Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

BAB III PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum
Dalam periode 2005–2009, realisasi pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen, didukung dengan peningkatan penerimaan dalam negeri dan hibah yang masing-masing tumbuh rata-rata 14,4 persen dan 6,3 persen. Penerimaan dalam negeri terutama berasal dari penerimaan perpajakan yang memberikan kontribusi rata-rata 68,9 persen dengan pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi rata-rata 31,1 persen dengan pertumbuhan rata-rata 11,5 persen. Meningkatnya realisasi pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2009 tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah. Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan. Sebagai kontributor utama bagi penerimaan dalam negeri, penerimaan perpajakan diupayakan secara optimal melalui tiga kebijakan utama, yaitu: (1) reformasi di bidang administrasi; (2) reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan; dan (3) reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi. Ketiga kebijakan tersebut secara umum berlaku baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang PNBP, kebijakan yang telah diambil Pemerintah dalam rangka optimalisasi adalah (1) meningkatkan produksi sumber daya alam (SDA); (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan di bidang PNBP; (3) meningkatkan pengawasan PNBP; dan (4) meningkatkan kinerja BUMN. Pada tahun 2010, perekonomian dunia mulai pulih dari krisis. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8 persen, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada realisasi pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, realisasi pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp992,4 triliun atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp990,5 triliun atau meningkat 16,9 persen, dengan perincian penerimaan perpajakan Rp743,3 triliun atau meningkat 19,9 persen dan PNBP Rp247,2 triliun atau meningkat 8,8 persen. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun dengan peningkatan sebesar 13,8 persen. Dalam tahun 2010, kebijakan pendapatan negara dan hibah tetap diarahkan untuk optimalisasi penerimaan dalam negeri. Di bidang perpajakan, selain melakukan kebijakan yang bersifat reguler seperti reformasi di bidang administrasi, peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta penggalian potensi, Pemerintah melakukan upaya tambahan (extra effort) baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan efisiensi pemeriksaan dan penagihan pajak, serta peningkatan pengawasan atas peredaran barang kena cukai ilegal. Di bidang PNBP, kebijakan

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-1

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

yang dilakukan Pemerintah untuk mengamankan target PNBP tahun 2010 adalah optimalisasi penerimaan SDA terutama dari migas, peningkatan kinerja BUMN, serta optimalisasi PNBP kementerian/lembaga (K/L). Memasuki tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan jauh lebih baik daripada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan realisasi 2010. Indikator-indikator ekonomi makro lainnya juga diperkirakan akan cukup stabil. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp1.086,4 triliun, dengan perincian penerimaan dalam negeri sebesar Rp1.082,6 triliun dan hibah Rp3,7 triliun. Penerimaan dalam negeri akan berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp839,5 triliun, dan PNBP sebesar Rp243,1 triliun. Dalam rangka mencapai target penerimaan negara pada tahun 2011, Pemerintah akan menjalankan berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Pokok-pokok kebijakan perpajakan secara umum adalah melanjutkan dan mempertajam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya. Di bidang perpajakan, kebijakan antara lain akan difokuskan pada (1) penggalian potensi perpajakan; (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak; (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak; (4) peningkatan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai; (5) perbaikan sistem informasi; dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, dalam rangka memperbaiki sistem administrasi perpajakan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pengalihan BPHTB serta PBB perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah. Untuk BPHTB, pengalihan dilakukan pada tahun 2011, sedangkan untuk PBB, pengalihan dimungkinkan dilakukan mulai tahun 2010 berdasarkan kesiapan masing-masing daerah. Tenggat waktu yang diberikan kepada daerah untuk mempersiapkan pengalihan PBB tersebut adalah sampai dengan tahun 2014. Di bidang PNBP, kebijakan yang dilakukan untuk mencapai target 2011 adalah (1) optimalisasi lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi, serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA; (2) penyesuaian pay-out ratio dividen dari laba BUMN; (3) penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna memantau perkembangan rugi/laba BUMN; (4) penarikan dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN; (5) intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP K/L, antara lain dengan melakukan review jenis dan tarif PNBP K/L; dan (6) perbaikan administrasi pelaporan keuangan K/L.

3.2

Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2009 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2010

Pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode 2005–2009. Pertumbuhan rata-rata yang terjadi dalam periode tersebut adalah 14,4 persen, yaitu dari Rp495,2 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp848,8 triliun pada tahun 2009. Kondisi perekonomian yang cukup kondusif dalam periode 2005–2009 menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya pendapatan negara khususnya penerimaan dalam negeri, meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 sampai dengan 2009. Dalam periode 2005–2009 tersebut, penerimaan dalam negeri meningkat dari Rp493,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp847,1 triliun pada tahun 2009. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Selain faktor kestabilan ekonomi, penerapan berbagai
III-2 Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya realisasi penerimaan dalam negeri. Sementara itu, penerimaan hibah pada periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,3 persen, yaitu dari Rp1,3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp1,7 triliun pada tahun 2009. Terus membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2010 menyebabkan Pemerintah optimis dapat mencapai target pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp990,5 triliun, atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun atau 13,8 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam APBN-P tahun 2010, pendapatan negara dan hibah ditargetkan mencapai Rp992,4 triliun, atau 16,9 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.1.
TABEL III.1 PERKEMBANGAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2005 Real. 495,2 493,9 347,0 146,9 1,3 2006 Real. 638,0 636,2 409,2 227,0 1,8 2007 Real. 707,8 706,1 491,0 215,1 1,7 2008 Real. 981,6 979,3 658,7 320,6 2,3 2009 Real. 848,8 847,1 619,9 227,2 1,7 2010 APBN-P 992,4 990,5 743,3 247,2 1,9

3.2.1 Penerimaan Dalam Negeri
Dalam periode 2005–2009, penerimaan dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Sebagai komponen utama, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan PNBP tumbuh rata-rata 11,5 persen. Beberapa indikator makroekonomi yang berpengaruh pada meningkatnya penerimaan dalam negeri dalam periode tersebut adalah (1) tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat, yaitu dari 5,7 persen pada tahun 2005, menjadi 6,0 persen pada tahun 2008, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2009; (2) perkembangan ICP yang cenderung meningkat dari USD51,8 per barel pada tahun 2005 hingga mencapai USD96,8 per barel pada tahun 2008, dan USD61,6 per barel pada tahun 2009; dan (3) fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mengalami depresiasi pada periode tahun 2005–2009. Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan perpajakan dan PNBP juga turut mendorong peningkatan penerimaan dalam negeri. Memasuki tahun 2010, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan mampu mencapai pertumbuhan 5,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 yang hanya mencapai 4,5 persen. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan juga didukung oleh tingginya perkiraan ICP yang mencapai USD80 per barel, penerimaan dalam negeri ditargetkan sebesar Rp990,5 triliun dalam APBN-P tahun 2010,

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-3

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp743,3 triliun dan PNBP Rp247,2 triliun. Jumlah tersebut berarti 16,9 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Perkembangan penerimaan dalam negeri pada periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.2.
TABEL III.2 PERKEMBANGAN PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. BPHTB v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Bea keluar 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya d. Pendapatan BLU
Sumber : Kementerian Keuangan

2005 Real. 493,9 347,0 331,8 175,5 35,1 140,4 101,3 16,2 3,4 33,3 2,1 15,2 14,9 0,3 146,9 110,5 103,8 6,7 12,8 23,6 0,0

2006 Real. 636,2 409,2 396,0 208,8 43,2 165,6 123,0 20,9 3,2 37,8 2,3 13,2 12,1 1,1 227,0 167,5 158,1 9,4 23,0 36,5 0,0

2007 Real. 706,1 491,0 470,1 238,4 44,0 194,4 154,5 23,7 6,0 44,7 2,7 20,9 16,7 4,2 215,1 132,9 124,8 8,1 23,2 56,9 2,1

2008 Real. 979,3 658,7 622,4 327,5 77,0 250,5 209,6 25,4 5,6 51,3 3,0 36,3 22,8 13,6 320,6 224,5 211,6 12,8 29,1 63,3 3,7

2009 Real. 847,1 619,9 601,3 317,6 50,0 267,6 193,1 24,3 6,5 56,7 3,1 18,7 18,1 0,6 227,2 139,0 125,8 13,2 26,0 53,8 8,4

2010 APBN-P 990,5 743,3 720,8 362,2 55,4 306,8 263,0 25,3 7,2 59,3 3,8 22,6 17,1 5,5 247,2 164,7 151,7 13,0 29,5 43,5 9,5

3.2.1.1 Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen dalam periode 2005–2009. Beberapa faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai. Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea masuk dan bea keluar. Dalam periode 2005–2009, penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 16,0 persen, sedangkan pajak perdagangan internasional tumbuh rata-rata 5,2 persen. Selanjutnya, penerimaan perpajakan mampu memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2005, kontribusi penerimaan perpajakan adalah 70,3 persen menjadi 64,3 persen pada tahun 2006, kemudian 69,5 persen pada tahun 2007 menjadi 67,3 persen pada tahun 2008, dan selanjutnya menjadi 73,2 persen pada tahun 2009. Semakin tingginya kontribusi penerimaan perpajakan tersebut menunjukkan bahwa peranan penerimaan perpajakan menjadi sangat strategis sebagai sumber pendanaan

III-4

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak. staf. dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. tarif PPh badan mengalami penurunan dari 28 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada tahun 2010. yaitu: (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara Pemerintah dengan sasaran karyawan yang meliputi pemegang saham atau pemilik perusahaan. Metode tersebut dikembangkan sejak awal tahun 2007 mencakup kegiatan mapping. artis. pengacara. (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. dan benchmarking. Reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan dilakukan melalui amendemen tiga undang-undang perpajakan. Program sunset policy ini mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. program ekstensifikasi pada tahun 2010 dilakukan melalui tiga pendekatan utama. profiling. dan (3) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. direksi. dan perumahan. sistematis.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah teknologi informasi dan komunikasi. dan profesi lainnya. dan (3) pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter. dan melaksanakan good governance melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak. notaris. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan program intensifikasi atau penggalian potensi perpajakan dari wajib pajak yang telah terdaftar dilaksanakan melalui III-6 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Pemerintah mencanangkan program sunset policy pada tahun 2008. akuntan. profiling. dan diperpanjang hingga Februari 2009. Program utama dari kegiatan ini dikemas dalam Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). dan dapat dipertanggungjawabkan. yaitu: (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-undang. Reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi dilakukan melalui pembangunan suatu metode pengawasan dan penggalian potensi penerimaan pajak yang terstruktur. pekerja serta pegawai negeri sipil dan pejabat negara. Sejauh ini kegiatan ekstensifikasi perpajakan dinilai cukup berhasil. Selain bertujuan meningkatkan tax compliance. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah wajib pajak dari 3.5 juta pada tahun 2005 menjadi 14. pemberian diskon atas tarif PPh badan 5 persen lebih rendah dari tarif normal tetap diberikan kepada perusahaan-perusahaan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dikuasai oleh publik. komisaris. program ini juga dimaksudkan untuk mengakomodasi hasil kegiatan penggalian potensi melalui kegiatan mapping. (2) pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau memiliki tempat usaha di pusat perdagangan dan/atau pertokoan. standar. Pemerintah telah dan akan tetap melanjutkan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008. Sementara itu. Selain itu. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan membayar pajak (tax compliance). dan benchmarking.1 juta pada April 2010. terukur.

(7) penerapan National Single Windows (NSW) dan portal Indonesia National Single Windows (INSW). (3) monitoring pelaksanaan audit. (3) pemberian fasilitas terhadap industri substitusi impor dan industri orientasi ekspor. terukur. (9) penegakan hukum di bidang kepabeanan melalui risk management. (3) melaksanakan pemberantasan penggunaan pita cukai palsu. Di bidang kepabeanan dan cukai. menjaga hubungan dengan wajib pajak (maintenance). Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan. dan (7) pengawasan intensif wajib pajak orang pribadi potensial. dan (10) meningkatkan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dalam memenuhi kewajibannya. dan mesin sinar gamma. Sedangkan peningkatan audit dilakukan antara lain melalui (1) pembuatan dokumentasi sistem informasi perencanaan audit. peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. dan (5) melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan fasilitas kepabeanan dan cukai. maupun multilateral. langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan antara lain (1) pengembangan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai. dan Pre-Notification). Kegiatan law enforcement dilakukan melalui penagihan. (2) membangun sistem dokumentasi pelanggaran kepabeanan dan cukai.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III (1) kegiatan mapping dan benchmarking. tanpa mengesampingkan fungsi utama kepabeanan cukai sebagai regulator dalam rangka melancarkan arus barang dari transaksi perdagangan internasional (trade facilitation) dan melindungi masyarakat dari ekses negatif dari masuknya barang-barang pembatasan dan larangan serta narkotika (community protection). (3) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Large Tax Office (LTO) dan Khusus. dan saling terkait. serta (4) penyempurnaan aplikasi sistem audit. Selanjutnya. (4) melaksanakan pemberantasan peredaran rokok ilegal. sistematis. Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dengan membangun komunikasi kepada setiap wajib pajak melalui pendidikan perpajakan (tax education). (5) pembuatan profil high rise building. (8) peningkatan pelayanan kepabeanan melalui jalur mitra utama (MITA) dan jalur prioritas. serta melakukan program intensifikasi melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi. (4) pemantapan profil 500 wajib pajak KPP Pratama. (2) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Madya. Untuk menindaklanjuti program sunset policy. regional. Khusus di bidang kepabeanan. (5) peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas barang impor dan ekspor. risk assesment. baik bilateral. (4) pembentukan kantor pelayanan utama dan KPPBC Madya. profiling. (2) pemberian fasilitas/kemudahan dalam pelayanan kepabeanan (Pre Entry Classification. dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Peningkatan pengawasan dilakukan antara lain dengan (1) mengembangkan manajemen risiko kepabeanan dan cukai. untuk menjamin penegakan hukum (law enforcement) di bidang kepabeanan dan cukai. (2) penyusunan database profil dan objek audit. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu metode penggalian potensi dan pengawasan penerimaan pajak yang terstruktur. Pemerintah meningkatkan fungsi pengawasan dan audit. (6) pengawasan intensif dari PPh Pasal 25 retailer. dan targeting. yang telah dikembangkan sejak tahun 2007. Pemerintah akan terus melanjutkan program reformasi melalui pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya. Dalam hal ini. dan penyidikan. Customs Advice. dan optimalisasi sarana operasi seperti kapal patroli. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-7 . Pemerintah melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak. mesin sinar X. (6) mendukung kerjasama perdagangan internasional. pemeriksaan.

7 9.1. Upaya yang dilakukan antara lain melalui (1) penyempurnaan ketentuan mengenai perizinan di bidang cukai. yaitu dari Rp331. sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.2 dan Grafik III.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Khusus di bidang cukai.6 21. dan (4) peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor. Pertumbuhan dan kontribusi rata-rata dari masingmasing jenis pajak dalam kategori pajak dalam negeri dapat dilihat pada Grafik III.8 6.3.9 -4.2 -7.3 14.3 persen.0 persen.8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp601.8 2. dan sigaret putih mesin (SPM).7 87. yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata 32. yaitu sigaret kretek mesin (SKM).2 PPh Migas -35.0 persen (y-o-y) 60 -7. Sedangkan kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah PPN dan PPnBM serta cukai. antara lain melalui: (1) peningkatan operasi pasar.0 PPh Non Migas PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 III-8 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . sigaret kretek tangan (SKT). Sementara itu.1 Pajak Dalam Negeri Dalam periode 2005–2009. 3.0 persen sesuai dengan jenis hasil tembakau.0 53.7 25.3 persen.0 18. Selanjutnya pada tahun 2010.6 10.1 persen dan 9. Pertumbuhan rata-rata tertinggi terjadi pada pos penerimaan PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM yang mencapai 17.6 persen sampai dengan 21. (6) penerapan kode etik (reward and punishment).9 0 (20) (40) 18. penyempurnaan terhadap peraturan-peraturan pelaksanaan maupun sistem prosedur di bidang cukai dilakukan secara bertahap sehingga dapat memberikan perlindungan atas kesehatan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan faktor daya serap tenaga kerja.5 persen.0 13.4 persen. (2) pemeriksaan lokasi pabrik. dan (7) peningkatan security feature pita cukai untuk menghilangkan praktek pemalsuan cukai.6 13. (4) peningkatan pengawasan di bidang cukai.2 45.9 35.4 28.8 28.4 17. Selain itu.0 17.5 11.8 -1.3 triliun pada tahun 2009.2. cukai sebagai penerimaan ketiga terbesar setelah PPh serta PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14. Kontributor utama dalam penerimaan pajak dalam negeri adalah PPh yang memberikan kontribusi rata-rata 52. (2) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.2 PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI.7 14. Pemerintah juga melakukan peningkatan pengawasan.5 persen untuk MMEA impor. beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan cukai antara lain (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau berkisar antara 9.3 -6. (5) peningkatan pemahaman ketentuan di bidang cukai (sosialisasi). serta (4) peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) rata-rata sebesar 228. GRAFIK III.6 19.9 20 1. (3) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai. (3) peningkatan security features pita cukai. (2) perubahan ketentuan mengenai perizinan.4 40 22.5 37.7 6.7 10. 2005 – 2009 80 75. penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan ratarata 16.6 16.1. (3) peningkatan pelayanan di bidang cukai.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.

target tersebut mengalami PPh Non-Migas peningkatan sebesar Rp119.7% penerimaan pajak dalam negeri tahun 2009. Pajak Penghasilan (PPh) Pajak penghasilan (PPh) mengalami pertumbuhan rata-rata 16.9 persen. GRAFIK III.0 persen.1% triliun atau 19.3 persen).5 per barel (Desember−November). relatif tingginya ICP yang diperkirakan mencapai USD80 per barel pada tahun 2010 dibandingkan dengan ICP tahun 2009 yang mencapai USD58. realisasi penerimaan PPh migas diperkirakan mencapai Rp55. penerimaan PPh minyak bumi tumbuh rata-rata 18.1% 32. Penerimaan PPh migas tahun 2009−2010 dapat dilihat pada Grafik III. Dalam APBN-P tahun 2010.7 persen. dan lebih tingginya lifting minyak Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-9 .7 persen. yang terdiri atas penerimaan PPh migas Rp55.0% 10.6 triliun atau 14.8 triliun (84.2 persen. terutama PPN dan PPnBM yang meningkat Sumber : Kementerian Keuangan 36.5 triliun menjadi Rp317.5 PPN 42. dengan kontribusi dari PPh minyak bumi sebesar Rp22. khususnya penerimaan PPN dan PPnBM impor.4 triliun.5 per barel (Desember−November) juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penerimaan pajak migas. sedangkan PPh nonmigas 80.2 persen. meskipun lifting mengalami fluktuasi.8 triliun.6 persen dan PPh gas bumi tumbuh rata-rata 5. Membaiknya kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik yang berimbas pada meningkatnya volume perdagangan dunia menjadi faktor utama meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri. 2005 – 2009 Pajak Lainnya Cukai negeri ditargetkan mencapai 0. Perkembangan realisasi penerimaan PPh migas yang cenderung meningkat tersebut sesuai dengan perkembangan ICP yang menunjukkan adanya tren kenaikan. Selain itu. PPh diperkirakan mencapai Rp362.8 triliun (59.3 persen.2 triliun. Dilihat dari komponen pendukungnya. penerimaan PPh migas memberikan kontribusi rata-rata sebesar 19.3% BPHTB PPh Migas Rp720. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Penyebab utama peningkatan penerimaan PPh migas tersebut adalah lebih tingginya ICP pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai USD80 per barel dibandingkan dengan ICP pada tahun 2009 yang mencapai USD58. Apabila 1.3 triliun atau 10.7 persen) dan PPh gas bumi Rp32.4. Peningkatan terjadi pada seluruh pos penerimaan dalam negeri.6 triliun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Dalam APBN-P tahun 2010.2 persen dan BPHTB yang meningkat 10. Dalam APBN-P tahun 2010.3 persen) dan PPh nonmigas Rp306. Dalam periode tersebut.6 triliun (40. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp317.3% dibandingkan dengan realisasi PBB 4.3 penerimaan pajak dalam KONTRIBUSI RATA-RATA PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI. Dilihat dari komposisinya. nominal penerimaan PPh meningkat dari Rp175.7 persen.0 persen dalam periode 2005−2009.6% 9. terjadi peningkatan sebesar Rp44. Penerimaan PPh migas selama tahun 2005−2009 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9.7 persen). terjadi peningkatan sebesar Rp5.6 triliun.4 triliun (15.

6 32.0 61. penerimaan PPh GRAFIK III. Perkembangan realisasi PPh migas 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.0 43.8 0.0 66.5.5 61.0 100. 2009 − 2010 triliun Rp 70.3 persen.8 triliun.0 100. yaitu dari Rp140.3 0.0 0. Bila dibandingkan dengan Sumber : Kementerian Keuangan realisasi pada tahun 2009.0 100.0 42. GRAFIK III.7 persen dan memberikan kontribusi rata-rata 41. Perkembangan penerimaan PPh nonmigas per pasal dalam periode 2005–2010 dapat dilihat padaTabel III.0 55.0 Real.3 0. 16.0 persen.0 Real.7 32.0 tahun 2010.7 0.0 bagi perusahaan masuk bursa yang 40 persen sahamnya dikuasai publik.0 20.4 22.0 35.0 2007 % thd Total 37.3 0.0 100.1 % thd Total 26.1 dilakukannya extra effort sebagaimana yang 120.5 APBN-P 2010 TABEL III. Meskipun tarif PPh pasal 25/29 badan mengalami penurunan dari 28 70.3.5 nonmigas diperkirakan mencapai Rp306.6 0.0 100. Penerimaan PPh nonmigas tahun 320.0 50.0 10. Hal ini berarti terjadi peningkatan 14.0 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada 120.0 2010 APBN-P 22.0 2008 % thd Total 38.0 76.0 100.4 44.7 28. 14. peningkatan penerimaan 61.0 0. 270.0 2009 % thd Total 36. realisasi penerimaan PPh nonmigas mengalami pertumbuhan ratarata 17.0 telah dijelaskan sebelumnya.0 persen dalam periode tersebut. PPh pasal 25/29 badan Lainnya PPh Final dan Fiskal masih merupakan kontributor utama bagi PPh Pasal 21 PPh Pasal 25/29 Badan penerimaan PPh nonmigas dengan kontribusi sebesar 41.8 perbaikan administrasi perpajakan dan 170.4 % thd Total 40.0 40.4 73.5 Selain faktor ekonomi.5 0.6 52. Pertumbuhan tersebut terutama didukung dari penerimaan PPh pasal 25/29 badan yang tumbuh rata-rata 23.0 77.4 0.0 62.8 18.5 0. dan juga pemberian diskon 5 persen 2009 APBN-P 2010 -30.0 Real.1 33. 18.7 63.6 triliun pada tahun 2009.0 2009−2010 dapat dilihat dalam Grafik III. III-10 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Dalam periode 2005−2009.3 PPh nonmigas terutama disebabkan oleh upaya 220.3 27.3 126.0 60.0 30.0 2009 Sumber : Kementerian Keuangan PPh Gas Alam PPh Minyak Bumi 31. PENERIMAAN PPh NONMIGAS.2 2006 % thd Total 34.6 47.5 persen.7 59.3 PERKEMBANGAN PPh MIGAS. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PPh Minyak Bumi PPh Gas Bumi PPh Migas Lainnya Total Real.0 50.4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp267. 29.4.7 20.0 Sumber : Kementerian Keuangan Dalam APBN-P tahun 2010.8 0. PPh pasal 25/29 badan tahun 2010 meningkat 5.0 Real.4 31.3 25.0 1.4 PENERIMAAN PPh MIGAS.7 persen bila 2009 − 2010 dibandingkan dengan realisasi tahun triliun Rp sebelumnya. 9.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah bumi tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 965 MBCD dibandingkan dengan lifting pada tahun 2009 yang mencapai 944 MBCD.

4 33.3 3.3 2.7 4.1 6.4 2.3 7.2 179.1 0.1 145.4 4.6 % thd Total 19.8 13.0 8.6 5.3 120.1 23.0 2010 APBN-P 61.8 7.0 2007 Real.5 17.8 0.04 175. dan jasa perusahaan. % thd Real.0 1.0 100.1 11.0 10.0 100.8 0.2 2.01 194.7 1.3 4.4 2.7 23.4 61.6 0.3 persen. Tahun 2010 sektor keuangan. hotel dan restoran sebesar 25.8 triliun.0 13.6 7.6 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.6 0.8 2.6 0. 25. pada tahun 2010.4 243. hotel dan restoran sebagai kontributor utama dengan rata-rata kontribusi masing-masing sebesar 28.3 0.8 10.0 2009 Real.0 12.6 15.1 35. Perkembangan PPh nonmigas sektoral 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III. Peternakan.1 0.9 3.1 9.9 -0.5 56.2 3. Total 9.8 5.0 100.7 5. 51.1 15.6 % thd Total 19.75 persen.1 25.7 7.0 10.5 7.5 persen. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.4 23.3 7.2 0.0 1.3 1.2 0. serta sektor perdagangan.7 persen bila dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2009.6 triliun. transaksi yang offline .1 30.4 % thd Total 20.0 persen.3 35.9 25.9 3.5 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.0 PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 23 PPh Pasal 25/29 Pribadi PPh Pasal 25/29 Badan PPh Pasal 26 PPh Final dan Fiskal PPh Non Migas Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Selama periode 2005–2009. Kehutanan. Real.5 13.6 3.8 0. Kenaikan ini terutama didukung oleh pertumbuhan sektor industri Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-11 .3 10.2 0.3 0.0 100.5 14.3 2.4 7. realisasi penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan.3 6.2 6.1 13. meningkat sebesar Rp17.1 9.4 8.3 4.8 67.0 2006 % thd Total 2.6 0.9 27.4 6.04 165.0 8. 39.0 3. Real.0 100.9 17. Sementara itu.5 0.1 -0.4 2.9 5.4 19.1 0.3 % thd Total 26.4 1.1 100.9 16. dan sektor perdagangan.9 100.6 17.6 20.1 10.7 2.8 triliun atau 29.9 persen.5 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.9 2.0 4.3 18.6 80. 9.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.4 73. TABEL III.3 25.8 12.1 2.7 14.3 5.0 25.3 77. sektor industri pengolahan.0 2007 % thd Total 2. real estate.1 34. Pertumbuhan rata-rata dalam kurun waktu 2005–2009 untuk sektor keuangan.8 14.5 12.2 30.2 16.7 2. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp77. untuk sektor industri pengolahan 16.6 7.1 100.4 258.1 10.5 1.0 2010 Perk. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 2.7 9.3 2. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total 2005 % thd Total 2.0 2008 % thd Total 4. Real.1 4.1 122.4 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS.2 6.6 8.9 1.5 1.1 persen dan 9.8 11.6 4.5 13.7 9.1 1.5 24.6 0.4 14.6 9.0 2008 Real. dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar Rp6.9 21.02 249.4 0.2 14.3 2.3 45.5 11.7 0.5 8.7 5.9 0.7 0. 31.3 20.00 306.3 8.6 5.7 0.7 5.7 3.1 4.0 3.5 11.7 27.01 100.1 18.3 7.8 26.6 21.8 6.0 16.1 145.2 5. serta restitusi.3 54.1 0.4 42.8 0.1 15. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia yang mengakibatkan net interest margin (NIM) bank mengalami penurunan.4 14.9 42.7 2.9 11. 2.9 4.5 5.3 1. dan jasa perusahaan adalah 17. 52.1 27.0 triliun atau 8.9 12.6 106.0 3.9 20.8 5.6 2.0 4.0 6.6 51.7 31.8 41. atau menurun jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga pada semester I tahun 2009 sebesar 7.2 5. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Pertanian.0 7.4 24.1 6.3 126.8 % thd Total 20. real estate. Hotel. Rata-rata suku bunga untuk semester I tahun 2010 adalah 6.7 0.6 7.5 229.2 24.02 100.9 9.8 65. Real Estate.9 persen sehingga mencapai Rp61.0 Real.8 16.4 41.1 3.2 41.1 0.3 62.6 5.5 9.1 8. real estate.1 30.5 0.7 2. Gas.5 17.1 33.3 7.1 0.1 16.6 8.5. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.0 0.9 persen.6 6.3 8.01 100.02 267.7 6.8 % thd Total 20.1 60.7 44.4 9.8 7.8 8.3 10. Real.7 22.1 24.3 29.6 persen.8 2006 Real.0 9.0 10.4 5.4 6.1 39.2 1.0 2009 % thd Total 4.

Dalam APBN-P tahun 2010.0 0.9 2. penerimaan PPN dan PPnBM ditargetkan sebesar Rp263.9 0. PPN dan PPnBM Penerimaaan PPN dan PPnBM selama periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan ratarata 17.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif.7 38.0 1.6 dan penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2010 dapat dilihat pada Grafik III.015 193.0 0.8 0.1 persen dari total penerimaan PPN dan PPnBM.8 44.0 Sumber : Kementerian Keuangan Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.9 0.8 35. 2009 % thd Total 2010 APBN-P % thd Total a.8 2. Perkembangan PPN dan PPnBM dalam periode 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.8 3.1 0.7 0. lebih tinggi bila dibandingkan dengan PPN dan PPnBM impor yang tumbuh ratarata 8. Di sisi lain.004 100.8 persen.7 2. lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya.0 118.3 8.5 0.8 persen (y-o-y).4 0. PPN dan PPnBM dalam negeri tumbuh rata-rata 23.2 74.0 253. PPnBM PPnBM DN PPnBM Impor PPnBM Lainnya Total (a+b) 94. yang berimbas pada meningkatnya kegiatan ekspor-impor Indonesia.8 0.0 48. 2008 % thd Total Real. Dari sisi besarnya kontribusi. PPN PPN DN PPN Impor PPN Lainnya b.5 3.01 100. Salah satu faktor yang mengakibatkan melemahnya pertumbuhan PPN dan PPnBM dalam negeri ini adalah rendahnya konsumsi Pemerintah yang pada kuartal I 2010 yang mengalami penurunan sebesar 8.2 1.5 triliun.0 triliun (63.002 100.0 96.4 32.7 0.1 4.1 5. PPN dan PPnBM dalam negeri mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 61. hotel dan restoran diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar Rp4.6 3.3 4.5 1.9 6.4 persen.6 0.0 184.3 7.6 2.3 9.1 95.3 11.5 36.4 0. III-12 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .7 triliun (37. Perkembangan PPN dan PPnBM serta nilai impor dalam periode 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.1 44.6 1. sedangkan PPN dan PPnBM impor memberikan kontribusi rata-rata 38.4 156.01 100.9 persen).6 94.1 persen) dan PPN dan PPnBM impor Rp99. Secara komposisi.2 persen.7 81. 2005 % thd Total Real.6 3.9 triliun atau 18.3 4.8 persen.9 triliun atau 36.0 triliun.1 2. Peningkatan terutama terjadi pada PPN dan PPnBM impor dengan pertumbuhan 50.0 147. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Real.5 persen dibandingkan tahun 2009 sehingga mencapai Rp31.5 1.8 persen dalam periode tersebut.002 123.8 43.2 4.7.4 0. 2007 % thd Total Real. peningkatan PPN dan PPnBM impor tersebut sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan dunia. Sedangkan sektor perdagangan.1 0.0 198.9 0.9 persen.2 116.1 3.5 95.6 3.5 7.7 0.01 100.01 263. 2006 % thd Total Real.4 0.5 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pengolahan. target pada tahun 2010 tersebut meningkat Rp69.5 55.4 96.1 4. yang terdiri dari atas PPN dan PPnBM dalam negeri Rp163.2 3.3 53.4 60.4 93.8 48. Pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara umum.0 0.3 0.2 120.5 4.9 0.1 1.1 0.021 154. TABEL III.4 59.3 7.3 7.0 96. penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 28.4 0.0 101.3 34.1 60.9 2.9 0.6.0 100.4 62.3 92.5 6.012 209.4 63.2 4. realisasi konsumsi Pemerintah cukup tinggi sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan Pemilu.

Dua kontributor utama lainnya adalah sektor perdagangan.2 120 100 80 60 40 20 0 juta US$ 120000 100000 80000 60000 40000 2005 2006 2007 2008 2009 253. penerimaan PPN impor didukung oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan.2 persen. Dalam periode 2005–2009. hotel dan restoran naik Rp4. dan jasa perusahaan dengan kontribusi sebesar 5. sebagian besar penerimaan PPN DN diperkirakan masih berasal dari sektor industri pengolahan. 23. 18.4 persen dan 8.8 persen. serta sektor pertambangan migas yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 50. sektor industri pengolahan mampu memberikan kontribusi terbesar.1 triliun atau 34. 22. Sektor industri pengolahan naik Rp17. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. sektor perdagangan. dan jasa perusahaan yang masingmasing memberikan kontribusi rata-rata 19. hotel dan restoran. hotel. real estate.3 persen.6 persen. dan negatif 48. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri. Dalam periode 2005–2009. Sebagian besar dari realisasi PPN merupakan PPN DN.4 Sumber: Kementerian Keuangan Secara umum.9 persen. 17. sektor perdagangan.7. Kontribusi rata-rata dari ketiga sektor tersebut masing-masing sebesar 31. hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi.0 persen.0 persen dan 7. Perkembangan penerimaan PPN DN secara sektoral dapat dilihat secara rinci pada Tabel III. dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik Rp2. sektor perdagangan.7 persen.5 184.1 persen. dan 19. Dalam tahun 2010.5 triliun atau 19.7 PENERIMAAN PPN DAN PPnBM.8 persen.1 persen. real estate. dan restoran dengan kontribusi sebesar 22.6 persen.6 persen. serta sektor pertambangan migas.1 persen. sektor perdagangan.2 persen. Tiga sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan PPN DN adalah sektor industri pengolahan. 22.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. tiga sektor tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan.5 270 250 230 210 190 170 150 2009 Sumber: Kementerian Keuangan APBN-P 2010 9. dengan kontribusi masing-masing mencapai 44. PPN DN mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 62.1 persen. Dalam periode 2005–2009.4 persen. 2005 – 2009 160 140 triliun Rp PPN & PPnBM DN PPN & PPnBM Impor Nilai Impor 160000 140000 triliun Rp GRAFIK III.8 persen.8 persen dengan pertumbuhan rata-rata masing-masing 28.8 persen dan 6. Pertumbuhan rata-rata dari ketiga sektor tersebut adalah sebesar 16. dan restoran. hotel dan restoran. dan sektor keuangan.7 persen. serta sektor keuangan.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III GRAFIK III. dengan rata-rata 38.1 persen.5 persen. realisasi PPN secara sektoral dapat digolongkan ke dalam 12 sektor. dan 11.7 triliun atau 27. Dalam tahun 2010. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-13 . hotel. 2009 − 2010 PPN PPnBM 9. diperkirakan sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 51.8 persen. disusul kemudian oleh sektor perdagangan.

1 2.1 18. Kehutanan.2 0.0 0. dan restitusi. dan restitusi.0 1. Peternakan.2 2.8 2. peningkatan penerimaan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kinerja impor.9 0.3 0.4 0.5 0.5 12.5 0.8 % thd Total 2.4 2.7 2.0 59. Peternakan.6 8.5 3.8 2.1 11.9 21.2 0.2 1.6 10.4 5.8 3.5 8.8 7. transaksi yang offline.7 0.5 0.5 3.8 0. PPN impor diperkirakan akan tetap didukung oleh sektor industri pengolahan.1 28.5 1.1 0. 0.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.1 22.7 1.1 1.9 17.8 % thd Total 2.1 50.2 0.0 2009 Real.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.2 1.2 22.8 0.7 2. 1.6 0.2 0.2 1.0 2010 % thd Total 0.4 3.0 Real.8 8.5 0.3 1.5 0.1 persen.5 28.6 2.9 % thd Total 2.0 10.3 152.0 18.7 persen.5 79. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.8 7.1 44.2 0.8 6.1 19.2 21.0 14.2 1.4 0.2 0.1 7.2 10. Rata-rata kontribusi PBB terhadap penerimaan pajak dalam negeri adalah sebesar 4.1 20. Sumber : Kementerian Keuangan PBB dan BPHTB Realisasi PBB dan BPHTB masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata 10.1 25.7 19.0 100.5 4.2 0.9 0.2 0.3 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2006 Real.4 0. 3.0 2009 Real.6 0.3 0.4 2.9 1.8 0.2 2.3 20.5 0. Dengan demikian.3 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Real.0 2008 Real.2 0.7 7. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.5 125.3 0.2 0. 2005 − 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.3 20.2 triliun.0 82.4 4.0 6.5 12.3 0.1 0.8 2.9 8.0 100.0 8.2 1.9 100.6 6. sektor perdagangan.3 0.9 0.2 0.0 18.3 5.4 0.8 0.0 1.0 12.2 triliun dan sektor perdagangan. Gas. Real Estate. penerimaan ini belum termasuk penerimaan dalam bentuk mata uang asing. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.9 0.7 7.0 0.0 2007 % thd Total 0. Secara umum.2 0.7 15.0 40.6 1. III-14 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .2 0.2 0.1 48.9 12.7 0.0 % thd Total 0. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.9 0.7 0.2 7.1 45.3 0.0 0.5 55.0 persen. transaksi yang offline .2 0.6 % thd Total 2.0 63.6 0.8 18.2 0.0 0.0 95.7 12.4 12.6 6.9 28.1 1.1 0.1 0.7 0.0 2006 Real.8 0.1 33.1 1. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp59.9 0.7 % thd Total 2.7 100. Hotel.2 1. Di sisi lain.8 9.2 67.4 0.9 1.1 22.1 0. 0.4 0.1 47. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Kehutanan. 0.6 7. Perkembangan penerimaan PPN impor secara sektoral tahun 2005–2010 dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.0 14.8 16.1 32. Pertumbuhan negatif penerimaan sektor pertambangan migas menurut data modul penerimaan negara (MPN) disebabkan karena penerimaan tercatat hanya dalam bentuk rupiah.9 0.8 1.9 23.7 8.6 persen dan 17.2 0.9 13.0 Real.4 0.9 4.6 2.0 0. 1.2 1.1 0.4 0.6 11.9 0. hotel.1 17. 0.2 12.3 1. 2.3 8.6 2.1 persen.0 3. 0.8 0.6 1. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.0 54.6 triliun pada akhir tahun 2010.1 23.5 11.3 23.8 5.0 26.7 10. sedangkan BPHTB sebesar 1.3 2.0 Perk.1 0.1 1.0 62.1 0.4 4.5 0.4 1.5 1.4 9.7 1.3 0.1 10.5 9.4 8.1 39.0 0.9 0.0 2007 Real. hotel.0 2010 Perk.0 2. 3.0 17. Hotel.8 8.6 9. 3. sektor pertambangan migas diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga mencapai Rp0. hotel dan restoran tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 47.4 23.1 63.3 10.0 0.3 1.8 16.6 1.6 % thd Total 0.3 2.3 0.2 0.8 0.1 28.0 7.4 1.1 1. TABEL III.0 29.1 27.0 45.9 2.8.0 100.1 0.1 11.8 100.1 0.6 0.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.9 100.5 0.1 3.1 28.4 0.2 17.2 % thd Total 0.3 0.3 2.4 0.0 0.2 100.2 0.7 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.0 100.6 24.4 0.9 112.1 9. Pada tahun 2010.3 persen dan 54. Real Estate.1 0.3 % thd Total 0.0 42.1 37.0 100.6 5.3 1.9 0.3 % thd Total 2.3 0.0 2008 Real 0. serta sektor pertambangan migas.3 1.4 1.9 18. Real. dan restoran.3 100.1 0.2 0.1 28.2 0.4 0.2 0. Apabila digabungkan dengan penerimaan mata uang asing terdapat pertumbuhan positif sebesar 69.3 1. Gas.0 1.3 49.0 100.2 persen dalam periode 2005–2009.1 10.8 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. Real.9 100. dan restoran diperkirakan mencapai Rp28.

Pasal 5 ayat (1). UU Nomor 18 Tahun 2000. POKOK-POKOK PERUBAHAN UU PPN DAN PPnBM Uraian 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Seluruh aktiva. Perkembangan transaksi bisnis yang mengikuti kemajuan teknologi serta perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. 2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Penyerahan dan bukan penyerahan BKP a. DASAR HUKUM 1 . sebagai bentuk penyederhanaan sistem perpajakan dan kepastian hukum. dan Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.1 AMENDEMEN UNDANG-UNDANG PPN DAN PPnBM NOMOR 42 TAHUN 2009 LATAR BELAKANG 1 . TUJUAN 1 . Penyerahan aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Dikenakan PPN terbatas pada penyerahan aktiva yang PPN terutang pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. Undang-undang Nomor 62 Tahun 2009 tentang KUP. PPN dikenakan atas penyerahan seluruh aktiva. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. c. Tidak dikenakan PPN. Istilah baru dalam objek pajak UU No 12 Tahun 2000 Tidak diatur. 2. Dikenakan PPN. Menciptakan sistem perpajakan yang lebih sederhana. Dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan. Pembiayaan syariah b. memerlukan penyerderhanaan sistem PPN. Dikenakan PPN. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. 2. UU No 42 Tahun 2009 Ekspor BKP Tidak Berwujud dan Ekspor JKP dikenakan PPN dengan tarif 0%. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Dalam rangka restrukturisasi Dikenakan PPN pada setiap transaksi penyerahan. 3. 3. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-15 . Persediaan yang tersisa pada saat pembubaran perusahaan Terbatas pada aktiva yang PPN pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. syarat semua perusahaan terdaftar sebagai PKP. 2. Pasal 20. KEBIJAKAN Pemerintah melakukan amendemen atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. penyerahannya dianggap langsung.

10. 5. Pengembalian Pendahuluan Hanya diberikan kepada WP Patuh dan WP dengan Persyaratan Tertentu. c. Dibebaskan dari pengenaan PPN. serta mengganggu ketertiban. Restitusi untuk Turis Asing Tidak diatur. a. Deemed Pajak Masukan 2. Restitusi PKP lain pada akhir tahun buku. PM yang boleh dikreditkan oleh PKP yang belum berproduksi Terbatas PM yang berasal dari perolehan dan/atau impor barang modal. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 7. penjaminan). b. Menjadi tidak dikenakan PPN. Barang hasil pertambangan Tidak dikenakan PPN . 8. Menghidupkan kembali rumusan Pasal 9 ayat (14) yaitu dalam hal restrukturisasi. Pengkreditan Pajak Masukan (PM) a. Pengkreditan PM atas BKP yang dialihkan dalam rangka restrukturisasi Tidak diatur (pada perubahan kedua UU PPN. Dikenakan PPN. dengan syarat tertentu. III-16 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . telepon umum (koin). Sanksi bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan. (Psl 9 (4a)) 1. b. (4b)) Seluruh PKP dapat melakukan restitusi pada setiap masa pajak (Psl 9 (4)). Eksportir BKP tidak berwujud. (5) Merusak kesehatan dan moral masyarakat. telur. 2. ketentuan ini dihapus). susu. maka PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan dapat dikreditkan oleh PKP. 6. Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 200%. c. PKP bertambah: 1. Hanya mengatur untuk PKP yang menggunakan norma PPh. Seluruh PM (Pasal 9 (2a)). Kriteria BKP mewah (1) Bukan kebutuhan pokok. maka PM yang telah dikreditkan dan telah direstitusi harus dibayar kembali. Daging. Jasa keuangan PPN tidak dikenakan atas jasa perbankan. (Psl 4A (3) huruf d). bila terbit SKPKB. Saat Pengajuan Restitusi (Pasal 9 (4a). PKP dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. (3) Mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. pembiayaan. Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN Ditetapkan langsung di dalam penjelasan Undang-Undang (Pasal 4A). Dalam hal PKP gagal berproduksi. 2. yaitu PKP: (1) Eksportir. a. Eksportir JKP. melalui Peraturan Pemerintah tentang BKP Strategis. Deemed PM bagi PKP kegiatan tertentu belum diatur. dan meminjam dana. PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan dapat dikurangkan. Kriteria nomor 5 dihapus. Berlaku bagi PKP baik orang pribadi maupun badan yang: 1. Restitusi Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 75%. PPN tidak dikenakan atas jasa keuangan (menghimpun. (2) Dikonsumsi masyarakat tertentu. (4) Belum berproduksi. PPN atas barang bawaan dapat direstitusi melalui bandara tertentu. Mengatur pengembalian pendahuluan bagi PKP Eksportir. (3) Dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi. serta jasa boga/catering . sayursayuran. dan 2. Memiliki omzet tertentu. dan PKP yang mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Tarif PPnBM 9. Jasa tertentu PPN dikenakan atas jasa: penyediaan parkir. menempatkan. dan buah-buahan UU No 12 Tahun 2000 UU No 42 Tahun 2009 Dibebaskan dari pengenaan PPN. penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. (2) Dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. NonBKP dan nonJKP (pasal 4a) a. kecuali pasir dan kerikil (Psl 4A (2) huruf a). 1. d. yang berisiko rendah. 11. b. Retur atas penyerahan JKP Tidak diatur. pengiriman uang dengan wesel pos. Sebelumnya ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah. b. Melakukan kegiatan tertentu. (4) Menunjukkan status.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Uraian 4. Hanya PKP tertentu.

Sanksi atas pelanggaran syarat formal FP PKP akan dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memenuhi syarat formal FP. kenaikan NJOP juga dipengaruhi oleh nilai produksinya. Khusus untuk PBB sektor perkebunan. Proyek Pemerintah yang dibiayai hibah LN tidak dipungut PPN dan PPnBM. Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan PBB pertambangan antara lain ICP yang cenderung naik dan jumlah areal pertambangan yang terus bertambah. meskipun agak melemah pada tahun 2008 dan 2009.3 persen. PKP tidak dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memuat: (1) Identitas pembeli. Fasilitas perpajakan (pasal 16b) Belum ada dasar hukum untuk pemberian fasilitas kegiatan-kegiatan tertentu. Saat pelaporan PPN Faktor utama yang mendorong terjadinya peningkatan penerimaan PBB adalah naiknya nilai jual objek pajak (NJOP) dari tahun ke tahun dan perluasan objek PBB.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Uraian UU No 12 Tahun 2000 WP mengajukan permohonan. Saat penyetoran PPN b. Sementara itu. Pembebasan PPN bagi listrik & air. atau (2) Identitas pembeli. 12. Faktur Pajak (FP) a. Meningkatnya penerimaan PBB terutama didukung oleh PBB pertambangan yang dalam periode 2005–2009 mengalami peningkatan ratarata sebesar 22. Diatur dalam batang tubuh yaitu Pasal 13 ayat (9). • Paling lama pada tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak. kehutanan. Memberikan dasar hukum atas pemberian fasilitas sebagai berikut: 1. 6. Jenis FP yaitu Standar dan Sederhana. Syarat formal & material Diatur dalam penjelasan Pasal 13 ayat (5)). Bebas PPN bagi penyerahan perak sebagai bahan baku kerajinan. kegiatan usaha di bidang properti sempat mengalami booming pada periode 2005–2007. Tanggung renteng Tidak lagi diatur dalam UU KUP dan UU PPN. Saat Pembuatan FP Paling lama akhir bulan berikutnya atau pada saat pembayaran (Peraturan Dirjen Pajak). antara lain: (1) Identitas pembeli. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan. FP tersebut tidak dikategorikan sebagai FP cacat. Diatur kembali dalam UU PPN. Faktor yang mempengaruhi NJOP adalah harga pasar properti baik tanah maupun bangunan. Jenis FP c. 5. 3. 14. 2. Hanya ada istilah “Faktur Pajak”. namun FP tidak dapat dikreditkan oleh pembelinya. 7. peningkatan penerimaan BPHTB terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah transaksi jual beli tanah dan bangunan. serta nama dan tanda tangan untuk FP yang diterbitkan oleh pedagang eceran. Pemusatan tempat PPN 13. Sebagaimana diketahui. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-17 . a. 4. b. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa. • Paling lama pada tanggal 15 setelah berakhirnya Masa Pajak. Perwakilan negara asing dibebaskan PPN dan PPnBM. pemeriksaan dilakukan kemudian dalam hal diperlukan. dan pertambangan. Diatur dalam Undang-Undang (Psl 13 (1a)) yaitu saat penyerahan atau pada saat pembayaran. d. 15. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara. Impor barang yang Bea Masuknya dibebaskan tidak dipungut PPN dan PPn BM. 16. Fasilitas PPN bagi kegiatan penanggulangan bencana alam nasional. pemberian ijin berdasarkan pemeriksaan. UU No 42 Tahun 2009 Cukup dengan pemberitahuan oleh WP. atau (2) Identitas pembeli. serta nama dan tanda tangan (Pasal 13 ayat (5)).

0 Real.6 71. cukai MMEA.3 20.2 triliun pada APBN-P tahun 2010. 1.3 persen. (5) peningkatan pengawasan pengguna fasilitas cukai.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 40.00 25.9 0.5 20. 4. Sementara itu. cukai ethil alkohol (EA).9 0.7 2. 1.6 persen.6 0.7 0.1 100.7 0.3 0.0 Real. Perkembangan penerimaan PBB dan BPHTB dalam periode 2005–2010 ditunjukkan dalam Tabel III.1 10.5 3.6 45.9 2006 % thd Total 27. dan cukai lainnya.3 triliun dan Rp7. PBB dalam APBN-P tahun 2010 mengalami peningkatan 4.8 21. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PBB Pedesaan PBB Perkotaan PBB Perkebunan PBB Kehutanan PBB Pertambangan PBB Lainnya Total Real.8 0.1 0.6 2. Hal ini sejalan dengan tren penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap turunnya bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan kredit kepemilikan rumah (KPR).7 18.9 0.0 2008 Real. Perkembangan penerimaan cukai hasil tembakau periode 2005–2009 menunjukkan kecenderungan meningkat yang terutama dipengaruhi oleh: (1) kebijakan di bidang tarif cukai dan harga dasar barang kena cukai.00 24.8 0.2 0.6 0. (2) kebijakan lainnya di bidang cukai. Cukai Penerimaan cukai bersumber dari cukai hasil tembakau. tumbuh rata-rata sebesar 14. dan cukai MMEA memberikan kontribusi sebesar 1. Peningkatan penerimaan PBB tersebut terutama disebabkan oleh tingginya realisasi PBB pertambangan.7 4. Sementara itu.7 2007 % thd Total 7.0 Sumber : Kementerian Keuangan Apabila dibandingkan dengan realisasi 2009.7 persen.03 23.1 1.9 6.1 100.9 0.1 16.2 0.4 5.7 67.3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp56.0 2010 APBN-P 0.0 100. denda administrasi cukai.9.8 persen dengan rata-rata pertumbuhan 14. (6) optimalisasi pelayanan cukai dengan memanfaatkan teknologi informasi (sistem aplikasi cukai sentralisasi) dalam kegiatan pelayanan perizinan nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).4 0.7 3.9 PERKEMBANGAN PBB. Selain itu.2 % thd Total 27.5 100. TABEL III.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan 16.0 100.7 triliun pada tahun 2009. Penerimaan cukai mengalami peningkatan secara signifikan dalam periode 2005–2009. III-18 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .7 persen.0 Real.7 0.3 persen.4 % thd Total 5.4 2.5 0.5 0. contohnya kebijakan yang terkait dengan penundaan pembayaran cukai.0 0.1 triliun.2 18.5 1.3 % thd Total 3.5 69.5 0. yaitu dari Rp33. khususnya pertambangan migas.1 persen.3 2009 % thd Total 5. sedangkan BPHTB meningkat sebesar 10. (4) peningkatan pengawasan administrasi pembukuan di bidang cukai oleh KPPBC. penerimaan PBB dan BPHTB ditargetkan sebesar Rp25.1 0.6 0.2 16.9 0.2 0.1 7. 1.3 17. 5. kenaikan penerimaan BPHTB pada tahun 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi di sektor properti. PBB pertambangan ditargetkan sebesar Rp17.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. meningkatnya transaksi properti juga dipengaruhi oleh semakin mudahnya persyaratan pemberian kredit. kontribusi cukai EA mencapai 0. Dalam tahun 2010.4 0.7 3. penerimaan cukai didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 97. Secara lebih rinci.9 22.6 0.4 24.8 3.4 0.1 100.5 16.4 5.8 0.4 50.5 0.02 25.6 19.2 67. (3) intensitas penindakan di bidang cukai.

11.0 0.004 0.50 0.4 Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.5 persen. TABEL III.1 0.4 0.03 0. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-19 . Perkembangan produksi jenis rokok 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.5 216.8 1.3 % thd Total 94.6 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Cukai Hasil Tembakau Cukai Ethil Alkohol (EA) Cukai MMEA Denda Administrasi Cukai Cukai Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Real.4 0.0 248. 125. perkembangan produksi MMEA periode 2005–2009.0 Real 49.0 2007 Real.01 0.2 17.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 1. 126.1 100.7 16.4 77.6 0.7 % thd Total 97.8.7 1.7 0.5 242.4 0.0 Real.1 2006 Real.9 0.002 0.2 0.4 3.8 persen.01 0.6 78.5 0.7 5.5 0.000 0.01 100. 43. Sigaret Kretek Tangan (SKT) c.8 % thd Total 98.1 0.0 249. 2005 – 2010 (miliar batang) Jenis Rokok a.2 17.028 44.0 persen.016 0.0 100. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.3 persen dan selebihnya sebesar 1. dan SPM memberikan kontribusi sebesar 6.3 2008 % thd Total 97.9 0.2 15.7 2009 % thd Total 97.015 51.00 0.5 triliun (4.3 triliun.5 0.7 2009 Real.0 Berdasarkan pengklasifikasian jenis produksi hasil tembakau pada periode 2005–2009.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III penetapan tarif cukai hasil tembakau. 144.2 84.5 88. 131. Sigaret Putih Mesin (SPM) Total (a+b+c) Sumber : Kementerian Keuangan 2005 Real.9 2008 Real.4 1. 37.11 PERKEMBANGAN PRODUKSI JENIS ROKOK. TABEL III.003 33. Perkembangan realisasi cukai tahun 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.0 100.4 2010 APBN-P 144.01 0.3 0. Sigaret Kretek Mesin (SKM) b. penerimaan cukai diperkirakan mencapai Rp59. Penerimaan cukai MMEA didominasi dari penerimaan MMEA dalam negeri dengan rata-rata sebesar 98.0 100.0 1. dan (7) peningkatan pelaksanaan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dengan tujuan agar para stakeholder dapat lebih memahami ketentuan yang berlaku di bidang cukai.6 0.012 0. Selanjutnya. Penerimaan cukai tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.9 persen.10 PERKEMBANGAN REALISASI CUKAI.2 87.1 0. kontribusi SKT mencapai 35.9 0.010 56.3 1.7 persen disumbangkan oleh MMEA impor. 32. mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.9 0.007 37. penerimaan cukai hasil tembakau didominasi oleh SKM yang memberikan kontribusi ratarata sebesar 57.6 0.9 13. Dalam APBN-P tahun 2010.3 % thd Total 98. target penerimaan cukai dalam APBN-P tahun 2010 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2.3 16.10 0.8 2007 Real.10.005 0.7 84.4 1.3 220.0 0.000 59. Kenaikan produksi jenis rokok tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi jenis SKM.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 2.5 0. 55.0 2006 Real. Perkembangan penerimaan cukai MMEA dan produksi MMEA dalam negeri 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III. dan proses penyediaan sampai dengan pemesanan pita cukai.5 persen). total produksi hasil tembakau pada tahun 2010 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai 6 miliar batang bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009.9.7 0.4 0.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 2.02 100. Sementara itu.0 2010 APBN-P 55.4 0.02 0. penundaan pembayaran cukai.0 231. 141.

dan SPM).0 2009 APBN-P persen tergantung pada jenis hasil 2010 Sumber : Kementerian Keuangan tembakaunya (SKM.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi 60 56. 2009 − 2010 diperkirakan mencapai Rp55. Penyesuaian tarif cukai MMEA dan EA dapat dilihat pada Boks III. Selain dipicu oleh kenaikan tarif tersebut.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah GRAFIK III.6 persen sampai dengan 21. Selanjutnya.03 triliun (8.2 100 50 - 2005 Sumber : Kementerian Keuangan 2006 2007 2008 Penerimaan Cukai 2009 Produksi Secara lebih rinci. Selain itu.5 triliun 59.5 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.3 (0.1 927.7 tahun 2009.5 persen untuk MMEA impor. III-20 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . 2005 – 2009 1.9 tembakau dalam APBN-P tahun 2010 PENERIMAAN CUKAI.9 triliun atau triliun Rp 62 mengalami peningkatan sebesar Rp0.4 568. Peningkatan tersebut terjadi karena kebijakan penyesuaian tarif cukai untuk konsentrat yang mengandung EA sebesar 100 persen dan penetapan tarif cukai spesifik EA sebesar Rp20. Sementara itu. penerimaan cukai MMEA dalam APBN-P tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp3.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 228 202 203 184 232 250 200 150 Juta Lt miliar Rp 878. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan cukai MMEA adalah diterapkannya kebijakan penyesuaian tarif cukai MMEA dengan kenaikan tarif ratarata sebesar 228.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.5 687.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110. penerimaan cukai EA dalam APBN-P tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp0. peningkatan penerimaaan cukai hasil tembakau juga didukung oleh upaya pemberantasan rokok ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai.8 PERKEMBANGAN PENERIMAAN CUKAI MMEA DAN PRODUKSI MMEA DALAM NEGERI.1 triliun (221. penerimaan cukai hasil GRAFIK III. pencapaian tersebut juga didukung oleh upaya pemberantasan MMEA ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor.0 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp2. SKT.9 500.000.2.4 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp0. Faktor utama yang menyebabkan 58 56 kenaikan penerimaan cukai hasil tembakau 54 adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif 52 cukai yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 50 berkisar antara 9.

0 persen dan sebesar 33. atau sebaliknya atau gabungan keduanya. Penyesuaian kenaikan tarif MMEA untuk golongan C sebesar 188. (3) memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara.2 PENYESUAIAN TARIF CUKAI MMEA DAN EA Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.150 persen x (nilai pabean + BM) atau 80 persen x HJE. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 100.011/ 2010 tentang Penetapan Tarif Cukai Ethil Alkohol. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340. dan Konsentrat yang Mengandung Ethil Alkohol yang berlaku efektif sejak tanggal 1 April 2010. Minuman yang Mengandung Ethil Alkohol. Oleh karena itu. dan (5) menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri (DN) dengan MMEA impor secara bertahap. Sedangkan untuk MMEA impor. dan konsentrat yang mengandung EA yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III.3 persen. Penjelasan Pasal 5 ayat 1 angka 5 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 mengatur bahwa minuman beralkohol tidak lagi termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah.0 persen.0 persen dan sebesar 200. 3 . Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan A1 dan A2 menjadi golongan A dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-21 .0 persen dan sebesar 120.0 persen dan sebesar 214. dan konsentrat yang mengandung ethil alkohol. MMEA. Pokok-pokok perubahan kebijakan penyesuaian tarif cukai yaitu: 1 . Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan B1 dan B2 menjadi golongan B dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 500.0 persen untuk impor. dan untuk impor sebesar 1. 2 . Sedangkan untuk MMEA impor. Tujuan dari kebijakan Pemerintah dalam melakukan penyesuaian tarif cukai spesifik atas MMEA dan EA yaitu: (1) untuk pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Cukai (BKC).3 persen. perlu dilakukan perubahan kebijakan di bidang perpajakan dan cukai dengan melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penetapan tarif cukai atas EA. MMEA.5 persen untuk produksi DN dan sebesar 160. Dalam rangka penyesuaian ketentuan tarif cukai atas MMEA dan EA. (4) penyederhanaan penggolongan tarif cukai ke dalam satu golongan. Dasar penetapan tarif cukai atas MMEA dan EA diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang mengatur bahwa Barang Kena Cukai (BKC) dikenai cukai dengan tarif paling tinggi untuk produk DN sebesar 1.0 persen. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif cukai atas EA. Tarif cukai dapat diubah dari persentase harga dasar (advalorem) menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan BKC (spesifik).150 persen x harga jual pabrik atau 80 persen x HJE. (2) menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA.

001 0.2 0.1 0.2 1.6 0.0 Bea Meterai Pajak Tidak Langsung Lainnya Bunga Penagihan Pajak Total Sumber : Kementerian Keuangan III-22 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .8 0.000 20.7 2007 % thd Total 95. Secara umum.d.000 50.1 2.1 3.0 persen.d. 2.04/2006 **PMK No.000 IMPOR Tarif Lama* (per liter) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.0 2008 % thd Total 93.004 0.001 0.3 2. dan golongan.000 Rp 20. 2. 90/PMK.5 100.000 26.06 2.011/2010 Sumber: Kementerian Keuangan Pajak Lainnya Penerimaan pajak lainnya selama periode 2005–2009 menunjukkan adanya pertumbuhan rata-rata sebesar 11. Penyesuaian kenaikan tarif cukai atas konsentrat yang mengandung etil alkohol masingmasing sebesar 100.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.0 0. Penetapan tarif cukai etil alkohol (etanol) untuk produksi dalam negeri dan impor dengan pengenaan tarif cukai spesifik sebesar Rp20.7 100.06 2.d.7 0.000 40.000 *PMK No.000 50.000 30. meningkatnya realisasi penerimaan pajak lainnya dalam periode 2005–2009 dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan dokumen bermeterai.0 0.0 2006 Real.4 0.d.000 30. c TABEL III.7 4.500 3.000 130.2 persen terhadap total penerimaan pajak lainnya.000 100.04 6.8 % thd Total 97.3 0.0 persen untuk impor.3 100. 2. Sebagian besar dari penerimaan pajak lainnya tersebut bersumber dari bea materai yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 96.000 100.002 0. 20% >20% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2. PERBANDINGAN TARIF CUKAI LAMA DENGAN TARIF CUKAI BARU ATAS MMEA.000 10.03 2.2 3.1 3.12 PERKEMBANGAN PENERIMAAN PAJAK LAINNYA.0 Real. 2.01 0. 3.1 % thd Total 98. 1% >1% s.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11. Perkembangan realisasi pajak lainnya tahun 2005–2009 dapat dilihat pada Tabel III.500 5. 15% >15% s.12. kadar.1 0.0 Real.62/PMK.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 4 .4 0. dan golongan Rp 20.67 100. 5% >5% s. DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG EA DALAM NEGERI Jenis BKC Gol Kadar Alkohol Tarif Lama* (per liter) A1 A2 MMEA B1 B2 C Konsentrat Yang Mengandung EA EA s.1 2009 % thd Total 97.5 100. EA.000. 5 .000 75. sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan MMEA Dari semua jenis etil alkohol.0 0. kadar.500 5.02 0.0 2010 APBN-P 3.04 2.000 50.57 100.0 Real.000 Dari semua jenis konsentrat. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.3 % thd Total 97.0 persen untuk produksi DN dan sebesar 100.

.

Penerimaan bea masuk tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.7 persen. 2009 − 2010 18. yang kemudian diperbaharui melalui skema ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA).0% 10.0% 2.0% 4.13.9 persen untuk negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2010.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pertumbuhannya menurun sebesar 5. GRAFIK III. Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan perjanjian regional plus one melalui kerjasama perdagangan ASEAN-China FTA (ACFTA) dan ASEAN-Korea FTA (AKFTA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 hingga mencapai rata-rata tarif sebesar 2.5 persen.0% 6.13 PERKEMBANGAN RATA-RATA TARIF MFN DAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL. Dalam APBN-P tahun 2010. penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp17. Selain itu. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.14 PENERIMAAN BEA MASUK. Perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN dan kerjasama perdagangan internasional tahun 2005–2010 dapat dilihat dalam Grafik III. Selanjutnya. perkiraan realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2010 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp1.0% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 15 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Keuangan Sumber : Kementerian Keuangan III-24 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 ASEAN CEPT 8. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerapan kebijakan harmonisasi tarif bea masuk Most Favoured Nations (MFN). regional plus one dan bilateral.5 persen).6 persen. Perjanjian kerjasama perdagangan regional dilakukan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT). baik melalui kerjasama regional.1 ACFTA 17 AKFTA 16 IJEPA 0.0 triliun (5.5 persen pada tahun 2010.14. dari 9. kebijakan penurunan tarif juga terjadi sebagai konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara di Asia. Selama periode 2005–2010 perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN semakin menurun. Selain itu.0% 18 17.0% persen MFN triliun Rp 19 GRAFIK III. Penurunan tersebut merupakan dampak penerapan kebijakan harmonisasi tarif (MFN) dan konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional.9 persen tahun 2005 menjadi 7. 2005 – 2010 12. Sebagai implementasinya. Pemerintah Indonesia juga melakukan perjanjian kerjasama perdagangan bilateral dengan Pemerintah Jepang melalui skema persetujuan kemitraan ekonomi antara Republik Indonesia dan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 mencapai rata-rata tarif sebesar 3.1 triliun.9 persen dan 2. Pemerintah telah melaksanakan penurunan rata-rata tarif bea masuk hingga menjadi 0.

.

sejalan dengan peningkatan harga internasional yang mencapai rata-rata 13.500 3. (3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional. 2000 – 2009 100 90 80 (Ribu MT) 4. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.000 1. dan (4) menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri. Perkembangan volume ekspor dan harga internasional kakao dapat dilihat pada grafik di bawah.000 2.8 persen.000 500 0 (USD/MT) 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Kementerian Keuangan dan BPS Namun. industri pengolahan kakao dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir justru hanya mampu berproduksi sekitar 50 persen dari keseluruhan kapasitas produksi karena kurangnya pasokan bahan berupa biji-biji kakao mentah. Hampir 80 persen dari produksi biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah. Dasar pengenaan bea keluar atas barang ekspor diatur dalam Pasal 2A ayat (2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan tujuan untuk: (1) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri. Dalam periode 2000–2009. PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR DAN HARGA INTERNASIONAL KAKAO.500 2.1 persen. (2) melindungi kelestarian sumber daya alam. III-26 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . volume ekspor biji kakao dari Indonesia meningkat rata-rata 3.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar yang berlaku efektif sejak 1 April 2010.3 PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Indonesia merupakan negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Dalam upaya menjamin ketersediaan bahan baku dan daya saing industri pengolahan kakao dalam negeri.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah BOKS III.500 1.000 Export Volume (MT) 3. Kerangka pengenaan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao serupa dengan struktur tarif bea keluar atas minyak kelapa sawit (CPO) dengan penetapan tarif bea keluar ekspor biji kakao berkisar antara 0-15 persen mengikuti perkembangan harga kakao internasional.

(7) pendapatan iuran dan denda. (2) tarif atas kegiatan pelayanan yang dilaksanakan dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah. serta (4) kebijakan-kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PNBP. Sementara itu. di antaranya: (a) tingkat laba BUMN dan perseroan terbatas lainnya yang diperoleh pada tahun anggaran sebelumnya. (5) pendapatan pendidikan. (3) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Perhitungan dan perkembangan SDA migas dipengaruhi oleh (1) lifting minyak mentah dan gas bumi.000 – 2. Kementerian Kesehatan. Kepolisian Republik Indonesia. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan.750 – 3. (3) pendapatan bunga. dan (4) besaran cost recovery yang merupakan faktor pengurang penerimaan migas yang akan dibagihasilkan antara Pemerintah dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sesuai kontrak kerja sama (KKS).500 > 3. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-27 . antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika. penerimaan SDA nonmigas dipengaruhi oleh antara lain: (1) tingkat produksi dan harga beberapa jenis komoditas mineral dan batubara. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. Kementerian Pendidikan Nasional. Sementara itu.500 Sumber: Kementerian Keuangan 0 5 10 15 Perhitungan dan perkembangan dari masing-masing sumber PNBP tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel yang beragam. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bagian negara atas laba BUMN. (b) besarnya/persentase kepemilikan saham Pemerintah dalam BUMN dan perseroan terbatas lainnya. dan (8) pendapatan lain-lain. dan (4) upaya optimalisasi yang dapat dilakukan. Badan Pertanahan Nasional.500 > 2. PNBP lainnya. dan (c) kebijakan pay-out ratio.750 > 2. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi PNBP lainnya dari K/L antara lain: (1) jumlah objek pengenaan PNBP. (2) Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang pergerakannya mengikuti tren harga minyak dunia. (2) luas area dan volume produksi hasil hutan. (2) pendapatan jasa. yang sebagian besar merupakan bagian dari kelompok penerimaan kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah. Pengelolaan atas sumber PNBP lainnya tersebut sebagian besar dilaksanakan oleh kementerian negara/ lembaga. (3) tingkat produksi budidaya perikanan dan kegiatan operasi kapal penangkap ikan. melalui peningkatan pengelolaan dan akuntabilitas pelaporan keuangan. terdiri atas: (1) pendapatan dan penjualan sewa. dan Kementerian Perhubungan. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN merupakan penerimaan negara dalam bentuk (1) dividen dari perusahaan perseroan dan perseroan terbatas lainnya yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan (2) dividen dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri BUMN.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TARIF BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Harga Internasional Kakao (USD/MT) Tarif Kakao (persen) ≤  2. Selanjutnya. (3) kualitas pelayanan yang diberikan dan administrasi pengelolaan PNBP yang secara tidak langsung meningkatkan jumlah objek pengenaan.

Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. serta (6) mengoptimalkan penerimaan dari sektor perikanan dengan mempertimbangkan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pesisir/nelayan. (3) monitoring.5 persen.13 memperlihatkan perkembangan total PNBP beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. Dilihat dari komposisinya. Tabel III. Dalam APBN-P tahun 2010. target tersebut meningkat sebesar Rp20.5 persen. berbagai langkah. yaitu sebesar 20.0 persen terhadap perkiraan penerimaan dalam negeri. upaya dan kebijakan terutama difokuskan pada (1) pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal terhadap kegiatan usaha sektor hulu migas guna meningkatkan produksi/ lifting minyak bumi dan gas bumi. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh berkaitan dengan hal tersebut antara lain: (1) peningkatan modal kerja dan penyehatan perusahaan. Dilihat dari komposisinya. (5) menggali potensi-potensi penerimaan yang ada di sektor kehutanan tanpa merusak lingkungan dan mempertahankan hutan. dan (c) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. (2) optimalisasi dividen pay-out ratio. upaya. yaitu 54. III-28 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . di tahun 2009 PNBP mengalami pertumbuhan negatif 29. dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kinerja BUMN. PNBP diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 25. khususnya yang terkait dengan cost recovery.2 triliun. peningkatan terbesar terjadi pada penerimaan SDA migas. penurunan realisasi PNBP tahun 2009 lebih disebabkan oleh penurunan dari penerimaan SDA migas yang dipengaruhi oleh penurunan ICP yang signifikan pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan ICP pada tahun 2008. serta (4) peningkatan sinergi antar BUMN guna meningkatkan daya saing. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L.8 persen.6 triliun di tahun 2008 menjadi Rp227.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Selama kurun waktu 2005–2009. PNBP ditargetkan sebesar Rp247.1 persen. dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya. yaitu dari Rp320. (4) melakukan revisi tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada sektor sumber daya mineral dan meningkatkan produksi komoditas sumber daya mineral. Upaya optimalisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009. Dengan target tersebut. (3) penyelesaian audit oleh kantor akuntan publik (KAP) atas laporan keuangan BUMN diharuskan selesai lebih awal dari peraturan yang ada guna mengetahui secara awal definitif atas laba/rugi bersih BUMN. (b) meningkatkan pengelolaan keuangan BLU yang efisien dan efektif. dan kebijakan yang signifikan telah dilakukan oleh Pemerintah guna meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP. selama 2005–2009 PNBP mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11. kebijakan mengenai pendapatan BLU difokuskan pada upaya untuk (a) mendorong peningkatan pelayanan publik instansi Pemerintah. Optimalisasi PNBP lainnya selama 2005–2009 antara lain ditempuh melalui (1) optimalisasi PNBP pada K/L. (3) memperkuat pengawasan penerimaan dari sektor migas oleh BP migas. Namun.0 triliun atau 8. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006. (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L. Untuk penerimaan SDA. Secara keseluruhan.2 triliun. (2) penyempurnaan ketentuan dalam kontrak kerja sama (production sharing contract) dengan tetap menghormati kontrak yang berlaku. Sementara itu.

Sedangkan di tahun 2008. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN III.8 29.7 112.6 12.5 38. Penerimaan SDA Nonmigas II.1 63.1 0.Pertambangan Umum .5 9.2 13. penerimaan SDA ditargetkan sebesar Rp164.5 persen.0 2007 132. Penerimaan SDA migas merupakan penerimaan yang bersumber dari penerimaan minyak bumi dan penerimaan gas bumi.2 2010 APBN-P 164.5 103.Gas bumi Penerimaan SDA Nonmigas . Pendapatan BLU PNBP Sumber : Kementerian Keuangan 2005 110.0 2010 APBN-P 151. penerimaan kehutanan.13 PERKEMBANGAN PNBP.1 35.8 9.6 169.9 2. Selama periode 2005–2009.9 persen.9 2008 211.4 21.5 39.14 PERKEMBANGAN PENERIMAAN SDA.7 13.2 167.1 32.0 53. perkiraan penerimaan SDA tersebut mengalami peningkatan Rp25. penerimaan SDA memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif.9 2006 167.7 12. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.0 9. yaitu mencapai 63.4 persen terhadap total PNBP. Tabel III.1 9.2 164.8 93.8 2.Minyak bumi .6 31.7 13.1 2008 224.9 6.4 139.5 211. TABEL III.Perikanan .8 90.2 10.0 42.6 triliun bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007.8 23. Penerimaan SDA Migas b. Dalam lima tahun terakhir.8 8.8 13.5 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-29 . atau naik Rp91.6 persen dan 38.9 224.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.14 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010.4 227.Panas Bumi Penerimaan SDA Sumber : Kementerian Keuangan 2006 158.1 0. Di tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan penerimaan SDA.4 0.7 320. PNBP Lainnya IV.0 29.2 8.6 12.3 0.1. dan penerimaan pertambangan panas bumi. 2005 – 2010 (triliun rupiah) Uraian I.2 3.1 23. penerimaan perikanan.8 30.1 0.9 2.5 2009 125.7 103. mengalami pertumbuhan tertinggi.7 151.9 0.3 3. Penerimaan SDA a.6 146.1 132.4 6.1 5.3 0.5 158.9 124.5 247.0 125.2 26.7 2. yang terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas) dan penerimaan SDA nonmigas merupakan sumber utama PNBP.2 3. penerimaan SDA memberikan kontribusi rata-rata sekitar 68.6 2009 139.2 56.8 72.8 6.5 2007 124.2 0.5 43.7 3.2.5 2. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Penerimaan SDA Migas .2 0.1 persen.0 227.1 125.7 triliun.1 Penerimaan SDA Penerimaan SDA.1 215. Dalam APBN-P tahun 2010.2.4 2. Sedangkan penerimaan SDA nonmigas diperoleh dari penerimaan pertambangan umum.Kehutanan .8 triliun atau 18. sebesar masing-masing 20.9 9.3 110.8 8.

.

.

.

Dari sisi kelompok sektor usaha.2 Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.2 triliun.0 persen. koperasi. yaitu kelompok: (a) jasa keuangan dan perbankan. Perusahaan asing boleh memiliki izin tangkap ikan hanya bila mendaratkan hasil tangkapan ke dalam negeri. Selanjutnya. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-33 . Kelima peran ekonomi tersebut merupakan amanah dari pasal 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. yaitu: (a) perusahaan umum (perum). pada saat ini BUMN memegang lima peranan dalam ekonomi nasional. kehutanan. (c) bidang usaha logistik dan pariwisata. realisasi penerimaan panas bumi mencapai Rp0. pertanian. perkiraan realisasi tersebut meningkat sebesar Rp58. kertas. penerimaan pertambangan panas bumi merupakan sumber penerimaan SDA nonmigas yang mulai dicatat dalam penerimaan tahun 2008. maupun kelompok sektor usaha. sejumlah BUMN terus mengalami perubahan. (b) mengejar keuntungan. dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. percetakan. baik dari sisi bentuk perusahaan. (b) jasa lainnya. 3. Seiring perkembangan waktu. penerimaan dari pertambangan panas bumi memiliki potensi yang cukup besar mengingat Pemerintah terus mengupayakan pemanfaatan energi alternatif.2. dan penerbitan. serta (e) pertambangan. Dari sisi bentuk perusahaan. yakni: (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya. Dalam APBN-P tahun 2010.4 triliun.0 miliar atau 63. dan masyarakat. Dalam tahun 2009. dijelaskan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. BUMN dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yang tersebar dalam 35 sektor usaha. khususnya energi panas bumi. penerimaan perikanan ditargetkan sebesar Rp150 miliar.2. Target tersebut lebih rendah Rp0. Dalam jangka menengah. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. Kebijakan penghapusan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk menghambat illegal fishing dan untuk memperkuat industri dan armada perikanan nasional. energi. dan mendirikan unit pengolahan di Indonesia. Faktor lainnya adalah karena meningkatnya biaya operasi penangkapan ikan yang mengakibatkan banyak pengusaha kapal mengalihkan usahanya ke sektor lain sehingga mengurangi penerimaan dari pungutan hasil perikanan (PHP). (d) agro industri. Peningkatan penerimaan perikanan diupayakan melalui optimalisasi pelayanan dan penertiban perizinan usaha.0 persen penerimaan dari beroperasinya kapal-kapal perikanan asing. hingga sekarang BUMN dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.2 triliun. (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. sedangkan dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp0. telekomunikasi. Dalam beberapa tahun terakhir. (b) perusahaan perseroan (persero).0 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. turun 39. dan (c) perseroan terbatas terbuka (persero Tbk).Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sekitar 75.1.

PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia. serta harga komoditas pertambangan. Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas atau di bawah 51. dan belanja modal (capital expenditure/capex). Dari total perolehan laba bersih tersebut.4 persen. dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50. Kinerja BUMN selama periode tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal. total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10. Dari sisi laba bersih seluruh BUMN. baik dari aset.6 persen. pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2009. dan PT Freeport Indonesia Tbk (9. lebih besar bila dibandingkan dengan laba tahun 2008. Ketiga BUMN baru tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset / PPA (persero). Selama periode tersebut. kinerja BUMN terus mengalami perkembangan positif. Data mutakhir Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24. laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25. sebagian III-34 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . PT Bank Bukopin (18.1 PETA KINERJA BUMN DI TAHUN 2010 Bagi Dividen Tidak Bagi Dividen Akum Rugi ………………………………………………………………………………………… Sub-Total BUMN …………………………… BUMN 141 LABA 120 RUGI 21*  72  10  38  21  141  Kebijakan * BUMN yaitu PT ISI dalam proses likuidasi Minoritas  18  Sumber: Kementerian BUMN Bagi Dividen  Tidak Bagi Dividen  …………………………… 7  11  18  …………………………… Sub-Total Minoritas Selama periode 2005–2009.0 persen di sejumlah perusahaan.0 persen. Hingga tahun 2010. opex tumbuh ratarata sebesar 288. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003.   BAGAN III. Peningkatan laba bersih tersebut menunjukkan ketahanan (resilience) kinerja BUMN di tengah belum kondusifnya kondisi perekonomian tahun 2009 sebagai dampak instabilitas variabel makro seperti harga minyak. belanja operasional (operational expenditure/opex).1 persen. dan Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik.4 persen). Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN. Pemetaan laba/rugi berikut kategori BUMN dan perseroan minoritas disajikan pada Bagan III. saham minoritas Pemerintah tersebar di 18 perusahaan yang di antaranya PT Indosat Tbk (14.6 triliun. pertanian dan perkebunan. nilai tukar. Selama periode 2007–2010. telah terjadi penambahan jumlah BUMN. yaitu sebesar Rp88.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah industri strategis.0 persen. perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas. yaitu dari 139 BUMN menjadi 142 BUMN. pertumbuhan kredit perbankan.1.3 persen).5 persen.2 persen). dan total persentase rata-rata terhadap kapitalisasi pasar sebesar 34. laba bersih.

.

III-36 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Selanjutnya dalam APBN-P tahun 2010. 3.3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya. Dalam kurun waktu 2005–2009. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN ditargetkan sebesar Rp29. (2) pendapatan jasa.5 25 Selama periode 2005–2010. Perolehan laba tertinggi terjadi dalam tahun 2008 yaitu sebesar Rp30.2.25 PNBP BAGIAN PEMERINTAH ATAS LABA BUMN. dan pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan Pelayanan Publik.3 triliun (12.7 persen 5 terhadap total dividen BUMN. yaitu meningkat sebesar Rp18. Peningkatan tersebut merupakan windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 PT Pertamina membukukan laba Sumber : Kementerian Keuangan bersih rata-rata sebesar Rp22.4 23.8 triliun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. Secara nominal.29 28.9 persen. PNBP lainnya ditargetkan mencapai Rp43. 0 Selama periode tersebut. Penetapan penggunaan PNBP tersebut didasarkan pada keputusan Menteri Keuangan tentang izin penggunaan PNBP yang bersifat spesifik pada masing-masing K/L. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. sebagian PNBP yang dipungut oleh K/L dapat digunakan kembali oleh K/L yang bersangkutan setelah disetor ke kas negara terlebih dahulu.3 triliun menjadi Rp8. (3) pendapatan bunga. triliun Rp GRAFIK III. serta adanya setoran berupa pendapatan bagian Pemerintah dari sisa surplus Bank Indonesia di tahun 2009.2. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan tersebut adalah meningkatnya pendapatan dari kegiatan hulu migas. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing K/L tersebut. Sedangkan dalam APBN-P tahun 2010. realisasi PNBP lainnya rata-rata tumbuh sebesar 22.1. (5) pendapatan pendidikan.6 29.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah perbankan sebesar Rp3. Target tersebut lebih rendah Rp10. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. Sumber utama PNBP lainnya berasal dari pendapatan Pemerintah yang diperoleh dari jasa pelayanan yang diberikan oleh K/L kepada masyarakat.5 triliun. peningkatan tertinggi terjadi dalam tahun 2007. PNBP lainnya terdiri atas penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa.3 triliun atau 19. 2005 – 2010 35 30 21. yaitu dari Rp7. (7) pendapatan iuran dan denda. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan. yang antara lain disebabkan oleh tingginya pendapatan penjualan dan sewa. Perkembangan PNBP lainnya dan pendapatan BLU selama periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.5 triliun.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. serta (8) pendapatan lain-lain.22 31.7 persen). 20 PT Pertamina menjadi BUMN 12.15.3 PNBP Lainnya Dalam struktur APBN.5 triliun per tahun.2 triliun atau meningkat sebesar 23. pelayanan. sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah dunia.8 triliun.8 15 penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap 10 tahun mencapai 45.

4 1. otomatisasi sistem manajemen/perizinan frekuensi dan alat pengujian.5 1.4 1.6 2.5 8.Pendapatan minyak mentah (DMO) .9 8.Surplus BI .2 1.0 2.0 2.8 63. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.0 2007 5.2 8.4 3.4 7.5 38. dan penghapusan aset.0 1. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya penggunaan spektrum di pita seluler oleh para operator seluler.8 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III. pelatihan.1 5.4 1.2 9.6 2006 4. Selama periode 2005–2009.7 1.4 1. Dalam tahun 2009.6 0. Pemerintah juga telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemungutan PNBP pada masing-masing K/L. dan (5) pendapatan pendidikan.9 5.3 0.5 1.4 triliun atau 30.1 triliun. (4) penegakan hukum secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi yang tidak mematuhi ketentuan perundangan. (2) pembenahan database baik pengguna frekuensi maupun penyelenggaraan telekomunikasi.2 0. realisasi penerimaan PNBP Kemenkominfo mencapai Rp10. PNBP Kemenkominfo mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53.3 2.15 PERKEMBANGAN PNBP LAINNYA.7 9. meningkat sebesar Rp2.8 2010 APBN-P 10.2 3.4 23. dan (5) pembaharuan dan penambahan instrumen secara bertahap.Rekening Dana Investasi (RDI) .Penerimaan lain-lain Total PNBP Lainnya * Termasuk pendapatan BLU Sumber: Berbagai Kementerian/Lembaga 2005 1. (2) pendapatan jasa penyelenggaraan pos dan telekomunikasi (biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi). Sementara itu dalam APBN-P tahun 2010.3 1. dan penyempurnaan peraturan pemerintah (PP) tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada K/L.8 7. (4) pendapatan dari penyelenggaraan penyiaran.0 1.2 7.7 persen.7 1.5 23.9 2.26.3 56.5 3. PNBP Kemenkominfo ditargetkan sebesar Rp10. jenis penerimaan PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terdiri atas: (1) pendapatan hak dan perizinan (biaya hak penyelenggaraan frekuensi).5 9.5 6.7 4. 2005 – 2010 (triliun rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 Kementerian/Lembaga Kementerian Komunikasi dan Informatika* Kementerian Pendidikan Nasional * Kementerian Kesehatan* Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Pertanahan Nasional Kementerian Hukum dan HAM Peneriman Lainnya.2 0.9 43.3 53.7 4.0 2.7 triliun.3 6.8 1. antara lain: (1) pengenaan BHP frekuensi dengan metode lelang pada pita frekuensi yang potensial (bandwith wireless access).4 1. Sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika. antara lain sistem monitoring frekuensi.5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 sebesar Rp7.1 3. selain dengan penetapan.3 2009 10.7 8. khususnya yang berasal dari berbagai K/L.3 triliun.9 1.2 0. (3) melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi berkenaan dengan kewajiban pembayaranPNBP.5 2.9 2008 7. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.0 0.9 13.5 6.Penjualan hasil tambang .5 0. (3) pendapatan jasa sewa sarana dan prasarana.9 7. jenis penerimaan yang berlaku di Kementerian Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-37 . perbaikan. Perkembangan PNBP Kemenkominfo dapat dilihat pada Grafik III.0 1. seperti: .5 Dalam rangka pencapaian target PNBP 2010.6 13.

(3) penerimaan dari jasa pendidikan tenaga kesehatan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terdiri atas: (1) penerimaan dari penyelenggaraan pendidikan.1 4 1. Perkembangan PNBP Kemendiknas dapat dilihat pada Grafik III.2 sebesar Rp6. realisasi PNBP Kemendiknas mencapai Rp5. 1 (2) meningkatkan pelaksanaan 0 berbagai program kegiatan kerjasama.0 5. Adapun pertumbuhan rata-rata selama 2005–2009 mencapai 101.7 6 4.7 5.26 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKOMINFO. (2) penerimaan kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 baik antarinstansi maupun lembaga Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional non-Pemerintah.7 triliun. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi pada tahun 2008 yang mencapai Rp4. (7) penerimaan dari jasa balai kesehatan mata masyarakat (BKMM).3 8 7. (3) penerimaan dari hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan. (5) penerimaan dari jasa pemeriksaan air secara kimia lengkap. serta dunia industri. (8) penerimaan dari uji pemeriksaan spesimen. 2005 – 2010 6.8 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008.3 triliun. rata-rata sebesar 45. lembaga Pemerintah atau non-Pemerintah. Dalam tahun 2009. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Kesehatan.27 PERKEMBANGAN PNBP KEMENDIKNAS. (4) penerimaan dari jasa pemeriksaan laboratorium. (6) penerimaan dari jasa balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4).4 triliun atau 13. jenis penerimaan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terdiri atas: (1) penerimaan dari pemberian izin pelayanan kesehatan oleh swasta.8 2 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Kominfo triliun Rp 7 6 GRAFIK III.3 2 antara lain: (1) meningkatkan kapasitas 0. 2. (4) mendukung upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang tertib.5 persen. meningkat Rp0. triliun Rp 10 GRAFIK III.8 4 3. Dalam tahun 2009. transparan. dan (9) penerimaan dari jasa pelayanan rumah sakit. dan (4) penerimaan dari sumbangan hibah perorangan.9 dan daya tampung perguruan tinggi. III-38 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . efisien. ekonomis.4 triliun. Sedangkan pertumbuhan PNBP Kemendiknas selama periode 2005–2009. (3) meningkatkan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmu pengetahuan.1 10. (2) penerimaan dari pemberian izin mendirikan rumah sakit swasta. taat pada peraturan per Undang-undangan. 2005 – 2010 10. efektif.6 persen per tahun.27. realisasi PNBP Kemenkes mencapai Rp3. teknologi dan seni. PNBP Kemendiknas ditargetkan 3.4 Sementara itu dalam APBN-P tahun 5 2010. Target tersebut 3 didukung oleh beberapa kebijakan.0 triliun.

8 1. driving simulator.7 melalui kegiatan Citra Polantas. (6) simulator. (3) melanjutkan pembangunan jaringan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) meliputi wilayah Kalimantan. kendaraan uji SIM roda 2/roda 4. (2) meningkatkan infrastruktur pendukung pelaksanaan operasional Polri di bidang lalu lintas berupa pengadaan Alsus Polantas. (8) kartu sidik jari.4 1.0 Target tersebut didukung oleh 4 beberapa kebijakan.0 Perpolisian Masyarakat (Polmas) 1.5 0.0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia APBN-P 2010 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-39 . 0 dan (d) meningkatkan pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 kesehatan yang terintegrasi sesuai Sumber : Kementerian Kesehatan standar yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.0 triliun. (2) surat tanda nomor kendaraan (STNK). mobil unit laka Lantas. (3) tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB). (5) bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB). jenis penerimaan Polri terdiri atas: (1) surat izin mengemudi (SIM). PERKEMBANGAN PNBP KEMENKES.28. 1 (c) peningkatan cost recovery rumah 0. (7) izin senjata api (Senpi). 1.5 1.2 Perkembangan PNBP Polri dapat dilihat pada Grafik III.0 (a) peningkatan sumber daya 2.4 sakit untuk menuju kemandirian 0. PNBP Polri ditargetkan sebesar Rp2. mobil unit pelayanan SIM. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. komputer Samsat dan alat cetak TNKB. 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Sementara itu. Maluku Utara.0 2. triliun Rp 2005 – 2010 4. Dalam APBN-P tahun 2010. dan (9) denda pelanggaran lalu lintas. (4) surat tanda coba kendaraan (STCK). 2 (b) menggali potensi PNBP melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi. PNBP Kemenkes GRAFIK III. antara lain 3. jenis penerimaan yang berlaku di BPN terdiri 0.9 3 manusia dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pelayanan. Perkembangan PNBP Kemenkes dapat dilihat pada Grafik III. ditargetkan sebesar Rp4.3 3.2 komputerisasi administrasi keuangan.5 1.29 PERKEMBANGAN PNBP POLRI. 2005 − 2010 menambah membangun jaringan triliun Rp Automatic Traffic Management Center 2.29. kendaraan patroli roda 2/roda 4. (4) meningkatkan kinerja dengan GRAFIK III.0 triliun. dan (5) melaksanakan 2. Pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui kebijakan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis Lantas dan pendidikan pelatihan fungsional Lantas. kendaraan patwal roda 2/roda 4.5 di wilayah Jawa.0 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional (BPN).28 dalam APBN-P tahun 2010. dan Papua.

(6) pelayanan pendidikan. meningkat sebesar Rp0. pengukuran.5 triliun. Dalam APBN-P tahun 2010. Selama periode 2005–2009.4 triliun. Perkembangan PNBP Kemenkumham dapat dilihat pada Grafik III.7 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp1.31.6 GRAFIK III.2 0.2 0. triliun Rp 1. dan memfokuskan pelayanan pertanahan yang dibiayai dengan sumber dana publik. Realisasi PNBP BPN tahun 2009 mencapai Rp1. sertifikasi tanah pertanian dan nelayan pada daerah tertinggal dan ekonomi lemah.8 1. (5) pelayanan survei. (4) pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya.8 0.4 1.8 negara.9 0.5 1. peningkatan 0. serta (5) jasa tenaga kerja narapidana. UKM.31 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKUMHAM.2 0. (2) pelayanan pemeriksaan tanah.30 PERKEMBANGAN PNBP BPN.9 persen.6 1.0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P kapasitas kemampuan petugas ukur dan 2010 Sumber : Badan Pertanahan Nasional pendataan yuridis termasuk melibatkan para surveyor berlisensi. Rata-rata pertumbuhan PNBP BPN periode 2005–2009 mencapai 23. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). dan (2) optimalisasi pembangunan sarana dan prasana untuk mendukung tugas dan fungsi Kemenkumham.2 triliun atau 16. Target tersebut didukung oleh beberapa kebijakan. Target tersebut didukung dengan kebijakan antara lain: (1) melakukan inventarisasi seluruh potensi PNBP pada kantor atau unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan Kemenkumham. PNBP BPN GRAFIK III.4 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Hukum dan HAM III-40 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . jangka waktu.2 triliun. antara lain 0. Dalam tahun 2009. realisasi PNBP Kemenkumham mencapai Rp1. jenis penerimaan Kemenkumham bersumber dari penerimaan (1) pelayanan jasa hukum. PNBP Kemenkumham ditargetkan sebesar Rp1. (3) pelayanan informasi pertanahan. triliun Rp antara lain: (1) PNBP murni. (2) PNBP fungsional.7 persen.6 melalui peningkatan transparansi informasi tentang persyaratan.30. Dalam APBN-P tahun 2010. penerapan model pelayanan “jemput bola”.8 0. Perkembangan PNBP BPN dapat dilihat pada Grafik III.5 triliun. Pencapaian tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat yang berimbas pada minat dan kesadaran masyarakat terhadap kepastian hukum.4 meningkatkan penertiban pengelolaan PNBP dan penertiban pencatatan aset-aset milik 1.7 0. dan (7) pelayanan lisensi. PNBP Kemenkumham mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18. sama dengan realisasi tahun 2008. 2005 − 2010 1.9 0. dan pemetaan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah atas (1) pelayanan pendaftaran tanah. dan 0.5 1. seperti PRONA. (4) hak dan kekayaan intelektual.4 biaya pelayanan. (2) balai harta peninggalan. 2005 − 2010 ditargetkan sebesar Rp1.4 triliun. (3) keimigrasian. yaitu 1.7 0.

.

(4) peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. PNBP diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan target APBN-P 2010. menjadi pilar utama dari pendapatan negara dan hibah. ketidakpastian perkembangan harga minyak dunia yang akan berpengaruh terhadap tingkat harga juga akan memberikan pengaruh terhadap upaya pencapaian target penerimaan migas.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011 Pendapatan negara dan hibah sangat penting sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam rencana kerja Pemerintah (RKP). terutama didorong oleh penurunan penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN. Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2011. target dalam tahun 2011 tersebut mengalami peningkatan sebesar 9. Upaya Pemerintah tersebut melalui (1) pengoptimalan lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 3. pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2010. penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna mengetahui posisi rugi/laba BUMN.3 Tantangan dan Peluang Kebijakan Pendapatan Negara Proses pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2010 memberikan landasan yang cukup kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia pada tahun-tahun selanjutnya. dan intensifikasi penarikan PNBP K/L.4 triliun. Di samping itu. Untuk itu. (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak. terdiri atas penerimaan dalam negeri Rp1. dan (3) peninjauan atas jenis dan tarif. (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. penerimaan perpajakan diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. (2) pengoptimalan penerimaan Pemerintah atas laba BUMN melalui optimalisasi pay-out ratio. Pemerintah perlu berupaya melalui kebijakan dan perbaikan administrasi guna lebih mengoptimalkan pencapaian target PNBP tahun 2011. dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Berdasarkan kondisi perekonomian nasional tersebut. dan opsi dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN.7 triliun. Sebagai kontributor utama penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2011. perbaikan administrasi pelaporan keuangan.082. Prospek pulihnya perekonomian menjadi salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan sumbersumber pendapatan negara. Beberapa kebijakan yang diambil untuk mencapai target tersebut adalah (1) penggalian potensi perpajakan. 3.086. serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA.6 triliun dan hibah Rp3. Sumber utama peningkatan tersebut diharapkan berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan meningkat sejalan dengan dilakukannya berbagai extra effort. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan III-42 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Pada tahun 2011. meskipun masih terdapat tantangan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi global terkait dengan terjadinya gejolak pada sektor keuangan di beberapa negara kawasan Eropa. Penerimaan dalam negeri yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP. Apabila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. pendapatan negara dan hibah diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh cukup stabilnya fundamental ekonomi makro nasional dan juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dunia. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp1.5 persen. (5) perbaikan sistem informasi.

082. kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan.1. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).082. penggalian potensi perpajakan. Pajak penghasilan Migas Nonmigas ii. Sebagian besar dari target penerimaan dalam negeri tersebut merupakan kontribusi dari penerimaan perpajakan.8 11.7 0.7 4.6 triliun pada tahun 2011.9 4.5 9.6 2.4 0.1 5.3 720.5 247.5 0.6 17. TABEL III. Selain itu. Cukai vi.1 0.3 12. dan selebihnya merupakan kontribusi dari PNBP sebesar Rp243.4 0.4 990. Penerimaan Perpajakan a.9 0. Pajak Bumi dan Bangunan iv.5 triliun (77.3 0. Bagian Laba BUMN c.0 60.0 5.3 309.3 3.4 0. PNBP Lainnya d.1 4.9 15.0 0.8 22. Pajak Perdagangan Internasional i.16 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I.2 0.9 26.086.8 362.6 839.3 0.3 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a.2 164.5 54. Migas ii.0 29.2 23.4 0.9 4.4. Bea masuk ii.0 11. Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010–2011 dapat dilihat pada Tabel III. BPHTB v.6 43.2 55.3 7.9 RAPBN 1.7 0.0 25.1 243. perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-43 .1 158.4 414.4 0.3 27.8 5. Bea keluar 2.5 12.5 persen).3 0.5 persen). Nonmigas b.0 APBN-P 992.4 1.1 4.0 2.5 15.1 0.2 360.7 13. Pajak pertambahan nilai iii.8 0.6 0.16.1 0.5 5.1 0.4 14.2 0.2 59.2 0.2 0.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011 Sebagaimana tahun 2010.4.7 % thd PDB 15.9 0.3 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2011 % thd PDB 15.4 306. Pendapatan BLU II. Pajak lainnya b.7 151. serta perbaikan mekanisme keberatan dan banding.5 743.1 3.1 Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1.5 816.4 0. Pajak Dalam Negeri i.5 1.9 0.9 11. yaitu sebesar Rp839.8 263.1 18.9 3.2 0.1 3.7 5. peningkatan pemeriksaan pajak.1 triliun (22.2 145.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III administrasi perpajakan.5 2. 3.5 43. atau meningkat 9. Penerimaan SDA i. Penerimaan Dalam Negeri 1.

dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. (3) otomatisasi pelayanan. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013). (2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP). Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. Makasar dan Belawan). (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu. melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal. optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor. (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai. terutama jalur rawan penyelundupan. Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok. Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II. Tanjung Emas. dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Selain kelima upaya tersebut. antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru. (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang. (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu. (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan. dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance). Selanjutnya. Tanjung Perak. Bandara Soekarno Hatta. beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah. Selanjutnya. optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi. Khusus di bidang kepabeanan. beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup. III-44 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011. serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak. Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan. Undang-undang Kepailitan. Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit. Dalam hal ini. dan Belawan). guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang. Tanjung Perak. dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok. antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). Selain itu. (3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar. (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan.

(2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai. atau meningkat 12. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor. akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada: (1) asumsi ICP USD80. PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17. Pada tahun 2011. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.2 triliun.5 triliun.5 triliun. penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management. PPh migas ditargetkan mencapai Rp54.300 per USD. Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011. Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011 Pada tahun 2011. PPh ditargetkan mencapai Rp414.2 persen. serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai. melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran.3 triliun. dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3. baik secara global maupun domestik.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. (2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9.5 triliun. yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1. hingga mencapai Rp360. penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839. di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai. dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph. target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2.0 triliun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal. kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus. Selain itu. atau meningkat 14.9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A. serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit. (3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Secara umum. dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011.1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh. faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-45 . (2) perbaikan administrasi pajak. optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai.4 persen. dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014. Sementara itu. dan (4) tingginya tax compliance masyarakat. atau 13.5 triliun pada tahun 2011. dari target APBN-P tahun 2010.0 per barel. kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1. Khusus di bidang cukai.0 triliun.

dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5.4 2.1 30.0 12.7 49.1 9.6 persen.5 29.0 triliun (12.1 2.3 77.8 22. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.9 100. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.7 29.2 5. dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan.1 308. Real Estate.0 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN. Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III.0 6. Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri. transaksi yang offline serta restitusi Pada tahun 2011.3 8.7 persen) dengan pertumbuhan 8. Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6.3 9. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.2 12.8 22.1 triliun (30. Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308.3 17. sektor keuangan.9 % thd Total 3.0 triliun.5 7.3 triliun.0 0.7) 24. di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9. Real.4 % thd Total 4.7 39.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak.0 3.6 4.9 3.4 61.5 1.9 21. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak. (2) perluasan basis pajak.17.2 3.8 0.7 23.1 66.5 triliun.0 y-o-y 34.6 0.1 30. Gas. target tersebut meningkat sebesar 19.2 0. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.4 0.8 2.3 persen.6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23.1 persen atau Rp49.8 triliun (21.2 (12.3 persen. Peternakan.0 100.9 persen.2 8.8 26. Selanjutnya.6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010.4 triliun. real estate.4 95. bahan bakar nabati. sektor perdagangan.6 28.5) (20.5 8.17 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.3 19.6 5.3 triliun. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y (8.7 25.4 258. 9.0 18.8 8. dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6.7 0.1 18. target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.6 persen.7 19.6 3. Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi. dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66.2 6.8 23.3 7.2 14.8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22. profiling. Kehutanan. terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95. dan benchmarking.8 7.0 RAPBN 12.6 20.2) 32. Dalam target PPN dan PPnBM tersebut.5 7. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Sementara itu. TABEL III.1 9. (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping. hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39. (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait III-46 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 Perk.0 150. atau meningkat 17.5 17.3 2.7 8.7) (19.7 5.7 31. Hotel.

hotel. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut. Selanjutnya.6 persen dan sektor perdagangan. Real Estate.4 24. atau meningkat 9.3 0.6 6.0 triliun (61.9 6.7 RAPBN 3.19.5 4.5 triliun atau meningkat sebesar 19.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.1 19. 2010 – 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.1) 6.1 44.9 12.3 0. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III. TABEL III. Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27.5 triliun.2 67.4 11.3 12.9 18. sebagai kontributor terbesar kedua.4 43.2 7.8 triliun. Secara umum.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III kebutuhan eksplorasi hulu minyak. peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia.3 0.4 181.8 7.1 28. Hotel. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.5 % thd Total 2.7 17.7 persen. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-47 .9 1.1 3. 3.0 58.8 7. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L. Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar.9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.7 50.2 3.0 y-o-y 18. penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.5 37. PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20.0 12.3 152. sektor industri perdagangan.4 0. Peternakan.2 triliun (46. penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117.9) 55.4 31. sebagai komponen terbesar.7 15.4 (83.2 1.9 1. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72.2 28.4 6.3 triliun (7.2 85.7 triliun atau meningkat sebesar 23. Gas.1 18.0 15.7 triliun pada tahun 2011.5 4. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 9.9 2.4 8.2 1. Kehutanan.8 26.4 43.8 2.3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26. hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36.4 12.18.7 persen.4 14.3 78.4 triliun (17.3 100. Secara lebih rinci.8 100.6 7.4 persen.1 32. atau naik 21.1 56. Real.1 30. Sementara itu.9 1.0 (42.1 0.1 Perk.9 2.1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.8 15.3 % thd Total 2. gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2.7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28.8 triliun.2 triliun (30.8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.9 0.1 12.3 0.6 2. sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14.2 persen.2 0. serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32. Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181.1 46.18 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.6 21.3 2. transaksi yang offline dan restitusi Pada tahun 2011. dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21.2 0.

0 100. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010.3 1.3) 318. Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau. 2010-2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.0 0. Dalam tahun 2011.4 (85.9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target III-48 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .9 28.1 0. didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3.7 (13.5 0.5 (40. (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai. Peternakan.7 10. Kehutanan dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.7 triliun.3) 21.0 72.4) 124.1 0.2 0. dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2.6 0. Real.3 2.2 persen. (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA.1 0. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6.0 100.0 0. 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.0 29.7 0. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.3 3.2 1. dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal.8) 51.3 1.0 triliun.9 2. dan kelestarian sumber daya alam.5 0. Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara. Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.6 1. terjadi peningkatan sebesar 5.7 23. bea keluar ditargetkan mencapai Rp5.4) 54. stabilitas harga nasional.3 0.0 triliun. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai.9 30.3 4.9 persen.6 0.0 95.2 0.5 49.3 2.0) 14. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60. terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58.9) 62.1 0.4 (8.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L. Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2.0 36. Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18.19 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.2 0. atau 9.9 Perk. maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011.3 persen.6 0.6 2.2 (70.2 1.2 0. Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri.1 0.0 61.3 0.4 0.7 triliun.0 y-o-y 47.7 1.9 (0.2 11. Pada tahun 2011.2 (45. dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional.0 0.2 0.0 59.1 triliun atau 5.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010.0 117.2 2.1 triliun.300 per USD.1 3.0 % thd Total 0.4 persen. pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4.4) 45. (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9.9 0.9 28.8 (9. target cukai 2011 mengalami peningkatan 2.7 % thd Total 0.2 triliun.0 62. transaksi yang offline dan restitusi Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang belum jelas batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 366. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010.5) 38.0 (2.0 RAPBN 0.

.

.

Di samping itu. meningkat sebesar Rp111. termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP). (9) peningkatan pelayanan.7 miliar atau 45. Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi. Namun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sebesar Rp50. dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan.0 miliar atau 33. sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK. Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan. akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011. Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu. Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas. (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu. (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP. Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-51 . peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan. Terkait dengan hal tersebut. Untuk BUMN sektor perbankan. kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya. BUMN Sektor Perbankan. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. (2) penanggulangan illegal fishing. (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan. upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha.3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan. (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI). Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010. (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas. antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan. Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP). (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan.1 miliar.

5 triliun. khusus PT Jamsostek. dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi.4 triliun. dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen. besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26. yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi. Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat. PT Taspen. dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS. Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian. Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan. target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43.6 triliun. (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui. III-52 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan PT Asabri diterapkan POR nol persen. Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian. PNBP Lainnya Dalam tahun 2011. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III. (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen. Prospektus IPO).Bab III Pendapatan Negara dan Hibah upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. (b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan. (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen. terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba.36. (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi. Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011. dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut. sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43. (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen. PT Askes. Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN. (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen. terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia. tidak diambil dividennya.

.

0 APBN-P 2010 RAPBN 2011 2. (c) melanjutkan upgrade jaringan Satpas termasuk SIM keliling. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4. GRAFIK III. Dalam tahun 2011.38. 2010 − 2011 triliun Rp 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Ke menterian Pe ndid ikan Nasional RAPBN 2011 10. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM. (b) melanjutkan pembangunan jaringan online Samsat di seluruh Polda.0 triliun atau 59.39 PNBP POLRI. meningkat Rp0. dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi.8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6. serta pemberlakuan Undangundang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.7 Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain: (a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi. III-54 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . ketertiban. serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik.5 2.5 1. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan.8 triliun. Dalam tahun 2011. yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan. 2010 − 2011 triliun Rp 3. dan kelancaran berlalu lintas. (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi.0 1.0 triliun. target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2.8 triliun atau 39.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah (4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi. STNK.5 0. terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan.8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2.7 triliun. kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah (a) meningkatkan kemampuan SDM Polri melalui pendidikan dan pelatihan. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.0 2.7 triliun. keselamatan.8 2.39. GRAFIK III.38 PNBP KEMENDIKNAS.0 0. dan (d) melaksanakan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui kegiatan Citra Polantas. PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10.7 6. akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah. dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor.0 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indone sia Secara garis besar.

0 1. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh bertambahnya jumlah perguruan tinggi negeri yang menerapkan pola BLU dan telah diterapkannya pola pengelolaan BLU oleh seluruh rumah sakit Pemerintah. Penurunan tersebut disebabkan oleh dihapuskannya PNBP dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah berupa uang pemasukan kepada negara.6 triliun.9 triliun. Penerimaan ini lebih tinggi Rp5.5 triliun. jangka waktu pelayanan. Grafik III.8 0. Perkembangan pendapatan BLU tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.4 1.1 triliun atau 6. dan jasa Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-55 .0 APBN-P RAPBN akan ditempuh untuk mencapai target tahun 2011 2010 2011 tersebut adalah: (1) peningkatan pelayanan kepada Sumber : Kementerian Hukum d an HAM masyarakat melalui penambahan kantor imigrasi.6 1. serta (c) penerapan model pelayanan kantor pertanahan bergerak pelayanan rakyat sertifikasi pertanahan (LARASITA). 2010 − 2011 triliun Rp 2.5 triliun.41 PNBP KEMENKUMHAM.6 1.8 0.3 Pencapaian target PNBP BPN tahun 2010 0.3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1.2 triliun atau 13.0 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp9.5 1. (3) menambah jumlah negara subjek VKSK menjadi 62 negara.0 APBN-P RAPBN didukung oleh (a) peningkatan kegiatan sosialisasi 2010 2011 dan transparansi pelayanan kepada masyarakat Sumber : Badan Pertanahan Nasional yang mencakup informasi tentang persyaratan. Dalam tahun 2011.5 1. (b) peningkatan kapasitas kemampuan pelayanan dengan penambahan petugas ukur dan pendataan data yuridis.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. Perkembangan PNBP Kemenkumham tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. dan (5) melakukan perjanjian kerjasama dengan bank BUMN untuk penerimaan biaya VKSK.41.8 triliun. turun Rp0.5 triliun.3 triliun. pokok-pokok kebijakan yang 0.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III PNBP BPN dalam tahun 2011 direncanakan mencapai Rp1. PNBP Kemenkumham direncanakan sebesar Rp1.2 0. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya kunjungan dan izin tinggal orang asing di Indonesia.40 memperlihatkan target PNBP BPN tahun 2010 dan 2011.42.4 ` 1.40 PNBP BPN.6 Secara garis besar.4 triliun atau 57. dan biaya pelayanan. naik Rp0. Pendapatan BLU Pendapatan BLU dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp14. GRAFIK III. (4) mengembangkan otomatisasi sistem pelayanan hak kekayaan intelektual. 2010 − 2011 triliun Rp 1.2 0. (2) menambah jumlah tempat pemeriksaan imigrasi dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK). GRAFIK III. Dilihat dari sumber perolehannya. sebagian besar pendapatan BLU tahun 2011 berasal dari pendapatan jasa pelayanan pendidikan yang direncanakan sebesar Rp7.

2 persen jika dibandingkan dengan target APBN-P 2010 sebesar Rp1. (2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan BLU. GRAFIK III.9 3.4 triliun. 2010 − 2011 triliun Rp 16 14 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Kementerian Keuangan RAPBN 2011 9.6 yang akan digunakan untuk PMN terhadap PT Geo Dipa Energi sebesar Rpo. Grafik III.8 dari PT Pertamina dan PT PLN (Persero) 1.6 sistem administrasi dan pencatatan 3.4.2 Penerimaan Hibah Penerimaan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp3.9 juga.5 14. Secara umum.7 perubahan iklim serta semakin efektifnya 3.8 triliun atau 97. Peningkatan tersebut GRAFIK III. pendapatan dari jasa penyelenggaraan telekomunikasi direncanakan mencapai Rp1. Selain itu 2. dikarenakan menampung hibah aset 1.9 triliun. Sementara itu. pencapaian target pendapatan BLU tahun 2011 didukung oleh kebijakan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BLU. di antaranya: (1) meningkatkan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. 2010 − 2011 tingginya komitmen negara donor untuk membantu Indonesia terkait masalah triliun Rp 4. serta (3) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah.43 memperlihatkan 2010 2011 perkembangan target hibah 2010 dan Sumber : Kementerian Keuangan 2011.4 1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pelayanan rumah sakit yang diperkirakan mencapai Rp3.4 APBN-P RAPBN triliun. III-56 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .43 antara lain dipengaruhi oleh semakin PENERIMAAN HIBAH.2 3.7 triliun.42 PENDAPATAN BLU.2 0. Target tersebut lebih tinggi Rp1.0 penerimaan hibah dalam APBN.9 triliun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful