BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Manajemen Risiko (Risk Management) menjadi dasar dalam pengelolaan bank-bank sejak akhir tahun 90-an dan semakin populer penggunaannya sejak awal milenium baru ini terutama sejak diperkenalkannya konsep Basel II oleh Komite Basel dari Bank for International Settlement (BIS). Dalam konsep baru tersebut identifikasi dan penghitungan risiko untuk keperluan penetapan kebutuhan modal minimum bank dirubah dari ketentuan yang sudah diberlakukan sejak 1988 (accord 1988) dimana risiko untuk penghitungan kebutuhan modal minimum bank sudah harus memperhitungkan risiko pasar serta risiko operasional, selain risiko kredit. Dasar semuanya adalah identifikasi Risiko, kalkulasi Risiko, pemantauan Risiko dan Pengendalian Risiko yang lebih lanjut dikenal sebagai Manajemen Risiko dalam perbankan. Bank Indonesia (2003), menjelaskan tentang pengertian Manajemen Risiko yaitu serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank. Sedangkan yang dimaksud dengan “Risiko” adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (event) yang dapat menimbulkan kerugian bank. Menurut Bank Indonesia (2003), sesungguhnya risiko saat ini merupakan potensi kerugian di waktu mendatang. Karena itu sangat perlu diperhatikan dan diperhitungkan. Menurut Arens (2003), materialitas dan risiko merupakan konsep- konsep fundamental yang sifatnya penting dalam perencanaan audit dan dalam perancangan atas pendekatan audit yang akan dipergunakan. Walaupun tidak senyata sebagaimana penetapan biaya dan hasil (tangible cost & revenue), penghitungan risiko dalam kegiatan perbankan akan semakin diperlukan dan akan semakin luas penggunaannya Dalam Lampiran I, Bank Indonesia (2003), dijelaskan bahwa penerapan manajemen risiko akan memberikan manfaat, baik kepada perbankan maupun kepada otoritas
1

pengawasan bank. Bagi perbankan, penerapan manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder value, memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank di masa datang, meningkatkan metode dan proses pengambilan keputusan yang sistimatis, yang didasarkan pada ketersediaan informasi, digunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja bank, digunakan untuk menilai risiko yang melekat pada instrumen atau kegiatan usaha bank yang relatif komplek serta menciptakan infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka meningkatkan daya saing bank. Bagi otoritas pengawasan bank, penerapan manajemen risiko akan mempermudah penilaian terhadap kemungkinan kerugian yang dihadapi bank yang dapat mempengaruhi permodalan bank dan sebagai salah satu dasar penilaian dalam menetapkan strategi dan fokus pengawasan bank. Esensi dari penerapan manajemen risiko adalah kecukupan prosedur dan metodologi pengelolaan risiko sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali (manageable) pada batas/limit yang dapat diterima serta menguntungkan bank. Namun demikian mengingat perbedaan kondisi pasar dan struktur, ukuran serta kompleksitas usaha bank, maka tidak terdapat satu sistem manajemen risiko yang universal untuk seluruh bank, sehingga setiap bank harus membangun sistem manajemen risiko sesuai dengan fungsi dan organisasi manajemen risiko pada bank. Risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak diperkirakan (unanticipated) yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Untuk dapat menerapkan proses manajemen risiko, maka pada tahap awal bank harus secara tepat mengidentifikasi risiko dengan cara mengenal dan memahami seluruh risiko yang sudah ada (inherent) maupun yang mungkin timbul dari bisnis baru bank, termasuk risiko yang bersumber dari perusahaan terkait dan afiliasi lainnya. Menurut Arens (2003), cara utama yang dipergunakan oleh Auditor untuk mempertimbangkan risiko yang ada dalam perencanaan audit adalah melalui penerapan model risiko audit yang terdiri dari 4 komponen yaitu risiko deteksi terencana (planned detection risk), risiko akseptibilitas audit (acceptable audit risk), risiko inheren (inherent risk) dan risiko pengendalian (control risk). Menurut Taswan (2006), bisnis adalah berbagi risiko bukan hanya berbagi keuntungan. Tidak menyadari bahwa risiko berhubungan positif dengan return. Artinya

2

bank komersial juga berkepentingan untuk mengelola risiko yang lebih baik. Para komisaris dan direktur bank diwajibkan memiliki sertifikat manajemen risiko yang dikeluarkan oleh Badan Sertifikasi Manajemen Risiko. Di satu sisi. 3 . Penyadaran akan pengelolaan risiko untuk mencapai tujuan bisnis perbankan sangat tinggi saat ini. maka penulis ingin lebih mempelajari dan memahami mengenai “Apa saja Konsep dan Jenis Dalam Manajemen Risiko?”. Hal lain yang Bank Indonesia telah mewajibkan bank komersial untuk menerapkan manajemen risiko sebagai bagian dari penilaian kinerja bank. Dengan penilaian risiko yang jelas. terintegrasi dan berkesinambungan melalui sistem manajemen risiko yang dapat memberikan peringatan dini (early warning system). Disamping itu pihak bank dapat mengendalikan tingkat risiko yang wajar. sedang atau rendah. Sertifikat ini menunjukkan bahwa hanya orang-orang yang memahami manajemen risiko saja yang pantas menduduki komite manajemen risiko. Berdasarkan teori fenomena di atas. akan memudahkan justifikasi manajemen. terarah. Praktisi perbankan menyadari bahwa pencapaian return tertentu pada risiko minimal atau pencapaian return maksimal pada risiko tertentu bisa dilakukan bila risiko dikelola dengan baik. apakah bank yang bersangkutan dalam kondisi risiko tinggi.dalam bisnis perbankan ketika ingin mencapai return yang tinggi maka berhadapan dengan risiko yang tinggi.

Apa saja pendekatan sistematis dalam manajemen risiko ? 4 . Manajemen risiko merupakan salah satu hal paling penting dari strategi perusahaan. baik itu terkait dengan aspek tata kelola perusahaan. Adapun permasalahan dalam pembuatan makalah ini adalah : 1. sosial. Membentuk suatu budaya kerja yang "mengerjakan sesuatu dengan benar". pengadilan. sebagai akibat terjadinya suatu peristiwa yang mungkin/belum pasti akan terjadi (Uncertanity of Occurence & Uncertainty of Loss). Reputasi yang dibentuk dengan susah payah selama bertahun-tahun dapat musnah dalam sekejap melalui insiden seperti skandal korupsi atau tuduhan melakukan perusakan lingkungan hidup. maupun lingkungan--yang semuanya merupakan komponen CSR-pada perusahaan dapat mengurangi risiko terjadinya hal-hal negatif tersebut. Apa saja jenis-jenis manajemen risisko ? 3. Kejadian-kejadian seperti itu dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan dari penguasa.BAB 2 PERMASALAHAN Risiko yang dialihkan meliputi : kemungkinan kerugian material yang dapat dinilai dengan uang yang dialami nasabah. pemerintah dan media massa. Bagaimana metode-metode yang digunakan dalam pengendalian manajemen risiko ? 4. Apa saja konsep-konsep yang terdapat dalam manajemen risiko ? 2. Bagaimana tahapan kebijakan dan tahapan di dalam manajemen resiko ? 5.

BAB 3 PEMBAHASAN Tahap-tahap yang dilalui oleh perusahaan dalam mengimplementasikan manajemen risiko adalah mengidentifikasi terlebih dahulu risiko-risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. Menghilangkan risiko berarti menghapuskan semua kemungkinan terjadinya kerugian misalnya dalam mengendarai mobil di musim hujan. Sedangkan pengalihan/transfer risiko dapat dilakukan dengan memindahkan kerugian/risiko yang mungkin terjadi kepada pihak lain. 5 . misalnya perusahaan asuransi. misalnya dengan cara membentuk cadangan dalam perusahaan untuk menghadapi kerugian yang bakal terjadi (retensi sendiri). peluang terjadinya produk gagal dapat dikurangi dengan pengawasan mutu (quality control). risiko ditransfer). Meminimasi risiko dilakukan dengan upaya-upaya untuk meminimumkan kerugian misalnya dalam produksi. setelah mengidentifikasi maka dilakukan evaluasi atas masing-masing risiko ditinjau dari severity (nilai risiko) dan frekuensinya. risiko diminimalisir) dan pengendalian finansial (risiko ditahan. Tahap terakhir adalah pengendalian risiko. Dalam tahap pengendalian risiko dibedakan menjadi 2 yakni pengendalian fisik (risiko dihilangkan. kecepatan kendaraan dibatasi maksimum 60 km/jam. Menahan sendiri risiko berarti menanggung keseluruhan atau sebagian dari risiko.

Kendati begitu. Di Tanah Air. menurut Darwin. konsep ini pun bisa diterapkan di bisnis lainnya. 3. Artinya. Darwin menilai. pasti ada berbagai 6 . misalnya.2 Jenis-jenis manajemen risiko Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan / aktivitas yang idlakukan manusia. Maskapai penerbangan ini dilihatnya berhasil membidik pelanggan yang hanya butuh terbang dengan selamat. sehingga biaya produksinya jadi murah. seperti kegiatan konstruksi. dengan suatu proses yang dapat distandardisasi. sehingga mereka hanya membayar atas servis yang dipakainya. Adapun TBS. konsep SC telah dipraktikkan Lion Air. atau C. sehingga utilisasi aset bisa optimal.1 Konsep-konsep yang terdapat dalam manajemen risiko Dijelaskan Darwin. Ini memang mulanya lebih banyak dipraktikkan di bidang manufacturing. sehingga harga jual lebih murah dan perusahaan menjadi kompetitif di pasar. konsep ini muncul karena ada kebutuhan memahami segmen pelanggan yang ingin dilayani kebutuhannya dan menyesuaikan produk tersebut. berskala besar. adalah konsep manajemen yang meng-customize layanan untuk mayoritas pelanggan. Karena dalam setiap kegiatan. sehingga business stream untuk melayaninya juga berbeda-beda. tanpa butuh servis macam-macam di bandara ataupun di udara.3. ada pemisahaan business stream antara produk A. B. Darwin meramalkan kedua konsep itu akan hot di Tanah Air karena tingginya kebutuhan meningkatkan daya saing perusahaan saat pasar Indonesia diliberalisasi dan persaingan bebas terjadi. termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstyruksi. Jadi. tidak termasuk servis yang tidak dipakainya. TBS dilatarbelakangi kesadaran adanya kebutuhan segmen pelanggan yang berbeda-beda. Kemunculan konsep ini diawali dengan penelitian model bisnis Southwest sejak 15 tahun lalu. adalah konsep untuk menstandardisasi proses bisnis. Alasannya. TBS terinspirasi dari kalangan pabrikan/perakit di Cina yang membentuk dan fokus ke beberapa grup produk. menurut Darwin. perusahaan akan diarahkan untuk lebih cerdas memilih segmen yang pertumbuhan bisnisnya cepat.

Para ahli mendefinisikan risiko sebagai berikut : 1. 2007). Contoh: Risiko yang disebabkan dalam hutang piutang. b.ketidakpastian (uncertainty). Risiko yang tidak dapat dialihkan. agar dilain pihak dapat diharapkan hal – hal yang menguntungkan. Risiko dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam menurut karakteristiknya. Smith. Contoh : Risiko kebakaran. Risiko adalah buah dari ketidakpastian. Young. perampokan. Risiko Spekulatif (Speculative Risk). dan tentunya ada banyak sekali faktor – faktor ketidakpastian pada sebuah proyek yang tentunya dapat menghasilkan berbagai macam risiko. yaitu lain: 1. Risiko adalah kombinasi probabilita suatu kejadian dengan konsekuensi atau akibatnya (Siahaan. b. 1985). Risiko Murni (Pure Risk). dan sebagainya. menjual produk. yaitu risiko yang memang sengaja diadakan. 1995). dan sebagainya. yaitu risiko yang tidak disengaja. pencurian. Risiko berdasarkan sifat a. Risiko berdasarkan dapat tidaknya dialihkan a. perjudian. Risiko adalah sebuah potensi variasi sebuah hasil (William. yaitu risiko yang dapat dipertanggungkan sebagai obyek yang terkena risiko kepada perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi. Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada suatu kegiatan. 7 . Dengan demikian kerugian tersebut menjadi tanggungan (beban) perusahaan asuransi. Risiko yang dapat dialihkan. membangun proyek. 2. yang jika terjadi dapat menimbulkan kerugian secara tiba – tiba. Risiko adalah suatu variasi dari hasil – hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu pada kondisi tertentu (William & Heins. 2. 3.

b. dan sebagainya. dan kematian secara acak (secara random). Risiko Obyektif 8 . risiko kecelakaan kerja. Yaitu risiko yang asalnya dari masyarakat yang tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Hoyt. dan perubahan undang – undang atau perubahan peraturan pemerintah. juga mengemukakan beberapa macam risiko yang lain. diantaranya : 1. perubahan politik. angin topan. Risiko Internal.yaitu semua risiko yang termasuk dalam risiko spekulatif yang tidak dapat dipertanggungkan pada perusahaan asuransi. dan sebagainya. Risiko yang timbul karena terjadi perubahan dalam masyarakat. (2001). Risiko Eksternal. yaitu risiko yang berasal dari luar perusahaan atau lingkungan luar perusahaan. 2. Risiko dinamis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. penipuan. Misalnya risiko pencurian. risiko mismanagement. Contoh sumber risiko dinamis : urbanisasi. Risiko Statis dan Risiko Dinamis (berdasarkan sejauh mana ketidakpastian berubah karena perubahan waktu) a. perkembangan teknologi. Risiko Subyektif dan Risiko Obyektif a. Risiko Subyektif Risiko yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang mengalami ragu – ragu atau cemas akan terjadinya kejadian tertentu. Risiko berdasarkan asal timbulnya a. Trieschman. Risiko Statis. Contoh risiko murni statis : Ketidakpastian dari terjadinya sambaran petir. b. Selain macam – macam risiko diatas. 3. Misalnya risiko kerusakan peralatan kerja pada proyek karena kesalahan operasi. b. yaitu risiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. fluktuasi harga. Risiko Dinamis. Gustavon. Risiko statis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh risiko spekulasi statis : Menjalankan bisnis dalam ekonomi stabil.

Pencegahan kerugian 5. Asuransi 1. Menghindari risiko 2. Dengan menghindari risiko. strategi ini merupakan strategi yang umum digunakan untuk menangani risiko. 3.Probabilita penyimpangan aktual dari yang diharapkan (dari rata . Menghindari Pengetahuan dan penelitian Ada lima strategi alternatif untuk menangani risiko. yaitu : 1. Kombinasi 4. kontraktor dapat mengetahui bahwa perusahaannya tidak akan mengalami kerugian 9 .rata) sesuai pengalaman. Meretensi risiko 4. Transfer 3.3 Metode pengendalian manajemen risiko Jenis jenis metode pengelolaan antara lain : 1. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian 3. Asumsi( Retensi ) 2. Mentransfer risiko 5. Menghindari risiko Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting.

baik secara 10 . yaitu : 1. kontraktor juga akan kehilangan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan yang mungkin didapatkan dari asumsi risiko tersebut. apabila risiko tersebut benar – benar terjadi. Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko politik dan finansial berkaitan dengan proyek pada negara dengan kondisi politik yang tidak stabil. 2. Meretensi risiko Retensi risiko telah menjadi aspek penting dari manajemen risiko ketika perusahaan menghadapi risiko proyek. Retensi risiko adalah perkiraan secara internal. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian Alternatif strategi yang kedua adalah mencegah risiko dan mengurangi kerugian. akan mengurangi dampak finansial. Sebuah gedung yang dilengkapi dengan sprinkler system. Contohnya : pemasangan alarm atau alat anti – maling pada peralatan di proyek. 3. Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko. Mengurangi dampak finansial dari risiko. apabila gedung tersebut mengalami kebakaran. maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut juga ikut menghilang.akibat risiko yang telah ditafsir. Namun demikian. dapat menolak melakukan tender proyek pada negara tersebut. Strategi ini secara langsung mengurangi potensi risiko kontraktor dengan 2 cara. 2. akan mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian. apabila kontraktor tersebut menolak untuk melakukan tender. Di sisi lain.

kapanpun kontraktor menjalani perencanaan kontraktual dengan banyak pihak seperti pemilik. dimana kompensasi ekstra akan diberikan kepada kontraktor apabila terjadi perbedaan kondisi tanah pada suatu proyek. Dalam mengadopsi strategi retensi risiko ini. Karakeristik esensial dari transfer risiko ini adalah dampak dari suatu risiko. 1. Asuransi 11 . tergantung pada filosofi. Mentransfer risiko Pada dasarnya. Retensi risiko yang tidak terencana (unplanned) terjadi ketika kontraktor tidak mengenali atau mengidentifikasi kberadaan dari suatu risiko dan secara tidak sadar mengasumsi kerugian yang akan muncul. 5. Contohnya : penyesuaian pada harga penawaran.utuh maupun sebagian. Biasanya. 4. Dengan strategi seperti itu. Retensi risiko yang terencana (planned) adalah asumsi yang secara sadar dan sengaja dilakukan oleh kontraktor untuk mengenali atau mengidentifikasi risiko. kebutuhan khusus. melalui negosiasi. perlu dibedakan antara 2 jenis retensi yang berbeda. transfer risiko dapat dilakukan. subkontraktor ataupun supplier material dan peralatan. 2. risiko dapat ditahan dengan berbagai cara. Transfer risiko bukanlah asuransi. transfer risiko ini dilakukan melalui syarat atau pasal – pasal dalam kontrak seperti : hold – harmless aggrement dan klausul jaminan atau penyesuaian kontrak. apabila risiko tersebut benar – benar terjadi. ditanggung bersama atau ditanggung secara utuh oleh pihak lain selain kontraktor. dan juga kapabilitas finansial dari kontraktor itu sendiri. dari dampak finansial suatu risiko yang akan dialami oleh perusahaan.

Komunikasi risiko Proses pengkomunikasian informasi (dalam hal ini. 3. Supaya proses manajemen risiko dapat berlajan secara lancar. dimana pihak asuransi setuju untuk menerima beban finansial yang muncul dari adanya kerugian. Dengan adanya persetujuan tersebut. harus dilakukan dengan lancar pula. proses pengkomunikasian risiko yang terjadi pada suatu proyek. baik untuk sebuah organisasi ataupun untuk individu. Manajemen informasi dapat digunakan sebagai basis dari segala buku text mengenai komunikasi dalam organisasi. Sistem informasi manajemen risiko Penggunaan teknologi masa kini yang dapat membantu jalannya proses manajemen informasi dalam rangka melakukan manajemen risiko pada suatu proyek.Asuransi menjadi bagian penting dari program manajemen risiko. risiko) yang mengalir dari dan menuju ke manajer risiko. Secara formal. Ruang lingkup manajemen informasi pada program manajemen risiko : 1. 4. asuransi dapat didefinisikan sebagai kontrak persetujuan antara 2 pihak yang terkait yaitu : pengasuransi (insured) dan pihak asuransi (insurer). 2. pengasuransi (insured) harus membayar sejumlah premi tiap periodenya. Proses pelaporan manajemen risiko Isi dan bentuk formal dari proses pelaporan risiko yang dilakukan oleh pihak – pihak yang terkait dalam proses manajemen risiko. Asuransi juga termasuk di dalam strategi transfer risiko. Karena pentingnya informasi risiko ini. Sistem alokasi sumber daya Mekanisme pembiayaan proses manajemen risiko. pihak asuransi (insurer) setuju untuk mengganti rugi kerugian yang terjadi (seperti yang tercantum dalam kontrak) dengan balasan. 12 . maka manajemen informasi juga berperan sangat penting untuk kelangsungan proses manajemen risiko.

Mengatur hubungan dan kontrak – kontrak dengan agen asuransi dan broker. memaparkan bahwa. Seorang manajer risiko. Klaim yang berkaitan dengan sumber daya manusia Klaim yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan pekerja dalam sebuah perusahaan. manajemen risiko juga membutuhkan system manajemen kontrak. dan sebagainya. Mengatur dokumen dan sertifikat asuransi. Young (1995). yaitu : 1. Smith. 2. 3. 3. manajemen kontrak harus dapat menguasai atau menangani.Dalam pelaksanaannya. 13 . William. setidaknya 4 hal. seperti : penawaran. Klaim pertanggungjawaban atau klaim dari pihak ketiga Klaim yang terjadi akibat kecelakaan yang dialami oleh pihak ketiga (misalnya : konsumen jatuh di tempat parkir yang licin). dan pihak kontraktor mengajukan klaim pada perusahaan asuransi. Memberikan garansi atau menjamin rencana pembiayaan risiko dengan pihak ke tiga. asuransi. Ada beberapa macam klaim yang harus ditangani oleh manajer risiko. Klaim yang berkaitan dengan properti Klaim yang terjadi apabila ada suatu kerugian pada suatu proyek dan kontraktor mengajukan klaim pada pihak asuransi. antara lain : 1. yaitu suatu proses untuk mengatur semua perkara mengenai kontrak. 2. Apabila suatu kejadian yang tidak diinginkan terjadi pada suatu proyek. Mempersiapkan dokumen atau kontrak penawaran untuk layanan jasa pihak ketiga. manajer risiko mempunyai tanggungjawab untuk bernegosiasi dengan utusan dari pihak asuransi dan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan klaim tersebut. 4. juga harus dapat berperan dalam manajemen atau pengawasan klaim.

2. sehingga terdapat kesinambungan antara data – data yang didapatkan. serta menyediakan masukan yang obyektif untuk pengembangan program. Statement kebijakan manajemen risiko Perusahaan harus menyusun statement kebijakan manajemen risiko yang berisi tentang misi dan tujuan dari program manajemen risiko. 3. Pemantauan secara terus . dengan proses tersebut. Selain itu. Audit program dapat digunakan sebagai evaluasi untuk manajer risiko dan fungsi manajemen risiko. beberapa hal harus dilakukan : 1. Untuk melakukan proses pemantuan kegiatan manajemen risiko. Organisasi 14 . Audit program Proses audit program manajemen risiko harus dijalankan untuk memverifikasi sistem pemantauan dan pelaporan berkala.menerus Pemantauan akan proses manajemen risiko yang dijalankan harus dilakukan secara terus – menerus. kontraktor dapat mengetahui sejauh manaproses manajemen risiko yang telah dijalankan.Untuk mengetahui seberapa berhasil.4 Tahapan kebijakan dan prosedur dalam manajemen risiko 1. Dengan adanya proses pemantauan dan penkajian ulang ini. 2. sehingga kontraktor dapat memperbaiki kekurangannya dan tidak melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. perlu dilakukan suatu proses untuk memonitor dan mengkaji ulang program manajemen risiko yang telah dijalankan. kontraktor dapat melihat kesalahan – keslahan atau kekurangan – kekurangan yang terjadi selama proses manajemen risiko. manajemen risiko yang telah dijalankan.

yang menangani masalah manajemen risiko. harus diidentifikasi.Perusahaan sebaiknya menyusun sebuah organisasi atau departemen khusus. 3. identifikasi risiko dapat dilakukan dengan beberapa teknik. metode. sehingga tidak ada risiko yang terlewatkan atau tidak teridentifikasi. Administrasi system. karena dari proses inilah. Dalam pelaksanaannya. Respon manajemen 3. Adapun proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan komprehensif. Proses identifikasi risiko ini mungkin adalah proses yang terpenting. sehingga menjadi sebagai berikut : 1. tahapan manajemen risiko yang dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990). semua risiko yang ada atau yang mungkin terjadi pada suatu proyek. Identifikasi dan Analisa Risiko 2. hutang. dengan sedikit modifikasi. dan juga kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan untuk program manajemen risiko. yang menjelaskan mengenai prosedur. b. Manual (rencana kegiatan) Perusahaan sedianya menyiapkan rencana kegiatan operasional manajemen risiko. antara lain: a. Brainstorming Questionnaire Industry benchmarking 15 . c. dan personil perusahaan. Identifikasi dan Analisa Risiko Tahapan pertama dalam proses manajemen risiko adalah tahap identifikasi risiko. Identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara sistematis dan terus menerus dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya risiko atau kerugian terhadap kekayaan.

a. h. 2. adalah : 1. f. Kerugian atas hutang piutang. i. Kerugian atas personil perusahaan. Scenario analysis Risk assessment workshop Incident investigation Auditing Inspection Checklist HAZOP (Hazard and Operability Studies) dan sebagainya Adapun cara – cara pelaksanaan identifikasi risiko secara nyata dalam sebuah proyek. 3. g. c. 16 . k. dan sebagainya. image perusahaan. Dalam checklist ini dibuat daftar kerugian dan peringkat kerugian yang terjadi. sakit. misalnya penurunan permintaan. • Kekayaan langsung yang dihubungkan dengan kebutuhan untuk mengganti kekayaan yang hilang atau rusak. Membuat checklist kerugian potensial. usia tua. dan sebagainya. ketidakmampuan. pengangguran. Membuat klasifikasi kerugian. Kerugian atas kekayaan (property). Misalnya akibat kematian. b. Membuat daftar bisnis yang dapat menimbulkan kerugian. j.d. e. karena kerusakan kekayaan atau cideranya pribadi orang lain. • Kekayaan yang tidak langsung.

bisa juga diambil dari pengalaman masa lalu.5 Pendekatan sistematis dalam manajemen risiko Pendekatan sistematis mengenai manajemen resiko terdiri dari : 1. namun apabila tidak bisa didapat dari database. melalui resiko potensial mana yang bisa ditemukan dan kemungkinan disusunnya respon. Berbagai cara penanganan yang mungkin dilakukan oleh kontraktor rumah sehat sederhana adalah: ▪ ▪ ▪ Asuransi Menunda proyek Menentukan klausa akan penambahan atau kompensasi di kontrak pembayaran 17 . Banyak pembuat keputusan meyakini bahwa prinsip yang baik dalam manajemen resiko berasal dari tahap identifikasi daripada tahap analisa.3. Dampak dan Frekuensi Untuk mengetahui seberapa besar dampak dan frekuensi dari identifikasi resiko. 3. Penanganan Resiko Penanganan resiko adalah elemen terakhir dalam pendekatan manajemen resiko berupa sebuah atau serangkaian tindakan yang menjadi bagian dari para pembuat keputusan untuk menangani segala resiko yang ada. Data yang diambil merupakan sebuah asumsi prosentase atas sebuah resiko yang dapat terjadi dalam sebuah item pekerjaan yang diangggap beresiko. 2. Hal ini bertujuan untuk menentukan seberapa besar dampak yang dapat diakibatkan dan mengetahui frekuensi terjadinya resiko yang telah teridentifikasi tersebut. Data bisa diperoleh melalui database perusahaan. Identifikasi Resiko Langkah yang utama dan paling penting dalam menghadapi resiko adalah dengan mengidentifikasikannya. yang harus dilakukan adalah dengan pengumpulan data untuk proses manajemen risiko. Hal ini dikarenakan identifikasi resiko mencakup perincian pemeriksaan strategi proyek.

tingkat inflasi dan keterlambatan untuk rencana kontingensi di dalam kontrak ▪ Mengadopsi program safety control. 18 . manajemen sistem.▪ ▪ ▪ Menentukan sistem rekruitmen dan seleksi pekerja Membuat jadwal dan biaya dalam plan and control yang jelas dan sesuai Memasukkan klausa yang sesuai dalam tingkat suku bunga. dan sebagainya Mengalihkan pekerjaan ke subkontraktor Menyediakan/stok kebutuhan material terlebih dahulu dan menyimpannya Memperbaiki segala kerusakan atas komplain yang diterima. pengawasan dan pencegahan yang sesuai ▪ ▪ ▪ ▪ Memasukkan kondisi di dalam kontrak untuk tingkat polusi.

Dalam tahap pengendalian risiko dibedakan menjadi 2 yakni pengendalian fisik (risiko dihilangkan.BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN 4. setelah mengidentifikasi maka dilakukan evaluasi atas masing-masing risiko ditinjau dari severity (nilai risiko) dan frekuensinya. Menghilangkan risiko berarti menghapuskan semua kemungkinan terjadinya kerugian misalnya dalam mengendarai mobil di musim hujan.1 Kesimpulan Tahap-tahap yang dilalui oleh perusahaan dalam mengimplementasikan manajemen risiko adalah mengidentifikasi terlebih dahulu risiko-risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan. risiko diminimalisir) dan pengendalian finansial (risiko ditahan. risiko ditransfer). kecepatan kendaraan dibatasi maksimum 60 km/jam. Tahap terakhir adalah pengendalian risiko. Meminimasi risiko dilakukan dengan upaya-upaya untuk 19 .

P. Kami mohon maaf atas ketidaksempurnaan makalah yang kami buat ini. 4. FTSP Jurusan Teknik Lingkungan ITS. Jakarta. 2002. Ppm Manajemen. dan N. Chowdary. DAFTAR PUSTAKA Susilo. V. misalnya perusahaan asuransi. peluang terjadinya produk gagal dapat dikurangi dengan pengawasan mutu (quality control). Surabaya. Hyderabad. Menahan sendiri risiko berarti menanggung keseluruhan atau sebagian dari risiko. 20 .2010. misalnya dengan cara membentuk cadangan dalam perusahaan untuk menghadapi kerugian yang bakal terjadi (retensi sendiri). Vedpuriswar. Analisis Resiko Lingkungan: Kumpulan Materi Kuliah. M. Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000. A. Sedangkan pengalihan/transfer risiko dapat dilakukan dengan memindahkan kerugian/risiko yang mungkin terjadi kepada pihak lain. Icfaian School of Management. A strategic approach to Enterprise Risk Management. Manajemen Risiko Sentanoe K. 2001. Herman Darmawi.meminimumkan kerugian misalnya dalam produksi.2 Saran Makalah ini memang jauh dari kesempurnaan. dan Victor Riwu Kaho. Madhav. Leo J. maka dari itu kami meminta saran dari para pembaca. Manajemen Risiko dan Asuransi Razif.V.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful