P. 1
Islam Dalam Berbagai Dimensi Pemikiran Dan Sejarah (dr Liza Pasca Sarjana Stain Cirebon)

Islam Dalam Berbagai Dimensi Pemikiran Dan Sejarah (dr Liza Pasca Sarjana Stain Cirebon)

4.86

|Views: 6,399|Likes:

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2012

pdf

text

original

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

A. PERKULIAHAN PERTAMA Hasil rangkuman : dr liza Pasca sarjana Stain Cirebon Tahun 2007

PEMIKIRAN Prof. Dr. Adang Djumhur Salikin, M. Ag. Guru Besar Dan wakil Direktur Pascasarjana STAIN Cirebon

Saya merasa lebih senang bila yang masuk surga itu banyakan daripada sedikitan, apalagi kalau hanya sendirian.
Fenomena meraba gajah dengan mata tertutup dan fenomena korek api Ketika mata kita ditutup dan kita disuruh meraba seekor gajah pada kepalanya maka kita akan mendiskripsikan gajah itu bagaimana muka dan belaian nya, bila teman kita meraba bagian ekor, maka dia akan mendiskripsikan gajah itu sesuai yang dia raba, yaitu bahwa gajah yang dipegangnya seperti bagian ekor yang dirabanya, semuanya mengarah ke bagian gajah, semua nya benar, dan tidak ada yang salah, karena ketika meraba dengan mata tertutup, kita meraba gajah pada bagian tertentu, semuanya tidak ada yang salah. Karena tidak ada yang salah, apa filosofi dari makna meraba Gajah dengan mata tertutup tadi, bahwa kita tidak boleh menyalahkan orang lain yang berdiri pada posisi yang lain dalam meraba gajah tadi sehingga timbullah perspektif gajah sesuai tempat ia merabanya. Tapi berbeda perspektifnya dengan kita , yang meraba pada bagian yang lain. Korek api yang di pegang miring sehingga orang yang di kanan akan melihat gambar lain sedang orang yang kiri melihat gambar yang beda dilihat orang yang melihat dari samping kanan, semua nya melihat korek api tapi dengan perpekstif yang beda. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang lain yang berdiri disisi yang beda dengan kita, apalagi yang sifatnya menghujad atau menyalahkannya. Karena kita tidak berdiri pada sisi yang sama dengannya. Kebenaran yang hakiki adalah milik Allah, dan kita manusia mempunyai keterbatasan dalam menaksir suatu kebenaran. Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah, tapi ketika berbeda pendapat, kepala harus tetap dingin, dan menghargai orang lain yang berbeda pendapat dengan kita Adalah sesuatu yang sangat zalim, ketika tercipta pertengkaran dan konflik ketika kita berbeda pandangan , pemikiran dan pendapat. Apalagi ketika merasa diri kita paling benar dan kemudian menuduh orang lain kafir. BARENG-BARENG MASUK SURGA

1

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqarah: 256) Menurut Prof . Adang , karena Alquran menyebutkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama Ini berarti bahwa kebebasan beragama merupakan keniscayaan. Ini merupakan hak asasi manusia yang harus dihormati. Adalah hak, bahkan kewajiban setiap orang untuk meyakini bahwa agamanyalah yang benar, tetapi pada saat yang sama dia harus menghormati orang lain untuk bersikap sama terhadap agamanya. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali terjadi perang klaim tentang kebenaran dan janji keselamatan. Hanya agamanyalah yang benar, dan karenanya hanya penganut agama itu yang akan masuk surga dan mendapat kasih Tuhan. Agama lain adalah agama yang sesat, dan karena itu penganutnya tidak berhak memperoleh surga dan kasih Tuhan. Mereka akan masuk neraka dan akan mendapatkan murka-Nya. Adalah hak, bahkan kewajiban setiap orang untuk meyakini bahwa agamanyalah yang benar, tetapi pada saat yang sama dia harus menghormati orang lain untuk bersikap sama terhadap agamanya Padahal, yang mahabenar dan mahatahu hakikat kebenaran hanyalah Tuhan. Manusia hanya mencari tahu dan berupaya memperoleh apa yang dimaksudkan benar oleh Tuhan itu. Demikian pula dengan surga dan neraka. Bukankah pemiliknya adalah Tuhan? Berarti, yang berhak memasukkan ke sana pun hanyalah Dia. Kewenangan itu sepenuhnya merupakan hak prerogatif-Nya. Sungguh merupakan kesombongan luar biasa, siapa pun manusia yang mengaku dapat memasukkan ke surga atau ke neraka. Karena hal itu, sama dengan memposisikan dirinya dengan Tuhan. Setidaknya, telah mengambil alih kewenangan-Nya.Mungkin perlu dikemukakan, bahwa berdasarkan firman Allah, “surga itu luasnya seluas langit dan bumi”. Dibuat seluas itu, nampaknya, supaya dapat menampung seluruh umat yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya, sejak umat nabi/ rasul pertama (Nabi Adam) hingga umat nabi/ rasul yang terakhir (Nabi Muhammad SAW). Rasa-rasanya, surga itu terlalu luas kalau hanya dihuni oleh penganut agama tertentu, apalagi kalau oleh warga NU, Muhammadiyah, atau PUI saja. Sesungguhnya, peluang umat beragama memasuki surga dan neraka sama besarnya. Umat agama apa pun berpeluang memasuki keduanya, tergantung kualitas keimanan dan amal kebajikan yang diperbuatnya Terus terang, saya lebih suka bila umat beragama dapat masuk surga semuanya. Saya merasa lebih senang bila yang masuk surga itu banyakan daripada sedikitan, apalagi kalau hanya sendirian. Sehingga prof Adang menambahkan lagi diperlukan saat ini adanya Ukhuwah basyariyah, adalah menuntut dikembangkan paham Multikulturisme, suatu pandangan yang mendorong untuk menghormati pihak lain yang berbeda, bukan karena mengakui kebenaran agama lain itu, tetapi karena setiap orang harus menghormati tradisi pihak lain dalam menyembah Tuhan 1. PENDEKATAN STUDI ISLAM A. TUJUAN KURIKULER Mahasiswa dapat memahami metodologi dan ruang lingkup kajian studi Islam dan dapat mengembangkan model-model pendekatan dalam kajiannya. B. MATA KULIAH PENDEKATAN STUDI ISLAM

2

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Studi islam atau studi keislaman (Islamic studies) merupakan suatu disiplin ilmu yang membahas islam, baik sebagai ajaran, kelembagaan , sejarah maypun kehidupan umatnya. Dimaklumi bahwa Islam sebagai agama dan sistem ajaran telah menjalani proses akulturasi, transmisi dari generasi ke generasi dalam rentang waktu yang panjang dan dalam ruang budaya yang beragam. Proses ini melibatkan tokoh-tokoh agama, mulai dari Rasulullah SAW, para sahabat, sampai ustad dan para pemikir islam sebagai pewaris dan perantara yang hidup. Secara kelembagaaan proses transmisi ini berlangsung diberbagai institusi mulai dari keluarga, masyarakat, mesjid, kuttab, madrasah, pesantren , sampai al-jamiah. Dalam proses tersebut para pemeluk agama ini telah memberikan respon, baik dalam pemikiran ovensif maupun devensif terhadap ajaran, ideologi atau pemikiran dari luar agama yang diyakininya itu . dengan demikian, studi keislaman , dilihat dari ruang lingkup kajiannya, berupa mengkaji islam dalam berbagai aspekny dan dari berbagai perspektif nya. Studi ini menggunakan pola kajian Islamiic studies sebagaimana berkembang dalam tradisi akademik modern (barat). Pola ini tidak sama dengan pengertian pendidikan agama Islam (al-tarbiyah al-islamiyh), yang secara konvensional lebih merupakan proses transmisi ajaran agama , yang melibatkan aspek kognitf (pengtahuan tentang ajaran islam), afektif dan psikomotor (menyangkut sikap dan pengalaman ajaran). Pola kajian yang dikembangkan dalam studi ini adalah upaya kritis terhadap teks , sejarah , dokrin, pemikiran dan istitusi keislaman dengan menggunakan pendekatan-pendektan tertentu,seperti Kalam, Fiqh, fisafat, tasawuf, historis andropologis, sosiologis, psikologis, yang secara populer di kalangan akademik dianggap ilmiah. Dengan pendekatan inikajian tidak disengajakan untuk menemukan atau mempertahankan keimanan atas kebenaran suatu konsep atau ajaran tertentu, melainkan mengkajinya secara ilmiah, yang terbuka ruang didalamnya untuk ditolak, diterima, maupun dipercaya kebenarannya. Kajian dengan pendekatan semacam ini banyak dilakukan oleh para orientalis atau islamis yang memposisikan diri sebagai outsider (pengkaji islam daru luar) dan isider (pengkaji dari kalangan muslim) dalam studi keislaman kontemporer. C. MATERI PERKULIAHAN 1. Pendahuluan: Islam sebagai objek studi 2. Urgensi studi Islam, asal-usul, dan pertumbuhannya 3. Ruang lingkup studi Islam dan pendekatannya 4. Studi al-Quran (pendekatan sejarah dan filologi) 5. Studi al-Hadits (pendekatan sejarah dan filologi) 6. Studi Pemikiran Islam: Kalam 7. Studi Pemikiran Islam: Fiqh 8. Studi Pemikiran Islam: Filsafat 9. Studi pranata Islam: shalat, puasa zakat, haji, perbankan, dll 10. Pendekatan Sosiologis: (Islam dan masyarakat, interaksi antar Muslim, Muslim dengan non-Muslim) 11. Studi Pemikiran Islam: Tasawuf 12. Pendekatan Sosiologis: pengamalan agama dan pengaruhnya dlm masyarakat. 13. Pendekatan antropologis 14. Pendekatan historis 15. Pendekatan arkeologis

3

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

16. 17. 18. 19. 20.

Pendekatan feminis Pendekatan penomenologis Pendekatan psikologis Pendekatan kawasan: Islam Indonesia, Islam Saudi Arabia Isu-isu kontemporer: Islam dan HAM, Islam dan demokrasi, gerakan fundamentalisme Islam, dll.

2. PERTEMUAN KE DUA URGENSI STUDI ISLAM, ASAL USUL DAN PERTUMBUHANNYA PARADIGMA DALAM STUDI AGAMA

HISTORIAN (MUARRIKH) OBJEKTIF REALISTIK

à

Agama

à BELIEVER (MUKMIN) NORMATIF IDEALISTIK

DI MANA POSISI ANDA KETIKA MELIHAT AGAMA ? Agama islam ada diantara normatif dan historian , tekstual dan kontekstual Agama dapat sebagai sasaran studi dan penelitian dalam hal ini sebagai berikut: - misalnya berbagai hukum kekuarga berencana, tergantung persepsi - cara shollat yang berbeda dan sebagainya. Ada 5 bentuk gejala agama: 1. teks, naskah, sumber ajaran, dan simbol-simbol 2. Penganut , pemimpin, pemuka agama 3. Ritus ibadat, lembaga 4. alat-alat (mesjid, topi, jilbaba0 5. organisasi Islam sebagai produk sejarah 1, Islam Syiah 2. Islam Sunni 3. Nadhatul Ulama 4. Muhammadiyah

4

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

5. Ahmadiyah 6. dll AGAMA Agama dalam bahasa adala religion , din, millah berarti - pengakuan adanya hubungan manusia dengan yang gaib yang harus dipatuhi - pengakuan adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia - Pengakuan pada sumber diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan manusia - Kepercayaan pada kekuatan gaib ISLAM SEBAGAI WAHYU Al-Islam wahyun ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammadin SAW li sa’adati aldunya wa al-akhirah Wahyu : al-Quran dan al-Sunnah Al-Quran dibahas dalam ulum alQuran Al-Hadits dibahas dalam ulum al-Hadits. Telah lahir banyak cabang ilmu berkaitan dengan Islam sebagai wahyu (fenomena budaya); dan semuanya dapat menjadi objek kajian dan penelitian. ISLAM SEBAGAI PRODUK SEJARAH Islam Syi’ah, Islam Sunny, Islam NU, Islam Muhammadiyah, dan Islam Ahmadiyah adalah Islam produk sejarah Seluruh bangunan sejarah Islam klasik, pertengahan dan modern, adalah produk sejarah. Corak dan wajah Islam di berbagai belahan dunia adalah produk sejarah. Ilmu kalam, fiqih, Ushul fiqh, akhlak, tashawuf adalah produk sejarah. Semua itu produk sejarah dan dapat dijadikan sebagai objek penelitian. BIDANG ILMU & WILAYAH KAJIAN ISLAM Bidang keilmuan Islam di PTAI, menurut KMA No. 110/1982, ada 8 ilmu, yang dikembangkan lagi menjadi 16 bidang keahlian (KMA No. 27/ 1995) sebagai berikut: 1. Al-Quran dan Hadis (prodi Tafsir-Hadis) 2. Pemikiran dalam Islam (prodi Akidah- Filsafat). 3. Fiqh (Hukum Islam) dan Pranata Sosial (prodi Ahwal syakhsyiah, Muamalah, Jinayah-Siyasah, dan Perbandingan Mazhab & Hukum) 4. Sejarah dan Peradaban Islam (prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam). 5. Bahasa dan Sastra Arab (prodi: Bahasa dan Sastra Arab dan Pendidikan Bahasa Arab). 6. Pendidikan Islam (prodi Pendidikan Agama Islam dan Kependidikan Islam) 7. Dakwah Islamiah dan Perbandingan Agama (prodi: Komunikasi dan Penyiaran Islam, Pengembangan Masyarakat Islam, Manajemen Dakwah, Bimbingan dan Penyuluhan Islam, dan Perbandingan Agama) 8. Perkembangan Pemikiran Modern dalam Islam (prodi Akidah dan Filsafat)

5

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

STUDI ISLAM DI INDONESIA Lembaga yang menyelenggarakan studi Islam adalah IAIN, STAIN, dan PTAIS, melalui fakultas/ jurusan: tarbiyah, syariah, dakwah, adab, dan ushuluddin, serta beberapa program studi. Tentu saja, yang lebih dulu mengembangkan studi Islam di tanah air adalah Pondok Pesantren, dengan pendekatan yang berbeda dari model yang dikembangkan belakangan di IAIN, STAIN, PTAIS.

LINGKUP KAJIAN STUDI I SLAM

PENDEKATAN ASPEK AJARAN AQIDAH/ IMAN SYARIAH/ ISLAM AHLAK/ IHSAN SOSIAL, POLITIK, EKONOMI BUDAYA, DLL AGAMA ISLAM HISTORIS FILOSOFIS TEOLOGIS MISTIS POLITIS EKONOMIS SOSIOLOGIS ANTROPOLOGIS PENOMENOLOGIS PEDAGOGIS PSIKOLOGIS ARKEOLOGIS FEMINIS DLL

UNSUR AGAMA KITAB (QURAN-SUNNAH NABI, ULAMA, PENGANUT RITUS: SHALAT, ZAKAT, HAJI INSTITUSI: MASJID, MADRASAH ORGANISASI: NU, AHMADIYAH

DARI SINI BERKEMBANG ILMU-ILMU KEISLAMAN: ULUMUL QUR’AN/ HADITS, FILSAFAT ISLAM, EKONOMI ISLAM, POLITIK ISLAM, SEJARAH ISLAM, FIQH ISLAM: FIQH PEREMPUAN, FIQH LINGKUNGAN HIDUP, FIQH KESEHATAN, DAN SETERUSNYA.

3. PERTEMUAN KULIAH KE TIGA a. ALQURAN Al-Quran dari sudut isi atau substansinya , fungsi Al-Quran sebagai tersurat dari nama-namanya adalah sebagai berikut: a. Al Huda (petunjuk). Dalam Al-quran terdapat tiga kategori tentang posisi Alquran: petunjuk bagi menusia secara umum( Q.S. al-baqarah [2] :185) kedua

6

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

b. c. d. e. F

Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa(Q.S Albaqarah [2]: 2, ketiga petunjuk bagi orang beriman,(Q.S Fushilat [41] :44). Al Furqan (pemisah) antara yang hak dan yang batil Al-Shifa (obat), berfungsi sebagai obat bagi penyakit yang ada didalam dada ( jiwa) . (Q.S Yunus [10] : 570: Al-mau’zilah (nasihat) (Q.S Ali Imran (3): 138) Mubin (yang menerankan) (Qs Almaidah {5}:15 Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan Mubarak yang diberkati (QS Al-An’am (6) :92 Dan Alquran ini adalah Kitab yang telah kami berkahi, membenarkan kitab-kitab yang turun sebelumnya.

b. Isi Al-Quran : 30 juz, 114 surat, 6236 ayat. c. Ayat-ayat yang terdapa dalam AL-Quran adalah - ayat Makkiyah : sebagai ayat-ayat pokok yang terdiri dari 4789 ayat - ayat madaniyah : sebanya 1456 ayat Apabila ada pertentangan antara makkiyah dan madaniyah, maka yang dipilih adalah madaniyah (yang datang belakangan), sedangkan pendapat lainnya adalah sebaliknya d. Rincian penganturah ayat-ayat dalam Al-quran Al-Quran menjelaskan segala hal, Yaitu: 228 ayat yang mengatur dasar-dasar kemasyarakatan , yaitu : - 70 ayat tentang kekeluargaan, perkawinan, dan waris - 70 ayat tentang perekonomian , jual beli , sewa, pinjam meminjam - 30 ayat tentang pidana - 25 ayat tentang hubungan muslim dan non muslim - 13 ayat tentang pengadilan - 10 ayat tentang hubungan antara kaya dan miskin - 10 ayat tentang kenegaraan - 140 ayata tentang ibadah, sholat, zakat, puasa, haji - 136 ayat tentang keimanan, tuhan, malaikat, Rasul, Kitab dan hari Akhir - 150 ayat tentang sains (fenomena alam) e. Al-Quran merupakan hujjah bagi umat manusia dan hukum-hukum yang ada didalamnya merupakan undang-undang yang harus ditaati, karena Al-Quran diturunkan oleh Allah dengan jalan qoth’i (absolut), yang kebenarannya tidak boleh diragukan, alasan lain bahwa Al-quran sebagai mukjizat mampu menundukan manusia yang mau mencoba-coba meniru Al-Quran itu memang ternyata tidak ada yang mampu meniru. f..Macam – macam hukum di dalam Al-quran 1. hukum aqidah (ahkam ’itiqodiyah) yaitu hukum yang berkaitan dengan masalahmasalah yang harus dipercaya oleh mukalaf, yang disebut rukun iman 2. Hukum-hukum akhlak (Ahkam Khuluqiyah) yaitu hukum yang berkaitan erat dengan masalah yang harus dipakai setiap mukalaf , bail ucaan, perbuatan, perjanjian (akad) dan menghindarkan diri dari kehinaan

7

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

3. Hukum Amaliyah (Ahkam ’Amaliyah) yaotu hukum yang erat hubungannya dengan seluruh tidakan atau perbuatan mukalaf, baik ucapan, perbuatan, perjanjian (akad) dan kegiatan –kegiatan lainnya dan hidup sehari-hari f.Dalalah ayat-ayat qath’i dan dhanni Bila dilihat dari segi hukumnya terbagi 2 bagian yaitu nash yang qoth’i ( yang menunjukkan makna tertentu dan tidak mungkin menerima takwil, atau tidak ada pengertian yang lain selain makna tersebut dan nash yang dhanni ( nash yang menunjukkan makna yang mungkin menerima takwil atau mungkin dipalingkan makna asalnya kepada makna yang lain. Dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa nash tersebut mempunyai beberapa pengertian dan penafsiran Al-Quran : wurud --à Qath’i Al-Wurud Dalalah = terdiri -à qath’i Al-Dalalah Dhanni Al-Dilalah

Asbab – al-ikhtilaf Al-Quran : - Beda dalil - Beda Paham tentang dalil - Beda Metoda ijtihad - Beda Konsep Masalah Terjadi karena ; - variasi mazhab, - variasi fiqh, - variasi hokum islam Beberapa persoalan tentang Al-Quran - Al-Quran Mahluk / kalamullah? - Sistematis Al-Quran , siapa yang menyusunnya - Mengapa Indonesia tidak memakai hukum Islam - Bermazhab - Bid’ah - Hadis hubungannya dengan Al-Quran Kalau ada perbedaan pandangan tentng Islam, lalu dikembalikan pada Al-quran dan hadist, persoalan tidak begitu saja selesai. Sebab ayat yang terdapat dalam Al-Quran sebagai berpotensi untuk diartikan lain. Al-Quran sebagai gudang , petunjuk, obat, yang dapat dipahami secara tekstual dan kontekstual, Jangan berada dalam perdebatan yang proporsional . Dengan mempersoalankan agama, budaya , sudah ada bagiannya sendirisendiri. Tematis per Al-Quran Apa yang tidak ada dalam Al-Quran , seperti gender misalnya kata gender tidak ditemukan dalam Al-Quran tetapi persoalan gender itu ada didalamnua , ini disebut dengan tematis persoalan. 3 hal yang mendasar yaitu: - tafsir : tinggu, istimbath, hukum (sebagai pengambil hikmah) - Tadabur ; menengah, penggalian makna

8

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

- terjemah : paling rendah, istimbath hukum AYAT – AYAT ALLAH TERDIRI ATAS 1.Ayat Qurâniyah (al-Quran/ al-Sunnah) Pedoman dalam ibadah, hablun min Allâh; Termasuk ibadah mahdhah (khusus) Contoh: manusia yang beriman kepada Allah harus melaksanakan berbagai kewajiban seperti: shalat, puasa, zakat, dan haji sesuai dengan aturan yang ditetapkan-Nya 2.Ayat Kauniyah (hukum alam) pedoman dalam melakukan hubungan sesama manusia dan alam semesta/ lingkungan hidup (hablun min al-nâs hablun min al-‘âlamin Termasuk ibadah ghair mahdhah (umum) Contoh: air mengalir, api membakar, hutan digunduli dapat berakibat longsor dan banjir, air tercemar dapat mengganggu dan mematikan ikan dan sumber daya hayati yang ada di dalamnya AYAT QURANIYAH dengan KAUNIYAH dapat dibedakan, tapi tidak bisa dipisahkan Kaum beriman wajib mematuhi keduanya Ibarat IMAN dengan AMAL SHALIH orang yang beriman harus beramal shalih, dan amal shalih baru mempunyai makna bila dilaksanakan dalam kerangka iman TERMINOLOGI KATA AL-Quran = bacaan Taqwa = penjagaan = preventif Tawakal = berserah diri Iklash = tulus Wara’ = hati-hati, dicermati Tawadhu = sederhana, rendah hati Ihsan = nilai kebaikan Ibadah/Ibadat = penghambaan Zuhud = sederhana Tasawuf = kulit kambing Mukmin = orang beriman Iman= percaya Ihsan = nilai nilai kebaikan Muksin = orang yang suka berbuat baik Muklis = orang yang tulus Syukur = terbuka Amanah = jujur Sidik = Benar Kafir = tertutup Munafik = mendua Muslim – menyerah Mubah= boleh Mudharat = berbahaya\ Maslahat = kebaikan PERTEMUAN KULIAH 4

9

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

HADIST Pengertian hadist menurut bahasa Al-Hadist Menurut QS, Al-Hasyr :7 Allah berfirman : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Al-Hadis menurut bahasa mempunyai arti al-jadid (baru), al-khabaran (berita), Al-qarib (dekat) Hadist adalah suatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan , perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sebagainya. Sejarah al-Hadist terbagi atas 7 periode. Yaitu periode awal Hijriyah, periode sahabat, periode Dinasti Umayah, Periode Abad kedua Hijriyah, periode Dinasti Abasiyah angkatan pertama, angkatan kedua dan abad ketujuh sampai sekarang. Unsur-Unsur hadis terdiri tiga hal: rawi, matan dan sanad Jenis-jenis Al-Hadist dapat dilihat dari hal-hal berikut ini. (1) dilihat dari sumbernya , al-hadist terdiri dari Hadist Qudsi dan hadist Nabawi (2) Dari jumlah rawinya, ada hadist Mutawatir dan hadist Ahad. (3) Dilihat dari nilai sanadnya , Al-hadist terdiri hadist sahih, hadist Hasan, dan Hadist Daif. Kedudukan Al-Hadist adalah sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Quran dan fungsinya sebagai penjelasan (bayan) terhadap Al-Quran. Pengkajian terhadap Al-Hadist ,melahirkan disiplin ilmu , Ilmu Rijalil Hadist, Ilmu Gharibil Hadist, Ilmu Asabi Wurudil Hadist, Ilmu Tawarikhul Mutun, Ilmu Nasikh dan mansukh, Ilmu Mukhtaliful hadist dn ilmu llalil Hadist. Unsur-Unsur Hadis 1. Rawi yaitu yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang didengarnya dan diterimanya dari seorang guru. 2. Matnul Hadist yaitu pembicaraan (kalam) atau materi berita yang di over oleh sanan yang terakhir , baik pembicaraan itu sabda Rasulollah SAW, sahabat atau tabiin. 3. Sanad , yaitu jalan yang dapat menghubungkan matnul Hadist kepada nabi Muhammad SAW. Jenis-Jenis al-Hadist jenis-jenis al-Hadist dapat dibagi beberapa macam yaitu: 1. Dilihat dari segi sumbernya al-Hadist , al-Hadist terbagi dua , yaitu: a. Hadist Qudsi (Hadist Illahi/Hadist Rabbani) yaitu suatu Hadist yang berisi firman Allah SWT. Yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri sera menyandarkannya kepada Allah SWT. b. Hadist Nabawi , Yitu suatu Hadist yang lafal maupun maknanya berasal dari Muhammad SAW. 2. Dilihat dari segi nilai sanad al-hadist, terbagi 3 bagian: a. Hadist Sahih , yaitu Hadist yang memenuhi persyaratan kesahihan , adapun syarat-syarat kesahihan mencakup:Sanadnya bersambung,

10

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

diriwayat kan oleh rawi yang adil tetapi tidak sempurna dabitnya serta matannya tidak syazz dan berillat. b. Hadist Hasan yaiut hadist yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh rawi yang adil tetapi tidak sempurna dabitnya, serta matannya tidak syazz dan berilat. c. Hadist Da’if yaitu hadist yang tidak memenuhi syarat shahid dan hassan 3. Dilihat dari segi jumlah rawi al-Hadist, terbadi dua a, Hadist Mutawatir, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh sejumlah orang pada setiap tingkat sanadnya, yang menurut tradisi mustahil mereka bersepakat untuk dusta dan karena itu diyakini kebenarannya b. Hadist Ahad, yaitu yang tidak memenuhi syarat Mutawatir.

ILMU KALAM Adalah Ilmu yang merupakan sebuah ilmu yang mengkaji dokrin dokrin dasar atau akidah-akidah pokok islam (Ushuluddin), Ilmu kalam mengidentifikasi akidahakidah pokok dan berupaya membuktikan keabsahannya dan menjawab keraguan terhadap akidah-akidah pokok. Sumber-sumbernya Al-Quran , Hadist, Pemikiran manusia. Obyek Pembahasan Ilmu Kalam 1. Masalah pengetahuan (al-Ma’rifah) cara memperolehnya, tujuan mengukuhkan keyakinan mengenai pengetahuan informatif (al-ma’rifah al-khariyyah) , khususnya yang dibawa oleh Rasul, tujuannya untuk mengcounter pandangan Thummamiyyah dan safsata’iyyah (sofisme) yang menolak pengetahuan informatif. 2. Masalah kebaruan alam (huduts al’alam) yang bertujuan membuktikan kewujudan zat yang maha pencipta. Ini merupakan bantahan terhadap filosofi . 3. Masalah Keesaan Allah sebagai bantahan terhadap pandangan tsanawiyah yang meyakini eksistensi Tuhan Cahaya (al-Nur) dan Tuhan eksistensi Tuhan Cahaya (al-nur) dan tuhan kegelapan (al-zulmah). 4. Masalah sifat Allah dan hubungannya dengan zat-Nya, apakah zat-Nya sama dengan sifatnya, ataupun berbeda. Ini merupakan bantahan terhadap kaum Mu’tazilah yang terpengaruh filsafat Yunani. Ketika konsep jawhar (substansi) dan arad (aksiden) serta aqnumiyah (oknum dalam teologi kristen) yang digunakan untuk menjustifikasi konsep teologis mereka, dimana Tuhan dianggap akumulasi dari Bapak , anak, ruh kudus. 5. Masalah tanzih (pensucian) Allah dan penolakan tasybih (penyeruan Allah), tujuan untuk membantah pandangan orang yahudi yang menambahkan Tuhan dengan ciri-ciri manusia. 6. Masalah kalam Allah, baik qadim maupun baru, ini terpengaruh dengan pandangan teologi Kristen mengenai al-Masih yang dianggap sebagai kalimatullah, menurut teologi Kristen, Al-Masih adalah Tuhan sedangkan pandangan Islam, beliau adalah Kalimatullah 7. Masalah Kenabian yang bertujuan untuk mengukuhkan keyakinan pada kenabian Muhammad SAW, dan mengkonter sekte Sabi’ah dan Brahmana (hindu ) yang

11

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

menolak kebutuhan manusia pada nabi, Juga membantah orang-orang yahudi dan Nasrani yang menolak kenabian Muhammad 8. Masalah Kemaksuman para Nabi yang bertujuan membantah pandangan Yahudu bahwa Nabu mempunyai kelemahan , dosa , dan tidak Maksum. 9. Masalah tempat kembali (al-mi’ad) yang membantah pandangan reincarnation (penjelmaan kembali). Agama Budha dan lainnya 10. Masalah al-jabr wa al-iktiyar (keterbatasan dan kebebasan berkehendak) yang terpengaruh dengan pandangan freewill dan fatalisme filsafat Yunani.

SEJARAH KEMUNCULAN PERMASALAHAN ILMU KALAM 1. Aliran Khawarij Menurut Harun Nasution , kemunculan persoalan kalam dipicu persoalan politik atas terbunuhnya Ustman bin Affan yang berbuntuk penolakan Mua’wiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi thalib, Ketegangan antara Muawiyah dan Ali bin Abi thalib mengkristal menjadi perang shifin yang berakhir dengan keputusan Takhim , dimana Ali menerima tipu muslihat Amr bin Ash Utusan Mu’awiyah. Sungguhpun terpaksa , tidak disetujui oleh sebagian tentaranya, mereka berpendapat persoalan yang terjadi tidak dapat diputuskan dengan tahkim, semboyan mereka hukum harus kembali kepada Al-Quran . Lahukma illa lillah (tidak ada hukum selain dari hukum allah) Mereka memandang Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah dan mereka meninggalkan barisannya, sehingga mereka disebut KHAWARIJ. Menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah Kafir. Dalam arti telah keluar dari Islam atau telah murtad dan wajib dibunuh. Mereka umumnya berasal dari suku Badawi, kehidupannya di padang pasir yang tandus, sehingga mereka hidup bersifat sederhana baik dalam cara hidup dan pemikiran , keras hati , radikal, bengis dan suka kekerasan , fanatik perfikiran sempit, tidak dapat mentolerir hal-hal yang dianggap menyimpang dalam pandangan keislamannya. Sehingga merekapun dengan mudah terpecah belah menjadi golongan kecil-kecil. Sehingga dapat dimengerti mengapa mereka terus mengadakan perlawanan dengan penguasa jamannya.Golongan Khawarij ada 8 yang terbesar yaitu : Al-Muhakkimah, AlAzariqah, Al-Nadjat, Al-Baihasiyyahn , Al-ajaridah, Al-Sa’alibah, dan Al-Shufriyah. 2. Aliran Murji’ah Nama murjiah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, pengharapan.memberi pengharapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah (arja’a) Atau orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yaitu Ali dan Muawiyah serta pasukannya . Murjiah menagguhkan penilaian terhadap orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim dihadapan Allah. Karena Allah lah yang mengetahui iman seseorang . Demikian pula orang- orang mukmin yang melakukan dosa besar dianggap tetap mukmin /bukan kafir selama ia tetap mengucapkan 2 kalimat syahadat.

12

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Terdapat nama-nama seperti Al-Hasan Ibnu Muhammad bin Ali bin bi Thalib. Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadist. Menurut Abu Hanifah, Iman adalah pengetahuan dan pengetahuan adanya Tuhan, Rasul-rasulnya dan tetang segala yang datang dari Tuhan dalam keseluruhan tidak dalam perincian: Iman tidak mempunyai sifat bertambah atau berkurang dan tidak ada perbedaan diantara manusia dalam hal iman. 3. Aliran Qadariyah Qadariyah berasal dari bahasa Arab yaitu qadara (kemampuan dan kekuatan), aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi perbuatannya sendiri, penekanan pada kebebasan manusia dalam mewejudkan perbuatannya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan melaksanakan kehendaknya, menentukan keputusan . dalam surat Al-Rad ayat 11, Allah berfirman:”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu bangsa, kecuali jika bangsa itu mengubah keadaan diri mereka sendiri. 4. Aliran Mu’tazilah Ajaran Mutazilah), yang mengalami jaman kejayaan pada saat peradaban Islam the golden age ( abad 7 abad sampai abad 13). Ketika itu muncul banyak ilmuwan seperti Ibnu Sina (bapak kedokteran), Ibnu Khawarijmi (bapak matematika). Aliran Mu’tazilah mengakar dari paham qadariyah, secarah harfiah mu’tazilah berasal dari i’tazala yang berarti berpisah . dibina oleh Wasil bin Ata. (lahir 81131 H), belajar pada Hasan al-Basri salah satunya. Golongan I. (Mu’tazilah 1) muncul sebagai respon politik murni. Tumbuh sebagai kaum yang netral politik, antara Ali, dengan lawan-lawannya terutama, Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Aliran Mu’tazilah II muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang dikalangan khawarij dan murjiah akibat ada nya peristiwa takhim. Golongan ini muncul sebagai respons terjadap persoalan teologis yang muncul dikalangan khawarij dan Murji’ah akibat persoalan takhim. Menurut Harun Nasution, ada 5 pokok ajaran Mu’tazilah yang menjawab masalah akal dan wahyu dalam menjawab persoalan teologis yaitu: (1) Al-Tauhid , yaitu Kemahaesaan Tuhan , Tuhan Maha Esa , zat yang Unik dan tiada yang serupa dengan dia.(2) Al-adl, yaitu Keadilan Tuhan, Dari sini timbullah paham kebebasan manusia dalam kehendak dan perbuatan, manusia harus bertanggung jawab kepada perbuatannya, paha al-shalih wa-ashlah, wajib bagi Tuhan berbuat baik kepada manusia, mengirin nabi-nabi untuk menyampaikan segala yang diketahui akal, wajib untuk tidak memberi beban diluar batas kemampuan, terikatnya tuhan kepada janjijanji-Nya dan sebagainya, (3) Al-Wa’ad wa al wa’id, memiliki arti Tuhan wajib memberi pahala bagi orang yang berbuat baik dan wajib menghukum orang yang berbuat mungkar di akherat. (4) Al Manzilah bayn al –manzilatain, yaitu pemposisian di tengah bagi pembuat dosa besar , mereka tidak kafir tetapi juga tidak mukmin, tidak surga dan tidak juga neraka, tapi posisi siksa ringan yang terletak diantaranya, (5) Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy an Al-munkar yaitu suatu perintah berbuat baik

13

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

dan larangan berbuat jahat yang berhubungan dengan usaha membina moral dan suatu kontrol sosial. 5. Aliran Jabariyah Jabara mengandung arti memaksa, menurut Al-Syahrastani, jabariah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba seorang hakikat dan menyadarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT. Paham ini diduga telah ada sejak sebelum agama Islam datang kemasyarakat arab. Dihadapan alam yang tandus, ganas, berpasir, indah namun kejam, menyebabkan jiwa mereka dekat kepada Zat yang Maha. Dengan semata-mata tunduk, patuh pasrah. Al-Saffat ayat 96, ditegaskan : Allah, menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. 6. Aliran Asy’ariyah Nama lengkapnya Abdul Hasan Ali bin Ismail Al-asyari 260 H/873M – 324 H/935M), keturunan Abu Musa Al-Asyari., salah satu perantara dalam sengketa antara Ali dan Mu’awiyah. Pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal yaitu Al-Jubba’i , yang diikutinya sampai ia berumur 40 tahun, setelah bersembunyi selama 15 hari, kemudian ia pergi ke Mesjid Basrah dan didepan orang banyak , mula-mula dia mengatakan bahwa: Quran itu mahluk, Tuhan tidak dapat dilihat mata kepala. Dia tidak lagi sepaham dengan mu’tazilah yang melibatkan akaldiatas segalanya. Ia mengkawatirkan quran dan Hadist yang menjadi korban paham-paham mu’tazilah yang menurutnya pendapatnya tidak dapat dibenarkan, karena didasarkan atas pekerjaan akal dan pikiran Abu Hasan al-Asy'ari tampil dengan konsep kasb (perolehan, acquisition) yang cukup rumit. Berikut ini tiga bait syair tentang pengertian kasb, dari kitab Jawharat al-Tawhid, salah satu buku teks dalam paham Asy'ari: Wa 'indana li al-'abd-i kasb-un kullifa Wa lam yakun mu'atstsir-an fa 'l-ta'rifa Fa laysa majbur-an wa la ikhtiyar-an Wa laysa kull-an yaf' al-u ikhtiyar-an Fa in yutsibna fa bi mahdl-i al-fadl'l-i Wa in yu'adzdzib fa bi mahdl-i al-'adl-i Artinya: Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,(usaha) Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh Maka manusia tidaklah terpaksa, dan tidak pula bebas, Dan tidak pula masing-masing itu berbuat dengan kebebasan Jika Dia (Allah) memberi pahala kita maka semata karena murah-Nya, Dan jika Dia menyiksa kita maka semata karena adil-Nya Jadi, jelasnya, manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada

14

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

kegiatannya. Karena kewajiban usaha atau kasb itu maka manusia bukanlah dalam keadaan tak berdaya seperti kata kaum Jabari, tapi karena usahanya toh tidak berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya maka ia pun bukanlah makhluk bebas yang menentukan sendiri kegiatannya seperti kata kaum Qadari. Dan jika Allah memberi kita pahala (masuk surga), maka itu hanyalah karena kemurahan-Nya (bukan karena amal perbuatan kita), dan jika dia menyiksa kita (masuk neraka) maka itu hanyalah karena keadilan-Nya (juga bukan karena semata perbuatan kita). Kutipan itu menggambarkan betapa sulitnya memahami konsep kasb dalam paham Asy'ari. Maka tidak heran konsep itu menjadi sasaran kritik tajam para pemikir lain, termasuk Ibn Taymiyyah yang menganggapnya sebagai salah satu keanehan atau absurditas Ilmu Kalam. Ibn Taymiyyah malah menggubah syair yang dapat dipandang sebagai tandingan konsep kasb: Wa la makhraj-a li 'l-'abd-i 'amma qadla, Walakinnahu mukhtar-u husn-in wa saw'at-i |Fa laysa bi majbur-in 'adim-i 'l-iradat-i Wa lakinnahu sya'a bi khalq-i 'l-iradat-i Artinya: Tidak ada jalan keluar bagi manusia dari ketentuan-Nya, Namun manusia tetap mampu memilih yang baik dan yang buruk Jadi bukannya ia itu terpaksa tanpa kemauan, melainkan ia berkehendak dengan terciptanya kemauan (dalam dirinya) Begitulah, Ibn Taymiyyah melihat bahwa dalam proses perkembangan paham Asy'ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya. Ibn Taymiyyah sendiri, karena menolak baik Qadariah maupun Jabariah, juga tampil dengan konsepnya jalan tengah, yaitu, sebagaimana ternyata dari syair tersebut, konsep bahwa Allah telah menciptakan dalam diri manusia kehendak (iradah), yang dengan iradah itu manusia mampu memilih jalan hidupnya, baik maupun buruk. Pemikiran Al-asy’ari tentang Tuhan dan sifat-sifatnya, ia berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat-sifat , yang unik dan tidak dapat dibandingkan dengan sifat manusia, Sifat-sifat Allah seperti mempunyai tangan , kaki, tapi tidak boleh diartikan secara harafiah tapi secara simbolis. Tuhan mempunyai sifa riil dan abadi, tetapi Tuhan berusaha menjaga dirinya anthropomofosma, Tuhan mengetahui dengan sifat pengetahuanNya. Berkehendak dengan sifa kehendakNya. Dan sifat tersebut tidaklah identik dengan Zat-Nya.tetapi tidak berbeda dari padaNya. Dan Al-Asyari meyakini bahwa setiap perbuatan manusia terjadi dengan kehendak dan ridho Allah baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.

15

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Bagi Al-Asyari mengutamakan wahyu , baginya Al-Quran adalah tidak diciptakan sebab kalau ia diciptakan sesuai dengan ayat artinya” Jika kami menghendaki sesuatu, kami bersabda .”terjadilah: maka iapun terjadi (QS, An-Nahl (16):40). Ia meyakini bahwa Allah dapat dilihat di akherat , tapi tidak dapat digambarkan, kemungkinan rukyat dapt terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana ia diciptakan kemampuan penglihatan untuk melihatnya Bagi Al-asyari maupun Mu’tazilah Allah mempunyai keadilan, bagi Mu’tazilah keadilan Allah lebih besar dari kekuasaan, Allah akan menghukum orang yang bersalah dan memberi pahala bagi yang berbuat baik. bagi Al-syari kekuasaan Allah melebihi keadilannya. Bagi Al-Asyari mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebag iman tidak hilang karena dosa selain kufur. Dia tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud di baitullah walaupun mereka melakukan berzina dan mencuri, mereka masih disebut beriman dengan keimanan yang dimilikinya. Adapun balasan di akherat kelak bagi pelaku dosa besar apabila meninggal dan tidak sempat bertobat maka semuanya tergantung kebijakan Allah, Tuhan dapat mengampuni dosa besar dengan syafaat Nabi Muhammad SAW. Bagi Al-Asyari Iman (secara esensial) adalah tasdiz bi al-jannah (membenarkan dengan kalbu) . Sedangkan (qawl) dengan lisan dan melakukan kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanya merupakan furu (cabang-cabang) iman. Oleh karena itu siapapun yang membenarkan keesaan Allah beserta mereka bawa dari-Nya , Iman orang semacam ini merupakan iman yang sahih dan keimanan seorang tidak akan hilang kecuali ia mengingkari hal-hal tersebut., baginya persyaratan iman minimal untuk adanya iman adalah tashdiq, yang jika diekspresikan secara verbal berbentuk syahadatain. Menurut Al-Asyari faham perbuatan manusia pada hakekatnya adalah perbuatan Tuhan dan diwujudkan dengan daya Tuhan dan bukan adanya manusia, Ditinjau dari sudut paham ini, pemberian beban yang tidak dapat dipikul tidaklah menimbulkan persoalan bagi Asy-ariyah, manusia dapat melaksanakan beban yang tidak dipikulnya karena yang mewujudkan perbuatan manusia bukanlah daya manusia tapi daya Tuha yang tak terbatas. Kaum Asyari karena percaya akan kemutlakan kekuasaan Tuhan berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan, yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mata adalah kekuasaan dan kehendak mutakNya dan bukan kerana kepentingan manusia atau tujuan yang lain. Maka mengartikan keadilan dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang sebenarnya, yaitu mempunyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki serta menpergunakannya sesuai dengan kehendakNya, Dengan demikian, keadilan Tuhan mengadung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap mahluknya dan dapat berbuat sekehendaknya.

16

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Ayat Al-Quran yang dijadikan sandaran bagi aliran ini: al-Buruj ayat 16. Surat Yunus ayat 99, As-sajadah ayat 13, Al-an-am ayat 112, dan Al-baqarah 253.
Yunus:99. Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? As-sajadah:13. Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama." Al-baqarah:253. Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya[158] beberapa derajat. dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus[159]. dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, Maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.[158] yakni nabi Muhammad s.a.w.[159] Maksudnya: kejadian Isa a.s. adalah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mukjizat Isa a.s. menurut Jumhur musafirin, bahwa Ruhul Qudus itu ialah malaikat Jibril. Al-Buruj:16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya..

7. Aliran Maturidiyah Abu Mansur ibnu mahmud al-Maturidi lahir di Samarkhan pada pertengahan kedua dari abad ke 9, wafat tahun 944 M, ia adalah pengikut Abu Hanifah dan pahampaham teologi nya banyak persamaan dengan Abu Hanifah. Pendapatnya tentang perbuatan manusia, Al-Maturidi sependapat dengan golongan Mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatanperbuatannya. Dengan demikian ia mempunyai faham Qadariyah dan bukan jabariah, Mengenai orang yang berdosa besar masih tetap mukmin dan soal dosa-dosa besarnya akan ditentukan Tuhan kelak di akherat, iapun menolak paham posisi menengah kaum Mu’tazilah, STUDI TASAWUF TASAWUF, menurut etimologi , AHLU SUFFAH = kelompok orang pada zaman rasulullah hidupnya banyak di serambi serambi mesjidm mereka mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Alah. Ada lagi mengatakan Tasawuf berasal dari kata SHAFA ( fi’il mabni majhul) orang yang bersih dan suci, orang yang menyucikan dirinya Dihadapan Allah.. Ada yang mengartikan berasal dari bahasa Yunani SAUFI yang berarti kebijaksanaan. SHUF yang berarti bulu domba (wol) Tasawuf berdasarkan istilah, (1) menurut Al-Jurairi, Memasuki segala budi (Akhlak) yang bersifat suni dan keluar dari budi pekerti yang rendah. (2) Menurut AlJunaidi , ia memberikan rumus bahwa tasawuf adalah bahwa yang hak adlaah yang mematikanmu dan Hak-lah yang menghidupkanmu. Adalh beserta Allah tampa adanya penghubung.

17

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Dari Al-Junaid dapat disimpulkan tasawuf adalah memberikan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan mahluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (isntink) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia. Menjauhkan segala seruahan dari hawa nafsu.mendekatkan sifat suci kerohanian dan bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memaki barang-barang yang penting dan terlebih kekal . Menaburkan nasihat kepada semua umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal hakikat dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal syariat. Dari Al-Junaid dapat disimpulkan tasawuf adalah memberikan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan mahluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (isntink) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia. Menjauhkan segala seruahan dari hawa nafsu.mendekatkan sifat suci kerohanian dan bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memaki barang-barang yang penting dan terlebih kekal . Menaburkan nasihat kepada semua umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal hakikat dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal syariat. FASE PERKEMBANGAN TASAWUF : 1. Fase Askestisme (zuhud) berkembang pada abad kedua Hijriah, sikap semacam ini dipandang pengantar kemunculan tasawuf diman setiap individu dari kalangan muslim memusatkan dirinya pada ibadah dan pendekatan diri pada Allah SWT, mereka tidak mementingkan kenikmatan duniawi dan kemudian berpusat pada kenikmatan akherat, Tokoh yang populer pada fase ini adalah hasan Al Basri (110 H) dan Rabiah Al Adawiyah (185 H) keduanya dalam sejarah disebuth seorang zahid 2. Fase Akhlaki Pada fase ini tasawuf berkembang pada abad ketiga Hijriah , dimana para sufi mulai ekspansi pada wilayah prilaku dan moral manusia. Pada saat manusia ketika itu berada ditengah-tengah terjadinya dekadensi moral yang cukup akut, sehingga dari sini tasawuf mulai berkembang dengan pesat sebagai ilmu moral keagamaan dan mendapat respon yang baik dari masyarakat islam , dari sini kemudian nampaklah bahwa ajaran tasawuf semakin sederhana dan mudah dipraktekkan dengan standart akhlak 3. Fase AL Hallaj 1 abad kemudian , muncul tasawuf jenis lain yang lebih ekslusif dan fenomental yang diwakili oleh al-hallaj, beliau mengajarkan tentang kebersatuan manusia dengan Tuhan Konsep yang dibawanya adalah wahdatul wujud (bersatu dengan wujud yang satu). Dari konsep ini kemudian Al-Hallaj diputuskan bersalah dan harus dihukum mati, untuk sebuah konsistensi paham tasawufnya, Dimana masyarakat islam masih sangat indentik dengan jenis tasawif aklaki, kemudian alHallaj dianggap membahayakan stabilitas umat 4. Fase Tasawuf moderat kemunculan tasawuf pada fase ini, muncul sekitar abad ke lima hijriyah dengan seorang tokohnya yanitu Imam Ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdasarkan al-Quran dan Al-Hadist, serta menekankan kembali askestisme. Al-Ghazali telah berhasil menempatkan prinsip-prinsip tawawuf yang moderat, akibat pengaruh kepribadian iman al_Ghazali yang begitu besar, maka pengaruh tasawuf dengan dasar moderat ini telah meluas hampir keseluruh pelosok dunia islam, lalu mulailah bermunculan para tokoh sufi yang kemudian

18

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

mengembangkan tarekat tertentu untuk murid-murid mereka, seperti Sayyid Ahmad Ar-Rijai dan Sayyed Abdul Qadir Jaelani. 4. Fase Tasawuf Falsafi Pada fase ini tasawuf mulai dipadukan denganfilsafat yang muncul pada abad ke 6 hijriah , tokoh yang muncul Syuhrowardi al Maqtul (549 H) , Syek Akbar Mulyadin Ibn Araby (638 H) dan Ibn faridh (632 H) mereka memcoba menggabungkan pola pikir tasawuf yang akhlaki dan askestisme dengan filsafat yunani khususnya neo-Platonisme. Teori –teori yang mendalam khususnya mengenai jiwa, moral, ilmu tentang wijud menjadi hal yang urgensi dalam prinsip berfikir mereka. PEMIKIRAN TASAWUF AKHLAKI DAN FALSAFI 1. Pemikiran tasawuf akhlaki Tasawuf disini dimaksudkan untuk merubah dan memperbaiki akhlak yang mulia. Dalam pemikiran ini tidak hanya bersifat lahiriyah tapi juga batiniyah , dengan latihan (riyadho) tujuannya adalah menguasai hawa nafsu , untuk itulah tasawuf akhlaki menerapkan terapi pembinaan mental dan akhlak yang disusun sebagai berikut a. terapi takhalli adalah mengosongkan diri dari prilaku dan akhlak tercela, adalah langkah awal yang harus dijalani seorang sufi, untuk memasuki dunis tasawuf yang suci. Kerena akhlak tercela adalah perangkap kenikmatan duniawi. Sebagai penghalang perjalanan seorang hamba pada Tuhannya, untuk mencapai spiritual yang hakiki, Akhlak tercela lainnya yang paling berbahaya adalah Riya(suka pamer). Imam Al Ghazali menganggap penyembuhan diri yang masuk dalam politeisme b. terapi Tahalli dlakukan agar seseorang dihiasi oleh sikap, prilaku dan Akhlakul karimah, Tahp ini dilakukan setelah tahap pertama selesai, lalu mereka akan selalu berusaha berjalan diatas ketentuan agama, tahap ini adalah isi dari pembersiha diri dan pengosongan jiwa. Beberaoa hal yang harus diisi dalam menghiasi beberapa prilaku tadi adalah 1. tobat: penyesalan sungguh2 dalam hati yang disertai dengan permohonan ampun serta berusaha meninggalkan segala perbuatan yang dpt menimbukan dosa itu kembali 2. Cemas dan Harap adalah sikap mental tasawuf yang selalu bersandar kepada salah seorang tokoh yaitu hasan Al-Basri yaitu seatu perasaan yang timbul karena banyak yang berbuat dosa dan lalai kepada Allah 3. Zuud yaitu sikap mental sufi yang melepaskan diri dari ras ketergantungan terhadap kenikmatan duniawi dengan mengutamakan kehidupan akherat yang abadi 4. Al faqr , sikap bermakna , dimana seorang sufi tidak menuntut lebih banya dari apa yang telah dimiliki, sehingga tidak menuntut sesuatu yang lain, Sikap ini merupakan benteng terhadap pengaruh kenikmatan duniawi dan menghindari keserakahan, Pada prinsipnya sikap ini adalah rentetan dari sikap zuhud, hanya saja zuhud lebih eksrim sedangkan faqr adalah sekedar

19

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

pendisiplinan, sikap inipun pada gilirannya akan menimbulkan sikap wara dalam diri sufi 5. Al-Shabr adalah hal yang paling mendasar dalam tasawuf kaena sabar mengandung makna keadaan jiwa yang kokoh stabil , konsekwensi dalaam pendirian , walaupun godaan dan tantangan begitu kuat, sikap ini dilandasi satu anggapan bahwa segala sesuatu terjadi merupaka kehendak Allah dan kita harus menerimanya dengan sabar, tapi iktiar juga tetap harus dijalankan 6. Ridha, sikap ini merupakan kelanjtan dari rasa cinta yang merupakan perpaduan Mahabbah dan sabar, Ridho dalam hal ini mengandung makna lapang dada, berjiwa besar, hati terbuka terhadap apa yang bersadar dari Allah baik meneruma ketentuan agama dan masalah nasib itu sendiri 7. Muraqqabah sikap ini adalah berarti mawas diri atau lebih tepat nya dengan self correction, sikap dimana kita siap siaga setiap saat untuk meneliti keadaan diri sendiri. Sikap ini berawal dari sebuah landasan pemikiran bahwa Allah senantiasa mengawasi dan mengamati setipa gerak dan langkah kita selama hidup didunia 2. terapi Tajalli merupakan pemantapan dari tahap tahlli yang bermakna nur ghaib, yaitu dengan menghayati rasa keber Tuhanan lebih mendalam yang kemudian menimbulkan rasa rindu yang amat sangat kepada sang Tuhan, karena kaum sufi berpendapat untuk mencapai kesempurnaan kesucian jiwa , hanya dapat ditempuh dengan satu jalan yaitu cinta kepada Allah secara mendalam , maka jalan menuju tuhan akan terbuka dengan lebar. 2.. Pemikiran Tasawuf Falsafi

PENDEKATAN SOSIOLOGI SOSIOLOGI ADALAH Ilmu yang mempelajari manusia dan interaksi manusia dengan manusia lain, interaksi seseorang induvidu dengan individu yang lain , atau individu dengan kelompok masyarakat., masyarakat dengan masyarakat, pemimpin dengan rakyat, rakyat dengan rakyat, organisasi dengan organisasi. SOSIOLOGIàISLAMàINTERAKSI -à MUSLIM DAN MUSLIM,/NONMUSLIM àORGANISASI KEAGAMAAN -àMUHAMMADIYAH, NU àPRANATA àMASYARAKAT, ZAKAT, NIKAH àTOKOH àSEJARAH, FUNGSI, PERAN

20

Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

SYARIAH DAN PEREMPUAN AYAT YANG DIANGGAP DISKRIMINATIF 1. Laki-laki boleh beristri lebih dari 1 (QS 4:2), padahal ketika ayat tersebut diturunkan ketika itu laki-laki arab mempunya istri yang cukup banyak sampai 10. ayat ini adalah untuk membatasi jumlah istri yang saat itu telah membudaya mempunyai istri lebih dari 4 bahkan sampai 10. Jadi ayat ini adalah pembatasan. Bukannya untuk melegalitimasi poligami . walaupn itu memang di bolehkan dalam Islam tapi dalam konteks keadilan dan syarat keadilan. Tapi apakah ada laki-laki yang dapat berbuat adil, karena keadilan adalah bukan hal yang muda. Dan pada dasarnya laki-laki sulit untuk bersikap adil 2. Laki-laki Muslim boleh menikah dengan wanita ahli kitab tapi tidak sebaliknya Almaidah :5 3. Larangan menikah dengan orang musrik (QS 2 : 221 4. Warisan laki-laki dan perempuan beda 1:2 (QS Annisa 4 : 11 dan 176 5. Perempuan hanya boleh bersaksi dalam kasus perdata itupun ½ dari laki-laki 6. Laki-laki punya otoritas menceraikan (talak) 7. laki-laki pemimpin atas perempuan (QS 4:34)

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->