Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

BAB III PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum
Dalam periode 2005–2009, realisasi pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen, didukung dengan peningkatan penerimaan dalam negeri dan hibah yang masing-masing tumbuh rata-rata 14,4 persen dan 6,3 persen. Penerimaan dalam negeri terutama berasal dari penerimaan perpajakan yang memberikan kontribusi rata-rata 68,9 persen dengan pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi rata-rata 31,1 persen dengan pertumbuhan rata-rata 11,5 persen. Meningkatnya realisasi pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2009 tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah. Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan. Sebagai kontributor utama bagi penerimaan dalam negeri, penerimaan perpajakan diupayakan secara optimal melalui tiga kebijakan utama, yaitu: (1) reformasi di bidang administrasi; (2) reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan; dan (3) reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi. Ketiga kebijakan tersebut secara umum berlaku baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang PNBP, kebijakan yang telah diambil Pemerintah dalam rangka optimalisasi adalah (1) meningkatkan produksi sumber daya alam (SDA); (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan di bidang PNBP; (3) meningkatkan pengawasan PNBP; dan (4) meningkatkan kinerja BUMN. Pada tahun 2010, perekonomian dunia mulai pulih dari krisis. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8 persen, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada realisasi pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, realisasi pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp992,4 triliun atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp990,5 triliun atau meningkat 16,9 persen, dengan perincian penerimaan perpajakan Rp743,3 triliun atau meningkat 19,9 persen dan PNBP Rp247,2 triliun atau meningkat 8,8 persen. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun dengan peningkatan sebesar 13,8 persen. Dalam tahun 2010, kebijakan pendapatan negara dan hibah tetap diarahkan untuk optimalisasi penerimaan dalam negeri. Di bidang perpajakan, selain melakukan kebijakan yang bersifat reguler seperti reformasi di bidang administrasi, peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta penggalian potensi, Pemerintah melakukan upaya tambahan (extra effort) baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan efisiensi pemeriksaan dan penagihan pajak, serta peningkatan pengawasan atas peredaran barang kena cukai ilegal. Di bidang PNBP, kebijakan

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-1

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

yang dilakukan Pemerintah untuk mengamankan target PNBP tahun 2010 adalah optimalisasi penerimaan SDA terutama dari migas, peningkatan kinerja BUMN, serta optimalisasi PNBP kementerian/lembaga (K/L). Memasuki tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan jauh lebih baik daripada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan realisasi 2010. Indikator-indikator ekonomi makro lainnya juga diperkirakan akan cukup stabil. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp1.086,4 triliun, dengan perincian penerimaan dalam negeri sebesar Rp1.082,6 triliun dan hibah Rp3,7 triliun. Penerimaan dalam negeri akan berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp839,5 triliun, dan PNBP sebesar Rp243,1 triliun. Dalam rangka mencapai target penerimaan negara pada tahun 2011, Pemerintah akan menjalankan berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Pokok-pokok kebijakan perpajakan secara umum adalah melanjutkan dan mempertajam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya. Di bidang perpajakan, kebijakan antara lain akan difokuskan pada (1) penggalian potensi perpajakan; (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak; (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak; (4) peningkatan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai; (5) perbaikan sistem informasi; dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, dalam rangka memperbaiki sistem administrasi perpajakan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pengalihan BPHTB serta PBB perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah. Untuk BPHTB, pengalihan dilakukan pada tahun 2011, sedangkan untuk PBB, pengalihan dimungkinkan dilakukan mulai tahun 2010 berdasarkan kesiapan masing-masing daerah. Tenggat waktu yang diberikan kepada daerah untuk mempersiapkan pengalihan PBB tersebut adalah sampai dengan tahun 2014. Di bidang PNBP, kebijakan yang dilakukan untuk mencapai target 2011 adalah (1) optimalisasi lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi, serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA; (2) penyesuaian pay-out ratio dividen dari laba BUMN; (3) penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna memantau perkembangan rugi/laba BUMN; (4) penarikan dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN; (5) intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP K/L, antara lain dengan melakukan review jenis dan tarif PNBP K/L; dan (6) perbaikan administrasi pelaporan keuangan K/L.

3.2

Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2009 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2010

Pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode 2005–2009. Pertumbuhan rata-rata yang terjadi dalam periode tersebut adalah 14,4 persen, yaitu dari Rp495,2 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp848,8 triliun pada tahun 2009. Kondisi perekonomian yang cukup kondusif dalam periode 2005–2009 menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya pendapatan negara khususnya penerimaan dalam negeri, meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 sampai dengan 2009. Dalam periode 2005–2009 tersebut, penerimaan dalam negeri meningkat dari Rp493,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp847,1 triliun pada tahun 2009. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Selain faktor kestabilan ekonomi, penerapan berbagai
III-2 Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya realisasi penerimaan dalam negeri. Sementara itu, penerimaan hibah pada periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,3 persen, yaitu dari Rp1,3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp1,7 triliun pada tahun 2009. Terus membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2010 menyebabkan Pemerintah optimis dapat mencapai target pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp990,5 triliun, atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun atau 13,8 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam APBN-P tahun 2010, pendapatan negara dan hibah ditargetkan mencapai Rp992,4 triliun, atau 16,9 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.1.
TABEL III.1 PERKEMBANGAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2005 Real. 495,2 493,9 347,0 146,9 1,3 2006 Real. 638,0 636,2 409,2 227,0 1,8 2007 Real. 707,8 706,1 491,0 215,1 1,7 2008 Real. 981,6 979,3 658,7 320,6 2,3 2009 Real. 848,8 847,1 619,9 227,2 1,7 2010 APBN-P 992,4 990,5 743,3 247,2 1,9

3.2.1 Penerimaan Dalam Negeri
Dalam periode 2005–2009, penerimaan dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Sebagai komponen utama, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan PNBP tumbuh rata-rata 11,5 persen. Beberapa indikator makroekonomi yang berpengaruh pada meningkatnya penerimaan dalam negeri dalam periode tersebut adalah (1) tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat, yaitu dari 5,7 persen pada tahun 2005, menjadi 6,0 persen pada tahun 2008, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2009; (2) perkembangan ICP yang cenderung meningkat dari USD51,8 per barel pada tahun 2005 hingga mencapai USD96,8 per barel pada tahun 2008, dan USD61,6 per barel pada tahun 2009; dan (3) fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mengalami depresiasi pada periode tahun 2005–2009. Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan perpajakan dan PNBP juga turut mendorong peningkatan penerimaan dalam negeri. Memasuki tahun 2010, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan mampu mencapai pertumbuhan 5,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 yang hanya mencapai 4,5 persen. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan juga didukung oleh tingginya perkiraan ICP yang mencapai USD80 per barel, penerimaan dalam negeri ditargetkan sebesar Rp990,5 triliun dalam APBN-P tahun 2010,

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-3

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp743,3 triliun dan PNBP Rp247,2 triliun. Jumlah tersebut berarti 16,9 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Perkembangan penerimaan dalam negeri pada periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.2.
TABEL III.2 PERKEMBANGAN PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. BPHTB v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Bea keluar 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya d. Pendapatan BLU
Sumber : Kementerian Keuangan

2005 Real. 493,9 347,0 331,8 175,5 35,1 140,4 101,3 16,2 3,4 33,3 2,1 15,2 14,9 0,3 146,9 110,5 103,8 6,7 12,8 23,6 0,0

2006 Real. 636,2 409,2 396,0 208,8 43,2 165,6 123,0 20,9 3,2 37,8 2,3 13,2 12,1 1,1 227,0 167,5 158,1 9,4 23,0 36,5 0,0

2007 Real. 706,1 491,0 470,1 238,4 44,0 194,4 154,5 23,7 6,0 44,7 2,7 20,9 16,7 4,2 215,1 132,9 124,8 8,1 23,2 56,9 2,1

2008 Real. 979,3 658,7 622,4 327,5 77,0 250,5 209,6 25,4 5,6 51,3 3,0 36,3 22,8 13,6 320,6 224,5 211,6 12,8 29,1 63,3 3,7

2009 Real. 847,1 619,9 601,3 317,6 50,0 267,6 193,1 24,3 6,5 56,7 3,1 18,7 18,1 0,6 227,2 139,0 125,8 13,2 26,0 53,8 8,4

2010 APBN-P 990,5 743,3 720,8 362,2 55,4 306,8 263,0 25,3 7,2 59,3 3,8 22,6 17,1 5,5 247,2 164,7 151,7 13,0 29,5 43,5 9,5

3.2.1.1 Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen dalam periode 2005–2009. Beberapa faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai. Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea masuk dan bea keluar. Dalam periode 2005–2009, penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 16,0 persen, sedangkan pajak perdagangan internasional tumbuh rata-rata 5,2 persen. Selanjutnya, penerimaan perpajakan mampu memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2005, kontribusi penerimaan perpajakan adalah 70,3 persen menjadi 64,3 persen pada tahun 2006, kemudian 69,5 persen pada tahun 2007 menjadi 67,3 persen pada tahun 2008, dan selanjutnya menjadi 73,2 persen pada tahun 2009. Semakin tingginya kontribusi penerimaan perpajakan tersebut menunjukkan bahwa peranan penerimaan perpajakan menjadi sangat strategis sebagai sumber pendanaan

III-4

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Sejauh ini kegiatan ekstensifikasi perpajakan dinilai cukup berhasil. Sedangkan program intensifikasi atau penggalian potensi perpajakan dari wajib pajak yang telah terdaftar dilaksanakan melalui III-6 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan profesi lainnya. direksi. Pemerintah mencanangkan program sunset policy pada tahun 2008. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan membayar pajak (tax compliance). sistematis. profiling. Selain bertujuan meningkatkan tax compliance. pengacara. dan (3) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. tarif PPh badan mengalami penurunan dari 28 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada tahun 2010.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah teknologi informasi dan komunikasi. program ekstensifikasi pada tahun 2010 dilakukan melalui tiga pendekatan utama. dan diperpanjang hingga Februari 2009. Pemerintah telah dan akan tetap melanjutkan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. standar. akuntan. artis. Reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan dilakukan melalui amendemen tiga undang-undang perpajakan. (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. dan perumahan. Metode tersebut dikembangkan sejak awal tahun 2007 mencakup kegiatan mapping. Selain itu. Sementara itu. terukur. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008. program ini juga dimaksudkan untuk mengakomodasi hasil kegiatan penggalian potensi melalui kegiatan mapping. dan melaksanakan good governance melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak. Program utama dari kegiatan ini dikemas dalam Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). pemberian diskon atas tarif PPh badan 5 persen lebih rendah dari tarif normal tetap diberikan kepada perusahaan-perusahaan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dikuasai oleh publik. yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak. dan dapat dipertanggungjawabkan. (2) pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau memiliki tempat usaha di pusat perdagangan dan/atau pertokoan. dan benchmarking. dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. dan (3) pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter.5 juta pada tahun 2005 menjadi 14.1 juta pada April 2010. pekerja serta pegawai negeri sipil dan pejabat negara. Program sunset policy ini mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah wajib pajak dari 3. yaitu: (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-undang. profiling. yaitu: (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara Pemerintah dengan sasaran karyawan yang meliputi pemegang saham atau pemilik perusahaan. komisaris. staf. notaris. Reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi dilakukan melalui pembangunan suatu metode pengawasan dan penggalian potensi penerimaan pajak yang terstruktur. dan benchmarking.

(2) pemberian fasilitas/kemudahan dalam pelayanan kepabeanan (Pre Entry Classification. Dalam hal ini. Sedangkan peningkatan audit dilakukan antara lain melalui (1) pembuatan dokumentasi sistem informasi perencanaan audit. baik bilateral. Untuk menindaklanjuti program sunset policy. (2) penyusunan database profil dan objek audit. Di bidang kepabeanan dan cukai. Selanjutnya. (3) monitoring pelaksanaan audit. Kegiatan law enforcement dilakukan melalui penagihan. (2) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Madya. (4) pemantapan profil 500 wajib pajak KPP Pratama. untuk menjamin penegakan hukum (law enforcement) di bidang kepabeanan dan cukai. pemeriksaan. Pemerintah meningkatkan fungsi pengawasan dan audit. Customs Advice. (6) mendukung kerjasama perdagangan internasional. dan (5) melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan fasilitas kepabeanan dan cukai. Pemerintah akan terus melanjutkan program reformasi melalui pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya. serta melakukan program intensifikasi melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi. (3) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Large Tax Office (LTO) dan Khusus. serta (4) penyempurnaan aplikasi sistem audit. regional. sistematis. risk assesment. (2) membangun sistem dokumentasi pelanggaran kepabeanan dan cukai. peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. dan (7) pengawasan intensif wajib pajak orang pribadi potensial. (7) penerapan National Single Windows (NSW) dan portal Indonesia National Single Windows (INSW). (5) peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas barang impor dan ekspor. maupun multilateral. dan targeting. langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan antara lain (1) pengembangan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai. profiling.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III (1) kegiatan mapping dan benchmarking. (5) pembuatan profil high rise building. dan saling terkait. Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dengan membangun komunikasi kepada setiap wajib pajak melalui pendidikan perpajakan (tax education). (9) penegakan hukum di bidang kepabeanan melalui risk management. Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan. Khusus di bidang kepabeanan. (4) melaksanakan pemberantasan peredaran rokok ilegal. dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. yang telah dikembangkan sejak tahun 2007. Peningkatan pengawasan dilakukan antara lain dengan (1) mengembangkan manajemen risiko kepabeanan dan cukai. dan Pre-Notification). dan mesin sinar gamma. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-7 . (4) pembentukan kantor pelayanan utama dan KPPBC Madya. dan penyidikan. tanpa mengesampingkan fungsi utama kepabeanan cukai sebagai regulator dalam rangka melancarkan arus barang dari transaksi perdagangan internasional (trade facilitation) dan melindungi masyarakat dari ekses negatif dari masuknya barang-barang pembatasan dan larangan serta narkotika (community protection). mesin sinar X. (6) pengawasan intensif dari PPh Pasal 25 retailer. terukur. dan optimalisasi sarana operasi seperti kapal patroli. dan (10) meningkatkan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dalam memenuhi kewajibannya. menjaga hubungan dengan wajib pajak (maintenance). (8) peningkatan pelayanan kepabeanan melalui jalur mitra utama (MITA) dan jalur prioritas. (3) pemberian fasilitas terhadap industri substitusi impor dan industri orientasi ekspor. Pemerintah melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu metode penggalian potensi dan pengawasan penerimaan pajak yang terstruktur. (3) melaksanakan pemberantasan penggunaan pita cukai palsu.

Kontributor utama dalam penerimaan pajak dalam negeri adalah PPh yang memberikan kontribusi rata-rata 52. yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata 32.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.8 -1. (3) peningkatan security features pita cukai.8 2. cukai sebagai penerimaan ketiga terbesar setelah PPh serta PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14.3 persen. Sementara itu.2 45. dan (4) peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor.1. dan sigaret putih mesin (SPM).7 10. Selain itu.0 PPh Non Migas PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 III-8 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .2 dan Grafik III. sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.5 11. beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan cukai antara lain (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau berkisar antara 9.2 PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI.3. penyempurnaan terhadap peraturan-peraturan pelaksanaan maupun sistem prosedur di bidang cukai dilakukan secara bertahap sehingga dapat memberikan perlindungan atas kesehatan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan faktor daya serap tenaga kerja.0 persen (y-o-y) 60 -7.0 13.0 18.9 0 (20) (40) 18.4 40 22.0 persen.4 17.7 9. dan (7) peningkatan security feature pita cukai untuk menghilangkan praktek pemalsuan cukai. Sedangkan kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah PPN dan PPnBM serta cukai.5 persen.2.0 17. (4) peningkatan pengawasan di bidang cukai.3 triliun pada tahun 2009.8 28. (2) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.9 35. yaitu dari Rp331. Upaya yang dilakukan antara lain melalui (1) penyempurnaan ketentuan mengenai perizinan di bidang cukai. yaitu sigaret kretek mesin (SKM). (5) peningkatan pemahaman ketentuan di bidang cukai (sosialisasi). Selanjutnya pada tahun 2010.6 19.2 PPh Migas -35.9 -4.4 28.5 persen untuk MMEA impor.6 13.4 persen. (3) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.0 persen sesuai dengan jenis hasil tembakau.2 -7. (2) pemeriksaan lokasi pabrik. sigaret kretek tangan (SKT). Pemerintah juga melakukan peningkatan pengawasan.1 Pajak Dalam Negeri Dalam periode 2005–2009.9 20 1.3 -6.5 37. antara lain melalui: (1) peningkatan operasi pasar.6 persen sampai dengan 21.0 53.3 persen. Pertumbuhan rata-rata tertinggi terjadi pada pos penerimaan PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM yang mencapai 17. GRAFIK III.7 25. 3.7 6. (3) peningkatan pelayanan di bidang cukai.6 21. Pertumbuhan dan kontribusi rata-rata dari masingmasing jenis pajak dalam kategori pajak dalam negeri dapat dilihat pada Grafik III.1 persen dan 9. penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan ratarata 16.3 14.7 14. (6) penerapan kode etik (reward and punishment). 2005 – 2009 80 75.1.8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp601. serta (4) peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) rata-rata sebesar 228. (2) perubahan ketentuan mengenai perizinan.6 10.6 16.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Khusus di bidang cukai.8 6.7 87.

6 triliun (40.5 triliun menjadi Rp317.6 persen dan PPh gas bumi tumbuh rata-rata 5.5 per barel (Desember−November). terjadi peningkatan sebesar Rp5.0 persen dalam periode 2005−2009.2 persen. Apabila 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Dalam APBN-P tahun 2010. Perkembangan realisasi penerimaan PPh migas yang cenderung meningkat tersebut sesuai dengan perkembangan ICP yang menunjukkan adanya tren kenaikan. Peningkatan terjadi pada seluruh pos penerimaan dalam negeri. PPh diperkirakan mencapai Rp362.7 persen) dan PPh gas bumi Rp32.1% triliun atau 19. dan lebih tingginya lifting minyak Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-9 .6% 9.3% dibandingkan dengan realisasi PBB 4. meskipun lifting mengalami fluktuasi. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp317. Penerimaan PPh migas selama tahun 2005−2009 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9.8 triliun. terjadi peningkatan sebesar Rp44. Selain itu. yang terdiri atas penerimaan PPh migas Rp55. terutama PPN dan PPnBM yang meningkat Sumber : Kementerian Keuangan 36. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.2 persen.2 persen dan BPHTB yang meningkat 10.6 triliun atau 14.8 triliun (59.0 persen. Penyebab utama peningkatan penerimaan PPh migas tersebut adalah lebih tingginya ICP pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai USD80 per barel dibandingkan dengan ICP pada tahun 2009 yang mencapai USD58.9 persen.7 persen.3 penerimaan pajak dalam KONTRIBUSI RATA-RATA PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI. Membaiknya kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik yang berimbas pada meningkatnya volume perdagangan dunia menjadi faktor utama meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri.3 triliun atau 10. Dalam periode tersebut.4. nominal penerimaan PPh meningkat dari Rp175. realisasi penerimaan PPh migas diperkirakan mencapai Rp55.5 PPN 42. relatif tingginya ICP yang diperkirakan mencapai USD80 per barel pada tahun 2010 dibandingkan dengan ICP tahun 2009 yang mencapai USD58. Dalam APBN-P tahun 2010. khususnya penerimaan PPN dan PPnBM impor.2 triliun. Dalam APBN-P tahun 2010. dengan kontribusi dari PPh minyak bumi sebesar Rp22.4 triliun.7 persen.3 persen. target tersebut mengalami PPh Non-Migas peningkatan sebesar Rp119.6 triliun.1% 32.3% BPHTB PPh Migas Rp720.3 persen) dan PPh nonmigas Rp306.4 triliun (15.5 per barel (Desember−November) juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penerimaan pajak migas. Pajak Penghasilan (PPh) Pajak penghasilan (PPh) mengalami pertumbuhan rata-rata 16.7 persen. penerimaan PPh migas memberikan kontribusi rata-rata sebesar 19. sedangkan PPh nonmigas 80. Dilihat dari komponen pendukungnya.7% penerimaan pajak dalam negeri tahun 2009.8 triliun (84. Penerimaan PPh migas tahun 2009−2010 dapat dilihat pada Grafik III. GRAFIK III.0% 10.3 persen). penerimaan PPh minyak bumi tumbuh rata-rata 18. Dilihat dari komposisinya.7 persen).6 triliun. 2005 – 2009 Pajak Lainnya Cukai negeri ditargetkan mencapai 0.

3 persen. dan juga pemberian diskon 5 persen 2009 APBN-P 2010 -30.0 100. Hal ini berarti terjadi peningkatan 14. penerimaan PPh GRAFIK III.0 35. 29.0 bagi perusahaan masuk bursa yang 40 persen sahamnya dikuasai publik.0 100. PPh pasal 25/29 badan tahun 2010 meningkat 5.7 persen bila 2009 − 2010 dibandingkan dengan realisasi tahun triliun Rp sebelumnya.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah bumi tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 965 MBCD dibandingkan dengan lifting pada tahun 2009 yang mencapai 944 MBCD.8 0.0 77. 9.0 100.0 1.3 27. 18. PPh pasal 25/29 badan Lainnya PPh Final dan Fiskal masih merupakan kontributor utama bagi PPh Pasal 21 PPh Pasal 25/29 Badan penerimaan PPh nonmigas dengan kontribusi sebesar 41. 270.7 59.0 persen.8 18.0 30.6 triliun pada tahun 2009.0 Real.4.1 33.5 0.0 100. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PPh Minyak Bumi PPh Gas Bumi PPh Migas Lainnya Total Real.7 32.4 44.0 0.7 63.3 PERKEMBANGAN PPh MIGAS.0 telah dijelaskan sebelumnya.5 persen.0 50.4 22.0 20.0 10.7 persen dan memberikan kontribusi rata-rata 41. Perkembangan penerimaan PPh nonmigas per pasal dalam periode 2005–2010 dapat dilihat padaTabel III. realisasi penerimaan PPh nonmigas mengalami pertumbuhan ratarata 17.7 20.0 Real. Pertumbuhan tersebut terutama didukung dari penerimaan PPh pasal 25/29 badan yang tumbuh rata-rata 23.8 perbaikan administrasi perpajakan dan 170.3 126.0 60.4 0. Dalam periode 2005−2009. III-10 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .6 0.3 0.4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp267.0 55. 2009 − 2010 triliun Rp 70.0 2008 % thd Total 38.6 32.0 100.0 2010 APBN-P 22.0 Real.5.0 2009−2010 dapat dilihat dalam Grafik III.0 76. peningkatan penerimaan 61. Bila dibandingkan dengan Sumber : Kementerian Keuangan realisasi pada tahun 2009.0 100.0 tahun 2010.3 0.3. Perkembangan realisasi PPh migas 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.0 Real.0 62.5 61.0 2007 % thd Total 37. 14.1 % thd Total 26.4 73. 16.7 0.5 APBN-P 2010 TABEL III. Penerimaan PPh nonmigas tahun 320.0 persen dalam periode tersebut.0 42.5 0.0 2009 % thd Total 36.0 43.3 25.0 40.0 61.6 47.0 Sumber : Kementerian Keuangan Dalam APBN-P tahun 2010.7 28.3 PPh nonmigas terutama disebabkan oleh upaya 220.5 Selain faktor ekonomi.0 0.8 triliun. PENERIMAAN PPh NONMIGAS.2 2006 % thd Total 34.4 31.4 PENERIMAAN PPh MIGAS.1 dilakukannya extra effort sebagaimana yang 120.3 0.0 2009 Sumber : Kementerian Keuangan PPh Gas Alam PPh Minyak Bumi 31.6 52.0 50. Meskipun tarif PPh pasal 25/29 badan mengalami penurunan dari 28 70.0 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada 120.5 nonmigas diperkirakan mencapai Rp306. yaitu dari Rp140.0 66.8 0. GRAFIK III.4 % thd Total 40.

9 2.4 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS.4 258.0 8.0 13.0 2009 % thd Total 4.7 2.8 26.4 0.6 7.8 7.5 13.0 2. sektor industri pengolahan. untuk sektor industri pengolahan 16.9 4. % thd Real.5 8. 2. hotel dan restoran sebagai kontributor utama dengan rata-rata kontribusi masing-masing sebesar 28.6 3.6 21.0 2010 Perk.1 4.4 % thd Total 20. Total 9. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia yang mengakibatkan net interest margin (NIM) bank mengalami penurunan.9 20.1 100.6 5.2 5.6 9.6 persen.7 2.3 1.1 15. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Pertanian.8 2006 Real.1 23.7 persen bila dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2009. serta sektor perdagangan.8 5.4 41. Perkembangan PPh nonmigas sektoral 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.8 2.9 9.7 1.3 2.0 2006 % thd Total 2.6 20.0 triliun atau 8.3 45.1 9.7 5.0 100. 25. Peternakan.8 6. Real. dan jasa perusahaan.1 0.0 3.0 2009 Real.3 2.1 34.0 2008 Real.0 8.8 triliun atau 29.6 51. 9.0 10.4 2.6 6.8 12.1 6.4 9.0 0.2 5. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Hotel.1 30.0 3.8 0.5 1.1 0.2 0.0 100.7 0.0 10.4 5.7 2. real estate.8 13. Kenaikan ini terutama didukung oleh pertumbuhan sektor industri Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-11 .01 100.6 17.8 41. Rata-rata suku bunga untuk semester I tahun 2010 adalah 6.01 100.8 % thd Total 20.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.4 6.7 7.3 7.5 11. Kehutanan.9 1.1 25.6 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.5 56.8 5.5 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.4 14.3 4. dan jasa perusahaan adalah 17.1 4. Real.6 % thd Total 19. TABEL III.01 194.3 29.7 9.2 16.3 0.7 44.4 24.6 0.0 12.3 persen.8 65.75 persen.9 42.8 % thd Total 20.2 30.2 1.3 35.7 6.0 9.00 306. atau menurun jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga pada semester I tahun 2009 sebesar 7.1 145.2 6.3 2.1 -0.5 229.9 persen sehingga mencapai Rp61. 31.8 0. dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar Rp6.1 33.5 5. Tahun 2010 sektor keuangan.5 0.7 14.5. dan sektor perdagangan.9 persen. Sementara itu.5 14.7 2.0 100.8 7. Real. 52.7 4.9 17.7 3.0 10.4 6. Pertumbuhan rata-rata dalam kurun waktu 2005–2009 untuk sektor keuangan.4 243.1 60.0 Real. Real.3 7.5 12.3 4.7 9.7 22.3 25.3 7.1 0.7 0.1 10.1 3. hotel dan restoran sebesar 25. realisasi penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan.9 21.3 62.1 9.6 0.6 2.4 42.1 0.4 73.9 0.8 16.7 5.02 249.5 17.6 0.9 5.3 18.6 5.0 PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 23 PPh Pasal 25/29 Pribadi PPh Pasal 25/29 Badan PPh Pasal 26 PPh Final dan Fiskal PPh Non Migas Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Selama periode 2005–2009. real estate.0 100.8 14.6 4.02 100.1 2.1 27. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 7.7 27.1 145.2 6.2 0. transaksi yang offline .6 7.3 54.4 33.5 0.5 9.6 80.6 8.4 14.2 0.1 13.6 5.9 -0.9 12.0 16.1 100.0 1.9 3.6 % thd Total 19.3 1. real estate.9 16.6 106. pada tahun 2010.1 35.9 11.3 120.8 0.5 0.9 persen.4 7.5 persen.9 25. 51.0 2007 Real. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.1 16.3 2.04 165.4 19.6 8. meningkat sebesar Rp17.0 3.3 20. Gas.5 13.0 2007 % thd Total 2.3 126.9 27.0 2008 % thd Total 4.2 179.5 1.2 24.8 triliun.1 1. 39.6 0.2 3.0 2010 APBN-P 61.2 2.5 7.6 15.8 8.5 24.3 7.5 17.3 % thd Total 26.1 18.4 4.04 175.7 5.1 6.7 0.1 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.02 267.0 4.6 7.6 0.1 122.5 11.3 8.3 3.9 100.1 0.1 30.4 2.3 77.0 1.0 100.1 10.1 39.1 24.9 3. Real Estate. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp77.0 25.0 persen.7 23.1 11.3 8.6 triliun.1 15.4 8.8 67.3 0.7 31.1 persen dan 9.3 6. serta restitusi.0 4.3 5.3 10.8 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total 2005 % thd Total 2.4 23.2 14.1 8.4 2.4 1.0 6.8 10.8 11.4 61.3 10.7 0.2 41.

4 32. 2006 % thd Total Real.004 100.4 96.3 9. realisasi konsumsi Pemerintah cukup tinggi sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan Pemilu. sedangkan PPN dan PPnBM impor memberikan kontribusi rata-rata 38.3 53.9 0.3 4. Peningkatan terutama terjadi pada PPN dan PPnBM impor dengan pertumbuhan 50.01 100.1 persen) dan PPN dan PPnBM impor Rp99. Sedangkan sektor perdagangan.8 0.012 209.5 triliun.2 120.3 34.01 263.5 0.8 2.5 7.3 4.5 36. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Real.1 0.4 0. PPN dan PPnBM dalam negeri mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 61. jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif.3 7.3 7.2 3.2 116. Secara umum.9 0. lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya.1 1.9 0.5 3.6 3.1 4. peningkatan PPN dan PPnBM impor tersebut sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan dunia.0 triliun.4 62.8 persen.0 1. 2008 % thd Total Real.9 6.5 95.2 4.5 1.1 95.8 43.1 5.7 38. target pada tahun 2010 tersebut meningkat Rp69.9 triliun atau 18.1 0.5 persen.1 3.3 92.9 persen).0 118.002 123.6 94.1 0. hotel dan restoran diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar Rp4.9 2. Pada periode yang sama tahun sebelumnya.6 1.0 0.0 triliun (63. PPnBM PPnBM DN PPnBM Impor PPnBM Lainnya Total (a+b) 94.6 0.4 0. PPN dan PPnBM Penerimaaan PPN dan PPnBM selama periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan ratarata 17.2 4.4 60.4 63. TABEL III.0 101. 2007 % thd Total Real.8 44.3 0.3 7.4 0.0 198.7 81. III-12 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .6 3.5 1.3 11.8 3.4 156.0 Sumber : Kementerian Keuangan Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.9 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pengolahan.4 93.0 100.4 0.01 100. PPN PPN DN PPN Impor PPN Lainnya b.1 persen dari total penerimaan PPN dan PPnBM.0 96.0 184.021 154.4 59.01 100. Di sisi lain.9 persen.7 0. penerimaan PPN dan PPnBM ditargetkan sebesar Rp263.8 35. yang berimbas pada meningkatnya kegiatan ekspor-impor Indonesia. 2005 % thd Total Real.002 100.7 0.5 4.5 55. penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 28. Dari sisi besarnya kontribusi.2 persen.0 253.9 2.4 persen.8 48. Perkembangan PPN dan PPnBM dalam periode 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III. Salah satu faktor yang mengakibatkan melemahnya pertumbuhan PPN dan PPnBM dalam negeri ini adalah rendahnya konsumsi Pemerintah yang pada kuartal I 2010 yang mengalami penurunan sebesar 8. yang terdiri dari atas PPN dan PPnBM dalam negeri Rp163.6. Dalam APBN-P tahun 2010.2 74.7.2 1.1 44.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM.8 persen.0 0.8 persen (y-o-y).0 0.7 0.6 2.4 0.0 147. lebih tinggi bila dibandingkan dengan PPN dan PPnBM impor yang tumbuh ratarata 8. 2009 % thd Total 2010 APBN-P % thd Total a.8 persen dalam periode tersebut.0 48.5 6.7 triliun (37.0 96. Perkembangan PPN dan PPnBM serta nilai impor dalam periode 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.015 193. Secara komposisi.5 persen dibandingkan tahun 2009 sehingga mencapai Rp31.1 2. PPN dan PPnBM dalam negeri tumbuh rata-rata 23.6 dan penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2010 dapat dilihat pada Grafik III.8 0.1 4.3 8.9 0.7 2.6 3.9 triliun atau 36.1 60.

6 persen. hotel dan restoran. serta sektor pertambangan migas yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 50. dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik Rp2.1 persen. Sebagian besar dari realisasi PPN merupakan PPN DN. 2005 – 2009 160 140 triliun Rp PPN & PPnBM DN PPN & PPnBM Impor Nilai Impor 160000 140000 triliun Rp GRAFIK III.6 persen.6 persen.4 persen. 22. real estate. diperkirakan sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 51.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. dan sektor keuangan. 17.0 persen. dan restoran dengan kontribusi sebesar 22. sektor perdagangan.4 Sumber: Kementerian Keuangan Secara umum. Dalam tahun 2010. dan 19.5 persen.2 persen. serta sektor pertambangan migas. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-13 . sebagian besar penerimaan PPN DN diperkirakan masih berasal dari sektor industri pengolahan. dan jasa perusahaan dengan kontribusi sebesar 5.5 184. realisasi PPN secara sektoral dapat digolongkan ke dalam 12 sektor.7 persen.7 PENERIMAAN PPN DAN PPnBM.7 persen.5 270 250 230 210 190 170 150 2009 Sumber: Kementerian Keuangan APBN-P 2010 9.8 persen. Dalam tahun 2010.8 persen. hotel. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri. dan restoran. disusul kemudian oleh sektor perdagangan. dan 11. Pertumbuhan rata-rata dari ketiga sektor tersebut adalah sebesar 16.8 persen. Perkembangan penerimaan PPN DN secara sektoral dapat dilihat secara rinci pada Tabel III. Tiga sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan PPN DN adalah sektor industri pengolahan. Dalam periode 2005–2009. Dalam periode 2005–2009.7 triliun atau 27. sektor perdagangan. Dalam periode 2005–2009. hotel. serta sektor keuangan.4 persen dan 8. penerimaan PPN impor didukung oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan. hotel dan restoran naik Rp4.5 triliun atau 19.2 120 100 80 60 40 20 0 juta US$ 120000 100000 80000 60000 40000 2005 2006 2007 2008 2009 253. sektor industri pengolahan mampu memberikan kontribusi terbesar. 18. sektor perdagangan.8 persen dan 6. hotel dan restoran. dan jasa perusahaan yang masingmasing memberikan kontribusi rata-rata 19.9 persen.8 persen dengan pertumbuhan rata-rata masing-masing 28.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III GRAFIK III.7.0 persen dan 7. dengan kontribusi masing-masing mencapai 44.8 persen. sektor perdagangan. 2009 − 2010 PPN PPnBM 9. real estate. PPN DN mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 62.2 persen.1 persen.3 persen. tiga sektor tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan.1 triliun atau 34. 22. hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi. dan negatif 48. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sektor industri pengolahan naik Rp17. 23.1 persen. Dua kontributor utama lainnya adalah sektor perdagangan.1 persen. dengan rata-rata 38. Kontribusi rata-rata dari ketiga sektor tersebut masing-masing sebesar 31.1 persen.

3 0.6 % thd Total 2.1 48.6 7.2 triliun dan sektor perdagangan.0 12.1 3. dan restoran.2 0.5 0.3 20.5 8.9 112.3 23.7 15.1 1.1 1.1 1.9 0.0 1.3 2.1 0.0 63.8 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.7 2. serta sektor pertambangan migas.0 42.0 100. transaksi yang offline. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2006 Real.4 3.6 0.2 triliun.0 100.5 55.1 20.4 0.4 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.5 1.0 2009 Real.1 44.8 18. Apabila digabungkan dengan penerimaan mata uang asing terdapat pertumbuhan positif sebesar 69.7 0.7 19. Peternakan.5 11.1 25.0 0.2 17.1 37.5 0.3 0.4 0.3 2. PPN impor diperkirakan akan tetap didukung oleh sektor industri pengolahan.0 45.2 persen dalam periode 2005–2009. Perkembangan penerimaan PPN impor secara sektoral tahun 2005–2010 dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.2 0.2 7.4 0. Real.1 2.3 0.9 12.0 % thd Total 0.0 Perk.9 100.2 0.7 7.4 2.0 0.8 1.5 0.4 0.3 20.1 persen.9 % thd Total 2.6 8. 0.1 17. Hotel. 2.5 3.8 0.2 0.2 1.0 0.0 2009 Real.3 % thd Total 2.5 125. Gas.4 1.0 10.0 26.8 7.9 0.4 12.7 2.8 0.8 6.2 0.8 100.8 5.2 22.2 1.3 1.2 0.8 0.1 0.9 0.0 0.9 8.2 1.0 0.7 persen.2 0.0 14.4 4.2 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Real.4 0.6 2.2 0. Rata-rata kontribusi PBB terhadap penerimaan pajak dalam negeri adalah sebesar 4.9 1.6 triliun pada akhir tahun 2010.1 0.3 0.8 16.0 2008 Real 0.3 0. Pertumbuhan negatif penerimaan sektor pertambangan migas menurut data modul penerimaan negara (MPN) disebabkan karena penerimaan tercatat hanya dalam bentuk rupiah.1 28. hotel.6 6.1 10.5 9.8 3.3 0.9 0.3 152.1 1. Real Estate.0 0.7 % thd Total 2. Peternakan.2 1.2 1.1 0.6 0.2 10.8 % thd Total 2.6 2.2 1.8 % thd Total 2.5 12.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.1 0.5 12.8 7.5 3.0 2006 Real.4 0.0 59.0 0. peningkatan penerimaan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kinerja impor.2 2.0 8.1 39.9 21.0 100.0 2008 Real. 0. 3.9 4.5 79.3 0.7 1.9 2.0 17. Di sisi lain. Gas.1 0. sektor pertambangan migas diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga mencapai Rp0.7 0.2 0.2 21.6 10.1 28.2 0.0 6.0 7.9 0.5 1.1 63.2 67.0 62.9 0.9 0.0 2010 % thd Total 0.0 95.0 2010 Perk.0 1.3 0. TABEL III.9 100. Dengan demikian.5 0.9 18.0 100.0 1. dan restitusi. 0.6 2.1 45.6 1.6 5.9 1.1 0.0 Real.0 Real.1 0.2 12.1 19. 3.1 persen.9 100.1 11. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.2 0. 0.2 0. 3.0 100.2 0.2 0.4 0. sektor perdagangan.6 1. 1. Sumber : Kementerian Keuangan PBB dan BPHTB Realisasi PBB dan BPHTB masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata 10.4 0.6 11.0 14.4 0.4 1. Real Estate.7 0.3 0.9 23.3 1.3 8. penerimaan ini belum termasuk penerimaan dalam bentuk mata uang asing. dan restitusi.8 16.2 0.1 28.7 7.7 1.5 0.5 0. transaksi yang offline .3 0.8 2.0 82.0 18.5 28. sedangkan BPHTB sebesar 1.4 5.0 2007 % thd Total 0.1 0.4 0.8 8.2 0.3 persen dan 54.6 0.3 0.2 0.6 9. 0.3 % thd Total 0.7 8.7 10.3 2. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.1 28.2 1.0 2007 Real.0 18.3 10.1 33. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp59. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.1 22.8 0.6 6.1 11.3 5.6 0.1 9.1 32.1 0.3 100.1 0.8.1 7.1 50.1 0.9 17. Hotel. 1.0 54.4 23.1 18.4 1.4 2.0 40.4 9.1 27.8 0.8 2. Kehutanan.2 100. III-14 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Real.7 100.4 8.5 0.3 1.0 2.9 0.7 12.2 % thd Total 0. hotel.1 10. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.3 1.9 28.0 3.0 0.8 0. dan restoran diperkirakan mencapai Rp28.6 24.9 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.1 47.7 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.6 % thd Total 0.8 8. Pada tahun 2010.8 0. Secara umum.5 0.2 0. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. hotel dan restoran tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 47.7 0. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.8 2.3 1.6 1.2 0.1 22.0 persen.1 23.2 2.3 1. 2005 − 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.9 13.5 4.2 0.0 29.4 0.6 persen dan 17.1 1.8 9.9 0.3 0.3 49.2 0. Kehutanan.4 4.0 100.

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. memerlukan penyerderhanaan sistem PPN. Pembiayaan syariah b. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-15 . 2. penyerahannya dianggap langsung. Persediaan yang tersisa pada saat pembubaran perusahaan Terbatas pada aktiva yang PPN pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. Perkembangan transaksi bisnis yang mengikuti kemajuan teknologi serta perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. 3. Pasal 5 ayat (1). KEBIJAKAN Pemerintah melakukan amendemen atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. DASAR HUKUM 1 . UU Nomor 18 Tahun 2000. TUJUAN 1 . 3. POKOK-POKOK PERUBAHAN UU PPN DAN PPnBM Uraian 1. 2. Seluruh aktiva. syarat semua perusahaan terdaftar sebagai PKP. Dikenakan PPN.1 AMENDEMEN UNDANG-UNDANG PPN DAN PPnBM NOMOR 42 TAHUN 2009 LATAR BELAKANG 1 . PPN dikenakan atas penyerahan seluruh aktiva. c. Dalam rangka restrukturisasi Dikenakan PPN pada setiap transaksi penyerahan. Undang-undang Nomor 62 Tahun 2009 tentang KUP. dan Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tidak dikenakan PPN. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. UU No 42 Tahun 2009 Ekspor BKP Tidak Berwujud dan Ekspor JKP dikenakan PPN dengan tarif 0%. 2. Menciptakan sistem perpajakan yang lebih sederhana. Penyerahan dan bukan penyerahan BKP a. 2.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. Dikenakan PPN. Istilah baru dalam objek pajak UU No 12 Tahun 2000 Tidak diatur. Pasal 20. sebagai bentuk penyederhanaan sistem perpajakan dan kepastian hukum. Penyerahan aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Dikenakan PPN terbatas pada penyerahan aktiva yang PPN terutang pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan.

Mengatur pengembalian pendahuluan bagi PKP Eksportir. 2. sayursayuran. 1. (3) Dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi. NonBKP dan nonJKP (pasal 4a) a. Memiliki omzet tertentu. Menjadi tidak dikenakan PPN. c. Restitusi untuk Turis Asing Tidak diatur. kecuali pasir dan kerikil (Psl 4A (2) huruf a). PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan dapat dikurangkan. Hanya mengatur untuk PKP yang menggunakan norma PPh. Melakukan kegiatan tertentu. Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 200%. bila terbit SKPKB. 10. 6. (2) Dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. 8. b. Retur atas penyerahan JKP Tidak diatur. dan PKP yang mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Deemed Pajak Masukan 2. Pengembalian Pendahuluan Hanya diberikan kepada WP Patuh dan WP dengan Persyaratan Tertentu. dan 2. PPN atas barang bawaan dapat direstitusi melalui bandara tertentu. pembiayaan. maka PM yang telah dikreditkan dan telah direstitusi harus dibayar kembali. 2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Uraian 4. menempatkan. (2) Dikonsumsi masyarakat tertentu. telur. Daging. Dikenakan PPN. PPN tidak dikenakan atas jasa keuangan (menghimpun. Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN Ditetapkan langsung di dalam penjelasan Undang-Undang (Pasal 4A). serta jasa boga/catering . III-16 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . yang berisiko rendah. Eksportir JKP. Dibebaskan dari pengenaan PPN. Pengkreditan Pajak Masukan (PM) a. b. dan buah-buahan UU No 12 Tahun 2000 UU No 42 Tahun 2009 Dibebaskan dari pengenaan PPN. Dalam hal PKP gagal berproduksi. Eksportir BKP tidak berwujud. yaitu PKP: (1) Eksportir. dan meminjam dana. pengiriman uang dengan wesel pos. (Psl 4A (3) huruf d). b. Pengkreditan PM atas BKP yang dialihkan dalam rangka restrukturisasi Tidak diatur (pada perubahan kedua UU PPN. Berlaku bagi PKP baik orang pribadi maupun badan yang: 1. Barang hasil pertambangan Tidak dikenakan PPN . Restitusi Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 75%. Kriteria BKP mewah (1) Bukan kebutuhan pokok. melalui Peraturan Pemerintah tentang BKP Strategis. d. Tarif PPnBM 9. (4b)) Seluruh PKP dapat melakukan restitusi pada setiap masa pajak (Psl 9 (4)). Deemed PM bagi PKP kegiatan tertentu belum diatur. 5. Sebelumnya ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah. Restitusi PKP lain pada akhir tahun buku. PKP bertambah: 1. a. c. penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. PKP dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. dengan syarat tertentu. Jasa tertentu PPN dikenakan atas jasa: penyediaan parkir. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 7. 11. Kriteria nomor 5 dihapus. Menghidupkan kembali rumusan Pasal 9 ayat (14) yaitu dalam hal restrukturisasi. telepon umum (koin). Hanya PKP tertentu. maka PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan dapat dikreditkan oleh PKP. Sanksi bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan. Seluruh PM (Pasal 9 (2a)). (5) Merusak kesehatan dan moral masyarakat. (4) Menunjukkan status. susu. ketentuan ini dihapus). a. penjaminan). Jasa keuangan PPN tidak dikenakan atas jasa perbankan. (3) Mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. serta mengganggu ketertiban. (Psl 9 (4a)) 1. b. (4) Belum berproduksi. Saat Pengajuan Restitusi (Pasal 9 (4a). PM yang boleh dikreditkan oleh PKP yang belum berproduksi Terbatas PM yang berasal dari perolehan dan/atau impor barang modal.

2. atau (2) Identitas pembeli. • Paling lama pada tanggal 15 setelah berakhirnya Masa Pajak. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan. Tanggung renteng Tidak lagi diatur dalam UU KUP dan UU PPN. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-17 . Meningkatnya penerimaan PBB terutama didukung oleh PBB pertambangan yang dalam periode 2005–2009 mengalami peningkatan ratarata sebesar 22. pemeriksaan dilakukan kemudian dalam hal diperlukan.3 persen. pemberian ijin berdasarkan pemeriksaan. atau (2) Identitas pembeli. Diatur dalam batang tubuh yaitu Pasal 13 ayat (9). Syarat formal & material Diatur dalam penjelasan Pasal 13 ayat (5)). Hanya ada istilah “Faktur Pajak”. Sementara itu. b. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa. 16. Saat pelaporan PPN Faktor utama yang mendorong terjadinya peningkatan penerimaan PBB adalah naiknya nilai jual objek pajak (NJOP) dari tahun ke tahun dan perluasan objek PBB. Saat penyetoran PPN b. Bebas PPN bagi penyerahan perak sebagai bahan baku kerajinan. Pemusatan tempat PPN 13. Saat Pembuatan FP Paling lama akhir bulan berikutnya atau pada saat pembayaran (Peraturan Dirjen Pajak). Impor barang yang Bea Masuknya dibebaskan tidak dipungut PPN dan PPn BM. d. 3. dan pertambangan. meskipun agak melemah pada tahun 2008 dan 2009. Perwakilan negara asing dibebaskan PPN dan PPnBM. Faktor yang mempengaruhi NJOP adalah harga pasar properti baik tanah maupun bangunan. Fasilitas perpajakan (pasal 16b) Belum ada dasar hukum untuk pemberian fasilitas kegiatan-kegiatan tertentu. Diatur kembali dalam UU PPN. Proyek Pemerintah yang dibiayai hibah LN tidak dipungut PPN dan PPnBM. 5. FP tersebut tidak dikategorikan sebagai FP cacat. UU No 42 Tahun 2009 Cukup dengan pemberitahuan oleh WP. Faktur Pajak (FP) a. kenaikan NJOP juga dipengaruhi oleh nilai produksinya. antara lain: (1) Identitas pembeli. Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan PBB pertambangan antara lain ICP yang cenderung naik dan jumlah areal pertambangan yang terus bertambah. peningkatan penerimaan BPHTB terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah transaksi jual beli tanah dan bangunan. 4. a. kehutanan. Fasilitas PPN bagi kegiatan penanggulangan bencana alam nasional. Pembebasan PPN bagi listrik & air. Jenis FP c. Sanksi atas pelanggaran syarat formal FP PKP akan dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memenuhi syarat formal FP. Diatur dalam Undang-Undang (Psl 13 (1a)) yaitu saat penyerahan atau pada saat pembayaran. serta nama dan tanda tangan (Pasal 13 ayat (5)). Jenis FP yaitu Standar dan Sederhana. 15. Sebagaimana diketahui. 6. Khusus untuk PBB sektor perkebunan. • Paling lama pada tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak. namun FP tidak dapat dikreditkan oleh pembelinya. 7. kegiatan usaha di bidang properti sempat mengalami booming pada periode 2005–2007. 14. serta nama dan tanda tangan untuk FP yang diterbitkan oleh pedagang eceran. PKP tidak dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memuat: (1) Identitas pembeli. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Uraian UU No 12 Tahun 2000 WP mengajukan permohonan. Memberikan dasar hukum atas pemberian fasilitas sebagai berikut: 1. 12.

9 0.2 % thd Total 27.2 67.4 24. 1.5 1.1 10. Sementara itu.5 3. TABEL III.9 0.8 0.4 0.0 2010 APBN-P 0.3 triliun dan Rp7.7 triliun pada tahun 2009.2 18.9 6.6 0.3 persen.9 22.6 0. (3) intensitas penindakan di bidang cukai.4 2.5 100.9 0. Perkembangan penerimaan PBB dan BPHTB dalam periode 2005–2010 ditunjukkan dalam Tabel III.6 71. Peningkatan penerimaan PBB tersebut terutama disebabkan oleh tingginya realisasi PBB pertambangan. PBB dalam APBN-P tahun 2010 mengalami peningkatan 4.4 5. Cukai Penerimaan cukai bersumber dari cukai hasil tembakau.0 Real.7 2007 % thd Total 7.9 0.8 21.6 2. 5.1 0. III-18 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .2 0. 1.2 0.2 0.1 100.8 3.3 17.5 69.7 0.1 7.5 20.1 triliun.7 4.9. (2) kebijakan lainnya di bidang cukai.7 3. kontribusi cukai EA mencapai 0.5 0. denda administrasi cukai. cukai ethil alkohol (EA).6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 40.8 0.6 19. penerimaan cukai didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 97.2 16. Sementara itu.1 1. Hal ini sejalan dengan tren penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap turunnya bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan kredit kepemilikan rumah (KPR).7 3.0 100.3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp56.1 persen.7 2.0 Real. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PBB Pedesaan PBB Perkotaan PBB Perkebunan PBB Kehutanan PBB Pertambangan PBB Lainnya Total Real.2 triliun pada APBN-P tahun 2010. cukai MMEA.3 2009 % thd Total 5.8 persen dengan rata-rata pertumbuhan 14.1 16.0 2008 Real. Penerimaan cukai mengalami peningkatan secara signifikan dalam periode 2005–2009.1 100.0 100. Dalam tahun 2010.7 persen. (4) peningkatan pengawasan administrasi pembukuan di bidang cukai oleh KPPBC.3 % thd Total 3.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan 16. 4.4 0.6 45.7 persen.6 0. 1.03 23. contohnya kebijakan yang terkait dengan penundaan pembayaran cukai. meningkatnya transaksi properti juga dipengaruhi oleh semakin mudahnya persyaratan pemberian kredit. Perkembangan penerimaan cukai hasil tembakau periode 2005–2009 menunjukkan kecenderungan meningkat yang terutama dipengaruhi oleh: (1) kebijakan di bidang tarif cukai dan harga dasar barang kena cukai.1 100. khususnya pertambangan migas.4 % thd Total 5. yaitu dari Rp33.6 0.4 0. (5) peningkatan pengawasan pengguna fasilitas cukai.1 0. Selain itu.3 0.00 25.3 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. tumbuh rata-rata sebesar 14.6 persen.7 0.3 20. Secara lebih rinci.5 0.0 0.7 18. dan cukai lainnya.7 67.4 5.5 0. dan cukai MMEA memberikan kontribusi sebesar 1. sedangkan BPHTB meningkat sebesar 10.00 24.5 0.5 16.02 25.8 0.0 Sumber : Kementerian Keuangan Apabila dibandingkan dengan realisasi 2009.4 50. PBB pertambangan ditargetkan sebesar Rp17.9 0.9 2006 % thd Total 27.0 Real.7 0. penerimaan PBB dan BPHTB ditargetkan sebesar Rp25.9 PERKEMBANGAN PBB. kenaikan penerimaan BPHTB pada tahun 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi di sektor properti. (6) optimalisasi pelayanan cukai dengan memanfaatkan teknologi informasi (sistem aplikasi cukai sentralisasi) dalam kegiatan pelayanan perizinan nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).

43.0 Real.9 0.2 0. TABEL III.9. Sigaret Putih Mesin (SPM) Total (a+b+c) Sumber : Kementerian Keuangan 2005 Real.2 15.02 0.3 16.8. Perkembangan realisasi cukai tahun 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.0 231. dan proses penyediaan sampai dengan pemesanan pita cukai.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 2.0 persen.8 2007 Real. kontribusi SKT mencapai 35.10 0.7 1. target penerimaan cukai dalam APBN-P tahun 2010 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2.1 2006 Real.7 16.9 0.3 persen dan selebihnya sebesar 1.10.01 0.6 0.0 248.5 persen).5 0.7 5. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Cukai Hasil Tembakau Cukai Ethil Alkohol (EA) Cukai MMEA Denda Administrasi Cukai Cukai Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Real.2 17.4 1.2 87.4 Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.0 2010 APBN-P 55.005 0.3 0.1 0.4 1.0 249. 125.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 1.016 0.3 % thd Total 94.4 0. Perkembangan produksi jenis rokok 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.8 persen.8 1.004 0. Sigaret Kretek Tangan (SKT) c.01 100. penerimaan cukai diperkirakan mencapai Rp59.11 PERKEMBANGAN PRODUKSI JENIS ROKOK.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 2.8 % thd Total 98.4 3.3 220. Penerimaan cukai tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.50 0.5 0. perkembangan produksi MMEA periode 2005–2009.6 78. Selanjutnya.015 51. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-19 .11. 37.7 84.4 0.5 216.9 0.0 2006 Real.010 56.3 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III penetapan tarif cukai hasil tembakau.3 2008 % thd Total 97.9 persen.0 0. 144. TABEL III.9 2008 Real.7 % thd Total 97. 32.1 0.7 2009 % thd Total 97.0 0.5 triliun (4.4 0.5 0. Dalam APBN-P tahun 2010.4 0.4 77. dan SPM memberikan kontribusi sebesar 6. dan (7) peningkatan pelaksanaan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dengan tujuan agar para stakeholder dapat lebih memahami ketentuan yang berlaku di bidang cukai. mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.0 1.00 0.003 33.012 0.9 13.01 0. 2005 – 2010 (miliar batang) Jenis Rokok a.7 0.5 88. 126.5 persen.028 44. Penerimaan cukai MMEA didominasi dari penerimaan MMEA dalam negeri dengan rata-rata sebesar 98.6 0. penundaan pembayaran cukai. penerimaan cukai hasil tembakau didominasi oleh SKM yang memberikan kontribusi ratarata sebesar 57.007 37.10 PERKEMBANGAN REALISASI CUKAI. Sementara itu.0 Berdasarkan pengklasifikasian jenis produksi hasil tembakau pada periode 2005–2009.000 59.4 2010 APBN-P 144.6 0.7 persen disumbangkan oleh MMEA impor.1 100.0 Real 49.0 100.5 0.1 0.002 0.000 0.03 0. 141.2 84.6 0.0 2007 Real.01 0.0 100.5 242.0 100. 131.7 0. 55. Perkembangan penerimaan cukai MMEA dan produksi MMEA dalam negeri 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III. Kenaikan produksi jenis rokok tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi jenis SKM. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.02 100.3 triliun.4 0. Sigaret Kretek Mesin (SKM) b.2 17.3 % thd Total 98.7 2009 Real.9 0. total produksi hasil tembakau pada tahun 2010 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai 6 miliar batang bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009.

1 927. Selanjutnya.0 2009 APBN-P persen tergantung pada jenis hasil 2010 Sumber : Kementerian Keuangan tembakaunya (SKM. 2005 – 2009 1.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.5 triliun 59. Faktor utama yang menyebabkan 58 56 kenaikan penerimaan cukai hasil tembakau 54 adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif 52 cukai yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 50 berkisar antara 9. penerimaan cukai hasil GRAFIK III. Peningkatan tersebut terjadi karena kebijakan penyesuaian tarif cukai untuk konsentrat yang mengandung EA sebesar 100 persen dan penetapan tarif cukai spesifik EA sebesar Rp20.4 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp0.000.03 triliun (8.5 687. penerimaan cukai MMEA dalam APBN-P tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp3.9 triliun atau triliun Rp 62 mengalami peningkatan sebesar Rp0. dan SPM). III-20 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .2 100 50 - 2005 Sumber : Kementerian Keuangan 2006 2007 2008 Penerimaan Cukai 2009 Produksi Secara lebih rinci. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan cukai MMEA adalah diterapkannya kebijakan penyesuaian tarif cukai MMEA dengan kenaikan tarif ratarata sebesar 228. peningkatan penerimaaan cukai hasil tembakau juga didukung oleh upaya pemberantasan rokok ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi 60 56. penerimaan cukai EA dalam APBN-P tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp0. Selain dipicu oleh kenaikan tarif tersebut.1 triliun (221. pencapaian tersebut juga didukung oleh upaya pemberantasan MMEA ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor.8 PERKEMBANGAN PENERIMAAN CUKAI MMEA DAN PRODUKSI MMEA DALAM NEGERI.9 tembakau dalam APBN-P tahun 2010 PENERIMAAN CUKAI. Selain itu. 2009 − 2010 diperkirakan mencapai Rp55.7 tahun 2009. Sementara itu.0 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp2.6 persen sampai dengan 21.5 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 228 202 203 184 232 250 200 150 Juta Lt miliar Rp 878. SKT.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah GRAFIK III. Penyesuaian tarif cukai MMEA dan EA dapat dilihat pada Boks III.4 568.2.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.3 (0.5 persen untuk MMEA impor.9 500.

dan konsentrat yang mengandung EA yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK. dan (5) menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri (DN) dengan MMEA impor secara bertahap.011/ 2010 tentang Penetapan Tarif Cukai Ethil Alkohol. Penjelasan Pasal 5 ayat 1 angka 5 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 mengatur bahwa minuman beralkohol tidak lagi termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah. Oleh karena itu.2 PENYESUAIAN TARIF CUKAI MMEA DAN EA Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.0 persen dan sebesar 200. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 100. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340.0 persen dan sebesar 214. Dasar penetapan tarif cukai atas MMEA dan EA diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang mengatur bahwa Barang Kena Cukai (BKC) dikenai cukai dengan tarif paling tinggi untuk produk DN sebesar 1. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-21 . Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan B1 dan B2 menjadi golongan B dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 500. Minuman yang Mengandung Ethil Alkohol. dan Konsentrat yang Mengandung Ethil Alkohol yang berlaku efektif sejak tanggal 1 April 2010.0 persen dan sebesar 33. Tarif cukai dapat diubah dari persentase harga dasar (advalorem) menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan BKC (spesifik).0 persen. MMEA. atau sebaliknya atau gabungan keduanya. Sedangkan untuk MMEA impor. (3) memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan A1 dan A2 menjadi golongan A dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340.3 persen. 2 .5 persen untuk produksi DN dan sebesar 160. Dalam rangka penyesuaian ketentuan tarif cukai atas MMEA dan EA. MMEA. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif cukai atas EA. 3 .150 persen x (nilai pabean + BM) atau 80 persen x HJE.3 persen.150 persen x harga jual pabrik atau 80 persen x HJE. (4) penyederhanaan penggolongan tarif cukai ke dalam satu golongan.0 persen.0 persen dan sebesar 120. perlu dilakukan perubahan kebijakan di bidang perpajakan dan cukai dengan melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penetapan tarif cukai atas EA. (2) menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. Sedangkan untuk MMEA impor. dan konsentrat yang mengandung ethil alkohol. Penyesuaian kenaikan tarif MMEA untuk golongan C sebesar 188. Pokok-pokok perubahan kebijakan penyesuaian tarif cukai yaitu: 1 . Tujuan dari kebijakan Pemerintah dalam melakukan penyesuaian tarif cukai spesifik atas MMEA dan EA yaitu: (1) untuk pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Cukai (BKC). dan untuk impor sebesar 1.0 persen untuk impor.

0 0.1 0.0 Bea Meterai Pajak Tidak Langsung Lainnya Bunga Penagihan Pajak Total Sumber : Kementerian Keuangan III-22 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .000 Dari semua jenis konsentrat. 2.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.3 2.000 100.0 persen.0 2010 APBN-P 3.000 20.03 2.000 30. 90/PMK.5 100.500 5. Perkembangan realisasi pajak lainnya tahun 2005–2009 dapat dilihat pada Tabel III. Penyesuaian kenaikan tarif cukai atas konsentrat yang mengandung etil alkohol masingmasing sebesar 100.000 *PMK No.001 0.7 100.12.3 % thd Total 97. dan golongan.57 100.002 0.000 50. 2.0 persen untuk produksi DN dan sebesar 100.0 Real.1 % thd Total 98.7 2007 % thd Total 95. 15% >15% s. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.001 0.12 PERKEMBANGAN PENERIMAAN PAJAK LAINNYA.000 26.7 0.04 2.6 0.4 0.000 100.0 Real.000 Rp 20.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11. c TABEL III.0 Real.4 0. Penetapan tarif cukai etil alkohol (etanol) untuk produksi dalam negeri dan impor dengan pengenaan tarif cukai spesifik sebesar Rp20.500 3. sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan MMEA Dari semua jenis etil alkohol.d.004 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 4 .06 2.000 75.06 2.1 3.000 10.2 1. meningkatnya realisasi penerimaan pajak lainnya dalam periode 2005–2009 dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan dokumen bermeterai.d.67 100.000 IMPOR Tarif Lama* (per liter) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.1 2.04 6.5 100.d.000 50. 2. kadar.0 persen untuk impor.01 0. kadar.8 0.000 50. DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG EA DALAM NEGERI Jenis BKC Gol Kadar Alkohol Tarif Lama* (per liter) A1 A2 MMEA B1 B2 C Konsentrat Yang Mengandung EA EA s. 1% >1% s. EA.000 130. 20% >20% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.04/2006 **PMK No.3 100. PERBANDINGAN TARIF CUKAI LAMA DENGAN TARIF CUKAI BARU ATAS MMEA.d.0 0.000 40.8 % thd Total 97. Secara umum.02 0.62/PMK.2 persen terhadap total penerimaan pajak lainnya.0 0.1 0.7 4.0 2006 Real.011/2010 Sumber: Kementerian Keuangan Pajak Lainnya Penerimaan pajak lainnya selama periode 2005–2009 menunjukkan adanya pertumbuhan rata-rata sebesar 11. dan golongan Rp 20.2 3. 5 . 3.2 0.1 3.000. 5% >5% s. Sebagian besar dari penerimaan pajak lainnya tersebut bersumber dari bea materai yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 96.3 0.0 2008 % thd Total 93.1 2009 % thd Total 97.500 5.000 30. 2.

.

Pemerintah telah melaksanakan penurunan rata-rata tarif bea masuk hingga menjadi 0. perkiraan realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2010 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp1.14. 2009 − 2010 18. kebijakan penurunan tarif juga terjadi sebagai konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara di Asia. Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan perjanjian regional plus one melalui kerjasama perdagangan ASEAN-China FTA (ACFTA) dan ASEAN-Korea FTA (AKFTA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 hingga mencapai rata-rata tarif sebesar 2.7 persen. GRAFIK III.13.0% 2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pertumbuhannya menurun sebesar 5. Pemerintah Indonesia juga melakukan perjanjian kerjasama perdagangan bilateral dengan Pemerintah Jepang melalui skema persetujuan kemitraan ekonomi antara Republik Indonesia dan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 mencapai rata-rata tarif sebesar 3.14 PENERIMAAN BEA MASUK.9 persen tahun 2005 menjadi 7. Sebagai implementasinya. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.9 persen dan 2.0% 10. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerapan kebijakan harmonisasi tarif bea masuk Most Favoured Nations (MFN). 2005 – 2010 12. Penurunan tersebut merupakan dampak penerapan kebijakan harmonisasi tarif (MFN) dan konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional.6 persen.0% 6.0% 18 17. dari 9.0% persen MFN triliun Rp 19 GRAFIK III. baik melalui kerjasama regional. Perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN dan kerjasama perdagangan internasional tahun 2005–2010 dapat dilihat dalam Grafik III.5 persen. Perjanjian kerjasama perdagangan regional dilakukan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT). Selanjutnya.5 persen). Dalam APBN-P tahun 2010.1 triliun. Selain itu.0% 4.0 triliun (5. Selain itu. regional plus one dan bilateral. Penerimaan bea masuk tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.5 persen pada tahun 2010. penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp17.1 ASEAN CEPT 8. Selama periode 2005–2010 perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN semakin menurun.9 persen untuk negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2010.13 PERKEMBANGAN RATA-RATA TARIF MFN DAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL. yang kemudian diperbaharui melalui skema ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA).0% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 15 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Keuangan Sumber : Kementerian Keuangan III-24 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 ACFTA 17 AKFTA 16 IJEPA 0.

.

3 PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Indonesia merupakan negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. volume ekspor biji kakao dari Indonesia meningkat rata-rata 3. 2000 – 2009 100 90 80 (Ribu MT) 4.8 persen.500 1.500 2.500 3.000 Export Volume (MT) 3. (2) melindungi kelestarian sumber daya alam.000 1. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK. sejalan dengan peningkatan harga internasional yang mencapai rata-rata 13. PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR DAN HARGA INTERNASIONAL KAKAO.000 2. industri pengolahan kakao dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir justru hanya mampu berproduksi sekitar 50 persen dari keseluruhan kapasitas produksi karena kurangnya pasokan bahan berupa biji-biji kakao mentah. Kerangka pengenaan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao serupa dengan struktur tarif bea keluar atas minyak kelapa sawit (CPO) dengan penetapan tarif bea keluar ekspor biji kakao berkisar antara 0-15 persen mengikuti perkembangan harga kakao internasional. dan (4) menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri. III-26 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah BOKS III. Perkembangan volume ekspor dan harga internasional kakao dapat dilihat pada grafik di bawah.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar yang berlaku efektif sejak 1 April 2010. Dasar pengenaan bea keluar atas barang ekspor diatur dalam Pasal 2A ayat (2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan tujuan untuk: (1) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri. (3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional. Dalam periode 2000–2009. Hampir 80 persen dari produksi biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah.000 500 0 (USD/MT) 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Kementerian Keuangan dan BPS Namun. Dalam upaya menjamin ketersediaan bahan baku dan daya saing industri pengolahan kakao dalam negeri.

terdiri atas: (1) pendapatan dan penjualan sewa.500 > 3. (3) pendapatan bunga. (b) besarnya/persentase kepemilikan saham Pemerintah dalam BUMN dan perseroan terbatas lainnya. Perhitungan dan perkembangan SDA migas dipengaruhi oleh (1) lifting minyak mentah dan gas bumi. melalui peningkatan pengelolaan dan akuntabilitas pelaporan keuangan.500 Sumber: Kementerian Keuangan 0 5 10 15 Perhitungan dan perkembangan dari masing-masing sumber PNBP tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel yang beragam. dan (4) upaya optimalisasi yang dapat dilakukan. (2) luas area dan volume produksi hasil hutan. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN merupakan penerimaan negara dalam bentuk (1) dividen dari perusahaan perseroan dan perseroan terbatas lainnya yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan (2) dividen dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri BUMN. (7) pendapatan iuran dan denda. Pengelolaan atas sumber PNBP lainnya tersebut sebagian besar dilaksanakan oleh kementerian negara/ lembaga. PNBP lainnya. antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika. yang sebagian besar merupakan bagian dari kelompok penerimaan kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah. (3) kualitas pelayanan yang diberikan dan administrasi pengelolaan PNBP yang secara tidak langsung meningkatkan jumlah objek pengenaan. penerimaan SDA nonmigas dipengaruhi oleh antara lain: (1) tingkat produksi dan harga beberapa jenis komoditas mineral dan batubara. Kementerian Pendidikan Nasional. (3) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. dan Kementerian Perhubungan. (3) tingkat produksi budidaya perikanan dan kegiatan operasi kapal penangkap ikan.500 > 2. Kepolisian Republik Indonesia. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. Sementara itu. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi.000 – 2. Kementerian Kesehatan. dan (8) pendapatan lain-lain. (5) pendapatan pendidikan.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TARIF BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Harga Internasional Kakao (USD/MT) Tarif Kakao (persen) ≤  2. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-27 . Selanjutnya.750 > 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bagian negara atas laba BUMN. Sementara itu. di antaranya: (a) tingkat laba BUMN dan perseroan terbatas lainnya yang diperoleh pada tahun anggaran sebelumnya. (2) pendapatan jasa. serta (4) kebijakan-kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PNBP. (2) tarif atas kegiatan pelayanan yang dilaksanakan dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah. dan (c) kebijakan pay-out ratio. dan (4) besaran cost recovery yang merupakan faktor pengurang penerimaan migas yang akan dibagihasilkan antara Pemerintah dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sesuai kontrak kerja sama (KKS). (2) Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang pergerakannya mengikuti tren harga minyak dunia.750 – 3. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi PNBP lainnya dari K/L antara lain: (1) jumlah objek pengenaan PNBP. Badan Pertanahan Nasional.

dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kinerja BUMN.2 triliun. PNBP diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 25. yaitu 54.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L. peningkatan terbesar terjadi pada penerimaan SDA migas. (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L. upaya dan kebijakan terutama difokuskan pada (1) pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal terhadap kegiatan usaha sektor hulu migas guna meningkatkan produksi/ lifting minyak bumi dan gas bumi. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh berkaitan dengan hal tersebut antara lain: (1) peningkatan modal kerja dan penyehatan perusahaan. berbagai langkah. PNBP ditargetkan sebesar Rp247. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006. III-28 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Selama kurun waktu 2005–2009. Upaya optimalisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN. Dilihat dari komposisinya. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. dan (c) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. (2) penyempurnaan ketentuan dalam kontrak kerja sama (production sharing contract) dengan tetap menghormati kontrak yang berlaku. upaya.0 triliun atau 8. Untuk penerimaan SDA. (3) penyelesaian audit oleh kantor akuntan publik (KAP) atas laporan keuangan BUMN diharuskan selesai lebih awal dari peraturan yang ada guna mengetahui secara awal definitif atas laba/rugi bersih BUMN.8 persen.13 memperlihatkan perkembangan total PNBP beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. (4) melakukan revisi tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada sektor sumber daya mineral dan meningkatkan produksi komoditas sumber daya mineral. selama 2005–2009 PNBP mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11. di tahun 2009 PNBP mengalami pertumbuhan negatif 29. serta (4) peningkatan sinergi antar BUMN guna meningkatkan daya saing.1 persen.5 persen. serta (6) mengoptimalkan penerimaan dari sektor perikanan dengan mempertimbangkan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pesisir/nelayan. Dilihat dari komposisinya. penurunan realisasi PNBP tahun 2009 lebih disebabkan oleh penurunan dari penerimaan SDA migas yang dipengaruhi oleh penurunan ICP yang signifikan pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan ICP pada tahun 2008. yaitu sebesar 20. dan kebijakan yang signifikan telah dilakukan oleh Pemerintah guna meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP.0 persen terhadap perkiraan penerimaan dalam negeri. (b) meningkatkan pengelolaan keuangan BLU yang efisien dan efektif. (3) monitoring. Optimalisasi PNBP lainnya selama 2005–2009 antara lain ditempuh melalui (1) optimalisasi PNBP pada K/L. (2) optimalisasi dividen pay-out ratio. Tabel III. dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya. Sementara itu. khususnya yang terkait dengan cost recovery. Secara keseluruhan. target tersebut meningkat sebesar Rp20. (3) memperkuat pengawasan penerimaan dari sektor migas oleh BP migas. Dalam APBN-P tahun 2010.6 triliun di tahun 2008 menjadi Rp227. yaitu dari Rp320. Namun.2 triliun. Dengan target tersebut.5 persen. (5) menggali potensi-potensi penerimaan yang ada di sektor kehutanan tanpa merusak lingkungan dan mempertahankan hutan. kebijakan mengenai pendapatan BLU difokuskan pada upaya untuk (a) mendorong peningkatan pelayanan publik instansi Pemerintah.

8 93.8 2. mengalami pertumbuhan tertinggi.1 35.0 29. penerimaan SDA memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif.6 12.0 9.Kehutanan .3 110.9 224.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.1 132.6 12. Penerimaan SDA Nonmigas II.2 2010 APBN-P 164.8 8.5 211.Perikanan .4 0.5 103.8 72.9 2. Sedangkan penerimaan SDA nonmigas diperoleh dari penerimaan pertambangan umum.4 2.7 12. penerimaan kehutanan. Selama periode 2005–2009. yaitu mencapai 63.9 2.1 63.4 139.7 320.2 10. PNBP Lainnya IV. Dalam lima tahun terakhir.6 169. TABEL III.5 43.0 53.14 PERKEMBANGAN PENERIMAAN SDA.8 30.2 0.8 9.0 2007 132.9 9. 2005 – 2010 (triliun rupiah) Uraian I.4 persen terhadap total PNBP.3 0.1 5.9 6. sebesar masing-masing 20.Panas Bumi Penerimaan SDA Sumber : Kementerian Keuangan 2006 158.0 227.8 6.9 0. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN III.8 8. Di tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan penerimaan SDA. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan SDA migas merupakan penerimaan yang bersumber dari penerimaan minyak bumi dan penerimaan gas bumi.3 3.8 13.1 0.0 2010 APBN-P 151.2 164.9 2008 211.5 2009 125.6 146. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Penerimaan SDA Migas . penerimaan SDA ditargetkan sebesar Rp164. Pendapatan BLU PNBP Sumber : Kementerian Keuangan 2005 110.1 23.7 151.7 13.5 39.14 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. penerimaan perikanan.8 triliun atau 18.2 0.2 8.4 21.1 0.7 103.9 2006 167.8 23.1 215.1 persen.Gas bumi Penerimaan SDA Nonmigas . Sedangkan di tahun 2008.5 persen.4 6.6 31.1 32.2 56. Penerimaan SDA Migas b.6 triliun bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007.0 42.1.5 9. penerimaan SDA memberikan kontribusi rata-rata sekitar 68. atau naik Rp91.1 0. yang terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas) dan penerimaan SDA nonmigas merupakan sumber utama PNBP.Minyak bumi .5 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-29 .9 124.7 2.5 247.7 13.0 125.13 PERKEMBANGAN PNBP. Dalam APBN-P tahun 2010.2.5 2. dan penerimaan pertambangan panas bumi.2 13.7 3.3 0.2 3.7 triliun.5 38.4 227.2.8 90.Pertambangan Umum .1 Penerimaan SDA Penerimaan SDA.1 2008 224.6 persen dan 38.7 112.2 26.9 persen. Penerimaan SDA a.1 125.1 9. perkiraan penerimaan SDA tersebut mengalami peningkatan Rp25.5 158.5 2007 124. Tabel III.2 167.2 3.8 29.6 2009 139.

.

.

.

Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. dan (c) perseroan terbatas terbuka (persero Tbk). realisasi penerimaan panas bumi mencapai Rp0. pertanian. hingga sekarang BUMN dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Dalam tahun 2009.2 triliun. (b) mengejar keuntungan. (d) agro industri. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. dan penerbitan. penerimaan dari pertambangan panas bumi memiliki potensi yang cukup besar mengingat Pemerintah terus mengupayakan pemanfaatan energi alternatif.0 persen penerimaan dari beroperasinya kapal-kapal perikanan asing. pada saat ini BUMN memegang lima peranan dalam ekonomi nasional.4 triliun. Dari sisi bentuk perusahaan. BUMN dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yang tersebar dalam 35 sektor usaha. Peningkatan penerimaan perikanan diupayakan melalui optimalisasi pelayanan dan penertiban perizinan usaha. sejumlah BUMN terus mengalami perubahan. telekomunikasi. dan masyarakat. Seiring perkembangan waktu. Dalam APBN-P tahun 2010. Dalam jangka menengah.0 persen. energi. (b) jasa lainnya. Dari sisi kelompok sektor usaha. khususnya energi panas bumi.0 miliar atau 63. kertas. Dalam beberapa tahun terakhir. yaitu: (a) perusahaan umum (perum). penerimaan pertambangan panas bumi merupakan sumber penerimaan SDA nonmigas yang mulai dicatat dalam penerimaan tahun 2008. 3. dijelaskan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. maupun kelompok sektor usaha. sedangkan dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp0.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sekitar 75.1. baik dari sisi bentuk perusahaan. serta (e) pertambangan. (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. yaitu kelompok: (a) jasa keuangan dan perbankan.2. (b) perusahaan perseroan (persero). perkiraan realisasi tersebut meningkat sebesar Rp58. Perusahaan asing boleh memiliki izin tangkap ikan hanya bila mendaratkan hasil tangkapan ke dalam negeri.2. penerimaan perikanan ditargetkan sebesar Rp150 miliar. percetakan. dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. dan mendirikan unit pengolahan di Indonesia. koperasi.2 Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Faktor lainnya adalah karena meningkatnya biaya operasi penangkapan ikan yang mengakibatkan banyak pengusaha kapal mengalihkan usahanya ke sektor lain sehingga mengurangi penerimaan dari pungutan hasil perikanan (PHP).2 triliun. yakni: (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. (c) bidang usaha logistik dan pariwisata. Kelima peran ekonomi tersebut merupakan amanah dari pasal 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. turun 39. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-33 .0 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Selanjutnya. (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Kebijakan penghapusan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk menghambat illegal fishing dan untuk memperkuat industri dan armada perikanan nasional. Target tersebut lebih rendah Rp0. kehutanan.

kinerja BUMN terus mengalami perkembangan positif.4 persen. opex tumbuh ratarata sebesar 288. pertumbuhan kredit perbankan.6 triliun.0 persen di sejumlah perusahaan. saham minoritas Pemerintah tersebar di 18 perusahaan yang di antaranya PT Indosat Tbk (14. pertanian dan perkebunan. Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN. Selama periode 2007–2010.0 persen.5 persen. Pemetaan laba/rugi berikut kategori BUMN dan perseroan minoritas disajikan pada Bagan III. yaitu sebesar Rp88. Kinerja BUMN selama periode tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal.4 persen). Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. Peningkatan laba bersih tersebut menunjukkan ketahanan (resilience) kinerja BUMN di tengah belum kondusifnya kondisi perekonomian tahun 2009 sebagai dampak instabilitas variabel makro seperti harga minyak. laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25. pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2009. dan belanja modal (capital expenditure/capex). PT Bank Bukopin (18. belanja operasional (operational expenditure/opex).Bab III Pendapatan Negara dan Hibah industri strategis. Data mutakhir Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24.2 persen).0 persen. dan total persentase rata-rata terhadap kapitalisasi pasar sebesar 34.1 PETA KINERJA BUMN DI TAHUN 2010 Bagi Dividen Tidak Bagi Dividen Akum Rugi ………………………………………………………………………………………… Sub-Total BUMN …………………………… BUMN 141 LABA 120 RUGI 21*  72  10  38  21  141  Kebijakan * BUMN yaitu PT ISI dalam proses likuidasi Minoritas  18  Sumber: Kementerian BUMN Bagi Dividen  Tidak Bagi Dividen  …………………………… 7  11  18  …………………………… Sub-Total Minoritas Selama periode 2005–2009. Hingga tahun 2010.3 persen). serta harga komoditas pertambangan. nilai tukar. PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia.1 persen. Ketiga BUMN baru tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset / PPA (persero).   BAGAN III. Dari total perolehan laba bersih tersebut. Selama periode tersebut. telah terjadi penambahan jumlah BUMN. Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas atau di bawah 51. sebagian III-34 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . laba bersih. perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas. baik dari aset. yaitu dari 139 BUMN menjadi 142 BUMN.6 persen. Dari sisi laba bersih seluruh BUMN. dan Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik. lebih besar bila dibandingkan dengan laba tahun 2008.1. dan PT Freeport Indonesia Tbk (9. total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10. dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50.

.

Sedangkan dalam APBN-P tahun 2010. 20 PT Pertamina menjadi BUMN 12. (7) pendapatan iuran dan denda.7 persen).2 triliun atau meningkat sebesar 23.3 triliun menjadi Rp8. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. 0 Selama periode tersebut. pelayanan. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 PT Pertamina membukukan laba Sumber : Kementerian Keuangan bersih rata-rata sebesar Rp22. sebagian PNBP yang dipungut oleh K/L dapat digunakan kembali oleh K/L yang bersangkutan setelah disetor ke kas negara terlebih dahulu. (2) pendapatan jasa. PNBP lainnya terdiri atas penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa. Selanjutnya dalam APBN-P tahun 2010.5 triliun.29 28.8 triliun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.1. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan.3 PNBP Lainnya Dalam struktur APBN. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan tersebut adalah meningkatnya pendapatan dari kegiatan hulu migas. (3) pendapatan bunga.5 triliun per tahun. Penetapan penggunaan PNBP tersebut didasarkan pada keputusan Menteri Keuangan tentang izin penggunaan PNBP yang bersifat spesifik pada masing-masing K/L.3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. yaitu dari Rp7. Peningkatan tersebut merupakan windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008. 3.25 PNBP BAGIAN PEMERINTAH ATAS LABA BUMN.8 triliun.2. 2005 – 2010 35 30 21. yaitu meningkat sebesar Rp18.8 15 penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap 10 tahun mencapai 45. realisasi PNBP lainnya rata-rata tumbuh sebesar 22.2. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN ditargetkan sebesar Rp29. Sumber utama PNBP lainnya berasal dari pendapatan Pemerintah yang diperoleh dari jasa pelayanan yang diberikan oleh K/L kepada masyarakat. sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah dunia. yang antara lain disebabkan oleh tingginya pendapatan penjualan dan sewa. triliun Rp GRAFIK III.7 persen 5 terhadap total dividen BUMN.9 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah perbankan sebesar Rp3. Dalam kurun waktu 2005–2009. (5) pendapatan pendidikan.5 25 Selama periode 2005–2010.4 23.6 29. Secara nominal. serta adanya setoran berupa pendapatan bagian Pemerintah dari sisa surplus Bank Indonesia di tahun 2009. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing K/L tersebut.22 31. PNBP lainnya ditargetkan mencapai Rp43. III-36 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 triliun (12. serta (8) pendapatan lain-lain. Perolehan laba tertinggi terjadi dalam tahun 2008 yaitu sebesar Rp30.3 triliun atau 19.5 triliun. peningkatan tertinggi terjadi dalam tahun 2007. dan pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan Pelayanan Publik. Perkembangan PNBP lainnya dan pendapatan BLU selama periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Target tersebut lebih rendah Rp10.15.

5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 sebesar Rp7.8 1.3 0.0 1.Pendapatan minyak mentah (DMO) . 2005 – 2010 (triliun rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 Kementerian/Lembaga Kementerian Komunikasi dan Informatika* Kementerian Pendidikan Nasional * Kementerian Kesehatan* Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Pertanahan Nasional Kementerian Hukum dan HAM Peneriman Lainnya.4 1.4 7.0 2. Sementara itu dalam APBN-P tahun 2010.3 2009 10.2 0.5 9. (4) pendapatan dari penyelenggaraan penyiaran.7 4.9 1. dan (5) pendapatan pendidikan. Perkembangan PNBP Kemenkominfo dapat dilihat pada Grafik III.4 1.3 1. khususnya yang berasal dari berbagai K/L.Penjualan hasil tambang .6 0.5 8. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.7 persen.4 1.0 1.2 7.6 2006 4.8 1.Rekening Dana Investasi (RDI) . antara lain: (1) pengenaan BHP frekuensi dengan metode lelang pada pita frekuensi yang potensial (bandwith wireless access).9 13.9 7.2 8.2 0. dan penyempurnaan peraturan pemerintah (PP) tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada K/L.7 1. PNBP Kemenkominfo ditargetkan sebesar Rp10. antara lain sistem monitoring frekuensi. realisasi penerimaan PNBP Kemenkominfo mencapai Rp10.Penerimaan lain-lain Total PNBP Lainnya * Termasuk pendapatan BLU Sumber: Berbagai Kementerian/Lembaga 2005 1.7 1. Pemerintah juga telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemungutan PNBP pada masing-masing K/L.3 53. (2) pembenahan database baik pengguna frekuensi maupun penyelenggaraan telekomunikasi.4 1.6 2.9 8.3 2. otomatisasi sistem manajemen/perizinan frekuensi dan alat pengujian.4 1.9 5. meningkat sebesar Rp2.2 1.1 5.5 1.2 3.4 3. jenis penerimaan PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terdiri atas: (1) pendapatan hak dan perizinan (biaya hak penyelenggaraan frekuensi).0 2.5 6.2 0. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya penggunaan spektrum di pita seluler oleh para operator seluler.7 9.2 9.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.0 2007 5.5 2.7 triliun.9 2008 7. dan (5) pembaharuan dan penambahan instrumen secara bertahap.8 7.7 4.5 0. (3) melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi berkenaan dengan kewajiban pembayaranPNBP.15 PERKEMBANGAN PNBP LAINNYA.5 1.5 38.4 23. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. seperti: .5 3.6 13. selain dengan penetapan.9 2.5 23. perbaikan. (3) pendapatan jasa sewa sarana dan prasarana.1 triliun.0 0.5 Dalam rangka pencapaian target PNBP 2010.0 2.26. Sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika.Surplus BI .8 63.1 3.8 2010 APBN-P 10.7 8. (4) penegakan hukum secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi yang tidak mematuhi ketentuan perundangan.3 56. Selama periode 2005–2009. PNBP Kemenkominfo mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53.3 6. pelatihan.0 1.4 triliun atau 30. jenis penerimaan yang berlaku di Kementerian Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-37 . (2) pendapatan jasa penyelenggaraan pos dan telekomunikasi (biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi).9 43. Dalam tahun 2009. dan penghapusan aset.5 6.3 triliun.

1 10. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Kesehatan.3 2 antara lain: (1) meningkatkan kapasitas 0. ekonomis. Adapun pertumbuhan rata-rata selama 2005–2009 mencapai 101. (5) penerimaan dari jasa pemeriksaan air secara kimia lengkap. (6) penerimaan dari jasa balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4). PNBP Kemendiknas ditargetkan 3.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terdiri atas: (1) penerimaan dari penyelenggaraan pendidikan.27. rata-rata sebesar 45.2 sebesar Rp6. dan (9) penerimaan dari jasa pelayanan rumah sakit.1 4 1. III-38 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .5 persen. (3) meningkatkan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmu pengetahuan. efisien. transparan. (2) penerimaan kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN).0 5.3 triliun. serta dunia industri.4 triliun. Dalam tahun 2009. (2) penerimaan dari pemberian izin mendirikan rumah sakit swasta. realisasi PNBP Kemenkes mencapai Rp3.7 6 4.4 triliun atau 13. Perkembangan PNBP Kemendiknas dapat dilihat pada Grafik III. lembaga Pemerintah atau non-Pemerintah. jenis penerimaan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terdiri atas: (1) penerimaan dari pemberian izin pelayanan kesehatan oleh swasta. dan (4) penerimaan dari sumbangan hibah perorangan. meningkat Rp0.8 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008.8 4 3. teknologi dan seni. Dalam tahun 2009. (4) mendukung upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang tertib.27 PERKEMBANGAN PNBP KEMENDIKNAS. Target tersebut 3 didukung oleh beberapa kebijakan.7 5. (4) penerimaan dari jasa pemeriksaan laboratorium. triliun Rp 10 GRAFIK III. (3) penerimaan dari jasa pendidikan tenaga kesehatan. (3) penerimaan dari hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan.9 dan daya tampung perguruan tinggi. taat pada peraturan per Undang-undangan. (7) penerimaan dari jasa balai kesehatan mata masyarakat (BKMM).4 Sementara itu dalam APBN-P tahun 5 2010.7 triliun. 2005 – 2010 6. 2.0 triliun.6 persen per tahun.3 8 7. 1 (2) meningkatkan pelaksanaan 0 berbagai program kegiatan kerjasama. Sedangkan pertumbuhan PNBP Kemendiknas selama periode 2005–2009.8 2 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Kominfo triliun Rp 7 6 GRAFIK III. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi pada tahun 2008 yang mencapai Rp4. 2005 – 2010 10. realisasi PNBP Kemendiknas mencapai Rp5.26 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKOMINFO. efektif. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 baik antarinstansi maupun lembaga Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional non-Pemerintah. (8) penerimaan dari uji pemeriksaan spesimen. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

5 0. Pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui kebijakan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis Lantas dan pendidikan pelatihan fungsional Lantas.0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia APBN-P 2010 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-39 . 1. ditargetkan sebesar Rp4. 2 (b) menggali potensi PNBP melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi. 0 dan (d) meningkatkan pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 kesehatan yang terintegrasi sesuai Sumber : Kementerian Kesehatan standar yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. kendaraan patroli roda 2/roda 4.5 1. antara lain 3.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Sementara itu. 1.7 melalui kegiatan Citra Polantas. 2005 − 2010 menambah membangun jaringan triliun Rp Automatic Traffic Management Center 2. jenis penerimaan yang berlaku di BPN terdiri 0. PNBP Polri ditargetkan sebesar Rp2. PNBP Kemenkes GRAFIK III. (7) izin senjata api (Senpi). (4) meningkatkan kinerja dengan GRAFIK III.29. dan Papua.8 1. (5) bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB). dan (5) melaksanakan 2.0 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional (BPN). komputer Samsat dan alat cetak TNKB.9 3 manusia dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pelayanan. (2) meningkatkan infrastruktur pendukung pelaksanaan operasional Polri di bidang lalu lintas berupa pengadaan Alsus Polantas.5 1. kendaraan uji SIM roda 2/roda 4. kendaraan patwal roda 2/roda 4. Perkembangan PNBP Kemenkes dapat dilihat pada Grafik III.0 (a) peningkatan sumber daya 2. Dalam APBN-P tahun 2010.4 sakit untuk menuju kemandirian 0. jenis penerimaan Polri terdiri atas: (1) surat izin mengemudi (SIM). (6) simulator.28.28 dalam APBN-P tahun 2010.29 PERKEMBANGAN PNBP POLRI. driving simulator.5 di wilayah Jawa. (4) surat tanda coba kendaraan (STCK). Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.0 Perpolisian Masyarakat (Polmas) 1. (8) kartu sidik jari.2 komputerisasi administrasi keuangan.0 Target tersebut didukung oleh 4 beberapa kebijakan. mobil unit laka Lantas. Maluku Utara.3 3.2 Perkembangan PNBP Polri dapat dilihat pada Grafik III. triliun Rp 2005 – 2010 4. 1 (c) peningkatan cost recovery rumah 0.4 1. mobil unit pelayanan SIM.0 triliun. dan (9) denda pelanggaran lalu lintas.0 2. (3) melanjutkan pembangunan jaringan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) meliputi wilayah Kalimantan. PERKEMBANGAN PNBP KEMENKES.0 triliun. (3) tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB). (2) surat tanda nomor kendaraan (STNK).

30.5 1. jenis penerimaan Kemenkumham bersumber dari penerimaan (1) pelayanan jasa hukum. PNBP Kemenkumham mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18.7 0. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). (3) keimigrasian. (4) hak dan kekayaan intelektual. (2) pelayanan pemeriksaan tanah.2 0.2 0. Perkembangan PNBP Kemenkumham dapat dilihat pada Grafik III. (6) pelayanan pendidikan. Dalam APBN-P tahun 2010. antara lain 0. (3) pelayanan informasi pertanahan. realisasi PNBP Kemenkumham mencapai Rp1.31.6 1.4 biaya pelayanan.5 1. PNBP Kemenkumham ditargetkan sebesar Rp1.8 0. Dalam tahun 2009. jangka waktu.6 GRAFIK III.7 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp1. 2005 − 2010 ditargetkan sebesar Rp1. serta (5) jasa tenaga kerja narapidana. (4) pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya. Pencapaian tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat yang berimbas pada minat dan kesadaran masyarakat terhadap kepastian hukum. UKM. yaitu 1. Rata-rata pertumbuhan PNBP BPN periode 2005–2009 mencapai 23. sama dengan realisasi tahun 2008. Perkembangan PNBP BPN dapat dilihat pada Grafik III.2 triliun atau 16. 2005 − 2010 1.6 melalui peningkatan transparansi informasi tentang persyaratan. triliun Rp antara lain: (1) PNBP murni. Dalam APBN-P tahun 2010. meningkat sebesar Rp0. dan memfokuskan pelayanan pertanahan yang dibiayai dengan sumber dana publik.8 1. pengukuran. (2) balai harta peninggalan.8 0.2 0.31 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKUMHAM. triliun Rp 1.5 triliun. dan (7) pelayanan lisensi. dan pemetaan. PNBP BPN GRAFIK III.5 triliun.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah atas (1) pelayanan pendaftaran tanah. sertifikasi tanah pertanian dan nelayan pada daerah tertinggal dan ekonomi lemah.4 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Hukum dan HAM III-40 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Realisasi PNBP BPN tahun 2009 mencapai Rp1. Target tersebut didukung dengan kebijakan antara lain: (1) melakukan inventarisasi seluruh potensi PNBP pada kantor atau unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan Kemenkumham. dan (2) optimalisasi pembangunan sarana dan prasana untuk mendukung tugas dan fungsi Kemenkumham. (5) pelayanan survei. dan 0.8 negara.9 0. (2) PNBP fungsional.2 triliun. Selama periode 2005–2009.4 triliun.9 persen.7 0.9 0.4 meningkatkan penertiban pengelolaan PNBP dan penertiban pencatatan aset-aset milik 1.30 PERKEMBANGAN PNBP BPN. penerapan model pelayanan “jemput bola”.4 1. peningkatan 0. seperti PRONA. Target tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.7 persen.4 triliun.0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P kapasitas kemampuan petugas ukur dan 2010 Sumber : Badan Pertanahan Nasional pendataan yuridis termasuk melibatkan para surveyor berlisensi.

.

7 triliun. Pada tahun 2011. Sebagai kontributor utama penerimaan dalam negeri. (4) peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 3. (5) perbaikan sistem informasi.6 triliun dan hibah Rp3.086. Beberapa kebijakan yang diambil untuk mencapai target tersebut adalah (1) penggalian potensi perpajakan. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp1. ketidakpastian perkembangan harga minyak dunia yang akan berpengaruh terhadap tingkat harga juga akan memberikan pengaruh terhadap upaya pencapaian target penerimaan migas. Penerimaan dalam negeri yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP. penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna mengetahui posisi rugi/laba BUMN. pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2010. Prospek pulihnya perekonomian menjadi salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan sumbersumber pendapatan negara. terdiri atas penerimaan dalam negeri Rp1. (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak. PNBP diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan III-42 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . terutama didorong oleh penurunan penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN. dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. perbaikan administrasi pelaporan keuangan.082. dan (3) peninjauan atas jenis dan tarif.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011 Pendapatan negara dan hibah sangat penting sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam rencana kerja Pemerintah (RKP). Untuk itu. menjadi pilar utama dari pendapatan negara dan hibah. Apabila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. target dalam tahun 2011 tersebut mengalami peningkatan sebesar 9. Sumber utama peningkatan tersebut diharapkan berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan meningkat sejalan dengan dilakukannya berbagai extra effort. penerimaan perpajakan diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Pemerintah perlu berupaya melalui kebijakan dan perbaikan administrasi guna lebih mengoptimalkan pencapaian target PNBP tahun 2011.5 persen. dan intensifikasi penarikan PNBP K/L.3 Tantangan dan Peluang Kebijakan Pendapatan Negara Proses pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2010 memberikan landasan yang cukup kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia pada tahun-tahun selanjutnya. serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA.4 triliun. (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. pendapatan negara dan hibah diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010. 3. meskipun masih terdapat tantangan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi global terkait dengan terjadinya gejolak pada sektor keuangan di beberapa negara kawasan Eropa. Berdasarkan kondisi perekonomian nasional tersebut. (2) pengoptimalan penerimaan Pemerintah atas laba BUMN melalui optimalisasi pay-out ratio. Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2011. Di samping itu. dan opsi dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh cukup stabilnya fundamental ekonomi makro nasional dan juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dunia. Upaya Pemerintah tersebut melalui (1) pengoptimalan lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi. Dalam tahun 2011.

Penerimaan Dalam Negeri 1.9 4.5 5.3 27.4 14.4.4 0.9 0. Selain itu. Bagian Laba BUMN c. Nonmigas b.8 5.1 0.5 persen).8 22.9 4. Bea keluar 2.6 triliun pada tahun 2011. TABEL III.1 Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1.2 145.3 0.4 0.5 743.8 263.7 0.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011 Sebagaimana tahun 2010.7 151.4 0. kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan.4 0.4 306.6 0.1 243.9 3.2 0.6 839.2 0.7 % thd PDB 15. Pendapatan BLU II.9 RAPBN 1. Pajak Dalam Negeri i.5 9.3 720. Penerimaan SDA i.2 360. atau meningkat 9.3 0. dan selebihnya merupakan kontribusi dari PNBP sebesar Rp243.2 23.1 158.4 1.7 4.1 0.4.8 11. Sebagian besar dari target penerimaan dalam negeri tersebut merupakan kontribusi dari penerimaan perpajakan.082.1 4.0 5. Migas ii.8 0.3 7.5 persen). serta perbaikan mekanisme keberatan dan banding.086.7 0.0 0. perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-43 .1 18.5 12. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I.6 2.1.5 2.1 5. Pajak lainnya b. PNBP Lainnya d.3 12.9 15.7 13.3 2.2 164.2 0.1 triliun (22.5 816. Penerimaan Perpajakan a. Cukai vi.5 15. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2011 % thd PDB 15.2 59. yaitu sebesar Rp839.7 5.9 11. Pajak Bumi dan Bangunan iv.1 3.3 0. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).5 1.9 0.1 4.1 0. Bea masuk ii. Penerimaan Negara Bukan Pajak a.0 60. penggalian potensi perpajakan.2 0. Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010–2011 dapat dilihat pada Tabel III.1 3. Pajak pertambahan nilai iii.4 0.9 26. 3.6 17. peningkatan pemeriksaan pajak.0 2.0 11.9 0.4 990.3 309.5 247.6 43. BPHTB v.5 0.4 414.0 APBN-P 992.5 54. Pajak penghasilan Migas Nonmigas ii.16.082.0 29.3 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010.16 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH.4 0.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III administrasi perpajakan.5 triliun (77.1 0.5 43.2 0.8 362.2 55.3 3. Pajak Perdagangan Internasional i.0 25.

melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal. beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup. Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II. dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. Khusus di bidang kepabeanan. optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor. Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. (3) otomatisasi pelayanan. terutama jalur rawan penyelundupan. optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. Bandara Soekarno Hatta. Selanjutnya. Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak. (3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar. dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance). dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok. Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. Makasar dan Belawan). Selain kelima upaya tersebut. beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah. dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Selain itu. Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan. Tanjung Emas. guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang. Tanjung Perak. antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru. Undang-undang Kepailitan. (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai. antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). (2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang. (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP. Selanjutnya. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan. III-44 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Tanjung Perak. Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013). (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok. serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit. Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011. (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan. Dalam hal ini. (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP). (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu. dan Belawan). (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu.

(2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9. dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011. otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal. PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17. dari target APBN-P tahun 2010.5 triliun.1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh.300 per USD. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011 Pada tahun 2011. PPh ditargetkan mencapai Rp414.5 triliun.2 triliun. Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011.9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. dan (4) tingginya tax compliance masyarakat.0 triliun. dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1.2 persen. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor. penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839. Sementara itu. yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1. Secara umum. (2) perbaikan administrasi pajak. dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014.4 persen. faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-45 . pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai. baik secara global maupun domestik. hingga mencapai Rp360. akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi. PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1.3 triliun. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai. Selain itu.0 triliun.5 triliun pada tahun 2011. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada: (1) asumsi ICP USD80. atau meningkat 12. Khusus di bidang cukai. PPh migas ditargetkan mencapai Rp54. (3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Pada tahun 2011. melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran. atau 13. serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai. serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan. target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2.5 triliun. penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3. pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A.0 per barel. optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai. kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus. (2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. atau meningkat 14. dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph. kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau.

4 95.3 7.3 persen. Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6. sektor keuangan. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.1 9. Sementara itu. Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri.6 0.5 8.6 20.5 29.3 triliun.0 150.0 18. Real Estate.0 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.8 8. target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309.6 3.0 RAPBN 12.3 persen. dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6.1 9. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak.2 8.0 6.1 308.5) (20.5 17.8 26.1 Perk.7 0. transaksi yang offline serta restitusi Pada tahun 2011.9 3.0 0.8 22.2 5.9 % thd Total 3. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y (8.2 (12.9 100. dan benchmarking.7) (19.3 9. profiling.1 2. hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39.4 2. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.3 19. di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9.4 triliun. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.7 23. Peternakan. atau meningkat 17. 9.4 0.2 3. Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III.7 5. (2) perluasan basis pajak.8 22. Hotel. real estate. (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait III-46 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23. (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak.0 triliun. dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5.6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010. Real.3 8.3 2. sektor perdagangan.0 100.3 triliun. Gas.5 1.0 12. dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66.2 14.9 persen.1 18.2 6.8 triliun (21.3 17.7 19.7 25. bahan bakar nabati.1 30. dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan.7 persen) dengan pertumbuhan 8.6 5.0 y-o-y 34.6 28.8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22.4 % thd Total 4.2) 32.7 31.7 29.5 7.8 0.6 persen.8 7.3 77.4 258. terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95.1 persen atau Rp49. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.17.9 21.8 2.1 66. Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi.5 triliun.2 12.6 persen.1 triliun (30.4 61.0 triliun (12.7) 24. Kehutanan. Dalam target PPN dan PPnBM tersebut. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.1 30.8 23. target tersebut meningkat sebesar 19.7 39.5 7. TABEL III. Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308. Selanjutnya.6 4.0 3.7 49.17 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.7 8.2 0.

2 0. Gas.2 triliun (46.2 3. Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27.6 21.3 12.18.7 triliun pada tahun 2011. 3.3 2.2 28.4 31.1 12.9 1.2 85. sebagai komponen terbesar. sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III kebutuhan eksplorasi hulu minyak.8 15.4 181. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 (42.3 % thd Total 2.8 triliun.1 3.7 persen.9 1.4 43.3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.6 6. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-47 . Sementara itu.7 persen.2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III. atau naik 21.9) 55. Hotel.0 15.6 persen dan sektor perdagangan.1 46. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 9.0 y-o-y 18.9 0.8 7. Real. Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26.3 0. Secara lebih rinci.6 2.4 8.4 triliun (17.8 26.2 triliun (30.3 152.0 58.1 Perk. sektor industri perdagangan.1 18.7 triliun atau meningkat sebesar 23.9 18.4 6.3 100. serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32. Secara umum.9 12. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Peternakan.4 11.9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.4 12.18 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.7 RAPBN 3.1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.1) 6.1 30. transaksi yang offline dan restitusi Pada tahun 2011. dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0.8 triliun.7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010. Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar.8 7. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut.9 1.4 (83.6 7.9 2.0 triliun (61. atau meningkat 9.3 0.3 0. Real Estate.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.8 100.3 0.5 % thd Total 2. TABEL III. PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20. penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85.1 44.1 19.7 50.4 persen.5 4.1 0.9 6. 2010 – 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.1 32.1 56.2 0. Kehutanan.7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28.3 78.5 37. peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia. hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36.2 1.4 43.4 24.4 14.9 2. gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2.4 0. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.5 triliun atau meningkat sebesar 19.7 17.2 67.8 2. Selanjutnya.5 4.7 15. sebagai kontributor terbesar kedua.1 28.2 1. penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15. hotel.2 7.3 triliun (7.2 persen.5 triliun.0 12.19. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.

1 triliun.7 1.5 49.5 0.1 triliun atau 5. Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang belum jelas batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 366.0 (2. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri.3) 21.4 0.2 2.3 2.0 0.9 28.2 triliun.3 3.3 persen.0 117.3 0.0 100. dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional.6 1. Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18.4) 124.9 persen.7 23.4 (8.1 0. dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal. Peternakan.2 11. dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2.3 2.2 persen. Pada tahun 2011.0 triliun.2 0.4) 45.3 1. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai.0 y-o-y 47. didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3. pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4. dan kelestarian sumber daya alam.5) 38.8 (9.19 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.9 Perk.9 2.9) 62.4 (85. maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011.7 (13.2 1. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60.2 0. Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2.3 0.2 (70.9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target III-48 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 4.2 (45.9 (0.0 RAPBN 0.0 36.0) 14.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III. terjadi peningkatan sebesar 5.7 triliun.2 1.9 30. bea keluar ditargetkan mencapai Rp5.0 29.7 0.9 0.9 28. stabilitas harga nasional. Dalam tahun 2011.0 61. 0.8) 51.2 0.2 0.4 persen.0 59. (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA. target cukai 2011 mengalami peningkatan 2.3 1.1 0.5 (40.6 0.0 % thd Total 0.0 triliun. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010.0 0.7 triliun. Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9. atau 9.7 10. 2010-2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.1 0.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010.1 3.2 0. transaksi yang offline dan restitusi Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah.3) 318. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6. terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58.0 95.6 0.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.5 0.0 0.7 % thd Total 0. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010.1 0.0 100. Real.6 2.0 72. Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau.300 per USD. (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai.0 62. Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara. Kehutanan dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.1 0.6 0.4) 54.

.

.

Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas.0 miliar atau 33. meningkat sebesar Rp111. (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu. antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif. (2) penanggulangan illegal fishing. akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011. Namun. Terkait dengan hal tersebut. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan. dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain.3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP). Untuk BUMN sektor perbankan. Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi. kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya. Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-51 .Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sebesar Rp50. Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356. upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha. (9) peningkatan pelayanan. (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan.1 miliar. (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI). Di samping itu.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. BUMN Sektor Perbankan. (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas. sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK. (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan. (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP.7 miliar atau 45. peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan. Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu. Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan. Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010. dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan. termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP).

PT Taspen. dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat. besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26. dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen.6 triliun. Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia. PNBP Lainnya Dalam tahun 2011. tidak diambil dividennya. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. dan PT Asabri diterapkan POR nol persen. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III. (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui. (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi. (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen. (b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan. khusus PT Jamsostek. Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN.5 triliun. sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43. Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian. terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba. (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen. PT Askes. dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut. Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian. yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi. dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi. Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN. (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen. dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS.4 triliun. untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan. Prospektus IPO). (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen. III-52 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .36. target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011.

.

akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah.5 0. serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah (4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi. III-54 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .38.0 0. (c) melanjutkan upgrade jaringan Satpas termasuk SIM keliling.5 1. keselamatan. (b) melanjutkan pembangunan jaringan online Samsat di seluruh Polda. GRAFIK III. dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor.8 triliun atau 39. Dalam tahun 2011. STNK.8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6.0 triliun. target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2.8 2.7 Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain: (a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi. meningkat Rp0. ketertiban. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.0 APBN-P 2010 RAPBN 2011 2.38 PNBP KEMENDIKNAS. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM. dan kelancaran berlalu lintas. terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan.8 triliun. 2010 − 2011 triliun Rp 3.39 PNBP POLRI. GRAFIK III.7 triliun. PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10.0 triliun atau 59. dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi. (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi.7 6. dan (d) melaksanakan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui kegiatan Citra Polantas.0 1. Dalam tahun 2011. serta pemberlakuan Undangundang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4.0 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indone sia Secara garis besar.8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2. 2010 − 2011 triliun Rp 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Ke menterian Pe ndid ikan Nasional RAPBN 2011 10.5 2. yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan. kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah (a) meningkatkan kemampuan SDM Polri melalui pendidikan dan pelatihan.39.7 triliun. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan.0 2.

1 triliun atau 6. GRAFIK III. (3) menambah jumlah negara subjek VKSK menjadi 62 negara. PNBP Kemenkumham direncanakan sebesar Rp1. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya kunjungan dan izin tinggal orang asing di Indonesia. Penerimaan ini lebih tinggi Rp5. Dalam tahun 2011. dan (5) melakukan perjanjian kerjasama dengan bank BUMN untuk penerimaan biaya VKSK. sebagian besar pendapatan BLU tahun 2011 berasal dari pendapatan jasa pelayanan pendidikan yang direncanakan sebesar Rp7.5 triliun.0 1. 2010 − 2011 triliun Rp 2.40 memperlihatkan target PNBP BPN tahun 2010 dan 2011.3 Pencapaian target PNBP BPN tahun 2010 0.4 ` 1.42.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. GRAFIK III. jangka waktu pelayanan. dan biaya pelayanan.2 0. Penurunan tersebut disebabkan oleh dihapuskannya PNBP dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah berupa uang pemasukan kepada negara.6 1.3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. naik Rp0.6 Secara garis besar.5 1. (b) peningkatan kapasitas kemampuan pelayanan dengan penambahan petugas ukur dan pendataan data yuridis.6 triliun.8 0.2 triliun atau 13.5 triliun. turun Rp0.41.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III PNBP BPN dalam tahun 2011 direncanakan mencapai Rp1. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh bertambahnya jumlah perguruan tinggi negeri yang menerapkan pola BLU dan telah diterapkannya pola pengelolaan BLU oleh seluruh rumah sakit Pemerintah. Perkembangan pendapatan BLU tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.2 0.5 1. (2) menambah jumlah tempat pemeriksaan imigrasi dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK).6 1. Grafik III.0 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp9.5 triliun. (4) mengembangkan otomatisasi sistem pelayanan hak kekayaan intelektual.0 APBN-P RAPBN didukung oleh (a) peningkatan kegiatan sosialisasi 2010 2011 dan transparansi pelayanan kepada masyarakat Sumber : Badan Pertanahan Nasional yang mencakup informasi tentang persyaratan.8 triliun.40 PNBP BPN. Pendapatan BLU Pendapatan BLU dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp14. 2010 − 2011 triliun Rp 1.41 PNBP KEMENKUMHAM.4 1.9 triliun. Perkembangan PNBP Kemenkumham tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.8 0.4 triliun atau 57.3 triliun. dan jasa Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-55 . Dilihat dari sumber perolehannya.0 APBN-P RAPBN akan ditempuh untuk mencapai target tahun 2011 2010 2011 tersebut adalah: (1) peningkatan pelayanan kepada Sumber : Kementerian Hukum d an HAM masyarakat melalui penambahan kantor imigrasi. pokok-pokok kebijakan yang 0. serta (c) penerapan model pelayanan kantor pertanahan bergerak pelayanan rakyat sertifikasi pertanahan (LARASITA).

4 APBN-P RAPBN triliun.8 dari PT Pertamina dan PT PLN (Persero) 1.2 0.4.2 3.9 triliun.9 triliun. GRAFIK III.6 sistem administrasi dan pencatatan 3.8 triliun atau 97. di antaranya: (1) meningkatkan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.7 perubahan iklim serta semakin efektifnya 3. pendapatan dari jasa penyelenggaraan telekomunikasi direncanakan mencapai Rp1.9 juga. Selain itu 2. dikarenakan menampung hibah aset 1. Sementara itu.5 14.2 Penerimaan Hibah Penerimaan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp3.6 yang akan digunakan untuk PMN terhadap PT Geo Dipa Energi sebesar Rpo.4 triliun.42 PENDAPATAN BLU. 2010 − 2011 triliun Rp 16 14 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Kementerian Keuangan RAPBN 2011 9.9 3.43 memperlihatkan 2010 2011 perkembangan target hibah 2010 dan Sumber : Kementerian Keuangan 2011.4 1. Secara umum.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pelayanan rumah sakit yang diperkirakan mencapai Rp3. Peningkatan tersebut GRAFIK III. (2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan BLU. Grafik III.43 antara lain dipengaruhi oleh semakin PENERIMAAN HIBAH. Target tersebut lebih tinggi Rp1. pencapaian target pendapatan BLU tahun 2011 didukung oleh kebijakan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BLU.2 persen jika dibandingkan dengan target APBN-P 2010 sebesar Rp1. 2010 − 2011 tingginya komitmen negara donor untuk membantu Indonesia terkait masalah triliun Rp 4. III-56 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .0 penerimaan hibah dalam APBN. serta (3) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah.7 triliun.