P. 1
Ajaran sosial Gereja

Ajaran sosial Gereja

|Views: 1,541|Likes:

More info:

Published by: Maria Intan Domitarius on Aug 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2013

pdf

text

original

Ajaran sosial Gereja sebenarnya adalah ajaran Gereja yang diperuntukkan bagi kebaikan
bersama (common good) dalam masyarakat, untuk mengarahkan masyarakat kepada
kebahagiaan. Banyak orang menghubungkan surat ensiklik Bapa Paus Leo XIII, Rerum
Novarum
, tahun 1891, sebagai tanggapan Gereja Katolik yang nyata terhadap keadaan
krisis sosial dunia. Namun sebenarnya, keberadaan ajaran sosial Gereja telah ada sejak
lama, bahkan sejak jaman Perjanjian Lama.

Maka sumber ajaran sosial Gereja Katolik adalah: (disarikan dari buku karangan Arthur
Hippler, Citizens of the Heavenly City, A Catechism of Catholic Social Teaching,
(Rockford Illinois: Borromeo Books, 2003) p. 1-11:

1. Kitab Suci, terutama ke-sepuluh perintah Allah yang menjadi dasar pengajaran moral
dalam Gereja Katolik (lih. KGK 264-2068). Melalui hukum-hukum Musa di Perjanjian
Lama, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa Allah memberikan hukum tidak
hanya untuk mengatur penyembahan kepada Allah, tapi juga untuk mengatur kehidupan
yang benar antara sesama keluarga dan masyarakat. Hukum ini yang kemudian disarikan
menjadi “Kasihilah Tuhanmu dengan segenap hatimu dan kekuatanmu… dan kasihilah
sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri” (lih. Mat 22:37-39)

2. Pengajaran para Bapa Gereja dan para Pujangga Gereja (Doctors of the Church),
terutama St. Agustinus (354-430) melalui bukunya The City of God, yang mengatur
pengajaran tentang manusia dan masyarakat; dan St. Thomas Aquinas (1225-1274),
dengan bukunya, Summa Theologiae, di mana bagian yang terbesar dari Summa adalah
Teologi moral/ Moral Theology.

3. Pengajaran dari Bapa Paus, yaitu dari surat-surat ensiklik dan pengajaran lisan/ dalam
homili/ sermon/ pidato. Pengajaran dari Bapa Paus ini merangkum Kitab Suci dan
pengajaran dari para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja. Bapa Paus yang mengajarkannya
ajaran sosial ini kepada dunia adalah merupakan tanda bahwa Kristus tak meninggalkan
umat manusia bagai yatim piatu, namun terus menyertainya dengan ajaran-Nya yang
ditujukan bagi semua orang, demi kebaikan bersama.

Memang banyak orang sukar melihat bahwa ajaran dari Bapa Paus merupakan ajaran
bagi semua orang, sebab mereka berpikir bahwa Paus hanya mengajar umat Katolik.
Namun sebagai the Vicar of Christ, wakil Kristus di dunia, sebenarnya, Paus mempunyai
tugas untuk mengajar semua orang. Otoritas Paus dalam mengajarkan doktrin sosial
Gereja sifatnya tetap, tidak terpengaruh ‘masa jabatan’. Maka artinya:

1. Paus yang sekarang ini mengajarkan sesuatu yang telah menjadi pengajaran Gereja
sepanjang sejarah, dan tidak mengajarkan hal yang baru/ ‘inovasi’ yang dibuatnya
sendiri.

2. Demikian pula, ajaran para Paus di masa lampau tetap berlaku. Contohnya, surat
ensiklikal Centesimus Annus dari Paus Yohanes Paulus II ditulis berdasarkan Rerum
Novarum
dari Paus Leo XIII dan Quadragesimo anno dari Paus Pius XII. Dan yang baru-
baru ini surat ensiklik Caritatis in Veritate dari Paus Benediktus XVI merupakan

pengembangan/ kelanjutan dari surat-surat ensiklik dari para Paus pendahulunya tersebut.
Dalam surat ensikliknya, khususnya Rerum Novarum dan Centesimus Annus, Paus
mendorong dibentuknya kegiatan dan lembaga sosial dalam masyarakat yang sifatnya
untuk mendukung masyarakat itu sendiri, namun harus dilihat dasarnya, bahwa semua itu
adalah untuk menerapkan hukum kasih dalam masyarakat.

Memang dalam hal ini Gereja tidak mengajarkan penemuan suatu sistem bisnis/
pengaturan masyarakat, namun Gereja mengajarkan prinsip-prinsip dasarnya demi
mengarahkan umat manusia kepada kekudusan, sehingga manusia dapat mencapai tujuan
akhirnya, yaitu surga. Semua perkembangan di dunia tidak boleh menghalangi manusia
untuk mencapai tujuan akhir ini.

Maka dengan demikian, ajaran sosial Gereja tidak terbatas pada mendirikan rumah sakit
atau keterlibatan politik, atau “teologi sosial politik” seperti yang pernah anda dengar.
Mungkin ada baiknya jika anda membaca surat ensiklik Paus Benediktus XVI Caritas in
Veritate
(In Charity and Truth), silakan klik, sehingga anda memperoleh gambaran
tentang ajaran sosial Gereja.

PENGERTIAN TENTANG AJARAN SOSIAL GEREJA

Ajaran Sosial Gereja atau ASG berisikan ajaran Gereja tentang permasalahan keadilan di
antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. ASG berusaha membawakan terang Injil
ke dalam persoalan keadilan sosial di tengah jaringan relasi masyarakat yang begitu
kompleks. Dengan kata lain, ASG berusaha mengaplikasikan ajaran-ajaran Injil ke dalam
realitas sosial hidup bermasyarakat di dunia. Tujuan ASG adalah menghadirkan kepada
manusia rencana Allah bagi realitas sekular dan menerangi serta membimbing manusia
dalam membangun dunia seturut rencana Tuhan (bdk. Hervada).

Secara sempit ASG dimengerti sebagai kumpulan aneka dokumen (umumnya disebut
ensiklik) yang dikeluarkan oleh Magisterium Gereja dan berbicara tentang persoalan-
persoalan sosial. Dokumen-dokumen tersebut antara lain Rerum Novarum (tentang
kondisi buruh, dikeluarkan oleh Paus Leo XIII tahun 1891), Quadragessimo Anno
(tentang pembaharuan tatanan sosial oleh Paus Pius XI tahun 1931), Mater et Magistra
(tentang umat kristiani dan persoalan-persoalan sosial di dunia oleh Paus Yohanes XXIII
tahun 1961), hingga yang terakhir untuk sementara ini, yakni Centesimus Annus (1991).
Ensiklik terakhir ini berisi penegasan Paus Yohanes Paulus II bahwa Ajaran Sosial
Gereja termasuk dalam ajaran resmi iman dan tergolong dalam antropologi teologis.
Antropologi teologis dimengerti sebagai teologi tentang manusia yang telah ditebus dan
dirahmati oleh Kristus.

Kita masih bisa memasukkan dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh konferensi para
uskup dari berbagai negara. Pertemuan para uskup dari bumi Amerika Latin di Medelin
melahirkan dokumen-dokumen yang kemudian dikenal dengan dokumen Medelin pada
tahun 1968. Para uskup Amerika Serikat mengeluarkan Surat Pastoral berjudul Economic
Justice for All
(Keadilan Ekonomi bagi Semua) di tahun 1986. Dari KWI kita mengenal
Surat Gembala tentang Pemilu, Nota-nota Pastoral 2003-2005, dsb.

Dokumen-dokumen sosial dari para uskup tersebut mencerminkan pergulatan Gereja
dalam usaha menghadirkan diri di tengah kehidupan bermasyarakat dalam konteks
masing-masing. Karena itu, ASG tidak dapat dipahami melulu sebagai kumpulan
dokumen sosial yang diterbitkan oleh Magisterium. Sementara dokumen atau ensiklik
sosial berisikan ajaran sosial yang kurang lebih baku, ASG ditafsirkan dan dijabarkan
dalam pergulatan umat kristiani di tengah-tengah kehidupan sosial, politik, budaya dan
ekonomi (bdk. Kieser, 2). Kehidupan bermasyarakat dan konteks hidup sehari-harinya
menjadi lapangan konkret bagi pengembangan ajaran sosial Gereja. Dengan kata lain,
ASG telah ada sejak umat kristiani menjalani hidup di tengah masyarakat dan dunia.

Keberadaan ASG dalam Gereja tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Gereja
diutus oleh Tuhan ke dalam dunia (bdk. Yoh 17:18). Tuhan bahkan tidak berpikir untuk
mengambil Gereja dari dunia (bdk. Yoh 17:15). Tuhan mengutus Gereja ke dunia untuk
menjadi sakramen kehadirannya dan menandai hadirnya tanda dan sarana keselamatan
Tuhan di dunia. Karena itu, tugas Gereja adalah hadir di dunia, bukan lari dari dunia.
Misinya adalah mewartakan dan mengomunikasikan keselamatan Kristus, yang
disebutNya “Kerajaan Allah”, yakni persatuan dengan Allah dan persatuan seluruh umat

manusia. Dengan hadir di dunia, Gereja menjadi benih dan awal dari Kerajaan Allah
(bdk. Compendium art. 49).

Warta keselamatan Kristus melalui kehadiran Gereja menuntut terjadinya perubahan
nyata tatanan dunia sesuai dengan yang dikehendaki Kristus. Cinta kasih Kristus, yang
menjadi perintah utama dan syarat utama sebagai murid Tuhan (Yoh 13:35), harus
diterapkan kepada sesama dalam relasi sehari-hari. Perwujudan cinta kasih itu bukan
sekedar menyapa orang lain, memberi senyum, dan membantu dengan mengulurkan
tangan. Perintah kasih diwujudkan dalam konteks membuat dunia ini menjadi tempat
yang sesuai dengan kehendak Allah dan membangun KerajaanNya. Maka, membangun
keadilan sosial, menebarkan perdamaian, mengutamakan kepentingan mereka yang
paling membutuhkan, mempromosikan hormat terhadap martabat manusia merupakan
bentuk nyata dari aplikasi perintah kasih. Ajaran Sosial Gereja berkaitan langsung dengan
bagaimana hukum cinta kasih Kristus dilaksanakan oleh Gereja dalam hidup sehari-hari
di tengah masyarakat dan dunia.

SERI AJARAN SOSIAL GEREJA (ASG)

(1) Rerum Novarum
Kondisi Pekerja
Paus Leo XIII, 15 Mei 1891

(2) Quadragesimo Anno
40 tahun Rerum Novarum
Paus Pius XI, 15 Mei 1931

(3) Mater et Magistra
Ibu dan Gereja
Paus Yohanes XXIII, 15 Mei 1961

(4) Pacem in Terris
Damai di Bumi
Paus Yohanes XXIII, 11 April 1963

(5) Dignitatis Humanae
Deklarasi Kebebasan Beragama
Konsili Vatikan II, 7 Desember 1965

(6) Gaudium et Spes
Gereja di Dunia Dewasa Ini
Konsili Vatikan II, 7 Desember 1965

(7) Populorum Progressio
Perkembangan Bangsa-Bangsa
Paus Yohanes Paulus VI, 26 Maret 1967

(8) Octogesima Adveniens
40 Tahun Rerum Novarum
Paus Pius XI, 15 Mei 1971

(9) Justice in the World
Keadilan Dunia
Sinode Uskup, 30 November 1971

(10) Laborem Exercens
Hakikat Kerja
Paus Yohanes Paulus II, 14 September 1981

(11) Theology of Liberation
Teologi Pembebasan
Kongregasi Doktrin Iman, 6 Agustus 1984

(12) Sollicitudo Rei Socialis
Perhatian Akan Masalah Sosial,
Perayaan 20 Tahun Populorum Progressio
Paus Yohanes Paulus II, 30 Desember 1987

(13) Centesimus Annus
Karya Sosial Gereja
Perayaan 100 Tahun Rerum Novarum
Paus Yohanes Paulus II, 15 Mei 1991

Catatan: Dokumen yang bercetak miring sebenarnya bukan termasuk ASG, namun erat
kaitannya dengan ASG.

Ensiklik sosial itu tidak lepas dari konteks sejarahnya. Inilah kelebihan dan menariknya
mempelajari teks-teks karena tidak lepas dari konteksnya. Misalnya, Ensiklik pertama
Rerum Novarum (1891) sendiri lahir dalam konteks ketegangan dua kubu ideologi besar
saat itu, yakni kapitalisme dan sosialisme-komunisme. Pacem in Terris (Damai di Bumi,
1963) lahir karena krisis nuklir, paska Krisis Misil di Kuba (1962) dan pembangunan
Tembok Berlin. Ensiklik Quadragessimo Anno lahir dalam konteks Perang Dunia I
(1914-1918), Perang Dunia II, Rasisme Jerman, Komunisme Soviet, Fasisme Mussolini,
dan krisis ekonomi dunia yang dikenal dengan The Great Depression. Ensiklik Rerum
Novarum membahas tentang kondisi kelas kerja pada waktu itu, yakni buruh. Paus Leo
XIII prihatin pada kondisi buruk para buruh, khususnya di negara-negara industri. Dilihat
sejarahnya, ini sebagai dampak dari Revolusi Industri yang melahirkan pembagian kelas
sosial, yakni kelas kapitalis (majikan) dan kelas pekerja (buruh). Para pecandu Marx
sering mengkaitkan ini dengan gagasannya tentang Das Kapital dan relasi kapital dan

pekerja. Ensiklik kedua Quadragessimo Anno. Ensiklik ini ditulis oleh Paus Pius XI pada
peringatan 40 tahun lahirnya Rerum Novarum. Pius XI mengkritik tajam penyalahgunaan
kapitalisme dan komunisme dan berusaha menyesuaikan Pengajaran Sosial Katolik
dengan keadaan yang sudah berubah. Pius XI memperluas keprihatinan Gereja akan
kaum buruh miskin, termasuk struktur-struktur yang menindas mereka. Paus inilah yang
pertama kali menggulirkan istilah subsidiaritas dalam usaha membantu kaum buruh dan
masyarakat tertindas.Mater et Magistra (Paus Yohanes XXIII, 15 Mei 1961) dan Pacem
in Terris, Paus Yohanes XXIII, 11 April 1963) , menyampaikan sejumlah petunjuk bagi
umat Kristiani dan para pengambil kebijakan dalam menghadapai kesenjangan antara
bangsa-bangsa yang kaya dan yang miskin, dan ancaman terhadap perdamaian dunia.
Paus mengajak orang Kristiani dan semua orang yang berkehendak baik bekerja sama
menciptakan lembaga-lembaga sosial, sekaligus menghormati martabat manusia serta
menegakkan keadilan dan perdamaian.

Gaudium et Spes, Konsili Vatikan II, 7 Desember 1965, konsili meneguhkan bahwa
perutusan khas religius Gereja memberinya tugas terang , dan kekuatan yang dapat
membantu pembentukan dan pemantapan masyarakat manusia menurut hukum ilahi.
Keadaan, waktu, dan tempat menuntut Gereja agar dapat dan bahkan harus memulai
kegiatan sosial demi semua orang.

Paulus VI dalam ensiklik Populorum Progressio (1967) dan surat apostolik Octogesima
adveniens
(1971) menegaskan masalah sosial, yang kini menjadi tajam terutama di
Amerika Latin. Keduanya menghimbau agar negara kaya dan negara miskin bekerja sama
menciptakan tata keadilan dan tata dunia.

Laborem Exercens, Hakikat Kerja, Paus Yohanes Paulus II, 14 September 1981 berisi
pandangan Katolik mengenai kerja manusia. Dari kerja, manusia memperoleh
martabatnya yang istimewa. Penaklukan bumi (dalam arti luas) hanya bisa dilakukan
melalui kerja. Bekerja memampukan manusia mencapai kedaulatannya dalam dunia yang
kelihatan sebagaimana layaknya baginya. Kerja akan lebih memanusiawikan pelakunya.
Kerja adalah kunci persoalan sosial. Kendatipun kerja merupakan sesuatu yang mulia,
namun kenyataannya para pelaku kerja justru mengalami berbagai penderitaan dalam
menjalani kerja. Hal ini diakibatkan oleh pandangan umum masyarakat yang keliru dalam
memaknai kerja. Kerja lebih dipandang sebagai barang dagangan. Buktinya manusia
diperdagangkan, kerja hanya dihubungkan dengan pencarian uang, dan tentu banyak lagi
yang diungkap oleh dokumen ini terutama dalam menanggapi persoalan modern berupa
kesenjangan dan penghisapan satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain. Dan
harus tetap diakui bahwa dokumen ini tak seperti teori-teori sosial lainya, yang
menawarkan rumusan kongkret untuk mengatasi persoalan sosial yang kompleks ini.

Sollicitudo Rei Socialis (Keprihatinan Sosial) tahun 1987 tentang meningkatnya jumlah
penderita kemiskinan dan stuktur-struktur dosa yang membelenggu masyarakat. Dan
terakhir, Centesimus Annus (Ulang tahun Ke-100 Rerum Novarum) tahun 1991.
Dokumen yang lahir pada ulang tahun ke-100 Rerum Novarum ini menanggapi
keruntuhan komunis internasional dan masyarakat barat yang konsumtif. Gereja
diharapkan terus belajar untuk bergumul dengan masalah-masalah sosial.

Demikianlah seputar isi ASG. ASG merupakan jawaban Gereja atas situasi dunia. Paus
Benedictus XVI dikabarkan dalam situs berita Katolik sedang mempersiapkan ensiklik
sosial pertamanya yang isunya berjudul Labor Domini. Tidak lupa juga pada tahun ini
akan diperingati 115 tahun lahirnya Rerum Novarum.

Ajaran Sosial Gereja

1.Pengantar

Ajaran Sosial Gereja (biasa disingkat ASG), adalah kumpulan dokumen-dokumen
resmi Gereja Katolik, seputar perhatiannya kepada masalah-masalah sosial yang
ada di sekitarnya. Gereja sedari dulu tidak ingin menjadi menara gading yang
berdiri kokoh, namun lingkungan sekitarnya terabaikan dan tertindas.

Baiklah kiranya jika kita lebih mengenal sedikit saja tentang ajaran-ajaran itu;
sehingga dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan nyata kita sekarang.

Ada 13 dokumen yang dapat dikategorikan sebagai ASG :

1. Rerum Novarum, "Keadaan Buruh", 1891, Paus Leo XIII
2. Quadragesimo Anno, "Empat Puluh Tahun Kemudian", 1931, Paus Pius XI
3. Mater et Magistra, "Kekristenan dan Kemajuan Sosial", 1961, Paus Yohanes
XXIII
4. Pacem in Terris, "Perdamaian Dunia", 1963, Paus Yohanes XXIII
5. Gaudium et Spes,"Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern",1965,
Konsili Vatikan II
6. Dignitatis Humanae, "Deklarasi tentang Kebebasan Beragama", 1965, Konsili
Vatikan II
7. Populorum Progressio, "Tentang Kemajuan Bangsa", 1967, Paus Paulus VI
8. Octogesima Adveniens, "Panggilan untuk bertindak, dalam rangka
Memperingati ulang tahun ke-80 Rerum Novarum, 1971, Paus Paulus VI
9. Iustitia in Mundo, "Keadilan di Dunia", 1971, Sinode Uskup di Roma
10. Evangelii Nuntiandi, "Penginjilan dalam dunia modern", 1975, Paus Paulus
VI
11. Laborem Excersens, "Tentang Kerja Manusia", 1981, Paus Yohanes Paulus II
12. Solicitudo rei socialis, "Tentang Keprihatinan Sosial", 1987, Paus Yohanes
Paulus II
13. Centesimus Annus, "Pada peringatan Ulang Tahun ke-100 Rerum Novarum",
1991, Paus Yohanes Paulus II

Keseluruhan dokumen tersebut haruslah dibaca dan dimengerti sesuai dengan
jaman yang melingkupi pembuatan dokumen tersebut, inilah kekayaan kita yang
menghargai adanya Tradisi dalam gereja kita. Misalnya munculnya Rerum
Novarum, tidak lepas dari situasi abad ke-19
dimana buruh / pekerja kurang dimanusiawikan dalam lingkup dunia industri saat
itu.

Jika tertarik untuk mendalami satu per satu ajaran itu, baiklah untuk sejenak
membaca beberapa buku yang sudah beredar dalam bahasa Indonesia, seperti :

1. Ajaran Sosial Katolik 1891 - sekarang; Buruh, Petani, dan Perang Nuklir;

Charles E. Curran, terjemahan Kanisius 2007.
2. Ajaran Sosial katolik, R Hardaputranto, Seri Forum LPPS No.18, LPPS, 1991
3. Solidaritas: 100 tahun Ajaran Sosial Katolik, Kanisius, 1992
4. Pokok-pokok Ajaran Sosial katolik, Michael Schulties, terj. Kanisius, 1993
5. Diskursus Sosial Gereja sejak Leo XIII, Eddy Krisitanto, Dioma, 2003
6. Bukan Kapitalisme, Bukan Sosialisme, Kanisius, 2004
7. Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial katolik tahun 1891-1991, terj. R
Hardawiryana, Dokpen KWI, 1999

Dan ada beberapa situs yang dapat dijadikan bantuan utk berdiskusi juga ada :
1. www.sabda.org
2. www.ekaristi.org
3. www.pondokrenungan.com
4. www.gerejakatolik.net

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->