Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

BAB III PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH 3.1 Umum
Dalam periode 2005–2009, realisasi pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen, didukung dengan peningkatan penerimaan dalam negeri dan hibah yang masing-masing tumbuh rata-rata 14,4 persen dan 6,3 persen. Penerimaan dalam negeri terutama berasal dari penerimaan perpajakan yang memberikan kontribusi rata-rata 68,9 persen dengan pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi rata-rata 31,1 persen dengan pertumbuhan rata-rata 11,5 persen. Meningkatnya realisasi pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2009 tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi baik global maupun nasional, dan juga keberhasilan dari pelaksanaan kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah. Kebijakan Pemerintah di bidang pendapatan negara dan hibah diarahkan untuk mendukung kebijakan fiskal yang berkesinambungan melalui upaya optimalisasi pendapatan negara dan hibah, khususnya penerimaan dalam negeri. Hal ini sesuai dengan peran pendapatan negara dan hibah sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan. Sebagai kontributor utama bagi penerimaan dalam negeri, penerimaan perpajakan diupayakan secara optimal melalui tiga kebijakan utama, yaitu: (1) reformasi di bidang administrasi; (2) reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan; dan (3) reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi. Ketiga kebijakan tersebut secara umum berlaku baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang PNBP, kebijakan yang telah diambil Pemerintah dalam rangka optimalisasi adalah (1) meningkatkan produksi sumber daya alam (SDA); (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan di bidang PNBP; (3) meningkatkan pengawasan PNBP; dan (4) meningkatkan kinerja BUMN. Pada tahun 2010, perekonomian dunia mulai pulih dari krisis. Kondisi tersebut berimbas pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan mencapai 5,8 persen, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada realisasi pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, realisasi pendapatan negara dan hibah ditargetkan sebesar Rp992,4 triliun atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Penerimaan dalam negeri diperkirakan mencapai Rp990,5 triliun atau meningkat 16,9 persen, dengan perincian penerimaan perpajakan Rp743,3 triliun atau meningkat 19,9 persen dan PNBP Rp247,2 triliun atau meningkat 8,8 persen. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun dengan peningkatan sebesar 13,8 persen. Dalam tahun 2010, kebijakan pendapatan negara dan hibah tetap diarahkan untuk optimalisasi penerimaan dalam negeri. Di bidang perpajakan, selain melakukan kebijakan yang bersifat reguler seperti reformasi di bidang administrasi, peraturan perundang-undangan dan pengawasan serta penggalian potensi, Pemerintah melakukan upaya tambahan (extra effort) baik di bidang pajak maupun di bidang kepabeanan dan cukai. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan efisiensi pemeriksaan dan penagihan pajak, serta peningkatan pengawasan atas peredaran barang kena cukai ilegal. Di bidang PNBP, kebijakan

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-1

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

yang dilakukan Pemerintah untuk mengamankan target PNBP tahun 2010 adalah optimalisasi penerimaan SDA terutama dari migas, peningkatan kinerja BUMN, serta optimalisasi PNBP kementerian/lembaga (K/L). Memasuki tahun 2011, kondisi perekonomian Indonesia diharapkan jauh lebih baik daripada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan akan mencapai 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan realisasi 2010. Indikator-indikator ekonomi makro lainnya juga diperkirakan akan cukup stabil. Berdasarkan asumsi tersebut, pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp1.086,4 triliun, dengan perincian penerimaan dalam negeri sebesar Rp1.082,6 triliun dan hibah Rp3,7 triliun. Penerimaan dalam negeri akan berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp839,5 triliun, dan PNBP sebesar Rp243,1 triliun. Dalam rangka mencapai target penerimaan negara pada tahun 2011, Pemerintah akan menjalankan berbagai kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP. Pokok-pokok kebijakan perpajakan secara umum adalah melanjutkan dan mempertajam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya. Di bidang perpajakan, kebijakan antara lain akan difokuskan pada (1) penggalian potensi perpajakan; (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak; (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak; (4) peningkatan pengawasan dan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai; (5) perbaikan sistem informasi; dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Selain itu, dalam rangka memperbaiki sistem administrasi perpajakan, Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pengalihan BPHTB serta PBB perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah. Untuk BPHTB, pengalihan dilakukan pada tahun 2011, sedangkan untuk PBB, pengalihan dimungkinkan dilakukan mulai tahun 2010 berdasarkan kesiapan masing-masing daerah. Tenggat waktu yang diberikan kepada daerah untuk mempersiapkan pengalihan PBB tersebut adalah sampai dengan tahun 2014. Di bidang PNBP, kebijakan yang dilakukan untuk mencapai target 2011 adalah (1) optimalisasi lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi, serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA; (2) penyesuaian pay-out ratio dividen dari laba BUMN; (3) penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna memantau perkembangan rugi/laba BUMN; (4) penarikan dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN; (5) intensifikasi dan ekstensifikasi PNBP K/L, antara lain dengan melakukan review jenis dan tarif PNBP K/L; dan (6) perbaikan administrasi pelaporan keuangan K/L.

3.2

Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2005–2009 dan Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2010

Pendapatan negara dan hibah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode 2005–2009. Pertumbuhan rata-rata yang terjadi dalam periode tersebut adalah 14,4 persen, yaitu dari Rp495,2 triliun pada tahun 2005, menjadi Rp848,8 triliun pada tahun 2009. Kondisi perekonomian yang cukup kondusif dalam periode 2005–2009 menjadi faktor utama yang mendorong meningkatnya pendapatan negara khususnya penerimaan dalam negeri, meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di penghujung tahun 2008 sampai dengan 2009. Dalam periode 2005–2009 tersebut, penerimaan dalam negeri meningkat dari Rp493,9 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp847,1 triliun pada tahun 2009. Hal ini berarti terjadi pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Selain faktor kestabilan ekonomi, penerapan berbagai
III-2 Nota Keuangan dan RAPBN 2011

Pendapatan Negara dan Hibah

Bab III

kebijakan di bidang perpajakan dan PNBP juga menjadi salah satu faktor pendukung tingginya realisasi penerimaan dalam negeri. Sementara itu, penerimaan hibah pada periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan rata-rata 6,3 persen, yaitu dari Rp1,3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp1,7 triliun pada tahun 2009. Terus membaiknya kondisi perekonomian pada tahun 2010 menyebabkan Pemerintah optimis dapat mencapai target pendapatan negara dan hibah. Dalam APBN-P tahun 2010, penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp990,5 triliun, atau meningkat 16,9 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Sedangkan hibah diperkirakan mencapai Rp1,9 triliun atau 13,8 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Dengan demikian, dalam APBN-P tahun 2010, pendapatan negara dan hibah ditargetkan mencapai Rp992,4 triliun, atau 16,9 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.1.
TABEL III.1 PERKEMBANGAN PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak II. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2005 Real. 495,2 493,9 347,0 146,9 1,3 2006 Real. 638,0 636,2 409,2 227,0 1,8 2007 Real. 707,8 706,1 491,0 215,1 1,7 2008 Real. 981,6 979,3 658,7 320,6 2,3 2009 Real. 848,8 847,1 619,9 227,2 1,7 2010 APBN-P 992,4 990,5 743,3 247,2 1,9

3.2.1 Penerimaan Dalam Negeri
Dalam periode 2005–2009, penerimaan dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 14,4 persen. Sebagai komponen utama, penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen, sedangkan PNBP tumbuh rata-rata 11,5 persen. Beberapa indikator makroekonomi yang berpengaruh pada meningkatnya penerimaan dalam negeri dalam periode tersebut adalah (1) tren pertumbuhan ekonomi yang meningkat, yaitu dari 5,7 persen pada tahun 2005, menjadi 6,0 persen pada tahun 2008, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2009; (2) perkembangan ICP yang cenderung meningkat dari USD51,8 per barel pada tahun 2005 hingga mencapai USD96,8 per barel pada tahun 2008, dan USD61,6 per barel pada tahun 2009; dan (3) fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat mengalami depresiasi pada periode tahun 2005–2009. Selain itu, keberhasilan penerapan kebijakan perpajakan dan PNBP juga turut mendorong peningkatan penerimaan dalam negeri. Memasuki tahun 2010, kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan mampu mencapai pertumbuhan 5,8 persen, lebih tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2009 yang hanya mencapai 4,5 persen. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan juga didukung oleh tingginya perkiraan ICP yang mencapai USD80 per barel, penerimaan dalam negeri ditargetkan sebesar Rp990,5 triliun dalam APBN-P tahun 2010,

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

III-3

Bab III

Pendapatan Negara dan Hibah

terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp743,3 triliun dan PNBP Rp247,2 triliun. Jumlah tersebut berarti 16,9 persen lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya. Perkembangan penerimaan dalam negeri pada periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.2.
TABEL III.2 PERKEMBANGAN PENERIMAAN DALAM NEGERI, 2005 – 2010 (triliun rupiah)
Uraian Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Perpajakan a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak Bumi dan Bangunan iv. BPHTB v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Bea keluar 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak a. Penerimaan SDA i. Migas ii. Non Migas b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya d. Pendapatan BLU
Sumber : Kementerian Keuangan

2005 Real. 493,9 347,0 331,8 175,5 35,1 140,4 101,3 16,2 3,4 33,3 2,1 15,2 14,9 0,3 146,9 110,5 103,8 6,7 12,8 23,6 0,0

2006 Real. 636,2 409,2 396,0 208,8 43,2 165,6 123,0 20,9 3,2 37,8 2,3 13,2 12,1 1,1 227,0 167,5 158,1 9,4 23,0 36,5 0,0

2007 Real. 706,1 491,0 470,1 238,4 44,0 194,4 154,5 23,7 6,0 44,7 2,7 20,9 16,7 4,2 215,1 132,9 124,8 8,1 23,2 56,9 2,1

2008 Real. 979,3 658,7 622,4 327,5 77,0 250,5 209,6 25,4 5,6 51,3 3,0 36,3 22,8 13,6 320,6 224,5 211,6 12,8 29,1 63,3 3,7

2009 Real. 847,1 619,9 601,3 317,6 50,0 267,6 193,1 24,3 6,5 56,7 3,1 18,7 18,1 0,6 227,2 139,0 125,8 13,2 26,0 53,8 8,4

2010 APBN-P 990,5 743,3 720,8 362,2 55,4 306,8 263,0 25,3 7,2 59,3 3,8 22,6 17,1 5,5 247,2 164,7 151,7 13,0 29,5 43,5 9,5

3.2.1.1 Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan mengalami pertumbuhan rata-rata 15,6 persen dalam periode 2005–2009. Beberapa faktor utama yang mendukung meningkatnya penerimaan perpajakan adalah terciptanya kondisi fundamental makroekonomi yang cukup stabil dan pelaksanaan kebijakan modernisasi perpajakan, kepabeanan dan cukai. Dilihat dari sumbernya, penerimaan perpajakan dapat dikategorikan ke dalam penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. Penerimaan pajak dalam negeri terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah (PPN dan PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), cukai dan pajak lainnya, sedangkan pajak perdagangan internasional terdiri atas bea masuk dan bea keluar. Dalam periode 2005–2009, penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan rata-rata 16,0 persen, sedangkan pajak perdagangan internasional tumbuh rata-rata 5,2 persen. Selanjutnya, penerimaan perpajakan mampu memberikan kontribusi yang dominan terhadap penerimaan dalam negeri. Dalam tahun 2005, kontribusi penerimaan perpajakan adalah 70,3 persen menjadi 64,3 persen pada tahun 2006, kemudian 69,5 persen pada tahun 2007 menjadi 67,3 persen pada tahun 2008, dan selanjutnya menjadi 73,2 persen pada tahun 2009. Semakin tingginya kontribusi penerimaan perpajakan tersebut menunjukkan bahwa peranan penerimaan perpajakan menjadi sangat strategis sebagai sumber pendanaan

III-4

Nota Keuangan dan RAPBN 2011

dan perumahan. Program utama dari kegiatan ini dikemas dalam Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). profiling. standar. Reformasi di bidang peraturan dan perundang-undangan dilakukan melalui amendemen tiga undang-undang perpajakan. Reformasi di bidang pengawasan dan penggalian potensi dilakukan melalui pembangunan suatu metode pengawasan dan penggalian potensi penerimaan pajak yang terstruktur. yaitu: (1) pendekatan berbasis pemberi kerja dan bendahara Pemerintah dengan sasaran karyawan yang meliputi pemegang saham atau pemilik perusahaan. Pemerintah telah dan akan tetap melanjutkan kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan. dan (3) pendekatan berbasis profesi dengan sasaran dokter. Dalam rangka meningkatkan kepatuhan membayar pajak (tax compliance). pekerja serta pegawai negeri sipil dan pejabat negara. dan dapat dipertanggungjawabkan. program ekstensifikasi pada tahun 2010 dilakukan melalui tiga pendekatan utama. Metode tersebut dikembangkan sejak awal tahun 2007 mencakup kegiatan mapping. Pemerintah mencanangkan program sunset policy pada tahun 2008. pemberian diskon atas tarif PPh badan 5 persen lebih rendah dari tarif normal tetap diberikan kepada perusahaan-perusahaan masuk bursa yang minimal 40 persen sahamnya dikuasai oleh publik. Selain itu. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Sejauh ini kegiatan ekstensifikasi perpajakan dinilai cukup berhasil. staf. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2008. Sementara itu. artis. dan diperpanjang hingga Februari 2009. dalam rangka mengoptimalkan penerimaan negara. yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak. dan (3) Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah. akuntan. terukur. dan benchmarking. Selain bertujuan meningkatkan tax compliance. (2) pendekatan berbasis properti dengan sasaran orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau memiliki tempat usaha di pusat perdagangan dan/atau pertokoan. direksi. tarif PPh badan mengalami penurunan dari 28 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada tahun 2010. pengacara.5 juta pada tahun 2005 menjadi 14. dan melaksanakan good governance melalui peningkatan transparansi dan akuntabilitas Direktorat Jenderal Pajak.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan program intensifikasi atau penggalian potensi perpajakan dari wajib pajak yang telah terdaftar dilaksanakan melalui III-6 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan benchmarking. profiling. sistematis. dan profesi lainnya. notaris. komisaris. yaitu: (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-undang.1 juta pada April 2010. program ini juga dimaksudkan untuk mengakomodasi hasil kegiatan penggalian potensi melalui kegiatan mapping. Program sunset policy ini mengatur tentang penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah wajib pajak dari 3.

mesin sinar X. yang telah dikembangkan sejak tahun 2007. dan penyidikan. (2) pemberian fasilitas/kemudahan dalam pelayanan kepabeanan (Pre Entry Classification. Di bidang kepabeanan dan cukai. dan mesin sinar gamma. Pemerintah telah dan akan terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan penerimaan. peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. maupun multilateral. Pemerintah meningkatkan fungsi pengawasan dan audit. profiling. (3) monitoring pelaksanaan audit. untuk menjamin penegakan hukum (law enforcement) di bidang kepabeanan dan cukai. (9) penegakan hukum di bidang kepabeanan melalui risk management. (2) penyusunan database profil dan objek audit. (3) melaksanakan pemberantasan penggunaan pita cukai palsu. Peningkatan pengawasan dilakukan antara lain dengan (1) mengembangkan manajemen risiko kepabeanan dan cukai. (3) pemberian fasilitas terhadap industri substitusi impor dan industri orientasi ekspor. dan targeting. dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Customs Advice. regional. (4) pembentukan kantor pelayanan utama dan KPPBC Madya. serta melakukan program intensifikasi melalui peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi. sistematis. serta (4) penyempurnaan aplikasi sistem audit. Selanjutnya. (2) membangun sistem dokumentasi pelanggaran kepabeanan dan cukai. dan (5) melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan fasilitas kepabeanan dan cukai. langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam upaya meningkatkan penerimaan antara lain (1) pengembangan otomasi sistem pelayanan kepabeanan dan cukai. dan saling terkait. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan suatu metode penggalian potensi dan pengawasan penerimaan pajak yang terstruktur. baik bilateral.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III (1) kegiatan mapping dan benchmarking. Kegiatan law enforcement dilakukan melalui penagihan. Pemerintah akan terus melanjutkan program reformasi melalui pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya. Sedangkan peningkatan audit dilakukan antara lain melalui (1) pembuatan dokumentasi sistem informasi perencanaan audit. (4) melaksanakan pemberantasan peredaran rokok ilegal. Dalam hal ini. (4) pemantapan profil 500 wajib pajak KPP Pratama. (3) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Large Tax Office (LTO) dan Khusus. (2) pemantapan profil seluruh wajib pajak KPP Madya. risk assesment. dan (7) pengawasan intensif wajib pajak orang pribadi potensial. (7) penerapan National Single Windows (NSW) dan portal Indonesia National Single Windows (INSW). Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-7 . (5) pembuatan profil high rise building. (8) peningkatan pelayanan kepabeanan melalui jalur mitra utama (MITA) dan jalur prioritas. terukur. pemeriksaan. (6) mendukung kerjasama perdagangan internasional. dan Pre-Notification). Pemerintah melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak. dan optimalisasi sarana operasi seperti kapal patroli. Untuk menindaklanjuti program sunset policy. dan (10) meningkatkan kepatuhan pengguna jasa kepabeanan dalam memenuhi kewajibannya. Khusus di bidang kepabeanan. (5) peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas barang impor dan ekspor. (6) pengawasan intensif dari PPh Pasal 25 retailer. menjaga hubungan dengan wajib pajak (maintenance). Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dengan membangun komunikasi kepada setiap wajib pajak melalui pendidikan perpajakan (tax education). tanpa mengesampingkan fungsi utama kepabeanan cukai sebagai regulator dalam rangka melancarkan arus barang dari transaksi perdagangan internasional (trade facilitation) dan melindungi masyarakat dari ekses negatif dari masuknya barang-barang pembatasan dan larangan serta narkotika (community protection).

8 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp601.9 20 1. penerimaan pajak dalam negeri mengalami pertumbuhan ratarata 16. (3) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai. yaitu sigaret kretek mesin (SKM). Pemerintah juga melakukan peningkatan pengawasan.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110. Pertumbuhan dan kontribusi rata-rata dari masingmasing jenis pajak dalam kategori pajak dalam negeri dapat dilihat pada Grafik III. antara lain melalui: (1) peningkatan operasi pasar.0 53. Selanjutnya pada tahun 2010.3 triliun pada tahun 2009. serta (4) peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) rata-rata sebesar 228.8 2. (2) perubahan ketentuan mengenai perizinan.7 10. (3) peningkatan security features pita cukai.1 Pajak Dalam Negeri Dalam periode 2005–2009.4 40 22. Selain itu. dan (4) peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor. beberapa upaya yang dilakukan Pemerintah dalam rangka optimalisasi penerimaan cukai antara lain (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau berkisar antara 9.3 persen. cukai sebagai penerimaan ketiga terbesar setelah PPh serta PPN dan PPnBM mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 14.6 21.1. (4) peningkatan pengawasan di bidang cukai. sesuai dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.0 17. Upaya yang dilakukan antara lain melalui (1) penyempurnaan ketentuan mengenai perizinan di bidang cukai. penyempurnaan terhadap peraturan-peraturan pelaksanaan maupun sistem prosedur di bidang cukai dilakukan secara bertahap sehingga dapat memberikan perlindungan atas kesehatan masyarakat dengan tetap mempertimbangkan faktor daya serap tenaga kerja. Sementara itu.0 persen (y-o-y) 60 -7. yaitu dari Rp331. 2005 – 2009 80 75.0 13.0 persen sesuai dengan jenis hasil tembakau.9 35.8 -1. (2) pemeriksaan lokasi pabrik.2 45.2 PPh Migas -35.4 17.4 28.5 persen.9 0 (20) (40) 18.6 10. Sedangkan kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah PPN dan PPnBM serta cukai.7 14.1 persen dan 9.9 -4.6 persen sampai dengan 21.7 25.0 18.2 PERTUMBUHAN PENERIMAAN PERPAJAKAN DALAM NEGERI.8 28.7 87.3 -6. (3) peningkatan pelayanan di bidang cukai. dan (7) peningkatan security feature pita cukai untuk menghilangkan praktek pemalsuan cukai.2 dan Grafik III. GRAFIK III.4 persen. 3. sigaret kretek tangan (SKT).6 13.2. (2) penyederhanaan golongan pengusaha dan tarif cukai. dan sigaret putih mesin (SPM). (6) penerapan kode etik (reward and punishment).0 persen.8 6. Pertumbuhan rata-rata tertinggi terjadi pada pos penerimaan PPh nonmigas serta PPN dan PPnBM yang mencapai 17. Kontributor utama dalam penerimaan pajak dalam negeri adalah PPh yang memberikan kontribusi rata-rata 52.2 -7.1. (5) peningkatan pemahaman ketentuan di bidang cukai (sosialisasi). yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata 32.6 19.0 PPh Non Migas PPN PBB BPHTB Cukai Pajak Lainnya Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 III-8 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 14.5 persen untuk MMEA impor.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Khusus di bidang cukai.5 11.6 16.7 9.5 37.3.3 persen.7 6.

8 triliun (84. terjadi peningkatan sebesar Rp44.2 triliun. GRAFIK III. meskipun lifting mengalami fluktuasi. Pajak Penghasilan (PPh) Pajak penghasilan (PPh) mengalami pertumbuhan rata-rata 16.6% 9. khususnya penerimaan PPN dan PPnBM impor. Dalam APBN-P tahun 2010. Dilihat dari komposisinya.7 persen.9 persen. Perkembangan realisasi penerimaan PPh migas yang cenderung meningkat tersebut sesuai dengan perkembangan ICP yang menunjukkan adanya tren kenaikan. realisasi penerimaan PPh migas diperkirakan mencapai Rp55.3 persen. 2005 – 2009 Pajak Lainnya Cukai negeri ditargetkan mencapai 0. nominal penerimaan PPh meningkat dari Rp175. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp317. Apabila 1.6 triliun atau 14. PPh diperkirakan mencapai Rp362. relatif tingginya ICP yang diperkirakan mencapai USD80 per barel pada tahun 2010 dibandingkan dengan ICP tahun 2009 yang mencapai USD58. yang terdiri atas penerimaan PPh migas Rp55.6 triliun.3 penerimaan pajak dalam KONTRIBUSI RATA-RATA PENERIMAAN PAJAK DALAM NEGERI.7% penerimaan pajak dalam negeri tahun 2009.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Dalam APBN-P tahun 2010.7 persen) dan PPh gas bumi Rp32.5 per barel (Desember−November).2 persen.3 triliun atau 10.3 persen).5 per barel (Desember−November) juga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penerimaan pajak migas.2 persen. penerimaan PPh minyak bumi tumbuh rata-rata 18. sedangkan PPh nonmigas 80.2 persen dan BPHTB yang meningkat 10.1% 32.6 triliun.3% BPHTB PPh Migas Rp720.6 persen dan PPh gas bumi tumbuh rata-rata 5. Penerimaan PPh migas selama tahun 2005−2009 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9. Penyebab utama peningkatan penerimaan PPh migas tersebut adalah lebih tingginya ICP pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai USD80 per barel dibandingkan dengan ICP pada tahun 2009 yang mencapai USD58.7 persen.8 triliun (59.5 triliun menjadi Rp317. Dalam periode tersebut. dan lebih tingginya lifting minyak Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-9 .3 persen) dan PPh nonmigas Rp306.4 triliun (15. terjadi peningkatan sebesar Rp5.7 persen.4 triliun. Membaiknya kondisi perekonomian baik secara global maupun domestik yang berimbas pada meningkatnya volume perdagangan dunia menjadi faktor utama meningkatnya penerimaan pajak dalam negeri.6 triliun (40.0 persen. target tersebut mengalami PPh Non-Migas peningkatan sebesar Rp119. penerimaan PPh migas memberikan kontribusi rata-rata sebesar 19.8 triliun.0 persen dalam periode 2005−2009. Peningkatan terjadi pada seluruh pos penerimaan dalam negeri. dengan kontribusi dari PPh minyak bumi sebesar Rp22. terutama PPN dan PPnBM yang meningkat Sumber : Kementerian Keuangan 36.3% dibandingkan dengan realisasi PBB 4. Dilihat dari komponen pendukungnya.5 PPN 42. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.1% triliun atau 19. Penerimaan PPh migas tahun 2009−2010 dapat dilihat pada Grafik III. Selain itu.0% 10.4. Dalam APBN-P tahun 2010.7 persen).

penerimaan PPh GRAFIK III. GRAFIK III.0 Real.6 0.7 20.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah bumi tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 965 MBCD dibandingkan dengan lifting pada tahun 2009 yang mencapai 944 MBCD.8 perbaikan administrasi perpajakan dan 170.8 triliun.4 0.4 73.0 30.7 59.5.0 60.0 2007 % thd Total 37. peningkatan penerimaan 61.0 76.8 0. 14.4 44. 9.7 0.0 Real. PPh pasal 25/29 badan Lainnya PPh Final dan Fiskal masih merupakan kontributor utama bagi PPh Pasal 21 PPh Pasal 25/29 Badan penerimaan PPh nonmigas dengan kontribusi sebesar 41.3 PPh nonmigas terutama disebabkan oleh upaya 220.0 100. Hal ini berarti terjadi peningkatan 14.4 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp267.0 100. Perkembangan realisasi PPh migas 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.3.0 55.0 62.3 0.4. 16. Perkembangan penerimaan PPh nonmigas per pasal dalam periode 2005–2010 dapat dilihat padaTabel III.5 0.7 63.6 32.0 10.0 Real.8 18.7 28.0 42.5 nonmigas diperkirakan mencapai Rp306.4 PENERIMAAN PPh MIGAS.0 100.0 0.1 dilakukannya extra effort sebagaimana yang 120.5 61.8 0.0 telah dijelaskan sebelumnya. 2009 − 2010 triliun Rp 70. Meskipun tarif PPh pasal 25/29 badan mengalami penurunan dari 28 70.0 bagi perusahaan masuk bursa yang 40 persen sahamnya dikuasai publik. 29.5 Selain faktor ekonomi.0 tahun 2010.3 126.3 25.3 27.6 triliun pada tahun 2009. III-10 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 % thd Total 26.0 40.0 2010 APBN-P 22.0 50.5 persen.4 22. PPh pasal 25/29 badan tahun 2010 meningkat 5.1 33.0 persen pada tahun 2009 menjadi 25 persen pada 120.0 77.6 47.4 31.0 persen.0 66.0 100.3 0.0 100.5 APBN-P 2010 TABEL III.0 0.3 persen.0 2009 % thd Total 36.0 43.0 Sumber : Kementerian Keuangan Dalam APBN-P tahun 2010.7 persen bila 2009 − 2010 dibandingkan dengan realisasi tahun triliun Rp sebelumnya. Dalam periode 2005−2009. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PPh Minyak Bumi PPh Gas Bumi PPh Migas Lainnya Total Real.0 100. Penerimaan PPh nonmigas tahun 320. dan juga pemberian diskon 5 persen 2009 APBN-P 2010 -30.7 persen dan memberikan kontribusi rata-rata 41.0 2009−2010 dapat dilihat dalam Grafik III.0 20.0 2009 Sumber : Kementerian Keuangan PPh Gas Alam PPh Minyak Bumi 31.2 2006 % thd Total 34.0 2008 % thd Total 38.3 0.6 52.0 35. realisasi penerimaan PPh nonmigas mengalami pertumbuhan ratarata 17.0 Real. yaitu dari Rp140. PENERIMAAN PPh NONMIGAS.0 50. 18.4 % thd Total 40. 270.0 61.3 PERKEMBANGAN PPh MIGAS.0 1. Bila dibandingkan dengan Sumber : Kementerian Keuangan realisasi pada tahun 2009.7 32.0 persen dalam periode tersebut.5 0. Pertumbuhan tersebut terutama didukung dari penerimaan PPh pasal 25/29 badan yang tumbuh rata-rata 23.

0 2010 APBN-P 61.5 11.8 % thd Total 20.7 2.2 1.0 3.7 44.0 100.1 35.02 267.0 12.5.3 8.9 16. Real.1 10.0 7.8 0.4 7.3 2.5 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL. Hotel. dan jasa perusahaan.7 2.1 100.4 2.1 0.3 7.8 8.9 persen.8 2006 Real.6 0. real estate.6 106.1 0.4 41.1 34. serta restitusi.0 0.0 4.7 23.0 PPh Pasal 21 PPh Pasal 22 PPh Pasal 22 Impor PPh Pasal 23 PPh Pasal 25/29 Pribadi PPh Pasal 25/29 Badan PPh Pasal 26 PPh Final dan Fiskal PPh Non Migas Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Selama periode 2005–2009. Gas. Real.0 2006 % thd Total 2.1 0.5 17.7 0.8 11.9 25.2 0.2 6.6 0. 9.4 24. Sementara itu.8 14.9 17.02 249.0 13.9 persen sehingga mencapai Rp61.2 0.4 5.9 12.3 0.6 80.1 1.5 14.3 77.6 5.4 8.3 4.02 100.7 3.0 2009 Real.8 67.0 2007 Real.5 17.3 35.2 2.1 0.5 7.0 4.5 12.4 61.5 5.8 12.1 2.0 8.6 21.8 6.2 14.6 0. real estate.5 9. untuk sektor industri pengolahan 16.6 51.1 0.9 20.1 30.6 9.3 4.4 23.6 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN. real estate.0 9.01 194.7 5. Real Estate.7 0.4 6.2 24.8 triliun atau 29.5 56.6 7.3 7.4 42.0 1.2 3.4 243.6 8.2 6.6 5.8 26.1 39. atau menurun jika dibandingkan dengan rata-rata suku bunga pada semester I tahun 2009 sebesar 7.1 122. Tahun 2010 sektor keuangan. Total 9.1 8.7 9.9 4. 39.9 100.4 14.3 1.04 165.1 145.8 0.0 2010 Perk.1 4.1 10.1 -0.6 % thd Total 19. dan jasa perusahaan adalah 17.0 persen.1 11.7 4.9 persen.0 2009 % thd Total 4.9 0.0 3.6 17.8 5.1 13.8 0. meningkat sebesar Rp17.01 100.9 21.1 3. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.4 2.3 0.8 65.6 triliun.2 16.4 2.7 2.9 5.3 45.4 33.4 1.0 10.2 5.1 33.8 7.0 100.1 0.3 5.2 0.6 0.0 3. Perkembangan PPh nonmigas sektoral 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III.3 2.2 5.8 16.4 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS.1 23.6 5.9 27.3 7.0 10.1 27.1 16.5 persen.7 0.0 2007 % thd Total 2. Rata-rata suku bunga untuk semester I tahun 2010 adalah 6.3 54.5 0.1 persen dan 9.5 8.1 15.1 100.7 6. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia yang mengakibatkan net interest margin (NIM) bank mengalami penurunan.5 1.6 3.7 27.6 persen.7 5.9 1.1 6.2 30. pada tahun 2010.1 60.6 % thd Total 19.2 41.0 Real.00 306.4 258.3 25.0 8.8 triliun.4 6.3 8. Kenaikan ini terutama didukung oleh pertumbuhan sektor industri Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-11 .3 126.04 175.8 41. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.0 triliun atau 8.8 10.3 2.6 4.5 1.4 4. TABEL III.3 6. serta sektor perdagangan.3 18. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. 51.0 10. hotel dan restoran sebesar 25.4 73.9 9.5 11.9 2.6 15.3 persen.9 -0.0 1.3 62.4 % thd Total 20.1 30.1 15.4 0. Real. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Pertanian. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp77. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total 2005 % thd Total 2.0 16.6 0.3 10.1 9.75 persen.1 9.5 13.7 14. sektor industri pengolahan.6 7. Pertumbuhan rata-rata dalam kurun waktu 2005–2009 untuk sektor keuangan. realisasi penerimaan PPh nonmigas didominasi oleh sektor keuangan.6 2.5 13.6 20.5 0.4 19.4 9.3 20. % thd Real. 25.3 3.7 9.5 0. 31.3 29.4 14.8 % thd Total 20.1 24.0 2.0 100.6 7.8 5.3 10.1 145. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.3 % thd Total 26.7 0.9 3.0 2008 Real.5 24.5 229. dan jasa perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar Rp6.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.3 1.8 0.6 8. hotel dan restoran sebagai kontributor utama dengan rata-rata kontribusi masing-masing sebesar 28.7 1.3 120. transaksi yang offline .0 100.2 179. dan sektor perdagangan.7 31.7 5. Real.7 22.9 42.7 persen bila dibandingkan dengan nilainya pada tahun 2009.0 2008 % thd Total 4.0 100. 2. 52.8 2.1 4.0 6.1 25.9 3. Peternakan.0 25.8 7.7 7.3 7.7 2.3 2.1 18. Kehutanan.1 6.8 13.6 6.9 11.01 100.

yang berimbas pada meningkatnya kegiatan ekspor-impor Indonesia.9 2. PPN PPN DN PPN Impor PPN Lainnya b. Sedangkan sektor perdagangan.4 0.6 3.0 253.7 triliun (37.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM.4 0.8 44.9 2.6 3. Perkembangan PPN dan PPnBM dalam periode 2005–2010 dapat dilihat dalam Tabel III. penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri mengalami pertumbuhan sebesar 28. Di sisi lain. yang terdiri dari atas PPN dan PPnBM dalam negeri Rp163.5 4.0 96.9 0. TABEL III.0 0. realisasi konsumsi Pemerintah cukup tinggi sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan Pemilu.0 184.01 100.2 4.9 0. jauh lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif.002 100.8 35.8 43. 2009 % thd Total 2010 APBN-P % thd Total a. sedangkan PPN dan PPnBM impor memberikan kontribusi rata-rata 38.6.0 0.3 7.8 persen.1 95.9 0.5 persen dibandingkan tahun 2009 sehingga mencapai Rp31.1 5.8 persen dalam periode tersebut.2 1. Peningkatan terutama terjadi pada PPN dan PPnBM impor dengan pertumbuhan 50.9 triliun atau 18.9 triliun atau 36.1 4.3 53.4 156.1 1.0 1.3 7.0 147.015 193.5 1. Perkembangan PPN dan PPnBM serta nilai impor dalam periode 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.9 0.5 6. Dalam APBN-P tahun 2010.01 100.1 60.7 2. hotel dan restoran diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar Rp4.0 48.7.1 44.012 209.6 3.7 81.2 3.4 0.1 persen) dan PPN dan PPnBM impor Rp99.4 63.021 154. Secara umum.5 55. PPN dan PPnBM Penerimaaan PPN dan PPnBM selama periode 2005–2009 mengalami pertumbuhan ratarata 17.8 2. penerimaan PPN dan PPnBM ditargetkan sebesar Rp263.3 11. peningkatan PPN dan PPnBM impor tersebut sejalan dengan meningkatnya volume perdagangan dunia.5 3.4 93.6 2.7 0.8 0.2 persen.8 persen (y-o-y).2 116.4 60.0 triliun (63.1 4.3 8.5 1. PPnBM PPnBM DN PPnBM Impor PPnBM Lainnya Total (a+b) 94.4 32.0 198. Salah satu faktor yang mengakibatkan melemahnya pertumbuhan PPN dan PPnBM dalam negeri ini adalah rendahnya konsumsi Pemerintah yang pada kuartal I 2010 yang mengalami penurunan sebesar 8.0 118.6 0.0 triliun.3 34.1 persen dari total penerimaan PPN dan PPnBM.1 3.3 4. lebih rendah dari pertumbuhan tahun sebelumnya.8 3. Pada periode yang sama tahun sebelumnya.5 triliun.4 62.7 0. Secara komposisi.1 0.7 0.01 263.4 96. target pada tahun 2010 tersebut meningkat Rp69.5 persen. III-12 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .9 6.004 100.8 persen.4 0.1 0.1 2.0 100. 2005 % thd Total Real.8 0.01 100.4 persen.8 48.002 123.3 92.2 74.0 101.2 4. Dari sisi besarnya kontribusi. 2007 % thd Total Real.5 0.6 1. 2008 % thd Total Real.6 94.3 0.3 4.1 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pengolahan. lebih tinggi bila dibandingkan dengan PPN dan PPnBM impor yang tumbuh ratarata 8.9 persen. PPN dan PPnBM dalam negeri tumbuh rata-rata 23. 2006 % thd Total Real.9 persen).9 0. 2005 − 2010 (triliun rupiah) Uraian Real.0 0.4 59.4 0.5 36.5 95.3 9.0 96.0 Sumber : Kementerian Keuangan Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.7 38.5 7.3 7.6 dan penerimaan PPN dan PPnBM tahun 2010 dapat dilihat pada Grafik III.2 120. PPN dan PPnBM dalam negeri mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 61.

hotel dan restoran. Pertumbuhan rata-rata dari ketiga sektor tersebut adalah sebesar 16.5 184. Perkembangan penerimaan PPN DN secara sektoral dapat dilihat secara rinci pada Tabel III. penerimaan PPN impor didukung oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan. disusul kemudian oleh sektor perdagangan. hotel. real estate. 23. 2005 – 2009 160 140 triliun Rp PPN & PPnBM DN PPN & PPnBM Impor Nilai Impor 160000 140000 triliun Rp GRAFIK III. hotel. dan jasa perusahaan yang masingmasing memberikan kontribusi rata-rata 19.0 persen. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-13 . dengan kontribusi masing-masing mencapai 44.0 persen dan 7. Sektor industri pengolahan naik Rp17. 18.1 persen.5 persen.8 persen dan 6.4 persen.7. dan negatif 48.8 persen.8 persen.3 persen. dengan rata-rata 38. Dalam periode 2005–2009.8 persen dengan pertumbuhan rata-rata masing-masing 28. tiga sektor tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan. hotel dan restoran serta sektor pengangkutan dan komunikasi. serta sektor pertambangan migas. diperkirakan sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 51. Kenaikan ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dalam negeri. Dalam periode 2005–2009. Dalam tahun 2010. sektor perdagangan. dan jasa perusahaan dengan kontribusi sebesar 5. dan 11. Tiga sektor utama yang memberikan kontribusi terbesar terhadap penerimaan PPN DN adalah sektor industri pengolahan.2 persen.7 persen.8 persen. sektor perdagangan. dan restoran.4 persen dan 8.2 persen. real estate.5 270 250 230 210 190 170 150 2009 Sumber: Kementerian Keuangan APBN-P 2010 9. sektor perdagangan. 22. Dalam periode 2005–2009.1 persen.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III GRAFIK III. sektor industri pengolahan mampu memberikan kontribusi terbesar. dan 19. serta sektor pertambangan migas yang masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 50.6 persen. hotel dan restoran naik Rp4.1 triliun atau 34. sebagian besar penerimaan PPN DN diperkirakan masih berasal dari sektor industri pengolahan.6 persen.5 triliun atau 19. dan restoran dengan kontribusi sebesar 22. Sebagian besar dari realisasi PPN merupakan PPN DN.6 persen. dan sektor pengangkutan dan komunikasi naik Rp2. 2009 − 2010 PPN PPnBM 9.1 persen. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.7 persen. hotel dan restoran. dan sektor keuangan. realisasi PPN secara sektoral dapat digolongkan ke dalam 12 sektor.9 persen.2 120 100 80 60 40 20 0 juta US$ 120000 100000 80000 60000 40000 2005 2006 2007 2008 2009 253.6 PERKEMBANGAN PPN DAN PPnBM.7 triliun atau 27. sektor perdagangan. serta sektor keuangan. 17. Kontribusi rata-rata dari ketiga sektor tersebut masing-masing sebesar 31. Dalam tahun 2010. Dua kontributor utama lainnya adalah sektor perdagangan.8 persen. PPN DN mampu memberikan kontribusi rata-rata sebesar 62.4 Sumber: Kementerian Keuangan Secara umum.1 persen.1 persen.7 PENERIMAAN PPN DAN PPnBM. 22.

0 54.2 0.4 8.3 0.0 29.0 26.1 28.1 10.1 2.0 0.7 0.2 0.8 1.7 8.1 33.3 persen dan 54. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.5 0.0 100.6 0.1 11. Rata-rata kontribusi PBB terhadap penerimaan pajak dalam negeri adalah sebesar 4.3 0.1 28.5 0.6 11.8 9.6 10.9 % thd Total 2.5 79.5 12.1 25. sedangkan BPHTB sebesar 1.1 23.4 12.0 18.5 0.6 1.2 0.3 0. 2.1 27.2 0.0 95.7 12.9 0.3 2.3 2.0 0.9 8. transaksi yang offline.6 5.1 37.1 20.8 0. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2006 Real.3 1.0 17.2 1.7 persen.0 2007 Real.0 12.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.3 1.8 7. Apabila digabungkan dengan penerimaan mata uang asing terdapat pertumbuhan positif sebesar 69.8 0.8 8.7 100.6 0.4 0.0 59.1 28.0 63. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.4 0.5 0.8 3.5 11.0 45.8 8.2 1.4 4.3 1.3 0.1 9.2 0.1 10.8 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.1 1. Kehutanan.8 100.2 0.0 14.9 0.4 3.2 0. peningkatan penerimaan di kedua sektor tersebut didukung oleh meningkatnya kinerja impor.8 2.7 0. Pertumbuhan negatif penerimaan sektor pertambangan migas menurut data modul penerimaan negara (MPN) disebabkan karena penerimaan tercatat hanya dalam bentuk rupiah. serta sektor pertambangan migas.0 14. Real Estate.4 1.5 125.4 0. Real Estate.1 0.1 3.4 0.6 9.2 0.1 63.0 100. sektor industri pengolahan diperkirakan akan mencapai Rp59.8 2.9 100.0 18.0 0.8 0.1 28.0 Real.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L.4 0.1 0.5 0.2 0.0 3.0 1.3 % thd Total 0.0 2010 Perk.9 2.3 0. Di sisi lain.7 2.9 0.2 1.3 1. Peternakan.8 % thd Total 2. hotel. 0. III-14 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .8 18. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.2 0. 1.0 6.6 6. Gas.3 % thd Total 2.7 0.4 0.4 0.4 0.6 7.0 10. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Real.3 8.3 20.1 44.7 7.3 100.0 Real.2 1.0 2010 % thd Total 0. 3.9 112.2 % thd Total 0.6 persen dan 17.8 0.9 0.1 persen.1 50.2 0.0 100. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.1 0.9 17.1 0.2 21.2 12.1 18. Hotel.9 13.3 0.5 3.3 20.1 0. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.3 0.6 6.1 22.0 7.6 1.8 7.0 2006 Real.3 0.9 1.6 24.9 0.0 82.1 0.6 % thd Total 2.2 7.2 10.4 0. 1.1 1.0 2009 Real. hotel dan restoran tersebut diperkirakan akan mengalami kenaikan masing-masing 47.1 39.6 0. 0. Secara umum. Peternakan.5 3.0 2008 Real 0.4 0.4 1.4 0.2 67.5 8.9 0.3 0.8.7 1.9 100. 0.2 0.1 11.4 4.1 0.2 1.9 0.1 17.1 0.2 2.3 1.7 10. Real.9 0. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.8 2.3 5.2 triliun.9 21.9 0.6 2.0 40.8 0.7 19.4 0.6 8.0 2.1 47.7 2.1 32.4 1.7 % thd Total 2.2 22.0 0.9 18.2 0.2 0.3 0.8 16.0 100.2 1.1 0.0 2007 % thd Total 0. 3.6 0. 2005 − 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian. transaksi yang offline .3 0. Gas.2 0.0 Perk.3 1. dan restoran diperkirakan mencapai Rp28.8 5.6 1.4 2.1 45.7 15.2 0.9 23.1 22. Dengan demikian.4 5.5 0.9 1.2 0.3 2.5 4.3 49.2 1.4 9.3 0. PPN impor diperkirakan akan tetap didukung oleh sektor industri pengolahan.7 0.0 2008 Real. penerimaan ini belum termasuk penerimaan dalam bentuk mata uang asing.6 % thd Total 0.2 100.0 100.9 12.0 8. 0.2 persen dalam periode 2005–2009.4 2. Hotel.6 2.2 0. Sumber : Kementerian Keuangan PBB dan BPHTB Realisasi PBB dan BPHTB masing-masing mengalami pertumbuhan rata-rata 10.9 28.1 7.9 4.2 0.1 0.0 % thd Total 0. hotel.3 10.1 1.9 100.7 7.0 100.2 17.1 19.5 55.1 1.6 triliun pada akhir tahun 2010. dan restitusi.5 1.5 0.5 1.2 0.5 12.0 1. TABEL III. sektor pertambangan migas diperkirakan akan mengalami penurunan sehingga mencapai Rp0.5 28.8 16.0 0. 3.1 0.9 0.0 1.0 2009 Real.0 42.8 0.3 152.0 0.0 persen.6 2.2 2. Pada tahun 2010.0 0. dan restitusi.1 48.0 0.8 % thd Total 2.7 1.3 23. dan restoran. sektor perdagangan. Perkembangan penerimaan PPN impor secara sektoral tahun 2005–2010 dapat dilihat secara rinci pada Tabel III.5 9.8 0.8 6.4 23. Kehutanan.1 persen. 0. Real.2 0.5 0.1 0.2 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Pertanian.1 1.7 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL.0 62.2 triliun dan sektor perdagangan.

Persediaan yang tersisa pada saat pembubaran perusahaan Terbatas pada aktiva yang PPN pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan.1 AMENDEMEN UNDANG-UNDANG PPN DAN PPnBM NOMOR 42 TAHUN 2009 LATAR BELAKANG 1 . 2. Penyerahan dan bukan penyerahan BKP a. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Dikenakan PPN. DASAR HUKUM 1 . 2. memerlukan penyerderhanaan sistem PPN. dan Pasal 23A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menciptakan sistem perpajakan yang lebih sederhana. Undang-undang Nomor 62 Tahun 2009 tentang KUP. Istilah baru dalam objek pajak UU No 12 Tahun 2000 Tidak diatur. Pasal 5 ayat (1). Dikenakan PPN. sebagai bentuk penyederhanaan sistem perpajakan dan kepastian hukum. 3. c. Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-15 . Dalam rangka lebih meningkatkan kepastian hukum dan keadilan. POKOK-POKOK PERUBAHAN UU PPN DAN PPnBM Uraian 1. Tidak dikenakan PPN. TUJUAN 1 . Pembiayaan syariah b. 2. UU No 42 Tahun 2009 Ekspor BKP Tidak Berwujud dan Ekspor JKP dikenakan PPN dengan tarif 0%. Seluruh aktiva. 3. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. penyerahannya dianggap langsung. PPN dikenakan atas penyerahan seluruh aktiva. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. Pasal 20.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. KEBIJAKAN Pemerintah melakukan amendemen atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM jo. Dalam rangka restrukturisasi Dikenakan PPN pada setiap transaksi penyerahan. 2. Perkembangan transaksi bisnis yang mengikuti kemajuan teknologi serta perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa. Penyerahan aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan Dikenakan PPN terbatas pada penyerahan aktiva yang PPN terutang pada saat perolehannya telah dibayar dan dapat dikreditkan. UU Nomor 18 Tahun 2000. kecuali aktiva yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha. syarat semua perusahaan terdaftar sebagai PKP.

11. Tarif PPnBM 9. Mengatur pengembalian pendahuluan bagi PKP Eksportir. (4b)) Seluruh PKP dapat melakukan restitusi pada setiap masa pajak (Psl 9 (4)). b. NonBKP dan nonJKP (pasal 4a) a. telur. telepon umum (koin). Pengembalian Pendahuluan Hanya diberikan kepada WP Patuh dan WP dengan Persyaratan Tertentu. PPN atas penyerahan JKP yang dibatalkan dapat dikurangkan. PM yang boleh dikreditkan oleh PKP yang belum berproduksi Terbatas PM yang berasal dari perolehan dan/atau impor barang modal. susu. 2. penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai. maka PM yang telah dikreditkan dan telah direstitusi harus dibayar kembali. maka PM atas BKP yang dialihkan yang belum dikreditkan dapat dikreditkan oleh PKP. Restitusi untuk Turis Asing Tidak diatur. Kriteria nomor 5 dihapus. Jasa tertentu PPN dikenakan atas jasa: penyediaan parkir. serta mengganggu ketertiban. Barang hasil pertambangan Tidak dikenakan PPN . Kriteria BKP mewah (1) Bukan kebutuhan pokok. penjaminan). Dikenakan PPN. Saat Pengajuan Restitusi (Pasal 9 (4a). d. Jasa keuangan PPN tidak dikenakan atas jasa perbankan. dan buah-buahan UU No 12 Tahun 2000 UU No 42 Tahun 2009 Dibebaskan dari pengenaan PPN. serta jasa boga/catering . (3) Mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. Menghidupkan kembali rumusan Pasal 9 ayat (14) yaitu dalam hal restrukturisasi. Hanya PKP tertentu. III-16 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . sayursayuran. (4) Menunjukkan status. Restitusi Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 75%. a. Seluruh PM (Pasal 9 (2a)). 1. Barang dan jasa yang tidak dikenakan PPN Ditetapkan langsung di dalam penjelasan Undang-Undang (Pasal 4A). Retur atas penyerahan JKP Tidak diatur. pembiayaan. PPN tidak dikenakan atas jasa keuangan (menghimpun. b. (Psl 4A (3) huruf d). kecuali pasir dan kerikil (Psl 4A (2) huruf a). Sebelumnya ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah. c. Berlaku bagi PKP baik orang pribadi maupun badan yang: 1. (5) Merusak kesehatan dan moral masyarakat. Memiliki omzet tertentu. Hanya mengatur untuk PKP yang menggunakan norma PPh. Eksportir BKP tidak berwujud. melalui Peraturan Pemerintah tentang BKP Strategis. Deemed Pajak Masukan 2. (Psl 9 (4a)) 1. Pengkreditan PM atas BKP yang dialihkan dalam rangka restrukturisasi Tidak diatur (pada perubahan kedua UU PPN. Restitusi PKP lain pada akhir tahun buku. PPN atas barang bawaan dapat direstitusi melalui bandara tertentu. menempatkan. Eksportir JKP. dan meminjam dana. Dibebaskan dari pengenaan PPN.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Uraian 4. 8. Menjadi tidak dikenakan PPN. c. ketentuan ini dihapus). Daging. PKP dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. Sanksi bunga 2% per bulan paling lama 24 bulan. 6. 10. (3) Dikonsumsi masyarakat berpenghasilan tinggi. yaitu PKP: (1) Eksportir. PKP bertambah: 1. b. Tarif paling rendah 10% dan Paling Tinggi 200%. Dalam hal PKP gagal berproduksi. bila terbit SKPKB. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 7. 2. yang berisiko rendah. dan PKP yang mendapat fasilitas tidak dipungut PPN. pengiriman uang dengan wesel pos. Deemed PM bagi PKP kegiatan tertentu belum diatur. a. dengan syarat tertentu. b. Pengkreditan Pajak Masukan (PM) a. (2) Dengan penyerahan kepada Pemungut PPN. 5. (4) Belum berproduksi. (2) Dikonsumsi masyarakat tertentu. dan 2. Melakukan kegiatan tertentu.

3 persen. Proyek Pemerintah yang dibiayai hibah LN tidak dipungut PPN dan PPnBM. serta nama dan tanda tangan (Pasal 13 ayat (5)). Tanggung renteng Tidak lagi diatur dalam UU KUP dan UU PPN. meskipun agak melemah pada tahun 2008 dan 2009. antara lain: (1) Identitas pembeli. Sementara itu. Sanksi atas pelanggaran syarat formal FP PKP akan dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memenuhi syarat formal FP. 7. 5. Pembebasan PPN bagi listrik & air. b. Jenis FP c. Syarat formal & material Diatur dalam penjelasan Pasal 13 ayat (5)). • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa. namun FP tidak dapat dikreditkan oleh pembelinya. • Paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan. 2. Memberikan dasar hukum atas pemberian fasilitas sebagai berikut: 1. Hanya ada istilah “Faktur Pajak”. Pemusatan tempat PPN 13. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-17 . Diatur dalam Undang-Undang (Psl 13 (1a)) yaitu saat penyerahan atau pada saat pembayaran. Diatur dalam batang tubuh yaitu Pasal 13 ayat (9). 12. Saat Pembuatan FP Paling lama akhir bulan berikutnya atau pada saat pembayaran (Peraturan Dirjen Pajak). Saat pelaporan PPN Faktor utama yang mendorong terjadinya peningkatan penerimaan PBB adalah naiknya nilai jual objek pajak (NJOP) dari tahun ke tahun dan perluasan objek PBB. kegiatan usaha di bidang properti sempat mengalami booming pada periode 2005–2007. 3. 4. atau (2) Identitas pembeli. • Paling lama pada tanggal 20 setelah berakhirnya Masa Pajak. Diatur kembali dalam UU PPN. dan pertambangan. pemeriksaan dilakukan kemudian dalam hal diperlukan. kehutanan. Bebas PPN bagi penyerahan perak sebagai bahan baku kerajinan. peningkatan penerimaan BPHTB terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah transaksi jual beli tanah dan bangunan. Sebagaimana diketahui. serta nama dan tanda tangan untuk FP yang diterbitkan oleh pedagang eceran. PKP tidak dikenai sanksi apabila menerbitkan FP yang tidak memuat: (1) Identitas pembeli. Menjamin tersedianya angkutan umum di udara. Khusus untuk PBB sektor perkebunan. Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan PBB pertambangan antara lain ICP yang cenderung naik dan jumlah areal pertambangan yang terus bertambah. Impor barang yang Bea Masuknya dibebaskan tidak dipungut PPN dan PPn BM. • Paling lama pada tanggal 15 setelah berakhirnya Masa Pajak. FP tersebut tidak dikategorikan sebagai FP cacat. 15. 14. pemberian ijin berdasarkan pemeriksaan. atau (2) Identitas pembeli. Fasilitas perpajakan (pasal 16b) Belum ada dasar hukum untuk pemberian fasilitas kegiatan-kegiatan tertentu. Fasilitas PPN bagi kegiatan penanggulangan bencana alam nasional. Perwakilan negara asing dibebaskan PPN dan PPnBM. a. UU No 42 Tahun 2009 Cukup dengan pemberitahuan oleh WP. kenaikan NJOP juga dipengaruhi oleh nilai produksinya. Faktor yang mempengaruhi NJOP adalah harga pasar properti baik tanah maupun bangunan. Faktur Pajak (FP) a. 16. Jenis FP yaitu Standar dan Sederhana.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Uraian UU No 12 Tahun 2000 WP mengajukan permohonan. Saat penyetoran PPN b. d. Meningkatnya penerimaan PBB terutama didukung oleh PBB pertambangan yang dalam periode 2005–2009 mengalami peningkatan ratarata sebesar 22. 6.

9.3 0.3 persen.4 % thd Total 5.6 0.6 71.02 25. kontribusi cukai EA mencapai 0. PBB pertambangan ditargetkan sebesar Rp17.7 0. Hal ini sejalan dengan tren penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berpengaruh terhadap turunnya bunga kredit kepemilikan apartemen (KPA) dan kredit kepemilikan rumah (KPR). Perkembangan penerimaan PBB dan BPHTB dalam periode 2005–2010 ditunjukkan dalam Tabel III.00 25. Sementara itu.3 triliun dan Rp7. Dalam tahun 2010.1 10.7 3.9 0.7 0. 5. 1. tumbuh rata-rata sebesar 14.7 18. Secara lebih rinci.3 20.7 2007 % thd Total 7.5 0.6 0. sedangkan BPHTB meningkat sebesar 10. (5) peningkatan pengawasan pengguna fasilitas cukai.3 % thd Total 3.1 0. III-18 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .1 100.4 5. dan cukai lainnya.3 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp56. TABEL III.4 0.0 Real.7 persen.2 67.5 16.0 100. 4.9 0.0 Sumber : Kementerian Keuangan Apabila dibandingkan dengan realisasi 2009. (6) optimalisasi pelayanan cukai dengan memanfaatkan teknologi informasi (sistem aplikasi cukai sentralisasi) dalam kegiatan pelayanan perizinan nomor pokok pengusaha barang kena cukai (NPPBKC).5 100. khususnya pertambangan migas.7 0.8 0.8 persen dengan rata-rata pertumbuhan 14. penerimaan cukai didominasi oleh penerimaan cukai hasil tembakau yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 97. Sementara itu.2 % thd Total 27.2 0.1 triliun.4 50.7 triliun pada tahun 2009. meningkatnya transaksi properti juga dipengaruhi oleh semakin mudahnya persyaratan pemberian kredit. Perkembangan penerimaan cukai hasil tembakau periode 2005–2009 menunjukkan kecenderungan meningkat yang terutama dipengaruhi oleh: (1) kebijakan di bidang tarif cukai dan harga dasar barang kena cukai.2 18.2 triliun pada APBN-P tahun 2010. (3) intensitas penindakan di bidang cukai.9 0.8 21.9 22.0 0.6 0. kenaikan penerimaan BPHTB pada tahun 2010 lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi di sektor properti.1 100.00 24. 1.4 0.9 PERKEMBANGAN PBB. dan cukai MMEA memberikan kontribusi sebesar 1.1 0.8 3.6 persen.9 2006 % thd Total 27.7 2. cukai MMEA.1 100.5 0. Selain itu.4 5.4 24.6 45. (4) peningkatan pengawasan administrasi pembukuan di bidang cukai oleh KPPBC.3 2009 % thd Total 5.3 persen.2 0.5 69.6 2.9 6.7 4. Peningkatan penerimaan PBB tersebut terutama disebabkan oleh tingginya realisasi PBB pertambangan.0 100.3 17.1 persen.03 23.7 persen.5 1.8 0.5 3.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan 16.1 16.0 2010 APBN-P 0. Cukai Penerimaan cukai bersumber dari cukai hasil tembakau.8 0.2 16.5 0.7 67.0 2008 Real.1 1.1 7.9 0. contohnya kebijakan yang terkait dengan penundaan pembayaran cukai.5 20. PBB dalam APBN-P tahun 2010 mengalami peningkatan 4. yaitu dari Rp33.6 19.4 2.0 Real.0 Real.9 0.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 40.5 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian PBB Pedesaan PBB Perkotaan PBB Perkebunan PBB Kehutanan PBB Pertambangan PBB Lainnya Total Real. denda administrasi cukai. penerimaan PBB dan BPHTB ditargetkan sebesar Rp25. (2) kebijakan lainnya di bidang cukai.2 0.6 0. cukai ethil alkohol (EA). 1.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.4 0.7 3. Penerimaan cukai mengalami peningkatan secara signifikan dalam periode 2005–2009.

4 3.7 1.5 0. perkembangan produksi MMEA periode 2005–2009.0 Real 49.7 5. 131.0 231.5 242.50 0.9 0.7 2009 Real.5 0. Sigaret Putih Mesin (SPM) Total (a+b+c) Sumber : Kementerian Keuangan 2005 Real. 55.3 16.10 PERKEMBANGAN REALISASI CUKAI.0 100.0 1. dan (7) peningkatan pelaksanaan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dengan tujuan agar para stakeholder dapat lebih memahami ketentuan yang berlaku di bidang cukai.6 0. Selanjutnya.4 0.000 59.0 2010 APBN-P 55. penerimaan cukai diperkirakan mencapai Rp59. Perkembangan penerimaan cukai MMEA dan produksi MMEA dalam negeri 2005–2009 dapat dilihat pada Grafik III.7 persen disumbangkan oleh MMEA impor.004 0. 141.5 88.016 0.9 2008 Real. penerimaan cukai hasil tembakau didominasi oleh SKM yang memberikan kontribusi ratarata sebesar 57.11.8 2007 Real. Sigaret Kretek Tangan (SKT) c.0 0.1 100.3 0. 126.010 56. 2005 – 2010 (miliar batang) Jenis Rokok a.3 % thd Total 94.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 2.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III penetapan tarif cukai hasil tembakau. penundaan pembayaran cukai.4 2010 APBN-P 144.7 16.11 PERKEMBANGAN PRODUKSI JENIS ROKOK.9 0.4 77. mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.8 1.4 0.8 % thd Total 98.5 persen).01 0.9 persen.7 2009 % thd Total 97.0 2006 Real. Penerimaan cukai MMEA didominasi dari penerimaan MMEA dalam negeri dengan rata-rata sebesar 98. Sementara itu.007 37.01 100.5 216. Penerimaan cukai tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III. 43.3 % thd Total 98.2 17.3 220. 144. 125.5 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Cukai Hasil Tembakau Cukai Ethil Alkohol (EA) Cukai MMEA Denda Administrasi Cukai Cukai Lainnya Total Sumber : Kementerian Keuangan Real.2 84.8.03 0. total produksi hasil tembakau pada tahun 2010 diperkirakan mengalami peningkatan hingga mencapai 6 miliar batang bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009.9. dan SPM memberikan kontribusi sebesar 6. 37.000 0. Perkembangan realisasi cukai tahun 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. Dalam APBN-P tahun 2010.2 87.003 33.3 2008 % thd Total 97.1 0. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.00 0. Perkembangan produksi jenis rokok 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III.4 0. kontribusi SKT mencapai 35.8 persen. TABEL III.7 % thd Total 97.4 0.5 0.028 44.2 15.3 1.0 100.0 2007 Real.6 78.0 249.5 triliun (4.4 Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi.9 13.5 persen.2 17.01 0.0 persen. Sigaret Kretek Mesin (SKM) b.2 0.1 0.7 84.10 0.0 Real.02 0.6 0.7 0.0 Berdasarkan pengklasifikasian jenis produksi hasil tembakau pada periode 2005–2009.3 persen dan selebihnya sebesar 1.02 100.0 0. TABEL III.012 0.9 0.4 1. Kenaikan produksi jenis rokok tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi jenis SKM.1 0.7 0.0 248. 32.005 0.4 0.0 100.9 0.1 2006 Real.6 0. target penerimaan cukai dalam APBN-P tahun 2010 tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp2.002 0.6 persen dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 2.4 1. dan proses penyediaan sampai dengan pemesanan pita cukai. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-19 .3 triliun.10.6 0.01 0.015 51.7 persen dengan rata-rata pertumbuhan 1.

1 triliun (221. penerimaan cukai hasil GRAFIK III.0 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp2.1 persen untuk MMEA dalam negeri dan 110. 2005 – 2009 1. penerimaan cukai EA dalam APBN-P tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp0.8 PERKEMBANGAN PENERIMAAN CUKAI MMEA DAN PRODUKSI MMEA DALAM NEGERI.000.9 triliun atau triliun Rp 62 mengalami peningkatan sebesar Rp0. 2009 − 2010 diperkirakan mencapai Rp55. Selain dipicu oleh kenaikan tarif tersebut.5 persen untuk MMEA impor.5 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. Selain itu. Penyesuaian tarif cukai MMEA dan EA dapat dilihat pada Boks III.5 687.03 triliun (8. III-20 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .2.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah GRAFIK III.6 persen sampai dengan 21. Peningkatan tersebut terjadi karena kebijakan penyesuaian tarif cukai untuk konsentrat yang mengandung EA sebesar 100 persen dan penetapan tarif cukai spesifik EA sebesar Rp20. dan SPM).4 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp0. pencapaian tersebut juga didukung oleh upaya pemberantasan MMEA ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran MMEA impor.9 tembakau dalam APBN-P tahun 2010 PENERIMAAN CUKAI. SKT.1 927.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi 60 56. Selanjutnya.9 persen) bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.7 tahun 2009. penerimaan cukai MMEA dalam APBN-P tahun 2010 diperkirakan mencapai Rp3.000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 228 202 203 184 232 250 200 150 Juta Lt miliar Rp 878. peningkatan penerimaaan cukai hasil tembakau juga didukung oleh upaya pemberantasan rokok ilegal yang dilakukan melalui peningkatan pengawasan peredaran barang kena cukai.9 500.0 2009 APBN-P persen tergantung pada jenis hasil 2010 Sumber : Kementerian Keuangan tembakaunya (SKM.4 568. Faktor utama yang menyebabkan 58 56 kenaikan penerimaan cukai hasil tembakau 54 adalah diterapkannya kebijakan kenaikan tarif 52 cukai yang diberlakukan mulai 1 Januari 2010 50 berkisar antara 9.5 triliun 59. Faktor utama yang mempengaruhi penerimaan cukai MMEA adalah diterapkannya kebijakan penyesuaian tarif cukai MMEA dengan kenaikan tarif ratarata sebesar 228.3 (0.2 100 50 - 2005 Sumber : Kementerian Keuangan 2006 2007 2008 Penerimaan Cukai 2009 Produksi Secara lebih rinci. Sementara itu.

(2) menyesuaikan beban perpajakan MMEA Indonesia dengan negara-negara yang berkarakteristik mirip yakni tujuan pariwisata dan negara yang membatasi peredaran MMEA.0 persen dan sebesar 200. dan untuk impor sebesar 1. Tujuan dari kebijakan Pemerintah dalam melakukan penyesuaian tarif cukai spesifik atas MMEA dan EA yaitu: (1) untuk pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Cukai (BKC).150 persen x harga jual pabrik atau 80 persen x HJE. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-21 .5 persen untuk produksi DN dan sebesar 160. (4) penyederhanaan penggolongan tarif cukai ke dalam satu golongan. dan konsentrat yang mengandung EA yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III BOKS III. perlu dilakukan perubahan kebijakan di bidang perpajakan dan cukai dengan melakukan penyesuaian terhadap ketentuan mengenai penetapan tarif cukai atas EA. dan (5) menyamakan tarif cukai MMEA Dalam Negeri (DN) dengan MMEA impor secara bertahap.3 persen. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 100. Penjelasan Pasal 5 ayat 1 angka 5 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 mengatur bahwa minuman beralkohol tidak lagi termasuk dalam kategori Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah. MMEA. MMEA. Pokok-pokok perubahan kebijakan penyesuaian tarif cukai yaitu: 1 . dan Konsentrat yang Mengandung Ethil Alkohol yang berlaku efektif sejak tanggal 1 April 2010. penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340.011/ 2010 tentang Penetapan Tarif Cukai Ethil Alkohol. dan konsentrat yang mengandung ethil alkohol.0 persen dan sebesar 120. atau sebaliknya atau gabungan keduanya. Dasar penetapan tarif cukai atas MMEA dan EA diatur dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang mengatur bahwa Barang Kena Cukai (BKC) dikenai cukai dengan tarif paling tinggi untuk produk DN sebesar 1. Oleh karena itu.0 persen dan sebesar 214.0 persen. Sedangkan untuk MMEA impor. Sedangkan untuk MMEA impor. (3) memudahkan administrasi pemungutan dan kepastian pendapatan negara. Minuman yang Mengandung Ethil Alkohol.3 persen.0 persen untuk impor.0 persen. Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan A1 dan A2 menjadi golongan A dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 340. 2 . 3 .150 persen x (nilai pabean + BM) atau 80 persen x HJE.0 persen dan sebesar 33. Tarif cukai dapat diubah dari persentase harga dasar (advalorem) menjadi jumlah dalam rupiah untuk setiap satuan BKC (spesifik). Penggabungan MMEA produksi dalam negeri golongan B1 dan B2 menjadi golongan B dengan penyesuaian kenaikan tarif masing-masing sebesar 500. Penyesuaian kenaikan tarif MMEA untuk golongan C sebesar 188. Dalam rangka penyesuaian ketentuan tarif cukai atas MMEA dan EA. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif cukai atas EA.2 PENYESUAIAN TARIF CUKAI MMEA DAN EA Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

PERBANDINGAN TARIF CUKAI LAMA DENGAN TARIF CUKAI BARU ATAS MMEA. Penetapan tarif cukai etil alkohol (etanol) untuk produksi dalam negeri dan impor dengan pengenaan tarif cukai spesifik sebesar Rp20.011/2010 Sumber: Kementerian Keuangan Pajak Lainnya Penerimaan pajak lainnya selama periode 2005–2009 menunjukkan adanya pertumbuhan rata-rata sebesar 11.06 2.02 0.1 3.5 100.06 2.7 4.000 20. Secara umum.8 % thd Total 97.67 100. 1% >1% s.1 2009 % thd Total 97.000 100.002 0.3 0.2 3. kadar.0 2006 Real.03 2.1 3.04/2006 **PMK No.1 0.000 50. 2. 15% >15% s.500 5. 2.7 0.500 3.3 100.000 *PMK No.001 0. Perkembangan realisasi pajak lainnya tahun 2005–2009 dapat dilihat pada Tabel III.3 % thd Total 97.6 0.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 4 .1 0.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.12 PERKEMBANGAN PENERIMAAN PAJAK LAINNYA.62/PMK.0 persen untuk produksi DN dan sebesar 100.0 Real.0 persen.1 % thd Total 98.000 Dari semua jenis konsentrat. dan golongan Rp 20.000 130. kadar.000 40.3 2.0 Bea Meterai Pajak Tidak Langsung Lainnya Bunga Penagihan Pajak Total Sumber : Kementerian Keuangan III-22 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .0 persen untuk impor. 2.500 5.001 0.2 0. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Uraian Real.1 2. 20% >20% Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.000 Tarif Baru** (per liter) Rp Rp Rp Rp 11.0 2008 % thd Total 93.0 0. EA.7 100.000 50.000 30.0 2010 APBN-P 3.d.000 50.d.04 2.0 0.0 Real. c TABEL III.000 10. Penyesuaian kenaikan tarif cukai atas konsentrat yang mengandung etil alkohol masingmasing sebesar 100.04 6.0 0. Sebagian besar dari penerimaan pajak lainnya tersebut bersumber dari bea materai yang memberikan kontribusi rata-rata sebesar 96.004 0.000 IMPOR Tarif Lama* (per liter) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 2.2 1.57 100. sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan MMEA Dari semua jenis etil alkohol.000 75.000 30.12.000 26. 5 .4 0.d. dan golongan. meningkatnya realisasi penerimaan pajak lainnya dalam periode 2005–2009 dipengaruhi oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan dokumen bermeterai.01 0.0 Real. 2.000. 3.5 100.8 0.000 Rp 20. 5% >5% s. DAN KONSENTRAT YANG MENGANDUNG EA DALAM NEGERI Jenis BKC Gol Kadar Alkohol Tarif Lama* (per liter) A1 A2 MMEA B1 B2 C Konsentrat Yang Mengandung EA EA s. 90/PMK.d.7 2007 % thd Total 95.000 100.2 persen terhadap total penerimaan pajak lainnya.4 0.

.

0% persen MFN triliun Rp 19 GRAFIK III. Pemerintah telah melaksanakan penurunan rata-rata tarif bea masuk hingga menjadi 0. perkiraan realisasi penerimaan bea masuk pada tahun 2010 tersebut mengalami penurunan sebesar Rp1.5 persen). Pemerintah Indonesia juga melakukan perjanjian kerjasama perdagangan bilateral dengan Pemerintah Jepang melalui skema persetujuan kemitraan ekonomi antara Republik Indonesia dan Jepang (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement/IJEPA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 mencapai rata-rata tarif sebesar 3. GRAFIK III.13 PERKEMBANGAN RATA-RATA TARIF MFN DAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL. Pemerintah Indonesia juga telah melaksanakan perjanjian regional plus one melalui kerjasama perdagangan ASEAN-China FTA (ACFTA) dan ASEAN-Korea FTA (AKFTA) dengan penurunan tarif bea masuk pada tahun 2010 hingga mencapai rata-rata tarif sebesar 2.1 ACFTA 17 AKFTA 16 IJEPA 0. yang kemudian diperbaharui melalui skema ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA).9 persen untuk negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2010.9 persen tahun 2005 menjadi 7. Sebagai implementasinya.0 triliun (5.1 triliun. Dalam APBN-P tahun 2010.13.6 persen.5 persen pada tahun 2010. dari 9.1 ASEAN CEPT 8.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pertumbuhannya menurun sebesar 5.5 persen.14 PENERIMAAN BEA MASUK.7 persen.14. Selama periode 2005–2010 perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN semakin menurun.0% 4. Selain itu. penerimaan bea masuk ditargetkan sebesar Rp17. Penerimaan bea masuk tahun 2009–2010 dapat dilihat pada Grafik III.0% 10. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.0% 18 17. Selanjutnya.0% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 15 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Keuangan Sumber : Kementerian Keuangan III-24 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Selain itu.0% 2. 2009 − 2010 18. kebijakan penurunan tarif juga terjadi sebagai konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional dengan negara-negara di Asia. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerapan kebijakan harmonisasi tarif bea masuk Most Favoured Nations (MFN). Perkembangan rata-rata tarif bea masuk MFN dan kerjasama perdagangan internasional tahun 2005–2010 dapat dilihat dalam Grafik III. Penurunan tersebut merupakan dampak penerapan kebijakan harmonisasi tarif (MFN) dan konsekuensi dari kerjasama perdagangan internasional.0% 6. Perjanjian kerjasama perdagangan regional dilakukan melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT).9 persen dan 2. 2005 – 2010 12. regional plus one dan bilateral. baik melalui kerjasama regional.

.

Kerangka pengenaan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao serupa dengan struktur tarif bea keluar atas minyak kelapa sawit (CPO) dengan penetapan tarif bea keluar ekspor biji kakao berkisar antara 0-15 persen mengikuti perkembangan harga kakao internasional. (3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditi ekspor tertentu di pasaran internasional. III-26 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .Bab III Pendapatan Negara dan Hibah BOKS III. sejalan dengan peningkatan harga internasional yang mencapai rata-rata 13. Dalam periode 2000–2009.3 PENGENAAN BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Indonesia merupakan negara eksportir biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Pemerintah memberlakukan kebijakan penetapan tarif bea keluar atas ekspor biji kakao yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK. Dasar pengenaan bea keluar atas barang ekspor diatur dalam Pasal 2A ayat (2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan tujuan untuk: (1) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri.000 2. volume ekspor biji kakao dari Indonesia meningkat rata-rata 3. dan (4) menjaga stabilitas harga komoditi tertentu di dalam negeri. 2000 – 2009 100 90 80 (Ribu MT) 4. PERKEMBANGAN VOLUME EKSPOR DAN HARGA INTERNASIONAL KAKAO. (2) melindungi kelestarian sumber daya alam.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar yang berlaku efektif sejak 1 April 2010.8 persen.500 3.000 1. Perkembangan volume ekspor dan harga internasional kakao dapat dilihat pada grafik di bawah. Hampir 80 persen dari produksi biji kakao Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah.000 500 0 (USD/MT) 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Kementerian Keuangan dan BPS Namun. Dalam upaya menjamin ketersediaan bahan baku dan daya saing industri pengolahan kakao dalam negeri. industri pengolahan kakao dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir justru hanya mampu berproduksi sekitar 50 persen dari keseluruhan kapasitas produksi karena kurangnya pasokan bahan berupa biji-biji kakao mentah.500 2.000 Export Volume (MT) 3.1 persen.500 1.

500 > 3. dan (c) kebijakan pay-out ratio. (7) pendapatan iuran dan denda. (3) pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. antara lain Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kementerian Kesehatan. (3) kualitas pelayanan yang diberikan dan administrasi pengelolaan PNBP yang secara tidak langsung meningkatkan jumlah objek pengenaan.750 – 3. dan (4) upaya optimalisasi yang dapat dilakukan. (2) Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang pergerakannya mengikuti tren harga minyak dunia.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TARIF BEA KELUAR ATAS EKSPOR BIJI KAKAO Harga Internasional Kakao (USD/MT) Tarif Kakao (persen) ≤  2. (2) luas area dan volume produksi hasil hutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan bagian negara atas laba BUMN. Kementerian Pendidikan Nasional.500 > 2.750 > 2. Sementara itu. Kepolisian Republik Indonesia. (5) pendapatan pendidikan. (3) pendapatan bunga. melalui peningkatan pengelolaan dan akuntabilitas pelaporan keuangan. dan (4) besaran cost recovery yang merupakan faktor pengurang penerimaan migas yang akan dibagihasilkan antara Pemerintah dengan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sesuai kontrak kerja sama (KKS). penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN merupakan penerimaan negara dalam bentuk (1) dividen dari perusahaan perseroan dan perseroan terbatas lainnya yang besarnya ditetapkan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) dan (2) dividen dari perusahaan umum (Perum) yang besarnya ditetapkan dalam pengesahan laporan keuangan oleh Menteri BUMN. PNBP lainnya. penerimaan SDA nonmigas dipengaruhi oleh antara lain: (1) tingkat produksi dan harga beberapa jenis komoditas mineral dan batubara.500 Sumber: Kementerian Keuangan 0 5 10 15 Perhitungan dan perkembangan dari masing-masing sumber PNBP tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dan variabel yang beragam. Badan Pertanahan Nasional. terdiri atas: (1) pendapatan dan penjualan sewa. dan Kementerian Perhubungan. yang sebagian besar merupakan bagian dari kelompok penerimaan kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah. Sementara itu. (3) tingkat produksi budidaya perikanan dan kegiatan operasi kapal penangkap ikan. (b) besarnya/persentase kepemilikan saham Pemerintah dalam BUMN dan perseroan terbatas lainnya. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi. Faktor-faktor utama yang mempengaruhi PNBP lainnya dari K/L antara lain: (1) jumlah objek pengenaan PNBP. Pengelolaan atas sumber PNBP lainnya tersebut sebagian besar dilaksanakan oleh kementerian negara/ lembaga. Perhitungan dan perkembangan SDA migas dipengaruhi oleh (1) lifting minyak mentah dan gas bumi. di antaranya: (a) tingkat laba BUMN dan perseroan terbatas lainnya yang diperoleh pada tahun anggaran sebelumnya. (2) tarif atas kegiatan pelayanan yang dilaksanakan dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah. (2) pendapatan jasa. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan.000 – 2. dan (8) pendapatan lain-lain. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-27 . Selanjutnya. serta (4) kebijakan-kebijakan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PNBP.

yaitu 54. Dilihat dari komposisinya. (3) monitoring.8 persen. evaluasi dan koordinasi pelaksanaan pengelolaan PNBP pada K/L. (3) memperkuat pengawasan penerimaan dari sektor migas oleh BP migas. Upaya optimalisasi penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. upaya dan kebijakan terutama difokuskan pada (1) pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal terhadap kegiatan usaha sektor hulu migas guna meningkatkan produksi/ lifting minyak bumi dan gas bumi. III-28 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . serta (4) peningkatan sinergi antar BUMN guna meningkatkan daya saing. (4) melakukan revisi tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada sektor sumber daya mineral dan meningkatkan produksi komoditas sumber daya mineral. (2) penyempurnaan ketentuan dalam kontrak kerja sama (production sharing contract) dengan tetap menghormati kontrak yang berlaku. Untuk penerimaan SDA. khususnya yang terkait dengan cost recovery.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Selama kurun waktu 2005–2009. dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2006.5 persen.0 triliun atau 8. Dilihat dari komposisinya. Namun. (2) optimalisasi dividen pay-out ratio. serta (6) mengoptimalkan penerimaan dari sektor perikanan dengan mempertimbangkan peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat pesisir/nelayan. Optimalisasi PNBP lainnya selama 2005–2009 antara lain ditempuh melalui (1) optimalisasi PNBP pada K/L. PNBP ditargetkan sebesar Rp247. yaitu dari Rp320. di tahun 2009 PNBP mengalami pertumbuhan negatif 29. target tersebut meningkat sebesar Rp20. kebijakan mengenai pendapatan BLU difokuskan pada upaya untuk (a) mendorong peningkatan pelayanan publik instansi Pemerintah.13 memperlihatkan perkembangan total PNBP beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. Dengan target tersebut.7 persen bila dibandingkan dengan realisasinya pada tahun 2009.0 persen terhadap perkiraan penerimaan dalam negeri. (5) menggali potensi-potensi penerimaan yang ada di sektor kehutanan tanpa merusak lingkungan dan mempertahankan hutan. peningkatan terbesar terjadi pada penerimaan SDA migas. dilaksanakan dengan tetap mempertimbangkan peningkatan kinerja BUMN. PNBP diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar 25. Secara keseluruhan.6 triliun di tahun 2008 menjadi Rp227. upaya.2 triliun. dan (c) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. penurunan realisasi PNBP tahun 2009 lebih disebabkan oleh penurunan dari penerimaan SDA migas yang dipengaruhi oleh penurunan ICP yang signifikan pada tahun 2009 bila dibandingkan dengan ICP pada tahun 2008. selama 2005–2009 PNBP mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 11.1 persen. (3) penyelesaian audit oleh kantor akuntan publik (KAP) atas laporan keuangan BUMN diharuskan selesai lebih awal dari peraturan yang ada guna mengetahui secara awal definitif atas laba/rugi bersih BUMN. dan (4) peningkatan akurasi target dan penyusunan pagu penggunaan PNBP dan K/L yang realistis serta pelaporannya.5 persen. Sementara itu. berbagai langkah. dan kebijakan yang signifikan telah dilakukan oleh Pemerintah guna meningkatkan dan mengoptimalkan PNBP.2 triliun. (b) meningkatkan pengelolaan keuangan BLU yang efisien dan efektif. yaitu sebesar 20. Beberapa kebijakan yang telah ditempuh berkaitan dengan hal tersebut antara lain: (1) peningkatan modal kerja dan penyehatan perusahaan. (2) peninjauan dan penyempurnaan peraturan PNBP pada masing-masing K/L. Tabel III. Dalam APBN-P tahun 2010.

2 13.9 6.7 103.9 224.4 6.8 6.5 247.5 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-29 .8 90.0 227.3 0.14 PERKEMBANGAN PENERIMAAN SDA.4 persen terhadap total PNBP.4 139.7 151. Dalam APBN-P tahun 2010.9 2006 167.7 13.9 2.7 320.1 0.8 72.2 0.5 38.5 2009 125.2 3. Penerimaan SDA a. TABEL III.5 2007 124.8 29.14 memperlihatkan perkembangan penerimaan SDA beserta komponen penerimaannya selama periode 2005–2010. Sedangkan penerimaan SDA nonmigas diperoleh dari penerimaan pertambangan umum.0 125.2 3.Kehutanan .2 164. Sedangkan di tahun 2008.5 persen. 2005 – 2010 (triliun rupiah) Uraian I.2 10.8 8.2 56.1 35. Penerimaan SDA Nonmigas II.3 110. mengalami pertumbuhan tertinggi. penerimaan perikanan.0 2007 132. penerimaan SDA memberikan kontribusi rata-rata sekitar 68. PNBP Lainnya IV.9 124.0 2010 APBN-P 151.1 2008 224.1.9 2.6 146. Pendapatan BLU PNBP Sumber : Kementerian Keuangan 2005 110.1 0.7 3. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN III. perkiraan penerimaan SDA tersebut mengalami peningkatan Rp25.6 12.8 2. penerimaan SDA ditargetkan sebesar Rp164.1 0.1 5.4 227.8 13.Panas Bumi Penerimaan SDA Sumber : Kementerian Keuangan 2006 158. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. yaitu mencapai 63.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.1 persen.7 12.4 2.2. yang terdiri dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas bumi (migas) dan penerimaan SDA nonmigas merupakan sumber utama PNBP.1 132.7 13. Selama periode 2005–2009.5 43.Minyak bumi .1 63.5 158.2.1 215.5 2.2 2010 APBN-P 164. Dalam lima tahun terakhir. penerimaan kehutanan.5 211.1 32.0 53.5 9.0 29.8 triliun atau 18.4 0.1 125.1 9. Di tahun 2007 dan 2009 terjadi penurunan penerimaan SDA. Penerimaan SDA Migas b.6 persen dan 38.3 0.1 23.6 12.4 21. atau naik Rp91.Gas bumi Penerimaan SDA Nonmigas .Perikanan .2 26.13 PERKEMBANGAN PNBP.8 30.3 3.0 9.2 167.6 triliun bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2007.5 39.2 0.8 23.8 9.8 8.6 31.8 93.9 2008 211. 2005 – 2010 (triliun rupiah) 2005 Penerimaan SDA Migas .9 0.6 169.6 2009 139. Tabel III. penerimaan SDA memperlihatkan pertumbuhan yang fluktuatif. dan penerimaan pertambangan panas bumi.9 9.2 8.5 103. sebesar masing-masing 20.Pertambangan Umum .7 triliun.7 2.0 42.9 persen. Penerimaan SDA migas merupakan penerimaan yang bersumber dari penerimaan minyak bumi dan penerimaan gas bumi.7 112.1 Penerimaan SDA Penerimaan SDA.

.

.

.

Perusahaan asing boleh memiliki izin tangkap ikan hanya bila mendaratkan hasil tangkapan ke dalam negeri. (b) perusahaan perseroan (persero). penerimaan dari pertambangan panas bumi memiliki potensi yang cukup besar mengingat Pemerintah terus mengupayakan pemanfaatan energi alternatif. maupun kelompok sektor usaha. Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. sedangkan dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp0. dan penerbitan. telekomunikasi. khususnya energi panas bumi. (b) mengejar keuntungan. turun 39. Peningkatan penerimaan perikanan diupayakan melalui optimalisasi pelayanan dan penertiban perizinan usaha. Dalam tahun 2009.2 triliun. Kelima peran ekonomi tersebut merupakan amanah dari pasal 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003. Selanjutnya.1. dan (e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah.0 miliar atau 63. kehutanan. baik dari sisi bentuk perusahaan. dan mendirikan unit pengolahan di Indonesia. sejumlah BUMN terus mengalami perubahan. serta (e) pertambangan. yaitu kelompok: (a) jasa keuangan dan perbankan. pertanian. (d) agro industri. perkiraan realisasi tersebut meningkat sebesar Rp58. Seiring perkembangan waktu.2. kertas. Kebijakan penghapusan tersebut merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk menghambat illegal fishing dan untuk memperkuat industri dan armada perikanan nasional. Dalam APBN-P tahun 2010. penerimaan pertambangan panas bumi merupakan sumber penerimaan SDA nonmigas yang mulai dicatat dalam penerimaan tahun 2008. Dalam beberapa tahun terakhir.0 persen. pada saat ini BUMN memegang lima peranan dalam ekonomi nasional. (c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Dalam jangka menengah. dijelaskan bahwa BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Dari sisi kelompok sektor usaha. (c) bidang usaha logistik dan pariwisata. (d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi. dan Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-33 . dan masyarakat. yakni: (a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sekitar 75. hingga sekarang BUMN dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Apabila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009.2 triliun. energi. BUMN dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yang tersebar dalam 35 sektor usaha. Dari sisi bentuk perusahaan. 3.2 Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Menurut ketentuan dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.0 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. (b) jasa lainnya. realisasi penerimaan panas bumi mencapai Rp0. Faktor lainnya adalah karena meningkatnya biaya operasi penangkapan ikan yang mengakibatkan banyak pengusaha kapal mengalihkan usahanya ke sektor lain sehingga mengurangi penerimaan dari pungutan hasil perikanan (PHP). yaitu: (a) perusahaan umum (perum). dan (c) perseroan terbatas terbuka (persero Tbk). Target tersebut lebih rendah Rp0.4 triliun. koperasi.2. percetakan.0 persen penerimaan dari beroperasinya kapal-kapal perikanan asing. penerimaan perikanan ditargetkan sebesar Rp150 miliar.

0 persen.5 persen.1 persen. dan capex tumbuh rata-rata sebesar 50. Pemetaan laba/rugi berikut kategori BUMN dan perseroan minoritas disajikan pada Bagan III. pertanian dan perkebunan. total aset BUMN tumbuh rata-rata sebesar 10. perusahaan-perusahaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai BUMN karena saham Pemerintah bersifat minoritas. baik dari aset.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah industri strategis. Ketiga BUMN baru tersebut adalah PT Dirgantara Indonesia (persero) yang sebelumnya dikelola oleh PT Perusahaan Pengelola Asset / PPA (persero). Hingga tahun 2010. laba bersih tumbuh rata-rata sebesar 25. Kinerja BUMN selama periode tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan di pasar modal. Peningkatan laba bersih tersebut menunjukkan ketahanan (resilience) kinerja BUMN di tengah belum kondusifnya kondisi perekonomian tahun 2009 sebagai dampak instabilitas variabel makro seperti harga minyak.0 persen di sejumlah perusahaan. dan Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional Antara yang sebelumnya merupakan lembaga penyiaran publik. nilai tukar.   BAGAN III. dan total persentase rata-rata terhadap kapitalisasi pasar sebesar 34. Selama periode tersebut. PT Askrindo (persero) yang sebelumnya mayoritas sahamnya dikuasai oleh Bank Indonesia. laba bersih. saham minoritas Pemerintah tersebar di 18 perusahaan yang di antaranya PT Indosat Tbk (14.4 persen. Selain mengelola kepemilikan saham pada sejumlah BUMN. opex tumbuh ratarata sebesar 288. kinerja BUMN terus mengalami perkembangan positif. serta harga komoditas pertambangan. yaitu dari 139 BUMN menjadi 142 BUMN. Dari sisi laba bersih seluruh BUMN.4 persen). Dari total perolehan laba bersih tersebut.6 persen. pertumbuhan kredit perbankan. Selama periode 2007–2010. lebih besar bila dibandingkan dengan laba tahun 2008.2 persen). pencapaian tertinggi terjadi pada tahun 2009. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003.1 PETA KINERJA BUMN DI TAHUN 2010 Bagi Dividen Tidak Bagi Dividen Akum Rugi ………………………………………………………………………………………… Sub-Total BUMN …………………………… BUMN 141 LABA 120 RUGI 21*  72  10  38  21  141  Kebijakan * BUMN yaitu PT ISI dalam proses likuidasi Minoritas  18  Sumber: Kementerian BUMN Bagi Dividen  Tidak Bagi Dividen  …………………………… 7  11  18  …………………………… Sub-Total Minoritas Selama periode 2005–2009. Pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN juga mengelola saham minoritas atau di bawah 51. yaitu sebesar Rp88. dan PT Freeport Indonesia Tbk (9. Data mutakhir Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total kapitalisasi pasar BUMN terbuka mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 24. belanja operasional (operational expenditure/opex).0 persen. telah terjadi penambahan jumlah BUMN. dan belanja modal (capital expenditure/capex).1.6 triliun. sebagian III-34 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .3 persen). PT Bank Bukopin (18.

.

8 15 penyumbang dividen terbesar dengan rata-rata kontribusi tiap 10 tahun mencapai 45. yaitu meningkat sebesar Rp18. dan pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan Pelayanan Publik.3 triliun menjadi Rp8.7 persen 5 terhadap total dividen BUMN. pelayanan. Secara nominal.8 triliun. Target tersebut lebih rendah Rp10. yang antara lain disebabkan oleh tingginya pendapatan penjualan dan sewa.9 persen.3 triliun atau 19. sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak mentah dunia. Perkembangan PNBP lainnya dan pendapatan BLU selama periode 2005–2010 dapat dilihat pada Tabel III. sebagian PNBP yang dipungut oleh K/L dapat digunakan kembali oleh K/L yang bersangkutan setelah disetor ke kas negara terlebih dahulu. (7) pendapatan iuran dan denda.5 triliun. 2005 – 2010 35 30 21. Penetapan penggunaan PNBP tersebut didasarkan pada keputusan Menteri Keuangan tentang izin penggunaan PNBP yang bersifat spesifik pada masing-masing K/L. 0 Selama periode tersebut.3 persen bila dibandingkan dengan laba bersih tahun sebelumnya. peningkatan tertinggi terjadi dalam tahun 2007.2. penerimaan bagian Pemerintah atas laba BUMN ditargetkan sebesar Rp29.8 triliun jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. 20 PT Pertamina menjadi BUMN 12.2 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009. PNBP lainnya terdiri atas penerimaan yang bersumber dari (1) pendapatan penjualan dan sewa. (6) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi.5 triliun per tahun.5 triliun. serta (8) pendapatan lain-lain. Sedangkan dalam APBN-P tahun 2010. PNBP lainnya ditargetkan mencapai Rp43.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah perbankan sebesar Rp3.2.29 28. yaitu dari Rp7. realisasi PNBP lainnya rata-rata tumbuh sebesar 22.5 25 Selama periode 2005–2010.25 PNBP BAGIAN PEMERINTAH ATAS LABA BUMN.3 PNBP Lainnya Dalam struktur APBN. III-36 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .4 23.3 triliun (12. (4) pendapatan kejaksaan dan peradilan. (2) pendapatan jasa.7 persen).2 triliun atau meningkat sebesar 23. Selanjutnya dalam APBN-P tahun 2010. triliun Rp GRAFIK III. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 PT Pertamina membukukan laba Sumber : Kementerian Keuangan bersih rata-rata sebesar Rp22.1. Sumber utama PNBP lainnya berasal dari pendapatan Pemerintah yang diperoleh dari jasa pelayanan yang diberikan oleh K/L kepada masyarakat. Perolehan laba tertinggi terjadi dalam tahun 2008 yaitu sebesar Rp30. Dalam kurun waktu 2005–2009. (3) pendapatan bunga.6 29. (5) pendapatan pendidikan. Pemungutan PNBP K/L tersebut dilakukan dalam rangka pengaturan. serta adanya setoran berupa pendapatan bagian Pemerintah dari sisa surplus Bank Indonesia di tahun 2009. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya peningkatan tersebut adalah meningkatnya pendapatan dari kegiatan hulu migas. 3. Peningkatan tersebut merupakan windfall profit akibat lonjakan harga minyak pada kuartal II tahun 2008. sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing K/L tersebut.15.22 31. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.

1 3. seperti: .2 1.Pendapatan minyak mentah (DMO) .5 1.9 1.0 1. otomatisasi sistem manajemen/perizinan frekuensi dan alat pengujian.7 4.4 1.0 1.Penjualan hasil tambang .7 1.3 53. (2) pendapatan jasa penyelenggaraan pos dan telekomunikasi (biaya hak penyelenggaraan telekomunikasi). PNBP Kemenkominfo mengalami peningkatan rata-rata sebesar 53. meningkat sebesar Rp2.7 9. pelatihan.0 2. Sementara itu dalam APBN-P tahun 2010.8 63.3 0.7 4. antara lain sistem monitoring frekuensi.6 2006 4.5 23. Berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan penghapusan aset.7 triliun.2 8.9 7.0 2007 5. (3) pendapatan jasa sewa sarana dan prasarana.9 43.5 1. (3) melaksanakan sosialisasi secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi berkenaan dengan kewajiban pembayaranPNBP. Kenaikan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya penggunaan spektrum di pita seluler oleh para operator seluler.8 1.0 1. selain dengan penetapan. Pemerintah juga telah dan akan terus melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemungutan PNBP pada masing-masing K/L. 2005 – 2010 (triliun rupiah) No 1 2 3 4 5 6 7 Kementerian/Lembaga Kementerian Komunikasi dan Informatika* Kementerian Pendidikan Nasional * Kementerian Kesehatan* Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Pertanahan Nasional Kementerian Hukum dan HAM Peneriman Lainnya.4 triliun atau 30.7 8. (4) pendapatan dari penyelenggaraan penyiaran.9 8. Dalam tahun 2009.9 2008 7. Sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Departemen Komunikasi dan Informatika.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III TABEL III.6 13.26.0 0.3 56. PNBP Kemenkominfo ditargetkan sebesar Rp10.9 13.Rekening Dana Investasi (RDI) .7 1.8 2010 APBN-P 10. perbaikan.8 7.7 persen.3 6.4 1. Selama periode 2005–2009.4 1.4 1.1 5.3 2.3 2009 10. (4) penegakan hukum secara intensif kepada penyelenggara telekomunikasi dan pengguna spektrum frekuensi yang tidak mematuhi ketentuan perundangan.2 0.2 9.Surplus BI .9 5.5 9.9 2.5 38. jenis penerimaan yang berlaku di Kementerian Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-37 .4 3. jenis penerimaan PNBP pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) terdiri atas: (1) pendapatan hak dan perizinan (biaya hak penyelenggaraan frekuensi).6 0.2 0.2 3. Perkembangan PNBP Kemenkominfo dapat dilihat pada Grafik III. khususnya yang berasal dari berbagai K/L.4 7. antara lain: (1) pengenaan BHP frekuensi dengan metode lelang pada pita frekuensi yang potensial (bandwith wireless access).3 triliun.5 3.8 1.0 2. (2) pembenahan database baik pengguna frekuensi maupun penyelenggaraan telekomunikasi. dan penyempurnaan peraturan pemerintah (PP) tentang jenis dan tarif PNBP yang berlaku pada K/L. dan (5) pendapatan pendidikan.2 0.5 Dalam rangka pencapaian target PNBP 2010.5 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 sebesar Rp7.5 6.0 2.6 2.1 triliun.5 6. dan (5) pembaharuan dan penambahan instrumen secara bertahap.5 8.5 0.3 1.4 1. realisasi penerimaan PNBP Kemenkominfo mencapai Rp10.5 2.Penerimaan lain-lain Total PNBP Lainnya * Termasuk pendapatan BLU Sumber: Berbagai Kementerian/Lembaga 2005 1.4 23.2 7. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh beberapa kebijakan.15 PERKEMBANGAN PNBP LAINNYA.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Departemen Kesehatan. triliun Rp 10 GRAFIK III. teknologi dan seni. rata-rata sebesar 45. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi pada tahun 2008 yang mencapai Rp4. Target tersebut 3 didukung oleh beberapa kebijakan.27 PERKEMBANGAN PNBP KEMENDIKNAS. (4) penerimaan dari jasa pemeriksaan laboratorium.9 dan daya tampung perguruan tinggi. meningkat Rp0.6 persen per tahun.3 triliun. serta dunia industri.8 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008.0 triliun. 2005 – 2010 6. Perkembangan PNBP Kemendiknas dapat dilihat pada Grafik III.4 Sementara itu dalam APBN-P tahun 5 2010.2 sebesar Rp6.1 4 1.4 triliun. (8) penerimaan dari uji pemeriksaan spesimen. PNBP Kemendiknas ditargetkan 3. 1 (2) meningkatkan pelaksanaan 0 berbagai program kegiatan kerjasama. (5) penerimaan dari jasa pemeriksaan air secara kimia lengkap. 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 baik antarinstansi maupun lembaga Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional non-Pemerintah. efisien. taat pada peraturan per Undang-undangan. (3) meningkatkan kegiatan-kegiatan ilmiah ilmu pengetahuan. dan (9) penerimaan dari jasa pelayanan rumah sakit.8 4 3. (3) penerimaan dari jasa pendidikan tenaga kesehatan.7 triliun. (2) penerimaan kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi Perguruan Tinggi Negeri (PTN).1 10.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah Pendidikan Nasional (Kemendiknas) terdiri atas: (1) penerimaan dari penyelenggaraan pendidikan. dan (4) penerimaan dari sumbangan hibah perorangan. jenis penerimaan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terdiri atas: (1) penerimaan dari pemberian izin pelayanan kesehatan oleh swasta.8 2 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Kominfo triliun Rp 7 6 GRAFIK III.3 2 antara lain: (1) meningkatkan kapasitas 0.3 8 7. realisasi PNBP Kemenkes mencapai Rp3. lembaga Pemerintah atau non-Pemerintah. (4) mendukung upaya untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang tertib. III-38 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .0 5. (3) penerimaan dari hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan.26 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKOMINFO. Dalam tahun 2009. 2.7 5. realisasi PNBP Kemendiknas mencapai Rp5. transparan. (6) penerimaan dari jasa balai pengobatan penyakit paru-paru (BP4). Adapun pertumbuhan rata-rata selama 2005–2009 mencapai 101. Sedangkan pertumbuhan PNBP Kemendiknas selama periode 2005–2009.5 persen. efektif. (2) penerimaan dari pemberian izin mendirikan rumah sakit swasta. Dalam tahun 2009.4 triliun atau 13. ekonomis. 2005 – 2010 10. (7) penerimaan dari jasa balai kesehatan mata masyarakat (BKMM). dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.27.7 6 4.

9 3 manusia dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pelayanan. 0 dan (d) meningkatkan pelayanan 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 kesehatan yang terintegrasi sesuai Sumber : Kementerian Kesehatan standar yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. (5) bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB).7 melalui kegiatan Citra Polantas.0 Perpolisian Masyarakat (Polmas) 1.28.5 0. mobil unit laka Lantas. (2) surat tanda nomor kendaraan (STNK). dan Papua.0 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia APBN-P 2010 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-39 . jenis penerimaan yang berlaku di BPN terdiri 0. Maluku Utara. 1.4 sakit untuk menuju kemandirian 0. Perkembangan PNBP Kemenkes dapat dilihat pada Grafik III.0 triliun. 1. 2005 − 2010 menambah membangun jaringan triliun Rp Automatic Traffic Management Center 2. 1 (c) peningkatan cost recovery rumah 0. (4) meningkatkan kinerja dengan GRAFIK III. 2 (b) menggali potensi PNBP melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi. kendaraan patwal roda 2/roda 4. dan (5) melaksanakan 2. mobil unit pelayanan SIM.2 komputerisasi administrasi keuangan.0 (a) peningkatan sumber daya 2.4 1.29 PERKEMBANGAN PNBP POLRI. Dalam APBN-P tahun 2010. (7) izin senjata api (Senpi). (2) meningkatkan infrastruktur pendukung pelaksanaan operasional Polri di bidang lalu lintas berupa pengadaan Alsus Polantas. (6) simulator. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2010 tentang Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.5 1.28 dalam APBN-P tahun 2010. dan (9) denda pelanggaran lalu lintas.5 di wilayah Jawa. PNBP Polri ditargetkan sebesar Rp2.0 Target tersebut didukung oleh 4 beberapa kebijakan. PERKEMBANGAN PNBP KEMENKES.29.2 Perkembangan PNBP Polri dapat dilihat pada Grafik III. ditargetkan sebesar Rp4. PNBP Kemenkes GRAFIK III. antara lain 3. driving simulator. komputer Samsat dan alat cetak TNKB. jenis penerimaan Polri terdiri atas: (1) surat izin mengemudi (SIM). (4) surat tanda coba kendaraan (STCK). Pencapaian target tersebut akan ditempuh melalui kebijakan antara lain: (1) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan teknis Lantas dan pendidikan pelatihan fungsional Lantas.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III Sementara itu.5 1. kendaraan patroli roda 2/roda 4.0 triliun. (8) kartu sidik jari.8 1. (3) tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB).0 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Badan Pertanahan Nasional (BPN). triliun Rp 2005 – 2010 4. (3) melanjutkan pembangunan jaringan Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) meliputi wilayah Kalimantan.3 3. kendaraan uji SIM roda 2/roda 4.0 2.

(4) pelayanan konsolidasi tanah secara swadaya. (2) PNBP fungsional. sama dengan realisasi tahun 2008. antara lain 0.0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P kapasitas kemampuan petugas ukur dan 2010 Sumber : Badan Pertanahan Nasional pendataan yuridis termasuk melibatkan para surveyor berlisensi.6 GRAFIK III.7 0. (3) keimigrasian. PNBP Kemenkumham mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 18. (4) hak dan kekayaan intelektual.2 0.31 PERKEMBANGAN PNBP KEMENKUMHAM.31.2 0.4 triliun. 2005 − 2010 ditargetkan sebesar Rp1. seperti PRONA.5 1. jangka waktu. PNBP Kemenkumham ditargetkan sebesar Rp1. meningkat sebesar Rp0.5 triliun. sertifikasi tanah pertanian dan nelayan pada daerah tertinggal dan ekonomi lemah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).6 melalui peningkatan transparansi informasi tentang persyaratan.9 persen. yaitu 1.2 0. Perkembangan PNBP Kemenkumham dapat dilihat pada Grafik III. peningkatan 0.2 triliun atau 16. Realisasi PNBP BPN tahun 2009 mencapai Rp1.8 0. Target tersebut didukung oleh beberapa kebijakan. Dalam APBN-P tahun 2010. Dalam tahun 2009.4 0 2005 2006 2007 2008 2009 APBN-P 2010 Sumber : Kementerian Hukum dan HAM III-40 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . serta (5) jasa tenaga kerja narapidana. PNBP BPN GRAFIK III. dan memfokuskan pelayanan pertanahan yang dibiayai dengan sumber dana publik.7 persen. dan pemetaan.4 1.9 0.4 triliun.30. (5) pelayanan survei. jenis penerimaan Kemenkumham bersumber dari penerimaan (1) pelayanan jasa hukum. Pencapaian tersebut seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat yang berimbas pada minat dan kesadaran masyarakat terhadap kepastian hukum.7 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang mencapai Rp1. (6) pelayanan pendidikan. pengukuran. (3) pelayanan informasi pertanahan. (2) balai harta peninggalan. triliun Rp 1. UKM.9 0. 2005 − 2010 1. Rata-rata pertumbuhan PNBP BPN periode 2005–2009 mencapai 23.30 PERKEMBANGAN PNBP BPN.8 1. realisasi PNBP Kemenkumham mencapai Rp1. dan 0.7 0. (2) pelayanan pemeriksaan tanah.4 biaya pelayanan.5 triliun. triliun Rp antara lain: (1) PNBP murni. dan (2) optimalisasi pembangunan sarana dan prasana untuk mendukung tugas dan fungsi Kemenkumham.2 triliun.5 1.6 1. dan (7) pelayanan lisensi.8 negara.4 meningkatkan penertiban pengelolaan PNBP dan penertiban pencatatan aset-aset milik 1. penerapan model pelayanan “jemput bola”.8 0. Dalam APBN-P tahun 2010. Selama periode 2005–2009.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah atas (1) pelayanan pendaftaran tanah. Target tersebut didukung dengan kebijakan antara lain: (1) melakukan inventarisasi seluruh potensi PNBP pada kantor atau unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan Kemenkumham. Perkembangan PNBP BPN dapat dilihat pada Grafik III.

.

7 triliun. Sebagai kontributor utama penerimaan dalam negeri. Penerimaan dalam negeri yang terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP. Berdasarkan kondisi perekonomian nasional tersebut. Berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro pada tahun 2011. Sumber utama peningkatan tersebut diharapkan berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan meningkat sejalan dengan dilakukannya berbagai extra effort.4 Sasaran Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2011 Pendapatan negara dan hibah sangat penting sebagai sumber pendanaan program-program pembangunan sebagaimana yang tertuang dalam rencana kerja Pemerintah (RKP). dan opsi dividen interim dengan tetap memperhatikan cash flow BUMN. 3. (2) peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. ketidakpastian perkembangan harga minyak dunia yang akan berpengaruh terhadap tingkat harga juga akan memberikan pengaruh terhadap upaya pencapaian target penerimaan migas. pendapatan negara dan hibah diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010. serta komoditi tambang dan mineral guna mendukung pencapaian penerimaan SDA. (4) peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah 3. penyelesaian audit keuangan BUMN secara lebih awal guna mengetahui posisi rugi/laba BUMN.5 persen. pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan meningkat dibandingkan dengan tahun 2010. dan (3) peninjauan atas jenis dan tarif. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh cukup stabilnya fundamental ekonomi makro nasional dan juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi dunia. dan intensifikasi penarikan PNBP K/L. Pemerintah perlu berupaya melalui kebijakan dan perbaikan administrasi guna lebih mengoptimalkan pencapaian target PNBP tahun 2011. Beberapa kebijakan yang diambil untuk mencapai target tersebut adalah (1) penggalian potensi perpajakan. Apabila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. perbaikan administrasi pelaporan keuangan. target dalam tahun 2011 tersebut mengalami peningkatan sebesar 9. meskipun masih terdapat tantangan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi global terkait dengan terjadinya gejolak pada sektor keuangan di beberapa negara kawasan Eropa. terdiri atas penerimaan dalam negeri Rp1. pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp1. Upaya Pemerintah tersebut melalui (1) pengoptimalan lifting/produksi minyak mentah dan gas bumi.6 triliun dan hibah Rp3. penerimaan perpajakan diperkirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. (3) penyempurnaan mekanisme atas keberatan dan banding dalam proses pengadilan pajak. Dalam tahun 2011. PNBP diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan target APBN-P 2010. menjadi pilar utama dari pendapatan negara dan hibah. Pada tahun 2011. dan (6) konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. Untuk itu. Extra effort tersebut antara lain dilakukan melalui perbaikan III-42 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (2) pengoptimalan penerimaan Pemerintah atas laba BUMN melalui optimalisasi pay-out ratio.086.4 triliun.082. terutama didorong oleh penurunan penerimaan dari bagian Pemerintah atas laba BUMN.3 Tantangan dan Peluang Kebijakan Pendapatan Negara Proses pemulihan ekonomi yang terjadi pada tahun 2010 memberikan landasan yang cukup kuat bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi dunia dan Indonesia pada tahun-tahun selanjutnya. Prospek pulihnya perekonomian menjadi salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan sumbersumber pendapatan negara. Di samping itu. (5) perbaikan sistem informasi.

Cukai vi.0 0.1 0.5 0.1 Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1. Pendapatan negara dan hibah dalam tahun 2010–2011 dapat dilihat pada Tabel III.1 5.8 11.9 0.1 Penerimaan Perpajakan Kebijakan Umum Perpajakan Tahun 2011 Sebagaimana tahun 2010.9 15.5 persen). Penerimaan Dalam Negeri 1.7 0.0 11. TABEL III.6 43. Migas ii.7 151.4.1 0.4 414.5 54.6 839. Selain itu.4 990.8 5.6 2.3 720. Bea masuk ii.086.082.1 243. dan selebihnya merupakan kontribusi dari PNBP sebesar Rp243.8 362. PNBP Lainnya d. Pajak Dalam Negeri i.6 triliun pada tahun 2011.4 0.7 % thd PDB 15.3 2. perbaikan administrasi perpajakan juga dilakukan dengan melanjutkan penghapusan fiskal luar negeri bagi WP Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-43 . Bagian Laba BUMN c.0 25. atau meningkat 9.4 0. BPHTB v.2 0. Sebagian besar dari target penerimaan dalam negeri tersebut merupakan kontribusi dari penerimaan perpajakan.5 15.16.2 360.8 22.1 158.5 1.2 0. Penerimaan SDA i.8 263.0 60. Pendapatan BLU II.0 5.9 11.2 0. Hibah Sumber: Kementerian Keuangan 2011 % thd PDB 15.7 4. Pajak lainnya b.4 0. Bea keluar 2.3 0.3 0. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pendapatan Negara dan Hibah I.0 APBN-P 992.4 0.3 0.5 5.5 12.1 4.2 23.5 9.9 4.3 12.1 triliun (22.1.5 743.3 3.9 RAPBN 1.3 309. Pajak Bumi dan Bangunan iv.0 2. Pajak Perdagangan Internasional i.1 18. penggalian potensi perpajakan. Nonmigas b.1 3.5 247.7 5.2 0.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III administrasi perpajakan.9 26.1 0.3 27.1 0.4 0.4 306.0 29.5 816. 3.16 PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH.8 0.9 3.5 triliun (77.1 4.082. Penerimaan Perpajakan a. Pajak penghasilan Migas Nonmigas ii.9 0.9 0.7 13.4 0.4 1.2 55. serta perbaikan mekanisme keberatan dan banding.6 0.4 14. Salah satu upaya perbaikan administrasi perpajakan tersebut adalah pengalihan BPHTB serta PBB sektor perdesaan dan perkotaan yang semula merupakan pajak pusat menjadi pajak daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).5 43.9 4.2 59.3 7.2 0. kebijakan umum perpajakan dilakukan melalui upaya perbaikan administrasi perpajakan.7 0.1 3. Pajak pertambahan nilai iii. peningkatan pemeriksaan pajak.2 164.2 145.6 17.5 2.5 persen). yaitu sebesar Rp839.4.3 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. Penerimaan Negara Bukan Pajak a.

dan (4) harmonisasi Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. yang penyelesaiannya membutuhkan waktu dalam jangka menengah (2009–2013). Sejalan dengan upaya perbaikan administrasi dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. Selanjutnya. terutama jalur rawan penyelundupan. antara lain dilakukan melalui program Project for Indonesia Tax Administration Reform (PINTAR). Pemerintah juga melakukan optimalisasi penerimaan kepabeanan dan cukai melalui peningkatan pelayanan kepabeanan dan cukai. Undang-undang Kepailitan. (2) melakukan kajian atas perlakuan PPN untuk barang hasil tambang. (3) otomatisasi pelayanan. Pemerintah juga akan melanjutkan program reformasi perpajakan dalam bentuk reformasi perpajakan jilid II. dan (5) optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut. Dalam hal ini.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah orang pribadi yang mempunyai NPWP sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008. Selain itu. guna menghindari dan mengurangi penyalahgunaan wewenang. Dalam rangka menggali potensi penerimaan pajak dalam tahun 2011. Pemerintah akan menyempurnakan mekanisme atas keberatan dan banding sebagai upaya untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak. beberapa kebijakan yang diambil Pemerintah adalah (1) menyusun kebijakan teknis pemeriksaan atas hasil pemeriksaan WP yang tergabung dalam satu grup. dan (5) konsistensi pelayanan kepabeanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Tanjung Priok. Tanjung Emas. (2) peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang. (4) aplikasi optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP). (4) implementasi kawasan pelayanan pabean terpadu. (3) meningkatkan koordinasi dengan berbagai instansi terkait sehubungan dengan pencairan piutang pajak dan prioritas pencairan kepada penunggak pajak terbesar. optimalisasi penerimaan pajak tahun 2011 juga didukung oleh upaya peningkatan kualitas pemeriksaan pajak. dan (5) pemberian pendidikan perpajakan (tax education) dalam rangka meningkatkan kepatuhan WP (tax payer compliance). (3) peningkatan kolektibilitas piutang kepabeanan dan cukai. Hal ini antara lain dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan informasi dari putusan pengadilan pajak serta keputusan keberatan dan nonkeberatan sebagai bahan untuk penggalian potensi perpajakan. Makasar dan Belawan). Khusus di bidang kepabeanan. Pemerintah akan menyusun kembali grand strategy untuk meningkatkan pengawasan. dan Belawan). Selanjutnya. (2) program intensifikasi penggalian potensi perpajakan berbasis profile WP. (3) penggalian potensi sektor-sektor tertentu. Terkait dengan upaya peningkatan pengawasan di bidang kepabeanan. melalui pembentukan KPPBC madya dan penyempurnaan birokrasi di lingkungan internal. Tanjung Perak. Langkah-langkah yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) melanjutkan reformasi birokrasi. antara lain (1) program ekstensifikasi perpajakan dalam menambah WP baru. beberapa program yang dilakukan oleh Pemerintah. Tanjung Perak. serta Undang-undang terkait tentang hak mendahulukan negara atas piutang pajak terhadap WP yang dinyatakan pailit. serta meningkatkan fungsi litigasi agar Pemerintah dapat memenangkan sengketa dalam sidang banding dan gugatan di Pengadilan Pajak. III-44 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . (2) penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Window (INSW) di 5 kantor pabean (Tanjung Priok. Bandara Soekarno Hatta. (4) peningkatan pengawasan di daerah perbatasan. optimalisasi penerimaan dalam tahun 2011 dilakukan antara lain melalui (1) peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor. Selain kelima upaya tersebut.

(3) upaya extra effort yang dilakukan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan. pemanfaatan informasi teknologi di bidang pelayanan cukai dan peningkatan pengawasan di bidang cukai. dan (3) pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dilakukan melalui pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum tahun 2014. baik secara global maupun domestik. di sisi kebijakan kepabeanan dan cukai. dari target APBN-P tahun 2010.3 triliun. yang terdiri atas PPh DTP untuk panas bumi sebesar Rp1. Termasuk dalam target penerimaan PPh adalah fasilitas pajak ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp3. atau meningkat 12. PPh nonmigas ditargetkan mengalami kenaikan 17. melakukan pendeteksian dini terhadap pelanggaran.9 persen dari targetnya dalam APBN-P tahun 2010. dan (3) lifting minyak sebesar 970 ribu bph. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam peningkatan penerimaan perpajakan adalah (1) pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. faktor utama yang berpengaruh adalah penerapan kebijakan perpajakan yang berperan dalam meningkatkan penerimaan PPh nonmigas antara lain: (1) kegiatan pasca sunset policy yang Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-45 . penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp839. optimalisasi penerimaan cukai juga dilakukan melalui kajian tentang ekstensifikasi barang kena cukai.5 triliun.5 triliun pada tahun 2011. otomatisasi proses pengawasan secara vertikal dan horisontal. (2) nilai tukar rupiah rata-rata Rp9. hingga mencapai Rp360. serta optimalisasi sosialisasi di bidang cukai. dalam rangka mendukung sasaran pertumbuhan investasi sesuai dengan RKP 2011. (2) percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. Khusus di bidang cukai. dan PPh DTP untuk hibah dan kerjasama keuangan internasional sebesar Rp1. PPh DTP untuk bunga obligasi internasional sebesar Rp1. atau meningkat 14.5 triliun. kepabeanan dan cukai yang dilakukan secara terus menerus. Upaya tersebut akan dilaksanakan melalui (1) pengoperasian secara penuh INSW untuk impor (sebelum tahun 2010) dan untuk ekspor.300 per USD.0 triliun.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III beberapa kebijakan yang diambil adalah dengan melakukan penataan hubungan kerja antarunit pengawasan. PPh migas ditargetkan mencapai Rp54. Bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. Dari keseluruhan penerimaan PPh pada tahun 2011. serta perbaikan bisnis proses audit dan revitalisasi fungsi audit. Secara umum.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya dalam APBN-P tahun 2010. akan terus diupayakan perbaikan sistem informasi. PPh ditargetkan mencapai Rp414. pelekatan pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya untuk MMEA golongan A.0 triliun.2 persen. kebijakan pada tahun 2011 tetap diarahkan pada konsistensi pelaksanaan road map cukai hasil tembakau. target PPh migas tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 2. Sasaran penerimaan PPh migas tahun 2011 didasarkan antara lain pada: (1) asumsi ICP USD80. (2) perbaikan administrasi pajak.2 triliun.1 persen kontribusi terhadap penerimaan PPh.0 per barel. atau 13.5 triliun. Sementara itu. Target Penerimaan Perpajakan Tahun 2011 Pada tahun 2011. Selain itu. penerapan pola profiling secara sistematis dalam rangka risk management. dan (4) tingginya tax compliance masyarakat. Pada tahun 2011.4 persen.

5 29. Perkiraan penerimaan PPh nonmigas sektoral dapat dilihat pada Tabel III.3 triliun. Kehutanan. dan jasa perusahaan memberikan kontribusi sebesar Rp66.5 7.9 100.6 persen) atau mengalami pertumbuhan sebesar 23. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik. real estate.3 persen.8 22.7 31.1 persen atau Rp49.5 triliun.0 3.0 RAPBN 12.1 9.3 77. 9.7 8.1 18. di dalamnya terdapat target penerimaan perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah sebesar Rp9.4 2.3 19.3 persen.8 persen) dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 22. (3) kegiatan intensifikasi melalui mapping.2 6.1 66.4 % thd Total 4. Penerimaan PPh nonmigas sektoral pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp 308.9 % thd Total 3.0 triliun (12.7 5.3 17. profiling. hotel dan restoran sebagai kontributor terbesar ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp39.0 triliun. sektor keuangan.6 28.0 6.5 17. dan LPG 3 kg bersubsidi sebesar Rp6.0 12. Target tersebut merupakan target bruto yang belum memperhitungkan penerimaan dalam bentuk mata uang asing serta kemungkinan restitusi yang terjadi.8 7.2 8.6 0. Dalam target PPN dan PPnBM tersebut.2 (12.8 22.9 persen.2 0.3 9.4 0. Konsumsi masyarakat dan Pemerintah yang masing-masing diperkirakan tumbuh di atas 5 persen dan 6 persen diharapkan dapat mendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM dalam negeri.7 25. Selanjutnya.4 61.2 14.5 1.3 triliun.1 Perk.2 12.7 49.0 * Belum memperhitungkan penerimaan PPh valas dan BUN.9 21. terutama didukung oleh sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp95.17 PERKEMBANGAN PPh NONMIGAS SEKTORAL. Hotel.4 258. 2010 − 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.7 persen) dengan pertumbuhan 8.7 39. dari perkiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 5.0 100. (2) PPN DTP untuk pajak dalam rangka impor (PDRI) terkait III-46 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 .6 persen.7) (19. Rincian dari PPN DTP adalah (1) PPN DTP untuk bahan bakar minyak.7 23.9 3. Real.2 3.0 0.1 30.2 5.0 y-o-y 34. Demikian juga dengan aktivitas perdagangan dunia yang diperkirakan tumbuh di atas 6 persen akan menjadi salah satu pendorong peningkatan penerimaan PPN dan PPnBM impor.1 9. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.7 19. Bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010.0 150.3 8.17.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah menitikberatkan pada law enforcement dan pembinaan kepada wajib pajak.8 0.0 18.1 2.6 5.8 2.6 20.6 persen dari perkiraannya dalam APBN-P tahun 2010. TABEL III.2) 32.1 308.7) 24.8 23. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. transaksi yang offline serta restitusi Pada tahun 2011.8 8. Gas.6 persen.4 95. Peternakan.3 2. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y (8. Sementara itu.6 3.7 29. (2) perluasan basis pajak.5) (20.7 0.5 7.6 4.1 30. sektor perdagangan. target PPN dan PPnBM adalah sebesar Rp309. atau meningkat 17.3 7. Peningkatan ini sejalan dengan lebih tingginya asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 yang mencapai 6.4 triliun. bahan bakar nabati.5 8. dan (4) upaya extra effort melalui pemeriksaan dan penagihan.8 26. dan benchmarking. target tersebut meningkat sebesar 19.1 triliun (30. Real Estate.8 triliun (21.

3 78.4 persen. Kontributor utama adalah sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar Rp72.8 100.1 0.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 26.5 37.1 12. atau meningkat 9.1 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010. dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang Belum Jelas Batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 9. Real Estate. sektor industri perdagangan.3 0. Sementara itu.5 triliun.5 4.8 triliun.9 1. Gas.0 15.1 18.4 11. penerimaan PPN DN terutama disumbangkan oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar Rp85.4 8. transaksi yang offline dan restitusi Pada tahun 2011.8 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.18. Penerimaan dari PBB ditargetkan mencapai Rp27.3 100. dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.8 2.2 persen) dengan pertumbuhan mencapai 21. penerimaan PPN impor sektoral diperkirakan mencapai Rp117. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.6 persen dan sektor perdagangan.2 triliun (46.1 46.6 7. sebagai komponen terbesar.9 1. 3.2 0.1 44.1 19.0 (42.0 y-o-y 18.8 7.2 85.7 15.8 triliun. Penerimaan PPN dalam negeri (PPN DN) sektoral pada tahun 2011 diperkirakan mencapai Rp181.2 3.4 14.6 21. sebagai kontributor terbesar kedua.8 26. TABEL III.4 (83. Perkiraan penerimaan PPN DN sektoral dapat dilihat pada Tabel III. Selanjutnya.4 43. Hotel.2 67.7 persen) dengan pertumbuhan sebesar 28.1 56.4 181. 2010 – 2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.2 triliun (30. Real.4 43.8 15.9 0.1 28.2 1.2 1.4 0.3 12.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L. dan (3) PPN DTP untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar Rp0.9 persen bila dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2010. Peternakan.8 7.4 6.3 2.1) 6. sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sebesar Rp14.5 % thd Total 2. gas bumi serta panas bumi sebesar Rp2.2 persen.1 3.4 24.9 2.7 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.7 persen.3 0.9 12.3 0.9 6.0 58. Secara lebih rinci. PBB pertambangan ditargetkan mencapai Rp20. serta restoran dengan kontribusi sebesar Rp32. Secara umum.2 7.4 12.1 30.3 % thd Total 2.7 triliun pada tahun 2011. dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.6 2.7 persen.7 50. Kehutanan.9 18.6 6.2 28. Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-47 .7 RAPBN 3.3 0. hotel. Sedangkan sebagai kontributor ketiga terbesar.9) 55.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III kebutuhan eksplorasi hulu minyak.3 persen dari targetnya pada APBN-P tahun 2010.1 Perk.4 31.3 152. hotel dan restoran memberikan kontribusi sebesar Rp36.2 0.0 12.0 triliun (61.9 1.9 2.7 17.18 PERKEMBANGAN PPN DALAM NEGERI SEKTORAL. peningkatan PPN impor sektoral terutama disebabkan oleh perkiraan meningkatnya transaksi perdagangan internasional seiring dengan membaiknya perekonomian dunia. Target penerimaan PBB tersebut sudah mengantisipasi kebijakan pengalihan administrasi PBB sektor perdesaan dan perkotaan dari pusat ke daerah yang sudah siap untuk melaksanakan kebijakan tersebut.1 32.4 triliun (17.7 triliun atau meningkat sebesar 23.5 4.3 triliun (7.5 triliun atau meningkat sebesar 19. atau naik 21.9 persen) dengan pertumbuhan sebesar 15.19. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap penerimaan PPN impor sektoral tahun 2010–2011 dapat dilihat dalam Tabel III.

4 (8.4 (85. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi yang menggunakan benda materai.4) 45.1 3.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah TABEL III.2 1.1 0. Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kegiatan yang belum jelas batasannya Total Sumber : Kementerian Keuangan 2011 y-o-y 366.2 1. Bila dibandingkan dengan APBN-P tahun 2010.3 1.0 RAPBN 0. Beberapa faktor yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah (1) peningkatan tarif cukai hasil tembakau sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau.4 0.0 59.0 triliun.0 0. target cukai 2011 mengalami peningkatan 2.2 2.2 0. didukung oleh peningkatan cukai hasil tembakau sebesar 3.8) 51.3 1.0 117. 2010-2011 (triliun rupiah) 2010 Uraian Pertanian.6 1. dan (4) extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal.4 persen.3) 318.3) 21.9 30.6 0. atau 9.1 0.2 (45.0 61.0 * Belum memperhitungkan PPN dari transaksi pembelian yang dilakukan K/L. Kehutanan dan Perikanan Pertambangan Migas Pertambangan Bukan Migas Penggalian Industri Pengolahan Listrik.9 Perk. bea keluar ditargetkan mencapai Rp5. Dalam tahun 2011.1 triliun.0 y-o-y 47.7 (13.0 29.7 10.5 0.0 triliun.5 (40.7 % thd Total 0.6 2.2 (70. (2) nilai tukar rupiah yang rata-rata Rp9. Gas dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan.0 0. terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58.3 2.6 0.0 % thd Total 0. dan (3) meningkatnya volume impor sebagai dampak dari meningkatnya volume perdagangan internasional.9 28.3 2.7 0. (2) peningkatan tarif cukai MMEA dan EA.9 2.9) 62. Pada tahun 2011.2 0.3 3. Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. stabilitas harga nasional.300 per USD.19 PERKEMBANGAN PPN IMPOR SEKTORAL. Target penerimaan bea masuk pada tahun 2011 tersebut termasuk bea masuk yang ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp2. Penerimaan bea masuk pada tahun 2011 ditargetkan mencapai Rp18.7 1.0 100.9 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan target III-48 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2.9 persen.2 0.0 (2.9 (0.1 triliun atau 5.4) 124. (3) perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai. dan kelestarian sumber daya alam. pajak lainnya ditargetkan mencapai Rp4.0 62.5) 38. Kebijakan bea keluar tidak semata-mata ditujukan untuk menghimpun penerimaan negara.0 72.3 persen. Namun terdapat tujuan lain seperti ketersediaan komoditi dalam negeri. 0. transaksi yang offline dan restitusi Sehubungan dengan kebijakan pengalihan administrasi BPHTB dari Pemerintah pusat ke pemerintah daerah.0) 14.7 triliun.2 0. Real.1 0.8 (9.0 95. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60.0 100.6 0. Peternakan.7 23.7 triliun.0 36.5 49.1 0.4 persen bila dibandingkan dengan targetnya pada APBN-P tahun 2010. Asumsi-asumsi yang dijadikan pertimbangan dalam penetapan target bea masuk adalah (1) pertumbuhan ekonomi 6.0 0.2 triliun.9 0.9 28.4) 54.2 persen.3 0. maka tidak ada penerimaan BPHTB pada RAPBN tahun 2011.3 0.5 0. Bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010.2 11.2 0.3 4.1 0. terjadi peningkatan sebesar 5.

.

.

Penerimaan pertambangan panas bumi ini bersumber dari perhitungan setoran bagian Pemerintah sebesar 34 persen dari penerimaan bersih usaha kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi (net operating income/NOI) untuk pembangkitan energi/listrik setelah dikurangi dengan semua kewajiban pembayaran pajak-pajak dan pungutan-pungutan lain. upaya yang akan ditempuh dalam tahun 2011 antara lain: (1) optimalisasi pelayanan dan penertiban perijinan usaha. Penerimaan Bagian Pemerintah atas Laba BUMN Kondisi makroekonomi yang masih rentan terhadap efek dari defisit anggaran negara-negara Organization for Economic Cooperation Development (OECD) terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat di tahun 2010. Penerimaan pertambangan panas bumi dalam RAPBN 2011 direncanakan mencapai Rp356. Kebijakan penyesuaian pay-out ratio BUMN perbankan tersebut akan dikompensasi melalui Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-51 . Di samping itu. (8) peningkatan kemampuan armada perikanan dalam negeri untuk mengganti kapal asing yang beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan laut lepas. antisipasi peningkatan non performing loan (NPL) menjadi komponen pengurang laba BUMN perbankan sehubungan dengan cadangan umum penyisihan penghapusan aset atas aset produktif. Penerimaan perikanan ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan sumber penerimaan lainnya dalam SDA nonmigas. Guna mengoptimalkan penerimaan perikanan. BUMN Sektor Perbankan. (9) peningkatan pelayanan. Sumber utama penerimaan perikanan berasal dari pungutan pengusahaan perikanan (PPP). sesuai Peraturan Bank Indonesia dan Bapepam-LK. (5) pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu. dan kegiatan pengolahan ikan serta penerimaan daerah melalui retribusi bidang kelautan dan perikanan. Hal lain adalah Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Peningkatan Capital Adequacy Ratio atau Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang juga mengurangi laba BUMN perbankan. termasuk di dalamnya pungutan perikanan asing (PPA) dan pungutan hasil perikanan (PHP).7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Untuk BUMN sektor perbankan. (2) penanggulangan illegal fishing.1 miliar. peranan sektor perikanan tersebut juga dapat dilihat dari meningkatnya kegiatan ekonomi di sentra-sentra kegiatan nelayan di pelabuhan perikanan dan pasar ikan. Namun. (7) dorongan dibentuknya perusahaan PMA untuk meningkatkan investasi di bidang pengolahan hasil perikanan.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III sebesar Rp50.7 miliar atau 45. Terkait dengan hal tersebut. dan (10) percepatan perizinan dan administrasi penagihan. kegiatan perikanan di sentra-sentra budidaya. meningkat sebesar Rp111. (6) dorongan pengusahaan perikanan asing yang semula beroperasi dengan scheme lisensi untuk melakukan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan domestik dan mendaratkan hasil tangkapannya di pelabuhan perikanan Indonesia sebagai pasokan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan.3 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P 2010. Pemerintah akan melakukan penyesuaian pay-out ratio terhadap beberapa BUMN perbankan yang membutuhkan tambahan anggaran investasi untuk kegiatan investasi. akan menjadi tantangan besar bagi Pemerintah untuk tetap dapat menjaga kinerja BUMN agar tidak mengurangi penerimaan dividen di tahun 2011. (4) revisi Harga Patokan Ikan (HPI).0 miliar atau 33. (3) revisi PP Nomor 19/2006 tentang Pungutan Tarif PNBP KKP. Jasa Keuangan dan Asuransi perlu memupuk dana untuk memenuhi persyaratan kecukupan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk perbankan BUMN yang melakukan IPO dengan prospektus dengan menjanjikan pay-out ratio tertentu.

dengan tetap memperhatikan arus kas untuk operasi BUMN tersebut. (g) rencana POR BUMN Pertambangan 30-45 persen. Langkah-langkah tersebut juga dipersiapkan dalam rangka antisipasi pemberlakuan ACFTA agar BUMN dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Target PNBP lainnya tahun 2010—2011 dapat dilihat dalam Grafik III. Terkait dengan rencana peningkatan kinerja BUMN di tahun 2011. PT Askes. (b) audit keuangan oleh kantor akuntan publik (KAP) dapat selesai lebih awal dari jadwal agar angka definitif atas laba/rugi bersih BUMN secara dini dapat diketahui.4 triliun. Rencana kebijakan Pemerintah untuk PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN di tahun 2011 adalah dengan menerapkan kebijakan pay-out ratio 50-60 persen dengan beberapa pengecualian. sedikit mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp43. PNBP Lainnya Dalam tahun 2011.36. dan (b) BUMN yang sedang direstrukturisasi dan meraih laba namun masih mengalami akumulasi rugi agar lebih sehat. dan (c) opsi untuk mengambil dividen interim terhadap BUMN yang sudah menyelenggarakan RUPS. (e) penetapan POR BUMN Sektor Farmasi 0-20 persen. target PNBP lainnya direncanakan sebesar Rp43.6 triliun. PT Taspen. (f) rencana POR BUMN Perbankan 35-45 persen untuk antisipasi Implementasi BASEL II dan PSAK 50/55 agar CAR Bank BUMN pada tahun 2014 tetap di atas 10 persen dan dapat tetap memajukan sektor riil dengan pertumbuhan ekspansi kredit 18-27 persen. Langkah taktis yang disiapkan untuk tahun 2011 antara lain adalah: (a) peningkatan cadangan modal kerja untuk BUMN yang sehat dan perlu modal kerja dan sekaligus belanja investasi (capital expenditure) agar BUMN dapat lebih berkembang menuju ke tingkat economic of scale dan sekaligus mampu meningkatkan pendapatan serta lebih efisien. terkait dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang menjelaskan bahwa BUMN asuransi menjadi organisasi nirlaba. untuk dapat ditetapkan langkah-langkah dalam mencapai target yang diharapkan. Pemerintah secara konsisten akan melakukan berbagai langkah pembenahan internal di tubuh BUMN.5 triliun. (b) penetapan POR nol persen untuk BUMN kehutanan. dan untuk BUMN laba dengan akumulasi rugi.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah upaya penyaluran kredit dengan tingkat suku bunga rendah dan pengurangan dana simpanan dalam bentuk SBI. terkait dengan upaya pelestarian hutan di Indonesia. III-52 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . dan PT Asabri diterapkan POR nol persen. khusus PT Jamsostek. Adapun rencana strategi yang akan ditempuh Pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan dari dividen BUMN dalam tahun 2011 adalah: (a) optimalisasi dividen pay-out ratio dengan mempertimbangkan antara lain kondisi keuangan dan penugasan oleh Pemerintah serta peraturan perundangan yang berlaku (misalnya: UU SJSN. besaran PNBP bagian Pemerintah atas laba BUMN termasuk dividen interim tahun 2011 direncanakan sebesar Rp26. dan (h) rencana POR PT Pertamina 45-50 persen. Prospektus IPO). tidak diambil dividennya. Dengan memperhatikan kondisi dan tantangan dan asumsi dasar ekonomi makro 2011 serta rencana kebijakan yang akan ditempuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. (d) rencana POR BUMN Sektor Perkebunan 0-25 persen. yaitu (a) penetapan pay-out ratio (POR) 0-25 persen untuk BUMN sektor asuransi. (c) penetapan POR 0-60 persen untuk BUMN laba tanpa akumulasi rugi. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mendorong pertumbuhan kredit di tengah pelemahan perekonomian.

.

(b) melanjutkan pembangunan jaringan online Samsat di seluruh Polda.8 2.0 triliun. 2010 − 2011 triliun Rp 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Ke menterian Pe ndid ikan Nasional RAPBN 2011 10.7 6.38 PNBP KEMENDIKNAS.5 1. meningkat Rp0.0 Sumber : Kepolisian Negara Republik Indone sia Secara garis besar.8 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp2.8 triliun.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah (4) melakukan pengkajian secara komprehensif mengenai formula dan besaran variabel dalam pengenaan BHP frekuensi. PNBP Kemendiknas direncanakan mencapai Rp10. 2010 − 2011 triliun Rp 3. Dalam tahun 2011.5 0. dan (c) meningkatkan akuntabilitas publik melalui penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang ditata melalui mekanisme pelaporan kinerja perguruan tinggi. Perkembangan PNBP Polri tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.5 2.7 triliun. STNK. yang menambah keluasan fungsi dan peran Ditlantas Polri dalam mewujudkan keamanan. dan kelancaran berlalu lintas. kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah (a) meningkatkan kemampuan SDM Polri melalui pendidikan dan pelatihan. keselamatan. terutama bersumber dari tambahan PTN eks-BHMN yang berubah menjadi satuan kerja BLU dan penerimaan dari hasil penjualan produk pendidikan. dan BPKB sebagai dampak bertambahnya jumlah kendaraan bermotor.39.0 2. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya pendapatan dari pengadministrasian SIM. Perkembangan PNBP Kemendiknas tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. Dalam tahun 2011.38. GRAFIK III.0 1. dan (d) melaksanakan Perpolisian Masyarakat (Polmas) melalui kegiatan Citra Polantas.8 persen apabila dibandingkan dengan target dalam APBN-P 2010 sebesar Rp6.8 triliun atau 39.0 0.7 triliun. (c) melanjutkan upgrade jaringan Satpas termasuk SIM keliling. serta pemberlakuan Undangundang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.39 PNBP POLRI. III-54 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . serta (5) melakukan otomatisasi/modernisasi proses perizinan dalam rangka meningkatkan pelayanan publik. target PNBP Polri direncanakan sebesar Rp2.0 APBN-P 2010 RAPBN 2011 2. (b) pada masa transisi dari sentralisasi menuju masa otonomi. Peningkatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya penerimaan jasa pendidikan. ketertiban. akan dilakukan pengembangan kapasitas guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki keleluasaan dalam memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang sehat dan memiliki kapasitas untuk merespon lingkungan yang berubah.0 triliun atau 59. GRAFIK III. Penerimaan tersebut meningkat sebesar Rp4.7 Pokok-pokok kebijakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai target tersebut antara lain: (a) penguatan kapasitas pendidikan tinggi melalui pengembangan mekanisme untuk mewujudkan kesehatan organisasi dan otonomi masing-masing perguruan tinggi.

9 triliun. serta (c) penerapan model pelayanan kantor pertanahan bergerak pelayanan rakyat sertifikasi pertanahan (LARASITA).6 Secara garis besar.2 0. Penurunan tersebut disebabkan oleh dihapuskannya PNBP dari kegiatan pelayanan penetapan hak atas tanah berupa uang pemasukan kepada negara. dan jasa Nota Keuangan dan RAPBN 2011 III-55 . (4) mengembangkan otomatisasi sistem pelayanan hak kekayaan intelektual.8 triliun.40 PNBP BPN.6 triliun.5 triliun.0 1.3 triliun. Peningkatan tersebut utamanya disebabkan oleh meningkatnya kunjungan dan izin tinggal orang asing di Indonesia.3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. jangka waktu pelayanan.8 0.0 persen dari target dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp9.5 1. Dilihat dari sumber perolehannya.5 triliun. pokok-pokok kebijakan yang 0.Pendapatan Negara dan Hibah Bab III PNBP BPN dalam tahun 2011 direncanakan mencapai Rp1. Dalam tahun 2011.7 persen bila dibandingkan dengan target APBN-P tahun 2010 sebesar Rp1. naik Rp0.3 Pencapaian target PNBP BPN tahun 2010 0. (2) menambah jumlah tempat pemeriksaan imigrasi dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK). Perkembangan PNBP Kemenkumham tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III.1 triliun atau 6.5 triliun. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh bertambahnya jumlah perguruan tinggi negeri yang menerapkan pola BLU dan telah diterapkannya pola pengelolaan BLU oleh seluruh rumah sakit Pemerintah.41 PNBP KEMENKUMHAM. (b) peningkatan kapasitas kemampuan pelayanan dengan penambahan petugas ukur dan pendataan data yuridis.6 1. Perkembangan pendapatan BLU tahun 2010 dan 2011 dapat dilihat pada Grafik III. (3) menambah jumlah negara subjek VKSK menjadi 62 negara. 2010 − 2011 triliun Rp 1.0 APBN-P RAPBN didukung oleh (a) peningkatan kegiatan sosialisasi 2010 2011 dan transparansi pelayanan kepada masyarakat Sumber : Badan Pertanahan Nasional yang mencakup informasi tentang persyaratan.5 1.41.4 triliun atau 57. GRAFIK III. sebagian besar pendapatan BLU tahun 2011 berasal dari pendapatan jasa pelayanan pendidikan yang direncanakan sebesar Rp7. PNBP Kemenkumham direncanakan sebesar Rp1. GRAFIK III.42.6 1.0 APBN-P RAPBN akan ditempuh untuk mencapai target tahun 2011 2010 2011 tersebut adalah: (1) peningkatan pelayanan kepada Sumber : Kementerian Hukum d an HAM masyarakat melalui penambahan kantor imigrasi.2 0.8 0. dan biaya pelayanan. turun Rp0. dan (5) melakukan perjanjian kerjasama dengan bank BUMN untuk penerimaan biaya VKSK.2 triliun atau 13. Penerimaan ini lebih tinggi Rp5.4 1.40 memperlihatkan target PNBP BPN tahun 2010 dan 2011. 2010 − 2011 triliun Rp 2. Pendapatan BLU Pendapatan BLU dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp14. Grafik III.4 ` 1.

43 antara lain dipengaruhi oleh semakin PENERIMAAN HIBAH. Grafik III.43 memperlihatkan 2010 2011 perkembangan target hibah 2010 dan Sumber : Kementerian Keuangan 2011. Peningkatan tersebut GRAFIK III.9 triliun.2 3. serta (3) meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan instansi Pemerintah. dikarenakan menampung hibah aset 1.4 triliun.Bab III Pendapatan Negara dan Hibah pelayanan rumah sakit yang diperkirakan mencapai Rp3.2 0.4 1. Selain itu 2.0 penerimaan hibah dalam APBN.6 yang akan digunakan untuk PMN terhadap PT Geo Dipa Energi sebesar Rpo.2 persen jika dibandingkan dengan target APBN-P 2010 sebesar Rp1. pendapatan dari jasa penyelenggaraan telekomunikasi direncanakan mencapai Rp1.6 sistem administrasi dan pencatatan 3. Target tersebut lebih tinggi Rp1.9 triliun.8 triliun atau 97.9 juga. di antaranya: (1) meningkatkan pelayanan publik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia. GRAFIK III. pencapaian target pendapatan BLU tahun 2011 didukung oleh kebijakan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing BLU.7 perubahan iklim serta semakin efektifnya 3. 2010 − 2011 tingginya komitmen negara donor untuk membantu Indonesia terkait masalah triliun Rp 4.9 3. (2) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan keuangan BLU.5 14.4 APBN-P RAPBN triliun. Sementara itu. 2010 − 2011 triliun Rp 16 14 12 10 8 6 4 2 0 APBN-P 2010 Sumbe r : Kementerian Keuangan RAPBN 2011 9.2 Penerimaan Hibah Penerimaan hibah dalam tahun 2011 direncanakan sebesar Rp3.7 triliun.42 PENDAPATAN BLU.4. III-56 Nota Keuangan dan RAPBN 2011 . Secara umum.8 dari PT Pertamina dan PT PLN (Persero) 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful