P. 1
Belajar Bahasa Sangihe Oleh Hans Ernst Steller

Belajar Bahasa Sangihe Oleh Hans Ernst Steller

|Views: 2,251|Likes:
Published by Josias D Tatontos
Penerjemahan bahasa sangihe Oleh Hans Erns Steller
Beliau mohon bantuan teman-teman dari sangihe untuk membantu dalam proyek penterjemahan ini beliau bisa dihubungi di hansernst.steller@gmail.com
Penerjemahan bahasa sangihe Oleh Hans Erns Steller
Beliau mohon bantuan teman-teman dari sangihe untuk membantu dalam proyek penterjemahan ini beliau bisa dihubungi di hansernst.steller@gmail.com

More info:

Published by: Josias D Tatontos on Aug 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Bahasa Sangihe: FrontPage

Selamat datang di Workspace Bahasa Sangihe Welcome to Workspace The Language of Sangihe
Workspace ini buat Singkatan T ata Bahasa Sangihe, berdasar Buku N. Adriani, Sangireesche Spraakkunst, 1893, yang ditulis dalam Bahasa Belanda dengan menggunakan data dari Clara Steller. Maksud saya mengarang tata bahasa yang bisa digunakan orang yang tertarik pada bahasa Sangihe, baik yang berbicara bahasa itu maupun yang ingin belajar bahasa Sangihe. Karena buku Adriani sudah tua dan caranya untuk memerikan bahasa sangat kolot, saya belum tahu, apakah pemeriannya masih cocok dengan pemakaian bahasa pada hari kini. Mungkin banyak gejala sudah hilang. Harap orang Sangihe mau membantu meng-update kerja saya. Saya juga berterima kasih kepada orang yang mau memperbaiki teks saya yang di bahasa Indonesia, atau yang membantu saya dengan terjemahan kalimat bahasa Sangihe ke bahasa Indonesia. Saya menyadari bahwa pengetahuan saya akan bahasa Indonesia sebenarnya belum cukup untuk pekerjaan ini.

Siapa pun yang bersedia membantu, silahkan menghubungi saya lewat e-mail atau facebook. Alamat e-mail:. hansernst.steller@gmail.com
T his will be a Concise Grammar of Sangirese, a language spoken on the Isles of Sangihe, between North Sulawesi and the Philippines, and akin to the local languages of North Sulawesi and those of the Philippines, e.g. T agalog. My description is an exerpt of the grammar written by N. Adriani, Sangireesche Spraakkunst, Leiden, 1893, written with the help of those who were the first to study that language, my great-grandfather Ernst T raugott Steller and his daughter Clara, who already translated parts of the Bible and other Christian texts into Sangirese. I expect that modern Sangirese has changed a lot since the book of Adriani was published. T he language is spoken still on those islands and by many people from Sangihe spread over the whole of Indonesia, to be in contact with each other, e.g. on facebook, and I hope for their assistance to update this work. T he language has some remarkable features, such as different verbal forms for different aspects, mistakenly forced by Adriani into a system of tenses known from European languages. T here are verbal forms not only with the agens or the patiens as their subject, but also with the instrument used for the action, or the place or time, that hardly can be translated literally, reciprocal and reflexive forms, forms that express causality or possibility, and a lot more. As this work of mine is not intended to be scientific, but in the first place is meant to be useful for the speakers of that language - as there does not exist any description of Sangirese available for them - I will try to write it in Indonesian. But probably anyone who is interested in this language, will be able to understand Indonesian too. Anyone who is interested to contribute and help with my work, is kindly requested to contact. hansernst.steller@gmail.com

Bahasa Sangihe: 1 introduction
SideBar

Bab 1 – KATA PENGANTARAN
Diale k bahasa Sangihe 1.1 Bahasa Sangihe, BS, adalah kumpulan dialek; terutama satu dialek yang diperikan di dalam buku tata bahasa “ Sangireesche Spraakkunst”, oleh N. Adriani (1893) dan di dalam kamus “ Sangirees-Nederlands Woordenboek”, oleh K.G.F. Steller – Ds W.E. Aebersold (1959), itulah:

Mang. T ab. Kend. Kol. T ah. Ut. Si . T am. T ag.

dialek Manganitu, yang mendominasi sebab pekerjaan keluarga Steller, E.T . Steller, dan anaknya Clara dan Karl (K.G.F.), sehingga dapat dinamakan Bahasa Sangihe Baku. dialek T abukan dialek Kendahe dialek Kolongan dialek T ahuna. Keempat dialek itu juga ditandai dialek Utara. Dialek Siau berbeda lebih dari dialek di Sangihe, tetapi tepat termasuk bahasa Sangihe; pembedaan dengan bahasa lain jauh lebih besar daripada pembedaan dengan dialek BS. Dialek Siau juga mempengaruhi bahasa di kawasan T amako, yang masa dulu adalah bagian kerajahan Siau dialek T agulandang terlebih dipengaruhi Bahasa Melayu (menurut Adriani yang mendasarkan pendapatan itu pada catatan F. Kelling)

Huruf dan Sukukata 1.2 Huruf Vokal: a e é i o u. e dilafalkan seperti e di kata “ beras”, é dilafalkan seperti e di kata “ beres”.1 Konsonan: b d g gh h i k l ļ m n ng p r s t w. l dilafalkan dengan ujung lidah di belakang gigi, ļ dilafalkan dengan ujung lidah ke langit-langit. 1.3 Sukukata - Sukukata yang terbuka adalah sukukata yang berakhir dengan vokal; - sukukata yang tertutup adalah sukukata yang berakhir dengan konsonan – juga kalau konsonan kehilangan, sukukata itu merupakan sukukata tertutup (setengah tertutup): ana' (anak – k hilang). Penutup (konsonan yang terhilang) ditanda dengan '.2 Di depan l, m, n, penutup hilang, kalau tanpa aksen, e ' menjadi e me '-liwua > me liwua, me 'munara > me munara, me 'nalang > me nalang; kalau ada aksen, penutup ' hilang menduakan huruf berikutnya: se 'lahe ' > se llahe ' – kase lahe ng te 'nung > te nnung – kate nungang Kalau sukukata berakhir dengan m, n, ng, itu merupakan sukukata tertutup longgar.
1 2 Baik di dalam buku tata bahasa N. Adriani, Spraakkunst, maupun di dalam Kamus K.F.G. Steller-Aebersold e ditandai dengan ĕ, dan é dengan e, menurut cara Clara Steller. Lain dari cara Clara Steller yang menandai itu dengan titik di bawah vokal – begitu juga baik di buku tata bahasa Adriani maupun di Kamus Steller-Aebersold, tetapi di komputer cara itu

te 'mude ' > te mmude ' - kate mudang

cukup sulit.

2

Ubahan bunyi 1.4 Vokal ai > Mang. é , kecuali kalau aksen terletak pada a Kal., Kend., toļai > Mang. toļé (ékor). e di depan vokal hilang, e di belakang vokal berpadu dengan vokal itu: himukude u taumata > himukud' u taumata - kae ng > kâng. e ' – kalau ada e ' dalam dua katasuku yang berturut-turut, e ' dalam katasuku yang pertama menjadi e di depan b, d, g: me '-be 'bé ra > me be 'bé ra, me '-de 'dorong > me de 'dorong, me '-ge 'gio > me ge 'gio,3 tetapi me '-te 'tiki' tinggal me 'te 'tiki'. Dalam keadaan ini b, d, g tidak berubah – lihat 1.5. . 1.5 Konsonan ṛ (r dengan suara tekak/garau) > h di Mang.: T u na > T aṛ ahuna . Di belakang sukukata terbuka (juga dalam kalimat kalau kata di depan berakhir dengan sukukata terbuka): b > w – d > r – g > gh bé ra, me 'bé ra, bawé ra – baļé , ku' baļé , su waļé daļé ng, du'daļé ng, su raļé ng, makaraļé ng – dalo, me 'dalo, daralo gé 'llé , maghé 'llé – gati, su ghati – gurang, gaghurang n > ng di akhir kata dan di depan konsonan dengan suara tekak (g, gh, k); juga akhiran -n dilafalkan ng di depan kata yang berawal dengan vokal, tetapi tetap ditulis -n: ditulis batun ambong – dilafalkan batung ambong. 1.6 Nasalisasi Beberapa awilan menyebabkan nasalisasi, ubahan huruf yang di belakang awilan, misalnya ma*-/me *-; tanda * merupakan tanda nasalisasi dalam rumus awilan itu. Di depan k, b, p, s, t, vokal, maka vokal awilan ialah selalu a, di depan huruf lain, vokal selalu e : ma*k > mang ma*b > mam ma*p > mam ma*s > man ma*t > man ma*vokal > mang me *d > me nd me *g > me ngg me *h > me h me *l > me l me *n > me n

1.7 Re duplikasi Reduplikasi adalah pengulangan huruf pertama dari sukukata, dengan vokal a atau e'. Rumus: #a-, #e '-, dengan # sebagai tanda huruf yang diduakan: #a-kumpang – kakumpang Kalau reduplikasi dibuat dengan vokal a: bab- > baw- -- dad- > dar- -- gag- > gagh- -- lal- > laļ atau daļ, kalau h atau vokal: hah- > lah, vokal-vokal > la-vokal, kalau ada awilan dengan nasalisasi di depan vokal, nasalisasi itu digunakan untuk reduplikasi: ma-#a*-aļa' > mangangaļa'. Dengan vokal e ' tidak ada ubahan: be 'b – de 'd – ge 'g – le 'l – dsb.
3 Kadang-kadang e' > e di depan d tanpa sukukata kedua dengan e' – i redua, edang.

3

Akse n 1.8 Aksen terletak di sukukata dasar yang sebelum sukukata yang terakhir; -e ̆' di belakang konsonan terakhir tidak terhitung seperti sukukata: buḷu de ̆', himukude ̌' Awalan dan sisipan tidak mempengaruhi letak aksen; beberapa akhiran menyebabkan penggeseran aksen: 1.8.1. Dengan akhiran -ang, -e ng aksen digeser ke belakang: daļé ng – daraļé ngang, dé 'sung – daré 'sungang, -é ' di belakang konsonan terakhir hilang di depan akhiran itu: buļude ' - bawuļudâng, burase – bawurasê ng, kalau kata dasar berakhir dengan vokal yang berpadu dengan akhiran itu, maka aksen terletak di sukukata yang terlebur: banua - bawanuâng, taho – tatahông. 1.8.2. Dengan akhiran -ku, -u/-nu, -é /-né (-ku, -m u, -nya) aksen tinggal di tempatnya, kalau akhiran berada di belakang sukukata tertutup: aré ng – aré ngku; bara' – bara'u; ana' - ana'é aksen digeser ke belakang, kalau akhiran berada di belakang suku tata terbuka: baļé – baļé ku; tuari – tuarinu; soa -soané 1.8.3. Akhiran 'é , -ké (tanda tekanan, lihat 1.11) yang di belakang sukukata terbuka itu menyebabkan penggeseran aksen: ne 'bé ra - ne 'bé ra'é ; nakiwaļo - nakiwaļo'é ; ne 'línda - né 'lindá'e kalau akhiran itu berada di belakang sukukata tertutup, aksen tinggal di tempatnya: ne ndé no' – ne ndé no'é ; nangala' - nangala'é -é ' di belakang kata hilang di depan kata tekanan: ne 'kahudé ' – ne 'kahudé '-'é > ne 'kahudé akhiran ini mendapat rupa -ké di belakang nasal -ng: nangurung - nangurungké 1.8.4. Akhiran -é , -i di belakang kata kerja berbentuk imperatif (perintah) pasif (lihat bab kata kerja): aksen selalu terletak di sukukata yang di depan akhirannya: kariadi – kariadié ; té nno - pakité nnoi; aļa´ - aļaké ; koa – koaté . Akhiran lain tidak mempengaruhi letak aksen. 1.8.5. Kata adverbia dan kata partikel yang artinya berubah di tempat lain dalam kalimat, juga mengubah letak aksennya: é né – é né ; tangu – tangu; uté - uté 1.8.6. Vokatif dari nama diri, nama keluarga dan gelar diberi aksen di sukukata yang terakhir: mawu! amang! manané ntiro! Kalau ada kata adjektiva, kelompok kata itu dianggap seperti kesatuan dengan satu aksen: mawu mapia!

4 1.9 Awalan niAwalan ni- di depan huruf b, k, p, t, s berubah menjadi -in- di belakang huruf itu: b-in-ohe' daripada ni-wohe' k-in-oa' p-in-até < < ni-koa' ni-paté t-in-utung < s-in-usu < ni-tutung ni-susu

Dengan huruf lain gejala itu paling langka:

d-in-éno' g-in-e'de' k-in-ap-in-akip-in-aka-

< < < < <

ni-réno' ni-ghe'de' ni-kani-pakini-paka-

h-in-épése' < ni-hépése' l-in-ihi' < ni-lihi' ni-pe'tengka ni-pe'papa-

Namun dengan awalan gejala itu biasa: p-in-e'tengka- < p-in-e'papa<

1.10 Akhiran -ang/-é ng Akhiran -ang yang biasa; akhiran -e ng digunakan kalau di dalam sukukata di depan ada vokal a: buļude' - bawuļudang burase' - bawuraséng Dengan sukukata setengah tertutup (lihat 1.3) di depan akhiran ini, ditambah huruf perpisahan antara vokal sukukata dan akhiran – k, t, atau huruf asli yang hilang: mangaļa' - iaļakéng dengan huruf asli: se'da' (mane'da') - se'dapéng Dengan sukukata terbuka di depan akhiran, vokal a, e, o berpadu dengan akhiran menjadi -âng, -êng, -ông; vokal i, u tidak berpadu: buala - bembualâng iruļé - pangangiruļêng taho - tatahông Dengan o' kadang-kadang juga ada perpaduan: pendarénông – pendarénokang (déno') Dengan é' sangat jarang ada perpaduan: pangangumbélêng – pangangumbélékang (bélé, mangumbélé') Huruf -e' yang di belakang kata (lihat 1.8.1) hilang di depan akhiran ini. Kadang-kadang huruf terakhir ng menjadi n untuk mengindari dua kali ng berturut-turut: mendangéng - darangenang Akhir vokal u huruf ng menjadi m : iruļung - pangangiruļum ang Lihat 1.8.1 tentang aksen. 1.11 Tanda te kanan T anda tekanan menekan kata yang di depan tanda itu: bué , -bé /-wé “ kan” dan lainnya. ko -é , -ké belum s eles ai 5 bati paamatiang e'du pangange'duang mendiko' - irikotang

Bahasa Sangihe: 2 Verba - Kata kerja
5

Bab 2 – KATA KERJA
2.1 Ske ma be ntuk (tasrif) Aktif Bentuk umum bentuk perintah Duratif bentuk perintah bentuk menyangkal Perfektif bentuk menyangkal mang-aļa' pang-aļa' ma'ng-aļa' pa'ng-aļa' tawé mangang-aļa' nang-aļa' tawé na'ngaļa' ma*-1 pa*ma'*pa'*ma#*-2 na*na'*jamak mempangaļa' pempangaļa' pempa'ngaļa' pempa'ngaļa' tawé mempangangaļa' nempangaļa' tawé nempa'ngaļa' m-emp-a*p-emp-a*p-emp-a'*p-emp-a'*m-emp-a#a*n-emp-a*n-emp-a'*-

Pasif: Bentuk umum bentuk perintah Duratif bentuk perintah bentuk menyangkal Perfektif bentuk menyangkal i-aļa' aļa' ile'-aļa' le'-aļa' tawé ila-aļa' nila-aļa', ni-aļa' tawé ni'la-aļa' i#e'#e'i#ani#a-, nini'-aļa', ni' i-

2.2 Makna dan pe makaian be ntuk kata ke rja Be ntuk umum: peristiwa, hal yang terjadi, yang seseorang membuat, yang biasa, yang akan terjadi, yang seorang akan/mau membuat; yang terjadi atau yang seseorang membuat di masa depan – bentuk ini juga digunakan sebagai kata benda. Kalau di masa depan, itu bisa dijelaskan dengan kata: sarung menekankan bahwa peristiwa tidak di masa kini atau masa lalu, he 'do - “ nanti” - peristiwa pasti akan terjadi di masa depan. Be ntuk pe rintah: harus terjadi/dibuat sekarang Duratif: peristiwa, hal yang tengah kejadiannya, yang seorang sedang membuat, yang belum selesai; dengan kai: masa kini, dengan na'un: masa lalu. Be ntuk pe rintah: harus terjadi/dibuat selalu. Be ntuk me nyangkal: belum terjadi, belum (sedang) dibuat. Pe rfe ktif: peristiwa, hal yang sudah selesai, yang seseorang telah membuat; dengan kai: hal, peristiwa yang dalam keadaan penyeselaian di masa kini, dengan na'un (bo'u): peristiwa yang sudah terjadi, yang seseorang telah membuat , dengan kai wo'u: peristiwa yang dalam keadaan penyeselaian di masa lalu Be ntuk me nyangkal: belum terjadi di masa lalu – contoh untuk melihat beda: i sié tawé nangala' dia tidak dalam keadaan penyeselaian “ mengambil” (bentuk pefektif) i sié tawé na'ngala' dia belum dalam keadaan penyeselaian “ mengambil” (bentuk menyangkal) i sié na'un tawé na'ngala' di masa lalu dia belum dalam keadaan penyeselaian “ mengambil”

Peristiwa yang di masa depan, itu dapat dikatakan hanya dengan bentuk umum. 1 2 Lihat 1.6 Lihat 1.7

6 Be ntuk pe rintah: biasanya dengan -ko, untuk pelembutan: pangala'ko – ambillah, dengan dako'(-ko) di depan: dako'ko pangala' – cobalah mengambil Bentuk perintah umum dengan tanda tekanan : “ harus sekarang”: - pangala'é – ambil terus. Bentuk perintah duratif: “ harus selalu”. Pe larangan: Kata sangkal: ai' dan abé (T am.- Si.: ari', ari'bé, dialek lain: arié'); dengan bentuk perintah umum:”jangan” - ai' pangaļa' – jangan ambil dengan bentuk perintah duratif: “ jangan pernah” - ai' pa'ngaļa' – jangan pernah mengambil Pe ringatan untuk tidak membuat sesuatu pakapia, pakapia wué , pakapiawé , kapiawé , piawé , kapia, pia; lebih keras: karié ' (kurang keras: karié 'bé ) dengan bentuk umum. Kurang kasar tetapi sama keras: kumbahang dengan bentuk umum. Peringatan untuk tidak terlalu membuat sesuatu: abé di depan kata dasar dengan reduplikasi ganda (#a#a-): dau (jauh) me -luta' (menumbuk) abé rararau jangan terlalu jauh! abé raraļuta' jangan tumbuk terlalu halus

2.3 Pe nyusunan be ntuk kata ke rja Be ntuk umum: dengan awalan (prefiks): 2.3.1 ma*-/me *- kata kerja transitif; ada beberapa kekecualian yang intransitif. ma'*-/me '#e *na*-/ne *pa*-/pe *m-e mp-a*-/m-e mp-e *bentuk duratif (menyangkal: ma#a*-/me *-#a-) bentuk perfektif (menyangkal: na'*-/ne '#e *-) bentuk perintah (duratif: pa'*-/pe '#e *-) bentuk jamak

pa#a*/pe #a*- bentuk nominal: “ ketika atau cara pembuatan/kejadian”: aļa' – pangangaļa' boso – pamamoso hiking – pelahiking su pangangaļa'é piso' é, ia' tawe'dise na'ung m apia-pia m engkai, pelahikingé rario' éné T asrif ma*-: lihat 2.1 me *-: Aktif: Bentuk umum perintah Bentuk duratif men-diko' pen-diko' me'den-diko' me*pe*me'#e*mempendiko' pempendiko' mempe'dendiko' m-emp-e*p-emp-e*m-emp-e'#e*-

perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal Pasif: Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal i-riko'

pe'den-diko' tawé menda-riko' nen-diko' tawé ne'den-diko'

pe'#e*me*#ane*ne'#e*-

pempe'dendiko' t. mempenda-riko' nempendiko' t. nempe'dendiko'

p-emp-e'*m-emp-e#a*n-emp-e*n-emp-e''#e*-

i.., nii#e'#e'i#ani'#ani#e'-, ni'-

diko' atau ni-riko ire'-diko' de'-diko' tawé ira-riko' ni'da-riko' tawé nire'diko' atau tawé ni'diko' ni'-

3

Reduplikasi dari huruf l-: daļ-, di belakang vokal menjadi raļ-, ganda: daraļ-, menjadi raraļ- di belakang vokal.

7 2.3.2 me '- kata kerja intransitif; ada beberapa kekecualian yang transitif. me #e ' ne ' pe 'm-e mp-e ' pe '#abentuk duratif (menyangkal: me '#a-) bentuk perfektif (menyangkal: ne #e '-) bentuk perintah (duratif: pe #e '-) bentuk jamak

bentuk nominal: “ ketika atau cara pembuatan/kejadian”: me'bua – pe'bawua su pe'bawua'é soļong Manaro é

Di depan huruf h, l m , n me '- > me -, ne ' > ne -, dan seterusnya. T asrif: Aktif Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal Pasif Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal i-wéra béra we'-béra be'-béra tawé iwa-wéra ni'ba-wéra, ni-wéra niwe'bera, ni'-béra i#e'#e'i#ani'#a, nini#e' ni'ime'-béra pe'-béra mebe'-béra pebe'-béra tawé me'ba-wéra ne'béra tawé nebe'-béra me'pe'me#e'pe#e'me'#ane'ne#e'mempe'béra pempe'béra mempebe'béra pempebe'béra tawé mempe'bawéra nempe'béra tawé nempebe'béra m-emp-e'p-emp-e'm-emp-e#e'p-emp-e#e'm-emp-e'#an-emp-e'n-emp-e#e'-

2.3.3 ma-, mi- kata kerja yang berarti: “ (kebetulan) datang dalam keadaan yang ditanda kata dasar” atau “ mungkin dibuat/terjadi” bera baļui m awera m awaļui

bengke' batu éné ma'-, mi'#ina-, ni'ka-, ki-

m am engke' (m a*-) m awengke' si sia'

m awengke' (m a-)

bentuk duratif (menyangkal: ma#a-/mi#a-) bentuk perfektif (menyangkal: na'-, ni'-) bentuk perintah (duratif: ke 'ka- ki'-) bentuk jamak

m-e ngk-a, m-e ngk-i

T asrif: maBentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal ma-aļa' ka-aļa' ma'-aļa' ke'ka-aļa' tawé maļa-aļa' na-aļa' tawé na'-aļa makama'ke'kama#a nana'mengkaaļa' kengkaaļa' mengka'aļa' kengkkaaļa' tawé mengkaļaaļa' nengkaaļa' nengka'aļa' m-engk-ak-engk-am-engk-a'k-engk-kam-engk-a#an-engk-an-engk-a'-

mi- (dasar bonohe') Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal ki-wonohe' ki-wonohe' mi'bi-wonohe' ki'-bonohe' tawé miwa-wonohe' ni-wonohe' ni'biwonohe' mikimi'#iki'mi#anini'-

8 2.3.4 Dengan sisipan (infiks) -um-: kata kerja yang intransitif; ada juga yang transitif. #-u'-imdasar me mpa-hu*- atau ma-hu* – ma- berubah menurut 2.1; sisipan -hu- terletak di antara ma-*-; maļahu*- = ma#ahu*- dengan reduplikasi dari h, – mempa- berubah menurut 2.1 T asrif: dasar daļéng Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal d-um-aļéng daļéng d-u'-daļéng de'-daļéng tawé r-um-a-raļéng d-im-aļéng tawé r-im-e'-daļéng +-um-++ +++ #-u'-++ #e'-++ #-um-a-++ +-im-++ #-im-e'- mahundaļéng pahundaļéng ma'hundaļéng pa'hundaļéng tawé maļahundaļéng nahundaļéng tawé na'hundaléng ma-hu*pa-hu*ma'-hu*pa'-hu*maļahu*nahu*na'hu*bentuk duratif (menyangkal: #-um-a-) bentuk perfektif (menyangkal: #-im-e '-) bentuk perintah (duratif: #e '-) jamak

-um- disisipkan di belakang huruf yang pertama dari kata dasar – tidak pernah di belakang b, m , p: genggang haung kalang le'to néong ngéau saké tuwo dolohe' kaeng, kâng gumenggang humaung kumalang ume'to numéong nguméau sumaké tumuwo dumolohe' mendolohe' kumâng

Ada kata kerja dengan huruf pertama d, k, t, yang mereduplikasi dasarnya dan akhirnya menyisipkan -um -: dingihe' dating déa' dumaringihe' makaringihe' dumarating mirating dumaréa' me'déa

2.4 ka'#a- di depan dasar: keadaan tepat yang merupakan hasil pembuatan atau kejadian: ka'ba-wohé ka'pa-pello' ka'ta-topé ka'ta-tûng ka'da-ļéhé ditulis ditaruh dibuka direbus digantung bohé mamohé pello' mamello' topé manopé tueng metueng léhé meléhé m enulis m enaruh m em buka m erebus m enggantung atas tali dsb

2.5 ka'-<>-(n)é (<> : dasar) atau ka'pa*-/ka'pe '-<>-(n)é : partisip kala kini, “ sedang ...”; -é di belakang sukukata tertutup, -né di belakang sukukata terbuka (lihat 1.3) ka'-aļa'-é ka'-bera-né ka'-koa'-é ka'-pundaļ-é ka'pa-ngaļa'-é ka'pe'-bera-né ka'pe'-koa'-é ka'pa-mundaļ-é

9 2.6 i-pa*-/i-pe *-/i-pe '-: subjek adalah alat yang digunakan untuk perbuatan: kai ipam oto' piso' ini e - pisau ini adalah alat yang dengannya dipotong – dengan pisau ini dipotong .. T asrif (lihat 2.1 dan 2.3.1) ma*-/me *-/me 'ma'*-/me '#e *-/me #e ' na*-/ne *-/ne 'pa*-/pe *-/pe '>

ipa*-/ipe *-/ipe '-

bentuk dasar bentuk duratif (menyangkal: ipa#a*-/ipe *-#a-/ipe #a-) bentuk perfektif (menyangkal: na'*-/ne '#e *-/nipe #e '-) bentuk perintah (duratif: pa'*-/pe '#e *-/pe #e '-)

> ipa'*-/ipe '#e *-/ipe #e '> nipa*-/nipe *-/nipe '-> atau > pina*-/pine *-/pine '- lihat 1.9 > pa*-/pe *-/pe '

atau: m- > ip-, n- > nip- atau pin- (lihat 1.9), bentuk perintah tidak berubah. 2.7 -ang/-é ng, akhiran di belakang bentuk pasif: subjek adalah tempat atau saat yang digunakan untuk perbuatan (lihat 1.10 juga): Kai atu' sudé pinangaļakéng i kam éné? Kai liwua' dala e ipe'dendénokang i kam i. Putung éné kai taku' ipanongkateng tuhigu.

Bentuk dibuat dengan akhiran di belakang bentuk pasif (i-,lihat 2.1, 2.3.1-2); bentuk jamak dibuat dengan akhiran di belakang bentuk dengan awalan ipa*-, ipe*-, ipe' (2.6); bentuk perintah: -i, -é , -k/té daripada -ang/-éng: -i di belakang sukukata terbuka -é di belakang sukukata tertutup dan di belakang i -k/t-é di belakang sukukata setengah tertutup (k/t: huruf perpisahan; lihat 1.10). bentuk pasif iaļa iriko' iwéra bentuk dasar iaļakéng irikotang iwérang bentuk perintah aļaké dikoté bérai jamak ipangaļakéng ipendikotang ipe'bérang bentuk perintah pangaļaké pendikoté pe'bérai

Akse n: lihat 1.8.1 dan 1.8.5 2.8 me '#a-: kata kerja kesalingan Reduplikasi dari huruf dasar yang pertama: boļéng déa' me'bawoléng me'daréa'

Kalau h huruf yang pertama: reduplikasi yang berganda, -daļa- (lihat 1.7 tentang reduplikasi dari h): hiking me'daļahiking1 Kalau huruf pertama adalah vokal, maka reduplikasi dibuat dari bentuk nominal (= bentuk perintah dasar): m e'papa-; kadang juga ada reduplikasi yang berganda dengan -laļa-:4 mang-aļa' mang-onggo mang-imbu pangaļa' pangonggo' pangimbu me'papangaļa' me'papangonggo' me'papangimbu me'laļaonggo' me'laļangimbu

T asrif (#a menjadi #a#a kalau huruf dasar yang pertama adalah h atau vokal): Aktif Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal Pasif: m- > ip-, n- > nip- (atau pin-, lihat 1.9); bentuk perintah tidak berubah. 4 Di T ahuna reduplikasi tidak berganda: m e'ļahiking. 10 2.9 me 'te ngka-: kata kerja yang refleksif, ipe 'te ngka-: pasif dari kata kerja refleksif. Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal me 'te ngkape 'te ngkame 'te 'te ngkape 'te 'te ngkatawé me 'tate ngkane 'te ngkatawé ne 'te 'te ngkaipe 'te ngkape 'te ngkaipe 'te 'te ngkape 'te 'te ngkatawé ipe 'tate ngkanipe 'te ngka-, pine 'te ngkatawé nipe 'te 'te ngkame '#ape '#ame '#e '#ape '#e '#ame '#a#ane '#ane #e '#ame'papangaļa' pe'papangaļa' me'pe'papangaļa' pe'pe'papangaļa' tawé me'papapangaļa' ne'papangaļa' tawé ne'pe'papangaļa me'dariko pe'dariko mede'dariko pe'de'dariko darariko ne'dariko tawé nede'dariko me'bawéra pe'bawéra mebe'bawéra pe'be'bawéra tawé mebawawéra ne'bawéra

2.10 mapa*-, mape *-, mape '-, mapaka-, mapa-: membuat/menyebabkan perbuatan atau kejadian iapa*-, iape *-, iape '- iapaka-, iapa-: pasif dari bentukan itu T asrif (lihat 2.1, 2.3-5) ma*-, me *-, me 'ma'*-, me '#e *-, me #e ' na*-, ne *-, ne 'pa*-, pe *-, pe '> mapa*-, mape *-, mape '> papa'*-, pape '#e *-, mape #e 'mapa#a*-, mape *#a-, ipe #a> napa*-, nape *-, nipe '> papa*-, pape *-, pe 'papa'*-/pape '#e *-/pape '#e bentuk dasar bentuk duratif menyangkal bentuk perfektif bentuk perintah perintah duratif

Bentuk umum perintah Bentuk duratif perintah menyangkal Bentuk perfektif menyangkal

mapang-aļa' papang-aļa' mapa'ng-aļa' papa'ng-aļa' t. mapangang-aļa' napang-aļa' t. napa'ng-aļa'

mapen-diko' papen-diko' mape'den-diko' pape'den-diko' t. mapenda-riko' napen-diko' t. napeden-diko'

mape'-béra pape'béra mape'be-wéra pape'be-wéra t. mape'be-wéra nape'béra t. nape'be-wéra

Pasif: ma- > ia-, na- > nia-, pa- > amapaka-, mapa-: di depan kata kerja dengan awalan m a- dan dengan sisipan -um -

belum selesai Dari kata kerja kesalingan: me '#a- (me'papa*-) > mape '#a (mape'papa*-): Pasif: iape '#a- (iape'papa*-) Membuat/menyebabkan perbuatan atau kejadian kesalingan. i sie kai mape'papangaļa' i kami i kami kai iape'papangaļa'e i ninang i redua e nape'tatingkuļum deduae i redua e niape'tatingkuļun ninang i redua e ipaka-: membuat/menyebabkan perbuatan/kejadidan dengan sangat kuat, nipaka-/pinaka-: bentuk perfektif, paka-: bentuk perintah. ipakasasa ipakapia taku' ipakatutung kahengang pakamanadu wué

11 2.11 maka-: sempat membuat, ika-: pasif; sempat dibuat, a) kesempatan tergantung pada subjek atau pada objek; b) kesempatan berada tanpa sengaja – kata kerja tentang pencerapan indriawi dan yang berkerabat;

c) kesempatan ialah kemalangan, tanpa sengaja. T asrif: Bentuk umum Bentuk duratif menyangkal Bentuk perfektif menyangkal Pasif: Bentuk umum Bentuk duratif menyangkal Bentuk perfektif menyangkal ikaike 'kaika#anikanike 'kaika-aļa' ike'ka-aļa' t. ikaļa-aļa' nika-aļa' t. nike'ka-aļa' ika-riko' ike'ka-riko' t. ikara-riko' nika-riko' t. nike'ka-riko' ika-wéra ike'ka-wéra t. ikawa-wéra nika-wéra t. nike'ka-wéra makamaka'maka#anakanaka'maka-aļa' maka'-aļa' makaļa-aļa' naka-aļa' t. naka'-aļa' maka-riko' maka'-diko' makara-riko' naka-riko' t. naka'-diko' maka-wéra maka'-béra t. makawa-wéra naka-wéra t. naka'béra

kalim at

2.12 makapa*-, makape *-, makape '-: bisa membuat karena keadaan baik untuk pembuatan T asrif: lihat 2.1, 2.3.1-2; dengan -akap- di belakang m-, n-, p-. i kami tawé makapekoa' kang, u tawé' aké' darentané é kai nakape'bengkase' si siré kai apa nakapekoa' si kau kéréné? 2.13 makaka- (bentuk perfektif: nakaka-) a) dapat menyebabkan bahwa apa-apa menjadi ia' makakaļénggé kalu ini, komaneng taku' tuwangeng ia' tawé makakariadi haļe' éné, u ia' mantemba' taumata b) menjadi sebab (kebetulan) bahwa apa-apa terjadi i kau kawé makakasilaka' si sié c) diberi kemungkinan supaya mengalami apa-apa ia' tawé makakaļénggé, u ia' endaung kai ite'tuilang katiho'é i sié kai makakakala' u tau éné 2.14 masi'-: perbuatan dijadikan oleh jumlah orang masing-masing, nasi'-: bentuk perfektif ; pasi'-: bentuk perintah. Kalau dasar berawal dengan vokal, maka biasanya digunakan bentuk dengan pa- (bentuk perintah): béra masi'béra aļa' masi'pangaļa' masi'aļa' inung masi'panginung 2.15 maki-: meminta/memohon membuat. belum selesai

2.16 ipaka-:

2.17 ma-pe 'te ngka-

ia-pe 'te ngkamaka-pe 'te ngkaika-pe 'te ngkaipaki-pe 'te ngkame 'te ngkime 'ti*-, me tu*-



Bahasa Sangihe: 3 Substantives Kata Benda
Bab 4 – KATA BENDA
4.1 Jenis kelamin: Orang dan satwa, kalau jenis kelamin, kalau hal yang penting, tidak jelas dari konteks, bisa mendapat tambahan é sé ' (laki-laki, jantan) dan bawiné (perempuan, betina): ana' anak kawaļo kuda kalidé keledai ana' é sé ' putra kawaļo é sé ' kuda jantan kalidé wawiné keledai betina ana' bawiné putri

4.2 Jumlah: T idak ada beda antara tunggal dan jamak, tetapi jamak bisa ditunjukkan dalam bentuk kata kerja atau bentuk adjektiva, serta ditandai dengan partikel manga – jamak dengan kebinekaan, sebagai penggandaan kata benda di bahasa Indonesia: baḷé rum ah – manga waḷé rum ah-rum ah Kata manga juga bisa memperluas arti kata: gaghurang orang tua - manga ghaghurang: pam an, pam an dari aya/ibu, bibi, saudara yang tua. Kata se mbau' digunakan di belakang sebuah kata, untuk membuat pengertian kata itu sebagai tunggal: ku' i sié me'gelli' u melahibore' baļiné sembau' si kaméné – m aka Ia m enberi penghibur yang lain kepada kam i (satu penghibur saja) (Yoh. 14:16). 4.3 Kelompok dua kata benda: kalau kata pertama berahir dengan sukukata tertutup, hubungan ditandai dengan u : apé ng u rano: pinggir danau (apé ng: pinggir – dano: danau), kalau kata pertama berakhir dengan sukukata terbuka, tanda hubungan adalah -n yang ditambah di akhir kata pertama: baļé n amang: rumah bapak (baļé : rumah - amang: bapak) 4.4 Nama diri dan nama keluarga dan nama gelar diberi i di depan nama; preposisi su menjadi si, di dalam kelompok kata u menjadi i di belakang sukukata tertutup, di belakang sukukata terbuka i hilang di belakang -n: ana' i Zakaria: anak Z. - baļé n Simon: rumah S. 4.5 Nama geografis tetap mendapat kata yang menjelaskan: banua (tanah) soa (kota, desa) dano (danau) tahanusa (pulau) dsb. su kawuga' u wanuan Galilé a: di seluruh tanah Galilea su apé ng u ranon Gé nné z aré t: di pinggir danau Gennezaret

4.6 Objek kata kerja Kalau tertentu, objek terletak langsung di belakang kata kerja: ia ma'moto' manu' e i sie mendiko' soļo e i kau namaļo' asu e saya m enjagal ajam (itu) dia (akan) m enyulut lam pu engkau telah m em ukul anjing

Itu juga berlaku dengan objek yang nama bahan atau rujukan ke nama bahan: pangaļa'ko aké' am billah air Hanya lai dan bé boleh diletakkan di antara kata kerja dan objek tertentu. Kalau objek tidak tertentu, digunakan u dan -n (4.3) di depan objek: i kamene namoto' ļain manu'? i kau sém bo'u nagonggo' u sabong si sie? kalian sudah m enjagal ajam juga? apakah engkau sudah m em beri sabun kepadanya?

i amangku e tawé melaļahag' u apa si sia' ia' mamehu' u aké' u limu Seringkali objek ditandai dengan su – su i > si.

ayaku tidak m enolak apa-apa kepada saya saya (akan) m em eras sari jeruk

belum selesai

Bahasa Sangihe: 4 Adjectives - Kata atributif
Bab 4 – KATA ATRIBUTIF
4.1 Jumlah kecil saja dari kata atributif sama dengan dasar: nama warna atau sifat yang mencolok, khusus sifat badan: biru' buta haga' biru buta jelek ido kento' daļaki' hijau pincang buruk, jahat

Kebanyakan kata atributif dirupakan dengan awalan mama-weha' ma-husu' Kata itu juga bisa berarti “ menjadi ...”: mamara matedu' kering, m enjadi kering sakit, m enjadi sakit berat kurus beha' husu' berat m uatan tulang rusuk

Juga ada kata atributif, yang dirupakan dengan reduplikasi, dengan awalan ka- atau dengan akhiran -ang: ge'-guwa' (ka-guwa' ge'-géré' besar besarnya) besar ka-didi' ka-dodo' kecil kecil takut-ang (taku' takut ketakutan)

4.2 Bentuk jamak dirupakan dengan reduplikasi dari dasar daļaki ma-pia daraļaki ma-papia ge'-guwa' ge-'géré' gaghuwa' gaghéré' ka-didi' daridi'

Kecualian: kata yang sudah ada reduplikasi di bentuk tunggal: dario' (dio') maraļending mararaļending darario' mararaļending kecil, m uda dingin

Kata atributif yang diambil dari bahasa lain, tidak ada jamak. Bentuk jamak tidak digunakan, kalau sifat jumlah orang atau hal ditandai sebagai bersama: taumata mapia tau Sangihe' kai taumata mitung Kalau jamak sudah ditandai secara lain, juga digunakan bentuk tunggal: i siré taumata raļaki 4.3 Bentuk dengan awalan ma' daripa ma- dan akhiran -ang: “ kurang ...”. Lihat 1.10 tentang pencantuman akhiran dengan kata. masaria marau marangé' maghurang mapia besar jauh tinggi tua baik ma'sariâng ma'dauang ma'dangétang ma'gurangeng ma'piâng kurang besar = lebih kecil kurang jauh = lebih dekat kurang tinggi = lebih rendang kurang tua = lebih m uda kurang baik = lebih jahat/buruk

ia' ma'dangétangbén kau ini e ma'lenggihangbén éné kalu ini ma'piângbén kalu éné ia', me'biahe' kéréné, ma'piângbé maté -bé digunakan kalau menyusul kata kerja, kalau tidak, digunakan -bé n. Daripada bentuk ma'-<>-ang, juga ada bentuk ma-<>-(bé n): ia' marange' i kau – ia' marange'bén kau ini e malenggihe'bén éné kalu ini mapiawén kalu éné 4.4 Bentuk dengan pe nggandaan dasar: “ sangat ...”:

mapia-pia malenggi-lenggihe' mawenna-wennahe' marengu'-dengu' Mungkin menambah m engkai (sekali): mengkai malenggi-lenggihe'

sangat baik sangat bagus sangat lam a sangat lam a

sangat bagus sekali

4.5 Kata atributif yang majemuk: Nama warna: mahamu' maghurang maririhe' manguda' mahamu' kamumu mahamu' tiwello' maririhe' saļa mahamu' mêlong saļa wiru m erah tua kuning m uda m erah keungu-unguan m erah oranye kuning kem erah-m erahan hijau kebiru-biruan

4.6 Kata atributif diletakkan di belakang kata benda. Kalau kata atributif digunakan sebagai predikat, keterangan lain yang menemani kata benda itu diletakkan di antara kata benda dan predikat: taumata éné e masaria baļé ini e marange' datun kami méhe'gi-he'gise' T ana-lawo' e mengkai malenggi-lenggihe'

Bahasa Sangihe: 5 Pronomina - Kata Ganti
BAB 5 – PRONOMINA – KATA GANTI
Pronomina pe rsona saya-kam i/kita 1 2 3 jamak ia' i kandua i kadua i kami tellu i kité' ellu i kami i kité' Di jamak kata hitung 4-10 boleh ditambah juga. Kata depan se dipadu dengan i menjadi si – sia' atau si sia', si kau, si sié . ia' diganti dengan taku' di depan bentuk pasif subjektif (lihat Bab Kata Kerja) Di P. Siau: kum u, kem m u daripada kam éné. Pronomina pose sif saya-kam i/kita 1 2 3 jamak -ku kandua kadua kami tellu kité' ellu kami kité' kaméné siré kaméné tellu siré tellu engkau-kalian -u -nu dua dia-m ereka é -né dedua i kaméné i siré i kamené tellu i siré tellu engkau-kalian i kau i rua dia-m ereka i sié i redua

Akhiran: -ku di belakang semua kata; di belakang kata yang berakhir dengan sukukata tertutup: -u dan -é di belakang kata yang berakhir dengan sukukata terbuka: -nu dan -né Pronomina posesif lain merupakan kelompok dengan kata benda sebagai kelompok dua kata benda (lihat 4.3-4): - dengan i akhir sukukata tertutup: hapi'ku hapi' i kandua hapi' i kadua hapi' i kami (tellu) hapi' i kité' (ellu) - dengan -n akhir sukukata terbuka: tuariku tuarin kandua tuarin kadua tuarin kami (tellu) tuarin kité' ellu tuarin kaméné (tellu) tuarin siré (tellu) tuarinu tuarin dua tuariné tuarin dedua hapi' i kaméné (tellu) hapi' i siré (tellu) hapi'u hapi' i rua hapi'é hapi' i redua

Pe ngge se ran akse n: lihat Bab 1.8.2

Penandaan pemilik berdiri di belakang kata utama di dalam kata susun dan gabungan kata: daļe'gahe dehuku (hiasan dahiku), ana'é ésé' (putranya), ahus' i Sion bawiné (putri Sion) Di dalam kelompok kata benda akhiran pemilik terletak di belakang kata pertama, serta kata benda itu diulang: bisi' u mona (kaki depan) – bisi'é wisi' u mona (kakinya depan)

Pronomina de monstratif (pe nunjuk)

ini e ndaung é né e ndai' pada tempat lain:

ini – apa-apa yang di dalam tangan pembicara atau yang dia menunjuk dengan tangannya ini – sedikit lebih jauh daripada ini itu – apa-apa yang terletak pada seorang yang disapa di antara pembicara dan yang disapa

apa-apa yang terletak di arah laut, disebut “ depan” - apa-apa yang terletak di arah pedalaman, disebut “ belakang”: dadé ' dala bawa dasi' pai di depan di belakang di bawah (di dalam pemukiman yang membentang di pesisir laut: satu ujung pemukiman) di atas ( di dalam pemukiman itu: ujung yang lain – berdasar pada konvensi) di dalam pemukiman yang tidak membentang di pesisir laut (Manganitu): = bawa, dasi'

Sebenarnya semua kata ini, kecuali ini dan éné, merupakan adverbia, yang menjadi pronomina penunjuk dengan tambahan kata sandang (artikel) é . Kata sandang é yang juga pronomina penunjuk digunakan dengan semua orang atau hal yang tertentu atau dikenalkan dari konteks: juga di belakang nama diri orang yang kenal, dan di belakang kata dengan akhiran pronominal, kalau tertentu. Hanya kalau salah satu kata harus berada tak takrif dengan tegas, kata sandang dihilangkan. Semua kata pronominal penunjuk diletakkan di belakang kata yang disebut pronomina itu. Kalau ada keterangan, pronomina penunjuk diletakkan di belakang keterangan. asu é taumata endaung é kadéra éné é buļudé rala é asu kadodo' é taumata raļaki' endaung é bawéra nisawuhe' suraļung i siré é Kata i yang diberi di depan nama diri, keluarga dan gelar, juga termasuk pronomina penunjuk, tetapi terletak di depan, lihatlah 4.4. Pronomina pe nanya tunggal mandiri attributif: orang hal orang dan hal i sai apa sudé , hudé jamak sai sai apa apa sudé sudé , hudé hudé

Kai i sai taumata tarai' é? I sai sai i kaméné sasaé' mempanoma é? Sudé sudé kalu 'paki'tuwang é?

apapané ké ré apa

bagian mana bagaimana

émbo' u taumata é uté apapané? kéréapa sahén apa éné?

Pronomina re latif

tunggal jamak

orang hal orang dan hal

isain apan apan

Isain pia', sarung onggotang, dingangu isain tala, rélain pangaļakéng u apan si sié. I kaméné apan maka'dingihe' Penggunaan apan mungkin hanya dengan bagian jumlah. Kalau segala jumlah, digunakan bentuk kata kerja dengan é . I siré rimoloh' i kami é – m ereka yang m engirim kam u. T aumata mede'déa' é mengkai maka'hombang – orang yang m encari, selalu m endapat. Di dalam kalimat yang rumit, kata ku' juga dapat digunakan seperti pronomina relatif, tetapi hanya tentang hal. U tawé' u apa ma'kakaļirung, ku' tawé sarung 'kasingkaténg, dingangu tawé' apa marariadi su mapennise', ku'tawé sarung ikasilo Maka tiada sesuatu yang tersem bunyi, yang/m elainkan tidak akan dinyatakan dan tiada sesuatu yang terjadi disem bunyikan, yang/m elainkan tidak akan dilihat. Pronomina re fle ksif batangé ng – (sen)diri Kendage' taum ata waļiné, kéré ku'kendage' batangéng Tum aļentu' u watangéng Batangéng tawé m e'koa', arawé taum ata waļiné uté iape'koa' T etapi dengan subjek lebih sering digunakan kata tekanan bué : i kau wué ne'koa' é? Pronomina yang tak takrif

Bahasa Sangihe: Literature - Daftar kepustakaan
Daftar kepus takaan Work cat.: Bawole, G. Morfologi bahas a Sangir, 1981 (s ummary in Englis h: Sangir language, s poken on Sangir Is land, Propins i Sulawes i Utara)

Language descriptions
1. ONLINESangireesche Spraakkunst. Adriani, N. 1893. Leiden: Nederlands Bijbelgenoots chap. oai:ros ettaproject.org:ros ettaproject_s xn_mors yn-1 2. ONLINEPhilippine Minor Languages: Word Lists and Phonologies. Reid, Lawrence. 1971. Honolulu, Hawaii: Univers ity of Hawaii Pres s . oai:ros ettaproject.org:ros ettaproject_s xn_phon-1 3. The nuclear predication in Sangir. Maryott, Alice L. 1963. Philippine Journal of Science 92. oai:s il.org:11569 4. The phonology and morphophonemics of Tabukang Sangir. Maryott, Kenneth R. 1961. Philippine Social Sciences and Humanities Review 26. oai:s il.org:11572 5. The substantive phrases of Sangir. Maryott, Kenneth R. 1963. Ins titute for Language Teaching and Summer Ins titute of Linguis tics . oai:s il.org:11573 6. ONLINEThe semantics of focus in Sangihé. Maryott, Kenneth R. 1977. Studies in Philippine Linguis tics 1(1). oai:s il.org:16117 7. ONLINEThe sentence in Sangihé. Maryott, Kenneth R. 1979. Studies in Philippine Linguis tics 3(1). oai:s il.org:16120 8. Dari mana asal konjungsi Bahasa Sangir?. Maryott, Kenneth R. 1990. Proyek Kerjas ama UNHAS-SIL. oai:s il.org:25266 9. On the evolution of the clause analysis of Sangir. Maryott, Kenneth R. 1998. Linguis tic Society of the Philippines . oai:s il.org:39226 10. Tag questions and their answers in Sangir. Maryott, Kenneth R. 1999. NUSA: Linguis tic Studies of Indones ian and Other Languages in Indones ia 46. oai:s il.org:42737 11. Studies in Sulawesi Linguistics, part VI. Laidig, Wyn D. (editor). 1999. NUSA: Linguis tic Studies of Indones ian and Other Languages in Indones ia 46. oai:s il.org:42853 12. ONLINEWALS Online Resources for Sangir. Dryer, Matthew S. & Has pelmath, Martin (editor). 2011-02-08. Max Planck Digital Library. oai:wals .info:languoid/s gr

Other resources about the language
1. Manga wekeng asalʼu tau sangihe (Cerita-cerita asal orang Sangir: Stories of the origins of the Sangir people). Maryott, Kenneth R. (editor); Nelman, Mangamba (trans lator); Pas aribu, Chris tina (trans lator). 1995. The Committee for the Promotion of the Sangir Language. oai:s il.org:36609 2. Pre-Sangir *l, *d, *r and associated phonemes. Maryott, Kenneth R. 1986. Notes on Linguis tics 34. oai:s il.org:20017 3. ONLINEPre-Sangir *1, *d, *r and associated phonemes, part 1. Maryott, Kenneth R. 1978. Studies in Philippine Linguis tics 2(1). oai:s il.org:16118 4. Manga wiong baha: Mangangakale kasariaenge. Maryott, Kenneth R. (editor). 1996. Committee for the Promotion of the Sangir Language. oai:s il.org:37252 5. Pengangendungang mebasa ringangu memohe berang Sangihe. Maryott, Kenneth R.; Maryott, Alice L. 2001. Committee for the Promotion of the Sangir Language. oai:s il.org:41952 6. Manga hombang u tau Sangihẹ . Maryott, Ken (editor); Adilis , Sus an (editor). 2001. Committee for the Promotion of the Sangir Language. oai:s il.org:42876 7. Pre-Sangir *l, *d, *r and associated phonemes, part 3. Maryott, Kenneth R. 1990. Workpapers in Indones ian Languages and Cultures 8. oai:s il.org:23478 8. Biong baha: komolang karuane. Adilis , Sus an (editor); Maryott, Kenneth R. (editor). 2000. Committee for the Promotion of the Sangir Language. oai:s il.org:40995 9. ONLINESangireesche Spraakkunst. Adriani, Nicolaus . 1893. A. H. Adriani. oai:refdb.wals .info:1364 10. ONLINEProto Sangiric and the Sangiric Languages. Sneddon, James N. 1984. Aus tralian National Univers ity. oai:refdb.wals .info:1835 11. ONLINESangir: a language of Indonesia (Sulawesi). Lewis , M. Paul (editor). 2009. SIL International (www.s il.org). oai:ethnologue.com:s xn Other known names and dialect names : Central Tabukang, Kandar, Manganitu, North Tabukang, Sangi, Sangih, Sangihé, Sangires e, Siau, South Tabukang, Tabukan, Tabukang, Tagulandang, Tahulandang, Tamako, Taruna
ADRIANI, N., Sangireesche teksten met vertaling en aanteekeningen. 's-Gravenhage, Nijhoff, 1894 Large 8°, printed wraps., cloth backstrip, 416pp. Collection of Sangirese folk-tales & other stories, transl. & annotated, incl. ethnographical notes & etymological explanations of Sangirese words & expressions. Scarce.

(ownership's entry on title.)

Antiquariaat Gemilang, € 100,00

GOSPEL - Balomapia pedariandi wuhu suralungu weransangihe. S.I. [Jakarta], Lembaga Alkitab Indones ia, 1994 Original plas tified limp wrappers , title in gilt on front wrapper. 837pp. printed in two collumns . All Gospels translated into Sangirese language, published by command of the Indonesian Bible Society. Fine copy printed on India paper. See als o our catalogue: - GEMILANG 159: Mis s ionary Labour in Southeas t As ia (2011). Gemilang € 150,00

STELLER, C.W.J., Deke Limanpulo dua. Wouralungu pedariandi tebe E. Leiden, Brill, 1890 s m.s q.8°. orig. cloth. 194pp. 5 fine col. lithogr. plates . Collection of bible-stories(old testament)as translated into the Sangirese language for juveniles. In Sangirese script, not transcribed. Rare. See als o our catalogues : Gemilang € 315,00

F. Kelling, Buke Masmur ko Susi. Nisalin Su Bahasa ang Sangie
London, Foreign Bible Soc., 1886. Small 8°, cloth, 235pp. Bible stories in Sangirese language. Rare.

W. Aebers old Het verhaal van Himbawo; een Sangirees heldendicht In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 108 (1952), no: 3, Leiden, 267-297 This PDF-file was downloaded from http://www.kitlv-journals .nl W. Aebers old Sas ahola Laanang Manandu (De lange Sas ahola). (Sangires e teks t met Ned. vert.) In: Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 115 (1959), no: 4, Leiden, 372-389 This PDF-file was downloaded from http://www.kitlv-journals .nl INDJIL KO SUSI, KO NIWOHE I LUKAS. NlSALIN SU BAHASANG SaNGIHE BOU I F. KELLING. printed for the Britis h and Foreign Bible Society in London for the Us e of the Dutch Mis s ion in the Sangire Is lands by Harris on and Sons , St. Martin's Lane BRITISH AND FOREIGN BIBLE SOCIETY IN LONDON,

http://www.s cribd.com/doc/25323042/Studies -in-Philippine-Linguis tics #s ource:facebook

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->