TUGAS MATA KULIAH SEJARAH INDONESIA KUNO II

KERAJAAN KEDIRI ( PANJALU )

OLEH : JACKSONE C.P.P M. DIMAS WIJAYANTO MARCELLA SIWI MENIK LESTARI M. AL MA’ARIF NUR AINI NUR FATAH ABIDIN PUJAWATI FERSIA PUTRI LESTARI QODRI RAHMANTO RATIH ALFINA PUTRI RIZAL AFIFUDIN ROHMAD TRI MARDANI SARIFUDIN K4409031 K4409032 K4409033 K4409034 K4409035 K4409036 K4409037 K4409039 K4409040 K4409041 K4409042 K4409043 K4409044 K4409045

PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

dan agama) Kerajaan Kediri terdapat berbagai kemajuan yang sangat berarti. Kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan yang ada karena terjadinya perpecahan dari kerajaan induk. ekonomi. Semoga makalah singkat ini bermanfaat bagi pembaca. Oleh karena itu penyusun menerima dengan tangan terbuka pendapat-pendapat. Makalah singkat ini membahas dan mengulas secara sederhana tentang kerajaan Kediri/ Panjalu yang terpecah pada masa pemerintahan Mpu Sindok dari dinasti Isyana. kritik maupun saran terhadap makalah ini untuk perbaikan. Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur yang pada saat itu dipperintah oleh Raja Airlangga .KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat. Herimanto M. Dalam empat aspek kehidupan terutama (politik. masukan. taufik. Keberlanjutan keberadaan sejarah kemudian ternyata lebih menempatkan kerajaan Kediri/ Panjalu menjadi lebih makmur dan maju daripada kerajaan Jenggala/ Kahuripan. Penyusun . budaya. dan hidayah-Nya hingga tugas makalah mata kuliah Sejarah Indonesi Kuno II yang diampu oleh Drs.Pd.Si ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Penyusun menyadari makalah singkat ini masih jauh dari kata sempurna. M.

Untuk menghindari perang saudara maka Airlangga pada saat itu melakukan kebijakan dengan cara membagi kerajaan menjadi dua yaitu Keraan Kediri/ Panjalu dan Kerajaan Kahuripan/Jenggala. Menjelaskan keberadaan dan latar belakang munculnya Kerajaan Kediri 2.BAB I PENDAHULUAN A. Mengulas secara singkat tentang beberapa pendapat tentang penyebab runtuh dan hancurnya kerajaan Kediri . B. TUJUAN PENULISAN 1. Membahas dan mengulas tentang beberapa aspek kehidupan (politik. Memberikan informasi kepada pembaca tentang pasang surut kerajaan Kediri 3. Raja Airlangga yang ternyata di akhir hayatnya memilih untuk menjadi seorang pendeta ternyata malah menimbulkan masalah perebutan kekuasaan diantara putranya yang mengingkan posisi raja dan menguasai kerajaan . keagamaan) yang bergulir di Kediri yang banyak membawa pengaruh dalam kehidupan serajah Kerajaan di Jawa Timur pada waktu itu 4. C. ekonomi. dan perkembangan agama pada saat itu. LATAR BELAKANG MASALAH Kerajaan Kediri/ Panjalu merupakan salah satu kerajaan hasil bagi dari kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur yang pada saat itu diperintah Raja Airlangga. politik. RUMUSAN MASALAH Makalah singkat ini tidak hanya membahas tentang masalah politik dan proses bergantinya raja-raja di Kediri. sosia. ekonomi . namun juga pembahasan singkat tentang keseluruhan aspek kehidupan di Kediri yang antara lain dalam hal sosial. Kerajaan Kediri merupakan kerajaan yang terkenal dengan berbagai karya sastra dan ramalan mustajab dari rajanya yaitu raja Jayabaya. Serta disusun pula berbagai argumen dan pendapat para ahli tentang bukti keberadaan kerajaan maupun kehancuran kerajaan Kediri itu sendiri.

Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa. Kerajaan ini merupakan salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan pada tahun 1045 Wilayah Kerajaan Kediri adalah bagian selatan Kerajaan Kahuripan. saat akhir pemerintahan Airlangga. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura. yang berarti kota api. melainkan pindah ke Daha. Dalam babad disebutkan bahwa kerajaan dibagi empat atau lima . yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Kerajaan ini berpusat di kota Daha. yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Jenggala yang berpusat di kota lama. Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan tahta.BAB II PAMBAHASAN KERAJAAN KEDIRI ( PANJALU ) A. Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kediri berdiri. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. yaitu Kahuripan. Pada akhir November 1042. adalah sebuah kerajaan yang bercorak Hindu terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. AWAL MULA Kerajaan Kediri merupakan kelanjutan dari Kerajaan Wangsa Isyana (Kerajaan Medang Kamulan). Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu. Tidak ada bukti yang jelas bagaimana kerajaan tersebut dipecah dan menjadi beberapa bagian. pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan.

Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti : Kitab Samaradana. berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker. bertahta Raja Pake Panaraban. artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi. yang berpusat di Daha. Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata. Pada masa ini.bagian. puteri Kerajaan Janggala. yang diantaranya berbunyi : " Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara.Dalam prasasti ini menyebutkan. yaitu Kediri (Panjalu) dan Jenggala.Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng.Pada prasasti itu juga menyebutkan nama. nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul Ling wai tai ta (1178).Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceber. Wilayah Kerajaan Kediri adalah bagian selatan Kerajaan Kahuripan. sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Perkembangan Kerajaan Kediri Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar. Menurut Nagarakretagama. sebelum dibelah menjadi dua. yang dikenal dalam kesusastraan Jawa dengan cerita Panji. ditulis kitab Kakawin Smaradahana. Bahkan. Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "Kedi" yang artinya "Mandul" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan". Di dalam lakon Wayang. Dengan demikian. sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. .Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka.Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya. tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Raja Kameswara (1116-1136) menikah dengan Dewi Kirana. nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada nama Kediri. Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka. karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja. "Tanah Perdikan". yaitu Dahanaputra. Tetapi dalam perkembangannya hanya dua kerajaan yang sering disebut. Angdhiri. "Kedi" berarti Suci atau Wadad. Jadi. nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu. berakhirlah Janggala kembali dipersatukan dengan Kediri. menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala. Pada mulanya. 'Kedi" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. atau harapannya di Bhumi Kadiri. Disamping itu kata Kediri berasal dari kata "Diri" yang berarti Adeg. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kediri. angdhiri rake panaraban". bernama "Kedi Wrakantolo". Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan mendapat ibukota lama. maka mereka memperoleh hadiah.Tak banyak yang diketahui peristiwa di masa-masa awal Kerajaan Kediri. dan nama kerajaannya diubah menjadi Panjalu atau dikenal juga sebagai Kerajaan Kediri.Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito. Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. Pararaton. Kediri menjadi kerajaan yang cukup kuat di Jawa.

Prasasti Kamulan (1194M) . menyebutkan raja Jayabaya yang memberikan hadiah kepada rakyat desa Ngantang sebidang tanah yang bebas dari pajak f. memuat pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Jayawarsa d.Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang. berasal dari raja Bameswara e. "Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo". Sumber Sejarah Kerajaan Kediri Sumber sejarah kerajaan Kediri dapat di telusuri dari beberapa prasasti dan berita asing di antaranya : a. memuat masa pemerintahan Kertajaya . berasal dari Kediri. dimana Kediri berhasil mengalahkan musuh yang telah memusuhi istana KatangKatang Gambar Arca Wishnu. sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri"). dari raja Gandra yang memuat sejumlah nama pejabat dengan menggunakan nama hewan seperi Kebo Waruga dan Tikus Jinada g. Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing. yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur. b. Prasasti yang ditemukan di Tulungagung dan Kertosono berisi masalah keagamaan . abad ke-12 dan ke-13 . c. Prasasti Jaring (1181M).Kediri. Prasasti Ngantang (1135M). Prasasti Hantang berangka tahun 1052 M menjelaskan Panjalu pada masa Jayabaya. Prasasti Banjaran berangka tahun 1052 M menjelaskan kemenangan Panjalu atas Jenggala. Prasasti Sirah Keting (1104 M).

sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Kerajaan Panjalu. Hal ini diperkuat tahun 1178. atau Panjalu Menang. Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. bahwa pada adalah Arab. yaitu Panjalu Jayati. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga. sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan . koleksi Museum für Indische Kunst. dan Abbasiyah. kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan Sumatra. Jerman B. Berlin-Dahlem. abad X/XI. Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara. POLITIK DAN PEMERINTAHAN Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kediri tidak banyak diketahui. Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135). di Jawa ada Sriwijaya.Gambar Arca Buddha Vajrasattva zaman Kadiri. bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui. Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah. Jawa.

Selain itu suatu hal yang sangat menarik pada masa pemerintahan Raja Sri Gandra ialah digunakan nama-nama binatang sebagai gelar atau nama para pejabat kerajaan.Prasasti Panumbangan (1120 M ).Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007. dan Menjangan Punguh. e.antara lain Prasasti Padeglan (1117 M ). Tidak dpat yang banyak diketahui tentang raja ini.Empu Sedah meninggal dunia dan karyanya diselesaikan oleh Empu Panuluh. Adanya jabatan atau pangkat Senopati Sarwajala. membuktikan bahwa kerajaan Panjalu mempunyai angkatan laut.Satu – satu prasasti yang ada adalah prasasti jaring (1181 M). Sebelum kitab ini selesai ditulis. Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara (1117-1134 M) Raja Sri Bameswara meninggalkan banyak prasasti.Empu Panuluh juga menulis kitab lainnya.Lencana kerajaan baginda adalah ganesya.Lembu Agra.Macan putih. Di dalam kitab ini dijumpai juga nama Jayabaya. Dari prasasti tersebut diketahui bahwa pada masa pemerintahannya terdapat jabatan senopati sarwajala (panglima angkatan laut). Sri Gandra ( 1181 -1182 M ) Sri Gandra atau lengkapnya Sri Maharaja Koncaryadipa adalah pengganti Sri Aryeswara.Prasasti candi Tuban (1130 M ).kedua prasasti itu sampai sampai kini belum dapat diterjemahkan. b. f. yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.Gajah kuning.Raja Sri Bameswara diperkirakan memerintah hingga tahun 1134 M. Raja-Raja Kediri a. .Suasana perang saudara antara Jenggala dan Panjalu (Kediri) sanagt mememgaruhi Empu Sedah untuk menulis kitab kakawin Bharatayudha.misalnya Kebo sawalah.Akan tetapi. Selain menyelesaikan kitab Bharatayudha.sepeti kitab Gatutkacasraya dan kitab Hariwangsa kedua kitab itu juga ditulis dalam bentuk kakawin. d.Raja Sarweswara hanya meninggalkan dua Prasasti. c. Raja Sareswara (1159-1169 M ) Raja Sareswara atau lengkapnya Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janadhanawata memerintah dari tahun 1159 sampai dengan tahun 1169 Masehi. Raja Jayabaya (1139 – 1157 M) Jayabaya merupakan raja kediri yang terkemuka.pada tahun 1059 Saka atau tahun 1157 Masehi telah digubah sebuah kitab oleh Empu Sedah dengan nama Kakawin Bharatayudha.dan Prasasti Tangkilan (1130 M). Sri Aryeswara ( 1169 – 1181 ) Raja Saryeswara atau lengkapnya Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatararijaya memerintah dari tahun 1169 sampaio dengan tahu 1181 Masehi. Dalam masa pemerintahannya. Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jayawarsa sangat besar perhatiannya kepada rakyatnya dan berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya.yaitu Prasasti Padeglan II (1159 M ) dan Prasasti Kayunan ( 1161 M ).Kitab ini menggambarkan perang saudara antara keluarga Pandhawa dan Kurawa. Raja Jayawarsa (1104 M) Masa pemerintahan Jayawarsa (1104 M) hanya dapat diketahui melalui Prasasti Sirah Keting.

Raja selalu mengikuti Undang-undang ini. sehingga adil segala keputusan yang diambilnya. Ia bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara. kata “agama” dapat ditafsirkan sebagai Undang-undang atau Kitab Perundang-undangan. sedangkan kitab Lubdaka dan Wertasancaya dikarang oleh Empu Tan Akung. pembagian warisan. Permaisuri raja bernama Sri Kirana atau Candra Kirana yang berasal dari Jenggala. Produk hukum yang telah dihasilkan oleh dewan tersebut yaitu Kitab Darmapraja. Kitab Perundang-undangan Sistem Perundang-undangan Kerajaan Kediri disusun oleh para ahli hukum yang tergabung dalam Dewan Kapujanggan Istana. Selanjutnya di Jawa Timur berdiri kerajaan Singasari. Kitab Perundangundangan Agama adalah terutama Kitab Undang-undang Hukum Pidana. 1896:88). Memang pada zaman Kadiri belum ada perincian tegas antara Undang-undang Hukum Pidana dan Hukum Perdata.Pada tahun 1222 Masehi. Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok dalam suatu pertempuran didesa Ganter dekat Pujon (Malang).g. Kertajaya (1190 – 1222 M ) Kertajaya pada tahun 1190 M naik Thata dengan gelar Sri MaharajaSri Sarmeswara Triwikramawatarannanindita Srengga Digjayattunggadewanama. Kertajaya memerintah hingga tahun 1222 M. Kitab Smaradhana ini ditulis oleh Empu Dharmaja.berakhir pulalah kerajaan Kediri sebagai penguasa daerah Jawa Timur. Kameswara (1182 – 1185 M ) Pada tahun 1182 Masehi yang memerintah kerajaan Kediri ialah raja Kameswara. Sistem Peradilan Kerajaan . Menurut sejarah per Undang-undangan Hukum Perdata tumbuh dari Hukum Pidana. h. Kitab ini merupakan karya pustaka yang berisi Tata Tertib Penyelenggaraan Pemerintahan dan Kenegaraan. Dengan kekalahan Kertajaya itu. Lencana kerajaan Kertajaya ialah sangka atau siput terbang dan garudamukha seperti lencana Airlangga. pernikahan dan perceraian masuk dalam Undang-undang Hukum Perdata (Hazeu. yang satu lebih panjang daripada yang lain dan merupakan kelengkapan atau penjelasan dari pasal sejenis yang pendek. 1987:87). Pada masa pemerintahannya ditulis Kakawin Smaradhana yang isinya juga menyebutkan bahwa raja adalah keturunan Kamajaya. membuat puas semua pihak (Brandes. Tata cara jual-beli. Namun di samping Kitab Undang-undang Hukum Pidana terdapat juga Undang-undang Hukum Perdata.Baginda memerintah hanya sampai tahun 1185 Masehi. Dalam soal pengadilan. Pada pasal-pasal kitab tersebut. Sebelum menjalankan tugasnya para pakar hukum tadi senantiasa melakukan studi banding dalam hal penyusunan hukum serta konstitusi dari negeri lain. Kadang yang berbeda ini perumusannya saja. jadi percampuran Hukum Perdata dan Hukum Pidana dalam Kitab Perundang-undangan Agama di atas bukan suatu keganjilan ditinjau dari segi sejarah hukum.

1959:243). Keseimbangan antara hak dan kewajiban warga kerajaan telah membuktikan serta membuahkan ketentraman lahir dan batin. Lembaga peradilan kerajaan ini bertanggung jawab kepada Raja secara langsung. di antaranya Dyaksa. sehingga kontaminasi dan intervensi terhadap hasil putusan dapat dihindari. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi. Seorang Adidarma Dyaksa Kasiwan dan seorang Adidarma Dyaksa Kabudan. Sang Pamegat Kandamuhi. Dalam hal ini Raja mempunyai staf hukum yang mumpuni. Upapati dan Para Panji yang paham tentang Undangundang (Rassers. Akan tetapi silang sengketa yang menyangkut kepenting¬an Raja dan keluarganya. Sang Pamegat Manghuri. Para Panji di Kesultanan Yogya diserahi tugas pengadilan. Dari uraian itu nyata bahwa Para Panji adalah pembantu para Upapati dalam melakukan pengadilan di daerah-daerah. Semua keputusan dalam pengadilan diambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi artinya orang yang mempunyai atau menguasai negara. maka hak dan kewajiban semua warga kerajaan dapat dijamin. Dua Upapati Kabudan itu ialah Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare. Mereka itu dibantu oleh lima Upapati artinya : pembantu dalam pengadilan adalah pembantu Adidarma Dyaksa. Ketika Prabu Jayabaya bertahta di Mamenang. karena agama Siwa adalah agama resmi negara Kadiri dan mempunyai pengikut paling banyak. Kedudukan Adidarma Dyaksa boleh disamakan dengan kedudukan Hakim Tinggi. menggunakan peradilan khusus. Jadi tidak berbeda dengan Para Panji pada zaman Kadiri. profesional dan tidak diragukan lagi integritas serta kredibilitasnya. 1930:254). sehingga ada lima Upapati Kasiwan dan dua Upapati Kabudan. yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Buda dengan sebutan Sang Maharsi. 1994:56). Jangan sampai orang yang bertingkah salah. Sang Pamegat Pamotan. jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya (Moedjanto. jangan sampai salah trap. Aparat dan rakyat menghormati hukum atau darma semata-mata demi terjaganya kepentingan bersama. Mula-mula jumlahnya hanya lima yakni : Sang Pamegat Tirwan. . Pangkat Panji masih dikenal di kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1940. Mereka itu semuanya termasuk golongan Kasiwan. Sang Pamegat Jambi. Mereka itu biasa disebut Pamegat atau Sang Pamegat artinya : Sang Pemutus alias Hakim. beliau dihadap oleh pelbagai pembesar. Raja dibantu oleh dua orang Adidarma Dyaksa. Dengan adanya kepastian hukum. luput dari tindakan. Dalam soal pengadilan. Baik Adidarma Dyaksa maupun Upapati bergelar Sang Maharsi. karena kedua agama itu merupakan agama utama dalam Kerajaan Kadiri dan segala Perundang-undangan didasarkan agama. Keduanya termasuk golongan Kabudan.Sistem peradilan Kerajaan Kediri bertujuan untuk mencapai kepastian hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kerajaan (Stutterheim. Perbandingan itu sudah layak mengingat jumlah pemeluk agama Buda kalah banyak dengan jumlah pemeluk agama Siwa. Dalam Mukadimah Darmapraja ditegaskan demikian: Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menerapkan besar kecilnya denda. Pada zaman pemerintahan Prabu Jayabhaya jumlah Upapati ditambah dua menjadi tujuh.

Tata Tentrem Karta Raharja. Empu Sedah adalah penyusun Kakawin Baratayudha pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi. teknis dan mikro. Kakawin Baratayudha dipersembahkan kepada Prabu Jayabhaya. Semua transaksi dan lika-liku kehidupan yang menyang kut jual beli. dijadikan sebagai program utama yaitu : 1. dagang. Tingkat kecerdasan rakyat memang berbeda-beda. Keadaan ini disadari oleh para Raja Kadiri. Ampuh Kawibawane. Waras (kesehatan) . Hanya saja. Biasanya hukum ini bersifat praktis. Pujangga yang diberi tugas menulis kitab spiritual itu di antaranya adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh. Untuk menunjang keberhasilan program ini. yang membuat Kerajaan Kadiri mencapai masa kejayaan dan keemasan. Adoh Kuncarane. Konsep Saptawa. Kenyataannya pesan-pesan spitirual Prabu Jayabhaya yang dibungkus dengan ramalan ghaib tadi dipercaya oleh sebagian besar masyarakat. politik. Jayabhaya Laksana atau Sri Warmeswara. prinsip pelaksanaan kenegaraan terbagi menjadi dua yakni hukum positif dan budaya simbolik. dengan sengkalan berbunyi Sangha Kuda Suddha Candrama. Beliau berhasil mewujudkan negara yang Gedhe Obore. Dhuwur Kukuse. Pelanggaran hukum dan dendanya pun diatur secara detail. Wareg (pangan) 3. Tujuannya agar aparat dan rakyat patuh pada norma susila. kadang kala kurang bisa dipahami oleh rakyat awam. ekonomi. dalam menata masyarakatnya Prabu Jayabhaya menggunakan pendekatan budaya simbolik. maka budaya simbolik tersebut dapat digunakan untuk mencapai ketertiban sosial. Padhang Jagade. organisasi dan perkawinan diatur secara rinci. Wisma (papan) 4. Oleh karena itu demi terciptanya susasana yang harmonis. Selama Prabu Jayabaya memegang kendali pemerintahan dan tata praja. maka diperintahkanlah para pujangga untuk menulis karya cipta. Nusantara sungguh-sungguh diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. Empu Sedah keburu meninggal sebelum karyanya selesai. Wasis (pendidikan) 5. Mapanji Jayabhaya. Sikap hidupnya benar-benar bijaksana. Hanya saja apabila terjadi pelanggaran maka hukuman dan sangsinya bersifat ghaib spiritual. birokrasi. Prabu Jayabaya adalah raja besar laksana Dewa Keadilan yang angejawantah ing madyapada. Wastra (sandang) 2. Masyarakat merasakan negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi. lantas diciptakan nasehat-nasehat simbolis berbau mistis. Asia Tengah dan Asia Selatan. karier. Hukum positif yang disusun oleh elit negara. Kewibawaannya telah membuat ketentraman dan kemuliaan jagat raya. Hukum positif merupakan hukum yang berlaku berdasar peraturan tertulis yang disepakati bersama. Sebagai pelengkap dan pengiring hukum positif.Hukum Positif dan Budaya Simbolik Dalam masa pemerintahan Prabu Jayabaya. Di samping hukum positif.

sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi. sehingga segala kebijakan kerajaan membuahkan kemakmuran dan ketentraman rakyat. emas. dan pertanian. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan. Untuk menopang penghasilan kerajaan . 1924:67). Dalam bidang spiritual di Kerajaan Kediri juga sangat maju (Pigeaud. dan 7. dan kayu cendana.menanam kapas dan memelihara ulat sutra. D. diberlakukan sistem pajak. juga didukung oleh kejeliannya dalam menyusun Undang-undang dasar yang mengikat sekalian warganya. Komoditas dagang berupa beras. kerajaan Kediri sudah cukup makmur. Di tengah kota membelah aliran sungai Brantas. dekat Surabaya. Pertanian dan perkebunan hasilnya berlimpah ruah. Refleksi kearifan warisan para leluhur raja Jawa dijadikan referensi untuk membawa kebesaran Nusantara. Semua golongan masyarakat bersatu padu mendukung pemerintahannya. kayu. Para guru . Aparat kerajaan yang terdiri dari pejabat sipil dan militer bekerja sesuai dengan amanat konstitusi. Kerajaan yang beribukota di Dahanapura bawah kaki Gunung Kelud ini tanahnya amat subur. Roda perekonomian berjalan lancar sehingga Kerajaan Kadiri benar-benar dapat disebut sebagai negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Karta Raharja. AGAMA DAN SPIRITUAL Agama yang berkembang di Kediri adalah agama hindu aliran Waisnawa ( Airlangga titisan Wisnu). EKONOMI Strategi kepemimpinan Prabu Jayabaya dalam memakmurkan rakyatnya memang sangat mengagumkan (Gonda. Tempat ibadah dibangun di mana-mana.6. Hasil bumi itu kemudian diangkut ke Kota Jenggala. Waskita (keruhanian). Wicaksana (kebijaksanaan). di samping faktor kepemimpinan rajanya yang selalu mengutamakan kepentingan umum. Dalam kehidupan ekonomi diceritakan bahwa perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan. sehingga segala macam tanaman tumbuh menghijau. dengan naik perahu menelusuri sungai. Kepatuhan pada konstitusi telah membuat ketertiban di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri. Masyarakat Jawa percaya bahwa Prabu Jayabaya selalu bersikap arif dan bijaksana serta menjunjung hukum yang berlaku. C. Dengan demikian dipandang dariaspek ekonomi. Kebesaran dan kejayaan Kerajaan Kediri. daging. perak. peternakan. dan palawija. Demikian keterangan yang diperoleh berdasarkan kitab Chi-Fan-Chi dan kitab Ling-wai-tai-ta. Kediri terkenal sebagai penghasil beras. Adapun bentuk pajak berupa beras. 1925 : 111). Hal ini terlihat dari kemampuan kerajaan memberikan penghasilan tetap kepada para pegawainya walaupun hanya dibayar dengan hasil bumi.

Astadusta. berisi tentang sanksi karena menyebarkan permusuhan. Atukaran. penindasan dan pembunuhan) Kawula. Utang-apihutang. Pasok Tukon. berisi hukum dan sanksi tindak asusila. berisi tentang hukum perhelatan. Dendaparusya. pemerkosaan. mengurangi makan tidur. berisi tentang sistem pembagian warisan. Paradara. konstribusi dan sanksi. berisi tentang tata cara pengelolaan lembaga pegadaian. Wakparusya. Laku prihatin dengan cegah dhahar lawan guling. berisi aturan pinjam-meminjam Titipan. penganiayaan. Tidak mengherankan apabila Prabu Jayabhaya ngerti sadurunge winarah (Tahu sebelum terjadi) yang bisa meramal owah gingsire jaman. Ramalan itu sungguh relevan untuk membaca tanda-tanda jaman saat ini. berisi ketentuan diplomasi. Sahasa. berisi tentang sanksi pelanggaran administrasi Kagelehan. Adol-atuku. Bahkan Sang Prabu sendiri kerap melakukan tirakat. berisi tentang sanksi delapan kejahatan (penipuan. Hal ini menjadi aktifitas ritual sehari-hari. Gadai atau Sanda. hal itu menunjukkan bahwa pada masanya berkuasa tindakannya selalu bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. pencurian. Sikap merakyat dan visinya yang jauh ke depan menjadikan Prabu Jayabaya layak dikenang sepanjang masa. berisi tentang sanksi penghinaan dan pencemaran nama baik. Kehidupan beragama sudah diatur juga dalam Undang-undang. berisi tentang sanksi karena melakukan kebohongan publik. tapa brata dan semedi. Drewe kaliliran. berisi tentang sistem lumbung dan penyimpanan barang. Dukungan spiritual dan material dari Prabu Jayabaya dalam hal hukum dan pemerintahan tidak tanggungtanggung. Prabu Jayabaya memerintah antara 1130 – 1157 M. pemerasan. . berisi tentang sistem pelaksanaan transaksi yang berkaitan pengadaan barang dan jasa. Tiap bab memuat pasal-pasal yang sejenis. aliansi. Beliau suka bermeditasi di tengah hutan yang sepi. berisi tentang delapan macam penyimpangan administrasi kenegaraan. sehingga ada sistematika dalam penyusunan. berisi tentang tata cara pungutan pajak Dwilatek. Kawarangan. pembalakan. berisi tentang hukum perkawinan. berisi tentang hukum perdagangan. berisi tentang hak-hak dan kewajiban masyarakat sipil. Sudah pasti bahwa susunannya semula menganut suatu sistem. Kalau rakyat kecil hingga saat ini ingat pada beliau. Astacorah.kebatinan mendapat tempat yang terhormat. Bumi. berisi tentang sanksi kelalaian yang menyebabkan kerugian publik. Kitab hukum per Undangundangan itu disusun sebagai berikut : Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Bab VI Bab VII Bab VIII Bab IX Bab X Bab XI Bab XII Bab XIII Bab XIV Bab XV Bab XVI Bab XVII Bab XVIII Bab XX : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Sama Beda Dana Denda.

jadi berasal dari Darma Praja. Adanya pengaruh dari luar tadi memang sebuah keniscayaan. terutama negeri Asia Tengah. Karya hukum dan tata praja yang telah diciptakan oleh Empu Triguna adalah Kakawin Kresnayana. Kitab Perundang-undangan India Manawa Darma Sastra dijadikan pola Perundang-undangan Kadiri yang disebut Darma Praja yang telah disesuaikan dengan suasana setempat (Yoedoprawiro. Dalam kitab Perundang-undangan agama banyak kedapatan pasal-pasal yang dikatakan berasal dari ajaran Bagawan Bregu. sebagai tanda bahwa beliau juga seorang humanis. Karya hukum dan tata praja ciptaan Empu Manoguna adalah Kakawin Sumanasantaka. Kakawin Kresnayana berisi tentang ilmu hukum dan pemerintahan. . Para cendekiawan yang berbakat diberi fasilitas untuk mengaktualisasikan idealismenya. Pengaruh India ke dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno memang besar. cerita yang bersumber dari Kitab Raguwangsa karya pujangga besar dari India. Demikianlah kitab Perundang-undangan itu bukan terjemahan tepat dari kitab Perundang-undangan India.E. Prabu Jayawarsa juga amat peduli dengan kehidupan ilmu pengetahuan. sebenarnya sudah digarisbawahi oleh pujangga kita dahulu. Asia Selatan dan Asia Barat. Pengaruh kebudayaan India itu juga terasa sekali dalam bidang Perundang-undangan. Sumanasantaka berasal dari kata sumanasa = kembang dan antaka = mati. 2000:123). kemungkinan besar dapat diduga keduanya masih ada hubungan kerabat atau seperguruan. BUDAYA Pada zaman Kediri pengaruh kebudayaan India meresap dalam banyak bidang kehidupan. karena banyak cendekiawan Kadiri yang ditugaskan belajar ke mancanegara. baik yang bersifat Hindu maupun Buda. Artinya adalah mati oleh kembang. Karya di Bidang Hukum Tata Negara Empu Triguna hidup pada masa pemerintahan Prabu Jayawarsa di Panjalu pada tahun 1026 Saka atau 1104 Masehi (Poerbatjaraka. Prabu Jayawarsa ini juga menjadi patron bagi para pujangga dalam mengembangkan dinamika ilmu hukum dan tata praja. Empu Manoguna adalah rekan seangkatan Empu Triguna. 1957: 18). Keduanya merupakan pujangga istana jaman Prabu Jayawarsa di Kerajaan Kadiri. Yang jelas kedua Empu ini adalah konsultan dan penasehat utama Prabu Jayawarsa. Hal ini tampak dengan ungkapan bahasa Sansekerta yang masuk dalam kosakata ilmu pengetahuan Jawa Kuno. Pernyataan ini didukung. Menilik nama Empu Manoguna dan Triguna ada bagian yang sama. Sang Kalisada. Bahwa isi kitab Perundang-undangan agama diambil dari sari kitab Perundang-undangan India. Agama Hindu-Budha jelas menunjukkan adanya pengaruh India dalam masyarakat Kediri. Serat Sumanasantaka menceritakan kebijaksanaan seorang raja dalam memimpin rakyatnya.

lantai berubin hijau dan kuning. Kerajaan Kediri mengalami masa keemasan ketika diperintah oleh Prabu Jayabaya. .Alat pembayaran adalah mata uang dari . keluarga pengantin wanita menerima mas kawin berupa emas. Dalam upacara perkawinan.Rumah-rumah bersih dan rapih. manusia paripurna yang telah memperoleh derajat oboring jagad raya. Sedangkan bulan kesepuluh. Mereka adalah jalma sulaksana.Rakyat lekas naik darah dan suka berperang. Empu Darmaja. Untuk menjaga keamanan dan ketentraman masyarakat. gaji dari menerima hasil bumi/lainnya sewaktu-waktu. Gathotkacasraya dan Hariwangsa oleh Empu Panuluh yang hingga kini merupakan warisan ruhani bermutu tinggi. terbukti dengan lahirnya kitab-kitab hukum dan kenegaraan sebagaimana terhimpun dalam karya-karya Kakawin Bharatayuda oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh .Raja keluar naik gajah atau kereta. Selain itu ada beberapa keterangan yang terdapat dalam berita-berita Tionghoa. rambut disanggul.Karya hukum dan tata praja Empu Dharmaja yang terkenal adalah Kakawin Smaradahana dan Kakawin Bomakawya.Orang-orangnya memakai kain sampai dibawah lutut . .Raja dibantu 4 menteri.Raja berpakaian sutera.Orang sakit bukan makan obat tapi mohon sembuh para Dewa dan Buddha. Di antaranya setiap bulan kelima diadakan pesta air yang dapat membuat masyarakat bergembira dengan naik perahu. Di bawah kepemimpinan Prabu Jayabhaya. peternakan. . gtendang dan gambang kayu.Selain agama Buda ada agama Hindu. diiringi 500-700 prajurit dan rakyat jongkok. Hubungan kekerabatan dapat ditunjukan dari beberapa adat-istiadat atau kebiasaan masyarakat Kediri. yang bersalah di denda emas. . misalnya: . Kitab Bomakawya menurut Teeuw (1946:97) menceritakan cara memimpin yang berdasarkan pada nilai keadilan dan perdamaian. perayaan pesta berlangsung di gunung dengan alat music terdiri dari suling. KEHIDUPAN SOSIAL Kehidupan soSial kemasyarakatan pada zaman Kediri. pencuri dan perampok dikenai hukuman mati. Sukses gemilang Kerajaan Kediri didukung oleh tampilnya cendekiawan terkemuka Empu Sedah. suka mengadu babi dan ayam. serta perdagangan maju dan kerajaan penuh perhatian. . . sepatu kulit. Kitab Smaradahana menceritakan Batara Kamajaya yang punya sifat keagungan. . seperti di kitab Ling-wai-tai-ta yang disusun Chou K’u-fei di tahun 1178 dan di kitab Chu-fan-chi oleh Chau-Ju-Kua di tahun 1225. rambut diurai. rambutnya diurai. Kerajaan Kadiri mencapai puncak peradaban. .Pertanian. dapat dilihat pada kitab Ling-Wai-Tai-Ta yang disusun oleh Chou Ku-Fei tahun 1178 M. dalam kitab tersebut dinyatakan bahwa orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut. memakai emas-emasan. . Empu Panuluh. .Pencuri dan perampok yang tertangkap dibunuh.Tidak ada hukuman badan. . Empu Triguna dan Empu Manoguna. F.

Dengan demikian. Hal ini ditentang oleh kaum Brahmana. Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana. Dalam pertempuran itu pasukan Kediri berhasil dihancurkan. Kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel yang saat itu diperintah oleh Ken Arok. dan dikisahkan dalam ”Pararaton” dan ”Nagarakretagama”. Raja Kertajaya yang mengetahui bahwa kaum Brahmana banyak yang lari dan minta bantuan ke Tumapel. Selama pemerintahannya. mempersiapkan pasukannya untuk menyerang Tumapel. keadaan Kediri menjadi tidak aman. Hal ini disebabkan Raja Kertajaya mempunyai maksud mengurangi hak-hak kaum Brahmana. sekitar Malang (1222 M). Akhirnya kerajaan Kediri menjadi daerah bawahan Kerajaan Tumapel.G. Selanjutnya berdirilah Kerajaan Singasari dengan Ken Arok sebagai raja pertama. KERUNTUHAN KEDIRI Kerajaan Panjalu / Kediri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya yang juga lebih dikenal dengan sebutan Dandang Gendis. . Kedudukan kaum Brahmana di Kerajaan Kediri semakin tidak aman. berakhirlah kekuasaan kerajaan Kediri . Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri.. Ken Arok dengan dukungan kaum Brahmana melakukan serangan ke Kerajaan Kediri. Sementara itu. Kedua pasukan itu bertemu di dekat Genter . Kestabilannya kerajaan menurun.

Namun. Brahnama yang tidak sepahan meminta bantuan Ken Arok yang pada saat itu juga sedang gencar-gencarnya melakukan usaha ekspansionis untuk mendirikan sebuah kerajaan yang pada akhirnya bernama Singasari. Tak hanya dalam hal fisik yang mencoba dibangun oleh raja Jayabaya pada saat itu juga telah diberlakukan ketertiban dan hukum yang jelas dank eras bagi seluruh rakyat Kediri. Karena dipimpin raja yang bijak. tak urung kemajuan dari masyarakat yang berkecukupan dalam hal sandang. Kerincuhan dan selisih paham yang berlaku dan terjadi antara Kertajaya dan kaum brahmana ternyata membawa akhir bagi kerajaan Kediri. keberadaab kerajaan Kediri merupakan sebuah bukti eksistensi dan kemakmuan salah satu kerajaan di Jawa Timur sebagai penerus dinasti Isyana. budaya. Dengan sistem pemerintahan. perdagangan. Kerajaan Kediri pada masa itu merupakan kerajaan yang mandiri dan makmur. dan agama yang mengalami kemajuan secara gilang-gemilang. Kerajaan yang berada di sekitar wilayah Kediri ( sekarang ) ini mengalami masa puncak kejayaan pada masa raja Jayabaya yang sangat terkenal dengan ilmu dan keahliannya dalam membaca masa depan atau meramal. mulai dari kitab Bharatayudha. Walaupun kemakmuran tersebut tidak berlangsung lama karena kemudian kegelapan mengganti masa-masa jaya kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya (1222 M). Hariwangsa sampai Gatotkacasraya. sosial. pangan dan papan. ekonomi. Hal ini terbukti dari berbagai peninggalan sejarah yang telah direkonstruksikan dan memberitahukan kepada pembaca sekarang bahwa pada zaman kerajaan Kediri telah muncul berbagai sastra dan budaya yang sangat luar biasa. Kehidupan yang makmur membuat masyarakat dalam aspek sosial mengalami hal yang senada. Tak hanya cakap dalam meramal. birokrasi. dan peternakan. .BAB III KESIMPULAN Kerajaan Kediri / Panjalu yang merupakan kerajaan hasil bagi dari kerajaan Kahuripan di Jawa Timur pada masa raja Airlangga merupakan kerajaan yang patut diperhitungkan. bahkan raja Jayabaya yang membawa kemakmuran bagi Kediri telah mampu mengelola dan memimpin kerajaannya dengan sangat baik. yang secara ekonomi mengalami kecukupan dengan mendayagunakan pertanian.

com Hidayat Yoedoprawiro.wikipediaindonesia. 1924. Zoetmulder. Serat Babad Tanah Jawi. 2000.org/6/102/kediri . Disertasi Leiden. 1946. De Panji Roman. Poerbatjaraka. Meinsma. Vertaald en Toegelicht. Leiden : Dissertatie. Konsep Kekuasaan Jawa. Jakarta : Djambatan.google. S’Gravenhage. Stutterheim. Munchen : Kulturkreis der Indische.wacananusantara. Jakarta: Djambatan. 1959. Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius. Het Bhomakawya. Leiden : Dissertatie. 1985. 1957.com www. Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. Pigeaud. Moedjanto. De Tantu Panggelaran Uitgegeven.DAFTAR PUSTAKA www. Rama Legenden und Rama Reliefs in Indonesia. 1994. 1930. Relevansi Ramalan Jayabaya dan Indonesia Abad XXI. Jakarta : Balai Pustaka. 1903. Teeuw. Kapustakan Jawi. Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang. Rassers. http://www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful