.7850 1.8050 1.5350 1.7750 2.5850 1.6950 1.7150 2.2350 1.7900 2.2700 1.8150 1.4900 Std. Deviation .57535 .83876 .59964 .88828 .58402 .60409 .62855 .54797 .52760 .60879 .57970 .84042 .53235 .67532 .98724 .52658 .87230 .46025 .60142 N 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200

207

Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted 34.1350 33.7600 34.0250 33.2900 33.9850 34.2300 34.2300 34.0750 34.0550 34.3250 34.0850 33.2750 34.1650 34.1450 33.6250 34.0700 33.5900 34.0450 34.3700 Scale Variance if Item Deleted 39.866 41.761 39.582 38.991 39.834 39.243 39.947 41.055 40.645 40.693 39.726 38.361 39.867 40.798 38.728 39.553 38.947 41.259 40.998 Corrected Item-Total Correlation .550 .159 .563 .398 .545 .606 .484 .404 .486 .403 .565 .492 .601 .340 .365 .658 .412 .460 .368 Cronbach's Alpha if Item Deleted .839 .859 .838 .847 .839 .837 .841 .845 .842 .845 .839 .841 .838 .847 .850 .836 .846 .844 .846

a1 a2 a3 a4 a5 a6 a7 a8 a9 a10 a11 a12 a13 a14 a15 a16 a17 a18 a19

Scale Statistics Mean 35.8600 Variance 44.191 Std. Deviation 6.64766 N of Items 19

ANOVA with Tukey's Test for Nonadditivity Sum of Squares 462.846 364.054 9.781 a 1239.113 1248.894 1612.947 2075.794 df 199 18 1 3581 3582 3600 3799 Mean Square 2.326 20.225 9.781 .346 .349 .448 .546 F 58.009 28.267 Sig .000 .000

Between People Within People Between Items Residual Nonadditivity Balance Total Total Total

Grand Mean = 1.8874 a. Tukey's estimate of power to which observations must be raised to achieve additivity = .114.

208

Reliability
Reliability Statistics Cronbach's Alpha .638 N of Items 17

Item-Total Statistics Scale Variance if Item Deleted 21.638 21.603 22.631 21.916 21.018 19.229 22.759 21.994 19.887 21.595 22.385 22.852 20.800 21.159 21.574 21.576 21.157 Corrected Item-Total Correlation .274 .222 .207 .279 .253 279 .217 .314 .205 .332 .338 .256 .222 .219 .295 .277 .254 Cronbach's Alpha if Item Deleted .464 .469 .489 .498 .461 .539 .507 .450 .474 .439 .459 .482 .503 .466 .457 .503 .481

b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 b9 b10 b11 b12 b13 b14 b15 b16 b17

Scale Mean if Item Deleted 35.5000 35.4300 35.6800 34.9400 35.0450 36.1300 35.1900 35.1200 35.8100 34.7500 35.6500 35.6300 35.4500 34.9050 35.3700 34.5650 34.9150

Scale Statistics Mean 37.6144 Variance 31.999 Std. Deviation 5.65674 N of Items 17

209

Reliability
Case Proce ssing Summary N Cases Valid Excludeda Total 200 0 200 % 100.0 .0 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .864 N of Items 19 Ite m Statistics c1 c2 c3 c4 c5 c6 c7 c8 c9 c10 c11 c12 c13 c14 c15 c16 c17 c18 c19 Mean 3.4900 3.4250 2.6700 3.0850 3.4700 3.7100 3.1000 3.2850 3.4550 3.5750 2.5200 3.4650 3.0250 3.0550 3.1250 3.4000 3.1500 2.6850 3.6200 Std. Deviation .99238 .82935 .90842 .84934 .95586 .96465 1.03215 .89318 .96573 .94809 .87947 .90713 .94277 .88651 .94543 .92427 .97584 .93281 .97486 N 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200

210

Ite m-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted 57.8200 57.8850 58.6400 58.2250 57.8400 57.6000 58.2100 58.0250 57.8550 57.7350 58.7900 57.8450 58.2850 58.2550 58.1850 57.9100 58.1600 58.6250 57.6900 Scale Variance if Item Deleted 83.626 82.635 84.995 83.532 80.587 80.523 83.122 82.798 81.733 82.156 87.323 82.554 81.180 81.558 81.930 81.811 81.623 82.818 81.984 Corrected Item-Total Correlation .368 .528 .327 .453 .570 .568 .377 .473 .494 .479 .194 .480 .543 .559 .495 .516 .494 .448 .473 Cronbach's Alpha if Item Deleted .862 .856 .863 .858 .853 .853 .862 .857 .857 .857 .868 .857 .855 .854 .856 .856 .856 .858 .857

c1 c2 c3 c4 c5 c6 c7 c8 c9 c10 c11 c12 c13 c14 c15 c16 c17 c18 c19

Scale Statistics Mean 61.3100 Variance 91.290 Std. Deviation 9.55460 N of Items 19

211

Lampiran 2 . Tabel Korelasi dan regresi linier ganda Frequencies
Statistics VAR00006 N Valid Missing 200 0

Correlations
Corre lations ibadah ibadah Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N kekebala nstress psikosomatik

kekebalanstress

psikosomatik

.265** .000 200 .763** .000 200

.347** .000 200

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Regression
De scriptiv e Statistics psikosomatik ibadah kekebalanstress Mean 1.2550 1.3700 1.7400 Std. Deviation .43695 .48402 .43973 N 200 200 200

212

Corre lations psikosomatik 1.000 .763 .347 . .000 .000 200 200 200 ibadah .763 1.000 .265 .000 . .000 200 200 200 kekebala nstress .347 .265 1.000 .000 .000 . 200 200 200

Pearson Correlation

Sig. (1-tailed)

N

psikosomatik ibadah kekebalanstress psikosomatik ibadah kekebalanstress psikosomatik ibadah kekebalanstress

Variable s Ente re d/Re moveb d Model 1 Variables Entered kekebalan stress,a ibadah Variables Removed . Method Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: psikosomatik
b M ode l Summary

Model 1

R R Square .778 a .605

Adjusted R Square .601

Std. Error of the Estimate .27595

a. Predictors: (Constant), kekebalanstress, ibadah b. Dependent Variable: psikosomatik
b ANOVA

Model 1

Regression Residual Total

Sum of Squares 22.993 15.002 37.995

df 2 197 199

Mean Square 11.497 .076

F 150.975

Sig. .000 a

a. Predictors: (Constant), kekebalanstress, ibadah b. Dependent Variable: psikosomatik

213

a Coefficie nts

Model 1

(Constant) ibadah kekebalanstress

Unstandardized Coefficients B Std. Error .094 .088 .652 .042 .154 .046

Standardized Coefficients Beta .722 .155

t 1.067 15.555 3.341

Sig. .287 .000 .001

a. Dependent Variable: psikosomatik
a Re siduals Statistics

Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual Mahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value

Minimum .8997 -1.045 .029 .8977 -.70585 -2.558 -2.576 -.71576 -2.614 1.263 .000 .006

Maximum 1.7059 1.326 .052 1.7158 .29415 1.066 1.073 .29828 1.074 6.120 .051 .031

Mean 1.2550 .000 .033 1.2553 .00000 .000 -.001 -.00032 -.004 1.990 .006 .010

Std. Deviation .33992 1.000 .005 .34058 .27456 .995 1.004 .27949 1.013 1.059 .012 .005

N 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200

a. Dependent Variable: psikosomatik

Variable s Ente re d/Re moveb d Model 1 Variables Entered ibadaha Variables Removed . Method Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: psikosomatik

214

M ode l Summary Model 1 R R Square .763 a .583 Adjusted R Square .581 Std. Error of the Estimate .28294

a. Predictors: (Constant), ibadah
b ANOVA

Model 1

Regression Residual Total

Sum of Squares 22.144 15.851 37.995

df 1 198 199

Mean Square 22.144 .080

F 276.597

Sig. .000 a

a. Predictors: (Constant), ibadah b. Dependent Variable: psikosomatik
a Coe fficie nts

Model 1

(Constant) ibadah

Unstandardized Coefficients B Std. Error .311 .060 .689 .041

Standardized Coefficients Beta .763

t 5.163 16.631

Sig. .000 .000

a. Dependent Variable: psikosomatik

Regression
Variable s Ente re d/Re moveb d Model 1 Variables Entered kekebalan a stress Variables Removed . Method Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: psikosomatik
M ode l Summary Model 1 R R Square .347 a .120 Adjusted R Square .116 Std. Error of the Estimate .41087

a. Predictors: (Constant), kekebalanstress

215

b ANOVA

Model 1

Regression Residual Total

Sum of Squares 4.569 33.426 37.995

df 1 198 199

Mean Square 4.569 .169

F 27.067

Sig. .000 a

a. Predictors: (Constant), kekebalanstress b. Dependent Variable: psikosomatik
a Coefficie nts

Model 1

(Constant) kekebalanstress

Unstandardized Coefficients B Std. Error .655 .119 .345 .066

Standardized Coefficients Beta .347

t 5.514 5.203

Sig. .000 .000

a. Dependent Variable: psikosomatik

Regression
Variable s Ente re d/Re moveb d Model 1 Variables Entered ibadah, kekebalan a stress Variables Removed . Method Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: psikosomatik M ode l Summary Model 1 R R Square .778 a .605 Adjusted R Square .601 Std. Error of the Estimate .27595

a. Predictors: (Constant), ibadah, kekebalanstress

216

b ANOVA

Model 1

Regression Residual Total

Sum of Squares 22.993 15.002 37.995

df 2 197 199

Mean Square 11.497 .076

F 150.975

Sig. .000 a

a. Predictors: (Constant), ibadah, kekebalanstress b. Dependent Variable: psikosomatik
a Coefficie nts

Model 1

(Constant) kekebalanstress ibadah

Unstandardized Coefficients B Std. Error .094 .088 .154 .046 .652 .042

Standardized Coefficients Beta .155 .722

t 1.067 3.341 15.555

Sig. .287 .001 .000

a. Dependent Variable: psikosomatik

Crosstabs
Case Proce ssing Summary Cases Missing N Percent 0 .0%

N ibadah * psikosomatik

Valid Percent 200 100.0%

N

Total Percent 200 100.0%

ibadah * psikosomatik Crosstabulation psikosomatik baik psikosomatik 126 0 100.0% .0% 23 51 31.1% 68.9% 149 51 74.5% 25.5%

ibadah

baik sedang

Total

Count Row % Count Row % Count Row %

Total 126 100.0% 74 100.0% 200 100.0%

217

Chi-Square Te sts Value 116.561 b 112.961 135.382 115.978 200 df 1 1 1 1 Asymp. Sig. (2-sided) .000 .000 .000 .000 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases

.000

.000

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18. 87. Risk Estimate 95% Confidence Interval Lower Upper 2.292 4.517

Value For cohort psikosomatik = baik N of Valid Cases 3.217 200

Crosstabs
Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 .0%

ibadah * kekebalanstress

Valid N Percent 200 100.0%

Total N Percent 200 100.0%

ibadah * ke ke balanstre ss Crosstabulation kekebalanstress baik sedang 44 82 34.9% 65.1% 8 66 10.8% 89.2% 52 148 26.0% 74.0%

ibadah

baik sedang

Total

Count Row % Count Row % Count Row %

Total 126 100.0% 74 100.0% 200 100.0%

218

Chi-Square Te sts Value 14.085 b 12.860 15.494 14.015 200 df 1 1 1 1 Asymp. Sig. (2-sided) .000 .000 .000 .000 Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square a Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases

.000

.000

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 19. 24. Risk Estimate 95% Confidence Interval Lower Upper 1.950 1.610 .628 10.052 6.482 .848

Value Odds Ratio for ibadah (baik / sedang) For cohort kekebalanstress = baik For cohort kekebalanstress = sedang N of Valid Cases 4.427 3.230 .730 200

219

Lampiran 3 tabel frekwensi tiap item soal Frequency Table
a1 Frequency sangat setuju 65 setuju 128 kurang setuju 4 tidak setuju 3 Total 200 Percent 32.5 64.0 2.0 1.5 100.0
a2 Frequency sangat setuju 40 setuju 118 kurang setuju 27 tidak setuju 12 5.00 3 Total 200 Percent 20.0 59.0 13.5 6.0 1.5 100.0 Valid Percent 20.0 59.0 13.5 6.0 1.5 100.0 Cumulative Percent 20.0 79.0 92.5 98.5 100.0

Valid

Valid Percent 32.5 64.0 2.0 1.5 100.0

Cumulative Percent 32.5 96.5 98.5 100.0

Valid

a3 Frequency sangat setuju 52 setuju 132 kurang setuju 13 tidak setuju 3 Total 200 Percent 26.0 66.0 6.5 1.5 100.0 Valid Percent 26.0 66.0 6.5 1.5 100.0 Cumulative Percent 26.0 92.0 98.5 100.0

Valid

220

a4 Frequency sangat setuju 16 setuju 88 kurang setuju 66 tidak setuju 26 sangat tidak setuju 4 Total 200 Percent 8.0 44.0 33.0 13.0 2.0 100.0 Valid Percent 8.0 44.0 33.0 13.0 2.0 100.0 Cumulative Percent 8.0 52.0 85.0 98.0 100.0

Valid

a5 Frequency sangat setuju 44 setuju 141 kurang setuju 11 tidak setuju 4 Total 200 Percent 22.0 70.5 5.5 2.0 100.0 a6 Frequency sangat setuju 86 setuju 103 kurang setuju 10 tidak setuju 1 Total 200 Percent 43.0 51.5 5.0 .5 100.0 a7 Frequency sangat setuju 87 setuju 102 kurang setuju 10 sangat tidak setuju 1 Total 200 Percent 43.5 51.0 5.0 .5 100.0 Valid Percent 43.5 51.0 5.0 .5 100.0 Cumulative Percent 43.5 94.5 99.5 100.0 Valid Percent 43.0 51.5 5.0 .5 100.0 Cumulative Percent 43.0 94.5 99.5 100.0 Valid Percent 22.0 70.5 5.5 2.0 100.0 Cumulative Percent 22.0 92.5 98.0 100.0

Valid

Valid

Valid

221

a8 Frequency sangat setuju 54 setuju 137 kurang setuju 7 tidak setuju 2 Total 200 Percent 27.0 68.5 3.5 1.0 100.0 a9 Frequency sangat setuju 50 setuju 140 kurang setuju 9 tidak setuju 1 Total 200 Percent 25.0 70.0 4.5 .5 100.0 a10 Frequency sangat setuju 103 setuju 89 kurang setuju 6 tidak setuju 2 Total 200 Percent 51.5 44.5 3.0 1.0 100.0 a11 Frequency sangat setuju 59 setuju 129 kurang setuju 10 tidak setuju 2 Total 200 Percent 29.5 64.5 5.0 1.0 100.0 Valid Percent 29.5 64.5 5.0 1.0 100.0 Cumulative Percent 29.5 94.0 99.0 100.0 Valid Percent 51.5 44.5 3.0 1.0 100.0 Cumulative Percent 51.5 96.0 99.0 100.0 Valid Percent 25.0 70.0 4.5 .5 100.0 Cumulative Percent 25.0 95.0 99.5 100.0 Valid Percent 27.0 68.5 3.5 1.0 100.0 Cumulative Percent 27.0 95.5 99.0 100.0

Valid

Valid

Valid

Valid

222

a12 Frequency sangat setuju 15 setuju 82 kurang setuju 76 tidak setuju 25 sangat tidak setuju 2 Total 200 Percent 7.5 41.0 38.0 12.5 1.0 100.0 Valid Percent 7.5 41.0 38.0 12.5 1.0 100.0 Cumulative Percent 7.5 48.5 86.5 99.0 100.0

Valid

a13 Frequency sangat setuju 68 setuju 125 kurang setuju 7 Total 200 Percent 34.0 62.5 3.5 100.0
a14 Frequency sangat setuju 76 setuju 110 kurang setuju 10 tidak setuju 3 sangat tidak setuju 1 Total 200 Percent 38.0 55.0 5.0 1.5 .5 100.0 Valid Percent 38.0 55.0 5.0 1.5 .5 100.0 Cumulative Percent 38.0 93.0 98.0 99.5 100.0

Valid

Valid Percent 34.0 62.5 3.5 100.0

Cumulative Percent 34.0 96.5 100.0

Valid

a15 Frequency sangat setuju 45 setuju 95 kurang setuju 30 tidak setuju 28 sangat tidak setuju 2 Total 200 Percent 22.5 47.5 15.0 14.0 1.0 100.0 Valid Percent 22.5 47.5 15.0 14.0 1.0 100.0 Cumulative Percent 22.5 70.0 85.0 99.0 100.0

Valid

223

a16 Frequency sangat setuju 52 setuju 139 kurang setuju 8 tidak setuju 1 Total 200 Percent 26.0 69.5 4.0 .5 100.0
a17 Frequency sangat setuju 34 setuju 97 kurang setuju 53 tidak setuju 13 sangat tidak setuju 3 Total 200 Percent 17.0 48.5 26.5 6.5 1.5 100.0 Valid Percent 17.0 48.5 26.5 6.5 1.5 100.0 Cumulative Percent 17.0 65.5 92.0 98.5 100.0

Valid

Valid Percent 26.0 69.5 4.0 .5 100.0

Cumulative Percent 26.0 95.5 99.5 100.0

Valid

a18 Frequency sangat setuju 43 setuju 151 kurang setuju 6 Total 200 Percent 21.5 75.5 3.0 100.0 a19 Frequency sangat setuju 112 setuju 79 kurang setuju 8 tidak setuju 1 Total 200 Percent 56.0 39.5 4.0 .5 100.0 Valid Percent 56.0 39.5 4.0 .5 100.0 Cumulative Percent 56.0 95.5 99.5 100.0 Valid Percent 21.5 75.5 3.0 100.0 Cumulative Percent 21.5 97.0 100.0

Valid

Valid

224

b1 Frequency sangat setuju 27 setuju 152 kurang setuju 15 tidak setuju 5 sangat tidak setuju 1 Total 200 b2 Frequency sangat setuju 29 setuju 138 kurang setuju 23 tidak setuju 9 sangat tidak setuju 1 Total 200 b3 Frequency sangat setuju 48 setuju 142 kurang setuju 8 tidak setuju 1 sangat tidak setuju 1 Total 200 b4 Frequency sangat setuju 9 setuju 115 kurang setuju 40 tidak setuju 26 sangat tidak setuju 10 Total 200 Percent 4.5 57.5 20.0 13.0 5.0 100.0 Valid Percent 4.5 57.5 20.0 13.0 5.0 100.0 Cumulative Percent 4.5 62.0 82.0 95.0 100.0 Percent 24.0 71.0 4.0 .5 .5 100.0 Valid Percent 24.0 71.0 4.0 .5 .5 100.0 Cumulative Percent 24.0 95.0 99.0 99.5 100.0 Percent 14.5 69.0 11.5 4.5 .5 100.0 Valid Percent 14.5 69.0 11.5 4.5 .5 100.0 Cumulative Percent 14.5 83.5 95.0 99.5 100.0 Percent 13.5 76.0 7.5 2.5 .5 100.0 Valid Percent 13.5 76.0 7.5 2.5 .5 100.0 Cumulative Percent 13.5 89.5 97.0 99.5 100.0

Valid

Valid

Valid

Valid

225

b5 Frequency sangat setuju 12 setuju 108 kurang setuju 59 tidak setuju 18 sangat tidak setuju 3 Total 200 b6 Frequency .00 113 sangat setuju 7 setuju 19 kurang setuju 28 tidak setuju 19 sangat tidak setuju 14 Total 200 b7 Frequency sangat setuju 19 setuju 123 kurang setuju 35 tidak setuju 22 sangat tidak setuju 1 Total 200 b8 Frequency sangat setuju 13 setuju 116 kurang setuju 54 tidak setuju 15 sangat tidak setuju 2 Total 200 Percent 6.5 58.0 27.0 7.5 1.0 100.0 Valid Percent 6.5 58.0 27.0 7.5 1.0 100.0 Cumulative Percent 6.5 64.5 91.5 99.0 100.0 Percent 9.5 61.5 17.5 11.0 .5 100.0 Valid Percent 9.5 61.5 17.5 11.0 .5 100.0 Cumulative Percent 9.5 71.0 88.5 99.5 100.0 Percent 56.5 3.5 9.5 14.0 9.5 7.0 100.0 Valid Percent 56.5 3.5 9.5 14.0 9.5 7.0 100.0 Cumulative Percent 56.5 60.0 69.5 83.5 93.0 100.0 Percent 6.0 54.0 29.5 9.0 1.5 100.0 Valid Percent 6.0 54.0 29.5 9.0 1.5 100.0 Cumulative Percent 6.0 60.0 89.5 98.5 100.0

Valid

Valid

Valid

Valid

226

b9 Frequency sangat setuju 72 setuju 120 kurang setuju 6 tidak setuju 1 sangat tidak setuju 1 Total 200 Percent 36.0 60.0 3.0 .5 .5 100.0 Valid Percent 36.0 60.0 3.0 .5 .5 100.0 Cumulative Percent 36.0 96.0 99.0 99.5 100.0

Valid

b10 Frequency sangat setuju 11 setuju 78 kurang setuju 66 tidak setuju 39 sangat tidak setuju 6 Total 200 Percent 5.5 39.0 33.0 19.5 3.0 100.0 Valid Percent 5.5 39.0 33.0 19.5 3.0 100.0 Cumulative Percent 5.5 44.5 77.5 97.0 100.0

Valid

b11 Frequency sangat setuju 40 setuju 152 kurang setuju 6 tidak setuju 1 sangat tidak setuju 1 Total 200 Percent 20.0 76.0 3.0 .5 .5 100.0 Valid Percent 20.0 76.0 3.0 .5 .5 100.0 Cumulative Percent 20.0 96.0 99.0 99.5 100.0

Valid

b12 Frequency sangat setuju 40 setuju 149 kurang setuju 8 tidak setuju 2 sangat tidak setuju 1 Total 200 Percent 20.0 74.5 4.0 1.0 .5 100.0 Valid Percent 20.0 74.5 4.0 1.0 .5 100.0 Cumulative Percent 20.0 94.5 98.5 99.5 100.0

Valid

227

b13 Frequency sangat setuju 33 setuju 134 kurang setuju 24 tidak setuju 7 sangat tidak setuju 2 Total 200 Percent 16.5 67.0 12.0 3.5 1.0 100.0 Valid Percent 16.5 67.0 12.0 3.5 1.0 100.0 Cumulative Percent 16.5 83.5 95.5 99.0 100.0

Valid

b14 Frequency sangat setuju 17 setuju 84 kurang setuju 68 tidak setuju 24 sangat tidak setuju 7 Total 200 Percent 8.5 42.0 34.0 12.0 3.5 100.0 Valid Percent 8.5 42.0 34.0 12.0 3.5 100.0 Cumulative Percent 8.5 50.5 84.5 96.5 100.0

Valid

b15 Frequency sangat setuju 22 setuju 140 kurang setuju 30 tidak setuju 5 sangat tidak setuju 3 Total 200 Percent 11.0 70.0 15.0 2.5 1.5 100.0 Valid Percent 11.0 70.0 15.0 2.5 1.5 100.0 Cumulative Percent 11.0 81.0 96.0 98.5 100.0

Valid

b16 Frequency sangat setuju 6 setuju 83 kurang setuju 50 tidak setuju 39 sangat tidak setuju 22 Total 200 Percent 3.0 41.5 25.0 19.5 11.0 100.0 Valid Percent 3.0 41.5 25.0 19.5 11.0 100.0 Cumulative Percent 3.0 44.5 69.5 89.0 100.0

Valid

228

b17 Frequency sangat setuju 9 setuju 97 kurang setuju 67 tidak setuju 21 sangat tidak setuju 6 Total 200 c1 Frequency sangat setuju 3 setuju 25 kurang setuju 82 tidak setuju 51 sangat tidak setuju 39 Total 200 c2 Frequency sangat setuju 1 setuju 23 kurang setuju 84 tidak setuju 74 sangat tidak setuju 18 Total 200 c3 Frequency sangat setuju 10 setuju 90 kurang setuju 62 tidak setuju 32 sangat tidak setuju 6 Total 200 Percent 5.0 45.0 31.0 16.0 3.0 100.0 Valid Percent 5.0 45.0 31.0 16.0 3.0 100.0 Cumulative Percent 5.0 50.0 81.0 97.0 100.0 Percent .5 11.5 42.0 37.0 9.0 100.0 Valid Percent .5 11.5 42.0 37.0 9.0 100.0 Cumulative Percent .5 12.0 54.0 91.0 100.0 Percent 1.5 12.5 41.0 25.5 19.5 100.0 Valid Percent 1.5 12.5 41.0 25.5 19.5 100.0 Cumulative Percent 1.5 14.0 55.0 80.5 100.0 Percent 4.5 48.5 33.5 10.5 3.0 100.0 Valid Percent 4.5 48.5 33.5 10.5 3.0 100.0 Cumulative Percent 4.5 53.0 86.5 97.0 100.0

Valid

Valid

Valid

Valid

229

c4 Frequency sangat setuju 4 setuju 45 kurang setuju 88 tidak setuju 56 sangat tidak setuju 7 Total 200 c5 Frequency sangat setuju 7 setuju 18 kurang setuju 76 tidak setuju 72 sangat tidak setuju 27 Total 200 c6 Frequency sangat setuju 6 setuju 13 kurang setuju 55 tidak setuju 85 sangat tidak setuju 41 Total 200 c7 Frequency sangat setuju 9 setuju 59 kurang setuju 46 tidak setuju 75 sangat tidak setuju 11 Total 200 Percent 4.5 29.5 23.0 37.5 5.5 100.0 Valid Percent 4.5 29.5 23.0 37.5 5.5 100.0 Cumulative Percent 4.5 34.0 57.0 94.5 100.0 Percent 3.0 6.5 27.5 42.5 20.5 100.0 Valid Percent 3.0 6.5 27.5 42.5 20.5 100.0 Cumulative Percent 3.0 9.5 37.0 79.5 100.0 Percent 3.5 9.0 38.0 36.0 13.5 100.0 Valid Percent 3.5 9.0 38.0 36.0 13.5 100.0 Cumulative Percent 3.5 12.5 50.5 86.5 100.0 Percent 2.0 22.5 44.0 28.0 3.5 100.0 Valid Percent 2.0 22.5 44.0 28.0 3.5 100.0 Cumulative Percent 2.0 24.5 68.5 96.5 100.0

Valid

Valid

Valid

Valid

230

c8 Frequency sangat setuju 5 setuju 34 kurang setuju 70 tidak setuju 81 sangat tidak setuju 10 Total 200 c9 Frequency sangat setuju 3 setuju 36 kurang setuju 51 tidak setuju 87 sangat tidak setuju 23 Total 200 Percent 1.5 18.0 25.5 43.5 11.5 100.0 Valid Percent 1.5 18.0 25.5 43.5 11.5 100.0 Cumulative Percent 1.5 19.5 45.0 88.5 100.0 Percent 2.5 17.0 35.0 40.5 5.0 100.0 Valid Percent 2.5 17.0 35.0 40.5 5.0 100.0 Cumulative Percent 2.5 19.5 54.5 95.0 100.0

Valid

Valid

c10 Frequency sangat setuju 4 setuju 18 kurang setuju 72 tidak setuju 71 sangat tidak setuju 35 Total 200 Percent 2.0 9.0 36.0 35.5 17.5 100.0 Valid Percent 2.0 9.0 36.0 35.5 17.5 100.0 Cumulative Percent 2.0 11.0 47.0 82.5 100.0

Valid

c11 Frequency sangat setuju 10 setuju 113 kurang setuju 45 tidak setuju 27 sangat tidak setuju 5 Total 200 Percent 5.0 56.5 22.5 13.5 2.5 100.0 Valid Percent 5.0 56.5 22.5 13.5 2.5 100.0 Cumulative Percent 5.0 61.5 84.0 97.5 100.0

Valid

231

c12 Frequency sangat setuju 6 setuju 17 kurang setuju 77 tidak setuju 78 sangat tidak setuju 22 Total 200 Percent 3.0 8.5 38.5 39.0 11.0 100.0 Valid Percent 3.0 8.5 38.5 39.0 11.0 100.0 Cumulative Percent 3.0 11.5 50.0 89.0 100.0

Valid

c13 Frequency sangat setuju 9 setuju 48 kurang setuju 83 tidak setuju 49 sangat tidak setuju 11 Total 200 Percent 4.5 24.0 41.5 24.5 5.5 100.0 Valid Percent 4.5 24.0 41.5 24.5 5.5 100.0 Cumulative Percent 4.5 28.5 70.0 94.5 100.0

Valid

c14 Frequency sangat setuju 5 setuju 49 kurang setuju 85 tidak setuju 52 sangat tidak setuju 9 Total 200 Percent 2.5 24.5 42.5 26.0 4.5 100.0 Valid Percent 2.5 24.5 42.5 26.0 4.5 100.0 Cumulative Percent 2.5 27.0 69.5 95.5 100.0

Valid

c15 Frequency sangat setuju 5 setuju 48 kurang setuju 79 tidak setuju 53 sangat tidak setuju 15 Total 200 Percent 2.5 24.0 39.5 26.5 7.5 100.0 Valid Percent 2.5 24.0 39.5 26.5 7.5 100.0 Cumulative Percent 2.5 26.5 66.0 92.5 100.0

Valid

232

c16 Frequency sangat setuju 2 setuju 32 kurang setuju 73 tidak setuju 70 sangat tidak setuju 23 Total 200 Percent 1.0 16.0 36.5 35.0 11.5 100.0 Valid Percent 1.0 16.0 36.5 35.0 11.5 100.0 Cumulative Percent 1.0 17.0 53.5 88.5 100.0

Valid

c17 Frequency sangat setuju 7 setuju 44 kurang setuju 78 tidak setuju 54 sangat tidak setuju 17 Total 200 Percent 3.5 22.0 39.0 27.0 8.5 100.0 Valid Percent 3.5 22.0 39.0 27.0 8.5 100.0 Cumulative Percent 3.5 25.5 64.5 91.5 100.0

Valid

c18 Frequency sangat setuju 14 setuju 81 kurang setuju 64 tidak setuju 36 sangat tidak setuju 5 Total 200 Percent 7.0 40.5 32.0 18.0 2.5 100.0 Valid Percent 7.0 40.5 32.0 18.0 2.5 100.0 Cumulative Percent 7.0 47.5 79.5 97.5 100.0

Valid

c19 Frequency sangat setuju 4 setuju 21 kurang setuju 60 tidak setuju 77 sangat tidak setuju 38 Total 200 Percent 2.0 10.5 30.0 38.5 19.0 100.0 Valid Percent 2.0 10.5 30.0 38.5 19.0 100.0 Cumulative Percent 2.0 12.5 42.5 81.0 100.0

Valid

233

Lampiran 4 Jawaban responden pada Tabel SPSS 13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->