Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

BAB III PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum
Dalam periode 2005–2009, realisasi pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen, didukung dengan peningkatan penerimaan dalam negeri dan hibah yang masing-masing tumbuh rata-rata 14,4 persen dan 6,3 persen. Penerimaan dalam negeri terutama berasal dari penerimaan perpajakan yang memberikan kontribusi rata-rata 68,9 persen dengan pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi rata-rata 31,1 persen dengan pertumbuhan rata-rata 11,5 persen. Meningkatnya realisasi pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2009 tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah. Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan. Sebagai kontributor utama bagi penerimaan dalam negeri, penerimaan perpajakan diupayakan secara optimal melalui tiga kebijakan utama, yaitu: (1) reformasi di bidang administrasi; (2) reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan; dan (3) reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi. Ketiga kebijakan tersebut secara umum berlaku baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang PNBP, kebijakan yang telah diambil Pemerintah dalam rangka optimalisasi adalah (1) meningkatkan produksi sumber daya alam (SDA); (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan di bidang PNBP; (3) meningkatkan pengawasan PNBP; dan (4) meningkatkan kinerja BUMN. Pada tahun 2010, perekonomian dunia mulai pulih dari krisis. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8 persen, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada realisasi pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, realisasi pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp992,4 triliun atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp990,5 triliun atau meningkat 16,9 persen, dengan perincian penerimaan perpajakan Rp743,3 triliun atau meningkat 19,9 persen dan PNBP Rp247,2 triliun atau meningkat 8,8 persen. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun dengan peningkatan sebesar 13,8 persen. Dalam tahun 2010, kebijakan pendapatan negara dan hibah tetap diarahkan untuk optimalisasi penerimaan dalam negeri. Di bidang perpajakan, selain melakukan kebijakan yang bersifat reguler seperti reformasi di bidang administrasi, peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta penggalian potensi, Pemerintah melakukan upaya tambahan (extra effort) baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan efisiensi pemeriksaan dan penagihan pajak, serta peningkatan pengawasan atas peredaran barang kena cukai ilegal. Di bidang PNBP, kebijakan

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-1

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

yang dilakukan Pemerintah untuk mengamankan target PNBP tahun 2010 adalah optimalisasi penerimaan SDA terutama dari migas, peningkatan kinerja BUMN, serta optimalisasi PNBP kementerian/lembaga (K/L). Memasuki tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan jauh lebih baik daripada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan realisasi 2010. Indikator-indikator ekonomi makro lainnya juga diperkirakan akan cukup stabil. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp1.086,4 triliun, dengan perincian penerimaan dalam negeri sebesar Rp1.082,6 triliun dan hibah Rp3,7 triliun. Penerimaan dalam negeri akan berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp839,5 triliun, dan PNBP sebesar Rp243,1 triliun. Dalam rangka mencapai target penerimaan negara pada tahun 2011, Pemerintah akan menjalankan berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Pokok-pokok kebijakan perpajakan secara umum adalah melanjutkan dan mempertajam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya. Di bidang perpajakan, kebijakan antara lain akan difokuskan pada (1) penggalian potensi perpajakan; (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak; (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak; (4) peningkatan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai; (5) perbaikan sistem informasi; dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, dalam rangka memperbaiki sistem administrasi perpajakan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pengalihan BPHTB serta PBB perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah. Untuk BPHTB, pengalihan dilakukan pada tahun 2011, sedangkan untuk PBB, pengalihan dimungkinkan dilakukan mulai tahun 2010 berdasarkan kesiapan masing-masing daerah. Tenggat waktu yang diberikan kepada daerah untuk mempersiapkan pengalihan PBB tersebut adalah sampai dengan tahun 2014. Di bidang PNBP, kebijakan yang dilakukan untuk mencapai target 2011 adalah (1) optimalisasi lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi, serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA; (2) penyesuaian pay-out ratio dividen dari laba BUMN; (3) penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna memantau perkembangan rugi/laba BUMN; (4) penarikan dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN; (5) intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP K/L, antara lain dengan melakukan review jenis dan tarif PNBP K/L; dan (6) perbaikan administrasi pelaporan keuangan K/L.

3.2

Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2009 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2010

Pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode 2005–2009. Pertumbuhan rata-rata yang terjadi dalam periode tersebut adalah 14,4 persen, yaitu dari Rp495,2 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp848,8 triliun pada tahun 2009. Kondisi perekonomian yang cukup kondusif dalam periode 2005–2009 menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya pendapatan negara khususnya penerimaan dalam negeri, meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 sampai dengan 2009. Dalam periode 2005–2009 tersebut, penerimaan dalam negeri meningkat dari Rp493,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp847,1 triliun pada tahun 2009. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Selain faktor kestabilan ekonomi, penerapan berbagai
III-2 Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya realisasi penerimaan dalam negeri. Sementara itu, penerimaan hibah pada periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,3 persen, yaitu dari Rp1,3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp1,7 triliun pada tahun 2009. Terus membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2010 menyebabkan Pemerintah optimis dapat mencapai target pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp990,5 triliun, atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun atau 13,8 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam APBN-P tahun 2010, pendapatan negara dan hibah ditargetkan mencapai Rp992,4 triliun, atau 16,9 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.1.
TABEL III.1 PERKEMBANGAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2005 Real. 495,2 493,9 347,0 146,9 1,3 2006 Real. 638,0 636,2 409,2 227,0 1,8 2007 Real. 707,8 706,1 491,0 215,1 1,7 2008 Real. 981,6 979,3 658,7 320,6 2,3 2009 Real. 848,8 847,1 619,9 227,2 1,7 2010 APBN-P 992,4 990,5 743,3 247,2 1,9

3.2.1 Penerimaan Dalam Negeri
Dalam periode 2005–2009, penerimaan dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Sebagai komponen utama, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan PNBP tumbuh rata-rata 11,5 persen. Beberapa indikator makroekonomi yang berpengaruh pada meningkatnya penerimaan dalam negeri dalam periode tersebut adalah (1) tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat, yaitu dari 5,7 persen pada tahun 2005, menjadi 6,0 persen pada tahun 2008, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2009; (2) perkembangan ICP yang cenderung meningkat dari USD51,8 per barel pada tahun 2005 hingga mencapai USD96,8 per barel pada tahun 2008, dan USD61,6 per barel pada tahun 2009; dan (3) fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mengalami depresiasi pada periode tahun 2005–2009. Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan perpajakan dan PNBP juga turut mendorong peningkatan penerimaan dalam negeri. Memasuki tahun 2010, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan mampu mencapai pertumbuhan 5,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 yang hanya mencapai 4,5 persen. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan juga didukung oleh tingginya perkiraan ICP yang mencapai USD80 per barel, penerimaan dalam negeri ditargetkan sebesar Rp990,5 triliun dalam APBN-P tahun 2010,

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-3

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp743,3 triliun dan PNBP Rp247,2 triliun. Jumlah tersebut berarti 16,9 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Perkembangan penerimaan dalam negeri pada periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.2.
TABEL III.2 PERKEMBANGAN PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. BPHTB v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Bea keluar 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya d. Pendapatan BLU
Sumber : Kementerian Keuangan

2005 Real. 493,9 347,0 331,8 175,5 35,1 140,4 101,3 16,2 3,4 33,3 2,1 15,2 14,9 0,3 146,9 110,5 103,8 6,7 12,8 23,6 0,0

2006 Real. 636,2 409,2 396,0 208,8 43,2 165,6 123,0 20,9 3,2 37,8 2,3 13,2 12,1 1,1 227,0 167,5 158,1 9,4 23,0 36,5 0,0

2007 Real. 706,1 491,0 470,1 238,4 44,0 194,4 154,5 23,7 6,0 44,7 2,7 20,9 16,7 4,2 215,1 132,9 124,8 8,1 23,2 56,9 2,1

2008 Real. 979,3 658,7 622,4 327,5 77,0 250,5 209,6 25,4 5,6 51,3 3,0 36,3 22,8 13,6 320,6 224,5 211,6 12,8 29,1 63,3 3,7

2009 Real. 847,1 619,9 601,3 317,6 50,0 267,6 193,1 24,3 6,5 56,7 3,1 18,7 18,1 0,6 227,2 139,0 125,8 13,2 26,0 53,8 8,4

2010 APBN-P 990,5 743,3 720,8 362,2 55,4 306,8 263,0 25,3 7,2 59,3 3,8 22,6 17,1 5,5 247,2 164,7 151,7 13,0 29,5 43,5 9,5

3.2.1.1 Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen dalam periode 2005–2009. Beberapa faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai. Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea masuk dan bea keluar. Dalam periode 2005–2009, penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 16,0 persen, sedangkan pajak perdagangan internasional tumbuh rata-rata 5,2 persen. Selanjutnya, penerimaan perpajakan mampu memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2005, kontribusi penerimaan perpajakan adalah 70,3 persen menjadi 64,3 persen pada tahun 2006, kemudian 69,5 persen pada tahun 2007 menjadi 67,3 persen pada tahun 2008, dan selanjutnya menjadi 73,2 persen pada tahun 2009. Semakin tingginya kontribusi penerimaan perpajakan tersebut menunjukkan bahwa peranan penerimaan perpajakan menjadi sangat strategis sebagai sumber pendanaan

III-4

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

pemberian diskon atas tarif PPh badan 5 persen lebih rendah dari tarif normal tetap diberikan kepada perusahaan-perusahaan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dikuasai oleh publik. staf. program ini juga dimaksudkan untuk mengakomodasi hasil kegiatan penggalian potensi melalui kegiatan mapping. artis. dan perumahan. komisaris. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah wajib pajak dari 3. Program utama dari kegiatan ini dikemas dalam Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). Program sunset policy ini mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.5 juta pada tahun 2005 menjadi 14. dan diperpanjang hingga Februari 2009. Sementara itu.1 juta pada April 2010. yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak. Selain itu. sistematis.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah teknologi informasi dan komunikasi. program ekstensifikasi pada tahun 2010 dilakukan melalui tiga pendekatan utama. Metode tersebut dikembangkan sejak awal tahun 2007 mencakup kegiatan mapping. tarif PPh badan mengalami penurunan dari 28 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada tahun 2010. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan membayar pajak (tax compliance). Pemerintah mencanangkan program sunset policy pada tahun 2008. Sejauh ini kegiatan ekstensifikasi perpajakan dinilai cukup berhasil. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008. standar. Sedangkan program intensifikasi atau penggalian potensi perpajakan dari wajib pajak yang telah terdaftar dilaksanakan melalui III-6 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . profiling. direksi. notaris. Reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan dilakukan melalui amendemen tiga undang-undang perpajakan. pekerja serta pegawai negeri sipil dan pejabat negara. Selain bertujuan meningkatkan tax compliance. (2) pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau memiliki tempat usaha di pusat perdagangan dan/atau pertokoan. yaitu: (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara Pemerintah dengan sasaran karyawan yang meliputi pemegang saham atau pemilik perusahaan. dan profesi lainnya. dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. dan benchmarking. dan (3) pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter. akuntan. profiling. yaitu: (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-undang. pengacara. Pemerintah telah dan akan tetap melanjutkan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. dan (3) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. Reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi dilakukan melalui pembangunan suatu metode pengawasan dan penggalian potensi penerimaan pajak yang terstruktur. dan melaksanakan good governance melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak. dan benchmarking. terukur. (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. dan dapat dipertanggungjawabkan.

dan saling terkait.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III (1) kegiatan mapping dan benchmarking. Kegiatan law enforcement dilakukan melalui penagihan. (6) mendukung kerjasama perdagangan internasional. maupun multilateral. (5) pembuatan profil high rise building. profiling. (2) membangun sistem dokumentasi pelanggaran kepabeanan dan cukai. Sedangkan peningkatan audit dilakukan antara lain melalui (1) pembuatan dokumentasi sistem informasi perencanaan audit. serta (4) penyempurnaan aplikasi sistem audit. risk assesment. Pemerintah melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak. dan targeting. Peningkatan pengawasan dilakukan antara lain dengan (1) mengembangkan manajemen risiko kepabeanan dan cukai. menjaga hubungan dengan wajib pajak (maintenance). langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan antara lain (1) pengembangan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai. Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan. Untuk menindaklanjuti program sunset policy. dan optimalisasi sarana operasi seperti kapal patroli. dan (5) melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan fasilitas kepabeanan dan cukai. terukur. (4) pembentukan kantor pelayanan utama dan KPPBC Madya. (2) penyusunan database profil dan objek audit. dan (7) pengawasan intensif wajib pajak orang pribadi potensial. Selanjutnya. (3) melaksanakan pemberantasan penggunaan pita cukai palsu. (8) peningkatan pelayanan kepabeanan melalui jalur mitra utama (MITA) dan jalur prioritas. Khusus di bidang kepabeanan. sistematis. Pemerintah akan terus melanjutkan program reformasi melalui pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya. untuk menjamin penegakan hukum (law enforcement) di bidang kepabeanan dan cukai. yang telah dikembangkan sejak tahun 2007. mesin sinar X. peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. baik bilateral. (3) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Large Tax Office (LTO) dan Khusus. (2) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Madya. dan penyidikan. Di bidang kepabeanan dan cukai. serta melakukan program intensifikasi melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi. (7) penerapan National Single Windows (NSW) dan portal Indonesia National Single Windows (INSW). (4) pemantapan profil 500 wajib pajak KPP Pratama. dan Pre-Notification). (4) melaksanakan pemberantasan peredaran rokok ilegal. pemeriksaan. regional. (2) pemberian fasilitas/kemudahan dalam pelayanan kepabeanan (Pre Entry Classification. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-7 . Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu metode penggalian potensi dan pengawasan penerimaan pajak yang terstruktur. Dalam hal ini. (9) penegakan hukum di bidang kepabeanan melalui risk management. dan mesin sinar gamma. dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. dan (10) meningkatkan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dalam memenuhi kewajibannya. Customs Advice. tanpa mengesampingkan fungsi utama kepabeanan cukai sebagai regulator dalam rangka melancarkan arus barang dari transaksi perdagangan internasional (trade facilitation) dan melindungi masyarakat dari ekses negatif dari masuknya barang-barang pembatasan dan larangan serta narkotika (community protection). Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dengan membangun komunikasi kepada setiap wajib pajak melalui pendidikan perpajakan (tax education). (5) peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas barang impor dan ekspor. (3) pemberian fasilitas terhadap industri substitusi impor dan industri orientasi ekspor. (3) monitoring pelaksanaan audit. (6) pengawasan intensif dari PPh Pasal 25 retailer. Pemerintah meningkatkan fungsi pengawasan dan audit.

dan sigaret putih mesin (SPM).2 PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI. (3) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110. Sedangkan kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah PPN dan PPnBM serta cukai. antara lain melalui: (1) peningkatan operasi pasar.3 persen. Pemerintah juga melakukan peningkatan pengawasan. Sementara itu. (2) perubahan ketentuan mengenai perizinan.4 40 22.6 21.1.7 14.3.8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp601.7 87.1 persen dan 9.0 53.6 16.1.9 0 (20) (40) 18. (3) peningkatan pelayanan di bidang cukai.0 13.5 37. sigaret kretek tangan (SKT).7 10. penyempurnaan terhadap peraturan-peraturan pelaksanaan maupun sistem prosedur di bidang cukai dilakukan secara bertahap sehingga dapat memberikan perlindungan atas kesehatan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan faktor daya serap tenaga kerja. Pertumbuhan dan kontribusi rata-rata dari masingmasing jenis pajak dalam kategori pajak dalam negeri dapat dilihat pada Grafik III.4 28. beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan cukai antara lain (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau berkisar antara 9. (2) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.7 6.8 -1.7 9. sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.6 19.2 dan Grafik III. Selanjutnya pada tahun 2010.6 persen sampai dengan 21. 3.9 35.0 PPh Non Migas PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 III-8 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Khusus di bidang cukai. cukai sebagai penerimaan ketiga terbesar setelah PPh serta PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14. serta (4) peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) rata-rata sebesar 228.5 11. Selain itu. (6) penerapan kode etik (reward and punishment).3 -6.6 13. (3) peningkatan security features pita cukai. (5) peningkatan pemahaman ketentuan di bidang cukai (sosialisasi). (4) peningkatan pengawasan di bidang cukai. dan (4) peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor.5 persen untuk MMEA impor.0 18. Upaya yang dilakukan antara lain melalui (1) penyempurnaan ketentuan mengenai perizinan di bidang cukai.9 -4.0 persen (y-o-y) 60 -7. Pertumbuhan rata-rata tertinggi terjadi pada pos penerimaan PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM yang mencapai 17.8 28.2 45. yaitu sigaret kretek mesin (SKM).9 20 1.3 14.1 Pajak Dalam Negeri Dalam periode 2005–2009. Kontributor utama dalam penerimaan pajak dalam negeri adalah PPh yang memberikan kontribusi rata-rata 52.3 persen.6 10.2 -7.8 2.4 persen. yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata 32. 2005 – 2009 80 75. dan (7) peningkatan security feature pita cukai untuk menghilangkan praktek pemalsuan cukai. GRAFIK III.2 PPh Migas -35.0 persen. penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan ratarata 16. (2) pemeriksaan lokasi pabrik.2.3 triliun pada tahun 2009. yaitu dari Rp331.0 17.4 17.5 persen.0 persen sesuai dengan jenis hasil tembakau.7 25.8 6.

Dilihat dari komponen pendukungnya. terjadi peningkatan sebesar Rp44. dan lebih tingginya lifting minyak Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-9 . Pajak Penghasilan (PPh) Pajak penghasilan (PPh) mengalami pertumbuhan rata-rata 16. Peningkatan terjadi pada seluruh pos penerimaan dalam negeri. nominal penerimaan PPh meningkat dari Rp175. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp317. penerimaan PPh minyak bumi tumbuh rata-rata 18. Membaiknya kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik yang berimbas pada meningkatnya volume perdagangan dunia menjadi faktor utama meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri.3% BPHTB PPh Migas Rp720.1% 32.1% triliun atau 19. penerimaan PPh migas memberikan kontribusi rata-rata sebesar 19. Penerimaan PPh migas selama tahun 2005−2009 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9.6 triliun (40.3 persen.7% penerimaan pajak dalam negeri tahun 2009.7 persen). Dilihat dari komposisinya. yang terdiri atas penerimaan PPh migas Rp55.5 PPN 42.8 triliun (84.2 persen.0 persen dalam periode 2005−2009. Penerimaan PPh migas tahun 2009−2010 dapat dilihat pada Grafik III.2 triliun.2 persen. Dalam APBN-P tahun 2010.5 per barel (Desember−November) juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penerimaan pajak migas. sedangkan PPh nonmigas 80.3 triliun atau 10. Dalam periode tersebut.6% 9. terjadi peningkatan sebesar Rp5.4.3 penerimaan pajak dalam KONTRIBUSI RATA-RATA PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI. 2005 – 2009 Pajak Lainnya Cukai negeri ditargetkan mencapai 0.0% 10. PPh diperkirakan mencapai Rp362.8 triliun. Apabila 1.6 persen dan PPh gas bumi tumbuh rata-rata 5. target tersebut mengalami PPh Non-Migas peningkatan sebesar Rp119.7 persen.5 per barel (Desember−November).3 persen).8 triliun (59. khususnya penerimaan PPN dan PPnBM impor.6 triliun.5 triliun menjadi Rp317. GRAFIK III.4 triliun. terutama PPN dan PPnBM yang meningkat Sumber : Kementerian Keuangan 36.6 triliun.9 persen.0 persen. Perkembangan realisasi penerimaan PPh migas yang cenderung meningkat tersebut sesuai dengan perkembangan ICP yang menunjukkan adanya tren kenaikan.2 persen dan BPHTB yang meningkat 10.4 triliun (15.7 persen.3 persen) dan PPh nonmigas Rp306. relatif tingginya ICP yang diperkirakan mencapai USD80 per barel pada tahun 2010 dibandingkan dengan ICP tahun 2009 yang mencapai USD58.7 persen. Penyebab utama peningkatan penerimaan PPh migas tersebut adalah lebih tingginya ICP pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai USD80 per barel dibandingkan dengan ICP pada tahun 2009 yang mencapai USD58. meskipun lifting mengalami fluktuasi. Selain itu.3% dibandingkan dengan realisasi PBB 4.6 triliun atau 14. Dalam APBN-P tahun 2010. realisasi penerimaan PPh migas diperkirakan mencapai Rp55.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Dalam APBN-P tahun 2010.7 persen) dan PPh gas bumi Rp32. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. dengan kontribusi dari PPh minyak bumi sebesar Rp22.

29.1 dilakukannya extra effort sebagaimana yang 120. penerimaan PPh GRAFIK III.7 20.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah bumi tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 965 MBCD dibandingkan dengan lifting pada tahun 2009 yang mencapai 944 MBCD.5 APBN-P 2010 TABEL III.7 28.0 2008 % thd Total 38.0 Real.2 2006 % thd Total 34. Perkembangan penerimaan PPh nonmigas per pasal dalam periode 2005–2010 dapat dilihat padaTabel III. III-10 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .0 tahun 2010. Pertumbuhan tersebut terutama didukung dari penerimaan PPh pasal 25/29 badan yang tumbuh rata-rata 23.3 PERKEMBANGAN PPh MIGAS.0 100. 9.0 66.0 50.6 triliun pada tahun 2009.5 persen. peningkatan penerimaan 61. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PPh Minyak Bumi PPh Gas Bumi PPh Migas Lainnya Total Real.5 Selain faktor ekonomi.0 bagi perusahaan masuk bursa yang 40 persen sahamnya dikuasai publik.0 1.0 40.0 2009 % thd Total 36.0 persen.7 persen bila 2009 − 2010 dibandingkan dengan realisasi tahun triliun Rp sebelumnya. 270. PENERIMAAN PPh NONMIGAS.7 63.4 73. PPh pasal 25/29 badan tahun 2010 meningkat 5.0 42.1 33.3.5.0 2010 APBN-P 22. 14.6 32. Hal ini berarti terjadi peningkatan 14.8 0.5 0.3 126.0 35.0 60.0 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada 120.1 % thd Total 26. Penerimaan PPh nonmigas tahun 320.0 Real. 16.4 44.3 0.0 76.0 0. dan juga pemberian diskon 5 persen 2009 APBN-P 2010 -30.3 27.0 100.3 0.5 61. Meskipun tarif PPh pasal 25/29 badan mengalami penurunan dari 28 70.0 2007 % thd Total 37.7 persen dan memberikan kontribusi rata-rata 41.7 0. PPh pasal 25/29 badan Lainnya PPh Final dan Fiskal masih merupakan kontributor utama bagi PPh Pasal 21 PPh Pasal 25/29 Badan penerimaan PPh nonmigas dengan kontribusi sebesar 41.3 persen.4.0 77. yaitu dari Rp140. Bila dibandingkan dengan Sumber : Kementerian Keuangan realisasi pada tahun 2009.0 0.4 22.0 20. Dalam periode 2005−2009.0 62.8 triliun.0 100.4 PENERIMAAN PPh MIGAS.5 0.3 0.3 PPh nonmigas terutama disebabkan oleh upaya 220. 2009 − 2010 triliun Rp 70.8 perbaikan administrasi perpajakan dan 170.0 2009−2010 dapat dilihat dalam Grafik III.7 32.0 telah dijelaskan sebelumnya.6 0.0 100.8 18.0 61.0 100. GRAFIK III.0 50.4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp267.0 30.4 % thd Total 40.8 0.0 Real.6 52.4 0.3 25.0 100.0 43.0 persen dalam periode tersebut.6 47. 18.4 31.0 Real.0 Sumber : Kementerian Keuangan Dalam APBN-P tahun 2010.0 55.0 10. Perkembangan realisasi PPh migas 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. realisasi penerimaan PPh nonmigas mengalami pertumbuhan ratarata 17.5 nonmigas diperkirakan mencapai Rp306.0 2009 Sumber : Kementerian Keuangan PPh Gas Alam PPh Minyak Bumi 31.7 59.

3 126.6 9.9 persen.0 3.6 7.9 21.3 8.2 5.8 % thd Total 20.7 4.5 13.1 0.6 5.7 0.9 2.6 17.3 2. serta sektor perdagangan.0 7.9 5. TABEL III.1 13.8 7.5 11.4 9.3 persen.1 33.5 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.6 8.1 34. Rata-rata suku bunga untuk semester I tahun 2010 adalah 6.1 10.6 4.1 11.5 14.9 100.3 4.9 16.9 3.6 % thd Total 19.4 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS.3 18.04 175.1 15.8 65.8 41.8 triliun atau 29.2 16.3 7.3 1.4 258.8 12.0 2008 % thd Total 4.1 0.02 267. Tahun 2010 sektor keuangan.0 100.1 9.0 3.8 0.2 14.0 4.9 20.5 1.3 8.01 100. realisasi penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan.9 25.6 15.8 7.4 24. dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar Rp6. Real.7 9.0 2008 Real.9 11. sektor industri pengolahan. hotel dan restoran sebagai kontributor utama dengan rata-rata kontribusi masing-masing sebesar 28. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total 2005 % thd Total 2. serta restitusi.0 1.2 1.8 % thd Total 20.1 6.1 18.3 35.4 41.4 243.5 0.0 10.1 0.3 3. Pertumbuhan rata-rata dalam kurun waktu 2005–2009 untuk sektor keuangan.4 61.4 73.7 2.4 5.7 2.4 6.9 -0.3 1.3 29.0 8.4 2.8 2006 Real.01 100.04 165.7 3. Total 9.4 19.2 6.5 1. dan jasa perusahaan.2 3.9 4. transaksi yang offline .4 7.6 8.2 30.1 35. 52.4 33. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.0 8. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia yang mengakibatkan net interest margin (NIM) bank mengalami penurunan.1 60.8 8.8 16.6 0.8 5. Perkembangan PPh nonmigas sektoral 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.6 2.5 17.6 106.0 0.1 0.7 5.1 15.5 56.3 % thd Total 26.7 5.0 2009 Real. Hotel. % thd Real.6 21. real estate. Real.4 2. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.0 100.3 20.3 10.3 6.1 9.9 42.0 16.6 triliun.6 5.7 6.1 30.5 5.9 27.2 2.7 27.0 2010 APBN-P 61. real estate.1 1.8 10.4 23. Sementara itu.1 2.2 5.6 5.3 4.02 249.0 1.1 122.9 1.7 5.6 7.9 3.0 2.5 0. 9.2 41.8 13.0 2006 % thd Total 2. Real.5 12.2 6.0 2007 Real.3 7.4 0.4 1.7 14.0 PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 23 PPh Pasal 25/29 Pribadi PPh Pasal 25/29 Badan PPh Pasal 26 PPh Final dan Fiskal PPh Non Migas Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Selama periode 2005–2009. 51.9 17.8 triliun.3 5.0 10.6 0.3 62.1 0.01 194.9 12.1 23.0 persen.1 39.8 0.4 42.1 3.8 2. Real.5 24.2 24.3 2.7 7.9 9.5 persen.1 27.0 Real.3 10.5 8.8 11.1 16.5 13.6 51. atau menurun jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga pada semester I tahun 2009 sebesar 7. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.9 persen sehingga mencapai Rp61.1 4. meningkat sebesar Rp17.7 0.4 14.8 0.1 24.7 persen bila dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2009.3 2.3 120.9 0.7 2.0 3.75 persen.1 -0.7 9.6 7. Gas.1 100.6 persen.8 67.0 10.7 0.3 7.7 0.6 20.9 persen. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp77.1 100.1 6.0 12.0 4.5. Kenaikan ini terutama didukung oleh pertumbuhan sektor industri Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-11 .3 7. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 25.3 25.4 8.1 30. Peternakan.6 0. dan jasa perusahaan adalah 17. Kehutanan.7 22. hotel dan restoran sebesar 25.3 54. dan sektor perdagangan.0 2007 % thd Total 2.4 % thd Total 20. 39. pada tahun 2010.5 9.0 2010 Perk.8 14.1 145. 31.6 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN. untuk sektor industri pengolahan 16.2 0.6 80.8 26.00 306.7 2.4 6.1 8. 25.1 persen dan 9. real estate.5 17.7 44.5 229.02 100.3 2.2 0.3 77.1 0.0 2009 % thd Total 4.6 6. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Pertanian.1 25.7 23.4 14.6 3.8 5.7 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.8 0.0 triliun atau 8.2 179.8 6.0 9.0 13.6 0.0 100.3 45.0 100.1 4.7 31.0 6.1 145.2 0. 2.3 0.4 4.4 2.3 0.6 0.5 0.0 100.5 11.1 10.5 7. Real Estate.6 % thd Total 19.

004 100.8 43. PPnBM PPnBM DN PPnBM Impor PPnBM Lainnya Total (a+b) 94. hotel dan restoran diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar Rp4.8 persen (y-o-y). yang terdiri dari atas PPN dan PPnBM dalam negeri Rp163.8 2. jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif. penerimaan PPN dan PPnBM ditargetkan sebesar Rp263.3 34.9 triliun atau 18.1 0.9 6.2 4.1 60.8 0.0 184.3 8.2 1.3 7.012 209. 2009 % thd Total 2010 APBN-P % thd Total a.5 3.0 1.7 38.0 96.6 3.1 0.4 32.2 116.7 0.5 36.3 11.2 3.4 93.1 5. III-12 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .01 100.5 6.3 9.01 263.4 0.0 253.1 persen dari total penerimaan PPN dan PPnBM.1 4.2 4. Secara komposisi.6 1. PPN dan PPnBM Penerimaaan PPN dan PPnBM selama periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan ratarata 17.7 2. realisasi konsumsi Pemerintah cukup tinggi sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan Pemilu.002 100.9 0.1 44.4 0.3 0.1 persen) dan PPN dan PPnBM impor Rp99. Di sisi lain. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Real. PPN PPN DN PPN Impor PPN Lainnya b.0 96.6 2. Sedangkan sektor perdagangan. lebih tinggi bila dibandingkan dengan PPN dan PPnBM impor yang tumbuh ratarata 8.0 0.6.002 123.4 59.1 2.021 154. 2008 % thd Total Real.8 0.3 7.6 0.4 96. Secara umum.1 3.0 147. Salah satu faktor yang mengakibatkan melemahnya pertumbuhan PPN dan PPnBM dalam negeri ini adalah rendahnya konsumsi Pemerintah yang pada kuartal I 2010 yang mengalami penurunan sebesar 8. yang berimbas pada meningkatnya kegiatan ekspor-impor Indonesia.0 198.8 persen.0 0.4 156.9 2.8 persen dalam periode tersebut.9 0.3 53.5 1.3 4. target pada tahun 2010 tersebut meningkat Rp69. PPN dan PPnBM dalam negeri mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 61.5 95.7 81.1 95. 2007 % thd Total Real.3 4.5 4. penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 28.4 persen.1 1.01 100.0 118.8 44.8 48. Peningkatan terutama terjadi pada PPN dan PPnBM impor dengan pertumbuhan 50.0 triliun (63.5 0.9 persen.4 0. 2006 % thd Total Real.9 triliun atau 36.2 74. Perkembangan PPN dan PPnBM dalam periode 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III. Dalam APBN-P tahun 2010.1 4.0 101.9 2.7 triliun (37.4 0.2 persen.015 193.6 94. TABEL III. PPN dan PPnBM dalam negeri tumbuh rata-rata 23. sedangkan PPN dan PPnBM impor memberikan kontribusi rata-rata 38.0 0.7.9 persen).9 0.3 7.0 48.6 dan penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2010 dapat dilihat pada Grafik III.9 0.5 triliun.5 persen dibandingkan tahun 2009 sehingga mencapai Rp31. Pada periode yang sama tahun sebelumnya.0 100.6 3.9 0.8 persen. Perkembangan PPN dan PPnBM serta nilai impor dalam periode 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.01 100.3 92.4 60.4 0.1 0.5 1.5 persen.8 3.2 120.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pengolahan.5 7.7 0. lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya. 2005 % thd Total Real.0 Sumber : Kementerian Keuangan Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.6 3.4 62. peningkatan PPN dan PPnBM impor tersebut sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan dunia.8 35.7 0.5 55.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM.4 63. Dari sisi besarnya kontribusi.0 triliun.

18. dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik Rp2. 22.8 persen. hotel. serta sektor pertambangan migas. Dalam tahun 2010.1 persen. dan restoran dengan kontribusi sebesar 22. dan 19. sektor perdagangan.2 persen. serta sektor keuangan. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-13 .5 triliun atau 19.1 persen. tiga sektor tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan. PPN DN mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 62. sebagian besar penerimaan PPN DN diperkirakan masih berasal dari sektor industri pengolahan. 22.7 persen.1 persen.5 184.6 persen. Perkembangan penerimaan PPN DN secara sektoral dapat dilihat secara rinci pada Tabel III. Sebagian besar dari realisasi PPN merupakan PPN DN.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III GRAFIK III.0 persen. hotel dan restoran. dan 11. 2005 – 2009 160 140 triliun Rp PPN & PPnBM DN PPN & PPnBM Impor Nilai Impor 160000 140000 triliun Rp GRAFIK III. dengan rata-rata 38. serta sektor pertambangan migas yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 50. sektor perdagangan. realisasi PPN secara sektoral dapat digolongkan ke dalam 12 sektor. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Tiga sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan PPN DN adalah sektor industri pengolahan.7 PENERIMAAN PPN DAN PPnBM. hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi. sektor perdagangan. Dalam periode 2005–2009. dengan kontribusi masing-masing mencapai 44.2 persen.1 triliun atau 34.4 Sumber: Kementerian Keuangan Secara umum.8 persen dan 6. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri.2 120 100 80 60 40 20 0 juta US$ 120000 100000 80000 60000 40000 2005 2006 2007 2008 2009 253.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. Dalam tahun 2010. 23. Sektor industri pengolahan naik Rp17. dan jasa perusahaan yang masingmasing memberikan kontribusi rata-rata 19. Dalam periode 2005–2009.3 persen.8 persen.7 persen. 17. 2009 − 2010 PPN PPnBM 9. dan sektor keuangan. sektor perdagangan.8 persen. Dua kontributor utama lainnya adalah sektor perdagangan.0 persen dan 7. sektor industri pengolahan mampu memberikan kontribusi terbesar.4 persen.6 persen.8 persen dengan pertumbuhan rata-rata masing-masing 28. Pertumbuhan rata-rata dari ketiga sektor tersebut adalah sebesar 16.5 270 250 230 210 190 170 150 2009 Sumber: Kementerian Keuangan APBN-P 2010 9.8 persen. dan negatif 48.7. hotel dan restoran naik Rp4.4 persen dan 8. dan jasa perusahaan dengan kontribusi sebesar 5.5 persen. diperkirakan sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 51.1 persen.1 persen. hotel. real estate.6 persen.7 triliun atau 27. hotel dan restoran. dan restoran.9 persen. penerimaan PPN impor didukung oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan. disusul kemudian oleh sektor perdagangan. real estate. Dalam periode 2005–2009. Kontribusi rata-rata dari ketiga sektor tersebut masing-masing sebesar 31.

0 0.8 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.8 2.7 7.0 100. Gas.2 triliun. 1.7 19.9 8.6 % thd Total 2.0 40. 0.2 21. hotel dan restoran tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 47. sedangkan BPHTB sebesar 1. Real Estate.3 0.7 % thd Total 2.4 3.5 0.4 4.0 % thd Total 0.3 0.0 2009 Real. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2006 Real.3 0.1 7.1 44. Secara umum.3 1.6 5.3 0.8 7.0 3.9 0. Apabila digabungkan dengan penerimaan mata uang asing terdapat pertumbuhan positif sebesar 69. Di sisi lain.1 0.6 0. 0. serta sektor pertambangan migas.5 0.0 17.8 7.2 0.2 0.0 Perk.6 0. Rata-rata kontribusi PBB terhadap penerimaan pajak dalam negeri adalah sebesar 4.6 10.3 0.4 0.3 0.2 2.9 0.4 0.7 2.0 10.2 0.8 16.0 Real.1 23.9 1.8 0.2 0.2 0.1 32.5 8.4 9.0 42.2 17.1 39.1 0.9 % thd Total 2.3 20. dan restitusi. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.2 1.2 100.3 1.0 45.1 0.3 1.3 0.9 2.3 20.2 1.3 100.1 persen.8 2.1 1.2 10.6 9.9 0.3 2.9 17.4 8. Pertumbuhan negatif penerimaan sektor pertambangan migas menurut data modul penerimaan negara (MPN) disebabkan karena penerimaan tercatat hanya dalam bentuk rupiah.0 2.1 11.6 triliun pada akhir tahun 2010.1 0.0 0.3 1. 2005 − 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian. Real Estate.3 10.7 1.2 % thd Total 0.0 2006 Real.0 54. Pada tahun 2010.1 50. Real.2 0. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. 3.9 0.2 0. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.3 persen dan 54.3 5. 2.1 45.1 37.4 2.4 2.8 2.6 persen dan 17.2 0.1 25.3 2.3 8.6 6.0 2007 % thd Total 0.3 23.0 63.4 0.1 22.8 100.6 1.9 28.9 18.5 55.7 12.0 100.5 1.5 3.1 3. 1.2 0. Kehutanan.1 0.0 0.8 0.0 2009 Real.4 0.1 28.5 3.2 0.5 125.0 2008 Real 0.2 1.9 23. sektor pertambangan migas diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga mencapai Rp0.1 1.1 22.9 1.1 11. hotel.7 10.3 1.6 0.9 100. Peternakan.2 1.0 1.0 29.0 18.8 18.7 7.8 0.3 0.2 22. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp59.8 8. Hotel.8 % thd Total 2. 0.0 59. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.5 0.5 11.8 % thd Total 2. dan restoran diperkirakan mencapai Rp28.4 0.0 14.1 47.5 12.6 24.2 0.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.8 0.0 2010 Perk.1 28.4 1. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.9 112. Sumber : Kementerian Keuangan PBB dan BPHTB Realisasi PBB dan BPHTB masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata 10.5 0.9 12.1 0.7 0. dan restitusi.1 0.1 63.5 9. sektor perdagangan.7 8.5 12.0 1. Perkembangan penerimaan PPN impor secara sektoral tahun 2005–2010 dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.7 15.6 7.3 0.2 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.6 2. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. Hotel.9 0.4 0.1 2.1 33.0 0.2 1.3 % thd Total 2.1 1.4 0.1 20.3 0.4 0.2 1.8 1.8 9.0 0.1 0.0 2007 Real.0 18.2 67. 0. 3.3 0.6 1.7 0.0 82.6 11.3 0.8 0. 0.0 0.8 0.9 0.2 0.5 0.4 1. dan restoran.0 persen.6 0.1 0.3 1.2 1.0 26.1 1.1 48.6 2.8 8.4 23.0 95. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Real.0 0.0 100.9 0.2 0.7 0.5 4.0 100.2 triliun dan sektor perdagangan.0 0.6 % thd Total 0.3 49.2 0.4 0.7 2. 3. penerimaan ini belum termasuk penerimaan dalam bentuk mata uang asing.1 28.9 100.2 7. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.2 persen dalam periode 2005–2009.2 0.4 0.1 1.2 2.1 0.5 79.8 3.0 12.4 0.3 % thd Total 0.7 persen.7 100.4 12. peningkatan penerimaan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kinerja impor. Kehutanan.4 5.7 0.1 28.6 8.3 2.0 62.1 17.9 100.1 27.1 19. Dengan demikian.2 0.0 100.1 10.0 2010 % thd Total 0. transaksi yang offline .5 0. transaksi yang offline.8 6. PPN impor diperkirakan akan tetap didukung oleh sektor industri pengolahan.1 10.0 100.9 13. TABEL III.1 0.7 1.6 1.2 0.0 8.8 16.5 1.1 persen.1 9.2 0.0 14.8.4 4.4 0.9 0. hotel.6 2.2 12. Real.3 152.9 21.0 7.5 28. Peternakan.0 6.7 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.4 1.2 0.1 18.8 0.9 0.9 0.0 1. Gas.2 0.9 4.1 0.6 6.8 5.0 2008 Real.5 0.2 0.5 0.0 Real. III-14 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .

memerlukan penyerderhanaan sistem PPN. Undang-undang Nomor 62 Tahun 2009 tentang KUP.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. Penyerahan dan bukan penyerahan BKP a. Pasal 5 ayat (1). Dalam rangka restrukturisasi Dikenakan PPN pada setiap transaksi penyerahan. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-15 . Perkembangan transaksi bisnis yang mengikuti kemajuan teknologi serta perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. 3. PPN dikenakan atas penyerahan seluruh aktiva. c. Dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan. Dikenakan PPN.1 AMENDEMEN UNDANG-UNDANG PPN DAN PPnBM NOMOR 42 TAHUN 2009 LATAR BELAKANG 1 . 2. Dikenakan PPN. KEBIJAKAN Pemerintah melakukan amendemen atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. UU Nomor 18 Tahun 2000. Penyerahan aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Dikenakan PPN terbatas pada penyerahan aktiva yang PPN terutang pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. 2. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. penyerahannya dianggap langsung. 3. Persediaan yang tersisa pada saat pembubaran perusahaan Terbatas pada aktiva yang PPN pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. 2. DASAR HUKUM 1 . dan Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Istilah baru dalam objek pajak UU No 12 Tahun 2000 Tidak diatur. 2. UU No 42 Tahun 2009 Ekspor BKP Tidak Berwujud dan Ekspor JKP dikenakan PPN dengan tarif 0%. Pasal 20. POKOK-POKOK PERUBAHAN UU PPN DAN PPnBM Uraian 1. Seluruh aktiva. Pembiayaan syariah b. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. sebagai bentuk penyederhanaan sistem perpajakan dan kepastian hukum. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. syarat semua perusahaan terdaftar sebagai PKP. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Tidak dikenakan PPN. TUJUAN 1 . Menciptakan sistem perpajakan yang lebih sederhana.

dengan syarat tertentu. telepon umum (koin). 6. yang berisiko rendah. (3) Dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi. 10. susu. III-16 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Dalam hal PKP gagal berproduksi. menempatkan. telur. bila terbit SKPKB. 1. PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan dapat dikurangkan. pengiriman uang dengan wesel pos. Hanya mengatur untuk PKP yang menggunakan norma PPh. Menghidupkan kembali rumusan Pasal 9 ayat (14) yaitu dalam hal restrukturisasi. Barang hasil pertambangan Tidak dikenakan PPN . Berlaku bagi PKP baik orang pribadi maupun badan yang: 1. 2. NonBKP dan nonJKP (pasal 4a) a. maka PM yang telah dikreditkan dan telah direstitusi harus dibayar kembali. Tarif PPnBM 9. Dibebaskan dari pengenaan PPN. Restitusi PKP lain pada akhir tahun buku. Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 200%. Eksportir BKP tidak berwujud. Restitusi Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 75%. dan buah-buahan UU No 12 Tahun 2000 UU No 42 Tahun 2009 Dibebaskan dari pengenaan PPN. b. Pengkreditan Pajak Masukan (PM) a. penjaminan). sayursayuran. pembiayaan. Melakukan kegiatan tertentu. Pengkreditan PM atas BKP yang dialihkan dalam rangka restrukturisasi Tidak diatur (pada perubahan kedua UU PPN. 2. Eksportir JKP. a. (5) Merusak kesehatan dan moral masyarakat. a. (4) Menunjukkan status. Pengembalian Pendahuluan Hanya diberikan kepada WP Patuh dan WP dengan Persyaratan Tertentu. dan PKP yang mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN Ditetapkan langsung di dalam penjelasan Undang-Undang (Pasal 4A). b. maka PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan dapat dikreditkan oleh PKP. penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. b. 11. Saat Pengajuan Restitusi (Pasal 9 (4a). c. Seluruh PM (Pasal 9 (2a)). Daging. Sanksi bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan. c. kecuali pasir dan kerikil (Psl 4A (2) huruf a). melalui Peraturan Pemerintah tentang BKP Strategis. (2) Dikonsumsi masyarakat tertentu. Deemed Pajak Masukan 2. dan 2. (4b)) Seluruh PKP dapat melakukan restitusi pada setiap masa pajak (Psl 9 (4)). (Psl 4A (3) huruf d). d. serta jasa boga/catering . Memiliki omzet tertentu. dan meminjam dana. serta mengganggu ketertiban. Kriteria BKP mewah (1) Bukan kebutuhan pokok. Mengatur pengembalian pendahuluan bagi PKP Eksportir. (4) Belum berproduksi. Jasa tertentu PPN dikenakan atas jasa: penyediaan parkir. (Psl 9 (4a)) 1. Hanya PKP tertentu. PKP dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. 8. Deemed PM bagi PKP kegiatan tertentu belum diatur. Restitusi untuk Turis Asing Tidak diatur. PKP bertambah: 1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Uraian 4. Jasa keuangan PPN tidak dikenakan atas jasa perbankan. b. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 7. Dikenakan PPN. Sebelumnya ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah. 5. ketentuan ini dihapus). yaitu PKP: (1) Eksportir. Kriteria nomor 5 dihapus. (3) Mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Menjadi tidak dikenakan PPN. PPN atas barang bawaan dapat direstitusi melalui bandara tertentu. PM yang boleh dikreditkan oleh PKP yang belum berproduksi Terbatas PM yang berasal dari perolehan dan/atau impor barang modal. (2) Dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. PPN tidak dikenakan atas jasa keuangan (menghimpun. Retur atas penyerahan JKP Tidak diatur.

Impor barang yang Bea Masuknya dibebaskan tidak dipungut PPN dan PPn BM. pemeriksaan dilakukan kemudian dalam hal diperlukan. 5. Faktur Pajak (FP) a. serta nama dan tanda tangan untuk FP yang diterbitkan oleh pedagang eceran. Saat pelaporan PPN Faktor utama yang mendorong terjadinya peningkatan penerimaan PBB adalah naiknya nilai jual objek pajak (NJOP) dari tahun ke tahun dan perluasan objek PBB. pemberian ijin berdasarkan pemeriksaan. Faktor yang mempengaruhi NJOP adalah harga pasar properti baik tanah maupun bangunan. atau (2) Identitas pembeli. 16. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa. antara lain: (1) Identitas pembeli. Pembebasan PPN bagi listrik & air. Meningkatnya penerimaan PBB terutama didukung oleh PBB pertambangan yang dalam periode 2005–2009 mengalami peningkatan ratarata sebesar 22. • Paling lama pada tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak. Diatur dalam batang tubuh yaitu Pasal 13 ayat (9). Memberikan dasar hukum atas pemberian fasilitas sebagai berikut: 1. Jenis FP yaitu Standar dan Sederhana. Diatur dalam Undang-Undang (Psl 13 (1a)) yaitu saat penyerahan atau pada saat pembayaran. Diatur kembali dalam UU PPN. Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan PBB pertambangan antara lain ICP yang cenderung naik dan jumlah areal pertambangan yang terus bertambah. Saat Pembuatan FP Paling lama akhir bulan berikutnya atau pada saat pembayaran (Peraturan Dirjen Pajak). atau (2) Identitas pembeli. dan pertambangan. 2. Hanya ada istilah “Faktur Pajak”. Proyek Pemerintah yang dibiayai hibah LN tidak dipungut PPN dan PPnBM. namun FP tidak dapat dikreditkan oleh pembelinya.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Uraian UU No 12 Tahun 2000 WP mengajukan permohonan. 14. kenaikan NJOP juga dipengaruhi oleh nilai produksinya. Saat penyetoran PPN b. PKP tidak dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memuat: (1) Identitas pembeli. kehutanan. Perwakilan negara asing dibebaskan PPN dan PPnBM. UU No 42 Tahun 2009 Cukup dengan pemberitahuan oleh WP. Fasilitas perpajakan (pasal 16b) Belum ada dasar hukum untuk pemberian fasilitas kegiatan-kegiatan tertentu. Sementara itu.3 persen. Tanggung renteng Tidak lagi diatur dalam UU KUP dan UU PPN. FP tersebut tidak dikategorikan sebagai FP cacat. 6. Sebagaimana diketahui. Khusus untuk PBB sektor perkebunan. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan. Bebas PPN bagi penyerahan perak sebagai bahan baku kerajinan. Sanksi atas pelanggaran syarat formal FP PKP akan dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memenuhi syarat formal FP. 12. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara. 4. Pemusatan tempat PPN 13. 7. peningkatan penerimaan BPHTB terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah transaksi jual beli tanah dan bangunan. 15. d. serta nama dan tanda tangan (Pasal 13 ayat (5)). Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-17 . Syarat formal & material Diatur dalam penjelasan Pasal 13 ayat (5)). a. b. kegiatan usaha di bidang properti sempat mengalami booming pada periode 2005–2007. • Paling lama pada tanggal 15 setelah berakhirnya Masa Pajak. 3. meskipun agak melemah pada tahun 2008 dan 2009. Fasilitas PPN bagi kegiatan penanggulangan bencana alam nasional. Jenis FP c.

6 2. cukai MMEA.9 PERKEMBANGAN PBB. 1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.1 triliun.8 persen dengan rata-rata pertumbuhan 14.00 24.0 100.4 5. khususnya pertambangan migas.02 25.7 2007 % thd Total 7.5 3. Peningkatan penerimaan PBB tersebut terutama disebabkan oleh tingginya realisasi PBB pertambangan.9.4 50.7 triliun pada tahun 2009. (4) peningkatan pengawasan administrasi pembukuan di bidang cukai oleh KPPBC.3 0.5 20.8 3.3 persen.8 21.1 10. Cukai Penerimaan cukai bersumber dari cukai hasil tembakau.7 18.8 0. 4.6 persen.3 2009 % thd Total 5.5 69. (6) optimalisasi pelayanan cukai dengan memanfaatkan teknologi informasi (sistem aplikasi cukai sentralisasi) dalam kegiatan pelayanan perizinan nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).7 4.2 0.2 16.3 17.1 100.1 0.1 16.5 1. Selain itu. penerimaan PBB dan BPHTB ditargetkan sebesar Rp25. 1.6 0.0 Sumber : Kementerian Keuangan Apabila dibandingkan dengan realisasi 2009. Perkembangan penerimaan cukai hasil tembakau periode 2005–2009 menunjukkan kecenderungan meningkat yang terutama dipengaruhi oleh: (1) kebijakan di bidang tarif cukai dan harga dasar barang kena cukai.9 0. Sementara itu.5 0. PBB pertambangan ditargetkan sebesar Rp17. dan cukai lainnya.9 0.9 0.0 2008 Real.4 0. Hal ini sejalan dengan tren penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap turunnya bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan kredit kepemilikan rumah (KPR).5 16. contohnya kebijakan yang terkait dengan penundaan pembayaran cukai.7 0.2 67.0 2010 APBN-P 0.7 0. Dalam tahun 2010.6 19.6 0. (5) peningkatan pengawasan pengguna fasilitas cukai.7 persen. dan cukai MMEA memberikan kontribusi sebesar 1. kontribusi cukai EA mencapai 0.3 % thd Total 3.6 71.7 67. 5. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PBB Pedesaan PBB Perkotaan PBB Perkebunan PBB Kehutanan PBB Pertambangan PBB Lainnya Total Real.03 23.0 Real.6 45.9 6.2 0. cukai ethil alkohol (EA). 1.5 100.7 2.7 persen.0 Real.4 % thd Total 5.8 0. penerimaan cukai didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 97.0 100.1 100. Sementara itu.7 0. Perkembangan penerimaan PBB dan BPHTB dalam periode 2005–2010 ditunjukkan dalam Tabel III. kenaikan penerimaan BPHTB pada tahun 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi di sektor properti.5 0.1 1.8 0.1 100.7 3.2 0. PBB dalam APBN-P tahun 2010 mengalami peningkatan 4.2 % thd Total 27.4 0.6 0.9 22.2 triliun pada APBN-P tahun 2010.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan 16.0 Real.4 24.3 20.9 0. denda administrasi cukai. yaitu dari Rp33.6 0.7 3.3 triliun dan Rp7. III-18 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (3) intensitas penindakan di bidang cukai.2 18.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 40. (2) kebijakan lainnya di bidang cukai.9 0.9 2006 % thd Total 27.5 0. meningkatnya transaksi properti juga dipengaruhi oleh semakin mudahnya persyaratan pemberian kredit.4 2.0 0.5 0.1 7.3 persen.1 persen.1 0. Penerimaan cukai mengalami peningkatan secara signifikan dalam periode 2005–2009. tumbuh rata-rata sebesar 14. TABEL III.4 5.4 0.3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp56. Secara lebih rinci.00 25. sedangkan BPHTB meningkat sebesar 10.

1 0.0 231.015 51.5 0.4 3.7 16.1 0.0 248. target penerimaan cukai dalam APBN-P tahun 2010 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2.7 2009 % thd Total 97.1 100.5 0.7 % thd Total 97.9 persen.01 100.11 PERKEMBANGAN PRODUKSI JENIS ROKOK.5 88.9.01 0.9 0.7 84.00 0. 32.004 0.4 0.0 persen.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 2.10 0.50 0.6 78.2 87.7 persen disumbangkan oleh MMEA impor.2 17.0 Real.7 2009 Real.3 triliun. Perkembangan produksi jenis rokok 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.4 0.5 persen.4 Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.0 0. Sigaret Putih Mesin (SPM) Total (a+b+c) Sumber : Kementerian Keuangan 2005 Real.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III penetapan tarif cukai hasil tembakau. Penerimaan cukai MMEA didominasi dari penerimaan MMEA dalam negeri dengan rata-rata sebesar 98.01 0.0 Real 49.002 0. dan (7) peningkatan pelaksanaan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dengan tujuan agar para stakeholder dapat lebih memahami ketentuan yang berlaku di bidang cukai.000 59. 126. Sigaret Kretek Tangan (SKT) c.4 0. dan SPM memberikan kontribusi sebesar 6.7 0.03 0. Penerimaan cukai tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III. Dalam APBN-P tahun 2010.8 % thd Total 98.1 0.7 0.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 1.02 0.10 PERKEMBANGAN REALISASI CUKAI. 125.2 84. 141.3 % thd Total 94.0 100. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Cukai Hasil Tembakau Cukai Ethil Alkohol (EA) Cukai MMEA Denda Administrasi Cukai Cukai Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Real.5 0.0 0.3 % thd Total 98. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. kontribusi SKT mencapai 35.6 0.2 15.0 Berdasarkan pengklasifikasian jenis produksi hasil tembakau pada periode 2005–2009.10.0 2010 APBN-P 55. Perkembangan penerimaan cukai MMEA dan produksi MMEA dalam negeri 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.9 0. dan proses penyediaan sampai dengan pemesanan pita cukai.6 0.2 17.9 0. penerimaan cukai diperkirakan mencapai Rp59. Selanjutnya.6 0.005 0.9 0.3 220.7 5.3 0.0 100.3 2008 % thd Total 97. Kenaikan produksi jenis rokok tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi jenis SKM.016 0. total produksi hasil tembakau pada tahun 2010 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai 6 miliar batang bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009.8 2007 Real.4 1. mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.5 242.3 1.5 216. Perkembangan realisasi cukai tahun 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. Sementara itu.0 2007 Real.6 0. TABEL III.5 triliun (4.8 1. penundaan pembayaran cukai.9 2008 Real.007 37.0 100. Sigaret Kretek Mesin (SKM) b.5 persen).2 0. 37.0 1. 43.000 0. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-19 .5 0. penerimaan cukai hasil tembakau didominasi oleh SKM yang memberikan kontribusi ratarata sebesar 57. TABEL III.8 persen.0 249.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 2.010 56.012 0.4 0.1 2006 Real. 2005 – 2010 (miliar batang) Jenis Rokok a.3 persen dan selebihnya sebesar 1.01 0.028 44.4 77. 131.4 1.8. 55.11.02 100. 144.4 2010 APBN-P 144.9 13.003 33.0 2006 Real. perkembangan produksi MMEA periode 2005–2009.7 1.3 16.4 0.

000.4 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp0.8 PERKEMBANGAN PENERIMAAN CUKAI MMEA DAN PRODUKSI MMEA DALAM NEGERI.5 687.9 tembakau dalam APBN-P tahun 2010 PENERIMAAN CUKAI. Selain itu. penerimaan cukai EA dalam APBN-P tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp0.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110. 2005 – 2009 1. penerimaan cukai hasil GRAFIK III. SKT.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 228 202 203 184 232 250 200 150 Juta Lt miliar Rp 878. peningkatan penerimaaan cukai hasil tembakau juga didukung oleh upaya pemberantasan rokok ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan cukai MMEA adalah diterapkannya kebijakan penyesuaian tarif cukai MMEA dengan kenaikan tarif ratarata sebesar 228. 2009 − 2010 diperkirakan mencapai Rp55.7 tahun 2009. Selanjutnya.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi 60 56.03 triliun (8.9 500.5 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. dan SPM). Peningkatan tersebut terjadi karena kebijakan penyesuaian tarif cukai untuk konsentrat yang mengandung EA sebesar 100 persen dan penetapan tarif cukai spesifik EA sebesar Rp20.4 568.5 triliun 59.1 927.9 triliun atau triliun Rp 62 mengalami peningkatan sebesar Rp0. III-20 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Penyesuaian tarif cukai MMEA dan EA dapat dilihat pada Boks III. pencapaian tersebut juga didukung oleh upaya pemberantasan MMEA ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor. Sementara itu.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah GRAFIK III.0 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp2.2 100 50 - 2005 Sumber : Kementerian Keuangan 2006 2007 2008 Penerimaan Cukai 2009 Produksi Secara lebih rinci.6 persen sampai dengan 21.3 (0. penerimaan cukai MMEA dalam APBN-P tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp3.1 triliun (221. Selain dipicu oleh kenaikan tarif tersebut.2.5 persen untuk MMEA impor. Faktor utama yang menyebabkan 58 56 kenaikan penerimaan cukai hasil tembakau 54 adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif 52 cukai yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 50 berkisar antara 9.0 2009 APBN-P persen tergantung pada jenis hasil 2010 Sumber : Kementerian Keuangan tembakaunya (SKM.

(2) menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA.3 persen. Dalam rangka penyesuaian ketentuan tarif cukai atas MMEA dan EA. Tarif cukai dapat diubah dari persentase harga dasar (advalorem) menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan BKC (spesifik). atau sebaliknya atau gabungan keduanya. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif cukai atas EA. dan untuk impor sebesar 1.0 persen untuk impor.150 persen x (nilai pabean + BM) atau 80 persen x HJE. MMEA.3 persen. Penjelasan Pasal 5 ayat 1 angka 5 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 mengatur bahwa minuman beralkohol tidak lagi termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah. Dasar penetapan tarif cukai atas MMEA dan EA diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang mengatur bahwa Barang Kena Cukai (BKC) dikenai cukai dengan tarif paling tinggi untuk produk DN sebesar 1. 2 . Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-21 . Tujuan dari kebijakan Pemerintah dalam melakukan penyesuaian tarif cukai spesifik atas MMEA dan EA yaitu: (1) untuk pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Cukai (BKC).0 persen dan sebesar 120. dan konsentrat yang mengandung EA yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340. dan (5) menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri (DN) dengan MMEA impor secara bertahap.011/ 2010 tentang Penetapan Tarif Cukai Ethil Alkohol. (4) penyederhanaan penggolongan tarif cukai ke dalam satu golongan. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 100. Sedangkan untuk MMEA impor.5 persen untuk produksi DN dan sebesar 160.0 persen.0 persen.0 persen dan sebesar 200. Minuman yang Mengandung Ethil Alkohol. Oleh karena itu.0 persen dan sebesar 214.0 persen dan sebesar 33. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan B1 dan B2 menjadi golongan B dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 500. MMEA.150 persen x harga jual pabrik atau 80 persen x HJE. dan konsentrat yang mengandung ethil alkohol.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III.2 PENYESUAIAN TARIF CUKAI MMEA DAN EA Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. (3) memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara. Sedangkan untuk MMEA impor. dan Konsentrat yang Mengandung Ethil Alkohol yang berlaku efektif sejak tanggal 1 April 2010. Pokok-pokok perubahan kebijakan penyesuaian tarif cukai yaitu: 1 . Penyesuaian kenaikan tarif MMEA untuk golongan C sebesar 188. 3 . Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan A1 dan A2 menjadi golongan A dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340. perlu dilakukan perubahan kebijakan di bidang perpajakan dan cukai dengan melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penetapan tarif cukai atas EA.

3.004 0.000 50.500 5.1 0.8 0.000 26. 1% >1% s.000 40.000 50.0 0. dan golongan. 2.01 0. 90/PMK. Secara umum.000 10.1 3.000 IMPOR Tarif Lama* (per liter) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.000 Dari semua jenis konsentrat.7 0.0 2010 APBN-P 3.2 1. Perkembangan realisasi pajak lainnya tahun 2005–2009 dapat dilihat pada Tabel III.7 100. 15% >15% s.5 100.04/2006 **PMK No. 2.67 100.03 2. Sebagian besar dari penerimaan pajak lainnya tersebut bersumber dari bea materai yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 96.2 persen terhadap total penerimaan pajak lainnya. 5 .d.0 Real.d.0 persen untuk impor.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.0 2006 Real.5 100.1 % thd Total 98.000 100.4 0.2 3.0 2008 % thd Total 93.04 6. 20% >20% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.d.12. Penetapan tarif cukai etil alkohol (etanol) untuk produksi dalam negeri dan impor dengan pengenaan tarif cukai spesifik sebesar Rp20.62/PMK.000 *PMK No.002 0. meningkatnya realisasi penerimaan pajak lainnya dalam periode 2005–2009 dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan dokumen bermeterai.12 PERKEMBANGAN PENERIMAAN PAJAK LAINNYA.001 0.500 3.0 Bea Meterai Pajak Tidak Langsung Lainnya Bunga Penagihan Pajak Total Sumber : Kementerian Keuangan III-22 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .57 100.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.0 persen.000 20. kadar.011/2010 Sumber: Kementerian Keuangan Pajak Lainnya Penerimaan pajak lainnya selama periode 2005–2009 menunjukkan adanya pertumbuhan rata-rata sebesar 11.02 0.000. 2.6 0.0 Real.3 % thd Total 97.000 30.0 Real.1 2. 2.000 30.7 2007 % thd Total 95.000 130.000 50.1 0.7 4.06 2.3 2.0 0. DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG EA DALAM NEGERI Jenis BKC Gol Kadar Alkohol Tarif Lama* (per liter) A1 A2 MMEA B1 B2 C Konsentrat Yang Mengandung EA EA s.4 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real. c TABEL III.001 0.3 100.0 0.000 Rp 20. Penyesuaian kenaikan tarif cukai atas konsentrat yang mengandung etil alkohol masingmasing sebesar 100. sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan MMEA Dari semua jenis etil alkohol.06 2.500 5.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 4 .000 100. kadar.0 persen untuk produksi DN dan sebesar 100.1 2009 % thd Total 97. 5% >5% s. dan golongan Rp 20.2 0.d.3 0.1 3. PERBANDINGAN TARIF CUKAI LAMA DENGAN TARIF CUKAI BARU ATAS MMEA.000 75.04 2. EA.8 % thd Total 97.

.

Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. perkiraan realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2010 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp1. Pemerintah Indonesia juga melakukan perjanjian kerjasama perdagangan bilateral dengan Pemerintah Jepang melalui skema persetujuan kemitraan ekonomi antara Republik Indonesia dan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 mencapai rata-rata tarif sebesar 3.0 triliun (5. regional plus one dan bilateral.1 triliun.9 persen tahun 2005 menjadi 7.5 persen).0% persen MFN triliun Rp 19 GRAFIK III. Selanjutnya. baik melalui kerjasama regional. Selama periode 2005–2010 perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN semakin menurun.5 persen. 2009 − 2010 18.0% 4.5 persen pada tahun 2010. Perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN dan kerjasama perdagangan internasional tahun 2005–2010 dapat dilihat dalam Grafik III. Penurunan tersebut merupakan dampak penerapan kebijakan harmonisasi tarif (MFN) dan konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional. Sebagai implementasinya.1 ACFTA 17 AKFTA 16 IJEPA 0.0% 2. GRAFIK III.0% 18 17.0% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 15 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Keuangan Sumber : Kementerian Keuangan III-24 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .9 persen dan 2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pertumbuhannya menurun sebesar 5. Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan perjanjian regional plus one melalui kerjasama perdagangan ASEAN-China FTA (ACFTA) dan ASEAN-Korea FTA (AKFTA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 hingga mencapai rata-rata tarif sebesar 2.6 persen. yang kemudian diperbaharui melalui skema ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA).9 persen untuk negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2010. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerapan kebijakan harmonisasi tarif bea masuk Most Favoured Nations (MFN).14. Pemerintah telah melaksanakan penurunan rata-rata tarif bea masuk hingga menjadi 0. Dalam APBN-P tahun 2010.0% 10. penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp17. Selain itu. 2005 – 2010 12.7 persen. Selain itu.13.14 PENERIMAAN BEA MASUK.13 PERKEMBANGAN RATA-RATA TARIF MFN DAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL. Perjanjian kerjasama perdagangan regional dilakukan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT).1 ASEAN CEPT 8. kebijakan penurunan tarif juga terjadi sebagai konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara di Asia.0% 6. dari 9. Penerimaan bea masuk tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.

.

2000 – 2009 100 90 80 (Ribu MT) 4. III-26 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (2) melindungi kelestarian sumber daya alam. volume ekspor biji kakao dari Indonesia meningkat rata-rata 3.000 1. PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR DAN HARGA INTERNASIONAL KAKAO. (3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar yang berlaku efektif sejak 1 April 2010. Dalam periode 2000–2009.500 2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah BOKS III.000 Export Volume (MT) 3. dan (4) menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri. Perkembangan volume ekspor dan harga internasional kakao dapat dilihat pada grafik di bawah.3 PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Indonesia merupakan negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.000 500 0 (USD/MT) 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Kementerian Keuangan dan BPS Namun.8 persen. Dasar pengenaan bea keluar atas barang ekspor diatur dalam Pasal 2A ayat (2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan tujuan untuk: (1) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri.500 1. sejalan dengan peningkatan harga internasional yang mencapai rata-rata 13.000 2. Dalam upaya menjamin ketersediaan bahan baku dan daya saing industri pengolahan kakao dalam negeri. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK. Kerangka pengenaan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao serupa dengan struktur tarif bea keluar atas minyak kelapa sawit (CPO) dengan penetapan tarif bea keluar ekspor biji kakao berkisar antara 0-15 persen mengikuti perkembangan harga kakao internasional. Hampir 80 persen dari produksi biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah.500 3.1 persen. industri pengolahan kakao dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir justru hanya mampu berproduksi sekitar 50 persen dari keseluruhan kapasitas produksi karena kurangnya pasokan bahan berupa biji-biji kakao mentah.

Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TARIF BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Harga Internasional Kakao (USD/MT) Tarif Kakao (persen) ≤  2. dan Kementerian Perhubungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bagian negara atas laba BUMN. Sementara itu. terdiri atas: (1) pendapatan dan penjualan sewa. yang sebagian besar merupakan bagian dari kelompok penerimaan kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah. Kementerian Pendidikan Nasional. antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN merupakan penerimaan negara dalam bentuk (1) dividen dari perusahaan perseroan dan perseroan terbatas lainnya yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan (2) dividen dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri BUMN. di antaranya: (a) tingkat laba BUMN dan perseroan terbatas lainnya yang diperoleh pada tahun anggaran sebelumnya.500 > 2. melalui peningkatan pengelolaan dan akuntabilitas pelaporan keuangan.500 Sumber: Kementerian Keuangan 0 5 10 15 Perhitungan dan perkembangan dari masing-masing sumber PNBP tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel yang beragam. (3) kualitas pelayanan yang diberikan dan administrasi pengelolaan PNBP yang secara tidak langsung meningkatkan jumlah objek pengenaan. (2) tarif atas kegiatan pelayanan yang dilaksanakan dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah. (3) pendapatan bunga. dan (8) pendapatan lain-lain. Pengelolaan atas sumber PNBP lainnya tersebut sebagian besar dilaksanakan oleh kementerian negara/ lembaga. PNBP lainnya. (2) luas area dan volume produksi hasil hutan. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. dan (4) besaran cost recovery yang merupakan faktor pengurang penerimaan migas yang akan dibagihasilkan antara Pemerintah dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sesuai kontrak kerja sama (KKS). Selanjutnya. (2) Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang pergerakannya mengikuti tren harga minyak dunia.500 > 3. Kepolisian Republik Indonesia. dan (c) kebijakan pay-out ratio. (2) pendapatan jasa. (b) besarnya/persentase kepemilikan saham Pemerintah dalam BUMN dan perseroan terbatas lainnya. dan (4) upaya optimalisasi yang dapat dilakukan. Kementerian Kesehatan. penerimaan SDA nonmigas dipengaruhi oleh antara lain: (1) tingkat produksi dan harga beberapa jenis komoditas mineral dan batubara. serta (4) kebijakan-kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PNBP.750 > 2. (3) tingkat produksi budidaya perikanan dan kegiatan operasi kapal penangkap ikan.000 – 2. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi PNBP lainnya dari K/L antara lain: (1) jumlah objek pengenaan PNBP. Perhitungan dan perkembangan SDA migas dipengaruhi oleh (1) lifting minyak mentah dan gas bumi. (5) pendapatan pendidikan. (7) pendapatan iuran dan denda.750 – 3. Badan Pertanahan Nasional. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. Sementara itu. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-27 . (3) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Secara keseluruhan. penurunan realisasi PNBP tahun 2009 lebih disebabkan oleh penurunan dari penerimaan SDA migas yang dipengaruhi oleh penurunan ICP yang signifikan pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan ICP pada tahun 2008.2 triliun. (5) menggali potensi-potensi penerimaan yang ada di sektor kehutanan tanpa merusak lingkungan dan mempertahankan hutan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Selama kurun waktu 2005–2009. yaitu sebesar 20. PNBP ditargetkan sebesar Rp247. (3) memperkuat pengawasan penerimaan dari sektor migas oleh BP migas. upaya dan kebijakan terutama difokuskan pada (1) pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal terhadap kegiatan usaha sektor hulu migas guna meningkatkan produksi/ lifting minyak bumi dan gas bumi. dan kebijakan yang signifikan telah dilakukan oleh Pemerintah guna meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP. (2) optimalisasi dividen pay-out ratio.8 persen. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh berkaitan dengan hal tersebut antara lain: (1) peningkatan modal kerja dan penyehatan perusahaan. III-28 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Dilihat dari komposisinya.0 persen terhadap perkiraan penerimaan dalam negeri. yaitu dari Rp320. (4) melakukan revisi tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada sektor sumber daya mineral dan meningkatkan produksi komoditas sumber daya mineral. (2) penyempurnaan ketentuan dalam kontrak kerja sama (production sharing contract) dengan tetap menghormati kontrak yang berlaku. peningkatan terbesar terjadi pada penerimaan SDA migas. Tabel III. (b) meningkatkan pengelolaan keuangan BLU yang efisien dan efektif. Namun. PNBP diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 25.5 persen. target tersebut meningkat sebesar Rp20. khususnya yang terkait dengan cost recovery. dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kinerja BUMN. (3) penyelesaian audit oleh kantor akuntan publik (KAP) atas laporan keuangan BUMN diharuskan selesai lebih awal dari peraturan yang ada guna mengetahui secara awal definitif atas laba/rugi bersih BUMN. (3) monitoring.2 triliun. (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L.13 memperlihatkan perkembangan total PNBP beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. Sementara itu. serta (6) mengoptimalkan penerimaan dari sektor perikanan dengan mempertimbangkan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pesisir/nelayan. yaitu 54. dan (c) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. Dalam APBN-P tahun 2010. berbagai langkah. Upaya optimalisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009. dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya. Optimalisasi PNBP lainnya selama 2005–2009 antara lain ditempuh melalui (1) optimalisasi PNBP pada K/L.1 persen. Dilihat dari komposisinya.6 triliun di tahun 2008 menjadi Rp227. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L. Dengan target tersebut. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006. Untuk penerimaan SDA. serta (4) peningkatan sinergi antar BUMN guna meningkatkan daya saing.5 persen.0 triliun atau 8. kebijakan mengenai pendapatan BLU difokuskan pada upaya untuk (a) mendorong peningkatan pelayanan publik instansi Pemerintah. di tahun 2009 PNBP mengalami pertumbuhan negatif 29. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. upaya. selama 2005–2009 PNBP mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11.

2 26.Gas bumi Penerimaan SDA Nonmigas .5 2007 124.7 112. dan penerimaan pertambangan panas bumi.2.7 2.8 6.1 0.6 12. Sedangkan di tahun 2008.8 29.14 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010.6 169. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN III.5 persen.14 PERKEMBANGAN PENERIMAAN SDA.0 29.1 23.2 13. perkiraan penerimaan SDA tersebut mengalami peningkatan Rp25.8 30. Tabel III.1 63.5 211.1 132.3 110. Selama periode 2005–2009.1 32.8 90.4 139.Kehutanan . atau naik Rp91.3 0.9 6.9 124.5 39.7 12.2 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Penerimaan SDA Migas .3 0.2 56.0 42.9 224.2 8.6 2009 139. Penerimaan SDA a.1 0. yang terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas) dan penerimaan SDA nonmigas merupakan sumber utama PNBP.6 146.0 53. Penerimaan SDA Migas b.Panas Bumi Penerimaan SDA Sumber : Kementerian Keuangan 2006 158.5 158.7 triliun.4 0.8 triliun atau 18. mengalami pertumbuhan tertinggi.1 Penerimaan SDA Penerimaan SDA. penerimaan kehutanan.1 215. PNBP Lainnya IV.6 persen dan 38.2 2010 APBN-P 164.2 164. Di tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan penerimaan SDA.5 38.9 2.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.4 227.8 2.4 6.1 0.Perikanan .1 35.7 3. Dalam lima tahun terakhir.9 2008 211.9 9.7 13. Penerimaan SDA migas merupakan penerimaan yang bersumber dari penerimaan minyak bumi dan penerimaan gas bumi.5 43. penerimaan perikanan.6 triliun bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007. yaitu mencapai 63.Minyak bumi .2 0.2 167.9 persen.7 151.1 5.5 9.4 persen terhadap total PNBP.7 13. TABEL III.2 10.2.3 3.1 125.4 2.8 72. Penerimaan SDA Nonmigas II.9 2. penerimaan SDA memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif.1 2008 224.7 320.9 2006 167.2 3.0 2010 APBN-P 151.2 3.8 9. Sedangkan penerimaan SDA nonmigas diperoleh dari penerimaan pertambangan umum.6 31.5 2.1 9. sebesar masing-masing 20.1 persen. 2005 – 2010 (triliun rupiah) Uraian I.0 227.8 8.0 2007 132.8 23.5 2009 125.1.Pertambangan Umum . Pendapatan BLU PNBP Sumber : Kementerian Keuangan 2005 110.5 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-29 .0 9.13 PERKEMBANGAN PNBP.5 247.7 103. penerimaan SDA memberikan kontribusi rata-rata sekitar 68.6 12.0 125.4 21. Dalam APBN-P tahun 2010.9 0. penerimaan SDA ditargetkan sebesar Rp164.8 8.8 13.5 103.8 93.

.

.

.

sejumlah BUMN terus mengalami perubahan. (b) perusahaan perseroan (persero). (c) bidang usaha logistik dan pariwisata. serta (e) pertambangan.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sekitar 75.2 Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-33 . yakni: (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. penerimaan pertambangan panas bumi merupakan sumber penerimaan SDA nonmigas yang mulai dicatat dalam penerimaan tahun 2008.0 persen penerimaan dari beroperasinya kapal-kapal perikanan asing. Perusahaan asing boleh memiliki izin tangkap ikan hanya bila mendaratkan hasil tangkapan ke dalam negeri. hingga sekarang BUMN dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Dari sisi bentuk perusahaan. kehutanan. koperasi. (d) agro industri. baik dari sisi bentuk perusahaan. BUMN dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yang tersebar dalam 35 sektor usaha. penerimaan dari pertambangan panas bumi memiliki potensi yang cukup besar mengingat Pemerintah terus mengupayakan pemanfaatan energi alternatif. kertas. (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. sedangkan dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp0. (b) mengejar keuntungan.2 triliun. realisasi penerimaan panas bumi mencapai Rp0. maupun kelompok sektor usaha. Dari sisi kelompok sektor usaha. dan penerbitan. Kebijakan penghapusan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk menghambat illegal fishing dan untuk memperkuat industri dan armada perikanan nasional. Seiring perkembangan waktu. energi. yaitu: (a) perusahaan umum (perum).2 triliun. pertanian. perkiraan realisasi tersebut meningkat sebesar Rp58.0 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. penerimaan perikanan ditargetkan sebesar Rp150 miliar. percetakan.4 triliun. Kelima peran ekonomi tersebut merupakan amanah dari pasal 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. dan masyarakat. dijelaskan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. turun 39. pada saat ini BUMN memegang lima peranan dalam ekonomi nasional.2. Dalam jangka menengah. khususnya energi panas bumi. Faktor lainnya adalah karena meningkatnya biaya operasi penangkapan ikan yang mengakibatkan banyak pengusaha kapal mengalihkan usahanya ke sektor lain sehingga mengurangi penerimaan dari pungutan hasil perikanan (PHP). Peningkatan penerimaan perikanan diupayakan melalui optimalisasi pelayanan dan penertiban perizinan usaha. 3. yaitu kelompok: (a) jasa keuangan dan perbankan. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. dan (c) perseroan terbatas terbuka (persero Tbk). dan mendirikan unit pengolahan di Indonesia. Dalam APBN-P tahun 2010.0 persen. telekomunikasi. (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak.0 miliar atau 63. Dalam tahun 2009. Target tersebut lebih rendah Rp0.1.2. (b) jasa lainnya. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Selanjutnya. Dalam beberapa tahun terakhir. dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.

yaitu dari 139 BUMN menjadi 142 BUMN. Dari total perolehan laba bersih tersebut. sebagian III-34 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah industri strategis.4 persen). Pemetaan laba/rugi berikut kategori BUMN dan perseroan minoritas disajikan pada Bagan III.1 PETA KINERJA BUMN DI TAHUN 2010 Bagi Dividen Tidak Bagi Dividen Akum Rugi ………………………………………………………………………………………… Sub-Total BUMN …………………………… BUMN 141 LABA 120 RUGI 21*  72  10  38  21  141  Kebijakan * BUMN yaitu PT ISI dalam proses likuidasi Minoritas  18  Sumber: Kementerian BUMN Bagi Dividen  Tidak Bagi Dividen  …………………………… 7  11  18  …………………………… Sub-Total Minoritas Selama periode 2005–2009. kinerja BUMN terus mengalami perkembangan positif.5 persen. telah terjadi penambahan jumlah BUMN. Selama periode tersebut. Selama periode 2007–2010. Data mutakhir Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24. dan belanja modal (capital expenditure/capex).4 persen. PT Bank Bukopin (18. total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10. saham minoritas Pemerintah tersebar di 18 perusahaan yang di antaranya PT Indosat Tbk (14. pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2009. opex tumbuh ratarata sebesar 288. dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50.1. Ketiga BUMN baru tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset / PPA (persero).6 triliun. Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas atau di bawah 51. Hingga tahun 2010. Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN.3 persen). pertanian dan perkebunan. dan Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik. dan total persentase rata-rata terhadap kapitalisasi pasar sebesar 34. dan PT Freeport Indonesia Tbk (9. PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia. nilai tukar.   BAGAN III. baik dari aset.0 persen. Kinerja BUMN selama periode tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal. laba bersih. Peningkatan laba bersih tersebut menunjukkan ketahanan (resilience) kinerja BUMN di tengah belum kondusifnya kondisi perekonomian tahun 2009 sebagai dampak instabilitas variabel makro seperti harga minyak.2 persen). pertumbuhan kredit perbankan.0 persen di sejumlah perusahaan. laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25.0 persen. Dari sisi laba bersih seluruh BUMN.1 persen. belanja operasional (operational expenditure/opex). lebih besar bila dibandingkan dengan laba tahun 2008. yaitu sebesar Rp88. serta harga komoditas pertambangan. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003.6 persen.

.

yang antara lain disebabkan oleh tingginya pendapatan penjualan dan sewa.7 persen 5 terhadap total dividen BUMN. (3) pendapatan bunga. Target tersebut lebih rendah Rp10. (2) pendapatan jasa. yaitu meningkat sebesar Rp18. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. (5) pendapatan pendidikan.8 15 penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap 10 tahun mencapai 45.15. peningkatan tertinggi terjadi dalam tahun 2007.25 PNBP BAGIAN PEMERINTAH ATAS LABA BUMN.6 29.2 triliun atau meningkat sebesar 23. serta adanya setoran berupa pendapatan bagian Pemerintah dari sisa surplus Bank Indonesia di tahun 2009.3 triliun atau 19. Penetapan penggunaan PNBP tersebut didasarkan pada keputusan Menteri Keuangan tentang izin penggunaan PNBP yang bersifat spesifik pada masing-masing K/L. PNBP lainnya ditargetkan mencapai Rp43. realisasi PNBP lainnya rata-rata tumbuh sebesar 22.5 triliun per tahun.1. Perkembangan PNBP lainnya dan pendapatan BLU selama periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. Sumber utama PNBP lainnya berasal dari pendapatan Pemerintah yang diperoleh dari jasa pelayanan yang diberikan oleh K/L kepada masyarakat. Secara nominal. dan pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan Pelayanan Publik. Perolehan laba tertinggi terjadi dalam tahun 2008 yaitu sebesar Rp30.2. pelayanan.7 persen). III-36 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya. serta (8) pendapatan lain-lain. triliun Rp GRAFIK III.8 triliun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan tersebut adalah meningkatnya pendapatan dari kegiatan hulu migas. 3. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi.5 triliun. Dalam kurun waktu 2005–2009. (7) pendapatan iuran dan denda.3 triliun menjadi Rp8. PNBP lainnya terdiri atas penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN ditargetkan sebesar Rp29.29 28. sebagian PNBP yang dipungut oleh K/L dapat digunakan kembali oleh K/L yang bersangkutan setelah disetor ke kas negara terlebih dahulu. yaitu dari Rp7. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 PT Pertamina membukukan laba Sumber : Kementerian Keuangan bersih rata-rata sebesar Rp22.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Peningkatan tersebut merupakan windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah perbankan sebesar Rp3. Sedangkan dalam APBN-P tahun 2010. 0 Selama periode tersebut.3 PNBP Lainnya Dalam struktur APBN.3 triliun (12. 20 PT Pertamina menjadi BUMN 12. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah dunia.2.22 31. 2005 – 2010 35 30 21.5 25 Selama periode 2005–2010.5 triliun. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing K/L tersebut.9 persen.8 triliun.4 23. Selanjutnya dalam APBN-P tahun 2010. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan.

2 7.5 3.9 5.4 1.9 1.7 4.5 38. (3) pendapatan jasa sewa sarana dan prasarana.1 5. selain dengan penetapan.8 1. PNBP Kemenkominfo mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53. Sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika. pelatihan.5 1.5 6.7 1.15 PERKEMBANGAN PNBP LAINNYA.0 2. Pemerintah juga telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemungutan PNBP pada masing-masing K/L. (4) pendapatan dari penyelenggaraan penyiaran. dan penyempurnaan peraturan pemerintah (PP) tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada K/L.0 1. Perkembangan PNBP Kemenkominfo dapat dilihat pada Grafik III.2 0. Sementara itu dalam APBN-P tahun 2010. khususnya yang berasal dari berbagai K/L.3 1.5 6. jenis penerimaan yang berlaku di Kementerian Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-37 .5 Dalam rangka pencapaian target PNBP 2010.9 2.Penerimaan lain-lain Total PNBP Lainnya * Termasuk pendapatan BLU Sumber: Berbagai Kementerian/Lembaga 2005 1. meningkat sebesar Rp2. dan penghapusan aset.26.3 0.4 1.9 8.5 9.8 7.4 1.8 63.5 1.2 1.0 2.0 0.2 8.8 1.4 1.Penjualan hasil tambang .Pendapatan minyak mentah (DMO) . Selama periode 2005–2009. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.4 1.0 1. dan (5) pendapatan pendidikan.0 1.5 8.5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 sebesar Rp7.9 13.1 triliun.3 2.8 2010 APBN-P 10.6 2. antara lain sistem monitoring frekuensi. jenis penerimaan PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terdiri atas: (1) pendapatan hak dan perizinan (biaya hak penyelenggaraan frekuensi).Rekening Dana Investasi (RDI) .4 3.3 2009 10.Surplus BI .6 0.7 triliun.3 53. (3) melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi berkenaan dengan kewajiban pembayaranPNBP.7 9.4 23.7 persen.9 7.6 13.2 0. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya penggunaan spektrum di pita seluler oleh para operator seluler. (2) pendapatan jasa penyelenggaraan pos dan telekomunikasi (biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi).0 2. dan (5) pembaharuan dan penambahan instrumen secara bertahap.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.6 2006 4. (4) penegakan hukum secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi yang tidak mematuhi ketentuan perundangan. PNBP Kemenkominfo ditargetkan sebesar Rp10.7 1.0 2007 5.3 6.3 triliun. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.2 0.5 23.4 triliun atau 30. antara lain: (1) pengenaan BHP frekuensi dengan metode lelang pada pita frekuensi yang potensial (bandwith wireless access).2 3. perbaikan.9 43. Dalam tahun 2009. (2) pembenahan database baik pengguna frekuensi maupun penyelenggaraan telekomunikasi.4 7. otomatisasi sistem manajemen/perizinan frekuensi dan alat pengujian. seperti: .3 56.7 4. 2005 – 2010 (triliun rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 Kementerian/Lembaga Kementerian Komunikasi dan Informatika* Kementerian Pendidikan Nasional * Kementerian Kesehatan* Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Pertanahan Nasional Kementerian Hukum dan HAM Peneriman Lainnya.2 9.5 0. realisasi penerimaan PNBP Kemenkominfo mencapai Rp10.5 2.1 3.9 2008 7.7 8.

Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terdiri atas: (1) penerimaan dari penyelenggaraan pendidikan.4 triliun. meningkat Rp0. (2) penerimaan dari pemberian izin mendirikan rumah sakit swasta. (5) penerimaan dari jasa pemeriksaan air secara kimia lengkap. Perkembangan PNBP Kemendiknas dapat dilihat pada Grafik III.26 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKOMINFO.0 5. dan (4) penerimaan dari sumbangan hibah perorangan.27. (4) mendukung upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang tertib.8 4 3. PNBP Kemendiknas ditargetkan 3. (7) penerimaan dari jasa balai kesehatan mata masyarakat (BKMM).6 persen per tahun. Sedangkan pertumbuhan PNBP Kemendiknas selama periode 2005–2009. ekonomis. dan (9) penerimaan dari jasa pelayanan rumah sakit. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 baik antarinstansi maupun lembaga Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional non-Pemerintah. (4) penerimaan dari jasa pemeriksaan laboratorium. Adapun pertumbuhan rata-rata selama 2005–2009 mencapai 101.4 triliun atau 13.3 2 antara lain: (1) meningkatkan kapasitas 0. taat pada peraturan per Undang-undangan. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.27 PERKEMBANGAN PNBP KEMENDIKNAS.2 sebesar Rp6. transparan. serta dunia industri. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi pada tahun 2008 yang mencapai Rp4.1 10.3 triliun. rata-rata sebesar 45. lembaga Pemerintah atau non-Pemerintah. efektif.1 4 1. triliun Rp 10 GRAFIK III.3 8 7. Dalam tahun 2009.9 dan daya tampung perguruan tinggi. teknologi dan seni.5 persen. efisien. 1 (2) meningkatkan pelaksanaan 0 berbagai program kegiatan kerjasama.8 2 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Kominfo triliun Rp 7 6 GRAFIK III. 2.0 triliun.7 triliun.8 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008. (8) penerimaan dari uji pemeriksaan spesimen. Target tersebut 3 didukung oleh beberapa kebijakan.7 5. (3) penerimaan dari jasa pendidikan tenaga kesehatan. (2) penerimaan kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). jenis penerimaan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terdiri atas: (1) penerimaan dari pemberian izin pelayanan kesehatan oleh swasta. 2005 – 2010 10. (3) meningkatkan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmu pengetahuan. (3) penerimaan dari hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan. realisasi PNBP Kemendiknas mencapai Rp5. 2005 – 2010 6. III-38 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .4 Sementara itu dalam APBN-P tahun 5 2010. (6) penerimaan dari jasa balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4). Dalam tahun 2009.7 6 4. realisasi PNBP Kemenkes mencapai Rp3. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Kesehatan.

kendaraan uji SIM roda 2/roda 4.0 2.4 1. dan (9) denda pelanggaran lalu lintas. mobil unit pelayanan SIM.5 1.0 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional (BPN). (6) simulator.5 0.3 3. kendaraan patwal roda 2/roda 4.0 Target tersebut didukung oleh 4 beberapa kebijakan. 1 (c) peningkatan cost recovery rumah 0. (3) tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB). PNBP Polri ditargetkan sebesar Rp2. kendaraan patroli roda 2/roda 4. (4) meningkatkan kinerja dengan GRAFIK III.4 sakit untuk menuju kemandirian 0. jenis penerimaan yang berlaku di BPN terdiri 0. PNBP Kemenkes GRAFIK III.0 triliun. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. 0 dan (d) meningkatkan pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 kesehatan yang terintegrasi sesuai Sumber : Kementerian Kesehatan standar yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. (2) meningkatkan infrastruktur pendukung pelaksanaan operasional Polri di bidang lalu lintas berupa pengadaan Alsus Polantas. (2) surat tanda nomor kendaraan (STNK). dan Papua.28. dan (5) melaksanakan 2. (3) melanjutkan pembangunan jaringan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) meliputi wilayah Kalimantan.29 PERKEMBANGAN PNBP POLRI. 2 (b) menggali potensi PNBP melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi.0 (a) peningkatan sumber daya 2. (8) kartu sidik jari.5 1. ditargetkan sebesar Rp4. (5) bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB). triliun Rp 2005 – 2010 4. mobil unit laka Lantas.7 melalui kegiatan Citra Polantas.2 Perkembangan PNBP Polri dapat dilihat pada Grafik III.2 komputerisasi administrasi keuangan. 2005 − 2010 menambah membangun jaringan triliun Rp Automatic Traffic Management Center 2. (4) surat tanda coba kendaraan (STCK).9 3 manusia dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pelayanan. Perkembangan PNBP Kemenkes dapat dilihat pada Grafik III.0 triliun. jenis penerimaan Polri terdiri atas: (1) surat izin mengemudi (SIM). Maluku Utara. 1.5 di wilayah Jawa. 1. driving simulator. PERKEMBANGAN PNBP KEMENKES.0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia APBN-P 2010 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-39 . antara lain 3. komputer Samsat dan alat cetak TNKB.8 1.29.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Sementara itu. Pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui kebijakan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis Lantas dan pendidikan pelatihan fungsional Lantas.0 Perpolisian Masyarakat (Polmas) 1. (7) izin senjata api (Senpi).28 dalam APBN-P tahun 2010. Dalam APBN-P tahun 2010.

PNBP Kemenkumham mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18. dan (7) pelayanan lisensi. pengukuran. Target tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.8 negara. Target tersebut didukung dengan kebijakan antara lain: (1) melakukan inventarisasi seluruh potensi PNBP pada kantor atau unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan Kemenkumham. (6) pelayanan pendidikan. triliun Rp 1. dan pemetaan.6 GRAFIK III.2 triliun. realisasi PNBP Kemenkumham mencapai Rp1.7 0. 2005 − 2010 ditargetkan sebesar Rp1.30. (4) hak dan kekayaan intelektual.8 0. (2) PNBP fungsional.31 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKUMHAM. sertifikasi tanah pertanian dan nelayan pada daerah tertinggal dan ekonomi lemah. (2) balai harta peninggalan. (3) keimigrasian.5 triliun.4 biaya pelayanan. Rata-rata pertumbuhan PNBP BPN periode 2005–2009 mencapai 23. (2) pelayanan pemeriksaan tanah. triliun Rp antara lain: (1) PNBP murni.0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P kapasitas kemampuan petugas ukur dan 2010 Sumber : Badan Pertanahan Nasional pendataan yuridis termasuk melibatkan para surveyor berlisensi.4 meningkatkan penertiban pengelolaan PNBP dan penertiban pencatatan aset-aset milik 1.4 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Hukum dan HAM III-40 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .2 0.2 0. Perkembangan PNBP BPN dapat dilihat pada Grafik III. dan memfokuskan pelayanan pertanahan yang dibiayai dengan sumber dana publik. jenis penerimaan Kemenkumham bersumber dari penerimaan (1) pelayanan jasa hukum.30 PERKEMBANGAN PNBP BPN.31. Dalam tahun 2009. antara lain 0. meningkat sebesar Rp0. serta (5) jasa tenaga kerja narapidana. UKM.4 triliun.5 1. dan (2) optimalisasi pembangunan sarana dan prasana untuk mendukung tugas dan fungsi Kemenkumham.4 triliun.5 1. peningkatan 0.9 persen. Dalam APBN-P tahun 2010.2 0.5 triliun.8 1. yaitu 1. dan 0. Selama periode 2005–2009.7 0. Dalam APBN-P tahun 2010. Pencapaian tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat yang berimbas pada minat dan kesadaran masyarakat terhadap kepastian hukum.9 0.6 melalui peningkatan transparansi informasi tentang persyaratan. seperti PRONA. PNBP Kemenkumham ditargetkan sebesar Rp1.7 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp1. (5) pelayanan survei.9 0.8 0. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).6 1.2 triliun atau 16. PNBP BPN GRAFIK III. Perkembangan PNBP Kemenkumham dapat dilihat pada Grafik III. (3) pelayanan informasi pertanahan. penerapan model pelayanan “jemput bola”. sama dengan realisasi tahun 2008.7 persen.4 1. (4) pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya. 2005 − 2010 1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah atas (1) pelayanan pendaftaran tanah. Realisasi PNBP BPN tahun 2009 mencapai Rp1. jangka waktu.

.

4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011 Pendapatan negara dan hibah sangat penting sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam rencana kerja Pemerintah (RKP). Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2011. Untuk itu.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 3. meskipun masih terdapat tantangan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi global terkait dengan terjadinya gejolak pada sektor keuangan di beberapa negara kawasan Eropa. Di samping itu. Sebagai kontributor utama penerimaan dalam negeri. Upaya Pemerintah tersebut melalui (1) pengoptimalan lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi. dan opsi dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN. Apabila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. dan intensifikasi penarikan PNBP K/L. penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna mengetahui posisi rugi/laba BUMN.7 triliun.086. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan III-42 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak. Berdasarkan kondisi perekonomian nasional tersebut. ketidakpastian perkembangan harga minyak dunia yang akan berpengaruh terhadap tingkat harga juga akan memberikan pengaruh terhadap upaya pencapaian target penerimaan migas. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh cukup stabilnya fundamental ekonomi makro nasional dan juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dunia. (5) perbaikan sistem informasi.082. Dalam tahun 2011.5 persen. 3. terutama didorong oleh penurunan penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN. dan (3) peninjauan atas jenis dan tarif. Penerimaan dalam negeri yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP. terdiri atas penerimaan dalam negeri Rp1.4 triliun.6 triliun dan hibah Rp3. menjadi pilar utama dari pendapatan negara dan hibah. dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp1. penerimaan perpajakan diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Beberapa kebijakan yang diambil untuk mencapai target tersebut adalah (1) penggalian potensi perpajakan. pendapatan negara dan hibah diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010. (2) pengoptimalan penerimaan Pemerintah atas laba BUMN melalui optimalisasi pay-out ratio.3 Tantangan dan Peluang Kebijakan Pendapatan Negara Proses pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2010 memberikan landasan yang cukup kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia pada tahun-tahun selanjutnya. Pada tahun 2011. perbaikan administrasi pelaporan keuangan. pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2010. Prospek pulihnya perekonomian menjadi salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan sumbersumber pendapatan negara. target dalam tahun 2011 tersebut mengalami peningkatan sebesar 9. Sumber utama peningkatan tersebut diharapkan berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan meningkat sejalan dengan dilakukannya berbagai extra effort. (4) peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. PNBP diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan target APBN-P 2010. serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA. Pemerintah perlu berupaya melalui kebijakan dan perbaikan administrasi guna lebih mengoptimalkan pencapaian target PNBP tahun 2011.

Pajak lainnya b. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Pajak Dalam Negeri i.3 0.086. Bagian Laba BUMN c.6 triliun pada tahun 2011.8 22.2 23.4 0. serta perbaikan mekanisme keberatan dan banding.5 743.4 306.5 0.1 158. Penerimaan Negara Bukan Pajak a.1 3.1 triliun (22.0 5.5 15.1 4.5 persen). Bea keluar 2.4 0.0 APBN-P 992.5 triliun (77.0 29. TABEL III.3 3.1 Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1. Nonmigas b.9 26.4 0.5 43.5 816.2 0. Pajak Perdagangan Internasional i.5 9. Sebagian besar dari target penerimaan dalam negeri tersebut merupakan kontribusi dari penerimaan perpajakan.6 43.9 15.3 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010.0 2.9 0.9 0.0 11.5 2. yaitu sebesar Rp839.4 990. PNBP Lainnya d.1 0. kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan.7 13.0 25.1 4.8 5.1 0.2 55.16.6 17. atau meningkat 9.7 % thd PDB 15.3 0.2 164.2 59.0 0.2 0. Cukai vi. Bea masuk ii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. Penerimaan Perpajakan a.3 27.9 11.9 3.9 4.4 0.5 1.1 0.6 2. dan selebihnya merupakan kontribusi dari PNBP sebesar Rp243.2 0.4.3 12.9 4. 3. perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-43 .9 0. Pendapatan BLU II.3 2.1 243.2 360.6 0.5 persen).5 12.5 54.3 0.4 1.4 14. Pajak penghasilan Migas Nonmigas ii. peningkatan pemeriksaan pajak.1.2 0.6 839. Penerimaan SDA i.1 5.2 0.7 5.3 7. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2011 % thd PDB 15.5 247.8 362. Migas ii.1 0.0 60.7 4.3 309.2 145.082.4.9 RAPBN 1.1 3.7 151.3 720. Pajak pertambahan nilai iii. BPHTB v.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011 Sebagaimana tahun 2010.1 18.8 263.8 11. Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010–2011 dapat dilihat pada Tabel III.4 414.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III administrasi perpajakan.5 5.8 0. penggalian potensi perpajakan.7 0.16 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH.4 0.4 0. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I.082.7 0. Penerimaan Dalam Negeri 1. Selain itu.

antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru. optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang. Bandara Soekarno Hatta. (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok. Tanjung Emas. Undang-undang Kepailitan. melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013). Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan. Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan. Selanjutnya. (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah. Tanjung Perak. Makasar dan Belawan). serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak. Khusus di bidang kepabeanan. Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II. Tanjung Perak. (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP. optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor. dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance). terutama jalur rawan penyelundupan. beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup. Selain itu. (3) otomatisasi pelayanan. (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi. antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). Selain kelima upaya tersebut. dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan. (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP). dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok. dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. (2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011. (3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar. III-44 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan. dan Belawan). Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai. (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu. Selanjutnya. Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit. Dalam hal ini.

Selain itu. Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011.5 triliun. (2) perbaikan administrasi pajak. PPh migas ditargetkan mencapai Rp54. kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus. akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi.0 triliun. baik secara global maupun domestik. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3. penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839. penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management. (2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang.0 triliun. serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit. otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal. faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-45 . PPh ditargetkan mencapai Rp414. target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2.300 per USD. Sementara itu. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor. (2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9. pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A. Secara umum. optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai.4 persen. Khusus di bidang cukai.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan. di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai. PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1.2 persen. melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran. serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai. dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011. dari target APBN-P tahun 2010.0 per barel. Pada tahun 2011. Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011 Pada tahun 2011.5 triliun.1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh. PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17. atau meningkat 14. pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai.2 triliun. dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1. atau meningkat 12.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1.9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. hingga mencapai Rp360. dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014. (3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada: (1) asumsi ICP USD80. atau 13. kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau.3 triliun.5 triliun.5 triliun pada tahun 2011. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. dan (4) tingginya tax compliance masyarakat.

3 persen.0 6.6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23.5 7.8 23.8 22.17.1 persen atau Rp49.0 0.6 0.3 19.9 21. Real Estate.8 26.0 3.2 5.0 150.3 77.9 100.4 2.0 100. dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6.7) 24. Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6.7 5. Dalam target PPN dan PPnBM tersebut.6 3.7 31.2) 32.2 0.3 triliun. Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi.3 7. Gas.2 3.9 3. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.6 persen.4 % thd Total 4.6 4.2 14.6 28. TABEL III. (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping.0 triliun. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.3 8.6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010.2 12. di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9.3 triliun.0 y-o-y 34.7 19.0 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y (8. Sementara itu.4 95.7 39. real estate.2 (12.7 0. dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan.3 9.7 25.5 8.5 29.6 persen.7 23.8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22.8 2.8 7.8 22. transaksi yang offline serta restitusi Pada tahun 2011.1 18. Hotel. sektor keuangan. Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III.1 9. (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait III-46 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .7) (19.8 8. target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309.6 20. Kehutanan.9 persen.4 61. terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95.17 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.4 258. Selanjutnya.2 8. Real.7 29.4 0. dan benchmarking.7 49.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak.4 triliun.0 12.3 persen.1 Perk. dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5. dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66.1 triliun (30. target tersebut meningkat sebesar 19. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.6 5. bahan bakar nabati. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. profiling.5) (20.7 8.1 66. Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri.5 1. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.5 triliun.1 2. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.3 17. hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39.2 6. atau meningkat 17. 9.0 RAPBN 12.8 0.1 9.1 308. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak. sektor perdagangan.0 triliun (12. Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308. (2) perluasan basis pajak.7 persen) dengan pertumbuhan 8.0 18.1 30.3 2.5 7.1 30. Peternakan.8 triliun (21.5 17.9 % thd Total 3.

2 85.1 3.2 0.1) 6.9 2. Peternakan.9 18. sektor industri perdagangan.9 1.3 152.9 6.9 0. Real Estate. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.8 26.1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.18 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28.2 persen. Selanjutnya. peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia.5 37.5 % thd Total 2.2 1. sebagai komponen terbesar. sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14.1 18.5 triliun atau meningkat sebesar 19.2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 9. atau naik 21.7 15. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III.9 12.1 Perk. transaksi yang offline dan restitusi Pada tahun 2011. 2010 – 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.2 triliun (46.3 triliun (7. Hotel. penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117. Kehutanan.2 67. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.9 2. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L. Sementara itu.0 12.4 (83.0 triliun (61.1 0. Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181.3 0. gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2.4 persen. penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85.8 triliun. dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0.9 1.0 15.5 4.7 triliun atau meningkat sebesar 23.1 19.8 7.4 14. Real.6 persen dan sektor perdagangan.4 181.6 7.9 1.2 1.1 32.9) 55.4 11.5 4.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.2 7.4 12.3 78. serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32.2 28.8 15.4 43.8 triliun.6 2. Gas.7 17.0 58. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Secara umum.4 43. Secara lebih rinci.7 persen. Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27.8 100.3 0.19. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72.0 y-o-y 18.3 2.2 0.1 12.7 RAPBN 3. hotel.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26.4 24. Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar.1 56.3 100.3 0.4 8.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III kebutuhan eksplorasi hulu minyak.7 50.4 6.0 (42.2 3.3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.8 2. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-47 .18.3 % thd Total 2.3 0.5 triliun. sebagai kontributor terbesar kedua. 3. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut. TABEL III.4 0.6 6.2 triliun (30.1 46.7 persen.4 31.8 7. hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36.1 30.7 triliun pada tahun 2011. atau meningkat 9.4 triliun (17.1 28. PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20.9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.6 21.3 12.1 44.8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.

8 (9.2 (45.4) 124. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010.0 % thd Total 0.7 (13.9) 62.3 4. didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3.7 triliun. 2010-2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian. stabilitas harga nasional.3 1.0 (2.19 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.0 100. dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2.3 0.3) 318.2 11.1 triliun. Real. Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2.2 0.1 triliun atau 5.5) 38.3 0.9 0.6 0.5 (40.1 0.7 23. atau 9.4) 45.3 2.6 0.0 100.0 triliun.0 y-o-y 47.5 49.9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target III-48 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau.2 triliun.4 persen. Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 117.7 1.7 triliun. Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara.1 0.2 1. Pada tahun 2011.4) 54.3 1.0 triliun.2 persen.2 0. pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4. Kehutanan dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.2 2.0 0. Peternakan. Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60.0) 14. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010.0 RAPBN 0. dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal. (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai. bea keluar ditargetkan mencapai Rp5. Dalam tahun 2011.4 (8. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.2 0.0 36.6 1.0 61.7 0.7 % thd Total 0. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai.3) 21.2 0.1 3. transaksi yang offline dan restitusi Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah.9 30.2 1. 0.9 28.2 0.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.0 72.0 95.1 0.4 (85.0 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.3 2.0 62.0 0.3 persen.9 2.6 0.1 0.2 (70.9 28.0 29.300 per USD. Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18.4 0.0 59.8) 51.9 persen.9 Perk. dan kelestarian sumber daya alam. Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang belum jelas batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 366. dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional. maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011. (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA.3 3.6 2.9 (0. target cukai 2011 mengalami peningkatan 2.1 0.5 0.5 0. terjadi peningkatan sebesar 5. terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58. (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9.7 10.

.

.

Di samping itu. peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sebesar Rp50. (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI). sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK. Untuk BUMN sektor perbankan.7 miliar atau 45. Namun. (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu. Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu. (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP. Terkait dengan hal tersebut. dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan. (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan. termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP). BUMN Sektor Perbankan. (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas. akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011.3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010.1 miliar. kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya. Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-51 . Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP). (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan. meningkat sebesar Rp111. Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi. dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan.0 miliar atau 33. Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif. (9) peningkatan pelayanan. (2) penanggulangan illegal fishing. Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356. Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas. upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha.

tidak diambil dividennya. PT Taspen. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian. PNBP Lainnya Dalam tahun 2011. sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43.4 triliun. dan PT Asabri diterapkan POR nol persen. Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26. Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011. target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43. Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien. III-52 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen. (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III. (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen. (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi. dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen. Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN. (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. khusus PT Jamsostek. dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS. PT Askes. yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi.36. dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut. Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian. dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi. terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba. Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN.5 triliun. Prospektus IPO). terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia.6 triliun. untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan. (b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan. (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat.

.

target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.8 2. terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan. dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi. III-54 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .38.0 2. Dalam tahun 2011. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4.5 2. dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor.0 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indone sia Secara garis besar. (b) melanjutkan pembangunan jaringan online Samsat di seluruh Polda. yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan. meningkat Rp0. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM.8 triliun.8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2. PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10.0 triliun atau 59.0 0. serta pemberlakuan Undangundang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.7 6. GRAFIK III.7 triliun.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah (4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi.5 0.0 APBN-P 2010 RAPBN 2011 2.38 PNBP KEMENDIKNAS. dan (d) melaksanakan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui kegiatan Citra Polantas. akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah.8 triliun atau 39. GRAFIK III.39.5 1.0 triliun. kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah (a) meningkatkan kemampuan SDM Polri melalui pendidikan dan pelatihan.7 triliun.7 Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain: (a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi. Dalam tahun 2011.8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6. keselamatan. 2010 − 2011 triliun Rp 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Ke menterian Pe ndid ikan Nasional RAPBN 2011 10. serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik. ketertiban. 2010 − 2011 triliun Rp 3.39 PNBP POLRI. (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi. dan kelancaran berlalu lintas. (c) melanjutkan upgrade jaringan Satpas termasuk SIM keliling. STNK.0 1.

naik Rp0.2 triliun atau 13.5 1. GRAFIK III.3 triliun.6 1. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya kunjungan dan izin tinggal orang asing di Indonesia.41.5 triliun. dan (5) melakukan perjanjian kerjasama dengan bank BUMN untuk penerimaan biaya VKSK.42. serta (c) penerapan model pelayanan kantor pertanahan bergerak pelayanan rakyat sertifikasi pertanahan (LARASITA).8 0.0 APBN-P RAPBN akan ditempuh untuk mencapai target tahun 2011 2010 2011 tersebut adalah: (1) peningkatan pelayanan kepada Sumber : Kementerian Hukum d an HAM masyarakat melalui penambahan kantor imigrasi.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III PNBP BPN dalam tahun 2011 direncanakan mencapai Rp1. Penerimaan ini lebih tinggi Rp5.2 0.4 triliun atau 57.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. pokok-pokok kebijakan yang 0.5 triliun. 2010 − 2011 triliun Rp 2. (3) menambah jumlah negara subjek VKSK menjadi 62 negara.4 ` 1. Perkembangan pendapatan BLU tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.40 memperlihatkan target PNBP BPN tahun 2010 dan 2011.0 APBN-P RAPBN didukung oleh (a) peningkatan kegiatan sosialisasi 2010 2011 dan transparansi pelayanan kepada masyarakat Sumber : Badan Pertanahan Nasional yang mencakup informasi tentang persyaratan.41 PNBP KEMENKUMHAM.40 PNBP BPN.6 triliun. 2010 − 2011 triliun Rp 1. (4) mengembangkan otomatisasi sistem pelayanan hak kekayaan intelektual.5 1. dan jasa Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-55 . GRAFIK III. Grafik III.8 triliun. Pendapatan BLU Pendapatan BLU dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp14.3 Pencapaian target PNBP BPN tahun 2010 0.6 Secara garis besar. PNBP Kemenkumham direncanakan sebesar Rp1. Penurunan tersebut disebabkan oleh dihapuskannya PNBP dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah berupa uang pemasukan kepada negara.4 1.3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. sebagian besar pendapatan BLU tahun 2011 berasal dari pendapatan jasa pelayanan pendidikan yang direncanakan sebesar Rp7. Perkembangan PNBP Kemenkumham tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. jangka waktu pelayanan.9 triliun.1 triliun atau 6. (b) peningkatan kapasitas kemampuan pelayanan dengan penambahan petugas ukur dan pendataan data yuridis.6 1. dan biaya pelayanan. turun Rp0. Dilihat dari sumber perolehannya. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh bertambahnya jumlah perguruan tinggi negeri yang menerapkan pola BLU dan telah diterapkannya pola pengelolaan BLU oleh seluruh rumah sakit Pemerintah. Dalam tahun 2011. (2) menambah jumlah tempat pemeriksaan imigrasi dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK).8 0.2 0.0 1.0 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp9.5 triliun.

43 antara lain dipengaruhi oleh semakin PENERIMAAN HIBAH.2 persen jika dibandingkan dengan target APBN-P 2010 sebesar Rp1. (2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan BLU. 2010 − 2011 tingginya komitmen negara donor untuk membantu Indonesia terkait masalah triliun Rp 4.42 PENDAPATAN BLU. Sementara itu.2 0.9 triliun.4 triliun. di antaranya: (1) meningkatkan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. dikarenakan menampung hibah aset 1.4.4 1. GRAFIK III. serta (3) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah.8 triliun atau 97.7 perubahan iklim serta semakin efektifnya 3.4 APBN-P RAPBN triliun.9 juga.5 14.9 triliun. Secara umum. Target tersebut lebih tinggi Rp1.43 memperlihatkan 2010 2011 perkembangan target hibah 2010 dan Sumber : Kementerian Keuangan 2011.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pelayanan rumah sakit yang diperkirakan mencapai Rp3.8 dari PT Pertamina dan PT PLN (Persero) 1.9 3.2 Penerimaan Hibah Penerimaan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp3. Selain itu 2. Grafik III. pencapaian target pendapatan BLU tahun 2011 didukung oleh kebijakan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BLU.6 yang akan digunakan untuk PMN terhadap PT Geo Dipa Energi sebesar Rpo. Peningkatan tersebut GRAFIK III.0 penerimaan hibah dalam APBN. III-56 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . pendapatan dari jasa penyelenggaraan telekomunikasi direncanakan mencapai Rp1.2 3.7 triliun.6 sistem administrasi dan pencatatan 3. 2010 − 2011 triliun Rp 16 14 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Kementerian Keuangan RAPBN 2011 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful