P. 1
Perkawinan Muda, Jumlah Anak Dan Fertilitas

Perkawinan Muda, Jumlah Anak Dan Fertilitas

4.81

|Views: 8,833|Likes:
Published by Khaerul Umam Noer
studi mengenai fertilitas di masyarakat nelayan desa Kalisari, Surabaya, Jawa Timur
studi mengenai fertilitas di masyarakat nelayan desa Kalisari, Surabaya, Jawa Timur

More info:

Published by: Khaerul Umam Noer on Sep 26, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

www.umamnoer.co.

cc – spread your wings and soar

PERKAWINAN USIA MUDA: JUMLAH ANAK DAN FERTILITAS
Di ajukan Sebagai Laporan Akhir Kuliah Lapangan Antropologi Kependudukan di Kawasan Nelayan Kalisari, Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya

Di susun oleh: Ani pamungkas Devinta Friyandina Khaerul Umam Noer Uswatun Hasanah Indraini Puji L 070316962 070316972 070317043 070317044 070317086

JURUSAN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2006

1 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah Bukan hal baru lagi bahwa dunia kita sedang menghadapi krisis kependudukan Saat kita membicarakan mengenai pembangunan maka tidak terlepas dari masalah kependudukan. Namun yang paling merisaukan pada negara-negara berkembang terutama adalah tingginya tingkat fertilitas. Tidak dapat dipungkiri, dalam setiap masyarakat yang sedang berkembang, ferilitas merupakan masalah pelik yang harus dihadapi. Pertambahan jumlah penduduk pada gilirannya akan memaksa masyarakat untuk berubah dan berusaha untuk menghadapinya dengan pilihan-pilihan yang ada. Tidak diragukan lagi, bahwa tingkat fertilitas bergantung dengan dengan banyak faktor dan variabel. Perkembangan penduduk yang pesat antara lain disebabkan oleh pengendalian kematian yang semakin berhasil, yang tidak diimbangi dengan pengendalian kelahiran. Fertilitas suatu populasi dapat dilihat sebagai akibat dari berbagai tindakan dan keputusan individu, yang dibuat dalam kerangka untuk mengatasi tekanan biologis dan tekanan lingkungan yang dihadapi oleh individu. Dengan demikian, fertilitas merupakan pilihan yang diambil secara sadar oleh individu yang disesuaikan dengan kebutuhan dirinya dan lingkungannya. Promosi Keluarga Berencana merupakan tanggapan praktis utama dalam menghadapi masalah kependudukan. Terdapat minat dan usaha yang luar biasa dalam program Keluarga Berencana ini, walaupun seperti yang kita ketahui bahwa masalah ini seharusnya adalah sebuah privacy kini cepat sekali berubah menjadi masalah umum. Dan tentu saja hal ini tak terlepas dari masalah perkawinan, dimana fertilitas menunjukkan jumlah anak lahir hidup, sebuah ikatan hubungan yang mengawali. Baik

2 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

ikatan perkawinan atau ikatan seksual. Usia pada waktu kawin umumnya relatif rendah di negara-negara yang sedang berkembang, yang berarti proporsi yang besar dari atau seluruh usia subur (usia reproduksi) dilewatkan dalam perkawinan. I.2. Perumusan Masalah Ikatan perkawinan berpengaruh terhadap fertilitas. Ikatan

perkawinan ini dianggap penting terutama karena awal mula dan berlanjutnya ikatan seksual yang stabil merupakan sebagian variabel hubungan seks dalam analisis fertilitas. Salah satu variabel perkawinan adalah usia kawin, terutama disini adalah perkawinan usia muda. Fokus penelitian dibuat agar penelitian tidak hanya mencari data di lapangan sebanyak-banyaknya tanpa adanya suatu kerangka masalah. Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana perkawinan usia dini terjadi pada masyarakat Kalisari yang dikaitkan dengan jumlah anak dan dihubungkan dengan fertilitas. I.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkawinan usia dini mempengaruhi pada jumlah anak yang dihubungkan dengan fertilitas dan tanggapan masyarakat yang bersangkutan terhadap perkawinan usia dini. I.4. Kerangka Teori Menurut klasifikasi Moser kebijakan kependudukan menjadi bagian dari pendekatan kesejahteraan karena fokusnya ialah perempuan sebagai ibu atau calon ibu. Kebijakan kependudukan meliputi dua hal yang mendasar yaitu pengendalian fertilitas (fertility control) dan pengendalian penduduk (population control). Yang dimaksud dengan pengendalian fertilitas1 ialah hak perempuan atau lelaki untuk mengambil keputusan
1

Kami menggunakan istilah pengendalian fertilitas, dan bukan pengendalian kelahiran (birth control), karena bukan “kelahiran” yang hendak dikendalikan melainkan fertilitas, yaitu kemungkinan untuk mempunyai anak. Istilah pengendalian kelahiran, meskipun

3 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

tentang kapasitas reproduksi mereka, sedangkan yang dimaksud dengan pengendalian penduduk ialah usaha pihak luar-pemerintah nasional, badan-badan internasional, atau lembaga-lembaga agama untuk mengendalikan hak keluarga dalam mengambil keputusan tentang jumlah anak yang diinginkan. Pengendalian fertilitas dan penduduk seringkali berlawanan, apa yang mungkin menjadi keinginan seorang perempuan untuk mempunyai atau tidak mempunyai anak bisa menjadi berlawanan dengan kebijakan pemerintah. Terdapat dua pandangan yang berbeda tentang hubungan pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi, yaitu: 1. perkembangan ekonomi membutuhkan jumlah penduduk yang meningkat yang bisa menjadi angkatan kerja dan berfungsi sebagai konsumen produk-produk ekonomi. 2. jumlah penduduk yang meningkat terus akan menghambat pertumbuhan ekonomi karena terlalu banyak dana yang harus di investasikan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dan untuk ditanamkan pada infrastruktur sehingga akan menurunkan peluang penanaman modal dalam bidang lain yang lebih produktif. Fertilitas disini dipengaruhi langsung oleh variabel antara hasil klasifikasi Davis dan Blake ([1956] dalam Lucas, 1990:56), sementara faktor seperti sosial ekonomi, bio-sosial dan lain-lain, hanya dapat berpengaruh secara tidak langsung. Variabel ini terdiri dari sebelas variabel-antara yang digolongkan menjadi 3 kategori, yaitu: (1) variabelvariabel hubungan seks; (2) variabel-variabel konsepsi; dan (3) variabelvariabel gestasi. Setiap variabel-antara dapat mempunyai pengaruh negatif atau positif terhadap fertilitas. Untuk memudahkan perhitungan mengukur hubungan antara variabel antara dan fertilitas Bongaarts ([1978] dalam Lucas, 1990:56) menguranginya menjadi 8 variabel. Yang terpenting dalam mempengaruhi
digunakan secara luas, sebenarnya kurang tepat.

4 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

perubahan tingkat fertilitas pada berbagai masyarakat adalah: (1) perkawinan; (2) kontrasepsi; (3) laktasi; dan (4) pengguguran. Dalam kerangka Davis dan Blake tidak termasuk laktasi atau menyusui bayi untuk waktu yang agak lama, padahal secara biologis berfungsi untuk menurunkan fekunditas dan fertilitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas ini sangat rumit dan peranan program Keluarga Berencana tidaklah sederhana. 11 variabel antara dan faktor-faktor sosial budaya yang mempengaruhi fertilitas tersebut salah satunya adalah usia kawin atau usia melalui hubungan seks, terutama usia kawin muda. Ikatan perkawinan menggambarkan setiap ikatan seksual yang stabil. Menurut Grebenik dan Hill perkawinan hanya meliputi ikatan yang sah. Terdapat tiga sistem hukum perkawinan yang sah, yaitu hukum agama, hukum sipil dan hukum adat ([1974:41-53] dalam McDonald, 1990:79). Dalam masyarakat orang yang menikah memperoleh status baru, dimana status ini merupakan status sosial yang dianggap paling penting. Usia kawin yang dimaksud di sini adalah umur pada waktu memasuki ikatan seksual, atau dengan istilah perkawinan, usia konsumsi perkawinan (hubungan kelamin yang pertama kali dilakukan setelah menikah). Seperti yang kita ketahui bahwa pada saat seseorang menikah pada usia yang relatif lebih muda maka masa subur atau reproduksi akan lebih panjang dilewatkan dalam ikatan perkawinan sehingga mempengaruhi peningkatan fertilitas. I. 5 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode partisipasi observasi yang bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang gejala yang ada di suatu komunitas. Metode partisipasi observasi berarti berpartisipasi dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, dan mengamati tingkah laku warga dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, dan memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk (Spradley, 1997:3).

5 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Dalam program perubahan kebudayaan terencana, di mana faktor-faktor sosial, psikologi dan budaya hampir tak terbatas dan tak di ketahui dengan jelas, pendekatan yang eksploratif dengan tujuan terbuka menghasilkan hal-hal yang sering kali penting. Oleh karena itu, penelitian partisipasi observasi melibatkan belajar mengenai dunia orang yang telah belajar melihat, mendengar, berbicara, berpikir dan bertindak dengan cara yang berbeda-beda, sehingga si peneliti sedikit-banyak akan mengerti mengenai dunia orang-orang tersebut. I.5.1 Pemilihan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terketak di Kawasan Nelayan Kalisari, Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Mulyorejo, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena beberapa alasan, yaitu: Pertama, selama ini kawasan nelayan seringkali di identikkan dengan kemiskinan dan populasi penduduk yang besar. Untuk membuktikan hal tersebut, maka kami memilih kawasan nelayan di Kalisari, selain bahwa lokasi tersebut cukup dekat dari Kampus, juga kawasan tersebut kami anggap representatif dalam mencari permasalahan yang akan kami bahas. Kedua, adalah kewajiban bagi kami untuk melaksanakan kuliah lapangan di kawasan yang dipilih secara mufakat, dan Kawasan Nelayan Kalisari dapat dikatakan merupakan daerah yang jarang dijadikan tujuan penelitian antropologi, terutama antropologi kependudukan. I.5.2. Teknik Penentuan Informan Informan adalah orang-orang yang diharapkan mengetahui tentang hal-hal yang menjadi fokus penelitian (Dyson, 1997:5). Oleh karena itu, orang-orang yang dijadikan informan adalah mereka yang telah lama menetap dan mengalami enkulturasi penuh (proses pembudidayaan alami pada lingkungan tertentu). Penelitian ini mengambil berbagai informan dengan berbagai latar ekonomi, seperti pedagang, pemilik warung, dan

6 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

juga para penduduk dengan berbagai latar usia. Pengambilan informan bertujuan untuk mengetahui jawaban dari berbagai masalah yang kami jadikan sebagai topik penelitian. I.5.3. Teknik Pengumpulan Data Data diperoleh dengan cara studi lapangan yang hasilnya dipergunakan sebagai data utama dan studi pustaka sebagai data pelengkap. Data dikumpulkan melalui beberapa teknik tahapan pengumpulan data, yaitu: I.5.3.a. Observasi Observasi atau pengamatan bertujuan melihat perilaku nyata atau faktual dan keadaan lingkungan serta benda-benda fisik (Dyson, 1997:4). Pengamatan merupakan metode yang pertama-tama digunakan dalam melakukan penelitian ilmiah, yang pada mulanya diarahkan kepada usaha untuk memperoleh sebanyak mungkin pengetahuan mengenai lingkungan alam manusia (Bachtiar, 1994:109-110). Observasi atau pengamatan secara langsung, dilakukan peneliti sejak awal datang, dan masuk dalam kehidupan penduduk meskipun tidak terlalu lama. Hal ini menyebabkan para peneliti sedikit-banyak mengetahui apa yang dirasakan oleh subyek yang secara langsung merupakan sumber data bagi peneliti. Biasanya, dalam mempelajari hubungan antar manusia, kegiatan manusia dalam hubungan mereka satu sama lain, harus di amati ditempat mereka dijumpai (Bachtiar, 1994:119). I.5.3.b. Wawancara Teknik wawancara menurut Lincoln dan Gulba, dimaksudkan untuk mengkonstruksi perasaan, mengenai orang, kejadian, kegiatan, lain-lain organisasi, (Moleong, motivasi, tuntutan, kepedulian dan

1993:135). Peneliti melakukan wawancara dengan para penduduk, meskipun tidak mendalam dan tidak terlalu menggunakan pedoman wawancara. Hal ini dikarenakan karena peneliti lebih menggunakan

7 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

wawancara spontan untuk mengetahui berbagai hal mengenai masalah yang kami jadikan topik. I.5.3 Teknik Analisa Data Teknik data tidak dimaksudkan untuk membuat atau membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan atau hipotesis yang ada sebelumnya, analisis ini merupakan pembentukan abstraksi berdasarkan bagian-bagian yang telah dikumpulkan, kemudian dikelompok-kelompokkan (Moleong, 1993:5-6). Data dan/fakta adalah suatu pernyataan, rumusan atau istilah dalam rangka pemikiran tertentu yang dapat dibuktikan ada atau tidak ada dalam kenyataan (Bachtiar, 1994:112). Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang telah dituliskan dalam catatan lapangan, gambar dan lain sebagainya. Kemudian data-data itu diberi kode sesuai dengan kategori yang dibuat berdasarkan kepentingan penelitian dan konsep yang di ilustrasikan oleh informan. Kemudian dari kategori konseptual yang telah dibuat, disusun menjadi suatu struktur agar mudah melihat hubungan-hubungan yang terjadi antara kategori-kategori tersebut dan mempermudah interpretasi.

8 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB II PROFIL INFORMAN

Bab ini akan melaporkan mengenai profil informan yang telah kami wawancarai. Semua informan kami adalah wanita-wanita yang menikah pada usia yang relatif muda antara umur 15 tahun sampai dengan 21 tahun. Hal ini dikarenakan kami ingin mengetahui mengenai usia perkawinan dan jumlah anak. 1. nama umur menikah anak : Faridah : 20 tahun : usia 19 tahun : akan lahir anak pertama

Faridah baru saja menikah pada bulan Januari setahun yang lalu. Wanita yang berasal dari Lamongan dan berbadan subur ini kebetulan sudah hamil 8 bulan. Merupakan pendatang karena suaminya juga berasal dari Lamongan yang sekarang berprofesi sebagai karyawan di perusahaan swasta. Saat kami tanya mengapa menikah pada usia sekian, wanita tersebut merasa memang sudah waktunya karena sudah ada panggilan jodoh, jadi dia menikah atas kehendak sendiri. Saat ditanya masalah jumlah anak yang diinginkan, wanita ini tersenyum sambil menjawab dia inginnya bikin satu lagi tetapi dia juga agak khawatir dengan biayanya nanti, menurut dia, sekarang buat makan saja susah. 2. nama umur menikah : Nuriyatun : 35 tahun : 16 tahun

9 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

anak

: 2 orang, anak pertama laki-laki berumur 10 tahun dan yang kedua perempuan.

Ibu setengah baya ini berasal dari Lamongan, suaminya, jadi mereka adalah

begitu juga

pendatang. Suaminya bekerja

sebagai petugas keamanan (hansip) di sebuah pabrik yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah yang mereka tempati. Ditanya mengenai masalah anak, ibu ini menjawab beliau sudah cukup bahagia dikaruniai 2 anak yang lengkap laki-laki dan perempuan dengan kondisi mereka yang cukup. Mengenai motivasi menikah, ibu ini tersenyum sambil bercerita kalau dulu “bapaknya anak-anak temen sekolah dan suka main ke rumah, ya bisa dibilang suka sama suka”. 3. nama umur menikah anak : Suyatmi : 43 tahun : 19 tahun : 4 orang, paling tua anak perempuan, sisanya lakilaki. Dua anak tertuanya sudah menikah dan yang tertua memberi beliau cucu. Anak keduanya menikah pada usia muda juga, pada usia 18 tahun. Anak ketiga kelas 3 SMP dan anak terakhirnya berumur 5,5 tahun. Ibu ini berasal dari Tulungagung dan suaminya (Pak Toyip) asli orang Kalisari. Ibu Suyatmi menikah karena di jodohkan orangtuanya. Alasannya karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang. Selama menikah beliau ikut KB dan menurut beliau anak 4 itu sudah terlalu banyak dan sudah cukup membebani ekonomi keluarga. Di rumah beliau membantu suaminya bekerja dengan membuka warung kecil-kecilan di rumah dan juga menjual air PDAM.

10 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

4. nama umur menikah anak

: Supini : 52 tahun : 17 tahun : 8 orang dan cucu 3 orang.

Ibu Supini asli orang Surabaya, sedangkan suaminya asli Madura. Pada saat mendapat haid pertamanya pada usia 17 tahun, oleh orangtuanya beliau langsung dinikahkan, karena dianggap sudah cukup umur apalagi anak pertama dan punya saudara banyak. Beliau tidak ikut program KB, beliau juga tidak tahu mengapa dan tidak ambil pusing, saat ini beliau sudahmengalami menopause semenjak usia 45 tahun. Sementara suaminya bekerja sebagai nelayan, ibu Supini membantu dengan membuat klompen untuk dijual dan juga jual layang-layang. 5. nama umur menikah anak : Muawanah : 33 tahun : 20 tahun : 3 orang, anak paling kecil berumur 3 tahun.

Beliau asli Kalisari dan mengikuti program KB dan memilih KB suntik. Beliau tidak berniat menambah anak lagi karena menurut beliau sudah cukup, biayanya sudah cukup membengkak dengan memiliki anak tiga. 6. nama menikah anak : Atun : 15 tahun : 13 orang, meninggal seorang. secara langsung karena saat itu

Kami tidak sempat mengobrol

beliau sedang mengobrol santai bersama para pria yang sedang membenahi jaring tidak jauh dari kami yang saat itu bersama ibu

11 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Supini dan Muawanah. Tapi kami sempat bertegur sapa, walaupun anaknya sudah banyak dan besar-besar tapi wanita ini tampak masih muda, beliau mengomentari soal anaknya yang cukup banyak. Menurut beliau anak banyak itu ramai selain itu harapannya apabila meninggal anak-anaknya bisa saling membantu. Ibu Atun adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara, dan karena orang tuanya sudah tidak mampu membiayai sekolah akhirnya disuruh menikah saja. 7. nama umur menikah anak : Khotama : 21 tahun : 20 tahun : 1, baru berumur 3,5 bulan.

Ibu muda ini asli dari Kalisari sementara suaminya berasal dari Tuban. Alasan menikah karena sudah merasa cukup umur. Sebelum menikah bekerja sebagai buruh pabrik dan sekarang masih cuti, sedangkan suaminya seorang tukang bangunan. Beliau ikut KB dan memilih KB suntik, ibu Khotama tidak berencana punya anak banyak, cukup dua atau tiga saja. dia benar-benar merawat anaknya dengan selalu memberi gizi makanan yang baik buat anaknya, walaupun terkadang uang buat makan dia sehari-hari kurang dia selalu berusaha agar uang itu untuk membelikan bubur buat anaknya. 8. nama umur menikah anak : Mariatun : 26 tahun : 16 tahun : 1 orang, laki-laki berumur 10 tahun.

Ibu muda ini menikah muda karena disuruh oleh orang tua karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang. Beliau asli Lamongan

12 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

sementara suami asli Kalisari. Suami bekerja sebagai guru ngaji, sementara ibu Mariatun membantu ekonomi keluarga dengan berjualan martabak telor. 9. nama umur menikah anak : Sulianih : 27 tahun : 18 tahun : 2 orang, berumur 7 dan 5 tahun, laki-laki semua.

Ibu yang satu ini walaupun mempunyai dua anak namun masih tampak muda seperti anak yang baru lulus SMA. Aslinya dari Kediri sementara sang suami asli Kalisari. Alasan menikah karena keinginan sendiri dan merasa sudah cukup umur. 10. nama menikah anak Beliau : Sumiati : 18 tahun : 2 orang, berumur 8 tahu dan 5 tahun. berasal dari Sampang, sementara suami berasal dari

Bangkalan. Setelah menikah langsung dikaruniai anak. 11. nama umur menikah anak : Nur : 42 tahun : 18 tahun : 4 orang, anaknya sudah menikah kecuali si bungsu yang berumur 18 tahun. Ibu Nur aslinya berasal dari Nganjuk, dan saat kami tanya kenapa menikah muda jawabnya karena keinginan sendiri.

13 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB III PERNIKAHAN DINI DAN FERTILITAS

III.1. Fertilitas: Masalah di Indonesia Untuk memahami fertilitas, seseorang harus mengerti apa yang dimaksud dengan fertilitas. Fertilitas adalah jumlah anak lahir hidup (Lucas, 1990:54) istilah ini juga sering kali dirancukan dengan istilah Fekunditas yang dapat diartikan sebagai kemampuan biologis untuk melahirkan seorang anak hidup. Fertilitas juga di definisikan sebagai kemampuan untuk hamil dan memiliki anak, kemampuan untuk hamil melalui aktifitas seksual yang normal (the ability to conceive and have children, the ability to become pregnant through normal sexual activity [medterm.com]). Beberapa mendefinisikan fertilitas sebagai kemampuan dari manusia atau binatang untuk menghasilkan keturunan yang sehat dan melimpah. Istilah ini umumnya digunakan bagi wanita, namun penggunaannya juga meningkat pada pria. (fertility is the ability of people or animals to produce healthy offspring in abundance. The term was usually applied to females, but increasingly is applied to males as well). Selain itu, fertilitas juga di definisikan sebagai kondisi, kualitas atau derajat menjadi fertil (subur), dan rata-rata kelahiran dari populasi (answers.com, t.t a). Kebalikan dari fertilitas adalah infertilitas atau ketidakmampuan dari seorang wanita untuk memiliki anak atau keturunan, juga di definisikan sebagai kegagalan untuk mengandung setelah hubungan seksual selama satu tahun tanpa kontrasepsi (the diminished ability or the inability to conceive and have offspring. Infertility is also defined in specific terms as the failure to conceive after a year of regular intercourse without contraception [answers.com, t.t b]).

14 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Fertilitas memiliki hubungan dengan aspek sosial dan budaya di suatu masyarakat. Kebudayaan sebagai blue print dari masyarakat akan mendorong masyarakat untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan serta lingkungan alam mereka. Dalam hal ini, fertilitas jelas tidak dapat dilepaskan dari faktor sosial dan budaya. Dalam tiga dasawarsa terakhir ini, Indonesia telah berhasil memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat luas, terbukti dari berkurangnya angka kesakitan dan kematian, serta bertambah panjangnya rata-rata usia harapan hidup. Keberhasilan dalam bidang kesehatan ini saling menunjang dengan keberhasilan dalam program keluarga berencana yang menghambat pertumbuhan penduduk dan menurunkan tingkat kesuburan/fertilitas (rata-rata jumlah anak per wanita). Akan tetapi seperti negara-negara berkembang lainnya, Indonesia saat ini menghadapi paradoks penuruan jumlah anak dan penuaan penduduk (Sarwono dan Koesoebjono 2004). Berkurangnya jumlah anak memang baik dampaknya. Pada tingkat keluarga, anak-anak (laki-laki dan perempuan) akan mendapat peluang lebih besar untuk bisa menikmati pendidikan yang akan meningkatkan kualitas hidup di masa depannya. Dengan berkurangnya jumlah anak, para ibu juga mendapat waktu lebih banyak untuk bekerja di luar rumah, mengembangkan diri selain untuk menambah penghasilan keluarga. Bagi pemerintah, penurunan jumlah anak ini berarti pengurangan jumlah penduduk yang harus diberi makan. Dengan demikian, dana yang ada bisa dimanfaatkan untuk peningkatan sarana kesehatan untuk anak dan ibu sehingga dapat mengurangi angka kematian ibu, serta mendukung kegiatan-kegiatan perbaikan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Pengurangan jumlah penduduk juga membantu penghematan penggunaan sumber-sumber alam dan melindungi lingkungan. Pada tahun 2000 lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan Sensus Penduduk dan telah mengumumkan angka-angka sementaranya.

15 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Jumlah penduduk Indonesia pada bulan Juni 2000 adalah 203,46 juta jiwa. Pada akhir tahun 1960-an para ahli memperkirakan proyeksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 sekitar 280 juta jiwa. Angka itu disempurnakan pada tahun 1980-an menjadi 240 juta jiwa. Kemudian disempurnakan dengan hasil Sensus dan Survey yang makin banyak menjadi sekitar 220 juta jiwa. Pada tahun 1995 dibuat proyeksi baru dan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia adalah sekitar 213 juta jiwa. Dengan adanya data yang lebih lengkap dan hasil-hasil Program KB yang makin meyakinkan, pada tahun 1997 angka itu disempurnakan lagi menjadi sekitar 208 juta jiwa. Dengan adanya data baru pada tahun 2000 itu, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia tahun 2001 telah menjadi sekitar 207 juta jiwa. Pada tahun 2002 jumlah penduduk Indonesia akan tetap bertambah jumlahnya dan diperkirakan menjadi sekitar 211 sampai 212 juta jiwa. Seluruh penduduk inilah yang menjadi sasaran pembangunan untuk seluruh tahun 2002 (Suyono 2002). Tidak diragukan lagi, fertilitas telah menjadi permasalahan yang pelik yang harus dihadapi oleh pemerintah. Dalam fertilitas, tidak hanya perilaku masyarakat yang menjadi persoalan, namun juga kondisi sosial. Lingkungan fisik, dan terutama adalah kebudayaan yang dimiliki. Fertilitas telah mengalami perubahan yang cukup berarti disetiap masyarakat. Banyak faktor yang terkait dengan fertilitas, terutama di Indonesia, terdapat tiga faktor yang harus mendapat perhatian, yaitu : (1) penggunaan kontrasepsi modern, (2) praktek pembatasan kelahiran secara tradisional, dan (3) perubahan pola perkawinan (Singarimbun, 1986:2). III.2. Pernikahan: Alasan dan Keputusan Variabel lain yang harus diperhitungkan dalam meneliti masalah fertilitas adalah perkawinan. Ikatan perkawinan menggambarkan setiap ikatan seksual yang stabil, dan meliputi semua tipe ikatan perkawinan dan ikatan konsensual. Perkawinan memiliki berbagai variabel, yaitu: (1) jenis

16 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

perkawinan; (2) usia kawin; (3) hidup selibat; (4) hidup menjanda; dan (5) perceraian dan perpisahan (McDonald, 1990:79-91). Setiap varibel perkawinan memiliki pengaruh, baik langsung maupun tidak, terhadap fertilitas. Masa remaja ke jenjang dewasa merupakan umur yang menarik dalam pergaulan kita, pada waktu itu kebanyakan dari kita sedikitsedikitnya mempunyai pengetahuan dasar. Dengan penuh harapan kita kemudian keluar dari sarang, untuk lari meninggalkan orangtua kita, untuk bergabung dengan sekelompok teman, untuk minta bantuan atau tiba-tiba merubah haluan sendiri untuk menyelidiki dunia luar. Kemudian saat itulah menemukan apa yang dikatakan orang sebagai cinta. Cinta disini di artikan sebagai suatu ikatan perasaan yang kuat antara dua orang yang merasa dekat, saling merindukan, dan hanya menginginkan yang terbaik untuk orang yang dicintainya. Suatu perkawinan merupakan perpaduan antara dua minat pribadi yang harus selalu dalam keadaan setimbang, perkawinan yang bahagia terjadi bila kedua pihak berbagi kebahagian yang setara. Langkah-langkah pertama kali memasuki masa perkawinan di dasari oleh perasaan berikut: 1. rasa tertarik; 2. rasa ingin bersama; 3. saling memelihara (meliputi rasa saling membagi dan

membutuhkan); 4. kerukunan; dan 5. cinta (Shelton dan Thrrick 1992). Namun ada alasan tersendiri di balik berlangsungnya suatu perkawinan menurut Hauck (1995): 1. Alasan neurotik:

17 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

a. untuk menjengkelkan orang tua (terutama oleh para remaja); b. untuk mengatasi rendah diri; c. untuk menjadi terapis pasangan (biasanya karena ada pihak yang lemah, sakit, kekanak-kanakan); d. takut menjadi perawan tua dan jejaka tua; e. takut untuk tidak tergantung; f. takut melukai perasaan orang lain; dan g. karena anda telah jatuh cinta. 2. Alasan bijaksana dengan kedewasaan dan rasional a. keberhasilan; b. kehidupan seks yang aman dan menyenangkan; c. perkawinan masih merupakan institusi terbaik untuk

membesarkan anak; dan d. untuk mencapai gaya hidup yang unik. Dari beberapa alasan berdasarkan neurotik ternyata juga bisa sangat mendukung untuk terjadinya kawin usia muda. Kawin usia muda juga tak terlepas dari ajaran agama. Dimana pada beberapa agama menganggap usia haid berarti sudah pantas untuk dinikahkan, bahkan ada yang belum pada masa haid namun sudah dinikahkan. Akan tetapi konsumsi perkawinan ditunda sampai sang gadis mengalami haid. Seperti yang terlihat dalam tabel berikut: Tabel 1. Penundaan Hubungan Seks Setelah Menikah dan Usia Kawin. Penundaan Hubungan Seks <15 (n=140) Umur kawin pertama 15-17 (n=295 ) 18-20 (n=222) 21= (n=115) Jumlah (n=772)

18 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Tidak ditunda Tertunda 0-2 tahun Tertunda >2th Tak pernah hub. Seks

26,6 13,6 22,3 37,5 100

67,8 9,8 5,8 16,6 100

84,0 5,0 0,5 10,5 100

85,2 0 0 14,8 100

67,6 7,7 6,4 18,2 100

Sumber: Singarimbun, diolah Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi usia kawin semakin kecil kemungkinan hubungan seks ditunda. Sebanyak 85,2 % dari wanita berumur 21 tahun ke atas pada waktu menikah tidak mengalami penundaan hubungan seks, tetapi hampir tiga perempat wanita yang kawin usia kurang dari 15 tahun mengalami penundaan. Terlepas dari anjuran agama, pernikahan, atau lebih tepatnya fertilitas, dianjurkan karena hal-hal tertentu dan jug adapat memenuhi tujuan-tujuan sosial tertentu (Caldwell, 2000:356). Secara tradisional, menikah merupakan suatu alasan logis dan 'diwajibkan' untuk memperolah keturunan yang sah dan diakui oleh masyarakat. Perkawinan merupakan cara yang dianggap ideal dalam berbagai hal, seperti penguasaan seksualitas, legitimasi dan legalitas atas anak-anak, dan terpenting adalah pembagian hal da kewajiban antara suami dan istri (Allan, 2000: 611-2). III.3. Pernikahan Usia Dini: Akumulasi Berbagai Faktor Terutama pada masyarakat pada negara berkembang dimana

dikenal kebiasaan kawin anak-anak dan perkawinan yang diatur oleh orangtua, usia kawin adalah rendah. Proporsi wanita yang tidak kawin seumur hidup adalah sangat rendah, apalagi adanya anggapan “perawan tua” bagi perempuan yang belum menikah pada umur 20-an, bahkan saat seorang kakek atau nenek memaksa cucunya untuk menikah walaupun nanti cerai katanya tidak masalah. Perkawinan mempunyai nilai yang tinggi dan orang tua merasa malu kalau anak gadisnya yang dewasa

19 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

tidak kawin karena khawatir dikatakan perawan tua walaupun sang anak belum cukup umur baik secara fisik maupun mental. Sebagian besar perkawinan pada perempuan adalah karena keinginan orang tua. Tentu saja ini cukup mempengaruhi tingkat fertilitas, karena jika pernikahan itu akan langgeng untuk selamanya sampai ajal menjemput dan wanitanya fekund dan melahirkan banyak anak, maka dapat kita bayangkan bagaimana angka fertilitas akan meningkat. Yang jelas, pendidikan mempengaruhi usia kawin karena pelajar dan mahasiswa pada umumnya berstatus bujangan. Menurut Holsinger dan Kasarda ([1976:154] dalam Lucas, 1990:69), meskipun kenaikan tingkat pendidikan menghasilkan tingkat kelahiran yang lebih rendah, tetapi hubungan antara kedua variabel ini belum benar-benar terbukti. Lagipula jika pendidikan meningkat maka pemakaian alat-alat kontrasepsi juga meningkat. Menurut Hawthorn ([1970:42] dalam Lucas, 1990:69) bahwa dalam semua masyarakat kesadaran akan pembatasan kelahiran memang tergantung pada latar belakang daerah kota atau tempat tinggal, pendidikan atau penghasilan. Pendidikan yang kuat pengaruhnya terhadap variabel-variabel pengaruh lainnya seperti sikap terhadap besarnya keluarga ideal dan nilai anak. Perbaikan status wanita juga diharapkan turut menyumbang dalam penurunan tingkat fertilitas. Status wanita ini meliputi banyak hal, seperti hak atas warisan, dalam perkawinan, peranannya dalam rumah tangga dan masyarakat, partisipasi dalam organisasi dan lain-lain. Perbaikan status ini selanjutnya diharapkan melalui pendidikan dan pekerjaan di luar rumah, karena mereka yang berpendidikan diharapkan mempunyai kesadaran yang lebih besar terhadap Keluarga Berencana dan perlunya keluarga kecil. Sementara menurut Hull dan Hull ([1977] dalam Lucas, 1990:69) bahwa wanita yang tidak berpendidikan dan berpendidikan tingkat menengah mempunyai rata-rata anak lebih sedikit daripada yang berpendidikan sekolah dasar.

20 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Masalahnya ide tentang keluarga besar nampaknya masih kuat. Penilaian yang tinggi kepada keluarga besar mencerminkan kenyataan berlakunya loyalitas primordial kepada keluarga, suku dan golongan. Keluarga besar seringkali dipandang sebagai penyebab kemiskinan, namun ada beberapa negara yang berpenduduk besar namun kaya (misal Belanda) dan berpenduduk jarang namun miskin (misalnya Chad). Norma yang menunjukkan bahwa dari golongan status ekonomi yang lebih rendah mempunyai fertilitas yang relatif lebih tinggi, hampir dapat dikatakan sebagai suatu hukum sosial ekonomi ([Wrong, 1977:81] dalam Lucas, 1990:68). Pada tingkat rumah tangga kaitan antara jumlah anak yang banyak dengan kemiskinan atau kekayaan bervariasi, banyak orang miskin dan juga banyak orang kaya yang mempunyai anak banyak, tetapi juga banyak juga orang kaya dan juga orang miskin yang mempunyai anak sedikit. Hal ini memang bergantung pada pribadi masing-masing, namun yang tak kalah penting dalam jumlah anak adalah nilai anak bagi orang tua. Pada beberapa keluarga anak merupakan sumber tenaga dan sumber pendapatan bagi orangtuanya di samping menjadi “pembantu” bagi orang tua pada usia senja. Pada keluarga lain anak justru di anggap sebagai beban finansial, karena selama proses modernisasi membesarkan anak pada semua tingkat sosial menjadi semakin mahal karena adanya pengeluaran untuk keperluan sekolah, kebutuhan sosial untuk pakaian yang sesuai, serta keinginan konsumtif yang meningkat baik pada anak-anak atau orang dewasa.

III.4. Pernikahan dan Jumlah Anak

21 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Dibanyak kebudayaan, ketidakmampuan seorang wanita untuk mengandung dan meneruskan keturunan adalah petaka dan cela. Tidak mengherankan memang, selain bahwa anak merupakan penerus generasi, juga terkait dengan nilai anak pada tiap-tiap masyarakat. Persoalan keluarga menyangkut sesuatu yang sensitif, yakni sekitar aktivitas seks dan cara-cara yang dipakai untuk menghindari kehamilan. Masalahnya adalah sesuatu yang bersifat sangat pribadi, lalu pelan-pelan, melalui penanganan yang cukup bijaksana dibuat menjadi terbuka dan persoalannya di perbincangkan dan di komunikasikan secara terbuka. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa di berbagai negara sedang berkembang persoalan keluarga berencana masih sensitif dan tidak dapat dimasukkan kedalam program pemerintah. Keterlibatan pemerintah dan masyarakat sangat besar dan komunikasi, edukasi dan informasi mendapat tempat yang penting. Para pejabat, dari presiden sampai kepala dusun menunjukkan keterlibatannya dengan caranya sendiri-sendiri, begitu juga alim ulama, seniman dan tokoh-tokoh lainnya. Pada tahun 1970-an sampai awal 1990-an, jumlah anak yang mereka (penduduk Jakarta) anggap ideal adalah 4-5 anak, namun tidak ada prefensi yang kuat terhadap anak laki-laki. Sementara jarak antara kehamilan yang dianggap ideal adalah 2-3 tahun. Seperti misalnya penelitian yang dilakukan oleh Masri Singarimbun di daerah Sriharjo, Yogyakarta pada tahun 1986 berikut: Tabel 2. Fertilitas, mortalitas dan jumlah anak yang diinginkan diSriharjo. Umur Istri 15-24 25-34 35-44 45+ Jumlah anak rata-rata Lahir hidup 1,0 3,0 4,5 4,8 Telah meninggal 0,1 0,5 1,2 2,0 Masih hidup 0,9 2,5 3,3 2,8 4,4 4,7 5,2 5,3 4,7 Diinginkan isteri Suami

22 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Semua Wanita

3,85

1,15

2,7

5,0

4,5

Sumber: Singarimbun (1986:11), diolah Dari tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah anak yang diinginkan relatif besar, antara 4,4 pada ibu-ibu berusia 15-24 tahun sampai 5,3 pada golongan umur 45 tahun keatas. Namun anak yang didapatkan lebih kecil dari yang diinginkan hal ini juga karena besarnya tingkat kematian sekitar 29,9% dari bayi yang lahir. Kemudian pada tahun 1991 rata-rata jumlah anak yang diinginkan menurun menjadi 2,9. beberapa responden juga setuju dengan anjuran dua anak cukup. Namun untuk saat ini hal itu memang tidak begitu menjadi patokan, walaupun masih ada beberapa, karena proses modernisasi sangat menuntut banyak biaya untuk membesarkan dan memelihara anak. Bahkan dari selama ini kami di masyarakat, sering kali orang bilang "kalau mau nambah momongan sebaiknya nunggu kakanya sudah masuk SD dulu." Dengan demikian berarti jarak kehamilan yang di idealkan adalah 5-6 tahun. Dari hasil penelitian di Kalisari, memang beberapa pasangan

kawin usia muda memiliki jumlah anak yang banyak (lebih dari dua seperti anjuran Keluarga Berencana) seperti ibu Suyatmi, Supini, Atun dan Nur, namun pasangan lainnya yang sudah memiliki anak dua juga sama-sama mengeluh masalah pemenuhan kehidupan yang cukup sulit apalagi biaya memelihara anak yang sangat tinggi. Bagi mereka biaya untuk makan saja sudah begitu berat apalagi biaya pendidikan yang sekarang yang semakin mahal. Mengenai masalah alasan mengapa kawin muda juga cukup variatif, namun ternyata masih ada beberapa orang yang alasan menikah karena disuruh orang tua. Biasanya juga didukung oleh keadaan ekonomi yang rendah, sehingga mereka menyuruh anaknya menikah saja untuk

23 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

mengurangi beban rumah tangga dan mandiri. Beberapa orang menikah atas keinginan sendiri karena merasa sudah cukup umur dan sudah waktunya untuk menikah walaupun umur mereka masih belasan dan belum memasuki dua puluhan. Walaupun dengan jumlah anak yang cuma satu, salah satu informan kami merasa masih berat dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Katanya jaman sekarang serba mahal dan cukup sulit untuk mencari uang. Dengan adanya pemikiran tersebut mereka mulai berpikir panjang untuk menambah jumlah anak. Kemudian mereka memilih melakukan KB untuk mencegah kehamilan. Dengan demikian dapat memotivasi seseorang dalam ikut serta dalam penurunan fertilitas. Walaupun pendidikan tinggi cukup berpengaruh dalam penurunan fertilitas, tetapi hal mendasar seperti pembelajaran dari apa yang ada dan terjadi dapat memotivasi mereka untuk menekan laju peningkatan fertilitas. Tetapi hal ini juga tidak luput dari keberhasilan program KB diperkenalkan pada mereka, karena rata-rata dari mereka melakukan KB. Dengan demikian, usia kawin muda walaupun berpengaruh dalam banyaknya jumlah anak, seperti yang kita ketahui masa reproduksi semakin panjang, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dengan kawin muda jumlah anak juga tidak banyak. Selain tergantung pada keinginan pasangan juga dipengaruhi oleh proses modernisasi yang menyadarkan mereka bahwa biaya hidup yang begitu mahal maka akan kasihan anaknya nanti karena kebutuhannya akan tidak tercukupi. Bisa dikatakan hal ini sebagian sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang rendah.

24 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

BAB IV KESIMPULAN

Masalah

kependudukan

begitu

merisaukan

negara-negara

terutama negara berkembang, dimana biasanya memiliki tingkat fertilitas yang tinggi. Pertumbuhan penduduk merupakan akibat fertilitas yang masalah hidup serius bagi manusia negara-negara tinggi dan mortalitas yang rendah. Selain itu orang semakin sadar bahwa pertumbuhan penduduk juga industri, dimana aspek kualitas terancam bahaya

tekanan-tekanan kependudukan. Fertilitas ini dipengaruhi oleh 11 faktor, yang dirumuskan oleh Davis dan Blake, yang cukup rumit. Salah satu diantaranya adalah variabel usia kawin, dimana kami mengambil usia kawin muda. Dengan demikian jelas bahwa usia kawin hanyalah merupakan salah satu dari serentetan variabel antara tersebut. Usia kawin perkawinan perempuan orang tua. Pada masyarakat nelayan Kalisari, Surabaya, beberapa pasangan menikah pada usia muda dan telah dikaruniai anak, namun demikian mereka yang memilih kawin usia muda, baik karena keinginan sendiri ataupun karena perintah orang tua, telah sadar bahwa sekarang sudah bukan jaman “banyak anak banyak rejeki” seperti dulu lagi. Mereka telah sadar bahwa anak memberikan manfaat yang lebih ke arah positif dan untuk pemenuhan kebutuhan sangat sulit. Tanpa dapat dipungkiri bahwa biaya membesarkan dan pemeliharaan anak sangat mahal, bukan dengan maksud bahwa anak adalah beban finansial. Proses modernisasi menyadarkan bahwa kebutuhan anak bukan hanya makan dan rumah, akan tetapi juga pemenuhan kebutuhan sosial. adalah hasil di Jawa rata-rata rendah, apalagi dengan adanya kenyataan bahwa sebagian besar perjodohan dan atas perintah

25 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Apalagi dengan biaya sekolah dan kesehatan yang selangit mahalnya karena ditunjang dengan fasilitas dan teknologi maju. Dengan demikian para orang tua akan merasa bersalah jika anaknya tidak dapat menikmati dan kebutuhannya terpenuhi.

26 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

DAFTAR PUSTAKA Allan, G 2000

"Marriage (perkawinan)" dalam Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, Adam Kuper dan Jessica Kuper (ed.). Jakarta: RajaGrafindo Persada

Answers.com t.t a Fertility, dalam http://www.answers.com/fertility t.t b Infertility, d a l a m http://www.answers.com/main/ntquery?method=4&dsid=182 2&dekey=3977&gwp=8&curtab=1822_1&linktext=Infertility

Bachtiar, H.W. 1994 "Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian” dalam Metode Penelitian Masyarakat, Koentjaraningrat (ed). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Caldwell, J.C 2000 "Fertility (fertilitas)" dalam Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, Adam Kuper dan Jessica Kuper (ed.). Jakarta: RajaGrafindo Persada Dyson, L. 1997 Metodelogi Penelitian Etnografi & Penelitian Antropologi bagi Guru-guru seGerbangkertosusilo. Surabaya: Fisip dan LPKM Universitas Airlangga Psikologi Populer, Membina Perkawinan Bahagia. Jakarta: Arcan "Fertilitas" dalam Pengantar Kependudukan, David Lucas [et. al]. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada dan Gadjah Mada University Press. Hlm. 53-78.

Hauck, P 1995 Lucas, D 1990

McDonald, P 1990 "Perkawinan dan Nupsialitas" dalam Pengantar Kependudukan, David Lucas [et. al]. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada dan Gadjah Mada University Press. Hlm. 79-93.

27 

www.umamnoer.co.cc – spread your wings and soar

Medterm.com t.t Definition of Fertility, d a l a m http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=34 12&page=2. Moeleong, L.J 1993 Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Sarwono, Solita dan Santo Koesoebjono 2004 Paradoks Program KB. Jumlah anak turun, lansia bertambah (Family planning paradox: fewer children, more elderly). Suara Pembaruan 12 November, d a l a m http://home.planet.nl/~koeso002/articles/Paradoks%20KB.ht m Shelton, M dan L. Thrrick 1992 Melestarikan Perkawinan. Semarang: Pahara Prize Singarimbun, M 1980 Faktor-Faktor Sosial dan Kebudayaan yang Mempengaruhi Fertilitas dan Mortalitas. Seri Kertas Kerja No. 17. Cetakan kedua. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Studi Kependudukan Universitas Gajah Mada. 1986 Perubahan Perilaku Fertilitas di Sriharjo. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Spradley, J.P. 1997 Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana Suyono, Haryono 2002 Membangun 212 Penduduk 2002. d a l a m http://www.kbi.gemari.or.id/beritadetail.php?id=1559

28 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->