P. 1
an Model Pembelajaran PAIKEM Dengan Pendekatan

an Model Pembelajaran PAIKEM Dengan Pendekatan

|Views: 271|Likes:
Published by Anna Novita T

More info:

Published by: Anna Novita T on Aug 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2014

pdf

text

original

Pengembangan model Pembelajaran PAIKEM dengan Pendekatan SETS.

Posted by Bustamam Ismail on July 4, 2010 1. Latar Belakang

Manusia memperoleh sebagaian besar dari kemampuannya melalui belajar. Belajar adalah suatu peristiwa yang terjadi didalam kondisi-kondisi tertentu yang dapat diamati, diubah dan dikontrol (Robert M. Gagne, 1977). Kemampuan manusia yang dikembangkan melalui belajar yaitu: pertama; ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap. Pendidik dituntut untuk menyediakan kondisi belajar untuk peserta didik untuk mencapai kemampuan-kemampuan tertentu yang harus dipelajari oleh subyek didik. Dalam hal ini peranan desain pesan dalam kegiatan belajar mengajar sangat penting, karena desain pesan pembelajaran menunjuk pada proses memanipulasi, atau merencanakan suatu pola atau signal dan lambang yang dapat digunakan untuk menyediakan kondisi untuk belajar. Belajar itu menyenangkan. Tapi, siapa yang menjadi stakeholder dalam proses pembelajaran yang menyenangkan itu? Jawabannya adalah siswa. Siswa harus menjadi arsitek dalam proses belajar mereka sendiri. Kita semua setuju bahwa pembelajaran yang menyenangkan merupakan dambaan dari setiap peserta didik. Karena proses belajar yang menyenangkan bisa meningkatkan motivasi belajar yang tinggi bagi siswa guna menghasilkan produk belajar yang berkualitas. Untuk mencapai keberhasilan proses belajar, faktor motivasi merupakan kunci utama. Seorang guru harus mengetahui secara pasti mengapa seorang siswa memiliki berbagai macam motif dalam belajar. Ada empat katagori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang baik terkait dengan motivasi “mengapa siswa belajar”, yaitu (1) motivasi intrinsik (siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan), (2) motivasi instrumental (siswa belajar karena akan menerima konsekuensi: reward atau punishment), (3) motivasi sosial (siswa belajar karena ide dan gagasannya ingin dihargai), dan (4) motivasi prestasi (siswa belajar karena

ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya. Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada ‘mempelajari cara belajar’ (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Siswa sebagai stakeholder terlibat langsung dengan masalah, dan tertantang untuk belajar menyelesaikan berbagai masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan skenario pembelajaran berbasis masalah ini siswa akan berusaha memberdayakan seluruh potensi akademik dan strategi yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah secara individu/kelompok. Prinsip pembelajaran konstruktivisme yang berorientasi pada masalah dan tantangan akan menghasilkan sikap mental profesional, yang disebut researchmindedness dalam pola pikir siswa, sehingga kegiatan pembelajaran selalu menantang dan menyenangkan. Makalah ini akan diuraikan tentang aplikasi desain pesan dalam model pembelajaran PAIKEM yang menekankan pada aspek pemerolehan kemampuan berdasarkan teori Gagne yaitu ketrampilan intelektual, informasi verbal, strategi kognitif, ketrampilan motorik, dan sikap. BAB II KERANGKA PAIKEM, SETS DAN CTL A. Konsep Model Pembelajaran PAIKEM PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus

multi-media. lingkungan dsb). dan bukan semata potensi akademiknya. dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik. Memahami sifat yang dimiliki anak Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Secara garis besar. (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari. proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM a. PAIKEM dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1. auditorial dan kinestetik. menyenangkan. untuk mengungkapkan gagasannya. maka seorang guru harus mampu merancang media. Ketiga. Pelaksanaan Paikem harus memperhatikan bakat. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat. Keempat. termasuk cara belajar kelompok 5. 3. PAIKEM merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. anak Indonesia. dan apa yang mereka telah lakukan). anak kota. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’ 4. proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif. 2. proses Refleksi. maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. yaitu modalitas visual. referensi.dicapai. atau anak bukan Indonesia – . Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah. metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa. percobaan. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks. penyelidikan dan/atau wawancara). anak orang kaya. rekan siswa. minat dan modalitas belajar siswa. dialog atau melalui simulasi role-play). Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. dan cocok bagi siswa. Anak desa. Pertama. proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita. Kedua. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif. grafik atau dengan melihat suatu peristiwa). Jadi. menyentuh atau melakukan). anak orang miskin. kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita). Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa. dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk. dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut.

berapa. merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud. tugas guru adalah mengembangkannya. Dengan mengenal kemampuan anak. anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya. anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAIKEM. yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu). Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. guru mengajukan pertanyaan yang menantang. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. dan kemampuan memecahkan masalah Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. b. Namun demikian. e. Kreatif. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama. . Inovatif. Kritis untuk menganalisis masalah. Mengenal anak secara perorangan Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. kapan”. melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Kedua jenis berpikir tersebut. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar Sebagai makhluk sosial. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu. Oleh karena itu. misalnya. anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif. Berdasarkan pengalaman. dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan. d. anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. kritis dan kreatif. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. c. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorga-nisasian belajar.selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. kreatif.

Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. dan sebagainya. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. merumuskan pertanyaan. sosial. Selain itu. puisi. model. takut disepelekan. berhipotesis. atau takut dimarahi jika salah. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa.Selain itu. dan membuat gambar/diagram. atau kelompok. berpasangan. cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Oleh karena itu. Pengelolaan Kelas PAIKEM . Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan. Pe-manfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti meng-amati (dengan seluruh indera). g. membuat tulisan. mempertanyakan gagasan orang lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar. peta. Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. f. baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). mengklasifikasikan. atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. h. karangan. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. mencatat. dan ditata dengan baik. dan mengungkapkan gagasan merupakan tandatanda aktif mental. diagram. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar Lingkungan (fisik. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAIKEM. Pajangan dapat berupa gambar. benda asli.’ i. Sering bertanya. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik.

menata pengelompokan. dapat dilakukan berdasarkan karakteristik siswa atau didasarkan pada karakteristik materi. tugas apa yang diberikan kepada siswa untuk mencapai tujuan.Seting kelas yang konstruktif didasarkan pada nilai-nilai konstruktif dalam proses belajar. Situation. Seting kelas yang konstruktif akan memberikan kesempatan aktif belajar. bridge. dan belajar bersama. Penataan dan atau pengelolaan kelas dalam PAIKEM perlu mempertimbangkan enam elemen Constructivist Learning Design (CDL) yang dikemukakan oleh Gagnon and Collay. 2) menciptakan konteks belajar yang mendorong pengembangan otonomi pribadi 3) mengkondisikan pemelajar dengan alasan-alasan belajar dalam aktivitas belajar 4) mendorong pengaturan diri dengan pengembangan keterampilan dan tingkah laku yang memungkinkan pemelajar meningkatkan tanggung jawab dalam belajarnya. terkait dengan. Mengacu pada pendekatan holistik dalam pendidikan. pertanyaan klarifikasi apa yang digunakan untuk menengetahui cara berpikir dan aktivitas belajar siswa. yaitu: 1) melindungi pemelajar dari kerusakan praktik instruksional dengan mengembangkan otonomi dan kontrol pemelajar. or setting goals). dan membangun jembatan). yaitu situation. . Karakteristik seting kelas konstruktif untuk belajar adalah terkondisikannya belajar secara umum. pertanyaan apa yang dapat membangkitkan tiap elemen desain (panduan pertanyan apa yang dapat mengintrodusir situasi. Exhibit. and reflections. refleksi. apa tujuan episode pembelajaran yang akan dicapai. mendorong pengaturan diri dan membuat instruksi secara pribadi yang relevan dengan pemelajar. bagaimana mengetahui bahwa siswa telah mencapai tujuan. Lima metode kunci untuk merancang seting kelas yang konstruktif . otonomi individu. groupings. creating metaphors. exhibit. questions. answering question. Grouping. relevansi pribadi dan pluralisme. making decisions. bagaimana siswa merekan dan memamerkan kreasi mereka melalui demonstrasi cara berpikir mereka dalam menyelesaikan dan atau memenuhi tugas. 1998). termasuk kolaborasi. instruksi. aktivitas apa yang dipilih untuk menjembatani atara pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan dibangun siswa. dan 5) mendorong kesadaran belajar dan pengujian kesalahan (Hadi Mustofa. drawing conclusions. terkait dengan hal-hal berikut. apa yang diharapkan setelah siswa keluar ruangan kelas. Question. seting kelas konstruktif merefleksikan asumsi bahwa proses pengetahuan dan pemahaman akuisisi adalah benar-benar melekat pada konteks sosial dan emosional saat belajar. bagaimana deskripsi tugas tersebut (as a process of solving problems. Bridge.

Pembelajaran salingtemas hanya akan dibahas dalam konteks metode atau model pembelajaran. society) merupakan salah satu model atau pendekatan untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan sains yang cepat dan menjawab perubahan paradigma di atas. khususnya sains alam. Pendekatan SETS pada awalnya dikembangkan untuk pembelajaran sains. dan 2) SETS memberdayakan peserta didik dengan berbagai keterampilan sehingga mereka menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan lebih aktif merespons isu/masalah- . tetapi beberapa laporan menyebutkan bahwa tidaklah mudah untuk akhirnya benar-benar diterapkan di kelas. tidak akan dibahas pendidikan berbasis salingtemas yang memerlukan penyesuaian standar isi. proses. lingkungan. dan masyarakat secara timbal balik. dan konsep yang akan dibawa siswa setelah keluar kelas. misi. atau tujuan peningkatan motivasi dan pemahaman peserta didik dalam pembelajaran sains. teknologi. pada artikel ini. Kerangka pembelajaran SETS yang menempatkan tanggung jawab sosial sebagai tujuan utama dalam pembelajaran sains. dan masyarakat secara utuh. images. apa sikap. Beberapa negera telah berusaha menempatkan pembelajaran berbasis SETS dalam kurikulum sekolah menengah mereka. Misi. Walaupun para pendukung pembelajaran SETS selalu menekankan pentingnya perubahan standar atau kurikulum. environment. apakah siswa ingat tentang (feeling. teknologi. karena diperlukan pengenalan yang intensif kepada guru-guru sekolah menengah. Maksudnya ialah bahwa visi dan misi pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sain dan bagaimana perkembangan sain dapat mempengaruhi lingkungan. Dengan demikian. Ada dua visi dan tujuan pendekatan SETS dalam pendidikan seperti dikutip oleh Pedersen dari tulisan NSTA. Konsep Pendekatan SETS (Sains Environment Technology and Society) Pendekatan sains-teknologi-masyarakat (SETS = science. technology. walaupun dapat dikaji penggunaannya pada pembelajaran bidang-bidang lain. yaitu: 1) SETS melibatkan peserta didik dalam pengalaman dan isu-isu/masalah-masalah yang berhubungan langsung dengan kehidupan mereka. 1. atau paling jauh bisa mewarnai penyusunan kurikulum di tingkat satuan pendidikan. akhirnya menuntut perubahan tidak hanya pada metode pembelajaran di kelas. bagaimana siswa melakukan refleksi dalam menyelesaikan tugas mereka. tetapi juga perubahan mendasar pada kurikulum. dan Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan SETS Visi. dan tujuan pendekatan SETS sekurang-kurangnya dapat membuka wawasan peserta didik untuk memahami hakikat pendidikan sain. B. and language of their thought). untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum yang ada.Reflections. Visi. semangat dalam penerapan pembelajaran berbasis SETS yang diangkat dalam artikel ini hanyalah untuk tujuan melek sains. seperti Kanada(4) dan Australia.

Sejalan dengan pernyataan Heath (Heath. 1991:146) menyatakan bahwa isu-isu sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dalam pembelajaran sain yang didasarkan pada aspek-aspek sosial dari sain. dan teknologi dengan kehidupan masyarakat (Yager & Roy. and he will survive a lifetime”. Sedangkan Yager (1993:13) menyatakan bahwa salah satu tujuan pokok dari pendekatan SETS adalah mengaktifkan peserta didik dalam kegiatan pemecahan isu-isu/masalah-masalah yang telah diidentifikasi. Tujuan utama pendidikan dengan Pendekatan SETS adalah mempersiapkan peserta didik menjadi wagra negara dan warga masyarakat yang memiliki suatu kemampuan dan kedasaran untuk: . Demikian halnya Gregorio (1991:39) menyatakan bahwa dalam pembelajaran sains dengan Pendekatan SETS. 3) SETS merupakan suatu pendekatan pembelajaran untuk sains yang disesuaikan dengan kecakapan kelompok. 1992:55) bahwa isu-isu atau masalah-masalah dalam masyarakat dapat menjadi suatu basis pembelajaran dengan pendekatan SETS sekaligus sebagai “perekat” yang membolehkan integrasi belajar dan mengajar lintas disiplin ilmu dalam upaya membantu peserta didik dan warga negara untuk menyadari dan memahami adanya interaksi antara sain. Program SETS telah menjadi suatu gerakan dalam pendidikan sain di negara-negara yang telah maju. and he will survive for a day. dan 5) SETS merupakan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner. dan bukan melemahkan atau menghambat perkembangan sains. lingkungan. bertujuan mengintegrasikan sain. 2) tujuannya adalah humanisasi pengajaran sain dengan menempatkannya dalam konteks sosial dan teknologi. 4) SETS merupakan suatu program atau kurikulum sains. 1993:7). dan bukan memandang sains sebagai tujuan yang terlepas dari atau di luar pengalaman sehari-hari. but teach him how to culture fish. Sementara dalam Diwa Learning System (Gregorio. teknologi. dan bukan suatu disiplin atau ruang lingkup pelajaran. 1992:26). peserta didik diikutsertakan dalam aktivitas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. yakni “Give a man a fish. Berhubungan dengan visi dan tujuan-tujuan Pendekatan SETS. dan bukan sains itu sendiri. dan masyarakat. dan bukan evolusi dalam pengajaran sains. 1991:37) dinyatakan bahwa: 1) SETS merupakan suatu perubahan penekanan dalam pengajaran sains di sekolah.masalah yang mempengaruhi kehidupan mereka (Pedersen. lingkungan. Gregorio (1991:40) mengungkapkannya dengan suatu kalimat yang diletakkan di antara dua tanda kutip. Sementara Rosenthal (Lo.

yaitu domain konsep. 1996b:3-4. Ruang Lingkup Pembelajaran dengan Pendekatan SETS Menurut Yager & McCormack (Yager. 2) kemampuan peserta didik mengidentifikasi isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat dan berupaya memecahkannya. menganalisis. teknologi. memahami dan menerapkan konsep-konsep/prinsipprinsip dan proses sain dan teknologi pada situasi nyata 2) melakukan perubahan 3) membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mendasar tentang isu/masalahmasalah yang sedang dihadapi yang memiliki komponen sain dan teknologi 4) merencanakan kegiatan-kegiatan baik secara individu maupun kelompok dalam rangka pengambilan tindakan dan pemecahan isu-isu atau masalah-masalah yang sedang dihadapi 5) bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan dan tindakannya 6) mempersiapkan peserta didik untuk menggunakan sain bagi pengembangan hidup dan mengikuti perkembangan dunia teknologi. dan pengembangan sikap. proses. personal. yaitu: 1) kemampuan peserta didik mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada alam dan menemukan jawabannya. nilai-nilai sosial budaya lokal.1) menyelidiki. 7) mengajar para peserta didik untuk mengambil tanggung jawab dengan isu-isu lingkungan. ada beberapa aspek yang perlu mendapat penekanan dan dipresentasikan secara proporsional dan terintegrasi dalam pembelajaran sains di sekolah dengan pendekatan SETS. mempertimbangkan nilai-nilai dan konteks sosial budaya masyarakat. atau masyarakat 8) mengidentifikasi pengetahuan fundamental sehingga peserta didik secara tuntas memperoleh kepandaian dengan isu-isu SETS Dengan demikian. 2. ada enam domain utama SETS untuk pengajaran dan penilaian. sikap. 1992b:5-6). . 3) 4) 5) 6) penguasaan pengetahuan ilmiah (sains) dan keterampilan (teknologi) dan berupaya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. dan global. kreativitas.

motivasi. ekspresi perasaan pribadi. 1992. Alvarez. penginterpretasian data/informasi. 1993. dan keingintahuan (Alvarez. pengklasifikasian dan pengorganisasian data. Domain sikap meliputi: pengembangan sikap positif terhadap guru-guru dan pelajaran sain di sekolah. Hausfather. menyelesaikan masalah dan hal-hal yang membingungkan atau menjadi teka-teki. pembuatan instrumen dan alat-alat sederhana. dapat berupa minat/perhatian. Domain ini dapat dibedakan antara keterampilan proses dasar (observasi. dan ide-ide dari seseorang. kepercayaan diri. komunikasi. klasifikasi. perumusan dan pengujian hipotesis. Glasson. pengukuran. keterbukaan. Sikap terhadap sain dihubungkan dengan reaksi emosional terhadap perhatian/minat peserta didik. perasaan. membuat keputusan tentang nilai-nilai pribadi. prediksi. nilai-nilai. pengukuran dan pembuatan grafik. menerapkan konsep-konsep sain dan . kepekaan. 1969. hukum (prinsip-prinsip). kebingungan dan kesenangan pada sain. apresiasi. serta pemodelan. Keenam domain tersebut selanjutnya dinyatakan dalam Gambar 2. misalnya melakukan observasi dan eksplanasi. konsep-konsep. Enam Domain SETS untuk Pengajaran dan Penilaian Domain konsep meliputi fakta-fakta. Domain aplikasi dan keterkaitan meliputi: melihat/menunjukkan contoh konsepkonsep ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. identifikasi dan pengontrolan variabel. Gardner. 3. serta teori dan hipotesis yang digunakan oleh para saintis. serta menguji alat baru untuk eksplanasi yang dibuat. menghasilkan alternatif atau menggunakan objek/ide yang luar biasa. suka. interpretasi data/informasi. tidak suka. pemahaman dan berkomunikasi. serta membuat keputusan-keputusan tentang isu-isu lingkungan dan sosial.aplikasi. Dalam literatur sain dibedakan antara sikap terhadap sain dan sikap ilmiah (Shibeci. Domain ini dapat juga disebut rana pengetahuan ilmiah/sain atau aspek minds-on/brains-on dalam belajar sain (Glynn & Duit. dan pemodelan). dan keterkaitan. 1991. 1989). Butts & Hofman. mengajukan pertanyaan. Butts & Hofman. seperti kejujuran. 1991:80). menghasilkan ide-ide yang luar biasa. opini. 1995. 1993). 1975). rasa kasih sayang sesama manusia. daya tanggap. 1984. 1993. Sejalan dengan pernyataan Alvarez (1991:80) bahwa sikap adalah prilaku yang diadaptasi dan diterapkan pada situasi khusus. merancang alat. penyimpulan dan prediksi. 1992. dan inferensi) dan keterampilan proses terintegrasi (perumusan/pengujian hipotesis. Domain kreativitas meliputi: visualisasi-produksi gambaran mental. Sedangkan sikap ilmiah mencakup karakter sifat ilmiah yang lainnya. Domain proses meliputi aspek-aspek yang berhubungan dengan sbagaimana para saintis berpikir dan bekerja. pengkombinasian objek dan ide atau gagasan dalam cara baru. Aiken & Aiken. memberikan eksplanasi terhadap objek dan peristiwa-peristiwa yang dijumpai. dan nilai-nilai dalam kelas. atau aspek hands-on belajar sain (Rossman. Pedersen.

Pendekatan SETS untuk pembelajaran lintas mata pelajaran. Pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran tidak lagi terkotak-kotak. membuat keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pribadi. dan gaya hidup yang didasarkan pada pengetahuan ilmiah. Untuk pembelajaran lintas mata-pelajaran lewat pembelajaran berbasis SETS. Jika pembelajaran berbasis salingtemas diharapkan memunculkan kompetensi lain di luar kompetensi dasar yang tertulis dalam kurikulum saat ini. misalnya. guru memulai dengan suatu topik dari lingkungan peserta didik yang berkaitan dengan materi bab tersebut.keterampilan pada masalah-masalah teknologi sehari-hari. atau pengenalan dampak sains dan teknologi pada pranata sosial. dll. Kimia dan Ilmu Sosial. 2) 3) Pendekatan SETS untuk pembelajaran lintas bab pada satu mata pelajaran. 5) Pendekatan SETS yang disertai kerja nyata di masyarakat. Secara garis besar. 4) Pendekatan SETS dengan perluasan tujuan instruksional secara eksplisit di luar tuntutan standar kompetensi yang tertulis di kurikulum dari mata-mata pelajaran yang terlibat dalam pembelajaran STM tersebut. tentunya perlu persiapan yang lebih matang pada pemilihan topik dan penelusuran target kompetensi dasar yang bisa diikutsertakan lewat pembelajaran di bawah payung topik itu. diperlukan koordinasi guru beberapa bidang yang relevan. Ragam Pendekatan SETS Pendekatan SETS bisa amat beragam. Pada pembelajaran bab tertentu dengan pendekatan SETS. Untuk pembelajaran lintas bab. berdasarkan cakupannya. Pendekatan ini akan berguna sebagai wahana integrasi pengetahuan peserta didik. mulai dari yang mengangkat topik atau isu sebagai payung pembelajaran lebih dari satu bidang. kita bisa melakukan beragam pendekatan STM. memahami prinsip-prinsip ilmiah dan teknologi pada alat-alat teknologi yang ada dalam rumah tangga. dll. 4. maka agar pencapaiannya optimal diperlukan penyesuaian standar nasional (khususnya standar isi) agar dapat . yang amat berguna bagi peserta didik dalam memahami realitas kehidupan. memahami dan mengevaluasi laporan media massa tentang perkembangan ilmiah. menggunakan proses ilmiah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. nutrisi. melainkan saling bertautan dan terpadu. dan mengintegrasikan sain dengan pelajaran lain. teknologi dan masyarakat. atau penggunaan isu lingkungan untuk pembahasan satu bab saja dalam Kimia. seperti gerakan penyelamatan lingkungan. seperti kepekaan terhadap permasalahan lingkungan. antara lain: 1) Menempatkan pembelajaran bab tertentu bidang tertentu dalam konteks sains. mulai dari Fisika.

pada pengembangan pembelajaran salingtemas. pemahaman pengetahuan. sehingga tampak perubahan perilaku siswa. dengan target kompetensi dasar seperti yang tertulis dalam standar isi yang berlaku saat ini. 2) Acquiring know. melainkan paradigma baru yang diharapkan menjiwai keseluruhan kurikulum. pengetahuan dan pengalaman yang yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa. ketika anak melakukan : . CTL adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru.mencakup semangat ini. dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang telah ada. 5) Reflecting knowledge. Sejauh pemahaman penulis. Strategi Pembelajaran CTL Contextual Teaching Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. 4) Applying knowlwdge. Dalam hal ini. 3) Understanding knowledge. Artikel ini juga membatasi pembahasan dalam konteks tersebut. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas membatasi diri pada pengembangan metode atau model pembelajaran inovatif yang dapat memberi nilai tambah pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. salingtemas tidak lagi sekedar metode pembelajaran. artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan kehidupan nyata. Sehubungan dengan hal tersebut terdapat lima karakteristik penting dari CTL yaitu: 1) Activiting knowledge. 3) CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.edge. artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini. C. melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi. Anak belajar IPA. 2) CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara meteri yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami : 1) CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman langsung sehingga siswa mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

…) 7) Testing (eksplorasi. anak mengelompokkan benda-benda sekitar sekolah kedalam kelompok makhluk hidup dan tak hidup) 5) Raising questions (bertanya. memberi perlakuan pengadukan. suhu air dijaga tetap. 4) melihat pola persamaan/perbedaan. contoh: siswa melarutkan gula kedalam air. memasukkan data kedalam tabel. Mengenai desain pesan. …) 9) Interpreting findings (membuat grafik pengamatan. mendiskusikan temuan dengan guru. memberi perlakuan). desain pesan sengaja dilakukan mulai dari analisis masalah pembelajaran hingga pemecahan masalah yang disumuskan dalam bentuk produk. agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima. Implementasi Model Pembelajaran PAIKEM 1. dan sebagainya. mengumpulkan data. Fleming dan Levie (dalam Seel&Richie. gambar.1994) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang . mengapa daun berwarna hijau?) 6) Predicting (making hypotheses. manakah yang termasuk biji. Sebagai suatu proses. SETS DAN CTL A. mengelompokkan. mengamati bagian-bagian daun. membuat hipotesis.daging buah?. menggunakan lensa pembesar untuk mengamati bagian-bagian daun) Sorting and Grouping (membandingkan. melaporkan hasil. saya kira/ berpikir/berpendapat bahwa gula lebih cepat larut daripada garam. desain pesan meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian. dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi. melarutkan garam ke dalam air. mengumpulkan informasi. investigasi.1) 2) 3) Observing (menggunakan semua indera. Desain Pesan Pembelajaran PAIKEM Kata desain menunjukkan adanya suatu proses dan suatu hasil. persepsi. mendiskusikan dengan teman. menganalisis hasil) 10) Communicating (melaporkan. memajang hasil temuan BAB III IMPLEMENTASI S PAIKEM. manakah yang termasuk makhluk tak hidup?. …) 8) Recording (merekam. Produk yang dihasilkan dapat dalam bentuk prototipe. naskah atau stori board. saya kira kelarutan zat dipengaruhi oleh pengadukan.

dapat dikembangkan beberapa prinsip yang dapat dijadikan pedoman dalam kegiatan desain pesan pembelajaran. afektif. Kesiapan mental diartikan sebagai kesipan kemampuan awal. Karakteristik lain dari desain pesan adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik baik terhadap medianya maupun tugas belajarnya. urutan. dinamis atau kombinasi dari keduanya. Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran Berdasarkan pada pembahasan tentang teori-teori belajar kognitif dan teori pemrosesan informasi serta teori komunikasi. atau grafik komputer. Dorongan itu bisa berasal dari dalam atau luar. maka proses dan hasil belajar akan semakin baik. pengembangan ketrampilan atau strategi belajar. dalam menyusun desain pesan. Oleh sebab itu. dalam kegiatan pembelajaran hendaknya guru berupaya mendorong motivasi siswa dengan menunjukkan pentingnya mempelajari pesan pembelajaran yang sedang dipelajari. dan psikomotor. misalnya suatu potret. Semakin tinggi motivasi siswa untuk belajar. film. ataukah menghafalkan informasi verbal. Prinsip kesiapan dan motivasi Prinsip ini mengatakan bahwa jika dalam kegiatan pembelajaran siswa/peserta belajar memilki kesiapan seperti kesiapan mental. maka dapat diadakan pembekalan/matrikulasi. sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. semakin tinggi pula proses dan hasil belajarnya. Ada lima prinsip utama desain pesan pembelajaran yaitu: a . b. Oleh karena itu. Sedangkan kesiapan fisik. Prinsip penggunaan alat pemusat perhatian Prinsip ini mengatakan bahwa jika dalam proses belajar perhatian siswa/si belajar terpusat pada pesan yang dipelajari. guru harus lebih dahulu mengetahui kesiapan siswa melalui tes penjajagan atau tes prasayarat belajar yang diberikan pada siswa. . maka hasil belajar akan lebih baik.memodifikasi perilaku kognitif. yaitu pengetahuan yang telah dimiliki siswa belajar yang dapat dijadikan pijakan untuk mempelajari materi baru. 2. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda tergantung apakah medianya bersifat statis. Misalnya untuk belajar musik siswa tidak boleh terganggu pendengarannya. berarti bahwa siswa dalam melakukan kegiatan belajar tidak mengalami kekurangan atau halangan.. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual. Jika diketahui pengetahuan awal siswa belum mencukupi. Juga apakah tugas belajarnya berupa pembentukan konsep atau sikap. serta kesiapan fisik dan motivasi tinggi. Sedangkan motivasi adalah merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. halaman dan layar secara terpisah.

sikap. 4) 5) 6) 7) Menggunakan musik penyeling Mencipatakan suasana riang Teknik penyajian yang bervariasi Mengurangi bahan/matteri yang tidak relevan c . keriangan. emosional maupun fisik. kooperatif. dan kolaboratif d. atau proses mental. dan media-media pembelajaran visual lainnya. Contoh aktifitas mental misalnya mengidentifikasi. Semakin baik perhatian siswa. tangan untuk melakukan ketrampilan tertentu. gambar. 3) Menghubungkan pesan pembelajaran yang sedang dipelajari dengan topik-topik yang sudah dipelajari. Prinsip Umpan Balik Umpan balik adalah informasi yang diberikan kepada siswa mengenai keberhasilan atau kekurangan dalam belajarnya. Sedangkan yang termasuk aktifitas emosional misalnya semangat. positif terhadap belajar. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam memberikan umpan balik diantaranya dengan memberikan soal atau pertanyaan kepada siswa.Perhatian memegang peranan penting dalam kegiatan belajar. Cara-cara yang dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian siswa antara lain: 1) Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman atau kehidupan siswa 2) Menggunakan alat pemusat perhatian seperti peta konsep. Contoh aktifitas fisik misalnya melakukan gerak badan seperti kaki. kegiatan. . motivasi. menganalisis. dan sebagainya. membandingkan. bagan. Prinsip partisipasi aktif siswa Meliputi aktifitas. proses dan hasil belajar akan semakin baik pula. Cara-cara yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa adalah: 1) 2) 3) 4) 5) Memberikan pertanyaan-pertanyaan ketika proses pembelajaran berlangsung Mengerjakkan latihan pada setiap akhir suatu bahasan Membuat percobaan dan memikirkan atas hipotesis yang diajukan Membentuk kelompok belajar Menerapkan pembelajaran kontekstual. dan lain-lain.

Aplikasi Desain Pesan dalam Kegiatan Belajar Mengajar PAIKEM Terjadinya belajar dilihat dari adanya perbedaan kecakapan seseorang antara sebelum dan sesudah mengalami dan berada dalam situasi belajar tertentu. atau kesimpulan. strategi kognitif. Misalnya setelah mendengar metode ceramah. Konsep adalah kemampuan yang memungkinkan individu untuk mengidentifikasi stimulus yang mempunyai karakteristik walaupun stimulinya berbeda secara menyolok. e. atau diberi komentar/catatan oleh guru. 3. mengingat. . advance organizer. ketepatan. kemudian memberitahukan tugas apakah tugas yang dikerjakan sudah benar. Ketrampilan sikap adalah keadaan internal yang komplek yang mempengaruhi pemilihan tingkah laku itu sendiri. Upaya mengulang informasi dapat dilakukan dengan cara yang sama dan dengan media yang sama. mempelajari serangkaian informasi yang terorganisasikan.dan pengintregasian prinsip desain dengan pendekatan PAIKEM akan dijelaskan dalam matrik. Kembalikan pekerjaan siswa yang telah dikoreksi. Ketrampilan motorik adalah kemampuan yang dipelajari untuk melakukan kecakapan yang hasilnya dicerminkan oleh adanya kecakapan. Pemecahan masalah aturan-aturan yang lebih komplek untuk memecahkan masalah. rangkuman. Misalnya media kaset diputar berulang-ulang. dan kelancaran gerakan tubuh.. Memberikan tugas.aturan dan pemecahan masalah. Penggunaan epitome. Berikut akan dijelaskan masing-masing defini kemampuan tersebut.kemudian memberitahunya dengan benar. Perulangan dapat juga dengan cara dan media yang berbeda pula. Prinsip Perulangan Mengulang-ulang penyajian informasi atau pesan pembelajaran. PAIKEM memungkinkan pebelajar memperoleh kemampuan berdasarkan teori Gagne yaitu ketrampilan intelektual. informasi verbal. tidak adanya perulangan akan mengakibatkan informasi atau pesan pembelajaran tidak bertahan lama dalam ingatan. Proses penguasaan materi pembelajaran atau ketrampilan tertentu memerlukan perulangan. dan berfikir. Ketrampilan intelektual dibagi menjadi empat kategori yaitu diskriminasi. Strategi kognitif meliputi kemampuan yang dipergunakan untuk mengelola proses perhatian belajar.konsep. Aturan adalah subyek dapat merespon hubungan dan kesatuan obyek. dan sikap. siswa diminta untuk membaca buku dengan topik yang sama. dan informasi tersebut mudah dilupakan. Kemampuan informasi verbal terkait dengan mempelajari fakta-fakta. bahasa. dan lambang-lambang lainnya yang mewakili benda-benda nyata pada lingkungan individu. ketrampilan motorik. membaca buku dua atau tiga kali. Diskriminasi adalah kemampuan untuk memberi respon yang berbeda terhadap stimuli yang berbeda satu dengan yang lain menurut satu dimensi fisik atau lebih. Ketrampilan Intelektual yang dimaksud ketrampilan intelektual adalah kemampuan untuk menggunakan lambang-lambang seperti bilangan. dinilai.

kayu dan sebagainya. Dalam pembelajaran Model PAKEM. para guru dapat memilih dan merancang media pembelajaran alternatif dengan menggunakan berbagai sumber lainnya. seorang guru mau tidak mau harus berperan aktif. . sikap dan keterampilan. ”Media dan Bahan Ajar” selalu menjasi penyebab ketidakberhasilan sebuah proses pembelajaran di sekolah. Kita yakin bahwa pihak manajemen sekolah sudah menyadarinya. Kita juga sepakat bahwa salah satu penyebab ketidakberhasilan proses pemblajarn siswa di sekolah adalah kurangnya media dan bahan ajar. Untuk ini. penilaian dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa. seperti bahan baku yang murah dan mudah di dapat. Sedangkan keberhasilan lulusan (output) adalah siswa mampu menguasai sejumlah kompetensi dan standar kompetensi dari setiap Mata Pelajaran. Penggunaan perangkat multimedia seperti ICT sungguh sangat ideal. guna memotivasi dan merangsang proses pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. proaktif dan kreatif untuk mencari dan merancang media/bahan ajar alternatif yang mudah. pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP) merupakan pendekatan penilaian alternatif yang paling representatif untuk menentukan keberhasilan pembelajaran Model PAIKEM Media dan bahan ajar. Tanpa merendahkan sifat dan nilai multimedia elektronik. murah dan sederhana. sebuah alasan klasik selalu kita dengar bahwa ”sekolah tidak punya dana untuk itu”!. Sebuah harapan yang selalu menjadi wacana di antara para pendidik/guru kita dalam melaksanakan tugas mengajar mereka di sekolah adalah tidak tersedianya ’media pembelajaran dan bahan ajar’ yang cukup memadai. baik itu keberhasilan dalam proses maupun keberhasilan dalam lulusan (output). Seakan ada korelasi antara ketersediaan ’media bahan ajar’ di sekolah dengan keberhasilan pembelajarn siswa. Apakah sebuah ”Penilaian Mendorong Pembelajaran ?” atau apakah ”pembelajaran itu untuk mempersiapkan sebuah tes ? ” atau apakah ’Pembelajaran dan Tes’ tersebut dilakukan guna mendapatkan pengakuan tentang kompetensi yang diperlukan siswa atau sekolah? Dalam pelaksanaan konsep PAIKEM. Tetapi. tumbuh-tumbuhan.4. Sebuah pertanyaan untuk direnungkan. kreatif dan senang selama mengikuti kegiatan pembelajaran. penilaian harus dilakukan dan diakui secara komulatif. Jadi. seperti bahan baku kertas/plastik. Jawaban para guru ini cukup masuk akal. Keberhasilan proses dimaksudkan bahwa siswa berpartisipasi aktif. tetapi tidak semua sekolah mampu mengaksesnya. Penilaian harus mencakup paling sedikit tiga aspek : pengetahuan. Inilah yang disebut efektif dan menyenangkan. yang ditetapkan dalam sebuah kurikulum. Tetapi tetap memiliki relevansi dengan tema mata pelajaran yang sedang dipelajari siswa. Penilaian Hasil Belajar. Ini tentu saja melibatkan Professional Judgment dengan memperhatikan sifat obyektivitas dan keadilan.

Media simulasi untuk pembelajaran PAKEM tidak selalu harus dibeli jadi. (d) Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik. Jenis Penilaian Sesuai Dengan Pembelajaran Model PAIKEM 1). Media yang dirancang harus memiliki daya tarik tersendiri guna merangsang proses pembelajaran yang menyenangkan. (f) Akuntabilitas lembaga.) Tujuan Penilaian otentik itu sendiri adalah untuk: (a) Menilai Kemampuan Individual melalui tugas tertentu. aspek yang paling penting untuk diperhatikanoleh seorang guru adalah karakteristik dan modalitas gaya belajar individu peserta didik. tetapi lebih pada pola fikir dan strategi yang digunakan secara tepat oleh seorang guru itu sendiri dalam merancang dan mengajarkan materi pelajarannya. Perlu dicatat bahwa tujuan akhir mempelajari sebuah mata pelajaran adalah agar para siswa memiliki kompetensi sebagaimana ditetapkan dalam Standar Kompetensi (baca Kurikulum Nasional). (b) Menentukan kebutuhan pembelajaran. membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. . Penilaian yang sesuai dengan pembelajaran model Pakem adalah penilaian otentik yang merupakan proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan.. Ini dimaksudkan agar terjadi proses pembelajaran yang terstruktur. atau yang kita sebut dengan PAKEM itu tidak selalu mahal. Unsur kreatifitas itu bukan terletak pada produk/media yang sudah jadi. Guru dituntut lebih kreatifdan memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide dan inofatifnya. (e) Menentukan strategi pembelajaran. Sementara ini media pembelajaran yang relatif cukup representatif digunakan adalah media elektronik (Computer – Based Learning). Jadi. model ’pembelajaran aktif. Dengan demikian diharapkan para siswa akan terlibat dalam proses pembelajaran tuntas (Mastery Learning) dan bermakna (Meaningful Learning). 2. Dalam merancang sebuah media pembelajaran. (c) Membantu dan mendorong siswa. Selanjutnya skenario penyajian ’bahan ajar’ harus dengan sistem modular dengan mengacu pada pendekatan Bloom Taksonomi. efektif dan menyenangkan’. dinamis dan fleksibel. waktu dan/atau guru. seperti dalam pendekatan ’Quantum Learning’ dan Learning Style Inventory’. dan (g) Meningkatkan kualitas pendidikan. 5. tetapi dirancang bisa dirancang oleh seorang guru mata pelajaran sendiri. tanpa harus selalu terikat dengan ruang kelas. Untuk itu langkah/skenario penyajian pembelajarn dalam setiap topik/mata pelajaran harus dituliskan secara jelas dalam sebuah Modul. kreatif.

dan portofolio. Akuntabilitas lembaga 7). Bentuk penilaian tes dapat dilakukan secara lisan. guru selain sebagai fasilitator juga melakukan penilaian dengan berbagai alat yang sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh siswa.3). Membantu dan mendorong siswa 4). Artinya. 4. Menentukan kebutuhan pembelajaran 3). b.) Dalam pembelajaran. dan perbuatan. Hal ini disebabkan setiap jenis atau bentuk penilaian tersebut memiliki beberapa kelemahan selain keunggulan. Implementasi Pendekatan SETS dalam Pembelajaran Pembelajaran dengan pendekatan SETS memililiki karakteristik sebagai berikut: a. Meningkatkan kualitas pendidikan B. Menentukan strategi pembelajaran 6). Penilaian disesuaikan dengan pendekatan dan metode yang dilaksanakan dalam pembelajaran. Tujuan Penilaian Pembelajaran Model PAIKEM 1). Relevansi Pembelajaran berorientasi konteks dan menempatkan proses pembelajaran pada masalah otentik dan memperhatikan kebutuhan pembelajar. Sementara itu. Dalam pembelajaran dengan pendekatan model Paikem. 6. cek lis. Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik 5). selama pembelajaran itu berlangsung. studi kasus. C. Merancang Dan Malaksanakan Penilaian Pembelajaran Model PAIKEM 1. Merancang penilaian dilakukan bersamaan dengan merancang pembelajaran tersebut. dengan pendekatan Pakem rangkaian penilaian ini seyogiayanya dilakukan oleh seorang guru. Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu 2). tertulis. 2. Metodologi . kuesioner. bentuk penilaian non tes dilakukan dengan menggunakan skala sikap. penilaian dirancang sebagaimana dengan penilaian otentik.

Konsep Untuk menerapkan pendekatan SETS dalam pembelajaran yang harus dilakukan pertama kali adalah membuat peta “consequence” yang menggambarkan konteks. Dekontekstualisasi: pemisahan konsep dan prinsip sains (yang perlu dicapai kompetensinya) dari konteks isu atau masalah yang diangkat. konsep serta strategi pembelajaran yang akan dilakukan. Inisiasi Pada tahap ini. tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran berbasis SETS adalah : 1. serta antar konsep/prinsip tersebut dengan spektrum terapannya dalam kehidupan. dan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi. termasuk kemampuan menerapkannya pada kasus tertentu. Isu atau masalah yang . 2. konteks materi pebelajaran dalam aspek teknologi dan lingkungan. D.Menggunakan metodologi pembelajaran yang “self-directed” dan “co-operative”. 4. Peta “consequence” dapat dipandang sebagai peta konsep yang diperkaya dengan isu permasalahan di masyarakat.). Secara garis besar. 1. 6. interdisipliner dan global. Panduan Pembelajaran Berbasis SETS Selain menjanjikan kualitas pembelajaran yang lebih baik (dan berbagai penelitian pendidikan menunjukkan hal itu). 5. TV. atau yang hangat di media (koran. 2006). Inisiasi: pendahuluan pembelajaran SETS dengan mengangkat dan mendiskusikan isu atau masalah. pembelajaran berbasis SETS juga mengandung beberapa risiko. Penerapan: menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah. 3. d. Panduan ini disusun untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran berbasis SETS. dll. Pembelajaran konsep dan prinsip sains: pemantapan penguasaan konsep dan prinsip sains. Penetapan kompetensi sains: mengumpulkan kompetensi sains yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. melalui metode pembelajaran yang sesuai. 7. c. Integrasi: membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains. Peta “consequence” tersebut kemudian dapat diturunkan dalam bentuk alur pembelajaran dengan penekanan membangun keterampilan untuk mengambil keputusan dengan justifikasi sosio-saintifik (Holbrook. Masalah Masalah dalam konteks diarahkan agar peserta didik dapat berpikir terarah. guru mengangkat isu atau masalah yang ada dalam kehidupan peserta didik sehari-hari. Perangkuman: merangkum kompetensi yang seharusnya telah dimiliki peserta didik.

pemecahan masalah yang dihasilkan tidak memiliki landasan yang kuat. agar meninggalkan diskusi tentang isu/masalah. Pembatasan ini akan memperjelas kompetensi sains apa yang diperlukan untuk memahami atau memecahkan masalah tersebut. Dekontekstualisasi Pada tahap ini. yang justru merupakan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai. isu. Tanpa penguasaan prinsip dan konsep itu. Pembelajaran Sains . maka guru bisa mengetahui daftar target kompetensi sains sebelum pertemuan inisiasi di atas. Untuk melangkah ke tahap berikut. atau masalah yang diangkat. Guru bisa menciptakan suasana kelas yang memungkinkan peralihan mulus ini. karena peserta didik perlu dipersiapkan agar fokus pada pembelajaran konsep dan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai. Tahap ini bisa berupa peralihan yang tak kentara dan mulus dari tahap inisiasi pemilihan konteks ke tahap setelah dekontekstualisasi yaitu pembelajaran sains. Tahap ini bisa pula berupa permintaan tegas kepada peserta didik. kompetensi dasar yang relevan bisa berasal dari satu bab. dan tidak terjadi proses pembelajaran konsep dan prinsip baru yang diharapkan. atau lintas bab. yang dalam kasus-kasus tertentu akan merupakan tahap yang memiliki learning curve yang tajam. Setelah pemilihan isu. Seperti dijelaskan pada ragam pendekatan SETS. tetapi tidak terjadi pembelajaran konsep dan prinsip sains. Jika guru sebenarnya telah mempersiapkan topik yang akan diangkat sebelum tahap inisiasi. aktif dalam pencarian solusi masalah (atau bergairah dalam diskusi untuk memahami masalah). atau menegaskan batas-batas topik isu tersebut untuk mengarahkan perhatian yang memusat pada isu yang jelas.diangkat bisa pula berasal dari peserta didik. dilakukan penggalian cara pandang dan pemahaman peserta didik terhadap isu atau masalah tersebut. Peserta didik terlihat antusias terhadap kegiatan pembelajaran. tapi mulai memusatkan perhatian pada pencapaian kompetensi sains (atau bidang lain) yang dibutuhkan untuk memahami atau menyelesaikan masalah. Landasan keilmuan yang digunakan untuk berusaha memahami isu atau memecahkan masalah hanya konsep dan prinsip yang telah dimiliki peserta didik sebelumnya. tertarik pada isu atau masalah yang diangkat. dikumpulkan kompetensi dasar (sains dan non-sains) yang diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi. Tahap penyiapan peserta didik ini disebut dekontekstualisasi. Proses dekontekstualisasi yang gagal akan menyebabkan “keberhasilan-semu” pada pembelajaran berbasis STM. atau bahkan lintas mata pelajaran.Penetapan Kompetensi Sains Guru mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terkait dengan isu yang diangkat. 3. atau bahkan keliru! 4. tanpa terganggu oleh konteks. 2. peserta didik perlu dipersiapkan untuk menghadapi tahap sesudahnya yaitu pembelajaran konsep dan prinsip sains[1]. Dari kajian ini. guru bersama-sama peserta didik merumuskan masalah.

yang dekat dengan kehidupan peserta didik. tahap ini tidak menuntut terjadinya proses pemecahan masalah. dengan landasan keilmuan yang lebih kuat). Pada tahap ini. Pada pembelajaran ini. Guru sejauh mungkin hanya memfasilitasi usaha peserta didik untuk memahami atau memecahkan masalah yang dihadapi bersama. Proses menerapkan pengetahuan. yang mempersiapkan suasana yang baik untuk tahap ini. jika pembelajaran berbasis STM digunakan untuk lintas matapelajaran). Wawasan terapan yang diperoleh pada tahap sebelumnya akan memperkaya cara pandang terhadap keterkaitan antar konsep dan prinsip tersebut. Karena pembelajaran yang dilakukan telah diawali dengan konteks yang memayungi. Pada bentuknya yang paling sederhana. Guru dapat mengajukan permintaan sederhana kepada peserta didik untuk mencoba menjelaskan isu tersebut berdasarkan pengetahuan baru yang telah diperoleh pada pembelajaran yang dilakukan. maka diharapkan kualitas pembelajaran bisa meningkat. guru dan peserta didik secara bersama menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah yang diangkat. melainkan hanya peningkatan pemahaman peserta didik pada isu yang diangkat.Pada tahap ini terjadi pembelajaran konsep dan prinsip sains (atau pembelajaran bidangbidang lain yang relevan. Integrasi Tahap penerapan dilanjutkan dengan usaha membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains yang diajarkan. Pada tahap ini. guru dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan bahan yang disampaikan. keberhasilan tahap ini selain ditentukan oleh metode pembelajaran yang dipilih dan proses pembelajaran yang terjadi. Penerapan Pada tahap ini. 6. dengan peserta didik yang lebih aktif. Untuk sebagian peserta didik. konsep. juga sangat bergantung pada keberhasilan tahap dekontekstualisasi sebelumnya. dan prinsip pada hal yang nyata akan memberi makna lebih terhadap pengetahuan tersebut. seharusnya terjadi pemantapan konsep dan prinsip pada diri peserta didik. . dll. 5. Seperti dijelaskan sebelumnya. Pengujian penguasaan peserta didik dapat pula dilakukan lewat pengamatan guru terhadap tahap sesudah ini (yaitu tahap menerapkan prinsip dan konsep untuk memecahkan atau memahami masalah. diperlukan sarana untuk memastikan bahwa peserta didik memahami dan diharapkan mampu menerapkan konsep dan prinsip yang mewakili kompetensi dasar dalam standar isi. proses dekontekstualisasi yang baik dan pembelajaran konsep/prinsip yang berhasil dapat secara tajam mengubah persepsi peserta didik terhadap permasalahan yang dihadapi. Guru perlu menahan diri untuk tidak terlalu cepat membantu peserta didik menerapkan apa yang baru dipelajarinya pada isu tersebut. Wawasan tersebut juga akan memberi gambaran keterkaitan yang jelas antara konsep/prinsip sains dengan spektrum terapannya dalam kehidupan.

Pengayaan ini akan memberi kemampuan kepada peserta didik untuk menerapkan suatu prinsip pada situasi yang berbeda. yang dapat digunakan untuk pembelajaran SETS di kemudian hari. Untuk mulai beralih menuju pembelajaran berbasis SETS. diikuti dengan contoh-contoh terapan. guru harus mengenal ciri minimal berikut yang membedakannya dari pembelajaran tradisional. ditegaskan berbagai kompetensi dasar yang telah dimiliki peserta didik. Pada keadaan dimana guru belum siap dengan pembelajaran berbasis SETS. sebaliknya pakar tersebut bisa saja memperoleh gagasan-gagasan segar dari peserta didik. Pembelajaran tradisional mulai dengan pembelajaran konsep dan prinsip. guru bisa tetap mulai mengumpulkan gagasan isu atau masalah melalui peserta didik. 8. dan wawasan terapan yang telah dimiliki. sedangkan pembelajaran yang baru ini memulai dengan isu atau masalah yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Peralihan Menuju Pembelajaran SETS/Salingtemas Karena pembelajaran berbasis SETS akan terus berkembang. di lingkungan terdekatnya atau dalam berita. Pendekatan yang bisa digunakan bisa amat beragam. prasarana. Pada tingkatnya yang paling sederhana. Yang diharapkan adalah terciptanya suasana diskusi yang saling mengisi: peserta didik mendapat tambahan kompetensi dari pakar yang diundang. guru atau peserta didik dapat merangkumkan hasil pembelajaran berbasis STM yang telah dilakukan. Tahap-tahap di atas bisa disederhanakan.Untuk memperkaya tahap ini. pakar diundang untuk turut berdiskusi dengan peserta didik setelah peserta didik mendapat pembekalan pemahaman konsep dan prinsip dasar yang diperlukan. Lewat tahap perangkuman ini. sumber belajar. diikuti dengan pembelajaran konsep dan prinsip. untuk akhirnya kembali ke isu/masalah untuk difahami atau dipecahkan dengan menerapkan konsep atau prinsip yang dipelajari. Tahap ini harus dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kepercayaan diri peserta didik dalam mempelajari sesuatu yang baru.). dari mulai penyederhanaan terhadap tahap-tahap di atas untuk awal peralihan menuju pembelajaran berbasis SETS hingga penambahan tahap pengayaan dengan mengundang pakar yang berkompeten dalam bidang yang relevan dengan isu/masalah yang diangkat. maka akan terus hadir berbagai pendekatan yang berbeda untuk meningkatkan efisiensi dan ketercapaian pembelajaran berbasis SETS. guru dapat mengajak peserta didik untuk berdiskusi tentang kemungkinan penerapan konsep/prinsip baru yang dipelajari pada konteks selain isu atau masalah yang diangkat pada pembelajaran berbasis STM ini. Tahap-tahap yang dijelaskan di atas haruslah dipandang sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran berbasis SETS. . dll. Untuk yang terakhir ini. Perangkuman Akhirnya. dan dalam memecahkan atau memahami masalah yang relevan dengan kehidupannya. guru perlu merasa bebas untuk bereksperimen. 7. Tahap brainstorming ini bisa dengan pertanyaan sederhana kepada peserta didik tentang peristiwa atau isu apa saja yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini. disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi (peserta didik.

tidak ada peralihan yang sempurna dari pembelajaran tradisional.dll. lingkungan. 9. Diperlukan pengembangan instrumen evaluasi bervisi dan berpendekatan SETS untuk pembelajaran topik pada subyek yang diperkenalkan. baik dalam bentuk kelebihan ataupun kekurangannya. Implikasi terkait dengan penerapan model pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS adalah: 1. tetapi juga mengaitkan dengan teknologi. menuntun peserta didik untuk mengaitkan konsep sain dengan unsur lain dalam SETS. Model pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS dengan sain sebagai titik awal yang disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik diharapkan mendorong keingintahuan dan memperkuat inisiatif peserta didik untuk mengaitkan dengan unsur-unsur SETS lainnya. 10. Diperlukan penurunan silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi dan kompetensi yang bervisi dan berpendekatan SETS. bisa dilakukan diskusi kecil tentang beberapa isu tersebut. Untuk sedikit memperkaya isu/topik/masalah. 4. Implikasi Model Pembelajaran dengan Pendekatan SETS Implementasi model pembelajaran dengan menggunakan visi dan pendekatan SETS. Akhirnya. Pedoman Khusus Penyusunan Silabus Bermuatan SETS . Kita tidak mungkin menghadapi kondisi ideal dimana seluruh kompetensi dasar yang dituntut oleh kurikulum atau standar isi dapat ditumbuhkan melalui pembelajaran berbasis SETS. masyarakat yang terus berkembang untuk memperoleh pengalaman yang membawa ke arah pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Setiap peserta didik memiliki kemampuan dasar berbeda-beda. Cara ini memungkinkan peserta didik memperoleh gambaran lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS. Diperlukan pengembangan perencanaan pembelajaran yang subjeknya bervisi dan berpendekatan SETS 3. Guru bisa mencatat isu-isu yang kira-kira dapat digunakan untuk merancang pembelajaran berbasis SETS suatu saat nanti. Diperlukan pengembangan atau penyediaan bahan pembelajaran yang bervisi dan berpendekatan SETS. melalui penerapan konstruktivisme peserta didik dapat melakukan pembelajaran dari berbagai titik awal yang mereka kenal dekat dengan konsep sain yang akan dipelajari. Tanggung jawab pendidik yang terutama adalah tidak hanya sadar akan prinsip umum mengenai pengalaman belajar sain sesuai dengan kondisi lingkungan keseharian peserta didik. Guru perlu mencatat kompetensi apa saja yang telah ditumbuhkan lewat pembelajaran SETS. 2. dan melakukan pembelajaran non-SETS untuk mencapai kompetensi-kompetensi dasar yang belum disentuh.

tiga. 11. 6. 13. sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswanya. Contoh SK dan KD yang dapat dikaitkan dengan SETS adalah sebagai berikut : SK : 5. Identifikasi SK dan KD yang dapat dikaitkan dengan SETS Penyusunan indikator bermuatan SETS Pengembangan materi pembelajaran bermuatan SETS Penetapan kegiatan pembelajaran bermuatan SETS Menetapkan jenis penilaian bermuatan SETS Penentuan alokasi waktu Penentuan sumber bahan/alat bermuatan SETS.. serta bahan ajar dan cara penilaiannya. Pengembangan materi pembelajaran Materi dikembangkan berdasarkan indikator pencapaian kompetensi dasar dan bermuatan SETS. 2. Penyusunan indikator Kompetensi Dasar yang dijabarkan menjadi indikator menunjukkan tanda-tanda yang bermuatan bermuatan SETS. Satu Kompetensi Dasar dapat dijabarkan menjadi dua. Penetapan kegiatan pembelajaran .. 5. 7. Silabus bermuatan SETS dikembangkan oleh guru.hari KD : 5.1 Menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan sehari. Indikator juga sebagai penanda pencapai kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur mencakup sikap pengetahuan dan keterampilan. Silabus ini harus memberi arah yang jelas mulai kompetensi yang dikembangkan ke dalam beberapa indikator serta kegiatan pembelajaran yang harus dialami siswa. 3. yang ditampilkan oleh peserta didik dalam pembelajaran. Mengelompokkan sifat-sifat koloid dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 12.Silabus bermuatan SETS harus mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang sudah ditetapkan . 4. atau empat/lebih indikator secara sistimatis. Silabus ini pada dasarnya mengandung butir-butir penting yang perlu diimplementsikan secara utuh dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah penyusunan silabus bermuatan SETS adalah sebagai berikut : 1. Dengan memperhatikan potensi peserta didik dan kebermanfaatannya serta alokasiwaktu yang tersedia.2.

1969 Tim DBE2. Jakarta. ataupun dengan memilih budaya atau cara berbahasa yang tumbuh di lingkungan sosial peserta didik sebagai titik awal proses pembelajaran DAFTAR PUSTAKA Anonimous. Tinehart and Winston. Strategi yang sangat cocok dan menarik peserta didik dalam pembelajaran sekarang ini dikenal dengan nama PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) PAIKEM adalah sebuah model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengejakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan dan pemahaman dengan penekanan kepada belajar sambil bekerja. sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik. khususnya sains alam. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat menggunakan pendekatan yang bervariasi. Buletin P & P. Konsep Pakem. Pertanyaan dasar yang dapat digunakan adalah bagaimana proses pembelajaran dirancang agar sejauh mungkin diselaraskan dengan pengalaman pribadi peserta didik dan kecenderungan peserta didik dalam memahami lingkungan sekitarnya. Edisi 3 (April – Jun 2005) Depdiknas. dengan mengangkat isu hangat di lingkungannya sebagai konteks pembelajaran. Pendekatan ini bisa diujicobakan pada pembelajaran bidang-bidang lain. Audio-Visual Methods in Teaching (3 rd edition) Holt.Dirancang dari indikator untuk memberikan pengalaman bermuatan SETS. tetapi dapat dikaji penggunaannya pada pembelajaran bidangbidang lain. Pengenalan Pembelajaran Efektif Dalam Mata Pelajaran Pokok. Pembelajaran berpusat kepada peserta didik. dari sudut pandang peserta didik.wordpress. BAB IV PENUTUP Dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan strategi pembelajaran yang sangat baik dan cocok untuk situasi dan kondisi siswa. 1969. . Sebagai contoh.http://akhmadsudrajat. Versi Elektronik. Edgar Dale. Pembelajaran Aktif. 23. November. menyenangkan dan efektifSeperti telah disebutkan di muka. Dengan demikian pembelajaran bahasa perlu diawali dari lingkungan sosial peserta didik. 2007. 2005. pendekatan STM pada awalnya dikembangkan untuk pembelajaran sains. 2007.com/bahanajar/konsep-pakem/feed. tidak hanya sains atau ilmu sosial. bahasa tumbuh dari lingkungan sosial yang dijalaninya. Tanpa Tahun.

http://www.wordpress.wordpress. Teori Dan Strategi Pengajaran Pembelajaran Dalam Merekabentuk Perisian Kursus.The Citykids Foundation.tripod. May 23.serambinews.multiply. Malaysia.com/old/index.com/2008/11/05/pembelajaran-pakem-ii/ http://sunartombs.com/2008/12/25/pakem-pembelajaran-aktif-kreatif-efektifdan-menyenangkan/ http://www.com/journal/item/8/desain_pesan_pembelajaran_PAKEM http://makalahkumakalahmu.com/.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1 . 2007 http://unikharynizar.lycos.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->