P. 1
10-08-16, Nk Dan Ruu Apbn 2011_babiii

10-08-16, Nk Dan Ruu Apbn 2011_babiii

|Views: 74|Likes:
Published by yunandar_rep

More info:

Published by: yunandar_rep on Aug 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2012

pdf

text

original

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

BAB III PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum
Dalam periode 2005–2009, realisasi pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen, didukung dengan peningkatan penerimaan dalam negeri dan hibah yang masing-masing tumbuh rata-rata 14,4 persen dan 6,3 persen. Penerimaan dalam negeri terutama berasal dari penerimaan perpajakan yang memberikan kontribusi rata-rata 68,9 persen dengan pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi rata-rata 31,1 persen dengan pertumbuhan rata-rata 11,5 persen. Meningkatnya realisasi pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2009 tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah. Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan. Sebagai kontributor utama bagi penerimaan dalam negeri, penerimaan perpajakan diupayakan secara optimal melalui tiga kebijakan utama, yaitu: (1) reformasi di bidang administrasi; (2) reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan; dan (3) reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi. Ketiga kebijakan tersebut secara umum berlaku baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang PNBP, kebijakan yang telah diambil Pemerintah dalam rangka optimalisasi adalah (1) meningkatkan produksi sumber daya alam (SDA); (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan di bidang PNBP; (3) meningkatkan pengawasan PNBP; dan (4) meningkatkan kinerja BUMN. Pada tahun 2010, perekonomian dunia mulai pulih dari krisis. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8 persen, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada realisasi pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, realisasi pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp992,4 triliun atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp990,5 triliun atau meningkat 16,9 persen, dengan perincian penerimaan perpajakan Rp743,3 triliun atau meningkat 19,9 persen dan PNBP Rp247,2 triliun atau meningkat 8,8 persen. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun dengan peningkatan sebesar 13,8 persen. Dalam tahun 2010, kebijakan pendapatan negara dan hibah tetap diarahkan untuk optimalisasi penerimaan dalam negeri. Di bidang perpajakan, selain melakukan kebijakan yang bersifat reguler seperti reformasi di bidang administrasi, peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta penggalian potensi, Pemerintah melakukan upaya tambahan (extra effort) baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan efisiensi pemeriksaan dan penagihan pajak, serta peningkatan pengawasan atas peredaran barang kena cukai ilegal. Di bidang PNBP, kebijakan

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-1

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

yang dilakukan Pemerintah untuk mengamankan target PNBP tahun 2010 adalah optimalisasi penerimaan SDA terutama dari migas, peningkatan kinerja BUMN, serta optimalisasi PNBP kementerian/lembaga (K/L). Memasuki tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan jauh lebih baik daripada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan realisasi 2010. Indikator-indikator ekonomi makro lainnya juga diperkirakan akan cukup stabil. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp1.086,4 triliun, dengan perincian penerimaan dalam negeri sebesar Rp1.082,6 triliun dan hibah Rp3,7 triliun. Penerimaan dalam negeri akan berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp839,5 triliun, dan PNBP sebesar Rp243,1 triliun. Dalam rangka mencapai target penerimaan negara pada tahun 2011, Pemerintah akan menjalankan berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Pokok-pokok kebijakan perpajakan secara umum adalah melanjutkan dan mempertajam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya. Di bidang perpajakan, kebijakan antara lain akan difokuskan pada (1) penggalian potensi perpajakan; (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak; (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak; (4) peningkatan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai; (5) perbaikan sistem informasi; dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, dalam rangka memperbaiki sistem administrasi perpajakan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pengalihan BPHTB serta PBB perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah. Untuk BPHTB, pengalihan dilakukan pada tahun 2011, sedangkan untuk PBB, pengalihan dimungkinkan dilakukan mulai tahun 2010 berdasarkan kesiapan masing-masing daerah. Tenggat waktu yang diberikan kepada daerah untuk mempersiapkan pengalihan PBB tersebut adalah sampai dengan tahun 2014. Di bidang PNBP, kebijakan yang dilakukan untuk mencapai target 2011 adalah (1) optimalisasi lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi, serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA; (2) penyesuaian pay-out ratio dividen dari laba BUMN; (3) penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna memantau perkembangan rugi/laba BUMN; (4) penarikan dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN; (5) intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP K/L, antara lain dengan melakukan review jenis dan tarif PNBP K/L; dan (6) perbaikan administrasi pelaporan keuangan K/L.

3.2

Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2009 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2010

Pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode 2005–2009. Pertumbuhan rata-rata yang terjadi dalam periode tersebut adalah 14,4 persen, yaitu dari Rp495,2 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp848,8 triliun pada tahun 2009. Kondisi perekonomian yang cukup kondusif dalam periode 2005–2009 menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya pendapatan negara khususnya penerimaan dalam negeri, meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 sampai dengan 2009. Dalam periode 2005–2009 tersebut, penerimaan dalam negeri meningkat dari Rp493,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp847,1 triliun pada tahun 2009. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Selain faktor kestabilan ekonomi, penerapan berbagai
III-2 Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya realisasi penerimaan dalam negeri. Sementara itu, penerimaan hibah pada periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,3 persen, yaitu dari Rp1,3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp1,7 triliun pada tahun 2009. Terus membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2010 menyebabkan Pemerintah optimis dapat mencapai target pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp990,5 triliun, atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun atau 13,8 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam APBN-P tahun 2010, pendapatan negara dan hibah ditargetkan mencapai Rp992,4 triliun, atau 16,9 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.1.
TABEL III.1 PERKEMBANGAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2005 Real. 495,2 493,9 347,0 146,9 1,3 2006 Real. 638,0 636,2 409,2 227,0 1,8 2007 Real. 707,8 706,1 491,0 215,1 1,7 2008 Real. 981,6 979,3 658,7 320,6 2,3 2009 Real. 848,8 847,1 619,9 227,2 1,7 2010 APBN-P 992,4 990,5 743,3 247,2 1,9

3.2.1 Penerimaan Dalam Negeri
Dalam periode 2005–2009, penerimaan dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Sebagai komponen utama, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan PNBP tumbuh rata-rata 11,5 persen. Beberapa indikator makroekonomi yang berpengaruh pada meningkatnya penerimaan dalam negeri dalam periode tersebut adalah (1) tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat, yaitu dari 5,7 persen pada tahun 2005, menjadi 6,0 persen pada tahun 2008, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2009; (2) perkembangan ICP yang cenderung meningkat dari USD51,8 per barel pada tahun 2005 hingga mencapai USD96,8 per barel pada tahun 2008, dan USD61,6 per barel pada tahun 2009; dan (3) fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mengalami depresiasi pada periode tahun 2005–2009. Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan perpajakan dan PNBP juga turut mendorong peningkatan penerimaan dalam negeri. Memasuki tahun 2010, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan mampu mencapai pertumbuhan 5,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 yang hanya mencapai 4,5 persen. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan juga didukung oleh tingginya perkiraan ICP yang mencapai USD80 per barel, penerimaan dalam negeri ditargetkan sebesar Rp990,5 triliun dalam APBN-P tahun 2010,

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-3

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp743,3 triliun dan PNBP Rp247,2 triliun. Jumlah tersebut berarti 16,9 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Perkembangan penerimaan dalam negeri pada periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.2.
TABEL III.2 PERKEMBANGAN PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. BPHTB v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Bea keluar 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya d. Pendapatan BLU
Sumber : Kementerian Keuangan

2005 Real. 493,9 347,0 331,8 175,5 35,1 140,4 101,3 16,2 3,4 33,3 2,1 15,2 14,9 0,3 146,9 110,5 103,8 6,7 12,8 23,6 0,0

2006 Real. 636,2 409,2 396,0 208,8 43,2 165,6 123,0 20,9 3,2 37,8 2,3 13,2 12,1 1,1 227,0 167,5 158,1 9,4 23,0 36,5 0,0

2007 Real. 706,1 491,0 470,1 238,4 44,0 194,4 154,5 23,7 6,0 44,7 2,7 20,9 16,7 4,2 215,1 132,9 124,8 8,1 23,2 56,9 2,1

2008 Real. 979,3 658,7 622,4 327,5 77,0 250,5 209,6 25,4 5,6 51,3 3,0 36,3 22,8 13,6 320,6 224,5 211,6 12,8 29,1 63,3 3,7

2009 Real. 847,1 619,9 601,3 317,6 50,0 267,6 193,1 24,3 6,5 56,7 3,1 18,7 18,1 0,6 227,2 139,0 125,8 13,2 26,0 53,8 8,4

2010 APBN-P 990,5 743,3 720,8 362,2 55,4 306,8 263,0 25,3 7,2 59,3 3,8 22,6 17,1 5,5 247,2 164,7 151,7 13,0 29,5 43,5 9,5

3.2.1.1 Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen dalam periode 2005–2009. Beberapa faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai. Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea masuk dan bea keluar. Dalam periode 2005–2009, penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 16,0 persen, sedangkan pajak perdagangan internasional tumbuh rata-rata 5,2 persen. Selanjutnya, penerimaan perpajakan mampu memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2005, kontribusi penerimaan perpajakan adalah 70,3 persen menjadi 64,3 persen pada tahun 2006, kemudian 69,5 persen pada tahun 2007 menjadi 67,3 persen pada tahun 2008, dan selanjutnya menjadi 73,2 persen pada tahun 2009. Semakin tingginya kontribusi penerimaan perpajakan tersebut menunjukkan bahwa peranan penerimaan perpajakan menjadi sangat strategis sebagai sumber pendanaan

III-4

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Dalam rangka meningkatkan kepatuhan membayar pajak (tax compliance). dan diperpanjang hingga Februari 2009. profiling. Pemerintah telah dan akan tetap melanjutkan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. terukur. Reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi dilakukan melalui pembangunan suatu metode pengawasan dan penggalian potensi penerimaan pajak yang terstruktur. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah wajib pajak dari 3. notaris. dan profesi lainnya. dan (3) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. dan (3) pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter. staf. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. dan dapat dipertanggungjawabkan. pekerja serta pegawai negeri sipil dan pejabat negara. Program utama dari kegiatan ini dikemas dalam Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). Sedangkan program intensifikasi atau penggalian potensi perpajakan dari wajib pajak yang telah terdaftar dilaksanakan melalui III-6 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan perumahan. standar. direksi. komisaris. Reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan dilakukan melalui amendemen tiga undang-undang perpajakan. sistematis.1 juta pada April 2010. program ekstensifikasi pada tahun 2010 dilakukan melalui tiga pendekatan utama. akuntan. (2) pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau memiliki tempat usaha di pusat perdagangan dan/atau pertokoan. dan benchmarking. dan melaksanakan good governance melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak. program ini juga dimaksudkan untuk mengakomodasi hasil kegiatan penggalian potensi melalui kegiatan mapping. Selain bertujuan meningkatkan tax compliance. Sejauh ini kegiatan ekstensifikasi perpajakan dinilai cukup berhasil. yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak. Sementara itu. dan benchmarking. Pemerintah mencanangkan program sunset policy pada tahun 2008.5 juta pada tahun 2005 menjadi 14. yaitu: (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-undang. Selain itu.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah teknologi informasi dan komunikasi. tarif PPh badan mengalami penurunan dari 28 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada tahun 2010. Metode tersebut dikembangkan sejak awal tahun 2007 mencakup kegiatan mapping. pengacara. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008. (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. profiling. dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. Program sunset policy ini mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. artis. pemberian diskon atas tarif PPh badan 5 persen lebih rendah dari tarif normal tetap diberikan kepada perusahaan-perusahaan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dikuasai oleh publik. yaitu: (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara Pemerintah dengan sasaran karyawan yang meliputi pemegang saham atau pemilik perusahaan.

dan (10) meningkatkan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dalam memenuhi kewajibannya. (2) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Madya. (6) mendukung kerjasama perdagangan internasional. langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan antara lain (1) pengembangan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai. (2) pemberian fasilitas/kemudahan dalam pelayanan kepabeanan (Pre Entry Classification. (2) membangun sistem dokumentasi pelanggaran kepabeanan dan cukai. pemeriksaan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu metode penggalian potensi dan pengawasan penerimaan pajak yang terstruktur. terukur. Dalam hal ini. Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan. (7) penerapan National Single Windows (NSW) dan portal Indonesia National Single Windows (INSW). (3) monitoring pelaksanaan audit. profiling. dan (5) melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan fasilitas kepabeanan dan cukai. dan Pre-Notification). Pemerintah meningkatkan fungsi pengawasan dan audit. Untuk menindaklanjuti program sunset policy. dan penyidikan. serta melakukan program intensifikasi melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi. (3) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Large Tax Office (LTO) dan Khusus. (6) pengawasan intensif dari PPh Pasal 25 retailer. Kegiatan law enforcement dilakukan melalui penagihan. Customs Advice. yang telah dikembangkan sejak tahun 2007. (3) pemberian fasilitas terhadap industri substitusi impor dan industri orientasi ekspor. mesin sinar X. risk assesment. Di bidang kepabeanan dan cukai. dan (7) pengawasan intensif wajib pajak orang pribadi potensial. regional. Selanjutnya. menjaga hubungan dengan wajib pajak (maintenance). Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dengan membangun komunikasi kepada setiap wajib pajak melalui pendidikan perpajakan (tax education).Pendapatan Negara dan Hibah Bab III (1) kegiatan mapping dan benchmarking. dan optimalisasi sarana operasi seperti kapal patroli. (9) penegakan hukum di bidang kepabeanan melalui risk management. (4) melaksanakan pemberantasan peredaran rokok ilegal. (4) pemantapan profil 500 wajib pajak KPP Pratama. (3) melaksanakan pemberantasan penggunaan pita cukai palsu. serta (4) penyempurnaan aplikasi sistem audit. (5) pembuatan profil high rise building. dan mesin sinar gamma. dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. (4) pembentukan kantor pelayanan utama dan KPPBC Madya. maupun multilateral. untuk menjamin penegakan hukum (law enforcement) di bidang kepabeanan dan cukai. (2) penyusunan database profil dan objek audit. dan targeting. Pemerintah akan terus melanjutkan program reformasi melalui pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya. Sedangkan peningkatan audit dilakukan antara lain melalui (1) pembuatan dokumentasi sistem informasi perencanaan audit. peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. Peningkatan pengawasan dilakukan antara lain dengan (1) mengembangkan manajemen risiko kepabeanan dan cukai. tanpa mengesampingkan fungsi utama kepabeanan cukai sebagai regulator dalam rangka melancarkan arus barang dari transaksi perdagangan internasional (trade facilitation) dan melindungi masyarakat dari ekses negatif dari masuknya barang-barang pembatasan dan larangan serta narkotika (community protection). Khusus di bidang kepabeanan. Pemerintah melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-7 . baik bilateral. dan saling terkait. (8) peningkatan pelayanan kepabeanan melalui jalur mitra utama (MITA) dan jalur prioritas. sistematis. (5) peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas barang impor dan ekspor.

6 persen sampai dengan 21. yaitu sigaret kretek mesin (SKM). yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata 32. cukai sebagai penerimaan ketiga terbesar setelah PPh serta PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14.7 9.4 28. Kontributor utama dalam penerimaan pajak dalam negeri adalah PPh yang memberikan kontribusi rata-rata 52.6 19. (3) peningkatan pelayanan di bidang cukai. (4) peningkatan pengawasan di bidang cukai.2 45.6 21.0 18.7 10. Pemerintah juga melakukan peningkatan pengawasan.8 2.4 40 22. Selanjutnya pada tahun 2010.8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp601.6 10. penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan ratarata 16. serta (4) peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) rata-rata sebesar 228.6 16.0 53.7 25. dan (4) peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor. yaitu dari Rp331.8 -1.0 persen sesuai dengan jenis hasil tembakau. Sedangkan kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah PPN dan PPnBM serta cukai. Upaya yang dilakukan antara lain melalui (1) penyempurnaan ketentuan mengenai perizinan di bidang cukai. (5) peningkatan pemahaman ketentuan di bidang cukai (sosialisasi). (2) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai. Pertumbuhan rata-rata tertinggi terjadi pada pos penerimaan PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM yang mencapai 17.2.2 PPh Migas -35.5 persen.8 28.3 triliun pada tahun 2009.3 persen.0 PPh Non Migas PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 III-8 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Sementara itu. Pertumbuhan dan kontribusi rata-rata dari masingmasing jenis pajak dalam kategori pajak dalam negeri dapat dilihat pada Grafik III.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Khusus di bidang cukai.3 14.5 persen untuk MMEA impor. sigaret kretek tangan (SKT).0 17.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.3 persen.5 11. (6) penerapan kode etik (reward and punishment).0 13.9 0 (20) (40) 18.5 37.4 persen. (3) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai.2 -7.4 17.1.0 persen. 3.1.7 87.1 Pajak Dalam Negeri Dalam periode 2005–2009.3. (2) pemeriksaan lokasi pabrik.2 PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI.0 persen (y-o-y) 60 -7. GRAFIK III. dan (7) peningkatan security feature pita cukai untuk menghilangkan praktek pemalsuan cukai. penyempurnaan terhadap peraturan-peraturan pelaksanaan maupun sistem prosedur di bidang cukai dilakukan secara bertahap sehingga dapat memberikan perlindungan atas kesehatan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan faktor daya serap tenaga kerja. sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.2 dan Grafik III.9 -4.9 20 1.9 35.6 13. dan sigaret putih mesin (SPM). antara lain melalui: (1) peningkatan operasi pasar.1 persen dan 9. beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan cukai antara lain (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau berkisar antara 9. 2005 – 2009 80 75.8 6. (2) perubahan ketentuan mengenai perizinan.3 -6.7 14. (3) peningkatan security features pita cukai.7 6. Selain itu.

7 persen).7 persen. yang terdiri atas penerimaan PPh migas Rp55.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Dalam APBN-P tahun 2010.0 persen dalam periode 2005−2009.3% dibandingkan dengan realisasi PBB 4.7 persen. sedangkan PPh nonmigas 80. meskipun lifting mengalami fluktuasi. Penerimaan PPh migas tahun 2009−2010 dapat dilihat pada Grafik III.6% 9. Dalam periode tersebut.3 persen) dan PPh nonmigas Rp306. GRAFIK III.7% penerimaan pajak dalam negeri tahun 2009. Selain itu.3% BPHTB PPh Migas Rp720.3 triliun atau 10. Membaiknya kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik yang berimbas pada meningkatnya volume perdagangan dunia menjadi faktor utama meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri.3 penerimaan pajak dalam KONTRIBUSI RATA-RATA PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI.5 per barel (Desember−November).1% 32.0 persen. Dilihat dari komposisinya.5 PPN 42.2 persen. khususnya penerimaan PPN dan PPnBM impor. dan lebih tingginya lifting minyak Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-9 .9 persen. Perkembangan realisasi penerimaan PPh migas yang cenderung meningkat tersebut sesuai dengan perkembangan ICP yang menunjukkan adanya tren kenaikan.2 persen.6 persen dan PPh gas bumi tumbuh rata-rata 5. penerimaan PPh migas memberikan kontribusi rata-rata sebesar 19.1% triliun atau 19. PPh diperkirakan mencapai Rp362.7 persen.0% 10.7 persen) dan PPh gas bumi Rp32. dengan kontribusi dari PPh minyak bumi sebesar Rp22. Dalam APBN-P tahun 2010.6 triliun atau 14. Penyebab utama peningkatan penerimaan PPh migas tersebut adalah lebih tingginya ICP pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai USD80 per barel dibandingkan dengan ICP pada tahun 2009 yang mencapai USD58. Penerimaan PPh migas selama tahun 2005−2009 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9. Dilihat dari komponen pendukungnya.5 triliun menjadi Rp317. realisasi penerimaan PPh migas diperkirakan mencapai Rp55. relatif tingginya ICP yang diperkirakan mencapai USD80 per barel pada tahun 2010 dibandingkan dengan ICP tahun 2009 yang mencapai USD58. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp317. nominal penerimaan PPh meningkat dari Rp175.4 triliun (15. terjadi peningkatan sebesar Rp44. terjadi peningkatan sebesar Rp5. terutama PPN dan PPnBM yang meningkat Sumber : Kementerian Keuangan 36.8 triliun.6 triliun (40. Peningkatan terjadi pada seluruh pos penerimaan dalam negeri.3 persen.8 triliun (84.6 triliun.6 triliun.2 persen dan BPHTB yang meningkat 10.3 persen). target tersebut mengalami PPh Non-Migas peningkatan sebesar Rp119. Pajak Penghasilan (PPh) Pajak penghasilan (PPh) mengalami pertumbuhan rata-rata 16.4 triliun. Dalam APBN-P tahun 2010.5 per barel (Desember−November) juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penerimaan pajak migas.4. Apabila 1. penerimaan PPh minyak bumi tumbuh rata-rata 18.8 triliun (59.2 triliun. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. 2005 – 2009 Pajak Lainnya Cukai negeri ditargetkan mencapai 0.

5 Selain faktor ekonomi.0 2007 % thd Total 37.0 60. PPh pasal 25/29 badan tahun 2010 meningkat 5.5 0. Meskipun tarif PPh pasal 25/29 badan mengalami penurunan dari 28 70.5 APBN-P 2010 TABEL III.0 100.0 20.0 Real. peningkatan penerimaan 61.0 0.4 73.6 triliun pada tahun 2009.5 nonmigas diperkirakan mencapai Rp306.7 32. Bila dibandingkan dengan Sumber : Kementerian Keuangan realisasi pada tahun 2009.0 100.6 0.5 61.4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp267.0 Sumber : Kementerian Keuangan Dalam APBN-P tahun 2010.4 PENERIMAAN PPh MIGAS.0 66.0 35.3 PPh nonmigas terutama disebabkan oleh upaya 220.0 77.3 0.0 100.0 2008 % thd Total 38.7 59.3 0.0 Real.3 persen.8 perbaikan administrasi perpajakan dan 170. 18.0 1.0 persen dalam periode tersebut.0 2009−2010 dapat dilihat dalam Grafik III. realisasi penerimaan PPh nonmigas mengalami pertumbuhan ratarata 17.0 100.3 25.7 persen dan memberikan kontribusi rata-rata 41.3 PERKEMBANGAN PPh MIGAS. GRAFIK III.3. 9.0 30. Perkembangan penerimaan PPh nonmigas per pasal dalam periode 2005–2010 dapat dilihat padaTabel III. penerimaan PPh GRAFIK III.3 0.3 27.2 2006 % thd Total 34.5 0.0 61.0 telah dijelaskan sebelumnya.3 126.6 47.0 50.0 100.0 Real. Hal ini berarti terjadi peningkatan 14. Perkembangan realisasi PPh migas 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.4 22.7 63. yaitu dari Rp140.0 Real.5.4 0.1 33.0 tahun 2010.0 bagi perusahaan masuk bursa yang 40 persen sahamnya dikuasai publik.7 20.8 triliun.0 55.7 28.0 2010 APBN-P 22.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah bumi tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 965 MBCD dibandingkan dengan lifting pada tahun 2009 yang mencapai 944 MBCD.6 32.0 2009 % thd Total 36. 29. 16. 14.4. PENERIMAAN PPh NONMIGAS.8 0.0 100. dan juga pemberian diskon 5 persen 2009 APBN-P 2010 -30.0 76.6 52. 2009 − 2010 triliun Rp 70.0 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada 120. 270. III-10 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .0 2009 Sumber : Kementerian Keuangan PPh Gas Alam PPh Minyak Bumi 31.7 0. PPh pasal 25/29 badan Lainnya PPh Final dan Fiskal masih merupakan kontributor utama bagi PPh Pasal 21 PPh Pasal 25/29 Badan penerimaan PPh nonmigas dengan kontribusi sebesar 41.0 0. Penerimaan PPh nonmigas tahun 320.0 43. Pertumbuhan tersebut terutama didukung dari penerimaan PPh pasal 25/29 badan yang tumbuh rata-rata 23.8 18. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PPh Minyak Bumi PPh Gas Bumi PPh Migas Lainnya Total Real.5 persen.8 0. Dalam periode 2005−2009.1 dilakukannya extra effort sebagaimana yang 120.7 persen bila 2009 − 2010 dibandingkan dengan realisasi tahun triliun Rp sebelumnya.4 31.0 persen.4 44.0 62.0 10.4 % thd Total 40.0 50.0 40.0 42.1 % thd Total 26.

8 10.4 42.6 9.0 16.6 3.8 5.8 26.4 23.0 triliun atau 8.2 3.9 17. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp77.6 0.5 229.0 8.1 24.04 165.1 33.9 100.2 6.3 29.5 13.9 16.0 2006 % thd Total 2.3 4. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total 2005 % thd Total 2.0 2.3 1.3 7.2 0.2 5.4 4.6 0.5 12.7 0.0 9.1 34. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.5 0.3 persen. dan jasa perusahaan adalah 17.0 10.0 3.2 179.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III. real estate.1 9.6 51.7 2.3 1.3 45.1 15.4 14.1 30.2 1.4 33.9 2.7 5. realisasi penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan.0 12.2 5.0 2010 APBN-P 61.1 0.0 3.6 5.8 41.0 10.1 23.1 persen dan 9.1 13.9 42.1 10.7 23.1 0.4 8. sektor industri pengolahan.1 2.1 35.0 2010 Perk.6 triliun.3 126.4 % thd Total 20.3 3. meningkat sebesar Rp17.8 0.6 21.1 4.4 7.1 10.0 100.0 0.1 39.5 0.3 35. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Pertanian. Sementara itu.5 11. serta restitusi.4 5.1 0.4 9.1 3.01 100.1 6.9 12.0 8.1 6.8 0. Real.4 258. 51.8 12.8 67. dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar Rp6.3 10.0 2008 % thd Total 4.5 9.3 54.6 % thd Total 19.9 21.3 5.6 7.1 11.1 15.1 100. Real.9 3.0 100.2 41.9 3.7 22.4 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS.4 61. Perkembangan PPh nonmigas sektoral 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.2 6.2 14.3 0.4 14. untuk sektor industri pengolahan 16. Rata-rata suku bunga untuk semester I tahun 2010 adalah 6. Pertumbuhan rata-rata dalam kurun waktu 2005–2009 untuk sektor keuangan.5 14.1 4.7 31.8 14.1 18.9 25.3 7. dan jasa perusahaan.5 11.1 9. Kehutanan.0 13.7 0.0 100.6 80.8 65.5 8.1 16.2 24.0 3.9 0.7 44.8 7. Tahun 2010 sektor keuangan.5 1.1 8. atau menurun jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga pada semester I tahun 2009 sebesar 7.9 -0.6 15.1 0.7 9.8 6.3 6.0 25.6 0.1 1.2 0.8 2006 Real.4 6.9 persen sehingga mencapai Rp61.02 100.8 11.0 100.5 24.0 2008 Real.6 6.5 persen.8 16.0 7.2 30.0 10.5 0. pada tahun 2010.5 7.2 0.1 30.9 5. real estate.3 2.02 267.3 20.9 1.9 persen.6 2.0 6.9 11.5 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.8 % thd Total 20.4 0.4 73. dan sektor perdagangan.5 5.6 8.8 8.3 120.4 2.6 0. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia yang mengakibatkan net interest margin (NIM) bank mengalami penurunan. hotel dan restoran sebagai kontributor utama dengan rata-rata kontribusi masing-masing sebesar 28.5.4 6. serta sektor perdagangan.3 7.8 triliun atau 29.0 2007 Real.6 persen.6 % thd Total 19.0 2009 Real. Real.7 7. 9. TABEL III.3 8.3 8.5 56.6 4.4 24.7 3.1 145.4 1.3 4.9 persen.1 0.1 -0.8 0.7 2. Kenaikan ini terutama didukung oleh pertumbuhan sektor industri Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-11 .7 4.1 60.2 16.1 145. Peternakan.0 2009 % thd Total 4.9 9. real estate. 31.8 % thd Total 20.3 2.7 14.0 Real. 52.6 20.7 0.0 4.3 18.3 77.04 175.9 20.0 1.8 2. 39.5 13. % thd Real.1 25. hotel dan restoran sebesar 25. Gas.7 2.01 194.7 2.0 100.75 persen.7 1. 2.5 1.8 5.7 9. Real.3 2.6 0.01 100.1 122.0 4.7 0.6 7.00 306.4 41.9 27.8 13.0 1.6 17.7 5.0 2007 % thd Total 2. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.1 100. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.6 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.8 triliun.0 PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 23 PPh Pasal 25/29 Pribadi PPh Pasal 25/29 Badan PPh Pasal 26 PPh Final dan Fiskal PPh Non Migas Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Selama periode 2005–2009.6 5. 25.3 0.3 10.3 25.9 4.4 19.6 5.7 5.0 persen.3 62.3 7.3 2.3 % thd Total 26. Real Estate.1 27.5 17.6 8.7 6.4 2.6 106.1 0.5 17.2 2. Hotel.7 persen bila dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2009. Total 9.7 27.8 0.4 243.6 7.8 7.4 2. transaksi yang offline .02 249.

0 100.5 7. penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 28.8 3.6 94.0 96. Dalam APBN-P tahun 2010. 2006 % thd Total Real.3 53.9 persen.5 95.3 7. penerimaan PPN dan PPnBM ditargetkan sebesar Rp263. hotel dan restoran diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar Rp4.4 0. 2007 % thd Total Real.1 persen dari total penerimaan PPN dan PPnBM.6 1.3 0.002 100.4 32.5 persen. yang berimbas pada meningkatnya kegiatan ekspor-impor Indonesia. Perkembangan PPN dan PPnBM serta nilai impor dalam periode 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.6 3.3 7. lebih tinggi bila dibandingkan dengan PPN dan PPnBM impor yang tumbuh ratarata 8. sedangkan PPN dan PPnBM impor memberikan kontribusi rata-rata 38.8 44.01 100.8 persen dalam periode tersebut.0 Sumber : Kementerian Keuangan Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.012 209.4 59.4 63.2 120. PPN PPN DN PPN Impor PPN Lainnya b.0 253.4 156.5 0.7 0.5 1.9 2.5 persen dibandingkan tahun 2009 sehingga mencapai Rp31.9 2.8 35.2 4.8 0.2 4. TABEL III.8 2.6 3.4 60.021 154.0 0.1 0.5 1.4 93. 2008 % thd Total Real.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM. lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya.0 96.9 triliun atau 36.6 dan penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2010 dapat dilihat pada Grafik III.6 2. PPN dan PPnBM dalam negeri mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 61.0 1.8 0.9 6.5 triliun. PPnBM PPnBM DN PPnBM Impor PPnBM Lainnya Total (a+b) 94.1 0. Pada periode yang sama tahun sebelumnya.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pengolahan.9 triliun atau 18.4 62.4 0.4 0.9 0.1 44.1 5. PPN dan PPnBM Penerimaaan PPN dan PPnBM selama periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan ratarata 17.1 60. Secara umum.3 92.1 95.7 81.0 101.0 48.3 7.9 0.2 persen.7 triliun (37.8 48.1 3.0 198.6 3.9 0. Perkembangan PPN dan PPnBM dalam periode 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.7 0.2 1.8 persen.7 0. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Real.3 8.8 persen.0 triliun (63.1 0.6.3 4.4 persen.01 100.3 9.1 persen) dan PPN dan PPnBM impor Rp99.4 0.0 118. III-12 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 11.3 4.01 100. jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif. Peningkatan terutama terjadi pada PPN dan PPnBM impor dengan pertumbuhan 50.0 0. realisasi konsumsi Pemerintah cukup tinggi sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan Pemilu.4 96.2 74.5 3.8 persen (y-o-y). peningkatan PPN dan PPnBM impor tersebut sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan dunia.9 persen).5 36.002 123.7.4 0. Sedangkan sektor perdagangan.1 4.5 6.015 193.3 34.004 100.01 263. Salah satu faktor yang mengakibatkan melemahnya pertumbuhan PPN dan PPnBM dalam negeri ini adalah rendahnya konsumsi Pemerintah yang pada kuartal I 2010 yang mengalami penurunan sebesar 8. yang terdiri dari atas PPN dan PPnBM dalam negeri Rp163. Secara komposisi.9 0.7 2. 2005 % thd Total Real.0 147.5 4.1 1.0 triliun.8 43.7 38. 2009 % thd Total 2010 APBN-P % thd Total a. Dari sisi besarnya kontribusi.5 55. target pada tahun 2010 tersebut meningkat Rp69.0 184.0 0.2 3. PPN dan PPnBM dalam negeri tumbuh rata-rata 23. Di sisi lain.1 4.6 0.2 116.9 0.1 2.

sektor perdagangan.8 persen.2 persen.8 persen. 2005 – 2009 160 140 triliun Rp PPN & PPnBM DN PPN & PPnBM Impor Nilai Impor 160000 140000 triliun Rp GRAFIK III. hotel.0 persen. hotel dan restoran.8 persen dengan pertumbuhan rata-rata masing-masing 28.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III GRAFIK III.1 persen.7 PENERIMAAN PPN DAN PPnBM. dan sektor keuangan.6 persen.8 persen dan 6. dan restoran dengan kontribusi sebesar 22. Sektor industri pengolahan naik Rp17. Tiga sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan PPN DN adalah sektor industri pengolahan.1 persen. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. 22.3 persen. Kontribusi rata-rata dari ketiga sektor tersebut masing-masing sebesar 31. sektor perdagangan. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-13 . disusul kemudian oleh sektor perdagangan. dengan rata-rata 38. sektor perdagangan.1 persen.1 persen.8 persen.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM.4 persen. PPN DN mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 62.6 persen. realisasi PPN secara sektoral dapat digolongkan ke dalam 12 sektor.4 persen dan 8. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri. 17. hotel dan restoran naik Rp4.2 persen. dan jasa perusahaan dengan kontribusi sebesar 5. real estate. Dalam tahun 2010. sebagian besar penerimaan PPN DN diperkirakan masih berasal dari sektor industri pengolahan.7 persen.5 184. penerimaan PPN impor didukung oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan. 23. dan restoran. diperkirakan sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 51. serta sektor pertambangan migas.7. dan 19. Perkembangan penerimaan PPN DN secara sektoral dapat dilihat secara rinci pada Tabel III. Dua kontributor utama lainnya adalah sektor perdagangan. Dalam periode 2005–2009. sektor perdagangan. 2009 − 2010 PPN PPnBM 9. hotel dan restoran. Dalam periode 2005–2009.5 270 250 230 210 190 170 150 2009 Sumber: Kementerian Keuangan APBN-P 2010 9.5 persen.9 persen. Sebagian besar dari realisasi PPN merupakan PPN DN. serta sektor pertambangan migas yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 50. Pertumbuhan rata-rata dari ketiga sektor tersebut adalah sebesar 16. dan 11. dan jasa perusahaan yang masingmasing memberikan kontribusi rata-rata 19.1 persen.8 persen.7 triliun atau 27.0 persen dan 7.5 triliun atau 19.2 120 100 80 60 40 20 0 juta US$ 120000 100000 80000 60000 40000 2005 2006 2007 2008 2009 253. sektor industri pengolahan mampu memberikan kontribusi terbesar. Dalam tahun 2010. 18. dan negatif 48.6 persen.1 triliun atau 34. tiga sektor tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan. Dalam periode 2005–2009.7 persen. serta sektor keuangan. 22. dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik Rp2.4 Sumber: Kementerian Keuangan Secara umum. real estate. hotel. dengan kontribusi masing-masing mencapai 44. hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi.

0 0. Real Estate.4 0.0 0. 0. dan restitusi.2 persen dalam periode 2005–2009.4 2.7 7.2 22.0 2010 % thd Total 0.0 100.1 48.0 18. hotel.3 2.3 0.0 59.8 6.0 54.9 4.2 67.4 4.5 3. transaksi yang offline.1 45. 3. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 26.5 12.9 0.4 0.2 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.1 39.9 23.9 0.0 2006 Real. peningkatan penerimaan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kinerja impor.0 2007 % thd Total 0.3 0. serta sektor pertambangan migas.4 0. 2005 − 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.8 0.1 10.1 32.9 0.3 152.1 1.2 1.8 18.6 11.0 1. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp59.5 0.7 2. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2006 Real.4 1.5 0.0 Real.2 0.2 1.1 persen.6 5. 0. penerimaan ini belum termasuk penerimaan dalam bentuk mata uang asing.1 23.3 5.9 0.7 100.1 0. Gas.1 18.2 1.1 0.1 25. Pertumbuhan negatif penerimaan sektor pertambangan migas menurut data modul penerimaan negara (MPN) disebabkan karena penerimaan tercatat hanya dalam bentuk rupiah.8 % thd Total 2.6 1.4 3.5 125.3 0. Gas.8 0.7 0. Real.2 10.4 2.8.0 95.7 0.2 0.8 100.0 2007 Real.2 17.8 5. 2.1 47.3 20.9 1.2 2.6 % thd Total 2.4 0.3 % thd Total 0.0 100. Pada tahun 2010.3 % thd Total 2.1 0.2 21.7 persen.1 persen.7 8.7 7.0 0.0 3.2 0.6 0.5 12.5 0.3 0.3 20.0 6. hotel.8 8. 1. Hotel.1 27.0 100.5 4.1 63.3 8.0 14.6 0. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.9 0.0 40.4 0.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.1 1.6 9.2 0. sedangkan BPHTB sebesar 1.8 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL.3 10.1 20.1 19.0 18.2 0.0 2008 Real 0. Peternakan.1 0.3 1.1 11.7 0.9 % thd Total 2.4 0.9 0.5 55.3 0.2 1. Real Estate.2 7.2 0.1 10.0 0.0 7.6 2.1 11.1 44.3 1.5 1.8 0.2 0.1 28.8 3.4 0.0 persen.1 0.7 1.0 2. hotel dan restoran tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 47.8 0.0 12.0 62.6 2.8 7.6 24.0 2009 Real.4 12. PPN impor diperkirakan akan tetap didukung oleh sektor industri pengolahan. transaksi yang offline . sektor perdagangan.1 0.0 2010 Perk.1 28.3 0.8 0.5 0.7 % thd Total 2. 0.3 2.1 0.5 1.1 22. Di sisi lain. Kehutanan.0 14.0 1.0 82.2 0. TABEL III.1 0.0 100.2 % thd Total 0.6 2.7 1.9 8.0 100.9 100.4 1.0 Real.9 1.8 1.4 23.9 21.1 0.3 0.2 triliun dan sektor perdagangan.0 0.4 1.0 63. 3.1 7. Apabila digabungkan dengan penerimaan mata uang asing terdapat pertumbuhan positif sebesar 69.2 1.0 45.9 18.0 Perk.8 8.1 0.4 8.2 1. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Real.3 2.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.7 12.2 12. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Sumber : Kementerian Keuangan PBB dan BPHTB Realisasi PBB dan BPHTB masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata 10.0 2009 Real.7 15. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.1 33.1 9. dan restitusi.9 100.2 0.2 0.0 0.6 triliun pada akhir tahun 2010.8 2.2 triliun.8 0.0 10.2 2. Real.0 8.0 17. 3.4 0.4 0. dan restoran diperkirakan mencapai Rp28.4 0.9 2.3 0.2 0. Secara umum.2 0.3 100.9 13.4 0.6 10. Peternakan.1 50.5 0.8 16.5 8.2 1.6 % thd Total 0.1 37.1 0.6 8.9 0. III-14 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.8 16. 1.2 0.2 0.1 22. sektor pertambangan migas diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga mencapai Rp0.7 10.5 9.7 0.3 0.5 11.9 0. Rata-rata kontribusi PBB terhadap penerimaan pajak dalam negeri adalah sebesar 4.2 0.5 28.3 1.8 9.0 1. dan restoran.9 100.2 0. 0.7 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.4 5. Perkembangan penerimaan PPN impor secara sektoral tahun 2005–2010 dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.8 2. 0.9 0.8 7.5 79.6 1.9 17.2 100.0 29. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.6 0.1 2. Kehutanan.6 7.0 100.0 % thd Total 0.6 0.9 12.1 0.4 9. Dengan demikian.1 3.1 17.8 % thd Total 2.1 28.0 0.6 6.2 0.1 1.7 19.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.8 0.7 2.3 0.6 6.4 0.3 1.9 112.5 0.3 0.0 42.3 23.0 2008 Real.2 0.1 28.5 0.5 0.9 0.9 28.6 persen dan 17.6 1.1 1.0 0.3 persen dan 54.8 2.2 0.1 1.2 0.3 1.5 3.3 0.3 49.3 1.4 4. Hotel.2 0.

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-15 . 2. Undang-undang Nomor 62 Tahun 2009 tentang KUP. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. 2. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. UU Nomor 18 Tahun 2000. penyerahannya dianggap langsung. Istilah baru dalam objek pajak UU No 12 Tahun 2000 Tidak diatur. Dalam rangka restrukturisasi Dikenakan PPN pada setiap transaksi penyerahan. UU No 42 Tahun 2009 Ekspor BKP Tidak Berwujud dan Ekspor JKP dikenakan PPN dengan tarif 0%. 2. Seluruh aktiva. dan Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai bentuk penyederhanaan sistem perpajakan dan kepastian hukum. Tidak dikenakan PPN. 3. memerlukan penyerderhanaan sistem PPN. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. Dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan.1 AMENDEMEN UNDANG-UNDANG PPN DAN PPnBM NOMOR 42 TAHUN 2009 LATAR BELAKANG 1 . Pasal 20. Dikenakan PPN. 3. Pembiayaan syariah b. Persediaan yang tersisa pada saat pembubaran perusahaan Terbatas pada aktiva yang PPN pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. Penyerahan aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Dikenakan PPN terbatas pada penyerahan aktiva yang PPN terutang pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. Menciptakan sistem perpajakan yang lebih sederhana. syarat semua perusahaan terdaftar sebagai PKP. Penyerahan dan bukan penyerahan BKP a. PPN dikenakan atas penyerahan seluruh aktiva. TUJUAN 1 . 2. DASAR HUKUM 1 .Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. KEBIJAKAN Pemerintah melakukan amendemen atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. Perkembangan transaksi bisnis yang mengikuti kemajuan teknologi serta perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. c. Pasal 5 ayat (1). Dikenakan PPN. POKOK-POKOK PERUBAHAN UU PPN DAN PPnBM Uraian 1.

5. 6. dan 2. Sanksi bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan. menempatkan. (Psl 9 (4a)) 1. b. Kriteria BKP mewah (1) Bukan kebutuhan pokok. Hanya PKP tertentu. serta jasa boga/catering . 2. a. Retur atas penyerahan JKP Tidak diatur. (3) Mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Daging. Eksportir BKP tidak berwujud. Memiliki omzet tertentu. maka PM yang telah dikreditkan dan telah direstitusi harus dibayar kembali. PM yang boleh dikreditkan oleh PKP yang belum berproduksi Terbatas PM yang berasal dari perolehan dan/atau impor barang modal. NonBKP dan nonJKP (pasal 4a) a. Dikenakan PPN. 11. penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. Menghidupkan kembali rumusan Pasal 9 ayat (14) yaitu dalam hal restrukturisasi. yaitu PKP: (1) Eksportir. pembiayaan. dan meminjam dana. PKP dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. Pengembalian Pendahuluan Hanya diberikan kepada WP Patuh dan WP dengan Persyaratan Tertentu. telepon umum (koin). (4) Belum berproduksi. yang berisiko rendah.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Uraian 4. pengiriman uang dengan wesel pos. Jasa tertentu PPN dikenakan atas jasa: penyediaan parkir. penjaminan). Kriteria nomor 5 dihapus. b. telur. (5) Merusak kesehatan dan moral masyarakat. Deemed PM bagi PKP kegiatan tertentu belum diatur. dan buah-buahan UU No 12 Tahun 2000 UU No 42 Tahun 2009 Dibebaskan dari pengenaan PPN. (2) Dikonsumsi masyarakat tertentu. Dalam hal PKP gagal berproduksi. PKP bertambah: 1. Restitusi untuk Turis Asing Tidak diatur. serta mengganggu ketertiban. Berlaku bagi PKP baik orang pribadi maupun badan yang: 1. Dibebaskan dari pengenaan PPN. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 7. PPN atas barang bawaan dapat direstitusi melalui bandara tertentu. III-16 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Eksportir JKP. melalui Peraturan Pemerintah tentang BKP Strategis. Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN Ditetapkan langsung di dalam penjelasan Undang-Undang (Pasal 4A). Seluruh PM (Pasal 9 (2a)). (Psl 4A (3) huruf d). d. c. Deemed Pajak Masukan 2. Pengkreditan PM atas BKP yang dialihkan dalam rangka restrukturisasi Tidak diatur (pada perubahan kedua UU PPN. PPN tidak dikenakan atas jasa keuangan (menghimpun. (3) Dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi. dengan syarat tertentu. Barang hasil pertambangan Tidak dikenakan PPN . Hanya mengatur untuk PKP yang menggunakan norma PPh. maka PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan dapat dikreditkan oleh PKP. Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 200%. 2. 1. (2) Dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. Melakukan kegiatan tertentu. Tarif PPnBM 9. Restitusi Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 75%. Sebelumnya ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah. b. Mengatur pengembalian pendahuluan bagi PKP Eksportir. Jasa keuangan PPN tidak dikenakan atas jasa perbankan. susu. (4b)) Seluruh PKP dapat melakukan restitusi pada setiap masa pajak (Psl 9 (4)). dan PKP yang mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. b. 8. Pengkreditan Pajak Masukan (PM) a. Restitusi PKP lain pada akhir tahun buku. bila terbit SKPKB. a. PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan dapat dikurangkan. Saat Pengajuan Restitusi (Pasal 9 (4a). ketentuan ini dihapus). (4) Menunjukkan status. c. sayursayuran. kecuali pasir dan kerikil (Psl 4A (2) huruf a). Menjadi tidak dikenakan PPN. 10.

FP tersebut tidak dikategorikan sebagai FP cacat. kenaikan NJOP juga dipengaruhi oleh nilai produksinya. Fasilitas perpajakan (pasal 16b) Belum ada dasar hukum untuk pemberian fasilitas kegiatan-kegiatan tertentu. pemberian ijin berdasarkan pemeriksaan. d. Diatur dalam batang tubuh yaitu Pasal 13 ayat (9). Tanggung renteng Tidak lagi diatur dalam UU KUP dan UU PPN. PKP tidak dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memuat: (1) Identitas pembeli. Khusus untuk PBB sektor perkebunan. Saat pelaporan PPN Faktor utama yang mendorong terjadinya peningkatan penerimaan PBB adalah naiknya nilai jual objek pajak (NJOP) dari tahun ke tahun dan perluasan objek PBB. • Paling lama pada tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak. dan pertambangan. Jenis FP yaitu Standar dan Sederhana. Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan PBB pertambangan antara lain ICP yang cenderung naik dan jumlah areal pertambangan yang terus bertambah. 2. Perwakilan negara asing dibebaskan PPN dan PPnBM. Faktor yang mempengaruhi NJOP adalah harga pasar properti baik tanah maupun bangunan. pemeriksaan dilakukan kemudian dalam hal diperlukan. namun FP tidak dapat dikreditkan oleh pembelinya. Sanksi atas pelanggaran syarat formal FP PKP akan dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memenuhi syarat formal FP. Faktur Pajak (FP) a. Fasilitas PPN bagi kegiatan penanggulangan bencana alam nasional. 6. Syarat formal & material Diatur dalam penjelasan Pasal 13 ayat (5)). kehutanan. a. Impor barang yang Bea Masuknya dibebaskan tidak dipungut PPN dan PPn BM. 4. 3. atau (2) Identitas pembeli. Meningkatnya penerimaan PBB terutama didukung oleh PBB pertambangan yang dalam periode 2005–2009 mengalami peningkatan ratarata sebesar 22. Sementara itu. meskipun agak melemah pada tahun 2008 dan 2009. serta nama dan tanda tangan (Pasal 13 ayat (5)). Sebagaimana diketahui. Proyek Pemerintah yang dibiayai hibah LN tidak dipungut PPN dan PPnBM. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa. peningkatan penerimaan BPHTB terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah transaksi jual beli tanah dan bangunan. Diatur dalam Undang-Undang (Psl 13 (1a)) yaitu saat penyerahan atau pada saat pembayaran.3 persen. Hanya ada istilah “Faktur Pajak”.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Uraian UU No 12 Tahun 2000 WP mengajukan permohonan. serta nama dan tanda tangan untuk FP yang diterbitkan oleh pedagang eceran. Pembebasan PPN bagi listrik & air. Saat penyetoran PPN b. UU No 42 Tahun 2009 Cukup dengan pemberitahuan oleh WP. Pemusatan tempat PPN 13. 14. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan. 5. • Paling lama pada tanggal 15 setelah berakhirnya Masa Pajak. Bebas PPN bagi penyerahan perak sebagai bahan baku kerajinan. 12. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-17 . atau (2) Identitas pembeli. 16. Diatur kembali dalam UU PPN. 15. Jenis FP c. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara. Saat Pembuatan FP Paling lama akhir bulan berikutnya atau pada saat pembayaran (Peraturan Dirjen Pajak). kegiatan usaha di bidang properti sempat mengalami booming pada periode 2005–2007. b. Memberikan dasar hukum atas pemberian fasilitas sebagai berikut: 1. 7. antara lain: (1) Identitas pembeli.

2 0. Perkembangan penerimaan PBB dan BPHTB dalam periode 2005–2010 ditunjukkan dalam Tabel III. (4) peningkatan pengawasan administrasi pembukuan di bidang cukai oleh KPPBC. denda administrasi cukai. (6) optimalisasi pelayanan cukai dengan memanfaatkan teknologi informasi (sistem aplikasi cukai sentralisasi) dalam kegiatan pelayanan perizinan nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC). yaitu dari Rp33.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan 16. Sementara itu.1 16. (3) intensitas penindakan di bidang cukai.9 0.5 0. PBB pertambangan ditargetkan sebesar Rp17.4 0.0 Real.3 17. 1.0 Real.3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp56.4 24.7 0.6 persen.5 0. contohnya kebijakan yang terkait dengan penundaan pembayaran cukai.6 19.8 0.3 2009 % thd Total 5. tumbuh rata-rata sebesar 14.5 3.8 21.3 persen.5 16. cukai ethil alkohol (EA).02 25.00 24.3 0. 1.2 triliun pada APBN-P tahun 2010.7 persen.2 0.0 0.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 40.4 % thd Total 5.00 25.4 50. (5) peningkatan pengawasan pengguna fasilitas cukai. 4. Selain itu.4 0.5 69.7 2007 % thd Total 7.1 7.3 triliun dan Rp7.6 0. kenaikan penerimaan BPHTB pada tahun 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi di sektor properti.6 0.1 100.7 persen.6 2.4 0.9 0.7 triliun pada tahun 2009.4 5.5 100.9 PERKEMBANGAN PBB.1 1. Hal ini sejalan dengan tren penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap turunnya bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan kredit kepemilikan rumah (KPR).03 23. penerimaan PBB dan BPHTB ditargetkan sebesar Rp25.3 persen.0 Sumber : Kementerian Keuangan Apabila dibandingkan dengan realisasi 2009.8 3.4 5. meningkatnya transaksi properti juga dipengaruhi oleh semakin mudahnya persyaratan pemberian kredit. kontribusi cukai EA mencapai 0.5 0. Penerimaan cukai mengalami peningkatan secara signifikan dalam periode 2005–2009. Dalam tahun 2010. Perkembangan penerimaan cukai hasil tembakau periode 2005–2009 menunjukkan kecenderungan meningkat yang terutama dipengaruhi oleh: (1) kebijakan di bidang tarif cukai dan harga dasar barang kena cukai.9 6. Sementara itu. sedangkan BPHTB meningkat sebesar 10.0 100. dan cukai MMEA memberikan kontribusi sebesar 1.8 0. 1.7 0.3 % thd Total 3.9 22.5 1. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PBB Pedesaan PBB Perkotaan PBB Perkebunan PBB Kehutanan PBB Pertambangan PBB Lainnya Total Real.1 0.0 2010 APBN-P 0.7 18. Cukai Penerimaan cukai bersumber dari cukai hasil tembakau.8 0.5 20.0 Real.1 persen. dan cukai lainnya.7 67. 5. Secara lebih rinci.1 10.7 0.4 2.3 20. TABEL III. PBB dalam APBN-P tahun 2010 mengalami peningkatan 4.6 45.2 16.7 4.6 0. penerimaan cukai didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 97.2 0.2 67. III-18 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .7 2.0 100.7 3. khususnya pertambangan migas.9 0.1 0.6 71.1 triliun. (2) kebijakan lainnya di bidang cukai.7 3.9 2006 % thd Total 27.9 0.6 0.2 18.8 persen dengan rata-rata pertumbuhan 14.1 100.0 2008 Real.9 0.9.2 % thd Total 27.1 100.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.5 0. Peningkatan penerimaan PBB tersebut terutama disebabkan oleh tingginya realisasi PBB pertambangan. cukai MMEA.

1 0. penundaan pembayaran cukai.03 0.50 0.5 persen.0 100.2 17.6 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Cukai Hasil Tembakau Cukai Ethil Alkohol (EA) Cukai MMEA Denda Administrasi Cukai Cukai Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Real. Sementara itu.016 0.4 0. Sigaret Kretek Tangan (SKT) c.0 Real 49.0 0.11 PERKEMBANGAN PRODUKSI JENIS ROKOK.0 231.4 77.010 56.10 PERKEMBANGAN REALISASI CUKAI.5 triliun (4. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-19 .10 0.0 2007 Real. perkembangan produksi MMEA periode 2005–2009. dan (7) peningkatan pelaksanaan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dengan tujuan agar para stakeholder dapat lebih memahami ketentuan yang berlaku di bidang cukai.9 0.5 88.0 100.4 1.0 2010 APBN-P 55.8 2007 Real.8 1.8 persen. Sigaret Putih Mesin (SPM) Total (a+b+c) Sumber : Kementerian Keuangan 2005 Real.5 216. TABEL III.0 Real. 32.007 37.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 1.02 100.02 0.2 17.4 0.0 100. TABEL III. penerimaan cukai diperkirakan mencapai Rp59.7 1.2 84.6 0. mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.015 51.3 % thd Total 94.00 0. Penerimaan cukai tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.012 0. 126.7 2009 Real.5 persen). 55.4 1.3 0.0 248.5 242. Perkembangan penerimaan cukai MMEA dan produksi MMEA dalam negeri 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.3 16. Perkembangan realisasi cukai tahun 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.1 0.3 persen dan selebihnya sebesar 1.7 persen disumbangkan oleh MMEA impor. penerimaan cukai hasil tembakau didominasi oleh SKM yang memberikan kontribusi ratarata sebesar 57.0 2006 Real.4 0.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 2.002 0.000 0. 131.8 % thd Total 98.5 0.9 0.003 33. dan SPM memberikan kontribusi sebesar 6. Penerimaan cukai MMEA didominasi dari penerimaan MMEA dalam negeri dengan rata-rata sebesar 98.01 0.4 2010 APBN-P 144.000 59.11.7 84.0 0.8.3 220.7 % thd Total 97.4 0. 2005 – 2010 (miliar batang) Jenis Rokok a.6 78.01 0.4 Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.004 0.9.9 0.7 0.1 0.0 persen.2 15.6 0.7 5.01 100.3 % thd Total 98.005 0.2 0. Dalam APBN-P tahun 2010. Sigaret Kretek Mesin (SKM) b.0 249. Perkembangan produksi jenis rokok 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.3 triliun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III penetapan tarif cukai hasil tembakau.5 0.7 2009 % thd Total 97. dan proses penyediaan sampai dengan pemesanan pita cukai. kontribusi SKT mencapai 35. 43. 125. Kenaikan produksi jenis rokok tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi jenis SKM.7 16.5 0.0 1.9 0.9 persen.1 100.2 87.10. total produksi hasil tembakau pada tahun 2010 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai 6 miliar batang bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009.3 1. 144.0 Berdasarkan pengklasifikasian jenis produksi hasil tembakau pada periode 2005–2009.01 0.5 0. target penerimaan cukai dalam APBN-P tahun 2010 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2.9 2008 Real.6 0.4 3.028 44.3 2008 % thd Total 97.1 2006 Real.9 13.7 0. 141. Selanjutnya.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 2. 37.4 0.

penerimaan cukai hasil GRAFIK III.2.000. SKT. Selanjutnya.5 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. peningkatan penerimaaan cukai hasil tembakau juga didukung oleh upaya pemberantasan rokok ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah GRAFIK III.5 687.03 triliun (8.7 tahun 2009. penerimaan cukai EA dalam APBN-P tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp0.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.5 persen untuk MMEA impor.0 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp2. penerimaan cukai MMEA dalam APBN-P tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp3.9 500.2 100 50 - 2005 Sumber : Kementerian Keuangan 2006 2007 2008 Penerimaan Cukai 2009 Produksi Secara lebih rinci.9 triliun atau triliun Rp 62 mengalami peningkatan sebesar Rp0.1 triliun (221.4 568.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi 60 56.0 2009 APBN-P persen tergantung pada jenis hasil 2010 Sumber : Kementerian Keuangan tembakaunya (SKM. 2005 – 2009 1.6 persen sampai dengan 21.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 228 202 203 184 232 250 200 150 Juta Lt miliar Rp 878. Selain itu. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan cukai MMEA adalah diterapkannya kebijakan penyesuaian tarif cukai MMEA dengan kenaikan tarif ratarata sebesar 228.9 tembakau dalam APBN-P tahun 2010 PENERIMAAN CUKAI.4 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp0.1 927. 2009 − 2010 diperkirakan mencapai Rp55.8 PERKEMBANGAN PENERIMAAN CUKAI MMEA DAN PRODUKSI MMEA DALAM NEGERI. Penyesuaian tarif cukai MMEA dan EA dapat dilihat pada Boks III.3 (0. Faktor utama yang menyebabkan 58 56 kenaikan penerimaan cukai hasil tembakau 54 adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif 52 cukai yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 50 berkisar antara 9. pencapaian tersebut juga didukung oleh upaya pemberantasan MMEA ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110.5 triliun 59. Peningkatan tersebut terjadi karena kebijakan penyesuaian tarif cukai untuk konsentrat yang mengandung EA sebesar 100 persen dan penetapan tarif cukai spesifik EA sebesar Rp20. dan SPM). Sementara itu. Selain dipicu oleh kenaikan tarif tersebut. III-20 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .

dan Konsentrat yang Mengandung Ethil Alkohol yang berlaku efektif sejak tanggal 1 April 2010.150 persen x (nilai pabean + BM) atau 80 persen x HJE.150 persen x harga jual pabrik atau 80 persen x HJE. Tarif cukai dapat diubah dari persentase harga dasar (advalorem) menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan BKC (spesifik). (3) memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara. dan konsentrat yang mengandung ethil alkohol. MMEA. Oleh karena itu. Pokok-pokok perubahan kebijakan penyesuaian tarif cukai yaitu: 1 . Dalam rangka penyesuaian ketentuan tarif cukai atas MMEA dan EA.2 PENYESUAIAN TARIF CUKAI MMEA DAN EA Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. perlu dilakukan perubahan kebijakan di bidang perpajakan dan cukai dengan melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penetapan tarif cukai atas EA. dan (5) menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri (DN) dengan MMEA impor secara bertahap. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 100.0 persen dan sebesar 33.3 persen. dan untuk impor sebesar 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. MMEA.5 persen untuk produksi DN dan sebesar 160. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340.0 persen dan sebesar 200.0 persen dan sebesar 214. Penyesuaian kenaikan tarif MMEA untuk golongan C sebesar 188. Sedangkan untuk MMEA impor. atau sebaliknya atau gabungan keduanya. Minuman yang Mengandung Ethil Alkohol.3 persen. (4) penyederhanaan penggolongan tarif cukai ke dalam satu golongan. Dasar penetapan tarif cukai atas MMEA dan EA diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang mengatur bahwa Barang Kena Cukai (BKC) dikenai cukai dengan tarif paling tinggi untuk produk DN sebesar 1.0 persen untuk impor. (2) menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan A1 dan A2 menjadi golongan A dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340.0 persen dan sebesar 120. Tujuan dari kebijakan Pemerintah dalam melakukan penyesuaian tarif cukai spesifik atas MMEA dan EA yaitu: (1) untuk pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Cukai (BKC).0 persen. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan B1 dan B2 menjadi golongan B dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 500.011/ 2010 tentang Penetapan Tarif Cukai Ethil Alkohol. dan konsentrat yang mengandung EA yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK. Sedangkan untuk MMEA impor.0 persen. 3 . Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif cukai atas EA. Penjelasan Pasal 5 ayat 1 angka 5 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 mengatur bahwa minuman beralkohol tidak lagi termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-21 . 2 .

7 100.004 0. meningkatnya realisasi penerimaan pajak lainnya dalam periode 2005–2009 dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan dokumen bermeterai.0 Real. EA. 5 .d.000 130.000.7 4.000 100. 15% >15% s.04 2.000 50.1 2009 % thd Total 97.2 1.1 % thd Total 98.6 0.02 0.3 % thd Total 97. 1% >1% s.001 0.001 0.3 100. 20% >20% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2. 3.0 Real.000 30.0 2010 APBN-P 3.0 persen untuk impor.000 26. 2. 2. Secara umum.67 100.2 0.03 2.0 Real.1 0.000 50.4 0.500 3.d. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.2 3.1 2.8 0.04 6. 2. Penetapan tarif cukai etil alkohol (etanol) untuk produksi dalam negeri dan impor dengan pengenaan tarif cukai spesifik sebesar Rp20.d.500 5. DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG EA DALAM NEGERI Jenis BKC Gol Kadar Alkohol Tarif Lama* (per liter) A1 A2 MMEA B1 B2 C Konsentrat Yang Mengandung EA EA s.002 0. Penyesuaian kenaikan tarif cukai atas konsentrat yang mengandung etil alkohol masingmasing sebesar 100.1 0. PERBANDINGAN TARIF CUKAI LAMA DENGAN TARIF CUKAI BARU ATAS MMEA.04/2006 **PMK No.0 2006 Real.06 2.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.2 persen terhadap total penerimaan pajak lainnya. dan golongan.000 50.000 30. 90/PMK.0 Bea Meterai Pajak Tidak Langsung Lainnya Bunga Penagihan Pajak Total Sumber : Kementerian Keuangan III-22 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 3.01 0.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.500 5.0 persen untuk produksi DN dan sebesar 100. kadar.12 PERKEMBANGAN PENERIMAAN PAJAK LAINNYA. 5% >5% s.000 75.7 0.8 % thd Total 97.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 4 .000 10.000 Rp 20.011/2010 Sumber: Kementerian Keuangan Pajak Lainnya Penerimaan pajak lainnya selama periode 2005–2009 menunjukkan adanya pertumbuhan rata-rata sebesar 11.06 2. Sebagian besar dari penerimaan pajak lainnya tersebut bersumber dari bea materai yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 96.57 100.3 0.0 2008 % thd Total 93.62/PMK.000 IMPOR Tarif Lama* (per liter) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.1 3.5 100.0 0.000 100.000 20. sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan MMEA Dari semua jenis etil alkohol. kadar.000 *PMK No.5 100.000 Dari semua jenis konsentrat.12.4 0. dan golongan Rp 20.000 40.0 0.7 2007 % thd Total 95. Perkembangan realisasi pajak lainnya tahun 2005–2009 dapat dilihat pada Tabel III. 2.d.3 2.0 0.0 persen. c TABEL III.

.

2005 – 2010 12.0 triliun (5. dari 9. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perjanjian kerjasama perdagangan regional dilakukan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT).14. penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp17.5 persen pada tahun 2010.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pertumbuhannya menurun sebesar 5.0% persen MFN triliun Rp 19 GRAFIK III. Selain itu. baik melalui kerjasama regional. Pemerintah telah melaksanakan penurunan rata-rata tarif bea masuk hingga menjadi 0. 2009 − 2010 18.5 persen. Sebagai implementasinya.0% 2. Penerimaan bea masuk tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.13.0% 6. regional plus one dan bilateral. Pemerintah Indonesia juga melakukan perjanjian kerjasama perdagangan bilateral dengan Pemerintah Jepang melalui skema persetujuan kemitraan ekonomi antara Republik Indonesia dan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 mencapai rata-rata tarif sebesar 3.13 PERKEMBANGAN RATA-RATA TARIF MFN DAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL. Selama periode 2005–2010 perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN semakin menurun.0% 10. Penurunan tersebut merupakan dampak penerapan kebijakan harmonisasi tarif (MFN) dan konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional. yang kemudian diperbaharui melalui skema ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA). kebijakan penurunan tarif juga terjadi sebagai konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara di Asia. Selain itu.14 PENERIMAAN BEA MASUK.0% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 15 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Keuangan Sumber : Kementerian Keuangan III-24 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . GRAFIK III.9 persen tahun 2005 menjadi 7. perkiraan realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2010 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp1.9 persen untuk negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2010.5 persen). Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerapan kebijakan harmonisasi tarif bea masuk Most Favoured Nations (MFN).1 triliun.6 persen. Perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN dan kerjasama perdagangan internasional tahun 2005–2010 dapat dilihat dalam Grafik III.1 ACFTA 17 AKFTA 16 IJEPA 0.0% 18 17. Dalam APBN-P tahun 2010.9 persen dan 2.7 persen. Selanjutnya.0% 4.1 ASEAN CEPT 8. Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan perjanjian regional plus one melalui kerjasama perdagangan ASEAN-China FTA (ACFTA) dan ASEAN-Korea FTA (AKFTA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 hingga mencapai rata-rata tarif sebesar 2.

.

500 2. dan (4) menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri.000 1. (2) melindungi kelestarian sumber daya alam.000 500 0 (USD/MT) 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Kementerian Keuangan dan BPS Namun. Dalam periode 2000–2009. industri pengolahan kakao dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir justru hanya mampu berproduksi sekitar 50 persen dari keseluruhan kapasitas produksi karena kurangnya pasokan bahan berupa biji-biji kakao mentah. 2000 – 2009 100 90 80 (Ribu MT) 4.8 persen.1 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah BOKS III.000 Export Volume (MT) 3.500 3. volume ekspor biji kakao dari Indonesia meningkat rata-rata 3.500 1. Dalam upaya menjamin ketersediaan bahan baku dan daya saing industri pengolahan kakao dalam negeri. Kerangka pengenaan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao serupa dengan struktur tarif bea keluar atas minyak kelapa sawit (CPO) dengan penetapan tarif bea keluar ekspor biji kakao berkisar antara 0-15 persen mengikuti perkembangan harga kakao internasional.000 2.3 PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Indonesia merupakan negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Dasar pengenaan bea keluar atas barang ekspor diatur dalam Pasal 2A ayat (2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan tujuan untuk: (1) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri. sejalan dengan peningkatan harga internasional yang mencapai rata-rata 13. (3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK. PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR DAN HARGA INTERNASIONAL KAKAO. Hampir 80 persen dari produksi biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar yang berlaku efektif sejak 1 April 2010. Perkembangan volume ekspor dan harga internasional kakao dapat dilihat pada grafik di bawah. III-26 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .

dan (4) upaya optimalisasi yang dapat dilakukan.750 > 2. Kementerian Kesehatan. (5) pendapatan pendidikan. Badan Pertanahan Nasional. penerimaan SDA nonmigas dipengaruhi oleh antara lain: (1) tingkat produksi dan harga beberapa jenis komoditas mineral dan batubara. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN merupakan penerimaan negara dalam bentuk (1) dividen dari perusahaan perseroan dan perseroan terbatas lainnya yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan (2) dividen dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri BUMN. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi PNBP lainnya dari K/L antara lain: (1) jumlah objek pengenaan PNBP. dan (8) pendapatan lain-lain. (2) luas area dan volume produksi hasil hutan. Selanjutnya. (3) tingkat produksi budidaya perikanan dan kegiatan operasi kapal penangkap ikan. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. di antaranya: (a) tingkat laba BUMN dan perseroan terbatas lainnya yang diperoleh pada tahun anggaran sebelumnya. serta (4) kebijakan-kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PNBP.750 – 3. dan (4) besaran cost recovery yang merupakan faktor pengurang penerimaan migas yang akan dibagihasilkan antara Pemerintah dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sesuai kontrak kerja sama (KKS). (2) tarif atas kegiatan pelayanan yang dilaksanakan dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bagian negara atas laba BUMN. Sementara itu. Kepolisian Republik Indonesia.500 > 3. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-27 . terdiri atas: (1) pendapatan dan penjualan sewa. (2) Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang pergerakannya mengikuti tren harga minyak dunia. Perhitungan dan perkembangan SDA migas dipengaruhi oleh (1) lifting minyak mentah dan gas bumi. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. dan (c) kebijakan pay-out ratio.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TARIF BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Harga Internasional Kakao (USD/MT) Tarif Kakao (persen) ≤  2. (3) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. (7) pendapatan iuran dan denda. (2) pendapatan jasa. (3) kualitas pelayanan yang diberikan dan administrasi pengelolaan PNBP yang secara tidak langsung meningkatkan jumlah objek pengenaan. Sementara itu. (3) pendapatan bunga. dan Kementerian Perhubungan. yang sebagian besar merupakan bagian dari kelompok penerimaan kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah. melalui peningkatan pengelolaan dan akuntabilitas pelaporan keuangan.000 – 2. Pengelolaan atas sumber PNBP lainnya tersebut sebagian besar dilaksanakan oleh kementerian negara/ lembaga. Kementerian Pendidikan Nasional.500 > 2. (b) besarnya/persentase kepemilikan saham Pemerintah dalam BUMN dan perseroan terbatas lainnya. antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika.500 Sumber: Kementerian Keuangan 0 5 10 15 Perhitungan dan perkembangan dari masing-masing sumber PNBP tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel yang beragam. PNBP lainnya.

serta (6) mengoptimalkan penerimaan dari sektor perikanan dengan mempertimbangkan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pesisir/nelayan. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L. dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya. Sementara itu.1 persen.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Selama kurun waktu 2005–2009. (b) meningkatkan pengelolaan keuangan BLU yang efisien dan efektif. dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kinerja BUMN. selama 2005–2009 PNBP mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11.13 memperlihatkan perkembangan total PNBP beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. PNBP diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 25. dan (c) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. di tahun 2009 PNBP mengalami pertumbuhan negatif 29. (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L.2 triliun. upaya. (5) menggali potensi-potensi penerimaan yang ada di sektor kehutanan tanpa merusak lingkungan dan mempertahankan hutan.6 triliun di tahun 2008 menjadi Rp227.0 persen terhadap perkiraan penerimaan dalam negeri. penurunan realisasi PNBP tahun 2009 lebih disebabkan oleh penurunan dari penerimaan SDA migas yang dipengaruhi oleh penurunan ICP yang signifikan pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan ICP pada tahun 2008. dan kebijakan yang signifikan telah dilakukan oleh Pemerintah guna meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP. Dilihat dari komposisinya. Secara keseluruhan. Optimalisasi PNBP lainnya selama 2005–2009 antara lain ditempuh melalui (1) optimalisasi PNBP pada K/L. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006. serta (4) peningkatan sinergi antar BUMN guna meningkatkan daya saing. (3) penyelesaian audit oleh kantor akuntan publik (KAP) atas laporan keuangan BUMN diharuskan selesai lebih awal dari peraturan yang ada guna mengetahui secara awal definitif atas laba/rugi bersih BUMN. berbagai langkah. PNBP ditargetkan sebesar Rp247. upaya dan kebijakan terutama difokuskan pada (1) pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal terhadap kegiatan usaha sektor hulu migas guna meningkatkan produksi/ lifting minyak bumi dan gas bumi. Namun. yaitu sebesar 20.8 persen.2 triliun. Dalam APBN-P tahun 2010. Dilihat dari komposisinya.0 triliun atau 8. yaitu 54. yaitu dari Rp320. (3) memperkuat pengawasan penerimaan dari sektor migas oleh BP migas. kebijakan mengenai pendapatan BLU difokuskan pada upaya untuk (a) mendorong peningkatan pelayanan publik instansi Pemerintah. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh berkaitan dengan hal tersebut antara lain: (1) peningkatan modal kerja dan penyehatan perusahaan. (3) monitoring. Dengan target tersebut.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009. Untuk penerimaan SDA. (4) melakukan revisi tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada sektor sumber daya mineral dan meningkatkan produksi komoditas sumber daya mineral. Upaya optimalisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN. (2) penyempurnaan ketentuan dalam kontrak kerja sama (production sharing contract) dengan tetap menghormati kontrak yang berlaku.5 persen.5 persen. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. peningkatan terbesar terjadi pada penerimaan SDA migas. III-28 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . khususnya yang terkait dengan cost recovery. target tersebut meningkat sebesar Rp20. (2) optimalisasi dividen pay-out ratio. Tabel III.

7 13.2 3. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Penerimaan SDA Migas . Di tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan penerimaan SDA.7 12. Sedangkan penerimaan SDA nonmigas diperoleh dari penerimaan pertambangan umum.1 132.1 persen.8 2.9 0.Pertambangan Umum .Gas bumi Penerimaan SDA Nonmigas .7 151.1 215. Penerimaan SDA Migas b. penerimaan perikanan.9 2. TABEL III.2 8. perkiraan penerimaan SDA tersebut mengalami peningkatan Rp25. Selama periode 2005–2009.14 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010.5 103.9 124. penerimaan SDA memberikan kontribusi rata-rata sekitar 68.0 2007 132.8 13.7 13.4 139.2 10.9 224.3 3. PNBP Lainnya IV.2 2010 APBN-P 164. 2005 – 2010 (triliun rupiah) Uraian I.6 12.5 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-29 .9 6.4 0.14 PERKEMBANGAN PENERIMAAN SDA.8 30. Pendapatan BLU PNBP Sumber : Kementerian Keuangan 2005 110.8 93.2 0.0 9.2 56.9 2006 167.7 103.1 0. Penerimaan SDA a.2 3.8 9. Penerimaan SDA Nonmigas II.1.5 2. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN III.3 0.2 167.9 persen.0 2010 APBN-P 151.1 23.5 39. penerimaan kehutanan.8 72.6 2009 139.8 29. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.6 146.4 21.7 320.4 6. sebesar masing-masing 20.5 2009 125.1 0.1 2008 224.6 169.1 Penerimaan SDA Penerimaan SDA.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.5 persen.7 triliun.3 110. yang terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas) dan penerimaan SDA nonmigas merupakan sumber utama PNBP.1 63. Dalam lima tahun terakhir.1 35.1 0. Tabel III. dan penerimaan pertambangan panas bumi.1 5. Dalam APBN-P tahun 2010.Minyak bumi .0 42.2.2 26.6 31.Perikanan .6 persen dan 38.2 13.7 3.0 227. mengalami pertumbuhan tertinggi.4 persen terhadap total PNBP.2 0.8 8.8 8.1 9.0 53.5 43.5 2007 124.0 29.6 triliun bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007.5 38. atau naik Rp91.7 2.4 227.8 6.1 32. yaitu mencapai 63.5 9.8 triliun atau 18.13 PERKEMBANGAN PNBP.5 211. Sedangkan di tahun 2008.9 2.8 23.1 125.9 9.6 12.5 247.0 125.8 90.4 2.7 112. penerimaan SDA memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif.Panas Bumi Penerimaan SDA Sumber : Kementerian Keuangan 2006 158. Penerimaan SDA migas merupakan penerimaan yang bersumber dari penerimaan minyak bumi dan penerimaan gas bumi.3 0.2.9 2008 211.Kehutanan .5 158.2 164. penerimaan SDA ditargetkan sebesar Rp164.

.

.

.

Selanjutnya. dan penerbitan. percetakan. hingga sekarang BUMN dapat diklasifikasikan menjadi tiga. perkiraan realisasi tersebut meningkat sebesar Rp58. realisasi penerimaan panas bumi mencapai Rp0. sedangkan dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp0. Kebijakan penghapusan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk menghambat illegal fishing dan untuk memperkuat industri dan armada perikanan nasional. koperasi. dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.2 triliun. Dalam APBN-P tahun 2010. energi. (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. sejumlah BUMN terus mengalami perubahan.4 triliun. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. dijelaskan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. dan (c) perseroan terbatas terbuka (persero Tbk). serta (e) pertambangan.0 persen penerimaan dari beroperasinya kapal-kapal perikanan asing. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-33 . BUMN dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yang tersebar dalam 35 sektor usaha.2 Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.2.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sekitar 75. (b) mengejar keuntungan. Dari sisi kelompok sektor usaha. pertanian.0 miliar atau 63. penerimaan dari pertambangan panas bumi memiliki potensi yang cukup besar mengingat Pemerintah terus mengupayakan pemanfaatan energi alternatif. penerimaan pertambangan panas bumi merupakan sumber penerimaan SDA nonmigas yang mulai dicatat dalam penerimaan tahun 2008. dan masyarakat. khususnya energi panas bumi.0 persen. yakni: (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya.1. Perusahaan asing boleh memiliki izin tangkap ikan hanya bila mendaratkan hasil tangkapan ke dalam negeri. Dari sisi bentuk perusahaan. yaitu: (a) perusahaan umum (perum). Dalam beberapa tahun terakhir. (c) bidang usaha logistik dan pariwisata. pada saat ini BUMN memegang lima peranan dalam ekonomi nasional. turun 39. (d) agro industri. kehutanan. kertas. (b) perusahaan perseroan (persero). Dalam tahun 2009. (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. Seiring perkembangan waktu.0 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. dan mendirikan unit pengolahan di Indonesia. Target tersebut lebih rendah Rp0.2 triliun. (b) jasa lainnya. 3.2. Dalam jangka menengah. Faktor lainnya adalah karena meningkatnya biaya operasi penangkapan ikan yang mengakibatkan banyak pengusaha kapal mengalihkan usahanya ke sektor lain sehingga mengurangi penerimaan dari pungutan hasil perikanan (PHP). Peningkatan penerimaan perikanan diupayakan melalui optimalisasi pelayanan dan penertiban perizinan usaha. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. Kelima peran ekonomi tersebut merupakan amanah dari pasal 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. penerimaan perikanan ditargetkan sebesar Rp150 miliar. baik dari sisi bentuk perusahaan. telekomunikasi. yaitu kelompok: (a) jasa keuangan dan perbankan. maupun kelompok sektor usaha.

4 persen. serta harga komoditas pertambangan. total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10. pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2009.6 triliun.   BAGAN III.1 persen. sebagian III-34 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik. opex tumbuh ratarata sebesar 288. lebih besar bila dibandingkan dengan laba tahun 2008. laba bersih.4 persen). Dari sisi laba bersih seluruh BUMN. telah terjadi penambahan jumlah BUMN. pertumbuhan kredit perbankan. perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas. Data mutakhir Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24. Pemetaan laba/rugi berikut kategori BUMN dan perseroan minoritas disajikan pada Bagan III. nilai tukar.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah industri strategis. yaitu sebesar Rp88.0 persen.3 persen). Selama periode tersebut. Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN. dan PT Freeport Indonesia Tbk (9. dan total persentase rata-rata terhadap kapitalisasi pasar sebesar 34. Hingga tahun 2010. kinerja BUMN terus mengalami perkembangan positif.1 PETA KINERJA BUMN DI TAHUN 2010 Bagi Dividen Tidak Bagi Dividen Akum Rugi ………………………………………………………………………………………… Sub-Total BUMN …………………………… BUMN 141 LABA 120 RUGI 21*  72  10  38  21  141  Kebijakan * BUMN yaitu PT ISI dalam proses likuidasi Minoritas  18  Sumber: Kementerian BUMN Bagi Dividen  Tidak Bagi Dividen  …………………………… 7  11  18  …………………………… Sub-Total Minoritas Selama periode 2005–2009. baik dari aset. Peningkatan laba bersih tersebut menunjukkan ketahanan (resilience) kinerja BUMN di tengah belum kondusifnya kondisi perekonomian tahun 2009 sebagai dampak instabilitas variabel makro seperti harga minyak.5 persen. Dari total perolehan laba bersih tersebut. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. pertanian dan perkebunan. Kinerja BUMN selama periode tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal. saham minoritas Pemerintah tersebar di 18 perusahaan yang di antaranya PT Indosat Tbk (14. PT Bank Bukopin (18. belanja operasional (operational expenditure/opex). laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25. yaitu dari 139 BUMN menjadi 142 BUMN. dan belanja modal (capital expenditure/capex).2 persen). dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50. Ketiga BUMN baru tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset / PPA (persero).0 persen.0 persen di sejumlah perusahaan. PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia.1.6 persen. Selama periode 2007–2010. Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas atau di bawah 51.

.

(6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. Perkembangan PNBP lainnya dan pendapatan BLU selama periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.5 25 Selama periode 2005–2010.9 persen. Sedangkan dalam APBN-P tahun 2010. III-36 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . yang antara lain disebabkan oleh tingginya pendapatan penjualan dan sewa.15. sebagian PNBP yang dipungut oleh K/L dapat digunakan kembali oleh K/L yang bersangkutan setelah disetor ke kas negara terlebih dahulu.2. (5) pendapatan pendidikan. (3) pendapatan bunga.5 triliun.3 triliun menjadi Rp8. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. triliun Rp GRAFIK III.5 triliun per tahun.3 triliun atau 19. Perolehan laba tertinggi terjadi dalam tahun 2008 yaitu sebesar Rp30. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 PT Pertamina membukukan laba Sumber : Kementerian Keuangan bersih rata-rata sebesar Rp22.4 23. Target tersebut lebih rendah Rp10. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. Penetapan penggunaan PNBP tersebut didasarkan pada keputusan Menteri Keuangan tentang izin penggunaan PNBP yang bersifat spesifik pada masing-masing K/L. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing K/L tersebut. peningkatan tertinggi terjadi dalam tahun 2007. Sumber utama PNBP lainnya berasal dari pendapatan Pemerintah yang diperoleh dari jasa pelayanan yang diberikan oleh K/L kepada masyarakat. Dalam kurun waktu 2005–2009. serta adanya setoran berupa pendapatan bagian Pemerintah dari sisa surplus Bank Indonesia di tahun 2009. dan pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan Pelayanan Publik.3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya. sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah dunia. 3. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan tersebut adalah meningkatnya pendapatan dari kegiatan hulu migas.29 28.25 PNBP BAGIAN PEMERINTAH ATAS LABA BUMN.2 triliun atau meningkat sebesar 23.7 persen). serta (8) pendapatan lain-lain.8 triliun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.8 15 penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap 10 tahun mencapai 45. yaitu meningkat sebesar Rp18. pelayanan. 2005 – 2010 35 30 21.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.1. PNBP lainnya ditargetkan mencapai Rp43. (2) pendapatan jasa. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan.22 31. 20 PT Pertamina menjadi BUMN 12. Secara nominal.3 triliun (12.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah perbankan sebesar Rp3. PNBP lainnya terdiri atas penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa. (7) pendapatan iuran dan denda.7 persen 5 terhadap total dividen BUMN. yaitu dari Rp7. Selanjutnya dalam APBN-P tahun 2010. 0 Selama periode tersebut.5 triliun.2. realisasi PNBP lainnya rata-rata tumbuh sebesar 22.6 29.3 PNBP Lainnya Dalam struktur APBN. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN ditargetkan sebesar Rp29. Peningkatan tersebut merupakan windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008.8 triliun.

antara lain sistem monitoring frekuensi.4 1.4 23. jenis penerimaan PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terdiri atas: (1) pendapatan hak dan perizinan (biaya hak penyelenggaraan frekuensi).3 6.2 1. (3) melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi berkenaan dengan kewajiban pembayaranPNBP.6 2.6 13. selain dengan penetapan.9 8.9 13.7 1.0 1.7 4.0 1. Sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika.9 1.8 1. (2) pendapatan jasa penyelenggaraan pos dan telekomunikasi (biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi).4 1.1 5.4 3. otomatisasi sistem manajemen/perizinan frekuensi dan alat pengujian. Perkembangan PNBP Kemenkominfo dapat dilihat pada Grafik III.4 1.1 triliun. realisasi penerimaan PNBP Kemenkominfo mencapai Rp10.2 0.2 3. (3) pendapatan jasa sewa sarana dan prasarana.6 0.7 9. Sementara itu dalam APBN-P tahun 2010.2 9.8 63. khususnya yang berasal dari berbagai K/L. antara lain: (1) pengenaan BHP frekuensi dengan metode lelang pada pita frekuensi yang potensial (bandwith wireless access). (4) pendapatan dari penyelenggaraan penyiaran.5 38.Penerimaan lain-lain Total PNBP Lainnya * Termasuk pendapatan BLU Sumber: Berbagai Kementerian/Lembaga 2005 1.Penjualan hasil tambang . PNBP Kemenkominfo ditargetkan sebesar Rp10.0 2.4 1.5 23.7 persen.5 9. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya penggunaan spektrum di pita seluler oleh para operator seluler. jenis penerimaan yang berlaku di Kementerian Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-37 .1 3.9 5.4 triliun atau 30.Rekening Dana Investasi (RDI) .5 Dalam rangka pencapaian target PNBP 2010.8 2010 APBN-P 10. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.9 43.3 triliun.0 1.2 8.0 2007 5.5 0.5 6. dan (5) pembaharuan dan penambahan instrumen secara bertahap.3 1.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.3 2009 10.4 7. Dalam tahun 2009.5 1.7 4.7 8. seperti: .7 triliun.0 2.9 7. dan penyempurnaan peraturan pemerintah (PP) tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada K/L. Selama periode 2005–2009.Surplus BI .4 1.Pendapatan minyak mentah (DMO) .9 2008 7.7 1.3 53. dan penghapusan aset. (2) pembenahan database baik pengguna frekuensi maupun penyelenggaraan telekomunikasi.9 2.5 8.2 0. perbaikan.5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 sebesar Rp7. meningkat sebesar Rp2.2 0.6 2006 4.26. Pemerintah juga telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemungutan PNBP pada masing-masing K/L.5 2. PNBP Kemenkominfo mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53.5 6.3 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 Kementerian/Lembaga Kementerian Komunikasi dan Informatika* Kementerian Pendidikan Nasional * Kementerian Kesehatan* Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Pertanahan Nasional Kementerian Hukum dan HAM Peneriman Lainnya.3 56.15 PERKEMBANGAN PNBP LAINNYA.8 1.3 2.2 7. dan (5) pendapatan pendidikan.0 0. pelatihan.0 2.8 7.5 3. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.5 1. (4) penegakan hukum secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi yang tidak mematuhi ketentuan perundangan.

teknologi dan seni.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terdiri atas: (1) penerimaan dari penyelenggaraan pendidikan. Adapun pertumbuhan rata-rata selama 2005–2009 mencapai 101. efisien.8 2 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Kominfo triliun Rp 7 6 GRAFIK III. (2) penerimaan kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). (4) mendukung upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang tertib. (7) penerimaan dari jasa balai kesehatan mata masyarakat (BKMM).7 triliun. rata-rata sebesar 45.1 10.8 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008. (3) penerimaan dari jasa pendidikan tenaga kesehatan. realisasi PNBP Kemendiknas mencapai Rp5. ekonomis.5 persen.7 6 4.1 4 1. Dalam tahun 2009. triliun Rp 10 GRAFIK III.27.4 triliun atau 13.3 triliun. lembaga Pemerintah atau non-Pemerintah. efektif. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.26 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKOMINFO. transparan. Target tersebut 3 didukung oleh beberapa kebijakan. jenis penerimaan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terdiri atas: (1) penerimaan dari pemberian izin pelayanan kesehatan oleh swasta. Perkembangan PNBP Kemendiknas dapat dilihat pada Grafik III.4 triliun. 2005 – 2010 6. dan (9) penerimaan dari jasa pelayanan rumah sakit. Dalam tahun 2009. Sedangkan pertumbuhan PNBP Kemendiknas selama periode 2005–2009. serta dunia industri. (8) penerimaan dari uji pemeriksaan spesimen. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Kesehatan.9 dan daya tampung perguruan tinggi.2 sebesar Rp6.8 4 3. dan (4) penerimaan dari sumbangan hibah perorangan. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi pada tahun 2008 yang mencapai Rp4. (3) meningkatkan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmu pengetahuan. (3) penerimaan dari hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan. meningkat Rp0. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 baik antarinstansi maupun lembaga Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional non-Pemerintah.4 Sementara itu dalam APBN-P tahun 5 2010. (6) penerimaan dari jasa balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4).3 8 7. (4) penerimaan dari jasa pemeriksaan laboratorium. (5) penerimaan dari jasa pemeriksaan air secara kimia lengkap. PNBP Kemendiknas ditargetkan 3. (2) penerimaan dari pemberian izin mendirikan rumah sakit swasta.27 PERKEMBANGAN PNBP KEMENDIKNAS. III-38 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . taat pada peraturan per Undang-undangan.7 5.3 2 antara lain: (1) meningkatkan kapasitas 0. realisasi PNBP Kemenkes mencapai Rp3.0 5.0 triliun.6 persen per tahun. 2005 – 2010 10. 1 (2) meningkatkan pelaksanaan 0 berbagai program kegiatan kerjasama. 2.

driving simulator. jenis penerimaan yang berlaku di BPN terdiri 0.4 sakit untuk menuju kemandirian 0. PNBP Kemenkes GRAFIK III.2 komputerisasi administrasi keuangan. 2 (b) menggali potensi PNBP melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi.0 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional (BPN). jenis penerimaan Polri terdiri atas: (1) surat izin mengemudi (SIM). Perkembangan PNBP Kemenkes dapat dilihat pada Grafik III. (6) simulator. PERKEMBANGAN PNBP KEMENKES. (3) tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB).Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Sementara itu. komputer Samsat dan alat cetak TNKB.5 0.5 di wilayah Jawa. Maluku Utara. 2005 − 2010 menambah membangun jaringan triliun Rp Automatic Traffic Management Center 2.0 2. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.9 3 manusia dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pelayanan.0 Target tersebut didukung oleh 4 beberapa kebijakan. (2) surat tanda nomor kendaraan (STNK). 1 (c) peningkatan cost recovery rumah 0.29 PERKEMBANGAN PNBP POLRI. 1.0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia APBN-P 2010 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-39 .0 triliun. Pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui kebijakan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis Lantas dan pendidikan pelatihan fungsional Lantas. (3) melanjutkan pembangunan jaringan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) meliputi wilayah Kalimantan. kendaraan patroli roda 2/roda 4. (8) kartu sidik jari. antara lain 3.5 1.4 1.0 (a) peningkatan sumber daya 2. PNBP Polri ditargetkan sebesar Rp2. 0 dan (d) meningkatkan pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 kesehatan yang terintegrasi sesuai Sumber : Kementerian Kesehatan standar yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. (7) izin senjata api (Senpi). ditargetkan sebesar Rp4.8 1.0 triliun. (4) surat tanda coba kendaraan (STCK).5 1.3 3. kendaraan patwal roda 2/roda 4. kendaraan uji SIM roda 2/roda 4. (5) bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB).28 dalam APBN-P tahun 2010. (4) meningkatkan kinerja dengan GRAFIK III. dan (9) denda pelanggaran lalu lintas. Dalam APBN-P tahun 2010.0 Perpolisian Masyarakat (Polmas) 1. mobil unit pelayanan SIM.28. triliun Rp 2005 – 2010 4. dan (5) melaksanakan 2.2 Perkembangan PNBP Polri dapat dilihat pada Grafik III.7 melalui kegiatan Citra Polantas. (2) meningkatkan infrastruktur pendukung pelaksanaan operasional Polri di bidang lalu lintas berupa pengadaan Alsus Polantas. mobil unit laka Lantas. 1. dan Papua.29.

5 1.30 PERKEMBANGAN PNBP BPN.30.4 meningkatkan penertiban pengelolaan PNBP dan penertiban pencatatan aset-aset milik 1.2 0. (3) pelayanan informasi pertanahan.2 0. pengukuran.4 1. Pencapaian tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat yang berimbas pada minat dan kesadaran masyarakat terhadap kepastian hukum.5 triliun. yaitu 1. (5) pelayanan survei. (2) PNBP fungsional. Selama periode 2005–2009.2 0. dan pemetaan. dan memfokuskan pelayanan pertanahan yang dibiayai dengan sumber dana publik.4 triliun.9 0. jangka waktu. Dalam APBN-P tahun 2010.6 1.0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P kapasitas kemampuan petugas ukur dan 2010 Sumber : Badan Pertanahan Nasional pendataan yuridis termasuk melibatkan para surveyor berlisensi. PNBP BPN GRAFIK III. (3) keimigrasian.31.4 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Hukum dan HAM III-40 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Perkembangan PNBP BPN dapat dilihat pada Grafik III.6 GRAFIK III. Target tersebut didukung dengan kebijakan antara lain: (1) melakukan inventarisasi seluruh potensi PNBP pada kantor atau unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan Kemenkumham. serta (5) jasa tenaga kerja narapidana. realisasi PNBP Kemenkumham mencapai Rp1. Dalam tahun 2009.7 0.8 0.8 0. Target tersebut didukung oleh beberapa kebijakan. Perkembangan PNBP Kemenkumham dapat dilihat pada Grafik III.7 0. (6) pelayanan pendidikan. (2) pelayanan pemeriksaan tanah. (2) balai harta peninggalan.4 triliun. PNBP Kemenkumham mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18. dan (7) pelayanan lisensi. triliun Rp antara lain: (1) PNBP murni.5 1.6 melalui peningkatan transparansi informasi tentang persyaratan.8 negara.4 biaya pelayanan.9 0. sertifikasi tanah pertanian dan nelayan pada daerah tertinggal dan ekonomi lemah. meningkat sebesar Rp0.31 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKUMHAM.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah atas (1) pelayanan pendaftaran tanah. dan 0. (4) pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya. PNBP Kemenkumham ditargetkan sebesar Rp1. 2005 − 2010 ditargetkan sebesar Rp1.9 persen. Dalam APBN-P tahun 2010.8 1. antara lain 0. seperti PRONA.2 triliun atau 16. 2005 − 2010 1. sama dengan realisasi tahun 2008.7 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp1. UKM. (4) hak dan kekayaan intelektual. jenis penerimaan Kemenkumham bersumber dari penerimaan (1) pelayanan jasa hukum. penerapan model pelayanan “jemput bola”.5 triliun.2 triliun. peningkatan 0. Rata-rata pertumbuhan PNBP BPN periode 2005–2009 mencapai 23. triliun Rp 1. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).7 persen. dan (2) optimalisasi pembangunan sarana dan prasana untuk mendukung tugas dan fungsi Kemenkumham. Realisasi PNBP BPN tahun 2009 mencapai Rp1.

.

pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp1. (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. 3.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011 Pendapatan negara dan hibah sangat penting sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam rencana kerja Pemerintah (RKP). (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak. Pemerintah perlu berupaya melalui kebijakan dan perbaikan administrasi guna lebih mengoptimalkan pencapaian target PNBP tahun 2011. (4) peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. Apabila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan III-42 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Beberapa kebijakan yang diambil untuk mencapai target tersebut adalah (1) penggalian potensi perpajakan. Upaya Pemerintah tersebut melalui (1) pengoptimalan lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi. Dalam tahun 2011. Pada tahun 2011. dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. target dalam tahun 2011 tersebut mengalami peningkatan sebesar 9. penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna mengetahui posisi rugi/laba BUMN. PNBP diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan target APBN-P 2010.7 triliun. ketidakpastian perkembangan harga minyak dunia yang akan berpengaruh terhadap tingkat harga juga akan memberikan pengaruh terhadap upaya pencapaian target penerimaan migas. Berdasarkan kondisi perekonomian nasional tersebut. Sebagai kontributor utama penerimaan dalam negeri.4 triliun. serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA.3 Tantangan dan Peluang Kebijakan Pendapatan Negara Proses pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2010 memberikan landasan yang cukup kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia pada tahun-tahun selanjutnya. Sumber utama peningkatan tersebut diharapkan berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan meningkat sejalan dengan dilakukannya berbagai extra effort.082. menjadi pilar utama dari pendapatan negara dan hibah.5 persen. Penerimaan dalam negeri yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP. Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2011. pendapatan negara dan hibah diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010. (2) pengoptimalan penerimaan Pemerintah atas laba BUMN melalui optimalisasi pay-out ratio. Di samping itu. terutama didorong oleh penurunan penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN. dan (3) peninjauan atas jenis dan tarif. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh cukup stabilnya fundamental ekonomi makro nasional dan juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dunia. dan opsi dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN. Prospek pulihnya perekonomian menjadi salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan sumbersumber pendapatan negara. (5) perbaikan sistem informasi. Untuk itu. meskipun masih terdapat tantangan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi global terkait dengan terjadinya gejolak pada sektor keuangan di beberapa negara kawasan Eropa. penerimaan perpajakan diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. terdiri atas penerimaan dalam negeri Rp1. perbaikan administrasi pelaporan keuangan. pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2010.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 3.086.6 triliun dan hibah Rp3. dan intensifikasi penarikan PNBP K/L.

0 25.2 55.1. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2011 % thd PDB 15.6 triliun pada tahun 2011.6 2. atau meningkat 9. Pendapatan BLU II. serta perbaikan mekanisme keberatan dan banding. Cukai vi.5 743.1 0. Pajak Dalam Negeri i.4 0.7 151.4 306.4 990.2 59.4.5 1.7 0.2 0.3 2.1 4.5 5.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011 Sebagaimana tahun 2010.4 0.3 12. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I.9 4. kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan.5 2.8 362.3 309.3 0. Pajak Perdagangan Internasional i. penggalian potensi perpajakan. PNBP Lainnya d.4 414.7 0. Nonmigas b.1 3.4 0.8 22.9 11. Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010–2011 dapat dilihat pada Tabel III. Pajak pertambahan nilai iii.4 0. Sebagian besar dari target penerimaan dalam negeri tersebut merupakan kontribusi dari penerimaan perpajakan.0 0. Penerimaan Perpajakan a.9 26.9 0.8 263.1 243.8 0.1 3.8 11. Bea keluar 2.2 23.0 2.6 17.2 360. Bagian Laba BUMN c.7 5.2 0.5 persen). TABEL III.5 54.5 247. peningkatan pemeriksaan pajak. Pajak Bumi dan Bangunan iv. Penerimaan SDA i.4 0.5 persen).7 4.2 0.16 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH.082.5 9. Penerimaan Dalam Negeri 1.3 720.9 15.6 43.6 839.3 3.1 4.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III administrasi perpajakan.0 60.5 0. BPHTB v.1 0.2 0.3 7.1 0.0 5.5 15.7 % thd PDB 15.4 0.1 Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1. Selain itu.1 18.3 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010.3 27.5 43.086.2 0.5 12.082.9 3. Migas ii.8 5.3 0.0 11. perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-43 . Pajak lainnya b.5 816. dan selebihnya merupakan kontribusi dari PNBP sebesar Rp243. Penerimaan Negara Bukan Pajak a.2 164.5 triliun (77.2 145.1 5.1 triliun (22.1 0.9 0.4 14. yaitu sebesar Rp839.3 0.4 1.16.0 APBN-P 992. 3.6 0.4.9 RAPBN 1.9 4. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).0 29. Pajak penghasilan Migas Nonmigas ii.1 158.7 13.9 0. Bea masuk ii.

(3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar. Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Tanjung Perak. melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal. antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. terutama jalur rawan penyelundupan. (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu. Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II. optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. (2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai. Makasar dan Belawan). Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011. dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance). (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan. dan Belawan). Selain itu. III-44 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru. dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. Bandara Soekarno Hatta. optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor. (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok. Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit. Dalam hal ini. Selain kelima upaya tersebut. Tanjung Perak. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi. (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP). Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan. (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu. (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan. Khusus di bidang kepabeanan. Tanjung Emas. Selanjutnya. serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak. dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang. beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup. Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan. (3) otomatisasi pelayanan. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013). (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP. dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok. Selanjutnya. Undang-undang Kepailitan.

target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2. (2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9.1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh.5 triliun. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor. Khusus di bidang cukai. atau meningkat 12. dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph. atau 13. (3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014. dari target APBN-P tahun 2010. Sementara itu.9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. (2) perbaikan administrasi pajak. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011. serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai.2 persen. hingga mencapai Rp360. PPh migas ditargetkan mencapai Rp54. akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi. melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran. dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011. atau meningkat 14. baik secara global maupun domestik.5 triliun. Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011 Pada tahun 2011. di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai. yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1.5 triliun. pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai.0 triliun. optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai. PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Selain itu. faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-45 . pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A.3 triliun.4 persen. otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal.2 triliun. dan (4) tingginya tax compliance masyarakat.300 per USD. Secara umum. serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit. penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839. PPh ditargetkan mencapai Rp414.5 triliun pada tahun 2011. (2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang.0 triliun. Pada tahun 2011. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada: (1) asumsi ICP USD80.0 per barel. PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17. dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1. penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan.

Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308. Hotel.1 308. Gas.3 8.6 persen. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y (8.7 8. Real Estate.8 0.7 5. Kehutanan.1 2.1 30.0 triliun.1 persen atau Rp49.7 49.1 Perk.0 100.8 22.4 258.5 7. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010. 9.1 30.1 18.2 (12.3 persen. target tersebut meningkat sebesar 19. bahan bakar nabati.7 29. target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309.0 12.0 y-o-y 34.7 31.9 3.8 2.3 19.8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22. profiling. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian. Peternakan.5 8. (2) perluasan basis pajak.4 0.2 6. Sementara itu.5 7.0 150. real estate. di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9.3 triliun.2 8.6 3. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak.4 2.4 61.6 0.2) 32.17 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL.0 RAPBN 12.4 triliun. Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi. sektor keuangan. dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66.2 5. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.0 triliun (12.3 9.1 66.1 9. dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6. Real.0 18.4 % thd Total 4.5 29. transaksi yang offline serta restitusi Pada tahun 2011. Selanjutnya. dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan. dan benchmarking.6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010.8 22.8 triliun (21.8 7.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak.2 3.9 100.5) (20.0 6.0 0. hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39.7 0. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.3 persen.9 % thd Total 3.1 triliun (30.6 20.8 26.2 12. Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III. terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95. Dalam target PPN dan PPnBM tersebut.6 persen. atau meningkat 17.2 0.17.7 25.3 77.7 39.3 2.0 3.2 14. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.5 1. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan. Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri.6 28.0 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.6 4.7 persen) dengan pertumbuhan 8.5 triliun.4 95.7) (19.8 8. (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait III-46 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6.9 persen. TABEL III.7) 24. sektor perdagangan.8 23. dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5.5 17.3 7.6 5.9 21.7 19.7 23.1 9.6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23. (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping.3 17.3 triliun.

8 7.6 2.0 15. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut.9 0.9 12.7 RAPBN 3.3 152.2 3. transaksi yang offline dan restitusi Pada tahun 2011.2 0.4 (83.6 7.3 78.1 46.7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28. Secara umum. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.4 8.6 21. sebagai komponen terbesar. Hotel. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-47 .3 0.4 0. atau meningkat 9. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III.1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.5 4.1 32.3 % thd Total 2.4 12. sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14.9 1.2 triliun (30.0 12. peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia.1 0.9 2.8 26.1 Perk.7 50.4 6.7 triliun pada tahun 2011. 3. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.4 24.18 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.8 triliun.3 12.6 persen dan sektor perdagangan.19.3 0.3 triliun (7. Secara lebih rinci. sebagai kontributor terbesar kedua. sektor industri perdagangan. Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar.5 4.3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010. 2010 – 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.1 44. Real Estate. atau naik 21.2 1.2 7.1 19.0 y-o-y 18.9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.1 30.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.7 triliun atau meningkat sebesar 23. PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20.18.5 % thd Total 2. Kehutanan. Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27.7 17.2 triliun (46.1 56.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III kebutuhan eksplorasi hulu minyak.2 1.0 (42.1) 6.2 28. dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0.4 43.2 85.2 persen.2 67. Peternakan. penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117.5 triliun.6 6. serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32.4 persen.2 0.8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.9 1.9 2. penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85.4 11.4 14. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 9.3 100. Real. TABEL III.8 15.1 28.7 persen.0 58. Selanjutnya.9) 55.9 1.5 triliun atau meningkat sebesar 19.9 18.0 triliun (61.4 181. gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2.1 12.7 persen. hotel.7 15. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.8 7.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26.8 2.9 6.4 43.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.8 100.8 triliun. Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72.4 triliun (17. Gas.3 0.3 0.4 31.3 2.7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.1 3.5 37.1 18. Sementara itu. hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36.2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21.

2 2.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010.4) 45.2 0.9 30.6 2.0 % thd Total 0.0 95.0 100. Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang belum jelas batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 366.7 23.9) 62.3 1.6 0.2 persen. transaksi yang offline dan restitusi Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah. (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai. Dalam tahun 2011.0 117. 0.0 (2.0 triliun.3) 21.4 (8.3 2. maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011.1 triliun atau 5.3 3.0 100.0 RAPBN 0.7 0.9 (0.4 0.2 (70.3 4.19 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL. pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III. Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18. terjadi peningkatan sebesar 5.7 triliun. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.5 49.2 0. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010. Peternakan.2 1.8 (9.2 triliun.1 0.6 0. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6.9 28.1 0. Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau. (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9.0 62. Pada tahun 2011.6 1.9 2. terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58.9 Perk.5 0.1 0. dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional.0 0.5 0. Kehutanan dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.3 0. didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3.2 0.7 (13. atau 9. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010.4) 124. dan kelestarian sumber daya alam.8) 51. dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2. (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA. 2010-2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.0 y-o-y 47.3 persen.4 persen.7 10.0 0.7 % thd Total 0. Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri.4 (85.0 61.9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target III-48 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . target cukai 2011 mengalami peningkatan 2.6 0.2 0.300 per USD. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60.1 3.0 59.2 11.9 0.3 2.2 0.0 triliun. Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara. Real. stabilitas harga nasional. dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal.9 28.0 0.7 triliun.3 0.0 72.2 (45.0) 14.7 1.5) 38.2 1.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.0 36. Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 29.4) 54. Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2.3 1.3) 318. bea keluar ditargetkan mencapai Rp5.5 (40.9 persen.1 triliun.1 0.1 0.

.

.

termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP). (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP. Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP). Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu. Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010. upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha.1 miliar. kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya. Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan.0 miliar atau 33. Untuk BUMN sektor perbankan.7 miliar atau 45. (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas. Di samping itu.3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. (2) penanggulangan illegal fishing. (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan. Terkait dengan hal tersebut. akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011. (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan. sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK. dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan. Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356. (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI). meningkat sebesar Rp111. Namun. Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sebesar Rp50. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan. (9) peningkatan pelayanan. Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas. BUMN Sektor Perbankan. Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-51 . peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan. dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan. antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif.

Prospektus IPO). (b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan.4 triliun.36.6 triliun.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III. dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS. terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia. target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43.5 triliun. sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43. tidak diambil dividennya. dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut. khusus PT Jamsostek. dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi. PT Taspen. PT Askes. Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN. (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian. besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26. Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011. (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen. Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian. untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan. terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba. (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. dan PT Asabri diterapkan POR nol persen. (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen. (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen. Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien. dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat. dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen. Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN. III-52 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui. yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi. PNBP Lainnya Dalam tahun 2011.

.

7 6.0 triliun. akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah.8 triliun. keselamatan.39.0 1.0 2.38 PNBP KEMENDIKNAS. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan.0 0.8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6. GRAFIK III. STNK. dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi.5 2. (b) melanjutkan pembangunan jaringan online Samsat di seluruh Polda. serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik. dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Dalam tahun 2011. meningkat Rp0. 2010 − 2011 triliun Rp 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Ke menterian Pe ndid ikan Nasional RAPBN 2011 10.7 Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain: (a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi.7 triliun. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4. dan kelancaran berlalu lintas. 2010 − 2011 triliun Rp 3. yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan. GRAFIK III. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.0 APBN-P 2010 RAPBN 2011 2.8 triliun atau 39.5 1.5 0. dan (d) melaksanakan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui kegiatan Citra Polantas.8 2. kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah (a) meningkatkan kemampuan SDM Polri melalui pendidikan dan pelatihan.0 triliun atau 59.39 PNBP POLRI. terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan. target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2.0 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indone sia Secara garis besar. (c) melanjutkan upgrade jaringan Satpas termasuk SIM keliling. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM. ketertiban. Dalam tahun 2011. (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi. serta pemberlakuan Undangundang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.38. III-54 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah (4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi. PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10.7 triliun.

0 APBN-P RAPBN didukung oleh (a) peningkatan kegiatan sosialisasi 2010 2011 dan transparansi pelayanan kepada masyarakat Sumber : Badan Pertanahan Nasional yang mencakup informasi tentang persyaratan.0 APBN-P RAPBN akan ditempuh untuk mencapai target tahun 2011 2010 2011 tersebut adalah: (1) peningkatan pelayanan kepada Sumber : Kementerian Hukum d an HAM masyarakat melalui penambahan kantor imigrasi. Perkembangan PNBP Kemenkumham tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. (4) mengembangkan otomatisasi sistem pelayanan hak kekayaan intelektual.4 triliun atau 57.6 Secara garis besar.2 0. serta (c) penerapan model pelayanan kantor pertanahan bergerak pelayanan rakyat sertifikasi pertanahan (LARASITA).4 ` 1. (b) peningkatan kapasitas kemampuan pelayanan dengan penambahan petugas ukur dan pendataan data yuridis.5 1.40 memperlihatkan target PNBP BPN tahun 2010 dan 2011. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh bertambahnya jumlah perguruan tinggi negeri yang menerapkan pola BLU dan telah diterapkannya pola pengelolaan BLU oleh seluruh rumah sakit Pemerintah.0 1.3 Pencapaian target PNBP BPN tahun 2010 0. Dalam tahun 2011.2 triliun atau 13.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. sebagian besar pendapatan BLU tahun 2011 berasal dari pendapatan jasa pelayanan pendidikan yang direncanakan sebesar Rp7.8 0.1 triliun atau 6. Perkembangan pendapatan BLU tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. PNBP Kemenkumham direncanakan sebesar Rp1. dan jasa Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-55 .41. Pendapatan BLU Pendapatan BLU dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp14. jangka waktu pelayanan. (3) menambah jumlah negara subjek VKSK menjadi 62 negara. 2010 − 2011 triliun Rp 1. dan (5) melakukan perjanjian kerjasama dengan bank BUMN untuk penerimaan biaya VKSK.6 1.40 PNBP BPN. dan biaya pelayanan.5 triliun.5 triliun.6 1.9 triliun. (2) menambah jumlah tempat pemeriksaan imigrasi dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK).Pendapatan Negara dan Hibah Bab III PNBP BPN dalam tahun 2011 direncanakan mencapai Rp1. GRAFIK III.8 0. Dilihat dari sumber perolehannya.42. GRAFIK III.6 triliun. pokok-pokok kebijakan yang 0. Grafik III.0 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp9.8 triliun. 2010 − 2011 triliun Rp 2.2 0.5 1.5 triliun.41 PNBP KEMENKUMHAM. naik Rp0. Penurunan tersebut disebabkan oleh dihapuskannya PNBP dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah berupa uang pemasukan kepada negara. Penerimaan ini lebih tinggi Rp5.3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. turun Rp0. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya kunjungan dan izin tinggal orang asing di Indonesia.3 triliun.4 1.

2 0.9 3. 2010 − 2011 tingginya komitmen negara donor untuk membantu Indonesia terkait masalah triliun Rp 4.43 antara lain dipengaruhi oleh semakin PENERIMAAN HIBAH.2 persen jika dibandingkan dengan target APBN-P 2010 sebesar Rp1. GRAFIK III.2 Penerimaan Hibah Penerimaan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp3.4 1. dikarenakan menampung hibah aset 1. Selain itu 2.9 triliun. Peningkatan tersebut GRAFIK III. Target tersebut lebih tinggi Rp1.6 yang akan digunakan untuk PMN terhadap PT Geo Dipa Energi sebesar Rpo. 2010 − 2011 triliun Rp 16 14 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Kementerian Keuangan RAPBN 2011 9.8 dari PT Pertamina dan PT PLN (Persero) 1. Sementara itu. Grafik III.2 3. di antaranya: (1) meningkatkan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. (2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan BLU. Secara umum.8 triliun atau 97.9 juga.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pelayanan rumah sakit yang diperkirakan mencapai Rp3. pencapaian target pendapatan BLU tahun 2011 didukung oleh kebijakan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BLU.43 memperlihatkan 2010 2011 perkembangan target hibah 2010 dan Sumber : Kementerian Keuangan 2011. serta (3) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah.4 APBN-P RAPBN triliun.9 triliun. pendapatan dari jasa penyelenggaraan telekomunikasi direncanakan mencapai Rp1.4 triliun.7 triliun.6 sistem administrasi dan pencatatan 3.0 penerimaan hibah dalam APBN.42 PENDAPATAN BLU. III-56 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .7 perubahan iklim serta semakin efektifnya 3.5 14.4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->