Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

BAB III PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum
Dalam periode 2005–2009, realisasi pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen, didukung dengan peningkatan penerimaan dalam negeri dan hibah yang masing-masing tumbuh rata-rata 14,4 persen dan 6,3 persen. Penerimaan dalam negeri terutama berasal dari penerimaan perpajakan yang memberikan kontribusi rata-rata 68,9 persen dengan pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi rata-rata 31,1 persen dengan pertumbuhan rata-rata 11,5 persen. Meningkatnya realisasi pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2009 tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah. Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan. Sebagai kontributor utama bagi penerimaan dalam negeri, penerimaan perpajakan diupayakan secara optimal melalui tiga kebijakan utama, yaitu: (1) reformasi di bidang administrasi; (2) reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan; dan (3) reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi. Ketiga kebijakan tersebut secara umum berlaku baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang PNBP, kebijakan yang telah diambil Pemerintah dalam rangka optimalisasi adalah (1) meningkatkan produksi sumber daya alam (SDA); (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan di bidang PNBP; (3) meningkatkan pengawasan PNBP; dan (4) meningkatkan kinerja BUMN. Pada tahun 2010, perekonomian dunia mulai pulih dari krisis. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8 persen, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada realisasi pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, realisasi pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp992,4 triliun atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp990,5 triliun atau meningkat 16,9 persen, dengan perincian penerimaan perpajakan Rp743,3 triliun atau meningkat 19,9 persen dan PNBP Rp247,2 triliun atau meningkat 8,8 persen. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun dengan peningkatan sebesar 13,8 persen. Dalam tahun 2010, kebijakan pendapatan negara dan hibah tetap diarahkan untuk optimalisasi penerimaan dalam negeri. Di bidang perpajakan, selain melakukan kebijakan yang bersifat reguler seperti reformasi di bidang administrasi, peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta penggalian potensi, Pemerintah melakukan upaya tambahan (extra effort) baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan efisiensi pemeriksaan dan penagihan pajak, serta peningkatan pengawasan atas peredaran barang kena cukai ilegal. Di bidang PNBP, kebijakan

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-1

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

yang dilakukan Pemerintah untuk mengamankan target PNBP tahun 2010 adalah optimalisasi penerimaan SDA terutama dari migas, peningkatan kinerja BUMN, serta optimalisasi PNBP kementerian/lembaga (K/L). Memasuki tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan jauh lebih baik daripada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan realisasi 2010. Indikator-indikator ekonomi makro lainnya juga diperkirakan akan cukup stabil. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp1.086,4 triliun, dengan perincian penerimaan dalam negeri sebesar Rp1.082,6 triliun dan hibah Rp3,7 triliun. Penerimaan dalam negeri akan berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp839,5 triliun, dan PNBP sebesar Rp243,1 triliun. Dalam rangka mencapai target penerimaan negara pada tahun 2011, Pemerintah akan menjalankan berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Pokok-pokok kebijakan perpajakan secara umum adalah melanjutkan dan mempertajam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya. Di bidang perpajakan, kebijakan antara lain akan difokuskan pada (1) penggalian potensi perpajakan; (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak; (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak; (4) peningkatan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai; (5) perbaikan sistem informasi; dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, dalam rangka memperbaiki sistem administrasi perpajakan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pengalihan BPHTB serta PBB perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah. Untuk BPHTB, pengalihan dilakukan pada tahun 2011, sedangkan untuk PBB, pengalihan dimungkinkan dilakukan mulai tahun 2010 berdasarkan kesiapan masing-masing daerah. Tenggat waktu yang diberikan kepada daerah untuk mempersiapkan pengalihan PBB tersebut adalah sampai dengan tahun 2014. Di bidang PNBP, kebijakan yang dilakukan untuk mencapai target 2011 adalah (1) optimalisasi lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi, serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA; (2) penyesuaian pay-out ratio dividen dari laba BUMN; (3) penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna memantau perkembangan rugi/laba BUMN; (4) penarikan dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN; (5) intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP K/L, antara lain dengan melakukan review jenis dan tarif PNBP K/L; dan (6) perbaikan administrasi pelaporan keuangan K/L.

3.2

Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2009 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2010

Pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode 2005–2009. Pertumbuhan rata-rata yang terjadi dalam periode tersebut adalah 14,4 persen, yaitu dari Rp495,2 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp848,8 triliun pada tahun 2009. Kondisi perekonomian yang cukup kondusif dalam periode 2005–2009 menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya pendapatan negara khususnya penerimaan dalam negeri, meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 sampai dengan 2009. Dalam periode 2005–2009 tersebut, penerimaan dalam negeri meningkat dari Rp493,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp847,1 triliun pada tahun 2009. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Selain faktor kestabilan ekonomi, penerapan berbagai
III-2 Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya realisasi penerimaan dalam negeri. Sementara itu, penerimaan hibah pada periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,3 persen, yaitu dari Rp1,3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp1,7 triliun pada tahun 2009. Terus membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2010 menyebabkan Pemerintah optimis dapat mencapai target pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp990,5 triliun, atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun atau 13,8 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam APBN-P tahun 2010, pendapatan negara dan hibah ditargetkan mencapai Rp992,4 triliun, atau 16,9 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.1.
TABEL III.1 PERKEMBANGAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2005 Real. 495,2 493,9 347,0 146,9 1,3 2006 Real. 638,0 636,2 409,2 227,0 1,8 2007 Real. 707,8 706,1 491,0 215,1 1,7 2008 Real. 981,6 979,3 658,7 320,6 2,3 2009 Real. 848,8 847,1 619,9 227,2 1,7 2010 APBN-P 992,4 990,5 743,3 247,2 1,9

3.2.1 Penerimaan Dalam Negeri
Dalam periode 2005–2009, penerimaan dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Sebagai komponen utama, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan PNBP tumbuh rata-rata 11,5 persen. Beberapa indikator makroekonomi yang berpengaruh pada meningkatnya penerimaan dalam negeri dalam periode tersebut adalah (1) tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat, yaitu dari 5,7 persen pada tahun 2005, menjadi 6,0 persen pada tahun 2008, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2009; (2) perkembangan ICP yang cenderung meningkat dari USD51,8 per barel pada tahun 2005 hingga mencapai USD96,8 per barel pada tahun 2008, dan USD61,6 per barel pada tahun 2009; dan (3) fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mengalami depresiasi pada periode tahun 2005–2009. Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan perpajakan dan PNBP juga turut mendorong peningkatan penerimaan dalam negeri. Memasuki tahun 2010, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan mampu mencapai pertumbuhan 5,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 yang hanya mencapai 4,5 persen. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan juga didukung oleh tingginya perkiraan ICP yang mencapai USD80 per barel, penerimaan dalam negeri ditargetkan sebesar Rp990,5 triliun dalam APBN-P tahun 2010,

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-3

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp743,3 triliun dan PNBP Rp247,2 triliun. Jumlah tersebut berarti 16,9 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Perkembangan penerimaan dalam negeri pada periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.2.
TABEL III.2 PERKEMBANGAN PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. BPHTB v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Bea keluar 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya d. Pendapatan BLU
Sumber : Kementerian Keuangan

2005 Real. 493,9 347,0 331,8 175,5 35,1 140,4 101,3 16,2 3,4 33,3 2,1 15,2 14,9 0,3 146,9 110,5 103,8 6,7 12,8 23,6 0,0

2006 Real. 636,2 409,2 396,0 208,8 43,2 165,6 123,0 20,9 3,2 37,8 2,3 13,2 12,1 1,1 227,0 167,5 158,1 9,4 23,0 36,5 0,0

2007 Real. 706,1 491,0 470,1 238,4 44,0 194,4 154,5 23,7 6,0 44,7 2,7 20,9 16,7 4,2 215,1 132,9 124,8 8,1 23,2 56,9 2,1

2008 Real. 979,3 658,7 622,4 327,5 77,0 250,5 209,6 25,4 5,6 51,3 3,0 36,3 22,8 13,6 320,6 224,5 211,6 12,8 29,1 63,3 3,7

2009 Real. 847,1 619,9 601,3 317,6 50,0 267,6 193,1 24,3 6,5 56,7 3,1 18,7 18,1 0,6 227,2 139,0 125,8 13,2 26,0 53,8 8,4

2010 APBN-P 990,5 743,3 720,8 362,2 55,4 306,8 263,0 25,3 7,2 59,3 3,8 22,6 17,1 5,5 247,2 164,7 151,7 13,0 29,5 43,5 9,5

3.2.1.1 Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen dalam periode 2005–2009. Beberapa faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai. Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea masuk dan bea keluar. Dalam periode 2005–2009, penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 16,0 persen, sedangkan pajak perdagangan internasional tumbuh rata-rata 5,2 persen. Selanjutnya, penerimaan perpajakan mampu memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2005, kontribusi penerimaan perpajakan adalah 70,3 persen menjadi 64,3 persen pada tahun 2006, kemudian 69,5 persen pada tahun 2007 menjadi 67,3 persen pada tahun 2008, dan selanjutnya menjadi 73,2 persen pada tahun 2009. Semakin tingginya kontribusi penerimaan perpajakan tersebut menunjukkan bahwa peranan penerimaan perpajakan menjadi sangat strategis sebagai sumber pendanaan

III-4

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

dan profesi lainnya. standar. profiling. Sejauh ini kegiatan ekstensifikasi perpajakan dinilai cukup berhasil. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan membayar pajak (tax compliance). dan dapat dipertanggungjawabkan. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008.1 juta pada April 2010. komisaris. Selain bertujuan meningkatkan tax compliance.5 juta pada tahun 2005 menjadi 14. pekerja serta pegawai negeri sipil dan pejabat negara. dan benchmarking. dan perumahan. pemberian diskon atas tarif PPh badan 5 persen lebih rendah dari tarif normal tetap diberikan kepada perusahaan-perusahaan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dikuasai oleh publik. artis. profiling. Reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi dilakukan melalui pembangunan suatu metode pengawasan dan penggalian potensi penerimaan pajak yang terstruktur. Pemerintah telah dan akan tetap melanjutkan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. dan (3) pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter. (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. direksi. Program utama dari kegiatan ini dikemas dalam Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). dan melaksanakan good governance melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak. program ini juga dimaksudkan untuk mengakomodasi hasil kegiatan penggalian potensi melalui kegiatan mapping. tarif PPh badan mengalami penurunan dari 28 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada tahun 2010. notaris. (2) pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau memiliki tempat usaha di pusat perdagangan dan/atau pertokoan. yaitu: (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-undang. pengacara. Program sunset policy ini mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. staf. dan (3) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak. Reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan dilakukan melalui amendemen tiga undang-undang perpajakan. sistematis. Sementara itu. Pemerintah mencanangkan program sunset policy pada tahun 2008. dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah wajib pajak dari 3. yaitu: (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara Pemerintah dengan sasaran karyawan yang meliputi pemegang saham atau pemilik perusahaan. Selain itu. dan diperpanjang hingga Februari 2009.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah teknologi informasi dan komunikasi. dan benchmarking. akuntan. Metode tersebut dikembangkan sejak awal tahun 2007 mencakup kegiatan mapping. Sedangkan program intensifikasi atau penggalian potensi perpajakan dari wajib pajak yang telah terdaftar dilaksanakan melalui III-6 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . program ekstensifikasi pada tahun 2010 dilakukan melalui tiga pendekatan utama. terukur.

(3) melaksanakan pemberantasan penggunaan pita cukai palsu. Pemerintah melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak. Pemerintah meningkatkan fungsi pengawasan dan audit. (3) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Large Tax Office (LTO) dan Khusus. langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan antara lain (1) pengembangan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai. dan mesin sinar gamma.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III (1) kegiatan mapping dan benchmarking. dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. pemeriksaan. (5) peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas barang impor dan ekspor. sistematis. (5) pembuatan profil high rise building. dan optimalisasi sarana operasi seperti kapal patroli. peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. serta melakukan program intensifikasi melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu metode penggalian potensi dan pengawasan penerimaan pajak yang terstruktur. dan Pre-Notification). risk assesment. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-7 . regional. Di bidang kepabeanan dan cukai. Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dengan membangun komunikasi kepada setiap wajib pajak melalui pendidikan perpajakan (tax education). mesin sinar X. Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan. serta (4) penyempurnaan aplikasi sistem audit. Sedangkan peningkatan audit dilakukan antara lain melalui (1) pembuatan dokumentasi sistem informasi perencanaan audit. yang telah dikembangkan sejak tahun 2007. (9) penegakan hukum di bidang kepabeanan melalui risk management. (8) peningkatan pelayanan kepabeanan melalui jalur mitra utama (MITA) dan jalur prioritas. Customs Advice. dan (10) meningkatkan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dalam memenuhi kewajibannya. (6) pengawasan intensif dari PPh Pasal 25 retailer. (6) mendukung kerjasama perdagangan internasional. profiling. Pemerintah akan terus melanjutkan program reformasi melalui pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya. dan (7) pengawasan intensif wajib pajak orang pribadi potensial. baik bilateral. Khusus di bidang kepabeanan. (4) melaksanakan pemberantasan peredaran rokok ilegal. (2) pemberian fasilitas/kemudahan dalam pelayanan kepabeanan (Pre Entry Classification. Untuk menindaklanjuti program sunset policy. tanpa mengesampingkan fungsi utama kepabeanan cukai sebagai regulator dalam rangka melancarkan arus barang dari transaksi perdagangan internasional (trade facilitation) dan melindungi masyarakat dari ekses negatif dari masuknya barang-barang pembatasan dan larangan serta narkotika (community protection). Peningkatan pengawasan dilakukan antara lain dengan (1) mengembangkan manajemen risiko kepabeanan dan cukai. (2) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Madya. Selanjutnya. (4) pembentukan kantor pelayanan utama dan KPPBC Madya. (3) pemberian fasilitas terhadap industri substitusi impor dan industri orientasi ekspor. menjaga hubungan dengan wajib pajak (maintenance). (3) monitoring pelaksanaan audit. terukur. (2) membangun sistem dokumentasi pelanggaran kepabeanan dan cukai. untuk menjamin penegakan hukum (law enforcement) di bidang kepabeanan dan cukai. Kegiatan law enforcement dilakukan melalui penagihan. maupun multilateral. (7) penerapan National Single Windows (NSW) dan portal Indonesia National Single Windows (INSW). (2) penyusunan database profil dan objek audit. dan (5) melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan fasilitas kepabeanan dan cukai. dan penyidikan. dan saling terkait. (4) pemantapan profil 500 wajib pajak KPP Pratama. dan targeting. Dalam hal ini.

7 6.2. dan (7) peningkatan security feature pita cukai untuk menghilangkan praktek pemalsuan cukai. (3) peningkatan security features pita cukai. (3) peningkatan pelayanan di bidang cukai.0 18. Upaya yang dilakukan antara lain melalui (1) penyempurnaan ketentuan mengenai perizinan di bidang cukai. GRAFIK III. Sedangkan kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah PPN dan PPnBM serta cukai.8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp601.1 persen dan 9.4 17.0 persen sesuai dengan jenis hasil tembakau. antara lain melalui: (1) peningkatan operasi pasar. sigaret kretek tangan (SKT). dan (4) peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor. dan sigaret putih mesin (SPM). 3. Sementara itu.4 persen.3 -6. (2) perubahan ketentuan mengenai perizinan. (6) penerapan kode etik (reward and punishment).9 0 (20) (40) 18. (2) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.6 16.4 28. Kontributor utama dalam penerimaan pajak dalam negeri adalah PPh yang memberikan kontribusi rata-rata 52.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Khusus di bidang cukai.3 persen.6 10.0 17. Selanjutnya pada tahun 2010. yaitu dari Rp331.8 2.6 13.2 -7. beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan cukai antara lain (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau berkisar antara 9.4 40 22.1. (3) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai. penyempurnaan terhadap peraturan-peraturan pelaksanaan maupun sistem prosedur di bidang cukai dilakukan secara bertahap sehingga dapat memberikan perlindungan atas kesehatan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan faktor daya serap tenaga kerja. (4) peningkatan pengawasan di bidang cukai.2 dan Grafik III.7 25. yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata 32.7 10.6 persen sampai dengan 21. cukai sebagai penerimaan ketiga terbesar setelah PPh serta PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14. yaitu sigaret kretek mesin (SKM).0 persen. 2005 – 2009 80 75.6 21. Pemerintah juga melakukan peningkatan pengawasan.5 persen. penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan ratarata 16.8 28.2 PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI. Pertumbuhan rata-rata tertinggi terjadi pada pos penerimaan PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM yang mencapai 17.0 persen (y-o-y) 60 -7.0 13.0 PPh Non Migas PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 III-8 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Selain itu.9 20 1. serta (4) peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) rata-rata sebesar 228.1 Pajak Dalam Negeri Dalam periode 2005–2009.9 35.7 87.0 53.7 14.5 persen untuk MMEA impor. Pertumbuhan dan kontribusi rata-rata dari masingmasing jenis pajak dalam kategori pajak dalam negeri dapat dilihat pada Grafik III.3 14. sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.2 45.2 PPh Migas -35.5 11.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.8 -1.5 37.3 persen.7 9.1.3. (2) pemeriksaan lokasi pabrik. (5) peningkatan pemahaman ketentuan di bidang cukai (sosialisasi).8 6.3 triliun pada tahun 2009.6 19.9 -4.

Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Dalam APBN-P tahun 2010.4 triliun (15.8 triliun.3% dibandingkan dengan realisasi PBB 4.3 persen). Dalam APBN-P tahun 2010. PPh diperkirakan mencapai Rp362.2 persen dan BPHTB yang meningkat 10. Peningkatan terjadi pada seluruh pos penerimaan dalam negeri. penerimaan PPh minyak bumi tumbuh rata-rata 18.6% 9.6 triliun (40. realisasi penerimaan PPh migas diperkirakan mencapai Rp55. Pajak Penghasilan (PPh) Pajak penghasilan (PPh) mengalami pertumbuhan rata-rata 16. yang terdiri atas penerimaan PPh migas Rp55.9 persen. Dilihat dari komposisinya.8 triliun (84. terjadi peningkatan sebesar Rp44.4 triliun. Perkembangan realisasi penerimaan PPh migas yang cenderung meningkat tersebut sesuai dengan perkembangan ICP yang menunjukkan adanya tren kenaikan. target tersebut mengalami PPh Non-Migas peningkatan sebesar Rp119.3 triliun atau 10. Penerimaan PPh migas tahun 2009−2010 dapat dilihat pada Grafik III.0 persen dalam periode 2005−2009.2 triliun.6 triliun atau 14.1% triliun atau 19. meskipun lifting mengalami fluktuasi.5 triliun menjadi Rp317.2 persen. khususnya penerimaan PPN dan PPnBM impor. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Selain itu. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp317.1% 32. GRAFIK III.3 persen.4. terjadi peningkatan sebesar Rp5.5 PPN 42. 2005 – 2009 Pajak Lainnya Cukai negeri ditargetkan mencapai 0. Apabila 1.3% BPHTB PPh Migas Rp720. dengan kontribusi dari PPh minyak bumi sebesar Rp22.5 per barel (Desember−November). Penerimaan PPh migas selama tahun 2005−2009 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9. penerimaan PPh migas memberikan kontribusi rata-rata sebesar 19. dan lebih tingginya lifting minyak Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-9 . Dalam APBN-P tahun 2010.3 penerimaan pajak dalam KONTRIBUSI RATA-RATA PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI. Penyebab utama peningkatan penerimaan PPh migas tersebut adalah lebih tingginya ICP pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai USD80 per barel dibandingkan dengan ICP pada tahun 2009 yang mencapai USD58.0 persen.7 persen). Dalam periode tersebut.7 persen. Dilihat dari komponen pendukungnya.6 triliun.5 per barel (Desember−November) juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penerimaan pajak migas. terutama PPN dan PPnBM yang meningkat Sumber : Kementerian Keuangan 36.2 persen.0% 10.6 triliun. relatif tingginya ICP yang diperkirakan mencapai USD80 per barel pada tahun 2010 dibandingkan dengan ICP tahun 2009 yang mencapai USD58.6 persen dan PPh gas bumi tumbuh rata-rata 5.8 triliun (59.3 persen) dan PPh nonmigas Rp306.7 persen.7 persen) dan PPh gas bumi Rp32. sedangkan PPh nonmigas 80. nominal penerimaan PPh meningkat dari Rp175.7 persen. Membaiknya kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik yang berimbas pada meningkatnya volume perdagangan dunia menjadi faktor utama meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri.7% penerimaan pajak dalam negeri tahun 2009.

5 0.1 33.7 persen dan memberikan kontribusi rata-rata 41. peningkatan penerimaan 61.0 50.7 20.0 2009 Sumber : Kementerian Keuangan PPh Gas Alam PPh Minyak Bumi 31. 18.5 nonmigas diperkirakan mencapai Rp306. Meskipun tarif PPh pasal 25/29 badan mengalami penurunan dari 28 70.0 2010 APBN-P 22.0 2008 % thd Total 38.6 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PPh Minyak Bumi PPh Gas Bumi PPh Migas Lainnya Total Real.0 0. Pertumbuhan tersebut terutama didukung dari penerimaan PPh pasal 25/29 badan yang tumbuh rata-rata 23.0 persen.0 2009 % thd Total 36. GRAFIK III. Hal ini berarti terjadi peningkatan 14.1 % thd Total 26.5 61.0 10.4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp267.8 perbaikan administrasi perpajakan dan 170.0 Sumber : Kementerian Keuangan Dalam APBN-P tahun 2010.0 62.7 59.3 PPh nonmigas terutama disebabkan oleh upaya 220.0 100.0 Real.7 63.0 43.0 Real.4 22.3 25.6 32.3 PERKEMBANGAN PPh MIGAS. 2009 − 2010 triliun Rp 70.0 100. 16.4.3.1 dilakukannya extra effort sebagaimana yang 120.3 126.2 2006 % thd Total 34.4 0.0 20. yaitu dari Rp140.5 APBN-P 2010 TABEL III. 270.4 PENERIMAAN PPh MIGAS. 14.0 50.0 42.0 100.0 tahun 2010.0 100.8 18.0 Real. dan juga pemberian diskon 5 persen 2009 APBN-P 2010 -30. PENERIMAAN PPh NONMIGAS.5 Selain faktor ekonomi. Perkembangan penerimaan PPh nonmigas per pasal dalam periode 2005–2010 dapat dilihat padaTabel III. Penerimaan PPh nonmigas tahun 320. PPh pasal 25/29 badan Lainnya PPh Final dan Fiskal masih merupakan kontributor utama bagi PPh Pasal 21 PPh Pasal 25/29 Badan penerimaan PPh nonmigas dengan kontribusi sebesar 41.7 persen bila 2009 − 2010 dibandingkan dengan realisasi tahun triliun Rp sebelumnya.7 0.8 triliun.7 32.4 73.0 60.5.6 47. III-10 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .0 77. Bila dibandingkan dengan Sumber : Kementerian Keuangan realisasi pada tahun 2009. 29.0 persen dalam periode tersebut.0 76.0 100. PPh pasal 25/29 badan tahun 2010 meningkat 5.7 28. Perkembangan realisasi PPh migas 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.0 100.6 52.0 1.5 0.0 telah dijelaskan sebelumnya.6 triliun pada tahun 2009. realisasi penerimaan PPh nonmigas mengalami pertumbuhan ratarata 17.0 2007 % thd Total 37.3 0. 9. penerimaan PPh GRAFIK III.0 bagi perusahaan masuk bursa yang 40 persen sahamnya dikuasai publik.0 40.5 persen.0 35.0 30.3 0.3 0.0 55.4 31.0 66. Dalam periode 2005−2009.3 persen.8 0.8 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah bumi tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 965 MBCD dibandingkan dengan lifting pada tahun 2009 yang mencapai 944 MBCD.0 Real.0 2009−2010 dapat dilihat dalam Grafik III.0 61.0 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada 120.4 44.4 % thd Total 40.3 27.0 0.

0 triliun atau 8.1 25.1 9. Real.5.8 8.6 5.7 27.1 9.1 0.0 4.9 17.6 7.1 8.9 1.0 3.0 2008 % thd Total 4.6 0.0 PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 23 PPh Pasal 25/29 Pribadi PPh Pasal 25/29 Badan PPh Pasal 26 PPh Final dan Fiskal PPh Non Migas Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Selama periode 2005–2009.3 persen.6 17.3 8.1 10.02 100. Hotel. realisasi penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan.8 % thd Total 20.0 100. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. hotel dan restoran sebesar 25.4 9.00 306.6 80.1 100.2 16.1 23. % thd Real.0 persen.1 24.0 10.4 24. untuk sektor industri pengolahan 16.7 0.3 10.3 3. 52. sektor industri pengolahan.0 8.6 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.6 0. 2.7 22.6 % thd Total 19.1 60. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp77.7 2.3 7.0 100.3 20.4 8.9 persen sehingga mencapai Rp61. Gas.5 7.0 12. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.1 39.4 7.2 0.1 18.3 % thd Total 26.2 41. Sementara itu.8 5.2 2.3 0.6 21.1 11.4 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS.2 30.1 6.2 3.1 27.0 2010 Perk.5 0.6 5.9 9.9 42.8 16.0 Real.9 0.7 6.8 0.0 100.3 7.8 65.8 0.9 3.7 31. 31.3 2. Real Estate.2 24.5 5.4 2. Rata-rata suku bunga untuk semester I tahun 2010 adalah 6.0 2006 % thd Total 2.6 15.4 243.3 54.04 165.1 30.5 0.7 0.4 14.4 1. Peternakan.5 14.1 6.8 7.5 12.5 229. dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar Rp6.1 10.6 0.0 100.7 9.7 5.0 1.0 2010 APBN-P 61.7 1.9 20. Pertumbuhan rata-rata dalam kurun waktu 2005–2009 untuk sektor keuangan. serta restitusi.4 6.7 14.8 % thd Total 20. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.3 10.4 5.5 persen.3 8.5 13.1 13.2 0.3 5.6 20.3 1.0 16.8 6.6 persen.7 2.9 16.5 0.0 2008 Real.5 24.3 7.0 2.1 -0.1 2. dan sektor perdagangan.0 10.8 10.7 2.2 6.2 6.0 2009 Real.2 14.7 5.8 0.6 8.8 11.7 4.1 0.5 11.6 9.4 4.2 5.7 44.4 14. atau menurun jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga pada semester I tahun 2009 sebesar 7.8 41.9 25. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Pertanian.0 13.1 0.9 12.3 2.1 34.01 194.5 1.1 4.0 7.2 1. Real.7 5.9 2.3 2.6 triliun.9 3. Total 9.01 100.75 persen.02 249.9 21.04 175.1 35.1 3.1 0. hotel dan restoran sebagai kontributor utama dengan rata-rata kontribusi masing-masing sebesar 28.6 6. real estate.3 120.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.0 8.5 17.4 2.3 4.5 13.1 0.7 7.3 77. meningkat sebesar Rp17.9 persen.01 100.3 18. Kenaikan ini terutama didukung oleh pertumbuhan sektor industri Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-11 .4 6.9 4.3 126. Tahun 2010 sektor keuangan.9 persen.2 5.1 persen dan 9. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia yang mengakibatkan net interest margin (NIM) bank mengalami penurunan. 51.0 3.4 258.8 13.7 3.3 7.5 8.5 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.6 8.1 15.7 2.8 5.5 11.6 5.3 4.0 4.9 5.3 2.4 73.7 persen bila dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2009.4 0.0 3.3 62.6 7.9 -0.3 6. dan jasa perusahaan adalah 17. dan jasa perusahaan.4 19.0 1.0 9.1 4.8 12.9 27.6 51.3 0.1 122.7 0. real estate.4 42.4 23.5 1. 25.6 106.6 3.8 7.0 2009 % thd Total 4.0 6.8 26.6 2.9 11. 9. 39.5 9.0 10.0 2007 Real.3 29.8 14.0 2007 % thd Total 2.6 4.0 25.4 % thd Total 20.7 9.2 0.1 15.6 0. Perkembangan PPh nonmigas sektoral 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.4 61. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.1 30.1 100. transaksi yang offline .4 41.8 2.3 1.1 0.8 2006 Real.0 0. real estate. Real.3 35.4 2.8 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total 2005 % thd Total 2. Real.1 1. Kehutanan.0 100.8 triliun atau 29.6 0.6 7.7 0. TABEL III.1 145.1 33.8 67. pada tahun 2010.4 33.3 45. serta sektor perdagangan.8 triliun.1 145.02 267.3 25.5 56.6 % thd Total 19.5 17.2 179.9 100.7 23.1 16.

4 32.021 154. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Real. penerimaan PPN dan PPnBM ditargetkan sebesar Rp263.4 93.9 persen.4 156.3 9. Di sisi lain.6 3.0 Sumber : Kementerian Keuangan Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.3 34.2 persen.9 persen).9 0. Dari sisi besarnya kontribusi.6 94.0 184.8 persen.3 7. Peningkatan terutama terjadi pada PPN dan PPnBM impor dengan pertumbuhan 50.01 263.9 0.9 0.01 100.002 100.5 4.0 0. 2006 % thd Total Real.4 0.1 95.0 triliun (63.1 0. 2007 % thd Total Real.0 118.6 dan penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2010 dapat dilihat pada Grafik III.3 4.6.8 persen dalam periode tersebut. 2008 % thd Total Real.8 3. yang berimbas pada meningkatnya kegiatan ekspor-impor Indonesia.5 persen dibandingkan tahun 2009 sehingga mencapai Rp31.01 100. realisasi konsumsi Pemerintah cukup tinggi sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan Pemilu.5 3.2 116. peningkatan PPN dan PPnBM impor tersebut sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan dunia.5 1.3 11. yang terdiri dari atas PPN dan PPnBM dalam negeri Rp163.5 triliun. PPN PPN DN PPN Impor PPN Lainnya b.3 92.0 101.2 3.8 44.6 3. Perkembangan PPN dan PPnBM serta nilai impor dalam periode 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.6 2.5 1.2 1.1 1. Salah satu faktor yang mengakibatkan melemahnya pertumbuhan PPN dan PPnBM dalam negeri ini adalah rendahnya konsumsi Pemerintah yang pada kuartal I 2010 yang mengalami penurunan sebesar 8.2 4.1 2.1 44.8 2.4 0.6 0.5 55.4 62.0 96.8 persen.2 4.1 60.6 1. Secara umum. 2009 % thd Total 2010 APBN-P % thd Total a.004 100. TABEL III.5 6.1 5.3 4.1 persen) dan PPN dan PPnBM impor Rp99. Sedangkan sektor perdagangan.9 6.8 35. lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya. PPN dan PPnBM dalam negeri tumbuh rata-rata 23.8 48.1 4.0 198.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pengolahan.0 48.7 0. Pada periode yang sama tahun sebelumnya.01 100. PPN dan PPnBM Penerimaaan PPN dan PPnBM selama periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan ratarata 17.9 triliun atau 18.4 60.7.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. Secara komposisi.7 triliun (37.4 0.7 38.4 63.8 0.0 100. 2005 % thd Total Real.5 persen. target pada tahun 2010 tersebut meningkat Rp69.1 0. Dalam APBN-P tahun 2010.0 0.1 3.5 7.015 193.8 43. lebih tinggi bila dibandingkan dengan PPN dan PPnBM impor yang tumbuh ratarata 8.3 8.0 triliun.4 96. PPnBM PPnBM DN PPnBM Impor PPnBM Lainnya Total (a+b) 94.0 0.2 74.012 209. penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 28.4 0.4 0.2 120.5 0.3 7.002 123.1 4.3 53.8 persen (y-o-y).0 96.6 3. hotel dan restoran diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar Rp4.5 95.1 persen dari total penerimaan PPN dan PPnBM.9 0.3 7.7 81.9 triliun atau 36.5 36.1 0. PPN dan PPnBM dalam negeri mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 61.4 persen.8 0. III-12 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 0. sedangkan PPN dan PPnBM impor memberikan kontribusi rata-rata 38.7 0.9 0.0 147.9 2.7 0.0 1. Perkembangan PPN dan PPnBM dalam periode 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.0 253.9 2.7 2. jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif.4 59.

dan restoran dengan kontribusi sebesar 22.0 persen dan 7.8 persen. sektor perdagangan.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III GRAFIK III.8 persen dan 6.5 persen. diperkirakan sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 51. 18. tiga sektor tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan. 23. sektor perdagangan. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri. disusul kemudian oleh sektor perdagangan. 22.8 persen. dan 11. real estate. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.7.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. Sektor industri pengolahan naik Rp17. hotel dan restoran.7 PENERIMAAN PPN DAN PPnBM. dengan kontribusi masing-masing mencapai 44. hotel dan restoran. Pertumbuhan rata-rata dari ketiga sektor tersebut adalah sebesar 16. serta sektor pertambangan migas.1 persen. Dalam periode 2005–2009. sektor perdagangan. hotel dan restoran naik Rp4.5 triliun atau 19. Kontribusi rata-rata dari ketiga sektor tersebut masing-masing sebesar 31. Tiga sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan PPN DN adalah sektor industri pengolahan.8 persen. 17. PPN DN mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 62. 2005 – 2009 160 140 triliun Rp PPN & PPnBM DN PPN & PPnBM Impor Nilai Impor 160000 140000 triliun Rp GRAFIK III.4 Sumber: Kementerian Keuangan Secara umum.1 persen.1 triliun atau 34.2 persen. 2009 − 2010 PPN PPnBM 9. Dalam periode 2005–2009. Dalam periode 2005–2009. dan sektor keuangan. Perkembangan penerimaan PPN DN secara sektoral dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.0 persen. Dalam tahun 2010. Sebagian besar dari realisasi PPN merupakan PPN DN.1 persen. hotel.2 120 100 80 60 40 20 0 juta US$ 120000 100000 80000 60000 40000 2005 2006 2007 2008 2009 253.8 persen. serta sektor pertambangan migas yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 50.7 persen. hotel.7 triliun atau 27. realisasi PPN secara sektoral dapat digolongkan ke dalam 12 sektor.9 persen. dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik Rp2. dan negatif 48. Dalam tahun 2010.5 270 250 230 210 190 170 150 2009 Sumber: Kementerian Keuangan APBN-P 2010 9. dan restoran.6 persen. sektor perdagangan.7 persen. real estate.6 persen. serta sektor keuangan. hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi. penerimaan PPN impor didukung oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan. dan jasa perusahaan yang masingmasing memberikan kontribusi rata-rata 19.2 persen. dan jasa perusahaan dengan kontribusi sebesar 5. sektor industri pengolahan mampu memberikan kontribusi terbesar.3 persen. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-13 .5 184. dan 19. Dua kontributor utama lainnya adalah sektor perdagangan. 22.8 persen dengan pertumbuhan rata-rata masing-masing 28.6 persen.1 persen. sebagian besar penerimaan PPN DN diperkirakan masih berasal dari sektor industri pengolahan.4 persen dan 8.4 persen.1 persen. dengan rata-rata 38.

6 11.5 79.8 0.0 59.2 0.3 20.7 0.1 22. 2005 − 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.5 11.1 persen.7 100.4 4.9 0.5 0.9 1.2 0. Pada tahun 2010.0 0.8 16.7 persen.9 28.0 82.1 17.2 0.2 0.1 20.2 0.9 17.3 0.0 40.7 0.1 0.6 0.1 25.6 0. 0.0 2008 Real.2 persen dalam periode 2005–2009.8 16.9 1.4 4.4 0.2 1.0 2010 % thd Total 0.3 10.4 5.3 persen dan 54.7 1.1 33.7 2.9 112.9 0.0 45. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. serta sektor pertambangan migas.0 100.0 0.9 13.7 0. Gas.0 0.3 0. Pertumbuhan negatif penerimaan sektor pertambangan migas menurut data modul penerimaan negara (MPN) disebabkan karena penerimaan tercatat hanya dalam bentuk rupiah.3 0.2 0.2 % thd Total 0.8 3.1 persen.2 1. Perkembangan penerimaan PPN impor secara sektoral tahun 2005–2010 dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.0 1.6 persen dan 17. peningkatan penerimaan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kinerja impor.3 2.6 24.2 0.3 0.1 45.8 0. Real Estate.1 0. 0.1 18.2 0.8 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.5 1. III-14 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 44.0 0. hotel. dan restitusi.8 2.7 2.0 100.8 9.8 0. transaksi yang offline.7 1.4 0.2 1.0 0.5 0.8 8.8 2.1 22.1 28.3 1.0 63.2 1. hotel.4 0.1 27.3 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.1 1.7 7.9 0.6 2.0 7.1 7. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Apabila digabungkan dengan penerimaan mata uang asing terdapat pertumbuhan positif sebesar 69.1 9.3 0.4 1.2 22.6 1. Real.2 0.5 12. Sumber : Kementerian Keuangan PBB dan BPHTB Realisasi PBB dan BPHTB masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata 10.0 18.1 10.5 3.3 % thd Total 0.1 0.0 2008 Real 0.3 % thd Total 2.7 15.1 0.0 Real.5 28.0 0.4 0. sektor perdagangan. sedangkan BPHTB sebesar 1.0 2009 Real.9 8.9 23.5 0.3 49.1 28.2 7.7 19.3 0.1 28.2 1.0 6.4 23.0 2007 % thd Total 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Real.1 0. Peternakan.9 0.2 1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.1 28.3 152. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.8.8 1.3 1. Real Estate. 3.1 10. Di sisi lain. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.1 1.6 % thd Total 0. Dengan demikian.9 100. Kehutanan.8 7.0 12.0 100.4 0.3 0.8 7.0 95.4 9.4 12.0 62.3 1.0 18.2 0.1 23.7 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.6 % thd Total 2.4 0.6 2.0 17. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp59.2 0.0 10.0 % thd Total 0.8 5. Kehutanan.1 11.0 Perk.2 0. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.6 10.1 39.8 0.9 12.0 3.1 50.3 0.9 2. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2006 Real.5 125.5 0.8 0. Secara umum.1 37. Gas.2 triliun.0 0.9 100.4 1.4 0.6 2. 0. 0.0 2010 Perk. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. 1. dan restoran diperkirakan mencapai Rp28.0 26.4 1.4 0.4 3.0 54.1 47.5 0.7 8.9 0.2 0.4 0.0 0.2 triliun dan sektor perdagangan. 1.6 6. penerimaan ini belum termasuk penerimaan dalam bentuk mata uang asing.3 100.2 0.5 0. 0.1 0.1 1.6 8.3 0.9 0. Peternakan.9 0. TABEL III.0 29. Rata-rata kontribusi PBB terhadap penerimaan pajak dalam negeri adalah sebesar 4.6 9.6 triliun pada akhir tahun 2010.6 0.0 100.5 12.2 0.1 1.1 1.3 1. Hotel.2 10.5 0.5 4.8 8. 3.6 7.8 0.1 3. PPN impor diperkirakan akan tetap didukung oleh sektor industri pengolahan.5 55.8 100.2 100.3 20.3 0.2 0.2 17.2 1.1 0.2 21.9 0.7 7.0 14.0 persen.7 12.4 0. transaksi yang offline .0 42.9 21.2 2.9 4.8 % thd Total 2.2 67.0 1.8 6.1 2.5 3.9 100.6 1.0 2009 Real.1 0.1 48.5 1.0 2006 Real. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.0 2007 Real.2 0.7 0.8 18.1 11. hotel dan restoran tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 47.5 0.2 12.2 2. sektor pertambangan migas diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga mencapai Rp0.9 0.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.8 % thd Total 2. dan restoran.3 1.1 32.3 2.5 9.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.0 2.8 0.5 8.4 0.3 5.3 2.6 0. Hotel.4 2. dan restitusi.3 1.0 1.0 8.2 0.3 0.6 1.4 0.0 100. 2.1 0.9 18.8 2.0 14.9 0.3 8.6 6.2 0.9 % thd Total 2.4 8.6 5.1 0.1 0.1 0.2 0.0 Real.0 100. Real.2 0.7 % thd Total 2.2 0.1 63.7 10.3 23. 3.1 19.4 2.

Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. Pembiayaan syariah b. 2. Penyerahan dan bukan penyerahan BKP a. c. penyerahannya dianggap langsung. dan Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai bentuk penyederhanaan sistem perpajakan dan kepastian hukum. Undang-undang Nomor 62 Tahun 2009 tentang KUP. 3. syarat semua perusahaan terdaftar sebagai PKP. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo.1 AMENDEMEN UNDANG-UNDANG PPN DAN PPnBM NOMOR 42 TAHUN 2009 LATAR BELAKANG 1 . Pasal 5 ayat (1). UU Nomor 18 Tahun 2000. Perkembangan transaksi bisnis yang mengikuti kemajuan teknologi serta perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. Penyerahan aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Dikenakan PPN terbatas pada penyerahan aktiva yang PPN terutang pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. memerlukan penyerderhanaan sistem PPN. UU No 42 Tahun 2009 Ekspor BKP Tidak Berwujud dan Ekspor JKP dikenakan PPN dengan tarif 0%. 2. Dikenakan PPN. Persediaan yang tersisa pada saat pembubaran perusahaan Terbatas pada aktiva yang PPN pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. Tidak dikenakan PPN. Pasal 20. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-15 . 3. Istilah baru dalam objek pajak UU No 12 Tahun 2000 Tidak diatur. DASAR HUKUM 1 . kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Menciptakan sistem perpajakan yang lebih sederhana. Seluruh aktiva. PPN dikenakan atas penyerahan seluruh aktiva. Dikenakan PPN. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan. 2. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Dalam rangka restrukturisasi Dikenakan PPN pada setiap transaksi penyerahan. POKOK-POKOK PERUBAHAN UU PPN DAN PPnBM Uraian 1. 2. KEBIJAKAN Pemerintah melakukan amendemen atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. TUJUAN 1 .

dan buah-buahan UU No 12 Tahun 2000 UU No 42 Tahun 2009 Dibebaskan dari pengenaan PPN. dengan syarat tertentu. Tarif PPnBM 9. melalui Peraturan Pemerintah tentang BKP Strategis. PKP dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 200%. Retur atas penyerahan JKP Tidak diatur. 5. Daging. Dibebaskan dari pengenaan PPN. Barang hasil pertambangan Tidak dikenakan PPN . 8. PKP bertambah: 1. yaitu PKP: (1) Eksportir. (2) Dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. (3) Mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. telur. Deemed PM bagi PKP kegiatan tertentu belum diatur. 11. telepon umum (koin). (Psl 9 (4a)) 1. dan PKP yang mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Pengkreditan PM atas BKP yang dialihkan dalam rangka restrukturisasi Tidak diatur (pada perubahan kedua UU PPN. Dikenakan PPN. b. Saat Pengajuan Restitusi (Pasal 9 (4a). (2) Dikonsumsi masyarakat tertentu. pembiayaan. (3) Dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi. Memiliki omzet tertentu. susu. Hanya PKP tertentu. dan meminjam dana. yang berisiko rendah. PPN tidak dikenakan atas jasa keuangan (menghimpun. b. 2. sayursayuran. Restitusi PKP lain pada akhir tahun buku. Kriteria nomor 5 dihapus. b. Seluruh PM (Pasal 9 (2a)). menempatkan. Sanksi bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan. c. 2. Restitusi Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 75%. Pengembalian Pendahuluan Hanya diberikan kepada WP Patuh dan WP dengan Persyaratan Tertentu. Kriteria BKP mewah (1) Bukan kebutuhan pokok. Menjadi tidak dikenakan PPN. (4b)) Seluruh PKP dapat melakukan restitusi pada setiap masa pajak (Psl 9 (4)). (4) Belum berproduksi. Dalam hal PKP gagal berproduksi. Deemed Pajak Masukan 2. serta mengganggu ketertiban. PM yang boleh dikreditkan oleh PKP yang belum berproduksi Terbatas PM yang berasal dari perolehan dan/atau impor barang modal. ketentuan ini dihapus). maka PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan dapat dikreditkan oleh PKP. penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. (5) Merusak kesehatan dan moral masyarakat. Hanya mengatur untuk PKP yang menggunakan norma PPh. (Psl 4A (3) huruf d). 1. bila terbit SKPKB. Mengatur pengembalian pendahuluan bagi PKP Eksportir. Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN Ditetapkan langsung di dalam penjelasan Undang-Undang (Pasal 4A). Sebelumnya ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Berlaku bagi PKP baik orang pribadi maupun badan yang: 1. Menghidupkan kembali rumusan Pasal 9 ayat (14) yaitu dalam hal restrukturisasi. PPN atas barang bawaan dapat direstitusi melalui bandara tertentu. Eksportir BKP tidak berwujud. Melakukan kegiatan tertentu. penjaminan). Pengkreditan Pajak Masukan (PM) a. Jasa keuangan PPN tidak dikenakan atas jasa perbankan. b. 6. III-16 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . a. dan 2. Eksportir JKP. Jasa tertentu PPN dikenakan atas jasa: penyediaan parkir. a. (4) Menunjukkan status. PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan dapat dikurangkan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Uraian 4. 10. pengiriman uang dengan wesel pos. maka PM yang telah dikreditkan dan telah direstitusi harus dibayar kembali. c. d. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 7. Restitusi untuk Turis Asing Tidak diatur. serta jasa boga/catering . NonBKP dan nonJKP (pasal 4a) a. kecuali pasir dan kerikil (Psl 4A (2) huruf a).

serta nama dan tanda tangan (Pasal 13 ayat (5)). Bebas PPN bagi penyerahan perak sebagai bahan baku kerajinan. Memberikan dasar hukum atas pemberian fasilitas sebagai berikut: 1. UU No 42 Tahun 2009 Cukup dengan pemberitahuan oleh WP. dan pertambangan. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa. Proyek Pemerintah yang dibiayai hibah LN tidak dipungut PPN dan PPnBM. pemeriksaan dilakukan kemudian dalam hal diperlukan. antara lain: (1) Identitas pembeli. 14. PKP tidak dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memuat: (1) Identitas pembeli. b. 7.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Uraian UU No 12 Tahun 2000 WP mengajukan permohonan. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-17 . Sementara itu. atau (2) Identitas pembeli. kegiatan usaha di bidang properti sempat mengalami booming pada periode 2005–2007. kehutanan. Faktor yang mempengaruhi NJOP adalah harga pasar properti baik tanah maupun bangunan. Diatur kembali dalam UU PPN. d. Jenis FP yaitu Standar dan Sederhana. 5. Saat pelaporan PPN Faktor utama yang mendorong terjadinya peningkatan penerimaan PBB adalah naiknya nilai jual objek pajak (NJOP) dari tahun ke tahun dan perluasan objek PBB. Impor barang yang Bea Masuknya dibebaskan tidak dipungut PPN dan PPn BM. Pemusatan tempat PPN 13. Saat Pembuatan FP Paling lama akhir bulan berikutnya atau pada saat pembayaran (Peraturan Dirjen Pajak). Diatur dalam batang tubuh yaitu Pasal 13 ayat (9). 2. Fasilitas perpajakan (pasal 16b) Belum ada dasar hukum untuk pemberian fasilitas kegiatan-kegiatan tertentu. 4. 15. • Paling lama pada tanggal 15 setelah berakhirnya Masa Pajak. namun FP tidak dapat dikreditkan oleh pembelinya. Saat penyetoran PPN b. Pembebasan PPN bagi listrik & air. serta nama dan tanda tangan untuk FP yang diterbitkan oleh pedagang eceran. Sebagaimana diketahui. Syarat formal & material Diatur dalam penjelasan Pasal 13 ayat (5)). atau (2) Identitas pembeli. 3. • Paling lama pada tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak. Khusus untuk PBB sektor perkebunan. Diatur dalam Undang-Undang (Psl 13 (1a)) yaitu saat penyerahan atau pada saat pembayaran. a. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara. 6. Tanggung renteng Tidak lagi diatur dalam UU KUP dan UU PPN. meskipun agak melemah pada tahun 2008 dan 2009.3 persen. Sanksi atas pelanggaran syarat formal FP PKP akan dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memenuhi syarat formal FP. 16. Meningkatnya penerimaan PBB terutama didukung oleh PBB pertambangan yang dalam periode 2005–2009 mengalami peningkatan ratarata sebesar 22. kenaikan NJOP juga dipengaruhi oleh nilai produksinya. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan. 12. Jenis FP c. peningkatan penerimaan BPHTB terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah transaksi jual beli tanah dan bangunan. Faktur Pajak (FP) a. pemberian ijin berdasarkan pemeriksaan. Hanya ada istilah “Faktur Pajak”. Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan PBB pertambangan antara lain ICP yang cenderung naik dan jumlah areal pertambangan yang terus bertambah. Perwakilan negara asing dibebaskan PPN dan PPnBM. FP tersebut tidak dikategorikan sebagai FP cacat. Fasilitas PPN bagi kegiatan penanggulangan bencana alam nasional.

9 PERKEMBANGAN PBB.9.3 triliun dan Rp7.6 71. (5) peningkatan pengawasan pengguna fasilitas cukai. meningkatnya transaksi properti juga dipengaruhi oleh semakin mudahnya persyaratan pemberian kredit.1 100.2 % thd Total 27.5 0.2 0.2 67.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 40.7 persen.4 5.2 triliun pada APBN-P tahun 2010. Sementara itu.9 0. (6) optimalisasi pelayanan cukai dengan memanfaatkan teknologi informasi (sistem aplikasi cukai sentralisasi) dalam kegiatan pelayanan perizinan nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).7 persen.1 0.6 0.7 0.8 3. (4) peningkatan pengawasan administrasi pembukuan di bidang cukai oleh KPPBC.1 0.2 0. penerimaan cukai didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 97.9 0.6 0. Dalam tahun 2010.3 2009 % thd Total 5. cukai MMEA. kontribusi cukai EA mencapai 0.3 persen.00 24.3 0.4 0. contohnya kebijakan yang terkait dengan penundaan pembayaran cukai. denda administrasi cukai.7 triliun pada tahun 2009.7 0.5 16.9 22. Cukai Penerimaan cukai bersumber dari cukai hasil tembakau.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan 16. tumbuh rata-rata sebesar 14.9 2006 % thd Total 27.8 0.5 69.6 45.1 persen.7 2007 % thd Total 7. dan cukai lainnya.3 17.6 persen.4 24. Hal ini sejalan dengan tren penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap turunnya bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan kredit kepemilikan rumah (KPR). 1.7 2.6 0. 4.9 0. PBB dalam APBN-P tahun 2010 mengalami peningkatan 4. Peningkatan penerimaan PBB tersebut terutama disebabkan oleh tingginya realisasi PBB pertambangan.1 1.9 0. Sementara itu.1 100.2 18.9 6. dan cukai MMEA memberikan kontribusi sebesar 1. Selain itu.9 0.0 Real.0 0. 5.4 50.3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp56.4 % thd Total 5.0 Real. penerimaan PBB dan BPHTB ditargetkan sebesar Rp25.1 100.3 20.0 100.5 1. III-18 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . PBB pertambangan ditargetkan sebesar Rp17.4 2.3 % thd Total 3. khususnya pertambangan migas.7 67.5 20.5 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PBB Pedesaan PBB Perkotaan PBB Perkebunan PBB Kehutanan PBB Pertambangan PBB Lainnya Total Real. (3) intensitas penindakan di bidang cukai. yaitu dari Rp33.7 4.7 3.7 18.8 0.5 3.0 2010 APBN-P 0.0 Real.4 5.1 16. kenaikan penerimaan BPHTB pada tahun 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi di sektor properti.8 21.5 0.2 16.6 0.0 100. sedangkan BPHTB meningkat sebesar 10. TABEL III.4 0.0 Sumber : Kementerian Keuangan Apabila dibandingkan dengan realisasi 2009. Perkembangan penerimaan PBB dan BPHTB dalam periode 2005–2010 ditunjukkan dalam Tabel III.7 3.2 0.03 23.5 0.3 persen. cukai ethil alkohol (EA).7 0.1 triliun.6 2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.5 100. Secara lebih rinci.6 19.02 25.8 persen dengan rata-rata pertumbuhan 14.0 2008 Real. Perkembangan penerimaan cukai hasil tembakau periode 2005–2009 menunjukkan kecenderungan meningkat yang terutama dipengaruhi oleh: (1) kebijakan di bidang tarif cukai dan harga dasar barang kena cukai.1 7. 1.4 0.8 0. (2) kebijakan lainnya di bidang cukai.1 10.00 25. 1. Penerimaan cukai mengalami peningkatan secara signifikan dalam periode 2005–2009.

9 0.3 % thd Total 94.4 0.7 2009 Real.6 78.6 0.7 1.012 0.0 persen.4 2010 APBN-P 144. kontribusi SKT mencapai 35.0 231.5 persen).0 Real 49. penerimaan cukai hasil tembakau didominasi oleh SKM yang memberikan kontribusi ratarata sebesar 57.005 0.015 51.5 triliun (4.0 0. Perkembangan penerimaan cukai MMEA dan produksi MMEA dalam negeri 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.007 37.2 84. TABEL III. Sigaret Putih Mesin (SPM) Total (a+b+c) Sumber : Kementerian Keuangan 2005 Real. 32. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.00 0.1 0.2 17. Selanjutnya.9 13.5 0. perkembangan produksi MMEA periode 2005–2009.7 0.5 216.0 249. Kenaikan produksi jenis rokok tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi jenis SKM. target penerimaan cukai dalam APBN-P tahun 2010 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2.7 0. dan (7) peningkatan pelaksanaan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dengan tujuan agar para stakeholder dapat lebih memahami ketentuan yang berlaku di bidang cukai.8 persen. Sigaret Kretek Tangan (SKT) c. Penerimaan cukai tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.4 1. Perkembangan produksi jenis rokok 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.0 248.7 84.000 0.8 2007 Real.9 2008 Real. Perkembangan realisasi cukai tahun 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.010 56.0 2006 Real.9 0.2 15.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 2.5 88.6 0. 55.3 220. Dalam APBN-P tahun 2010. dan SPM memberikan kontribusi sebesar 6. 126. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Cukai Hasil Tembakau Cukai Ethil Alkohol (EA) Cukai MMEA Denda Administrasi Cukai Cukai Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Real.7 16. 144. mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.0 100. total produksi hasil tembakau pada tahun 2010 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai 6 miliar batang bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009. 125.3 % thd Total 98. 141.2 17.5 0.0 2007 Real.10 PERKEMBANGAN REALISASI CUKAI.9 0.1 2006 Real. 131. penundaan pembayaran cukai.3 triliun.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 1. Penerimaan cukai MMEA didominasi dari penerimaan MMEA dalam negeri dengan rata-rata sebesar 98.4 0.9.01 0.1 100.5 242.01 100.4 77.7 2009 % thd Total 97. Sementara itu.0 0.02 0.2 87.002 0.3 16.01 0.003 33. 2005 – 2010 (miliar batang) Jenis Rokok a.000 59. penerimaan cukai diperkirakan mencapai Rp59.0 100.10 0.11.8 1.028 44.4 0.016 0.02 100.5 0.3 2008 % thd Total 97. Sigaret Kretek Mesin (SKM) b.6 0.7 % thd Total 97.0 100.3 0. 37.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III penetapan tarif cukai hasil tembakau.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 2.9 persen.50 0.10. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-19 .5 persen.11 PERKEMBANGAN PRODUKSI JENIS ROKOK.7 persen disumbangkan oleh MMEA impor.0 2010 APBN-P 55.4 0. TABEL III.9 0.0 1.6 0.8.4 Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.4 1. 43.4 0.2 0.03 0.1 0.0 Real. dan proses penyediaan sampai dengan pemesanan pita cukai.0 Berdasarkan pengklasifikasian jenis produksi hasil tembakau pada periode 2005–2009.1 0.004 0.7 5.5 0.01 0.3 persen dan selebihnya sebesar 1.8 % thd Total 98.3 1.4 3.

III-20 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . penerimaan cukai MMEA dalam APBN-P tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp3. Sementara itu.6 persen sampai dengan 21. penerimaan cukai hasil GRAFIK III.9 500.5 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. peningkatan penerimaaan cukai hasil tembakau juga didukung oleh upaya pemberantasan rokok ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai.4 568.7 tahun 2009. Selanjutnya. dan SPM).5 687.000. Selain dipicu oleh kenaikan tarif tersebut.1 927.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.03 triliun (8.4 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah GRAFIK III.5 triliun 59.0 2009 APBN-P persen tergantung pada jenis hasil 2010 Sumber : Kementerian Keuangan tembakaunya (SKM.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi 60 56.9 tembakau dalam APBN-P tahun 2010 PENERIMAAN CUKAI.5 persen untuk MMEA impor. SKT.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.1 triliun (221. Penyesuaian tarif cukai MMEA dan EA dapat dilihat pada Boks III. 2005 – 2009 1.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 228 202 203 184 232 250 200 150 Juta Lt miliar Rp 878. Peningkatan tersebut terjadi karena kebijakan penyesuaian tarif cukai untuk konsentrat yang mengandung EA sebesar 100 persen dan penetapan tarif cukai spesifik EA sebesar Rp20. penerimaan cukai EA dalam APBN-P tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp0.8 PERKEMBANGAN PENERIMAAN CUKAI MMEA DAN PRODUKSI MMEA DALAM NEGERI. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan cukai MMEA adalah diterapkannya kebijakan penyesuaian tarif cukai MMEA dengan kenaikan tarif ratarata sebesar 228.3 (0. Selain itu. 2009 − 2010 diperkirakan mencapai Rp55.2 100 50 - 2005 Sumber : Kementerian Keuangan 2006 2007 2008 Penerimaan Cukai 2009 Produksi Secara lebih rinci.0 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp2. pencapaian tersebut juga didukung oleh upaya pemberantasan MMEA ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor. Faktor utama yang menyebabkan 58 56 kenaikan penerimaan cukai hasil tembakau 54 adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif 52 cukai yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 50 berkisar antara 9.2.9 triliun atau triliun Rp 62 mengalami peningkatan sebesar Rp0.

Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-21 .3 persen.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan B1 dan B2 menjadi golongan B dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 500. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif cukai atas EA. MMEA.011/ 2010 tentang Penetapan Tarif Cukai Ethil Alkohol. Pokok-pokok perubahan kebijakan penyesuaian tarif cukai yaitu: 1 . perlu dilakukan perubahan kebijakan di bidang perpajakan dan cukai dengan melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penetapan tarif cukai atas EA. (3) memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara. Tujuan dari kebijakan Pemerintah dalam melakukan penyesuaian tarif cukai spesifik atas MMEA dan EA yaitu: (1) untuk pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Cukai (BKC).5 persen untuk produksi DN dan sebesar 160. Minuman yang Mengandung Ethil Alkohol.0 persen untuk impor. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340.0 persen dan sebesar 33. Tarif cukai dapat diubah dari persentase harga dasar (advalorem) menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan BKC (spesifik).0 persen dan sebesar 120. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 100. dan Konsentrat yang Mengandung Ethil Alkohol yang berlaku efektif sejak tanggal 1 April 2010. atau sebaliknya atau gabungan keduanya.150 persen x harga jual pabrik atau 80 persen x HJE. (2) menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA. (4) penyederhanaan penggolongan tarif cukai ke dalam satu golongan.2 PENYESUAIAN TARIF CUKAI MMEA DAN EA Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Sedangkan untuk MMEA impor. dan konsentrat yang mengandung ethil alkohol.0 persen. Oleh karena itu. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan A1 dan A2 menjadi golongan A dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340. Penyesuaian kenaikan tarif MMEA untuk golongan C sebesar 188.3 persen. MMEA. Penjelasan Pasal 5 ayat 1 angka 5 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 mengatur bahwa minuman beralkohol tidak lagi termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah. Sedangkan untuk MMEA impor.150 persen x (nilai pabean + BM) atau 80 persen x HJE.0 persen dan sebesar 214. Dasar penetapan tarif cukai atas MMEA dan EA diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang mengatur bahwa Barang Kena Cukai (BKC) dikenai cukai dengan tarif paling tinggi untuk produk DN sebesar 1. dan konsentrat yang mengandung EA yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.0 persen. dan (5) menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri (DN) dengan MMEA impor secara bertahap.0 persen dan sebesar 200. dan untuk impor sebesar 1. 2 . 3 . Dalam rangka penyesuaian ketentuan tarif cukai atas MMEA dan EA.

0 Real. 15% >15% s.0 persen. Secara umum.04/2006 **PMK No.0 0.001 0. 20% >20% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.000 IMPOR Tarif Lama* (per liter) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.000 Rp 20.0 2008 % thd Total 93.1 3.011/2010 Sumber: Kementerian Keuangan Pajak Lainnya Penerimaan pajak lainnya selama periode 2005–2009 menunjukkan adanya pertumbuhan rata-rata sebesar 11.1 0. 2.2 persen terhadap total penerimaan pajak lainnya. sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan MMEA Dari semua jenis etil alkohol.5 100. DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG EA DALAM NEGERI Jenis BKC Gol Kadar Alkohol Tarif Lama* (per liter) A1 A2 MMEA B1 B2 C Konsentrat Yang Mengandung EA EA s.000 100.62/PMK.03 2.002 0. Perkembangan realisasi pajak lainnya tahun 2005–2009 dapat dilihat pada Tabel III.000 10.0 0.004 0. kadar. 1% >1% s.7 0.0 0. 5 .000 40.001 0.0 persen untuk impor.4 0.000 Dari semua jenis konsentrat.000 50. 2.0 persen untuk produksi DN dan sebesar 100.3 0.7 100. kadar. dan golongan Rp 20.1 % thd Total 98.3 100. c TABEL III.8 % thd Total 97.2 3.6 0.d. EA. meningkatnya realisasi penerimaan pajak lainnya dalam periode 2005–2009 dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan dokumen bermeterai.3 2.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.06 2. 2. Sebagian besar dari penerimaan pajak lainnya tersebut bersumber dari bea materai yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 96.7 2007 % thd Total 95.d.0 Real.2 0.000 *PMK No.3 % thd Total 97.000.500 5.0 2010 APBN-P 3. 90/PMK.12.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11. PERBANDINGAN TARIF CUKAI LAMA DENGAN TARIF CUKAI BARU ATAS MMEA. Penetapan tarif cukai etil alkohol (etanol) untuk produksi dalam negeri dan impor dengan pengenaan tarif cukai spesifik sebesar Rp20.500 3.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 4 .d. 2. Penyesuaian kenaikan tarif cukai atas konsentrat yang mengandung etil alkohol masingmasing sebesar 100.57 100.000 130.06 2.67 100.000 26.000 50.04 2.000 100.000 20.000 30.12 PERKEMBANGAN PENERIMAAN PAJAK LAINNYA.02 0.000 50.7 4.1 2. dan golongan. 3.000 75.8 0.1 2009 % thd Total 97.01 0.1 3.0 Real.5 100. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.000 30.2 1. 5% >5% s.0 2006 Real.04 6.500 5.0 Bea Meterai Pajak Tidak Langsung Lainnya Bunga Penagihan Pajak Total Sumber : Kementerian Keuangan III-22 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .4 0.1 0.d.

.

0% 10. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sebagai implementasinya.5 persen). Pemerintah Indonesia juga melakukan perjanjian kerjasama perdagangan bilateral dengan Pemerintah Jepang melalui skema persetujuan kemitraan ekonomi antara Republik Indonesia dan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 mencapai rata-rata tarif sebesar 3.0% 6.9 persen untuk negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2010.13. Penerimaan bea masuk tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.6 persen. baik melalui kerjasama regional.0% 18 17.14 PENERIMAAN BEA MASUK. Perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN dan kerjasama perdagangan internasional tahun 2005–2010 dapat dilihat dalam Grafik III. Selama periode 2005–2010 perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN semakin menurun.9 persen tahun 2005 menjadi 7. 2005 – 2010 12.0% 2. penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp17.13 PERKEMBANGAN RATA-RATA TARIF MFN DAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL. Pemerintah telah melaksanakan penurunan rata-rata tarif bea masuk hingga menjadi 0. regional plus one dan bilateral.1 triliun.0% persen MFN triliun Rp 19 GRAFIK III. Selain itu. GRAFIK III. perkiraan realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2010 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp1.5 persen. 2009 − 2010 18.9 persen dan 2.0% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 15 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Keuangan Sumber : Kementerian Keuangan III-24 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Dalam APBN-P tahun 2010. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerapan kebijakan harmonisasi tarif bea masuk Most Favoured Nations (MFN).0 triliun (5. Perjanjian kerjasama perdagangan regional dilakukan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT).1 ACFTA 17 AKFTA 16 IJEPA 0.14. kebijakan penurunan tarif juga terjadi sebagai konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara di Asia.7 persen. Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan perjanjian regional plus one melalui kerjasama perdagangan ASEAN-China FTA (ACFTA) dan ASEAN-Korea FTA (AKFTA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 hingga mencapai rata-rata tarif sebesar 2. Selanjutnya. Penurunan tersebut merupakan dampak penerapan kebijakan harmonisasi tarif (MFN) dan konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional.0% 4.5 persen pada tahun 2010. dari 9. yang kemudian diperbaharui melalui skema ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA). Selain itu.1 ASEAN CEPT 8.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pertumbuhannya menurun sebesar 5.

.

000 2. III-26 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Dasar pengenaan bea keluar atas barang ekspor diatur dalam Pasal 2A ayat (2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan tujuan untuk: (1) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri.000 Export Volume (MT) 3.8 persen. dan (4) menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri.500 3.3 PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Indonesia merupakan negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Perkembangan volume ekspor dan harga internasional kakao dapat dilihat pada grafik di bawah. industri pengolahan kakao dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir justru hanya mampu berproduksi sekitar 50 persen dari keseluruhan kapasitas produksi karena kurangnya pasokan bahan berupa biji-biji kakao mentah.1 persen.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar yang berlaku efektif sejak 1 April 2010. Dalam upaya menjamin ketersediaan bahan baku dan daya saing industri pengolahan kakao dalam negeri.500 2. 2000 – 2009 100 90 80 (Ribu MT) 4. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK. Kerangka pengenaan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao serupa dengan struktur tarif bea keluar atas minyak kelapa sawit (CPO) dengan penetapan tarif bea keluar ekspor biji kakao berkisar antara 0-15 persen mengikuti perkembangan harga kakao internasional. PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR DAN HARGA INTERNASIONAL KAKAO.500 1.000 500 0 (USD/MT) 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Kementerian Keuangan dan BPS Namun. Hampir 80 persen dari produksi biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah. sejalan dengan peningkatan harga internasional yang mencapai rata-rata 13. (2) melindungi kelestarian sumber daya alam. Dalam periode 2000–2009. volume ekspor biji kakao dari Indonesia meningkat rata-rata 3.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah BOKS III. (3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional.000 1.

(3) pendapatan bunga. (2) tarif atas kegiatan pelayanan yang dilaksanakan dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-27 . (2) pendapatan jasa. Badan Pertanahan Nasional. terdiri atas: (1) pendapatan dan penjualan sewa. (3) kualitas pelayanan yang diberikan dan administrasi pengelolaan PNBP yang secara tidak langsung meningkatkan jumlah objek pengenaan. (2) luas area dan volume produksi hasil hutan. penerimaan SDA nonmigas dipengaruhi oleh antara lain: (1) tingkat produksi dan harga beberapa jenis komoditas mineral dan batubara. Kepolisian Republik Indonesia. melalui peningkatan pengelolaan dan akuntabilitas pelaporan keuangan. (5) pendapatan pendidikan. (3) tingkat produksi budidaya perikanan dan kegiatan operasi kapal penangkap ikan. (2) Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang pergerakannya mengikuti tren harga minyak dunia. Kementerian Pendidikan Nasional.750 – 3. Sementara itu. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi PNBP lainnya dari K/L antara lain: (1) jumlah objek pengenaan PNBP. Pengelolaan atas sumber PNBP lainnya tersebut sebagian besar dilaksanakan oleh kementerian negara/ lembaga.500 > 2. Selanjutnya.750 > 2. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN merupakan penerimaan negara dalam bentuk (1) dividen dari perusahaan perseroan dan perseroan terbatas lainnya yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan (2) dividen dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri BUMN. dan (c) kebijakan pay-out ratio. dan (4) upaya optimalisasi yang dapat dilakukan. PNBP lainnya. Sementara itu. (7) pendapatan iuran dan denda. serta (4) kebijakan-kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PNBP. yang sebagian besar merupakan bagian dari kelompok penerimaan kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TARIF BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Harga Internasional Kakao (USD/MT) Tarif Kakao (persen) ≤  2.500 Sumber: Kementerian Keuangan 0 5 10 15 Perhitungan dan perkembangan dari masing-masing sumber PNBP tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel yang beragam. dan Kementerian Perhubungan. dan (4) besaran cost recovery yang merupakan faktor pengurang penerimaan migas yang akan dibagihasilkan antara Pemerintah dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sesuai kontrak kerja sama (KKS). (3) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bagian negara atas laba BUMN. Kementerian Kesehatan. antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika. Perhitungan dan perkembangan SDA migas dipengaruhi oleh (1) lifting minyak mentah dan gas bumi. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. dan (8) pendapatan lain-lain. (b) besarnya/persentase kepemilikan saham Pemerintah dalam BUMN dan perseroan terbatas lainnya.000 – 2.500 > 3. di antaranya: (a) tingkat laba BUMN dan perseroan terbatas lainnya yang diperoleh pada tahun anggaran sebelumnya.

Dengan target tersebut. serta (4) peningkatan sinergi antar BUMN guna meningkatkan daya saing. berbagai langkah. Optimalisasi PNBP lainnya selama 2005–2009 antara lain ditempuh melalui (1) optimalisasi PNBP pada K/L. III-28 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (2) penyempurnaan ketentuan dalam kontrak kerja sama (production sharing contract) dengan tetap menghormati kontrak yang berlaku. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Dilihat dari komposisinya. dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kinerja BUMN. dan (c) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya. yaitu sebesar 20. upaya. serta (6) mengoptimalkan penerimaan dari sektor perikanan dengan mempertimbangkan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pesisir/nelayan.0 persen terhadap perkiraan penerimaan dalam negeri.8 persen. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L. Sementara itu. Namun.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Selama kurun waktu 2005–2009. (5) menggali potensi-potensi penerimaan yang ada di sektor kehutanan tanpa merusak lingkungan dan mempertahankan hutan. PNBP diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 25. Dilihat dari komposisinya.2 triliun. di tahun 2009 PNBP mengalami pertumbuhan negatif 29. PNBP ditargetkan sebesar Rp247. Upaya optimalisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN.2 triliun. penurunan realisasi PNBP tahun 2009 lebih disebabkan oleh penurunan dari penerimaan SDA migas yang dipengaruhi oleh penurunan ICP yang signifikan pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan ICP pada tahun 2008. peningkatan terbesar terjadi pada penerimaan SDA migas.0 triliun atau 8.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009. (4) melakukan revisi tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada sektor sumber daya mineral dan meningkatkan produksi komoditas sumber daya mineral. (b) meningkatkan pengelolaan keuangan BLU yang efisien dan efektif. khususnya yang terkait dengan cost recovery. Dalam APBN-P tahun 2010.5 persen. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh berkaitan dengan hal tersebut antara lain: (1) peningkatan modal kerja dan penyehatan perusahaan. Tabel III. (3) monitoring. kebijakan mengenai pendapatan BLU difokuskan pada upaya untuk (a) mendorong peningkatan pelayanan publik instansi Pemerintah.5 persen. selama 2005–2009 PNBP mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006. Untuk penerimaan SDA. target tersebut meningkat sebesar Rp20.6 triliun di tahun 2008 menjadi Rp227.13 memperlihatkan perkembangan total PNBP beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. (2) optimalisasi dividen pay-out ratio. upaya dan kebijakan terutama difokuskan pada (1) pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal terhadap kegiatan usaha sektor hulu migas guna meningkatkan produksi/ lifting minyak bumi dan gas bumi.1 persen. (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L. (3) penyelesaian audit oleh kantor akuntan publik (KAP) atas laporan keuangan BUMN diharuskan selesai lebih awal dari peraturan yang ada guna mengetahui secara awal definitif atas laba/rugi bersih BUMN. Secara keseluruhan. yaitu dari Rp320. dan kebijakan yang signifikan telah dilakukan oleh Pemerintah guna meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP. yaitu 54. (3) memperkuat pengawasan penerimaan dari sektor migas oleh BP migas.

8 triliun atau 18.2 26.14 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010.2 13.7 2.4 2.1 2008 224.7 103.8 29.2 10. dan penerimaan pertambangan panas bumi.9 224.1 35. sebesar masing-masing 20. Penerimaan SDA Nonmigas II. perkiraan penerimaan SDA tersebut mengalami peningkatan Rp25.1 9.5 39.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.7 13.2 8.1 132.1 0.Kehutanan .5 247.4 persen terhadap total PNBP.1 0.3 110.8 6.8 9.5 9. Di tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan penerimaan SDA.5 211. Penerimaan SDA Migas b.5 2009 125.7 320.4 227.1.8 2.Perikanan .6 169. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN III.8 23.1 persen.2 0.9 6.6 12.7 13. penerimaan perikanan. yaitu mencapai 63.0 9.2.2 164. penerimaan SDA ditargetkan sebesar Rp164. yang terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas) dan penerimaan SDA nonmigas merupakan sumber utama PNBP.5 103.4 139.1 32.6 31.1 23. Penerimaan SDA a.9 2.1 63.0 2007 132. Dalam lima tahun terakhir. Dalam APBN-P tahun 2010.0 125.5 2007 124.1 215.Panas Bumi Penerimaan SDA Sumber : Kementerian Keuangan 2006 158.8 72.6 12.1 5.9 124. atau naik Rp91.2 0.5 43.6 146.8 90. Selama periode 2005–2009. PNBP Lainnya IV. TABEL III.7 112. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Penerimaan SDA Migas .8 13.5 38.13 PERKEMBANGAN PNBP. Penerimaan SDA migas merupakan penerimaan yang bersumber dari penerimaan minyak bumi dan penerimaan gas bumi.3 0.5 2. mengalami pertumbuhan tertinggi.Minyak bumi . penerimaan SDA memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif.0 29.2 3.1 Penerimaan SDA Penerimaan SDA.0 53. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.0 2010 APBN-P 151.2.2 3. Sedangkan penerimaan SDA nonmigas diperoleh dari penerimaan pertambangan umum.9 9.9 2006 167.5 persen.6 persen dan 38.0 227.8 8.8 8.Pertambangan Umum . penerimaan kehutanan.8 30.4 6.Gas bumi Penerimaan SDA Nonmigas .3 3.9 2.6 triliun bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007.7 3.7 12. Pendapatan BLU PNBP Sumber : Kementerian Keuangan 2005 110.6 2009 139.2 56.2 167.7 151. penerimaan SDA memberikan kontribusi rata-rata sekitar 68.4 21. Sedangkan di tahun 2008.1 0.0 42.5 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-29 .14 PERKEMBANGAN PENERIMAAN SDA.2 2010 APBN-P 164.1 125. 2005 – 2010 (triliun rupiah) Uraian I.5 158.9 2008 211.4 0.9 persen.8 93.7 triliun.3 0.9 0. Tabel III.

.

.

.

Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sekitar 75. yaitu: (a) perusahaan umum (perum).2. telekomunikasi. penerimaan dari pertambangan panas bumi memiliki potensi yang cukup besar mengingat Pemerintah terus mengupayakan pemanfaatan energi alternatif.2 triliun. dan penerbitan. (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. penerimaan perikanan ditargetkan sebesar Rp150 miliar.0 miliar atau 63. Target tersebut lebih rendah Rp0. hingga sekarang BUMN dapat diklasifikasikan menjadi tiga.0 persen penerimaan dari beroperasinya kapal-kapal perikanan asing.4 triliun. Faktor lainnya adalah karena meningkatnya biaya operasi penangkapan ikan yang mengakibatkan banyak pengusaha kapal mengalihkan usahanya ke sektor lain sehingga mengurangi penerimaan dari pungutan hasil perikanan (PHP). penerimaan pertambangan panas bumi merupakan sumber penerimaan SDA nonmigas yang mulai dicatat dalam penerimaan tahun 2008. khususnya energi panas bumi. realisasi penerimaan panas bumi mencapai Rp0. percetakan. (b) mengejar keuntungan. (d) agro industri. sedangkan dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp0. Dalam tahun 2009. Peningkatan penerimaan perikanan diupayakan melalui optimalisasi pelayanan dan penertiban perizinan usaha. baik dari sisi bentuk perusahaan. BUMN dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yang tersebar dalam 35 sektor usaha.2 triliun. serta (e) pertambangan. energi.0 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Dari sisi kelompok sektor usaha. perkiraan realisasi tersebut meningkat sebesar Rp58. pertanian. kertas. yaitu kelompok: (a) jasa keuangan dan perbankan.2. dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. sejumlah BUMN terus mengalami perubahan.1. (b) perusahaan perseroan (persero). 3. dijelaskan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. dan mendirikan unit pengolahan di Indonesia. dan (c) perseroan terbatas terbuka (persero Tbk). kehutanan. Dalam jangka menengah. Perusahaan asing boleh memiliki izin tangkap ikan hanya bila mendaratkan hasil tangkapan ke dalam negeri. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. yakni: (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. Dalam APBN-P tahun 2010. (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Kelima peran ekonomi tersebut merupakan amanah dari pasal 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. Selanjutnya. pada saat ini BUMN memegang lima peranan dalam ekonomi nasional. dan masyarakat. (b) jasa lainnya. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-33 .2 Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.0 persen. Dalam beberapa tahun terakhir. maupun kelompok sektor usaha. koperasi. Seiring perkembangan waktu. (c) bidang usaha logistik dan pariwisata. Kebijakan penghapusan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk menghambat illegal fishing dan untuk memperkuat industri dan armada perikanan nasional. Dari sisi bentuk perusahaan. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. turun 39.

Peningkatan laba bersih tersebut menunjukkan ketahanan (resilience) kinerja BUMN di tengah belum kondusifnya kondisi perekonomian tahun 2009 sebagai dampak instabilitas variabel makro seperti harga minyak. Dari sisi laba bersih seluruh BUMN. opex tumbuh ratarata sebesar 288. belanja operasional (operational expenditure/opex).1 persen. Kinerja BUMN selama periode tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal. Dari total perolehan laba bersih tersebut. dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50. pertumbuhan kredit perbankan. perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas. dan total persentase rata-rata terhadap kapitalisasi pasar sebesar 34. Data mutakhir Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24.6 triliun. Selama periode 2007–2010.0 persen.1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah industri strategis. yaitu dari 139 BUMN menjadi 142 BUMN. pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2009. laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25. dan PT Freeport Indonesia Tbk (9.4 persen.0 persen. Pemetaan laba/rugi berikut kategori BUMN dan perseroan minoritas disajikan pada Bagan III. Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN. nilai tukar. pertanian dan perkebunan.0 persen di sejumlah perusahaan. total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10. lebih besar bila dibandingkan dengan laba tahun 2008. baik dari aset. kinerja BUMN terus mengalami perkembangan positif. telah terjadi penambahan jumlah BUMN. Selama periode tersebut. yaitu sebesar Rp88.6 persen.   BAGAN III. dan belanja modal (capital expenditure/capex). PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia.3 persen). PT Bank Bukopin (18. dan Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik. Ketiga BUMN baru tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset / PPA (persero). saham minoritas Pemerintah tersebar di 18 perusahaan yang di antaranya PT Indosat Tbk (14. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas atau di bawah 51. serta harga komoditas pertambangan. sebagian III-34 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . laba bersih.5 persen.1 PETA KINERJA BUMN DI TAHUN 2010 Bagi Dividen Tidak Bagi Dividen Akum Rugi ………………………………………………………………………………………… Sub-Total BUMN …………………………… BUMN 141 LABA 120 RUGI 21*  72  10  38  21  141  Kebijakan * BUMN yaitu PT ISI dalam proses likuidasi Minoritas  18  Sumber: Kementerian BUMN Bagi Dividen  Tidak Bagi Dividen  …………………………… 7  11  18  …………………………… Sub-Total Minoritas Selama periode 2005–2009.2 persen).4 persen). Hingga tahun 2010.

.

PNBP lainnya ditargetkan mencapai Rp43. Perkembangan PNBP lainnya dan pendapatan BLU selama periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah perbankan sebesar Rp3. PNBP lainnya terdiri atas penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa.15. sebagian PNBP yang dipungut oleh K/L dapat digunakan kembali oleh K/L yang bersangkutan setelah disetor ke kas negara terlebih dahulu. serta (8) pendapatan lain-lain.8 triliun. pelayanan. Sumber utama PNBP lainnya berasal dari pendapatan Pemerintah yang diperoleh dari jasa pelayanan yang diberikan oleh K/L kepada masyarakat. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.2 triliun atau meningkat sebesar 23.8 triliun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. 20 PT Pertamina menjadi BUMN 12. yang antara lain disebabkan oleh tingginya pendapatan penjualan dan sewa.6 29. Selanjutnya dalam APBN-P tahun 2010. (3) pendapatan bunga. sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah dunia.25 PNBP BAGIAN PEMERINTAH ATAS LABA BUMN.3 triliun atau 19.2. Penetapan penggunaan PNBP tersebut didasarkan pada keputusan Menteri Keuangan tentang izin penggunaan PNBP yang bersifat spesifik pada masing-masing K/L. Peningkatan tersebut merupakan windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008.8 15 penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap 10 tahun mencapai 45.5 triliun.2.22 31.4 23. (5) pendapatan pendidikan. Secara nominal. 3.29 28. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan tersebut adalah meningkatnya pendapatan dari kegiatan hulu migas. peningkatan tertinggi terjadi dalam tahun 2007. (2) pendapatan jasa. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan dalam APBN-P tahun 2010. Dalam kurun waktu 2005–2009.5 triliun per tahun. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan. (7) pendapatan iuran dan denda. 2005 – 2010 35 30 21.3 triliun (12.5 triliun.3 PNBP Lainnya Dalam struktur APBN.3 triliun menjadi Rp8. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. III-36 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . serta adanya setoran berupa pendapatan bagian Pemerintah dari sisa surplus Bank Indonesia di tahun 2009. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 PT Pertamina membukukan laba Sumber : Kementerian Keuangan bersih rata-rata sebesar Rp22. Target tersebut lebih rendah Rp10.3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya.9 persen. yaitu dari Rp7.1. dan pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan Pelayanan Publik. 0 Selama periode tersebut.5 25 Selama periode 2005–2010. Perolehan laba tertinggi terjadi dalam tahun 2008 yaitu sebesar Rp30. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN ditargetkan sebesar Rp29. triliun Rp GRAFIK III. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing K/L tersebut.7 persen 5 terhadap total dividen BUMN. yaitu meningkat sebesar Rp18. realisasi PNBP lainnya rata-rata tumbuh sebesar 22.7 persen).

5 1. Sementara itu dalam APBN-P tahun 2010.5 9.4 1.4 23. dan (5) pembaharuan dan penambahan instrumen secara bertahap.2 0.9 2. otomatisasi sistem manajemen/perizinan frekuensi dan alat pengujian. jenis penerimaan yang berlaku di Kementerian Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-37 .3 2.7 persen. (3) pendapatan jasa sewa sarana dan prasarana. (4) penegakan hukum secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi yang tidak mematuhi ketentuan perundangan.5 0. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.3 56. dan (5) pendapatan pendidikan. Perkembangan PNBP Kemenkominfo dapat dilihat pada Grafik III.1 triliun.0 2. PNBP Kemenkominfo mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53. PNBP Kemenkominfo ditargetkan sebesar Rp10.9 8.3 0. selain dengan penetapan.6 2.15 PERKEMBANGAN PNBP LAINNYA. antara lain: (1) pengenaan BHP frekuensi dengan metode lelang pada pita frekuensi yang potensial (bandwith wireless access).Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.5 6. Selama periode 2005–2009.4 7.2 7.9 43. seperti: .2 1.9 13.3 triliun.5 Dalam rangka pencapaian target PNBP 2010. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya penggunaan spektrum di pita seluler oleh para operator seluler. antara lain sistem monitoring frekuensi.7 triliun.4 1.8 7.0 2007 5.5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 sebesar Rp7.5 3.Rekening Dana Investasi (RDI) .4 triliun atau 30.0 1. 2005 – 2010 (triliun rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 Kementerian/Lembaga Kementerian Komunikasi dan Informatika* Kementerian Pendidikan Nasional * Kementerian Kesehatan* Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Pertanahan Nasional Kementerian Hukum dan HAM Peneriman Lainnya. dan penghapusan aset.5 38. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.0 1.3 53.1 3.6 0. dan penyempurnaan peraturan pemerintah (PP) tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada K/L.2 9.3 1.7 4.4 1. khususnya yang berasal dari berbagai K/L.2 3.9 5.2 8.4 3.4 1.5 2.6 13.9 7. (2) pembenahan database baik pengguna frekuensi maupun penyelenggaraan telekomunikasi.0 2.Surplus BI .8 63. realisasi penerimaan PNBP Kemenkominfo mencapai Rp10. Sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika.7 4.2 0.8 1.5 1.2 0.9 1.7 9.7 1.6 2006 4.5 23. (4) pendapatan dari penyelenggaraan penyiaran.Penerimaan lain-lain Total PNBP Lainnya * Termasuk pendapatan BLU Sumber: Berbagai Kementerian/Lembaga 2005 1.4 1. meningkat sebesar Rp2.8 1. (2) pendapatan jasa penyelenggaraan pos dan telekomunikasi (biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi).Pendapatan minyak mentah (DMO) .0 2. (3) melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi berkenaan dengan kewajiban pembayaranPNBP.9 2008 7.3 6. Pemerintah juga telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemungutan PNBP pada masing-masing K/L.7 1.5 8. perbaikan.0 0.1 5. jenis penerimaan PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terdiri atas: (1) pendapatan hak dan perizinan (biaya hak penyelenggaraan frekuensi). Dalam tahun 2009.5 6.8 2010 APBN-P 10.7 8.Penjualan hasil tambang .26. pelatihan.0 1.3 2009 10.

(5) penerimaan dari jasa pemeriksaan air secara kimia lengkap. 1 (2) meningkatkan pelaksanaan 0 berbagai program kegiatan kerjasama. (4) penerimaan dari jasa pemeriksaan laboratorium. ekonomis.7 5. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.0 triliun. dan (9) penerimaan dari jasa pelayanan rumah sakit. realisasi PNBP Kemendiknas mencapai Rp5.1 4 1. 2005 – 2010 10. jenis penerimaan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terdiri atas: (1) penerimaan dari pemberian izin pelayanan kesehatan oleh swasta. Dalam tahun 2009.8 4 3. Dalam tahun 2009. 2. (3) penerimaan dari jasa pendidikan tenaga kesehatan. efektif. Target tersebut 3 didukung oleh beberapa kebijakan. 2005 – 2010 6. rata-rata sebesar 45. (3) meningkatkan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmu pengetahuan. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi pada tahun 2008 yang mencapai Rp4.6 persen per tahun.3 triliun. efisien. triliun Rp 10 GRAFIK III.4 triliun. III-38 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Kesehatan. dan (4) penerimaan dari sumbangan hibah perorangan. Sedangkan pertumbuhan PNBP Kemendiknas selama periode 2005–2009.5 persen.9 dan daya tampung perguruan tinggi.4 Sementara itu dalam APBN-P tahun 5 2010.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terdiri atas: (1) penerimaan dari penyelenggaraan pendidikan.27 PERKEMBANGAN PNBP KEMENDIKNAS. (2) penerimaan dari pemberian izin mendirikan rumah sakit swasta. PNBP Kemendiknas ditargetkan 3. teknologi dan seni. (2) penerimaan kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 baik antarinstansi maupun lembaga Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional non-Pemerintah. meningkat Rp0.0 5. (7) penerimaan dari jasa balai kesehatan mata masyarakat (BKMM).1 10.27.7 6 4.3 2 antara lain: (1) meningkatkan kapasitas 0. (3) penerimaan dari hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan.3 8 7.8 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008. (8) penerimaan dari uji pemeriksaan spesimen. lembaga Pemerintah atau non-Pemerintah. transparan.26 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKOMINFO. Perkembangan PNBP Kemendiknas dapat dilihat pada Grafik III. (4) mendukung upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang tertib.4 triliun atau 13. (6) penerimaan dari jasa balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4).7 triliun.2 sebesar Rp6. Adapun pertumbuhan rata-rata selama 2005–2009 mencapai 101.8 2 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Kominfo triliun Rp 7 6 GRAFIK III. taat pada peraturan per Undang-undangan. realisasi PNBP Kemenkes mencapai Rp3. serta dunia industri.

ditargetkan sebesar Rp4.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Sementara itu. jenis penerimaan Polri terdiri atas: (1) surat izin mengemudi (SIM). 2005 − 2010 menambah membangun jaringan triliun Rp Automatic Traffic Management Center 2. triliun Rp 2005 – 2010 4.8 1. dan (9) denda pelanggaran lalu lintas. Dalam APBN-P tahun 2010. (2) meningkatkan infrastruktur pendukung pelaksanaan operasional Polri di bidang lalu lintas berupa pengadaan Alsus Polantas. driving simulator.3 3.5 di wilayah Jawa.0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia APBN-P 2010 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-39 .0 2. 2 (b) menggali potensi PNBP melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi. (7) izin senjata api (Senpi). 1 (c) peningkatan cost recovery rumah 0.2 komputerisasi administrasi keuangan. dan Papua. jenis penerimaan yang berlaku di BPN terdiri 0.29 PERKEMBANGAN PNBP POLRI. 1. kendaraan patroli roda 2/roda 4.9 3 manusia dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pelayanan.0 (a) peningkatan sumber daya 2. PNBP Kemenkes GRAFIK III. Pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui kebijakan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis Lantas dan pendidikan pelatihan fungsional Lantas.0 triliun. mobil unit pelayanan SIM. (5) bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB). Perkembangan PNBP Kemenkes dapat dilihat pada Grafik III. kendaraan patwal roda 2/roda 4.2 Perkembangan PNBP Polri dapat dilihat pada Grafik III.29.5 1.28 dalam APBN-P tahun 2010.0 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional (BPN). antara lain 3. PERKEMBANGAN PNBP KEMENKES.4 1.5 0. mobil unit laka Lantas.0 Target tersebut didukung oleh 4 beberapa kebijakan.4 sakit untuk menuju kemandirian 0. (8) kartu sidik jari. (3) melanjutkan pembangunan jaringan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) meliputi wilayah Kalimantan.0 Perpolisian Masyarakat (Polmas) 1.5 1. komputer Samsat dan alat cetak TNKB. dan (5) melaksanakan 2. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. (6) simulator. (4) meningkatkan kinerja dengan GRAFIK III. (2) surat tanda nomor kendaraan (STNK).7 melalui kegiatan Citra Polantas. Maluku Utara. (3) tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB). (4) surat tanda coba kendaraan (STCK).28. PNBP Polri ditargetkan sebesar Rp2. 0 dan (d) meningkatkan pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 kesehatan yang terintegrasi sesuai Sumber : Kementerian Kesehatan standar yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.0 triliun. kendaraan uji SIM roda 2/roda 4. 1.

sama dengan realisasi tahun 2008. serta (5) jasa tenaga kerja narapidana.0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P kapasitas kemampuan petugas ukur dan 2010 Sumber : Badan Pertanahan Nasional pendataan yuridis termasuk melibatkan para surveyor berlisensi. Perkembangan PNBP Kemenkumham dapat dilihat pada Grafik III.5 triliun. (2) PNBP fungsional.30 PERKEMBANGAN PNBP BPN. Selama periode 2005–2009.30. triliun Rp 1. sertifikasi tanah pertanian dan nelayan pada daerah tertinggal dan ekonomi lemah.2 0.7 0.5 triliun.9 0.8 negara. Dalam APBN-P tahun 2010. Target tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.9 0. seperti PRONA. (4) pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya.5 1.2 0. Dalam tahun 2009. peningkatan 0.31.4 triliun. pengukuran. Perkembangan PNBP BPN dapat dilihat pada Grafik III. (2) pelayanan pemeriksaan tanah.4 meningkatkan penertiban pengelolaan PNBP dan penertiban pencatatan aset-aset milik 1. PNBP Kemenkumham mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18.7 persen. dan pemetaan. penerapan model pelayanan “jemput bola”. dan 0. (2) balai harta peninggalan. jangka waktu. UKM.6 GRAFIK III.31 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKUMHAM.8 0. Target tersebut didukung dengan kebijakan antara lain: (1) melakukan inventarisasi seluruh potensi PNBP pada kantor atau unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan Kemenkumham.6 melalui peningkatan transparansi informasi tentang persyaratan. PNBP BPN GRAFIK III. (4) hak dan kekayaan intelektual. PNBP Kemenkumham ditargetkan sebesar Rp1. realisasi PNBP Kemenkumham mencapai Rp1. dan (7) pelayanan lisensi. yaitu 1. (5) pelayanan survei. antara lain 0. Pencapaian tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat yang berimbas pada minat dan kesadaran masyarakat terhadap kepastian hukum. 2005 − 2010 ditargetkan sebesar Rp1.4 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Hukum dan HAM III-40 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .4 biaya pelayanan. dan memfokuskan pelayanan pertanahan yang dibiayai dengan sumber dana publik.4 1. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). (3) pelayanan informasi pertanahan. Realisasi PNBP BPN tahun 2009 mencapai Rp1.7 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp1.4 triliun.2 0. dan (2) optimalisasi pembangunan sarana dan prasana untuk mendukung tugas dan fungsi Kemenkumham. Rata-rata pertumbuhan PNBP BPN periode 2005–2009 mencapai 23. 2005 − 2010 1.2 triliun atau 16. triliun Rp antara lain: (1) PNBP murni. Dalam APBN-P tahun 2010.5 1.8 0. (3) keimigrasian.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah atas (1) pelayanan pendaftaran tanah.8 1.9 persen. meningkat sebesar Rp0.2 triliun. (6) pelayanan pendidikan.7 0. jenis penerimaan Kemenkumham bersumber dari penerimaan (1) pelayanan jasa hukum.6 1.

.

(2) pengoptimalan penerimaan Pemerintah atas laba BUMN melalui optimalisasi pay-out ratio. meskipun masih terdapat tantangan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi global terkait dengan terjadinya gejolak pada sektor keuangan di beberapa negara kawasan Eropa. Dalam tahun 2011. Sumber utama peningkatan tersebut diharapkan berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan meningkat sejalan dengan dilakukannya berbagai extra effort. Apabila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010.4 triliun. Di samping itu. Upaya Pemerintah tersebut melalui (1) pengoptimalan lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi. dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Penerimaan dalam negeri yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP. Berdasarkan kondisi perekonomian nasional tersebut. penerimaan perpajakan diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sebagai kontributor utama penerimaan dalam negeri. Beberapa kebijakan yang diambil untuk mencapai target tersebut adalah (1) penggalian potensi perpajakan.6 triliun dan hibah Rp3. Pemerintah perlu berupaya melalui kebijakan dan perbaikan administrasi guna lebih mengoptimalkan pencapaian target PNBP tahun 2011. dan intensifikasi penarikan PNBP K/L. Pada tahun 2011. serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA. perbaikan administrasi pelaporan keuangan. (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak. dan (3) peninjauan atas jenis dan tarif. dan opsi dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN.7 triliun.5 persen. Prospek pulihnya perekonomian menjadi salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan sumbersumber pendapatan negara. (5) perbaikan sistem informasi. pendapatan negara dan hibah diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010.086. ketidakpastian perkembangan harga minyak dunia yang akan berpengaruh terhadap tingkat harga juga akan memberikan pengaruh terhadap upaya pencapaian target penerimaan migas.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011 Pendapatan negara dan hibah sangat penting sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam rencana kerja Pemerintah (RKP). terutama didorong oleh penurunan penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN. penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna mengetahui posisi rugi/laba BUMN. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh cukup stabilnya fundamental ekonomi makro nasional dan juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dunia. Untuk itu. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan III-42 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . menjadi pilar utama dari pendapatan negara dan hibah.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 3. target dalam tahun 2011 tersebut mengalami peningkatan sebesar 9. (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. PNBP diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan target APBN-P 2010.082. 3. terdiri atas penerimaan dalam negeri Rp1. (4) peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai.3 Tantangan dan Peluang Kebijakan Pendapatan Negara Proses pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2010 memberikan landasan yang cukup kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia pada tahun-tahun selanjutnya. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp1. Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2011. pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2010.

6 43.4 306. perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-43 .1 3.3 7.2 23.7 5.4 990.4 1.5 5. PNBP Lainnya d.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III administrasi perpajakan.2 55.7 151.1 0.5 1.9 RAPBN 1. Pendapatan BLU II.4.5 triliun (77.1 4. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2011 % thd PDB 15.1 243. Bea keluar 2.16 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH.4 414.6 triliun pada tahun 2011.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011 Sebagaimana tahun 2010. Pajak Perdagangan Internasional i.3 0.6 839.086.4 14.2 0. BPHTB v.1 0. Penerimaan SDA i.9 11. atau meningkat 9.5 54.7 % thd PDB 15.0 29. Pajak Dalam Negeri i.1 0.8 5. Bagian Laba BUMN c.4 0.082.3 3.1 18.3 27.1 0. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Selain itu.9 0.2 360. Cukai vi. Nonmigas b.5 816.9 0.1 4. Pajak Bumi dan Bangunan iv. Pajak penghasilan Migas Nonmigas ii. Penerimaan Perpajakan a.2 0.9 0.1 5. yaitu sebesar Rp839.3 720.8 263. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).9 4.8 11. 3.9 15. Penerimaan Dalam Negeri 1.5 43.7 0.1 158.8 362.1 triliun (22.0 11. dan selebihnya merupakan kontribusi dari PNBP sebesar Rp243.0 60.7 0.3 0.0 APBN-P 992.7 4.1 Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1. Migas ii.2 145.6 0.082. peningkatan pemeriksaan pajak.4 0.4 0.4 0.8 0.5 743.0 2.9 26.8 22.3 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010.0 0.9 4. Sebagian besar dari target penerimaan dalam negeri tersebut merupakan kontribusi dari penerimaan perpajakan.5 247. TABEL III.3 0. serta perbaikan mekanisme keberatan dan banding.5 0.2 164.6 2. kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan.2 0. Pajak pertambahan nilai iii. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I.9 3.3 309.4 0.5 2.5 persen).2 0.7 13.0 5.3 12.4 0.4. Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010–2011 dapat dilihat pada Tabel III. Bea masuk ii.1 3.0 25.5 15.5 12. Pajak lainnya b.6 17.5 persen). penggalian potensi perpajakan.2 0.3 2.5 9.1.2 59.16.

(2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. (3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar. Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu. serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak. (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai. Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011. Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan. Selanjutnya. Dalam hal ini. antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru. optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP). beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup. dan Belawan). Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi. Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. Bandara Soekarno Hatta. Khusus di bidang kepabeanan. (3) otomatisasi pelayanan. Tanjung Perak. dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. Selain itu. Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Tanjung Perak. terutama jalur rawan penyelundupan. (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP. Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan. optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor. Makasar dan Belawan). melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal. dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok. (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang. antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013). dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan. Selanjutnya. beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah. dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance). (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok. (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu. serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit. Undang-undang Kepailitan. III-44 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .Bab III Pendapatan Negara dan Hibah orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. Selain kelima upaya tersebut. Tanjung Emas. Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II. (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan.

di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai.5 triliun.0 triliun. faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-45 . hingga mencapai Rp360. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. dari target APBN-P tahun 2010. melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran.4 persen. (2) perbaikan administrasi pajak. dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014. Sementara itu. kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus. atau meningkat 14.0 triliun. (3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. PPh migas ditargetkan mencapai Rp54. penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management.0 per barel. Selain itu.300 per USD. baik secara global maupun domestik. Khusus di bidang cukai. Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai. Secara umum. (2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1.9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010.5 triliun. Pada tahun 2011. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada: (1) asumsi ICP USD80.2 triliun. akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi. penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839. Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011 Pada tahun 2011. serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai. yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1. dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph. atau 13. otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal.5 triliun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan. dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1. atau meningkat 12. dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011. (2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9. serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit. target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2.3 triliun.2 persen.1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh. PPh ditargetkan mencapai Rp414. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor. dan (4) tingginya tax compliance masyarakat. pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A. pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai. kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau.5 triliun pada tahun 2011.

Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308. TABEL III.3 persen.7 29.7) (19. Selanjutnya.5 29.6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010.5 triliun.0 3.3 19.6 20.7 8. dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan.5 7.7 25.8 7. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.9 % thd Total 3.5 7.3 9.8 triliun (21. dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6. dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66.0 12.6 persen.0 18.1 9.3 7.8 22.4 triliun. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.4 95.2 14.6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23. Gas. hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39.1 persen atau Rp49. profiling. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.4 258.0 triliun.1 Perk.8 2.7 19. target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309. Real Estate.2 0.6 persen. Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III.3 17.8 22. real estate.8 23.8 8.0 100. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9.7 49. transaksi yang offline serta restitusi Pada tahun 2011.6 28. dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5.1 9.2) 32.4 2. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.2 (12. sektor perdagangan. Hotel.7) 24.2 12.4 0.5 8. (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping. dan benchmarking.5) (20.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak.7 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y (8.1 308.1 2.7 39.6 3.17 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.7 5.1 66.9 3. Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6.17. atau meningkat 17.2 3. Kehutanan.0 triliun (12.1 18. terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak.9 100.7 23.2 6.6 0. Peternakan.0 150.3 8.2 8. target tersebut meningkat sebesar 19. Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri. Sementara itu. Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi. Dalam target PPN dan PPnBM tersebut.3 2. sektor keuangan.4 % thd Total 4. bahan bakar nabati.9 21.0 6.0 0.9 persen.8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22.1 30.5 17.6 5.3 77.2 5.8 0. (2) perluasan basis pajak.0 y-o-y 34.7 31.1 triliun (30. 9.4 61.1 30.3 triliun.0 RAPBN 12.8 26.3 triliun. (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait III-46 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Real.5 1.6 4.7 persen) dengan pertumbuhan 8.3 persen.0 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.

peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia.9 1.1 0. Hotel.8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.1 46.18 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.2 67.7 persen.4 181.1 19. Real.0 15.6 2.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III kebutuhan eksplorasi hulu minyak.6 21.9 0.4 6. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.4 14.6 6.2 0.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.6 7. Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27.2 0.3 2. 3. transaksi yang offline dan restitusi Pada tahun 2011.3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.3 0. Secara umum.4 triliun (17.5 4.3 triliun (7. Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181.2 85.8 15.8 100. Selanjutnya. Real Estate.2 1.0 (42.1 30.2 triliun (46.4 11.5 triliun. Gas.4 24. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.9 2.3 0. Kehutanan.8 26.9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.7 15.1 18.2 28. serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32. atau meningkat 9.1 12. penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85.3 0.5 % thd Total 2. Peternakan.0 y-o-y 18.3 0.4 0.19.4 31.4 43.4 (83.9 6.9 12.1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010. dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0.7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010. gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2.2 persen.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26.9 18.2 3.18.3 % thd Total 2.5 triliun atau meningkat sebesar 19.4 8.9 1. atau naik 21.7 triliun pada tahun 2011.9 2.4 12.7 persen.7 50.7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28.1 44.5 37.9) 55.5 4.2 1.6 persen dan sektor perdagangan.7 RAPBN 3.8 7.2 7.4 persen.1) 6. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 9.3 78. hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36.3 100.0 12.9 1.8 triliun.1 32.3 12.4 43. sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14.7 17. Sementara itu. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III.0 58. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72.1 56. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut. sebagai komponen terbesar.3 152.7 triliun atau meningkat sebesar 23. hotel.1 3. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-47 . Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar. sektor industri perdagangan. PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20.1 28. 2010 – 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian. TABEL III.2 triliun (30.2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.1 Perk. Secara lebih rinci.8 triliun. penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117.0 triliun (61.8 2.8 7. sebagai kontributor terbesar kedua.

9 persen.6 1.0 triliun.2 (70.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. terjadi peningkatan sebesar 5.9) 62.5) 38.8) 51.4) 124.4 (85.300 per USD.0 % thd Total 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.3 4.2 triliun.0) 14.0 29.3 0. (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9.2 1.7 10.19 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.6 0.4 0.9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target III-48 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .5 (40. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6.7 % thd Total 0.9 28. Kehutanan dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010.0 36.3 0.4) 45.1 triliun.0 62. Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2.4) 54.0 61.5 0. dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2.5 49.3 1. Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau. maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60.2 persen.5 0.1 0. Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang belum jelas batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 366.0 100.3) 21.3 3. 2010-2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.7 triliun.2 1. transaksi yang offline dan restitusi Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah.1 0.8 (9. dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal.4 persen. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.9 30.0 59.7 23. terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58.0 0.3 1.2 0. stabilitas harga nasional.3) 318. Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.2 11. Real. target cukai 2011 mengalami peningkatan 2. Peternakan.6 2.3 2.7 triliun.3 persen. dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.7 0.1 0. 0.0 117. didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3.0 triliun.6 0.1 3. dan kelestarian sumber daya alam.2 2.9 Perk.0 100. Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18. Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara.0 0. Dalam tahun 2011.1 triliun atau 5. Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri.2 0.9 0. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai. Pada tahun 2011.4 (8.9 (0. pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4.0 y-o-y 47.9 2. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010.1 0.0 72.2 0.7 1. bea keluar ditargetkan mencapai Rp5.2 0.0 (2.3 2.0 95.1 0. (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai. (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA.0 RAPBN 0.2 0.6 0.2 (45.0 0.7 (13. atau 9.9 28.

.

.

dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan. (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI).7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010. (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas.1 miliar. upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha. (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan. Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan. Namun. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan. akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011. dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan. peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan. (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu. Untuk BUMN sektor perbankan. (2) penanggulangan illegal fishing. termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP). Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-51 . (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan.3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu. sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK.7 miliar atau 45. Di samping itu. Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP). Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas. Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi. Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356. antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif. meningkat sebesar Rp111. (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sebesar Rp50. (9) peningkatan pelayanan.0 miliar atau 33. BUMN Sektor Perbankan. kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya. Terkait dengan hal tersebut.

Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian. tidak diambil dividennya. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian. besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26. dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi. untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan. terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III. (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui. Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien. PT Askes. terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba. PNBP Lainnya Dalam tahun 2011.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43. Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Prospektus IPO). dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS. (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi. (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen. dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut.6 triliun. (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. III-52 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat.4 triliun. dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen. Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN.5 triliun. dan PT Asabri diterapkan POR nol persen. yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi. (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen. Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011.36. (b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan. sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43. PT Taspen. (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen. khusus PT Jamsostek. Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN.

.

5 1.38. ketertiban.39. meningkat Rp0.38 PNBP KEMENDIKNAS.5 0. (b) melanjutkan pembangunan jaringan online Samsat di seluruh Polda. III-54 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM. dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi.0 1. 2010 − 2011 triliun Rp 3.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah (4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6. target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2.0 2.0 APBN-P 2010 RAPBN 2011 2.0 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indone sia Secara garis besar. serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik.8 triliun. PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10. dan (d) melaksanakan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui kegiatan Citra Polantas.8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2.39 PNBP POLRI. dan kelancaran berlalu lintas. (c) melanjutkan upgrade jaringan Satpas termasuk SIM keliling. keselamatan.0 0.7 6. serta pemberlakuan Undangundang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan. Dalam tahun 2011.7 Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain: (a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi.7 triliun.8 triliun atau 39. Dalam tahun 2011.0 triliun atau 59.8 2. yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4. GRAFIK III. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah (a) meningkatkan kemampuan SDM Polri melalui pendidikan dan pelatihan. STNK. GRAFIK III. (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi.7 triliun. terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan.5 2. akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah.0 triliun. dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. 2010 − 2011 triliun Rp 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Ke menterian Pe ndid ikan Nasional RAPBN 2011 10.

41 PNBP KEMENKUMHAM.5 1. 2010 − 2011 triliun Rp 2. dan jasa Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-55 . turun Rp0.2 0.0 APBN-P RAPBN akan ditempuh untuk mencapai target tahun 2011 2010 2011 tersebut adalah: (1) peningkatan pelayanan kepada Sumber : Kementerian Hukum d an HAM masyarakat melalui penambahan kantor imigrasi.6 triliun. pokok-pokok kebijakan yang 0.5 triliun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III PNBP BPN dalam tahun 2011 direncanakan mencapai Rp1. jangka waktu pelayanan.8 triliun.9 triliun.5 triliun.8 0. serta (c) penerapan model pelayanan kantor pertanahan bergerak pelayanan rakyat sertifikasi pertanahan (LARASITA). Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya kunjungan dan izin tinggal orang asing di Indonesia. GRAFIK III.3 Pencapaian target PNBP BPN tahun 2010 0. naik Rp0. Dilihat dari sumber perolehannya.4 triliun atau 57. Penurunan tersebut disebabkan oleh dihapuskannya PNBP dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah berupa uang pemasukan kepada negara.41. sebagian besar pendapatan BLU tahun 2011 berasal dari pendapatan jasa pelayanan pendidikan yang direncanakan sebesar Rp7.5 triliun. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh bertambahnya jumlah perguruan tinggi negeri yang menerapkan pola BLU dan telah diterapkannya pola pengelolaan BLU oleh seluruh rumah sakit Pemerintah.1 triliun atau 6. Grafik III.42. dan biaya pelayanan. Pendapatan BLU Pendapatan BLU dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp14.4 1.2 0. (2) menambah jumlah tempat pemeriksaan imigrasi dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK). GRAFIK III.6 Secara garis besar. Penerimaan ini lebih tinggi Rp5.8 0.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1.6 1.0 APBN-P RAPBN didukung oleh (a) peningkatan kegiatan sosialisasi 2010 2011 dan transparansi pelayanan kepada masyarakat Sumber : Badan Pertanahan Nasional yang mencakup informasi tentang persyaratan.3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1.40 PNBP BPN. Dalam tahun 2011. dan (5) melakukan perjanjian kerjasama dengan bank BUMN untuk penerimaan biaya VKSK. (b) peningkatan kapasitas kemampuan pelayanan dengan penambahan petugas ukur dan pendataan data yuridis.5 1. 2010 − 2011 triliun Rp 1.3 triliun. (3) menambah jumlah negara subjek VKSK menjadi 62 negara. Perkembangan PNBP Kemenkumham tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. Perkembangan pendapatan BLU tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.2 triliun atau 13.0 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp9.40 memperlihatkan target PNBP BPN tahun 2010 dan 2011.4 ` 1.0 1. PNBP Kemenkumham direncanakan sebesar Rp1. (4) mengembangkan otomatisasi sistem pelayanan hak kekayaan intelektual.6 1.

4 triliun. Target tersebut lebih tinggi Rp1. Selain itu 2.9 juga. (2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan BLU. di antaranya: (1) meningkatkan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. Grafik III. pendapatan dari jasa penyelenggaraan telekomunikasi direncanakan mencapai Rp1.9 3.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pelayanan rumah sakit yang diperkirakan mencapai Rp3. pencapaian target pendapatan BLU tahun 2011 didukung oleh kebijakan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BLU.9 triliun. Peningkatan tersebut GRAFIK III.4.8 dari PT Pertamina dan PT PLN (Persero) 1.4 1. Sementara itu.6 sistem administrasi dan pencatatan 3.4 APBN-P RAPBN triliun.2 Penerimaan Hibah Penerimaan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp3.9 triliun.2 3. serta (3) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah.6 yang akan digunakan untuk PMN terhadap PT Geo Dipa Energi sebesar Rpo.5 14.43 memperlihatkan 2010 2011 perkembangan target hibah 2010 dan Sumber : Kementerian Keuangan 2011. 2010 − 2011 triliun Rp 16 14 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Kementerian Keuangan RAPBN 2011 9.42 PENDAPATAN BLU.7 perubahan iklim serta semakin efektifnya 3. III-56 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dikarenakan menampung hibah aset 1. 2010 − 2011 tingginya komitmen negara donor untuk membantu Indonesia terkait masalah triliun Rp 4. Secara umum. GRAFIK III.2 0.0 penerimaan hibah dalam APBN.7 triliun.8 triliun atau 97.2 persen jika dibandingkan dengan target APBN-P 2010 sebesar Rp1.43 antara lain dipengaruhi oleh semakin PENERIMAAN HIBAH.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful