JMS Vol. 3 No. 2, hal.

79 -96, Oktober 1998

Model Hidrodinamika Tiga-Dimensi (3-D) Arus Pasang Surut di Laut Jawa Nining Sari Ningsih§) Program Studi Oseanografi, Jurusan Geofisika & Meteorologi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa 10, Bandung 40132
Diterima tanggal 12 Juni 1998, disetujui untuk dipublikasikan 5 Agustus 1998

Abstrak Model sirkulasi laut tiga-dimensi (3-D) dibangun dengan menggunakan metoda pemisah (the splitting method) yang memisahkan model 3-D menjadi persamaan yang diintegrasikan secara vertikal (dua-dimensi, mode eksternal) dan persamaan 3-D (mode internal) untuk menghemat proses komputasi yang merupakan problem utama didalam model 3-D. Selanjutnya transformasi dari koordinat-z ke dalam koordinat vertikal yang tak berdimensi (σ) didalam persamaan pembangun dilakukan untuk memperoleh simulasi yang lebih baik terhadap lapisan-lapisan percampuran dasar dan permukaan. Verifikasi model dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi di suatu kanal ideal dengan hasil model yang dikembangkan oleh POM (the Princeton Ocean Model). Kemudian model yang dikembangkan tersebut digunakan untuk mensimulasikan arus pasang surut di Laut Jawa. Abstract A three-dimensional coastal ocean circulation model is developed by employing the splitting method to reduce the large amount of computational work as one of the major problems related to three-dimensional model. The mode splitting technique splits the three-dimensional model into vertically integrated equations (external mode) and threedimensional equations (internal mode). In further considerations the transformation of the governing equations from z-coordinate to a dimensionless vertical coordinate (σ) was performed to achieve a better simulation of both the surface and bottom mixed layers. The developed model is verified by comparing the simulation results in an idealized channel with those of POM (the Princeton Ocean Model). Then, the model is applied for simulating tidal currents in Java Sea. 1. Pendahuluan Model hidrodinamika tiga-dimensi (3-D) di dalam paper ini dibuat berdasarkan ide yang diperkenalkan oleh Kowalik dan Murty1). Berdasarkan pertimbangan ekonomi, kita perlu mengkonstruksi suatu algoritma perhitungan seefisien mungkin. Solusi ekonomis tersebut dapat diperoleh melalui pendekatan matematik dan proses fisis. Pendekatan matematik biasanya dilakukan dengan mengubah metode beda hingga eksplisit ke dalam skema implisit atau semi-implisit yang memungkinkan pemilihan langkah waktu (time

Sedang menempuh program doktor (S3) di Universitas Kyoto, Jepang (Costal Section, Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University, Japan).

§)

79

Formulasi viskositas eddy vertikal dihitung dengan menggunakan model turbulensi (the turbulence closure sub-model) yang diadopsi dari POM. 3 No.80 JMS Vol. 2. digunakan 2 macam langkah waktu dalam perhitungan yaitu: langkah waktu pendek untuk mode eksternal dengan menggunakan model 2-D dan langkah waktu yang lebih panjang digunakan untuk menyelesaikan mode internal. Verifikasi model dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi model yang dibangun di suatu kanal ideal dengan hasil model dari POM (the Princeton Ocean Model). Selanjutnya. model yang dibangun dipakai untuk mensimulasikan arus pasut di laut Jawa. Model yang dikembangkan di dalam paper ini menggunakan pendekatan fisis. . karena dapat dipelajari dengan menggunakan persamaan dua-dimensi (2-D). Studi penjalaran gelombang gravitasi permukaan seperti gelombang panjang tidak harus disimulasi dengan menggunakan persamaan 3-D yang lengkap. Sedangkan pendekatan fisis digunakan karena adanya perbedaan fisis antara gelombang permukaan dan internal yang memungkinkan suatu algoritma komputasi yang ekonomis dibangun. 2. Sebaliknya gelombang gravitasi internal yang bergerak lebih lambat dipelajari dengan persamaan 3-D dan dapat disimulasi menggunakan langkah waktu yang lebih panjang. Model Tiga-Dimensi dengan Menggunakan Mode Splitting dan Koordinat-σ Seperti telah disebutkan sebelumnya untuk mereduksi pekerjaan komputasi yang besar di dalam model tiga-dimensi (3-D). Sehingga komputasi dengan menggunakan mode splitting tersebut terdiri dari dua langkah waktu yaitu: langkah waktu yang pendek digunakan terhadap model barotropik berdasarkan persamaan 2-D yang diintegrasikan secara vertikal (mode eksternal) dan langkah waktu yang lebih panjang dipakai terhadap persamaan 3-D (internal mode). Selanjutnya transformasi persamaan pembangun dalam arah vertikal dari koordinat-z ke koordinat-σ dilakukan untuk memperoleh simulasi yang lebih baik dari lapisan-lapisan percampuran dasar dan permukaan. Oktober 1998 step) yang lebih besar.

Oktober 1998 81 2.1) (2. f adalah parameter coriolis. ς ⎤ 1⎡∂ ς 2 ∂ Ax = ⎢ ∫ u dz + ∂y ∫ uvdz ⎥ H ⎣ ∂x − H ⎦ −H (2. g adalah gravitasi bumi. 3 No. ρo densitas fluida referensi. 2.3) diabaikan. Nz dan Nh masing-masing menyatakan koefisien turbulensi eddy vertikal dan horizontal.2) (2. ς adalah elevasi permukaan air.JMS Vol.v.6) .3) Dimana x.2) and (2. Persamaan kontinuitas : ∂u ∂v ∂w + + =0 ∂x ∂y ∂z Persamaan gerak dalam arah x dan y : Du 1 ∂pa ∂ς g ∂ ς ∂ ∂u − fv = − −g − ∫ ρ′dz + ∂z N z ∂z + N h ∆u Dt ρo ∂x ∂x ρo ∂x z Dv 1 ∂pa ∂ς g ∂ ς ∂ ∂v + fu = − −g − ∫ ρ′dz + ∂z N z ∂z + N h ∆v Dt ρo ∂y ∂y ρo ∂y z (2. dan z adalah koordinat-koordinat kartesian. Suku non linier. yaitu : ∂u ∂ς + Ax − fv = − g + C x + N h ∆u ∂t ∂x (2. Mode eksternal dijabarkan dengan menggunakan persamaan yang dirata-ratakan secara vertikal. Teknik Mode Splitting Sistem persamaan berdasarkan pendekatan hidrostatik dan Boussinesq dapat ditulis sebagai berikut.y. u. t adalah waktu.5) Dimana u dan v masing-masing menyatakan komponen kecepatan yang dirataratakan terhadap kedalaman dalam arah x dan y. pa adalah tekanan atmosfir.1. ρ′ adalah harga fluktuasi dari densitas. Untuk selanjutnya di dalam studi ini gradien tekanan atmosfir dan densitas yang dinyatakan dalam suku pertama dan ketiga pada ruas kanan dari persamaan (2. dan z. Suku-suku A dan C masing-masing menyatakan suku nonlinier dan shear stress.4) ∂v ∂ς + Ay + fu = − g + C y + N h ∆v ∂t ∂y (2. dan w masingmasing menyatakan komponen kecepatan arus dalam arah x.y.

12) (2. u = u + u′ and v = v + v ′ (2.10) dimana D = H + ς adalah kedalaman total laut. 2. v )dan nilai fluktuasi-nya ( u ′. Persamaan mode internal diperoleh dengan mendefinisikan komponen kecepatan sebagai jumlah dari kecepatan yang dirata-ratakan terhadap kedalaman ( u . dan H adalah kedalaman laut dari mean sea level (permukaan laut rata-rata). kita akan memperoleh persamaan-persaman mode internal sebagai berikut.4) dikurangi dari pers. Implementasi dari Mode Splitting Komputasi dari persamaan gerak tersebut dilakukan dalam dua tahap. dan (2).8) (2.12) and (2.(2.(2.11) Jika persamaan (2.2.13) tidak mengandung secara eksplist osilasi barotropik karena variasi level laut telah dihilangkan didalam proses pengurangan tersebut. 3 No. Cx = τxs/(Hρo) . yaitu (1).10) yang diselesaikan dengan langkah waktu pendek (T2D) sesuai dengan kriteria CFL.7) Suku shear stress terdiri dari stress permukaan τ s dan stress dasar τ b . perhitungan persamaan-persamaan yang diintegrasikan terhadap kedalaman (2. perhitungan 3-D (pers.5) and (2.τyb/(Hρo) (2.12 dan 2. 2. Dengan . dimana T3D = MT2D. ∂uD ∂vD ∂ς + + =0 ∂x ∂y ∂t (2. v ′ ) yaitu.2) dan pers.3).13) dengan menggunakan langkah waktu yang lebih panjang T3D .82 JMS Vol.13) Persamaan (2.9) Perubahan level laut diperoleh berdasarkan persamaan kontinuitas untuk aliran yang dirata-ratakan secara vertikal sebagai berikut. (2. Oktober 1998 Ay = 1⎡∂ ς ∂ ς 2 ⎤ uvdz + ∫ ∫ v dz ⎥ ⎢ H ⎣ ∂x − H ∂y − H ⎦ (2.5) dari (2. 2.τxb/(Hρo) Cy = τys/(Hρo) .4). ∂u′ ∂u ∂u ∂u ∂ ∂u ′ Nz − C x + N h ∆u ′ + u + v + w − Ax − fv ′ = ∂z ∂z ∂z ∂t ∂x ∂y ∂v ′ ∂v ∂v ∂v ∂ ∂v ′ − C y + N h ∆v ′ + u + v + w − Ay + fu ′ = Nz ∂t ∂x ∂y ∂z ∂z ∂z (2. Biasanya M bernilai antara 10 sampai 50.

2.3. sedangkah model 2-D setiap langkah waktu T2D = tm+1 . Selanjutnya persamaan (2. 2. Oktober 1998 83 kata lain perhitungan u′ dan v ′ (model internal) tidak perlu setiap langkah waktu T2D. sedangkan suku yang lainnya secara eksplisit.13) didiskritisasikan secara implisit dengan menggunakan metode inversi garis1). σ= z−ς D (2. Ilustrasi sederhana dari interaksi waktu model 2-D and 3-D diperlihatkan pada Gb. ketebalan lapisan adalah sama (uniform) dalam bidang horisontal.14) . Langkah waktu dari metode splitting Model 3-D dihitung setiap langkah waktu T3D = tm+M . 2. 3 No. suku gesekan vertikal pada ruas kanan pers. tetapi setiap T3D sehinga dapat mempercepat proses perhitungan.2. 2-D 3-D m-M m Gambar. Diagram alir sederhana dari proses perhitungan tersebut dapat diilustrasikan pada Gb.11) diselesaikan untuk memperoleh distribusi kecepatan. Didalam sistem koordinat-z. 2. 2. ketebalan lapisan bervariasi untuk setiap titik grid.1. Di dalam perhitungan 3-D. Hanya ketebalan ternomalisasi yang uniform didalan koordinat-σ.JMS Vol.12) and (2.tm. Sebaliknya di dalam koordinat-σ.tm.1. (2. Transformasi yang digunakan adalah. Transformasi Koordinat Sigma (σ) m+M Transformasi-σ dipakai dalam arah vertikal untuk memperoleh aproksimasi yang akurat terhadap lapisan-lapisan percampuran dasar dan permukaan.

2 Algoritma sederhana dari program perhitungan Koordinat yang baru mengtransformasikan kolom air dari permukaan (z=ζ) ke dasar (z=-H) menjadi 0 sampai -1.M 2D-calculation 3D-calculation Print Stop Gambar 2. ∂⎛ ∂u ′ ⎞ ∂u ′ ∂u ′ ∂u ∂u ′ ∂u ∂σ ∂u ′ ⎟− +u +u +v +v + − Ax − fv ′ = D −2 ⎜ N σ ∂y ∂y ∂t ∂σ ∂σ ⎝ ∂σ ⎠ ∂t ∂x ∂x [τ s x /( Hρo ) − τ b /( Hρo )] + N h ∆u′ x ∂⎛ ∂v ′ ⎞ ∂v ′ ∂v ′ ∂v ∂v ′ ∂v ∂σ ∂v ′ ⎟− +u +u +v +v + − Ay + fu ′ = D −2 ⎜ N σ ∂y ∂y ∂t ∂σ ∂σ ⎝ ∂σ ⎠ ∂t ∂x ∂x . Istop I2D= 1. 3 No.84 JMS Vol. Oktober 1998 Start Initial value & Setting Parameter I3D = 1. 2. Persamaan gerak dari mode internal di dalam koordinat- σ menjadi.

⎟ = τ x .JMS Vol..j-1) u (i+1.16) ω diperoleh dengan dengan menyelesaikan persamaan di bawah ini.j) y ζ(i.15) dimana Nσ adalah koefisien turbulensi eddy vertikal dalam koordinat-σ.j) v (i.0.j) x Gambar.3.1.t) = 0 Diagram skematik dari staggered grid untuk mode eksternal 2-D diperlihatkan pada Gb. ∂Du ∂Dv ∂ω ∂ς + + + =0 ∂x ∂y ∂σ ∂t Syarat batas permukaan dan dasar di dalam sistem koordinat-σ adalah. τ y . (2. 2. s y /( Hρo ) − τ b /( Hρo ) + N h ∆v ′ y ] (2.18) (2.t) = ω(x.17) ρN σ ⎛ ∂u ∂v ⎞ ⎜ .j) u (i.y.19) ω(x... v (i. 2. Kecepatan vertikal ∂D ∂ς ⎛ ∂D ∂ς ⎞ ⎛ ∂D ∂ς ⎞ w = ω + u⎜σ + ⎟ + v⎜σ + ⎟+σ + ⎝ ∂x ∂x ⎠ ⎝ ∂y ∂y ⎠ ∂t ∂t (2.3 Staggered grid 2_D ..y. at σ = 1 D ⎝ ∂σ ∂σ⎠ ( ) (2.. 2. 3 No. Oktober 1998 85 [τ dalam koordinat kartesis menjadi.

Persamaan model turbulensi tersebut dapat ditulis sebagai berikut.86 JMS Vol.4..j..4 Staggered grid 3-D 2.. Model turbulensi tersebut dikarakterisasikan oleh dua kuantitas yaitu.k) u′ (i+1.k) u′ (i.j.j-1.j... Oktober 1998 penampang horisontal v ′ (i.k) u′ (i.k) y x v ′ (i. Koefisien percampuran vertikal Nσ dihitung berdasarkan model klosur orde kedua yang diadopsi dari POM berdasarkan riset yang dilakukan oleh Mellor and Yamada2).k) ω(i.j.k+1) x Gambar..j.2. 3 No. 2 2 ∂q 2 D ∂uq 2 D ∂vq 2 D ∂ωq 2 ∂ ⎛ K q ∂q 2 ⎞ 2 N σ ⎡⎛ ∂u ⎞ ⎛ ∂v ⎞ ⎤ ⎜ ⎟ +⎜ ⎟ ⎥+ + + + = ⎜ ⎟+ ⎢ D ⎣⎝ ∂σ⎠ ⎝ ∂σ⎠ ⎦ ∂t ∂x ∂y ∂σ ∂σ ⎝ D ∂σ ⎠ ∼ 2g ∂ρ 2 Dq 3 KH − + Fq B1l ρo ∂σ (2.j.k) y u′ (i+1.k) penampang vertikal ω(i.. 2. Model Orde Kedua Turbulensi (Second Order Model of Turbulence Closure) Lapisan percampuran permukaan dan dasar memegang peranan penting terhadap dinamika dari kolom perairan.20) . energi kinetik turbulen q2/2 dan turbulen skala besar (turbulence macroscale) l.j-1. Oleh sebab itu percampuran vertikal perlu di parameterisasikan seakurat mungkin.

sedangkan kedalaman air adalah uniform dalam arah-y. Kondisi radiasi digunakan pada batas terbuka dan gaya coriolis juga ditinjau dalam perhitungan. numerical ocean model” by Mellor3). sedangkan untuk 3-D sebesar 1500 detik (sekitar 30 kali harga langkah waktu 2-D). Sebagai gaya pembangkit arus dipilih angin yang kecepatannya naik secara linier selama 6 jam pertama waktu simulasi sampai mencapai nilai konstan masing-masing 10 m/s and of 5 m/s dalam arah x dan y. Verifikasi Model Pada Suatu Kanal Ideal Suatu kanal ideal berukuran 100 x 80 km dipakai sebagai daerah verifikasi model dengan ukuran grid horisontal 4 km. primitive equation. koefisien eddy viskositas vertikal Nσ dihitung dengan . sebagaimana terlihat pada Gb. kedalaman bernilai konstan sebesar 40 m dan kemudian berkurang secara gradual menjadi 20 m pada bagian hulu kanal.21) Penjelasan lebih detil dari model turbulensi ini dapat dilihat di “Users guide for a threedimensional.1 Daerah kanal ideal Dari batas terbuka sampai berjarak 20 km dalam arah-x. open boundary 80 km y (North) 100 km x (South) Gambar 3. 3.JMS Vol. Oktober 1998 87 ∂q 2 lD ∂uq 2 lD ∂vq 2 lD ∂ωq 2 l ∂ ⎛ K q ∂q 2 l ⎞ + + + = ⎜ ⎟+ ∂t ∂x ∂y ∂σ ∂σ ⎝ D ∂σ ⎠ ⎛ N ⎡⎛ ∂u ⎞ 2 ⎛ ∂v ⎞ 2 ⎤ ∼ ∂ρ ⎞ ∼ g E1l⎜ σ ⎢⎜ ⎟ + ⎜ ⎟ ⎥ + E 3 K H ⎟W + Fl ρo ∂σ⎠ ⎝ D ⎣⎝ ∂σ⎠ ⎝ ∂σ⎠ ⎦ (2. Simulasi dilakukan sampai diperoleh keadaan hampir tunak selama 24 jam. Seperti disebutkan sebelumnya. 2. Langkah waktu 2-D dipilih sebesar 50 detik. 3 No.1. 3.

terlihat adanya kenaikan muka air (along-canal setup) sebesar 0.175 m pada bagian hulu sungai (x = 94 km) yang diakibatkan bertiupnya angin barat daya.2). pusat (x = 46 km). Gaya coriolis berpengaruh secara jelas terhadap pola arus sepanjang batas terbuka ke daerah tengah kanal dimana aliran arus membelok ke arah tenggara. Time history dari elevasi dan kecepatan di permukaan dan dasar di batas terbuka (x = 2 km).2 Histori waktu dari kecepatan dan elevasi di x = 2. 2. Berdasarkan time history dari elevasi.3 memperlihatkan pola arus permukaan dan dasar.3 and 3. 3 No. dan pola arus pada penampang vertikal sepanjang pusat kanal dalam arah-y. 46. and hulu kanal (x = 94 km) diperlihatkan pada gambar (3.88 JMS Vol. sedangkan koefisien eddy viskositas horisontal Nh dipilih konstan sebesar 60 m2/s. Berdasarkan gambar pola arus permukaan terlihat pola aliran angin barat daya dan gaya coriolis terepresentasikan dengan cukup baik. Oktober 1998 menggunakan model klosur turbulen. 3.4 memperlihat perbandingan hasil simulasi berdasarkan model yang dibangun (NSN’s model) dan POM.2. Gambar 3. Tetapi di . Gambar 3. and 94 km Gambar 3.

3 Profil kecepatan horisontal dan vertikal Naiknya muka air (along-canal setup) menimbulkan gradien tekanan yang membangkitkan arus balik pada lapisan dasar kanal. Kecilnya efek coriolis di daerah ini dapat disebabkan adanya refleksi arus yang menuju ke tenggara membentur dinding selatan kanal sehingga arus berbelok ke arah timur laut. Gaya stress angin permukaan dan efek perlambatan dari gesekan dasar menyebabkan komponen kecepatan dalam arah-x (u) mempunyai profile kecepatan vertikal seperti terlihat pada Gb. 3. Perhitungan koefisien percampuran vertikal Nσ diperlihatkan pada Gb. Sebagai catatan. Gambar 3.4. 3 No. 2.JMS Vol. 3. nilai Nσ di lapisan . Oktober 1998 89 bagian lain kanal arus mengalir ke arah timur laut sesuai dengan gaya pembangkit angin barat daya.

Hal ini kemungkinan disebabkan perbedaan lokasi dari komponen arus v sebagaimana terlihat pada sistem “staggered” grid di bawah ini.90 JMS Vol. 2.4 Distribusi horisonal dan vertikal dari koefisien eddy vertikal (Nσ ) Secara umum hasil komputasi berdasarkan model yang dibangun mendekati hasil dari POM. Oktober 1998 permukaan dan dasar sebenarnya masing-masing merepresentasikan harga Nσ pada lapisan kedua dari permukaan dan satu layer di atas dasar kanal. . Gambar 3. 3 No. Tetapi terdapat sedikit perbedaan perhitungan komponen kecepatan dalam arah- y (v).

. 3 No. gelombang yang akhirnya menggerakkan transport material seperti sedimen akan diperlajari pada tahapan riset selanjutnya. Domain Komputasi Domain komputasi dari laut Jawa yang dipilih adalah 105o..j. Oktober 1998 91 v ′ (i.k) POM’s model u (i+1.j. Aplikasi Model di Laut Jawa Laut Jawa yang lingkungannya telah banyak berubah disebabkan banyaknya aktivitas / pengembangan yang dilakukan di daerah itu menarik untuk dipelajari. dilakukan uji coba model dengan mensimulasikan arus pasut pada bulan Januari 1997.k) u′ (i.5 x 18...k) u′ (i+1. 2.k) 4. dan 1800 detik. Sebagai tahap awal dari riset yang dilakukan pada paper ini.j-1.1. 60 detik.k) u (i.. 4.5 km...1 Daerah titik-titik verifikasi dan peta bathimetri Laut Jawa . sedangkan sirkulasi di Laut Jawa dengan memperhatikan gaya pembangkit lainnya seperti angin monsoon.j.k) NSN’s model v (i.j+1.k) v (i. Gambar 4.j. langkah waktu 2-D dan 3-D yang dipilih masing-masing adalah 18.115o BT dan 8o20’ 2o40’ LS.1.JMS Vol.k) v ′ (i.j. 4. Tempat-tempat dimana titik-titik verifikasi dilakukan dan bathymetri dapat dilihat pada Gb. Ukuran grid .j.

2 Sirkulasi arus pasut pada waktu pasang dan surut selama pasut purnama (spring tide) Gambar 4. Gambar 4.2 memperlihatkan sirkulasi arus ketika menuju pasang dan surut pada waktu pasut purnama (spring tide) di bulan Januari 1997. S2. 4. and O1) yang diterbitkan oleh the International Hydrographic Bureau in Monaco.2. Pada waktu pasang arus di sekitar Rembang mengalir ke arah timur.92 JMS Vol. sebaliknya pada waktu surut mengalir ke arah barat. Prediksi pasut di daerah Rembang (titik verifikasi nomor 14) dipilih sebagai referensi waktu terjadinya pasang dan surut. Sebagai verifikasi model. Simulasi Arus Pasut Pada batas terbuka digunakan elevasi pasut yang diperoleh dengan melakukan peramalan pasut berdasarkan informasi 4 komponen pasut (M2. Verifikasi hanya dilakukan terhadap elevasi karena belum diperolehnya data arus ketika penelitian ini dibuat. 3 No. .1. 2. K1. Dari gambar tersebut terlihat jelas adanya arus bolak-balik yang merepresentasikan keadaan pasang dan surut. Oktober 1998 4. elevasi yang dihasilkan dibandingkan dengan elevasi yang diperoleh berdasarkan ramalan pasut di 14 lokasi. Lokasi dari titik-titik verifikasi tersebut dapat dilihat pada Gb.

Oktober 1998 93 Verifikasi elevasi di 14 titik yang dipilih dapat dilihat pada Gb. 3. Sedangkan sistem koordinat-σ dipakai untuk . Kesimpulan Model tiga-dimensi (3-D) sirkulasi laut telah dikembangkan dan diterapkan untuk mensimulasikan arus pasang-surut di Laut Jawa dengan menggunakan teknik mode splitting dan sistem koordinat-σ. Cirebon. 2.1. 4. Secara umum hasil simulasi memperlihatkan kecocokan yang cukup baik dengan prediksi pasut di tempat-tempat itu kecuali di Bombjes. and Semarang (nomor 1. dan 13).3. Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan efek gesekan dasar didaerah tersebut tidak mewakili secara baik interaksi non linier dari arus pasut dan topografi dasar.3 Verifikasi Elevasi di beberapa lokasi 5.JMS Vol. Kesimpulan dan Saran 5. Teknik mode splitting yang memisahkan model 3-D menjadi persamaan yang diintegrasikan secara vertikal (mode eksternal) dan persamaan 3D (mode internal) digunakan untuk mereduksi sejumlah besar pekerjaan komputasi sebagai masalah utama di dalam model tiga-dimensi. 3 No. Gambar 4.

2. Mensimulasikan arus yang dibangkitkan pasut dan angin secara simultan untuk memperoleh pengertian yang lebih baik terhadap aliran sirkulasi yang kompleks di Laut Jawa. Hasil verifikasi elevasi menunjukkan hasil yang cukup baik kecuali di daerah Bombjes. 3 No.94 JMS Vol. and Semarang. Hasil simulasi berdasarkan model yang dikembangkan hampir sama dengan hasil dari POM (the Princeton Ocean Model) kecuali sedikit perbedaan pada perhitungan komponen arus arah-y (v). Cirebon. 5. 2.2. Topik-topik yang perlu dilakukan untuk tahapan riset selanjutnya adalah : 1. Efek interaksi gelombang-arus penting untuk dipelajari di daerah perairan dangkal seperti laut Jawa karena kenaikan stress dasar di daerah dangkal akan menambah proses turbulensi di dasar yang kemudian dapat memperlambat laju aliran. Oktober 1998 memperoleh simulasi yang lebih akurat terhadap lapisan percampuran permukaan dan dasar. . Saran Studi dalam paper ini merupakan studi awal yang perlu dikembangkan dalam risetriset selanjutnya. Seperti diketahui angin monsoon (barat dan timur) memegang peranan penting terhadap pola sirkulasi arus di Laut Jawa. Interaksi gelombang-arus dapat dilakukan dengan menggabungkan gelombang yang dibangkitkan angin (berdasarkan model gelombang generasi ketiga WAM) dengan model hidrodinamika 3-D yang dibangun. Pada umumnya. Perhitungan arus residu perlu untuk dilakukan karena berperan terhadap transport bermacam-macam materi sedimen seperti silt dan mud yang merupakan sedimen utama di Laut Jawa4). Hal ini dapat disebabkan pemilihan efek gesekan dasar dan topografi yang kurang tepat di daerah tersebut. simulasi arus pasut menunjukkan pola arus yang mewakili proses terjadinya pasang surut. 3. Hal ini dapat disebabkan perbedaan lokasi dari komponen v di di dalam sistem “staggered” grid.

G.. Rev. Vol. Advance Series on Ocean Engineering. v ′ Nσ = stress permukaan dan stress dasar = kedalaman laut dari mean sea level (permukaan laut rata-rata). Princeton University. = nilai fluktuasi dari kecepatan (kecepatan fluktuasi) = koefisien turbulensi eddy vertikal dalam koordinat-σ Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih ditujukan kepada Coastal & Offshore Section.y. T. 2. (1982). Space Phys. “Users Guide for A three-dimensional. (1993).. Geophys. Z.. primitive equation. numerical ocean model”. Kyoto University.y. Kowalik. Mellor.L. 3 No. (1996). and Yamada. 20. G. JAPAN atas fasilitas dan kesempatan yang diberikan kepada penulis sehingga riset ini dapat berlangsung.L. Referensi 1. “Numerical modeling of ocean dynamics”. Disaster Prevention Research Institute.JMS Vol. 3.v. τb H u′. .S. 5. Melor. 2. 851-875. World scientific. Oktober 1998 95 Daftar simbol x. dan w = komponen kecepatan arus dalam arah x. T.. dan z t = koordinat-koordinat kartesian = waktu u. and Murty. dan z ς f pa = elevasi permukaan air = parameter coriolis = tekanan atmosfir = densitas fluida referensi = harga fluktuasi dari densitas ρo ρ′ g = gravitasi bumi Nz dan Nh = koefisien turbulensi eddy vertikal dan horizontal u dan v = komponen kecepatan yang dirata-ratakan terhadap kedalaman dalam arah x dan y τ s. “Development of a turbulent closure model for geophysical fluid problems”.

et al. . K. Oktober 1998 4.. Emery. 2. 3 No. (1972). Vol. CCOP Technical Bulletin.O.96 JMS Vol.. “Geological Structure and some water characteristics of the Java Sea and adjacent continental shelf”. United Nations Ecafe.6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful